• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan antara pola asuh orang tua dengan sibling Rivalry remaja awal pada siswa kelas 2 SMPN 182 Jakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hubungan antara pola asuh orang tua dengan sibling Rivalry remaja awal pada siswa kelas 2 SMPN 182 Jakarta"

Copied!
133
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

OLEH BADIYAH FULIATI

BBGLLセ@

102070025953 ' ,,,

----Gセ@

FAKULTAS PSIKOLOGI

セセ@ ,,

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Oleh BADIYAH FULIATI

NIM.102070025953

Di Bawah Bimbingan

Pembimbing II

FAKULTAS PSIKOLOGI

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(3)

JAKARTA telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 22 Januari 2007. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi

Jakarta, 22 Januari 2007

Sidang Munaqasyah

Ketua Mer gkap A ggota

Penguji I

oralh;•h s,_ .

セNウ[@

NIP. 150 215 283

Anggota

38 773

Penguji II

(4)

B\b・セー@ atfi(

6ul(szn 6erarti liarus mem6eri tfengan porsi yano sama,

aau

aifat:ali

mem6erilign sesuatu sesuai lfennan セVオエオャゥ。ョᄏ@

Sa6tfa

セHオH{。ャゥ@

S..JL W : "<BerCaftuCali

aau

terliadap anaft-anaft ligCian tfat:am

mem6erilign sesuatu

セ。、。@

merelig, se6aoaimana ligCian inoin aiperCaftulign

aaiC

(5)

'l()l<l{,'l;'."?L IM

'l(VtJXECJ?SP,!M.CJJ)'l:J{'K)'l!N V!NPV'l(

'l(SE.LVJt<.Rg.JI <Y}f!N(j 9t1.P1N©V'l(V5V(j

SP.CJJV.JIJ{ <PILJJ{fl.5VJ{J<DV<P

<Dfl.5'{ 9.1.fl_Sfl. (j)p,<J>.Jl!N.

V!NPV'l(S.JIJ{JtCJJJt<J'.-S.JIJ{fl.CJJJtrf SP.Jfl.'11'l(V

Jt'l)IS tJXEIJ(S.JIJ{JtCJJJtrffl.5'{<J.IEqlJ:MD.JIJ{

(6)

Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 182 JAKARTA dengan jumlah sampel sebanyak 72 orang siswa/I yang memiliki saudara kandung.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling

dengan menyodorkan kriteria sampel penelitian ini.

lnstrumen pengumpul data yang digunakan adalah Skala pola asuh orangtua yang mengacu pada dimensi dalam pola asuh dari Mussen dan Skala Sibling rivalry yang mengacu pada aspek-aspek dalam

Sibling rivalry yang dikemukakan oleh Kastenbaum.

Teknik pengolahan dan analisa data dilakukan ciengan analisa statistik yang meliputi korelasi Pearson untuk menguji validitas item, Alpha Cronbach untuk menguji reliabilitas instrumen pengumpul data, dan uji

Chi square dan crosstabs untuk pengujian hipotesis penelitian.

Jumlah item valid untuk skala pola asuh orangtua sebanyak 29 item dan

sedangkan jumlah item valid untuk skala sibling rivalry sebanyak 46

item. Adapun reliabilitas skala pola asuh adalah 0,760, reliabilitas skala

sibling rivalry 0,89"/. Berdasarkan analisis crosstabs dengan uji

Chi-square terhadap hipotesis yang diajukan, diperoleh hasil bahwa tidak

ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orangtua dengan sibling

rivalry pada remaja awal dengan chi-square hitung (3,557) <chi-square

label (912,591).

(7)

oleh Nabi Muhammad SAW Menjadi impian bagi semua orang dan pada umumnya tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya celaka, menderita, serta tersiksa dalam rumahnya sendiri. Hasil karya tentang pola pengasuhan dan hubungan saudara kandung ini adalah .sebuah proses pencarian jawaban peneliti alas

fenomena yang terjadi dalam lingkungan keluarga besar peneliti. Meski tak menjadi acuan utama, tak dapat dihindarkan bahwa pola pengasuhan dalam rumah memiliki peranan dalam pembentukan seorang anak dengan segala tingkah lakunya. Oleh karena itu peneliti mempersembahkan hasil karya ini bagi para orangtua yang tak pernah lelah berusaha sebaik mungkin dalam menjaga titipanNya dengan kasih dan sayang tak terbilang dengan perumpamaan apapun jua.

Alhamdulillah,sebuah hasil karya tak ternilai ini telah terselesaikan alas kasih Allah SWT dengan segala bantuan dan kesempatannya hingga terselesaikannya karya ini. Terima kasih dengan ucapan Shalawat dan salam peneliti haturkan pada Nabi Muhammad SAW yang membuat islam sampai keseluruh penjuru sehingga peneliti berada dalam naungan agama islam dan memiliki Tuhan yang sempurna.

Terselesaikannya tugas skripsi ini tentunya tak terlepas dari sentuhan-sentuhan hebat orang-orang disekltar penulis. Dengan sangat bangga maka penulis menghaturkan untaian rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada : 1. Orangtua tercinta, M. Subadi dan Rochimah Fuliati yar,9 menjadi pendorong

utama penyusunan hasil penelitian ini yang selalu mengharapkan anaknya bisa menggunakan toga kebanggaan dengan hasil yang memuaskan atas perjuangan selama empat tahunnya bergelut dengan buku-buku, komputer, dan asap

knalpot yang pekat disetiap perjalanannya.

2. Dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, !bu Dra. Hj. Netty Hartati, M.Si dan dosen pembimbing Akademik, Bapak Ors. Abdurrahman Shaleh, M.SL

3. Pembimbing I, !bu Dra. Zahrotun Nihayah, M.Si dan pembimbing II, !bu Solicha, S,Ag yang selalu sabar saat ditodong untuk memberikan waktunya guna

penyelesaian hasil karya ini, Tanpa coretan mereka, hasil karya ini mugkin tak terbantu sampai di meja pendaftaran sidang.

(8)

6. Kepada master of statistik, Liza Nur Hasymi, S. Psi, alas jawaban-jawabannya ketika aku terbentur akan limpahan rumus statistik.

7. Untuk Kak Agus, Totok &'Wildan atas materi singkat SPSSnya, serta Kak Bekti untuk komputernya specially program SPSSnya yang membantu sakuku hingga tidak terogoh terlalu dalam.

8. Kepada Ana Nafisyah untuk sharenya, Ey Eka Kurniawan untuk cerita-ceritanya yang menghibur dan informasinya tentang hal-hal yang berkaitan dengan tugas skripsi ini. Lulu Lutfiah sahabat baruku yang baik hati atas kebersamaanya dan kesediaannya menjadi tempat berkeluh kesah dan berbagi cerita, serta teman-teman lain yang mau memberikan masukan pada saat penulis kebingungan. 9. Untuk Tante Maya dan Keluarga (Ardo, 02 Shaquille, Rere dan Om Tig) yang

menyediakan komputernya saat penulis berlomba dengan waktu agar revisi skripsi dapat terselesaikan tan pa mengulur deadline terlalu lama.

10. Serta kepada wakil kepala sekolah SMPN 182 dan SMPN 35 Jakarta yang telah memberi kepercayaan pada peneliti untuk menjadikan siswa-siswinya sebagai topik utama dalam penelitian ini.

11. The Last and the most ... Specially unfuk adik-adikku di SMPN 182 dan 35

Jakarta atas peran utamanya dalam penelltian ini yang secara maksimal telah memberikan sebagian waktu berharganya.

KepadaNya dan beliau-beliau semuanya penulis ucapkan bdnyak-banyak terima kasih. Semoga Allah SWT memberikan ganjaran yang tepat bagi mereka. Dan pada akhirnya, penyusunan skripsi ini penellti tujukan pada orang-orang terkasih yang tersebut diatas.

Jakarta, November 2006

(9)

Halaman Persetujuan ... ... ... ... ... ... ... ii

Halaman Pengesahan ... iii

Motto ... iv

Persembahan ...

v

Abstraksi ... vi

Kata Pengantar ... viii

Daftar lsi ... ix

Daftar Tabel... xii

Daftar Gambar ... xiv

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... .':.,... 1

1.2. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 7

1.2.1 Pembatasan Masalah ... 7

1.2.2 Perumusan Masalah ... 7

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

1.4. Sistematika Penulisan ... 15

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1. Pola Asuh ... 11

2.1.1. Pengertian Pola Asuh ... 11

2.1.2. Aspek-aspek dalam Pola Asuh ... 12

2.1.3. Jenis-jenis Pola Asuh ... 13

(10)

2.2.3. Aspek-aspek dalam Sibling Rivalry... 24

2.2.4. Akibat-akibat Sibling Rivalry . ... .. .. . . . .. .. . . ... .. . .. . . . .. 26

2.2.5. Manfaat Adanya Persaingan Saudara Kandung ... 28

2.2.6. Tehnik-tehnik untuk Mengatasi Persaingan Antar Saudara Kandung ... 29

2.3. Remaja ... ... 34

2.3.1. Definisi Remaja ... 34

2.3.2. Batasan Remaja... 35

2.3.3. Karakteristik Masa Remaja ... 37

2.3.4. Tugas-tugas Perkembangan Remaja ... ... 39

2.4. Kerangka Berpikir ... ... ... ... .. ... .. ... .... 41

2.5. Hipotesis ... ... ... 44

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ... .... 46

3.1.1. Pendekatan dan Metode Penelitian ... .... ... ... .. .. 46

3.1.2. Definisi Vanabel ... ... ... 46

3.1.3. Definisi Operasional ... ... ... 4 7 3.2. Pengambilan Sampel ... 50

3.2.1. Populasi ... 50

' 3.2.2. Sampel... 50

3.2.3. Tehnik Pengambilan sampel... 51

3.3. Pengumpulan Data ... ... 52

3.3.1. Metode dan lnstrumen Pengumpulan Data ... 52

3.3.2. Teknik Uji lnstrumen Penelitian ... 55

3.3.2.1 Uji Validitas Skala... 55

(11)

4.1. Gambaran Umum Subjek ... 61

4.1.1. Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin ... 61

4.1.2. Gambaran Subjek Berdasarkan Usia ... .. ... 62

4.1.3. Gambaran Subjek Berdasarkan Posisi Subjek dalam Keluarga ... .. . ... ... . . . .. .. . ... . . ... .. . .. . . .. . 62

4.1.4. Gambaran Subjek Berdasarkan Pola Asuh yang Diterapkan Orangtua... ... ... 63

4.1.5. Gambaran Subjek Berdasarkan Tingkat Sibling Rivalry 64 4.2. Hasil Utama Penelitian ... ... ... 65

4.2.1. Uji Persyaratan ... 65

4.2.2. Uji Hipotesis... 68

4.2.3. Hasil Tambahan ... 72

BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN 5. 1 Kesimpulan ... ... 81

5.2 Diskusi ... 82

5.3 Saran ... 90

DAFTAR PUSTAKA

[image:11.534.40.454.56.512.2]
(12)
[image:12.530.38.451.115.517.2]

Tabel 2.1. Bagan Pola Asuh Orangtua Berdasarkan Aspek-aspek dalam

Pengasuhan ····:··· 17

Tabel 3.1. Format Penilaian Skala Pola Asuh Orangtua ... 53

Tabel 3.2. Blue Print Skala Pola Asuh Orangtua ... 53

Tabel 3.3. Format Penilaian Skala Sibling Rivalry... 54

Tabel 3.4. Blue Print Skala Sibling Rivalry ... 70

Tabel 3.5. Blue Print Revisi Kepemimpinan Transformasional ... 71

Tabel 4.1. Distribusi Jenis Kelamin Subjek ... 61

Tabel 4.2. Distribusi Usia Subjek ... ... 62

Tabel 4.3. Distribusi Posisi Subjek dalam Keluarga ... ... ... ... ... 63

Tabel 4.4. Distribusi Pola Asuh yang Diterapkan Oleh Orangtua Subjek ... 64

Tabel 4.5. Distribusi Tingkat Sibling Rivalry Subjek ... ... ... ... .... .... 65

Tabel 4.6. Hasil Uji Normalitas ... ... ... ... 66

Tabel 4.7. Hasil Uji Homogenitas Skala Pola Asuh ... 68

Tabel 4.8. Hasil Uji Homogenitas Skala Sibling Rivalry ... ... ... 68

Tabel 4.9. Crosstabs Jenis Pola Asuh Orangtua dengan Tingkat Sibling Rivalry ' ··· 69

Tabel 4.1 o. Distribusi Persentase Tingkat Sibling Rivalry Berdasarkan Pola As uh yang Diterapkan Oleh Orangtua Subjek ... .... 69

Tabel 4.11. Nilai Tes Chi-Square... 71

(13)
[image:13.530.46.450.122.514.2]

Tabel 4.15. Tingkat Sibling Rivalry Berdasarkan Usia Subjek... 76

Tabel 4.16. Tingkat Sibling Rivalry Berdasarkan Jarak Usia Subjek dengan Sibling

···

n

Tabel 4.17. Tingkat Sibling Rivalry Berdasarkan Posisi Subjek dalam Keluarga

(14)
[image:14.527.71.441.100.508.2]

Gambar 1 Kerangka Berpikir ... ... ... ... .. 45

Garn bar 2 Scatterplot Pola Asuh ... ... ... ... .. . ... .. ... ... 66

(15)

1.1

Latar Belakang Masalah

··-Keluarga adalah tempat yang penting dimana anak memperoleh dasar dalam

membentuk kemampuannya agar kelak menjadi orang yang berhasil di

masyarakat (Gunarsa, 2001). Oleh karena itu pendidikan awal yang didapat

anak dalam keluarganya sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak pada

usia selanjutnya. Dengan kenyataan tersebut mau tidak mau orangtua

dituntut untuk mengajarkan dan membimbing anaknya sebaik mungkin.

Namun ternyata hal tersebut terbentur oleh pola asuh jenis apa yang

diterapkan oleh masing-masing orangtua untuk menciptakan keluarga yang

'ideal'. Karena terkadang bentuk pola asuh yang diterapkan malah

memunculkan hal-hal negatif pada diri anak dengan timbulnya berbagai

macam masalah pada hubungan keluarga tersebut.

Salah satu permasalahan yang bisa timbul dalam keluarga yang memiliki

anak lebih dari satu adalah sibling rivalry. Sibling rivalry atau persaingan

antara saudara kandung merupakan suatu ketegangan yang terjadi di antara

kakak dan adik yang sebelumnya hangat mulai 'mendingin' ketika adik

(16)

masing-masing pihak berusaha untuk lebih unggul dari yang lain (Tim redaksi

Ayahbunda, 1998).

Dapat diakui, mempunyai saudara bisa jadi menyenangkan, mengerikan atau

bahkan keduanya. Persaingan antar saudara kandung ini berasal dari

keinginan alami seorang anak yang menginginkan dirinya menjadi pusat

perhatian orangtuanya. Dengan begitu maka ia merasa bahwa orangtuanya

lebih menyayanginya.

Persaingan antar saudara kandung dalam batas-batas tertentu sebenarnya

adalah suatu hal yang normal (Priatna, 2006) karena dalam persaingan

tersebut, anak mulai belajar bergaul, bersosialisasi dan menyesuaikan dirinya

dengan kakak/adiknya sebelum ia mulai berbaur dengan lingkungan baru di

luar rumah. Selain itu, dalam sebuah keluarga terdapat anak-anak yang

berbeda jenis kelamin, usia yang berarti berbeda posisi (sulung, tengah,

bungsu) dalam keluarga tersebut bahkan temperamen serta karakternya.

Perbedaan-perbedaan \ersebut memang akan selalu memunculkan konflik

yang 'unik' di antara mereka laiknya sebuah pepatah "lain kepala, lain isinya".

Persaingan antar saudara kandung juga timbul karena anak-anak berlomba

untuk mencari perhatian dan mengharapkan pujian dari orang tuanya atau

(17)

seringkali dimunculkan oleh anak dengan sikap saling rnengganggu atau

menggoda satu sama lain yang terkadang malah menimbulkan

pertengkaran-pertengkaran kecil. Namun jika persaingan antar saudara kandung tersebut

sudah diwarnai oleh perasaan iri, dengki, kebencian, atau sikap egois yang

berlebihan dan dendam yang terpupuk terhadap saudaranya maka akan

menimbulkan berbagai ha! negatif dalam hubungan kakak-beradik ini.

·,

Menurut Hopson

&

Hopson (2002), tidak ada persaudaraari tanpa persaingan

karena dalam setiap hubungan pasti ada perbedaan-perbedaan. Oleh karena

itu, tak mengherankan apabila terdapat persaingan di antara kakak beradik

yang juga disebut sibling rivalry. Anak akan berusaha mengalahkan

saudara-saudaranya yahg dianggapnya sebEtgai saingan dalam memperoleh kasih

sayang orangtua.

Rasa bersaing itu terutama muncul pada anak-anak yang merasa

diperbandingkan oleh orangtuanya dan adanya perasaan diabaikan ketika

orangtua 'menganak-emaskan' saudaranya. Sikap orangtua yang seperti

inilah yang dapat menciptakan suasana persaingan pada anak-anaknya.

Sebab kasih sayang orangtua biasanya lebih tertuju pada siapa yang

(18)

Salah satu aspek yang paling serius dari perselisihan antar saudara kandung

ialah bahwa hubungan buruk ini sering menjadi pola hubungan sosial yang

akan dibawa anak keluar rumah untuk diterapkan dalam hubungannya

dengan teman sebaya. Akibatnya, mereka lebih besar kemungkinannya

ditolak dan diabaikan oleh teman sebayanya (Hurlock, 1978).

Contoh kasus:

Dennis mengungkapkan bahwa ia sangat membenci adiknya karena ia

menganggap orangtuanya berlaku tidak adil terhadap mereka berdua.

Karena setiap mereka bertengkar ayahnya seringkali menyalahkannya

dengan alasan: "kakak harus mengalah dengan adik" dan kemudian

menghukumnya tanpa meminta pen]elasan tentang apa yang sebenarnya

telah terjadi. Hingga pada akhirnya muncullah perasaan iri sekaligus benci

dalam diri Dennis terhadap adiknya. Bahkan ketika ia merasa benar-benar

merasa kesal dengan adiknya, ia merusak mainan adiknya dan mencubitnya.

Dari contoh kasus tersebut di atas, dapat dilihat bahwa persaingan antar

saudara kandung sangat dipengaruhi oleh perlakuan orangtua yang diterima

anak. Perlakuan semacam itu digambarkan dalam kasus tersebut dengan

sikap 'menganak-emaskan' salah seorang anak sehingga membedakan dia

(19)

perilaku orangtua yang memaksa dan menghukum anak tanpa memberi

kesempatan padanya untuk membela diri atau setidaknya menjelaskan apa

yang sebenarnya terjadi. Sikap orangtua tersebut tidak terbatas pada

hubungan orangtua-anak., namun juga mempengaruh1 hubungan dengan

adik-kakak (Hurlock, 1978). Dalam situasi seperti ini anak akan berusaha

menjadi yang terbaik di depan orangtuanya dan menjadikan saudara

kandung sebagai saingan dalam mendapatkan perhatian dan kasih sayang

yang lebih dari orangtuanya.

Pola asuh otoriter, sedikitnya dicirikan dengan adanya pemaksaan dan

hukuman. Sesuai dehgan paparan dari Volling bahwa frekuensi dan tingkat

intensitas konflik antara orangtua dan anak secara positif berhubungan

dengari konflik antl:lr saudara kandung. Orangtua yang cenderung berperilaku

memaksa dan menghtJkum secara berlebihan dapat menumbuhkah sibling

rivalry (Rotenberg, 1995).

Berdasarkan analisa kasus tersebut dan pernyataan yang diungkapkan oleh

Volling, maka penulis menduga bahwa terdapat benang merah antara bentuk

(20)

Metode pendisiplinan merupakan salah satu tolak ukur penentu jenis pola

asuh yang diterapkan orangtua dalam mendidik dan membimbing anaknya.

Hurlock (1978) menyebutkan bahwa hubungan antar saudara kandung

tampak jauh lebih rukun dalam keluarga yang menggunakan disiplin otoriter.

Hal tersebut bertentangan dengan contoh kasus dan paparan veiling di atas.

Namun Hurlock (1978) juga memaparkan bahwa pencawasan orangtua yang

santai, permissif terhadap perilaku anak, memungkinkan antagonisme dan

permusuhan dinyatakan dengan terbuka, sehingga tercipta suasana yang

diwarnai dengan perselisihan. Hal tersebut diperkuat oleh penelitian

Baumrind (1968) yang menemukan bahwa pola asuh permissif berhubungan

secara positif dengan tingkah laku anak yang agresif. Anak yang merasakan

ketidak adilan dari orangtua alas perlakuan mereka terhadap saudaranya

maka akan menimbulkan kemarahan dan kebencian. Menurut Yulia Singgih

D. Gunarsa (2003), salah satu bentuk pelampiasan emosi anak dapat terlihat

dalam penyaluran agresi (httpllwww.sabda.org/pepaklpustaka).

Dengan adanya dua pe(ldapat yang berbeda itulah maka penulis tertarik

untuk mengetahui seberapa besar hubungan pola asuh orangtua dengan

sibling rivalry pada remaja, pola asuh manakah yang memiliki kecenderungan

menumbuhkan atau menyuburkan persaingan antar saudara kandung (sibling

(21)

1.2

Pembatasan dan Perumusan Masalah

1.2.1 Pembatasan Masalah

Agar pembahasan tidak melebar dan lebih terfokus, maka diperlukan

pembatasan masalah. Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Pola asuh orangtua yang digunakan adalah empat jenis pola asuh yaitu,

.

Pola asuh otoriter, demokratis, permisif, dan uninvolved.yang dilihat

dalam aspek kontrol, tuntutan, komunikasi, dan par"intal nurturance.

2. Sibling rivalry, yaitu persaingan yang terjadi di antara saudara kandung.

3. Subyek yang diteliti adalah siswa-siswi SMP yang memiliki kakak/adik.

Dengan pertimbangan bahwa mereka termasuk dalam rentang remaja

yang masih mengalami sibling rivalry.

1.2j

pセイオイエ|セウ。ョ@ Masalah

Dalam batastm masalah di atas, mclka rumusan masalilh penelitian ini

adalah:

1. Pola asuh jenis apa yang diterapkan oleh orangtua kepada remaja?

··-2. Apakah terjadi sibling rivalry dalam hubungan antar saudara kandung

(kakak/adik)?

3. Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh yang

(22)

4. Apakah terdapat perbedaan tingkat sibling rivalry berdasarkan

faktor-faktor konstelasi dalam keluarga?

1.3

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari tahu apakah pola asuh berkorelasi

dengan sibling rivalry pada remaja awal.

Manfaat penelitian ini terdiri dari manfaat teoritis dan manfaat praktis;

1. Manfaat teoritis penelitian ini adalah mengharapkan keberfungsian

penelitian ini sebagai wawasan keilmuan. Khususnya pada bidang

Psikologi Perkembangan dan bagi masyarakat pac'a umumnya.

2. Manfaat Praktis yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai

salah satu bahan acuan bagi para praktisi bidang perkembangan, sosial,

orangtua, dah masyarakat tentang jenis pola asuh yang cenderung

menimbulkan sibling rivalry serta mencegah atau meminimalisir

(23)

4. Apakah terdapat perbedaan tingkat sibling rivalry berdasarkan jenis

kelamin antar saudara kandung?

5. Apakah terdapat perbedaan tingkat sibling rivalry berdasarkan usia antar

saudara kandung?

6. Apakah terdapat perbedaan tingkat sibling rivalry berdasarkan posisi

subjek dalam keluarga?

1.3

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari tahu apakah pola asuh berkorelasi

dengan sibling rivalry pada remaja awal.

Manfaat penelitian ini terdiri dari manfaat teoritis dan manfaat praktis;

1. Manfaat teoritis penelitian ini adalah mengharapka;, keberfungsian

penelitian ini sebagai wawasan keilmuan. Khususnya pada bidang

Psikologi Perkembangan dan bagi masyarakat pada umumnya.

2. Manfaat Praktis yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai

salah satu bahan acuan bagi para praktisi bidang perkembangan, sosial,

orangtua, dan masyarakat tentang jenis pola asuh yang cenderung

menimbulkan sibling rivalry serta mencegah atau meminimalisir

(24)

1.4

Sistematika Penulisan

Pada penulisan ini penulis menggunakan kaidah American Psychological

Association (APA) style, dengan sistematika sebagai berikut:

BAB 1 : PENDAHULUAN., melingkupi Latar Belakang Masalah, Pembatasan

dim.

Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian serta

Sistematika Penulisan.

BAB 2 : KAJIAN PUSTAKA, yang memuat kajian toritis tentang pola asuh

orangtua yang terdiri dari definisi pola asuh,aspek-aspek dalam pola

asuh, jenis-jenis pola asuh, karakteristik anak dalam kaitannya

dengan pola asuh orangtua, dan faktor-faktor yang mempengaruhi

pemilihan pola asuh. Dilanjutkan dengan kajian teoritis tentang

sibling rivalry yang terdiri dari definisi sJblit1g rivalry, faktor-faktor

ケ。ョセ@ ri1eri1pengaruhi sibling rivalry, aspek-aspek sibling rivalry, t!an

akibat-akibat sibling rivalry, manfaat adanya ーセイウ。ゥョァ。ョ@ ウ。オ、。セ。@

kandt.Jng, dan teknik-teknik untuk mengatasi persaingan saudara

kandung serta landasan teori tentang remaja yang berisi defirlisi

remaja, batasan remaja, karakteristik masa remaja, dan tugas-tugas

perkembangan remaja .. Kemudian dilanjutkan dengan kerangka

(25)

BAB 3 : METODOLOGI PENELITIAN yang meliputi pendekatan penelitian,

variabel penelitian, teknik pengumpulan data, subyek penelitian,

teknik penciambilan sampel, dan metode pengolahan data.

BAB 4 : ANALISIS HASIL PENELltlAN yang berisi gambaran umum

subyek, serta pengolahan dan analisa data.

(26)

2.1

Pola Asuh

2.1.1 Pengertian Pola Asuh

Keluarga memiliki peranan penting terhadap perkembangan anak. Karena

keluarga merupakan lingkungan primer bagi setiap individu. Singgih D.

Gunarsa (2001) menyebutkan bahwa "keluarga merupakan tempat yang

penting dimana anak mempero/eh dasar dalam membentuk kemampuannya

agar kelak menjadi orang berhasil di masyarakat". Setiap keluarga selalu

memiliki cara-cara atau pola-pola tersendiri bagi tumbuh kembang anak dan

sebagai pemilihan cara berinteraksi antara anak dan orangtua.

Pola asuh orangtua adalah bentuk atau cara yang dilakukan orangtua dalam

mengasuh, mendidik atau membimbing anak baik fisik maupun mentalnya

sejak kecil hingga dewasa. Menurut Kohn, pola asuh adalah sikap orangtua

dalam berhubungan dengan anaknya, sikap tersebut dapat dilihat dari

beberapa cara orangtua memberikan peraturan, disiplin, reward, dan

(27)

2.1.2 Aspek-aspek dalam Pola Asuh

Dalam pengasuhan anak, terdapat berbagai aspek dalam hubungan orangtua

dengan anak. Menurut Mussen (dalam Hurlock, 1974) ada empat aspek

dalam pengasuhan anak, yaitu:

1 . Aspek kontrol

Meliputi segala usaha orangtua untuk mempengaruhi aktivitas bertujuan

(goal oriented activity), memodifikasi ekspresi dari rasa ketergantungan

anak, agresivitas, atau tingkah laku bermain. Selain itu termasuk pula

pengembangan internalisasi ウエ。セ⦅、。イ@ yang dimiliki orangtua pada anak.

2. Aspek tuntutan ditampilkannya tingkah laku yang matang (maturity

demands).

Meliputi tuntutan atau penekanan pada anak agar dapat menampilkan

dengan sebaik-baiknya kemampuan dalam bidang sosial, intelektual serta

emosional. Orangtua juga menuntut kemandirian anak, termasuk dalam

membuat keputusan.

3. Aspek kejelasan komunikasi antara orangtua-anak (clarity parent-child

communication)

Orangtua memberikan penjelasan dan menanyakan pendapat anak

(28)

untuk memahami pendapat atau perasaan anak mengenai penjelasan

yang dilakukan.

4. Aspek pemeliharaan terhadap anak (parental nurturance)

Termasuk keterlibatan orangtua dalam pengasuhan, pengungkapan rasa

kasih sayang, rasa bangga dan senang, kehangatan serta pengertian

tehadap anak. Selain itu temasuk pula pengembangan fisik serta emosi

anak. Hal tersebut dilakukan melalui perbuatan dan sikap.

2.1.3 Jenis-jenis Pola Asuh

Diana Baumrind mengajukan 3 macam pola asuh berdasarkan hasil

penelitiannya (dalam Vasta, Miller & Ellis, 2004), yaitu sebagai berikut;

1. Pola asuh authoritarian I otoriter

Orangtua dengan jenis ini cenderung menetapkan standar yang mutlak

harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Orangtua

tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah, dan menghukum. Apabila

anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orangtua maka

'

orangtua tidak segan menghukum anak. Orangtua tipe ini juga tidak

mengenal kompromi, dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah.

Orangtua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk

mengerti mengenai anaknya. Berdasarkan paparan tersebut, maka dapat

(29)

a. Menunjukkan sedikit kehangatan

b. Memiliki standar yang tinggi

c. Menggunakan kekerasan, penerapan disiplin dengan hukuman

d. Jarang berkumpul untuk mendengarkan pendapat anak.

2. Pola asuh

authoritative I

demokratis

Orangtua tipe ini memiliki kontrol namun bersifat fleksibel. Orangtua

dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya

pada rasio atau pemikiran-pemikiran, realistis terhadap kemampuan anak,

tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak.

Orangtua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk

memilih dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatan kepada anak

bersifat hangat. Pada akhirnya, pola asuh demokratis dapat dicirikan

sebagai berikut:

a. Adanya penerimaan terhadap anak, pengungkapan ekspresi dari

perasaaan anak.

b. Memiliki standar yang tinggi namun tidak terlalu membatasi

menjalankan standar dengan konsisten.

c. Lebih suka meminta alasan dari anak daripada kekuatan untuk

menghukum.

(30)

3. Pola asuh permisif

Orangtua permisif yang pemanja biasanya memberikan pengawasan

yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk

melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup. Mereka cenderung

tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam

bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka.

Namun orangtua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali

disukai oleh anak. Adapun ciri-ciri dari pola asuh permisif adalah:

a. Memiliki penerimaan yang tinggi atas ekspresi dari perasaan anak.

b. Longgar dalam peraturan, ringan, tidak konsisten dalammenerapkan

disiplin.

c. Lebih suka menggunakan alasan dibandingkan kekuatan.

Sebelum Diana Baumrind menetapkan terdapat empat jenis pola asuh yang

diterapkan oleh orangtua, sebelumya-hal tersebut telah dikemukakan terlebih

dahulu oleh Eleanor Maccoby dan John Martin yang mengajukan variasi

sistem kategori milik Diana Baumrind. Mereka mengkategorikan keluarga

dalam dua dimensi tingkat tuntutan atau kontrol dan kuantitas penerimaan

melawan penolakan. Pemotongan dari dua dimensi tersebut menciptakan 4

(31)

& Martin mengkonsepkan jumlah tambahan tipe ke empat, yaitu tipe

uninvolved (Boyd & Bee, 2006).

4. Pola asuh uninvolved (Neglectful/)

Pola dimana orangtua tidak mau terlibat dalam kehidupan anaknya.

Orangtua dengan tipe ini memiliki pengasuhan, tuntutan, kontrol, dan

komunikasi yang rendah. Pola pengasuhan ini menjauh (bersifat

memusuhi) dan sangat permisif (terlalu membolehkan}, terlebih ketika

kedua orangtuanya tidak peduli tentang anak-anak mereka (Shaffer,

1999). Sehingga dapat digambarkan bahwa pola asuh uninvolved

mBmiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Melepaskan perasaan terhadap anak.

b. Menarik diri dari kehidupan anak.

c. Ringan dalam hal peraturan

Yangmana kkimudian Baumrind pun menggunakari pula pembagian tersebut.

Berikut adalah bagan tentang ke empat pola asuh tersebut berdasarkan

(32)

2.1: Bagan Pola As uh Orangtua Berdasarkan Aspek-aspek dalam Pengasuhan

PENERIMAAN DAN CARA MERESPON

Tinggi Rendah

z

OTO RITER

セ@

DEMOKRATIS

::;)

Adanya tuntutan yang wajar, Banyak aturan dan tuntutan,

I- Cl

sedikit penjelasan dan memiliki

z

Cl

::;) c: konsisten, sensitif dan

I-

i=

. sensitivitas yang rendah

z

menerima anak

<(

terhadap kebutuhan dan

Cl _J pPrspektif anak. 0 0::

I-z

UN!NVOLVED

0 PERMISIF

::.i::

Sedikit aturan dan hukuman,

J::

セ@

c: Sedikit peraturan dan tuntutan, orangtua tidak melibatkan diri

anak mendapatkan izin dengan CJ)

dan tidak sadar akan 0::

banyak kebebasan dari

kebutuhan anak. orangtua yang sangat sabar.

2.1.4 Karakteristik-karakteristik Anak dalam kaltannya dengan pola asuh

orang tua.

Apa kira-kira dampak pola asuh tersebut pada anak? Berikut adalah

karakteristik-karakteristik anak dengan pola-pola asuh tersebut di alas (Ira

(33)

1. Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut,

pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar

norma, berkepribadian lemah, cemas dan menarik diri.

2. Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang

mandiri, dapat mengontrol diri, mempur.yai hubungan baik dengan teman,

mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru, dan

koperatif terhadap orang-orang lain.

3. Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang

impulsive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang

sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial.

4. Pola asuh penelantar I uninvolved akan menghasilkan karakteristik

anak-anak yang moody, impulsive, agresif, kurang bertanggung jawab, tidak

mau mengalah, Seif Esteem (harga diri) yang rendah, dan bermasalah

dengan teman.

2.1. 5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Pola Asuh

Setiap orangtua berharap anaknya dapat tumbuh menjadi anak yang bahagia

dan mandiri serta berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Dengan begitu orangtua akan memilih pola pengasuhan yang menurutnya

adalah yang terbaik bagi anaknya. Terdapat beberapa faktor yang dapat

(34)

1. Pola asuh yang diterima oleh orangtua sewaktu kanak-kanak

Orangtua memiliki kecenderungan yang besar untuk menerapkan pola

asuh yang sama dengan pola asuh yang mereka terima dari orangtua

mereka.

2. Pendidikan orangtua

Orangtua yang mendapatkan pendidikan yang baik, cenderung

menerapkan pola asuh yang lebih demokratis ataupun permisif

dibandingkan dengan orangtua yang pendidikannya terbatas. Pendidikan

membantu orangtua untuk lebih memahami kebutuhan anak.

3. Kelas sosial

Perbedaan dari kelas sosial orangtua mempengaruhi pemilihan pola asuh.

Orangtua dari kelas sosial menengah cenderung permisif dibandingkan

dengan orangtua dari kelas sosial bawah.

4. Konsep tentang peran orangtua

Tiap orangtua memiliki konsep tentang bagaimana seharusnya ia

berperan. Orangtua dengan konsep tradisional cenderung untuk memilih

pola asuh yang ketat dibandingkan dengan orangtua dengan konsep

(35)

5. Kepribadian orangtua

Kepribadian orangtua mempengaruhi bagaimana mereka

menginterpretasikan pola asuh yang mereka terapkan. Orangtua yang

berkepribadian tertutup dan konservatif cenderung akan memperlakukan

anaknya dengan ketat dan otoriter.

6. Kepribadian anak

Anak yang ekstrovert akan bersikap lebih terbuka terhadap

rangsang-rangsang yang datang padanya dibandingkan dengan anak yang

introvert.

7. Faktor nilai yang dianut orangtua

Di Baral orangtua tampaknya menganut paham "equilitarian", dimana

kedudukan anak sejajar dengan orangtua. Namun di negara Timur,

nampaknya orangtua masih lebih cenderung menghargai kepatuhan

anak.

8. Usia anak

Tingkah laku dan sikap orangtua dipengaruhi usia anak. Orangtua lebih

memberikan dukungan dan dapat menerima ketergantungan anak usia

(36)

2.2

Sibling Rivalry

2.2.1 Pengertian Sibling Rivalry

Persaingan antar saudara kandung adalah suatu hal yang normal terjadi

dalam keluarga yang memiliki lebih dari satu anak. Pertengkaran kakak dan

adik dianggap wajar selama tidak menimbulkan kebencian yang terpendam

dalam hati dan tidak ada motif-motif negatif lainnya. Yang perlu diwaspadai

dari persaingan antar saudara kandung adalah jika dalam persaingan

tersebut terdapat iri, dengki, kebencian atau sikap egois yang berlebihan

terhadap saudaranya.

Menurut Kastenbaum (1979), sibling rivalry merupakan peristiwa ketegangan

dan konflik di antara saudara kandung yang saling memperebutkan kasih

sayang orang tua, status dalam keluarga dan semacamnya. Sedangkan

dalam kamus Psikologi, sibling rivalry (rivalitas saudara kandung)

didefinisikan· sebagai satu kompetisi antar saudara kandung-adik dan kakak

laki-laki, adik dan kakak perempuan adik perempuan dan kakak laki-laki juga

adik laki-laki dan kakak •perempuan (Chaplin, 2000). D<:1vid Shaffer (2002)

mendeskripsikan sibling rivalry sebagai semangat persaingan, kecemburuan,

kemarahan, dan kebencian antara saudara kandung yang menyangkut pada

(37)

Dari beberapa definisi yang telah diungkapkan oleh para tokoh, maka dapat

diambil suatu kesimpulan bahwa sibling rivalry merupakan persaingan antar

saudara kandung karena adanya kecemburuan dan rasa iri hati dalam hal

apa saja yang menyebabkan tumbuhnya perasaan ingin menjadi lebih unggul

dari saudaranya yang lain.

2.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Sibling Rivalry

Menurut Hobart dan Raffelly (dalam Rotenberg, 1995), terdapat beberapa

faktor yang mempengaruhi timbulnya sibling rivalry, yaitu:

1. Perbedaan perlakuan

'Menganak-emaskan' seorang anak dapat mencetuskan kedengkian pada

anak-anak lain. Penelitian Hetherington menunjukkan bahwa ketika

seorang anak merasa diperlakukan beda dengan kakak atau adiknya oleh

orangtua, biasanya sang anak menunjukkan rasa persaingan, sering

bertindak kasar dan tidak jarang menunjukkan permusuhan terhadap

saudara kandungnya maupun anggota keluarga yang lain (Rotenberg,

1995).

2. Orangtua sebagai model

Menurut Duun dan Kendrick, anak-anak yang mengalami interaksi yang

buruk dengan orangtua akan menurun terhadap hubungan saudara

kandungnya. Selain itu Carlotte Priatna (2006) menyebutkan bahwa

(38)

kandung karena tindakan yang nyata /ebih bermakna bagi anak-anak

daripada segudang nasihat".

3. Usia

\

Penelitian Kagan dan Madsen (1995) menunjukkan persaingan biasanya

lebih banyak terdapat pada usia yang lebih tua bila perbedaan usianya

kecil atau pendek (berjarak 1 atau 2 tahun). Di lain pihak, Hopson dan

Hopson (2002) menyatakan bahwa "Berapapun perbedaan umur di antara

kedua saudara tersebut itu bisa saja rnengarah pada persaingan".

Robet Myers menambahkan 2 faktor yang mempengaruhi sibling rivalry, yaitu

( www.practicalparent.org.uk,};

4. Jenis Kelamin

Seorang anak laki-laki mungkin membenci saudara perempuannya

karena ayahnya terlihat lebih lembut pada saudara perempuannya.

Sedangkan anak perempuan justru berharap memiliki hubungan yang

harmonis dengan ayati dan saudara laki-lakinya. Namun di lain pihak

menurut Minnett, Vandel, & Santrock (dalam Santrock, 1995), agresi dan

dominasi terjadi lebih besar dalam relasi-relasi saudara kandung yang

jenis kelaminnya sama dibandingkan dengan relasi saudara kandung

(39)

Hopson dan Hopson (2002) bahwa "Anak laki-laki dan anak perempuan

tidak akan terlalu banyak bertengkar karena masing-masing mempunyai

minat masing-masing".

5. Posisi dalam keluarga

Santrock (1995) menyebutkan bahwa urutan kel8hiran diasosiasikan

dengan variasi-variasi dalam relasi saudara kandung. Dimana ketika

saudara yang lebih tua iri atau menunjukkan rasa permusuhan, orangtua

seringkali melindungi saudara yang lebih muda.

2.2.3 Aspek-aspek dalam Sibling Rivalry

Menurut Kastenbaum, Shaffer, dan Adler (dalam Papalia dan Olds, 1985)

ada beberapa faktor dalam sibling rivalry,antara lain sebagai berikut:

1. Konflik

Dalam sibling rivalry, terjadinya konflik merupakan hal yang normal.

Menurut Shantz (dalam Rotenberg, 1995), konflik adalah perisliwa sosial

yang melibatkan oposisi dan adanya perbcdaan pendapat. Perilaku

tersebut seperti melawan, menolak, dan memprotes. Konflik terjadi

apabila dua atau lebih individu berhubungan dalam perilaku yang

(40)

2. Cernburu

Cernburu pada saudara kandung rnuncul ketika terjadi ketidakpuasan

pada salah satu anak kepada orangtuanya yang rnernperlakukan

anak-anaknya berbeda satu sarna lain. Karena anak-anak sangat tergantung

pada orangtua dalarn hal kasih sayang, perhatian dan pernenuhan

kebutuhan-kebutuhannya sehingga anak-anak tidak suka bila har·us

rnernbagi kasih orangtuanya dengan siapapun (Kagan dan Madsen,

1995). Perilaku cernburu tersebut seperti iri hati dan dengki.

3. Kekesalan

Terkadang perasaan-perasaan kesal seperti sebal dan rnarah pada

orangtua dilarnpiaskan kepada saudaranya (adik/kakak). Hal tersebut

terjadi karena l<etidakberdayaan untuk rnelawa;1 orangtuanya jika hal

tersebut berkenaan dengan perlakuan orangtua yang rnenurutnya

rnernberikan posisi 'spesial' pada saudaranya. Dilain hal, kekesalan dapat

terturnpah pada saudaranya apabila ia rnendapati dirinya sebagai pihak

(41)

2.2.4. Akibat-akibat Sibling Rivalry

Akibat-akibat dari sibling rivalry berbeda-beda dan tidak tetap untuk setiap

anak. Di sini akan diuraikan hasil-hasil yang dikemukakan beberapa ahli,

yaitu:

1. Rasa benci

Dalam peristiwa sibling rivalry, anak yang merasa bahwa perhatian dan

kasih sayang orangtua kepadanya berkurang, akan berusaha

memperolehnya kembali dengan cara apapun karena anak tidak ingin

bahwa orangtua yang dicintainya menjadi milik orang lain. Rasa takut

kehilangan orangtua yang dicintainya ini menimt:ulkan perasaan tidak

nyaman.

2. Rasa cemas

Pada anak yang mengalami sibling rivalry, perasaan cinta kepada

orangtua tidak dapat menghilangkan perasaan benci yang muncul

semenjak kelahiran Si Adik. Rasa cinta dan benci ini saling terkait satu

sama lain dan bisa hadir bersamaan dalam waktu yang bersamaan dalam

satu waktu. Oleh karena itu berarti anak bersikap arnbivalen, sebab anak

sekaligus membenci dan mencintai orangtua, terutarna ibu. Salah satu

akibat yang sangat erat berhubungan dengan konflik, yaitu munculnya

(42)

3. Rasa cemburu

Sibling rivalry diawali dengan adanya kecemburuan pada saudara

kandungnya dalam berbagai hal. Anak mulai membanding-bandingkan

dirinya terhadap adik atau kakaknya dari kekurangan dan kelebihan,

intensitas kasih sayang yang diterima, perlindungan, dan bentuk-bentuk

perlakuan yang diterima dari orangtua mereka. Kemudian dengan

keadaan tersebut anak mulai mencari cara agar ia menjadi lebih unggul

dari saudaranya dengan cara apapun untuk memperolehnya. Apabila

melalui cara-cara yang dipakai dirasa gagal, maka reaksi yang biasa

timbul adalah adalah rasa cemburu terhadap saudara dan rasa kecewa

atas perlakuan orangtua.

4. Rasa marah

Kekecewaan anak atas perlakuan orangtua ditambah dengan berbagai

tuntutan yang baru dari ibu -agar mereka tidak bertengkar dan saling

iri-yang harus 、ゥャ。ォウ。ョ。セ。ョ@ akan membangkitkan rasa marah. Rasa marah

(43)

5. Tingkah laku agresif

Tingkah laku agresif merupakan salah satu cara untuk menyatakan rasa

marah. Karena menurut Yulia Singgih D. Gunarsa (2003), suatu bentuk

lain dari pelampiasan emosi anak terlihat dalam penyaluran agresi

(http///www.sabda.org/j)epak/pustakal. Apabila tingkah laku nakal dari anak-anak

malah mendapat perhatian dari orangtua maka anak akan belajar bahwa

anak akan menerima perhatian dari orangtua apabila berbuat nakal.

Ketika orangtua tidak bijaksana dalam menghadapi tingkah laku anak yang

bermasalah maka yang terjadi adalah tingkah laku bermasalah pada anak

akan berada jauh dari batas normal.

2.2.5 Manfaat Adanya Persaingan Saudara Kandung

Persaingan di antara saudara kandung (sibling rivalry) dalam sebuah

keluarga tidak selalu berdampak negatif karena ada manfaat yang bisa

dipetik. Manfaat itu akan lebih nyata jika dibandingkan dengan seseorang

yang dilahirkan sebagai セュ。ォ@ tunggal. Charlotte Priatna dan Anna Yulia

menyebutkan bahwa "Dalam kenyataannya, di dalam hidup kita menemui

konflik yang tidak bisa dihindari, baik konflik dengan teman, rekan kerja

maupun pasangan hidup. Kita bisa mempersiapkan anak-anak kita untuk

(44)

diatasi di rumah membuat mereka (sibling) lebih tegar ketika menghadapi

konflik di luar rumah jika anak sudah terlatih untuk mengatasi konflik dengan

saudaranya dengan cara yang baik dan bijaksana.

Permusuhan punya segi positif dalam hidup anak karena permusuhan

memberi jalan mereka (sibling), di dalam rumah mereka yang aman untuk

menguji batas-batas mereka, memper:!ahankan diri mereka, dan belajar

bernegosiasi untuk hal yang mereka inginkan dan butuhkan. ltu juga yang

membuat mereka lebih dekat (Samalin, 2003).

2.2.6 Teknik-teknik untuk Mengatasi Persaingan Antar Saudara

Kandung (Sibling Rivalry)

Untuk meminimalisasi sibling rivalry, berikut ada beberapa cara untuk

mengatasi masalah persaingan antara saudara kandung (Charlotte Priatna &

Anna Yulia, 2006);

1. Doronglah anak untuk saling mengungkapkan rasa sayang dan

menanamkan rasa sc;iling memiliki.

Anak tidak bisa hanya disuruh menyayangi tapi mereka harus diajarkan

dan dikondisikan bagaimana cara menyayangi. Selain itu tanamkan rasa

saling memiliki. Misalnya kakak membantu adik membereskan mainan

(45)

sehingga menimbulkan rasa saling memiliki antara kakak dan adik,

bukannya rasa persaingan. lngatkan juga bahwa saudara kandung adalah

teman yang mereka miliki selamanya. Oleh l<arena itu mereka harus

saling menyayangi dan saling menjaga. Hal tersebut dapat menimbulkan

rasa aman dan rasa diterima dalam .diri. mereka &ehingga hal terse but

juga dapat menumbuhkan rasa persaudaraan diantara mereka.

2. Jangan membanding-bandingkan namun hargai keunikan anak.

Minimalkan perbedaan antar anak, jangan bandingkan kelebihan atau

kekurangan anak yang satu dengan yang lainnya. Seringkali orangtua

melakukan hal ini tanpa sadar. Tiap anak mempunyai kelebihan,

kekurangan, dan keunikanriya

ュ。ウゥョァセュ。セゥョァN@

Hargailah perbedaan itu

dan jangan membanding-bandingkannya. Selain itu, tiap anak memiliki

keunikan tersendiri. Mereka mempunyai kelebihan dan kekurangannya

masing-masing, oleh karena itu tidak suka dibandingkan dengan anak

yang lain.

Anak akan lebih menghargai dan mau bersikap terbuka karena dia tidak

dipermalukan di depan saudaranya. Secara sederhana, orangtua harus

bijak dalam membagikan pujian dan kritikan tiagi anak-anaknya dengan

(46)

besar (Amal Syarqawi, 2003). Adapun cara untuk menghargai keunikan

dapat dilakukan dengan memaksimalkan potensi masing-masing anak

sesuai kemampuan masing-masing.

3. Pupuklah harga diri anak

Tingkatkan terus harga diri anak dengan bakat atau kelebihan

masing-masing. Anak-anak bisa menjadi iri jika kakak atau adiknya lebih berhasil

atau disukai orang lain. Untuk menaikkan harga diri anak, yang dapat

dilakukan adalah menggali potensi atau kelebihan masing-masing anak

sehingga tidak ada anak yang iri dan berkecil hati karena tidak merasa

memiliki suatu kelebihan yang patut dipuji-puji orang lain.

4. Kenali temperamen anak

Tidak semua anak mudah ditangani. Ada anak yang sangat penurut dan

mudah diatur, dilain pihak ada anak lain yang cenderung pemberontak.

Oleh karena itu orangtua perlu mengenali temperamen masing-masing

anak.

5. Ajarkan anak untuk mengatasi konflik

Konflik bukan ditiadakan, namun sebagai sarana berdamai kembali, saling

(47)

6. Buatlah peraturan yang jelas untuk ditaati

Anak harus mengetahui dan mematuhi peraturan yang berlaku dalam

keluarga. Misalnya;

a. Tidak boleh saling memukul saat bertengkar.

b. Tidak boleh saling mengejek atau mengeluarkan kata-kata kasar.

c. Jika meminjam barang milik orang lain harus seijin si Empunya dan

harus mengembalikan ketempat semula setelah selaesai

meminjamnya.

7. Bersikap adil terhadap setiap anak

Usahakan supaya orangtua bersikap adil terhadap masing-masing anak

karena rasa cemburu atau iri sangat mudah dipicu dari rasa diperlakukan

tidak adil oleh orangtua. Jika memang orangtua merasa harus

membedakan perlakuan kepada anak yang berkebutuhan khusus

misalnya maka orangtua harus memberikan penjelasan yang masuk akal

kepada anak bahwa dia tidak dibedakan. Yang perlu diingat disini adalah

bahwa adil tidak selalu harus sama banyak, tetapi harus sesuai

(48)

2.3 Remaja

2.3.1 Definisi Remaja

lstilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin "adolescere" yang

berarti "tumbuh" atau "tum_buh menjadi dewasa". Dapat dikatakan bahwa

masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju

dewasa. Sependapat dengan hal tersebut, Papalia dan Olds ( 1995)

mendefinisikan masa remaja sebagai suatu masa transisi antara masa

kanak-kanak dengan masa dewasa yang mana di dalam prosesnya terdapat

tanda-tanda pubertas yang menuju ke arah kematangan seksual atau saat

seseorang dapat bereproduksi.

Menurut Hurlock (1980), istilah adolescence seperti yang dipergunakan saat

ini mempunyai arti yang luas mencakup kematangan mental, emosional,

sosial dan fisik. Menurut Piaget, secara psikologis masa remaja adalah usia

dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak

tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan

berada dalam tingkatan•yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak

(49)

2.3.2 Batasan Remaja

Awai masa remaja berlangsung kira-kira dari 13 tahun sampai 16 tahun atau

17 tahun, dan akhir masa remaja bermula dari 16 atau 17 tahun sampai 18

tahun, yaitu usia matang secara hukum (Hurlock, 1980). Lain halnya dengan

Santrock (2002) yang menyebutkan bahwa usia pubertas perempuan terjadi

pada usia 1 O Y, tahun dan pada laki-laki adalah usia 12 Y, tahun dan pada

keduanya berakhir pada usia 15 Y, tahun.

J.

P Chaplin (2002) membatasi usia remaja pada usia 12-21 tahun untuk

anak perempuan yang dinilai lebih cepat menjadi matang dibandingkan anak

laki-laki sehingga rentangan usia remaja bagi anak laki-laki adalah 13-22

tahun. Sedangkan menurut Sarlito Wirawan Sarwono (2005), tidak ada profil

remaja Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasional. Namun

sebagai pedoman umum dapat digunakan batas usia 11-24 tahun dan belum

menikah sebagai batas usia remaja Indonesia dengan pertimbangan sebagi

berikut;

1. Usia 11 tahun adalah usia ketika pada umumya tanda-tanda seksual

sekunder mulai tampak (kriteria fisik).

2. Di banyak masyarakat Indonesia, usia 11 tahun sudah dianggap akil balik,

baik menurut adat maupun agama, sehingga masyarakat tidak lagi

(50)

3. Pada usia tersebut mulai ada tanda-tanda penyempurnaan

perkembangan jiwa, seperti tercapainya identitas diri (ego identity,

menurut Erickson), tercapainya fase genital dari perkembangan

psikoseksual (menurut Freud), dan tercapainya puncak perkembangan

'

kogniti (menurut Piaget) maupun moral (Kohlberg).

4. Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal, yaitu untuk memberi

peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih

menggantungkan diri pada orangtua, belum mempunyai hak-hak penuh

sebagai orang dewasa (secara adat/tradisi), belum dapat memberikan

pendapat sendiri,dan sebagainya. Dengan kata lain, orang-orang yang

sampai batas usia tersebut belum memenuhi persyaratan kedewasaan

secara sosial maupun psikologi, masih digolongkan remaja.

5. Dalam definisi diatas, status perkawinan sangat menentukan. Hal itu

karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat kita secara

menyeluruh. Seorang yang sudah menikah dalam usia berapapun maka

akan dianggap sudah dewasa dan diperlakukan sebagai orang dewasa

penuh, baik secara t;iukum maupun dalamkehidupan masyarakat dan

keluarga.

Dari sekian banyaknya pendapat ahli dalam pembatasan usia remaja, maka

(51)

pubertas -sebagai ciri remaja awal- dari usia 10 Y, tahun-15 Y, tahun dimana

usia tersebut adalah usia remaja awal yang duduk dibangku SMP, batasan

itu juga masih memenuhi batasan usia remaja Indonesia yang telah

dikemukakan oleh Sarlito Wirawan Sarwono.

2.3.3. Karakteristik Masa Remaja

Seperti halnya dengan semua periode yang penting selama rentang

kehidupan, masa remaja mempunyai karakteristik tertentu yang

membedakannya dengan periode sebelum dan sesud2'lnya. karakteristik

tersebut adalah;

1. Perkembangan Fisik

Remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik ketika lat-alat

kelamin manusia mencapai kematangannya karena secara anatomis

berarti alat-alat kelamin khususnya dan keadaan tubuh pada umumnya

memperoleh bentuk yang sempurna dan secara faali alat-alat kelamin

tersebut sudah berfungsi secara sempurna pula (Sarwono, 2005).

2. Perkembangan Kognitif

Ditinjau dari perkembangan kognitif milik Piaget, masa remaja sudah

mencapai tahap operasional formal. Piaget yakin bahwa pemikiran

(52)

1995). Remaja secara rn<;ir;ital telah dapat berpikir logis tentang berbagai

gagasan yang abstrak dengan kata lain berpikir operasional formal lebih

bersifat hipqtesis dan abstrak serta sistematis, dan ilmiah dalam

memecahkan masalah daripada berpikir konkret (Syamsu Yusuf, 2005).

3. Perkembangan Emosi

Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan

emosi yang tinggi. Pada usfa remaja awal, perkembangan emosinya

.

.

.

menunjukkari sifat yang' sensHif dan reaktif yang sang at kuat terhadap

berbagai peristiwa atau situasi sosial, emosinya bersifat negatif dan

temperamental (mudah tersinggung/marah, atau mudah sedih/murung)

sedangkan remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosinya

(Syamsu Yusuf, 2005).

4. Perkembangan Sosial

Pada masa remaja berkembang "social cognition'', yaitu kemampuan

untuk memahami orang lain. Remaja memahami orang lain sebagai

'

individu yang unik, baik menyangkut sifat-sifat pribadi, minat nilai-nilai

maupun perasannya. Pemahaman ini mendorong remaja untuk menjalin

hubungan sosial yang lebih akrab dengan mereka (terutama teman

(53)

kecenderungan untuk menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai,

kebiasaan, kegemaran (hobby) atau keinginan orang lain (teman sebaya).

5. Perkembangan Moral

Melalui pengalaman atau berinteraksi sosial dengan orangtua, guru,

teman sebaya, atau orang dewasa lainnya, tingkat moralitas remaja

sudah lebih matang jika dibandingkan dengan usia anak. Pada masa ini

muncul dorongan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat

dinilai baik oleh orang lain. Remaja berperilaku bukan hanya memenuhi

kebutuhan fisiknya, tetapi psikologisnya (rasa puas dengan adanya

penerimaan dan penilaian positif dari orang lain tentang perbuatannya).

Menurut Kusdwirarti (dalam Syamsu Yusuf, 2005), jika dikaitkan dengan

perkembangan moral dari Lawrence Kohlberg, pada umumnya remaja

berada dalam tingkatan konvensional, atau berada dalam tahap

berperilaku sesuai dengan tuntutan dan harapan kelornpok dan loyal

terhadap norma atau peraturan yang berlaku dan diyakininya.

2.3.4 Tugas-tugas Perkembangan Remaja

Robert Havigurst mengartikan tugas perkembangan itu merupakan suatu

tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu

(54)

kebahagiaandan kesuksesan dalam menuntaskan tugas berikutnya (Syamsu

Yusuf, 2005).

Adapun tugas-tugas perkembangan remaja dengan singkat dikemukakan

oleh William Kay, sebagai berikut (Syamsu Yusuf, 2005):

1. Menerima fisik sendiri berikut keragaman kualitasnya.

2. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figur-figur yang

mempunyai otoritas.

3. Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar

bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual

niaupun secara kelompok.

4. Menentukan manJsia model yang dijadikan identitasnya.

5. Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap

kemampuannya sendiri.

6. Memperkuat self control (kemampuan mengendalikari diri) atas dasar

skala nilai, prlhsip-pinsip falsafah hidup.

7. Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap/perilaku)

,

(55)

2.4

Kerangka i3erpikir

Keluarga merupakan kelompok sosial pertama bagi anak. Orangtualah yang

bertugas mendidik dan mengasuh anak. Pendidikan awal yang didapat anak

dalam keluarga sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak pada usia

selanjutnya. Ketika orangtua mampu menerapkan pola asuh yang 'sesuai',

maka anak mampu menjalin hubungan sosial yang baik dengan lingkungan

sekitarnya.

Pola asuh yang tidak sesuai dapat menimbulkan berbagai masalah. Salah

satu masalah yang dapat ditimbulkan adalah adanya persaingan antar

saudara kandung (sibling rivalry). Karena sikap orangtua serta keluarga di

sekitarnya sangat besar pengaruhnya terhadap hubungan saudara kandung

(kakak-adik). Oleh karena itu jenis pola asuh berperan penting sebagai

peredam persaingan saudara kandung atau malah menimbulkan dan

menyuburkan persaingan antar saudara kandung tersebut.

Menurut Hurlock (1978), pengaruh sikap orangtua tidak terbatas pada

hubungan orangtua-anak, namun juga mempengaruhi hubungan kakak-adik.

Oleh karena itu pola asuh berperan penting untuk menumbuhkan atau

(56)

Menurut Volling, orangtua yang cenderung memaksa dan menghukum

secara berlebihan dapat menumbuhkan sibling rivalry (Rottenberg, 1995)

Sedangkan menurut Hurlock (1978), hubungan antar saudara kandung

tampak jauh lebih rukun dalam keluarg_a yang menggunakan disiplin otoriter

dan sikap orangtua yang permisif terhadap perilaku anak, memungkinkan

antagonisme dan permusuhan dinyatakan dengan terbuka sehingga

hubungan diwarnai dengan perselisihan. Selain itu, berdasarkan penelitian

yang dilakukan oleh Baumrind (1968) yang menemukan bahwa pola asuh

permisif berhubungan secara positif dengan tingkah laku anak yang agresif

yang merupakan salah satu akibat dari sibling rivalry.

Selain dipengaruhi oleh perilaku orangtua yang dalam hal ini dapat

disuguhkan dalam bentuk pengasuhan orangtua, sibling rivalr; juga

dipengaruhi oleh posisi subyek dalam keluarga, jarak usia antar saudara

kandung, dan jenis kelamin saudara kandung tersebut.

Meningginya emosi men.ipakan ciri dari awal masa remaja. Remaja akan

sakit hati dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya atau kalau ia

tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya sendiri. Jelas bahwa

dalam sibling rivalry terdapat dua objek kekecewaan pada remaja yakni

(57)

menimbulkan emosi.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diduga dan ditarik sebuah asumsi

bahwa pola asuh orangtua berkorelasi dengan sibling rivalry. Namun pola

asuh mana yang lebih berpeluang untuk menumbuhkan atau menyuburkan

(58)

2.5

Hipotesis

H1 :Terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orangtua

dengan sibling rivalry pada remaja awal.

HO

:Tidak terdapat hubur:igan yang signifikan antara pola asuh orangtua

dengan sibling rivalry pada remaja awal.

Dengan adanya beberapa konstelasi yang mempengaruhi sibling rivalry,

maka dalam penelilian ini dapat diajukan beberapa hipotesis alternatif (H1)

lain seisin hipotesis utama, yaitu yang terdiri dari:

H1 : Terdapat perbedaan tingkat sibling rivalry berdasarkan jenis kelamin.

H1 : Terdapat perbedaan tingkl:lt sibling rivalry berdasarkan rentahg usia.

H1 : Terdapat perbedaa11 tingkdt sibling rivalry berdasarkan posisi remaja

awal dalaHi keluarga.

Selanjutnya hipotesis alterHatif tersebut dikonversikan ke

(59)
[image:59.528.47.441.137.614.2]

Gambar 1:

Kerangka berpikir

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANGTUA DENGAN SIBLING

RIVALRY PADA REMAJA AWAL

POLA.ASUH YANG DITERAPKAN ORANGTUA

OTO RITER UNINVOLVED

REMAJA

DEMOKRATIS

t

REMAJA

PERMISIF

t

RE MAJ A

REMAJA

セセセセセセko⦅n⦅f⦅l⦅Qk⦅L⦅」⦅e⦅m⦅bオ⦅r⦅オ⦅N⦅ッ⦅a⦅n⦅k⦅e⦅k⦅e⦅ウa⦅l⦅a⦅nセセセ⦅⦅Ljセ@

BENCI,

CEMAS,

CEMBURU

l

SIBLING

RIVALRY

PERILAKU

MARAH,

(60)

3.1

Jenis Penelitian

3.1.1 Pendekatan dan metode peneiitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

kuantitatif, yaitu data yang dihasilkan dari serangkaian pengukuran suatu

observasi yang dinyatakan dengan angka dan analisa dengan uji statistik

(Arikunto, 2003).

Sedangkan metode yang digunakan adalah metode penelitian korelasional,

yakni penelitian yang dirancang untuk menentukan tingkat hubungan

variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi (Sevilla,et all, 1993).

3.1.2 Definisi Variabel

Kerlinger (dalam Sevilla, 1993) mendefinisikan variabel penelitian sebagai

suatu sifat yang dapat• memiliki berbagai macam nilai, menyangkut segala

sesuatu yang menjadi objek penelitian. Dalam penelitian ini terdapat variabel

bebas (independent variable) yang yang dipandang sebagai kemunculan

(61)

+

Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pola asuh orangtua. Yang

didapat dari skor pada skala pola asuh.

+

Variabel Terikat (Dependent Variable)

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah sibling rivalry. Yang berupa

penilaian kepada subjek yang mengalami sibling rivalry atau tidak.

3.1.3 Definisi Operasional

Definisi operasional yang dimaksud dalam hal ini adalah definisi yang bersifat

empiris yang dapat diukur dan dinilai berdasarkan konsep operasional dari

variabel penelitian. Adapun definisi operasional dari variabel penelitian

tersebut adalah sebagai berikut:

• Pola asuh yang diterapkan oleh orangtua dapat dilihat dari skor yang

diperoleh dari skala pola asuh orangtua yang mengungkap ciri-ciri

masing-masing pola asuh yang menjadi pilihan jawaban subjek atas

sub-variabel pola asuh orangtua yang terdiri di:iri 4 aspek dalam pola asuh

oranglua, yaitu:

a. Kontrol, merupakan segala usaha orangtua untuk mempengaruhi

aktivitas bertujuan, memodifikasi ekspresi, agresifitas atau tingkah laku

(62)

b. Tuntutan, merupakan penekanan pada anak agar dapat menampilkan

dengan sebaik-baiknya kemampuan dalam bidang sosial, intelektual,

serta emosional. Orangtua juga menuntut kemandirian anak, termasuk

dalam membuat keputusan.

c. Komunikasi, merupakan penjelasan orangtua kepada anak dan

menanyakan pendapat anak dalam membuat aturan-aturan bagi anak.

Orangtua juga berusaha untuk memahami pendapat atau perasaan

anak mengenai penjelasan yang dilakukan.

d. Pengasuhan, merupakan keterlibatan orangtua dalam pengasuhan

seperti adanya pengungkapan kasih sayang, rasa bangga dan

senang, kehangatan, serta emosi yang dilakukan melalui perbuatan

dan sikap.

i3erikut adalah ciri-ciri pola asuh orangtua yang menjadi pilihan subjek

untuk mendapatkan skor pola asuh orangtua:

1. Pola asuh otoriter, yaitu pola asuh yarig memiliki

acceptance

yang

rendah namun menggunakan kontrol yang tinggi, suka menghukum

'

secara fisik, bersikap memaksa, kaku (keras) serta cenderung

emosional dan bersikap menolak.

2. Pola asuh Demokratis, yaitu pola asuh yang memiliki ciri-ciri sikap

(63)

kebutuhan anak, mendorong anak untuk menyatakan pendapat atau

pertanyaan serta memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan

yang baik dan yang buruk.

3. Pola asuh permisif, yaitu pola asuh yang bercirikan memiliki sikap

acceptance yang tinggi namun kontrolnya rendah serta memberikan

kebebasan kepada anak untuk menyatakan dorongan atau

keinginannya.

4. Pola asuh uninvolved, yaitu pola asuh yang memiliki ciri-ciri sikap

acceptance yang rendah dan kontrol yang rendah pula, serta

cenderung mengabaikan anak.

Sibling rivalry adalah persaingan antar saudara kandung karena adanya

kecemburuan dan rasa iri hati dalam hal apa saja yang menyebabkan

tumbuhnya perasaan ingin tnenjadi lebih unggul dari saudaranya yang

lain. Definisi operasional variabel sibling rivalry adalah skor yang

diperoleh dari skala sibling rivalry yang terdiri dari 3 sub-variabel, yaitu:

1. Konflik

Konflik adalah peristiwa sosial yang melibatkan oposisi dan adanya

perbedaan pendapat. Perilaku tersebut seperti melawan, menolak, dan

(64)

2. Cemburu

Cemburu adalah bentuk lain dari marah yang menimbulkan rasa kesal

atau benci terhadap orang yang disayang maupun terhadap saingan.

Perilaku cemburu tersebut seperti iri hati dan dengki.

3. Kekesalan

Terkadang perasaan-perasaan kesal seperti sebal dan marah pada

orangtua dilampiaskan kepada saudaranya (adik/kakak).

3.2 Pengambilan Sampel

3.2.1

Populasi

Arikunto (2002) memaparkan bahwa populasi adalah keseluruhan subjek

penelitian. Adapun jumlah populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas

2Nlll SMPN 182 Kali Bala - Jakarta Selatan yang memiliki saudara kandung

berjumlah 260 siswa/i. Jumlah tersebut didapat peneliti berdasarkan

keterangan dari wakil kepala sekolah tersebut sebelum dilakukan try

out

dan

penelitian.

3.2.2

Sampel

Menurut Arikunto (2002),sampel adalah bagian dari populasi. Sampel dalam

penelitian ini adalah siswa/I SMPN 182 Kali Bata Jakarta Selatan yang duduk

(65)

sebesar 10% yang mensyaratkan jumlah sampel minimal yang harus

digunakan dari populasi berjumlah 260 orang adalah 72 orang dan sampel try

out digunakan sebanyak 71 orang yang keseluruhannya telah memenuhi

kriteria sampel penelitian ini.

3.2.3 Teknik Pengambilan Sampel

Tehnik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah

f)urposive sample (sampel bertujuan). Sampel bertujuan dilakukan dengan

cD

cara pengambilan sampel didasarkan atas tujuan tertentu HセゥォオョエッLRPPRIN@

Pengambilan sampel penelitian didasarkan atas ciri-ciri .. sifat, atau

karakteristik yang ditentukan peneliti agar mendapatkan sampel yang

memiliki kemungkinan mengalami sibling rivalry. Adapun kriteria sampel yang

diambil adalah;

1) Siswa/i kelas VIII/II SMPN 182 Jakarta Selatan.

2) Memiliki saudara kandung (kakak/adik).

3) Tinggal bersama o_rangtua dan saudaranya.

Pada kriteria sampel poi

Gambar

Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin .............
Tabel 2.1.
Tabel 4.15. Tingkat Sibling Rivalry Berdasarkan Usia Subjek..........................
Gambar 1 Kerangka Berpikir ................................ ........... ............ .................
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : 1) Hubungan antara persepsi pola asuh permisif orangtua dengan intensi merokok pada remaja awal. 2) Sumbangan efektif persepsi

Hasil penelitian mayoritas pengetahuan responden berada pada kategori kurang yaitu sebanyak 22 responden (50%) dengan reaksi sibling rivalry negatif pada anak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orang tua mempunyai pengaruh terhadap tingkat agresivitas remaja akan tetapi hanya pola asuh mengabaikan , memanjakan dan

Dalam penelitian ini, 14 responden (43,8%) tidak mengalami sibling rivalry. Anak- anak yang tidak mengalami sibling rivalry cenderung lebih penurut, tidak mengompol

Hal tersebut sesuai dengan teori dari penerapan pola asuh yang menyatakan bahwa orang tua yang dapat memberi kesempatan remaja untuk berpendapat mengapa ia melanggar peraturan

Pada data primer hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami reaksi sibling rivalry dalam kategori ringan dan kategori berat tersebut pada umumnya

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa frekuensi kejadian bullying paling tinggi terjadi pada pola asuh orangtua yang otoriter

Kegiatan lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi sibling rivalry adalah dengan melakukan konseling realitas dan konseling kelompok Suciati & Srianturi, 2021; Turniati & Nusantoro,