SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
OLEH BADIYAH FULIATI
BBGLLセ@
102070025953 ' ,,,
----Gセ@
FAKULTAS PSIKOLOGI
セセ@ ,,
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Oleh BADIYAH FULIATI
NIM.102070025953
Di Bawah Bimbingan
Pembimbing II
FAKULTAS PSIKOLOGI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
JAKARTA telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 22 Januari 2007. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi
Jakarta, 22 Januari 2007
Sidang Munaqasyah
Ketua Mer gkap A ggota
Penguji I
oralh;•h s,_ .
セNウ[@
NIP. 150 215 283Anggota
38 773
Penguji II
B\b・セー@ atfi(
6ul(szn 6erarti liarus mem6eri tfengan porsi yano sama,
aau
aifat:ali
mem6erilign sesuatu sesuai lfennan セVオエオャゥ。ョᄏ@
Sa6tfa
セHオH{。ャゥ@S..JL W : "<BerCaftuCali
aau
terliadap anaft-anaft ligCian tfat:am
mem6erilign sesuatu
セ。、。@merelig, se6aoaimana ligCian inoin aiperCaftulign
aaiC
'l()l<l{,'l;'."?L IM
'l(VtJXECJ?SP,!M.CJJ)'l:J{'K)'l!N V!NPV'l(
'l(SE.LVJt<.Rg.JI <Y}f!N(j 9t1.P1N©V'l(V5V(j
SP.CJJV.JIJ{ <PILJJ{fl.5VJ{J<DV<P
<Dfl.5'{ 9.1.fl_Sfl. (j)p,<J>.Jl!N.
V!NPV'l(S.JIJ{JtCJJJt<J'.-S.JIJ{fl.CJJJtrf SP.Jfl.'11'l(V
Jt'l)IS tJXEIJ(S.JIJ{JtCJJJtrffl.5'{<J.IEqlJ:MD.JIJ{
Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 182 JAKARTA dengan jumlah sampel sebanyak 72 orang siswa/I yang memiliki saudara kandung.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling
dengan menyodorkan kriteria sampel penelitian ini.
lnstrumen pengumpul data yang digunakan adalah Skala pola asuh orangtua yang mengacu pada dimensi dalam pola asuh dari Mussen dan Skala Sibling rivalry yang mengacu pada aspek-aspek dalam
Sibling rivalry yang dikemukakan oleh Kastenbaum.
Teknik pengolahan dan analisa data dilakukan ciengan analisa statistik yang meliputi korelasi Pearson untuk menguji validitas item, Alpha Cronbach untuk menguji reliabilitas instrumen pengumpul data, dan uji
Chi square dan crosstabs untuk pengujian hipotesis penelitian.
Jumlah item valid untuk skala pola asuh orangtua sebanyak 29 item dan
sedangkan jumlah item valid untuk skala sibling rivalry sebanyak 46
item. Adapun reliabilitas skala pola asuh adalah 0,760, reliabilitas skala
sibling rivalry 0,89"/. Berdasarkan analisis crosstabs dengan uji
Chi-square terhadap hipotesis yang diajukan, diperoleh hasil bahwa tidak
ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orangtua dengan sibling
rivalry pada remaja awal dengan chi-square hitung (3,557) <chi-square
label (912,591).
oleh Nabi Muhammad SAW Menjadi impian bagi semua orang dan pada umumnya tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya celaka, menderita, serta tersiksa dalam rumahnya sendiri. Hasil karya tentang pola pengasuhan dan hubungan saudara kandung ini adalah .sebuah proses pencarian jawaban peneliti alas
fenomena yang terjadi dalam lingkungan keluarga besar peneliti. Meski tak menjadi acuan utama, tak dapat dihindarkan bahwa pola pengasuhan dalam rumah memiliki peranan dalam pembentukan seorang anak dengan segala tingkah lakunya. Oleh karena itu peneliti mempersembahkan hasil karya ini bagi para orangtua yang tak pernah lelah berusaha sebaik mungkin dalam menjaga titipanNya dengan kasih dan sayang tak terbilang dengan perumpamaan apapun jua.
Alhamdulillah,sebuah hasil karya tak ternilai ini telah terselesaikan alas kasih Allah SWT dengan segala bantuan dan kesempatannya hingga terselesaikannya karya ini. Terima kasih dengan ucapan Shalawat dan salam peneliti haturkan pada Nabi Muhammad SAW yang membuat islam sampai keseluruh penjuru sehingga peneliti berada dalam naungan agama islam dan memiliki Tuhan yang sempurna.
Terselesaikannya tugas skripsi ini tentunya tak terlepas dari sentuhan-sentuhan hebat orang-orang disekltar penulis. Dengan sangat bangga maka penulis menghaturkan untaian rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada : 1. Orangtua tercinta, M. Subadi dan Rochimah Fuliati yar,9 menjadi pendorong
utama penyusunan hasil penelitian ini yang selalu mengharapkan anaknya bisa menggunakan toga kebanggaan dengan hasil yang memuaskan atas perjuangan selama empat tahunnya bergelut dengan buku-buku, komputer, dan asap
knalpot yang pekat disetiap perjalanannya.
2. Dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, !bu Dra. Hj. Netty Hartati, M.Si dan dosen pembimbing Akademik, Bapak Ors. Abdurrahman Shaleh, M.SL
3. Pembimbing I, !bu Dra. Zahrotun Nihayah, M.Si dan pembimbing II, !bu Solicha, S,Ag yang selalu sabar saat ditodong untuk memberikan waktunya guna
penyelesaian hasil karya ini, Tanpa coretan mereka, hasil karya ini mugkin tak terbantu sampai di meja pendaftaran sidang.
6. Kepada master of statistik, Liza Nur Hasymi, S. Psi, alas jawaban-jawabannya ketika aku terbentur akan limpahan rumus statistik.
7. Untuk Kak Agus, Totok &'Wildan atas materi singkat SPSSnya, serta Kak Bekti untuk komputernya specially program SPSSnya yang membantu sakuku hingga tidak terogoh terlalu dalam.
8. Kepada Ana Nafisyah untuk sharenya, Ey Eka Kurniawan untuk cerita-ceritanya yang menghibur dan informasinya tentang hal-hal yang berkaitan dengan tugas skripsi ini. Lulu Lutfiah sahabat baruku yang baik hati atas kebersamaanya dan kesediaannya menjadi tempat berkeluh kesah dan berbagi cerita, serta teman-teman lain yang mau memberikan masukan pada saat penulis kebingungan. 9. Untuk Tante Maya dan Keluarga (Ardo, 02 Shaquille, Rere dan Om Tig) yang
menyediakan komputernya saat penulis berlomba dengan waktu agar revisi skripsi dapat terselesaikan tan pa mengulur deadline terlalu lama.
10. Serta kepada wakil kepala sekolah SMPN 182 dan SMPN 35 Jakarta yang telah memberi kepercayaan pada peneliti untuk menjadikan siswa-siswinya sebagai topik utama dalam penelitian ini.
11. The Last and the most ... Specially unfuk adik-adikku di SMPN 182 dan 35
Jakarta atas peran utamanya dalam penelltian ini yang secara maksimal telah memberikan sebagian waktu berharganya.
KepadaNya dan beliau-beliau semuanya penulis ucapkan bdnyak-banyak terima kasih. Semoga Allah SWT memberikan ganjaran yang tepat bagi mereka. Dan pada akhirnya, penyusunan skripsi ini penellti tujukan pada orang-orang terkasih yang tersebut diatas.
Jakarta, November 2006
Halaman Persetujuan ... ... ... ... ... ... ... ii
Halaman Pengesahan ... iii
Motto ... iv
Persembahan ...
v
Abstraksi ... vi
Kata Pengantar ... viii
Daftar lsi ... ix
Daftar Tabel... xii
Daftar Gambar ... xiv
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... .':.,... 1
1.2. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 7
1.2.1 Pembatasan Masalah ... 7
1.2.2 Perumusan Masalah ... 7
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8
1.4. Sistematika Penulisan ... 15
BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1. Pola Asuh ... 11
2.1.1. Pengertian Pola Asuh ... 11
2.1.2. Aspek-aspek dalam Pola Asuh ... 12
2.1.3. Jenis-jenis Pola Asuh ... 13
2.2.3. Aspek-aspek dalam Sibling Rivalry... 24
2.2.4. Akibat-akibat Sibling Rivalry . ... .. .. . . . .. .. . . ... .. . .. . . . .. 26
2.2.5. Manfaat Adanya Persaingan Saudara Kandung ... 28
2.2.6. Tehnik-tehnik untuk Mengatasi Persaingan Antar Saudara Kandung ... 29
2.3. Remaja ... ... 34
2.3.1. Definisi Remaja ... 34
2.3.2. Batasan Remaja... 35
2.3.3. Karakteristik Masa Remaja ... 37
2.3.4. Tugas-tugas Perkembangan Remaja ... ... 39
2.4. Kerangka Berpikir ... ... ... ... .. ... .. ... .... 41
2.5. Hipotesis ... ... ... 44
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ... .... 46
3.1.1. Pendekatan dan Metode Penelitian ... .... ... ... .. .. 46
3.1.2. Definisi Vanabel ... ... ... 46
3.1.3. Definisi Operasional ... ... ... 4 7 3.2. Pengambilan Sampel ... 50
3.2.1. Populasi ... 50
' 3.2.2. Sampel... 50
3.2.3. Tehnik Pengambilan sampel... 51
3.3. Pengumpulan Data ... ... 52
3.3.1. Metode dan lnstrumen Pengumpulan Data ... 52
3.3.2. Teknik Uji lnstrumen Penelitian ... 55
3.3.2.1 Uji Validitas Skala... 55
4.1. Gambaran Umum Subjek ... 61
4.1.1. Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin ... 61
4.1.2. Gambaran Subjek Berdasarkan Usia ... .. ... 62
4.1.3. Gambaran Subjek Berdasarkan Posisi Subjek dalam Keluarga ... .. . ... ... . . . .. .. . ... . . ... .. . .. . . .. . 62
4.1.4. Gambaran Subjek Berdasarkan Pola Asuh yang Diterapkan Orangtua... ... ... 63
4.1.5. Gambaran Subjek Berdasarkan Tingkat Sibling Rivalry 64 4.2. Hasil Utama Penelitian ... ... ... 65
4.2.1. Uji Persyaratan ... 65
4.2.2. Uji Hipotesis... 68
4.2.3. Hasil Tambahan ... 72
BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN 5. 1 Kesimpulan ... ... 81
5.2 Diskusi ... 82
5.3 Saran ... 90
DAFTAR PUSTAKA
[image:11.534.40.454.56.512.2]Tabel 2.1. Bagan Pola Asuh Orangtua Berdasarkan Aspek-aspek dalam
Pengasuhan ····:··· 17
Tabel 3.1. Format Penilaian Skala Pola Asuh Orangtua ... 53
Tabel 3.2. Blue Print Skala Pola Asuh Orangtua ... 53
Tabel 3.3. Format Penilaian Skala Sibling Rivalry... 54
Tabel 3.4. Blue Print Skala Sibling Rivalry ... 70
Tabel 3.5. Blue Print Revisi Kepemimpinan Transformasional ... 71
Tabel 4.1. Distribusi Jenis Kelamin Subjek ... 61
Tabel 4.2. Distribusi Usia Subjek ... ... 62
Tabel 4.3. Distribusi Posisi Subjek dalam Keluarga ... ... ... ... ... 63
Tabel 4.4. Distribusi Pola Asuh yang Diterapkan Oleh Orangtua Subjek ... 64
Tabel 4.5. Distribusi Tingkat Sibling Rivalry Subjek ... ... ... ... .... .... 65
Tabel 4.6. Hasil Uji Normalitas ... ... ... ... 66
Tabel 4.7. Hasil Uji Homogenitas Skala Pola Asuh ... 68
Tabel 4.8. Hasil Uji Homogenitas Skala Sibling Rivalry ... ... ... 68
Tabel 4.9. Crosstabs Jenis Pola Asuh Orangtua dengan Tingkat Sibling Rivalry ' ··· 69
Tabel 4.1 o. Distribusi Persentase Tingkat Sibling Rivalry Berdasarkan Pola As uh yang Diterapkan Oleh Orangtua Subjek ... .... 69
Tabel 4.11. Nilai Tes Chi-Square... 71
Tabel 4.15. Tingkat Sibling Rivalry Berdasarkan Usia Subjek... 76
Tabel 4.16. Tingkat Sibling Rivalry Berdasarkan Jarak Usia Subjek dengan Sibling
···
n
Tabel 4.17. Tingkat Sibling Rivalry Berdasarkan Posisi Subjek dalam Keluarga
Gambar 1 Kerangka Berpikir ... ... ... ... .. 45
Garn bar 2 Scatterplot Pola Asuh ... ... ... ... .. . ... .. ... ... 66
1.1
Latar Belakang Masalah
··-Keluarga adalah tempat yang penting dimana anak memperoleh dasar dalam
membentuk kemampuannya agar kelak menjadi orang yang berhasil di
masyarakat (Gunarsa, 2001). Oleh karena itu pendidikan awal yang didapat
anak dalam keluarganya sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak pada
usia selanjutnya. Dengan kenyataan tersebut mau tidak mau orangtua
dituntut untuk mengajarkan dan membimbing anaknya sebaik mungkin.
Namun ternyata hal tersebut terbentur oleh pola asuh jenis apa yang
diterapkan oleh masing-masing orangtua untuk menciptakan keluarga yang
'ideal'. Karena terkadang bentuk pola asuh yang diterapkan malah
memunculkan hal-hal negatif pada diri anak dengan timbulnya berbagai
macam masalah pada hubungan keluarga tersebut.
Salah satu permasalahan yang bisa timbul dalam keluarga yang memiliki
anak lebih dari satu adalah sibling rivalry. Sibling rivalry atau persaingan
antara saudara kandung merupakan suatu ketegangan yang terjadi di antara
kakak dan adik yang sebelumnya hangat mulai 'mendingin' ketika adik
masing-masing pihak berusaha untuk lebih unggul dari yang lain (Tim redaksi
Ayahbunda, 1998).
Dapat diakui, mempunyai saudara bisa jadi menyenangkan, mengerikan atau
bahkan keduanya. Persaingan antar saudara kandung ini berasal dari
keinginan alami seorang anak yang menginginkan dirinya menjadi pusat
perhatian orangtuanya. Dengan begitu maka ia merasa bahwa orangtuanya
lebih menyayanginya.
Persaingan antar saudara kandung dalam batas-batas tertentu sebenarnya
adalah suatu hal yang normal (Priatna, 2006) karena dalam persaingan
tersebut, anak mulai belajar bergaul, bersosialisasi dan menyesuaikan dirinya
dengan kakak/adiknya sebelum ia mulai berbaur dengan lingkungan baru di
luar rumah. Selain itu, dalam sebuah keluarga terdapat anak-anak yang
berbeda jenis kelamin, usia yang berarti berbeda posisi (sulung, tengah,
bungsu) dalam keluarga tersebut bahkan temperamen serta karakternya.
Perbedaan-perbedaan \ersebut memang akan selalu memunculkan konflik
yang 'unik' di antara mereka laiknya sebuah pepatah "lain kepala, lain isinya".
Persaingan antar saudara kandung juga timbul karena anak-anak berlomba
untuk mencari perhatian dan mengharapkan pujian dari orang tuanya atau
seringkali dimunculkan oleh anak dengan sikap saling rnengganggu atau
menggoda satu sama lain yang terkadang malah menimbulkan
pertengkaran-pertengkaran kecil. Namun jika persaingan antar saudara kandung tersebut
sudah diwarnai oleh perasaan iri, dengki, kebencian, atau sikap egois yang
berlebihan dan dendam yang terpupuk terhadap saudaranya maka akan
menimbulkan berbagai ha! negatif dalam hubungan kakak-beradik ini.
·,
Menurut Hopson
&
Hopson (2002), tidak ada persaudaraari tanpa persaingankarena dalam setiap hubungan pasti ada perbedaan-perbedaan. Oleh karena
itu, tak mengherankan apabila terdapat persaingan di antara kakak beradik
yang juga disebut sibling rivalry. Anak akan berusaha mengalahkan
saudara-saudaranya yahg dianggapnya sebEtgai saingan dalam memperoleh kasih
sayang orangtua.
Rasa bersaing itu terutama muncul pada anak-anak yang merasa
diperbandingkan oleh orangtuanya dan adanya perasaan diabaikan ketika
orangtua 'menganak-emaskan' saudaranya. Sikap orangtua yang seperti
inilah yang dapat menciptakan suasana persaingan pada anak-anaknya.
Sebab kasih sayang orangtua biasanya lebih tertuju pada siapa yang
Salah satu aspek yang paling serius dari perselisihan antar saudara kandung
ialah bahwa hubungan buruk ini sering menjadi pola hubungan sosial yang
akan dibawa anak keluar rumah untuk diterapkan dalam hubungannya
dengan teman sebaya. Akibatnya, mereka lebih besar kemungkinannya
ditolak dan diabaikan oleh teman sebayanya (Hurlock, 1978).
Contoh kasus:
Dennis mengungkapkan bahwa ia sangat membenci adiknya karena ia
menganggap orangtuanya berlaku tidak adil terhadap mereka berdua.
Karena setiap mereka bertengkar ayahnya seringkali menyalahkannya
dengan alasan: "kakak harus mengalah dengan adik" dan kemudian
menghukumnya tanpa meminta pen]elasan tentang apa yang sebenarnya
telah terjadi. Hingga pada akhirnya muncullah perasaan iri sekaligus benci
dalam diri Dennis terhadap adiknya. Bahkan ketika ia merasa benar-benar
merasa kesal dengan adiknya, ia merusak mainan adiknya dan mencubitnya.
Dari contoh kasus tersebut di atas, dapat dilihat bahwa persaingan antar
saudara kandung sangat dipengaruhi oleh perlakuan orangtua yang diterima
anak. Perlakuan semacam itu digambarkan dalam kasus tersebut dengan
sikap 'menganak-emaskan' salah seorang anak sehingga membedakan dia
perilaku orangtua yang memaksa dan menghukum anak tanpa memberi
kesempatan padanya untuk membela diri atau setidaknya menjelaskan apa
yang sebenarnya terjadi. Sikap orangtua tersebut tidak terbatas pada
hubungan orangtua-anak., namun juga mempengaruh1 hubungan dengan
adik-kakak (Hurlock, 1978). Dalam situasi seperti ini anak akan berusaha
menjadi yang terbaik di depan orangtuanya dan menjadikan saudara
kandung sebagai saingan dalam mendapatkan perhatian dan kasih sayang
yang lebih dari orangtuanya.
Pola asuh otoriter, sedikitnya dicirikan dengan adanya pemaksaan dan
hukuman. Sesuai dehgan paparan dari Volling bahwa frekuensi dan tingkat
intensitas konflik antara orangtua dan anak secara positif berhubungan
dengari konflik antl:lr saudara kandung. Orangtua yang cenderung berperilaku
memaksa dan menghtJkum secara berlebihan dapat menumbuhkah sibling
rivalry (Rotenberg, 1995).
Berdasarkan analisa kasus tersebut dan pernyataan yang diungkapkan oleh
Volling, maka penulis menduga bahwa terdapat benang merah antara bentuk
Metode pendisiplinan merupakan salah satu tolak ukur penentu jenis pola
asuh yang diterapkan orangtua dalam mendidik dan membimbing anaknya.
Hurlock (1978) menyebutkan bahwa hubungan antar saudara kandung
tampak jauh lebih rukun dalam keluarga yang menggunakan disiplin otoriter.
Hal tersebut bertentangan dengan contoh kasus dan paparan veiling di atas.
Namun Hurlock (1978) juga memaparkan bahwa pencawasan orangtua yang
santai, permissif terhadap perilaku anak, memungkinkan antagonisme dan
permusuhan dinyatakan dengan terbuka, sehingga tercipta suasana yang
diwarnai dengan perselisihan. Hal tersebut diperkuat oleh penelitian
Baumrind (1968) yang menemukan bahwa pola asuh permissif berhubungan
secara positif dengan tingkah laku anak yang agresif. Anak yang merasakan
ketidak adilan dari orangtua alas perlakuan mereka terhadap saudaranya
maka akan menimbulkan kemarahan dan kebencian. Menurut Yulia Singgih
D. Gunarsa (2003), salah satu bentuk pelampiasan emosi anak dapat terlihat
dalam penyaluran agresi (httpllwww.sabda.org/pepaklpustaka).
Dengan adanya dua pe(ldapat yang berbeda itulah maka penulis tertarik
untuk mengetahui seberapa besar hubungan pola asuh orangtua dengan
sibling rivalry pada remaja, pola asuh manakah yang memiliki kecenderungan
menumbuhkan atau menyuburkan persaingan antar saudara kandung (sibling
1.2
Pembatasan dan Perumusan Masalah
1.2.1 Pembatasan Masalah
Agar pembahasan tidak melebar dan lebih terfokus, maka diperlukan
pembatasan masalah. Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Pola asuh orangtua yang digunakan adalah empat jenis pola asuh yaitu,
.
Pola asuh otoriter, demokratis, permisif, dan uninvolved.yang dilihat
dalam aspek kontrol, tuntutan, komunikasi, dan par"intal nurturance.
2. Sibling rivalry, yaitu persaingan yang terjadi di antara saudara kandung.
3. Subyek yang diteliti adalah siswa-siswi SMP yang memiliki kakak/adik.
Dengan pertimbangan bahwa mereka termasuk dalam rentang remaja
yang masih mengalami sibling rivalry.
1.2j
pセイオイエ|セウ。ョ@ MasalahDalam batastm masalah di atas, mclka rumusan masalilh penelitian ini
adalah:
1. Pola asuh jenis apa yang diterapkan oleh orangtua kepada remaja?
··-2. Apakah terjadi sibling rivalry dalam hubungan antar saudara kandung
(kakak/adik)?
3. Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh yang
4. Apakah terdapat perbedaan tingkat sibling rivalry berdasarkan
faktor-faktor konstelasi dalam keluarga?
1.3
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari tahu apakah pola asuh berkorelasi
dengan sibling rivalry pada remaja awal.
Manfaat penelitian ini terdiri dari manfaat teoritis dan manfaat praktis;
1. Manfaat teoritis penelitian ini adalah mengharapkan keberfungsian
penelitian ini sebagai wawasan keilmuan. Khususnya pada bidang
Psikologi Perkembangan dan bagi masyarakat pac'a umumnya.
2. Manfaat Praktis yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai
salah satu bahan acuan bagi para praktisi bidang perkembangan, sosial,
orangtua, dah masyarakat tentang jenis pola asuh yang cenderung
menimbulkan sibling rivalry serta mencegah atau meminimalisir
4. Apakah terdapat perbedaan tingkat sibling rivalry berdasarkan jenis
kelamin antar saudara kandung?
5. Apakah terdapat perbedaan tingkat sibling rivalry berdasarkan usia antar
saudara kandung?
6. Apakah terdapat perbedaan tingkat sibling rivalry berdasarkan posisi
subjek dalam keluarga?
1.3
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari tahu apakah pola asuh berkorelasi
dengan sibling rivalry pada remaja awal.
Manfaat penelitian ini terdiri dari manfaat teoritis dan manfaat praktis;
1. Manfaat teoritis penelitian ini adalah mengharapka;, keberfungsian
penelitian ini sebagai wawasan keilmuan. Khususnya pada bidang
Psikologi Perkembangan dan bagi masyarakat pada umumnya.
2. Manfaat Praktis yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai
salah satu bahan acuan bagi para praktisi bidang perkembangan, sosial,
orangtua, dan masyarakat tentang jenis pola asuh yang cenderung
menimbulkan sibling rivalry serta mencegah atau meminimalisir
1.4
Sistematika Penulisan
Pada penulisan ini penulis menggunakan kaidah American Psychological
Association (APA) style, dengan sistematika sebagai berikut:
BAB 1 : PENDAHULUAN., melingkupi Latar Belakang Masalah, Pembatasan
dim.
Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian sertaSistematika Penulisan.
BAB 2 : KAJIAN PUSTAKA, yang memuat kajian toritis tentang pola asuh
orangtua yang terdiri dari definisi pola asuh,aspek-aspek dalam pola
asuh, jenis-jenis pola asuh, karakteristik anak dalam kaitannya
dengan pola asuh orangtua, dan faktor-faktor yang mempengaruhi
pemilihan pola asuh. Dilanjutkan dengan kajian teoritis tentang
sibling rivalry yang terdiri dari definisi sJblit1g rivalry, faktor-faktor
ケ。ョセ@ ri1eri1pengaruhi sibling rivalry, aspek-aspek sibling rivalry, t!an
akibat-akibat sibling rivalry, manfaat adanya ーセイウ。ゥョァ。ョ@ ウ。オ、。セ。@
kandt.Jng, dan teknik-teknik untuk mengatasi persaingan saudara
kandung serta landasan teori tentang remaja yang berisi defirlisi
remaja, batasan remaja, karakteristik masa remaja, dan tugas-tugas
perkembangan remaja .. Kemudian dilanjutkan dengan kerangka
BAB 3 : METODOLOGI PENELITIAN yang meliputi pendekatan penelitian,
variabel penelitian, teknik pengumpulan data, subyek penelitian,
teknik penciambilan sampel, dan metode pengolahan data.
BAB 4 : ANALISIS HASIL PENELltlAN yang berisi gambaran umum
subyek, serta pengolahan dan analisa data.
2.1
Pola Asuh
2.1.1 Pengertian Pola Asuh
Keluarga memiliki peranan penting terhadap perkembangan anak. Karena
keluarga merupakan lingkungan primer bagi setiap individu. Singgih D.
Gunarsa (2001) menyebutkan bahwa "keluarga merupakan tempat yang
penting dimana anak mempero/eh dasar dalam membentuk kemampuannya
agar kelak menjadi orang berhasil di masyarakat". Setiap keluarga selalu
memiliki cara-cara atau pola-pola tersendiri bagi tumbuh kembang anak dan
sebagai pemilihan cara berinteraksi antara anak dan orangtua.
Pola asuh orangtua adalah bentuk atau cara yang dilakukan orangtua dalam
mengasuh, mendidik atau membimbing anak baik fisik maupun mentalnya
sejak kecil hingga dewasa. Menurut Kohn, pola asuh adalah sikap orangtua
dalam berhubungan dengan anaknya, sikap tersebut dapat dilihat dari
beberapa cara orangtua memberikan peraturan, disiplin, reward, dan
2.1.2 Aspek-aspek dalam Pola Asuh
Dalam pengasuhan anak, terdapat berbagai aspek dalam hubungan orangtua
dengan anak. Menurut Mussen (dalam Hurlock, 1974) ada empat aspek
dalam pengasuhan anak, yaitu:
1 . Aspek kontrol
Meliputi segala usaha orangtua untuk mempengaruhi aktivitas bertujuan
(goal oriented activity), memodifikasi ekspresi dari rasa ketergantungan
anak, agresivitas, atau tingkah laku bermain. Selain itu termasuk pula
pengembangan internalisasi ウエ。セ⦅、。イ@ yang dimiliki orangtua pada anak.
2. Aspek tuntutan ditampilkannya tingkah laku yang matang (maturity
demands).
Meliputi tuntutan atau penekanan pada anak agar dapat menampilkan
dengan sebaik-baiknya kemampuan dalam bidang sosial, intelektual serta
emosional. Orangtua juga menuntut kemandirian anak, termasuk dalam
membuat keputusan.
3. Aspek kejelasan komunikasi antara orangtua-anak (clarity parent-child
communication)
Orangtua memberikan penjelasan dan menanyakan pendapat anak
untuk memahami pendapat atau perasaan anak mengenai penjelasan
yang dilakukan.
4. Aspek pemeliharaan terhadap anak (parental nurturance)
Termasuk keterlibatan orangtua dalam pengasuhan, pengungkapan rasa
kasih sayang, rasa bangga dan senang, kehangatan serta pengertian
tehadap anak. Selain itu temasuk pula pengembangan fisik serta emosi
anak. Hal tersebut dilakukan melalui perbuatan dan sikap.
2.1.3 Jenis-jenis Pola Asuh
Diana Baumrind mengajukan 3 macam pola asuh berdasarkan hasil
penelitiannya (dalam Vasta, Miller & Ellis, 2004), yaitu sebagai berikut;
1. Pola asuh authoritarian I otoriter
Orangtua dengan jenis ini cenderung menetapkan standar yang mutlak
harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Orangtua
tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah, dan menghukum. Apabila
anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orangtua maka
'
orangtua tidak segan menghukum anak. Orangtua tipe ini juga tidak
mengenal kompromi, dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah.
Orangtua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk
mengerti mengenai anaknya. Berdasarkan paparan tersebut, maka dapat
a. Menunjukkan sedikit kehangatan
b. Memiliki standar yang tinggi
c. Menggunakan kekerasan, penerapan disiplin dengan hukuman
d. Jarang berkumpul untuk mendengarkan pendapat anak.
2. Pola asuh
authoritative I
demokratisOrangtua tipe ini memiliki kontrol namun bersifat fleksibel. Orangtua
dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya
pada rasio atau pemikiran-pemikiran, realistis terhadap kemampuan anak,
tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak.
Orangtua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk
memilih dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatan kepada anak
bersifat hangat. Pada akhirnya, pola asuh demokratis dapat dicirikan
sebagai berikut:
a. Adanya penerimaan terhadap anak, pengungkapan ekspresi dari
perasaaan anak.
b. Memiliki standar yang tinggi namun tidak terlalu membatasi
menjalankan standar dengan konsisten.
c. Lebih suka meminta alasan dari anak daripada kekuatan untuk
menghukum.
3. Pola asuh permisif
Orangtua permisif yang pemanja biasanya memberikan pengawasan
yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk
melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup. Mereka cenderung
tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam
bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka.
Namun orangtua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali
disukai oleh anak. Adapun ciri-ciri dari pola asuh permisif adalah:
a. Memiliki penerimaan yang tinggi atas ekspresi dari perasaan anak.
b. Longgar dalam peraturan, ringan, tidak konsisten dalammenerapkan
disiplin.
c. Lebih suka menggunakan alasan dibandingkan kekuatan.
Sebelum Diana Baumrind menetapkan terdapat empat jenis pola asuh yang
diterapkan oleh orangtua, sebelumya-hal tersebut telah dikemukakan terlebih
dahulu oleh Eleanor Maccoby dan John Martin yang mengajukan variasi
sistem kategori milik Diana Baumrind. Mereka mengkategorikan keluarga
dalam dua dimensi tingkat tuntutan atau kontrol dan kuantitas penerimaan
melawan penolakan. Pemotongan dari dua dimensi tersebut menciptakan 4
& Martin mengkonsepkan jumlah tambahan tipe ke empat, yaitu tipe
uninvolved (Boyd & Bee, 2006).
4. Pola asuh uninvolved (Neglectful/)
Pola dimana orangtua tidak mau terlibat dalam kehidupan anaknya.
Orangtua dengan tipe ini memiliki pengasuhan, tuntutan, kontrol, dan
komunikasi yang rendah. Pola pengasuhan ini menjauh (bersifat
memusuhi) dan sangat permisif (terlalu membolehkan}, terlebih ketika
kedua orangtuanya tidak peduli tentang anak-anak mereka (Shaffer,
1999). Sehingga dapat digambarkan bahwa pola asuh uninvolved
mBmiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Melepaskan perasaan terhadap anak.
b. Menarik diri dari kehidupan anak.
c. Ringan dalam hal peraturan
Yangmana kkimudian Baumrind pun menggunakari pula pembagian tersebut.
Berikut adalah bagan tentang ke empat pola asuh tersebut berdasarkan
2.1: Bagan Pola As uh Orangtua Berdasarkan Aspek-aspek dalam Pengasuhan
PENERIMAAN DAN CARA MERESPON
Tinggi Rendah
z
OTO RITERセ@
DEMOKRATIS::;)
Adanya tuntutan yang wajar, Banyak aturan dan tuntutan,
I- Cl
sedikit penjelasan dan memiliki
z
Cl::;) c: konsisten, sensitif dan
I-
i=
. sensitivitas yang rendahz
menerima anak<(
terhadap kebutuhan dan
Cl _J pPrspektif anak. 0 0::
I-z
UN!NVOLVED0 PERMISIF
::.i::
Sedikit aturan dan hukuman,
J::
セ@
c: Sedikit peraturan dan tuntutan, orangtua tidak melibatkan dirianak mendapatkan izin dengan CJ)
dan tidak sadar akan 0::
banyak kebebasan dari
kebutuhan anak. orangtua yang sangat sabar.
2.1.4 Karakteristik-karakteristik Anak dalam kaltannya dengan pola asuh
orang tua.
Apa kira-kira dampak pola asuh tersebut pada anak? Berikut adalah
karakteristik-karakteristik anak dengan pola-pola asuh tersebut di alas (Ira
1. Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut,
pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar
norma, berkepribadian lemah, cemas dan menarik diri.
2. Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang
mandiri, dapat mengontrol diri, mempur.yai hubungan baik dengan teman,
mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru, dan
koperatif terhadap orang-orang lain.
3. Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang
impulsive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang
sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial.
4. Pola asuh penelantar I uninvolved akan menghasilkan karakteristik
anak-anak yang moody, impulsive, agresif, kurang bertanggung jawab, tidak
mau mengalah, Seif Esteem (harga diri) yang rendah, dan bermasalah
dengan teman.
2.1. 5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Pola Asuh
Setiap orangtua berharap anaknya dapat tumbuh menjadi anak yang bahagia
dan mandiri serta berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Dengan begitu orangtua akan memilih pola pengasuhan yang menurutnya
adalah yang terbaik bagi anaknya. Terdapat beberapa faktor yang dapat
1. Pola asuh yang diterima oleh orangtua sewaktu kanak-kanak
Orangtua memiliki kecenderungan yang besar untuk menerapkan pola
asuh yang sama dengan pola asuh yang mereka terima dari orangtua
mereka.
2. Pendidikan orangtua
Orangtua yang mendapatkan pendidikan yang baik, cenderung
menerapkan pola asuh yang lebih demokratis ataupun permisif
dibandingkan dengan orangtua yang pendidikannya terbatas. Pendidikan
membantu orangtua untuk lebih memahami kebutuhan anak.
3. Kelas sosial
Perbedaan dari kelas sosial orangtua mempengaruhi pemilihan pola asuh.
Orangtua dari kelas sosial menengah cenderung permisif dibandingkan
dengan orangtua dari kelas sosial bawah.
4. Konsep tentang peran orangtua
Tiap orangtua memiliki konsep tentang bagaimana seharusnya ia
berperan. Orangtua dengan konsep tradisional cenderung untuk memilih
pola asuh yang ketat dibandingkan dengan orangtua dengan konsep
5. Kepribadian orangtua
Kepribadian orangtua mempengaruhi bagaimana mereka
menginterpretasikan pola asuh yang mereka terapkan. Orangtua yang
berkepribadian tertutup dan konservatif cenderung akan memperlakukan
anaknya dengan ketat dan otoriter.
6. Kepribadian anak
Anak yang ekstrovert akan bersikap lebih terbuka terhadap
rangsang-rangsang yang datang padanya dibandingkan dengan anak yang
introvert.
7. Faktor nilai yang dianut orangtua
Di Baral orangtua tampaknya menganut paham "equilitarian", dimana
kedudukan anak sejajar dengan orangtua. Namun di negara Timur,
nampaknya orangtua masih lebih cenderung menghargai kepatuhan
anak.
8. Usia anak
Tingkah laku dan sikap orangtua dipengaruhi usia anak. Orangtua lebih
memberikan dukungan dan dapat menerima ketergantungan anak usia
2.2
Sibling Rivalry
2.2.1 Pengertian Sibling Rivalry
Persaingan antar saudara kandung adalah suatu hal yang normal terjadi
dalam keluarga yang memiliki lebih dari satu anak. Pertengkaran kakak dan
adik dianggap wajar selama tidak menimbulkan kebencian yang terpendam
dalam hati dan tidak ada motif-motif negatif lainnya. Yang perlu diwaspadai
dari persaingan antar saudara kandung adalah jika dalam persaingan
tersebut terdapat iri, dengki, kebencian atau sikap egois yang berlebihan
terhadap saudaranya.
Menurut Kastenbaum (1979), sibling rivalry merupakan peristiwa ketegangan
dan konflik di antara saudara kandung yang saling memperebutkan kasih
sayang orang tua, status dalam keluarga dan semacamnya. Sedangkan
dalam kamus Psikologi, sibling rivalry (rivalitas saudara kandung)
didefinisikan· sebagai satu kompetisi antar saudara kandung-adik dan kakak
laki-laki, adik dan kakak perempuan adik perempuan dan kakak laki-laki juga
adik laki-laki dan kakak •perempuan (Chaplin, 2000). D<:1vid Shaffer (2002)
mendeskripsikan sibling rivalry sebagai semangat persaingan, kecemburuan,
kemarahan, dan kebencian antara saudara kandung yang menyangkut pada
Dari beberapa definisi yang telah diungkapkan oleh para tokoh, maka dapat
diambil suatu kesimpulan bahwa sibling rivalry merupakan persaingan antar
saudara kandung karena adanya kecemburuan dan rasa iri hati dalam hal
apa saja yang menyebabkan tumbuhnya perasaan ingin menjadi lebih unggul
dari saudaranya yang lain.
2.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Sibling Rivalry
Menurut Hobart dan Raffelly (dalam Rotenberg, 1995), terdapat beberapa
faktor yang mempengaruhi timbulnya sibling rivalry, yaitu:
1. Perbedaan perlakuan
'Menganak-emaskan' seorang anak dapat mencetuskan kedengkian pada
anak-anak lain. Penelitian Hetherington menunjukkan bahwa ketika
seorang anak merasa diperlakukan beda dengan kakak atau adiknya oleh
orangtua, biasanya sang anak menunjukkan rasa persaingan, sering
bertindak kasar dan tidak jarang menunjukkan permusuhan terhadap
saudara kandungnya maupun anggota keluarga yang lain (Rotenberg,
1995).
2. Orangtua sebagai model
Menurut Duun dan Kendrick, anak-anak yang mengalami interaksi yang
buruk dengan orangtua akan menurun terhadap hubungan saudara
kandungnya. Selain itu Carlotte Priatna (2006) menyebutkan bahwa
kandung karena tindakan yang nyata /ebih bermakna bagi anak-anak
daripada segudang nasihat".
3. Usia
\
Penelitian Kagan dan Madsen (1995) menunjukkan persaingan biasanya
lebih banyak terdapat pada usia yang lebih tua bila perbedaan usianya
kecil atau pendek (berjarak 1 atau 2 tahun). Di lain pihak, Hopson dan
Hopson (2002) menyatakan bahwa "Berapapun perbedaan umur di antara
kedua saudara tersebut itu bisa saja rnengarah pada persaingan".
Robet Myers menambahkan 2 faktor yang mempengaruhi sibling rivalry, yaitu
( www.practicalparent.org.uk,};
4. Jenis Kelamin
Seorang anak laki-laki mungkin membenci saudara perempuannya
karena ayahnya terlihat lebih lembut pada saudara perempuannya.
Sedangkan anak perempuan justru berharap memiliki hubungan yang
harmonis dengan ayati dan saudara laki-lakinya. Namun di lain pihak
menurut Minnett, Vandel, & Santrock (dalam Santrock, 1995), agresi dan
dominasi terjadi lebih besar dalam relasi-relasi saudara kandung yang
jenis kelaminnya sama dibandingkan dengan relasi saudara kandung
Hopson dan Hopson (2002) bahwa "Anak laki-laki dan anak perempuan
tidak akan terlalu banyak bertengkar karena masing-masing mempunyai
minat masing-masing".
5. Posisi dalam keluarga
Santrock (1995) menyebutkan bahwa urutan kel8hiran diasosiasikan
dengan variasi-variasi dalam relasi saudara kandung. Dimana ketika
saudara yang lebih tua iri atau menunjukkan rasa permusuhan, orangtua
seringkali melindungi saudara yang lebih muda.
2.2.3 Aspek-aspek dalam Sibling Rivalry
Menurut Kastenbaum, Shaffer, dan Adler (dalam Papalia dan Olds, 1985)
ada beberapa faktor dalam sibling rivalry,antara lain sebagai berikut:
1. Konflik
Dalam sibling rivalry, terjadinya konflik merupakan hal yang normal.
Menurut Shantz (dalam Rotenberg, 1995), konflik adalah perisliwa sosial
yang melibatkan oposisi dan adanya perbcdaan pendapat. Perilaku
tersebut seperti melawan, menolak, dan memprotes. Konflik terjadi
apabila dua atau lebih individu berhubungan dalam perilaku yang
2. Cernburu
Cernburu pada saudara kandung rnuncul ketika terjadi ketidakpuasan
pada salah satu anak kepada orangtuanya yang rnernperlakukan
anak-anaknya berbeda satu sarna lain. Karena anak-anak sangat tergantung
pada orangtua dalarn hal kasih sayang, perhatian dan pernenuhan
kebutuhan-kebutuhannya sehingga anak-anak tidak suka bila har·us
rnernbagi kasih orangtuanya dengan siapapun (Kagan dan Madsen,
1995). Perilaku cernburu tersebut seperti iri hati dan dengki.
3. Kekesalan
Terkadang perasaan-perasaan kesal seperti sebal dan rnarah pada
orangtua dilarnpiaskan kepada saudaranya (adik/kakak). Hal tersebut
terjadi karena l<etidakberdayaan untuk rnelawa;1 orangtuanya jika hal
tersebut berkenaan dengan perlakuan orangtua yang rnenurutnya
rnernberikan posisi 'spesial' pada saudaranya. Dilain hal, kekesalan dapat
terturnpah pada saudaranya apabila ia rnendapati dirinya sebagai pihak
2.2.4. Akibat-akibat Sibling Rivalry
Akibat-akibat dari sibling rivalry berbeda-beda dan tidak tetap untuk setiap
anak. Di sini akan diuraikan hasil-hasil yang dikemukakan beberapa ahli,
yaitu:
1. Rasa benci
Dalam peristiwa sibling rivalry, anak yang merasa bahwa perhatian dan
kasih sayang orangtua kepadanya berkurang, akan berusaha
memperolehnya kembali dengan cara apapun karena anak tidak ingin
bahwa orangtua yang dicintainya menjadi milik orang lain. Rasa takut
kehilangan orangtua yang dicintainya ini menimt:ulkan perasaan tidak
nyaman.
2. Rasa cemas
Pada anak yang mengalami sibling rivalry, perasaan cinta kepada
orangtua tidak dapat menghilangkan perasaan benci yang muncul
semenjak kelahiran Si Adik. Rasa cinta dan benci ini saling terkait satu
sama lain dan bisa hadir bersamaan dalam waktu yang bersamaan dalam
satu waktu. Oleh karena itu berarti anak bersikap arnbivalen, sebab anak
sekaligus membenci dan mencintai orangtua, terutarna ibu. Salah satu
akibat yang sangat erat berhubungan dengan konflik, yaitu munculnya
3. Rasa cemburu
Sibling rivalry diawali dengan adanya kecemburuan pada saudara
kandungnya dalam berbagai hal. Anak mulai membanding-bandingkan
dirinya terhadap adik atau kakaknya dari kekurangan dan kelebihan,
intensitas kasih sayang yang diterima, perlindungan, dan bentuk-bentuk
perlakuan yang diterima dari orangtua mereka. Kemudian dengan
keadaan tersebut anak mulai mencari cara agar ia menjadi lebih unggul
dari saudaranya dengan cara apapun untuk memperolehnya. Apabila
melalui cara-cara yang dipakai dirasa gagal, maka reaksi yang biasa
timbul adalah adalah rasa cemburu terhadap saudara dan rasa kecewa
atas perlakuan orangtua.
4. Rasa marah
Kekecewaan anak atas perlakuan orangtua ditambah dengan berbagai
tuntutan yang baru dari ibu -agar mereka tidak bertengkar dan saling
iri-yang harus 、ゥャ。ォウ。ョ。セ。ョ@ akan membangkitkan rasa marah. Rasa marah
5. Tingkah laku agresif
Tingkah laku agresif merupakan salah satu cara untuk menyatakan rasa
marah. Karena menurut Yulia Singgih D. Gunarsa (2003), suatu bentuk
lain dari pelampiasan emosi anak terlihat dalam penyaluran agresi
(http///www.sabda.org/j)epak/pustakal. Apabila tingkah laku nakal dari anak-anak
malah mendapat perhatian dari orangtua maka anak akan belajar bahwa
anak akan menerima perhatian dari orangtua apabila berbuat nakal.
Ketika orangtua tidak bijaksana dalam menghadapi tingkah laku anak yang
bermasalah maka yang terjadi adalah tingkah laku bermasalah pada anak
akan berada jauh dari batas normal.
2.2.5 Manfaat Adanya Persaingan Saudara Kandung
Persaingan di antara saudara kandung (sibling rivalry) dalam sebuah
keluarga tidak selalu berdampak negatif karena ada manfaat yang bisa
dipetik. Manfaat itu akan lebih nyata jika dibandingkan dengan seseorang
yang dilahirkan sebagai セュ。ォ@ tunggal. Charlotte Priatna dan Anna Yulia
menyebutkan bahwa "Dalam kenyataannya, di dalam hidup kita menemui
konflik yang tidak bisa dihindari, baik konflik dengan teman, rekan kerja
maupun pasangan hidup. Kita bisa mempersiapkan anak-anak kita untuk
diatasi di rumah membuat mereka (sibling) lebih tegar ketika menghadapi
konflik di luar rumah jika anak sudah terlatih untuk mengatasi konflik dengan
saudaranya dengan cara yang baik dan bijaksana.
Permusuhan punya segi positif dalam hidup anak karena permusuhan
memberi jalan mereka (sibling), di dalam rumah mereka yang aman untuk
menguji batas-batas mereka, memper:!ahankan diri mereka, dan belajar
bernegosiasi untuk hal yang mereka inginkan dan butuhkan. ltu juga yang
membuat mereka lebih dekat (Samalin, 2003).
2.2.6 Teknik-teknik untuk Mengatasi Persaingan Antar Saudara
Kandung (Sibling Rivalry)
Untuk meminimalisasi sibling rivalry, berikut ada beberapa cara untuk
mengatasi masalah persaingan antara saudara kandung (Charlotte Priatna &
Anna Yulia, 2006);
1. Doronglah anak untuk saling mengungkapkan rasa sayang dan
menanamkan rasa sc;iling memiliki.
Anak tidak bisa hanya disuruh menyayangi tapi mereka harus diajarkan
dan dikondisikan bagaimana cara menyayangi. Selain itu tanamkan rasa
saling memiliki. Misalnya kakak membantu adik membereskan mainan
sehingga menimbulkan rasa saling memiliki antara kakak dan adik,
bukannya rasa persaingan. lngatkan juga bahwa saudara kandung adalah
teman yang mereka miliki selamanya. Oleh l<arena itu mereka harus
saling menyayangi dan saling menjaga. Hal tersebut dapat menimbulkan
rasa aman dan rasa diterima dalam .diri. mereka &ehingga hal terse but
juga dapat menumbuhkan rasa persaudaraan diantara mereka.
2. Jangan membanding-bandingkan namun hargai keunikan anak.
Minimalkan perbedaan antar anak, jangan bandingkan kelebihan atau
kekurangan anak yang satu dengan yang lainnya. Seringkali orangtua
melakukan hal ini tanpa sadar. Tiap anak mempunyai kelebihan,
kekurangan, dan keunikanriya
ュ。ウゥョァセュ。セゥョァN@
Hargailah perbedaan itudan jangan membanding-bandingkannya. Selain itu, tiap anak memiliki
keunikan tersendiri. Mereka mempunyai kelebihan dan kekurangannya
masing-masing, oleh karena itu tidak suka dibandingkan dengan anak
yang lain.
Anak akan lebih menghargai dan mau bersikap terbuka karena dia tidak
dipermalukan di depan saudaranya. Secara sederhana, orangtua harus
bijak dalam membagikan pujian dan kritikan tiagi anak-anaknya dengan
besar (Amal Syarqawi, 2003). Adapun cara untuk menghargai keunikan
dapat dilakukan dengan memaksimalkan potensi masing-masing anak
sesuai kemampuan masing-masing.
3. Pupuklah harga diri anak
Tingkatkan terus harga diri anak dengan bakat atau kelebihan
masing-masing. Anak-anak bisa menjadi iri jika kakak atau adiknya lebih berhasil
atau disukai orang lain. Untuk menaikkan harga diri anak, yang dapat
dilakukan adalah menggali potensi atau kelebihan masing-masing anak
sehingga tidak ada anak yang iri dan berkecil hati karena tidak merasa
memiliki suatu kelebihan yang patut dipuji-puji orang lain.
4. Kenali temperamen anak
Tidak semua anak mudah ditangani. Ada anak yang sangat penurut dan
mudah diatur, dilain pihak ada anak lain yang cenderung pemberontak.
Oleh karena itu orangtua perlu mengenali temperamen masing-masing
anak.
5. Ajarkan anak untuk mengatasi konflik
Konflik bukan ditiadakan, namun sebagai sarana berdamai kembali, saling
6. Buatlah peraturan yang jelas untuk ditaati
Anak harus mengetahui dan mematuhi peraturan yang berlaku dalam
keluarga. Misalnya;
a. Tidak boleh saling memukul saat bertengkar.
b. Tidak boleh saling mengejek atau mengeluarkan kata-kata kasar.
c. Jika meminjam barang milik orang lain harus seijin si Empunya dan
harus mengembalikan ketempat semula setelah selaesai
meminjamnya.
7. Bersikap adil terhadap setiap anak
Usahakan supaya orangtua bersikap adil terhadap masing-masing anak
karena rasa cemburu atau iri sangat mudah dipicu dari rasa diperlakukan
tidak adil oleh orangtua. Jika memang orangtua merasa harus
membedakan perlakuan kepada anak yang berkebutuhan khusus
misalnya maka orangtua harus memberikan penjelasan yang masuk akal
kepada anak bahwa dia tidak dibedakan. Yang perlu diingat disini adalah
bahwa adil tidak selalu harus sama banyak, tetapi harus sesuai
2.3 Remaja
2.3.1 Definisi Remaja
lstilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin "adolescere" yang
berarti "tumbuh" atau "tum_buh menjadi dewasa". Dapat dikatakan bahwa
masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju
dewasa. Sependapat dengan hal tersebut, Papalia dan Olds ( 1995)
mendefinisikan masa remaja sebagai suatu masa transisi antara masa
kanak-kanak dengan masa dewasa yang mana di dalam prosesnya terdapat
tanda-tanda pubertas yang menuju ke arah kematangan seksual atau saat
seseorang dapat bereproduksi.
Menurut Hurlock (1980), istilah adolescence seperti yang dipergunakan saat
ini mempunyai arti yang luas mencakup kematangan mental, emosional,
sosial dan fisik. Menurut Piaget, secara psikologis masa remaja adalah usia
dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak
tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan
berada dalam tingkatan•yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak
2.3.2 Batasan Remaja
Awai masa remaja berlangsung kira-kira dari 13 tahun sampai 16 tahun atau
17 tahun, dan akhir masa remaja bermula dari 16 atau 17 tahun sampai 18
tahun, yaitu usia matang secara hukum (Hurlock, 1980). Lain halnya dengan
Santrock (2002) yang menyebutkan bahwa usia pubertas perempuan terjadi
pada usia 1 O Y, tahun dan pada laki-laki adalah usia 12 Y, tahun dan pada
keduanya berakhir pada usia 15 Y, tahun.
J.
P Chaplin (2002) membatasi usia remaja pada usia 12-21 tahun untukanak perempuan yang dinilai lebih cepat menjadi matang dibandingkan anak
laki-laki sehingga rentangan usia remaja bagi anak laki-laki adalah 13-22
tahun. Sedangkan menurut Sarlito Wirawan Sarwono (2005), tidak ada profil
remaja Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasional. Namun
sebagai pedoman umum dapat digunakan batas usia 11-24 tahun dan belum
menikah sebagai batas usia remaja Indonesia dengan pertimbangan sebagi
berikut;
1. Usia 11 tahun adalah usia ketika pada umumya tanda-tanda seksual
sekunder mulai tampak (kriteria fisik).
2. Di banyak masyarakat Indonesia, usia 11 tahun sudah dianggap akil balik,
baik menurut adat maupun agama, sehingga masyarakat tidak lagi
3. Pada usia tersebut mulai ada tanda-tanda penyempurnaan
perkembangan jiwa, seperti tercapainya identitas diri (ego identity,
menurut Erickson), tercapainya fase genital dari perkembangan
psikoseksual (menurut Freud), dan tercapainya puncak perkembangan
'
kogniti (menurut Piaget) maupun moral (Kohlberg).
4. Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal, yaitu untuk memberi
peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih
menggantungkan diri pada orangtua, belum mempunyai hak-hak penuh
sebagai orang dewasa (secara adat/tradisi), belum dapat memberikan
pendapat sendiri,dan sebagainya. Dengan kata lain, orang-orang yang
sampai batas usia tersebut belum memenuhi persyaratan kedewasaan
secara sosial maupun psikologi, masih digolongkan remaja.
5. Dalam definisi diatas, status perkawinan sangat menentukan. Hal itu
karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat kita secara
menyeluruh. Seorang yang sudah menikah dalam usia berapapun maka
akan dianggap sudah dewasa dan diperlakukan sebagai orang dewasa
penuh, baik secara t;iukum maupun dalamkehidupan masyarakat dan
keluarga.
Dari sekian banyaknya pendapat ahli dalam pembatasan usia remaja, maka
pubertas -sebagai ciri remaja awal- dari usia 10 Y, tahun-15 Y, tahun dimana
usia tersebut adalah usia remaja awal yang duduk dibangku SMP, batasan
itu juga masih memenuhi batasan usia remaja Indonesia yang telah
dikemukakan oleh Sarlito Wirawan Sarwono.
2.3.3. Karakteristik Masa Remaja
Seperti halnya dengan semua periode yang penting selama rentang
kehidupan, masa remaja mempunyai karakteristik tertentu yang
membedakannya dengan periode sebelum dan sesud2'lnya. karakteristik
tersebut adalah;
1. Perkembangan Fisik
Remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik ketika lat-alat
kelamin manusia mencapai kematangannya karena secara anatomis
berarti alat-alat kelamin khususnya dan keadaan tubuh pada umumnya
memperoleh bentuk yang sempurna dan secara faali alat-alat kelamin
tersebut sudah berfungsi secara sempurna pula (Sarwono, 2005).
2. Perkembangan Kognitif
Ditinjau dari perkembangan kognitif milik Piaget, masa remaja sudah
mencapai tahap operasional formal. Piaget yakin bahwa pemikiran
1995). Remaja secara rn<;ir;ital telah dapat berpikir logis tentang berbagai
gagasan yang abstrak dengan kata lain berpikir operasional formal lebih
bersifat hipqtesis dan abstrak serta sistematis, dan ilmiah dalam
memecahkan masalah daripada berpikir konkret (Syamsu Yusuf, 2005).
3. Perkembangan Emosi
Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan
emosi yang tinggi. Pada usfa remaja awal, perkembangan emosinya
.
.
.menunjukkari sifat yang' sensHif dan reaktif yang sang at kuat terhadap
berbagai peristiwa atau situasi sosial, emosinya bersifat negatif dan
temperamental (mudah tersinggung/marah, atau mudah sedih/murung)
sedangkan remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosinya
(Syamsu Yusuf, 2005).
4. Perkembangan Sosial
Pada masa remaja berkembang "social cognition'', yaitu kemampuan
untuk memahami orang lain. Remaja memahami orang lain sebagai
'
individu yang unik, baik menyangkut sifat-sifat pribadi, minat nilai-nilai
maupun perasannya. Pemahaman ini mendorong remaja untuk menjalin
hubungan sosial yang lebih akrab dengan mereka (terutama teman
kecenderungan untuk menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai,
kebiasaan, kegemaran (hobby) atau keinginan orang lain (teman sebaya).
5. Perkembangan Moral
Melalui pengalaman atau berinteraksi sosial dengan orangtua, guru,
teman sebaya, atau orang dewasa lainnya, tingkat moralitas remaja
sudah lebih matang jika dibandingkan dengan usia anak. Pada masa ini
muncul dorongan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat
dinilai baik oleh orang lain. Remaja berperilaku bukan hanya memenuhi
kebutuhan fisiknya, tetapi psikologisnya (rasa puas dengan adanya
penerimaan dan penilaian positif dari orang lain tentang perbuatannya).
Menurut Kusdwirarti (dalam Syamsu Yusuf, 2005), jika dikaitkan dengan
perkembangan moral dari Lawrence Kohlberg, pada umumnya remaja
berada dalam tingkatan konvensional, atau berada dalam tahap
berperilaku sesuai dengan tuntutan dan harapan kelornpok dan loyal
terhadap norma atau peraturan yang berlaku dan diyakininya.
2.3.4 Tugas-tugas Perkembangan Remaja
Robert Havigurst mengartikan tugas perkembangan itu merupakan suatu
tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu
kebahagiaandan kesuksesan dalam menuntaskan tugas berikutnya (Syamsu
Yusuf, 2005).
Adapun tugas-tugas perkembangan remaja dengan singkat dikemukakan
oleh William Kay, sebagai berikut (Syamsu Yusuf, 2005):
1. Menerima fisik sendiri berikut keragaman kualitasnya.
2. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figur-figur yang
mempunyai otoritas.
3. Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar
bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual
niaupun secara kelompok.
4. Menentukan manJsia model yang dijadikan identitasnya.
5. Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap
kemampuannya sendiri.
6. Memperkuat self control (kemampuan mengendalikari diri) atas dasar
skala nilai, prlhsip-pinsip falsafah hidup.
7. Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap/perilaku)
,
2.4
Kerangka i3erpikir
Keluarga merupakan kelompok sosial pertama bagi anak. Orangtualah yang
bertugas mendidik dan mengasuh anak. Pendidikan awal yang didapat anak
dalam keluarga sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak pada usia
selanjutnya. Ketika orangtua mampu menerapkan pola asuh yang 'sesuai',
maka anak mampu menjalin hubungan sosial yang baik dengan lingkungan
sekitarnya.
Pola asuh yang tidak sesuai dapat menimbulkan berbagai masalah. Salah
satu masalah yang dapat ditimbulkan adalah adanya persaingan antar
saudara kandung (sibling rivalry). Karena sikap orangtua serta keluarga di
sekitarnya sangat besar pengaruhnya terhadap hubungan saudara kandung
(kakak-adik). Oleh karena itu jenis pola asuh berperan penting sebagai
peredam persaingan saudara kandung atau malah menimbulkan dan
menyuburkan persaingan antar saudara kandung tersebut.
Menurut Hurlock (1978), pengaruh sikap orangtua tidak terbatas pada
hubungan orangtua-anak, namun juga mempengaruhi hubungan kakak-adik.
Oleh karena itu pola asuh berperan penting untuk menumbuhkan atau
Menurut Volling, orangtua yang cenderung memaksa dan menghukum
secara berlebihan dapat menumbuhkan sibling rivalry (Rottenberg, 1995)
Sedangkan menurut Hurlock (1978), hubungan antar saudara kandung
tampak jauh lebih rukun dalam keluarg_a yang menggunakan disiplin otoriter
dan sikap orangtua yang permisif terhadap perilaku anak, memungkinkan
antagonisme dan permusuhan dinyatakan dengan terbuka sehingga
hubungan diwarnai dengan perselisihan. Selain itu, berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh Baumrind (1968) yang menemukan bahwa pola asuh
permisif berhubungan secara positif dengan tingkah laku anak yang agresif
yang merupakan salah satu akibat dari sibling rivalry.
Selain dipengaruhi oleh perilaku orangtua yang dalam hal ini dapat
disuguhkan dalam bentuk pengasuhan orangtua, sibling rivalr; juga
dipengaruhi oleh posisi subyek dalam keluarga, jarak usia antar saudara
kandung, dan jenis kelamin saudara kandung tersebut.
Meningginya emosi men.ipakan ciri dari awal masa remaja. Remaja akan
sakit hati dan kecewa apabila orang lain mengecewakannya atau kalau ia
tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya sendiri. Jelas bahwa
dalam sibling rivalry terdapat dua objek kekecewaan pada remaja yakni
menimbulkan emosi.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diduga dan ditarik sebuah asumsi
bahwa pola asuh orangtua berkorelasi dengan sibling rivalry. Namun pola
asuh mana yang lebih berpeluang untuk menumbuhkan atau menyuburkan
2.5
Hipotesis
H1 :Terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orangtua
dengan sibling rivalry pada remaja awal.
HO
:Tidak terdapat hubur:igan yang signifikan antara pola asuh orangtuadengan sibling rivalry pada remaja awal.
Dengan adanya beberapa konstelasi yang mempengaruhi sibling rivalry,
maka dalam penelilian ini dapat diajukan beberapa hipotesis alternatif (H1)
lain seisin hipotesis utama, yaitu yang terdiri dari:
H1 : Terdapat perbedaan tingkat sibling rivalry berdasarkan jenis kelamin.
H1 : Terdapat perbedaan tingkl:lt sibling rivalry berdasarkan rentahg usia.
H1 : Terdapat perbedaa11 tingkdt sibling rivalry berdasarkan posisi remaja
awal dalaHi keluarga.
Selanjutnya hipotesis alterHatif tersebut dikonversikan ke
Gambar 1:
Kerangka berpikir
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANGTUA DENGAN SIBLING
RIVALRY PADA REMAJA AWAL
POLA.ASUH YANG DITERAPKAN ORANGTUA
OTO RITER UNINVOLVED
REMAJA
DEMOKRATIS
t
REMAJA
PERMISIF
t
RE MAJ A
REMAJA
セセセセセセko⦅n⦅f⦅l⦅Qk⦅L⦅」⦅e⦅m⦅bオ⦅r⦅オ⦅N⦅ッ⦅a⦅n⦅k⦅e⦅k⦅e⦅ウa⦅l⦅a⦅nセセセ⦅⦅Ljセ@
BENCI,
CEMAS,
CEMBURU
l
SIBLING
RIVALRY
PERILAKU
MARAH,
3.1
Jenis Penelitian
3.1.1 Pendekatan dan metode peneiitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
kuantitatif, yaitu data yang dihasilkan dari serangkaian pengukuran suatu
observasi yang dinyatakan dengan angka dan analisa dengan uji statistik
(Arikunto, 2003).
Sedangkan metode yang digunakan adalah metode penelitian korelasional,
yakni penelitian yang dirancang untuk menentukan tingkat hubungan
variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi (Sevilla,et all, 1993).
3.1.2 Definisi Variabel
Kerlinger (dalam Sevilla, 1993) mendefinisikan variabel penelitian sebagai
suatu sifat yang dapat• memiliki berbagai macam nilai, menyangkut segala
sesuatu yang menjadi objek penelitian. Dalam penelitian ini terdapat variabel
bebas (independent variable) yang yang dipandang sebagai kemunculan
+
Variabel Bebas (Independent Variable)Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pola asuh orangtua. Yang
didapat dari skor pada skala pola asuh.
+
Variabel Terikat (Dependent Variable)Variabel terikat dalam penelitian ini adalah sibling rivalry. Yang berupa
penilaian kepada subjek yang mengalami sibling rivalry atau tidak.
3.1.3 Definisi Operasional
Definisi operasional yang dimaksud dalam hal ini adalah definisi yang bersifat
empiris yang dapat diukur dan dinilai berdasarkan konsep operasional dari
variabel penelitian. Adapun definisi operasional dari variabel penelitian
tersebut adalah sebagai berikut:
• Pola asuh yang diterapkan oleh orangtua dapat dilihat dari skor yang
diperoleh dari skala pola asuh orangtua yang mengungkap ciri-ciri
masing-masing pola asuh yang menjadi pilihan jawaban subjek atas
sub-variabel pola asuh orangtua yang terdiri di:iri 4 aspek dalam pola asuh
oranglua, yaitu:
a. Kontrol, merupakan segala usaha orangtua untuk mempengaruhi
aktivitas bertujuan, memodifikasi ekspresi, agresifitas atau tingkah laku
b. Tuntutan, merupakan penekanan pada anak agar dapat menampilkan
dengan sebaik-baiknya kemampuan dalam bidang sosial, intelektual,
serta emosional. Orangtua juga menuntut kemandirian anak, termasuk
dalam membuat keputusan.
c. Komunikasi, merupakan penjelasan orangtua kepada anak dan
menanyakan pendapat anak dalam membuat aturan-aturan bagi anak.
Orangtua juga berusaha untuk memahami pendapat atau perasaan
anak mengenai penjelasan yang dilakukan.
d. Pengasuhan, merupakan keterlibatan orangtua dalam pengasuhan
seperti adanya pengungkapan kasih sayang, rasa bangga dan
senang, kehangatan, serta emosi yang dilakukan melalui perbuatan
dan sikap.
i3erikut adalah ciri-ciri pola asuh orangtua yang menjadi pilihan subjek
untuk mendapatkan skor pola asuh orangtua:
1. Pola asuh otoriter, yaitu pola asuh yarig memiliki
acceptance
yang'·
rendah namun menggunakan kontrol yang tinggi, suka menghukum
'
secara fisik, bersikap memaksa, kaku (keras) serta cenderung
emosional dan bersikap menolak.
2. Pola asuh Demokratis, yaitu pola asuh yang memiliki ciri-ciri sikap
kebutuhan anak, mendorong anak untuk menyatakan pendapat atau
pertanyaan serta memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan
yang baik dan yang buruk.
3. Pola asuh permisif, yaitu pola asuh yang bercirikan memiliki sikap
acceptance yang tinggi namun kontrolnya rendah serta memberikan
kebebasan kepada anak untuk menyatakan dorongan atau
keinginannya.
4. Pola asuh uninvolved, yaitu pola asuh yang memiliki ciri-ciri sikap
acceptance yang rendah dan kontrol yang rendah pula, serta
cenderung mengabaikan anak.
• Sibling rivalry adalah persaingan antar saudara kandung karena adanya
kecemburuan dan rasa iri hati dalam hal apa saja yang menyebabkan
tumbuhnya perasaan ingin tnenjadi lebih unggul dari saudaranya yang
lain. Definisi operasional variabel sibling rivalry adalah skor yang
diperoleh dari skala sibling rivalry yang terdiri dari 3 sub-variabel, yaitu:
1. Konflik
Konflik adalah peristiwa sosial yang melibatkan oposisi dan adanya
perbedaan pendapat. Perilaku tersebut seperti melawan, menolak, dan
2. Cemburu
Cemburu adalah bentuk lain dari marah yang menimbulkan rasa kesal
atau benci terhadap orang yang disayang maupun terhadap saingan.
Perilaku cemburu tersebut seperti iri hati dan dengki.
3. Kekesalan
Terkadang perasaan-perasaan kesal seperti sebal dan marah pada
orangtua dilampiaskan kepada saudaranya (adik/kakak).
3.2 Pengambilan Sampel
3.2.1
PopulasiArikunto (2002) memaparkan bahwa populasi adalah keseluruhan subjek
penelitian. Adapun jumlah populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas
2Nlll SMPN 182 Kali Bala - Jakarta Selatan yang memiliki saudara kandung
berjumlah 260 siswa/i. Jumlah tersebut didapat peneliti berdasarkan
keterangan dari wakil kepala sekolah tersebut sebelum dilakukan try
out
danpenelitian.
3.2.2
SampelMenurut Arikunto (2002),sampel adalah bagian dari populasi. Sampel dalam
penelitian ini adalah siswa/I SMPN 182 Kali Bata Jakarta Selatan yang duduk
sebesar 10% yang mensyaratkan jumlah sampel minimal yang harus
digunakan dari populasi berjumlah 260 orang adalah 72 orang dan sampel try
out digunakan sebanyak 71 orang yang keseluruhannya telah memenuhi
kriteria sampel penelitian ini.
3.2.3 Teknik Pengambilan Sampel
Tehnik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah
f)urposive sample (sampel bertujuan). Sampel bertujuan dilakukan dengan
cD
cara pengambilan sampel didasarkan atas tujuan tertentu HセゥォオョエッLRPPRIN@
Pengambilan sampel penelitian didasarkan atas ciri-ciri .. sifat, atau
karakteristik yang ditentukan peneliti agar mendapatkan sampel yang
memiliki kemungkinan mengalami sibling rivalry. Adapun kriteria sampel yang
diambil adalah;
1) Siswa/i kelas VIII/II SMPN 182 Jakarta Selatan.
2) Memiliki saudara kandung (kakak/adik).
3) Tinggal bersama o_rangtua dan saudaranya.
Pada kriteria sampel poi