• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh tipe kepribadian dengan self disclosure pengguna Facebook

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh tipe kepribadian dengan self disclosure pengguna Facebook"

Copied!
133
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGARUH TIPE KEPRIBADIAN TERHADAP

SELF

DISCLOSURE

PENGGUNA

FACEBOOK

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk memenuhi syarat dalam meraih gelar Sarjana Psikologi (S.Psi)

Disusun Oleh :

DIMAS PAMUNCAK

106070002193

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

ii

PENGARUH TIPE KEPRIBADIAN TERHADAP

SELF

DISCLOSURE

PENGGUNA

FACEBOOK

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Psikologi

Untuk Memenuhi Syarat Meraih Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi)

Oleh:

DIMAS PAMUNCAK 106070002193

Dibawah Bimbingan:

Pembimbing I Pembimbing II

Ikhwan Luthfi, M. Psi Gazi S. M.Si

NIP. 19730710 200501 1 006 NIP. 19711214 200701 1 014

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

iii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi yang berjudul PENGARUH TIPE KEPRIBADIAN TERHADAP SELF DISCLOSURE PENGGUNA FACEBOOK telah diujikan dalam sidang munaqosyah Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 08 Desember 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Strata 1 (S1) pada Fakultas Psikologi.

Jakarta, 08 Desember 2011 Sidang Munaqosyah

Dekan

Jahja Umar, Ph.D NIP. 130 885 522

Pembantu Dekan

Dra. Fadhilah Suralaga, M.Si NIP. 19561223 198303 2001 Anggota

Neneng Tati Sumiati, M.Si., Psi NIP. 19730328 200003 2003

Ikhwan Luthfi, M.Psi NIP. 19730710 200501 1 006

Gazi S, M.Si

(4)

iv

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Dimas Pamuncak

NIM : 106070002193

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Pengaruh Tipe Kepribadian Terhadap Self Disclosure Pengguna Facebook” adalah benar merupakan karya sendiri dan tidak melakukan tindakan plagiat dalam menyusun skripsi tersebut. Adapun kutipan-kutipan yang ada dalam penyusunan skripsi ini telah saya cantumkan sumber pengutipannya dalam daftar pustaka.

Saya bersedia untuk melakukan proses yang semestinya sesuai dengan undang-undang jika ternyata skripsi ini secara prinsip merupakan plagiat atau jiplakan dari karya orang lain.

Demikian pernyataan ini saya buat untuk dipergunakan sebaik-baiknya.

Jakarta, 8 Desember 2011

(5)

v

Bismillahirrahmanirrahim...

Puji syukur atas segala kenikmatan yang telah diberikan Allah SWT yang memberikan hidup dan memberi kesempatan

untuk menuliskan karya ini. Dan shalawat selalu Allah curahkan kepada Nabi Muhammad Saw

Karya sederhana ini kupersembahkan untuk seluruh keluargaku, khususnya Ibunda dan Ayahandaku

serta seluruh sahabatku.

“Bergeraklah”

.

Saat mendapat inspirasi, temukan caranya dan mulailah menuliskannya!

Bukankah impianmu ingin menjadi sarjana?

Membahagiakan mereka yang telah berkorban.

Janganlah membuat mereka meneteskan air mata.

Dan menyesal mempunyai anak sepertimu

Bukankah harapan mereka sederhana?

Hanya ingin melihatmu menjadi Sarjana dan mengenakan toga.

Bantulah mereka dengan segenap perjuanganmu

Apakah kamu tahu dari mana biaya uang kuliahmu?

Mungkin kamu tidak tahu mereka meminjam kesana kemari

Hanya untuk membuatmu menggapai gelar kehormatan itu.

SARJANA!

Iya, sebuah kata sederhana tetapi sangat bermakna untuk mereka

(6)

vi

Motto:

Bekerjalah dan biarkan Allah, Rasul, dan

orang-orang shalih melihatmu

Bergerakalah karena dengan bergerak

engkau akan menciptakan atau

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirrobil„alamin. Segenap puji dan rasa syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. Atas keridhoan dan karunia yang diberikan-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan Skripsi dengan judul ”Pengaruh Tipe Kepribadian Terhadap

Self Disclosure Pengguna Facebook”.

Penulisan laporan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi pada Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Penulis menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini, sangatlah sulit bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Jahja Umar, Ph.D Dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta jajarannya yang telah memberikan kesempatan pada penulis agar dapat menuntut ilmu dengan baik.

2. Ikhwan Luthfi, M.Psi pembimbing pertama. Terima Kasih atas bimbingan, nasihat, semangat dan masukan yang diberikan Bapak agar penulis dapat menulis skripsi ini dengan baik.

(8)

viii

4. Orang tua penulis Ayahanda Subaryono dan Ibunda Dwi Endang S. yang banyak memberikan dukungan baik moril maupun materil. Dengan kesabaranmu untuk terus mendorongku agar menyelesaikan tugas ini dan juga untaian do’a dalam setiap sholat malammu, membuatku tetap menjalani tugas -tugas ini. Abang Yohn, Mbak Diyah, Mbah Fitrie dan juga Little Boy terimakasih atas pengertian kalian dan kelucuan boy.

5. Dosen pembimbing akademik Ibu Eva yang meluangkan waktunya untuk memberikan pengarahan kepada penulis dalam kesibukannya.

6. Ibu Yanthi dan Bapak Rahmat Mulyono yang banyak membantu penulis menjadi narasumber dan mengijinkan penulis untuk memakai penelitiannya. 7. Seluruh dosen, karyawan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

yang telah banyak membantu penulis dalam menjalani perkuliahan dan menyelesaikan skripsi.

8. Para responden penelitian, adik-adikku di SMA Negeri 2 Depok. Guru SMA ku yang mendampingi Ibu Yanizasari dan Ibu Isti yang mau menemaniku “bernostalgia” di sekolah tercinta.

9. Ust Sumarno dan Ust Aceng Toha Lc yang selalu mendo’akan penulis dan mendorong untuk segera menyelesaikan skripsi.

(9)

ix

11. Maihan „Adinda’ Andrestia atas bantuan, kesabaran dan dukungannya yang selalu menyemangati penulis serta menemani dalam suka maupun duka. 12. Sahabat-sahabat ”The Villa”, Obi atas ilmu kunonya, Adiyo atas pengarahan

ilmu statisikanya, Iqbal, Eja atas bantuan jurnal-jurnalnya, Adam, Fajar, Ade, Haikal, Lukem, yang selalu memberikan penulis hari-hari yang berwarna dan ceria. Selain itu Cut Noza, Muti, Korry, Nadia, Sarah, Hasna, Hanny, Kak Via, dan Saipul Bakhri terimakasih atas sharingnya. Baster 20106 yang mengajarkan untuk tetap membina sebuah persahabatan. Sahabat FP2I yang menyemangati untuk cepat-cepat lulus. Ajenk Rama terimakasih atas info berharganya.

13. Teman-teman kelas A angkatan 2006 yang selalu kompak dan selalu memberikan semangat pada penulis.

14. Tim Ceria yang memberi penulis wadah untuk saling bertukar pikiran dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran.

15. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, terima kasih untuk segala dukungan dan bantuan yang telah diberikan untuk membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(10)

x

ABSTRAKSI

(A) Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatulah Jakarta (B) November 2011

(C) Dimas Pamuncak (D) 83 halaman + lampiran

(E) Pengaruh Tipe Kepribadian terhadap Self Disclosure Pengguna Facebook.

(F) Self disclosure merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam interaksi sosial dan juga yang dibutuhkan dalam hubungan interpersonal, karena dengan adanya pengungkapan diri seseorang dapat mengungkapkan pendapatnya, perasaannya, cita-citanya dan sebagainya, sehingga memunculkan hubungan yang terbuka (Asandi & Rosyidi, 2010). Hubungan ini tidaklah terbatas oleh waktu dan ruang karena pada zaman sekarang sudah terdapat banyak kemudahan semisal, internet. Facebook merupakan salah satu produk internet, namun menjadi lebih populer daripada internet itu sendiri. Banyak orang rela mengakses internet demi Facebook, padahal dahulunya internet bukan teknologi yang mudah bagi kebanyakan orang (Kusumaningtyas, 2010).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui hubungan tipe kepribadian dengan self disclosure pengguna facebook. Kepribadian adalah pola perilaku dan cara berpikir yang khas, yang menentukan penyesuaian diri individu terhadap lingkungan. Tipe Kepribadian disini adalah ekstrovert introvert. Yang mana ekstrovert adalah sikap jiwa yang tertuju keluar dirinya, pikiran, perasaan, hidup kejiwaan, tingkah laku dan tindakannya sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Sedangkan introvert adalah orientasi jiwanya ditujukan ke dalam dirinya baik pikiran, perasaan dan tingkah lakunya ditentukan oleh faktor-faktor subyektif.

Penelitian kuantitatif dengan studi korelasional ini melibatkan 173 responden dari 646 siswa pengguna Facebook di SMA Negeri 2 Depok dengan rentangan usia 14-18 tahun. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan menggunakan

stratified random sampling. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur self disclosure menggunakan alat ukur yang digunakan oleh peneliti sebelumnya, yaitu Cut Noza Nasrina S.Psi. Sedangkan untuk alat ukur tipe kepribadian menggunakan Eysenck Personality Questionaire (EPQ) yang dikemukakan oleh Eysenck dan Wilson (1982) yang sudah peneliti modifikasi sesuai subjek yang akan dijadikan responden. Jumlah item pada pada skala self disclosure sebanyak 31 item dan sebanyak 48 item untuk skala tipe kepribadian.

(11)

xi

maka hipotesis nihil yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh tipe kepribadian terhadap self disclosure pengguna facebook ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan seseorang yang mempunyai kecenderungan

ekstrovert atau kecenderungan introvert dengan self disclosure pengguna

facebook.

Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh yang signifikan tipe kepribadian terhadap self disclosure pengguna facebook. Peneliti menyarankan penelitian selanjutnya agar meneliti/menganalisa variabel-variabel lainnya yang kemungkinan besar mempengaruhi self disclosure dan meneliti hal lain yang mungkin dapat menjelaskan hasil penelitian menjadi tidak signifikan.

(12)

xii

DAFTAR ISI

Halaman Judul... i

Lembar Pengesahan Pembimbing ... ii

Lembar Pengesahan Panitia Ujian ... iii

Lembar Orisinalitas ... iv

Persembahan... v

Motto... vi

Kata Pengantar ... vii

Abstraksi……… x

Daftar Isi ... xii

Daftar Tabel ... xv

BAB 1 Pendahuluan... 1

1.1 Latar Belakang Masalah... 1

1.2 Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 18

1.2.1 Pembatasan Masalah ... 18

1.2.2 Perumusan Masalah ... 18

I.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian... 19

1.3.1 Tujuan Penelitian ... 19

1.3.2 Manfaat Penelitian ... 19

1.4 Sistematika Penulisan ... 20

BAB 2 Kajian Pustaka ... 21

2.1 Self Disclosure... 21

2.1.1 Pengertian Self Disclosure... 21

2.1.2 Teori Self Disclosure…... 22

2.1.3 Dimensi Self Disclosure………... 23

2.1.4 Aspek Self Disclosure... 25

2.1.5 Tingkatan Self Disclousre... 26

(13)

xiii

2.1.7 Manfaat Self Disclosure... 28

2.1.8 Bahaya Self Disclosure... 29

2.1.9 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Self Disclosure... 30

2.2 Tipe Kepribadian... 33

2.2.1 Pengertian Kepribadian... 33

2.2.2 Karakteristik Kepribadian... 34

2.2.3 Tipe Kepribadian Ekstravert dan Introvert……... 35

2.2.4 Faktor-faktor Dasar Kepribadian Extravert dan Introvert… 40 2.3 Kerangka Berpikir ... ... 42

2.4 Hipotesis penelitian ... 45

BAB 3 Metode penelitian ... 47

3.1 Populasi dan Sampel ... 47

3.2 Variabel Penelitian ... 47

3.3 Definisi Operasional……….. 48

3.4 Instrument Pengumpulan Data... 50

3.5 Prosedur Pengumpulan Data………. 54

3.6 Metoda Analisis Data……… 55

BAB 4 Hasil Penelitian ...……….………... 57

4.1 Analisis Deskriptif………... 57

4.2 Pengujian Hipotesis Penelitian... 62

4.3 Pengujian Proporsi Varian... 66

4.4 Analisis Tambahan ... 69

BAB 5 Kesimpulan, Diskusi dan Saran ... 73

5.1 Kesimpulan ………... 73

5.2 Diskusi ………... 74

5.3 Saran ………... 80

5.3.1 Saran Teoritis ... 80

5.3.2 Saran Praktis ... 80

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Blue print skala self disclosure……….. 51

Tabel 3.2 Blue print skala tipe kepribadian………... 53

Tabel 4.1 Distribusi populasi berdasarkan jenis kelamin……….. 57

Tabel 4.2 Distribusi populasi berdasarkan hobi……… 58

Tabel 4.3 Distribusi populasi berdasarkan tempat berkumpul……….. 59

Tabel 4.4 Distribusi populasi berdasarkan agama………. 60

Tabel 4.5 Distribusi populasi berdasarkan suku……… 60

Tabel 4.6 Deskripsi skor variabel……….. 61

Tabel 4.7 Uji F tipe kepribadian terhadap self disclosure pengguna facebook..62

Tabel 4.8 Varians DV yang dijelaskan oleh IV………. 63

Tabel 4.9 Coeficient regresi masing-masing IV……… 64

Tabel 4.10 Proporsi varians masing-masing IV……….. 66

Tabel 4.11 Signifikansi jenis kelamin terhadap tipe kepribadian……… 69

Tabel 4.12 Signifikansi agama terhadap tipe kepribadian………... 70

Tabel 4.13 Signifikansi suku terhadap tipe kepribadian………. 70

Tabel 4.14 Signifikansi usia terhadap tipe kepribadian……….. 71

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

Pada bab ini berisi latar belakang mengapa perlu dilakukan penelitian tipe kepribadian dengan self disclosure, perumusan dan pembatasan masalah penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

1.1 Latar Belakang

Dalam sebuah hubungan diperlukan komunikasi yang terbuka antara satu dengan lainnya. Menurut Rogers dan Kincaid (dalam Sari dkk, 2006) komunikasi adalah proses pertukaran informasi dengan menyampaikan gagasan atau perasaan agar mendapat tanggapan dari orang lain dan dapat mengekspresikan dirinya yang unik. Informasi yang disampaikan dalam komunikasi dapat berupa identitas diri, pikiran, perasaan, penilaian terhadap keadaan sekitar, pengalaman masa lalu dan rencana masa depan yang sifatnya rahasia maupun yang tidak.

(16)

Keterbukaan diri (self disclosure) merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam interaksi sosial dan juga yang dibutuhkan dalam hubungan interpersonal, karena dengan adanya pengungkapan diri seseorang dapat mengungkapkan pendapatnya, perasaannya, cita-citanya dan sebagainya, sehingga memunculkan hubungan yang terbuka (Asandi & Rosyidi, 2010). Taylor & Belgrave (dalam Gainau, 2009) mengatakan individu yang terampil melakukan

self disclosure mempunyai ciri-ciri yakni memiliki rasa tertarik kepada orang lain daripada mereka yang kurang terbuka, percaya diri sendiri, dan percaya pada orang lain.

Dalam interaksi antara individu dengan orang lain, apakah orang lain akan menerima atau menolak, bagaimana mereka ingin orang lain mengetahui tentang mereka akan ditentukan oleh bagaimana individu dalam mengungkapkan dirinya. Hubungan yang terbuka ini akan memunculkan hubungan timbal balik positif yang menghasilkan rasa aman, adanya penerimaan diri, dan secara lebih mendalam dapat melihat diri sendiri serta mampu menyelesaikan berbagai masalah hidup (Asandi & Rosyidi, 2010).

(17)

Omith (dalam Asandi & Rosyidi, 2010), mengatakan bahwa sebenarnya proses self disclosure yang telah lama menjadi fokus penelitian dan teori komunikasi mengenai hubungan, merupakan proses mengungkapkan informasi pribadi kita kepada orang lain dan sebaliknya, hal ini juga menandai sehat atau tidaknya komunikasi antar pribadi dengan melihat keterbukaan yang terjadi dalam komunikasi

Pada kejadian pengeboman yang marak terjadi belakangan ini, yang dilakukan oleh sebuah kelompok yang mengatas namakan Islam, di Hotel J.W. Marriot. Pakar psikologi Prof. Dr. Sarlito Wirawan (2009) mengungkapkan faktor penyebab kasus bom di Hotel Marriot yang belum lama ini terjadi, dan beberapa tempat lainnya, adalah karena para pengebom itu tidak dapat mengungkapkan pikiran, emosi dan ambisinya kepada teman atau keluarganya. Mungkin mereka punya beban pikiran berat, dan mungkin saja sebenarnya mereka memiliki ambisi tinggi untuk negerinya ini, namun mereka tidak dapat mengungkapkan itu semua (Matanews.com, 2009).

(18)

Hasil penelitian yang dilakukan Dian (2000), menunjukkan bahwa 35% siswa mengungkapkan diri secara terbuka, sedangkan 50% siswa kurang mengungkapkan diri secara terbuka. Sedangkan penelitian Dewi (2004), menunjukkan bahwa hanya 24,55% siswa yang terampil dalam membuka diri, sedangkan sebagian besar 43,63% siswa yang kurang terampil membuka diri (dalam Gainau, 2009).

Hasil penelitian terdahulu tentang pengungkapan diri menunjukkan hasil yang mengandung kontradiksi. Misalnya, yang dilakukan Balswick dan Balkwell tidak menunjukkan adanya perbedaan pengungkapan diri antara pria dan wanita. Akan tetapi penelitian selanjutnya yang dilakukan Hargie terhadap 288 mahasiswa menunjukkan hasil bahwa pria dan wanita memiliki pola pengungkapan diri yang berbeda (dalam Sari dkk, 2006).

Perbedaan pengungkapan diri antara pria dan wanita menurut Jourard terjadi karena adanya harapan yang berbeda terhadap pria dan wanita. Harapan bagi pria untuk tampak lebih kuat, objektif, kerja keras, dan tidak emosional dapat menghambat pengungkapan diri pada pria, sedangkan harapan bagi wanita untuk mampu menolong dan menyenangkan orang lain dapat meningkatkan pengungkapan diri pada wanita. Menurut De Vito, “wanita lebih sering mengekspresikan perasaannya dan memiliki keinginan yang besar untuk selalu mengungkapkan dirinya” (dalam Sari dkk, 2006).

(19)

Indonesia khususnya budaya Jawa. Suseno dan Reksosusilo (dalam Gainau, 2009), beranggapan orang yang diam atau tertutup itu dinilai baik dan masih tabu, karena dengan keterbukaan diri (self disclosure) dipandang sebagai sikap menyombongkan diri, angkuh, tinggi hati dan lain-lain. Nilai budaya ini akan terus dibawa oleh individu, karena dimulai dari awal kehidupannya sudah diberikan pelajaran untuk dapat menerima dan tidak menerima dalam menyatakan diri pada orang lain. Serta individu sudah seharusnya menyesuaikan diri pada cara untuk dapat menerima orang lain. Dengan demikian lama kelamaan benteng pertahanan diri sangat kuat sehingga untuk terbuka kepada orang lain sangat sedikit.

Lebih lanjut, Franco mengemukakan bahwa orang Amerika lebih terbuka dari pada Meksiko. Sedangkan Nugroho menyatakan bahwa orang jepang lebih tertutup dari pada orang Indonesia. Jourard menemukan bahwa siswa kulit putih lebih terbuka dari pada siswa kulit hitam di Amerika. Pada budaya Cina, anak-anak lebih memilih tidak membuka/mengungkapkan informasi yang pribadi kepada orang tua walaupun mereka masih memiliki keterikatan yang dekat dengan keluarga (dalam Gainau, 2009).

(20)

digital sekarang ini. Komunikasi terjalin kapan saja dan di mana saja dalam kehidupan manusia.

Alternatif komunikasi masyarakat modern saat ini menyebabkan tuntutan manusia terhadap kebutuhan informasi semakin tinggi. Hal itu turut melahirkan kemajuan yang cukup signifikan dalam bidang teknologi. Peningkatan di bidang teknologi, informasi, serta komunikasi mengakibatkan dunia tidak lagi mengenal batas, jarak, ruang, dan waktu. Seseorang dapat dengan mudah mengakses informasi penting tentang fenomena kejadian di belahan dunia lain, tanpa harus berada di tempat tersebut. Padahal untuk mencapai tempat itu memakan waktu berjam-jam, namun hanya dengan seperangkat komputer yang memiliki konektivitas internet, informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik (Kusumaningtyas, 2010).

Onong (dalam Kusumaningtyas, 2010) menyatakan terdapat dua tahapan proses komunikasi, yakni proses komunikasi primer dan sekunder. Proses komunikasi primer ialah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Proses komunikasi sekunder yaitu proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media.

(21)

tempat yang relatif jauh, sehingga penggunaan media ini dapat menunjang efektivitas komunikasi (Kusumaningtyas, 2010).

Bungin (dalam Kusumaningtyas, 2010) media yang diambil dalam penelitian ini adalah internet. Internet (interconnection networking) merupakan jaringan komputer yang dapat menghubungkan suatu komputer atau jaringan komputer dengan jaringan komputer lain, sehingga dapat berkomunikasi atau berbagi data tanpa melihat jenis komputer itu sendiri. Seperti yang diketahui internet merupakan bentuk konvergensi dari beberapa teknologi penting terdahulu, seperti komputer, televisi, radio, dan telepon.

Internet adalah sebuah gerbang pintu masuk untuk menjelajahi informasi di seluruh dunia. Berbagai macam informasi dapat kita dapatkan melalui internet baik itu berita terkini seperti ekonomi, harga kenaikan barang, hingga resep makanan, bahkan jurnal, skripsi, artikel, lagu-lagu sampai film dan komik yang dapat didownload setiap waktu. Banyak situ-situs internet yang dapat menjadi tempat berbagi informasi yang terkenal dan dengan fitur yang menarik selain itu juga dapat menjadi ajang mendapatkan teman yang banyak hingga sampai kepada mencari jodoh. Situs internet tersebut seperti Twitteer, Friendster, Hi5, Myspace, You Tube, Blog-ger, Facebook dan masih banyak lagi (Khairunnisa, 2010).

Salah satu situs internet yang dibahas dalam penelitian ini adalah

facebook, yang didirikan oleh Mark Zuckerberg seorang mahasiswa “droup out”

Universitas Harvard Amerika Serikat pada tanggal 6 Februari 2004.

(22)

sendiri. Banyak orang rela mengakses internet demi Facebook, padahal dahulunya internet bukan teknologi yang mudah bagi kebanyakan orang. Mereka dengan kelemahan latar belakang pendidikan, usia, dan status sosial atau ekonomi mau belajar internet demi mengekspresikan dirinya pada Facebook. Dahulunya, tukang sayur, office boy, pembantu rumah tangga, pedagang asongan, manula pada tahun 2003 tidak mengenal internet, namun kini mereka memiliki Facebook.

Pengguna Facebook seringkali disebut Facebooker. Mayoritas Facebooker

menggunakan Facebook untuk terkoneksi dengan keluarga, relasi, dan teman-teman. Facebook menyebabkan jaringan relasi semakin luas karena penemuan-penemuan baru relasi senantiasa tercipta. Tidak hanya itu, Facebook mampu membuka gerbang komunikasi sehingga kontak dapat terus dilakukan. Selain itu,

Facebook memiliki fasilitas newsfeed yang memudahkan Facebooker mengakses informasi dengan terorganisasi dan pengingatnya seperti pemberitahuan aktivitas teman Facebooker lain serta pesan-pesan layaknya e-mail cukup digemari banyak

Facebooker (Kusumaningtyas, 2010).

Beberapa alasan membuat komunikasi dunia maya menjadi lebih nyaman dan lengkap daripada berkomunikasi langsung dengan bertatap muka pada dunia nyata. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Larry D. Rosen dkk, Ben-Ze-Ev (2003) mengatakan bahwa seseorang merasa aman dalam dunia maya dibandingkan dunia nyata. Walther (1996) juga mengatakan seseorang merasa dekat jika berada dibalik layar atau dunia maya dibandingkan dunia nyata.

(23)

Chat ialah fasilitas Facebook yang dapat digunakan untuk berinteraksi langsung dengan syarat penggunanya harus terkoneksi dalam jaringan (online), sehingga dapat terjadi komunikasi langsung. Wall merupakan fasilitas Facebook untuk saling mengirimkan pesan bagi sesama pengguna Facebook, pesan tersebut dapat dilihat secara umum dan tercantum waktu pengirimannya. Facebook dapat menjadi alternatif komunikasi yang digemari banyak orang. Terlebih lagi bagi orang yang memiliki kepribadian tertutup, pemalu, ataupun pendiam.

Pada dasarnya Facebook dibuat dengan niat baik dan benar-benar mengusung nilai-nilai pertemanan yang “kental”. Hal itu dapat dilihat pada fitur dan kemampuan seperti membuat pertemanan dan terus dapat berhubungan dengan teman-teman atau relasi, personal whiteboards atau umumnya disebut “walls”, membuat group, tergabung ke dalamnya, advertising parties / “events”,

mengirimkan pesan personal layaknya e-mail, saling meng-upload dan sharing image, campus advertising, membuat pernyataan status. Sesuai data dari Pew Internet and American Life Project Survey of Parents and Teens (2006) yang menyatakan dalam situs jejaring sosial, 84 % remaja menggunakan wall dan 76 % memanfaatkan post comment (Kusumaningtyas, 2010).

(24)
(25)

Penelitian yang dilakukan oleh Asandi & Rosyidi (2010), disimpulkan bahwa melalui facebook, remaja dapat mengungkapkan dirinya dengan efektif. Bagi para remaja self-disclosure (pengungkapan diri) merupakan sarana untuk membagi informasi tentang diri mereka kepada orang lain. Informasi yang mereka bagi tersebut terkait dengan identitas diri dan perasaan serta keadaan yang mereka alami.

Jonathan mengatakan, sebagai salah satu aspek penting dalam hubungan sosial, self disclosure juga perlu bagi remaja, karena masa remaja merupakan periode individu belajar menggunakan kemampuannya untuk memberi dan menerima dalam berhubungan dengan orang lain. Sesuai dengan perkembangannya, remaja dituntut lebih belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang lebih luas dan majemuk (Juwaeni, 2009).

Pada suatu kesempatan, penulis mewawancarai seorang dosen, Bapak Rachmat Muloyono mengenai fenomena yang sedang marak terjadi (bagian dari pengamatan yang dilakukan peneliti juga) yaitu tentang fenomena orang yang memiliki kepribadian introvert pada dunia nyata dan menjadi ekstrovert dalam dunia maya. Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada manusia yang terlalu introvert ataupun terlalu ekstrovert. Setiap orang butuh sosialisasi dan setiap orang punya sesuatu yang dirahasiakan. Maka dari itu seorang psikolog menyebutnya cenderung introvert atau cenderung ekstrovert. Pribadi yang baik adalah yang menuju ke tengah, tidak terlalu introvert dan tidak terlalu ekstrovert. Bisa saja seorang yang introvert dalam dunia nyata tetapi

(26)

Penulis juga mengamati bahwa setelah bergabung dalam situs ini, ada beberapa kawan yang selama ini terlihat baik-baik saja ternyata memiliki beberapa masalah, jika dilihat dari status yang dibuatnya. Orang-orang yang menurut penulis adalah seorang yang tertutup, bisa menjadi terbuka dengan dia membiasakan mencurahkan apa yang menjadi kendala dalam kehidupannya. Sehingga hal yang dilakukannya itu bisa membuat seseorang menjadi lebih tenang dengan mencurahkan yang menjadi pikirannya. Fenomena seperti inilah yang disebut self diclosure, yaitu Pengungkapan diri memungkinkan seseorang diri sejati untuk diketahui oleh orang lain (Jourard, Barry A. Farber, 2006).

Kusumaningtyas (2010) mengatakan bahwa perkembangan teknologi informasi tidak hanya mampu menciptakan masyarakat dunia global, namun secara materi dapat mengembangkan ruang gerak kehidupan baru bagi masyarakat. Tanpa disadari, komunitas manusia telah hidup dalam dua dunia kehidupan, yakni kehidupan masyarakat nyata dan masyarakat maya (cybercommunity). Masyarakat nyata ialah sebuah kehidupan masyarakat yang secara indrawi dapat dirasakan sebagai sebuah kehidupan nyata, hubungan-hubungan sosial sesama anggota masyarakat dibangun melalui pengindraan.

(27)

Hal diatas didukung pula dengan hasil penelitian Retnowati & Hartyanthi (2001) mengenai hubungan antara tipe kepribadian dengan kecenderungan kecanduan cybersex, dikatakan bahwa semakin extravert tipe kepribadian individu maka akan semakin rendah kecenderungan kecanduan cybersexnya dan sebaliknya semakin introvert tipe kepribadian individu maka semakin tinggi pula kecenderungan kecanduan cybersexnya.

Pada dasarnya setiap orang mengadakan orientasi terhadap dunia sekitarnya, tergantung karakteristik atau tipe kepribadiannya sehingga orientasi orang yang satu dengan orang lainnya berbeda. Orientasi manusia ada yang memiliki arah keluar (ekstrovert) dan ke dalam (introvert). Jung (Lestari dkk. 2001) menegaskan bahwa dimensi orang ekstovert dalam perilaku aktual digambarkan sebagai orang yang terbuka, periang, dan juga agresif (Sinuraya, 2009).

Eysenck dan Wilson (dalam Sinuraya, 2009) yang mengatakan bahwa salah satu karakteristik orang ekstrovert diantaranya Risk taking, yaitu senang hidup di dalam bahaya dan mencari pekerjaan yang memberikan imbalan yang baik dengan hanya sedikit menghiraukan konsekuensi yang merugikan keselamatan dan keamanannya, mereka cenderung nampak lebih hebat, menjadi pihak yang benar, dihormati, disetujui oleh orang-orang yang terpilih.

(28)

acra bertindak. Sikap, cara berfikir, dan cara bertindak itu dapat dipastikan tidak terlalu sama antar individu yang satu dengan yang lain.

Secara psikologis, ditinjau dari tipe kepribadiaannnya, ada dua tipe pengguna internet, yang memiliki tipe kepribadian introvert dan yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert. Eysenck mengelompokkan manusia berdasarkan dua tipe kepribadian, yaitu tipe kepribadian introvert dan tipe kepribadian ekstrovert

(Suryabrata, 1982). Orang-orang yang introvert memperlihatkan kecenderungan untuk mengembangkan gejala-gejala ketakutan dan depresi, yang ditandai oleh kecenderungan obsesi mudah tersinggung, apathis, syaraf otonom mereka labil. Menurut pernyataan mereka sendiri, perasaan mereka gampang terluka, mudah gugup, menderita rasa rendah diri, mudah melamun, sukar tidur, intelegensi mereka relatif tinggi, perbendaharaan kata-kata baik, dan cenderung untuk tetap pada pendiriannya (keras kepala). Mereka yang tergolong dalam tipe kepribadian ini, pada umumnya teliti tetapi lambat, taraf aspirasi mereka tinggi tetapi ada kecenderungan untuk menaksir rendah prestasi mereka sendiri, mereka agak kaku (tegar), dan memperlihatkan “intrapersonal variability“ yang kecil (dalam Itriyah, 2004).

Sebaliknya, orang yang mempunyai tipe kepribadian ekstrovert

(29)

dan mereka mempunyai kecenderungan untuk tidak tetap pada pendiriannya. Mereka yang tergolong dalam tipe kepribadian ini pada umumnya cepat tetapi tidak teliti, taraf aspirasi mereka rendah tetapi mereka menilai prestasi mereka secara berlebihan. Selain itu, mereka tidak begitu kaku dan memperlihatkan “intrapersonal variability” yang besar (dalam Itriyah, 2004).

Berdasarkan ciri-ciri kepribadian tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa berhadapan dengan internet, orang yang mempunyai tipe kepribadian introvert

(30)

mengherankanlah jika internet dipandang oleh individu introvers sebagai salah media yang paling tepat untuk mengatasi permasalahan kepribadian mereka. Akibatnya, ia akan menciptakan dan menampilkan kepribadian yang lain sama sekali dari dirinya yang sebenarnya. Dengan kata lain, individu yang demikian lebih suka dengan kepribadian baru yang merupakan hasil rekayasa karena kepribadian yang demikian dipandang ideal bagi kepribadian introvert (dalam Itriyah, 2004).

Sebaliknya, mereka yang memiliki tipe ekstrovert cenderung akan menggunakan internet sebagai media atau alat untuk mendapatkan informasi menambah pengetahuan atau sekedar mencari hiburan. Hal ini terjadi karena orang ekstrovert cenderung memiliki sosialisasi yang baik dengan lingkungannya. Oleh karena itu, mereka akan menggunakan internet sebagai alat sosialisasi. Hal ini berarti bahwa segala informasi yang ada di internet dapat mereka informasikan kembali pada orang lain karena memang salah satu dari sifatnya yang dominan adalah hatinya terbuka dan bersikap positif pada lingkungan masyarakat. Berkaitan uraian yang dikemukakan di atas, maka dapat dikatakan bahwa secara psikologis, tingkat keseringan penggunaan internet tidaklah sama antara individu satu dengan yang lainnya. Hal ini terjadi karena masing-masing individu berperilaku sesuai dengan kepribadiannya, serta aspek lain yang turut mempengaruhi perilakunya, seperti jenis kelamin (dalam Itriyah, 2004).

(31)

dengan yang akan dilakukan sekarang atau pada tahun-tahun berikutnya. Hla tersebut bisa dikarenakan karakteristik individu itu sendiri, subjek yang dijadikan penelitian, lingkungan, dan hal-hal lain yang mungkin mempengaruhi.

Pada tahun 2011 telah dilakukan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Cut Noza mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi self disclosure. Dalam penelitian tersebut menguji tujuh faktor yang mempengaruhi self disclosure

pengguna internet. Tetapi ada yang belum diteliti oleh beliau, yaitu mengenai kepribadian. Kepribadian merupakan salah satu faktor yang juga mempengaruhi

self disclosure.

(32)

1.2 Perumusan dan Pembatasan Masalah 1.2.1 Perumusan Masalah

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah

a. Apakah ada hubungan yang signifikan tipe kepribadian dengan self disclosure pengguna facebook?

b. Variabel apa sajakah yang mempengaruhi self disclosure?

c. Variabel manakah yang memiliki pengaruh yang besar dan signifikan terhadap self disclosure pengguna facebook?

1.2.2 Pembatasan Masalah

Untuk memfokuskan dan memperoleh hasil penelitian yang lebih akurat sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam pembatasan masalah menyangkut hal-hal berikut:

a. Self Disclosure akan dibatasi pada emotional state, interpersonal relationship, personal matters, problems, religion, sex, taste, thoughts, dan

work/study/accomplishment.

b. Tipe Kepribadian sendiri akan dibatasi pada ekstrovert introvert dengan faktor activity, sociability, risk taking, impulsiveness, expressiveness,

reflectiveness dan responsibility.

(33)

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui hubungan tipe kepribadian dengan self disclosure pengguna facebook. Sehingga hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mengetahui faktor apa yang membuat seseorang lebih suka untuk ekstrovert di dunia maya dari pada dunia nyata.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangsih bagi perkembangan ilmu psikologi, khususnya psikologi sosial. Yang mana hasil penelitian diharapkan dapat menambah khazanah pengetahuan tentang “Hubungan tipe kepribadian dengan self

disclosure pengguna facebook

1.4.2 Manfaat Praktis

Sedangkan manfaat praktis dari penelitian ini adalah sebagai referensi yang dapat digunakan bagi pembaca pada khususnya dan masyarakat pada umumnya dalam menelaah dan memperhatikan lagi kegunaan facebook

sebagai sarana disclosure seseorang. Dan memberi masukan akan penting self disclosure dalam menjalin hubungan interpersonal.

Bagi orang tua diharapkan bisa mengetahui sisi dari seorang anak baik itu keluhan yang tersampaikan dari apa yang ditulisakan di internet (dalam hal ini

(34)

1.5Sistematika Penulisan

BAB I :Pendahuluan: latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II :Kajian Pustaka: self-disclosure dan tipe kepribadian

BAB III :Metode Penelitian: pendekatan dan jenis penelitian, konseptual dan operasional variabel, populasi dan sampel (partisipan), teknik pengumpulan data, prosedur penelitian, analisis data.

BAB IV :Hasil Penelitian: analisis deskriptif, uji hipotesis, pengujian proporsi varian, dan analisis tambahan.

(35)

BAB II

KAJIAN TEORI

Dalam bab ini akan dipaparkan tentang Pengertian Self Disclosure, Teori Self Disclosure, Dimensi hingga Manfaat Self Disclosure. Selain itu dipaparkan pula tentang Pengertian Kepribadian, Karakteristik Kepribadian, Tipe Kepribadian

Extravert dan Introvert, Faktor-Faktor Dasar Kepribadian Extravert dan Introvert, Kerangkan Berpikir, dan Hipotesis Penelitian.

2.1 Self Discolsure

2.1.1 Pengertian Self Disclosure

Secara bahasa, self berarti diri-sendiri, closure diartikan sebagai penutupan, pengakhiran, sehingga disclosure berarti terbuka atau keterbukaan. Dengan demikian, self disclosure adalah pengungkapan diri atau keterbukaan diri, namum beberapa ahli menyebutnya sebagai penyingkapan diri.

Menurut Jourard (dalam Howe, no date), pengungkapan diri merupakan berbagi informasi rahasia dan pribadi scara timbal balik, yang telah dikonseptualisasikan sebagai komponen kritis pada orang dewasa dan hubungan remaja, dan diduga untuk dikembangkan dalam konteks keluarga.

Self disclosure is defined as the quantity (breadth) and quality (depth) of personal information that an individual provides to another (Jourard, dalam Andrade, 2002).

(36)

Laurence, Pietromonaco & Breet (dalam Wei, M., Russel, & Zakalik, 2005) mengatakan bahwa self disclosure is an important tool that is used to get know new people. And can be used by freshmen to build friendships in e new

environment.

Menurut Wei, M., Russel, & Zakalik, dkk (2005) “Self-disclosure refers to

individual’s the verbal communication of personality relevant information,

thoughts, and feelings in order to let themselves be know to others”. Artinya

adalah bahwa self disclosure merupakan komunikasi verbal yang dilakukan seseorang mengenai informasi kepribadian yang relevan, pikiran dan perasaan yang disampaikan, agar orang lain mengetahui tentang dirinya.

Berdasarkan pengertian-pengertian diatas, self disclosure adalah informasi tentang diri sendiri; tentang pikiran, perasaan, dan perlikai seseorang; atau tentang orang lain yang sangat dekat yang sangat dipikirkannya.

2.1.2 Teori-teori Self Disclosure

Teori self disclosure sering disebut teori “Johari Window” atau Jendela

Johari yang merupakan sebuah teori yang diciptakan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham pada tahun 1955. Dalam Johari Window diungkapkan tingkat keterbukaan dan kesadaran tentang diri yang dibagi dalam empat kuadran.

Saya Tahu Saya Tidak Tahu

Orang Lain tahu

Orang lain tidak tahu

1) Kuadran satu/open area

Terbuka Buta

(37)

Daerah ini berisikan semua informasi, perilaku, sikap, perasaan, keinginan, motivasi, gagasan, dan sebagainya yang diketahui oleh diri sendiri dan orang lain.

2) Kuadran dua/blind area

Daerah ini merujuk pada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh orang lain, tetapi tidak diketahui oleh diri sendiri.

3) Kuadran tiga/hidden area

Daerah ini merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri sendiri tetapi tidak oleh orang lain.

4) Kuadran empat/unknown area

Daerah ini merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang tidak diketahui oleh diri sendiri maupun orang lain.

2.1.3 Dimensi Self Disclosure

Menurut Devito (2002), membedakan dimensi self disclosure menjadi 5 bagian:

a. Ukuran Self Disclosure

(38)

b. Valensi Self Disclosure

Kualitas positif dan negatif dari self disclosure. Individu dapat mengungkapkan diri dengan baik dan menyenangkan (positif), atau dengan tidak baik dan tidak menyenangkan (negatif), kualitas ini akan menimbulkan dampak yang berbeda, baik pada orang yang mengungkapkan diri maupun pada pendengarannya.

c. Kecermatan dan Kejujuran

Kecermatan atau ketepatan dari disclosure akan di batasi oleh sejauh mana individu mengetahui atau mengenal dirinya sendiri. Selanjutnya self disclosure akan berbeda tergantung pada kejujuran. Individu dapat secara total jujur atau dapat melebih – lebihkan, atau berbohong.

d. Tujuan dan Maksud

Individu akan menyingkapkan apa yang ditujukan untuk diungkapkan, sehingga dengan sadar individu tersebut dapat mengontrol self disclosure . e. Keintiman

(39)

2.1.4 Aspek Self Disclosure

Ada 9 faktor pengungkapan diri menurut Sherwin (1998) dan akan diuraikan dalam tabel berikut ini:

Faktor-faktor Self Disclosure

No. Factor Definition

1. Emotional State One’s revelation of emotion or feelings to another people. Feelings, attitudes toward a situation being revealed to anothers.

2. Interpersonal Relationship Indicates movement towards greater intimacy in interpersonal relationship. Range of relationship or bonding formed within the outside the family.

3. Personal Matters Private truth about oneself, favorable or unfavorable, toward something or someone and is exhibited in one’s belief, feelings or intended behavior. Being honest and seeking others to know you better by disclosing. 4. Problems Depressing event or situation that can be

lightened through disclosing. Conflict, disagreement experienced by an individual. 5. Religion Ability of an individual to share his

experience, thoughts and emotions toward his feeling of God. Concept, perception and view of religion by an individual being able to share or tackle in the face of others.

6. Sex As a way of being in the world of men and women whose moments of life is spent to experience being with the entire world in a distincly male or female way. Willingness of a person to discuss his sexual experiences, needs and views.

7. Taste Likes and dislikes of a person opened to another people. Views, feeling, appreciation of a person, place or thing.

8. Thoughts Information in mind that you are willing to share with other people. Perception regarding a thing, or situation which is shared with others.

(40)

2.1.5 Tingkatan Self Disclosure

Dalam proses hubungan interpersonal terdapat tingkatan-tingkatan yang berbeda dalam pengungkapan diri. Menurut Supratiknya (dalam Sosiawan, 2011) tingkatan self disclosure dalam komunikasi yaitu:

a. Basa-basi merupakan taraf pengungkapan diri yang paling lemah atau dangkal, walaupun terdapat keterbukaan diantara individu, tetapi tidak terjadi hubungan antar pribadi. Masing-masing individu berkomunikasi basa-basi sekedar kesopanan.

b. Membicarakan orang lain yang diungkapkan dalam komunikasi hanyalah tentang orang lain atau hal-hal yang diluar dirinya. Walaupun pada tingkat ini isi komunikasi lebih mendalam tetapi pada tingkat ini individu tidak mengungkapkan diri.

c. Menyatakan gagasan atau pendapat sudah mulai dijalin hubungan yang erat. Individu mulai mengungkapkan dirinya kepada individu lain.

d. Perasaan: setiap individu dapat memiliki gagasan atau pendapat yang sama tetapi perasaan atau emosi yang menyertai gagasan atau pendapat setiap individu dapat berbeda-beda. Setiap hubungan yang menginginkan pertemuan antat pribadi yang sungguh-sungguh, haruslah didasarkan atas hubungan yang jujur, terbuka, dan menyarankan perasaan-perasaan yang mendalam.

(41)

sejati haruslah berdasarkan pada pengungkapan diri dan kejujuran yang mutlak.

2.1.6 Fungsi Self Disclosure

Menurut Derlega dan Grzelak (dalam Sosiawan, 2011) ada lima fungsi self disclosure:

a. Ekspresi

Dalam kehidupan ini terkadang manusia mengalami suatu kekecewaan atau kekesalan, baik itu yang menyangkut pekerjaan ataupun yang lainnya. Untuk membuang semua kekesalam ini biasanya akan merasa senang bila bercerita pada seorang teman yang sudah dipercaya. Dengan pengungkapan diri semacam ini manusia mendapat kesempatan untuk mengekspresikan perasaannya.

b. Penjernihan Diri

Dengan saling berbagi rasa serta menceritakan perasaan dan masalah yang sedang dihadapi kepada orang lain, manusia berharap agar dapat memperoleh penjelasan dan pemahaman orang lain akan masalah yang dihadapi sehingga pikiran akan menjadi lebih jernih dan dapat melihat duduk persoalannya dengan lebih baik.

c. Keabsahan Sosial

(42)

Sehingga dengan demikian, akan mendapatkan suatu informasi yang bermanfaat.

d. Kendali Sosial

Seseorang dapat mengemukakan atau menyembunyikan informasi tentang keadaan dirinya yang dimaksudkan untuk mengadakan kontrol sosial, misalnya orang akan mengatakan sesuatu yang dapat menimbulkan kesan baik tentang dirinya.

e. Perkembangan Hubungan

Saling berbagi rasa dan informasi tentang diri kita kepada orang lain serta saling mempercayai merupakan saran yang paling penting dalam usaha merintis suatu hubungan sehingga akan semakin meningkatkan derajat keakraban.

2.1.7 Manfaat dari Self Disclosure.

Menurut Devito (1996) manfaat dari melaukan self disclosure adalah a. Pengetahuan Diri

Salah satu manfaat dari pengungkapan diri dalah kita mendapatkan perspektif baru tentang diri sendiri dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai perilaku kita sendiri.

b. Kemampuan Mengatasi Kesulitan

(43)

menerima dukungan, bukan penolakan, kita menjadi lebih siap untuk mengatasi perasaan bersalah dan mungkin mengurangi atau bahkan menghilangkannya.

c. Efisiensi Komunikasi

Seseorang memahami pesan-pesan dari orang lain sebagian besar sejauh kita memahami orang lain secara individual. Pengungkapan diri adalah kondisi yang penting untuk mengenal orang lain. Kita dapat saja meneliti perilaku orang lain atau bahkan hidup bersamanya selama bertahun-tahun, tetapi jika orang itu tidak pernah mengungkapkan dirinya, kita tidak akan memahami orang itu sebagai peribadi yang utuh.

d. Kedalaman Hubungan

Dengan pengungkapan diri, kita memberitahu orang lain bahwa kita mempercayai mereka, menghargai, dan cukup peduli akan mereka dan akan hubungan kita untuk mengungkapkan diri kita kepada mereka.

2.1.8 Bahaya Self Disclosure.

Menurut Bochner (dalam Devito, 1996) banyak manfaat pengungkapan diri jangan sampai membuat kita buta terhadap risiko-risikonya. Berikut beberapa bahaya utamanya:

a. Penolakan Pribadi dan Sosial

(44)

dianggap akan bersikap mendukung pengungkapan diri, tentu saja orang ini mungkin ternyata menolaknya.

b. Kerugian Material

Adakalanya, pengungkapan diri mengakibatkan kerugian material. Politisi yang mengungkapkan bahwa ia pernah dirawat osikiater mungkin akan kehilangan dukungan partai politiknya sendiri dan rakyat akan enggan memberikan suara baginya.

c. Kesulitan Intrapribadi

Bila reaksi orang lain tidak seperti yang diduga, kesulitan intrapribadi dapat terjadi. Tak seorangpun senang ditolak, dan mereka yang egonya rapuh perlu memikirkan kerusakan yang dapat disebabkan oleh penolakan seperti ini.

2.1.9 Faktor Yang Mempengaruhi Self Disclosrue.

Devito (1997) mengemukakan ada delapan faktor yang mempengaruhi self disclosure, yaitu:

a. Efek Dyadic

(45)

b. Besaran Kelompok

Pengungkapan diri lebih banyak terjadi dalam kelompok kecil daripada dalam kelompok besar. Diad (kelompok yang terdiri atas dua orang) merupakan lingkungan yang paling cocok untuk pengungkapan diri. Bila ada lebih dari satu orang pendengar, pemantauan seperti ini menjadi sulit, karena tanggapan yang muncul pasti berbeda dari pendengar yang berbeda.

c. Topik Bahasan

Seseorang lebih cenderung membuka diri tentang topik tentang pekerjaan atau hobi daripada tentang kehidupan seks atau situasi keuangan (Jourard dalam Devito, 1997). Umumnya, makin pribadi dan makin negatif suatu topik, makin kecil kemungkinan kita mengungkapkannya.

d. Perasaan Menyukai

Seseorang membuka diri pada orang yang disukai atau dicintai dan bukan sebaliknya. Peneliti, pengungkapan diri, John Berg dan Richard Archer (dalam Devito, 1997) melaporkan bahwa tidak saja seseorang membuka diri pada mereka yang disukai. Seseorang juga membuka diri lebih banyak kepada orang yang dipercayai (Wheeles dan Grotz dalam Devito, 1997)

e. Jenis Kelamin

(46)

dan buka jenis kelamin dalam arti biologis yang menyebabkan perbedaan dalam hal pengungkapan diri ini.

f. Ras, Kebangsaan, dan Usia

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ras-ras tertentu yang lebih sering melakukan self-disclosure dibandingkan denganras lainnya. Misalnya kulit putih Amerika lebih sering melakukan selfdisclosuredibandingkan dengan orang negro. Begitu juga dengan usia, self-disclosure lebih banyak dilakukan oleh pasangan yang berusia antara 17-50 tahun dibandingkan dengan orang yang lebih muda atau lebih tua. Studi yang menunjukkan bahwa orang-orang beragama lebih banyak mengungkapkan masalah mereka kepada seseorang.

g. Mitra Dalam Hubungan

Dengan mengingat tingkat keakraban sebagai penentu kedalaman self-disclosure maka lawan komunikasi atau mitra dalam hubungan akan menentukan self-disclosure. Hal ini dimaksudkan bahwa self-disclosure

yang dilakukan kepada individu yang dianggap sebagai orang yang dekat misalnya suami/istri, teman dekat atau sesame anggota keluarga.

h. Kepribadian

(47)

2.2 Tipe Kepribadian

2.2.1 Pengertian Kepribadian

Kepribadian merupakan pola perilaku dan cara berpikir yang khas, yang menentukan penyesuaian diri individu terhadap lingkungan. Atkinson (dalam Retnowati & Haryanthi, 2001) kepribadian mencakup kepribadian umum yang dapat diamati oleh orang lain dan kepribadian pribadi yang terdiri dari pikiran dan pengalaman yang jarang diungkapkan. Allport (Suryabrata, 2008) merumuskan kepribadian sebagai suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Eysenck (Suryabrata, 2008) memberikan definisi kepribadian sebagai keseluruhan pola perilaku, baik yang aktual maupun yang potensial dari organisme yang ditentukan oleh pembawaan dan lingkungan.

(48)

unik, hakikat kepribadian yang abstrak dengan proses fisiologis yang mendasari proses-proses psikologis.

Berdasarkan atas beberapa batasan diatas, disimpulkan bahwa kepribadian merupakan suatu pola perilaku individu yang komprehensif, konsisten dan bersifat khas yang ditentukan oleh pembawaan serta lingkungan dalam ciri-ciri perilaku yang tampak maupun perilaku yang tidak tampak.

2.2.2 Karakteristik Kepribadian

(49)

2.2.3 Tipe Kepribadian Extravert dan Introvert

Kepribadian extravert dan introvert merupakan salah satu kepribadian yang didasarkan atas tipologisnya. Tipe kepribadian ini pertama kali diperkenalkan oleh Carl Gustav Jung yang menganut aliran Psikoanalisis, dengan teorinya tentang struktur kesadaran manusia (Suryabrata, 2008). Menurut Jung struktur kasadaran manusia digolongkan menjadi dua yaitu a) fungsi jiwa dan b) sikap jiwa. Fungsi jiwa yaitu suatu bentuk aktivitas kejiwaan yang secara teoritis tidak mengalami perubahan dalam lingkungan yang berbeda-beda. Jung membedakan fungsi jiwa secara rasional yaitu pikiran dan perasaan, dan secara irasional yaitu pendriaan dan intuisi. Sikap jiwa merupakan arah dari energi psikis umum atau libido yang menjelma dalam bentuk orientasi manusia terhadap dunianya. Orientasi jiwa terhadap dunianya dapat mengarah ke luar maupun ke dalam.

(50)

kepribadian extravert dan introvert tersebut bekerja saling melengkapi satu sama lain yang berorientasi pada keseimbangan jiwa individu.

Individu yang memiliki tipe kepribadian extravert mempunyai sikap jiwa yang tertuju keluar dirinya, pikiran, perasaan, hidup kejiwaan, tingkah laku dan tindakannya sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Individu cenderung dikendalikan oleh kondisi-kondisi yang sifatnya obyektif dibandingkan kondisi subyektif . Sebaliknya individu yang memiliki tipe kepribadian introvert, orientasi jiwanya ditujukan ke dalam dirinya baik pikiran, perasaan dan tingkah lakunya ditentukan oleh faktor-faktor subyektif (Jung dalam Suryabrata, 2001).

Sidharta (dalam Retnowati & Haryanthi, 2001) menambahkan individu yang memiliki tipe kepribadian extravert cenderung perhatian terhadap lingkungannya, suka bergaul, memiliki suasana hati yang mudah naik dan turun, mudah mengekpresikan emosinya, impulsif dalam bertindak, dinamis, suka terhadap perubahan dan mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Individu yang memiliki tipe kepribadian introvert ditandai dengan suka melamun, menghindari kontak sosial, tampak tenang, kurang ekspresif dalam emosinya, mempertimbangkan secara matang sebelum mengambil tindakan, kurang dinamis, kurang menyukai perubahan, dan tidak mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Penelitian ini didasarkan atas teori kepribadian extravert dan introvert

(51)

tahan uji. Penelitian dilakukan terhadap kurang lebih 10.000 orang normal dan neurotis pada Perang Dunia II dan diawali dengan 700 orang tentara yang neurotis (Retnowati & Haryanthi, 2001). Eysenck (Suryabrata, 2008) mengemukakan tiga dimensi dasar kepribadian yaitu neurocism, introversion-ekstraversion serta

psychotism. Dimensi dasar neurocism menunjukkan individu yang memiliki keadaan psikis maupun jasmani kurang sempurna. Intelegensi, kemauan, penguasaan emosi, dan ketepatan sensoris di bawah batas normal. Individu dengan kecenderungan neurocism, umumnya mudah terpengaruh, kurang tetap pendirian, lambat dalam bertindak, dan cenderung menekan hal-hal yang tidak menyenangkan. Dimensi dasar neurocism diduga dipengaruhi oleh faktor keturunan, namun penelitian yang dilakukan Eysenck tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Dimensi dasar psychotism ditandai dengan individu yang memiliki prestasi rendah dalam penjumlahan angka-angka yang kontinyu, kurang yakin terhadap sikap-sikap sosial, tidak lancar, memiliki daya konsentrasi yang rendah, ingatan cenderung kurang baik, cenderung membuat gerak-gerik yang lebih besar, membaca lambat dan memiliki taraf aspirasi yang kurang sesuai dengan kenyataan (Suryabrata, 2008).

Eysenck (dalam Retnowati & Haryanthi, 2001) merumuskan tipe kepribadian extravert dan introvert sebagai bentuk keseimbangan antara

(52)

kerja otak mengalami penurunan, terjadi penekanan pada respon-respon perseptual, motor, fungsi belajar dan berpikir.

Individu yang memiliki tipe kepribadian extravert, potensi inhibitionnya lebih baik dan kuat dibandingkan individu yang memiliki tipe kepribadian

introvert. Fungsi otak terhambat pada individu yang memiliki tipe kepribadian

extravert ketika menghadapi peristiwa traumatis, individu cenderung tidak mampu mengingat kejadian yang menimpa dirinya. Individu tidak memiliki pengaruh emosional yang kuat terhadap peristiwa traumatis tersebut dan sikapnya cenderung normal ketika dihadapkan pada situasi yang serupa. Sebaliknya individu yang memiliki tipe kepribadian introvert, kerja otaknya tidak pernah berhenti sehingga individu cenderung mengingat secara detail setiap dihadapkan pada kejadian traumatis. Kondisi tersebut menyebabkan individu mengalami pengalaman traumatis yang berkepanjangan.

Eysenck (dalam Retnowati & Haryanthi, 2001) membedakan individu yang memiliki tipe kepribadian extravert dan introvert berdasarkan aktivitas

(53)

Perbedaan dasar biologis pada susunan syaraf yang mempengaruhi keadaan emosi manusia merupakan salah satu faktor yang membedakan individu yang memiliki tipe kepribadian extravert dan introvert (Eysenck dalam Retnowati & Haryanthi, 2001). Pusat emosi atau Visceral Brain terdapat di otak. Individu yang memiliki tipe kepribadian extravert, pusat emosinya sangat mudah digerakkan sehingga emosinya cenderung tidak stabil. Kondisi tersebut menyebabkan individu memiliki respon emosional yang sangat tinggi sehingga cenderung impulsif. Sebaliknya individu yang memiliki tipe kepribadian introvert,

pusat emosinya sangat sulit digerakkan dan menyebabkan respon emosionalnya rendah sehingga emosinya cenderung datar dan terkontrol.

Menurut Eysenck dan Wilson (dalam Retnowati & Haryanthi, 2001) individu yang memiliki tipe kepribadian extravert tipikal adalah memiliki sosiabilitas yang tinggi yang ditandai dengan mempunyai banyak teman, suka bergaul, ramah, responsive terhadap lingkungan, membutuhkan orang lain untuk diajak berkomunikasi, dan tidak menyukai aktivitas sendiri. Individu membutuhkan perangsangan, berani mengambil resiko dan suka melakukan tindakan berbahaya secara tiba-tiba, impulsif, suka menuruti dorongan kata hati, mudah berubah, mudah terpengaruh, optimis. Individu aktif bergerak mengerjakan sesuatu, cenderung agresif, suasana hatinya berubah dengan cepat, kurang bertanggung jawab dan secara keseluruhan perasaannya tidak berada di bawah kontrol yang ketat. Individu yang memiliki tipe kepribadian introvert

(54)

impuls yang seketika, tidak menyukai perangsangan, perasaannya berada di bawah kontrol yang ketat, emosinya datar, dapat dipercaya, merencanakan dengan matang sebelum bertindak dan bertanggung jawab.

Berdasarkan tinjauan teoritis tersebut, maka disimpulkan batasan tipe kepribadian Eysenck adalah (a) Individu yang memiliki tipe kepribadian introvert

memiliki suatu pandangan yang lebih subyektif, sedangkan individu yang memiliki tipe kepribadian extravert lebih obyektif, (b) Individu yang memiliki tipe kepribadian introvert memiliki tingkat aktivitas cerebral yang lebih tinggi, sedangkan individu yang memiliki tipe kepribadian extravert memiliki aktivitas behavioral yang lebih tinggi, dan (c) Individu yang memiliki tipe kepribadian

introvert menunjukkan kecenderungan kontrol diri yang ketat, sedangkan individu yang memiliki tipe kepribadian extravert cenderung impulsif.

2.2.4 Faktor-Faktor Dasar Kepribadian Extravert dan Introvert

Eysenck dan Wilson (dalam Retnowati & Haryanthi, 2001) mengklasifikasikan ciri-ciri tingkah laku yang operasional pada tipe kepribadian

extravert dan introvert, menurut faktor-faktor kepribadian yang mendasarinya yaitu : (a) Activity, (b) Sociability, (c) Risk taking, (d) Impulsiveness, (e)

Expressiveness, (f) Reflectiveness dan (g) Responsibility.

(55)

bergairah. Bagaimana subyek menikmati setiap pekerjaan yang dilakukan, apa jenis pekerjaan atau aktivitas yang disukainya.

b. Sociability : Aspek sosiabilitas mengukur bagaimana individu melakukan kontak sosial. Apakah interaksi sosial individu ditandai dengan banyak teman, suka bergaul, menyukai kegiatan sosial, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, perasaan senang dengan situasi ramah tamah. Apakah sebaliknya individu kurang dalam kontak sosial, perasaan minder dalam pergaulan, menyukai aktivitas sendiri.

c. Risk Taking : Aspek ini mengukur apakah individu berani mengambil resiko atas tindakannya dan menyukai tantangan dalam aktivitasnya.

d. Impulsiveness : Membedakan kecenderungan extravert dan introvert

berdasarkan cara individu mengambil tindakan. Apakah cenderung impulsif, tanpa memikirkan secara matang keuntungan maupun kerugiannya atau sebaliknya mengambil keputusan dengan mempertimbangkan konsekuensinya.

e. Expressiveness : Aspek ini mengukur bagaimana individu mengekspresikan emosinya baik emosi marah, sedih, senang maupun takut. Apakah cenderung sentimental, penuh perasaan, mudah berubah pendirian dan demontratif. Atau sebaliknya mampu mengontrol pikiran dan emosinya, dingin, tenang.

f. Reflectiveness : Aspek ini mengukur bagaimana ketertarikan individu pada ide, abstrak, pertanyaan filosofis. Apakah individu cenderung suka berpikir teoritis dari pada bertindak, introspektif .

(56)

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat tujuh faktor yang mempengaruhi tipe kepribadian extravert dan introvert, yaitu activity, sociability, risk taking, impulsiveness, expressiveness, reflectiveness, dan

responsibility.

2.3 Kerangka Berpikir

Activity

Sociability

Risk Taking

Impulsiveness SELF DISCLOSURE

Expresiveness

Reflectiveness

Responsibility

Jenis Kelamin

Suku, Agama, Usia

(57)

Self disclosure atau pengungkapan diri merupakan komponen yang penting dalam menjalani kehidupan sosial. Pengungkapan diri memfasilitasi pengembangan hubungan intim baru (Altman dan Taylor 1973) dan membantu untuk mempertahankan yang sedang berlangsung (Haas dan Stafford 1998).

Terdapat delapan faktor yang mempengaruhi self disclosure itu sendiri, salah satunya adalah kepribadian (Devito, 1997). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan karakteristik kepribadian ekstrovert introvert yang berjumlah tujuh yang dikemukakan oleh Eysenck dan Wilson (dalam Retnowati & Haryanthi, 2001).

Ketujuh karakteristik kepribadian tersebut adalah Activity,Sociability,Risk taking, Impulsiveness, Expressiveness, Reflectiveness dan Responsibility.

Individu yang memiliki tipe kepribadian extravert tipikal adalah memiliki sosiabilitas yang tinggi yang ditandai dengan mempunyai banyak teman, suka bergaul, ramah, responsive terhadap lingkungan, membutuhkan orang lain untuk diajak berkomunikasi, dan tidak menyukai aktivitas sendiri. Individu membutuhkan perangsangan, berani mengambil resiko dan suka melakukan tindakan berbahaya secara tiba-tiba, impulsif, suka menuruti dorongan kata hati, mudah berubah, mudah terpengaruh, optimis. Individu aktif bergerak mengerjakan sesuatu, cenderung agresif, suasana hatinya berubah dengan cepat, kurang bertanggung jawab dan secara keseluruhan perasaannya tidak berada di bawah kontrol yang ketat (Retnowati & Haryanthi, 2001).

(58)

menjaga jarak dari orang lain. Individu kurang percaya pada impuls yang seketika, tidak menyukai perangsangan, perasaannya berada di bawah kontrol yang ketat, emosinya datar, dapat dipercaya, merencanakan dengan matang sebelum bertindak dan bertanggung jawab (Retnowati & Haryanthi, 2001).

Keterbukaan bagi setiap individu mempunyai banyak kegunaan walaupun efek yang didapat berbeda-beda. Bagi individu berusia 15-18 tahun atau bisa dibilang masa remaja, pengungkapan diri merupakan hal terpenting karena pada masa itu mereka dalam masa peralihan menuju dewasa dan belajar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang lebih luas dan majemuk.

Keterbukaan diri (self disclosure) bagi remaja bermanfaat untuk meringankan beban persoalan yang dihadapi, mengurangi tegangan dan stress, memahami dunia secara lebih realistis, lebih percaya diri, dan dapat mempererat hubungan dengan orang lain. Tetapi tidak semua individu ataupun remaja dapat mengungkapkan dirinya secara terbuka dan langsung.

(59)

2.4 Hipotesisi Penelitian Hipotesis Mayor

“Ada Hubungan Tipe Kepribadian dengan Self Disclosure Pengguna

Facebook

Hipotesis Minor

H 1 : Ada Pengaruh Variabel Activity dengan Self Disclosure Pada Pengguna

Facebook

H 2 : Ada Pengaruh Variabel Sociability dengan Self Disclosure Pada Pengguna Facebook

H 3 : Ada Pengaruh Variabel Risk Taking dengan Self Disclosure Pada Pengguna Facebook

H 4 : Ada Pengaruh Variabel Impulsiveness dengan Self Disclosure Pada Pengguna Facebook

H 5 : Ada Pengaruh Variabel Expresiveness dengan Self Disclosure Pada Pengguna Facebook

H 6 :Ada Pengaruh Variabel Reflectiveness dengan Self Disclosure Pada Pengguna Facebook

H 7 : Ada Pengaruh Variabel Responsibility dengan Self Disclosure Pada Pengguna Facebook

H 8 :Ada Pengaruh Variabel Jenis Kelamin Terhadap Self Disclosure Pada Pengguna Facebook

H 9 : Ada Pengaruh Variabel Usia Terhadap Self Disclosure Pada Pengguna

(60)

H 10 : Ada Pengaruh Variabel Agama Terhadap Self Disclosure Pada Pengguna

Facebook

H 11 : Ada Pengaruh Variabel Suku Terhadap Self Disclosure Pada Pengguna

(61)

BAB III

METODE PENELITIAN

Pada bab ini akan dipaparkan tentang Populasi dan Sampel, Variabel Penelitian, Definisi Operasional, Instrumen Pengumpulan data, Prosedur Pengumpulan Data, dan Metode Analisis Data.

3.1 Populasi Dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa/i SMA Negeri 2 Depok dari kelas X sampai kelas XII (termasuk dalam kelas IPA, IPS, dan Bahasa) yang berjumlah 630 siswa/i. Sampel yang akan dipakai merupakan perwakilan dari dari masing-masing kelas yang sudah dikocok sebelumnya. Dari kelas X, XI, dan XII didapat masing-masing dua kelas sehingga total reponden yang didapat sebanyak 173 siswa/i, dengan rentang umur 15-18 tahun.

3.2 Variabel

Variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah 1. Self Disclosure

2. Activity

3. Sociability

4. Risk Taking

5. Impulsiveness

(62)

7. Reflectiveness

8. Responsibility

9. Jenis Kelamin 10. Usia

11. Agama 12. Suku

Adapun yang menjadi Dependent Variabel (DV) adalah Self Disclosure, sedangkan sisa lainnya adalah Independent Variabel (IV).

3.3 Definisi Operasional

Dari definisi konseptual yang telah dijelaskan dalam BAB 2, kemudian peneliti menentukan definisi operasional yang akan digunakan dalam penelitian ini.

1. Self Disclosure

Self disclosure yang dimaksud adalah skor yang diperoleh dari skala pengungkapan diri remaja yang mencakup berbagi informasi rahasia dan pribadi secara timbal balik, yang dilakukan remaja dengan teman sebayanya atau teman

Gambar

Blue Print Tabel 3.1 Self Disclosure
Tabel 3.1 Blue Print Tipe Kepribadian
Distribusi Populasi Penelitian Berdasarkan HobiTabel 4.2
Tabel 4.3
+7

Referensi

Dokumen terkait

SELF DISCLOSURE PENGGUNA CYBERSEX KEPADA PEER GROUP MENGENAI PERILAKU SEKSUALNYA (STUDI PADA MAHASISWA DI..

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner self- disclosure yang disusun berdasarkan dimensi self-disclosure dari teori DeVito dan kuesioner need

Berdasarkan teori di atas maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi self-disclosure pada ODHA adalah faktor who you are yang merujuk pada bagaimana

17 adanya perbedaan antara teori dengan penelitian sebelumnya sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian kembali mengenai hubungan dari intimate

Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian terbaru dari Novianto (2015) yang mengatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel self- disclosure

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa: 1 Self-disclosure generasi Z pengguna twitter berada pada kategori sedang mengarah ke tinggi; 2 Interpersonal trust generasi Z pengguna

xi ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA SELF-DISCLOSURE DENGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA SANTRIWATIWATI PESANTREN AR RISALAH KOTA PADANG Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

Skala Self Disclosure Dalam menghasilkan sebuah data terkait self disclosure dalam penelitian ini, peneliti membuat sediri dengan mengembangkan alat ukur yang di gunakan dalam