• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN YURIDIS PUTUSAN BEBAS TINDAK PIDANA PEMERKOSAAN (Studi Putusan No.1240/Pid.B/2013/PN.TK)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "TINJAUAN YURIDIS PUTUSAN BEBAS TINDAK PIDANA PEMERKOSAAN (Studi Putusan No.1240/Pid.B/2013/PN.TK)"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Pengadilan sebagai suatu badan atau lembaga peradilan yang menjadi tumpuan harapan untuk mencari keadilan, mencari jalan terbaik dalam mencegah dan memberantas kejahatan dalam negara hukum, sebagai pelaksana hukum yaitu hakim yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk menerima dan memeriksa serta memutus perkara pidana harus dapat berbuat adil dalam memberikan putusan. Permasalahan dalam skripsi ini adalah, a) Mengapa hakim menjatuhkan putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana pemerkosaan, b) Apakah putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana pemerkosaan memenuhi rasa keadilan. Penelitian ini menggunakan pendekatan masalah yuridis normatif dan pendekatan yuridis empiris. Sumber data yang digunakan berupa data primer, dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dari penelitian di lapangan dengan cara melakukan wawancara dengan responden, sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari kepustakaan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan: a) Hakim dalam menjatuhkan putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana pemerkosaan karena berdasarkan pertimbangan hakim unsur memaksa tidak terpenuhi secara sah menurut hukum. b) Hakim menjatuhkan putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana pemerkosaan dikaitkan dengan teori pemidanaan. Saran dalam penelitian ini yang dapat disampaikan yaitu: a) Hakim dalam menjatuhkan putusan bebas seharusnya hakim jangan melihat dari segi kepastian hukumnya saja. b) Hakim dalam menjatuhkan putusannya janganlah hanya mempertimbangkan unsur kepastian hukumnya saja dalam putusan perkara yang dihadapinya tersebut melainkan juga harus pula mempertimbangkan keadilan dan kemanfaatan hukumnya.

(2)

TINJAUAN YURIDIS PUTUSAN BEBAS TINDAK PIDANA PEMERKOSAAN (Studi Putusan No. 1240/Pid.B/2013/PN.TK)

Oleh DIKA PERMADI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA HUKUM

Pada

Bagian Hukum Pidana

Fakultas Hukum Universitas Lampung

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG

(3)
(4)
(5)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Watervang, Lubuklinggau Sumatera

Selatan pada tanggal 22 Oktober 1993. Penulis merupakan

anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Bapak

Supardi dan Ibu Ermawati.

Pendidikan pertama penulis di TK Baitul A’la Air Kuti Kecamatan Lubuklinggau

Timur 1 Lubuklinggau pada Tahun 1999, Sekolah Dasar Negeri 1 Batu Urip

Kecamatan Lubuklinggau Timur 1 Lubuklinggau diselesaikan pada Tahun 2005,

dan Sekolah Menengah Pertama di Pondok Pesantren Ar-Risalah Air Kuti

Kecamatan Lubuklinggau Timur 1 Lubuklinggau pada Tahun 2008. Kemudian

dilanjutkan di Sekolah Menengah Atas SMAN 2 Air Kuti Kecamatan

Lubuklinggau Timur 1 Lubuklinggau hingga Tahun 2011.

Pada tahun 2011 Penulis diterima sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas

Lampung, dan menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Pidana (HIMA Pidana)

pada tahun 2014 dan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa

Penyandingan Kecamatan Bengkunat Belimbing Kabupaten Pesisir Barat pada

(6)

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahirrobbil’alamin, Segala Puji bagi Allah SWT Tuhan Semesta Alam, Pemilik Kerajaan Langit dan Bumi, Penghembus segala kebaikan dalam hidupku.

Kupersembahkan karya kecilku ini kepada orang tuaku tercinta

“Ayahanda

Supardi dan Ibunda Ermawati

Yang telah membesarkanku dengan penuh kasih sayang.

Semoga Allah SWT mempertemukan kami dan keduanya dalam Jannah-Nya kelak.

Kupersembahkan pula untuk Ayukku Winda Febrianti, S.Ked., Adikku Agung Raharjo dan

Julfa Alia Rageti

Yang selalu memberikan dukungan kepadaku dikala suka maupun duka.

Karena kasih sayang, perhatian, dukungan,

Pengorbanan serta do’a dari kalian semua yang tiada henti,

Aku dapat mengecap pendidikan di Fakultas Hukum Universita Lampung.

Walau sampai habis umurku, tidak akan pernah mampu

kubalas semua itu dengan apapun di dunia ini,

sebesar apapun nilainya.

Almamater tercinta yang telah mendewasakanku dalam berfikir dan bertindak.

Almamater yang selalu kubanggakan sebagai saksi bisu perjalananku

(7)

MOTO

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri”

(Q.S. Ar-Ra’d:11)

“Barang siapa yang memudahkan urusan saudaranya didunia, niscaya Allah akan memudahkan urusannya didunia dan akhirat.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

“Barang siapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.”

(8)

SANWACANA

Alhamdulillahirabbil’alamin. Puji syukur selalu penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas

limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi

dengan judul “TinjauanYuridisPutusanBebasTindakPidanaPemerkosaan (StudiPutusan

No.1240/Pid.B/2013/PN.TK)” sebagai salah satu syarat mencapai gelar sarjana di Fakultas

Hukum Universitas Lampung.

Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan, bantuan,

petunjuk dan saran dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini Penulis mengucapkan terima

kasih yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S., selakuRektorUniversitas Lampung.

2. Bapak Prof. Dr. Heryandi, S.H., M.S. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas

Lampung.

3. Ibu Diah Gustiniati Maulani, S.H., M.H. selaku Ketua Bagian Hukum Pidana Fakultas

Hukum Universitas Lampung.

4. Bapak Eko Raharjo, S.H., M.H. selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan

masukan dan bantuan dalam proses penulisan skripsi ini sehingga skripsi ini dapat

terselesaikan.

5. Bapak A. IrzalFardiansyah, S.H., M.H. selaku Dosen Pembimbing II yang telah

memberikan masukan dan bantuan dalam proses penulisan skripsi ini sehingga skripsi

ini dapat terselesaikan.

6. Bapak Dr. HeniSiswanto, S.H., M.H, selaku Dosen Pembahas I yang telah

memberikan kritikan, masukkan dan saran dalam penulisan skripsi ini.

7. Ibu Dona Raisa Monica, S.H., M.H, selakuDosenPembahas II yang

(9)

8. IbuNillaNargis, S.H., M.H. selaku Pembimbing Akademik yang senantiasa

memberikan nasehat dan pengarahan selama penulis kuliah di Fakultas Hukum

Universitas Lampung.

9. Bapak AnggitArietyaNugroho, S.H., M.H.,BapakAkhmadSuhel, S.H., Ibu Dr. Erna

Dewi, S.H., M.H., IbuSupriyanti,S.H.,yang telah memberikan izin penelitian,

membantudalam penelitian dan penyediaan datauntuk penyusunan skripsi ini.

10.Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah memberikan

ilmu yang bermanfaat kepada penulis selama

kuliahsertaseluruhstafdankaryawanFakultasHukumUniversitas Lampung penulis

ucapkan banyak terima kasih.

11.Teristimewa untuk orang tuaku tercinta Ayahanda Supardi dan Ibunda Ermawati yang

telah menjadi semangat hidup bagi penulis dan telah membesarkan penulis dengan

penuh kasih sayang serta Ayukku WindaFebrianti,S.Ked., Adikku Agung Raharjo dan

Julfa Alia Ragetisertasemua keluarga besarku, yang memberikan dukungan, motivasi

dan doa kepada penulis. Tanpa kasih sayang, motivasi dan doa kalian semua ini bukan

apa-apa.

12.Guru-guruku selama menduduki bangku Sekolah Dasar, PondokPesantrenAr-Risalah,

SekolahMenengahAtas. Penulis ucapkan terimakasih atas ilmu, doa, motivasi dan

kebaikan yang telah ditanamkan.

13.Terima kasihSahabatku RizkanAdly, MeydianAfriansyah, BobyMaha Putra

Wijayayang begitu kubanggakan persahabatannya. Yakinlah sob, kita akan sukses di

masa mendatang, Allah SWT selalu bersama kita.

14.Sahabat seperjuanganku Abi, Ado, Ando, Aga, Agus, Ata, Beni, Dewi,Djarwo,

Eka,Febri, Feri, Fitra, Fredy, Hendra, Iis,Ijal, Imam, Mia yang sama-sama berjuang

(10)

15.Sahabatku Eleven Law Aldi, Arnold, Deswandi, Dito,Jani,Nico, Panca, Riki, Zakidan

semua kawan-kawan Angkatan 2011 Fakultas Hukum Universitas Lampung.Bersama

kalian, kulewati saat-saat manis dan pahit perjalanan ini. terima kasih atas pertemanan

yang terjalin selama ini.

16.SahabatkuKuliahKerjaNyataYuanita, Yudha, Yunita, Wita. Bersama kalian,

kulewatimasasulitdalamsukadandukaselama 40 hari kalian

menjadikeluargadalammenyelesaikanmatakuliahiniterimakasihataskebersamaanselam

ainisemogapertemananiniterusberlanjut.

17.Bidadari-bidadari yang telah membuat pribadiku lebih baik dalam bertindak dan

berperilaku, terima kasih.

18.Untuk Almamater Tercinta, Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah

menjadi saksi bisu dari perjalanan ini hingga menuntunku menjadi orang yang lebih

dewasa dalam berfikir dan bertindak.Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan

satu persatu, penulis mengucapkan banyak terima kasih.

Semoga Allah SWT memberikan balasan atas bantuan dan dukungan yang telah diberikan

kepada penulis dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan

keilmuan bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis pada khususnya.

Bandar Lampung, 27 April-2015

Penulis,

(11)

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup ... 8

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 8

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual ... 10

E. Sistematika Penulisan ... 14

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Hakim ... 16

B. Pengertian Putusan Pemidanaan ... 21

C. Tindak Pidana ... 25

D. Penjatuhan Pidana ... 27

E. Tinjauan Umum Tindak Pidana Perkosaan ... 28

III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan Masalah ... 30

B. Penentuan Narasumber ... 31

C. Sumber dan Jenis Data ... 31

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 33

E. Analisis Data ... 34

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden … ... 35

(12)

C. Pemenuhan Rasa Keadilan Putusan Beabas Kepada Pelaku Tindak Pidana

Pemerkosaan ... 51

V. PENUTUP

A. Simpulan … ... 56

B. Saran ... 57

(13)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dengan kemajuan budaya dan iptek, perilaku manusia didalam hidup

bermasyarakat dan bernegara justru semakin kompleks dan bahkan

multikompleks. Perilaku dengan demikian apabila ditinjau dari segi hukum

tentunya ada perilaku yang tidak sesuai dengan norma. Terhadap prilaku yang

sesuai norma hukum yang berlaku, tidak menjadi masalah. Terhadap prilaku yang

tidak sesuai norma biasanya dapat menimbulkan permasalahan di bidang hukum

dan merugikan masyarakat1.

Tindak pidana merupakan suatu fenomena yang komplek yang dapat dipahami

dari berbagai sisi yang berbeda satu dengan yang lain. Dalam pengalaman kita

ternyata tak mudah untuk memahami kejahatan itu sendiri.Usaha memahami

kejahatan itu sebenarnya telah berabad-abad dipikirkan oleh para ilmuan terkenal.

Plato 427-347 SM misalnya menyatakan dalam bukunya Republiek menyatakan

antara lain bahwa emas manusia adalah merupakan sumber dari banyak

kejahatan.2

1

Wordpress.https://yunindyarahendini.wordpress.com/2014/10/27/3 diakses pada tanggal 29 Januari 2015, pada pukul 15.30 Wib.

2

(14)

2

Perilaku yang tidak sesuai norma atau dapat disebut sebagai penyelewengan

terhadap norma yang telah disepakati ternyata menyebabkan terganggunya

ketertiban dan ketentraman kehidupan manusia. Penyelewengan yang demikian,

biasanya oleh masyarakat dianggap sebagai suatu pelanggaran dan bahkan sebagai

suatu kejahatan. Kejahatan dalam kehidupan manusia merupakan gejala sosial

yang akan selalu dihadapi oleh setiap manusia, masyarakat, dan bahkan negara.

Kenyataan telah membuktikan, bahwa kejahatan hanya dapat dicegah dan

dikurangi, tetapi sulit diberantas secara tuntas3.

Sebagai negara hukum di Indonesia, pengadilan adalah suatu badan atau lembaga

peradilan yang menjadi tumpuan harapan untuk mencari keadilan, oleh karena itu

jalan terbaik untuk mencegah dan memberantas kejahatan dalam negara hukum

adalah melalui badan peradilan tersebut. Sebagai salah satu dari pelaksana hukum

yaitu hakim diberi wewenang oleh undang-undang untuk menerima, memeriksa

serta memutus suatu perkara pidana oleh karena itu hakim dalam menangani suatu

perkara harus dapat berbuat adil, sebagai seorang hakim dalam memberikan

putusan kemungkinan dipengaruhi oleh hal yang ada pada dirinya dan sekitarnya

karena pengaruh dari faktor agama, kebudayaan, pendidikan, nilai, norma dan

sebagainya sehingga dapat dimungkinkan adanya perbedaan cara pandang

sehingga mempengaruhi pertimbangan dalam memberikan putusan4.

Menjatuhkan putusan, kecuali putusan selaadalah suatu proses mengakhiri

perkara/sengketa dengan menggunakan konsep-konsep mengadili, seorang hakim

3

Bambang Waluyo. Pidana dan Pemidanaan.Jakarta : PT. Sinar Grafika. 2008 hlm 1.

4

Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Lepas dari Segala Tuntutan

(15)

3

diberikan kebebasan untuk menjatuhkan putusan sesuai dengan apa yang

diyakininya berdasarkan serangkaian proses pembuktian yang telah mendahului

sebelumnya, kebebasan tersebut dijaminoleh undang-undang sebagaikewenangan

yang bebas dan merdeka dari segala pengaruh apapun, baik dari lingkup intervensi

internal maupun eksternal5.

Menurut ketentuan di atas, maka hakim memiliki kewenangan yang penuh dalam

menentukan setiap putusan dalam perkara yang ditanganinya. KUHAP mengatur

tentang berapa kemungkinan seorang hakim dalam menjatuhkan putusan antara

lain:

1. Menjatuhkan putusan pidana jika pengadilan berpendapat bahwa terdakwa

bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya; Pasal 193 ayat

(1) KUHAP.

2. Menjatuhkan putusan bebas jika pengadilan berpendapat bahwa dari hasil

pemeriksaan disidang kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan

kepadanya tidak terbukti secara dan meyakinkan; Pasal 191 ayat (1) KUHAP.

3. Menjatuhkan putusan lepas dari segala tuntutan hukum jika pengadilan

berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti

tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana; Pasal 191 ayat (2)

KUHAP.

4. Menjatuhkan putusan yang menyatakan bahwa pengadilan tidak berwenang

mengadili, jika pengadilan berpendapat bahwa perkara yang diajukan bukan

kewenangannya, baik secara absolut maupun relatif; Pasal 156 ayat (1)

5

(16)

4

KUHAP. Menjatuhkan putusan yang menyatakan bahwa dakwaan tidak dapat

diterima atau dakwaan batal jika pengadilan berpendapat bahwa dakwaan

penuntut umum tidak memenuhi syarat materiil dan formil sebagaimana

ditentukan dalam; Pasal 143 KUHAP dan Pasal 156 ayat (1) KUHAP6

.

Pengimplementasian kewenangan yang bebas dan merdeka tersebut, hakim harus

berpegangteguh pada aturan-aturan yang berlaku, walaupun dalam menentukan

suatu kesimpulan hakim diberikan kebebasan yang luas, namun bukan berarti

bahwa kebebasan itu bisa digunakan tanpa batas, karena sesungguhnya

pembatasan itu hakim juga dibatasi oleh nilai-nilai keadilan yang ada dilubuk

hatinya, artinya seorang hakim tidak bisa lepas dari keyakinan dalam hati

nuraninya yang pada satu sisi merupakan bentuk kemerdekaan dalam berfikir dan

menentukan pendapat tapi disisi lain juga sebagai pembatas dari segala

kemunafikan dalam menjatuhkan putusan, karena sesungguhnya hati nurani selalu

akan tahu mana yang baik dan mana yang buruk.

Reformasi peradilan saat ini dituntut adanya keterbukaan dalam setiap proses

penyelesaian perkara, sehingga semua tahapan persidangan termasuk segala

pertimbangan dalam putusan harus dapat diakses oleh masyarakat luas, sedangkan

bagian yang masih dalam ruang lingkup kerahasiaan sebagaimana diatur dalam

Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan

Kehakiman hanya menyangkut materi musyawarah dalam pengambilan

6

(17)

5

keputusan, walaupun hal itu juga sudah mengalami penyempitan makna karena

dengan adanya ketentuan7

.

Tidaklah adil menilai suatu putusan hanya berdasarkan diktumnya semata, karena

diktum dalam amar putusan hanyalah sebuah pernyataan yang didasarkan atas

kesimpulan dalam pertimbangan-pertimbangan hukum, sehingga jiwa putusan itu

sendiri sebenarnya ada pada pertimbangannya dan pertimbangan itulah yang dapat

menjelaskan apa yang menjadi latar belakang sehingga amar putusan yang

dijatuhkan seperti demikian. Suatu putusan yang baik akan dapat memberikan

gambaran yang jelas dan terang tentang alur pikiran hakim dalam menjatuhkan

putusan, baik dari segi logika berfikir maupun kearifan-kearifan dalam menelaah

setiap fakta-fakta hukum yang ada. Dalam tulisan ini sengaja akan diungkap

hal-hal yang ada dibalik lahirnya putusan bebas, sehingga masyarakat umum akan

bisa mendapatkan pemahaman yang proporsional tentang latar belakang hakim

dalam menjatuhkan putusan bebas. Ada beberapa hal yang selalu menyelimuti

lahirnya putusan bebas8.

Menurut asas hukum dikenal istilah “unus testis nullus testis” yang artinya satu

saksi bukan alat bukti, hal tersebut memberikan makna bahwa satu keterangan

saksi saja belum memiliki kekuatan pembuktian yang dapat mempersalahkan si

terdakwa, namun jika keterangan saksi tersebut didukung oleh alat bukti yang sah

lainnya, maka keterangan itu akan menjadi alat bukti yang memiliki kekuatan

pembuktian. Jika batas minimal pembuktian tersebut tidak bisa dipenuhi oleh

penuntut umum sebagai pihak yang menanggung beban pembuktian, maka hakim

7

Ibid. hlm 194.

8

(18)

6

akan membebaskan terdakwa karena bukti-bukti yang dapat mempersalahkan

terdakwa tidak cukup. Hal tersebut sering terjadi pada perkara-perkara kesusilaan

maupun pembunuhan berencana yang telah dipersiapkan sehingga tidak

menimbulkan jejak9

.

KUHAP memang memberikan kemungkinan kepada hakim untuk menggunakan

petunjuk bagi perkara-perkara yang minim pembuktian, namun jangan lupa bahwa

petunjuk itu sendiri harus didapatkan dari alat bukti lain sebagaimana disebutkan

dalam Pasal 188 ayat (2) KUHAP yaitu dari keterangan saksi, surat dan

keterangan terdakwa, jika sama sekali tidak ada alat bukti yang bisa dijadikan

landasan untuk membangun petunjuk, maka hakim akan menyimpulkan bahwa

penuntut umum tidak mampu membuktikan kesalahan terdakwa. Menjatuhkan

pidana bukanlah persolan sederhana, karena pemidanaan akan menimbulkan

penderitaan lahir maupun batin bagi seseorang sehingga jika hakim tidak hati-hati

dalam menjatuhkan pidana, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi

kekeliruan dalam putusannya10.

Menurut dakwaan kasus Nomor 1240/Pid.B/2013/PN.TK yang diajukan Jaksa

Penuntut Umum terhadap tindak pidana pemerkosaan menyatakan terdakwa

terbukti bersalah melakukan tindak pidana pemerkosaan sebagaimana diatur dan

diancam pidana dalam Pasal 285 KUHP (Dakwaan Pertama Penuntut Umum) atau

Pasal 289 KUHP (Dakwaan Kedua Penuntut Umum).

Unsur Ke-satu: Barang siapa “menimbang bahwa yang dimaksud dengan barang

(19)

7

disamping itu dimuatnya unsur ini oleh pembuat undang-undang ialah untuk

menghindari terjadinya salah orang yang diajukan kemuka persidangan”

Unsur Ke-dua: “Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan seorang wanita

bersetubuh dengan dia diluar pernikahan”. Menimbang bahwa Penuntut Umum

telah menghadirkan 5 (lima) orang saksi termasuk salah satunya adalah korban

Neni Rismawati untuk membuktikan dakwaan Pasal 285 KUHP, maka jika

keterangan tersebut tidak didukung oleh alat bukti lainnya yang sah berdasarkan

ketentuan Pasal 185 ayat (2) KUHAP bahwa “keterangan seorang saksi saja tidak

cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang

didakwakan kepadanya”, sehingga untuk menyimpulkan ada atau tidaknya

peristiwa persetubuhan antara terdakwa dan korban diperlukan alat bukti lain yang

sesuai.

Menimbang bahwa Penuntut Umum dalam perkara ini telah mengajukan

kehadapan persidangan sebuah alat bukti surat berupa Visum Et Repertum Nomor

357/1541c/4.13/IV/2012 yang ditanda tangani oleh dr. Laisa Muliati yang

menyatakan bahwa selaput dara korban mengalami robek. Menimbang oleh

karena majelis mempunyai pendapat sendiri atas perkara ini, maka pendapat

penuntut umum dalam nota tuntutannya dan pendapat terdakwa/penasehat hukum

dalam nota pembelaannya dikesampingkan, maka majelis memutus terdakwa

dibebaskan dan dipulihkan hak-hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan,

harkat serta martabatnya karena tuntutan dan putusan bebas ini saya tertarik untuk

(20)

8

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka penulis tertarik untuk

mengangkat masalah ini dalam bentuk skripsi dengan judul “ Tinjauan Yuridis

Putusan Bebas Tindak Pidana Pemerkosaan (Studi Putusan

No.1240/Pid.B/2013/PN.TK)”.

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup

1. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini

adalah:

a. Mengapa Hakim menjatuhkan putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana

pemerkosaan?

b. Apakah putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana pemerkosaan memenuhi

rasa keadilan?

2. Ruang Lingkup

Ruang lingkup penelitian ini termasuk ke dalam kajian Hukum Ilmu Pidana,

khususnya yang mengenai putusan hakim menjatuhkan putusan bebas terhadap

pelaku tindak pidana pemerkosaan (Studi Putusan No.1240/Pid.B/2013/PN.TK).

Penelitian ini dilakukan pada tahun 2015. Ruang lingkup lokasi penelitian terbatas

(21)

9

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di dalam penelitian ini, maka tujuan penelitian skripsi

antara lain:

a. Untuk mengetahui alasan Hakim menjatuhkan putusan bebas terhadap pelaku

tindak pidana pemerkosaan

b. Untuk mengetahui putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana pemerkosaan

telah memenuhi rasa keadilan

2. Kegunaan Penelitian

a. Teoritis

Kegunaan dari penelitian ini antara lain:

a) Untuk menambah pengetahuan serta memberikan pandangan ilmu hukum

pidana agar dapat digunakan sebagai kajian dalam menentukan setiap

langkah kebijaksanaan guna mengetahui dasar pertimbangan putusan

bebas hakim terhadap tindak pidana pemerkosaan.

b) Untuk mendalami teori-teori yang telah diperoleh selama menjalani kuliah

serta memberikan landasan untuk penelitian lebih lanjut mengenai upaya

mengantisipasi terjadinya tindak pidana pemerkosaan di Indonesia.

b. Praktis

a) Dengan penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

(22)

10

memahami tentang bagaimana penerapan hukum putusan bebas terhadap

tindak pidana pemerkosaan.

b) Untuk memperluas pengetahuan dan wawasan penulis tentang dasar

pertimbangan putusan bebas hakim terhadap tindak pidana pemerkosaan.

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual

1. Kerangka Teoritis

Kerangka teoristis adalah konsep-konsep yang sebenarnya merupakan abstraksi

dari hasil penelitian yang pada dasarnya bertujuan untuk menidentifikasi terhadap

dimensi sosial yang dianggap relevan oleh peneliti11.Kerangka teori yang

digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah teori pemidanaan dan teori

pertimbangan hakim.

A. Teori Pemidanaan

Ada berbagai macam pendapat mengenai teori pemidanaan ini, namun secara

umum dapat dikelompokkan didalam tiga golongan, yaitu:

1. Teori absolut atau teori pembalasan vergeldings theorien.

Dasar pijakan teori ini adalah pembalasan. Menurut dasar pembenar dari

penjatuhan penderitaan berupa pidana itu pada penjahat. Negara berhak

menjatuhkan pidana karena penjahat tersebut telah melakukan penyerangan dan

perkosaan pada hak kepentingan hukum yang dilindungi, maka ia harus diberikan

pidana yang setimpal dengan perbuatan yang dilakukannya. Setiap kejahatan tidak

boleh tidak harus diikuti oleh pidana bagi pembuatnya, tidak dilihat akibat-akibat

yang timbul dari penjatuhan pidana itu, tidak memperhatikan masa depan, baik

11

(23)

11

terhadap penjahat maupun masyarakat menjatuhkan pidana tidak dimaksudkan

untuk mencapai sesuatu yang praktis, tetapi bermaksud satu-satunya penderitaan

bagi penjahat. Tindakan pembalasan didalam penjatuhan pidana mempunyai dua

arah, yaitu:

a. Ditujukan pada penjahatnya, sudut subjektif dari pembalasan.

b. Ditujukan untuk memenuhi kepuasan dari perasaan dendam dikalangan

masyarakat, sudut objektif dari pembalasan.

2. Teori relatif

Teori ini berpangkal pada dasar bahwa pidana adalah alat untuk menegakkan tata

tertib hukum dalam masyarakat. Untuk mencapai tujuan ketertiban masyarakat

tadi, maka pidana itu mempunyai tiga macam sifat yaitu:

a. Bersifat menakut-nakuti afschrikking.

b. Bersifat memperbaiki verbetering/reclasering.

c. Bersifat membinasakan onschadelijk maken.

3. Teori gabungan

Teori ini mendasarkan pidana pada asas pembalasan dan asas pertahanan tata

tertib masyaraka. Dengan kata lain dua alasan itu menjadi dasar dari penjatuhan

pidana teori gabungan ini dapat dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu:

a. Teori gabungan yang mengutamakan pembalasan

Menurut Pompe, yang berpandangan bahwa pidana tiada lain adalah pembalasan

pada penjahat, tetapi juga bertujuan untuk mempertahankan tata tertib hukum agar

(24)

12

bersifat pembalasan itu dapat dibenarkan apabila bermanfaat bagi pertahanan tata

tertib hukum masyarakat.

b. Terori gabungan yang mengutamakan perlindungan tata tertib masyarakat

Menurut Simons, dasar primer pidana adalah pencegahan umum dasar

sekundernya adalah pencegahan khusus. Pidana terutama ditujukan pada

pencegahan umum yang terletak pada ancaman pidananya dalam undang-undang.

Apabila hal ini tidak cukup kuat dan tidak efektif dalam hal pencegahan umum

itu, maka barulah diadakan pencegahan khusus yang terletak dalam hal

menakut-nakuti, memperbaiki, dan membuat tidak berdayanya penjahat dalam hal ini perlu

diingat bahwa pidana yang dijatuhkan harus sesuai dengan hukum dari

masyarakat12.

B. Teori Pertimbangan Hukum Hakim Kepatian Hukum, Keadilan, dan Kemanfaatan

Menegakkan hukum ada tiga unsur yang harus selalu diperhatikan yaitu:

kepastian hukum menekankan agar hukum atau peraturan itu ditegakkan

sebagaimana yang diinginkan oleh bunyi hukum atau peraturannya, kemanfaatan

menekankan kepada kemanfaatan bagi masyarakat, keadilan menekankan

pengambilan putusan oleh majelis hakim dilakukan setelah masing-masing hakim

anggota majelis mengemukakan pendapat atau pertimbangan serta keyakinan atas

suatu perkara lalu dilakukan musyawarah atau mufakat13

.

12

Teori-Pemidanaan.https://apbisma.blogspot.com/2013/11/teori-pemidanaan.html?m=1 diakses pada tanggal 29 Januari 2015, pada pukul 15.30 Wib.

13

(25)

13

Memberikan putusan terhadap suatu perkara pidana, seharusnya putusan hakim

tersebut berisi alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan yang bisa

memberikan rasa keadilan bagi terdakwa. Dimana dalam

pertimbangan-pertimbangan itu dapat dibaca motivasi yang jelas dari tujuan putusan diambil,

yaitu untuk menegakkan hukum, kepastian hukum, dan memberikan keadilan14.

Dalam memberikan pertimbangan untuk memtuskan suatu perkara pidana

diharapkan hakim tidak menilai dari satu pihak saja sehingga dengan demikian

ada hal-hal yang patut dalam penjatuhan putusan hakim apakah pertimbangan

tersebut memberatkan ataupun meringankan pidana, yang melandasi pemikiran

hakim, sehingga hakim sampai pada putusannya.

Pertimbangan hakim sebenarnya tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan

bagian amar putusan hakim dan justru bagian pertimbangan itulah yang menjadi

roh dari seluruh materi isi putusan, bahkan putusan yang tidak memuat

pertimbangan yang cukup dapat menjadi alasan untuk diajukan suatu upaya hukum

baik itu banding maupun kasasi, yang dapat menimbulkan potensi putusan tersebut

akan dapat dibatalkan oleh pengadilan yang lebih tinggi15.

2.Konseptual

Konseptual menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus yang

merupakan sekumpulan pengertian yang berkaitan dengan istilah yang ingin

diteliti atau diketahui. Beberapa istilah yang memiiki arti luas dipersempit

sehingga dapat memfokuskan permasalahan. Sebaliknya, beberapa istilah

14

Nanda Agung Dewantara. Masalah Kebebasan Hakim Dalam Menangani Suatu Masalah Perkara Pidana. Jakarta : Askara Persada Indonesia. 1987. hlm 50.

15

(26)

14

mengalami proses perluasan makna dengan tujuan mencari titik temu antara

konsep tertentu antara konsep dengan penerapannya dalam praktek. Demikian

pula dengan generalisasi esensi dari konsep-konsep tertentu yang memiliki

kesamaan-kesamaan pada intinya, dijadikan suatu pengertian khusus, yang akan

memudahkan menulusuri maksud penulis. Pengertian-pengertian khusus tersebut

antara lain:

1. Tinjauan yuridis adalah pandangan atau pendapat dari segi hukum16.

2. Putusan hakim adalah pernyataan hakim sebagai pejabat negara yang

melaksanakan tugas kekuasaan kehakiman yang diberi wewenang untuk itu

yang dicapkan dipersidangan dan bertujuan untuk menyelesaikan suatu

perkara17.

3. Tindak pidana yang didakwakan jaksa penuntut umum tidak terbukti secara sah

dan meyakinkan menurut hukum adalah putusan bebas.

4. Tindak pidana pemerkosaan menurut Pasal 285 KUHP adalah barang siapa

dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita

bersetubuh dengan dia diluar perkawinan, diancam karena melakukan

perkosaan dengan pidana paling lama dua belas tahun.

E. Sistematika Penulisan

Penulisan sistematika ini memuat keseluruhan yang akan disajikan dengan tujuan

mempermudah pemahaman konteks skripsi ini, maka penulis menyajikan

penulisan dengan sistematika sebagai berikut :

16

Yahoo, Tinjauan

Yuridis.https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110514192559AA6NiRj diakses pada tanggal 17 Juli 2014, pada pukul 08.30 Wib.

17

Slideshare, Putusan Hakim atau Ketetapan Hakim,

(27)

15

I. PENDAHULUAN

Bab ini terdiri atas latar belakang, permasalahan dan ruang lingkup, tujuan dan

kegunaan penelitian, kerangka teoritis dan konseptual serta sistematika penulisan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi mengenai pengertian hakim, pengertian putusan pemidanaan,

pengertian tindak pidana, penjatuhan pidana, tinjauan umum tindak pidana

perkosaan.

III. METODE PENELITIAN

Bab ini memuat tentang metode yang menjelaskan mengenai langkah-langkah

yang digunakan dalam pendekatan masalah, sumber dan jenis data, penentuan

narasumber, metode pengumpulan dan pengolahan data, serta metode analisis

data.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini menguraikan hasil penelitian yang telah dilakukan dan bab ini juga

memberikan jawaban mengenai permasalahan yang penulis teliti yaitu alasan

dasar pertimbangan hakim menjatuhkan putusan bebas terhadap pelaku tindak

pidana pemerkosaan dikaitkan dengan teori pemidanaan, dan pemenuhan rasa

keadilan putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana pemerkosaan.

V. PENUTUP

(28)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Hakim

Mahkamah Agung adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana

dimaksud dalam Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, susunan

Mahkamah Agung adalah terdiri atas pimpinan, hakim anggota, dan seorang

sekretaris1

. Hakim ad hoc adalah hakim yang memiliki keahlian dan pengalaman

di bidang tertentu untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang

untuk jangka waktu tertentu dan pengangkatanya diatur dalam

undang-undang2.Sebagaimana disebutkan Pasal 1 ayat (8) Kitab Undang-undang Hukum

Acara Pidana (KUHAP) hakim adalah pejabat peradilan negara yang diberi

wewenang oleh undang-undang untuk mengadili. Sebagaimana dijelaskan oleh

KUHAP bahwa yang dimaksud mengadili adalah serangkaian tindakan hakim,

untuk menerima, memeriksa, memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas,

jujur, dan tidak memihak di sidang pengadilan dalam hal dan menurut cara yang

diatur dalam undang-undang3.

1

Pasal 1 dan Pasal 4 ayat 1 Undang-Undang Nomor 5Tahun 2004.

2

Pasal 1 ayat 1 Perpres Nomor 5 Tahun 2013 3

(29)

17

1. Wewenang Hakim

Pasal 1 ayat (8) Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana selanjutnya disebut

KUHAP, Hakim adalah pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh

undang-undang untuk mengadili. Sebagaimana dijelaskan oleh KUHAP bahwa

yang dimaksud mengadili adalah serangkaian tindakan hakim, untuk menerima,

memeriksa, memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas, jujur, dan tidak

memihak di sidang pengadilan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam

undang-undang4.

Landasan hukum wewenang hakim antara lain dapat disimak dalam KUHAP,

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986, dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun

1970. KUHAP menyatakan bahwa hakim adalah pejabat peradilan negara yang

diberi wewenang oleh undang-undang untuk mengadili Pasal 1 butir 8. Adapun

yang dimaksud mengadili adalah serangkaian tindakan hakim untuk menerima,

memeriksa, dan memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas, jujur, dan tidak

memihak disidang pengadilan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam

undang-undang Pasal 1 butir 9. Tampak jelas bahwa wewenang hakim utamanya

adalah mengadili yang meliputi kegiatan-kegiatan menerima, memeriksa, dan

memutus perkara pidana.Dalam hal ini pedoman pokoknya adalah KUHAP yang

dilandasi asas kebebasan, kejujuran, dan tidak memihak.Undang-Undang Nomor

2 tahun 1986 menyebutnya pengadilan negeri bertugas dan berwenang

memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara pidana dan perkara perdata di

tingkat pertama.Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 dalam Pasal 14

4

(30)

18

memeriksa dan mengadilinya, pada Pasal 16 disebutkan, pengadilan memeriksa

dan memutus perkara pidana dan seterusnya.

Jika ditelaah, ternyata di dalam KUHAP dibedakan antara wewenang Hakim,

Hakim Ketua Sidang, Ketua Pengadilan Negeri dan Pengadilan Negeri misalnya:

1) Wewenang Hakim

a) Melakukan penahanan

Untuk kepentingan pemeriksaan Hakim di sidang pengadilan dengan

penetapannya berwenang melakukan penahanan Pasal 20 ayat (3) jo Pasal

26.

b) Pengalihan jenis penahanan

Penyidik atau Penuntut Umum atau Hakim berwenang mengalihkan jenis

penahanan yang satu kepada jenis penahanan yang satu kepada jenis

penahanan yang lain Pasal 23 ayat (1) jo Pasal 22.

2) Wewenang Hakim Ketua Sidang

a) Menentukan bahwa anak yang belum mencapai yang belum mencapai

umur 17 (tujuh belas) tahun tidak diperkenakan menghadiri sidang Pasal

153 ayat (5).

b) Memerintahkan supaya terdakwa dipanggil masuk danjika iadalam

tahanan, ia dihadapkan dalam keadaan bebas Pasal 154 ayat (1).

c) Kewenangan-kewenangan lain yang berhubungan dengan kelancaran dan

tertib persidangan, misalnya berhubungan dengan terdakwa, saksi, barang

(31)

19

3) Wewenang Pengadilan Negeri

a) Memberikan izin penggeledahan rumah kepada penyidik Pasal 33 ayat (1).

b) Memberikan izin penyitaan kepada penyidik Pasal 38 ayat (1).

c) Menunjuk Hakim yang akan menyidangkan perkara Pasal 152 ayat (1).

4) Wewenang Pengadilan Negeri

a) Memeriksa dan memutus praperadilan Pasal 77.

b) Mengadili segala perkara mengenai tindak pidana yang dilakukan dalam

daerah hukumnya Pasal 84 ayat (1)5.

2. Kewajiban dan Tanggung Jawab Hakim

Ketentuan mengenai kewajiban Hakim terutama dapat ditelusuri dalam

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 dan KUHAP yaitu sebagai berikut:

Kewajiban hakim

a) Hakim sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali, mengikuti,

dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat Pasal 27

ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970.

b) Dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana, Hakim wajib

memperhatikan pula sifat-sifat yang baik dan yang jahat dari tertuduh

Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970.

c) Wajib mengundurkan diri dari pemeriksaan suatu perkara, apabila seorang

Hakim masih terikat hubungan keluarga sedarah sampai derajat ketiga atau

semenda dengan ketua, salah seorang Hakim anggota, Jaksa, Penasihat

Hukum, atau Panitera dalam suatu perkara tertentu Pasal 28 ayat (2)

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970.

5

(32)

20

d) Wajib mengundurkan diri dari pemeriksaan perkara apabila masih terikat

dalam hubungan keluarga sedarah sampai derajat ketiga atau semenda

dengan yang diadili Pasal 28 ayat (3) Undang-Undang Nomor 14 Tahun

1970.

Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman

menyebutkan tanggungjawab hakim, yaitu:

1. Peradilan dilakukan Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa

Pasal 2 ayat (1).

2. Dalam memeriksa dan memutus perkara, hakim bertanggung jawab atas

penetapan dan putusan yang dibuatnya Pasal 53 ayat (1)6

.

Hakim secara garis besar tugasnya mengadili suatu perkara di pengadilan.Dalam

mengadili suaatu perkara di pengadilan. Dalam mengadili suatu perkara di

pengadilan tersebut, maka hakim melakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Menerapkan hukum, jika undang-undang terebut sudah ada dengan jelas;

2. Melakukan penemuan hukum, jika undang-undang kurang jelas;

3. Menafsirkan hukum, jika undang-undang tersebut masih kabur;

4. Membuat hukum, jika undang-undang belum ada sama sekali7

.

3. Kekuasaan Kehakiman

Pasal 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman

menerangkan bahwa kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan

peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan

6

M. Yahya Harahap. Pembahasan Pemersalahan dan Penerapan KUHAP.Jakarta : Pustaka Kartini. 1985. hlm 898.

7

(33)

21

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, demi

terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia8

. Hakim adalah hakim pada

Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang berada dibawahnya

dalam lingkungan Peradilan Militer, lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara,

dan hakim pada Pengadilan Khusus yang berada pada peradilan tersebut9

.

B. Pengertian Putusan Pemidanaan

Putusan pemidanaan merupakan salah satu bentuk putusan Pengadilan Negeri.

Bentuk putusan lain misalnya putusan bebas Pasal 191 ayat (1) KUHAP dan

putusan lepas dari segala tuntutan hukum Pasal 191 ayat (1) KUHAP. Putusan

pemidanaan terjadi, jika pengadilan berpendapat bahwa terdakwa bersalah

melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya Pasal 193 ayat (1)

KUHAP).Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dari hasil pemeriksaan di

sidang pengadilan, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan

kepadanya terbukti secara sah dan meyakinkan.Terbukti melalui

sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah dan Hakim yakin terdakwa yang bersalah

melakukan10

.

1. Proses Pengambilan Putusan Pemidanaan

Proses pengambilan keputusan diawali dengan pernyataan Hakim bahwa

pemeriksaan sidang pengadilan dinyatakan sudah cukup atau selesai. Untuk itu,

Penuntut Umum dipersilakan mengajukan tuntutan pidana.Selanjutnya, terdakwa

dan atau Penasihat Hukum mengajukan pembelaan yang dapat dijawab oleh

8

Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009.

9

Pasal 1 ayat 5 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009.

10

(34)

22

Penuntut Umum dan begitu seterusnya yang Penasihat Hukum harus mendapat

giliran terakhir. Macam-macam putusan, berupa11

:

1. Putusan yang berisi pemidanaan;

2. Putusan yang berisi pembebasan dan dakwaan;

3. Putusan yang menyatakan lepas dari segala tuntutan hukum;

4. Putusan yang menyatakan terdakwa tidak dijatuhi pidana.

2. Dasar-Dasar Penjatuhan Putusan Pemidanaan

Dalam hal penjatuhan putusan, sebelumnya harus dilakukan

pembuktian.Pembuktian disidang pengadilan untuk dapat menjatuhkan pidana,

sekurang-kurangnya harus ada paling sedikit dua alat bukti yang sahdan di dukung

oleh keyakinan hakim. Delapan prinsip yang menjadi landasan bagaimana hukum

pidana, hukum acara pidana, dan proses penghukuman dijalankan. Kedelapan

prinsip tersebut adalah:

1. Perlunya dibentuk suatu masyarakat berdasarkan prinsip social contract.

2. Sumber hukum adalah undang-undang dan bukan hakim. Proses penjatuhan

hukuman oleh hakim harus didasarkan semata-mata karena undang-undang.

3. Tugas hakim hanyalah menentukan kesalahan seseorang.

4. Menghukum adalah merupakan hak negara, dan hak itu diperlukan untuk

melindungi masyarakat dari keserakahan individu.

5. Harus dibuat suatu skala perbandingan antara kejahatan dan penghukuman.

11

(35)

23

6. Motif manusia pada dasarnya didasarkan pada keuntungan dan kerugian,

artinya manusia dalam melakukan perbuatan akan selalu menimbang

kesenangan atau kesengsaraan yang akan didapatnya.

7. Dalam menentukan besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh suatu kejahatan

maka yang menjadi dasar penentuan hukuman adalah perbuatannya dan bukan

niatnya.

8. Prinsip dari hukum pidana adalah ada pada sanksinya yang positif12

.

Pengambilan putusan oleh majelis hakim dilakukan setelah masing-masing hakim

anggota majelis mengemukakan pendapat atau pertimbangan serta keyakinan atas

suatu perkara lalu dilakukan musyawarah atau mufakat. Dalam hal penjatuhan

putusan, sebelumnya harus dilakukan pembuktian pembuktian disidang

pengadilan untuk dapat menjatuhkan pidana, sekurang-kurangnya harus ada

paling sedikit dua alat bukti yang sahdan di dukung oleh keyakinan hakim13.

Pasal 184 ayat (1) KUHAP, alat bukti yang sah ialah:

a. Keterangan saksi;

b. Keterangan ahli;

c. Surat;

d. Petunjuk;

e. Keterangan terdakwa14.

12

Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa.Op.Cit. hlm 6.

13

Evi Hartanti. Op.Cit. hlm 54.

14

(36)

24

3. Faktor-Faktor Yang Diperhatikan Penjatuhan Pemidanaan

Jika hakim menjatuhkan pidana harus dalam rangka menjamin tegaknya

kebenaran, keadilan, dan kepastian hukum bagi seorang. Jadi bukan hanya balas

dendam, rutinitas pekerjaan ataupun bersifat formalitas.Memang apabila kita

kembali pada tujuan hukum acara pidana, secara sederhana adalah untuk

menemukan kebenaran materiil.Bahkan sebenarnya tujuannya lebih luas yaitu

tujuan hukum acara pidana adalah mencari dan menemukan kebenaran materiil itu

hanya merupakan tujuan antara.Artinya ada tujuan akhir yaitu yang menjadi

tujuan seluruh tertib hukum Indonesia, dalam hal itu mencapai suatu masyarakat

yang tertib, tentram, damai, adil, dan sejahtera15

.

4. Sistem Pemidanaan

Menurut KUHP, pidana dibedakan menjadi dua kelompok, antara pidana pokok

dengan pidana tambahan16. Pidana pokok terdiri dari:

1) Pidana mati;

2) Pidana penjara;

3) Pidana kurungan;

4) Pidana denda;

5) Pidana tutupan (ditambahkan berdasarkan UU No 20 Tahun 1946).

Pidana tambahan terdiri dari :

(37)

25

C. Tindak Pidana

1. Pengertian Tindak Pidana

Pembentuk undang-undang kita telah menggunakan perkataan strafbaar feit untuk

menyebutkan apa yang kita kenal sebagai tindak pidana didalam Kitab

Undang-undang Hukum Pidana tanpa memberikan suatu penjelasaan mengenai apa yang

sebenarnya dimaksud dengan perkataan strafbaar feit tersebut. Perkataan feit itu

sendiri di dalam bahasa Belanda berarti sebagian dari suatu kenyataan sedang

strafbaar berarti dapat dihukum, hingga secara harafiah perkataan strafbaar feit

itu dapat diterjemahkan sebagai sebagian dari suatu kenyataan yang dapat

dihukum, bahwa yang dapat dihukum itu sebenarnya adalah manusia sebagai

pribadi dan bukan kenyataan, perbuatan ataupun tindakan17. Berbicara tentang

hukum pidana tidak akan terlepas dari masalah pokok yang menjadi titik

perhatiannya. Masalah pokok dalam hukum pidana tersebut meliputi masalah

tindak pidana (perbuatan jahat), kesalahan dan pidana serta korban. Tindak pidana

adalah setiap perbuatan yang diancam hukuman sebagai kejahatan atau

pelanggaran baik yang disebut dalam KUHP maupun peraturan

perundang-undangan lainnya. Dapat juga dikatakan bahwa perbuatan pidana adalah

perbuatan yang oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana, tetapi perlu

diingat bahwa larangan ditujukan kepada perbuatan, yaitu suatu keadaan atau

kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan orang, sedangkan ancaman pidananya

ditujukan kepada orang yang menimbulkan kejadian itu.

17

(38)

26

Antara larangan dan ancaman pidana ada hubungan yang erat, oleh karena antara

kejadian dan orang yang menimbulkan kejadian itu, ada hubungan yang erat pula

yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain. Kejadian tidak dapat dilarang,

jika yang menimbulkan bukan orang, dan orang tidak dapat diancam pidana, jika

tidak karenakejadian yang ditimbulkan olehnya. Tindak pidana juga sering disebut

delik.Mengenai delik dalam arti strafbaar feit, para pakar hukum pidana

masing-masing memberi definisi berbeda-beda. Menurut Vos delik adalah feit yang

dinyatakan dapat dihukum berdasarkan undang-undang. Menurut Van Hamel

delik adalah suatu serangan atau ancaman terhadap hak-hak orang lain. Sedangkan

menurut Simons, delik merupakan suatu tindakan melanggar hukum yang telah

dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja oleh seseorang yang tindakannya

tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan oleh undang-undang telah dinyatakan

sebagai suatu perbuatan yang dapat dihukum18.

2. Unsur Tindak Pidana

Demikian setiap tindak pidana yang terdapat didalam Kitab Undang-undang

Hukum Pidana itu pada umumnya dapat kita jabarkan ke dalam unsur-unsur yang

pada dasarnya dapat kita bagi menjadi dua macam unsur yakni unsur-unsur

subjektif dan unsur-unsur objektif. Unsur-unsur subjektif itu adalah unsur yang

melekat pada diri si pelaku atau yang berhubungan dengan diri si pelaku, dan

termasuk ke dalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya.

Sedang yang dimaksud dengan unsur-unsur objektif itu adalah unsur yang ada

18

(39)

27

hubungannya dengan keadaan, yaitu di dalam keadaan mana tindakan dari si

pelaku itu harus dilakukan19

.

Unsur-unsur subyektif tindak pidana meliputi :

a) Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus dan culpa)

b) Maksud pada suatu percobaan seperti yang dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1)

KUHP.

c) Macam-macam maksud atau oogmerk seperti misalnya yang terdapat dalam

tindak pidana pencurian.

d) Merencanakan terlebih dahulu, seperti misalnya terdapat dalam Pasal 340

KUHP.

Sedang unsur-unsur objektif dari tindak pidana meliputi :

1. Sifat melanggar hukum

2. Kualitas dari si pelaku

3. Kasualitas yaitu hubungan antara sesuatu tindakan sebagai penyebab dengan

kenyataan sebagai akibat20

.

D. Penjatuhan Pidana

Putusan pengadilan merupakan tonggak yang penting bagi cerminanan keadilan,

termasuk, putusan pengadilan yang berupa penjatuhan pidana dan pemidanaan.

Lahirnya penjatuhan pidana dan pemidanaan bukan muncul begitu saja,

melainkan melalui proses peradilan. Proses yang dikehendaki undang-undang

adalah cepat, sederhana, dan biaya ringan, biasanya asas itu masih ditambahkan

bebas, jujur dan tidak memihak serta adil.

19

P.A.F. Lamintang dan Franciscus Theo junior Lamintang.Dasar-Dasar Hukum Indonesia.Jakarta : PT. Sinar Grafika. 2014. hlm 192.

20

(40)

28

E. Tinjauan Umum Tindak Pidana Perkosaan

1. Pengertian Tindak Pidana Perkosaan

Perkosaan sendiri menurut Pasal 285 KUHP adalah Barang siapa bersetubuh

dengan seorang wanita diluar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan

dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun21

. Berdasarkan bunyi pasal

diatas, dapat dikemukakan bahwa unsur pokok dari perkosaan adalah adanya

kekerasan atau ancaman kekerasan dalam melakukan persetubuhan dengan

seorang wanita.Wanita adalah korban dari tindak pidanaperkosaan, wanita yang

disetubuhi tersebut juga harus bukan muhrimnya, artinya tidak terikat perkawinan

dengan pelaku perkosaan artinya melakukan kekerasan dan dengan ancaman

memaksa seorang perempuan bersetubuh dengan dia22

.

Menurut Soetandyo Wignjosoebroto dalam Abdul Wahid, perkosaan adalah suatu

usaha melampiaskan nafsu seksual oleh seorang lelaki terhadap seorang

perempuan dengan cara yang menurut moral dan atau hukum yang berlaku

melanggar. Sedangkan menurut PAF Lamintang dan Djisman Samosir, perkosaan

adalah perbuatan seseorang yang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan

memaksa seorang wanita untuk melakukan persetubuhan diluar ikatan perkawinan

dengan dirinya. Tindak pidana perkosaan merupakan salah satu kejahatan yang

memiliki, implikasi negatif jangka panjang terhadap para korban (baik dari segi

fisik maupun psikologis). Kerugian juga dialami secara signifikan baik terhadap

korban maupun masyarakat secara keseluruhan, misalnya menurunnya persepsi

wanita terhadap keamanan pribadi di ruang publik dengan demikian, dari sudut

21

Moeljatno.Kitab Undang-undang Hukum Pidana.Jakarta : Bumi Aksara. 2003. hlm 105.

22

(41)

29

pandang manapun, kejahatan pemerkosaan tidak bisa dianggap remeh. Oleh

karena itu, negara maupun masyarakat seharusnya memberikan perhatian yang

lebih besar dalam menanggulangi kejahatan itu23.

2. Karakteristik Perkosaan

1) Agresifitas, merupakan sifat yang melekat pada setiap tindak pidana

perkosaan.

2) Motivasi kekerasan lebih menonjol dibandingkan dengan motivasi seksual

semata-mata.

3) Secara psikologis, tindak pidana perkosaan lebih banyak mengandung masalah

kontrol dan kebenciaan dibandingkan dengan hawa nafsu.

4) Tindak pidana perkosaan dapat dibedakan kedalam tiga bentuk, yaitu ; anger

rape, power rape dan sadist rape, dan ini direduksi dari anger and violation,

control anddomination, erotis.

5) Ciri pelaku perkosaan: mispersepsi pelaku atas korban, mengalami

pengalaman buruk, khususnya dalam hubungan personal (cinta), terasing

dalam pergaulan sosial, rendah diri, ada ketidakseimbangan emosional.

6) Korban perkosaan adalah partisipatif. Menurut Meier dan Miethe, 4-19%

(empat sampai sembilan belas persen) tindak pidana perkosaan terjadi karena

kelalaian (partisipasi) korban.

7) Tindak pidana perkosaan secara yuridis sulit dibuktikan24.

23

Abdul Wahid dan Muhammad Irfan.Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual. Bandung : PT Refika Aditama. 2001. hlm 40-44.

24

(42)

III. METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Masalah

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan dua macam

pendekatan, yaitu pendekatan yuridis normatif dan pendekatan yuridis empiris.

1. Pendekatan Yuridis Normatif

Pendekatan yuridis normatif yaitu pendekatan dengan cara menelaah

asas-asas hukum, norma-norma, doktrin hukum, dan Kitab Undang-undang Hukum

Pidana (KUHP) Pasal 285 dan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009. Yang

berhubungan dengan masalah yang akan diteliti. Pendekatan tersebut

dimaksud untuk mengumpulkan berbagai macamtoeri-teori dan literatur-

literatur yang erat hubungannya dengan masalah yang akan diteliti.

2. Pendekatan Yuridis Empiris

Pendekatan yuridis empiris yaitu pendekatan penelitian dengan cara meneliti

dan mengumpulkan data primer yang diperoleh secara langsung melalui

(43)

31

B. Penentuan Narasumber

Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data primer dalam penelitian ini

adalah wawancaraterhadap para nara sumber/informan.Wawancara ini dipandu

dan disusun secara terbuka.

Adapun narasumber/responden/informan yang diwawancarai adalah:

1. Hakim pada Pengadilan Negeri Kelas I A Tanjungkarang = 1 orang

2. Jaksa pada Kejaksaan Negeri Bandar Lampung = 1 orang

3. Advokat pada Kantor Lambaga Bantuan Hukum = 1 orang

4. Dosen Bagian Hukum Pidana FH Unila = 1 orang

Jumlah = 4orang

C. Sumber dan Jenis Data

Untuk dilakukan penelitian ini diperlukan data-data yang terkait dengan

permasalahan yang diteliti. Pada umumnya penelitian hukum terdapat dua jenis

data, yang pertama disebut data sekunder dan yang kedua disebut data primer.

1. Data primer

penelitian hukum adalah data yang di peroleh terutama dari hasil penelitian

empiris, yaitu penelitian yang dilakukan langsung dilapangan, sedangkan data

sekunder dalam penelitian hukum adalah data yang diperoleh dari hasil

penelaahan kepustakaan atau berbagai literatur atau bahan pustaka yang berkaitan

dengan masalah atau materi penelitian, yang sering disebut bahan hukum. Adapun

sumber data penelitian skripsi ini hanya terkait data kepustakaan saja, sehingga

(44)

32

2. Data sekunder

Data yang digunakan dalam menjawab permasalahan pada penelitian ini melalui

studi kepustakaan dengan cara membaca, mengutip, mempelajari dan menelaah

teori-teori hukum pidana, asas-asas hukum pidana, dasar hukum dan

doktrin-doktrin yang terdapat dalam literatur-literatur atau bahan-bahan yang

berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Data sekunder atau data

kepustakaan atau dikenal dengan bahan hukum dalam penelitian hukum seperti

ada kesepakatan yang tidak tertulis dari para ahli peneliti hukum, bahwa bahan

hukum itu berupa berbagai literatur yang dikelompokan ke dalam bahan hukum

primer, bahan hukum sekunder, bahan hukum tersier.Data sekunder terdiri dari 3

(tiga) bahan hukum, yaitu:

1. Bahan Hukum Primer

Data sekunder atau data kepustakaan atau dikenal sebagai bahan hukum, dalam

penelitian hukum ini berupa berbagai literatur yang dikelompokan dalam bahan

hukum primer terdiri atas peraturan perundang-undangan, yurisprudensi, atau

keputusan pengadilandan traktat, antara lain terkait dengan peraturan perundang-

undangan, yaitu:

a. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Bab XIV Pasal 285 tentang

Kejahatan Terhadap Kesusilaan.

b. Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Bab I Pasal 1 butir 8

tentang Ketentuan Umum.

c. Undang-Undang Nomor5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung.

d. Undang-Undang Republik IndonesiaNomor48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan

(45)

33

e. Peraturan Presiden Republik Indonesia Perpres Nomor 5 Tahun 2013 tentang

Hak Keuangan dan Fasilitas Hakim Ad Hoc.

2. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder yaitu bahan hukum yang dapat memberikan penjelasaan

terhadap bahan hukum primer yang berupa literatur-literatur hukum maupun

literatur lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.

3. Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk dan

penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, antara lain

kamus hukum, Kamus Besar Bahasa Indonesia, petikan berita dari majalah dan

surat kabar/media cetak serta pendapat-pendapat para sarjana. Buku-buku teks

literatur hukum, karyailmiah/jurnalilmiah, bahan-bahan hasil pencarian di internet

yang berkaitan dengan masalah yang ingin diteliti.

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data

1. Prosedur Pengumpulan data

Untuk melengkapi data guna pengujian hasil peneletian ini digunakan prosedur

pengumpulan data yang terdiri dari data sekunder, yaitu pengumpulan data

sekunder dilakukan dengan cara mengadakan studi kepustakaan library research.

Studi kepustakaan dimaksudkan untuk memperoleh arah pemikikiran dan tujuan

penelitian yang dilakukan dengan cara membaca, mengutip, dan menelaah

literatur-literatur yang menunjang, serta bahan-bahan ilmiah lainya yang

(46)

34

2. Prosedur Pengolahan Data

Setelah data terkumpul dilakukan kegiatan merapihkan dan menganalisis data.

Kegiatan ini meliputi seleksi data dengan cara memeriksa data yang diperoleh

melalui kelengkapannya dan pengelompokan data secara sistematis. Kegiatan

pengolahan data dilakukan sebagai berikut:

a. Editing data, yaitu meneliti data yang keliru, menambah dah melengkapi data

yang kurang lengkap.

b. Klasifikasi data, yaitu pengelompokan data menurut bahas yang ditentukan.

c. Sistematisasi data, yaitu penempatan data pada tiap pokok bahasan secara

sistematis hingga memudahkan interprestasi data.

E. Analisis Data

Kegunaan analisis data adalah usaha untuk menemukan jawaban atas pertanyaan

permasalahan serta hal-hal yang dihasilkan data yang diperoleh melalui kegiatan

penelitian dianalisis secara kuantitatif kemudian disajikan secara deskriktif, yaitu

dengan menguraikan, menjelaskan dan menggambarkan sesuai dengan

permasalahan yang erat kaitannya dengan penelitian ini. Sehingga dari

permasalahan yang ada disusun dalam bentuk kalimat ilmiah secara sistematis

berupa jawaban permasalahan dari hasil penelitian yang dirumuskan dari hal-hal

(47)

56

V. PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai proses penegakan hukum

pidana putusan bebas tindak pidanapemerkosaansebagaiamana putusan

Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor: 1240/Pid.B/2013/PN.TK, maka dapat

ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Hakim dalam menjatuhkan putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana

pemerkosaan karena berdasarkan pertimbangan hakim unsur memaksa tidak

terpenuhi secara sah menurut hukum, menimbang hakim dalam persidangan

tersebut mempunyai pendapat tersendiri dan mengenyampingkan semua

pendapat penuntut umum dalam nota tuntutannya dan pendapat terdakwa

melalui penasehat hukum dalam nota pembelaannya, putusan bebas terhadap

pelaku tindak pidana pemerkosaan ini dijatuhkan hukuman penjara agar

menciptakan rasa keadilan terhadap korbannya dan akan menimbulkan efek

jerah terhadap pelaku yang melakukan tindak pidana pemerkosaan yang

banyak meresahkan masyarakat.

2. Putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana pemerkosaan sudah memenuhi

rasa keadilan dapat disimpulkan dari hasil wawancara penulis terhadap

responden keadilan bersifat relatif tergantung dari sudut pandang pihak yang

(48)

57

seharusnya dijatuhi pidana penjara dari sisi kepastian hukum tidak akan

menimbulkan efek jera terhadap terdakwa, dan keadilan bagi korban dapat

menimbulkan trauma dan merusak masa depannya.

B. Saran

1. Hakim dalam menjatuhkan putusan bebas seharusnya hakim jangan melihat

dari segi kepastian hukumnya saja seperti halnya tugas hakim adalah

menyelesaikan suatu perkara yang diajukan kepadanya dan fungsi hakim dari

kewenangan mengadili dapat diartikan menegakkan hukum, memberikan

keadilan dan memberikan perlindungan terhadap masyarakat.

2. Hakim dalam menjatuhkan putusannya janganlah hanya mempertimbangkan

unsur kepastian hukumnya saja dalam putusan perkara yang dihadapinya

tersebut melainkan juga harus pula mempertimbangkankadilan dan

kemanfaatan hukumnya, serta harus melihat unsur-unsur lainnya seperti

halnya unsur filosofis, maupun sosiologisnya sehingga dapat terpenuhi dan

(49)

DAFTAR PUSTAKA

Buku :

Ali, Achmad. Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan

(Judicialprudence) termasuk interpretasi undang-undang (legisprudence). Jakarta. Kencana Prenada Media Group. 2009.

Dewantara, Nanada Aung. Masalah Kebebasan Hakim Dalam Menangani Suatu Masalah Perkara Pidana. Jakarta. Askara Persada Indonesia. 1987.

Harahap, M. Yahya. Pembahasan Pemersalahan dan Penerapan KUHAP. Jakarta. Pustaka Kartini. 1985.

Hartanti, Evi. Tindak Pidana Korupsi. Jakarta. PT. Sinar Grafika. 2012.

Irianto, Sulistyowati dan Lidwina Inge Nurcahyo.Permpuan di Persidangan Pemantauan Peradilan Berperspektif Perempuan.Jakarta. Yayasan Obor Indonesia. 2006.

Lamintang, P.A.F. dan Theo Lamintang.Delik-delik Khusus: Kejahatan Melanggar Norma Kesusilaandan Norma Kepatutan. Jakarta. PT. Sinar Grafika. 2009.

---.Hukum Panitensier Indonesia. Jakarta. PT. Sinar Grafika. 2010.

---.Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia Cetakan Keempat.Bandung. PT. Citra Aditya Bhakti. 2011

---.Dasar-dasar Hukum Pidana di Indonesia Cetakan Pertama.Jakarta. PT. SinarGrafika. 2014.

Mulyadi, Lilik. Kompilasi Hukum Pidana Dalam Perspektif Teoritis dan Praktik Peradilan. Bandung. Mandar Maju. 2010.

Marpaung, Leden. Asas Teori Praktik Hukum Pidana. Jakarta. PT. Sinar Grafika. 2005.

M. Wantu, Fence. Kepastian Hukum Keadilan dan Kemanfaatan (Implementasi dalam Proses Peradilan Perdata).Yogyakarta. Pustaka Pelajar. 2011.

(50)

59

Rifai, Ahmad. Penemuan Hukum oleh Hakim dalam Perspektif Hukum Progresif. Jakarta. PT. Sinar Grafika. 2011.

Sasangka, Hari. dan Lily Rosita. Hukum Pembuktian dalam Perkara Pidana. Bandung. Mandar Maju. 2003.

Santoso, Topo dan Eva Achjani Zulfa.Kriminologi. Jakarta. PT. Rajagrafindo Persada. 2011.

Soekanto, Soerjono. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta. UI-Press. 1986.

Usfa, A.Fuad dan Tongat.Pengantar Hukum Pidana. Jakarta. UMM Press. 2002.

Waluyo, Bambang. Pidana dan Pemidanaan. Jakarta. PT. Sinar Grafika. 2008.

Wahid, Abdul dan Muhammad Irfan.Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual. Bandung. PT. Refika Aditima. 2001.

Witanto, Darmoko Yuti dan Arya Putra Negara Kutawaringin.Diskresi Hakim Sebuah Instrumen Menegakkan Keadilan Substantif dalam Perkara-perkara Pidana.Bandung. Alfabeta. 2013.

Peraturan Perundang-Undangan :

1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, 2003, Penerbit Raja Grafindo Persada.

2. Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, 2003, Penerbit Raja Grafindo

Persada.

3. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009. tentang Kekuasaan Kehakiman

4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004. tentang Mahkamah Agung.

5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2013.tentang Hak

Keuangan dan Fasilitas Hakim Ad Hoc.

Internet :

1. Rifqi Anugrah, Tahap dalam proses peradilan

pidana.

https://karyamusisiamatiran.blogspot.com/2013/10/tahap-dalam-proses-peradilan-pidana.html?m=1 diakses pada tanggal 3 maret 2015, pada pukul 11.03 Wib.

2. Slideshare,PutusanHakimatauKetetapanHakim,

http://www.slideshare.net/ntii_meiian/putusan-hakim-atau-ketetapan-hakim

(51)

60

https://apbisma.blogspot.com/2013/11/teori-pemidanaan.html?m=1 diakses

pada tanggal 29 Januari 2015, pada pukul 15.30 Wib.

4. Wordpress. https://yunindyarahendini.wordpress.com/2014/10/27/3 diakses pada tanggal 29 Januari 2015, pada pukul 15.30 Wib.

5. Yahoo,TinjauanYuridis.

https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110514192559AA6NiRj

Referensi

Dokumen terkait

Penulisan ilmiah ini berisi tentang pembuatan sistem informasi geografis objek wisata Kota Bukitinggi, yang dapat digunakan untuk mengetahui letak suatu obyek dan data-data yang

Salah satu dari lokasi tersebut telah berdiri diatasnya sebuah usaha SPBU Nomor Seri 54.684-34 yang memiliki 4 (empat) dispenser dengan pendapatan bruto migas rata-rata setiap

Siti Rahayu Hassan, Mohammad Syuhaimi Ab-Rahman, Aswir Premadi and Kasmiran Jumari. The Development of Heart Rate Variability Analysis Software for Detection of Individual

Jika nilai piksel pada citra lebih besar dari nilai threshold yang ditentukan maka nilai piksel tersebut akan diubah menjadi warna putih dan diinisialkan dengan

Kartini adalah satu-satunya perempuan pribumi yang ada disana, teman perempuan Kartini hanya anak-anak menir Belanda, jadi tak heran bahwa kartini

Sur at Kuasa bagi yang di w akilkan, yang namanya ter cantum dal am Akta Pendir ian/ Per ubahan – per usahaan dan ditandatangani oleh k edua bel ah pi hak yang

Pemberian Teks ( Lettering) ... Pencetakan dan Penjilidan .... BAB IV ANALISIS KARYA ... Konsep Berkarya Novel Grafis Waktu... Mengembangkan Ide ... Judul Novel Grafis Waktu

Radio SoloRadio FM dan PTPN FM SOLO mempunyai permasalahan yang sama yaitu permasalahan pembayaran iklan niaga yaitu satu mundurnya pembayaran pemasang iklan terhadap