ABSTRAK
Pengadilan sebagai suatu badan atau lembaga peradilan yang menjadi tumpuan harapan untuk mencari keadilan, mencari jalan terbaik dalam mencegah dan memberantas kejahatan dalam negara hukum, sebagai pelaksana hukum yaitu hakim yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk menerima dan memeriksa serta memutus perkara pidana harus dapat berbuat adil dalam memberikan putusan. Permasalahan dalam skripsi ini adalah, a) Mengapa hakim menjatuhkan putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana pemerkosaan, b) Apakah putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana pemerkosaan memenuhi rasa keadilan. Penelitian ini menggunakan pendekatan masalah yuridis normatif dan pendekatan yuridis empiris. Sumber data yang digunakan berupa data primer, dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dari penelitian di lapangan dengan cara melakukan wawancara dengan responden, sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari kepustakaan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan: a) Hakim dalam menjatuhkan putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana pemerkosaan karena berdasarkan pertimbangan hakim unsur memaksa tidak terpenuhi secara sah menurut hukum. b) Hakim menjatuhkan putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana pemerkosaan dikaitkan dengan teori pemidanaan. Saran dalam penelitian ini yang dapat disampaikan yaitu: a) Hakim dalam menjatuhkan putusan bebas seharusnya hakim jangan melihat dari segi kepastian hukumnya saja. b) Hakim dalam menjatuhkan putusannya janganlah hanya mempertimbangkan unsur kepastian hukumnya saja dalam putusan perkara yang dihadapinya tersebut melainkan juga harus pula mempertimbangkan keadilan dan kemanfaatan hukumnya.
TINJAUAN YURIDIS PUTUSAN BEBAS TINDAK PIDANA PEMERKOSAAN (Studi Putusan No. 1240/Pid.B/2013/PN.TK)
Oleh DIKA PERMADI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA HUKUM
Pada
Bagian Hukum Pidana
Fakultas Hukum Universitas Lampung
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Watervang, Lubuklinggau Sumatera
Selatan pada tanggal 22 Oktober 1993. Penulis merupakan
anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Bapak
Supardi dan Ibu Ermawati.
Pendidikan pertama penulis di TK Baitul A’la Air Kuti Kecamatan Lubuklinggau
Timur 1 Lubuklinggau pada Tahun 1999, Sekolah Dasar Negeri 1 Batu Urip
Kecamatan Lubuklinggau Timur 1 Lubuklinggau diselesaikan pada Tahun 2005,
dan Sekolah Menengah Pertama di Pondok Pesantren Ar-Risalah Air Kuti
Kecamatan Lubuklinggau Timur 1 Lubuklinggau pada Tahun 2008. Kemudian
dilanjutkan di Sekolah Menengah Atas SMAN 2 Air Kuti Kecamatan
Lubuklinggau Timur 1 Lubuklinggau hingga Tahun 2011.
Pada tahun 2011 Penulis diterima sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas
Lampung, dan menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Pidana (HIMA Pidana)
pada tahun 2014 dan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa
Penyandingan Kecamatan Bengkunat Belimbing Kabupaten Pesisir Barat pada
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahirrobbil’alamin, Segala Puji bagi Allah SWT Tuhan Semesta Alam, Pemilik Kerajaan Langit dan Bumi, Penghembus segala kebaikan dalam hidupku.
Kupersembahkan karya kecilku ini kepada orang tuaku tercinta
“Ayahanda
Supardi dan Ibunda Ermawati
”
Yang telah membesarkanku dengan penuh kasih sayang.
Semoga Allah SWT mempertemukan kami dan keduanya dalam Jannah-Nya kelak.
Kupersembahkan pula untuk Ayukku Winda Febrianti, S.Ked., Adikku Agung Raharjo dan
Julfa Alia Rageti
Yang selalu memberikan dukungan kepadaku dikala suka maupun duka.
Karena kasih sayang, perhatian, dukungan,
Pengorbanan serta do’a dari kalian semua yang tiada henti,
Aku dapat mengecap pendidikan di Fakultas Hukum Universita Lampung.
Walau sampai habis umurku, tidak akan pernah mampu
kubalas semua itu dengan apapun di dunia ini,
sebesar apapun nilainya.
Almamater tercinta yang telah mendewasakanku dalam berfikir dan bertindak.
Almamater yang selalu kubanggakan sebagai saksi bisu perjalananku
MOTO
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri”
(Q.S. Ar-Ra’d:11)
“Barang siapa yang memudahkan urusan saudaranya didunia, niscaya Allah akan memudahkan urusannya didunia dan akhirat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
“Barang siapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga.”
SANWACANA
Alhamdulillahirabbil’alamin. Puji syukur selalu penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas
limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi
dengan judul “TinjauanYuridisPutusanBebasTindakPidanaPemerkosaan (StudiPutusan
No.1240/Pid.B/2013/PN.TK)” sebagai salah satu syarat mencapai gelar sarjana di Fakultas
Hukum Universitas Lampung.
Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan, bantuan,
petunjuk dan saran dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini Penulis mengucapkan terima
kasih yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S., selakuRektorUniversitas Lampung.
2. Bapak Prof. Dr. Heryandi, S.H., M.S. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Lampung.
3. Ibu Diah Gustiniati Maulani, S.H., M.H. selaku Ketua Bagian Hukum Pidana Fakultas
Hukum Universitas Lampung.
4. Bapak Eko Raharjo, S.H., M.H. selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan
masukan dan bantuan dalam proses penulisan skripsi ini sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan.
5. Bapak A. IrzalFardiansyah, S.H., M.H. selaku Dosen Pembimbing II yang telah
memberikan masukan dan bantuan dalam proses penulisan skripsi ini sehingga skripsi
ini dapat terselesaikan.
6. Bapak Dr. HeniSiswanto, S.H., M.H, selaku Dosen Pembahas I yang telah
memberikan kritikan, masukkan dan saran dalam penulisan skripsi ini.
7. Ibu Dona Raisa Monica, S.H., M.H, selakuDosenPembahas II yang
8. IbuNillaNargis, S.H., M.H. selaku Pembimbing Akademik yang senantiasa
memberikan nasehat dan pengarahan selama penulis kuliah di Fakultas Hukum
Universitas Lampung.
9. Bapak AnggitArietyaNugroho, S.H., M.H.,BapakAkhmadSuhel, S.H., Ibu Dr. Erna
Dewi, S.H., M.H., IbuSupriyanti,S.H.,yang telah memberikan izin penelitian,
membantudalam penelitian dan penyediaan datauntuk penyusunan skripsi ini.
10.Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah memberikan
ilmu yang bermanfaat kepada penulis selama
kuliahsertaseluruhstafdankaryawanFakultasHukumUniversitas Lampung penulis
ucapkan banyak terima kasih.
11.Teristimewa untuk orang tuaku tercinta Ayahanda Supardi dan Ibunda Ermawati yang
telah menjadi semangat hidup bagi penulis dan telah membesarkan penulis dengan
penuh kasih sayang serta Ayukku WindaFebrianti,S.Ked., Adikku Agung Raharjo dan
Julfa Alia Ragetisertasemua keluarga besarku, yang memberikan dukungan, motivasi
dan doa kepada penulis. Tanpa kasih sayang, motivasi dan doa kalian semua ini bukan
apa-apa.
12.Guru-guruku selama menduduki bangku Sekolah Dasar, PondokPesantrenAr-Risalah,
SekolahMenengahAtas. Penulis ucapkan terimakasih atas ilmu, doa, motivasi dan
kebaikan yang telah ditanamkan.
13.Terima kasihSahabatku RizkanAdly, MeydianAfriansyah, BobyMaha Putra
Wijayayang begitu kubanggakan persahabatannya. Yakinlah sob, kita akan sukses di
masa mendatang, Allah SWT selalu bersama kita.
14.Sahabat seperjuanganku Abi, Ado, Ando, Aga, Agus, Ata, Beni, Dewi,Djarwo,
Eka,Febri, Feri, Fitra, Fredy, Hendra, Iis,Ijal, Imam, Mia yang sama-sama berjuang
15.Sahabatku Eleven Law Aldi, Arnold, Deswandi, Dito,Jani,Nico, Panca, Riki, Zakidan
semua kawan-kawan Angkatan 2011 Fakultas Hukum Universitas Lampung.Bersama
kalian, kulewati saat-saat manis dan pahit perjalanan ini. terima kasih atas pertemanan
yang terjalin selama ini.
16.SahabatkuKuliahKerjaNyataYuanita, Yudha, Yunita, Wita. Bersama kalian,
kulewatimasasulitdalamsukadandukaselama 40 hari kalian
menjadikeluargadalammenyelesaikanmatakuliahiniterimakasihataskebersamaanselam
ainisemogapertemananiniterusberlanjut.
17.Bidadari-bidadari yang telah membuat pribadiku lebih baik dalam bertindak dan
berperilaku, terima kasih.
18.Untuk Almamater Tercinta, Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah
menjadi saksi bisu dari perjalanan ini hingga menuntunku menjadi orang yang lebih
dewasa dalam berfikir dan bertindak.Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan
satu persatu, penulis mengucapkan banyak terima kasih.
Semoga Allah SWT memberikan balasan atas bantuan dan dukungan yang telah diberikan
kepada penulis dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan
keilmuan bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis pada khususnya.
Bandar Lampung, 27 April-2015
Penulis,
DAFTAR ISI
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ... 1
B. Permasalahan dan Ruang Lingkup ... 8
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 8
D. Kerangka Teoritis dan Konseptual ... 10
E. Sistematika Penulisan ... 14
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Hakim ... 16
B. Pengertian Putusan Pemidanaan ... 21
C. Tindak Pidana ... 25
D. Penjatuhan Pidana ... 27
E. Tinjauan Umum Tindak Pidana Perkosaan ... 28
III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan Masalah ... 30
B. Penentuan Narasumber ... 31
C. Sumber dan Jenis Data ... 31
D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 33
E. Analisis Data ... 34
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden … ... 35
C. Pemenuhan Rasa Keadilan Putusan Beabas Kepada Pelaku Tindak Pidana
Pemerkosaan ... 51
V. PENUTUP
A. Simpulan … ... 56
B. Saran ... 57
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dengan kemajuan budaya dan iptek, perilaku manusia didalam hidup
bermasyarakat dan bernegara justru semakin kompleks dan bahkan
multikompleks. Perilaku dengan demikian apabila ditinjau dari segi hukum
tentunya ada perilaku yang tidak sesuai dengan norma. Terhadap prilaku yang
sesuai norma hukum yang berlaku, tidak menjadi masalah. Terhadap prilaku yang
tidak sesuai norma biasanya dapat menimbulkan permasalahan di bidang hukum
dan merugikan masyarakat1.
Tindak pidana merupakan suatu fenomena yang komplek yang dapat dipahami
dari berbagai sisi yang berbeda satu dengan yang lain. Dalam pengalaman kita
ternyata tak mudah untuk memahami kejahatan itu sendiri.Usaha memahami
kejahatan itu sebenarnya telah berabad-abad dipikirkan oleh para ilmuan terkenal.
Plato 427-347 SM misalnya menyatakan dalam bukunya Republiek menyatakan
antara lain bahwa emas manusia adalah merupakan sumber dari banyak
kejahatan.2
1
Wordpress.https://yunindyarahendini.wordpress.com/2014/10/27/3 diakses pada tanggal 29 Januari 2015, pada pukul 15.30 Wib.
2
2
Perilaku yang tidak sesuai norma atau dapat disebut sebagai penyelewengan
terhadap norma yang telah disepakati ternyata menyebabkan terganggunya
ketertiban dan ketentraman kehidupan manusia. Penyelewengan yang demikian,
biasanya oleh masyarakat dianggap sebagai suatu pelanggaran dan bahkan sebagai
suatu kejahatan. Kejahatan dalam kehidupan manusia merupakan gejala sosial
yang akan selalu dihadapi oleh setiap manusia, masyarakat, dan bahkan negara.
Kenyataan telah membuktikan, bahwa kejahatan hanya dapat dicegah dan
dikurangi, tetapi sulit diberantas secara tuntas3.
Sebagai negara hukum di Indonesia, pengadilan adalah suatu badan atau lembaga
peradilan yang menjadi tumpuan harapan untuk mencari keadilan, oleh karena itu
jalan terbaik untuk mencegah dan memberantas kejahatan dalam negara hukum
adalah melalui badan peradilan tersebut. Sebagai salah satu dari pelaksana hukum
yaitu hakim diberi wewenang oleh undang-undang untuk menerima, memeriksa
serta memutus suatu perkara pidana oleh karena itu hakim dalam menangani suatu
perkara harus dapat berbuat adil, sebagai seorang hakim dalam memberikan
putusan kemungkinan dipengaruhi oleh hal yang ada pada dirinya dan sekitarnya
karena pengaruh dari faktor agama, kebudayaan, pendidikan, nilai, norma dan
sebagainya sehingga dapat dimungkinkan adanya perbedaan cara pandang
sehingga mempengaruhi pertimbangan dalam memberikan putusan4.
Menjatuhkan putusan, kecuali putusan selaadalah suatu proses mengakhiri
perkara/sengketa dengan menggunakan konsep-konsep mengadili, seorang hakim
3
Bambang Waluyo. Pidana dan Pemidanaan.Jakarta : PT. Sinar Grafika. 2008 hlm 1.
4
Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Lepas dari Segala Tuntutan
3
diberikan kebebasan untuk menjatuhkan putusan sesuai dengan apa yang
diyakininya berdasarkan serangkaian proses pembuktian yang telah mendahului
sebelumnya, kebebasan tersebut dijaminoleh undang-undang sebagaikewenangan
yang bebas dan merdeka dari segala pengaruh apapun, baik dari lingkup intervensi
internal maupun eksternal5.
Menurut ketentuan di atas, maka hakim memiliki kewenangan yang penuh dalam
menentukan setiap putusan dalam perkara yang ditanganinya. KUHAP mengatur
tentang berapa kemungkinan seorang hakim dalam menjatuhkan putusan antara
lain:
1. Menjatuhkan putusan pidana jika pengadilan berpendapat bahwa terdakwa
bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya; Pasal 193 ayat
(1) KUHAP.
2. Menjatuhkan putusan bebas jika pengadilan berpendapat bahwa dari hasil
pemeriksaan disidang kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan
kepadanya tidak terbukti secara dan meyakinkan; Pasal 191 ayat (1) KUHAP.
3. Menjatuhkan putusan lepas dari segala tuntutan hukum jika pengadilan
berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti
tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana; Pasal 191 ayat (2)
KUHAP.
4. Menjatuhkan putusan yang menyatakan bahwa pengadilan tidak berwenang
mengadili, jika pengadilan berpendapat bahwa perkara yang diajukan bukan
kewenangannya, baik secara absolut maupun relatif; Pasal 156 ayat (1)
5
4
KUHAP. Menjatuhkan putusan yang menyatakan bahwa dakwaan tidak dapat
diterima atau dakwaan batal jika pengadilan berpendapat bahwa dakwaan
penuntut umum tidak memenuhi syarat materiil dan formil sebagaimana
ditentukan dalam; Pasal 143 KUHAP dan Pasal 156 ayat (1) KUHAP6
.
Pengimplementasian kewenangan yang bebas dan merdeka tersebut, hakim harus
berpegangteguh pada aturan-aturan yang berlaku, walaupun dalam menentukan
suatu kesimpulan hakim diberikan kebebasan yang luas, namun bukan berarti
bahwa kebebasan itu bisa digunakan tanpa batas, karena sesungguhnya
pembatasan itu hakim juga dibatasi oleh nilai-nilai keadilan yang ada dilubuk
hatinya, artinya seorang hakim tidak bisa lepas dari keyakinan dalam hati
nuraninya yang pada satu sisi merupakan bentuk kemerdekaan dalam berfikir dan
menentukan pendapat tapi disisi lain juga sebagai pembatas dari segala
kemunafikan dalam menjatuhkan putusan, karena sesungguhnya hati nurani selalu
akan tahu mana yang baik dan mana yang buruk.
Reformasi peradilan saat ini dituntut adanya keterbukaan dalam setiap proses
penyelesaian perkara, sehingga semua tahapan persidangan termasuk segala
pertimbangan dalam putusan harus dapat diakses oleh masyarakat luas, sedangkan
bagian yang masih dalam ruang lingkup kerahasiaan sebagaimana diatur dalam
Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman hanya menyangkut materi musyawarah dalam pengambilan
6
5
keputusan, walaupun hal itu juga sudah mengalami penyempitan makna karena
dengan adanya ketentuan7
.
Tidaklah adil menilai suatu putusan hanya berdasarkan diktumnya semata, karena
diktum dalam amar putusan hanyalah sebuah pernyataan yang didasarkan atas
kesimpulan dalam pertimbangan-pertimbangan hukum, sehingga jiwa putusan itu
sendiri sebenarnya ada pada pertimbangannya dan pertimbangan itulah yang dapat
menjelaskan apa yang menjadi latar belakang sehingga amar putusan yang
dijatuhkan seperti demikian. Suatu putusan yang baik akan dapat memberikan
gambaran yang jelas dan terang tentang alur pikiran hakim dalam menjatuhkan
putusan, baik dari segi logika berfikir maupun kearifan-kearifan dalam menelaah
setiap fakta-fakta hukum yang ada. Dalam tulisan ini sengaja akan diungkap
hal-hal yang ada dibalik lahirnya putusan bebas, sehingga masyarakat umum akan
bisa mendapatkan pemahaman yang proporsional tentang latar belakang hakim
dalam menjatuhkan putusan bebas. Ada beberapa hal yang selalu menyelimuti
lahirnya putusan bebas8.
Menurut asas hukum dikenal istilah “unus testis nullus testis” yang artinya satu
saksi bukan alat bukti, hal tersebut memberikan makna bahwa satu keterangan
saksi saja belum memiliki kekuatan pembuktian yang dapat mempersalahkan si
terdakwa, namun jika keterangan saksi tersebut didukung oleh alat bukti yang sah
lainnya, maka keterangan itu akan menjadi alat bukti yang memiliki kekuatan
pembuktian. Jika batas minimal pembuktian tersebut tidak bisa dipenuhi oleh
penuntut umum sebagai pihak yang menanggung beban pembuktian, maka hakim
7
Ibid. hlm 194.
8
6
akan membebaskan terdakwa karena bukti-bukti yang dapat mempersalahkan
terdakwa tidak cukup. Hal tersebut sering terjadi pada perkara-perkara kesusilaan
maupun pembunuhan berencana yang telah dipersiapkan sehingga tidak
menimbulkan jejak9
.
KUHAP memang memberikan kemungkinan kepada hakim untuk menggunakan
petunjuk bagi perkara-perkara yang minim pembuktian, namun jangan lupa bahwa
petunjuk itu sendiri harus didapatkan dari alat bukti lain sebagaimana disebutkan
dalam Pasal 188 ayat (2) KUHAP yaitu dari keterangan saksi, surat dan
keterangan terdakwa, jika sama sekali tidak ada alat bukti yang bisa dijadikan
landasan untuk membangun petunjuk, maka hakim akan menyimpulkan bahwa
penuntut umum tidak mampu membuktikan kesalahan terdakwa. Menjatuhkan
pidana bukanlah persolan sederhana, karena pemidanaan akan menimbulkan
penderitaan lahir maupun batin bagi seseorang sehingga jika hakim tidak hati-hati
dalam menjatuhkan pidana, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi
kekeliruan dalam putusannya10.
Menurut dakwaan kasus Nomor 1240/Pid.B/2013/PN.TK yang diajukan Jaksa
Penuntut Umum terhadap tindak pidana pemerkosaan menyatakan terdakwa
terbukti bersalah melakukan tindak pidana pemerkosaan sebagaimana diatur dan
diancam pidana dalam Pasal 285 KUHP (Dakwaan Pertama Penuntut Umum) atau
Pasal 289 KUHP (Dakwaan Kedua Penuntut Umum).
Unsur Ke-satu: Barang siapa “menimbang bahwa yang dimaksud dengan barang
7
disamping itu dimuatnya unsur ini oleh pembuat undang-undang ialah untuk
menghindari terjadinya salah orang yang diajukan kemuka persidangan”
Unsur Ke-dua: “Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan seorang wanita
bersetubuh dengan dia diluar pernikahan”. Menimbang bahwa Penuntut Umum
telah menghadirkan 5 (lima) orang saksi termasuk salah satunya adalah korban
Neni Rismawati untuk membuktikan dakwaan Pasal 285 KUHP, maka jika
keterangan tersebut tidak didukung oleh alat bukti lainnya yang sah berdasarkan
ketentuan Pasal 185 ayat (2) KUHAP bahwa “keterangan seorang saksi saja tidak
cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang
didakwakan kepadanya”, sehingga untuk menyimpulkan ada atau tidaknya
peristiwa persetubuhan antara terdakwa dan korban diperlukan alat bukti lain yang
sesuai.
Menimbang bahwa Penuntut Umum dalam perkara ini telah mengajukan
kehadapan persidangan sebuah alat bukti surat berupa Visum Et Repertum Nomor
357/1541c/4.13/IV/2012 yang ditanda tangani oleh dr. Laisa Muliati yang
menyatakan bahwa selaput dara korban mengalami robek. Menimbang oleh
karena majelis mempunyai pendapat sendiri atas perkara ini, maka pendapat
penuntut umum dalam nota tuntutannya dan pendapat terdakwa/penasehat hukum
dalam nota pembelaannya dikesampingkan, maka majelis memutus terdakwa
dibebaskan dan dipulihkan hak-hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan,
harkat serta martabatnya karena tuntutan dan putusan bebas ini saya tertarik untuk
8
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka penulis tertarik untuk
mengangkat masalah ini dalam bentuk skripsi dengan judul “ Tinjauan Yuridis
Putusan Bebas Tindak Pidana Pemerkosaan (Studi Putusan
No.1240/Pid.B/2013/PN.TK)”.
B. Permasalahan dan Ruang Lingkup
1. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini
adalah:
a. Mengapa Hakim menjatuhkan putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana
pemerkosaan?
b. Apakah putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana pemerkosaan memenuhi
rasa keadilan?
2. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini termasuk ke dalam kajian Hukum Ilmu Pidana,
khususnya yang mengenai putusan hakim menjatuhkan putusan bebas terhadap
pelaku tindak pidana pemerkosaan (Studi Putusan No.1240/Pid.B/2013/PN.TK).
Penelitian ini dilakukan pada tahun 2015. Ruang lingkup lokasi penelitian terbatas
9
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di dalam penelitian ini, maka tujuan penelitian skripsi
antara lain:
a. Untuk mengetahui alasan Hakim menjatuhkan putusan bebas terhadap pelaku
tindak pidana pemerkosaan
b. Untuk mengetahui putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana pemerkosaan
telah memenuhi rasa keadilan
2. Kegunaan Penelitian
a. Teoritis
Kegunaan dari penelitian ini antara lain:
a) Untuk menambah pengetahuan serta memberikan pandangan ilmu hukum
pidana agar dapat digunakan sebagai kajian dalam menentukan setiap
langkah kebijaksanaan guna mengetahui dasar pertimbangan putusan
bebas hakim terhadap tindak pidana pemerkosaan.
b) Untuk mendalami teori-teori yang telah diperoleh selama menjalani kuliah
serta memberikan landasan untuk penelitian lebih lanjut mengenai upaya
mengantisipasi terjadinya tindak pidana pemerkosaan di Indonesia.
b. Praktis
a) Dengan penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
10
memahami tentang bagaimana penerapan hukum putusan bebas terhadap
tindak pidana pemerkosaan.
b) Untuk memperluas pengetahuan dan wawasan penulis tentang dasar
pertimbangan putusan bebas hakim terhadap tindak pidana pemerkosaan.
D. Kerangka Teoritis dan Konseptual
1. Kerangka Teoritis
Kerangka teoristis adalah konsep-konsep yang sebenarnya merupakan abstraksi
dari hasil penelitian yang pada dasarnya bertujuan untuk menidentifikasi terhadap
dimensi sosial yang dianggap relevan oleh peneliti11.Kerangka teori yang
digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah teori pemidanaan dan teori
pertimbangan hakim.
A. Teori Pemidanaan
Ada berbagai macam pendapat mengenai teori pemidanaan ini, namun secara
umum dapat dikelompokkan didalam tiga golongan, yaitu:
1. Teori absolut atau teori pembalasan vergeldings theorien.
Dasar pijakan teori ini adalah pembalasan. Menurut dasar pembenar dari
penjatuhan penderitaan berupa pidana itu pada penjahat. Negara berhak
menjatuhkan pidana karena penjahat tersebut telah melakukan penyerangan dan
perkosaan pada hak kepentingan hukum yang dilindungi, maka ia harus diberikan
pidana yang setimpal dengan perbuatan yang dilakukannya. Setiap kejahatan tidak
boleh tidak harus diikuti oleh pidana bagi pembuatnya, tidak dilihat akibat-akibat
yang timbul dari penjatuhan pidana itu, tidak memperhatikan masa depan, baik
11
11
terhadap penjahat maupun masyarakat menjatuhkan pidana tidak dimaksudkan
untuk mencapai sesuatu yang praktis, tetapi bermaksud satu-satunya penderitaan
bagi penjahat. Tindakan pembalasan didalam penjatuhan pidana mempunyai dua
arah, yaitu:
a. Ditujukan pada penjahatnya, sudut subjektif dari pembalasan.
b. Ditujukan untuk memenuhi kepuasan dari perasaan dendam dikalangan
masyarakat, sudut objektif dari pembalasan.
2. Teori relatif
Teori ini berpangkal pada dasar bahwa pidana adalah alat untuk menegakkan tata
tertib hukum dalam masyarakat. Untuk mencapai tujuan ketertiban masyarakat
tadi, maka pidana itu mempunyai tiga macam sifat yaitu:
a. Bersifat menakut-nakuti afschrikking.
b. Bersifat memperbaiki verbetering/reclasering.
c. Bersifat membinasakan onschadelijk maken.
3. Teori gabungan
Teori ini mendasarkan pidana pada asas pembalasan dan asas pertahanan tata
tertib masyaraka. Dengan kata lain dua alasan itu menjadi dasar dari penjatuhan
pidana teori gabungan ini dapat dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu:
a. Teori gabungan yang mengutamakan pembalasan
Menurut Pompe, yang berpandangan bahwa pidana tiada lain adalah pembalasan
pada penjahat, tetapi juga bertujuan untuk mempertahankan tata tertib hukum agar
12
bersifat pembalasan itu dapat dibenarkan apabila bermanfaat bagi pertahanan tata
tertib hukum masyarakat.
b. Terori gabungan yang mengutamakan perlindungan tata tertib masyarakat
Menurut Simons, dasar primer pidana adalah pencegahan umum dasar
sekundernya adalah pencegahan khusus. Pidana terutama ditujukan pada
pencegahan umum yang terletak pada ancaman pidananya dalam undang-undang.
Apabila hal ini tidak cukup kuat dan tidak efektif dalam hal pencegahan umum
itu, maka barulah diadakan pencegahan khusus yang terletak dalam hal
menakut-nakuti, memperbaiki, dan membuat tidak berdayanya penjahat dalam hal ini perlu
diingat bahwa pidana yang dijatuhkan harus sesuai dengan hukum dari
masyarakat12.
B. Teori Pertimbangan Hukum Hakim Kepatian Hukum, Keadilan, dan Kemanfaatan
Menegakkan hukum ada tiga unsur yang harus selalu diperhatikan yaitu:
kepastian hukum menekankan agar hukum atau peraturan itu ditegakkan
sebagaimana yang diinginkan oleh bunyi hukum atau peraturannya, kemanfaatan
menekankan kepada kemanfaatan bagi masyarakat, keadilan menekankan
pengambilan putusan oleh majelis hakim dilakukan setelah masing-masing hakim
anggota majelis mengemukakan pendapat atau pertimbangan serta keyakinan atas
suatu perkara lalu dilakukan musyawarah atau mufakat13
.
12
Teori-Pemidanaan.https://apbisma.blogspot.com/2013/11/teori-pemidanaan.html?m=1 diakses pada tanggal 29 Januari 2015, pada pukul 15.30 Wib.
13
13
Memberikan putusan terhadap suatu perkara pidana, seharusnya putusan hakim
tersebut berisi alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan yang bisa
memberikan rasa keadilan bagi terdakwa. Dimana dalam
pertimbangan-pertimbangan itu dapat dibaca motivasi yang jelas dari tujuan putusan diambil,
yaitu untuk menegakkan hukum, kepastian hukum, dan memberikan keadilan14.
Dalam memberikan pertimbangan untuk memtuskan suatu perkara pidana
diharapkan hakim tidak menilai dari satu pihak saja sehingga dengan demikian
ada hal-hal yang patut dalam penjatuhan putusan hakim apakah pertimbangan
tersebut memberatkan ataupun meringankan pidana, yang melandasi pemikiran
hakim, sehingga hakim sampai pada putusannya.
Pertimbangan hakim sebenarnya tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan
bagian amar putusan hakim dan justru bagian pertimbangan itulah yang menjadi
roh dari seluruh materi isi putusan, bahkan putusan yang tidak memuat
pertimbangan yang cukup dapat menjadi alasan untuk diajukan suatu upaya hukum
baik itu banding maupun kasasi, yang dapat menimbulkan potensi putusan tersebut
akan dapat dibatalkan oleh pengadilan yang lebih tinggi15.
2.Konseptual
Konseptual menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus yang
merupakan sekumpulan pengertian yang berkaitan dengan istilah yang ingin
diteliti atau diketahui. Beberapa istilah yang memiiki arti luas dipersempit
sehingga dapat memfokuskan permasalahan. Sebaliknya, beberapa istilah
14
Nanda Agung Dewantara. Masalah Kebebasan Hakim Dalam Menangani Suatu Masalah Perkara Pidana. Jakarta : Askara Persada Indonesia. 1987. hlm 50.
15
14
mengalami proses perluasan makna dengan tujuan mencari titik temu antara
konsep tertentu antara konsep dengan penerapannya dalam praktek. Demikian
pula dengan generalisasi esensi dari konsep-konsep tertentu yang memiliki
kesamaan-kesamaan pada intinya, dijadikan suatu pengertian khusus, yang akan
memudahkan menulusuri maksud penulis. Pengertian-pengertian khusus tersebut
antara lain:
1. Tinjauan yuridis adalah pandangan atau pendapat dari segi hukum16.
2. Putusan hakim adalah pernyataan hakim sebagai pejabat negara yang
melaksanakan tugas kekuasaan kehakiman yang diberi wewenang untuk itu
yang dicapkan dipersidangan dan bertujuan untuk menyelesaikan suatu
perkara17.
3. Tindak pidana yang didakwakan jaksa penuntut umum tidak terbukti secara sah
dan meyakinkan menurut hukum adalah putusan bebas.
4. Tindak pidana pemerkosaan menurut Pasal 285 KUHP adalah barang siapa
dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita
bersetubuh dengan dia diluar perkawinan, diancam karena melakukan
perkosaan dengan pidana paling lama dua belas tahun.
E. Sistematika Penulisan
Penulisan sistematika ini memuat keseluruhan yang akan disajikan dengan tujuan
mempermudah pemahaman konteks skripsi ini, maka penulis menyajikan
penulisan dengan sistematika sebagai berikut :
16
Yahoo, Tinjauan
Yuridis.https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110514192559AA6NiRj diakses pada tanggal 17 Juli 2014, pada pukul 08.30 Wib.
17
Slideshare, Putusan Hakim atau Ketetapan Hakim,
15
I. PENDAHULUAN
Bab ini terdiri atas latar belakang, permasalahan dan ruang lingkup, tujuan dan
kegunaan penelitian, kerangka teoritis dan konseptual serta sistematika penulisan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi mengenai pengertian hakim, pengertian putusan pemidanaan,
pengertian tindak pidana, penjatuhan pidana, tinjauan umum tindak pidana
perkosaan.
III. METODE PENELITIAN
Bab ini memuat tentang metode yang menjelaskan mengenai langkah-langkah
yang digunakan dalam pendekatan masalah, sumber dan jenis data, penentuan
narasumber, metode pengumpulan dan pengolahan data, serta metode analisis
data.
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan hasil penelitian yang telah dilakukan dan bab ini juga
memberikan jawaban mengenai permasalahan yang penulis teliti yaitu alasan
dasar pertimbangan hakim menjatuhkan putusan bebas terhadap pelaku tindak
pidana pemerkosaan dikaitkan dengan teori pemidanaan, dan pemenuhan rasa
keadilan putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana pemerkosaan.
V. PENUTUP
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Hakim
Mahkamah Agung adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman sebagaimana
dimaksud dalam Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, susunan
Mahkamah Agung adalah terdiri atas pimpinan, hakim anggota, dan seorang
sekretaris1
. Hakim ad hoc adalah hakim yang memiliki keahlian dan pengalaman
di bidang tertentu untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang
untuk jangka waktu tertentu dan pengangkatanya diatur dalam
undang-undang2.Sebagaimana disebutkan Pasal 1 ayat (8) Kitab Undang-undang Hukum
Acara Pidana (KUHAP) hakim adalah pejabat peradilan negara yang diberi
wewenang oleh undang-undang untuk mengadili. Sebagaimana dijelaskan oleh
KUHAP bahwa yang dimaksud mengadili adalah serangkaian tindakan hakim,
untuk menerima, memeriksa, memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas,
jujur, dan tidak memihak di sidang pengadilan dalam hal dan menurut cara yang
diatur dalam undang-undang3.
1
Pasal 1 dan Pasal 4 ayat 1 Undang-Undang Nomor 5Tahun 2004.
2
Pasal 1 ayat 1 Perpres Nomor 5 Tahun 2013 3
17
1. Wewenang Hakim
Pasal 1 ayat (8) Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana selanjutnya disebut
KUHAP, Hakim adalah pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh
undang-undang untuk mengadili. Sebagaimana dijelaskan oleh KUHAP bahwa
yang dimaksud mengadili adalah serangkaian tindakan hakim, untuk menerima,
memeriksa, memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas, jujur, dan tidak
memihak di sidang pengadilan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam
undang-undang4.
Landasan hukum wewenang hakim antara lain dapat disimak dalam KUHAP,
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986, dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun
1970. KUHAP menyatakan bahwa hakim adalah pejabat peradilan negara yang
diberi wewenang oleh undang-undang untuk mengadili Pasal 1 butir 8. Adapun
yang dimaksud mengadili adalah serangkaian tindakan hakim untuk menerima,
memeriksa, dan memutus perkara pidana berdasarkan asas bebas, jujur, dan tidak
memihak disidang pengadilan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam
undang-undang Pasal 1 butir 9. Tampak jelas bahwa wewenang hakim utamanya
adalah mengadili yang meliputi kegiatan-kegiatan menerima, memeriksa, dan
memutus perkara pidana.Dalam hal ini pedoman pokoknya adalah KUHAP yang
dilandasi asas kebebasan, kejujuran, dan tidak memihak.Undang-Undang Nomor
2 tahun 1986 menyebutnya pengadilan negeri bertugas dan berwenang
memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara pidana dan perkara perdata di
tingkat pertama.Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 dalam Pasal 14
4
18
memeriksa dan mengadilinya, pada Pasal 16 disebutkan, pengadilan memeriksa
dan memutus perkara pidana dan seterusnya.
Jika ditelaah, ternyata di dalam KUHAP dibedakan antara wewenang Hakim,
Hakim Ketua Sidang, Ketua Pengadilan Negeri dan Pengadilan Negeri misalnya:
1) Wewenang Hakim
a) Melakukan penahanan
Untuk kepentingan pemeriksaan Hakim di sidang pengadilan dengan
penetapannya berwenang melakukan penahanan Pasal 20 ayat (3) jo Pasal
26.
b) Pengalihan jenis penahanan
Penyidik atau Penuntut Umum atau Hakim berwenang mengalihkan jenis
penahanan yang satu kepada jenis penahanan yang satu kepada jenis
penahanan yang lain Pasal 23 ayat (1) jo Pasal 22.
2) Wewenang Hakim Ketua Sidang
a) Menentukan bahwa anak yang belum mencapai yang belum mencapai
umur 17 (tujuh belas) tahun tidak diperkenakan menghadiri sidang Pasal
153 ayat (5).
b) Memerintahkan supaya terdakwa dipanggil masuk danjika iadalam
tahanan, ia dihadapkan dalam keadaan bebas Pasal 154 ayat (1).
c) Kewenangan-kewenangan lain yang berhubungan dengan kelancaran dan
tertib persidangan, misalnya berhubungan dengan terdakwa, saksi, barang
19
3) Wewenang Pengadilan Negeri
a) Memberikan izin penggeledahan rumah kepada penyidik Pasal 33 ayat (1).
b) Memberikan izin penyitaan kepada penyidik Pasal 38 ayat (1).
c) Menunjuk Hakim yang akan menyidangkan perkara Pasal 152 ayat (1).
4) Wewenang Pengadilan Negeri
a) Memeriksa dan memutus praperadilan Pasal 77.
b) Mengadili segala perkara mengenai tindak pidana yang dilakukan dalam
daerah hukumnya Pasal 84 ayat (1)5.
2. Kewajiban dan Tanggung Jawab Hakim
Ketentuan mengenai kewajiban Hakim terutama dapat ditelusuri dalam
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 dan KUHAP yaitu sebagai berikut:
Kewajiban hakim
a) Hakim sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali, mengikuti,
dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat Pasal 27
ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970.
b) Dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana, Hakim wajib
memperhatikan pula sifat-sifat yang baik dan yang jahat dari tertuduh
Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970.
c) Wajib mengundurkan diri dari pemeriksaan suatu perkara, apabila seorang
Hakim masih terikat hubungan keluarga sedarah sampai derajat ketiga atau
semenda dengan ketua, salah seorang Hakim anggota, Jaksa, Penasihat
Hukum, atau Panitera dalam suatu perkara tertentu Pasal 28 ayat (2)
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970.
5
20
d) Wajib mengundurkan diri dari pemeriksaan perkara apabila masih terikat
dalam hubungan keluarga sedarah sampai derajat ketiga atau semenda
dengan yang diadili Pasal 28 ayat (3) Undang-Undang Nomor 14 Tahun
1970.
Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman
menyebutkan tanggungjawab hakim, yaitu:
1. Peradilan dilakukan Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa
Pasal 2 ayat (1).
2. Dalam memeriksa dan memutus perkara, hakim bertanggung jawab atas
penetapan dan putusan yang dibuatnya Pasal 53 ayat (1)6
.
Hakim secara garis besar tugasnya mengadili suatu perkara di pengadilan.Dalam
mengadili suaatu perkara di pengadilan. Dalam mengadili suatu perkara di
pengadilan tersebut, maka hakim melakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Menerapkan hukum, jika undang-undang terebut sudah ada dengan jelas;
2. Melakukan penemuan hukum, jika undang-undang kurang jelas;
3. Menafsirkan hukum, jika undang-undang tersebut masih kabur;
4. Membuat hukum, jika undang-undang belum ada sama sekali7
.
3. Kekuasaan Kehakiman
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman
menerangkan bahwa kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan
peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan
6
M. Yahya Harahap. Pembahasan Pemersalahan dan Penerapan KUHAP.Jakarta : Pustaka Kartini. 1985. hlm 898.
7
21
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, demi
terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia8
. Hakim adalah hakim pada
Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang berada dibawahnya
dalam lingkungan Peradilan Militer, lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara,
dan hakim pada Pengadilan Khusus yang berada pada peradilan tersebut9
.
B. Pengertian Putusan Pemidanaan
Putusan pemidanaan merupakan salah satu bentuk putusan Pengadilan Negeri.
Bentuk putusan lain misalnya putusan bebas Pasal 191 ayat (1) KUHAP dan
putusan lepas dari segala tuntutan hukum Pasal 191 ayat (1) KUHAP. Putusan
pemidanaan terjadi, jika pengadilan berpendapat bahwa terdakwa bersalah
melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya Pasal 193 ayat (1)
KUHAP).Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dari hasil pemeriksaan di
sidang pengadilan, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan
kepadanya terbukti secara sah dan meyakinkan.Terbukti melalui
sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah dan Hakim yakin terdakwa yang bersalah
melakukan10
.
1. Proses Pengambilan Putusan Pemidanaan
Proses pengambilan keputusan diawali dengan pernyataan Hakim bahwa
pemeriksaan sidang pengadilan dinyatakan sudah cukup atau selesai. Untuk itu,
Penuntut Umum dipersilakan mengajukan tuntutan pidana.Selanjutnya, terdakwa
dan atau Penasihat Hukum mengajukan pembelaan yang dapat dijawab oleh
8
Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009.
9
Pasal 1 ayat 5 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009.
10
22
Penuntut Umum dan begitu seterusnya yang Penasihat Hukum harus mendapat
giliran terakhir. Macam-macam putusan, berupa11
:
1. Putusan yang berisi pemidanaan;
2. Putusan yang berisi pembebasan dan dakwaan;
3. Putusan yang menyatakan lepas dari segala tuntutan hukum;
4. Putusan yang menyatakan terdakwa tidak dijatuhi pidana.
2. Dasar-Dasar Penjatuhan Putusan Pemidanaan
Dalam hal penjatuhan putusan, sebelumnya harus dilakukan
pembuktian.Pembuktian disidang pengadilan untuk dapat menjatuhkan pidana,
sekurang-kurangnya harus ada paling sedikit dua alat bukti yang sahdan di dukung
oleh keyakinan hakim. Delapan prinsip yang menjadi landasan bagaimana hukum
pidana, hukum acara pidana, dan proses penghukuman dijalankan. Kedelapan
prinsip tersebut adalah:
1. Perlunya dibentuk suatu masyarakat berdasarkan prinsip social contract.
2. Sumber hukum adalah undang-undang dan bukan hakim. Proses penjatuhan
hukuman oleh hakim harus didasarkan semata-mata karena undang-undang.
3. Tugas hakim hanyalah menentukan kesalahan seseorang.
4. Menghukum adalah merupakan hak negara, dan hak itu diperlukan untuk
melindungi masyarakat dari keserakahan individu.
5. Harus dibuat suatu skala perbandingan antara kejahatan dan penghukuman.
11
23
6. Motif manusia pada dasarnya didasarkan pada keuntungan dan kerugian,
artinya manusia dalam melakukan perbuatan akan selalu menimbang
kesenangan atau kesengsaraan yang akan didapatnya.
7. Dalam menentukan besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh suatu kejahatan
maka yang menjadi dasar penentuan hukuman adalah perbuatannya dan bukan
niatnya.
8. Prinsip dari hukum pidana adalah ada pada sanksinya yang positif12
.
Pengambilan putusan oleh majelis hakim dilakukan setelah masing-masing hakim
anggota majelis mengemukakan pendapat atau pertimbangan serta keyakinan atas
suatu perkara lalu dilakukan musyawarah atau mufakat. Dalam hal penjatuhan
putusan, sebelumnya harus dilakukan pembuktian pembuktian disidang
pengadilan untuk dapat menjatuhkan pidana, sekurang-kurangnya harus ada
paling sedikit dua alat bukti yang sahdan di dukung oleh keyakinan hakim13.
Pasal 184 ayat (1) KUHAP, alat bukti yang sah ialah:
a. Keterangan saksi;
b. Keterangan ahli;
c. Surat;
d. Petunjuk;
e. Keterangan terdakwa14.
12
Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa.Op.Cit. hlm 6.
13
Evi Hartanti. Op.Cit. hlm 54.
14
24
3. Faktor-Faktor Yang Diperhatikan Penjatuhan Pemidanaan
Jika hakim menjatuhkan pidana harus dalam rangka menjamin tegaknya
kebenaran, keadilan, dan kepastian hukum bagi seorang. Jadi bukan hanya balas
dendam, rutinitas pekerjaan ataupun bersifat formalitas.Memang apabila kita
kembali pada tujuan hukum acara pidana, secara sederhana adalah untuk
menemukan kebenaran materiil.Bahkan sebenarnya tujuannya lebih luas yaitu
tujuan hukum acara pidana adalah mencari dan menemukan kebenaran materiil itu
hanya merupakan tujuan antara.Artinya ada tujuan akhir yaitu yang menjadi
tujuan seluruh tertib hukum Indonesia, dalam hal itu mencapai suatu masyarakat
yang tertib, tentram, damai, adil, dan sejahtera15
.
4. Sistem Pemidanaan
Menurut KUHP, pidana dibedakan menjadi dua kelompok, antara pidana pokok
dengan pidana tambahan16. Pidana pokok terdiri dari:
1) Pidana mati;
2) Pidana penjara;
3) Pidana kurungan;
4) Pidana denda;
5) Pidana tutupan (ditambahkan berdasarkan UU No 20 Tahun 1946).
Pidana tambahan terdiri dari :
25
C. Tindak Pidana
1. Pengertian Tindak Pidana
Pembentuk undang-undang kita telah menggunakan perkataan strafbaar feit untuk
menyebutkan apa yang kita kenal sebagai tindak pidana didalam Kitab
Undang-undang Hukum Pidana tanpa memberikan suatu penjelasaan mengenai apa yang
sebenarnya dimaksud dengan perkataan strafbaar feit tersebut. Perkataan feit itu
sendiri di dalam bahasa Belanda berarti sebagian dari suatu kenyataan sedang
strafbaar berarti dapat dihukum, hingga secara harafiah perkataan strafbaar feit
itu dapat diterjemahkan sebagai sebagian dari suatu kenyataan yang dapat
dihukum, bahwa yang dapat dihukum itu sebenarnya adalah manusia sebagai
pribadi dan bukan kenyataan, perbuatan ataupun tindakan17. Berbicara tentang
hukum pidana tidak akan terlepas dari masalah pokok yang menjadi titik
perhatiannya. Masalah pokok dalam hukum pidana tersebut meliputi masalah
tindak pidana (perbuatan jahat), kesalahan dan pidana serta korban. Tindak pidana
adalah setiap perbuatan yang diancam hukuman sebagai kejahatan atau
pelanggaran baik yang disebut dalam KUHP maupun peraturan
perundang-undangan lainnya. Dapat juga dikatakan bahwa perbuatan pidana adalah
perbuatan yang oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana, tetapi perlu
diingat bahwa larangan ditujukan kepada perbuatan, yaitu suatu keadaan atau
kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan orang, sedangkan ancaman pidananya
ditujukan kepada orang yang menimbulkan kejadian itu.
17
26
Antara larangan dan ancaman pidana ada hubungan yang erat, oleh karena antara
kejadian dan orang yang menimbulkan kejadian itu, ada hubungan yang erat pula
yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain. Kejadian tidak dapat dilarang,
jika yang menimbulkan bukan orang, dan orang tidak dapat diancam pidana, jika
tidak karenakejadian yang ditimbulkan olehnya. Tindak pidana juga sering disebut
delik.Mengenai delik dalam arti strafbaar feit, para pakar hukum pidana
masing-masing memberi definisi berbeda-beda. Menurut Vos delik adalah feit yang
dinyatakan dapat dihukum berdasarkan undang-undang. Menurut Van Hamel
delik adalah suatu serangan atau ancaman terhadap hak-hak orang lain. Sedangkan
menurut Simons, delik merupakan suatu tindakan melanggar hukum yang telah
dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja oleh seseorang yang tindakannya
tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan oleh undang-undang telah dinyatakan
sebagai suatu perbuatan yang dapat dihukum18.
2. Unsur Tindak Pidana
Demikian setiap tindak pidana yang terdapat didalam Kitab Undang-undang
Hukum Pidana itu pada umumnya dapat kita jabarkan ke dalam unsur-unsur yang
pada dasarnya dapat kita bagi menjadi dua macam unsur yakni unsur-unsur
subjektif dan unsur-unsur objektif. Unsur-unsur subjektif itu adalah unsur yang
melekat pada diri si pelaku atau yang berhubungan dengan diri si pelaku, dan
termasuk ke dalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya.
Sedang yang dimaksud dengan unsur-unsur objektif itu adalah unsur yang ada
18
27
hubungannya dengan keadaan, yaitu di dalam keadaan mana tindakan dari si
pelaku itu harus dilakukan19
.
Unsur-unsur subyektif tindak pidana meliputi :
a) Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus dan culpa)
b) Maksud pada suatu percobaan seperti yang dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1)
KUHP.
c) Macam-macam maksud atau oogmerk seperti misalnya yang terdapat dalam
tindak pidana pencurian.
d) Merencanakan terlebih dahulu, seperti misalnya terdapat dalam Pasal 340
KUHP.
Sedang unsur-unsur objektif dari tindak pidana meliputi :
1. Sifat melanggar hukum
2. Kualitas dari si pelaku
3. Kasualitas yaitu hubungan antara sesuatu tindakan sebagai penyebab dengan
kenyataan sebagai akibat20
.
D. Penjatuhan Pidana
Putusan pengadilan merupakan tonggak yang penting bagi cerminanan keadilan,
termasuk, putusan pengadilan yang berupa penjatuhan pidana dan pemidanaan.
Lahirnya penjatuhan pidana dan pemidanaan bukan muncul begitu saja,
melainkan melalui proses peradilan. Proses yang dikehendaki undang-undang
adalah cepat, sederhana, dan biaya ringan, biasanya asas itu masih ditambahkan
bebas, jujur dan tidak memihak serta adil.
19
P.A.F. Lamintang dan Franciscus Theo junior Lamintang.Dasar-Dasar Hukum Indonesia.Jakarta : PT. Sinar Grafika. 2014. hlm 192.
20
28
E. Tinjauan Umum Tindak Pidana Perkosaan
1. Pengertian Tindak Pidana Perkosaan
Perkosaan sendiri menurut Pasal 285 KUHP adalah Barang siapa bersetubuh
dengan seorang wanita diluar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan
dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun21
. Berdasarkan bunyi pasal
diatas, dapat dikemukakan bahwa unsur pokok dari perkosaan adalah adanya
kekerasan atau ancaman kekerasan dalam melakukan persetubuhan dengan
seorang wanita.Wanita adalah korban dari tindak pidanaperkosaan, wanita yang
disetubuhi tersebut juga harus bukan muhrimnya, artinya tidak terikat perkawinan
dengan pelaku perkosaan artinya melakukan kekerasan dan dengan ancaman
memaksa seorang perempuan bersetubuh dengan dia22
.
Menurut Soetandyo Wignjosoebroto dalam Abdul Wahid, perkosaan adalah suatu
usaha melampiaskan nafsu seksual oleh seorang lelaki terhadap seorang
perempuan dengan cara yang menurut moral dan atau hukum yang berlaku
melanggar. Sedangkan menurut PAF Lamintang dan Djisman Samosir, perkosaan
adalah perbuatan seseorang yang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
memaksa seorang wanita untuk melakukan persetubuhan diluar ikatan perkawinan
dengan dirinya. Tindak pidana perkosaan merupakan salah satu kejahatan yang
memiliki, implikasi negatif jangka panjang terhadap para korban (baik dari segi
fisik maupun psikologis). Kerugian juga dialami secara signifikan baik terhadap
korban maupun masyarakat secara keseluruhan, misalnya menurunnya persepsi
wanita terhadap keamanan pribadi di ruang publik dengan demikian, dari sudut
21
Moeljatno.Kitab Undang-undang Hukum Pidana.Jakarta : Bumi Aksara. 2003. hlm 105.
22
29
pandang manapun, kejahatan pemerkosaan tidak bisa dianggap remeh. Oleh
karena itu, negara maupun masyarakat seharusnya memberikan perhatian yang
lebih besar dalam menanggulangi kejahatan itu23.
2. Karakteristik Perkosaan
1) Agresifitas, merupakan sifat yang melekat pada setiap tindak pidana
perkosaan.
2) Motivasi kekerasan lebih menonjol dibandingkan dengan motivasi seksual
semata-mata.
3) Secara psikologis, tindak pidana perkosaan lebih banyak mengandung masalah
kontrol dan kebenciaan dibandingkan dengan hawa nafsu.
4) Tindak pidana perkosaan dapat dibedakan kedalam tiga bentuk, yaitu ; anger
rape, power rape dan sadist rape, dan ini direduksi dari anger and violation,
control anddomination, erotis.
5) Ciri pelaku perkosaan: mispersepsi pelaku atas korban, mengalami
pengalaman buruk, khususnya dalam hubungan personal (cinta), terasing
dalam pergaulan sosial, rendah diri, ada ketidakseimbangan emosional.
6) Korban perkosaan adalah partisipatif. Menurut Meier dan Miethe, 4-19%
(empat sampai sembilan belas persen) tindak pidana perkosaan terjadi karena
kelalaian (partisipasi) korban.
7) Tindak pidana perkosaan secara yuridis sulit dibuktikan24.
23
Abdul Wahid dan Muhammad Irfan.Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual. Bandung : PT Refika Aditama. 2001. hlm 40-44.
24
III. METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Masalah
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan dua macam
pendekatan, yaitu pendekatan yuridis normatif dan pendekatan yuridis empiris.
1. Pendekatan Yuridis Normatif
Pendekatan yuridis normatif yaitu pendekatan dengan cara menelaah
asas-asas hukum, norma-norma, doktrin hukum, dan Kitab Undang-undang Hukum
Pidana (KUHP) Pasal 285 dan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009. Yang
berhubungan dengan masalah yang akan diteliti. Pendekatan tersebut
dimaksud untuk mengumpulkan berbagai macamtoeri-teori dan literatur-
literatur yang erat hubungannya dengan masalah yang akan diteliti.
2. Pendekatan Yuridis Empiris
Pendekatan yuridis empiris yaitu pendekatan penelitian dengan cara meneliti
dan mengumpulkan data primer yang diperoleh secara langsung melalui
31
B. Penentuan Narasumber
Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data primer dalam penelitian ini
adalah wawancaraterhadap para nara sumber/informan.Wawancara ini dipandu
dan disusun secara terbuka.
Adapun narasumber/responden/informan yang diwawancarai adalah:
1. Hakim pada Pengadilan Negeri Kelas I A Tanjungkarang = 1 orang
2. Jaksa pada Kejaksaan Negeri Bandar Lampung = 1 orang
3. Advokat pada Kantor Lambaga Bantuan Hukum = 1 orang
4. Dosen Bagian Hukum Pidana FH Unila = 1 orang
Jumlah = 4orang
C. Sumber dan Jenis Data
Untuk dilakukan penelitian ini diperlukan data-data yang terkait dengan
permasalahan yang diteliti. Pada umumnya penelitian hukum terdapat dua jenis
data, yang pertama disebut data sekunder dan yang kedua disebut data primer.
1. Data primer
penelitian hukum adalah data yang di peroleh terutama dari hasil penelitian
empiris, yaitu penelitian yang dilakukan langsung dilapangan, sedangkan data
sekunder dalam penelitian hukum adalah data yang diperoleh dari hasil
penelaahan kepustakaan atau berbagai literatur atau bahan pustaka yang berkaitan
dengan masalah atau materi penelitian, yang sering disebut bahan hukum. Adapun
sumber data penelitian skripsi ini hanya terkait data kepustakaan saja, sehingga
32
2. Data sekunder
Data yang digunakan dalam menjawab permasalahan pada penelitian ini melalui
studi kepustakaan dengan cara membaca, mengutip, mempelajari dan menelaah
teori-teori hukum pidana, asas-asas hukum pidana, dasar hukum dan
doktrin-doktrin yang terdapat dalam literatur-literatur atau bahan-bahan yang
berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Data sekunder atau data
kepustakaan atau dikenal dengan bahan hukum dalam penelitian hukum seperti
ada kesepakatan yang tidak tertulis dari para ahli peneliti hukum, bahwa bahan
hukum itu berupa berbagai literatur yang dikelompokan ke dalam bahan hukum
primer, bahan hukum sekunder, bahan hukum tersier.Data sekunder terdiri dari 3
(tiga) bahan hukum, yaitu:
1. Bahan Hukum Primer
Data sekunder atau data kepustakaan atau dikenal sebagai bahan hukum, dalam
penelitian hukum ini berupa berbagai literatur yang dikelompokan dalam bahan
hukum primer terdiri atas peraturan perundang-undangan, yurisprudensi, atau
keputusan pengadilandan traktat, antara lain terkait dengan peraturan perundang-
undangan, yaitu:
a. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Bab XIV Pasal 285 tentang
Kejahatan Terhadap Kesusilaan.
b. Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Bab I Pasal 1 butir 8
tentang Ketentuan Umum.
c. Undang-Undang Nomor5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung.
d. Undang-Undang Republik IndonesiaNomor48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
33
e. Peraturan Presiden Republik Indonesia Perpres Nomor 5 Tahun 2013 tentang
Hak Keuangan dan Fasilitas Hakim Ad Hoc.
2. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder yaitu bahan hukum yang dapat memberikan penjelasaan
terhadap bahan hukum primer yang berupa literatur-literatur hukum maupun
literatur lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini.
3. Bahan Hukum Tersier
Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk dan
penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, antara lain
kamus hukum, Kamus Besar Bahasa Indonesia, petikan berita dari majalah dan
surat kabar/media cetak serta pendapat-pendapat para sarjana. Buku-buku teks
literatur hukum, karyailmiah/jurnalilmiah, bahan-bahan hasil pencarian di internet
yang berkaitan dengan masalah yang ingin diteliti.
D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data
1. Prosedur Pengumpulan data
Untuk melengkapi data guna pengujian hasil peneletian ini digunakan prosedur
pengumpulan data yang terdiri dari data sekunder, yaitu pengumpulan data
sekunder dilakukan dengan cara mengadakan studi kepustakaan library research.
Studi kepustakaan dimaksudkan untuk memperoleh arah pemikikiran dan tujuan
penelitian yang dilakukan dengan cara membaca, mengutip, dan menelaah
literatur-literatur yang menunjang, serta bahan-bahan ilmiah lainya yang
34
2. Prosedur Pengolahan Data
Setelah data terkumpul dilakukan kegiatan merapihkan dan menganalisis data.
Kegiatan ini meliputi seleksi data dengan cara memeriksa data yang diperoleh
melalui kelengkapannya dan pengelompokan data secara sistematis. Kegiatan
pengolahan data dilakukan sebagai berikut:
a. Editing data, yaitu meneliti data yang keliru, menambah dah melengkapi data
yang kurang lengkap.
b. Klasifikasi data, yaitu pengelompokan data menurut bahas yang ditentukan.
c. Sistematisasi data, yaitu penempatan data pada tiap pokok bahasan secara
sistematis hingga memudahkan interprestasi data.
E. Analisis Data
Kegunaan analisis data adalah usaha untuk menemukan jawaban atas pertanyaan
permasalahan serta hal-hal yang dihasilkan data yang diperoleh melalui kegiatan
penelitian dianalisis secara kuantitatif kemudian disajikan secara deskriktif, yaitu
dengan menguraikan, menjelaskan dan menggambarkan sesuai dengan
permasalahan yang erat kaitannya dengan penelitian ini. Sehingga dari
permasalahan yang ada disusun dalam bentuk kalimat ilmiah secara sistematis
berupa jawaban permasalahan dari hasil penelitian yang dirumuskan dari hal-hal
56
V. PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai proses penegakan hukum
pidana putusan bebas tindak pidanapemerkosaansebagaiamana putusan
Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor: 1240/Pid.B/2013/PN.TK, maka dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Hakim dalam menjatuhkan putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana
pemerkosaan karena berdasarkan pertimbangan hakim unsur memaksa tidak
terpenuhi secara sah menurut hukum, menimbang hakim dalam persidangan
tersebut mempunyai pendapat tersendiri dan mengenyampingkan semua
pendapat penuntut umum dalam nota tuntutannya dan pendapat terdakwa
melalui penasehat hukum dalam nota pembelaannya, putusan bebas terhadap
pelaku tindak pidana pemerkosaan ini dijatuhkan hukuman penjara agar
menciptakan rasa keadilan terhadap korbannya dan akan menimbulkan efek
jerah terhadap pelaku yang melakukan tindak pidana pemerkosaan yang
banyak meresahkan masyarakat.
2. Putusan bebas terhadap pelaku tindak pidana pemerkosaan sudah memenuhi
rasa keadilan dapat disimpulkan dari hasil wawancara penulis terhadap
responden keadilan bersifat relatif tergantung dari sudut pandang pihak yang
57
seharusnya dijatuhi pidana penjara dari sisi kepastian hukum tidak akan
menimbulkan efek jera terhadap terdakwa, dan keadilan bagi korban dapat
menimbulkan trauma dan merusak masa depannya.
B. Saran
1. Hakim dalam menjatuhkan putusan bebas seharusnya hakim jangan melihat
dari segi kepastian hukumnya saja seperti halnya tugas hakim adalah
menyelesaikan suatu perkara yang diajukan kepadanya dan fungsi hakim dari
kewenangan mengadili dapat diartikan menegakkan hukum, memberikan
keadilan dan memberikan perlindungan terhadap masyarakat.
2. Hakim dalam menjatuhkan putusannya janganlah hanya mempertimbangkan
unsur kepastian hukumnya saja dalam putusan perkara yang dihadapinya
tersebut melainkan juga harus pula mempertimbangkankadilan dan
kemanfaatan hukumnya, serta harus melihat unsur-unsur lainnya seperti
halnya unsur filosofis, maupun sosiologisnya sehingga dapat terpenuhi dan
DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Ali, Achmad. Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan
(Judicialprudence) termasuk interpretasi undang-undang (legisprudence). Jakarta. Kencana Prenada Media Group. 2009.
Dewantara, Nanada Aung. Masalah Kebebasan Hakim Dalam Menangani Suatu Masalah Perkara Pidana. Jakarta. Askara Persada Indonesia. 1987.
Harahap, M. Yahya. Pembahasan Pemersalahan dan Penerapan KUHAP. Jakarta. Pustaka Kartini. 1985.
Hartanti, Evi. Tindak Pidana Korupsi. Jakarta. PT. Sinar Grafika. 2012.
Irianto, Sulistyowati dan Lidwina Inge Nurcahyo.Permpuan di Persidangan Pemantauan Peradilan Berperspektif Perempuan.Jakarta. Yayasan Obor Indonesia. 2006.
Lamintang, P.A.F. dan Theo Lamintang.Delik-delik Khusus: Kejahatan Melanggar Norma Kesusilaandan Norma Kepatutan. Jakarta. PT. Sinar Grafika. 2009.
---.Hukum Panitensier Indonesia. Jakarta. PT. Sinar Grafika. 2010.
---.Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia Cetakan Keempat.Bandung. PT. Citra Aditya Bhakti. 2011
---.Dasar-dasar Hukum Pidana di Indonesia Cetakan Pertama.Jakarta. PT. SinarGrafika. 2014.
Mulyadi, Lilik. Kompilasi Hukum Pidana Dalam Perspektif Teoritis dan Praktik Peradilan. Bandung. Mandar Maju. 2010.
Marpaung, Leden. Asas Teori Praktik Hukum Pidana. Jakarta. PT. Sinar Grafika. 2005.
M. Wantu, Fence. Kepastian Hukum Keadilan dan Kemanfaatan (Implementasi dalam Proses Peradilan Perdata).Yogyakarta. Pustaka Pelajar. 2011.
59
Rifai, Ahmad. Penemuan Hukum oleh Hakim dalam Perspektif Hukum Progresif. Jakarta. PT. Sinar Grafika. 2011.
Sasangka, Hari. dan Lily Rosita. Hukum Pembuktian dalam Perkara Pidana. Bandung. Mandar Maju. 2003.
Santoso, Topo dan Eva Achjani Zulfa.Kriminologi. Jakarta. PT. Rajagrafindo Persada. 2011.
Soekanto, Soerjono. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta. UI-Press. 1986.
Usfa, A.Fuad dan Tongat.Pengantar Hukum Pidana. Jakarta. UMM Press. 2002.
Waluyo, Bambang. Pidana dan Pemidanaan. Jakarta. PT. Sinar Grafika. 2008.
Wahid, Abdul dan Muhammad Irfan.Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual. Bandung. PT. Refika Aditima. 2001.
Witanto, Darmoko Yuti dan Arya Putra Negara Kutawaringin.Diskresi Hakim Sebuah Instrumen Menegakkan Keadilan Substantif dalam Perkara-perkara Pidana.Bandung. Alfabeta. 2013.
Peraturan Perundang-Undangan :
1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, 2003, Penerbit Raja Grafindo Persada.
2. Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, 2003, Penerbit Raja Grafindo
Persada.
3. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009. tentang Kekuasaan Kehakiman
4. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004. tentang Mahkamah Agung.
5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2013.tentang Hak
Keuangan dan Fasilitas Hakim Ad Hoc.
Internet :
1. Rifqi Anugrah, Tahap dalam proses peradilan
pidana.
https://karyamusisiamatiran.blogspot.com/2013/10/tahap-dalam-proses-peradilan-pidana.html?m=1 diakses pada tanggal 3 maret 2015, pada pukul 11.03 Wib.
2. Slideshare,PutusanHakimatauKetetapanHakim,
http://www.slideshare.net/ntii_meiian/putusan-hakim-atau-ketetapan-hakim
60
https://apbisma.blogspot.com/2013/11/teori-pemidanaan.html?m=1 diakses
pada tanggal 29 Januari 2015, pada pukul 15.30 Wib.
4. Wordpress. https://yunindyarahendini.wordpress.com/2014/10/27/3 diakses pada tanggal 29 Januari 2015, pada pukul 15.30 Wib.
5. Yahoo,TinjauanYuridis.
https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110514192559AA6NiRj