• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Hubungan Pola Komunikasi Organisasi dengan Lingkungan Kerja Produktif PT Setiawan Sedjati

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Hubungan Pola Komunikasi Organisasi dengan Lingkungan Kerja Produktif PT Setiawan Sedjati"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

DENGAN LINGKUNGAN KERJA PRODUKTIF

PT SETIAWAN SEDJATI

Oleh:

BENNY SYAWALI

H24077010

PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

DENGAN LINGKUNGAN KERJA PRODUKTIF

PT SETIAWAN SEDJATI

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA EKONOMI

pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Oleh

BENNY SYAWALI

H24077010

PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(3)

Lingkungan Kerja Produktif PT Setiawan Sedjati

Nama : Benny Syawali

NIM : H24077010

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Erlin Trisyulianti, S.TP, M.Si. NIP. 19730712 199702 2 001

Mengetahui: Ketua Departemen

Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc. NIP. 19610123 198601 1 002

(4)

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2013

Analisis Hubungan Pola Komunikasi Organisasi dengan Lingkungan Kerja Produktif PT Setiawan Sedjati

Oleh: Benny Syawali

Pembimbing:

Erlin Trisyulianti, S.TP, M.Si.

Hubungan komunikasi dalam lingkungan kerja atau perusahaan, konflik antar individu akan sering terjadi. Konflik yang sering terjadi biasanya adalah karena masalah komunikasi yang kurang baik dan akan mengakibatkan timbulnya lingkungan kerja yang kurang produktif. Untuk menimalisir konflik yang terjadi dapat diwujudkan melalui penerapan pola komunikasi organisasi dalam menciptakan lingkungan kerja produktif.

Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi karyawan tentang pola komunikasi organisasi pada PT Setiawan Sedjati, mengetahui persepsi karyawan tentang lingkungan kerja produktif pada PT Setiawan Sedjati dan menganalisis hubungan pola komunikasi organisasi dengan lingkungan kerja produktif pada PT Setiawan Sedjati.

Penelitian ini dilakukan di kantor PT Setiawan Sedjati yang berada di Jalan MT Haryono Kavling 10 Pancoran Jakarta-Selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2013.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dan kuesioner. Data sekunder diperoleh dari studi literatur, data perusahaan, penelusuran pustaka dan publikasi internet. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik Probability Sampling jenis Proportionate Stratified Random Sampling. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif untuk data kualitatif, sedangkan data kuantitatif menggunakan teknik analisis Rank Spearman dengan menggunakan bantuan SPSS 17.0 for Windows.

(5)

mengindikasikan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara Horizontal Communication, Diagonal Communication, Downward Communication dan Upward Communication dengan lingkungan kerja produktif. Sedangkan untuk pola komunikasi organisasi yang memiliki hubungan yang positif, agak lemah dan nyata dengan lingkungan kerja produktif yaitu komunikasi informal berupa selentingan atau desas-desus.

(6)

dengan Lingkungan Kerja Produktif PT Setiawan Sedjati. Dibawah bimbingan Erlin Trisyulianti.

Hubungan komunikasi dalam lingkungan kerja atau perusahaan, konflik antar individu akan sering terjadi. Konflik yang sering terjadi biasanya adalah karena masalah komunikasi yang kurang baik dan akan mengakibatkan timbulnya lingkungan kerja yang

kurang produktif. Oleh karena itu perlu adanya pola komunikasi yang efektif. PT Setiawan Sedjati merupakan perusahaan distributor mesin foto copy digital yang ada

di Indonesia. Lingkungan kerja yang terjadi pada PT Setiawan Sedjati sering sekali adanya konflik baik antar karyawan maupun pimpinan, yang mengakibatkan timbulnya ketidakharmonisan dalam lingkungan kerja, dan akan berdampak kepada kegiatan operasional perusahaan pada PT Setiawan Sedjati. Untuk menimalisir konflik yang terjadi dapat diwujudkan melalui penerapan pola komunikasi organisasi dalam menciptakan lingkungan kerja produktif. Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi karyawan tentang pola komunikasi organisasi pada PT Setiawan Sedjati, mengetahui persepsi karyawan tentang lingkungan kerja produktif pada PT Setiawan Sedjati dan menganalisis hubungan pola komunikasi organisasi dengan lingkungan kerja produktif pada PT Setiawan Sedjati. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer

dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dan kuesioner. Data sekunder diperoleh dari studi literatur, data perusahaan, penelusuran pustaka dan

(7)

Relationships with Productive Work Environment PT Setiawan Sedjati. Under the guidance of Erlin Trisyulianti.

(8)
(9)

Segala puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena atas rahmat dan karuniaNya akhirnya dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Analisis

Hubungan Pola Komunikasi dengan Lingkungan Kerja Produktif (Studi Kasus: PT Setiawan Sedjati) yang merupakan syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen, Departemen Manajemen Institut Pertanian Bogor dengan baik dan lancar.

Pada kesempatan ini, diucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya kepada: 1. Ibu Erlin Trisyulianti, STP, M.Si selaku pembimbing skripsi yang telah membimbing

memberikan saran-saran, perbaikan, dukungan moral, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

2. Ibu Dra. Hj. Siti Rahmawati M.Pd selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan, saran demi perbaikan skripsi ini.

3. Bapak Prof. Dr. Ir. WH Limbong MS selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan saran demi perbaikan skripsi ini.

4. Ayahanda Nurdin Syamsudin, ibunda Tuty Rustiaty, serta Bapak Edi Karim dan Ibu Komala dan keluarga besar, atas doa, kasih sayang, perhatian, semangat, dan dukungannya.

5. Siti Zulaeha dan Jihan Alicia Makaila Niza istri dan putrikuyang telah memberikan semangat, do’a, kasih sayang, perhatian dan dukungannya.

6. Bapak Roza Indra, Bapak Ishak Gunawan, seluruh karyawan di PT Setiawan Sedjati yang telah banyak memberikan bantuan dan saran atas terselesaikannya skripsi ini. 7. Seluruh Staf Kependidikan Alih Jenis Manajemen Departemen Manajemenn yang

telah membantu dalam memberikan informasi, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

Saya menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki kekurangan, oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Bogor, September 2013

(10)

vi

Halaman

DAFTAR ISI... ... vi

DAFTAR TABEL ... ...viii

DAFTAR GAMBAR ... ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 2

1.3. Tujuan Penelitian ... 3

1.4. Manfaat Penelitian ... 3

1.5. Ruang Lingkup Penelitian ... 3

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Komunikasi ... 5

2.1.1 Fungsi-fungsi Komunikasi ... 6

2.1.2 Peran Komunikasi ... 6

2.1.3 Proses Komunikasi ... 7

2.1.4 Prinsip-prinsip Komunikasi ... 9

2.2. Pola Komunikasi ... 10

2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komunikasi ... 17

2.4. Hambatan Komunikasi ... 18

2.5. Upaya Mengatasi Hambatan Komunikasi ... 20

2.6. Lingkungan Kerja Produktif ... 20

2.7. Penelitian Terdahulu ... 23

III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Penelitian ... 26

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 28

3.3. Jenis dan Sumber Data ... 28

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 30

3.5. Menetukan Populasi dan Sampel ... 33

3.6. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 35

3.6.1 Analisis Deskriptif ... 35

3.6.2 Analasis Rank Spearman ... 36

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Perusahaan ... 39

4.1.1 Sejarah Perkembangan PT Setiawan Sedjati ... 39

4.1.2 Visi dan Misi PT Setiawan Sedjati ... 40

4.1.3 Struktur Organisasi ... 40

4.2. Karakteristik Responden ... 41

4.3. Persepsi Karyawan PT Setiawan Sedjati tentang Pola Komunikasi Organisasi ... 45

(11)

vii

4.3.3 Persepsi Karyawan terhadap Pola Komunikasi Diagonal ... 49

4.3.4 Persepsi Karyawan terhadap Pola Komunikasi Horizontal ... 51

4.3.5 Persepsi Karyawan terhadap Pola Komunikasi Informal ... 53

4.4. Analisis Persepsi Karyawan tentang Lingkungan Kerja Produktif .... 55

4.5. Analisis Hubungan Pola Komunikasi Organisasi dengan Lingkungan Kerja Produktif ... 56

4.6. Implikasi Manajerial ... 60

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 62

Saran ... 62

DAFTAR PUSTAKA ... 64

(12)

viii

No. Halaman

1. Nilai skor rataan ... 29

2. Tingkat reliabilitas metode Alpha Cronbach’s ... 32

3. Proportionate Stratified Random Sampling Karyawan PT Setiawan Sedjati ... 33

4. Pola komunikasi organisasi downward communication menurut persepsi responden ... 46

5. Pola komunikasi organisasi upward communication menurut persepsi karyawan ... 48

6. Pola komunikasi organisasi diagonal menurut persepsi karyawan ... 49

7. Pola komunikasi organisasi horizontal menurut persepsi karyawan ... 51

8. Pola komunikasi organisasi informal menurut persepsi karyawan ... 53

9. Lingkungan kerja produktif menurut persepsi karyawan ... 56

10. Hubungan pola komunikasi organisasi formal dengan lingkungan kerja produktif ... 57

(13)

ix

No. Halaman

1. Proses komunikasi ... 7

2. Pola komunikasi dari atas ke bawah ... 12

3. Pola komunikasi dai bawah ke atas ... 14

4. Pola komunikasi horizontal... 15

5. Pola komunikasi diagonal ... 16

6 Kerangka pemikiran penelitian ... 26

7. Karakteristik jenis kelamin ... 42

8. Karakteristik unit kerja ... 42

9. Karakteristik posisi ... 43

10. Karakteristik tingkat pendidikan ... 44

11. Karakteristik usia ... 44

(14)

x

No. Halaman

1. Kuesioner penelitian ... 67 2. Hasil uji validitas pernyataan kuesioner dengan bantuan Software

Microsoft Excel 2007 ... 71 3. Uji reliabilitas pernyataan kuesioner dengan bantuan Software

SPSS 15.0 for windows ... 72 4. Nilai uji korelasi Rank Spearman dengan bantuan software SPSS 15.0

(15)

1.1. Latar Belakang

Didalam hubungan komunikasi di suatu lingkungan kerja atau perusahaan, konflik antar individu akan sering terjadi. Konflik yang sering terjadi biasanya adalah karena masalah komunikasi yang kurang baik sehingga cara mengatasi konflik dalam perusahaan harus benar-benar dipahami manajemen inti dari perusahaan, untuk meminimalisir dampak yang timbul.

Permasalahan atau konflik yang terjadi antara karyawan atau karyawan dengan atasan banyak disebabkan karena masalah komunikasi. Hal ini harus di antisipasi dengan baik dengan sistem yang terstruktur. Dikhawatirkan adanya bias komunikasi antara atasan dan bawahan, dimungkinkan akan terjadi aksi yang tidak diinginkan, misalnya mogok kerja, bahkan demonstrasi. Untuk mensiasati masalah ini bisa dilakukan dengan berbagai cara diantaranya: 1.Membentuk suatu sistem informasi yang terstruktur, agar tidak terjadi

kesalahan dalam komunikasi. Misalnya, dengan membuat papan pengumungan atau pengumuman melalui loudspeaker.

2.Membuat komunikasi dua arah antara atasan dan bawahan menjadi lancar dan harmonis, misalnya dengan membuat rapat rutin, karena dengan komunikasi yang dua arah dan intens akan mengurangi masalah di lapangan.

3.Memberikan pelatihan dalam hal komunikasi kepada atasan dan karyawan, pelatihan akan memberikan pengetahuan dan ilmu baru bagi setiap individu dalam organisasi dan meminimalkan masalah dalam hal komunikasi.

(16)

timbul, kerena dengan suasana yang harmonis dan akrab maka masalah akan sulit untuk muncul.

PT Setiawan Sedjati merupakan salah satu distributor mesin penggandaan yang ada di Indonesia. Pada PT Setiawan Sedjati terjadi konflik baik antar karyawan maupun pimpinan, yang mengakibatkan timbulnya ketidakharmonisan dalam lingkungan kerja, dan akan berdampak kepada kegiatan operasional perusahaan pada PT Setiawan Sedjati. Konflik yang terjadi disebabkan komunikasi yang kurang baik. Oleh karena itu, diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui hubungan pola komunikasi organisasi dengan lingkungan kerja produktif. Dari penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja karyawan yang akan meningkatkan kinerja perusahaan secara keseluruhan.

1.2. Rumusan Masalah

Permasalahan yang terjadi antara karyawan atau karyawan dengan atasan terjadi karena adanya masalah komunikasi yang harus di antisipasi dengan baik. Karena jika masalah komunikasi antara atasan dan bawahan terjadi, dimungkinkan akan terjadi aksi yang tidak diinginkan, misalnya mogok kerja, bahkan demonstrasi.

(17)

Berdasarkan uraian tersebut, maka permasalahan yang dirumuskan adalah:

1. Bagaimana pola komunikasi organisasi pada PT Setiawan Sedjati ? 2. Bagaimana lingkungan kerja produktif pada PT Setiawan Sedjati? 3. Bagaimana hubungan antara pola komunikasi organisasi dengan lingkungan kerja produktif di PT Setiawan Sedjati?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang dikemukakan diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menganalisis persepsi karyawan mengenai pola komunikasi organisasi pada PT Setiawan Sedjati.

2. Menganalisis persepsi karyawan mengenai lingkungan kerja produktif pada PT Setiawan Sedjati.

3.Menganalisis hubungan pola komunikasi organisasi dengan lingkungan kerja yang produktif PT Setiawan Sedjati.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada Perusahaan sebagai bahan pertimbangan serta memberikan informasi tambahan bagi PT Setiawan Sedjati dalam menciptakan lingkungan kerja produktif melalui pola komunikasi organisasi dan dapat menambah pengetahuan, serta dapat menjadi bahan referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya mengenai pola komunikasi dalam menciptakan lingkungan kerja yang produktif.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

(18)
(19)

2.1. Pengertian Komunikasi

Komunikasi merupakan salah satu elemen manajemen yang penting dalam

suatu organisasi, karena komunikasi menyebarkan fungsi manajemen, yaitu merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan dan mengendalikan.

Istilah komunikasi diambil dari bahasa latin communis, yang berarti umum (common). Berdasarkan asal kata tersebut Gibson et al (1997)

mendefinisikan komunikasi sebagai pengiriman (transmisi) pemahaman umum melalui penggunaan isyarat (simbol). Penambahan unsur pengertian/ pemahaman dalam definisi komunikasi dikemukakan oleh Stoner dan Freeman (1994) yang berpendapat bahwa komunikasi merupakan proses dimana seorang individu berusaha untuk memperoleh pengertian yang sama melalui pengiriman pesan simbolik.

Komunikasi merupakan hal yang mengikat kesatuan organisasi.

Komunikasi juga membantu anggota-anggota organisasi mencapai tujuan individu dan juga organisasi, merespon dan mengimplementasikan

perubahan organisasi, mengkoordinasikan aktivitas organisasi, dan ikut memainkan peran dalam hampir semua tindakan organisasi yang relevan

(Romli, 2011). Definisi yang dapat mencakup semua aspek komunikasi menurut Zuhdi (2011) adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada

komunikan dengan menggunakan lambang-lambang baik verbal maupun non verbal dengan menggunakan media dan bertujuan melakukan perubahan perilaku.

Pengertian komunikasi juga dipaparkan Wood (2000) dalam Soedarsono (2009) adalah proses yang sistematis dimana individu saling berinteraksi dengan dan melalui simbol-simbol yang membentuk dan menginterpretasikan

(20)

2.1.1 Fungsi-fungsi Komunikasi

Menurut Sanjaja (2007), ada empat fungsi komunikasi dalam organisasi yaitu:

1. Fungsi Informatif

Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi (infomation processing system). Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu.

2. Fungsi Regulatif

Fungsi regulatif ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Dalam organisasi, ada dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif ini. Pertama, atasan atau orang-orang yang berada dalam tataran manajemen yaitu mereka yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan. Kedua, berkaitan dengan pesan atau message. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh dilaksanakan.

3. Fungsi Persuasif

Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempengaruhi bawahannya daripada memberi perintah.

4. Fungsi Integratif

Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik.

2.1.2 Peran Komunikasi

Menurut Mintzberg dalam Stoner (1996) mendefinisikan mengenai peran komunikasi dalam tiga peran manajerial, yaitu:

(21)

2. Dalam peran informal, manajer mencari informasi dari rekan sejawat, karyawan dan kontrak pribadi yang lain mengenai segala sesuatu yang mungkin mempengaruhi pekerjaan dan tanggung jawabnya.

3. Dalam peran pengambilan keputusan, manajer mengimplementasi-kan proyek baru, menangani gangguan dan mengalokasikan sumber daya kepada anggota unit dan departemen.

Berdasarkan peran komunikasi menurut Mitzberg dalam Stoner (1996) dapat disimpulkan bahwa komunikasi memiliki arti penting, terutama dalam peran antar pribadi, informal dan pengambilan keputusan. Dimana, komunikasi digunakan sebagai alat dalam penyampaian maksud dan tujuan yang ingin disampaikan oleh komunikator kepada komunikan. Dengan demikian, komunikasi merupakan suatu hal penting yang dapat digunakan untuk menyampaikan suatu pesan kepada orang lain.

2.1.3 Proses Komunikasi

Proses komunikasi terbagi dua tahap yaitu komunikasi secara primer dan proses komunikasi secara sekunder. Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media. Lambang tersebut berupa bahasa isyarat, gambar, warna dan sebagainya. Lambang yang paling banyak digunakan adalah bahasa proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah menggunakan lambang sebagai media pertama.

Komunikasi tidak berlangsung dengan sendirinya tetapi memiliki proses. Menurut Bovee dan John Thil dalam Purwanto (2003) proses komunikasi terdiri atas enam tahap, seperti terlihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Proses Komunikasi (Purwanto, 2003) SALURAN

MEDIA Tahap 1

Pengirim mempunyai gagasan

Tahap 2 Pengirim mengubah ide

menjadi pesan

Tahap 3 Pengirim mengirim pesan

Tahap 4 Penerima mengirim ide pesan

Tahap 5 Penerima menafsirkan pesan

(22)

Adapun penjelasan proses komunikasi menurut Bovee dan John Thil dalam Purwanto (2003), adalah sebagai berikut:

1. Tahap Pertama: Pengirim Mempunyai Suatu Ide atau Gagasan.

Sebelum proses penyampaian pesan dapat dilakukan, maka pengirim pesan harus menyiapkan ide atau gagasan apa yang ingin disampaikan kepada pihak lain atau audiens. Ide dapat diperoleh dari berbagai sumber yang terbentang luas dihadapan kita. Dunia ini penuh dengan berbagai macam informasi, baik yang dapat dilihat, didengar, dicium maupun diraba.

2. Tahap Kedua: Pengirim Mengubah Ide Menjadi Suatu Pesan.

Dalam suatu proses komunikasi, tidak semua ide dapat diterima atau dimengerti dengan sempurna. Ide yang berbentuk abstrak harus diubah kedalam bentuk pesan.

3. Tahap Ketiga: Pengirim Menyampaikan Pesan.

Setelah mengubah ide-ide ke dalam suatu pesan, tahap berikutnya adalah memindahkan atau menyampaikan pesan melalui berbagai saluran yang ada kepada si penerima pesan. Rantai saluran komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan terkadang relatif pendek, namun ada juga yang cukup panjang. Panjang-pendeknya rantai saluran komunikasi yang digunakan akan berpengaruh terhadap efektivitas penyampaian pesan. 4. Tahap keempat: Penerima Menerima Pesan.

Komunikasi antara seseorang dengan orang lain akan terjadi, bila pengirim mengirimkan suatu pesan dan penerima menerima pesan tersebut. Pesan yang diterima adakalanya sempurna, namun tidak jarang hanya sebagian kecil saja.

5. Tahap kelima: Penerima Menafsirkan Pesan.

Setelah penerima menerima suatu pesan, tahap berikutnya adalah bagaimana ia dapat menafsirkan pesan. Penafsiran suatu pesan secara benar bila penerima pesan memahami pesan sebagaimana yang dimaksud oleh pengirim pesan.

(23)

Ke Pengirim. Umpan balik (feedback) adalah penghubung akhir dalam suatu mata rantai komunikasi. Feedback dapat berfungsi sebagai koreksi bagi pengirim.

Pelaksanaan proses komunikasi tidak selamanya semudah yang diharapkan, dimana terdapat gangguan (noise) dalam proses komunikasi yang akhirnya akan mempengaruhi jalannya proses penyampaian pesan. Gangguan merupakan faktor apapun yang menggangu, membingungkan atau mencampuri informasi. Gangguan dapat timbul dalam saluran komunikasi atau metode pengiriman, seperti udara untuk pembicaraan lisan dan kertas untuk surat. Gangguan dapat terjadi internal seperti ketika penerima tidak memperhatikan, atau eksternal dimana pesan terganggu oleh suara lain dari lingkungan. Gangguan dapat terjadi pada tahap mana pun dari proses komunikasi. Gangguan dapat sangat mengganggu dalam tahap penyandian dan pengertian (Stoner, 1996).

Proses komunikasi dikatakan positif bila pesan diterima oleh penerima atau komunikan, sedangkan proses negatif bila pesan yang disampaikan ditolak oleh komunikan (Robbins, 2003).

2.1.4 Prinsip-prinsip Komunikasi

Menurut Nawangsari (1997) prinsip-prinsip komunikasi adalah sebagai berikut:

1. Prinsip Hilang dalam Perjalanan (Principle of line loss)

Prinsip ini mengatakan bahwa efektifitas suatu komunikasi condong berubah menurut jaraknya. Artinya makin banyak orang campur tangan dan semakin jauh jarak komunikator maka makin besar kemungkinannya bahwa maksud dan pesan komunikan ini diputar balikkan, ditunda atau dihilangkan.

2. Prinsip Himbauan Emosional (Principle of emotional appeal)

Himbauan emosi lebih cepat dikomunikan daripada himbauan pada akal pikiran. Maksudnya gagasan atau ide akan lebih cepat didengar dan dimengerti kalau dihubungkan dengan kepentingan komunikan.

3. Prinsip Aplikasi (Principle of application)

(24)

dengan situasinya, sebagaimana juga usaha untuk menguasai keadaan karena itulah manusia berkomunikasi.

2.2. Pola Komunikasi

Meskipun semua organisasi harus melakukan komunikasi dengan berbagai pihak dalam mencapai tujuannya, namun perlu diketahui bahwa pendekatan yang dipakai antara satu organisasi dengan organisasi yang lain dapat bervariasi atau berbeda-beda. Bagi perusahaan yang berskala kecil yang hanya memiliki beberapa karyawan, maka penyampaian informasi dapat dilakukan secara langsung kepada para karyawannya tersebut. Namun, lain halnya dengan perusahaan besar yang memiliki ratusan bahkan ribuan karyawan, maka penyampaian informasi kepada mereka merupakan suatu pekerjaan yang cukup rumit (Purwanto, 2003)

Menurut Stoner (1996), pola komunikasi terbagi atas tiga yaitu komunikasi vertikal, komunikasi lateral dan komunikasi informal. Komunikasi vertikal adalah komunikasi dari atas ke bawah dan komunikasi dari bawah ke atas dalam rantai komando organisasi. Maksud utama komunikasi dari atas ke bawah adalah untuk memberitahukan, mengarahkan, memerintah dan menilai bawahan serta untuk memberi anggota organisasi informasi mengenai tujuan dan kebijakan organisasi. Sedangkan, fungsi utama komunikasi dari bawah ke atas adalah untuk memberikan informasi kepada tingkat-tingkat yang lebih tinggi mengenai apa yang terjadi pada tingkat yang lebih rendah. Jenis komunikasi ini meliputi laporan kemajuan, saran, penjelasan, permohonan bantuan atau keputusan.

(25)

Secara umum pola komunikasi dapat dikelompokkan menjadi dua saluran menurut Purwanto (2003), antara lain: (1) saluran komunikasi formal dan (2) saluran komunikasi informal.

1. Saluran Komunikasi Formal

Struktur organisasi garis, fungsional, maupun matriks, akan terlihat berbagai macam posisi atau kedudukan masing-masing sesuai dengan batas tanggung jawab dan wewenangnya. Dalam kaitannya proses penyampaian informasi dari pimpinan kepada bawahan ataupun dari manajer ke karyawan, maka pola transformasi informasinya dapat berbentuk komunikasi dari atas ke bawah, komunikasi dari bawah ke atas, komunikasi horizontal dan komunikasi diagonal. Menurut Montana dan Greene dalam Purwanto (2003), ada beberapa keterbatasan komunikasi formal diantaranya:

a. Komunikasi dari Atas ke Bawah (Downward Communications)

Secara sederhana, transformasi informasi dari pimpinan dalam semua level ke bawahan merupakan komunikasi dari atas ke bawah (top-down atau downward communications). Aliran komunikasi dari atasan ke bawahan tersebut, umumnya terkait dengan tanggung jawab dan kewenangannya dalam suatu organisasi. Seorang manajer yang menggunakan jalur komunikasi dari atas ke bawah memiliki tujuan untuk mengarahkan, mengkoordinasikan, memotivasi, memimpin dan mengendalikan berbagai kegiatan yang ada di level bawah (Purwanto, 2003).

Berdasarkan Gambar 2, komunikasi dari atas ke bawah tersebut dapat berbentuk lisan maupun tulisan. Komunikasi secara lisan dapat berupa percakapan biasa, wawancara formal antara supervisor dengan karyawan, atau dapat juga dalam bentuk pertemuan kelompok. Disamping itu, komunikasi dari atas ke bawah dapat berbentuk tulisan, seperti memo, manual pelatihan, kotak informasi, surat kabar, majalah, papan pengumuman, buku petunjuk karyawan, maupun bulletin.

Menurut Katz dan Kahn dalam Purwanto (2003), komunikasi dari atas kebawah mempunyai lima tujuan pokok, yaitu:

1)Memberikan pengarahan atau intruksi kerja tertentu.

(26)

5)Menyajikan informasi mengenai aspek ideologi dalam membantu organisasi menanamkan pengertian tentang tujuan yang ingin dicapai.

Gambar 2. Pola Komunikasi dari atas ke bawah (Purwanto, 2003)

Menurut Dennis dalam Mulyana (2000), komunikasi ke bawah ialah diprakarsai oleh manajemen organisasi tingkat atas dan kemudian ke bawah

melewati ”rantai perintah”. Ada beberapa saluran komunikasi ke bawah, yaitu:

1)Memo interorganisasi 2)Rapat

3)Tatap muka dengan bawahan 4)Faks

5)Surat eletronik

Adapun Dahle dalam Mulyana (2000) mengemukakan bahwa urutan saluran menurut tingkat keefektifannya yaitu:

1)Kombinasi lisan dan tulisan 2)Lisan

3)Tulisan

4)Papan pengumuman 5)Selentingan

Dengan kata lain, untuk menyampaikan informasi kepada para pegawai dengan tepat, kombinasi saluran tulisan dan lisan memberi hasil terbaik. Mengirimkan pesan yang sama melalui lebih dari satu saluran terasa berlebihan. Hal ini dapat membantu, tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga dalam memastikan bahwa pesan tersebut akan diingat (Mulyana, 2000).

Manajer Umum

Manajer Pemasaran

Manajer Produksi

Bagian Penjualan

Bagian Promosi

Bagian Pabrik

Bagian Penelitian

(27)

b. Komunikasi dari Bawah ke Atas (Upward Communications)

Struktur organisasi, komunikasi dari bawah ke atas (bottom- up atau upward communications) berarti alur informasi berasal dari bawahan menuju ke atasan. Informasi mula-mula berasal dari para karyawan selanjutnya disampaikan ke bagian pabrik, ke manajer produksi dan akhirnya ke manajer umum. Untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam suatu organisasi dan mengambil keputusan secara tepat. Partisipasi bawahan dalam proses pengambilan keputusan akan sangat membantu dalam pencapaian tujuan organisasi. Untuk mencapai keberhasilan komunikasi dari bawah ke atas, para manajer harus benar-benar memiliki rasa percaya kepada bawahannya. Jika tidak, informasi sebagus apa pun dari bawahan tidak akan bermanfaat baginya. Berikut ini adalah sebuah bagan organisasi yang menggambarkan alur komunikasi dari bawah ke atas. Komunikasi dari bawah ke atas dapat dilihat pada Gambar 3 (Purwanto, 2003).

Komunikasi ke atas adalah proses penyampaian gagasan, perasaan dan pandangan pegawai tingkat bawah kepada atasannya dalam organisasi. Dalam komunikasi ke atas, ada empat fungsi penting (Scholz dalam Mulyana, 2000), yaitu:

a)Melengkapi manajemen dengan informasi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan.

b)Membantu mengurangi tekanan dan frustasi pegawai akibat suasana kerja. c)Meningkatkan kesadaran partisipasi pegawai dalam perusahaan.

d)Sebagai bonus, komunikasi ke atas menyarankan penggunaan komunikasi ke bawah yang lebih memuaskan pada masa depan

Walaupun jelas penting, komunikasi ke atas tidak selalu dianjurkan oleh manajemen. Mungkin salah satu alasannya adalah karena suara yang didengar atasan dari bawahannya tidak selalu menyenangkan atau menyanjung atasan. Menurut Mulyana (2000), faktor-faktor penting dalam perusahaan, antara lain:

(28)

2)Inisiatif dari pihak pegawai tampaknya salah satu cara terbaik untuk membuka pintu komunikasi dalam organisasi.

3)Memberikan informasi pribadi/meminta nasihat.

Menurut Gemmil dalam Mulyana (2000), ada tiga hambatan psikologis utama yang mempengaruhi komunikasi ke atas:

1)Jika bawahan percaya bahwa penyingkapan perasaan, opini, atau kesukaran akan mengakibatkan atasan menutup atau menghindarkan pencapaian tujuan pribadinya, bawahan akan menyembunyikan atau membelokannya.

2)Semakin sering atasan memberi ganjaran atas pengungkapan perasaan, opini dan kesulitan oleh bawahan, semakin besar keinginan bawahan mengungkapkannya.

3)Semakin sering atasan mau mengungkapkan perasaan, opini dan kesukaran kepada bawahannya dan atasannya, semakin besar pula kemungkinan keterbukaan dari pihak bawahan.

Selain itu, Gordon dan Infante dalam Mulyana (2000), mengemukakan bahwa pegawai sangat menghargai kebebasan mengemukakan pendapatnya kepada atasan.

Gambar 3. Pola Komunikasi dari bawah ke atas (Purwanto, 2003) c. Komunikasi Horizontal (Sideways Communications)

Komunikasi horizontal adalah komunikasi yang terjadi antara bagian-bagian yang memiliki posisi sejajar/sederajat dalam suatu organisasi. Tujuan komunikasi horizontal antara lain untuk melakukan persuasif, mempengaruhi dan memberikan informasi kepada bagian atau departemen yang memiliki kedudukan sejajar. Komunikasi horizontal bersifat

Manajer Umum

Manajer Pemasaran

Manajer Produksi

Bagian Penjualan

Bagian Promosi

Bagian Pabrik

Bagian Penelitian

(29)

koordinatif diantara mereka yang memiliki posisi sederajat, baik di dalam satu departemen maupun di antara beberapa departemen. Komunikasi horizontal dapat dilihat pada Gambar 4 (Purwanto, 2003).

Komunikasi horizontal yang efektif dalam organisasi yaitu pertukaran diantara perwakilan dan personil pada tingkat yang sama dalam diagram organisasi (Mulyana, 2000). Komunikasi horizontal dalam organisasi sering tidak sehat karena loyalitas karyawan kepada departemen tertentu.

Menurut Goldhaber dalam Mulyana (2000), meringkas literatur mengenai komunikasi horizontal dalam suatu organisasi:

a) Koordinasi tugas b)Penyelesaian masalah c) Berbagi informasi d)Penyelesaian konflik

Gambar 4. Pola Komunikasi Horizontal (Purwanto, 2003) d. Komunikasi Diagonal

Bentuk komunikasi yang satu ini memang agak lain dari beberapa bentuk komunikasi sebelumnya. Komunikasi diagonal melibatkan komunikasi antara dua tingkat (level) organisasi yang berbeda. Contohnya adalah komunikasi formal antara manajer pemasaran dengan bagian promosi, antara manajer produksi dengan bagian akuntansi dan seterusnya. Komunikasi diagonal dapat dilihat pada Gambar 5 (Purwanto, 2003).

Bentuk komunikasi diagonal memiliki beberapa keuntungan, diantaranya adalah:

1) Penyebaran informasi bisa menjadi lebih cepat ketimbang bentuk komunikasi tradisional.

Manajer Umum

Karyawan

Bagian Penelitian Bagian

Penjualan

Bagian Promosi

Bagian Pabrik

Manajer Pemasaran Manajer

(30)

2) Memungkinkan individu dari berbagai bagian atau departemen ikut membantu menyelesaikan masalah dalam organisasi.

Disamping memiliki kebaikan atau keuntungan, komunikasi diagonal ini juga memiliki kelemahan. Salah satu kelemahan

komunikasi diagonal adalah bahwa komunikasi diagonal dapat mengganggu jalur komunikasi yang rutin dan telah berjalan normal. Di samping itu, komunikasi diagonal dalam suatu organisasi besar sulit untuk dikendalikan secara efektif.

Gambar 5. Pola Komunikasi Diagonal (Purwanto, 2003) 2. Saluran Komunikasi Informal

Bagan organisasi formal akan dapat menggambarkan bagaimana informasi yang ada ditransformasikan dari satu bagian ke bagian yang lainnya sesuai dengan jalur hierarki yang ada. Namun dalam praktik, nampaknya garis-garis dan kotak-kotak yang tergambar dalam struktur organisasi tidak mampu mencegah orang-orang dalam suatu organisasi untuk saling bertukar informasi antara yang satu dengan yang lainnya.

Jaringan komunikasi informal, orang-orang yang ada dalam suatu organisasi tanpa memperdulikan jenjang hierarki, pangkat dan kedudukan atau jabatan, dapat berkomunikasi secara luas. Meskipun hal-hal yang diperbincangkan bersifat umum, kadangkala mereka juga bicara hal-hal yang berkaitan dengan situasi kerja dalam organisasinya (Purwanto, 2003).

Saluran informasi informal dalam organisasi sering disebut desas-desus atau rumor dan selentingan atau grapevine. Desas-desus mengurangi ketegangan emosional dan biasanya timbul di lingkungan yang ambigu (Mulyana, 2000). Ada beberapa faktor dalam komunikasi informal, yaitu:

Manajer Umum

Karyawan

Bagian Penelitian Bagian

Penjualan

Bagian Promosi

Bagian Pabrik

Manajer Pemasaran Manajer

(31)

a. Desas-desus

Desas-desus merupakan sebuah fungsi ambiguitas situasi yang diperkuat oleh pentingnya sebuah isu. Penyebaran desas-desus diperlambat oleh kesadaran kritis seseorang bahwa desas-desus tampaknya tidak sah.

b. Selentingan

Selentingan merupakan suatu penyebaran isu melalui metode berkomunikasi tercepat dalam suatu organisasi.

Menurut Mintzberg dalam Tambunan (2005), pola komunikasi diartikan sebagai struktur organisasi, dimana struktur organisasi dibagi menjadi dua, yaitu (1) struktur organisasi formal dan (2) struktur organisasi informal. Struktur organisasi formal ialah sebagai alat mekanik untuk mengurangi variabilitas perilaku anggota organisasi yang cenderung informal. Sedangkan, struktur organisasi informal ialah sama sekali tidak terdokumentasi.

2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komunikasi

Menurut Mangkunegara (2002) ada dua tinjauan faktor yang mempengaruhi komunikasi, yaitu faktor yang berasal dari pihak komunikator (sender) dan dari pihak komunikan (receiver). Adapun faktor-faktor yang berasal dari sender maupun receiver, anatara lain:

1. Keterampilan sender dan receiver.

Sender sebagai pengirim informasi, ide, berita dan pesan perlu menguasai cara-cara penyampaian pikiran secara-cara tertulis maupun lisan. Sedangkan, receiver harus memiliki keterampilan dalam mendengar dan membaca pesan agar pesan yang disampaikan dapat dimengerti.

2. Sikap sender dan receiver.

(32)

3. Pengetahuan sender dan receiver.

Sender yang mempunyai pengetahuan luas dan menguasai materi yang disampaikan akan dapat meninformasikannya kepada receiver sejelas mungkin, sehingga receiver lebih mudah mengerti pesan yang disampaikan oleh sender. Kemudian receiver yang memiliki pengetahuan yang luas akan lebih mudah dalam menginterpretasikan ide atau pesan yang diterimanya dari sender.

4. Media yang digunakan oleh sender dan receiver.

Sender perlu menggunakan media komunikasi yang sesuai dan menarik perhatian receiver. Sedangkan, receiver yang menggunakan media komunikasi berupa alat indera yang ada pada receiver sangat menentukan apakah pesan dapat diterima atau tidak untuknya. Jika alat indera receiver terganggu, maka pesan yang diberikan oleh sender menjadi kurang jelas bagi receiver.

2.4. Hambatan Komunikasi

Komunikasi tidak dapat efektif secara sempurna karena ada hambatan-hambatannya, yaitu hambatan sistematis, teknis, biologis, fisiologis dan kecakapan. Komunikasi akan efektif apabila disampaikan dengan komunikasi dua arah atau two way trafic (Hasibuan, 2007). Sedangkan, menurut Robbins (2003) beberapa hambatan dalam komunikasi efektif, diantaranya penyaringan (filtering), persepsi selektif, kelebihan informasi, defensif dan bahasa.

Pendapat lainnya berasal dari Davis dalam Mangkunegara (2002) yang menyebutkan bahwa ada tiga rintangan atau hambatan dalam berkomunikasi, antara lain:

1. Rintangan pribadi

Rintangan pribadi yang dimaksud adanya hambatan pribadi yang disebabkan karena emosi, alat indera yang terganggu, kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada norma atau nilai budaya tertentu.

2. Rintangan fisik

(33)

3. Rintangan bahasa

Rintangan bahasa yang dimaksud adalah kesalahan dalam menginterpretasikan istilah kata.

Adapun hambatan komunikasi menurut Sule dan Saefulloh (2006) dibagi menjadi dua, yaitu (1) hambatan individual dan (2) hambatan organisasi.

1. Hambatan Individual

Kesalahpahaman dalam memahami pesan, kredibilitas individu, keterbatasan dalam berkomunikasi, kemampuan mendengarkan yang rendah dan penilaian awal terhadap subjek tertentu.

2. Hambatan Organisasi

Perbedaan tingkat manajemen, persepsi yang berbeda antar bagian, kelebihan beban kerja dan hambatan-hambatan lain.

Hambatan komunikasi itu berbeda-beda, namun masalah terbesar adalah pada mata rantai terakhir dimana suatu pesan ditafsirkan oleh penerima pesan. Perbedaan latar belakang, perbendaharaan bahasa dan pernyataan emosional dapat menimbulkan munculnya kesalahpahaman antara pengirim dan penerima pesan.

Hambatan komunikasi yang pertama yaitu perbedaan latar belakang, bila pengalaman hidup penerima pesan secara mendasar berbeda dengan pengirim pesan, maka komunikasi menjadi semakin sulit. Perbedaan usia, pendidikan, jenis kelamin, status sosial, kondisi ekonomi, latar belakang budaya dan agama dapat menjadikan pemahaman masing-masing menjadi sulit atau paling tidak terganggu proses komunikasinya.

(34)

2.5. Upaya Mengatasi Hambatan Komunikasi

Menurut Sule dan Saefulloh (2006), adapun upaya dalam mengatasi hambatan komunikasi terbagi atas dua bagian, yaitu:

1. Upaya Bersifat Individual

Peningkatan kemampuan mendengarkan, dorongan untuk berkomunikasi dua arah, peningkatan kesadaran dan kemampuan dalam memahami pesan dan informasi, pemeliharaan kredibilitas individu dan peningkatan pemahaman terhadap orang lain.

2. Upaya Bersifat Organisasional

Tindak lanjut dari setiap komunikasi yang dilakukan, pengaturan pola komunikasi yang semestinya dilakukan dalam organisasi, serta peningkatan kesadaran dan penggunaan berbagai media dalam berkomunikasi.

Mengatasi hambatan komunikasi perlu diperhatikan dalam membuat suatu pesan secara lebih berhati-hati, yaitu memperhatikan maksud dan tujuan berkomunikasi dan audiens yang dituju. Katakan apa yang dikehendaki oleh audiens, gunakan bahasa yang jelas, sederhana, mudah dipahami, tidak bertele-tele dan jangan lupa tekankan, serta telaah ulang poin-poin yang penting. Selain itu, mengatasi hambatan komunikasi dengan minimalkan gangguan dalam proses komunikasi, melalui pemilihan saluran komunikasi yang hati-hati, komunikator dapat membuat audiensnya lebih mudah memusatkan perhatian pada pesan yang disampaikan. Penyampaian pesan dengan cara lisan (oral) akan efektif bila lokasi atau penyampaian pesan memiliki kondisi yang teratur, rapi, serta nyaman dan sebagainya. Terakhir dengan mempermudah upaya umpan balik antara si pengirim dan si penerima pesan, agar pemberian umpan balik tersebut memberikan suatu manfaat yang cukup berarti, cara dan penyampaiannya harus direncanakan dengan baik (Umar, 2005).

Dengan komunikasi yang baik akan dapat diselesaikan problem-problem yang terjadi dalam perusahaan. Konflik yang terjadi dapat diselesaikan melalui musyawarah dan mufakat. Jadi, manajemen terbuka akan mendukung terciptanya komunikasi efektif dalam menciptakan lingkungan kerja yang produktif.

2.6. Lingkungan Kerja Produktif

(35)

memungkinkan pegawai untuk dapat bekerja optimal. Lingkungan kerja dapat mempengaruhi emosional pegawai. Jika pegawai menyenangi lingkungan kerja di mana dia bekerja, maka pegawai tersebut akan betah di tempat kerjanya, melakukan aktivitasnya sehingga waktu kerja dipergunakan secara efektif. Produktivitas akan tinggi dan otomatis prestasi kerja pegawai juga tinggi.

Lingkungan kerja dalam suatu organisasi adalah salah satu faktor pendorong untuk bekerja lebih baik, dimana karyawan dapat bergairah untuk mengerjakan tugas yang diberikan pimpinan. Hal ini dapat dilihat melalui pembinaan suatu suasana yang menyenangkan, misalnya bagaimana hubungan antar karyawan didalam organisasi (Sunarto, 2003). Menurut Sinungan (2003), kerja produktif memerlukan keterampilan kerja yang sesuai dengan isi kerja sehingga bisa memperbaiki cara kerja atau minimal mempertahankan cara kerja produktif.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja produktif menurut Sinungan (2003), yaitu:

1. Kemauan yang tinggi.

2. Kemampuan kerja yang sesuai dengan isi kerja. 3. Lingkungan kerja yang nyaman.

4. Penghasilan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum. 5. Jaminan sosial yang memadai.

6. Kondisi kerja yang manusiawi. 7. Hubungan kerja yang harmonis.

Hubungan kerja yang harmonis merupakan salah satu faktor untuk membuat orang bisa menjadi kerja produktif. Lingkungan kerja menunjuk pada hal-hal yang berada di sekeliling dan melingkupi kerja karyawan di kantor. Kondisi lingkungan kerja lebih banyak tergantung dan diciptakan oleh pimpinan, sehingga suasana kerja yang tercipta tergantung pada pola yang diciptakan pimpinan. Lingkungan kerja dalam perusahaan, dapat berupa struktur tugas menunjuk pada bagaimana pembagian tugas dan wewenang itu dilaksanakan (Sinungan, 2003).

(36)

merasa nyaman dan menumbuhkan suasana hati yang baik untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Berikut adalah beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan untuk menciptakan kondisi lingkungan kerja yang produktif.

1.Mulailah dengan membangun komunikasi yang baik antar anggota tim.

Tak bisa dipungkiri, komunikasi merupakan jembatan untuk para karyawan dalam membangun sebuah kerjasama yang kokoh. Bila komunikasi antar karyawan berjalan lancar, maka keharmonisan tim akan terus terjaga dan hubungan pertemanan mereka semakin kuat, sehingga mereka tidak akan sungkan untuk saling berbagi dan bahu membahu menyelesaikan semua permasalahan kerja yang ada.

2.Memberi kebebasan pada karyawan Anda untuk menciptakan ruang kerja yang senyaman mungkin bagi mereka. Hampir setiap hari para karyawan mengerjakan tugas kerja yang sama dan di ruangan yang sama pula, hal ini tentunya akan menimbulkan kejenuhan pada karyawan apabila mereka tidak nyaman dengan lingkungan kerja mereka. Karena itulah, berikan kesempatan pada karyawan Anda untuk berkreasi menciptakan dekorasi dan tata ruang senyaman mungkin, agar mereka betah berlama-lama mengerjakan tugasnya di ruang kerja mereka.

3. Adanya support yang positif dari pihak manajemen.

4.Selain hubungan antar anggota team dan kondisi ruang kerja yang nyaman, dibutuhkan pula dukungan penuh dari pihak manajemen perusahaan. Hal ini terkait dengan kesejahteraan para karyawan dan peraturan kerja yang harus dipatuhi para karyawan. Peraturan perusahaan yang saling menguntungkan dan kesejahteraan karyawan yang terjamin menjadi salah satu motivasi yang cukup besar untuk meningkatkan kinerja para karyawan.

5. Miliki mimpi besar yang sama. Ketika semua anggota tim memiliki mimpi dan tujuan yang sama, maka setiap langkah yang mereka jalankan akan saling mendukung hingga pada akhirnya tujuan besar mereka bisa tercapai. Disinilah penananam visi dan misi perusahaan perlu Anda tekankan pada setiap anggota team, sehingga mereka tidak segan untuk memberikan performa terbaiknya agar impian yang telah dicita-citakan bisa terwujud dengan segera.

(37)

team selalu termotivasi untuk memberikan performa terbaiknya untuk menyelesaikan semua tugas-tugasnya sesuai dengan peran mereka. Semoga informasi ini bermanfaat bagi para pembaca dan memberikan semangat baru bagi rekan-rekan semua yang sedang menjalankan usaha..

Lingkungan kerja yang mendukung produktivitas kerja akan menimbulkan kepuasan kerja bagi pekerja dalam suatu organisasi (Sihombing, 2004). Indikator lingkungan kerja seperti fasilitas kerja, gaji dan tunjangan, hubungan kerja.

Motivasi kerja pegawai akan terdorong dari lingkungan kerja. Jika lingkungan kerja mendukung maka akan timbul keinginan pegawai untuk melakukan tugas dan tanggung jawabnya. Keinginan ini kemudian akan menimbulkan persepsi pegawai dan kreativitas pegawai yang diwujudkan dalam bentuk tindakan. Persepsi pegawai juga dipengaruhi oleh faktor insentif yang diberikan oleh instansi.

Lingkungan kerja merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan kinerja karyawan. Karena Lingkungan kerja mempunyai pengaruh langsung terhadap karyawan didalam menyelesaikan pekerjaan yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja oragnisasi. Suatu kondisi lingkungan kerja dikatakan baik apabila karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman, dan nyaman. Oleh karena itu penentuan dan penciptaan lingkungan kerja yang baik akan sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan organisasi. Sebaliknya apabila lingkungan kerja yang tidak baik akan dapat menurunkan motivasi serta semangat kerja dan akhirnya dapat menurunkan kinerja karyawan.

Kondisi dan suasana lingkungan kerja yang baik akan dapat tercipta dengan adanya penyusunan organisasi secara baik dan benar sebagaimana yang dikatakan oleh Sarwoto ( 1991 ) bahwa suasana kerja yang baik dihasilkan terutama dalam organisasi yang tersusun secara baik, sedangkan suasana kerja yang kurang baik banyak ditimbulkan oleh organisasi yang tidak tersusun dengan baik pula. Dari pendapat tersebut dapat diterangkan bahwa terciptanya suasana kerja sangat dipengaruhi oleh struktur organisasi yang ada dalam organisasi tersebut.

2.7. Penelitian Terdahulu

(38)

Grafika Karawang, menyimpulkan bahwa pola komunikasi yang terjadi di Cipta Grafika lebih cenderung ke arah pola komunikai ke bawah dan komunikasi horisontal. Sebagian besar karyawan merasa bahwa hubungan komunikasi antar karyawan sudah berjalan dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa pola komunikasi horisontal yang merupakan komunikasi yang terjadi antar rekan sekerja sering terjadi di Cipta Grafika. Analisis deskriptif yang dilakukan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi menunjukkan bahwa kepemilikan informasi, spesialisasi pekerjaan, desas-desus, lingkungan kerja, sarana komunikasi, kredibilitas, gaya kepemimpinan, reaksi emosional, jabatan serta pemahaman dan umpan balik, memiliki pengaruh terhadap pola komunikasi yang terjadi di Cipta Grafika. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa dibandingkan dengan faktor-faktor lainnya, faktor gaya kepemimpinan memiliki hubungan yang paling kuat dengan kinerja karyawan. Sedangkan hubungan yang paling lemah terjadi antara kinerja karyawan dengan faktor sarana komunikasi. Korelasi antara faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas komunikasi perusahaan dengan kinerja karyawan adalah kuat dan nyata (α = 0,05), sehingga hipotesis Ho ditolak dan hipotesis H1 diterima.

Adesya (2007) melakukan penelitian mengenai Hubungan Iklim Komunikasi Organisasi dengan Kepuasan Kerja Karyawan bagian Spinning di PT Unitex Tbk Bogor. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis iklim komunikasi organisasi, tingkat kepuasan kerja dan hubungan antara iklim komunikasi organisasi dengan kepuasan kerja karyawan bagian Spinning PT Unitex Tbk Bogor. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Pemilihan sampel dilakukan menggunakan metode non probability sampling dan responden diperoleh dengan menggunakan rumus Slovin. Analisis data menggunakan ananlisis deskriptif dan analisis hubungan. Untuk analisis hubungan menggunakan korelasi Rank Spearman dengan bantuan software SPSS 12.0 for Windows.

Secara umum iklim komunikasi organisasi bagian Spinning termasuk baik. Jika dilihat dari besar kecilnya rataan skor yang diperoleh berdasarkan peringkat

“baik” (dari tinggi ke rendah) urutannya adalah kepercayaan, pembuatan

(39)
(40)

3.1. Kerangka Penelitian

Gambar 6. Kerangka Pemikiran Penelitian

Setiap perusahaan memiliki visi dan misi sendiri. Visi dari PT Setiawan Sedjati ini adalah Global Color Bussness Solution, dimana PT Setiawan Sedjati berupaya untuk menempatkan diri sebagai perusahaan distributor alat penggandaan di Indonesia.Untuk mewujudkan visi tersebut, PT Setiawan Sedjati menyusun misi dan berbagai macam strategi untuk

Visi, Misi dan Tujuan PT SETIAWAN SEDJATI

Pola Komunikasi Organisasi Saluran Komunikasi Formal 1. Downward Communications. 2. Upward Communications. 3. Sideways Communications. 4. Diagonal Communications. Saluran Komunikasi Informal 1. Desas-desus 2. Selentingan (Grapevine)

Lingkungan Kerja Produktif 1. Kemauan yang tinggi. 2. Kemampuan kerja yang sesuai

dengan isi kerja.

3. Lingkungan kerja yang nyaman. 4. Penghasilan yang dapat memenuhi

kebutuhan hidup minimum. 5. Jaminan sosial yang memadai. 6. Kondisi kerja yang manusiawi. 7. Hubungan kerja yang harmonis. Divisi

Rank Spearman

Hubungan Antara Pola Komunikasi Organisasi dengan

Lingkungan Kerja Produktif

Implikasi Manajerial

(41)

mencapainya. Strategi tersebut diimplementasikan pada tujuan-tujuan perusahaan baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang perusahaan. Dalam rangka mencapai tujuannya itu manajemen berupaya untuk mengelola sumber daya yang dimilikinya dengan baik, sehingga semua tujuan perusahaan dapat tercapai.

Sumber daya manusia merupakan sumber daya yang sangat penting karena dapat mempengaruhi kelangsungan perusahaan secara keseluruhan di masa depan. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk dapat memanfaatkan sumber daya tersebut secara optimal, sehingga dalam masing-masing divisi dibutuhkan pegawai yang terdiri dari manajer dan karyawan.

Salah satu bentuk pengelolaan terhadap sumber daya manusia yang dimiliki adalah dengan berupaya menciptakan suatu lingkungan kerja yang produktif. Dimana, untuk menciptakan lingkungan kerja produktif, terlebih dahulu dapat diidentifikasi melalui pola komunikasi organisasi pada PT Setiawan Sedjati. Secara umum pola komunikasi dapat dikelompokkan menjadi dua saluran yaitu formal maupun informal. Saluran komunikasi formal terdiri atas: komunikasi dari atas ke bawah (downward communication), komunikasi dari bawah ke atas (upward communication), komunikasi horizontal (sideways communication), dan komunikasi diagonal. Sedangkan, saluran komunikasi informal merupakan suatu jaringan komunikasi dimana orang-orang yang ada dalam suatu organisasi tanpa memperdulikan jenjang hierarki, pangkat dan kedudukan atau jabatan, dapat berkomunikasi secara luas.

(42)

perusahaan, dapat berupa struktur tugas menunjuk pada bagaimana pembagian tugas dan wewenang itu dilaksanakan.

Hubungan pola komunikasi organisasi dengan lingkungan kerja yang produktif akan diinterprestasikan menggunakan korelasi Rank Spearman dengan bantuan SPSS 17.0 for windows. Dengan menggunakan alat tersebut, dapat terlihat apakah ada hubungan yang kuat antara pola komunikasi dengan lingkungan kerja produktif, serta seberapa besar hubungan antara pola dengan lingkungan

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kantor PT Setiawan Sedjati yang berada di Jalan MT Haryono Kavling 10 Pancoran Jakarta-Selatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2013.

Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa PT Setiawan Sedjati merupakan perusahaan yang bergerak dibidang layanan distribusi mesin penggandaan/percetakan.

3.3. Jenis dan Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini ada dua jenis yaitu, data primer dan data sekunder.

1. Data Primer

Sumber data yang diperoleh dari perusahaan yang menjadi objek penelitian dengan mewancarai secara langsung kepada karyawan

2. Data Sekunder

Data sekunder di peroleh dari studi literatur, baik dari tulisan, data perusahaan, referensi yang relevan maupun sumber lain yang menunjang penelitian.

(43)

jawaban ditentukan skornya menggunakan skala Likert. Kuesioner dalam penelitian ini menggunakan lima skala yang diberi bobot tertentu sesuai dengan tingkat skalanya. Selanjutnya bobot ini akan dihitung untuk memperoleh skor nilai jawaban-jawaban responden. Rincian bobot dan skala yang digunakan adalah sebagai berikut:

Bobot nilai = 5 Sangat setuju/Sangat puas Bobot nilai = 4 Setuju/Puas

Bobot nilai = 3 Ragu-ragu/Biasa saja Bobot nilai = 2 Tidak setuju/Tidak puas

Bobot nilai = 1 Sangat tidak setuju/Sangat tidak puas

Bobot nilai pada setiap jawaban responden akan dihitung untuk mendapatkan nilai rataan. Nilai rataan tersebut menunjukkan tingkat kesetujuan karyawan seperti yang terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Nilai Skor Rataan

Skor Rataan Penilaian Inteprestasi Hasil

1,00 – 1,80 Sangat Tidak Setuju Sangat Tidak Puas 1,81 – 2,60 Tidak Setuju Tidak Baik

2,61 – 3,40 Ragu-ragu Netral

3,41 – 4,20 Setuju Baik

4,21 – 5,00 Sangat Setuju Sangat Baik

Kesimpulan tersebut diperoleh dengan menentukan terlebih dahulu rentang skala untuk kriteria sangat tidak setuju sampai sangat setuju, besarnya rentang skala diperoleh dengan rumus (Simamora, 2002) berikut:

 

1 ... ... ... ... ... b

n -m RS

Dimana:

RS = Rentang skala.

(44)

3.4. Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Wawancara

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara penanya dengan narasumber menggunakan alat yang umum disebut panduan wawancara. Alat yang umum digunakan untuk mengumpulkan data primer disebut kuesioner, kuesioner berisi sekumpulan pertanyaan yang diajukan pada responden untuk diisi dan dijawab. Alat kuesioner yang akan diisi tersebut bersifat tertutup. Pengisian kuesioner ini dilaksanakan untuk memperoleh tanggapan terkait dengan penelitian yang berhubungan dengan pola komunikasi dengan ligkungan kerja produktif. Kuesioner sebelum digunakan untuk penelitian dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas terlebih dahulu.

a. Uji Validitas

Uji validitas adalah suatu uji yang bertujuan untuk meneliti apakah instrumen dapat mengukur apa yang ingin diukur. Instrumen penelitian dikatakan valid apabila instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2004). Langkah-langkah dalam menguji validitas kuesioner, adalah sebagai berikut (Umar, 2005): 1) Mendefinisikan secara operasional suatu konsep yang akan diukur.

Konsep yang akan diukur hendaknya dijabarkan terlebih dahulu sehingga operasionalnya dapat dilakukan, dengan cara sebagai berikut:

a)Mencari definisi-definisi konsep yang dikemukakan para ahli yang tertulis di dalam literatur. Tetapi bila definisi yang dikemukakan belum operasional, maka definisi tersbut harus dijabarkan lebih lanjut agar lebih operasional.

(45)

c)Menanyakan langsung definisi konsep yang akan diukur kepada calon responden mengenai aspek-aspek konsep yang akan diukur. Bedasarkan jawaban calon responden, kemudian disusun kerangka suatu konsep.

2)Melakukan uji coba alat pengukur pada sejumlah responden. Disarankan agar jumlah responden untuk uji coba minimal 30 orang, karena distribusi skor atau nilai akan lebih mendekati kurva normal. 3) Mempersiapkan tabel tabulasi jawaban.

4) Menghitung korelasi antara masing-masing pernyataan dengan skor total menggunakan rumus teknik korelasi Product Moment.

Rumusnya adalah sebagai berikut:

 

 

2 2

2

2

T Y Y N X N XY N hitung

    X Y X …………(2) Dimana:

rhitung = Nilai koefisien korelasi. N = Jumlah responden.

X = Skor masing-masing pernyataan. Y = Skor total.

5) Membandingkan angka korelasi yang diperoleh dengan angka kritik tabel korelasi nilai r. Bila nilai r hitung > r tabel, maka pernyataan tersebut valid atau signifikan dalam penelitian ini, angka kritik tabel korelasi untuk nilai r adalah r (N-2; α).

(46)

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas merupakan derajat ketepatan, ketelitian atau keakuratan yang ditunjukan oleh instrumen pengukuran (Umar, 2005). Reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan tujuan utnuk mengetahui sejauh mana suatu alat pengukur dapat tercapai. Umumnya instrumen yang valid sudah pasti reliabel, tetapi instrumen yang reliabel belum tentu valid, oleh karena itu diperlukan pengujian reliabilitas instrumen. Teknik reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Alpha Cronbach (Umar, 2005). Tingkat reliabilitas dengan metode Alpha Cronbach diukur berdasarkan skala alpha 0 sampai 1 yuang dapat diinterpretasikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Tingkat reliabilitas metode Alpha Cronbach

Kalsifikasi Nilai Alpha Tingkat Reliabilitas

0,00 – 0.20 Kurang Reliabel 0,21 – 0,40 Agak Reliabel 0,41 – 0,60 Cukup reliabel 0,61 – 0,80 Reliabel 0,81 – 1,00 Sangat Reliabel

Sumber: George dan Mallery (2003)

Uji reliabilitas menggunakan rumus Chronbach Alpha sebagai berikut:

1 ...(3) 1 -k k r 2 2 11                

t b

Dimana: 11

r = Koefisien reliabilitas Alpha Cronbach k = Jumlah Item Pernyataan

2

b

 = Jumlah Variasi Item

2

b

 = Varians Total

Rumus untuk menghitung varians adalah sebagai berikut:

 

(47)

Dimana 2

 = Varians

n = Jumlah responden

x = Nilai skor yang dipilih (total nilai dari nomor-nomor item pernyataan)

Kesimpulan diperoleh dengan cara membandingkan nilai hitung alpha dan nilai r tabel dari hasil perhitungan. Hasil uji reliabilitas untuk Pola komunikasi Organisasi adalah 0.863 dan hasil uji reliabilitas untuk lingkungan kerja produktif adalah 0.826 dengan menggunakan alat bantu software SPSS 17.0 for windows, ini berarti instrument dinyatakan reliabel karena nilai hitung Cronbach Alpha lebih dari 0.60 (nilai hitung Cronbach Alpha > nilai r tabel). Hasil perhitungan uji reliabilitas dengan menggunakan alat bantu software SPSS 17.0 for windows dapat dilihat pada Lampiran 3.

3.5. Menetukan Populasi dan Sampel

Tabel 3. Proportionate Stratified Random Sampling Karyawan PT Setiawan Sedjati

Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Populasi dalam penelitian ini adalah 64 responden. Sedangkan untuk penentuan jumlah

No. Divisi Jumlah

Karyawan Populasi Sampel

1. Marketing 57 64 20,6

77 1

57

x 21

2. Logistik 18 64 6,5

77 1

18

x 7

3. Keuangan 24 64 8,7

77 1

24

x 9

4. BOC 6 64 2,2

77 1

6

x 2

5. IT 6 64 2,2

77 1

6

x 2

6. Teknisi 37 64 13,4

77 1

37

x 13

7. Bagian Umum 29 64 10,5

77 1

29

x 10

(48)

sampel dari populasi yang akan diteliti ditentukan dengan rumus Slovin. Rumusnya adalah sebagai berikut:

 

5 ... ... ... ... ne

1 N

n 2

 

Dimana:

n = Jumlah sampel N = Ukuran populasi

e = Persentasi kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang dapat ditolerir.

Menggunakan persen kelonggaran ketidaktelitian yang masih dapat ditolerir (e) sebesar 10% dan total populasi sebanyak 177 karyawan, maka jumlah karyawan yang dijadikan sampel adalah sebanyak 64 responden.

. 63,90 64

Responden

) 1 . 0 ( 177 1

177

n 2  

 

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan teknik Probability Sampling jenis Proportionate Stratified Random Sampling yaitu merupakan teknik pengambilan sampel anggota populasi yang dilakukan dengan memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut. Teknik sampling ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata secara proporsional. Rumus Proportionate Stratified Random Sampling adalah:

Ni x n

Ni = ...(6) N

Dimana:

(49)

3.6. Metode Pengolahan dan Analisis Data 3.6.1 Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif dilakukan dengan cara mencari nilai rata-rata yang diperoleh. Nilai rata-rata digunakan untuk memperoleh kesimpulan yang didapat dengan menggunakan rentang skala yang sudah ditentukan sebelumnya berdasarkan masing-masing kriteria. Analisis ini untuk mengetahui karakteristik karyawan pada penelitian melalui perhitungan persentase jawaban yang telah ditabulasi. Analisis deskriptif menggunakan tabulasi silang. Analisis ini juga mengidentifikasi karakteristik karyawan yang berpengaruh terhadap variabel penelitian, yaitu pola komunikasi dan lingkungan kerja produktif.

Langkah-langkah pengolahan dan analisis datanya sebagai berikut:

a) Memberi skor pada setiap jawaban responden sesuai dengan bobot yang telah ditentukan dalam Skala Likert.

b)Membuat tabulasi dari skor-skor nilai yang telah diperoleh dari jawaban responden.

c)Masing-masing kategori ditentukan berdasarkan rumus rentang kriteria (Umar, 2005) yaitu Rentang Skala: RS = (m-1)/m; dimana m adalah jumlah alternatif jawaban tiap item. Sehingga didapatkan rentang skala: (5-1)/5 = 0,8. Untuk melihat skala penilaian dapat dilihat pada Tabel 2.

d)Responden-responden yang memiliki skor nilai yang sama untuk setiap item pernyataan dikelompokkan berdasarkan kategori jawaban (1 sampai 5 bagi pernyataan yang bersifat positif dan 5 sampai 1 bagi pernyataan yang bersifat negatif), lalu dihitung jumlah dan persentasenya. Kesimpulan diambil berdasarkan persentase terbesar dari setiap persentase jawaban responden yang telah dihitung.

(50)

pada tiap indikator berdasarkan persentase terbesar. Perhitungan pada metode ini menggunakan Microsoft Excel 2007.

3.6.2 Analisis Rank Spearman

Hubungan pola-pola komunikasi organisasi dengan lingkungan kerja dapat diketahui dengan menggunakan analisis Rank Spearman. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software Microsoft Excell 2007 dan SPSS 17.0 for windows. Analisis di PT Setiawan Sedjati tersebut digunakan untuk mengetahui atau tidaknya hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lain. Untuk itu dapat dilakukan uji korelasi Rank Spearman dengan rumus:

 

...

 

7 1 -n n di 6 -1 rs 2 2

 Dimana:

rS = Koefisien Rank Spearman di = Selisih rank X dan rank Y n = Jumlah sampel

Keterangan:

rS = 1 hubungan variabel X dan variabel Y sempurna + (mendekati 1, hubungan sangat kuat dan +)

rS = -1 hubungan variabel X dan variabel Y sempurna - (mendekati -1, hubungan sangat kuat dan -)

rS = 0 hubungan variabel X dan variabel Y lemah sekali atau tidak ada hubungan sama sekali

Nilai koefisien korelasi yang dapat sebelum dilaksanakan pengambilan keputusan, dengan diuji terlebih dahulu. Pengujian ini dimaksudkan untuk melihat apakah antara variabel dalam populasi terdapat korelasi yang berarti atau tidak, dengan rumus sebagai berikut:

 

8 ... ... ... ... ... ... 2 r -1 2 -n r hitung

t 

(51)

digunakan dalam pengujian hipotesis nol untuk memutuskan pendapat ditolak atau diterima. Untuk itu, maka pengujian ini menggunakan hipotesis sebagai berikut:

Ho : ρ = 0 tidak ada hubungan antara pola komunikasi organisasi dengan lingkungan kerja produktif.

H1 : ρ ≠ 0 ada hubungan antara pola komunikasi organisasi dengan lingkungan kerja produktif.

Menguji hubungan hipotesis nol (Ho) kriterianya adalah: Tolak Ho : jika thitung > ttabel atau P-value (Sig.) < α Tolak H1 : jika thitung < ttabel atau P-value (Sig.) < α

Koefisien korelasi Rank Spearman (rS) menunjukkan kuat tidaknya variabel X dan variabel Y. Batasan Champion dari Umar (2005) dengan ketentuan sebagai berikut:

1) 0,00-0,25 : No assosiation, menunjukkan tidak adanya hubungan antara variabel X dan variabel Y.

2) 0,26-0,50 : Moderately low assosiation, menunjukkan hubungan yang lemah antara variabel X dan variabel Y.

3) 0,51-0,75 : Moderately high assosiation, menunjukkan hubungan yang agak kuat antara variabel X dengan variabel Y. 4) 0,76-1,00 : high assosiation, menunjukkan adanya hubungan yang

kuat antara variabel X dan variabel Y.

(52)

Gambar

Gambar 8. 16%
Tabel 5.  Tabel 5. Pola Komunikasi Organisasi Upward Communication
Tabel 11. Hubungan Pola Komunikasi Organisasi Informal dengan

Referensi

Dokumen terkait

PERANGKAT PEMBELAJARAN PROGRAM SEMESTER.. MATA

[r]

Bank syariah sebagai lembaga keuangan yang bergerak atas dasar prinsip-prinsip ajaran Islam, tidak seharusnya melakukan aktivitas rekayasa dalam bentuk apapun, termasuk dalam

Study antar guru bidang study IPA dan peranannya dalam proses peningkatan mutu di SMPN 1 Gisting Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung ini beserta seluruh isinya

Armada Riyanto CM memaparkan pengertian globalisasi dalam tulisan ·'Badai itu bernama globalisasi (Telaah filosofis untuk kaum muda di pusaran globalisasi)&#34;'. Armada

Hambatan pelaksanaan rekonstruksi dalam proses penyelesaian perkara pidana antara lain, dalam hal pelaku lebih dari seorang, pelaku tindak pidana tidak tertangkap semuanya,

Untuk hal-hal yang kurang jelas dapat ditanyakan pada pejabat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman salak Gula Pasir yang diteliti dapat berbunga dengan baik pada sela I, gadu, dan sela II, tetapi persentase fruit-set pada gadu