• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Koragam untuk Menilai Preferensi Konsumen Terhadap Merek Kopi Putih.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Koragam untuk Menilai Preferensi Konsumen Terhadap Merek Kopi Putih."

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KORAGAM UNTUK MENILAI PREFERENSI

KONSUMEN TERHADAP MEREK KOPI PUTIH

CITRA MUFIDAH LESTARI

DEPARTEMEN STATISTIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Koragam untuk Menilai Preferensi Konsumen Terhadap Merek Kopi Putih adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

ABSTRAK

CITRA MUFIDAH LESTARI. Analisis Koragam untuk Menilai Preferensi Konsumen Terhadap Merek Kopi Putih. Dibimbing oleh KHAIRIL ANWAR NOTODIPUTRO dan BAGUS SARTONO.

Inovasi produk kopi putih yang saat ini menjadi tren mengakibatkan persaingan yang ketat antara produsen-produsen kopi. Suatu produsen kopi, yaitu PQR ingin mengeluarkan produk baru yaitu produk kopi putih. Produk baru tersebut akan dibandingkan dengan merek pesaing maupun kopi produksi PQR sebelumnya. Analisis yang digunakan untuk membandingkan tiga merek kopi putih tersebut adalah analsis koragam. Hasil dari penelitian ini menunjukkan faktor merek dan responden berpengaruh terhadap tingkat preferensi konsumen dengan nilai p masing-masing sebesar 0.008 dan 0.000. Kopeubah yaitu aroma kopi, aroma susu, warna kopi, rasa susu, rasa manis, dan kekentalan keseluruhan berpengaruh nyata, sedangkan kekentalan susu dan usia responden tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat preferensi merek kopi putih oleh konsumen. Uji Tukey pada faktor merek menunjukkan Kopi X dan Kopi Z sama baiknya dan lebih disukai daripada Kopi Y. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Kopi X sebagai produk baru dari produsen PQR sudah mampu bersaing di pasaran dengan produk pesaing Kopi Z, dan sudah lebih baik daripada kopi yang diproduksi sebelumnya yaitu Kopi Y. Kata kunci: Analisis koragam, kopeubah, kopi putih

ABSTRACT

CITRA MUFIDAH LESTARI. Analysis of Covariance for Assessing Consumer Preferences on White Coffee Brands. Supervised by KHAIRIL ANWAR NOTODIPUTRO dan BAGUS SARTONO.

White coffee product innovation that is currently the trend resulted in stiff competition among coffee producers. A coffee producers, namely PQR want to release a new product that is the product of white coffee. The new product will be compared with competitive brands or coffee that PQR produced before. The analysis used to compare three brands of white coffee is the analysis of covariance. Results from this study indicate factors influence the respondents brand and consumer preference level with a p-value respectively 0.008 and 0.000. Covariate namely the aroma of coffee, milk aroma, color of coffee, milk flavor, sweetness, and overall viscosity is significant, while viscosity of the milk and the age of the respondents did not significantly affect the level of white coffee brand preference by consumers. Tukey test showed brand Coffee X and Coffee Z is just as good and preferable than Coffee Y. It can be concluded that the Coffee X as a new product from the manufacturer PQR has been able to compete on the market with competitor products Coffee Z, and it is better than coffee that produced before, that is Coffee Y.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Statistika

pada

Departemen Statistika

ANALISIS KORAGAM UNTUK MENILAI PREFERENSI

KONSUMEN TERHADAP MEREK KOPI PUTIH

CITRA MUFIDAH LESTARI

DEPARTEMEN STATISTIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(6)
(7)
(8)

PRAKATA

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan karunia–Nya penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Tema yang dipilih yaitu tingkat kesukaan konsumen terhadap produk kopi putih, dengan judul Analisis Koragam untuk Menilai Preferensi Konsumen terhadap Merek Kopi Putih.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Prof Dr Ir Khairil Anwar Notodiputro, MS dan Bapak Dr Bagus Sartono, MSi selaku pembimbing atas segala bimbingan, kesabaran, perhatian, dan dorongan yang diberikan kepada penulis selama penulisan karya ilmiah, serta Bapak Bambang S.L Tobing dan Bapak Kelik Harjono dari Pixel Research atas bimbingan dan sarannya. Terima kasih juga kepada mama Siti Chasanah, ayah Hendro Prasetiyono, pakde Juliardi Aminudin, bude Endah Suwarni, Rosa, Firda, Ryan, dan seluruh keluarga penulis. Karya ilmiah ini juga penulis hadiahkan untuk almarhum papa tercinta, Machfud Effendi. Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan untuk Rumpi (Nay, Hesti, Adis, Ina, Veti, Metti, dan Farah), osy, dan kak indah atas dukungannya, doa, dan kasih sayangnya dalam pembuatan tulisan ini. Selain itu, terima kasih juga kepada Iqbal atas ilmu dan bantuannya selama kuliah dan penulisan skripsi, teman-teman sebimbingan, teman-teman statistika 48, dosen beserta staf tata usaha Departemen Statistika, dan seluruh pihak yang telah membantu terealisasinya karya ilmiah ini.

Semoga semua bantuan yang diberikan kepada penulis mendapatkan balasan dari Allah SWT, dan semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

(9)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 2

TINJAUAN PUSTAKA 2

Metode Pengumpulan Data 2

Teknik Survei 2

Metode Evaluasi Produk 3

Pemilihan Model Terbaik 3

Analisis Koragam 4

METODOLOGI 6

Data 6

Metode Analisis Data 8

HASIL DAN PEMBAHASAN 10

Karakteristik Responden 10

Pemilihan Model Terbaik 12

Mengatasi Pencilan Menggunakan Pendekatan Winsor 12

Pengujian Asumsi Analisis Koragam 12

Hasil Analisis Koragam 13

SIMPULAN 16

DAFTAR PUSTAKA 17

LAMPIRAN 19

(10)

DAFTAR TABEL

1 Hasil analisis ragam pada perhitungan analisis koragam 14

2 Nilai dugaan kopeubah 15

3 Least square means dari faktor merek 16

4 Uji lanjut BNJ/Uji Tukey pada faktor merek 16

DAFTAR GAMBAR

1 Banyaknya responden berdasarkan jenis kelamin 10

2 Banyaknya responden berdasarkan jenis 11

3 Persentase banyaknya responden berdasarkan usia 11

4 Plot peluang normal dari sisaan 13

5 Plot antara sisaan dan nilai dugaan y 13

DAFTAR LAMPIRAN

(11)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kopi merupakan salah satu minuman yang paling digemari masyarakat dari segala kalangan. Umumnya masyarakat mengkonsumsi kopi dengan alasan untuk meningkatkan kesegaran dan mencegah kantuk agar tetap dapat bekerja dan berpikir dengan tubuh yang segar dan bugar. Tingginya tingkat konsumsi kopi di Indonesia membuat pasar produk kopi juga terus berkembang dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013, tingkat konsumsi kopi di Indonesia diperkirakan telah mencapai 1 kilogram/kapita/tahun (AEKI 2013).

Seiring dengan meningkatnya konsumsi kopi di Indonesia, jenis produk kopi yang beredar pun terus bertambah. Inovasi terbaru dari kategori produk kopi adalah munculnya merek kopi putih dalam kemasan instan. Merek suatu produk tidak hanya berarti sebuah nama atau simbol, tetapi merek juga dapat meningkatkan preferensi konsumen, membentuk loyalitas pelanggan, dan dapat menjadi keunggulan bersaing bagi perusahaan (Aaker 1997). Merek merupakan kunci dalam hubungan perusahaan dengan konsumen. Menurut Kotler dan Armstrong (2013), merek dapat merepresentasikan persepsi dan perasaan konsumen terhadap produk dan kinerja perusahaan. Oleh sebab itu, merek juga menjadi salah satu aset untuk menguasai pangsa pasar.

Produsen perlu melakukan evaluasi terhadap produk mereka sebelumnya atau produk pesaing melalui pengujian pasar dalam upaya pengembangan produk. Hal ini dilakukan agar produsen mengetahui atribut apa saja dari produk-produk tersebut yang dinilai baik dan dinilai rendah oleh konsumen. Atribut-atribut yang dinilai baik harus dipertahankan oleh produsen sedangkan atribut-atribut yang dinilai rendah harus diperbaiki lagi.

Studi kasus pada penelitian ini yaitu produsen kopi PQR ingin mengeluarkan produk baru yaitu produk kopi putih. Produk baru tersebut akan dibandingkan dengan merek pesaing maupun kopi produksi PQR sebelumnya. Penelitian ini mengevaluasi tiga produk kopi putih untuk mengetahui atribut-atribut yang mempengaruhi tingkat kesukaan konsumen. Atribut-atribut yang diukur meliputi aroma kopi, warna produk, aroma susu, kekentalan secara keseluruhan, kekentalan susu, rasa kopi, rasa susu, rasa pahit, dan rasa manis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis koragam dengan rancangan acak lengkap.

Analisis koragam merupakan penggabungan antara analisis ragam dan regresi. Analisis koragam mengukur pengaruh suatu faktor dengan menyertakan pengaruh kopeubah (covariate). Kopeubah dari faktor tersebut digunakan untuk menduga peubah respon dalam model (Montgomery 2007).

(12)

2

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh tingkat kesukaan, tingkat intensitas, dan tingkat kepasan pada tiap atribut kopi putih terhadap tingkat preferensi merek kopi putih dan menentukan merek yang paling disukai oleh konsumen.

TINJAUAN PUSTAKA

Metode Pengumpulan Data

Central Location Testing (CLT)

Central Location Testing (CLT) merupakan suatu teknik penelitian yang melibatkan responden, dimana responden diundang ke suatu tempat yang ditentukan untuk mengevaluasi produk-produk yang akan diujikan. CLT biasanya digunakan untuk penelitian mengenai Concept Test, Product Test, Sensory Research, Advertising atau Copy Test dan Packaging Test.

Ketika produk yang akan diuji perlu disimpan pada kondisi tertentu (secara terkontrol) maka CLT akan menjadi pendekatan terbaik dalam mengevaluasi produk tersebut. Jenis pendekatan ini juga sangat berguna jika produk yang akan diuji terbatas.

CLT berupa interview yang berlangsung secara tatap muka dan dapat mencapai tanggapan yang lebih tinggi dan hasil yang lebih baik jika dilakukan survei yang memakan waktu lama. Kelebihan metode CLT adalah dapat memperoleh partisipasi berupa gagasan yang lebih banyak dari responden dan untuk memastikan keamanan yang ketat serta menjaga kerahasiaan ide atau konsep yang tidak ditemui dalam teknik survei lainnya. (ESOMAR 1998)

Teknik Survei

Face-to-face Interview

(13)

3 Metode Evaluasi Produk

Blind Taste Test

Blind taste test adalah salah satu metode yang digunakan di bidang riset pemasaran untuk membandingkan dua merek atau lebih yang bersaing dan untuk mendapatkan wawasan yang lebih dalam tentang bagaimana sebuah merek dapat memperbaiki sebuah produk. Pada saat melakukan evaluasi, responden tidak mengetahui merek atau karakteristik dari produk yang diujikan. Jenis tes ini hanya dapat digunakan untuk produk makanan ataupun minuman (Tan 2011).

Sequential Monadic Testing

Sequential Monadic Testing adalah metode yang digunakan untuk mengevaluasi dua atau lebih produk secara bergantian. Setelah mencoba dan memberi skor pada masing-masing produk, responden diminta untuk membandingkan produk tersebut dan menentukan produk yang paling disukai. Keuntungan menggunakan metode sequential monadic testing yaitu dapat mengevaluasi beberapa produk sekaligus dengan jumlah responden yang sedikit sehingga dapat meminimumkan biaya (Isaacson & Lesnick 2012).

Pemilihan Model Terbaik

Best Subset Regression

Model regresi terbaik merupakan model yang diperoleh dari hasil pemilihan peubah-peubah bebas dari sekian banyak peubah bebas yang terdapat pada data. Model tersebut dapat menjelaskan peubah tak bebas atau peubah respon dengan baik berdasarkan peubah bebas yang terpilih. Ada beberapa metode yang bisa digunakan dalam pemilihan model regresi terbaik, salah satunya yaitu best subset regression (Hanum 2011).

Best subset regression memulai pemilihan dengan model paling sederhana yaitu model dengan satu peubah. Selanjutnya dimasukkan peubah bebas lain satu per satu sampai diperoleh model yang memenuhi kriteria terbaik. Kriteria didasarkan kepada nilai R2dan R2adjusted yang tinggi, nilai Cp Mallows yang paling mendekati dengan banyaknya peubah yang digunakan, serta nilai simpangan baku yang kecil (Draper dan Smith 1992).

Cp Mallows merupakan nilai dugaan yang diperoleh dari persamaan regresi berdasarkan sebagian peubah bebas yang pada umumnya bias. Penilaian kebaikan model digunakan means square error (MSE) dengan ragam dan biasnya. Rumus Cp Mallows dapat dihitung sebagai berikut:

�= �− � −

dengan JKSp yaitu jumlah kuadrat sisa dari model, yaitu kuadrat tengah sisa, n yaitu banyaknya amatan, dan p yaitu banyaknya parameter dalam model, termasuk

(14)

4

ukuran bias. Model terbaik yaitu yang memiliki nilai Cp yang paling mendekati banyaknya peubah bebas yang digunakan dalam model (Draper dan Smith 1992).

Analisis Koragam

Analisis koragam adalah salah satu teknik statistika yang berguna untuk meningkatkan ketepatan suatu percobaan. Ide dasar analisis koragam yaitu menambahkan kopeubah ke dalam model dengan tujuan mengurangi faktor acak yang tidak dapat dijelaskan. Kopeubah merupakan peubah tak terkendali yang memiliki hubungan dengan respon yang diamati. Metode ini dapat diterapkan jika kopeubah memiliki hubungan dengan respon tetapi tidak memiliki dampak terhadap faktor perlakuan (Dean & Voss 1999).

Penggunaan peragam untuk mengendalikan galat merupakan cara meningkatkan ketepatan pendugaan dengan mengeluarkan beberapa pengaruh yang tidak dapat dikendalikan, yaitu melalui teknik regresi. Analisis koragam menjadi alternatif apabila dalam unit percobaan ditemukan terlalu banyak peubah yang tidak dapat dikendalikan tetapi memiliki pengaruh terhadap respon. Pemilihan kopeubah yang kurang tepat dapat mengakibatkan galat percobaan yang semakin besar. Besarnya galat percobaan dapat diperkecil sesuai dengan keeratan hubungan antara respon yang diamati dengan kopeubah yang dipilih (Mattjik & Sumertajaya 2013). Analisis koragam merupakan penggabungan dari analisis ragam dan analisis regresi. Analisis ragam digunakan untuk menguji perbandingan peubah respon ditinjau dari peubah bebas (faktor) sedangkan analisis regresi digunakan untuk menduga peubah respon melalui kopeubah. Model analisis koragam merupakan gambaran antara model linier rancangan yang digunakan dengan kopeubah.

Asumsi analisis koragam menurut Dean dan Voss (1999) adalah sebagai berikut:

1. Peubah X dan Y memiliki hubungan linear

2. Peubah X tidak dipengaruhi oleh perlakuan atau bebas terhadap perlakuan

3. Hubungan antara Y dan X sama pada setiap perlakuan

4. Galat percobaan menyebar normal dengan nilai tengah = 0 dan ragam = 2

yij = nilai pengamatan dari peubah respon pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j

µ = rataan umum

i = pengaruh aditif perlakuan ke-i

β = koefisien regresi yang menunjukkan ketergantungan yijpada

= pengukuran peubah kopeubah yang dihasilkan dari perlakuan ke-i dan ulangan ke-j bersesuaian dengan yij

(15)

5

εij = komponen galat yang timbul pada ulangan ke-j dari perlakuan ke-i.

Pendugaan Pengaruh Kopeubah dan Pengaruh Perlakuan

Sebelum dilakukan pendugaan parameter dan analisis, perlu diketahui notasi-notasi berikut:

 Jumlah Kuadrat dan hasil kali total

= ∑ ∑

 Jumlah kuadrat dan hasil kali perlakuan

= �∑ .

 Jumlah kuadrat dan hasil kali galat

= � ∑ ∑ − ̅ .

terkecil, yaitu dengan meminimumkan jumlah kuadrat galat. Fungsi jumlah kuadrat galat adalah:

= ∑ ∑[ − � − � − � − ̅.. ]

= =

Penduga bagi µ, τi, dan β diperoleh dari turunan fungsi L terhadap µ, τi, dan

β dan dibuat sama dengan nol, sehingga diperoleh:

�̂ = ̅..

�̂ = ̅.− ̅.. − �̂ ̅ − ̅..

(16)

6

Jumlah kuadrat galat pada model ini merupakan jumlah kuadrat galat terkoreksi, yaitu:

� = −

dengan derajat bebas = a(n-1)-1. Ragam galat percobaan diduga dengan:

� =� � −

Pengujian Pengaruh Perlakuan Terkoreksi

Apabila diasumsikan tidak ada pengaruh perlakuan, maka model linear pada persamaan (1) akan menjadi model tereduksi, yaitu:

= � + � ( − ̅. . ) +

Dari model tersebut, dapat diperoleh penduga kuadrat terkecil sebagai berikut:

�̂ = ̅..

�̂ =

Jumlah kuadrat galat pada model tereduksi yaitu:

′� = −

Statistik Uji:

ℎ � = ′

�− � / � −

�/[� � − − ]

Kriteria Pengujian:

Tolak H0, jika Fhit > Fα; a-1; a(n-1)-1

Pengujian Pengaruh Kopeubah

Hipotesis:

: � =

Statistik Uji:

ℎ � = /

Kriteria Pengujian:

Tolak H0, jika Fhit > Fα; 1; a(n-1)-1

METODOLOGI

Data

(17)

7 merek kopi putih yaitu Kopi X, Kopi Y, dan Kopi Z. Kopi X merupakan produk baru yang diproduksi oleh PQR yang akan dibandingkan dengan produk PQR sebelumnya yaitu Kopi Y dan merek pesaing yaitu Kopi Z. Survei dilakukan di dua kota, yaitu Jakarta dan Cirebon.

Metode penarikan contoh yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling. Purposive sampling adalah metode penarikan contoh tidak berpeluang yang dilakukan dengan tujuan tertentu, supaya mempermudah penelitian dalam mencari responden dengan karakteristik yang telah ditetapkan (Beins & McCarthy 2012). Selain itu, dengan menggunakan metode penarikan contoh ini biaya dan waktu yang dibutuhkan relatif lebih efisien dibandingkan dengan metode penarikan contoh lainnya.

Responden pada penelitian ini diperoleh secara pre-recruited, dimana responden dicari sebelum product testing. Responden yang sesuai dengan karakteristik yang sudah ditentukan kemudian diminta untuk mengikuti CLT pada lokasi dan waktu yang sudah ditentukan oleh pihak peneliti. Jumlah responden yang disurvei sebanyak 204 orang, yaitu 103 orang dari Jakarta dan 101 orang dari Cirebon. Teknik survei yang dilakukan adalah face-to-face interview sedangkan metode evaluasi dengan kombinasi antara Blind Taste Test dan Sequential Monadic Test.

Karakteristik responden yang ditetapkan pada penelitian ini yaitu pria dan wanita berusia 20 sampai 40 tahun dengan pendidikan terakhir minimal Sekolah Menengah Atas (SMA). Kriteria pekerjaan responden yaitu karyawan, ibu rumah tangga, dan mahasiswa. Status sosial ekonomi (SES) responden yang digunakan berdasarkan besarnya pendapatan responden yaitu SES A1 (lebih dari Rp 4.000.000,00), SES A2 (Rp 3.000.001,00 – Rp 4.000.000,00), SES B (Rp 2.000.001,00 – Rp 3.000.000,00), SES C1 (Rp 1.500.001,00 – Rp 2.000.000,00), dan SES C2 (Rp 1.000.001,00 – Rp 1.500.000,00). Responden yang terpilih merupakan pengonsumsi kopi putih merek tertentu paling sedikit lima kali dalam seminggu pada enam bulan terakhir dan tinggal di daerah Jakarta dan Cirebon.

Peubah respon (Y) yang diukur adalah tingkat kesukaan konsumen secara keseluruhan (overall liking) terhadap merek kopi putih dengan skala 1-9 yaitu mulai dari sangat tidak suka sampai sangat suka sekali. Peubah bebas atau faktor yang digunakan adalah responden dan merek kopi putih, yaitu Kopi X, Kopi Y, dan Kopi Z. Kopeubah yang digunakan adalah usia responden (X10) dan rata-rata dari

indikator tingkat kesukaan, tingkat intensitas, dan tingkat kepasan pada tiap atribut. Atribut yang diperkirakan berpengaruh terhadap respon yaitu:

X1 : Aroma kopi

X8 : Kekentalan keseluruhan

X9 : Kekentalan susu

(18)

8

menyederhanakan model dan meminimumkan kesalahan dalam pemilihan kopeubah. Kemudian usia responden dilambangkan dengan X10 ditambahkan

sebagai peubah kopeubah karena peneliti ingin melihat adanya pengaruh usia terhadap tingkat preferensi merek kopi putih.

Tingkat kesukaan pada setiap atribut diukur dengan skala likert 1-9 yaitu dari ‘sangat tidak suka’ sampai ‘sangat suka sekali’, tingkat intensitas diukur dengan skala likert 1-9 yaitu dari ‘tidak ada/tidak terasa’ sampai ‘sangat kuat/sangat terasa’, sedangkan tingkat kepasan diukur dengan skala likert 1-5 yaitu dari ‘sangat kurang kuat’ sampai ‘terlalu kuat’. Skala 3 pada tingkat kepasan menunjukkan bahwa atribut tersebut sudah ‘pas’. Pada penelitian ini, skala likert yang digunakan diasumsikan sebagai skala interval.

Skala likert yaitu skala yang memiliki skala ganjil (5, 7, 9,..) dan memiliki pilihan netral atau biasa saja. Menurut Suliyanto (2011), Likert melakukan penelitian dengan mengubah kuesioner likert dalam bentuk skala thortoen dan guttman. Kuesioner ini kemudian diujikan kepada responden yang sama, hasilnya nilai korelasi antara skala likert dengan skala Thortone maupun Guttman korelasinya 0.92. Jadi skala likert dapat diasumsikan sebagai skala interval.

Model linier analisis koragam pada penelitian ini adalah:

= � + � + + � ( − ̅.. ) + ⋯ + ��( �− ̅..�) +

µ = nilai rata-rata tingkat kesukaan responden terhadap merek kopi putih i = pengaruh aditif merek ke-i

δj = pengaruh aditif responden ke-j

β = koefisien regresi yang menunjukkan ketergantungan yij pada xij = pengukuran atribut kopi putih yang dihasilkan dari merek ke-i dan

responden ke-j bersesuaian dengan yij

̅

... = nilai rata-rata atribut kopi putih yang diukur

εij = komponen galat

Metode Analisis Data

Analisis pada penelitian ini dibantu dengan software Minitab 14. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Melakukan analisis deskriptif untuk melihat profil responden 2. Melakukan persiapan data sebagai berikut:

i. Transformasi nilai indikator

(19)

rata-9 ratakan skor dari tingkat kesukaan, tingkat intensitas, dan tingkat kepasan dari masing-masing atribut

- Mengurutkan rata-rata indikator tingkat kesukaan pada tiap atribut menurut indikator tingkat intensitasnya, kemudian mentransformasi indikator tingkat intensitas sesuai dengan urutan rata-rata tingkat kesukaannya. Tingkat intensitas dengan rata-rata kesukaan paling kecil ditransformasi menjadi skala 1 dan paling besar ditransformasi menjadi skala 9.

ii. Merata-ratakan nilai indikator tingkat kesukaan, tingkat intensitas, dan kepasan hasil transformasi, kemudian rata-rata tersebut menjadi nilai kopeubah

3. Mencari model terbaik dengan menggunakan best subsets regressions. Pemilihan model terbaik dilakukan dengan memasukkan nilai Y dengan X (kopeubah). Kriteria pemilihan model terbaik dapat dilihat melalui nilai R2 dan R2 adjusted yang tinggi, nilai Cp Mallows yang paling mendekati dengan banyaknya peubah yang digunakan, serta nilai simpangan baku yang kecil (Draper dan Smith 1992)

4. Mengatasi data pencilan dengan menggunakan pendekatan Winsor

i. Mengatasi pencilan pada kopeubah menggunakan pendekekatan Winsor rataan

ii. Mengatasi pencilan pada peubah respon menggunakan pendekatan Winsor. Amatan terwinsorisasi menurut Huber dan Ronchetti (2009), yaitu:

= {̂ − � , �, |� | ≤ � < −�

̂ + � , � > �

dengan ∗ merupakan amatan y terwinsorisasi, ei merupakan sisaan dari dugaan parameter ke-i, c merupakan konstanta tuning yang digunakan yaitu 1.345 (Fox 2002), dan si merupakan dugaan galat baku dari sisaan yang diperoleh dari MKT.

5. Pengujian asumsi analisis koragam

i. Uji kenormalan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov

ii. Membuat plot antara sisaan dan nilai dugaan y untuk melihat kehomogenan ragam

6. Menguji pengaruh perlakuan dengan memperhatikan atribut kopi hasil dari best subsets regression dan peubah umur responden

i. Menguji pengaruh merek 7. Menguji pengaruh pada kopeubah

Hipotesisnya adalah:

H0 : βi = 0 (tidak ada pengaruh kopeubah terhadap tingkat kesukaan

(20)

10

8. Pendugaan besarnya pengaruh dari kopeubah (koefisien regresi)

9. Perbandingan nilai tengah perlakuan menggunakan Beda Nyata Jujur (BNJ/Uji Tukey). BNJ merupakan prosedur perbandingan antar perlakuan. Pada setiap perbandingan perlakuan ditentukan kesalahan sebesar α. Nilai kritis dari BNJ yaitu:

= �;�;� � �̅

dengan �̅ dirumuskan sebagai berikut:

�̅ = √ /

dengan �;�;� merupakan nilai tabel Tukey pada taraf nyata α, jumlah perlakuan p, dan derajat bebas galat sebesar dbg (Mattjik & Sumertajaya 2013).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Responden

Penggunaan metode analisis koragam dilakukan dengan merek dan responden sebagai faktornya. Responden yang terpilih untuk mengevaluasi produk kopi putih memiliki karakteristik-karakteristik tertentu. Berdasarkan karakteristik yang ada, peneliti memilih jenis kelamin dan kebiasaan minum kopi yang diduga berpengaruh terhadap tingkat preferensi konsumen terhadap merek kopi putih.

Gambar 1 Banyaknya responden berdasarkan jenis kelamin

Gambar 1 menunjukkan responden terpilih berdasarkan jenis kelamin yaitu sebanyak 102 responden perempuan dan 102 responden laki-laki. Komposisi jenis kelamin responden diproporsikan seimbang supaya tidak ada ketimpangan pada salah satu jenis kelamin dalam mengevaluasi ketiga merek kopi putih.

Laki-Laki 50% Perempuan

(21)

11

Gambar 2 Banyaknya responden berdasarkan jenis kelamin dan kebiasaan minum kopi

Gambar 2 menunjukkan kebiasaan minum kopi 3 in 1 responden dalam enam bulan terakhir berdasarkan jenis kelaminnya yang dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok 1 merupakan responden dengan kebiasaan minum kopi lebih dari satu kali sehari yang terdiri dari 59 responden berjenis kelamin laki-laki dan 41 perempuan. Kelompok 2 merupakan responden dengan kebiasaan minum kopi satu kali sehari yang terdiri dari 31 responden berjenis kelamin laki-laki dan 56 perempuan. Kelompok 3 merupakan responden dengan kebiasaan minum kopi 5-6 kali seminggu yang terdiri dari 12 responden berjenis kelamin laki-laki dan 5 perempuan.

Gambar 3 Persentase banyaknya responden berdasarkan usia

Gambar 3 menunjukkan persentase banyaknya responden berdasarkan usia yang dibagi dalam empat kategori. Kategori pertama yaitu responden berusia 20-24 tahun sebesar 28 % atau 57 responden, kategori kedua yaitu responden berusia 25-29 tahun sebesar 25 % atau 50 responden, kategori ketiga yaitu responden berusia 30-34 tahun sebesar 22 % atau 45 responden, dan kategori keempat yaitu responden berusia 35-40 tahun sebesar 25 % atau 52 responden. Banyaknya responden berdasarkan usia relatif sama dari setiap kategori, hal ini agar tidak terjadi ketimpangan dalam mengevaluasi ketiga merek kopi putih.

59

31

12 41

56

5

M I N U M K O P I L E B I H D A R I 1 K A L I S E H A R I

M I N U M K O P I 1 K A L I S E H A R I

M I N U M K O P I 5 - 6 K A L I S E M I N G G U Laki - Laki Perempuan

28%

25% 22%

25%

(22)

12

Pemilihan Model Terbaik

Pemilihan model terbaik menggunakan best subsets regression pada penelitian ini dilakukan untuk memilih kopeubah yang dapat menjelaskan peubah respon. Hasil dari best subsets antara peubah respon dengan kopeubah X1, X2, X3,

X4, X5, X6, X7, X8, dan X9 dapat dilihat pada Lampiran 1. Pada Lampiran 1 disajikan

kriteria pemilihan model terbaik yaitu R2, R2 adjusted, Cp Mallows, dan S (simpangan baku). Model terbaik ditentukan dari model yang memiliki nilai R2 dan

R2 adjusted tinggi, nilai Cp Mallows yang paling mendekati banyaknya peubah, dan nilai simpangan baku yang kecil, sehingga model yang terdiri dari X1, X2, X3, X4,

X5, X6, X8, dan X9 merupakan model terbaik dengan nilai R2 66.7%, nilai R2 adjusted

66.2%, nilai Cp Mallows 8.8, dan simpangan baku sebesar 0.819. Selanjutnya peubah X pada model terbaik ini dianalisis menggunakan analisis koragam sebagai kopeubah bersama dengan usia responden (X10).

Mengatasi Pencilan Menggunakan Pendekatan Winsor

Mendeteksi pencilan pada penelitian ini yaitu dengan melakukan regresi antara Y dan kopeubah pada setiap merek. Hasil dari regresi tersebut menunjukkan adanya pencilan pada kopeubah dan pencilan pada peubah respon. Pencilan tersebut dilakukan penanganan yang berbeda, pencilan pada kopeubah diatasi dengan winsor rataan secara manual dan menggunakan software Minitab 14, sedangkan pencilan pada peubah respon diatasi dengan pendekatan Winsor menggunakan software R dan Minitab 14.

Mengatasi pencilan pada kopeubah yaitu menggunakan pendekatan Winsor Rataan. Winsor Rataan merupakan penggantian nilai kopeubah pada amatan pencilan dengan rata-rata nilai kopeubah ketika nilai Y pada amatan tersebut. Penggantian nilai kopeubah ini dilakukan pada semua amatan pencilan, setelah itu dilakukan regresi kembali dengan hasil penggantian Winsor tersebut, dan lakukan langkah tersebut hingga tidak terdapat pencilan.

Mengatasi pencilan di Y yaitu menggunakan pendekatan Winsor. Menurut hasil penelitian Pusparum (2015), metode Winsor ini memberikan hasil yang paling baik daripada metode Winsor dengan batasan lainnya untuk semua proporsi pencilan dan ukuran contoh. Amatan y dikatakan pencilan ketika nilai sisaannya berada di luar batas konstanta tuning dikali dugaan galat bakunya. Amatan y terwinsorisasi diperoleh dari iterasi yang diterapkan dengan menggunakan nilai sisaan dan galat baku yang baru agar diperoleh amatan y terwinsorisasi yang konvergen terhadap nilai dugaan parameter (b).

Pengujian Asumsi Analisis Koragam

(23)

13

Gambar 4 Plot peluang normal dari sisaan

Asumsi kehomogenan ragam dilihat melalui plot dari sisaan dan nilai dugaan y. Gambar 5 menunjukkan kehomogenan ragam sudah dipenuhi, hal ini dapat dilihat dari tidak adanya pola yang terbentuk secara sistematis antara sisaan dan nilai dugaan y.

Gambar 5 Plot antara sisaan dan nilai dugaan y

Hasil Analisis Koragam

Hasil analisis ragam pada Tabel 1 menunjukkan bahwa faktor merek dan responden berpengaruh terhadap tingkat preferensi konsumen terhadap merek kopi putih dengan nilai p masing-masing sebesar 0.008 dan 0.000 pada taraf nyata 5 %. Hal ini menunjukkan bahwa merek kopi putih yang diujikan dan responden mempengaruhi tingkat preferensi konsumen, walaupun telah memasukkan kopeubah aroma kopi, aroma susu, warna kopi, rasa kopi, rasa susu, rasa manis, kekentalan keseluruhan, kekentalan susu, dan usia responden ke dalam model.

(24)

14

Tabel 1 Hasil analisis ragam pada perhitungan analisis koragam Sumber

ragam menunjukkan bahwa aroma kopi, aroma susu, warna kopi, rasa kopi, rasa susu, rasa manis, dan kekentalan keseluruhan berpengaruh nyata terhadap tingkat preferensi merek kopi putih oleh konsumen, dengan nilai p masing-masing kopeubah yaitu aroma kopi, aroma susu, dan rasa manis sebesar 0.000, nilai p pada rasa kopi dan kekentalan keseluruhan sebesar 0.002, nilai p pada warna kopi sebesar 0.004, dan nilai p pada rasa susu sebesar 0.007. Adanya pengaruh dari kopeubah aroma kopi, aroma susu, warna kopi, rasa kopi, rasa susu, rasa manis, dan kekentalan keseluruhan terhadap peubah respon menunjukkan bahwa kopeubah tersebut memiliki hubungan linier terhadap peubah respon (tingkat preferensi konsumen). Sedangkan kopeubah kekentalan susu dan usia responden tidak berpengaruh nyata pada taraf nyata 5% dengan nilai p masing-masing yaitu 0.170 dan 0.238.

(25)

15 Tabel 2 Nilai dugaan kopeubah

Kopeubah Koefisien

Interpretasi dari nilai dugaan yang diperoleh secara umum yaitu ketika tingkat kesukaan terhadap atribut meningkat satu satuan maka nilai rataan tingkat preferensi konsumen terhadap kopi putih berubah sebesar nilai dugaannya. Tingkat kesukaan terhadap atribut terdiri dari indikator tingkat intensitas dan tingkat kepasan yang dilinearkan terhadap tingkat kesukaan pada masing-masing atributnya, kemudian dirata-ratakan. Sehingga tingkat kesukaan konsumen terhadap atribut dikatakan baik ketika indikator tingkat kesukaannya bernilai tinggi pada skala 1-9, tingkat kepasan bernilai pas atau skor 3, dan tingkat intensitas dengan skala tertentu yang sudah disukai sebagian besar konsumen.

(26)

16

Tabel 3 Least square means dari faktor merek Merek Rata-Rata Galat Baku

X 6.863 0.03752

Y 6.766 0.03725

Z 6.932 0.03764

Tabel 3 menunjukkan nilai least square means dari faktor merek. Least square means merupakan nilai rataan peubah respon dari masing-masing faktor yang sudah disesuaikan terhadap pengaruh kopeubah. Kopi Z memiliki nilai rataan tertinggi dibandingkan dengan merek lainnya yaitu sebesar 6.932. Hal ini menunjukkan bahwa Kopi Z (produk pesaing dari produsen PQR) adalah merek yang paling disukai oleh konsumen. Selanjutnya Kopi X diurutan kedua dengan nilai rataan 6.863 dan terakhir Kopi Y dengan nilai rataan 6.766.

Tabel 4 Uji lanjut BNJ/Uji Tukey pada faktor merek

Merek Selisih Tabel 4. Tabel 4 menunjukkan bahwa Kopi X dibandingkan dengan Kopi Y dan Kopi X dibandingkan dengan Kopi Z tidak signifikan. Pada Kopi Y dibandingkan dengan Kopi Z hasilnya signifikan atau berbeda nyata dengan selisih dari nilai rataannya sebesar 0.1653. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Kopi X dan Kopi Z sama baiknya dan lebih disukai daripada Kopi Y. Hasil ini berarti produk baru Kopi X sudah mampu bersaing dengan produk pesaing Kopi Z, dan sudah lebih baik dari produk produsen PQR sebelumnya yaitu Kopi Y.

SIMPULAN

(27)

17 produk pesaing Kopi Z, dan sudah lebih baik daripada kopi yang diproduksi sebelumnya yaitu Kopi Y.

DAFTAR PUSTAKA

Aaker DA. 1997. Dimensions of Brand Personality. Journal of Marketing Research. 34(1):347-356.

[AEKI] Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia. 2013. Konsumsi Kopi Domestik [Internet]. [diacu 2015 Feb 20]. Tersedia pada: http://www.aeki-aice.org/page/konsumsi-kopi-domestik/id.

Beins BC, McCharty MA. 2012. Research Methods and Statistics. [United States of America] (US): Pearson.

Dean AM, Voss D. 1999. Design and Analysis of Experiments. New York (US): Springer.

Draper N, Smith H. 1992. Analisis Regresi Terapan. Sumantri B, penerjemah. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka Utama. Terjemahan dari: Applied Regression Analysis. Ed ke-2.

[ESOMAR] European Society for Opinion and Marketing Research. 1998. ESOMAR Handbook of Market and Opinion Research, 4th ed. Mc.Donald C, Vangelder P, editor. Amsterdam (NL): ESOMAR Central Secretariat. Fox J. 2002. An R and S-Plus Companion to Applied Regression. Thousand Oaks

(CA): SAGE Publications, Inc.

Hanum H. 2011. Perbandingan Metode Stepwise, Best Subset Regression, dan Fraksi dalam Pemilihan Model Regresi Berganda Terbaik. Jurnal Penelitian Sains [Internet]. [diunduh 2015 Ags 7]; 14(2): 1-6. Tersedia pada:

Kotler P, Armstrong G. 2013. Principles of Marketing, 14th ed. New Jersey (US): Pearson Prentice Hall.

Mattjik AA, Sumertajaya IM. 2013. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan Minitab jilid 1. Bogor (ID): IPB Press.

Montgomery DC. 2007. Design and Analysis of Experiments, 5th ed. Singapore (SG): John Wiley & Sons, Inc.

Pusparum M. 2015. Pendekatan Winsor Pada Analisis Regresi dengan Pencilan [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Solomon MR, Marshall GW, Stuart EW. 2011. Marketing: Real People, Real Choices, 7th ed. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

(28)

18

Tan NL. 2011. Marketing Research-How to Perform a Blind Taste Test [Internet].

[diacu 2015 Mar 9]. Tersedia pada:

(29)

19

LAMPIRAN

Lampiran 1 Hasil best subsets regression Banyaknya

Peubah R

2 R2 adj Cp

Mallows S X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9

1 52.8 52.7 245.8 0.969 X

1 51.5 51.4 269.2 0.983 X

2 61.7 61.6 86.1 0.874 X X

2 61.0 60.9 99.4 0.882 X X

3 64.4 64.2 39.2 0.843 X X X

3 63.9 63.8 47.8 0.848 X X X

4 65.5 65.3 21.4 0.831 X X X X

4 65.5 65.3 22.1 0.831 X X X X

5 66.0 65.7 14.3 0.825 X X X X X

5 66.0 65.7 15.0 0.826 X X X X X

6 66.4 66.0 10.1 0.822 X X X X X X

6 66.2 65.9 12.3 0.823 X X X X X X

7 66.5 66.1 9.5 0.821 X X X X X X X

7 66.4 66.1 10.7 0.821 X X X X X X X

8 66.7 66.2 8.8 0.819 X X X X X X X X

8 66.6 66.1 10.6 0.820 X X X X X X X X

(30)

20

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Surabaya pada tanggal 20 April 1993 dari pasangan Alm. Machfud Effendi dan Siti Chasanah. Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Tahun 2005 Penulis telah berhasil menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SDN Kendang Sari V Surabaya. Setelah itu pada tahun 2008 berhasil menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama di MTsN 1 Yogyakarta. Kemudian melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMAN 2 Kota Tangerang Selatan dan lulus pada tahun 2011. Tahun 2011 Penulis diteima sebagai salah satu mahasiswa Departemen Statistika, Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Jalur Tertulis.

Gambar

Gambar 2  Banyaknya responden berdasarkan jenis
Gambar 4  Plot peluang normal dari sisaan
Tabel 1  Hasil analisis ragam pada perhitungan analisis koragam
Tabel 2  Nilai dugaan kopeubah
+2

Referensi

Dokumen terkait

Penilaian pedagang dan konsumen terhadap atribut mutu sensori (rasa, aroma, tekstur, warna dan rasa tertinggal) dan penerimaan secara keseluruhan mi basah jagung

Pemberian variasi jenis susu, yaitu susu kental manis, susu kedelai, dan susu skim ke dalam kopi susu tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel-variabel yang mempengaruhi preferensi konsumen terhadap kopi susu instan adalah kualitas produk dengan nilai koefisien

Untuk mendapatkan tingkat preferensi dan kepuasan konsumen terhadap kopi arabika Jambi yang diolah menjadi kopi hitam maupun kopi yang di olah menjadi latte,

Proses penyangraian akan menghasilkan aroma yang khas dari kopi dan akan menyebabkan perubahan pada biji kopi serta terjadi perubahan warna, aroma, rasa dan volume dari biji

Nilai kepentingan preferensi kopi bubuk dekafeinasi Ghalkoff Berdasarkan nilai kepentingan terhadap atribut yang dinilai oleh konsumen kopi bubuk dekafeinasi Ghalkoff, atribut yang

Formulasi Produk Pengembangan Camilan Kopi Berdasarkan preferensi konsumen yang diperoleh dari survei pendahuluan sebelumnya, dilakukan pengembangan produk camilan kopi yang

Minyak pada permukaan biji kopi belum muncul 20 198°c second crack Warna cokelat gelap aroma lebih wangi terdapat rasa manis 21 200°c Warna hitam pekat permukaan biji