SKRIPSI
TINA M. SIGALINGGING
060803012
DEPARTEMEN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PENDEKATAN F UZZY-ANALYTIC HIERARCHY PROCESS DALAM PEMILIHAN KONSEP PRODUK
SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains
TINA M. SIGALINGGING 060803012
DEPARTEMEN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PERSETUJUAN
Judul : PENDEKATAN FUZZY-ANALYTIC HIERARCHY
PROCESS DALAM PEMILIHAN KONSEP
PRODUK
Kategori : SKRIPSI
Nama : TINA M. SIGALINGGING
Nomor Induk Mahasiswa : 060803012
Program Studi : SARJANA (S1) MATEMATIKA Departemen : MATEMATIKA
Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Diluluskan di
Medan, Desember 2010
Komisi Pembimbing :
Pembimbing 2 Pembimbing 1
Drs. Djakaria Sebayang Prof. Dr. Drs. Iryanto, M.Si NIP 19511227 198503 1 002 NIP 19460404 197107 1 001
Diketahui/ Disetujui oleh:
Departemen Matematika FMIPA USU Ketua,
iii
PERNYATAAN
PENDEKATAN F UZZY-ANALYTIC HIERARCHY PROCESS DALAM PEMILIHAN KONSEP PRODUK
SKRIPSI
Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.
Medan, Desember 2010
TINA M. SIGALINGGING
PENGHARGAAN
Puji syukur dan terima kasih penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih karunia dan pertolonganNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
v
ABSTRAK
FUZZY-ANALYTIC HIERARCHY PROCESS APPROACH IN THE SELECTION OF PRODUCT CONCEPT
ABSTRACT
vii
2.1 Analytic Hierarchy Process (AHP) 5
2.1.1 Landasan Aksiomatik 5
2.1.2 Prinsip Dasar AHP 6
2.1.3 Tahapan-tahapan AHP 8
2.1.4 Menetapkan Prioritas 8
2.1.5 Konsistensi 11
2.1.6 Nilai Eigen dan Vektor Eigen 12
2.2 Himpunan Fuzzy 14
2.2.1 Fungsi Keanggotaan 15
2.2.2 Bilangan Fuzzy Triangular 16
2.2.3 Bilangan Fuzzy Trapezoidal 16
2.2.4 Himpunan Penyokong 17
2.2.5 Nilai Ambang Alfa-Cut 17
2.2.6 Operasi-operasi pada Himpunan Fuzzy 18
2.3 Fuzzy Analytic Hierarchy Process (FAHP) 18
2.4 Proses Pengembangan Produk 22
2.5 Pemilihan Konsep Produk Sebagai Bagian Penting dari Proses
Pengembangan Produk 26
Bab 3 Pembahasan
3.1 Pembahasan Numerik 28
Halaman
3.3.1 Perhitungan Faktor Pembobotan untuk Kriteria Kemudahan
dalam Pembuatan 31
3.3.2 Perhitungan Faktor Pembobotan untuk Kriteria Kemudahan
Dalam Memperoleh Bahan Baku 32
3.3.3 Perhitungan Faktor Pembobotan untuk Kriteria Ketersediaan
Peralatan Produksi 34
3.3.4 Perhitungan Faktor Pembobotan untuk Kriteria Lama Produksi 35
3.3.5 Perhitungan Total Rangking 37
3.4 Perhitungan dengan Metode Fuzzy-AHP 38
Bab 4 Kesimpulan 45
ix
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Skala untuk Perbandingan Berpasangan 9 Tabel 2.2 Matriks Perbandingan Berpasangan 9 Tabel 2.3 Matriks Perbandingan Intensitas Kepentingan Elemen Operasi 10
Tabel 2.4 Tabel Nilai Random Indeks (RI) 11
Tabel 2.5 Tabel Fungsi Keanggotaan Bilangan Fuzzy 20 Tabel 3.1 Tabel Perbandingan Berpasangan Antar Semua Kriteria 29 Tabel 3.2 Perbandingan Berpasangan Antar Semua Kriteria yang Disederhanakan 29 Tabel 3.3 Bobot Relatif Antar Semua Kriteria yang Dinormalkan 29 Tabel 3.4 Matriks Perbandingan Berpasangan Antar Alternatif untuk
Kriteria Kemudahan Pembuatan 31
Tabel 3.5 Matriks Perbandingan Berpasangan Antar Alternatif untuk
Kriteria Kemudahan Pembuatan yang Disederhanakan 31 Tabel 3.6 Tabel Bobot Relatif Antar Alternatif untuk Kriteria
Kemudahan Pembuatan yang Dinormalkan 31 Tabel 3.7 Matriks Perbandingan Berpasangan Antar Alternatif untuk
Kriteria Kemudahan Memperoleh Bahan Baku 32 Tabel 3.8 Matriks Perbandingan Berpasangan Antar Alternatif untuk
Kriteria Kemudahan Memperoleh Bahan Baku yang Disederhanakan 33 Tabel 3.9 Tabel Bobot Relatif Antar Alternatif untuk Kriteria Kemudahan
Memperoleh Bahan Baku yang Dinormalkan 33 Tabel 3.10 Matriks Perbandingan Berpasangan Antar Alternatif untuk
Kriteria Ketersediaan Peralatan Produksi 34 Tabel 3.11 Matriks Perbandingan Berpasangan Antar Alternatif untuk
Kriteria Ketersediaan Peralatan Produksi yang Disederhanakan 34 Tabel 3.12 Tabel Bobot Relatif Antar Alternatif untuk Kriteria Ketersediaan
Peralatan Produksi yang Dinormalkan 35
Tabel 3.13 Matriks Perbandingan Berpasangan Antar Alternatif untuk Kriteria
Lama Produksi 36
Tabel 3.14 Matriks Perbandingan Berpasangan Antar Alternatif untuk Kriteria
Lama Produksi yang Disederhanakan 36
Tabel 3.15 Tabel Bobot Relatif Antar Alternatif untuk Kriteria Lama
Produksi yang Dinormalkan 36
Tabel 3.16 Matriks Hubungan Antara Kriteria dan Alternatif 37 Tabel 3.17 Matriks Perbandingan Berpasangan Fuzzy untuk Semua Kriteria 38 Tabel 3.18 Matriks Perbandingan Berpasangan Fuzzy Antar Alternatif
untuk Kriteria Kemudahan Pembuatan 39
Tabel 3.19 Matriks Perbandingan Berpasangan Fuzzy Antar Alternatif
untuk Kriteria Kemudahan Memperoleh Bahan Baku 40 Tabel 3.20 Matriks Perbandingan Berpasangan Fuzzy Antar Alternatif
untuk Kriteria Ketersediaan Peralatan Produksi 41 Tabel 3.21 Matriks Perbandingan Berpasangan Fuzzy Antar Alternatif
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Struktur Hirarki AHP Complete 7
Gambar 2.2 Bilangan Fuzzy Triangular 16
v
ABSTRAK
FUZZY-ANALYTIC HIERARCHY PROCESS APPROACH IN THE SELECTION OF PRODUCT CONCEPT
ABSTRACT
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengambilan keputusan adalah salah satu tantangan besar bagi tim pengembang
produk dalam suatu perusahaan. Ketatnya persaingan di pasar menuntut perusahaan
untuk terus menghasilkan produk baru yang bernilai dimata konsumen agar tetap
bertahan. Menghasilkan suatu konsep produk yang baru dan berhasil memang bukan
suatu pekerjaan yang ringan, karena selalu dihadapkan pada banyaknya
ketidakpastian. Sehingga pengambil keputusan harus hati-hati dalam menentukan
keputusan.
Mengembangkan sebuah konsep produk baru memerlukan keputusan awal
yang benar, dalam hal ini, pada tahap desain. Salah satu keputusan yang harus diambil
dengan benar selama tahap desain adalah memilih konsep produk terbaik. Pemilihan
konsep produk merupakan salah satu masalah MCDM (Multi Criteria Decision-Making), karena dihadapkan pada beberapa kriteria. Dalam masalah MCDM, pengambil keputusan harus memilih konsep terbaik diantara beberapa alternatif/
konsep produk berdasarkan sejumlah kriteria. Yang menjadi persoalannya adalah
bagaimana membandingkan dan memberikan penilaian pada setiap alternatif.
Dalam pemilihan konsep produk terbaik, pengambil keputusan sering kali
dihadapkan pada pilihan yang kompleks dan tidak pasti. Kompleksitas yang dimaksud
adalah situasi yang tidak mengindikasikan adanya konsep produk tunggal yang
mampu menjawab oportunitas produk. Ketidakpastian yang dimaksud dapat berupa
ketidakpastian terhadap konsep produk mana yang layak diproduksi diantara
konsep-konsep yang telah ada. Hal ini berkaitan dengan seberapa besar tingkat kesuksesan
kesuksesan tertentu. Sehingga, untuk menghadapi kompleksitas dan ketidakpastian
ini, fuzzy-MCDM menjadi salah satu cara yang efektif dan mampu membantu pengambil keputusan untuk memilih konsep produk yang akurat dan dapat
dipertanggungjawabkan. Salah satu pendekatan yang banyak digunakan dalam
menyelesaikan persoalan MCDM adalah Analytic Hierarchy Process (AHP). AHP dipilih karena pendekatan ini menawarkan perspektif dimana pengambil keputusan
dapat melakukan apa yang sebaiknya dilakukan dalam membuat keputusan. Bilangan
fuzzy digunakan untuk mempresentasikan penilaian terhadap berbagai kriteria dalam memilih konsep produk terbaik, mengingat faktor ketidakpresisian yang dialami oleh
pengambil keputusan ketika harus memberikan penilaian yang pasti dalam pairwise
comparison (perbandingan berpasangan).
Dengan menggunakan pendekatan fuzzy-AHP dalam pemilihan konsep produk terbaik diharapkan dapat dipertanggungjawabkan. Karena merupakan hal yang sulit
dilakukan bila pengambilan keputusan didasari pada intuisi dan subyektifitas
pengambil keputusan, mengingat keterbatasan kapabilitas kognitif manusia dalam
mensintesa berbagai keunggulan dan kekurangan dari sekumpulan konsep produk.
1.2 Identifikasi Masalah
Permasalahan dalam tulisan ini adalah bagaimana mengatasi kompleksitas dan
ketidakpastian dalam memilih konsep produk terbaik dengan pendekatan fuzzy-AHP.
1.3 Batasan Masalah
Tulisan ini dibatasi pada tahap pemilihan konsep produk dari konsep-konsep produk
3
1.4 Tinjauan Pustaka
Jani Raharjo, I Nyoman Sutapa (2002) dalam jurnalnya menuliskan bahwa didalam
penerapan Analytical Hierarchy Process (AHP)untuk pengambilan keputusan dengan banyak kriteria yang bersifat subyektif, seringkali seorang pengambil keputusan
dihadapkan pada suatu permasalahan yang sulit didalam penentuan bobot setiap
kriteria. Untuk menangani kelemahan AHP ini diperlukan suatu metode yang lebih
memperhatikan keberadaan kriteria-kriteria yang bersifat subyektif. Salah satu metode
pendekatan yang sering dipakai adalah konsep fuzzy.
Ulrich dan Eppinger (2001) mengatakan bahwa pemilihan konsep merupakan
kegiatan di mana berbagai konsep dianalisis dan secara berturut-turut dieliminasi
untuk mengidentifikasi konsep yang paling menjanjikan. Proses ini biasanya
membutuhkan beberapa iterasi dan mungkin diajukannya tambahan penyusunan dan
perbaikan konsep.
Febransyah (2006) mengatakan bahwa apa yang sudah diperoleh pada satu
tahapan proses masih dapat berubah karena ketidakpastian yang bersumber dari
ketidaktepatan dalam mengidentifikasi oportunitas produk. Kemampuan tim
pengembang produk untuk mengenali oportunitas produk akan sangat menentukan
kesuksesan dari konsep produk yang dikembangkan.
1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan pilihan konsep produk terbaik dari
sejumlah konsep dengan menggunakan pendekatan fuzzy-AHP berdasarkan sejumlah kriteria dan alternatif. Tulisan ini juga membahas penyelesaian dengan menggunakan
Metode AHP dengan tujuan membandingkannya dengan Metode fuzzy-AHP.
1.6 Manfaat Penelitian
Tulisan ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam pengambilan
keputusan khususnya dalam pemilihan konsep produk dimana kondisi yang dihadapi
1.7 Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Melakukan studi yang berhubungan dengan AHP, fuzzy-AHP, dan pengembangan konsep produk dari internet berupa jurnal, artikel, dan dari
buku.
b. Mengerjakan contoh permasalahan dalam pemilihan konsep produk dengan
pendekatan Metode AHP dan fuzzy-AHP.
c. Penarikan kesimpulan, yakni konsep produk mana yang terbaik untuk
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Analytic Hierarchy Process (AHP)
Analytic Hierarchy Process (AHP) adalah salah satu metode khusus dari Multi Criteria Decision Making (MCDM) yang diperkenalkan oleh Thomas L. Saaty. AHP sangat berguna sebagai alat dalam analisis pengambilan keputusan dan telah banyak
digunakan dengan baik dalam berbagai bidang seperti peramalan, pemilihan
karyawan, pemilihan konsep produk, dan lain-lain.
Pada dasarnya, metode AHP memecah-mecah suatu situasi yang kompleks dan
tak terstruktur ke dalam bagian-bagian komponennya. Kemudian menata bagian atau
variabel ini dalam suatu susunan hirarki dan memberi nilai numerik pada
pertimbangan subjektif tentang relatif pentingnya setiap variabel. Setelah itu
mensintesis berbagai pertimbangan ini untuk menetapkan variabel mana yang
memiliki prioritas paling tinggi dan bertindak untuk mempengaruhi hasil pada situasi
tersebut. (Saaty, 1993)
2.1.1 Landasan Aksiomatik
AHP memiliki landasan aksiomatik yang terdiri dari:
a. Resiprocal Comparison, yang mengandung arti bahwa matriks perbandingan berpasangan yang terbentuk harus bersifat berkebalikan. Misalnya, jika A
b. Homogenity, yaitu mengandung arti kesamaan dalam melakukan perbandingan. Misalnya, tidak dimungkinkan membandingkan jeruk dengan
bola tenis dalam hal rasa, akan tetapi lebih relevan jika membandingkan dalam
hal berat.
c. Dependence, yang berarti setiap level mempunyai kaitan (complete hierarchy) walaupun mungkin saja terjadi hubungan yang tidak sempurna (incomplete
hierarchy).
d. Expectation, yang berarti menonjolkon penilaian yang bersifat ekspektasi dan preferensi dari pengambilan keputusan. Penilaian dapat merupakan data
kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif.
2.1.2 Prinsip Dasar AHP
Dalam menyelesaikan persoalan dengan Metode AHP, ada beberapa prinsip dasar
yang harus dipahami, yakni:
a. Decomposition (prinsip menyusun hirarki)
Pengertian decomposition adalah memecahkan atau membagi problem yang
utuh menjadi unsur–unsurnya ke dalam bentuk hirarki proses pengambilan
keputusan, dimana setiap unsur atau elemen saling berhubungan. Untuk
mendapatkan hasil yang akurat, pemecahan dilakukan terhadap unsur-unsur
sampai tidak mungkin dilakukan pemecahan lebih lanjut, sehingga didapatkan
beberapa tingkatan dari persoalan yang hendak dipecahkan. Struktur hirarki
keputusan tersebut dapat dikategorikan sebagai complete dan incomplete. Suatu hirarki keputusan disebut complete jika semua elemen pada suatu tingkat memiliki hubungan terhadap semua elemen yang ada pada tingkat berikutnya
(Gambar 2.1), sementara pada hirarki keputusan incomplete tidak semua unsur pada masing-masing jenjang mempunyai hubungan. Pada umumnya
7
Gambar 2.1. Struktur Hirarki AHP Complete
b. Comparative Judgement
Comparative Judgement dilakukan dengan penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan
tingkatan di atasnya. Penilaian ini merupakan inti dari AHP karena akan
berpengaruh terhadap urutan prioritas dari elemen-elemennya. Hasil dari
penilaian ini lebih mudah disajikan dalam bentuk matriks pairwise comparison
yaitu matriks perbandingan berpasangan memuat tingkat preferensi beberapa
alternatif untuk tiap kriteria. Skala preferensi yang digunakan yaitu skala 1
yang menunjukkan tingkat yang paling rendah (equal importance) sampai dengan skala 9 yang menunjukkan tingkatan yang paling tinggi (extreme
importance).
c. Synthesis of Priority
Synthesis of Priority dilakukan dengan menggunakan eigen vector method
untuk mendapatkan bobot relatif bagi unsur-unsur pengambilan keputusan.
d. Logical Consistency
Logical Consistency merupakan karakteristik penting AHP. Hal ini dicapai dengan mengagresikan seluruh eigen vector yang diperoleh dari berbagai tingkatan hirarki dan selanjutnya diperoleh suatu vector composite tertimbang yang menghasilkan urutan pengambilan keputusan.
Objektif
Kriteria 2
Kriteria 1 Kriteria i
Alternatif 2
2.1.3 Tahapan-tahapan AHP
Tahapan-tahapan pengambilan keputusan dengan Metode AHP adalah sebagai
berikut:
a. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.
b. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan
dengan kriteria-kriteria, sub kriteria dan alternatif-alternatif pilihan yang ingin
di ranking.
c. Membentuk matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan
kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan
atau kriteria yang setingkat diatasnya. Perbandingan dilakukan berdasarkan
pilihan atau judgement dari pembuat keputusan dengan menilai tingkat tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya.
d. Menormalkan data yaitu dengan membagi nilai dari setiap elemen di dalam
matriks yang berpasangan dengan nilai total dari setiap kolom.
e. Menghitung nilai eigen vector dan menguji konsistensinya, jika tidak konsisten pengambil data (preferensi) perlu diulangi. Nilai eigen vector yang dimaksud
adalah nilai eigen vector maximum yang diperoleh dengan menggunakan
matlab maupun manual.
f. Mengulangi langkah c, d, dan e untuk seluruh tingkat hirarki.
g. Menghitung eigen vector dari setiap matriks perbandingan berpasangan. Nilai
eigen vector merupakan bobot setiap elemen. Langkah ini mensintesis pilihan dan penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai
pencapaian tujuan.
h. Menguji konsistensi hirarki. Jika tidak memenuhi dengan CR<0,100 maka penilaian harus diulang kembali.
2.1.4 Menetapkan Prioritas
Langkah pertama dalam menetapkan prioritas elemen-elemen dalam suatu persoalan
9
ditentukan. Perbandingan berpasangan ini dipresentasikan dalam bentuk matriks.
Skala yang digunakan untuk mengisi matriks ini adalah 1 sampai dengan 9 (skala
Saaty) dengan penjelasan pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.1 Skala untuk Perbandingan Berpasangan
Intensitas Kepentingan Defenisi
1 Equally important (sama penting)
3 Moderately more important (sedikit lebih penting)
5 Strongly more important (lebih penting)
7 Very strongly more important (sangat penting)
9 Extremely more important (mutlak lebih penting)
2, 4, 6, 8 Intermediate values (nilai yang berdekatan)
Setelah keseluruhan proses perbandingan berpasangan dilakukan, maka bentuk
matriks perbandingan berpasangannya adalah seperti pada Tabel 2.2. Apabila dalam
suatu subsistem operasi terdapat n elemen operasi yaitu A1, A2,…,An maka hasil
perbandingan dari elemen-elemen operasi tersebut akan membentuk matriks A
berukuran n × n sebagai berikut:
Tabel 2.2 Matriks Perbandingan Berpasangan
A1 A2 An
A1 1 a12 a1n
A2 a21 1 a2n
Matriks An×n merupakan matriks reciprocal yang diasumsikan terdapat n
elemen yaitu w1, w2,…,wn yang akan dinilai secara perbandingan. Nilai perbandingan
secara berpasangan antara wi dan wj yang dipresentasikan dalam sebuah matriks
, dengan i, j = 1, 2,…, n, sedangkan aij merupakan nilai matriks hasil
perbandingan yang mencerminkan nilai kepentingan Ai terhadap Aj bersangkutan
sehingga diperoleh matriks yang dinormalisasi. Untuk i = j, maka nilai aij = 1
(diagonal matriks), atau apabila antara elemen operasi Ai dengan Aj memiliki tingkat
kepentingan yang sama maka aij = aji = 1. Data dari matriks perbandingan
berpasangan ini merupakan dasar untuk menyusun vektor prioritas dalam AHP. Bila
vektor pembobotan elemen-elemen operasi dinyatakan dengan W, dengan W = (w1,
w2,…,wn), maka intensitas kepentingan elemen operasi A1 terhadap A2 adalah
, sehingga matriks perbandingan berpasangan dapat dinyatakan sebagai berikut:
Tabel 2.3 Matriks Perbandingan Intensitas Kepentingan Elemen Operasi
A1 A2 An
A1
A2
An
Berdasarkan matriks perbandingan berpasangan tersebut dilakukan normalisasi
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menjumlahkan nilai setiap kolom dalam matriks perbandingan berpasangan:
, untuk i, j= 1, 2,…,n.
b. Membagi nilai aij pada setiap kolom dengan jumlah nilai pada kolom:
11
c. Menjumlahkan semua nilai setiap baris dari matriks yang telah dinormalisasi
dan membaginya dengan elemen tiap baris. Hasil pembagian tersebut
menunjukkan nilai prioritas untuk masing-masing elemen.
2.1.5 Konsistensi
Dalam penilaian perbandingan berpasangan sering terjadi ketidakkonsistenan dari
pendapat/ preferensi yang diberikan oleh pengambil keputusan. Konsistensi dari
penilaian berpasangan tersebut dievaluasi dengan menghitung Consistency Ratio
(CR). Saaty menetapkan apabila CR ≤ 0,1, maka hasil penilaian tersebut dikatakan
konsisten. Formulasi untuk menghitung adalah:
. Dimana, CI = Consistency Indeks (Indeks Konsistensi) dan RI = Random Consistency Index.
Formula CI adalah:
; dimana max = nilai maksimum dari eigen value
berordo n. Eigen value maksimum didapat dengan menjumlahkan hasil perkalian matriks perbandingan dengan eigen vector utama (vektor prioritas) dan membaginya dengan jumlah elemen. Nilai CI tidak akan berarti bila tidak terdapat acuan untuk
menyatakan apakah CI menunjukkan suatu matriks yang konsisten atau tidak konsisten. Saaty mendapatkan nilai rata-rata Random Index (RI) seperti pada tabel berikut:
Tabel 2.4 Tabel Nilai Random Indeks (RI)
Ordo
Matriks 1,2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
2.1.6 Nilai Eigen dan Vektor Eigen
Defenisi. Misalkan A adalah sebarang matriksbujur sangkar. Skalar disebut sebagai nilai eigen dari A jika terdapat vektor (kolom) bukan-nol v sedemikian rupa
sehingga:
Sebarang vektor yang memenuhi hubungan ini disebut sebagai vektor eigen
dari A yang termasuk dalam nilai eigen .
Dicatat bahwa setiap kelipatan skalar kv dari vektor eigen v yang termasuk dalam
juga adalah vektor eigen karena:
Untuk mencapai nilai eigen dari matriks A yang berukuran n × n, maka dapat ditulis pada persamaan berikut:
Atau secara ekuivalen:
Agar menjadi nilai eigen, maka harus ada pemecahan tak nol dari persamaan ini.
Akan tetapi, persamaan di atas akan mempunyai pemecahan tak nol jika dan hanya
jika:
Ini dinamakan persamaan karakteristik A, skalar yang memenuhi persamaan ini adalah nilai eigen dari A.
Bila diketahui bahwa nilai perbandingan elemen Ai terhadap elemen Aj adalah
aij, maka secara teoritis matriks tersebut berciri positif berkebalikan, yakni
. Bobot yang dicari dinyatakan dalam vektor .
Nilai menyatakan bobot kriteria An terhadap keseluruhan set kriteria pada
13
Jika aij mewakili derajat kepentingan faktor i terhadap faktor j dan aik
menyatakan derajat kepentingan dari faktor j terhadap faktor k, maka agar keputusan menjadi konsisten, kepentingan i terhadap faktor k harus sama dengan atau
jika untuk semua i, j, k.
Untuk suatu matriks konsisten dengan vektor w, maka elemen dapat ditulis:
Jadi, matriks konsistennya adalah:
Seperti yang diuraikan di atas, maka untuk pairwise comparison matrix diuraikan menjadi:
Dari persamaan tersebut di atas dapat dilihat bahwa:
Dengan demikian untuk matriks perbandingan berpasangan yang konsisten menjadi:
Persamaan tersebut ekuivalen dengan bentuk persamaan matriks di bawah ini:
Dalam teori matriks, formulasi ini diekspresikan bahwa w adalah eigen vektor dari matriks A dengan nilai eigen n. Perlu diketahui bahwa n merupakan dimensi matriks itu sendiri. Dalam bentuk persamaan matriks dapat ditulis sebagai berikut:
Tetapi pada prakteknya tidak dapat dijamin bahwa:
Salah satu penyebabnya yaitu karena unsur manusia (decision maker) tidak selalu dapat konsisten mutlak dalam mengekspresikan preferensi terhadap elemen-elemen
yang dibandingkan. Dengan kata lain, bahwa penilaian yang diberikan untuk setiap
elemen persoalan pada suatu level hirarki dapat saja tidak konsisten (inconsistent).
2.2 Himpunan Fuzzy
Pada tahun 1965, Zadeh memodifikasi teori himpunan dimana setiap anggotanya
memiliki derajat keanggotaan yang bernilai kontinu antara 0 dan 1. Himpunan ini
disebut dengan Himpunan Kabur (Fuzzy Set). Himpunan Fuzzy didasarkan pada gagasan untuk memperluas jangkauan fungsi karakteristik sedemikian hingga fungsi
tersebut akan mencakup bilangan real pada interval [0, 1]. Nilai keanggotaannya
menunjukkan bahwa suatu item dalam semesta pembicaraan tidak hanya berada pada
0 atau 1, namun juga nilai yang berada diantaranya. Sedangkan dalam himpunan
crisp, nilai keanggoataan hanya 2 kemungkinan yaitu 0 atau 1. Jika , maka nilai
15
Misalkan diketahui klasifikasi sebagai berikut:
MUDA umur < 35 tahun
SETENGAH BAYA 35 ≤ umur ≤ 55 tahun
TUA umur > 55 tahun
Dengan menggunakan pendekatan crisp, amatlah tidak adil untuk menetapkan nilai SETENGAH BAYA. Pendekatan ini bisa saja dilakukan untuk hal-hal yang bersifat
diskontinu. Misalkan umur klasifikasi 55 tahun dan 56 tahun sangat jauh berbeda,
umur 55 tahun termasuk SETENGAH BAYA, sedangkan umur 56 tahun sudah
termasuk TUA. Demikian pula untuk kategori TUA dan MUDA. Dengan demikian
pendekatan crisp ini sangat tidak cocok untuk diterapkan pada hal-hal yang bersifat kontinu, seperti umur. Selain itu, untuk menunjukkan suatu unsur pasti termasuk
SETENGAH BAYA atau tidak, dan menunjukkan suatu nilai kebenaran 0 atau 1,
dapat digunakan nilai pecahan, dan menunjuk 1 atau nilai yang dekat dengan 1 untuk
umur 45 tahun, kemudian perlahan menurun menuju ke 0 untuk umur dibawah 35
tahun dan diatas 55 tahun.
Terkadang kemiripan antara keanggotaan fuzzy dengan probabilitas
menimbulkan kerancuan. Keduanya memiliki interval [0, 1], namun interpretasi
nilainya sangat berbeda. Keanggotaan fuzzy memberikan suatu ukuran terhadap pendapat atau keputusan, sedangkan probabilitas mengindikasikan proporsi terhadap
keseringan suatu hasil bernilai besar dalam jangka panjang. (Kusumadewi, 2004)
2.2.1 Fungsi Keanggotaan
Fungsi keanggotaan (membership function) adalah suatu kurva yang menunjukkan pemetaan titik-titik input data ke dalam nilai keanggotaannya (sering juga disebut
dengan derajat keanggotaan) yang memiliki interval antara 0 sampai 1. Atau dapat
dinotasikan sebagai berikut :
2.2.2 Bilangan Fuzzy Triangular
Fungsi keanggotaannya adalah sebagai berikut:
Berikut akan ditampilkan gambar bilangan fuzzy segitiga (Triangular):
µA(x) 1
0 a - β a a + β x
Gambar 2.2 Bilangan Fuzzy Triangular
2.2.3 Bilangan Fuzzy Trapezoidal
Fungsi keanggotaannya adalah sebagai berikut:
17
Berikut akan ditampilkan gambar bilangan fuzzy trapezoidal:
µA(x) 1
0 a –β a b a + β x
Gambar 2.3 Bilangan Fuzzy Trapezoidal
2.2.4 Himpunan Penyokong (Support Set)
Terkadang bagian tidak nol dari suatu himpunan fuzzy ditampilkan dalam domain. Sebagai contoh, domain untuk BERAT adalah 40 kg hingga 60 kg, namun kurva yang
ada dimulai dari 42 kg hingga 60 kg. Daerah ini disebut dengan himpunan penyokong
(support set). Hal ini penting untuk menginterpretasikan dan mengatur daerah fuzzy
yang dinamis.
2.2.5 Nilai Ambang Alfa-Cut
Salah satu teknik yang erat hubungannya dengan himpunan penyokong adalah
himpunan level-alfa (α-cut). Level-alfa ini merupakan nilai ambang batas domain yang didasarkan pada nilai keanggotaan untuk tiap-tiap domain. Himpunan ini berisi
2.2.6 Operasi-operasi pada Himpunan Fuzzy
Seperti halnya himpunan konvensional, ada beberapa operasi yang didefenisikan
secara khusus untuk mengkombinasi dan memodifikasi himpunan fuzzy. Berikut ini ada beberapa operasi logika fuzzy yang didefinisikan oleh Zadeh, yaitu:
Interseksi :
Union :
Komplemen :
Karena himpunan fuzzy tidak dapat dibagi dengan tepat seperti halnya dalam himpunan crisp, maka operasi-operasi ini diaplikasikan pada tingkat keanggotaan. Suatu elemen dikatakan menjadi anggota himpunan fuzzy jika:
a. Berada pada domain himpunan tersebut.
b. Nilai kebenaran keanggotaannya ≥ 0.
c. Berada di atas ambang α-cut yang berlaku.
Untuk interval [a, b] dan [d, e], maka operasi aritmetik untuk bilangan fuzzy adalah:
a. Penjumlahan : [a, b] + [d, e] = [a + d, b + e]
b. Perkalian : [a, b] . [d, e] = [min(ad, ae, bd, be), max(ad, ae, bd, be)] c. Pembagian : [a, b] / [d, e] = [min(a/d, a/e, b/d, b/e), max(a/d, a/e, b/d, b/e)]
2.3 Fuzzy-Analytic Hierarchy Process (FAHP)
Pada dasarnya langkah-langkah dalam Metode fuzzy-AHP adalah hampir sama dengan Metode AHP. Penggunaan AHP dalam problem Multi Criteria Decision Making
(MCDM) sering dikritisi sehubungan dengan kurang mampunya pendekatan ini untuk
mengatasi faktor ketidakpresisian yang dialami oleh pengambil keputusan ketika
19
AHP menggunakan fuzzy numbers. Dengan kata lain fuzzy-AHP adalah metode analisis yang dikembangkan dari Metode AHP orisinil.
Dalam pendekatan fuzzy AHP digunakan Triangular Fuzzy Number (TFN) atau Bilangan Fuzzy Segitiga (BFS) untuk proses fuzzyfikasi dari matriks perbandingan yang bersifat crisp. Data yang kabur akan dipresentasikan dalam TFN. Setiap fungsi keanggotaan didefenisikan dalam 3 parameter yakni, l, m, dan u, dimana
l adalah nilai kemungkinan terendah, m adalah nilai kemungkinan tengah dan u adalah nilai kemungkinan teratas pada interval putusan pengambil keputusan. Nilai l, m, dan
u dapat juga ditentukan oleh pengambil keputusan itu sendiri. Tulisan ini mengajukan tiga parameter bilangan fuzzy untuk merepresentasikan skala Saaty (1-9) sesuai dengan tingkat kepentingannya, yakni (Alias, 2009):
Bilangan kabur segitiga (TFN) dapat menunjukkan kesubjektifan
perbandingan berpasangan atau dapat menunjukkan derajat yang pasti dari kekaburan
(ketidakpastian). Dalam hal ini variabel linguistik dapat digunakan oleh pengambil
keputusan untuk merepresentasikan kekaburan data seandainya ada ketidaknyamanan
dengan TFN. TFN dan variabel linguistiknya sesuai dengan skala Saaty ditunjukkan
Tabel 2.5 Tabel Fungsi Keanggotaan Bilangan Fuzzy
Untuk melakukan prioritas lokal dari matriks fuzzy pairwise comparison sudah banyak metode yang dikembangkan oleh para ahli sebelumnya. Dengan mengkombinasikan
prosedur AHP dengan operasi aritmetik untuk bilangan fuzzy, prioritas lokal dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan berikut (Febransyah, 2006):
21
m = nilai yang paling menjanjikan (kemungkinan tengah)
u = nilai batas atas (kemungkinan teratas)
Dimana operasi aritmetik untuk bilangan fuzzy dapat dilihat dari persamaan berikut:
1.
3.
Sedangkan prioritas global diperoleh dengan mengalikan bobot setiap kriteria wj
dengan nilai evaluasi. Persamaan dapat dituliskan sebagai berikut:
(7)
Dimana vij adalah prioritas lokal untuk alternatif i relatif terhadap kriteria j. Nilai defuzzyfikasi diperoleh dengan cara defuzzifying terhadap prioritas global. Untuk TFN
, nilai defuzzyfikasinya dapat diperoleh dari persamaan berikut:
Dimana: DPi = nilai defuzzyfikasi
= bilangan fuzzy segitiga dari prioritas global
Nilai defuzzyfikasi dinormalkan dengan membaginya dengan nilai penjumlahan semua nilai defuzzyfikasi.
2.4 Proses Pengembangan Produk
Kesuksesan ekonomi sebuah perusahaan tergantung pada kemampuan untuk
mengidentifikasi kebutuhan pelanggan, kemudian secara tepat menciptakan produk
yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan biaya yang rendah. Hal ini bukan
merupakan tanggung jawab bagian pemasaran atau bagian desain, melainkan
tanggung jawab yang melibatkan banyak fungsi dalam suatu perusahaan, sehingga
membentuk suatu tim gabungan dari berbagai fungsi untuk bekerja sama dalam proses
pengembangan produk. Pengembangan produk merupakan serangkaian aktivitas yang
dimulai dari analisis persepsi dan peluang pasar, kemudian diakhiri dengan tahap
produksi, penjualan dan pengiriman produk.
Salah satu cara berpikir tentang pengembangan produk adalah sebagai kreasi
23
alternatif-alternatif dan menambah spesifikasi produk sehingga produk dapat
diandalkan dan diproduksi ulang dalam sistem produksi. Konsep adalah uraian dari
bentuk, fungsi, dan tampilan suatu produk dan biasanya dibarengi dengan sekumpulan
spesifikasi, analisis produk-produk pesaing serta pertimbangan ekonomis proyek.
Konsep produk adalah perkiraan gambaran dari teknologi, prinsip kerja dan bentuk
dari produk. Konsep produk yang dimaksud merupakan gambaran singkat bagaimana
produk dapat memuaskan kebutuhan pelanggan yang biasanya diekspresikan sebagai
sebuah sketsa/ model atau bentuk dari produk. Sebagai catatan, kebanyakan fase
pengembangan didefenisikan berdasarkan keadaan produk, meskipun proses produksi
dan rencana pemasaran, yang merupakan output-output berwujud yang lain, juga turut berproses mengikuti kemajuan pengembangan. Enam fase dalam proses
pengembangan secara umum adalah:
a. Fase 0: Perencanaan Produk
Kegiatan perencanaan sering dirujuk sebagai “zerofase” karena kegiatan ini
mendahului persetujuan proyek dan proses peluncuran pengembangan produk
aktual.
b. Fase 1: Pengembangan Konsep
Pada fase pengembangan konsep, kebutuhan pasar target diidentifikasi,
alternatif konsep-konsep produk dibangkitkan dan dievaluasi, dan satu atau
lebih konsep dipilih untuk pengembangan dan percobaan lebih jauh.
c. Fase 2: Perancangan Tingkatan Sistem
Fase perancangan tingkatan sistem mencakup defenisi arsitektur produk dan
uraian produk menjadi subsistem-subsistem serta komponen-komponen.
d. Fase 3: Perancangan Detail
Fase perancangan detail mencakup spesifikasi lengkap dari bentuk, material,
dan toleransi-toleransi dari seluruh komponen unik pada produk dan
identifikasi seluruh komponen standar yang dibeli dari pemasok.
e. Fase 4: Pengujian dan Perbaikan
Fase pengujian dan perbaikan melibatkan kontruksi dan evaluasi dari
f. Fase 5: Produksi Awal
Pada fase produksi awal, produk dibuat dengan menggunakan sistem produksi
yang sesungguhnya. Tujuan dari produksi awal ini adalah untuk melatih tenaga
kerja dalam memecahkan permasalahan yang mungkin timbul pada proses
produksi sesungguhnya. Peralihan dari produksi awal menjadi produksi
sesungguhnya biasanya tahap demi tahap. Pada beberapa titik pada masa
peralihan ini, produk diluncurkan dan mulai disediakan untuk didistribusikan.
Inti dari pengembangan poduk adalah pengembangan konsep. Fase
pengembangan konsep membutuhkan integrasi yang sangat baik di antara
fungsi-fungsi yang berbeda pada tim pengembangan. Proses pengembangan konsep
mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Identifikasi kebutuhan pelanggan
Sasaran kegiatan ini adalah untuk memahami kebutuhan konsumen dan
mengkomunikasikannya secara efektif kepada tim pengembangan. Output dari langkah ini adalah sekumpulan pernyataan kebutuhan pelanggan yang tersusun
rapi, diatur dalam hirarki, dengan bobot-bobot kepentingan untuk tiap
kebutuhan. Tujuan identifikasi kebutuhan pelanggan adalah:
1. Meyakinkan bahwa produk telah difokuskan terhadap kebutuhan
konsumen.
2. Mengidentifikasikan kebutuhan pelanggan yang tersembunyi dan tidak
terucapkan (latent needs) seperti halnya kebutuhan yang eksplisit. 3. Menjadi basis untuk menyusun spesifikasi produk.
4. Menjamin tidak adanya kebutuhan konsumen penting yang terlupakan.
5. Menanamkan pemahaman yang sama mengenai kebutuhan pelanggan di
antara anggota tim pengembangan.
b. Penetapan spesifikasi target
Spesifikasi memberikan uraian yang tepat mengenai bagaimana produk
bekerja. Spesifikasi merupakan terjemahan dari kebutuhan pelanggan menjadi
kebutuhan secara teknis. Output dari langkah ini adalah suatu daftar spesifikasi target yang terdiri dari suatu metrik (besaran), serta nilai-nilai batas dan ideal
25
c. Penyusunan konsep
Sasaran penyusunan konsep adalah menggali lebih jauh area konsep-konsep
produk yang mungkin sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Penyusunan
konsep mencakup gabungan dari penelitian eksternal, proses pemecahan
masalah secara kreatif oleh tim dan penelitian sistematis dari bagian-bagian
solusi yang dihasilkan oleh tim. Hasil dari kegiatan ini biasanya terdiri dari 10
sampai 20 konsep.
d. Pemilihan konsep
Pemilihan konsep merupakan kegiatan di mana berbagai konsep dianalisis dan
secara berturut-turut dieliminasi untuk mengidentifikasi konsep yang paling
menjanjikan. Proses ini biasanya membutuhkan beberapa iterasi dan mungkin
diajukannya tambahan penyusunan dan perbaikan konsep.
e. Pengujian konsep
Satu atau lebih konsep diuji untuk mengetahui apakah kebutuhan pelanggan
telah terpenuhi, memperkirakan potensi pasar dari produk, dan
mengidentifikasi beberapa kelemahan yang harus diperbaiki selama proses
pengembangan selanjutnya.
f. Penentuan spesifikasi akhir
Spesifikasi target yang telah ditentukan diawal proses ditinjau kembali setelah
proses dipilih dan diuji. Pada tahap ini, tim harus konsisten dengan nilai-nilai
besaran spesifik yang mencerminkan batasan-batasan pada konsep produk itu
sendiri, batasan-batasan yang diidentifikasi melalui pemodelan secara teknis,
serta pilihan antara biaya dan kinerja.
g. Perencanaan proyek
Pada kegiatan akhir pengembangan konsep ini, tim membuat suatu jadwal
pengembangan secara rinci, menentukan strategi untuk meminimisasi waktu
pengembangan, dan mengidentifikasi sumber daya yang digunakan untuk
menyelesaikan proyek.
h. Analisis ekonomi
Tim pengembang sering didukung oleh analis keuangan untuk membuat model
ekonomis untuk produk baru. Analisis ekonomi digunakan uuntuk memastikan
tawar-menawar spesifik, misalnya antara biaya manufaktur dan biaya
pengembangan.
i. Analisa produk-produk pesaing
Pemahaman pengenai produk-produk pesaing adalah penting untuk
menentukan posisi produk baru yang berhasil dan dapat menjadi sumber ide
yang kaya untuk rancangan produk dan proses produksi.
j. Pemodelan dan pembuatan prototype
Pemodelan dan pembuatan proptotipe mencakup model pembuktian konsep,
yang akan membantu tim pengembangan dalam menunjukkan kelayakan
model “hanya bentuk” dapat ditunjukkan kepada pelanggan untuk
mengevaluasi keergonomisan dan gaya, sedangkan model lembar kerja adalah
untuk pilihan teknis. (Ulrich, 2001)
2.5 Pemilihan Konsep Produk Sebagai Bagian Penting dari Proses
Pengembangan Produk
Setelah mengidentifikasikan serangkaian kebutuhan pelanggan, lalu tim
pengembangan produk menghasilkan konsep solusi alternatif sebagai respons terhadap
kebutuhan tersebut. Pemilihan konsep merupakan proses menilai konsep dengan
memperhatikan kebutuhan pelanggan dan kriteria lain, membandingkan kekuatan dan
kelemahan relatif dari konsep, dan memilih satu atau lebih konsep untuk penyelidikan,
pengujian dan pengembangan selanjutnya. Seleksi konsep merupakan proses berulang
yang berhubungan erat dengan penyusunan dan pengujian konsep. Metode
penyaringan dan penilaian konsep membantu tim menyaring dan memperbaiki konsep
lalu menetapkan satu atau lebih konsep yang lebih menjanjikan yang akan menjadi
fokus dalam pengujian lebih lanjut dalam kegiatan pengembangan.
Metode pemilihan konsep sangat bervariasi dilihat dari efektivitasnya.
Beberapa metode tersebut adalah:
a. Keputusan eksternal, yakni konsep-konsep dikembalikan kepada pelanggan,
klien, atau beberapa lingkup eksternal lainnya untuk diseleksi.
27
c. Intuisi, yakni konsep dipilih berdasarkan perasaan. Kriteria eksplisit atau
analisis pertentangan tidak digunakan. Konsep yang dipilih semata-mata yang
kelihatan lebih baik.
d. Multivoting, yakni tiap anggota tim memilih beberapa konsep. Konsep yang
paling banyak dipilih yang akan digunakan.
e. Pro dan kontra, yakni tim mendaftar kekuatan dan kelemahan dari tiap konsep
dan membuat sebuh pilihan berdasarkan pendapat konsep.
f. Prototype dan pengujian, yakni organisasi membuat dan menguji prototype
dari tiap konsep, lalu menyeleksi berdasarkan data pengujian.
g. Matriks keputusan, yakni tim menilai masing-masing konsep berdasarkan
kriteria penyeleksian yang yang telah ditetapkan sebelum yang dapat diberi
bobot.
Karena dalam pemilihan konsep produk banyak ditemukan ketidakpastian.
Salah satu metode yang paling efektif selain metode-metode di atas untuk menangani
masalah ketidakpastian ini adalah metode fuzzy-AHP. Dengan menggunakan metode ini diharapkan dapat memilih konsep produk mana yang layak untuk dikembangkan.
BAB 3
PEMBAHASAN
3.1 Pembahasan Numerik
Dalam pemilihan konsep produk di PT. X terhadap 3 (tiga) konsep produk roti yang
akan diproduksi dalam waktu dekat. Tim pengembang produk menetapkan 4 kriteria
yang menjadi dasar dalam pemilihan konsep produk, yaitu:
1. Kemudahan dalam pembuatan (K1)
2. Kemudahan dalam memperoleh bahan baku (K2)
3. Ketersediaan peralatan produksi (K3)
4. Lama produksi (K4)
Dalam hal ini, hal pertama yang dikerjakan adalah dengan menggunakan Metode
AHP. Jadi perbandingan antara kriteria dan alternatif menggunakan Metode AHP.
Selanjutnya akan dikerjakan dengan menggunakan Metode Fuzzy AHP dengan struktur hirarki yang sama dengan Metode AHP. Hal ini dikerjakan dengan tujuan
untuk membandingkan hasil dari Metode AHP dan Fuzzy AHP.
3.2 Perhitungan Faktor Pembobotan untuk Semua Kriteria
Tingkat kepentingan diantara kriteria di atas ditunjukkan pada matriks perbandingan
29
Tabel 3.1 Tabel Perbandingan Berpasangan Antar Semua Kriteria
K1 K2 K3 K4
K1 1 2 1 3
K2 1 4
K3 1 2 1 2
K4 1
Tabel 3.2 Perbandingan Berpasangan Antar Semua Kriteria yang
Disederhanakan
Lalu membagi nilai pada setiap kolom dengan jumlah nilai pada kolom, yakni:
Dimana: i, j= 1, 2,…,n, dan nilai pada setiap kolom.
Hasilnya seperti pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.3 Bobot Relatif Antar Semua Kriteria yang Dinormalkan
Nilai Vektor Eigen merupakan rata-rata bobot relatif untuk setiap baris. Kemudian
akan dicari nilai eigen maksimum, yaitu dengan menjumlahkan hasil perkalian jumlah
kolom dengan vektor eigen. Jadi, nilai eigen maksimumnya adalah:
Karena kriteria memiliki ordo 4 (kriteria ada sebanyak 4) maka indeks konsistensinya
adalah:
Untuk n = 4, maka RI = 0,9000 sehingga nilai perbandingan konsistensinya adalah:
Karena CR < 0,1000 maka matriks perbandingan berpasangan adalah konsisten. Sehingga dari perhitungan di atas dapat dilihat bahwa kriteria kemudahan dalam
pembuatan memiliki bobot tertinggi yaitu 0,3418 atau 34,18%, lalu kriteria
ketersediaan alat produksi dengan bobot 0,3168 atau 31,68%, berikutnya adalah
kriteria kemudahan dalam memperoleh bahan baku dengan bobot 0,2334 atau 23,34%,
dan yang terakhir adalah kriteria lama produksi dengan bobot terendah yaitu 0,1080
atau 10,80%.
3.3 Perhitungan Faktor Pembobotan Alternatif untuk Setiap Kriteria
Berikut akan diberikan perhitungan faktor pembobotan untuk setiap alternatif dari
31
3.3.1 Perhitungan Faktor Pembobotan untuk Kriteria Kemudahan dalam
Pembuatan
Perbandingan berpasangan antar alternatif (konsep produk) untuk kriteria kemudahan
dalam pembuatan adalah:
Tabel 3.4 Matriks Perbandingan Berpasangan Antar Alternatif untuk Kriteria
Kemudahan Pembuatan
Konsep A Konsep B Konsep C
Konsep A 1
Konsep B 3 1 3
Konsep C 2 1
Tabel 3.5 Matriks Perbandingan Berpasangan Antar Alternatif untuk Kriteria
Kemudahan Pembuatan yang Disederhanakan
Konsep A Konsep B Konsep C
Konsep A 1 0,3333 0,5
Konsep B 3 1 3
Konsep C 2 0,3333 1
6 1,6666 4,5
Lalu dengan cara yang sama seperti pada sebelumnya, yaitu membagi nilai pada setiap
kolom dengan jumlah nilai pada kolom. Hasilnya seperti pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.6 Tabel Bobot Relatif Antar Alternatif untuk Kriteria Kemudahan
Pembuatan yang Dinormalkan
Konsep A Konsep B Konsep C Vektor Eigen
Konsep A 0,1667 0,2 0,1111 0,1593
Konsep B 0,5 0,60 0,6667 0,5889
Selanjutnya dicari nilai eigen maksimum, yakni:
Karena permasalahan memiliki ordo 3 (alternatif ada sebanyak 3) maka indeks
konsistensinya adalah:
Untuk n = 3, maka RI = 0,5800 sehingga nilai perbandingan konsistensinya adalah:
Karena CR < 0,1000 maka matriks perbandingan berpasangan adalah konsisten. Sehingga dari perhitungan di atas dapat dilihat urutan prioritas lokal untuk kriteria
kemudahan pembuatan yakni, konsep B memiliki bobot tertinggi yaitu 0,5889 atau
58,89%, lalu konsep C dengan bobot 0,2519 atau 25,19%, dan yang terakhir adalah
konsep A dengan bobot terendah yaitu 0,1593 atau 15,93%.
3.3.2 Perhitungan Faktor Pembobotan untuk Kriteria Kemudahan dalam
Memperoleh Bahan Baku
Perbandingan berpasangan antar alternatif (konsep produk) untuk kriteria kemudahan
dalam memperoleh bahan baku adalah:
Tabel 3.7 Matriks Perbandingan Berpasangan Antar Alternatif untuk Kriteria
Kemudahan Memperoleh Bahan Baku
Konsep A Konsep B Konsep C
Konsep A 1 2 4
Konsep B 1 3
33
Tabel 3.8 Matriks Perbandingan Berpasangan Antar Alternatif untuk Kriteria
Kemudahan Memperoleh Bahan Baku yang Disederhanakan
Konsep A Konsep B Konsep C
Konsep A 1 2 4
Konsep B 0,5 1 3
Konsep C 0,25 0,3333 1
1,75 3,3333 8
Lalu dengan cara yang sama seperti pada sebelumnya, yaitu membagi nilai pada setiap
kolom dengan jumlah nilai pada kolom. Hasilnya seperti pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.9 Tabel Bobot Relatif Antar Alternatif untuk Kriteria Kemudahan
Memperoleh Bahan Baku yang Dinormalkan
Konsep A Konsep B Konsep C Vektor Eigen
Konsep A 0,5714 0,6 0,5 0,5571
Konsep B 0,2857 0,3 0,375 0,3202
Konsep C 0,1429 0,1 0,125 0,1226
Selanjutnya dicari nilai eigen maksimum, yakni:
Karena permasalahan memiliki ordo 3 (alternatif ada sebanyak 3) maka indeks
konsistensinya adalah:
Untuk n = 3, maka RI = 0,5800 sehingga nilai perbandingan konsistensinya adalah:
kemudahan memperoleh bahan baku yakni, konsep A memiliki bobot tertinggi yaitu
0,5571 atau 55,71%, lalu konsep B dengan bobot 0,3202 atau 32,02%, dan yang
terakhir adalah konsep C dengan bobot terendah yaitu 0,1226 atau 12,26%.
3.3.3 Perhitungan Faktor Pembobotan untuk Kriteria Ketersediaan Peralatan
Produksi
Perbandingan berpasangan antar alternatif (konsep produk) untuk criteria ketersediaan
peralatan produksi adalah:
Tabel 3.10 Matriks Perbandingan Berpasangan Antar Alternatif untuk Kriteria
Ketersediaan Peralatan Produksi
Konsep A Konsep B Konsep C
Konsep A 1 3 5
Konsep B 1 3
Konsep C 1
Tabel 3.11 Matriks Perbandingan Berpasangan Antar Alternatif untuk Kriteria
Ketersediaan Peralatan Produksi yang Disederhanakan
Konsep A Konsep B Konsep C
Konsep A 1 3 5
Konsep B 0,3333 1 3
Konsep C 0,2 0,3333 1
1,5333 4,3333 9
Lalu dengan cara yang sama seperti pada sebelumnya, yaitu membagi nilai pada setiap
35
Tabel 3.12 Tabel Bobot Relatif Antar Alternatif untuk Kriteria Ketersediaan
Peralatan Produksi yang Dinormalkan
Konsep A Konsep B Konsep C Vektor Eigen
Konsep A 0,6522 0,6923 0,5556 0,6333
Konsep B 0,2174 0,2308 0,3333 0,2605
Konsep C 0,1304 0,0769 0,1111 0,1062
Selanjutnya dicari nilai eigen maksimum, yakni:
Karena permasalahan memiliki ordo 3 (alternatif ada sebanyak 3) maka indeks
konsistensinya adalah:
Untuk n = 3, maka RI = 0,5800 sehingga nilai perbandingan konsistensinya adalah:
Karena CR < 0,1000 maka matriks perbandingan berpasangan adalah konsisten. Sehingga dari perhitungan di atas dapat dilihat urutan prioritas lokal untuk kriteria
ketersediaan peralatan produksi yakni, konsep A memiliki bobot tertinggi yaitu 0,6333
atau 63,33%, lalu konsep B dengan bobot 0,2605 atau 26,05%, dan yang terakhir
adalah konsep C dengan bobot terendah yaitu 0,1062 atau 10,62%.
3.3.4 Perhitungan Faktor Pembobotan untuk Kriteria Lama Produksi
Perbandingan berpasangan antar alternatif (konsep produk) untuk kriteria lama
Tabel 3.13 Matriks Perbandingan Berpasangan Antar Alternatif untuk Kriteria
Lama Produksi
Konsep A Konsep B Konsep C
Konsep A 1 3 4
Konsep B 1 3
Konsep C 1
Tabel 3.14 Matriks Perbandingan Berpasangan Antar Alternatif untuk Kriteria
Lama Produksi yang Disederhanakan
Konsep A Konsep B Konsep C
Konsep A 1 3 4
Konsep B 0,3333 1 3
Konsep C 0,25 0,3333 1
1,5833 4,3333 8
Lalu dengan cara yang sama seperti pada sebelumnya, yaitu membagi nilai pada setiap
kolom dengan jumlah nilai pada kolom. Hasilnya seperti pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.15 Tabel Bobot Relatif Antar Alternatif untuk Kriteria Lama Produksi
yang Dinormalkan
Konsep A Konsep B Konsep C Vektor Eigen
Konsep A 0,6316 0,6923 0,5 0,6080
Konsep B 0,2105 0,2308 0,3750 0,2721
Konsep C 0,1579 0,0769 0,1250 0,1199
Selanjutnya dicari nilai eigen maksimum, yakni:
37
Karena permasalahan memiliki ordo 3 (alternatif ada sebanyak 3) maka indeks
konsistensinya adalah:
Untuk n = 3, maka RI = 0,5800 sehingga nilai perbandingan konsistensinya adalah:
Karena CR < 0,1000 maka matriks perbandingan berpasangan adalah konsisten. Sehingga dari perhitungan di atas dapat dilihat urutan prioritas lokal untuk kriteria
lama produksi yakni, konsep A memiliki bobot tertinggi yaitu 0,6080 atau 60,80%,
lalu konsep B dengan bobot 0,2721 atau 27,21%, dan yang terakhir adalah konsep C
dengan bobot terendah yaitu 0,1199 atau 11,99%.
3.3.5 Perhitungan Total Rangking
Dari perhitungan di atas dapat diperoleh hubungan antara kriteria dan alternatif,
seperti ditunjukkan pada matriks di bawah ini:
Tabel 3.16 Matriks Hubungan Antara Kriteria dan Alternatif
Kemudahahan
Total rangking diperoleh dengan mengalikan nilai faktor evaluasi masing-masing
alternatif dengan nilai faktor evaluasi kriteria, yakni:
Sehingga diperoleh bahwa dalam pemilihan konsep produk dengan
menggunakan Metode AHP konsep A memiliki bobot tertinggi yaitu 0,4507 atau
45,07%, kemudian konsep B dengan bobot 0,3879 atau 38,79% dan yang terendah
adalah konsep C dengan bobot 0,1613 atau 16,13%. Jadi konsep produk yang layak
dikembangkan dengan Metode AHP adalah konsep A.
Setelah melakukan perhitungan dengan Metode AHP selanjutnya yaitu
perhitungan dengan menggunakan pendekatan Fuzzy AHP.
3.4 Perhitungan dengan Metode Fuzzy AHP
Dengan menggunakan fungsi keanggotaan bilangan fuzzy pada Tabel 2.5 maka tabel perbandingan berpasangan untuk semua kriteria dengan Fuzzy AHP ditunjukkan sebagai berikut:
Tabel 3.17 Matriks Perbandingan Berpasangan Fuzzy untuk Semua Kriteria
39
Sehingga:
1.
2.
3.
4.
Dengan cara yang sama akan dicari juga bobot masing-masing alternatif untuk setiap
kriteria.
Tabel 3.18 Matriks Perbandingan Berpasangan Fuzzy Antar Alternatif untuk
Kriteria Kemudahan Pembuatan
Konsep A Konsep B Konsep C
Konsep A (1, 1, 1)
Konsep B (2, 3, 4) (1, 1, 1) (2, 3, 4)
Konsep C (1, 2, 3)
Bobot masing-masing alternatif untuk kriteria kemudahan pembuatan adalah:
1.
2.
3.
Tabel 3.19 Matriks Perbandingan Berpasangan Fuzzy Antar Alternatif untuk
Kriteria Kemudahan Memperoleh Bahan Baku
Konsep A Konsep B Konsep C
Konsep A (1, 1, 1) (1, 2, 3) (3, 4, 5)
Konsep B
(1, 1, 1) (2, 3, 4)
Konsep C
(1, 1, 1)
Bobot masing-masing alternatif untuk kriteria kemudahan memperoleh bahan baku
adalah:
1.
41
2.
3.
Tabel 3.20 Matriks Perbandingan Berpasangan Fuzzy Antar Alternatif untuk
Kriteria Ketersediaan Peralatan Produksi
Konsep A Konsep B Konsep C
Konsep A (1, 1, 1) (2, 3, 4) (4, 5, 6)
Konsep B
(1, 1, 1) (2, 3, 4)
Konsep C
(1, 1, 1)
Bobot masing-masing alternatif untuk kriteria ketersediaan peralatan produksi adalah:
1.
2.
3.
Tabel 3.21 Matriks Perbandingan Berpasangan Fuzzy Antar Alternatif untuk
Kriteria Lama Produksi
Konsep A Konsep B Konsep C
Konsep A (1, 1, 1) (2, 3, 4) (3, 4, 5)
Konsep B
(1, 1, 1) (2, 3, 4)
Konsep C
(1, 1, 1)
Bobot masing-masing alternatif untuk kriteria lama produksi adalah:
1.
2.
3.
43
Setelah perhitungan bobot setiap kriteria dan alternatif diperoleh maka
selanjutnya akan dihitung prioritas global atau urutan terbaik alternatif (konsep)
2.
3.
Kemudian nilai defuzzyfikasi di atas dinormalkan dengan cara membaginya dengan nilai penjumlahan semua nilai defuzzyfikasi., sehingga diperoleh nilai sebagai berikut:
1.
2.
3.
Dengan demikian dari perhitungan di atas dengan metode fuzzy-AHP, maka konsep produk yang layak dikembangkan adalah konsep A dengan bobot 0,4289 atau 42,89%,
kemudian konsep B dengan bobot 0,4057 atau 40,89%, dan yang terakhir adalah
BAB 4
KESIMPULAN
Metode fuzzy-AHP adalah metode kelanjutan dari Metode AHP. Dari perhitungan-perhitungan yang dilakukan diatas dapat disimpulkan bahwa secara hasil, konsep yang
terpilih baik dengan fuzzy-AHP maupun AHP adalah sama yaitu konsep A. namun berbeda pada bobotnya. Dimana bobot untuk AHP adalah 0,4507 atau 45,07%
sedangkan bobot untuk fuzzy-AHP adalah 0,4289 atau 42,89%. Dan pada dasarnya kedua metode ini tidaklah untuk dibandingkan karana kondisinya tidak sama. Metode
AHP digunakan apabila informasi/ evaluasi terhadap setiap kriteria/ alternatif adalah
pasti, sedangkan fuzzy-AHP digunakan apabila informasi/ evaluasi terhadap kriteria/ alternatif mengandung ketidakpastian. Sehingga melalui metode fuzzy AHP ini, ketidakpastian tersebut dapat dipresentasikan melalui variabel linguistik yang
DAFTAR PUSTAKA
Alias, M. A., Hashim, S. Z. M., dan Samsudin, S. 2009. “Using fuzzy analytic Hierarchy process for southern johor river ranking”. Int. J. Advance. Soft
Comput. Appl. Vol. 1. No. 1: hal. 62-76.
Febransyah, A. dan Utarja, J. B. 2004. “A fuzzy-based decision making approach for
product concept selection”. Jurnal Teknik Industri Volume 6 Nomor 1: hal 25 -36.
Febransyah, A. 2006. “Mengukur kesuksesan produk pada tahap desain: sebuah
pendekatan fuzzy-mcdm”. Jurnal Teknik Industri Volume 8 Nomor 2: hal.
122-130.
Kusumadewi, Sri. 2002. Analisis dan Desain Sistem Fuzzy Menggunakan Toolbox Matlab. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Kusumadewi, Sri. dan Purnomo, Hari. 2004. Aplikasi Logika Fuzzy untuk Pendukung Keputusan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Latifah, Siti. 2005. “Prinsip-prinsip dasar Analytical Hierarchy Process”. Jurnal Studi
Kasus Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara (USU). Medan.
Raharjo, J. dan Sutapa, I. N. 2002. “Aplikasi fuzzy analytical hierarchy process dalam seleksi karyawan”. Jurnal Teknik Industri Volume 4 Nomor 2: hal 82-92.
Saaty, T.L. 1993. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin, Proses Hirarki Analitik untuk Pengambilan Keputusan dalam Situasi yang Kompleks. Jakarta: PT. Pustaka Binaman Pressindo.
Ulrich, K. T. dan Eppinger, S. D. 2001. Perancangan dan pengembangan produk. Edisi Pertama. Terjemahan Nora Azmi dan Iveline Anne Marie. Jakarta: