ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN
DALAM PEMBANGUNAN DAERAH DI KABUPATEN BATANG
(Pendekatan
Location Quotient
dan
Shift Share Analysis
)
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian (SP)
Oleh
Sofiyanto
NIM: 1110092000041
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN
DALAM PEMBANGUNAN DAERAH DI KABUPATEN BATANG
(Pendekatan
Location Quotient
dan
Shift Share Analysis
)
Oleh
Sofiyanto
NIM: 1110092000041
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian (SP)
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan guna memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ciputat, 27 April 2015
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
7. Status Perkawinan : Belum Menikah
8. Telepon / Hp. : 08788 4474 181 / 0857 800 55476
4. (2010–2015) Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
PENGALAMAN KERJA
1. Magang di PT PLN (Persero), Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang
Periode : 2 Januari 2009 s.d. 27 Februari 2009
Posisi : Administrasi dan Tutor Computer Class
5. Magang di PT DAPETIN GLOBAL MANDIRI
Periode : 1 Januari 2014 – 30 Maret 2014
RINGKASAN
SOFIYANTO, Analisis Peran Sub Sektor Pertanian Dalam Pembangunan Daerah Di Kabupaten Batang (Pendekatan Location Quotient dan Shift Share Analysis). Di bawah bimbingan Dr. Iskandar Andi Nuhung, M.Si dan Achmad Tjachja Nugraha, SP, MP
Pembangunan pertanian dalam era globalisasi dihadapkan kepada tuntutan peningkatan produktivitas dan efisiensi agar dapat berdaya saing di pasar domestik dan internasional. Untuk peningkatan daya saing tersebut peningkatan sumber daya lahan perlu diupayakan secara optimal sesuai dengan keunggulan komparatifnya sehingga mampu menampilkan produktivitas tinggi dalam pengembangan suatu komoditi. Mengingat terbatasnya Anggaran Perencanaan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Batang, maka strategi pembangunan ekonomi Kabupaten Batang yang perlu menjadi prioritas adalah pembangunan ekonomi yang berbasis pada sektor unggulan (basis). Perkembangan sektor unggulan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), serta dapat mendukung dan mendorong perkembangan sektor perekonomian lainnya, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional sehingga dapat
meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat.
Sektor perekonomian unggulan yang perlu mendapatkan perhatian lebih oleh pemerintah daerah Kabupaten Batang adalah sektor pertanian. Sektor tersebut selain memberikan kontribusi yang besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) juga menyerap tenaga kerja terbesar di Kabupaten Batang. Namun, disisi lain sektor pertanian semakin kedepan semakin menurun pertumbuhan dan kontribusinya dari tahun ke tahun. Dengan demikian perlu adanya upaya dalam memajukan sektor pertanian, mengingat besarnya peran sektor tersebut baik dalam perekonomian maupun penyerapan tenaga kerja. Upaya yang perlu dilakukan adalah dengan mengidentifikasi peran masing-masing sub sektor pertanian untuk memajukan sektor pertanian.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis pertumbuhan dan daya saing sektor pertanian, serta posisi sektor
pertanian dalam perekonomian di Kabupaten Batang periode 2004-2013, 2) mengetahui sub sektor pertanian apa saja yang menjadi sub sektor unggulan
dan menganalisis pertumbuhan dan daya saing sub sektor pertanian di Kabupaten Batang periode 2004-2013, 3) menganalisis rumusan prioritas pengembangan sub sektor pertanian dalam memajukan sektor pertanian di Kabupaten Batang. Metode analisis yang digunakan adalah pendekatan Location Quotient (LQ) dan analisis Shift Share (SS).
Hasil penelitian dengan menggunakan Location Quotient (LQ) pada
perekonomian Kabupaten Batang menunjukkan bahwa sektor pertanian di Kabupaten Batang termasuk sektor unggulan. Berdasarkan analisis Shift Share (SS) pada perekonomian Kabupaten Batang, sektor pertanian mengalami pertumbuhan yang lambat (PPij<0). Dilihat dari daya saingnya sektor pertanian
tidak memiliki daya saing yang baik (PPWij<0) dengan sektor yang sama di
sektor-sektor perekonomian Kabupaten Batang, sektor-sektor pertanian berada pada posisi kuadran III, yang artinya sektor pertanian merupakan sektor terbelakang dalam perekonomian Kabupaten Batang.
Hasil penelitian selanjutnya dengan menggunakan Location Quotient (LQ)
pada sektor pertanian Kabupaten Batang menunjukkan bahwa sub sektor pertanian yang menjadi sub sektor pertanian unggulan adalah sub sektor tanaman perkebunan, sub sektor peternakan dan hasilnya, sub sektor kehutanan, dan sub sektor perikanan. Berdasarkan analisis Shift Share (SS) pada Sektor pertanian di Kabupaten Batang, sub sektor yang mengalami pertumbuhan cepat (PPij >0) yaitu
sub sektor peternakan dan hasilnya, sub sektor kehutanan, dan sub sektor tanaman perkebunan, dengan masing-masing nilai pertumbuhan proporsional 44,09 persen; 7,06 persen; dan 3,98 persen. Dilihat dari daya saingnya, sub sektor pertanian yang memiliki daya saing yang baik (PPWij>0) yaitu sub sektor perikanan dan sub
sektor tanaman bahan makanan, dengan masing-masing nilai pertumbuhan pangsa wilayah 69,72 persen dan 4,72 persen. Berdasarkan nilai pergeseran bersih (PB) sub sektor yang memiliki pertumbuhan progressive (PBij>0) yaitu sub sektor
perikanan, sub sektor kehutanan, dan sub sektor peternakan dan hasilnya, dengan masing-masing nilai PB 61,00 persen; 3,94 persen; dan 1,46 persen.
Dengan melihat perbandingan pergeseran bersih (PB) dan daya saing (PPW) sub sektor pertanian Kabupaten Batang periode 2004-2013, maka dapat ditentukan rumusan prioritas dalam pembangunan pertanian di Kabupaten Batang, yaitu sub sektor perikanan dijadikan prioritas pertama, karena sub sektor ini memiliki daya saing terbaik dan memiliki pertumbuhan yang progressive, yang ditunjukkan dengan nilai PPW positif (69,72) dan PB positif (61,00); sub sektor tanaman bahan makanan dijadikan prioritas ke dua, karena sub sektor ini memiliki
daya saing yang baik walaupun pertumbuhannya kurang progressive, ditunjukkan
dengan nilai PPW positif (4,72) dan PB negatif (-1,76); sub sektor kehutanan dijadikan prioritas ke tiga, karena sub sektor ini tidak berdaya saing namun masih memiliki pertumbuhan yang progressive, yang ditunjukkan dengan nilai PPW negatif (-3,12) dan PB positif (3,94); sub sektor peternakan dan hasilnya dijadikan prioritas ke empat, karena sub sektor ini tidak berdaya saing dan masih memiliki pertumbuhan yang progressive, yang ditunjukkan dengan nilai PPW negatif (-42,62) dan PB positif (1,46); selanjutnya sub sektor tanaman perkebunan dijadikan prioritas ke lima, mengingat sub sektor ini tidak memiliki daya saing
dan pertumbuhannya tidak progressive, yang di tunjukkan dengan nilai PPW dan
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat, karunia, taufik dan hidayah-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan olah penulis. Shalawat serta salam tidak lupa dipanjatkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. beserta keluarga dan sahabatnya yang telah membawa umat manusia menuju jalan kebaikan.
Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pertanian. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu dalam penyusunan skripsi ini, terutama kepada :
1. Ayah dan Ibu, orangtuaku tercinta yang selama ini tidak pernah berhenti memberikan kasih sayang, do’a, serta segala upaya dalam memberikan dukungan kepada penulis.
2. Bapak Dr. Iskandar Andi Nuhung, M.Si dan Bapak Achmad Tjahja
Nugraha, SP, MP selaku dosen pembimbing yang selalu meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, masukan, dan solusi yang bermanfaat bagi penulis dalam proses pelaksanaan penelitian dan penulisan skripsi.
3. Ibu Ir. Siti Rochaeni, M.Si dan Ibu Ir. Armaeni Dwi Humaerah, M.Si selaku dosen penguji yang telah bersedia memberikan kritik dan saran yang bermanfaat demi kesempurnaan penulisan skripsi.
4. Bapak Dr. Agus Salim, M.Si. selaku dekan Fakultas Sains dan Teknologi.
5. Ibu Dr. Ir. Elpawati, MP selaku Ketua Program Studi Agribisnis.
6. Bapak Akhmad Mahbubi, SP, MM selaku Sekretaris Program Studi
Agribisnis.
8. Seluruh Bapak dan Ibu dosen pengajar pada Program Studi Agribisnis yang telah memberikan banyak ilmu yang bermanfaat, dan nasehat yang berharga, serta pengalaman kuliah yang tidak terlupakan.
9. Bapak Kepala BAPEDA Kabupaten Batang beserta karyawan yang telah
memberikan izin penulis melaksanakan penelitian dan terbuka memberikan informasi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan penulisan skripsi.
10.Bapak Kepala BPS Kabupaten Batang beserta karyawan yang telah
terbuka memberikan informasi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan penulisan skripsi.
11.Thanty yang selalu memberikan support dan berbagi pemikiran bersama penulis.
12.Teman-teman “Tagor Team” Ichsan, Hendrik, Fahmi, Andhika, Adit,
Ilham, Alam, Adrian, Reza, Tirto Agung AW, Riki Natanegara, dan Ricky Ade atas semangat, dan informasi selama penelitian hingga penulisan skripsi serta sebagai teman diskusi.
Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
i
2.4. Pembangunan Daerah dan Perencanaan Pembangunan Daerah ... 22
2.5. Pembangunan Pertanian ... 23
2.6. Peran Sektor Pertanian ... 25
2.7. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ... 27
2.8. Teori Ekonomi Basis ... 29
2.9. Konsep Sektor Unggulan (Basis) ... 32
2.10. Metode Analisis Sektor Unggulan ... 33
2.10.1.Metode Analisis LQ (Location Quotient) ... 33
ii
3.3. Metode Analisis Data ... 45
3.3.1.Analisis LQ (Location Quotient) ... 45
3.3.2.Analisis SS (Shift Share) ... 47
4.6.4.Sektor Listrik, Gas, dan Air Minum ... 65
4.6.5.Sektor Bangunan ... 69
4.6.6.Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran ... 69
4.6.7.Sektor Angkutan dan Komunikasi ... 70
4.6.8.Sektor Keuangan, Sewa, dan Jasa Perusahaan ... 71
4.6.9.Sektor Jasa-Jasa ... 72
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Sektor-Sektor Unggulan Kabupaten Batang Periode 2004-2013 Berdasarkan Pendekatan Location Quotient ... 74
5.2. Pertumbuhan dan Daya saing Sektor Pertanian Berdasarkan Analisis Shift Share (SS) ... 79
5.2.1.Pertumbuhan Total PDRB Kabupaten Batang dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2013 ... 79
5.2.2.Rasio PDRB Total dan Sektoral Kabupaten Batang dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2013 ... 83
5.2.3.Analisis Komponen Pertumbuhan Wilayah Kabupaten Batang Tahun 2004-2013 ... 86
iii
5.3. Sub Sektor Pertanian Unggulan Kabupaten Batang
Periode 2004-2013 Berdasarkan Pendekatan Location
Quotient (LQ) ... 95
5.4. Pertumbuhan PDRB ADHK Sektor Pertanian Kabupaten Batang dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2013 ... 97
5.5. Pertumbuhan dan Daya Saing Masing-masing Sub Sektor Pertanian Berdasarkan Analisis Shift Share (SS) ... 100
5.5.1. Sub Sektor Tanaman Bahan Makanan ... 100
5.5.2. Sub Sektor Tanaman Perkebunan ... 104
5.5.3. Sub Sektor Peternakan dan Hasilnya ... 105
5.5.4. Sub Sektor Kehutanan ... 107
5.5.5. Sub Sektor Perikanan ... 108
5.6. Rumusan Prioritas Pengembangan Sub Sektor Pertanian Dalam Pembangunan Daerah di Kabupaten Batang ... 110
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 113
6.2. Saran .. ... 115
DAFTAR PUSTAKA ... 117
iv
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
Tabel 1. Nilai, Distribusi dan Peringkat PDRB ADHB Tanpa Migas
Menurut Kabupaten/Kota Se Jawa Tengah Tahun 2012 ... 3 Tabel 2. PDRB Kabupaten Batang Tahun 2012 Atas Dasar Harga
Konstan Tahun 2000 ... 6 Tabel 3. Kecamatan dan Desa/Kelurahan Kabupaten Batang ... 56 Tabel 4. Nilai LQ Sektor Perekonomian Kabupaten Batang Tahun
2004-2013 ... 75 Tabel 5. Perubahan PDRB Kabupaten Batang Menurut Lapangan
Usaha Berdasarkan Harga Konstan 2000, Tahun 2004 dan
2013 (juta rupiah) ... 81 Tabel 6. Perubahan PDRB Provinsi Jawa Tengah Menurut Lapangan
Usaha Berdasarkan Harga Konstan 2000, Tahun 2004 dan
2013 (juta rupiah) ... 83 Tabel 7. Rasio PDRB Kabupaten Batang dan Provinsi Jawa Tengah ... 85 Tabel 8. Analisis Shift Share Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten
Batang Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Regional,
Tahun 2004-2013 ... 87 Tabel 9. Analisis Shift Share Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten
Batang Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Proporsional,
Tahun 2004-2013 ... 88 Tabel 10. Analisis Shift Share Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten
Batang Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Pangsa
Wilayah, Tahun 2004-2013 ... 90 Tabel 11. Nilai Persentase PP dan PPW di Kabupaten Batang ... 92 Tabel 13. Nilai LQ Sub Sektor Pertanian Kabupaten Batang Tahun
2004-2013 ... 95 Tabel 14. Perubahan PDRB Sektor Pertanian Kabupaten Batang
Menurut Lapangan Usaha Berdasarkan Harga Konstan 2000,
v
Tabel 15. Perubahan PDRB Sektor Pertanian Provinsi Jawa Tengah Menurut Lapangan Usaha Berdasarkan Harga Konstan 2000,
Tahun 2004 dan 2013 ... 99 Tabel 16. Perbandingan Pergeseran Bersih dan Daya Saing Sub Sektor
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
Gambar 1. Grafik Pertumbuhan Sektor Pertanian Kabupaten Batang
Tahun 2008-2012 ... 7
Gambar 2. Grafik Persentase Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB Kabupaten Batang Tahun 2008-2012 ... 8
Gambar 3. Model Analisis Shift Share ... 36
Gambar 4. Kerangka Pemikiran ... 43
Gambar 5. Profil Pertumbuhan Sektor-Sektor Perekonomian ... 52
Gambar 6. Grafik Luas Wilayah Kabupaten Batang Menurut Kecamatan ... 55
Gambar 7. Grafik Perkembangan Jumlah Penduduk di Kabupaten Batang ... 57
Gambar 8. Persentase Penduduk Usia >15 Tahun Menurut Jenis Lapangan Kerja ... 58
Gambar 9. Grafik Komposisi Industri Atas Dasar Harga Konstan, Tahun 2012 ... 64
Gambar 10 Grafik Banyaknya Pemakaian Listrik yang Disalurkan ... 66
Gambar 11. Grafik Jumlah Pelanggan Listrik di Kabupaten Batang Tahun 2012 ... 66
Gambar 12. Grafik Pertumbuhan Pelanggan PT PLN Persero Tahun 2003-2012 ... 67
Gambar 13. Grafik Pertumbuhan Jumlah Pelanggan PDAM ... 69
Gambar 14. Grafik Kondisi Jalan di Kabupaten Batang Tahun 2012... 70
Gambar 15. Profil Pertumbuhan Sektor-Sektor Perekonomian Kabupaten Batang Periode 2004-2013 ... 93
vii
Gambar 17. Grafik Konstribusi Sub Sektor Bahan Makanan Tahun
2008 – 2012 ... 101 Gambar 18. Grafik Produksi Padi Tahun 2008 – 2012 ... 102 Gambar 19. Grafik Produksi Palawija Tahun 2008 – 2012 ... 103 Gambar 20. Grafik Laju Kontribusi Sub Sektor Tanaman Perkebunan
Terhadap PDRB Kabupaten Batang Tahun 2008 – 2012 ... 104 Gambar 21. Grafik Laju Kontribusi Sub Sektor Tanaman Perkebunan
Terhadap PDRB Kabupaten Batang Tahun 2008 – 2012 ... 106 Gambar 22. Grafik Laju Kontribusi Sub Kehutanan Terhadap PDRB
Kabupaten Batang Tahun 2008 – 2012 ... 107 Gambar 23. Grafik Laju pertumbuhan Sub Sektor Perikanan Kabupaten
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
Lampiran 1. Luas Wilayah Kecamatan Tahun 2012 ... 120 Lampiran 2. Luas Penggunaan Lahan Menurut Kecamatan Tahun 2012
(Ha) ... 121 Lampiran 3. Luas Panen, Produksi dan Rata-rata Produksi Tanaman
Pangan Tahun 2007-2012 ... 122 Lampiran 4. Banyaknya Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas Menurut
Lapangan Usaha Tahun 2012 ... 123 Lampiran 5. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Dari Jenis
Kelamin Tahun 2012 ... 124 Lampiran 6. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten
Batang Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2004-2013 ... 125 Lampiran 7. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Jawa
Tengah Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2004-2013 ... 126 Lampiran 8. Hasil Perhitungan Dengan Metode LQ Di Kabupaten
Batang ... 127 Lampiran 9. Perubahan PDRB Kabupaten Batang dan Provinsi Jawa
Tengah Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga
Konstan 2000 Tahun 2004 dan 2013 ... 128 Lampiran 10. Rasio PDRB Kabupaten Batang dan Provinsi Jawa Tengah
Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2004 dan 2013 ... 129
Lampiran 11. Analisis Shift Share Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten
Batang Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Regional,
Proporsional dan Pangsa Wiayah Tahun 2004-2013... 130 Lampiran 12. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sektor
Pertanian Kabupaten Batang Atas Dasar Harga Konstan
ix
Lampiran 13. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sektor Pertanian Provinsi Jawa Tengah Atas Dasar Harga
Konstan 2000 Tahun 2004-2013 ... 132 Lampiran 14. Hasil Perhitungan Dengan Metode LQ di Kabupaten
Batang ... 133 Lampiran 15. Perubahan PDRB Sektor Pertanian Kabupaten Batang
dan Provinsi Jawa Tengah Menurut Lapangan Usaha
Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2004 dan 2013 ... 134 Lampiran 16. Rasio PDRB Sektor Pertanian Kabupaten Batang dan
Provinsi Jawa Tengah Atas Dasar Harga Konstan 2000
Tahun 2004 dan 2013 ... 135 Lampiran 17. Analisis Shift Share Sub Sektor Pertanian di Kabupaten
Batang Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Regional,
Proporsional dan Pangsa Wiayah Tahun 2004-2013... 136 Lampiran 18. Nilai Pergeseran Bersih (PB), Perbandingan Pergeseran
Bersih dan Daya Saing Sub Sektor Pertanian di
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Visi pembangunan daerah adalah suatu gambaran yang menantang
tentang kondisi daerah yang diinginkan pada akhir periode perencanaan
pembangunan daerah yang direpresentasikan dalam sejumlah sasaran hasil
pembangunan yang akan dicapai melalui berbagai strategi, kebijakan,
program, dan kegiatan pembangunan daerah. Penetapan visi pembangunan
daerah sebagai bagian dari perencanaan strategis pembangunan daerah,
merupakan suatu langkah penting dalam perjalanan pembangunan suatu
daerah mencapai kondisi yang diharapkan. Penyusunan visi pembangunan
daerah Kabupaten Batang untuk masa berlaku tahun 2012-2017 dilakukan
dengan memperhatikan visi pembangunan daerah Kabupaten Batang untuk
jangka panjang yang termuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah (RPJPD) Kabupaten Batang tahun 2005-2025, yaitu: “Batang yang
sejahtera, maju, mantap, dan mandiri berbasis potensi unggulan”.
Rencana Pembangunan Jangka Menegah Daerah (RPJMD) Kabupaten
Batang tahun 2012-2017 mengakomodasikan penekanan pelaksanaan
pembangunan daerah berdasarkan pada pentahapan pembangunan jangka
menengah sebagaimana yang telah ditetapkan dalam RPJPD Kabupaten
Batang tahun 2005-2025 (BAPEDA Kabupaten Batang, 2014).
Berdasarkan implementasi UU RI No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintah Daerah dan UU RI No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
2 tidak lagi dikendalikan secara ketat dari pusat namun sudah diserahkan
kepada daerah kabupaten/kota dalam otonomi daerah yang seluas-luasnya
(Murhaini, 2009). Otonomi daerah yang berkembang saat ini, di satu sisi
memberikan kewenangan yang lebih luas bagi pemerintah daerah dalam
mengatur dan melaksanakan program-program pembangunan di daerahnya,
namun di sisi lain menuntut kesiapan daerah dalam mempersiapkan dan
melaksanakan berbagai kebijakan yang kini bergeser menjadi tanggung
jawab daerah.
Pembangunan daerah di otonomi daerah perlu dilaksanakan secara
terpadu, selaras, serasi dan seimbang serta sesuai dengan prioritas dan
potensi daerah (Tjiptoherijanto, 1997 dalam Lusminah, 2008). Dengan
demikian, pemerintah daerah perlu mengetahui sektor-sektor yang
mempunyai peranan dominan dalam perekonomian daerahnya, sehingga
akan lebih memudahkan pemerintah daerah dalam menetapkan sasaran
pembangunan dan memajukan daerahnya. Dalam pembangunan daerah
kabupaten/kota harus bersinergi dengan pembangunan daerah di atasnya,
yaitu pembangunan daerah Provinsi. Selama periode tahun 2012, dinamika
dan sinergi perekonomian kabupaten/kota se Jawa Tengah telah
menciptakan total PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) senilai 482,54
triliun rupiah. Angka tersebut termasuk sektor minyak dan gas bumi (migas)
yang nilainya 58,70 triliun rupiah. Tanpa sumbangan dari sektor migas yang
kontribusinya mencapai 12,17 persen tersebut nilai total PDRB se Jawa
Tengah hanya sebesar 423,83 triliun rupiah (BPS Provinsi Jawa Tengah,
3 Melihat PDRB ADHB tanpa migas tahun 2012 dari masing-masing
kabupaten/kota di Jawa Tengah, nilainya sangat beragam. Besar kecilnya
nilai PDRB mencerminkan jumlah dan kekuatan kegiatan ekonomi di
masing-masing kabupaten/kota. Adapun nilai PDRB masing-masing dapat
4 Dari data pada Tabel 1 tersebut, besaran PDRB ADHB tanpa migas
kabupaten/kota di Jawa Tengah bervariasi dari 2,240 triliun sampai 45,385
triliun rupiah. Kabupaten/kota dengan PDRB terendah adalah Kota Salatiga
dan yang tertinggi adalah Kota Semarang. Dari sebaran data PDRB ADHB,
tiga kabupaten/kota yaitu Kota Semarang, Kabupaten Cilacap, dan
Kabupaten Kudus nilainya sangat mencolok jauh di atas kabupaten/kota
lainnya. Total nilai PDRB ADHB dari ke tiga kabupaten/kota ini mencapai
141,252 triliun rupiah dengan proporsi 33,33 persen terhadap total PDRB se
Jawa Tengah.
Kabupaten Kudus dengan potensi industri rokok menghasilkan
PDRB sebesar 36,959 triliun rupiah (8,72 persen) menempati posisi ke tiga
terbesar setelah Kota Semarang dan Kabupaten Cilacap dengan nilai PDRB
masing-masing 54,358 triliun rupiah (12,83 persen) dan 49,908 triliun
rupiah (11,78 persen). Pada posisi ke empat dengan jarak yang cukup jauh
ditempati oleh Kabupaten Brebes dengan nilai 18,027 triliun rupiah (4,26
persen). Posisi ke lima dan selanjutnya adalah kabupaten/kota yang
memberikan kontribusi kurang dari 3,30 persen.
Sebagai perbandingan, rata-rata nilai PDRB ADHB dari 35
kabupaten/kota se Jawa Tengah adalah 12,110 triliun rupiah. Hanya 10
kabupaten/kota yang nilai PDRB-nya di atas rata-rata dan 25 kabupaten/kota
lainnya di bawah rata-rata. Perkembangan dan pertumbuhan ekonomi
selama tahun 2012 merubah posisi relatif antara kabupaten/kota di Jawa
Tengah. berdasarkan urutan nilai PDRB ADHB tanpa migas kabupaten/kota
5 perubahan sementara 6 kabupaten/kota yang lain bergeser posisi. Dua
kabuaten/kota peringkatnya naik dan 4 kabupaten/kota mengalami
penurunan peringkat.
Dilihat dari perekonomian Jawa Tengah pada Tabel 1 tersebut,
Kabupaten Batang hanya menempati posisi peringkat ke 27 dari 35
kabupaten/kota se Jawa Tengah. Dari tahun 2011 sampai 2012 tidak
mengalami perubahan posisi peringkat. Kabupaten Batang hanya
memberikan kontribusi 1,53 persen dari total PDRB ADHB Jawa Tengah
dengan nilai 6,492 triliun rupiah. Sementara itu, jika dilihat dari letak
geografis, Kabupaten Batang merupakan daerah yang terletak di daerah
pesisir dan dilalui oleh jalur Pantai Utara Jawa (Pantura). Hal tersebut
menunjukkan bahwa daerah Kabupaten Batang merupakan daerah strategis
untuk dikembangkan melalui pembangunan ekonomi. Namun, perlu
diketahui sektor-sektor unggulan apa saja yang memiliki potensi untuk
dikembangkan sehingga dapat dijadikan prioritas dalam pembangunan
daerah di Kabupaten Batang.
Berdasarkan data BPS Kabupaten Batang (2012), perekonomian
Kabupaten Batang ditopang oleh 9 sektor yaitu sektor pertanian; sektor
pertambangan dan penggalian; sektor industri pengolahan; sektor listrik, gas
dan air; sektor bangunan; sektor perdagangan, perhotelan dan restoran;
sektor angkutan dan komunikasi; sektor keuangan, sewa dan jasa
perusahaan; serta sektor jasa-jasa. Sektor-sektor dominan dalam
pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Kabupaten
6 sektor perdagangan, restoran dan hotel; sektor jasa-jasa; serta sektor
bangunan. Besarnya kontribusi masing masing sektor tersebut terhadap pada
PDRB Kabupaten Batang tahun 2012 dapat dilihat pada Tabel 2 sebagai
berikut :
Tabel 2. PDRB Kabupaten Batang Tahun 2012 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000.
2. Pertambangan dan Penggalian 34.087.250 1,31
3. Industri Pengolahan 719.069.352 27,53
4. Listrrik, Gas dan Air Minum 24.466.477 0,94
5. Bangunan 159.246.868 6,10
6. Perdagangan, Restoran dan Hotel 447.527.395 17,14
7. Pengangkutan dan Komunikasi 103.334.591 3,96
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 103.996.234 3,98
9. Jasa-Jasa 371.441.240 14,22
Total PDRB 2.611.528.721 100
Sumber: BPS Kabupaten Batang, 2012
Kontribusi sektor industri pengolahan; sektor pertanian; sektor
perdagangan, restoran dan hotel; sektor jasa-jasa; serta sektor bangunan,
terhadap PDRB Kabupaten Batang pada tahun 2012, masing-masing adalah
27,53 persen; 24,83 persen; 17,14 persen; 14,22 persen; dan 6,10 persen.
Sektor industri pengolahan, memberikan kontribusi yang dominan, yaitu
sebesar Rp 719.069.352.000,- atau 27,53 persen dari total PDRB Kabupaten
Batang. Jika dilihat dari distribusi penduduk 15 tahun ke atas menurut
lapangan usaha tahun 2012, ternyata sektor pertanian menjadi gantungan
7 penduduk di Kabupaten Batang bekerja di sektor pertanian, 57.781 orang di
sektor industri, 60.892 orang di sektor perdagangan, 41.359 orang di sektor
jasa, 14.041 orang di sektor angkutan, dan 37.807 di sektor lainnya (BPS
Kabupaten Batang, 2012).
Terkait dengan struktur perekonomiannya dan distribusi tenaga
kerja di Kabupaten Batang, jika melihat pertumbuhan ekonomi sektoral
Kabupaten Batang lima tahun terakhir yaitu tahun 2008 – 2012 sektor
pertanian selalu mengalami penurunan. Berdasarkan data BPS Kabupaten
Batang tahun 2012, pertumbuhan sektor pertanian tersebut 4,56% pada
tahun 2008; 2,78% pada tahun 2009; 2,95% pada tahun 2010; 2,38% pada
tahun 2011; 1,62% pada tahun 2012.
Gambar 1. Grafik Pertumbuhan Sektor Pertanian Kabupaten Batang Tahun 2008-2012 (%)
Sumber : BPS Kabupaten Batang, 2012
Dengan melihat data-data di atas, strategi pembangunan ekonomi
Kabupaten Batang yang perlu menjadi prioritas adalah pembangunan
ekonomi yang berbasis pada sektor pertanian. Mengingat sektor pertanian di
8 dan memberikan kontribusi terbesar ke dua terhadap PDRB. Perkembangan
sektor pertanian diharapkan dapat mendukung dan mendorong
perkembangan sektor perekonomian lain termasuk di dalamnya sektor
industri, dan perdagangan. Namun, persentase kontribusi sektor pertanian
terus mengalami penurunan. Berdasarkan data BPS Kabupaten Batang tahun
2012, persentase kontribusi sektor pertanian di Kabupaten Batang terhadap
PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 lima tahun terakhir dari tahun
2008 hingga tahun 2012 menunjukkan tren semakin menurun.
Gambar 2. Grafik Persentase Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB Kabupaten Batang Tahun 2008-2012 (%)
Sumber : BPS Kabupaten Batang, 2012
Tantangan yang dihadapi Kabupaten Batang dalam pelaksanaan
strategi pembangunannya sebagaimana tersebut di atas adalah bagaimana
meningkatkan produktivias dan efisiensi semua sub sektor pertanian dalam
menghasilkan berbagai komoditi pertanian agar dapat memberikan nilai
tambah yang sebesar-besarnya kepada masyarakat, dengan mengoptimalkan
segala potensi yang dimiliki daerahnya. Peningkatan produktivitas dan
efisiensi semua sub sektor pertanian di Kabupaten Batang dapat dilakukan
9 Pembangunan pertanian dalam era globalisasi dihadapkan kepada
tuntutan peningkatan produktivitas dan efisiensi agar dapat berdaya saing di
pasar domestik dan internasional. Untuk peningkatan daya saing tersebut
peningkatan sumber daya lahan perlu diupayakan secara optimal sesuai
dengan keunggulan komparatifnya sehingga mampu menampilkan
produktivitas tinggi dalam pengembangan suatu komoditi (Malik, 2006).
Mengingat terbatasnya Anggaran Perencanaan Belanja Daerah (APBD)
Kabupaten Batang, maka strategi pembangunan ekonomi Kabupaten Batang
yang perlu menjadi prioritas adalah pembangunan ekonomi yang berbasis
pada sektor unggulan (basis). Perkembangan sektor unggulan diharapkan
dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), serta dapat mendukung
dan mendorong perkembangan sektor perekonomian lainnya, dan
meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional sehingga
dapat meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat. Pada dasarnya
pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha untuk meningkatkan
pendapatan masyarakat, memperluas lapangan pekerjaan, pemerataan
pembagian pendapatan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sektor
perekonomian yang perlu mendapatkan perhatian lebih oleh pemerintah
daerah Kabupaten Batang adalah sektor pertanian. Sektor tersebut selain
memberikan kontribusi besar terhadap PDRB juga menyerap tenaga kerja
terbesar di Kabupaten Batang. Namun, di sisi lain sektor pertanian semakin
ke depan semakin menurun pertumbuhannya dan kontribusinya dari tahun
ke tahun semakin menurun. Dengan demikian perlu adanya upaya dalam
10 dalam perekonomian maupun penyerapan tenaga kerja. Upaya yang perlu
dilakukan adalah dengan mengidentifikasi peran masing-masing sub sektor
pertanian untuk memajukan sektor pertanian.
Dengan analisis peran sektor pertanian dalam pembangunan daerah
di Kabupaten Batang, maka dapat diketahui peran masing-masing sub sektor
pertanian dan potensinya sehingga dapat ditentukan prioritas pengembangan
sub sektor pertanian di Kabupaten Batang. Informasi mengenai peran dan
potensi sub sektor pertanian di Kabupaten Batang dapat dijadikan bahan
pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam menentukan rencana dan
kebijakan pembangunan pertanian, sehingga pembangunan daerah di
Kabupaten Batang dapat berjalan lebih efisien dan efektif.
1.2. Rumusan Masalah
Otonomi daerah memberikan kesempatan yang luas kepada daerah,
khususnya kabupaten atau kota dalam melaksanakan program-program
pembangunannya, sehingga pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan
pembangunan akan dapat berjalan lebih cepat dan lebih berkualitas.
Keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah sangat tergantung pada
kemampuan daerah dalam mengembangkan segenap potensi sektor-sektor
perekonomian yang ada di daerahnya.
Dalam pembangunan daerah, sektor ekonomi yang beragam di
Kabupaten Batang merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang
cukup besar perannya dalam pembangunan daerah Kabupaten Batang. Peran
11 pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Di Kabupaten Batang itu sendiri
memiliki potensi yang beraneka ragam.
Jika dilihat dari PDRB dari tahun ke tahunnya semua sektor
ekonomi sangat berpengaruh terhadap kemajuan perekonomian dan
harapannya Pemerintah Daerah Kabupaten Batang memajukan sektor-sektor
ekonomi tersebut. Namun, jika dilihat dari segi Anggaran Perencanaan
Belanja Daerah (APBD) pemerintah tidak mungkin memajukan semua
sektor ekonomi yang ada dengan keterbatasan anggaran yang ada pada
APBD Kabupaten Batang. Maka dari itu, perlu adanya kebijakan untuk
memprioritaskan sektor ekonomi yang termasuk ke dalam sektor ekonomi
ungggulan yang harapannya akan meningkatkan pula sektor ekonomi non
unggulan lainnya.
Hal tersebut yang menyebabkan betapa pentingnya mengetahui
posisi sektor pertanian dalam perekonomian, peran dan potensi semua sub
sektor pertanian serta penentuan prioritas sub sektor pertanian dalam
pembangunan di Kabupaten Batang sehingga pertumbuhan sektor pertanian
yang diharapkan dapat tercapai. Pertumbuhan sektor pertanian dapat
mendorong pertumbuhan sektor perekonomian lainnya sehingga pendapatan
per kapita juga meningkat. Selain itu untuk meningkatkan kemampuan
potensi sub sektor pertanian perlu juga memperhitungkan daya saing dan
pertumbuhan sub sektor pertanian.
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian Analisis Peran Sektor Pertanian dalam Pembangunan Daerah di
12 1. Bagaimana pertumbuhan dan daya saing sektor pertanian, serta posisi
sektor pertanian dalam perekonomian di Kabupaten Batang periode
2004-2013?
2. Sub sektor pertanian apa saja yang menjadi sub sektor unggulan dan
bagaimana pertumbuhan dan daya saing sub sektor pertanian di
Kabupaten Batang periode 2004-2013?
3. Bagaimana rumusan prioritas pengembangan sub sektor pertanian dalam
memajukan sektor pertanian di Kabupaten Batang?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis pertumbuhan dan daya saing sektor pertanian, serta posisi
sektor pertanian dalam perekonomian di Kabupaten Batang periode
2004-2013.
2. Mengetahui sub sektor pertanian apa saja yang menjadi sub sektor
unggulan dan menganalisis pertumbuhan dan daya saing sub sektor
pertanian di Kabupaten Batang periode 2004-2013.
3. Menganalisis rumusan prioritas pengembangan sub sektor pertanian
dalam memajukan sektor pertanian di Kabupaten Batang.
1.4. Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi penulis, dapat menambah pengetahuan dan wawasan berkaitan
13
2. Bagi pemerintah, sebagai informasi dan bahan pertimbangan dalam
mengambil kebijakan, khususnya dalam perencanaan pembangunan
pada sektor pertanian dalam memajukan sektor tersebut di Kabupaten
Batang.
3. Bagi pembaca, sebagai bahan wacana dan kajian untuk menambah
wawasan ilmu pengetahuan terutama dalam hal keterkaitan potensi
wilayah dengan pembangunan daerah serta sebagai bahan referensi bagi
penelitian sejenis.
1.5. Ruang Lingkup
1. Penelitian ini memfokuskan pada analisis kontribusi sektor pertanian
terhadap pertumbuhan ekonomi serta peran sub sektor pertanian
Kabupaten Batang pada periode 2004-2013 dengan pendekatan analisis
LQ (Location Quotient)dan SS (Shift Share).
2. Penggunaan analisis Location Qoutient dimaksudkan untuk melihat
sektor-sektor ekonomi dan sub sektor pertanian apa saja yang menjadi
sektor unggulan di Kabupaten Batang, sedangkan Analisis Shift Share
dimaksudkan untuk melihat gambaran pertumbuhan dan daya saing
sektor-sektor tersebut di Kabupaten Batang.
3. Periode yang digunakan dalam penelitian ini adalah periode tahun
2004-2013, karena dilihat dari LPE (Laju Pertumbuhan Ekonomi)
Kabupaten Batang menunjukkan bahwa pada periode tersebut LPE
Kabupaten Batang terus meningkat dan lebih baik dari tahun-tahun
14 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Pembangunan Ekonomi
Menurut Suryana (2000) usaha-usaha yang sedang giat
dilaksanakan oleh negara-negara berkembang (developing countries) di
dunia pada umumnya berorientasi kepada bagaimana memperbaiki atau
mengangkat taraf hidup (Level of living) masyarakat di negara-negara
tersebut agar mereka bisa hidup seperti masyarakat di negara-negara maju.
Pembangunan ekonomi merupakan salah satu jawaban yang seakan-akan
menjadi semacam kunci keberhasilan suatu negara untuk meningkatkan
taraf hidup warga negaranya.
Pembangunan ekonomi yang efisien membutuhkan secara
seimbang perencanaan yang teliti mengenai sumberdaya-sumberdaya publik
dan sektor swasta. Petani, pengusaha kecil, koperasi, pengusaha besar dan
organisasi-organisasi sosial harus mempunyai peran dalam proses
perencanaan. Melalui perencanaan pembangunan ekonomi daerah, suatu
daerah dilihat secara keseluruhan sebagai suatu unit ekonomi (Economic
entity) yang di dalamnya terdapat berbagai unsur yang berinteraksi satu
sama lain (Arsyad, 1999).
Pertumbuhan dan pembangunan ekonomi adalah dua konsep yang
tidak dapat dipisahkan. Pembangunan dimaksudkan menentukan usaha
pembangunan yang berkelanjutan dan tidak menghilangkan sumber asli,
ketika teori dan model pertumbuhan yang dihasilkan dijadikan panduan dan
15 pembangunan serta menganalisa dengan melihat kesesuaiannya dalam
konteks negara. Walaupun tidak semua teori atau model dapat digunakan,
namun mengenai peranan faktor pengeluaran termasuk buruh, tanah, modal
dan pengusaha boleh menjelaskan sebab-sebab berlakunya ketiadaan
pembangunan dalam sebuah negara. Pada peringkat awal, pendapatan per
kapita menjadi pengukur utama bagi pembangunan. Walau bagaimanapun,
melalui perubahan waktu, aspek pembangunan manusia dan pembangunan
alam semakin ditekankan. Pembangunan melihat kepada aspek generasi
yang akan datang melalui masa sekarang. Diumpamakan bahwa konsep
pembangunan dan pertumbuhan tidak ditafsirkan dari perspektif ekonomi
semata-mata tetapi juga disimpulkan dari berbagai disiplin seperti
pendidikan, dan perindustrian (Idris, 2000 dalam Dewi, 2008).
2.2. Konsep Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Schumpeter, pertumbuhan ekonomi adalah penambahan
alami dari tingkat pertambahan penduduk dan tingkat tabungan. Sedangkan,
menurut Putong (2003) pertumbuhan ekonomi merupakan kenaikan pendapatan
nasional secara berarti (dengan meningkatnya pendapatan per kapita) dalam
suatu periode perhitungan tertentu.
Jika kita membicarakan pertumbuhan ekonomi, pasti berbeda dengan
pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator
keberhasilan pembangunan. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi maka
semakin tinggi pula kesejahteraan masyarakatnya di luar indikator yang lain.
16 kemajuan ekonomi sebagai hasil pembangunan nasional maupun pembangunan
daerahnya (Putong, 2003).
Menurut Tarigan (2005), pertumbuhan ekonomi wilayah adalah
pertambahan pendapatan masyarakat yang terjadi di suatu wilayah yang
digambarkan oleh kenaikan seluruh nilai tambah yang terjadi di wilayah
tersebut. Hal ini juga yang nantinya akan menggambarkan kemakmuran daerah
tersebut. Kemakmuran suatu wilayah ditentukan pula dengan seberapa besar
bagian pendapatan yang mengalir ke luar wilayah atau mendapat aliran dana
dari luar wilayah. Setiap negara akan selalu menargetkan laju pertumbuhan
ekonomi yang tinggi pada setiap daerahnya, karena hal itu menggambarkan
kemakmuran di daerah tersebut (Tarigan, 2005).
W.W Rostow dalam Adisasmita (2008) mengemukakan suatu teori
yang membagi pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahapan, yaitu
masyarakat tradisional (the traditional society), prasyarat untuk lepas landas
(the precondition for take off), lepas landas (the take off), gerakan ke arah
kedewasaan (the drive to maturity) dan massa konsumsi tinggi (the age of high
mass consumption). Penjelasan pertumbuhan Rostow ini dijelaskan dalam
Arsyad (1999), yaitu sebagai berikut :
1. Masyarakat Tradisional (The Traditional Society)
Masyarakat tradisional adalah masyarakat yang perekonomiannya masih
bertumpu pada sektor pertanian dan memiliki fungsi produksi yang
terbatas dan relatif primitif yang kehidupannya sangat dipengaruhi oleh
17 2. Tahap Prasyarat Lepas Landas (The Precondition For Take Off)
Dalam kondisi ini, merupakan transisi untuk mencapai pertumbuhan yang
mempunyai kekuatan untuk berkembang. Segala sesuatunya dipersiapkan
untuk mencapai pertumbuhan dengan kekuatan sendiri termasuk ilmu
pengetahuan yang akan menghasilkan penemuan baru.
3. Tahap Lepas Landas (The Take Off)
Berlakunya perubahan yang sangat besar dalam masyarakat misalnya
tercipta kemajuan yang pesat dalam inovasi, revolusi politik dan
sebagainya.
4. Tahap Menuju Kedewasaan (The Drive To Maturity)
Dalam kondisi ini masyarakat sudah secara efektif menggunakan teknologi
modern pada sebagian besar faktor produksi. Munculnya pemimpin baru
yang bercorak lebih kepada perkembangan teknologi, kekayaan alam dan
lain-lain.
5. Tahap Konsumsi Tinggi (The Age Of High Mass Consumption)
Konsumsi masal yang tinggi dimana perhatian masyarakat lebih
menekankan kepada permasalahan yang berkaitan dengan konsumsi dan
kesejahteraan masyarakat.
Selain itu menurut Kuznets dalam bukunya Modern Economic Growth
tahun 1966, definisi pertumbuhan ekonomi itu sendiri ialah suatu kenaikan
yang terus-menerus dalam produk per kapita, seringkali diikuti dengan
kenaikan jumlah penduduk dan biasanya dengan perubahan struktural (Jhingan,
2004). Pakar-pakar ekonomi pembangunan pun berpendapat, menurutnya
18 Menurut mereka, pertumbuhan ekonomi merupakan istilah bagi negara yang
telah maju untuk menyebut keberhasilan pembangunannya sedangkan
pembangunan ekonomi itu digunakan untuk negara yang sedang berkembang
(Putong, 2003).
Sebenarnya banyak sekali teori pertumbuhan ekonomi yang berasal
dari pakar-pakar ekonomi terdahulu. Teori klasik yang dikemukakan oleh
Adam Smith melalui bukunya An Inquiry into The Nature and Cause of The
Wealth of Nations yang terbit pada tahun 1917 menyatakan bahwa salah satu
faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan
penduduk. Penduduk yang bertambah akan memperluas pasar dan perluasan
pasar akan meningkatkan spesialisasi dalam perekonomian tersebut. Lebih
lanjut, spesialisasi akan meningkatkan produktivitas tenaga kerja sehingga
meningkatkan upah dan keuntungan. Dengan demikian, proses pertumbuhan
akan terus berlangsung sampai seluruh sumber daya termanfaatkan (Tarigan,
2005).
Sementara itu, David Ricardo dalam bukunya The Principles of
Political Economy and Taxation yang terbit pada tahun 1917, menyatakan
pandangan yang bertentangan dengan Adam Smith. Menurutnya,
perkembangan penduduk yang berjalan cepat pada akhirnya akan menurunkan
kembali tingkat pertumbuhan ekonomi ke taraf yang rendah. Pola pertumbuhan
ekonomi menurut Ricardo berawal dari jumlah penduduk yang rendah dan
sumber daya alam yang relatif melimpah (Tarigan, 2005).
Menurut Keynes, untuk menjamin pertumbuhan yang stabil
pemerintah perlu menerapkan kebijakan fiskal (perpajakan dan belanja
19 dan pengawasan langsung. Keynes mengemukakan bahwa pendapatan total
merupakan fungsi dari pekerjaan total dalam suatu negara. Semakin besar
pendapatan nasional, semakin besar volume pekerjaan yang dihasilkan,
demikian sebaliknya. Volume pekerjaan tergantung pada permintaan efektif.
Permintaan efektif ini ditentukan pada titik saat harga permintaan agregat sama
dengan harga penawaran agregat.
Selain itu Harrod-Domar pun mengemukakkan pandangannya. Dalam
teori ini, Harrod-Domar melengkapi teori Keynes, dimana Keynes melihat
dalam jangka pendek (kondisi statis), sedangkan Harrod-Dommar melihat
dalam jangka panjang (kondisi dinamis). Harrod-Domar menyimpulkan bahwa
pertumbuhan jangka panjang yang mantap, dimana seluruh kenaikan produksi
dapat diserap oleh pasar, hanya dapat dicapai jika memenuhi syarat-syarat
keseimbangan, yaitu g = k = n, dimana g adalah tingkat pertumbuhan output, k
adalah tingkat pertumbuhan modal, dan n adalah tingkat pertumbuhan angkatan
kerja (Priyarsono,et al., 2007).
Proses pertumbuhan menurut pandangan Schumpeter adalah proses
peningkatan dan penurunan kegiatan ekonomi yang berjalan siklikal.
Pembaruan-pembaruan yang dilakukan oleh para pengusaha berperan dalam
peningkatan kegiatan ekonomi. Dalam proses siklikal tersebut, tingkat
keseimbangan yang baru akan selalu berada pada tingkat yang lebih tinggi
daripada tingkat keseimbangan sebelumnya. Pada intinya, dari semua teori
yang ada sama-sama menjelaskan tentang bagaimana kita mengelola
sumberdaya yang ada (manusia, alam dan teknologi) pada suatu wilayah agar
20 Menurut Adam Smith dalam Boediono (1982), yang memengaruhi
pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan output (GDP) total dan
pertumbuhan penduduk. Smith melihat sistem produksi suatu negara terdiri dari
3 unsur pokok, yaitu 1) sumber-sumber alam yang tersedia (faktor produksi
tanah), 2) sumber-sumber manusiawi (jumlah penduduk), 3) stok barang kapital
yang ada.
2.3. Otonomi Daerah
Menurut Soenarto (2001), dengan otonomi daerah berarti telah
memindahkan sebagian besar kewenangan yang tadinya berada di
pemerintah pusat diserahkan kepada daerah otonom, sehingga pemerintah
daerah otonom dapat lebih cepat dalam merespon tuntutan masyarakat
daerah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Karena kewenangan
membuat kebijakan (perda) sepenuhnya menjadi wewenang daerah otonom,
maka dengan otonomi daerah pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan
pembangunan akan dapat berjalan lebih cepat dan lebih berkualitas.
Keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah sangat tergantung pada
kemampuan keuangan daerah, sumber daya manusia yang dimiliki daerah,
serta kemampuan daerah untuk mengembangkan segenap potensi yang ada
di daerah otonom.
Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah
otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan
kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Dengan ditetapkannya UU RI No. 32 Tahun 2004 tentang
21 Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah, maka
daerah mempunyai hak, wewenang dan kewajiban mengatur dan mengurus
sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai
peraturan perundang-undangan. Sejalan dengan adanya Undang-Undang
Otonomi Daerah tersebut maka sudah menjadi kewajiban pemerintah daerah
untuk menangani potensi wilayah yang berada dalam ruang lingkup
pemerintahannya (Murhaeni, 2009).
Otonomi daerah memberikan kesempatan yang luas kepada daerah,
khususnya kabupaten/kota dalam melaksanakan program-program
pembangunannya. Banyak aspek yang dapat dilakukan secara mandiri di
tingkat pertanggungjawaban suatu program pembangunan. Otonomi daerah
di sisi lain juga menuntut kesiapan daerah dalam mempersiapkan dan
melaksanakan berbagai kebijakan yang kini bergeser menjadi tanggung
jawab daerah. Kesiapan sumber daya manusia dan pemerintah daerah saja
tidak cukup tanpa didukung oleh komponen lain, misalnya kesiapan
masyarakat di daerah dan kondisi sumber daya alam. Daerah dalam konsep
otonomi daerah mempunyai keunikan/karakteristik tersendiri. Karakteristik
tersebut antara lain masing-masing wilayah administratif mempunyai
potensi sumber daya alam, etnis, budaya/tradisi, sumber daya manusia yang
beragam dan khas. Dalam konsep otonomi daerah diharapkan berbagai
potensi yang ada di daerah dapat secara optimal mendukung pelaksanaan
22 2.4. Pembangunan Daerah dan Perencanaan Pembangunan Daerah
Masalah pokok dalam pembangunan daerah adalah terletak pada
penekanan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan
pada kekhasan daerah yang besangkutan (endogenous development) dengan
menggunakan potensi sumber daya manusia, kelembagaan, dan sumber
daya fisik secara lokal (daerah). Orientasi ini mengarahkan kita kepada
pengambilan inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses
pembangunan untuk menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang
peningkatan kegiatan ekonomi (Arsyad, 2004).
Pembangunan daerah pada umumnya mencakup berbagai dimensi
pembangunan yang dilaksanakan secara bertahap. Pada awalnya, kegiatan
pembangunan daerah biasanya ditekankan pada pembangunan fisik untuk
mendorong pertumbuhan ekonomi, kemudian diikuti dengan pembangunan
sosial politik. Namun demikian, tahapan ini bukanlah merupakan suatu
ketentuan yang berlaku umum, karena setiap daerah mempunyai potensi
pertumbuhan yang berbeda dengan daerah lain. Potensi sumber daya alam,
sumber daya manusia, kondisi sosial, budaya, ekonomi, ketersediaan
infrastruktur, dan lainnya sangat berpengaruh pada penerapan konsep
pembangunan yang dilaksanakan (Adisasmita, 2006).
Perencanaan pembangunan daerah dimaksudkan agar semua daerah
dapat melaksanakan pembangunan secara proporsional dan merata sesuai
dengan potensi yang ada di daerah tersebut. Manfaat perencanaan
pembangunan daerah adalah untuk pemerataan pembangunan atau perluasan
23 pembangunan daerah berkembang dengan baik maka diharapkan bahwa
kemandirian daerah dapat tumbuh dan berkembang sendiri (mandiri) atas
dasar kekuatan sendiri. Dengan demikian maka kenaikan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut tidak terlalu bergantung dari
pusat tetapi relatif cukup didorong dari daerah yang bersangkutan
(Soekartawi, 1990).
2.5. Pembangunan Pertanian
Secara umum dapat dikemukakan bahwa pembangunan pertanian
diarahkan untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani dan
nelayan, memperluas lapangan kerja dan kesempatan usaha, serta mengisi
dan memperluas pasar, baik pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri.
Ini dilakukan melalui pertanian yang maju, efisien, dan tangguh sehingga
makin mampu meningkatkan dan menganekaragamkan hasil, meningkatkan
mutu dan derajat pengolahan produksi dan menunjang pembangunan
wilayah (Kamaluddin, 1998).
Pembangunan pertanian patut mengedepankan potensi kawasan dan
kemampuan masyarakatnya. Keunggulan komparatif yang berupa sumber
daya alam perlu diiringi dengan peningkatan keunggulan kompetitif yang
diwujudkan melalui penciptaan sumber daya manusia tani yang makin
profesional. Masyarakat tani terutama masyarakat tani tertinggal sebagai
sasaran pemberdayaan masyarakat perlu terus didampingi sebagai manusia
24 alam dan manusia patut menjadi dasar bagi pengembangan pertanian masa
depan (Wibowo, 2002).
Rencana pembangunan pertanian di masa yang akan datang,
khususnya di era otonomi daerah, perlu disusun berdasarkan suatu konsep
pembangunan pertanian yang mengedepankan eksistensi petani sebagai
produsen yang memerlukan topangan infrastruktur dan kebijakan agar: (i)
proses untuk menghasilkan produk (massa hayati) dapat berlangsung secara
efektif dan efisien, (ii) produk yang dihasilkan dapat ditingkatkan nilai
ekonominya melalui proses pengolahan yang tepat, (iii) produk yang telah
diolah memiliki ketahanan kualitas terhadap rentang waktu selama proses
pemasaran, (iv) produk memiliki daya saing di pasaran dalam dan luar
negeri (Usman et.al., 2001).
Pembangunan pertanian harus mampu memanfaatkan secara
maksimal keunggulan sumber daya wilayah dan dapat berkelanjutan, maka
kebijaksanaan pembangunan pertanian harus dirancang dalam perspektif
ekonomi wilayah. Pembanguan pertanian dalam konteks wilayah semakin
relevan dengan berlakunya UU RI Nomor 22 dan Nomor 25 tahun 1999,
yang kemudian dijabarkan dalam PP Nomor 2 tahun 2000. Dalam
kebijaksanaan pembangunan pertanian saat ini secara implisit dirancang
dalam perspektif ekonomi wilayah. Hal ini terlihat jelas dari peran daerah
dalam merencanakan dan mengimplementasikan program-program.
Pemerintah Pusat dalam hal ini hanya merancang pelaksanaan yang bersifat
makro, sedangkan Pemerintah Daerah merancang pelaksanaan pencapaian
25 demikian, maka Pemerintah Daerah benar-benar dituntut agar mampu
melaksanakan kebijakan tersebut secara maksimal, untuk mengelola sumber
daya spesifik lokasi. Sebagai bahan perencanaan diperlukan analisis potensi
wilayah baik dalam aspek biofisik maupun sosial ekonomi. Dalam rangka
memanfaatkan potensi tersebut, peran serta masyarakat secara partisipatif
perlu didorong dan dikembangkan.
2.6. Peran Sektor Pertanian
Peranan sektor pertanian dirasa masih penting walaupun kemajuan
sektor industri berkembang begitu cepat dalam perekonomian suatu daerah.
Pentingnya sektor pertanian dalam perekonomian dapat dilihat dari berbagai
hal, antara lain dilihat dari masih relatif besarnya pangsa sektor pertanian
terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sektor pertanian juga merupakan
pemasok bahan baku bagi industri, mampunya sektor ini menyediakan
pangan dan gizi, dapat menyerap banyak tenaga kerja dan semakin
signifikannya kontribusi sektor pertanian dalam meningkatkan ekspor
nonmigas (Soekartawi, 1996).
Peranan sektor pertanian dalam pembangunan yang utama
diantaranya adalah sehubungan dengan pertimbangan-pertimbangan berikut:
1. Sebagian besar penduduk di negara-negara berkembang memiliki usaha
yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.
2. Sektor pertanian di negara berkembang merupakan sumber utama untuk
26 3. Sektor pertanian merupakan sumber atau penyedia input tenaga kerja
yang sangat besar untuk menunjang pembangunan sektor-sektor lainnya,
terutama industri.
4. Sektor pertanian dapat juga berperan sebagai sumber dana dan daya yang
utama dalam menggerakkan dan memacu pertumbuhan ekonomi di
sebagian besar negara berkembang.
5. Sektor pertanian merupakan pasar yang potensial bagi hasil output sektor
modern di perkotaan yang ditumbuhkembangkan.
Pengalaman pembangunan nasional sampai dengan munculnya
krisis ekonomi pada tahun 1997 menunjukkan betapa pentingnya posisi
pembangunan pertanian dalam mendukung perekonomian nasional.
Ketahanan pangan nasional menurun secara drastis, dimana impor beras
nasional mencapai puncaknya pada tahun 1998 dan munculnya krisis
pangan (kelaparan) karena lemahnya akses pangan (daya beli) di beberapa
wilayah di tanah air. Krisis ekonomi dan pangan tersebut merefleksikan
bahwa pembangunan nasional yang tidak didasarkan atas kondisi riil
struktur perekonomian nasional akan rentan terhadap gejolak faktor
eksternal dan tidak berkelanjutan. Kondisi riil perekonomian nasional
tersebut dicirikan oleh dominasi sektor pertanian dan pedesaan dalam GDP
dan kesempatan kerja nasional. Karena itu pembangunan nasional perlu
diarahkan kepada pemanfaatan potensi sumber daya alam, peningkatan
produktivitas tenaga kerja pedesaan, dan pengembangan potensi pasar
27 2.7. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu
indikator pertumbuhan ekonomi suatu wilayah tertentu. Menurut BPS
Kabupaten Batang (2012), Produk Domestik Regional Bruto yaitu data
statistik yang disajikan secara series untuk memberikan gambaran kinerja
ekonomi makro dari waktu ke waktu. Sehingga arah perekonomian
regional akan lebih jelas, serta dapat memberikan manfaat untuk berbagai
kepentingan seperti untuk perencanaan, evaluasi, maupun kajian
pembangunan ekonomi.
Pada dasarnya pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha
untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, memperluas lapangan
pekerjaan, pemerataan pembagian pendapatan, meningkatkan hubungan
ekonomi antar daerah/wilayah dan mengupayakan terjadinya pergeseran
kegiatan ekonomi yang semula dari sektor primer, yaitu sektor yang
bergantung pada jenis lapangan usaha pertanian serta pertambangan dan
penggalian kepada sektor sekunder (lapangan usaha industri pengolahan,
listrik, gas,dan air minum, konstruksi/bangunan) serta sektor tersier
(lapangan usaha perdagangan, hotel, dan restoran, angkutan dan
komunikasi, bank/lembaga keuangan, perusahaan persewaan, jasa
pemerintahan dan jasa swasta (BPS Kabupaten Batang, 2012).
Perhitungan PDRB menggunakan dua macam harga yaitu PDRB
atas dasar harga berlaku yaitu menggambarkan nilai tambah barang dan
jasa yang dihitung dengan menggunakan harga setiap tahunnya. Selain itu
28 dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada satu tahun tertentu
sebagai tahun dasar perhitungannya. PDRB yang akan dianalisis adalah
PDRB Kabupaten Batang dan Provinsi Jawa Tengah atas dasar harga
konstan 2000 menurut lapangan usaha periode 2004-2013 (BPS Kabupaten
Batang, 2012).
Ketersediaan data dan penyusunan PDRB ini secara berkala,
bermanfaat untuk memperoleh informasi antara lain (BPS Kabupaten
Batang, 2012):
1. Tingkat pertumbuhan ekonomi
Apabila angka-angka statistik PDRB disajikan atas dasar harga konstan
akan menunjukkan laju pertumbuhan perekonomian suatu daerah baik
keseluruhan maupun per sektor.
2. Tingkat kemakmuran suatu daerah
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu menjamin kemakmuran
yang tinggi bagi masyarakat kalau perkembangan penduduk juga tinggi.
Tingginya pertumbuhan pendapatan per kapita lebih menunjukan
perkembangan kemakmuran sebab bila dilihat dari sudut konsumsi,
berarti masyarakat akan mempunyai kesempatan untuk menikmati
barang dan jasa yang lebih banyak atau lebih tinggi kualitasnya. Untuk
mengetahui tingkat kemakmuran suatu daerah harus tersedia angka
pembanding dari daerah lainnya dan untuk mengetahui
perkembangannya perlu diketahui angka perkembangan pendapatan
29 dapat disimpulkan bahwa tingkat kemakmuran suatu daerah lebih baik
dari daerah lainnya. Selain itu dapat dilihat peningkatan kemakmuran
daerah tersebut dari tahun ke tahun.
3. Tingkat inflasi dan deflasi
Penyajian atas harga konstan dan atas harga berlaku dapat dipakai
sebagai indikator untuk melihat tingkat inflasi ataupun deflasi yang
terjadi.
4. Gambaran struktur perekonomian
Angka-angka yang disajikan secara sektoral memperlihatkan tentang
struktur perekonomian suatu daerah, apakah menunjukkan ke arah
daerah yang agraris atau industri. Berdasarkan data dari masing-masing
sektor dapat dilihat peranan atau sumbangan tiap sektor terhadap
jumlah pendapatan secara keseluruhan. Dengan adanya gambaran
perekonomian suatu daerah, merupakan bahan bagi para perencana
ekonomi, baik dikalangan pemerintahan maupun swasta, untuk
menentukan ke arah mana daerah tersebut akan dikembangkan.
2.8. Teori Ekonomi Basis
Teori ekonomi basis menyatakan bahwa faktor penentu utama
pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan
permintaan barang dan jasa dari suatu daerah. Proses produksi di sektor
industri di suatu daerah yang menggunakan sumber daya produksi (SDP)
30 menghasilkan pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan per kapita,
dan penciptaan peluang kerja di daerah tersebut. Pertanyaan yang muncul
dari teori ekonomi basis adalah sanggupkah setiap provinsi memanfaatkan
peluang ekspor yang ada, terutama dalam era otonomi daerah dan era
perdagangan bebas (Tambunan, 2001).
Teori ekonomi basis digunakan untuk mengetahui apakah suatu
sektor merupakan sektor basis atau non-basis. Ada beberapa metode
pengukuran dalam teori ekonomi basis, yaitu metode pengukuran langsung
dan metode pengukuran tidak langsung. Metode pengukuran langsung dapat
dengan survei langsung untuk mengidentifikasi sektor mana yang
merupakan sektor basis. Metode ini menentukan sektor basis dengan tepat.
Akan tetapi metode ini memerlukan biaya, waktu, dan tenaga kerja yang
banyak. Mengingat hal tersebut di atas, maka sebagian besar pakar ekonomi
wilayah menggunakan metode pengukuran tidak langsung. Beberapa
metode pengukuran tidak langsung, yaitu: (1) metode melalui pendekatan
asumsi; (2) metode Location Quotient; (3) metode kombinasi 1 dan 2; (4)
metode kebutuhan minimum (Budiharsono, 2001).
Menurut Arsyad (2004), Location Quotient merupakan suatu teknik
yang digunakan untuk memperluas analisis shift share. Teknik ini
membantu kita untuk menentukan kapasitas ekspor perekonomian daerah
dan derajad self sufficiency suatu sektor. Dalam teknik ini kegiatan ekonomi
31 1. Kegiatan industri yang melayani pasar di daerah itu sendiri maupun di
luar daerah yang bersangkutan. Industri seperti ini dinamakan industry
basic.
2. Kegiatan ekonomi atau industri yang hanya melayani pasar di daerah
tersebut. Jenis ini dinamakan industry non basic atau industri lokal.
LQ adalah suatu metode untuk menghitung perbandingan relatif
sumbangan nilai tambah sebuah sektor di suatu daerah (Kabupaten/Kota)
terhadap sumbangan nilai tambah sektor yang bersangkutan dalam skala
provinsi atau nasional. Dengan kata lain, LQ dapat menghitung
perbandingan antara share output sektor i di kota dan share output sektor i
di provinsi (Bappenas, 2003) :
⁄
⁄
Keterangan:
= PDRB sektor i regional
= total PDRB regional
= PDRB sektor i nasional
= total PDRB nasional
LQi > 1 mengindikasikan ada kegiatan ekspor di sektor tersebut atau sektor
basis (B), sedangkan LQi < 1 disebut sektor nonbasis (NB). Ada beberapa
32
1. Metode LQ memperhitungkan ekspor langsung dan ekspor tidak
langsung.
2. Metode LQ sederhana dan tidak mahal serta dapat diterapkan pada data
historis untuk mengetahui trend.
Beberapa kelemahan Metode LQ adalah:
1. Berasumsi bahwa pola permintaan di setiap daerah identik dengan pola
permintaan bangsa dan bahwa produktivitas tiap pekerja di setiap sektor
regional sama dengan produktivitas tiap pekerja dalam industri-industri
nasional.
2. Berasumsi bahwa tingkat ekspor tergantung pada tingkat disagregasi.
2.9. Konsep Sektor Unggulan (Basis)
Sektor unggulan adalah sektor yang dimana keberadaannya
diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan suatu wilayah. Kriteria sektor
unggulan pun sangat bervariasi. Tergantung seberapa besar peranan sektor
tersebut dalam pembangunan wilayah. Salah satu yang dapat memengaruhi
sektor unggulan yaitu faktor anugerah (endowment factors). Dengan adanya
keberadaan sektor unggulan ini sangat membantu dan memudahkan
pemerintah dalam mengalokasikan dana yang tepat sehingga kemajuan
perekonomian akan tercapai.
Sektor basis atau sektor unggulan ini dapat mengalami kemajuan
maupun kemunduran. Hal ini tergantung pada usaha-usaha suatu wilayah
33 kemajuan sektor basis yaitu : 1) perkembangan jaringan transportasi dan
komunikasi, 2) perkembangan pendapatan dan penerimaan daerah, 3)
perkembangan teknologi dan 4) adanya pengembangan prasarana ekonomi
dan sosial. Sedangkan penyebab terjadinya kemunduran pada sektor
unggulan yaitu perubahan permintaan di luar daerah dan kehabisan
cadangan sumberdaya.
Sektor unggulan sangat berperan penting pada suatu pembangunan
wilayah. Hal ini dapat dilihat pada besar kecilnya pengaruh serta
peranannya terhadap pembangunan tersebut, diantaranya (Tarigan, 2005) :
1. Sektor unggulan tersebut memiliki laju pertumbuhan yang tinggi
2. Sektor unggulan tersebut memiliki angka penyerapan tenaga kerja yang
relatif besar
3. Sektor unggulan tersebut memiliki keterkaitan antar sektor yang tinggi
baik ke depan maupun ke belakang.
4. Sektor unggulan tersebut mampu menciptakan nilai tambah yang tinggi
2.10. Metode Analisis Sektor Unggulan
2.10.1.Metode Analisis LQ (Location Quotient)
Metode ini dilakukan dengan cara menghitung perbandingan antara
pendapatan di sektor i pada daerah bawah terhadap pendapatan total semua
sektor di daerah bawah dengan pendapatan di sektor i pada daerah atas
terhadap pendapatan semua sektor di daerah atasnya. Ketentuan dalam
metode ini adalah jika nilai LQ > 1 maka sektor i dikategorikan sebagai