• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis peran sektor pertanian dalam pembangunan daerah di Kabupaten Batang : Pendekatan location quotient dan shift share analysis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis peran sektor pertanian dalam pembangunan daerah di Kabupaten Batang : Pendekatan location quotient dan shift share analysis"

Copied!
155
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN

DALAM PEMBANGUNAN DAERAH DI KABUPATEN BATANG

(Pendekatan

Location Quotient

dan

Shift Share Analysis

)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian (SP)

Oleh

Sofiyanto

NIM: 1110092000041

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN

DALAM PEMBANGUNAN DAERAH DI KABUPATEN BATANG

(Pendekatan

Location Quotient

dan

Shift Share Analysis

)

Oleh

Sofiyanto

NIM: 1110092000041

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian (SP)

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(3)
(4)

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi

salah satu persyaratan guna memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan

sesuai ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ciputat, 27 April 2015

(5)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

7. Status Perkawinan : Belum Menikah

8. Telepon / Hp. : 08788 4474 181 / 0857 800 55476

4. (2010–2015) Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

PENGALAMAN KERJA

1. Magang di PT PLN (Persero), Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang

 Periode : 2 Januari 2009 s.d. 27 Februari 2009

 Posisi : Administrasi dan Tutor Computer Class

5. Magang di PT DAPETIN GLOBAL MANDIRI

 Periode : 1 Januari 2014 – 30 Maret 2014

(6)

RINGKASAN

SOFIYANTO, Analisis Peran Sub Sektor Pertanian Dalam Pembangunan Daerah Di Kabupaten Batang (Pendekatan Location Quotient dan Shift Share Analysis). Di bawah bimbingan Dr. Iskandar Andi Nuhung, M.Si dan Achmad Tjachja Nugraha, SP, MP

Pembangunan pertanian dalam era globalisasi dihadapkan kepada tuntutan peningkatan produktivitas dan efisiensi agar dapat berdaya saing di pasar domestik dan internasional. Untuk peningkatan daya saing tersebut peningkatan sumber daya lahan perlu diupayakan secara optimal sesuai dengan keunggulan komparatifnya sehingga mampu menampilkan produktivitas tinggi dalam pengembangan suatu komoditi. Mengingat terbatasnya Anggaran Perencanaan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Batang, maka strategi pembangunan ekonomi Kabupaten Batang yang perlu menjadi prioritas adalah pembangunan ekonomi yang berbasis pada sektor unggulan (basis). Perkembangan sektor unggulan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), serta dapat mendukung dan mendorong perkembangan sektor perekonomian lainnya, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional sehingga dapat

meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat.

Sektor perekonomian unggulan yang perlu mendapatkan perhatian lebih oleh pemerintah daerah Kabupaten Batang adalah sektor pertanian. Sektor tersebut selain memberikan kontribusi yang besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) juga menyerap tenaga kerja terbesar di Kabupaten Batang. Namun, disisi lain sektor pertanian semakin kedepan semakin menurun pertumbuhan dan kontribusinya dari tahun ke tahun. Dengan demikian perlu adanya upaya dalam memajukan sektor pertanian, mengingat besarnya peran sektor tersebut baik dalam perekonomian maupun penyerapan tenaga kerja. Upaya yang perlu dilakukan adalah dengan mengidentifikasi peran masing-masing sub sektor pertanian untuk memajukan sektor pertanian.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis pertumbuhan dan daya saing sektor pertanian, serta posisi sektor

pertanian dalam perekonomian di Kabupaten Batang periode 2004-2013, 2) mengetahui sub sektor pertanian apa saja yang menjadi sub sektor unggulan

dan menganalisis pertumbuhan dan daya saing sub sektor pertanian di Kabupaten Batang periode 2004-2013, 3) menganalisis rumusan prioritas pengembangan sub sektor pertanian dalam memajukan sektor pertanian di Kabupaten Batang. Metode analisis yang digunakan adalah pendekatan Location Quotient (LQ) dan analisis Shift Share (SS).

Hasil penelitian dengan menggunakan Location Quotient (LQ) pada

perekonomian Kabupaten Batang menunjukkan bahwa sektor pertanian di Kabupaten Batang termasuk sektor unggulan. Berdasarkan analisis Shift Share (SS) pada perekonomian Kabupaten Batang, sektor pertanian mengalami pertumbuhan yang lambat (PPij<0). Dilihat dari daya saingnya sektor pertanian

tidak memiliki daya saing yang baik (PPWij<0) dengan sektor yang sama di

(7)

sektor-sektor perekonomian Kabupaten Batang, sektor-sektor pertanian berada pada posisi kuadran III, yang artinya sektor pertanian merupakan sektor terbelakang dalam perekonomian Kabupaten Batang.

Hasil penelitian selanjutnya dengan menggunakan Location Quotient (LQ)

pada sektor pertanian Kabupaten Batang menunjukkan bahwa sub sektor pertanian yang menjadi sub sektor pertanian unggulan adalah sub sektor tanaman perkebunan, sub sektor peternakan dan hasilnya, sub sektor kehutanan, dan sub sektor perikanan. Berdasarkan analisis Shift Share (SS) pada Sektor pertanian di Kabupaten Batang, sub sektor yang mengalami pertumbuhan cepat (PPij >0) yaitu

sub sektor peternakan dan hasilnya, sub sektor kehutanan, dan sub sektor tanaman perkebunan, dengan masing-masing nilai pertumbuhan proporsional 44,09 persen; 7,06 persen; dan 3,98 persen. Dilihat dari daya saingnya, sub sektor pertanian yang memiliki daya saing yang baik (PPWij>0) yaitu sub sektor perikanan dan sub

sektor tanaman bahan makanan, dengan masing-masing nilai pertumbuhan pangsa wilayah 69,72 persen dan 4,72 persen. Berdasarkan nilai pergeseran bersih (PB) sub sektor yang memiliki pertumbuhan progressive (PBij>0) yaitu sub sektor

perikanan, sub sektor kehutanan, dan sub sektor peternakan dan hasilnya, dengan masing-masing nilai PB 61,00 persen; 3,94 persen; dan 1,46 persen.

Dengan melihat perbandingan pergeseran bersih (PB) dan daya saing (PPW) sub sektor pertanian Kabupaten Batang periode 2004-2013, maka dapat ditentukan rumusan prioritas dalam pembangunan pertanian di Kabupaten Batang, yaitu sub sektor perikanan dijadikan prioritas pertama, karena sub sektor ini memiliki daya saing terbaik dan memiliki pertumbuhan yang progressive, yang ditunjukkan dengan nilai PPW positif (69,72) dan PB positif (61,00); sub sektor tanaman bahan makanan dijadikan prioritas ke dua, karena sub sektor ini memiliki

daya saing yang baik walaupun pertumbuhannya kurang progressive, ditunjukkan

dengan nilai PPW positif (4,72) dan PB negatif (-1,76); sub sektor kehutanan dijadikan prioritas ke tiga, karena sub sektor ini tidak berdaya saing namun masih memiliki pertumbuhan yang progressive, yang ditunjukkan dengan nilai PPW negatif (-3,12) dan PB positif (3,94); sub sektor peternakan dan hasilnya dijadikan prioritas ke empat, karena sub sektor ini tidak berdaya saing dan masih memiliki pertumbuhan yang progressive, yang ditunjukkan dengan nilai PPW negatif (-42,62) dan PB positif (1,46); selanjutnya sub sektor tanaman perkebunan dijadikan prioritas ke lima, mengingat sub sektor ini tidak memiliki daya saing

dan pertumbuhannya tidak progressive, yang di tunjukkan dengan nilai PPW dan

(8)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat, karunia, taufik dan hidayah-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan olah penulis. Shalawat serta salam tidak lupa dipanjatkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. beserta keluarga dan sahabatnya yang telah membawa umat manusia menuju jalan kebaikan.

Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pertanian. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu dalam penyusunan skripsi ini, terutama kepada :

1. Ayah dan Ibu, orangtuaku tercinta yang selama ini tidak pernah berhenti memberikan kasih sayang, do’a, serta segala upaya dalam memberikan dukungan kepada penulis.

2. Bapak Dr. Iskandar Andi Nuhung, M.Si dan Bapak Achmad Tjahja

Nugraha, SP, MP selaku dosen pembimbing yang selalu meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, masukan, dan solusi yang bermanfaat bagi penulis dalam proses pelaksanaan penelitian dan penulisan skripsi.

3. Ibu Ir. Siti Rochaeni, M.Si dan Ibu Ir. Armaeni Dwi Humaerah, M.Si selaku dosen penguji yang telah bersedia memberikan kritik dan saran yang bermanfaat demi kesempurnaan penulisan skripsi.

4. Bapak Dr. Agus Salim, M.Si. selaku dekan Fakultas Sains dan Teknologi.

5. Ibu Dr. Ir. Elpawati, MP selaku Ketua Program Studi Agribisnis.

6. Bapak Akhmad Mahbubi, SP, MM selaku Sekretaris Program Studi

Agribisnis.

(9)

8. Seluruh Bapak dan Ibu dosen pengajar pada Program Studi Agribisnis yang telah memberikan banyak ilmu yang bermanfaat, dan nasehat yang berharga, serta pengalaman kuliah yang tidak terlupakan.

9. Bapak Kepala BAPEDA Kabupaten Batang beserta karyawan yang telah

memberikan izin penulis melaksanakan penelitian dan terbuka memberikan informasi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan penulisan skripsi.

10.Bapak Kepala BPS Kabupaten Batang beserta karyawan yang telah

terbuka memberikan informasi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan penulisan skripsi.

11.Thanty yang selalu memberikan support dan berbagi pemikiran bersama penulis.

12.Teman-teman “Tagor Team” Ichsan, Hendrik, Fahmi, Andhika, Adit,

Ilham, Alam, Adrian, Reza, Tirto Agung AW, Riki Natanegara, dan Ricky Ade atas semangat, dan informasi selama penelitian hingga penulisan skripsi serta sebagai teman diskusi.

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

(10)

i

2.4. Pembangunan Daerah dan Perencanaan Pembangunan Daerah ... 22

2.5. Pembangunan Pertanian ... 23

2.6. Peran Sektor Pertanian ... 25

2.7. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ... 27

2.8. Teori Ekonomi Basis ... 29

2.9. Konsep Sektor Unggulan (Basis) ... 32

2.10. Metode Analisis Sektor Unggulan ... 33

2.10.1.Metode Analisis LQ (Location Quotient) ... 33

(11)

ii

3.3. Metode Analisis Data ... 45

3.3.1.Analisis LQ (Location Quotient) ... 45

3.3.2.Analisis SS (Shift Share) ... 47

4.6.4.Sektor Listrik, Gas, dan Air Minum ... 65

4.6.5.Sektor Bangunan ... 69

4.6.6.Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran ... 69

4.6.7.Sektor Angkutan dan Komunikasi ... 70

4.6.8.Sektor Keuangan, Sewa, dan Jasa Perusahaan ... 71

4.6.9.Sektor Jasa-Jasa ... 72

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Sektor-Sektor Unggulan Kabupaten Batang Periode 2004-2013 Berdasarkan Pendekatan Location Quotient ... 74

5.2. Pertumbuhan dan Daya saing Sektor Pertanian Berdasarkan Analisis Shift Share (SS) ... 79

5.2.1.Pertumbuhan Total PDRB Kabupaten Batang dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2013 ... 79

5.2.2.Rasio PDRB Total dan Sektoral Kabupaten Batang dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2013 ... 83

5.2.3.Analisis Komponen Pertumbuhan Wilayah Kabupaten Batang Tahun 2004-2013 ... 86

(12)

iii

5.3. Sub Sektor Pertanian Unggulan Kabupaten Batang

Periode 2004-2013 Berdasarkan Pendekatan Location

Quotient (LQ) ... 95

5.4. Pertumbuhan PDRB ADHK Sektor Pertanian Kabupaten Batang dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2004-2013 ... 97

5.5. Pertumbuhan dan Daya Saing Masing-masing Sub Sektor Pertanian Berdasarkan Analisis Shift Share (SS) ... 100

5.5.1. Sub Sektor Tanaman Bahan Makanan ... 100

5.5.2. Sub Sektor Tanaman Perkebunan ... 104

5.5.3. Sub Sektor Peternakan dan Hasilnya ... 105

5.5.4. Sub Sektor Kehutanan ... 107

5.5.5. Sub Sektor Perikanan ... 108

5.6. Rumusan Prioritas Pengembangan Sub Sektor Pertanian Dalam Pembangunan Daerah di Kabupaten Batang ... 110

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 113

6.2. Saran .. ... 115

DAFTAR PUSTAKA ... 117

(13)

iv

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 1. Nilai, Distribusi dan Peringkat PDRB ADHB Tanpa Migas

Menurut Kabupaten/Kota Se Jawa Tengah Tahun 2012 ... 3 Tabel 2. PDRB Kabupaten Batang Tahun 2012 Atas Dasar Harga

Konstan Tahun 2000 ... 6 Tabel 3. Kecamatan dan Desa/Kelurahan Kabupaten Batang ... 56 Tabel 4. Nilai LQ Sektor Perekonomian Kabupaten Batang Tahun

2004-2013 ... 75 Tabel 5. Perubahan PDRB Kabupaten Batang Menurut Lapangan

Usaha Berdasarkan Harga Konstan 2000, Tahun 2004 dan

2013 (juta rupiah) ... 81 Tabel 6. Perubahan PDRB Provinsi Jawa Tengah Menurut Lapangan

Usaha Berdasarkan Harga Konstan 2000, Tahun 2004 dan

2013 (juta rupiah) ... 83 Tabel 7. Rasio PDRB Kabupaten Batang dan Provinsi Jawa Tengah ... 85 Tabel 8. Analisis Shift Share Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten

Batang Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Regional,

Tahun 2004-2013 ... 87 Tabel 9. Analisis Shift Share Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten

Batang Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Proporsional,

Tahun 2004-2013 ... 88 Tabel 10. Analisis Shift Share Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten

Batang Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Pangsa

Wilayah, Tahun 2004-2013 ... 90 Tabel 11. Nilai Persentase PP dan PPW di Kabupaten Batang ... 92 Tabel 13. Nilai LQ Sub Sektor Pertanian Kabupaten Batang Tahun

2004-2013 ... 95 Tabel 14. Perubahan PDRB Sektor Pertanian Kabupaten Batang

Menurut Lapangan Usaha Berdasarkan Harga Konstan 2000,

(14)

v

Tabel 15. Perubahan PDRB Sektor Pertanian Provinsi Jawa Tengah Menurut Lapangan Usaha Berdasarkan Harga Konstan 2000,

Tahun 2004 dan 2013 ... 99 Tabel 16. Perbandingan Pergeseran Bersih dan Daya Saing Sub Sektor

(15)

vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 1. Grafik Pertumbuhan Sektor Pertanian Kabupaten Batang

Tahun 2008-2012 ... 7

Gambar 2. Grafik Persentase Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB Kabupaten Batang Tahun 2008-2012 ... 8

Gambar 3. Model Analisis Shift Share ... 36

Gambar 4. Kerangka Pemikiran ... 43

Gambar 5. Profil Pertumbuhan Sektor-Sektor Perekonomian ... 52

Gambar 6. Grafik Luas Wilayah Kabupaten Batang Menurut Kecamatan ... 55

Gambar 7. Grafik Perkembangan Jumlah Penduduk di Kabupaten Batang ... 57

Gambar 8. Persentase Penduduk Usia >15 Tahun Menurut Jenis Lapangan Kerja ... 58

Gambar 9. Grafik Komposisi Industri Atas Dasar Harga Konstan, Tahun 2012 ... 64

Gambar 10 Grafik Banyaknya Pemakaian Listrik yang Disalurkan ... 66

Gambar 11. Grafik Jumlah Pelanggan Listrik di Kabupaten Batang Tahun 2012 ... 66

Gambar 12. Grafik Pertumbuhan Pelanggan PT PLN Persero Tahun 2003-2012 ... 67

Gambar 13. Grafik Pertumbuhan Jumlah Pelanggan PDAM ... 69

Gambar 14. Grafik Kondisi Jalan di Kabupaten Batang Tahun 2012... 70

Gambar 15. Profil Pertumbuhan Sektor-Sektor Perekonomian Kabupaten Batang Periode 2004-2013 ... 93

(16)

vii

Gambar 17. Grafik Konstribusi Sub Sektor Bahan Makanan Tahun

2008 – 2012 ... 101 Gambar 18. Grafik Produksi Padi Tahun 2008 – 2012 ... 102 Gambar 19. Grafik Produksi Palawija Tahun 2008 – 2012 ... 103 Gambar 20. Grafik Laju Kontribusi Sub Sektor Tanaman Perkebunan

Terhadap PDRB Kabupaten Batang Tahun 2008 – 2012 ... 104 Gambar 21. Grafik Laju Kontribusi Sub Sektor Tanaman Perkebunan

Terhadap PDRB Kabupaten Batang Tahun 2008 – 2012 ... 106 Gambar 22. Grafik Laju Kontribusi Sub Kehutanan Terhadap PDRB

Kabupaten Batang Tahun 2008 – 2012 ... 107 Gambar 23. Grafik Laju pertumbuhan Sub Sektor Perikanan Kabupaten

(17)

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

Lampiran 1. Luas Wilayah Kecamatan Tahun 2012 ... 120 Lampiran 2. Luas Penggunaan Lahan Menurut Kecamatan Tahun 2012

(Ha) ... 121 Lampiran 3. Luas Panen, Produksi dan Rata-rata Produksi Tanaman

Pangan Tahun 2007-2012 ... 122 Lampiran 4. Banyaknya Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas Menurut

Lapangan Usaha Tahun 2012 ... 123 Lampiran 5. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Dari Jenis

Kelamin Tahun 2012 ... 124 Lampiran 6. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten

Batang Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2004-2013 ... 125 Lampiran 7. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Jawa

Tengah Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2004-2013 ... 126 Lampiran 8. Hasil Perhitungan Dengan Metode LQ Di Kabupaten

Batang ... 127 Lampiran 9. Perubahan PDRB Kabupaten Batang dan Provinsi Jawa

Tengah Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga

Konstan 2000 Tahun 2004 dan 2013 ... 128 Lampiran 10. Rasio PDRB Kabupaten Batang dan Provinsi Jawa Tengah

Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2004 dan 2013 ... 129

Lampiran 11. Analisis Shift Share Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten

Batang Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Regional,

Proporsional dan Pangsa Wiayah Tahun 2004-2013... 130 Lampiran 12. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sektor

Pertanian Kabupaten Batang Atas Dasar Harga Konstan

(18)

ix

Lampiran 13. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sektor Pertanian Provinsi Jawa Tengah Atas Dasar Harga

Konstan 2000 Tahun 2004-2013 ... 132 Lampiran 14. Hasil Perhitungan Dengan Metode LQ di Kabupaten

Batang ... 133 Lampiran 15. Perubahan PDRB Sektor Pertanian Kabupaten Batang

dan Provinsi Jawa Tengah Menurut Lapangan Usaha

Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2004 dan 2013 ... 134 Lampiran 16. Rasio PDRB Sektor Pertanian Kabupaten Batang dan

Provinsi Jawa Tengah Atas Dasar Harga Konstan 2000

Tahun 2004 dan 2013 ... 135 Lampiran 17. Analisis Shift Share Sub Sektor Pertanian di Kabupaten

Batang Berdasarkan Komponen Pertumbuhan Regional,

Proporsional dan Pangsa Wiayah Tahun 2004-2013... 136 Lampiran 18. Nilai Pergeseran Bersih (PB), Perbandingan Pergeseran

Bersih dan Daya Saing Sub Sektor Pertanian di

(19)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Visi pembangunan daerah adalah suatu gambaran yang menantang

tentang kondisi daerah yang diinginkan pada akhir periode perencanaan

pembangunan daerah yang direpresentasikan dalam sejumlah sasaran hasil

pembangunan yang akan dicapai melalui berbagai strategi, kebijakan,

program, dan kegiatan pembangunan daerah. Penetapan visi pembangunan

daerah sebagai bagian dari perencanaan strategis pembangunan daerah,

merupakan suatu langkah penting dalam perjalanan pembangunan suatu

daerah mencapai kondisi yang diharapkan. Penyusunan visi pembangunan

daerah Kabupaten Batang untuk masa berlaku tahun 2012-2017 dilakukan

dengan memperhatikan visi pembangunan daerah Kabupaten Batang untuk

jangka panjang yang termuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang

Daerah (RPJPD) Kabupaten Batang tahun 2005-2025, yaitu: “Batang yang

sejahtera, maju, mantap, dan mandiri berbasis potensi unggulan”.

Rencana Pembangunan Jangka Menegah Daerah (RPJMD) Kabupaten

Batang tahun 2012-2017 mengakomodasikan penekanan pelaksanaan

pembangunan daerah berdasarkan pada pentahapan pembangunan jangka

menengah sebagaimana yang telah ditetapkan dalam RPJPD Kabupaten

Batang tahun 2005-2025 (BAPEDA Kabupaten Batang, 2014).

Berdasarkan implementasi UU RI No. 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintah Daerah dan UU RI No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan

(20)

2 tidak lagi dikendalikan secara ketat dari pusat namun sudah diserahkan

kepada daerah kabupaten/kota dalam otonomi daerah yang seluas-luasnya

(Murhaini, 2009). Otonomi daerah yang berkembang saat ini, di satu sisi

memberikan kewenangan yang lebih luas bagi pemerintah daerah dalam

mengatur dan melaksanakan program-program pembangunan di daerahnya,

namun di sisi lain menuntut kesiapan daerah dalam mempersiapkan dan

melaksanakan berbagai kebijakan yang kini bergeser menjadi tanggung

jawab daerah.

Pembangunan daerah di otonomi daerah perlu dilaksanakan secara

terpadu, selaras, serasi dan seimbang serta sesuai dengan prioritas dan

potensi daerah (Tjiptoherijanto, 1997 dalam Lusminah, 2008). Dengan

demikian, pemerintah daerah perlu mengetahui sektor-sektor yang

mempunyai peranan dominan dalam perekonomian daerahnya, sehingga

akan lebih memudahkan pemerintah daerah dalam menetapkan sasaran

pembangunan dan memajukan daerahnya. Dalam pembangunan daerah

kabupaten/kota harus bersinergi dengan pembangunan daerah di atasnya,

yaitu pembangunan daerah Provinsi. Selama periode tahun 2012, dinamika

dan sinergi perekonomian kabupaten/kota se Jawa Tengah telah

menciptakan total PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) senilai 482,54

triliun rupiah. Angka tersebut termasuk sektor minyak dan gas bumi (migas)

yang nilainya 58,70 triliun rupiah. Tanpa sumbangan dari sektor migas yang

kontribusinya mencapai 12,17 persen tersebut nilai total PDRB se Jawa

Tengah hanya sebesar 423,83 triliun rupiah (BPS Provinsi Jawa Tengah,

(21)

3 Melihat PDRB ADHB tanpa migas tahun 2012 dari masing-masing

kabupaten/kota di Jawa Tengah, nilainya sangat beragam. Besar kecilnya

nilai PDRB mencerminkan jumlah dan kekuatan kegiatan ekonomi di

masing-masing kabupaten/kota. Adapun nilai PDRB masing-masing dapat

(22)

4 Dari data pada Tabel 1 tersebut, besaran PDRB ADHB tanpa migas

kabupaten/kota di Jawa Tengah bervariasi dari 2,240 triliun sampai 45,385

triliun rupiah. Kabupaten/kota dengan PDRB terendah adalah Kota Salatiga

dan yang tertinggi adalah Kota Semarang. Dari sebaran data PDRB ADHB,

tiga kabupaten/kota yaitu Kota Semarang, Kabupaten Cilacap, dan

Kabupaten Kudus nilainya sangat mencolok jauh di atas kabupaten/kota

lainnya. Total nilai PDRB ADHB dari ke tiga kabupaten/kota ini mencapai

141,252 triliun rupiah dengan proporsi 33,33 persen terhadap total PDRB se

Jawa Tengah.

Kabupaten Kudus dengan potensi industri rokok menghasilkan

PDRB sebesar 36,959 triliun rupiah (8,72 persen) menempati posisi ke tiga

terbesar setelah Kota Semarang dan Kabupaten Cilacap dengan nilai PDRB

masing-masing 54,358 triliun rupiah (12,83 persen) dan 49,908 triliun

rupiah (11,78 persen). Pada posisi ke empat dengan jarak yang cukup jauh

ditempati oleh Kabupaten Brebes dengan nilai 18,027 triliun rupiah (4,26

persen). Posisi ke lima dan selanjutnya adalah kabupaten/kota yang

memberikan kontribusi kurang dari 3,30 persen.

Sebagai perbandingan, rata-rata nilai PDRB ADHB dari 35

kabupaten/kota se Jawa Tengah adalah 12,110 triliun rupiah. Hanya 10

kabupaten/kota yang nilai PDRB-nya di atas rata-rata dan 25 kabupaten/kota

lainnya di bawah rata-rata. Perkembangan dan pertumbuhan ekonomi

selama tahun 2012 merubah posisi relatif antara kabupaten/kota di Jawa

Tengah. berdasarkan urutan nilai PDRB ADHB tanpa migas kabupaten/kota

(23)

5 perubahan sementara 6 kabupaten/kota yang lain bergeser posisi. Dua

kabuaten/kota peringkatnya naik dan 4 kabupaten/kota mengalami

penurunan peringkat.

Dilihat dari perekonomian Jawa Tengah pada Tabel 1 tersebut,

Kabupaten Batang hanya menempati posisi peringkat ke 27 dari 35

kabupaten/kota se Jawa Tengah. Dari tahun 2011 sampai 2012 tidak

mengalami perubahan posisi peringkat. Kabupaten Batang hanya

memberikan kontribusi 1,53 persen dari total PDRB ADHB Jawa Tengah

dengan nilai 6,492 triliun rupiah. Sementara itu, jika dilihat dari letak

geografis, Kabupaten Batang merupakan daerah yang terletak di daerah

pesisir dan dilalui oleh jalur Pantai Utara Jawa (Pantura). Hal tersebut

menunjukkan bahwa daerah Kabupaten Batang merupakan daerah strategis

untuk dikembangkan melalui pembangunan ekonomi. Namun, perlu

diketahui sektor-sektor unggulan apa saja yang memiliki potensi untuk

dikembangkan sehingga dapat dijadikan prioritas dalam pembangunan

daerah di Kabupaten Batang.

Berdasarkan data BPS Kabupaten Batang (2012), perekonomian

Kabupaten Batang ditopang oleh 9 sektor yaitu sektor pertanian; sektor

pertambangan dan penggalian; sektor industri pengolahan; sektor listrik, gas

dan air; sektor bangunan; sektor perdagangan, perhotelan dan restoran;

sektor angkutan dan komunikasi; sektor keuangan, sewa dan jasa

perusahaan; serta sektor jasa-jasa. Sektor-sektor dominan dalam

pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Kabupaten

(24)

6 sektor perdagangan, restoran dan hotel; sektor jasa-jasa; serta sektor

bangunan. Besarnya kontribusi masing masing sektor tersebut terhadap pada

PDRB Kabupaten Batang tahun 2012 dapat dilihat pada Tabel 2 sebagai

berikut :

Tabel 2. PDRB Kabupaten Batang Tahun 2012 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000.

2. Pertambangan dan Penggalian 34.087.250 1,31

3. Industri Pengolahan 719.069.352 27,53

4. Listrrik, Gas dan Air Minum 24.466.477 0,94

5. Bangunan 159.246.868 6,10

6. Perdagangan, Restoran dan Hotel 447.527.395 17,14

7. Pengangkutan dan Komunikasi 103.334.591 3,96

8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 103.996.234 3,98

9. Jasa-Jasa 371.441.240 14,22

Total PDRB 2.611.528.721 100

Sumber: BPS Kabupaten Batang, 2012

Kontribusi sektor industri pengolahan; sektor pertanian; sektor

perdagangan, restoran dan hotel; sektor jasa-jasa; serta sektor bangunan,

terhadap PDRB Kabupaten Batang pada tahun 2012, masing-masing adalah

27,53 persen; 24,83 persen; 17,14 persen; 14,22 persen; dan 6,10 persen.

Sektor industri pengolahan, memberikan kontribusi yang dominan, yaitu

sebesar Rp 719.069.352.000,- atau 27,53 persen dari total PDRB Kabupaten

Batang. Jika dilihat dari distribusi penduduk 15 tahun ke atas menurut

lapangan usaha tahun 2012, ternyata sektor pertanian menjadi gantungan

(25)

7 penduduk di Kabupaten Batang bekerja di sektor pertanian, 57.781 orang di

sektor industri, 60.892 orang di sektor perdagangan, 41.359 orang di sektor

jasa, 14.041 orang di sektor angkutan, dan 37.807 di sektor lainnya (BPS

Kabupaten Batang, 2012).

Terkait dengan struktur perekonomiannya dan distribusi tenaga

kerja di Kabupaten Batang, jika melihat pertumbuhan ekonomi sektoral

Kabupaten Batang lima tahun terakhir yaitu tahun 2008 – 2012 sektor

pertanian selalu mengalami penurunan. Berdasarkan data BPS Kabupaten

Batang tahun 2012, pertumbuhan sektor pertanian tersebut 4,56% pada

tahun 2008; 2,78% pada tahun 2009; 2,95% pada tahun 2010; 2,38% pada

tahun 2011; 1,62% pada tahun 2012.

Gambar 1. Grafik Pertumbuhan Sektor Pertanian Kabupaten Batang Tahun 2008-2012 (%)

Sumber : BPS Kabupaten Batang, 2012

Dengan melihat data-data di atas, strategi pembangunan ekonomi

Kabupaten Batang yang perlu menjadi prioritas adalah pembangunan

ekonomi yang berbasis pada sektor pertanian. Mengingat sektor pertanian di

(26)

8 dan memberikan kontribusi terbesar ke dua terhadap PDRB. Perkembangan

sektor pertanian diharapkan dapat mendukung dan mendorong

perkembangan sektor perekonomian lain termasuk di dalamnya sektor

industri, dan perdagangan. Namun, persentase kontribusi sektor pertanian

terus mengalami penurunan. Berdasarkan data BPS Kabupaten Batang tahun

2012, persentase kontribusi sektor pertanian di Kabupaten Batang terhadap

PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 lima tahun terakhir dari tahun

2008 hingga tahun 2012 menunjukkan tren semakin menurun.

Gambar 2. Grafik Persentase Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB Kabupaten Batang Tahun 2008-2012 (%)

Sumber : BPS Kabupaten Batang, 2012

Tantangan yang dihadapi Kabupaten Batang dalam pelaksanaan

strategi pembangunannya sebagaimana tersebut di atas adalah bagaimana

meningkatkan produktivias dan efisiensi semua sub sektor pertanian dalam

menghasilkan berbagai komoditi pertanian agar dapat memberikan nilai

tambah yang sebesar-besarnya kepada masyarakat, dengan mengoptimalkan

segala potensi yang dimiliki daerahnya. Peningkatan produktivitas dan

efisiensi semua sub sektor pertanian di Kabupaten Batang dapat dilakukan

(27)

9 Pembangunan pertanian dalam era globalisasi dihadapkan kepada

tuntutan peningkatan produktivitas dan efisiensi agar dapat berdaya saing di

pasar domestik dan internasional. Untuk peningkatan daya saing tersebut

peningkatan sumber daya lahan perlu diupayakan secara optimal sesuai

dengan keunggulan komparatifnya sehingga mampu menampilkan

produktivitas tinggi dalam pengembangan suatu komoditi (Malik, 2006).

Mengingat terbatasnya Anggaran Perencanaan Belanja Daerah (APBD)

Kabupaten Batang, maka strategi pembangunan ekonomi Kabupaten Batang

yang perlu menjadi prioritas adalah pembangunan ekonomi yang berbasis

pada sektor unggulan (basis). Perkembangan sektor unggulan diharapkan

dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), serta dapat mendukung

dan mendorong perkembangan sektor perekonomian lainnya, dan

meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional sehingga

dapat meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat. Pada dasarnya

pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha untuk meningkatkan

pendapatan masyarakat, memperluas lapangan pekerjaan, pemerataan

pembagian pendapatan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sektor

perekonomian yang perlu mendapatkan perhatian lebih oleh pemerintah

daerah Kabupaten Batang adalah sektor pertanian. Sektor tersebut selain

memberikan kontribusi besar terhadap PDRB juga menyerap tenaga kerja

terbesar di Kabupaten Batang. Namun, di sisi lain sektor pertanian semakin

ke depan semakin menurun pertumbuhannya dan kontribusinya dari tahun

ke tahun semakin menurun. Dengan demikian perlu adanya upaya dalam

(28)

10 dalam perekonomian maupun penyerapan tenaga kerja. Upaya yang perlu

dilakukan adalah dengan mengidentifikasi peran masing-masing sub sektor

pertanian untuk memajukan sektor pertanian.

Dengan analisis peran sektor pertanian dalam pembangunan daerah

di Kabupaten Batang, maka dapat diketahui peran masing-masing sub sektor

pertanian dan potensinya sehingga dapat ditentukan prioritas pengembangan

sub sektor pertanian di Kabupaten Batang. Informasi mengenai peran dan

potensi sub sektor pertanian di Kabupaten Batang dapat dijadikan bahan

pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam menentukan rencana dan

kebijakan pembangunan pertanian, sehingga pembangunan daerah di

Kabupaten Batang dapat berjalan lebih efisien dan efektif.

1.2. Rumusan Masalah

Otonomi daerah memberikan kesempatan yang luas kepada daerah,

khususnya kabupaten atau kota dalam melaksanakan program-program

pembangunannya, sehingga pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan

pembangunan akan dapat berjalan lebih cepat dan lebih berkualitas.

Keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah sangat tergantung pada

kemampuan daerah dalam mengembangkan segenap potensi sektor-sektor

perekonomian yang ada di daerahnya.

Dalam pembangunan daerah, sektor ekonomi yang beragam di

Kabupaten Batang merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang

cukup besar perannya dalam pembangunan daerah Kabupaten Batang. Peran

(29)

11 pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Di Kabupaten Batang itu sendiri

memiliki potensi yang beraneka ragam.

Jika dilihat dari PDRB dari tahun ke tahunnya semua sektor

ekonomi sangat berpengaruh terhadap kemajuan perekonomian dan

harapannya Pemerintah Daerah Kabupaten Batang memajukan sektor-sektor

ekonomi tersebut. Namun, jika dilihat dari segi Anggaran Perencanaan

Belanja Daerah (APBD) pemerintah tidak mungkin memajukan semua

sektor ekonomi yang ada dengan keterbatasan anggaran yang ada pada

APBD Kabupaten Batang. Maka dari itu, perlu adanya kebijakan untuk

memprioritaskan sektor ekonomi yang termasuk ke dalam sektor ekonomi

ungggulan yang harapannya akan meningkatkan pula sektor ekonomi non

unggulan lainnya.

Hal tersebut yang menyebabkan betapa pentingnya mengetahui

posisi sektor pertanian dalam perekonomian, peran dan potensi semua sub

sektor pertanian serta penentuan prioritas sub sektor pertanian dalam

pembangunan di Kabupaten Batang sehingga pertumbuhan sektor pertanian

yang diharapkan dapat tercapai. Pertumbuhan sektor pertanian dapat

mendorong pertumbuhan sektor perekonomian lainnya sehingga pendapatan

per kapita juga meningkat. Selain itu untuk meningkatkan kemampuan

potensi sub sektor pertanian perlu juga memperhitungkan daya saing dan

pertumbuhan sub sektor pertanian.

Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian Analisis Peran Sektor Pertanian dalam Pembangunan Daerah di

(30)

12 1. Bagaimana pertumbuhan dan daya saing sektor pertanian, serta posisi

sektor pertanian dalam perekonomian di Kabupaten Batang periode

2004-2013?

2. Sub sektor pertanian apa saja yang menjadi sub sektor unggulan dan

bagaimana pertumbuhan dan daya saing sub sektor pertanian di

Kabupaten Batang periode 2004-2013?

3. Bagaimana rumusan prioritas pengembangan sub sektor pertanian dalam

memajukan sektor pertanian di Kabupaten Batang?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menganalisis pertumbuhan dan daya saing sektor pertanian, serta posisi

sektor pertanian dalam perekonomian di Kabupaten Batang periode

2004-2013.

2. Mengetahui sub sektor pertanian apa saja yang menjadi sub sektor

unggulan dan menganalisis pertumbuhan dan daya saing sub sektor

pertanian di Kabupaten Batang periode 2004-2013.

3. Menganalisis rumusan prioritas pengembangan sub sektor pertanian

dalam memajukan sektor pertanian di Kabupaten Batang.

1.4. Kegunaan Penelitian

Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi penulis, dapat menambah pengetahuan dan wawasan berkaitan

(31)

13

2. Bagi pemerintah, sebagai informasi dan bahan pertimbangan dalam

mengambil kebijakan, khususnya dalam perencanaan pembangunan

pada sektor pertanian dalam memajukan sektor tersebut di Kabupaten

Batang.

3. Bagi pembaca, sebagai bahan wacana dan kajian untuk menambah

wawasan ilmu pengetahuan terutama dalam hal keterkaitan potensi

wilayah dengan pembangunan daerah serta sebagai bahan referensi bagi

penelitian sejenis.

1.5. Ruang Lingkup

1. Penelitian ini memfokuskan pada analisis kontribusi sektor pertanian

terhadap pertumbuhan ekonomi serta peran sub sektor pertanian

Kabupaten Batang pada periode 2004-2013 dengan pendekatan analisis

LQ (Location Quotient)dan SS (Shift Share).

2. Penggunaan analisis Location Qoutient dimaksudkan untuk melihat

sektor-sektor ekonomi dan sub sektor pertanian apa saja yang menjadi

sektor unggulan di Kabupaten Batang, sedangkan Analisis Shift Share

dimaksudkan untuk melihat gambaran pertumbuhan dan daya saing

sektor-sektor tersebut di Kabupaten Batang.

3. Periode yang digunakan dalam penelitian ini adalah periode tahun

2004-2013, karena dilihat dari LPE (Laju Pertumbuhan Ekonomi)

Kabupaten Batang menunjukkan bahwa pada periode tersebut LPE

Kabupaten Batang terus meningkat dan lebih baik dari tahun-tahun

(32)

14 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Pembangunan Ekonomi

Menurut Suryana (2000) usaha-usaha yang sedang giat

dilaksanakan oleh negara-negara berkembang (developing countries) di

dunia pada umumnya berorientasi kepada bagaimana memperbaiki atau

mengangkat taraf hidup (Level of living) masyarakat di negara-negara

tersebut agar mereka bisa hidup seperti masyarakat di negara-negara maju.

Pembangunan ekonomi merupakan salah satu jawaban yang seakan-akan

menjadi semacam kunci keberhasilan suatu negara untuk meningkatkan

taraf hidup warga negaranya.

Pembangunan ekonomi yang efisien membutuhkan secara

seimbang perencanaan yang teliti mengenai sumberdaya-sumberdaya publik

dan sektor swasta. Petani, pengusaha kecil, koperasi, pengusaha besar dan

organisasi-organisasi sosial harus mempunyai peran dalam proses

perencanaan. Melalui perencanaan pembangunan ekonomi daerah, suatu

daerah dilihat secara keseluruhan sebagai suatu unit ekonomi (Economic

entity) yang di dalamnya terdapat berbagai unsur yang berinteraksi satu

sama lain (Arsyad, 1999).

Pertumbuhan dan pembangunan ekonomi adalah dua konsep yang

tidak dapat dipisahkan. Pembangunan dimaksudkan menentukan usaha

pembangunan yang berkelanjutan dan tidak menghilangkan sumber asli,

ketika teori dan model pertumbuhan yang dihasilkan dijadikan panduan dan

(33)

15 pembangunan serta menganalisa dengan melihat kesesuaiannya dalam

konteks negara. Walaupun tidak semua teori atau model dapat digunakan,

namun mengenai peranan faktor pengeluaran termasuk buruh, tanah, modal

dan pengusaha boleh menjelaskan sebab-sebab berlakunya ketiadaan

pembangunan dalam sebuah negara. Pada peringkat awal, pendapatan per

kapita menjadi pengukur utama bagi pembangunan. Walau bagaimanapun,

melalui perubahan waktu, aspek pembangunan manusia dan pembangunan

alam semakin ditekankan. Pembangunan melihat kepada aspek generasi

yang akan datang melalui masa sekarang. Diumpamakan bahwa konsep

pembangunan dan pertumbuhan tidak ditafsirkan dari perspektif ekonomi

semata-mata tetapi juga disimpulkan dari berbagai disiplin seperti

pendidikan, dan perindustrian (Idris, 2000 dalam Dewi, 2008).

2.2. Konsep Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Schumpeter, pertumbuhan ekonomi adalah penambahan

alami dari tingkat pertambahan penduduk dan tingkat tabungan. Sedangkan,

menurut Putong (2003) pertumbuhan ekonomi merupakan kenaikan pendapatan

nasional secara berarti (dengan meningkatnya pendapatan per kapita) dalam

suatu periode perhitungan tertentu.

Jika kita membicarakan pertumbuhan ekonomi, pasti berbeda dengan

pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator

keberhasilan pembangunan. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi maka

semakin tinggi pula kesejahteraan masyarakatnya di luar indikator yang lain.

(34)

16 kemajuan ekonomi sebagai hasil pembangunan nasional maupun pembangunan

daerahnya (Putong, 2003).

Menurut Tarigan (2005), pertumbuhan ekonomi wilayah adalah

pertambahan pendapatan masyarakat yang terjadi di suatu wilayah yang

digambarkan oleh kenaikan seluruh nilai tambah yang terjadi di wilayah

tersebut. Hal ini juga yang nantinya akan menggambarkan kemakmuran daerah

tersebut. Kemakmuran suatu wilayah ditentukan pula dengan seberapa besar

bagian pendapatan yang mengalir ke luar wilayah atau mendapat aliran dana

dari luar wilayah. Setiap negara akan selalu menargetkan laju pertumbuhan

ekonomi yang tinggi pada setiap daerahnya, karena hal itu menggambarkan

kemakmuran di daerah tersebut (Tarigan, 2005).

W.W Rostow dalam Adisasmita (2008) mengemukakan suatu teori

yang membagi pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahapan, yaitu

masyarakat tradisional (the traditional society), prasyarat untuk lepas landas

(the precondition for take off), lepas landas (the take off), gerakan ke arah

kedewasaan (the drive to maturity) dan massa konsumsi tinggi (the age of high

mass consumption). Penjelasan pertumbuhan Rostow ini dijelaskan dalam

Arsyad (1999), yaitu sebagai berikut :

1. Masyarakat Tradisional (The Traditional Society)

Masyarakat tradisional adalah masyarakat yang perekonomiannya masih

bertumpu pada sektor pertanian dan memiliki fungsi produksi yang

terbatas dan relatif primitif yang kehidupannya sangat dipengaruhi oleh

(35)

17 2. Tahap Prasyarat Lepas Landas (The Precondition For Take Off)

Dalam kondisi ini, merupakan transisi untuk mencapai pertumbuhan yang

mempunyai kekuatan untuk berkembang. Segala sesuatunya dipersiapkan

untuk mencapai pertumbuhan dengan kekuatan sendiri termasuk ilmu

pengetahuan yang akan menghasilkan penemuan baru.

3. Tahap Lepas Landas (The Take Off)

Berlakunya perubahan yang sangat besar dalam masyarakat misalnya

tercipta kemajuan yang pesat dalam inovasi, revolusi politik dan

sebagainya.

4. Tahap Menuju Kedewasaan (The Drive To Maturity)

Dalam kondisi ini masyarakat sudah secara efektif menggunakan teknologi

modern pada sebagian besar faktor produksi. Munculnya pemimpin baru

yang bercorak lebih kepada perkembangan teknologi, kekayaan alam dan

lain-lain.

5. Tahap Konsumsi Tinggi (The Age Of High Mass Consumption)

Konsumsi masal yang tinggi dimana perhatian masyarakat lebih

menekankan kepada permasalahan yang berkaitan dengan konsumsi dan

kesejahteraan masyarakat.

Selain itu menurut Kuznets dalam bukunya Modern Economic Growth

tahun 1966, definisi pertumbuhan ekonomi itu sendiri ialah suatu kenaikan

yang terus-menerus dalam produk per kapita, seringkali diikuti dengan

kenaikan jumlah penduduk dan biasanya dengan perubahan struktural (Jhingan,

2004). Pakar-pakar ekonomi pembangunan pun berpendapat, menurutnya

(36)

18 Menurut mereka, pertumbuhan ekonomi merupakan istilah bagi negara yang

telah maju untuk menyebut keberhasilan pembangunannya sedangkan

pembangunan ekonomi itu digunakan untuk negara yang sedang berkembang

(Putong, 2003).

Sebenarnya banyak sekali teori pertumbuhan ekonomi yang berasal

dari pakar-pakar ekonomi terdahulu. Teori klasik yang dikemukakan oleh

Adam Smith melalui bukunya An Inquiry into The Nature and Cause of The

Wealth of Nations yang terbit pada tahun 1917 menyatakan bahwa salah satu

faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan

penduduk. Penduduk yang bertambah akan memperluas pasar dan perluasan

pasar akan meningkatkan spesialisasi dalam perekonomian tersebut. Lebih

lanjut, spesialisasi akan meningkatkan produktivitas tenaga kerja sehingga

meningkatkan upah dan keuntungan. Dengan demikian, proses pertumbuhan

akan terus berlangsung sampai seluruh sumber daya termanfaatkan (Tarigan,

2005).

Sementara itu, David Ricardo dalam bukunya The Principles of

Political Economy and Taxation yang terbit pada tahun 1917, menyatakan

pandangan yang bertentangan dengan Adam Smith. Menurutnya,

perkembangan penduduk yang berjalan cepat pada akhirnya akan menurunkan

kembali tingkat pertumbuhan ekonomi ke taraf yang rendah. Pola pertumbuhan

ekonomi menurut Ricardo berawal dari jumlah penduduk yang rendah dan

sumber daya alam yang relatif melimpah (Tarigan, 2005).

Menurut Keynes, untuk menjamin pertumbuhan yang stabil

pemerintah perlu menerapkan kebijakan fiskal (perpajakan dan belanja

(37)

19 dan pengawasan langsung. Keynes mengemukakan bahwa pendapatan total

merupakan fungsi dari pekerjaan total dalam suatu negara. Semakin besar

pendapatan nasional, semakin besar volume pekerjaan yang dihasilkan,

demikian sebaliknya. Volume pekerjaan tergantung pada permintaan efektif.

Permintaan efektif ini ditentukan pada titik saat harga permintaan agregat sama

dengan harga penawaran agregat.

Selain itu Harrod-Domar pun mengemukakkan pandangannya. Dalam

teori ini, Harrod-Domar melengkapi teori Keynes, dimana Keynes melihat

dalam jangka pendek (kondisi statis), sedangkan Harrod-Dommar melihat

dalam jangka panjang (kondisi dinamis). Harrod-Domar menyimpulkan bahwa

pertumbuhan jangka panjang yang mantap, dimana seluruh kenaikan produksi

dapat diserap oleh pasar, hanya dapat dicapai jika memenuhi syarat-syarat

keseimbangan, yaitu g = k = n, dimana g adalah tingkat pertumbuhan output, k

adalah tingkat pertumbuhan modal, dan n adalah tingkat pertumbuhan angkatan

kerja (Priyarsono,et al., 2007).

Proses pertumbuhan menurut pandangan Schumpeter adalah proses

peningkatan dan penurunan kegiatan ekonomi yang berjalan siklikal.

Pembaruan-pembaruan yang dilakukan oleh para pengusaha berperan dalam

peningkatan kegiatan ekonomi. Dalam proses siklikal tersebut, tingkat

keseimbangan yang baru akan selalu berada pada tingkat yang lebih tinggi

daripada tingkat keseimbangan sebelumnya. Pada intinya, dari semua teori

yang ada sama-sama menjelaskan tentang bagaimana kita mengelola

sumberdaya yang ada (manusia, alam dan teknologi) pada suatu wilayah agar

(38)

20 Menurut Adam Smith dalam Boediono (1982), yang memengaruhi

pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan output (GDP) total dan

pertumbuhan penduduk. Smith melihat sistem produksi suatu negara terdiri dari

3 unsur pokok, yaitu 1) sumber-sumber alam yang tersedia (faktor produksi

tanah), 2) sumber-sumber manusiawi (jumlah penduduk), 3) stok barang kapital

yang ada.

2.3. Otonomi Daerah

Menurut Soenarto (2001), dengan otonomi daerah berarti telah

memindahkan sebagian besar kewenangan yang tadinya berada di

pemerintah pusat diserahkan kepada daerah otonom, sehingga pemerintah

daerah otonom dapat lebih cepat dalam merespon tuntutan masyarakat

daerah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Karena kewenangan

membuat kebijakan (perda) sepenuhnya menjadi wewenang daerah otonom,

maka dengan otonomi daerah pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan

pembangunan akan dapat berjalan lebih cepat dan lebih berkualitas.

Keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah sangat tergantung pada

kemampuan keuangan daerah, sumber daya manusia yang dimiliki daerah,

serta kemampuan daerah untuk mengembangkan segenap potensi yang ada

di daerah otonom.

Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah

otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan

kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan

perundang-undangan. Dengan ditetapkannya UU RI No. 32 Tahun 2004 tentang

(39)

21 Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah, maka

daerah mempunyai hak, wewenang dan kewajiban mengatur dan mengurus

sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai

peraturan perundang-undangan. Sejalan dengan adanya Undang-Undang

Otonomi Daerah tersebut maka sudah menjadi kewajiban pemerintah daerah

untuk menangani potensi wilayah yang berada dalam ruang lingkup

pemerintahannya (Murhaeni, 2009).

Otonomi daerah memberikan kesempatan yang luas kepada daerah,

khususnya kabupaten/kota dalam melaksanakan program-program

pembangunannya. Banyak aspek yang dapat dilakukan secara mandiri di

tingkat pertanggungjawaban suatu program pembangunan. Otonomi daerah

di sisi lain juga menuntut kesiapan daerah dalam mempersiapkan dan

melaksanakan berbagai kebijakan yang kini bergeser menjadi tanggung

jawab daerah. Kesiapan sumber daya manusia dan pemerintah daerah saja

tidak cukup tanpa didukung oleh komponen lain, misalnya kesiapan

masyarakat di daerah dan kondisi sumber daya alam. Daerah dalam konsep

otonomi daerah mempunyai keunikan/karakteristik tersendiri. Karakteristik

tersebut antara lain masing-masing wilayah administratif mempunyai

potensi sumber daya alam, etnis, budaya/tradisi, sumber daya manusia yang

beragam dan khas. Dalam konsep otonomi daerah diharapkan berbagai

potensi yang ada di daerah dapat secara optimal mendukung pelaksanaan

(40)

22 2.4. Pembangunan Daerah dan Perencanaan Pembangunan Daerah

Masalah pokok dalam pembangunan daerah adalah terletak pada

penekanan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan

pada kekhasan daerah yang besangkutan (endogenous development) dengan

menggunakan potensi sumber daya manusia, kelembagaan, dan sumber

daya fisik secara lokal (daerah). Orientasi ini mengarahkan kita kepada

pengambilan inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses

pembangunan untuk menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang

peningkatan kegiatan ekonomi (Arsyad, 2004).

Pembangunan daerah pada umumnya mencakup berbagai dimensi

pembangunan yang dilaksanakan secara bertahap. Pada awalnya, kegiatan

pembangunan daerah biasanya ditekankan pada pembangunan fisik untuk

mendorong pertumbuhan ekonomi, kemudian diikuti dengan pembangunan

sosial politik. Namun demikian, tahapan ini bukanlah merupakan suatu

ketentuan yang berlaku umum, karena setiap daerah mempunyai potensi

pertumbuhan yang berbeda dengan daerah lain. Potensi sumber daya alam,

sumber daya manusia, kondisi sosial, budaya, ekonomi, ketersediaan

infrastruktur, dan lainnya sangat berpengaruh pada penerapan konsep

pembangunan yang dilaksanakan (Adisasmita, 2006).

Perencanaan pembangunan daerah dimaksudkan agar semua daerah

dapat melaksanakan pembangunan secara proporsional dan merata sesuai

dengan potensi yang ada di daerah tersebut. Manfaat perencanaan

pembangunan daerah adalah untuk pemerataan pembangunan atau perluasan

(41)

23 pembangunan daerah berkembang dengan baik maka diharapkan bahwa

kemandirian daerah dapat tumbuh dan berkembang sendiri (mandiri) atas

dasar kekuatan sendiri. Dengan demikian maka kenaikan pendapatan dan

kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut tidak terlalu bergantung dari

pusat tetapi relatif cukup didorong dari daerah yang bersangkutan

(Soekartawi, 1990).

2.5. Pembangunan Pertanian

Secara umum dapat dikemukakan bahwa pembangunan pertanian

diarahkan untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani dan

nelayan, memperluas lapangan kerja dan kesempatan usaha, serta mengisi

dan memperluas pasar, baik pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri.

Ini dilakukan melalui pertanian yang maju, efisien, dan tangguh sehingga

makin mampu meningkatkan dan menganekaragamkan hasil, meningkatkan

mutu dan derajat pengolahan produksi dan menunjang pembangunan

wilayah (Kamaluddin, 1998).

Pembangunan pertanian patut mengedepankan potensi kawasan dan

kemampuan masyarakatnya. Keunggulan komparatif yang berupa sumber

daya alam perlu diiringi dengan peningkatan keunggulan kompetitif yang

diwujudkan melalui penciptaan sumber daya manusia tani yang makin

profesional. Masyarakat tani terutama masyarakat tani tertinggal sebagai

sasaran pemberdayaan masyarakat perlu terus didampingi sebagai manusia

(42)

24 alam dan manusia patut menjadi dasar bagi pengembangan pertanian masa

depan (Wibowo, 2002).

Rencana pembangunan pertanian di masa yang akan datang,

khususnya di era otonomi daerah, perlu disusun berdasarkan suatu konsep

pembangunan pertanian yang mengedepankan eksistensi petani sebagai

produsen yang memerlukan topangan infrastruktur dan kebijakan agar: (i)

proses untuk menghasilkan produk (massa hayati) dapat berlangsung secara

efektif dan efisien, (ii) produk yang dihasilkan dapat ditingkatkan nilai

ekonominya melalui proses pengolahan yang tepat, (iii) produk yang telah

diolah memiliki ketahanan kualitas terhadap rentang waktu selama proses

pemasaran, (iv) produk memiliki daya saing di pasaran dalam dan luar

negeri (Usman et.al., 2001).

Pembangunan pertanian harus mampu memanfaatkan secara

maksimal keunggulan sumber daya wilayah dan dapat berkelanjutan, maka

kebijaksanaan pembangunan pertanian harus dirancang dalam perspektif

ekonomi wilayah. Pembanguan pertanian dalam konteks wilayah semakin

relevan dengan berlakunya UU RI Nomor 22 dan Nomor 25 tahun 1999,

yang kemudian dijabarkan dalam PP Nomor 2 tahun 2000. Dalam

kebijaksanaan pembangunan pertanian saat ini secara implisit dirancang

dalam perspektif ekonomi wilayah. Hal ini terlihat jelas dari peran daerah

dalam merencanakan dan mengimplementasikan program-program.

Pemerintah Pusat dalam hal ini hanya merancang pelaksanaan yang bersifat

makro, sedangkan Pemerintah Daerah merancang pelaksanaan pencapaian

(43)

25 demikian, maka Pemerintah Daerah benar-benar dituntut agar mampu

melaksanakan kebijakan tersebut secara maksimal, untuk mengelola sumber

daya spesifik lokasi. Sebagai bahan perencanaan diperlukan analisis potensi

wilayah baik dalam aspek biofisik maupun sosial ekonomi. Dalam rangka

memanfaatkan potensi tersebut, peran serta masyarakat secara partisipatif

perlu didorong dan dikembangkan.

2.6. Peran Sektor Pertanian

Peranan sektor pertanian dirasa masih penting walaupun kemajuan

sektor industri berkembang begitu cepat dalam perekonomian suatu daerah.

Pentingnya sektor pertanian dalam perekonomian dapat dilihat dari berbagai

hal, antara lain dilihat dari masih relatif besarnya pangsa sektor pertanian

terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sektor pertanian juga merupakan

pemasok bahan baku bagi industri, mampunya sektor ini menyediakan

pangan dan gizi, dapat menyerap banyak tenaga kerja dan semakin

signifikannya kontribusi sektor pertanian dalam meningkatkan ekspor

nonmigas (Soekartawi, 1996).

Peranan sektor pertanian dalam pembangunan yang utama

diantaranya adalah sehubungan dengan pertimbangan-pertimbangan berikut:

1. Sebagian besar penduduk di negara-negara berkembang memiliki usaha

yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.

2. Sektor pertanian di negara berkembang merupakan sumber utama untuk

(44)

26 3. Sektor pertanian merupakan sumber atau penyedia input tenaga kerja

yang sangat besar untuk menunjang pembangunan sektor-sektor lainnya,

terutama industri.

4. Sektor pertanian dapat juga berperan sebagai sumber dana dan daya yang

utama dalam menggerakkan dan memacu pertumbuhan ekonomi di

sebagian besar negara berkembang.

5. Sektor pertanian merupakan pasar yang potensial bagi hasil output sektor

modern di perkotaan yang ditumbuhkembangkan.

Pengalaman pembangunan nasional sampai dengan munculnya

krisis ekonomi pada tahun 1997 menunjukkan betapa pentingnya posisi

pembangunan pertanian dalam mendukung perekonomian nasional.

Ketahanan pangan nasional menurun secara drastis, dimana impor beras

nasional mencapai puncaknya pada tahun 1998 dan munculnya krisis

pangan (kelaparan) karena lemahnya akses pangan (daya beli) di beberapa

wilayah di tanah air. Krisis ekonomi dan pangan tersebut merefleksikan

bahwa pembangunan nasional yang tidak didasarkan atas kondisi riil

struktur perekonomian nasional akan rentan terhadap gejolak faktor

eksternal dan tidak berkelanjutan. Kondisi riil perekonomian nasional

tersebut dicirikan oleh dominasi sektor pertanian dan pedesaan dalam GDP

dan kesempatan kerja nasional. Karena itu pembangunan nasional perlu

diarahkan kepada pemanfaatan potensi sumber daya alam, peningkatan

produktivitas tenaga kerja pedesaan, dan pengembangan potensi pasar

(45)

27 2.7. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu

indikator pertumbuhan ekonomi suatu wilayah tertentu. Menurut BPS

Kabupaten Batang (2012), Produk Domestik Regional Bruto yaitu data

statistik yang disajikan secara series untuk memberikan gambaran kinerja

ekonomi makro dari waktu ke waktu. Sehingga arah perekonomian

regional akan lebih jelas, serta dapat memberikan manfaat untuk berbagai

kepentingan seperti untuk perencanaan, evaluasi, maupun kajian

pembangunan ekonomi.

Pada dasarnya pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha

untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, memperluas lapangan

pekerjaan, pemerataan pembagian pendapatan, meningkatkan hubungan

ekonomi antar daerah/wilayah dan mengupayakan terjadinya pergeseran

kegiatan ekonomi yang semula dari sektor primer, yaitu sektor yang

bergantung pada jenis lapangan usaha pertanian serta pertambangan dan

penggalian kepada sektor sekunder (lapangan usaha industri pengolahan,

listrik, gas,dan air minum, konstruksi/bangunan) serta sektor tersier

(lapangan usaha perdagangan, hotel, dan restoran, angkutan dan

komunikasi, bank/lembaga keuangan, perusahaan persewaan, jasa

pemerintahan dan jasa swasta (BPS Kabupaten Batang, 2012).

Perhitungan PDRB menggunakan dua macam harga yaitu PDRB

atas dasar harga berlaku yaitu menggambarkan nilai tambah barang dan

jasa yang dihitung dengan menggunakan harga setiap tahunnya. Selain itu

(46)

28 dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada satu tahun tertentu

sebagai tahun dasar perhitungannya. PDRB yang akan dianalisis adalah

PDRB Kabupaten Batang dan Provinsi Jawa Tengah atas dasar harga

konstan 2000 menurut lapangan usaha periode 2004-2013 (BPS Kabupaten

Batang, 2012).

Ketersediaan data dan penyusunan PDRB ini secara berkala,

bermanfaat untuk memperoleh informasi antara lain (BPS Kabupaten

Batang, 2012):

1. Tingkat pertumbuhan ekonomi

Apabila angka-angka statistik PDRB disajikan atas dasar harga konstan

akan menunjukkan laju pertumbuhan perekonomian suatu daerah baik

keseluruhan maupun per sektor.

2. Tingkat kemakmuran suatu daerah

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu menjamin kemakmuran

yang tinggi bagi masyarakat kalau perkembangan penduduk juga tinggi.

Tingginya pertumbuhan pendapatan per kapita lebih menunjukan

perkembangan kemakmuran sebab bila dilihat dari sudut konsumsi,

berarti masyarakat akan mempunyai kesempatan untuk menikmati

barang dan jasa yang lebih banyak atau lebih tinggi kualitasnya. Untuk

mengetahui tingkat kemakmuran suatu daerah harus tersedia angka

pembanding dari daerah lainnya dan untuk mengetahui

perkembangannya perlu diketahui angka perkembangan pendapatan

(47)

29 dapat disimpulkan bahwa tingkat kemakmuran suatu daerah lebih baik

dari daerah lainnya. Selain itu dapat dilihat peningkatan kemakmuran

daerah tersebut dari tahun ke tahun.

3. Tingkat inflasi dan deflasi

Penyajian atas harga konstan dan atas harga berlaku dapat dipakai

sebagai indikator untuk melihat tingkat inflasi ataupun deflasi yang

terjadi.

4. Gambaran struktur perekonomian

Angka-angka yang disajikan secara sektoral memperlihatkan tentang

struktur perekonomian suatu daerah, apakah menunjukkan ke arah

daerah yang agraris atau industri. Berdasarkan data dari masing-masing

sektor dapat dilihat peranan atau sumbangan tiap sektor terhadap

jumlah pendapatan secara keseluruhan. Dengan adanya gambaran

perekonomian suatu daerah, merupakan bahan bagi para perencana

ekonomi, baik dikalangan pemerintahan maupun swasta, untuk

menentukan ke arah mana daerah tersebut akan dikembangkan.

2.8. Teori Ekonomi Basis

Teori ekonomi basis menyatakan bahwa faktor penentu utama

pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan

permintaan barang dan jasa dari suatu daerah. Proses produksi di sektor

industri di suatu daerah yang menggunakan sumber daya produksi (SDP)

(48)

30 menghasilkan pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan per kapita,

dan penciptaan peluang kerja di daerah tersebut. Pertanyaan yang muncul

dari teori ekonomi basis adalah sanggupkah setiap provinsi memanfaatkan

peluang ekspor yang ada, terutama dalam era otonomi daerah dan era

perdagangan bebas (Tambunan, 2001).

Teori ekonomi basis digunakan untuk mengetahui apakah suatu

sektor merupakan sektor basis atau non-basis. Ada beberapa metode

pengukuran dalam teori ekonomi basis, yaitu metode pengukuran langsung

dan metode pengukuran tidak langsung. Metode pengukuran langsung dapat

dengan survei langsung untuk mengidentifikasi sektor mana yang

merupakan sektor basis. Metode ini menentukan sektor basis dengan tepat.

Akan tetapi metode ini memerlukan biaya, waktu, dan tenaga kerja yang

banyak. Mengingat hal tersebut di atas, maka sebagian besar pakar ekonomi

wilayah menggunakan metode pengukuran tidak langsung. Beberapa

metode pengukuran tidak langsung, yaitu: (1) metode melalui pendekatan

asumsi; (2) metode Location Quotient; (3) metode kombinasi 1 dan 2; (4)

metode kebutuhan minimum (Budiharsono, 2001).

Menurut Arsyad (2004), Location Quotient merupakan suatu teknik

yang digunakan untuk memperluas analisis shift share. Teknik ini

membantu kita untuk menentukan kapasitas ekspor perekonomian daerah

dan derajad self sufficiency suatu sektor. Dalam teknik ini kegiatan ekonomi

(49)

31 1. Kegiatan industri yang melayani pasar di daerah itu sendiri maupun di

luar daerah yang bersangkutan. Industri seperti ini dinamakan industry

basic.

2. Kegiatan ekonomi atau industri yang hanya melayani pasar di daerah

tersebut. Jenis ini dinamakan industry non basic atau industri lokal.

LQ adalah suatu metode untuk menghitung perbandingan relatif

sumbangan nilai tambah sebuah sektor di suatu daerah (Kabupaten/Kota)

terhadap sumbangan nilai tambah sektor yang bersangkutan dalam skala

provinsi atau nasional. Dengan kata lain, LQ dapat menghitung

perbandingan antara share output sektor i di kota dan share output sektor i

di provinsi (Bappenas, 2003) :

Keterangan:

= PDRB sektor i regional

= total PDRB regional

= PDRB sektor i nasional

= total PDRB nasional

LQi > 1 mengindikasikan ada kegiatan ekspor di sektor tersebut atau sektor

basis (B), sedangkan LQi < 1 disebut sektor nonbasis (NB). Ada beberapa

(50)

32

1. Metode LQ memperhitungkan ekspor langsung dan ekspor tidak

langsung.

2. Metode LQ sederhana dan tidak mahal serta dapat diterapkan pada data

historis untuk mengetahui trend.

Beberapa kelemahan Metode LQ adalah:

1. Berasumsi bahwa pola permintaan di setiap daerah identik dengan pola

permintaan bangsa dan bahwa produktivitas tiap pekerja di setiap sektor

regional sama dengan produktivitas tiap pekerja dalam industri-industri

nasional.

2. Berasumsi bahwa tingkat ekspor tergantung pada tingkat disagregasi.

2.9. Konsep Sektor Unggulan (Basis)

Sektor unggulan adalah sektor yang dimana keberadaannya

diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan suatu wilayah. Kriteria sektor

unggulan pun sangat bervariasi. Tergantung seberapa besar peranan sektor

tersebut dalam pembangunan wilayah. Salah satu yang dapat memengaruhi

sektor unggulan yaitu faktor anugerah (endowment factors). Dengan adanya

keberadaan sektor unggulan ini sangat membantu dan memudahkan

pemerintah dalam mengalokasikan dana yang tepat sehingga kemajuan

perekonomian akan tercapai.

Sektor basis atau sektor unggulan ini dapat mengalami kemajuan

maupun kemunduran. Hal ini tergantung pada usaha-usaha suatu wilayah

(51)

33 kemajuan sektor basis yaitu : 1) perkembangan jaringan transportasi dan

komunikasi, 2) perkembangan pendapatan dan penerimaan daerah, 3)

perkembangan teknologi dan 4) adanya pengembangan prasarana ekonomi

dan sosial. Sedangkan penyebab terjadinya kemunduran pada sektor

unggulan yaitu perubahan permintaan di luar daerah dan kehabisan

cadangan sumberdaya.

Sektor unggulan sangat berperan penting pada suatu pembangunan

wilayah. Hal ini dapat dilihat pada besar kecilnya pengaruh serta

peranannya terhadap pembangunan tersebut, diantaranya (Tarigan, 2005) :

1. Sektor unggulan tersebut memiliki laju pertumbuhan yang tinggi

2. Sektor unggulan tersebut memiliki angka penyerapan tenaga kerja yang

relatif besar

3. Sektor unggulan tersebut memiliki keterkaitan antar sektor yang tinggi

baik ke depan maupun ke belakang.

4. Sektor unggulan tersebut mampu menciptakan nilai tambah yang tinggi

2.10. Metode Analisis Sektor Unggulan

2.10.1.Metode Analisis LQ (Location Quotient)

Metode ini dilakukan dengan cara menghitung perbandingan antara

pendapatan di sektor i pada daerah bawah terhadap pendapatan total semua

sektor di daerah bawah dengan pendapatan di sektor i pada daerah atas

terhadap pendapatan semua sektor di daerah atasnya. Ketentuan dalam

metode ini adalah jika nilai LQ > 1 maka sektor i dikategorikan sebagai

Gambar

Gambar 3.  Model Analisis Shift Share
Gambar 4 sebagai berikut :
Gambar 5. Profil Pertumbuhan Sektor-sektor Perekonomian
Gambar 6. Grafik Luas Wilayah Kabupaten Batang Menurut Kecamatan
+7

Referensi

Dokumen terkait

PERAMALAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) KABUPATEN LABUHANBATU PADA SEKTOR PERTANIAN TAHUN 2011..

Siti Deliana Pasaribu : Analisis Kontribusi Sektor Parawisata Terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera Utara, 2002... UNIVERSITAS

Hasil penelitian dalam kurun waktu tahun 2002-2011 ini menunjukkan bahwa sektor pertanian berperan dalam perekonomian di Kabupaten Sragen dengan nilai LQ(Loca tion

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Indonesia diperoleh dari produksi seluruh sektor perekonomian regional yang dijabarkan dalam 9 sektor dan terakumulasi dalam 3 sektor

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) SEKTOR PERTANIAN KOTA PADANGSIDIMPUAN TAHUN 2013”.. 1.2

PERAMALAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) KABUPATEN SAMOSIR PADA SEKTOR PERTANIAN TAHUN 2017-2019.

Sektor Industri Pengolahan merupakan sektor yang potensial dalam menyerap tenaga kerja dan memberikan kontribusi sektor kontribusi terhadap PDRB Propinsi Jawa Timur,

Hasil penelitian ini dapat menunjukkan besarnya pengaruh Pendapatan Asli Daerah PAD Sektor Pariwisata PADPAR, Produk Domestik Regional Bruto PDRB Sektor Pariwisata PDRBPAR, Tenaga Kerja