• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pola Asuh, Status Gizi, dan Status Kesehatan Anak Balita di Wilayah Program Warung Anak Sehat (WAS) Kabupaten Sukabumi.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pola Asuh, Status Gizi, dan Status Kesehatan Anak Balita di Wilayah Program Warung Anak Sehat (WAS) Kabupaten Sukabumi."

Copied!
164
0
0

Teks penuh

(1)

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT, POLA ASUH, STATUS

GIZI, DAN STATUS KESEHATAN ANAK BALITA DI WILAYAH

PROGRAM WARUNG ANAK SEHAT (WAS) KABUPATEN

SUKABUMI

ERIDA ERSIYOMA

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

(2)

ABSTRACT

ERIDA ERSIYOMA. Clean and healthy behaviour, parenting pattern, nutritional status, and health status of toddlers around the area program of Warung Anak Sehat (WAS) in Sukabumi Regency. Advisory by Katrin Roosita.

The objective of this study was to analyze the nutritional knowledge, clean and healthy behavior, parenting pattern (eating and health), nutritional status, and health status of toddlers around the area program of Warung Anak Sehat (WAS). The study was conducted on June through October 2011, in five districts of Sukabumi Regency. The cross sectional study design was used and 79 samples were recruited. Most of the toddler mother„s have a moderate (fair) nutrition knowledge and clean (72.2%) and healthy behaviour (70.9%). The availability of physical facilities of house such as ventilation, trash, clean water, and floors relatively are good, but their availability of water waste disposal facility is relatively bad. The parenting pattern (Eating and health) is moderate. Prevalence of underweight toddlers is 11.4%, stunting is 46.8%, and wasting is 6.3%. The score of health status is mostly high, and the diseases that most frequently affected were cold, fever, cough. There is no correlation between the clean and healthy lifestyle behavior and parenting pattern with nutritional status, but there is a significant correlation between the availability of physical facilities with event of illnesses and the score of health status (p<0.05). Nutritional status (TB/U) is significantly correlated with nutrition knowledge, meanwhile, nutritional status (TB/U) is significatly correlated with the score of health status.

(3)

RINGKASAN

ERIDA ERSIYOMA. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pola Asuh, Status Gizi, dan Status Kesehatan Anak Balita di Wilayah Program Warung Anak Sehat (WAS) Kabupaten Sukabumi. Dibimbing oleh Katrin Roosita.

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan gizi, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pola asuh makan dan kesehatan, status gizi, dan status kesehatan anak balita di wilayah program WAS Kabupaten Sukabumi. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini antara lain: (1) menilai pengetahuan gizi dan kesehatan dari ibu yang memiliki anak balita; (2) mengetahui ketersediaan sarana fisik yang menunjang PHBS; (3) menganalisis pola asuh makan dan pola asuh kesehatan yang diberikan oleh ibu anak balita; (4) menilai status gizi dan status kesehatan anak balita; (5) menganalisis hubungan PHBS dan pola asuh dengan status gizi anak balita; dan (6) menganalisis hubungan ketersediaan sarana fisik dengan status kesehatan anak balita.

Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional study, yang dilakukan di lima (5) kecamatan yang terkena program WAS di Kabupaten Sukabumi, yaitu Kecamatan Cisaat, Kecamatan Kadudampit, Kecamatan Warung Kiara, Kecamatan Kebon Pedes, dan Kecamatan Cicurug. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juni sampai Oktober 2011.

Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah anak usia balita (berusia 1-5 tahun) yang berdomosili dekat WAS dan memiliki akses terhadap WAS. Responden dalam penelitian ini adalah ibu dari anak balita yang terpilih sebagai contoh dalam penelitian. Jumlah populasi adalah 793 balita, dari 14 Posyandu di 14 Warung Anak Sehat.

Penarikan contoh dilakukan dengan cara stratified random sampling dari data anak balita di semua Posyandu. Besarnya contoh untuk masing-masing Posyandu proporsional, sesuai dengan ratio jumlah anak balita terhadap seluruh jumlah anak balita di posyandu yang berada disekitar WAS. Total jumlah contoh berdasarkan hasil perhitungan adalah 80 orang, namun terdapat satu contoh yang memiliki data tidak lengkap, sehingga contoh yang digunakan dalam pengolahan data penelitian ini menjadi 79 anak balita.

Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengambilan data primer dilaksanakan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan observasi langsung. Data primer yang dikumpulkan meliputi karakteristik anak balita dan keluarganya, pengetahuan gizi dan kesehatan dari ibu yang memiliki anak balita, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), ketersediaan sarana fisik, pola asuh makan dan kesehatan yang diberikan ibu anak balita, status gizi, dan status kesehatan anak balita. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah data anak balita dari Posyandu, Kartu Menuju Sehat (KMS), dan profil lokasi penelitian. Data berat badan dan tinggi badan diperoleh dari hasil penimbangan yang dilakukan oleh kader posyandu yang telah ditulis dalam KMS anak balita. Namun, bagi anak balita yang tidak memiliki data tinggi badan, maka dilakukan pengukuran tinggi badan oleh tim yang melakukan pengambilan data di lapang. Data berat badan, tinggi badan, dan umur diolah menggunakan baku WHO dan dihitung berdasarkan Z-skor sehingga diperoleh data status gizi balita.

(4)

pengkodean, entri, dan analisis. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan inferensia (Pearson Correlation dan Regresi Linear Berganda).

Sebagian besar ibu dari anak usia balita memiliki tingkat pengetahuan gizi dan perilaku hidup bersih dan sehat termasuk kategori sedang, dengan persentase masing-masing 72.2% dan 70.9%. Ketersediaan sarana fisik seperti ventilasi, tempat sampah, sumber air bersih, dan lantai rumah sudah baik, namun untuk ketersediaan sarana pembuangan air limbah masih kurang, karena masih banyak limbah rumah tangga yang langsung dialirkan ke sungai, kali, kolam dan tempat lain. Pengetahuan gizi ibu tidak berkorelasi signifikan dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Pola asuh makan dan kesehatan, sebagian besar termasuk kategori sedang (59.5% dan 48.1%). Antara pola asuh dengan pengetahuan gizi juga tidak berkorelasi signifikan.

Prevalensi anak balita gizi kurang menurut indeks BB/U sebesar 11.4%, menurut TB/U 46.8% termasuk pendek (stunting), dan menurut indeks BB/TB 6.3% kurus (wasting). Prevalensi anak balita pendek yang lebih dari empat puluh persen menandakan masalah gizi yang tergolong tinggi.

Sebagian besar anak balita (55.7%) pernah mengalami sakit selama dua minggu terakhir pengumpulan data. Skor status kesehatan anak balita sebagian besar (70.9%) termasuk kategori tinggi. Jenis penyakit yang banyak dialami balita selama dua minggu terakhir adalah pilek (54.5%), demam (45.5%), dan batuk (40.9%).

(5)

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT, POLA ASUH, STATUS

GIZI, DAN STATUS KESEHATAN ANAK BALITA DI WILAYAH

PROGRAM WARUNG ANAK SEHAT (WAS) KABUPATEN

SUKABUMI

ERIDA ERSIYOMA

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi pada Departemen Gizi Masyarakat

Fakultas Ekologi Manusia IPB

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

(6)

Judul Skripsi : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pola Asuh, Status Gizi, dan Status Kesehatan Anak Balita di Wilayah Program Warung Anak Sehat (WAS) Kabupaten Sukabumi.

Nama : Erida Ersiyoma NIM : I14070060

Menyetujui:

Dosen Pembimbing Skripsi

Katrin Roosita, SP, M.Si NIP. 19710201 199903 2 001

Mengetahui:

Ketua Departemen Gizi Masyarakat

Dr. Ir. Budi Setiawan, MS NIP. 19621218 198703 1 001

(7)

PRAKATA

Puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya penyusunan skripsi yang berjudul ”Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pola Asuh, Status Gizi, dan Status Kesehatan Anak Balita di Wilayah Program Warung Anak Sehat (WAS) Kabupaten Sukabumi” dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada pemimpin umat, Muhammad SAW.

Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan masukan dari banyak pihak. Oleh karena itu, rasa syukur yang tiada tara penulis haturkan kepada Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat dan karunia-Nya serta tidak pernah meninggalkan penulis dalam setiap langkah. Terima kasih kepada kedua orang tua penulis (mama dan papa tersayang), kakakku Deslia Ersiyoma dan adikku Nidia Ersiyoma, serta keluarga besarku yang selalu mendoakan, memberi semangat, motivasi, nasehat, dan kasih sayang kepada penulis serta dukungan yang nyaris sempurna selama penyusunan skripsi.

Terima kasih kepada Katrin Roosita, SP, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi dan dosen pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan, saran, motivasi, semangat, dan nasehat serta pengarahan kepada penulis dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan baik. Terima kasih kepada Prof. Dr. Ir Faisal Anwar, MS selaku dosen pemandu seminar dan dosen penguji yang telah memberikan masukan dan saran kepada penulis dalam penyempurnaan skripsi ini.

Teman seperjuangan di Warung Anak Sehat, Muthe dan Riza, tanpa terasa kita dapat melaluinya bersama. Perjuangan luar biasa yang kita jalani selama ini, Alhamdulillah membuahkan hasil yang sangat indah pada akhirnya. Novi yang selalu hadir disaat suka dan duka, terima kasih banyak atas nasehat dan bantuannya. Ibu-ibu WAS yang telah membantu dalam pengambilan data dilapang, serta teman-teman dari Dompet Dhuafa dan Sari Husada, terima kasih atas bantuannya.

(8)

Mba Rini, dan Mamake yang selalu memberikan semangat dan bantuannya. Teman-teman luminaire seperjuangan di GM; teman-teman KKP Padang Pariaman: Vika, Zaky, Ila, Mpok, Mahmud, dan Tia; teman-teman ID RSUD Cilegon: Tika, Lia, Mia, dan Tami; dan semua pihak yang terlibat dalam pembuatan skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan. Penulis berharap hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan bermanfaat bagi semua. Amin.

Bogor, Februari 2012

(9)

RIWAYAT HIDUP

Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, puteri dari pasangan bapak Masril dan ibu Ermi. Penulis dilahirkan di Balai Tangah Kota Batusangkar, Sumatera Barat, pada tanggal 28 Juni 1989.

Penulis mengawali pendidikan formal di TK Raudatul Athfal pada tahun 1994 sampai 1995. Pada tahun 1995 sampai 2001, penulis meneruskan pendidikan di SDN 50 Pasa Laweh Lintau Buo Utara, dan pendidikan menengah pertama ditempuh dari tahun 2001 sampai 2004 di SMPN 5 Lintau Buo Utara. Penulis menempuh pendidikan menengah atas pada tahun 2004 sampai 2007 di SMAN 1 Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Penulis masuk Institut Pertanian Bogor melalui jalur Ujian Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2007 dan diterima sebagai mahasiswa Mayor Ilmu Gizi, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia.

Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif pada berbagai organisasi. Penulis pernah menjabat sebagai staff Divisi Gizi Olahraga Himpunan Mahasiswa Gizi (HIMAGIZI) pada tahun 2008-2009, tergabung dalam anggota IKLB (Ikatan Keluarga Lintau Buo), IMASEREMPAG (Ikatan Mahasiswa Serambih Mekah dan Pagaruyung) dan anggota IPMM (Ikatan Pelajar Mahasiswa Minang). Penulis juga ikut serta dalam berbagai kepanitiaan yang diselenggarakan oleh Asrama Putri TPB IPB, Himagizi, IKLB, dan IPMM Bogor.

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRACT ... i

RINGKASAN ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... v

PRAKATA ...vi

RIWAYAT HIDUP ... viii

DAFTAR ISI ...ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Tujuan ... 2

Kegunaan Penelitian ... 3

TINJAUAN PUSTAKA ... 4

Warung Anak Sehat (WAS) ... 4

Balita ... 4

Karakteristik Keluarga ... 5

Umur Orang Tua ... 5

Besar Keluarga... 5

Pendidikan Orang Tua ... 6

Pekerjaan Orang Tua ... 6

Pendapatan Keluarga ... 6

Pengetahuan Gizi ... 7

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ... 7

Pola Asuh ... 11

Pola Asuh Makan ... 12

Pola Asuh Kesehatan ... 12

Status Gizi ... 13

Berat Badan Menurut Umur (BB/U) ... 13

Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U) ... 14

Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB) ... 14

(11)

KERANGKA PEMIKIRAN ... 16

METODE PENELITIAN ... 18

Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian ... 18

Jumlah dan Cara Pengambilan Sampel ... 18

Jenis dan Cara Pengumpulan Data ... 20

Pengolahan dan Analisis Data ... 22

Definisi Operasional ... 26

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 27

Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 27

Kondisi Geografis ... 27

Kepadatan Penduduk ... 27

Sarana Kesehatan ... 27

Karakteristik Keluarga Anak Balita ... 28

Umur Orang Tua ... 28

Besar Keluarga... 29

Pendidikan Orang Tua ... 29

Pekerjaan orang Tua ... 30

Penghasilan Perkapita ... 31

Karakteristik Anak Balita ... 32

Jenis Kelamin dan Umur Anak Balita ... 32

Pengetahuan Gizi dan Kesehatan Ibu yang Memiliki Anak Balita ... 33

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dan Sarana Fisik ... 35

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ... 35

Sarana Fisik ... 39

Pola Asuh ... 41

Pola Asuh Makan yang diberikan Ibu kepada Anak Balita ... 42

Pola Asuh Kesehatan yang diberikan Ibu kepada Anak Balita ... 45

Status Gizi Anak Balita ... 48

Status Gizi Anak Balita Berdasarkan Indeks BB/U ... 49

Status Gizi Anak Balita Berdasarkan Indeks TB/U ... 49

Status Gizi Anak Balita Berdasarkan Indeks BB/TB ... 50

Status Kesehatan ... 51

Hubungan Variabel ... 52

Perilaku hidup bersih dan sehat dengan Status Gizi ... 52

(12)

Pola Asuh Kesehatan dengan Status Gizi ... 54

Sarana fisik dengan Status Kesehatan ... 55

Variabel-variabel yang mempengaruhi Status Gizi Anak Balita ... 56

KESIMPULAN DAN SARAN ... 58

Kesimpulan ... 58

Saran ... 59

DAFTAR PUSTAKA ... 60

(13)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Penarikan contoh penelitian ... 19

2 Jenis dan cara pengumpulan data ... 21

3 Pengkategorian variabel penelitian ... 25

4 Sebaran usia orang tua yang memiliki anak balita ... 28

5 Sebaran tingkat pendidikan orang tua yang memiliki anak balita ... 30

6 Sebaran tingkat pekerjaan orang tua yang memiliki anak balita .... 30

7 Sebaran penghasilan perkapita keluarga anak balita ... 31

8 Sebaran penghasilan keluarga anak balita menurut garis kemiskinan ... 31

9 Sebaran pengetahuan gizi dan kesehatan ibu yang memiliki anak balita ... 33

10 Sebaran tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan gizi dan kesehatan ibu yang memiliki anak balita ... 34

11 Sebaran jawaban mengenai pengetahuan gizi dan kesehatan ibu yang memiliki anak balita ... 35

12 Sebaran Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ... 36

13 Sebaran pengetahuan gizi dengan perilaku hidup bersih dan sehat ... 36

14 Sebaran jawaban benar PHBS ibu yang memiliki anak balita ... 39

15 Sebaran ketersediaan sarana fisik ... 39

16 Sebaran pola asuh makan yang diberikan ibu kepada anak balita ... 42

17 Sebaran pengetahuan gizi dengan pola asuh makan ... 43

18 Sebaran jawaban mengenai pola asuh makan yang diberikan ibu kepada anak balita ... 45

19 Sebaran pola asuh kesehatan ... 45

20 Sebaran pengetahuan gizi dengan pola asuh kesehatan yang diberikan ibu kepada anak balita ... 46

21 Sebaran jawaban mengenai pola asuh kesehatan yang diberikan ibu kepada anak balita ... 48

22 Sebaran status gizi anak balita berdasarkan indeks BB/U... 49

(14)

24 Sebaran status gizi anak balita berdasarkan indeks BB/TB ... 50

25 Sebaran PHBS dengan status gizi anak balita ... 53

26 Sebaran pola asuh makan dengan status gizi anak balita ... 54

27 Sebaran pola asuh kesehatan dengan status gizi anak balita ... 54

28 Sebaran ketersediaan sarana fisik dengan kejadian sakit anak balita ... 55

(15)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Skema kerangka pemikiran. ... 17

2 Sebaran besar keluarga anak balita ... 29

3 Sebaran jenis kelamin anak balita . ... 32

4 Sebaran umur anak balita ... 32

5 Sebaran sarana fisik penunjang PHBS. ... 40

6 Sebaran kejadian sakit anak balita ... 51

7 Sebaran skor status kesehatan anak balita. ... 51

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

(17)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa antara lain ditentukan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. SDM yang berkualitas dicirikan dengan fisik yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima, dan menguasai ilmu pengetahuan serta teknologi. Salah satu indikator untuk mengukur tinggi rendahnya kualitas SDM adalah Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index - HDI). Pendidikan, kesehatan, dan ekonomi merupakan faktor utama penentu HDI. Ketiga faktor tersebut erat kaitannya dengan status gizi masyarakat. Oleh karena itu, gizi kurang secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap penurunan kualitas SDM (WNPG 2004).

Status gizi masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling mempengaruhi secara kompleks. Status gizi di tingkat rumah tangga dipengaruhi oleh kemampuan rumah tangga menyediakan pangan yang cukup baik kualitas maupun kuantitasnya; asuhan gizi ibu dan anak yang dipengaruhi oleh faktor pendidikan dan perilaku serta keadaan kesehatan anggota rumah tangga (WNPG 2004).

Investasi gizi biasanya difokuskan pada kelompok yang rawan terhadap masalah kekurangan gizi salah satunya adalah anak balita. Hal ini karena, anak balita merupakan kelompok masyarakat yang paling peka terhadap kondisi kekurangan gizi (Yulianti 2010; Wiryo 2002).

Berdasarkan Laporan Nasional Riskesdas (2010) tercatat prevalensi balita gizi buruk dan kurang di Jawa Barat sebesar 13.0% berdasarkan indeks BB/U, balita pendek sebesar 33.6% berdasarkan indeks TB/U, dan prevalensi balita kurus sebesar 11.0% berdasarkan indeks BB/TB. Data dari sepuluh Posyandu di Kabupaten Sukabumi menunjukkan bahwa prevalensi gizi kurang sebesar 12.8% berdasarkan indeks BB/U dan data dari delapan posyandu di Kabupaten Sukabumi menunjukkan bahwa prevalensi balita pendek sebesar 33.3% berdasarkan indeks TB/U serta balita yang kurus sebesar 7.9% berdasarkan indeks BB/TB.

(18)

dengan memperbaiki aspek makanan, tetapi juga lingkungan hidup anak seperti pola pengasuhan, pendidikan dan kesehatan lingkungan, mutu pelayanan kesehatan dan sebagainya (Soekirman 2000).

Pada masa kanak-kanak, status gizi secara langsung berpengaruh pada imunitas, perkembangan kognitif, pertumbuhan, dan stamina tubuh. Status gizi anak balita erat kaitannya dengan sistem imunitas tubuh dan status kesehatan. Status kesehatan anak balita ditentukan oleh perilaku sehat keluarga dan keadaan sanitasi rumah serta lingkungan sekitar. Makin rendah status gizi seseorang semakin rentan terhadap penyakit dan semakin tinggi tingkat morbiditas (Khomsan 2003; Hardinsyah 2007).

Kehadiran Warung Anak Sehat (WAS) diharapkan dapat memberikan informasi gizi, merubah perilaku ibu terhadap pola pengasuhan terhadap anak, dan perilaku hidup bersih dan sehat, karena WAS merupakan program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk memberikan kontribusi terhadap kesehatan anak-anak yang rawan mengalami masalah gizi. Selain itu, juga menyediakan penyuluhan kepada para ibu tentang gizi bagi anak-anak dan keluarga, membantu mereka untuk bisa memenuhi kebutuhan gizi, serta membantu menyediakan produk yang sehat (Kurniawan 2010; Dompet Dhuafa 2011; Masyarakat Mandiri 2011).

Pendidikan dan penyuluhan gizi penting sekali peranannya dalam usaha perbaikan gizi masyarakat, khususnya perbaikan gizi anak balita (Winarno 1995). Sebagai informasi awal untuk mengetahui pengaruh WAS terhadap peningkatan pengetahuan, perilaku hidup bersih dan sehat, pola asuh, status gizi, dan kesehatan anak balita maka perlu dilakukan penelitian mengenai pengetahuan gizi, perilaku hidup bersih dan sehat, pola asuh, status gizi, dan status kesehatan balita di wilayah program Warung Anak Sehat (WAS) Kabupaten Sukabumi.

Tujuan Tujuan umum:

(19)

Tujuan khusus:

1. Menilai pengetahuan gizi dan kesehatan dari ibu yang memiliki anak balita 2. Mengetahui ketersediaan sarana fisik yang menunjang PHBS

3. Menganalisis pola asuh makan dan pola asuh kesehatan yang diberikan oleh ibu anak balita

4. Menilai status gizi dan status kesehatan anak balita

5. Menganalisis hubungan PHBS dan pola asuh dengan status gizi anak balita 6. Menganalisis hubungan ketersediaan sarana fisik dengan status kesehatan

anak balita.

Kegunaan Penelitian

(20)

TINJAUAN PUSTAKA

Warung Anak Sehat (WAS)

Warung Anak Sehat merupakan suatu program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk memberikan kontribusi terhadap kesehatan anak-anak yang rawan mengalami masalah gizi. Selain itu, juga menyediakan penyuluhan kepada para ibu tentang gizi bagi anak-anak dan keluarga, membantu mereka untuk bisa memenuhi kebutuhan gizi, serta membantu menyediakan produk yang sehat. WAS merupakan salah satu tempat ibu-ibu bisa mendapatkan informasi gizi yang seimbang untuk anak mereka dan membeli produk makanan sehat (Kurniawan 2010; Dompet Dhuafa 2011; Masyarakat Mandiri 2011).

Untuk mengatasi masalah gizi, khususnya anak balita penting dilakukan upaya pendidikan atau penyuluhan gizi. Dengan usaha itu, diharapkan orang bisa memahami pentingnya makanan dan gizi sehingga mau bersikap dan bertindak mengikuti norma-norma gizi. Penyuluhan gizi merupakan suatu pendekatan edukatif untuk menghasilkan perilaku individu atau masyarakat yang diperlukan dalam peningkatan/ mempertahankan gizi baik. Pada tingkat individu/ masyarakat sasaran, perilaku tersebut akan berguna bagi dirinya, keluarga atau kelompoknya (Suhardjo 2003; Winarno 1995).

Balita

Masa balita adalah masa dimana anak mengalami pertumbuhan yang pesat (Sediaoetama 2008; Arisman 2004). Masa ini sangat penting dan rawan, karena pada masa ini terjadinya pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya (Suhardjo 1989; Soetjiningsih 1995).

(21)

makanan. Dipihak lain ibunya sudah tidak bergitu memperhatikan lagi makanan anak balita, karena dianggap sudah dapat makan sendiri (Notoatmodjo 2007).

Anak balita merupakan anggota keluarga yang memerlukan perhatian khusus dari orang tua, karena pada usia ini seorang anak masih tergantung secara fisik maupun emosional kepada orang tua. Anak balita belum mandiri dalam memenuhi kebutuhan makannya. Oleh karena itu asupan makanan anak balita hampir sepenuhnya tergantung pada orang dewasa yang mengasuhnya. Artinya pertumbuhan anak balita sangat dipengaruhi oleh kualitas makannya, sementara kualitas makannya sangat tergantung pada pola asuh makan anak yang diterapkan keluarga (Khomsan et al 1999).

Karakteristik Keluarga Umur Orang Tua

Umur merupakan indikator penting dalam menentukan produktifitas seseorang. Dibandingkan dengan orang yang lebih tua, orang yang masih muda memiliki produktifitas yang lebih tinggi, karena kondisi fisik dan kesehatan orang muda yang masih prima (Khomsan et al 2007). Usia dewasa dimulai pada 20 tahun. Usia dewasa dibagi menjadi tiga kategori yaitu dewasa awal (20-40 tahun), dewasa madya/ tengah (41-65 tahun), dan dewasa akhir (>65 tahun) (Papalia & Olds 2001).

Orang tua khususnya ibu yang terlalu muda (<20 tahun), cenderung kurang mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang cukup dalam mengasuh anak, sehingga pada umumnya orang tua tersebut merawat dan mengasuh anaknya berdasarkan pada pengalaman orang tua terdahulu. Selain itu, faktor usia muda juga lebih cenderung menjadikan ibu lebih memperhatikan kepentingan sendiri dari pada kepentingan anaknya sehingga kualitas dan kuantitas pengasuhan anak kurang terpenuhi. Sebaliknya, pada ibu yang memiliki usia yang telah matang (dewasa) akan cenderung menerima perannya dengan sepenuh hati (Hurlock 1998).

Besar Keluarga

(22)

(Sukandar 2007). Berdasarkan jumlah anggota rumah tangga, besar rumah tangga dikelompokkan menjadi tiga yaitu keluarga kecil (≤4 orang), keluarga sedang (5-7 orang), dan keluarga besar (≥ 8 orang) (BKKBN 2005).

Pendidikan Orang Tua

Tingkat pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pola asuh anak, pengetahuan gizi ibu, dan perilaku hidup sehat. Semakin tinggi tingkat pendidikan formal ibu akan semakin luas wawasan berfikirnya, sehingga akan lebih banyak informasi gizi yang dapat diserapnya dan akan mendorong dalam praktik pengolahan makanan (Rahmawati 2006; Sediaoetama 2008; Soewondo & Sadli 1989 dalam Khomsan et al 2009; WNPG 2004).

Pekerjaan Orang Tua

Pekerjaan termasuk ke dalam salah satu sumber pendapatan dalam keluarga. Dengan adanya pekerjaan tetap dalam suatu keluarga, maka keluarga tersebut relatif terjamin pendapatannya setiap bulan (Khomsan 2000). Pekerjaan yang berhubungan dengan pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas makanan. Terdapat hubungan yang erat antara pendapatan dan status gizi, didorong oleh pengaruh yang menguntungkan dari pendapatan yang meningkat bagi perbaikan kesehatan dan masalah keluarga lainnya yang berkaitan dengan keadaan gizi hampir berlaku umum pada semua tingkat pendapatan. Rendahnya pendapatan dan daya beli tidak memungkinkan untuk mengatasi kebiasaan makan dan cara-cara tertentu yang menghalangi perbaikan gizi yang efektif, terutama untuk anak-anak (Suhardjo 1989).

Pendapatan Keluarga

(23)

Pengetahuan Gizi

Pengetahuan adalah informasi yang disimpan dalam ingatan dan menjadi penentu utama perilaku seseorang (Engel et al 1995 dalam Khomsan et al 2009) Pengetahuan gizi dan kesehatan merupakan salah satu jenis pengetahuan yang dapat diperoleh melalui pendidikan. Pengetahuan gizi merupakan aspek kognitif yang mencirikan seseorang memahami tentang gizi, pangan dan kesehatan (Sukandar 2007).

Pentingnya pengetahuan gizi didasarkan pada 3 kenyataan, yaitu (1) status gizi penting bagi kesehatan dan kesejahteraan, (2) setiap orang memerlukan zat gizi yang seimbang untuk perkembangan yang optimal, dan (3) ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang penting sehingga seseorang dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi perbaikan gizi (Suhardjo 2003). Faktor yang penting dalam masalah gizi adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kemampuan untuk menerapkan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan kurangnya pengertian tentang kebiasaan makan yang baik (Suhardjo 2003; Williams 1993 dalam Khomsan et al 2007).

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat (Depkes 2007). Derajat masyarakat yang optimal ditandai dengan penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat, memiliki kemampuan menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil, dan merata (WNPG 2000).

Perilaku hidup bersih dan sehat di tatanan rumah tangga meliputi higiene perorangan (mencuci tangan pakai sabun, menggosok gigi, dan sebagainya), kebiasaan tidak merokok, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, penimbangan balita, imunisasi, gizi keluarga (sarapan pagi, makan makanan beragam), dan keikutsertaan dalam dana sehat melalui askes atau jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat (Depkes 2007).

1. Persalinan dibantu tenaga kesehatan

(24)

sehingga mencegah terjadinya infeksi dan bahaya kesehatan lainnya (Depkes 2007).

2. Kebiasaan Merokok

Perokok terdiri dari perokok pasif dan perokok aktif. Keduanya sama-sama berbahaya, yakni dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti kerontokan rambut, gangguan pada mata, menyebabkan penyakit paru-paru kronik, merusak gigi, stroke, kanker kulit, kemandulan, impotensi, kanker rahim dan keguguran (Depkes 2007)

3. Imunisasi

Tujuan pemberian imunisasi adalah agar anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit tertentu (Hidayat 2004).

4. Penimbangan Balita

Berat badan merupakan indikator kesehatan yang penting bagi setiap orang. Oleh karena itu penting menimbang berat badan secara teratur dan mengetahui apakah berat badan sudah ideal, kurang atau lebih. Berat badan yang ideal menunjukkan status gizi yang baik atau normal (Soekirman 2000). Penimbangan bayi dan balita dimaksudkan untuk memantau pertumbuhannya setiap bulan. Penimbangan bayi dan balita dimulai dari umur 1 bulan sampai 5 tahun di Posyandu sehingga dapat diketahui balita tumbuh sehat atau tidak dan mengetahui kelengkapan imunisasi serta dapat diketahui bayi yang dicurigai menderita gizi buruk (Depkes 2007).

5. Kebiasaan Sarapan

Sarapan penting dilakukan sebelum melakukan aktivitas fisik pada pagi hari. Manfaatnya, sarapan dapat menyediakan karbohidrat yang siap digunakan untuk meningkatkan kadar gula darah. Dengan kadar gula darah yang terjamin normal, maka gairah dan konsentrasi kerja bisa lebih baik sehingga berdampak positif untuk meningkatkan produktivitas. Kedua, pada dasarnya sarapan akan memberikan kontribusi penting beberapa zat gizi yang diperlukan tubuh, seperti protein, lemak, vitamin, dan mineral. Ketersediaan zat gizi ini bermanfaat juga untuk berfungsinya proses fisiologis dalam tubuh (Khomsan 2003).

6. Peserta Askes/JPKM

(25)

jangkauan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat harus dilakukan secara berkelanjutan dan disertai dengan upaya menumbuhkan partisipasi masyarakat melaksanakan perilaku hidup sehat (Depkes 2008). 7. Kebiasaan Mencuci Tangan dengan Sabun

Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah buang air bermanfaat untuk membunuh kuman penyakit yang ada di tangan, mencegah penularan penyakit diare, kolera, disentri, tifus, cacingan, penyakit kulit, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), flu burung atau

Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) serta tangan menjadi bersih dan bebas dari kuman (Depkes 2007). Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dapat mengurangi morbiditas sebanyak 2-3 kali lipat (Hardinsyah 2007).

8. Kebiasaan Menggosok Gigi

Membiasakan menggosok gigi sebelum tidur dan setelah makan merupakan salah satu contoh praktik higiene perorangan. Kebersihan diri akan menuntun kepada kesehatan. Kegiatan menggosok gigi bertujuan untuk membersihkan mulut dari sisa makanan agar fermentasi sisa makanan tidak berlangsung terlalu lama, sehingga dapat menyebabkan plak. Dengan itu menggosok gigi dapat menghindari dari kerusakan gigi. Menggosok gigi juga harus dilakukan dengan benar agar permukaaan gigi bersih dari plak. Namun, karena plak akan terbentuk dari waktu ke waktu, maka menggosok gigi secara rutin adalah tindakan yang tepat dalam upaya memelihara gigi dari segala kerusakan (PDGI 2011).

9. Kebiasaan Olahraga

Olahraga merupakan suatu aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur untuk beragai tujuan, antara lain utuk kesehatan, kebugaran, rekreasi, pendidikan, dan prestasi (Irianto 2007).

10. Makan Seimbang (Makan sayur dan buah setiap hari)

(26)

kecukupan sumber energi, zat pembangun, dan zat pengatur bagi kebutuhan gizi seseorang. Makanan yang sehat harus mengandung unsur-unsur gizi yang diperlukan tubuh. Karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral harus dalam jumlah dan kualitas yang cukup dan seimbang ( Khomsan & Anwar 2008).

Selain 10 indikator diatas yang perlu diperhatikan juga dalam pelaksanaan perilaku hidup bersih dan sehat adalah kebersihan lingkungan yang meliputi tersedianya jamban, tersedianya sumber air bersih, tersedianya tempat sampah, terdapat Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL), udara atau ventilasi cukup, dan lantai tidak seluruhnya dari tanah (Dinkes 2006).

1. Jamban Sehat (WC)

Jamban adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran manusia yang biasa disebut WC atau kakus (Tussodiyah 2010). Jamban yang baik memiliki tangki septik, namum ada juga berupa cubluk, jamban di atas kolam atau jamban di atas sungai. Jamban seperti ini tidak memenuhi syarat kesehatan, karena dapat mengotori permukaan air dan tanah sehingga dapat menyebabkan penyakit seperti diare (Latifah et al 2002).

2. Sumber Air Bersih

Air sangat penting bagi kehidupan manusia (Notoatmodjo 2007). Sumber air bersih untuk keperluan keluarga bermacam-macam. Masyarakat yang tinggal di desa pada umumnya menggunakan air dari sumur gali, sumur bor dan mata air. Sumber air harus dijaga kebersihannya karena sumber air yang tidak bersih akan menyebabkan penyakit. Jika sumber air adalah sumur, maka harus (1) berada minimal 10 meter dari tangki septik penampungan tinja, lubang sampah, penampungan air limbah dan sumber-sumber kotoran lainnya, (2) berada di tempat yang tidak mudah terkena banjir, (3) diberi pagar dan pelindung dari tembok untuk keamanan dan mencegah air kotor kembali mengalir ke sumur (Latifah et al 2002).

3. Tempat Sampah

(27)

4. Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL)

Setiap rumah harus memiliki sarana pembuangan air limbah, agar air bekas dari dapur, kamar mandi dan tempat cuci pakaian tidak menggenang. Air limbah yang menggenang dapat menimbulkan bau dan menjadi sumber penyakit. Sarana pembuangan air limbah sebaiknya berupa tangki septik yang dilengkapi dengan saluran pembuangan. Saluran pembuangan dari tangki septik harus memiliki saringan sehingga limbah yang dialirkan ke sungai atau selokan menjadi lebih bersih (Latifah et al 2002).

5. Ventilasi

Ventilasi udara biasanya berupa jendela yang dilengkapi dengan lubang angin. Fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar di dalam rumah tetap bersih dan segar. Rumah harus memiliki jendela yang cukup. Sebaiknya setiap ruangan mempunyai sedikitnya satu buah jendela yang bisa dibuka dan ditutup sehingga udara dapat mengalir dengan lancar (Latifah et al 2002; Notoatmodjo 2007).

6. Lantai Rumah

Lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik, teraso, tegel atau semen, dan kayu atau bambu. Lantai yang terbuat dari tanah sulit dibersihkan dan tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut (Latifah et al 2002).

Pola Asuh

Pola pengasuhan adalah kemampuan keluarga dan masyarakat untuk menyediakan waktu, perhatian dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh kembang dengan optimal baik secara fisik, mental dan sosial. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh terhadap anak dan sebagainya, sangat berhubungan dengan keadaan ibu dalam hal kesehatan, status gizi, pendidikan, pengetahuan dan keterampilan tentang pengasuhan anak yang baik, peran dalam keluarga, sifat pekerjaan sehari-hari dan adat kebiasaan (WNPG 2004).

(28)

Pola asuh makan

Tujuan pemberian makan balita dalam lingkup keluarga mencakup tiga aspek, yakni (1) aspek fisiologi, yaitu memenuhi kebutuhan zat gizi untuk proses metabolisme kelangsungan hidup, aktivitas dan tumbuh kembang, (2) aspek edukatif, yaitu mendidik anak agar terampil dalam mengkonsumsi makanan dan untuk membina kebiasaan dan perilaku makan, memilih dan menyukai makanan yang baik, sehat dan dibenarkan oleh keyakinan/ agama orang tua masing-masing dan (3) aspek psikologis, yaitu untuk memberikan kepuasan kepada anak dan untuk memberikan kenikmatan yang lain yang berkaitan dengan anak (Suhardjo 1989).

Pemberian makan bergizi harus diajarkan kepada anak melalui peran ibu dan pengasuhnya. Makanan dan minuman yang bergizi harus dapat disediakan oleh orang tua. Kebiasaan makan yang beragam, bergizi, dan berimbang harus dibiasakan dari usia dini. Pemberian makan yang baik akan membentuk kebiasaan yang baik pula pada anak (Hastuti 2009).

Keadaan lingkungan dan sikap keluarga merupakan pertimbangan yang penting dalam pemberian makan kepada anak. Pada masa perkembangan anak, keluarga dapat membantu anak mencapai sikap normal dan berminat terhadap makanan tanpa adanya suatu kecemasan dan kekhawatiran mengenai makanan. Pola asuh makan yang baik, dalam arti secara kuantitatif maupun kualitatif yang tepat pada masa balita sangat dianjurkan. Praktik pemberian makan pada anak memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap kesehatan dan status gizi. Kemampuan seorang ibu memperkenalkan makanan baru pada anak memiliki pengaruh yang besar terhadap daya terima dan kesukaan anak terhadap suatu makanan (Khomsan et al 2009).

Pola asuh kesehatan

(29)

yang dapat dilakukan meliputi upaya orang tua untuk memberikan pengobatan dan perawatan agar anak selalu berada dalam kondisi terbebas dari dari penyakit infeksi dan penyakit lain yang umum terjadi pada anak (Hastuti 2009).

Status Gizi

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi; keadaan kesehatan yang dipengaruhi oleh keseimbangan antara pemasukan zat gizi dan pengeluaran akibat penggunaannya oleh tubuh. Jika tubuh mendapatkan asupan makanan dalam kualitas dan kuantitas yang terpenuhi, maka orang tersebut akan mendapatkan status gizi yang optimal. (Almatsier 2001; Sediaoetama 2008).

Status gizi seorang anak sangat ditentukan oleh konsumsi pangan dan pola pengasuhan yang didapatkan. Semakin baik konsumsi pangan yang dikonsumsi, baik secara kualitas maupun kuantitas, dan semakin baik pola pengasuhan yang didapat semakin semakin baik status gizi anak (Hardinsyah 2007).

Pengukuran status gizi anak umumnya menggunakan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB. Pemantauan status gizi anak balita menggunakan baku WHO dan dihitung berdasarkan skor simpangan baku (Z-skor). Keuntungan menggunakan Z-skor adalah hasil hitungan telah dibakukan menurut simpangan baku sehingga dapat dibandingkan untuk setiap kelompok umur dan indeks antropometri (Gibson 1993 dalam Khomsan et al 2009).

Berat Badan Menurut Umur (BB/U)

(30)

Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)

Tinggi badan dapat menggambarkan keadaan pertumbuhan rangka (skeletal), dalam keadaan normal tinggi itu bertambah seiring dengan bertambahnya umur. Pertumbuhan tinggi badan kurang sensitif terhadap masalah gizi dalam jangka waktu yang pendek. Akibat defisiensi zat gizi dalam jangka waktu relatif lama dapat mempengaruhi tinggi badan sehingga dapat memberikan gambaran status gizi masa lampau dan dapat dikaitkan dengan keadaan status sosial ekonomi (Supariasa et al 2002 ).

Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)

Berat badan mempunyai hubungan linier dengan tinggi badan, pada keadaan normal, pertambahan berat badan akan searah diikuti dengan pertumbuhan tinggi badan. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat sekarang, dan merupakan indeks yang independen terhadap umur (Supariasa et al 2002 ).

Status Kesehatan

Status kesehatan dapat diukur dengan sebuah indikator kesehatan. indikator yang digunakan adalah angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas). Morbiditas lebih mencerminkan keadaan kesehatan sesungguhnya (Subandriyo 1993 dalam Fitriyani 2008).

Status gizi erat kaitannya dengan sistem imunitas tubuh. Semakin rendah status gizi seseorang semakin rentan sakit dan meningkatkan morbiditas. Morbiditas memiliki hubungan timbal balik dengan status gizi, baik pada masa kanak-kanak maupun pada masa dewasa. Pada masa kanak-kanak, status gizi secara langsung berpengaruh pada imunitas, perkembangan kognitif, pertumbuhan dan stamina tubuh (Hardinsyah 2007). Kesehatan gizi yang rendah menyebabkan kondisi daya tahan umum tubuh menurun, sehingga berbagai penyakit dapat timbul dengan mudah. Seorang anak sehat tidak akan mudah terserang berbagai macam penyakit, termasuk penyakit infeksi karena daya tahan tubuh yang kuat. Daya tahan tubuh akan meningkat pada keadaan gizi yang baik dan akan menurun bila keadaan gizinya juga menurun (Sediaoetama 2009).

(31)

pemanfaatan zat gizi oleh sistem tubuh menjadi tidak optimal dan penurunan status gizi (Hardinsyah 2007).

(32)

KERANGKA PEMIKIRAN

Anak usia balita merupakan salah satu kelompok masyarakat yang sangat peka terhadap kondisi kurang gizi (Notoatmodjo 2007; Sediaoetama 2008). Orang tua memiliki peranan yang penting dalam pemenuhan kebutuhan anaknya (Khomsan et al 1999). Karakteristik orang tua seperti pendidikan akan mempengaruhi pengetahuan gizi yang dimiliki orang tua serta ketersediaan sarana fisik yang dapat menunjang perilaku hidup sehat anggota keluarganya (Sediaoetama 2008;

Selain dari pendidikan formal ibu dapat memperoleh pengetahuan gizi salah satunya dari penyuluhan gizi (Winkel 1984 dalam Khomsan et al 2009). Warung Anak Sehat dapat menjadi salah satu sumber pengetahuan gizi dan kesehatan bagi ibu balita. Karena menyediakan layanan konsultasi gizi gratis, penyuluhan gizi, dan penyediaan jajanan sehat (Roosita et al 2011).

Perilaku hidup bersih dan sehat dapat mempengaruhi status gizi anak balita secara tidak langsung (Depkes 2007). Selain perilaku hidup bersih dan sehat, pola asuh yang diberikan oleh orang tua kepada anak secara tidak langsung juga dapat mempengaruhi status gizi anak (Hastuti 2009). Status gizi erat kaitannya dengan sistem imunitas tubuh, asupan makanan, dan penyakit infeksi. Semakin rendah status gizi seseorang semakin rentan sakit dan meningkatkan morbiditas, dimana morbiditas merupakan suatu indikator yang dapat menentukan status kesehatan seseorang (Hardinsyah 2007; Sediaoetama 2008).

(33)
[image:33.595.100.515.95.720.2]

Gambar 1 Skema kerangka pemikiran

Keterangan :

= Variabel yang tidak diteliti = Hubungan yang diteliti = Variabel yang diteliti Perilaku Hidup Bersih

dan Sehat (PHBS)

Pola Asuh makan dan Kesehatan

Status Gizi Anak Balita Status Kesehatan

Warung Anak Sehat (WAS): - Penyuluhan - Makanan/

Jajanan Sehat

Pengetahuan Gizi Ibu

Sarana Fisik: - SPAL - Ventilasi - WC sehat - Tempat

Sampah - Sumber Air

Bersih - Lantai rumah Karakteristik

keluarga: - Umur - Pendidikan - Pekerjaan - Pendapatan - Besar keluarga Karakteristik Anak Balita:

- Umur - Jenis kelamin

(34)

METODE PENELITIAN

Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian

Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian payung berjudul ”Dampak Program Warung Anak Sehat (WAS) terhadap Perilaku Hygiene-Sanitasi Ibu WAS serta Status Gizi Anak Balita”. Penelitian bagian ini merupakan data dasar (baseline) yang menggunakan desain cross sectional study, yaitu pengamatan yang dilakukan sekaligus pada satu waktu. Metode yang digunakan berupa observasi, wawancara, dan pengisian kuesioner oleh responden.

Penelitian ini dilaksanakan di lima (5) kecamatan yang terkena program WAS di Kabupaten Sukabumi, yaitu Kecamatan Cisaat, Kecamatan Kadudampit, Kecamatan Warung Kiara, Kecamatan Kebon Pedes, dan Kecamatan Cicurug. Salah satu alasan pemilihan lokasi di Sukabumi adalah masalah pada anak usia bawah lima tahun. Berdasarkan data dari sepuluh posyandu prevalensi anak balita gizi buruk di Kabupaten Sukabumi mencapai 12.8%. Data dari delapan posyandu di Kabupaten Sukabumi menunjukkan prevalensi balita pendek 33.3%, dan balita kurus 7.9%. Survey dilakukan pada bulan Juni sampai dengan Oktober 2011.

Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh

Contoh dalam penelitian ini adalah anak usia balita (berusia 1-5 tahun), dengan kriteria inklusi anak balita yang berdomosili dekat WAS dan memiliki akses terhadap WAS. Responden dalam penelitian ini adalah ibu balita yang terpilih sebagai contoh dalam penelitian. Jumlah populasi adalah 793 balita, dari 14 Posyandu di 14 Warung Anak Sehat. Jumlah minimal contoh dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan rumus:

Keterangan: n = jumlah contoh N = jumlah populasi

= galat baku jauhnya dari nilai rata-rata (z dipilih 1.96) P = perkiraan proporsi populasi balita (0.5)

(35)

Total jumlah contoh berdasarkan hasil perhitungan adalah 80 orang, dengan ± 10%. Penarikan contoh dilakukan dengan cara stratified random sampling dari data balita seluruh Posyandu. Populasi dibagi berdasarkan posyandu, kemudian ditarik secara random dari masing-masing Posyandu. Besarnya contoh untuk masing-masing Posyandu proporsional dengan besar kecilnya jumlah balita pada tiap Posyandu yang berada disekitar WAS. Untuk menentukan jumlah balita yang akan diambil dari setiap Posyandu digunakan rumus :

Keterangan :

mi = Ukuran contoh pada posyandu ke- i

Ni = Banyaknya balita di posyandu ke- i N = Ukuran populasi

n = Ukuran contoh

Jumlah contoh yang akan diambil dari setiap Posyandu berdasarkan perhitungan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Penarikan contoh penelitian

Kecamatan IWAS Jumlah Balita Mi

Cisaat Yuyu 31 3

Wiwi 37 4

Ade 63 6

Nani 58 6

Kadudampit Aidah 53 5

Cicurug Ipah 124 13

Warung kiara Enah 44 4

Eni 33 3

Yeni 35 4

Kebon Pedes Aisyah 85 9

Heni 43 4

A'i Mamlukah 59 6

Yayat 63 6

Enung 65 7

Total Balita 793 80

(36)

Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengambilan data primer dilaksanakan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan observasi langsung. Pengambilan data dilakukan oleh tim yang terdiri dari empat orang mahasiswa tingkat akhir, Mayor Ilmu Gizi, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Data primer yang dikumpulkan meliputi karakteristik anak balita dan keluarganya, pengetahuan gizi dan kesehatan dari ibu yang memiliki anak balita, perilaku hidup bersih dan sehat, ketersediaan sarana fisik, pola asuh makan dan kesehatan, status gizi, dan status kesehatan anak balita.

Pengetahuan gizi dan kesehatan ibu yang diukur terkait pemberian makanan yang tepat untuk anak, bahan makanan yang bergizi, cara penyimpanan bahan makanan, fungsi makanan, dan kebiasaan hidup sehat.

Perilaku hidup bersih dan sehat yang diukur adalah higiene perorangan,

persalinan dibantu tenaga kesehatan, gizi keluarga, imunisasi, kebiasaan merokok, penimbangan anak balita, olahraga, makan makanan beragam, serta kebersihan lingkungan yang meliputi ketersediaan jamban, tempat sampah, air bersih, Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL), ventilasi, dan lantai rumah.

Untuk pola asuh yang diteliti adalah pola asuh makan dan pola asuh kesehatan yang diberikan oleh ibu anak balita. Pola asuh makan meliputi riwayat pemberian ASI, cara memperkenalkan makanan kepada anak balita, dan cara ibu dalam membentuk situasi makan anak. Selanjutnya pola asuh kesehatan meliputi kebiasaan ibu dalam mengajarkan hidup sehat kepada anak balita.

(37)
[image:37.595.92.514.92.763.2]

Tabel 2 Jenis dan cara pengumpulan data

No Variable Data yang dikumpulkan Cara pengumpulan 1 Karakteristik

keluarga anak balita

- Umur orang tua - Besar keluarga - Pendidikan - Pekerjaan - Penghasilan

Wawancara dengan menggunakan kuesioner

2 Karakteristik anak balita

- Jenis kelamin - Umur

- BB dan TB

Wawancara dan pengukuran 3 Pengetahuan

gizi dan

kesehatan dari ibu yang memiliki anak balita

- makanan yang tepat untuk anak

- bahan makanan yang bergizi - cara penyimpanan bahan

makanan - fungsi makanan

- kebiasaan hidup sehat.

Wawancara dengan menggunakan kuesioner

4 Perilaku hidup bersih dan sehat

- persalinan dibantu tenaga kesehatan

- kebiasaan merokok - imunisasi

- penimbangan rutin anak balita - gizi keluarga (sarapan)

- menjadi anggota dana sehat - cuci tangan pakai sabun - kebiasaan gosok gigi - olahraga rutin

- makan sayur dan buah setiap hari

- ketersediaan sarana fisik yang menunjang PHBS Wawancara dengan menggunakan kuesioner dan pengamatan langsung

5 Pola asuh makan dan kesehatan yang diberikan ibu anak balita

- pemberian ASI

- cara memperkenalkan makanan kepada anak balita - cara ibu dalam membentuk

situasi makan anak balita - kebiasaan makan yang

diajarkan ibu kepada anak

Wawancara dengan kuesioner dan pengamatan langsung

6 Status

kesehatan anak balita

- kejadian sakit

- lama dan frekuensi sakit - jenis penyakit yang dialami

Wawancara dengan kuesioner

7 Status gizi anak balita

- berat badan menurut umur - tinggi badan menurut umur - berat badan menurut tinggi

badan

Pengukuran

berdasarkan BB, TB, U, KMS, data

Posyandu

(38)

Pengolahan dan Analisis Data

Data yang telah diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan diolah dengan bantuan program software Microsoft Excell 2007 dan SPSS 17.0 for Windows. Pengolahan data meliputi beberapa tahap diantaranya pengeditan, pengkodean, pengentrian, dan analisis. Analisis data yang digunakan adlah analissi deskriptif dan inferensia (Pearson Correlation dan Regresi Linear Berganda).

Umur orang tua. Data umur orang tua yang diperoleh dikelompokkan menjadi remaja <20 tahun, dewasa awal 20-40 tahun, dewasa tengah 41-65 tahun, dan dewasa akhir >65 tahun (Papalia & Olds 2001).

Besar keluarga. Berdasarkan jumlah anggota rumah tangga, besar rumah tangga dikelompokkan menjadi tiga yaitu keluarga kecil (≤4 orang), keluarga sedang (5-7 orang), dan keluarga besar (≥ 8 orang) (BKKBN 2005).

Pendidikan orang tua. Data pendidikan orang tua dibagi menjadi tujuh kategori yakni tidak sekolah, tidak tamat SD, tamat SD, SMP, SMA, Diploma, dan Sarjana.

Pekerjaan orang tua. Pekerjaan orang tua dikelompokkan menjadi tujuh, yakni tidak bekerja, petani, PNS, pegawai swasta, buruh pabrik, wiraswasta dan sopir atau ojeg.

Pendapatan perkapita. Total Pendapatan keluarga dibagi dengan jumlah anggota keluarga. Berdasarkan rata-rata pendapatan (Walpole 1990), maka pendapatan per kapita dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu: rendah (<Rp.151.440,0), sedang (Rp.151.440,0 – Rp.447.857,7), dan tinggi (>Rp.447.857,7). Berdasarkan Garis Kemiskinan Propinsi Jawa Barat (2010) penghasilan perkapita keluarga balita dibagi menjadi dua kategori yaitu miskin jika pendapatan perkapita per bulannya <Rp.201.138,0 dan tidak miskin jika pendapatan perkapita per bulannya ≥Rp.201.138,0.

Karakteristik anak balita. Data karakteristik anak balita meliputi data umur dan jenis kelamin. Umur diklasifikasikan menjadi empat kategori yaitu 12-23 bulan, 24-35 bulan, 36-47 bulan, dan 48-60 bulan (Depkes 2008). Data jenis kelamin balita terdiri jadi dua kategori yaitu laki-laki dan perempuan.

(39)

gizi tertentu; perilaku hidup bersih dan sehat. Setiap pertanyaan akan dinilai 1 untuk jawaban yang benar dan nilai 0 untuk jawaban yang salah. Sehingga nilai maksimum yang diperoleh adalah 16, sedangkan nilai minimum adalah 0. Nilai minimum hasil pengukuran pengetahuan gizi adalah 7 dan nilai maksimum 16. Penilaian pengetahuan gizi ibu balita dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan interval kelas (Sugiyono 2009). Pengetahuan gizi ibu dikatakan rendah jika skor 7-10, sedang jika skor 11-14, dan baik jika skor ≥15.

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). PHBS didapatkan dengan penilaian hasil kuesioner dan pengamatan terhadap sarana fisik. Pertanyaan kuesioner terdiri dari 16 pertanyaan yang ditujukan kepada responden. Kuesioner perilaku PHBS menggunakan jenis pertanyaan tertutup, dengan nilai 1 untuk jawaban ya, dan 0 untuk jawaban tidak. Untuk sarana fisik, diberi nilai 1 jika sarananya tersedia dan nilai 0 jika tidak tersedia. Nilai minimum pengukuran PHBS adalah 4 dan maksimum 15. Kategori PHBS ditentukan dengan interval kelas. Total nilai berkisar antara 0-16, dikategorikan menjadi kategori rendah jika skor yang diperoleh berkisar antara 4-8, kategori sedang jika skor yang diperoleh berkisar antara 9-13, dan kategori baik jika skor yang diperoleh berkisar antara ≥14.

Sarana fisik. Sarana fisik yang diperhatikan dalam penelitian ini adalah sarana fisik yang terkait dengan PHBS yaitu, ada atau tidaknya ventilasi di rumah balita, jamban sehat (WC), sarana pembuangan air limbah (SPAL), ketersediaan tempat sampah di rumah balita, sumber air bersih yang digunakan untuk sehari-hari, dan bahan dari lantai rumah balita. Jika sarana fisik tersedia maka diberi nilai 1, jika tidak tersedia diberi nilai 0. Kemudian total nilai dibandingkan dengan dengan total sarana fisik yaitu 6. Nilai yang paling bagus adalah 1.0 dan paling rendah 0.0 (Effendi et al 2009). Nilai yang sudah diketahui dibagi menjadi tiga kategori dengan interval kelas, sarana fisik baik jika nilainya 0.8-1.0, sedang jika nilainya 0.4-0.7, dan kurang jika nilainya 0-0.3.

(40)

pengukuran pola asuh makan adalah 8 dan maksimum 22. Penilaian terhadap pola asuh makan dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan interval kelas. Pola asuh makan dikatakan baik jika skor ≥20, sedang jika skor 14-19, dan rendah jika skor 8-13.

Pola asuh kesehatan. Data pola asuh disajikan dalam bentuk pertanyaan tertutup dengan modifikasi dari Pramuditya (2010). Pola asuh kesehatan yang diberikan ibu kepada anak balita diukur dengan 15 pertanyaan mengenai riwayat pemberian ASI, cara memperkenalkan makanan kepada anak balita dan cara ibu dalam membentuk situasi makan anak. Setiap pertanyaan akan dinilai 2 untuk jawaban ya/ sering, dinilai 1 untuk jawaban kadang dan nilai 0 untuk jawaban tidak/ hampir tidak pernah. Total nilai minimum adalah 0 dan total nilai maksimum 30. Nilai minimum pengukuran pola asuh kesehatan adalah 14 dan maksimum 30. Penilaian terhadap pola asuh kesehatan dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan interval kelas. Pola asuh kesehatan dikatakan baik jika skor ≥26, sedang jika skor 20-25, dan rendah jika skor 14-19.

Status kesehatan. Status kesehatan yang diteliti meliputi kejadian pernah atau tidak pernah sakit, jenis penyakit, dan skor status kesehatan. Skor status kesehatan diperoleh dengan mengalikan lama hari sakit dengan frekuensi sakit untuk setiap jenis penyakit. Skor kesehatan dikatakan tinggi apabila 0-4, sedang 5-9, dan rendah 10-14 (Sugiyono 2009).

Status gizi. Status gizi dilihat berdasarkan data BB, TB dan umur dari anak balita. Penilaian status gizi anak balita menggunakan baku WHO dan dihitung berdasarkan skor simpangan baku (Z-skor).

(41)
[image:41.595.104.535.91.764.2]

Tabel 3 Pengkategorian variabel penelitian

No. Variabel Kategori pengukuran Kriteria Sumber acuan 1. Umur orang

tua (tahun)

1. Remaja <20 Papalia & Olds (2001)

2. Dewasa muda 20-40 3. Dewasa tengah 42-65 4. Dewasa akhir >65 2. Pendidikan

orang tua (tahun)

1. Tidak sekolah 0 2. Tidak tamat SD 1-<6

3. Tamat SD 6

4. SMP 9

5. SMA 12

6. Diploma 15

7. Sarjana 16

3. Pendapatan perkapita

1. Miskin <Rp.201.138,0 BPS (2011) 2. Tidak miskin ≥Rp.201.138,0

4. Besar keluarga (orang)

1. Keluarga kecil ≤ 4 BKKBN (2005) 2. Keluarga sedang 5-7

3. Keluarga besar ≥ 8 5. Pengetahuan

gizi dan kesehatan

1. Baik (15-18) ≥15 Interval kelas (Sugiyono

2009)

2. Sedang 11-14

3. Rendah 7-10

6. Perilaku hidup bersih dan sehat

1. Baik ≥14 Interval kelas

(Sugiyono 2009)

2. Sedang 9-13

3. Rendah 4-8

7. Sarana fisik 1. Baik 0.8-1.0 Interval kelas (Sugiyono

2009)

2. Sedang 0.4-0.7

3. Rendah 0.0-0.3

8. Pola asuh makan

1. Baik ≥20 Interval kelas

(Sugiyono 2009)

2. Sedang 14-19

3. Rendah 8-13

9. Pola asuh kesehatan

1. Baik ≥26 Interval kelas

(Sugiyono 2009)

2. Sedang 20-25

3. Rendah 14-19

10. Skor status kesehatan

1. Tinggi 0-4 Interval kelas

(Sugiyono 2009)

2. Sedang 5-9

3. Rendah 10-14

11. Status gizi BB/U (z-skor)

1. Kurang <-2 SD

Depkes (2008) 2. Normal -2 SD Z-skor +2 SD

3. Lebih >+2 SD 12. Status gizi

TB/U (z-skor)

1. Pendek <-2 SD 2. Normal -2 SD Z-skor +2 SD 3. Tinggi >+2 SD 13. Status gizi

BB/TB (z-skor)

(42)

Definisi Operasional

Contoh adalah anak balita berusia ≥1 tahun sampai ≤5 tahun yang berdomisili di sekitar Warung Anak Sehat dan memiliki akses ke Warung Anak Sehat. IWAS adalah ibu yang mengelola Warung Anak Sehat.

Pengetahuan gizi dan kesehatan ibu adalah pengetahuan ibu yang memiliki anak balita mengenai makanan yang tepat untuk anak, bahan makanan yang bergizi, cara penyimpanan bahan makanan, fungsi makanan, dan kebiasaan hidup sehat.

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah praktik perilaku hidup bersih yang diterapkan ibu kepada anak yang meliputi higiene perorangan,

persalinan, gizi keluarga, imunisasi, kebiasaan merokok, penimbangan balita, olahraga, makan makanan beragam, serta kebersihan lingkungan yang meliputi ketersediaan jamban, tempat sampah, air bersih, SPAL, ventilasi, dan lantai rumah.

Pola asuh makan adalah praktik-praktik pengasuhan makan yang diterapkan ibu kepada anaknya yang meliputi riwayat pemberian ASI, cara memperkenalkan makanan kepada anak balita, dan cara ibu dalam membentuk situasi makan anak.

Pola asuh kesehatan adalah praktik-praktik pengasuhan kesehatan yang diterapkan oleh ibu kepada anak meliputi kebiasaan ibu dalam mengajarkan hidup sehat kepada anak balita.

Status gizi anak balita adalah keadaan tubuh anak balita yang ditentukan berdasarkan berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dengan menggunakan baku WHO.

Status kesehatan adalah keadaan kesehatan anak balita yang dilihat dari tingkat kesakitan yang dialami anak selama dua minggu terakhir, jenis penyakitnya, frekuensi dan ulangan penyakit yang terjadi dua minggu terakhir sebelum pengambilan data.

(43)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kondisi Geografis

Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat dengan jarak tempuh 96 km dari Ibukota Propinsi Jawa Barat (Bandung) dan 119 km dari Ibukota Negara (Jakarta). Batas wilayah Kabupaten sukabumi bagian utara dengan Kabupaten Bogor, bagian selatan dengan Samudera Indonesia, bagian barat dengan Kabupaten Lebak, Samudera Indonesia, dan bagian timur berbatas dengan Kabupaten Cianjur.

Bentuk Topografi wilayah Kabupaten Sukabumi pada umunya meliputi permukaan yang bergelombang di daerah selatan dan bergunung di daerah utara dan tengah. Kabupaten Sukabumi beriklim tropis.

Kepadatan Penduduk

Luas wilayah Kabupaten Sukabumi mencapai sekitar 4.161 km2 dan merupakan kabupaten terluas di Jawa Barat. Bila dibandingkan dengan total luas Jawa Barat, Kabupaten Sukabumi memberikan sumbangan 11.21 persen terhadap luas propinsi. Rata-rata kepadatan penduduk di Kabupaten Sukabumi sebesar 563 orang per km2 (BPS 2011).

Berdasarkan hasil pencacahan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Kabupaten Sukabumi 2.341.409 orang, yang terdiri atas 1.193.342 laki-laki dan 1.148.067 perempuan. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010 tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk laki-laki masih lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan (BPS 2011).

Sarana Kesehatan

Sarana kesehatan yang terdapat di Kabupaten Sukabumi adalah tiga Rumah sakit, 58 puskesmas, 115 puskesmas pembantu, 55 puskesmas keliling, 3 ambulance, dan 3.165 posyandu. Jumlah tenaga kesehatan dokter umum 75 orang, dokter gigi 19 orang, kesmas 67 orang, bidan 432 orang, perawat 303 orang, sanitarian 39 orang, tenaga gizi 14 orang, tenaga farmasi 8 orang, tenaga keteknisan 1 orang, dan non keteknisan 258 orang (BPS 2010).

(44)

balita kurus sebesar 11% berdasarkan indeks BB/TB. Sementara itu, data dari sepuluh Posyandu di Kabupaten Sukabumi menunjukkan bahwa prevalensi gizi kurang berdasar indeks BB/U sebesar 12.8% dan data dari delapan Posyandu setempat menunjukkan bahwa berdasarkan indeks TB/U balita yang pendek sebesar 33.3% dan balita yang kurus sebesar 7.9%.

Karakteristik Keluarga Anak Balita Umur Orang Tua

Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktifitas seseorang. Orang yang masih muda memiliki produktifitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang sudah tua. Hal ini disebabkan oleh kondisi fisik dan kesehatan orang muda yang masih prima (Khomsan et al 2007). Dilihat dari umur, baik ayah maupun ibu anak balita masih berada dalam usia produktif, yaitu rata-rata 35.5 tahun untuk ayah dan 29.5 tahun untuk ibu anak balita. Sebaran umur orang tua anak balita dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Sebaran usia orang tua dari anak balita

Usia (tahun) Ayah Ibu

n % n % Remaja (<20 tahun) 0 0 1 1.3 Dewasa awal (20-40 tahun) 63 79.8 75 94.9 Dewasa madya (41-65 tahun) 16 20.2 3 3.8 Dewasa akhir (> 65 tahun) 0 0 0 0

Total 79 100 79 100

Rata-rata ± SD 35.3 ± 7.1 29.5 ± 5.4

(45)

Besar Keluarga

Keluarga adalah sekelompok orang yang tinggal dan hidup dalam satu rumah dan ada ikatan darah (Khomsan et al 2007). Besar keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak, dan anggota lain yang tinggal bersama dalam satu rumah dari pengelolaan sumber daya yang sama (Sukandar 2007). Gambar 2 menunjukkan sebaran besar keluarga anak balita.

Gambar 2 Sebaran besar keluarga anak balita.

Berdasarkan jumlah anggota keluarganya, keluarga anak balita yang diteliti termasuk keluarga kecil (58.2%) dan keluarga sedang (41.8%).

Menurut Gabriel (2008) jumlah anggota keluarga yang besar akan mempersulit dalam memenuhi kebutuhan pangan. Terutama anak balita yang memerlukan perhatian khusus karena belum bisa mengurus keperluannya sendiri serta ada dalam masa pertumbuhan.

Pendidikan Orang Tua

Tingkat pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pola asuh anak. Tingkat pendidikan yang tinggi berkaitan dengan pengetahuan gizi yang tinggi, khususnya informasi tentang gizi dan kesehatan yang akan mendorong dalam praktik pengolahan dan pemberian makanan yang benar (Rahmawati 2006; Sediaoetama 2008; Sukandar 2007).

(46)

dikonsumsi. Ayah dengan pendidikan tinggi diharapkan memperoleh pekerjaan yang baik dan akan mendapatkan penghasilan yang lebih memadai sesuai dengan kebutuhan keluarga (Safitri 2010).

Tabel 5 Sebaran tingkat pendidikan orang tua anak balita

Pendidikan Ayah Ibu n % n % Tidak tamat SD 5 6.3 6 7.6

SD 18 22.8 20 25.3

SMP 23 29.1 28 35.4

SMA 26 32.9 20 25.3

Diploma 0 0 1 1.3

Sarjana 7 8.9 4 5.1

Total 79 100 79 100

Pekerjaan Orang Tua

Pekerjaan termasuk ke dalam salah satu sumber pendapatan dalam keluarga. Dengan adanya pekerjaan tetap dalam suatu keluarga, maka keluarga tersebut relatif terjamin pendapatannya setiap bulan (Khomsan 2000). Sebaran tingkat pekerjaan orang tua anak balita dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Sebaran tingkat pekerjaan orang tua anak balita.

Pekerjaan Ayah Ibu

n % n %

Tidak bekerja 1 1.3 57 72.2

Petani 3 3.8 0 0

PNS 7 8.9 6 7.6

Pegawai swasta 5 6.3 1 1.3 Buruh pabrik 18 22.8 5 6.3

Wiraswasta 33 41.8 4 5.0

Sopir/ ojeg 8 10.1 0 0

Lain-lain 4 5.0 6 7.6

Total 79 100 79 100

(47)

Penghasilan Perkapita

Penghasilan perkapita perbulan anggota keluarga anak balita dihitung berdasarkan jumlah pendapatan keluarga dibagi dengan besar keluarga. Rata-rata pendapatan per kapita anggota keluarga anak balita adalah Rp.299.648,9 dengan standar deviasi Rp.148.208,8. Tabel 7 menunjukkan sebaran penghasilan perkapita anggota keluarga anak balita.

Tabel 7 Sebaran penghasilan perkapita anggota keluarga anak balita. Kategori Pendapatan (Rp/ kapita) n % Rendah (< Rp.151.440,0) 12 15.2 Sedang (Rp.151.440,0 – Rp.447.857,7) 56 70.9 Tinggi (> Rp.447.857,7) 11 13.9

Total 79 100

Rata-rata Pendapatan ± SD (Rp/ kapita) 299.648,9 ± 148.208,8

Sebagian besar anggota keluarga anak balita mempunyai pendapatan per kapita per bulan yang termasuk kategori sedang (70.9%), rendah (15.2%), dan tinggi (13.9%). Hal ini berarti bahwa kondisi ekonomi sebagian besar keluarga balita masih termasuk ke dalam kategori menengah ke bawah. Menurut Safitri (2010) keadaan ekonomi keluarga berperan dalam perkembangan anak dan menentukan tingkat kesejahteraan keluarga. Jika pendapatan keluarga sudah memadai, maka pengasuhan anak dapat dikonsentarasikan sepenuhnya.

Berdasarkan Garis Kemiskinan dari BPS (2011), masih terdapat 30.4% keluarga anak balita yang termasuk kategori keluarga miskin, meskipun 69.6% keluarga anak balita sudah termasuk kategori keluarga tidak miskin. Prevalensi keluarga miskin sebesar 30.4% ini lebih tinggi dibandingkan prevalensi nasional kemiskinan yaitu 12.36% (BPS 2012). Tabel 8 menunjukkan sebaran penghasilan keluarga anak balita menurut Garis Kemiskinan.

Tabel 8 Sebaran penghasilan keluarga anak balita menurut garis kemiskinan

Kategori Pendapatan Rp/ kapita) n % Miskin (< Rp.201.138,00 ) 24 30.4 Tidak Miskin (≥ Rp.201.138,00) 55 69.6

Total 79 100

(48)

terutama anak anak balita (Soekirman 2000). Penghasilan yang diperoleh biasanya digunakan orang tua untuk keperluan rumah tangga, dan peralatan-peralatan lainnya, sehingga untuk pemenuhan gizi anggota keluarga jadi terabaikan.

Karakteristik Anak Balita Jenis Kelamin dan Umur Anak Balita

Karakteristik anak balita yang diidentifikasi dalam penelitian ini adalah umur dan jenis kelamin. Gambar 3 menunjukkan sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin.

Gambar 3 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin

[image:48.595.178.432.549.685.2]

Sebagian besar anak balita memiliki jenis kelamin laki-laki (53.2%) dan sisanya perempuan (46.8%). Umur anak balita dikelompokkan menjadi empat kategori yaitu 12-23 bulan, 24-35 bulan, 36-47 bulan, dan 48-60 bulan. Gambar 4 menunjukkan bahwa sebagian besar anak balita berumur 12-23 bulan (34.2%), dengan umur minimum 13 bulan dan maksimum 59 bulan. Rata-rata umur anak balita 33.3 bulan dengan standar deviasi 14.4.

(49)

Pengetahuan Gizi dan Kesehatan Ibu

Pengetahuan adalah informasi yang disimpan dalam ingatan dan menjadi penentu utama perilaku seseorang (Engel et al 1995 dalam Khomsan et al 2009) Pengetahuan gizi dan kesehatan merupakan salah satu jenis pengetahuan yang dapat diperoleh melalui pendidikan. Pengetahuan gizi merupakan aspek kognitif yang mencirikan seseorang memahami tentang gizi, pangan dan kesehatan (Sukandar 2007).

Tabel 9 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu yang memiliki anak balita memiliki pengetahuan gizi dan kesehatan yang sedang (72.2%), baik (15.2%), dan masih ada yang kurang (12.6%). Rata-rata tingkat pengetahuan gizi dan kesehatan ibu yang memiliki anak balita adalah 12.6% dengan standar d

Gambar

Gambaran Umum Lokasi Penelitian .............................................................
Gambar 1 Skema kerangka pemikiran
Tabel 2 Jenis dan cara pengumpulan data
Tabel 3 Pengkategorian variabel penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Particle size and degree of partial cement replacement by treated LUSI mud affect the compressive strength, the strength activity index (SAI), the rate of pozzolanic

This survey project covered the following people groups in the districts of Tawang, West Kameng and East Kameng: Tawang Monpa, Dirang Monpa, Kalaktang Monpa, Sartang, Lish,

Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan kematangan emosi pada wanita dewasa

Melihat hasil belajar (nilai ulangan harian) siswa pada pembelajaran Matematika khususnya tentang materi menentukan jaring-jaring balok dan kubus di kelas IV SDN

Dengan demikian, metode analisis homotopi dapat digunakan untuk menentukan hampiran penyelesaian eksak dari persamaan diferensial parsial dengan nilai awal yang

Hidup Berdasarkan Hukum Makeham Yang Dibayarkan Sesaat Setelah Kematian Dengan Tingkat Suku Bunga Mengikuti Model CIR...63 4.6 APV (Actuarial Present Value) Dari Manfaat

Telah dirancang sebuah prototype ruang penyimpanan benih padi berdasarkan pengontrolan temperatur dan kelembaban. Berdasarkan data referensi yang dikumpulkan, diperoleh

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh ciptaan karya fotografi yang dihasilkan oleh Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, sepanjang pihak