• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap Konsumen Terhadap Kopi Bubuk Instan Top Kopi di Wilayah Kota Bogor, Jawa Barat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Sikap Konsumen Terhadap Kopi Bubuk Instan Top Kopi di Wilayah Kota Bogor, Jawa Barat"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

SIKAP KONSUMEN TERHADAP KOPI BUBUK

INSTAN TOP KOPI DI WILAYAH KOTA BOGOR,

JAWA BARAT

DEBBY FEBRINA SIMANJUNTAK

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Sikap Konsumen Terhadap Kopi Bubuk Instan Top Kopi Di Wilayah Kota Bogor, Jawa Barat adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Mei 2013 Debby Febrina Simanjuntak

(4)

ABSTRAK

DEBBY FEBRINA SIMANJUNTAK. Sikap Konsumen Terhadap Kopi Bubuk Instan Top Kopi di Wilayah Kota Bogor, Jawa Barat. Dibimbing oleh Dra. YUSALINA, M.Si.

Top Kopi adalah produk kopi baru yang muncul di tahun 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan pola konsumsi konsumen Top Kopi dan Kapal Api dan menganalisis sikap konsumen terhadap atribut kopi. Penelitian ini menggunakan alat analisis Analisis Deskriptif, Fishbein dan Mann-Whitney U Test. Karakteristik konsumen Top Kopi < 20 tahun, asal daerah Sunda, SMA/SMK, belum menikah, dan pelajar, sedangkan Kapal Api 21-30 tahun, asal daerah suku Sunda, menikah, dan pegawai swasta. Konsumen Kapal Api dan Top Kopi mengkonsumsi kopi instan seminggu ≥ 5 kali, membeli dari warung, atribut pertimbangan mengkonsumsi kopi adalah rasa, motivasi membeli untuk kesegaran. Sumber informasi bagi konsumen Top Kopi berdasarkan keputusan sendiri setelah mencoba berbagai merek kopi, Konsumen Kapal Api mendapatkan informasi dari Iklan TV, dan yang berpengaruh dalam membeli kopi instan kedua konsumen adalah keputusan sendiri. Konsumen Kapal Api dan Top Kopi memiliki sikap netral terhadap produk dan tidak menunjukkan perbedaan sikap. Kata kunci: Kopi, Sikap, Perilaku Konsumen

ABSTRACT

DEBBY FEBRINA SIMANJUNTAK. Consumer Attitude Toward Top Kopi Instant Coffee in Bogor City, West Java. Supervised by Dra. YUSALINA, M.Si.

Top Kopi is a new coffee brand that started to be produced in 2012. The aim of this research is to identify characteristics and patterns of consumption Top Kopi and Kapal Api and to analyze consumer attitudes toward attributes,. This method used in this research is Descriptive Analysis, Fishbein, and Mann-Whitney U Test The Characteristics consumers Top Kopi are < 20 years, Sundanese, SMA/SMK, unmarried, and student/ undergraduate, consumers Kapal Api are 21-30 years, Sundanese, SMA/SMK, and employees. The consumption patterns of consumers, consuming instant coffee ≥ 5 times a week, bought from shops, coffee consumption considerations attributes of taste, motivation to buy is freshness, own decisions to consume coffee, while Kapal Api from television advertising, and influential in buying second header instant consumer groups derived from the decision itself. Both group consumers of Kapal Api and Top Kopi have neutral attitude and did not show differences.

(5)

SIKAP KONSUMEN TERHADAP KOPI BUBUK

INSTAN TOP KOPI DI WILAYAH KOTA BOGOR,

JAWA BARAT

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Agribisnis

DEBBY FEBRINA SIMANJUNTAK

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(6)
(7)

Judul Skripsi : Sikap Konsumen Terhadap Kopi Bubuk Instan Top Kopi di Wilayah Kota Bogor, Jawa Barat

Nama : Debby Febrina Simanjuntak NIM : H34090052

Disetujui oleh

Dra. Yusalina, M.Si Pembimbing

Diketahui oleh

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS Ketua Departemen

(8)
(9)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Januari 2012 ini ialah perilaku konsumen, dengan judul Sikap Konsumen Terhadap Kopi Bubuk Instan Top Kopi di Wilayah Jawa Barat.

Terimakasih penulis ucapkan kepada Dra. Yusalina, M.si selaku dosen pembimbing atas segala bimbingan dan arahan selama penelitian ini dilaksanakan, serta Eva Yolyndi Aviny, Sp. MM dan Tintin Sarianti, Sp. MM yang telah banyak memberi saran. Di samping itu, Ungkapan terimakasih juga disampaikan kepada kedua orang tua, teman-teman Agribisnis 46 serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

(10)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI x

DAFTAR TABEL xi

DAFTAR GAMBAR xii

DAFTAR LAMPIRAN xii

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 4

Tujuan Penelitian 6

Ruang Lingkup Penelitian 6

TINJAUAN PUSTAKA 7

Tinjauan Umum Komoditi Kopi 7

Standar Mutu Kopi 8

Studi Pustaka Penelitian Terdahulu Tentang Minuman 9

KERANGKA PEMIKIRAN 12

Kerangka Pemikiran Teoritis 12

Kerangka Pemikiran Operasional 15

METODE 17

Lokasi dan Waktu Penelitian 17

Jenis Dan Sumber Data 17

Penarikan Sampel dan Model Pengumpulan Data 17

Metode Pengolahan Data dan Analisis Data 19

Uji Validitas 20

Uji Reliabilitas 21

Definisi Operasional 26

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 35

SIKAP KONSUMEN TERHADAP KOPI BUBUK INSTAN TOP KOPI 37 Karakteristik Umum Responden Top Kopi dan Kapal Api 37

Pola Konsumsi Konsumen Kopi Bubuk Instan 41

Analisis Sikap Konsumen Kopi Bubuk Instan 45

SIMPULAN DAN SARAN 56

Simpulan 56

Saran 57

DAFTAR PUSTAKA 57

LAMPIRAN 62

(11)

DAFTAR TABEL

1 Produksi perkebunan di Indonesia tahun 2011-2012* 1

2 Luas Areal dan Produksi Kopi Indonesia Menurut Jenis Tahun 2007- 2011 2

3 Pangsa Pasar (Market Share) Industri Kopi Tahun 2009-2012 4 4 Top Brand Index kopi 2013 5

5 Syarat Mutu Umum Biji Kopi Robusta 8 6 Syarat Mutu Umum Biji Kopi Arabika 9 7 Sebaran Penduduk Kota Bogor dan Jumlah Responden 4 Wilayah Kecamatan di Kota Bogor, 2011 22

8 Tujuan penelitian dan alat analisis yang digunakan 20

9 Hasil Uji Validitas Pada Atribut Kopi 23

10 Skor Evaluasi (ei) Untuk Setiap Atribut Pada Analisis Fishbein 25

11 Skor Kepercayaan (bi) Untuk Setiap Atribut Pada Analisis Fishbein 21

12 Berikut Daftar Ukuran Atribut-Atribut Dugaan dengan Skala Likert 28

13 Penyebaran Penduduk Kota Bogor Tahun 2012 36

14 PDRB Perkapita Kota Bogor Tahun 2009-2011 (Rupiah) 36 15 Umur Sampel Konsumen Top Kopi dan Kapal Api 37 16 Asal Daerah Konsumen Top Kopi dan Kapal Api 38 17 Pendidikan Terakhir Konsumen Top Kopi dan Kapal Api 39 18 Status Pernikahan Konsumen Top Kopi dan Kapal Api 39 19 Pekerjaan Konsumen Top Kopi dan Kapal Api 40 20 Rata-rata Pendapatan Perbulan Konsumen Top Kopi dan 40 Kapal Api 21 Rata-rata Konsumsi Kopi Bubuk Instan Perminggu 41 22 Sebaran Tempat Membeli Kopi Bubuk Instan 42 23 Atribut yang Paling Berpengaruh dalam Membeli Kopi Bubuk Instan 43

24 Motivasi Membeli Kopi Bubuk Instan 43 25 Sumber Informasi Kopi Bubuk Instan 44 26 Sumber yang Berpengaruh dalam Membeli Kopi Bubuk Instan 45 27 Nilai Prioritas Atribut Pada Sampel Konsumen Top Kopi dan Kapal Api 43

28 Nilai Kepercayaan Atribut Sampel Konsumen Top Kopi dan Kapal Api 51

(12)

DAFTAR GAMBAR

3 Kerangka Pemikiran Operasional 16

DAFTAR LAMPIRAN

1 Output Uji Validitas Atribut Kopi Bubuk Instan 60

2 Output Uji Reliabel Atribut Kopi Bubuk Instan 61 3 Output The Mann-Whitney U Test 62

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Agribisnis merupakan salah satu subsektor yang memberikan kontribusi besar dalam pencapaian surplus perdagangan Indonesia dari sektor pertanian. Sektor ini merupakan sektor yang sangat luas. Terdapat beberapa subsektor yang meliputi sektor pertanian, yaitu subsektor tanaman pangan, perikanan, hortikultura, perkebunan, perikanan, dan kehutanan. Berdasarkan subsektor perkebunan terdapat komoditi-komoditi yang memiliki peranan penting dalam perkembangan agribisnis di Indonesia.

Tanaman kopi merupakan salah satu komoditi perkebunan yang memiliki keunggulan agribisnis. Hal ini dapat dilihat dari produksi komoditas perkebunan tahun 2011-2012 pada Tabel 1.

Tabel 1 produksi perkebunan di Indonesia tahun 2011-2012*

No Produksi (ton) 2011 2012*

1 Cacao 712,231 936,266

2 Kopi 638,647 657,138

3 Teh 150,776 150,949

Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan, 2011 Keterangan : *) Angka Sementara

Tabel 1 menunjukkan bahwa produksi cocoa lebih tinggi dari teh dan kopi, akan tetapi produksi kopi memiliki jumlah yang lebih tinggi dari teh yaitu 638,647 ton dan produksi kopi juga mengalami peningkatan pada tahun 2012 yaitu 657,138 ton. Hal ini menunjukkan bahwa kopi memiliki potensi untuk dikembangkan. Selain itu juga terjadi peningkatan kebutuhan terhadap kopi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kopi menjadi komoditas yang penting bagi pertumbuhan ekonomi dunia, baik dari segi konsumsi maupun dari segi produksi. Hal ini terlihat bahwa kopi merupakan industri global yang mempekerjakan lebih dari 20 juta orang, kemudian merupakan komoditi yang menempati urutan kedua setelah minyak bumi, dengan lebih dari 400 miliar cangkir yang dikonsumsi setiap tahun, dengan demikian, kopi menjadi minuman paling populer di dunia setelah air putih (SWA, 2010).

Disamping itu, tanaman kopi merupakan komoditi ekspor yang memiliki nilai jual tinggi karena tidak semua negara dapat menanam kopi. Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang kopi terbesar keempat di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Colombia. Menurut data Asosiasi Ekspor Kopi Indonesia (2011), Indonesia mampu memasok kebutuhan kopi dunia kurang lebih dari 5.9 persen, Brazil 25.1 persen, Vietnam 11 persen, dan Colombia 8.6 persen1.

1

(14)

Kopi merupakan minuman yang sangat digemari oleh penduduk Indonesia. Hal ini terbukti, adanya peningkatan konsumsi kopi di Indonesia secara keseluruhan. Berdasarkan informasi yang di dapat dari ICO Coffee Statistics, bahwa secara keseluruhan konsumsi kopi di Indonesia diprediksi mengalami peningkatan yang signifikan yaitu naik 25 persen tiap tahunnya,dan ICO juga memperkirakan total produksi kopi dunia periode 2012-2013 mencapai 8,643.6 ton dari sebelumnya hanya 8,073.6 ton periode 2011-20122

Pada umumnya, kopi yang di ekspor Indonesia ada dua jenis yaitu kopi Robusta dan kopi Arabika. Untuk Kopi Arabika, Indonesia mengekspor tujuh persen untuk konsumsi dunia, sedangkan untuk kopi Robusta Indonesia menyumbang sekitar 91 persen3. Kedua kopi ini, memiliki citarasa yang sangat berbeda. Biasanya mutu kopi dipengaruhi oleh keadaan-keadaan khusus geografis suatu daerah, ketinggian, iklim, keadaan tanah, pemeliharaan tanamannya, pemetikan buah, dan pengolahannya sehingga, keadaan ini membuat mutu dari setiap kopi berbeda-beda.

Salah satu keunggulan yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor terbesar di dunia adalah dari luas lahan. Indonesia memiliki luas lahan perkebunan yang cukup luas. Hal ini dapat ditunjukkan pada Tabel 2.

Tabel 2 Luas areal dan produksi kopi Indonesia menurut Jenis tahun 2007- 2011

Tahun Arabika Robusta Jumlah

Luas

Areal Produksi

Luas

Areal Produksi Produksi Produksi 2007 228,931 124,098

Sumber: Ditjenbun, Kementrian Pertanian, 2011

Tabel 2 menunjukkan adanya peningkatan luas areal kopi Arabika setiap tahunnya mulai dari 2007 sampai 2011 akan tetapi, luas areal kopi jenis Robusta mengalami penurunan sejak tahun 2009 sampai 2010 dan kembali meningkat di tahun 2011. Secara garis besar, adanya peningkatan luas areal kopi tersebut mengindikasikan adanya peningkatan jumlah

2Indonesia Urutan Ketiga Eksportir Kopi Terbesar Dunia. 2012.

http://bisnis.liputan6.com/read/508855/indonesia-urutan-ketiga-eksportir-kopi-terbesar-dunia-di-2012 [ 14 Februari 2013].

3Perkebunan Kopi. 2012. http://www.anneahira.com/perkebunan-kopi.hm [3 Februari 2013]

(15)

produksi kopi. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai keunggulan dari segi luas lahan yang memungkinkan dapat memasok kebutuhan kopi dunia.

Selain dijadikan sebagai komoditas ekspor, kopi juga berkembang di dalam negeri. Perkembangan bisnis kopi terjadi di sektor hilir dengan berdirinya berbagai industri pengolahan kopi, terdapat 308 industri pengolahan kopi di Indonesia (Kemenperin, 2011). Pada awalnya industri pengolahan kopi hanya memproduksi kopi bentuk bubuk biasa. Akan tetapi,seiring perkembangan jaman dan perubahan gaya hidup masyarakat, terutama masyarakat perkotaan, yang cenderung konsumtif dan menyenangi produk instan, mengakibatkan produsen kopi mulai melakukan inovasi dengan memproduksi kopi bubuk dalam bentuk instan. Dengan demikian produk olahan kopi yang beredar dipasaran saat ini, antara lain; (1) kopi bubuk, yaitu kopi yang biasa diperdagangkan dan dijual dalam bentuk bubuk dengan berbagai merek, (2) Kopi bubuk instan merupakan campuran kopi dan gula saja dan (3) campuran antara kopi, gula, dan susu dengan berbagai merek, (4) Coffeemix merupakan campuran kopi, gula, dan krimer yang dikemas dengan berbagai merek dan (5) Kopi Cappucino merupakan campuran kopi, krim, dan susu yang dalam penyajiannya biasa ditambahkan whipped cream yang ditaburi dengan bubuk kayu manis.

Selain bersaing dalam industri minuman kopi, persaingan antara merek juga terjadi dalam industri kopi. Saat ini, dipasaran beredar berbagai macam merek kopi, antara lain: Alicafe, Miwon, Indocafe ginseng, Nescafe, Indocafe, Torabika, Good Day, dan Kapal Api.

Salah satu merek kopi baru yang ada dipasaran adalah Top Kopi yang diproduksi oleh PT Harum Alam Segar. Produk ini muncul pada tahun 2012. Top kopi dihasilkan dari perpaduan antara kopi Arabika dengan kopi Robusta.Produk ini memiliki empat varian kopi, yaitu kopi murni, kopi gula, kopi susu serta kopi mocca. Produk Top Kopi dijual seharga Rp1 000 per sachet sehingga terjangkau oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia dari usia muda hingga tua yang merupakan target pasarnya.

Sebagaimana diketahui adanya persaingan antar merek yang terjadi di industri kopi olahan, hal ini menjadi tantangan besar bagi PT Harum Alam Segar untuk dapat bersaing di industri ini. Pada kelas-kelas tertentu masyarakat sangat fanatik dengan minuman kopi, bahkan pada merek-merek tertentu. Hal ini terjadi karena sedikit sekali konsumen yang dapat meninggalkan kebiasaan meminum kopi dengan tingkat perpindahan merek kopi relatif sangat kecil (kurang dari 20 persen) karena pengaruh cita rasa yang tinggi (Wicaksena, 2006). Hal ini juga diperkuat dari hasil Matari Advertising dalam Sumarwan (2004) yang membuktikan bahwa peminum kopi umumnya loyal terhadap merek pilihannya sebagaimana perokok. Oleh karena itu, persaingan ini menjadi nilai tersendiri bagi PT Harum Alam Segar untuk menarik perhatian konsumen untuk mau mengkonsumsi produknya.

(16)

sudah sesuai dengan harapan konsumen berdasarkan kinerja atribut atau belum sesuai. Dengan memahami perilaku konsumennya, diharapkan PT Harum Alam Segar dapat menciptakan tingkat penjualannya, sehingga dapat mencapai profit maksimum melalui penetapan strategi pemasaran yang tepat.

Perumusan Masalah

Setiap perusahaan yang bergerak dibidang industri pengolahan tidak pernah lepas dari permasalahan. Sebagaimana diketahui bahwa Top Kopi merupakan merek dagang baru dari industri produk kopi. Kopi ini setidaknya tengah dihadapkan pada masalah persaingan kopi yang memiliki banyak pemain didalamnya. Di awal kemunculannya, produk ini telah melakukan berbagai langkah strategis untuk dapat menarik konsumen yaitu dengan melakukan riset dan pengembangan. Perusahaan ini telah melakukan riset selama dua tahun untuk menganalisis peluang bisnis dan tren pasar, kemudian diikuti dengan penciptaan produk yang memiliki diferensiasi dan memilih duta merek (brand ambassador). Di tengah persaingan yang semakin ketat, perusahaan berusaha untuk menjangkau pasar dari berbagai segmen dengan menggunakan beberapa artis sebagai brand ambassador.

Perusahaan ini gencar melakukan aktivitas above the line (ATL) dan below the line (BTL). Untuk ATL, promosi dilakukan melalui media massa secara periodik baik cetak, elektronik ataupun media online. Selain itu, Top Kopi juga kerap muncul di media massa non-periodik seperti billboard dan brosur. Banyaknya pesaing yang berada pada bisnis kopi ini merupakan tantangan besar bagi Top Kopi dalam menjalankan bisnisnya. Persaingan juga terjadi pada perebutan pangsa pasar. Hal ini dapat ditunjukkan pada Tabel 3.

Tabel 3 Pangsa pasar (market share) industri kopi tahun 2009-2011

Nama Perusahaan Merek

Market share Peringkat

2009 2010 2011 2009 2010 2011

PT. Santos Abadi Jaya Kapal Api

43.6 39.4 35.7 1 1 1

PT. Santos Abadi Jaya

ABC 18.9 22.1 24.4 2 2 2

PT. Nestle Indonesia

Nescafe 9.9 8.3 5.2 3 4 5

PT. Mayora Indah Tbk

Torabika 7.5 6.2 8.5 4 5 3

PT. Sari Incofood Corporation

Indocafe 6.4 9.1 8.4 5 3 4

(17)

Pada Tabel 3, pasar disegmentasikan menjadi dua, yaitu pasar kopi instan dan pasar kopi bubuk. Terlihat pada Tabel 3, Secara keseluruhan dalam pangsa pasar minuman kopi, Kapal Api menduduki market share paling tinggi dari Tahun 2009 hingga Tahun 2011. Akan tetapi, apabila pasar dipecah menjadi dua segmen, maka Nescafe unggul daripada Kapal Api dalam kopi instan, sedangkan Kapal Api unggul dalam kopi bubuk.

Kapal Api sebagai salah satu pesaing yang unggul di industri kopi, gencar melakukan inovasi untuk bersaing dengan kompetitor-kompetitornya di industri minuman kopi instan, yaitu dengan mengeluarkan berbagai macam varian produk kopi instan kepasaran, seperti, Kapal Api Special Mix, Kapal Api Kopi Susu, Kapal Api Mocca, dan Kapal Api Rasa Mantap. Kuatnya daya saing Kapal Api ini menjadi perlu diperhatikan oleh Top Kopi sebagai pendatang baru. Kuatnya daya saing Kapal Api juga dapat dilihat dari hasil riset yang dilakukan oleh Top Brand pada Tabel 4.

Tabel 4 Top Brand Index kopi 2013

No Merek Top Brand Index (TBI) (%)

1 Kapal Api 52.9

2 ABC 24.8

3 Torabika 6.5

4 Luwak 3.8

5 Sidikalang 2.3

6 Top Kopi 1.9

Tabel 4 menunjukkan bahwa Kapal Api menempati urutan pertama pada brand kopi. Hal ini dapat dilihat dari nilai TBI dari Kapal Api adalah sebesar 52.9 persen, sedangkan nilai TBI Top Kopi berada pada urutan ketujuh dengan nilai 1.9 persen. merek yang rendah akan mempengaruhi persepsi konsumen terhadap produk, karena dengan merek yang kuat akan membangun citra yang akan memberikan keyakinan, jaminan mutu, serta prestise tertentu pada konsumen

(18)

Berdasarkan penjelasan di atas permasalahan-permasalahan yang menjadi pedoman peneliti dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai berkut:

1. Bagaimana karakteristik dan pola konsumsi konsumen Top Kopi dan Kapal Api?

2. Bagaimana sikap konsumen terhadap atribut Top Kopi dan Kapal Api ?

Tujuan Penelitian

1. Mengidentifikasi karakteristik dan pola konsumsi konsumen Top Kopi dan Kapal Api.

2. Menganalisis sikap konsumen terhadap atribut Top Kopi dan Kapal Api.

Manfaat Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah memberikan informasi kepada pihak yang berkepentingan mengenai bagaimana sikap konsumen terhadap atribut produknya dan juga melihat bagaimana sikap konsumen terhadap produk pesaingnya, yang dalam hal ini adalah Kapal Api sehingga, dapat mengembangkan produk-produknya melalui penetapan langkah-langkah operasional dalam meningkatkan daya saing di pasar.

Bagi penelitian selanjutnya, penelitian ini dapat digunakan sumber acuan dan perbandingan dalam penelitian lebih mendalam lagi mengenai preferensi konsumen bubuk kopi instan.

Bagi peneliti, penelitian ini memiliki banyak manfaat sebagai penambah wawasan dan sebagai wadah dalam penerapan ilmu selama dibangku kuliah.

Ruang Lingkup Penelitian

(19)

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Umum Komoditi Kopi

Kopi merupakan tanaman perkebunan yang memiliki genus Coffea. Tanaman kopi pertama kali ditemukan di daerah Ethiopia. Tanaman ini menyebar ke negara Arab, Persia hingga tumbuh subur di negara Yaman dan juga termasuk di Indonesia. Tanaman kopi termasuk tumbuhan tropik yang sangat mampu melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan keadaan kawasan dengan menghendaki tumbuh pada suhu di atas 35oC dan sebaliknya suhu dingin-beku (frost) dapat merusak panen bahkan mematikan tanaman kopi (Siswoputro, 1993).

Di Indonesia, tanaman kopi diperkenalkan pertama kali oleh VOC pada periode tahun 1696-1699 dan ditanam di sekitar Jakarta. Perkebunan kopi berskala besar menyebar ke daerah Lampung, Sumatra Barat, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bali, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Musim panen kopi di Indonesia tidak serentak sama waktunya, dimulai dari daerah bagian barat terus disusul panen di daerah-daerah timur. Musim panen mulai dari kebun-kebun kopi di Aceh, terus Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, bersamaan di Jawa Timur dan Sulawesi dan terus ke timur. Berlangsung mulai bulan April sampai Oktober setiap tahun (Siswoputro, 1993).

Berdasarkan penyebaran kopi yang sangat cepat di Indonesia, menjadikan komoditi ini juga mengalami perkembangan yang cepat. Seiring dengan perkembangan teknologi, pada tahun 2004 telah dikembangkan kopi untuk mengantisipasi isu sadar lingkungan. Kopi sebagai produk minuman, persyaratan ‘kesehatan’ produk tersebut menjadi sangat penting, walaupun produk tersebut relatif masih baru tetapi pasar produk tersebut berkembang cukup pesat, dengan karakteristiknya yang bebas dari berbagai bahan kimia sintetis dan harganya relatif tinggi. Di Indonesia baru satu produsen yang dianggap mampu menghasilkan produk organik yaitu kopi yang diproduksi Gayo Mountain Coffee. Selain itu, Indonesia juga memiliki beberapa macam kopi khas daerah (specialty coffee). Seperti Toraja Coffee, Java Coffee, Sidikalang Coffee, dan Mandailing Coffee (Sumarwan, 2004).

Selain kopi daerah, kopi instan juga sangat berkembang di indonesia. Menurut Departemen Perindustrian RI (Standar Industri Indonesia No. 0724-83), kopi instan adalah produk kering yang mudah larut dalam air dan kopi ini diperoleh seluruhnya dengan cara mengekstrak biji tanaman kopi (Coffea Sp.) yang telah disangrai, hanya dengan menggunakan air. Kopi instan dibuat dari kopi bubuk yang diekstrak dengan menggunakan air (Clark, 1988). Di dalam Encyclopedia Britanica (1983), disebutkan bahwa pada pembuatan kopi instan, sejumlah konsentrasi kopi cair dipekatkan. Hal ini dilakukan dengan menggunakan pengeringan semprot dari konsentrasi kopi tersebut, menggunakan udara panas, mengeringkannya pada keadaan vacuum, atau dengan lyophilization (pengeringan dingin). Operasi dari pembuatan kopi instan lebih kompleks dan beragam pada berbagai perusahaan yang memproduksinya.

(20)

lingkungan tempat tumbuh, dan cara pengolahan. Kopi mengandung kafein yang dapat digolongkan sebagai obat pemacu syaraf pusat yang berguna untuk meningkatkan semangat kerja, melawan kantuk dan keletihan mental (stres). Oleh karena itu, setelah minum kopi seseorang akan merasakan kesegaran psikis (Siswoputro, 1993).

Hasil penelitian WHO menunjukkan bahwa kopi dapat mencegah gejala kanker dan usus besar, tetapi kopi juga mempunyai beberapa efek negatif seperti mendorong peningkatan tekanan darah tinggi dan mempercepat denyut jantung. Oleh karena itu, dengan semakin berkembangnya teknologi pengolahan kopi, kini telah diproduksi kopi bebas kafein yang dikenal dengan istilah free caffeinde caffeinated coffee, sehingga kopi cukup aman untuk dikonsumsi (Siswoputro,1993).

Standar Mutu Kopi

Di Indonesia standar Biji kopi SNI: 2907-2008 merupakan standar legal dalam sistem perdagangan di Indonesia. Saat ini standar tersebut baru berjalan pada tingkat pengambilan sampel/contoh ketika akan melakukan ekspor barang, sedangkan standar yang juga menyebutkan sampai pada tingkat produksi belum banyak berkembang, sehingga pada kopi yang diperdagangkan tersebut memiliki sistem produksi yang terstandar. Lebih spesifik produk tersebut akan memiliki karakter yang berbeda dan teraktualisasi. Diharapkan nilai tambah pada lini on farm akan terakui dan memiliki nilai jual/ tawar yang terus menguat. Tabel 5 yang menunjukkan persyaratan mutu kopi untuk jenis Robusta dan Tabel 5 untuk kopi Arabika.

Tabel 5 Syarat mutu umum biji Kopi Robusta

No Test Kriteria Satuan Persyaratan

A Kadar Kotoran (Ranting, Batu, Tanah Dll) % (w/w) Maks 0.5 B Serangga Hidup - Bebas C Biji Berbau Busuk - Negatif

D

Biji Tidak Lolos Ayakan 3 Mm X 3 Mm

(8 Mesh) % (w/w) Maks lolos 1

E

Biji Ukuran Besar, Tidak Lolos Ayakan

3.5 Mesh % (w/w) Maks lolos 1

F Kadar Air % (b/b) Maks 13 Sumber: Bank Indonesia, 2011

(21)

Tabel 6 Syarat mutu umum biji Kopi Arabika

No Test Kriteria Satuan Persyaratan

A Kadar Air % (w/w) Maks 12

B

Kadar Kotoran (Ranting,

Baru,Tanah, Dll % (w/w) Maks 0.5 C Serangga Hidup - Negatif

D

Biji Berbau Busuk Dan Berbau

Kapang - Bebas E Biji Ukuran Besar (Ayakan 7.5Mm) % Maks.2.5

F

Biji Ukuran Sedang (Lolos Ayakan

7.5 Mm % Maks.2.5

G

Biji Ukuran Kecil (Lolos Ayakan 6.5

Mm) % Maks.2.5 Sumber: Bank Indonesia,2011

Pada Tabel 6 menunjukkan syarat mutu umum biji kopi jenis Arabika. Untuk menentukan biji kopi Arabika yang memiliki kualitas yang baik, syarat mutu yang telah ditentukan apabila, kadar air maksimal 12 persen, kadar kotoran maksimal 0.5 persen, tidak terdapat serangga hidup, biji kopi bebas dari bau busuk dan berbau kapang, biji ukuran besar lolos ayakan dengan ukuran 7.5 Mm maksimal 2.5 persen, untuk biji ukuran sedang dengan lolos ayakan ukuran 7.5 Mm jumlahnya maksimal 2.5 persen dan biji ukuran kecil dengan lolos ayakan memiliki ukuran 6.5 Mm jumlahnya maksimal 2.5 persen.Berdasarkan Komite Akreditasi Nasional (AKN,2011), adapun manfaat yang diperoleh dengan adanya standar mutu kopi adalah4:

a. Bagi produsen/petani: Unit produksi akan masuk dalam sistem standart yang legal dan akan memiliki nilai tambah.

b. Bagi pedagang/eksportir: Dengan adanya kopi yang memiliki label SNI lebih mudah untuk menawarkan. Tidak terjadi bias persepsi dalam menentukan mutu.

c. Bagi Negara/regulator: kopi akan memiliki nilai jual dan nama yang baik diantara produsen/pembeli kopi dan kakao dunia serta melakukan pembinaan pada pemangku kepentingan terkait.

Studi Pustaka Tentang Minuman

Penelitian terdahulu tentang preferensi konsumen terhadap minuman dilakukan oleh Priyatno (2011). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis preferensi konsumen terhadap atribut kopi bubuk dan kopi instan, bagaimana korelasi antara atribut-atribut kopi bubuk dan kopi instan dan faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi konsumen kopi. Penelitian ini menggunakan alat analisis Man-Whitney, Chi-square, Fishbien, dan Rank-spearman. Hasil penilaian responden adalah secara keseluruhan, sikap konsumen terhadap kopi langsung siap seduh terutama kopi bubuk lebih positif dibandingkan dengan sikap

(22)

konsumen terhadap kopi instan dan korelasi atribut dengan preferensi konsumen membantu konsumen dalam pemasaran produk yang dikembangkan oleh produsen olahan kopi. Berdasarkan uji Rank-spearman, untuk konsumen bubuk instan beberapa atribut yang berkorelasi positif adalah harga, merek, kemasan, ampas, kemudahan memperoleh produk, komposisi dan aroma, sedangkan untuk kopi bubuk atribut yang memiliki korelasi dengan preferensi adalah harga, kemasan, ampas, rasa manis, kekentalan, dan kualitas. Untuk uji Chi-square, uji hubungan variabel demografi dengan preferensi, dari konsumen kopi instan variabel pendidikan dan jumlah keluarga berpengaruh terhadap preferensi kopi instan, sedangkan untuk kopi bubuk tidak ada yang berpengaruh terhadap preferensi konsumen.

Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Tambunan (2001). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana perilaku konsumen terhadap teh siap saji. Penelitian ini menggunakan alat analisis Fishbein dan biplot. Adapun penilaian responden yang dianggap penting mengenai evaluasi dan penilaian kepercayaan terhadap atribut pada teh siap saji yaitu (berdasarkan urutan tingkat kepentingan) citarasa teh murni, ketersediaan, aroma, rasa manis, isi (volume), warna, harga, kemasan, merek, dan rasa pahit. Responden menyatakan bahwa manfaat yang diperoleh dari minuman teh siap saji adalah dari kepraktisannya dan umumnya mereka mengkonsumsi produk tersebut pada saat dalam perjalanan. Pengenalan konsumen terhadap produk teh siap saji sebanyak 42.48 persen adalah dari toko/supermarket/warung.

Selanjutnya, Lisiadi (2011) meneliti sikap konsumen terhadap minuman sari buah nutrisari ready to drink (RTD). Alat analisis yang digunakan adalah analisisdeskriptif, Fishbein, dan kesenjangan (GPA). Hasil dari penelitian ini yaitu sebagian besar responden memiliki pendapatan berkisar Rp1000 000-Rp500 000 yang menunjukkan daya beli konsumen yang kuat. Tujuan meminum produk Nurtrisari Ready to drink adalah kepraktisan dan kemudahan dalam mengkonsumsi. analisis sikap skor Fishbein terhadap minuman sari buah Nurtrisari Ready to drink terhadap produk pembandingnya seperti Buavita dan ABC Juice menunjukkan, Nutrisari lebih disukai responden secara keseluruhan daripada produk pembandingnya. Hasil penilaian responden terhadap Nutrisari, produk ini masih memiliki harga yang cukup tinggi dibandingkan kedua produk pembandingnya. Akan tetapi, meskipun Nutrisari merupakan produk follower dari ABC juice dan Buavita, produk ini memiliki penilaian kepercayaan dari tingkat kinerja yang tinggi, disusul Buavita dan ABC Juice.

Sejalan dengan Adityo (2006), penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sikap konsumen terhadap Frestea, Tekita dan Teh Sosro dalamkemasan botol dan

(23)

dilaksanakan oleh perusahaan, sedangkan untuk inovasi dalam produk aroma baru, konsumen kurang menerima produk yang memiliki aroma melati yang kuat dan kemasan yang unik. Akan tetapi, berdasarkan hasil survey yang dilakukan, menyatakan bahwa peningkatan pada aroma teh yang khas lebih dapat diterima oleh konsumen. Konsumen tersebut justru merasa dengan kuatnya aroma melati pada Frestea mengurangi kenikmatan rasa teh yang mereka cari dari sebuah minuman teh kemasan botol dapat diterima maksimal oleh konsumen.

Sementara itu, Munandar, Udin, & Amelia (2003) melakukan penelitian dengan menggunakan alat analisis Fishbein, dengan tujuan untuk menilai evaluasi konsumen terhadap air minum dalam kemasan secara umum dan nilai keyakinan konsumen terhadap beberapa merek air minum dalam kemasan (Aqua, Ades, 2 Tang, Vit, Total, Prima dan Bening). Berdasarkan perhitungan nilai evaluasi, atribut yang dianggap penting oleh konsumen adalah atribut kehigienisan, bau, harga, kemudahan mendapatkan produk, rasa, bentuk kemasan, dan iklan serta citra merek. Oleh karena itu, produsen (pengusaha) air minum dalam kemasan perlu lebih meningkatkan kualitas dari delapan atribut tersebut terutama kehigienisan. Pada ukuran kemasan gelas dan botol dilakukan penilaian skala terhadap enam merek yaitu Aqua, Ades, 2 Tang, Vit, Total, dan Prima. Berdasarkan hasil penelitian, urutan merek yang disukai konsumen untuk ukuran gelas sesuai dengan total nilai sikap konsumen (Ao) adalah merek Aqua, Ades, 2 Tang, Vit, Total, dan Prima. Pada ukuran botol, urutan merek yang disukai konsumen adalah Aqua, Ades, Vit, 2 Tang, Total, dan Prima. Hasil perhitungan untuk ukuran kemasan galon (19 liter) menunjukkan bahwa urutan merek yang disukai komsumen adalah Aqua, Ades, Vit, 2 Tang, Total, Bening, dan Prima. Pada seluruh ukuran kemasan, Aqua adalah merek yang paling disukai konsumen karena dinilai lebih higienis, bau dan rasanya sesuai, bentuk kemasannya menarik, mudah didapat, promosinya menarik, dan memiliki citra merek yang baik.

Demikian juga penelitian yang dilakukan Wahyudian, Sumarwan, & Hartoyo (2004). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana positioning merek kopi di mata konsumen terhadap beberapa atribut kopi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam mengkonsumsi kopi. Secara umum analisis data dilakukan dengan menggunakan software SAS (Statistical Analysis System). Namun, dengan beberapa pertimbangan untuk kepraktisan, analisis data dilakukan pula dengan menggunakan software SPSS (Statistical Package for Social Sciences). Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah biplot dan regresi berganda. Hasil penelitian ini menjelaskan, pada dasarnya responden tidak mengkonsumsi kopi karena menderita penyakit tertentu dan alasan konsumen mengkonsumsi kopi karena untuk mengurangi rasa kantuk, hanya merupakan kebiasaan, dan untuk menyegarkan badan.Berdasarkan penilaian yang di dapat dari responden alasan utama konsumen membeli merek tertentu didasari pada rasa kopi yang enak dan aroma yang khas. Faktor utama responden mengkonsumsi kopi karena faktor lingkungan keluarga dan usia. Adapun hasil survey yang dilakukan terhadap responden merek kopi yang paling banyak dikonsumsi adalah Kapal Api dan Nescafe.

(24)

Tambunan (2002), Lisiadi (2011), Adityo (2006), dan Munandar et al (2003), keempat peneliti tersebut menggunakan alat analisis multiatribut Fishbein, sedangkan pada penelitian yang dilakukan Wahyudian, Sumarwan, & Hartoyo

(2004), menggunakan alat analisis regresi berganda dan biplot. Multiatribut Fishbein

digunakan pada penelitian saat ini adalah untuk menganalisis preferensi konsumen terhadap kopi bubuk instan Top Kopi dan Kapal Api. Persamaan lain dengan penelitian terdahulu juga terdapat pada lokasi penelitian yaitu, penelitian yang dilakukan Adityo (2006), menggunakan alat analisis Rank spearman, Mann-Whitney. Perbedaan yang terdapat dengan penelitian terdahulu yaitu waktu, dan objek penelitian yang akan diteliti. Objek penelitian yang akan diteliti adalah kopi bubuk instan Top Kopi dan Kapal Api, sedangkan objek yang menjadi penelitian terdahulu adalah kopi instan dan kopi bubuk semua merek, teh siap saji, minuman sari buah, Freshtea, Tekita, Teh Sosro, dan Air Minum dalam Kemasan.

KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka Pemikiran Teoritis

Konsumen

Konsumen adalah orang yang melakukan tindakan menghabiskan nilai barang dan jasa setelah mengeluarkan sejumlah biaya. Tujuan utama dari mengkonsumsi barang dan jasa adalah memenuhi kebutuhan dan diukur sebagai kepuasan yang diperoleh serta besarnya kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi suatu barang dan jasa terhadap biaya yang dikeluarkan (Kotler, 2000).

Surmawan (2003) membagi dua jenis konsumen yaitu konsumen individual dan konsumen organisasi. Jenis pertama yaitu konsumen individu, meliputi konsumen yang membeli barang dan jasa untuk digunakan sendiri, digunakan oleh anggota keluarga yang lain, atau untuk diberikan kepada orang lain sebagai hadiah atau pemberian. Dalam konteks barang dan jasa yang dibeli kemudian digunakan langsung oleh individu sering disebut sebagai “pemakai akhir” atau “konsumen akhir”.

Perilaku Konsumen

(25)

antara afeksi dan kognisi, perilaku dan kejadian di sekitar; serta (3) melibatkan pertukaran.

Sikap

Sikap menurut Engel et al. (1994) merupakan evaluasi menyeluruh yang memungkinkan orang merespon dengan cara menguntungkan secara konsisten dengan obyek atau alternatif yang diberikan. Sikap kerap terbentuk sebagai hasil dari kontak langsung dengan obyek sikap.

Lebih jauh lagi sikap dikonseptualisasikan sebagai perasaan positif atau negatif terhadap merek dan dipandang sebagai hasil dari penilaian merek dan atribut evaluatif yang penting. Sikap disebut juga sebagai konsep yang paling khusus dan sangat dibutuhkan dalam psikologis sosial kontemperor. Menurut Thurstone (1993), dikutip oleh Setiadi (2010), sikap adalah sebagai salah satu konsep yang cukup sederhana yaitu jumlah pengaruh yang dimiliki seseorang atas atau menentang suatu objek, sedangkan Allport (1937), mengajukan definisi yang lebih luas, bahwa sikap adalah suatu mental dan syaraf sehubungan dengan kesiapan untuk menanggapi, diorganisasikan melalui pengalaman dan memiliki pengaruh yang mengarahkan atau dinamis terhadap perilaku. Definisi ini mengadung makna bahwa sikap adalah mempelajari kecenderungan memberikan tanggapan terhadap suatu objek baik disenangi maupun tidak disenangi secara konsisten. Ditambahkan oleh Boove dan Thili (1992), sikap relevan terhadap perilaku pembelian yang ditampilkan oleh sikap yang terbentuk sebagai hasil dari pengalaman langsung individu dengan produk, berdasarkan informasi yang diberikan oleh pihak ataupun pengetahuan yang diperoleh dari media massa.

Perilaku mnegacu pada pembeliaan konsumen dan pola penggunaan untuk produk dan jasa yang dimiliki. Kebutuhan informasi biasanya berfokus pada apa yang dibeli, berapa banyak, dimana, dan kapan pembeliaan dilakukan, situasi dan kondisi yang melingkupi pembeliaan, serta karakteristik pembeli (Schiffman and Kanuk, 2000).

Penataan sikap (attitude scalling) merupakan istilah yang biasa dipakai untuk mengacu pada proses pengukuran sikap. Penataan skala sikap dalam pemasaran cenderung berfokus pada pengukuran keyakinan respon tentang atribut-atribut produk (komponen kognitif) dan perasaan responden tentang daya tarik aribut-atribut ini (komponen aektif). Kombinasi keyakian dan perasaan biasanya diasumsikan untuk menentukan niat membeli (komponen perilaku). Model sikap multiatribut dapat digunakan untuk mengetahui hubungan pengetahuan produk yang dimiliki konsumen dengan sikap terhadap produk berkenaan dengan ciri atau atribut produk ( Engel, et al., 1994).

Pola Konsumsi

(26)

desa-kota dari rumah tangga yang bersangkutan. Pola konsumsi pangan juga dipengaruhi oleh karakteristik rumah tangga yaitu jumlah anggota rumah tangga, struktur, umur, jenis kelamin, pendidikan dan lapangan pekerjaan.

Menurut Harper, Deaton dan Drisket (1985) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pola konsumsi makanan rumah tangga. Faktor tersebut antara lain pendapatan dan pengetahuan gizi. Kebiasaan pola konsumsi tercermin dalam kebudayaan keluarga yang biasa disebut “gaya hidup” (lifestyle). Sudiarti (1997) menyatakan bahwa “gaya hidup” merupakan hasil interaksi berbagai indikator ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan hidup. Indikator-indikator tersebut antara lain adalah: (a) indikator ekonomi, yaitu pendapatan yang selanjutnya akan mempengaruhi daya beli dan ketersediaan uang kontan untuk membeli pangan; (b) indikator sosial, yaitu pendidikan, pengetahuan gizi atau kesehatan dan struktur rumah tangga yang meliputi jumlah anggota rumah tangga, dan pengambilan keputusan dalam rumah tangga; (c) indikator budaya, yaitu jenis suku, kepercayaan dan agama. Lebih lanjut dijelaskan, bahwa yang termasuk budaya adalah cara-cara seseorang dalam berpikir, berperasaan dan berpandangan tentang makanan.

Atribut

Atribut produk merupakan penilaian tersendiri, bagi konsumen yang akan mempengaruhi penilaian mereka seutuhnya, terhadap produk yang bersangkutan. Konsumen melakukan penilaian dengan mengadakan evaluasi terhadap atribut produk dan memberikan kekuatan kepercayaan konsumen terhadap atribut yang dimiliki oleh suatu produk.

Menurut Engel et al (1994), atribut produk merupakan karakteristik suatu produk yang berfungsi sebagai atribut evaluatif selama pengambilan keputusan, dimana atribut tersebut tergantung pada jenis produk dan tujuannya.

Menurut Kotler (2001), atribut produk adalah mutu ciri (keseluruhan ciri serta sifat dari suatu produk yang berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan) dan model produk (produk yang melaksanakan fungsinya meliputi keawetan, keandalan, ketepatan, kemudahan dipergunakan, dan diperbaiki serta atribut lain).

Dalam mengevaluasi atribut produk, ada dua sasaran pengukuran yang penting, yaitu, (1) mengidentifikasi kriteria evaluasi yang mencolok dan (2) memperkirakan saliensi relatif dari masing-masing atribut produk (Engel, 1994). Kriteria evaluasi yang mencolok ditentukan dengan menggunakan atribut yang menduduki peringkat tertinggi. Saliensi biasanya diartikan sebagai kepentingan dan berbagai kriteria evaluasi. Kekuatan kepercayaan konsumen terhadap atribut produk, dicerminkan oleh pengetahuan konsumen terhadap suatu produk atau manfaat yang diberikan oleh suatu produk.

(27)

Kekuatan kepercayaan konsumen terhadap atribut produk merupakan kekuatan harapan dan keyakinan konsumen terhadap atribut yang dimiliki oleh suatu produk. Adapun atribut-atribut yang digunakan di dalam penelitian ini adalah merek, kemudahan memperoleh produk, harga, ampas, iklan, penghilang rasa kantuk, aroma, kualitas, kekentalan, kekuatan warna, dan kemasan.

Kerangka Pemikiran Operasional

Pola konsumsi manusia setiap tahun akan mengalami perubahan seiring dengan perkembangan jaman. Kebutuhan akan produk akan semakin bertambah seiring dengan pertambahan jumlah penduduk serta kemajuan teknologi yang berpengaruh kepada perubahan gaya hidup dan tren. Kemudahan akan sebuah produk akan menjadi prioritas konsumen. Demikian halnya dengan produk kopi, Seiring dengan meningkatnya aktivitas orang yang semakin tinggi dan keadaan tren dalam gaya hidup serta mobilitas yang tinggi, maka banyak konsumen lebih memilih meminum kopi bubuk instan. Keadaan ini mendorong berkembangnya industri pengolahan kopi instan di Indonesia. Perubahan pola konsumsi ini menuntut perusahaan pengolahan kopi untuk meningkatkan inovasi dalam produknya. Perusahaan berusaha menangkap permintaan pasar kopi yang menyebabkan persaingan ketat diantara pesaing lainnya.Tingginya persaingan industri yang terjadi, maka perusahaan harus lebih mendalami perilaku konsumen sebagai sasaran penting dalam penawaran produknya.

Kopi yang dianggap sesuai dengan keinginan konsumen akan di pilih konsumen. Perbedaan kriteria dalam menentukan pilihan kopi yang menyebabkan adanya perbedaan dalam sikap konsumen dalam mengkonsumsi kopi. Salah satu faktor yang menyebabkan adanya perbedaan tersebut yaitu keberadaan atribut yang melekat pada produk tersebut, contohnya adalah atribut merek adalah salah satu indikator yang dapat mempengaruhi sikap konsumen terhadap suatu produk. Kecenderungan konsumen kopi lebih loyal terhadap satu merek merupakan indikator adanya kekuatan merek. Harga juga merupakan pendukung apakah produk tersebut memberikan manfaat bagi konsumen karena harga merupakan indikator bagi perolehan nilai suatu produk bagi konsumen. Harga yang kompetitif tentunya diminati konsumen akan tetapi, jika perusahaan ingin menarik pangsa pasar yang lebih banyak, maka harga tidak dapat dijadikan faktor utama dalam proses pembelian. Harga secara positif akan mempengaruhi sikap konsumen untuk membeli namun, tidak memastikan bahwa produk tersebut akan dibeli oleh konsumen (willingness to buy). Namun, jika didukung dengan merek yang unggul, maka kepercayaan konsumen akan suatu produk akan mempengaruhi preferensi dalam membeli. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut atribut apa saja yang mempengaruhi konsumen dalam membeli kopi, sehingga tujuan dilakukannya penelitian ini dapat terlihat jelas yaitu untuk mengetahui karakteristik konsumen. Kemudian menilaipreferensi konsumen terhadap atributi.

(28)

kekuatan warna, dan kemasan. Dalam penentuan atribut menggunakan sumber acuan dari Priyatno (2011), sedangkan untuk penentuan karakteristik konsumen, diacu dari penelitian Adityo (2006). Penelitian ini menggunakan alat analisis Multiatribut Fishbein dan The Mann Whitney-U Test. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari kerangka pemikiran operasional berikut:

Gambar 3 Kerangka Pemikiran Sikap Konsumen Terhadap Kopi Bubuk Instan Top Kopi

Variabel 1. Usia

2. Pendidikan terakhir 3. Status pernikahan 4. Pekerjaan

5. Pendapatan perbulan 6. Frekuensi pembelian dalam

seminggu

7. Pertimbangan membeli 8. Motivasi membeli

2. kemudahan memperoleh produk

3. Harga 4. Ampas 5. Iklan

6. Penghilang rasa kantuk 7. Aroma

8. Kualitas 9. Kekentalan 10. kekuatan warna 11. kemasan PELUANG INDUSTRI KOPI

BUBUK INSTAN

1. Perubahan pola konsumsi konsumen yang

mengutamakan kemudahan dalam mengkonsumsi kopi 2. Industri Kopi Bubuk Instan

berpotensi untuk dikembangkan

KENDALA YANG DIHADAPI TOP KOPI

1. Jumlah industri minuman kopi yang semakin meningkat

2. Banyaknya produk-produk kopi bubuk instan yang sejenis menjadi kendala bagi peningkatan pangsa pasar Top Kopi.

3. Kecenderungan konsumen kopi yang sulit berpindah dari satu merek kopi yang telah dipilih menjadi tantangan besar bagi Top Kopi dalam merebut perhatian konsumen

(29)

METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di wilayah Kota Bogor. Letak kota yang strategis secara ekonomi dan jumlah penduduk yang cukup tinggi serta aktivitas yang sangat tinggi, menjadi landasan utama dalam penentuan lokasi penelitian. Waktu penelitian dilakukan mulai tanggal 26 Februari 2013. Pemilihan lokasi dilakukan dengan sengaja (purposive )yang meliputi daerah seputar Jalan baru, sepanjang Jalan Pajajaran, Jalan Surya Kencana, dan sekitar daerah Ekalokasari Plaza yang merupakan salah satu jalan utama yang melintasi Kota Bogor, yang memiliki tingkat keramaian yang tinggi, dan jumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) serta Warung kopi yang banyak. Daerah tersebut dekat dengan perkantoran, yang memungkinkan para pekerja maupun yang sedang memintas jalan tersebut singgah di warung kopi maupun PKL.

Jenis Dan Sumber Data

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden yang digunakan sebagai sampel dari penelitian. Data primer diperoleh melalui hasil pengisian kuesioner yang dilakukan dalam bentuk wawancara kepada responden. Adapun instrumen pengumpulan data berupa, penyebaran kuesioner. Data sekunder adalah data yang diperoleh tidak langsung menjawab pertanyaan dalam penelitian. Akan tetapi, dapat digunakan sebagai data pendukung penelitian yang dilakukan. Untuk data sekunder, diperoleh dari studi literatur, yang berhubungan dengan topik penelitian, yang didapat dari Biro Pusat Statistik, Departemen Pertanian, buku-buku perilaku konsumen, artikel, dan buku lainnya yangberhubungan dengan topik penelitian.

Penarikan Sampel dan Model Pengumpulan Data

Adapun metode yang digunakan dalam penarikan sampel dalam penelitian ini adalah non probability sampling dengan teknik convenient sampling, dimana pengambilan sampel langsung dari unit sampel yang ditemui, dengan menggunakan kriteria-kriteria, yang telah dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti (Nazir, 2003) yaitu:

1. Memilih konsumen yang bersedia diwawancarai, dengan panduan kuesioner yang telah disediakan.

2. Konsumen yang menjadi responden adalah konsumen yang pernah mengkonsumsi Top Kopi dan Kapal Api dan pernah melakukan pembelian dan mengkonsumsinya minimal dua kali. Pemilihan ini diharapkan agar responden yang dijadikan sampel dapat mendeskripsikan produk dengan akurat dan dapat mendeskripsikan aspek-aspek yang akan diteliti.

(30)

pada keempat wilayah tersebut dianggap telah mewakili responden di Kota Bogor, berdasarkan jumlah penduduk Kota Bogor di masing-masing kecamatan. Pengambilan sampel mengacu pada rumus Slovin (Umar, 2000), yaitu:

Keterangan:

n = ukuran sampel N = ukuran populasi

e = kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang dapat ditolerir

Untuk ukuran populasi mengacu kepada jumlah penduduk keempat kecamatan tersebut adalah sebanyak 650,427 jiwa. Tingkat kelonggaran sebesar 10 persen, maka jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah sebesar:

n = 650,427

1 + 650,427(0.1)2

n = 99.98 ≈ 100

Dengan demikian, jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 100 responden.Pengambilan responden yaitu 50 responden Kapal Api yang pernah mengkonsumsi kopi bubuk instan dengan varian kopi special mix (kopi+gula) dan 50 responden Top Kopi yang pernah mengkonsumsi kopi dengan campuran kopi+gula.

Selanjutnya dari total responden, 100 orang di bagi ke dalam empat wilayah kecamatan yang akan dijadikan sebagai sampel dalam pengambilan kuesioner tersebut. Jumlah responden untuk masing-masing keempat wilayah tersebut diasumsikan sudah dapat mewakili responden Kota Bogor. Tabel 7 menunjukkan sebaran jumlah responden di wilayah Kota Bogor.

n = �

(31)

Tabel 7 Sebaran penduduk kota bogor dan jumlah responden 4 wilayah kecamatan di kota bogor, 2011

Wilayah Bogor Tempat

Jumlah Penduduk

Jumlah Responden

Top Kopi Kapal Api Selatan Daerah

Ekalokasari 184,336 28 14 14

Timur Sepanjang Jalan Pajajaran

96,617 15 8 7

Utara Sepanjang Jalan Surya Kencana

173,732 27

13 14

Tanah Sereal Sepanjang Jalan Baru

195,742 30 15 15

Total 650,427 100 50 50

Sumber: BPS, Kota Bogor, 2011

Metode Pengolahan Data dan Analisis Data

Pengolahan dan analisis data menggunakan empat alat analisis, yaitu analisis deskriptif, Multiatribut Fishbein, dan The Man-Whitney U Test. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis identitas umum responden dan karakteristik responden. Multiatribut Fishbein digunakan untuk memeriksa hubungan antara pengetahuan konsumen akan suatu produk dan sikap terhadap produk tersebut, berkaitan dengan ciri atau atribut produk. Hasil analisis Fishbein selanjutnya diuji dengan menggunakan The Man-Whitney U Test untuk memeriksa perbedaan antara sikap konsumen antara Top Kopi dengan Kapal Api.

Tabel 8 Tujuan penelitian dan alat analisis yang digunakan

Tujuan Penelitian Alat Analisis

1.Mengidentifikasi karakteristik konsumen Top Kopi dan Kapal Api

2.Menganalisis sikap dan perbedaan sikap skonsumen terhadap atribut Top Kopi dengan Kapal Api

Analisis deskriptif

(32)

Metode Analisis Deskriptif

Metode analisis deskripsi merupakan metode analisis meneliti sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang (Nazir 2003). Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap pemberian kuesioner kepada responden, dimana dalam kuesioner tersebut terdapat beberapa pertanyaan mengenai usia, pendidikan, pekerjaan, dan latar belakang responden secara keseluruhan, sehingga peneliti dapat mengetahui karakteristik responden yang diambil. Selanjutnya, data hasil kuesioner yang di dapat dikelompokkan berdasarkan jawaban yang sama dengan karakteristik konsumen yang kemudiaan di analisis dan disajikan dalam bentuk tabulasi deskriptif. Analisis ini diharapkan mampu memberikan output akhir pengolahan.

Uji Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidtan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen dianggap valid, apabila mampu mengukur apa yang diinginkan (Umar, 2005).

Uji validitas ditujukan untuk memperoleh konstruksi atau kerangka suatu konsep yang valid. Apabila terdapat konsistensi antara variabel satu dengan menjawab pertanyaan uji pendahuluan dengan skala yang terdiri dari lima pilihan jawaban, yaitu sangat penting, penting, cukup penting, tidak penting, dan sangat tidak penting,dengan menyebarkan kuisioner kepada 30 orang responden.Kriteria responden adalah orang yang pernah mengkonsumsi Top Kopi atau Kapal Api. Selanjutnya, jawaban akan diolah menggunakan uji validitas dengan menggunakan bantuan software SPSS 17.0 for windows.

Indeks validitas yang diperoleh kemudian di uji tingkat korelasinya. Bila diperoleh �ℎ�����> ������ pada taraf nyata (α) = 0.05, maka pertanyaan pada kuesioner mempunyai validitas konstruk atau terdapat konsistensi internal dalam pernyataan tersebut.

(33)

Tabel 9 Hasil uji validitas pada atribut kopi

Atribut (Variabel) Nilai Korelasi Signifikansi Keterangan

Harga (X1) .532** .002 VALID

Reliabilitas adalah ukuran suatu kestabilan dan konsistensi responden dalam menjawab hal yang berkaitan dengan konstruk-konstruk pertanyaan yang merupakan dimensi suatu variabel dan disusun dalam kuesioner (Nugroho, 2005). Menurut Umar (2000), realibilitas adalah suatu angka indeks yang menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di dalam mengukur gejala yang sama, setiap alat pengukur seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan hasil pengukuran yang konsisten. Uji realibitas digunakan untuk mengetahui keterandalan dari atribut-atribut yang diajukan pada responden dalam kuesioner. Instrumen reliabel akan menghasilkan data yang sesuai dengan kenyataannya, dalam arti beberapa kali pun penelitian diulang dengan instrumen tersebut, akan tetap diperoleh kesimpulan yang sama (Durianto et al. 2004). Pengukuran realibilitas menggunakan rumus

��������ℎ dan alat ukur Cronbcach Alpha, yaitu:

�11=�� −1� �1−∑σ�

�11 = realibilitas instrumen

k = banyak butir pertanyaan

2

�σ = varian total

∑σ�2� = jumlah varian butir

(34)

1. Alpha 0.00-0.20 = tidak reliabel 2. Alpha 0.21-0.50 = kurang reliabel 3. Alpha 0.51-0.60 = cukup reliabel 4. Alpha 0.81-1.00 = sangat reliabel

Semakin tinggi nilai realibilitas maka semakin reliabel sebuah kuesioner. Hasil dari uji reliabilitas pada penelitian ini dapat dilihat pada lampiran 2, diketahui nilai Cronbcach Alphakuesioner adalah 0.721. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan pada penelitian ini cukup reliabel jika digunakan beberapa kali dalam waktu yang berbeda untuk mengukur objek yang sama akan menghasilkan data yang sama.

Analisis Sikap Multiatribut Fishben

Analisis ini digunakan untuk menganalisis sikap sampel konsumen kopi terhadap atribut Top kopi dan Kapal Api. Model Multiatribut Fishbein dapat mengemukakan sikap konsumen terhadap objek tertentu didasarkan pada perangkat kepercayaan yang diringkas mengenai atribut objek bersangkutan yang diberi bobot oleh evaluasi terhadap atribut ini (Engel et al., 1994). Alat analisis ini mampu memeriksa hubungan antara tingkat kepentingan sampel konsumen kopi dengan tingkat kepercayaan yang diberikan sampel konsumen kopi terhadap berbagai atribut yang melekat pada produk kopi. Menurut Engel et al (1994) Multiatribut Fishbein dituliskan:

A0 =�b1e1

�=1

Dimana:

A0 : sikap terhadap suatu objek

b1 : Kekuatan kepercayaan bahwa objek tersebut memiliki atribut i

e1 : Evaluasi terhadap atribut i

N : jumlah atribut yang dimiliki objek

Adapun langkah-langkah dari pengukuran sikap konsumen dengan model Multiatribut Fishbein adalah:

1. Menetukan atribut dari suatu produk.

2. Membuat pertanyaan untuk mengevaluasi tingkat kepentingan konsumen (e1) terhadap atribut produk.

3. Membuat pertanyaan untuk mengukur tingkat kepercayaan konsumen (b1) 4. Mengukur sikap konsumen terhadap atribut produk dengan bantuan software

Microsoft Office Excel.

5. Kemudian menganalisis data yang didapatkan dengan mengalikan antara skor tingkat kepercayaan (bi) rata-rata dengan skor evaluasi (ei) rata-rata sehingga di dapat nilai sikap (Ao) secara keseluruhan yang kemudian dijumlahkan untuk mengetahui sikap konsumen terhadap produk tersebut.

(35)

kekentalan, rasa manis, dan kekuatan warna. Data diukur menggunakan skala likert lima angka. Menurut Kinnear dalam Umar (2000), skala likert berhubungan dengan pernyataan sikap seseorang terhadap sesuatu, misalnya setuju tidak setuju, senang tidak senang, serta baik tidak baik. Skala likert beserta skor jawaban responden tersaji di bawah ini.

Sangat Tidak Penting :__:__:__:__:__: Sangat Penting 1 2 3 4 5

Untuk lebih jelasnya, berikut contoh Skor evaluasi (ei) untuk setiap atribut pada analisis Fishbein dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Skor evaluasi (ei) untuk setiap atribut pada analisis Fishbein

Atribut Evaluasi

Sangat Tidak Netral Penting Sangat Tidak Penting Penting Penting

Merek Kemudahan- memperoleh produk harga

Ampas Iklan

Penghilang rasa kantuk Kesegaran

Aroma Kualitas Kekentalan kekuatan warna

Sementara itu, untuk komponen kepercayaan(bi), bertujuan untuk menggambarkan seberapa kuat konsumen percaya bahwa merek tertentu memiliki atribut yang diberikan. Kepercayaan biasanya diukur pada skala dengan 5 angka dari kemungkinan yang disadari yang berjajar dari sangat baik hingga sangat tidak baik. Skala kepercayaan untuk komponen bi dapat dilihat di bawah ini.

Sangat Tidak Baik :__:__:__:__:__: Sangat Baik 1 2 3 4 5

Perlu diingat sewaktu menafsirkan hasil ini bahwa skala ei dan bi berkisar dari skor maksimum 5 hingga skor minimum 1.

(36)

Tabel 11 Skor kepercayaan (bi) untuk setiap atribut pada analisis Fishbein

Atribut Evaluasi

Sangat Tidak Netral Baik Sangat Tidak Baik Baik Baik

Merek Kemudahan- memperoleh produk harga

Ampas Iklan

Penghilang rasa kantuk Aroma

Kualitas Kekentalan kekuatan warna kemasan

Berikut adalah contoh pengukuran tingkat kepentingan (ei) dan kepercayaan (bi) terhadap atribut harga.

a. Pengukuran Kepentingan : Menurut anda seberapa besar tingkat kepentingan harga kopi yang sedang anda konsumsi?

Sangat Tidak Penting :__:__:__:__:__: Sangat Penting 1 2 3 4 5

b. Pengukuran Kepercayaan : Seberapa besar rasa pahit kopi yang sedang anda minum?

Sangat Tidak Pahit :__:__:__:__:__: Sangat Pahit 1 2 3 4 5

Sebelum dilakukan interpretasi, terlebih dahulu ditentukan range atau selang penilaian dengan menggunakan rumus:

Skala Interval = �−�

Dimana:

m = Angka tertinggi dalam pengukuran n = Angka terendah dalam pengukuran

b = Banyaknya kelas interpretasi yang akan dibentuk

jika angka pengukuran tertinggi pada skala likert= 5 dan angka terendahnya = 1, maka besarnya range untuk tingkat kepentingan dan tingkat pelaksanaan adalah:

5−(1)

5 = 0.8

Dengan demikian, pembagian kelas berdasarkan tingkat kepentingannya adalah :

(37)

d. (3.41)-(4.20) = Penting

e. (4.21)-(5.00) = Sangat penting

Sementara itu `pembagian kelas berdasarkan tingkat kepercayaan adalah: a. (1)-(1.80) = sangat tidak baik

b. (1.81)-(2.60) = tidak baik c. (2.61)-(3.40) = Netral d. (3.41)-(3.40) = baik

e. (4.21)-(5.00) = Sangat baik

Interpretasi hasil juga menggunakan bantuan teknik pemetaaan sikap yang disajikan dalam bentuk tabel dan grafik, dengan tujuan untuk mengetahui sikap sampel konsumen kopi terhadap atribut Top Kopi dengan Kapal Api.

Skor sikap (Ao) merupakan hasil perkalian antara tingkat kepentingan dan tingkat pelaksanaan. Besar range untuk kategori sikap dapat ditentukan dengan menggunakan perhitungan:

[(5x5)−(1x1)]

5 = 4.8

Dengan demikian, pembagian kelas berdasarkan sikap (Ao) adalah: a. (1)-(5.8) = sangat tidak suka

b. (5.9)-(10.6) = tidak suka c. (10.7)-(15.4) = Netral d. (15.5-20.2) = suka

e. (20.3-25) = Sangat suka

Sementara itu, untuk menilai sikap (Ao) total, nilai range ditentukan oleh perhitungan sebagai berikut:

[(25x10)−(1x10)]

5 = 48

Dengan demikian, diperoleh pembagian keatas pada Ao total sebagai berikut:

a. (11)-(63.8) = sangat tidak suka b. (63.9)-(116.6) = tidak suka c. (116.7)-(169.4)= Netral d. (169.5)-(222.2)= suka

e. (222.3)-(275) = Sangat suka

The Mann-Whitney U-Test

(38)

apakah terdapat persamaan preferensi antara sikap sampel konsumen Top Kopi dengan sikap sampel Kapal Api.

Rumus The Mann-Whitney U Test adalah sebagai berikut: U=�12 +�1(�1+1)

2 − �1

R1 adalah jumlah ranking yang diberikan pada kelompok yang ukuran sampel �1.Nilai dari hasil The Mann-Whitney U Test selanjutnya di uji signifikansinya menggunakan uji z dengan prosedur pengujian sebagai berikut: Menetukan hipotesis nol dan hipotesis alternatif:

�0= Terdapat persamaan sikap antara sampel konsumen Top Kopi dengan sampel

konsumen Kapal Api.

�1= Terdapat perbedaan sikap antara sampel konsumen Top Kopi dengan sampel

konsumen Kapal Api. Kriteria pengujian hipotesis:

Ho ditolak bila Zhit > Ztabel atau probabilitas < 0.05 artinya, terdapat persamaan sikap antara sampel konsumen Top Kopi dengan sampel konsumen Kapal Api dan tolak Ho dan sebaliknya apabila Zhit < Ztabel atau probabilitas (Asymp.Sig. (2Tailed) > 5 persen, maka terima Ho. Artinya, tidak terdapat persamaan sikap antara sampel konsumen Top kopi dengan sampel konsumen Kapal Api.

Definisi Operasional

1. Responden adalah penduduk Kota Bogor yang terpilih yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

2. Responden yang digunakan adalah responden yang bersedia untuk diwawancarai

3. Sampel adalah orang yang diwawancarai untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam suatu penelitian. Sampel dalam penelitian ini adalah konsumen yang sedang mengkonsumsi Top Kopi dengan Kapal Api dari umur 17 tahun keatas karena pada usia tersebut responden dianggap sudah mampu dalam meberi penilaian terhadap produk.

4. Pendidikan responden di kategorikan atas SD, SLTP, SMA, Diploma, Sarjana, dan Pasca Sarjana.

5. Pendapatan keluarga perbulan adalah besarnya pendapatan yang diperoleh dalam suatu keluarga setiap bulannya. Penggolongan tingkatan keluarga diukur dengan pendapatan tertinggi dengan pendapatan terendah kemudian dibagi dengan skala yang diinginkan.

6. Konsumen adalah setiap orang yang mengkonsumsi suatu produk atau jasa. Dalam hal ini kopi Top Kopi dengan Kapal Api.

7. Ketersediaan produk adalah ukuran kemudahan konsumen dalam mendapatkan suatu produk yaitu produk Top Kopi dengan Kapal Api.

(39)

9. Karakteristik responden data responden tentang usia, jenis kelamin, status pernikahan, jumlah anggota keluarga, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan. 10. Demografi adalah data responden mengenai umur, pekerjaan, pendapatan per

bulan, dan tingkat pendidikan responden. informasi, pembelajaran, serta perubahan sikap dan perilaku.

11. kopi instan adalah produk kering yang mudah larut dalam air, diperoleh seluruhnya dengan cara mengekstrak biji kopi yang telah disangrai, hanya dengan menggunakan air.

12. Harga, adalah sejumlah uang yang harus dibayarkan konsumen untuk membeli suatu produk.

13. Merek, adalah tingkat kesukaan merek yang disukai oleh konsumen

14. Ampas, adalah serbuk kasar yang berwarna hitam yang ditinggalkan pada kopi saat diseduh.

15. Aroma, adalah sesuatu yang dapat dirasakan oleh indra penciuman pada saat kopi siap diseduh.

16. Kemudahan memperoleh produk,

17. Penghilang rasa kantuk, adalah zat yang terkandung dalam kopi yang dapat menyebabkan orang yang mengkonsumsi semakin segar atau rasa kantuknya hilang.

18. Kekentalan, adalah tingkat preferensi konsumen terhadap keenceran atau kekentalan terhadap produk Top Kopi

19. Kemasan, adalah wadah (tempat) yang membungkus atau mengemas kopi instan.

20. Kualitas, adalah mutu yang terkait pada kopi

21. Kekuatan warna, adalah pengaruh kekuatan warna pada kopi yang dapat mempengaruhi preferensi konsumen.

(40)

Berikut daftar atribut-atribut dugaan dengan skala likert dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12 Berikut daftar ukuran atribut-atribut dugaan dengan skala likert

Atribut Skala Likert

1 2 3 4 5

Merek Sangat tidak terkenal

sangat mahal tidak mahal

cukup Iklan sangat tidak

menarik Aroma sangat tidak

harum Kualitas sangat tidak

bagus tidak bagus

cukup bagus

bagus sangat bagus Kekentalan sangat tidak

kental tidak kental

cukup

tidak pekat cukup pekat

pekat sangat pekat Kemasan sangat tidak

(41)

Indikator Atribut

STB (1) = Sangat Baik TB (2) = Baik

CB (3) = Cukup Baik B (4) = Baik

SB (5) = Sangat Baik 1. Harga

STB = Harga kopi sangat tidak sesuai dengan kualitas yang diberikan TB = Harga kopi tidak sesuai dengan kualitas yang diberikan

CB = Harga kopi cukup sesuai dengan kualitas yang diberikan B = Harga kopi sesuai dengan kualitas yang diberikan SB = Harga kopi sangat sesuai dengan yang diberikan

2. Merek

STB =Ketika mendengar merek kopi tersebut saya sama sekali tidak pernah mengetahui merek kopi tersebut

TB = Ketika mendengar merek kopi tersebut saya tidak pernah mengetahui merek kopi tersebut

CB =Ketika mendengar merek kopi tersebut saya sama seperti pernah mengetahui merek kopi tersebut

B = Ketika mendengar merek kopi tersebut saya sama mengenalinya SB =Ketika mendengar merek kopi tersebut saya sangat mudah mengenalinya 3. Ampas

STB = Ampas kopi sangat banyak dan sangat menggangu saat diseduh TB = Ampas kopi banyak dan menggangu saat diseduh

CB = Ampas kopi sedang dan tidak terlalu menggangu saat diseduh B = Ampas kopi sedikit dan tidak menggangu saat diseduh

SB = Ampas kopi sangat sedikit 4. Aroma

STB = Aroma kopi sangat tidak terasa harumnya dan sangat tidak dapat dibedakan dengan aroma kopi lainnya

TB = Aroma kopi tidak terasa harumnya dan tidak dapat dibedakan dengan aroma kopi lainnya

CB = Aroma kopi terasa harum dan cukup khas

B = Aroma kopi terasa harum dan terdapat aroma yang khas SB = Aroma kopi sangat terasa harum dan sangat khas 5. Penghilang rasa kantuk

STB= Kopi yang dikonsumsi sama sekali tidak berpengaruh dalam kesegaran tubuh

TB = Kopi yang dikonsumsi tidak berpengaruh dalam kesegaran tubuh CB = Kopi yang dikonsumsi cukup berpengaruh dalam kesegaran tubuh B = Kopi yang dikonsumsi berpengaruh dalam kesegaran tubuh

SB = Kopi yang dikonsumsi sangat berpengaruh dalam kesegaran tubuh 6. Kekentalan

(42)

TB = Kopi yang saat diseduh terlihat encer atau warna kopi tidak hitam CB = Kopi yang saat diseduh terlihat cukup encer atau berwarna cukup hitam B = Kopi yang saat diseduh terlihat kental atau berwarna hitam

SB = Kopi yang saat diseduh terlihat sangat kental atau berwarna hitam pekat 7. Kualitas

STB= Kopi yang ditawarkan sangat tidak memuaskan setelah dikonsumsi TB = Kopi yang ditawarkan tidak memuaskan setelah dikonsumsi CB = Kopi yang ditawarkan cukup memuaskan setelah dikonsumsi B = Kopi yang ditawarkan sangat memuaskan setelah dikonsumsi 8. Kemasan

STB =Kemasan memiliki desain, warna, gambar yang sangat tidak menarik SB = Kemasan memiliki desain, warna, gambar yang tidak menarik CB = Kemasan memiliki desain, warna, gambar yang cukup menarik B = Kemasan memiliki desain, warna, gambar yang menarik

SB = Kemasan memiliki desain, warna, gambar yang sangat menarik 9. Warna

STB = Jika warna kopi sangat tidak pekat TP = Jika warna kopi sangat tidak pekat CB = Jika warna kopi cukup pekat B = Jika warna kopi sangat pekat SB = Jika warna kopi sangat pekat 10.Iklan

STB = Iklan yang ada di media cetak maupun elektronik sangat tidak menarik dan sama sekali tidak tertarik untuk membeli

TB = Iklan yang ada di media cetak maupun media elektronik tidak menarik dan tidak tertarik untuk membeli

CB = Iklan yang ada di media cetak maupun media elektronik biasa saja dan sedikit tertarik untuk membeli

B = Iklan yang ada di media cetak maupun media elektronik menarik dan menimbulkan ketertarikan untuk membeli

SB = Iklan yang ada di media cetak maupun media elektronik sangat menarik dan sangat tertarik untuk membeli

11. Kemudahan memperoleh produk

STB = Produk sangat sulit ditemukan dimanapun (Warung/Toko, Supermarket, Minimarket)

TB = Produk sulit ditemukan dimanapun (Warung/Toko, Supermarket, Minimarket)

CB = Produk cukup sulit ditemukan dimanapun (Warung/Toko, Supermarket, Minimarket)

B = Produk mudah ditemukan dimanapun (Warung/Toko, Supermarket, Minimarket)

(43)

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

Letak Geografis Kota Bogor

Kota Bogor secara geografis terletak di antara 106’48’ BT dan 6’26’ LS serta mempunyai rata-rata ketinggian minimal 190 meter dan maksimal 350 meter dengan batas wilayah semuanya berbatasan dengan Kabupaten Bogor. Jarak Kota Bogor dengan Ibu Kota Negara memiliki jarak yang cukup dekat. Kedekatan jarak antara Kota Bogor dengan DKI Jakarta memungkinkan Kota ini dijadikan sebagai kota international.

Dalam Keppers No 54 Tahun 2008 tentang rencana tata ruang wilayah Jabotabek dan Depok, Kota Bogor difungsikan sebagai sebuah Counter management bagi perkembangan DKI Jakarta. Kota Bogor diarahkan sebagai pusat kegiatan wilayah yang memiliki kegiatan utama sebagai kota regional, jasa, pemukiman, dan industri. Parameter sebagai kota international antara lain ditandai oleh peruntukkan sebagian besar lahan untuk mendukung fungsi kota tersebut sebagai kota pemukiman, jasa, perdagangan regional, industri dan wisata ilmiah.

Kota Bogor mempunyai luas wilayah 118,570 km2 dan mengalir beberapa sungai yang letak permukaan airnya jauh di bawah letak permukaaan kota. Sungai tersebut seperti Sungai Ciliwung, Cisadane, Cipakancilan, Cidepit, Cipangi, dan Cibalok. Kondisi iklim di Kota Bogor suhu rata-rata tiap bulan 26’ C dengan suhu terendah 21.8’ C dengan suhu tertinggi 30.4’ C. Kelembapan udara 70 persen, curah hujan rata-rata setiap tahun sekitar 3.500-4000 mm dengan curah hujan terbesar pada bulan Desember dan Januari. Arah mata angin sebagian besar dipengaruhi oleh angin muson, dan untuk bulan Mei sampai dengan Maret dipengaruhi oleh angin muson barat.

Batas Wilayah Kota Bogor dibatasi oleh beberapa kecamatan yang ada di Bogor. Batas sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Cijeruk dan Kecamatan Caringin. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Ciawi. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Bojong Gede dan Kecamatan Kemang dan Kecamatan Dramaga.

Keadaan Umum Demografi Kota Bogor

Gambar

Tabel 2  Luas areal dan produksi kopi Indonesia menurut Jenis tahun 2007- 2011
Tabel 3  Pangsa pasar (market share) industri kopi tahun 2009-2011
Tabel 5  Syarat mutu umum biji Kopi Robusta
Tabel 6  Syarat mutu umum biji Kopi Arabika
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini ditargetkan menghasilkan manfaat berupa luaran yaitu: (a) memberikan bukti empiris mengenai pengaruh kemampuan perencana pembangunan melalui dimensi pendidikan,

2 Lokasi penelitian 4 3 Metode point intercept transect untuk substrat dasar 6 4 Metode transek kuadran untuk rekruitmen karang 6 5 Metode sensus visual untuk ikan herbivora

Data asupan zat gizi di luar asupan sup jamur tiram putih yang meliputi asupan energi total, asam lemak jenuh, karbohidrat sederhana, dan serat diperoleh dari konsumsi makanan

Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah ukuran perusahaan, profitabilitas, kualitas auditor, opini audit dan gender auditor berpengaruh secara simultan terhadap Audit

Kata yang tepat untuk menggantikan kata formulir dalam kalimat tersebut adalah.... Perdebatan kedua belah pihak yang memiliki paradigma yang berbeda tidak akan dapat

Persentase Perubahan Tingkat Nyeri Sendi Tangan Setelah Dilakukan Masase Swedia pada Penderita Artritis di Puskesmas Sungai Besar Banjarbaru Perubahan Tingkat Nyeri

Termasuk yang juga bisa menolong untuk khusyu’ dalam shalat, yaitu tidak mengganggu orang lain dengan bacaan al Qur`an, tidak shalat dengan pakaian atau baju yang ada

Sinergis, terjadi bila campuran obat atau beberapa obat yang diberikan bersama- sama dengan aksi proksimat yang sama menimbulkan efek yang lebih besar dari jumlah efek