PENGARUH PELATIHAN MEMBACA CEPAT
TERHADAP PEMAHAMAN BACAAN
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi
Oleh
YESSY LIANA PUTRI
051301035
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PENGARUH PELATIHAN MEMBACA CEPAT
TERHADAP PEMAHAMAN BACAAN
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi
Oleh
YESSY LIANA PUTRI
051301035
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
SKRIPSI
PENGARUH PELATIHAN MEMBACA CEPAT TERHADAP
PEMAHAMAN BACAAN
Dipersiapkan dan disusun oleh :
YESSY LIANA PUTRI 051301035
Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Pada Tanggal 7 Juli 2011
Mengesahkan, Dekan Fakultas Psikologi
Prof. Dr. Dra. Irmawati Soeprapto, Psikolog, M.Si. NIP: 195301311980032001
Tim Penguji
1. Tarmidi, S.Psi., M.Psi., Psikolog Penguji/Pembimbing ________ NIP: 198006072005011003
2. Sri Supriyantini, S.Psi., M.Psi., Psikolog Penguji II ________ NIP: 196204092000122001
3. Dra. Lili Garliah, M.Si., Psikolog Penguji III ________
LEMBAR PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul :
Pengaruh Pelatihan Membaca Cepat
Terhadap Pemahaman Bacaan
adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penelitian skripsi ini saya kutip dari hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, Juli 2011
YESSY LIANA PUTRI
Pengaruh Pelatihan Membaca Cepat Terhadap Pemahaman Bacaan
Yessy Liana Putri dan Tarmidi
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan membaca cepat terhadap pemahaman bacaan. Membaca cepat merupakan suatu teknik untuk meningkatkan kecepatan membaca dan pemahaman terhadap bacaan. Peningkatan kecepatan dapat dilakukan melalui pelatihan. Pemahaman bacaan merupakan proses simultan menyarikan dan mengkonstruksi makna melalui interaksi dan keterlibatan dengan bahasa tertulis (Snow, 2002).
Pengaruh pelatihan membaca cepat terhadap pemahaman bacaan suatu teks bacaan diukur menggunakan alat ukur yang mencakup enam tingkatan kognitif Bloom. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen murni pretest-posttest
control group design dengan satu macam perlakuan. Subjek penelitian adalah 16
Speed Reading TrainingEffect Against ReadingCom prehension
Yessy Liana Putri and Tarmidi
ABSTRACT
This research is aimed to determine the effect of speed reading training on reading comprehension. Speed reading is a technique to improve reading speed and comprehension of reading. Increased speed can be done through training. Reading comprehension is a process of simultaneously extracting and constructing meaning through interaction and involvement with written language (Snow, 2002).
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha
Kuasa, atas nikmat dan karunianya berupa kekuatan kepada saya dalam
penyelesaian skripsi ini. Penyusunan skripsi ini dilakukan dalam rangka
memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi Fakultas
Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.
Penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan skripsi ini, baik dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan
skripsi serta pengambilan data. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Ibu Prof. Dr. Dra. Irmawati Soeprapto, Psikolog, M.Si. selaku Dekan Fakultas
Psikologi Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Tarmidi, S.Psi., M.Psi., Psikolog selaku dosen pembimbing skripsi
yang telah membimbing saya dengan penuh kesabaran dan pengertian.
3. Ibu Sri Supriyantini, S.Psi., M.Psi., Psikolog dan Ibu Dra. Lili Garliah, M.Si.,
Psikolog selaku penguji ujian skripsi atas waktu dan pikirannya dalam
4. Ibu Desvi Yanti Mukhtar, S.Psi., M.Si., Psikolog selaku ketua Departemen
Psikologi Pendidikan dan seluruh dosen Departemen Psikologi Pendidikan
Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
5. Ibu Dra. Gustiarti Leila, M.Psi., Psikolog, M.Kes., selaku dosen penasehat
akademik dan Ibu Fasti Rola, S.Psi., M.Psi., Psikolog selaku dosen
pembimbing skripsi saya sebelumnya, atas bimbingan dan kesabarannya.
6. Seluruh dosen dan staff Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
7. Bapak Dr. Ade Taufiq, SpOG selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara yang telah mengizinkan saya melaksanakan
penelitian di FK UMSU.
8. Bapak Dr. Ahmad Handayani, yang telah bersedia menjadi professional
jugdement dalam penyusunan alat ukur penelitian saya.
9. Kedua orangtua saya beserta seluruh keluarga yang senantiasa memberikan
dukungan kepada saya.
Akhir kata, penulis berharap Allah SWT berkenan membalas segala
kebaikan saudara-saudari semua. Penulis menyadari bahwa seluruh isi skripsi ini
menjadi tanggung jawab penulis. Penulis juga berharap adanya kritikan dan saran
dari berbagai pihak terkait skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat.
Medan, 5 Juli 2011
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PENGESAHAN ... i
LEMBAR PERNYATAAN ... ii
ABSTRAK ... iii
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR... xiii
DAFTAR LAMPIRAN... xiv
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. LATAR BELAKANG MASALAH... 1
B. RUMUSAN MASALAH... 8
C. TUJUAN PENELITIAN... 9
D. MANFAAT PENELITIAN... 9
1. Manfaat Teoritis... 9
2. Manfaat Praktis... 9
E. SISTEMATIKA PENULISAN... 10
BAB II LANDASAN TEORI... 12
A. MEMBACA CEPAT... 12
1. Definisi Membaca Cepat... 12
3. Tingkatan Kecepatan Membaca... 15
4. Cara Mengukur Kecepatan Membaca... 16
5. Fleksibelitas Kecepatan Membaca... 17
6. Hambatan Membaca Cepat... 18
B. PEMAHAMAN BACAAN... 23
1. Definisi Pemahaman Bacaan... 23
2. Elemen Pemahaman Bacaan... 25
3. Unit Pemahaman... 27
4. Tingkatan Pemahaman... 28
5. Faktor yang Mempengaruhi Pemahaman Bacaan... 30
6. Pengukuran Pemahaman bacaan... 35
C. PENGARUH PELATIHAN MEMBACA CEPAT TERHADAP PEMAHAMAN BACAAN…………... 39
D. HIPOTESA... 44
BAB III METODE PENELITIAN... 45
A. IDENTIFIKASI VARIABEL... 46
B. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL... 49
C. RANCANGAN PENELITIAN... 53
D. TEKNIK KONTROL... 56
E. POPULASI DAN METODE PENGAMBILAN SAMPEL... 60
1. Populasi... 60
F. ALAT UKUR DAN INSTRUMEN YANG DIGUNAKAN... 66
1. Alat Ukur... 66
2. Instrumen... 66
G. VALIDITAS DAN RELIABILITAS... 67
1. Validitas... 67
2. Reliabilitas... 70
H. PROSEDUR EKSPERIMEN... 71
I. METODE ANALISA DATA... 77
BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN... 79
A. DESKRIPSI SUBJEK PENELITIAN... 79
1. Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Kategori Intelegensi... 79
2. Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Kecepatan Membaca... 80
3. Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Latar Belakang Sosial Ekonomi... 80
4. Deskripsi Subjek Penelitan Berdasarkan Latar Belakang Pengalaman Membaca... 81
B. HASIL UTAMA PENELITIAN... 81
1. Uji Normalitas... 81
2. Uji Homogenitas Varians... 82
3. Analisa Data... 83
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 93
A. KESIMPULAN... 93
B. SARAN... 93
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 Blueprint Distribusi Aitem Alat Ukur... 72
Tabel 2 Hasil Analisa Data Uji Coba Alat Ukur... 73
Tabel 3 Blueprint Distribusi Aitem Hasil Uji Coba Alat Ukur... 74
Tabel 4 Gambaran Sebaran Subjek Penelitian Berdasarkan Kategori Intelegensi... 79
Tabel 5 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Kecepatan Membaca... 80
Tabel 6 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Latar Belakang Sosial Ekonomi Keluarga...80
Tabel 7 Gambaran Sebaran Subjek Penelitian Berdasarkan Pengalaman Membaca... 81
Tabel 8 Hasil Uji Normalitas... 82
Tabel 9 Hasil Uji Homogenitas Varians... 83
Tabel 10 Hasil Uji Paired-Samples T Test Kelompok Kontrol... 84
Tabel 11 Hasil Uji Paired-Samples T Test Kelompok Eksperimen... 84
Tabel 12 Hasil Uji Independent-Samples T Test... 85
Tabel 13 Nilai Pretest dan Posttest Tes Pemahaman Bacaan (Kemampuan Membaca)………... 85
Tabel 15 Norma Skor Standar... 86
Tabel 16 Kategorisasi Nilai Tes Pemahaman Bacaan
(Kemampuan Membaca) Berdasarkan Norma... 86
Tabel 17 Gambaran Kategorisasi Nilai Pretest dan Posttest Tes
Pemahaman Bacaan (Kemampuan Membaca) ... 87
Tabel 18 Distribusi Persentase Subjek Penelitian Berdasarkan
Kategorisasi Nilai Pretest Tes Pemahaman Bacaan
(Kemampuan Membaca) ... 87
Tabel 19 Distribusi Persentase Subjek Penelitian Berdasarkan
Kategorisasi Nilai Posttest Tes Pemahaman Bacaan
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1 Desain Eksperimen Pretest Posttest Control Group Design
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A... xv
- Teks Bacaan... xvi
- Tes Pemahaman Bacaan (Kemampuan Membaca) Uji Coba... xl
- Lembar Jawaban Tes Pemahaman Bacaan
(Kemampuan Membaca) Uji Coba... lviii
- Daftar Hadir Responden Uji Coba... lx
- Tes Pemahaman Bacaan (Kemampuan Membaca)... lxi
- Lembar Jawaban Tes Pemahaman Bacaan (Kemampuan Membaca)….... lxviii
- Formulir Data Pribadi Calon Peserta... lxix
- Daftar Hadir Peserta Pelatihan Membaca Cepat... lxx
- Bahan Bacaan untuk Pengukuran Kecepatan Membaca... lxxi
- Modul Pelatihan Membaca Cepat... lxxv
LAMPIRAN B... xcviii
- Data penelitian... xcix
- Hasil penelitian... ci
LAMPIRAN C... cii
Pengaruh Pelatihan Membaca Cepat Terhadap Pemahaman Bacaan
Yessy Liana Putri dan Tarmidi
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan membaca cepat terhadap pemahaman bacaan. Membaca cepat merupakan suatu teknik untuk meningkatkan kecepatan membaca dan pemahaman terhadap bacaan. Peningkatan kecepatan dapat dilakukan melalui pelatihan. Pemahaman bacaan merupakan proses simultan menyarikan dan mengkonstruksi makna melalui interaksi dan keterlibatan dengan bahasa tertulis (Snow, 2002).
Pengaruh pelatihan membaca cepat terhadap pemahaman bacaan suatu teks bacaan diukur menggunakan alat ukur yang mencakup enam tingkatan kognitif Bloom. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen murni pretest-posttest
control group design dengan satu macam perlakuan. Subjek penelitian adalah 16
Speed Reading TrainingEffect Against ReadingCom prehension
Yessy Liana Putri and Tarmidi
ABSTRACT
This research is aimed to determine the effect of speed reading training on reading comprehension. Speed reading is a technique to improve reading speed and comprehension of reading. Increased speed can be done through training. Reading comprehension is a process of simultaneously extracting and constructing meaning through interaction and involvement with written language (Snow, 2002).
BAB I
PENDAHULUAN
F. Latar Belakang Masalah
Menapaki milenium ketiga ini, Djamarah (dalam Solikah, 2008)
menyatakan bahwa tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia tidaklah sedikit.
Realita ini menuntut sumber daya manusia (SDM) yang handal untuk
menghadapinya. Pendidikan tidak dipungkiri lagi merupakan salah satu faktor
pendukung untuk meningkatkan kualitas SDM. Berdasarkan Laporan
Pembangunan Manusia Badan Program Pembangunan PBB, Indonesia menempati
peringkat ke 108 dari 194 negara (Klugman, 2010). Kualitas SDM yang rendah
tersebut antara lain disebabkan oleh rendahnya mutu pendidikan di setiap jenjang
dan satuan pendidikan (Irawan, 2005).
Pembaharuan pendidikan dan pembelajaran selalu dilaksanakan dari waktu
ke waktu dan tak pernah berhenti. Pendidikan dan pembelajaran berbasis
kompetensi merupakan contoh hasil perubahan dimaksud dengan tujuan untuk
meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran. Berdasarkan atas
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, model kurikulum untuk meningkatkan mutu pendidikan yang
diterapkan di semua jenjang pendidikan di Indonesia adalah berbasis kompetensi
Menurut Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas, secara umum kompetensi
diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang
direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Sedangkan Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan perangkat rencana dan pengaturan
tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai pembelajar, penilaian,
kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam
pengembangan kurikulum. Ranah kompetensi yang terdapat dalam KBK antara
lain: kompetensi akademik (academic competency), kompetensi kehidupan (life
competency), dan kompetensi karakter nasional (national character competency).
Untuk mencapai kompetensi tersebut, maka pembelajaran ditekankan pada
bagaimana belajar tentang belajar (learning how to learn), bukan pada apa yang
harus dipelajari (learning what to be learn) (Tantra, 2009).
Salah satu instansi perguruan tinggi yang menerapkan KBK adalah Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FK UMSU). FK UMSU
yang didirikan pada tahun 2008 menyesuaikan tujuan pendidikannya dengan
kurikulum lokal fakultas dan Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia
(KIPDI) III tentang KBK (Taufiq dkk, 2010).
Program pendidikan sarjana kedokteran FK UMSU dalam pelaksanaannya
menggunakan metode pembelajaran PBL (Problem Based Learning) dengan
kriteria SPICES (Student centred, Problem based, Integrated, Community
oriented, Early clinical exposure dan Self directed learning). Proses pendidikan
melalui metode ini bertujuan menyiapkan mahasiswa sebagai lifelong learner atau
terlatih menghadapi permasalahan dan memecahkannya. Adapun dalam metode
PBL, kegiatan belajar mengajarnya meliputi tutorial, kuliah, praktikum,
keterampilan klinik (Skill’s laboratorium atau Skill’s lab), belajar mandiri, dan
diskusi panel (Taufiq dkk, 2010).
Proses pendidikan di FK UMSU bergerak dari visi dan misi yang telah
ditetapkan. Tujuan akhir proses pendidikannya adalah menghasilkan dokter yang
islami dan memegang teguh etika kedokteran, menghasilkan dokter yang
berkompeten dan profesional sesuai dengan standar kompetensi dokter Indonesia,
menghasilkan dokter yang selalu mengikuti perkembangan ilmu kedokteran dan
menjalankan praktik kedokteran berbasis data, menghasilkan dokter yang
memiliki kesadaran terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat, mampu
mengayomi masyarakat dalam bidang kesehatan dan punya orientasi pencegahan.
Untuk mencapai tujuan akhir seperti tersebut di atas dilakukan dalam tiga tahap,
yaitu tahap general education, tahap integrasi pada program sarjana kedokteran
dan tahap klinik atau profesi pada program pendidikan profesi (Taufiq dkk, 2010).
Tahap general education pada periode awal pendidikan adalah tahap transisi
dimana mahasiswa beralih dari teacher centered di pendidikan menengah atas ke
student centred di perguruan tinggi. Tahap integrasi adalah tahap dimana
mahasiswa belajar ilmu kedokteran secara terintegrasi baik vertikal maupun
horizontal dalam setiap blok. Tahap ini menggunakan laboratorium biomedik,
laboratorium keterampilan klinik, rumah sakit dan lapangan untuk tempat
mahasiswa belajar dan berinteraksi dengan pasien secara langsung di rumah sakit
(Taufiq dkk, 2010).
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan salah seorang mahasiswa FK
UMSU, peneliti memperoleh keterangan bahwa perkuliahan sangat padat dan
menuntut mahasiswa untuk belajar mandiri.
“Tutorial aja dua kali seminggu, skills lab lagi. Jadi sebenarnya gak bisa
gak belajar tiap malam. Bahan banyak kali dari dosen. Harus dicicil tiap hari sebenarnya.”
Hutabarat (dalam Sukadji dan Salim, 2001) mengemukakan bahwa dalam
proses belajar, agar mahasiswa dapat berhasil dalam menempuh studinya, ada
beberapa keterampilan dasar yang perlu dimiliki. Keterampilan-keterampilan
dasar itu antara lain adalah membaca, menulis, berhitung, dan mendengar. Saat ini
telah dikembangkan berbagai strategi belajar yang sangat membantu. Strategi
tersebut meliputi strategi mengingat, membaca, menulis, dan membuat catatan
dalam bentuk peta pikiran (Khoo, 2008). Banyak mahasiswa tidak berhasil di
perguruan tinggi karena tidak memiliki strategi belajar yang dibutuhkan untuk
mendapatkan nilai yang baik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Niest dan Diehl (1994) yang menunjang hal tersebut; mahasiswa yang
menggunakan strategi belajar yang tepat performansinya cenderung lebih baik
dibandingkan mahasiswa yang tidak menggunakan strategi yang tepat.
Pengalaman mengajarkan bahwa orang yang gagal di sekolah biasanya karena
Dewasa ini, ilmu dan teknologi berkembang semakin pesat dan tak dapat
dibendung lagi kehadirannya (Pramuki, 2006). Pesatnya kemajuan mesin cetak
saat ini telah memungkinkan penyebaran informasi secara cepat. Hasil-hasil
penelitian dan kemajuan sains dan teknologi begitu cepat dilipatgandakan dan
disebar (Soedarso, 2010). Seiring dengan hal tersebut, setiap orang dituntut untuk
selalu cepat dan tepat dalam menafsirkan dan menyerap berbagai informasi bila
tidak ingin ketinggalan. Informasi yang berkaitan dengan peristiwa dunia serta
pertumbuhan dan perkembangan ilmu dan teknologi tidak cukup hanya diperoleh
dari sumber lisan, tetapi juga dari sumber tertulis (Pramuki, 2006).
Kegiatan membaca merupakan satu-satunya cara untuk menyerap dan
menafsirkan informasi tertulis. Itulah sebabnya setiap orang dituntut memiliki
keterampilan membaca yang tinggi agar dapat mengikuti laju perkembangan ilmu
dan teknologi. Dengan memiliki keterampilan membaca, seseorang dapat
memaparkan kembali peristiwa masa lalu untuk diambil manfaatnya dalam usaha
memperbaiki kehidupan masa kini dan masa yang akan datang. Hal tersebut
berarti bahwa keterampilan membaca harus dikembangkan dan dikuasai sehingga
akan menjadi modal utama dalam kehidupan. Dengan modal tersebut seseorang
dapat membuka pintu gerbang ilmu pengetahuan (Pramuki, 2006).
Ilmu pengetahuan sebagai sumber kekuatan para intelektual berasal dari
buku. Oleh sebab itu, siapa yang ingin memiliki kekuatan tersebut harus membaca
buku. Pernyataan ini mengarahkan bahwa hanya bangsa yang banyak membaca
mempertahankan eksistensinya serta mampu tampil sebagai pemenang dalam
persaingan (Pelenkahu, 2006).
Buku teks merupakan sumber utama dalam dunia pendidikan, baik tingkat
sekolah dasar, menengah maupun perguruan tinggi. Sebelum dapat memulai
membuat catatan, mengingat atau memperbaikinya, langkah pertama tentu
membaca buku teks dan mencari informasi materi yang dibutuhkan. Namun
sangat disayangkan, kebanyakan mahasiswa tidak membaca buku teks atau
mencari bahan-bahan dari sumber lain untuk mengumpulkan informasi. Mereka
berpendapat membaca hanya untuk memahami atau mendapatkan pengetahuan.
Mereka akan membaca bahan yang sama berulang-ulang dan berusaha
mengingatnya. Jika terus melakukan hal ini, mahasiswa akan merasa waktu ujian
terlalu dekat, terlalu banyak yang harus dibaca, terlalu banyak yang harus
dilakukan, dan mereka akan kekurangan waktu untuk melakukan semua itu.
Untuk itu, diperlukan keterampilan membaca yang akan membantu mahasiswa
mendapatkan “sesuatu” seoptimal mungkin. Dengan demikian, keterampilan
membaca pemahaman bagi mahasiswa sebagai calon ilmuwan amat diperlukan.
Agar dapat membaca buku teks secara efektif dan mengumpulkan informasi,
mahasiswa harus belajar bagaimana agar memiliki kekuatan membaca. Membaca
cepat adalah sebuah teknik membaca yang dirancang untuk meningkatkan
konsentrasi saat membaca dengan pemahaman (Khoo, 2008).
Kebiasaan membaca cepat sangat besar manfaatnya bagi seorang pembaca.
Dengan bidang pengetahuan manusia yang berkembang pesat, muncul tuntutan
dan Ahuja, 2007). Menurut para ahli pengajaran, teknik membaca cepat
merupakan salah satu teknik pengajaran yang dapat membuat mahasiswa lebih
cepat memahami teks yang dibaca dan dapat mengurangi kesalahan. Hal senada
juga dikemukakan oleh Mikulecky dan Jeffries (dalam Marhamah, 2004):
“Reading faster helps you understand more. This may seem surprising to
you, but infact, your brain works better when you read faster. If you read slowly, you read one word at a time, and you must remember many separate words. Soon you get tired or bored.”
Nurhadi (1987) mengemukakan bahwa membaca cepat artinya membaca
yang mengutamakan kecepatan dengan tidak mengabaikan pemahamannya.
Mendukung pernyataan tersebut, Soedarso (2010) mengemukakan bahwa dalam
membaca cepat terkandung di dalamnya pemahaman yang cepat pula.
Theodore Roosevelt membaca tiga buku dalam sehari selama di Gedung
Putih. John F. Kennedy mempunyai kecepatan membaca 1.000 kpm (kata per
menit). Sementara Jimmy Carter, Indira Gandhi, Marshal Mc. Luhan, dan Burt
Lancaster hanyalah sedikit dari nama-nama terkenal yang mengakui manfaat
membaca cepat bagi kemajuan karier mereka (Soedarso, 2010).
Banyak orang menghindari membaca cepat karena berpikir akan
mengurangi kemampuan konsentrasi, serta mengurangi pemahaman tentang
hal-hal yang dibaca. Pada kenyataannya, alasan konsentrasi yang buruk adalah karena
membaca terlalu lambat. Kurangnya konsentrasi adalah akibat membayangkan
dan memikirkan hal lain. Hal itu terjadi (terutama pada otak kanan) karena otak
tidak sepenuhnya digunakan dan menjadi bosan. Penelitian menunjukkan, mata
menit, tetapi kebanyakan orang membaca hanya dengan kecepatan 200 kata per
menit, kurang dari satu persen kemampuan manusia sebenarnya (Khoo, 2008).
Membaca pada kecepatan sangat tinggi bernilai kurang jika tidak
memahami apa yang dibaca. Di sisi lain, membaca dengan tingkat pemahaman
tinggi tanpa hirau pada waktu yang digunakan juga kurang bermanfaat. Sedikit
yang akan memperselisihkan fakta bahwa pemahaman adalah faktor penting, jika
bukan pokok, dalam membaca. Membaca tanpa pemahaman sama artinya dengan
tidak membaca. Tetapi ironisnya, membaca dengan pemahaman kurang
diperhatikan dan kurang dipahami oleh para peneliti bahkan hingga kini (Ahuja
dan Ahuja, 2007).
Berdasarkan fenomena tersebut, peneliti tertarik dan berpikir perlu
melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana pengaruh pelatihan membaca
cepat terhadap pemahaman bacaan. Penelitian ini menggunakan rancangan
penelitian eksperimen pretest-posttest control group design dengan satu macam
perlakuan. Perlakuan yang diberikan adalah pelatihan membaca cepat dan
kemudian dilihat dengan menggunakan alat ukur bagaimana pengaruhnya
terhadap pemahaman bacaan.
G.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh
H.Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pelatihan membaca
cepat terhadap pemahaman bacaan.
I. Manfaat Penelitian
3. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam pengembangan
ilmu psikologi, khususnya bidang psikologi pendidikan. Penelitian ini juga
diharapkan dapat memberikan informasi mengenai bagaimana pengaruh pelatihan
membaca cepat terhadap pemahaman bacaan. Hasil penelitian ini juga diharapkan
dapat menambah wacana dalam ilmu psikologi sendiri mengenai membaca cepat
dan pemahaman bacaan.
4. Manfaat Praktis
a. Bagi mahasiswa
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai bagaimana
pengaruh membaca cepat terhadap pemahaman bacaan, sehingga dapat
menjadi bahan pertimbangan untuk mengaplikasikan teknik membaca cepat
sebagai salah satu strategi belajar untuk meningkatkan prestasi akademis.
b. Bagi pendidik dan pihak-pihak yang berkaitan dengan pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai bagaimana
menjadi bahan pertimbangan untuk menerapkan teknik membaca cepat
dalam setting pembelajaran.
c. Bagi peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian
selanjutnya, khususnya yang berkaitan dengan membaca cepat dan
pemahaman bacaan.
J. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan
Berisikan uraian singkat mengenai gambaran latar belakang
permasalahan, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat
penelitian.
Bab II : Landasan Teori
Berisikan teori-teori yang berkaitan dengan variabel yang diteliti, yaitu
membaca cepat, pemahaman bacaan, dan pengaruh pelatihan membaca
cepat terhadap pemahaman bacaan, serta hipotesa.
Bab III : Metode Penelitian
Bab ini terdiri dari identifikasi variabel, defenisi operasional variabel,
rancangan penelitian, teknik kontrol, populasi dan metode pengambilan
sampel, alat ukur dan instrumen yang digunakan, validitas dan
Bab IV: Analisa Data dan Hasil Pembahasan
Berisikan deskripsi subjek penelitian, hasil utama penelitian dan
pembahasan.
Bab V : Kesimpulan dan Saran
BAB II
LANDASAN TEORI
A.Membaca Cepat
7. Definisi Membaca Cepat
Bloomfield dan Barnhart (1961) mengemukakan bahwa membaca tidak
melibatkan apa-apa selain korelasi kesan bunyi dengan citra visual yang
berkesesuaian. Secara berbeda, Bennette (1997) menyatakan bahwa membaca
adalah proses visual - visi adalah proses simbolis melihat aitem atau simbol dan
menerjemahkannya menjadi sebuah gagasan atau gambar. Gambar diproses
menjadi konsep dan dimensi keseluruhan pemikiran.
Ahuja dan Ahuja (2007) mengemukakan bahwa membaca merupakan suatu
keterampilan kompleks yang melibatkan serangkaian keterampilan yang lebih
kecil lainnya. Dengan kata lain, proses membaca adalah proses ganda, meliputi
proses penglihatan dan proses tanggapan. Sebagai proses penglihatan, membaca
bergantung pada kemampuan melihat simbol-simbol. Proses membaca merentang
dari yang paling sederhana, yaitu men-dekode kata-kata hingga perluasan dan
pengembangan interpretatif di luar pesan penulis berangkat dari latar belakang
pengalaman pembaca. Pen-dekode-an adalah proses mengubah simbol-simbol
visual ke dalam pola-pola auditori, sedangkan perluasan dan pengembangan
interpretatif melibatkan membaca kritis atau terkadang kreatif. Ternyata membaca
bukanlah suatu kemampuan tunggal. Membaca juga menggabungkan banyak
berlangsung. Membaca adalah sekelompok keterampilan yang memasukkan di
dalamnya keterampilan pengenalan kata, kosakata, membaca untuk menemukan
makna utuh, membaca untuk mencari gagasan pokok, memahami informasi
faktual spesifik, mengikuti petunjuk, pengajaran dan arahan.
Smith dan Dechant (1961) berpendapat bahwa, untuk mendiskusikan perihal
kecepatan membaca, sudah seharusnya kecepatan memahami bahan bacaan
dimasukkan. Sejalan dengan pendapat tersebut, Nurhadi (1987) mendefinisikan
membaca cepat sebagai membaca yang mengutamakan kecepatan dengan tidak
mengabaikan pemahaman. Dua aspek yang menjadi kunci dalam definisi tersebut
adalah kecepatan yang memadai dan persentase pemahaman yang tinggi. Hal
senada juga dikemukakan oleh Soedarso (2010) bahwa dalam membaca cepat
terkandung di dalamnya pemahaman yang cepat pula. Bahkan pemahaman inilah
yang menjadi pangkal tolak pembahasan, bukan kecepatannya.
Berdasarkan beberapa definisi dan penjelasan para ahli di atas, dapat
disimpulkan bahwa membaca cepat adalah membaca dengan kecepatan yang
memadai sesuai dengan tujuan membaca sehingga diperoleh persentase
pemahaman yang tinggi.
8. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecepatan Membaca
Dechant (1973) berpendapat bahwa kecepatan membaca akan selalu
bergantung pada tujuan, kecerdasan, pengalaman, pengetahuan pembaca dan
keadaan psikologis dan fisik pembaca, penguasaan keterampilan dasar membaca,
dan format bahan bacaan.
Secara spesifik, faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan membaca dan
pemahaman bacaan dikemukakan oleh Shores (dalam Ahuja dan Ahuja, 2007),
antara lain: ukuran huruf, model huruf, kehitaman dan ketajaman cetakan, mutu
dan sifat kertas, ukuran halaman, organisasi bahan, banyaknya ruang kosong, jenis
dan penempatan ilustrasi (gambar/foto), judul dan sub judul, kejelasan tulisan,
bidang pengetahuan, kompleksitas gagasan, gaya menulis pengarang, jenis tulisan
(puisi, narasi, atau deskriptif/paparan), kepribadian penulis, perasaan pembaca
(mengantuk, waspada, tenang, gelisah), kemampuan mental pembaca,
keterampilan membaca, lingkungan tempat membaca, latar pengalaman membaca,
tujuan dan minat pada bidang atau ranah karya bahan yang sedang dibaca, dan
keakrabannya dengan kekhasan gaya pengarang dan pengalimatannya.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi membaca cepat adalah sebagai berikut:
a. Tujuan membaca
b. Kecerdasan
c. Latar belakang pengalaman dan pengetahuan pembaca
d. Kondisi psikologis pembaca saat membaca
e. Kondisi fisik pembaca saat membaca
g. Format bahan bacaan, meliputi ukuran huruf, model huruf, tingkat kehitaman,
ukuran kertas, organisasi bahan, banyaknya ruang kosong, jenis dan
penempatan ilustrasi (gambar/foto), judul dan sub judul
h. Tingkat kesulitan bahan bacaan, meliputi kompleksitas gagasan bahan bacaan,
jenis bahan bacaan, dan gaya penulisan pengarang
i. Lingkungan tempat membaca.
9. Tingkatan Kecepatan Membaca
Bond dan Tinker (1967) menyatakan bahwa:
“Definisi kecepatan membaca harus diredefinisikan sebagai kecepatan memahami bahan-bahan tercetak dan tertulis.”
Menurut Hafner dan Jolly (1972), angka kecepatan membaca yang efisien
adalah kecepatan wajar maksimum yang dapat diterapkan oleh pembaca untuk
mendapatkan makna yang diharapkan dari kandungan bacaan. Hafner dan Jolly
selanjutnya menjelaskan bahwa kata wajar (tidak dipaksakan) didefinisikan
sebagai peringatan bahwa ketika seorang pembaca terlalu mementingkan pada
mekanika, maka ia tidak mungkin tiba pada makna. Definisi itu menyiratkan
bahwa kecepatan membaca efisien setiap pembaca kemungkinan berbeda.
Nurhadi (1987) membagi kecepatan membaca menjadi tiga tingkatan, yaitu:
a. Rendah : 175-250 kata per menit
b. Sedang atau cukup memadai : 250-350 kata per menit
Kecepatan membaca yang memadai untuk setiap jenjang pendidikan
berbeda-beda. Kecepatan membaca siswa kelas akhir sekolah dasar atau siswa
setingkat sekolah lanjutan tingkat pertama dianggap memadai bila berkisar sekitar
200 kata per menit. Siswa sekolah lanjutan atas dianggap memiliki kecepatan
membaca yang memadai bila mampu membaca sekitar 250 kata per menit. Untuk
mahasiswa sekitar 325 kata per menit, sedangkan mahasiswa pascasarjana dan
program doktor sekitar 400 kata per menit. Bagi orang dewasa (tidak bersekolah),
kecepatan itu bisa turun kembali dan dianggap memadai pada kecepatan 200 kata
per menit. Kecepatan membaca tersebut harus diikuti oleh tingkat pemahaman
terhadap bacaan 50% atau 40-60% (Nurhadi, 1987).
10. Cara Mengukur Kecepatan Membaca
Kecepatan membaca biasanya diukur dengan berapa banyak kata atau yang
terbaca setiap menitnya, dengan pemahaman rata-rata 50%, atau dengan kata lain
berkisar antara 40% sampai 60%. Pada taraf pemahaman sekian, kecepatan
membaca dianggap memadai (Nurhadi, 1987).
Menurut Nurhadi (1987), cara mengukur kecepatan membaca adalah
sebagai berikut:
a. Mencatat waktu mulai membaca (jam …, menit …, detik ….).
b. Menandai di mana awal membaca (lebih mudah bila dimulai dari judul
bacaan).
d. Menandai di mana akhir membaca (pada kalimat akhir, jika bacaannya
pendek).
e. Mencatat waktu berakhirnya membaca (jam …, menit …, detik …).
f. Menghitung berapa waktu yang diperlukan (dalam detik).
g. Menghitung jumlah kata dalam teks yang dibaca (termasuk tanda baca).
h. Mengalikan jumlah kata dengan bilangan 60 (1 menit = 60 detik). Hasil
perkalian merupakan jumlah total kata.
i. Membagi hasil perkalian dengan jumlah waktu yang diperlukan untuk
membaca. Hasilnya adalah “jumlah kata per menit”.
Bila digambarkan proses di atas adalah seperti di bawah ini:
a. Saat akhir membaca : jam …, menit …, detik …
Saat mulai membaca : jam …, menit …, detik …
Waktu yang diperlukan : ……… detik
b. Jumlah kata x 60 menit = jumlah total kata
Jumlah total kata : waktu yang diperlukan = jumlah kata per menit.
Secara lebih sederhana, Soedarso (2010) mengemukakan rumus untuk
mengukur kecepatan membaca sebagai berikut:
Jumlah kata yang dibaca x 60 = jumlah kata per menit (kpm) Jumlah detik untuk membaca
11. Fleksibelitas Kecepatan Membaca
Fleksibelitas dalam membaca adalah keterampilan membaca setiap bahan
bacaan tidak dengan cara yang sama (Ahuja & Ahuja, 2007). Kecepatan membaca
dengan bahan tersebut. Kecepatan membaca harus seiring dengan kecepatan
memahami bahan bacaan (Soedarso, 2010).
Temuan riset memperlihatkan bahwa kebanyakan pembaca tidak memiliki
fleksibelitas dalam membaca. Harris (dalam Ahuja & Ahuja, 2007) melaporkan
bahwa kebanyakan pembaca tidak fleksibel dalam kecepatan membaca.
Kebanyakan pembaca cenderung mempertahankan satu pendekatan karakteristik
dan menggunakan satu kecepatan yang relatif tetap untuk setiap jenis bahan
bacaan. McDonald (dalam Ahuja & Ahuja, 2007) meneliti lebih dari 8.000
pembaca tingkat sekolah dasar, lanjutan, perguruan tinggi dan orang dewasa. Dia
menemukan bahwa lebih dari 90% dari mereka cenderung mempertahankan
pendekatan karakteristik dan relatif tidak mengubah kecepatan membaca mereka
untuk semua jenis bacaan yang diujicobakan, kendatipun ada perbedaan tujuan
dan variasi tingkat kesulitannya, serta gaya dan isi bacaan.
12. Hambatan Membaca Cepat
Ahuja dan Ahuja (2007) mengemukakan, ada beberapa penghalang
membaca cepat yang mempengaruhi efisiensi membaca. Penghalang-penghalang
itu antara lain vokalisasi, gerakan bibir, berbicara atau mendengar dalam hati,
goyangan kepala, tunjuk jari, membaca kata per kata, analisis kata, pemblokan
mata, mundur ke belakang dan membaca ulang. Tingkat kesulitan bahan bacaan
dan kekurangan motivasi. Tingkat kesulitan bahan bacaan dan kekurangan
Soedarso (2010) mengemukakan ada enam penghambat seseorang untuk
membaca cepat, yaitu:
a. Vokalisasi
Vokalisasi atau membaca dengan bersuara berarti mengucapkan kata demi kata
dengan lengkap. Hal ini memperlambat membaca. Menggumam, sekalipun
dengan mulut terkatup dan suara tidak terdengar, termasuk membaca dengan
bersuara.
Cara mengidentifikasi vokalisasi yaitu dengan meletakkan tangan di leher saat
membaca. Apabila terasa getaran di jakun, hal tersebut berarti membaca
dengan bersuara atau vokalisasi. Adapun cara untuk menghilangkan kebiasaan
ini adalah dengan meniup atau membentuk bibir seperti bersiul saat membaca
sembari meletakkan tangan di leher untuk memastikan tidak ada getaran di
jakun.
b. Gerakan bibir
Orang dewasa ada yang meneruskan kebiasaan di waktu kecil, yaitu
mengucapkan kata demi kata apa yang dibaca dengan menggerakkan bibir.
Menggerakkan bibir atau komat-kamit sewaktu membaca, sekalipun tidak
mengeluarkan suara, sama lambatnya dengan membaca bersuara. Kecepatan
membaca bersuara ataupun dengan gerakan bibir hanya seperempat dari
kecepatan membaca secara diam. Dengan menggerakkan bibir, seseorang lebih
sering regresi (kembali ke belakang), sebab ketika mata dapat dengan cepat
Cara menghilangkan kebiasaan membaca dengan gerakan bibir, berikut
merupakan beberapa alternatif pilihan cara mengatasinya:
1)Merapatkan bibir kuat-kuat, tekankan lidah ke langit-langit mulut.
2)Mengunyah permen karet.
3)Menggunakan pensil atau sesuatu yang lain yang cukup ringan, lalu dijepit
dengan kedua bibir (bukan gigi), usahakan agar pensil tidak bergerak.
4)Mengucapkan berulang-ulang, “satu, dua, tiga.”
5)Membuat gerakan bibir bersiul, tetapi tanpa suara.
c. Gerakan kepala
Sewaktu kanak-kanak, penglihatan sukar menguasai seluruh penampang
bacaan. Akibatnya adalah menggerakkan kepala dari kiri ke kanan untuk dapat
membaca baris-baris bacaan secara lengkap. Setelah dewasa, penglihatan telah
mampu secara optimal, sehingga seharusnya cukup mata saja yang bergerak.
Cara menghilangkan kebiasaan menggerakkan kepala, berikut merupakan
beberapa alternatif pilihan cara mengatasinya:
1)Meletakkan telunjuk jari ke pipi dan menyandarkan siku tangan ke meja
selama membaca, apabila terasa tangan terdesak oleh gerakan kepala,
sadarlah dan hentikan gerakan tersebut.
2)Tangan memegang dagu seperti membelai-belai jenggot dan apabila kepala
bergerak, sadarlah dan hentikan gerakan tersebut.
3)Meletakkan ujung telunjuk jari di hidung, bila kepala bergerak akan segera
d. Menunjuk dengan jari
Sewaktu baru belajar membaca, individu harus mengucapkan kata demi kata
yang dibaca dengan bantuan jari atau pensil yang menunjuk kata demi kata
tersebut. Hal ini untuk memastikan bahwa tidak ada kata yang terlewati. Oleh
karena cara tersebut dipraktikkan terus-menerus dan tidak ada yang
memberikan petunjuk lebih lanjut bahwa hal tersebut tidak perlu lagi dilakukan
apabila telah pandai membaca, akhirnya cara itu menjadi kebiasaan dan
dilakukan sampai dewasa.
Cara membaca menunjuk dengan jari atau benda lain sangat menghambat,
sebab gerakan tangan lebih lambat daripada gerakan mata. Kebiasaan tersebut
dapat dihilangkan dengan cara yang mudah sebagai berikut:
1)Kedua tangan memegang buku yang dibaca.
2)Memasukkan tangan ke saku selama membaca.
e. Regresi
Selama membaca, mata bergerak ke kanan untuk menangkap kata-kata yang
terletak berikutnya. Akan tetapi, mata sering bergerak kembali ke belakang
untuk membaca ulang suatu kata atau beberapa kata sebelumnya. Kebiasaan
selalu kembali (regresi) ke belakang untuk melihat kata atau beberapa kata
yang baru dibaca merupakan hambatan yang serius dalam membaca.
Keinginan untuk melihat ke belakang antara lain terdorong karena kurang
percaya diri, merasa kurang tepat menangkap arti, merasa kehilangan sesuatu,
atau salah membaca sebuah kata. Kebiasaan regresi disebabkan melamun.
membaca. Regresi dapat dikurangi dengan melaksanakan hal-hal sebagai
berikut:
1)menanamkan kepercayaan diri. Tidak berusaha mengerti setiap kata atau
kalimat di paragraf dan tidak terpaku pada detail. Terus membaca, tidak
mengikuti godaan untuk kembali ke belakang.
2)menghadapi bahan bacaan. Tetap memperhatikan bahan bacaan yang
dibaca.
3)meneruskan membaca sampai akhir kalimat. Apa yang dipikir tertinggal
akan muncul kembali. Terus membaca, seiring membaca selanjutnya
individu akan menemukan apa yang dipikirnya hilang. Kemampuan otak
dan mata jauh melampaui perkiraan. Oleh karena itu, terus paksakan
membaca. Dengan demikian, individu akan mengganti kebiasaan lama
dengan yang baru.
f. Subvokalisasi
Subvokalisasi atau melafalkan dalam batin/pikiran kata-kata yang dibaca juga
dilakukan oleh pembaca yang kecepatannya telah tinggi. Subvokalisasi juga
menghambat karena individu menjadi lebih memperhatikan bagaimana
melafalkan secara benar daripada berusaha memahami ide yang dikandung
dalam kata-kata yang dibaca.
Menghilangkan sama sekali cara membaca dengan melafalkan dalam batin apa
yang dibaca memang tidak mungkin, tetapi masih dapat diusahakan dengan
menangkap beberapa kata sekaligus dan langsung menyerap idenya daripada
melafalkannya.
B.Pemahaman Bacaan
7. Definisi Pemahaman Bacaan
Sebelum 1915, ketika membaca ditekankan pada aspek lisan, pelajaran
membaca tidak memiliki sisi pemahaman. Istilah pemahaman jarang ditemukan
dalam literatur. Pengajaran membaca pada 1915 sampai 1925 ditekankan pada
pengenalan kata. Ketika seorang anak telah belajar dan mampu melafalkan dengan
baik kata-kata, maka tujuan membaca dianggap telah tercapai. Selama
tahun-tahun terakhir abad ke 19, Romanes (dalam Ahuja dan Ahuja, 2007) menyatakan
istilah pemahaman dengan “kekuatan asimilasi”. Gray (dalam Ahuja dan Ahuja,
2007) menggunakan istilah “kualitas membaca” untuk menunjukkan makna
pemahaman.
Yoakam (dalam Ahuja dan Ahuja, 2007) menggambarkan pemahaman
bacaan sebagai memahami materi bacaan yang melibatkan asosiasi yang benar
antara makna dan simbol kata, penilaian konteks makna yang diduga ada,
pemilihan makna yang benar, organisasi gagasan ketika materi bacaan dibaca,
penyimpanan gagasan dan pemakaiannya dalam berbagai aktivitas sekarang atau
Definisi Macmillan (dalam Ahuja dan Ahuja, 2007) boleh jadi lebih tepat
dan jelas. Ia mendefinisikan pemahaman bacaan sebagai memahami apa yang
tertulis di dalam, di antara dan di luar baris-baris tulisan atau dengan kata lain
penafsiran cerdas, yang meliputi:
a. membaca untuk mendapatkan gagasan-gagasan utama;
b. membaca untuk mendapatkan detail-detail penting;
c. membaca untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan spesifik;
d. membaca untuk mengikuti urutan logis dan pengembangan gagasan;
e. membaca untuk menerapkan apa yang dibaca;
f. membaca untuk menemukan deduksi dan implikasi; dan
g. membaca untuk menilai.
Secara singkat, Snow (2002) mendefinisikan pemahaman bacaan sebagai
proses simultan menyarikan dan mengkonstruksi makna melalui interaksi dan
keterlibatan dengan bahasa tertulis.
Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli, dapat disimpulkan
bahwa pemahaman bacaan adalah proses simultan menyarikan dan
mengkonstruksi makna dari materi bacaan meliputi asosiasi yang benar antara
makna dan simbol kata, penilaian konteks makna yang diduga ada, pemilihan
makna yang benar, dan organisasi gagasan ketika materi bacaan dibaca, yang
semua hal tersebut digunakan untuk mendapatkan gagasan-gagasan utama,
mendapatkan detail-detail penting, menjawab pertanyaan-pertanyaan spesifik,
mengikuti urutan logis dan pengembangan gagasan, menerapkan apa yang dibaca,
8. Elemen Pemahaman Bacaan
Pemahaman bacaan terdiri dari tiga elemen, yaitu the reader (pembaca), the
text (teks atau bahan bacaan) dan the activity or purpose for reading (aktifitas atau
tujuan membaca) (Snow, 2002).
a. The Reader (Pembaca)
Untuk memahami, pembaca harus memiliki berbagai kapasitas dan
kemampuan. Kapasitas dan kemampuan tersebut meliputi kapasitas kognitif
(misalnya, perhatian, memori, kemampuan analitis kritis, penelusuran,
kemampuan visualisasi), motivasi (tujuan membaca, minat terhadap konten/isi
yang sedang dibaca, self efficacy sebagai pembaca), dan berbagai jenis
pengetahuan (kosakata, pengetahuan mengenai topik dan domain/bidang,
pengetahuan tentang wacana dan linguistik, pengetahuan tentang strategi
pemahaman spesifik).
Kapasitas kognitif, motivasi, kapasitas bahasa dan pengetahuan dasar yang
disebut dalam berbagai tindakan pemahaman bacaan bergantung pada teks
yang digunakan dan aktivitas spesifik di mana seorang pembaca terlibat.
b. The Text (Teks atau Bahan Bacaan)
Fitur teks memiliki dampak yang besar terhadap pemahaman. Pemahaman
tidak terjadi hanya dengan penggalian makna secara sederhana dari teks.
Selama membaca, pembaca mengkonstruksi representasi yang berbeda dari
teks yang mana penting bagi pemahaman. Representasi tersebut meliputi,
merepresentasikan makna), dan representasi dari mental model yang terdapat
dalam teks.
Perkembangan komputer dan teks elektronik telah membawa para ahli untuk
memperluas definisi teks untuk memasukkan teks elektronik dan dokumen
multimedia di samping cetakan konvensional.
Teks bisa sulit atau mudah, tergantung pada faktor-faktor yang melekat dalam
teks, pada hubungan antara teks dan pengetahuan dan kemampuan pembaca,
dan pada kegiatan yang pembaca terlibat.
c. The Activity or Purpose for Reading (Aktifitas atau Tujuan Membaca)
Membaca dilakukan untuk suatu tujuan. Suatu kegiatan membaca melibatkan
satu atau lebih tujuan, beberapa operasi untuk mengolah teks, dan konsekuensi
melakukan kegiatan membaca tersebut. Sebelum membaca, pembaca memiliki
tujuan yang berasal dari dalam diri maupun luar. Tujuan dipengaruhi oleh
variabel motivasi, meliputi minat dan prior knowledge.
Aktifitas membaca meliputi satu atau lebih tujuan atau tugas, beberapa operasi
untuk memproses teks, dan hasil dari melakukan kegiatan, semua yang terjadi
dalam beberapa konteks tertentu. Tujuan awal membaca dapat berubah selama
membaca. Hal ini berarti, selama membaca, pembaca mungkin menghadapi
berbagai informasi yang menimbulkan pertanyaan baru dan membuat tujuan
awal tidak cukup atau tidak relevan lagi. Mengolah teks melibatkan
pengkodean teks, tingkat pengolahan linguistik dan semantik yang lebih tinggi,
dan self monitoring untuk pemahaman, yang semuanya tergantung pada
Akhirnya, konsekuensi dari membaca adalah bagian dari kegiatan tersebut.
Beberapa kegiatan membaca menyebabkan peningkatan pengetahuan yang
dimiliki oleh pembaca. Konsekuensi lain dari kegiatan membaca adalah
mengetahui bagaimana melakukan sesuatu. Aplikasi dari
konsekuensi-konsekuensi tersebut sering berhubungan dengan tujuan pembaca.
Pengetahuan, aplikasi, dan keterlibatan merupakan konsekuensi langsung dari
kegiatan membaca.
9. Unit Pemahaman
Burns, Roe dan Ross (1984) menyatakan bahwa unit-unit dasar pemahaman
dalam membaca adalah kata, kalimat, paragraf, dan whole selection.
a. Kata
Kosakata harus dibangun dari kata-kata yang telah dipahami. Perkembangan
kosakata merupakan perkembangan skemata. Untuk memahami sesuatu,
individu harus memanggil skemata yang telah dimiliki. Oleh karena itu,
perkembangan kosakata merupakan komponen penting keterampilan
pemahaman.
b. Kalimat
Individu mungkin menemukan kalimat kompleks yang sulit dipahami untuk itu
individu harus menemukan cara untuk menemukan maknanya. Penelitian telah
menunjukkan bahwa instruksi yang sistematis dalam pemahaman kalimat
untuk menemukan bagian penting dari kalimat adalah dengan menuliskannya
dalam format telegram.
c. Paragraf
Paragraf merupakan kelompok kalimat yang menyajikan suatu fungsi
keterangan dalam suatu bagian. Paragraf dibangun oleh suatu ide utama atau
topik. Memahami fungsi, organisasi umum, dan hubungan antar kalimat dalam
suatu paragraf merupakan hal yang penting dalam pemahaman membaca.
d. Whole Selection
Keseluruhan bagian terdiri dari kata, kalimat, dan paragraf. Pemahaman
keseluruhan bagian tergantung pada pemahaman unit-unit yang lebih kecil.
10. Tingkatan Pemahaman
Burns dkk. (1984) menyatakan bahwa ada empat tingkatan pemahaman dan
pembaca mampu memahami bacaan pada sejumlah tingkatan yang berbeda.
Empat tingkatan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Pemahaman Literal
Membaca pada tingkatan pemahaman literal meliputi memperoleh informasi
dalam suatu bagian yang dinyatakan secara langsung. Pemahaman pada
tingkatan ini merupakan prasyarat untuk tingkatan pemahaman yang lebih
tinggi. Menemukan ide utama yang telah dinyatakan, detail-detail,
sebab-akibat, dan runtutan (sequence) merupakan dasar pemahaman tingkat literal.
Contoh keterampilan pemahaman pada tingkat ini meliputi kemampuan untuk
dengan menggunakan kata-kata yang berbeda. Pemahaman pada tingkat literal
didefinisikan sebagai pengertian secara eksplisit informasi yang dinyatakan
dengan mengenyampingkan medium yang menghadirkannya. Contohnya,
simbol-simbol bahasa lisan atau tulisan. Ini merupakan fokus utama pada
tingkat pemahaman literal. Tujuan khusus dari pemahaman tingkat literal
adalah sebagai berikut: (1) rinci; (2) runtut kejadian-kejadian; (3) ciri-ciri
karakter; dan (4) hubungan sebab akibat.
b. Pemahaman Interpretatif
Pemahaman tingkat interpretatif didefinisikan sebagai pengertian dari
pernyataan informasi yang dinyatakan secara implisit. Membaca interpretatif
meliputi membaca antara baris atau menarik kesimpulan, merupakan proses
memperoleh ide yang dinyatakan secara tidak langsung daripada yang
dinyatakan secara langsung.
Keterampilan membaca interpretatif meliputi menyimpulkan ide utama dimana
ide tersebut tidak secara langsung dinyatakan, menyimpulkan hubungan
sebab-akibat yang tidak dinyatakan secara langsung, menyimpulkan keterangan atau
penjelasan dari kata ganti, menyimpulkan keterangan atau penjelasan dari kata
keterangan, menyimpulkan kata-kata yang diabaikan, mendeteksi mood,
mendeteksi tujuan pengarang dalam menulis, dan menarik kesimpulan.
c. Pemahaman Kritis
Membaca kritis adalah mengevaluasi materi tertulis, membandingkan ide yang
ditemukan dalam materi dengan standar-standar yang diketahui dan menarik
kritis pasti merupakan pembaca yang aktif, mempertanyakan, mencari fakta,
dan menunda penilaian sampai mereka telah mempertimbangkan semua materi.
Membaca kritis tergantung pada pemahaman literal dan interpretatif, dan
memahami ide yang tidak dinyatakan secara langsung merupakan hal yang
penting. Pemahaman pada tingkat kritikal dijelaskan sebagai pengertian dari
informasi yang akan membuat seseorang mampu menentukan nilai tentang
informasi yang diterimanya.
d. Pemahaman Kreatif
Membaca kreatif meliputi memahami materi melebihi yang disampaikan oleh
pengarang. Hal ini menuntut pembaca untuk berpikir selama membaca, sama
seperti membaca kritis, dan hal ini juga menuntut pembaca untuk
menggunakan imajinasi mereka. Pemahaman tingkat kreatif melibatkan
membuat respon secara personal terhadap pengertian yang kompleks dari
penerimaan pesan. Personal response, didasari pada suatu pengertian penuh
dari pesan yang diekspresikan, hal ini merupakan jantung dari pemahaman
tingkat kreatif.
11. Faktor yang Mempengaruhi Pemahaman Bacaan
Nurhadi (1987) mengemukakan bahwa membaca merupakan proses yang
kompleks dan rumit karena dalam proses membaca terlibat berbagai faktor
internal dan eksternal pembaca. Faktor internal berupa intelegensi, minat, sikap,
tingkat kesulitan teks bacaan, faktor lingkungan, faktor latar belakang sosial
ekonomi, kebiasaan dan tradisi membaca.
Membaca pada hakikatnya adalah proses berpikir. Dalam proses membaca
terlibat aspek-aspek berpikir seperti mengingat, memahami, membeda-bedakan,
membandingkan, menemukan, menganalisis, mengorganisasi, dan pada akhirnya
menerapkan apa-apa yang terkandung dalam bacaan. Aspek-aspek tersebut
melibatkan tipe-tipe berpikir divergen (induktif), berpikir konvergen (deduktif),
dan tipe berpikir abstrak. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam membaca
diperlukan kemampuan intelektual. Hasil dari beberapa penelitian yang pernah
dilakukan menunjukkan adanya korelasi yang tinggi antara minat terhadap bacaan
dan kemampuan membacanya. Demikian pula penelitian hubungan antara tujuan
membaca dan perubahan gerak mata pada waktu membaca. Dalam penelitian
terlihat bahwa perubahan tujuan membaca berakibat terjadinya perubahan dalam
gerak mata berlangsung. Di sini terbukti bahwa ada faktor tujuan membaca yang
mempengaruhi proses membaca. Faktor eksternal penerangan atau pencahayaan
yang kurang baik akan mempengaruhi hasil membaca. Demikian juga faktor
sosial ekonomi dimana status sosial ekonomi yang tinggi cenderung dilimpahi
kemudahan sarana membaca yang memadai, sehingga terbentuk tradisi atau
kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca ini yang akan mempengaruhi
kemampuan dan latihan membaca. Kebiasaan membaca akan berpengaruh pada
kecepatan dan keefektifan membaca seseorang. Faktor internal dan eksternal
tersebut saling berhubungan membentuk semacam koordinasi untuk menunjang
Secara spesifik, faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan membaca dan
pemahaman bacaan dikemukakan oleh Shores (dalam Ahuja dan Ahuja, 2007),
antara lain ukuran huruf, model huruf, kehitaman dan ketajaman cetakan, mutu
dan sifat kertas, ukuran halaman, organisasi bahan, banyaknya ruang kosong, jenis
dan penempatan ilustrasi (gambar/foto), judul dan sub judul, kejelasan tulisan,
bidang pengetahuan, kompleksitas gagasan, gaya menulis pengarang, jenis tulisan
(puisi, narasi, atau deskriptif/paparan), kepribadian penulis, perasaan pembaca
(mengantuk, waspada, tenang, gelisah), kemampuan mental pembaca,
keterampilan membaca, lingkungan tempat membaca, latar pengalaman membaca,
tujuan dan minat pada bidang atau ranah karya bahan yang sedang dibaca, dan
keakrabannya dengan kekhasan gaya pengarang dan pengalimatannya.
Teori Chomsky (dalam Matlin, 2005) tentang transformational grammar
telah menimbulkan ketertarikan tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
pemahaman kalimat. Para psikolog telah melakukan penelitian terhadap hal ini.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman terhadap kalimat adalah
sebagai berikut:
a. Kata Negatif
Williams (dalam Matlin, 2005) mengemukakan bahwa kalimat yang memuat
kata negatif, seperti tidak dan bukan, atau kata negatif yang tersirat (seperti
ditolak), hampir selalu membutuhkan lebih banyak waktu pemrosesan
b. Bentuk Pasif
Chomsky (dalam Matlin, 2005) menunjukkan bahwa bentuk kalimat aktif dan
kalimat pasif mungkin memiliki surface structure yang berbeda, meskipun
memiliki deep structure yang sama. Transformasi dari bentuk aktif ke bentuk
pasif membutuhkan tambahan kata.
c. Nested Structure (Struktur Bertingkat)
Struktur bertingkat adalah frase yang melekat di dalam kalimat lain. Pembaca
mengalami "cost memory" ketika membaca kalimat yang memuat struktur
bertingkat. Memory cost menjadi berlebihan jika suatu kalimat memuat lebih
dari satu struktur bertingkat.
d. Ambiguitas
Kalimat menjadi lebih sulit untuk dipahami jika memuat kata yang ambigu
atau memiliki struktur kalimat yang ambigu. Pembaca secara khusus berhenti
lebih lama ketika mereka memproses kata yang ambigu. Rueckl (dalam Matlin,
2005) menyatakan bahwa pembaca dapat memahami kalimat yang ambigu,
sama seperti pembaca dapat memahami kalimat negatif, kalimat yang
menggunakan bentuk pasif, dan kalimat dengan struktur bertingkat yang
kompleks. Meskipun demikian, pembaca merespon lebih cepat dan lebih akurat
Wainwright (2006) mengemukakan bahwa faktor terpenting yang bisa
mempengaruhi pemahaman terhadap materi bacaan adalah sebagai berikut:
a. Kecepatan membaca
Kecepatan membaca jika melampaui batas-batas tertentu, bisa memberikan
efek merugikan terhadap pemahaman. Batas-batas tersebut sangat bervariasi,
tergantung orang dan waktunya.
b. Tujuan membaca
Tujuan berkaitan erat dengan motivasi dalam membaca dan minat terhadap
materi bacaan. Menetapkan tujuan membaca dapat membantu meningkatkan
motivasi dan minat membaca.
c. Sifat materi bacaan
d. Tata letak materi bacaan
e. Lingkungan tempat membaca
Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan terbagi dua, yaitu faktor
internal dan faktor eksternal.
Adapun faktor internal pembaca yang mempengaruhi pemahaman bacaan
adalah sebagai berikut:
a. Intelegensi
b. Tujuan membaca
c. Kecepatan membaca
d. Perasaan pembaca
f. Latar pengalaman membaca
Adapun faktor eksternal pembaca yang mempengaruhi pemahaman bacaan
adalah sebagai berikut:
a. Tingkat kesulitan teks bacaan
b. Lingkungan
c. Latar belakang sosial ekonomi
d. Format bahan bacaan
e. Gaya penulisan
f. Jenis tulisan
6. Pengukuran Pemahaman bacaan
Ivor Davies (dalam Nurgiyantoro, 2001) mengemukakan bahwa Bloom
membedakan keluaran belajar ke dalam tiga kategori atau biasa dikenal dengan
ranah atau domain, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Taksonomi bloom untuk tugas membaca juga mencakup ketiga ranah
tersebut. Tugas kognitif berupa aktivitas kognitif memahami bacaan secara tepat
dan kritis, atau berupa kemampuan membaca. Tugas afektif berhubungan dengan
sikap dan kemauan siswa untuk membaca, sedangkan tugas psikomotor berupa
aktivitas fisik siswa sewaktu membaca (Nurgiyantoro, 2001).
Pemahaman bacaan yang merupakan ranah kognitif terdiri dari enam
tingkatan dari yang sederhana ke yang lebih kompleks, dari aspek kognitif yang
hanya menuntut aktivitas intelektual sederhana ke yang menuntut kerja intelektual
penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Oleh karena itu, penilaian yang
dilakukan untuk mengukur keberhasilannya juga mencakup enam tingkatan
tersebut melalui tes kemampuan membaca. Tes kemampuan membaca
dimaksudkan untuk mengukur kemampuan siswa memahami isi atau informasi
yang terdapat dalam bacaan (Nurgiyantoro, 2001).
Bahan bacaan untuk tes kemampuan membaca hendaklah yang mengandung
informasi yang menuntut untuk dipahami. Menurut Nurgiyantoro (2001),
pemilihan wacana hendaknya dipertimbangkan dari segi:
a. Tingkat Kesulitan
Tingkat kesulitan wacana terutama ditentukan oleh kekompleksan kosa kata
dan struktur. Secara umum, wacana yang baik untuk bahan tes kemampuan
membaca adalah wacana yang tingkat kesulitannya sedang, atau sesuai dengan
tingkat kemampuan individu yang dites.
Salah satu prosedur memperkirakan tingkat kesulitan wacana adalah dengan
teknik cloze. Wacana yang akan diketahui tingkat kesulitannya, diteskan dalam
bentuk cloze test. Jika rata-rata jawaban betul lebih dari 75%, wacana yang
bersangkutan dinyatakan mudah. Sebaliknya, jika rata-rata betul kurang dari
20%, wacana tersebut tergolong sulit.
b. Isi Wacana
Bacaan yang baik adalah yang sesuai dengan tingkat perkembangan jiwa,
minat, kebutuhan atau menarik perhatian siswa. Walaupun demikian, tidak
mudah untuk mengoperasionalkan pengertian-pengertian abstrak tersebut.
bacaan, adalah untuk memperluas dunia dan horizon individu. Di pihak lain,
pemilihan isi wacana perlu selektif untuk menghindari bacaan yang bersifat
kontra atau masih bersifat kontroversial.
c. Panjang Pendek Wacana
Wacana yang diteskan sebaiknya tidak terlalu panjang.
d. Jenis atau Bentuk Wacana
Wacana yang digunakan sebagai bahan tes kemampuan membaca dapat
berbentuk prosa, dialog, ataupun puisi. Pada umumnya, yang banyak
dipergunakan adalah wacana yang berbentuk prosa.
Bentuk tes kemampuan membaca secara garis besar dapat dibedakan
menjadi dua macam, yaitu tes subjektif dan tes objektif. Bentuk tes yang pertama
sering juga disebut tes bentuk esai. Tes objektif disebut juga sebagai tes jawaban
singkat. Ada empat macam tes objektif, yaitu tes jawaban benar-salah (true-false),
pilihan ganda (multiple choice), isian (completion), dan penjodohan (matching)
(Nurgiyantoro, 2001).
Tes pilihan ganda merupakan suatu bentuk tes yang paling banyak
dipergunakan dalam dunia pendidikan. Tes pilihan ganda terdiri dari sebuah
pernyataan atau kalimat yang belum lengkap yang kemudian diikuti oleh sejumlah
pernyataan atau bentuk yang dapat untuk melengkapinya. Dari sejumlah
“pelengkap” tersebut, hanya satu yang tepat sedang yang lain merupakan
Tes bentuk pilihan ganda tepat sekali untuk mengukur hasil belajar aspek
kognitif dalam tingkatan sederhana, seperti ingatan, pemahaman, dan penerapan.
Untuk mengukur tingkatan yang lebih kompleks, tes bentuk pilihan ganda disusun
secara bervariasi, misalnya tes yang berupa tinjauan kasus, analisis hubungan
sebab-akibat, melengkapi berganda, dan membaca diagram atau tabel. Butir soal
yang berupa melengkapi berganda, merupakan tingkat analisis. Butir soal yang
berupa analisis hubungan sebab akibat menuntut siswa untuk menghubungkan dua
hal, merupakan tingkatan sintesis. Butir soal yang berupa tinjauan kasus menuntut
siswa untuk mampu menilai, merupakan tingkatan evaluasi (Nurgiyantoro, 2001).
Jawaban terhadap tes objektif bersifat pasti dan dikotomis, hanya ada satu
kemungkinan jawaban yang benar. Cara menentukan skor dapat dilakukan dengan
menggunakan dua rumus, yaitu rumus tanpa tebakan dan rumus dengan tebakan
(Nurgiyantoro, 2001).
a. Rumus Tanpa Tebakan
Rumus: S = R
Keterangan:
S : skor
R : jawaban yang benar
b. Rumus dengan Tebakan
Rumus: S = R x (W / n-1)
Keterangan
S : Skor
W : Jawaban yang salah
n : Jumlah alternatif jawaban
C.Pengaruh Pelatihan Membaca Cepat Terhadap Pemahaman Bacaan
Stauffer (1969), meninjau banyak sekali deskripsi tentang proses membaca
dan melaporkan bahwa hanya ada satu butir kesepakatan umum di kalangan para
pakar bahwa pemahaman bacaan adalah syarat mutlak bagi proses membaca.
Membaca adalah kecakapan memaknai dan menemukan arti. Proses
pen-dekode-an (memaknai atau menemukpen-dekode-an arti) ini berfungsi sebagai alat atau sarpen-dekode-ana bagi
proses mental ketika pembaca mencoba memperoleh makna dari bahan bacaan.
Membaca melibatkan pemahaman tidak hanya pendekodean dan interpretasi
tingkat harfiah dari simbol-simbol tertulis. Membaca efektif dan bertujuan selalu
berarti membaca konseptual yang bekerja pada dua tingkat. Pertama adalah
memecahkan kode (dekode), dan kedua adalah memahami sesuatu dengan tujuan
dalam pikiran pembaca (Ahuja dan Ahuja, 2007).
Keterampilan membaca pemahaman amat diperlukan. Menurut para ahli
pengajaran, teknik membaca cepat merupakan salah satu teknik pengajaran yang
dapat membantu memahami teks yang dibaca dengan lebih cepat dan dapat
mengurangi kesalahan (Nurhadi, 1987). Mickulecky dan Jeffries (dalam
Marhamah, 2004) menyatakan bahwa kecepatan membaca mempengaruhi kerja
otak dalam memproses informasi. Semakin tinggi kecepatan membaca, semakin
cepat kerja otak dan semakin baik pula pemahaman bacaannya. Sebaliknya,