• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Pelatihan Membaca Cepat Terhadap Pemahaman Bacaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengaruh Pelatihan Membaca Cepat Terhadap Pemahaman Bacaan"

Copied!
216
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PELATIHAN MEMBACA CEPAT

TERHADAP PEMAHAMAN BACAAN

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

Oleh

YESSY LIANA PUTRI

051301035

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PENGARUH PELATIHAN MEMBACA CEPAT

TERHADAP PEMAHAMAN BACAAN

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

Oleh

YESSY LIANA PUTRI

051301035

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

SKRIPSI

PENGARUH PELATIHAN MEMBACA CEPAT TERHADAP

PEMAHAMAN BACAAN

Dipersiapkan dan disusun oleh :

YESSY LIANA PUTRI 051301035

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Pada Tanggal 7 Juli 2011

Mengesahkan, Dekan Fakultas Psikologi

Prof. Dr. Dra. Irmawati Soeprapto, Psikolog, M.Si. NIP: 195301311980032001

Tim Penguji

1. Tarmidi, S.Psi., M.Psi., Psikolog Penguji/Pembimbing ________ NIP: 198006072005011003

2. Sri Supriyantini, S.Psi., M.Psi., Psikolog Penguji II ________ NIP: 196204092000122001

3. Dra. Lili Garliah, M.Si., Psikolog Penguji III ________

(4)

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul :

Pengaruh Pelatihan Membaca Cepat

Terhadap Pemahaman Bacaan

adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penelitian skripsi ini saya kutip dari hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, Juli 2011

YESSY LIANA PUTRI

(5)

Pengaruh Pelatihan Membaca Cepat Terhadap Pemahaman Bacaan

Yessy Liana Putri dan Tarmidi

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan membaca cepat terhadap pemahaman bacaan. Membaca cepat merupakan suatu teknik untuk meningkatkan kecepatan membaca dan pemahaman terhadap bacaan. Peningkatan kecepatan dapat dilakukan melalui pelatihan. Pemahaman bacaan merupakan proses simultan menyarikan dan mengkonstruksi makna melalui interaksi dan keterlibatan dengan bahasa tertulis (Snow, 2002).

Pengaruh pelatihan membaca cepat terhadap pemahaman bacaan suatu teks bacaan diukur menggunakan alat ukur yang mencakup enam tingkatan kognitif Bloom. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen murni pretest-posttest

control group design dengan satu macam perlakuan. Subjek penelitian adalah 16

(6)

Speed Reading TrainingEffect Against ReadingCom prehension

Yessy Liana Putri and Tarmidi

ABSTRACT

This research is aimed to determine the effect of speed reading training on reading comprehension. Speed reading is a technique to improve reading speed and comprehension of reading. Increased speed can be done through training. Reading comprehension is a process of simultaneously extracting and constructing meaning through interaction and involvement with written language (Snow, 2002).

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha

Kuasa, atas nikmat dan karunianya berupa kekuatan kepada saya dalam

penyelesaian skripsi ini. Penyusunan skripsi ini dilakukan dalam rangka

memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi Fakultas

Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.

Penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah membantu dalam

menyelesaikan skripsi ini, baik dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan

skripsi serta pengambilan data. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih

kepada:

1. Ibu Prof. Dr. Dra. Irmawati Soeprapto, Psikolog, M.Si. selaku Dekan Fakultas

Psikologi Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Tarmidi, S.Psi., M.Psi., Psikolog selaku dosen pembimbing skripsi

yang telah membimbing saya dengan penuh kesabaran dan pengertian.

3. Ibu Sri Supriyantini, S.Psi., M.Psi., Psikolog dan Ibu Dra. Lili Garliah, M.Si.,

Psikolog selaku penguji ujian skripsi atas waktu dan pikirannya dalam

(8)

4. Ibu Desvi Yanti Mukhtar, S.Psi., M.Si., Psikolog selaku ketua Departemen

Psikologi Pendidikan dan seluruh dosen Departemen Psikologi Pendidikan

Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

5. Ibu Dra. Gustiarti Leila, M.Psi., Psikolog, M.Kes., selaku dosen penasehat

akademik dan Ibu Fasti Rola, S.Psi., M.Psi., Psikolog selaku dosen

pembimbing skripsi saya sebelumnya, atas bimbingan dan kesabarannya.

6. Seluruh dosen dan staff Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

7. Bapak Dr. Ade Taufiq, SpOG selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas

Muhammadiyah Sumatera Utara yang telah mengizinkan saya melaksanakan

penelitian di FK UMSU.

8. Bapak Dr. Ahmad Handayani, yang telah bersedia menjadi professional

jugdement dalam penyusunan alat ukur penelitian saya.

9. Kedua orangtua saya beserta seluruh keluarga yang senantiasa memberikan

dukungan kepada saya.

Akhir kata, penulis berharap Allah SWT berkenan membalas segala

kebaikan saudara-saudari semua. Penulis menyadari bahwa seluruh isi skripsi ini

menjadi tanggung jawab penulis. Penulis juga berharap adanya kritikan dan saran

dari berbagai pihak terkait skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat.

Medan, 5 Juli 2011

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PENGESAHAN ... i

LEMBAR PERNYATAAN ... ii

ABSTRAK ... iii

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR... xiii

DAFTAR LAMPIRAN... xiv

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. LATAR BELAKANG MASALAH... 1

B. RUMUSAN MASALAH... 8

C. TUJUAN PENELITIAN... 9

D. MANFAAT PENELITIAN... 9

1. Manfaat Teoritis... 9

2. Manfaat Praktis... 9

E. SISTEMATIKA PENULISAN... 10

BAB II LANDASAN TEORI... 12

A. MEMBACA CEPAT... 12

1. Definisi Membaca Cepat... 12

(10)

3. Tingkatan Kecepatan Membaca... 15

4. Cara Mengukur Kecepatan Membaca... 16

5. Fleksibelitas Kecepatan Membaca... 17

6. Hambatan Membaca Cepat... 18

B. PEMAHAMAN BACAAN... 23

1. Definisi Pemahaman Bacaan... 23

2. Elemen Pemahaman Bacaan... 25

3. Unit Pemahaman... 27

4. Tingkatan Pemahaman... 28

5. Faktor yang Mempengaruhi Pemahaman Bacaan... 30

6. Pengukuran Pemahaman bacaan... 35

C. PENGARUH PELATIHAN MEMBACA CEPAT TERHADAP PEMAHAMAN BACAAN…………... 39

D. HIPOTESA... 44

BAB III METODE PENELITIAN... 45

A. IDENTIFIKASI VARIABEL... 46

B. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL... 49

C. RANCANGAN PENELITIAN... 53

D. TEKNIK KONTROL... 56

E. POPULASI DAN METODE PENGAMBILAN SAMPEL... 60

1. Populasi... 60

(11)

F. ALAT UKUR DAN INSTRUMEN YANG DIGUNAKAN... 66

1. Alat Ukur... 66

2. Instrumen... 66

G. VALIDITAS DAN RELIABILITAS... 67

1. Validitas... 67

2. Reliabilitas... 70

H. PROSEDUR EKSPERIMEN... 71

I. METODE ANALISA DATA... 77

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN... 79

A. DESKRIPSI SUBJEK PENELITIAN... 79

1. Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Kategori Intelegensi... 79

2. Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Kecepatan Membaca... 80

3. Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Latar Belakang Sosial Ekonomi... 80

4. Deskripsi Subjek Penelitan Berdasarkan Latar Belakang Pengalaman Membaca... 81

B. HASIL UTAMA PENELITIAN... 81

1. Uji Normalitas... 81

2. Uji Homogenitas Varians... 82

3. Analisa Data... 83

(12)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 93

A. KESIMPULAN... 93

B. SARAN... 93

(13)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1 Blueprint Distribusi Aitem Alat Ukur... 72

Tabel 2 Hasil Analisa Data Uji Coba Alat Ukur... 73

Tabel 3 Blueprint Distribusi Aitem Hasil Uji Coba Alat Ukur... 74

Tabel 4 Gambaran Sebaran Subjek Penelitian Berdasarkan Kategori Intelegensi... 79

Tabel 5 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Kecepatan Membaca... 80

Tabel 6 Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Latar Belakang Sosial Ekonomi Keluarga...80

Tabel 7 Gambaran Sebaran Subjek Penelitian Berdasarkan Pengalaman Membaca... 81

Tabel 8 Hasil Uji Normalitas... 82

Tabel 9 Hasil Uji Homogenitas Varians... 83

Tabel 10 Hasil Uji Paired-Samples T Test Kelompok Kontrol... 84

Tabel 11 Hasil Uji Paired-Samples T Test Kelompok Eksperimen... 84

Tabel 12 Hasil Uji Independent-Samples T Test... 85

Tabel 13 Nilai Pretest dan Posttest Tes Pemahaman Bacaan (Kemampuan Membaca)………... 85

(14)

Tabel 15 Norma Skor Standar... 86

Tabel 16 Kategorisasi Nilai Tes Pemahaman Bacaan

(Kemampuan Membaca) Berdasarkan Norma... 86

Tabel 17 Gambaran Kategorisasi Nilai Pretest dan Posttest Tes

Pemahaman Bacaan (Kemampuan Membaca) ... 87

Tabel 18 Distribusi Persentase Subjek Penelitian Berdasarkan

Kategorisasi Nilai Pretest Tes Pemahaman Bacaan

(Kemampuan Membaca) ... 87

Tabel 19 Distribusi Persentase Subjek Penelitian Berdasarkan

Kategorisasi Nilai Posttest Tes Pemahaman Bacaan

(15)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1 Desain Eksperimen Pretest Posttest Control Group Design

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A... xv

- Teks Bacaan... xvi

- Tes Pemahaman Bacaan (Kemampuan Membaca) Uji Coba... xl

- Lembar Jawaban Tes Pemahaman Bacaan

(Kemampuan Membaca) Uji Coba... lviii

- Daftar Hadir Responden Uji Coba... lx

- Tes Pemahaman Bacaan (Kemampuan Membaca)... lxi

- Lembar Jawaban Tes Pemahaman Bacaan (Kemampuan Membaca)….... lxviii

- Formulir Data Pribadi Calon Peserta... lxix

- Daftar Hadir Peserta Pelatihan Membaca Cepat... lxx

- Bahan Bacaan untuk Pengukuran Kecepatan Membaca... lxxi

- Modul Pelatihan Membaca Cepat... lxxv

LAMPIRAN B... xcviii

- Data penelitian... xcix

- Hasil penelitian... ci

LAMPIRAN C... cii

(17)

Pengaruh Pelatihan Membaca Cepat Terhadap Pemahaman Bacaan

Yessy Liana Putri dan Tarmidi

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan membaca cepat terhadap pemahaman bacaan. Membaca cepat merupakan suatu teknik untuk meningkatkan kecepatan membaca dan pemahaman terhadap bacaan. Peningkatan kecepatan dapat dilakukan melalui pelatihan. Pemahaman bacaan merupakan proses simultan menyarikan dan mengkonstruksi makna melalui interaksi dan keterlibatan dengan bahasa tertulis (Snow, 2002).

Pengaruh pelatihan membaca cepat terhadap pemahaman bacaan suatu teks bacaan diukur menggunakan alat ukur yang mencakup enam tingkatan kognitif Bloom. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen murni pretest-posttest

control group design dengan satu macam perlakuan. Subjek penelitian adalah 16

(18)

Speed Reading TrainingEffect Against ReadingCom prehension

Yessy Liana Putri and Tarmidi

ABSTRACT

This research is aimed to determine the effect of speed reading training on reading comprehension. Speed reading is a technique to improve reading speed and comprehension of reading. Increased speed can be done through training. Reading comprehension is a process of simultaneously extracting and constructing meaning through interaction and involvement with written language (Snow, 2002).

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

F. Latar Belakang Masalah

Menapaki milenium ketiga ini, Djamarah (dalam Solikah, 2008)

menyatakan bahwa tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia tidaklah sedikit.

Realita ini menuntut sumber daya manusia (SDM) yang handal untuk

menghadapinya. Pendidikan tidak dipungkiri lagi merupakan salah satu faktor

pendukung untuk meningkatkan kualitas SDM. Berdasarkan Laporan

Pembangunan Manusia Badan Program Pembangunan PBB, Indonesia menempati

peringkat ke 108 dari 194 negara (Klugman, 2010). Kualitas SDM yang rendah

tersebut antara lain disebabkan oleh rendahnya mutu pendidikan di setiap jenjang

dan satuan pendidikan (Irawan, 2005).

Pembaharuan pendidikan dan pembelajaran selalu dilaksanakan dari waktu

ke waktu dan tak pernah berhenti. Pendidikan dan pembelajaran berbasis

kompetensi merupakan contoh hasil perubahan dimaksud dengan tujuan untuk

meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran. Berdasarkan atas

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional, model kurikulum untuk meningkatkan mutu pendidikan yang

diterapkan di semua jenjang pendidikan di Indonesia adalah berbasis kompetensi

(20)

Menurut Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas, secara umum kompetensi

diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang

direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Sedangkan Kurikulum

Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan perangkat rencana dan pengaturan

tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai pembelajar, penilaian,

kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam

pengembangan kurikulum. Ranah kompetensi yang terdapat dalam KBK antara

lain: kompetensi akademik (academic competency), kompetensi kehidupan (life

competency), dan kompetensi karakter nasional (national character competency).

Untuk mencapai kompetensi tersebut, maka pembelajaran ditekankan pada

bagaimana belajar tentang belajar (learning how to learn), bukan pada apa yang

harus dipelajari (learning what to be learn) (Tantra, 2009).

Salah satu instansi perguruan tinggi yang menerapkan KBK adalah Fakultas

Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FK UMSU). FK UMSU

yang didirikan pada tahun 2008 menyesuaikan tujuan pendidikannya dengan

kurikulum lokal fakultas dan Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia

(KIPDI) III tentang KBK (Taufiq dkk, 2010).

Program pendidikan sarjana kedokteran FK UMSU dalam pelaksanaannya

menggunakan metode pembelajaran PBL (Problem Based Learning) dengan

kriteria SPICES (Student centred, Problem based, Integrated, Community

oriented, Early clinical exposure dan Self directed learning). Proses pendidikan

melalui metode ini bertujuan menyiapkan mahasiswa sebagai lifelong learner atau

(21)

terlatih menghadapi permasalahan dan memecahkannya. Adapun dalam metode

PBL, kegiatan belajar mengajarnya meliputi tutorial, kuliah, praktikum,

keterampilan klinik (Skill’s laboratorium atau Skill’s lab), belajar mandiri, dan

diskusi panel (Taufiq dkk, 2010).

Proses pendidikan di FK UMSU bergerak dari visi dan misi yang telah

ditetapkan. Tujuan akhir proses pendidikannya adalah menghasilkan dokter yang

islami dan memegang teguh etika kedokteran, menghasilkan dokter yang

berkompeten dan profesional sesuai dengan standar kompetensi dokter Indonesia,

menghasilkan dokter yang selalu mengikuti perkembangan ilmu kedokteran dan

menjalankan praktik kedokteran berbasis data, menghasilkan dokter yang

memiliki kesadaran terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat, mampu

mengayomi masyarakat dalam bidang kesehatan dan punya orientasi pencegahan.

Untuk mencapai tujuan akhir seperti tersebut di atas dilakukan dalam tiga tahap,

yaitu tahap general education, tahap integrasi pada program sarjana kedokteran

dan tahap klinik atau profesi pada program pendidikan profesi (Taufiq dkk, 2010).

Tahap general education pada periode awal pendidikan adalah tahap transisi

dimana mahasiswa beralih dari teacher centered di pendidikan menengah atas ke

student centred di perguruan tinggi. Tahap integrasi adalah tahap dimana

mahasiswa belajar ilmu kedokteran secara terintegrasi baik vertikal maupun

horizontal dalam setiap blok. Tahap ini menggunakan laboratorium biomedik,

laboratorium keterampilan klinik, rumah sakit dan lapangan untuk tempat

(22)

mahasiswa belajar dan berinteraksi dengan pasien secara langsung di rumah sakit

(Taufiq dkk, 2010).

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan salah seorang mahasiswa FK

UMSU, peneliti memperoleh keterangan bahwa perkuliahan sangat padat dan

menuntut mahasiswa untuk belajar mandiri.

“Tutorial aja dua kali seminggu, skills lab lagi. Jadi sebenarnya gak bisa

gak belajar tiap malam. Bahan banyak kali dari dosen. Harus dicicil tiap hari sebenarnya.”

Hutabarat (dalam Sukadji dan Salim, 2001) mengemukakan bahwa dalam

proses belajar, agar mahasiswa dapat berhasil dalam menempuh studinya, ada

beberapa keterampilan dasar yang perlu dimiliki. Keterampilan-keterampilan

dasar itu antara lain adalah membaca, menulis, berhitung, dan mendengar. Saat ini

telah dikembangkan berbagai strategi belajar yang sangat membantu. Strategi

tersebut meliputi strategi mengingat, membaca, menulis, dan membuat catatan

dalam bentuk peta pikiran (Khoo, 2008). Banyak mahasiswa tidak berhasil di

perguruan tinggi karena tidak memiliki strategi belajar yang dibutuhkan untuk

mendapatkan nilai yang baik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan

oleh Niest dan Diehl (1994) yang menunjang hal tersebut; mahasiswa yang

menggunakan strategi belajar yang tepat performansinya cenderung lebih baik

dibandingkan mahasiswa yang tidak menggunakan strategi yang tepat.

Pengalaman mengajarkan bahwa orang yang gagal di sekolah biasanya karena

(23)

Dewasa ini, ilmu dan teknologi berkembang semakin pesat dan tak dapat

dibendung lagi kehadirannya (Pramuki, 2006). Pesatnya kemajuan mesin cetak

saat ini telah memungkinkan penyebaran informasi secara cepat. Hasil-hasil

penelitian dan kemajuan sains dan teknologi begitu cepat dilipatgandakan dan

disebar (Soedarso, 2010). Seiring dengan hal tersebut, setiap orang dituntut untuk

selalu cepat dan tepat dalam menafsirkan dan menyerap berbagai informasi bila

tidak ingin ketinggalan. Informasi yang berkaitan dengan peristiwa dunia serta

pertumbuhan dan perkembangan ilmu dan teknologi tidak cukup hanya diperoleh

dari sumber lisan, tetapi juga dari sumber tertulis (Pramuki, 2006).

Kegiatan membaca merupakan satu-satunya cara untuk menyerap dan

menafsirkan informasi tertulis. Itulah sebabnya setiap orang dituntut memiliki

keterampilan membaca yang tinggi agar dapat mengikuti laju perkembangan ilmu

dan teknologi. Dengan memiliki keterampilan membaca, seseorang dapat

memaparkan kembali peristiwa masa lalu untuk diambil manfaatnya dalam usaha

memperbaiki kehidupan masa kini dan masa yang akan datang. Hal tersebut

berarti bahwa keterampilan membaca harus dikembangkan dan dikuasai sehingga

akan menjadi modal utama dalam kehidupan. Dengan modal tersebut seseorang

dapat membuka pintu gerbang ilmu pengetahuan (Pramuki, 2006).

Ilmu pengetahuan sebagai sumber kekuatan para intelektual berasal dari

buku. Oleh sebab itu, siapa yang ingin memiliki kekuatan tersebut harus membaca

buku. Pernyataan ini mengarahkan bahwa hanya bangsa yang banyak membaca

(24)

mempertahankan eksistensinya serta mampu tampil sebagai pemenang dalam

persaingan (Pelenkahu, 2006).

Buku teks merupakan sumber utama dalam dunia pendidikan, baik tingkat

sekolah dasar, menengah maupun perguruan tinggi. Sebelum dapat memulai

membuat catatan, mengingat atau memperbaikinya, langkah pertama tentu

membaca buku teks dan mencari informasi materi yang dibutuhkan. Namun

sangat disayangkan, kebanyakan mahasiswa tidak membaca buku teks atau

mencari bahan-bahan dari sumber lain untuk mengumpulkan informasi. Mereka

berpendapat membaca hanya untuk memahami atau mendapatkan pengetahuan.

Mereka akan membaca bahan yang sama berulang-ulang dan berusaha

mengingatnya. Jika terus melakukan hal ini, mahasiswa akan merasa waktu ujian

terlalu dekat, terlalu banyak yang harus dibaca, terlalu banyak yang harus

dilakukan, dan mereka akan kekurangan waktu untuk melakukan semua itu.

Untuk itu, diperlukan keterampilan membaca yang akan membantu mahasiswa

mendapatkan “sesuatu” seoptimal mungkin. Dengan demikian, keterampilan

membaca pemahaman bagi mahasiswa sebagai calon ilmuwan amat diperlukan.

Agar dapat membaca buku teks secara efektif dan mengumpulkan informasi,

mahasiswa harus belajar bagaimana agar memiliki kekuatan membaca. Membaca

cepat adalah sebuah teknik membaca yang dirancang untuk meningkatkan

konsentrasi saat membaca dengan pemahaman (Khoo, 2008).

Kebiasaan membaca cepat sangat besar manfaatnya bagi seorang pembaca.

Dengan bidang pengetahuan manusia yang berkembang pesat, muncul tuntutan

(25)

dan Ahuja, 2007). Menurut para ahli pengajaran, teknik membaca cepat

merupakan salah satu teknik pengajaran yang dapat membuat mahasiswa lebih

cepat memahami teks yang dibaca dan dapat mengurangi kesalahan. Hal senada

juga dikemukakan oleh Mikulecky dan Jeffries (dalam Marhamah, 2004):

“Reading faster helps you understand more. This may seem surprising to

you, but infact, your brain works better when you read faster. If you read slowly, you read one word at a time, and you must remember many separate words. Soon you get tired or bored.”

Nurhadi (1987) mengemukakan bahwa membaca cepat artinya membaca

yang mengutamakan kecepatan dengan tidak mengabaikan pemahamannya.

Mendukung pernyataan tersebut, Soedarso (2010) mengemukakan bahwa dalam

membaca cepat terkandung di dalamnya pemahaman yang cepat pula.

Theodore Roosevelt membaca tiga buku dalam sehari selama di Gedung

Putih. John F. Kennedy mempunyai kecepatan membaca 1.000 kpm (kata per

menit). Sementara Jimmy Carter, Indira Gandhi, Marshal Mc. Luhan, dan Burt

Lancaster hanyalah sedikit dari nama-nama terkenal yang mengakui manfaat

membaca cepat bagi kemajuan karier mereka (Soedarso, 2010).

Banyak orang menghindari membaca cepat karena berpikir akan

mengurangi kemampuan konsentrasi, serta mengurangi pemahaman tentang

hal-hal yang dibaca. Pada kenyataannya, alasan konsentrasi yang buruk adalah karena

membaca terlalu lambat. Kurangnya konsentrasi adalah akibat membayangkan

dan memikirkan hal lain. Hal itu terjadi (terutama pada otak kanan) karena otak

tidak sepenuhnya digunakan dan menjadi bosan. Penelitian menunjukkan, mata

(26)

menit, tetapi kebanyakan orang membaca hanya dengan kecepatan 200 kata per

menit, kurang dari satu persen kemampuan manusia sebenarnya (Khoo, 2008).

Membaca pada kecepatan sangat tinggi bernilai kurang jika tidak

memahami apa yang dibaca. Di sisi lain, membaca dengan tingkat pemahaman

tinggi tanpa hirau pada waktu yang digunakan juga kurang bermanfaat. Sedikit

yang akan memperselisihkan fakta bahwa pemahaman adalah faktor penting, jika

bukan pokok, dalam membaca. Membaca tanpa pemahaman sama artinya dengan

tidak membaca. Tetapi ironisnya, membaca dengan pemahaman kurang

diperhatikan dan kurang dipahami oleh para peneliti bahkan hingga kini (Ahuja

dan Ahuja, 2007).

Berdasarkan fenomena tersebut, peneliti tertarik dan berpikir perlu

melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana pengaruh pelatihan membaca

cepat terhadap pemahaman bacaan. Penelitian ini menggunakan rancangan

penelitian eksperimen pretest-posttest control group design dengan satu macam

perlakuan. Perlakuan yang diberikan adalah pelatihan membaca cepat dan

kemudian dilihat dengan menggunakan alat ukur bagaimana pengaruhnya

terhadap pemahaman bacaan.

G.Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh

(27)

H.Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pelatihan membaca

cepat terhadap pemahaman bacaan.

I. Manfaat Penelitian

3. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam pengembangan

ilmu psikologi, khususnya bidang psikologi pendidikan. Penelitian ini juga

diharapkan dapat memberikan informasi mengenai bagaimana pengaruh pelatihan

membaca cepat terhadap pemahaman bacaan. Hasil penelitian ini juga diharapkan

dapat menambah wacana dalam ilmu psikologi sendiri mengenai membaca cepat

dan pemahaman bacaan.

4. Manfaat Praktis

a. Bagi mahasiswa

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai bagaimana

pengaruh membaca cepat terhadap pemahaman bacaan, sehingga dapat

menjadi bahan pertimbangan untuk mengaplikasikan teknik membaca cepat

sebagai salah satu strategi belajar untuk meningkatkan prestasi akademis.

b. Bagi pendidik dan pihak-pihak yang berkaitan dengan pendidikan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai bagaimana

(28)

menjadi bahan pertimbangan untuk menerapkan teknik membaca cepat

dalam setting pembelajaran.

c. Bagi peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian

selanjutnya, khususnya yang berkaitan dengan membaca cepat dan

pemahaman bacaan.

J. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut :

Bab I : Pendahuluan

Berisikan uraian singkat mengenai gambaran latar belakang

permasalahan, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat

penelitian.

Bab II : Landasan Teori

Berisikan teori-teori yang berkaitan dengan variabel yang diteliti, yaitu

membaca cepat, pemahaman bacaan, dan pengaruh pelatihan membaca

cepat terhadap pemahaman bacaan, serta hipotesa.

Bab III : Metode Penelitian

Bab ini terdiri dari identifikasi variabel, defenisi operasional variabel,

rancangan penelitian, teknik kontrol, populasi dan metode pengambilan

sampel, alat ukur dan instrumen yang digunakan, validitas dan

(29)

Bab IV: Analisa Data dan Hasil Pembahasan

Berisikan deskripsi subjek penelitian, hasil utama penelitian dan

pembahasan.

Bab V : Kesimpulan dan Saran

(30)

BAB II

LANDASAN TEORI

A.Membaca Cepat

7. Definisi Membaca Cepat

Bloomfield dan Barnhart (1961) mengemukakan bahwa membaca tidak

melibatkan apa-apa selain korelasi kesan bunyi dengan citra visual yang

berkesesuaian. Secara berbeda, Bennette (1997) menyatakan bahwa membaca

adalah proses visual - visi adalah proses simbolis melihat aitem atau simbol dan

menerjemahkannya menjadi sebuah gagasan atau gambar. Gambar diproses

menjadi konsep dan dimensi keseluruhan pemikiran.

Ahuja dan Ahuja (2007) mengemukakan bahwa membaca merupakan suatu

keterampilan kompleks yang melibatkan serangkaian keterampilan yang lebih

kecil lainnya. Dengan kata lain, proses membaca adalah proses ganda, meliputi

proses penglihatan dan proses tanggapan. Sebagai proses penglihatan, membaca

bergantung pada kemampuan melihat simbol-simbol. Proses membaca merentang

dari yang paling sederhana, yaitu men-dekode kata-kata hingga perluasan dan

pengembangan interpretatif di luar pesan penulis berangkat dari latar belakang

pengalaman pembaca. Pen-dekode-an adalah proses mengubah simbol-simbol

visual ke dalam pola-pola auditori, sedangkan perluasan dan pengembangan

interpretatif melibatkan membaca kritis atau terkadang kreatif. Ternyata membaca

bukanlah suatu kemampuan tunggal. Membaca juga menggabungkan banyak

(31)

berlangsung. Membaca adalah sekelompok keterampilan yang memasukkan di

dalamnya keterampilan pengenalan kata, kosakata, membaca untuk menemukan

makna utuh, membaca untuk mencari gagasan pokok, memahami informasi

faktual spesifik, mengikuti petunjuk, pengajaran dan arahan.

Smith dan Dechant (1961) berpendapat bahwa, untuk mendiskusikan perihal

kecepatan membaca, sudah seharusnya kecepatan memahami bahan bacaan

dimasukkan. Sejalan dengan pendapat tersebut, Nurhadi (1987) mendefinisikan

membaca cepat sebagai membaca yang mengutamakan kecepatan dengan tidak

mengabaikan pemahaman. Dua aspek yang menjadi kunci dalam definisi tersebut

adalah kecepatan yang memadai dan persentase pemahaman yang tinggi. Hal

senada juga dikemukakan oleh Soedarso (2010) bahwa dalam membaca cepat

terkandung di dalamnya pemahaman yang cepat pula. Bahkan pemahaman inilah

yang menjadi pangkal tolak pembahasan, bukan kecepatannya.

Berdasarkan beberapa definisi dan penjelasan para ahli di atas, dapat

disimpulkan bahwa membaca cepat adalah membaca dengan kecepatan yang

memadai sesuai dengan tujuan membaca sehingga diperoleh persentase

pemahaman yang tinggi.

8. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecepatan Membaca

Dechant (1973) berpendapat bahwa kecepatan membaca akan selalu

bergantung pada tujuan, kecerdasan, pengalaman, pengetahuan pembaca dan

(32)

keadaan psikologis dan fisik pembaca, penguasaan keterampilan dasar membaca,

dan format bahan bacaan.

Secara spesifik, faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan membaca dan

pemahaman bacaan dikemukakan oleh Shores (dalam Ahuja dan Ahuja, 2007),

antara lain: ukuran huruf, model huruf, kehitaman dan ketajaman cetakan, mutu

dan sifat kertas, ukuran halaman, organisasi bahan, banyaknya ruang kosong, jenis

dan penempatan ilustrasi (gambar/foto), judul dan sub judul, kejelasan tulisan,

bidang pengetahuan, kompleksitas gagasan, gaya menulis pengarang, jenis tulisan

(puisi, narasi, atau deskriptif/paparan), kepribadian penulis, perasaan pembaca

(mengantuk, waspada, tenang, gelisah), kemampuan mental pembaca,

keterampilan membaca, lingkungan tempat membaca, latar pengalaman membaca,

tujuan dan minat pada bidang atau ranah karya bahan yang sedang dibaca, dan

keakrabannya dengan kekhasan gaya pengarang dan pengalimatannya.

Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa

faktor-faktor yang mempengaruhi membaca cepat adalah sebagai berikut:

a. Tujuan membaca

b. Kecerdasan

c. Latar belakang pengalaman dan pengetahuan pembaca

d. Kondisi psikologis pembaca saat membaca

e. Kondisi fisik pembaca saat membaca

(33)

g. Format bahan bacaan, meliputi ukuran huruf, model huruf, tingkat kehitaman,

ukuran kertas, organisasi bahan, banyaknya ruang kosong, jenis dan

penempatan ilustrasi (gambar/foto), judul dan sub judul

h. Tingkat kesulitan bahan bacaan, meliputi kompleksitas gagasan bahan bacaan,

jenis bahan bacaan, dan gaya penulisan pengarang

i. Lingkungan tempat membaca.

9. Tingkatan Kecepatan Membaca

Bond dan Tinker (1967) menyatakan bahwa:

“Definisi kecepatan membaca harus diredefinisikan sebagai kecepatan memahami bahan-bahan tercetak dan tertulis.”

Menurut Hafner dan Jolly (1972), angka kecepatan membaca yang efisien

adalah kecepatan wajar maksimum yang dapat diterapkan oleh pembaca untuk

mendapatkan makna yang diharapkan dari kandungan bacaan. Hafner dan Jolly

selanjutnya menjelaskan bahwa kata wajar (tidak dipaksakan) didefinisikan

sebagai peringatan bahwa ketika seorang pembaca terlalu mementingkan pada

mekanika, maka ia tidak mungkin tiba pada makna. Definisi itu menyiratkan

bahwa kecepatan membaca efisien setiap pembaca kemungkinan berbeda.

Nurhadi (1987) membagi kecepatan membaca menjadi tiga tingkatan, yaitu:

a. Rendah : 175-250 kata per menit

b. Sedang atau cukup memadai : 250-350 kata per menit

(34)

Kecepatan membaca yang memadai untuk setiap jenjang pendidikan

berbeda-beda. Kecepatan membaca siswa kelas akhir sekolah dasar atau siswa

setingkat sekolah lanjutan tingkat pertama dianggap memadai bila berkisar sekitar

200 kata per menit. Siswa sekolah lanjutan atas dianggap memiliki kecepatan

membaca yang memadai bila mampu membaca sekitar 250 kata per menit. Untuk

mahasiswa sekitar 325 kata per menit, sedangkan mahasiswa pascasarjana dan

program doktor sekitar 400 kata per menit. Bagi orang dewasa (tidak bersekolah),

kecepatan itu bisa turun kembali dan dianggap memadai pada kecepatan 200 kata

per menit. Kecepatan membaca tersebut harus diikuti oleh tingkat pemahaman

terhadap bacaan 50% atau 40-60% (Nurhadi, 1987).

10. Cara Mengukur Kecepatan Membaca

Kecepatan membaca biasanya diukur dengan berapa banyak kata atau yang

terbaca setiap menitnya, dengan pemahaman rata-rata 50%, atau dengan kata lain

berkisar antara 40% sampai 60%. Pada taraf pemahaman sekian, kecepatan

membaca dianggap memadai (Nurhadi, 1987).

Menurut Nurhadi (1987), cara mengukur kecepatan membaca adalah

sebagai berikut:

a. Mencatat waktu mulai membaca (jam …, menit …, detik ….).

b. Menandai di mana awal membaca (lebih mudah bila dimulai dari judul

bacaan).

(35)

d. Menandai di mana akhir membaca (pada kalimat akhir, jika bacaannya

pendek).

e. Mencatat waktu berakhirnya membaca (jam …, menit …, detik …).

f. Menghitung berapa waktu yang diperlukan (dalam detik).

g. Menghitung jumlah kata dalam teks yang dibaca (termasuk tanda baca).

h. Mengalikan jumlah kata dengan bilangan 60 (1 menit = 60 detik). Hasil

perkalian merupakan jumlah total kata.

i. Membagi hasil perkalian dengan jumlah waktu yang diperlukan untuk

membaca. Hasilnya adalah “jumlah kata per menit”.

Bila digambarkan proses di atas adalah seperti di bawah ini:

a. Saat akhir membaca : jam …, menit …, detik …

Saat mulai membaca : jam …, menit …, detik …

Waktu yang diperlukan : ……… detik

b. Jumlah kata x 60 menit = jumlah total kata

Jumlah total kata : waktu yang diperlukan = jumlah kata per menit.

Secara lebih sederhana, Soedarso (2010) mengemukakan rumus untuk

mengukur kecepatan membaca sebagai berikut:

Jumlah kata yang dibaca x 60 = jumlah kata per menit (kpm) Jumlah detik untuk membaca

11. Fleksibelitas Kecepatan Membaca

Fleksibelitas dalam membaca adalah keterampilan membaca setiap bahan

bacaan tidak dengan cara yang sama (Ahuja & Ahuja, 2007). Kecepatan membaca

(36)

dengan bahan tersebut. Kecepatan membaca harus seiring dengan kecepatan

memahami bahan bacaan (Soedarso, 2010).

Temuan riset memperlihatkan bahwa kebanyakan pembaca tidak memiliki

fleksibelitas dalam membaca. Harris (dalam Ahuja & Ahuja, 2007) melaporkan

bahwa kebanyakan pembaca tidak fleksibel dalam kecepatan membaca.

Kebanyakan pembaca cenderung mempertahankan satu pendekatan karakteristik

dan menggunakan satu kecepatan yang relatif tetap untuk setiap jenis bahan

bacaan. McDonald (dalam Ahuja & Ahuja, 2007) meneliti lebih dari 8.000

pembaca tingkat sekolah dasar, lanjutan, perguruan tinggi dan orang dewasa. Dia

menemukan bahwa lebih dari 90% dari mereka cenderung mempertahankan

pendekatan karakteristik dan relatif tidak mengubah kecepatan membaca mereka

untuk semua jenis bacaan yang diujicobakan, kendatipun ada perbedaan tujuan

dan variasi tingkat kesulitannya, serta gaya dan isi bacaan.

12. Hambatan Membaca Cepat

Ahuja dan Ahuja (2007) mengemukakan, ada beberapa penghalang

membaca cepat yang mempengaruhi efisiensi membaca. Penghalang-penghalang

itu antara lain vokalisasi, gerakan bibir, berbicara atau mendengar dalam hati,

goyangan kepala, tunjuk jari, membaca kata per kata, analisis kata, pemblokan

mata, mundur ke belakang dan membaca ulang. Tingkat kesulitan bahan bacaan

dan kekurangan motivasi. Tingkat kesulitan bahan bacaan dan kekurangan

(37)

Soedarso (2010) mengemukakan ada enam penghambat seseorang untuk

membaca cepat, yaitu:

a. Vokalisasi

Vokalisasi atau membaca dengan bersuara berarti mengucapkan kata demi kata

dengan lengkap. Hal ini memperlambat membaca. Menggumam, sekalipun

dengan mulut terkatup dan suara tidak terdengar, termasuk membaca dengan

bersuara.

Cara mengidentifikasi vokalisasi yaitu dengan meletakkan tangan di leher saat

membaca. Apabila terasa getaran di jakun, hal tersebut berarti membaca

dengan bersuara atau vokalisasi. Adapun cara untuk menghilangkan kebiasaan

ini adalah dengan meniup atau membentuk bibir seperti bersiul saat membaca

sembari meletakkan tangan di leher untuk memastikan tidak ada getaran di

jakun.

b. Gerakan bibir

Orang dewasa ada yang meneruskan kebiasaan di waktu kecil, yaitu

mengucapkan kata demi kata apa yang dibaca dengan menggerakkan bibir.

Menggerakkan bibir atau komat-kamit sewaktu membaca, sekalipun tidak

mengeluarkan suara, sama lambatnya dengan membaca bersuara. Kecepatan

membaca bersuara ataupun dengan gerakan bibir hanya seperempat dari

kecepatan membaca secara diam. Dengan menggerakkan bibir, seseorang lebih

sering regresi (kembali ke belakang), sebab ketika mata dapat dengan cepat

(38)

Cara menghilangkan kebiasaan membaca dengan gerakan bibir, berikut

merupakan beberapa alternatif pilihan cara mengatasinya:

1)Merapatkan bibir kuat-kuat, tekankan lidah ke langit-langit mulut.

2)Mengunyah permen karet.

3)Menggunakan pensil atau sesuatu yang lain yang cukup ringan, lalu dijepit

dengan kedua bibir (bukan gigi), usahakan agar pensil tidak bergerak.

4)Mengucapkan berulang-ulang, “satu, dua, tiga.”

5)Membuat gerakan bibir bersiul, tetapi tanpa suara.

c. Gerakan kepala

Sewaktu kanak-kanak, penglihatan sukar menguasai seluruh penampang

bacaan. Akibatnya adalah menggerakkan kepala dari kiri ke kanan untuk dapat

membaca baris-baris bacaan secara lengkap. Setelah dewasa, penglihatan telah

mampu secara optimal, sehingga seharusnya cukup mata saja yang bergerak.

Cara menghilangkan kebiasaan menggerakkan kepala, berikut merupakan

beberapa alternatif pilihan cara mengatasinya:

1)Meletakkan telunjuk jari ke pipi dan menyandarkan siku tangan ke meja

selama membaca, apabila terasa tangan terdesak oleh gerakan kepala,

sadarlah dan hentikan gerakan tersebut.

2)Tangan memegang dagu seperti membelai-belai jenggot dan apabila kepala

bergerak, sadarlah dan hentikan gerakan tersebut.

3)Meletakkan ujung telunjuk jari di hidung, bila kepala bergerak akan segera

(39)

d. Menunjuk dengan jari

Sewaktu baru belajar membaca, individu harus mengucapkan kata demi kata

yang dibaca dengan bantuan jari atau pensil yang menunjuk kata demi kata

tersebut. Hal ini untuk memastikan bahwa tidak ada kata yang terlewati. Oleh

karena cara tersebut dipraktikkan terus-menerus dan tidak ada yang

memberikan petunjuk lebih lanjut bahwa hal tersebut tidak perlu lagi dilakukan

apabila telah pandai membaca, akhirnya cara itu menjadi kebiasaan dan

dilakukan sampai dewasa.

Cara membaca menunjuk dengan jari atau benda lain sangat menghambat,

sebab gerakan tangan lebih lambat daripada gerakan mata. Kebiasaan tersebut

dapat dihilangkan dengan cara yang mudah sebagai berikut:

1)Kedua tangan memegang buku yang dibaca.

2)Memasukkan tangan ke saku selama membaca.

e. Regresi

Selama membaca, mata bergerak ke kanan untuk menangkap kata-kata yang

terletak berikutnya. Akan tetapi, mata sering bergerak kembali ke belakang

untuk membaca ulang suatu kata atau beberapa kata sebelumnya. Kebiasaan

selalu kembali (regresi) ke belakang untuk melihat kata atau beberapa kata

yang baru dibaca merupakan hambatan yang serius dalam membaca.

Keinginan untuk melihat ke belakang antara lain terdorong karena kurang

percaya diri, merasa kurang tepat menangkap arti, merasa kehilangan sesuatu,

atau salah membaca sebuah kata. Kebiasaan regresi disebabkan melamun.

(40)

membaca. Regresi dapat dikurangi dengan melaksanakan hal-hal sebagai

berikut:

1)menanamkan kepercayaan diri. Tidak berusaha mengerti setiap kata atau

kalimat di paragraf dan tidak terpaku pada detail. Terus membaca, tidak

mengikuti godaan untuk kembali ke belakang.

2)menghadapi bahan bacaan. Tetap memperhatikan bahan bacaan yang

dibaca.

3)meneruskan membaca sampai akhir kalimat. Apa yang dipikir tertinggal

akan muncul kembali. Terus membaca, seiring membaca selanjutnya

individu akan menemukan apa yang dipikirnya hilang. Kemampuan otak

dan mata jauh melampaui perkiraan. Oleh karena itu, terus paksakan

membaca. Dengan demikian, individu akan mengganti kebiasaan lama

dengan yang baru.

f. Subvokalisasi

Subvokalisasi atau melafalkan dalam batin/pikiran kata-kata yang dibaca juga

dilakukan oleh pembaca yang kecepatannya telah tinggi. Subvokalisasi juga

menghambat karena individu menjadi lebih memperhatikan bagaimana

melafalkan secara benar daripada berusaha memahami ide yang dikandung

dalam kata-kata yang dibaca.

Menghilangkan sama sekali cara membaca dengan melafalkan dalam batin apa

yang dibaca memang tidak mungkin, tetapi masih dapat diusahakan dengan

(41)

menangkap beberapa kata sekaligus dan langsung menyerap idenya daripada

melafalkannya.

B.Pemahaman Bacaan

7. Definisi Pemahaman Bacaan

Sebelum 1915, ketika membaca ditekankan pada aspek lisan, pelajaran

membaca tidak memiliki sisi pemahaman. Istilah pemahaman jarang ditemukan

dalam literatur. Pengajaran membaca pada 1915 sampai 1925 ditekankan pada

pengenalan kata. Ketika seorang anak telah belajar dan mampu melafalkan dengan

baik kata-kata, maka tujuan membaca dianggap telah tercapai. Selama

tahun-tahun terakhir abad ke 19, Romanes (dalam Ahuja dan Ahuja, 2007) menyatakan

istilah pemahaman dengan “kekuatan asimilasi”. Gray (dalam Ahuja dan Ahuja,

2007) menggunakan istilah “kualitas membaca” untuk menunjukkan makna

pemahaman.

Yoakam (dalam Ahuja dan Ahuja, 2007) menggambarkan pemahaman

bacaan sebagai memahami materi bacaan yang melibatkan asosiasi yang benar

antara makna dan simbol kata, penilaian konteks makna yang diduga ada,

pemilihan makna yang benar, organisasi gagasan ketika materi bacaan dibaca,

penyimpanan gagasan dan pemakaiannya dalam berbagai aktivitas sekarang atau

(42)

Definisi Macmillan (dalam Ahuja dan Ahuja, 2007) boleh jadi lebih tepat

dan jelas. Ia mendefinisikan pemahaman bacaan sebagai memahami apa yang

tertulis di dalam, di antara dan di luar baris-baris tulisan atau dengan kata lain

penafsiran cerdas, yang meliputi:

a. membaca untuk mendapatkan gagasan-gagasan utama;

b. membaca untuk mendapatkan detail-detail penting;

c. membaca untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan spesifik;

d. membaca untuk mengikuti urutan logis dan pengembangan gagasan;

e. membaca untuk menerapkan apa yang dibaca;

f. membaca untuk menemukan deduksi dan implikasi; dan

g. membaca untuk menilai.

Secara singkat, Snow (2002) mendefinisikan pemahaman bacaan sebagai

proses simultan menyarikan dan mengkonstruksi makna melalui interaksi dan

keterlibatan dengan bahasa tertulis.

Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli, dapat disimpulkan

bahwa pemahaman bacaan adalah proses simultan menyarikan dan

mengkonstruksi makna dari materi bacaan meliputi asosiasi yang benar antara

makna dan simbol kata, penilaian konteks makna yang diduga ada, pemilihan

makna yang benar, dan organisasi gagasan ketika materi bacaan dibaca, yang

semua hal tersebut digunakan untuk mendapatkan gagasan-gagasan utama,

mendapatkan detail-detail penting, menjawab pertanyaan-pertanyaan spesifik,

mengikuti urutan logis dan pengembangan gagasan, menerapkan apa yang dibaca,

(43)

8. Elemen Pemahaman Bacaan

Pemahaman bacaan terdiri dari tiga elemen, yaitu the reader (pembaca), the

text (teks atau bahan bacaan) dan the activity or purpose for reading (aktifitas atau

tujuan membaca) (Snow, 2002).

a. The Reader (Pembaca)

Untuk memahami, pembaca harus memiliki berbagai kapasitas dan

kemampuan. Kapasitas dan kemampuan tersebut meliputi kapasitas kognitif

(misalnya, perhatian, memori, kemampuan analitis kritis, penelusuran,

kemampuan visualisasi), motivasi (tujuan membaca, minat terhadap konten/isi

yang sedang dibaca, self efficacy sebagai pembaca), dan berbagai jenis

pengetahuan (kosakata, pengetahuan mengenai topik dan domain/bidang,

pengetahuan tentang wacana dan linguistik, pengetahuan tentang strategi

pemahaman spesifik).

Kapasitas kognitif, motivasi, kapasitas bahasa dan pengetahuan dasar yang

disebut dalam berbagai tindakan pemahaman bacaan bergantung pada teks

yang digunakan dan aktivitas spesifik di mana seorang pembaca terlibat.

b. The Text (Teks atau Bahan Bacaan)

Fitur teks memiliki dampak yang besar terhadap pemahaman. Pemahaman

tidak terjadi hanya dengan penggalian makna secara sederhana dari teks.

Selama membaca, pembaca mengkonstruksi representasi yang berbeda dari

teks yang mana penting bagi pemahaman. Representasi tersebut meliputi,

(44)

merepresentasikan makna), dan representasi dari mental model yang terdapat

dalam teks.

Perkembangan komputer dan teks elektronik telah membawa para ahli untuk

memperluas definisi teks untuk memasukkan teks elektronik dan dokumen

multimedia di samping cetakan konvensional.

Teks bisa sulit atau mudah, tergantung pada faktor-faktor yang melekat dalam

teks, pada hubungan antara teks dan pengetahuan dan kemampuan pembaca,

dan pada kegiatan yang pembaca terlibat.

c. The Activity or Purpose for Reading (Aktifitas atau Tujuan Membaca)

Membaca dilakukan untuk suatu tujuan. Suatu kegiatan membaca melibatkan

satu atau lebih tujuan, beberapa operasi untuk mengolah teks, dan konsekuensi

melakukan kegiatan membaca tersebut. Sebelum membaca, pembaca memiliki

tujuan yang berasal dari dalam diri maupun luar. Tujuan dipengaruhi oleh

variabel motivasi, meliputi minat dan prior knowledge.

Aktifitas membaca meliputi satu atau lebih tujuan atau tugas, beberapa operasi

untuk memproses teks, dan hasil dari melakukan kegiatan, semua yang terjadi

dalam beberapa konteks tertentu. Tujuan awal membaca dapat berubah selama

membaca. Hal ini berarti, selama membaca, pembaca mungkin menghadapi

berbagai informasi yang menimbulkan pertanyaan baru dan membuat tujuan

awal tidak cukup atau tidak relevan lagi. Mengolah teks melibatkan

pengkodean teks, tingkat pengolahan linguistik dan semantik yang lebih tinggi,

dan self monitoring untuk pemahaman, yang semuanya tergantung pada

(45)

Akhirnya, konsekuensi dari membaca adalah bagian dari kegiatan tersebut.

Beberapa kegiatan membaca menyebabkan peningkatan pengetahuan yang

dimiliki oleh pembaca. Konsekuensi lain dari kegiatan membaca adalah

mengetahui bagaimana melakukan sesuatu. Aplikasi dari

konsekuensi-konsekuensi tersebut sering berhubungan dengan tujuan pembaca.

Pengetahuan, aplikasi, dan keterlibatan merupakan konsekuensi langsung dari

kegiatan membaca.

9. Unit Pemahaman

Burns, Roe dan Ross (1984) menyatakan bahwa unit-unit dasar pemahaman

dalam membaca adalah kata, kalimat, paragraf, dan whole selection.

a. Kata

Kosakata harus dibangun dari kata-kata yang telah dipahami. Perkembangan

kosakata merupakan perkembangan skemata. Untuk memahami sesuatu,

individu harus memanggil skemata yang telah dimiliki. Oleh karena itu,

perkembangan kosakata merupakan komponen penting keterampilan

pemahaman.

b. Kalimat

Individu mungkin menemukan kalimat kompleks yang sulit dipahami untuk itu

individu harus menemukan cara untuk menemukan maknanya. Penelitian telah

menunjukkan bahwa instruksi yang sistematis dalam pemahaman kalimat

(46)

untuk menemukan bagian penting dari kalimat adalah dengan menuliskannya

dalam format telegram.

c. Paragraf

Paragraf merupakan kelompok kalimat yang menyajikan suatu fungsi

keterangan dalam suatu bagian. Paragraf dibangun oleh suatu ide utama atau

topik. Memahami fungsi, organisasi umum, dan hubungan antar kalimat dalam

suatu paragraf merupakan hal yang penting dalam pemahaman membaca.

d. Whole Selection

Keseluruhan bagian terdiri dari kata, kalimat, dan paragraf. Pemahaman

keseluruhan bagian tergantung pada pemahaman unit-unit yang lebih kecil.

10. Tingkatan Pemahaman

Burns dkk. (1984) menyatakan bahwa ada empat tingkatan pemahaman dan

pembaca mampu memahami bacaan pada sejumlah tingkatan yang berbeda.

Empat tingkatan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Pemahaman Literal

Membaca pada tingkatan pemahaman literal meliputi memperoleh informasi

dalam suatu bagian yang dinyatakan secara langsung. Pemahaman pada

tingkatan ini merupakan prasyarat untuk tingkatan pemahaman yang lebih

tinggi. Menemukan ide utama yang telah dinyatakan, detail-detail,

sebab-akibat, dan runtutan (sequence) merupakan dasar pemahaman tingkat literal.

Contoh keterampilan pemahaman pada tingkat ini meliputi kemampuan untuk

(47)

dengan menggunakan kata-kata yang berbeda. Pemahaman pada tingkat literal

didefinisikan sebagai pengertian secara eksplisit informasi yang dinyatakan

dengan mengenyampingkan medium yang menghadirkannya. Contohnya,

simbol-simbol bahasa lisan atau tulisan. Ini merupakan fokus utama pada

tingkat pemahaman literal. Tujuan khusus dari pemahaman tingkat literal

adalah sebagai berikut: (1) rinci; (2) runtut kejadian-kejadian; (3) ciri-ciri

karakter; dan (4) hubungan sebab akibat.

b. Pemahaman Interpretatif

Pemahaman tingkat interpretatif didefinisikan sebagai pengertian dari

pernyataan informasi yang dinyatakan secara implisit. Membaca interpretatif

meliputi membaca antara baris atau menarik kesimpulan, merupakan proses

memperoleh ide yang dinyatakan secara tidak langsung daripada yang

dinyatakan secara langsung.

Keterampilan membaca interpretatif meliputi menyimpulkan ide utama dimana

ide tersebut tidak secara langsung dinyatakan, menyimpulkan hubungan

sebab-akibat yang tidak dinyatakan secara langsung, menyimpulkan keterangan atau

penjelasan dari kata ganti, menyimpulkan keterangan atau penjelasan dari kata

keterangan, menyimpulkan kata-kata yang diabaikan, mendeteksi mood,

mendeteksi tujuan pengarang dalam menulis, dan menarik kesimpulan.

c. Pemahaman Kritis

Membaca kritis adalah mengevaluasi materi tertulis, membandingkan ide yang

ditemukan dalam materi dengan standar-standar yang diketahui dan menarik

(48)

kritis pasti merupakan pembaca yang aktif, mempertanyakan, mencari fakta,

dan menunda penilaian sampai mereka telah mempertimbangkan semua materi.

Membaca kritis tergantung pada pemahaman literal dan interpretatif, dan

memahami ide yang tidak dinyatakan secara langsung merupakan hal yang

penting. Pemahaman pada tingkat kritikal dijelaskan sebagai pengertian dari

informasi yang akan membuat seseorang mampu menentukan nilai tentang

informasi yang diterimanya.

d. Pemahaman Kreatif

Membaca kreatif meliputi memahami materi melebihi yang disampaikan oleh

pengarang. Hal ini menuntut pembaca untuk berpikir selama membaca, sama

seperti membaca kritis, dan hal ini juga menuntut pembaca untuk

menggunakan imajinasi mereka. Pemahaman tingkat kreatif melibatkan

membuat respon secara personal terhadap pengertian yang kompleks dari

penerimaan pesan. Personal response, didasari pada suatu pengertian penuh

dari pesan yang diekspresikan, hal ini merupakan jantung dari pemahaman

tingkat kreatif.

11. Faktor yang Mempengaruhi Pemahaman Bacaan

Nurhadi (1987) mengemukakan bahwa membaca merupakan proses yang

kompleks dan rumit karena dalam proses membaca terlibat berbagai faktor

internal dan eksternal pembaca. Faktor internal berupa intelegensi, minat, sikap,

(49)

tingkat kesulitan teks bacaan, faktor lingkungan, faktor latar belakang sosial

ekonomi, kebiasaan dan tradisi membaca.

Membaca pada hakikatnya adalah proses berpikir. Dalam proses membaca

terlibat aspek-aspek berpikir seperti mengingat, memahami, membeda-bedakan,

membandingkan, menemukan, menganalisis, mengorganisasi, dan pada akhirnya

menerapkan apa-apa yang terkandung dalam bacaan. Aspek-aspek tersebut

melibatkan tipe-tipe berpikir divergen (induktif), berpikir konvergen (deduktif),

dan tipe berpikir abstrak. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam membaca

diperlukan kemampuan intelektual. Hasil dari beberapa penelitian yang pernah

dilakukan menunjukkan adanya korelasi yang tinggi antara minat terhadap bacaan

dan kemampuan membacanya. Demikian pula penelitian hubungan antara tujuan

membaca dan perubahan gerak mata pada waktu membaca. Dalam penelitian

terlihat bahwa perubahan tujuan membaca berakibat terjadinya perubahan dalam

gerak mata berlangsung. Di sini terbukti bahwa ada faktor tujuan membaca yang

mempengaruhi proses membaca. Faktor eksternal penerangan atau pencahayaan

yang kurang baik akan mempengaruhi hasil membaca. Demikian juga faktor

sosial ekonomi dimana status sosial ekonomi yang tinggi cenderung dilimpahi

kemudahan sarana membaca yang memadai, sehingga terbentuk tradisi atau

kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca ini yang akan mempengaruhi

kemampuan dan latihan membaca. Kebiasaan membaca akan berpengaruh pada

kecepatan dan keefektifan membaca seseorang. Faktor internal dan eksternal

tersebut saling berhubungan membentuk semacam koordinasi untuk menunjang

(50)

Secara spesifik, faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan membaca dan

pemahaman bacaan dikemukakan oleh Shores (dalam Ahuja dan Ahuja, 2007),

antara lain ukuran huruf, model huruf, kehitaman dan ketajaman cetakan, mutu

dan sifat kertas, ukuran halaman, organisasi bahan, banyaknya ruang kosong, jenis

dan penempatan ilustrasi (gambar/foto), judul dan sub judul, kejelasan tulisan,

bidang pengetahuan, kompleksitas gagasan, gaya menulis pengarang, jenis tulisan

(puisi, narasi, atau deskriptif/paparan), kepribadian penulis, perasaan pembaca

(mengantuk, waspada, tenang, gelisah), kemampuan mental pembaca,

keterampilan membaca, lingkungan tempat membaca, latar pengalaman membaca,

tujuan dan minat pada bidang atau ranah karya bahan yang sedang dibaca, dan

keakrabannya dengan kekhasan gaya pengarang dan pengalimatannya.

Teori Chomsky (dalam Matlin, 2005) tentang transformational grammar

telah menimbulkan ketertarikan tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi

pemahaman kalimat. Para psikolog telah melakukan penelitian terhadap hal ini.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman terhadap kalimat adalah

sebagai berikut:

a. Kata Negatif

Williams (dalam Matlin, 2005) mengemukakan bahwa kalimat yang memuat

kata negatif, seperti tidak dan bukan, atau kata negatif yang tersirat (seperti

ditolak), hampir selalu membutuhkan lebih banyak waktu pemrosesan

(51)

b. Bentuk Pasif

Chomsky (dalam Matlin, 2005) menunjukkan bahwa bentuk kalimat aktif dan

kalimat pasif mungkin memiliki surface structure yang berbeda, meskipun

memiliki deep structure yang sama. Transformasi dari bentuk aktif ke bentuk

pasif membutuhkan tambahan kata.

c. Nested Structure (Struktur Bertingkat)

Struktur bertingkat adalah frase yang melekat di dalam kalimat lain. Pembaca

mengalami "cost memory" ketika membaca kalimat yang memuat struktur

bertingkat. Memory cost menjadi berlebihan jika suatu kalimat memuat lebih

dari satu struktur bertingkat.

d. Ambiguitas

Kalimat menjadi lebih sulit untuk dipahami jika memuat kata yang ambigu

atau memiliki struktur kalimat yang ambigu. Pembaca secara khusus berhenti

lebih lama ketika mereka memproses kata yang ambigu. Rueckl (dalam Matlin,

2005) menyatakan bahwa pembaca dapat memahami kalimat yang ambigu,

sama seperti pembaca dapat memahami kalimat negatif, kalimat yang

menggunakan bentuk pasif, dan kalimat dengan struktur bertingkat yang

kompleks. Meskipun demikian, pembaca merespon lebih cepat dan lebih akurat

(52)

Wainwright (2006) mengemukakan bahwa faktor terpenting yang bisa

mempengaruhi pemahaman terhadap materi bacaan adalah sebagai berikut:

a. Kecepatan membaca

Kecepatan membaca jika melampaui batas-batas tertentu, bisa memberikan

efek merugikan terhadap pemahaman. Batas-batas tersebut sangat bervariasi,

tergantung orang dan waktunya.

b. Tujuan membaca

Tujuan berkaitan erat dengan motivasi dalam membaca dan minat terhadap

materi bacaan. Menetapkan tujuan membaca dapat membantu meningkatkan

motivasi dan minat membaca.

c. Sifat materi bacaan

d. Tata letak materi bacaan

e. Lingkungan tempat membaca

Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa

faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman bacaan terbagi dua, yaitu faktor

internal dan faktor eksternal.

Adapun faktor internal pembaca yang mempengaruhi pemahaman bacaan

adalah sebagai berikut:

a. Intelegensi

b. Tujuan membaca

c. Kecepatan membaca

d. Perasaan pembaca

(53)

f. Latar pengalaman membaca

Adapun faktor eksternal pembaca yang mempengaruhi pemahaman bacaan

adalah sebagai berikut:

a. Tingkat kesulitan teks bacaan

b. Lingkungan

c. Latar belakang sosial ekonomi

d. Format bahan bacaan

e. Gaya penulisan

f. Jenis tulisan

6. Pengukuran Pemahaman bacaan

Ivor Davies (dalam Nurgiyantoro, 2001) mengemukakan bahwa Bloom

membedakan keluaran belajar ke dalam tiga kategori atau biasa dikenal dengan

ranah atau domain, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Taksonomi bloom untuk tugas membaca juga mencakup ketiga ranah

tersebut. Tugas kognitif berupa aktivitas kognitif memahami bacaan secara tepat

dan kritis, atau berupa kemampuan membaca. Tugas afektif berhubungan dengan

sikap dan kemauan siswa untuk membaca, sedangkan tugas psikomotor berupa

aktivitas fisik siswa sewaktu membaca (Nurgiyantoro, 2001).

Pemahaman bacaan yang merupakan ranah kognitif terdiri dari enam

tingkatan dari yang sederhana ke yang lebih kompleks, dari aspek kognitif yang

hanya menuntut aktivitas intelektual sederhana ke yang menuntut kerja intelektual

(54)

penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Oleh karena itu, penilaian yang

dilakukan untuk mengukur keberhasilannya juga mencakup enam tingkatan

tersebut melalui tes kemampuan membaca. Tes kemampuan membaca

dimaksudkan untuk mengukur kemampuan siswa memahami isi atau informasi

yang terdapat dalam bacaan (Nurgiyantoro, 2001).

Bahan bacaan untuk tes kemampuan membaca hendaklah yang mengandung

informasi yang menuntut untuk dipahami. Menurut Nurgiyantoro (2001),

pemilihan wacana hendaknya dipertimbangkan dari segi:

a. Tingkat Kesulitan

Tingkat kesulitan wacana terutama ditentukan oleh kekompleksan kosa kata

dan struktur. Secara umum, wacana yang baik untuk bahan tes kemampuan

membaca adalah wacana yang tingkat kesulitannya sedang, atau sesuai dengan

tingkat kemampuan individu yang dites.

Salah satu prosedur memperkirakan tingkat kesulitan wacana adalah dengan

teknik cloze. Wacana yang akan diketahui tingkat kesulitannya, diteskan dalam

bentuk cloze test. Jika rata-rata jawaban betul lebih dari 75%, wacana yang

bersangkutan dinyatakan mudah. Sebaliknya, jika rata-rata betul kurang dari

20%, wacana tersebut tergolong sulit.

b. Isi Wacana

Bacaan yang baik adalah yang sesuai dengan tingkat perkembangan jiwa,

minat, kebutuhan atau menarik perhatian siswa. Walaupun demikian, tidak

mudah untuk mengoperasionalkan pengertian-pengertian abstrak tersebut.

(55)

bacaan, adalah untuk memperluas dunia dan horizon individu. Di pihak lain,

pemilihan isi wacana perlu selektif untuk menghindari bacaan yang bersifat

kontra atau masih bersifat kontroversial.

c. Panjang Pendek Wacana

Wacana yang diteskan sebaiknya tidak terlalu panjang.

d. Jenis atau Bentuk Wacana

Wacana yang digunakan sebagai bahan tes kemampuan membaca dapat

berbentuk prosa, dialog, ataupun puisi. Pada umumnya, yang banyak

dipergunakan adalah wacana yang berbentuk prosa.

Bentuk tes kemampuan membaca secara garis besar dapat dibedakan

menjadi dua macam, yaitu tes subjektif dan tes objektif. Bentuk tes yang pertama

sering juga disebut tes bentuk esai. Tes objektif disebut juga sebagai tes jawaban

singkat. Ada empat macam tes objektif, yaitu tes jawaban benar-salah (true-false),

pilihan ganda (multiple choice), isian (completion), dan penjodohan (matching)

(Nurgiyantoro, 2001).

Tes pilihan ganda merupakan suatu bentuk tes yang paling banyak

dipergunakan dalam dunia pendidikan. Tes pilihan ganda terdiri dari sebuah

pernyataan atau kalimat yang belum lengkap yang kemudian diikuti oleh sejumlah

pernyataan atau bentuk yang dapat untuk melengkapinya. Dari sejumlah

“pelengkap” tersebut, hanya satu yang tepat sedang yang lain merupakan

(56)

Tes bentuk pilihan ganda tepat sekali untuk mengukur hasil belajar aspek

kognitif dalam tingkatan sederhana, seperti ingatan, pemahaman, dan penerapan.

Untuk mengukur tingkatan yang lebih kompleks, tes bentuk pilihan ganda disusun

secara bervariasi, misalnya tes yang berupa tinjauan kasus, analisis hubungan

sebab-akibat, melengkapi berganda, dan membaca diagram atau tabel. Butir soal

yang berupa melengkapi berganda, merupakan tingkat analisis. Butir soal yang

berupa analisis hubungan sebab akibat menuntut siswa untuk menghubungkan dua

hal, merupakan tingkatan sintesis. Butir soal yang berupa tinjauan kasus menuntut

siswa untuk mampu menilai, merupakan tingkatan evaluasi (Nurgiyantoro, 2001).

Jawaban terhadap tes objektif bersifat pasti dan dikotomis, hanya ada satu

kemungkinan jawaban yang benar. Cara menentukan skor dapat dilakukan dengan

menggunakan dua rumus, yaitu rumus tanpa tebakan dan rumus dengan tebakan

(Nurgiyantoro, 2001).

a. Rumus Tanpa Tebakan

Rumus: S = R

Keterangan:

S : skor

R : jawaban yang benar

b. Rumus dengan Tebakan

Rumus: S = R x (W / n-1)

Keterangan

S : Skor

(57)

W : Jawaban yang salah

n : Jumlah alternatif jawaban

C.Pengaruh Pelatihan Membaca Cepat Terhadap Pemahaman Bacaan

Stauffer (1969), meninjau banyak sekali deskripsi tentang proses membaca

dan melaporkan bahwa hanya ada satu butir kesepakatan umum di kalangan para

pakar bahwa pemahaman bacaan adalah syarat mutlak bagi proses membaca.

Membaca adalah kecakapan memaknai dan menemukan arti. Proses

pen-dekode-an (memaknai atau menemukpen-dekode-an arti) ini berfungsi sebagai alat atau sarpen-dekode-ana bagi

proses mental ketika pembaca mencoba memperoleh makna dari bahan bacaan.

Membaca melibatkan pemahaman tidak hanya pendekodean dan interpretasi

tingkat harfiah dari simbol-simbol tertulis. Membaca efektif dan bertujuan selalu

berarti membaca konseptual yang bekerja pada dua tingkat. Pertama adalah

memecahkan kode (dekode), dan kedua adalah memahami sesuatu dengan tujuan

dalam pikiran pembaca (Ahuja dan Ahuja, 2007).

Keterampilan membaca pemahaman amat diperlukan. Menurut para ahli

pengajaran, teknik membaca cepat merupakan salah satu teknik pengajaran yang

dapat membantu memahami teks yang dibaca dengan lebih cepat dan dapat

mengurangi kesalahan (Nurhadi, 1987). Mickulecky dan Jeffries (dalam

Marhamah, 2004) menyatakan bahwa kecepatan membaca mempengaruhi kerja

otak dalam memproses informasi. Semakin tinggi kecepatan membaca, semakin

cepat kerja otak dan semakin baik pula pemahaman bacaannya. Sebaliknya,

Gambar

Tabel 1. Blueprint Distribusi Aitem Alat Ukur
Tabel 2. Hasil Analisa Data Uji Coba Alat Ukur
Tabel 3. Blueprint Distribusi Aitem Hasil Uji Coba Alat Ukur
Tabel 4. Gambaran Sebaran Subjek Penelitian Berdasarkan Kategori Intelegensi
+7

Referensi

Dokumen terkait

merasakan nyeri pada sekitaran leher. Keluhan utama yang timbul pada penderita nyeri cervical adalah ; 1) nyeri. cervical tanpa adanya nyeri radikuler dan deficit neurologis;

Senam aerobik yang dilakukan pada penderita DM sangat berperan penting dalam menurunkan kadar gula darah, karena pada saat melakukan senam menyebabkan otot bekerja aktif

Pelatihan membaca cepat adalah salah satu alternatif yang bisa dilakukan. untuk merangsang kegemaran siswa untuk menjadikan

Jika membaca buku agama Islam menjadi lebih mudah dan cepat, kemungkinan besar siswa akan menyelesaikan tugas mereka dengan hasil yang baik dan perasaan yang menyenangkan..

Definisi stress sendiri sampai saat ini masih sangat sulit untuk dijabarkan oleh para ilmuwan, karena itu merupakan sensasi subjektif yang berhubungan dengan gejala-gejala

Pemahaman membaca sendiri merupakan suatu tolak ukur dari keberhasiln proses membaca seseorang, sehingga tujuan utama dalam kegiatan membaca yakni untuk

Menurut Lumongga (2010) gejala fisik yang timbul seperti nafas pendek, tekanan darah dan nadi naik, aktivitas motorik meningkat, ketegangan, sedangkan gejala psikologis yang

Peranan sport massage adalah pada saat manipulasi diberikan maka akan berefek pada pelebaran pembuluh darah sehingga darah akan semakin lancar, sendi semakin tidak kaku