• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Anak Dalam Kumpulan Cerpen Bobo Edisi 39 Teman Dalam Kegelapan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Anak Dalam Kumpulan Cerpen Bobo Edisi 39 Teman Dalam Kegelapan"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

Lampiran: Sinopsis Cerpen

1. Aku dan Popon

Mia kembali bermimpi bertemu dengan anak perempuan itu. Ia pun teringat

dengan wanita tua yang mengalami gangguan jiwa yang mengganggu liburannya.

Melalui mimpinya, ia dan keluarganya menelusuri apa yang sebenarnya terjadi.

2. Badut Simon

Pak Simon bekerja sebagai badut penghibur. Namun, keluarganya tidak

mengetahuinya. Suatu hari, saat ia menolong istrinya yang kecopetan, Pak Simon

meninggalkan jejak berupa senyum dengan gigi ompongnya.

3. Bagaimana Mungkin Ada Hantu Lain

Wulan dan Reno berencana mengusili Aryo agar tidak sembarangan membuat

lelucon. Namun rencana mereka untuk menakut-nakuti membuat kebenaran lain

terungkap.

4. Gigi Rahasia Makhluk Aneh

Yudi yang kala itu berada di sendiri di rumah, mendapati sesosok makhluk

aneh mengendap-enadap mencari sesatu di halamn samping rumahnya. Dengan

segala keberanian, ia menelusuri apa yang sebenarnya terjadi.

5. Maafkan Dirimu, Sisi

Sisi dan Lani sama-sama memiliki pengalaman pahit. Keduanya kehilangan

saudara yang menyelamatkan mereka. Di lain hal, hanya Sisi-lah yang masih

(2)

6. Melacak Jejak

Nigar kesal pada Igun, adiknya. Hal itu membuat Igun pergi dari rumah. Di

tengah kecemasan dan kebingungannya, Nigar bertemu dengan Oben, temannya,

yang bersedia membantu mencari Igun.

7. Misteri Dua Karcis Pertunjukan Musik

Sebuah keluarga kecil mendapat dua karcis pertunjukkan musik. Namun

suatu hal terjadi ketika mereka pergi meninggalkan rumah. Hingga akhirnya

mereka mengetahui apa maksud kedua karcis pertunjukkan musik itu diberikan.

8. Misteri Tahi Lalat Mungil di Ujung Dagu

Puji memiliki tahi lalat di ujung dagu. Sepintas hal tersebut biasa saja

baginya. Misteri itu tidak juga terjawab hingga akhirnya Puji jatuh sakit dan

dirawat di rumah sakit. Di sanalah ia menemukan jawaban dari pertanyaannya.

9. Pemuda Misterius

Bayu didatangi oleh seorang pemuda tidak dikenal. Beberapa saat kemudian

pemuda tersebut tidak terlihat lagi di sekeliling rumah. Bersama Toni, teman

sekelas Bayu, keduanya pun bekerja sama menelusuri siapa dan di mana

keberadaan pemuda misterius tersebut.

10. Rahasia Sekeping Logam

Alia mendapatkan sebuah koin yang mampu mengabulkan tiga

permintaannya. Dengan rasa tidak percaya, Alia menyebutkan satu persatu

(3)

11. Pencuri Prangko Oscar

Oscar kehilangan prangko dari Belanda. Bersama dengan Doni, temannya,

mereka pun berhasil menemukan pencuri prangko tersebut.

12. Seorang Nenek dengan Sarang Semut di Kakinya

Mita harus memasuki sebuah gubuk tua itu yang membuatnya bertemu

dengan Nenek Rat yang disebut-sebut aneh tersebut. Obrolan mereka membuat

Mita memahami apa yang sebenarnya terjadi pada Nenek Rat.

13. Teman dalam Kegelapan

Mia akan menjalani operasi mata. Namun hal tersebut membuat Liz khawatir.

Ia takut Mia tidak mau lagi berteman dengannya nanti. Dengan penuh keyakinan,

Mia menenangkan Liz bahwa mereka akan tetap berteman sampai kapan pun.

Akhirnya ia tahu siapa Liz sebenarnya.

14. Tolong Bebaskan Aku

Karin melarikan diri ke rumah Tante Mo. Di sana ia bertemu dengan seorang

anak perempuan seusianya yang tiba-tiba menasehatinya dan menceritakan suatu

kejadian tidak menyenangkan yang ia alami.

15. Tetangga yang Aneh

Saat Dino dan Arni bermain bulu tangkis di halaman samping. Seseorang

dengan sengaja memecahkan pot milik Ibu. Hal tersebut membuat sebuat fakta

(4)

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Alwi, Hasan. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Haricahyono, Cheppy. 1995. Dimensi-dimensi Pendidikan Moral.Semarang: IKIP

Semarang Press.

Kemendiknas. 2011. Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Badan Penelitian

dan Pengembangan, Pusat Kurikulum dan Perbukuan.

Mulyasa. 2012. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara.

Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.

Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Nurgiyantoro, Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Ola, Pustaka. 2005. Kumpulan Cerpen Bobo Edisi 39: Teman dalam Kegelapan. Jakarta: PT Penerbitan Sarana Bobo.

Sarumpaet, Riris K. Toha. 2010. Pedoman Penelitian Sastra Anak. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

(5)

Winarni, Retno. 2014. Kajian Sastra Anak. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Zubaedi. 2013. Desain Pendidikan Karakter: Konsepnya dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Internet

Damayanti, Novita. 2014. Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Anak Sejuta Bintang Karya Akmal Nasery Basral dan Implementasinya dalam Pembelajaran di SMP Negeri 3 Gabus. Yogyakarta. Universitas Islam

Negeri Sunan Kalijaga.

http://eprints.ums.ac.id/29871/14/JURNAL_PUBLIKASI.pdf Diakses pada

31 Agustus 2015

Mei Lestari, Tri. 2014. Nilai-nilai Pendidikan Karakter pada Anak Usia Dini

(Telaah Terhadap Majalah Ummi). Yogyakarta: Universitas

Muhammadiyah Yogyakarta. http://thesis.umy.ac.id/datapublik/t31813.pdf

Diakses pada 31 Agustus 2015

Mutmainah, Isnaini. 2013. Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara dan Relevansinya dengan Pendidikan Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri

Sunan Kalijaga.

http://digilib.uin-suka.ac.id/7725/1/BAB%20I,%20IV,%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf

Diakses pada 31 Agustus 2015

Ning Kharah, Nugrahani. 2013. Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Novel

Chairul Tanjung Si Anak Singkong dan Relevansinya dengan Mata Pelajaran Aqidah Akhlak pada Tingkat Madrasah Ibitaiyah. Yogyakarta:

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

http://digilib.uin-suka.ac.id/10110/1/BAB%20I,%20IV,%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf

(6)

Solihah, Marliya. 2013. Penanaman Karakter pada Siswa di MAN Wonokromo

Bantul Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

http://digilib.uin-suka.ac.id/7603/1/BAB%20I,%20IV,%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf

Diakses pada 31 Agustus 2015

(7)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1Sumber Data

Judul buku : Kumpulan Cerpen Bobo Edisi 39 Teman dalam Kegelapan

Pengarang : (Tim) Pustaka Ola

Tahun Terbit : 2005

Tebal Buku : 144 Halaman

Penerbit : PT Penerbitan Sarana Bobo

Kota Terbit : Jakarta

Warna Sampul : Merah Marun

Gambar Sampul : Di balik latar belakang sampul berwarna merah marun,

terdapat dua buah gambar di bagian kanan dan kiri. Pada

bagian kiri merupakan sebuah sketsa wajah perempuan

dengan tinta kuning emas. Sedangkan pada bagian kanan

merupakan gambar animasi seorang anak perempuan yang

mendekapkan kedua tangannya ke dada. Pada sudut kiri

atas buku terdapat logo berbentuk bulat bertuliskan

“PRODUK KHUSUS CERPEN” pada bagian luar dan

terdapat gambar tokoh animasi khas BOBO yaitu Oki di

bagian dalam lingkaran. Tulisan judul buku berwarna

putih serta terdapat keterangan seri buku ke 39 di sudut

kanan atas. Pada bagian bawah sampul terdapat nama

pengarang berwarna hijau dengan latar belakang kuning.

(8)

Dalam Kumpulan Cerpen Bobo Edisi 39 Teman dalam Kegelapan terdapat

lima belas judul cerpen yaitu 1. Aku dan Popon, 2. Badut Simon, 3. Bagaimana

Mungkin Ada Hantu Lain, 4. Gigi Rahasia Makhluk Aneh, 5. Maafkan Dirimu,

Sisi, 6. Melacak Jejak, 7. Misteri Dua Karcis Pertunjukan Musik, 8. Misteri Tahi

Lalat Mungil di Ujung Dagu, 9. Pemuda Misterius, 10. Rahasia Sekeping Logam,

11. Pencuri Prangko Oscar, 12. Seorang Nenek dengan Sarang Semut di Kakinya,

13. Teman dalam Kegelapan, 14. Tolong Bebaskan Aku, dan 15. Tetangga yang

Aneh.

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik

penelitian kepustakaan. Melalui data-data dari sumber yang telah dibaca,

kemudian dilakukan analisis teks yang mengandung unsur nilai pendidikan

karakter anak lalu data tersebut diseleksi dan digolongkan berdasar rumusan

masalahnya.

Dalam pencarian data, digunakan teknik membaca heuristik dan

hermeneutik. Kerja heuristik merupakan pembacaan karya sastra pada sistem semiotik tingkat pertama. Bekal yang dibutuhkan adalah pengetahuan tentang

sistem bahasa itu, kompetensi terhadap kode bahasa. Sedangkan pembacaan

hermeneutik merupakan pembacaan dan pemahaman pada semiotik timgkat

kedua. Jika pada tataran kerja heuristik dibutuhkan pengetahuan tentang kode bahasa, pada tataran kerja hermeneutik dibutuhkan pengetahuan tentang kode

sastra. Kode sastra merupakan semacam kesepakatan bahwa ketika membaca

teks-teks kesastraan terdapat makna lai, ada tafsir lain, ada kemungkinan

(9)

3.3Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan

metode analisis data dalam cara kerjanya. Selain itu teknik analisisnya ialah

teknik analisis deskriptif. Dalam penerapannya, prosedur yang dilakukan sebagai

berikut:

• Membaca teks Kumpulan Cerpen Bobo Edisi 39: Teman dalam Kegelapan

yang dijadikan sumber teks sastra.

• Memilah data yang mengandung unsur nilai pendidikan karakter anak yang

ditulis secara tersurat maupun tersirat.

3.4 Laporan

Selesai dipilah data berdasarkan pokok masalahnya, maka ditulislah

hasilnya di dalam bentuk skripsi.

(10)

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Anak

Nilai-nilai pendidikan karakter anak yang dikaji dalam penelitian ini

adalah (1) religius; (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif,

(7) mandiri, (8) demokratif, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11)

cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat/komunikatif, (14) cinta

damai, (15) gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, dan (18)

tanggung jawab.

Kemudian nilai-nilai pendidikan karakter anak ini diimplementasikan ke

dalam bidang Tuhan YME, diri sendiri, orang tua, keluarga, teman,orang lain

seusianya, masyarakat, lingkungan hidup, benda miliknya, bangsa, permasalahan

dan pendidikan.

Hasil penelitian dapat digambarkan seperti dalam tabel di bawah ini.

Tabel 1. Bentuk Nilai Pendidikan Anak

Kategori

Judul

1. Aku dan Popon

2. Badut Simon

3. Bagaimana

Mungkin Ada Hantu

Lain

4. Gigi Rahasia Makhluk

Aneh

5. Maafkan Dirimu, Sisi

Relijius Jujur Toleransi

Disiplin

Kerja keras

Kreatif

(11)

Rasa ingin

tahu

Semangat kebangsaan

Cinta tanah air

Menghargai

prestasi Bersahabat/

Komunikatif

Cinta damai

Gemar membaca Peduli lingkungan

Peduli sosial

Tanggung jawab

(Kemendiknas)

Tabel 1. Bentuk Nilai Pendidikan Anak

Kategori Judul 6. Melacak Jejak 7. Misteri Dua Karcis Pertunjukan Musik 8. Misteri Tahi Lalat Mungil di Ujung Dagu 9. Pemuda Misterius 10. Rahasia Sekeping Logam Relijius

Jujur Toleransi Disiplin Kerja keras

Kreatif

Mandiri Demokratis Rasa ingin

tahu

Semangat kebangsaan Cinta tanah air Menghargai prestasi Bersahabat/

Komunikatif

Cinta damai

(12)

Tanggung jawab

(Kemendiknas)

Tabel 1. Bentuk Nilai Pendidikan Anak

Kategori Judul 11. Pencuri Prangko Oscar 12. Seorang Nenek dengan Sarang Semut di Kakinya 13. Teman dalam Kegelapan 14. Tolong Bebaskan Aku 15. Tetangga yang Aneh Relijius

Jujur

Toleransi

Disiplin

Kerja keras

Kreatif

Mandiri

Demokratis Rasa ingin tahu

Semangat kebangsaan

Cinta tanah air Menghargai prestasi Bersahabat/

Komunikatif

Cinta damai

Gemar

membaca

Peduli

lingkungan

Peduli sosial

Tanggung jawab

(Kemendiknas)

Tabel 2. Bentuk nilai-nilai pendidikan karakter anak

(13)

Judul Mungkin Ada Hantu Lain Makhluk Aneh Tuhan YME Diri Sendiri

Orang tua

Keluarga

Teman

Orang Lain

Seusianya

Masyarakat

Lingkungan Hidup

Benda Miliknya Bangsa Permasalahan

Pendidikan

Tabel 2. Bentuk nilai-nilai pendidikan karakter anak

Kepada Judul 6. Melacak Jejak 7. Misteri Dua Karcis Pertunjukan Musik 8. Misteri Tahi Lalat Mungil di Ujung Dagu 9. Pemuda Misterius 10. Rahasia Sekeping Logam Tuhan YME

Diri Sendiri

Orang tua

Keluarga

Teman

Orang Lain

Seusianya

Masyarakat

Lingkungan Hidup Benda Miliknya Bangsa

Permasalahan

Pendidikan

Tabel 2. Bentuk nilai-nilai pendidikan karakter anak

(14)

Judul Pencuri Prangko Oscar Nenek dengan Sarang Semut di Kakinya dalam Kegelapan Bebaskan Aku Tetangga yang Aneh

Tuhan YME

Diri Sendiri

Orang tua

Keluarga

Teman

Orang Lain

Seusianya

Masyarakat Lingkungan Hidup

Benda Miliknya

Bangsa

Permasalahan

Pendidikan

4.2 Nilai-nilai Pendidikan Karakter Anak dan Bentuk Nilai-nilai Pendidikan Anak

4.2.1 Nilai-nilai Pendidikan Karakter Anak

Berikut ini dipaparkan mengenai nilai-niai pendidikan karakter yang

terapat dalam kumpulan cerpen Bobo edisi 39 Teman dalam Kegelapan, yaitu:

4.2.1.1 Relijius

KBBI (2007: 943-944) “relijius atau religius merupakan sesuatu yang

bersifat religi (kepercayaan kepada Tuhan) atau sesuatu yang bersangkut-paut

dengan religi.” Kerelijiusan juga ditunjukkan dengan tokoh bersikap dan

berperilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran

terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama

(15)

Berikut kutipannya dalam cerpen:

Teman dalam Kegelapan

“Terima kasih, Dokter!” Dokter itu tersenyum.

Berterimakasihlah pada Tuhan, Via.

Tuhanlah yang telah memberimu penglihatan ini.” (126)

Tokoh Via mulanya hanya berterima kasih pada dokter yang

menanganinya. Namun sebagai bentuk pendidikan karakternya, tokoh Via

diarahkan pada mukjizat Tuhan YME sehingga ia harus mengucap syukur atas

nikmat penglihatan yang diberikan Tuhan padanya yang selama ini menderita tuna

netra.

Rahasia Sekeping Logam

“Kamu harus percaya. Tuhan sedang berbaik hati pada kamu!” Usagi mengembalikan uang logam itu. Kulihat tahun pembuatannya sama dengan tahun kelahiranku.

“Ayo Alia, sekarang kamu harus minta sesuatu!” Usagi terus memaksa. aku tidak percaya, tapi tidak apa-apalah.

“Kalau begitu aku akan minta kepada Tuhan, supaya hari ini ada matahari bersinar!” kataku akhirnya. Beberapa saat kemudian permintaanku itu benar-benar dikabulkan Tuhan.

“Lihat Alia!” teriakan Usagi, “Lihat! Matahari muncul di balik awan!”

Ah, aku hampir-hampir tidak percaya. Matahari muncul di langit sana, padahal sekarang musim salju!

“Betul, kan, apa yang kubilang. Tuhan sedang

berbaik hati sama kamu. Sekarang, coba ajukan permintaan kedua! Ayo, Alia!” kata Usagi.

(16)

Dialog kedua tokoh menunjukkan keimanannya kepada Tuhan. Serta

kepercayaannya mengenai Tuhan yang juga sebagai sumber pengabul harapan.

Tokah Alia pun kembali mengucapkan permintaannya pada kesempatan ke dua

dari tiga permintaannya.

4.2.1.2 Jujur

KBBI (2007: 479) “jujur merupakan sifat lurus hati berupa berkata yang

tidak bohong.” Penerapannya dalam kehidupan ialah tokoh berperilaku yang

didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat

dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. (Zubaedi, 2013: 74).

Berikut kutipannya dalam cerpen:

Pencuri Prangko Oscar

Bobi terdiam. Menunduk.

“Memang aku mencurinya. Maafkan aku, Oscar,” katanya pelan.

Bobi menyerahkan prangko Belanda Belanda itu pada Oscar.

“Ini kukembalikan prangkomu... Gambar prangko ini sangat bagus sehingga aku sangat ingi memilikinya, tapi aku yakin kau tidak mau menukarnya, “ jelas Bobi. (106).

Tetangga yang Aneh

“Bu, ini yang telah memecahkan pot Ibu kemarin. Ayo mengaku!”

“Maafkan saya, Bu. Saya ini Cuma pembantu. Saya hanya melakukan perintah Mbak Mita,” kata anak lelaki itu memelas. (142)

Kedua cerpen di atas menunjukkan sifat jujur yang berdampingan dengan

penyesalan dari tokoh cerpen (a) Bobi dan (b) anak asisten rumah tangga, melalui

(17)

kesalahnnya dan meminta maaf. Namun pada cerpen (a), tokoh bertindak atas

dasar kemauan sendiri, sementara (b), tokoh bertindak atas suruhan orang lain.

4.2.1.3 Toleransi

KBBI (2007: 1204) toleransi adalah “sifat atau sikap toleran (sikap

menenggang pendirian yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian

sendiri.” Toleransi dapat dicerminkan melalui tokoh yang memiliki sikap dan

tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan

tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. (Zubaedi, 2013: 74).

Berikut kutipannya dalam cerpen:

Tetangga yang Aneh

…Tapi sebulan yang lalu ia kecelakaan lalu lintas, dan harus kehilangan kakinya. Mbak Mita sedih karena tidak bisa lagi engejar cita-citanya. Dan ia membenci bulu tangkis, “papar anak lelaki itu dengan muka sedih.

Ibu, Dino, dan Arni terenyuh.

“Ya, sudahlah kalau begitu. Kamu kembali saja. Nanti malam kami akan berkunjung menemui Mbak Mita. Kami akan meminta maaf karena mengganggu ketenangannya,” kata Ibu kemudian. (143)

Toleransi yang dihadirkan berupa pemakluman antar tokoh atas keadaan

buruk yang menimpa tokoh Mita. Tokoh Ibu, Dino, dan Arni menolerir anggapan

Mita yang berusaha melupakan bulu tangkis untuk menenangkan perasaannya

yang sedih akibat kecelakaan yang menimpa dirinya.

Disiplin

KBBI (2007: 268) disiplin ialah “ketaatan (kepatuhan) terhadap

(18)

melakukannya. Tokoh menunjukan perilaku tertib dan patuh pada berbagai

ketentuan dan peraturan. (Zubaedi, 2013: 75).

Berikut kutipannya dalam cerpen:

Gigi Rahasia Makhluk Aneh

“Ah, sebaiknya aku tidur sekarang. Supaya besok tidak kesiangan” pikir Yudi. Ia segera mematikan tivi. Tiba-tiba terdengar bunyi anjing melolong. (36)

Tokoh Yudi membiasakan dirinya untuk tidur tepat waktu menghindari

keterlambatannya bangun keesokan hari.

Kerja Keras

“Kerja adalah kegiatan melakukan sesuatu.” (KBBI, 2007: 554).

Sedangkan keras merupakan gigih atau bersungguh-sungguh hati. (KBBI, 2007:

5540). Tokoh memiliki perilaku yang menunjukan upaya sungguh-sungguh dalam

mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas dengan sebaik-baiknya. (Zubaedi,

2013: 75).

Berikut kutipannya dalam cerpen:

Badut Simon

“Badut! Badut!” terdengar teriakan anak-anak

(19)

Waktu terus berlalu. Pak Simon masih melanjutkan atraksinya. Tetapi tiba-tiba jantungnya berdegup kencang ketika melihat seorang wanita yang menggendong anak kecil. Anak itu tampak sangat kagum memperhatikan gerak-geriknya.

“Aduh! Istriku! Mengapa ia ke sini dengan Upik?” Pak Simon cemas. Ia khawatir istri dan anaknya tahu kalau selama ini ia bekerja sebagai badut. Saat pikirannya sedang kalut, tiba-tiba…(21)

Tokoh Simon berprofesi sebagai badut, dengan bekerja menghibur

orang-orang di sekitarnya. Melalui pekerjaannya inilah ia mengandalkan pola tingkah

lucunya agar orang-orang mau menyisihkan uang untuknya. Namun di sisi lain,

tidak seorang pun dari anggota keluarganya tau mengenai profesi yang ia geluti

ini.

Teman dalam Kegelapan

Sejak saat itulah kami berteman. Liz selalu membangunkanku dengan kata-kata bijaknya. Dan Liz selalu ada ada saat aku sendirian di dalam kamar. Mama selalu pulang malam. Aku tahu, Mama berusaha keras agar dapat membiayai operasi mataku. Ah, seandainya saja Papa masih ada...(121-123)

Tokoh Mama yang menjadi orang tua tunggal terlihat harus lebih bekerja

keras bekerja untuk mengumpulkan biayai operasi mata anaknya di samping tetap

berpenghasilan memnuhi kebutuhan hidup ia dan anak tunggalnya.

Kreatif

KBBI (2007:599) “kreatif ialah memiliki kemampuan untuk

menciptakan.” Dalam hal ini, tokoh berpikir dan melakukan sesuatu untuk

menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. (Zubaedi,

(20)

Berikut kutipannya dalam cerpen: • Bagaimana Mungkin Ada Hantu Lain

“Ha... ha... ha... akhirnya senjata makan tuan,” tawa Aryo membuat yang lain terkejut.

“Hu-uh! Bagaimana kamu bisa tahu rencana kami yang tersusun rapi ini?” tanya Reno sambil menggelengkan kepala tidak percaya.

“Memangnya aku tidak mendengar saat kalian

menyusun rencana ini di kantin,” ungkap Aryo. (32)

Dari dialog di atas, terlihat bahwa usaha tokoh Aryo mengelabuhi

temannya berhasil dengan membuat temannya terkecoh atas rencana yang semula

mereka susun.

Melacak Jejak

Nigar manggut-manggu. “Lantas dari mana kamu tahu nomor teleponnya?”

“Juga mudah. Selama pesawat teleponmu itu belum dipakai siapa pun, nomor telepon yang terakhir dihubungi akan otomatis terekam. Kita dapat menghubungi nomor itu dengan menekan tombol redial, artinya menghubungi ulang,” papar Oben. (60)

Pengalaman dan pengetahuan tokoh Nigar membuatnya mampu

memecahkan masalah yang dialami temannya Oben. Sekalipun merupakan

pengetahuan umum, namun bagi anak seusia Oben dan Nigar merupakan hal yang

berada di luar penalaran.

Pemuda Misterius

(21)

memasukannya ke dalam minyak goreng panas.

“Untuk apa menggoreng cabe sebanyak itu?” tanya Bayu keheranan.

“Sudahlah. Sekarang tutup saja hidungmu. Lalu kita tunggu apa yang akan terjadi nanti,” bisik Toni, menutup hidung dengan ujung bajunya. (87-88)

Kekreatifitasan tokoh Toni muncul untuk membuktikan kejanggalan pada

hilangnya seorang lelaki yang tadi bertamu di rumah Bayu, temannya.

Berdasarkan cara yang tokoh Toni rencanakan, hal yang akan ia lakukan berdasar

pada pengalaman.

Pencuri Prangko Oscar

“Tapi bagaimana kita membuktikannya?” tanya Oscar.

“Aku ada ide...” jawab Doni.

Doni ingin barter prangko lagi, maka ia menyuruh ketiga temannya untuk membawa album prangko mereka. Di taman sekolah, mereka saling melihat isi album prangko lagi. Tiba-tiba Doni berkata, “Maafkan aku, Bob. Tapi kau telah mencuri prangko Oscar!”

Semua terkejut. Bobi segera membantah denga keras, “Enak saja kau menuduhku. Mana buktinya?”

“Katamu kemarin, tantemu tinggal di

Amsterdam. Tapi stempel prangko yang terbaca di sini adalah „t t e r d a m‟,” kata Doni sambil menunjuk tulisan stempel di atas prangko. Semua bergantian melihatnya dengan teliti.

“Oscar, di mana pamanmu tinggal?” tanya Doni.

“Rotterdam,” jawab Oscar.

(22)

Pengetahuan umum yang dimiliki oleh tokoh Doni berhasil membantu

temannya, Oscar, untuk mencari pencuri prangko miliknya. Ketelitian dan

ingatannya menelusuri kasus menemukan titik terang sehingga ditemuilah siapa

yang mencuri prangko Oscar tersebut. Melalui alasan logis yang dinyatakan,

tokoh Doni membuka titik terang permasalahan yang tidak disangka.

Tolong Bebaskan Aku

“Tidak baik ngambek sampai kabur segala. Nanti kamu akan menyesal seperti aku.”

“Apa urusanmu?” kataku (Karin) marah.

“Dulu aku pun pernah marah pada Mama. Mama melupakan ulang tahunku. Aku pura-pura minggat dengan sembunyi di gudang ini. Aku tahu gudang ini ada ruang bawah tanahnya. Aku masuk dengan membawa buku harian. Aku mengunci dari dalam. Aku senang membayangkan Mama akan bingung mencariku. Tapi lama-lama aku menyesal bila ingat Mama mengkhawatirkan aku. Aku ingin keluar. Tapi tidak bisa, sebab aku lupa membawa kuncinya. Aku terkurung di ruang bawah tanah karena ulahku sendiri. Selama bertahun-tahun. Aku butuh bantuanmu, tolong bebaskan aku….”

Aku menatap Nina dengan ngeri. Matanya menjadi sendu. Wajahnya terlihat pucat. Nina terus menatapku aneh. Aku pun menghambur keluar gudang ketakutan. Ternyata Nina itu….(134)

...

“O, jadi karena itu kamu minta pulang? Nina berhasil membuat kamu takut. Si bandel itu memang tukang kibul. Dia anak Pak Jamal, tetangga Tante,” jelas Tante Mo sambil terus tertawa. (135)

Ide kreatif yang dibuat oleh tokoh Nina menyebabkan pemikiran tokoh

Karin kapok membuat cemas ibunya dan ingin segera bertemu orang tuanya untuk

meminta maaf. Sekalipun hal tersebut dianggap menjengkelkan, namun berhasil

(23)

Tetangga yang Aneh

“Kamu tahu, rumah kosong di sebelah kita sudah ada penghuninya?” tanya Dino pada adiknya, Arni.

“Iya, tapi aku belum melihat mereka. Apa di rumah itu ada anak sebaya kita ya, Kak? Biar bisa jadi teman kita bermain,” kata Arni sambil mengunyah kacang.

“Untuk itu kita harus memancingnya.” “Maksud Kakak?”

“Kita bermain saja di halaman samping nanti sore. Pasti dia akan melihat atau mendengar permainan kita. Siapa tahu ia tertarik dan mau

berkenalan.” (137-138)

Tokoh Dino dengan mengajak adiknya, Arni, berusaha membuat tetangga

baru mereka tertarik menunjukkan diri pada mereka. Berdasar pada kebutuhan

kodrati anak, yakni bermain, tokoh Doni dan adiknya, berencana membuat

suasana seru dengan bermain di halaman samping rumah yang berdekatan dengan

rumah tetangga barunya.

Mandiri

“Mandiri adalah keadaan dapat berdiri sendiri atau tidk bergantung pada

orang lain.” KBBI (2007: 710). Tokoh memiliki sikap dan perilaku yang tidak

mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas. (Zubaedi, 2013:

75).

Berikut kutipannya dalam cerpen:

Tolong Bebaskan Aku

…Mama marah kerena aku (Karin) kemarin telah membeli sebuah tas ransel trendi tanpa sepengetahuan Mama. Padahal aku membeli dengan uang tabunganku sendiri. Apalagi teman-temanku sudah banyak yang memakasi tas ransel itu. Uh! (128-129)

(24)

Aku memutuskan untuk datang ke rumah Tante Mo saja. Jaraknya memang agak jauh, di pinggiran kota. Tapi hari ini aku tidak mau pulang. Biar saja Bik Narti keriting menunggu aku makan siang. Biar saja Mama kelimpungan mencariku. Hup! Aku melompat ke sebuah bus besar jurusan rumah Tante Mo. Aku sudah hapal jalannya. Sebab, aku sudah beberapa kali datang ke rumah Tante Mo. (129)

Pada potongan cerpen, tokoh Karin menampilkan sisi kemandiriannya.

Namun hal tersebut beriringan dengan hal negatif yang ia lakukan. Ketika tokoh

Karin menabung untuk membeli keperluan pribadinya, orang tuanya tidak

mengizinkan karena hal yang tidak dijelaskan. Kemudian pada upayanya menuju

rumah tantenya, Karin menunjukkan kemandiriannya dengan pergi sendiri. Hal ini

mampu menimbulkan kekhawatiran setiap orang tua bila anaknya yang masih di

bawah usia melakukan hal yang sama, terlebih bila tujuan yang dicapai jauh.

Rasa Ingin Tahu

Rasa ingin tahu akan mucul untuk hal yang dianggap aneh, rahasia,

misteri, dan tidak jelas. Begitu pun, rasa ingin tahu tergantung pada kepekaan

seseorang. Dalam hal ini, rasa ingin tahu tokoh ditunjukkan dengan memiliki

sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan

meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. (Zubaedi, 2013: 74).

Berikut kutipannya dalam cerpen:

Gigi Rahasia Makhluk Aneh

Makhluk itu ternyata tidak mengikutinya. Yudi jadi penasaran. Mungkin saja itu makhluk angkasa luar yang butuh pertolongan.

(25)

makhluk itu masih ada. Ia sedang mencari sesuatu dengan senter. Keberanian Yudi timbul. Tak mungkin hantu membawa senter. (37-38)

Pemuda Misterius

Dengan bimbang, Bayu menemui tukang bubur yang mangkal tak jauh dar rumahnya. Ternyata, tukang bubur itu juga tidak melihat orang yang keluar dari rumah itu. Bayu mulai cemas.

“Ada yang tidak beres,” ujarnya dalam hati.

“Jangan-jangan di balik sikap manisnya tadi

tersembunyi maksud jahat. Apa dia

menyelinap ke kamar ketika kutinggal?”(84)

...

“Sejak kapan lubang itu terbuka tutupnya?” bisik Toni sambil menunjuk ke langit-langit itu.

Bayu memandang ke arah lubang yang ditunjuk Toni. (87)

Misteri Tahi Lalat Mungil di Ujung Dagu

Meski demikian, ada tingkah mereka yang aneh. Aku memiliki tahi lalat kecil di ujung dagu. Sejak aku kecil, ayah dan ibuku sangat memerhatikan dan menyayangi benda kecil ini. Kalau aku pakai bedak pun, tidak boleh tebal-tebal di bagian dagu. Bila kutanya sebabnya, Ibu menjelaskan, “Kalau bedaknya tebal, nanti tahi lalatnya tidak kelihatan dan hilang cantiknya.”

Rasanya penjelasan ibuku itu tidak masuk akal. Aku jadi penasaran. Suatu ketika, Ibu marah padaku. Gara-gara aku jatuh tersungkur dan daguku terluka. Luka itu tepat di sebelah tahi lalatku. (73)

....

(26)

Pak Irvan itu yang nama dan wajah anak perempuannya sama denganku? (75-77)

Tetangga yang Aneh

“Kamu tahu, rumah kosong di sebelah kita sudah ada penghuninya?” tanya Dino pada adiknya, Arni.

“Iya, tapi aku belum melihat mereka. Apa di rumah itu ada anak sebaya kita ya, Kak? Biar bisa jadi teman kita bermain,” kata Arni sambil mengunyah kacang. (137)

“Maafkan saya, Bu. Saya ini cuma pembantu. Saya hanya melakukan perintah Mbak Mita,” kata anak lelaki itu memelas.

“Mengapa Mbak Mita menyuruhmu

melakukan itu?” tanya Arni kesal. (142)

Kutipan cerita (a), (b), (c), dan (d) menunjukkan rasa ingin tahu tokoh

cerita pada hal yang dianggap janggal bagi mereka. Rasa ingin tahu muncul

setelah mengalami beberapa kasus yang membingungkan tokoh tiap cerita. Pada

cerpen (a), tokoh Yudi menggunakan pikiran logisnya menanggapi keanehan

makhluk yang semulanya dianggap hantu ternyata membawa alat penerang dalam

kegelapan, cerpen (b) tokoh Bayu dan Toni ingin mengungkapkan kemisteriusan

dari perginya lelaki yang mendatangi rumahnya melalui perubahan di salah satu

bagian rumah keluarga tokoh Bayu, cerpen (c) tokoh Puji merasa penasaran

dengan tingkah laku orang di sekitarnya yang terlalu protektif dengan tanda lahir

yang ia anggap sepele dan keramahtamahan orang yang tidak ia kenal, sedangkan

(d) memunculkan rasa ingin tahu dari kejadian tidak menyenangkan yang dialami

keluarga tokoh Dino yang Dino sendiri menganggap ia tidak melakukan hal buruk

(27)

Maafkan Dirimu, Sisi

Lani mengambil foto di dompetnya. “Ini foto terakhirku dengan Lina, saudara kembarku.

Lina meninggal setahun lalu.”

“Apa yang terjadi?” Sisi nyaris berbisik. (146)

Dalam kasus ini, rasa ingin tahu tokoh Sisi hanyalah berdasar pada

pengalaman yang dialami orang lain (temannya). Karena menyangkut akibat dari

peristiwa meninggalnya seseorang.

Semangat Kebangsaan

“Semangat kebangsaan ialah dimana tokoh memiliki cara berpikir,

bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di

atas kepentingan diri dan kelompoknya.” (Zubaedi, 2013: 74). Semangat

kebangsaan mengacu pada bagaimana pentingnya meninggikan derajat bangsa

dengan upaya yang dilakukan semaksimal mungkin.

Berikut kutipannya dalam cerpen:

Tetangga yang Aneh

“Sebenarnya dulu Mbak Mita sangat suka bulu tangkis. Dia malah berharap bisa menggantikan Susi Susanti. Tapi sebulan lalu ia mengalami kecelakaan lalu lintas, dan harus kehilangan kakinya. Mbak Mita sedih karena tidak bisa lagi mengejar cita-citanya. Dan ia membenci bulu tangkis,” papar anak lelaki itu dengan muka sedih. (143)

Tokoh Mita dulunya mengidolakan sosok atlet bulu tangkis Susi Susanti.

Atlet Susi Susanti yang merupakan juara dunia asal Indonesia menginspirasi

tokoh Mita untuk melakukan hal yang sama yang dilakukan idolanya. Ia juga

ingin menjadi sosok yang mengharumkan bangsa dengan berprestasi di bidang

(28)

Cinta Tanah Air

Cinta tanah air merupakan langkah awal seseorang sebelum menuju

semangat kebangsaan. Dengan mencintai tanah air, akan muncul rasa ingin

memberikan pengabdian terhadap bangsa.

“Rasa cinta tanah air ini dapat diwujudkan dengan tokoh memiliki cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik

bangsa.” (Zubaedi, 2013: 74).

Berikut kutipannya dalam cerpen:

Aku dan Popon

“Geura ngalayad ka emak abdi (segera pergilah menengok ibuku)”, katanya tiba-tiba. Matanya menatapku (Mia) dengan penuh harap.

“Apa? Menengok ibumu?” tanyaku semakin terkejut. Aku memang bisa berbahasa Sunda. (8)

Walaupun tidak digunakan sebagai bahasa sehari-hari, dengan melestarikan bahasa daerah, tokoh Mia tetap memahami dan menggunakan bahasa daerah Sunda yang berasal dari Indonesia ketika berbicara dengan penduduk penutur bahas Sunda.

Bersahabat/Komunikatif

“Bersahabat ialah bersifat menyenangkan dalam pergaulan, sedangkan

komunikatif merupakan keadaan saling dapat berhubungan.” (KBBI, 2007: 585 &

977). Dalam pemahamannya, istilah di atas merupakan keadaan dimana tokoh

memiliki tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan

bekerja sama dengan orang lain. (Zubaedi, 2013: 74).

Berikut kutipannya dalam cerpen:

(29)

Malam itu aku bermimpi lagi, tapi kali ini di telaga itu ada seorang anak perempuan sebayaku. Bajunya lusuh, rambutnya kusut kemerahan. Aku menyapanya, “Namaku Mia, kau siapa?” Anak itu diam, hanya menatapku sedih. Keesokan harinya aku ceritakan mimpiku itu pada Mama dan Papa. (8)

Tokoh Mia menunjukkan sikap ramah dengan menyapa orang lain

seusianya terlebih dahulu. Walaupun tidak dijawab secara lisan, jawaban verbal

yang ditunjukkan tokoh anak dalam mimpinya mengisyaratkan suatu hal.

Bagaimana Mungkin Ada Hantu Lain

Ha... ha... tawa seluruh anak kelas 5B SD Purnabakti. Siapa yang tidak mengenal Aryo, siswa baru yang terkenal pembual di kelas itu. Setiap cerita seram tentang rumah tua di Jalan Penitian yang dianggap angker oleh masyarakat, dijadikan bahan lelucon oleh Aryo. (25)

“Yo, Aryo, nanti malam setelah menonton di balai desa, kita pulang sama-sama, ya! Ajak Reno.

“Boleh,” Aryo menganggukkan kepalanya tanda setuju. (26)

Pencuri Prangko Oscar

Tadi siang di sekolah, Oscar, Ranu, Doni, dan Bobi sepakat untuk tukar-menukar prangko koleksi mereka. Mereka sama-sama murid kelas 5B dan mempunyai hobi mengoleksi perangko. (102)

Cerpen (b) dan (c), menunjukkan sikap bersahabatnya dengan

teman-teman di lingkungan sekolah. Namun antara keduanya memiliki faktor berbeda

(30)

Cerpen (a) dengan kemampuan menceritakan hal-hal yang lucu, sedangkan cerpen

(c) dengan kesamaan hobi yang dimiliki tokoh cerita

Misteri Tahi Lalat Mungil di Ujung Dagu

…Waktu itu aku berlibur ke rumah nenek di Bogor. Ada peristiwa-peristiwa aneh saat liburan panjang di Bogor itu. Saat aku sedang belanja di pasar, tiba-tiba ada ibu muda yang tak kukenal menyapaku.

“Eh, Mbak Puji, tumben sendirian saja?” Aku bengong.

Melihat aku bengong, orang itu bertanya lagi, “Kamu, Mbak Puji, kan?” Aku mengangguk. (75)

Aku terkejut. Spontan kutengok penghuni ranjang di sebelahku. Di sana ada gadis sebayaku yang mirip denganku. Seperti melihat cermin, ada bayanganku di sana. Aku dan gadis itu tersenyum. (79)

Keramahtamahan yang ditunjukkan dari dialog peristiwa pertama

menunjukkan wujud bersahabatnya seseorang terhadap orang lain. Walaupun

tokoh Puji merasa kebingungan, namun ia memastikan untuk juga membalas

keramahan orang yang menyapanya dengan bersikap baik atau tidak acuh.

Sedangkan pada kasus kedua, sikap bersahabat muncul setelah masing-masing

tokoh saling mengenali diri satu sama lain dimana keduanya merupakan saudara

kembar yang hidup terpisah.

Pemuda Misterius

(31)

Sekitar pukul 4 sore, datang seorang pemuda mencari ayah Bayu. Sikapnya sangat sopan. “Permisi, ayahmu ada?” sapa pemuda itu. “Wah, Ayah dan Ibu sedang pergi. Malam nanti baru pulang,” ujar Bayu. (83)

Sebagai sahabat, tokoh Toni berusaha selalu bersedia menemani tokoh

Bayu. Begitu pun pada anggapan yang kurang sedap mengenai rumah yang

ditempati Bayu. Sedangkan pada kasus kedua, sikap bersahabat juga ditunjukkan

kepada orang lain. Namun dalam hal ini perlu adanya rasa waspada tokoh anak

yang berada di rumah tanpa pengawasan orang tua.

Seorang Nenek dengan Sarang Semut di Kakinya “Betul begitu?” tanya Nenek Rat ragu. Aku (Mita) mengangguk memastikan.

“Masuklah, Nak!” ujarnya pelan. Aku

menahan senyum. Sungguh baru kali ini aku merasa bersyukur karena memiliki ayah seorang dokter. Ayah setiap hari memaksaku membawa obat-obatan untuk pertolongan pertama.(116)

Teman dalam Kegelapan

Aku membutuhkan teman, hingga akhirnya Liz datang. Aku tak tahu siapa dia. Saat pertama kali mengenalnya, ia berkata, “Aku ada hanya untuk kamu, Via. Karena itu aku minta kau tidak mengatakan pada siapa pun tentang aku.”

Sejak saat itulah kami berteman. Liz selalu membangunkanku dengan kata-kata bijaknya. Dan Liz selalu ada saat aku sendirian di dalam kamar. (121-123)

Cerpen (f) dan (g) menunjukkan sikap bersahabatnya pada orang lain yang

membutuhkan. Bedanya, cerpen (f) tokoh Nenek Rat membutuhkan penanganan

pada penyakitnya, sedangkan cerpen (g) tokoh Liz membutuhkan teman untuk

(32)

Rahasia Sekeping Logam

“Alia!” panggil Usagi, teman sebangkuku yang selalu menemaniku selama aku tinggal di Jepang, “Hari ini kamu ulang tahun, kan? Selamat, ya! Semoga panjang umur,” Usagi mengulurkan tangan.

“Terima kasih,” aku membalas uluran tangannya. (90-92)

Mengingat dan mengucapkan hal baik atas suatu peristiwa yang terjadi

pada teman merupakan bentuk kepedulian terhadap orang lain. Hal yang

menambah rasa persahabatan baik bagi yang melakukannya.

Tolong Bebaskan Aku

“Sudah bangun rupanya,” ujar seseorang. Membuat aku terkejut. Seorang anak perempuan menatapku sambil tersenyum ramah. Di tangannya ada sebuah buku cerita. Siapa dia? Aku heran karena di rumah Tante Mo tidak ada anak kecil.

“Siapa kamu?” tanyaku. Anak itu tersenyum dulu sebelum menjawab.

“Nina, pemilik gudang ini. Dan kamu memasuki tanpa izin!” katanya sambil merapikan rambutnya yang ikal tidak beraturan. (133)

“Kamu anak yang keras kepala, ternyata. Kamu kabur, ya?

Aku melotot menatap anak asing itu. “Buktinya kamu masih pakai seragam sekolah,” lanjutnya lagi. (133)

Tetangga yang Aneh

“Bu, ini orang yang telah memecahkan pot Ibu kemarin. Ayo mengaku!”

“Maafkan saya, Bu. (142)

“Namaku Acep. Terima kasih. Kalian ternyata

baik sekali.” Ia kemudian pulang. Hups, tentu saja lewat pintu pagar rumah. (143)

(33)

Cerpen (i) dan (j) memiliki persamaan bentuk bersahabat dan

komunikatif pada hal yang terjadi. Keduanya menceritakan salah satu tokoh yang

melakukan hal yang tidak terpuji. Sikap bersahabat dan komunikatif juga dapat

ditunjukkan dengan mengingatkan tokoh yang melakukan kesalahan agar

direnungkannya serta tidak melakukan lagi.

Cinta Damai

“Tokoh memiliki sikap, perkataan, tindakan, yang menyebabkan orang

lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.” (Zubaedi, 2013: 74).

Dengan mewujudkan cinta damai, setipa individu akan terhindar dari rasa

terganggu dan perselisihan.

Berikut kutipannya dalam cerpen:

Misteri Tahi Lalat Mungil di Ujung Dagu

Aku tinggal di Surabaya. Ayah dan ibu sangat menyayangiku, walaupun aku (Puji) bukan anak kandung mereka. Aku diambil dari panti asuhan ketika masih kecil dulu.

Aku sangat bersyukur karena memiliki ayah dan ibu yang sangat... baik. (72)

Rahasia Sekeping Logam

Kamu?” gumamku (Alia).

Usagi tersenyum, mendekati tempat dudukku dan mengulurkan tangan.

“Maafkan aku, ya! Aku …”

Aku menggeleng-geleng. Aku tidak mau mendengar kelanjutkan perkataan Usagi. Aku yakin Usagi menyesali perbuatannya karena dia seorang sahabat sejati yang dikirimkan Tuhan untukku. Seperti permintaan terakhirku! (98-99)

(34)

“Ya. Tadi Mama bilang, Minggu depan aku (Via) akan dioperasi.”

Sunyi. Tak ada jawaban. “Liz? Apa kau tidak senang?”

“Oh, aku senang. Hanya saja... aku takut kalau kau tak mau mengenalku nantinya.”

“Liz, kau tak perlu khawatir. Siapa pun kamu, dari mana pun asalmu, aku tak peduli. Kau

adalah sahabat terbaikku.” (123)

Ketiga cerpen menunjukkan rasa cinta damai pada orang di sekitarnya.

Perasaan senang dapat ditimbulkan melalui orang-orang terdekat seperti keluarga

(a) dan teman (b dan c). Dengan memberikan kenyamannan dan kepedulian atas

orang lain yang ditunjukkan oleh satu tokoh, tokoh orang lain yang menjadi

tujuan akan merasa senang dan bersyukur atas kehadiran dirinya.

Gemar Membaca

Tokoh berkebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai

bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.” (Zubaedi, 2013: 74). Selain

menambah ilmu pengetahuan, gemar membaca juga menghindarkan seseorang

dari hal-hal yang kurang berguna.

Berikut kutipannya dalam cerpen:

Teman dalam Kegelapan

Hari ini hari minggu, aku (Via) tak perlu bersiap untuk ke sekolah. Lalu aku duduk di meja belajarku sambil meraba huruf-huruf braile. Aku lebih senang membaca buku ketimbang berjalan-jalan. Karena aku takut kejadian yang dulu teralami lagi. (121)

Tolong Bebaskan Aku

(35)

sisi lainnya terdapat sebuah lemari besar tua. Aku (Karin) bergegas ke sana. Membuka kedua pintunya lebar-lebar. Jejeran buku-buku yang tersusun rapi menyambutku. Ini yang aku cari. Jadi aku bisa membaca sambil menunggu Tante Mo pulang.

Semua buku-buku itu koleksi Tante Mo. Tentu Tante Mo tidak akan tega meloakkan buku-buku lama itu. Aku mengambil sebuah buku-buku cerita petualangan. Kemudian duduk di sofa. Debu beterbangan. Aku menutup hidung dan bersin. Setelah itu aku hanyut ke dalam kisah petualangan dalam buku. Tanpa sadar aku pun tertidur. (131-133)

Kedua tokoh cerita (a) dan (b) sama-sama mengisi waktu sengganggnya

dengan membaca. Lebih spesifiknya pada (a), tokoh Via walaupun dalam keadaan

keterbatasan, ia tetap menjadikan kegiatan membaca buku sebagai aktivitasnya.

Hal tersebut juga guna menghindarkan dirinya dari orang-orang seusianya yang

tidak bersahabat pada dirinya karena menganggap ia berbeda dari yang lainnya.

Peduli Lingkungan

Peduli lingkungan dapat dicerminkan melalui tokoh yang memiliki sikap

dan tindakan yang bselalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan di

sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan

alam yang sudah terjadi. (Zubaedi, 2013: 74). Peduli lingkungan juga dapat

dilakukan dengan terus merawat lingkungan dan melestarikannya agar senantiasa

terjaga dan dapat berkembang.

Berikut kutipannya dalam cerpen:

Tetangga yang Aneh

(36)

Dino dan Arni segera ke halaman samping.(140)

Tokoh Dini dan Arni menuruti ajakan membantu ibunya membersihkan

kotoran pot pecah menunjukkan kepekaan tiap tokoh terhadap kebersihan

lingkungan.

Peduli Sosial

Dalam hal ini, tokoh memiliki sikap dan tindakan yang selalu ingin

memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. (Zubaedi,

2013: 74). Peduli sosial hendaknya dilakukan tanpa mengharapkan apa-apa dan

pilih-pilih orang yang akan dibantu. Dengan menganggap adanya persamaan hak

tipa orang, kepedulian sosial dapat berjalan dengan baik.

Berikut kutipannya dalam cerpen:

Aku dan Popon

“Papa tadi menelpon Om Askar, menanyakan

keadaan Mak Odah. Dan setelah didatangi ke rumahnya ia memang sedang sakit keras. Kita kesana, ya, nanti sore,” kata Mama.

“Ke sana, Ma? Mama tega melihat Mia diusap-usap sama dia?” Hih! Membayangkannya saja aku merasa jijik. Seperti orang gila pada umumnya, Mak Odah berkulit hitam dan kotor. Di kampungnya ia memang tinggal sendirian. Beruntung para tetangga bersedia memberinya makan. (11)

(37)

kembali sehat setelah bertemu denganku. (13-14)

Kekerasan hati tokoh Mia akhirnya mencair karena melihat keadaan orang

yang dianggapnya menjengkelkan. Melalui apa yang ia lihat dan rasakan, tokoh

Mia berharap atas kesembuhan tokoh Mak Odah.

Bagaimana Mungkin Ada Hantu Lain

“Kalau kamu tidak mau menolong, tinggalkan saja aku di sini,” ujar Reno. Aryo akhirnya memapah Reno menuju ke rumah tua itu untuk mencari tempat duduk. (28)

Kepedulian tokoh Aryo terhadap temannya yang mengalami kesusahan

diwujudkan dengan membantu temannya menuju tempat yang aman untuk

memastikan keadaan.

Gigi Rahasia Makhluk Aneh

Yudi tersenyum geli bercampur kasihan.

“Jadi sampai sekarang belum ketemu? Jangan

-jangan dibawa lari tikus, Ko!” kata Yudi.

“Bentuknya seperti apa sih?”

“Seperti gigi biasa. Ada plastik merah jambu

dan kawatnya!” kata Eko.

Yudi membungkuk. Mengamati sekitar tempat itu dengan seksama. Dan di antara batu-batu kerikil tampak kepingan berwarna merah jambu. Yudi mengangkatnya dan menunjukkan pada Eko.

“Ini yang kamu cari, Ko?” tanya Yudi.

Eko cepat menyambar benda itu, menggosokkannya di bajunya. (42)

Bentuk kepedulian sosial yang diwujudkan tokoh Yudi berupa bantuan

mencari gigi yang hilang milik temannya. Walaupun mulanya ia tertawa, namun

(38)

Badut Simon

“Copet! Copet!” terdengar teriakan istri Pak Simon. Pak Simon kenal betul suara istrinya itu. Spontan ia melempar bola yang dipegangnya ke arah copet yang membawa lari dompet istrinya. Sayang tidak kena sasaran. Pak Simon meloncat dari sepedanya dan berlari menyibak kerumunan orang yang termangu. Pak Simon kembali melempar bolanya dengan keras. Kali ini tepat mengenai kepala si pencopet. Ia merasa pening lalu tersungkur. Pak Simon berlari mendekatinya. Beberapa orang segera menahan di pencopet. Pak Simon segera mengambil dompet itu, lalu diberikannya pada istrinya. (22)

Peduli sosial yang direalisasikan tokoh Badut Simon menunjukkan sifat

terpuji tersebut dapat dilakukan di mana saja. Dengan latar kerumunan orang di

pasar, tokoh Badut Simon menolong korban pencopetan yang ternyata adalah

istrinya yang tengah menonton atraksi suaminya.

Maafkan Dirimu, Sisi

…Kami berteriak-teriak minta tolong. Tapi tak

ada orang di sekitar sana…”

Lani berhenti. Matanya berkaca-kaca. Dia berusaha melanjutkan ceritanya. “Aku berusaha keras menariknya. Tapi bambu yang kujadikan pegangan hampir patah. Lina tahu jika aku terus memegang tangannya, kami akan jatuh. Tanpa diduga, dia mencubit tanganku. Tanpa sadar aku melepaskan peganganku pada Lina. Lina … jatuh. Tubuhnya tertelan arus sungai yang deras. Aku segera mencari pertolongan. Tapi meski banyak orang yang ikut mencari, Lina tidak segera ditemukan. Ketika ditemukan dia…” (46-48)

(39)

telah menyelamatkannya, tapi dia sendiri meninggal. (51)

Pada cerpen tersebut, bentuk peduli sosial yang dilakukan tokoh Lina dan

Elsa adalah bentuk pengorbanan menyelamatkan anggota keluarga. Oleh

karenanya kedua tokoh mengalami nasib buruk (meninggal dunia) setelah berhasil

menolong saudaranya.

Seorang Nenek dengan Sarang Semut di Kakinya

“Saya dengar Nenek tadi batuk-batuk. Saya

pikir, Nenek tentu perlu bantuan. Saya selalu membawa obat-obatan di tas.” Kuraba dasar tas sekolahku. Aku seikit lega karena kantung obat yang selalu kubawa tidak tertinggal di meja belajarku. (116)

Aku tersenyum iba mendengarnya. Mataku menyapu ruangan dingin dan lembab. Perabotnya hanya sebuah meja reot dan dipan bambu usang.

“Nenek sendirian?” tanyaku bodoh, karena sesungguhnya aku tahu kalau di hidup sendiri di gubuk reot ini. Tapi Nenek Rat mengangguk juga mengiyakan. (116)

“Barang kali Nenek sakit gula,” jawabku. Tiba-tiba aku mendapat akal. “Nek, bagaimana kalau Nenek Rat ke rumah Mita hari ini. Agak jauh, memang. Di ujung desa. Tapi ayah Mita seorang dokter. Ayah pasti tahu apa yang bisa dilakukan untuk Nenek!”(117)

Melihat keadaan tokoh Nenek Rat yang sedang tidak sehat serta berada

pada lingkungan yang tidak memadai, memunculkan rasa iba dan ingin menolong

dari Mita. Oleh karenanya, sesuai kemampuannya, Mita berusaha membantu

(40)

selalu ia bawa hingga menawaran berobat gratis karena ayahnya adalah seorang

dokter.

Teman dalam Kegelapan

“Liz, kau tak perlu khawatir. Siapa pun kamu, dari mana pun asalmu, aku tak peduli. Kau adalah sahabat terbaikku.”

“Kau akan berkata lain nanti. Percayalah.” Aku hendak membuka mulut lagi, Liz tidak mengizinkanku.

“Dunia itu indah. Tapi ingatlah, jangan

terjebak oleh keindahan dunia.”

“Liz...” Sunyi. Tak ada jawaban. Ke mana Liz? Dan...siapa dia? (123)

“Via, ini aku Liz,” tiba-tiba Liz berada di hadapanku. “Jangan takut, tenanglah. Sebentar lagi kau akan melihat. Kau akan tahu bagaimana bunga-bunga di taman dan birunya langit. Aku tahu kau adalah anak yang baik. Jangan lupakan mereka yang pernah senasib denganmu. Ingatlah, betapa sulitnya hidup

dalam kegelapan dunia.”(125)

Ucapan yang disampaikan tokoh Liz kepada Via merupakan bentuk

nasihat agar setelah dapat melihat nanti, Via akan tetap memerhatikan nasib orang

lain yang juga ia alami. Sebagai penyandang tuna netra, Via tentunya memahami

duka bagi setiap penyandang tuna netra lainnya.

Tolong Bebaskan Aku

“Kamu anak yang keras kepala, ternyata. Kamu kabur, ya?”

Aku melotot menatap anak asing itu.

“Buktinya kamu masih pakai seragam sekolah,” lanjutnya lagi.

“Ya, aku sedang marahan dengan Mama,”

jawabku pendek.

(41)

Kepedulian sosial tokoh Nina diceritakan secara tersirat pada cerpen ini.

Tokoh Nina berusaha menasehati tokoh Karin dengan cerita karangan tentang

dirinya dengan harapan Karin akan menyesali perbuatannya dan meminta maaf

pada ibunya. Upaya yang dilakukan Nina akhirnya berhasil.

Tanggung Jawab

Tanggung jawab diaplikasikan oleh tokoh dengan terbiasa untuk

melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dilakukan terhadap diri

sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, budaya), negara, dan Tuhan Yang

Maha Esa. (Zubaedi, 2013: 74). Tanggung jawab merupakan tindakan tindakan di

atas kewajiban dan terkesan seperti sebuah pengemban tugas. Sebab baik

buruknya suau hal yang dilakukan berdasarkan pemberian tanggung jawab, akan

memberikan hasil yang serupa pula.

Berikut kutipannya dalam cerpen:

Badut Simon

“Copet! Copet!” terdengar teriakan istri Pak Simon. Pak Simon kenal betul suara istrinya itu. Spontan ia melempar bola yang dipegangnya ke arah copet yang membawa lari dompet istrinya. Sayang tidak kena sasaran. Pak Simon meloncat dari sepedanya dan berlari menyibak kerumunan orang yang termangu. Pak Simon kembali melempar bolanya dengan keras. Kali ini tepat mengenai kepala si pencopet. Ia merasa pening lalu tersungkur. Pak Simon berlari mendekatinya. Beberapa orang segera menahan di pencopet. Pak Simon segera mengambil dompet itu, lalu diberikannya pada istrinya. (22)

Tokoh Simon merasa bertanggung jawab untuk menolong orang yang

(42)

dengan sigap ia membantu melumpuhkan pencopet yang berusaha melarikan

dompet istrinya.

Gigi Rahasia Makhluk Aneh

Tadi siang banyak pekerja bangunan di rumah sebelah. Eko, Dimas, dan Iwan juga datang ke rumah Yudi untuk mengerjakan tugas kelompok. Kini setelah malam tiba, suasana jadi sepi sekali. (41)

Keempat tokoh anak yang merupakan siswa sekolah dasar menunjukkan

tanggung jawabnya terhadap tugas kelompok yang diberikan guru untuk

dikerjakan secara bersama-sama.

Maafkan Dirimu, Sisi

Mata Sisi membesar. “Kamu tak tahu rasanya…”

“Tahu!” potong Lani cepat. “Aku tahu rasanya kehilangan orang yang kita sayangi. Apalagi jika kita merasa bertanggung jawab atas

kematiannya.” (45)

...

“Hari itu kami akan bermain ke rumah teman. Kami harus melewati sungai. Aku ingin lewat jembatan gantung yang sudah agak lapuk. Lina ingin lewat jembatan beru. Aku ngotot ingin lewat jembatan gantung yang sudah lapuk, sebab jembatan baru itu jauh. Akhirnya Lina mengalah, kami lewat jembatan gantung itu. Ternyata bagian tengahnya sudah rusak parah. Tapi terlambat untuk kembali. Tiba-tiba Lina terperosok karena bambu yang diinjaknya terlalu lapuk. Dia jatuh, tapi aku berhasil memegang tangannya. Kami berteriak-teriak minta tolong. Tapi tak ada orang di sekitar sana…”

(43)

terus memegang tangannya, kami akan jatuh. Tanpa diduga, dia mencubit tanganku. Tanpa sadar aku melepaskan peganganku pada Lina. Lina … jatuh. Tubuhnya tertelan arus sungai yang deras. Aku segera mencari pertolongan. Tapi meski banyak orang yang ikut mencari, Lina tidak segera ditemukan. Ketika

ditemukan dia…”(46-48)

Dia tak tahu ada mobil ngebut yang datang ke arahnya. Sisi merasa tubuhnya didorong seseorang. Dia baru sadar apa yang terjadi ketika melihat Elsa terkapar di jalan. Ya, Elsa telah menyelamatkannya, tapi dia sendiri meninggal. (51)

Tokoh Lani dan Sisi sama-sama merasa bersalah atas kejadian yang

menimpa keluarga mereka mereka meskipun dalam kecelakaan yang

masing-masing mereka alami membuat orang yang menolong dan ditolong akhirnya

menjadi korban. Antara Lani dan Lina, Lani merasa bertanggung jawab menolong

saudaranya yang awaklnya hampir terjatuh, sedangkan antara Sisi dan Elsa, Elsa

lah yang merasa bertanggung jawab menolong Sisi.

Melacak Jejak

Dicarinya Igun di setiap rumah teman yang diketahuinya. Tapi setelah berkeliling mengitari komplek, tak satu pun teman Igun yang mengaku bermain dengan Igun. Nigar semakin cemas saja. Namun ia sedikit lega saat di perempatan jalan berpapasan dengan Oben, temannya yang terkenal sebagai detektif kampung. Segera saja ia menceritakan masalahnya pada Oben. (56-57)

“Pokoknya Igun tidak mau pulang.”

(44)

tahu, bisa-bisa ia tidak boleh main selama sebulan penuh. (62)

Tokoh Nigar merasa bertanggung jawab atas perginya Igun, adiknya, dari

rumah karena masalah sepele. Nigar juag merasa bersalah karena memarahi

adiknya. Oleh karenanya ia pun meminta bantuan temannya untuk mencari

adiknya dan membujuknya pulang.

Rahasia Sekeping Logam

“Begini saja, bagaimana kalau kamu minta pada Tuhan agar hasil ulanganmu selalu yang terbaik!” usul Usagi beberapa saat kemudian.

“Ah, kamu ada-ada saja!” tolakku.

“Ini kesempatan baik Alia!”

“Tidak! Itu nanti akan membuatku malas belajar!”(97)

Tokoh Alia menganggap bahwa ia bertanggung jawab terhadap pendidikan

yang ia jalani selama ini itu penting. Ia menolak untuk selalu mendapat nilai

ulangan terbaik karena ia tidak mau menjadi pemalas.

Seorang Nenek dengan Sarang Semut di Kakinya “Nanti pasti kami kembalikan, Mita. Yah, barangkali kami ingin main lempar-lemparan kalung dulu di sungai,” kata Ano tenang. Mereka kembali tertawa terpingkal. Oh, aku panik sekali. Ibu pasti marah kalau kalung mahal hadiah darinya hanyut di sungai. (108-111)

Setelah Mita mendapat hadiah kalung dari ibunya, ia berusaha keras

menjaga kalung tersebut. Bahkan ketika temannya mengusilinya dengan

berencana bermain lempar-lemparan kalung, ia tetap berusaha mendapatkan

(45)

Tolong Bebaskan Aku

“Aduh, Karin, kamu bikin Mama kamu sedih dan cemas. Mama menyuruh Tante mencari kamu. Mama kamu menangis terus,” cerocos Tante Mo.

“Iya, antarkan Karin pulang. Karin mau minta

maaf,” kataku sungguh-sungguh. (135)

Kekesalan ringan yang diutarakan tokoh Tante Mo pada Karin serta

penyesalannya terhadap yang ia lakukan seharian yakni pergi tanpa mengabari

ibunya, Karin merasa bersalah dan ingin meminta maaf kepada ibunya. Ia merasa

bertanggung jawab atas kenakalannya.

Bentuk Nilai-nilai Pendidikan Karakter Anak

Berikut merupakan bentuk nilai-nlai peidikan karakter anak yang terdapat

pada kumpulan cerpen Bobo edisi 39 Teman dalam Kegelapan, yaitu:

Kepada Tuhan Yang Maha Esa

Tuhan adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia

sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dan sebagainya (KBBI, 2007: 1216).

Sedangkan esa adalah tunggal. Baik buruknya suatu peristiwa yang terjadi pada

diri sendiri maupun sekitar merupakan takdir yang telah ditetapkan Tuhan sang

pencipta. Oleh karenanya sikap positif yang ditujukkan kepada Tuhan Yang Maha

Esa ialah mengimani-Nya, mensyukuri-Nya, mematuhi perintah-Nya, dan

menjauhi larangan-Nya.

Berikut kutipannya dalam cerpen:

(46)

Berterimakasihlah pada Tuhan, Via.

Tuhanlah yang telah memberimu penglihatan ini.” (126)

Untuk suatu hal baik yang diperoleh manusia, hendaklah ia terlebih dahulu

bersyukur pada Tuhan YME. Dalam hal ini tokoh Via diingatkan oleh dokter yang

merawatnya untuk tak lupa mengucap syukur atas nikmat penglihatan yang

diberikan oleh Tuhan padanya.

Rahasia Sekeping Logam

Ini untuk pertama kalinya aku berulang tahun di negeri orang. Tidak ada teman, saudara, atau tetangga sebelah rumah yang bisa kuajak merayakannya. Ah, tapi tak apa-apa. Aku masih punya Mama, Papa, dan…

“Alia!” panggil Usagi, teman sebangkuku yang selalu menemaniku selama aku tinggal di Jepang. (90)

Mensyukuri adanya kerabat terdekat juga merupakan suatu bentuk rasa

berterima kasih pada Tuhan YME. Dalam hal ini, rasa syukur diungkapkan secara

tersirat.

“Kamu harus percaya. Tuhan sedang berbaik hati pada kamu!” Usagi mengembalikan uang logam itu. Kulihat tahun pembuatannya sama dengan tahun kelahiranku.

“Ayo Alia, sekarang kamu harus minta sesuatu!” Usagi terus memaksa. aku tidak percaya, tapi tidak apa-apalah.

“Kalau begitu aku akan minta kepada Tuhan, supaya hari ini ada matahari bersinar!” kataku akhirnya. Beberapa saat kemudian permintaanku itu benar-benar dikabulkan Tuhan.

“Lihat Alia!” teriakan Usagi, “Lihat! Matahri muncul di balik awan!”

(47)

“Betul, kan, apa yang kubilang. Tuhan sedang berbaik hati sama kamu. Sekarang, coba ajukan permintaan kedua! Ayo, Alia!” kata Usagi. (94-95)

Pendidikan ketuhanan yang diajarkan kepada anak, memberikan kebiasaan

pada anak untuk memanjatkan permohonan hanya pada Tuhan YME. Begitu pula

yang diucapkan oleh Usagi pada Alia untuk memohon dikabulkan permintaannya.

Kepada Diri Sendiri

Pengertian diri sendiri ialah tidak tergantung pada orang lain atau mandiri.

(KBBI, 2007: 267). Setiap individu memiliki ego untuk melakukan suatu hal

berdasarkan kemauan dan kemampuan dirinya. Namun di samping itu, sifat

kemandiriannya tidak selalu membuahkan hasil yang baik, terkadang juga terjadi

hal yang tidak diinginkan guna menjadi bahan pembelajaran.

Berikut kutipannya dalam cerpen:

Gigi Rahasia Makhluk Aneh

“Ah, sebaiknya aku tidur sekarang. Supaya

besok tidak kesiangan” pikir Yudi. Ia segera mematikan tivi. Tiba-tiba terdengar bunyi anjing melolong. (36)

Toko Yudi yang masih berada di bangku sekolah membiasakan diri untuk

teratur mengatur waktu tidurnya. Hal kecil seperti ini tentunya akan membawa

dampak baik bagi seseorang. Bagi Yudi, dengan tidur tepat waktu akan

membuatnya tidak kesiangan bangun keesokan harinya.

Tolong Bebaskan Aku

(48)

sepengetahuan Mama. Padahal aku membeli dengan uang tabunganku sendiri. Apalagi teman-temanku sudah banyak yang memakasi tas ransel itu. Uh! (128-129)

Aku memutuskan untuk datang ke rumah Tante Mo saja. Jaraknya memang agak jauh, di pinggiran kota. Tapi hari ini aku tidak mau pulang. Biar saja Bik Narti keriting menunggu aku makan siang. Biar saja Mama kelimpungan mencariku. Hup! Aku melompat ke sebuah bus besar jurusan rumah Tante Mo. Aku sudah hapal jalannya. Sebab, aku sudah beberapa kali datang ke rumah Tante Mo. (129)

Di sudut gudang terdapat tumpukan-tumpukan kardus, entah apa isinya. Di pojok lain ada kursi-kursi tua dan rusak, seperangkat sofa usang, meja belajar bekas, ditumpuk rapi. Di sisi lainnya terdapat sebuah lemari besar tua. Aku bergegas ke sana. Membuka kedua pintunya lebar-lebar. Jejeran buku-buku yang tersusun rapi menyambutku. Ini yang aku cari. Jadi aku bisa membaca sambil menunggu Tante Mo pulang.

Semua buku-buku itu koleksi Tante Mo. Tentu Tante Mo tidak akan tega meloakkan buku-buku lama itu. Aku mengambil sebuah buku-buku cerita petualangan. Kemudian duduk di sofa. Debu beterbangan. Aku menutup hidung dan bersin. Setelah itu aku hanyut ke dalam kisah petualangan dalam buku. Tanpa sadar aku pun tertidur. (131-132)

Beberapa hal yang dilakukan tokoh Karin dalam kutipan cerpen di atas

menunjukkan sisi positif dalam dirinya, seperti menabung, mandiri dalam ketika

menuju suatu tempat, dan membaca buku yang bermanfaat bagi dirinya. Namun

egonya membuat tokoh Karin terkesan nakal dan tidak mau diatur.

(49)

Orang tua ialah ayah dan ibu, (orang tua) yang dianggap tua serta bersifat

cerdik, pandai, ahli, dan sebagainya. (KBBI, 2007: 802). Orang tua memilki arti

meluas selain dainggap tua, juga tidak terikat hubungan persaudaraan.

Berikut kutipannya dalam cerpen:

Aku dan Popon

“Papa tadi menelpon Om Askar, menanyakan

keadaan Mak Odah. Dan setelah didatangi ke rumahnya ia memang sedang sakit keras. Kita kesana, ya, nanti sore,” kata Mama.

“Ke sana, Ma? Mama tega melihat Mia diusap-usap sama dia?” Hih! Membayangkannya saja aku merasa jijik. Seperti orang gila pada umumnya, Mak Odah berkulit hitam dan kotor. Di kampungnya ia memang tinggal sendirian. Beruntung para tetangga bersedia memberinya makan. (11) …

Ia mencoba bangkit, tapi sepertinya tidak kuat. Senyumnya mengembang saat melihatku. Tangannya menggapai-gapai. Mama menempelkan tanganku di tangannya. Genggaman tangan tua itu terasa lemah. Sesaat tampak tubuhnya sedikit mengejang. Aku jadi sangat iba melihatnya. Kejengkelanku pada Mak Odah saat liburan lalu tak terasa lagi. Aku pun benar-benar berharap Mak Odah bisa kembali sehat setelah bertemu denganku. (13-14)

Seorang Nenek dengan Sarang Semut di Kakinya

“Saya dengar Nenek tadi batuk-batuk. Saya

pikir, Nenek tentu perlu bantuan. Saya selalu membawa obat-obatan di tas.” Kuraba dasar tas sekolahku. Aku seikit lega karena kantung obat yang selalu kubawa tidak tertinggal di meja belajarku. (116)

(50)<

Gambar

Tabel 1. Bentuk Nilai Pendidikan Anak
Tabel 1. Bentuk Nilai Pendidikan Anak
Tabel 1. Bentuk Nilai Pendidikan Anak
Tabel 2. Bentuk nilai-nilai pendidikan karakter anak

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat pada cerpen-cerpen Lampung Post edisi semester pertama tahun 2013 hadir dengan berbagai

Manfaat praktis penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan pembaca tentang imbuhan pe-, pe-an, dan per-an , Bahasa Indonesia dalam Kumpulan Cerpen Bobo Nomer

KUMPULAN CERPEN LEONTIN DEWANGGA KARYA MARTIN ALEIDA (TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA DAN NILAI

“Koherensi Antarkalimat dalam Paragraf Rubrik “Arena Kecil’ Majalah Bobo Edisi 2005.” Skripsi Strata 1 (S-1). Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas

Konflik yang terdapat dalam Kumpulan Cerita Fiksi Anak (Cerpen) pada Blog Kelas Merah Jambu Karya Novia Erwida 1) cerpen “Mobil Antik” konflik internal dialami tokoh istri.

Materi Nilai Sastra Profetik dalam Kumpulan Cerpen Rusmi Ingin Pulang Karya Ahmad Tohari Nilai yang Berasal dari Alquran. Beberapa sumber dari surat-surat dalam Alquran yang

Berdasarkan hasil analisis kumpulan cerpen “Malam Terakhir” syarat akan nilai moral yang patut untuk ditiru, karena dalam kumpulan cerpen ini mengandung nilai-nilai moral yaitu nilai

ANALISIS NILAI-NILAI SOSIAL DALAM KUMPULAN CERPEN ORANG-ORANG PINGGIRAN KARYA LEA PAMUNGKAS: SEBUAH KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA SKRIPSI diajukan untuk memenuhi salah satu syarat