• Tidak ada hasil yang ditemukan

Representasi Moral Budaya Masyarakat Tiom (Papua) dalam Film di Timur Matahari

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Representasi Moral Budaya Masyarakat Tiom (Papua) dalam Film di Timur Matahari"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S. Kom.I)

Oleh:

Nurul Rizki Salam

NIM: 109051000154

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)

i

Nurul Rizki Salam

Representasi Moral Budaya Masyarakat Tiom (Papua) dalam Film Di Timur Matahari

Film Di Timur Matahari adalah salah satu film yang sarat menampilkan

kebudayaan Indonesia. Film Di Timur Matahari yang disutradarai oleh Ari

Sihasale ini, berusaha menampilkan kebudayaan dan adat istiadat masyarakat Papua pegunungan tengah khusunya daerah Tiom, kabupaten Lanny jaya. Film ini mengajak penonton untuk melihat realita yang kini terjadi di Papua dan mengenal

Papua secara lebih dekat. Dalam film ini juga banyak menampilkan apa yang

terjadi di Papua seperti minimnya pendidikan, kesehatan, ketentraman dan kedamaian. Diceritakan dalam film bahwa minimnya pengetahuan masyarakat berimplikasi pada kehidupan mereka saat dewasa. Kehidupan orang dewasa seperti yang diceritakan dalam film tak pernah lepas dari kekerasan, dendam dan perperangan antar suku. Kehidupan anak-anak yang menginginkan hidup yang damai dan tentram jauh dari realisasi mengingat masih adanya kebiasaan yang tidak baik untuk masyarakat di sana serta masih dipertahankan hingga kini.

Adegan-adegan yang ditampilkan dalam film ini terdapat makna yang menarik untuk diketahui. Oleh karena itu penulis merumuskan masalah penelitian

sebagai berikut: Bagaimana makna denotasi, konotasi dan mitos dari film Di

Timur Matahari? Serta bagaimana pesan moral yang terdapat dalam film Di TimurMatahari dalam pandangan Islam?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka penulis menggunakan

metodologi penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini adalah film Di Timur

Matahari, sedangkan unit analisisnya adalah potongan adegan dalam film tersebut yang berkaitan dengan rumusan masalah penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data melalui observasi, wawancara (dalam hal ini

penulis mewawancarai guide anjungan provinsi Papua di TMII), dan dokumentasi

yang dianalisis menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Dimana tanda dilihat dari denotasi, konotasi, dan mitos.

(6)

ii

Dengan mengucapkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah

memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

penulisan skripsi ini. Shalawat serta salam semoga Allah SWT limpahkan kepada

Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat dan pengikutnya.

Sekalipun skripsi yang berjudul “Representasi Moral Budaya Masyarakat Tiom

(Papua) dalam Film Di Timur Matahari” ini masih jauh dari sempurna, namun ini

merupakan suatu usaha yang maksimal, karena dalam proses penyelesaiannya tidak

sedikit kesulitan dan hambatan dalam penyusunan skripsi ini. Namun berkat

pertolongan Allah SWT yang memberikan nikmat-Nya dan kesungguhan kepada

penulis serta bantuan yang penulis terima dari berbagai pihak yang telah membantu

dalam penulisan skripsi ini.

Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, M.A sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta

2. Dr. Arief Subhan, M.A, selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu

Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dr. Suprapto, M.Ed selaku

Wakil Dekan Bidang Akademik, Drs. Jumroni, M.si, selaku Wakil Dekan

Bidang Administrasi Umum, Dr. Sunandar, M.A selaku Wakil Dekan Bidang

(7)

iii

Penyiaran Islam, Ibu Umi Musyarrofah, M.A selaku Sekretaris Jurusan

Komunikasi dan Penyiaran Islam.

4. Ibu Siti Napsiyah, M.SW, sebagai Dosen Penasehat Akademik KPI E

angkatan 2009, yang telah memberikan bantuan dalam penyusunan proposal

skripsi.

5. Dr. Suhaimi, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan

waktunya serta memberi arahan dan masukan dalam membantu penulisan

skripsi ini.

6. Bapak Adolov Standly Jarangga Tumengkol selaku Guide Anjungan Provinsi

Papua di Taman Mini Indonesia Indah yang bersedia saya wawancara, Bang

Macho selaku bagian Penata Anjungan Provinsi Papua, Bapak Oken selaku

Guide bagian Pegunungan bersedia membantu saya dalam proses wawancara

di Anjungan Provinsi Papua Taman Mini Indonesia Indah.

7. Seluruh dosen yang telah mengajarkan ilmunya kepada penulis dari semester I

hingga semester VIII. Semoga ilmu yang diberikan menjadi amal baik di

akhirat kelak, Amin.

8. Para staf Tata Usaha (TU) yang telah membantu surat menyurat untuk

penelitian skripsi ini, dan para staf perpustakaan yang telah memberikan

(8)

iv

Samono, terimakasih telah banyak memberikan banyak motivasinya kepada

penulis

10. Keluarga besar penulis, yang mendukung penulis dalam penyelesaian skripsi

ini. Kakak-kakakku Ridho Akbar, mas Yudhi, mba Windi terima kasih semua

atas dukungannya.

11. Teman-teman seperjuangan yang memberikan banyak motivasi untuk penulis,

yang selalu menjadi teman sharing untuk penulis, berbagi suka dan duka,

Dede, Ipul, Ziah dan Dado kalian semua adalah sahabat sampai kapan pun.

12. Listiana Wahyuningsih yang telah memberikan semangatnya kepada penulis.

13. Teman-teman KPI E 2009 yang telah memberikan dukungannya untuk penulis

Dava, Fauzi, Adi, Sita, Isni, Ela, Enis dan kawan-kawan lainnya yang tidak

bisa penulis sebutkan namanya satu per satu, kalian semua adalah sahabat

sampai kapan pun.

14. Kawan-kawan KKN PENA dan warga gunung Seureuh, terima kasih atas

dukungannya.

15. Seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Walau tak

tertulis, Insya Allah perbuatan kalian menjadi sebuah amal yang baik tertulis

(9)

v

dalam penyusunan skripsi ini. Semoga karya sederhana ini dapat bermanfaat bagi

kajian ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang komunikasi dan penyiaran Islam.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, 27 Maret 2014

(10)

vi

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6 BAB III GAMBARAN UMUM FILM DI TIMUR MATAHARI A. Sekilas tentang Film Di Timur Matahari ... 37

B. Tim Produksi Film DI Timur Matahati ... 40

C. Profil Sutradara Film Di Timur Matahari ... 41

(11)

vii

4. Waktu ... 45

B. Makna Denotasi Konotasi dan Mitos ... 47

1. Adegan tentang Semangat Belajar ... 47

2. Adegan Awal Konflik ... 52

3. Adegan tentang Cinta Kasih... 58

4. Adegan tentang Penyelesaian Konflik ... 63

C. Pesan Moral Film dalam Pandangan Islam ... 71

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 75

B. Saran ... 76

(12)

viii

Tabel 4.1 Adegan Tentang Semangat Belajar ... 47

Tabel 4.2 Adegan Awal Konflik ... 52

Tabel 4.3 Adegan Cinta Kasih ... 58

(13)

ix

Lampiran 2 Surat Pengajuan Dosen Pembimbing Lampiran 3 Surat Permohonan Penelitian/wawancara Lampiran 4 Cover Film Di Timur Matahari

(14)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Dunia perfilman di Indonesia saat ini telah mengalami perkembangan

yang pesat. Hal ini diketahui dari bermunculan beragam film dengan tema yang

bermacam-macam jenisnya. Mulai dari tema umum seperti percintaan, horor,

komedi, action, pendidikan hingga tema bernuansa nasionalisme, dan

kebudayaan. Selain itu, kemajuan perfilman Indonesia tidak lepas karena

ketertarikan masyarakat terhadap film itu sendiri.

Dunia perfilman saat ini telah mampu merebut perhatian masyarakat.

Terlebih setelah berkembangnya teknologi komunikasi massa yang dapat

memberikan sarana bagi perkembangan dunia perfilman. Meskipun masih banyak

bentuk-bentuk media massa lainnya, film memiliki efek khusus bagi para

penontonya. Dari puluhan sampai ratusan penelitian itu semua berkaitan dengan

efek media massa film bagi kehidupan manusia, sehingga begitu kuatnya media

mempengaruhi pikiran, sikap, dan tindakan penonton.1 Namun dampak yang perlu

diantisipasi adalah di samping memberi dampak positif, film tentu juga memiliki

dampak negatif. Seperti terjadi pada beberapa film yang dibuat hanya untuk

mencari keuntungan rumah produksi tersebut tanpa memperhatikan efek dari film

yang dibuatnya.

Sebagaimana diketahui, film merupakan salah satu media komunikasi

massa.2 Oleh karena itu film adalah medium komunikasi yang ampuh bukan saja

1

Miftah Faridl, Dakwah Kontemporer Pola Alternative Dakwah Melalui Televisi, (Bandung: Pusdai Press: 200) h. 96.

2

(15)

untuk hiburan, tetapi juga untuk penerangan pendidikan (edukatif) secara penuh

(media yang komplit).3 Film merupakan gambaran dari realitas, baik realitas

budaya atau kehidupan masyarakat di sekitarnya. Film mencoba mengangkat

persoalan yang ada di masyarakat maupun kebudayaan yang ada dalam

masyarakat Indonesia.

Di Indonesia, terdapat beranekaragam jenis kebudayaan di dalamnya.

Tentu banyak hal yang menarik untuk diangkat menjadi sebuah film jika bertema

kebudayaan. Namun, film yang muncul kebanyakan menampilkan Indonesia dari

sisi gaya perkotaan tanpa mengangkat keanekaragaman di Indonesia. Banyak hal

yang perlu diketahui masyarakat luas mengenai kebudayaan yang dimiliki

Indonesia ini. Sehingga sudah seharusnya, perfilman di Indonesia menitikberatkan

dengan tema kebudayaan yang ada di Indonesia.

Dari beberapa judul film yang mengangkat tema kebudayaan, film Di

Timur Matahari salah satu film yang sarat menampilkan kebudayaan Indonesia.

Film Di Timur Matahari yang disutradarai oleh Ari Sihasale ini, berusaha

menampilkan kebudayaan dan adat istiadat masyarakat Papua pegunungan tengah

khusunya daerah Tiom, kabupaten Lanny jaya. Film ini mengajak penonton untuk

melihat realita yang kini terjadi di Papua dan mengenal Papua secara lebih dekat.

Dalam hal ini penulis melihat upaya sutradara untuk mengenalkan masyarakat

Papua kepada khalayak lainnya untuk tidak membeda-bedakan sesama manusia.

Karena Allah memerintahkan kepada hambanya untuk saling kenal-mengenal

tanpa membedakan suku, ras, agama, dan bangsa. Seperti dalam surat Al-Hujurât

ayat 13:

3

(16)

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Allah Ta‘ala berfirman ―saling mengenal” maksudnya supaya sebagian

dari kalian saling mengenal sebagian yang lain, bukan untuk saling

membanggakan ketinggian nasab atau keturunan, karena sesungguhnya

kebanggaan itu hanya dinilai dari segi ketakwaan.

Di dalam film ini juga banyak ditampilkan apa yang terjadi di Papua

seperti minimnya pendidikan, kesehatan, dan kedamaian. Cerita dalam film bahwa

minimnya pengetahuan masyarakat berimplikasi pada kehidupan mereka saat

dewasa. Kehidupan orang dewasa dalam film tak pernah lepas dari kekerasan,

dendam dan perperangan antar suku. Kehidupan anak-anak yang ingin hidup

damai dan tentram jauh dari harapan mengingat masih adanya adat kebiasaan

kurang baik yang masyarakat di sana masih dipertahankan hingga saat ini.

Film ini penting dianalisis karena pesan yang didapat dari film ini adalah

mengajak anak-anak untuk terus semangat belajar, pentingnya kedamaian,

mengajarkan cinta kasih kepada sesama dan menghilangkan sebuah dendam.

Peperangan antar suku yang terjadi di Tiom Papua hingga kini terjadi karena

kebiasaan masyarakat di sana yang masih mempertahankan adatnya yakni ―mata

(17)

Matahari. Kebiasaan balas dendam itulah membuat peperangan tidak pernah

selesai.

Meskipun latar belakang film ini mayoritas adalah penganut Nasrani.

Tetapi film ini juga mempunyai sisi dakwah Islam yakni cinta perdamaian yang

sesuai dengan tujuan agama Islam, yaitu membawa kedamaian di muka bumi.

Agama Islam menghendaki umatnya agar selalu berpegang teguh pada tali agama

Allah dan janganlah kalian bercerai berai.

Seperti dalam firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 103:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)

Jika dicermati dari sisi makna, film ini juga menarik untuk dianalisis.

Karena dalam film ini mengandung beberapa makna pesan berbentuk

simbol-simbol atau tanda yang ditampilkan oleh sutradara. Ada beberapa adegan di dalam

film yang mengandung tanda dan perlu ditelaah lebih dalam lagi. Film pada

dasarnya dibangun dengan banyak tanda. Tanda-tanda itu digabungkan untuk

mencapai efek yang diinginkan. Karena film merupakan produk visual dan audio,

maka tanda-tanda ini berupa gambar dan suara. Tanda-tanda tersebut adalah

(18)

Namun, untuk mengetahui gambaran itu semua dapat menelitinya melalui

pendekatan semiotik. Karena tanda tidak pernah benar-benar mengatakan suatu

kebenaran secara keseluruhan.4

Jadi, untuk menemukan makna dari pesan yang ada pada film Di Timur

Matahari, digunakanlah metode semiotika yang merupakan bidang ilmu yang

mempelajari tentang sistem tanda. Mulai dari bagaimana tanda itu diartikan,

dipengaruhi oleh persepsi dan budaya, serta bagaimana tanda membantu manusia

memaknai keadaan sekitarnya.

Atas dasar inilah, penelitian ini dilakukan semata – mata untuk mengetahui

makna apa yang terkandung pada simbol atau tanda yang muncul di film Di Timur

Matahari. Dari latar belakang masalah di atas, maka peneliti tertarik melakukan

penelitian dengan judul “Representasi Moral Budaya Masyarakat Tiom

(Papua) dalam Film Di Timur Matahari B. Batasan dan Rumusan Masalah

1. Batasan Masalah

Batasan masalah dalam penelitian ini adalah rangkaian gambar (adegan)

dalam film Di Timur Indonesia yang berkaitan dengan kebudayaan masyarakat

Papua. Oleh karena itu dimulai dari keseluruhan alur cerita yang dominan terkait

dengan budaya Papua.

2. Rumusan Masalah

Untuk memfokuskan penelitian, maka masalah dalam penelitian ini

mengacu pada model semiotika yang peneliti gunakan yakni semiotika Roland

Barthes, sehingga rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :

4

(19)

1. Bagaimana makna denotasi, konotasi dan mitos moral budaya masyarakat

Tiom (Papua) yang direpresentasikan film Di Timur Matahari?

2. Bagaimana pesan moral menurut pandangan Islam moral budaya

masyarakat Tiom (Papua) yang direpresentasikan dalam film Di Timur

Matahari?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan penelitian di atas, maka tujuan penelitiannya

adalah:

1. Untuk mengetahui makna denotasi, konotasi dan mitos moral budaya

masyarakat Tiom (Papua) yang direpresentasikan film Di Timur Matahari

2. Untuk mengetahui pesan moral menurut pandangan Islam dalam film Di

Timur Matahari

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitiannya adalah:

1. Manfaat akademis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kajian ilmu teori

komunikasi khususnya teori semiotika Roland Barthes.

2. Manfaat Praktis

Adapun manfaat praktis penelitian ini adalah diharapkan penelitian ini

dapat digunakan oleh praktisi dalam bidang komunikasi sebagai referensi

tambahan terkait dengan data analisis yang sama. Selain itu, dari segi praktis

diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi praktisi perfilman

terutama untuk memberikan rujukan bagaimana membuat film yang sarat

(20)

E. Metode Penelitian

1. Metode

Sebagai penelitian yang berlandaskan pada paradigma konstruksitivisme

maka kecenderungan penelitian ini bersifat kualitatif. Penelitian dengan jenis

kualitatif ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan kuantitatif yang

berbasis pada paradigma positivistik (positivisme-empiris).

Pendekatan kualitatif ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman

bersifat umum yang diperoleh setelah melakukan analisis terhadap kenyataan

sosial yang menjadi fokus penelitian, kemudian ditarik kesimpulan berupa

pemahaman umum tentang kenyataan-kenyataan tersebut.5

2. Objek, Waktu dan Tempat Penelitian

Objek penelitian ini adalah rangkaian gambar film Di Timur Matahari.

Penelitian ini berlangsung pada bulan Januari 2014 hingga bulan Februari dan

dilakukan di kediaman pribadi penulis di Bambu Apus, Cipayung serta

anjungan provinsi Papua di Taman Mini Indonesia Indah.

3. Purposive Sampling

Pemilihan objek penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive

sampling) dengan maksud dan tujuan tertentu. Menurut Sugiyono (2005:53)

menjelaskan yang dimaksud dengan Purposive sampling adalah teknik

pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.

Ada beberapa alasan penulis yang menjadi dasar penelitian mengenai

pemilihan film Di Timur Matahari sebagai objek penelitian adalah karena

5

(21)

kentalnya budaya yang ada dalam film tersebut. Film tersebut begitu banyak

menampilkan kebudayaan Papua, selain itu juga banyak menampilkan mirisnya

pendidikan serta kurangnya perhatian dari pemerintahan pusat. Sehingga ini

menjadi alasan penulis untuk mengangkat film tesebut sebagai penelitian.

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan teknik atau cara-cara yang

digunakan periset untuk mengumpulkan data. Teknik pengumpulan data

dibedakan dengan metodologi dari riset yang digunakan para periset, yakni riset

kualitatif dan kuantitatif. Pada riset kualitatif yang penulis pakai pada riset ini

adalah observasi, wawancara, dan juga dokumentasi. Ide penelitian kualitatif

adalah dengan sengaja memilih informan (atau dokumen atau bahan-bahan visual

lain) yang dapat memberikan jawaban terbaik pertanyaan penelitian.6

Satu-satunya instrumen terpenting dalam penelitian kualitatif adalah peneliti atau

penulis itu sendiri. Hal ini dikarenakan penulis dalam proses penelitian dapat

langsung melihat, merasakan, dan mengalami apa yang terjadi pada subjek yang

ditelitinya.

Teknik dan pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu:

1. Observasi

Observasi yaitu pengamatan secara langsung kondisi yang terjadi

dilapangan yang memiliki relevansi terhadap permasalahan yang dikaji.

Observasi atau pengamatan merupakan salah satu teknik pengumpulan data

yang sering digunakan untuk jenis penelitian kualitatif.7

6

John W. Creswell, Desain penelitian: Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif, (Jakarta: KIK Press, 2003) h. 143.

7

(22)

2. Wawancara

Wawancara dalam riset kualitatif yang disebut sebagai wawancara

mendalam atau wawancara intensif dan kebanyakan tak berstruktur.8 Dengan

tujuan mendapatkan data yang mendalam.

3. Dokumentasi

Dokumentasi, yaitu pengumpulan data-data yang bersangkutan dengan

penelitian ini atau sumber-sumber tertulis dari bahan-bahan kepustakaan yang

berkaitan dengan objek penelitian yang dimaksud.

5. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan analisis semiotika model

Roland Barthes, membuat sebuah model sitematis dalam menganalisis makna dari

tanda-tanda. Fokus perhatian Barthes lebih tertuju kepada gagasan tentang

signifikasi dua tahap. Signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara

signifier dan signified di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Barthes

menyebutnya sebagai denotasi yaitu makna paling nyata dari tanda. Konotasi

adalah istilah yang digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap

kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan

perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya.

Sedangkan signifikasi kedua yang berhubungan dengan isi, tanda bekerja melalui

mitos (myth).9

8

Rachmat Kriantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi (Jakarta: Kencana, 2007), Cet ke-2 h. 96.

9

(23)

F. Tinjauan Kepustakaan

Untuk mempermudah proses pelaksanaan penelitian maka penulis akan

menjadikan beberapa hasil penelitian yang telah pernah dilakukan sebagai acuan

dan perbandingan sehingga penelitian yang akan penulis lakukan akan menjadi

lebih baik dan dapat dipertanggung jawabkan. Tinjauan kepustakaan yang penulis

pilih antara lain :

1. “Analisis Semiotika Film Negeri 5 Menara” Amin Rois

NIM : 10851000036

Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam UIN Jakarta

Dalam skripsi tersebut penulis menganalisis makna ukhuwah islamiyah

dalam Film Negeri 5 Menara secara denotasi dan konotasi. Penulis menggunakan

model analisis semiotika Roland Barthes. Kesamaan metode yang digunakan yaitu

analisis semiotika model Roland Barthes menjadi alasan penulis mengambil

skripsi tersebut sebagai acuan. Tetapi tentu saja terdapat perbedaan dengan skripsi

penulis, yaitu dari segi kasus yang diteliti dan media yang menjadi objek

penelitiannya.

2. “Analisis Semiotik Film Apa itu Islam?” Reza Rizqi Aminullah

NIM : 208051000032

Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam UIN Jakarta

Skripsi tersebut penulis membahas tentang makna semiotika dalam adegan

adegan dan teks dalam film Apa itu Islam menurut Roland Barthes. Kesamaan

metode yang digunakan yaitu analisis semiotika model Roland Barthes menjadi

(24)

terdapat perbedaan dengan skripsi penulis, yaitu dari segi kasus yang diteliti dan

media yang menjadi objek penelitiannya.

3. “Analisis Semiotik Terhadap Film In The Name of God” Hani Taqiyya

NIM : 107051002739 Mahasiswa UIN Jakarta

Skripsi tersebut penulis membahas mengenai analisis semiotika yang ada

di dalam adegan film In The Name of God menggunakan metode pendekatan

semiotika Roland Barthes. Tetapi tentu saja terdapat perbedaan dengan skripsi

penulis, yaitu dari segi kasus yang diteliti dan media yang menjadi objek

penelitiannya.

4. “Semiotika Perlawanan Korupsi Film Aku Padamu Agus Riyanto

NIM : 108051000188

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam

Pada skripsi tersebut penulis membahas mengenai analisis semiotika yang

ada di dalam adegan film Aku Padamu dengan menggunakan metode pendekatan

semiotika. Dalam skripsi tersebut, penulis skripsi menguraikan analisis mengenai

semiotika secara naratif sehingga membuat penulis menjadikan referensi dalam

(25)

G. Sistematika Penulisan

BAB I: Dalam bab ini penulis akan memaparkan mengenai latar belakang masalah, pembatasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat

penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori, metodologi penelitian, dan

sistematika penulisan.

BAB II: Pada bab ini penulis akan menguraikan konsep analisis semiotika Roland Barthes, film, unsur dalam film, semiotika dalam film, pengertian

representasi, dan pesan moral.

BAB III: Dalam bab ini penulis akan memaparkan mengenai sejarah gambaran Film Di Timur Matahari.

BAB IV: Dalam bab ini, penulis membahas tentang temuan dan analisis semiotika simbol atau tanda mengenai makna denotasi, konotasi dan mitos yang

ada dalam Film Di Timur Matahari secara naratif yang menampilkan

adegan per adegan.

BAB V: Bab terakhir ini, penulis memberikan kesimpulan dan saran terhadap apa yang telah diangkat dan diteliti oleh penulis dan juga beberapa lampiran

(26)

BAB II

LANDASAN TEORI A. Analisis Semiotika

1. Pengertian Semiotika

Secara etimologis, istilah semiotika berasal dari kata Yunani semeion yang

berarti ―tanda‖. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai sesuatu yang atas dasar

konvensi sosial yang terbangun sebelumnya, dapat dianggap mewakili sesuatu

yang lain. Semiotika sebagai sesuatu model dari ilmu pengetahuan sosial

memahami dunia sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar yang disebut

dengan ―tanda‖. Dengan demikian, semiotika mempelajari hakikat tentang

keberadaan suatu tanda.1

Dalam buku Penelitian Komunikasi Kualitatif, Pawito menjelaskan bahwa

semiotika merupakan metode untuk menganalisis dan memberikan makna-makna

terhadap lambang-lambang yang terdapat suatu paket lambang-lambang pesan

atau teks. Teks disini dapat diartikan sebagai segala sesuatu bentuk serta sistem

lambang (signs) baik terdapat pada media massa (televisi, karikatur media cetak,

film, sandiwara radio dan iklan) ataupun yang terdapat di luar media massa

(lukisan, patung, candi, monumen, fashion show, dan menu masakan pada suatu

food festival).2 Dan fungsi dari semiotika inilah untuk mengungkap suatu makna

yang terdapat pada teks ataupun lambang.

1

Alex Sobur, Analisis teks Media: Suatu pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika, dan Analisis Framing, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), cet. 4, h.87-95.

2

(27)

Secara sederhana semiotika adalah ilmu tentang tanda-tanda. Semiotika

mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang

memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti.3

Fedinand de Saussure, seorang ahli bahasa dari Swiss yang dianggap telah

berjasa dalam upaya pengembangan analisis semiotika. Dalam hal ini, Saussure

menggunakan istilah semiologi dengan makna science that studies the life of signs

whitin society (ilmu yang mempelajari seluk-beluk lambang-lambang yang ada

atau digunakan dalam masyarakat). Ferdinand de Saussure mengelompokan

lambang menjadi dua jenis, yakni: Signifier (the concept) dan Signified (the

sound-image). Signifier menunjuk dari aspek fisik dari lambang, misalnya ucapan,

gambar, lukisan. Sedangkan signified menunjuk pada aspek mental dari lambang,

yakni pemikiran bersifat asosiasif tentang lambang. Kedua jenis lambang ini

saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.4

Lain halnya dengan Saussure, tokoh semiotika lainnya ialah Charles

Sanders Pierce, ia seorang ahli matematika dari AS yang sangat tertarik pada

persoalan lambang-lambang. Bagi Pierce lambang memiliki cakupan yang luas,

termasuk pahatan, gambar, ucapan, lisan, isyarat bahasa tubuh, musik, dan

tulisan. Semiotika menurut Charles Sanders Pierce yakni membedakan lambang

menjadi tiga kategori pokok: ikon (icon), indeks (index), dan simbol (symbol). Di

sini, yang dimaksud dengan ikon adalah a sign which is determined by its dynamic

object by vitue of its own internal nature (suatu lambang yang ditentukan [cara

pemaknaannya] oleh objek yang dinamis karena sifat internal yang ada). Istilah

indeks menunjuk pada lambang yang cara pemaknaannya lebih ditentukan oleh

3

Rahmat Krisyanto, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2006), ed. 1, h. 261-262.

4

(28)

objek dinamis dengan cara being in a real relation to it (keterkaitan yang nyata

dengannya). Proses pemaknaan lambang-lambang bersifat indeks tidak dapat

bersifat langsung, tetapi dengan cara memikirkan serta mengkait-kaitkannya.

Sedangkan simbol dalam konteks semiotika, biasanya dipahami sebagai a sign

which is determined by its dynamic object only in the sense that it will be so

interpreted (suatu lambang yang ditentukan oleh objek-objek dinamisnya dalam

arti ia harus benar-benar diinterpretasi). Dalam hal ini, interpretasi dalam upaya

pemaknaan terhadap lambang-lambang simbolik melibatkan unsur dari proses

belajar dan tumbuh atau berkembangnya pengalaman serta

kesepakatan-kesepakatan dalam masyarakat.5

2. Semiotika Roland Barthes

Selain Pierce dan Saussure masih terdapat nama tokoh lain yang telah

memberikan kontribusi bagi perkembangan analisis semiotik, yaitu Roland

Barthes. Roland Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukturalis yang

getol (dalam KBBI edisi keempat Departemen Pendidikan Nasional hal. 450:

rajin, tekun, dalam mencari) mempraktikan model linguistik dan semiologi

Saussure. Roland Barthes juga intelektual dan kritikus sastra Prancis yang

ternama, eksponen penerapan strukturalisme dan semiotika pada studi sastra.

Barthes lahir tahun 1915 dari keluarga kelas menengah Protestan di Cherbourg

dan dibesarkan di Bayonne, kota kecil dekat pantai Atlantik disebelah barat daya

Prancis. Ia berpendapat bahasa adalah sebuah sistem tanda yang mencerminkan

asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu.6

5

Ibid, h. 157-158.

6

(29)

Pemikiran Barthes tentang semiotika dipengaruhi oleh Saussure. Kalau

Saussure mengintrodusir istilah signifier dan signified berkenaan dengan

lambang-lambang atau teks dalam suatu paket pesan maka Barthes menggunakan

istilah denotasi dan konotasi untuk menunjuk tingkatan-tingkatan makna. Makna

denotasi adalah makna tingkatan pertama yang bersifat objektif (first order) yang

dapat diberikan terhadap lambang-lambang, yakni dapat diberikan terhadap

lambang-lambang, yakni mengaitkan secara langsung lambang antara realitas atau

gejala yang ditunjuk. Kemudian makna konotasi adalah makna yang dapat

diberikan pada lambang-lambang dengan mengacu pada nilai-nilai budaya yang

karenanya berada pada tingkatan kedua (second order). Yang menarik berkenaan

dengan semiotika Roland Barthes adalah digunakan istilah mitos (myth). Yakni

rujukan bersifat cultural (bersumber dari budaya yang ada) yang digunakan untuk

menjelaskan gejala atau realitas yang ditunjuk dengan lambang-lambang

penjelasan mana notabene adalah makna konotatif dari lambang-lambang yang

ada dengan mengacu sejarah (disamping budaya). Dengan kata lain mitos

berfungsi sebagai deformasi dari lambang yang kemudian menghadirkan

makna-makna tertentu dengan berpijak pada nilai-nilai sejarah dan budaya masyarakat.7

Seperti dikutip Fiske, menjelaskan signifikasi tahap pertama merupakan

hubungan-hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah tanda terhadap

realitas eksternal. Barthes menyebutkan sebagai denotasi. Konotasi adalah istilah

yang digunakan Barthes untuk signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan

interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari

7

(30)

pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya. Pada signifikasi tahap kedua yang

berkaitan dengan isi, tanda bekerja melalui mitos.8

a. Makna Denotasi

Makna denotasi adalah makna awal utama dari sebuah tanda, teks, dan

sebagainya.9 Kemudian, Groys Keraf menjelaskan mengenai makna donotasi

yakni, makna denotatif disebut juga dengan beberapa istilah lain seperti: makna

denotasional, makna kognitif, makna konseptual, makna ideasional, makna

referensial, atau makna proposional. Disebut makna denotasional, referensial,

konseptual, atau ideasional, karena makna itu menunjuk (denote) kepada suatu

referen, konsep, atau ide tertentu dari suatu referen. Disebut makna kognitif

karena makna itu bertalian dengan kesadaran atau pengetahuan; stimulus (dari

pihak pembicara), dan respon (dari pihak pendengar) menyangkut hal-hal yang

dapat diserap pancaindra (kesadaran) dan rasio manusia. Dan makna ini disebut

juga makna pernyataan-pernyataan yang bersifat faktual. Makna ini, yang diacu

dengan bermacam-macam nama, adalah makna yang paling dasar pada suatu kata.

Dalam bentuk yang murni, makna denotatif dihubungkan dengan bahasa

ilmiah. Seorang penulis yang hanya ingin menyampaikan informasi kepada

pembaca, dalam hal ini khususnya bidang ilmiah, akan berkecenderungan untuk

mempergunakan kata-kata yang denotatif. Sebab pengarahan yang jelas terhadap

fakta yang khusus adalah tujuan utamanya; ia tidak menginginkan interpretasi

tambahan dari tiap pembaca, dan tidak akan membiarkan interpretasi itu dengan

memilih kata-kata yang konotatif. Sebab itu untuk menghindari interpretasi yang

8

Alex Sobur, Analisis Teks Media,h. 127-128.

9

(31)

mungkin timbul, penulis akan berusaha memilih kata dan konteks yang relatif

bebas interpretasi.

Setiap kata memiliki denotasi, maka penulis harus mempersoalkan apakah

kata yang dipilihnya sudah tepat. Ketepatan pilihan kata itu tampak dari

kesanggupannya untuk menuntun pembaca kepada yang ingin disampaikan, yang

tidak memungkinkan interpretasi lain selain dari sikap pembicara dan

gagasan-gagasan yang akan disampaikan. Memilih sebuah denotasi yang tepat, dengan

sendirinya lebih mudah dari memilih konotasi yang tepat. Seandainya ada

kesalahan dalam denotasi, maka hal itu mungkin disebabkan oleh kekeliruan atas

kata-kata yang mirip bentuknya, kekeliruan tentang antonim, atau kekeliruan

karena tidak jelas maksud dan referennya.

Makna denotatif dapat dibedakan atas dua macam relasi, yaitu pertama,

relasi antara sebuah kata dengan barang individual yang diwakilinya, dan kedua

relasi antara sebuah kata dan ciri-ciri atau perwatakan tertentu dari barang yang

diwakilinya.10

Jadi dapat dipahami pengertian denotasi adalah suatu makna yang

menjelaskan arti yang sebenarnya. Dalam konteks ini biasanya makna tersebut

bersifat faktual dan dapat dipahami oleh rasio manusia tanpa melakukan

penafsiran yang mendalam terhadap makna dibalik setiap adegan yang terdapat

dalam sebuah film. Dengan kata lain, donotasi pada sebuah film adalah segala

sesuatu yang nampak dalam suatu adegan yang ditampilkan pada film.

10

(32)

b. Makna Konotasi

Pengertian konotasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:725)

yakni konotasi adalah tautan pikiran yang menimbulkan nilai rasa pada seseorang

ketika berhadapan dengan sebuah kata, makna yang ditambahkan pada makna

denotasi.

Aminuddin (2001:88) berpendapat makna konotatif adalah makna kata

yang telah mengalami penambahan terhadap makna dasarnya. Makna konotatif

disebut juga dengan makna tambahan. Makna konotatif muncul sebagai akibat

asosiasi perasaan pemakai bahasa terhadap kata yang didengar atau dibaca.

Harimurti (dalam Aminuddin, 2001:112) berpendapat aspek makna sebuah atau

sekelompok kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau

ditimbulkan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca). Sebuah kata

disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu mempunyai ―nilai rasa‖, baik

positif maupun negatif.

Sedangkan makna konotasi atau makna konotatif menurut Groys Keraf

disebut juga makna konotasional, makna emotif, atau makna evaluatif. Makna

konotatif adalah suatu jenis makna dimana stimulus dan respon mengandung

nilai-nilai emosional. Makna konotatif sebagian terjadi karena pembicara ingin

menimbulkan perasaan setuju - tidak setuju, senang – tidak senang dan sebagainya

pada pihak pendengar; di pihak lain, kata yang dipilih itu memperlihatkan bahwa

pembicaranya juga meredam perasaan yang sama.

Sering sinonim dianggap berbeda hanya dalam konotasinya. Kenyataannya

tidak selalu demikian. Ada sinonim-sinonim yang memang hanya mempunyai

(33)

Misalnya kata mati, meninggal, wafat, gugur, mangkat, berpulang memiliki

denotasi yang sama yaitu ―peristiwa di mana jiwa seseorang telah meninggalkan

badannya‖. Namun kata meninggal, wafat, berpulang mempunyai arti konotasi

tertentu, yaitu mengandung nilai-nilai kesopanan atau dianggap lebih sopan,

sedangkan mangkat mempunyai arti konotasi lain yaitu mengandung nilai

―kebesaran‖, dan gugur mengandung nilai keagungan dan keluhuran.11

Jadi makna konotatif atau konotasi dapat diartikan sebagai makna yang

tidak menunjukan arti yang sebenarnya. Makna konotasi ini, bisa disebut makna

tambahan dari makna denotasi. Dalam hal ini, makna konotasi ini timbul karena

adanya perasaan atau emosional yang ingin disampaikan dari sutradara kepada

penonton melalui cerita yang terdapat dalam sebuah film yang dibuatnya. Oleh

karena itu, sutradara berusaha menyampaikan pesan perasaan atau emosionalnya

melalui makna konotasi yang dimunculkan pada adegan sebuah film agar mudah

tersampaikannya pesan sutradara kepada penonton.

c. Mitos

Mitos adalah suatu sistem komunikasi yang membawakan pesan yang

tidak ditentukan oleh materinya. Mitos adalah suatu nilai, suatu tuturan yang lebih

ditentukan oleh maksudnya daripada bentuknya.12 Pengertian mitos pada

umumnya tidaklah menunjuk pada mitologi dalam pengertian sehari-hari –seperti

halnya cerita-cerita tradisional– melainkan sebuah cara pemaknaan; dalam bahasa

Barthes: tipe wicara.13 Pada dasarnya semua hal dapat menjadi mitos; satu mitos

11

Groys, Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa, h. 28-30.

12

Okke Zaimar K.S, Semiotik dan Penerapannya Dalam Karya Sastra, (Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h. 60.

13

(34)

timbul untuk sementara waktu dan tenggelam untuk waktu yang lain karena

digantikan oleh berbagai mitos lain. Mitos menjadi pegangan atas tanda-tanda

yang hadir dan menciptakan fungsinya sebagai penanda pada tingkatan yang lain.

Mitos oleh karenanya bukanlah tanda yang tak berdosa, netral; melainkan

menjadi penanda untuk memainkan pesan-pesan tertentu yang boleh jadi berbeda

sama sekali dengan makna asalnya. Kendati demikian, kandungan makna

mitologis tidaklah dinilai sebagai sesuatu yang salah (‗mitos‘ diperlawankan

dengan ‗kebenaran‘); cukuplah dikatakan bahwa praktik penandaan seringkali

memproduksi mitos. Produksi mitos dalam teks membantu pembaca untuk

menggambarkan situasi sosial budaya, mungkin juga politik yang ada

disekelilingnya. Bagaimanapun mitos juga mempunyai dimensi tambahan yang

disebut naturalisasi. Melaluinya sistem makna menjadi masuk akal dan diterima

apa adanya pada suatu masa, dan mungkin tidak untuk masa yang lain.14

Barthes dalam Barker, Cultural Studies (2000: 72-74) pun mengemukakan

bahwa kita dapat berbicara tentang dua sistem pemaknaan terhadap mitos, yaitu

makna denotasi dan konotasi. Denotasi adalah level makna deskriptif dan literal

yang secara virtual dimiliki semua anggota suatu kebudayaan. Sedangkan

konotasi, makna dibangun oleh penanda yang mengaitkan dengan aspek budaya

yang lebih luas: keyakinan, sikap, kerangka kerja, dan ideolagi suatu bangunan

sosial misalnya. Ia mengungkapkan juga bahwa konotasi membawa nilai-nilai

ekspresif yang muncul dari kekuatan kumulatif urutan (secara sintagmatis) atau

melalui perbandingan dengan alternatif yang tidak ada (secara paradigmatis).

Cultural Theory and Popular Culture: A Reader, (New York: Harvester Wheatsheet, 1994), h. 107.

14

(35)

Ketika konotasi dinaturalisasikan sebagai sesuatu yang hegemonik, ia bertindak

sebagai peta makna konseptual di mana seseorang memahami dunianya. Itu semua

adalah mitos. Meskipun mitos adalah konstruksi budaya, tetapi ia dapat tampak

sebagai kebenaran universal yang telah ada sebelumnya dan melekat pada nalar

awam. Mitos kemudian mirip dengan konsep ideologi, di mana ada tanda, maka di

situ ada ideologi.

Menurut Barthes, mitos dan ideologi bekerja dengan menaturalkan

interpretasi tertentu dari individu yang khas secara historis. Jadi, mitos

menjadikan pandangan dunia tertentu tampak tak terbantahkan karena alamiah

atau ditakdirkan Tuhan. Mitos bertugas memberikan kehendak historis suatu

justifikasi alamiah, dan menjadikan berbagai peristiwa yang tak terduga tampak

abadi.

Bagi Barthes, mitos adalah sistem semiologis urutan kedua atau

metabahasa. Mitos adalah bahasa kedua yang berbicara tentang bahasa tingkat

pertama. Tanda pada sistem pertama (penanda dan petanda) yang membangun

makna denotatif menjadi penanda pada urutan kedua makna mitologis konotatif.

Sementara itu, gunanya mitos bagi studi teks sebagai kebudayaan adalah

bahwa semua teks budaya dikonstruksikan dengan tanda, sehingga pembacaan

tanda sebagai teks dari segala sesuatu materi yang ada disesuaikan dengan budaya

yang melatarbelakanginya. Namun mitos itu sendiri tidak bersifat arbitrer, ia

bersifat multidimensional, selalu ada analog untuk memberi makna, sehingga

mitos dapat digunakan untuk meneliti teks dalam arti yang lebih luas, baik verbal

(36)

Dalam memahami Barthes, dapat dikatakan bahwa segala sesuatu di dunia

ini adalah merupakan tanda, tanda apapun masuk dalam kategori teks, sehingga

segala sesuatu dalam kehidupan ini adalah mitos. Mitos-mitos tersebut

berkembang dalam kehidupan budaya masyarakat di mana pun. Oleh sebab itu,

untuk memaknai sebuah teks dalam suatu kebudayaan masyarakat tertentu

misalnya, dalam bentuk apapun itu, dibutuhkan mitos dari kebudayaan yang

melatarbelakangi kehidupan masyarakat bersangkutan untuk menjelaskan sesuai

dari makna teks itu sendiri.15

Jadi dapat dipahami, mitos adalah bagaimana kebudayaan menjelaskan

atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam. Arti lainnya bisa

disebut juga mitos adalah suatu konotasi yang sudah membudaya. Dalam konteks

ini untuk mengetahui mitos yang ada dalam adegan sebuah film, haruslah

mengetahui makna konotasinya terlabih dahulu. Hal itu di sebabkan dalam sebuah

konotasi itu terdapat mitos dari kebudayaan yang melatarbelakangi kehidupan

masyarakat bersangkutan untuk menjelaskan sesuai dari makna adegan sebuah

film itu sendiri.

B. Film

1. Pengertian film

Secara etimologis, film berarti moving image, gambar bergerak. Awalnya,

film lahir sebagai bagian dari perkembangan teknologi. Ia ditemukan dari hasil

pengembangan prinsip-prinsip fotografi dan proyektor.16 Menurut Palapah dan

Syamsudin (1986:114) mendefinisikan film sebagai salah satu media yang

15

Suyatna Pamungkas, Bhartez dan Sistem Tanda (Sebuah Studi Semiotika) artikel ini diakses pada 3 juli 2013 dari http://peloporwriterpreneur.blogspot.com/2011/01/bhartez-dan-sistem-tanda-sebuah-studi.html.

16

(37)

berkarakteristik masal, yang merupakan kombinasi antara gambar-gambar

bergerak dan perkataan. Hal ini senada dengan Soegiono (1984: 13), ia

mengemukakan bahwa film adalah rekaman segala macam gambar hidup atau

bergerak, dengan atau tanpa suara yang dibuat di atas pita seluloid, jalur pita

magnetic, piringan audio visual dan benda hasil teknik kimiawi atau elektronik

lainnya yang mungkin ditemukan oleh kemajuan teknologi dalam segala bentuk

jenis dan ukuran baik hitam maupun putih atau berwarna yang dapat disajikan dan

dipertunjukkan kembali sebagai tontonan di atas layar proyeksi atau layar putih

atau layar TV dengan menggunakan sarana-sarana mekanis dari segala macam

bentuk peralatan proyeksi.

Sedangkan menurut UU Perfilman No 8 Tahun 1992, film adalah karya

cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar

yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita selluloid,

pita video, dan atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk,

jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya,

dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan atau ditayangkan dengan

sistem proyeksi mekanik, elektronik, dan atau lainnya.17

Jadi dapat dipahami bahwa pengertian film adalah media gambar bergerak

dan berkarakteristik masal, kemudian dipertunjukan kembali sebagai tontonan

untuk audiens.

17

(38)

2. Jenis-jenis Film

Marcel Danesi dalam buku Semiotik Media, menuliskan tiga jenis atau

kategori utama film, yaitu film fitur, film dokumenter, dan film animasi,

penjelasannya adalah sebagai berikut:18

a. Film Fitur

Film fitur merupaka karya fiksi, yang strukturnya selalu berupa narasi,

yang dibuat dalam tiga tahap. Tahap praproduksi merupakan periode ketika

skenario diperoleh. Skenario ini bisa berupa adaptasi dari novel, atau cerita

pendek, cerita fiktif atau kisah nyata yang dimodifikasi, maupun karya cetakan

lainnya; bisa juga yang ditulis secara khusus untuk dibuat filmnya. Tahap

produksi merupakan masa berlangsungnya pembuatan film berdasarkan scenario

itu. Tahap terakhir, post-produksi (editing) ketika semua bagian film yang

pengambilan gambarnya tidak sesuai dengan urutan cerita, disusun menjadi suatu

kisah yang menyatu.

b. Film Dokumenter

Film dokumenter merupakan film nonfiksi yang menggambarkan situasi

kehidupan nyata dengan setiap individu menggambarkan perasaannya dan

pengalamannya dalam situasi yang apa adanya, tanpa persiapan, langsung pada

kamera atau pewawancara. Robert Claherty mendefinisikannya sebagai ―karya

ciptaan mengenai kenyataan‖, creative treatment of actuality.19

Dokumenter seringkali diambil tanpa skrip dan jarang sekali ditampilkan

di gedung bioskop yang menampilkan film-film fitur. Akan tetapi, film jenis ini

18

Marcel Danesi, Pengantar Memahami Semiotik Media, (Yogyakarta: Jalasutra, 2010) h. 134-135.

19

(39)

sering tampil di televisi. Dokumenter dapat diambil pada lokasi pengambilan apa

adanya, atau disusun secara sederhana dari bahan-bahan yang sudah diarsipkan.

Dalam kategori dokumenter, selain mengandung fakta, film dokumenter

mengandung subyektivitas pembuatnya. Dalam hal ini pemikiranpemikiran,

ide-ide, dan sudut pandang idealisme mereka. Dokumenter merekamadegan nyata dan

faktual (tidak boleh merekayasanya sedikitpun) untuk kemudian diubah menjadi

sefiksi mungkin menjadi sebuah cerita yang menarik.

c. Film Animasi

Animasi adalah teknik pemakaian film untuk menciptakan ilusi gerakan

dari serangkaian gambaran benda dua atau tiga dimensi. Penciptaan tradisional

dari animasi gambar-bergerak selalu diawali hampir bersamaan dengan

penyusunan storyboard, yaitu serangkaian sketsa yang menggambarkan bagian

penting dari cerita. Sketsa tambahan dipersiapkan kemudian untuk memberikan

ilustrasi latar belakang, dekorasi serta tampilan dan karakter tokohnya. Pada masa

kini, hampir semua film animasi dibuat secara digital dengan komputer. Salah satu

tokohnya yang legendaris adalah Walt Disney dengan film-film kartunnya seperti

Donal duck, Snow White, dan Mickey Mouse.

3. Unsur-unsur dalam Film

Film secara umum dapat dibagi atas dua unsur pembentuk, yakni unsur

naratif dan unsur sinematik, dua unsur tersebut saling berinteraksi dan

berkesinambungan satu sama lain:

1) Unsur Naratif

Unsur naratif berhubungan dengan aspek cerita atau tema film. Dalam hal

(40)

a. Tokoh

Dalam film cerita, terdapat dua tokoh penting, yaitu utama dan pendukung.

Tokoh utama sering diistilahkan dengan tokoh protagonist, sedangkan tokoh

pendukung biasa disebut dengan tokoh antagonis yang biasanya bertindak sebagai

pemicu konflik.

b. Masalah dan Konflik

Masalah di dalam film dapat diartikan sebagai penghalang yang dihadapi

tokoh protagonist dalam meraih tujuannya. Permasalahan ini yang kemudian

memicu konflik (konfrontasi) fisik atau batin dari luar diri tokoh protagonist

ataupun dari dalam diri tokoh protagonist (konflik batin).20

c. Lokasi

Tempat/lokasi di dalam film biasanya berfungsi sebagai pendukung narasi

di dalam scenario. Pemilihan lokasi dapat membangun cerita sehingga cerita dapat

menjadi lebih realistis.

d. Waktu

Waktu dalam narasi film merupakan salah satu aspek penting dalam

membangun cerita. Pagi, siang, sore, dan malam dalam film memiliki makna

sendiri sebagai pembangun suasana narasi film.

Unsur lainnya yang tidak lepas dalam film yaitu narasi. Dalam kajian

sastra, kajian narasi atau cerita di dalam suatu karya disebut juga dengan kajian

naratologi. Teori naratif cenderung erat kaitannya dengan naratorologi, yakni

proses menyampaikan suatu cerita. Naratif juga berasal dari kata narasi yaitu

suatu cerita tentang peristiwa atau kejadian dengan adanya paragraf narasi yang

20

(41)

disusun dengan merangkaikan peristiwa-peristiwa yang berurutan atau secara

kronologis.21 Naratologi berasal dari kata narration dan logos (bahasa latin).

Narration berarti cerita, perkataan, kisah, hikayat; logos berarti ilmu. Naratologi

juga disebut teori wacana (teks) naratif. Baik naratologi maupun teori wacana

(teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan

penceritaan. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistic, seperti model

sintaksis, sebagaimana hubungan antara subjek, predikat, dan objek penderita.

Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik, seperti model sintaksis,

sebagaimana hubungan antara subjek, predikat, dan objek penderita.

Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator, demikian juga dengan wacana

dan teks, berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. Narasi baik sebagai

cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua

peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. Narator atau agen naratif

(Mieke Bal dalam Ratna, 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks,

subjek secara linguistik, bukan person, bukan pengarang. Kajian wacana naratif

dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa, sastra, dan budaya yang

dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan

(humaniora). Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan, maka hanya penceritaan

yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. Bal

menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita

yang sama. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa,

tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. Setiap orang, misalnya, akrab

dengan cerita Jaka Tarub, tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut

21 Moulidvi Rizki Permita,

(42)

melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa, melainkan

melalui bahasa; diceritakan oleh narator, bukan pengarang.22

Dari beberapa penjelasan di atas, narasi adalah gambaran cerita dalam

sebuah peristiwa atau kejadian kemudian dirangkai secara kronologis peristiwa

yang terjadi. Tujuan dari narasi sendiri adalah mengajak pembaca seolah-olah

mengalaminya sendiri peristiwa yang diceritakan, dengan begitu pembaca

berkesempatan untuk menciptakan imajinasi mereka mengenai kebenaran dalam

cerita tersebut.

2) Unsur Sinematik

Senematik atau language of film berguna untuk menganalisi textual dari

beberapa rangkaian pendek film, video, atau televisi. Bordwell dan Thompson

membagi bahasa film menjadi empat element, yaitu mise-en-scene,

cinematography, editing dan sound. Semua rangkaian ini saling membantu satu

sama lainnya.23 Adapun definisi mise en adegan (scene), Sinematografi, Editing

dan Suara sebagai berikut:24

a. Mise en Scene: Segala hal yang berada di depan kamera. Empat

elemen pokok Mise en Scene yaitu, setting atau latar, tata cahaya,

kostum dan make-up, serta akting dan pergerakan pemain.

22

Asep Yusup Hudayat, Modul „Metode Penelitian Sastra‟ (Bandung: Fakultas Sastra Universitas Padjajaran, 2007), h. 72. Melalui web:

Resource.unpad.ac.id/unpad-content/unpad/publikasi_dosen/metode_penelitian_sastra.PDF diakses pada 23 Januari 2014.

23Micheal O‗Shaughnessy and Jane Stadler, Media and So

ciety,(Oxford Universiy, Oxford University Press, 2005), h. 219.

24

(43)

b. Sinematografi: Perlakuan terhadap kamera dan filmnya serta hubungan

kamera dengan obyek yang diambil.

c. Editing: Transisi sebuah gambar (shot) ke gambar (shot) lainnya.

d. Suara: Segala hal dalam film yang mampu kita tangkap melalui indera

pendengaran.

Penjelasan film ini bermanfaat sekali bagi penulis dalam menganalisis

gaya sinematik film. Untuk beberapa rangkaian analisis yang lebih detailnya

diperlukan mencatat apa saja yang terjadi dalam setiap kejadian dan pengambilan

sudut gambar kamera. Untuk mentranscribe setiap rangkaian diperlukan menonton

lebih dari satu kali rangkaian yang ada dalam film, pause suara film untuk

mencatat. Ini akan sangan membantu mengnalisis film tanpa menggunakan suara

sehingga kamu dapat lebih fokus kepada mise-en-scene (conten of the shot),

cinematography (how content is filmed), dan editing. Kemudian dengarkan

soundtrack tanpa melihat gambar sehinga kamu dapat focus kepada suara.

Selanjutnya perhatikan dengan seksama dengan suara kencang dan catatlah

hubungan antara suara dan gambar. Kemudian, masukan kedalam catatan eksra

detail mengenai durasi sebuah adegan, dan buat juga catatan tentang tata lampu

(lighting), pertunjukan (performance), serta pendapatmu setiap adegan. Dengan

pengamatan yang detail dapat diketahui bagaimana mise-en-scene,

cinematography, editing dan sound dalam sebuah film memiliki makna dan

pengaruh yang kuat.25

4. Struktur Film

1) Shot

25Micheal O‘Shaughnessy and Jane Stadler,

(44)

Shot adalah a consecutive series of pictures that constitutes a unit of

action in a film, satu bagian dari rangkaian gambar yang begitu panjang, yang

hanyadirekam dalam satu take saja. Secara teknis, shot adalah ketika kamerawan

mulai menekan tombol record hingga menekan tombol record kembali.26

2) Scene

Adegan adalah satu segmen pendek dari keseluruhan cerita yang

memperlihatkan satu aksi berkesinambungan yang diikat oleh ruang, waktu, isi

(cerita), tema, karakter, atau motif. Satu adegan umumnya terdiri dari beberapa

shot yang saling berhubungan.

3) Sequence

Sequence adalah satu segmen besar yang memperlihatkan satu peristiwa

yang utuh. Satu sekuen umumnya terdiri dari beberapa adegan yang saling

berhubungan. Dalam karya literatur, sekuen bisa diartikan seperti sebuah bab atau

sekumpulan bab.27

C. Film dalam Kajian Analisis Semiotik

Film merupakan bidang yang amat relevan bagi analisis semiotik. Seperti

yang dikemukakan Art Van Zoest, film dibangun dengan tanda-tanda semata.

Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerjasama dengan baik

untuk mencapai efek yang diharapkan. Berbeda dengan tanda-tanda fotografi

statis, rangkaian tanda dalam film menciptakan imajinasi atau sistem penandaan.

Pada film digunakan tanda-tanda ikonis yaitu tanda-tanda yang menggambarkan

26

Wahyu Wary Pintoko dan Diki Umbara, How to Become A Cameraman, (Yogyakarta: Interprebook, 2010), h. 97.

27

(45)

seseuatu. Gambar yang dinamis pada sebuah film merupakan ikonis bagi realitas

yang dinotasikannya.28

Semiotika Barthes adalah mengenai konotasi dan denotasi. Barthes

mendefinisikan sebuah tanda (sign) sebagai sebuah sistem tanda yang di dalamnya

mengansung unsur ekspresi (E) dalam hubungannya (R) dengan isi (C).29

Analisis semiotik pada film berlangsung pada teks yang merupakan

struktur dari produksi tanda. Bagian struktur penandaan dalam film biasanya

terdapat dalam unsur tanda paling kecil, dalam film disebut scene. Scene dalam

film merupakan satuan terkecil dari struktur cerita film atau biasa disebut alur.

Alur sendiri merupakan sejumlah motif satuan-satuan fiksional terkecil yang

terstruktur sedemikian rupa sehingga mampu mengembangkan tema serta

melibatkan emosi-emosi. Sebuah alur biasanya mempunyai fungsi estetik pula,

yakni menuntun dan mengarahkan perhatian penonton ke dalam susunan

motif-motif tersebut.30

Di dalam teori semiotika, proses pemaknaan gagasan, pengetahuan atau

pesan secara fisik disebut representasi. Secara lebih tepat ini didefinisikan sebagai

penggunaan tanda-tanda untuk menampilkan ulang sesuatu yang dicerap, diindra,

dibayangkan atau dirasakan dalam bentuk fisik.31

Penjelasan di atas mengambarkan bahwa terdapat sisi yang khas dari film

yang dapat dikaji dengan semiotika, yakni adegan, percakapan dan pesan teatrikal.

Cerita pada film tidak saja berupa gambaran dari realitas kehidupan masyarakat

28

Rachmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: Prenada Media Group, 2008), h. 263.

29

Indiwan, Semiotika Komunikasi, (Jakarta, Mitra Wacana Media, 2011), h. 16.

30

Film Sebagai Objek Analisis Semiotik, artikel ini diakses pada 18 Februari 2014 dari http://rossidrowmaens.blogspot.com/2012/05/film-sebagai-objek-analisis-semiotik.html.

31

(46)

yang dipindahkan ke dalam seluloid semata, film juga menjadi media representasi

dari kehidupan masyarakat. Dalam hal ini film menghadirkan dan membentuk

kembali realitas berdasarkan kode-kode, konvensi-konvensi dan ideologi melalui

gambaran sebuah film.

D. Pengertian Representasi

Representasi adalah sebuah cara memaknai apa yang diberikan pada benda

yang digambarkan. Konsep ini digambarkan pada premis bahwa ada sebuah

representasi yang menjelaskan perbedaan antara makna yang diberikan oleh

representasi dan arti benda yang sebenarnya digambarkan.32

Menurut Roland Barthes tuturan mitologis bukan saja berbentuk tuturan

oral, tetapi tuturan itu dapat berbentuk tulisan, fotografi, film, laporan ilmiah, olah

raga, pertunjukan, iklan, lukisan. Mitos pada dasarnya adalah semua yang

mempunyai modus representasi. Teori Barthes tentang mitos/ideologi

memungkinkan seoarang pembaca atau analis untuk mengkaji ideologi secara

sinkronik maupun diakronik. Secara sinkronik, makna terantuk pada suatu titik

sejarah dan seolah berhenti di situ, oleh karenanya penggalian pola-pola

tersembunyi yang menyertai teks menjadi lebih mungkin dilakukan. Pola

tersembunyi ini boleh jadi berupa pola oposisi, atau semacam skema pikir pelaku

bahasa dalam representasi.33 Sementara secara diakronik analisis Barthes

memungkinkan untuk melihat kapan, di mana dan dalam lingkungan apa sebuah

sistem mitos digunakan. Mitos yang dipilih dapat diadopsi dari masa lampau yang

32

Eriyanto, Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media, (Yogyakarta:LKiS), 2009, h. 113

33

(47)

sudah jauh dari dunia pembaca, namun juga dapat dilihat dari mitos baru yang

akan menjadi ―founding prospective history‖.34

Sementara menurut Noviani dalam bukunya menjelaskan untuk

menggambarkan ekspresi hubungan antara teks media (termasuk iklan dengan

realitas, konsep representasi sering digunakan. Secara semantik, representasi bisa

diartikan to depict, to be a picture of atau to act or speak for (in the place of, in the

name of) somebody.35

Jadi representasi adalah sebuah cara untuk memberikan sebuah gambaran

yang berupa fotografi, film, laporan ilmiah, olah raga, pertunjukan, iklan, lukisan

kepada seseorang. Dalam penelitian ini, representasi moral budaya masyarakat

Papua dalam film Di Timur Matahari merupakan film yang menggambarkan

budaya masyarakat Papua khususnya di daerah pegunungan Tiom, film ini

mempunyai pesan moral tentang semangat belajar, cinta kasih, dan perdamaian.

E. Pesan Moral

Istilah pesan diartikan gagasan atau ide yang disampaikan komunikator

kepada komunikan untuk tujuan tertentu.36 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

―pesan diartikan sebagai perintah, nasihat, permintaan, amanat, yang harus

dilakukan atau disampaikan kepada orang lain.37 Akan tetapi pengertian pesan

yang dipaparkan di atas bersifat mendasar, dalam arti kata bahwa pesan itu adalah

suatu kata-kata itu menyediakan suatu alat pengantar yang dapat menyampaikan

ide-ide dan informasi, tapi juga persuasif yaitu pesan-pesan berjalan dengan

34

St. Sunardi, Semiotika Negativ (Yogyakarta:Buku Baik), 2004, hal. 116

35

Noviani, Jalan Tengah Memahami Iklan, Antara Realitas, Representasi, dan Simulasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 2002, h. 61.

36

Endang Saifudin Anshari, Wawasan Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1993), h. 25.

37

(48)

struktur yang melalui komunikator dan diterima oleh komunikan agar orang lain

bersedia menerima suatu paham dan keyakinan melakukan suatu perbuatan atau

kegiatan dan lain-lain.38

Dalam komunikasi, pesan menjadi salah satu unsur penentu efektifitas

suatu tindakan komunikasi. Pesan menjadi unsur utama selain komunikator dan

komunikan, terjadi komunikasi antar manusia. Tanpa adanya komunikasi pesan,

maka tidak pernah terjadi komunikasi yang jelas antar manusia.39

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, moral adalah penentuan baik-buruk

terhadap perbuatan dan kelakuan.40 Kata moral dari sego bahasa berasal dari

bahasa latin yaitu mores jamaknya dari kara mos yang berarti adat kebiasaan.

Secara etimologi moral adalah istilah yang digunakan untuk menentukan batas

dari sifat, perangai, kehendak pendapat, atau perbuatan secara layak dapat

dikatakan benar, salah, baik, atau buruk.41 Secara umum moral mengarah pada

pengertian (ajaran tentang) baik dan buruk yang diterima umum mengenai

perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya: akhlak, budi pekerti, dan susila.42

Moral merupakan ajaran-ajaran, wejangan-wejangan, khutbah-khutbah,

patokan-patokan, kumpulan peraturan, dan ketetapan lisan atau tertulis tentang

bagaimana harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang lebih baik.

38

James G. Robinson, Komunikasi Yang Efektif, (Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya, 1986), cet. Ke-3, h. 35.

39

M. Jamaluddin Piktoringa, Tipologi Pesan Persuasif, (Jakarta: PT Indeks, 2005), cet. Ke-1, h 1.

40

W. J. S Poerwardarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), cet ke XXI, h. 278

41

Abudin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: Rajawali Press, 2003), cet. Ke-5, h. 94

42

(49)

Sumber dasar ajaran-ajaran moral adalah tradisi, adat istiadat, ajaran agama dan

ideologi-ideologi tertentu.43

Sedangkan menurut Zakiah Darajat, moral adalah kelakuan sesuai dengan

ukuran (nilai-nilai) masyarakat yang timbul dari hati dan bukan paksaan dari luar

yang disertai pula oleh rasa tanggung kawab atas kelakuan tersebut. Ajaran moral

membuat pandangan tentang nilai dan norma yang terdapat di antara sekelompok

manusia.44

Adapun kategori berdasarkan pesan moral ada tiga macam.

1. Kategori hubungan manusia dengan Tuhan

2. Kategori hubungan manusia dengan diri sendiri. Menjadi sub: ambisi

harga diri, takut, dan lain lain.

3. Kategori hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkungan social

termasuk hubungan dengan alam.45

Melalui berbagai pengertian di atas, penulis menyimpulkan bahwa film

merupakan media komunikasi penyampai pesan yang memberikan sekaligus

bujukan yang memberikan kesadaran bagi penontonnya melalui pesan-pesan yang

terdapat pada film tersebut. Pesan yang ingin disampaikan pada khalayak adalah

pesan yang mengandung pesan moral. Pesan moral merupakan suatu materi atau

gagasan mengenai ajaran tentang baik buruknya perbuatan dan kelakuan yang

ingin disampaikan oleh pembuat film kepada penontonnya. Dalam penelitian ini,

pesan yang ingin disampaikan dalam film Di Timur Matahari ini adalah semangat

belajar, cinta kasih, dan perdamaian.

43

Sudirman Teba, Etika dan Tasawuf Jawa (Jakarta: pustaka Irvan, 2007) h. 11-12.

44

Zakiyah Darajat, Peranan Agama Islam dalam Kesehatan Mental (Jakarta: Haji Masagung, 1993), h. 6.

45

Gambar

Tabel 4.1  Visualsasi: Denotasi  Pada gambar  pertama, berupa  gambar Mazmur  sedang berada di  lapangan terbuka  dengan  menggunakan  pakaian seragam  sekolah

Referensi

Dokumen terkait

Di samping itu, komposisi dan karakteristik sampah dari tahun ke tahun bergeser ke arah sampah yang lebih kompleks, termasuk adanya kandungan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk mendeskripsikan jalan cerita film “di timur matahari” yang diproduksi oleh Alenia Pictures, 2) untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan yang bermanfaat bagi semua pihak berkaitan dengan pendidikan karakter cinta damai dalam film Di Timur Matahari,a.

Ada beberapa ciri yang menonjol di masyarakat perkotaan (Soekato, 1990:156), yakni : (1).Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan agama di desa, karena

Akhirnya dengan adanya film ini sebagai suatu gambaran dari kehidupan masyarakat multikultur di jerman, kemunculan film ini sendiri memberikan semacam pengakuan dari orang Turki

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa saat ini pengembangan pariwisata di Kampung Tablanusu sudah melibatkan partisipasi masyarakat lokal Kampung Tablanusu namun

Demikian, berdasarkan masalah yang diangkat maka didapatkan identifikasi masalah bahwa video yang sudah ada sebelumnya, belum mampu menggambarkan dan mempromosikan kebudayaan

Perubahan jenis partisipasi spontan ke arah pasif terjadi karena kemampuan pemilik usaha pondok wisata dalam mendatangkan wisatawan untuk berlibur dan menghabisakan waktu di Desa Wisata