STUDI KELAYAKAN BISNIS PABRIK PENGOLAHAN KELAPA SAWIT PT. INDOMAS MITRA TEKNIK
RAYMOND BAGINTASYAH PERANGIN-ANGIN
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul Studi Kelayakan
Bisnis Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit PT. Indomas Mitra Teknik adalah karya
saya dengan arahan dari pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun
kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip
dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Februari 2015
Raymond Bagintasyah Perangin-angin
ABSTRAK
RAYMOND BAGINTASYAH PERANGIN-ANGIN. Studi Kelayakan Bisnis Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit PT. Indomas Mitra Teknik. Dibimbing oleh SITI JAHROH.
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas pertanian yang memiliki kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan memiliki dampak yang besar bagi peradaban dan penyediaan lapangan kerja. Kelapa sawit tersebut harus didukung oleh industri sehingga minyak sawit dapat memiliki harga yang lebih tinggi. Pabrik pengolahan kelapa sawit mengolah kelapa sawit menjadi minyak sawit mentah yang memiliki nilai jual lebih. PT. Indomas Mitra Teknik adalah salah satu pabrik pengolahan kelapa sawit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kelayakan pabrik kelapa sawit PT. Indomas Mitra Teknik. Penelitian ini dilakukan di kantor dan pabrik PT. Indomas Mitra Teknik di Mardingding, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis aspek non-finansial seperti aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, dan aspek sosial serta lingkungan. Analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis kelayakan aspek finansial berdasarkan kriteria
investasi yang NPV, IRR, Net B/C, dan Payback Period (PP). Dari analisis aspek
non-finansial, semua aspek adalah layak kecuali aspek teknis dalam hal pengadaan bahan baku. Hasil analisis kelayakan finansial PT. Indomas Mitra Teknik adalah layak dengan nilai NPV sebesar 17 645 785 706 (NPV > 0), IRR sebesar 25.09% (IRR > DR dimana DR 7%), Net B/C sebesar 2.74 ( > 1), PP selama 5 tahun 8 bulan 21 hari (PP < umur usaha 15 tahun).
Kata kunci: aspek pasar, aspek teknis, manajemen, net present value, internal rate
of return
ABSTRACT
RAYMOND BAGINTASYAH PERANGIN-ANGIN. Feasibility Analysis of Processing Palm Oil Factory PT. Indomas Mitra Teknik. Supervised by SITI JAHROH.
feasible except for technical aspect on input provision. Quantitative analysis was used to analyze the feasibility of financial aspect based on investment criteria, i.e. NPV, IRR, Net B/C and, payback period (PP). The result of this feasibilty analysis showed that PT Indomas Mitra Teknik was feasible with value NPV 17 645 785 706 (NPV > 0), IRR 25.09% (IRR > DR whereas DR was 7%), Net B/C 2.74( > 1), and PP is 5 years 8 months 21 days (PP < business time of 15 years).
Keyword: market aspect, technical aspect, management, net present value,
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2014
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
STUDI KELAYAKAN BISNIS PABRIK PENGOLAHAN
KELAPA SAWIT PT. INDOMAS MITRA TEKNIK
RAYMOND BAGINTASYAH PERANGIN-ANGIN
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
pada
Departemen Agribisnis
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PRAKATA
Segala puji dan syukur sebesar-besarnya penulis panjatkan kepada Tuhan
Yesus Kristus atas segala kasih dan karunia-Nya yang senantiasa dilimpahkan
sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Judul penelitian yang diambil adalah
Studi Kelayakan Bisnis Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit PT. Indomas Mitra
Teknik.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Siti Jahroh, PhD selaku dosen
pembimbing yang telah tanpa lelah dan penuh kesabaran membimbing penulis
untuk menyelesaikan penulisan ini dengan baik. Ucapan terima kasih juga penulis
sampaikan kepada Bapak Benni Tarigan selaku pemilik PT. Indomas Mitra
Teknik yang telah memberikan izin penelitian. Ucapan terima kasih juga
disampaikan kepada papa, mama, dan adik-adik tersayang (Ines dan Monik) serta
keluarga besar atas doa, semangat, dan cinta yang selalu diberikan. Selanjutnya
ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada teman seperjuangan, Adit, Bobi,
Tyo, Winda, Amal, dan Gayuh yang senantiasa memberikan dukungan dan doa.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Ester atas waktu, perhatian, dan
dukungan yang selalu diberikan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada
teman-teman seangkatan Agribisnis 46 yang sama-sama berjuang dalam
menempuh pendidikan di Departemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB).
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Februari 2015
x
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xii
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR LAMPIRAN xiii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 4
Tujuan Penelitian 6
Manfaat Penelitian 6
TINJAUAN PUSTAKA 6
Studi Kelayakan Bisnis 6
Aspek-Aspek Studi Kelayakan Bisnis 7
Industri Kelapa Sawit di Indonesia 9
Hasil Tanaman Kelapa Sawit 11
Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia 11
Perkembangan Industri Kelapa Sawit di Indonesia 12
Penelitian Terdahulu 12
KERANGKA PEMIKIRAN 13
Kerangka Pemikiran Teoritis 13
Kerangka Pemikiran Operasional 17
METODOLOGI PENELITIAN 19
Lokasi dan Waktu Penelitian 19
Data dan Instrumentasi 19
Metode Pengumpulan Data 19
Pengolahan dan Analisis Data 20
Kriteria Investasi 20
Asumsi-Asumsi Dasar 22
GAMBARAN UMUM 23
HASIL DAN PEMBAHASAN 25
Aspek Non Finansial 25
Apek Pasar 25
Aspek Teknis 29
Aspek Manajemen 33
Aspek Sosial dan Lingkungan 35
Analisis Aspek Finansial 37
Analsis Inflow Pabrik Kelapa Sawit PT. IMT 37
Analsis Outflow Pabrik Kelapa Sawit PT. IMT 39
Laporan Laba Rugi PT. IMT 41
Kriteria Investasi 42
SIMPULAN DAN SARAN 43
xi
Saran 43
DAFTAR PUSTAKA 44
LAMPIRAN 46
xii
DAFTAR TABEL
1 Jumlah produksi tanaman perkebunan Indonesia tahun 2006-2010 1
2 Luas areal dan produksi CPO kelapa sawit tahun 2006-2010 2
3 Provinsi sentra produksi kelapa sawit di Indonesia tahun 2008–2011 3
54 Jumlah areal kelapa sawit dan produksi TBS di Kabupaten Karo 4
5 Luas wilayah dan jumlah penduduk di Kabupaten Karo 24
6 Kapasitas pabrik kelapa sawit dan produksi CPO serta kernel PT.IMT 30
7 Hasil analisis aspek non finansial 36
8 Rekapitulasi produksi PT. IMT 38
9 Rekapitulasi penerimaan PT. IMT 38
10 Biaya investasi 39
11 Rekapitulasi biaya tetap PT. IMT 40
12 Rekapitulasi biaya variabel PT. IMT 41
xiii
DAFTAR GAMBAR
1 Proses pengolahan TBS menjadi CPO dan KPO 10
2 Kerangka pemikiran operasional 18
3 Peta Kabupaten Karo 23
4 Saluran distribusi PT. IMT 28
5 Tempat penyortiran dan penyimpanan dalam Loading Ramp 31
6 Stasiun perebusan dan stasiun pencacahan (digester) 31
DAFTAR LAMPIRAN
1 Komoditas perkebunan di Sumatera Utara 47
2 Data riil harga TBS, CPO, kernel, dan cangkang Juli-Desember 2013 48
3 Data riil biaya tetap Juli-Desember 2013 49
4 Data riil biaya variabel Juli-Desember 2013 50
5 Bagan struktur organisasi PT. IMT 51
6 Layout pabrik 52
7 Cashflow PT. IMT 53
8 Laba rugi PT. IMT 59
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena memiliki sumberdaya alam yang melimpah dan mempunyai potensi yang besar di sektor pertanian. Pertanian merupakan salah satu sektor yang penting sebagai penggerak perekonomian Indonesia karena pertanian dapat meningkatkan pendapatan negara dan devisa negara serta berperan penting dalam penyediaan lapangan pekerjaan yaitu sekitar 42.76 % (BPS 2009).
Sektor pertanian di Indonesia dibagi menjadi beberapa subsektor yang terdiri dari tanaman pangan, hortikultura, peternakan, dan perkebunan. Perkebunan adalah salah satu sektor pertanian yang memiliki kontribusi besar terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) di Indonesia yaitu 17.3% dari total PDB pada tahun 2002. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, angka yang disumbangkan subsektor perkebunan untuk PDB sektor pertanian pada tahun 2010 mencapai Rp 136 048 500 000 (13.8 %). Jumlah tersebut menunjukan subsektor perkebunan sebagai penyumbang PDB ketiga terbesar setelah subsektor tanaman pangan yaitu Rp 482 377 400 100 000 (49 %), dan subsektor perikanan yaitu Rp 199 383 400 000 (20.2 %). Penyumbang PDB sektor pertanian lainnya adalah subsektor peternakan dan subsektor kehutanan.
Komoditi utama perkebunan di Indonesia terdiri dari beberapa tanaman. Komoditi-komoditi tersebut diantaranya adalah kakao, kopi, karet, teh, dan kelapa sawit. Produksi dari komoditi-komoditi unggulan tersebut rata-rata meningkat sesetiap tahunnya. Peningkatan tersebut terjadi pada komoditi kakao, teh, dan kelapa sawit dengan laju pertumbuhan masing masing sebesar 2.45 %, 2.5 %, dan 1.88 %. Jumlah produksi tanaman Indonesia pada tahun 2006 sampai tahun 2010 dapat dilihat pada Tabel 1. Nilai produksi kelapa sawit memiliki nilai paling besar bila dibandingkan dengan komoditi-komoditi perkebunan lain. Tingginya produksi kelapa sawit di Indonesia merupakan sumber potensial untuk dikembangkan. Produksi kelapa sawit yang tinggi dapat dijadikan salah satu komoditi unggulan ekspor nasional. Total produksinya mencapai 5.04 juta ton dan terus mengalami peningkatan hingga mencapai 5.40 juta ton pada tahun 2011. Rata-rata kenaikan produksi pada subsektor pertanian periode tahun 2007 - 2011adalah sebesar 47.7 ton/tahun.
Tabel 1 Jumlah produksi tanaman perkebunan Indonesia tahun 2006-2010
Jenis tanaman Tahun
2006 (Ton) 2007 (Ton) 2008 (Ton) 2009 (Ton) 2010 (Ton) Kelapa
sawit 17 350 848 17 664 725 17 539 788 18 640 881 19 844 901
Karet 2 637 231 2 755 172 2 751 286 2 440 347 2 591 935
Kakao 769 386 740 006 803 594 809 583 844 626
Kopi 682 158 676 476 698 016 682 590 684 076
Teh 146 859 150 623 153 971 156 901 150 342
2
Produksi kelapa sawit di Indonesia juga didukung dengan pertumbuhan luas areal kelapa sawit di Indonesia yang semakin meningkat sesetiap tahunnya.
Pertambahan luas areal dan produksi CPO (Crude Palm Oil) kelapa sawit di
Indonesia dapat dilihat pada Tabel 2. Pertambahan luas areal yang terjadi sesetiap tahunnya menunjukan bahwa kelapa sawit memiliki prospek yang besar ke depannya. Perkembangan tersebut dikarenakan kelapa sawit merupakan komoditas tanaman perkebunan unggulan yang mempunyai peranan penting dalam subsektor perkebunan untuk membangun perekonomian negara. Pembangunan perekonomian tersebut dapat melalui pembangunan dan pengembangan wilayah dengan cara membuka wilayah perkebunan yang baru, dengan begitu perkebunan tersebut dapat menyerap tenaga kerja, peningkatan kesejahteraan daerah, dan peningkatan pendapatan daerah yang artinya juga meningkatkan sumber devisa negara.
Tabel 2 Luas areal dan produksi CPO kelapa sawit di Indonesia tahun 2006-2010
Tahun Luas Areal (Hektar) Produksi CPO (Ton)
2006 6 594 914 17 350 848
Perluasan perkebunan kelapa sawit diharapkan akan dapat meningkatkan pendapatan negara dan dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja dari sektor perkebunan. Tahun 2008 perkebunan kelapa sawit dapat mempekerjakan 3.06 juta orang dengan 3.05 juta orang bekerja di perkebunan besar dan 3.08 ribu orang bekerja di PTPN (Perusahaan Terbatas Perkebunan Nusantara. Pabrik pengolahan kelapa sawit juga ikut menyerap tenaga kerja di Indonesia, tercatat ada 470 unit pabrik pengolahan kelapa sawit di Indonesia dan mempekerjakan sebanyak 63 450 orang. Perkebunan-perkebunan kelapa sawit yang ada di Indonesia saat ini hanya dimiliki oleh beberapa perusahaan. Perusahaan-perusahaan tersebut tercatat menguasai 67 % dari total semua perkebunan di Indonesia. Perusahaan tersebut antara lain PT. Socfindo, PT. London Sumatera, PT. Sinar Mas, PT. Astra Agro Lestari dan, Bakrie Grup.
Faktor lain yang membuat produksi kelapa sawit semakin meningkat adalah peningkatan kebutuhan minyak nabati sesetiap tahun. Tahun 1970-2010, jumlah konsumsi CPO di dunia rata-rata meningkat sebesar 2.5 % Metricton sesetiap tahunnya (UNCTAD 2012). Tren tersebut diperkirakan akan meningkat sesetiap tahun untuk memenuhi kebutuhan industri pangan seperti minyak goreng dan margarinDFGHYUIOII. Peningkatan tersebut diikuti oleh hasil produksi dari kelapa sawit yang juga semakin meningkat berupa CPO yang dapat dilihat pada Tabel 2.
3
pemerintah Indonesia juga sangat mendukung pengembangan kelapa sawit. Dukungan tersebut dapat dilihat dari kebijakan daerah yang mempermudah dibangunnya usaha perkebunan kelapa sawit pada daerah tersebut serta industri pengolahan kelapa sawit.
Faktor-faktor yang telah dijelaskan di atas menunjukkan bahwa prospek pengembangan kelapa sawit cukup menjanjikan. Program dan proyek pengembangan kelapa sawit di Indonesia telah dilakukan di beberapa daerah terutama di tujuh provinsi yaitu Riau, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Jambi, Kalimantan Barat, dan Sumatera Barat. Berdasarkan data dari Departemen Pertanian (2010), Kalimantan dan Sumatera mendominasi produksi kelapa sawit di Indonesia. Pertumbuhan produksi kelapa sawit di kedua pulau tersebut meningkat sesetiap tahunnya. Hal tersebut disebabkan di daerah tersebut memiliki kondisi geografis yang sangat baik untuk pengembangan kelapa sawit. Provinsi-provinsi sentra produksi kelapa sawit (CPO) yang terdapat di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Provinsi sentra produksi kelapa sawit (CPO) di Indonesia tahun 2008-2011 (Ton)
Pada Tabel 3 dapat dilihat sentra produksi kelapa sawit (CPO) di Indonesia pada tahun 2008 sampai 2011 terdapat di lima provinsi yaitu Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi. Sumatera Utara menjadi salah satu provinsi penghasil kelapa sawit yang berkembang di Indonesia dengan jumlah produksi 4 071 143 ton pada tahun 2011 atau sekitar 17.6 % dari total produksi kelapa sawit di Indonesia. Sumatera Utara merupakan wilayah yang memiliki areal perkebunan sawit yang cukup luas dan potensial bagi perkembangan kelapa sawit Indonesia sehingga dapat menjadi penghasil devisa bagi pemerintah nasional dan pemerintah daerah setempat. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan produksi kelapa sawit yang meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Pengembangan areal perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara meliputi areal pengembangan perkebunan rakyat, perkebunan besar swasta asing, perkebunan besar swasta nasional, dan pengembangan perkebunan inti rakyat.
Sumatera Utara memiliki subsektor perkebunan yang potensial. Komoditas-komoditas unggulan subsektor perkebunan di Sumatera Utara yaitu kelapa sawit, karet, tebu, kelapa, dan kopi. Dari kelima komoditas unggulan tersebut kelapa sawit menjadi komoditas utama dengan hasil produksi yang besar jika dibandingkan dengan komoditas-komoditas lainnya. Komoditas-komoditas unggulan hasil perkebunan di Sumatera Utara dapat dilihat pada Lampiran 1.
4
sawitnya mengalami penurunan adalah Kabupaten Karo. Sesetiap tahunnya Kabupaten Karo mengalami penurunan dalam produksi TBS (Tandan Buah Segar) serta areal penanaman kelapa sawit yang dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Jumlah areal kelapa sawit dan produksi TBS di Kabupaten Karo
2010 2011 2012 -TTM : Tanaman tidak menghasilkan
Pada Tabel 4 dapat dilihat jumlah areal dan produksi kelapa sawit di Kabupaten Karo mengalami penurunan yang besar dari tahun 2010 ke tahun 2011 dan 2012. Hal tersebut bertolak belakang dengan peningkatan yang terjadi di Provinsi Sumatera Utara. Hal ini disebabkan sulitnya bibit kelapa sawit yang diperoleh oleh petani sawit di Kabupaten Karo dan masih kurangnya pabrik pengolahan yang dapat mengolah TBS (Tandan Buah Segar) kelapa sawit sehingga petani sulit untuk menjual TBS kelapa sawitnya. Kondisi tersebut sangat disayangkan karena Kabupaten Karo merupakan salah satu kabupaten yang sangat cocok dengan usaha kelapa sawit terlihat pada tahun 2010 jumlah produksi kelapa sawit mencapai 16 120 ton tetapi menurun sesetiap tahunnya.
Salah satu karakteristik yang dapat menjadi dukungan pengembangan kelapa sawit di Kabupaten Karo adalah iklim dan struktur tanah yang cocok dengan kelapa sawit. Keadaan tersebut membuat Kabupaten Karo berpotensi menjadi wilayah investasi yang menjanjikan dalam melakukan investasi usaha pengembangan kelapa sawit, walaupun saat ini usaha kelapa sawit di Kabupaten Karo memang semakin menurun produksinya. Oleh karena itu sangat diperlukan studi kelayakan dalam melakukan investasi untuk dapat menetapkan strategi dan kebijakan yang tepat dalam menjalankannya investasi agar investasi tersebut dapat berjalan dengan baik mengingat kondisi yang terjadi di Kabupaten Karo.
Perumusan Masalah
Saat ini di Indonesia sudah banyak perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan dan budidaya kelapa sawit di Indonesia yang sangat berkembang dari segi produksi, teknologi, dan manajemen. Salah satu pusat perkebunan kelapa sawit yang ada di Indonesia adalah Provinsi Sumatera Utara. Provinsi Sumatera Utara merupakan daerah potensial untuk mengembangkan tanaman kelapa sawit. Selain perkebunan, di Sumatera Utara juga sudah banyak terdapat pabrik pengolahan kelapa sawit yang mengolah TBS yaitu buah yang dihasilkan oleh pohon kelapa sawit dan selanjutnya yang diolah menjadi minyak mentah yaitu
5
Tahun 2011 Provinsi Sumatera Utara adalah penyumbang devisa nasional subsektor perkebunan terbesar kedua di Indonesia khususnya pada komoditas kelapa sawit. Provinsi Sumatera Utara menyumbang 3.12 juta ton CPO dari total produksi nasional sebesar 22.5 juta ton. Saat ini sudah banyak perusahaan kelapa sawit yang berdiri di Sumatera Utara mulai dari perusahaan yang menyediakan TBS dan pengolahan TBS menjadi CPO serta KPO. Berdasarkan data dari dinas perkebunan Provinsi Sumatera Utara, terdapat setidaknya 60 perusahaan yang bergerak dalam pengembangan dan pengolahan kelapa sawit.
PT. Indomas Mitra Teknik (PT. IMT) adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan kelapa sawit di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Perusahaan tersebut merupakan salah satu perusahaan pengolahan TBS yang berada di Provinsi Sumatera Utara yang bergerak dalam budidaya dan pengolahan kelapa sawit. Berbeda dengan perusahaan-perusahaan pengolahan sawit lainnya, PT. IMT tidak mempunyai lahan kelapa sawit yang menjadi sumber bahan baku untuk pengolahan pabriknya. Perusahaan tersebut membeli TBS dari petani-petani sawit di Kabupaten Karo dan mengolah TBS menjadi CPO dan KPO lalu menjualnya ke perusahaan pengolahan CPO dan KPO.
PT. IMT berdiri pada tahun 2013 dengan membeli lahan untuk pembangunan pabrik, lahan tersebut dibeli dari masyarakat sekitar. Saat ini PT. IMT menjadi perusahaan pengolahan kelapa sawit kedua yang berdiri di Kabupaten Karo. Luas areal pabrik pengolahan yang dimiliki PT. IMT adalah 10.5 hektar. Perusahaan tersebut memiliki potensi untuk berkembang, hal tersebut dikarenakan masih sedikitnya pabrik pengolahan yang ada di Kabupaten Karo untuk mengolah TBS yang terdapat di daerah tersebut. Dengan adanya pabrik pengolahan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kembali produksi kelapa sawit di Kabupaten Karo yang mengalami penurunan beberapa tahun ini.
Pembangunan PT. IMT membutuhkan biaya investasi yang cukup besar. Jumlah investasi yang digunakan PT. IMT untuk pembangunan PKS (Pabrik Kelapa Sawit) yaitu Rp 44 miliar. Dana investasi tersebut diperoleh dari modal pemilik saham. Investasi dari PT. IMT sendiri adalah berupa pembelian lahan PKS, pembelian mesin pengolahan, dan pembangunan kantor serta pabrik berkapasitas 20 ton per hari.
Perkembangan dari PT. IMT sampai saat ini masih mengalami kesulitan menghasilkan CPO dikarenakan kurangnya bahan baku TBS yang dapat dibeli perusahaan dari petani untuk memenuhi kapasitas produksi dari pabrik. Dengan luas areal perkebunan yang ada saat ini di Kabupaten Karo sebesar 1 112 Hektar pada tahun 2011 (BPS 2011), PT. IMT masih kesulitan dalam memenuhi kebutuhan TBS yang diperlukan oleh pabrik. Hal tersebut juga dikarenakan adanya perusahaan pesaing di Kabupaten Karo dengan pabrik berkapasitas 8 ton per hari yang juga ikut menyerap TBS yang berasal dari Kabupaten Karo. Hal ini membuat PT. IMT mengambil TBS dari luar daerah Kabupaten Karo yaitu berasal Kabupaten Aceh Tenggara. Dengan kondisi tersebut perusahaan belum dapat memperoleh keuntungan maksimal.
6
melihat layak atau tidaknya investasi yang sudah dilakukan PT. IMT berdasarkan aspek finansial (NPV, IRR, PP, dan Net B/C ) dan aspek non-finansial (aspek pasar, teknis, manajemen, serta sosial dan lingkungan), sehingga dapat memberikan gambaran tepat kepada perusahaan dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi mengembangkan PT. IMT ke depannya. Berdasarkan kondisi yang dijelaskan, maka hal yang menarik untuk dikaji dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana kelayakan usaha kelapa sawit pada PT. IMT jika dilihat dari
aspek non finansial (aspek pasar, teknis, manajemen, serta sosial dan lingkungan)?
2. Bagaimana kelayakan usaha kelapa sawit pada PT. IMT jika dilihat dari
aspek finansial (NPV, IRR, Net B/C, dan PP)?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan dan latar belakang yang telah diuraikan maka tujaan penelitian ini adalah:
1. Menganalisis kelayakan usaha kelapa sawit PT. IMT dari aspek non
finansial (aspek pasar, teknis, manajemen, serta sosial dan lingkungan).
2. Menganalisis kelayakan usaha kelapa sawit PT. IMT dari aspek finansial
(NPV, IRR, Net B/C, dan PP).
Manfaat penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Bagi penulis sebagai media untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapat
dan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
2. Bagi perusahaan diharapkan penelitian ini dapat digunakan menjadi bahan
referensi dalam melakukan pengembangan usaha PT Indomas Mitra Teknik dan menjadi rekomendasi dalam hal kelayakan dan keberlanjutan perusahaan.
3. Bagi pihak lain diharapkan dapat berguna bagi investor atau lembaga
keuangan yang ingin menanamkan modal sebagai bahan pertimbangan investasi dan kredit.
4. Sebagai bahan informasi, pustaka dan pengetahuan mengenai analisis
kelayakan usaha bagi penelitian selanjutnya, dan upaya penyempurnaan masalah penelitian.
TINJAUAN PUSTAKA
Studi Kelayakan Bisnis Bisnis
Bisnis merupakan kegiatan investasi terhadap sumberdaya yang ada guna
memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya bagi individu
(perorangan/perusahaan) atau bagi negara atau masyarakat keseluruhan.
7
sekarang dengan harapan menghasilkan manfaat di kemudian hari atau masa mendatang. Siklus bisnis dibagi atas beberapa tahap yaitu identifikasi, persiapan dan analisis, penilaian (penafsiran), pelaksanaan, dan evaluasi. Terdapat dua kegiatan dalam kegiatan bisnis, yaitu investasi dan produksi. Dalam kegiatan investasi keuntungan akan didapat setelah beberapa tahun dan barang berupa barang tahan lama. Dalam kegiatan produksi keuntungan akan didapat setelah satu periode dan faktor akan habis dalam satu periode produksi (Kasmir 2003).
Melaksanakan suatu bisnis diperlukan suatu kerangka bisnis agar pelaksanaan sesuai tujan. Keuntungan-keuntungan dengan pembuatan kerangka bisnis yaitu (Umar 2005) :
1. Memberikan informasi secara terpadu dan disusun agar banyak orang dapat
ikut berpartisipasi dalam menyediakan informasi, menentukan asumsi, dan mengevaluasi ketepatan kerangka bisnis tersebut.
2. Memberikan suatu gambaran mengenai biaya-biaya yang harus dikeluarkan
setiap tahun sehingga mereka bertanggung jawab dalam penyediaan sumberdaya yang dibutuhkan
3. Memberikan gambaran sensitivitas hasil terhadap investasi
4. Memberikan kriteria yang lebih baik bagi para manajer dan perencana
dalam mengamati kemajuan pelaksanaan bisnis
Aspek-Aspek Studi Kelayakan Bisnis
Ada beberapa aspek yang perlu dilakukan untuk menentukan kelayakan suatu usaha. Masing-masing aspek tidak akan berdiri sendiri, akan tetapi saling berkaitan. Secara umum aspek-aspek yang perlu dilakukan studi kelayakan adalah sebagai berikut :
Aspek Pasar
Pemasaran adalah proses sosial dan manajerial individu dan kelompok untuk memperoleh yang mereka butuhkan atau inginkan melalui proses penciptaan, penawaran, dan pertukaran produk. Nilai kegunaan kegiatan pemasaran adalah selalu mengusahakan tersedianya komoditas dalam bentuk yang diinginkan, menyuguhkan tepat pada lokasi dan saat yang dibutuhkan (Umar 2005).
Aspek-aspek pasar dari suatu bisnis adalah rencana pemasaran output yang dihasilkan oleh bisnis tersebut dan rencana penyedian input yang dibutuhkan untuk kelangsungan dan pelaksanaan sebuah bisnis (Gittinger 1986). Analisis aspek pasar sangat penting untuk dilakukan agar dapat mengetahui tingkat permintaan dan penawaran terhadap produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Selain itu, dengan analisis aspek pasar dapat diketahui potensi pasar yang ada untuk produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan serta mengetahui seberapa
besar market share yang dikuasai oleh perusahaan pesaing. Hal tersebut kemudian
dapat digunakan perusahan dalam menentukan strategi pemasaran yang akan dijalankan untuk mencari peluang dan pasar potensial yang ada.
8
dengan mengamati kecenderungan permintaan suatu usaha untuk dapat melihat potensi pasar yang masih terbuka.
Aspek Teknis
Analisis aspek teknis berhubungan dengan input (penyediaan) dan output (produksi) berupa barang nyata dan jasa (Gittinger 1986). Aspek teknis berkaitan dengan proses pembangunan proyek secara teknis seperti lokasi proyek, kapasitas produksi, bahan baku, peralatan dan mesin, proses produksi, serta teknologi yang digunakan dalam usaha tersebut.
Aspek Manajemen dan Hukum
Menurut Gittinger (1986), analisis aspek manajemen berkaitan dengan hal-hal yang berkenaan dengan pertimbangan mengenai sesuai atau tidaknya bisnis dengan pola sosial, budaya, dan lembaga yang memanfaatkan keberadaan bisnis tersebut, susunan organisasi proyek agar sesuai dengan prosedur organisasi setempat, dan kesanggupan staff untuk mengelola bisnis tersebut. Hal yang perlu diperhatikan dalam aspek manajemen yaitu bentuk badan usaha yang digunakan, jenis pekerjaan yang diperlukan untuk menjalankan perusahaan tersebut, struktur organisasi yang digunakan, serta penyediaan tenaga kerja yang dibutuhkan
perusahan tersebut (Husna et al. 2000). Keahlian manajemen hanya dapat
dievaluasi secara subjektif, meskipun demikian hal ini tidak mendapat perhatian khusus karena ada banyak kemungkinan yang terjadi dalam pengambilan
keputusan yang kurang realistis dalam proyek yang direncanakan (Kadariah et al.
1999).
Aspek Sosial dan Lingkungan
Analisis sosial berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan dan implikasi sosial yang lebih luas dari investasi yang diusulkan dan pertimbangan-pertimbangan sosial yang harus dipikirkan dan diperhitungkan secara cermat agar dapat
menentukan apakah usaha atau bisnis yang diusulkan tanggap (responsive)
terhadap keadaan sosial (Yacob 2003). Aspek sosial juga berkaitan dengan sejauh mana proyek dapat memberi manfaat secara implisit dan eksplisit terhadap pendistribusian pendapatan serta penciptaan lapangan pekerjaan. Selain itu, analisis ini juga mempertimbangkan pengaruh negatif dari kegiatan pelaksanaan bisnis atau usaha tersebut terhadap dampak sosial seperti kehilangan pekerjaan dari masyarakat akibat adopsi teknologi atau penerapan alat-alat mekanis yang dapat mengurangi keterlibatan tenaga kerja manusia.
Kualitas hidup masyarakat merupakan bagian dari rancangan bisnis yang dijalankan. Analisis usaha juga harus mempertimbangkan dampak lingkungan yang merugikan dari usaha yang direncanakan atau yang telah berjalan. Pembangunan bisnis mungkin saja akan merusak lingkungan di daerah setempat seperti merusak sumber air bersih karena adanya limbah dari bisnis atau usaha tersebut. Lokasi pelaksanaan proyek harus dipilih dan ditinjau secara langsung untuk menghindari rusaknya kelestarian lingkungan.
Aspek Finansial (Keuangan)
9
usaha. Menurut Umar (2007), makroekonomi sebagai input dalam studi kelayakan bisnis, hendaknya perlu dikaji imbal baliknya, yaitu bahwa bisnis yang direncanakan hendaknya bermanfaat bagi pihak lain. Hubungan bisnis yang direncanakan dapat ditinjau dari aspek finansial.
Sebuah usaha akan membutuhkan sejumlah uang sebagai modal yang akan digunakan pada tahap pra operasi, tahap pembangunan, dan tahap operasional. Dana investasi pada tahap pra operasi biasanya dibutuhkan untuk pengurusan
izin-izin usaha, pematangan lahan (land improvement), dan lain-lain (Gittinger 1986).
Pada tahap pembangunan dana investasi diperlukan untuk membiayai bangunan fisik seperti kandang, gudang, jalan, dan fasilitas-fasilitas lainnya yang diperlukan. Pada tahap operasional sebuah usaha membutuhkan sejumlah uang untuk membiayai modal kerja seperti untuk membeli pakan, peralatan dan perlengkapan, vitamin, obat-obatan, membayar gaji karyawan/ upah pekerja, bunga modal, dan lain-lain.
Aspek keuangan dalam studi kelayakan biasanya mempelajari kebutuhan dana untuk aktiva tetap, aktiva lancar, modal kerja, sumber pendanaan, dan sumber penerimaan, analisis biaya dan manfaat, serta arus kas. Biasanya aspek keuangan dalam studi kelayakan didasarkan atas angka proyeksi seperti proyeksi kebutuhan investasi, proyeksi biaya dan manfaat/ keuntungan, dan proyeksi arus kas. Semua proyeksi tersebut pada analisis lebih lanjut menjadi dasar bagi penilaian kelayakan sebuah usaha menurut kriteria investasi (NPV, IRR, dan B/C) dan menilai kemampuan usaha dalam membayar seluruh biaya yang harus ditanggung. Disamping itu, salah satu dari proyeksi tersebut dapat digunakan untuk mengukur rentang waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan seluruh
modal/investasi yang tanamkan, atau yang lebih dikenal dengan payback period
(Umar 2005).
Industri Kelapa Sawit di Indonesia Tandan Buah Segar (TBS)
Tanaman kelapa sawit (Elais guineensis jacq) dipanen dalam bentuk tandan
yang disebut dengan tandan buah segar (TBS). Berat dari suatu tandan buah yang matang berbeda satu sama lainnya, tergantung pada usia, jenis sawit, serta kondisi pertumbuhannya. Buah muda yang berusia 2-3 tahun memiliki berat 5 kg pertandan dan buah dewasa biasanya memiliki berat maksimal hingga mencapai 80 kg pertandan, namun kebanyakan memiliki berat dibawah 40 kg pertandan. Buah membutuhkan waktu sekitar 20-21 minggu hingga masak. Prosesnya dapat dibagi menjadi tiga bagian yang dimulai dari penyerbukan pada minggu ke 5 atau 6, lalu pada minggu ke 13 atau 14 kernel telah berbentuk sempurna dan cangkang berwarna gelap. Pembentukan sel minyak terjadi setelah minggu ke 15 atau 16 dan kandungan minyak maksimum terjadi pada minggu ke 20 atau 21.
Produktivitas kelapa sawit
10
TBS/ha/tahun, dan 17.71 ton TBS/ha/tahun. Semua kelas lahan, mengalami peningkatan produktivitas antara 15 hingga 21 tahun dan memasuki masa tua pada umur 22 tahun. Berdasarkan data tersebut maka tanaman kelapa sawit digolongkan ke dalam dua kelompok yaitu (Lubis 1992):
a.Tanaman belum menghasilkan (TBM) yaitu tanaman berumur 1-3 tahun. b.Tanaman menghasilkan (TM) yaitu tanaman berumur 4-25 tahun, terdiri dari:
• Tanaman remaja menghasilkan (TRM) berumur 4-8 tahun.
• Tanaman dewasa menghasilkan 1 (TDM 1) berumur 9-14 tahun.
• Tanaman dewasa menghasilkan 2 (TDM 2) berumur 15-21 tahun.
• Tanaman tua menghasilkan (TTM) berumur 20-25 tahun.
Sistem Pengolahan Kelapa sawit
Sistem pengolahan kelapa sawit terbagi menjadi 2 proses sesuai dengan produk yang dihasilkan. Proses pertama yaitu proses pengolahan untuk
menghasilkan Crude Palm Oil (CPO), dan proses yang kedua adalah proses
pengolahan untuk menghasikan Palm Kernel Oil (KPO). Proses tersebut
dihasilkan dari pengolahan TBS yang diolah dengan proses pemurnian dan ekstraksi sehingga menghasilkan minyak kelapa sawit dan kernel kelapa sawit. Secara kesulurahan proses berjalan dan saling berhubungan antara satu sama lain. Proses pengolahan TBS menjadi CPO dan KPO dapat dilihat dari pada Gambar 1.
11
Hasil Tanaman Kelapa Sawit
Perkebunan kelapa sawit pada umumnya menghasilkan produk primer berupa minyak kelapa sawit (MKS) dan minyak inti kelapa sawit (MIKS). Produk MKS dan MIKS dapat dikembangkan menjadi bermacam-macam produk yang lain. MKS dan MIKS merupakan sumber industri pangan seperti minyak industri,
industri, shortening, dan vanaspati serta sumber karbon untuk industri oleo-kimia.
Senyawa karbon asal minyak nabati lebih mudah terurai di alam dibandingkan dengan senyawa turunan minyak bumi. Industri hilir produk kelapa sawit terdiri dari industri setengah jadi dan industri barang jadi.
Industri Hasil Setengah Jadi
Industri hasil setengah jadi digolongkan menjadi dua, yaitu oleo-pangan dan oleo-kimia. Oleo-pangan adalah penggunaan minyak sawit untuk produk pangan. Olahan kelapa sawit yang digolongkan dalam oleo-pangan, yaitu minyak industri
dan lemak makan seperti industri, vanaspati, dan shortening. Oleo-kimia adalah
pengunaan minyak sawit untuk produk kimia (non-pangan). Olahan kelapa sawit
yang digolongkan dalam oleo-kimia, yaitu fatty acid, fatty alcohol dan fatty
amine, methyl ester (biodiesel), glycerol, ethoxylate, dan garam metalik.
Industri Barang Jadi
Industri barang jadi digolongkan menjadi empat jenis yaitu industri makanan, kosmetik, farmasi, dan pabrik logam. Industri makanan yaitu kue, roti,
dan industri, cokelat, kembang, es krim, tepung susu nabati (filled milk), coffee
whitener (coffee mate), dan mie siap saji (instant noodle). Industri kosmetik
seperti sabun, cream lotion, dan shampoo. Industri farmasi yaitu vitamin A dan E.
Indusri pabrik logam seperti “sabun metalik” untuk minyak pelumas dan campuran cat, pelumas dan pelindung karat permukaan lembaran baja pada
industri baja canai dingin (cold rolling mill), bahan pengapung (floation agent)
untuk memisahkan biji tembaga atau cobalt dari baja, industri karoseri, industri tinta cetak, lilin, serta crayon.
Jenis Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia
Saat ini di Indonesia ada tiga jenis bentuk utama perkebunan kelapa sawit yaitu perkebunan rakyat, perkebunan swasta, dan perkebunan negara. Bentuk yang akhir-akhir ini sudah semakin banyak adalah perkebunan inti rakyat yang dasarnya merupakan bentuk gabungan dari perkebunan rakyat dengan perkebunan swasta atau negara. Perkebunan negara masih memegang kendali dalam perkembangan kelapa sawit di Indonesia yang saat ini dikenal dengan Perusahaan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN). Perusahaan tersebut merupakan perusahaan terbesar dalam bidang kelapa sawit di Indonesia, sedangkan perusahaan swata dan perkebunan rakyat masih belum dapat mengimbangi perkebunan negara dari sisi luas lahan atau teknologi pengolahan.
12
membutuhkan dana yang sangat besar sehingga tidak dapat mengelola lebih lanjut hasil buah kelapa sawit dari lahan mereka. Oleh karena itu perusahaan swasta yang memiliki akses tersebut dapat membeli dan menampung hasil dari
perkebunan rakyat agar dapat diolah menjadi CPO (Crude Palm Oil).
Perkembangan Industri Kelapa Sawit di Indonesia
Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non migas bagi Indonesia. Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit. Prospek perkembangan industri kelapa sawit saat ini sangat pesat, dimana terjadi peningkatan jumlah produksi kelapa sawit seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat. Hal ini terlihat dari total luas areal perkebunan kelapa sawit yang terus bertambah yaitu menjadi 7.8 juta hektar pada tahun 2010 dan terus meningkat pada tahun 2011 (Ditjenbun 2012).
Berkembangnya sub‐sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak
lepas dari adanya kebijakan pemerintah. Pemeritah memberikan berbagai insentif terutama kemudahan dalam hal perijinan, bantuan subsidi investasi untuk
pembangunan perkebunan rakyat dengan pola PIR‐Bun, dan dalam pembukaan
wilayah baru untuk areal perkebunan besar swasta.
Seiring dengan semakin meluasnya lahan perkebunan kelapa sawit, maka CPO yang dihasilkan juga semakin meningkat. Berdasarkan data total produksi, minyak sawit Indonesia meningkat tajam yaitu dari 1 710 000 ton pada tahun 1988 menjadi 5 380 000 ton pada tahun 1997. Pada tahun 1998, sehubungan dengan terjadinya krisis ekonomi di Indonesia, produksi minyak kelapa sawit turun menjadi 5 11 000 000 ton, namun pada tahun 1999 produksinya kembali meningkat menjadi 5 660 000 ton. Berdasarkan BPS (2010), selama Januari sampai Agustus 2010 nilai ekspor sawit Indonesia mencapai US$ 6.7 miliar atau naik dari periode yang sama tahun lalu yang hanya US$ 5.6 miliar dengan volume ekspor 4 000 000 ton CPO. Hal ini menunjukan pertumbuhan subsektor industri perkebunan kelapa sawit telah menghasilkan manfaat ekonomi yang cukup besar.
Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai studi kelayakan pada komoditi kelapa sawit sudah sangat banyak dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya, akan tetapi dari sekian banyak penelitian di dalam membahas komoditas kelapa sawit banyak perbedaan dalam sisi yang dilihat dalam melakukan penelitian. Hasil dari pengkajian terhadap penelitian-penelitian tentang kelapa sawit sebelumnya tetap menggunakan analisis yang sama, yaitu analisis kelayakan non finansial (aspek pasar, teknis, manajemen, sosial dan lingkungan), analisis kelayakan finansial
(kriteria investasi; NPV, IRR, Net B/C ratio, Payback period ). Mukti (2009), dan
Ramadanisha (2013) menggunakan analisis switching value untuk mengukur
13
Hasibuan (2011) dan Budiasa (2000), penelitian menggunakan analisis sensitivitas untuk mengukur kepekaan biaya.
Analisis kelayakan komoditas kelapa sawit sering dilakukan pada perkebunan dan pada pabrik pengolahan kelapa sawit, seperti penelitian yang dilakukan Mukti (2009), yaitu analisis terhadap investasi pengadaan pabrik kelapa sawit (PKS) di Kabupaten Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darusalam dengan mengunakan dua skenario (dana sendiri atau pinjaman). Analisis sensitivitas yang dilakukan adalah peningkatan biaya produksi dan penurunan kapasitas produksi. Hasil penelitian menunjukan skenario 1 (dana sendiri) menghasilkan kriteria investasi yang lebih baik. Berdasarkan hasil uji kelayakan, pembangunan PKS kapasitas 30 ton TBS per jam layak untuk dilaksanakan. Penelitan terhadap pengolahan kelapa sawit juga dilakukan Hasibuan (2011), yaitu menganalisis pengembangan usaha CPO di PT Tapian Nadenggan, Kabupaten Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara yang dilakukan dengan menggunakan 2 skenario. Pada tingkat diskonto yang dipakai adalah 8 %, dihasilkan bahwa kriteria investasi yang lebih baik pada skenario 2, yaitu dengan melakukan peremajaan lahan kelapa yang dimiliki perusahaan seluas 9 500 hektar dan perluasaan lahan 5 500 hektar tanpa adanya pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit berkapasitas 60 ton TBS per jam. Pada penelitian ini, dilakukan analisis sensitivitas terhadap peningkatan biaya dan penurunan kapasitas produksi sebesar 10 % yang menunjukan usaha masih layak dijalankan.
Selain dari penilitian komoditas kelapa sawit dari sisi pengolahannya, komoditas kelapa sawit juga diteliti dari sudut pengembangan perkebunanya, seperti yang dilakuakan Demiyati (2012) dan Ramadanisha (2013) yang melakukan penelitian komoditas kelapa sawit dari sisi pengembangan perkebunan kelapa sawit. Demiyati (2012) melakukan penelitian kelayakan investasi pada perkebunan rakyat di Desa Budi Asih, Sumatera Selatan, dimana penelitian ini membandingkan sistem bagi hasil di perkebunan dilihat dari sudut pandang investor dan pemilik lahan. Berdasarkan penelitian tersebut, investor memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan dengan pemilik lahan. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Ramadanisha (2013) yang melakukan penelitian pada perusahaan PT. Terang Inti Seraya yang berposisi di provinsi Riau, Sumatera, yaitu melakukan penelitian tentang perkebunan yang dimiliki oleh PT. TIS, melihat bagaimana prospek yang dimiliki oleh perusahaan ke depannya dan selain itu juga melakukan penelitian berapa besar perubahan yang dapat ditolerir oleh perusahaan dari sisi penuurunan harga TBS atau kenaikan biaya variabel agar tetap layak. Hasil penelitian tersebut PT TIS dikatakan layak dan nilai penurunan produksi yang ditolerir adalah sebesar 25.5 % dan biaya-biaya variabel sebesar 131.56 %.
KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka Pemikiran Teoritis
14
penelitian, pengertian dari kriteria investasi yang digunakan, serta analisis sensitifitas.
Studi Kelayakan Bisnis
Studi kelayakan bisnis adalah penelaahan atau analisis tentang apakah kegiatan investasi dari suatu bisnis berhasil atau dapat dikatakan layak apabila dilaksanakan atau investasi yang sudah dilakukan layak untuk dipertahankan atau tidak. Tujuan dari studi kelayakan bisnis adalah mengetahui tingkat keuntungan yang dicapai dalam suatu bisnis, menghindari pemborosan sumberdaya, memilih alternatif bisnis yang menguntungkan, dan menentukan prioritas investasi. Kelayakan sebuah bisnis ditinjau dari berbagai aspek, seperti manfaat bagi pengusaha atau perusahaan dan manfaat bagi masyarakat keseluruhan. Faktor-faktor intensitas studi kelayakan yaitu besar kecilnya dana investasi yang dilakukan, adanya ketidakpastian hasil bisnis, dan adanya umur kompleksitas terhadap komponen-komponen yang saling berpengaruh dalam aktvitasnya.
Aspek-Aspek Analisis Kelayakan
Merencanakan dan menjalankan sebuah bisnis harus mempertimbangkan aspek-aspek dari analisis kelayakan. Analisis kelayakan bertujuan agar dapat menentukan keuntungan yang diperoleh dari suatu bisnis atau usaha serta melihat resiko-resiko yang akan dihadapi dalam menjalankan usaha tersebut. Menurut Gitinger (1986), aspek-aspek analisis kelayakan terdiri dari aspek teknis manajemen, sosial, pasar, finansial, dan ekonomi.
Analisis Aspek Pasar
Aspek-aspek pasar dari suatu bisnis adalah rencana pemasaran output yang dihasilkan oleh bisnis tersebut dan rencana penyedian input yang dibutuhkan untuk kelangsungan dan pelaksanaan sebuah bisnis (Gittinger 1986). Analisis aspek pasar sangat penting untuk dilakukan karena banyak perusahaan atau bisnis yang mengalami kegagalan karena tidak tersedianya pasar untuk memasarkan produknya. Suatu perusahaan dapat dikatakan layak jika perusahaan harus dapat melihat bagaimana potensial pasar dari produk perusahaan tersebut, sehingga produk perusahaan dapat terjual karena adanya permintaan poduk.
Analisis Aspek Teknis
Aspek teknis dianalisis secara deskriptif dengan melihat kebutuhan bahan baku dan peralatan di PT. IMT, apa yang diperlukan dan bagaimana secara teknis proses pengolahan terkait kapasitas produksi, jenis teknologi yang dipakai dalam pengolahan, pemakaian peralatan dan mesin, lokasi, TBS, dan output (CPO). Dalam aspek teknis yang paling penting adalah bagaimana proses pengolahan dan pembuatan produk yang dihasilkan serta berapa besar komposisi bahan baku yang tepat untuk menghasilkan produk yang tepat.
Analisis Aspek Manajemen dan Hukum
15
Kemudian terdapat juga peraturan pemerintah baik pusat ataupun daerah yang membatasi ruang gerak perusahaan.
Aspek manajemen yang perlu diperhatikan adalah bentuk badan usaha yang digunakan, jenis pekerjaan yang diperlukan untuk menjalankan perusahaan tersebut, struktur organisasi yang digunakan, dan penyediaan tenaga kerja yang dibutuhkan (Husnan dan Suwarsono 2000). Kelayakan dapat dilihat dari bentuk badan usaha yang legal agar status hukum jelas serta apakah jenis pekerjaan yang dibutuhkan terpenuhi oleh tenaga kerja
Analisis Sosial dan Lingkungan
Analisis kelayakan sosial dan lingkungan PT. IMT dapat dilihat dari bagaimana respon perusahaan terhadap lingkungan sekitar baik lingkungan alam maupun masyarakat sekitar. Perusahaan harus memberikan dampak positif dan tidak merugikan lingkungan sampai batas yang dapat ditolerir daerah pabrik mengolah.
Analisis Aspek Finansial
Studi kelayakan adalah suatu penelitian tentang layak atau tidaknya suatu proyek bisnis yang merupakan sebuah investasi. Bisnis tersebut harus bisa mendapatkan keuntungan bila bisnis tersebut telah berjalan. Aspek finansial dari persiapan dan analisis usaha menjelaskan pengaruh finansial dari suatu bisnis yang diusulkan terhadap pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Tujuan utama analisis finansial adalah untuk menentukan proyeksi mengenai anggaran yang akan digunakan secara efisien dengan cara mengestimasi penerimaan dan pengeluaran pada saat pelaksanaan proyek serta pada masa-masa yang akan datang sesetiap tahunnya (Gittinger 1986).
Rencana anggaran dari suatu proyeksi analisis finansial dilakukan untuk mengetahui seberapa besar investasi yang dibutuhkan dan sumber dana yang digunakan untuk membiayai pelaksanaan bisnis tersebut. Analisis finansial juga digunakan sebagai pertimbangan dalam pengajuan kredit investasi dan modal kerja serta penjadwalan pelunasan kredit yang digunakan untuk membiayai pembangunan proyek bisnis tersebut. Dalam analisis ini kriteria yang digunakan
untuk perusahaan adalah payback period (PP), Net Present Value (NPV), Internal
Rate Return (IRR), Profitability Index (PI), serta rasio-rasio keuangan.
NPV (Net Present Value)
Net present value adalah manfaat bersih atau nilai bersih sekarang yang menunjukkan keuntungan yang diperoleh selama umur investasi dan merupakan jumlah nilai penerimaan arus tunai dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan selama periode tertentu, atau nilai sekarang yang diperoleh dari selisih antara penerimaan total dengan biaya total dari suatu proyek atau usaha pada jangka
waktu tertentu (Gray et al 1978).
16
tetapi dapat mengurangi efesiensi dan efektifitas perusahaan karena bila tidak menjalankan proyek ini perusahaan tidak akan memperoleh kerugian.
IRR (Internal Rate of Return)
Internal rate of return adalah tingkat pengembalian internal dari investasi selama umur proyek, yang bertujuan untuk mengetahui presentasi keuntungan dari suatu proyek setiap tahun dan menunjukkan kemampuan proyek dalam mengembalikan bunga pinjaman. Dengan kata lain IRR adalah tingkat rata-rata keuangan intern tahunan bagi perusahaan yang melakukan investasi dan
dinyatakan dalam satuan persen (Gittinger 1986). Internal rate of return adalah
hasil discount rate (suku bunga) yang membuat NPV dari suatu proyek sama
dengan 0.
Suatu proyek dinyatakan layak bila nilai IRR-nya lebih besar dari tingkat
discount rate yang ditentukan. Sebaliknya jika IRR lebih kecil dari tingkat
discount rate maka proyek yang dijalankan tidak layak untuk diusahakan.
Net Benefit–Cost Ratio (Net B/C)
Net B/C ratio adalah rasio antara manfaat bersih yang bernilai positif dengan manfaat bersih yang bernilai negatif, dengan kata lain manfaat yang menguntungkan bisnis-bisnis yang dihasilkan terhadap sesetiap satuan kerugian dari bisnis tersebut. Suatu bisnis atau kegiatan investasi dapat dikatakan layak bila net B/C lebih besar dari 1 dan dikatakan tidak layak apabila net B/C lebih kecil dari 1.
Payback Period(PP)
Payback period merupakan salah satu metode analisis yang mencoba
mengukur seberapa cepat investasi bisa kembali. Bisnis yang memiliki payback
period singkat atau cepat pengembaliannya kemungkinan besar yang akan dipilih.
Payback period merupakan alat pelengkap penilaian investasi.
Analisis Sensitifitas
Salah satu keuntungan analisis proyek secara finasial ataupun ekonomi yang dilakukan secara teliti adalah bahwa dari analisis tersebut dapat diketahui atau diperkirakan kapasitas hasil proyek bila ternyata terjadi hal-hal diluar jangkauan dari asumsi yang telah dibuat pada waktu perencanaan. Menurut Gittinger (1986), analisis sensitifitas adalah meneliti kembali suatu analisa untuk dapat melihat pengaruh-pengaruh yang terjadi akibat keadaan yang berubah-ubah. Sementara menurut Kadariah (1987), yang dimaksud dengan analisis kepekaan atau sensitifitas adalah suatu teknik analisis untuk menguji secara sistematis yang terjadi pada kapasitas penerimaan suatu proyek bila terjadi kejadian-kejadian yang berbeda dengan perkiraan yang dibuat dalam perencanaan.
17
yang terjadi sehingga dapat diketahui tingkat kenaikan ataupun penurunan maksimum yang boleh terjadi agar NPV sama dengan nol.
Arus Kas (Cashflow)
Cashflow merupakan arus kas atau aliran kas yang ada di perusahaan dalam
suatu periode tertentu. Cashflow mengandung semua data pendapatan yang
diterima (cash in) dan biaya yang dikeluarkan (cash out) baik jenis maupun
jumlahnya diestimasi sedemikian rupa, sehingga menggambarkan kondisi
pemasukan dan pengeluaran di masa yang akan datang (Kasmir 2003). Cashflow
mempunyai tiga komponen utama yaitu initial cashflow yang berhubungan
dengan pengeluaran investasi, operasional cashflow yang berkaitan dengan
operasional usaha, dan terminal cashflow yang berkaitan dengan nilai sisa aktiva
yang dianggap tidak memiliki nilai ekonomis lagi (Umar 2007).
Kerangka Pemikiran Operasional
Saat ini perkembangan kelapa sawit di beberapa provinsi Indonesia sangat pesat. Salah satunya yaitu Provinsi Sumatera Utara. Provinsi Sumatera Utara adalah provinsi yang perkembangan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit yang sangat maju jika dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Perkembangan perkebunan kelapa sawit tersebut juga diikuti dengan semakin banyaknya pabrik pengolahan kelapa sawit yang dibangun dan dijalankan di Provinsi Sumatera Utara. Akan tetapi perkembangan komoditas kelapa sawit yang terjadi di Provinsi Sumatera Utara tidak diikuti oleh seluruh kabupaten yang ada di Provinsi Sumatera Utara, masih ada kemunduran dalam perkembangannya yaitu salah satunya adalah Kabupaten Karo yang mengalami kemunduran. Dan hal tersebut membuat sulitnya perkembangan Kabupaten Karo dalam sisi ekonomi jika dibandingkan dengan kabupaten lain yang ada di Provinsi Sumatera Utara. Dari penjelasan tersebut secara riil akan sangat sulit jika sebuah perusahaan untuk mengembangkan bisnis dalam bidang pengolahan kelapa sawit dikarenakan kurangnya pasokan bahan baku, akan tetapi PT. IMT melihat adanya peluang yang terdapat di Kabupaten karo dalam pengembangan Kelapa sawit ke depannya karena struktur tanah dan iklim yang sangat cocok untuk pengembangan kelapa sawit ke depannya.
Pada umumnya sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan kelapa sawit memiliki lahan perkebunan sendiri untuk mendapatkan bahan baku TBS untuk pengolahan pabrik nya. PT. IMT adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan kelapa sawit, tetapi perusahaan ini tidak berjalan seperti perusahaan pengolahan kelapa sawit biasanya. Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan kelapa sawit pada umumnya mempunyai lahan sendiri untuk memenuhi pasokan buah kelapa sawit. Perusahaan. PT. IMT membuat kebijakan dan sistem yang berbeda dengan perusahaan kelapa sawit lainnya. Perusahaan tersebut tidak memiliki lahan perkebunan kelapa sawit yang
menjadi supply bahan baku untuk pengolahan pabrik perusahaan tetapi memiliki
18
Berdasarkan kondisi tersebut PT. IMT mempunyai kebijakan yang sangat berbeda dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan lainnya. PT. IMT tetap menjalankan kebijakan tersebut sampai saat ini. Oleh karena itu dengan sistem yang berbeda yang dijalankan PT. IMT dan kondisi Kabupaten Karo yang perkembangan kelapa sawitnya tidak terlalu maju jika dibandingkan dengan kabupaten yang lain yang ada di Provinsi Sumatera utara, karena itu perlu dilakukan kajian mengenai analisis kelayakan perusahaan yang dilakukan dari aspek non finansial yang berkaitan degan aspek pasar, manajemen, teknis, sosial lingkungan, dan aspek finansial. Analisis kelayakan usaha perlu dilakukan agar mengetahui apakah dengan kebijakan dan sistem usaha yang dilakukan oleh PT. IMT layak untuk dilanjutkan atau perlu dilakukan perbaikan. Kerangka pemikiran operasional dapat dilihat pada Gambar 2.
-Jumlah produksi areal dan produksi TBS kelapa sawit meningkat setiap tahunnya di Indonesia khususnya provinsi Sumatera Utara -Kabupaten Karo merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Utara yang menurun produksi TBS kelapa sawitnya
-Masih sedikit pabrik pengolahan yang ada di Kabupaten Karo untuk mengolah TBS kelapa sawit
PT. IMT merupakan perusahaan baru yang mengelola TBS kelapa sawit menjadi CPO dan KPO di Kabupaten Karo
Investasi yang akan dilakukan dan yang sudah dilakukan oleh PT. IMT
Analisis Kelayakan Usaha
Aspek Non Finansial
-aspek pasar -aspek teknis
-aspek manajemen dan hukum -aspek sosial dan lingkungan
Aspek Finansial
-NPV -IRR -Net B/C -Payback Period
Layak Tidak Layak
Lanjutkan Perbaikan
19
METODOLOGI PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di PT. IMT, Kecamatan Mardinding, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Waktu pengambilan data dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan September 2013.
PT. Indomas Mitra Teknik adalah perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit yang menghasilkan CPO dan merupakan salah satu perusahaan yang baru berjalan di daerah Kabupaten Karo. Perusahaan tersebut tidak memiliki lahan perkebunan sendiri untuk memenuhi bahan baku (TBS). Meskipun demikian, perusahaan ini menutupinya dengan pembelian bahan baku untuk pengolahan dari petani sawit di sekitar perusahaan tersebut sehingga dapat bertahan dari persaingan perusahaan pengolah kelapa sawit yang lain.
Data dan Instrumentasi
Data yang digunakan di dalam penelitian ini merupakan data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang dikumpulkan mengenai aspek non finansial. Aspek non finansial berkaitan dengan lingkungan internal dan eksternal, baik manajemen perusahaan maupun kelembagaan ataupun aspek lingkungan internal dan eksternal lainnya. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber terkait dengan penelitian yang dilakukan dan diolah dengan menggunakan perhitungan kelayakan, baik dari kelayakan finansial yang dapat dilihat dari segi
Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Rasio (Net B/C), Internal Rate Return
(IRR), dan payback period (PP).
Data primer dan data sekunder yang digunakan berupa data yang berkaitan dengan aspek finansial dan non-finansial. Data primer digunakan untuk menggambarkan keadaan perusahaan pada masa sekarang dan untuk menjelaskan keadaan produksi perusahaan. Data sekunder digunakan sebagai sumber dasar yang digunakan untuk menggambarkan mengenai perkebunan kelapa sawit, pengolahan pabrik CPO, aspek-aspek penunjang yang berkaitan dengan perkebunan kelapa sawit, dan menjadi dasar perhitungan finansial perkebunan kelapa sawit setelah pengembangan .
Instrumen yang digunakan di dalam penelitian untuk mendapatkan informasi dan data yang dibutuhkan adalah dengan menggunakan alat elektronik, media cetak, internet, serta daftar pertanyaan untuk dijawab oleh responden. Responden dalam hal ini adalah orang yang memiliki kredibilitas di bidang yang diteliti yaitu manajer produksi, bagian keuangan/arsip, dan bagian-bagian lain yang masih memiliki kaitan terhadap objek penelitian.
Metode pengumpulan data
20
Pengolahan dan Analisis Data
Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Data yang bersifat kualitatif dianalisis untuk mengkaji aspek non finansial, yaitu aspek pasar, teknis, manajemen, hukum dan sosial. Data yang bersifat kualitatif dinilai berdasarkan kriteria kelayakan setiap aspek yang harus dipenuhi. Data yang bersifat kuantitatif diolah untuk mengkaji aspek kelayakan finansial berdasarkan kriteria penilaian
investasi yaitu NPV, IRR, Net B/C, dan payback period (PP).
Pengolahan dan analisis data ini diarahkan pada analisis kelayakan, apakah perusahaan layak dijalankan atau diteruskan melihat dari kebijakan yang diterapkan oleh perusahaan yang berbeda dengan perusahaan pengolah kelapa sawit yang lain dan kondisi dari lingkugan perusahaan. Selain itu, diteliti apakah perusahaan dapat memproduksi CPO dan KPO secara maksimal dengan kebijakan tersebut, dan apakah perusahaan tersebut mendapatkan keuntungan yang maksimal dengan kebijakan tersebut.
Kriteria Investasi Net Present Value(NPV)
NPV dari suatu proyek merupakan nilai sekarang (present) dari selisih
antara manfaat dengan biaya pada tingkat diskonto (bunga) tertentu. Dinyatakan dalam rumus:
Keterangan : NPV = Nilai bersih sekarang (Rupiah)
Bt = Manfaat pada tahun k–t (Rupiah)
Ct = Biaya pada tahun ke-t (Rupiah)
= Tingkat diskonto (%)
n = Umur proyek (tahun)
t = Tahun
Dalam metode NPV terdapat tiga kriteria investasi yaitu :
1. NPV > 0, secara finansial proyek layak untuk diusahakan dan dapat
menghasilkan keuntungan.
2. NPV = 0, secara finansial proyek sulit untuk diusahakan dan tidak
dapat menghasilkan keuntungan.
3. NPV < 0, secara finansial lebih baik proyek tidak dilaksanakan
karena akan menimbulkan kerugian.
Internal Rate of Return (IRR)
IRR atau Internal Rate of Return adalah tingkat pengembalian internal dari
21
Keterangan : IRR = Tingkat internal hasil (%)
NPV = Nilai bersih sekarang bernilai positif (Rupiah)
NPV' = Nilai bersih sekarang bernilai negatif (Rupiah) = Tingkat diskonto menghasilkan PV positif (%)
= Tingkat diskonto menghasilkan PV negatif (%)
Hasil analisis IRR lebih besar dari bunga bank (tingkat diskonto) yang berlaku, menunjukan proyek tersebut layak untuk dilakukan. Sebaliknya bila IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga bank maka usaha tersebut tidak layak untuk dilakukan.
Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)
Net B/C merupakan perbandingan antara NPV total dari manfaat bersih terhadap total dari biaya bersih (Kadariah 1978). Metode ini digunakan untuk melihat berapa besar manfaat bersih yang dapat diterima dari suatu bisnis atau proyek untuk sesetiap investasi yang dilakukan atau dikeluarkan. Bila Net B/C lebih besar sama dengan 1 usaha maka bisnis dianggap layak untuk dilaksanakan namun jika Net B/C kurang dari 1 maka usaha tidak layak untuk dilaksanakan. Rumus yang digunakan dalam menghitung Net B/C adalah sebagai berikut :
Keterangan : Bt = Total penerimaan pada tahun ke-t
Ct = Total biaya pada tahun ke-t
= Tingkat diskonto yang berlaku
n = Umur ekonomis proyek
Payback Period (PP)
Payback period dapat diartikan dengan lamanya waktu yang dibutuhkan
untuk mengembalikan biaya investasi. Payback period adalah suatu metode dalam
penentuan jangka waktu yang dibutuhkan dalam menutupi initial investment dari
suatu proyek dengan menggunakan cashflow yang dihasikan dari suatu proyek
tersebut. Semakin pendek payback period dari periode yang disyaratkan
perusahaan maka proyek investasi tersebut dapat diterima (Arifin et al. 1999).
Rumus yang digunakan untuk menghitung payback period adalah sebagai berikut:
Keterangan : I = Biaya investasi yang dikeluarkan
22
Asumsi – Asumsi Dasar
Asumsi-asumsi dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Umur ekonomis pabrik ditentukan selama 15 tahun berdasarkan umur
teknis instalasi pabrik.
2. Kapasitas terpasang pabrik adalah 20 ton TBS per jam.
3. Jumlah hari kerja adalah 25 hari per bulan, 300 hari per tahun, dengan
asumsi hari minngu libur dan hari libur nasional lainnya.
4. Tingkat diskonto yang digunakan adalah 8 %. Pemilihan ini berdasarkan
bunga deposito dari Bank BI, hal ini dikarenakan perusahaan tidak memiliki pinjaman dalam modal usaha.
5. Seluruh pembelian alat investasi dilakukan pada tahun 2012 hingga 2013.
6. Perhitungan nilai penyusutan masing-masing investasi menggunakan
metode garis lurus dimana harga beli dikurangi nilai penyusutan dan dibagi dengan umur manfaat.
7. Hasil produksi CPO adalah 19 % dari tandan buah segar (TBS) yang
diolah, dan hasil Kernel 5 % dari TBS yang diolah dan hasil cangkang 6 %.
8. Asumsi harga TBS, CPO, dan kernel dianggap konstan sesetiap tahunnya,
harga yang ditetapkan berdasarkan harga rata-rata dari Juli-Desember 2013 (Lampiran 2), adapun harga yang ditetapkan adalah sebagai berikut :
a. TBS Rp. 1 500/kg
b. CPO Rp. 8 831/kg
c. Kernel Rp. 6 184/kg
d. Cangkang Rp. 731/kg
9. Nilai insentif yang diberikan kepada suplier TBS adalah Rp. 20/kg
dikalikan dengan jumlah TBS yang diolah perusahaan.
10.Nilai insentif ke pemilik lahan adalah Rp. 5/kg dikalikan dengan jumlah
TBS yang diolah perusahaan.
11.Peningkatan pengolahan bahan baku TBS perusahaan diperkirakan
minimal sebesar 8 % sesetiap tahunnya. Hal ini didasari kenaikan TBS riil yang diolah periode Juli-Desember 2013 dibandingkan dengan periode Juni-Desember 2014 adalah 18 %.
12. Peningkatan gaji staff diasumsikan naik 3 % sesetiap tahunnya
berdasarkan sistem yang diterapkan perusahaan sedangkan gaji karyawan diasumsikan naik 7 % berdasarkan inflasi per tahun.
13.Pajak diasumsikan 10 % dari keuntungan bersih yang diperoleh sesetiap
tahunnya.(UUD NO 36 tahun 2008, Pasal 17 ayat 2a)
14.Biaya pemeliharaan dan pengolahan PKS diasumsikan meningkat sebesar
6 % sesetiap tahunnya.
23
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Deskripsi Kabupaten Karo
Kabupaten Karo merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara, terletak pada jajaran dataran tinggi Bukit Barisan dan sebelah barat daya berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia serta merupakan
daerah hulu sungai. Secara geografis Kabupaten Karo terletak pada koordinat 2o
50’ – 3o19’ Lintang Utara dan 97o55’ – 98o38’ Bujur Timur. Berikut batas-batas wilayah dari Kabupaten Karo.
Sebelah Utara : Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deli Serdang
Sebelah Selatan : Kabupaten Dairi dan Kabupaten Samosir
Sebelah Barat : Provinsi Nangroe Aceh Darusalam
Sebelah Timur : Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten
Simalungun
Gambar 3. Peta Kabupaten Karo
Kabupaten Karo mempunyai wilayah seluas 2 127.25 Km2 atau 2.97 %
dari luas Provinsi Sumatera Utara, terdiri dari 17 kecamatan dan 262 desa.
Kecamatan yang terluas adalah Kecamatan Mardingding yakni 267.11 Km2
(12.56% dari luas Kabupaten Karo) dan kecamatan dengan luas terkecil adalah
Kecamatan Berastagi seluas 30.5 Km2 (1.43% dari luas Kabupaten Karo). Luas
24
Tabel 5 Luas wilayah dan jumlah penduduk di Kabupaten Karo tahun 2010
No Kecamatan Jumlah Desa/
Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karo tahun 2012 yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 meningkat sebesar 6.34 % terhadap tahun 2011. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 7.85 %. disusul oleh sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 7.20 %, sektor jasa-jasa 6.17 %, sektor pertanian 6.12 %, sektor bangunan 5.92 %, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 5.84 %, sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 4.76, dan sektor industri pengolahan 3.95 %. Sedangkan sektor
pertambangan dan penggalian menjadi sektor yang paling rendah
pertumbuhannya, yaitu 3.71 %.
Besaran PDRB Kabupaten Karo pada tahun 2012 atas dasar harga berlaku tercapai sebesar Rp. 8 512.71 miliar, sedangkan atas dasar harga konstan 2 000 sebesar Rp. 3 816.81 miliar. Terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Karo tahun 2012 sebesar 6.34 %, sektor pertanian memberi sumbangan sebesar 3.52 %, disusul oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran 1.16 %, sektor jasa-jasa