Status Keberlanjutan Pengelolaan Waduk Cirata, Propinsi Jawa Barat

147  Download (0)

Teks penuh

(1)

DWI ASTRID OKTAVIANI

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2015

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK

CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Status Keberlanjutan Pengelolaan Waduk Cirata, Propinsi Jawa Barat adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Agustus 2015

(4)
(5)

ABSTRAK

DWI ASTRID OKTAVIANI. Status Keberlanjutan Pengelolaan Waduk Cirata, Propinsi Jawa Barat. Dibimbing oleh ACENG HIDAYAT dan BENNY OSTA NABABAN.

Waduk Cirata yang memiliki fungsi utama sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) digunakan pula sebagai lokasi budidaya ikan dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). Semakin meningkatnya jumlah KJA setiap tahunnya dan telah melebihi daya dukung waduk mengakibatkan permasalahan tersendiri. Kondisi ini menandakan adanya ketidakefektifan kelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya waduk. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan waduk yang berkelanjutan. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis status keberlanjutan pengelolaan Waduk Cirata dalam multidimensi keberlanjutan (ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan) dengan menggunakan metode Rapfish, menganalisis kegiatan yang paling mengancam terhadap keberlanjutan pengelolaan Waduk Cirata, dan mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap adanya tindakan kolektif (collective action). Berdasarkan hasil penelitian, analisis keberlanjutan pengelolaan Waduk Cirata dengan menggunakan metode Rapfish dari lima dimensi, dimensi keberlanjutan dengan skor paling rendah adalah dimensi kelembagaan dan ekologi dalam pengelolaan Waduk Cirata yang termasuk dalam kategori buruk. Kegiatan yang paling mengancam ialah aktivitas domestik masyarakat dengan skor 42 dilihat dari kegiatan pemanfaatan waduk. Terdapat kesamaan persepsi antar stakeholder yang sebagian besar menyatakan keberlanjutan Waduk Cirata tidak berkelanjutan dan pengelolaannya masih tidak sesuai. Sedangkan, ekspektasi atau harapan dari petani ikan di Waduk Cirata tingggi karena ketergantungan mereka yang juga tinggi serta tingkat urgensi baik keberlanjutan dan keberadaan waduk dinilai sangat penting oleh petani ikan dan juga stakeholder. Belum adanya tindakan bersama yang dilakukan oleh para stakeholder untuk mempertahankan keberlanjutan Waduk Cirata dikarenakan masih adanya ego sektoral pada masing-masing stakeholder.

(6)

ABSTRACT

DWI ASTRID OKTAVIANI. Sustainability Status of Cirata Reservoir Management, West Java. Supervised by ACENG HIDAYAT and BENNY OSTA NABABAN.

Cirata Reservoir which its main function as a Hydropower is also used as fish cultivation are with floating cage system. More increasing number of floating cage every year and exceeding the carrying capacity level of reservoir cause many problems. This condition proves that the ineffective resources management in reservoir. According to that, the management should be arranged in a sustainable way. The objective of this study is to analyze the sustainability status of Cirata Reservoir management in multidimensional way (ecology, economy, social, technology, and ethic), analyze the most threaten activity to the sustainability of reservoir management, and identify the impacted factors to collective action. The result of this study shows that in accordance of sustainability status analysis used Rapfish method, among all the dimensions, the lowest sustainability index is institutional dimension and ecology dimension of Cirata Reservoir management is included as detrimental category. The most threatened activity is domestic activity by local people (score of 42). There are similarities of perception among stakeholders which mostly stating that Cirata Reservoir is not sustainable and its management is still appropriate. Whereas, the high expectation of fish farmers in Cirata is also impacted due to the high level of dependency and the level of urgency of sustainability and presence valued essential by fish farmers and stakeholder. There is still no collective action established by all related stakeholder in order to maintain the sustainability status of Cirata Reservoir because of sectorial egoism in each of them.

(7)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan

DWI ASTRID OKTAVIANI

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2015

(8)
(9)
(10)
(11)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT dan Bapak Benny Osta Nababan, S.Pi, M.Si sebagai Komisi Pembimbing serta Bapak Dr. Ir. Ahyar Ismail, M. Agr dan Bapak Prima Gandhi, S.P, M.Si sebagai dosen penguji atas arahan, ilmu, dukungan, kesabaran dan semangat dalam penyusunan skripsi. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada seluruh staf Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan atas bimbingan, arahan dan perhatiannya.

Terima kasih penulis ucapkan kepada keluarga tercinta Mama Enny Kristiningrum, Papa Kutut Subekti, Kakak Galuh Puspha Ayu dan adik tercinta Maulana Aji Prabowo atas kasih sayang, semangat dan doa yang selalu dilimpahkan kepada penulis, Terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam pengumpulan data yaitu Mas Dimas dan Pak Tuarso selaku staf Badan Pengelola Waduk Cirata (BPWC), Bapak Ade Durahman, Ibu Reni dan Pak Dadan selaku staf UPTD BPBPPU Cirata, Ibu Dede selaku staf kelembagaan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat, Pak Tantan selaku staf Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Cianjur.

Ucapan terima kasih kepada sahabat SMA Bunga, Dani, Meli, Ufa, Fita, Alidha, Lita, Cika, Tari, Dety, Tika, Ratu. Sahabat-sahabat ESL Tiara, Ira, Widya, Tiwi, Aida, Oci, Deanty, Nia, Auzan, Rayyan, Upe, Tommi seluruh rekan-rekan ESL 48. Rekan-rekan bimbingan skripsi, yaitu Santi, Uyun, Rani, Intan, Lanie, Hafiz, Lina, Bibah, Fanny, Teguh, dan Bang Taufiq atas kebersamaan selama ini serta semangat, saran, dan bantuan selama menyelesaikan skripsi ini. Serta semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Bogor, Agustus 2015

(12)
(13)

DAFTAR ISI

2.6 Tindakan Kolektif (Collective Action) ... 16

2.7 Penelitian Terdahulu ... 17

4.4.1 Menganalisis Status Keberlanjutan Pengelolaan Waduk Cirata dalam Multidimensi Keberlanjutan ... 26

4.4.2 Menganalisis Kegiatan yang Paling Mengancam Keberlanjutan Waduk Cirata berdasarkan Kegiatan Pemanfaatan Waduk ... 28

4.4.3 Mengidentifikasi Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap adanya Tindakan Kolektif (Collective Action) ... 29

4.4.3.1 Analisis Persepsi Stakeholders tentang Sustainability Waduk Cirata ... 30

(14)

2

5.2 Karakteristik Responden ... 40

6. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 45

6.1 Status Keberlanjutan Pengelolaan Usaha Perikanan KJA di Waduk Cirata dalam Multidimensi Keberlanjutan ... 45

6.1.1Dimensi Ekologi ... 45

6.1.2Dimensi Ekonomi ... 51

6.1.3Dimensi Sosial ... 55

6.1.4Dimensi Teknologi ... 60

6.1.5Dimensi Kelembagaan ... 64

6.1.6Analisis Status Keberlanjutan Pengelolaan Usaha Perikanan KJA Waduk Cirata dalam Multidimensi Keberlanjutan ... 67

6.2 Analisis Kegiatan yang Paling Mengancam terhadap Keberlanjutan Waduk Cirata ... 70

6.2.1Budidaya Perikanan KJA ... 70

6.2.2 Pertanian ... 71

6.2.3 Perikanan Tangkap ... 72

6.2.4 Pariwisata ... 73

6.2.5 Aktivitas Domestik Masyarakat ... 74

6.2.6 Urutan Kegiatan yang Paling Mengancam Keberlanjutan Waduk Cirata ... 75

6.3 Identifikasi Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Adanya Tindakan Kolektif (Collective Action) ... 76

6.3.1 Analisis Persepsi Stakeholder tentang Sustainability Waduk Cirata ... 76

6.3.2 Tindakan Bersama Stakeholder untuk Mempertahankan Keberlanjutan Waduk Cirata ... 78

(15)

3

DAFTAR TABEL

1 Penelitian terdahulu ... 19

2 Matriks metode analisis data ... 25

3 Matriks analisis keberlanjutan pengelolaan Waduk Cirata dalam multidimensi keberlanjutan ... 26

4 Selang indeks keberlanjutan ... 28

5 Matriks analisis kegiatan yang paling mengancam keberlanjutan Waduk Cirata berdasarkan kegiatan pemanfaatan waduk ... 29

6 Matriks analisis persepsi stakeholder tentang sustainability Waduk Cirata ... 30

7 Matriks ekspektasi aktor terhadap keberlanjutan Waduk Cirata sebagai mata pencaharian masyarakat ... 32

8 Matriks tingkat urgensi aktor terhadap keberadaan dan keberlanjutan Waduk Cirata ... 33

9 Jumlah produksi ikan KJA Kabupaten Bandung Barat 2009-2013 ... 38

10 Jumlah produksi ikan KJA Kabupaten Purwakarta 2007-2013 ... 39

11 Jumlah produksi ikan KJA Kabupaten Cianjur 2009-2013... 40

12 Pembagian zona dan jumlah RTP tahun 2011 ... 42

13 Nilai skor tiap atribut dimensi keberlanjutan ekologi pengelolaan usaha perikanan KJA Waduk Cirata ... 47

14 Nilai statistik yang diperoleh dari hasil analisis Rapfish pada dimensi ekologi ... 48

15 Nilai skor tiap atribut dimensi keberlanjutan ekonomi pengelolaan usaha perikanan KJA Waduk Cirata ... 53

16 Nilai statistik yang diperoleh dari hasil analisis Rapfish pada dimensi ekologi ... 54

17 Nilai skor tiap atribut dimensi keberlanjutan sosial pengelolaan usaha perikanan KJA Waduk Cirata ... 57

18 Nilai statistik yang diperoleh dari hasil analisis Rapfish pada dimensi sosial ... 58

19 Nilai skor tiap atribut dimensi keberlanjutan teknologi pengelolaan usaha perikanan KJA Waduk Cirata ... 61

20 Nilai statistik yang diperoleh dari hasil analisis Rapfish pada dimensi teknologi ... 62

21 Nilai skor tiap atribut dimensi keberlanjutan kelembagaan Pengelolaan usaha perikanan KJA Waduk Cirata ... 64

22 Nilai statistik yang diperoleh dari hasil analisis Rapfish pada dimensi kelembagaan ... 65

23 Perbandingan indeks keberlanjutan dari hasil teknik ordinasi dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi, dan kelembagaan ... 67

24 Perbandingan nilai akar kuadrat nilai tengah (ANKT) masing-masing atribut pada setiap dimensi keberlanjutan ... 68

(16)

4

26 Persepsi stakeholder tentang kegiatan perikanan budidaya KJA

di Waduk Cirata ... 71

27 Persepsi stakeholder terhadap kegiatan pertanian ... 72

28 Persepsi stakeholder terhadap kegiatan perikanan tangkap ... 73

29 Persepsi stakeholder terhadap kegiatan pariwisata ... 74

30 Persepsi stakeholder terhadap aktivitas domestik masyarakat ... 75

31 Skor kegiatan yang paling mengancam keberlanjutan Waduk Cirata ... 76

32 Sebaran persepsi stakeholder tentang kondisi waduk saat ini ... 76

33 Sebaran persepsi stakeholder tentang pengelolaan waduk saat ini ... 77

34 Sebaran ekspektasi dan tingkat urgensi petani ikan dan stakeholder terhadap keberlanjutan Waduk Cirata ... 77

DAFTAR GAMBAR

1 Luas perkembangan areal Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Cirata tahun 2001-2011 ... 3

2 Perkembangan sedimentasi Waduk Cirata tahun 1987-2012 ... 4

3 Elemen proses aplikasi Rapfish untuk daat perikanan... 14

4 Kerangka pemikiran operasional ... 22

10 Status keberlanjutan dimensi ekologi pengelolaan usaha perikanan Waduk Cirata ... 48

11 Analisis sensitivitas pada dimensi ekologi ... 50

12 Hasil analisis Monte Carlo untuk dimensi ekologi ... 50

13 Status keberlanjutan dimensi ekonomi pengelolaan usaha perikanan KJA Waduk Cirata ... 53

14 Analisis senstivitas atribut pada dimensi ekonomi ... 54

15 Hasil analisis Monte Carlo untuk pengelolaan usaha perikanan KJA Waduk Cirata pada dimensi ekonomi ... 55

16 Status keberlanjutan dimensi sosial pengelolaan usaha perikanan KJA Waduk Cirata ... 58

17 Analisis sensitivitas atribut pada dimensi sosial ... 59

18 Hasil analisis Monte Carlo untuk pengelolaan Waduk Cirata pada dimensi sosial ... 60

19 Status keberlanjutan dimensi teknologi pengelolaan usaha perikanan KJA Waduk Cirata ... 62

20 Analisis sensitivitas atribut pada dimensi teknologi ... 63

21 Hasil analisis Monte Carlo untuk pengelolaan usaha perikanan KJA Waduk Cirata pada dimensi teknologi ... 64

(17)

5

23 Analisis sensitivitas atribut pada dimensi kelembagaan ... 67

24 Hasil analisis Monte Carlo utnuk pengeloaan usaha perikanan KJA Waduk Cirata pada dimensi kelembagaan ... 68

25 Diagram layang analisis keberlanjutan pengelolaan Waduk Cirata ... 69

DAFTAR LAMPIRAN

1 Kuesioner penelitian... 87

2 Dimensi dan atribut indikator keberlanjutan ... 94

3 Dimensi dan atribut indikator keberlanjutan ... 94

4 SK Gubernur Jawa Barat no 41 tahun 2002 tentang pengembangan pemanfaatan perairan umum, lahan pertanian dan kawasan Waduk Virata ... 96

5 SK Gubernur Jawa Barat no 561 tahun 2015 tentang upah Minimum kabupaten atau kota di Jawa Barat 2015 ... 113

6 Data penerimaan total usaha perikanan KJA ... 119

7 Rapscore pada dimensi ekologi ... 123

8 Rapscore pada dimensi ekonomi ... 124

9 Rapscore pada dimensi sosial ... 125

10 Rapscore pada dimensi teknologi ... 126

11 Rapscore pada dimensi kelembagaan ... 126

(18)
(19)

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut Kordi dan Tancung (2007) waduk merupakan daerah yang digenangi badan air sepanjang tahun serta dibentuk atau dibangun atas rekayasa manusia. Waduk dibangun untuk beberapa kebutuhan diantaranya: (1) untuk irigasi; (2) penyedia energi listrik melalui pembangkit listrik tenaga air (PLTA); (3) penyedia air minum; (4) pengendali banjir; (5) rekreasi; (6) perikanan; dan (7) transportasi. Selanjutnya dikemukakan juga bahwa waduk dibangun dengan cara membendung aliran sungai sehingga air tertahan sementara dan menggenangi bagian daerah aliran sungai (DAS) atau watershed yang rendah. Waduk dapat dibangun di dataran rendah maupun dataran tinggi. Walaupun waduk umumnya merupakan buatan ataupun rekayasa manusia namun termasuk ke dalam barang sumberdaya.

Ostrom et al. (1994) dalam Widiastuti (2013) membagi barang sumberdaya dalam empat tipe berdasarkan substractibility dan excludability-nya yaitu private good, toll good, common pool resources dan open access. Sumberdaya dengan substractibility yang tinggi dan tingkat excludability yang rendah merupakan ciri khas dari Common Pool Resources (CPRs). Artinya, dalam setiap konsumsi atau pemanenan seseorang atas sumberdaya akan mengurangi kemampuan atau jatah orang lain di dalam memanfaatkan sumberdaya tersebut; dan tingkat excludable yang rendah berarti sumberdaya alam ini karena besarnya, sehingga akses terhadap sumberdaya sulit dikontrol. Karakteristik inilah yang memungkinkan terjadinya penggunaan berlebihan, congestion atau bahkan kerusakan sumberdaya pada CPRs.

Berdasarkan ciri-ciri diatas waduk termasuk CPRs atau sumberdaya bersama. Masalah yang timbul sehubungan dengan sumberdaya bersama adalah

adanya pendapat masyarakat yang mengatakan bahwa (a) “milik semua orang

(20)

2

dalam keadaan baik”, dan (c) “mengapa kita harus menghemat penggunaan

sumberdaya sedangkan orang lain menghabiskannya”?. Pertanyaan-pertanyaan

semacam ini cenderung menyebabkan penggunaan sumberdaya bersama secara berlebih-lebihan atau menghabiskan sumberdaya secara cepat bahkan menghancurkan sumberdaya alam yang dapat diperbarui sekalipun (Dharmawan dan Daryanto, 2002 dalam Suhana, 2008). Pembangunan waduk di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup pesat dalam upaya penggunaan air sebagai sumber energi yang mudah didapatkan. Waduk banyak dibangun oleh pemerintah juga dengan alasan memberikan manfaat yang banyak bagi kepentingan umum. Salah satu waduk yang berada di Jawa Barat dan memiliki potensi besar dalam pengembangannya adalah Waduk Cirata.

Waduk Cirata merupakan waduk yang terbentuk dari bendungan Sungai Citarum. Luas wilayahnya sebesar 7.112 Ha dan luas genangan sebesar 6.200 Ha. Genangan Waduk Cirata tersebar di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Cianjur, Purwakarta dan Bandung Barat dengan luas area yang berbeda-beda. Genangan air terluas terdapat di Kabupaten Cianjur dengan luas 29.603.299 m2.

Fungsi utama dari Waduk Cirata sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) untuk memenuhi kebutuhan listrik Jawa dan Bali yang memiliki kapasitas 1.008 MW dan menghasilkan rata-rata energi 1.428 GWh per tahun. PLTA Cirata juga merupakan PLTA terbesar di Asia Tenggara. Namun seiring dengan pertumbuhan populasi manusia dan memerlukan kebutuhan untuk hidup, maka fungsinya pun bertambah antara lain untuk kegiatan lalu lintas, pariwisata, pertanian dan perikanan yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

Pembangunan Waduk Cirata mengakibatkan ditenggelamkannya 32 desa dan 7 kecamatan yang termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Cianjur. Kompensasi dari penenggelaman pemukiman masyarakat tersebut, maka usaha budidaya perikanan Keramba Jaring Apung (KJA) diperbolehkan sebagai alternatif mata pencaharian masyarakat yang kehilangan pekerjaannya karena terelokasi.

(21)

3

khususnya Waduk Cirata. Usaha budidaya perikanan KJA ini mengalami peningkatan dari tahun ke tahunnya yang ditandai dengan kenaikan jumlah petak KJA Waduk Cirata setiap tahunnya yang disajikan pada Gambar 1.

Sumber: PT PJB BPWC (2011)

Gambar 1. Luas perkembangan areal Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Cirata tahun 2001-2011

(22)

4

yang akan menyebabkan kerugian bagi pihak pengelola. Berikut perkembangan sedimentasi Waduk Cirata yang disajikan pada Gambar 2.

Sumber: PT PJB BPWC (2012)

Gambar 2. Perkembangan sedimentasi Waduk Cirata tahun 1987-2012 Gambar 2 menunjukkan bahwa Waduk Cirata memiliki angka sedimentasi yang berfluktuatif. Pada awal pembangunannya tahun 1987 asumsi desain sedimentasi hanya 5,67 juta m3/tahun. Namun, jika dilihat dari angka rata-rata dari tahun 1987 sampai tahun 2012 angka sedimentasinya mencapai 7,3 juta m3/tahun. Tingginya sedimentasi yang terjadi di Waduk Cirata ini disebabkan oleh berbagai macam penyebab, antara lain limbah rumah tangga yang masuk ke waduk, maupun limbah KJA yang berasal dari sisa pakan ikan yang tidak termakan oleh ikan.

(23)

5

berlebihan. Adanya aturan yang berlaku diharapkan dapat membatasi jumlah KJA tersebut, agar keberlanjutan sumberdaya perikanan Waduk Cirata ini akan terus lestari dan tidak mengganggu kualitas sumberdaya lain yang berada disekitarnya.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 41 Tahun 2002 tentang Pengembangan Pemanfaatan Perairan Umum, Lahan Pertanian dan Kawasan Waduk Cirata yang menyatakan bahwa luasan yang aman untuk KJA, yaitu seluas 1% dari seluruh perairan waduk atau seluas 48 ha tetapi saat ini telah mencapai 4% (BPWC, 2014). Petak KJA yang dianjurkan ialah hanya 12.000 petak setiap tahunnya, namun terjadi peningkatan setiap tahunnya melebihi kapasitas yang seharusnya dan menimbulkan dampak negatif bagi Waduk Cirata. Dampak yang terjadi seperti penurunan produksi perikanan, penurunan fungsi waduk, maupun terjadinya sedimentasi pada waduk.

Dampak paling besar yang dirasakan oleh petani sekitar waduk, yaitu kematian ikan yang mencapai ribuan ton. Tidak adanya penyinaran matahari khusunya di musim hujan yang mengakibatkan massa air di bawah dan diatas berbeda, endapan sisa makanan dan biomassa naik keatas (upwelling) yang berdampak ikan kekurangan oksigen lalu mati. Selain itu juga, terjadi kerusakan pada alat-alat PLTA akibat logam berat yang masuk ke dalam waduk dan menyebabkan korosi di bagian turbin serta menurunkan kualitas air. Banyaknya petani ikan KJA yang tidak memiliki izin juga menambah permasalahan yang ada di Waduk Cirata. Peraturan mengenai pemasangan KJA secara legal pun banyak yang dilanggar oleh oknum-oknum tertentu.

Kondisi yang terjadi di Waduk Cirata menandakan adanya ketidakefektifan kelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya waduk. Jika kondisi seperti ini terus berlangsung akan mengancam keberadaan Waduk Cirata yang fungsinya dibutuhkan oleh banyak pihak, baik PT. Pembangkit Jawa Bali (PJB), masyarakat sekitar, pengusaha, serta seluruh pihak yang memanfaatkan waduk.

(24)

6

sosial budaya, ekonomi, teknologi dan etika) untuk menghindari masalah-masalah yang timbul dari kegiatan budidaya perikanan KJA tersebut. Pengelolaan yang berkelanjutan sangat diperlukan guna mengoptimalkan manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan budidaya perikanan tersebut. Selain itu, perlu diidentifikasi pula faktor kunci keberlanjutan usaha budidaya perikanan KJA Waduk Cirata.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini, yaitu:

1. Bagaimana status keberlanjutan pengelolaan Waduk Cirata dalam multidimensi berkelanjutan (ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan)?

2. Kegiatan apakah yang paling mengancam terhadap keberlanjutan pengelolaan Waduk Cirata?

3. Faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap adanya tindakan bersama (collective action)?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Menganalisis status keberlanjutan pengelolaan Waduk Cirata dalam multidimensi keberlanjutan (ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan).

2. Menganalisis kegiatan yang paling mengancam terhadap keberlanjutan pengelolaan Waduk Cirata.

3. Mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap adanya tindakan kolektif (collective action).

1.4 Manfaat Penelitian

1. Peneliti

(25)

7

stakeholder yang kemudian dapat menjadi pengalaman untuk menyelesaikan kasus-kasus terkait lainnya.

2. Pemerintah daerah setempat

Hasil dari penelitian ini dapat menjadi tambahan informasi bagi pemerintah daerah setempat untuk merumuskan kebijakan yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang berada di daerah penelitian.

3. Masyarakat setempat

Hasil dari penelitian ini, diharapkan menjadi infomasi tambahan bagi masyarakat setempat tentang kondisi terkini dari status Waduk Cirata sehingga dapat bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan sekitar.

4. Pemanfaat Waduk Cirata

Hasil dari penelitian ini dapat menjadi informasi tambahan bagi pihak-pihak yang memanfaatkan Waduk Cirata dari berbagai sektor dan dapat membantu proses pengambilan keputusan yang tepat bagi usahanya.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

(26)
(27)

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemanfaatan Waduk

Waduk dalam pengertian benda sebenarnya termasuk danau yaitu suatu volume massa air yang mempunyai komposisi khusus yang berisi berbagai bentuk kehidupan. Namun, secara spesifik, danau adalah sebuah bentuk perairan akibat adanya air yang mengisi cekungan-cekungan secara alamiah, sedangkan waduk terbentuk akibat adanya massa air yang mengisi lembah sungai yang alirannya dibendung oleh sebuah dinding (Prihadi, 2005). Menurut Dandekar (1991) dalam Nurfadilla (2013) waduk mempunyai dua fungsi yakni merupakan sebuah kolam penampung air yang memiliki kesanggupan untuk menyediakan air, dan juga berfungsi untuk menaikkan ketinggian tekanan air yang merupakan potensi dari air sungai. Waduk atau bendungan memiliki bermacam-macam jenis dan berbagai manfaat. Pembagian tipe waduk atau bendungan dapat dibagi menjadi beberapa tipe yaitu:

1. Tipe bendungan bedasarkan ukurannya, ada dua tipe yaitu: a. Bendungan besar (Large Dams)

Berdasarkan klasifikasi:

 Ketinggian bendungan.

 Panjang puncak bendungan tidak kurang dari 500 meter.

 Kapasitas waduk yang terbentuk tidak kurang dari 1 juta m3 .

 Debit banjir maksismum yang diperhitungkan tidak kurang dari 2000 m3 per detik.

b. Bendungan kecil (Small Dams)

Semua bendungan yang tidak termasuk sebagai bendungan besar. 2. Tipe bendungan bedasarkan tujuan pembangunannya.

Ada dua tipe jenis:

(28)

10

b. Bendungan serba guna (multi purpose) adalah bendungan yang dibangun untuk memenuhi beberapa tujuan, misal PLTA dan irigasi, irigasi dan pengendalian banjir, dan lain-lain.

3. Tipe bendungan berdasarkan pembangunannya. Ada tiga tipe yaitu:

a. Bendungan yang membentuk waduk (storage dam) yaitu bendungan yang dibangun untuk membentuk waduk guna menyimpan air ketika kelebihan agar dapat dipakai pada waktu yang diperlukan.

b. Bendungan penangkap/pembelok air (diversion dam) yaitu bendungan yang dibangun agar permukaan airnya lebih tinggi sehingga dapat mengalir masuk ke dalam saluran air atau terowongan air.

c. Bendungan untuk memperlambat jalannya air (detention dam) adalah bendungan yang dibangun untuk memperlambat jalannya air, sehingga dapat mencegah banjir besar.

4. Tipe bendungan berdasarkan jalannya air. Terdapat dua tipe yaitu:

a. Bendungan untuk dilewati air (overflow dams) yaitu bendungan yang dibangun untuk dilewati air misalnya pada bangunan pelimpah.

b. Bendungan untuk menahan air (non overflow dam) adalah bendungan yang sama sekali tidak boleh dilewati air.

Dandekar (1991) dalam Nurfadilla (2013) juga menyatakan beberapa manfaat yang mampu diberikan sebuah waduk atau bendungan adalah:

1. Irigasi

Pada saat musim hujan, air hujan yang turun di daerah tangkapan air sebagian besar akan mengalir ke sungai-sungai, air itu dapat ditampung sehingga pada musim kemarau air yang tertampung tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, antara lain untuk irigasi lahan pertanian.

2. Penyediaan Air Baku

(29)

11

3. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

Dalam menjalankan fungsinya sebagai PLTA, waduk dikelola untuk mendapatkan kapasitas listrik yang dibutuhkan. PLTA adalah suatu sistem pembangkit listrik yang biasanya terintegrasi dalam bendungan dengan memanfaatkan energi mekanis aliran air untuk memutar turbin, diubah menjadi energi listrik generator.

4. Pengendali Banjir

Sungai dengan debit air yang besar jika tidak dikendalikan dengan cermat maka akan membahayakan masyarakat sekitar sungai itu sendiri, maka permasalahan itu dapat dijadikan sebagai latar belakang dari pendirian waduk. Dengan dibangunnya bendungan-bendungan di bagian hulu sungai maka kemungkinan terjadinya banjir pada musim hujan dapat dikurangi dan pada musim kemarau air yang tertampung tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagi keperluan, antara lain pembangkit listrik tenaga air, untuk irigasi lahan pertanian, untuk perikanan, untuk pariwisata dan lain sebagainya.

5. Perikanan

Untuk mengganti mata pencaharian para penduduk desa yang desanya ditenggelamkan untuk pembuatan waduk yang sebelumnya bermata pencaharian sebagai petani kini beralih ke ranah perikanan dengan memanfaatkan waduk ini. Para penduduk dapat membuat rumah apung yang digunakan untuk peternakan ikan air tawar yang dibesarkan dalam keramba-keramba.

6. Pariwisata dan Olahraga Air

(30)

12

2.2 Keramba Jaring Apung (KJA)

Budidaya perikanan air tawar yang biasa dilakukan di waduk biasanya menggunakan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). Menurut Ryding dan Rast (1989) dalam Widyastuti (2005) mengemukakan bahwa budidaya ikan dalam keramba merupakan budidaya di wilayah perairan yang disekat, biasanya mengapung dan dibatasi oleh jaring. Wilayah tersebut melindungi keramba yang digunakan untuk produksi ikan.

Menurut Sukadi et al. (1989) dalam Widyastuti (2005) keramba jaring apung yaitu sebagai tempat pemeliharaan ikan yang terbuat dari bahan jaring yang dapat menyebabkan keluar masuknya air dengan leluasa, sehingga terjadi pertukaran air dari keramba ke perairan sekitarnya, serta pembuangan sisa pakan dengan mudah. Penggunaan jaring apung di waduk memiliki berbagai keuntungan. Keramba jaring apung dilakukan di badan air, sehingga biaya produksi untuk persiapan tanah tidak diperlukan. Kegiatan KJA dapat membantu mengatasi masalah berkurangnya lahan budidaya ikan akibat terkena kegiatan pertanian dan lainnya. Keuntungan teknis yang diperoleh dari budidaya KJA yaitu keramba mudah dipindah-pindahkan, intensifikasi produksi ikan, optimasi penggunaan pakan, kemudahan pengendalian pesaing dan pemangsa, serta kemudahan dalam pengelolaan dan panen.

Di Indonesia, KJA pertama kali digunakan di Waduk Jatiluhur pada tahun 1974 untuk keperluan penelitian, dan baru tahun 1986 dilakukan budidaya ikan secara intensif dalam KJA di Waduk Saguling, diikuti oleh petani ikan Danau Toba, Waduk Cirata, Waduk Wonogiri, Waduk Kedung Ombo, bahkan juga budidaya di laut seperti di Teluk Pare-Pare, Teluk Banten, dan di Kepulauan Riau (Prihadi, 2005). Menurut Beveridge (1996) dalam Widyastuti (2005), berdasarkan input makanannya, budidaya KJA dapat diklasifikasikan ke dalam tiga sistem yaitu ekstensif, semi intensif, dan intensif.

(31)

13

hanya memberi pakan tambahan untuk menambahkan pakan alami. Budidaya sistem intensif, pertumbuhan ikan hampir keseluruhan bergantung pada bahan pakan berprotein tinggi (> 20 %). Padat tebar ikan pada ketiga sistem tersebut berbeda-beda karena padat tebar ikan bergantung pada pakan yang diberikan.

Budidaya sistem ekstensif memiliki padat tebar ikan terendah karena budidaya ikan hanya menggunakan pakan alami. Budidaya semi intensif memiliki padat tebar ikan yang sedang. Padat tebar ikan pada budidaya semi intensif lebih besar dari ekstensif karena terdapat tambahan pakan untuk menambahkan pakan alami sehingga padat tebar ikan dapat ditingkatkan. Budidaya sistem intensif memiliki padat tebar ikan tertinggi karena pertumbuhan ikan sepenuhnya didasarkan pada pemberian pakan buatan. Sebagian besar keramba jaring apung yang terdapat di waduk-waduk di Indonesia menggunakan sistem intensif karena untuk mengoptimalkan produksi ikan.

2.3Analisis Keberlanjutan

Konsep keberlanjutan merupakan konsep yang sederhana namun kompleks, sehingga pengertian keberlanjutan pun sangat multidimensi dan multi-interpretasi. Menurut Heal (1998) dalam Fauzi (2004) konsep keberlanjutan ini paling tidak mengandung dua dimensi: pertama adalah dimensi waktu karena keberlanjutan tidak lain menyangkut apa yang akan terjadi di masa mendatang. Kedua adalah dimensi interaksi antara sistem ekonomi dan sistem sumberdaya alam dan lingkungan.

(32)

14

sesuatu pada urutan atribut yang terukur) dengan Multi-Dimensional Scalling (MDS). MDS sendiri pada dasarnya merupakan teknik statistik yang mencoba melakukan transformasi multidimensi ke dalam dimensi yang lebih rendah. Dimensi dalam Rapfish menyangkut aspek keberlanjutan dari ekologi, ekonomi, teknologi, sosial, dan etik. Setiap dimensi memiliki atribut atau indikator yang terkait dengan sustainability, sebagaimana diisyaratkan dalam FAO-Code of Conduct. (Fauzi dan Anna, 2005). Prosedur Rapfish mengikuti struktur pada Gambar 3.

Gambar 3. Elemen proses aplikasi Rapfish untuk data perikanan (Alder et al. 2000) dalam (Fauzi dan Anna, 2005)

Start

(33)

15

2.4 Analisis Aktor

Aktor merupakan masyarakat yang memiliki daya untuk mengendalikan penggunaan sumberdaya seolah-olah mereka tidak terkena pengaruh, tetapi kehidupannya dipengaruhi oleh perubahan penggunaan sumberdaya tersebut. Aktor adalah bagian yang secara langsung terkait dengan hasil kajian. Mereka menjadi pengguna di masa depan dari suatu hasil kajian. Mereka bukan kelompok sasaran (target group) bagi hasil suatu kajian. Aktor sangat bervariasi derajat pengaruh dan kepentingannya, dan dapat dikategorikan sesuai dengan banyak atau sedikitnya pengaruh dan kepentingan relatifnya terhadap keberhasilan pengelolaan sumberdaya alam (Suhana, 2008).

Brown et al (2001) dalam Suhana (2008) mengkategorikan aktor sebagai berikut:

1) Aktor primer, yakni mereka yang mempunyai pengaruh rendah terhadap hasil kebijakan tetapi kesejahteraannya penting bagi pengambil kebijakan.

2) Aktor sekunder, yakni mereka yang dapat mempengaruhi keputusan yang dibuat karena mereka adalah sebagian besar dari pengambil kebijakan dan terlibat dalam implementasi kebijakan. Secara relatif mereka tidak penting, demikian pula dengan tingkat kesejahteraannya bukan suatu prioritas.

3) Aktor eksternal, yakni individu atau kelompok yang dapat mempengaruhi hasil dari suatu proses melalui lobby kepada pengambil keputusan, tetapi interest mereka tidak begitu penting.

2.5 Kelembagaan

Khaerallah dan Kirsten (2001) dalam Fauzi (2005) mendefinisikan

kelembagaan adalah ‘suatu gugus aturan (rule of conduct) formal (hukum,

(34)

16

ditentukan oleh beberapa unsur, yaitu aturan operasional untuk pengaturan pemanfaatan sumberdaya, aturan kolektif untuk menentukan, menegakan hukum atau aturan itu sendiri dan untuk merubah aturan operasional serta mengatur hubungan kewenangan organisasi.

Sementara itu, Pejovich (1999) dalam Suhana (2008) menyatakan bahwa kelembagaan memiliki tiga komponen, yakni :

1. Aturan formal (formal institutions), meliputi konstitusi, statuta, hukum dan seluruh regulasi pemerintah lainnya. Aturan formal membentuk sistem politik (struktur pemerintahan, hak-hak individu), sistem ekonomi (hak kepemilikan dalam kondisi kelangkaan sumberdaya, kontrak), dan sistem keamanan (peradilan, polisi)

2. Aturan informal (informal institutions), meliputi pengalaman, nilai-nilai tradisional, agama dan seluruh faktor yang mempengaruhi bentuk persepsi subjektif individu tentang dunia tempat hidup mereka; dan

3. Mekanisme penegakan (enforcement mechanism), semua kelembagaan tersebut tidak akan efektif apabila tidak diiringi dengan mekanisme penegakan.

2.6 Tindakan Kolektif (Collective Action)

Bogason (2000) dalam Suhana (2008) mengemukakan beberapa ciri umum kelembagaan, antara lain adanya sebuah struktur yang didasarkan pada interaksi di antara para aktor adanya pemahaman bersama tentang nilai-nilai dan adanya tekanan untuk berperilaku sesuai dengan yang telah disepakati/ditetapkan. Commons (1934) dalam Suhana (2008) mendefinisikan kelembagaan sebagai: “...collective action in restraint, liberation, and of individual action”. Teori tindakan kolektif (collective action) pertama kali diformulasikan oleh Mancur Olson (1971) dalam Yustika (2008), khususnya saat mengupas masalah kelompok-kelompok kepentingan (interest groups). Teori ini sangat berguna untuk mengatasi masalah penunggang bebas (free-rider) dan mendesai jalan keluar bersama (cooperative solutions) bagi pengelolaan sumberdaya bersama (common resources) atau penyediaan barang-barang publik (public goods).

(35)

17

(purpose of the group). Dimana teori ini sudah banyak dimanfaatkan untuk menyelesaikan persoalan yang terkait dengan manajemen sumberdaya bersama, seperti air, perikanan, tanah, hutan, dan lain-lain. Tindakan kolektif akan bekerja optimum tergantung dari ketiga determinan tersebut. Secara hipotetik, semakin besar ukuran suatu kelompok kepentingan (interest group), maka kian sulit bagi kelompok tersebut untuk menegosiasikan kepentingan di antara anggota kelompok, demikian sebaliknya. Artinya, kelompok yang dibangun dengan ukuran kecil (small group) dimungkinkan untuk bekerja lebih efektif. Selanjutnya, keragaman kepentingan anggota kelompok juga sangat menentukan keberhasilan tindakan kolektif. Semakin beragam kepentingan anggota kelompok, maka kian rumit untuk memformulasikan kesepakatan bersama karena masing-masing anggota membawa kepentingannya sendiri-sendiri demikian sebaliknya. Jadi, homogenitas kepentingan diandaikan akan lebih memudahkan kerja suatu kelompok. sering juga disebut kebijakan. Terakhir, pada level konstitusi kita mendiskusikan prinsip-prinsip bagi pengambilan keputusan kolektif masa yang akan datang, seperti prinsip-prinsip demokrasi. Aturan-aturan pada level konstitusi ini biasanya ditulis secara formal dan dimodifikasi. Walaupun konstitusi bukan harga mati, biasanya lebih sulit berubah.

2.7 Penelitian Terdahulu

(36)

18

berstatus cukup berkelanjutan, alat tangkap bugis payang statusnya kurang berkelanjutan dari dimensi teknologi. Sedangkan kegiatan perikanan di Kabupaten Tegal untuk semua alat tangkap yang diteliti dalam status kurang berkelanjutan.

Radityo (2013) meneliti mengenai dampak ekonomi pencemaran air terhadap perikanan budidaya sistem keramba jaring apung di Waduk Cirata. Metode yang digunakan ialah pendekatan produksi dan metode AHP. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dampak pencemaran air berupa penurunan hasil panen, frekuensi panen, peningkatan kematian ikan dan peningkatan waktu yang dibutuhkan untuk budidaya ikan. Nilai kerugian pembudidaya ikan karena adanya pencemaran air yang menyebabkan penurunan hasil panen sebesar Rp 985.485.382.718 pada tahun 2011 dan economic loss yang terjadi pada sektor perikanan budidaya selama 5 tahun terakhir sebesar Rp 4.219.702.954.280.

Widiastuti (2013) mengestimasi kerugian ekonomi PLTA dan analisis kelembagaan. Hasil penelitiannya menggunakan metode cost benefit analysis dan pendekatan Dolsak dan Ostrom menunjukkan bahwa kerugian yang ditanggung PLTA sebesar 1 milyar rupiah yang berasal dari profit yang berkurang selama 8 tahun. Selain itu, pengelolaan waduk juga dirasa belum maksimal karena tidak ada kekuatan untuk menekan free rider dan menegakkan hukum.

(37)

19

pengelolaan instruktif dan konsultatif, 3) Terdapat persamaan persepsi antar stakeholder mengenai kondisi lingkungan Waduk Cirata dan mengenai keberadaan KJA.

Namun, untuk persepsi terhadap pengelolaan Waduk Cirata terdapat perbedaan pandangan diantara petani ikan mengenai kejelasan aturan main. Hal ini mengindikasikan adanya ketidakmerataan dalam sosialisasi peraturan pengelolaan waduk, 4) Aturan-aturan formal yang berlaku telah mengatur pengelolaan sumberdaya perikanan (KJA) yang mencakup tujuan ekonomi dan konservasi (perlindungan terhadap sumberdaya waduk). Namun implementasi dari aturan tersebut belum berjalan. Sanksi bagi pelanggar juga belum ditegakkan. Aturan-aturan informal secara tidak langsung memiliki tujuan sosial, ekonomi, dan konservasi yang mendukung pengelolaan perikanan (KJA) di Waduk Cirata, 5) Desain kelembagaan yang sesuai bagi pengelolaan KJA Waduk Cirata yaitu kelembagaan yang mampu menjembatani kepentingan beberapa pihak yang memanfaatkan Waduk Cirata. Hal tersebut dapat dicapai dengan peningkatan koordinasi diantara stakeholder yang terlibat. Secara ringkas, penelitian terdahulu dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Penelitian terdahulu

No Peneliti Judul Penelitian Perbedaan dengan Penelitian Terdahulu

1 Maman

Penelitian ini meneliti keberlanjutan perikanan tangkap skala kecil.

Penelitian ini menghitung niilai kerugian pembudidaya ikan karena adanya pencemaran air dan economic loss yang terjadi pada sektor perikanan budidaya selama 5 tahun terakhir.

3 Maria

Penelitian ini menggunakan metode cost benefit analysis dan pendekatan Dolsak dan Ostrom

4 Nabila

(38)
(39)

III.

KERANGKA PEMIKIRAN

Waduk Cirata merupakan waduk yang memiliki fungsi utama sebagai pembangkit listrik untuk memenuhi pasokan listrik wilayah Jawa dan Bali. Selain itu, Waduk Cirata memiliki fungsi tambahan, yaitu sebagai tempat pembudidayaan ikan dengan sistem KJA yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Seiring berjalannya waktu, banyak juga petani ikan yang berasal dari luar wilayah sekitar waduk. Kegiatan pembudidayaan ikan KJA ini mengalami peningkatan setiap tahunnya dilihat dari jumlah KJA yang semakin banyak melebihi kapasitas waduk. Peningkatan jumlah KJA yang tidak terkendali ini telah melebihi jumlah yang dianjurkan, yaitu sebesar 12.000 petak. Jumlah KJA yang terus meningkat dapat berpengaruh terhadap keberlanjutan pengelolaan Waduk Cirata. Keberlanjutan Waduk Cirata dapat dilihat melalui beberapa dimensi yaitu, dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan yang dapat dinilai dengan analisis multidimensi.

(40)

Gambar 4. Kerangka pemikiran operasional Waduk Cirata

Budidaya perikanan sistem KJA

Ekologi Ekonomi Sosial Teknologi Kelembagaan

Analisis multidimensi

Nilai status keberlanjutan

Nn

Analisis Leverage

Simulasi Monte Carlo

Status keberlanjutan Analisis persepsi Tindakan kolektif (Collective

Action)

Rekomendasi pengelolaan Waduk Cirata yang

(41)

23

IV. METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Waduk Cirata. Lokasi penelitian ini dipilih secara sengaja (purposive) dikarenakan karakteristik dalam pengelolaan sumberdaya ikan Waduk Cirata yang mencakup tiga wilayah administrasi dan pelaksanaanya belum efektif. Proses pengumpulan data baik data primer maupun sekunder dilakukan selama 2 bulan, yaitu dari bulan Maret hingga April 2015. Berikut dapat dilihat pada Gambar 5.

: Lokasi Penelitian

Gambar 5. Lokasi Penelitian

4.2 Jenis dan Sumber Data

(42)

24

Propinsi Jawa Barat. Selain itu, data juga diperoleh dari sumber-sumber lain yang relevan seperti buku, jurnal, artikel, penelitian terdahulu, dan internet.

4.3 Metode Penentuan Sampel

Penelitian ini menggunakan informan dan responden sebagai sumber data primer. Metode pengambilan data atau data adalah purposive sample. Metode pengambilan sample ini merupakan metode yang dilakukan dalam pemilihan responden dengan cara disengaja. Artinya peneliti mencari informasi kebutuhan data penelitian kepada pihak-pihak yang telah disesuaikan dan dipilih dengan kriteria yang dibutuhkan peneliti. Sedangkan populasi responden adalah masyarakat sekitar yang memiliki dan menjadi petani ikan KJA. Pemilihan responden menggunakan teknik random sampling dengan responden sebanyak 30 responden.

4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data

(43)

25

Tabel 2 Matriks metode analisis data

No Tujuan Penelitian Sumber

Data kolektif (collective action) meliputi;

Persepsi stakeholders tentang sustainability Waduk Cirata Ekspektasi tentang

keberlanjutan pengelolaan Waduk Cirata

(44)

26

4.4.1Menganalisis Status Keberlanjutan Pengelolaan Waduk Cirata dalam Multidimensi Keberlanjutan

Analisis multidimensi digunakan untuk menganalisis status keberlanjutan pengelolaan waduk dengan alat analisis Rapid Appraissal for Fisheries Status (Rapfish). Keberlanjutan pengelolaan waduk dikaji melalui dimensi-dimensi yang telah ditetapkan, meliputi dimensi ekologi, ekonomi, sosial-budaya, teknologi dan kelembagaan. Dimensi-dimensi tersebut dibagi ke dalam atribut-atribut yang telah disusun yang disesuaikan dengan kondisi lapang dan diberikan score pada masing-masing atribut. Selanjutnya, responden akan memilih bobot yang telah diberikan dalam setiap atribut. Atribut yang ada diperoleh dari penelitian sebelumnya serta hasil observasi lapang yang sesuai dengan lingkungan lokasi penelitian. Tabel 3 menyajikan matriks analisis keberlanjutan pengelolaan Waduk Cirata dalam multidimensi keberlanjutan.

Tabel 3 Matriks analisis keberlanjutan pengelolaan Waduk Cirata dalam multidimensi keberlanjutan

No Dimensi Parameter/Atribut Keterangan

1 Dimensi Ekologi 1. Kualitas air

2. Jumlah limbah KJA

2 Dimensi Ekonomi 1. Keuntungan

2. Penyerapan tenaga kerja

(45)

27

Tabel 3 (lanjutan)

No Dimensi Parameter/Atribut Keterangan

3

5 Dimensi Kelembagaan 1. Alternatif

2. Proses pengambilan

Rapfish adalah alat analisis yang digunakan untuk menganalisis status keberlanjutan atau mengevaluasi sustainability pada sektor perikanan yang pada dasarnya menggunakan teknik ordinasi dengan Multi-Dimensional Scalling (MDS). Keberlanjutan sumberdaya perikanan suatu wilayah dapat dilihat dari lima dimensi keberlanjutan yaitu, dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan.

Setiap dimensi yang dikaji dari metode ini disusun berdasarkan atribut-atribut yang telah ditentukan dan memiliki nilai atau score masing-masing yang dapat ditentukan berdasarkan kondisi di lapang, wawancara dengan stakeholder terkait, maupun data sekunder. Skor dan atribut setiap dimensi yang digunakan sebagai indikator keberlanjutan disajikan pada Lampiran 2.

(46)

28

ALSCAL. Analisis MDS metrik dirumuskan sebagai berikut (Fauzi dan Anna, 2005):

1. Pertama, menghitung jarak terdekat jarak (D) dengan rumus Euclidian :

d = ...(1)

2. Kedua, menghitung nilai stress. Iterasi berhenti jika nilai lebih kecil dari 0.25, rumus dari S-Stress :

S= ...(2)

Perhitungan jarak dan nilai S-Stress tersebut diatas menggunakan software Rapfish (Nababan et al, 2008). Pembagian selang status indeks keberlanjutan menurut Susilo (2003) dalam Nababan et al (2008) disajikan dalam Tabel 4. Tabel 4 Selang indeks keberlanjutan

No Selang Indeks Keberlanjutan Status Keberlanjutan

1 0-25 Buruk

2 26-50 Kurang

3 51-75 Cukup

4 75-100 Baik

Sumber : Susilo (2003) dalam Nababan et al (2008)

4.4.2 Menganalisis Kegiatan yang Paling Mengancam Keberlanjutan Waduk Cirata berdasarkan Kegiatan Pemanfaatan Waduk

(47)

29

Tabel 5 Matriks analisis kegiatan yang paling mengancam keberlanjutan Waduk Cirata berdasarkan kegiatan pemanfaatan waduk

No Kegiatan Parameter

1 Budidaya perikanan KJA 1. Tingkat sedimentasi; proses pengendapan

pada cekungan 2. Limbah organik 3. Jumlah sampah

2 Pertanian 1. Tingkat sedimentasi; proses pengendapan

pada cekungan 2. Limbah organik 3. Jumlah sampah

3 Perikanan tangkap 1. Tingkat sedimentasi; proses pengendapan

pada cekungan 2. Limbah organik 3. Jumlah sampah

4 Pariwisata 1. Tingkat sedimentasi; proses pengendapan

pada cekungan 2. Limbah organik 3. Jumlah sampah

5 Aktivitas domestik masyarakat 1. Tingkat sedimentasi; proses pengendapan pada cekungan

2. Limbah organik 3. Jumlah sampah Sumber: Hasil analisis data (2015)

Pada analisis ini responden dalam proses wawancara diminta untuk memberi skor pada variabel-variabel yang telah disediakan berdasarkan parameter-parameter dalam kegiatan pemanfaatan waduk. Parameter yang telah disediakan dirangking dimulai dari kegiatan yang paling mengancam sampai yang tidak begitu mengancam keberlanjutan Waduk Cirata. Skor tersebut berdasarkan persepsi masing-masing responden mengenai dampak dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pemanfaatan waduk tersebut.

4.4.3 Mengidentifikasi Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Adanya Tindakan Kolektif (collective action)

(48)

30

4.4.3.1Analisis Persepsi Stakeholder tentang Sustainability Waduk Cirata

Potensi kegiatan yang terdapat di Waduk Cirata cukup banyak, seperti PLTA Jawa-Bali, perikanan budidaya KJA, perikanan tangkap, pemasaran dan pengolahan ikan, pariwisata dan komunikasi, serta pelayaran dan pelabuhan. Setaip kegiatan akan menimbulkan dampak bagi waduk, baik dampak baik maupun dampak buruk. Oleh karena itu, perlu dianalisis bagaimana persepsi keberlanjutan pengelolaan Waduk Cirata yang dinilai oleh para stakeholder yang terlibat di dalamnya. Sustainability Waduk Cirata dapat dinilai baik melalui kondisi waduk maupun pengelolaannya saat ini. Parameter tentang kondisi waduk saat ini dibagi menjadi tiga, yaitu tidak bekelanjutan, kurang berkelanjutan dan berkelanjutan. Sedangkan, pengelolaan waduk saat ini menggunakan parameter tidak sesuai, kurang sesuai dan sesuai dengan prinsip-prinsip keberlanjutan suatu sumberdaya, terutama sumberdaya waduk. Tabel 6 menyajikan matriks analisis persepsi stakeholder tentang sustainability Waduk Cirata.

Tabel 6 Matriks analisis persepsi stakeholder tentang sustainalibity Waduk Cirata

No Variabel Sub-variabel Stakeholder Parameter

1 Persepsi kondisi yang baik dimana tingkat sedimentasinya rendah dan jumlah KJA yang ada tidak melampaui batas yang

seharusnya

Kurang berkelanjutan; apabila kondisi waduk saat ini mencerminkan kondisi yang cukup buruk dimana tingkat sedimentasinya tinggi dan jumlah KJA yang ada telah melampaui batas yang seharusnya namun sudah ada tindakan untuk mengatasinya, namun hasilnya belum optimal

(49)

31

mencerminkan kondisi yang buruk dimana tingkat sedimentasinya tinggi dan jumlah KJA yang ada sudah melampaui batas yang seharusnya, namun tidak ada tindakan untuk mengatasinya dan belum ada solusi untuk hal tersebut

Sesuai; apabila pengelolaan Waduk Cirata saat ini telah sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan sumber daya yang seharusnya dilakukan

Kurang sesuai; apabila pengelolaan Waduk Cirata saat ini belum sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan sumberdaya yang seharusnya dilakukan

Tidak sesuai; apabila pengelolaan Waduk Cirata saat ini tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan sumberdaya yang seharusnya dilakukan

(50)

32

4.4.3.2Ekspektasi dan Tingkat Urgensi Aktor terhadap Keberadaan dan Keberlanjutan Waduk Cirata sebagai Mata Pencaharian Masyarakat

Setelah ditentukan persepsi mengenai kondisi dan pengelolaan Waduk Cirata saat ini berdasarkan pandangan dari stakeholder terkait dan pemanfaat yang sama-sama memiliki kepentingan yang berbeda-beda di dalamnya. Selanjutnya perlu dianalisis ekspektasi atau harapan dan tingkat urgensi keberadaan dan keberlanjutan pengelolaan Waduk Cirata sebagai mata pencaharian masyarakat sekitar. Tabel 7 menyajikan matriks ekspektasi aktor terhadap keberlanjutan Waduk Cirata sebagai mata pencaharian masyarakat.

Tabel 7 Matriks ekspektasi aktor terhadap keberlanjutan Waduk Cirata sebagai mata pencaharian masyarakat

Variabel Aktor Parameter

Ekspektasi aktor terhadap keberlanjutan Waduk Cirata sebagai mata pencaharian masyarakat sekitar

Petani ikan Ekspektasi aktor terhadap

keberlanjutan Waduk Cirata sebagai mata pencaharian indikatornya adalah:

Tinggi; apabila banyak masyarakat yang memiliki ketergantungan terhadap waduk

sebagai sumber mata

pencaharian

Sedang; apabila tidak banyak masyarakat yang memiliki ketergantungan terhadap waduk

sebagai sumber mata

pencaharian

Rendah; apabila tidak ada masyarakat yang memiliki

ketergantungan terhadap

waduk sebagai sumber mata pencaharian.

Sumber: Hasil analisis data (2015)

(51)

33

yaitu, berkelanjutan, kurang berkelanjutan dan tidak berkelanjutan. Hal ini didasarkan pada apakah aktor tersebut melakukan upaya-upaya yang dapat meningkatkan kualitas waduk agar keberlanjutannya terjaga. Tabel 8 menyajikan matriks tingkat urgensi aktor terhadap keberadaan dan keberlanjutan Waduk Cirata.

Tabel 8 Matriks tingkat urgensi aktor terhadap keberadaan dan keberlanjutan Waduk Cirata

No Variabel Aktor Parameter

1 Tingkat urgensi aktor terhadap keberadaan Waduk Cirata

Petani ikan Tingkat urgensi aktor terhadap keberadaan Waduk Cirata

Kurang penting; apabila aktor memiliki ketergantungan yang rendah terhadap waduk

Tidak penting; apabila aktor tidak memiliki ketergantungan terhadap waduk

2 Tingkat urgensi aktor terhadap keberlanjutan Waduk Cirata

Stakeholder Tingkat urgensi aktor terhadap keberlanjutan Waduk Cirata

(52)
(53)

V. GAMBARAN UMUM

5.1 Waduk Cirata

Waduk Cirata terletak diantara tiga wilayah administrasi yaitu, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Cianjur. Waduk Cirata merupakan salah satu waduk yang berada di Jawa Barat. Waduk Cirata merupakan sumberdaya buatan manusia yang dibendung dari aliran Sungai Citarum. Selain Waduk Cirata, terdapat dua waduk lain yang memanfaatkan aliran Sungai Citarum, yaitu Waduk Jatiluhur dan Waduk Saguling. Ketiga waduk ini merupakan tipe waduk kaskade yang terdapat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Waduk Jatiluhur adalah waduk yang tertua, disusul dengan dibangunnya Waduk Saguling lalu yang terakhir adalah Waduk Cirata. Pembangunan Waduk Saguling diharapkan menjadi filter dari limbah dari hulu sungai yang alirannya masuk ke Waduk Jatiluhur. Tujuan utama dibangunnya ketiga waduk ini ialah untuk PLTA, bahan baku air minum dan industri namun seiring berkembangnya kebutuhan masyarakat sekitar maka timbul pemanfaatan waduk yang lainnya seperti perikanan dan pertanian yang berdampak pada menurunnya kualitas air Sungai Citarum. Oleh karena itu , dibangunlah Waduk Cirata yang terletak di tengah-tengah DAS Citarum yang diharapkan menjadi filter kedua bagi perairan Jatiluhur. Letak ketiga waduk dapat dilihat pada Gambar 6.

(54)

36

Cirata (BPWC) yang berfungsi untuk mengelola, memelihara aset serta memelihara kelestarian fungsi waduk.

Gambar 6. Waduk Cirata, Saguling dan Jatiluhur Keterangan:

: Waduk Cirata : Waduk Saguling : Waduk Jatiluhur

(55)

37

memproduksi energi listrik rata-rata 1428 GWh/tahun. PLTA Cirata memiliki beberapa bangunan utama yaitu bendungan, bangunan pengambil air, pusat pengendali, saluran tekan, tangki pendatar air, pipa pesat dan gedung pusat pembangkit. Lokasi pembangkit yang memiliki pola operasi 5 jam/hari ini berada di Kelurahan Citamiang, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Tipe PLTA di Waduk Cirata yaitu PLTA dengan reservoir dengan lokasi power house di dalam tanah. Tipe bendungannya merupakan urugan batu dengan inti kedap air dengan luas genangan 62 km dan tinggi bendungan 125 m. Sungai utama yang mengairi Waduk Cirata yaitu sungai Citarum serta beberapa anak sungai lainnya seperti sungai Cicendo, Cimeta, Cisokan, Cibiuk, Cibalagung, Ciangsana, Cikundul dan Cigede.

5.1.1 Kabupaten Bandung Barat

Luas wilayah Kabupaten Bandung Barat yaitu 1.305,77 km², terletak antara

60º 41’ s/d 70º 19’ Lintang Selatan dan 107º 22’ s/d 108º 05’ Bujur Timur dengan

rata-rata ketinggian 110 m dan maksimum 2.2429 m dari permukaan laut. Kemiringan wilayah yang bervariasi antara 0 – 8%, 8 – 15% hingga diatas 45%, dengan batas wilayah meliputi sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Cianjur, sebelah utara: berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang, sebelah timur: berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi, sebelah selatan: berbatasan dengan selatan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur. Pada tahun 2012 jumlah penduduk Kabupaten Bandung Barat mencapai 1.572.806 orang yang terdiri dari penduduk laki-laki berjumlah 802.607 orang sedangkan perempuan 770.199 orang dengan rasio jenis kelaminnya mencapai 1,04. Rata-rata kepadatan penduduk per kilometer persegi mencapai 1.250 jiwa (BPS, 2013).

(56)

38

ikan budidaya jaring apung Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2009 hingga 2013 dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Jumlah produksi ikan KJA Kabupaten Bandung Barat 2009-2013

No Komoditas Produksi (Ton)

2009 2010 2011 2012 2013

Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Prov. Jawa Barat (2013)

5.1.2 Kabupaten Purwakarta

Kabupaten Purwakarta merupakan bagian dari Wilayah Provinsi Jawa Barat yang terletak di antara 107º30’-107º40’ Bujur Timur dan 6º25’-6º45’ Lintang Selatan. Secara administratif, Kabupaten Purwakarta mempunyai batas wilayah sebagai berikut: sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Karawang dan Kabupaten Subang, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung Barat, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Karawang, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bogor, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cianjur (BPS, 2013).

(57)

39

merupakan permukaan air Danau Ir. H. Juanda mempunyai ketinggian 107 m dpl, sedangkan tanah daratan di sekitarnya berada pada ketinggian sekitar 400 m dpl. Kabupaten Purwakarta Bagian Selatan dan Timur, wilayahnya meliputi Kecamatan Plered, Maniis, Tegalwaru, Sukatani, Darangdan dan Kecamatan Bojong, dengan ketinggian lebih dari 200 m dpl. Hasil sensus penduduk tahun 2010 memberikan gambaran bahwa dalam kurun waktu sepuluh tahun (2000-2010), rata-rata laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Purwakarta adalah 1,99 persen per tahun. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010 penduduk Kabupaten Purwakarta sebesar 852.521 orang, terdiri dari 436.082 orang laki-laki dan 416.439 orang perempuan (BPS, 2013).

Wilayah Purwakarta masuk ke dalam zona II dalam lokasi pembudidayaan ikan dengan KJA di Waduk Cirata yaitu di Kecamatan Maniis, meliputi desa Citamiang, Pasir Jambu, Sinargalih, dan Tegal Datar. Produksi ikan jaring apung di Kabupaten Purwakarta ini mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Berikut data produksi ikan jaring apung di Kabupaten Purwakarta dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10 Jumlah produksi ikan KJA Kabupaten Purwakarta 2007-2013

No Komoditas Produksi (Ton)

2009 2010 2011 2012 2013 Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Prov. Jawa Barat (2013)

5.1.3 Kabupaten Cianjur

Kabupaten Cianjur secara geografis terletak pada koordinat 106 º 42’- 107º

25’ Bujur Timur dan 6º 21’- 7º 25’, dengan luas wilayah 361.434,98 ha. Batas

-batas wilayah daerah meliputi: sebelah Utara ber-batasan dengan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Garut, sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Hindia, dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor (BPS, 2014).

(58)

40

1.080 – 2.962 mdpl. Penduduk Kabupaten Cianjur tahun 2013 adalah 2.223.316 jiwa yang terdiri dari 1.146.670 jiwa laki-laki dan 1.078.646 jiwa perempuan dengan rasio jenis kelamin 106,13. Kepadatan rata-rata penduduk Kabupaten Cianjur tahun 2013 ialah 616 jiwa per kmpersegi. Jumlah penduduk terbanyak berada di Kecamatan Cianjur yaitu sebanyak 162.474 (BPS, 2014).

Kabupaten Cianjur adalah wilayah terluas yang terkena genangan Waduk Cirata, dari keseluruhan luas Waduk Cirata sekitar 60% termasuk ke dalam wilayah Cianjur. Wilayah Cianjur masuk dalam zona III dalam lokasi pembudidayaan ikan dengan KJA yang berada di Kecamatan Ciranjang, Mande, dan Cikalong Kulon, meliputi desa Bobojong, Cikidang, Kamurang, Kertajaya dan Mande. Jumlah produksi perikanan KJA di Kabupaten Cianjur dari tahun 2009 hingga tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Jumlah produksi ikan KJA Kabupaten Cianjur 2009-2013

No Komoditas Produksi (ton)

2009 2010 2011 2012 2013

1 Mas 18.482,85 26.530,70 18.332,52 25.236,65 24.574,67

2 Nila 10.528,63 6.897,89 12.328,19 10.550,21 12.884,81

3 Patin 1.142,71 100,32 134,04 105,64 536,84

4 Bawal 13,21 5.379,26 11.979,30 13.404,77 10.829,92

Jumlah 30.167,40 38.908,17 42.774,05 49.297,27 48.826,24

Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Prov. Jawa Barat (2013)

5.2 Karakteristik Responden

(59)

41

Sumber: Hasil analisis data (2015)

Gambar 7. Tingkat usia petani ikan

Tingkat pendidikan petani bervariasi mulai dari yang sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Sebagian besar pendidikan petani ikan di Waduk Cirata mengenyam pendidikan hingga jenjang SD yaitu sebesar 50%. Sebanyak 33% berpendidikan hingga jenjang SMP, 13% hingga jenjang SMA dan 4% hingga jenjang perguruan tinggi. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan petani ikan Waduk Cirata masih tergolong rendah. Hal tersebut berdampak pada minimnya pengetahuan mereka tentang pentingnya menjaga lingkungan di sekitar waduk. Tingkat pendidikan petani ikan dapat dilihat pada Gambar 8.

Sumber: Hasil analisis data (2015)

Gambar 8. Tingkat pendidikan petani ikan

(60)

42

Waduk Cirata dibagi ke dalam tiga zona wilayah untuk memudahkan pemantauan dan transfer informasi. Pembagian zona dan jumlah Rumah Tangga Petani (RTP) baik pribumi maupun non pribumi dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12 Pembagian zona dan jumlah RTP tahun 2011

Wilayah No Desa Petani (RTP)

Jumlah Pribumi Non Pribumi

Zona 1

Sumber: Laporan Sensus KJA PT. Cikal (2011)

Berdasarkan Tabel 12 wilayah yang memiliki jumlah RTP terbanyak terdapat pada zona 1 atau wilayah Bandung Barat. Wilayah Bandung Barat memiliki 5 desa yang termasuk dalam wilayah zona 1, yaitu Bojongmekar, Margalaksana, Margaluyu, Nanggeleng dan Nyenang. Desa Margalaksana memiliki RTP paling banyak sebesar 582 RTP, dengan jumlah 499 RTP warga pribumi dan 83 RTP non pribumi. Selanjutnya, desa dengan jumlah RTP terbanyak yaitu Desa Margaluyu dengan jumlah RTP 383 RTP, diantaranya 303 merupakan warga pribumi dan 80 RTP non pribumi. Desa Bojong Mekar memiliki jumlah RTP paling sedikit, yaitu 10 RTP dengan 8 warga pribumi dan 2 lainnya non pribumi. Secara keseluruhan, jumlah RTP yang berada di zona 1 atau wilayah Bandung Barat berjumlah 1.198 RTP.

(61)

43

pribumi. Desa yang memiliki jumlah RTP paling sedikit ialah Desa Pasir Jambu dengan jumlah 61 RTP, 49 warga pribumi dan 12 lainnya berasal dari warga pendatang.

Wilayah zona 3 atau yang terakhir ialah Kabupaten Cianjur yang merupakan bagian terluas dari Waduk Cirata. Terdapat 5 desa yang masuk dalam bagiannya, yaitu Desa Bobojong, Cikidang, Kamurang, Kertajaya dan Mande. Desa Bobojong memiliki jumlah RTP terbanyak dengan jumlah 291 RTP, 217 diantaranya merupakan warga pribumi dan 74 lainnya warga non pribumi. Sedangkan desa yang meiliki RTP paling sedikit ialah Desa Cikidang yaitu sebanyak 95 RTP, 81 diantaranya merupakan warga pribumi dan 14 lainnya merupakan warga non pribumi. Secara keseluruhan jumlah RTP yang ada di Kabupaten Cianjur sebanyak 821 RTP. Jumlah RTP dari 3 zona tersebut pada tahun 2011 yaitu sebanyak 2.511 RTP dengan 83,71% merupakan warga pribumi dan 16,29% warga non pribumi. Grafik kepemilikan KJA di Waduk Cirata dapat dilihat pada Gambar 9.

Sumber: Sensus KJA PT. Cikal (2011)

(62)
(63)

45

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1Status Keberlanjutan Pengelolaan Usaha Perikanan KJA di Waduk Cirata dalam Multidimensi Keberlanjutan

Status keberlanjutan pengelolaan usaha perikanan KJA di Waduk Cirata dinilai dengan menggunakan analisis Rapid Appraissal for Fisheries (Rapfish). Status keberlanjutan dalam penelitian ini menggunakan lima dimensi, yaitu dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan. Lima dimensi terdiri dari 28 atribut, diantaranya lima atribut ekologi, tujuh atribut ekonomi, tujuh atribut sosial, empat atribut teknologi, dan lima atribut kelembagaan. Lima dimensi dan 28 atribut ini akan menggambarkan status keberlanjutan pengelolaan perikanan KJA di Waduk Cirata.

6.1.1 Dimensi Ekologi

Dimensi ekologi merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam menentukan status keberlanjutan pengelolaan usaha perikanan KJA di Waduk Cirata. Atribut yang telah disesuaikan dengan kondisi di lapang ini diperkirakan dapat berpengaruh terhadap dimensi ekologi, yaitu;

1. Kualitas air

Berdasarkan status mutu rata-rata perairan Waduk Cirata yang dilakukan oleh pihak BPWC pada pemantauan Triwulan IV tahun 2014 termasuk dalam kategori buruk untuk penggunaan kelas II dan kelas III. Skor rata-rata perairan Waduk Cirata untuk kelas II yang digunakan sebagai sarana atau prasarana air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut adalah -68. Dari hasil pemantauan tersebut, maka skor yang diberikan pada atribut ini adalah 1 artinya kualitas air termasuk kategori buruk.

2. Jumlah limbah KJA

(64)

46

Puspaningsih (2011) menyatakan bahwa pada umumnya dari sejumlah pakan yang diberikan kepada ikan mas, hanya 80% yang dapat terserap oleh ikan dan sisanya 20% terbuang ke perairan. Dari 80% pakan yang terserap oleh ikan mas tersebut, 10%nya akan tersekresikan dalam bentuk feses. Hal tersebutlah yang menimbulkan tingginya jumlah limbah KJA. Dengan demikian, skor yang diberikan adalah 3 artinya jumlah limbah KJA termasuk kategori tinggi.

3. Frekuensi upwelling

Upwelling merupakan peristiwa naiknya air di dasar danau/ waduk karena suhu di permukaan lebih dingin daripada suhu di bawahnya. Fenomena upwelling ini biasanya terjadi pada awal musim hujan saat cuaca mendung dimana intensitas cahaya matahari sangat rendah sehingga menyebabkan rendahnya laju fotosintesis dan rendahnya produksi oksegen dalam air, sehingga ikan-ikan sulit bernafas karena konsentrasi oksigennya minim yang mengakibatkan kematian massal ikan. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan petani ikan di Waduk Cirata, mereka mengalami upwelling yang berbeda-beda. Sehingga skor yang diberikan juga berbeda, rata-rata skor yang diberikan adalah sebesar 2,7 untuk yang berada pada selang kategori rendah dan sedang.

4. Tingkat sedimentasi

Jumlah KJA yang melebihi batas berdampak pada degradasi baik kualitas maupun kuantitas air akibat limbah yang dihasilkan. Hal tersebut juga terlihat pada tingginya tingkat sedimentasi yang rata-rata mencapai 7,30 juta m3/tahun. Angka tersebut melebihi asumsi desain yang hanya 5,67 juta m3/tahun. Maka skor yang diberikan adalah 2, karena tingkat sedimentasinya telah melebihi asumsi desain awal waduk.

5. Daya tampung KJA

Figur

Gambar 3.

Gambar 3.

p.32
Tabel 1 Penelitian terdahulu

Tabel 1

Penelitian terdahulu p.37
Gambar 4. Kerangka pemikiran operasional

Gambar 4.

Kerangka pemikiran operasional p.40
Gambar 5. Lokasi Penelitian

Gambar 5.

Lokasi Penelitian p.41
Tabel 2 Matriks metode analisis data

Tabel 2

Matriks metode analisis data p.43
Tabel 3 Matriks analisis keberlanjutan pengelolaan Waduk Cirata dalam

Tabel 3

Matriks analisis keberlanjutan pengelolaan Waduk Cirata dalam p.44
Tabel 3 (lanjutan)

Tabel 3

(lanjutan) p.45
Tabel 4 Selang indeks keberlanjutan

Tabel 4

Selang indeks keberlanjutan p.46
Tabel 5 Matriks analisis  kegiatan yang paling mengancam keberlanjutan Waduk Cirata berdasarkan kegiatan pemanfaatan waduk

Tabel 5

Matriks analisis kegiatan yang paling mengancam keberlanjutan Waduk Cirata berdasarkan kegiatan pemanfaatan waduk p.47
Tabel 6 Matriks analisis persepsi stakeholder tentang sustainalibity Waduk

Tabel 6

Matriks analisis persepsi stakeholder tentang sustainalibity Waduk p.48
Tabel 6 (lanjutan)

Tabel 6

(lanjutan) p.49
Tabel 7  Matriks ekspektasi aktor terhadap keberlanjutan Waduk Cirata sebagai

Tabel 7

Matriks ekspektasi aktor terhadap keberlanjutan Waduk Cirata sebagai p.50
Tabel 8 Matriks tingkat urgensi aktor terhadap keberadaan dan keberlanjutan

Tabel 8

Matriks tingkat urgensi aktor terhadap keberadaan dan keberlanjutan p.51
Gambar 6. Waduk Cirata, Saguling dan Jatiluhur

Gambar 6.

Waduk Cirata, Saguling dan Jatiluhur p.54
Gambar 7. Tingkat usia petani ikan

Gambar 7.

Tingkat usia petani ikan p.59
Tabel 12 Pembagian zona dan jumlah RTP tahun  2011

Tabel 12

Pembagian zona dan jumlah RTP tahun 2011 p.60
Gambar 10. Status keberlanjutan dimensi ekologi pengelolaan usaha perikanan di

Gambar 10.

Status keberlanjutan dimensi ekologi pengelolaan usaha perikanan di p.66
Gambar 11 Analisis sensitivitas pada dimensi ekologi

Gambar 11

Analisis sensitivitas pada dimensi ekologi p.68
Tabel 15 merupakan skor yang menunjukkan realita di lapang untuk

Tabel 15

merupakan skor yang menunjukkan realita di lapang untuk p.71
Tabel 15 Nilai skor setiap atribut dimensi keberlanjutan ekonomi pengelolaan         usaha perikanan KJA Waduk Cirata

Tabel 15

Nilai skor setiap atribut dimensi keberlanjutan ekonomi pengelolaan usaha perikanan KJA Waduk Cirata p.71
Gambar 15 Hasil analisis Monte Carlo untuk pengelolaan Waduk Cirata pada

Gambar 15

Hasil analisis Monte Carlo untuk pengelolaan Waduk Cirata pada p.73
Gambar 16. Status keberlanjutan dimensi sosial pengelolaan usaha perikanan KJA

Gambar 16.

Status keberlanjutan dimensi sosial pengelolaan usaha perikanan KJA p.76
Gambar 18. Hasil analisis Monte Carlo untuk pengelolaan Waduk Cirata pada

Gambar 18.

Hasil analisis Monte Carlo untuk pengelolaan Waduk Cirata pada p.78
Gambar 19. Status keberlanjutan dimensi teknologi pengelolaan usaha perikanan

Gambar 19.

Status keberlanjutan dimensi teknologi pengelolaan usaha perikanan p.80
Gambar  21. Hasil analisis Monte Carlo untuk pengelolaan usaha perikanan KJA

Gambar 21.

Hasil analisis Monte Carlo untuk pengelolaan usaha perikanan KJA p.82
Gambar 22.

Gambar 22.

p.83
Tabel 23 Perbandingan indeks keberlanjutan dari hasil teknik ordinasi dimensi

Tabel 23

Perbandingan indeks keberlanjutan dari hasil teknik ordinasi dimensi p.85
Gambar 24. Hasil analisis Monte Carlo untuk pengelolaan Waduk Cirata pada

Gambar 24.

Hasil analisis Monte Carlo untuk pengelolaan Waduk Cirata pada p.85
Tabel 24 Perbandingan nilai akar kuadrat nilai tengah (AKNT) masing-masing atribut pada setiap dimensi keberlanjutan

Tabel 24

Perbandingan nilai akar kuadrat nilai tengah (AKNT) masing-masing atribut pada setiap dimensi keberlanjutan p.86
Tabel 34 Sebaran ekspektasi dan tingkat urgensi petani ikan dan stakeholder

Tabel 34

Sebaran ekspektasi dan tingkat urgensi petani ikan dan stakeholder p.95

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Status Keberlanjutan Pengelolaan Waduk Cirata, Propinsi Jawa Barat Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Ruang Lingkup Penelitian PENDAHULUAN Keramba Jaring Apung KJA Analisis Aktor Kelembagaan PENDAHULUAN Tindakan Kolektif Collective Action KERANGKA PEMIKIRAN Status Keberlanjutan Pengelolaan Waduk Cirata, Propinsi Jawa Barat Lokasi dan Waktu Penelitian Jenis dan Sumber Data Menganalisis Status Keberlanjutan Pengelolaan Waduk Cirata dalam Menganalisis Kegiatan yang Paling Mengancam Keberlanjutan Waduk Analisis Persepsi Stakeholder tentang Sustainability Waduk Cirata Ekspektasi dan Tingkat Urgensi Aktor terhadap Keberadaan dan Kabupaten Bandung Barat Waduk Cirata Kabupaten Purwakarta Waduk Cirata Kabupaten Cianjur Waduk Cirata Karakteristik Responden GAMBARAN UMUM Dimensi Ekologi Status Keberlanjutan Pengelolaan Usaha Perikanan KJA di Waduk Dimensi Ekonomi Status Keberlanjutan Pengelolaan Usaha Perikanan KJA di Waduk Dimensi Sosial Status Keberlanjutan Pengelolaan Usaha Perikanan KJA di Waduk Dimensi Teknologi Status Keberlanjutan Pengelolaan Usaha Perikanan KJA di Waduk Dimensi Kelembagaan Status Keberlanjutan Pengelolaan Usaha Perikanan KJA di Waduk Analisis Status Keberlanjutan Pengelolaan Usaha Perikanan KJA Budidaya Perikanan KJA Analisis Kegiatan yang Paling Mengancam terhadap Keberlanjutan Waduk Cirata Pertanian Perikanan Tangkap Analisis Kegiatan yang Paling Mengancam terhadap Keberlanjutan Waduk Cirata Tindakan bersama stakeholder untuk mempertahankan keberlanjutan Simpulan Saran SIMPULAN DAN SARAN