(ARSITEKTUR METAFORA)
LAPORAN PERANCANGAN TKA 490 – STUDIO TUGAS AKHIR SEMESTER A TAHUN AJARAN 2013/2014
Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Arsitektur
oleh
HARIS ABADSYAH
090406037
DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
LAPORAN PERANCANGAN TKA 490 - TUGAS AKHIR
SEMESTER A TAHUN AJARAN 2013 / 2014
Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Arsitektur
Oleh
HARIS ABADSYAH
090406037
DEPARTEMEN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
Oleh :
HARIS ABADSYAH 09 0406 037
Medan, Oktober 2014
Disetujui Oleh :
Pembimbing
Hajar Suwantoro, ST. MT.
NIP.19790203 200501 1 001
Ketua Departemen Arsitektur
Ir. N. Vinky Rahman, MT.
Nama : Haris Abadsyah
NIM : 09 0406 037
Judul Proyek Tugas Akhir : Binjai Shopping Mall
Tema : Arsitektur Metafora
Rekapitulasi Nilai :
A B+ B C+ C D E
Dengan ini mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan :
No. Status Waktu Pengumpulan
Laporan
Paraf
Pembimbing
Koordinator
TKA-490
1. Lulus Langsung
2.
Lulus Melengkapi
3. Perbaikan Tanpa
Sidang
4. Perbaikan Dengan
Sidang
5. Tidak Lulus
Medan, Oktober 2014
Ketua Departemen Arsitektur,
Ir. N
.
Vinky Rahman, MT.NIP : 19660622 199702 1 001
Koordinator TKA-490,
Wahyuni Zahrah, ST. MS.
Puji dan syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena kasih
karunia-Nya yang selalu menyertai sehingga saya dapat menyelesaikan seluruh proses
penyusunan Laporan Tugas Akhir ini sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknik Arsitektur, Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas
Sumatera Utara.
Laporan Studio Tugas Akhir ini berisikan antara lain : pengumpulan data
melalui studi literatur dan dari berbagai narasumber, telaah, analisa dan penyusunan
landasan landasan teoritis (konseptual) bagi tahap perancangan serta gambar
-gambar rancangan.
Selama proses hingga selesainya laporan ini, penulis tidak terlepas dari
berbagai pihak yang turut andil dalam menyukseskannya. Oleh sebab itu, pada
kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada :
• Bapak Hajar Suwantoro, ST. MT. sebagai Dosen Pembimbing atas bimbingan, dukungan, dan semangat yang sangat berarti dan selalu memberikan motivasi
dari awal hingga akhir.
• Ibu Wahyuni Zahrah, ST. MS. selaku Ketua Koordinator Studio Tugas Akhir Semester A TA. 2013/2014 yang selalu memberikan bimbingan dan selalu
menyemangati, tidak hanya untuk saya tetapi juga untuk seluruh mahasiswa
Tugas Akhir. Nasehat dan ajaran Ibu akan selalu saya ingat.
• Bapak Ir. N. Vinky Rahman, MT. Sebagai Ketua Jurusan Arsitektur USU. • Bapak Ir. Rudolf Sitorus, MLA. Sebagai Sekretaris Jurusan Arsitektur USU. • Seluruh Staf pengajar Bapak Ibu Dosen Arsitektur Universitas Sumatera Utara
atas semua kritik dan sarannya selama asistensi.
• Orang tua saya yang tercinta Ibu Bivan Diari Dwi Putri dan Bapak Drs. Syahril Sagala. Terima kasih buat doa, cinta, dan dukungan yang selalu menyertai selama
saya hidup.
Florine, Bonyta, Sesilia, Aci, dan Aya.
• Sahabat saya, Angela Christysonia Tampubolon, ST. yang turut membantu saya mulai dari pendaftaran Tugas Akhir sampai pada selesainya Tugas Akhir ini. • Teman-teman seperjuangan satu kelompok sidang, Dwiki, Desi, Agatha, Kak
Heni. Terimakasih atas semangat, kebersamaan dan suka duka yang kita lewati
bersama dari awal hingga akhir.
• Teman-teman Arsitektur 2009 yang saya cintai, terimakasih atas dukungan dan semangat, kebersamaan dan suka duka selama kuliah di Arsitektur USU.
• Abang dan kakak senior dan alumni, terutama angkatan 2006, yang telah memberikan semangat dan masukan buat adik-adiknya.
• Adik-adik 2012 yang saya sayangi, Husni, Yogi, Fitra, Iwan, Mukhlis, Risol, Ricky, Boden, Prilsa, Ester, Pina, Yola, Ayu, dkk. Terima kasih untuk dukungan
selama menjalani proses Tugas Akhir ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
sebab itu, kritik dan saran yang sifatnya m embangun sangat diharapkan untuk
kelengkapan dan terwujudnya kesempurnaan sebagaimana dimaksud.
Akhir kata, Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi
kesempurnaan penulisan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita
semua khususnya di lingkungan Departemen Arsitektur USU.
Hormat Penulis,
LEMBARAN PENGESAHAN
SURAT HASIL PENILAIAN PROYEK AKHIR (SHP2A)...i
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iv
DAFTAR GAMBAR...vii
DAFTAR TABEL...ix
ABSTRAK...x
BAB I PENDAHULUAN...1
I.1 Latar Belakang...1
I.2 Maksud dan Tujuan ...4
I.3 Masalah Perancangan ...4
I.4 Lingkup dan Batasan Proyek ...4
I.5 Kerangka Berpikir ...6
I.6 Sistematika Penulisan Laporan...7
BAB II DESKRIPSI PROYEK...8
II.1 Terminologi Judul ...8
II.2 Tinjauan Umum...9
II.2.1 Pusat Perbelanjaan ...9
II.3 Tinjauan Lokasi ...16
II.3.1 Kriteria Pemilihan Lokasi...16
II.3.2 Rencana Sistem Pusat Kegiatan...17
II.3.3 Deskripsi Kondisi Tapak Terpilih ...20
II.3.3.1 Analisa Penetapan Lokasi...20
II.3.3.2 Deskripsi Tapak ...23
II.4 Tinjauan Fungsi ...24
II.4.1 Deskripsi Pengguna dan Kegiatan ...24
II.4.2 Deskripsi Kebutuhan Ruang ...29
BAB III ELABORASI TEMA...36
III.3 Keterkaitan Tema dengan Judul ...43
III.4 Studi Banding Proyek Tema Sejenis ...43
III.4.1 Opera House, Sydney, Australia...43
III.4.2 Ex Plaza, Jakarta, Indonesia ...44
III.4.3 Museum of Fruit, Yamanshi, Jepang ...46
III.4.4 Dekanat F. N. G. Institut Seni Indonesia Yogyakarta ...47
BAB IV ANALISA ...48
IV.1 Analisa Fungsional ...48
IV.1.1 Analisa Studi Kelayakan...48
IV.1.2 Analisa Perkiraan Jumlah Pengunjung ...50
IV.1.3 Program Ruang ...51
IV.2 Analisa Lingkungan...56
IV.2.1 Eksisting ...56
IV.2.2 Tata Guna Lahan...57
IV.2.3 Generator Aktivitas...58
IV.2.4 Sirkulasi dan Pencapaian ...58
IV.3.8 View ke Luar ...68
IV.3.9 Skyline ...69
IV.3.10 Analisa Kompetitor ...70
BAB V KONSEP PERANCANGAN...71
V.1 Penerapan Tema Pada Bangunan ...71
V.2 Konsep Ruang Luar ...72
V.2.1 Konsep Zoning Site ...72
V.2.2 Konsep Entrance dan Sirkulasi Bangunan...73
V.2.3 Konsep Open Space ...74
V.3 Konsep Sirkulasi Ruang Dalam...76
V.3.1 Sirkulasi Horizontal ...76
V.3.2 Sirkulasi Vertikal ...76
V.4 Konsep Struktur Bangunan...77
V.4.1 Pondasi ...77
DAFTAR PUSTAKA...78
Gambar 1.1 Kerangka Berpikir...6
Gambar II.1 Peta Rencana Pembagian Sistem Pusat Kota...17
Gambar II.2 Rencana Pengembangan Fungsi Kegiatan Kota Binjai ...18
Gambar II.3 Rencana Pengembangan Fungsi Kegiatan Kota Binjai ...20
Gambar II.4 Lokasi A...20
Gambar II.5 Lokasi B ...21
Gambar II.6 Lokasi C ...21
Gambar II.7 Paris Van Java Mall ...34
Gambar II.8 Mall at Milenia...35
Gambar III.1 Sydney Opera House ...44
Gambar III.2 Bentuk Sydney Opera House ...44
Gambar III.3 Ex Plaza Jakarta ...45
Gambar III.4 Ex Plaza Jakarta ...45
Gambar III.5 Museum of Fruit ...46
Gambar III.6 Bentuk Museum of Fruit...47
Gambar IV.1 Eksisting...56
Gambar IV.2 Tata Guna Lahan...57
Gambar IV.3 Generator Aktivitas...58
Gambar IV.4 Sirkulasi dan Pencapaian ...59
Gambar IV.5 Pergerakan Matahari ...60
Gambar IV.6 Kebisingan ...62
Gambar IV.7 Vegetasi ...63
Gambar IV.8 Sirkulasi Pedestrian...64
Gambar IV.9 Sirkulasi Kendaraan ...65
Gambar IV.10 Keistimewaan Alami Tapak...66
Gambar IV.11 View ke Dalam ...67
Gambar IV.12 View ke Luar ...68
Gambar V.2 Konsep Zoning Site ...72
Gambar V.3 Konsep Entrance dan Sirkulasi Bangunan...73
Gambar V.4 Konsep Open Space ...74
Gambar V.5 View Bangunan...76
Tabel II.1 Tabel Kriteria Pemilihan Lokasi ...17
Tabel II.2 Fungsi Pengembangan tiap SPK di kota Binjai ...19
Tabel II.3 Penilaian Lokasi...28
Tabel II.4 Persyaratan dan Kriteria Ruang ...30
Tabel II.5 Standarisasi ukuran bak cuci kamar mandi...32
Tabel II.6 Tabel Perbandingan ...35
Tabel IV.1 Perkiraan Kebutuhan Fasilitas Menurut Jenisnya Di Kota Binjai Tahun 2008-2029 ...48
Tabel IV.2 Kebutuhan fasilitas skala kota ...49
Tabel IV.3 Program Ruang Fasilitas Publik ...51
Tabel IV.4 Program Ruang Fasilitas Berbelanja...51
Tabel IV.5 Program Ruang Fasilitas Rekreasi (Hiburan) ...53
Abstrak
Kota Binjai memiliki potensi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi khususnya di bidang perdagangan dan jasa. Hal ini dapat dilihat dari mulai munculnya bangunan-bangunan komersil seperti pusat perbelanjaan ( Binjai Super Mall, Ramayana dan Suzuya ), dan ruko. Pembangunan
Binjai Shopping Mall dimaksudkan agar merencanakan pusat perbelanjaan baru yang menyediakan kebuthan masyarakat di Kota Binjai dan juga merencanakan pusat perbelanjaan dengan pengolahan ruang yang optimal serta menciptakan suasana nyaman dan menyenangkan. Selain itu juga pembangunan
Binjai Shopping Mall dimaksudkan juga untuk melengkapi keberadaan mall di Kota Binjai dikarenakan berdasarkan hasil survey dirasa belum mencukupi karena belum adanya pusat perbelanjaan /mall di Binjai yang menyedikan barang barang yang lengkap, hal ini tidak diimbangi dengan antusias masyarakat Kota Binjai akan berbelanja. Fasilitas fasilitas yang terdapat di Binjai Shopping Mall ini antara lain meliputi Coffee shop dan Café untuk mendukung kegiatan berbelanja para pengunjung. Desain Bangunan Binjai
Shopping Mall dirancang dengan menganalogikan karakter fisik dari buah rambutan sebagai
identitas utama kota Binjai
Kata Kunci : Berbelanja, Binjai, Mall
Abstract
City of Binjai have a potential to increase economic growth, especially in the field of trade and services.It can be seen from appearance of the commercial building like the shopping center ( Binjai Super Mall, Ramayana and Suzuya ) Construction of Binjai Shopping Mall intended for planning new shopping centers that provide public kebuthan in Binjai and well planned shopping center with optimal processing space and create a comfortable and pleasant atmosphere. In addition, the construction of Binjai Shopping Mall is also intended to complement the mall in Binjai City is because according to the survey felt inadequate because of the lack of a shopping center / mall in Binjai provide goods are complete, this is not offset by an enthusiastic community Binjai will shop.The Facility that include in Binjai Shopping Mall including coffee shop and café to support the activities of shopping visitors. Shopping Mall Building Design Binjai designed to analogize the physical character of rambutan as the main identity Binjai city.
Abstrak
Kota Binjai memiliki potensi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi khususnya di bidang perdagangan dan jasa. Hal ini dapat dilihat dari mulai munculnya bangunan-bangunan komersil seperti pusat perbelanjaan ( Binjai Super Mall, Ramayana dan Suzuya ), dan ruko. Pembangunan
Binjai Shopping Mall dimaksudkan agar merencanakan pusat perbelanjaan baru yang menyediakan kebuthan masyarakat di Kota Binjai dan juga merencanakan pusat perbelanjaan dengan pengolahan ruang yang optimal serta menciptakan suasana nyaman dan menyenangkan. Selain itu juga pembangunan
Binjai Shopping Mall dimaksudkan juga untuk melengkapi keberadaan mall di Kota Binjai dikarenakan berdasarkan hasil survey dirasa belum mencukupi karena belum adanya pusat perbelanjaan /mall di Binjai yang menyedikan barang barang yang lengkap, hal ini tidak diimbangi dengan antusias masyarakat Kota Binjai akan berbelanja. Fasilitas fasilitas yang terdapat di Binjai Shopping Mall ini antara lain meliputi Coffee shop dan Café untuk mendukung kegiatan berbelanja para pengunjung. Desain Bangunan Binjai
Shopping Mall dirancang dengan menganalogikan karakter fisik dari buah rambutan sebagai
identitas utama kota Binjai
Kata Kunci : Berbelanja, Binjai, Mall
Abstract
City of Binjai have a potential to increase economic growth, especially in the field of trade and services.It can be seen from appearance of the commercial building like the shopping center ( Binjai Super Mall, Ramayana and Suzuya ) Construction of Binjai Shopping Mall intended for planning new shopping centers that provide public kebuthan in Binjai and well planned shopping center with optimal processing space and create a comfortable and pleasant atmosphere. In addition, the construction of Binjai Shopping Mall is also intended to complement the mall in Binjai City is because according to the survey felt inadequate because of the lack of a shopping center / mall in Binjai provide goods are complete, this is not offset by an enthusiastic community Binjai will shop.The Facility that include in Binjai Shopping Mall including coffee shop and café to support the activities of shopping visitors. Shopping Mall Building Design Binjai designed to analogize the physical character of rambutan as the main identity Binjai city.
BAB I
PENDAHULUAN
I.1.Latar Belakang
Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi yang memiliki laju pertumbuhan
ekonomi yang semakin maju di Indonesia. Di provinsi Sumatera Utara terdapat beberapa kota
yang dimana sektor-sektor perekonomian mulai mengalami laju pertumbuhan walaupun
masih mengalami fluktuasi.
Kota Binjai adalah salah satu kota besar di provinsi Sumatera Utara yang memiliki
jumlah sebanyak 248.456 jiwa pada tahun 2012. Adapun sektor-sektor perekonomian yang
menjadi andalan di kota ini adalah pertanian, pertambangan dan penggalian, industri
pengolahan, listrik gas dan air bersih, bangunan/konstruksi, perdagangan,hotel dan restoran,
pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa.
Dari data yang bersumber dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah
Sumatera utara ( Bappedasu ), permasalahan kota Binjai dalam bidang ekonomi adalah
keterbatasan dana pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan perkembangan
kota, sehingga perlu lebih dioptimalkan lagi peran swasta/investor dan bantuan lainnya.
Sehubungan dengan kota Medan yang sedang meningkatkan investasi, maka untuk
menarik investor, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, pemerintah menerapkan
berbagai strategi dalam mengembangkan serta mempromosikan kota, salah satu langkkah
tersebut adalah dengan perluasan area kota Medan dengan konsep MEBIDANGRO ( Medan,
Binjai, Deli Serdang, Tanah Karo ) sebagai satu kesatuan, sehingga pembangunan kota tidak
hanya terpusat pada pusat kota.
Proyeksi jumlah penduduk kota Binjai Tahun 2008-2029 terus bertambah, dari Kecamatan
Binjai Selatan, Kota, Timur, Utara, dan Binjai Barat.1
Dapat disimpulkan bahwa laju pertumbuhan penduduk dikota Binjai mengalami
peningkatan. Perkembangan penduduk yang tinggi menyebabkan tingginya tingkat
pertumbuhan kebutuhan akan fasilitas dan utilitas kota.
Kondisi perekonomian kota Binjai dilihat dari struktur PDRB riil kota Binjai yang
menunjukkan karakteristik sebagai berikut :2
1
a) Perekonomian kota Binjai mengandalkan sektor manufaktur sebagai andalan utama
b) Aktivitas perdagangan, perkantoran dan sosial masyarakat merupakan andalan berikutnya.
Kota Binjai memiliki potensi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi khususnya
di bidang perdagangan dan jasa. Hal ini dapat dilihat dari mulai munculnya
bangunan-bangunan komersil seperti pusat perbelanjaan ( Binjai Super Mall, Ramayana dan Suzuya ),
dan ruko.
3
Struktur ekonomi suatu wilayah dapat dilihat dari besarnya persentase nilai bruto dari
masing-masing sektor perekonomian yang ada terhadap nilai Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB). Semakin besar persentase suatu sektor maka semakin besar pula pengaruh
sektor tersebut didalam mempengaruhi perkembangan ekonomi suatu daerah, dengan cara
mengelompokkan sembilan sektor ekonomi menjadi 3 (tiga), yaitu :
1. Sektor primer ( pertanian, pertambangan dan penggalian )
2. Sektor sekunder ( industri, listrik, gas dan air bersih, konstruksi )
3. Sektor tersier ( perdagangan, hotel dan restoran, komunikasi, lembaga keuangan,
persewaan, jasa perusahaan, jasa-jasa )
4
Perkembangan perekonomian kota Binjai semenjak 2001-2006 bertumpu pada sektor tersier
dengan kontribusi 53,42 %. Sektor tersier yang mempunyai kontribusi paling besar terutama
dari sektor perdagangan, hotel dan restoran.
Penggunaan lahan untuk aktivitas perdagangan meliputi :
a. Pasar
Penggunaan lahan untuk pasar selama ini menimbulkan berbagai permasalahan di kota
Binjai. Letaknya yang umumnya berorientasi ke jalan utama serta image yang berkonotasi
negatif memberikan pengaruh eksternalitas negatif bagi fungsi-fungsi lain.
Pasar sebaiknya terintegrasi dengan halte dan stasiun bagi transportasi massal serta
berada di kawasan sub pusat kota dan pertemuan antara jalan arteri radial dan konsentris
serta pertemuan jalan arteri dan kolektor. Lokasi pasar harus berorientasi kedalam blok,
bukan ke jalan utama dengan menyediakan ruang terbuka untuk pedagang kaki lima
secara terbatas dan teratur.
b. Pusat perbelanjaan (mall)
3
Bab 4 Bantek Pelaksanaan Penataan Ruang Kota Binjai Provinsi Sumatera Utara; struktur ekonomi kota Binjai 4
Jumlah mall di kota Binjai berada di pusat kota, khususnya di Jalan Soekarno-Hatta, Jalan
Sutomo, dan Jalan Sudirman. Untuk keberadaan mall yang ada di kota Binjai berdasarkan
hasil survey dirasa belum mencukupi karena belum adanya pusat perbelanjaan/mall di
Binjai yang menyediakan barang-barang yang lengkap. Hal ini tidak diimbangi dengan
antusias masyarakat kota Binjai akan berbelanja, untuk itulah diperlukan sebuah pusat
perbelanjaan yang menyediakan fasilitas lebih lengkap daripada pusat perbelanjaan/mall
sebelumnya.
Berdasarkan masalah dan kondisi pusat perekonomian/mall yang ada di kota Binjai,
maka diperlukan suatu pusat perbelanjaan/mall di kota Binjai guna meningkatkan kualitas
perekonomian kota dan menciptakan pemerataan penduduk di provinsi Sumatera Utara agar
tidak terjadi penumpukan jumlah penduduk di satu kota saja yang disebabkan pembangunan
yang hanya terpusat pada pusat kota.
Faktanya bahwa mall dapat memberikan beberapa kontribusi positif terhadap negara ini. Kita
lihat beberapa diantaranya :5
a. Mall memberikan peningkatan pendapatan negara dalam bentuk pajak, karena adanya
aktivitas ekonomi disitu. Aktivitas ekonomi yang terjadi juga bukanlah main-main karena
faktor penggerak transaksi kaum urban yang datang ke mall sudah tentu didominasi
kalangan menengah ke atas. Sejatinya mereka bisa mengeluarkan lebih dari 100rb rupiah
untuk setiap kedatangan mereka ke pusat perbelanjaan (akumulasi dari parkir, belanja,
makan dan minum, atau kegiatan lain seperti nonton bioskop). Ini adalah hal yang sangat
menggiurkan terutama untuk pemerintah kita sebagai pendapatan negara. Meningkatnya
jumlah orang kaya di tahun 2010 ini dan memboomingnya industri kreatif dapat turut
mendongkrak psikologis manusia untuk berbelanja. Berbelanja hal-hal yang mungkin
tidak terlalu mereka butuhkan.
b. Mall adalah sebuah lambang pengakuan. Pengakuan dari pihak-pihak; terutama tenant
(terlebih jika tenant berasal dari luar negeri) bahwa iklim investasi di Indonesia baik.
Menurut indeks investasi dunia, Indonesia masuk dalam peringkat 17 negara yang dapat
dijadikan tempat berinvestati. Menyusul kenaikan harga IHSG yang nyaris menembus
angka 3000, adalah indikasi-indikasi lain yang menunjukkan bahwa secara makro, negara
ini memiliki fundamental ekonomi yang kuat.
Dari pernyataan diatas, maka direncanakanlah proyek pembangunan pusat
perbelanjaan/mall, yang perlu dibangun di kota Binjai dengan menerapkan pendekatan desain
baru di kota Binjai berupa pusat perbelanjaan dengan konsep terbuka, maka masyarakat kota
Binjai juga dapat menjangkau dan mulai merasakan gaya hidup perkotaan yang mulai
berkembang.
Maka, pusat perbelanjaan/mall sangat pantas dibangun di kota Binjai sebagai
penggerak pusat perbelanjaan baru dengan konsep yang belum pernah ada sebelumnya.
1.2.Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari perencanaan proyek ini adalah :
a. Merencanakan pusat perbelanjaan baru yang menyediakan kebutuhan masyarakat di kota
Binjai.
b. Merencanakan pusat perbelanjaan dengan pengolahan ruang yang optimal serta
menciptakan suasana nyaman dan menyenangkan.
1.3.Masalah Perancangan
Adapun rumusan masalah dalam perancangan adalah :
a. Lokasi yang sesuai untuk dapat mewujudkan rancangan bangunan yang memuat
kegiatan-kegiatan yang diinginkan
b. Pencapaian yang mudah menuju ke lokasi perancangan
c. Merancang bangunan tanpa merusak ekosistem dan lingkungan disekitar
d. Menyesuaikan rancangan dengan iklim di kawasan perancangan
e. Perancangan fisik bangunan secara arsitektural yang dapat memberi kenyamanan
kepada pengunjung dari berbagai kalangan umur, status sosial, dan ekonomi
1.4.Lingkup dan Batasan Proyek
Lingkup kajian dalam studi kasus adalah perencanaan mall. Sedangkan pembahasan akan dibatasi dari berbagai aspek berikut :
a. Fungsi
Batasan fungsi adalah kegiatan yang akan dilangsungkan dalam bangunan, yaitu
kegiatan berbelanja, kuliner, kegiatan hiburan, dan kegiatan pengelola bangunan
Batasan arsitektural yaitu batasan nilai-nilai arsitektur yang akan dibahas nantinya
antara lain :
Bentuk dan ruang, bagaimana gubahan massa, penataan ruang luar dan dalam,
serta massa untuk fasilitas pendukung / penunjang,
1.5.Kerangka Berfikir
Gambar 1.1 Kerangka Berpikir Data Perencanaan:
Perkembangan kota Binjai yang pesat belum diimbangi dengan fasilitas yang menyediakan kebutuhan sehari-hari Tingkat kebutuhan masyarakat kota Binjai terhadapa pusat perbelanjaan cukup tinggi
Perlunya suatu fasilitas sebagai penggerak pusat perbelanjaan baru di kota Binjai
Maksud dan Tujuan
Menyediakan pusat perbelanjaan baru yang menyediakan kebutuhan masyarakat kota Binjai Menciptakan pusat perbelanjaan dengan pengolahan ruang yang optimal
Sebagai alternatif tempat rekreasi
Judul dan Tema Proyek
Judul Perancangan: Binjai Shopping Mall Tema Perancangan: Arsitektur Metafora
Perumusan Masalah
Lokasi yang sesuai untuk dapat mewujudkan rancangan Pencapaian yang mudah untuk mencapai ke lokasi Merancang bangunan tanpa merusak ekosistem Menyesuaikan rancangan dengan iklim Perancangan fisik bangunan secara arsitektural
Analisa
Analisa kondisi tapak
1.6.Sistematika Penulisan Laporan
Sistematika pembahasan ini meliputi bagian sebagai berikut:
BAB I. Pendahuluan
Menjelaskan secara garis besar apa yang menjadi dasar perumusan perancangan yang
meliputi: latar belakang, maksud dan tujuan pembahasan, sasaran, pendekatan, batasan
masalah, kerangka berpikir dan sistematika pembahasan.
BAB II. Deskripsi Proyek
Berisi terminologi judul, alternatif lokasi, pemilihan lokasi, deskripsi kondisi eksisting, luas
lahan, peraturan dan keistimewaan lahan, tinjauan fungsi dan studi banding arsitektur dengan
fungsi sejenis.
BAB III. Elaborasi tema
Menjelaskan tentang pengertian tema yang diambil, interpretasi tema, keterkaitan tema
dengan judul dan studi banding arsitektur dengan tema sejenis.
BAB IV. Analisa
Berisi analisa kondisi tapak dan lingkungan, analisa fungsional, analisa teknologi, analisa dan
penerapan tema dan kesimpulan.
BAB V. Konsep Perancangan
Berisi konsep penerapan hasil analisis komprehensif yang digunakan sebagai alternatif
pemecahan masalah.
BAB VI. Hasil Perancangan
Merupakan hasil gambar rancangan arsitektur dan maket
Daftar Pustaka
Berisi daftar pustaka yang digunakan sebagai literatur selama proses perencanaan dan
BAB II
DESKRIPSI PROYEK
II.1.Terminologi Judul
Judul dari proyek ini adalan “Binjai Shopping Mall”. Berikut ini merupakan
penjelasan terhadap judul kasus proyek tersebut :
Binjai, adalah salah satu kota ( dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya ) dalam
wilayah provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Binjai terletak 22 km di sebelah Barat
ibukota provinsi Sumatera Utara, Medan.
Shopping, berasal dari bahasa Inggris yaitu shop yang artinya toko/retail, dengan
penambahan (ing) sehingga artinya menjadi berbelanja atau membeli sesuatu yang dibutuhkan/diinginkan. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia belanja berarti uang yang
akan dikeluarkan untuk keperluan sesuatu. Sedangkan secara harfiah, belanja adalah
suatu kegiatan membeli sesuatu untuk kebutuhan hidup yang mencakup kebutuhan
primer, sekunder, dan tersier
Mall, adalah jenis dari pusat perbelanjaan yang secara arsitektur berupa bangunan
tertutup dengan suhu yang diatur dan memiliki jalur untuk berjalan-jalan yang teratur
sehingga berada diantara toko-toko kecil yang saling berhadapan6. Karena bentuk
arsitektur bangunannya yang melebar (luas), umumnya sebuah mall memiliki tinggi
tiga lantai.
Berdasarkan batasan pengertian diatas, diambil kesimpulan bahwa Binjai Shopping Mall adalah sebuah pusat perbelanjaan yang mencakup banyak kegiatan baik berbelanja, berjalan-jalan, berkumpul, makan, maupun rekreasi yang berada di kota Binjai.
6
II.2.Tinjauan Umum
Pada sub bab ini akan dibahas mengenai fungsi-fungsi apa saja yang akan
dimiliki oleh Binjai Shopping Mall ini.
II.2.1. Pusat Perbelanjaan
Keberadaan sebuah tempat perbelanjaan dalam suatu kota selalu menjadi tempat yang
menarik dan mudah diingat karena termasuk tempat yang dikunjungi oleh warga kota
tersebut. Istilah pusat perbelanjaan memiliki beberapa pengertian, diantaranya adalah :
a. Bentuk usaha perdagangan individual yang dilakukan secara bersama melalui
penyatuan modal dengan tujuan efektivitas komersial ( Beddington, Design For Shopping Centre )
b. Suatu tempat kegiatan pertukaran dan distribusi barang/jasa yang bercirikan
komersial, melibatkan perencanaan dan perancangan yang matang karena bertujuan
untuk memperoleh keuntungan ( profit ) sebanyak-banyaknya ( Gruen, Centers for the
Urban Environment, Survival of the Cities )
c. Kompleks perbelanjaan terencana, dengan pengelolaan yang bersifat terpusat, dengan
sistem menyewakan unit-unit kepada pedagang individu, sedangkan pengawasannya
dilakukan oleh pengelola yang bertanggung jawab secara menyeluruh ( Beddington, Design For Shopping Centre )
d. Sekelompok kesatuan pusat perdagangan yang dibangun dan didirikan pada sebuah
lokasi yang direncanakan, dikembangkan, dimulai, dan diatur menjadi sebuah
kesatuan operasi, berhubungan dengan lokasi, ukuran, tipe toko, dan area
perbelanjaan dari unit tersebut.
e. Suatu wadah dalam masyarakat yang menghidupkan kota atau lingkungan setempat.
Selain berfungsi sebagai tempat untuk kegiatan berbelanja atau transaksi jual beli,
juga berfungsi sebagai tempat untuk berkumpul atau rekreasi
A. Klasifikasi Pusat Perbelanjaan 1. Berdasarkan fungsi dan kegiatan
a. Pusat perbelanjaan murni
Pusat perbelanjaan yang berfungsi sebagai tempat berbelanja dan sebagai
tempat pertemuan masyarakat ( community center ) untuk segala urusan, baik
b. Pusat perbelanjaan multi fungsi
Fungsi sebagai pusat perbelanjaan dicampur dengan fungsi lain yang berbeda
namun saling menunjang dan meningkatkan nilai komersialnya.
2. Berdasarkan lokasi
a. Pasar ( market )
Merupakan kelompok fasilitas perbelanjaan sederhana ( toko, kios, dan
sebagainya ) yang berada di suatu area tertentu pada suatu wilayah. Fasilitas
perbelanjaan ini dapat bersifat terbuka ataupun berada didalam bangunan,
biasanya berada dekat kawasan permukiman, merupakan fasilitas perbelanjaan
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat di sekitarnya.
o Klasifikasi pasar :
Pasar tradisional
Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli
serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara
langsung dan biasanya ada proses tawar-mmenawar, bangunan
biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, dan dasaran terbuka yang
dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar
Pasar modern
Pasar modern tidak banyak berbeda dari pasar tradisional, namum
pasar jenis ini penjual dan pembeli tidak bertransaksi secara langsung
melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (
barcode ), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara
mandiri atau dilayani oleh pramuniaga. Barang-barang yang dijual,
selain bahan makanan, sebagian besar barang lainnya yang dijual
adalah barang yang dapat bertahan lama
b. Shopping street
Merupakan kelompok sarana perbelanjaan yang terdiri dari deretan toko atau
kios terbuka pada suatu penggal jalan. Area perbelanjaan ini merupakan jenis
Jenis perbelanjaan semacam ini biasanya berkembang di kawasan-kawasan
wisata atau kawasan pertokoan.
c. Shopping precint
Merupakan kompleks pertokoan terbuka yang menghadap pada suatu ruang
terbuka yang bebas. Perbelanjaan ini biasanya tumbuh didekat obyek atau
kawasan wisata.
d. Shopping Arcade
Merupakan pusat perbelanjaan dimana terdapat retail atau toko, baik di kedua
sisi ataupun satu sisi dengan naungan atau atap yang transparan sehingga
menimbulkan suasana gang atau koridor didalamnya. Dan juga restoran pada
shopping arcade biasanya mengambil jalan pada arcade sebagai area ruang
makannya dengan meletakkan meja makan dan kursi.
e. Shopping center7
Shopping Center sebagai suatu sarana perdagangan terdiri dari berbagai jenis.
Bila dilihat dari segi tata bahasa, pengertian pusat perbelanjaan dapat
diuraikan sebagai berikut :
a. Center (Pusat) :
1) Sebuah titik dimana perhatian orang diarahkan.(Oxford
Advanced Learner’s Dictionary)
2) Sebuah tempat dimana aktifitas-aktifitas tertentu
dikonsentrasikan.(Oxford Advanced Learner’s Dictionary)
3) Tempat yang berada ditengah-tengah /mengumpul pada suatu
dimana segala sesuatu dipusatkan pada tempat tersebut.
b. Shopping (Perbelanjaan) :
suatu wadah yang menampung kelompok-kelompok dagang dalam
melakukan kegiatan jual beli, penyaluran, pertukaran, dan pertemuan antara
persediaan dan penawaran barang dan saja suatu sistem manajemen yang
terencana. (menurut Clivi Darlow dalam endelosed shopping centers).
c. Shopping Center :
1) Adalah suatu kumpulan toko-toko eceran dalam suatu kelompok
yang sedikit banyak ada hubungannya satu sama lain disuatu tempat biasanya
diciptakan oleh seorang pembangun, yang kemudian menyewakan toko-toko
itu kepada orang lain, seringkali persetujuan sewa menyewa itu menetapkan
bahwa hanya terdapat satu toko dari jenis dalam pusat perbelanjaan tersebut,
bahwa masing masing toko itu akan penjualannya, dan lain-lain.(menurut Drs.
Abdul rahman dalam ensiklopedia ekonomi keuangan perdagangan)
2) Adalah sebagai suatu kesatuan bangunan komersil yang dibangun
dan didirikan pada suatu lokasi yang direncanakan, dikembangkan, dimulai
dan diatur menjadi sebuah kesatuan operasi yang berhubungan dengan lokasi,
ukuran, tipe toko dan area perbelanjaan dari unit tersebut. Unit ini juga
menyediakan temat parkir yang dibuat menurut tipe dan ukuran total dari
toko-toko.(menurut urban institute).
f. Department store
Merupakan wadah perdagangan eceran besar dari berbagai jenis barang yang
berada dibawah satu atap. Pada perbelanjaan ini transaksi masih menggunakan
tenaga pelayan untuk membantu konsumen memilih dan mencari benda yang
dikehendaki. Penataan barang-barangnya memiliki tata letak khusus yang
memudahkan sirkulasi dan mencapai kejelasan akses.
g. Supermarket
Merupakan toko yang menjual barang kebutuhan sehari-hari dengan cara
pelayanan mandiri ( self service ). Pemilihan dan pencarian produk dilakukan
secara mandiri oleh konsumen. Pelayan hanya digunakan untuk membantu
proses pembayaran. Jumlah bahan makanan yang dijual pada toko jenis ini
h. Shopping mall8
Merupakan pengembangan dari pusat perbelanjaan yang dipadukan dengan
sarana rekreasi dan hiburan. Dan umumnya bentuknya berupa selasar yang
panjang. Barang yang diperdagangkan adalah barang kebutuhan sehari-hari
sampai kebutuhan khusus.
a) Tipe-tipe pusat perbelanjaan dan hiburan ( Mall )
Tipe mall digolongkan dalam 3 (tiga) bagian yaitu 6) :
(1) Mall terbuka ( The Open Centre )
Awalnya berkembang di Eropa, daya tarik dari tipe mall ini terletak pada
facade bangunan yang mengapit jalur pedestrian.
Mall tipe ini juga memberikan kesan alami, hal ini terlihat pada arcade seperti
pohon, semak-semak, bungan dan kursi taman.
Tipe mall ini juga mempunyai kelemahan, utamanya bagi negara yang
memiliki 4 (empat) musim. Yaitu adanya hambatan dari iklim, sehingga
kegiatan perbelanjaan tidak dapat berlangsung sepanjang tahun.
Mall terbuka dapat dibedakan lagi atas 3 (tiga) jenis, yaitu Full Mall, Transit
Mall dan Semi Mall.
(a) Full Mall
Full Mall dihasilkan oleh jalan yang tertutup yang dulunya
digunakan oleh lalu-lintas kendaraan dan kemudian
mengembangkan pedestrian atau plaza dengan paving,
pohon-pohon, tempat duduk, penerangan dan kenyamanan-
kenyamanan lainnya seperti sculpture dan batu-batuan.
(b) Transit Mall
Transit Mall dikembangkan dari pemindahan lalu-lintas automobil dan
truk pada site jalan dan hanya membiarkan lalu-lintas publik seperti
bus dan taxi. Parkir pada jalan dilarang, jalur pejalan kaki diperlebar
dan asesories lainnya ditambahkan.
(c) Semi Mall
Pada Semi Mall jumlah lalu-lintas dan parkir dikurangi.
Pengembangan area pedestrian yang akan dihasilkan akan dilengkapi
dengan pepohonan, tempat duduk, penerangan dan asesories lainnya.
(2). Mall Tertutup ( The Closed Mall Centre )
Mall tertutup memiliki konsep yang lengkap dimana penjual dan pembeli
terlindung dalam satu area tertutup (bangunan) dan tempat pengaturan
pengkondisian ruang, sehingga kegiatan jual beli dapat berlangsung sepanjang
tahun.
Mall tertutup dapat menjadi community centre bagi kegiatan sosial seperti
kegiatan promosi, eksebisi, sekedar tempat berjalan-jalan dan lain-lainnya.
Pada dasarnya Mall Tertutup menerapkan konsep mall kedalam bangunan.
Konsep ini door street ini diterapkan secara konsekuen, sehingga
elemen-elemen luar dan elemen-elemen jalan seperti lampu-lampu jalan hadir secara nyata
dalam mall tertutup.
Selain terdapat pengaturan pengkondisian ruang, jenis mall ini juga
menggunakan pecahan buatan (artifical lighting) untuk membantu
menciptakan suasana yang diinginkan, tetapi ada juga yang menggunakan
skylight sebagai salah satu elemen utama mall.
Dalam merencanakan Mall tertutup, terdapat beberapa faktor yang harus
diperhatikan, yaitu :
(a) Magnet/Anchor
Dalam menghidupkan susana dan minat pengunjung, maka suatu
perbelanjaan haruslah dibuat unsur penarik yang disebut magnet atau
anchor. Magnet tersebut dapat berupa supermarket atau fasilitas
rekreasi lainnya seperti cineplex, food court/restorant, playground.
Penempatan dari magnet ini dapat bermacam-macam.
mall menjadi daerah pergerakan aktivitas yang tinggi sehingga tidak
ada retail shop yang tidak dilalui oleh pengunjung.
(b) Tenant Mix
Pengaturan dari pihak-pihak penyewa yang akan menempati
retail-retail shop dan anchor, ditempatkan sesuai dengan tingkat ekonomi
mayoritas pengunjung dan selera dari pengunjung.
Pengaturan dan penempatan jenis-jenis retail tersebut harus sesuai
dengan penempatannya, sehingga antara retail yang satu dengan yang
lainnya tidak saling mengganggu.
Perbandingan jumlah antara anchor dan retail-retail tersebut adalah 40
: 60. Hal ini dipertimbangkan dari infestasi dan pengambilan modal.
(c) Desain Kriteria
Dalam perencanaan suatu mall haruslah terdapat kriteria-kriteria
tertentu bagi para penyewa dalam mengatur retail yang disewanya,
agar dapat membentuk satu kesatuan dengan retail-retail lainnya.
Juga haruslah memperhatikan orientasi mall kedalam dan tidak banyak
bukaan-bukaannya.
Perencanaan suatu mall harus memperlihatkan kesan santai atau rilex,
menyenangkan dan mudah dilalui juga harus diperhatikan pintu masuk
yang jelas dan pintu keluar dari unit utamanya. Lay Out dari mall
dibuat secara sederhana, mudah diidentifikasikan serta tidak
membosankan.
(3) Gabungan Mall Terbuka dan Tertutup (The Composite Mall Centere).
Merupakan mall yang sebagian terbuka atau sebagian tertutup maksudnya
yaitu bahwa selasar disepanjang arcade toko-toko ditutup oleh atap tembus
pandang dan ada atap penghubung antara toko-toko yang saling berhadapan.
Sehingga tidak semua pedestrian mall perlu ditutup. Hal ini untuk
mengantisipasi keadaan dimusim dingin.
Unsur-unsur Pembentuk Lay Out Pusat Perbelanjaan dan Hiburan
Paths adalah jalur sirkulasi atau jalur pergerakan manusia.
Contohnya jalan, pedesterian, dan jalur kereta.
Paths juga berfunsi sebagai penghubung antara beberapa node.
Nodes
Nodes adalah pusat dari aktifitas. Baik berupa pertemuan dari paths maupun
persilangan dari beberapa paths, atau menunjukkan pada suatu konsentrasi
tertentu seperti plaza.
Yang dimaksud dengan Nodes pada bangunan mall adalah anchor tenant
(penyewa utama) yang menjadi daya tarik pada konsumen. Perletakan nodes
disetiap pengakhiran poreder yang terdapat disetiap lantai suatu mall. Jarak
maksimal antara magnet tersebut disetiap lantainya maksimum 200 meter,
sedangkan jarak optimumnya 180 meter.
II.3.Tinjauan Lokasi
II.3.1. Kriteria Pemilihan Lokasi
Pemilihan lokasi yang tepat merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dari
hampir semua proyek arsitektur. Untuk memilih lokasi yang akan dijadikan tempat
pelaksanaan proyek ini, maka penting terlebih dahulu dibuat kriteria-kriteria pemilihan
lokasi.
No. Kriteria Lokasi
1 Tinjauan terhadap struktur
kota
Tapak harus berada pada wilayah RUTRK yang tata
guna lahannya diperuntukkan daerah perdagangan dan
jasa
2 Pencapaian Lokasi harus terletak pada daerah yang mudah dicapai
oleh kendaraan pribadi, kendaraan umum, ataupun
pejalan kaki
3 Area pelayanan Area disekitar site hendaknya merupakan
fungsi-fungsi yang dapat saling mendukung dengan
bangunan yang direncanakan atau di sekitar sarana
prasarana yang membutuhkan jasa/pelayanan yang
penduduk, terminal, dan pusat komersil lainnya
4 Kemudahan entrance Entrance yang dipilih sebagai jalur menuju dan keluar
tapak harus mudah diakses oleh pengelola, penyewa,
pengguna fasilitas, dan pengunjung
Tabel II.1 Kriteria Pemilihan Lokasi
II.3.2. Rencana Sistem Pusat Kegiatan9
Fungsi dan peranan kawasan-kawasan di kota Binjai dapat dilihat dari pembentukan
pusat-pusat pertumbuhan eksisting saat ini, yaitu terbentuknya Kota Binjai dan pusat-pusat
SPK sebagai sub pusat kota.
Pengembangan pelayanan kegiatan perkotaan kota Binjai akan dibagi di tiap bagian
wilayah kota ( SPK ) sesuai dengan arahan fungsi pengembangannya masing-masing :
Pusat kota, dengan skala pelayanan kota dan regional ( pusat primer ). Pusat kota yang ada saat ini di Binjai, dengan fungsi pengembangan sebagai pusat perdagangan dan jasa
Subpusat pelayanan kota ( SPK ), dengan skala pelayanan bagian wilayah kota yang mencakup beberapa kelurahan, baik yang berada pada kecamatan yang sama maupun di
beberapa kecamatan yang berbatasan
Gambar II.1 Peta Rencana Pembagian Sistem Pusat Kota
Pengembangan pusat-pusat kota Binjai adalah :
1. Pusat kota Binjai yang merupakan pusat pengembangan utama dengan orientasi kegiatan
berupa pusat perdagangan dan jasa.
2. SPK Binjai Timur (SPK-B) dengan orientasi kegiatan sebagai pusat administrasi
pemerintahan, sebagai pintu masuk mobilitas penduduk dari luar wilayah, pengembangan
permukiman skala besar.
3. SPK Binjai Utara (SPK-A) sebagai pusat pengembangan kegiatan industri, dan sebagai
Kawasn pertambangan minyak.
4. SPK Binjai Barat (SPK-D) sebagai pintu masuk mobilitas penduduk dari luar wilayah,
pengembangan pemukiman skala besar.
5. SPK Binjai Selatan (SPK-E dan SPK-F) sebagai pusat pengembangan kegiatan wisata,
perkebunan, dan jasa lingkungan.
Gambar II.2 Rencana Pengembangan Fungsi Kegiatan Kota Binjai
No. SPK Kelurahan Luas SPK
2.359,12 Kelurahan kebun lada - perumahan
- industri & pergudangan - minyak dan gas
Tabel II.2 Fungsi Pengembangan tiap SPK di kota Binjai
217 Kelurahan tunggurono - perumahan skala besar - pusat pemerintahan - perdagangan dan jasa - TPA
- kawasan militer
- kegiatan transportasi ( terminal terpadu )
412 Kelurahan binjai - perumahan
- pusat perdagangan dan jasa
4 D Kel. Bandar senembah
1.086 Kelurahan bandar sinembah
- perumahan
- perdagangan dan jasa
5 E Kel. Tanah merah Kel. Bhakti karya Kel. Binjai estate
2.996 Kelurahan bhakti karya
Gambar II.3 Rencana Pengembangan Fungsi Kegiatan Kota Binjai
II.3.3. Deskripsi Kondisi Tapak Terpilih II.3.3.1. Analisis Penetapan Lokasi
Pusat perbelanjaan merupakan bangunan komersil yang lebih mengarah kepada
kegiatan untuk berbelanja atau berdagang dan rekreasi. Untuk itu dibutuhkan pilihan lokasi
yang tepat untuk menjamin kelancaran aktivitas didalam bangunan tersebut.
Berdasarkan kriteria pemilihan lokasi diatas, maka diputuskan untuk memilih tiga
alternatif lokasi di kota Binjai yang cocok untuk perancangan proyek ini.
a. Lokasi A
Lokasi : Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Binjai Kota
Luas Lahan : ± 1,3 Ha
Fasilitas pendukung : pemukiman, perkantoran, pertokoan
b. Lokasi B
Gambar II.5 Lokasi B
Lokasi : Jalan Tengku Amir Hamzah, Kecamatan Binjai
Utara
Luas lahan : ± 1,1 Ha
Fasilitas pendukung : pemukiman, pertokoan
c. Lokasi C
Lokasi : Jalan Letnan Umar Beki, Kecamatan Binjai
Kota
Luas lahan : ± 1,1 Ha
Fasilitas pendukung : pemukiman, perkantoran
Dari ketiga alternatif lokasi yang ada, maka setiap lokasi akan dinilai berdasarkan kriteria
yang sudah disebutkan diatas ;
Aspek Lokasi A Lokasi B Lokasi C
Posisi site Pusat kota
(5)
Ketersesuaian
Utilitas Tersedia dengan baik
(5)
Tersedia dengan baik
(5)
Tersedia dengan baik
(5)
Loading dock Terdapat jalan alternatif
Tabel II.3 penilaian lokasi
Dari penilaian beberapa kriteria-kriteria dan analisa diatas serta memenuhi
persyaratan, maka terpilihlah lokasi A yaitu di Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Binjai Kota.
II.3.3.2. Deskripsi Tapak
Kasus proyek : Binjai Shopping Mall
Status proyek : fiktif
Pemilik proyek : swasta
Lokasi lahan : Jl. Gatot Subroto, Kecamatan Binjai Kota
Batas utara : pendopo umar baki
Batas selatan : pemukiman penduduk
Batas barat : Sungai Binge
Batas timur : pertokoan
Luas lahan : ± 1,3 Ha
Potensi lahan :
Terletak di pusat kota Binjai
Berada pada kawasan perdagangan dan jasa
Transportasi lancar dan baik dengan adanya jalan raya yang lebar dan tidak macet
Berada dekat dengan permukiman, pertokoan, dan perkantoran
untuk menarik pengunjung
Luas tapak ....
II.4.Tinjauan Fungsi
II.4.1. Deskripsi Pengguna dan Kegiatan
Pengguna kegiatan dalam Binjai Shopping Mall terdiri atas pengunjung,
penyewa, pengelola, dan servis.
Pengunjung adalah pihak yang melakukan kunjungan ke Binjai Shopping Mall, yang
Berdasarkan golongan :
- Masyarakat berpenghasilan menengah
- Masyarakat berpenghasilan cukup
Berdasarkan asal-usul
- Pengunjung yang datang dari kota Binjai dan sekitarnya
- Pengunjung yang datang dari luar kota Binjai
Berdasarkan klasifikasi umur :
- Anak-anak ( usia 5-13 tahun )
- Remaja ( usia 14-24 tahun )
- Dewasa ( usia 25-45 tahun )
- Lanjut usia
Berdasarkan motivasi atau tujuan :
- Pengunjung untuk berbelanja
- Pengunjung hanya untuk berjalan jalan
Penyewa
Penyewa adalah pihak yang menyewa retail-retail yang terdapat dalam bangunan untuk
menjual barang dan jasa mereka kepada pengunjung yang datang
Pengelola
Pengelola adalah pihak yang melakukan pengelolaan kegiatan administrasi dan
operasional yang dibedakan dalam 2 tingkatan, yaitu :
- Pimpinan, terdiri dari direktur dan wakil direktur. Direktur ini dibantu oleh sekretaris yang bertanggung jawab langsung kepada direktur
- Kepala bagian, terdiri dari kabag operasional, keuangan, pemasaran, keamanan, pemeliharaan, dan perawatan gedung
- Servis
Servis adalah pihak yang melakukan kegiatan pelayanan bangunan seperti masalah teknis,
Berdasarkan pelaku kegiatan, maka kegiatan yang dilakukan adalah :
1. Kegiatan pengunjung, aktivitas umum yang dilakukan pengunjung adalah :
o Berbelanja
o Melihat pertunjukan yang diberikan oleh pihak pengelola
o Jalan-jalan / cuci mata
o Makan / minum
o Melakukan kegiatan permainan
o Menggunakan fasilitas penunjang yang ada di shopping arcade
2. Kegiatan pengelola, aktivitas yang dilakukan oleh pengelola adalah :
o Mengelola dan mengatur jalannya operasional bangunan
o Melayani kebutuhan para konsumen
o Persiapan peralatan dan tempat sebelum kegiatan pertunjukkan
o Memberikan informasi singkat
o Melakukan kegiatan administrasi
o Penyelenggaraan kegiatan penunjang ( bisa saja bekerjasama dengan badan lain yang
bersangkutan )
o Mengadakan publikasi
3. Kegiatan servis, aktivitas yang dilakukan adalah :
o Membersihkan setiap ruangan
o Melakukan perawatan dan perbaikan terhadap bangunan dan peralatan-peralatan yang
ada didalamnya
o Mengurus loading dock
o mengurus utilitas bangunan
o menjaga keamanan
Fungsi Fasilitas Pemakai Kegiatan Kebutuhan
ruang Fasilitas
perbelanjaan
Book store Pengelola Mengatur
pembeli,
Pertokoan/retail Penyewa Mengatur
penjualan,
Game center Pengelola Administrasi,
mengontrol
Cafe Pengelola Administrasi,
mengontrol,
Restoran Pengelola Administrasi,
mengontrol
R.pengelola
Toilet
Pengelola utama Administrasi, isoma
R.pimpinan
R.wakil
Karyawan Administrasi R.manager
R.sekretaris
Toilet umum Penyewa,
karyawan,
Wudhu, sholat R.sholat
Tempat
wudhu
Keamanan Petugas Menjaga
keamanan, menindak kriminal, istirahat
Pos jaga
Utilitas Karyawan Mengawasi alat
bekerja,
Pergudangan Karyawan Mengontrol,
servis,
Mall Pengunjung Duduk,
mencari
Pengunjung Parkir mobil dan
motor
R.parkir
pengunjung
II.4.2. Deskripsi Kebutuhan Ruang 1. Fasilitas utama
A. Fasilitas perbelanjaan
o Supermarket
o Men’s and ladies’ fashion
o Sportwear equipment
o Bookstore
o Retail
2. Fasilitas pendukung
o Food court, cafe, restoran
o Mini timezone
3. Fasilitas pelengkap
o Open space, yaitu ruang terbuka seperti pedestrian, taman, dan sebagainya
II.4.3. Deskripsi Persyaratan Ruang dan Kriteria Ruang
Fungsi Kelompok fungsi Kebutuhan ruang Persyaratan
Shopping arcade Utama Kantor pengelola Mudah dalam
pencapaian
Hall Cukup luas
Restoran Memerlukan view
yang bagus
Cafe Memerlukan view
yang bagus, suasana tenang
Supermarket Disesuaikan dengan
modul struktur
Food court Memerlukan view
yang bagus, suasana tenang
Retail Disesuaikan dengan
modul struktur
Musholla Nyaman, tenang
Area parkir Kemudahan
pencapaian
Tabel II.4 Persyaratan dan Kriteria Ruang
A. Persyaratan dapur, ruang makan, dab gudang makan
1. Dapur
o Luas dapur sekurang-kurangnya 40 % dari ruang makan atau 27 % dari luas
bangunan
o Permukaan langit-langit harus menutupi seluruh atap ruang dapur
o Dapur paling sedikit terdiri dari :
Tempat pencucian peralatan
Tempat pengepakan
Tempat persiapan
Tempat administrasi
2. Ruang makan
o Pintu yang menghubungkan dengan halaman dibuat rangkap, pintu bagian
luar membuka kearah luar
3. Gudang bahan makanan
o Jumlah bahan makanan yang disimpan disesuaikan dengan jumlah bahan
makanan
o Tidak boleh menyimpan bahan lain selain makanan
o Dilengkapi dengan rak-rak tempat penyimpanan bahan makanan
B. Persyaratan tempat penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi
1. Penyimpanan bahan makanan
o Penempatan terpisah dengan makanan jadi
o Bahan makanan disimpan dalam aturan sejenis
2. Penyimpanan makanan jadi
o Terlindung dari debu, bahan kimia berbahaya, serangga dan hewan
C. Persyaratan fasilitas sanitasi
1. Air bersih
o Harus sesuai dengan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
yang berlaku
o Jumlahnya cukup memadai untuk seluruh kegiatan dan tersedia pada setiap
tempat kegiatan
2. Pembuangan air limbah
o Sistem pembuangan air limbah harus baik, tidak merupakan sumber
pencemaran, misalnya memakai saluran tertutup
3. Toilet
o Letak tidak berhubungan langsung ( terpisah dari ) dengan dapur, ruang
persiapan makanan, ruang tamu, dan gudang makanan
o Didalam toilet harus tersedia jamban, bak air, dan sebagainya
o Toilet untuk wanita terpisah dengan toilet untuk pria
o Toilet untuk tenaga kerja terpisah dengan toilet pengunjung
o Tersedia cermin, tempat sampah, tempat abu rokok, dan sabun
o Lantai dibuat kedap air, tidak licin, mudah dibersihkan dan kelandaiannya
cukup
o Didalam kamar mandi harus tersedia bak dan air bersih dalam keadaan
Tabel II.5 Standarisasi ukuran bak cuci kamar mandi
4. Tempat sampah
o Tempat sampah dibuat dari bahan kedap air, tidak mudah berkarat.
Mempunyai tutup dan memakai kantong plastik khusus untuk sisa-sisa
bahan makanan dan makanan jadi cepat membusuk
o Tersedia pada setiap tempat / ruang yang memproduksi
5. Tempat cuci tangan
o Jumlah tempat cuci tangan tamu disesuaikan dengan kapasitas tempat
duduk
o Tempat cuci tangan dilengkapi dengan sabun cair dan alat pengering
6. Tempat mencuci peralatan
o Terbuat dari bahan yang kuat, aman, tidak berkarat dan mudah dibersihkan
o Bak pencucian sedikitnya terdiri dari 3 bak pencuci, yaitu mengguyur,
menyabun, dan membilas
7. Tempat pencucian bahan makanan
o Terbuat dari bahan yang kuat, aman, tidak berkarat, dan mudah
dibersihkan
8. Fasilitas penyimpanan pakaian ( loker ) karyawan
o Terbuat dari bahan yang kuat, aman, mudah dibersihkan dan tertutup rapat
o Loker utnuk pria dan wanita dibuat terpisah
9. Peralatan pencegahan masuknya serangga dan tikus
D. Fasilitas pengelola
1. Berdasarkan peraturan ketenagakerjaan :
o Ruang gerak bebas masing-masing karyawan minimum 1.5 m²
o Ruang udara minimum 12 m² pada ruang beraktivitas duduk dan 15 m²
pada ruang beraktivitas gerak
o Untuk ruangan ≤50 m² = 2.50 m
o Untuk ruangan ≥50 m² = 2.75 m
o Untuk ruangan ≥100 m² = 3.00 m
o Untuk ruangan dari 250 – 2000 m² = 3.25 m
2. Berdasarkan “Peraturan Keamanan untuk Tempat Kerja Perkantoran”, untuk
kantor ruangan sel/kecil minimum 8-10 m, ruang kantor besar minimum 12-15
m²
3. Lebar minimum jendela adalah 1.25 m
II.5. Studi Banding Proyek Sejenis II.5.1. Paris Van Java Mall
Paris van Java10 Resort Lifestyle Place (juga dikenal dengan nama Paris Van Java
Mall) adalah sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di Bandung, Jawa Barat. Mal ini bisa
dicapai beberapa menit dengan mengemudi dari tol Pasteur.
Mal yang diresmikan pada bulan Juli 2006 ini, dirancang dengan nuansa open air
yang alami serta pemandangan burung-burung merpati hias yang beterbangan bebas. Faktor
lain yang menjadi daya tarik adalah konsep bangunan yang kental dengan desain Eropa. Paris
van Java Mall adalah mall yang terbagi menjadi first floor, ground floor, upper ground serta
lower ground dengan salah satu department store terbaik di Indonesia, Sogo Department
Store di lantai teratas. Fasilitas lainnya yang cukup menjadi daya tarik adalah pasar swalayan
Carrefour, toko buku Gramedia, serta bioskop Blitzmegaplex. Selain itu, di Paris van Java
juga berjejer kafe-kafe.
Gambar II.7 Paris Van Java Mall
Paris van Java pada dibangun diatas kawasan bersejarah. Namun perencanaan proyek
ini tidak melibatkan bangunan eksisting, melainkan membuat bangunan baru dengan tema
kolonial. Fungsi utama adalah shopping center, pusat wisata kuliner, serta fungsi lifestyle masyarakat kota. Konsep shopping mall terbuka dengan bangunan bergaya kolonial membuat
suasana kolonialnya kian terasa. Suasana berjalan dibawah arcade diantara bangunan kolonial dapat dirasakan disini.
Tanggapan : konsep open shopping mall pada Paris van Java mall memunculkan suasana
alami bagi pengunjungnya.
II.5.2 Mall at milenia
The Mall at Millenia adalah pusat perbelanjaan kontemporer kelas atas. Mall Indah
berlantai dua ini merupakan tempat belanja paling mewah di Orlando. Mal ini memiliki
pilihan utama toko-toko desainer, department store, dan restoran. Jangkar department store di
mal termasuk Bloomingdale, Macy, dan Neiman Marcus. Perdana toko desainer kelas atas
termasuk Gucci, Chanel, Cartier, Louis Vitton, Tory Burch, Burberry, Tiffany & Co, dan
banyak lainnya. Toko terkenal lainnya termasuk Apple Store, Urban Outfitters, Crate &
Barrel, Sony, Zara, MAC Cosmetics, Lacoste, Hollister & Co, Abercrombie & Fitch, dan
Selain itu, banyak pilihan toko ritel juga dapat ditemukan segera mengelilingi Mall at
Millenia, termasuk besar IKEA Orlando, Super Target, Robb & Stucky, Expo Design Center,
dan Mercedes-Benz dari South Orlando.
Gambar II.8 Mall at Milenia
Paris Van Java Mall Mall at Millenia
Arsitek Wawa Sulaeman JPRA Arsitek
Gaya Bangunan Kolonial
Fasilitas LG : ATM, restoran,
playground, hypermarket
UG : ATM, fashion, toko buku, supermarket, restoran, pet shop, fitness
GF : ATM, bioskop, giftshop, cafe, restoran, fashion
Sky level : bioskop, fitness, cafe
Anchor Tenant Bloomingdale
Macy
Neiman marcus
Jumlah pengunjung /
hari 60.000 - 80.000
Jadwal Buka Minggu-kamis : 10.00-22.00
WIB
Jumat-sabtu 10.00-23.00 WIB
Senin-sabtu 10.00-21.00
Minggu 11.00-19.00
Jumlah Toko ± 200 ± 147
BAB III
ELABORASI TEMA
III.1 Pengertian Tema III.4.1 Arsitektur
Terdapat beberapa pengertian Arsitektur antara lain :
1. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arsitektur mempunyai arti seni bangunan, gaya bangunan. Arsitektur adalah seni dan keteknikan
bangunan, digunakan untuk memenuhi keinginan praktis dan
ekspresifdari manusia-manusia beradab.
2. Menurut James C. Snyder, Anthony J. Catanesse, dalam buku Introduction to Architecture (1979), Arsitektur adalah lingkungan buatan
yang mempunyai bermacam-macam kegunaan melindungi manusia dan
kegiatan-kegiatannya serta hak miliknya dari elemen, dari musuh, dan
dari kekuatan-kekuatan adikodrati, membuat tempat, menciptakan suatu
kawasan aman yang berpenduduk dalam dunia fana dan cukup
berbahaya, menekankan sosial dan menonjolkan status.
3. Menurut Le Corbusier, dalam buku Toward an Architecture(1927), Arsitektur adalah pengaturan massa yang dilakukan dengan tepat, penuh
pemahaman dan magnifisien. Massa itu disatukan dan ditonjolkan dalam
suatu penyinaran cahaya, kubus, kerucut, silinder, piramid, yang
merupakan bentuk-bentuk primer yang kegunaannya jelas. Oleh adanya
penyinaran cahaya, massa tersebut merupakan bentuk yang paling indah.
4. Menurut Louis I Khan, Arsitektur ialah pemikiran-pemikiran yang matang dalam pembentukan ruang. Pembaharuan arsitektur secara
menerus disebabkan adanya perubahan konsep ruang.
III.4.2 Pengertian Metafora
Istilah metafora berasal dari bahasa yunani metapherein (latin: metafora, inggris : metaphor, perancis : metaphore). “Meta” dapat diartikan sebagai memindahkan atau berhubungan dengan perubahan. “Pherein” berarti mengandung atau memuat. Pengertian metafora secara umum berdasarkan
• A figure of speech denoting by a word or phrase usually one kind of object or idea in place of another to suggest a likeness between them • A figure of speech in which a term is transferred from the object it
ordinarily designates to on object it may designate only by implicit comparison or analogies
• A figure of speech in which a name or quality is attributed to something
to which it is not literally applicable
• The use of words to indicate something different from the literal meaning.
Terdapat beberapa cara pandang terhadap metafora antara lain sebagai
berikut:
Secara etimologi metafora menunjukkan pemindahan (transfer) sesuatu
yang dikandungnya (makna). Arti leksikal dari metafora adalah kiasan.
Pengertian lain adalah looking at the abstraction (melihat hubungan antar
hal secara abstrak).
Secara epistemologis, sesuai dengan pengertiannya, metafora dalam
arsitektur dilakukan dengan cara displacement of concept (Schon, 1963-1967) yaitu dengan mentransfer konsep suatu objek kepada objek lain
sehingga mempermudah pemahaman lewat perbandingan yang lebih
sederhana.
Secara aksiologis, sejarah mencatat bahwa tanda tanda penggunaan
metafora dalam karya arsitektur sesungguhnya telah lama ada. Kualitas
arsitektur piramida secara estetis dan structural menjadi symbol bangsa
mesir kuno akan keyakinan tentang keabadian. Bangsa yunani
membedakan penggunaan tiang dorik dan ionic sebagai pemujaan
berdasar gender. Gothic dengan konsep kesemerawangan kulit bangunan
menjadi sebuahstandar bagi gereja untuk mewujudkan suasana kehadiran
Tuhan dalam perwujudan cahaya dan masih banyak lagi contoh
bangunan pada zaman pra modern yang sarat akan simbol-simbol
metaforik.
Perhatian terhadap metafora yang kemudian menjadikannya sebagai sebuah
untuk mengkaitkan arsitektur dengan bahasa. Metafora bukan lagi menjadi tujuan,
namun lebih berperan sebagai pemicu (trigger) dalam proses kreatif penciptaan desain. Proses desain menemukan sebuah “pintu” menuju “ruang kreatif” baru yaitu dengan melihat dari sisi pandang disiplin ilmu ilmu lain untuk tujuan menciptakan
konsep konsep yang autentik. Hal ini terlihat dari berbagai metaphor dari modern
movement, the ruin metaphor dari post modern, teknologi / kekuatan sosial metaphor dari Russian constructivist ; anthropomorphy & vertebrata (no core, no heart) metafora dari arsitek Peter Eisenman dan Frank Gehry (Antoniades, 1990).
III.4.3 Identifikasi Metafora
Terdapat beberapa pendapat yang mencoba mengajukan pengertian metafora antara
lain:
1. Antoniades, A.C. Poetics of Architecture van nostrand Reinhold, New York, 1990.
Kategori metaphor dalam arsitektur menurut antoniades (1990):
Intangible metaphor : metafora dalam tataran ide, konsep atau kualitas
kualitas khusus.
Tangible metaphor : Metafora yang berangkat dari hal-hal visual serta
spesifikasi / karakter tertentu dari sebuah benda seperti sebuah rumah adalah
puri atau istana, maka wujud rumah menyerupai istana.Dapat dirasakan dari
suatu karakter visual atau material.
Combination : Merupakan penggabungan intangible metaphors dan tangible
metaphors dengan membandingkan suatu objek visual dengan yang lain
dimana mempunyai persamaan nilai konsep dengan objek visualnya. Dapat
dipakai sebagai acuan kreativitas perancangan.Dimana secara konsep dan
visual saling mengisi sebagai unsur-unsur awal dan visualisasi sebagai
pernyataan untuk mendapatkan kebaikan kualitas dan dasar.
2. Broadbent, Geoffry / Bunt, Richard / Jencks; sign, symbol and architecture; John Wiley and sons; New York; 1980.
Kategorisasi desain dari Broadbent tentang analogic design mengindikasikan
pembagian metaphor dalam 3 kategori yaitu :
Structural, metafora dalam aspek struktur, fungsi , system
Filosofikal , metafora dalam aspek ide, konsep dan nilai.
Menurut Antoniades kualitas penggunaan metafora dapat dinilai berdasarkan
aspek yang dijadikan acuan dari penampakannya dalam suatu hasil desain.
Aspek yang lebih mudah terdeteksi (detectable) secara substansial dianggap
lebih baik daripada yang tidak. Kualitas metafora akan semakin baik jika
terkonsep dan dinyatakan dengan jelas.
3. James C. Snyder dan Anthony J. Cattanese dalam “Introduction to
Architecture” (1979).
Metafora mengidentifikasikan pola pola yang mungkin terjadi dari hubungan
hubungan parallel dengan melihat keabstrakannya berbeda dengan analogi yang
melihat secara literal.
4. Charles Jencks dalam “ The Language of Post Modern Architecture”.
Metafora dianggap sebagai kode yang ditangkap pada suatu saat oleh pengamat
dari suatu objek dengan mengandalkan objek lain dan bagaimana melihat suatu
bangunan sebagai suatu yang lain karena adanya kemiripan.
5. Geoffrey Broadbent, dalam buku “Design in Architecture” (1995).
Transforming : figure of speech in which a name of description term is transferred to some object different form. Dan juga menurutnya pada metafora pada arsitektur adalah merupakan salah satu metode kreativitas yang adal pada
desain spectrum perancang.
Kegunaan Penerapan Metafora dalam Arsitektur, sebagai salah satu cara atau
metode sebagai perwujudan kreativitas Arsitektural, yakni sebagai berikut :
1. Memungkinkan untuk melihat suatu karya Arsitektural dari sudut
pandang yang lain.
2. Mempengaruhi untuk timbulnya berbagai interprestasi pengamat.
3. Mempengaruhi pengertian terhadap sesuatu hal yang kemudian dianggap
menjadi hal yang tidak dapat dimengerti ataupun belum sama sekali ada