• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asupan energi, zat gizi dan status gizi pada balita ispa dan tidak ispa di Kecamatan Cipatat Kab. Bandung Barat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Asupan energi, zat gizi dan status gizi pada balita ispa dan tidak ispa di Kecamatan Cipatat Kab. Bandung Barat"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

ASUPAN ENERGI, ZAT GIZI DAN STATUS GIZI PADA BALITA

ISPA DAN TIDAK ISPA DI KECAMATAN CIPATAT KAB.

BANDUNG BARAT

Fauzan Bayu Ramdani

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

(2)

ABSTRACT

FAUZAN BAYU RAMDANI. Energy and Nutrient Intake, and Nutritional Status in Toddlers withAcute Respiratory Infections (ARI) and without ARI at sub-district Cipatat Bandung Barat. Supervised by HADI RIYADI and LEILY AMALIA FURKON

ARI (acute respiratory infection) is an important health issue that causes highly enough death of infant and toddlers about 1 among 4 death occured. Each child annualy expected 3-6 times infected by ARI Myrnawati research (2003) also found about 20-30% infant mortality causes by ARI. Based on the results of Indonesian Demographic and Health Survey, there were several factor that cause respiratory disease such as environment, weather, parents occupation, age, and food intake (Depkes 2002). Main purpose of this research are to know the differences of energy intake, nutrients and nutritional status of toddlers ARI suspect and non ARI suspect at Cipatat, Bandung Barat. This study was implemented by cross-sectional design. Data collection was conducted in Agustus to September 2010, with a total sample of 60 persons. Example collected by purposive with the criteria has an history of respiratory illness during the last 2 weeks (as a group of ARI suspect) and has no history of respiratory infection (as a group of non ARI suspect) that registered at Puskesmas Cipatat. Category ARI and non ARI was determined based on existing data in Puskesmas Cipatat by doctor’s diagnosis.

The data collection then processed and analyzed descriptively and statistically using Miccrosoft excel and SPSS 16.0. Data processing include editing, coding and data entry. To knowing difference of adequacy level of energy, nutrients and nutritional status between ARI suspect and non ARI suspect was used Indeppendent Sample T-test.

Based on the results of statistical analysis there were significant differences between energy intake, protein and zinc on infants ARI suspect and non ARI suspect (p=0,043) (0,004) and (p=0,036) (p<0,05). There was no significant difference between intake of vitamin A, vitamin E, vitamin C and Fe among todlers with ARI and (p>0,05). From the results of anthropometric measurements that the nutritional status on the indicators BB/U, TB/U, and BB/TB there was no difference between group of toddler with ARI and without ARI (p>0,05).

(3)

RINGKASAN

FAUZAN BAYU RAMDANI. Asupan Energi, Zat Gizi dan Status Gizi pada Balita ISPA dan Tidak ISPA di Kecamatan Cipatat Kab. Bandung Barat. Dibimbing oleh HADI RIYADI dan LEILY AMALIA FURKON

Tujuan umum dari penelitian ini yaitu mengetahui perbedaan asupan energi, zat gizi dan status gizi pada balita ISPA dan tidak ISPA di Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat. Adapun tujuan khususnya yaitu (1) Mengetahui karakteristik sosial ekonomi keluarga contoh, (2) Mengetahui karakteristik balita penderita ISPA dan tidak ISPA, (3) Mengetahui tingkat kecukupan energi dan zat gizi antara balita penderita ISPA dan tidak ISPA, (4) Mengetahui status gizi antara balita penderita ISPA dan tidak ISPA, (5) Mengetahui perbedaan asupan energi dan zat gizi antara balita penderita ISPA dan tidak ISPA (6) Mengetahui perbedaan status gizi antara balita penderita ISPA dan tidak ISPA.

Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study, yaitu model pendekatan atau observasi sekaligus pada satu saat. Lokasi penelitian di Kecamatan Cipatat di mana terdapat daerah penambangan batu kapur. Lokasi dipilih berdasarkan pertimbangan tingginya polusi udara akibat kegiatan penambangan batu kapur tersebut. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus dan September 2010. Contoh dalam penelitian ini adalah anak balita usia 12-59 bulan yang berada di daerah ruang lingkup wilayah kerja Puskesmas Cipatat. Pemilihan contoh dilakukan secarapurposivedengan kriteria mempunyai riwayat penyakit ISPA selama 2 minggu terakhir (sebagai kelompok ISPA) dan tidak memiliki riwayat ISPA (sebagai kelompok tidak ISPA) serta terdaftar di Puskesmas Cipatat. Kategori ISPA dan tidak ISPA ditetapkan berdasarkan data yang ada di Puskesmas Cipatat berdasarkan hasil diagnosa dokter. Jumlah contoh masing-masing kelompok adalah 30 sehingga total 60 anak balita.

Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan alat bantu kuesioner. Data primer meliputi karakteristik sosial ekonomi keluarga contoh, data kebiasaan merokok dalam rumah, data karakteristik individu contoh, data konsumsi makanan serta data antropometri. Data sekunder berasal dari puskesmas yaitu data profil puskesmas dan data kejadian penyakit ISPA selama 2 minggu terakhir. Data diolah dan dianalisis secara deskriptif dan statistik. Program komputer yang digunakan adalah Miccrosoft Excel 2007 dan SPSS versi 16.0 for Windows. Proses pengolahan data meliputi editing, coding, dan entry data. Untuk mengetahui perbedaan tingkat kecukupan energi, zat gizi dan status gizi antara penderita ISPA dan tidak ISPA menggunakan ujiIndependent Samples T-Test.

Sebanyak 36,7% tingkat pendidikan orang tua contoh pada balita ISPA hanya sampai tingkat SLTP, sedangkan pada balita tidak ISPA (40%) sampai tingkat SLTA. Sebagian besar 60% jenis pekerjaan ayah contoh pada balita ISPA adalah buruh pabrik, sedangkan pada balita tidak ISPA (33,3%) sebagai buruh dan pegawai swasta. Besar keluarga contoh adalah kategori keluarga kecil pada balita ISPA (50%) sedangkan pada balita tidak ISPA (73,3%). Tingkat pendapatan berdasarkan BPS pusat (2004) yaitu sebesar Rp. 139.000,- per kapita per bulan, bahwa sebagian besar 63,3% rumah tangga balita ISPA tergolong miskin, sedangkan balita tidak ISPA (63,3%) tergolong tidak miskin. Sebagian besar 76,7% anggota keluarga contoh pada balita ISPA mempunyai kebiasaan merokok dalam rumah, sedangkan pada balita tidak ISPA (63,3%).

(4)

besar 63,3% responden laki-laki menderita ISPA, sedangkan pada balita tidak ISPA (56,7%) responden adalah perempuan.

Berdasarkan tingkat kecukupan energi diketahui bahwa sebagian besar balita ISPA dan balita tidak ISPA masing-masing 56,7% dan 40% mengalami defisiensi berat. Dari hasil uji statistik terdapat perbedaan yang signifikan antara asupan energi pada balita ISPA dan tidak ISPA (p<0,05). Tingkat kecukupan protein pada balita ISPA yang tergolong mengalami defisiensi berat adalah 40%, sedangkan pada balita tidak ISPA (43,3%) mengalami tingkat kecukupan lebih. Ada perbedaan yang signifikan antara asupan protein pada balita ISPA dan tidak ISPA (p<0,05). Sebagian besar tingkat kecukupan vitamin A mengalami defisensi berat, pada balita ISPA (80%) sedangkan pada balita tidak ISPA (70%). Tidak ada perbedaan yang signifikan antara asupan vitamin A pada balita ISPA dan tidak ISPA (p>0,05). Sebagian besar tingkat kecukupan vitamin E mengalami defisiensi berat, pada balita ISPA (93,3%) sedangkan pada balita tidak ISPA (96,7%). Tidak ada perbedaan yang signifikan antara asupan vitamin E pada balita ISPA dan tidak ISPA (p>0,05). Sebagian besar tingkat kecukupan vitamin C mengalami defisiensi berat, pada balita ISPA sebesar 70% sedangkan pada balita tidak ISPA sebesar 63,3%. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara asupan vitamin C pada balita ISPA dan tidak ISPA (p>0,05). Sebagian besar tingkat kecukupan seng mengalami defisiensi berat, pada balita ISPA maupun balita tidak ISPA sebesar 96,7%. Ada perbedaan yang signifikan antara asupan seng pada balita ISPA dan tidak ISPA (p<0,05). Sebagian besar tingkat kecukupan besi mengalami defisiensi berat, pada balita ISPA sebesar 76,7% sedangkan pada balita tidak ISPA sebesar 63,3%. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara asupan besi pada balita ISPA dan tidak ISPA (p>0,05).

(5)

ASUPAN ENERGI, ZAT GIZI DAN STATUS GIZI PADA

BALITA ISPA DAN TIDAK ISPA DI KECAMATAN CIPATAT KAB.

BANDUNG BARAT

FAUZAN BAYU RAMDANI

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi pada

Departemen Gizi Masyarakat

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

(6)

Judul Skripsi : Asupan Energi, Zat Gizi dan Status Gizi pada Balita ISPA dan Tidak ISPA di Kecamatan Cipatat Kab. Bandung Barat

Nama : Fauzan Bayu Ramdani

Nrp : I14086012

Menyetujui,

Dosen Pembimbing I

Dr. Ir. Hadi Riyadi, MS NIP. 19610615 198603 1004

Dosen Pembimbing II

Leily Amalia Furkon, STP, M.Si NIP. 19721209 200501 2001

Mengetahui,

Ketua Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Budi Setiawan, MS NIP. 19621218 198703 1001

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Bandung pada tanggal 14 Mei 1987, penulis merupakan anak kedua dari lima bersaudara dari pasangan bapak Suwinda dan ibu Teti Suryati.

Pendidikan formal pertama di tempuh pada tahun 1991-1993 di TK Pertiwi Desa Rajamandala. Tahun 1993 memulai pendidikan di SD Negeri RAMA I selesai pada tahun 1999. Pada tahun 2002 penulis menamatkan pendidikan di SLTP Negeri 1 Cipatat. Penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 9 Bandung hingga tahun 2005. Selama di SMA penulis aktif dalam kegiatan organisasi seperti pecinta alam dan kegiatan olahraga.

Pada tahun 2005 penulis diterima di Poltekkes DEPKES Bandung Jurusan Gizi. Selama kuliah di Jurusan Gizi, penulis aktif dalam kegiatan kemahasiswaan seperti Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), dan ikatan remaja masjid. Pada tahun 2008 penulis melanjutkan studi pada Program Penyelenggaraan Khusus S1 Mayor Ilmu Gizi, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat, kasih sayang, kekuatan dan kemudahan yang telah diberikan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “Asupan Energi, Zat Gizi dan Status Gizi pada Balita ISPA dan Tidak ISPA di Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat”. Penelitian ini merupakan salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Gizi pada Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, yaitu kepada:

1. Dr. Ir. Hadi Riyadi, M.S sebagai dosen pembimbing satu skripsi yang telah memberikan bimbingan selama penelitian, penulisan dan penyelesaian skripsi ini.

2. Leily Amalia Furkon, STP, M.Si sebagai dosen pembimbing dua skripsi yang telah memberikan bimbingan selama penelitian, penulisan dan penyelesaian skripsi ini.

3. Dr. Ir. Evy Damayanthi, M.S sebagai dosen pembimbing akademik.

4. Ibu Mira Dewi, S.Ked sebagai pemandu seminar dan penguji skripsi, yang telah memberikan masukan dan saran.

5. Orangtua (Bapak dan Ibu), kakak dan adik-adik atas kasih sayang, doa dan bantuannya baik moril maupun materiil sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.

6. Semua pihak yang belum tertulis diatas yang telah memberikan bimbingan dan bantuannya dalam penelitian dan penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat dalam skripsi ini, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak yang membaca. Penulis mengucapakan terima kasih, semoga Allah SWT, senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua, Aamiin.

Bogor, Januari 2011

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFAR TABEL... iv

DAFTAR GAMBAR... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan ... 3

Hipotesis ... 3

Kegunaan... 3

TINJAUAN PUSTAKA Infeksi Saluran Pernapasan Akut ... 4

Status Gizi... 6

Konsumsi Pangan ... 9

Energi... 10

Zat-zat Gizi yang Berperan dalam Imunitas... 11

Angka Kecukupan Gizi ... 18

KERANGKA PEMIKIRAN ... 19

METODOLOGI PENELITIAN Desain, Lokasi dan Waktu Penelitian ... 21

Jumlah dan Cara Penarikan Contoh ... 21

Jenis dan Cara Pengumpulan Data ... 22

Pengolahan dan Analisis Data ... 23

Definisi Operasional ... 24

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran umum Lokasi Penelitian ... 26

Karakteristik Sosial Ekonomi Keluarga Contoh... 26

Kebiasaan Merokok Anggota Keluarga ... 30

Karakteristik Individu ... 32

Tingkat Kecukupan Energi dan Zat Gizi ... 34

Status Gizi ... 46

(10)
(11)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Kategori Status Gizi Pada Berbagai Ukuran Antropometri... 7

Tabel 2. Angka Kecukupan Gizi Vitamin C yang di Anjurkan Pada Berbagai Kelompok Usia... 16

Tabel 3. Bahan makanan sumber besi... 18

Tabel 4. Jenis peubah dan cara pengumpulan data... 22

Tabel 5. Cara pengolahan data... 23

Tabel 6. Kategori Status Gizi Balita... 24

Tabel 7. Sebaran orang tua (ayah) contoh berdasarkan tingkat pendidikan... 27

Tabel 8. Sebaran jenis pekerjaan ayah contoh... 28

Tabel 9. Sebaran besar keluarga pada contoh... 29

Tabel 10. Sebaran pendapatan keluarga contoh... 30

Tabel 11. Sebaran kebiasaan merokok dalam rumah contoh... 31

Tabel 12. Sebaran umur contoh... 32

Tabel 13. Sebaran jenis kelamin contoh... 33

Tabel 14. Rata-rata asupan energi dan zat gizi contoh balita ISPA dan tidak ISPA menurut jenis kelamin per hari... 33

Tabel 15. Rata-rata konsumsi pangan sumber energi per hari... 34

Tabel 16. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan energi... 35

Tabel 17. Rata-rata konsumsi pangan sumber protein per hari... 36

Tabel 18. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan protein... 37

Tabel 19. Rata-rata konsumsi bahan makanan sumber vitamin A per hari 38 Tabel 20. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan vitamin A ... 39

Tabel 21. Rata-rata konsumsi bahan makanan sumber vitamin E per hari 40 Tabel 22. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan vitamin E... 40

Tabel 23. Rata-rata konsumsi bahan makanan sumber vitamin C per hari 41 Tabel 24. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan vitamin C... 42

Tabel 25. Rata-rata konsumsi bahan makanan sumber seng per hari... 43

Tabel 26. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan seng... 43

Tabel 27. Rata-rata konsumsi bahan makanan sumber besi per hari... 44

Tabel 28. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan besi... 45

Tabel 29. Sebaran status gizi contoh menurut BB/U... 47

Tabel 30. Sebaran status gizi contoh berdasarkan TB/U... 48

(12)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Bagan interelasi antara kurang vitamin A (KVA) dengan infeksi... 14 Gambar 2. Kerangka pemikiran hubungan konsumsi dengan kejadian

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Surat Izin Penelitian... 56

Lampiran 2. Surat Pernyataan Kesediaan Mengikuti Penelitian... 57

Lampiran 3. Kuesioner Karakteristik Soisal Ekonomi... 58

Lampiran 4. Form Food Recall... 59

(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Arah dan kebijakan pembangunan bidang kesehatan, diantaranya

menyebutkan bahwa pembangunan kesehatan diarahkan untuk

meningkatkan derajat kesehatan termasuk didalamnya keadaan gizi

masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas hidup serta kecerdasan

rakyat pada umumnya (Suhardjo 2003). Masalah gizi yang banyak

dihadapi Indonesia meliputi gizi kurang atau yang mencakup susunan

hidangan yang tidak seimbang maupun konsumsi keseluruhan yang tidak

mencukupi kebutuhan. Anak balita (1-5 tahun) merupakan kelompok umur

yang paling sering menderita akibat kekurangan gizi (KEP) atau termasuk

salah satu kelompok masyarakat yang rentan gizi (Sedioetama 2000).

Menurut Sediaoetama (2000) bahwa anak balita akan mengalami

proses pertumbuhan yang sangat pesat, sehingga memerlukan zat-zat

makanan yang relatif lebih banyak dengan kualitas yang lebih tinggi. Hasil

pertumbuhan pada saat dewasa, sangat bergantung dari kondisi gizi dan

kesehatan sewaktu masa balita. Di negara berkembang anak-anak umur

0-5 tahun merupakan golongan yang paling rawan terhadap gizi.

Kelompok yang paling rawan di sini adalah periode pasca penyapihan

khususnya kurun umur 1-3 tahun. Anak-anak biasanya menderita

bermacam-macam infeksi serta berada dalam status gizi rendah (Suhardjo

2003)

Status gizi rendah akibat masalah gizi pada anak, akan berpengaruh terhadap daya tahan tubuh yang rendah dan rentan terhadap serangan penyakit infeksi, seperti diare, flu, ISPA, campak, dll. Apabila kejadian penyakit infeksi tidak segera ditangani maka akan mempengaruhi tingginya angka kematian balita. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, angka kejadian infeksi saluran pernafasan akut di Jawa Barat pada anak usia 0-5 tahun pada tahun 2003 sebesar 5% (Dinkes Jabar 2005).

(15)

terjadinya infeksi. Begitu juga apabila sudah terjadi infeksi, maka nafsu makan menurun dan menyebabkan konsumsi makan berkurang, sehingga terjadi gangguan salah satunya adalah zat gizi baik makro maupun mikro.

ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. Penelitian Myrnawati (2003) juga menemukan bahwa 20-30% kematian balita disebabkan oleh ISPA (diacu dalam Zyiefa 2009). Berdasarkan hasil survei Demografi dan Kesehatan Indonesia ada beberapa faktor yang menyebabkan penyakit ISPA diantaranya adalah lingkungan, cuaca, pekerjaan orang tua, umur, dan konsumsi makanan (Depkes 2002).

Menurut studi longitudinal yang dilakukan oleh Yoon et al (tahun 1997) pada anak dibawah 2 tahun di metro Cebu-Philiphina menyatakan bahwa terdapat pengaruh status gizi kurang terhadap kematian anak di bawah dua tahun. Penelitian ini juga membuktikan bahwa status gizi kurang (berdasarkan BB/U) berhubungan dengan faktor resiko terjadinya ISPA pada anak. Penurunan berat badan akan meningkatkan 1,7 kali resiko terjadinya ISPA (AJCN 1997).

Pertambangan kapur Gunung Masigit terletak di daerah perbukitan

di Cipatat, Bandung, Jawa Barat. Pertambangan kapur ini merupakan

pertambangan tradisional dengan perilaku kerja pekerja yang berisiko

sehingga pekerja pertambangan memiliki risiko tinggi untuk terkena

penyakit ISPA akibat terpajan oleh debu kapur. Dari hasil penelitian yang

dilakukan oleh Eka (2009) sebanyak 56% pekerja mengalami gejala ISPA.

Debu yang cukup banyak dan menimbulkan pencemaran udara bagi

masyarakat sekitar dihasilkan dari penambangan batu kapur yang terdiri

dari pengadaan bahan baku, pengangkutan bahan, dan pada saat

pembakaran bahan. Aktivitas pengolahan batu kapur di desa Citatah

Kecamatan Cipatat sudah dilakukan sejak tahun 1960. Selain memiliki

fungsi sebagai penampung air batuan di kawasan Citatah, pengolahan

batu kapur juga memiliki manfaat ekonomi, yaitu batu kapur yang bisa

dijual dan dijadikan industri kerajinan marmer (Yusuf 2010). Dengan

demikian meskipun memiliki manfaat ekonomi, dampak dari

penambangan batu kapur harus mendapat perhatian yang lebih serius

(16)

melakukan penelitian mengenai asupan energi, zat gizi, dan status gizi

pada balita ISPA dan tidak ISPA di Kecamatan Cipatat Kab. Bandung

Barat.

Tujuan Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan

asupan energi, zat gizi, dan status gizi pada balita ISPA dan tidak ISPA di

Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat.

Tujuan Khusus

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mempelajari:

1. Mengetahui karakteristik sosial ekonomi keluarga contoh penderita

ISPA dan tidak ISPA

2. Mengetahui karakteristik balita penderita ISPA dan tidak ISPA

3. Mengetahui asupan dan tingkat kecukupan energi serta zat gizi

antara balita penderita ISPA dan tidak ISPA

4. Mengetahui status gizi antara balita penderita ISPA dan tidak ISPA

5. Mengetahui perbedaan asupan energi dan zat gizi antara balita

penderita ISPA dan tidak ISPA

6. Mengetahui perbedaan status gizi antara balita penderita ISPA dan

tidak ISPA

Hipotesis

1. Ada perbedaan asupan energi dan zat gizi antara balita penderita

ISPA dan tidak ISPA

2. Ada perbedaan status gizi antara balita penderita ISPA dan tidak

ISPA

Kegunaan

Penelitian ini diharapakan dapat memberikan informasi kepada

pembaca pada umumnya dan masyarakat Kecamatan Cipatat pada

khususnya mengenai kondisi tingkat kecukupan energi, zat gizi, dan

(17)

TINJAUAN PUSTAKA

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

Infeksi saluran pernapasan atas di kenal sebagai ISPA adalah penyakit infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernafasan, hidung, sinus, faring, atau laring (Algsagaff et al 1998). ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) yang diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI) mempunyai pengertian sebagai berikut:

a. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan.

b. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.

ISPA adalah radang akut saluran pernafasan atas maupun bawah yang disebabkan oleh infeksi jasad renik bakteri, virus maupun riketsia tanpa atau disertai radang parenkim paru. ISPA adalah penyakit penyebab angka absensi tertinggi, lebih dari 50% semua angka tidak masuk kerja/sekolah karena sakit ISPA (Algsagaffet al1998).

Etiologi ISPA terdiri dari lebih 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus streptokokus, stafilokokus, pnemokokus, hemofilus, korinekbakterium dan bordetella. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan miksovirus, adenovirus, pikornavirus, mikoplasma, hipervirusdan lain-lain.

(18)

kurang umurnya 6 bulan atau kurang maka anak tersebut menderita ISPA sedang (Depkes 2002).

Gejala sedang ditandai jika gejala seperti pernafasan lebih dari 50x permenit pada anak yang berumur kurang dari satu tahun atau lebih dari 40x permenit pada anak yang berumur satu tahun lebih. Cara menghitung pernafasan ialah dengan menghitung jumlah tarikan nafas dalam satu menit. Untuk menghitung dapat digunakan arloji, suhu lebih dari 390C (diukur dengan thermometer), tenggorokan berwarna merah, timbul bercak campak, telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga, pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur), pernafasan berbunyi menciut-ciut (Depkes 2002).

Gejala ISPA berat yang ditandai dengan bibir atau kulit membiru, lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernafas, anak tidak sadar atau kesadarannya menurun, pernafasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah, sela iga tertarik kedalam pada waktu bernafas, nadi lebih cepat dari 160x permenit atau tidak teraba, tenggorokkan berwarna merah (Depkes 2002).

Faktor risiko yaitu faktor yang mempengaruhi atau memudahkan terjadinya penyakit, tiga faktor risiko infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), yaitu : keadaan sosial ekonomi dengan cara mengasuh atau mengurus anak, keadaan gizi dan cara pemberian makanan, kebiasaan merokok dan pencemaran udara (Depkes 2002).

Secara umum efek pencemaran udara terhadap saluran pernafasan dapat menyebabkan pergerakan silia hidung menjadi lambat dan kaku bahkan dapat berhenti sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan akibat iritasi oleh bahan pencemar. Produksi lendir akan meningkat sehingga menyebabkan penyempitan saluran pernafasan dan rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernafasan. Akibat dari hal tersebut akan menyebabkan kesulitan bernafas sehingga benda asing tertarik dan bakteri lain tidak dapat dikeluarkan dari saluran pernafasan, hal ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran pernafasan (Mukono 1997)

(19)

ISPA bila mengenai saluran pernafasan bawah, khususnya pada bayi, anak-anak dan orang tua, memberikan gambaran klinik yang berat dan jelek, berupa bronchitis dan banyak berakhir dengan kematian. ISPA disebabkan karena virus maka wanita lebih rentan terkena dibandingkan dengan laki-laki namun pada waktu mensis mereka lebih tahan terhadap infeksi virus (Depkes 2002).

Status Gizi

Status gizi adalah keadaan yang diakibatkan oleh keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi oleh tubuh. Status gizi dapat dikatakan baik apabila pola makan kita seimbang artinya banyak dan jenis makanan yang kita makan sesuai dengan yang dibutuhkan tubuh. Status gizi seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain tingkat pendapatan, pengetahuan gizi dan budaya setempat. Tingginya pendapatan yang tidak diimbangi pengetahuan gizi yang cukup akan menyebabkan seseorang menjadi sangat konsumtif dalam pola makannya sehari-hari (Depkes 2002).

Kondisi kesehatan anak saat diperiksa lebih banyak yang sakit pada kelompok status gizi bawah. Risiko kurang gizi juga lebih tinggi secara nyata bila konsumsi semua zat gizi pada anak lebih rendah. Riwayat kelahiran juga berperan dalam risiko kurang gizi antara lain tempat lahir dan penolong persalinan (Depkes 2002).

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan balita ada dua macam yaitu faktor dalam yaitu jumlah dan mutu makanan, kesehatan balita (ada atau tidaknya penyakit) sedangkan faktor luarnya yaitu tingkat ekonomi, pendidikan, perilaku orang tua atau pengasuh, sosial budaya / kebiasaan, kesediaan bahan makanan di rumah tangga (Depkes 2002).

Banyak faktor yang mempengaruhi baik buruknya keadaan seorang balita. Keadaan gizi pada kehamilan merupakan penentu utama bagi kelangsungan hidup anak. Growth faltering (menurunnya pertumbuhan) merupakan tanda terjadinya keadaan gizi yang tidak baik. Kejadian ini bisa disebabkan oleh dua hal yaitu karena asupan makan yang salah atau tidak memenuhi gizi seimbang dan karena penyakit infeksi (Sumardi 1995 diacu dalam Fitri 2008).

(20)

tubuh yang berarti kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap serangan infeksi menjadi turun. Hal inilah yang menyebabkan anak sangat potensial terkena penyakit infeksi seperti ISPA (Siswatiningsih 2001 diacu dalam Maitatorum 2009).

Penelitian yang dilakukan Smith et al (1991) menyebutkan bahwa anak yang mengalami kurang gizi kronik berdampak terhadap sel imun mediasi dan produksi antibodi, sehingga memperbesar peluang terjadinya penyakit infeksi. Konsentrasi antibodi antipneumococcal pada anak kurang gizi juga sangat rendah, sehingga meningkatkan risiko terserang infeksi saluran pernafasan seperti ISPA (diacu dalam Maitatorum 2009). Disamping kurang gizi, anak yang mengalami gizi lebih juga mengalami risiko lebih tinggi terkena penyakit infeksi jika dibandingkan dengan status gizi normal. Seperti yang dikemukakan oleh Chandra (1991) yang menyatakan bahwa anak dengan status gizi lebih mempunyai penurunan jumlah limfosit, penurunan aktivitas selNatural-killer ( sel-NK) dan penurunan stimulasi limposit T jika dibandingkan dengan anak status gizi normal. Penurunan sistem kekebalan tubuh inilah yang menyebabkan anak potensial terkena penyakit infeksi (diacu dalam Maitatorum 2009).

Parameter antropometri merupakan dasar dari penelitian status gizi. Kombinasi antara beberapa parameter disebut indeks antropometri. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) (Arisman 2003).

Tabel 1 Kategori Status Gizi Pada Berbagai Ukuran Antropometri

Indeks Kategori

BB/U Gizi lebih : > 2.0 SD

Gizi baik : - 2.0 SD s/d + 2.0 SD Gizi kurang : < - 2 SD

Gizi buruk : < - 3 SD TB/U Normal : ≥ - 2 SD

Pendek/stunted : < - 2 SD BB/TB Gemuk : > 2.0 SD

Normal : - 2 SD s/d + 2 SD Kurus/wasted : < - 2.0 SD Sangat kurus : < - 3 SD Sumber : Depkes (2000), Arisman (2003)

Berat Badan menurut Umur (BB/U)

(21)

menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Berat badan adalah parameter antropometri yang labil. Dalam keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin, maka berat badan akan berkembang mengikuti pertambahan umur (Supariasa 2001).

Sebaliknya dalam keadaan yang abnormal terdapat dua kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu dapat berkembang secara cepat atau lebih lambat dari keadaan normal. Berdasarkan karakteristik berat badan ini, maka indeks berat badan menurut umur digunakan sebagai salah satu cara pengukuran status gizi. Mengingat karakteristik badan yang labil, maka indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini (current nutritional status) (Supariasa 2001).

Tinggi Badan menurut Umur (TB/U)

Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertumbuhan umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif kurang sensitif terhadap masalah kurang gizi dalam waktu yang pendek. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu relatif lama (Supariasa 2001).

Berdasarkan karakteristik tersebut di atas, maka indeks ini menggambarkan status gizi masa lalu. Beaton dan Bengoa (1973) menyatakan bahwa indeks TB/U disamping memberikan gambaran status masa lampau, juga lebih erat kaitanya dengan status sosial ekonomi (Supariasa 2001).

Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB)

(22)

melakukan pengukuran panjang/tinggi badan pada kelompok balita. Membutuhkan dua macam alat ukur, pengukuran relatif lebih lama (Supariasa 2001).

Konsumsi Pangan

Menurut Riyadi (2006), konsumsi pangan seseorang atau sekelompok orang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Ada empat faktor utama yang mempengaruhi konsumsi pangan sehari-hari, yaitu produksi pangan untuk keperluan rumah tangga, pengeluaran uang untuk pangan rumah tangga, pengetahuan gizi dan ketersediaan pangan.

Sumarwan (2002) menyatakan bahwa memahami usia konsumen adalah penting karena konsumen yang berbeda usia akan mengkonsumsi produk dan jasa yang berbeda pula. Perbedaan usia juga akan mengakibatkan perbedaan selera dan kesukaan terhadap merk. Seorang yang berumur relatif muda akan relatif lebih cepat dalam menerima sesuatu yang baru.

Tingkat pendidikan akan mempengaruhi tingkat konsumsi pangan seseorang dalam memilih bahan pangan demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang yang memiliki pendidikan tinggi cenderung memilih bahan pangan yang lebih baik dalam kuantitas maupun kualitas dibanding dengan orang yang berpendidikan rendah (Hardinsyah 1985 diacu dalam Permana 2006).

Pekerjaan yang berhubungan dengan pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas makanan. Terdapat hubungan yang erat antara pendapatan dan gizi yang didorong oleh pengaruh yang menguntungkan dari pendapatan yang meningkat bagi perbaikan kesehatan dan masalah keluarga lainnya yang berkaitan dengan keadaan gizi. Apabila penghasilan keluarga meningkat, penyediaan lauk pauk pada umumnya juga meningkat mutunya (Suhardjo 1989).

Menurut Suhardjo (1989), keluarga yang berpenghasilan rendah menggunakan sebagian besar dari keuangannya untuk pangan dan keluarga yang berpenghasilan tinggi akan menurunkan pengeluaran untuk pangan. Keluarga yang berpenghasilan rendah akan rendah pula jumlah uang yang dibelanjakan untuk pangan. Jika penghasilan menjadi semakin baik, jumlah uang yang dipakai untuk membeli makanan dan bahan makanan juga akan meningkat sampai tingkat tertentu dimana uang tidak dapat bertambah secara berarti.

(23)

kelahiran antar anak yang amat dekat akan menimbulkan lebih banyak masalah. Pangan yang tersedia untuk satu keluarga, mungkin tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga tersebut tetapi hanya mencukupi sebagian dari anggota keluarga itu (Martianto dan Ariani 2004 diacu dalam Rosyida 2010).

Energi

Manusia membutuhkan energi untuk menjalani hidup, menunjang pertumbuhan dan melakukan aktifitas fisik. Energi tersebut diperolah dari karbohidrat, protein dan lemak yang ada dalam bahan makanan (Almatsier 2002). Manusia yang kurang makan akan lemah, baik daya kegiatan, pekerjaan-pekerjaan fisik maupun daya pemikirannya karena kurangnya zat-zat makanan yang diterima tubuhnya yang dapat menghasilkan energi (Marsetyo 2005). Secara berturut-turut energi yang dibutuhkan tubuh untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut : untuk memenuhi kebutuhan energi basal, untuk aktifitas tubuh, untuk keperluan khusus (Moehji 2002).

Kebutuhan energi seseorang menurut FAO/WHO (1985) adalah konsumsi energi berasal dari makanan yang diperlukan untuk menutupi pengeluaran energi seseorang bila ia mempunyai ukuran dan komposisi tubuh dengan tingkat aktifitas yang sesuai dengan kesehatan jangka panjang, dan yang memungkinkan pemeliharaan fisik yang dibutuhkan secara sosial dan ekonomi (Almatsier 2002).

Kebutuhan energi setiap anak berbeda-beda, walaupun pada umur yang sama, terutama oleh adanya perbedaan aktifitas fisik (Pudjiadi 2000). Pada anak masa sekolah, aktifitas anak lebih banyak, baik di sekolah maupun di luar sekolah, sehingga anak perlu energi lebih banyak. Pertumbuhan anak lambat tetapi pasti, sesuai dengan banyaknya makanan yang dikonsumsi anak (Soetjiningsih 2002).

(24)

Zat-zat Gizi yang Berperan Dalam Imunitas Protein

Protein merupakan komponen terbesar dari tubuh manusia setelah air (Winarno 2002), seperlima bagian tubuh adalah protein, setengahnya ada di dalam otot, seperlimanya di dalam tulang dan tulang rawan, sepersepuluh di dalam kulit, dan selebihnya di dalam jaringan lain dan cairan tubuh. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh (Almatsier 2004). Khusus untuk anak-anak, asupan protein di perlukan lebih tinggi daripada orang dewasa, karena mereka masih dalam masa pertumbuhan (Irianto 2004).

Fungsi protein diantaranya untuk membantu pertumbuhan, pemeliharaan dan membangun enzim, hormon dan imunitas, oleh sebab itu protein sering kali disebut sebagai zat pembangun. Protein dibagi dua, yakni berasal dari hewani dan nabati. Sumber pangan yang mengandung protein antara lain ikan, telur, daging, susu dan kacang-kacangan (Almatsier 2004).

Hasil kajian pemantauan konsumsi makanan yang dilaksanakan tahun 1995 sampai 1998 di wilayah pedesaan prevalensi rumah tangga defisit protein pada tingkat rumah tangga sudah tinggi pada tahun 1995. Mulai dengan prevalensi sebesar 35% rumah tangga defisit protein, kemudian berkurang menjadi 24% pada tahun 1996, akan tetapi terjadi kecenderungan meningkat dari tahun 1996 ke tahun 1998 (Latief dkk dalam WKNPG VII 2000).

Vitamin A

Diantara beberapa jenis zat gizi, vitamin A merupakan zat gizi yang telah banyak terbukti memiliki keterkaitan dengan status imunitas. Vitamin A merupakan senyawa poliisoprenoid yang mengandung cincin sikloheksenil. Vitamin A atau retinol merupakan istilah generik bagi semua senyawa dari sumber hewani yang memperlihatkan aktivitas biologik vitamin A. Senyawa tersebut disimpan dalam bentuk ester retinol di dalam hati. Di dalam sayur, vitamin A berwujud sebagai provitamin dalam bentuk pigmenβ-karotenberwarna kuning (Murray 2003). β-karoten merupakan antioksidan dan mempunyai peran dalam menangkap radikal bebas peroksi di dalam jaringan pada tekanan parsial oksigen yang rendah (Murray 2003).

(25)

semua jenis oksigen reaktif merupakan radikal bebas, diantaranya oksigen singlet (tunggal) dan H2O2 (Murray 2003). Karotenoid memperlihatkan kemampuannya dalam menghambat reaksi radikal bebas. β-caroten sangat efisien menurunkan radikaltrichloromethylperoxyl(Sies dan Stahl 1995). Secara biologis karotenoid kurang aktif daripada retinol. Selain itu, sumber dietari karotenoid juga kurang diproses dan diserap secara efisisen di usus. Maka, untuk mencapai efek yang serupa dengan retinol, β-karoten vitamin A harus dicerna sebanyak enam kali lebih banyak (melalui massa makanan) (Sommer 2004).

Sifat kimia vitamin A, yaitu kristal alkohol berwarna kuning dan larut dalam lemak atau pelarut lemak, stabil terhadap panas, asam, dan alkali. Namun demikian, vitamin A mudah sekali teroksidasi oleh udara dan akan rusak jika dipanaskan pada suhu tinggi bersama sinar, udara, dan lemak yang sudah tengik (Winarno 2002).

Vitamin A penting untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh, kesehatan mata, melawan bakteri dan infeksi, mempertahankan kesehatan jaringan epitel, membantu pembentukkan tulang dan gigi (Hartono 2000). Antioksidan juga merupakan bahan yang menghambat atau mencegah keruntuhan, kerusakan atau kehancuran akibat oksidasi (Youngson 2005). Aktivitas enzim antioksidan meningkat pada alveolar macrophages perokok muda tanpa gejala, tapi sel yang serupa dari perokok umur tua memperlihatkan penurunan aktivitas dan terjadi ketidakseimbangan oksidan-antioksidan (Sridhar 1995).

(26)

menjadi pemasok radikal bebas. Saat kita menghirup udara terpolusi oleh asap rokok dan asap pembakaran bensin mobil dapat memicu terbentuknya radikal bebas seperti radikal oksigen singlet, yang dapat merusak jaringan paru (Kumalaningsih 2006).

Peroksidasi lipid merupakan mekanisme umum kerusakan jaringan oleh radikal bebas yang diketahui bertanggungjawab pada kerusakan sel dan menyebabkan banyak kejadian patologis. Selama inflamasi paru, peningkatan jumlah ROS (Reactive Oxygen Species) dan RNI (Reactive Nitrogen Intermediates) diproduksi sebagai konsekuensi letusan phagocytic pernafasan. Produksi Reactive Oxygen Species (ROS) oleh phagocytes aktif dapat disebabkan oleh mikrobakteria. Meskipun hal tersebut merupakan bagian penting dalam pertahanan melawan mikrobakteria, hasil perluasan ROS dapat mengakibatkan luka pada jaringan dan inflamasi. Hal ini dapat berkontribusi lebih jauh pada immunosuppression, terutama dengan kapasitas antioksidan yang tidak berpasangan, diantaranya pasien yang terinfeksi HIV. Selain itu, malnutrisi yang terjadi pada pasien TB dapat menambah kapasitas antioksidan yang tidak berpasangan dalam pasien tersebut (Reddyet al2004).

Reactivate oxygen speciesterjadi pada jaringan dan dapat merusak DNA, protein, karbohidrat, dan lemak. Reaksi penghapusan yang potensial diawasi oleh sistem antioksidan enzimatik dan non enzimatik yang menghilangkan prooksidan dan mencari radikal bebas. Kemampuan karotenoid larut lemak adalah untuk memadamkan molekul oksigen singlet dapat menjelaskan beberapa sifat karotenoid, tidak tergantung pada aktivitas provitamin A (Mascio et al1991).

Kaitan antara Vitamin A dan Kejadian Infeksi

(27)

Gambar 1 Bagan interelasi antara kurang vitamin A (KVA) dengan infeksi

Tingkat keparahan penyakit selalu berkorelasi dengan tingkat defisiensi vitamin A. Kematian selalu berhubungan dengan infeksi diantaranya pneumonia dan diare berat. Pemberian vitamin A dosis besar dapat menurunkan risiko kematian akibat infeksi (Rolfes et al 2006). Untuk mengurangi pengaruh infeksi dan memperbaiki status gizi, pasien dianjurkan untuk menjalani diet yang dianjurkan oleh ahli gizi.

Vitamin E

Fungsi utama vitamin E adalah sebagai antioksidan yang larut dalam lemak dan mudah memberikan hidrogen dari gugus hidroksil (OH) pada struktur cincin ke radikal bebas. Radikal bebas adalah molekul-molekul reaktif dan dapat merusak, yang mempunyai elektron yang tidak berpasangan. Bila menerima hidrogen, radikal bebas menjadi tidak reaktif. Pembentukan radikal bebas terjadi didalam tubuh dalam proses metabolisme aerobik normal pada waktu oksigen secara bertahap direduksi menjadi air. Radikal bebas yang dapat merusak itu juga diperoleh tubuh dari benda-benda polusi, ozon dan asap rokok (Almatsier 2004).

Walaupun vitamin E adalah antioksidan larut lemak utama di dalam membran sel, konsentrasinya sangat kecil yaitu satu molekul per 2000-3000 molekul fosfolipida. Diduga terjadi regenerasi dengan bantuan vitamin C atau reduktase lain yang mereduksi radikal vitamin E ke bentuk aslinya. Sumber utama vitamin E adalah minyak tumbuh-tumbuhan, terutama minyak kecambah gandum dan biji-bijian. Minyak kelapa dan zaitun hanya sedikit mengandung vitamin E. Sayuran dan buah-buahan juga merupakan sumber vitamin E yang baik. Daging, unggas, ikan, dan kacang-kacangan mengandung vitamin E dalam jumlah terbatas (Almatsier 2004).

Panas, Gangguan nafsu makan, Gangguan absorpsi Gangguan utilisasi dll

infeksi

Kekuarangan Vitamin A

Perubahan Integrasi Epitel Jaringan Limfoid Imunitas Spesifik Mekanisme

(28)

Vitamin C

Vitamin C merupakan vitamin yang larut dalam air, tidak tahan terhadap panas dan dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak. Vitamin C membantu spesifik enzim dalam melakukan fungsinya. Vitamin C juga berperan sebagai antioksidan. Vitamin C juga penting untuk membentuk kolagen, serat, struktur protein serta meningkatkan ketahanan tubuh terhadap infeksi dan membantu tubuh menyerap zat besi (Almatsier 2004)

Vitamin C diperlukan pada pembentukan zat kolagen oleh fibroblast hingga merupakan bagian dalam pembentukan zat intersel. Keadaan kekurangan vitamin C akan mengganggu integrasi dinding kapiler. Vitamin C diperlukan proses pematangan eritrosit dan pada pembentukan tulang dan dentin, vitamin C mempunyai peranan penting pada respirasi jaringan (Pudjiadi 2001).

Vitamin C banyak sekali manfaatnya salah satunya adalah mencegah infeksi, kemungkinan karena pemeliharaan terhadap membran mukosa atau pengaruh terhadap fungsi kekebalan. Menurut Pauling, mengemukakan bahwa mengkonsumsi vitamin C dalam dosis tinggi dapat menyembuhkan infeksi (Almatsier 2004).

Jeruk, brokoli, sayuran berwarna hijau, kol (kubis), melon dan stawberi mempunyai kandungan vitamin C yang tinggi. Selain dari sayuran dan buah-buahan vitamin C juga terdapat dalam makanan hewani seperti hati, ginjal tapi yang paling banyak mengandung vitamin C terdapat dalam buah-buahan dan sayuran (Marsetyo 2005).

Sama seperti vitamin A, vitamin C juga jika berlebihan ataupun kekurangan akan menimbulkan masalah, diantaranya jika kekurangan vitamin C akan mengakibatkan skorbut, anemia, perdarahan gusi serta depresi dan gangguan saraf. Kelebihan juga akan mengakibatkan hal yang tidak baik seperti hiperoksaluria dan resiko lebih tinggi terhadap batu ginjal (Almatsier 2004).

(29)

menjadi asam oksalat. Dalam jumlah banyak asam oksalat dapat berubah menjadi batu ginjal (Pudjiadi 2001).

Tabel 2 Angka Kecukupan Gizi Vitamin C yang di Anjurkan Pada Berbagai Kelompok Usia sayur dan buah terutama yang asam (Almatsier 2004). Jeruk, brokoli, sayuran berwarna hijau, kol (kubis), melon dan stawberi mempunyai kandungan vitamin C yang tinggi. Selain dari sayuran dan buah-buahan vitamin C juga terdapat dalam makanan hewani seperti hati, ginjal tapi yang paling banyak mengandung vitamin C terdapat dalam buah-buahan dan sayuran (Marsetyo 2005).

Seng

Di Indonesia, data defisiensi seng masih terbatas. Sejauh ini belum dijumpai penelitian seng dalam skala besar di Indonesia. Hal ini disebabkan rentannya kontaminasi penanganan spesimen sejak persiapan, pelaksanakan dan pemrosesan baik di lapangan maupun di laboratorium untuk penentuan seng. Secara keseluruhan, sekitar 800.000 anak yang meninggal per tahun berkaitan dengan defisiensi seng. Kematian dan peningkatan penyakit infeksi ini mengakibatkan 1,9% dari keseluruhan DALYs (Disability Adjusted Life Years) yang berkaitan dengan defisiensi seng. Menurut WHO, secara global jumlah tersebut terjadi 10,8 juta kematian anak per tahun berkaitan dengan defisiensi seng, vitamin A, dan besi, atau sekitar 19% keseluruhan kematian anak.

(30)

Defisiensi seng menyebabkan gangguan fungsi imun non spesifik seperti kerusakan epitel saluran nafas, menggangu fungsi leukosit PMN, selnatural killer dan aktivitas komplemen dan fungsi imun spesifik seperti penurunan jumlah sitokin. Gangguan fungsi imun non spesifik dan spesifik tersebut akhirnya memudahkan anak menderita ISPA (Shankar et al diacu dalam Sudiana 2005).

Besi

Mineral yang penting bagi pekerja adalah zat besi (Fe). Fungsi zat besi

adalah untuk membentuk hemoglobin yang berfungsi untuk mengangkut oksigen

yang sangat diperlukan pada proses metabolisme di dalam sel, pembentukan

energi. Kekurangan zat besi akan berakibat anemia (Mahan 2000).

Besi merupakan mineral mikro yang paling banyak terdapat di dalam

tubuh manusia dan hewan. Yaitu sebanyak 3-5 gr di dalam tubuh manusia

dewasa, besi mempunyai beberapa fungsi essensial dalam tubuh, sebagai alat

angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh. Sebagai alat angkut elektron di

dalam sel dan sebagai bagian terpadu berbagai reaksi di dalam jaringan tubuh.

(Almatsier 2004).

Sebelum di absorpsi di dalam lambung, besi di bebaskan dari ikatan

organik protein. Hal ini terjadi dalam suasana asam di dalam lambung dengan

adanya HCL dan Vitamin C yang terdapat di dalam makanan. Absorbsi terjadi di

bagian usus halus. Besi dalam makanan terdapat dalam bentuk besi hem seperti

yang terdapat dalam hemoglobin dan mioglobin makanan hewani dan besi non

hem dalam makanan nabati. Besi hem di absorpsi di dalam sel mukosa sebagai

kompleks feritin utuh. Taraf absorbsi besi di atur oleh mukosa saluran cerna yang

di tentukan oleh kebutuhan tubuh, transferin mukosa yang di keluarkan ke dalam

empedu berperan sebagai alat angkut protein yang bolak-balik membawa besi

kepermukaan sel usus halus untuk di ikat oleh transferin reseptor dan kembali ke

(31)

Defisiensi besi merupakan defisiensi gizi yang paling umum terdapat, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Defisiensi besi terutama menyerang golongan rentan seperti anak-anak, remaja, ibu hamil dan menyusui serta pekerja berpenghasilan rendah. Kekurangan besi terjadi dalam tiga tahap. Tahap pertama terjadi bila simpanan besi berkurang yang dilihat dari penurunan feritin dalam plasma hingga 12 ug/L. Tahap kedua terlihat dengan habisnya simpanan besi. Tahap ketiga terjadi anemia gizi besi terlihat dari kadar hemoglobin total turun di bawah nilai normal. Anemia gizi besi merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia. Sebagian besar anemia gizi ini disebabkan karena makanan yang kurang mengandung besi (Almatsier 2004).

Tabel 3 Bahan makanan sumber besi

Bahan makanan Berat (gr) Kandungan besi (mg)

Tempe 100 10.0

Kacang kedelai kering 100 8.0

Udang segar 100 8.0

Kacang hijau 100 6.7

Hati sapi 100 6.6

Daun kacang panjang 100 6.2

Kacang merah 100 5.0

Sumber: Daftar Komposisi Bahan Makanan Depkes (1979). Almatsier (2001)

Angka Kecukupan Gizi

Angka kecukupan gizi adalah nilai yang menunjukkan jumlah zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat setiap hari bagi hampir semua penduduk menurut kelompok umur, jenis kelamin dan kondisi fisiologis tertentu, seperti kehamilan dan menyusui (Riyadi 2006). Kecukupan gizi merupakan suatu taraf asupan yang dianggap dapat memenuhi kecukupan gizi semua orang sehat menurut berbagai kelompoknya sehingga kebutuhan pangan hanya diperlukan secukupnya (Khumaidi 1994). Kecukupan pangan dapat diukur secara kualitatif dan kuantitatif. Ukuran kualitatif meliputi nilai sosial dan cita rasa beragam jenis pangan, sedangkan nilai kuantitatif yang umum digunakan yakni kandungan gizi.

(32)

KERANGKA PEMIKIRAN

Kualitas udara yang buruk akibat penambangan batu kapur dan asap kendaraan bermotor dapat menyebabkan terjadinya polusi udara, sehingga akan mengakibatkan gangguan pada pernapasan. Jika kualitas udara yang buruk terjadi berangsur terus menerus dan terhisap oleh balita, maka akan menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan atau yang dikenal sebagai ISPA. Polusi udara selain dari faktor luar rumah juga bisa terjadi dalam rumah seperti asap rokok, jumlah orang yang merokok dan asap rokok yang dihasilkan dapat memperburuk kualitas udara yang dihisap. ISPA adalah radang akut saluran pernapasan atas maupun bawah yang disebabkan oleh jasad renik bakteri, virus, maupun riketsia dengan gejala batuk, pilek, demam, dan sesak napas.

Balita umur 12-59 bulan merupakan golongan yang paling rawan gizi dan rentan terhadap penyakit, karena pada usia ini merupakan periode pasca penyapihan. Jika pada periode ini konsumsi makan kurang dan tidak mencukupi kebutuhan, maka akan menyebabkan daya tahan tubuh menjadi kurang, dan dalam jangka waktu tertentu akan mengakibatkan penurunan status gizi menjadi rendah atau bisa menjadi buruk dan balita yang mempunyai status gizi rendah akan mudah terinfeksi oleh penyakit. Infeksi juga akan menyebabkan seseorang mengalami penurunan nafsu makan dan menyebabkan konsumsi makan berkurang sehingga status gizi yang sebelumnya baik menjadi rendah, atau status gizi rendah menjadi buruk.

(33)

Gambar 2 Kerangka pemikiran hubungan konsumsi dengan kejadian penyakit ISPA pada balita

:Variabel diteliti : Variabel tidak diteliti : Hubungan yang dianalisis : Hubungan yang tidak dianalisis

Keadaan Sosial Ekonomi Keluarga

1. Pendidikan 2. Pekerjaan 3. Besar Keluarga 4. Pendapatan

Polusi Udara Konsumsi pangan

Contoh Karakteristik Contoh

1. Umur

2 Jenis kelamin 3 BB dan TB

Status Gizi

(BB/U, TB/U, BB/TB ISPA / tidakISPA Tingkat Kecukupan

Status Imunitas

Penambangan Batu Kapur

Kebiasaan Merokok dalam rumah

(34)

METODOLOGI PENELITIAN

Desain, Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study, yaitu desain penelitian untuk mempelajari dinamika antara faktor terpapar dan faktor tidak terpapar, dengan model pendekatan atau observasi sekaligus pada satu saat. Penelitian dilakukan di Kecamatan Cipatat desa Citatah dimana terdapat daerah penambangan batu kapur. Lokasi dipilih berdasarkan pertimbangan tingginya polusi udara akibat kegiatan penambangan batu kapur tersebut. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus dan September 2010.

Jumlah dan Cara Penarikan Contoh

Contoh dalam penelitian ini adalah anak balita usia 12-59 bulan yang berada di daerah ruang lingkup wilayah kerja Puskesmas Cipatat. Metode yang digunakan dalam pengambilan contoh dilakukan secara purposive dengan kriteria mempunyai riwayat penyakit ISPA selama 2 minggu terakhir (sebagai kelompok ISPA) dan tidak memiliki riwayat ISPA (sebagai kelompok tidak ISPA) serta terdaftar di Puskesmas Cipatat. Kategori ISPA dan tidak ISPA ditetapkan berdasarkan data yang ada di Puskesmas Cipatat berdasarkan hasil diagnosis dokter di puskesmas setempat. Jumlah contoh masing-masing kelompok adalah 30 sehingga total 60 anak balita. Penetapan sampel kelompok ISPA dan tidak ISPA dilakukan berdasarkan rekomendasi dan hasil diagnosis. Menurut Singarimbun dan Efendi (2006) untuk menguji beda dan membandingkan antar kelompok seperti T-test dan analisis varian pada setiap sel dalam rancangan analisis jumlah sampel minimal adalah 30 sampel pada masing-masing kasus.

Gambar 3 Kerangka cara penarikan contoh

Balita 12-59 bulan

Di Kecamatan Cipatat

Terdaftar di Puskesmas

ISPA

n=30

Tidak ISPA

(35)

Jenis dan Cara Pengumpulan data

Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan menggunakan alat bantu kuesioner. Data primer meliputi karakteristik sosial ekonomi keluarga contoh (pendidikan, pekerjaan, besar keluarga, dan pendapatan), data kebiasaan merokok dalam rumah, serta data karakteristik contoh (umur, jenis kelamin), data konsumsi makanan serta data antropometri (berat badan, dan tinggi badan) contoh. Sedangkan data sekunder berasal dari puskesmas meliputi data profil puskesmas dan data kejadian penyakit ISPA pada balita selama 2 minggu terakhir.

Data karakteristik sosial ekonomi keluarga, data kebiasaan merokok dalam rumah dan data karakteristik contoh diperoleh dengan menjawab daftar pertanyaan pada kuesioner. Data tingkat konsumsi energi dan zat gizi dapat diketahui dari konsumsi pangan yang diperoleh melaluirecall2x24 jam konsumsi pangan pada hari yang tidak berurutan. Data yang dikumpulkan yaitu jumlah pangan yang dikonsumsi yang dinyatakan dalam satuan ukur rumah tangga (URT), hasilnya dikonversikan ke dalam satuan gram (g).

Jenis data status gizi yang dikumpulkan adalah jenis kelamin, umur, berat badan dan tinggi badan contoh dengan menghitung nilai z-skor. Cara pengumpulan datanya diperoleh dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan langsung di lokasi penelitian. Jenis dan cara pengumpulan data dapat dilihat pada Tabel 4 dibawah ini :

Tabel 4 Jenis peubah dan cara pengumpulan data

No Variabel Data Jenis 2. Kejadian ISPA Contoh penderita

ISPA dan tidak

Konsumsi makanan Primer Wawancara Kuesioner Food Recall 2x24 jam 7. Status Gizi Berat badan, Tinggi

(36)

Pengolahan dan Analisis Data

Proses pengolahan data meliputi editing, coding, cleaning, entry dan analisis. Program komputer yang digunakan untuk pembuatan data base dan pengolahan data adalah Microsft Exel 2007 sedangkan analisis data dengan menggunakan programSPSS versi 16 for windows.

Data karakteristik sosial ekonomi keluarga contoh meliputi, tingkat pendidikan ayah, jenis pekerjaan ayah, besar keluarga, dan pendapatan keluarga, data kebiasaan merokok dalam rumah, dan data karakteristik contoh diolah dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan dianalisis secara deskriptif.

Tabel 5 Cara pengolahan data Besar keluarga  Kecil (≤ 4)

 Sedang (4-6)

 Besar (≥ 7) BKKBN (1998)

Pendapatan Miskin (<Rp. 139.000)

 Tidak miskin (≥Rp. 139.000)

Status gizi contoh diolah dengan cara mentabulasi hasil pengukuran parameter berat badan, tinggi badan, dan umur. Parameter tersebut digunakan untuk mencari nilai median dan simpang baku yang ada pada buku rujukan WHO-NCHS. Nilai tersebut akan digunakan untuk menghitung z-skor dengan menggunakan rumus:

(37)

Hasil perhitungan z-skor akan digunakan untuk menentukan status gizi sampel berdasarkan kategori seperti pada tabel berikut :

Tabel 6 Kategori Status Gizi Balita

Indeks Kategori

BB/U Gizi lebih : > 2.0 SD

Gizi baik : - 2.0 SD s/d + 2.0 SD Gizi kurang : < - 2 SD

Gizi buruk : < - 3 SD TB/U Normal : ≥ - 2 SD

Pendek/stunted : < - 2 SD BB/TB Gemuk : > 2.0 SD

Normal : - 2 SD s/d + 2 SD Kurus/wasted : < - 2.0 SD Sangat kurus : < - 3 SD

Dimodifikasi dari SK Menkes 920/Menkes/SK/VIII/2002

Data konsumsi pangan diolah dengan cara mentabulasi hasil recall 24 jam yang dilakukan selama 2 hari, selanjutnya diolah dengan menggunakan program Nutrisurvey 2007 untuk mendapatkan data asupan energi dan zat gizi (protein, vitamin A, E, C, seng dan Fe ). Data tersebut kemudian di bandingkan dengan angka kecukupan gizi (AKG) untuk mendapatkan data tingkat kecukupan Energi dan Zat Gizi. Kemudian dikategorikan menjadi lima yaitu :

Defisit berat : < 70% Defisit sedang : 70 – 79 % Defisit ringan : 80% - 89 % Normal : 90% - 119 % Lebih : > 120% (Depkes, Nasoetion 2008).

Analisis data

Untuk mengetahui perbedaan tingkat kecukupan energi, zat gizi dan status gizi antara penderita ISPA dan tidak ISPA dilakukan uji beda Indeppendent sample T-testmengggunakan programSPSS versi 16 for window.

Definisi Operasional

Contoh adalah anak balita yang berusia 12-59 bulan yang menderita ISPA dan tidak menderita ISPA, merupakan pasien dari puskesmas Cipatat.

(38)

Tidak ISPAadalah seseorang yang tidak terdiagnosa oleh dokter terkena ISPA dan tidak mengalami demam, batuk dan pilek.

Status gizi adalah suatu keadaan yang menggambarkan kondisi seseorang mengalami kondisi normal, kurang atau lebih berdasarkan antropometri.

Asupan gizi adalah jumlah zat gizi yang terkandung dalam makanan yang dikonsumsi oleh seseorang dalam periode waktu tertentu yang biasanya dinyatakan dalam satuan zat gizi per kapita/hari.

Tingkat kecukupanadalah suatu tingkatan dari sejumlah makanan yang dikonsumsi oleh individu atau kelompok dalam periode waktu tertentu dibandingkan dengan AKG.

Angka Kecukupan Gizi (AKG)adalah suatu kecukupan rata-rata zat gizi setiap hari bagi semua orang menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran & aktivitas tubuh, untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.

Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang telah atau sedang ditempuh dan dikategorikan berdasarkan jenjang pendidikan SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.

Pekerjaan adalah jenis suatu usaha yang sedang dilakukan dengan tujuan mendapatkan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan.

Besar keluarga adalah jumlah anggota keluarga yang hidup dibawah pengelolaan sumberdaya yang sama.

Pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan atau yang diusahan yang dinilai dengan uang dalam satu bulan.

(39)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Puskesmas Cipatat merupakan salah satu Puskesmas di wilayah UPTD kesehatan Cipatat, termasuk Puskesmas DTP Rajamandala, dan Puskesmas Sumur Bandung. Puskesmas Cipatat terletak di Desa Cipatat Kecamatan Cipatat, tepatnya di Jl. Raya Padalarang-Cianjur, luas wilayah kerja Puskesmas Cipatat sekitar 4.355,94 Ha.

Wilayah kerja Puskesmas Cipatat terdiri dari 4 desa, 78 RW, dan 253 RT. Adapun ke 4 desa tersebut adalah : Desa Cipatat, Desa Citatah, Desa Kertamukti, Desa Sarimukti. Diantara 4 desa tersebut, sebanyak 2 desa yaitu desa Cipatat dan desa Citatah berada di pinggir jalan Padalarang-Cianjur, dan 2 desa lainnya cukup jauh dari jalan raya provinsi sehingga cukup sulit untuk menjangkaunya sehingga sarana transportasi yang dipakai harus menggunakan kendaraan roda dua bila ingin mencapai pelosok. Karena dua desa berada di pinggir jalan maka kecenderungan kecelakaan lalu lintas sering terjadi

Berdasarkan hasil pendataan tahun 2009 jumlah penduduk di Kecamatan Cipatat sebesar 37.939 jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki 18.833 jiwa dan penduduk wanita 19.106 jiwa. Mata pencaharian penduduk sebagian besar petani dan sebagiannya lagi sebagai buruh pabrik kapur dan batu marmer. Data puskesmas setempat menunjukan bahwa para buruh pabrik memiliki kecenderungan terkena penyakit saluran pernafasan dan TBC paru yang cukup tinggi. Dari data tersebut juga didapatkan bahwa jumlah balita yang menderita ISPA sekitar 349 dari 6.322 jiwa maka prevalensi balita ISPA di Puskesmas Kecamatan Cipatat adalah 5,52% (laporan Puskesmas Cipatat 2009).

Karakteristik sosial ekonomi keluarga contoh Tingkat Pendidikan

(40)

cukup tinggi mempunyai prevalensi gizi kurang yang rendah pada anaknya, sedangkan orang tua yang memiliki pendidikan yang rendah umumnya balita memiliki prevalensi gizi kurang yang lebih tinggi. Karena variabel pendidikan merupakan indikator pengetahuan dan perilaku yang berhubungan dengan kesadaran individu terhadap kesehatan. Berikut adalah sebaran tingkat pendidikan orang tua contoh dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Sebaran orang tua (ayah) contoh berdasarkan tingkat pendidikan

Kategori ISPA Tidak ISPA

n % n %

Tidak Tamat SD 1 3,3 0 0

Tamat SD 7 23,3 7 23,3

Tamat SLTP 11 36,7 7 23,3

Tamat SLTA 9 30 12 40

Perguruan Tinggi 2 6,7 4 13,3

Total 30 100 30 100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan orang tua contoh balita ISPA hanya sampai tingkat SLTP (36,7%), sedangkan pada balita tidak ISPA sebanyak 40% sampai tingkat SLTA. Tingkat pendidikan mempengaruhi terhadap perilaku seseorang baik dalam pemilihan bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan gizinya maupun pola asuh terhadap anak. Penyakit ISPA merupakan penyakit yang ada sehari-hari di masyarakat. Hal ini perlu mendapat perhatian serius oleh kita semua karena penyakit ini banyak menyerang balita yang rentan terhadap infeksi. Jika tingkat pendidikan rendah maka perilaku seseorang dalam upaya pencegahan maupun penanggulangan penyakit ISPA sangat rendah. Hal ini dapat diartikan bahwa peran keluarga dalam praktek penanganan dini bagi balita sakit ISPA sangatlah penting, sebab bila penanganan kurang atau buruk akan berpengaruh terhadap perjalanan penyakit dari yang ringan menjadi lebih berat.

Jenis Pekerjaan

(41)

makanan yang kurang akan menimbulkan masalah gizi dimana masalah gizi akan menurunkan tingkat kesehatan masyarakat (Suhardjo 2003).

Jenis pekerjaan masyarakat desa Citatah pada umumnya sebagai petani dan buruh pabrik penambang batu kapur maupun pengrajin batu marmer. Sebaran jenis pekerjaan orangtua ayah contoh dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Sebaran jenis pekerjaan ayah contoh

Kategori ISPA Tidak ISPA

n % n %

Tidak bekerja 1 3,3 0 0

Petani 7 23,3 6 20

Buruh 18 60 10 33,3

Pegawai swasta 2 6,7 10 33,3

PNS 2 6,7 4 13,3

Total 30 100 30 100

Berdasarkan tabel diatas sebagian besar 60% jenis pekerjaan ayah contoh balita ISPA bekerja sebagai buruh pabrik, sedangkan pada balita tidak ISPA ayah contoh bekerja sebagai buruh dan pegawai swasta yaitu masing-masing sebesar 33,3%. Keadaan gizi erat kaitannya dengan keadaan sosial ekonomi keluarga terutama jenis pekerjaan yang mendukung terhadap tinggi rendahnya pendapatan keluarga. Jika pendapatan kurang maka masalah yang terjadi pada anak balita adalah keadaan gizi kurang dimana hal tersebut disebabkan oleh kekurangan sumber energi dan protein. Pada anak-anak, gizi kurang dapat menghambat pertumbuhan, rentan terhadap infeksi dan mengakibatkan rendahnya tingkat kecerdasan (Almatsier 2003).

Besar Keluarga

(42)

Menurut Robert et al (1994) bahwa pertambahan jumlah anggota keluarga akan memberikan dampak merugikan kepada status gizi anggota rumah tangga termasuk anak berumur di bawah dua tahun. Bertambahnya jumlah anggota keluarga akan menyebabkan masalah kelaparan dan kesempitan ruang. Hal ini menyebabkan terbatasnya ruang gerak dan menghambat jalan sirkulasi udara sehingga memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap kesehatan. Berikut adalah sebaran besar keluarga contoh dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Sebaran besar keluarga pada contoh

Kategori ISPA Tidak ISPA

n % n %

Keluarga kecil 15 50 22 73.3

Keluarga sedang 12 40 7 23.3

Keluarga besar 3 10 1 3.3

Total 30 100 30 100

(43)

Tingkat Pendapatan

Dengan meningkatnya pendapatan perorangan, maka akan terjadi perubahan-perubahan dalam susunan makanan. Akan tetapi, pengeluaran uang yang lebih banyak untuk pangan tidak menjamin lebih beragamnya konsumsi pangan (Suhardjo 1989). Menurut Madanijah (2004) keadaan ekonomi keluarga relatif lebih mudah diukur dan mempunyai pengaruh besar terhadap konsumsi pangan, terutama pada golongan miskin. Pada golongan miskin mereka menggunakan sebagian pendapatannya untuk kebutuhan makanan. Faktor ekonomi yang paling berperan adalah keluarga dan harga (baik harga pangan, maupun harga komoditas kebutuhan dasar). Berikut adalah Tabel 10 menampilkan sebaran tingkat pendapatan keluarga contoh.

Tabel 10 Sebaran pendapatan keluarga contoh

Kategori ISPA Tidak ISPA

n % n %

Miskin (<Rp. 139.000) 19 63,3 11 36,7 Tidak miskin (≥Rp. 139.000) 11 36,7 19 63,3

Total 30 100 30 100

Tingkat pendapatan berdasarkan BPS pusat (2004) yaitu sebesar Rp. 139.000,- per kapita per bulan, didapatkan bahwa sebagian besar (63,3%) dari rumah tangga balita ISPA tergolong miskin, sedangkan pada balita tidak ISPA sebagian besar (63,3%) tidak miskin. Dalam hal ini ISPA lebih banyak diderita oleh keluarga yang miskin, karena pada keluarga miskin rata-rata mempunyai kondisi lingkungan yang kurang baik misalnya lantai dasar rumah masih memakai semen, dinding rumah masih memakai bilik kayu, dan ketersediaan fentilasi yang kurang ditambah dengan kurangnya daya beli terhadap makanan. Jika daya beli kurang maka konsumsi makan akan menjadi kurang dan asupan energi dan zat gizi akan kurang dan tidak memenuhi kecukupan gizi.

Kebiasaan Merokok dalam Rumah

(44)

rokok yang dihisap, masuknya asap dapur kedalam ruangan keluarga, fentilasi rumah yang tidak baik, jarak antara rumah dengan tempat sampah. Keadaan lingkungan dapat mempengaruhi episode kejadian ISPA pada anak. Sebaran kebiasaan merokok adalam rumah contoh dapat dilihat pada Tabel 11 berikut ini. Tabel 11 Sebaran kebiasaan merokok dalam rumah contoh

Kategori ISPA Tidak ISPA

n % n %

Merokok 23 76,7 19 63,3

Tidak merokok 7 23,3 11 36,7

Total 30 100 30 100

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa pada balita ISPA dan tidak ISPA mayoritas kepala keluarga atau anggota keluarga memiliki kebiasaan merokok dalam rumah dengan anggota keluarga, masing-masing sebanyak 23 orang (76,7%) dan 19 orang (63,3%). Hampir sebagian besar keluarga mempunyai kebiasaan merokok bersama dengan anggota keluarga lain, baik pada kelompok balita ISPA maupun pada kelompok balita tidak ISPA. Kaitannya antara asap rokok dengan kejadian ISPA karena produksi CO terjadi selama merokok. Asap rokok mengandung CO dengan konsentrasi lebih dari 20.000 ppm selama dihisap. Konsentrasi tersebut terencerkan menjadi 400-500 ppm. Konsentrasi CO yang tinggi di dalam asap rokok yang terisap mengakibatkan kadar COHb di dalam darah meningkat. Selain berbahaya terhadap orang yang merokok, adanya asap rokok yang mengandung CO juga berbahaya bagi orang yang berada di sekitarnya karena asapnya dapat terisap (Fardiaz 1992). Semakin banyak jumlah rokok yang dihisap oleh keluarga semakin besar memberikan risiko terhadap kejadian ISPA, khususnya apabila merokok dilakukan oleh ibu bayi (Depkes RI 2001).

(45)

Karakteristik Contoh Umur

Umur merupakan faktor gizi sehingga umur berkaitan erat dengan status gizi (Apriadji 1986). Usia balita merupakan kelompok rentan terhadap kesehatan dan gizi, karena masih berlangsungnya proses tumbuh kembang yang sangat pesat, yaitu pertumbuhan fisik dan perkembangan psikomotor, mental dan sosial. Stimulasi psikososial harus dimulai sejak dini dan tepat waktu untuk tercapainya perkembangan psikososial yang optimal. Oleh karena itu, pada usia ini balita sangat membutuhkan asupan gizi yang cukup untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya. ISPA dapat menyerang semua manusia baik pria maupun wanita pada semua tingkat usia, terutama pada usia kurang dari 5 tahun karena daya tahan tubuh balita lebih rendah dari orang dewasa sehingga mudah menderita ISPA.

Umur diduga terkait dengan sistem kekebalan tubuh, bayi dan balita merupakan kelompok yang kekebalan tubuhnya belum sempurna, sehingga masih rentan terhadap berbagai penyakit infeksi. Hal senada dikemukakan oleh Suwendra (1988), bahkan semakin muda usia anak makin sering mendapat serangan ISPA. Berikut sebaran umur contoh dapat dilihat pada Tabel 12 berikut.

Tabel 12 Sebaran umur contoh

Kategori ISPA Tidak ISPA

n % n %

12-36 bulan 25 83,3 24 80

37-59 bulan 5 16,7 6 20

Total 30 100 30 100

Gambar

Tabel 3 Bahan makanan sumber besi
Gambar 2 Kerangka pemikiran hubungan konsumsi dengan kejadian penyakit
Gambar 3 Kerangka cara penarikan contoh
Tabel 4 Jenis peubah dan cara pengumpulan data
+7

Referensi

Dokumen terkait

Moeslem Millionair, Life is changeable that we have to improve every time, Life is competition so we have to fight every moment not for our self but also for our family and

valuasi merupakan subsistem yang sangat penting dan sangat di butuhkan dalam setiap sistem pendidikan, karena evaluasi dapat mencerminkan seberapa jauh perkembangan atau

Merupakan salah satu strategi perusahaan kami yaitu penjualan dengan harga yang terjangkau, harga yang mampu diraih oleh semua kalangan. Jika biasanya anak sekolah hanya

For example, if you have an existing session open with two windows, you could script tmux at some point in time to execute a shell command to target the results into one of the panes

Alhamdulillahirobbil’alamin , puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir kuliah yang

Sequence diagram view email inbox activities untuk user .... Sequence diagram view email outbox untuk

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Group Investigation berbantu permainan ular tangga dapat meningkatkan keterampilan guru dan hasil belajar siswa pada mata

[r]