• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analysis of Food Consumption Situation and Needs In Riau Province

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analysis of Food Consumption Situation and Needs In Riau Province"

Copied!
132
0
0

Teks penuh

(1)

MAHYUNI

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

(2)

ABSTRACT

MAHYUNI. Analysis of Food Consumption Situation and Needs In Riau Province. Supervised byYAYAT HERYATNO and SITI MADANIJAH.

This study was aimed to analyze the situation and needs food consumption in Riau Province. This study was a prospective study and used secondary data based on national socio economic survey (Susenas) 2008, 2009, and 2010. The study showed that in quantity, energy intake in Riau province was below the Recommended Daily Allowance (RDA) that recomended by Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VIII (WNPG) (1904 kcal/cap/day or 95,3%). Protein intake already exceeded the RDA (55 g/capita/day or 105,8%). In quality, food consumption was still low, that was represented by Desirable Dietary Pattern score (DDP) was 78,2. That score was below the Minimum Service Standard (SPM) score in field of food security (90). Consumption of food groups that should be improved is tuber 2,6 kg/cap/year, animal food 0,6 kg/cap/year, legumes 0,9kg/cap/year, vegetables and fruits 3,5 kg/cap/year, and miscellaneous foods 0,3 kg/cap/year.In order to reach DPP score 90 of food consumption according to SPM, in 2015 is needed 757,1 thousand tons of grain, 164,6 thousand tons of tubers, 353,1 thousand tons of animal food, 76,7 thousand tons of fats and oils , 27,8 thousand tons of fruit/oily seeds, nuts 66,1 thousand tons, 81,3 thousand tons of sugar, 509,8 thousand tons of vegetables and fruits, and 29,8 thousand tons of miscellaneous foods.

(3)

RINGKASAN

MAHYUNI. Analisis Situasi dan Kebutuhan Konsumsi Pangan di Provinsi Riau. Dibimbing oleh YAYAT HERYATNO dan SITI MADANIJAH.

Ketahanan pangan diartikan sebagai adanya jaminan bahwa setiap penduduk di suatu negara, selalu tercukupi kebutuhan pangan dan gizinya sebagai syarat utama untuk mencapai derajat kesehatan dan kesejahteraan.Ketahanan pangan di suatu wilayah dapat diukur dari ketersediaan pangan, daya beli, dan tingkat konsumsi penduduk. Tingkat konsumsi pangan dapat memberikan gambaran kondisi kesehatan penduduk di suatu wilayah yang ditinjau dari aspek keadaan gizinya. Indikator yang digunakan untuk analisis konsumsi yaitu dari pengukuran kecukupan konsumsi energi dan protein.

Riau merupakan salah satu provinsi yang kuantitas konsumsi pangan masyarakatnya masih rendah. Kondisi ini dicerminkan oleh rendahnya konsumsi energi penduduk di Provinsi Riau pada tahun 2010 yaitu 1904 kkal/kapita/hari(BPS 2010). Konsumsi energi tersebut berada di bawah konsumsi energi yang dianjurkan oleh WNPG VIII ahun 2004, yaitu 2000 kkal/kapita/hari. Rendahnya nilai tersebut disebabkan olehkurangnya konsumsi pangan yang dapat berkaitan dengan ketidakseimbangan pola konsumsi pangan penduduk.Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya perbaikan konsumsi pangan dan gizi, antara lain melalui perencanaan pangan yang baik, dengan salah satunya menganalisis situasi konsumsi pangan penduduk di Provinsi Riau berdasarkan pendekatan PPH.

Secara umum, tujuan penelitian ini adalah menganalisis situasi dan kebutuhan konsumsi pangan di Provinsi Riau berbasis pola pangan harapan (PPH). Tujuan khususnya adalah 1) menganalisis situasi konsumsi pangan penduduk di Provinsi Riau berdasarkan pendekatan PPH pada tahun 2008-2010,2) menganalisis proyeksi konsumsi pangan penduduk di Provinsi Riau pada tahun 2011-2015 berdasarkan pendekatan PPH dengan tahun dasar 2010, 3) menganalisis proyeksi kebutuhan konsumsi pangan di Provinsi Riau pada tahun 2011-2015.

Penelitian ini menggunakan desain prospective studyberdasarkan data hasil survei sosial ekonomi nasional (Susenas) Provinsi Riau tahun 2008 sampai 2010. Pengolahan data dilakukanpada bulan Juni-Juli 2012.Data yang digunakan dalam analisis ini meliputi data karakteristik wilayah, data konsumsi pangan, dan data jumlah penduduk. Data karakteristik wilayah, jumlah penduduk, dan data konsumsi pangan menurut jenis dan kelompok pangan penduduk di Provinsi Riau tahun 2008-2010 diperoleh dari data hasil survei sosial ekonomi nasional (Susenas) dari BPS.

Pengolahan data dilakukan dengan program “Perencanaan Pangan dan Gizi Wilayah” yang dikembangkan oleh Heryatno, Martianto, dan Baliwati (2007). Analisis data dilakukan secara deskriptif. Pengolahan dan analisisdata meliputi 1)Analisis situasi konsumsi pangan dan gizi, secara kuantitatif dengan menghitung tingkat kecukupan energi (TKE) dan tingkat kecukupan protein (TKP) penduduk, dan analisis konsumsi secara kualitatif dilakukan dengan menghitung skor PPH, 2)Analisis proyeksi konsumsi pangan berdasarkan pendekatan PPH dengan menggunakan teknik interpolasi linier,3)Analisis proyeksi kebutuhan konsumsi pangan berdasarkan pendekatan PPH.

(4)

tahun 2009 yaitu 1933 kkal dengan 96,6% AKE dan pada tahun 2010 sebesar 1904 kkal atau 95,3% AKE. Secara umum tingkat kecukupan energi di Provinsi Riau pada tahun 2008 sampai 2010 adalah normal menurut klasifikasi Depkes tahun 1996. Sementara untuk konsumsi protein di Provinsi Riau pada tahun 2008 sampai tahun 2010 sudah melebihi angka kecukupan yang dianjurkan WNPG VIII (52 g/kapita/hari). Konsumsi protein tahun 2008 adalah 57,8 g/kapita/hari, tahun 2009 adalah 54,7 g/kapita/hari, dan tahun 2010 adalah 55 g/kapita/hari. Secara kualitas, skor PPH tahun 2008 sudah cukup baik yaitu 83,7. Namun, karena kondisi konsumsi pangan yang belum berimbang menyebabkan skor PPH terus menurun pada tahun 2009 dan 2010 yaitu masing-masing 79,0 dan 78,2.

Berdasarkan hasil analisis data Susenas tahun 2010, skor PPH konsumsi pangan penduduk di Provinsi Riau masih rendah yaitu 78,2. Terdapat kekurangan sebesar 11,8 poin apabila dibandingkan dengan skor PPH sesuai SPM di bidang ketahanan pangan yaitu 90. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok pangan yang perlu ditingkatkan konsumsinya adalah kelompok umbi-umbian sebesar sebesar 2,6 kg/kapita/tahun, kelompok pangan hewani sebesar 0,6 kg/kapita/tahun, kelompok kacang-kacangan sebesar 0,9 kg/kapita/tahun, sayur dan buah sebesar 3,5 kg/kapita/tahun, dan pangan lainnya 0,3 kg/kapita/tahun.

Supaya kebutuhan konsumsi pangan penduduk dapat mencapai skor PPH 90 sesuai SPM maka pada tahun 2015 dibutuhkan 757,1 ribu ton kelompok padi-padian, 164,6 ribu ton umbi-umbian, 353,1 ribu ton pangan hewani, 76,7 ribu ton minyak dan lemak, 27,8 ribu ton buah/biji berminyak, kacang-kacangan 66,1 ribu ton, gula 81,3 ribu ton, 509,8 ribu ton untuk sayur dan buah serta 29,8 ribu ton pangan lainnya.

Situasi konsumsi pangan penduduk di Provinsi Riau pada tahun 2008-2010 menunjukkan pertumbuhan konsumsi yang negatif.Oleh karena itu kedepannya perlu upaya perbaikan konsumsi pangan secara komprehensif baik dari dimensi fisik penyediaan pangan, maupun dari dimensi ekonomi dan kesadaran gizi, serta faktor-faktor lain yang mempengaruhi konsumsi pangan.

(5)

ANALISIS SITUASI DAN KEBUTUHAN KONSUMSI PANGAN DI

PROVINSI RIAU

MAHYUNI

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi pada

Departemen Gizi Masyarakat

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

(6)

Judul Penelitian : Analisis Situasi dan Kebutuhan Konsumsi Pangan di Provinsi Riau

Nama : Mahyuni

NRP : I14080106

Menyetujui:

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Yayat Heryatno, SP, MPS Prof. Dr. Ir Siti Madanijah, MS

NIP. 19690112 199601 1 003 NIP. 19491130 197603 2001

Mengetahui, Ketua

Departemen Gizi Masyarakat

Dr. Ir. Budi Setiawan, MS NIP. 19621218 198703 1 001

(7)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan Syukur penulis panjatkan atas Kehadirat Allah swt sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Situasi Konsumsi dan Kebutuhan Pangan di Provinsi Riau”.

Penulis menyadari bahwa penyelesaian pedidikan, penelitian, dan penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan dan bantuan dari semua pihak, baik secara moril maupun materil. Oleh karena itu pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya dan sebesar-besarnya kepada:

1. Yayat Heryatno, SP, MPS dan Prof. Dr. Ir. Siti Madanijah, MS selaku dosen pembimbing skripsi atas ilmu yang diberikan dan waktu yang telah diluangkan untuk memberikan bimbingan dalam penelitian dan penyelesaian skripsi ini. 2. Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN selaku moderator seminar dan dosen penguji atas

kritik, saran, pertanyaan, dan masukan demi penyempurnaan penulisan skripsi ini.

3. Kedua orangtuaku tersayang, atas doa, dukungan, dan semangat yang diberikan di sepanjang jalan hidupku hingga terwujudnya cita-cita ini. Terima kasih juga kepada saudara-saudaraku tersayang Fajar, Citra, dan Resti atas doa dan motivasi yang diberikan.

4. Teman-teman pembahas seminar Euis, Azni, Tunggul, dan Maharani atas pertanyaan dan saran yang diberikan.

5. Teman seperjuangan GM45, Cahaya, Astria, Fitri atas semangatnya serta mbak Suci, mbak Qilla, mbak Anggit atas bantuannya.

6. Teman-teman Radar 36 (Titi, Rika, Jopang, Sri, Feby), Diah, Santi atas bantuan, semangat, serta keceriaan yang diberikan.

7. Terima kasih juga buat Irfan dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna dan masih perlu perbaikan. Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan.

(8)

Penulis

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Padang, Provinsi Sumatra Barat, pada tanggal 11 Juni 1990. Penulis adalah anak ketiga dari empat bersaudara yaitu dari keluarga Bapak Mahyunar Koto dan Ibu Eli Marni.

Penulis memulai pendidikan dari sekolah dasar di SD YPPI Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak Riau dari tahun 1996 sampai 2002. Penulis melanjutkan pendidikan di SMP YPPI Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak Riau sampai tahun 2005, selanjutnya pada tahun 2005 melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Tualang, Kabupaten Siak Riau dan lulus tahun 2008. Pada tahun 2008 penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor di Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia.

Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah aktif dalam organisasi Eco-Agrifarma sebagai staf pada divisi Research and Development (R&D). Kemudian penulis juga aktif dalam berbagai kepanitiaan seperti Seminar Herbal (Eco-Agrifarma) 2010, Seminar Gizi Nasional (SENZASIONAL) 2011 dan lain-lain. Penulis juga mengikuti kegiatan kemahasiswaan lainnya di Departemen Gizi Masyarakat dan tergabung sebagai anggota di Culinary Club 2010-2011 dan Creative Learning Club (CLC) HIMAGIZI IPB 2010-2011.

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL... ix

DAFTAR GAMBAR... x

DAFTAR LAMPIRAN... xi

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan ... 3

Kegunaan ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Ketahanan Pangan ... 4

Pola Konsumsi Pangan Penduduk... 7

Pola Pangan Harapan (PPH) ... 10

Kebutuhan Konsumsi Pangan 11 Kebijakan Ketahanan Pangan... 12

KERANGKA PEMIKIRAN... 15

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu ... 17

Jenis dan Cara Pengambilan Data ... 17

Pengolahan dan Analisis Data ... 18

Definisi Operasional... 22

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Wilayah ... 23

Kuantitas Konsumsi Pangan ... 25

Kualitas Konsumsi Pangan... 34

Proyeksi Konsumsi Pangan Penduduk di Provinsi Riau berdasarkan PPH.. 38

Proyeksi Kebutuhan Konsumsi Pangan berdasarkan PPH ... 43

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 48

Saran ... 48

DAFTAR PUSTAKA... 50

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Jenis dan sumber data... 17

2 Skor Pola Pangan Harapan ideal... 19

3 Contoh perhitungan skor PPH konsumsi pangan penduduk di Provinsi Riau tahun 2010... 20 4 Tingkat kecukupan energi di Provinsi Riau... 26

5 Tingkat konsumsi energi di Provinsi Riau menurut kelompok pangan berdasarkan data Susenas tahun 2008-2010... 29 6 Tingkat konsumsi energi di wilayah pedesaan dan perkotaan Provinsi

Riau menurut kelompok pangan berdasarkan data Susenas tahun 2008-2010... 30

7 Tingkat kecukupan protein di Provinsi Riau... 31

8 Tingkat konsumsi protein di Provinsi Riau menurut kelompok pangan berdasarkan data Susenas tahun 2008-2010... 32

9 Tingkat konsumsi energi di wilayah pedesaan dan perkotaan Provinsi Riau menurut kelompok pangan berdasarkan data Susenas tahun 2008-2010... 34 10 Skor PPH konsumsi pangan penduduk di Provinsi Riau tahun

2008-2015... 38 11 Kontribusi konsumsi energi menurut kelompok pangan... 36

12 Proyeksi skor PPH konsumsi Provinsi Riau berdasarkan kelompok pangan... 38 13 Proyeksi kontribusi konsumsi energi menurut kelompok pangan... 40

14 Proyeksi konsumsi energi menurut kelompok pangan

(kkal/kapita/tahun)... 41 15 Proyeksi konsumsi pangan penduduk Provinsi Riau tahun 2011-2015

menurut kelompok pangan (g/kapita/hari)... 42 16 Proyeksi konsumsi pangan penduduk Provinsi Riau tahun 2011-2015

menurut kelompok pangan (g/kapita/hari)... 43

17 Proyeksi kebutuhan konsumsi pangan penduduk Provinsi Riau tahun 2011-2015 menurut kelompok pangan (kg/kapita/hari)... 44

(11)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Peta Provinsi Riau ... 54

2 Keragaman dan skor PPH konsumsi pangan penduduk di Provinsi Riau ... 55 3 Proyeksi konsumsi pangan menurut kelompok dan jenis pangan

(kg/kapita/tahun)... 56

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pangan dan gizi memiliki peran yang sangat penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Menurut Undang-undang pangan No 7 tahun 1996, pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia. Pembangunan dibidang pangan dan gizi sangat erat kaitannya dengan pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas yang pada akhirnya akan menentukan keberhasilan pembangunan suatu bangsa. Menurut Berg (1986), gizi berperan terhadap perkembangan mental, perkembangan fisik, produktivitas, dan kesanggupan kerja manusia yang semuanya mempengaruhi pembangunan ekonomi suatu bangsa.Kecukupan pangan bagi setiap orang hanya akan dicapai apabila suatu negara atau daerah dapat mencapai suatu ketahanan pangan.

Menurut Soekirman (1996), ketahanan pangan diartikan sebagai adanya jaminan bahwa setiap penduduk di suatu negara, selalu tercukupi kebutuhan pangan dan gizinya sebagai syarat utama untuk mencapai derajat kesehatan dan kesejahteraan. Berdasarkan Kebijakan Umum Ketahanan Pangan (KUKP) tahun 2010-2014, tujuan pembangunan ketahanan pangan adalah untuk membangun ketahanan dan kemandirian pangan baik di tingkat makro (nasional) maupun di tingkat mikro (rumahtangga/individu). Sejalan dengan hal tersebut, RPJMN 2010-2014 menjadikan pembangunan ketahanan pangan menjadi prioritas ke-5.Selain itu, hasil KTT Pangan 2009 adalah mendorong untuk terealisasinya target MDG’s nomor 2 yaitu mengurangi penduduk yang menderita karena lapar dan malnutrisi setengahnya pada tahun 2015.

Ketahanan pangan di suatu wilayah dapat diukur dari ketersediaan pangan, daya beli, dan tingkat konsumsi penduduk. Tingkat konsumsi pangan dapat memberikan gambaran kondisi kesehatan penduduk di suatu wilayah yang ditinjau dari aspek keadaan gizinya. Indikator yang digunakan untuk analisis konsumsi yaitu dari pengukuran kecukupan konsumsi energi dan protein. Konsumsi energi dan protein tersebut mengacu pada Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII (WNPG) tahun 2004, yaitu kecukupan konsumsi energi yang dianjurkan sebesar 2000 kkal/kapita/hari dan kecukupan konsumsi protein adalah sebesar 52 g/kapita/hari.

(14)

keseimbangan antara banyaknya jenis zat gizi yang dikonsumsi dengan banyaknya zat gizi yang dibutuhkan tubuh (Suhardjo 1989). Semakin beragam pangan yang dikonsumsi maka akan semakin beragam pula zat gizi yang diperoleh dan semakin meningkat mutu gizinya.

Kurang beragamnya pangan yang dikonsumsi merupakan masalah konsumsi pangan dan gizi yang sering terjadi. Masalah yang berkaitan dengan konsumsi pangan dan gizi yaitu seperti tingkat pendapatan, ketersediaan pangan setempat, teknologi, tingkat pengetahuan, kesadaran masyarakat mengenai gizi, kesehatan, dan faktor-faktor sosial budaya seperti kebiasaan makan, sikap, dan pandangan masyarakat terhadap bahan makanan (Syarief & Martiato 1991).

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan masyarakat, kebudayaan, dan agama yang beragam. Kondisi fisik wilayah antar provinsi juga sangat beragam. Namun, kontribusi energi konsumsi pangan penduduk Indonesia terbesar adalah dari kelompok padi-padian terutama beras (Bappenas 2007). Hal tersebut menyebabkan pola pangan penduduk belum sesuai dengan pola pangan ideal. Riau merupakan salah satu Provinsi yang kuantitas konsumsi pangan masyarakatnya masih rendah. Kondisi ini dicerminkan oleh rendahnya konsumsi energi penduduk di Provinsi Riaupada tahun 2010 yaitu 1903,59 kkal/kapita/hari (BPS 2010). Konsumsi energi tersebut berada di bawah konsumsi energi yang dianjurkan oleh WNPG VIII yaitu 2000 kkal/kapita/hari.

Rendahnya nilai tersebut disebabkan karena kurangnya konsumsi pangan yang dapat berkaitan dengan ketidakseimbangan pola konsumsi pangan penduduk. Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya untuk menanggulangi masalah konsumsi pangan dan gizi, antara lain melalui perencanaan pangan yang baik, dengan salah satunya menganalisis keadaan konsumsi pangan penduduk sehingga ke depannya dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pangan yang sesuai dengan standar gizi.

(15)

knsumsi pangan serta mewujudkan ketahanan pangan. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis situasi konsumsi pangan aktual penduduk untuk mengetahui pola konsumsi pangan penduduk sehingga dapat diperoleh informasi mengenai kebutuhan konsumsi pangan pendudukdi Provinsi Riau sesuai PPH sehingga harapannya pada tahun 2015, konsumsi pangan masyarakat di Provinsi Riau sudah mencapai PPH dengan skor 90 sesuai dengan target Standar Pelayanan Minimal (SPM) di bidang ketahanan pangan.

Tujuan Tujuan Umum:

Tujuan umum penelitian ini adalah menganalisis situasi dan kebutuhan konsumsi pangan di Provinsi Riau dengan pendekatan PPH.

Tujuan Khusus:

Tujuan khusus penilitian ini adalah:

1. M

enganalisis situasi konsumsi pangan penduduk di Provinsi Riau berdasarkan pendekatan PPHpada tahun 2008-2010

2. M

enganalisis proyeksi konsumsi pangan penduduk di Provinsi Riau pada tahun 2011-2015 berdasarkan pendekatan PPH dengan tahun dasar 2010

3. M

enganalisis proyeksi kebutuhan konsumsi pangan penduduk di Provinsi Riau pada tahun 2011-2015

Kegunaan

(16)

TINJAUAN PUSTAKA

Ketahanan Pangan

Menurut UU No 7 tahun 1997, pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah ataupun produk turunannya yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi manusia termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman. Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia karena pemenuhan kebutuhan pangan merupakan bagian dari hak asasi manusia. Hal ini berarti negara bertanggungjawab memenuhi kebutuhan pangan bagi penduduk. Pemenuhan kebutuhan pangan sangat penting bagi komponen dasar untuk membentuk sumberdaya manusia yang berkualitas. Konsumsi pangan dan gizi yang cukup dan seimbang menjadi syarat bagi perkembangan organ fisik manusia sejak dalam kandungan yang selanjutnya berpengaruh terhadap perkembangan intelegensia maupun kemampuan fisiknya. Sumberdaya manusia yang berkualitas akan menjadi tulangpunggung bagi tumbuh kembang suatu bangsa dalam pembangunan ekonomi, sosial, maupun politik. Oleh karena itu ketahanan pangan merupakan salah satu pilar bagi pembangunantersebut (DKP 2006).

Menurut UU Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996, ketahanan pangan merupakan suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi rumahtangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutu, aman, merata, dan terjangkau. Adapun pemenuhan kebutuhan pangan sendiri ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, dan pemerintah bersama masyarakat agar terwujudnya ketahanan pangan. Suryana (2004) menyatakan bahwa negara atau wilayah mempunyai ketahanan pangan yang baik apabila mampu menyelenggarakan pasokan pangan yang stabil dan berkelanjutan bagi seluruh penduduknya, dan masing-masing rumahtangga mampu memproleh pangan sesuai kebutuhannya.

(17)

masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan ketahanan pangan tingkat rumahtangga, wilayah, dan nasional. Salah satu dari 15 elemen penting yang dituangkan dalam KUKP adalah melakukan diversifikasi pangan. Adapun salah satu dari enam rencana program elemen ini adalah melakukan peningkatan diversifikasi konsumsi pangan dengan prinsip gizi seimbang. UU No 32 tahun 2004 memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk lebih banyak mengatur dan mengelola pembangunan daerah, termasuk pembangunan ketahanan pangan. Ketahanan pangan merupakan urusan wajib pemerintah daerah sesuai dengan pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintah yang penyelenggaraannya berpedoman pada Standar Pelayanan Minimal (SPM). SPM adalah sebuah kebijakan publik yang mengatur mengenai jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal. Pencapaian SPM dilaksanakan secara bertahap dan ditetapkan oleh pemerintah. Ketahanan pangan harus diupayakan secara optimal dan berkesinambungan sesuai dengan potensi masing-masing wilayah di semua Kabupaten/kota.

Peran pemerintah dalam era otonomi daerah adalah menyediakan fasilitas dan rambu-rambu bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha produksi, pengolahan, dan perdagangan pangan secara efesien, adil, dan bertanggung jawab. Masyarakat berperan dalam mengelola kebutuhan pangannya secara swadaya, mengelola konsumsi sesuai kaidah kesehatan serta menerapkan budaya konsumsi yang hemat dan efisien di tingkat rumah tangga (Suryana 2004).

(18)

akan pangan, meningkatnya kualitas sumberdaya manusia, meningkatnya ketahanan ekonomi, dan ketahanan nasional.

Ketersediaan Pangan

Ketersediaan pangan adalah sejumlah bahan makanan dan minuman yang tersedia untuk dikonsumsi setiap individu atau penduduk suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, baik dalam bentuk natural maupun dalam bentuk unsur gizinya. Kemudian menurut FAO (1984) ketersediaan pangan adalah tingkat dimana persediaan pangan dapat dimiliki oleh masyarakat yang tinggal disuatu negara, baik di daerah pedesaan maupun perkotaan.

Subsistem ketersediaan pangan mencakup aspek produksi, cadangan serta keseimbangan antara ekspor dan impor pangan. Ketersediaan pangan harus dipertahankan sama atau lebih besar dari kebutuhan untuk konsumsi penduduk. Apabila keadaan ini tercapai maka ketahanan pangan di suatu daerah atau wilayah ditentukan oleh berbagai faktor seperti keragaan produksi pangan, tingkat kerusakan dan kehilangan pangan karena penanganan yang kurang tepat, dan tingkat ekspor/impor pangan.

Terjaminnnya ketersediaan pangan merupakan salah satu dimensi dari pengertian ketahanan pangan. Ketersediaan pangan harus dikelola sedemikian rupa sehingga walaupun produksi pangan bersifat musiman, terbatas, dan tersebar antar wilayah, volume pangan yang tersedia bagi masyarakat harus cukup jumlah dan jenisnya serta stabil penyediaannya dari waktu ke waktu. Distribusi Pangan

Subsistem distribusi pangan mencakup aspek aksebilitas secara fisik dan ekonomi atas pangan secara merata. Akses pangan didefinisikan sebagai kemampuan rumahtangga untuk secara periodik memenuhi sejumah pangan yang cukup, melalui berbagai sumber atau kombinasi cadangan pangan yang dimiliki, hasil produksi pangan, pembelian/ barter, pemberian, pinjaman dan bantuan pangan.

(19)

Konsumsi Pangan

Konsumsi pangan adalah jenis dan jumlah pangan yang dimakan oleh seseorang atau sekelompok orang pada waktu tertentu. Aspek konsumsi berfungsi mengarahkan rumahtangga agar pola pemanfaatan pangan secara nasional memenuhi kaidah mutu, keragaman, kendungan gizi, dan keamanan. Oleh karena itu pemanfaatan pangan dalam tubuh (food utility) dapat optimal dengan peningkatan kesadaran atas pentingnya pola konsumsi pangan beragam dengan gizi seimbang.

Untuk memperbaiki konsumsi pangan masyarakat harus ditunjang oleh produksi dan penyediaan pangan yang mampu memenuhi syarat tersebut. Oleh karena itu, pemerintah dengan bebagai upaya di bidang pangan perlu mewujudkan ketahanan pangan hingga tingkat rumah tangga bahkan individu antara lain melalui program perbaikan penyediaan pangan, perbaikan konsumsi pangan, dan diversifikasi pangan.

Menurut Syarief dan Martianto (1991), jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat tidak saja dipengaruhi produksi atau ketersediaan pangan, tetapi dipegaruhi juga oleh daya jangkau ekonomi (daya beli), kesukaan/selera, pendidikan, dan nilai sosial budaya pangan yang berlaku dalam masyarakat.

Pola Konsumsi Pangan Penduduk

Pola konsumsi pangan adalah susunan jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu (Madanijah 2004). Konsumsi masyarakat terhadap pangan dapat dilihat dari kecenderungan masyarakat mengkonsumsi jenis pangan tertentu. Sanjur (1982) menyatakan jumlah pangan yang tersedia di suatu wilayah akan berpengaruh terhadap pola konsumsi pangan. Konsumsi atau pola konsumsi pangan dipengaruhi oleh banyak faktor tidak hanya faktor ekonomi tetapi juga faktor budaya, ketersediaan, pendidikan, gaya hidup, dan sebagainya.

(20)

golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan aktivitas untuk mencegah terjadinya defisiensi gizi (Muhilal et al 1998). Tingkat konsumsi pangan dapat memberikan gambaran kondisi kesehatan penduduk di suatu wilayah yang ditinjau dari aspek keadaan gizinya. Indikator yang digunakan untuk analisis konsumsi yaitu dari pengukuran kecukupan konsumsi energi dan protein. Konsumsi energi dan protein tersebut mengacu pada Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII (WNPG) tahun 2004, yaitu kecukupan konsumsi energi yang dianjurkan sebesar 2000 kkal/kapita/hari dan kecukupan konsumsi protein adalah sebesar 52 g/kapita/hari.

Tingkat kecukupan adalah perbandingan antara konsumsi zat gizi dengan angka kecukupan gizi yang dianjurkan. Klasifikasi tingkat kecukupan energi menurut Departemen Kesehatan (1996) adalah sebagai berikut :

a) Kurang dari 70% AKE : defisit berat

b) 70-79% AKE : defisit tingkat sedang c) 80-89% AKE : defisit tingkat ringan d) 90-119% AKE : normal (tahan pangan) e) 120% ke atas AKE : kelebihan/diatas AKE

Energi

Energi merupakan salah satu hasil metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak. Energi berfungsi sebagai zat tenaga untuk metabolisme, pertumbuhan, pengaturan suhu, dan kegiatan fisik. Kelebihan energi akan disimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk glikogen sebagai cadangan energi jangka pendek dan dalam bentuk lemak sebagai cadangan jangka panjang (Hardinsyah & Tambunan 2004).

Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII (WNPG) menganjurkan konsumsi energi penduduk Indonesia adalah 2000 kkal/kap/hari. Dengan menggunakan patokan tersebut, perkembangan konsumsi energi penduduk Indonesia setiap tahunnya meningkat. Pada periode 2005 – 2007, peningkatan konsumsi energi lebih tinggi terjadi di wilayah pedesaan dibandingkan dengan di perkotaan. Secara umum konsumsi energi rata-rata semakin mendekati kebutuhan sebesar 2000 kkal/kap/hari, dan pada tahun 2007 bahkan telah memenuhi angka kecukupan dengan rata -rata konsumsi energi sebesar 2015 kkal/kap/hari atau 100,7% dari angka kecukupan energi (DKP 2009).

(21)

sehat. Pada umumnya penduduk rawan konsumsi pangan (energi) dibagi atas dua kelompok, yaitu sangat rawan (tingkat konsumsi energi < 70% AKE) dan mereka yang memiliki kerawanan ringan sampai sedang (tingkat konsumsi energi 70-90% AKE). Berdasarkan analisis data Susenas 2002 hingga 2008 yang dilakukan oleh BKP, ditemukan bahwa kondisi penduduk rawan pangan masih masih cukup tinggi, meski secara umum jumlah dan persentase penduduk rawan pangan mengalami penurunan selama periode 2002-2008. Pada Tahun 2002 persentase penduduk yang termasuk sangat rawan konsumsi pangan mencapai 1311% (sekitar 26,5 juta jiwa), tahun 2005 adalah 13,2% (sekitar 28,7 juta jiwa) dan pada tahun 2007 dan 2008 menurun menjadi 13,0% (29,2 juta jiwa) dan 11,07% (25,1 juta jiwa).

Apabila dibandingkan dengan kondisi saat puncak krisis ekonomi tahun 1999 yang prevalensinya adalah 18,9% (sekitar 38,6 juta jiwa), maka baik prevalensi maupun jumlah penduduk yang sangat rawan konsumsi pangan mengalami penurunan yang tajam. Penurunan ini terjadi karena dua hal: 1) karena keberhasilan program dalam meningkatkan tingkat kesejahteraan yang berimbas pada meningkatnya rata-rata konsumsi energi, dan 2) penurunan standar kecukupan energi (AKE) yang diamanatkan dalam Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) 2004 dimana AKE yang semula 2100 kkal/kapita/hari turun menjadi 2000 kkal/kapita/hari.

Protein

Protein adalah suatu zat gizi yang berperan sebagai penghasil energi, pembentukan jaringan baru, dan mempertahankan jaringan yang telah ada (Winarno 1997). Menurut Almatsier (2002), protein juga berfungsi mengatur keseimbangan air di dalam tubuh, memelihara netralitas tubuh, membantu antibodi dan mengangkut zat-zat gizi. Protein memegang peranan esensial dalam mengangkut zat-zat gizi dari saluran cerna ke dalam darah, dari darah ke jaringan, dan melalui membran sel ke dalam sel-sel tubuh. Kekurangan protein dapat mneyebabkan gangguan pada absorpsi dan transportasi zat-zat gizi.

(22)

peningkatan konsumsi proteinyang lebih nyata terjadi di wilayah perkotaan dibandingkan dengan di pedesaan (DKP 2009).

Berdasarkan analisis data Susenas 2002 hingga 2008 yang dilakukan oleh BKP, konsumsi protein per kapita per hari umumnya sudah tercukupi meski sebagian besar sumber proteinyang dikonsumsi berasal dari pangan nabati, khususnya kelompok padi -padian. Komposisi protein yang dianjurkan adalah 80% nabati dan 20% hewani. Martianto (2004) menyarankan besarnya komposisi pangan hewani untuk tingkat konsumsi per kapita per hari adalah 65 gram pangan hewani asalruminansia dan unggas dan 85 gram berasal dari ikan.Pada pola konsumsi penduduk Indonesia, beras khususnya tidakhanya menjadi penyumbang energi terbesar tetapi juga merupakan penyumbang protein terbesar.

Pola Pangan Harapan (PPH)

Pola pangan harapan adalah susunan beragam pangan yang dianjurkan berdasarkan sumbangan energi dari kelompok pangan utama dari suatu pola ketersediaan atau konsumsi pangan. Semakin tinggi skor PPH maka konsumsi pangan semakin beragam. PPH dapat digunakan sebagai perencanaan konsumsi dan ketersediaan pangan serta perumusan kebijakan pangan dan perencanaan pertanian di suatu wilayah. PPH juga berguna sebagai instrumen sederhana untuk menilai situasi ketersediaan konsumsi pangan berupa jumlah dan komposisi pangan menurut jenis pangan secara agregrat (Hardinsyah et al 2002).

Sejak diperkenalkan konsep PPH dan skor PPH pada awal dekade 90-an di Indonesia, PPH telah digunakan sebagai basis perencanaan dan penilaian kecukupan gizi seimbang pada tingkat makro. Skor PPH juga telah digunakan sebagai salah satu indikator output pembangunan pangandalam kebijakan pembangunan pangan termasuk evaluasi penyediaan, konsumsi pangan, dan diversifikasi pangan (Suhardjo 1996). Semakin tingi skor mutu pangan, menunjukkan situasi pangan yang semakin beragam dan semkain baik komposisi dan mutu gizinya (Hardinsyah et al 2002).

(23)

kecukupangizi yang didukung oleh cita rasa (palability), daya cerna (digestability), daya terima masyarakat (acceptability), kuantitas, dan kemampuan daya beli (affortability). Pada umumnya telah diketahui bahwa lima kelompok zat gizi selain air yang esensial diperlukan tubuh manusia adalah protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral.Berbagai zat gizi ini dapat disediakan oleh beragam pangan.Sejumlah pangan yang tersusun secara seimbang akan mampu memenuhi kebutuhan zat gizi. Pangan tersebut mencakup kelompok: (1) padi-padian, (2) umbi-umbian, (3) pangan hewani, (4) minyak dan lemak, (5) buah dan biji berminyak, (6) kacang-kacangan, (7) gula, (8) sayuran dan buah-buahan, (9) lain-lain.Kesembilan kelompok pangan tersebut terdapat dalam PPH, yang merupakan jabaran dari triguna pangan.

Waktu pencapaian PPH disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang terjadi baik nasional maupun daerah. Untuk pencapaian PPH perlu diterjemahkan pada perencanaan pangan nasional dan daerah secara bertahap tahun demi tahun dan target demi target. Masing-masing daerah perlu mengadaptasi pola ini yang disesuaikan dengan masing-masing daerah.

Kebutuhan Konsumsi Pangan

Berdasarkan UU Nomor 32 Tahun 2004, daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus kebutuhan pangan masyarakatnya sesuai kemampuan wilayah. Menurut Hardinsyah et al (2001), seiring dengan otonomi daerah maka sangat penting bagi daerah untuk menyusun perencanaan pangan yang memenuhi prinsip kuantitas maupun kualitas yang didasarkan pada potensi lokal. Orientasi penyediaan dan konsumsi pangan wilayah tidak lagi hanya pada aspek jumlah tetapi juga aspek mutu gizi, keragaman, dan komposisi pangan.

Selanjutnya Hardinsayah et al (2001) mengatakan bahwa ada tiga macam pendekatan perencanaan penyediaan pangan dalam pembangunan pangan yakni 1) pendekatan kecenderungan (trend) konsumsi dan permintaan; 2) pendekatan kecenderungan produksi; dan 3) pendekatan gizi seimbang dan permintaan. Sejak tahun 1988, FAO-RAPA merekomendasikan pendekatan yang diharapkan dapat membantu dalam perencanaan produksi maupun konsumsi pangan, yang dikenal dengan desirable dietary pattern (DPP) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi pola pangan harapan (PPH).

(24)

disajikan dalam kelompok pangan. Pemilihan jenis pangan yang diinginkan diantara kelompoknya disesuaikan dengan kondisi sosial budaya (aspek pola konsumsi atau preferensi jenis pangan penduduk), dan potensi wilayah setempat (Suhardjo 1996). Untuk menjadikan PPH sebagai instrumen perencanaan pangan disuatu wilayah diperlukan kesepakan tentang pola konsumsi pangan dengan salah satunya mempertimbangkan pola konsumsi pangan penduduk saat ini.

Kebutuhan pangan suatu wilayah selain dipengaruhi oleh pertumbuhanekonomi juga dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk

yang cepat merupakan isu sentral yang dihadapi dunia, terlebih di negaraberkembang termasuk Indonesia. Konsekuensi dari hal tersebut adalahpeningkatan ketersediaan pangan untuk mengimbangi pertambahan penduduk.Menurut Khomsan dan Kusharto (2004), bila jumlah penduduk meningkat makaterjadi kompetisi pemanfaatan lahan yang dapat mengancam keberadaan lahanpertanian. Konversi lahan pertanian akan mengancam pemantapan ketahananpangan.

Kebijakan Ketahanan Pangan

Kebijakan pangan adalah suatu pernyataan tentang kerangka pikir dan arahan yang digunakan untuk menyusun program pangan guna mencapai situasi pangan dan gizi yang lebih baik (Hardinsyah & Ariani M 2000). Dalam UU No.7 tahun 1996 tentang pangan, dinyatakan bahwa pembangunan pangan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil dan merata berdasarkan kemandirian dan tidak bertentangan dengan keyakinan masyarakat. Tujuan utama pembangunan pangan adalah: 1) tersedianya pangan yang memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan gizi bagi kepentingan kesehatan manusia; 2) terciptanya perdagangan pangan yang jujur dan bertanggungjawab; 3) terwujudnya tingkat kecukupan pangan dengan harga yang wajar dan terjangkau sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

(25)

keragaman, kandungan gizi, dan keamanannya serta terjangkau oleh daya beli masyarakat (Hardinsyah & Martianto 2001).

Tujuan pembangunan ketahanan pangan tersebut akan lebih mudah tercapai apabila didasarkan pada 1) penyediaan pangan berbasis pemanfaatan ketersediaan sumberdaya lokal baik sumberdaya alam, manusia, teknologi, dan sosial; 2) efisiensi ekonomi dengan tetap memperhatikan keunggulan kompetitif wilayah; 3) distribusi yang mengacu pada mekanisme pasar yang kompetitif; dan 4) perbaikan mutu dan konsumsi anekaragam pangan. Hal ini mengisyaratkan bahwa pembangunan ketahanan pangan bersifat lintas sektoral (Badan Bimas Ketahanan pangan, Deptan 2001).

Secara tegas program ketahanan pangan penduduk tercantum dalam propenas tahun 2000-2004 (Republik Indonesia 2000), dimana salah satu program ini bertujuan untuk meningkatkan keanekaragaman produksi, ketersediaan, dan konsumsi pangan bersumber pangan ternak, ikan, tanaman pangan, hortikultura, dan kebun serta produk olahannya. Kebijakan program tersebut mencerminkan pentingnya perbaikan mutu gizi pangan melalui penganekaragaman ketersediaan dan konsumsi pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan. Di dalam Renstra Pusat Pengembangan Konsumsi Pangan Badan Bimas Ketahanan Pangan, Deptan (2001), dinyatakan bahwa pengembangan konsumsi pangan ditempuh melalui pengembangan konsumsi pangan lokal dan penganekaragaman konsumsi pangan yang mengarah pada perbaikan konsumsi pangan penduduk baik jumah maupun mutu. Dengan terpenuhinya konsumsi pangan yang beragam dari waktu ke waktu, maka penduduk dapat hidup sehat dan mampu melakukan kegiatannya secara produktif.

(26)
(27)

KERANGKA PEMIKIRAN

Pangan merupakan kebutuhan pokok yang paling mendasar bagi manusia, sehingga pemenuhan kebutuhan pangan merupakan bagian dari hak asasi manusia. Adapun pemenuhan kebutuhan pangan sendiri ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, dan pemerintah bersama masyarakat agar terwujudnya ketahanan pangan.

Pembangunan ketahanan pangan merupakan urusan wajib pemerintah daerahyang salah satunya adalah subsistem konsumsi. Pembangunan subsistem konsumsi bertujuan untuk menjamin setiap warga mengkonsumsi pangan dalam jumlah dan gizi yang cukup, aman, dan beragam. Kekurangan zat gizi terutama energi dan protein bila berlangsung cukup lama akan berakibat pada penurunan berat badan disertai dengan menurunnya produktivitas kerja.

Pengukuran secara kuantitatif dapat dilakukan untuk mengukur tingkatkonsumsi pangan dengan menggunakan angka kecukupan energi dan protein. Menurut hasil WNPGtahun 2004, angka kecukupan energi (AKE) rata-rata orang Indonesia untuktingkat konsumsi sebesar 2000 kalori dan angka kecukupan protein (AKP) pada tingkat konsumsi sebesar 52 gram.

Pengukuran secara kualitatif dilakukan untuk menilai keanekaragaman konsumsi pangan. Penilaian kualitas pangan berdasarkan keragaman dankeseimbangan komposisi energi dapat dilakukan dengan menggunakan komposisi dan skor pola pangan harapan (PPH). Semakin tinggi skor PPH konsumsi menunjukkan semakin beragam konsumsi pangannya. Skor PPH ideal adalah 100 sedangkan standar pelayanan minimal (SPM) untuk skor PPH konsumsi adalahsebesar 90.

(28)

Keterangan:

: diteliti : tidak diteliti

Gambar 1 Kerangka pemikiran analisis situasi dan kebutuhan konsumsi pangan di Provinsi Riau

Kuantitas: - TKE - TKP

Kebutuhan untuk konsumsi pangan penduduk di Provinsi Riau tahun 2011-2015 Proyeksi

- Skor PPH 2011-2015

- Konsumsi pangan 2011- 2015

Strategi pengembangan pola konsumsi pangan

Jumlah penduduk Konsumsi pangan

Pendapatan Pengetahuan gizi

Faktor Budaya Faktor ekologi

Pertumbuhan ekonomi

(29)

METODE PENELITIAN

Desain, Tempat, dan Waktu

Penelitian ini menggunakan desain prospective study berdasarkan data hasil survei sosial ekonomi nasional (Susenas) Provinsi Riau tahun 2008-2010. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive yang didasarkan pada konsumsi pangan penduduk yang masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari konsumsi energi penduduk di Provinsi Riau pada tahun 2010 yaitu 1903,59 kkal/kapita/hari (BPS 2010). Konsumsi energitersebut berada di bawah konsumsi energi yang dianjurkan WNPG VIII yaitu 2000 kkal/kapita/hari. Kegiatan penelitian ini mencakup interpretasi data, rekapitulasi data, pengolahan dan analisis data yang dilakukan di Bogor, Jawa Barat, mulai dari bulan Mei-November 2012.

Jenis dan Cara Pengambilan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang meliputi data karakteristik wilayah, data konsumsi pangan, dan data jumlah penduduk Provinsi Riau.Data karakteristik wilayah dan jumlah penduduk diperoleh dari badan pusat statistik (BPS). Data konsumsi pangan menurut jenis dan kelompok pangan penduduk di Provinsi Riau tahun 2008-2010 diperoleh dari data hasil survei sosial ekonomi nasional (Susenas) dari BPS.

Data rumahtanggasampel Susenas merupakan rumahtangga yang sama setiap periode selama tiga tahun, sehingga disebut Susenas panel. Susenas panel Maret 2010 merupakan sampel Susenas tahun ketiga Susenas Panel periode 2008-2010, sehingga rumah tangga sampelnya adalah rumah tangga yang sama pada pelaksanaan panel Maret 2008 (BPS 2010). Data yang dikumpulkan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Jenis dan sumber data

No Data Sumber Instansi

1 Konsumsi pangan menurut kelompok dan jenis pangan

Data susenas 2008, 2009, 2010

BPS, Jakarta

2 Jumlah penduduk Laporan Sensus

penduduk 2008,2009,2010

BPS, Provinsi Riau

3 Karakteristik Wilayah Keadaan umum wilayah

(30)

Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data konsumsi pangan dilakukan dengan menggunakanMicrosoft Exel dan program “Perencanaan pangan dan Gizi Wilayah” yang dikembangkan oleh Heryatno, Martianto, dan Baliwati (2007). Analisis data dilakukan secara deskriptif.Analisis situasi dan kebutuhan konsumsi pangan penduduk di Provinsi Riau dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: Analisis Situasi Konsumsi Pangan

Analisis situasi konsumsi pangan penduduk diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Analisis konsumsi pangan penduduk di Provinsi Riau secara kuantitatif dilakukan dengan mengukur tingkat kecukupan energi dan tingkat kecukupan protein terhadap angka kecukupan gizi (AKG) yang dianjurkan. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) VIII tahun 2004 menganjurkan konsumsi energi penduduk Indonesia adalah 2000kkal/kapita/hari sedangkan konsumsi protein adalah 52 g/kapita/hari. Jumlah konsumsi tersebut harus dipenuhi agar setiap orang dapat hidup sehat, aktif, dan produktif. 

    Perhitungan tingkat kecukupan gizi dirumuskan sebagai berikut: a. Tingkat kecukupan energi

TKE = [(Konsumsi energi aktual)/ (Angka kecukupan energi)] x 100% b. Tingkat kecukupan protein

TKP = [(Konsumsi protein aktual)/ (Angka kecukupan protein)] x 100% Berdasarkan perhitungan tersebut, tingkat kecukupan energi dan protein dikelompokkan menurut kriteria Departemen Kesehatan tahun 1996 sebagai berikut :

a. Kurang dari 70% AKE : defisit berat

b. 70-79% AKE : defisit tingkat sedang c. 80-89% AKE : defisit tingkat ringan d. 90-119% AKE : normal (tahan pangan) e. 120% ke atas AKE : kelebihan/diatas AKE

(31)

semakin beragam dan seimbang. Apabila skor PPH mencapai 100 maka wilayah tersebut dikatakan tahan pangan. Skor mutu pangan yangideal dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Skor Pola Pangan Harapan ideal

No Kelompok Pangan

Komposisi PPH Ideal

Berat (gram)

Bobot % AKE Skor

maksimum

1 Padi-padian 0,5 50 25 275,0

2 Umbi-umbian 0,5 6 2,5 90,0

3 Pangan hewani 2 12 24 140,0

4 Minyak & lemak 0,5 10 5 25,0

5 Buah/ biji berminyak 0,5 3 1 10,0

6 Kacang-kacangan 2 5 10 35,0

7 Gula 0,5 5 2,5 30,0

8 Sayur & buah 5 6 30 230,0

9 Lain-lain 0 3 0 15,0

Jumlah 100 100

Sumber: BKP (2006)

Adapun langkah-langkah perhitungan skor PPHadalah sebagai berikut:

1. Melakukan perhitungan energi total yang diperoleh dari semua bahan pangan untuk seluruh kelompok pangan dengan bantuan daftar komposisi bahan makanan (DKBM). Perhitungan dilakukan dengan mengkonversi bentuk, jenis, dan satuan pangan yang dikonsumsi perkapita dalam satuan dan jenis komoditas yang disepakati dan dikelompokkan menjadi 9 kelompok, meliputi :

a. Padi-padian (beras, jagung, terigu, dan hasil olahannya)

b. Umbi-umbian (ubi kayu, ubi jalar, kentang, talas, sagu dan hasil olahannya)

c. Pangan hewani (daging ruminansia, daging unggas, telur, susu, ikan, dan hasil olahannya)

d. Minyak dan lemak (minyak kacang tanah, minyak kelapa, minyak kelapa sawit, dan lemak)

e. Buah dan biji berminyak (kelapa, kemiri, kenari, mete, coklat)

f. Kacang-kacangan (kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau, kacau merah, kacang lain serta hasil olahannya)

g. Gula (gula pasir, gula merah, sirup)

h. Sayuran dan buah-buahan (semua sayur dan buah dan hasil olahannya) i. Lain-lain (bumbu dan minuman)

(32)

dilakukan dengan membagi energi masing-masing kelompok pangan dengan jumlah konsumsi energi total kemudian dikalikan 100%.

3. Menghitung kontribusi TKE berupa persentase energi masing-masing kelompok pangan terhadap AKE yang dianjurkan WNPG VIIItahun 2004 yaitu 2000 kkal.

4. Mengalikan % TKE dengan bobot sehingga diperoleh skor untuk setiap kelompok pangan. Apabila skor melebihi skor maksimum maka digunakan skor maksimal. Apabila skor lebih rendah dari skor maksimum maka yang diambil adalah skor yang lebih rendah tersebut.

5. Menjumlahkan skor semua kelompok pangan sehingga diketahui skor PPH konsumsi pangan.

Contoh perhitungan skor PPH konsumsi pangan disajikan dalam Tabel 2 berikut.

Tabel 3 Contoh perhitungan skor PPH konsumsi pangan penduduk di Provinsi Riau tahun 2010

No Kelompok Pangan Kalori % %

TKE Bobot

Skor Maksimum

Skor PPH

1 Padi-padian 1083,1 56,9 54,2 0,5 25,0 25,0

2 Umbi-umbian 35,3 1,9 1,8 0,5 2,5 0,9

3 Pangan hewani 213,6 11,2 10,7 2,0 24,0 21,4

4 Minyak dan lemak 266,0 14,0 13,3 0,5 5,0 5,0

5 Buah/biji berminyak 64,6 3,4 3,2 0,5 1,0 1,0

6 Kacang-kacangan 35,3 1,9 1,8 2,0 10,0 3,5

7 Gula 104,1 5,5 5,2 0,5 2,5 2,5

8 Sayur dan buah 75,5 4,0 3,8 5,0 30,0 18,9

9 Lain-lain 26,0 1,4 1,3 0,0 0,0 0,0

Total 1904 100 82,6 100,0 78,2

% TKE = {(konsumsi energi aktual)/AKE} x 100% = Kkal/2000 x 100%

Skor PPH = % TKE x bobot

Proyeksi Konsumsi dengan Pendekatan Skor PPH

Pada penelitian ini, target pencapaian skor PPH konsumsi adalah 90 pada tahun 2015 sesuai dengan SPM. Tahun dasar yang digunakan adalah hasil perhitungan skor PPH aktual tahun 2010. Sedangkan untuk acuan sasaran yaitu skor PPH 90 pada tahun 2015 dengan acuan ideal skor PPH 100. Penyusunan target skor PPH konsumsi pangan sampai tahun 2015, dihitung menggunakan teknik interpolasi linear dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

St = skor mutu pangan tahun t

(33)

S0 = skor mutu pangan tahun awal

S2015 = skor mutu pangan tahun 2015

n = selisih tahun antara tahun 2015 dengan tahun awal dt = selisih waktu antara tahun yang dicari dengan tahun awal

Analisis Proyeksi Kebutuhan Konsumsi Pangan Berdasarkan PPH di Provinsi Riau

Analisis proyeksi kebutuhan konsumsi pangan penduduk di Provinsi Riau pada tahun 2011-2015 dihitung dengan cara mengalikan proyeksi konsumsi pangan pada tahun 2011-2015 dengan jumlah penduduk proyeksi pada tahun tersebut. Adapun perhitungannya yaitu dengan menggunakan rumus:

Jumlah penduduk proyeksi

Jumlah penduduk proyeksi dihitung dengan pendekatan ekstrapolasi atau trend berdasarkan perkembangan pertumbuhan penduduk untuk meramalkan jumlah penduduk pada tahun t, dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

P0 = jumlah penduduk tahun dasar

0 = tahun dasar

L = laju pertumbuhan penduduk T = tahun yang dicari

Kebutuhan konsumsi pangan = kg/tahun kebutuhan konsumsi x jumlah penduduk wilayah (ribu ton/tahun) 1000 proyeksi

Kebutuhan konsumsi pangan = gram kebutuhan konsumsi x 365 penduduk (kg/kapita/tahun) 1000

(34)

Definisi Operasional

Konsumsi Pangan adalah sejumlah makanan dan atau minuman yang dimakan atau diminum oleh manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hayatinya. Pola konsumsipangan adalah susunan makanan yang mencakup jenis dan jumlah bahan makanan rata-rata per orang per hari yang umum dikonsumsi penduduk Provinsi Riau.

Pola Pangan Harapan (PPH) adalah komposisi atau susunan pangan yang didasarkan pada kontribusi energinya dalam memenuhi kebutuhan gizi secara kuantitas, kualitas maupun keragamannya dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, budaya, agama, dan citarasa (FAO-RAPA 1989).

Skor PPH (Skor PPH) adalah angka yang menunjukkan mutu pangan yang dikonsumsi penduduk di Provinsi Riau berdasarkan data Susenas.

Konsumsi energi adalah sejumlah energi pangan yang dinyatakan dalam kalori yang dikonsumsi penduduk Provinsi Riau rata-rata per orang per hari.

Angka kecukupan energi adalah sejumlah energi pangan yang diperlukan oleh seseorang atau rata-rata kelompok orang untuk memenuhi kebutuhannya.

Tingkat konsumsi energi adalah proporsi konsumsi energi aktual penduduk terhadap angka kecukupan energi yang dianjurkan WNPG VIII tahun 2004 (2000 kkal/kapita/hari) untuk hidup sehat, aktif, dan produktif.

Proyeksi konsumsi pangan adalah jenis dan jumlah pangan yang dibutuhkan untuk konsumsi secara normatif pada tahun 2011-2015 sesuai skor PPH dengan teknik interpolasi linier.

Kebutuhan konsumsi pangan jenis dan jumlah pangan yang diperlukan untuk dimakan oleh seseorang atau sekelompok orang pada waktu tertentu sesuai dengan PPH.

(35)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum Wilayah Kondisi Geografis

Provinsi Riau adalah salah satu provinsi yang terletak di Pulau Sumatra. Secara geografis, Provinsi Riau terletak pada koordinat 01o05'00’’ Lintang Selatan sampai 02o25'00’’ Lintang Utara dan 100o00'00’’ Bujur Timur sampai 105o05'00’’ Bujur Timur. Provinsi Riau sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka dan Provinsi Sumatera Utara, sebelah selatan berbatasan dengan Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Barat. Pada wilayah bagian Timur berbatasan dengan Provinsi Kepulauan Riau dan Selat Malaka, dan sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Sumatera Utara.Provinsi Riau memiliki luas area sebesar 87.023,66 km2.Wilayah bagian

Timur Provinsi Riau didominasi oleh dataran rendah, wilayah bagian Tengah merupakan dataran bergelombang, dan wilayah bagian Barat merupakan dataran berbukit yang dibentuk oleh gugusan Bukit Barisan. Kondisi geomorfologi tersebut menempatkan wilayah Riau bagian Timur berfungsi sebagai kawasan bawahan dari wilayah bagian Barat yang merupakan hulu dari 15 sungai yang mengalir di Provinsi Riau yang bermuara di pantai Timur. Empat sungai diantaranya memiliki arti penting sebagai prasarana perhubungan yakni Sungai Siak, Sungai Kampar, Sungai Rokan, dan Sungai Indragiri. Wilayah Riau bagian Timur yang merupakan dataran rendah menjadi rentan terhadap bencana banjir dan genangan air secara berkala.

(36)

Secara administratif, Provinsi Riau terdiri dari 10 kabupaten yaitu Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Pelalawan, Siak, Kampar, Rokan Hulu, Bengkalis, Rokan Hilir dan Kepulauan Meranti serta dan 2 kota yaitu Kota Pekanbaru dan Kota Dumai. Dari 12 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Riau pada akhir tahun 2010 terdapat 151 kecamatan dan 1643 kelurahan/desa (BPS 2010).

Kondisi Demografi dan Sosial Ekonomi

Penduduk provinsi Riau terdiri dari bermacam-macam suku yaitu Jawa, Minangkabau, Batak, Banjar, Tionghoa, dan Bugis. Suku Melayu merupakan masyarakat terbesar dengan komposisi 37,74% dari seluruh penduduk Riau. Hasil Sensus Penduduk tahun 2000 mancatat jumlah penduduk di Provinsi Riau sebesar 3.755.485 jiwa dengan distribusi 56,7% tinggal di perkotaan dan 43,3% bermukim di pedesaan. Susenas mencatat jumlah penduduk tahun 2005 meningkat menjadi 4.614.930 jiwa. Berdasarkan hasil pencacahan Sensus Penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Provinsi Riau sementara adalah 5.543.031 orang yangterdiri dari 2.854.989 laki-laki dan 2.688.042 perempuan. Laju pertumbuhan penduduk di Provinsi Riau dari tahun 2000 sampai 2010 tergolong sangat tinggi, yakni rata-rata mencapai 3,59% pertahun. Tingginya jumlah penduduk di Provinsi Riau ini dipengaruhi oleh migrasi penduduk. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010 tersebut, diketahui bahwa penyebaran penduduk bertumpu di Kota Pekanbaru yang merupakan ibukota Provinsi Riau yakni sebesar 16,31%, kemudian diikuti oleh Kabupaten Kampar sebesar 12,38%. Sedangkan persentase penduduk terkecil terdapat di Kabupaten Kepulauan Meranti yakni sebesar 3,18% (BPS 2010).

Angkatan kerja di Provinsi Riau pada tahun 2005 berjumlah 2.515.722 orang atau 66,9% dari jumlah penduduk. Angkatan kerja Provinsi Riau pada tahun 2007 sekitar 2.008.813 orang. Bagian terbesar penduduk bekerja pada kegiatan pertanian dan perdagangan (52,2%), rumah makan dan hotel, jasa-jasa, perkebunan, dan konstruksi. Tingginya angka migrasi masuk memberikan implikasi terhadap kesempatan kerja yang semakin terbatas bagi penduduk setempat. Sejalan dengan otonomi daerah, maka peluang bekerja diprioritaskan bagi tenaga kerja setempat dalam rangka meningkatkan peran serta penduduk setempat dalam pembangunan daerah (Pemerintah Provinsi Riau).

(37)

termasuk migas atas dasar harga berlaku adalah sebesar 55,04 juta rupiah pada tahun 2009 lebih besar dari angka tahun 2008 sebesar 48,69 juta rupiah. Sektor pertanian juga memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian di Provinsi Riau selain sektor industri tanpa migas dan sektor perdagangan. Pada awal tahun 2007, potensi pertanian khususnya tanaman pangan dan hortikultura cukup besar dimana untuk penggunaan lahan sawah sebesar 278.876 Ha dan bukan lahan sawah 1.120.177 Ha dari luas 8.915.016 Ha. Pendapatan regional per kapita tanpa migas atas dasar harga berlaku di Provinsi Riau meningkat dari tahun 2008 sebesar 26,27 juta rupiah menjadi 30,87 juta rupiah pada tahun 2009. Komoditi unggulan Provinsi Riau untuk sektor pertanian terdiri dari padi, jagung, umbi-umbian dan lain-lain (BPS 2010).

Kuantitas Konsumsi Pangan Konsumsi Energi

Energi diperlukan untuk metabolisme, pertumbuhan, pengaturan suhu, dan aktivitas tubuh. Kebutuhan energi diperoleh terutama dari karbohidrat dan lemak. Meskipun protein mampu memberikan energi, namun pemanfaatannya lebih diutamakan untuk menyediakan asam amino bagi sintesis protein sel, hormon, dan enzim untuk mengatur metabolisme (Pudjiadi 2001).

Kelebihan energi akan disimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk glikogen sebagai cadangan energi jangka pendek dan dalam bentuk lemak sebagai cadangan jangka panjang (Hardinsyah & Tambunan 2004). Kekurangan asupan energi yang berlangsung lama akan berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia (SDM), diantaranya dapat menurunkan produktivitas kerja, kecerdasan, imunitas, dan lainnya.

Tingkat konsumsi pangan dapat memberikan gambaran kondisi kesehatan penduduk di suatu wilayah yang ditinjau dari aspek keadaan gizinya. Indikator yang digunakan untuk analisis konsumsi dapat dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Analisis secara kuantitatif dilakukan dengan menghitung tingkat kecukupan energi (TKE) dan protein (TKP). Nilai TKE adalah proporsi konsumsi energi aktual terhadap angka kecukupan energi (AKE) yang dianjurkan.

(38)

konsumsi protein adalah sebesar 52 g/kapita/hari. Jumlah konsumsi tersebut harus terpenuhi agar setiap orang dapat hidup sehat, aktif, dan produktif.

Secara umum, konsumsi energi dan tingkat kecukupan energi aktual penduduk di Provinsi Riau pada tahun 2008 sampai 2010 menurun. Konsumsi energi penduduk di Provinsi Riau pada tahun 2008 sudah melebihi angka kecukupan energi yang dianjurkan (2144 kkal atau 107,2% AKE). Namun konsumsi energi penduduk menurunpada tahun 2009 menjadi 1933 kkal dengan 96,6% AKE dan pada tahun 2010 sebesar 1904 kkal atau 95,3% AKE.

Departemen Kesehatan (1996) melakukan klasifikasi untuk penilaian tingkat kecukupan energi. Klasifikasi tersebut adalah defisit berat (AKE <70%), defisit tingkat sedang (AKE: 70-79%), defisit tingkat ringan (AKE: 80-89%), normal (AKE: 90-119%), dan berlebih (AKE>120%). Mengacu pada klasifikasi tersebut, secara umum tingkat kecukupan energi di Provinsi Riau pada tahun 2008 sampai 2010 adalah normal. Tingkat kecukupan energi di Provinsi Riau pada tahun 2008 sampai 2010 dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Tingkat kecukupan energi di Provinsi Riau

No Wilayah

Konsumsi (kkal/kap/hari)

Tingkat Kecukupan

(%AKE)* Pertumbuhan

2008 2009 2010 2008 2009 2010 Konsumsi Pertahun (%)

1 Pedesaan 2231 1933 1924 111,5 96,6 96,2 -153,5 -6,9

2 Perkotaan 2065 1932 1884 103,3 96,6 94,2 -90,5 -4,5

Pedesaan+Perkotaan 2144 1933 1904 107,2 96,6 95,3 -120 -5,7

Keterangan :

*) Angka Kecukupan Energi (AKE) = 2000 kkal/kap/hari

(39)

Menurut Khomsan dan Kusharto (2004), kebutuhan pangan suatu wilayah dipengaruhi oleh pertumbuhanpendudukdan juga pertumbuhan ekonomi. Menurut BPS (2011), pertumbuhan ekonomi di Provinsi Riau pada tahun 2008 mencapai 5,65% dan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,50%. Namun pertumbuhan ekonomi di Provinsi Riau mengalami penurunan pada tahun 2009 yaitu 2,97% dan berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yaitu 4,74%.Kemudian dalam kajian ekonomi regional yang dilakukan oleh Bank Indonesia Pekanbaru (2010), pertumbuhan ekonomi di Provinsi Riau pada tahun 2010 hanya mencapai 4,17%. Pertumbuhan ekonomi tersebut jauh berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 6,08%. Dalam konteks ilmu ekonomi, pertumbuhan ekonomi digunakan untuk menilai aktivitas ekonomi yang menyerap tenaga kerja serta menciptakan sumber mata pencarian dan sekaligus pendapatan yang berhubungan erat dengan daya beli (Syah 2008). Daya beli yang rendah akan memungkinkan masyarakat tidak mampu dalam memenuhi kebutuhannya. Daya beli yang terbatas dapat menyebabkan rendahnya akses atau permintaan masyarakat terhadap kebutuhan primer yang termasuk ke dalamnya kebutuhan konsumsi pangan.

(40)

melakukan perubahan dan mengalokasikan anggaran yang cukup untuk sarana dan prasarana yang mendukung kelancaran disrtribusi pangan ke seluruh wilayah.

Pertumbuhan pendudukyang cepat merupakan isu sentral yang dihadapi dunia, terlebih di negaraberkembang termasuk Indonesia. Konsekuensi dari hal tersebut adalahpeningkatan kebutuhan pangan untuk mengimbangi pertambahan penduduk.Disisi lain, menurut Khomsan dan Kusharto (2004), bila jumlah penduduk meningkat makaakan terjadi kompetisi pemanfaatan lahan yang dapat mengancam keberadaan lahanpertanian. Konversi lahan pertanian akan mengancam pemantapan ketahananpangan. Berdasarkan data BPS (2010), laju pertumbuhan penduduk di Provinsi Riau cukup tinggi yaitu mencapai 3,59% per tahun. Hal ini dapat berdampak pada konversi lahan potensial pertanian ke lahan non pertanian seperti perumahan, daerah industri, dan lain-lain. Menurut data BPS (2010) terjadi penurunan luas panen pada padi dan jagung pada tahun 2010 yaitu masing-masing mencapai1,31% dan 34,28%. Penurunan luas panen pada lahan jagung mengakibatkan penurunan produksi jagung pada tahun 2010. Produksi jagung pada tahun 2009 tercatat mencapai 49,8 ribu ton dan menurun menjadi 41,9 ribu ton pada tahun 2010 yang berarti mengalami penurunan produksi sekitar -15,9% (BKP Riau 2011).Mengingat jagung merupakan komoditas kelompok pangan padi-padian, maka penurunan produksi jagung mengurangi produksi pada kelompok pangan padi-padian. Penurunan produksi tersebut diikuti oleh penurunan konsumsi pada kelompok pangan padi-padian yang dapat dilihat pada tabel 5.

(41)

Pada tahun 2008, kelompok umbi-umbian hanya menyumbang 2,2% dari total konsumsi energi yang dianjurkan WNPG (2000kkal/kapita/hari). Angka tersebut menurun pada tahun 2009 dan 2010 yaitu masing-masing hanya menyumbang 1,8% energi dari kontribusi energi yang seharusnya yaitu 6% dari kelompok pangan umbi-umbian.

Tabel 5 Tingkat konsumsi energi di Provinsi Riau menurut kelompok pangan berdasarkan data Susenas tahun 2008-2010

No Kelompok Pangan

2008 2009 2010

g/kap/hari %

TKE g/kap/hari

%

TKE g/kap/hari

% TKE Pedesaan+perkotaan

1 Padi-padian 1167 58,3 1101 55,0 1083 54,2

2 Umbi-umbian 44 2,2 35 1,8 35 1,8

3 Pangan Hewani 209 10,5 207 10,3 214 10,7

4 Minyak dan Lemak 354 17,7 271 13,6 266 13,3

5 Buah/Biji Berminyak 72 3,6 69 3,4 65 3,2

6 Kacang-kacangan 45 2,3 37 1,8 35 1,8

7 Gula 122 6,1 107 5,4 104 5,2

8 Sayur dan Buah 95 4,7 81 4,0 76 3,8

9 Lain-lain 36 1,8 25 1,2 26 1,3

Total 2144 107,2 1933 96,6 1904 95,2

(42)

konsumsi penduduk Indonesia di pedesaan 1966 kkal/kapita/hari (100,3% AKE) dan di perkotaan 1884 kkal/kapita/hari (94,9% AKE).

Menurut Regmi dan Dyck (2001), terdapatnya perbedaan konsumsi energi antara penduduk pedesaan dan perkotaan diantaranya adalah karena perbedaan gaya hidup, ketersediaan pangan, dan kemampuan untuk membeli pangan.Aktivitas penduduk di pedesaan umumnya membutuhkan energi yang lebih besar dibandingkan penduduk perkotaanyang cenderung bergaya hidup sedentarysehingga relatif membutuhkan dan mengkonsumsi energi yang lebih sedikit.Selain itu, menurut Martianto, Ariani, dan Hardinsyah (2003), tingkat pendapatan yang terbatas di pedesaan membuat seseorang cenderung mengalokasikan pendapatannya untuk membeli pangan yang murah dan memberi rasa kenyang. Pangan tersebut umumnya merupakan pangan sumber karbohidrat dan menjadi penyumbang energi terbesar.

Tabel 6 Tingkat konsumsi energi di wilayah pedesaan dan perkotaan Provinsi Riau menurut kelompok pangan berdasarkan data Susenas tahun 2008-2010

No Kelompok Pangan

2008 2009 2010

(43)

tinggi 4,5% dibandingkan wilayah perkotaan.Pada tahun 2009 dan 2010, kontribusi konsumsi energi dari kelompok padi-padian di wilayah pedesaan dan perkotaan menurun dari tahun 2008, namun kontribusi konsumsi energi tersebut masih berada di atas kontribusi energi yang dianjurkan. Sementara untuk kontribusi energi dari konsumsi pangan umbi-umbian masih sangat rendah. Pada tahun 2008 kontribusi konsumsi energi dari kelompok pangan umbi-umbian di wilayah pedesaan adalah 2,5% dan di wilayah perkotaan adalah 1,9%. Kontribusi tersebut masih jauh berada di bawah kontribusi yang diharapkan dari kelompok pangan umbi-umbian yaitu 6% dari AKE 2000 kkal/kapita/hari.

Konsumsi Protein

Protein adalah salah satu zat gizi yang penting untuk pertumbuhan. Protein yang dikonsumsi sehari-hari terdiri dari berbagai macam asam amino. Jumlah protein yang diberikan dikatakan adekuat apabila mengandung asam amino esensial dalam jumlah yang cukup, mudah dicerna, dan diserap oleh tubuh. Konsumsi protein yang dianjurkan menurut WNPG VIII tahun 2004 adalah sebesar 52 g/kapita/hari.

Secara umum, konsumsi protein di Provinsi Riau pada tahun 2008 sampai tahun 2010 sudah melebihi angka kecukupan yang dianjurkan. Konsumsi protein pada tahun 2008 adalah 57,9 g/kapita/hari, kemudian konsumsimenurun pada tahun 2009 menjadi 54,7 g/kapita/hari. Konsumsi meningkat kembali pada tahun 2010 menjadi 55 g/kapita/hari. Situasi konsumsi protein di Provinsi Riau mengikuti pola konsumsi protein nasional. Berdasarkan data Susenas yang diolah oleh BKP (2012), konsumsi protein penduduk Indonesia tahun 2008 adalah 57,49 g/kapita/hari. Kemudian konsumsi juga mengalami penurunan pada tahun 2009 menjadi 54,35 g/kapita/hari dan meningkat kembali pada tahun 2010 menjadi 55,05 g/kapita/hari. Situasi tingkat kecukupan protein di Provinsi Riau pada tahun 2008 sampai 2010 dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7Tingkat kecukupan protein di Provinsi Riau

No Wilayah

Konsumsi (gram/kap/hari)

Tingkat Kecukupan

(%AKP)* Pertumbuhan 2008 2009 2010 2008 2009 2010 Konsumsi %

1 Pedesaan 57,8 53,4 54,0 111,2 102,6 103,8 -1,9 -3,2 2 Perkotaan 58,2 56,1 56,1 111,9 107,8 107,8 -1,1 -1,8

Pedesaan+Perkotan 57,9 54,7 55,0 111,4 105,3 105,8 -1,5 -2,5

Keterangan :

(44)

Sama halnya dengan denganlaju pertumbuhan konsumsi energi, laju pertumbuhan konsumsi protein di Provinsi Riau juga bernilai negatif. Pada tahun 2008 sampai 2010 terjadi penurunan konsumsi protein diwilayah pedesaan, perkotaan, dan wilayah pedesaan+perkotaan masing-masing sebesar 3,2%, 1,8%, dan 2,5%. Laju penurunan konsumsi protein di wilayah pedesaan lebih besar dibandingkan perkotaan. Hal ini disebabkan terjadinya penurunan konsumsi pangan dari kelompok padi-padian yang cukup besar di wilayah pedesaan yang dapat dilihat pada Tabel 6. Seperti yang diketahui, masyarakat pedesaan cenderung lebih banyak mengkonsumsi pangan sumber karbohidrat yang berasal dari kelompok padi-padian terutama beras. Kelompok padi-padian, selain menjadi sumber energi terbesar juga menjadi sumber protein terbesar di wilayah pedesaan sehingga penurunan konsumsi pangan tersebut dapat mempengaruhi penurunan konsumsi protein penduduk pedesaan.

Selanjutnya Tabel 8 menyajikan konsumsi protein penduduk di Provinsi Riau menurut kelompok pangan. Meskipun konsumsi protein menurun pada tahun 2009 menjadi 54,7 g/kapita/hari, namun kontribusi protein dari pangan hewani semakin membaik. Pada tahun 2008, tingkat konsumsi protein dari pangan nabati mencapai 51,1% dari kelompok padi-padian. Kemudian konsumsi protein semakin membaik pada tahun 2009 dan 2010 yang ditandai dengan penurunan kontribusi protein dari pangan nabati dan terjadinya peningkatan kontribusi protein dari pangan hewani. Menurut Pudjiaji (2001), protein yang berasal dari hewan lebih baik kualitasnya dibandingkan protein nabati. Pada tahun 2008 kontribusi protein dari pangan hewani adalah 38,6%, tahun 2009 meningkat menjadi 39,7% dan pada tahun 2010 menjadi 41,4%.

Tabel 8 Tingkat konsumsi protein di Provinsi Riau menurut kelompok pangan berdasarkan data Susenas tahun 2008-2010

No Kelompok Pangan

2008 2009 2010

g/kap/hari %

TKE g/kap/hari

%

TKE g/kap/hari

% TKE Pedesaan+perkotaan

1 Padi-padian 26,6 51,1 25,2 48,5 24,9 47,8

2 Umbi-umbian 0,5 1,0 0,4 0,8 0,4 0,8

3 Pangan Hewani 20,1 38,6 20,6 39,7 21,5 41,4

4 Minyak dan Lemak 0,1 0,1 0,1 0,1 0,0 0,1

5 Buah/Biji Berminyak 0,8 1,5 0,7 1,4 0,7 1,3

6 Kacang-kacangan 4,0 7,8 3,3 6,4 3,2 6,1

7 Gula 0,0 0,1 0,0 0,0 0,0 0,0

8 Sayur dan Buah 3,7 7,2 2,9 5,5 2,8 5,4

9 Lain-lain 2,1 4,1 1,4 2,7 1,5 2,9

(45)

Apabila dibedakan menurut wilayah, tingkat konsumsi protein di wilayah pedesaan lebih rendah daripada wilayah perkotaan. Konsumsi protein di wilayah pedesaan pada tahun 2008 adalah 57,8 g//kapita/hari (111,2% AKP) sementara di wilayah perkotaan adalah 58,2 g/kapita/hari (111,9% AKP). Konsumsi protein di wilayah pedesaan pada tahun 2009 adalah 53,4 g/kapita/hari ( 102,6% AKP) dan di perkotaan 56,1 g//kapita/hari (107,8% AKP). Tahun 2010 konsumsi protein di wilayah pedesaan adalah 54,0 g/kapita/hari 103,8% AKP) dan di wilayah perkotaan 56,1 g/kapita/hari (107,8% AKP). Berdasarkan data Susenas yang diolah oleh BKP (2012), konsumsi protein penduduk Indonesia di wilayah pedesaan juga menunjukkan nilai yang lebih rendah daripada wilayah perkotaan. Tahun 2008, konsumsi protein penduduk Indonesia di pedesaan adalah 56,9 g/kapita/hari (109,4% AKP) dan perkotaan 58,3 g/kapita/hari (112,1% AKP), tahun 2009 konsumsi protein di pedesaan 53,1 g/kapita/hari (102,1% AKP) dan perkotaan 55,7 g/kapita/hari (107,1% AKP), dan tahun 2010 konsumsi protein penduduk Indonesia di pedesaan 53,9 g/kapita/hari (10,8% AKP) dan di perkotaan 56,2 g/kapita/hari (108,1% AKP).

Menurut Hardinsyah et al (2002), beberapa faktor yang mempengaruhi konsumsi pangan diantaranya adalah pendapatan.Pendapatan yang rendah berhubungan dengan akses yang terbatas terhadap pangan yang layak untuk dikonsumsi. Kemudian, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, masyarakat pedesaan cenderung memperoleh protein lebih besar dari kelompok nabati daripada hewani. Sementara itu, masyarakat di perkotaan lebih banyak mengkonsumsi protein yang berasal dari pangan hewani daripada masyarakat pedesaan.

Aspek distribusi pangan juga dapat mempengaruhi pola konsumsi pangan penduduk sehingga aspek transportasi dan distribusi pangan dapat menjadi sangat vital dalam penyediaan pangan yang merata bagi seluruh penduduk. Perbaikan konsumsi pangan perlu dicermati secara komprehensif, baik dari dimensi fisik penyediaan maupun dari dimensi ekonomi dan kesadaran gizi, serta faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.

(46)

dengan penurunan kontribusi protein dari pangan nabati dan terjadinya peningkatan kontribusi protein dari pangan hewani baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan. Pada tahun 2008 kontribusi protein dari pangan hewani di wilayah pedesaan adalah 35,1%, tahun 2009 meningkat menjadi 36,4% dan pada tahun 2010 menjadi 37,8%. Pada wilayah perkotaan, kontribusi protein dari pangan hewani meningkat dari tahun 2008 yaitu 42,2%, tahun 2009 menjadi 42,9%, dan pada tahun 2010 adalah 44,9%.

Tabel 9 Tingkat konsumsi protein di wilayah pedesaan dan perkotaan Provinsi Riau menurut kelompok pangan berdasarkan data Susenas tahun 2008-2010

No Kelompok Pangan

2008 2009 2010

Kualitas Konsumsi Pangan

Tidak ada satupun makanan yang mengandung zat gizi yang lengkap sehingga seseorang perlu mengkonsumsi makanan yang beraneka ragam. Penganekaragaman konsumsi pangan selama ini sering diartikan berupa penganekaragaman konsumsi pangan pokok, terutama non beras. Penganekaragaman konsumsi pangan seharusnya mengkonsumsi anekaragam pangan dari berbagai kelompok pangan, baik pangan pokok, lauk pauk, serta sayur dan buah dalam jumlah yang cukup.

(47)

konsumsi pada salah satu jenis atau kelompok pangan. Hal ini baik secara langsung dan tidak langsung dapat berdampak pada kesehatan penduduk (Hadinsyah 1996). Salah satu parameter yang dapat digunakan untuk melihat mutu dan keragaman konsumsi pangan penduduk adalah skor PPH. Semakin tinggi skor PPH maka mutu dan keragaman konsumsi semkin baik.

Tabel 10 menunjukkan terjadi penurunan skor PPH konsumsi pangan penduduk di Provinsi Riau dari tahun 2008 sampai 2010. Skor PPH konsumsi pada tahun 2008 sudah cukup baik yaitu 83,7. Namun skor PPH menurunpada tahun 2009 dan 2010 yaitu masing-masing 79,0 dan 78,2. Berdasarkan data Susenas yang diolah oleh BKP (2012), kualitas konsumsi pangan penduduk Indonesia pada tahun 2008 sampai 2010 menunjukkan perkembangan yang fluktuatif. Skor PPH konsumsi Indonesia tahun 2008 adalah 81,9, tahun 2009 adalah 75,7, dan tahun 2010 adalah 77,5. Kondisi konsumsi pangan yang belum berimbang menyebabkan skor mutu dan keragaman konsumsi pangan masih rendah.

Konsumsi kelompok pangan yang masih rendah di Provinsi Riau adalah kelompok umbi-umbian, pangan hewani, kacang-kacangan, serta sayur dan buah yang ditunjukkan oleh skor PPH kelompok pangan tersebut belum mencapai skor maksimum dan cenderung menurun setiap tahun. Konsumsi kelompok pangan umbi-umbian masih sangat rendah yang ditunjukkan dengan skor PPH konsumsi umbi-umbian pada tahun 2008 sampai 2010 berturut-turut adalah 1,1, 0,9, dan 0,9. Skor PPH untuk konsumsi umbi-umbian tersebut masih berada di bawah skor idealnya yaitu 2,5. Kemudian kelompok pangan hewani juga memiliki skor aktual yang berada di bawah skor ideal yaitu 24. Pada tahun 2008 skor aktual pangan hewani adalah 20,9, tahun 2009 adalah 20,7, dan tahun 2010 adalah 21,4. Kelompok pangan kacang-kacangan pada tahun 2008 memiliki skor aktual 4,5, tahun 2009 adalah 3,7, dan tahun 2010 adalah 3,5 dari skor ideal 10. Selain itu kelompok pangan sayur dan buah juga memiliki skor PPH aktual yang berada di bawah skor PPH ideal yaitu 30. Pada tahun 2008 skor PPH aktual kelompok sayur dan buah adalah 23,6, tahun 2009 adalah 20,2, dan tahun 2010 adalah 18,9.

Gambar

Tabel 2 Skor Pola Pangan Harapan ideal
Tabel 4 Tingkat kecukupan energi di Provinsi Riau
Tabel 5 Tingkat konsumsi energi di Provinsi Riau menurut kelompok pangan berdasarkan data Susenas tahun 2008-2010
Tabel 6 Tingkat konsumsi energi di wilayah pedesaan dan perkotaan Provinsi Riau menurut kelompok pangan berdasarkan data Susenas tahun 2008-2010
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kebijakan pemberian raskin kepada rumah tangga penerima sasaran (RTS) membantu mempertahankan ketahanan pangan, akan tetapi di daerah yang tidak berpotensi beras

dianalisis     potensi     dampaknya     terhadap     upaya     yang     mendukung     akses     dan  konsumsi  pangan..    Nilai    dari    eigenvalues

Dengan demikian secara serempak pendapatan total, jumlah angkatan kerja, dan luas tebu dan konsumsi pangan sebagai variabel bebas yang dimasukkan dalam

Dengan demikian secara serempak pendapatan total, jumlah angkatan kerja, dan luas tebu dan konsumsi pangan sebagai variabel bebas yang dimasukkan dalam

Kesimpulan penelitian ini yaitu terdapat hubungan positif antara pola konsumsi makanan terhadap tinggi badan, berat badan, panjang tungkai, kualitas hidup, serta

Location Quotient (LQ) menunjukkan bahwa tanaman pangan yang merupakan sektor basis di Kabupaten Siak dengan pendekatan nilai LQ luas panen dan LQ produksi

Menurut Gardjito dan Rauf (2009), tujuan dari pembangunan ketahanan pangan adalah terwujudnya kemandirian pangan yang cukup dan berkelanjutan bagi seluruh penduduk melalui

Pola konsumsi pangan adalah susunan jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu dan faktor sosial ekonomi keluarga