UJI EFEKTIFITAS BEBERAPA JAMUR ENTOMOPATOGEN
DAN INSEKTISIDA BOTANI TERHADAP
Spodoptera exigua
Hubn. PADA TANAMAN BAWANG MERAH
(Allium ascalonicum
L.)
SKRIPSI
OLEH :
NURI INDAH INI 030302001
HPT
DEPARTEMEN ILMU HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UJI EFEKTIFITAS BEBERAPA JAMUR ENTOMOPATOGEN
DAN INSEKTISIDA BOTANI TERHADAP
Spodoptera exigua
Hubn. PADA TANAMAN BAWANG MERAH
(Allium ascalonicum
L.)
SKRIPSI
OLEH :
NURI INDAH INI 030302001
HPT
Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing
(Ir. Yuswani Pangestiningsih, MP) (Ir. Fatimah Zahara)
Ketua Anggota
DEPARTEMEN ILMU HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
ABSTRACT
Nuri Indah Ini, The Effectivity Some Entomopathogenic Fungus and Botanical Insecticide to Spodoptera exigua Hubn. on Shallots
(Allium ascalonicum L.) . It guided by Counsellor Lecturers
Mrs. Ir. Yuswani Pangestiningsih, M.P. as leader, Mrs. Ir. Fatimah Zahara as co-author, and Mr. Ir Loso Winarto as a Field Counsellor.
The objective of this research is to know the effectifity of entomopathogenic fungus (Beauveria bassiana and Metarhizium anisopliae) and botanical isecticide (extract mimba, extract mindi, and extract tobacco) to the percentage attack of Spodoptera exigua Hubn. on Shallots (Allium ascalonicumL.).
This research had been done in Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara (BPTP Sumut) field, Gedung Johor, Medan, with the height approximately 30 meters the surface of sea. This reseach was started from April 2008 to Juni 2008.
This research had been done by using Non Factorial Randomized Completely Block Design (RAK) with 6 treatment of each repeated by 4 times that consist of N0 ( control/ non treatment), N1 (B.bassiana), N2 (M. anisopliae), N3 (mimba leaf extract), N4 (mindi leaf extract), and N5 (tobacco leaf extract). Parameters observed is percentage attack of Spodoptera exigua Hubn. and production of shallots (kg/plot).
The result of this research showed that entomopathogenic fungus and botanical insecticide was significantly different to the attack percentage of
Spodoptera exigua Hubn.at 1-5 MSA( weaks after application). The result of this
ABSTRAK
Nuri Indah Ini, Uji Efektifitas Beberapa jamur Entomopatogen dan Insektisida Botani terhadap Spodoptera exigua Hubn. Pada Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonocum L.). Dengan komisi pembimbing Ibu Ir. Yuswani Pangestiningsih, M.P. sebagai ketua, Ibu Ir. Fatimah Zahara sebagai anggota, dan Bapak Ir. Loso Winarto sebagai pembimbing lapangan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas jamur entomopatogen
(Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae) dan insektisida botani
(ekstrak daun mimba, ekstrak daun mindi dan ekstrak daun tembakau) terhadap persentase serangan Spodoptera exigua Hubn. Pada tanaman bawang merah (Allium ascalonicumL.).
Penelitian dilaksanakan di lahan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara (BPTP Sumut) Gedung Johor, Medan dengan ketinggian tempat lebih kurang 30 m dpl. Penelitian dilaksanakan dari bulan April 2008 sampai bulan Juni 2008.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non Faktorial dengan 6 perlakuan yang masing-masing diulang 4 kali yang terdiri dari N0 (kontrol tanpa perlakuan), N1 (B.bassiana), N2 (M. anisopliae), N3 (ekstrak mimba), N4 (ekstrak mindi), dan N5 (ekstrak tembakau). Parameter yang diamati adalah persentase serangan (%) dan produksi bawang merah (kg/plot).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur entomopatogen dan insektisida botani berpengaruh sangat nyata pada pengamatan 1-5 MSA terhadap persentase serangan Spodoptera exigua Hubn. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa percobaan yang paling efektif adalah N1 (dengan menggunakanBeauveria
bassiana) dibandingkan dengan menggunakan perlakuan yang lain dengan rataan
RIWAYAT HIDUP
Nuri Indah Ini, dilahirkan di Medan pada tanggal 23 agustus 1985, anak ke-5 dari 5 bersaudara dari Ayahanda Alm. Panut Sudirno dan Ibu Hj. Poniyem.
Pendidikan yang pernah ditempuh penulis adalah lulus dari SD Pembangun Didikan Islam di Medan tahun 1997, tahun 2000 lulus dari Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 10 di Medan, tahun 2003 lulus dari Sekolah Menengah Umum Negeri 2 Medan dan tahun 2003 diterima sebagai Mahasiswa Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan melalui jalur SPMB.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur Penulis ucapkan kehadirat Allah S.W.T karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya.
Adapun judul dari skripsi ini adalah Uji Efektifitas Beberapa Jamur Entomopatogen dan Insektisida Botani terhadap Spodoptera exigua Hubn. pada Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) yang merupakan salah satu syarat untuk dapat menempuh ujian sarjana di Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara , Medan.
Pada kesempatan ini Penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada, ibu Ir. Yuswani Pangestiningsih, M.P. selaku ketua komisi pembimbing skripsi, ibu Ir. Fatimah Zahara selaku anggota komisi pembimbing skripsi dan Bapak Ir. Loso Winarto sebagai pembimbing lapangan yang telah banyak membimbing penulis dalam penyelesaian skripsi ini
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah turut membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkannya.
Medan, November 2008
DAFTAR ISI
Biologi HamaSpodoptera exiguaHubn. ... 5Gejala SeranganSpodoptera exiguaHubn. ... 8
Jamur Entomopatogen Beauveria bassiana(Balsamo) Vuillemin. ... 9
Metarhizium anisopliae(Metch) Sorokin. ... 10
Insektisida Botani Mimba (Azadirachta indicaA.Juss) ... 10
Mindi (Melia azedarachL.)... 11
Tembakau (Nicotiana tabacumL.) ... 12
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ... 13
Penyediaan insektisida botani ... 16 Aplikasi jamur entomopatogen dan insektisida botani di lapangan 17 Panen... 17 Cara Pengambilan Sampel Tanaman ... 17 Peubah Amatan
Persentase serangan ... 18 Produksi hasil... 18
HASIL PEMBAHASAN
Persentase SeranganS. exigua... 19 Produksi Bawang Merah... 25
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ... 28 Saran ... 28
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
1. 2.
Rataan Persentase SeranganS.exiguaHubn. (%) Rataan Produksi Bawang Merah (ton/ha)
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Halaman
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.
TelurS.exiguaHubn LarvaS.exiguaHubn.
PupaS.exiguaHubn
ImagoS.exiguaHubn
Gejala SeranganS. ExiguaHubn.
Grafik Persentase SeranganS.exiguaHubn.
Grafik Pengaruh Pemberian Jamur Entomopatogen dan Insektisida Botani terhada Produksi Bawang Merah
DAFTAR LAMPIRAN Data Persentase Serangan 1 MSA Data Persentase Serangan 2 MSA Data Persentase Serangan 3 MSA Data Persentase Serangan 4 MSA Data Persentase Serangan 5 MSA Data Produksi Bawang Merah (ton/ha)
Foto Lahan Penelitian dan Gejala SeranganS.exiguaHubn. Foto Hasil Panen Bawang Merah
Foto Daun Mimba dan Daun Mindi
Deskripsi Bawang Merah Varietas Kuning
ABSTRACT
Nuri Indah Ini, The Effectivity Some Entomopathogenic Fungus and Botanical Insecticide to Spodoptera exigua Hubn. on Shallots
(Allium ascalonicum L.) . It guided by Counsellor Lecturers
Mrs. Ir. Yuswani Pangestiningsih, M.P. as leader, Mrs. Ir. Fatimah Zahara as co-author, and Mr. Ir Loso Winarto as a Field Counsellor.
The objective of this research is to know the effectifity of entomopathogenic fungus (Beauveria bassiana and Metarhizium anisopliae) and botanical isecticide (extract mimba, extract mindi, and extract tobacco) to the percentage attack of Spodoptera exigua Hubn. on Shallots (Allium ascalonicumL.).
This research had been done in Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara (BPTP Sumut) field, Gedung Johor, Medan, with the height approximately 30 meters the surface of sea. This reseach was started from April 2008 to Juni 2008.
This research had been done by using Non Factorial Randomized Completely Block Design (RAK) with 6 treatment of each repeated by 4 times that consist of N0 ( control/ non treatment), N1 (B.bassiana), N2 (M. anisopliae), N3 (mimba leaf extract), N4 (mindi leaf extract), and N5 (tobacco leaf extract). Parameters observed is percentage attack of Spodoptera exigua Hubn. and production of shallots (kg/plot).
The result of this research showed that entomopathogenic fungus and botanical insecticide was significantly different to the attack percentage of
Spodoptera exigua Hubn.at 1-5 MSA( weaks after application). The result of this
ABSTRAK
Nuri Indah Ini, Uji Efektifitas Beberapa jamur Entomopatogen dan Insektisida Botani terhadap Spodoptera exigua Hubn. Pada Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonocum L.). Dengan komisi pembimbing Ibu Ir. Yuswani Pangestiningsih, M.P. sebagai ketua, Ibu Ir. Fatimah Zahara sebagai anggota, dan Bapak Ir. Loso Winarto sebagai pembimbing lapangan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas jamur entomopatogen
(Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae) dan insektisida botani
(ekstrak daun mimba, ekstrak daun mindi dan ekstrak daun tembakau) terhadap persentase serangan Spodoptera exigua Hubn. Pada tanaman bawang merah (Allium ascalonicumL.).
Penelitian dilaksanakan di lahan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara (BPTP Sumut) Gedung Johor, Medan dengan ketinggian tempat lebih kurang 30 m dpl. Penelitian dilaksanakan dari bulan April 2008 sampai bulan Juni 2008.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non Faktorial dengan 6 perlakuan yang masing-masing diulang 4 kali yang terdiri dari N0 (kontrol tanpa perlakuan), N1 (B.bassiana), N2 (M. anisopliae), N3 (ekstrak mimba), N4 (ekstrak mindi), dan N5 (ekstrak tembakau). Parameter yang diamati adalah persentase serangan (%) dan produksi bawang merah (kg/plot).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur entomopatogen dan insektisida botani berpengaruh sangat nyata pada pengamatan 1-5 MSA terhadap persentase serangan Spodoptera exigua Hubn. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa percobaan yang paling efektif adalah N1 (dengan menggunakanBeauveria
bassiana) dibandingkan dengan menggunakan perlakuan yang lain dengan rataan
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman bawang merah diduga berasal dari daerah Asia Tengah yaitu sekitar India, Pakistan, sampai Palestina. Tidak ada catatan resmi sejak kapan bawang merah mulai dikenal dan digunakan. Namun diduga sudah dikenal sejak lebih dari 5000 tahun yang lalu. Ada yang menduga, sekitar abad ke 8-an, tanaman bawang merah baru mulai menyebar ke Eropa Barat, Eropa Timur dan Spanyol. Dari belahan benua ini bawang merah mulai menyebar luas hingga daratan Amerika, Asia Timur dan Asia Tenggara (Wibowo, 1995)
Di Indonesia, tanaman bawang merah telah lama diusahakan oleh petani sebagai usaha tani yang bersifat komersil, dimana seluruh hasilnya ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar. Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai arti penting bagi masyarakat, baik dilihat dari segi ekonomisnya yang tinggi maupun dari kandungan gizinya. Meskipun bawang merah bukan merupakan kebutuhan pokok, akan tetapi kebutuhannya hampir tidak dapat dihindari oleh konsumen rumah tangga sebagai pelengkap bumbu masak sehari-hari (Suwandi, 1995)
bawang merah untuk tahun 2004 adalah 4,56 kg/kapita/tahun atau 0,38 kg/kapita/bulan. Estimasi permintaan domestik tersebut pada tahun 2004 mencapai 915.550 ton (konsumsi 795.264 ton, benih ekspor dan industri 119.286 ton). (Litbang, 2008).
Keberadaan hama dan penyakit merupakan faktor pembatas usaha tani bawang merah. Salah satu hama yang banyak menyerang bawang merah adalah ulat bawang (Spodoptera exiguaHubn.). Serangan yang cukup berat dari hama ini dapat menimbulkan kehilangan hasil hingga 57% (Rukmana, 1994). Pada musim kemarau, kehilangan hasil panen akibat serangan ulat bawang dapat mencapai 100% jika tidak dikendalikan (Moekasan,dkk, 2000).
Bawang merah termasuk komoditas bernilai ekonomis tinggi sehingga diusahakan dengan cara yang intensif. Hal ini mendorong petani untuk menggunakan pestisida sintetis dalam setiap pengendalian hama dan penyakit karena petani beranggapan bahwa keberhasilan pengendalian hama dan penyakit adalah dengan menggunakan pestisida. Dampak negatif dari pestisida sintetis telah dirasakan seperti timbulnya hama dan penyakit yang tahan pestisida tertentu, resurgensi maupun eksplosi hama sekunder. Dirasakan pula bahwa penggunaan pestisida tertentu menjadi kurang berdaya guna dan berhasil guna, biaya produksi menjadi lebih mahal, pencemaran lingkungan dengan segala akibatnya, tetapi masalah hama dan penyakit tidak terpecahkan dengan memuaskan bahkan bertambah kompleks (Hadisoeganda,dkk, 1 993).
lingkungan dengan memanfaatkan senyawa beracun dari tumbuhan, mikroba, ataupun jamur entomopatogen (Untung, 2001).
Jamur entomopatogen merupakan salah satu agent hayati yang potensial untuk mengendalikan hama tanaman. Beberapa jamur entomopatogen yang telah dimanfaatkan untuk mengendalikan hama tanaman perkebunan dan sayuran adalah Metarhizium anisopliae, Beauveria bassiana, Paecilomyces sp.,
Verticilliumsp., danSpicariasp. Beberapa kelebihan jamur entomopatogen antara
lain mempunyai kapasitas reproduksi yang tinggi, siklus hidup pendek, dapat membentuk spora tahan lama di alam walaupun dalam kondisi yang tidak menguntungkan, relatif aman, bersifat selektif, relatif mudah diproduksi, dan sangat kecil kemungkinannya terjadi resistensi (Setiawati,dkk, 2004).
Pestisida botani diartikan sebagai pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan karena terbuat dari bahan alami maka pestisida jenis ini mudah terurai di alam sehingga residunya mudah hilang dan relatif aman bagi manusia. Beberapa tanaman yang dapat digunakan sebagai pestisida botani antara lain mimba, tembakau, mindi, srikaya, mahoni, sirsak, tuba, dan babandotan (Kardinan, 2004).
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui efektifitas jamur entomopatogen yaitu
Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae serta insektisida botani yaitu
Mimba (Azadirahctin indica), Mindi (Melia azedarach) dan Tembakau
(Nicotina tabacum) terhadap Spodoptera exigua Hubner. pada tanaman bawang
merah (Allium ascalonicumL.).
Hipotesa Penelitian
Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin lebih efektif dibandingkan
dengan Metarhizium anisopliae (Metch) Sorokin serta insektisida botani daun Mimba (Azadirahctin indica A. Juss), daun Mindi (Melia azedarach L.) dan daun Tembakau (Nicotina tabacum L.) dalam mengendalikan Spodoptera exigua
Hubner. pada tanaman bawang merah (Allium ascalonicumL.) di Lapangan.
Kegunaan Penelitian
- Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
TINJAUAN PUSTAKA
Biologi HamaSpodoptera exiguaHubner.
Menurut Kalshoven (1981) Spodoptera exigua Hubner dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Lepidoptera Famili : Noctuidae Genus : Spodoptera
Species : Spodoptera exiguaHubner.
Telur berbentuk bulat sampai bulat panjang, diletakkan oleh induknya dalam bentuk kelompok pada permukaan daun atau batang dan tertutup oleh bulu-bulu atau sisik dari induknya. Tiap kelompok telur maksimum terdapat 80 butir. Jumlah telur yang dihasilkan oleh ngengat betina sekitar 500-600 butir. Setelah 2 hari telur menetas menjadi larva (Anonimus, 2007a).
Ulat berbentuk bulat panjang, berwarna hijau atau coklat dengan kepala berwarna kuning kehijauan (Moekasan, dkk, 2000). Ulat lebih aktif pada malam hari. Stadium larva berlangsung selama 8-10 hari (Anonimus, 2007a). Stadium ulat terdiri dari 5 instar. Warna larva antara hijau terang sampai hijau gelap. Pada fase tertentu tubuh larva terdapat garis-daris berwarna gelap disepanjang tubuhnya. Ukuran maksimum larva hama ini antara 1-2 inchi (MauandKessing, 1991).
larva
Gambar 2 : LarvaSpodoptera exiguaHubn Sumber : Foto langsung
Gambar 3 : pupaSpodoptera exiguaHubn Sumber : www.extento.hawaii.edu
Ngengat hama ini lebih kecil dari anggota kelompok ulat pemotong daun lainnya. Rentangan sayap imagonya antara 1-1.5 inch. Sayap depan berwarna kelabu hingga coklat kelabu dengan garis-garis yang kurang tegas dan terdapat bintik-bintik hitam. Sayap belakang berwarna lebih terang dengan tepi yang bergaris-garis hitam. Seekor betina mampu menghasilkan lebih dari 1000 butir telur dalam satu siklus hidupnya. Lamanya daur hidup sekitar 21 hari (Mau andKessing, 1991). Pada suhu 30o-33oC lamanya daur hidup sekitar 15-17 hari (Moekasan,dkk, 2000).
Gejala SeranganSpodoptera exiguaHubner.
Gejala serangan hama ini pada tanaman bawang merah ditandai dengan timbulnya bercak-bercak putih transparan pada daun (Moekasan, dkk, 2000). Larva memakan daun tanaman, larva muda masuk ke dalam jaringan parenkim daun dan makan daun sebelah dalam meninggalkan jaringan epidermis daun (Anonimus, 2007b).
Koloni ulat kecil-kecil membuat lubang pada daun, kemudian merusak jaringan vaskuler dan masuk ke pipa daun sambil memangsa daging daun sebelah dalam. Daun bawang merah tampak berbercak putih memanjang seperti membran, kemudian layu, berlubang, dan di dekat lubang tersebut terdapat kotoran ulat. Serangan yang cukup berat dapat menimbulkan kehilangan hasil hingga 57% (Rukmana, 1994).
Gejala seranganS.exigua
Gambar 2 : Gejala SeranganSpodoptera exiguaHubn. Sumber : Foto langsung
masuk dan makan daging daun bagian dalam, tetapi epidermis bagian luarnya tetap, dibiarkan tidak dimakan. Akibatnya pada daun terlihat bercak-bercak berwarna putih yang apabila diterawangkan tembus cahaya. Serangan lanjut menyebabkan daun terkulai dan mengering (Hadisoeganda,dkk, 1995).
Jamur Entomopatogen
Beauveria bassiana(Balsamo) Vuillemin
B. bassiana adalah jenis jamur yang tergolong dalam kelas
Deuteromycetes, ordo Moniliales, famili Moniliaceae. Konidiofor yang fertile bercabang-cabang secara zig-zag. Konidia bersel satu, berbentuk bulat sampai oval berukuran 1-3 mikron. Hifa B. bassianahialin, dalam koloni berwarna putih seperti kapas (Setiawati,dkk, 2004).
B. bassiana masuk ke tubuh serangga melalui kulit di antara ruas-ruas tubuh. Penetrasinya dimulai dengan pertumbuhan spora pada kutikula. Hifa fungi mengeluarkan enzim kitinase, lipase dan protemase yang mampu menguraikan komponen penyusun kutikula serangga. Di dalam tubuh serangga hifa berkembang dan masuk ke dalam pembuluh darah. Disamping itu B. bassiana
juga menghasilkan toksin seperti beaurerisin, beauverolit, bassianalit, isorolit dan asam oksalat yang menyebabkan terjadinya kenaikan pH, penggumpalan dan terhentinya peredaran darah serta merusak saluran pencernaan, otot, system syaraf dan pernapasan yang pada akhirnya menyebabkan kematian (Mahr, 2003).
Metarhizium anisopliae(Metch) Sorokin
M. anisopliae adalah suatu jamur yang berasal dari yang distribusinya luas. Penggunaan pertama dari M. anisopliaesebagai agen microbial adalah pada tahun 1879 yaitu untuk mengendalikan kumbang biji gandum. M. anisopliae
dikategorikan sebagai jamurgreen muscle karena koloni sporanya yang berwarna hijau. M. anisopliae telah dilaporkan dapat menginfeksi kira-kira 200 species serangga dan arthropoda lainnnya (Cloyd, 2004).
M. anisopliae adalah salah satu jamur entomopatogen yang termasuk
dalam divisi Deuteromycotina. Jamur ini biasa disebut green muscardine fungus
karena sporanya berwarna hijau, jamur ini tersebar luas diseluruh dunia. Spora aseksual M. anisopliae yang kontak dengan tubuh serangga akan berkecambah dan hifa akan mengadakan penetrasi pada kutikula. Jamur akan berkembang di dalam tubuh serangga sehingga serangga mati dalam beberapa hari, hal ini disebabkan karena M. anisopliaemenghasilkan destruksin yang dapat membunuh serangga (Anonimus, 2006a).
Insektisida Botani
Mimba (Azadirachta indicaA. Juss)
Kandungan senyawa kimia ekstrak biji dan daun mimba dapat digolongkan ke dalam 3 golongan penting yaitu azadirachtin, salanin, dan
meliantriol. Ke 3 senyawa tersebut dapat digolongkan ke dalam kelompok
tripenoidyang merupakan bahan pestisida nabati, tetapi yang paling efektif adalah
azadirachtin. Beberapa sifat penting azadirachtin adalah fitotoksisitasnya kecil, tidak toksik untuk manusia dan vertebrata lainnya. Daya kerja utama kandungan senyawa ini adalah sebagaiantifeedantuntuk serangga hama. (Widayat, 1993).
Senyawa aktif yang terkandung dalam mimba adalah azadirachtin, senyawa ini tidak langsung membunuh, namun akhirnya dapat mematikan serangga melalui mekanisme menolak makan, mengganggu pertumbuhan dan reproduksi. Secara struktural, senyawa ini menyerupai hormone ecdysones pada serangga yang berfungsi mengontrol proses metamorfosis pada serangga.
Meliantriol, senyawa ini dalam konsentrasi yang rendah mampu menolak
serangga untuk makan sehinggga akhirnya serangga mati kelaparan. Salanin, senyawa yang juga termasuk kelompok triterpen ini juga mempunyai daya kerja sebagai penghambat makan, namun tidak mempengaruhi proses ganti kulit pada serangga (Sudarmadji, 1993).
Senyawa kimia dalam ekstrak mimba yang memiliki aktifitas penghambat perkembangan serangga antara lain Azadiracthin yang mempunyai komposisi kimia 3-tigloylazadirachtol dan 6-O-acetylnimbandiol (Soehardjan, 1993).
Mindi (Melia azedarachL.)
tiap tangkai 20-80 cm. Anak daun berbentuk bulat telur, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal membulat atau tumpul, panjang 3-7 cm, lebar 1,5-3 cm, warna permukaan atas hijau tua dan permukaan bawah hijau muda. Pohon mindi mirip dengan pohon mimba, tetapi daun mimba lebih langsing dari daun mindi dan mindi mempunyai percabangan pada daunnya sedangkan mimba tidak (Kardinan, 2004).
Kandungan bahan aktif mindi sama dengan mimba yaitu azadirachtin, salanin dan melantriol. Azadirachtin dapat berfungsi sebagai anti hama, mencegah makan, penolak, atau pengganggu system hormon serangga (Anonimus, 2006b). Pada umumnya serangga hama yang memakan racun ini makannya sangat berkurang, pertumbuhan menjadi terhambat dan jumlah telur yang dihasilkan juga sangat sedikit (Soehardjan, 1993).
Tembakau (Nicotiana tabacumL.)
Tembakau termasuk dalam famili Solanaceae. Tanaman tembakau merupakan tanaman semak semusim dsan tingginya dapat mencapai 2 m. Daun tunggal berbulu, bulat telur, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, panjang 20-50 cm, dan lebar 5-30 cm (Kardinan, 2004).
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di lahan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara (BPTP Sumut) Gedung Johor, Medan dengan ketinggian tempat + 30 m dpl. Penelitian dilaksanakan bulan April 2008 sampai bulan Juni 2008.
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan adalah umbi bawang merah varietas Kuning, jamur Beauveria bassiana, jamur Metarhizium anisopliae, daun tembakau, daun mimba, daun mindi, air, pupuk kandang, pupuk TSP, pupuk urea, dan pupuk KCl..
Adapun alat yang digunakan adalah cangkul, gembor, handsprayer, blender, tugal, meteran, pacak, timbangan, pisau, ember, beaker glass, kain muslin, kalkulator, dan alat tulis.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dimana terdapat 6 perlakuan dan 4 ulangan yang diperoleh dengan menggunakan rumus:
(t-1) (r-1) 15
(6-1) (r-1) 15
6r19
Perlakuan yang digunakan : N0 = Kontrol (tanpa perlakuan)
N1 = Beauveria bassianadengan kerapatan konidia 108sebanyak 50 gr/l air N2 = Metarhizhium anisopliaedengan kerapatan konidia 108sebanyak 50 gr/l air N3 = ekstrak daun mindi 200 gr/l air
N4 = ekstrak daun mimba 200 gr/l air N5 = ekstrak daun tembakau 50 gr/l air
Pelaksanaan Penelitian
Pengolahan lahan
Lahan diukur dengan ukuran untuk masing-masing plot seluas 4 x 1,2 m. jarak antar petak dalam 1 ulangan 30 cm dan jarak antara beda ulangan 50 cm. Dibuat parit keliling dengan ukuran 30 cm dan kedalaman 30 cm. Dibersihkan lahan dari gulma-gulma yang ada. Tanah dicangkul hingga gembur dengan kedalaman olah tanah antara 20 - 30 cm. Diatur jarak tanam yaitu 20 x 20 cm dan dibuat lubang tanam dengan menggunakan tugal.
Pemilihan bibit
Bibit bawang merah yang digunakan adalah varietas Kuning. Bibit dipilih yang sehat, warna mengkilat, bentuknya kompak atau sama, kulit umbi tidak luka dan telah mengalami masa simpan selama 2-3 minggu setelah panen. Umbi yang digunakan adalah umbi yang ukurannya sama.
Penanaman
ditanam, dilakukan pemotongan ujung umbi sepanjang 1/3 bagian. Setelah itu umbi ditanam sehingga 2/3 bagian umbi masuk ke dalam tanah dan posisi siung tidak boleh terbalik. Tanah bedengan lalu disiram dengan air hingga cukup basah (lembab).
Pemupukan
Tanaman bawang merah memerlukan pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik yang diberikan adalah pupuk kandang dengan dosis 100 ton/ha. Pupuk kandang ini diaduk merata dan disebarkan di atas bedengan 3 hari sebelum tanam yaitu pada saat pengolahan tanah. Sedangkan pupuk anorganik yang diberikan adalah pupuk TSP dengan dosis 40 gr/m2dan pupuk KCl dengan dosis 20 gr/m2 yang diberikan 1 hari sebelum tanam dan pupuk Urea dengan dosis 20 gr/m2 yang diberikan sebanyak 2 kali yaitu pada saat tanaman berumur 10 hari setelah tanam dan saat tanaman berumur 25 hari setelah tanam. Pemupukan diberikan dengan cara ditaburkan pada larikan diantara baris tanaman kira-kira 5 cm.
Pemeliharaan
Penyulaman dilakukan pada awal pertumbuhan hingga umur + 7 hari setelah tanam dengan cara mengganti umbi yang mati atau busuk.
Penyiangan gulma dari pertanaman dilakukan pada saat umur tanaman 2 minggu dan 4 minggu setelah tanam. Cara menyiang gulma harus hati-hati agar tidak merusak perakaran bawang merah, sebaiknya dicabut dengan tangan secara hati-hati.
Penyediaan Jamur Entomopatogen
Jamur entomopatogen yang digunakan merupakan jamur yang sudah siap pakai. Sebanyak 50 gr biakan jamur dilarutkan dalam 1 liter air, kemudian diaduk hingga rata. Suspensi ini dapat langsung disemprotkan pada tanaman bawang merah di lapangan.
Penyediaan Insektisida Botani
Insektisida botani ekstrak daun mimba
Sebanyak kurang lebih 200 gr daun mimba segar diblender dengan 1 l air. Kemudian dibiarkan selama 1 malam. Lalu larutan disaring dengan kain muslin. Kemudian langsung disemprotkan pada tanaman bawang merah.
Insektisida botani ekstrak daun mindi
Insektisida botani ekstrak daun tembakau
Sebanyak kurang lebih 50 gr daun tembakau diblender dengan 1 l air. Kemudian dibiarkan selama 1 malam. Lalu larutan disaring dengan kain muslin. Kemudian disemprotkan pada tanaman bawang merah.
Aplikasi Jamur Entomopatogen dan Insektisida Botani di Lapangan
Aplikasi jamur entomopatogen dan insektisida botani pada tanaman bawang merah dilakukan setelah tanaman berumur + 14 hari. Penyemprotan insektisida botani dan jamur entomopatogen dilakukan pada sore hari. Penyemprotan jamur entomopatogen dan insektisida botani selama tanam dilakukan sebanyak 5 kali dengan interval penyemprotan 1 minggu sekali.
Panen
Tanaman bawang merah varietas Kuning dapat dipanen pada umur + 56-66 hari. Ciri tanaman yang siap panen adalah leher batang mengeras dan batang telah melemas, daun menguning dan umbi lapis sudah tersembul ke permukaan tanah. Bila sampel tersebut telah mencapai 70-80% dari jumlah tanaman maka panen dapat dilaksanakan. Panen dilaksanakan pada saat cuaca cerah dan tanah kering. Panen dilakukan dnegan cara mencabut tanaman beserta rumpun tanaman dan batangnya. Setelah itu umbi dijemur tapi tidak boleh menghadap cahaya matahari terik melainkan cukup di tempat terlindung saja.
Cara Pengambilan Sampel Tanaman
barisan terluar. Jumlah sampel tanaman yang diambil adalah sebanyak 5 tanaman per plot.
Peubah Amatan
Persentase seranganSpodoptera exiguaHubner .
Persentase serangan Spodoptera exigua Hubner .dihitung setiap 1 minggu sekali dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
P = a x 100% N
Dimana :
P = tingkat kerusakan daun (%)
a = jumlah daun terserang/rumpun contoh N = jumlah daun yang diamati/rumpun contoh (Moekasan,dkk, 2000).
Produksi hasil
HASIL DAN PEMBAHASAN
Persentase SeranganSpodoptera exiguaHubn.
Dari analisa sidik ragam menunjukkan bahwa tanaman bawang merah yang diberi perlakuan jamur entomopatogen dan insektisida botani memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase serangan Spodoptera exigua Hubn. Untuk mengetahui perlakuan mana yang berbeda nyata, maka dilakukan Uji Jarak Duncan (Lampiran 2-6). Rataan persentase serangan
Spodoptera exiguaHubn. dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rataan Persentase SeranganSpodoptera exiguaHubn.
Perlakuan Persentase Serangan (%)
Waktu Pengamatan Minggu Setelah Aplikasi (MSA)
1MSA 2MSA 3MSA 4MSA 5MSA
Kontrol 23.85A 24.83A 26.83A 29.40A 34.45A
B.bassiana 16.85B 16.33C 13.28C 9.85C 6.25D
M.anisopliae 15.08C 18.03C 20.18B 19.83B 11.25C
Daun Mimba 19.35B 17.65C 19.55B 19.90B 11.15C Daun Mindi 19.38B 19.03B 18.33B 20.28B 14.60B Daun Tembakau 20.55B 21.60A 22.10B 20.40B 15.70B Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama
berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Duncan pada taraf 0.05
Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan jamur entomopatogen dan insektisida botani terhadap persentase serangan
Spodoptera exigua Hubn. pada pengamatan 1 MSA sampai dengan 5 MSA
memberikan hasil yang berbeda nyata.
perlakuanBeauveria bassiana,Metarhizium anisopliae, daun mimba, daun mindi, dan daun tembakau. Perlakuan B.bassiana berbeda nyata dengan perlakuan kontrol dan M.anisopliae, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan daun mimba, daun mindi, dan daun tembakau, sedangkan perlakuan M.anisopliae
berbeda nyata dengan perlakuan kontrol, B.bassiana, daun mimba, daun mindi, daun tembakau. Dimana persentase serangan tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol sebesar 23,85% sedangkan persentase terendah pada perlakuan
M.anisopliaesebesar 15,08%.
Rata- rata persentase seranganSpodoptera exiguaHubn. pada pengamatan 2 MSA (tabel 1) menunjukkan bahwa perlakuan kontrol berbeda nyata dengan perlakuan B.bassiana, M.anisopliae, daun mimba, dan daun mindi tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan daun tembakau. Perlakuan B.bassiana berbeda nyata dengan perlakuan kontrol, daun mindi, dan daun tembakau tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan M.anisopliae dan daun mimba. Perlakuan daun mindi berbeda nyata dengan perlakuan kontrol, B.bassiana, M.anisopliae, daun mimba, dan daun tembakau. Dimana persentase serangan tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol sebesar 24,83% sedangkan persentase terendah pada perlakuanB.bassianasebesar 16,33%.
Rata-rata persentase serangan pada pengamatan 3 MSA dan 4 MSA (tabel 1) menunjukkan bahwa perlakuan kontrol berbeda nyata dengan perlakuan
B.bassiana, M.anisopliae, daun mimba, daun mindi, dan daun tembakau.
perlakuan daun mimba, daun mindi, dan daun tembakau. Persentase serangan yang tertinggi dan terendah diperoleh pada pengamatan 4 MSA yaitu tertinggi pada perlakuan kontrol sebesar 29,40 % dan terendah pada perlakuan B.bassiana
sebesar 9,85%.
Rata-rata persentase serangan pada pengamatan 5 MSA (tabel 1) menunjukkan bahwa perlakuan kontrol berbeda nyata dengan perlakuan
B.bassiana, M.anisopliae, daun mimba, daun mindi, dan daun tembakau.
Perlakuan B.bassiana berbeda nyata dengan perlakuan kontrol, M.anisopliae, daun mimba, daun mindi, dan daun tembakau. Tetapi perlakuan M.anisopliae
tidak berbeda nyata dengan perlakuan daun mimba, begitu juga dengan perlakuan daun mindi tidak berbeda nyata dengan perlakuan daun tembakau. Persentase serangan tertinggi adalah pada kontrol 34,45% dan terendah pada
B.bassiana6,25%.
Rata-rata persentase serangan pada Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan entomopatogen yaitu N1 (Beauveria bassiana) dan N2 (Metarhizium anisopliae) menunjukkan hasil yang berbeda nyata terhadap kontrol (tanpa perlakuan). Hal ini disebabkan karena jamur entomopatogen dapat membunuh larva
Spodoptera exigua Hubn. dengan menghisap cairan tubuh serangga dan merusak
merusak saluran pencernaan, otot, system syaraf, dan pernapasan yang pada akhirnya menyebabkan kematian. Dan Anonimus (2006a) menyatakan bahwa jamurM. anisopliaemenghasilkan hifa yang mengadakan penetrasi pada kutikula serangga dan berkembang di dalam tubuh serangga serta menghasilkan destruksin yang dapat membunuh serangga dalam beberapa hari.
Pada perlakuan dengan menggunakan insektisida botani, setelah pada pengamatan 3 MSA sampai 5 MSA semua perlakuan insektisida botani yaitu N3 (mimba), N4, (mindi) dan N5 (tembakau) menunjukkan hasil yang berbeda nyata dengan kontrol. Hal ini disebabkan karena insektisida botani mempunyai kemampuan sebagai penghambat makan dan racun perut sehingga akhirnya serangga mati kelaparan. Sudarmadji (1993) menyatakan bahwa mimba mengandung senyawa aktif azadirachtin yang tidak langsung membunuh namun akhirnya mematikan serangga melalui mekanisme menolak makan, mengganggu pertumbuhan dan reproduksi. Anonimus (2006a) juga menyatakan bahwa mindi mempunyai kadungan bahan aktif yang sama dengan mimba yang berfungsi untuk mencegah makan, dan pengganggu sistem hormon serangga. Dan Soeharjan (1993) menyatakan bahwa tembakau yang berbahan aktif nikotin dapat berfungsi sebagai racun perut bagi serangga.
Gambar 3 : Grafik Persentase seranganSpodoptera exiguaHubn. Keterangan :
1. N0 : Kontrol ( tanpa perlakuan) 2. N1 : Beuveria bassiana50 gr/l air 3. N2 : Metarhizium anisopliae50 gr/l air 4. N3 : Mimba 200 gr/ l air
5. N4 : Mindi 200 gr/ l air 6. N5 : Tembakau 50 gr / l air
terendah adalahB.bassiana9,85%. Pada pengamatan 5 MSA persentase serangan tertinggi adalah pada perlakuan kontrol yaitu sebesar 34,45% dan persentase serangan terendah adalah padaB.bassianayaitu sebesar 6,25%.
Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa persentase serangan tertinggi dan terendah dari seluruh pengamatan yang telah dilakukan didapat pada pengamatan terakhir yaitu pada pengamatan 5 MSA. Dimana persentase tertinggi adalah pada perlakuan kontrol sebesar 34,45% dan persentase terendah pada perlakuan
B.bassianasebesar 6,25%.
Persentase serangan terendah yang diperoleh dari seluruh pengamatan adalah pada perlakuan N1 yaitu dengan menggunakan jamur entomopatogen
Beauveria bassiana. Dari penelitian ini didapat bahwa jamur B. Bassiana
walaupun dengan dosis yang sama dengan jamur M. anisopliae ternyata
B. bassiana lebih efektif untuk mengurangi persentase serangan
Spodoptera exigua Hubn. Sedangkan insektisida botani kurang efektif
dibandingkan dengan penggunaan jamur entomopatogen. Hal ini dikarenakan insektisida botani yang digunakan bersifat sebagai racun perut dan penghambat makan sehingga kematian serangga berjalan lebih lama. Sudarmadji (1993) menyatakan bahwa azadirachtin yang terkandung pada mimba tidak langsung membunuh serangga, namum akhirnya dapat mematikan melalui mekanisme menolak makan yang pada akhirnya menyebabkan serangga mati kelaparan, mengganggu pertumbuhan dan reproduksi. Senyawa ini mampu berfungsi untuk mengontrol proses metamorfosis serangga.
penetrasi, mengeluarkan enzim-enzim yang dapat membunuh serangga dan menghisap cairan tubuh serangga. Mahr (2003) menyatakan jamur yang menempel pada kulit serangga akan langsung mengadakan penetrasi. Hifa jamur yang masuk mengeluarkan enzim kitinase, lipase dan protemase yang mampu menguraikan komponen penyusun kutikula serangga. Dan juga menghasilkan toksin yang dapat menyebabkan penggumpalan sehingga terhentinya peredaran darah serta merusak saluran penceranaan, pernapasan yang dapat menyebabkan kematian serangga.
Kematian serangga yang diakibatkan oleh penggunaan jamur entomopatogen dan insektisida botani pada penelitian ini secara langsung menyebabkan penurunan persentase serangan S. exigua di lapangan pada setiap minggunya.
Produksi
Rataan produksi bawang merah dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini. Untuk mengetahui produksi yang berbeda nyata dilakukan Uji Jarak Duncan (Lampiran 7)
Tabel 2 : Data produksi bawang merah (ton/ha)
Perlakuan I IIUlanganIII IV Total Rataan
Kontrol 7.80 8.20 5.30 6.50 27.80 6.95D
B.bassiana 12.50 13.00 11.50 12.00 49.00 12.25A
M.anisopliae 11.60 10.00 10.50 9.50 41.60 10.40B
Daun mimba 9.60 10.00 8.80 11.35 39.75 9.94B Daun mindi 10.10 9.90 7.86 8.95 36.81 9.20B Daun tembakau 8.98 9.84 7.96 8.50 35.28 8.82C
Total 60.58 60.94 51.92 56.80 230.24
Rataan 10.10 10.16 8.65 9.47 9.59
Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa produksi bawang merah menunjukkan hasil yang berbeda nyata. Dimana perlakuan kontrol menghasilkan produksi yang berbeda nyata dengan perlakuan B.bassiana, M.anisopliae, N3, N4 dan daun tembakau. Hasil produksi pada perlakuan B.bassiana berbeda nyata dengan produksi perlakuan M.anisopliae, daun mimba, daun mindi, dan daun tembakau. Produksi perlakuan M.anisopliae, daun mimba dan daun mindi tidak berbeda nyata satu sama lain, namun berbeda nyata dengan produksi perlakuan lain. Hasil produksi perlakuan daun tembakau berbeda nyata dengan hasil produksi perlakuan lainnya.
Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa rataan produksi tertinggi didapat pada perlakuan B.bassiana yaitu sebesar 12,25 ton/ha, sedangkan rataan produksi terendah pada N0 yaitu sebesar 6,95 ton/ha. Hal ini dapat terjadi karena persentase serangan pada perlakuan N0 (kontrol) selalu mengalami peningkatan setiap minggunya sehingga mempengaruhi hasil produksi karena berkurangnya jumlah daun akibat seranganS.exiguayang secara langsung mempengaruhi hasil produksi bawang merah. Dimana daun berfungsi untuk fotosintesis dan menghasilkan zat makanan untuk pembentukkan umbi bawang merah. Sementara pada perlakuan
B.bassianapersentase seranganS. exiguaselalu mengalami penurunan pada setiap
minggunya dan persentase serangan adalah yang terendah sehingga produksi umbi yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan dengan kontrol ataupun dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
0.00
Gambar 4 : Grafik pemberian jamur entomopatogen dan insektisida botani terhadap rataan produksi bawang merah
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Setiap perlakuan yang digunakan memberikan pengaruh yang nyata terdapat persentase seranganSpodoptera exiguaHubn.
2. Persentase serangan S. exigua Hubn tertinggi adalah 34,45% pada perlakuan Kontrol (5 MSA) dan terendah adalah 6,25% pada perlakuan
B.bassiana(5 MSA).
3. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa yang lebih efektif dalam mengurangi persentase serangan S.exigua Hubn. adalah penggunaan
Beauveria bassiana (6,25%) dibandingkan dengan penggunaan
Mettarhizium anisopliae (11,25%), daun mimba (11,15%), daun mindi
(14,60%), dan daun tembakau (15,70%).
4. Rataan produksi bawang merah tertinggi diperoleh pada perlakuan
B.bassiana yaitu sebesar 12,25 ton/ha dan produksi terendah pada
perlakuan kontrol yaitu 6,95 ton/ha.
Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efektifitas B.bassiana
DAFTAR PUSTAKA
Anonimus, 2006a. Metarhizium anisopliae. Diakses dari: http://en.wikipedia.org/wiki/metarhizium_anisopliae. (10 Desember 2006). ________, 2006b. Mindi. Diakses dari: http://www.mail-archive_com.
(11 April 2007).
________, 2007a. Ulat Bawang. Spodoptera exigua Hubn. Diakses dari: http://www.deptan.go.id/ditlinhorti/opt/bw_merah/ult_daun.
(11 April 2007).
________, 2007b. Spodoptera exigua Hubn. Diakses dari: http://en.wikibooks.org/wiki_A_wikimanual_of_Gardening/Spodoptera_ exigua. (11 April 2007).
Cloyd, R.A., 2004. The Entomopathogenic Fungus Metarhizium anisopliae. University of Illnois. Diakses dari: http://www.entomology.wisc.edu/mbcn/kyf607.html. (10 Desember 2006). Hadisoeganda, W.W., Euis Suryaningsih dan Tony K. Moekasan, 1995. Penyakit dan Hama Bawang Merah dan Cara Pengendaliannya. Dalam Teknologi Bawang Merah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta. Hlm.12-13.
Kalshoven, L.G.E., 1981. Pest of Crop In Indonesia. P.T. Ichtiar Baru. Van Hoeve, Jakarta. P. 350.
Kardinan, A., 2004. Pestisida Nabati, Ramuan dan aplikasi. Penebar Swadaya, Jakarta. Hlm. 60-65.
Litbang, 2008. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Bawang Merah. Diakses dari: http://www.litbang.deptan.go.id. (10 November 2008). Mahr, S., 2003. The Entomopathogen Beauveria bassiana.
University of Wisconsin, Madison. Diakses dari: http://www.entomology.wisc.edu/mbcn/kyf410.html. (10 Desember 2006). Mau, R.F.L., and J.L.M. Kessing, 1991.Spodoptera exigua (Hubner) Beet Army Worm. Departement of Entomology. Honollulu, Hawaii. Diakses dari: http://www.extento.hawai.edu/k.base/crop/type/spodoptera.htm.
(11 April 2007).
Hortikultura. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta. Hlm. 4-5, 30.
Rukmana, R., 1994. Bawang Merah, Budidaya dan Pengelolaan Pasca Panen. Kanisius, Yogyakarta. Hlm. 1 5-18, 30, 39.
Setiawati, W.T., S. Uhan dan B.K. Udarto, 2004. Pemanfaatan Musuh Alami dalam Pengendalian Hayati Hama pada Tanaman Sayuran. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta. Hlm. 30-31.
Soehardjan, M., 1993. Penggunaan, Permasalahan serta Prospek Pestisida Nabati dalam PHT. Dalam Prosiding Seminar Hasil Penelitian dalam Rangka Pemanfaatan Pestisida Nabati. Bogor 1-2 Desember 1993. badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Jakarta. Hlm. 6-7, 8-9.
Sudarmadji, D., 1993. Prospek dan Kendala dalam Pemanfaatan Mimba sebagai Insektisida Nabati. Dalam Prosiding Seminar Hasil Penelitian dalam Rangka Pemanfaatan Pestisida Nabati. Bogor 1-2 Desember 1993. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Jakarta. Hlm. 223-224.
Suwandi, 1995. Pengenalan Bawang Merah. Dalam Teknologi Bawang Merah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta. Hlm. 1.
Untung, K., 2001. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Fakultas Pertanian. UGM Press, Yogyakarta. Hlm. 223.
Wibowo, S., 1995. Budidaya Bawang. Bawang Merah, Bawang Putih dan Bawang Bombay. Penebar Swadaya, Jakarta. Hlm. 85, 88-93.
Lampiran 1 : Bagan Penelitian Jarak antara petak dalam 1 ulangan : 30 cm Jarak antara beda ulangan : 50 cm Jarak tanam : 20 x 20 cm Jumlah tanaman setiap petak : 100 tanaman Jumlah tanaman seluruh petak : 2400 tanaman Jumlah plot seluruhnya : 24 plot
Lampiran 2 : Bagan Pengambilan Sampel
2 m
1,2 m
Keterangan :
= tanaman bukan sampel
= tanaman sampel
20 cm
20 cm
Lampiran 3 : Data Persentase Serangan 1 MSA
Perlakuan I UlanganII III IV Total Rataan
N0 22.70 25.00 25.00 22.70 95.40 23.85 N1 14.20 16.60 20.00 16.60 67.40 16.85 N2 15.30 14.20 16.60 14.20 60.30 15.08 N3 20.00 18.70 20.00 18.70 77.40 19.35 N4 22.20 20.00 15.30 20.00 77.50 19.38 N5 20.00 20.00 18.70 23.50 82.20 20.55
Total 114.40 114.50 115.60 115.70 460.20
Rataan 19.07 19.08 19.27 19.28 19.18
Transformasi Arc Sin x
Perlakuan I IIUlangan III IV Total Rataan
N0 28.45 30.00 30.00 28.45 116.91 29.23 N1 22.14 24.04 26.57 24.04 96.79 24.20 N2 23.03 22.14 24.04 22.14 91.34 22.84 N3 26.57 25.62 26.57 25.62 104.37 26.09 N4 28.11 26.57 23.03 26.57 104.27 26.07 N5 26.57 26.57 25.62 29.00 107.75 26.94
Total 154.86 154.93 155.82 155.82 621.43
Rataan 25.81 25.82 25.97 25.97 25.89
Daftar Sidik Ragam
sk dB JK KT Fhit F.05 F.01
Ulangan 3 0.14 0.05 0.02 tn 3.29 5.42
Perlakuan 5 97.98 19.60 8.24 ** 2.90 4.56
UJD.05
SY 0.77
P 2 3 4 5 6
SSR.05 3.01 3.16 3.25 3.31 3.36 LSR.05 2.32 2.44 2.51 2.55 2.59 Perlakuan N2 N1 N4 N3 N5 N0 Rataan 22.84 24.20 26.07 26.09 26.94 29.23
A B
Lampiran 4 : Data Persentase Serangan 2 MSA
Perlakuan I UlanganII III IV Total Rataan
N0 26.60 25.00 22.70 25.00 99.30 24.83 N1 18.10 16.60 15.30 15.30 65.30 16.33 N2 18.70 15.30 20.00 18.10 72.10 18.03 N3 20.00 18.70 15.30 16.60 70.60 17.65 N4 22.70 20.00 18.10 15.30 76.10 19.03 N5 18.70 22.70 20.00 25.00 86.40 21.60
Total 124.80 118.30 111.40 115.30 469.80
Rataan 20.80 19.72 18.57 19.22 19.58
Transformasi Arc Sin x
Perlakuan I IIUlanganIII IV Total Rataan
N0 31.05 30.00 28.45 30.00 119.50 29.88 N1 25.18 24.04 23.03 23.03 95.27 23.82 N2 25.62 23.03 26.57 25.18 100.39 25.10 N3 26.57 25.62 23.03 24.04 99.26 24.81 N4 28.45 26.57 25.18 23.03 103.22 25.81 N5 25.62 28.45 26.57 30.00 110.64 27.66
Total 162.49 157.71 152.81 155.27 628.29
Rataan 27.08 26.29 25.47 25.88 26.18
Daftar Sidik Ragam
sk dB JK KT Fhit F.05 F.01
Ulangan 3 8.52 2.84 1.08 tn 3.29 5.42
Perlakuan 5 98.39 19.68 7.48 ** 2.90 4.56
UJD.05
SY 0.81
P 2 3 4 5 6
SSR.05 3.01 3.16 3.25 3.31 3.36 LSR.05 2.44 2.56 2.64 2.68 2.72
Perlakuan N1 N3 N2 N4 N5 N0
Rataan 23.82 24.81 25.10 25.81 27.66 29.88
A B
Lampiran 5 : Data Persentase Serangan 3 MSA
Perlakuan I UlanganII III IV Total Rataan
N0 26.60 27.20 25.00 28.50 107.30 26.83 N1 14.20 15.30 11.10 12.50 53.10 13.28 N2 18.70 23.00 21.40 17.60 80.70 20.18 N3 20.00 18.10 23.50 16.60 78.20 19.55 N4 20.00 20.00 20.00 13.30 73.30 18.33 N5 23.50 20.00 21.40 23.50 88.40 22.10
Total 123.00 123.60 122.40 112.00 481.00
Rataan 20.50 20.60 20.40 18.67 20.04
Transformasi Arc Sin x
Perlakuan I IIUlanganIII IV Total Rataan
N0 31.05 31.44 30.00 32.27 124.75 31.19 N1 22.14 23.03 19.46 20.70 85.33 21.33 N2 25.62 28.66 27.56 24.80 106.64 26.66 N3 26.57 25.18 29.00 24.04 104.78 26.20 N4 26.57 26.57 26.57 21.39 101.08 25.27 N5 29.00 26.57 27.56 29.00 112.11 28.03
Total 160.93 161.43 160.13 152.20 634.70
Rataan 26.82 26.90 26.69 25.37 26.45
Daftar Sidik Ragam
sk dB JK KT Fhit F.05 F.01
Ulangan 3 9.45 3.15 0.99 tn 3.29 5.42
Perlakuan 5 210.49 42.10 13.18 ** 2.90 4.56
UJD.05
SY 0.89
P 2 3 4 5 6
SSR.05 3.01 3.16 3.25 3.31 3.36 LSR.05 2.69 2.82 2.90 2.96 3.00
Perlakuan N1 N4 N3 N2 N5 N0
Rataan 21.33 25.27 26.20 26.66 28.03 31.19 A B
Lampiran 6 : Data Persentase Serangan 4 MSA
Perlakuan I UlanganII III IV Total Rataan
N0 25.00 30.70 31.20 30.70 117.60 29.40 N1 5.80 12.50 10.00 11.10 39.40 9.85 N2 18.70 16.60 30.70 13.30 79.30 19.83 N3 21.40 18.10 21.40 18.70 79.60 19.90 N4 20.00 20.00 17.60 23.50 81.10 20.28 N5 20.00 16.60 20.00 25.00 81.60 20.40
Total 110.90 114.50 130.90 122.30 478.60
Rataan 18.48 19.08 21.82 20.38 19.94
Transformasi Arc Sin x
Perlakuan I IIUlanganIII IV Total Rataan
N0 30.00 33.65 33.96 33.65 131.25 32.81 N1 13.94 20.70 18.43 19.46 72.54 18.13 N2 25.62 24.04 33.65 21.39 104.70 26.18 N3 27.56 25.18 27.56 25.62 105.91 26.48 N4 26.57 26.57 24.80 29.00 106.93 26.73 N5 26.57 24.04 26.57 30.00 107.17 26.79
Total 150.24 154.18 164.96 159.12 628.51
Rataan 25.04 25.70 27.49 26.52 26.19
Daftar Sidik Ragam
sk dB JK KT Fhit F.05 F.01
Ulangan 3 20.24 6.75 0.77 tn 3.29 5.42
Perlakuan 5 438.00 87.60 9.98 ** 2.90 4.56
UJD.05
SY 1.48
P 2 3 4 5 6
SSR.05 3.01 3.16 3.25 3.31 3.36 LSR.05 4.46 4.68 4.81 4.90 4.98
Perlakuan N1 N2 N3 N4 N5 N0
Rataan 18.13 26.18 26.48 26.73 26.79 32.81 A B
Lampiran 7 : Data Persentase Serangan 5 MSA
Perlakuan I UlanganII III IV Total Rataan
N0 31.20 33.30 33.30 40.00 137.80 34.45 N1 4.30 8.30 8.30 4.10 25.00 6.25 N2 10.00 15.00 10.00 10.00 45.00 11.25 N3 13.00 12.50 8.60 10.50 44.60 11.15 N4 14.20 14.20 15.00 15.00 58.40 14.60 N5 16.00 13.60 14.20 19.00 62.80 15.70
Total 88.70 96.90 89.40 98.60 373.60
Rataan 14.78 16.15 14.90 16.43 15.57
Transformasi Arc Sin x
Perlakuan I IIUlanganIII IV Total Rataan
N0 33.96 35.24 35.24 39.23 143.68 35.92 N1 11.97 16.74 16.74 11.68 57.14 14.28 N2 18.43 22.79 18.43 18.43 78.09 19.52 N3 21.13 20.70 17.05 18.91 77.80 19.45 N4 22.14 22.14 22.79 22.79 89.85 22.46 N5 23.58 21.64 22.14 25.84 93.20 23.30
Total 131.21 139.26 132.40 136.88 539.75
Rataan 21.87 23.21 22.07 22.81 22.49
Daftar Sidik Ragam
sk dB JK KT Fhit F.05 F.01
Ulangan 3 7.13 2.38 0.52 tn 3.29 5.42
Perlakuan 5 1065.50 213.10 46.62 ** 2.90 4.56
UJD.05
SY 1.07
P 2 3 4 5 6
SSR.05 3.01 3.16 3.25 3.31 3.36 LSR.05 3.22 3.38 3.47 3.54 3.59
Perlakuan N1 N3 N2 N4 N5 N0
Rataan 14.28 19.45 19.52 22.46 23.30 35.92 A B
Lampiran 8 : Data Produksi Bawang Merah (ton/ha)
Perlakuan I IIUlanganIII IV Total Rataan
N0 7.80 8.20 5.30 6.50 27.80 6.95 N1 12.50 13.00 11.50 12.00 49.00 12.25 N2 11.60 10.00 10.50 9.50 41.60 10.40 N3 9.60 10.00 8.80 11.35 39.75 9.94 N4 10.10 9.90 7.86 8.95 36.81 9.20 N5 8.98 9.84 7.96 8.50 35.28 8.82
Total 60.58 60.94 51.92 56.80 230.24
Rataan 10.10 10.16 8.65 9.47 9.59
Transformasi Arc Sin x
Perlakuan I IIUlanganIII IV Total Rataan
N0 16.22 16.64 13.31 14.77 60.94 15.23 N1 20.70 21.13 19.82 20.27 81.93 20.48 N2 19.91 18.43 18.91 17.95 75.21 18.80 N3 18.05 18.43 17.26 19.69 73.43 18.36 N4 18.53 18.34 16.28 17.41 70.56 17.64 N5 17.44 18.28 16.39 16.95 69.06 17.26
Total 110.85 111.26 101.97 107.04 431.12
Rataan 18.48 18.54 16.99 17.84 17.96
Daftar Sidik Ragam
UJD.05
SY 0.38
P 2 3 4 5 6
SSR.05 3.01 3.16 3.25 3.31 3.36 LSR.05 1.15 1.21 1.24 1.27 1.29
Perlakuan N0 N5 N4 N3 N2 N1
Rataan 15.23 17.26 17.64 18.36 18.80 20.48 A B
Lampiran 9 : Foto Lahan Penelitian dan Gejala Serangan Spodoptera exiguaHubn
Gambar 5 : Foto Lahan Penelitian Sumber : Foto Langsung
Lampiran 10 : Gambar Hasil Panen Bawang Merah
Lampiran 11 : Daun Mimba dan Daun Mindi
Gambar 8 : Daun Mimba Sumber : Foto Langsung
Lampiran 12 : Deskripsi Bawang Merah Varietas Kuning
Asal : Lokal Brebes Umur : Panen 56-66 hari Tinggi tanaman : 35,3 cm (33,7-36,9 cm) Kemampuan berbunga : Susah (alami)
Banyaknya anakan : 7-12
Bentuk daun : Silindris seperti pipa Warna daun : Hijau kekuning-kuningan Banyak daun : 34-47
Bentuk bunga : Seperti payung Banyak buah/tangkai : 70-96 (83) Banyak bunga : 100-142 (121)
Bentuk biji : Bulat, gepeng, berkeriput Warna biji : Hitam
Bentuk umbi : Bulat ujung meruncing Warna umbi : Merah gelap
Produksi umbi : 14,4 ton/ha
Susut bobot umbi : 21,5-22,0% (basah-kering)
Ketahanan terhadap penyakit : Cukup tahan terhadap busuk umbiBotritis alli
Kepekaan terhadap penyakit :Peka terhadap busuk ujung daun
Phytophthora porri