Perilaku Pasien Penyakit Jantung Koroner Terhadap Diet Penyakit Jantung Koroner di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010.

77 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PERILAKU PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER TERHADAP DIET PENYAKIT JANTUNG KORONER

DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2010

OLEH :

GERALD ABRAHAM HARIANJA 070100087

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PERILAKU PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER TERHADAP DIET PENYAKIT JANTUNG KORONER

DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2010

KARYA TULIS ILMIAH

Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran

OLEH :

GERALD ABRAHAM HARIANJA 070100087

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Perilaku Pasien Penyakit Jantung Koroner terhadap Diet Penyakit Jantung Koroner di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010

Nama : GERALD ABRAHAM HARIANJA NIM : 070100087

Pembimbing Penguji I

(dr. Dina Keumala Sari, MG, SpGK) (dr. Rina Amelia, MARS) NIP: 19731221 200312 2 001 NIP: 19760420 200312 2 002

Penguji II

(Nenni Dwi A. Lubis, SP, MSi) NIP: 19761004 200312 2 002

Medan, 2 Desember 2010 Dekan

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

(4)

ABSTRAK

Penyakit jantung koroner merupakan penyakit penyebab kematian tersering di dunia. Berbagai studi telah menunjukkan sejumlah faktor diet dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Adanya hubungan positif antara perilaku makan dengan penyakit jantung koroner menyebabkan pentingnya pengaturan diet dalam pencegahan primer dan sekunder penyakit jantung koroner.

Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain potong lintang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan tindakan pasien penyakit jantung koroner terhadap diet penyakit jantung koroner di RSUP H. Adam Malik Medan. Populasi adalah pasien penyakit jantung koroner yang berobat jalan di Poli Kardiologi RSUP H. Adam Malik Medan. Sebanyak 44 sampel diambil dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Data diambil dengan pengisian kuesioner.

Hasil penilitian menunjukkan karakteristik sampel berdasarkan proporsi sosiodemografi tertinggi adalah laki-laki 77,3%, usia lebih dari 55 tahun 54,5%, Batak 72,7%, pendidikan SMA 59,1%, dan pensiunan 34,1%. Sebanyak 25 orang (56,8%) dari total sampel memiliki pengetahuan baik. Sebanyak 34 orang (77,3%) dari total sampel memiliki sikap baik. Sebanyak 21 orang (47,7%) dari total sampel memiliki tindakan cukup. Hal ini secara umum menunjukkan bahwa pasien penyakit jantung koroner di RSUP H. Adam Malik Medan memiliki pengetahuan, sikap, dan tindakan yang baik.

Dokter dan tenaga kesehatan lain diharapkan tetap memberikan konseling nutrisi mengenai diet penyakit jantung koroner dan melakukan evaluasi diet pada pasien penyakit jantung koroner. Pasien penyakit jantung koroner juga diharapkan lebih aktif mencari informasi mengenai diet untuk kesehatan jantung dan mau mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

(5)

ABSTRACT

Coronary heart disease is the most common cause of death in the world. Many studies have shown a number of dietary factors which can increase coronary heart disease risk. The positive relationship between eating behavior and coronary heart disease leads to necessity of dietary regulation in preventing coronary heart disease both primarily and secondly.

This research is descriptive with a cross sectional design. The objective of this research is to know coronary heart disease patients’ knowledge, attitude, and practice toward coronary heart disease diet in RSUP H. Adam Malik Medan. The population is coronary heart disease patients who take one day care in Cardiology Unit RSUP H. Adam Malik Medan. Forty four samples were taken by using consecutive sampling technique. Data was taken by filling the questionnaire.

The result of the research shows that characteristic of samples based on the highest proportion of socio-demography are men 77,3%, age more than 55 years old 54,5%, Batak 72,7%, Senior High School Education Level 59,1%, and pensioner 34,1%. Twenty five people (56,8%) of the sample have good knowledge. Thirty four people (77,3%) of the sample have good attitude. Twenty one people (47,7%) of the sample have moderate practice. The result generally shows that coronary heart disease patients in RSUP H. Adam Malik Medan have good knowledge, attitude, and practice.

Doctors and other health workers are expected to keep on giving nutrition counseling about coronary heart disease diet and having dietary evaluation to coronary heart disease patients. Coronary heart disease patients are expected to be more active in searching information about diet for heart health and willing to practice it on daily life.

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan karunia-Nya sehingga Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Perilaku Pasien Penyakit Jantung Koroner Terhadap Diet Penyakit Jantung Koroner di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010” ini dapat diselesaikan. Karya tulis ini disusun sebagai tugas akhir mata kuliah Community Research

Program (CRP) dan merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini penulis dengan rendah hati ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, SpPD-KGEH selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu dr. Dina Keumala Sari, MG, SpGK selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan pengarahan, bimbingan, dan ilmu dalam penelitian ini.

3. Ibu dr. Rina Amelia, MARS dan Ibu Nenni Dwi A. Lubis, SP, MSi selaku dosen penguji yang telah bersedia menguji, memberikan masukan dan saran kepada penulis.

4. Bapak Prof. dr. Sutomo Kasiman, SpPD, SpJP (K) selaku Ketua Departemen/SMF/Instalasi Kardiologi FK USU/RSUP H. Adam Malik Medan yang telah memberikan izin kepada penulis untuk meneliti.

5. Seluruh dosen dan staf di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

6. Kedua orang tua penulis, Arifin Harianja, SE, MM dan Dra. Frida Margaretha Silitonga, MM atas segala pengorbanan, kasih sayang, dan doanya yang diberikan kepada penulis.

7. Adik penulis, Cindy Jessica atas segala bantuan dan doanya yang diberikan kepada penulis.

(7)

9. Semua pihak yang baik secara langsung maupun tidak langsung memberikan bantuan dalam penyusunan karya tulis ini.

Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam penyusunan karya tulis ini akibat keterbatasan ilmu dan pengalaman penulis. Oleh karena itu, semua saran dan kritik akan menjadi sumbangan yang sangat berarti guna menyempurnakan karya tulis ini.

Akhirnya penulis mengharapkan hasil karya tulis ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, bangsa dan negara Indonesia, serta pengembangan ilmu pengetahuan.

Medan, Desember 2010 Penulis

(8)

DAFTAR ISI

2.5.4. Therapeutic Lifestyle Change (TLC) Diet …………. 10

2.6. Faktor Diet Pada PJK ... 12

2.6.1. Asam Lemak Jenuh (Saturated Fatty Acid/SFA) ... 12

2.6.2. Polyunsaturated Fatty Acid (PUFA) ………. 13

2.6.2.1. Omega-6 Polyunsaturated Fatty Acids ….. 13

2.6.2.2. Omega-3 Polyunsaturated Fatty Acids ….. 13

2.6.3. Monounsaturated Fatty Acids (MUFA) ……… 14

2.6.3.1. cis-Monounsaturated Fatty Acids ……….. 14

(9)

2.6.6.4. Alkohol ………... 17

2.6.6.5. Soy Protein ………. 17

2.6.6.6. Stanol/Sterol ……… 17

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL .... 18

3.1. Kerangka Konsep ... 18

3.2. Defenisi Operasional ... 18

BAB 4 METODE PENELITIAN ... 20

4.1. Jenis Penelitian ... 20

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian ... 20

4.3. Populasi dan Sampel ... 20

4.3.1. Populasi ... 20

4.3.2. Sampel ... 20

4.4. Teknik Pengumpulan Data ... 21

4.5. Pengolahan dan Analisis Data ... 22

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ……… 23

5.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 23

5.2. Karakteristik Individu dan Hasil ... 23

5.3. Pembahasan ... 29

5.3.1. Karakteristik Sosiodemografi Responden ... 29

5.3.2. Pengetahuan Responden ... 30

5.3.3. Sikap Responden ... 31

5.3.4. Tindakan Responden ... 32

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 35

6.1. Kesimpulan ... 35

6.2. Saran ... 35

DAFTAR PUSTAKA ... 36

(10)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1. Komposisi Nutrien dalam Diet TLC 11

4.1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner 22 5.1. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Jenis Kelamin 23 5.2. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Usia 24 5.3. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Suku 24 5.4. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pendidikan 24 5.5. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pekerjaan 25 5.6. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pengetahuan

mengenai Diet PJK 25

5.7. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Sikap

mengenai Diet PJK 26

5.8. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Tindakan

mengenai Diet PJK 26

5.9. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Sikap mengenai Diet PJK

berdasarkan Usia Responden 27

5.10. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Sikap mengenai Diet PJK

berdasarkan Pengetahuan Responden 27

5.11. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tindakan mengenai Diet

PJK berdasarkan Pengetahuan Responden 28

5.12. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tindakan mengenai Diet

PJK berdasarkan Sikap Responden 28

5.13. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tindakan mengenai Diet

PJK berdasarkan Suku Responden 29

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Daftar Riwayat Hidup Lampiran 2 : Kuesioner

Lampiran 3 : Informed Consent Lampiran 4 : Ethical Clearance Lampiran 5 : Surat Izin Penelitian

(12)

DAFTAR SINGKATAN

AHA = American Heart Association DHA = Docosahexaenoic Acid EPA = Eicosapentaenoic Acid HDL = High-Density Lipoprotein IMA = Infark Miokardium Akut IMT = Indeks Massa Tubuh LDL = Low-Density Lipoprotein MUFA = Monounsaturated Fatty Acid

NCEP = National Cholesterol Education Program PJK = Penyakit Jantung Koroner

PUFA = Polyunsaturated Fatty Acid SFA = Saturated Fatty Acid

SPSS = Statistical Product and Service Solution VLDL = Very-Low-Density Lipoprotein

(13)

ABSTRAK

Penyakit jantung koroner merupakan penyakit penyebab kematian tersering di dunia. Berbagai studi telah menunjukkan sejumlah faktor diet dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Adanya hubungan positif antara perilaku makan dengan penyakit jantung koroner menyebabkan pentingnya pengaturan diet dalam pencegahan primer dan sekunder penyakit jantung koroner.

Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain potong lintang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan tindakan pasien penyakit jantung koroner terhadap diet penyakit jantung koroner di RSUP H. Adam Malik Medan. Populasi adalah pasien penyakit jantung koroner yang berobat jalan di Poli Kardiologi RSUP H. Adam Malik Medan. Sebanyak 44 sampel diambil dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Data diambil dengan pengisian kuesioner.

Hasil penilitian menunjukkan karakteristik sampel berdasarkan proporsi sosiodemografi tertinggi adalah laki-laki 77,3%, usia lebih dari 55 tahun 54,5%, Batak 72,7%, pendidikan SMA 59,1%, dan pensiunan 34,1%. Sebanyak 25 orang (56,8%) dari total sampel memiliki pengetahuan baik. Sebanyak 34 orang (77,3%) dari total sampel memiliki sikap baik. Sebanyak 21 orang (47,7%) dari total sampel memiliki tindakan cukup. Hal ini secara umum menunjukkan bahwa pasien penyakit jantung koroner di RSUP H. Adam Malik Medan memiliki pengetahuan, sikap, dan tindakan yang baik.

Dokter dan tenaga kesehatan lain diharapkan tetap memberikan konseling nutrisi mengenai diet penyakit jantung koroner dan melakukan evaluasi diet pada pasien penyakit jantung koroner. Pasien penyakit jantung koroner juga diharapkan lebih aktif mencari informasi mengenai diet untuk kesehatan jantung dan mau mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

(14)

ABSTRACT

Coronary heart disease is the most common cause of death in the world. Many studies have shown a number of dietary factors which can increase coronary heart disease risk. The positive relationship between eating behavior and coronary heart disease leads to necessity of dietary regulation in preventing coronary heart disease both primarily and secondly.

This research is descriptive with a cross sectional design. The objective of this research is to know coronary heart disease patients’ knowledge, attitude, and practice toward coronary heart disease diet in RSUP H. Adam Malik Medan. The population is coronary heart disease patients who take one day care in Cardiology Unit RSUP H. Adam Malik Medan. Forty four samples were taken by using consecutive sampling technique. Data was taken by filling the questionnaire.

The result of the research shows that characteristic of samples based on the highest proportion of socio-demography are men 77,3%, age more than 55 years old 54,5%, Batak 72,7%, Senior High School Education Level 59,1%, and pensioner 34,1%. Twenty five people (56,8%) of the sample have good knowledge. Thirty four people (77,3%) of the sample have good attitude. Twenty one people (47,7%) of the sample have moderate practice. The result generally shows that coronary heart disease patients in RSUP H. Adam Malik Medan have good knowledge, attitude, and practice.

Doctors and other health workers are expected to keep on giving nutrition counseling about coronary heart disease diet and having dietary evaluation to coronary heart disease patients. Coronary heart disease patients are expected to be more active in searching information about diet for heart health and willing to practice it on daily life.

(15)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyakit penyebab kematian tersering di dunia. Menurut WHO, PJK menempati peringkat pertama sebagai penyebab kematian di dunia pada tahun 2004. Total kematian akibat PJK di dunia pada tahun 2004 adalah sekitar 7,2 juta jiwa. Sekitar 80% kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung secara umum terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan sedang, dimana negara-negara tersebut juga terhitung dalam 86% beban penyakit jantung secara global (WHO, 2008; WHO, 2009).

Indonesia, sebagai negara berkembang, juga mengalami beban PJK ini. Survei Kesehatan Nasional 2004 mengatakan bahwa 1,3% populasi penduduk di Indonesia yang berusia ≥ 15 tahun telah didiagnosis mengalami angina pectoris,

yang merupakan sebuah indikasi serangan jantung. Survei tersebut juga mengatakan bahwa 1,3% populasi di wilayah Sumatera yang berusia ≥ 15 tahun telah didiagnosis mengalami angina pectoris. Berdasarkan Riskesdas 2007, PJK merupakan penyebab kematian nomor sembilan pada semua umur, dengan proporsi kematian 5,1% (Depkes RI, 2007; Depkes RI, 2009).

Notoatmodjo (2007a), mengatakan bahwa PJK adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh perilaku berisiko, terutama perilaku makan. Oleh sebab itu, upaya paling efektif untuk mencegah PJK adalah melalui pengaturan diet. Perilaku tersebut meliputi pengetahuan, sikap, dan tindakan terhadap makanan serta unsur-unsur yang terkandung di dalamnya (zat gizi), pengolahan makanan, dan sebagainya, sehubungan dengan pencegahan PJK.

(16)

hiperkolesterolemia, low-density lipoprotein (LDL) yang teroksidasi, hipertensi, merokok, diabetes, obesitas, homosistein, diet tinggi lemak jenuh, dan kolesterol (Krummel, 2004).

Intervensi gaya hidup dapat menghambat perkembangan lesi, membantu regresi dari lesi yang telah ada, dan menurunkan disfungsi endotel. Sekitar 25% penurunan kejadian PJK berhubungan dengan pencegahan primer dan 70% berhubungan dengan perubahan perilaku yang mempengaruhi faktor risiko atau peningkatan pada terapi (Hunink et al, 1997).

Berbagai studi telah menunjukkan sejumlah faktor diet dapat mempengaruhi risiko PJK. Orang-orang yang mengonsumsi buah dan sayuran dalam jumlah yang lebih tinggi mempunyai angka kejadian penyakit jantung yang lebih rendah. Komponen diet lainnya yang dapat meningkatkan risiko PJK adalah asam lemak jenuh, asam lemak trans, karbohidrat sederhana yang menunjukkan nilai glikemik yang tinggi, dan kurangnya serat (Ness dan Powles, 1997).

Menurut Ades (2001), berbagai penelitian mengenai olahraga yang dikombinasikan dengan konseling nutrisi telah menunjukkan perlambatan aterosklerosis dan penurunan angka kejadian koroner lanjutan dan rawat inap. Ades juga mengatakan bahwa walaupun keuntungan konseling nutrisi pada penyakit jantung koroner sangat jelas berguna, banyak dokter yang tidak memiliki waktu untuk memberikan anjuran nutrisi yang efektif dan bimbingan pengaturan berat badan.

Peranan diet yang besar dalam pencegahan sekunder penyakit jantung koroner ini akhirnya mendorong penulis untuk meneliti tentang perilaku pasien penyakit jantung koroner terhadap diet penyakit jantung koroner di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2010.

1.2. Rumusan Masalah

(17)

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Mengetahui perilaku pasien penyakit jantung koroner terhadap diet penyakit jantung koroner di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2010.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui gambaran karakteristik sosiodemografi pasien PJK di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2010.

2. Mengetahui pengetahuan pasien PJK di RSUP H. Adam Malik Medan terhadap diet PJK.

3. Mengetahui sikap pasien PJK di RSUP H. Adam Malik Medan terhadap diet PJK.

4. Mengetahui tindakan pasien PJK di RSUP H. Adam Malik Medan terhadap diet PJK.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam penerapan ilmu yang diperoleh semasa perkuliahan. 2. Bagi tenaga kesehatan, hasil penelitian ini sebagai masukan informasi untuk

pelaksanaan program konseling nutrisi penyakit jantung koroner.

(18)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perilaku

Perilaku merupakan semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati langsung oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2007b). Menurut Skinner (1938) dalam Notoatmodjo (2007b), perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua: (1) perilaku tertutup (covert behaviour) dan (2) perilaku terbuka (overt behaviour).

Perilaku tertutup merupakan respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (covert). Respons atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan/kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.

Perilaku terbuka merupakan respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respons terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktik (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat orang lain (Notoatmodjo, 2007b).

Menurut Benyamin Bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2007b), perilaku manusia dapat dibagi ke dalam tiga domain (ranah/kawasan): (1) kognitif (cognitive), (2) afektif (affective), dan (3) psikomotor (psychomotor). Dalam perkembangannya, teori Bloom ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan dan dapat dibedakan menjadi tiga: (1) pengetahuan (knowledge), (2) sikap (attitude), dan (3) tindakan atau praktik (practice).

2.2. Pengetahuan

2.2.1. Definisi Pengetahuan

(19)

melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Pengetahuan merupakan pokok yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2007b).

2.2.2. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat: (1) tahu, (2) memahami, (3) aplikasi, (4) analisis, (5) sintesis, dan (6) evaluasi (Notoatmodjo, 2007b).

Tahu (know) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

Memahami (comprehension) diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Aplikasi (application) diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).

Analisis (analysis) adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Sintesis (synthesis) menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Evaluasi (evaluation) berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang sudah ada (Notoatmodjo, 2007b).

2.3. Sikap

(20)

masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku terbuka. Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktikkan apa yang diketahuinya atau disikapinya (Notoatmodjo, 2007b).

Dalam bagian lain Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2007b) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok, yakni: kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek; kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek; kecenderungan untuk bertindak (tend to behave). Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting.

Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan, yakni: menerima (receiving), yaitu bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek; merespons (responding), yaitu memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan; menghargai (valuing), yaitu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah; bertanggung jawab (responsible), yaitu bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko (Notoatmodjo, 2007b).

2.4. Tindakan/Praktik

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt

behaviour). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan

faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Di samping faktor fasilitas juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain (Notoatmodjo, 2007b).

Tindakan/praktik mempunyai beberapa tingkatan, yakni: persepsi (perception), yaitu mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil (praktik tingkat pertama); respons terpimpin (guided

(21)

sesuai dengan contoh (praktik tingkat dua); mekanisme (mechanism), yaitu bila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan (praktik tingkat tiga); adaptasi (adaptation), yaitu suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik, dan berarti tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut (Notoatmodjo, 2007b).

2.5. Penyakit Jantung Koroner (PJK)

Menurut WHO, penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit pembuluh darah yang menyuplai otot jantung. Penyakit jantung koroner sering disebut sebagai penyakit jantung iskemik atau penyakit arteria koronaria. Burns dan Kumar (2003) mengatakan bahwa PJK merupakan sekelompok sindrom yang berkaitan erat yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen miokardium dan aliran darah ke miokardium.

Bergantung pada kecepatan dan keparahan penyempitan arteria koronaria dan respons miokardium, dapat timbul satu dari empat sindrom pada PJK: (1) berbagai bentuk angina pectoris (nyeri dada), (2) infark miokardium akut (IMA), (3) kematian jantung mendadak, dan (4) PJK kronis disertai gagal jantung kongestif. Sindrom tersebut merupakan manifestasi aterosklerosis koroner yang mungkin berawal dari masa kanak-kanak atau dewasa muda. Istilah sindrom koroner akut diterapkan pada spektrum tiga manifestasi akut berat PJK, yaitu angina tidak stabil (unstable angina), IMA, dan kematian jantung mendadak (Burns dan Kumar, 2003).

Aterosklerosis koroner merupakan suatu proses kompleks penebalan dan penyempitan dinding arteria koronaria yang disebabkan oleh penumpukan lipid, terutama kolesterol yang teroksidasi pada lapisan intima, dan disertai jaringan ikat dan kalsifikasi (Krummel, 2004).

2.5.1. Patofisiologi dan Etiologi

(22)

plak ateromatosa, atau fibrofatty plaques, yang menonjol ke dalam dan menyumbat lumen pembuluh, memperlemah media di bawahnya, dan mungkin mengalami penyulit serius. Aterosklerosis koronaria menyebabkan aliran darah ke otot jantung terganggu atau tidak adekuat (Schoen dan Cotran, 2003).

Patogenesis aterosklerosis adalah multifaktorial. Lesi yang berkembang pada pembuluh darah merupakan hasil dari: (1) proliferasi sel-sel otot polos, makrofag, dan limfosit (sel-sel terlibat dalam respon inflamasi), (2) formasi sel-sel otot polos ke dalam matriks jaringan ikat, dan (3) akumulasi lipid dan kolesterol ke dalam matriks sekitar sel. Lipid yang menumpuk dan material lain (produk sampah selular, kalsium, fibrin) yang terbentuk di dalam lapisan intima disebut plak atau ateroma (Krummel, 2004).

Menurut Fuster (1999) dalam Krummel (2004), ada 5 fase aterogenesis dengan karakteristik dan gejala pada masing-masing fase. Fase 1 merupakan sebuah fase asimtomatik, terdiri dari fatty streak kecil, umumnya terlihat pada orang yang lebih muda dari 30 tahun. Fatty streak ini bersifat nonobstruktif, sel-sel (makrofag dan sel-sel-sel-sel otot polos) berisi lipid yang terbentuk pada fleksura di arteri sebagai respon terhadap cedera kronik ke endotelium arteri. Tidak semua

fatty streak berlanjut ke tingkatan berikutnya.

Fase 2 ditandai oleh plak dengan isi lipid yang tinggi dan rentan ruptur. Lipid berasal dari LDL plasma yang masuk ke dinding endotel yang cedera. Karena ketidakstabilan lesi di fase 2, lesi ini dapat berlanjut ke fase 3 atau fase 4 (Krummel, 2004).

Fase 3 bersifat akut, lesinya kompleks dengan ruptur dan trombus nonoklusif. Fase 4 bersifat akut, lesinya kompleks dengan trombus oklusif. Fase 4 berhubungan dengan angina atau IMA dan kematian mendadak. Fase 5 merupakan lesi fibrotik dan oklusif dengan tampilan klinis yang sama dengan fase 4 (Krummel, 2004).

(23)

Kebanyakan kematian mendadak setelah IMA berasal dari ruptur fibrous cap dari lesi kompleks, menyebabkan perdarahan pada plak, trombosis, dan blokade arteri. Trombus kecil akan membantu pertumbuhan plak, dan trombus besar akan menyebabkan kejadian klinis akut (Krummel, 2004).

2.5.2. Faktor Risiko

Menurut American College of Cardiology (1996) dalam Krummel (2004), terdapat 4 kategori faktor risiko yang berhubungan dengan penyakit kardiovaskular. Faktor risiko kategori 1 adalah faktor risiko di mana intervensi telah terbukti menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Adapun yang termasuk dalam faktor risiko kategori 1, yaitu merokok (cigarette smoking), kolesterol LDL, diet tinggi lemak atau kolesterol, hipertensi, hipertrofi ventrikel kiri.

Faktor risiko kategori 2 adalah faktor risiko di mana intervensi sepertinya menurunkan insiden penyakit kardiovaskular. Adapun yang termasuk dalam faktor risiko kategori 2, yaitu diabetes mellitus, inaktivitas fisik, kolesterol HDL, trigliserida, obesitas, dan status menopause wanita (Krummel, 2004).

Faktor risiko kategori 3 adalah faktor risiko yang berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, di mana jika dimodifikasi, mungkin menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Adapun yang termasuk dalam faktor risiko kategori 3, yaitu faktor psikososial, lipoprotein (a), homosistein, stres oksidatif, dan konsumsi alkohol (Krummel, 2004).

Faktor risiko kategori 4 adalah faktor risiko yang berhubungan dengan risiko penyakit kardiovaskular yang tidak dapat dimodifikasi, atau jika dimodifikasi, sepertinya tidak menurunkan risiko. Adapun yang termasuk dalam faktor risiko kategori 4, yaitu umur, jenis kelamin pria, status sosioekonomi yang rendah, riwayat penyakit kardiovaskular dini pada keluarga (Krummel, 2004).

2.5.3. Pencegahan Sekunder PJK

(24)

menurunkan tekanan darah hingga kurang dari 140/90 mmHg atau 130/85 mmHg bila juga terdapat gagal jantung, insufisiensi ginjal, atau diabetes, (3) menurunkan kolesterol LDL hingga kurang dari 100 mg/dL dan kadar non-HDL kurang dari 130 mg/dL, (4) aktivitas fisik sedang selama 30 menit sehari, 3-4 hari setiap minggu, (5) manajemen berat badan, dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) kurang dari 25, (6) HbA1C kurang dari 7%, (7) menggunakan 75-325 mg aspirin sehari jika tidak ada kontraindikasi, (8) menggunakan 2 obat antihipertensi,

angiotensin-converting enzym inhibitor dan β-blockers, setelah infark miokardium, keculai

terdapat kontraindikasi.

Terapi nutrisi medis adalah hal yang sangat penting untuk pencegahan sekunder karena kadar saturated fatty acid (SFA) berhubungan dengan progresivitas penyakit pada laki-laki. Biasanya untuk mencapai kadar LDL yang lebih rendah, terapi diet yang agresif dibutuhkan. Terapi diet yang agresif biasanya dilakukan pada pasien yang menghindari terapi obat. Diet tersebut mengandung produk hewani yang minimal sehingga masukan asam lemak jenuh/SFA (< 3%), kolesterol (< 5 mg), dan lemak total (< 10%) sangat rendah. Hal penting dari diet ini adalah biji-bijian rendah lemak (low-fat grains), buncis/kacang polong (legumes), buah, sayur, dan produk olahan susu tanpa lemak. Karena putih telur boleh dikonsumsi, maka regimen diet ini adalah regimen lakto-ovovegetarian (Krummel, 2004).

2.5.4. Therapeutic Lifestyle Change (TLC) Diet

(25)

Tabel 2.1. Komposisi Nutrien dalam Diet TLC

Nutrien Masukan yang Direkomendasikan

Asam lemak jenuh/SFA

Kurang dari 7% dari kalori total Hingga 10% dari kalori total Hingga 20% dari kalori total 25%-35% dari kalori total 50%-60% dari kalori total 20-30 gram/hari

Sekitar 15% dari kalori total Kurang dari 200 mg/hari

Keseimbangan masukan dan penggunaan energi untuk menjaga berat badan yang diinginkan/mencegah peningkatan berat badan (NCEP, 2002)

Diet TLC menaruh perhatian pada biji-bijian, sereal, buncis/kacang polong, sayur, buah, daging rendah lemak (lean meats), ternak (poultry), ikan, dan produk olahan susu tanpa lemak (nonfat dairy products). Beberapa strategi yang berbeda untuk mengurangi asam lemak jenuh dan asam lemak trans adalah: (1) mencegah lemak yang terhidrogenasi, (2) menghindari atau mengurangi konsumsi daging, (3) menggunakan terutama makanan rendah lemak, (4) menggunakan margarin dengan ester sterol, (5) memodifikasi makanan sehari-hari menjadi rendah lemak (misalnya dengan membuang kulit dari daging ayam), (6) mengganti makanan tinggi lemak dengan makanan rendah lemak (misalnya mensubstitusi whole milk dengan skim milk) (Krummel, 2004).

Daging dibatasi hingga lima atau enam ons per hari dan telur hingga dua kali per minggu. Daging rendah lemak (lean meats) kaya akan protein, seng, dan besi sehingga pasien masih diperbolehkan untuk mengonsumsinya hingga 6 ons per hari. Produk olahan susu yang tanpa lemak juga direkomendasikan (Krummel, 2004).

(26)

polong (legumes), sereal, buah segar, dan sayur. Saat ini, stanol/ester stanol secara luas didapatkan pada margarin (NCEP, 2002).

2.6. Faktor Diet Pada PJK

2.6.1. Asam Lemak Jenuh (Saturated Fatty Acid/SFA)

Secara umum, SFA cenderung meningkatkan kolesterol darah pada semua fraksi lipoprotein (misalnya baik LDL maupun HDL) ketika disubstitusikan untuk karbohidrat atau asam lemak lainnya. Saturated fatty acid (SFA) yang paling hiperkolesterolemik atau aterogenik adalah asam laurat (C12:0), asam miristat (C14:0), dan asam palmitat (C16:0). Asam miristat merupakan yang paling poten, lalu diikuti oleh asam palmitat, dan kemudian asam laurat. Walaupun asam palmitat terdapat dalam sumber nabati, kebanyakan asam palmitat dalam diet berasal dari makanan hewani. Asam palmitat merupakan salah satu asam lemak yang paling banyak ditemukan dalam diet. Asam miristat banyak ditemukan dalam lemak butter, minyak kelapa, dan palm kernel oils. Asam laurat, satu-satunya SFA rantai sedang, ditemukan dalam minyak kelapa. Dari semua lemak yang ditambahkan dalam diet, yang paling hiperkolesterolemik adalah palm

kernel oils, minyak kelapa, dan butter (Krummel, 2004).

Asam lemak jenuh/SFA menaikkan kolesterol LDL dengan menurunkan sintesis dan aktivitas reseptor LDL. Kenaikan sekitar 2,7 mg/dL dalam kadar kolesterol plasma diprediksi terjadi untuk setiap peningkatan 1% pemasukan energi total dari SFA. Walaupun SFA secara ekstrim hiperkolesterolemik, tidak semua orang merespons sama. Orang dengan fenotipe apo E-4 mempunyai respons kolesterol darah paling besar terhadap SFA (Krummel, 2004).

Asam lemak dalam diet juga terbukti berhubungan dengan progresivitas PJK pada laki-laki. Asam palmitat dan palmitoleat juga berhubungan dengan progresivitas penyakit, tetapi tidak bila faktor risiko lain dikontrol. Sumber makanan dari asam lemak tersebut antara lain susu, keju, butter, domba, bakery

(27)

2.6.2. Polyunsaturated Fatty Acids (PUFA) 2.6.2.1. Omega-6 Polyunsaturated Fatty Acids

Jika karbohidrat digantikan dengan asam linoleat (C18:2), omega-6 PUFA dalam diet yang paling dominan, kolesterol LDL turun dan kolesterol HDL meningkat. Peningkatan 1% omega-6 PUFA menurunkan kolesterol total sebanyak 1,4 mg/dL. Akan tetapi, PUFA juga terbukti menurunkan sintesis VLDL, apo B, dan HDL. Omega-6 PUFA tersebar luas di makanan, tetapi sumber utamanya adalah minyak sayur, salad dressings, dan margarin yang dibuat dari minyak (Krummel, 2004).

2.6.2.2. Omega-3 Polyunsaturated Fatty Acids

Asam lemak omega-3 utama, eicosapentaenoic acid (EPA) dan

docosahexaenoic acid (DHA), banyak terdapat dalam minyak ikan, kapsul minyak

ikan, dan ikan laut. Banyak studi menunjukkan bahwa asam lemak omega-3 tidak mempengaruhi kolesterol total, tetapi dapat meningkatkan kolesterol LDL (5-10%) dan menurunkan trigliserida (25-30%). Asam lemak omega-3 menurunkan kadar trigliserida dengan menghambat sintesis VLDL dan apo B-100 dan dengan menurunkan postprandial lipemia (Krummel, 2004).

Asam lemak omega-3 juga mempengaruhi beberapa langkah dalam aterogenesis. Yang paling jelas diketahui adalah bahwa asam lemak omega-3 merupakan prekursor prostaglandin yang mengganggu pembekuan darah. Oleh karena itu, konsumsi asam lemak omega-3 yang tinggi meningkatkan bleeding

times. Suplementasi diet dengan 1 gram omega-3 PUFA setiap hari menurunkan

risiko relatif kematian akibat penyakit kardiovaskular, infark miokardium nonfatal, dan stroke nonfatal pada pasien yang baru saja selamat dari infark miokardium. Omega-3 PUFA mempunyai efek kardioprotektif pada pencegahan primer dan sekunder (Krummel, 2004).

Efek kardioprotektif asam lemak omega-3 yang sangat besar membuat

American Heart Association (AHA) sekarang ini merekomendasikan setiap orang

(28)

memakan ikan, sekarang direkomendasikan untuk mengonsumsi kapsul minyak ikan. Satu setengah sendok teh minyak hati ikan cod setara dengan mengonsumsi ikan yang berlemak 2 kali tiap minggu (Peckenpaugh, 2007).

2.6.3. Monounsaturated Fatty Acids (MUFA) 2.6.3.1. cis-Monounsaturated Fatty Acids

Asam oleat (C18:1) merupakan cis-MUFA yang paling sering terdapat pada diet Amerika. Mengganti SFA dengan MUFA menurunkan kadar kolesterol serum, kadar kolesterol LDL, dan kadar trigliserida, hingga setara dengan peran PUFA. Walaupun diet tinggi lemak (rendah SFA, dengan MUFA sebagai lemak yang dominan) dapat menurunkan kolesterol darah, diet ini harus digunakan secara hati-hati karena mempunyai densitas kalori yang tinggi dan berbagai

clinical trials yang menunjukkan lesi aterosklerotik baru pada laki-laki yang

mengonsumsi diet tinggi lemak. Sumber lemak yang kaya akan MUFA adalah minyak zaitun (Krummel, 2004).

2.6.3.2. Trans-Fatty Acids/Asam Lemak Trans

Stereoisomer (bentuk trans) dari cis-linoleic acid diproduksi dari proses hidrogenasi dan secara luas digunakan dalam industri makanan untuk mengeraskan unsaturated oils dan soft margarines. Lima puluh persen konsumsi asam lemak trans berasal dari makanan hewani (daging sapi, butter, dan lemak susu), dan lima puluh persen sisanya berasal dari minyak sayur yang dihidrogenasi (Krummel, 2004).

Elaidic acid, suatu trans-isomer dari asam oleat, meningkatkan

(29)

2.6.4. Lemak Total

Konsumsi lemak total berhubungan dengan obesitas, yang mempengaruhi banyak faktor risiko mayor bagi aterosklerosis. Diet tinggi lemak meningkatkan

postprandial lipemia dan chylomicron remnants, keduanya berhubungan dengan

peningkatan risiko PJK. Ketika lemak dikurangi dalam diet, dan karbohidrat merupakan sumber pengganti kilokalori, kadar trigliserida dan HDL akan dipengaruhi. American Heart Association merekomendasikan jumlah konsumsi lemak total kurang dari 30% kalori. Adult Treatment Panel III (ATP III) merekomendasikan lemak sebesar 25-35% dari energi, dengan kurang dari 7% berasal dari lemak jenuh (NCEP, 2002; Krummel, 2004).

2.6.5. Kolesterol

Kolesterol diet meningkatkan kolesterol total dan kolesterol LDL, tetapi tidak sekuat SFA. Peningkatan 25 mg kolesterol diet akan meningkatkan kolesterol serum 1 mg/dL. Asam lemak jenuh/SFA dan kolesterol diet mempunyai efek sinergistik pada kolesterol LDL. Keduanya secara bersama-sama menurunkan sintesis reseptor dan aktivitas LDL, meningkatkan VLDL yang diperkaya dengan apo E, meningkatkan semua lipoprotein, dan menurunkan ukuran kilomikron. Konsumsi kolesterol secara umum mempunyai hubungan positif dengan PJK (Krummel, 2004).

2.6.6. Faktor Diet Lainnya 2.6.6.1. Karbohidrat

Di negara yang sedang berkembang umumnya karbohidrat merupakan sumber energi yang utama. Karbohidrat merupakan bahan dasar pembentukan trigliserida. Kelebihan asupan karbohidrat akan disimpan dalam bentuk lemak di bawah kulit. Bila asupan yang berlebih ini berlangsung lama akan menyebabkan obesitas. Obesitas erat kaitannya dengan kadar trigliserida yang tinggi. Obesitas merupakan salah satu faktor risiko PJK (Sukardji dan Hartati, 2003).

(30)

beras/terigu/sagu aren/sagu ambon, kentang, gula pasir, gula merah, madu, dan sirup. Sumber karbohidrat yang tidak dianjurkan pada diet PJK antara lain ubi, singkong, tape singkong, dan tape ketan (NCEP, 2002; Kesuma, 2005).

2.6.6.2. Protein

Protein diperlukan sebagai bahan pembentukan sel. Menurut Sukardji dan Hartati (2003), ada hubungan yang positif antara asupan protein hewani dengan insiden PJK, dan sebaliknya ada hubungan yang negatif pada protein nabati.

Sumber protein hewani yang dianjurkan pada diet PJK antara lain daging sapi dan ayam yang rendah lemak, ikan, putih telur, dan susu rendah lemak. Sumber protein hewani yang tidak dianjurkan pada diet PJK antara lain daging sapi dan ayam yang berlemak, hati, limpa, babat, otak, keju, dan whole milk (Kesuma, 2005).

Sumber protein nabati yang dianjurkan pada diet PJK antara lain kacang kedelai dan olahannya (tahu dan tempe). Sumber protein nabati yang tidak dianjurkan pada diet PJK antara lain kacang tanah, kacang mete, dan kacang bogor (Kesuma, 2005).

2.6.6.3. Serat

Serat larut, seperti pectin, gums, mucilages, algal polysaccharides, dan beberapa hemiselulosa dalam kacang polong (legumes), sereal, buah, dan

psyllium, menurunkan kolesterol serum dan kolesterol LDL. Kuantitas serat yang

dibutuhkan untuk memproduksi efek penurunan lemak bervariasi berdasarkan sumber makanannya (Krummel, 2004).

(31)

2.6.6.4. Alkohol

Alkohol mempengaruhi baik trigliserida total maupun kolesterol total. Menurut Coate (1993) dalam Krummel (2004), konsumsi alkohol dengan jumlah sedang pada orang kulit putih berhubungan dengan penurunan risiko infark miokardium dan mortalitas PJK, akan tetapi konsumsi dalam jumlah yang lebih besar tidak direkomendasikan.

2.6.6.5. Soy Protein

Sebuah metaanalisis dari 38 studi menyimpulkan soy protein menurunkan kolesterol total (9%), kolesterol LDL (13%), trigliserida (11%), dan tidak mempunyai efek pada kolesterol HDL (Anderson, Johnstone, dan Cook-Newel, 1995).

2.6.6.6. Stanol/Sterol

(32)

BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:

3.2. Defenisi Operasional

Pasien penyakit jantung koroner adalah pasien yang telah didiagnosis menderita penyakit jantung koroner oleh Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dan sedang berobat jalan di Poli Kardiologi RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2010.

Pengetahuan menunjukkan tingkat pasien penyakit jantung koroner mengetahui diet penyakit jantung koroner. Pengetahuan adalah jawaban responden yang berkaitan dengan diet penyakit jantung koroner. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan pasien penyakit jantung koroner tersebut digunakan kuesioner sebagai instrumen. Dalam kuesioner tersebut diajukan 12 pertanyaan dengan bentuk pertanyaan pilihan berganda, dimana total nilai 12. Apabila responden menjawab pertanyaan dengan benar diberi nilai 1 dan apabila salah tidak dinilai (diberi nilai 0).

Tingkat pengetahuan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

a. Baik, apabila responden dapat menjawab dengan benar ≥ 75% dari jumlah keseluruhan pertanyaan yang diberikan.

b. Cukup, apabila responden dapat menjawab dengan benar 40% sampai 75% dari jumlah keseluruhan pertanyaan yang diberikan.

c. Kurang, apabila responden dapat menjawab dengan benar ≤ 40% dari jumlah keseluruhan pertanyaan yang diberikan (Hadi dan Sudarti, 1990).

Pengetahuan Sikap Tindakan

(33)

Sikap merupakan predisposisi tindakan pasien penyakit jantung koroner terhadap diet penyakit jantung koroner. Sikap dinilai melalui jawaban responden atas pertanyaan dalam kuesioner yang diajukan. Dalam kuesioner tersebut diajukan 7 pernyataan, dimana total nilai tertinggi 14. Apabila responden menyatakan “setuju” diberi nilai 2, apabila “tidak setuju” diberi nilai 1, dan jika responden menjawab “tidak tahu” tidak dinilai (diberi nilai 0).

Penilaian sikap dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

a. Baik, apabila jumlah total nilai mencapai ≥ 75% dari total nilai tertinggi. b. Cukup, apabila jumlah total nilai mencapai 40% sampai 75% dari total nilai

tertinggi.

c. Kurang, apabila jumlah total nilai mencapai ≤ 40% dari total nilai tertinggi (Hadi dan Sudarti, 1990).

Tindakan akan menilai realisasi dari sikap pasien penyakit jantung koroner terhadap diet penyakit jantung koroner. Tindakan yang dimaksud berkaitan dengan bagaimana pasien penyakit jantung koroner melaksanakan diet penyakit jantung koroner. Tindakan dinilai melalui jawaban responden atas pertanyaan dalam kuesioner. Dalam kuesioner tersebut diajukan 7 pernyataan, dimana total nilai 7. Apabila responden menjawab pernyataan dengan benar diberi nilai 1 dan apabila salah tidak dinilai (diberi nilai 0).

Penilaian tindakan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

a. Baik, apabila responden dapat menjawab dengan benar ≥ 75% dari jumlah keseluruhan pernyataan yang diberikan.

b. Cukup, apabila responden dapat menjawab dengan benar 40% sampai 75% dari jumlah keseluruhan pernyataan yang diberikan.

(34)

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan studi potong lintang (cross sectional study) yang bersifat deskriptif untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan tindakan pasien penyakit jantung koroner (PJK) terhadap diet PJK di RSUP H. Adam Malik Medan.

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukakan bulan Juni-Agustus 2010. Penelitian ini dilakukan di Poli Kardiologi RSUP H. Adam Malik Medan karena merupakan rumah sakit rujukan di Sumatera Utara.

4.3. Populasi dan Sampel 4.3.1. Populasi

Populasi dari penelitian ini adalah pasien penyakit jantung koroner (PJK) yang berobat jalan di Poli Kardiologi RSUP H. Adam Malik Medan dari bulan Juni sampai bulan Agustus. Jumlah pasien PJK yang berobat jalan di Poli Kardiologi RSUP H. Adam Malik Medan pada tahun 2009 adalah 101 orang.

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:

1. Semua pasien PJK yang sedang berobat jalan di Poli Kardiologi RSUP H. Adam Malik Medan.

2. Pasien setuju ikut dalam penelitian dan mengisi seluruh kuesioner penelitian.

4.3.2. Sampel

Dari populasi tersebut akan dipilih sampel dengan metode consecutive

sampling. Prevalensi penyakit jantung koroner = 13% (Rilantono, 1996). Untuk

(35)

n= Zα2 d

PQ

Keterangan:

2

n : Besar sampel

α

P : Prevalensi penyakit jantung koroner : Tingkat kemaknaan

Q : 1 – P

d : Tingkat ketepatan absolut yang dikehendaki

Berdasarkan rumus di atas, dengan tingkat kepercayaan yang dikehendaki sebesar 95% (Zα = 1,96), prevalensi penyakit jantung koroner 13%, dan tingkat ketepatan relatif yang diinginkan 10%, didapatkan besar sampel adalah 44 orang.

n = (1,96)2 (0,13) (1-0,13) (0,1)

= 43,4 ≈ 44 2

4.4. Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari pasien melalui pengisian kuesioner. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari rekam medik pasien.

Kuesioner, sebagai alat bantu dalam pengumpulan data, terdiri dari pertanyaan-pertanyaan tertutup untuk mengumpulkan data karakteristik, pengetahuan, sikap, dan tindakan responden penelitian. Kuesioner tersebut telah diuji validitas dan reliabilitasnya dengan menggunakan teknik korelasi product moment dan uji Cronbach (Cronbach’s Alpha) dengan menggunakan program

SPSS Statistics 17.0. Sampel yang digunakan dalam uji validitas memiliki

(36)

Tabel 4.1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner

4.5. Pengolahan dan Analisis Data

(37)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Poli Kardiologi lantai 2 gedung Unit Rawat Jalan RSUP H. Adam Malik Medan yang berada di jalan Bunga Lau nomor 17 Medan, Sumatera Utara. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit kelas A sesuai dengan SK Menkes No. 335/Menkes/SK/VII/1990, sebagai rumah sakit pendidikan sesuai dengan SK Menkes No. 502/Menkes/SK/IX/1991, dan sebagai pusat rujukan untuk wilayah pembangunan A yang meliputi Propinsi Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, dan Riau.

5.2. Karakteristik Individu dan Hasil

Dalam penelitian ini, responden yang didapat yaitu pasien penyakit jantung koroner (PJK) yang berobat jalan di Poli Kardiologi RSUP H. Adam Malik Medan pada bulan Juni-Agustus tahun 2010 yang berjumlah 44 orang. Dari keseluruhan responden, gambaran karakteristik sosiodemografi responden yang diamati meliputi: jenis kelamin, usia, suku, pendidikan, dan pekerjaan.

Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)

Laki-laki Perempuan

34 10

77,3 22,7

Total 44 100

(38)

Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Usia

Ditinjau dari usia, rata-rata usia responden adalah 57,5 (SD 8,3) tahun, dan modus atau data terbanyak adalah usia lebih dari 55 tahun.

Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Suku

Suku Frekuensi Persentase (%)

Batak

Ditinjau dari suku, mayoritas responden adalah suku Batak, yaitu sebanyak 32 orang (72,7%), sedangkan sebanyak 5 orang (11,4%) adalah suku Jawa.

Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pendidikan

Pendidikan Frekuensi Persentase (%)

SD

(39)

Tabel 5.5. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pekerjaan

Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)

PNS

Ditinjau dari pekerjaan, mayoritas responden merupakan pensiunan, yaitu sebanyak 15 orang (34,1%), sedangkan responden yang bekerja sebagai petani sebanyak 4 orang (9,1%).

Tabel 5.6. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pengetahuan mengenai Diet PJK

Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)

Baik

(40)

Tabel 5.7. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Sikap mengenai Diet PJK

Sikap Frekuensi Persentase (%)

Baik Cukup Kurang

34 10 0

77,3 22,7 0

Total 44 100

Ditinjau dari sikap, mayoritas responden memiliki sikap baik mengenai diet PJK, yaitu sebanyak 34 orang (77,3%), sedangkan sebanyak 10 orang (22,7%) memiliki sikap cukup. Tidak ada responden yang memiliki sikap kurang.

Tabel 5.8. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Tindakan mengenai Diet PJK

Tindakan Frekuensi Persentase (%)

Baik Cukup Kurang

20 21 3

45,5 47,7 6,8

Total 44 100

(41)

Tabel 5.9. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Sikap mengenai Diet PJK berdasarkan Usia Responden

Hasil Uji

Sikap

Total

Baik Cukup Kurang

f % f % f %

Usia

< 45 3 8,8% 0 0 0 0 3

45-55 13 38,2% 4 40,0% 0 0 17

> 55 18 52,9% 6 60,0% 0 0 24

Total 34 100% 10 100% 0 0 44

Ditinjau dari usia, responden dengan sikap baik mengenai diet PJK mayoritas berada pada kelompok usia lebih dari 55 tahun, yaitu sebanyak 18 orang (52,9%). Responden dengan sikap cukup mayoritas berada pada kelompok usia lebih dari 55 tahun juga, yaitu sebanyak 6 orang (60,0%).

Tabel 5.10. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Sikap mengenai Diet PJK berdasarkan Pengetahuan Responden

Hasil Uji

Sikap

Total

Baik Cukup Kurang

f % f % f %

Pengetahuan

Baik 20 58,8% 5 50,0% 0 0 25

Cukup 14 41,2% 5 50,0% 0 0 19

Kurang 0 0 0 0 0 0 0

Total 34 100% 10 100% 0 0 44

(42)

Tabel 5.11. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tindakan mengenai Diet PJK berdasarkan Pengetahuan Responden

Hasil Uji

Tindakan

Total

Baik Cukup Kurang

f % f % f %

Pengetahuan

Baik 16 80,0% 8 38,1% 1 33,3% 25

Cukup 4 20,0% 13 61,9% 2 66,7% 19

Kurang 0 0 0 0 0 0 0

Total 20 100% 21 100% 3 100% 44

Ditinjau dari pengetahuan, responden dengan tindakan baik mengenai diet PJK mayoritas memiliki pengetahuan baik, yaitu sebanyak 16 orang (80,0%). Responden dengan tindakan cukup mayoritas memiliki pengetahuan cukup, yaitu sebanyak 13 orang (61,9%).

Tabel 5.12. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tindakan mengenai Diet PJK berdasarkan Sikap Responden

Hasil Uji

Tindakan

Total

Baik Cukup Kurang

f % f % f %

Sikap

Baik 20 100% 12 57,1% 2 66,7% 34

Cukup 0 0 9 42,9% 1 33,3% 10

Kurang 0 0 0 0 0 0 0

Total 20 100% 21 100% 3 100% 44

(43)

Tabel 5.13. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tindakan mengenai Diet PJK

Ditinjau dari suku, responden dengan tindakan cukup mengenai diet PJK mayoritas merupakan suku Batak, yaitu sebanyak 18 orang (85,7%). Semua responden dengan tindakan kurang merupakan suku Batak.

5.3. Pembahasan

5.3.1. Karakteristik Sosiodemografi Responden

Penelitian ini menunjukkan bahwa penderita PJK laki-laki lebih banyak daripada perempuan (Tabel 5.1). Hasil tersebut sesuai dengan survei yang dilakukan Naqvi (2004) pada penderita PJK di Bristol yang menunjukkan bahwa sebanyak 61,2% dari 490 penderita PJK adalah berjenis kelamin laki-laki, sedangkan sebanyak 38,8% pasien berjenis kelamin perempuan.

Menurut Maron, Grundy, Ridker, dan Pearson (2004), PJK jarang terjadi pada jenis kelamin perempuan sebelum fase menopause. Insiden PJK pada perempuan akan meningkat setelah perempuan berusia 55 tahun, seiring dengan penambahan usia dan penurunan kadar hormon estrogen. Hormon estrogen dapat menurunkan risiko PJK dengan cara meningkatkan HDL dan menurunkan LDL dan lipoprotein (a). Adanya hormon estrogen juga dinilai menguntungkan karena memiliki efek terhadap fibrinogen, viskositas plasma, plasminogen activator

inhibitor-1, tissue-type plasminogen activator, sensitivitas insulin, dan

homosistein.

(44)

lebih tua. Sejalan dengan hasil tersebut, penelitian Nababan (2008) di RSU dr. Pirngadi Medan juga menunjukkan bahwa sebagian besar (84,3%) penderita PJK berusia 40 tahun atau lebih.

Menurut Notoatmodjo (2007a), risiko terkena PJK semakin tinggi seiring bertambahnya usia. Peningkatan risiko ini umumnya dimulai pada usia 40 tahun. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Maron, Grundy, Ridker, dan Pearson (2004), dimana insidensi dan prevalensi PJK meningkat tajam seiring penambahan usia. Usia dianggap sebagai salah satu faktor risiko kardiovaskular yang sangat potensial.

Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar (72,7%) penderita PJK adalah suku Batak (Tabel 5.3). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Sarumpaet (2009) di RSUP H. Adam Malik Medan yang juga menunjukkan bahwa sebagian besar (65,2%) penderita PJK adalah suku Batak. Hal ini tidak berarti bahwa suku mempengaruhi kejadian PJK, tetapi kemungkinan yang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan lebih banyak yang suku Batak.

Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar (59,1%) penderita PJK memiliki pendidikan terakhir SMA (Tabel 5.4). Sejalan dengan hasil tersebut, penelitian Yanti (2009) di RSU dr. Pirngadi Medan juga menunjukkan bahwa sebagian besar (36,6%) penderita PJK memiliki pendidikan terakhir SMA.

Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar (34,1%) penderita PJK merupakan pensiunan (Tabel 5.5). Hasil tersebut tidak sesuai dengan penelitian Yanti (2009) yang menunjukkan bahwa sebagian besar (29,6%) penderita PJK bekerja sebagai PNS.

5.3.2. Pengetahuan Responden

Penelitian ini menunjukkan bahwa 56,8% responden memiliki pengetahuan yang baik dan 43,2% responden memiliki pengetahuan yang cukup. Melalui data tersebut, dapat dilihat bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik mengenai diet PJK (Tabel 5.6).

(45)

yang merawat penderita PJK tersebut memberikan anjuran diet PJK saat pertama kali penderita didiagnosis PJK dan saat penderita mengkontrolkan kesehatan jantungnya kepada dokter. Pengetahuan yang baik mengenai diet PJK pada penelitian ini mungkin ada kaitannya dengan adanya anjuran diet PJK dari dokter yang merawat pasien PJK tersebut.

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Monga, Sachdeva, Kochhar, dan Banga (2008) yang menyatakan bahwa konseling nutrisi terbukti mampu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan seseorang terhadap diet yang diinginkan. Peningkatan tersebut terjadi setelah konseling nutrisi dan interaksi dengan konselor dilakukan selama minimal enam bulan.

Notoatmodjo (2007a) mengatakan bahwa pengetahuan dapat terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera penglihatan dan pendengaran. Adanya konseling nutrisi sebagai stimulus indera penglihatan dan pendengaran dapat meningkatkan pengetahuan penderita PJK mengenai diet PJK.

Peningkatan pengetahuan responden mengenai diet PJK sangat diperlukan mengingat masih cukup besarnya jumlah responden dengan kategori pengetahuan cukup, yaitu sebanyak 43,2% (Tabel 5.6). Pengetahuan yang baik akan mendorong responden dalam tindakannya untuk melaksanakan diet PJK. Perilaku makan yang didasari oleh pengetahuan yang baik akan bersifat lebih langgeng (long lasting) daripada yang tidak didasari oleh pengetahuan yang baik (Notoatmodjo, 2007a).

5.3.3. Sikap Responden

Penelitian ini menunjukkan bahwa 77,3% responden memiliki sikap yang baik dan 22,7% responden memiliki sikap cukup. Melalui data tersebut, dapat dilihat bahwa mayoritas responden memiliki sikap yang baik mengenai diet PJK (Tabel 5.7).

(46)

responden dengan sikap baik mengenai diet PJK berada pada kelompok usia lebih dari 55 tahun (Tabel 5.9). Pertambahan usia seseorang akan berhubungan dengan perkembangan kognitif, penalaran moral, dan perkembangan sosial. Semakin tua usia seseorang menunjukkan bahwa semakin sering seseorang tersebut terpapar dengan stimulus. Hal ini sesuai dengan pandangan Notoatmodjo (2007a) tentang penentuan sikap yaitu, semakin sering seseorang terpapar akan suatu stimulus atau objek maka akan semakin mempengaruhi seseorang menilai ataupun bersikap terhadap stimulus atau objek tersebut. Penelitian Mosca, Jones, King, Ouyang, Redberg, dan Hill (2000) juga menunjukkan bahwa orang yang berusia lebih tua (usia 45 tahun atau lebih) lebih banyak mendapatkan informasi mengenai PJK daripada orang yang berusia lebih muda (usia kurang dari 45 tahun).

Selain faktor usia, pengetahuan responden mengenai diet PJK juga mungkin berpengaruh terhadap sikap. Pengetahuan yang baik terhadap diet PJK umumnya diikuti dengan sikap yang baik pula (Tabel 5.10).

Farooqi, Nagra, Edgar, dan Khunti (2000) yang melakukan penelitian pada orang Asia Selatan di Leicester menyebutkan adanya variasi sikap orang Asia Selatan terhadap diet untuk kesehatan jantung. Salah satu faktor yang menyebabkan variasi sikap tersebut adalah pengetahuan. Mereka juga menyarankan pentingnya promosi kesehatan berbasis individu untuk meningkatkan pengetahuan mengenai diet tersebut sehingga sikap yang baik diharapkan dapat terbentuk.

Hal ini sesuai karena pengetahuan akan suatu objek atau stimulus memegang peranan penting dalam penentuan sikap (Notoatmodjo, 2007a). Selain itu menurut Rahayuningsih (2008), pemahaman ataupun pengetahuan baik dan buruk, salah atau benarnya suatu hal akan menentukan sistem kepercayaan seseorang sehingga akan berpengaruh dalam penentuan sikap seseorang.

5.3.4. Tindakan Responden

(47)

bahwa mayoritas responden memiliki tindakan cukup mengenai diet PJK (Tabel 5.8).

Kemungkinan tindakan responden mengenai diet PJK juga dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikapnya. Responden dengan tindakan baik mengenai diet PJK mayoritas memiliki pengetahuan yang baik, sedangkan responden dengan tindakan cukup mayoritas memiliki pengetahuan cukup (Tabel 5.11). Semua responden dengan tindakan baik mengenai diet PJK memiliki sikap baik (Tabel 5.12). Pengetahuan akan mempengaruhi sikap dan kemudian terwujud dalam bentuk tindakan. Melalui pengetahuan yang baik diharapkan dapat terbentuk sikap yang baik dan diwujudkan dalam bentuk tindakan yang baik. Menurut Notoatmodjo (2007a), pengetahuan akan suatu objek atau stimulus memegang peranan penting dalam penentuan sikap. Sikap merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku, dan melalui sikap maka tindakan akan terwujud.

Penelitian Yunsheng et al (2008) pada penderita PJK di laboratorium kateterisasi jantung di University of Massachusetts Memorial Health Care menunjukkan adanya kualitas diet yang buruk setelah satu tahun didiagnosis PJK. Salah satu faktor yang berhubungan dengan kualitas diet yang buruk tersebut adalah kurangnya edukasi. Hal ini menunjukkan pentingnya pengetahuan dalam pembentukan tindakan.

Kemungkinan kaitan antara faktor sikap dengan tindakan juga terlihat pada penelitian Robinson, Fox, dan Grandy (2009). Penelitian mereka pada penderita PJK di Amerika Serikat menunjukkan bahwa penderita PJK dengan sikap kesehatan yang positif lebih melakukan tindakan yang positif daripada mereka yang memiliki sikap negatif (buruk).

(48)

PJK akan merasa termotivasi apabila seluruh anggota keluarga ikut mendukung diet yang baik untuk kesehatan jantung. Budaya, nilai-nilai, keyakinan, aturan dan norma mungkin juga memegang peranan dalam mempengaruhi sikap dan tindakan seseorang. Responden dengan tindakan cukup dan kurang mayoritas merupakan suku Batak (Tabel 5.13). Budaya makan tinggi lemak yang terdapat dalam suatu kelompok masyarakat tertentu, misalnya pada suku Batak, dapat menjadi penghalang dalam pembentukan tindakan yang baik mengenai diet PJK.

(49)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai perilaku pasien penyakit jantung koroner terhadap diet penyakit jantung koroner di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2010 diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Karakteristik sosiodemografi pasien penyakit jantung koroner (PJK) di RSUP H. Adam Malik Medan, yaitu proporsi tertinggi pada jenis kelamin laki-laki sebesar 77,3%, usia lebih dari 55 tahun sebesar 54,5%, suku Batak sebesar 72,7%, tingkat pendidikan SMA sebesar 59,1%, dan pekerjaan sebagai pensiunan sebesar 34,1%.

2. Sebagian besar (56,8%) pasien PJK memiliki pengetahuan yang baik mengenai diet PJK dan tidak ada yang berpengetahuan kurang.

3. Sebagian besar (77,3%) pasien PJK memiliki sikap baik mengenai diet PJK dan tidak ada yang memiliki sikap kurang.

4. Sebagian besar (47,7%) pasien PJK memiliki tindakan cukup mengenai diet PJK dan sebagian kecil (6,8%) yang memiliki sikap kurang.

6.2 Saran

1. Bagi peneliti di masa yang akan datang, agar penelitian dapat dilakukan juga di beberapa rumah sakit lain dan dengan jumlah sampel yang lebih banyak. 2. Bagi dokter dan tenaga kesehatan lainnya, agar tetap memberikan konseling

nutrisi dan melakukan evaluasi diet pada pasien PJK secara berkala.

3. Bagi institusi pelayanan kesehatan, agar meningkatkan penyuluhan mengenai diet untuk kesehatan jantung misalnya penyuluhan dengan menggunakan alat bantu leaflet, brosur, dan poster yang menarik.

(50)

DAFTAR PUSTAKA

Ades, P.A., 2001. Cardiac Rehabilitation and Secondary Prevention of Coronary Heart Disease. N Engl J Med 345 (12): 892-902.

Anderson, J.W., Johnstone, B.M., and Cook-Newell, M.E., 1995. Meta-Analysis of The Effects of Soy Protein Intake on Serum Lipids. N Engl J Med 333 (5): 276-282.

Burns, D.K. & Kumar, V., 2007. Jantung. Dalam: Hartanto, H., Darmaniah, N., Wulandari, N., ed. Buku Ajar Patologi Robbins Edisi 7. Jakarta: EGC, 405-442.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI), 2007. Profil Kesehatan

Indonesia 2005. Pusat Data dan Informasi, Departemen Kesehatan.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI), 2009. Profil Kesehatan

Indonesia 2008. Pusat Data dan Informasi, Departemen Kesehatan.

Farooqi, A., Nagra, D., Edgar, T., and Khunti K., 2000. Attitudes to Lifestyle Risk Factors for Coronary Heart Disease amongst South Asians in Leicester: A Focus Group Study. Family Practice 17 (4): 293-297.

Hadi, P. & Sudarti, 1990. Pedoman Usulan Penelitian Bidang Kesehatan

Masyarakat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Hunink et al, 1997. The Recent Decline in Mortality From Coronary Heart Disease, 1980-1990: The Effect of Secular Trends in Risk Factors and Treatment. JAMA 277 (7): 535-542.

Kesuma, M., 2005. Diet Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah. Dalam: Almatsier, S., ed. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 150-172.

Krummel, D.A., 2004. Medical Nutrition Therapy in Cardiovascular Disease. In: Mahan, L.K. & Escott-Stump, S., ed. Krause’s Food, Nutrition, & Diet

Therapy 11th Edition. USA: Elsevier, 860-899.

Maron, D.J., Grundy, S.M., Ridker, P.M., and Pearson, T.A., 2004. Dyslipidemia, Other Risk Factors, and The Prevention of Coronary Heart Disease. In: Fuster, V. et al, ed. Hurst’s The Heart. USA: McGraw-Hill, 1093-1115.

Monga, S., Sachdeva R., Kochhar A., and Banga K., 2008. Efficacy of Nutrition Counseling on the Knowledge, Attitude, and Practices of Working Women.

(51)

Mosca, L., Jones, W.K., King, K.B., Ouyang, P., Redberg, R.F., and Hill, M.N., 2000. Awareness, Perception, and Knowledge of Heart Disease Risk and Prevention Among Women in the United States. Arch Fam Med 9: 506-515.

Nababan, D., 2008. Hubungan Faktor Risiko dan Karakteristik Penderita dengan

Kejadian Penyakit Jantung Koroner di RSU dr. Pirngadi Medan Tahun 2008. Tesis Sekolah Pascasarjana, Universitas Sumatera Utara.

Naqvi, H., 2004. Living With Heart Disease – Survey of Primary Care Coronary

Heart Disease Patients in Bristol: Summary of Key Findings. Habib Naqvi

Research Associate, Avon HImP Performance Scheme.

National Cholesterol Education Program (NCEP), 2002. Third Report of the

National Cholesterol Education Program (NCEP) Expert Panel on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Cholesterol in Adults (Adult Treatment Panel III). National Institutes of Health, National Heart,

Lung, and Blood Institute.

Ness, A.R. & Powles, J.W., 1997. Fruit and Vegetables, and Cardiovascular Disease: A Review. International Journal of Epidemiology 26 (1): 1-13.

Notoatmodjo, S., 2007a. Kesehatan Masyarakat: Ilmu dan Seni. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S., 2007b. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Edisi 1. Jakarta: Rineka Cipta.

Peckenpaugh, N.J., 2007. Cardiovascular Disease. In: Alexopoulos Y. & Frazier, D.M., ed. Nutrition Essentials and Diet Therapy 10th Edition. USA:

Elsevier, 201-229.

Rahayuningsih, S.U., 2008. Sikap (Attitude). Available from:

Rilantono, L.I., 1996. Masalah Penyakit Jantung dan Kecenderungannya di Indonesia. Dalam: Rilantono, L.I., Baraas, F., Karo-Karo, S., Roebiono, P.S., ed. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 3-4.

(52)

Sarumpaet, N.S., 2009. Karakteristik Penderita Penyakit Jantung Koroner Rawat

Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2007. Skripsi Fakultas

Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara.

Sastroasmoro, S. & Ismael S., 2010. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi 3. Jakarta: Sagung Seto.

Schoen, F.J. & Cotran, R.S., 2007. Pembuluh Darah. Dalam: Hartanto, H., Darmaniah, N., Wulandari, N., ed. Buku Ajar Patologi Robbins Edisi 7. Jakarta: EGC, 365-404.

Smith et al, 2001. AHA/ACC Guidelines for Preventing Heart Attack and Death in Patients With Atherosclerotic Cardiovascular Disease: 2001 Update.

Circulation 104: 1577-1579.

Sukardji, K. & Hartati, S.A.B., 2003. Pengkajian Diet Pada Penderita Penyakit Jantung Koroner. Dalam: Waspadji, S. & Suyono, S. (eds). 2003.

Pengkajian Status Gizi: Studi Epidemiologi. Pusat Diabetes dan Lipid

RSCM/FKUI dan Instalasi Gizi RSCM, Jakarta: 39-77.

World Health Organization (WHO), 2008. The Top Ten Causes of Death. Geneva: World Health Organization. Available from:

February 2010]

World Health Organization (WHO), 2009. Cardiovascular Diseases. Geneva: World Health Organization. Available from:

18 February 2010]

Yanti, S.D., 2009.Karakteristik Penderita Penyakit Jantung Koroner Rawat Inap

di RSU dr. Pirngadi Medan Tahun 2003-2006. Skripsi Fakultas Kesehatan

Masyarakat, Universitas Sumatera Utara.

(53)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Gerald Abraham Harianja

Tempat / Tanggal Lahir : Jakarta, 24 Mei 1989

Agama : Kristen Protestan

Alamat : Jl. Palem IV No. 167 Blok 8 Perumnas Helvetia

Medan, 20124

Riwayat Pendidikan : 1. TK Strada Bhakti Wiyata Bekasi 2. SD Strada Bhakti Wiyata I Bekasi 3. SMP Strada Bhakti Wiyata Bekasi 4. SMA Negeri 8 Jakarta

5. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Riwayat Pelatihan : -

(54)

KUESIONER PENELITIAN

Status Perkawinan : Pendidikan Terakhir :

Pekerjaan :

Tinggi/Berat Badan : cm/ kg Lama Menderita Penyakit Jantung Koroner (PJK): Penyakit Penyerta/Penyulit :

Diabetes Mellitus ( ) Stroke ( )

1. Menurut Anda, asam lemak apa yang dapat meningkatkan kolesterol darah dan sumbatan pembuluh darah pada PJK?

a. Asam lemak jenuh b. Asam lemak tidak jenuh c. Asam lemak omega-3 d. Asam lemak omega-6

2. Menurut Anda, manakah makanan kaya akan asam lemak yang bisa meningkatkan sumbatan pembuluh darah PJK?

a. Roti b. Keju

c. Minyak zaitun d. Buah

3. Menurut Anda, berapa banyak daging yang diperbolehkan dalam diet PJK?

Figur

Tabel 4.1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner
Tabel 4 1 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner. View in document p.36
Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 5 1 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Jenis Kelamin . View in document p.37
Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Usia
Tabel 5 2 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Usia. View in document p.38
Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Suku
Tabel 5 3 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Suku . View in document p.38
Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pendidikan
Tabel 5 4 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pendidikan. View in document p.38
Tabel 5.6. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pengetahuan mengenai Diet PJK
Tabel 5 6 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pengetahuan mengenai Diet PJK . View in document p.39
Tabel 5.5. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pekerjaan
Tabel 5 5 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pekerjaan . View in document p.39
Tabel 5.7. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Sikap mengenai Diet
Tabel 5 7 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Sikap mengenai Diet . View in document p.40
Tabel 5.8. Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Tindakan mengenai Diet PJK
Tabel 5 8 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Tindakan mengenai Diet PJK . View in document p.40
Tabel 5.10. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Sikap mengenai Diet PJK
Tabel 5 10 Distribusi Frekuensi Hasil Uji Sikap mengenai Diet PJK . View in document p.41
Tabel 5.11. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tindakan mengenai Diet PJK
Tabel 5 11 Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tindakan mengenai Diet PJK . View in document p.42
Tabel 5.12. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tindakan mengenai Diet PJK berdasarkan Sikap Responden
Tabel 5 12 Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tindakan mengenai Diet PJK berdasarkan Sikap Responden . View in document p.42
Tabel 5.13. Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tindakan mengenai Diet PJK
Tabel 5 13 Distribusi Frekuensi Hasil Uji Tindakan mengenai Diet PJK . View in document p.43

Referensi

Memperbarui...