• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan Produktivitas Kacang Tanah melalui Perbaikan Keseimbangan Source dan Sink

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peningkatan Produktivitas Kacang Tanah melalui Perbaikan Keseimbangan Source dan Sink"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Peningkatan Produktivitas Kacang

Tanah Melalui Perbaikan

Tanah Melalui Perbaikan

Keseimbangan Source dan Sink

Iskandar Lubis

A.Ghozi Manshuri

Sri Astuti Rais

Sri Astuti Rais

Heni Purnamawati

Aries Kusumawati

(2)

Latar Belakang

g

z Produktivitas kacang tanah di

I ndonesia selama 17 tahun terakhir (1986 – 2006) berada dalam kisaran 0,7 ton/ ha hingga menjadi 1,2

ton/ ha biji kering (Kasno, 2004; j g ( Deptan, 2006).

z Masalah yang sering ditemui adalah persentase polong hampa (cipo)

(3)

z

Perlu dipahami bagaimana kacang tanah

z

Perlu dipahami bagaimana kacang tanah

memenuhi kebutuhan asimilatnya saat pengisian

biji/polong

A i il t

t k

i i

biji di

l h d i

z

Asimilat untuk pengisian biji diperoleh dari

1. Kegiatan fotosintesis dipertahankan tinggi

2 Remobilisasi asimilat

2. Remobilisasi asimilat

Tujuan

Tujuan

z

Meningkatkan produktivitas kacang tanah melalui

perbaikan keseimbangan source dan sinknya, baik

d

ki

i

l

d

dengan perakitan varietas unggul maupun dengan

perbaikan teknik budidaya yang dapat

(4)

BAGAN PENELITIAN

Tahun pertama

Mendapatkan genotipe-genotipe dengan kapasitas source sink dan

produktivitas yang berbeda. Penyaringan dari 20 varietas lokal dan unggul nasional serta 2 galur harapan tahan bercak daun untuk mendapatkan 4 genotipe dengan pola partisi asimilat dan produktivitas yang berbeda untuk diamati lebih lanjut pada tahap kedua

diamati lebih lanjut pada tahap kedua

Tahun kedua

Mengamati pengaruh perubahan source-sink pada pola partisi asimilat kacang tanah.

Tahun ketiga

Mengamati pembagian asimilat pada dua varietas kacang tanah yang berbeda pola pertumbuhannya dengan menggunakan penjejak karbon 13 .

ƒ Pembagian asimilat pada kacang tanah

K kt i tik k t h d i k

(5)

Hasil Tahap Pertama dan Kedua

Berdasarkan hubungan dengan hasil biji diperoleh :

1. Kelompok tanaman dengan source yang relatif lebih

besar dan kelompok dengan source yang sangat tinggi besar dan kelompok dengan source yang sangat tinggi (Sima dan Turangga)

2. Kelompok dengan potensial sink (jumlah ginofor dan

l ) ti i t t i h il biji d h

polong) tinggi tetapi hasil biji rendah yang

mengindikasikan tidak efisien dalam pembentukan sink

3. Kelompok dengan masalah dalam source (source p g (

(6)

55

Zebra

Jumlah Ginofor dan polong vs Berat Kering Tajuk/ tan pada 10 MST

d a n P O lo n g / ta n 50 45 40 Kelinci Badak Landak Rusa Sima Kancil Biawak Turangga Panter Ju m la h G in o fo

r 40 35 30 Jerapah Simpai Pelanduk Mahesa Macan Kidang Bidua Sima Biga Jepara Gajah

BK Tajuk/ tan 10 MST

28 26 24 22 20 18 16 14 12 10 25 Macan 2.6 Biawak

Hasil Polong (t/ h) vs BK Tajuk/ tan 10 MST

lo n g ( t/ h ) 2.4 2.2 Kelinci Jerapah Landak Simpai Kidang Bidua Sima Panter H a s il p o l 2.0 1.8 Zebra Badak Pelanduk Rusa Mahesa Macan Biga Jepara Gajah Kancil Turangga

Berat Kering Tajuk/ tan 10 MST

(7)

z Kadar klorofil total per gram berat basah daun pada p g p

10 MST nyata berkorelasi negatif (R2= 61.6) dengan persentase jumlah polong penuh. Hal ini dapat

diartikan makin hijau daun akan menghambat diartikan makin hijau daun akan menghambat pengisian polong

z Dari hasil analisis diperoleh kadar N dalam daun dan

batang serta kadar TNC di daun tidak berkorelasi dengan parameter hasil dan pengisian. Kadar TNC dalam batang pada saat 10 MST (T3) nyata

dalam batang pada saat 10 MST (T3) nyata

berkorelasi positif dengan persentase polong isi

(R2= 75.8), sedangkan kadar TNC batang saat 6 MST (T2) berkorelasi positif tapi tidak nyata

(8)

P l k

k k li

d

i t

k i k li

d

z

Perlakuan pupuk kalium dan interaksi kalium dan

varietas tidak memberikan pengaruh nyata pada seluruh

peubah yang diamati.

p

y

g

z

Paclobutrazol (100 ppm, 6 MST) menurunkan berat

kering brangkasan dan ILD pada 8 MST serta

menurunkan tinggi tanaman hingga 17 3% Aplikasi

menurunkan tinggi tanaman hingga 17.3%. Aplikasi

paclobutrazol juga menekan jumlah polong isi penuh per

tanaman saat panen sebesar 11.3%. Interaksi

(9)

z

Rasio berat kering tanaman 10 MST dan jumlah polong

z

Rasio berat kering tanaman 10 MST dan jumlah polong

per tanaman dengan nilai mendekati

0.9 – 1.0

dan rasio

ILD 10 MST dan jumlah polong per tanaman dengan

il i

d k ti

0 09

0 10

did

k

i

nilai mendekati

0.09 – 0.10

diduga merupaka rasio

(10)

BAHAN DAN METODE

1.Pembagian Asimilat Pada Dua Varietas Kacang

Tanah yang Berbeda Pola pertumbuhannya

dengan Menggunakan Penjejak I sotop Karbon 13

z Tujuan : Mengamati pembagian asimilat pada kacang

tanah yang berbeda pola pertumbuhannya

z Prosedur : Varietas yang digunakan Sima dan Jerapah z Prosedur : Varietas yang digunakan Sima dan Jerapah.

Feeding menggunakan Ba13CO3 dilakukan pada fase pengisian biji (10 MST) di dalam kotak yang ditutup plastik dan direndam dalam air

(11)

z Pengamatan dengan destruksi tanaman pada 0, 24 dan

72 j t l h f di

72 jam setelah feeding

z Sebelum feeding dilakukan pengukuran CER, PAR,

konduktansi stomata, laju transpirasi suhu udara dan konduktansi stomata, laju transpirasi suhu udara dan suhu daun

z Selama feeding dilakukan pengukuran suhu udara dan

(12)

BAHAN DAN METODE

2.

Pengaruh Konsentrasi dan w aktu aplikasi

Paclobutrazol pada Pola Partisi Asimilat dan Hasil

K

T

h

Kacang Tanah

z Tujuan : Mengamati pengaruh konsentrasi dan waktu

aplikasi paclobutrazol terhadap kapasitas

source sink

dan aplikasi paclobutrazol terhadap kapasitas

source sink

dan pola pembagian asimilat

z Perlakuan konsentrasi Paclobutrazol 0, 100 dan 200 ppm

d 2 i k h (K li i d Si ) d

pada 2 varietas kacang tanah (Kelinci dan Sima) dan diaplikasikan pada 6 dan 8 MST

z Perlakuan disusun menggunakan rancangan split split plot z Perlakuan disusun menggunakan rancangan split split plot

(13)

PENGAMATAN

1. Bobot kering tanaman dan I LD diamati pada 6, 8, 10,

dan 12 MST

2. Kadar klorofil total/ cm2 pada 9 dan 11 MST

(14)

HASI L DAN PEMBAHASAN

Percobaan 1.

z Hasil pengukuran kandungan 13C dalam bagian

tanaman belum diperoleh

z Apabila terjadi translokasi asimilat langsung dari

fotosintesis kadar 13C pada biji/ polong tidak banyak fotosintesis kadar 13C pada biji/ polong tidak banyak berbeda dari kadar 13 C udara

z Apabila terjadi remobilisasi maka kadar 13C pada

(15)

z Laju CER Sima lebih tinggi daripada Jerapah z Laju CER Sima lebih tinggi daripada Jerapah

z Laju CER kedua varietas maksimal pada 4.5 dan 5

µmolCO2/ m3/ s, menunjukkan rendahnya kapasitas fotosintesis

CER= 0.76 + 0.00993 PAR- 0.000006 PAR2 CER_1 = - 5.559 + 0.02370 PAR - 0.000014 PAR2

m 2 / s ) 7 6 S 1.50154 R-Sq 1.6% R-Sq(adj) 0.0%

CER = 0.76 + 0.00993 PAR 0.000006 PAR2

m 2 / s ) 5.5 5.0 4.5 S 1.06811 R-Sq 15.5% R-Sq(adj) 0.0% C E R (m m o lC 0 2 / m 5 4 3 C E R (m m o lC 0 2 / m 4.0 3.5 3.0

PAR(mmolC02/ m2/ s)

1200 1100 1000 900 800 700 600 3 2

PAR(mmolC02/ m2/ s)

(16)

z Suhu selama feeding cukup tinggi sehingga diduga dengan z Suhu selama feeding cukup tinggi sehingga diduga dengan

peningkatan suhu terjadi penurunan CER (CER = 20.79+ 0.4879 Tdaun (r2= 52.9))

7 S 0.856715

R- Sq 52.9%

CER = 20.79 - 0.4879 Tdaun

l/ m 2 / s ) 6 5

R- Sq(adj ) 50.7%

C E R ( m m o l 4 3

Temperat ur daun

(17)
[image:17.792.105.682.227.423.2]

Si

k

l

i b h

k i

l bih b

k

Sima mengakumulasi bahan kering lebih banyak

daripada Jerapah terutama dalam batang

Tabel 2. Rata-rata berat kering tanaman (g) Sima dan Jerapah.

Varietas

Berat kering tanaman

Berat kering batang

Berat kering daun

Berat kering polong ginofor

rataan rataan rataan rataan Sima 23.3 25.6 7.2 8.4 6.8 7.6 7.2 7.8

28.5 9.6 8.3 8.9 25 8.3 7.6 7.3

Jerapah 20.2 24.2 5.1 6.8 5.6 7.0 8.1 7.6 23.7 6.1 7.1 8.7

(18)

z

Percobaan 2.

R k it l i Sidik R

Rekapitulasi Sidik Ragam

Pengamatan Varietas Paclobutrazol Berat Kering Brangkasan

10 MST * tn

B t K i B t

Berat Kering Batang

10 MST * *

12 MST * *

Berat Kering Daun

8 MST * tn

8 MST * tn

10 MST * tn

12 MST * tn

Jumlah Daun

10 MST tn *

10 MST tn *

Indeks Luas Daun

8 MST * tn

10 MST * tn

12 MST * tn

12 MST tn

Jumlah Polong tn * Bobot 100 biji * tn

Indeks Biji tn *

Jumlah Polong/m2 tn * Jumlah Polong/m2 tn

Bobot Polong/m2 tn *

(19)

z

Paclobutrazol 200 ppm meningkatkan produksi kedua

i t

(j

l h

l

/

2 d

b b t

l

/

2)

varietas (jumlah polong/ m2 dan bobot polong/ m2)

z

Paclo 100 dan 200 ppm meningkatkan persentase

polong isi kedua varietas tetapi tidak meningkatkan

polong isi kedua varietas tetapi tidak meningkatkan

bobot 100 biji

z

Paclobutrazol menekan pertumbuhan tanaman pada

p

p

10 dan 12 MST yang merupakan fase pengisian biji

Kadar klorofil/ cm2 tidak dipengaruhi oleh paclo

sehingga diduga kegiatan fotosintesis tidak terganggu

Sehingga asimilat dapat didistribusikan untuk

pengisian biji

(20)

10 12 14 16

g

(

g

Berat BATANG 6 MST

2 4 6 8 10

BK Ba

ta

n

g

Berat BATANG 8 MST

Berat BATANG 10 MST

Berat BATANG 12 MST

0 2

0 100 200

Konsentrasi Paclobutrazol (ppm)

(21)

z Aplikasi Paclobutrazol 200 ppm meningkatkan jumlah z Aplikasi Paclobutrazol 200 ppm meningkatkan jumlah

polong/ m2 sebesar 17,6% dan bobot polong/ m2 17,7%

z Akan tetapi dilihat dari bobot 100 biji dan indeks biji

tampaknya penambahan berat kering terjadi terutama pada kulit polong

Kesimpulan

Penekanan pertumbuhan pada 10 dan 12 MST p p

meningkatkan produksi polong (jumlah dan bobot

polong/ m2) dan pengisian biji (persentase polong isi) akibat pengalihan distribusi asimilat

(22)
[image:22.792.64.737.48.451.2]

Tabel Komponen Produksi

Parameter 0 ppm 100 ppm 200 ppm

p

Indeks Biji 0,49 a 0,50 a 0,41 b

Persentase polong isi 97,16 b 99,71 a 99,56 a

Jumlah Polong/m2 59,8 b 59,6 b 70,3 a

B b t P l / 2 100 1 b 103 4 b 117 8

(23)

K

i

l

Kesimpulan

z

Sima mengakumulasikan bahan kering lebih banyak

daripada Jerapah karena laju CERnya lebih tinggi

dari Jerapah tetapi pada saat pengisian biji bahan

kering banyak diakumulasi ke batang daripada

g

y

g

p

untuk pengisian polong

z

Aplikasi 100 dan 200 ppm Paclobutrazol

menurunkan berat kering batang Sima dan Kelinci

menurunkan berat kering batang Sima dan Kelinci

pada 10 MST

z

Aplikasi Paclobutrazol 200 ppm meningkatkan

p

pp

g

jumlah polong/m

2

sebesar 17,6% dan bobot

Gambar

Tabel 2. Rata-rata berat kering tanaman (g) Sima dan Jerapah.
Tabel Komponen Produksip

Referensi

Dokumen terkait

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: terdapat plasma nutfah yang memiliki ketahanan terhadap penyakit bercak daun, berpotensi hasil tinggi,

Hasil: semua galur harapan memiliki tanggapan berbeda terhadap kondisi lahan kering tempat tumbuhnya, varietas unggul Singa berbobot polong basah, polong kering, dan

Delapan genotipe kedelai terdiri atas varietas unggul nasional (Rajabasa, Dering, Slamet, dan Mutiara) dan Galur Harapan Jember (GHJ-2, GHJ-3, GHJ-6, dan NSP) masing-masing

Pada Tabel 19 terlihat bahwa genotipe AH1993SI memiliki kandungan klorofil total tertinggi di antara genotipe lain dalam kelompok tersebut, akan tetapi bobot biji per tanaman,

Kondisi ini terjadi karena pada Varietas Kancil memiliki potensi genetis yang lebih unggul dibandingkan dengan Varietas Jepara dan Galur Cidaun, sehingga

Genotipe kacang tanah yang diuji menunjukkan keragaman untuk hasil polong, ukuran biji, serta responsnya terhadap penyakit layu, karat, dan bercak daun, dari agak tahan hingga

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan benih tanaman F1 dari hasil persilangan galur pelestari atau pemulih kesuburan dengan varietas unggul yang mempunyai sifat-sifat

Ini berarti asimilat pada varietas Badak dan Kelinci lebih banyak digunakan untuk mempertahankan daun tetap hijau dibandingkan untuk pengisian polong sehingga