ANALISIS USAHA PENANGKAPAN IKAN
( Studi Kasus : Kecamatan teluk Nibung, Kota Tanjung Balai)
SKRIPSI
Oleh :
ROMELIA HUTAJULU 080304075
AGRIBISNIS
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRAK
Analisis Usaha Penangkapan Ikan
(Studi Kasus : Kecamatan Teluk Nibug, Kota Tanjung Balai) Romelia J Hutajulu
Perikanan adalah semua kegiatan yang terorganisir berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan.
Tujuan Penelitian adalah Untuk menganalisis faktor – faktor yang berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan ikan di daerah penelitian, untuk menganalisis perbedaan biaya operasional dan pendapatan nelayan kapal kapasitas 3 – 5 GT dengan kapal kapasitas 6 – 10 GT di daerah penelitian.
Data yang digunakan adalah data primer, yaitu data yang dieroleh dengancara wawancara langsung dengan nelayan di Kecamatan Teluk Nibung. Kota Tanjung balai dan data sekunder. Dalam menganalisi besarnya pengaruh variabel, digunakan model ekonometrika dengan meregresikan variabel – variabel yang ada menggunakan metode kuadrat terkecil ( Ordinary Least Square).
RIWAYAT HIDUP
Romelia J Hutajulu, lahir di Kota Medan pada tanggal 19 Juni 1991, putri dari Bapak Hotman Hutajulu dan Ibu Reni Mei Tambunan. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara.
Pendidikan formal yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut :
− Tahun 1995 masuk Taman Kanak-Kanak Kalam Kudus, tamat tahun 1996.
− Tahun 1996 masuk Sekolah Dasar Santo Thomas 4 Medan, tamat tahun 2002.
− Tahun 2002 masuk Sekolah Lanjut Tingkat Pertama Santo Thomas 4 Medan, tamat tahun
2005.
− Tahun 2005 masuk Sekolah Menengah Atas Santo Thomas 2 Medan, tamat tahun 2008.
− Tahun 2008 menempuh pendidikan di Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara.
− Mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Desa Bagan Asahan Pekan, Kecamatan
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan berkat-Nya
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan benar. Adapun judul skripsi ini
adalah “Analisis Usaha Penangkapan Ikan”. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat guna menyelesaikan strata satu di Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas
Sumatera Utara, Medan. Saya mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang
telah banyak membimbing dalam penulisan skripsi ini, yaitu Bapak
Ir. Thomson Sebayang, MT selaku Ketua Komisi Pembimbing danIbu Dr. Ir. Tavi Supriana,MS selaku Anggota Komisi Pembimbing dan juga sebagai Ketua Program Studi Agribisnis FP USU yang telah banyak membantu dan meluangkan waktu untuk
membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Dr.Ir.Salmiah,MS selaku Ketua Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
2. Bapak Dr. Ir. Satia Negara Lubis M.Ec, selaku Sekretaris Program Studi Agribisnis FP USU.
3. Seluruh Dosen dan Staf Pengajar Program Studi Agribisnis FP USU yang selama ini
telah mengajari dan membekali ilmu pengetahuan kepada penulis.
4. Seluruh pegawai di FP USU khususnya Program Studi Agribisnis.
Segala hormat dan terima kasih khusus saya ucapkan terima kasih kepada orang tua saya,
Hotman Hutajulu dan Reni Mei Tambunan atas doa, dukungan, semangat, motivasi dan kasih
Saya juga berterima kasih kepada Abang Hendra Prasetyo Hutajulu atas segala doa dan
dukungan yang diberikan kepada saya .
Terima kasih juga saya ucapkan terkhususnya kepada teman – teman saya
Rika Febriani Ginting, Puji Adelina Siahaan, Sarah P. Nainggolan, Kartika Fidesia Purba,
Beby Andrea Sinulingga, Sisilia M. Silitonga, dan Steffi S.C. Saragih yang telah memberi
motivasi dan semangat yang luar biasa kepada saya dan juga kepada sahabat saya irfansyah,
ricky, isti, kariza, despita, bunga, arini, yang memberi dorongan serta semangat yang tinggi.
Kepada seluruh teman-teman di Program Studi Agribisnis angkatan 2008 yang telah banyak
membantu dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. Tuhan Yesus selalu memberkati kita.
Akhirnya saya mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.
Medan, November 2013
DAFTAR ISI
ABSTRAK
RIWAYAT HIDUP
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Identifikasi Masalah ... 4
Tujuan Penelitian ... 5
Kegunaan Penelitian ... 5
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 6 Tinjauan Pustaka ... 6
Landasan Teori ... 9
Kerangka Pemikiran ... 13
Hipotesis Penelitian ... 15
METODE PENELITIAN ... 16
Metode Penentuan Daerah Penelitian ... 16
Metode Penentuan Sampel ... 16
Metode Pengumpulan Data ... 17
Metode Analisis Data ... 17
Defenisi dan Batasan Operasional ... 22
Defenisi ... 22
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK PETANI
SAMPEL ... 23
Deskripsi Daerah Penelitian ... 23
Luas dan Letak Geografis ... 23
Keadaan Penduduk ... 24
Karakteristik Nelayan Sampel ... 25
PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA PENANGKAPAN IKAN ...27
Kegiatan Operasional ... 27
Persiapan Melaut ... 27
Kegiatan Penangkapan ... 27
Penjualan Hasil Tangkapan Ikan di Tempat Pelelangan Ikan ... 29
Analisis Usaha Penangkapan Ikan ... 29
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 30
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Jumlah Hasil Produksi Tangkapan Ikan di Daerah Penelitian ... 30
Perbedaan Biaya Operasional dan Pendapatan Antara Nelayan Menggunakan Kapal Kapasitas 3 – 5 GT Dengan Kapal Kapasitas 6 – 10 GT ... 35
KESIMPULAN DAN SARAN ... 40
Kesimpulan ... 40
Saran ... 40
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
1. Jumlah Kapal di Kota Tanjung Balai ... 16
2. Jumlah Populasi dan Sampel Kapal Bermesin di Kecamatan Teluk Nibung
... 17
3. Luas Wilayah Menurut Kecamatan Kota Tanjung Balai 24
4. Keadaan Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kota Tanjung Balai
... 25
5. Karakteristik Sampel di Kecamatan Teluk Nibung di Kota Tanjung Balai
... 26
6. Analisis Hasil Usaha Penangkapan Ikan Per Trip ... 29
7. Estimasi Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Jumlah Hasil Penangkapan Ikan
... 30
8. Uji Normalitas Dengan Metode Kolmogorov - Smirov .. 31
9. Uji Multikolinearitas antara Variabel ... 32
10. Rata – Rata Penerimaan , Biaya Produksi, Pendapatan Bersih Hasil Produksi
Penangkapan Ikan di Kecamatan T. Nibung ... 35
11. Independent Samples Test (Uji Homogenitas Model Leneve’s) 37
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Halaman
1. Kerangka Pemikiran Kegiatan Usaha Penangkapan Ikan 14
2. Scatter Plot dari Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi
ABSTRAK
Analisis Usaha Penangkapan Ikan
(Studi Kasus : Kecamatan Teluk Nibug, Kota Tanjung Balai) Romelia J Hutajulu
Perikanan adalah semua kegiatan yang terorganisir berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan.
Tujuan Penelitian adalah Untuk menganalisis faktor – faktor yang berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan ikan di daerah penelitian, untuk menganalisis perbedaan biaya operasional dan pendapatan nelayan kapal kapasitas 3 – 5 GT dengan kapal kapasitas 6 – 10 GT di daerah penelitian.
Data yang digunakan adalah data primer, yaitu data yang dieroleh dengancara wawancara langsung dengan nelayan di Kecamatan Teluk Nibung. Kota Tanjung balai dan data sekunder. Dalam menganalisi besarnya pengaruh variabel, digunakan model ekonometrika dengan meregresikan variabel – variabel yang ada menggunakan metode kuadrat terkecil ( Ordinary Least Square).
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perikanan mempunyai peranan yang cukup penting, terutama menghasilkan protein hewani
dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan dan gizi, meningkatkan ekspor, menyediakan
bahan baku industri, memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha, serta mendukung
pembangunan wilayah dengan tetap memperhatikan kelestarian dan fungsi lingkungan hidup
(Evy, 2001).
Perikanan adalah semua kegiatan yang terorganisir berhubungan dengan pengelolaan dan
pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi,
pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis
perikanan. Umumnya, usaha perikanan ditujukan untuk kepentingan penyediaan makanan
bagi manusia, walaupun mungkin ada tujuan lain (seperti olahraga atau pemancingan yang
berkaitan dengan rekreasi), atau mungkin juga untuk tujuan membuat perhiasan atau produk
ikan seperti minyak ikan. Usaha perikanan adalah semua usaha perorangan atau badan hukum
untuk menangkap atau membudidayakan (usaha penetasan, pembibitan, pembesaran) ikan,
termasuk kegiatan menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan ikan dengan tujuan untuk
menciptakan nilai tambah ekonomi bagi pelaku usaha (komersial atau bisnis)
(Anonimusa, 2009).
Beberapa landasan yang dapat dijadikan sebagai alasan untuk lebih meningkatkan
pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan antara lain sebagai berikut : (1) Permintaan
ikan konsumsi dari luar negeri, khususnya ikan karang konsumsi belum dapat diakomodasi
seluruhnya karena minimnya produksi Indonesia; (2) Perkembangan teknologi dibidang
kelautan dan perikanan juga dapat mendorong pemanfaatan sumberdaya yang belum banyak
meningkat, selain itu juga terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat dewasa ini yang lebih
berorientasi pada makanan laut (Anonimusb, 2004).
Sumber sektor perikanan dan kelautan berasal dari budidaya air tawar dari perikanan tangkap.
Perikanan tangkap mempunyai peranan yang cukup penting, terutama dikaitkan dengan
upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi perikanan yang diarahkan untuk
meningkatkan pendapatan dan taraf hidup nelayan, menghasilkan protein hewani dalam
rangka memenuhi kebutuhan pangan dan gizi, meningkatkan ekspor, menyediakan bahan
baku industri, memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha, serta mendukung
pembangunan wilayah dengan tetap memperhatikan kelestarian dan fungsi lingkungan hidup
(Achmad,1999).
Menurut Anonimusa (2009) penangkapan ikan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk
memperoleh ikan di perairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara
apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut,
menyimpan, mendinginkan, mengolah atau mengawetkannya. Perikanan tangkap adalah
usaha ekonomi dengan mendayagunakan sumber hayati perairan dan alat tangkap untuk
menghasilkan ikan dan memenuhi permintaan akan ikan.
Perikanan tangkap Indonesia sangat khas dengan karakteristik multialat dan multispesies,
tersebar di seluruh wilayah pendaratan. Dilihat dari segi kemampuan usaha nelayan,
jangkauan daerah laut serta jenis alat penangkapan yang digunakan oleh para nelayan
Indonesia dapat dibedakan antara usaha nelayan kecil, menengah, dan besar. Dalam
melakukan usaha penangkap ikan dari tiga kelompok nelayan tersebut digunakan sekitar 15
s/d 25 jenis alat penangkap. (Wiadnya, 2009).
Wilayah propinsi Sumatera Utara memiliki perairan umum yang cukup luas dan sangat
pantai barat Sumatera Utara yang terdiri dari Kabupaten Nias, Tapanuli Tengah, Sibolga,
Tapanuli Selatan, Mandailing Natal dan pantai timur Sumatera Utara yang terdiri dari
langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Medan, Asahan, Tanjung Balai, dan Labuhan Batu.
Mata pencaharian masyarakat setempat selalu berhubungan erat dengan kondisi lingkungan.
Umumnya masyarakat yang mempunyai mata pencaharian dari perikanan laut
(Dinas Perikanan Sumut, 2007).
Hasil tangkapan nelayan di pantai timur Sumatera Utara sebagian besar dikonsumsi oleh
masyarakat setempat. Konsumsi lokal terutama dalam bentuk segar maupun awetan (ikan
asin) disamping untuk konsumsi lokal, produksi perikanan juga memenuhi tujuan
perdagangan terutama tujuan ekspor. Untuk tujuan ini, produksi ikan laut dikonsumsi dalam
bentuk pengawetan seperti penggaraman, pindang (perebusan), peragian (terasi dan kecap
asin). Ikan laut juga dikonsumsi dalam bentuk pengasapan, pembekuan dan juga tepung ikan.
Keseluruhan bentuk konsumsi ini tentu saja mengalami proses pengolahan (Dinas Perikanan
Sumut, 2001).
Kota Tanjung Balai merupakan salah satu dari daerah yang berada di kawasan pesisir pantai
Timur Sumatera Utara. Secara geografis Kota Tanjung Balai terletak ± 60 Km² dari kota
Medan posisinya berada di kawasan Pantai Timur Sumatera Utara. Kontribusi terbesar bagi
perekonomian Kota Tanjung Balai diberikan oleh sektor pertanian, yaitu 28, 67% dari total
PDRB. Salah satunya adalah subsektor perikanan.
Kegiatan ekonomi yang menonjol di Kota Tanjung Balai adalah perdagangan perikanan.
Uniknya, Tanjung Balai sebagai kota yang tidak punya laut mampu menghasilkan ikan
puluhan ribu ton tiap tahunnya. Produksi perikanan mencapai 34.215 ton per tahun.
Produksi ini diantaranya berasal dari kegiatan usaha penangkapan. Dengan demikian, maka
penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang kegiatan Operasional dan Analisis Usaha
Penangkapan Ikan di Kota Tanjung Balai.
Identifikasi Masalah
Adapun masalah – masalah yang diidentifikasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Faktor – faktor apa yang berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan ikan di daerah
penelitian ?
2. Bagaimana perbedaan biaya operasional dan pendapatan nelayan yang menggunakan
kapal kapasitas 3 – 5 GT dengan kapal kapasitas 6 – 10 GT di daerah penelitian?
Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk menganalisis faktor – faktor yang berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan
ikan di daerah penelitian.
2. Untuk menganalisis perbedaan biaya operasional dan pendapatan nelayan kapal kapasitas
3 – 5 GT dengan kapal kapasitas 6 – 10 GT di daerah penelitian.
Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Sebagai bahan informasi bagi para nelayan dalam usaha penangkapan ikan
2. Sebagai bahan informasi dan kajian bagi pihak yang berminat dalam usaha penangkapan
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN
Tinjauan Pustaka
Perikanan adalah kegiatan manusia yang berhubungan dengan pengelolaan dan
pemanfaatan sumberdaya hayati perairan. Sumberdaya hayati perairan tidak dibatasi
secara tegas dan pada umumnya mencakup
penghuni perairan dan wilayah yang berdekatan, serta lingkungannya.
(Anonimusa,2009).
Umumnya, perikanan dimaksudkan untuk kepentingan penyediaa
manusia. Selain itu, tujuan lain dari perikanan meliputi
ikan), dan mungkin juga untuk tujuan membuat
(Anonimusa, 2009).
Usaha perikanan adalah semua usaha perorangan atau badan hukum untuk menangkap
atau membudidayakan (usaha
kegiatan
menciptakan nilai tambah ekonomi bagi pelaku usaha (komersial/bisnis)
(Anonimusa, 2009).
Penangkapan ikan yang dilakukan nelayan secara kuantitas tergantung pada perahu,
peralatan yang digunakan maupun faktor lain seperti musim air pasang. Dengan perahu
dan peralatan tangkap yang sesuai dan layak dioperasikan maka hasil tangkapan
menjadi lebih baik dan dapat memberikan jaminan hidup bagi rumah tangganya
Berdasarkan perahu penangkapan ikan, nelayan pemilik dibagi menjadi nelayan
tradisional dan nelayan bermotor. Nelayan tradisional memakai perahu tanpa
mesin/motor, sedangkan nelayan bermotor memakai perahu mempunyai mesin (motor)
yang disebut perahu motor. Berdasarkan mesin (motor) yang digunakan, diukur dengan
GT (Gross Tonage), perahu motor dibagi menjadi:
1. Perahu kecil yaitu < 5GT – 10 GT, dengan panjang kurang dari 9 meter.
2. Perahu sedang yaitu 10 GT – 30 GT, dengan panjang 9 – 11 meter.
3. Perahu besar yaitu lebih dari 30 GT, dengan panjang 11 meter atau lebih
(Dinas Perikanan dan Kelautan Sumut,2001).
Pengelolaan perikanan berkembang menjadi suatu seni dalam menyelesaikan antara
produksi perikanan dengan kondisi – kondisi ekonomi. Misalnya karena permintaan
ikan makin meningkat dan harganya semakin tinggi maka menarik para pengusaha
untuk menambah armada penangkapannya. Di lain pihak para pengelola harus bisa
membatasi daya tangkap perahu agar jumlah tangkapan tetap berada pada batas – batas
tertentu. Dalam pengelolaan perikanan dikenal beberapa konsep pembatasan berusaha,
antara lain adalah :
a. Pembatasan upaya penangkapan yang dilakukan dengan mempersingkat waktu
penangkapan atau membatasi peralatan yang digunakan,
b. Membatasi jumlah modal dan tenaga kerja yang digunakan pada suatu usaha
perikanan.
Untuk daya guna ekonomi pembatasan berusaha dilakukan dengan mewujudkan
keinginan untuk menekan biaya serendah – rendahnya untuk melakukan upaya
Dilihat dari segi kemampuan usaha nelayan, jangkauan daerah laut serta jenis alat
penangkapan yang digunakan oleh para nelayan Indonesia dapat dibedakan antara usaha
nelayan kecil, menengah dan besar.
Menurut Anonimusd (2013) ada beberapa jenis alat tangkap ikan dan pengoperasiannya yang
digunakan oleh perahu kapal bermotor yaitu :
• Trawl
Didefenisikan sebagai jaring yang berbentuk kantong yang ditarik satu atau dua buah kapal
bermotor dan menggunakan alat pembuka mulut jaring yang disebut gawang (beam) atau
sepasang alat pembuka (otter board). Disini jaring bergerak bersama kapal motor untuk
jangka waktu tertentu.
• Payang
Payang termasuk grup pukat kantong yaitu jaring yang memiliki kantong dan dua buah sayap.
Metode penangkapan ikan dilakukan dengan cara menarik pukat kantong tersebut ke arah
kapal yang berhenti atau ke arah daratan melalui kedua sayapnya. Dilihat dari konstruksi alat,
alat ini sama dengan trawl, tetapi mempunyai sayap lebih panjang dan berbeda dalam operasi
penangkapan, dimana trawl bergerak bersama – sama kapal sedangkan pukat kantong hanya
Landasan Teori
Produksi dan Fungsi Produksi
Untuk menghasilkan produksi (output) diperlukan bantuan kerjasama beberapa faktor
produksi sekaligus. Masalah ekonomi yang dihadapi adalah bagaimana petani dapat
mengkombinasikan faktor – faktor produksi tersebut agar tercapai efisiensi yang setinggi –
tingginya baik secara fisik maupun ekonomis (Mubyarto, 1994).
Hubungan fisik antara input dan output untuk suatu macam produksi dapat diungkapkan
dengan menggunakan konsep fungsi produksi. Fungsi produksi menunjukkan output atau
jumlah hasil produksi maksimum yang dapat dihasilkan per-satuan waktu dengan
menggunakan berbagai kombinasi sumber – sumber daya yang dipakai dalam produksi
(Reksoprayitno,2000).
Menurut Soekartawi (1993), dalam menunjang keberhasilan agribisnis, maka tersedianya
bahan baku secara kontiniu dalam jumlah yang tepat sangat diperlukan. Tersedianya produksi
ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain macam komoditi (X1) Kapasitas Kapal, (X2)
Lama melaut, (X3) Jumlah Tenaga Kerja. Secara matematis, pernyataan ini dituliskan sebagai
berikut:
Y = F (X1,X2,X3)
Fungsi produksi yang digunakan adalah fungsi produksi klasik the law of deminishing return
dimana model ini menjelaskan hubungan fungsional yang mengikuti hukum pertambahan
hasil yang semakin berkurang.
Salah satu model pengukuran produktifitas yang sering digunakan adalah pengukuran
berdasarkan pendekatan fungsi produksi Cobb – Douglas, yaitu suatu fungsi atau persamaan
yang melibatkan dua variabel atau lebih, variabel yang satu disebut variabel independent (Y)
Fungsi Cobb – Douglas adalah suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atau lebih
variabel, dimana variabel yang satu disebut dengan variabel dependen (yang dijelaskan/Y),
dan yang lain disebut variabel independen (yang menjelaskan/X) (Soekartawi,1993).
Soekartawi (2002) mendefinisikan fungsi produksi Cobb-Douglas adalah suatu fungsi atau
persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, dimana variabel yang satu disebut
dengan variabel dependen, yang dijelaskan (Y) dan yang lain disebut variabel independent,
yang menjelaskan (x). Bentuk umum dari fungsi Cobb-Douglas adalah sebagai berikut:
Y = β0 X1β1X2β2β... Xiβi... Xnβn eπ
Untuk menafsirkan parameter – parameternya harus ditransformasikan dalam bentuk double
logaritme natural (ln) sehingga merupakan bentuk linear berganda (multiple linear) yang
kemudian dianalisis dengan metode kuadrat terkecil (ordinary least square).
Ln Y = Ln β0 + β1 Ln X1 + β2 Ln X2 + β3 Ln X3 + e (Rahim dan Astuti,2007)
Hal penting dalam usaha penangkapan ikan yaitu pengelolaan input atau faktor – faktor
produksi (kapal, jaring, es balok, dan tenaga kerja) dengan efektif, efisien, dan kontiniu
untuk menghasilkan produksi yang tinggi sehingga pendapat usaha penangkapan
ikannya meningkat.
Soekartawi (1994) berpendapat bahwa pendapatan usaha tani adalah selisih antara
penerimaan dan semua biaya yang dikeluarkan.
Pd = TR – TC
Dimana :
Pd = Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan
TC = Total Biaya
Hal ini juga berlaku pada usaha penangkapan ikan dimana pendapatan ikan merupakan
pengurangan dari total penerimaan dengan total biaya. Pendapatan usaha penangkapan
ikan diperoleh dari perkalian jumlah produksi yang dijual dengan harga produk. Oleh
karena itu sifat penerimaan berhubungan dengan unit barang yang dijual dan harga
produk tersebut. Semakin banyak jumlah barang (dalam hal ini berupa ikan kembung,
senangin, puput, cincaru dan tongkol) dengan harga ikan kembung, senangin, puput,
cincaru, dan tongkol yang konstan maka diperoleh penerimaan usaha penangkapan ikan
yang tinggi sehingga keuntungan usaha penangkapan ikan juga tinggi.
Penerimaan usaha penangkapan ikan adalah perkalian antara jumlah hasil tangkapan
dengan harga jual.
Pernyataan tersebut dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut.
TR = Y x Py
Di mana :
TR : Total Renevue
Y : Output
Py : Price
(Rahim dan Hastuti, 2007).
Pengeluaran usaha sama artinya dengan biaya usaha. Biaya usaha penangkapan ini
merupakan pengorbanan yang dilakukan oleh produsen (petani, nelayan, dan peternak)
yang dilakukan oleh produsen (petani, nelayan, peternak) mengelola usahanya dalam
mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam hal ini, disebut usahatani untuk petanian
Soekartawi (1994) juga menjelaskan bahwa biaya usaha penangkapan ikan ini dapat
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap
(variable cost). Biaya tetap atau fixed cost umumnya diartikan sebagai biaya yang
relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun output yang diperoleh banyak
atau sedikit, misalnya pajak (tax). Biaya untuk pajak akan tetap dibayar walaupun hasil
usahatani itu gagal panen. Selain itu, biaya tetap dapat pula dikatakan biaya yang tidak
dipengaruhi oleh besarnya produksi komoditas pertanian, misalnya penyusutan alat dan
gaji karyawan. Jadi, biaya tetap tersebut bermacam – macam, tergantung
memberlakukan variabel itu sebagai biaya tetap antara lain kapal, mesin, dan
sebagainya.
Biaya tidak tetap atau biaya variabel (variabel cost) merupakan biaya yang besar-
kecilnya dipengaruhi oleh jumlah hasil tangkapan yang diperoleh misalnya biaya untuk
sarana produksi perikanan. Jika menginginkan produksi komoditas yang tinggi, faktor –
faktor biaya seperti tenaga kerja perlu ditambah dan sebagainya sehingga biaya itu
sifatnya akan berubah – ubah karena tergantung dari besar – kecilnya produksi
komoditas perikanan yang diinginkan, jadi dengan kata lain biaya tidak tetap dapat pula
diartikan sebagai biaya yang sifatnya berubah – ubah sesuai dengan besarnya komoditas
perikanan.
Kerangka Pemikiran
Usaha penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan di Kecamatan Teluk Nibung,
Kota Tanjung Balai umumnya berskala kecil (<10GT). Nelayan dengan kapasitas kecil
dibagi ke dalam 2 kelompok yaitu 3 – 5 GT dan 6 – 10 GT yang masing – masing
memiliki hasil tangkapan yang berbeda – beda. Produksi dalam hal ini merupakan hasil
trip). Faktor yang diduga berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan adalah kapasitas
kapal, lama melaut dan tenaga kerja. Jumlah hasil tangkapan ikan dan harga jual akan
mempengaruhi penerimaan usaha. Nilai penerimaan usaha adalah perkalian jumlah hasil
tangkapan dengan harga ikan. Dalam melakukan operasional usaha penangkapan ini
akan membutuhkan biaya yang disebut sebagai biaya produksi, yang akan
mempengaruhi keuntungan usaha. Keuntungan usaha penangkapan ikan diperoleh dari
hasil pengurangan penerimaan usaha dengan biaya produksi. Kerangka pemikiran ini
Keterangan:
: menyatakan pengaruh
--- : menyatakan hubungan
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Kegiatan Usaha Penangkapan Ikan Usaha Penangkapan
Ikan
3 – 5 GT 6 – 10 GT
Hasil Penangkapan
Hasil Penangkapan
Penerimaan Produksi
Harga
Kapasitas Kapal
Lama Melaut
Tenaga Kerja Tenaga
Kerja Lama Melaut Kapasitas Kapal
Biaya Operasional
Hipotesis Penelitian
Sesuai dengan landasan teori yang sudah diuraikan maka hipotesis penelitian diajukan
sebagai berikut :
1. Faktor – faktor yang berpengaruh nyata terhadap jumlah hasil tangkapan ikan adalah
kapasitas kapal.
2. Biaya operasional dan pendapatan nelayan kapal kapasitas 6 – 10 GT, lebih tinggi dari
METODE PENELITIAN
Metode Penentuan Daerah Penelitian
Daerah penelitian ditentukan secara purposive yaitu di Kecamatan Teluk Nibung, Kota
Tanjung Balai, dengan dasar pertimbangan bahwa kecamatan ini memiliki jumlah kapal
terbanyak diantara kecamatan yang ada di Kota Tanjung Balai. Adapun jumlah kapal pada
masing – masing kecamatan dijelaskan pada tabel 1 berikut.
Tabel 1. Jumlah Kapal di Kota Tanjung Balai
No. Kecamatan 3-5 GT 6-10 GT Total
1 Teluk Nibung 17 81 98
2 Tanjung Balai Selatan 4 72 76
3 Tanjung Balai Utara 3 19 22
4 Sei Tualang Raso 2 15 17
5 Datuk Bandar 9 3 12
6 Datuk Bandar Timur 0 7 7
TOTAL 35 197 232
Sumber : Dinas Perikanan Kota Tanjung Balai, 2012
Dari tabel 1 di atas, diketahui bahwa jumlah kapal bermesin kapasitas 3 – 5 GT ada 17 kapal,
sedangkan kapal berkapasitas 6 – 10 GT ada 81 kapal.
Metode Penentuan Sampel
Populasi dalam hal ini adalah nelayan kapal bermesin yang mengusahakan penangkapan ikan
sebagai mata pencaharian utamanya. Jumlah populasi nelayan yang memiliki kapal bermesin
kapasitas 3 – 10 GT sebanyak 98 kapal berdomisili di Kecamatan Teluk Nibung.
Besar sampel dalam penelitian ini ditetapkan sebanyak 30 sampel.Hal ini sejalan dengan apa
yang ditulis Nazir (2005) bahwa ukuran sampel yang dapat diterima berdasarkan metode
Selanjutnya sampel didistribusikan dalam 2 kelompok strata yaitu strata kapal bermesin
kapasitas 3 – 5 GT dan kapasitas 6 – 10 GT. Distribusi sub – populasi ini menggunakan
stratified random sampling, sebagaimana terlihat pada tabel 2 berikut.
Tabel 2. Jumlah Populasi dan Sampel Kapal Bermesin di Kecamatan Teluk Nibung
No Kapasitas Populasi Sampel
1 3 - 5 GT 17 5
2 6 - 10 GT 81 25
98 30
Sumber : Dinas Perikanan Kota Tanjung Balai, 2012
Metode Pengambilan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh dengan cara wawancara langsung dengan nelayan yang menjadi sampel dengan
menggunakan daftar kuisioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Data sekunder
diperoleh dari lembaga atau instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik Sumatera Utara,
BPS Kota Tanjung Balai dan Dinas Perikanan Kota Tanjung Balai. Data sekunder diperoleh
dengan mengisi form dan checklist sesuai dengan data yang diinginkan.
Model Analisis Data
Untuk masalah 1, dianalisis dengan mengukur faktor – faktor yang mempengaruhi jumlah
tangkapan ikan dengan menggunakan fungsi produksi Cobb Douglas. Bentuk model
matematis fungsi produksi Cobb Douglas yang dibentuk adalah sebagai berikut:
Y = A X1β1 X2β2 X3β3
Dalam menggunakan model ini, fungsi produksi diubah dalam bentuk linear. Untuk menguji
pengaruh variabel bebas (kapasitas kapal, lama melaut, dan tenaga kerja) terhadap jumlah
hasil tangkapan ikan, digunakan model matematis sebagai berikut:
Dimana :
Y = Jumlah Hasil Tangkapan Ikan (kg)
X1 = Kapasitas Kapal (GT)
X2 = Lama melaut (Jam)
X3 = Tenaga Kerja (HKP)
A = Konstanta
a1,…, a3 = Koefisien regresi
µ = Kesalahan pengguna
Uji Asumsi Ordinary Least Square (OLS) :
1. Multikolinearitas.
Istilah kolinearitas ganda (multicollinearity) menunjukkan adanya hubungan linear yang
sempurna atau eksak (perfect or exact) di antara variabel – variabel bebas dalam model
regresi. Istilah kolinearitas sendiri berarti hubungan linear tunggal (single linear
relationship), sedangkan kolinearitas ganda (multicollinearity) menunjukkan adanya lebih
dari satu hubungan linear yang sempurna (Supranto, 2004).
Akibat multikolinearitas adalah sebagai berikut :
a. Variasi dugaan Ordinary Least Square (OLS) besar.
b. Interval kepercayaan membesar (variasi yang besar menyebabkan Standart Error besar,
selanjutnya menyebabkan interval kepercayaan membesar).
c. Uji – t (t ratio) tidak signifikan.
d. R2 tinggi, secara serempak pengaruh variabel bebas melalui uji F signifikan, tetapi secara
parsial tidak banyak variabel yang signifikan dari uji t.
e. Hasil dugaan parameter tidak sesuai dengan substans, sehingga dapat menyesatkan
2. Heterokedastisitas
Menurut Supranto (2004), dalam regresi linear, salah satu asumsi yang harus dipenuhi agar
taksiran parameter dalam model tersebut bersifat BLUE adalah var (ui) = σ2 (konstan), semua
sesatan mempunyai fungsi yang sama. Padahal, ada kasus – kasus tertentu di mana variansi ui
tidak konstan, melainkan variabel (berubah – ubah).
3. Uji Normalitas
Pengujian normalitas adalah pengujian tentang kenormalan distribusi data. Penggunaan uji
normalitas karena pada analisis statistik parametrik, asumsi yang harus dimiliki oleh data
adalah bahwa data tersebut terdistribusi secara normal. Distribusi normal artinya data
memusat pada nilai rata - rata dan median. Menguji asumsi normalitas digunakan Uji
Kolmogorov-Smirnov (Uji K-S).
Untuk masalah 2, dianalisis dengan membandingkan biaya produksi dan pendapatan antara
usaha penangkapan ikan yang menggunakan mesin 3 – 5 GT dengan yang menggunakan
mesin 6 – 10 GT di daerah penelitian.
Biaya produksi dihitung dengan rumus:
TC = FC + VC
Di mana:
TC = Total Costs
FC = Fixed Cost
VC = Variable Cost
Untuk menghitung pendapatan digunakan rumus :
Pd = TR - TC
Pd = Pendapatan usaha penangkapan ikan
TR = Total Revenue
TC = Total Cost
Dimana Total Revenue didapat dari rumus:
R = Py . Y
Di mana :
R = Revenue
Py = Price
Y = Output
Perbedaan pendapatan dan biaya diuji dengan beda rata-rata independent samples T test. Data
yang diuji adalah antara pendapatan bersih atau biaya operasional penangkapan ikan kapal
kapsitas 3-5 GT dengan kapal kapasitas 6-10 GT. Data diolah dengan program SPSS.
Secara matematis, untuk mendapatkan t hitung digunakan rumus :
�ℎ�����= X�₁ – X�₂
�(�₁ −1) S�₁₁+2+ (�₂ −�₂ −2 1)�₂2 �n1₁+ 1 n₂�
Keterangan:
X1 = Rata-rata variabel 1 ( Pendapatan atau Biaya Operasional kapal kapasitas 3 – 5 GT)
X2 = Rata-rata variabel 2 ( Pendapatan atau Biaya Operasional kapal kapasitas 6 – 10 GT)
S1 = Varian sampel variabel 1 ( Pendapatan atau Biaya Operasional kapal kapasitas 3 – 5 GT)
S2 = Varian sampel variabel 2 ( Pendapatan atau Biaya Operasional kapal kapasitas 6 - 10
GT)
N2 = Jumlah sampel variabel 2 ( Pendapatan atau Biaya Operasional kapal kapasitas 6 - 10
GT)
Dengan kriteria uji :
• Jika t-hitung ≤ t-tabel, maka H0 ditolak dan H1 diterima.
(Ada perbedaan antara Pendapatan atau Biaya Operasional kapal kapasitas 3 – 5 GT dan 6
– 10 GT).
• Jika t-hitung ≥ t-tabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak.
(Tidak ada perbedaan antara Pendapatan atau Biaya Operasional kapal kapasitas 3 – 5 GT
dan 6 – 10 GT).
(Sugiono, 2006).
Defenisi dan Batasan Operasional
Supaya tidak terjadi perbedaan pengertian atau kekurangjelasan makna maka berikut
dituliskan defenisi dari variabel dan batasan opersional.
Defenisi
1. Produksi adalah jumlah hasil yang diperoleh dari kegiatan penangkapan ikan dihitung
dalam satuan Kg.
2. Sarana produksi adalah komponen yang digunakan dalam melakukan usaha penangkapan
ikan dalam hal ini adalah kapal, es, bbm, tenaga kerja.
3. Pendapatan usaha penangkapan ikan adalah penerimaan setelah dikurangi dengan biaya
operasional dalam satuan Rp.
4. Penerimaan adalah jumlah hasil penangkapan ikan dikali dengan harga jual ikan.
6. Biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan nelayan selama proses penangkapan
ikan dalam 1 kali perjalanan ( 1 trip).
7. 1 trip adalah satu kali perjalanan pulang – pergi
Batasan Operasional
1. Sampel penelitian adalah nelayan yang bermata pencaharian utama penangkap ikan.
2. Daerah penelitian adalah Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjung Balai.
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL
Deskripsi Daerah Penelitian
Luas dan Letak Geografi
Tanjung Balai yang dikenal dengan sebutan kota kerang terletak 184 km dari ibukota
Provinsi Sumatera Utara. Berada di kawasan Pantai Timur dan seluruh wilayahnya dikelilingi
oleh Kabupaten Asahan. Secara astronomis berada antar 2˚55’15” dan 3˚01’30” Lintang
Utara serta 99˚ 45’15” Bujur Timur. Luas Wilayah Tanjung Balai adalah 60,52 km2 atau
0,09 persen dari total luas daratan provinsi Sumatera Utara. Kota Tanjung Balai terdiri 6
Kecamatan, yaitu:
1. Kecamatan Datuk Bandar
2. Kecamatan Datuk Bandar Timur
3. Kecamatan Tanjung Balai Selatan
4. Kecamatan Tanjung Balai Utara
5. Kecamatan Sei Tualang Raso
6. Kecamatan Teluk Nibung
Kota Tanjung Balai berada pada wilayah dataran rendah dengan ketinggian antara 1 - 3 meter
dari permukaan laut, posisinya berada disepanjang tepi Sungai Berawa dan dipengaruhi oleh
pasang surut air laut. Secara administratif, Kota Tanjung Balai mempunyai batas – batas
wilayah sebagai berikut :
• Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Balai, Kabupaten Asahan
• Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Asahan
• Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Asahan
Kota Tanjung Balai tergolong daerah beriklim tropis dengan suhu udara rata – rata berkisar
25˚C sampai dengan 32˚C dipengaruhi oleh musim kemarau dan musim hujan, sebagaimana
[image:33.595.79.470.176.356.2]dapat dilihat pada table 3 berikut.
Tabel 3. Luas wilayah menurut Kecamatan di Kota Tanjung Balai
No. Kecamatan Luas Area (Ha) Ratio (%)
1. Datuk Bandar 2.249 37,16
2. Datuk Bandar Timur 1.457 24,07
3. Tj Balai Selatan 198 3,27
4. Tj. Balai Utara 84 1,39
5. Sei Tualang Raso 809 13,37
6. Teluk Nibung 1.255 20,74
Tanjung Balai 6.052 100,00 Sumber: Tanjung Balai dalam Angka tahun 2012
Keadaan Penduduk
Jumlah penduduk Kota Tanjung Balai tercatat sebanyak 33.023 KK dengan jumlah
seluruhnya sebesar 155.889 jiwa, yang terdiri dari laki - laki 78.651 jiwa dan perempuan
77.238 jiwa. Keadaan penduduk menurut kelompok umur dapat dilihat pada tabel 4 berikut.
Tabel 4. Keadaan Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kota Tanjung Balai
No Kelompok Umur Jumlah Persentase (%)
1 0 – 4 17.641 11,32
2 5 – 9 18.625 11,95
3 10 – 14 17.482 11,21
4 15 – 19 15.496 9,94
5 20 – 24 13.473 8,64
6 25 – 29 12.907 8,28
7 30 – 34 12.158 7,80
8 35 – 39 11.033 7,08
[image:33.595.68.526.542.758.2]10 45 – 49 8.108 5,20
11 50 – 54 6.567 4,21
12 55 – 59 4.795 3,08
13 60 – 64 3.188 2,04
14 65 – 69 2.060 1,32
15 70 – 74 1.552 1,00
16 75 + 1.430 0,92
Jumlah 155.889 100,00
Sumber : Tanjung Balai dalam Angka 2012
Dari table 4 diatas diketahui bahwa jumlah penduduk di Kota Tanjung Balai yang ada dalam
kelompok usia produktif (15 – 54 tahun) berjumlah 89.116 jiwa atau sebesar 57,16% dari
jumlah penduduk yang ada.
Kelompok umur <15 tahun berjumlah 53.748 jiwa atau sebesar 34,47% sedangkan yang ada
dalam kelompok umur > 54 tahun ada sebanyak 13,025 jiwa atau 8,37 %.
Karakteristik Sampel
Sampel penelitian adalah nelayan yang melakukan usaha penangkapan ikan di Kecamatan
Teluk Nibung Kota Tanjung Balai. Karakteristik nelayan meliputi umur, pendidikan, dan
pengalaman melaut. Karakteristik nelayan sampel di Kota Tanjung Balai dapat dilihat pada
[image:34.595.69.529.71.240.2]tabel 5 berikut.
Tabel 5. Karakteristik Sampel di Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjung Balai
No Uraian Range Rata – rata
1 Umur Nelayan (Tahun) 22 – 47 35
2 Pendidikan Nelayan (Tahun) 6 – 12 10
3 Pengalaman Melaut (Tahun) 10 – 38 25
Sumber : Analisis Data Primer ( Lampiran 1)
Dari tabel 5 diatas dapat dikemukakan bahwa rata – rata umur nelayan yang melakukan usaha
penangkapan ikan di daerah penelitian adalah 35 tahun (range 22 – 47). Nelayan ini masih
dalam kelompok usia produktif sehingga dari segi fisik masih mampu mengerjakan usaha
Kecamatan Teluk Nibung, Kota Tanjung Balai rata – rata 10 tahun. Lama pengalaman
pendidikan nelayan ini setara dengan lulusan sekolah menengah pertama (SMP). Usaha
penangkapan ikan sudah cukup lama dijalankan oleh nelayan di Kecamatan Teluk Nibung,
PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA PENANGKAPAN IKAN
Kegiatan Operasional
Usaha penangkapan ikan laut meliputi kegiatan persiapan berangkat ke laut, penangkapan
ikan di laut dan penyortiran sampai penjualan hasil tangkap ikan di tempat pendaratan kapal
atau di TPI (Tempat Pelelangan Ikan).
Persiapan Berangkat Ke Laut
Sebelum nelayan berangkat ke laut, ada beberapa hal yang harus dilakukan yaitu :
membersihkan perahu, memeriksa keadaan kapal dan mesin perahu, serta memeriksa keadaan
alat tangkap hingga dapat dipastikan keadaan yang benar – benar siap melaut. Persiapan lain
yang dilakukan adalah mengisi bahan bakar, mempersiapkan es serta mempersiapkan
komsumsi selama melaut. Adapun perlengkapan lain yang dibawa seperti tenda, alat
penerang, fiber, jerigen, dan lain – lain.
Kegiatan Penangkapan
Kegiatan penangkapan dalam hal ini menyangkut waktu melaut, daerah operasional, jumlah
awak kapal, dan hasil tangkapan dan penyortiran.
• Waktu Melaut
Waktu melaut adalah saat nelayan bergerak dari pantai menuju daerah operasi penangkapan
ikan. Waktu melaut bagi nelayan perahu motor tidak tergantung pada keadaan angin darat
karena adanya mesin pada perahu motor, sedangkan tanpa motor sesuai dengan angin darat
atau cuaca karena nelayan perahu tanpa motor mengandalkan angin darat atau cuaca. Kapal
berkapasitas 3 – 5 GT perahu berangkat subuh sampai pagi hari dimana lama melaut tidak
• Daerah Operasional
Daerah operasional penangkapan (fishing ground) di laut mulai dari perairan dekat hingga
laut lepas. Terdapat zona penangkapan sesuai dengan kondisi armada penangkapan ikan. Rata
– rata kawasan operasional penangkapan ikan masih zona aman. Perbedaan besarnya
Gross Tonage (GT) perahu serta daya mesin perahu serta alat tangkap menentukan
kemampuan nelayan dalam beroperasi di laut.
• Jumlah Awak Kapal
Dalam usaha penangkapan ikan, jumlah awak kapal disesuaikan dengan besar kapasitas
perahu. Kapal kapasitas 3 – 5 GT memiliki jumlah awak kapal ≤ 7 orang sedangkan kapal
kapasitas 6 – 10 GT memiliki jumlah awak ≥ 8 orang.
• Hasil Tangkapan Ikan Dan Penyortiran
Jenis tangkapan ikan yang diperoleh kapal kapasitas 3 GT hingga 10 GT bervariasi. Jenis
ikan yang di tangkap mulai dari jenis kembung, senangin, puput, gulama, tongkol, kepiting,
cincaru, trisi, tenggiri hingga hiu. Harga setiap jenis ikan berbeda – beda mulai dari Rp.
2.000,- hingga Rp. 10.000,- .
Hasil penangkapan ikan terlebih dahulu di sortir lalu di jual ke TPI. Nelayan tidak mematok
harga jual, namun pedagang besar yang menentukan harga pasar. Nelayan hanya menjual
hasil tangkapan yang baik dan bermutu, yang lain hasil tangkapan yang rusak / tidak layak
masuk pasar di konsumsi sendiri.
Penjualan Hasil Tangkapan Di Tempat Pelelangan Ikan
Setelah proses penangkapan ikan selesai, nelayan kembali ke darat dan berlabuh di Tempat
ikan. Pendapatan dari hasil penjualan setelah dikurangi biaya melaut selanjutnya dibagi
antara buruh nelayan dengan pemilik kapal sesuai dengan bagi hasil yang telah disepakati.
Analisis Usaha Penangkapan Ikan
Analisis terhadap usaha penangkapan yang dilakukan di daerah penelitian adalah dengan
menguraikan secara rinci komponen penerimaan dan biaya produksi yang kemudian
dilanjutkan dengan menghitung pendapatan bersih usaha penangkapan. Analisis penangkapan
[image:38.595.71.498.320.571.2]ikan ini diuraikan pada tabel 6 berikut.
Tabel 6. Analisis Hasil Usaha Penangkapan Ikan Per Trip
No Uraian Per Kapasitas Kapal
3 - 5 GT 6 - 10 GT
Fisik Nilai Fisik Nilai
1 Produksi (Kg) 342 3474
2 Harga 1 Kg Rp.5.562 1 Kg Rp. 8.312
3 Penerimaan Rp. 2.662.000 Rp.5.623.800
4 Biaya Produksi
- Es 3Btg Rp. 51.000 10Btg Rp. 163.880
- Bbm 27 L Rp. 118.320 59 L Rp. 303.502
- Konsumsi 6 org Rp. 292,000 10 org Rp. 1.239.096
Tenaga Kerja 5HKP Rp. 1.688.000 6HKP Rp. 4.318.000
5 Penyusutan Rp. 101.847 Rp. 195.629
6 Total Biaya Rp.634.527 Rp. 1.478.190
7 Pendapatan Bersih Rp. 2.027.473 Rp. 4.145.610
HASIL DAN PEMBAHASAN
Faktor – faktor yang Mempengaruhi Jumlah Hasil Penangkapan Ikan di Daerah Penelitian
Untuk menganalisis faktor - faktor yang mempengaruhi jumlah hasil penangkapan ikan di
daerah penelitian dilakukan dengan mengregresikan variabel kapasitas kapal (X1) , lama
menggunakan model analisis Cobb – Douglas dengan bantuan program perangkat lunak
SPSS.
[image:39.595.81.511.198.347.2]Hasil estimasi model Cobb – Douglas tersebut diperlihatkan pada table 7 berikut.
Tabel 7. Estimasi Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Hasil Penangkapan Ikan
Koef. Regresi Std. Error t - hitung Sig. Ket
Kapasitas Kapal 1.199 0.079 15.266 0.000 Nyata
Lama Melaut 0.036 0.228 0.159 0.875 Tidak Nyata
Tenaga Kerja 0.041 0.167 0.247 0.807 Tidak Nyata
Konstanta = 3 ,902
F – tabel = 2,30 ; F – hitung = 186,800
T – tabel = 1,70
R2 = 0,956
Sumber : Hasil Analisis Data Primer ( Lampiran 7 )
Berdasarkan tabel 7 di atas, maka persamaan fungsi hasil penangkapan ikan yang diperoleh
adalah sebagai berikut :
LnY = Ln 3,902 + 1,199 LnX1 + 0,036 LnX2 + 0, 041 LnX3
Y = 1,361 X11,199 X20,036 X30,041
Dari hasil estimasi di atas, diketahui 1 faktor yang berpengaruh nyata terhadap hasil
penangkapan ikan di daerah penelitian yaitu variabel kapasitas kapal (X1) sedangkan variabel
input lain yang berpengaruh tidak nyata adalah lama melaut (X2) dan Tenaga Kerja (X3).
Sebelum melakukan analisis maka sebelumnya dilakukan uji asumsi klasik yang bertujuan
untuk mengetahui apakah data tersebut terdistribusi secara normal, terbebas dari
multikolinearitas dan heterokedastisitas.
Uji Asumsik Klasik
Uji Normalitas adalah untuk memperlihatkan bahwa data sampel berasal dari populasi data
yang berdistribusi normal. Teknik yang digunakan untuk menguji normalitas data adalah uji
[image:40.595.87.459.172.325.2]Kolmogorov – Smirnov. Berikut diperlihatkan tabel ujinormalitas Kolmogorov – Smirnov :
Tabel 8. Uji Normalitas dengan Metode Kolmogorov - Smirnov
Unstandardized Residual
N 30
Normal Parametersa Mean 6.393 Std. Deviation 0.369 Most Extreme Differences Absolute 0.115 Positive 0.103
Negative -0.115
Kolmogorov-Smirnov Z 0.627 Asymp. Sig. (2-tailed) 0.826 Sumber : Hasil Analisis Data Primer ( Lampiran 7 )
Data dikatakan terdistribusi normal jika nilai signifikansi yang diperoeh ≥ α(0,05) (Gurajati,
2011). Dari tabel di atas, diperlihatkan bahwa nilai signifikansi yang diperoleh (Asymp. Sig)
sebesar 0,826 > 0,05. Ini memberikan arti bahwa data yang digunakan terdistribusi secara
normal, oleh karenanya data ini memenuhi sayarat untuk dianalisis lebih lanjut.
- Multikolinearitas
Multikolinearitas adalah keadaan yang menunjukkan adanya hubungan linear yang sempurna
atau eksak ( perfect or exact ) di antara variabel – variabel bebas dalam model regresi.
Adanya multikolinearitas diketahui dengan melihat nilai tolerance atau nilai VIF. Bila nilai
tolerasi kurang dari 0,1 dan VIF melebihi 10, artinya tidak terjadi multikolinearitas antar
variabel (Gurajati, 2011). Berikut ditampilkan tabel 9 uji multikolinearitas :
Tabel 9. Uji Multikolinearitas Antar Variabel
Tolerance VIF
1 Kapasitas Kapal 0.414 2.416
2 Lama Melaut 0.199 5.018
3 Jumlah Personil 0.195 5.118
Dari tabel di atas diperoleh nilai tolerence lebih besar dari 0,1 dan nilai VIF tidak lebih besar
dari 10, oleh karena itu maka dapat disimpulkan bahwa terjadi multikolinearitas antar
variable yang digunakan.
- Heterokedastisitas
Untuk mengetahui penelitian ini terjadi heterokedastisitas adalah dengan melihat scatter plot.
Heterokedastisitas terjadi bila ada titik – titik terbesar yang membentuk pola tertentu. Berikut
[image:41.595.89.467.367.606.2]adalah gambar scatter plot dari faktor – faktor yang mempengaruhi di daerah penelitian.
Gambar 2. Scatter Plot dari Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Produksi
Dari gambar di atas, titik – titik pada scatter plot menyebar tanpa membentuk pola tertentu.
Berdasarkan hasil analisis uji asumsi klasik di atas, maka dapat disimpulkan bahwa data yang
diolah telah terdistribusi secara normal, bebas dari multikolinearitas dan heterokedastisitas.
Selanjutnya, dilakukan uji kesesuaian model pada data di atas yang dijelaskan pada uraian
berikut.
Uji Kesesuaian Model ( Test Goodness of Fit )
- Analisis Koefisien Determinasi ( Uji R – Square )
Dari hasil estimasi yang dilakukan dengan menggunakan SPSS diperoleh koefisien
determinasi (R2) sebesar 0,956 artinya hasil produksi penangkapan ikan dapat dijelaskan
oleh variabel kapasitas kapal, lama melaut, dan tenaga kerja sebesar 95,6 %, sisanya sebesar
4,4% dijelaskan oleh faktor – faktor lain yang tidak dimasukan ke dalam model.
- Uji – F ( Uji Serempak )
Uji signifikansi pengaruh kapasitas kapal, lama melaut, dan tenaga kerja secara serempak
terhadap jumlah hasil penangkapan ikan diambil pada taraf nyata 95 % atau α(0,05). Pengaruh
dari variabel input secara serempak dikatakan nyata bila nilai Fhitung > F tabel atau nilai
signifikansi yang diperoleh < α(0,05. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Fhitung yang
diperoleh sebesar 186,800 > F table (2,30) serta nilai siginifikansi diperoleh sebesar 0,00 <
α(0,05). Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa variabel kapasitas kapal, lama melaut, dan
tenaga kerja secara serempak berpengaruh nyata terhadap jumlah hasil penangkapan ikan.
Uji – t ( Uji Parsial )
Secara parsial pengaruh faktor produksi terhadap jumlah hasil tangkapan diuji dengan
menggunakan uji t :
• Variabel kapasitas kapal (X1) berpengaruh nyata terhadap jumlah hasil penangkapan ikan
Dengan demikian disimpulkan bahwa kapasitas kapal berpengaruh nyata terhadap jumlah
hasil pengangkapan ikan. Koefisien variabel kapasitas kapal (X1) sebesar 1,199 artinya
penambahan kapasitas kapal sebesar 1% maka akan menaikan jumlah hasil tangkapan
ikan sebesar 1,199 %.
• Variabel lama melaut (X2) tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah hasil penangkapan
ikan (Y), karena nilai t hitung = 0,159 < t tabel = 1, 66 atau nilai signifikansi variabel lama
melaut = 0,875>0,05. Dengan demikian disimpulkan bahwa variabel lama melaut tidak
berpengaruh nyata terhadap jumlah hasil penangkapan ikan.
• Variabel tenaga kerja (X3) tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah hasil penangkapan
ikan (Y), karena nilai t – hitung = 0, 247 < t – tabel 1,66 atau nilai signifikasi variabel
tenaga kerja = 0, 807 > 0,05. Dengan demikian disimpulkan bahwa variabel tenaga kerja
tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah hasil penangkapan ikan.
Perbedaan Biaya Operasional Dan Pendapatan Antara Nelayan Menggunakan Kapal Kapasitas 3–5 GT dengan Kapal Kapasitas 6 -10 GT .
Pendapatan bersih hasil usaha penangkapan ikan adalah penerimaan dikurangi dengan total
biaya operasional yang dikeluarkan, dihitung dalam satuan rupiah. Dalam penelitian ini,
pendapatan bersih yang diterima oleh nelayan adalah pendapatan usaha penangkapan ikan
untuk sekali berlayar (1 trip). Berikut ini ditampilkan tabel rata – rata pendapatan bersih hasil
penangkapan ikan untuk nelayan yang menggunakan kapal kapasitas 3–5 GT dan kapasitas
kapal 6–10 GT.
Tabel 10. Rata – Rata Penerimaan, Biaya Produksi dan Pendapatan Bersih Hasil Produksi Penangkapan Ikan di Kec. Teluk Nibung
No. Uraian 3 - 5GT (Rp) 6 - 10GT (Rp)
1. Penerimaan 2.662.000 5.623.800
[image:43.595.71.514.687.775.2]Sumber : Data primer diolah ( Lampiran 6 )
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa pendapatan bersih usaha penangkapan ikan dalam
sekali melaut yang menggunakan kapal kapasitas 3- 5 GT adalah sebesar Rp. 2.027.473
sedangkan yang menggunakan kapal kapasitas 6 – 10 GT adalah sebesar Rp. 4.145.610.
Untuk melihat perbandingan kelayakan usaha penangkapan ikan yang menggunakan kapal
kapasitas 3-5GT dengan 6-10 GT, dilakukan membandingkan niali R/C antara kapasitas 3-5
GT dengan 6-10 GT. Nilai R/C Ratio merupakan perbandingan antara total penerimaan
dengan total biaya. Berikut adalah hasil perhitungan R/ C Ratio untuk kedua kapasitas kapal.
• R / C Ratio usaha penangkapan ikan menggunakan kapal kapasitas 3-5 GT
� �
� �����= �� ��
=2.662.000 634.527
= 4,19
• R / C Ratio usaha penangkapan ikan menggunakan kapal kapasitas 6-10 GT
� �
� �����= �� ��
=5.623.800 1.478.190
= 3,8
Dari hasil perhitungan di atas diketahui bahwa usaha penangkapan dengan menggunakan
kedua jenis kapasitas kapal tersebut, layak untuk diusahakan, karena nilai R/C yang diperoleh
Dari tabel 10, diketahui bahwa pendapatan bersih kapal kapasitas 6 – 10 GT lebih besar dari
kapal berkapasitas 3 – 5 GT.
Untuk menguji nyata atau tidaknya perbedaan antara kedua kapasitas kapal ini maka
dilakukan uji beda rata – rata serta dengan membandingkan nilai signifikansi (Sig) dengan
tingkat kepercayaan α(0,05). Jika nilai sig > 0,05 berarti kedua kelompok memiliki varian yang
sama (tidak berbeda). Jika Sig < 0,05 maka kedua kelompok memiliki varian yang tidak sama
(berbeda).
Hasil uji beda pendapatan bersih usaha penangkapan ikan antar kapasitas kapal diperlihatkan
[image:45.595.95.506.390.524.2]pada tabel 11 berikut.
Tabel 11. Independent Samples Test (Uji Homogenitas model Levene’s)
F Sig. t df Sig. (2-tailed)
Pendapatan Equal variances assumed
9.591 0.004 -3.004 28 0.006
Equal
variances not assumed
-5.487 20.033 0.000
Sumber : Hasil Data Primer (Lampiran 6 )
Sebelum dilakukan uji independent sampel test, maka dilakukan uji homogenitas model
Levene’s untuk mengetahui jenis varian data sama ( atau berbeda). Bila sama maka akan
digunakan uji T Equal variances assumed, bila berbeda maka digunakan Equal variances not
assumed. Hasil uji homogenitas ini dilihat dari nilai F atau nilai signifikansi. Pada tabel
Independent T Test diketahui bahwa nilai signifikansi untuk variabel pendapatan adalah 0,04,
berarti < 0,05. Karena nilai signifikansi < 0.05 maka disimpulkan varian data adalah
berbeda. Oleh karena kedua kelompok data memiliki varian yang tidak sama (berbeda), maka
Tabel 11, menunjukkan bahwa nilai t-hitung (-5,487) < nilai t-tabel (2,048), maka dengan
demikian pada tingkat kepercayaaan 95% (Nilai Signifikansi 0,05) dapat disimpulkan bahwa
hipotesis 2 yang menyatakan terdapat perbedaan nyata antara pendapatan bersih usaha penangkapan ikan dengan kapal kapasitas 3 -5 GT dengan kapal kapasitas 6 – 10 GT di
daerah penelitian dapat diterima. Dalam hal ini pendapatan bersih usaha penangkapan ikan menggunakan kapal kapasitas 6 – 10 GT, lebih tinggi dari pendapatan bersih usaha penangkapan ikan menggunakan kapal kapasitas 3 – 5 GT
Dari tabel 10, diketahui bahwa biaya operasional kapal kapasitas 6 – 10 GT lebih besar dari
kapal berkapasitas 3 – 5 GT.
Untuk menguji nyata atau tidaknya perbedaan biaya operasional antara kedua kapasitas kapal
ini maka dilakukan uji beda rata – rata serta dengan membandingkan nilai signifikansi (Sig)
dengan tingkat kepercayaan α(0,05). Jika nilai sig > 0,05 berarti kedua kelompok memiliki
varian yang sama (tidak berbeda). Jika Sig < 0,05 maka kedua kelompok memiliki varian
yang tidak sama (berbeda).
Hasil uji beda biaya operasional usaha penangkapan ikan antar kapasitas kapal diperlihatkan
[image:46.595.71.522.598.668.2]pada tabel 12 berikut.
Tabel 12. Independent Samples Test (Uji Homogenitas model Levene’s)
F Sig. t Df
Sig. (2-tailed)
Biaya Equal variances assumed 1.515 0.229 -4.712 28 .000
Equal variances not
assumed -7.647 13.256 .000
Pada tabel Independent T Test diketahui bahwa nilai signifikansi untuk variabel biaya
varian data adalah sama. Oleh karena kedua kelompok data memiliki varian yang sama (tidak
berbeda), maka keputusan uji dilihat pada nilai t dan signifikansi pada kolom Equal variances
assumed.
Tabel 11, menunjukkan bahwa nilai t-hitung (-4,712) < nilai t-tabel (0,418), maka dengan
demikian pada tingkat kepercayaaan 95% (Nilai Signifikansi 0,05) dapat disimpulkan bahwa
hipotesis 2 yang menyatakan terdapat perbedaan nyata antara biaya operasional usaha penangkapan ikan dengan kapal kapasitas 3 -5 GT dengan kapal kapasitas 6 – 10 GT di
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari analisis yang dilakukan terhadap usaha penangkapan ikan di Kecamatan Teluk Nibung
Kota Tanjung Balai, maka diperoleh kesimpulan :
1. Faktor yang berpengaruh nyata terhadap jumlah hasil tangkapan ikan di daerah penelitian
adalah variabel kapasitas kapal, sedangkan variabel lama melaut dan tenaga kerja tidak
berpengaruh nyata.
2. Biaya operasional penangkapan dan pendapatan usaha penangkapan ikan yang
menggunakan kapal berkapasitas 6–10 GT berbeda nyata dengan kapasitas 3–5 GT di
daerah penelitian. Pendapatan bersih dan biaya operasional kapal kapasitas 6-10 GT lebih
tinggi dari pendapatan bersih dan biaya operasional kapal kapasitas 3-5 GT.
Saran
1. Agar lebih mengefektifkan waktu dalam kegiatan penangkapan ikan (selama melaut),
sehingga lebih produktif dan efisien dalam rangka meningkatkan jumlah hasil tangkapan
ikan.
2. Agar lebih memaksimalkan produktifitas awak kapal (tenaga kerja) sehingga jumlah hasil
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, H. 1999. Strategi Mengelola Sumberdaya Hayati Laut Indonesia. Dalam Seminar Reformasi Format Pengelolaan Sumberdaya Hayati Laut yang berkelanjutan dan Berbasis Ekonomi Kerakyatan 8 Hal.
Anonimusa, 2009. (wikipedia). Perikanan.id.wikipedia.org/wiki/Perikanan
Anonimusb, 2004. Kebutuhan Ikan Nasional 9,5 Ton Juta.
Nasional Indonesia, Istilah dan Definis Kapal Perikanan No. SNI 7277.2:2008, Badan Standarisasi Nasional, 2008
Anonimusc, 2011. Kota Tanjung Balai. Diakses dari
april 2013, 18.00 WIB]
Anonimusd, 2013. Jenis – jenis alat tangkap dan pengoperasiannya. Diakses dari
Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatera Utara. 2001. Statistik Perikanan Tangkap, Medan.
Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatera Utara. 2007. Statistik Perikanan Tangkap, Medan.
Evy, R, Endang Mujiutami, dan K Sujono. 2001. Usaha Perikanan di Indonesia, Mutiara Sumber Widja, Jakarta.
Gurajati, Z. 2011. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Nazim. 2005. Metode Penelitian. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Rahim, A dan Hastuti, D.R.D, 2007. Ekonomi Pertanian ( Pengantar, teori, dan Kasus ). Jakarta: Penebar Swadaya.
Rangkuti. 1995. Analisis Faktor – faktor yang mempengaruhi Pendapatan Nelayan, Pasca Sarjana KPK, IPB – USU, Bogor.
Reksoprayitno, Soediyono. 2000. Pengantar Ekonomi Makro. Yogyakarta : BPFE Yogyakarta.
R. L. Strokes. 1979. Pembatasan Upaya Penangkapan Ikan. PT. Gramedia, Jakarta.
Soekartawi. 1993. Agribisnis dan Teori Aplikasinya. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Soekartawi. 1994. Pembangunan Pertanian. Rajagrafindo Persada, Jakarta.
Sugiono, 2010. Metode Penelitian Kualitatif, Kuantatif dan HRD, cetakan ke 11. Alpha Beta. Bandung.
Supranto, J. 2004. Teknik Riset Pemasaran dan Ramalan Penjualan. Jakarta : Melton Putra.
Wiadnya, D.G. R. Dkk. 2009. Kajian Kebijakan Pengelolaan Perikanan tangkap di Indonesia: Menuju Pembentukan Kawasan Perlindungan Laut. JPBTUNITOMO: Surabaya
Lampiran 1. Karakteristik Nelayan Sampel Penangkapan Ikan di Kota Tanjung Balai Tahun 2012
No. Kapasitas Usia
Lama pendidikan
Pengalaman Nelayan
Sampel (Tahun) (Tahun) (Tahun)
1 3GT 22 12 10
2 4GT 24 12 12
3 4GT 25 6 19
4 5GT 26 6 20
5 5GT 33 12 21
6 6GT 35 12 23
7 6GT 37 12 25
8 6GT 27 6 21
9 6GT 28 12 16
10 6GT 30 9 21
11 6GT 36 12 24
12 6GT 38 12 26
13 6GT 39 12 27
14 6GT 34 9 25
15 6GT 34 12 22
16 7GT 35 9 24
17 7GT 32 12 20
18 7GT 35 9 26
19 7GT 36 9 27
20 7GT 38 9 32
21 9GT 36 9 27
22 9GT 42 9 33
23 9GT 44 9 35
24 9GT 42 12 30
25 9GT 41 9 32
26 9GT 40 12 28
27 10GT 37 12 25
28 10GT 32 12 20
29 10GT 47 9 38
30 10GT 45 9 36
Total 1050 306 745
No .
Kapasitas
Kembung Senangin Puput Gulama
Volume(kg) Harga (Rp) Jumlah (Rp) Volum e (kg) Harga (Rp) Jumlah
(Rp) Volume(Kg)
Harga (Rp)
Jumlah
(Rp) Volume(Kg)
Harga (Rp)
Jumlah (Rp)
1 3GT 70 9,000 630,000 150 10,000 1,500,000 - - - -
2 4GT 150 9,000 1,350,000 - - - 80 3,000 240,000 50 4,000 200,000
3 4GT 100 9,000 900,000 80 10,000 800,000 80 3,000 240,000 100 4,000 400,000
4 5GT 200 9,000 1,800,000 100 10,000 1,000,000 - - - -
5 5GT 150 9,000 1,350,000 150 10,000 1,500,000 - - - 100 3,000 300,000
6 6GT 250 9,000 2,250,000 150 10,000 1,500,000 100 3,000 300,000 - - -
7 6GT 200 9,000 1,800,000 150 10,000 1,500,000 100 3,000 300,000 - - -
8 6GT 200 9,000 1,800,000 200 10,000 2,000,000 100 3,000 300,000 50 3,000 150,000
9 6GT 200 9,000 1,800,000 100 10,000 1,000,000 100 3,000 300,000 100 3,000 300,000
10 6GT 200 9,000 1,800,000 150 10,000 1,500,000 - - - 100 3,000 300,000
11 6GT 200 9,000 1,800,000 150 10,000 1,500,000 100 3,000 300,000 - - -
12 6GT 200 9,000 1,800,000 100 10,000 1,000,000 - - - 50 3,000 150,000
13 6GT 250 9,000 2,250,000 100 10,000 1,000,000 100 3,000 300,000 100 3,000 300,000
14 6GT 200 10,000 2,000,000 100 10,000 1,000,000 50 3,000 150,000 100 3,000 300,000
15 6GT 200 9,000 1,800,000 150 10,000 1,500,000 100 3,000 300,000 50 3,000 150,000
16 7GT 300 10,000 3,000,000 150 10,000 1,500,000 - - - 100 3,000 300,000
17 7GT 250 10,000 2,500,000 100 10,000 1,000,000 100 3,000 300,000 80 3,000 240,000
18 7GT 250 9,000 2,250,000 150 10,000 1,500,000 50 3,000 150,000 50 4,000 200,000
19 7GT 250 9,000 2,250,000 200 10,000 2,000,000 100 2,500 250,000 100 3,000 300,000
20 7GT 300 10,000 3,000,000 150 10,000 1,500,000 100 3,000 300,000 - - -
21 9GT 400 10,000 4,000,000 200 10,000 2,000,000 100 3,000 300,000 60 3,000 180,000
22 9GT 350 10,000 3,500,000 - - - 50 2,000 100,000 100 2,500 250,000
23 9GT 400 10,000 4,000,000 200 10,000 2,000,000 100 3,000 300,000 60 4,000 240,000
24 9GT 450 10,000 4,500,000 250 10,000 2,500,000 100 2,500 250,000 50 3,000 150,000
25 9GT 500 9,000 4,500,000 300 10,000 3,000,000 50 3,000 150,000 - - -
26 9GT 400 9,000 3,600,000 300 10,000 3,000,000 100 3,000 300,000 80 3,000 240,000
27 10GT 450 10,000 4,500,000 300 10,000 3,000,000 100 3,000 300,000 150 2,500 375,000
28 10GT 600 9,000 5,400,000 300 10,000 3,000,000 - - - 200 3,000 600,000
29 10GT 500 10,000 5,000,000 - - - 50 2,000 100,000 100 2,500 250,000
30 10GT 500 10,000 5,000,000 200 10,000 2,000,000 60 3,000 180,000 50 3,000 150,000
Total 8,670 281,000 82,130,000 4,630 270,000 46,300,000 1,970 66,000 5,710,000 1,980 71,500
6,025,00 0
Rataan 289 9,367 2,737,667 154 9,000 1,543,333 66 2,200 190,333 66 2,383 200,833
Lampiran 2 (Lanjutan). Jumlah Hasil Tangkapan dan Harga Per Nelayan di Kota Tanjung Balai tahun 2012
No .
Kapasit as
Tongkol Kepiting Cincaru Trisi
Volume (Kg) Harga (Rp) Jumlah (Rp) Volume (Kg) Harga (Rp) Jumlah (Rp) Volume (Kg) Harga (Rp) Jumlah (Rp) Volume(K g) Harga (Rp) Jumlah (Rp)
1 3GT - - - -
2 4GT - - - 50 6,000 300,000
3 4GT - - - -
4 5GT - - - 50 6,000 300,000 - - -
5 5GT - - - -
6 6GT - - - -
7 6GT 100 8,000 800,000 - - - -
8 6GT - - - -
9 6GT - - - -
10 6GT 100 8,000 800,000 - - - -
11 6GT - - - -
12 6GT 100 8,000 800,000 - - - 50 6,000 300,000 - - -
13 6GT - - - -
14 6GT - - - 80 6,000 480,000 - - -
15 6GT 60 8,000 480,000 - - - -
16 7GT 80 8,000 640,000 - - - -
17 7GT - - - -
18 7GT 100 8,000 800,000 - - - -
19 7GT - - - -
20 7GT 100 8,000 800,000 - - - 100 6,000 600,000 - - -
21 9GT - - - 60 6,000 360,000
22 9GT 100 8,000 800,000 5 20,000 100,000 - - - -
23 9GT - - - 50 6,000 300,000 40 6,000 240,000
24 9GT - - - -
25 9GT - - - -
26 9GT - - - -
27 10GT - - - -
28 10GT - - - -
29 10GT 100 8,000 800,000 - - - 100 6,000 600,000 - - -
30 10GT - - - 50 6,000 300,000 50 6,000 300,000
Total 840 72,000 6,720,000 5 20,000 100,000 480 42,000 2,880,000 200 24,000 1,200,000