• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan Bilih Di Danau Singkarak, Sumatera Barat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan Bilih Di Danau Singkarak, Sumatera Barat"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENDAPATAN USAHA PENANGKAPAN

IKAN BILIH DI DANAU SINGKARAK, SUMATERA BARAT

DESMALINA AGUSTINI

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan Bilih di Danau Singkarak, Sumatera Barat adalah benar karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Agustus 2015

Desmalina Agustini

(4)

ABSTRAK

DESMALINA AGUSTINI. Analisis Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan Bilih di Danau Singkarak, Sumatera Barat. Dibimbing oleh DWI RACHMINA.

Ikan Bilih merupakan ikan endemik yang hidup di Danau Singkarak, Sumatera Barat. Usaha penangkapan ikan Bilih di Danau Singkarak merupakan salah satu sumber mata pencaharian masyarakat sekitar danau. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis tingkat pendapatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usaha penangkapan ikan Bilih. Data dianalisis dengan menggunakan analisis pendapatan usahatani dan analisis regresi berganda. Hasil pendapatan ini dapat ditunjukkan dari pendapatan atas biaya tunai yang diterima nelayan ikan Bilih per alat tangkap yaitu sebesar Rp11 741 462 dan pendapatan atas biaya total sebesar Rp7 574 129. Faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap pendapatan ikan Bilih adalah keikutsertaan dalam organisasi dan jumlah alat tangkap, sedangkan variabel pengalaman nelayan dan jarak tempuh tidak berpengaruh secara nyata terhadap pendapatan nelayan. Rata-rata kontribusi pendapatan nelayan terhadap pendapatan rumah tangga nelayan sebesar 87.50 persen.

Kata kunci : pendapatan nelayan, perikanan tangkap, ikan endemik, kontribusi pendapatan

ABSTRACT

DESMALINA AGUSTINI. Income Analysis of Fishing Effort Bilih Fish in Singkarak Lakes, West Sumatra. Supervised by DWI RACHMINA

Bilih fish is an endemic fish lives in Singkarak Lake, West Sumatra. As an endemic fish in Singkarak lake, West Sumatera Bilih fish becomes the Singkarak

Lake community’s livelihood. This research aimed to analyse the Bilih fishing

income and its factors, by applying farming income analysis and multiple regresion analysis. The study showed that net cash income was Rp11 741 462 and

base on total cost the net income was Rp7 572 129. The Bilih fishing’s income was significantly affected by fisherman’s participation in organization and the

number of catching tools, but not by the fisherman’s experience and the distance. This fishing income covered for about 87.50 percent of total household income.

Key words : fisherman income, fisheries, endemic fish, income contribute

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Agribisnis

ANALISIS PENDAPATAN USAHA PENANGKAPAN

IKAN BILIH DI DANAU SINGKARAK, SUMATERA BARAT

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(6)
(7)
(8)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas

segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Tema adalah analisis pendapatan, dengan judul Analisis Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan Bilih di Danau Singkarak, Sumatera Barat.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Ir. Dwi Rachmina, MSi selaku dosen pembimbing atas bimbingan dan arahan kepada penulis serta saran selama penyelesaian skripsi ini. Terima kasih penulis ucakapkan kepada Tintin Sarianti, SP. MM selaku dosen penguji utama dan Siti Jahroh, PhD selaku penguji komisi pendidikan Departemen Agribisnis. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada staf Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Tanah Datar dan staf Wali Nagari Guguak Malalo serta Bapak Rio yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih yang besar juga disampaikan kepada Ayah Agusnar, Umi Iswarni, Sherly Agustini, Danil Agung, serta keluarga besar atas segala doa, motivasi dan kasih sayangnya. Penghargaan terima kasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman atas segala dukungan dan bantuannya kepada penulis selama kuliah di Institut Pertanian Bogor.

Semoga skripsi ini bermanfaat.

Bogor, Agustus 2015

(9)
(10)

DAFTAR ISI

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan 7 Kontribusi Pendapatan Nelayan Terhadap Pendapatan Rumah Tangga 9

KERANGKA PEMIKIRAN 10

Metode Penarikan Sampel dan Pengumpulan Data 17

Metode Analisis Data 18

Analisis Pendapatan Usaha Penangkapan 18

Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usaha

Penangkapan 18

Elastisitas Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usaha

Penangkapan 19

Pengujian Hipotesis 19

GAMBARAN UMUM NAGARI GUGUAK MALALO 20

Kondisi Geografis 20

Keadaan Penduduk 21

Karakteristik Responden 23

HASIL DAN PEMBAHASAN 26

Usaha Penangkapan ikan Bilih di Danau Singkarak 26 Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo 31 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usaha Penangkapan 36 Tingkat Kontribusi Pendapatan Ikan Bilih terhadap Pendapatan Keluarga 40

(11)

DAFTAR TABEL

1 Volume produksi perikanan tangkap (ton) di perairan umum menurut jenis

perairan di Sumatera Barat tahun 2008-2012 1

2 Produksi (ton) ikan di Danau Singkarak menurut jenis ikan dan

kecamatan di Kabupaten Tanah Datar pada tahun 2013 2 3 Jumlah nelayan (jiwa) menurut sifat usaha penangkapan ikan di Kabupaten

Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2013 3

4 Komposisi lahan di Nagari Guguak Malalo Kecamatan Batipuh

Selatan Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2010 21 5 Sebaran jumlah penduduk berdasarkan usia di Nagari Guguak Malalo

Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2010 21 6 Sebaran jumlah penduduk berdasarkan pendidikan di Nagari

Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2010 22 7 Sebaran jumlah KK berdasarkan mata pencaharian di Nagari

Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2010 23 8 Sebaran pengalaman nelayan responden di Nagari Guguak Malalo

Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2014 25 9 Sebaran kepemilikan alat penangkapan responden di Nagari Guguak

Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2014 25 10 Perbandingan rata-rata penyusutan peralatan nelayan di Nagari

Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2014 30 11 Biaya penangkapan usaha penangkapan Ikan Bilih per alat tangkap di

Nagari Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat pada

tahun 2014 32

12 Rata-rata biaya penangkapan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo

Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat pada tahun 2014 33 13 Penerimaan usaha penangkapan ikan Bilih per alat tangkap di Nagari

Guguak Malalo tahun 2014 34

14 Rata-rata penerimaan usaha penangkapan ikan Bilih di Nagari Guguak

Malalo tahun 2014 34

15 Perhitungan pendapatan usaha penangkapan ikan Bilih per alat

tangkap di Nagari Guguak Malalo pada musim tangkap tahun 2014 35 16 Rata-rata perhitungan pendapatan usaha penangkapan ikan Bilih di

Nagari Guguak Malalo pada musim tangkap 2014 36 17 Hasil uji individual fungsi regresi berganda per nelayan ikan bilih di

(12)

DAFTAR GAMBAR

1 Laju produksi (ton/tahun) ikan Bilih di Danau Singkarak tahun

2008 - 2012 4

2 Kerangka operasional penelitian 16

3 Peta Nagari Guguak Malalo Kecamatan Batipuh Selatan Kabupaten

Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat 20

4 Sebaran kelompok usia responden di Nagari Guguak Malalo

Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat Tahun 2014 24 5 Sebaran tingkat pendidikan responden di Nagari Guguak Malalo

Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2014 24 6 Sebaran keikutsertaan responden dalam kelompok nelayan di Nagari

Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2014 26 7 Jaring Gillnet/langli yang digunakan nelayan Nagari Guguak Malalo

untuk menangkap ikan Bilih di Danau Singkarak 29 8 Perahu yang digunakan nelayan di Danau Singkarak Sumatera Barat 30

9 Saluran pemasaran hasil tangkapan ikan Bilih 31

10 Jenis pekerjaan samping nelayan responden Nagari Guguak Malalo 40 11 Kontribusi pendapatan rumah tangga nelayan di Nagari Guguak

Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat Tahun 2014 41

DAFTAR LAMPIRAN

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pertumbuhan ekonomi terbesar di Sumatera Barat terdapat pada lapangan usaha pertanian yaitu pada lapangan usaha perikanan dan tanaman pangan. Pertumbuhan ekonomi pada lapangan usaha perikanan sebesar 8.53 persen dan diikuti oleh lapangan usaha tanaman pangan sebesar 6.46 persen (BPS Sumatera Barat 2014). Secara umum usaha perikanan terdiri dari dua yaitu perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Usaha perikanan tangkap di Sumatera Barat terdiri ada dua jenis yaitu perikanan tangkap laut dan perikanan tangkap pada perairan umum. Perikanan tangkap pada perairan umum di Sumatera Barat terdiri atas perairan sungai, danau, waduk, rawa, dan lainnya (Tabel 1). Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2013, volume produksi perikanan tangkap pada perairan umum di dominasi oleh perikanan perairan sungai yang menduduki posisi pertama. Perairan danau memiliki posisi kedua dengan volume produksi perikanan pada tahun 2012 sebesar 1 573 ton.

Tabel 1 Volume produksi perikanan tangkap (ton) di perairan umum menurut jenis perairan di Sumatera Barat tahun 2008-2012

Jenis

Sumber: diolah dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), 2013.

Sumatera Barat memiliki empat danau yang dapat mendukung potensi perikanan perairan umum. Empat danau tersebut adalah Danau Singkarak, Danau Maninjau, Danau Diatas, dan Danau Dibawah. Danau Singkarak merupakan danau terluas di Sumatera Barat yang memiliki ekosistem perairan yang khas. Hal tersebut menyebabkan Danau Singkarak memiliki potensi perikanan yang khas khususnya sumberdaya ikan endemik. Ikan Bilih merupakan salah satu ikan yang banyak ditemukan di Danau Singkarak dan ikan endemik yang hanya hidup di danau tersebut.

(14)

2

dikarenakan ikan bilih merupakan salah satu jenis ikan yang banyak dijumpai di Danau Singkarak.

Tabel 2 Produksi (ton) ikan di Danau Singkarak menurut jenis ikan dan kecamatan di Kabupaten Tanah Datar pada tahun 2013

Jenis ikan Kecamatan Total Persentase

Batipuh Selatan Rambatan

Sumber : diolah dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Tanah Datar, 2014.

Menurut Dinas Perikanan Kabupaten Tanah Datar (2014), produksi tertinggi pada tahun 2013 adalah ikan bilih yaitu sebesar 770 ton. Ikan Bilih merupakan ikan konsumsi dan menjadi makanan khas Sumatera Barat. Jumlah produksi ikan Bilih di Danau Singkarak mengalami penurunan pada tahun 2010 yaitu sebesar 804 ton yang mengalami penurunan pada produksi tahun 2009 sebesar 1 276 ton. Pada tahun 2011 jumlah produksi ikan bilih sebesar 591 ton. Kemudian mengalami kenaikan di tahun 2012 menjadi 715 ton (Kementrian Kelautan dan Perikanan 2013).

(15)

3 melakukan penangkapan ikan. Jumlah masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan penuh berpengaruh terhadap jumlah tangkapan ikan di Danau Singkarak. Tingginya tangkapan ikan Bilih yang diperoleh di Kecamatan Batipuluh Selatan dipengaruhi oleh jumlah nelayan di Danau Singkarak yang didominasi oleh nelayan dari Kecamatan Batipuh Selatan.

Tabel 3 Jumlah nelayan (jiwa) menurut sifat usaha penangkapan ikan di Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2013

Kecamatan Penuh Sambilan Tambahan Persentase

Batipuh Selatan 1 160 46 12 71.99

Rambatan 164 122 188 28.01

Jumlah 1 324 168 200 100.00

Sumber: diolah dari BPS Kabupaten Tanah Datar, 2013.

Ikan Bilih yang terdapat di Danau singkarak merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Harga jual ikan Bilih tersebut yang relatif tinggi dan daerah pemasaran dari ikan Bilih tersebut yang cukup luas. Ikan Bilih tidak hanya dikonsumsi dan dipasarkan di Sumatera Barat. Tetapi juga ikan telah dipasarkan ke berbagai daerah lain di Sumatera dan Jawa seperti Riau, Jambi, Jakarta, dan lainnya. Hal ini menyebabkan masyarakat sekitar Danau Singkarak melakukan usaha penangkapan ikan Bilih sebagai salah satu sumber pendapatan.

Rumusan Masalah

Ikan Bilih yang hidup di Danau Singkarak banyak disukai oleh masyarakat. Masyarakat sekitar Danau Singkarak banyak memanfaatkan perikanan Danau Singkarak sebagai salah satu sumber mata pencaharian. Harga ikan Bilih yang dijual dalam keadaan basah berkisar antara Rp15 000 sampai dengan Rp30 000 per kilogramnya. Sedangkan ikan Bilih dalam keadaan kering memiliki nilai jual sebesar Rp60 000 sampai dengan Rp100 000 per kilogramnya. Secara ekonomi ikan Bilih berdampak positif bagi masyarakat sekitar karena merupakan mata pencaharian atau sumber pendapatan bagi masyarakat sekitar Danau Singkarak.

Pendapatan nelayan dipengaruhi oleh jumlah tangkapan yang diperoleh nelayan. Jumlah tangkapan nelayan sangat dipengaruhi oleh stok ikan Bilih yang ada di danau tersebut. Ikan Bilih di Danau Singkarak tidak dibudidayakan oleh nelayan. Nelayan hanya sebagai pengambil manfaat dari ikan endemik di danau tersebut, sehingga kondisi alam sangat mempengaruhi stok ikan Bilih yang ada di Danau Singkarak. Berdasarkan data KKP pada tahun 2013, produksi ikan Bilih pada tahun 2012 mencapai 715 ton.

(16)

4

meningkatnya jumlah nelayan yang mengambil manfaat sumberdaya ikan Bilih akan mempengaruhi jumlah tangkapan ikan tersebut. Jika hal ini terus dibiarkan akan ada kemungkinan semakin menurunnya pendapatan yang akan diterima oleh nelayan

Gambar 1 Laju produksi (ton/tahun) ikan Bilih di Danau Singkarak tahun 2008 -2012

Sumber: KKP, 2013.

Jumlah tangkapan dalam usaha penangkapan ikan Bilih juga dipengaruhi oleh faktor-faktor dalam melakukan penangkapan ikan. Jumlah penggunaan alat tangkap yang dipakai nelayan dalam menangkap ikan akan mempengaruhi hasil tangkapan nelayan. Selain itu jarak tempuh nelayan dalam mencari ikan, keikutsertaan nelayan dalam organisasi dan pengalaman yang dimiliki nelayan dalam menangkap ikan juga dapat mempengaruhi hasil tangkapan yang diperoleh nelayan. Hal ini dapat mempengaruhi hasil pendapatan nelayan dalam usaha penangkapan ikan Bilih di Danau Singkarak.

Ikan Bilih merupakan salah satu hasil perikanan tangkap di Danau Singkarak yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan bersifat endemik. Pemanfaatan sumberdaya ikan Bilih yang dilakukan oleh nelayan untuk memenuhi sumber pendapatan rumah tangga. Selain itu, dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga sebagian besar nelayan juga memiliki pekerjaan sampingan lainnya diluar penangkapan ikan Bilih. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka perumusan masalah dari penelitian ini adalah:

1. Apakah usaha penangkapan ikan Bilih di Danau Singkarak memberikan pendapatan positif bagi nelayan?

2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pendapatan Nelayan ikan Bilih di Danau Singkarak?

(17)

5

Tujuan Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah, maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Menganalisis tingkat pendapatan nelayan ikan bilih di Danau singkarak

2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan ikan bilih di Danau Singkarak

3. Mengetahui besarnya kontribusi pendapatan ikan bilih terhadap rumah tangga nelayan.

Manfaat Penulisan

Manfaat yang diperoleh dengan adanya penelitian ini adalah:

1. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan dalam usaha penangkapan agar mencapai pendapatan yang maksimum.

2. Sebagai sarana bagi penulis untuk mengetahui informasi dan pengetahuan serta pengalaman dalam menganalisis permasalahan agribisnis.

3. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan bahan referensi dan sumber informasi bagi penelitian berikutnya.

TINJAUAN PUSTAKA

Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan

(18)

6

Penelitian mengenai analisis pendapatan perikanan sudah banyak dilakukan untuk menghitung seberapa besar penerimaan yang diperoleh nelayan dan biaya yang dikeluarkan. Setelah melakukan analisis pendapatan perikanan diharapkan usaha perikanan tangkap dapat mengetahui keadaan pendapatan yang akan diperoleh oleh nelayan. Penelitian terdahulu mengenai analisis pendapatan perikanan diantaranya dilakukan oleh Afrianto (2008), Puspita (2008), Asih dan Laapo (2009), Hendrik (2011) dan Pratama, Gumilar dan Maulina (2012).

Afrianto (2008) membedakan nelayan di Desa Padelegan berdasarkan kepemilikan kapal. Nelayan yang mempunyai kapal disebut nelayan pemillik atau juragan, sedangkan nelayan yang melakukan operasi penangkapan ikan disebut nelayan pandega. Puspita (2008) juga membedakan nelayan atas pemilik, juragan, ABK penyelam, kepala tengah dan juru masak.

Unit penangkapan yang dipakai nelayan yang diteliti oleh masing-masing peneliti juga berbeda. Untuk peneliti Afrianto (2008) menganalisa nelayan dengan menggunakan unit penangkapan payang yang dilakukan oleh nelayan di Desa Padelegan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Unit penangkapan yang dipakai oleh nelayan yang diteliti oleh Puspita (2008) yaitu unit penangkapan muroami di Pulau Pramuka. Sedangkan penelitian yang dilakukan Asih dan Laapo (2009), Hendrik (2011), dan Pratama, Gumilar dan Maulina (2012) melakukan penelitian pada nelayan pada umumnya tanpa memperhatikan alat tangkap yang digunakan oleh nelayan.

Komoditas perikanan yang ditangkap oleh nelayan yang diteliti oleh peneliti juga berbeda. Penelitian yang dilakukan Afrianto (2008) adalah nelayan payang yang menangkap ikan Teri. Sedangkan hasil tangkapan muroami yang diteliti Puspita (2008) terdiri atas ikan-ikan karang yang mempunyai nilai ekonomis tinggi seperti ekor kuning, pisang-pisang, kuwe, selar, kakap, sulir, lody, lencam, kembang dan kerapu.

Analisis pada biaya yang investasi yang diteliti oleh Afrianto (2008) dengan menggunakan ukuran kapal 2 GT yaitu sebesar Rp46 306 000. Biaya investasi usaha penangkapan payang tersebut meliputi kapal, mesin, alat tangkap payang dan perlengkapan. Biaya investasi terbesar yaitu untuk pembelian kapal sebesar Rp22 550 000 atau sebesar 48.70 persen dari total biaya investasi dengan umur teknis 11 tahun. Alat tangkap yang memiliki umur teknis 7 tahun dengan komponen harga Rp9 150 000 atau 19.76 persen dari total biaya investasi, sedangkan harga mesin dengan umur teknis 9 tahun yaitu Rp13 850 000 atau 29.91 persen dari total investasi. Perlengkapan memiliki umur teknis satu tahun dengan biaya investasi sebesar Rp756 000 atau 1.63 persen. Penelitian yang dilakukan oleh Puspita (2008) investasi yang ditanamkan pada usaha penangkapan muroami yaitu sebesar Rp320 405 000. Modal paling besar yang harus dikeluarkan oleh pemilik yaitu untuk pembuatan alat tangkap.

(19)

7 menunjukkan bahwa usaha tersebut layak untuk dijalankan, karena hasil kriteria investasi yang diperoleh yaitu NPV > 1, Net B/C > 1 dan IRR > dari discount rate, sehingga memenuhi kriteria yang berlaku. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh nelayan payang yang menggunakan kapal berukuran 3 GT. Hasil kriteria investasi yang diperoleh NPV >1, Net B/C > 1 dan IRR > discount rate, yang memenuhi kriteria yang berlaku.

Analisis pendapatan yang dilakukan oleh Asih dan Laapo (2009) terhadap usaha perikanan yang ditekuni nelayan tradisional di Kecamatan Ampana Kota menunjukkan biaya yang harus dikeluarkan oleh nelayan terdiri atas biaya variabel yang dikeluarkan meliputi biaya pengeluaran bensin, suku cadang dalam perawatan mesin, minyak tanah, es dan bahan keperluan melaut lainnya sebesar Rp15 407 050 per nelayan per tahun, dan biaya tetap meliputi cicilan kredit perikanan yang harus dibayarkan kembali oleh nelayan dan biaya penyusutan mesin dan alat tangkap yang digunakan sebesar Rp3 946 866 per nelayan per tahun. Pendapatan bersih yang diperoleh nelayan atas total biaya produksi adalah sebesar Rp8 192 420 per tahun.

Penelitian yang dilakukan Hendrik (2011) menunjukkan nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan kapal motor mempunyai pendapatan rata-rata sebesar Rp2 305 055 per bulan dengan pengeluaran rata-rata-rata-rata sebesar Rp1 719 000 per bulan. Sedangkan pendapatan rumah tangga dengan menggunakan sampan memperoleh pendapatan rata-rata sebesar Rp1 582 833 per bulan dengan pengeluaran sebesar Rp1 328 500 per bulan. Berbeda dengan analisis yang dilakukan oleh Pratama, Gumilar dan Maulina (2012) melakukan perbandingan pendapatan nelayan atas 3 jenis perahu yaitu perahu cungkring tanpa mesin, perahu cungkring dengan mesin dan kapal motor. Rata-rata pendapatan yang diterima nelayan yang menggunakan perahu cungkring tanpa mesin sebesar Rp1 148 766 per bulan. Nelayan yang menggunakan perahu cungkring dengan mesin memperoleh pendapatan rata-rata sebesar Rp1 831 818 per bulan, dan nelayan dengan kapan motor memperoleh rata-rata pendapatan sebesar Rp5 119 444 per bulan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan

Penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan telah banyak dilakukan sebelumnya. Penelitian ini dilakukan untuk melihat apa saja yang dapat mempengaruhi pendapatan. Setelah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan diharapkan petani ataupun nelayan dapat meningkatkan pendapatan yang akan diterimanya. Penelitian terdahulu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan diantaranya dilakukan oleh Berkademi (2011), Lamia (2013), Jamal (2014), dan Fauzia (2011).

(20)

8

penelitian Jamal (2014) dilakukan di Desa Klampis Kecamatan Klampis Kabupaten Bangkalan. Kemudian Jamal (2014) mengklasifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan nelayan terdiri atas modal, umur, curahan jam kerja, pengalaman kerja, harga, dan hasil tangkapan.

Pada nelayan Tumpaan, Kabupaten Minahasa Selatan yang diteliti Lamia (2013) menunjukkan bahwa faktor-faktor berpengaruh secara nyata pada tingkat pendapatan nelayan adalah modal kerja, jumlah tenaga kerja, dan pengalaman kerja. Nilai t hitung modal kerja yaitu 2.232 dan nilai signifikansinya (sig) sebesar 0.010, nilai t hitung jumlah tenaga kerja sebesar 1.811 dan nilai signifikansi (sig) yaitu 0.029, dan nilai t hitung pengalaman kerja yaitu 5.717 dan nilai signifikansinya (sig) sebesar 0.000. Nilai t hitung dari modal kerja, jumlah tenaga kerja dan pengalaman kerja lebih besar dari nilai t tabel yaitu sebesar 1.699 dan nilai signifikansinya lebih kecil dari nilai Alpha sebesar 0.05. Kemudian pada penelitian Jamal (2014) pada nelayan pesisir Desa Klampis, Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan pengalaman kerja juga memiliki pengaruh nyata pada tingkat pendapatan nelayan dengan nilai probabilitas sebesar 0.0368 atau lebih kecil dari nilai Alpha sebesar 0.05 dan memiliki nilai koefisien sebesar 520.3252. Selain faktor pengalaman kerja, faktor-faktor lain yang memiliki pengaruh nyata pada tingkat pendapatan nelayan yaitu curahan jam kerja, harga dan hasil tangkap. Akan tetapi ada penelitian Jamal modal tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat pendapatan. Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Lamia.

Penelitian Berkademi (2011) pada komoditas ikan Bilih di Danau Singkarak mengklasifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan nelayan jaring langli atas umur, lama sekolah, jarak, pengalaman, biaya tangkapan dan hasil tangkapan. Pada hasil analisis menunjukkan bahwa variabel pengalaman signifikan mempengaruhi pendapatan pada taraf nyata 15 persen dan hasil tangkapan signifikan mempengaruhi pendapatan nelayan pada taraf nyata 1 persen. Nilai koefisien determinasi atau R-Sq (adj) yang diperoleh adalah sebesar 833 persen artinya 83.3 persen variasi variabel bebas dapat menjelaskan variabel tida bebas pada taraf nyata 1 persen dan 15 persen, sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor diluar model.

(21)

9 signifikan dengan nilai koefisien positif terhadap pendapatan yang diterima oleh nelayan. Sedangkan jumlah tenaga kerja, usia, pendidikan, dan alat tangkap tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan nelayan.

Kontribusi Pendapatan Nelayan terhadap Pendapatan Rumah Tangga

Pendapatan rumah tangga nelayan dapat berasal dari berbagai kegiatan yang dilakukan oleh nelayan untuk mencukupi kebutuhan hidup nelayan. sumber pendapatan nelayan dapat berasal dari usaha perikanan maupun dari luar usaha perikanan. Kontribusi pendapatan nelayan terhadap pendapatan rumah tangga nelayan merupakan persentase perbandingan jumlah pendapatan pada usaha perikanan dengan total jumlah pendapatan rumah tangga secara keseluruhan. Penelitian mengenai kontribusi pendapatan nelayan terhadap pendapatan rumah tangga telah dilakukan sebelumnya. Setelah melihat kontribusi pendapatan nelayan diharapkan nelayan dapat mengetahui besarnya sumbangan kontribusi dari pendapatan sebagai nelayan terhadap rumah tangga nelayan. Penelitian terdahulu mengenai kontribusi pendapatan nelayan terhadap pendapatan rumah tangga nelayan diantaranya dilakukan oleh Sinaga (2011), Sihombing, Artini dan Dewi (2013) dan Sari, Suratiyah dan Hardyastuti (2011).

Sihombing, Artini dan Dewi (2013) dalam penelitiannya pada usaha budidaya ikan hias di Desa Serangan dapat diketahui pendapatan rumah tangga nelayan tidak hanya berasal dari usaha budidaya ikan hias, melainkan dari usaha lain di luar usahatani ikan hias yaitu dari pensiunan, swasta, karyawan dan pegawai negeri sipil (PNS). Besarnya pendapatan nelayan dari luar sektor nelayan lebih besar daripada sektor budidaya ikan hias. Kontribusi pendapatan nelayan terhadap pendapatan rumah tangga nelayan hanya sebesar 48.56 persen dan dari sektor lain sebesar 51.44 persen.

Penelitian Sinaga (2011) menunjukkan nelayan yang menangkap ikan di Danau Toba memberikan rata-rata kontribusi pendapatan nelayan terhadap pendapatan rumah tangga nelayan sebesar 25.29 persen. Nelayan yang melakukan penangkapan ikan di Danau Toba ada beberapa yang memiliki pekerjaan selain dari melakukan usaha penangkapan.

Sari, Suratiyah dan Hardyastuti (2011) membedakan nelayan berdasarkan status nelayan, sehingga kontribusi pendapatan nelayan juga dibedakan atas status nelayan tersebut. Sari, Suratiyah dan Hadyastuti (2011) membedakan kelompok nelayan yaitu nelayan pemilik, nelayan buruh dan nelayan darat. Kontribusi pendapatan rumah tangga nelayan juga berasal dari usahatani, melaut, pekerjaan sampingan lain, pendapatan istri dan pendapatan anggota rumah tangga.

(22)

10

nelayan darat sumbangan kontribusi pendapatan nelayan terhadap rumah tangga nelayan sebesar 33.61 persen.

KERANGKA PEMIKIRAN

Upaya pemanfaatan sumberdaya alam perairan salah satunya adalah usaha penangkapan ikan. Nelayan sebagai pelaku usaha penangkapan ikan mendapatkan manfaat secara langsung dari sumberdaya alam sehingga dapat mempengaruhi pendapatan rumah tangga nelayan. Hal ini berkaitan dengan konsep usahatani. Akan tetapi usaha ini memiliki perbedaan yaitu nelayan tidak menebar benih ikan Bilih, melainkan hanya sebagai pengambil manfaat dari Danau Singkarak.

Konsep Usahatani

Usahatani didefinisikan sebagai satuan organisasi produksi dilapangan pertanian dimana terdapat unsur lahan yang mewakili alam, unsur tenaga kerja, unsur modal, dengan aneka ragam jenisnya dan unsur manajemen atau pengelolaan yang peranannya dibawakan oleh sesorang yang disebut petani. Ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu (Soekartawi 2002). Mengalokasikan sumberdaya dikatakan efektif apabila petani mampu mencapai tujuan untuk memperoleh keuntungan yang diinginkan. Kemudian dikatakan efisien ketika petani mampu mencapai target dengan menggunakan input yang sama untuk menghasilkan output yang lebih besar sehingga dapat meminimalisir kerugian.

(23)

11 dapat diperoleh dengan membeli, menyewa, pemberian Negara, membuka lahan sendiri, ataupun wakaf.

2. Tenaga kerja

Tenaga kerja dalam hal ini petani merupakan faktor penting dan perlu diperhitungkan dalam proses produksi komoditas pertanian. Tenaga kerja adalah energi yang dicurahkan dalam suatu proses untuk menghasilkan suatu produk. Tenaga kerja terdiri dari tenaga kerja laki-laki dan tenaga kerja perempuan. Tenaga kerja dapat berasal dari tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga. Tenaga kerja luar keluarga dapat diperoleh dengan cara upahan atau tolong menolong.

3. Modal

Setiap kegiatan dalam mencapai tujuan membutuhkan modal, apalagi kegiatan proses produksi komoditas pertanian. Dalam kegiatan proses tersebut, modal dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu modal tetap dan modal tidak tetap. Modal tetap terdiri atas tanah, bangunan, mesin dan peralatan pertanian dimana biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi tidak habis dalam sekali proses produksi. Modal tidak tetap merupakan biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi dan habis dalam satu kali proses produksi tersebut, misalnya benih, pupuk, pestisida dan upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja. Besar kecilnya modal dalam usaha pertanian dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya skala usaha, jenis komoditas yang diusahakan, dan tersedianya kredit.

4. Pengelolaan atau Manajemen

Pengelolaan usahatani adalah kemampuan petani untuk merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, dan mengevaluasi suatu proses produksi. Praktik manajemen dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya tingkat pendidikan, tingkat keterampilan, skala usaha, besar kecilnya kredit, dan jenis komoditas.

Biaya Usahatani

Biaya usahatani merupakan pengorbanan yang dilakukan oleh petani dalam mengelola usahanya dalam mendapatkan hasil yang maksimal. Biaya usahatani dapat dibedakan menjadi dua, yaitu biaya tunai dan biaya diperhitungkan. Biaya tunai adalah semua biaya yang dibayarkan dengan uang, seperti biaya pembelian sarana produksi (bibit, pupuk dan obat) dan upah tenaga kerja luar keluarga. Biaya yang diperhitungkan digunakan untuk menghitung pendapatan petani yang sebenarnya dengan memperhitungkan modal sendiri, penyusutan alat, dan nilai tenaga kerja dalam keluarga. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:

TC = Bt + Bd

yaitu: TC = total biaya Bt = biaya tunai

(24)

12

Soekartawi (2002) mengemukakan bahwa biaya usahatani adalah semua pengeluaran yang dipergunakan dalam suatu usahatani. Menurut Soekartawi, Soeharjo, Dillon, dan Hardaker (1986) penggolongan biaya usahatani dilakukan berdasarkan sifatnya, yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang jumlahnya tidak berubah meskipun terjadi perubahan jumlah produksi, misalnya biaya sewa atau bunga pinjaman. Biaya tidak tetap (variable cost) adalah biaya yang besar kecilnya berubah berdasarkan dengan perubahan jumlah produksi. Biaya ini bergantung pada barang yang akan diproduksi, misalnya pengeluaran-pengeluaran untuk bibit, biaya persiapan dan pengolahan tanah. Secara matematis dirumuskan sebagai berikut:

TC = TFC + TVC

yaitu: TC = total biaya TFC = total fixed cost

TVC = total variable cost

Penerimaan Usahatani

Menurut Soekartawi (2002) penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Persamaan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

TR = Py . Y

yaitu: TR = total penerimaan

Y = produksi yang diperoleh Py = Harga Y

Dalam menghitung penerimaan usahatani maka perlu diperhatikan dalan penghitungan penerimaan yang diterima, karena produk mungkin dijual beberapa kali sehingga diperlukan data frekuensi penjualan dan produk mungkin dijual beberapa kali dengan harga yang berbeda.

Penerimaan atau revenue dibagi menjadi dua, yaitu penerimaan tunai dan penerimaan total. Penerimaan tunai usahatani adalah nilai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani, yaitu jumlah produk yang dijual dikalikan dengan harga jual produk. Penerimaan total usahatani merupakan keseluruhan nilai produksi usahatani baik dijual, dikonsumsi keluarga dan dijadikan persediaan.

Pendapatan Usahatani

(25)

13 seberapa besar penerimaan yang diterima petani dalam berusahatani yang dikurangi dengan biaya. Analisis pendapatan usahatani dilakukan untuk mengukur keberhasilan usahatani. Dengan adanya analisis pendapatan usahatani petani dapat mengetahui gambaran keadaan aktual usahatani sehingga dapat melakukan evaluasi dengan perencanaan kegiatan usahatani pada masa yang akan datang.

Menurut Soekartawi (2002) pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya. Pernyataan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

Pd = TR – TC

yaitu: Pd = pendapatan usahatani TR = total penerimaan TC = total biaya

Terdapat beberapa istilah yang dipergunakan dalam menganalisis pendapatan usahatanimenurut Soekartawi, Soeharjo, Dillon dan Hardaker (1986), diantaranya:

1. Penerimaan tunai usahatani merupakan nilai yang diterima dari penjualan produk usahatani.

2. Pengeluaran tunai usahatani adalah jumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi usahatani.

3. Pendapatan tunai usahatani adalah produk usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual.

4. Pengeluaran total usahatani merupakan nilai semua yang habis terpakai atau dikeluarkan dalam kegiatan produksi termasuk biaya yang diperhitungkan. 5. Pendapatan total usahatani adalah selisih antara penerimaan kotor usahatan

dengan pengeluaran total usahatani.

Selain pengertian diatas pendapatan juga dapat diartikan sebagai sisa dari pengurangan nilai penerimaan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan. Pendapatan yang diharapkan selalu memiliki nilai positif dan semakin besar nilainya maka akan semakin baik, meskipun besar pendapatan tidak selalu mencerminkan efisiensi yang tinggi karena pendapatan yang besar mungkin saja diperoleh dari investasi yang jumlahnya besar pula.

Dalam melakukan analisis pendapatan usahatani diperlukan informasi mengenai keadaan penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu yang ditetapkan. Penerimaan usahatani merupakan nilai produksi yang diperoleh dalam jangka waktu tertentu dan merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi total dengan harga satuan dari hasil produksi tersebut. Sementara yang disebut pengeluaran usahatani adalah nilai penggunaan faktor-faktor produksi dalam melakukan proses produksi usahatani.

(26)

14

Potensi perikanan Danau Singkarak yang sudah sejak lama dimanfaatkan oleh masyarakat melalui kegiatan penangkapan. Salah satu komoditas perikanan yang dimanfaatkan adalah ikan Bilih . Ikan Bilih menjadi salah satu ikan endemik yang menempati Danau Singkarak. Tingginya Aktivitas penangkapan ikan bilih menjadi sumber pendapatan bagi nelayan sekitar Danau Singkarak. Usaha penangkapan perikanan secara umum terdiri atas dua aspek yakni aspek biaya penangkapan dan penerimaan penangkapan (Gambar 2).

Biaya penangkapan dipengaruhi oleh komponen input seperti bahan bakar kapal dan alat tangkap. Masing-masing komponen input tersebut memiliki harga yang harus dikeluarkan nelayan untuk mendukung dan memaksimalkan upaya penangkapan. Aspek penerimaan penangkapan dipengaruhi oleh komponen output berupa hasil tangkapan ikan.

Penerimaan nelayan diperoleh dari nilai hasil tangkapan dikalikan harga ikan Bilih tersebut. Biaya penangkapan dan penerimaan penangkapan berpengaruh terhadap pendapatan usaha penangkapan secara keseluruhan. Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap tingkat pendapatan usaha penangkapan. Pengalaman bernelayan, keikutsertaan dalam organisasi, jarak tempuh ke lokasi penangkapan dan jumlah alat tangkap menjadi faktor yang secara langsung dan tidak langsung dapat mempengaruhi besar tingkat pendapatan usaha penangkapan ikan bilih di Danau Singkarak.

Pengalaman bernelayan mempengaruhi pendapatan yang diterima nelayan disebabkan semakin lamanya nelayan melakukan penangkapan, maka nelayan akan mengetahui tempat-tempat yang menjadi tempat berkumpulnya ikan, waktu yang tepat melakukan penangkapan dan cara menangkap yang baik, sehingga pengalaman yang dimiliki nelayan akan mempengaruhi hasil tangkapan yang diperoleh oleh nelayan. Nelayan yang mengikuti organisasi akan sering melakukan penyuluhan-penyuluhan yang akan diadakan organisasi tersebut. Organisasi nelayan didirikan dengan tujuan untuk mengembangkan pengetahuan nelayan terhadap teknik penangkapan dan perikanan, sehingga dengan mengikuti organisasi nelayan akan meningkatkan hasil tangkap mereka.

(27)

15

Pendapatan usaha penangkapan Pendapatan

usaha lainnya

Faktor-faktor 1 Pengalaman 2 Keikutsertaan

dalam organisasi 3 Jarak tempuh 4 Jumlah alat

tangkap Pendapatan rumah

tangga nelayan Biaya penangkapan

Penerimaan penangkapan

Output

Harga Input

(28)

16

(29)

17

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Danau Singkarak, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat tepatnya di Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar. Pemilihan Kecamatan Batipuh Selatan dipilih secara purposive

dengan pertimbangan Kecamatan Batipuh Selatan merupakan salah satu daerah yang menjadi sentra perikanan tangkap ikan Bilih yang berada di Kabupaten Tanah Datar dengan jumlah nelayan lebih tinggi yaitu sebesar 71.99 persen (BPS Kabupaten Tanah Datar 2013). Pemilihan Danau Singkarak dengan pertimbangan bahwa Danau Singkarak merupakan habitat hidup ikan bilih. Pengambilan data dilakukan pada bulan Januari - Februari 2015.

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan juga data sekunder baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data primer diperoleh dari hasil pengamatan di lapang, wawancara, dan pengisian kuesioner dengan nelayan penangkap ikan danau tersebut. Data sekunder diperoleh dari sumber-sumber yang relevan seperti jurnal agroland, jurnal perikan dan kelautan, buku dan data industri terkait yang berkaitan dengan Kementerian Kelautan dan Perikan, Dinas Peternakan dan Perikan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Badan Pusat Statistik, serta bahan-bahan pustaka lainnya seperti internet dan hasil-hasil penelitian terdahulu.

Metode Penarikan Sampel dan Pengumpulan Data

(30)

18

Metode Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengolahan data dalam bentuk tabulasi, kegiatan ini berupa perumusan data dan informasi yang diperoleh kedalam bentuk tabel untuk memudahkan penginterpretasian. Editing, kegiatan ini berupa penulisan data dan informasi yang telah diperoleh selama penelitian, kegiatan ini dilakukan untuk mengevaluasi data dan informasi yang ada. Dan terakhir, pengolahan data dan interpretasi data.

Analisis Pendapatan Usaha Penangkapan

Analisis pendapatan usahatani adalah penerimaan usahatani dikurangi dengan biaya. Penerimaan usahatani merupakan perkalian antara harga dengan output.

Rumus penerimaan, biaya dan pendapatan adalah:

TR = Py . Y

TC = Bt + Bd

Pd = TR – TC

Dimana:

TR = penerimaan usaha penangkapan (Rp/alat tangkap) TC = biaya usaha penangkapan (Rp/alat tangkap) Py = harga ikan Bilih (Rp/kg)

Y = jumlah ikan Bilih (kg)

Pd = pendapatan (Rp/alat tangkap) Bt = biaya tunai (Rp/alat tangkap)

Bd = biaya diperhitungkan (Rp/alat tangkap)

Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan

Metode yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan adalah regresi linier berganda. Regresi linier berganda merupakan model yang akan menjelaskan pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Variabel independen dijelaskan dengan simbol X yang terdiri dari pengalaman nelayan (X1), keikutsertaan dalam organisasi (X2), jarak tempuh ke tengah danau (X3),

jumlah alat tangkap (X4). Sedangkan variabel dependen yang disimbolkan dengan

Y merupakan pendapatan yang diterima nelayan dari penangkapan. Bentuk persamaan regresi berganda dapat dirumuskan sebagai berikut:

Y = α + β1X1 +β2X2+ β3X3+ β4X4+ ε

Yaitu:

Y = pendapatan penangkapan (Rp)

α = konstanta

(31)

19 X1 = pengalaman nelayan (tahun)

X2 = keikutsertaan dalam organisasi (tidak=0, ya=1)

X3 = jarak tempuh ke tengah danau (km)

X4 = jumlah alat tangkap (unit)

ε = error

Analisis regresi linier berganda menunjukkan besarnya nilai t-hitung, F-hitung dan R2. Nilai t-hitung digunakan untuk menguji secara statistik koefisien regresi dari masing-masing parameter bebas (Xi) yang dipakai secara terpisah berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel tidak bebas (Y).

Elastisitas Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Nelayan

Uji elastisitas dilakukan untuk melihat persentase perubahan output sebagai akibat perubahan dari input. Elastisitas secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:

E = dY

d *

i

yaitu: E = elastisitas

dY = perubahan pendapatan penangkapan ikan dX = perubahan faktor penangkapan ikan

= pendapatan penangkapan ikan

i = faktor penangkapan ikan ke-i (i = 1, 2, ....,n)

Pengujian Hipotesis

Uji F dilakukan dengan menguji secara bersama-sama variabel independent

pengaruhnya dengan variabel dependent. Uji serentak yaitu uji statistik bagi koefisisen regresi yang bersama-sama mempengaruhi Y.

H0 : bi = 0; artinya faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan

bukan merupakan penjelas yang signifikan bagi pendapatan nelayan.

H1 : bi ≠ 0; artinya faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan

merupakan penjelas yang signifikan bagi pendapatan nelayan. Keputusan jika F hitung > F tabel maka tolak H0 dan terima H1, sebaliknya

jika F hitung< F tabel maka terima H0 dan tolak H1.

Uji T dilakukan dengan menguji pengaruh setiap variabel dependent

terhadap variabel independent. Analisis untuk menguji signifikansi nilai koefisien regresi secara parsial yang diperoleh dengan metode OLS adalah statistik uji t. Rumus umum untuk mencari nilai t hitung dari masing-masing koefisien regresi (b) adalah:

tb =

Nilai t hitung dibandingkan dengan t tabel. Jika thitung > ttabel maka H0 ditolak

dan H1 diterima. Jika ttabel≤ thitung maka H0 diterima dan H1 ditolak.

(32)

20

b. Organisasi nelayan berpengaruh positif terhadap pendapatan nelayan c. Jarak tempuh berpengaruh positif terhadap pendapatan neayan

d. Jumlah alat tangkap berpengaruh positif terhadap pendapatan nelayan.

GAMBARAN UMUM NAGARI GUGUAK MALALO

Kondisi Geografis

Nagari Guguak Malalo terletak di Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Batas wilayah administratif Nagari Guguak Malalo sebelah utara berbatasan dengan Nagari Padang Laweh, sebelah selatan berbatasan dengan Nagari Paninggahan yang masuk pada Kabupaten Solok, barat berbatasan dengan Nagari Induriang, dan sebelah timur berbatasan langsung dengan Danau Singkarak. Wilayah Nagari Guguak Malalo ditunjukkan oleh Gambar 3.

Gambar 3 Peta Nagari Guguak Malalo Kecamatan Batipuh Selatan Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat

(33)

21 Danau Singkarak pada ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Total luas wilayah Nagari Guguak Malalo sebesar 18 900 hektar yang terdiri dari dari pemukiman, lahan pertanian, lahan perkebunan, danau, dan pemakaman umum. Tabel 4 Komposisi lahan di Nagari Guguak Malalo Kecamatan Batipuh Selatan

Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2010

Komponen Luas lahan (ha) Persentase (%)

Sumber: Monografi Nagari Guguak Malalo Kecamatan Batipuh Selatan Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat tahun 2010.

Tabel 4 menunjukkan sebagian besar lahan di Nagari Guguak Malalo masih berupa hutan ulayat. Lahan untuk pemukiman penduduk di Nagari Guguak Malalo masih sangat rendah yaitu sebesar 3.74 persen dari total luas lahan.

Nagari Guguak Malalo langsung berbatasan dengan Nagari Paninggahan yang sudah termasuk pada Kabupaten Solok, sehingga masyarakat mudah memasarkan hasil tangkapan ikannya ke Kabupaten Solok. Nagari Paninggahan merupakan salah satu tempat pemasaran ikan Bilih. Sebagian besar masyarakat Nagari Guguak Malalo memasarkan ikan bilih ke Nagari Paninggahan.

Keadaan Penduduk

Nagari Guguak Malalo terdiri atas tiga jorong yaitu Jorong Baing, Jorong Guguak dan Jorong Duo Koto, jumlah penduduk di Nagari Guguak Malalo berdasarkan data pada tahun 2010 yaitu sebanyak 4 460 orang. Jumlah penduduk laki-laki sebanyak 2 217 orang yaitu sekitar 49.70 persen dari total penduduk Nagari Guguak Malalo dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 2 243 orang, 50.30 persen dari jumlah keseluruhan penduduk Nagari Guguak Malalo. Jumlah penduduk berdasarkan sebaran usia dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Sebaran jumlah penduduk berdasarkan usia di Nagari Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2010

(34)

22

Diatas 55 tahun 603 13.52

Total 4 460 100.00

Sumber: Monografi Nagari Guguak Malalo, 2010.

Tabel 5 menunjukkan jumlah usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan usia anak-anak dan lansia. Jumlah penduduk dengan kelompok umur 16 – 55 tahun merupakan usia produktif dengan persentase 57.78 persen dari jumlah penduduk Nagari Guguak Malalo. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan suatu daerah, serta merupakan faktor utama untuk peningkatan sumberdaya manusia. Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan akan berimplikasi pada keadaan sumberdaya manusia baik dari segi kualitas dan kuantitasnya, karena semakin tinggi tingkat pendidikan yang dicapai maka semakin tinggi kemampuan ekonomi, sosial dan budaya serta kemampuan sumberdaya manusianya. Tingkat pendidikan di Nagari Guguak Malalo dapat digolongkan menjadi beberapa jenjang pendidikan diantaranya adalah tidak tamat SD, tamat SD, SLTP, SLTA, Diploma dan Sarjana.

Tabel 6 Sebaran jumlah penduduk berdasarkan pendidikan di Nagari Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2010

Tingkat pendidikan Jumlah penduduk (jiwa) Persentase (%)

Tidak tamat SD 1 421 31.86

Sumber: Monografi Nagari Guguak Malalo, 2010.

(35)

23 Tabel 7 Sebaran jumlah KK berdasarkan mata pencaharian di Nagari Guguak

Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2010

Mata pencaharian Jumlah penduduk (jiwa) Persentase (%)

Petani 566 55.00

Nelayan 144 13.99

Pedagang 78 7.58

Tukang kayu 32 3.11

Penjahit 37 3.60

PNS 48 4.66

Pensiunan 26 2.53

TNI/Polri 3 0.29

Perangkat nagari 11 1.07

Industri kecil 28 2.72

Lain-lain 56 5.44

Total 1 029 100

Sumber: Monografi Nagari Guguak Malalo, 2010.

Berdasarkan Tabel 7 di atas masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan berada pada posisi kedua yaitu sebesar 13.99 persen setelah profesi sebagai petani. Hal ini disebabkan tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah. Kemudian mata pencaharian sebagai petani dan nelayan telah menjadi mata pencaharian turun temurun bagi masyarakat Nagari Guguak Malalo.

Karakteristik Responden

(36)

24

Gambar 4 Sebaran kelompok usia responden di Nagari Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat Tahun 2014

Nelayan di Nagari Guguak Malalo sebagian besar berada pada usia angkatan kerja yaitu 16 hingga 50 tahun yang mendominasi sebanyak 63.33 persen. Namun ada juga penduduk yang berusia diatas 50 tahun masih berprofesi sebagai nelayan. Sebagian besar penduduk tepian Danau Singkarak mulai sering menangkap ikan ke danau dari usia enam belas tahun kebawah, sehingga hanya sedikit penduduk yang mau melanjutkan pendidikannya ke jenjang sekolah menengah. Meskipun masih ada yang melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama ataupun Sekolah Menengah Atas, akan tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak.

Tingkat pendidikan yang dimiliki responden akan mempengaruhi keputusan nelayan dalam mengambil keputusan dan membuka wawasan nelayan untuk menerima dan mengaplikasikan teknologi baru dalam meningkatkan hasil tangkapannya. Sebaran responden nelayan dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 5 Sebaran tingkat pendidikan responden di Nagari Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2014

Berdasarkan Gambar 5 dapat dilihat bahwa pendidikan terakhir mayoritas responden di Nagari Guguak Malalo adalah Sekolah Dasar, yaitu sebanyak 43

16 - 50 tahun Diatas 50 tahun

(37)

25 persen. Hal ini disebabkan karena keterbatasan biaya dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pendidikan yang lebih tinggi. Namun masih ada nelayan yang sampai menamatkan pendidikannya ke jenjang Sekolah Menengah Pertama yaitu sebesar 37 persen. Kemudian nelayan yang sampai ke jenjang Sekolah Menengah Atas lebih sedikit dari tingkat dibawahnya.

Pengalaman seorang neayan dalam menangkap ikan akan mempengaruhi keterampilan yang dimiliki oleh nelayan tersebut. Nelayan yang berpengalaman akan lebih terampil dalam mengatasi masalah-masalah dan kendala yang akan dihadapi dalam menangkap ikan. Terutama dalam waktu penangkapan ikan yang selalu dihadapi dengan masalah cuaca dan alam. Pengalaman responden dalam menangkap ikan ditunjukkan oleh Tabel 8 .

Tabel 8 Sebaran pengalaman bernelayan responden di Nagari Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2014

Pengalaman bernelayan (tahun) jumlah (orang) persentase (%)

5 s/d 15 12 40.00

16 s/d 25 8 26.67

diatas 25 10 33.33

Total 30 100.00

Berdasarkan Tabel 8, lama pengalaman nelayan responden dalam menangkap ikan mayoritas 5 sampai 15 tahun, hal ini terjadi karena beberapa responden sebelumnya memiliki pekerjaan lain di luar Nagari Guguak Malalo. Kemudian mereka kembali ke kampung halaman dan menjadi nelayan ikan Bilih. Akan tetapi nelayan yang memiliki pengalaman 16 tahun keatas tidak berbeda jauh dengan nelayan yang memiliki pengalaman kurang dari 15.

Jumlah kepemilikan alat penangkapan yang dimiliki nelayan responden untuk menangkap ikan akan menentukan jumlah hasil tangkapan yang diperoleh oleh nelayan. Jumlah kepemilikan alat tangkap yang digunakan nelayan responden untuk menangkap ikan Bilih beragam dari satu buah sampai enam buah. Sebaran responden menurut jumlah kepemilikan alat penangkapan dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Sebaran kepemilikan alat penangkapan responden di Nagari Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2014

Jumlah alat Jumlah (orang)

(38)

26

Nelayan di Nagari Guguak Malalo memiliki kelompok nelayan. Akan tetapi tidak semua nelayan yang bergabung dalam kelompok nelayan tersebut dengan alasan ingin mandiri. Keberadaan kelompok nelayan di Nagari Guguak Malalo lebih banyak pada berbagi pengalaman dan menjaga silaturahmi antar nelayan. Sehingga ada nelayan yang merasa tidak terlalu butuh ikut kelompok tersebut. Gambar 3 menunjukkan perbandingan keikutsertaan nelayan responden dalam kelompok nelayan.

Gambar 6 Sebaran keikutsertaan responden dalam kelompok nelayan di Nagari Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2014 Keterlibatan nelayan responden dalam kelompok nelayan yang ditunjukkan pada Gambar 6 yaitu sebesar 57 persen nelayan responden memilih untuk tergabung dalam kelompok nelayan yang ada di nagari tersebut. Sedangkan sisanya sebesar 43 persen tidak tergabung dengan kelompok nelayan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Usaha Penangkapan ikan Bilih di Danau Singkarak

Perkembangbiakan Ikan Bilih

Ikan Bilih dalam bahasa ilmiah disebut (Mystacoleucus pdangensis) adalah ikan endemik yang hidup di Danau Singkarak. Ikan Bilih melakukan reproduksi atau pemijahan dengan cara menyongsong aliran air di sungai yang bermuara di danau. Induk jantan dan betina beruaya ke arah sungai dengan kecepatan arus air ke arah sungai berkisar antara 0.3-0.6 m/detik dengan kedalaman air antara 10-20 cm. Habitat pemijahan ikan Bilih adalah perairan sungai yang jernih dengan suhu relatif rendah, berkisar antara 24-26˚C dengan dasar sungai yang berbatu kerikil

ya 57% tidak

(39)

27 dan berpasir. Faktor lingkungan yang mempengaruhi pemijahan ikan Bilih adalah arus air dan substrat dasar. Ikan Bilih menuju ke daerah pemijahan menggunakan orientasi visual dan insting. Setelah sampai di habitat pemijahan tersebut, ikan Bilih betina melepaskan telur dan bersamaan dengan itu juga ikan jantan melepaskan sperma untuk membuahi telur tersebut. Telur ikan Bilih yang telah dibuahi berwarna transparan dan tenggelam berada di dasar sungai untuk kemudian hanyut terbawa arus air masuk ke danau (Kartamihardja dan Sarnita 2008).

Telur-telur tersebut akan menetas di danau sekitar 19 jam setelah dibuahi pada suhu air antara 27-28˚C dan larvanya berkembang di danau menjadi dewasa. Populasi ikan Bilih memijah setiap hari sepanjang tahun, mulai dari sore hari sampai dengan pagi hari mulai pukul lima sampai pukul sembilan. Pemijahan ikan bilih bersifat parsial, yakni telur yang telah matang kelamin tidak dikeluarkan sekaligus tetapi hanya sebagian saja dalam satu periode pemijahannya. Jumlah telur yang telah dikeluarkan (fekunditas) ikan Bilih berkisar antara 3 654 sampai 14 561 butir telur dengan rata-rata 7 580 butir per induk (Kartamihardja 2009).

Keberlanjutan siklus hidup ikan Bilih di alam saat ini dipengaruhi oleh dampak antropogenik. Dampak antropogenik yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas sumberdaya alam terbagi atas dua yakni, dampak langsung (direct impact of economic activitise) dan dampak tak langsung (indirect impact of economic activities). Salah satu dampak langsung yang mempengaruhi siklus hidup ikan bilih adalah dampak akibat pola atau metode penangkapan yang tidak tepat. Menurut penelitian Panudju (2010), ikan Bilih merupakan jenis ikan adfluvial, yaitu jenis ikan yang hidup di dalam danau dan apabila telah matang gonad akan bergerak ke arah hilir hingga hulu sungai untuk melakukan pemijahan. Ikan Bilih memijah pada daerah yang memiliki substrat bebatuan kecil. Setelah memijah, telur-telur yang telah dibuahi akan hanyut menuju danau dan dalam waktu sekitar 19 jam akan menetas, kemudian berkembang menjadi larva, ikan muda, dan ikan dewasa. Namun saat ini pada setiap muara sungai telah dibangun alahan (fish trap) yaitu salah satu jenis alat tangkap yang dibangun di daerah hilir sungai. Pemanfaatan alahan ini memanfaatkan sifat pemijahan ikan Bilih yang bersifat adfluvial, karena ketika akan memijah ikan Bilih akan menuju sungai. Ikan Bilih akan masuk ke alahan yang dibangun sedemikian rupa sehingga ikan Bilih akan berkumpul pada suatu tempat karena menyulitkan ikan Bilih untuk menuju ke hulu sungai sehingga ikan Bilih akan berkumpul pada pinggir alahan dan mempermudah penangkapan biasanya menggunakan jala lempar dan setrum, sehingga ikan Bilih yang masuk ke alahan tersebut jarang yang bisa lolos kembali ke danau.

(40)

28

Siklus populasi yang terputus dapat juga memutuskan siklus pemijahan ikan Bilih sehingga pada saat ikan dewasa, jumlah ikan di danau tidak mencapai jumlah tangkapan tahun sebelumnya.

Operasi Penangkapan

Pada daerah penelitian, sistem yang dipakai oleh responden dalam penangkapan adalah dengan menggunakan jaring gillnet atau di daerah penelitian lebih dikenal dengan nama jaring langli. Jaring langli yang digunakan memiliki ukuran 500m2. Kegiatan usaha penangkapan ikan Bilih dilakukan setiap hari oleh nelayan di Nagari Guguak Malalo. Pada umumnya nelayan di Nagari Guguak Malalo berangkat ke danau pada pukul 17.00 WIB untuk melepaskan jaring langli ke danau dengan menggunakan sampan motor. Jaring langli akan diambil kembali pada pukul 04.00 WIB.

Tahap persiapan dimulai dari menyiapkan bahan bakar, pengecekan mesin dan alat tangkap. Setelah persiapan selesai, mesin kapal dinyalakan dan nelayan bersiap-siap menuju ke fishing ground. Waktu yang digunakan untuk sampai ke

fishing ground bergantung pada jarak yang ditempuh berkisar 45-90 menit. Setelah sampai di fishing ground nelayan akan menyiapkan ancang-ancang dan melihat lokasi yang tepat untuk melepaskan jaring langli. Jika lokasi yang dilihat sudah tepat maka nelayan akan melepaskan langli pada daerah tersebut dan mencari daerah lain untuk melepaskan jaring yang lainnya.

Usaha penangkapan ikan di Nagari Guguak Malalo tidak sepanjang tahun bisa dilakukan oleh nelayan di nagari tersebut, meskipun ikan Bilih melakukan pemijahan setiap hari sepanjang tahun. Akan tetapi nelayan ikan Bilih akan melakukan penangkapan dalam rentang waktu tertentu. Penangkapan ikan Bilih di Danau Singkarak terjadi kurang lebih selama tiga bulan dalam setahun yaitu bulan Februari, Maret, dan April. Puncak penangkapan ikan Bilih terjadi pada bulan Februari. Pada musim puncak stok ikan Bilih di Danau Singkarak melimpah sehingga nelayan mampu memperoleh ikan yang banyak. Sedangkan bulan Maret dan April penangkapan ikan cederung lebih sedikit. Hal ini karena stok ikan Bilih menurun di Danau Singkarak. Penurunan stok tersebut menyebabkan nelayan tidak melakukan penangkapan ikan Bilih pada bulan Mei hingga bulan Januari. Hal ini karena hasil tangkapan ikan Bilih pada bulan-bulan tersebut sangat sedikit sehingga biaya yang dikeluarkan untuk menangkap ikan lebih besar daripada hasil tangkapan.

Penggunaan Input

(41)

29 adalah jaring insang (gillnet) atau lebih dikenal sebagai jaring langli di daerah tersebut.

Jaring insang adalah suatu dinding jaring berbentuk empat persegi panjang, mempunyai mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh badan jaring, dilengkapi dengan pelampung pada bagian atas jaring dan pemberat pada bagian bawah jaring. Jaring insang dioperasikan dengan tujuan menghadang ruaya gerombolan ikan. Ikan-ikan yang tertangkap pada jaring insang umumnya karena terjerat (gilled) di bagian belakang penutup insang ataupun terpuntal (entangled) pada mata jaring, baik untuk jaring insang yang terdiri dari satu lapis jaring, dua lapis maupun tiga lapis jaring. Alat penangkap ini terdiri dari satu satuan jaring yang biasa disebut tinting (piece), dan satu tinting jaring mempunyai ukuran mata jaring, panjang dan lebar yang bervariasi disesuaikan dengan tujuan penangkapan.

Gambar 7 Jaring Gillnet/langli yang digunakan nelayan Nagari Guguak Malalo untuk menangkap ikan Bilih di Danau Singkarak

Operasi penangkapan jaring insang biasanya terdiri dari beberapa tinting jaring yang digabung menjadi satu sehingga merupakan satu unit jaring yang panjang. Panjang jaring tersebut tergantung dari banyaknya tinting yang akan dioperasikan. Alat penangkap ini dapat dioperasikan dengan cara dihanyutkan, dipasang secara menetap pada suatu perairan, dengan cara dilingkarkan, ataupun dengan cara menyapu dasar perairan. Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut, maka jaring insang dapat dibedakan atas jaring insang hanyut, jaring insang tetap, jaring insang lingkar, jaring klitik dan trammel net.

(42)

30

Gambar 8 Perahu yang digunakan nelayan di Danau Singkarak Sumatera Barat Mesin tempel yang digunakan nelayan menggunakan bahan bakar bensin campur. Pada setiap operasi nelayan responden rata-rata menggunakan bahan bakar sebanyak 4 liter dengan harga per liter pada tahun 2014 di Nagari Guguak Malalo sebesar Rp9 000. Nelayan melalukan operasi penangkapan ikan setiap hari selama musim tangkap puncak maupun musim tangkap biasa dengan menggunakan bahan bakar sebanyak 4 liter. Jadi rata-rata penggunaan bahan bakar oleh nelayan selama musim tangkap puncak dan musim tangkap biasa sekitar 360 liter.

Investasi Usaha Penangkapan

Modal investasi adalah modal yang dikeluarkan sekali dalam proses produksi untuk memperoleh beberapa kali manfaat sampai secara ekonomi tidak menguntungkan lagi. Pada usaha penangkapan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo, nelayan pada umumnya menggunakan modal sendiri. Usaha penangkapan ikan Bilih memiliki komponen investasi antara lain terdiri atas perahu, mesin, dan

gillnet. Komponen-komponen tersebut memiliki umur teknis dan biaya penyusutan masing-masing.

Biaya penyusutan peralatan dihitung dalam satu tahun. Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus dengan asumsi peralatan setelah umur teknis habis tidak dapat digunakan lagi. Penggunaan peralatan masing-masing responden berbeda, hal tersebut berdampak pada biaya penyusutan masing-masing nelayan yang berbeda.

Tabel 10 Perbandingan rata-rata penyusutan peralatan nelayan di Nagari Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat tahun 2014

(43)

31

Biaya penyusutan peralatan yang digunakan nelayan termasuk dalam kmponen biaya diperhitungkan sehingga peralatan yang digunakan berpengaruh terhadap biaya total.

Pemasaran

Hasil tangkapan yang diperoleh nelayan dijual langsung pada pedagang pengumpul yang ada di Nagari Guguak Malalo. Ikan Bilih yang telah ditangkap nelayan akan dibawa ke pinggiran danau. Kemudian ikan dikeluarkan dari jaring untuk dipisahkan yang bagus dan tidak layak jual. Setelah ikan dipisahkan, kemudian ikan akan dibawa ke tempat pedagang pengumpul yang ada di nagari tersebut. Biasanya nelayan telah mempunyai pedagang pengumpul langganan mereka untuk menjual hasil tangkapan, sehingga nelayan tidak mengalami kesulitan dalam menjual hasil tangkapan mereka. Harga jual ikan ditentukan oleh pedagang pengumpul sesuai dengan musim tangkap. Jika pada musim tangkap puncak, maka harga ikan Bilih akan turun. Sebaliknya, jika pada musim tangkap biasa ikan Bilih yang didapat juga sedikit jadi biasanya harga yang ditetapkan pedagang pengumpul juga tinggi.

Hasil penjualan dari hasil tangkapan yang dijual nelayan pada pedagang pengumpul biasanya diterima setiap minggu atau bulan tergantung sistem kesepakatan nelayan dengan pedagang pengumpul tersebut. Biasanya nelayan telah mempercayakan hasil penjualan mereka dihitung oleh pedagang pengumpul itu sendiri. Jika sewaktu-waktu nelayan butuh uang, mereka akan langsung menemui pedagang yang menerima hasil tangkapan mereka secara langsung. Akan tetapi mereka tidak terikat untuk selalu menjual hasil tangkapan mereka pada pedagang tersebut, sehingga sewaktu-waktu nelayan bisa menjual hasil tangkapannya pada pedagang pengumpul lainnya.

Gambar 9 Saluran pemasaran hasil tangkapan ikan Bilih

Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo

Biaya Usaha Penangkapan Ikan Bilih

Biaya yang dikeluarkan oleh nelayan dalam penangkapan ikan terdiri atas biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Biaya dalam penelitian ini berdasarkan pada rata-rata biaya dalam setahun. Rata-rata dalam setahun nelayan

(44)

32

melakukan penangkapan lebih kurang dalam tiga bulan. Biaya yang dikeluarkan oleh nelayan responden terdiri atas biaya untuk bahan bakar dan biaya perawatan alat tangkap. Sedangkan biaya yang diperhitungkan merupakan biaya yang dikeluarkan nelayan untuk kegiatan menangkap yang harus diperhitungkan sebagai pengeluaran petani untuk menangkap ikan bilih. Biaya diperhitungkan yang dikeluarkan nelayan responden terdiri atas biaya tenaga kerja dalam keluarga, biaya penyusutan kapal, penyusutan alat tangkap dan penyusutan mesin tempel. Tabel 11 menunjukkan gambaran biaya penangkapan responden.

Tabel 11 Biaya usaha penangkapan Ikan Bilih per alat tangkap di Nagari Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat pada tahun 2014

Keterangan Satuan Jumlah Harga (Rp/ satuan)

diperhitungkan 4 167 333 50.91

C. Total biaya 8 186 221 100.00

Nilai biaya terbesar pada komponen biaya tunai adalah biaya yang dikeluarkan untuk bahan bakar yaitu sebesar Rp3 267 000. Bahan bakar yang digunakan adalah bensin yang dicampur dengan sedikit oli. Jumlah bahan bakar yang digunakan adalah sebanyak 363 liter dengan harga Rp9 000 per liter. Biaya bahan bakar yang besar dikarenakan nelayan menangkap ikan ke tengah danau untuk melepas gillnet sampai dengan jarak rata-rata 2 km di tengah danau. Biaya perawatan yang dikeluarkan nelayan berupa biaya untuk perbaikan jaring, perbaikan mesin dan perbaikan perahu yang digunakan nelayan.

(45)

33 Rata-rata biaya penangkapan ikan Bilih di Nagari menunjukkan biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan nelayan untuk rata-rata keseluruhan alat tangkap yang digunakan nelayan responden dalam melakukan aktivitas penangkapan ikan Bilih. Tabel 12 menunjukkan rata-rata biaya penangkapan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo.

Tabel 12 Rata-rata biaya penangkapan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat pada tahun 2014

Keterangan satuan Jumla

diperhitungkan 5 693 999 55.50

C. Total biaya 10 259 932 100.00

Nilai pada rata-rata biaya penangkapan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo untuk keseluruhan alat tangkap nelayan responden pada biaya tunai paling besar adalah pada komponen pada bahan bakar yaitu sebesar 31.91 persen. Hal ini berbeda dengan biaya pada komponen bahan bakar per alat tangkap yaitu sebesar 39.91 persen. Perbedaan ini dapat terjadi karena pada rata-rata biaya penangkapan terjadinya peningkatan biaya pada biaya perawatan jaring dan biaya pada penyusutan jaring. Sehingga pada kondisi yang dilapang, peningkatan nilai pengeluaran yang cukup signifikan pada jaring pada keseluruhan alat tangkap menyebabkan peningkatan total biaya penangkapan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo meningkat dari Rp8 186 221

menjadi Rp10 259 932.

Penerimaan Usaha Penangkapan Ikan Bilih

Gambar

Tabel 2  Produksi (ton) ikan di Danau Singkarak menurut jenis ikan dan
Gambar 1  Laju produksi (ton/tahun) ikan Bilih di Danau Singkarak tahun 2008 -
GAMBARAN UMUM NAGARI GUGUAK MALALO
Tabel 4  Komposisi lahan di Nagari Guguak Malalo Kecamatan Batipuh Selatan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil Penelitian menyimpulkan bahwa Faktor yang berpengaruh nyata terhadap jumlah hasil tangkapan ikan di daerah penelitian adalah variabel kapasitas kapal, sedangkan variabel lama

Pqriao no$mi

Faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan pada taraf nyata 10 persen adalah pendapatan dan pendidikan, sedangkan variabel jumlah pengangguran dan tingkat ketergantungan

kerja dan modal) berpengaruh terhadap pendapatan

Syandri (1996) melaporkan ukuran mata jaring yang digunakan nelayan dalam kegiatan penangkapan ikan bilih terlalu kecil, sehingga ikan bilih banyak tertangkap

Karakterisasi petani ternak diperoleh dari hasil analisis regresi linier berganda terhadap parameter pendapatan dari usaha pertanian atau peternakan yang dipengaruhi oleh faktor umur

Analisi Statistik Regresi Linear Berganda Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Peternak Sistem Semi Intensif.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan petani padi di Sumatera Barat adalah luas lahan garapan yang dimiliki oleh petani padi berpengaruh positif terhadap pendapatan petani padi,