PERBANDINGAN INDEKS GLIKEMIK DAN BEBAN
GLIKEMIK BEBERAPA MAKANAN CEPAT SAJI
Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN
OLEH :
Hanifia Zahra Rahmawati
1112103000025
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
v
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan pada kehadirat Allah SWT atas rahmat dan nikmat yang tiada hentinya diberikan kepada penulis. Kesehatan, semangat dan kekuatan senantiasa diberikan oleh-Nya hingga penulisan laporan penelitian ini selesai. Kepada Nabi Muhammad SAW atas tauladannya. Penulis menyadari, tanpa bimbingan dan segenap bantuan dari berbagai pihak maka penelitian ini tidak akan selesai. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1. DR. Arif Sumantri, S.KM, M.Kes, selaku Dekan FKIK UIN Syarif
Hidayatullah JakartadanProf. Dr. dr. Sardjana, SpOG (K), SH, Maftuhah, Ph.Ddan Fase Badriah, Ph.D selaku Pembantu Dekan FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. dr. Achmad Zaki, M.Epid, Sp.OT selaku Ketua Program studi Pendidikan Dokter dan drg. Laifa Annisa Hendarmin, Ph.D selaku Sekretaris Program Studi Pendidikan Dokter
3. dr. Witri Ardini, M.Gizi, SpGK selaku pembimbing 1 yang telah memberikan segenap waktu, tenaga, pikiran dan kesabaran kepada penulis. Atas bimbingannya yang sangat bermanfaat dalam proses penyelesaian penelitian ini.
4. Bu Zeti, selaku pembimbing 2 atas segala masukan , dan kritik, dan bersedia meluangkan waktu untuk membantu penulis dalam proses penyelesaian laporan penelitian ini. Atas kesediaan beliau untuk membimbing kami hingga penulisan laporan ini selesai.
5. dr. Nouval Shahab, Sp.U, FICS FACS yang mengajarkan dan memfasilitasi penulis untuk menyelesaikan penelitian. Selaku penanggungjawab modul riset PSPD 2012.
vi
7. Para teman-teman responden, Eka, Qory, Novput,Afi, Wana, Imi, Rivki, Rizky, Faruq, Dede Ilo, Bos Kojek. Terima kasih atas kerja sama kalian dalam penelitian ini. Sukses selalu untuk kalian.
8. Teman-teman sekelompok penelitian “Gula Ajaib”, Mbeks, Eel , Ega, dan Silvi. Terima kasih atas segala kebersamaan dan motivasi dari awal hinggapenyelesaian laporan penelitian ini. Semoga perjuangan kita selama ini akan berbuah manis.
9. Kepada teman-teman seperjuangan di Kost-an Dokter Cantik, Nurul,Imi, Ubat, Nabila dan Dewi atas dukungan dan hiburannya ditengah-tengah kesibukan kuliah. atas bantuan dan ilmu dan moral yang sangat bermanfaat dalam proses penyelesaian penelitian ini.
10.Nurul, terima kasih atas motivasi dan dukungan moral yang telah diberikan kepada penulis. Sukses selalu.
11.Kak Jidi, Kak Evan dan Kak Andhin atas sharing pengalaman dan masukan yang bermanfaat kepada penulis.
12.Teman teman seperjuangan PSPD 2012, untuk kebersamaan selama tiga tahun ini. Atas dukungan dan motivasi yang terus mengalir tiada henti. Semoga perjuangan yang telah kita lakukan bersama selama tiga tahun ini akan berbuah hasil yang memuaskan dan dilancarkan coAss dan internshipnya. Penulis menyadari laporan penelitian ini masih jauh dari bentuk yang sempurna. Segala kritik dan saran dari berbagai pihak sangat penulis harapkan. Demikian laporan ini penulis susun, semoga bermanfaat untuk ilmu pengetahuan, agama, dunia dan setelahnya nanti. Amien.
Ciputat, 7Agustus 2015
vii
Abstrak
Hanifia Zahra Rahmawati. Program Studi Pendidikan Dokter. Perbandingan Indeks Glikemik Dan Beban Glikemik Beberapa Makanan Cepat Saji. 2015
Angka kejadian Diabetes semakin meningkat setiap tahunnya. Salah satu faktor yang berperan adalah pola makan. Saat ini pola makan di Indonesia lebih mengarah pada makanan cepat saji. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai indeks glikemik dan beban glikemik beberapa makanan cepat saji.Penelitian merupakan penelitian eksperimen dengan jumlah responden sebelas orang . Penelitian meliputi pemeriksaan glukosa darah secara berkala pada menit 0, 15, 30, 45, 60, 90, 120 setelah mengkonsumsi roti lapis daging ayam dan burger daging. Penghitungan indeks glikemik menggunakan metode area under curve (AUC). Rerata indeks glikemik roti lapis daging ayam dan burger daging adalah 109,65%, 89,06%. Kedua makanan ini termasuk dalam indeks glikemik tinggi dan terdapat perbedaan yang bermakna (p< 0,01) . Sedangkan rerata beban glikemik makanan uji adalah 57,69 dan 38,04 kedua makanan ini termasuk dalam beban glikemik tinggi dan terdapat perbedaan bermakna (p< 0,01).
Kata kunci : Glukosa darah, indeks glikemik, beban glikemik, makanan cepat saji
Abstract
Hanifia Zahra Rahmawati. Medical Education Study Program . Comparison of Glycemic Index and Glycemic Load in Some Fast Food. 2015
The incidence of diabetes is increasing every year. One contributing factor is diet. Currently in Indonesia diet leads to more fast food. The purpose of this study was to determine the glycemic index and glycemic load some fast food. The research was an experimental study with the number of respondents eleven people. The research included examination of blood glucose at minute 0, 15, 30, 45, 60, 90, 120 after consuming chicken sandwich and Meat burger. The glycemic index calculations using area under the curve (AUC) method. The mean glycemic index is 109.65%, 89.06%. Both meals are included in the high glycemic index and there is a significant difference (p-value 0.00). While the mean glycemic load test foods are 57.69 and 38.04 both meals are included in the high glycemic load and there is a significant difference (p-value) .
viii
BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang ... 1
1.4.2 Bagi Institusi ... 3
1.4.3 Bagi Masyarakat ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori ... 4
2.1.1 Karbohidrat ... 4
2.1.2 Pencernaan Karbohidrat ... 5
2.1.3Absopsi Karbohidrat ... 6
2.1.4 Metabolisme Karbohidrat ... 7
2.1.5 Regulasi Glukosa Darah ... 7
2.1.6 Indeks Glikemik ... 9
2.1.7 Beban Glikemik ... 11
2.1.8 Makanan Cepat Saji ... 12
2.2 Kerangka Teori ... 13
2.2 Kerangka Konsep ... 13
2.3 Definisi Operasional ... 14
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ... 16
3.2 Waktu Dan Tempat Penelitian ... 16
3.3Populasi Penelitian ... 16
3.4 Alat Dan Bahan Penelitian ... 16
3.5 Kriteria Inklusi Dan Eksklusi ... 16
3.4.1 Kriteria Inklusi ... 16
3.4.2 Kriteria Eksklusi ... 17
3.4.2 Kriteria Drop - Out... 17
3.6Besar Dan Cara Pengambilan Responden ... 17
ix
3.8Cara Kerja Penelitian ... 18
3.9 Rencana Pengolahan Dan Analisa Data ... 19
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1Karakteristik Responden ... 21
4.2Makanan Standar dan Makanan Uji ... 22
4.3Kadar Glukosa Darah ... 23
4.4Indeks Glikemik ... 24
4.5Beban Glikemik ... 25
4.6Keterbatasan Penelitian ... 25
BAB V PENUTUP 5.1Kesimpulan ... 26
5.2Saran ... 26
DAFTAR PUSTAKA ... 27
x
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Hormon yang mengatur regulasi Glukosa darah ... 8
Tabel 2.2 Faktor yang mempengaruhi kadar indeks glikemik makanan ... 9
Tabel 2.3 Klasifikasi Indeks Glikemik... 11
Tabel 2.4 Klasifikasi Beban Glikemik ... 11
Tabel 4.1 Karakteristik Responden ... 21
Tabel 4.2Kandungan Gizi Makanan Standar dan Makanan Uji ... 22
Tabel 4.3Makanan standar dan makanan uji dengan karbohidrat 50 gram... 22
Tabel 4.4Persentase kenaikan Glukosa darah ... 23
Tabel 4.5 Klasifikasi Nilai Indeks Glikemik ... 24
Tabel 4.6Rerata Nilai Indeks Glikemik ... 24
Tabel 4.7 Klasifikasi Nilai Beban Glikemik ... 25
xi
DAFTAR GAMBAR
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Lembar Surat Persetujuan Responden ... 28
Lampiran 2 Lembar Status Kesehatan Responden... 29
Lampiran 3Kriteria Status Gizi Menurut Asia-Pasifik... 30
Lampiran 4Data Hasil Pemeriksaan Responden ... 31
Lampiran 5 Analisis Gizi dan Perhitungan Jumlah Makanan ... 32
Lampiran 6 Kurva Respon Glukosa Darah ... 33
Lampiran 7Perhitungan Luas Area di bawah Kurva ... 39
Lampiran 8Perhitungan Indeks Glikemik dan Beban Glikemik ... 42
Lampiran 9 Hasil Indeks Glikemik dan Bebaan Glikemik setiap Responden ... 43
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Diabetes melitus (DM) adalahsuatu kelainan metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang disebabkan oleh kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Diabetes mellitus merupakan penyebab kematian ke-3 di dunia dan ke-6 di indonesia.1, 2
Data dari RISKESDAS tahun 2013 menunjukan bahwa prevalensi DM mengalami peningkatan dari 1,1 % pada tahun 2007 menjadi 2,4 % pada tahun 2013. Prevalensi diabetes mellitus di Indonesia tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara (2,4%) dan Kalimantan Timur (2,3%).3
Salah satu faktor risiko yang berperan dalam patogenesis DM adalah pola makan sehingga pengaturan pola makan merupakan bagian dari pilar penatalaksanaan DM, baik sebagai upaya kuratif maupun preventif. Implementasi pengaturan pola makan bagi diabetisi adalah mengkonsumsi makanan atau minuman dengan indeks glikemik rendah agar tidak menaikkan kadar gula secara drastis. 2,4
Indeks Glikemik (IG) adalah kemampuan suatu makanan untuk menaikkan kadar glukosa darah dengan kandungan karbohidrat tertentu. Tingginya kadar indeks glikemik berperan penting terhadap terjadinya kerusakan oksidatif, dan penyakit-penyakit degeneratif.5Sedangkan beban glikemik (BG) adalah Respon glukosa darah setelah mengkonsumsi satu porsi makanan yang mengandung karbohidrat.5
Berdasarkan uraian diatas peneliti ingin mengetahui perbandingan makanan cepat saji berupa roti lapis daging ayam dan burger dari restoran cepat saji dalam meningkatkan kadar gula darah .
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
Apakah terdapat perbedaan nilai indeks glikemik dan beban glikemik pada beberapa makanan cepat saji?
1.3Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui nilai indeks glikemik (IG) dan beban glikemik (BG) beberapa makanan cepat saji
1.3.2 Tujuan khusus
1. Mengetahui klasifikasi indeks glikemik dan beban glikemik beberapa makanan cepat saji
2. Mengetahui perbandingan nilai Indeks glikemik dan beban glikemik beberapa makanan cepat saji
1.4Manfaat penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
1. Mendapatkan pengalaman dan pengetahuan dalam penelitian di bidang ilmu gizi dan kesehatan
2. Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana kedokteran
1.4.2 Bagi Institusi
1. Memberikan data mengenai indeks glikemik dan beban glikemik dari beberapa jenis makanan cepat saji sehingga dapat menjadi panduan pemilihan makanan pada penderita gangguan metabolisme karbohidrat
2. Menambah referensi penelitian di FKIK UIN Syarif Hidayatullah
1.4.3 Bagi Masyarakat
BAB II
Tinjauan Pustaka
2.1 Karbohidrat
Karbohidrat merupakan molekul yang tersebar paling banyak di alam. Karbohidrat berfungsi menyediakan energi pada organisme dan menyediakan cadangan energi di dalam tubuh. 6
Karbohidrat diklasifikasikan menjadi 2 golongan yaitu karbohidrat sederhana dan karbohidrat kompleks. Monosakarida, disakarida, dan oligosakarida merupakan bagian dari karbohidrat sederhana sedangkan yang termasuk dalam karbohidrat kompleks adalah polisakarida dan serat.7
1. Monosakarida
Monosakarida merupakan karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis lagi menjadi bentuk yang lebih sederhana. Monosakarida tidak banyak berada bebas di alam, namun merupakan penyusun utama disakarida dan polisakarida.Terdapat banyak monosakarida yang telah diidentifikasi namun hanya sebagian kecil yang berperan dalam metabolisme energi. Monosakarida yang paling penting untuk manusia dalam metabolisme energi adalah glukosa, galaktosa, dan fruktosa yang terdiri atas 6 karbon (heksosa). 6,8,9
2. Disakarida dan Oligosakarida
Disakarida merupakan jenis karbohidrat yang jika dihidrolisis akan menghasilkan dua molekul monosakarida yang sama atau berbeda. Dalam ilmu gizi terdapat 3 jenis disakarida, yaitu sukrosa, laktosa dan maltosa. Oligosakarida jika dihidrolisis akan menghasilkan dua sampai sepuluh unit monosakarida. 7,8
3. Polisakarida
2.2 Pencernaan karbohidrat.
Tempat utama terjadinya pencernaan karbohidrat adalah mulut dan lumen usus halus.
1. Pencernaan karbohidrat di mulut dan lambung
Makanan yang mengandung polisakarida dapat berasal dari hewan (glikogen) maupun tumbuhan (zat tepung, berupa amilosa dan amilopektin). Selama proses pengunyahan makanan di mulut, enzim amilase- yang yang terkandung dalam air liur akan memecah zat tepung menjadi disakarida maltosa dan polimer glukosa kecil. Makanan berada di mulut dalam waktu singkat sehingga hanya 5 % karbohidrat yang terhidrolisis. Saat memasuki lambung pencernaan karbohidrat akan berlangsung selama satu jam dalam korpus dan fundus lambung . Setelah bercampur dengan sekret dari lambung proses pencernaan akan berhenti sementara karena enzim amilase-tidak dapat berfungsi pada suasana asam.6.10
2. Pencernaan karbohidrat di usus halus
Ketika kimus mencapai usus halus, keasaman lambung akan dinetralkan oleh bikarbonat yang disekresi oleh pankreas dan enzim amilase-. pankreas akan melanjutkan proses pencernaan karbohidrat. Dalam duodenum, pencernaan seluruh karbohidrat telah selesai namun hasilnya berupa maltosa polimer polimer glukosa kecil.
5
Pencernaan karbohidrat oleh enzim tercantum pada gambar 2.110
Gambar 2.1 Pencernaan Glukosa oleh enzim 10
2.3. Absopsi karbohidrat
Duodenum dan jejenum bagian atas merupakan tempat terjadinya absopsi karbohidrat. Sebagian besar karbohidrat diabsopsi dalam bentuk monosakarida, lebih dari 80 persen karbohidrat yang diabsopsi adalah glukosa dan sisanya terdiri dari fruktosa dan galaktosa. Glukosa dan galaktosa diserap melalui transpor aktif sedangkan fruktosa diserap dalam darah melalui transpor pasif yang di perantarai oleh pembawa.6,11
Kemampuan pencernaan dan absopsi glukosa oleh traktus gastrointestinal bergantung pada (1) Respon zat tepung terhadap aktivitas enzim (2) aktivitas enzim pencernaan, terutama laktase di mukosa brush border (3) adanya faktor makanan lainnya seperti lemak yang akan memperlambat pengosongan lambung serta serat yang akan memperlemah kerja enzim 9
2.4. Metabolisme karbohidrat
Hampir 80% karbohidrat yang diabsopbsi adalah glukosa sedangkan sebagian besar fruktosa dan hampir seluruh galaktosa akan diubah menjadi glukosa di hati. Glukosa yang akan ditranspor ke dalam jaringan. Kecepatan ambilan glukosa sangat dipengaruhi oleh insulin. Kecepatan pengangkutan glukosa dengan insulin meningkat 10 kali lebih cepat dibanding tanpa insulin. 10
Setelah berada dalam sel, glukosa akan mengalami proses metabolisme berupa fosforilasi oksidatif, glikolisis, dan siklus krebs. Tujuan proses tersebut adalah untuk membentuk adenosin trifosfat (ATP) yang berfungsi sebagai energi bagi sel.11
2.5 Regulasi Glukosa Darah
Pengaturan utama kadar glukosa darah setelah makan adalah (1) jumlah dan kemampuan pencernaan karbohidrat yang dikonsumsi, (2) absorbsi dan kemampuan hati dalam ambilanglukosa, erta (3) sekresi insulin dan jaringan sensitif terhadap insulin. 9
Insulin merupakan hormon utama dalam regulasi kadar glukosa darah. Jika kadar glukosa darah tinggi insulin akan disekresikan. Insulin memiliki efek anabolik yaitu mengubah glukosa menjadi glikogen dan lemak sehingga gula darah akan turun. 10,12
7
Gambar 2.2 Regulasi keseimbangan gula oleh insulin dan glukagon 12 Selain insulin dan glukagon terdapat pula hormon lain yang mempengaruhi regulasi glukosa seperti epinefrin, kortisol, dan hormon pertumbuhan seperti yang tercantum dalam tabel 2.112
Tabel 2.1 Hormon yang mengatur regulasi Glukosa darah 11
Hormon Rangsang utama untuk sekresi
Efek pada
glukosa darah Mekanisme Insulin Glukosa darah
Asam amino darah
Menurunkan gula darah
pengambilan glukosa
Glikogenesis
Glikogenolisis
Glukoneogenesis Glukagon Glukosa darah
Asam amino darah
Meningkatkan glukosa darah
Glikogenolisis
Glukoneogenesis
glikogenesis Epinefrin Stimulasi simpatis
saat stress dan olehraga
Meningkatkan glukosa darah
Glikogenolisis
Glukoneogenesis
glikogenesis
sekresi insulin
sekresi glukagon Kortisol Stress Meningkatkan
glukosa darah
Glukoneogenesis
ambilan glukosa oleh jaringan kecuali otak Hormon
2.6.Indeks glikemik
Indeks glikemik (IG) adalah angka dalam persen yang menggambarkan kemampuan suatu makanan untuk meningkatkan kadar glukosa darah. Indeks glikemik diukur menggunakan perbandingan luas area dibawah kurva antara makanan uji dengan makanan standar yang memiliki kandungan karbohidrat sebanyak 50 gram. 13,14
Indeks glikemik suatu makanan dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor individu dan faktor makanan.faktor individu yaitu sensitivitas insulin, fungsi dari sel β pankreas, motilitas saluran cerna, metabolisme makanan sebelumnya, dan juga regulasi karbohidrat. Sedangkan untuk faktor makanan tercantum dalam tabel 2.2.15
Tabel 2.2 Faktor yang mempengaruhi kadar indeks glikemik makanan15
Faktor Makanisme Contoh makanan
Tingkat gelatinisasi pati Proses pencernaan makanan akan semakin lama jika tingkat gelatinisasi rendah
Spageti,oatmeal
Bentuk fisik makanan Lapisan serat pada biji-bijian dan yang menempel pada dinding sel tumbuhan merupakan penghalang bagi enzim untuk mencerna pati
roti pumpernikel dan roti gandum, serta kacang-kacangan
Serat Serat solubel dapat meningkatkan viskositas kimus serta memperlambat pencernaan pati oleh enzim karena dapat menyerap air
Buncis, apel, roti putih, sereal
Rasio amilosa dan amilopektin
Semakin banyak amilosa dalam makanan akan
9
mamperlambat pencernaan pati. Sedangkan semakin banyak amilopektin akan mempercepat pencernaan pati
(maizena)
Gula (sukrosa) Pencernaan fukrosa yang terdiri dari glukosa dan fruktosa hanya menghasilkan setengah molekul glukosa dari pati dalam jumlah yang sama. Sukrosa dapat menghambat gelatinisasi pati dengan cara mengikat air
Cookies, sereal
Tingkat keasaaman Asam dalam makanan menghambat pengosongan lambung
Jeruk
Berdasarkan indeks glikemiknya, Milleret al mengklasifikasi makanan menjadi 3 seperti yang tercantum pada tabel 2.316
Tabel 2.3 Klasifikasi Indeks Glikemik 16
Kategori Makanan Rentang IG
Rendah > 55
Sedang 55 – 69
Tinggi > 70
Penggunaan IG dapat memprediksi efek terhadap kadar glukosa darah dan juga dapat membantu pemilihan nutrisi pada pasien dengan diabetes dan hiperlipidemia. Pada pasien hiperlipidemia yang mengkonsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah menunjukan penurunan kadar kolesterol HDL dan konsentrasi triasilgliserol. Diet makanan dengan indeks glikemik rendah juga secara potensial mampu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.5
2.7 Beban Glikemik
Beban glikemik (BG) adalah hasil dari respon glukosa darah setelah mengkonsumsi satu porsi makanan yang mengandung karbohidrat. Beban glikemik didapatkan dengan mengalikan nilai IG dengan jumlah karbohidrat dalam satu porsi makanan kemudian dikali dengan 100. Klasifikasi beban glikemik dapat dilihat pada tabel 2.4 berikut :
Tabel 2.4 Klasifikasi Beban Glikemik 16
Klasifikasi Nilai beban glikemik Beban glikemik rendah ≤ 10
Beban glikemik sedang > 10 sampai < 20 Beban glikemik tinggi ≥ 20
11
Makanan dengan IG dan BG yang tinggi dapat menyebabkan berbagai penyakit kronik yang berkaitan dengan pola hidup. Konsep pemeriksaan IG dan BG dapat digunakan sebagai salah satu sarana dalam mengidentifikasi makanan yang dapat mengurangi risiko penyakit-penyakit kronik atau dapat pula berguna untuk managemen penyakit.4,16
Dengan mengganti makanan IG tinggi dengan makanan IG rendah pada pasien diabetes dapat meningkatkan kontrol glikemik sedangkan untuk pasien DM yang menggunakan insulin, akan mengurangi episode hipoglikemik .17
Makanan dengan GL yang tinggi memiliki peran terhadap terjadinya DM tipe 2. Makanan dengan GL yang tinggi akan meningkatkan kebutuhan insulin dan meningkatkan resistensi insulin sehingga meningkatkan risiko DM tipe 2.17
2.8 Makanan Cepat Saji
Makanan cepat saji sangat diminati pada masa globalisasi sekarang ini. Hal ini disebabkan oleh menjamurnya restoran cepat saji di indonesia serta pelayanan yang cepat dan rasa yang sesuai dengan selera masyarakat indonesia. Namun begitu makanan cepat saji umumnya mengandung zat gizi yang rendah dan kaya akan kandungan lemak serta natrium. 18
Menurut Poti , anak-anak yang mengkonsumsi makanan cepat saji memiliki total asupan lemak yang lebih tinggi serta asupan serat yang rendah dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengkonsumsi makanan cepat saji. 19
2.10. Kerangka teori
Beban glikemik Faktor yang
mempengaruhi
Indeks glikemik metabolisme
Glukosa darah Absopsi
mikronutrien
Glukosa Monosakarida
Disakarida makronutrien
serat Polisakarida
Protein lemak
Karbohidrat
Kandungan nutrisi
Faktor dalam makanan makanan
Kandungan dalam satu porsi Proses
13
2.11 Kerangka Konsep
2.7 Definisi Operasional
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental untuk mengetahui nilai Indeks Glikemik (IG) dan Beban Glikemik (BG) pada 2 varian makanan cepat saji berupa roti lapis daging ayam dan burger daging
3.2Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada Mei 2015 hingga Juni 2015 di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan sekitarnya.
3.3Populasi Penelitian
Populasi penelitian adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3.4Alat dan Bahan Penelitian
a. Glukosameter dan test strip glukosa darah merk Easy touch
b. Makanan standar: roti tawar putih kupas yang mengandung 50 gram karbohidrat
c. Makanan uji : Roti lapis daging ayam dan burger daging restoran cepat saji
d. Sampel darah responden yang diambil dengan metode finger-prick
3.5Kriterian inklusi dan eksklusi
3.5.1 Kriteria Inklusi
a. Responden sehat
b. Responden memiliki IMT normal menurut kriteria Asia – pasifik
3.5.2 Kriteria Eksklusi
a. Responden memiliki gangguan hormon
b. Responden memiliki gangguan pembekuan darah
c. Responden alergi terhadap makanan standar dan makanan uji d. Responden dalam keadaan hamil
3.5.3 Kriteria Drop – Out
d. Responden sakit selama penelitian dan tidak dapat melanjutkan penelitian
3.6Besar dan cara pemilihan responden
Responden dalam penelitian ini berjumlah 11 orang dengan jenis kelamin laki – laki dan perempuan. Metode pemilihan responden dilakukan cara consecutive sampling. Penentuan responden diawali dengan anamnesis berupa identitas dan riwayat penyakit kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik berupa tanda vital, berat badan dan tinggi badan.
17
3.7Alur penelitian
3.8Cara Kerja
a. Responden menjalani puasa selama 10 -12 jam dan tidak beraktivitas berat
c. Dilakukan pemeriksaan glukosa darah kapiler menggunakan glukometer pada menit ke 0, 15, 30, 45, 60, 90 dan 120
d. Satu minggu setelah nya responden mengulang langkah a dan diberi makanan uji pertama dilanjutkan dengan langkah c
e. Pada minggu ke-3 pemeriksaan , responden mengkonsumsi makanan uji kedua dengan prosedur yang sama sepeerti pemeriksaan sebelumnya. Untuk makanan standar, roti lapis daging ayam dan 2 dilakukan pengukuran terlebih dahulu untuk mendapatkan 50 gram karbohidrat f. Selama mengkonsumsi makanan standar maupun makanan uji responden
diberikan air putih sebanyak 250 ml
g. Hasil glukometer kemudian dimasukan kedalam kurva h. Menghitung nilai indeks glikemik
i. Menghitung nilai beban glikemik
3.9Rencana pengolahan dan analisa data
Hasil kadar glukosa darah responden disajikan dalam bentuk tabel dan kurva. Sedangkan indeks glikemik disajikan dalam bentuk presentase dan untuk
penghitungan digunakan rumus sebagai berikut13 :
�� =
Pengukuran luas area dibawah kurva menggunakan metode trapezoid secara manual dan MS Excel. Metode trapezoid menghitung area berbentuk bangun trapezoid dalam kurva respon gula darah dan selanjutnya dijumlahkan. Penghitungan metode trapezoid13 :
� = ℎ
19
Setelah didapatkan nilai indeks glikemik dilanjutkan dengan penghitungan beban glikemik menggunakan rumus sebagai berikut :
� � =
� � × ℎ ℎ
100
4.1. Karakteristik responden
Responden berjumlah 11 orang , terdiri dari 5 laki-laki dan 6 perempuan. Karakteristik responden tercantum pada tabel 4.1
Tabel 4.1 karakteristik responden
No
Karakteristik (n = 11)
Usia (tahun) IMT (kg/m2) Glukosa darah puasa (mg/dL)
Rerata 20,64 20,22 90
Standar deviasi 0,505 1,26 4,24
21
4.2. Makanan Standar dan Makanan Uji
Pada penelitian makanan yang di gunakan sebagai makanan standar adalah roti tawar putih. Makanan uji menggunakan beberapa menu dari restoran cepat saji yaitu roti lapis daging ayam dan burger daging. Kandungan gizi makanan standar dan makanan uji tercantum dalam tabel 4.2
Tabel 4.2 Kandungan gizi makanan standar dan makanan uji Makanan burger daging ditimbang terlebih untuk menentukan porsi yang setara dengan 50 gram karbohidrat yang tercantum dalam tabel 4.3
4.3.Kadar Glukosa Darah
Rerata hasil pemeriksaan glukosa pada setiap pemeriksaan dapat dilihat pada kurva 4.1
Kurva 4.1 Kurva Respon Glukosa darah
Pada kurva respon glukosa darah terlihat makanan standar dan roti lapis daging ayam puncak peningkatan glukosa darah adalah pada menit ke-45, sedangkan burger daging baru mencapai puncak nya setelah menit ke-60. Jika membandingkan roti lapis daging ayam dan burger daging, terlihat burger daging lebih rendah dalam meningkatkan kadar glukosa darah. Keadaan ini disebabkan oleh kadar protein dan lemak pada makanan 2 lebih tinggi. Lemak dan protein dapat meningkatkan insulin sehingga kadar glukosa darah pada burger daging lebih rendah di banding roti lapis daging ayam.11
Persentase kenaikan kadar glukosa darah dapat dilihat pada tabel 4.4 Tabel 4.4 Persentase kenaikan Glukosa darah
Persentase Kenaikan glukosa darah pada menit ke-
15 30 45 60 90 120
23
Terlihat pada tabel bahwa makanan standar lebih cepat meningkatkan kadar glukosa darah yaitu 17,98% sedangkan roti lapis daging ayam 12,87% dan burger daging 10,87%. Puncak peningkatan glukosa darah roti lapis daging ayam terjadi antara menit 15 dan 30 yaitu 15,79%. Burger daging mengalami penurunan kadar glukosa antara menit ke-60 dan 90 yaitu menurun sebesar 4,84% sedangkan roti lapis daging ayam sudah mengalami penurunan 7,48% antara menit ke-45 dan 60.
4.4. Indeks Glikemik
Penghitungan Indeks Glikemik dilakukan dengan cara perhitungan di bawah kurva dengan metode trapezoid. Klasifikasi nilai Indeks glikemik pada penelitian kali ini dapat di lihat pada tabel 4.5 sedangkan perbandingan rerata nilai Indeks Glikemik dapat dilihat pada tabel 4.6
Tabel 4.5. Klasifikasi Nilai Indeks Glikemik
Makanan Indeks Glikemik (%) Klasifikasi
Makanan Standar 100 Ringgi
Roti lapis daging ayam 109,65 Tinggi
Burger daging 89,06 Tinggi
Tabel 4.6 Perbandingan rerata nilai indeks glikemik
Makanan Mean ± SD P value
Makanan Standar
Roti lapis daging ayam Roti tawar lapis daging ayam
Burger daging
109,65 ± 10,68
89,06 ± 12,56 ,00
Secara umum terlihat bahwa indeks glikemik roti lapis daging ayam yaitu 109,65 % (SD±12,55%) lebih tinggi dibanding makanan standar dan burger daging meskipun demikian roti lapis daging ayam dan burger daging termasuk dalam klasifikasi indeks glikemik tinggi. Terdapat perbedaan indeks glikemik yang bermakna antara roti lapis daging ayam dan burger daging (P-value 0,00).
Burger daging memiliki indeks glikemik lebih rendah di banding dengan roti lapis daging ayam karena kandungan protein dan lemak pada burger daging lebih tinggi dibanding roti lapis daging ayam.
makanan ini untuk dikonsumsi karena burger daging tidak memenuhi kriteria gizi seimbang.
Roti lapis daging ayam dan burger daging termasuk dalam jenis makanan cepat saji yang tidak di anjurkan untuk rutin di konsumsi karena mengkonsumsi makanan cepat saji secara rutin dapat meningkatkan risiko obesitas dan resistensi insulin.
4.5. Beban Glikemik
Penghitungan Glikemik load dilakukan dengan cara mengalikan indeks glikemik dengan kadar glukosa dalam satu porsi dibagi dengan 100. Hasil rerata Indeks glikemik pada penelitian kali ini dapat di lihat pada tabel 4.7 dan perbandingan rerata beban glikemik pada penelitian ini dapat di lihat pada tabel 4.8
Tabel 4.7. Klasifikasi beban glikemik
Makanan Glikemik load Klasifikasi Makanan Standar 17,00 Sedang
Roti lapis daging ayam 57,02 Tinggi Burger daging 46,31 Tinggi
Tabel 4.8 Perbandingan rerata beban glikemik
Makanan Mean ± SD P value
Makanan Standar
Roti lapis daging ayam Roti tawar lapis daging ayam
Burger daging
109,65 ± 10,68
46,31 ± 6,52 ,00
25
4.6. Keterbatasan Penelitian
5.1Kesimpulan
1. Hasil penelitian menunjukan bahwa indeks glikemik roti tawar putih kupas, lapis daging ayam dan burger daging termasuk dalam klasifikasi indeks glikemik tinggi
2. Indeks glikemik roti lapis daging ayam paling tinggi dibanding dengan burger daging dan roti tawar putih kupas
3. Hasil penelitian menunjukan bahwa beban glikemik roti lapis daging ayam dan burger daging termasuk dalam klasifikasi beban glikemik tinggi
4. Terdapat berbedaan bermakna antara indeks glikemik roti lapis daging ayam dan burger daging
5. Terdapat berbedaan bermakna antara beban glikemik roti lapis daging ayam dan burger daging
6. Roti lapis daging ayam dan burger daging tidak di anjurkan untuk dikonsumsi secara rutin karena tidak memenuhi kriteria gizi seimbang
5.2Saran
1. Perlu dilakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap responden agar mengkonsumsi porsi makanan normal sebelum puasa dan tidak melakukan aktivitas berat 3 hari sebelum pemeriksaan hingga selesai pemeriksaan glukosa darahPelu dilakukan penelitian indeks glikemik dan beban glikemik pada varian makanan cepat saji yang lain
2. Memberikan informasi mengenai IG dan GL pada produk-produk makanan
DAFTAR PUSTAKA
1. WHO. Noncommunicable diseases country profiles 2014. WHO Press 2014
2. Anonim. Standards of medical care in diabetes 2014. ADA 2014 3. Kementerian kesehatan RI. Riset kesehatan dasar RISKESDAS 2013.
Jakarta : Kementerian Kesehatan; 2013
4. Galgani J, Aguirre C, Diaz E. Acute effect of meal glycemic index and glycemic load on blood glucose and insuline respone in humans. NutritionJ 2006, 5:22
5. Jenkins DJA, Kendall CWC, Augustin LSA, Franceschi S, Hamidi M, Marchie A, etc. Glycemic index: overview of implications in health and disease. Am J Clin Nutr 2002;76:266S-73S
6. Champe PC, Harvey RA, Ferrier DR. Biokimia ulasan bergambar. Edisi 3. Jakarta: buku kedokteran EGC; 2011
7. Almatsier S. Prinsip dasar ilmu gizi. Jakarta : Gramedia; 2004 8. Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. Biokimia harper. Edisi 27.
Jakarta: buku kedokteran EGC; 2009
9. Gallaghe L. Margie. Nutrient and Their metabolism. Dalam : Mahan LK,
editor. Krause’s Food and nutrition Therapy, 12th
edition. Missouri: Elsevier; 2008. Hal 49-52
10.Guyton AC, Hall J. Buku ajar fisiologi kedokteran, edisi 11. Jakarta: EGC; 2007
11.Sherwood L. Fisiologi manusia: Dari sel ke sistem, edisi 6. Jakarta: Buku kedokteran EGC; 2012
12.Fox SI. Human Physiology. 12th Edition. New York: Mc Graw Hill; 2011 13.Jenkins DJA, Wolever TMS, Taylor RH, Barker H, Fielden H, Baldwin
JM et al. Glycemic index of foods: a physiological basis for carbohdrate exchange. Am J. Clin. Nutr. 34: 362-366, 2081
15.Kalergis M, De Grandpre E, Andersons C. The role of glycemic Index in the prevention and management of diabetes: A review and discussion 16.Venn BJ, Green TJ. Review: Glycemic index and glycemic load:
measurement issues and their effect on diet-disease relationships. EJCN 2007; 61: S122-S131
17.Willett W, Manson JA, Liu S. Glycemic index, glycemic load, and risk type 2 diabetes.Am J Clin Nutr 2002;76(suppl);274S-80S
18.Heryanti E. Kebiasaan makan cepat saji (fast food modern), aktivitas fisik dan faktor lainnya dengan status gizi pada mahasiswa penghuni asrama UI depok Tahun 2009. FKM UI 2009
19.Poti JM, Duffey KJ, Popkin BM. The association of fast food consumtion with poor dietary outcomes and obesity among children : is it the fast food or the reminder of the diet?. Am J Clin Nutr 2014;99:162-71
LAMPIRAN
Lampiran 1
Lembar Surat Persetujuan Responden
LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN
Setelah saya mendapatkan penjelasan mengenai tujuan dan manfaat penelitian, serta prosedur yang harus dilakukan oleh responden dalam penelitian PERBANDINGAN INDEKS GLIKEMIK DAN BEBAN GLIKEMIK
BEBERAPA MAKANAN CEPAT SAJI, maka saya yang bertanda tangan dibawah ini : Dengan ini menyatakan bahwa saya bersedia untuk berpartisipasi menjadi
responden penelitian dan bersedia untuk menjalani pemeriksaan glukosa darah sesuai dengan prosedur yang telah di tetapkkan dalam penelitian, dengan catatan bahwa semua data mengenai identitas diri saya dijamin kerahasiaannya. Saya berhak mengundurkan diri dalam penelitian ini serta membatalkan persetujuan yang telah saya buat ini tanpa saksi apapun dan dari pihak manapun.
Ciputat...2015
Mengetahui, Yang membuat pernyataan
...
Peneliti
Lampiran 2
Lembar Status Kesehatan Responden
LEMBAR ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN FISIK
PERBANDINGAN INDEKS GLIKEMIK DAN BEBAN GLIKEMIK BEBERAPA MAKANAN CEPAT SAJI
Nama :
Riwayat penyakit
1. Apakah anda Menderita diabetes melitus ?
Ya/Tidak
2. Apakah Menderita penyakit ginjal dalam dan hati dalam sebulan terakhir ? Ya/Tidak
3. Apakah terdapat riwayat diabetes melitus pada keluarga ? Ya/Tidak
Jika ya, siapa
4. Apakah keluarga memiliki riwayat penyakit tertentu ? Ya/Tidak
Jika ya, siapa?
5. Apakah anda memiliki riwayat alergi ? Ya/Tidak
6. Apakah anda seorang perokok ? Ya/Tidak
31
Lampiran 3 Kriteria Status Gizi Guna menentukan status gizi responden digunakan indeks masa tubuh (IMT). Perhitungan IMT menggunakan rumus:
���= (��)
�� 2
Setelah didapatkan hasil IMT kemudian di kriteriakan menurut kriteria Asia-Pasifik, status gizi di kategorikan menjadi underweight, normoweight, overweight dan obesitas.
Klasifikasi IMT Resiko Komorbiditas
Underweight <18,5 Rendah (dapat menjadi parah jika terdapat masalah klinis)
Normoweight 18,5-22,9 Rata-rata
Overweight Resiko Obesitas I Obesitas II
≥23
23-24,9 25-29,9
≥30
Lampiran 4
Data Hasil Pemeriksaan Responden
No Nama Usia Berat
badan (Kg)
Tinggi badan (m)
IMT GDP
1 ERM 19 48 1,56 19,72 85
2 AQZ 20 50 1,55 20,81 90
3 ANF 19 55 1,58 22,03 87
4 NOP 20 53 1,55 22,06 97
5 IWA 20 51 1,53 21,79 89
6 RVK 19 53 1,69 18,56 87
7 RZK 20 53 1,66 19,23 89
8 HMP 19 43 1,49 19,37 90
9 DMN 20 56 1,7 19,38 99
10 FYM 20 54 1,63 20,32 88
33
Lampiran 5
Analisis Gizi dan Perhitungan Jumlah makanan
Analisis gizi dan perhitungan kebutuhan makanan uji sebanyak 50 Gram karbohidrat Makanan uji Sajian
(gram)
1. 40 gram roti tawar mengandung 17 gram karbohidrat
Untuk mendapatkan 50 gram karbohidrat dibutuhkan ± 6 lembar roti dengan analisis gizi sebagai berikut :
Sajian Karbohidrat Lemak protein Serat
118 50 4,41 8,82 2,94
2. Satu porsi chicken fillet seberat 124,49 gram mengandung 52,62 gram karbohidrat
Untuk mendapatkan 50 gram karbohidrat di butuhkan 118 gram Chicken fillet dengan analisis gizi sebagai berikut:
Sajian Karbohidrat Lemak protein Serat
118 50 24,47 11,66
3. Satu porsi OR Burger seberat 127,96 gram mengandung 42,71 gram karbohidrat Untuk mendapatkan 50 gram karbohidrat di butuhkan 149,8 OR Burger dengan analisis gizi sebagai berikut:
Sajian Karbohidrat Lemak Protein Serat
Lampiran 6
Kurva Respon Glukosa Darah
Lampiran 7
Perhitungan Luas Area Bawah Kurva
Luas area bawah kurva respon glukosa darah menggunakan metode trapezoid.
� = ℎ
2 � ��
1. Makanan Standar
Perhitungan luas area bawah kurva Makanan Standar
Makanan Standar
Nama Bangun Sisi 1 Sisi 2 Tinggi Luas Area
A 89 105 15 1455
B 105 120 15 1687,5
C 120 135 15 1912,5
D 135 125 15 1950
E 125 115 30 3600
F 115 97 30 3180
Total luas area 13785
41
2. Makanan Uji 1 (Chicken Fillet)
Perhitungan luas area bawah kurva makanan uji 1 ( Chicken Fillet ) Makanan uji 1 (Chicken Fillet)
Nama Bangun Sisi 1 Sisi 2 Tinggi Luas Area
Total luas area 15052,5
3. Makanan Uji 2 (O.R Burger)
Perhitungan luas area bawah kurva makanan uji 2 (O.R Burger) Makanan uji 2 (O.R Burger)
Nama Bangun
Total luas area 13665
43
Lampiran 8
Perhitungan Indeks Glikemik dan Beban Glikemik
Perhitungan nilai indeks glikemik makanan standar dan makanan uji dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut :
�� =
ℎ � ℎ
ℎ � ℎ× 100%
Makanan Luas area Indeks glikemik
Makanan Standar 13785 100
makanan Uji 1 15052,5 109,2
Makanan Uji 2 13665 99,1
Sedangkan perhitungan nilai beban glikemik makanan standar dan makanan uji digunakan rumus sebagai berikut :
� � =
� � × ℎ ℎ
100
Makanan Indeks Glikemik Karbohidrat persajian (g) Beban Glikemik
Makanan Standar 100 34 34
Makanan Uji 1 91,6 52,62 48,2
Lampiran 9
Hasil Indeks glikemik dan beban glikemik setiap responden
NO Nama Makanan standar Makanan uji 1 Makanan uji 2
LB IG GL LB IG GL LB IG GL
1 ERM 14475 100 17 15915 109,9 57,2 12860 88,8 46,2
2 qory 15083 100 17 15787,5 104,7 54,4 11260 74,7 38,8
3 afi 13298 100 17 15022,5 113,0 58,7 11878 89,3 46,4
4 novput 13875 100 17 12870 92,8 48,2 11261,5 81,2 42,2
5 wana 14783 100 17 16132,5 109,1 56,7 14630,5 99,0 51,5
6 rivki 13253 100 17 13702,5 103,4 53,8 12299 92,8 48,3
7 rizki 11963 100 17 13717,5 114,7 59,6 10991 91,9 47,8
8 hillmiana 12698 100 17 15232,5 120,0 62,4 11460,5 90,3 46,9
9 dimas 15075 100 17 14190 94,1 48,9 11665,5 77,4 40,2
10 faruq' 14588 100 17 16852,5 115,5 60,1 11058,5 75,8 39,4
11 ilham 12480 100 17 16095 129,0 67,1 14802 118,6 61,7
45
Lampiran 10
Hasil uji Statistik
1. Hasil uji normalitas IMT dan GDP Descriptives
Statistic Std. Error
IMT
Mean 20,227473809389
940
,38006158458832
8
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound 19,380643826621 444
Upper Bound 21,074303792158 440
5% Trimmed Mean 20,218463842635 863
Median 19,723865877712
130
Variance 1,589
Std. Deviation 1,2605216733071 72
Interquartile Range 2,5529316257075 90
Skewness ,488 ,661
Kurtosis -1,349 1,279
GDPawal
Mean 90,00 1,279
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound 87,15
Upper Bound 92,85
5% Trimmed Mean 89,78
Median 89,00
Variance 18,000
Std. Deviation 4,243
Minimum 85
Range 14
Interquartile Range 3
Skewness 1,412 ,661
Kurtosis 1,360 1,279
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
IMT ,205 11 ,200* ,881 11 ,107
GDPawal ,318 11 ,003 ,816 11 ,015
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction
2. Uji normalitas rerata Indeks Glikemik
Descriptivesa
Statistic Std. Error
indeks glikemik M1
Mean 109,6489 3,22039
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound 102,4734
Upper Bound 116,8244
5% Trimmed Mean 109,5141
Median 109,9482
Variance 114,080
Std. Deviation 10,68083
Minimum 92,76
Maximum 128,97
Range 36,21
Interquartile Range 12,13
Skewness -,025 ,661
Kurtosis -,024 1,279
Indeks glikemik M2
Mean 89,0635 3,78574
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound 80,6283
Upper Bound 97,4987
5% Trimmed Mean 88,2227
Median 89,3251
Variance 157,650
47
Minimum 74,66
Maximum 118,61
Range 43,95
Interquartile Range 15,42
Skewness 1,199 ,661
Kurtosis 2,237 1,279
a. Indeks Glikemik roti is constant. It has been omitted.
Tests of Normalitya
Kolmogorov-Smirnovb Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic df Sig.
indeks glikemik M1 ,117 11 ,200* ,971 11 ,898
Indeks glikemik M2 ,201 11 ,200* ,888 11 ,130
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Indeks Glikemik roti is constant. It has been omitted.
b. Lilliefors Significance Correction
3. Uji normalitas beban Glikemik
Descriptivesa
Statistic Std. Error
Beban glikemik M1
Mean 57,6972 1,69457
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound 53,9215
Upper Bound 61,4730
5% Trimmed Mean 57,6263
Median 57,8547
Variance 31,587
Std. Deviation 5,62025
Minimum 48,81
Maximum 67,86
Range 19,05
Interquartile Range 6,38
Skewness -,025 ,661
Kurtosis -,024 1,279
Beban Glikemik M2
Mean 38,0390 1,61689
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound 34,4364
Upper Bound 41,6417
Median 38,1507
Variance 28,758
Std. Deviation 5,36262
Minimum 31,89
Maximum 50,66
Range 18,77
Interquartile Range 6,59
Skewness 1,199 ,661
Kurtosis 2,237 1,279
a. Beban Glikemik Roti is constant. It has been omitted.
Tests of Normalitya
Kolmogorov-Smirnovb Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Beban glikemik M1 ,117 11 ,200* ,971 11 ,898
Beban Glikemik M2 ,201 11 ,200* ,888 11 ,130
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Beban Glikemik Roti is constant. It has been omitted.
b. Lilliefors Significance Correction
4. Uji T berpasangan
Paired Samples Statistics
49
Paired Samples Test
Paired Differences t df Sig.
(2-tailed) Mean Std.
Deviation
Std. Error
Mean
95% Confidence Interval
of the Difference
Lower Upper
Pair 1 IGM1 - IGM2
20,58539 9,80566 2,95652 13,99786 27,17292 6,963 10 ,000
Pair 2 IGR - IGM1 -9,64888 10,68083 3,22039 -16,82436 -2,47340 -2,996 10 ,013
Pair 3 IGR - IGM2 10,93651 12,55589 3,78574 2,50134 19,37167 2,889 10 ,016
Pair 4 GLR - GL1 -40,01742 5,55403 1,67460 -43,74867 -36,28617 -23,897 10 ,000
Pair 5 GLR - GL2 -29,31302 6,52906 1,96859 -33,69930 -24,92673 -14,890 10 ,000
Lampiran 11 DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Hanifia Zahra Rahmawati Tempat, tanggal lahir : Metro, 21 November 1994
Alamat : Jl. dr Soetomo no 168 Purwoasri, Metro, Lampung No. HP : +62 896 3144 6885
Email : [email protected]
Riwayat Pendidikan :