• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPS DENGAN TEMA INDAHNYA NEGERIKU MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE MAKE A MATCH PADA SISWA KELAS IVA SD NEGERI TULUNGBUYUT KECAMATAN HULU SUNGKAI KABUPATEN LAMPUNG UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPS DENGAN TEMA INDAHNYA NEGERIKU MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE MAKE A MATCH PADA SISWA KELAS IVA SD NEGERI TULUNGBUYUT KECAMATAN HULU SUNGKAI KABUPATEN LAMPUNG UTARA"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPS DENGAN TEMA INDAHNYA NEGERIKU MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE MAKE A MATCH PADA SISWA KELAS IVA SD

NEGERI TULUNGBUYUT KECAMATAN HULU SUNGKAI KABUPATEN LAMPUNG UTARA

Oleh

ASIA REFINA

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Perbaikan pembelajaran tema indahnya negeriku melalui model cooperative learning tipe make a match, dengan tujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IVA.

Peneliti menggunakan PTK yang terdiri dari 4 tahap, yaitu (1) perencanaan,(2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Data penelitian diperoleh melalui observasi dan evaluasi (kognitif). Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model cooperative learning tipe make a match dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan persentase rata-rata aktivitas belajar siswa siklus 1 sebesar 62,50% dengan kategori “aktif” dan siklus 2 sebesar 81,25% dengan kategori “sangat aktif”, terjadi peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 18,75%, sedangkan peningkatan hasil belajar siswa dibuktikan dengan persentase siswa yang tuntas pada siklus 1 sebesar 66,67% (16 orang siswa) dengan kategori “tinggi” dan siklus 2 sebesar 83,33% (20 orang siswa) dengan kategori “sangat tinggi”, dengan demikian terjadi peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 16,66%. Saran dalam penelitian ini ditujukan bagi siswa, guru, sekolah, dan bagi peneliti lain untuk meningkatkan mutu pembelajaran.

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Asia Refina, ia dilahirkan di Lampung Utara, 31 Agustus 1992. Penulis merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara, dari pasangan Bapak Tarmizi. RH dan Ibu Wildana.

Riwayat pendidikannya dimulai dengan Pendidikan Sekolah Dasar yang diselesaikan di SD Negeri 02 Kota Agung pada tahun 1998-2004. Kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Pertama diselesaikan di SMP Negeri 1 Sungkai Selatan pada tahun 2004-2007. Tiga tahun kemudian, ia menyelesaikan studinya di SMA Negeri 2 Kotabumi dan selesai pada tahun 2010. Dia terdaftar sebagai mahasiswa S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan, Universitas Lampung melalui jalur PKAB pada tahun 2010.

(7)

MOTO

“...

kaki yang akan berjalan lebih jauh, tangan yang akan berbuat lebih banyak,

mata yang akan menatap lebih lama, leher yang akan lebih sering melihat ke

atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati

yang

akan bekerja lebih keras, serta mulut

yang akan selalu berdoa

...”

- 5cm.

Orang yang berhasil akan mengambil manfaat dari kesalahan-kesalahan

yang ia lakukan, dan akan mencoba kembali untuk melakukan

dalam suatu cara yang berbeda.

(Dale carnegie)

Teruslah belajar, teruslah berusaha, dan teruslah berdoa.

Terjatuh berdiri lagi. Kalah mencoba lagi. Gagal Bangkit lagi.

(8)

PERSEMBAHAN

“Dia memberikan hikmah (ilmu yang berguna) kepada siapa

yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mendapat hikmah itu,

sesungguhnya ia telah mendapat kebajikan yang banyak. Dan tiadalah yang

menerima peringatan melainkan orang-orang yang berakal”.

(Q.S. Al-Baqarah: 269)

Alhamdulillahirabbil alamin….

Akhirnya aku sampai ke tiik ini, sepercik keberhasilan yang Engkau hadiahkan

padaku ya Rabb. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur pada_Mu ya Rabb.

Semoga sebuah karya kecil ini menjadi amal bagiku dan menjadi

kebanggaan bagi keluargaku tercinta.

Kupersembahkan karya kecil ini, untuk:

Ayahanda Tarmizi. RH Dan ibunda tercinta Wildana.

Cahaya hidup, yang senantiasa ada saat suka maupun duka, selalu

memanjatkan doa untuk putri tercinta dalam setiap sujudnya. Aku takkan

pernah lupa semua pengorbanan dan jerih payah yang kalian berikan

untukku agar dapat menggapai cita-cita dan semangat, sehingga

dapat ku raih kesuksesan ini. Asaku kelak dapat

membahagiakan kalian sampai

akhir hayatku.

Untuk emak, kakak-kakakku tersayang Ses, Tati, Ahun, Kiyai, Adin, dan

Abang, abang iparku Kanjang dan Sidiraja, dan ayuk ipar juga keponakanku.

Kasih tiada tara atas segala support yang telah diberikan selama ini.

Terima kasih atas perhatian, cinta, serta dukungannya.

(9)

SANWACANA

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat melaksanakan

penelitian dan menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “Peningkatan Aktivitas

dan Hasil Belajar Melalui Tema Indahnya Negeriku Menggunakan Model

Cooperative Learning Tipe Make a Match Pada Siswa Kelas IVA SD Negeri

Tulungbuyut Kecamatan Hulu Sungkai Kabupaten Lampung Utara”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Lampung.

Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian penulisan skripsi ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan-kesulitan yang timbul dapat teratasi. Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan, arahan, dan bantuan serta motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih yang tulus dan penghargaan yang mendalam kepada:

1. Bapak Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung.

2. Bapak Drs. Baharuddin Risyak, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan

FKIP Universitas Lampung.

3. Bapak Dr. Darsono, M.Pd., selaku Ketua Program Studi PGSD FKIP Universitas

(10)

4. Bapak Drs. Sugiyanto, M.Pd., selaku pembimbing akademik dan juga pembimbing pertama, terimakasih untuk bimbingan berharga yang telah diberikan sejak penulis awal kuliah hingga selesai dan terimakasih untuk ide, saran, dan dorongan yang diberikan kepada penulis selama proses penulisan sampai selesainya penulisan skripsi ini.

5. Bapak Drs. Maman Surahman, M.Pd., selaku pembimbing kedua, terimakasih untuk motivasi luar biasa yang telah diberikan, untuk bimbingan, pengarahan, saran, ide dan kritik yang membangun serta dorongan yang diberikan kepada penulis selama proses penulisan sampai selesainya penulisan skripsi ini.

6. Bapak Drs. Sugiman, M.Pd., selaku dosen penguji terimakasih atas saran, kritik, dan juga ide yang telah diberikan dalam meningkatkan isi dari penelitian ini.

7. Seluruh Bapak dan Ibu dosen serta staf PS PGSD Kampus, atas ilmu yang telah diberikan.

8. Ibu Rosida, S.Pd., selaku Kepala Sekolah SD Negeri Tulungbuyut, penghargaan yang mendalam karena telah memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian, dan juga Ibu Emlina Dewi, S.Pd., selaku wali kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut, karena membantu selama proses penelitian dan memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian ini di kelasnya, serta siswa kelas IVA untuk kesediaan mereka untuk bekerja sama dan berpartisipasi dalam penelitian ini.

(11)

Dedi, Pindo (Pak Sugi), Bang Nio, Devy, Ncum, Teteh Yeni, Rika, Suci, Risa, Reni, Nisa, Yosi, Winda, Linda, Marina, Lady, Aji, Ria, Ai, Indah. Terima kasih banyak karena telah menjadi sahabat, adik, kakak, dan tempat berbagi cerita baik suka maupun duka selama kita kuliah yang tak akan pernah terlupakan sampai kapanpun. Terus berjuang guys!.

10. Kepada keluarga baru tercinta: Bucil Ningrum, Memey, Risti, Rena, Nisa, Mb Suli, Serli, Fajar, Yudi, dan Dita terima kasih atas kebersamaan selama KKN dan PPL.

11. Kepada Bapak dan Ibu Kos (Nurdin dan Rohaya) terimakasih atas kasih sayang, dukungan dan perhatian yang kalian berikan.

12. Kepada seluruh anak-anak kos wisma rizky khususnya Mb Mega, Rahma ndud, Anul (Ana), Jeng Mer (Lutfi), Dewo (Dewi Nurhidayati), Mbul (Puspita), Vina, Lilis, Icha, Lusi, Lulu, Ria, Fadil, Dian, Sefi dan Neneng terimakasih untuk kebersamaan dalam canda dan tawa yang telah kita lalui dalam satu tempat tinggal, semoga cerita kita tidak hanya sampai disini. 13. Kehormatan terbesar dan apresiasi akhirnya akan didedikasikan untuk orang

tua tercinta (Papi Tarmizi. RH dan Mamah Wildana). Terimakasih untuk doa yang telah engkau panjatkan disetiap sujudmu, dan seluruh keringat yang telah kalian keluarkan untuk anak-anakmu.

(12)

15. Terakhir, untuk seseorang yang selalu setia memberi semangat dan motivasi, menjadi teman yang baik dalam berbagi cerita, yang selalu ada disaat-saat yang tak terduga. Terimakasih untuk segalanya.

16. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Mudah-mudahan skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca atau mereka yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut. Penulis menyadari terdapat keterbatasan kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman sehingga dalam penyusunan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan.

Bandar Lampung, Juni 2014 Penulis

(13)
(14)

D.Alat Pengumpulan Data ... 37

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A.Pelaksanaan Kegiatan ... 44

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan ... 101

B.Saran ... 102

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Hasil Ulangan Akhir Semester Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut Semester

Ganjil 2013/2014 ... 4

2. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut .... 5

3. Kualifikasi Hasil Observasi ... 38

4. Kriteria Penilaian Keterampilan Mengemukakan Pendapat Individu ... 39

5. Kriteria Hasil Observasi Kinerja Guru ... 40

6. Kriteria Ketuntasan Belajar Siswa Dalam Persen. ... 41

7. Kriteria Ketuntasan Belajar Berdasarkan KKM ... 41

8. Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Penelitian ... 43

9. Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Kegiatan ... 45

10.Hasil Observasi Aktivitas Siswa Kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut Siklus 1 Pertemuan Pertama ... 58

11.Hasil Observasi Aktivitas Siswa Kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut Siklus 1 Pertemuan Kedua ... 60

12. Hasil Observasi Afektif Siswa Kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut Siklus 1 Pertemuan Pertama... 61

13. Hasil Observasi Afektif Siswa Kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut Siklus 1 Pertemuan Kedua ... 62

14. Hasil Observasi Keterampilan Siswa Kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut Siklus 1 Pertemuan Pertama ... 63

15. Hasil Observasi Keterampilan Siswa Kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut Siklus 1 Pertemuan Kedua ... 64

16. Hasil Kinerja Guru pada Siklus I ... 66

17.Hasil Belajar Siswa Siklus I ... 68

(16)

19.Hasil Observasi Aktivitas Siswa Kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut

Siklus 2 Pertemuan Kedua ... 82

20. Hasil Observasi Afektif Siswa Kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut Siklus 2 Pertemuan Ketiga ... 84

21. Hasil Observasi Afektif Siswa Kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut Siklus 2 Pertemuan Keempat ... 85

22. Hasil Observasi Keterampilan Siswa Kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut Siklus 2 Pertemuan Ketiga ... 86

23. Hasil Observasi Keterampilan Siswa Kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut Siklus 2 Pertemuan Keempat ... 87

24. Hasil Kinerja Guru pada Siklus 2 ... 88

25.Hasil Belajar Siswa Siklus 2 ... 89

26.Rekapitulasi Persentase Aktivitas Siswa per-Siklus ... 92

27.Data Persentase Afektif Siswa ... 93

28.Data Persentase Keterampilan Mengemukakan Pendapat Siswa ... 95

29.Rekapitulasi Kinerja Guru per-Siklus ... 96

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Kerangka Pikir ... 26

2. Alur Siklus Penelitian Tindakan Kelas ... 30

3. Skenario Pembelajaran Model Cooperative Learning Tipe Make a Match ... 32

4. Rekapitulasi Persentase Aktivitas Siswa per-Siklus ... 92

5. Rekapitulasi Nilai Afektif Siswa per-Siklus ... 94

6. Rekapitulasi Nilai Keterampilan Siswa per-Siklus ... 95

7. Rekapitulasi Nilai Kinerja Guru per-Siklus ... 97

(18)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan suatu usaha sadar dan terencana untuk memanusiakan manusia kearah yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan menurut Pasal 3 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Tahun 2003, tujuan Pendidikan Nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Melalui Pendidikan Nasional diharapkan dapat ditingkatkan kemampuan, mutu kehidupan, dan martabat Indonesia.

Pendidikan merupakan kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia,

dengan pendidikan manusia berusaha mengembangkan potensi yang

dimilikinya, mengubah tingkah laku kearah yang lebih baik. Pendidikan juga

dapat mencetak manusia menjadi sumber daya manusia yang handal dan

terampil di bidangnya. Pendidikan sebenarnya merupakan suatu rangkaian

peristiwa yang kompleks. Peristiwa tersebut merupakan suatu rangkaian

kegiatan komunikasi antar manusia sehingga manusia itu tumbuh sebagai

(19)

2

proses dalam rangka mempengaruhi siswa supaya mampu menyelesaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya dan yang akan menimbulkan perubahan pada dirinya yang memungkinkan, sehingga berfungsi sesuai kompetensinya dalam kehidupan masyarakat.

Sesuai dengan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan melalui kegiatan atau latihan untuk mengubah sikap dan tata laku serta untuk mendewasakan diri supaya mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Usaha tersebut dapat ditempuh melalui pendidikan formal, informal, dan non formal yang berlangsung di dalam maupun di luar sekolah.

Sejalan dengan itu, Petrus, dkk (2009:1) mengemukakan bahwa Ilmu

Pengetahuan Sosial merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari

tingkah laku manusia, baik tingkah laku perorangan maupun tingkah laku

kelompok. Ada bermacam-macam aspek tingkah laku manusia dalam

masyarakat, seperti aspek budaya, sikap, mental, ekonomi, dan hubungan

sosial. Aspek-aspek inilah kemudian yang mengkondisikan untuk

menghasilkan pengetahuan disiplin ilmu sosial yang dipelajari di sekolah.

Untuk itu IPS merupakan mata pelajaran yang penting bagi jenjang

pendidikan dasar. Hal ini dipandang bahwa pendidikan dasar merupakan

pendidikan yang mendasari pendidikan selanjutnya dengan pertimbangan

aspek-aspek tingkah laku perlu dipolakan sedini mungkin agar mereka

(20)

3

Salah satu komponen yang terpenting dalam pendidikan adalah kurikulum.

Pada tahun 2013 telah diberlakukan kurikulum baru yaitu kurikulum 2013,

sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik

Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum

menyatakan bahwa mulai tahun pelajaran 2013/2014 diberlakukan kurikulum

baru yaitu kurikulum 2013 secara bertahap. Dengan diberlakukannya

kurikulum 2013 ini diharapkan mampu membawa pendidikan Indonesia

kearah yang lebih baik dan berkualitas.

Dalam kegiatan pembelajaran, seorang guru diharapkan mampu memberikan inovasi baru dalam pembelajarannya, sehingga pembelajaran di kelas tidak membosankan dan dapat mewujudkan siswa yang aktif dalam proses pembelajaran. Guru dituntut mampu merancang kegiatan pembelajaran sebaik mungkin agar memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar siswa, siswa dengan guru, lingkungan dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran.

(21)

4

bisa memberikan yang terbaik dalam memperkenalkan dan mengimplementasikan kurikulum 2013 kepada siswa SD Negeri Tulungbuyut khususnya siswa kelas IVA.

Berdasarkan hasil observasi di lapangan yang dilakukan peneliti di SD Negeri

Tulungbuyut Tahun Pelajaran 2013/2014 khususnya pada kelas IVA,

umumnya hasil belajar belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan yaitu 60,00 khususnya pada mata pelajaran IPS. Sebagai ilustrasi disajikan data hasil ulangan akhir semester pada semester ganjil 2013/2014 didapat data sebagai berikut:

Tabel 1.1 Hasil Ulangan Akhir Semester Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut Semester Ganjil 2013/2014.

No Rentang Nilai Jumlah Siswa Presentase Keterangan

1 60 keatas 6 25% Tuntas

2 50-59 9 37,5% Belum Tuntas

3 40-49 5 20,83% Belum Tuntas

4 39 kebawah 4 16,67% Belum Tuntas

Jumlah 24 100%

Sumber : SD Negeri Tulungbuyut

Berdasarkan data pada tabel 1.1 di atas, menunjukkan bahwa siswa yang

tuntas berjumlah 6 orang siswa (25%) sedangkan siswa yang belum tuntas

mencapai 18 orang siswa (75%). Nilai tersebut belum mencapai Kriteria

Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan yaitu 60,00 dan ketuntasan

(22)

5

Penyebab rendahnya persentase siswa yang tuntas ini menunjukan rendahnya

hasil belajar siswa sebagai akibat dari kurang aktifnya siswa dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan kurang tepatnya penerapan model pembelajaran yang digunakan, dan dalam pembelajaran tidak menggunakan media sehingga kurang menarik perhatian siswa. Dalam pembelajaran guru hanya memakai metode ceramah dan diskusi yang masih bersifat one way traffic communication yang berpusat pada guru sehingga siswa kurang berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Artinya guru hanya mentransformasi ilmu pengetahuannya dan siswa tinggal menerima. Di bawah ini adalah hasil observasi aktivitas siswa, dalam pembelajaran ini guru menggunakan metode ceramah dan diskusi serta tidak menggunakan media:

Tabel 1.2 Hasil Observasi Aktivitas Siswa Kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut

Nilai Aktivitas (NA)

Yang Diperoleh Kualifikasi

Jumlah

Siswa Nilai 80 % < NA < 100% Sangat Aktif (SA) 1 4,17%

60 % < NA < 80% Aktif (A) 3 12,5%

40 % < NA < 60% Cukup Aktif (CA) 5 20,83% 20 % < NA < 40% Kurang Aktif (KA) 11 45,83% 0 % < NA < 20% Sangat Kurang Aktif (SK) 4 16,67%

Sumber : SD Negeri Tulungbuyut

(23)

6

kurang aktif berjumlah 11 orang siswa (45,83%), dan kategori sangat kurang aktif berjumlah 4 orang siswa (16,67%).

Dalam rangka mengatasi berbagai masalah di atas, diperlukan adanya suatu model pembelajaran yang mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa agar siswa lebih aktif sehingga hasil belajar siswa meningkat. Salah satu alternatif model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran tersebut adalah model cooperative learning tipe make a match,

model pembelajaran yang dapat digunakan agar siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga hasil belajar siswa meningkat. Menurut Andriyani (2013:30) cooperative learning tipe make a match adalah salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, baik secara kognitif maupun fisik karena ada unsur permainan yang membuat model ini menyenangkan. Penerapan model pembelajaran ini dimulai dari teknik yaitu siswa diminta mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin. Dengan demikian model cooperative learning tipe make a match dapat digunakan untuk melatih dan mengembangkan berbagai keterampilan dan kecakapan tingkat tinggi, serta meningkatkan pencapaian hasil belajar.

(24)

7

interaksi dan komunikasi yang berkualitas, dapat memotivasi siswa dalam meningkatkan prestasi belajarnya.

Berdasarkan permasalahan yang di uraiankan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas yang berjudul “Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS dengan Tema Indahnya Negeriku Melalui Model Cooperative Learning tipe Make a Match

Pada Siswa Kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut Kecamatan Hulu Sungkai

Kabupaten Lampung Utara Tahun Pelajaran 2013/2014.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1. Model pembelajaran yang digunakan kurang bervariasi.

2. Pembelajaran tidak menggunakan media sehingga siswa kurang tertarik dalam mengikuti pembelajaran.

3. Guru hanya memakai metode ceramah dan diskusi yang bersifat one way traffic communication yang berpusat pada guru sehingga siswa kurang berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran.

(25)

8

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas peneliti dapat merumuskan pembatasan masalah sebagai berikut:

1. Rendahnya aktivitas belajar siswa kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut. 2. Rendahnya hasil belajar IPS siswa kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah dengan melalui model cooperative learning tipe make a match pada tema indahnya negeriku dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut, Kecamatan Hulu Sungkai, Kabupaten Lampung Utara, tahun pelajaran 2013/2014?”.

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian pada model

cooperative learning tipe make a match ini sebagai berikut:

1. Untuk meningkatkan aktivitas belajar dengan tema indahnya negeriku melalui model cooperative learning tipe make a match pada siswa kelas IVA di SD Negeri Tulungbuyut, Kecamatan Hulu Sungkai, Kabupaten Lampung Utara, tahun pelajaran 2013/2014.

(26)

9

kelas IVA di SD Negeri Tulungbuyut, Kecamatan Hulu Sungkai, Kabupaten Lampung Utara, tahun pelajaran 2013/2014.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada banyak pihak, yaitu:

1. Bagi siswa, diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada tema indahnya negeriku melalui penerapan model cooperative learning tipe make a match.

2. Bagi guru, diharapkan dapat menambah wawasan, memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas dan meningkatkan kinerja guru dalam mengajar. 3. Bagi sekolah, diharapkan dapat bermanfaat sebagai acuan untuk

mengoptimalkan pembelajaran dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran di SD Negeri Tulungbuyut.

4. Bagi peneliti, diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang penelitian tindakan kelas dengan menggunakan model

(27)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Belajar dan Pembelajaran a. Pengertian Belajar

Dalam hidup manusia dari bayi hingga dewasa selalu mengalami berbagai perubahan. Untuk menghadapi perubahan-perubahan dalam hidupnya manusia selalu berusaha untuk belajar agar mampu mempertahankan hidupnya. Setiap manusia dalam kehidupan sehari-hari pasti belajar, namun kondisi-kondisi belajar dapat diatur untuk mengembangkan bentuk kelakuan tertentu pada diri seseorang, mempertinggi kemampuannya atau mengubah tingkah lakunya.

Belajar menurut Budiningsih dalam Suprihatiningrum (2013:15) merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan, yang mana siswa aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Sementara itu, Hilgard dalam Suprihatiningrum (2013:13) mengatakan bahwa:

(28)

11

pengaruh obat-obatan. Perubahan kegiatan yang dimaksud mencakup pengetahuan, kecakapan, dan tingkah laku. Perubahan itu diperoleh melalui pengalaman (latihan) bukan dengan sendirinya berubah karena kematangan atau keadaan sementara.

Sependapat dengan Hilgard, Sanjaya dalam Prastowo (2013:49) menyatakan belajar adalah suatu proses aktivitas mental seseoarang dalam berinteraksi dengan lingkungannya, sehingga menghasilkan perubahan tingkah laku yang bersifat positif, baik perubahan dalam aspek pengetahuan, afeksi, maupun psikomotorik. Dikatakan positif karena perubahan perilaku disebabkan adanya penambahan dari perilaku sebelumnya yang cenderung menetap (tahan lama dan tidak mudah dilupakan).

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses pembentukan pengetahuan terhadap lingkungan yang dilakukuan individu dalam pembentukan pengetahuan secara sadar untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang bersifat positif dalam berfikir, merasa, maupun dalam bertindak.

b. Pengertian Pembelajaran

Kita pasti pernah melihat individu mengalami belajara, melihat individu berperilaku dalam cara tertentu sebagai hasil dari pembelajaran, dan

(29)

12

sebelumnya. Menurut Iru dan Arihi dalam Prastowo (2013:57) menyatakan:

secara harfiah pembelajaran berarti proses, cara, perbuatan mempelajari, dan perbuatan menjadikan orang atau mahluk hidup belajar. Pembelajaran merupakan suatu proses atau upaya menciptakan kondisi belajar dalam mengembangkan kemampuan minat dan bakat siswa secara optimal, sehingga kompetensi dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dalam proses pembelajaran terjadi interaksi belajar dan mengajar dalam suatu kondisi tertentu yang melibatkan beberapa unsur, baik unsur ekstrinsik maupun intrinsik yang melekat pada diri siswa dan guru, termasuk lingkungan.

Hal tersebut juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjelaskan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa, guru, dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran adalah sebuah interaksi edukatif yang terjadi antara guru dan anak didik sebagai upaya menciptakan kondisi belajar dalam mengembangkan kemampuan minat dan bakat siswa secara optimal, sehingga kompetensi dan tujuan pembelajaran dapat tercapai, dan dalam pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan sosial.

2. Pengertian Aktivitas Belajar

(30)

13

berbuat untuk mengubah tingkah laku menjadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar jika tidak ada aktivitas. Sementara itu, Kunandar (2010:277) menyatakan:

aktivitas belajar adalah keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian, dan aktivitas dalam kegiatan pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses pembelajaran dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Aktivitas merupakan kegiatan yang dilakukan siswa baik itu yang bersifat pikiran/jasmani maupun yang bersifat mental/rohani yang keduanya saling berkaitan untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan.

Lebih lanjut Sardiman (2010:100) mengungkapkan bahwa aktivitas belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik dan mental. Dalam kegiatan belajar kedua aktivitas itu harus saling terkait. Aktivitas siswa selama proses pembelajaran merupakan indikator adanya keinginan siswa untuk belajar.

Perkembangan kognitif siswa banyak ditentukan dari seberapa aktif berinteraksi dalam proses pembelajaran, karena pengetahuan banyak didapat dari siswa berinteraksi secara aktif dengan lingkungannya. Jadi, semakin banyak siswa melakukan aktivitas atau berinteraksi maka semakin banyak pengetahuan yang ia dapat.

(31)

14

3. Pengertian Hasil Belajar

Belajar merupakan suatu proses untuk mencapai hasil belajar. Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Dengan hasil belajar tujuan pendidikan dan pembelajaran yang diinginkan dapat diukur apakah sudah tercapai atau belum. Hasil belajar menurut Gagne & Briggs dalam Suprihatiningrum (2013:37) adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar dan dapat diamati melalui penampilan siswa (learner’s performance). Sejalan dengan pendapat diatas, Reigeluth dalam Suprihatiningrum (2013:37) mengatakan hasil belajar adalah suatu kinerja (performance) yang dilandasi sebagai suatu kapabilitas (kemampuan) yang telah diperoleh. Sementara itu hasil belajar selalu dinyatakan dalam bentuk tujuan (khusus) perilaku (unjuk kerja), seperti yang dikemukakan Susanto (2013:5):

yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan intruksional, biasanya guru menetapkan tujuan belajar anak yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan intruksional.

(32)

15

4. Model Cooperative Learning

a. Pengertian Model Cooperative Learning

Salah satu aspek pokok dalam pembelajaran dan merupakan masalah sentral dalam mengajar adalah model pembelajaran. Ada banyak model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru. Memilih dan menggunakan model pembelajaran merupakan kiat guru berdasarkan pengetahuan metodologisnya serta pengalaman mengajar yang sebenarnya. Model pembelajaran memiliki ciri tertentu yang bila dikaji melalui tujuannya akan membawa guru kepada upaya pemilihan dan penggunaan model pembelajaran secara tepat. Salah satu model yang dapat guru terapkan di kelas adalah model cooperative learning.

(33)

16

Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa

cooperative learning merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan/tim kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kelompok dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok demi mencapai tujuan bersama.

b. Tujuan Model Cooperative Learning

Setiap model pembelajaran pasti memiliki tujuan yang hendak dicapai, begitu pula dengan model cooperative learning dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran yang dirangkum Ibrahim dalam Djamarah (2010:359-360) sebagai berikut:

a. Model cooperative learning tidak hanya meliputi berbagai macam tujuan sosial, tetapi bertujuan juga untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa strategi ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Strategi struktur penghargaan kooperatif juga telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.

b. Penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, maupun ketidakmampuan. Model cooperative learning

memberikan peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.

(34)

17

Sedangkan Slavin dalam Isjoni (2007: 21), mengemukakan bahwa tujuan dilaksanakannya Cooperative Learning adalah sebagi berikut: a. Penghargaan kelompok

b. Pertanggungjawaban individu

c. Kesempatan yang sama untuk berhasil.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, model cooperative learning

bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, pengembangan keterampilan sosial dalam pelaksanaan pembelajaran, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil.

c. Kelebihan dan Kekurangan Model Cooperative Learning

Seperti yang telah kita ketahui bahwa tidak ada satupun model pembelajaran yang paling baik diantara model pembelajaran yang lainnya. Demikian pula dengan model cooperative learning, pembelajaran ini memiliki keunggulan dan kelemahan. Menurut Djamarah (2010:366) keunggulan dari model cooperative learning

adalah:

1. Siswa berkelompok sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. 2. Optimalisasi pertisipasi siswa.

3. Adanya struktur yang jelas dan memungkinkan siswa untuk berbagi dengan pasangan dalam suasana gotong royong, serta meningkatkan keterampilan

berkomunikasi.

4. Adanya struktur yang jelas dan memungkinkan siswa untuk berbagi dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur.

(35)

18

7. Motivasi intrinsik makin besar. 8. Percaya diri yang tinggi. 9. Prilaku dalam tugas lebih.

Adapun kelemahan dalam model cooperative learning

adalah:

1. Siswa yang pandai akan cenderung mendominasi sehingga dapat menimbulkan sikap minder dan pasif dari siswa yang lemah.

2. Dapat terjadi siswa yang sekedar menyalin pekerjaan siswa yang pandai tanpa memiliki pemahaman yang memadai.

3. Pengelompokan siswa memerlukan pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda serta membutuhkan waktu khusus.

Sementara itu Sanjaya (2012:249-251) menyatakan keunggulan dari model cooperative learning adalah:

a. Siswa tidak terlalau menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.

b. Dapat mengembangkan kemampuan menggungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.

c. Dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.

d. Dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.

e. Merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampun sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilan me-manage waktu, dan sikap posotif terhadap sekolah.

f. Dapat mengembangkan kemampua siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yag dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.

g. Dapat meningkatkan kemampuan siswa mengunakan informasi dan kemampuan belajar absrak menjadi nyata (riil).

(36)

19

kelemahan dalam model cooperative learning di antaranya: a. Untuk memahami dan mengerti filosofis kooperatif

memeng butuh waktu. Sangat tidak rasional kalau kita mengharapkan secara otomatis siswa dapat mengerti dan memahami filsafat cooperative learning. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan, contohnya, mereka akan merasa terhambat oleh siswa yang di anggap kuarng memiliki kemampuan. Akibatnya, keadaan semacam ini dapat menganggu iklim kerja sama dalam kelompok.

b. Ciri utama dari pembelajaran kooperatif adalah bahwa siswa saling membelajarkan. Oleh karena itu, jika tanpa

peer teaching yag efektif, maka dibandingkan dengan pengajaran langsung dari guru, bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa.

c. Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari, bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.

d. Keberhasilan pembelajaran kooperatif dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang, dan hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya denagn satu kali atau sekali-sekali penerapan strategi ini.

e. Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual.

Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan untuk meminimalisir kekurangan model di atas diperlukan peran guru untuk mengelola pembelajaran sesuai kelebihan model cooperative learning.

(37)

20

5. Model Cooperative Learning Tipe Make a Match a. Make a Match

Make a match merupakan salah satu tipe dari model cooperative learning, tipe ini juga dikenal dengan mencari pasangan. Model

cooperative learning tipe make a match dikembangkan oleh Lorna Curran dalam Djamarah (2010:402) teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik. Salah satu keunggulan teknik dalam model ini, di mana siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam susunan yang menyenangkan, dengan kata lain proses pembelajaran menjadi pembelajaran aktif, kreatif, afektif dan menyenangkan. Selanjutnya Eliya dalam http://coretanpenacianda.wordpress.com (2013) menyatakan bahwa Make a Match adalah kegiatan siswa untuk mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya akan diberi point dan yang tidak berhasil mencocokkan kartunya akan diberi hukuman sesuai dengan yang telah disepakati bersama. Guru lebih berperan sebagai fasilitator dan ruangan kelas juga perlu ditata sedemikian rupa, sehingga menunjang pembelajaran kooperatif.

(38)

21

mengikuti proses pembelajaran seperti menjadi pendengar aktif, memberikan penjelasan kepada teman sebaya dengan baik, berdiskusi dan sebagainya.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model

cooperative learning tipe make a match merupakan teknik mencari pasangan di mana siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam susunan yang menyenangkan.

b. Langkah-langkah Tipe Make a Match

Langkah-Langkah penerapan model cooperative learning tipe make a match menurut Djamarah (2010:402-403) sebagai berikut:

a. Guru mkenyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa topik yang mungkin cocok untuk sesi review (persiapan menjelang tes atau ujian).

b. Setiap siswa mendapatkan satu buah kartu.

c. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. Misalnya, pemegang kartu yang bertuliskan PERSEBAYA berpasangan dengan pemegang kartu SURABAYA, atau pemegang kartu yang berisi nama SBY berpasangan dengan pemegang kartu PRESIDEN RI.

(39)

22

Sementara itu Huda (2013:252) mengemukakan langkah-langkah model cooperative learning tipe Make a Match adalah sebagai berikut:

a. Guru menyampaikan materi atau memberi tugas kepada siswa untuk berkelompok agar mempelajari materi.

b. Siswa dibagi kedalam kelompok, misalnya kelompok A dan kelompok B.

c. Guru membagikan kartu pertanyaan dan kartu jawaban kepada setiap kelompok.

d. Guru menyampaikan kepada siswa bahwa mereka harus mencari/mencocokkan kartu yang dipegang dengan kartu kelompok lain. Guru juga perlu menyampaikan batasan maksimal waktu yang ia berikan kepada mereka.

e. Jika mereka sudah menemukan pasangannya masing-masing, guru meminta mereka melaporkan diri kepadanya.

f. Jika waktu sudah habis, mereka harus diberitahu bahwa waktu sudah habis. Siswa yang belum menemukan pasangannya diminta untuk berkumpul sendiri.

g. Guru memanggil satu pasangan untuk presentasi. Pasangan lain dan siswa yang tidak mendapat pasangan memperhatikan dan meberikan tanggapan apakah pasangan itu cocok atau tidak.

(40)

23

i. Guru memanggil pasangan berikutnya, begitu seterusnya sampai seluruh pasangan melakukan presentasi.

Berdasarkan langkah-langkah yang telah dikemukakan di atas, penulis menyimpulkan langkah-langkah penerapan model cooperative learning

tipe make a match adalah:

a. Guru membentuk siswa ke dalam beberapa kelompok dan memberi tugas kepada siswa untuk mempelajari materi.

b. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal, dan bagian lainya kartu jawaban.

c. Setiap siswa mendapat kartu yang bertuliskan jawaban atau soal. d. Setiap siswa memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang

dipegang.

e. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartu yang dipegangnya. Misalnya pemegang kartu yang bertuliskan kebutuhan primer akan berpasangan dengan kartu bertuliskan pangan.

f. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya sebelum batas waktu diberi poin.

g. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapat hukuman sesuai kesepakatan.

(41)

24

i. Siswa dapat bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok.

j. Guru bersama-sama siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran.

Berdasarkan tahapan-tahapan dalam model cooperative learning tipe

make a match di atas siswa dituntut lebih aktif mencari pasangan kartu antara jawaban dan soal, dengan demikian siswa yang sudah mendapat kartu soal maupun jawaban secara langsung dapat mengidentifikasi permasalahan yang terdapat pada kartu yang ditemukannya.

c. Kelebihan dan Kelemahan Tipe Make a Match

Model cooperative learning tipe make a match memiliki kelebihan, menurut Huda (2013:253) adalah sebagai berikut.

1. Dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, baik secara kognitif maupun fisik.

2. Karena ada unsur permainan, maka model pembelajaran ini menyenangkan. Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. 3. Efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa untuk tampil

presentasi.

(42)

25

Adapun kelemahan dari model cooperative learning tipe make a match

menurut Huda (2013:253) adalah sebagai berikut:

1. Jika model pembelajaran ini tidak dipersiapakan dengan baik, akan banyak waktu yang terbuang.

2. Pada awal penerapan model pembelajaran ini, banyak siswa yang akan malu berpasangan dengan lawan jenisnya.

3. Jika guru tidak mengarahkan siswa dengan baiak, akan banyak siswa yang kurang memperhatikan pada saat presentasi pasangan.

4. Guru harus hati-hati dan bijaksana saat memberi hukuman pada yang tidak mendapatkan pasangan, karena mereka bisa malu.

(43)

26

B. Kerangka Pikir

Berdasarkan observasi, peneliti mendapatkan hasil bahwa kurikulum 2013 belum terlaksanan secara maksimal, karena guru belum terampil dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan guru belum terampil melaksanakan pembelajaran tematik. Dalam proses pembelajaran penggunaan model kurang bervariasi dan masih bersifat teacher center

sehingga siswa tidak terlibat aktif dalam pembelajaran, dan hasil belajar siswa rendah. Maka, dalam penelitian ini penulis membuat kerangka pikir sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Pikir MASALAH

TINDAKAN

HASIL

1. Kondisi siswa yang kurang aktif

2. Hasil belajar IPS siswa rendah

1. Tematik terpadu

2. Model cooperative learning

tipe make a match

1. Aktivitas belajar siswa meningkat

(44)

27

C. Hipotesis Tindakan

(45)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Setting Penelitian

1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2013/2014 di kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut, Kecamatan Hulu Sungkai, Kabupaten Lampung Utara. Kegiatan penelitian ini direncanakan akan berlangsung selama kurang lebih 4 bulan, terhitung dari bulan Februari 2014 sampai dengan Mei 2014. Kegiatan penelitian ini dari perencanaan sampai penulisan laporan hasil penelitian.

2. Subjek penelitian

Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut dengan jumlah 24 orang siswa yang terdiri dari 10 orang siswa laki-laki dan 14 orang siswa perempuan. Penelitian ini akan dilaksanakan secara kolaborasi partisipatif antara peneliti dengan guru kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut, Kecamatan Hulu Sungkai, Kabupaten Lampung Utara.

(46)

29

dilanjutkan ke siklus berikutnya jika belum tercapai kriteria keberhasilan atau ketuntasan belajar yang telah ditetapkan oleh peneliti.

B. Prosedur

(47)

30

Siklus II

(adaptasi dari rancangan Arikunto, dkk 2011: 16)

Gambar 3.1 Alur Siklus Penelitian Tindakan Kelas

Berdasarkan bagan model penelitian tindakan kelas di atas, langkah-langkah yang akan ditempuh peneliti selama penelitian adalah sebagai berikut:

1. Siklus 1

a. Tahap Perencanaan

(48)

31

kepada guru kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut. Selanjutnya, bersama guru melakukan penyusunan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Menganalisis kurikulum untuk tema “Indahnya Negeriku” subtema ke 2 “Keindahan Alam Negeriku” pembelajaran 1 dan 2 yang akan disampaikan melalui model cooperative learning tipe make a match. b. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran secara kolaboratif

antara peneliti dengan guru sesuai dengan materi yang akan diajarkan.

c. Membuat kartu-kartu yang berisikan kartu soal dan kartu jawaban yang sesuai dengan materi.

d. Menyiapkan lembar kerja siswa dan media yang sesuai dengan materi dan model pembelajaran yang akan digunakan.

e. Menyiapkan instrumen penelitian yaitu lembar observasi untuk mengamati aktivitas belajar siswa, hasil belajar afektif siswa, psikomotor siswa dan kinerja guru.

(49)

32

Gambar 3.2 Skenario Pembelajaran Model Cooperative Learning Tipe

Make a Match

b. Tahap Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan pembelajaran, langkahnya mengikuti skenario pembelajaran menggunakan model cooperative learning tipe make a match, kegiatan ini dapat diuraikan seperti di bawah ini:

a. Guru membentuk siswa ke dalam beberapa kelompok dan memberi tugas kepada siswa untuk mempelajari materi dengan mengerjakan LKS.

b. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi konsep ataupun topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal, dan bagian lainya kartu jawaban.

c. Setiap siswa mendapat kartu yang bertuliskan jawaban atau soal.

(50)

33

d. Setiap siswa memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang.

e. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartu yang dipegangnya. Misalnya pemegang kartu yang bertuliskan kebutuhan primer akan berpasangan dengan kartu bertuliskan pangan.

f. Setiap siswa yang dapat mencocokan kartunya dengan kartu temannya sebelum batas waktu diberi poin.

g. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapat hukuman sesuai kesepakatan.

h. Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dengan sebelumnya, demikian seterusnya.

i. Siswa dapat bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok.

j. Guru bersama-sama siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran.

k. Guru memberi pertanyaan kepada siswa sebagai refleksi dari kegiatan pembelajaran.

c. Tahap Pengamatan

(51)

34

a. Mengamati aktivitas, afektif, dan psikomotor siswa, serta kinerja guru menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan yaitu untuk melihat peningkatan aktivitas siswa dalam berpartisipasi dan antusias pada pembelajaran. Data yang dihasilkan berupa data kualitatif (lembar observasi terlampir).

b. Sedangkan evaluasi hasil belajar menggunakan tes bentuk isian singkat (tes formatif). Evaluasi digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa dalam menyerap materi pelajaran yang telah disampaikan. Data yang dihasilkan berupa data kuantitatif (lembar soal terlampir).

d. Tahap Refleksi

Berdasarkan data yang didapat dari hasil pengamatan, selanjutnya dilakukan analisis sebagai bahan kajian pada kegiatan refleksi sebagai berikut:

a. Peneliti menganalisis hasil pengamatan terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa. Analisis yang dilakukan adalah untuk mengetahui sejauh mana aktivitas siswa dalam berpartisipasi dan antusias terhadap pembelajaran dan keberhasilan siswa dalam menyerap materi yang telah diajarkan melalui penerapan model cooperative learning tipe make a match.

(52)

35

Peneliti dan kolaborator merencanakan untuk melakukan perbaikan tindakan yang dilakukan pada siklus 2. Hasil pembelajaran pada siklus 2 ini diharapkan lebih baik dari siklus 1.

2. Siklus 2

a. Tahap Perencanaan

Pada siklus 2, tahapan atau langkah-langkah perencanaan yang dilakukan sama seperti yang dilakukan pada siklus 1, namun disempurnakan apabila terdapat kekurangan dari hasil refleksi siklus 1.

b. Tahap Pelaksanaan

Pada siklus 2, tahapan atau langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan sama seperti yang dilakukan pada siklus 1, dengan tema “Indahnya Negeriku” subtema ke 3 “Indahnya Peninggalan Sejarah”

pembelajaran 1 dan 3 yang akan disampaikan melalui model

cooperative learning tipe make a match. Mengikuti skenario pembelajaran pada siklus 1 yang telah disempurnakan berdasarkan hasil refleksi siklus 1.

c. Tahap Pengamatan

(53)

36

d. Tahap Refleksi

Berdasarkan data yang didapat dari hasil pengamatan selanjutnya dilakukan analisis sebagai bahan kajian sama seperti pada siklus 1. Setelah semua data pembelajaran pada siklus 1 dan 2 didapat, langkah selanjutnya adalah menggunakan data tersebut untuk menyusun laporan penelitian tindakan kelas. Diharapkan pada siklus 2 indikator keberhasilan telah tercapai, sehingga tidak diperlukan siklus selanjutnya.

C. Teknik Pengumpulan Data

Peneliti mengumpulkan keseluruhan data yang telah diperoleh selama penelitian tindakan kelas yaitu dengan teknik tes dan non tes.

1. Teknik Tes

(54)

37

2. Teknik Nontes

Teknik nontes dapat dilakukan melalui observasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Djamarah (2010:258) mengemukakan untuk menilai aspek tingkah laku, jenis nontes lebih sesuai digunakan sebagai alat evaluasi. Seperti menilai aspek sikap, minat, perhatian, karakteristik, dan lainnya yang mencakup segi afektif. Observasi digunakan untuk mengetahui apakah dengan tema indahnya negeriku melalui model

cooperative learning tipe make a match di kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut akan lebih efektif, apa pengaruhnya untuk siswa serta bagaimana pembelajaran yang dilakukan. Observasi dilakukan oleh observer terhadap aktivitas belajar siswa, hasil belajar afektif siswa, psikomotor siswa dan kinerja guru selama proses pembelajaran berlangsung.

D. Alat Pengumpulan Data

Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah soal tes dan lembar observasi.

1. Tes

(55)

38

2. Lembar Observasi

Lembar observasi yang digunakan observer untuk mengamati aktivitas belajar siswa, hasil belajar afektif siswa, psikomotor siswa dan kinerja guru saat pembelajaran berlangsung dalam penerapan model cooperative learning tipe make a match (lembar observasi terlampir).

E. Teknik Analisis Data

Penelitian ini akan dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif.

1. Analisis Data Kualitatif

Analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis data terhadap aktivitas belajar siswa, hasil belajar afektif siswa, psikomotor siswa dan kinerja guru selama proses pembelajaran berlangsung. Data diperoleh dengan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan siswa dan guru dengan menggunakan lembar observasi.

a. Pemerolehan nilai aktivitas belajar siswa Keterangan:

NA = Nilai Aktivitas JS = Jumlah Skor SM = Skor Maksimum 100% = Bilangan tetap Sumber: Adopsi dari Purwanto (2008:102)

Persentase siswa aktif secara klasikal diperoleh dengan rumus

(56)

39

Tabel 3.1 Kualifikasi Hasil Observasi

Nilai Aktivitas (NA) Yang

b. Pemerolehan penilaian hasil belajar afektif siswa

Peneliti memilih sikap kerjasama, kedisiplinan, dan toleransi untuk diteliti dalam hasil belajar afektif siswa.

Rumus analisis sikap (kerjasama, kedisiplinan, toleransi dan kesungguhan) yaitu:

c. Pemerolehan nilai keterampilan mengemukakan pendapat individu

Sumber: Aqib, dkk (Dian Gustam Pratama, 2013:126)

(57)

40

Rumus nilai rata-rata keterampilan mengemukakan pendapat individu

=

Keterangan:

= Nilai rata-rata keterampilan ∑x = Jumlah nilai

N = Jumlah siswa

Sumber: Anas Sudijono (2001: 264) d. Pemerolehan nilai kinerja guru

Tabel 3.3 Kriteria Hasil Observasi Kinerja Guru

Tingkat Keberhasilan Kategori 85 – 100 Sangat Aktif

70 – 84 Aktif

55 – 69 Kurang aktif 40 – 54 Tidak aktif Sumber: Fkip Unila (2013:81)

2. Analisis Data Kuantitatif

Analisis data ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketuntasan belajar siswa yang diperoleh dari setiap siklus, dapat dihitung menggunakan teknik persentase (%).

a. Menghitung ketuntasan belajar siswa secara individual.

Keterangan:

NA = Nilai akhir yang dicari

(58)

41

TS = Total skor maksimum dari tes 100 = Bilangan tetap

Adaptasi dari Purwanto (2008:102)

b. Menghitung nilai rata-rata seluruh siswa

̅ ∑

Keterangan: ̅ = Nilai rata-rata siswa

∑Xi = Total nilai yang diperoleh siswa ∑N = Jumlah siswa

Adaptasi dari Aqib, dkk (2009:40)

c. Ketuntasan klasikal

Tabel 3.4 Kriteria Ketuntasan Belajar Siswa Dalam Persen.

Tingkat Keberhasilan (%) Arti > 80% Adaptasi dari Aqib, dkk (2009: 41)

Tabel 3.5 Kriteria Ketuntasan Belajar Berdasarkan KKM.

No Nilai Kategori

1 Belum Tuntas

(59)

42

Hasil analisis ini digunakan untuk melakukan perencanaan lanjut dalam siklus selanjutnya sebagai bahan refleksi dalam memperbaiki rancangan pembelajaran.

F. Indikator Keberhasilan

Penerapan model cooperative learning tipe make a match ini digunakan untuk mendapatkan data yang bersifat kuantitatif (angka) berupa nilai-nilai siswa untuk mengetahui hasil belajar kognitif siswa dan data yang bersifat kualitatif untuk mengetahui aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Model cooperative learning tipe make a match ini dikatakan berhasil apabila: 1. Persentase aktivitas siswa secara klasikal minimal mencapai kualifikasi

“Aktif” yaitu apabila 60 % < NA < 80%.

2. Hasil belajar siswa berdasarkan KKM yang ditetapkan yaitu 60,00 dan ketuntasan siswa berdasarkan KKM mencapai ≥75% dari jumlah siswa pada kelas yang diteliti.

G. Jadwal Penelitian

(60)

43

Tabel 3.6 Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Penelitian

Keterangan: tanda (x) adalah waktu yang ditetapkan. No Jenis Kegiatan 3. Pelaksanaan siklus 2

(61)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan pada siswa kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Penggunaan Model cooperative learning tipe make a match pada tema

indahnya negeriku dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut, hal tersebut sesuai dengan pengamatan observer yang telah dilakukan pada siswa kelas IVA mulai dari siklus 1 sampai siklus 2. Pada siklus I nilai persentase rata-rata aktivitas belajar siswa sebesar 62,50% dengan kategori “aktif” dan siklus 2 terjadi peningkatan aktivitas menjadi 81,25% dengan kategori “sangat aktif”. Dengan demikian terjadi peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2

sebesar 18,75%.

(62)

102

Dengan demikian Model cooperative learning tipe make a match dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut, Kecamatan Hulu Sungkai, Kabupaten Lampung Utara, tahun pelajaran 2013/2014.

B. SARAN

Berdasarkan kesimpulan penelitian ini, beberapa saran di bawah ini dapat dipertimbangkan oleh guru maupun pihak sekolah dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar khususnya di SD Negeri Tulungbuyut, Kecamatan Hulu Sungkai, Kabupaten Lampung Utara.

1. Bagi siswa, kepada siswa harus senantiasa belajar lebih giat guna memperkaya ilmu pengetahuan dan memperoleh hasil belajar yang lebih baik.

2. Bagi guru

a. Penelitian ini sebaiknya dapat dikembangkan lagi oleh guru kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

b. Dalam memberikan pengalaman belajar kepada siswa, guru sebaiknya mampu menggunakan berbagai model, metode dan strategi pembelajaran untuk mencapai hasil belajar siswa yang lebih maksimal. c. Lebih menambah wawasan dalam mengelola pembelajaran.

d. Harus mengawasi siswa yang tidak aktif dan tidak tuntas dalam pembelajaran untuk dicari solusinya agar seluruh siswa dapat aktif dan tuntas dalam pembelajaran.

(63)

103

a. Sekolah sebaiknya memberikan dukungan dan dorongan kepada guru dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah seperti melakukan pelatihan kepada guru yang akan melakukan penelitian tindakan kelas.

b. Pengadaan sarana dan prasana yang lebih baik seperti media pembelajaran untuk menunjang proses pembelajaran agar mengoptimalkan pembelajaran dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran di SD Negeri Tulungbuyut.

4. Bagi peneliti lain, agar dapat meneliti lebih lanjut mengenai model

(64)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara. Jakarta 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara. Jakarta.

Aqib, Zainal. 2009. Penelitian Tindakan Kelas untuk guru SD, SLB & TK. Yrama Widya. Bandung.

Andriyani, Ani. 2013. Perbedaan Penguasaan Struktur Question Tag dengan Menggunakan Model Make a Match dan Teams Games Tournament Siswa dengan Kemampuan Awal Berbeda di Sekolah Menengah Keguruan Negeri Padang Cermin. (Tesis). Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Depdikbud. 2009. Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sinar Grafika. Jakarta.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2010. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Rineka Cipta. Jakarta.

http://coretanpenacianda.wordpress.com/2013/02/10/model-pembelajaran-make-a-match/. (diakses pada 20 Februari 2014@10.35)

Hendarni, Deti. 2006. Penilaian Autentik pada Pembelajaran Tematik. Universitas Negeri Malang. Malang.

Huda, Miftahul. 2013. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Isjoni, 2007. Cooperative Learning. Alfabeta. Bandung.

Kunandar. 2010. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi. Raja Grafinda Persada. Jakarta.

(65)

Purwanto, Ngalim. 2008. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. PT Remaja Rosdakarya. Jakarta.

Petrus, dkk. 2009. Kajian IPS SD. Dikti. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Prayitno, Edi dan Sri Wulandari. 2010. Penyusunan Penelitian Tindakan Kelas Dalam Pembelajaran Matematika di SD (Versi Ebook). Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Matematika. Yogyakarta.

http://ebook.p4tkmatematika.org.2010/07/penyusunan-proposal-penelitian-tindakan-kelas-dalam-pembelajaran-matematika-di-sd/

(diakses pada 20 Februari 2014@09.17)

Permendikbud. 2013. Undang-undang RI No. 81A Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Prastowo, Andi. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Tematik. Diva Press. Jogjakarta.

Sagala, Syaiful. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. Alfabeta. Jakarta.

Sardiman, A. M. 2010. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. PT Raja grafindo Persada. Jakarta.

Sanjaya, Wina. 2012. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.

Suprihatiningrum, Jamil. 2013. Strategi Pembelajaran: Teori dan Aplikasi. Ar-ruzz Media. Jogjakarta.

Gambar

Tabel 1.1 Hasil Ulangan Akhir Semester Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa Kelas IVA SD Negeri Tulungbuyut Semester Ganjil 2013/2014
Tabel 1.2 Hasil Observasi Aktivitas Siswa Kelas IVA SD Negeri     Tulungbuyut
Gambar 2.1 Kerangka Pikir
Gambar 3.1 Alur Siklus Penelitian Tindakan Kelas
+6

Referensi

Dokumen terkait

Apabila perhitungan tidak memenuhi syarat, maka dapat diperbaiki dengan cara menggeser letak muatan yang telah direncanakan sebelumnya pada gambar rencana umum

Based on result of the analysis, it was found that there was insignificant influence between the control treatment and reduced micronutrients of B, Fe, and Zn on the

HR3 Jumlah waktu pelatihan bagi karyawan dalam hal mengenai kebijakan dan serta prosedur terkait dengan aspek HAM yang relevan dengan kegiatan organisasi, termasuk

Pada pasal 4-8 disebutkan setiap orang berhak atas kesehatan, akses atas sumber daya, pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau, menentukan sendiri pelayanan kesehatan

pembelajaran biologi pokok bahasan tumbuhan paku ( Pteridophyta ). Sedangkan untuk kepraktisan diperoleh data jumlah persentasi untuk respon terhadap peserta didik

6 Prinsip-prinsip moral adalah aturan yang sifatnya personal, yang mengidentifikasikan bagaimana seseorang seharusnya bertingkah laku dan tidak dapat digunakan untuk

Dalam rangka menyiapkan calon tenaga kependidikan yang profesional, maka diwujudkan dengan adanya pelaksanaaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Untuk melaksanakan PPL,

Responden dalam penelitian ini adalah pasien dengan hipertensi pada bulan Februari-Maret 2015 yang berjumlah tujuh responden dengan hasil bahwa 6 dari 7 responden mengalami