SKRIPSI
PENGARUH CASH RATIO, DEBT TO EQUITY RATIO, DAN RETURN ON ASSETS TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN PAYOUT RATIO PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA
EFEK INDONESIA PERIODE 2005-2009
OLEH
MARTA HASIBUAN
090503128
PROGRAM STUDI AKUNTANSI DEPARTEMEN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Pernyataan
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya
bahwa skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Cash Ratio, Debt to Equity Ratio,
dan Return On Assets Terhadap Kebijakan Dividen Payout Ratio pada Perusahaan
Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2005-2009” adalah benar hasil
karya saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik pada Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga,
dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau
dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika
penulisan ilmiah.
Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam
skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, 28-12-2012
ABSTRAK
PENGARUH CASH RATIO, DEBT TO EQUITY RATIO, DAN RETURN ON ASSETS TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN PAYOUT RATIO PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK
INDONESIA PERIODE 2005-2009
Penelitian ini merupakan studi empiris untuk menguji pengaruh Cash Ratio, Debt to Equity Ratio, Return On Assets terhadap kebijakan dividen yang diukur dengan Dividen Payout Ratio pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan periode pengamatan 2005-2009. Teknik sampel yang digunakan adalah purposive sampling sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 27 perusahaan.
Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data yang telah dimanipulasi menjadi Logaritma normal (Ln) dengan tujuan untuk memperoleh distribusi data yang normal, sehingga dapat dilakukan pengujian lebih lanjut.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear berganda dan uji hipotesis menggunakan t-statistik serta f-statistik untuk menguji kelayakan model penelitian dengan level of significance 5%. Selain itu juga dilakukan uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, uji multikoleneritas, uji heterokedastisitas, dan uji autokorelasi.
Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel Cash Ratio, Return On Assets tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan, serta variabel Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Dividen Payout Ratio.
ABSTRACTS
THE EFFECT OF CASH RATIO, DEBT TO EQUITY RATIO, AND RETURN ON ASSETS ON DIVIDEN PAYOUT RATIO POLICY ON THE LISTED MANUFACTUR COMPANIES IN INDONESIA STOCK EXCHANGE ON
PERIOD 2005-2009
This research is an empirical study to examine the effect of cash ratio, debt to equity ratio, and return on asset to dividend policy which was measured by dividend payout ratio on the manufactur companies listed on Indonesian Stock Exchange in period of 2005-2009. The samples were collected using the purposive sampling method and it has resulting 27 companies for the samples.
Data in this study using data that has been manipulated into normal logarithm (Ln) in order to obtain a normal distribution of the data, so it can be forward to other testing.
The samples were analyzed by using linear multiple regression tehnique, t-test for t-testing the hypothesis and f-t-test for the feasibility model t-test with the five percent level of significant. It will tested with classic asumption test like normality test, autocorellation test, multicollinearity test, and heteroscedastisity test.
The result shows, Cash Ratio and Return On Asset has not a positive and not significant effect to Dividend Payout Ratio, and Debt to Equity Ratio has not a negative and not significant effect to Dividend Payout Ratio.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan pada Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan
kasih karunia yang diberikan, sehingga skripsi yang berjudul “Pengaruh Cash
Ratio, Debt to Equity Ratio, Return On Assets Terhadap Kebijakan Dividen
Payout Ratio Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia Periode 2005-2009” dapat diselesaikan oleh penulis tepat pada
waktunya, sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas
Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Penulis telah banyak menerima bimbingan, saran, motivasi, dan doa dari
berbagai pihak selama penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini
penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan dan bimbingan, yaitu kepada:
1. Bapak Arifin Lubis selaku Plt. Dekan Fakultas Ekonomi Universitas
Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, SE,Ak,MAFIS,CPA, selaku Ketua
Departemen S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Firman Syarif, M.Si.Ak. selaku Ketua Program Studi
Akuntansi Faklutas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Drs. M. Utama Nasution, MM,Ak., selaku Dosen Pembimbing.
6. Teristimewa kepada Orang tua saya terkasih, Ayahanda Jannus Hasibuan
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 9
1.3 Tujuan Penelitian ... 9
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori ... 11
2.1.1.Pengertian Dividen ... 11
2.1.2 Teori Pensinyalan ... 14
2.1.3 Teori Kebijakan Dividen ... 15
2.1.4 Kebijakan Pembagian Dividen ... 17
2.1.5 Prosedur Pembagian Dividen ... 19
2.1.6 Rasio Kas ... 20
2.1.7 Debt to Equity Ratio ... 21
2.1.8 Total Aset ... 22
2.2 Penelitian Terdahulu ... 23
2.3.1 Pengaruh CR terhadap DPR ... 25
2.3.2 Pengaruh DER terhadap DPR ... 26
2.3.3 Pengaruh ROA terhadap DPR ... 26
2.4 Kerangka Konseptual ... 27
2.5 Hipotesis Penelitian ... 27
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 28
3.1.1 Variabel Dependen ... 28
3.1.2 Variabel Independen ... 28
3.2 Populasi dan Sampel ... 30
3.2.1 Populasi ... 30
3.2.2 Sampel ... 31
3.3 Jenis dan Sumber Data ... 34
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 34
3.5 Metode Analisis Data ... 34
3.5.1 Uji Normalitas ... 34
3.5.2 Uji Multikolinearitas ... 35
3.5.3 Uji Autokorelasi ... 36
3.5.4 Uji Heterokedastisitas ... 36
3.6 Pengujian Hipotesis ... 37
3.6.1 Regresi Linear Berganda ... 37
3.6.2 Koefisien Determinasi R2 ... 38
3.6.3 Uji Statistik F ... 38
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 40
4.1.1 Sejarah Bursa Efek Jakarta... 40
4.1.2 Perkembangan Bursa Efek Indonesia ... 41
4.2 Statistik Deskriptif ... 43
4.3 Pengujian Asumsi Klasik ... 45
4.3.1 Hasil Uji Normalitas ... 45
4.3.2 Hasil Uji Multikolineritas ... 46
4.3.3 Hasil Uji Autokorelasi... 47
4.3.4 Hasil Uji Heterokedastisitas ... 48
4.4 Pengujian Hipotesis ... 49
4.4.1 Hasil Uji Koefisien Determinasi ... 49
4.4.2 Hasil uji f ... 50
4.4.3 Hasil uji t ... 51
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 55
5.2 Keterbatasan Penelitian ... 56
5.3 Saran Untuk Penelitian Selanjutnya ... 57
DAFTAR PUSTAKA ... xi
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
Tabel 2.1 Rangkuman Penelitian Terdahulu ... 24
Tabel 3.1 Seleksi Sampel Penelitian ... 32
Tabel 3.2 Daftar Sampel Penelitian ... 33
Tabel 3.3 Nilai uji D-W ... 36
Tabel 4.1 Statistik deskriptif ... 44
Tabel 4.3 Uji Multikolineritas ... 46
Tabel 4.4 Uji Autokorelasi ... 47
Tabel 4.5 Uji Heterokedastisitas ... 48
Tabel 4.6 Uji Hipotesis ... 49
Tabel 4.7 Hasil Uji F ... 50
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran ... 27
Gambar 4.1 Garfik histogram hasil olahan SPSS ... 45
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Judul Halaman
Lampiran I Cash ratio... xiii
Lampiran II Debt to equity ratio ... xiv
Lampiran III Return on assets ... xv
Lampiran IV Dividen payout ratio ... xvi
Lampiran V Hasil Uji Data Sebelum Manipulasi data ... xvii
ABSTRAK
PENGARUH CASH RATIO, DEBT TO EQUITY RATIO, DAN RETURN ON ASSETS TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN PAYOUT RATIO PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK
INDONESIA PERIODE 2005-2009
Penelitian ini merupakan studi empiris untuk menguji pengaruh Cash Ratio, Debt to Equity Ratio, Return On Assets terhadap kebijakan dividen yang diukur dengan Dividen Payout Ratio pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan periode pengamatan 2005-2009. Teknik sampel yang digunakan adalah purposive sampling sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 27 perusahaan.
Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data yang telah dimanipulasi menjadi Logaritma normal (Ln) dengan tujuan untuk memperoleh distribusi data yang normal, sehingga dapat dilakukan pengujian lebih lanjut.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear berganda dan uji hipotesis menggunakan t-statistik serta f-statistik untuk menguji kelayakan model penelitian dengan level of significance 5%. Selain itu juga dilakukan uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, uji multikoleneritas, uji heterokedastisitas, dan uji autokorelasi.
Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel Cash Ratio, Return On Assets tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan, serta variabel Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Dividen Payout Ratio.
ABSTRACTS
THE EFFECT OF CASH RATIO, DEBT TO EQUITY RATIO, AND RETURN ON ASSETS ON DIVIDEN PAYOUT RATIO POLICY ON THE LISTED MANUFACTUR COMPANIES IN INDONESIA STOCK EXCHANGE ON
PERIOD 2005-2009
This research is an empirical study to examine the effect of cash ratio, debt to equity ratio, and return on asset to dividend policy which was measured by dividend payout ratio on the manufactur companies listed on Indonesian Stock Exchange in period of 2005-2009. The samples were collected using the purposive sampling method and it has resulting 27 companies for the samples.
Data in this study using data that has been manipulated into normal logarithm (Ln) in order to obtain a normal distribution of the data, so it can be forward to other testing.
The samples were analyzed by using linear multiple regression tehnique, t-test for t-testing the hypothesis and f-t-test for the feasibility model t-test with the five percent level of significant. It will tested with classic asumption test like normality test, autocorellation test, multicollinearity test, and heteroscedastisity test.
The result shows, Cash Ratio and Return On Asset has not a positive and not significant effect to Dividend Payout Ratio, and Debt to Equity Ratio has not a negative and not significant effect to Dividend Payout Ratio.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar BelakangKebijakan pembayaran dividen mempunyai pengaruh terhadap para
pemegang saham dan bagi perusahaan yang akan membayar dividen. Para
pemegang saham umunya menginginkan pembagian dividen yang relatif stabil
karena dengan stabilitas dividen dapat meningkatkan kepercayaan pemegang
saham terhadap perusahaan sehingga tidak mengurangi ketidakpastian pemegang
saham dalam menanamkan dananya ke dalam perusahaan. Setiap perusahaan
selalu menginginkan adanya pertumbuhan bagi perusahaan tersebut dan juga
untuk membayarkan dividen kepada pemegang saham. Setiap perusahaan harus
dapat mengalokasikan laba bersihnya dengan bijaksana untuk memenuhi
kepentingan pemegang saham dan perusahaan itu sendiri karena keputusan
tersebut mempunyai pengaruh yang menentukan nilai perusahaan.
Pasar modal merupakan suatu wahana yang mempertemukan pihak yang
membutuhkan dana dan pihak yang menyediakan dana sesuai dengan aturan yang
ditetapkan oleh lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Pasar modal
menyediakan berbagai instrumen keuangan jangka panjang dalam bentuk ekuitas
dan hutang yang jatuh tempo lebih dari satu tahun. Pasar modal memiliki dua
fungsi yaitu memenuhi keinginan perusahaan untuk memperoleh modal dan
para investor memiliki harapan dari investasi yang dilakukannya, yaitu yang
berupa dividen maupun capital gain.
Investor memiliki tujuan utama dalam menanamkan dananya ke dalam
suatu perusahaan yaitu untuk mencari pendapatan atau tingkat pengembalian
investasi baik berupa pendapatan dividen maupun pendapatan dari selisih harga
jual saham terhadap harga belinya.
Di sisi lain, perusahaan yang akan membagikan dividen dihadapkan pada
berbagai macam pertimbangan antara lain: perlunya menahan sebagian laba untuk
re-investasi yang mungkin lebih menguntungkan, kebutuhan dana perusahaan,
likuiditas perusahaan, sifat pemegang saham, target tertentu yang berhubungan
dengan rasio pembayaran dividen dan faktor lain yang berhubungan dengan
kebijakan dividen.
Kebijakan dividen cenderung menjadi salah satu elemen yang paling stabil
dan dapat diprediksi oleh perusahaan, dan sebagian besar perusahaan mulai
membayar dividen setelah mereka mencapai tahap kematangan bisnis dan ketika
tidak ada lagi kesempatan investasi yang menguntungkan perusahaan.
Pengaruh dividen terhadap nilai perusahaan, Abdul Hakim (2005: 21)
menyatakan bahwa
dividen merupakan sebagian dari laba yang dibagikan kepada pemegang saham. Bagi investor jumlah rupiah yang diterima dari pembayaran dividen risikonya lebih kecil dari capital gain. Sehingga penurunan besarnya pembayaran dividen dapat diartikan bahwa perusahaan mempunyai prospek tingkat keuntungan yang kurang baik karena dividen merupakan informasi mengenai tingkat pertumbuhan laba saat ini dan masa mendatang.
Proporsi dividen yang dibayarkan pada pemegang saham tergantung pada
diterapkan oleh perusahaan yang bersangkutan. Prosentase dari laba yang akan
dibayarkan kepada pemegang saham sebagai cash dividend disebut dividend
payout ratio.
Di sisi lain, pembagian dividen yang tinggi kurang disukai oleh
manajemen karena akan mengurangi utilitas manajemen yang disebabkan oleh
semakin kecilnya dana yang berada dalam lingkup kendali manajemen.
Manajemen lebih suka memperlakukannya sebagai laba ditahan, kecuali
mengetahui bahwa dana tersebut tidak memberikan net present value (NVP) yang
positif pada tambahan investasi.
Pengumuman dividen sebagai alat untuk mengirimkan isyarat yang nyata
kepada pasar mengenai hasil kerja perusahaan di masa kini dan di masa yang akan
datang adalah merupakan cara yang tepat meskipun mahal tetapi sangat berarti.
Sampai saat ini terdapat kontroversi tentang dividen yang seharusnya
dibayarkan (Abdul hakim: 2005), yaitu:
1) Dividen seharusnya dibayarkan setingi-tingginya.
Pihak yang menyatakan bahwa dividen sebaiknya dibayarkan setinggi-tingginya, beranggapan bahwa harga saham dipengaruhi oleh dividen yang dibayarkan. Oleh karena itu, pembayaran dividen yang tinggi dianggap perusahaan mempunyai prospek tingkat keuntungan yang baik.
2) Dividen seharusnya dibayarkan serendah-rendahnya.
3) Pihak yang menyatakan bahwa dividen dibayarkan setelah adanya kesempatan investasi yang menguntungkan yang memenuhi persyaratan didanai, beranggapan bahwa tidak ada pajak perseorangan atau perusahaan, tidak ada floatation cost, kebijakan dividen tidak mempengaruhi biaya modal sendiri, dan keputusan investasi terpisah dari keputusan pendanaan. Apabila kesempatan investasi menjanjikan hasil pengembalian yang tinggi daripada pengembalian yang diisyaratkan, para pemegang saham akan lebih senang jika perusahaan menahan laba. Sebaliknya, jika hasil pengembalian lebih rendah daripada hasil pengembalian yang diisyaratkan, mereka akan lebih suka jika dividen dibagikan.
Akhirnya, pertanyaan yang muncul adalah mengapa dalam praktiknya
perusahaan-perusahaan enggan menurunkan pembayaran dividen? Hal ini
mungkin disebabkan karena tampaknya dividen dapat membuat para pemegang
perusahaan menafsirkan bahwa kenaikan atau penurunan pembayaran dividen
merupakan cermin membaiknya atau memburuknya prospek perusahaan. Ini
karena umumnya investor cenderung bereaksi berlebihan jika ada kabar buruk.
Oleh karena itu akhirnya perusahaan enggan mengambil keputusan penurunan
pembayaran dividen sebab harga saham akan naik atau turun jika terjadi
peningkatan atau penurunan pembayaran dividen yang tidak diharapkan.
Penelitian ini menggunakan variabel-variabel rasio keuangan dalam
memprediksi kebijakan dividen. Rasio keuangan digunakan sebagai variabel
penelitian karena rasio keuangan ini sangat penting gunanya untuk melakukan
analisis terhadap kondisi keuangan perusahaan. Bagi investor jangka pendek dan
menengah pada umumnya lebih banyak tertarik kepada kondisi keuangan jangka
Rasio-rasio keuangan yang digunakan antara lain adalah rasio likuiditas
yang diukur oleh Cash Ratio, rasio leverage yang diukur oleh Debt to Equity
Ratio¸dan rasio profitabilitas yang diukur oleh Return On Asset.
Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan
dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Current Ratio merupakan
indikator yang sesungguhnya dari likuiditas perusahaan, karena perhitungan
tersebut mempertimbangkan hubungan relatif antara aktiva lancar dan hutang
lancar.
Dengan demikian, likuiditas perusahaan dapat disimpulkan sebagai
kemampuan membayar yang dihubungkan dengan kewajiban keuangan yang
harus segera dipenuhi dalam menyelenggarakan aktivitas-aktivitas perusahaan,
seperti membayar gaji, upah, dividen, dan lainnya.
Rasio leverage yaitu Debt to Equity Ratio (DER) yang merupakan rasio
yang menggambarkan perbandingan antara total hutang dengan total ekuitas
perusahaan. Perusahaan yang mempunyai kesempatan bertumbuh lebih besar
umumnya mempunyai DER yang lebih rendah dalam kebijakan struktur
modalnya. Rasio leverage mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan
hutang. Banyak perusahaan yang membiayai aktivitas usahanya dengan hutang.
Namun, harus dimengerti bahwa penggunaan hutang yang berlebihan bisa
menimbulkan kondisi berbahaya atau yang biasa disebut dengan extreme
leverage, sehingga penggunaan hutang yang baik adalah disesuaikan dengan
Peningkatan hutang pada gilirannya akan mempengaruhi peningkatan laba
bersih yang tersedia bagi para pemegang saham termasuk dividen yang diterima
karena kewajiban untuk membayar hutang lebih diutamakan daripada pembagian
dividen.
Rasio profitabilitas yang digunakan adalah rasio Return on Assets (ROA)
yang menunjukkan kemampuan modal yang diinvestasikan dalam total aktiva
untuk menghasilkan laba perusahaan. Semakin tinggi Return on Assets (ROA)
maka kemungkinan pembagian dividen juga semakin banyak.
Menurut Bhattacharya (1979) profitability refers to the ability a firm to
generate revenues in excess of expenses. Adapun menurut I.Omar dan Juhmani
(2009) mengatakan bahwa profitability is the efeectiveness with which
management has employed both the total assets and the net assets as recorded on
the balance sheet. Lebih tegas M. Ramli (2010) bahwa profitability ratio are
indicators of a firm’s overall financial health.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Zulfikli (2008) menganalisis
faktor-faktor yang mempengaruhi dividend payout ratio pada perusahaan
makanan dan minuman yang terdaftar di BEJ. Variabel independen yang diteliti
adalah variable cash position, DER, ROA, growth potential, dan firm size. Hasil
dari penelitian menunjukkkan dalam uji parsial (uji-t) bahwa semua variabel
independen tidak berpengaruh signifikan terhadap DPR. Sedangkan dalam uji
serempak (uji-f) menunjukkan bahwa semua variabel independen berpengaruh
Penelitian yang dilakukan oleh Nurhidayati (2006) menganalisis tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi dividen kas pada BEJ. Variabel independen
yang diteliti adalah current ratio, EPS, ROI, cash ratio, DTA, size. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa current ratio, EPS signifikan berpengaruh positif
terhadap dividen kas. Sedangkan ROI, cash ratio, DTA, size tidak signifikan
berpengaruh terhadap dividen kas.
Penelitian yang dilakukan Agung Baruno dan Endriani (2005)
menganalisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen
payout ratio pada industri telekomunikasi di BEJ periode 2000-2004. Variabel
independen yang diteliti adalah posisi kas, ROA, ROE, DER, firm size, dan DPR
tahun sebelumnya. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa posisi kas, ROI, dan
firm size berpengaruh signifikan terhadap DPR pada PT TELKOM. Sedangkan
untuk PT INDOSAT, posisi kas, ROE, DER, DPR tahun sebelumnya berpengaruh
signifikan terhadap DPR.
Penelitian yang dilakukan oleh Nasrul (2004) menganalisis faktor-faktor
yang mempengaruhi kebijakan dividen payout ratio pada perusahaan manufaktur
yang go public di BEJ. Variabel independen yang diteliti adalah current ratio,
debt to equity ratio, net profit margin, return on investment. Hasil penelitian
menunjukkan Secara parsial hanya net profit margin saja yang mepunyai
pengaruh secara positif namun tidak signifikan terhadap dividen payout ratio.
Sedangkan variabel bebas lainnya mempunyai pengaruh yang positif dan
signifikan. Adapun faktor dominan yang mempengaruhi DPR adalah CR dan
Penelitian yang dilakukan oleh Edi Susanto (2002) menganalisis
faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen pada BEJ pada periode 1999.
Variabel independen yang diteliti adalah ROI, current ratio, DTA. Hasil
penelitian menunjukkan ROI, Curent ratio tidak signifikan berpengaruh terhadap
dividen kas. DTA signifikan berpengaruh terhadap dividen kas.
Penelitian yang dilakukan oleh Sutrisno (2001) menganalisis faktor-faktor
yang mempengaruhi kebijakan dividen payout ratio pada perusahaan publik yang
terdaftar di BEJ periode 1991-1996. Variabel independen yang diteiti adalah
posisi kas, DER, growth potential, ukuran perusahaan, ROA. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa posisi kas dan DER merupakan faktor dominan yang
mempengaruhi dividen payout ratio.
Berdasarkan hasil penelitian-penelitian tersebut, yang menunjukkan hasil
yang tidak konsisten, sehingga penting untuk di replikasi dan diteliti kembali
pengaruh variabel cash ratio, debt to equity ratio, dan return on asset terhadap
kebijakan dividen dengan proksi dividend payout ratio. Maka penulis
menuangkannya dalam sebuah karya tulis ilmiah yang berbentuk skripsi dengan
judul “Pengaruh Cash Ratio, Debt to Equity Ratio, dan Return On Asset terhadap
kebijakan Dividend Payout Ratio pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka yang menjadi pokok
permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Apakah Cash Ratio berpengaruh positif terhadap kebijakan Dividend
Payout Ratio?
2) Apakah Debt to Equity Ratio berpengaruh negatif terhadap kebijakan
Dividend Payout Ratio?
3) Apakah Return On Asset berpengaruh positif terhadap kebijakan Dividend
Payout Ratio?
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah, maka yang menjadi
tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui pengaruh Cash Ratio terhadap kebijakan Dividend
Payout Ratio
2) Untuk mengetahui pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap kebijakan
Dividend PayoutRatio
3) Untuk mengetahui pengaruh Return On Asset terhadap kebijakan Dividend
Payout Ratio.
1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dan tujuan penelitian maka
1) Manfaat Teoritis
Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai masukan atau
tambahan wawasan serta bukti empiris mengenai pengaruh cash ratio,
debt to equity ratio dan return on asset terhadap kebijakan dividen serta
dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi peneliti yang akan melakukan
penelitian sejenis atau lebih lanjut.
2) Manfaat Praktis
a) Penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi yang bermanfaat
bagi pembaca khususnya investor atau para pialang saham dalam
mengambil keputusan untuk membeli atau menjual saham sehubungan
dengan harapannya terhadap dividen yang dibayarkan.
b) Bagi para pemimpin dan pengambil kebijakan di dalam perusahaan,
penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam penentuan
kebijakan dividen yang akan diambil pada saat diadakannya Rapat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
Bab ini membahas mengenai telaah pustaka yang relevan dengan topik
penelitian. Telaah pustaka tersebut berasal dari berbagai sumber yaitu text book
dan jurnal-jurnal penelitian. Selain itu dalam bab ini juga dikemukakan pengaruh
variabel-variabel independen terhadap variabel dependen dan hipotesis penelitian
yang hipotesis penelitian tersebut akan diuji lebih lanjut. Di samping itu disajikan
pula diagram kerangka pemikiran teoritis dan hipotesis penelitian.
2.1.1 Pengertian Dividen
Menurut Munawir S (2007) dividen merupakan sebagian dari laba yang
dibagikan kepada pemegang saham. Dividen akan diterima oleh pemegang saham
hanya apabila ada usaha menghasilkan cukup uang untuk membagi dividen
tersebut dan apabila dewan direksi menganggap layak bagi perusahaan untuk
mengumumkan dividen.
Pendapatan yang diharapkan oleh pemegang saham adalah pendapatan
yang dihasilkan dari pembagian dividen, dimana badan usaha menyerahkan
Menurut Shitta amalia (2011; 387), faktor-faktor yang mempengaruhi
kebijakan dividen yaitu:
1) Faktor Hukum
a) Peraturan mengenai laba bersih menentukan bahwa dividen dapat dibayar dari tahun-tahun yang lalu dan dari laba tahun berjalan.
b) Peraturan mengenai tindakan yang merugikan modal. Melindungi para kreditur, dengan melindungi para pembayaran dividen yang berasal dari modal membagikan investasinya bukan membagikan keuntungannnya.
c) Peraturan mengenai tak mampu bayar, peruahaan boleh membayar dividen jika tidak mampu (jumlah hutang lebih besar dari jumlah harta).
2) Faktor likuiditas
Laba ditahan biasanya diinvestasikan dalam bentuk aktiva yang diperlukan untuk menjalankan usaha. Laba ditahan dari tahun-tahun terdahulu sudah diinvestasikan dalam bentuk mesin dan peralatan, persediaan dan barang-barang lainnya, bukan disimpan dalam bentuk tunai.
3) Membayar pinjaman
Perusahaan jika telah membuat keputusan untuk memperluas perusahaan atau untuk membiayai lainnya maka perusahaan dapat melunasi pinjamannya pada saat jatuh tempo atau dapat juga menyisihkan cadangan-cadangan untuk melunasi pinjaman itu nantinya. Jika diputuskan pinjaman itu akan dilunasi, maka biasanya harus ada laba ditahan.
4) Kontrak pinjaman
Kontrak pinjaman, apalagi jika menyangkut pinjaman jangka panjang seringkali membatasi kemampuan perusahaan untuk membayar dividen.
5) Pengembangan aktiva
Pertumbuhan perusahaan akan semakin besar kebutuhan dananya untuk membiayai pengembangan aktiva perusahaan. Dana semakin banyak dibutuhkan dikemudian hari, semakin banyak laba yang harus ditahan.
6) Tingkat pengembalian
7) Stabilitas keuntungan
Perusahaan yang keuntungannnya relatif teratur seringkali dapat memperkirakan keuntungan dikemudian hari. Maka perusahaan seperti itu kemungkinan besar akan membagikan keuntungannya dalam bentuk dividen yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang keuntungannya berfluktuasi.
8) Pasar modal
Perusahaan besar yang sudah mantap, dengan profitabilitas yang tinggi dan keuntungan teratur, dengan mudah dapat masuk ke pasar modal atau memperoleh macam-macam dana dari luar untuk pembiayaannya. Perusahaan kecil yang masih baru atau agak gegabah adalah terlalu berisiko bagi calon debitur.
9) Kendali perusahaan
Perusahaan hanya memperluas usahanya dari pembiayaan intern maka pembayaran dividen akan berkurang. Kebijakan ini dijalankan atas pertimbangan bahwa menambah modal dengan menjual saham biasa akan mengurangi pengendalian atas perusahaan itu oleh golongan pemegang saham yang kini berkuasa.
10)Keputusan kebijakan dividen
Perusahaan ingin mempertahankan dividen perlembar saham pada tingkat yang konstan tetapi naiknya dividen selalu terlambat dibandingkan dengan naiknya keuntungan, artinya dividen itu baru akan naik jika sudah jelas bahwa meningkatnya keuntungan itu benar-benar mantap dan cukup permanen.
Menurut Irfan Fahmi (2006) tingkat pengembalian dividen terdiri dari 2
jenis, yaitu:
1) Dividen dengan jumlah tetap (Zero Growth)
2) Dividen dengan pertumbuhan normal (Normal Growth)
Dari tahun ke tahun, perusahaan selalu berupaya agar laba dan dividen akan tumbuh seperti yang direncanakan. Tingkat pertumbuhan tersebut diharapkan terus berlanjut pada tingkat yang sama dengan tingkat pertumbuhan ekonomi (produk nasional bruto-GNP), dan bahkan dapat lebih tinggi dari pertumbuhan tersebut.
2.1.2 Teori Pensinyalan
Teori sinyal menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan
untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal. Dorongan
perusahaan untuk memberikan informasi adalah karena terdapat asimetri
informasi antara perusahaan dan pihak luar karena perusahaan mengetahui lebih
banyak mengenai perusahaan dan prospek yang akan datang daripada pihak luar
(khususnya investor dan kreditor).
Teori sinyal juga mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah
perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal ini
berupa informasi mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik ataupun pihak
yang berkepentingan lainnya. Sinyal yang diberikan dapat dilakukan melalui
pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan, laporan apa yang
sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik, atau
bahkan dapat berupa promosi serta informasi lain yang menyatakan bahwa
perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain.
Penggunaan dividen sebagai isyarat, cenderung berupa cerita bagaimana
informasi dapat diteruskan ke pasar daripada teori tentang kebijakan dividen
memutuskan untuk menaikkan dividen per saham mungkin diartikan oleh
penanam modal sebagai berita yang baik, karena dividen per saham yang lebih
tinggi menunjukkan bahwa perusahaan yakin arus kas pada masa mendatang akan
cukup besar untuk menanggung tingkat dividen yang tinggi.
Pengumuman dividen sebagai alat untuk mengirimkan isyarat yang nyata
kepada pasar mengenai hasil kerja perusahaan di masa kini dan masa yang akan
datang adalah merupakan cara yang tepat meskipun mahal tetapi sangat berarti.
Setelah menerima isyarat melalui pengumuman dividen maka pasar akan bereaksi
terhadap pengumuman perubahan dividen yang dibayarkan sehingga bisa
dikatakan pasar menangkap informasi tentang prospek perusahaan yang
terkandung dalam pengumuman tersebut.
2.1.3 Teori Kebijakan Dividen
Beberapa teori yang berkaitan dengan kebijakan dividen dan
asumsi-asumsi yang mendasari antara lain:
1) Teori Ketidakrelevanan Dividen
Menurut Wicaksana I Gede Anandita (2012) dividend payout ratio tidak
mempunyai pengaruh pada harga saham perusahaan atau biaya modalnya.
Dividen payout ratio adalah tidak relevan, selanjutnya nilai perusahaan
ditentukan oleh earning power dari aset perusahaan. Sementara itu
keputusan apakah laba yang diperoleh akan dibagikan dalam bentuk
Untuk membuktikan teorinya, dikemukakan berbagai asumsi sebagai
berikut:
a) Tidak ada pajak perseorangan dan pajak penghasilan perusahaan.
b) Tidak ada biaya emisi atau flotation cost dan biaya transaksi.
c) Kebijakan penganggaran modal perusahaan independen terhadap dividend payout ratio.
d) Investor dan manajer mempunyai informasi yang sama tentang kesempatan investasi di masa yang akan datang
e) Distribusi pendapatan di antara dividen dan laba ditahan tidak berpengaruh terhadap tingkat keuntungan yang diisyaratkan oleh investor.
2) Bird in the hand theory
Teori ini menganggap dividen yang diterima merupakan sesuatu yang
sudah pasti di tangan sehingga memiliki risiko yang lebih rendah
dibandingkan dengan capital gain. Teori ini berpendapat bahwa investor
lebih menyukai dividen karena lebih pasti pendapatannya daripada
mengharapkan return yang belum pasti jika menginvestasikan kembali
dividen pada investasi tertentu.
3) Tax preference theory
Capital gain dikenakan pajak dengan tarif lebih rendah daripada pajak atas
dividen, maka saham yang memiliki pertumbuhan tinggi menjadi lebih
menarik. Sebaliknya jika capital gain dikenai pajak yang sama dengan
berkurang, namun demikian pajak atas dividen karena pajak atas capital
gain baru dibayar setelah saham dijual, sementara pajak atas dividen harus
dibayar setiap tahun setelah pembayaran dividen.
Periode investasi juga mempengaruhi pendapatan investor, jika investor
hanya membeli saham untuk jangka waktu satu tahun maka tidak ada bedanya
antara pajak atas capital gain dan pajak atas dividen. Investor akan meminta
tingkat keuntungan setelah pajak yang lebih tinggi terhadap saham yang memiliki
dividen yield yang tinggi daripada saham dengan dividen yield yang rendah.
Oleh karena itu, teori ini menyarankan bahwa perusahaan sebaiknya
menentukan dividen payout ratio yang rendah atau bahkan tidak membagikan
dividen Irfan Fahmi (2006).
2.1.4 Kebijakan Pembagian Dividen
Dividen merupakan pembayaran dari perusahaan kepada para pemegang
saham atas keuntungan yang diperolehnya. Kebijakan dividen adalah kebijakan
yang berhubungan dengan pembayaran dividen oleh pihak perusahaan, berupa
penentuan besarnya dividen yang akan dibagikan dan besarnya saldo laba yang
ditahan untuk kepentingan perusahaan.
Laba ditahan dalam jumlah besar, berarti laba yang akan dibayarkan akan
sebagai dividen menjadi lebih kecil. Persentase dari pendapatan yang akan
dibayarakan kepada pemegang saham sebagai kas dividen payout ratio.
Kebijakan dividen sebagai suatu keputusan perusahaan apakah akan
menahan pendapatan untuk kegiatan reinvestasi dalam perusahaan. Ada empat
bentuk kebijakan pembayaran dividen (Abdul Hakim, 2005), yaitu sebagai
berikut:
a. Kebijakan dividen yang stabil
Kebijakan ini merupakan pola pembayaran dividen per lembar saham yang dibayarkan setiap tahun relatif tetap selama jangka waktu tertentu meskipun pendapatan per lembar saham per tahunnya berfluktuasi. Dividen yang sudah dinaikkan ini akan dipertahankan untuk jangka waktu yang relatif panjang.
b. Kebijakan dividen dengan penetapan jumlah dividen minimal plus jumlah ekstra tertentu.
Kebijakan ini menetapkan jumlah rupiah minimal dividen per lembar saham setiap tahunnya. Jika kondisi keuangan perusahaan baik, perusahaan akan membagikan dividen ekstra di atas jumlah minimal tersebut. Jika kondisi memburuk, maka yang dibayarkan hanya dividen minimalnya saja.
c. Kebijakan dividen dengan penetapan dividend payout ratio yang konstan.
Jika kebijakan ini yang dipakai oleh perusahaan, ini berarti bahwa jumlah dividen per lembar saham yang dibayarkan setiap tahunnya akan berfluktuasi sesuai dengan perkembangan keuntungan netto yang diperoleh setiap tahunnya.
d. Kebijakan dividen yang fleksibel.
Kebijakan ini merupakan pola pembayaran dividen yang besarnya disesuaikan dengan posisi dan kebijakan finansial perusahaan setiap tahunnya.
Prosentase laba yang dibayarkan sabagai dividen akan berfluktuasi dari
satu periode ke periode lainnya seiring dengan jumlah peluang yang diterima
perusahaan. Dengan dibayarkannya dividen maka diharapkan perusahaan tersebut
dividen yang terus menerus perusahaan mampu menghadapi gejolak
perekonomian dan mampu memberikan hasil kepada para pemegang saham.
2.1.5 Prosedur Pembagian Dividen
Didalam pembayaran dividen oleh emiten, maka emiten selalu akan
mengumumkan secara resmi jadwal pelaksanaan pembayaran dividen tersebut
baik dividen tunai maupun dividen saham. Tanggal-tanggal yang perlu
diperhatikan didalam pembayaran dividen adalah sebagai berikut:
a. Tanggal Pengumuman
Merupakan tanggal pada saat dimana direksi perusahaan
mengumumkan rencana pembagian dividen
b. Tanggal Cum Dividend
Merupakan tanggal hari terakhir perdagangan saham yang masih
melekat hak untuk mendapatkan dividen baik dividen tunai maupun
dividen saham.
c. Tanggal Ex- Dividend (Ex- Dividend Date)
Merupakan tanggal pada saat dimana hak atas dividen periode berjalan
dilepaskan dari sahamnya; biasanya jangka waktunya adalah empat
d. Tanggal Pencatatan Pemegang Saham
Merupakan tanggal dimana investor harus terdaftar sebagai pemegang
saham perusahaan publik atau emiten sehingga investor mempunyai
hak yang diperuntukkan bagi pemegang saham.
e. Tanggal pembayaran
Tanggal ini merupakan saat pembayaran dividen oleh perusahaan
kepada para pemegang saham yang telah mempunyai hak atas dividen.
Jadi pada tanggal tersebut, para investor sudah dapat mengambil
dividen sesuai dengan bentuk dividen yang telah diumumkan oleh
emiten (dividen tunai/dividen saham)
2.1.6 Rasio Kas
Cash ratio merupakan salah satu ukuran dari rasio likuiditas yang
merupakan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya
melalui sejumlah kas (dan setara kas, seperti giro atau simpanan lain di bank yang
dapat ditarik setiap saat) yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi cash ratio
menunjukkan kemampuan kas perusahaan untuk memenuhi (membayar)
kewajiban jangka pendeknya.
Cash + Equivalent Cas Ratio =
Current Liabilities
Kas dan ekuivalennya dalam persamaan tersebut menunjukkan besarnya
kas dan setara kas (giro dan simpanan lain yang pengambilannya tidak dibatasi
oleh waktu) yang tercermin dalam neraca (sisi asset). Current liability
menunjukkan jumlah kewajiban jangka pendek perusahaan yang tercermin dalam
neraca (sisi liabilitas).
Posisi cash ratio merupakan variabel penting yang dipertimbangkan oleh
manajemen dalam kebijakan dividen. Pembayaran dividen merupakan arus kas
keluar, cash flow yang tinggi akan memungkinkan perusahaan lebih berfokus pada
pembayaran dividen atau menyelesaikan hutang untuk mengurangi biaya.
Sehingga semakin kuat cash ratio perusahaan, berarti semakin besar kemampuan
untuk membayar dividen.
2.1.7 Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to Equity Ratio (DER) mencerminkan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi seluruh kewajibannya, yang ditunjukkan oleh berapa bagian modal
sendiri yang digunakan untuk membayar hutang. Salah satu rasio yang termasuk
dalam rasio solvabilitas atau leverage adalah debt to equity ratio. Rasio ini
digunakan untuk mengetahui berapa bagian dari setiap modal sendiri yang
dijadikan jaminan untuk keseluruhan hutang perusahaan atau untuk menilai
Kebijakan debt dapat dipengaruhi oleh karakteristik perusahaan yang akan
mempengaruhi kurva permintaan dari debt yang ditawarkan kepada perusahaan
atau permintaan perusahaan akan debt. Perusahaan-perusahaan yang profitable
memiliki lebih banyak pendapatan yang tersedia untuk retensi atau investasi dan
karenanya, akan cenderung membangun ekuitas mereka relatif terhadap hutang.
Oleh karena itu semakin rendah DER akan semakin tinggi kemampuan
perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya.
Semakin besar proporsi hutang yang digunakan untuk struktur modal suatu
perusahaan, maka akan semakin besar pula jumlah kewajibannya. Peningkatan
hutang pada gilirannya akan mempengaruhi besar kecilnya laba bersih yang
tersedia bagi para pemegang saham termasuk dividenyang akan diterima, karena
kewajiban tersebut lebih diprioritaskan daripada pembagian dividen. Jika beban
hutang semakin tinggi, maka kemampuan perusahaan untuk membagi dividen
akan semakin rendah, sehingga DER mempunyai pengaruh negatif dengan
dividend payout ratio. Debt to equity ratio dapat dirumuskan dengan persamaan
sebagai berikut.
Total Liabilities Debt To Equity Ratio =
Total Equity
2.1.8 Total Assets
ROA merupakan salah satu rasio profitabilitas, yaitu rasio yang
keuntungan bagi perusahaan. Rasio ROA digunakan untuk mengukur efektifitas
perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan cara memanfaatkan aktiva
yang dimilikinya. Rasio ini merupakan rasio yang terpenting di antara rasio
rentabilitas yang ada.
ROA dapat diukur dengan perhitungan sebagai berikut:
Net Income After Tax
Return On Assets (ROA) =
Total Assets
Nilai ROA yang tinggi akan menunjukkan bahwa perusahaan mampu
menghasilkan keuntungan berbanding asset yang relatif tinggi. Investor akan
menyukai perusahaan dengan nilai ROA yang tinggi, karena perusahaan dengan
nilai ROA yang tinggi mampu menghasilkan tingkat keuntungan lebih besar
dibandingkan perusahaan dengan ROA rendah
2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian ini merupakan lanjutan dari beberapa penelitian terdahulu.
Tinjauan terhadap beberapa penelitian terdahulu dijadikan sebagai dasar
Tabel 2.1
Rangkuman Penelitian Terdahulu
Peneliti dan tahun penelitian
Judul penelitian Variabel penelitian
Hasil penelitian
Zulfikli (2008) Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi
Hasil uji parsial (uji-t) menunjukkkan bahwa variabel cash position, DE, ROA, growth potential, firm size tidak berpengaruh signifikan terhadap
dividen payout ratio. Hasil uji serempak (uji-f) menunjukkkan bahwa semua variabel independen berpengaruh signifikan terhadap vari bel dependen.
Nurhidayati (2006) Analisis factor-faktor yang mempengaruhi dividen kas di Bursa Efek Jakarta
Dividen kas, current ratio, EPS, ROI, cash ratio, DTA, size
Current ratio, EPS, signifikan berpengaruh positif terhadap dividen kas. ROI, Cash ratio, DTA, size tidak signifikan berpengaruh terhadap dividen kas
Agung baruno dan Endriani (2005)
dividen payout ratio pada PT TELKOM. Sedangkan untuk PT INDOSAT, posis kas, ROE, DER, DPR tahun sebelumnya berpengaruh signifikan terhadap dividen payout ratio.
Nasrul (2004) Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi
Secara parsial hanya net profit margin
saja yang mepunyai pengaruh secara positif namun tidak signifikan terhadap dividen payout ratio.
Sedangkan variabel bebas lainnya mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan. Adapun faktor dominan yang mempengaruhi DPR adalah CR dan ROI.
Edi susanto (2002) Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen di BEJ periode 1999
ROI, Curent ratio, DTA
ROI, Curent ratio tidak signifikan berpengaruh terhadap dividen kas. DTA signifikan berpengaruh terhadap dividen kas
Sutrisno (2001) Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen payout ratio pada perusahaan public yang terdaftar di BEJ periode 1991-1996
Posisi kas, DER, growth potential, ukuran
perusahaan, ROA
2.3 Pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen
2.3.1 Pengaruh Cash Ratio terhadap Dividen Payout Ratio
Cash Ratio perusahaan merupakan faktor penting yang harus
dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan untuk menetapkan besarnya
dividen yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham. Dividen merupakan
cash outflow, maka makin kuatnya posisi kas perusahaan berarti makin besar
kemampuan perusahaan membayar dividen. Cash ratio merupakan salah satu
ukuran dari likuiditas yang merupakan kemampuan perusahaan memenuhi
kewajiban jangka pendeknya melalui sejumlah kas (dan setara kas, seperti giro
atau simpanan lain di bank yang dapat ditarik setiap saat) yang dimiliki
perusahaan.
Semakin tinggi cash ratio menunjukkan kemampuan kas perusahaan untuk
memenuhi (membayar) kewajiban jangka pendeknya. Banyaknya kas yang
dimiliki perusahaan juga mencerminkan kemampuan perusahaan untuk
membagikan dividen kepada para pemegang saham. Berdasarkan paparan di atas
dapat dirumuskan hipotesis 1 sebagai berikut.
2.3.2 Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Dividen Payout Ratio
Debt to Equity Ratio (DER) adalah suatu rasio keuangan yang
mengindikasikan proporsi hubungan (relativitas) antara hutang dan ekuitas yang
digunakan untuk membiayai aset perusahaan. Peningkatan hutang pada gilirannya
akan mempengaruhi besar kecilnya laba bersih yang tersedia bagi para pemegang
saham, termasuk dividen yang diterima karena kewajiban untuk membayar hutang
lebih diutamakan daripada pembagian dividen. Berdasarkan paparan di atas dapat
dirumuskan hipotesis 2 sebagai berikut.
H2 : Terdapat pengaruh negatif antara debt to equity ratio terhadap dividend payout ratio
2.3.3 Pengaruh Return On Assets terhadap Dividen Payout Ratio
ROA merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur tingkat
dengan mana aktiva telah digunakan untuk menghasilkan laba. Semakin besar
ROA menunjukkan kinerja perusahaan yang semakin baik, karena tingkat
pengembalian investasi semakin besar. Sehingga meningkatnya ROA juga akan
meningkatkan pendapatan dividen.
Kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba merupakan indikator utama
dalam kemampuan perusahaan untuk membayar dividen, sehingga profitabilitas
sebagai faktor penentu terpenting terhadap dividen. Berdasarkan paparan di atas
maka dapat dirumuskan hipotes 3 sebagai berikut.
2.4 Kerangka Konseptual
Berdasarkan landasan teori dan penelitian terdahulu di atas dapat
digambarkan kerangka pemikiran teoritis ini:
H1 (+)
H2 (-)
H3 (+)
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
2.5 Hipotesis Penelitian
H1 : Terdapat pengaruh positif antara cash ratio terhadap kebijakan dividend
payout ratio.
H2 : Terdapat pengaruh negatif antara debt to equity ratio terhadap kebijakan
dividend payout ratio.
H3 : Terdapat pengaruh positif antara return on assets terhadap kebijakan
dividend payout ratio.
KEBIJAKAN
DIVIDEN
PAYOUT RATIO
Cash RatioDebt to Equity Ratio
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Variable-variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini dapat
dijelaskan sebagai berikut :
3.1.1. Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Dividen Payout Ratio.
Dividen Payout Ratio merupakan Laba bersih setelah pajak yang ditetapkan untuk
membayar kepada para pemegang saham atau rasio yang mengukur pendapatan
bersih yang dibayarkan dalam bentuk dividen. Dividen PayoutRatio didefinisikan
sebagai rasio antara dividen per share (DPS) terhadap earning per share (EPS).
Dividen Payout Ratio dapat dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Dividen Per Share DPR=
Earning Per Share
3.1.2 Variabel Independen
Variabel independen yang terdapat dalam penelitian ini adalah sebagai
1) Cash Ratio
Cash Ratio merupakan salah satu ukuran dari rasio likuiditas yang
merupakan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka
pendeknya melalui sejumlah kas (dan setara kas, seperti giro atau
simpanan lain di bank yang dapat ditarik setiap saat) yang dimiliki
perusahaan. Sumber data dari variabel ini diperoleh dari Indonesian
Capital Market Directory.
Cash Cash Ratio=
Current Assets
2) Debt to Equity Ratio
DER mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh
kewajibannya, yang ditunjukkan oleh beberapa bagian modal sendri yang
digunakan untuk membayar hutang. Semakin besar rasio ini, semakin
besar pula kewajiban perusahaan dalam membayar hutang, demikian
sebaliknya. Peningkatan hutang akan mempengaruhi tingkat pendapatan
bersih yang tersedia bagi pemegang saham, artinya semakin tinggi
kewajiban perusahaan akan semakin rendah kemampuan perusahaan
dalam membayar dividen.
Secara sistematik, DER dapat dirumuskan sebagai berikut :
Total Debt DER=
3) Return On Assets (ROA)
Rasio ini mengukur pengembalian atas total aktiva setelah bunga dan
pajak. Hasil pengembalian total aktiva atau total investasi menunjukkan
kinerja manajemen dalam menggunakan aktiva perusahaan untuk
menghasilkan laba.
Secara sistematik, rumus ROA dapat dirumuskan sebagai berikut:
Net Income After Taxes ROA=
Total Assets
3.2 Populasi Dan Sampel 3.2.1 Populasi
Populasi adalah kumpulan individu atau objek penelitian yang memiliki
kualitas-kualitas serta ciri-ciri yang ditetapkan. Berdasarkan kualitas dan ciri-ciri
tersebut, populasi dapat dipahami sebagai sekelompok individu atau objek
pengamatan yang minimal memiliki satu persaamaan karakteristik.
Dalam penelitian ini populasinya adalah perusahaan-perusahaan
manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2005-2009. Periode 2005-2009 (5
tahun) digunakan sebagai periode pengamatan karena dengan rentang waktu
tersebut diharapkan akan didapatkan jumlah sampel penelitian yang cukup dan
3.2.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut. Metode penentuan sampel yang digunakan adalah penentuan
sampel secara purposive (purposive sampling). Penggunaan metode ini bertujuan
untuk mendapatkan sampel yang konsisten dan representatif, sesuai dengan
kriteria-kriteria yang digunakan.
Kriteria penentuan sampel dalam penelitian ini adalah :
1) Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI berturut-turut dari tahun
2005-2009.
2) Perusahaan yang menerbitkan laporan keuangannya untuk periode
yang berakhir 31 Desember.
3) Perusahaan yang membagikan dividen lima tahun berturut-turut dari
tahun 2005-2009.
Berdasarkan data dari ICMD perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI
adalah 141 perusahaan. Perusahaan-perusahaan tersebut diseleksi kembali sesuai
Tabel 3.1
Seleksi Sampel Penelitian
No Kriteria Sampel Jumlah
1 Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI berturut-turut dari tahun 2005-2009.
141
2 Perusahaan yang tidak menerbitkan laporan keuangannya untuk periode yang berakhir 31 Desember.
(1)
3 Perusahaan yang tidak membagikan dividen lima tahun berturut-turut dari tahun 2005-2009.
(113)
Jumlah Sampel Akhir 27
Berdasarkan kriteria tersebut, maka didapat sampel perusahaan berjumlah
Tabel 3.2
Daftar Sampel Perusahaan
NO. Nama Perusahaan Kode Listing Date
1. AKR Corporindo Tbk AKRA 3 Oktober, 1994
2. Astra Internasional Tbk ASII 4 April, 1990
3. Astra Otoparts Tbk. AUTO 15 Juni, 1998
4. Sepatu Bata Tbk. BATA 24 Maret, 1982
5. Indo Kordsa Tbk. BRAM 5 September, 1990
6. Colopark Indonesia Tbk. CLPI 30 November,2001
7. Delta Djakarta Tbk. DLTA 12 Februari, 1984
8. Goodyear Indonesia Tbk. GDYR 1 Desember, 1980
9. Gudang Garam Tbk. GGRM 27 Agustus, 1990
10. HM Sampoerna Tbk. HMSP 15 Agustus, 1990
11. Champion Pacific Indonesia Tbk. IGAR 5 November, 1990
12. Sumi Indo Kabel Tbk. IKBI 21 Januari, 1991
13. Indofood Sukses Makmur Tbk. INDF 14 Juli, 1994
14. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. INTP 29 Agustus 1997
15. Lautan Luas Tbk. LTLS 21 Juli, 1997
16. Kalbe Farma Tbk. KLBF 30 Juli, 1991
17. Lion Metal Works Tbk. LION 20 Agustus, 1993
18. Lionmesh Prima Tbk. LMSH 4 Juni, 1990
19. Multi Bintang Indonesia Tbk. MLBI 17 Januari, 1994
20. Mustika Ratu Tbk. MRAT 27 Juli, 1995
21. Supreme Cable Manufacturing Corp Tbk. SCCO 20 Juli, 1982
22. Semen Gresik Persero Tbk. SMGR 8 Juli, 1991
23. Selamat Sempurna Tbk. SMSM 9 September, 1996
24. Sorini Agro Asia Corporindo Tbk. SOBI 3 Agustus, 1992
25. Tempo Scan Pacific Tbk. TSPC 17 Juni, 1994
26. Tunas Ridean Tbk. TURI 6 Mei, 1995
3.3. Jenis Sumber Data
Jenis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder,
yaitu sumber data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung, yaitu melalui
media perantara. Data sekunder umumnya merupakan data yang dipublikasikan
maupun yang tidak dipublikasikan
Data sekunder yang dibutuhkan berasal dari Indonesian capital Market
Direktory (ICMD) edisi 2005,2006,2007,2008,2009.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder
sehingga metode pengumpulan data menggunakan cara non participant
observation. Data yang berupa variable Divident Payout ratio (DPR) diperoleh
dengan cara diambil langsung dari ICMD ( Indonesian Capitalmarket Directory)
selama 5 tahun berturut-turut yaitu dari tahun 2005-2009. Berdasarkan
kriteria-kriteria tersebut dapat diperoleh sampel sebanyak 27 perusahaan.
3.5 Metode Analisis Data 3.5.1 Uji Normalitas
Uji normalitas data dilakukan untuk melihat apakah data yang dipakai
dalam penelitian ini terdistribusi secara normal atau tidak. Model regresi yang
baik adalah yang memiliki distribusi data normal atau mendekati normal.
1. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal,
maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis
diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal,
maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
3.5.2 Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas adalah adanya suatu hubungan linier yang sempurna
antara beberapa atau semua variabel independen. Uji Multikolinearitas bertujuan
untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel
bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi
diantara variabel bebas (Sumarni:2006).
Pada program SPSS, ada beberapa metode yang sering digunakan untuk
mendeteksi adanya multikolinearitas. Salah satunya adalah dengan cara
mengamati nilai Variance Inflation Factor (VIF) dan TOLERANCE. Batas dari
VIF adalah 10 dan nilai dari TOLERANCE adalah 0,1.Jika nilai VIF lebih besar
dari 10 dan nilai TOLERANCE kurang dari 0,1 maka terjadi multikolinieritas.
Bila ada variabel independen yang terkena multikolinearitas, maka
3.5.3 Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi menggunakan uji Durbin-Watson Test (DW),
dimaksudkan untuk menguji adanya kesalahan pengganggu periode 1 dengan
kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya -1. Keadaan tersebut
mengakibatkan pengaruh terhadap variabel dependen tidak hanya karena variabel
independen namun juga variabel dependen periode lalu.
Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi.
Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan
satu sama lainnya. Model regresi yang baik adalah yang bebas dari autokorelasi
(Sumarni:2006).
Untuk mengetahui ada atau tidaknya Autokorelasi dapat dilihat dari nilai
puji D-W dengan ketentuan sebagai berikut:
Tabel 3.3 Nilai uji D-W
Hipotesis Nol Keputusan Jika
Tidak ada autokorelasi positif
Tolak 0<d<dl
Tidak ada autokorelasi positif
No decision dl≤d≤du
Tidak ada autokorelasi
Tidak ada autokorelasi positif ataupun negatif
Tidak ditolak du<d<4-du
3.5.4 Uji heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas merupakan suatu pengujian untuk mengetahui
(homogen) atau sebaliknya (heterogen). Untuk mendeteksi adanya gejala
heteroskedastisitas, akan digunakan uji glejser. Metode ini dilakukan dengan
meregresikan variabel bebasnya terhadap nilai absolut residual. Model regresi
tidak mengandung heteroskedastisitas apabila nilai signifikansi variabel bebasnya
terhadap nilai absolut residual statistik di atas α = 0,05 (Sumarni:2006)
3.6 Pengujian Hipotesis Penelitian 3.6.1 Analisis regresi linear berganda
Model analisis yang digunakan adalah model analisis regresi linear
berganda. Model ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas
terhadap variabel terikat dengan persamaan sebagai berikut.
DPR = α + β1CR+ β2DER+β3ROA+€ ... (1)
Keterangan:
DPR : Dividend Payout Ratio
CR : Cash Ratio
DER : Debt to Equity Ratio
α : Konstan
β1, β2, β3 : Koefisien regresi
€ : Standar error
Analisis ini akan dianalisis dengan menggunakan bantuan program SPSS
17 for windows. Bila pada persamaan 1 nilai koefisien regresi β1 memiliki tingkat
signifikansi lebih kecil dari α = 0,05 dan bernilai positif maka cash ratio
signifikansi lebih kecil dari α = 0,05 dan bernilai negatif maka DER berpengaruh
signifikan pada DPR dan apabila nilai koefisien regresi β3 memiliki tingkat
signifikansi lebih kecil dari α = 0,05 dan bernilai positif maka ROA berpengaruh
signifikan pada DPR.
3.6.2 Koefisien Determinasi ( R2)
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel bebas (dependent). Nilai
koefisien determinasi adalah di antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti
kemampuan variabel-variabel bebas dalam menjelaskan variasi variabel terikat
amat terbatas. Nilai R2 yang mendekati sati berarti variabel-variabel bebas
memberikan hampir semua informasi yang ditubuhkan untuk memprediksi variasi
variabel terikat.
3.6.3 Uji Signifikant Simultan (Uji Statistik F)
Algifari (2000) Uji statistik F menunjukkan apakah semua variabel bebas
yang dimasukkan dalam model secara bersama-sama berpengaruh terhadap
variabel dependen.
Hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut :
H0 :Variasi perubahan nilai variabel independen tidak dapat menjelaskan
variasi perubahan nilai variabel dependen
Ha :Variasi perubahan nilai variabel independen dapat menjelaskan variasi
Nilai kritis dalam distribusi F dengan tingkat signifikansi (α) 5 % dan degree of
freedom (df=n-k).
Membandingkan nilai F hasil perhitungan dengan nilai F table atau nilai
probabilitas signifikansi dengan tingkat kepercayaan yang dipilih (taraf nyata=α).
Bila nilai F hasil perhitungan lebih besar F tabel atau prob.sig lebih kecil dari α
(taraf nyata), maka Ho ditolak yang berarti menerima Ha.
Pada langkah keputusan menolak H0 dan menerima HA, sehingga dapat
disimpulkan bahwa variasi perubahan nilai variabel dependen dapat dijelaskan
oleh variasi perubahan nilai semua variabel independen. Artinya, semua variabel
independen ( X1 dan X2 ) di dalam model (secara simultan) berpengaruh terhadap
variabel dependen (Y).
3.6.4 Uji-t
Uji-t dipergunakan untuk menguji pengaruh masing-masing variabel bebas
(cash ratio, debt to equity ratio, dan return on asset) terhadap variabel terikat
(dividend payout ratio).
Hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut :
H0=0 ; artinya secara bersamaan tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari
variabel independen (bebas) terhadap variabel dependen (terikat).
Ha≠0 ; artinya secara bersamaan terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel
independen (bebas) terhadap variabel dependen (terikat). Nilai kritis
dalam distribusi t dengan tingkat signifikansi (α) 5 % dan degree of
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perusahaan
4.1.2 Sejarah Bursa Efek Jakarta
Bursa Efek Indonesia adalah salah satu saham yang dapat memberi
peluang investasi dan sumber pembiayaan dalam upaya mendukung pembangunan
ekonomi nasional. Bursa Efek Indonesia berperan juga dalam upaya
mengembangkan pemodal lokal yang besar dan solid untuk menciiptakan pasar
modal Indonesia yang stabil.
Sejarah Bursa Efek Indonesia berawal dari berdirinya Bursa Efek Jakarta
pada abad 19 pada tahun 1912, dengan bantuan pemerintah kolonial Belanda,
Bursa Efek pertama Indonesia didirikan di Batavia, pusat pemerintah Belanda dan
dikenal sebagai Jakarta saat ini.
Bursa Batavia sempat ditutup selama periode pertama kemudian dibuka
lagi pada 1925. Pemerintah kolonial Belanda juga mengoperasikan bursa paralel
di Surabaya dan Semarang selain Bursa Batavia. Kegiatan bursa ini dihentikan
lagi ketika terjadi pendudukan oleh tentara Jepang di Batavia. Pada 1952, tujuh
tahun setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, bursa saham dibuka
lagi di Jakarta dengan memperdagangkan saham dan obligasi yang diterbitkan
oleh perusahaan-perusahaan Belanda sebelum perang dunia. Kegiatan bursa
nasionalisasi pada tahun 1956. Tidak sampai tahun 1977, bursa saham kembali
dibuka dan ditangani oleh Badan Pelaksana Modal (Bapepam), institusi baru di
bawah departemen keuangan, kegiatan perdagangan dan kapitalisasi pasar saham
mulai meningkat dan mencapai puncaknya tahun1990 seiring dengan
perkembangan pasar finansial dan sektor swasta.
Pada tanggal 13 Juli 1992, bursa saham diswastanisasi menjadi PT. Bursa
Efek Jakarta (BEJ). Swastanisasi bursa saham menjadi PT. BEJ ini
mengakibatkan beralihnya fungsi Bapepam menjadi Badan Pengawas Pasar
Modal (BAPEPAM).
Tahun 1995 adalah tahun BEJ memasuki babak baru. Pada tanggal 22 Mei
1995, BEJ meluncurkan Jakarta Automated Trading System (JATS), sebuah
sistem perdagangan sistematis yang menggantikan sistem dengan frekuensi yang
lebih besar dan lebih menjamin kegiatan pasar yang fair dan transparan dibanding
sistem perdagangan manual
4.1.2 Perkembangan Bursa Efek Indonesia
Pasar modal Indonesia telah mengalami perkembangan yang cepat dalam
tempo yang relatif singkat. Perkembangan BEI dapat dilihat dari perkembangan
jumlah emiten yang menerbitkan sahamnya di BEI. Berdasarkan data, jumlah
emiten dan dana yang dihimpun dari penawaran umum (IPO) mengalami
melakukan emisi. Jumlah saham emisi yang paling banyak terjadi pada tahun
1990 yaitu sebanyak 65 emiten. Perkembangan ini diikuti dengan kapitalisasi
pasar yang berkembang lebih cepat lagi. Volume rata-rata perdagangan saham
perhari di BEI dari dibawah seratus hingga miliaran rupiah. Pada data yang ada di
BEI diketahui bahwa jumlah saham yang tercatat di BEI meningkat pesat, dari 24
saham tahun1988 menjadi 331 pada tahun 2005.
Perkembangan teknologi informasi dan tujuan peningkatan kelancaran dan
efisiensi perdagangan, BEI mulai mengembangkan suatu sistem perdagangan
yang dikenal dengan istilah scripless trading atau sistem perdagangan tanpa
warkat adalah sistem perdagangan yang penyelesaian transaksinya dilakukan
hanya dengan pemindahbukuan atau book_entry settlement. Artinya, tidak
diperlukan lagi sertifikat sekuritas yang secara fisik berpindahtangan dari
elektronik dan tersimpan dalam lembaga penyimpanan (custodian) secara terpusat.
Pembeli sekuritas cukup mendapatkan catatan bahwa di rekeningnya sudah
tersimpan sekuritas yang dibelinya. Penjual disisi lain akan mendapatkan laporan
tambahan dana dalam rekeningnya, senilai sekuritas yang dibelinya.
Pasar modal Indonesia selama tahun 2003, mencatat kinerja yang
mengesankan, perbaikan berbagai indikator ekonomi makro, seperti pertumbuhan
ekonomi, laju inflasi ataupun nilai tukar rupiah yang didukung oleh pasar modal
Indonesia dan memicu peningkatan aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek
Kinerja BEI sepanjang tahun 2004 sangat memuaskan. Tingkat
kepercayaan pemodal terus meningkat dan semua indikator perdagangan
mengalami pertumbuhan signifikan. Hal tersebut ditunjukkan oleh peningkatan
rata-rata nilai transaksi perdagangan dari Rp. 518 miliar untuk tahun 2003
menjadi 1,024 triliun untuk tahun 2004 dan Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) naik dari 691.895 pada akhir 2003 menjadi 1.000.233 pada akhir 2004.
Kinerja keuangan juga mengalami pertumbuhan yang menggembirakan
bagi Bursa Efek Indonesia, dimana BEI menunjukkan daya tahan yang lebih besar
terhadap kondisi perekonomian yang penuh tantangan. Perdagangan saham di BEI
terus berkembang dan jumlah perusahaan yang memperdagangkan sahamnya di
BEI semakin bertambah. Likuiditas pasar yang baik dari segi volume maupun
nilai perdagangan mencatatkan prestasi yang baik sehingga mendukung
tercapainya pendapatan operasional maupun hasil usaha yang baik.
4.2 Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif dalam penelitian ini disajikan untuk memberikan
informasi karakteristik variabel penelitian khususnya mengenai mean dan deviasi
standar. Pengukuran mean merupakan cara yang paling umum digunakan untuk
mengukur nilai sentral dari suatu distribusi data. Deviasi standar merupakan
perbedaan antara nilai data yang diteliti dengan nilai rata-ratanya. Hasil estimasi