KEPEMIMPINAN DALAM MUHAMMADIYAH
Sejarah mencatat, figur pemimpin Muhammadiyah sejak Kiai Haji Ahmad Dahlan dan generasi penerusnya datang dan pergi sesuai Sunatullah. Namun Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berjalan secara organisasi terus tumbuh, mekar, dan berkembang hingga saat ini dan insya Allah akan terus bertahan sampai ke depan yang jauh. Dengan plus dan minus, kepemimpinan Muhammadiyah yang demikian harus terus dipertahankan disertai peningkatan kualitas personal, fungsi, dan peranannya dalam membawa gerakan Islam pembaru ini ke arah yang semakin maju.
Kolektif-Kolegial
Model kepemimpinan kolektif-kolegial dalam Muhammadiyah merupakan bentuk pilihan ijtihad para pendiri dan penerus Muhammadiyah. Itjihad kepemimpinan tersebut dibangun atas pandangan untuk tidak mengembangkan model kepemimpinan monolitik yang bertumpu pada kekuatan figur dalam gaya imamah atau kekhalifahan dinasti sebagaimana tercermin dalam sejarah kepemimpinan Islam klasik, baik dalam tradisi Sunny maupun Syi’i. Model kepemimpinan kolektif-kolegial tersebut tampaknya selaras dengan pandangan modernisme yang lebih mengedepankan sistem ketimbang personalitas. Sehingga corak kepemimpinan bersifat kelembagaan melalui organisasi yang modern.
Kepemimpinan Muhammadiyah yang menganut sistem kolegial didukung dengan struktur otoritas yang berada pada lembaga rapat atau musyawarah dan regulasi organisasi yang permanen. Format kepemimpinan kolegial menjadi sistem baku yang cukup kokoh dalam Muhammadiyah. Sistem kolegial tersebut telah menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi
yang dipimpin secara kolektif dan tentunya menghasilkan keputusan-keputusan yang bersifat mengikat secara kolektif pula. Segala potensi dapat bersatu dan saling melengkapi. Kebijakan dan keputusan penting dalam organisasi harus melalui permusyawaratan atau kolektivitas yang berdasarkan sistem.
Memang sampai batas tertentu kepemimpinan kolegial tersebut memiliki kelemahan. Yaitu lambatnya pengambilan keputusan serta kadang kurang dinamis dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi individual. Namun, kelemahan tersebut dapat ditutupi oleh kapasitas para personal pemimpin yang kuat plus regulasi organisasi yang dibikin lebih efektif dan efisien, sehingga dapat memberi lebih kelonggaran dan pengembangan. Sehingga kelemahannya tidak menjadi krusial. Diperlukan katup-katup fleksibilitas dalam pengambilan keputusan, tanpa mengorbankan sistem kepemimpinan kolektif-kolegial. Hal-hal penting dan strategis mutlak harus tetap diputuskan secara musyawarah.
DR. H HAEDAR NASHIR, M.SI.
Berlatih Drum Band berfungsi sebagai latihan kepemimpinan sejak dini
De
m
o (Vi
si
t ht
tp:
//www.pdfspl
itm
erge
r.c
om
13
SUARA MUHAMMADIYAH 03 / 96 | 1 - 15 FEBRUARI 2011
B I N G K A I
Struktur organisasi kepemimpinan Muhammadiyah juga menjadi kuat karena menggunakan birokrasi. Artinya dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip organisasi yang terlembaga dan bersifat resmi. Kadang terkandung kelemahan yakni cenderung serba formal dan kaku. Para pimpinan Muhammadiyah kadang cenderung tergantung pada pedoman dan petunjuk teknis dari atas. Sehingga kehilangan kekuatan inisiasi, kreasi, dan kemampuan transformasi sebagaimana layaknya pemimpin umat. Di sisi ini tentu bukan sistemnya yang diubah tetapi perlu dikembangkan secara efektif dan efisien, disertai penguatan para personal dan pengelola organisasinya.
Dari pengamatan dan informasi yang diperoleh di lapangan masih terdapat beberapa masalah empirik dalam kepemimpinan Muhammadiyah, antara lain, pertama kurang optimalnya keaktifan sebagian anggota pimpinan dalam berkiprah mengurus organisasi dan menjalankan tugas-tugas Persyarikatan yang menjadi beban amanat pimpinan setelah terpilih di forum musyawarah, yang se-ring disebut sebagai masalah klasik dalam Muhammadiyah. Ke-dua, komunikasi antaranggota dan lini kepemimpinan yang me-nyebabkan organisasi menjadi kurang produktif. Ketiga, masih terdapat kelemahan dalam struktur kepemimpinan termasuk fung-si-fungsi tugas dan job struktural dalam kepemimpinan Persya-rikatan yang memerlukan penyempurnaan atau perubahan. Keempat, sistem pemilihan yang dianggap kurang fleksibel dan dinamis dalam formatur yang ketat baik untuk tingkat Pusat maupun di bawahnya. Kelima, idealisasi dan ketegangan dalam memilih figur pemimpin “politik” dan “kultural”, pemimpin “karismatik” dan “administratur”, pemimpin “ulama” dan “cendekiawan” sebagai pemimpin Muhammadiyah. Keenam, masalah kaderisasi
pimpinan antara proses alamiah dan pendidikan/kaderisasi, bahkan yang melalui “jalan tol” . Ketujuh, masalah aktualisasi kepemimpinan dari orientasi teknis dan rutin ke kepemimpinan transformasional dalam menjawab tantangan perubahan.
Setiap model kepemimpinan tentu memiliki kelebihan dan kelemahan tertentu. Tetapi pada kepemimpinan kolektif-kolegial yang berbasis sistem tampaknya jauh lebih memberikan jaminan bagi kelangsungan gerakan karena jika mengandalkan pada figur dan bersifat sentralistik maka akan berhenti pada kekuatan personal belaka. Pada kepemimpinan yang bersifat sistem akan terjamin kontinyuitas prinsip, misi, usaha, dan segala tata kelola organisasi melalui mekanisme kelembagaan. Sosok figur dapat datang dan pergi, tetapi sistem organisisasi Muhammadiyah akan terus berjalan dan berlangsung karena tidak tergantung seseorang, sehingga terjadi estafeta kepemimpinan yang melekat dengan organisasi.
Dengan kepemimpinan kolegial membuat Muhammadiyah menjadi solid secara organisasi sehingga benar-benar menjadi institusi yang kuat. Keputusan memang mengalami proses yang relatif lambat, tetapi hasilnya bersifat konsensus dan optimal, sehingga relatif mampu mengcover masalah dan tuntutan secara luas. Kepemimpinan kolektif-kolegial juga bersifat demokratis, sehingga tidak terjadi otoritas monolitik pada puncak pemimpin atau figur, sehingga terjadi proses dan corak yang lebih egaliter. Dalam alam pikiran dan kondisi masyarakat yang semakin modern maka model kepemimpinan yang demikian lebih cocok dan relevan.
Tantangan Strategis
Bagi Muhammadiyah sebenarnya tidak perlu menjadi suatu kesulitan untuk menjalankan kepemimpinan karena dalam Muhammadiyah lebih dikedepankan kepemimpinan kolektif-kolegial yang bersandar pada sistem ketimbang pada figur personal. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kepemimpinan sistem jauh lebih memberikan jaminan bagi kelangsungan gerakan Muhammadiyah yang sejak awal bertumpu dalam gerakan melalui organisasi modern. Sosok pemimpin puncak dengan ciri khas masing-masing boleh datang dan pergi sesuai zamannya. Tetapi gerakan Muhammadiyah dalam bentuk sistem organisasi yang modern terus berlangsung sepanjang zaman. Inilah kelebihan kepemimpinan dalam Muhammadiyah yang lebih mengutamakan sistem secara impersonal ketimbang sosok atau figur yang bersifat personal, yang menjadi ciri dari sebuah gerakan Islam yang modern.
Dalam kaitan ini maka sistem kepemimpinan Muhammadiyah yang bersifat kolektif-kolegial harus disinergikan dengan fungsi dan peran optimal dari para personal pemimpinnya, yang tentu secara kualitas dan kapasitas memiliki keunggulan-keunggulan, sehingga dapat mengimbangi sekaligus menutupi kelemahan sistem. Sistem apa pun yang hebat tidak akan berjalan manakala tidak didukung dan dijalankan oleh manusianya, sehingga kekuatan pelaku atau aktor menjadi penting dan menentukan. Ibarat sebuah kesebelasan sepakbola yang terdiri dari para bintang, manakala tidak didukung oleh sistem permainan, kerjasama, dan komitmen maka tidaklah membuahkan hasil yang diharapkan.lBersambung
Foto: AMRU HAMZAH
De
m
o (Vi
si
t ht
tp:
//www.pdfspl
itm
erge
r.c
om