• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Tingkat Keberhasilan Kateter Fleksibel Dan Kaku Dalam Inseminasi Intrauteri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Perbandingan Tingkat Keberhasilan Kateter Fleksibel Dan Kaku Dalam Inseminasi Intrauteri"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL PENELITIAN OBGIN

PERBANDINGAN TINGKAT KEBERHASILAN KATETER FLEKSIBEL DAN

KAKU DALAM INSEMINASI INTRAUTERI

OLEH :

Ray Christy Barus

PEMBIMBING :

1. Dr.dr. Binarwan Halim, M.Ked (OG), SpOG (K)

2. dr. Yostoto B. Kaban, SpOG (K)

PENYANGGAH :

1. Prof. dr. M. Fauzie Sahil, SpOG (K)

2. dr. M. Rusda, M.Ked (OG), SpOG (K)

3. dr. Iman Helmi Effendi, M.Ked(OG), SpOG(K)

DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

RSUP.H.ADAM MALIK MEDAN

(2)

KATA PENGANTAR

Tesis ini disusun untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Spesialis Obstetri dan Ginekologi. Sebagai manusia biasa saya menyadari bahwa tesis ini banyak kekurangannya dan masih jauh dari sempurna, namun demikian besar harapan saya kiranya tulisan sederhana ini dapat bermanfaat dalam menambah perbendaharaan bacaan khususnya tentang:

Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah Yang Maha Kasih, karena berkat karunia-Nya penulisan tesis ini dapat diselesaikan.

” PERBANDINGAN TINGKAT KEBERHASILAN KATETER FLEKSIBEL DAN

KAKU DALAM INSEMINASI INTRAUTERI

””

1. Rektor Universitas Sumatera Utara dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas

Sumatera Utara, yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis dan Magister Kedokteran Klinis Obstetri dan Ginekologi di Fakultas Kedokteran USU Medan

Dengan selesainya laporan penelitian ini, perkenankanlah saya menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat :

(3)

FK-USU Medan, dr. M. Rhiza Z. Tala, M.Ked(OG), SpOG(K); Prof. dr. M. Jusuf Hanafiah, SpOG(K); Prof. dr. Djafar Siddik, SpOG(K); Prof. Dr. dr. M. Thamrin Tanjung, SpOG(K); Prof. dr. Hamonangan Hutapea, SpOG(K); Prof. dr. R. Haryono Roeshadi, SpOG(K); Prof. dr. T. M. Hanafiah, SpOG(K); Prof. dr. Budi R. Hadibroto, SpOG(K); Prof. dr. M. Fauzie Sahil, SpOG(K); Prof. dr. Daulat H. Sibuea, SpOG(K); yang telah bersama-sama berkenan menerima Saya untuk mengikuti pendidikan dokter spesialis di Departemen Obstetri dan Ginekologi.

3. Dr.dr. Binarwan Halim, M.Ked (OG), SpOG (K) dan dr. Yostoto B. Kaban, SpOG (K) selaku pembimbing atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk melakukan penelitian ini

4. Prof. dr. M. Fauzie Sahil, SpOG (K); dr. M. Rusda, M.Ked (OG), SpOG (K); dan dr.

Iman Helmi Effendi, M.Ked(OG), SpOG(K), selaku penyanggah, yang penuh

kesabaran telah meluangkan waktu yang sangat berharga untuk membimbing, memeriksa, dan melengkapi penulisan tesis ini hingga selesai.

5. Dr . dr . Bi nar w an Ha lim , M . Ked( O G ) , SpO G ( K) sel aku Bap a k Angk at s aya se la m a m enj ala ni m a sa pendidikan, yang telah banyak mengayomi, membimbing dan memberikan nasehat yang bermanfaat kepada saya selama dalam pendidikan.

6. Seluruh Staf Pengajar Departemen Obstetri dan Ginekologi FK-USU Medan, yang secara langsung telah banyak membimbing dan mendidik saya sejak awal hingga akhir pendidikan.

(4)

sarana kepada saya untuk bekerja sama selama mengikuti pendidikan Magister Kedokteran Klinis Obstetri dan Ginekologi di Departemen Obstetri dan Ginekologi.

8. Direktur RSUD Dr. Pirngadi Medan beserta staf yang telah memberikan kesempatan dan sarana kepada saya untuk bekerja sama selama bertugas di rumah sakit tersebut.

9. Kepada senior-senior Saya, dr. Ilham Sejahtera L., SpOG; dr. Nur Aflah, SpOG; dr. Yusmardi, SpOG; dr. Gorga W. Udjung, SpOG; dr. Siti S. Sylvia, SpOG; dr. Anggia Melanie L., SpOG; dr. Maya Hasmita, SpOG; dr. David Luther, SKM, Mked(OG), SpOG; dr. Riza H. Nasution, SpOG; dr. Lili Kuswani, SpOG; dr. M. Ikhwan, SpOG; dr. Edward Muldjadi, SpOG; dr. Ari Abdurrahman Lubis, SpOG; dr. Zilliyadein R., SpOG; dr. Benny J., SpOG; dr. M. Rizki Yaznil, Mked(OG), SpOG; dr. Yuri Andriansyah, SpOG; dr. T. Jeffrey A., SpOG; dr. Made S. Kumara, SpOG; dr. Sri Jauharah L., SpOG; dr. M. Jusuf Rahmatsyah, Mked(OG), SpOG; dr. Boy P. Siregar, SpOG; dr. Hedy Tan, dr. Glugno Joshimin F, dr. Firman A, SpOG; dr. Aidil A., SpOG; dr. Rizka H., SpOG; dr. Hatsari, SpOG; dr. Andri P. Aswar, SpOG; dr. Alfian, SpOG; dr. Errol, SpOG; dr. T. Johan A., Mked(OG) , SpOG; dr. Tigor P. H., Mked(OG), SpOG; dr. Elvira M.S., Mked(OG), SpOG; dr. Hendry A.S., Mked(OG), SpOG; dr. Heika NS, Mked(OG), SpOG; dr. Riske E.P.; dr. Ali Akbar, Mked(OG), SpOG; dr. Arjuna S, Mked(OG), SpOG; dr. Janwar S, Mked(OG), SpOG; dr. Irwansyah P, Mked(OG), SpOG; dr. Ulfah W.K., Mked(OG), SpOG; dr. Ismail Usman, Mked(OG), SpOG; dan dr. Aries M., dr. Hendri Ginting, Mked(OG) SpOG; dr. Robby Pakpahan; dr. Meity Elvina, Mked(OG) SpOG; dr. M. Yusuf, Mked(OG) SpOG; dr. Dany Aryani, Mked(OG) SpOG; dr. Fatin Atifa, Mked(OG) SpOG; dr. Pantas S Siburian; dr. Morel Sembiring; dr. Sri Damayana H., Mked(OG); dr. Eka Handayani, Mked(OG); dr. Liza Marosa; dr. M Rizki P. Yudha; dr. Arief Siregar; dr. Ferdiansyah Putra Hrp Mked(OG); dr. Yudha Sudewo dan dr. Henry Gunawan, Saya berterima kasih atas segala bimbingan, bantuan dan dukungannya yang telah diberikan selama ini.

(5)

Rahim, dr. Hiro Hidaya D. Nasution, dr. Ivo Fitrian Canitry, dr. M. Wahyu Wibowo,

11.

terima kasih untuk kebersamaan dan kerjasamanya sejak dari awal hingga sekarang selama pendidikan.

Kepada teman sejawat yang pernah bekerjasama di tim jaga dr. Masitah, dr.Hendrik Tua Tarigan, dr. Chandran, dr.Apriza Prahatama, dr. Dona, dr. Rahmanita, dr.Ninong, dr.Bandini, dr. Indra, dr. Gamal, dr.Johan Sibarani, dr. Hamima, dr. Dina, dr. Dewi, dr. Yasmien, dr. Arvitamuriany lubis, dr. Daniel Simbolon, dr. Nafon, dr. Sugeng, dr. Andrian Sinuhaji, dr. Eva Maya, dr. Rizal Aritonang, dr. Trishna, dr. Doni Mega, dr.Mario, dr.Dalmi, dr.Ade Ayu, dr.Ratih, dr.Titi Amalia, dr.Gofur, dr.Muhar, dr.Hendri Silaen, dr.Dahler, terimakasih atas segala kerjasamanya selama ini.

12. Dan kepada seluruh teman sejawat PPDS yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu persatu, terima kasih atas kebersamaan, dorongan semangat dan doa yang telah diberikan selama ini.

13. Kepada almh. lbu Hj. Asnawati Hsb, Ibu Hj. Sosmalawaty, Ibu Zubaedah, Rahmi, dan seluruh Pegawai di lingkungan Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUP H. Adam Malik Medan terima kasih atas bantuan dan dukungannya

14. Dokter Muda, Bidan, Paramedis, karyawan/karyawati, serta para pasien

yang ikut membantu dan bekerja sama dengan saya dalam menjalani pendidikan Magister Kedokteran Klinis Obstetri dan Ginekologi FK-USU/RSUP H. Adam Malik Medan.

(6)

menjalani hidup serta memberikan motivasi dan semangat kepada Saya selama mengikuti pendidikan ini.

Kepada saudara/i saya, Rehia Karenina Isabella, Joseph Arapta dan Jessica Yarahita terima kasih atas dukungan kepada saya selama menjalani pendidikan.

Akhirnya kepada seluruh keluarga handai tolan yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu persatu, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang telah banyak memberikan bantuan, baik moril maupun materil, saya ucapkan banyak terima kasih yang telah banyak memberikan bantuan, dukungan dan doa, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Semoga Allah yang Maha Baik senantiasa memberikan berkah-Nya kepada kita semua.

Medan, Oktober 2013

(7)

DAFTAR ISI

BAB II Tinjauan Pustaka 7

2.1 Pengertian 7

2.2. Epidemiologi 8

2.3 Indikasi 9

2.4 Kontraindikasi 11

2.5 Prosedur IIU dan Metode Inseminasi 11

2.5.1 Persiapan Semen 11

2.5.2 Kualitas dan Kuantitas Sperma 12

2.6 Stimulasi Ovarium 12

2.6.1 Stimulasi Ovarium Dengan Klomifen Sitrat 13

2.6.2 Stimulasi Ovarium Dengan FSH 13

2.7 Pemilihan Kateter 13

2.7.1 Kateter Kaku 16

2.7.2 Kateter Fleksibel 17

2.8 Cara Inseminasi 17

2.9 Waktu Inseminasi 18

2.10 Metode 18

(8)

2.12 Kerangka Teori 24

BAB III Metodologi Penelitian 24

3.1 Rancangan Penelitian 24

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 24

3.3 Populasi Penelitian 24

3.4 Sampel Penelitian 24

3.5 Kerangka Konsep 25

3.6 Hipotesis 25

3.7 Kriteria Sampel 25

3.8 Alur Penelitian 26

3.9 Cara Kerja 27

3.10 Batasan Operasional 30

3.11 Analisis Data 36

3.12 Etika Penelitian 37

BAB IV Hasil Dan Pembahasan Penelitian 38

4.1 Karakteristik Pasangan Infertil 38

4.2 Karakteristik Siklus Inseminasi 40

4.3 Kesulitan dan Ketidaknyamanan Prosedur 42

4.4 Hasil Inseminasi Intrauteri 45

4.5 Analisa Uji Hipotesis 47

BAB V Kesimpulan Dan Saran

5.1 Kesimpulan 48

5.2 Saran 49

Daftar Pustaka 50

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Siklus Inseminasi Intrauteri di Eropa 8

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Karakteristik wanita yang melakukan Inseminasi Intrauteri 38

Tabel 4.2 Karakteristik siklus inseminasi berdasarkan jumlah Folikel , ketebalan endometrium dan motilitas sperma

40

Tabel 4.3 Faktor penyulit yang dijumpai pada saat pelaksanaan IIU 42

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

1 Ethical Clearence 55

2 Analisa Statistika 56

3 Lembar Informasi Pasien 69

4 Lembar Persetujuan Pasien 71

(12)

DAFTAR SINGKATAN

ART : Assisted Reproductive Technology

DJJ : Denyut Jantung Janin

FERT : Fertility Treatment Other Than ART

GS : Gestasional Sac

hCG : Human Chorionic Gonadotropin

hMG : Human Menopausal Gonadotropin HSA : Human Serum Albumin

HSG : Histerosalfingogram IA : Inseminasi Artifisial

ICI : Intra Cervical Insemination

ICSI : Intracytoplasmic Sperm Injection

IIU : Inseminasi Intra Uteri

IVF : In Vitro Fertilization

LH : Luteinizing Hormone

r-FSH : Folicle Stimulating Hormone- recombinant

TVS : Trans Vaginal Sonography

u-FSH : Folicle Stimulating Hormone-urine

USG : Ultrasonografi

(13)

PERBANDINGAN TINGKAT KEBERHASILAN KATETER FLEKSIBEL

DAN KAKU DALAM INSEMINASI INTRA UTERI

Binarwan H, Kaban YB,

Divisi Fertilitas Endokrinologi dan Reproduksi – Departemen Obstetri dan Ginekologi

Barus RC

Fakultas Kedokteran – Universitas Sumatera Utara Medan, Indonesia, Oktober 2013

ABSTRAK

Tujuan penelitian : Untuk mengetahui perbandingan keberhasilan inseminasi intra uteri dengan menggunakan kateter kaku dan kateter fleksibel.

Desain penelitian : Penelitian ini menggunakan metode Cohort Study dengan analisa observasional, yang dilakukan di Klinik Fertilitas Halim dan Rumah Sakit Ibu dan Anak Stella Maris Medan, dimulai pada Juli 2013 – September 2013.

(14)

adanya darah pada ujung kateter setelah insersi, tetapi tidak dijumpai perbedaan bermakna antara kelompok dengan adanya darah ataupun tidak.

Kesimpulan : Tidak dijumpai adanya perbedaan keberhasilan inseminasi intra uteri baik yang menggunakan kateter kaku maupun fleksibel. Akan tetapi, adalah lebih baik jika para klinisi tetap memperhatikan segi ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh salah satu jenis kateter pada saat prosedur insersi dilakukan.

(15)

COMPARISON OF SUCCESSFUL PREGNANCY RATE BETWEEN

FLEXIBLE AND RIGID CATHETER IN INTRA UTERINE

INSEMINATION

Halim B, Kaban YB,

Fertility, Endocrinology and Reproductive Division – Departement of Obstetric and Gynecology

Barus RC

Medical Faculty – Universitas Sumatera Utara Medan, Indonesia, October 2013

ABSTRACT

Objective : To evaluate comparison of succesful pregnancy rate between flexible and rigid catheter in intra uterine insemination.

Methods : The study design was an analytic observational with cohort study design to evaluate the comparison of succesful pregnancy rate between flexible and rigid catheter in intra uterine insemination were performed at the Halim Fertility Centre and Stella Maris – Women and Children Hospital in Medan from July until September 2013.

(16)

insertion, but there is no significant differences between groups in the presence of blood or not .

Conclusion : There is no difference in the success rate of intra-uterine insemination using either rigid or flexible catheter. However, it is better if clinicians still consider inconvenience or uncomfortable conditions caused by one type of catheter during insertion procedure.

(17)

PERBANDINGAN TINGKAT KEBERHASILAN KATETER FLEKSIBEL

DAN KAKU DALAM INSEMINASI INTRA UTERI

Binarwan H, Kaban YB,

Divisi Fertilitas Endokrinologi dan Reproduksi – Departemen Obstetri dan Ginekologi

Barus RC

Fakultas Kedokteran – Universitas Sumatera Utara Medan, Indonesia, Oktober 2013

ABSTRAK

Tujuan penelitian : Untuk mengetahui perbandingan keberhasilan inseminasi intra

uteri dengan menggunakan kateter kaku dan kateter fleksibel.

Desain penelitian : Penelitian ini menggunakan metode Cohort Study dengan

analisa observasional, yang dilakukan di Klinik Fertilitas Halim dan Rumah Sakit Ibu dan Anak Stella Maris Medan, dimulai pada Juli 2013 – September 2013.

Hasil : Tidak ada perbedaan karakteristik umum antara 60 kasus yang

(18)

adanya darah pada ujung kateter setelah insersi, tetapi tidak dijumpai perbedaan bermakna antara kelompok dengan adanya darah ataupun tidak.

Kesimpulan : Tidak dijumpai adanya perbedaan keberhasilan inseminasi intra uteri

baik yang menggunakan kateter kaku maupun fleksibel. Akan tetapi, adalah lebih baik jika para klinisi tetap memperhatikan segi ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh salah satu jenis kateter pada saat prosedur insersi dilakukan.

(19)

COMPARISON OF SUCCESSFUL PREGNANCY RATE BETWEEN

FLEXIBLE AND RIGID CATHETER IN INTRA UTERINE

INSEMINATION

Halim B, Kaban YB,

Fertility, Endocrinology and Reproductive Division – Departement of Obstetric and Gynecology

Barus RC

Medical Faculty – Universitas Sumatera Utara Medan, Indonesia, October 2013

ABSTRACT

Objective : To evaluate comparison of succesful pregnancy rate between flexible

and rigid catheter in intra uterine insemination.

Methods : The study design was an analytic observational with cohort study design

to evaluate the comparison of succesful pregnancy rate between flexible and rigid catheter in intra uterine insemination were performed at the Halim Fertility Centre and Stella Maris – Women and Children Hospital in Medan from July until September 2013.

Result : There is no difference between the general characteristics of 60 cases of

(20)

insertion, but there is no significant differences between groups in the presence of blood or not .

Conclusion : There is no difference in the success rate of intra-uterine insemination

using either rigid or flexible catheter. However, it is better if clinicians still consider inconvenience or uncomfortable conditions caused by one type of catheter during insertion procedure.

(21)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Infertilitas adalah salah satu masalah yang mempengaruhi semua lapisan masyarakat di seluruh dunia meskipun penyebab dan angka kejadiannya bervariasi sesuai dengan geografis dan tingkat sosial ekonominya. Menurut WHO, satu dari empat pasangan di seluruh dunia merupakan pasangan infertil. Pada tahun 2010, estimasi dari 190 negara di dunia didapatkan 1,9% wanita usia 20-44 tahun mengalami infertilitas primer selama 5 tahun dan 10,5% mengalami infertilitas sekunder.1 Sekarang diperkirakan bahwa 60-80 juta pasangan menderita infertilitas setiap tahunnya secara global. Di India dilaporkan telah mencapai 15-20 juta pasangan infertil. Sedangkan di Inggris, 1 dari 7 pasangan mengalami infertilitas dimana 25% disebabkan oleh faktor pria dan 25% disebabkan oleh faktor unexplained

Infertilitas, baik pria maupun wanita didefinisikan sebagai kegagalan untuk mendapatkan kahamilan dalam kurun waktu satu tahun atau lebih tanpa penggunaan alat pengaman sewaktu masa reproduksi. Infertilitas dikatakan primer ketika pasangan suami istri tidak pernah sekalipun mendapatkan keturunan, sedangkan infertilitas sekunder dimana pasangan tersebut pernah mendapatkan keturunan setidaknya sekali, namun tidak dapat hamil lagi lebih dari satu tahun atau lebih melakukan usaha untuk hamil secara alami. Ada dua pengobatan yang sering digunakan untuk infertilitas yaitu stimulasi ovarium dan inseminasi intrauteri. Stimulasi ovarium dan

(22)

inseminasi intrauteri (IIU) dapat digunakan tersendiri atau sebagai kombinasi untuk mengobati kasus-kasus infertilitas.

Tehnik seperti IIU atau Inseminasi Artifisial (IA), telah menjadi terapi andalan untuk pasangan yang menderita berbagai bentuk infertilitas. Bahkan saat ini, walaupun In Vitro Fertilization (IVF) dan Intra Cytoplasmic Sperm

Injection (ICSI) mempunyai angka keberhasilan yang baik namun IIU lebih

sering digunakan di seluruh dunia dan terapi lini pertama karena biayanya lebih murah dan prosedurnya lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan IVF/ICSI. Inseminasi intrauteri adalah terapi dengan menempatkan sperma yang sudah dicuci melalui transervikal ke dalam kavum uteri dengan menggunakan kateter inseminasi, dengan pemikiran bahwa semakin banyak spermatozoa motil yang mendekati atau mencapai sel telur.

3

4

Tehnik IIU baru-baru ini menjadi salah satu prosedur yang mendapatkan lisensi dari Human

Infertilization and Embriology Authority di Inggris dan tehnik ini merupakan

tehnik FERT (Fertility Treatment Other Than ART) yang paling banyak digunakan dalam teknologi reproduksi diseluruh dunia.

Penelitian Cochrane lebih merekomendasikan penggunaan IIU pada pasien yang infertilitasnya tidak diketahui penyebabnya, dimana rata-rata keberhasilan kehamilannya sama jika dibandingkan dengan IVF/ICSI pada populasi.

5

6

(23)

Tingkat keberhasilan IIU rata-rata adalah 9% per siklus dengan distribusi 2,8-20,1% per rumah sakit. Dan 35 rumah sakit juga melaporkan tingkat kehamilan setiap pasiennya. Rata-rata tingkat kehamilan yang sedang berlangsung adalah berkisar 7,3% per siklusnya dengan distribusi 2,5-14,4% per siklusnya.

Selain itu, banyak literatur dan uji klinis tentang infertilitas selama beberapa tahun terakhir mengenai jenis kateter dalam program IVF untuk memindahkan embrio ke dalam kavum uteri saat prosedur transfer embrio dan penggunaan kateter ini juga diterapkan dalam IIU untuk menempatkan sperma motil ke kavum uteri. Pengaruh dari penggunaan kateter sudah banyak dilakukan pada prosedur transfer embrio. Lavie menyatakan bahwa hampir separuh wanita (50%) yang menggunakan kateter kaku pada proses inseminasi intrauteri, mengalami kerusakan lapisan endometrium yang teridentifikasi pada saat dilakukannya induksi ovulasi. Dan sebaliknya, gambaran kerusakan endometrium pada penggunaan kateter fleksibel sangat jarang, yaitu hanya sebanyak 12,5%. Kateter inseminasi dibedakan berdasarkan diameter, ujung bagian distal dan konsistensi. Kateter fleksibel memiliki keunggulan dibandingkan kateter kaku. Berdasarkan teori bahwa kateter fleksibel memiliki kontruksi lebih lembut dan lebih lentur dari kateter kaku sehingga mengurangi efek trauma pada endometrium yang menimbulkan kontraksi pada uterus sehingga berpengaruh terhadap keberhasilan transfer embrio. Hal ini yang menjadi dasar klinisi menggunakan kateter fleksibel dibandingkan kateter kaku pada prosedur IVF di seluruh dunia karena dapat menghindari terjadinya trauma endometrium sehingga penggunaannya dapat meningkatkan angka keberhasilan inseminasi.

7

(24)

Hanya beberapa penelitian yang dilakukan untuk menilai pengaruh dari trauma endometrium dan hubungannya dengan keberhasilan IIU. Rata-rata kehamilan dengan terapi IIU dilaporkan sekitar 10-20 kehamilan berdasarkan etiologi infertilitas dan angka tertinggi yang dilaporkan ketika IIU digunakan pada pasien yang sedang menjalani induksi ovulasi.10 Penelitian yang dilakukan Karen dkk tahun 2002 melaporkan dari 180 siklus IIU pada kelompok yang menggunakan kateter fleksibel angka keberhasilan IIU 16,4% dibandingkan dengan 184 siklus IIU pada kelompok yang menggunakan kateter fleksibel dimana angka keberhasilannya sekitar 18,1%. Begitu pula dengan penelitian Teraporn dkk tahun 2003 di Thailand yang melaporkan 77 orang wanita yang menggunakan kateter fleksibel angka keberhasilan kehamilannya sekitar 11,4% sedangkan yang menggunakan kateter kaku sekitar 12,9% dari 89 orang wanita yang diteliti dan dihasilkan nilai p = 0,714 yang menyimpulkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kateter tersebut.8 Penelitian oleh Ahmed dkk pada tahun 2006 mendapatkan hasil dimana perbedaan antara penggunaan kateter fleksibel dengan kateter kaku tidak bermakna. Penelitian oleh Ahmed ini mendukung penelitian sebelumnya.

Namun, tidak didapatkan data yang jelas mengenai keberhasilan inseminasi dengan penggunaan kateter fleksibel maupun kateter kaku di Indonesia dan hal inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian ini.

(25)

1.2 Rumusan Masalah

Salah satu aspek pada FERT yang mendapatkan perhatian beberapa tahun belakangan ini adalah masalah penggunaan kateter pada proses inseminasi. Beberapa penelitian sebelumnya mengenai kateter lunak untuk transfer embrio dapat meningkatkan keberhasilan prosedur transfer embrio. Penjelasan mengenai hal ini belum begitu jelas, namun secara teoritis dihubungkan dengan kejadian trauma pada lapisan endometrium, dimana penggunaan kateter fleksibel dapat mengurangi trauma pada saat masuknya embrio ke kavum uteri dibandingkan dengan kateter kaku.

Namun, pemilihan IIU sebagai salah satu terapi untuk pasangan infertil masih kurang diteliti dan data mengenai perbandingan jenis kateter fleksibel maupun kateter kaku pada inseminasi intrauteri masih terbatas.

Sehingga yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini adalah : Adakah perbedaan tingkat keberhasilan inseminasi yang menggunakan kateter fleksibel dengan yang menggunakan kateter kaku?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk menganalisa perbedaan tingkat keberhasilan inseminasi yang menggunakan kateter fleksibel dengan yang menggunakan kateter kaku

1.3.2 Tujuan Khusus

(26)

2. Untuk mengetahui jumlah folikel yang berdiameter lebih atau sama dengan 17 mm, tebal endometrium dan banyak sperma yang motil yang digunakan saat inseminasi intrauteri.

3. Untuk mengetahui kegagalan memasukkan kateter, ketidaknyamanan selama proses inseminasi intrauteri, refluks sperma setelah inseminasi dan darah yang ditemukan di kateter setelah proses inseminasi intrauteri.

4. Untuk menganalisa perbedaan keberhasilan inseminasi berdasarkan penggunaan kateter fleksibel dan kateter kaku; ada tidaknya darah pada kateter dan adanya refluks pada proses IIU.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Dengan adanya penelitian ini, pemilihan kateter pada IIU dapat dijadikan salah satu faktor yang dipertimbangkan untuk memberikan tingkat keberhasilan IIU yang lebih tinggi.

(27)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian

Penelitian mengenai inseminasi intrauteri pertama kali dilakukan pada tahun 1962 oleh Cohen, dimana merupakan usaha yang meliputi persiapan sperma, pemantauan waktu selama preovulatorik dan induksi ovulasi dengan

Human Chorionic Gonadotropin (hCG) untuk mendapatkan kehamilan, namun

sejauh ini IIU tidak diklasifikasikan sebagai ART. IUI dimasukkan dalam FERT (Fertility Treatment Other Than ART).5,11,12 Tehnik ini sudah banyak digunakan karena penggunaannya mudah, tidak invasif dan murah sehingga biasanya digunakan sebagai terapi empiris untuk kasus infertilitas secara umum. The European IVF Monitoring Programme pada tahun 2004 melaporkan 98.388 kasus dilakukan IIU di 19 negara dengan 12.081 kelahiran (12,3%). Dimana 87 % melahirkan anak tunggal dan 13 % kelahiran multipel.

Walaupun sudah banyak dan umum digunakan hampir di seluruh dunia, tapi keefektifannya masih kecil pada penyebab infertilitas akibat faktor pria dan salah satu penelitian bahkan menemukan bahwa stimulasi dengan IIU tidak efektif sebagai terapi infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya walaupun ada beberapa penelitian lainnya yang menyimpulkan sebaliknya. Keadaan klinis yang dapat membuktikan keefektifan dari IIU adalah mencakup: penggunaan dari IIU, indikasi IIU, keoptimalan prosedur persiapan sperma, metode inseminasi dan waktu, untuk melindungi Luteinizing hormone

(LH) prematur dan defisiensi luteal pada IIU.

13

(28)

2.2 Epidemiologi

Walaupun penggunaan IIU tidak termasuk dalam data registrasi ART,

The European IVF Monitoring Programme memasukkan data siklus IIU yang

menggunakan sperma suami atau donor yang dilaporkan sejak 2001.15 Data kehamilan dan kelahiran ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

Gambar 1. Siklus Inseminasi Intrauteri di Eropa

Dimana perbandingan IIU, IVF dan ICSI (berurutan) yang ditunjukkan dari 17 negara sampai pada tahun 2004. Yaitu 97.180 siklus, 52,866 siklus IVF dan 93.845 siklus ICSI.

16

17

(29)

2.3 Indikasi

Pengobatan dengan IIU dapat meningkatkan angka keberhasilan kehamilan pada pasangan infertil dengan menambah banyaknya sperma yang motil mencapai tempat fertilisasi. Dengan penggunaan kateter pada IIU dapat menghindarkan faktor lendir serviks yang abnormal saat prosedur IIU.

Inseminasi intrauteri diindikasikan pada hampir semua kasus infertilitas, antara lain:

17

1. Faktor ovulasi

18

Faktor ini sering terjadi pada setiap wanita. Sekitar 25 % dari seluruh kasus infertilitas.

2. Faktor tuba

Karena fungsi dari tuba adalah sebagai tempat fertilisasi, maka pada wanita harus dipastikan bahwa saluran tuba dalam batas normal, sehingga pemeriksaan tuba menjadi pemeriksaan rutin yang wajib dilakukan pada kasus infertilitas. Sekitar 35 % kasus infertilitas disebabkan oleh faktor tuba. Pemeriksaan HSG (Histerosalpingogram) salah satu pemeriksaan yang mudah dan sering dilakukan oleh ahli. Jika ditemukan kedua tuba falopi non paten, maka IIU menjadi kontraindikasi.

3. Faktor pria

Sekitar 40 % dari pasangan infertil disebabkan oleh faktor ini. Sehingga analisis sperma harus dilakukan.

4. Faktor umur

(30)

tahun merupakan prediktor yang baik untuk keberhasilan IIU.19 Hendin dkk tahun 2000 juga mendapatkan hasil yang sama dimana dari 533 siklus IIU diperoleh usia pasangan wanita < 38 tahun yang menjalani program IIU didapatkan angka kehamilan yang lebih tinggi.

5. Faktor uterus

9

Faktor uterus juga dapat menyebabkan infertilitas. Kelainan seperti endometriosis, mioma atau polip uterus dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya infertilitas. Histeroskopi sekarang ini menjadi salah satu pemeriksaan yang digunakan untuk menentukan kelainan di uterus.

6. Faktor peritoneum

Infertilitas akibat kelainan peritoneum adalah terdapat kelainan pada peritoneum seperti adhesi (perlengketan) atau pun endometriosis. Laparaskopi dapat digunakan untuk mengidentifikasi ada tidaknya endometriosis atau perlengketan yang terjadi di kavum abdomen.

7. Unexplained infertility

(31)

2.4 Kontraindikasi

Yang dimaksud dengan kontraindikasi adalah keadaan yang tidak dianjurkan untuk dilakukan IIU karena angka keberhasilannya rendah, seperti:

• Tuba non paten bilateral atau patologi tuba lainnya, seperti hidrosalfing

bilateral berat atau kerusakan tuba bilateral sehingga menghalangi terjadinya fertilisasi.

18

• Parameter semen abnormal berat seperti oligospermia dengan kuantitas

sperma di bawah 1 juta sperma motil atau morfologi sperma yang buruk sehingga sperma tidak bisa sampai ke tuba untuk proses fertilisasi.

• Kelainan genetik suami.

• Massa di pelvis yang dapat mengurangi diameter tuba sehingga mengganggu

fertilisasi.

• Wanita usia tua.

• Kontraindikasi hamil.

• Dalam terapi kemoterapi dan radioterapi.

• Kegagalan berulang inseminasi.

2.5 Prosedur IIU Dan Metode Inseminasi

2.5.1 Persiapan Semen

(32)

dipakai paling sering ialah dengan cara sentrifugasi spermatozoa di dalam medium kultur atau gradien berdasarkan densitas diikuti dengan resuspensi pada media kultur yang tersedia. Belum ada penelitian yang dapat menentukan metode terbaik dalam pemilihan sperma yang motil untuk digunakan dalam ART atau IVF.

2.5.2 Kualitas Dan Kuantitas Sperma

19

Banyak literatur yang mencari batas spermatozoa motil yang digunakan pada IIU baik morfologi sperma atau jumlah spermatozoa yang motil pada contoh semen atau jumlah spermatozoa yang motil pada sediaan inseminasi. Berdasarkan penelitian retrospektif dengan 893 siklus IIU yang dilakukan oleh Khalil dkk tahun 2001 didapatkan banyaknya sperma motil yang digunakan dalam IIU lebih dari 2 juta sperma berhubungan dengan peningkatan keberhasilan IIU. Demikian juga penelitian retrospektif yang dilakukan oleh Stone dkk tahun 1999 dimana dari 3200 siklus IIU selama 6 tahun, didapatkan jumlah sperma motil yang digunakan dalam IIU sebanyak lebih dari 2 juta sperma merupakan prediktor yang baik untuk keberhasilan IIU.

2.6. Stimulasi Ovarium

16,20

(33)

Obat-obatan yang digunakan untuk stimulasi ovarium dapat diberikan dalam bentuk oral, yaitu klomifen sitrat dan penghambat aromatase, dan dapat juga digunakan secara injeksi, misalnya gonadotropin, dalam bentuk human

Menopausal Gonadotropin (hMG), Follicle Stimulazing Hormone urine

(u-FSH) atau FSH-recombinant (r-FSH) dimana hasilnya yaitu didapatkan 2-4 folikel dengan diameter 17-18 mm, kadar estradiol 150-250 pg/ml dan tebal endometrium 9 mm dengan gambaran trilaminar.

2.6.1. Stimulasi Ovarium Dengan Klomifen Sitrat

5,21

Klomifen sitrat dengan dosis 50-100 mg diberikan selama 5 hari mulai dari hari ke-3 sampai hari ke-7. Pasien diberikan instruksi untuk melakukan pemeriksaan LH urine secara serial mulai hari ke 11-12. Bila positif, prosedur dilaksanakan esok harinya.

2.6.2. Stimulasi Ovarium Dengan Injeksi Folikel Stimulate Hormone

(FSH)

21,22

Penentuan dosis awal FSH tergantung beberapa hal, antara lain usia wanita dan respon ovarium sebelumnya. Secara umum, untuk stimulasi ovarium siklus pertama dibutuhkan dosis awal FSH 75-150 IU. Dengan bertambahnya usia, terutama pada usia lebih dari 40 tahun yang diasumsikan telah terjadi penurunan cadangan ovarium, dosis awal sebaiknya dinaikkan menjadi 225-300 IU.

2.7 Pemilihan Kateter

21,22

(34)

kontrol stimulasi induksi.23 Namun prosedur IIU dengan menggunakan kateter untuk memasukkan sperma yang telah dicuci melewati barier mukus serviks ke dalam kavum uterus dan meningkatkan konsentrasi sperma untuk fertilisasi sehingga angka kehamilan per siklus meningkat. Banyak variasi kateter yang sering digunakan pada inseminasi dan transfer embrio. Kateter inseminasi dibedakan berdasarkan diameter, ujung terbuka bagian distal dan konsistensi. Pengaruh dari konsistensi dari kateter telah diteliti dengan berdasarkan hipotesa bahwa kateter ujung lunak lebih sedikit menyebabkan kerusakan endometrium dan membatasi kontraksi yang dapat mengeluarkan embrio setelah transfer embrio atau sperma pada prosedur inseminasi intrauteri. Angka rata-rata kehamilan per siklus meningkat setelah transfer embrio dengan kateter ujung lembut dibandingkan dengan kateter kaku berdasarkan beberapa penelitian acak.24,25

Adapun beberapa syarat kateter yang mungkin mempengaruhi keberhasilan IIU, antara lain:

Namun sebaliknya, dampak pemilihan kateter pada program IIU jarang diteliti. Beberapa penelitian membandingkan perbedaan kateter IIU, tetapi desain penelitiannya hanya bersifat observasional, retrospektif atau prospektif, sedikit dengan penelitian acak.

1. Mudah digunakan

(35)

3. Ujung kateter inseminasi harus cukup kecil untuk meminimalisasi refluks dari material inseminasi (Lavie 1997)

Penelitian pertama oleh Lavie dkk tahun 1997 yang dilakukan secara prospektif namun bukan penelitian secara acak, dari 102 siklus IIU dinilai efek dari kateter pada gambaran endometrium tiga lapis dan angka kehamilan rata-rata per siklus.Total kerusakan endometrium sangat rendah pada kelompok kateter lunak (12,5 %) dibandingkan dengan kelompok kateter keras (50%). Sedangkan angka kehamilan pada kedua kelompok sama.

Penelitian yang menggunakan sampel yang lebih besar, Smith dkk pada tahun 2002 dengan penelitian acaknya menyimpulkan angka kehamilan rata-rata per siklus sama pada kelompok kateter ujung lunak (16%) dan kelompok ujung keras (18%) namun tidak bermakna secara statistika dengan nilai p=0.61.

26

Teraporn dkk tahun 2003 melaporkan bahwa dari 239 siklus IIU yang dilakukan didapatkan tidak ada perbedaan bermakna secara statistika dari keberhasilan inseminasi baik dari kateter kaku dan fleksibel dengan nilai p= 0,714.

27

Miller dkk tahun 2005 secara prospektif dan penelitian acak dengan 100 pasien. Tidak ada perbedaan bermakna pada angka kehamilan rata-rata per siklus pada kelompok dengan ujung lunak dan ujung keras.

8

Penelitian lainnya yang dilakukan Fancsovits dkk tahun 2005 yang melakukan inseminasi intrauteri pada 251 pasien dengan kateter fleksibel dan kaku mendapat hasil yang sama dengan lainnya, dimana kelompok kateter

(36)

tomcat terdapat 33 kehamilan dari 127 inseminasi sedangkan 34 kehamilan pada kelompok kateter Wallace ( 9,7% % berbanding 10,4, berurutan ).

Jenis Kateter Inseminasi

28

1. Kateter kaku (Rigid Catheter) 2. Kateter fleksibel (Flexible Catheter)

2.7.1 Kateter Inseminasi Kaku

Jenis kateter kaku:

1. Kateter inseminasi Tomcat (Kendall Sovereign, Mansfield, MA, USA) Kateter semi kaku, dengan satu lumen. Panjangnya sekitar 11,4 cm, 3,5 French (fr) dan desain dengan ujungnya terbuka. Dapat dimodulasi mengikuti bentuk uterus.

2. Kanula Makler (Sefi Medical Instruments, Haifa, Israel)

9

Terdiri dari dua bagian: (1) kanula yang muat dengan besar 1 ml syringe

tuberculin, (2) gagang untuk memegang syringe. Kateter Makler ini kaku,

(37)

2.7.2 Kateter Inseminasi Fleksibel

Jenis kateter fleksibel:

1. Kateter Inseminasi Wallace (Smith Medical)

Kateter lunak, fleksibel, dengan dua lumen yang berguna untuk sistem

co-axial. Kateter bagian dalam panjangnya 18 cm, dengan ujung membulat

dan dilengkapi dengan sisi bilateral yang menyebar yang berguna untuk mencegah kontaminasi dan menghalangi sperma keluar saat dilakukannya inseminasi. Mempunyai bagian luar yang fleksibel.

2. Kateter inseminasi Cook (Cook Women’s Health, Spencer, IN, Amerika Serikat)

Kateter ini juga lunak, fleksibel, dua lumen, memiliki sistem co-axial. Kateter bagian dalam panjangnya 19 cm dengan ujung membulat. Bagian luar sama dengan kateter Wallace.

3. Kateter Inseminasi Gynetics (Gynetics Medical Products, Hamont-Achel, Belgia)

Kateter ini lunak, fleksibel, dua lumen, dan sistem co-aksial. Panjangnya 20,6 cm dengan ujung membulat. Sebagai tambahan, sama dengan kateter Wallace, kateter ini menggunakan dua ujung lateral di bagian distal untuk distribusi sperma ke intrauteri. Bagian luarnya lebih padat dan tebal untuk pasien dengan sulit memasukkan ke serviksnya.

2.8 Cara Inseminasi

(38)

dengan kateter fleksibel atau kaku, tanpa atau dengan pemantauan menggunakan ultrasonografi (USG). Untuk semen yang dibekukan, IIU lebih baik daripada intra Cervical insemination (ICI). Penggunaan kateter inseminasi juga mempunyai pengaruh terhadap angka kehamilan. Lavie dkk memperkirakan bahwa gambaran tiga lapis endometrium, yang umumnya menjadi tanda untuk dilakukan inseminasi, mengganggu setengah dari jumlah pasien yang menjalani inseminasi menggunakan kateter kaku. Gambaran gangguan ini dilihat dari adanya trauma pada endometrium. Dari penemuan ini menunjukkan bahwa dengan kateter fleksibel, angka kehamilan akan lebih tinggi dibandingkan dengan kateter kaku.

2.9 Waktu Inseminasi

9

Inseminasi dapat dilakukan di waktu yang berbeda sekitar ovulasi dan dapat dilakukan sekali atau berulang. Sebagian besar penelitian, inseminasi dilakukan 32-36 jam setelah pemberian hCG. Inseminasi sebaiknya dilakukan pada sekitar ovulasi karena sangatlah penting untuk keberhasilan IIU.27 Penelitian sistematik menemukan tidak ada perbedaan angka kehamilan perpasangan yang dilakukan inseminasi dua kali atau satu kali.

2.10 Metode

29

Semua pasien wanita menerima 1 dari 3 regimen induksi ovulasi, antara lain: 1) klomifen sitrat 2) klomifen sitrat ditambah dengan human

menopausal gonadotropin atau recombinant follicle stimulating hormone,

(39)

wanita menerima klomifen sitrat 100 mg per hari untuk 5 hari dimulai dari hari ke 2 siklus menstruasi. Pada regimen kombinasi klomifen sitrat dengan HMG/rFSH, dosis harian klomifen sitrat 100 mg diberikan hari ke 3 sampai hari ke 7, diikuti dengan 75 IU HMG atau 70 IU rFSH per hari dari siklus 8-10 siklus menstruasi. Pada regimen yang menerima HMG/rFSH, dosis harian 150-225 IU HMG atau 100-150 IU rFSH diberikan dimulai dari hari ke 3 siklus menstruasi sampai salah satu folikel mencapai diameter 17 mm atau lebih. Ultrasonografi transvaginal dilakukan untuk mengukur diameter folikel. Jika rerata diameter folikel sudah sampai 17 mm, 5000 IU human chorionic

gonadotropin disuntikkan secara intramuskular. IIU direncanakan 38-40 jam

setelah pemberian HCG.

(40)

Gambar 2. Prosedur Inseminasi Intrauteri

2.11. Komplikasi

31

Komplikasi jarang terjadi pada inseminasi intrauteri. Komplikasi yang sering terjadi lebih sering terjadi pasca inseminasi, sedangkan keluhan pasien saat proses inseminasi jarang ditemukan. Komplikasinya antara lain:

a. Kram perut

32

Keluhan ini terjadi sekitar 5% dari seluruh pasien yang menjalani inseminasi intrauteri. Beberapa kemungkinan yang menyebabkan kram perut, antara lain:

- Kateter yang dimasukkan ke dalam uterus dikenal sebagai benda asing di dalam tubuh sehingga menyebabkan refleks kram alami.

- Kerusakan dari sebagian kecil endometrium saat insersi kateter menyebabkan pelepasan prostaglandin. Gejala biasanya terlihat 2 sampai 4 jam pasca inseminasi.

(41)

Kram perut ini bukan merupakan suatu masalah yang serius. Pengobatannya biasa diberikan asetaminofen atau aspirin. Dan hal ini tidak memicu terjadinya infeksi.

Teraporn dkk tahun 2003 dengan 239 siklus inseminasi intrauteri yang dilakukan didapatkan tidak ada perbedaan dalam kesulitan prosedur insersi kateter yang signifikan pada kelompok kateter kaku dan fleksibel (16.4% dan 17.1% berturut-turut, p=0.886 ), begitu juga halnya dengan dilatasi serviks tidak bermakna secara statistika (1.7% dan 1.6%, berurutan, p=0.953). Sama halnya dengan ketidaknyamanan saat prosedur pada kedua kelompok dimana pada kelompok kateter kaku 29,3 % dan kateter fleksibel 26,8 % dengan nilai p=0.882.

b. Perdarahan Ringan

8

Biasanya terjadi 1 % dari seluruh inseminasi. Perdarahan terjadi akibat iritasi pada kelenjar servikal akibat insersi kateter saat menuju kavum uteri. biasanya terjadi saat insersi kateter dan menghilang dengan sendirinya.

c. Gangguan saluran cerna

Mual dan diare ringan terjadi 0,05 % dari seluruh pasien inseminasi. Adanya prostaglandin biasanya yang menyebabkan keluhan ini dan terjadi beberapa jam setelah prosedur.

d. Infeksi pelvis

(42)

perawatan dan pemberian antibiotika. Infeksi dapat menyebabkan adanya bekas luka yang permanen pada tuba falopi dan jaringan sekitar, yang dapat membuat pasien menjadi infertil.

Infeksi terjadi karena barrier mukus serviks yang normal rusak saat insersi kateter dan bakteri agresif yang ada pada mukus serviks atau pada sperma yang dimasukkan ke dalam kavum uteri. Ini sering terjadi pada pasien yang mempunyai riwayat infeksi. Gejala yang muncul pada infeksi pelvis seperti demam, nyeri pada serviks atau saat sedang berhubungan. Gejala muncul beberapa hari atau minggu pasca inseminasi.

e. Reaksi Alergi

(43)

2.12. Kerangka Teori

Inseminasi

Hamil Kateter

Fleksibel Kaku

Trauma Endometrium Refluks Kualitas Sperma

Stimulasi Ovarium Penyebab

Infertilitas

(44)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain analitik observasional dan menggunakan metode Cohort Study untuk mengetahui perbandingan mengenai angka keberhasilan inseminasi antara penggunaan kateter fleksibel dibandingkan dengan penggunaan kateter kaku.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Klinik Halim Fertility Center, Rumah Sakit Ibu dan Anak Stella Maris Medan Divisi Fertilitas, Endokrinologi dan Reproduksi FK-USU. Penelitian akan dimulai dari bulan Juli 2013 sampai September 2013.

3.3 Populasi Penelitian

Populasi penelitian ini adalah pasien dengan riwayat infertil yang akan direncanakan untuk menjalani inseminasi intrauteri di Klinik Halim Fertility

Center, Rumah Sakit Ibu dan Anak Stella Maris Medan Divisi Fertilitas,

Endokrinologi dan Reproduksi FK-USU.

3.4 Sampel Penelitian

(45)

menggunakan periode waktu, dimana sampel diambil dari mulai bulan Juli sampai September 2013.

3.5 Kerangka Konsep

3.6. Hipotesis Penelitian

Tidak ada perbedaan yang signifikan mengenai tingkat keberhasilan inseminasi intrauteri yang menggunakan kateter fleksibel dengan kateter kaku.

3.7. Kriteria Sampel

- Pasien infertil yang mempunyai indikasi untuk dilakukannya inseminasi intrauteri dengan indikasi faktor pria dan unexplained

- Yang menandatangani surat informed consent

Inseminasi Intrauteri

Hamil

Kateter

Fleksibel Kaku

(46)

3.8. Alur Penelitian

Memenuhi kriteria inklusi ( dilakukan randomisasi )

Tidak ada folikel> 17 mm Transvaginal Sonography

( hari ke 8,12,16 ) Stimulasi Ovarium

(hari ke 2-5 )

Folikel > 17 mm

Inseminasi menggunakan sperma yang telah dicuci menggunakan

kateter fleksibel atau kaku ( secara randominisasi )

Tes beta HCG kualitatif dari urine 2 minggu pasca inseminasi

Tes (-) Tidak hamil Tes (+)

Konfirmasi dengan TVS GS (+)

Observasi DJJ dengan USG

(47)

3.9. Cara Kerja

1. Dilakukan stimulasi ovarium pada pasangan wanita:

- Diberikan klomifen sitrat tablet 2 x 100 mg dimulai dari hari ke 2 sampai dari ke 5 siklus haid.

- Pada hari ke 3 diberikan injeksi FSH 75 IU.

- Kemudian pada hari ke 9, dilakukan pemantauan folikel untuk menilai besar folikel dengan ultrasonografi.

- Jika besar folikel < 17 mm, injeksi FSH 75 IU diteruskan.

- Dilakukan monitor ulang pada hari ke 11. Jika terdapat minimal satu folikel > 17 mm, dilakukan maturasi folikel dengan injeksi HCG 5000 IU dan 36 jam kemudian dilakukan inseminasi.

2. Kemudian pada pasangan pria, 1-2 jam sebelum dilakukan inseminasi dilakukan penampungan sperma di wadah yang telah disediakan. Pemilihan sperma yang akan diinseminasi dilakukan dengan metode “direct swim up”. Caranya:

- Masukkan 1 ml semen di tabung sentrifus steril 15 ml, dan lapiskan dengan hati-hati di atas 1,2 ml medium kultur. Alternatif yang lain, letakkan semen secara hati-hati dengan menggunakan pipet di bawah medium kultur.

(48)

- Kembalikan secara hati-hati tabung ke posisi tegak dan keluarkan 1 ml bagian paling atas dari medium karena bagian itu terdiri dari sel sperma dengan motilitas tinggi.

- Dilusikan bagian tersebut dengan 1,5-2 ml medium kultur

- Sentrifugasi pada 300-500 g dalam 5 menit dan supernatan dibuang.

- Resuspensi sperma di 0,5 ml medium untuk menilai konsentrasi sperma, motilitas total dan progesifitas motilitas.

- Spesimen sudah dapat digunakan untuk IIU.

3. Pasien dibaringkan dengan posisi dorso litotomi.

4. Spekulum cocor bebek dibilas dengan NaCl hangat.

5. Masukkan spekulum tersebut ukuran standar ke dalam vagina sampai serviks terlihat dengan jelas.

6. Serviks diusapkan dengan NaCl hangat memakai kasa yang sudah disediakan.

7. Sementara pasien disiapkan, sperma yang sudah preparasi di laboratorium dimasukkan ke dalam spuit yang terhubung dengan kateter kaku (Tom Cat) atau fleksibel (Wallace). Pasien yang diinseminasi dengan kateter kaku atau fleksibel dipilih secara random oleh spesialis yang melakukan inseminasi.

(49)

9. Masukkan kateter yang sudah berisi medium dan sperma melalui ostium uteri eksterna, kanalis servikalis, sampai ke dalam kavum uteri sesuai dengan arah uterus.

10. Jika ditemukan kesulitan, terkadang diperlukan pemasangan tenakulum untuk menarik serviks pada saat memasukkan kateter.

11. Jarang diperlukan anestesi (paraservikal) pada waktu inseminasi.

12. Prosedur inseminasi ini harus dilakukan secara perlahan dan hati-hati untuk mengurangi cedera pada endometrium yang dapat mengakibatkan perdarahan sehingga mengurangi viabilitas dari sperma.

13. Setelah ujung kateter mencapai fundus, tarik keluar sekitar 1 cm sehingga ujung kateter berada pada kavum uteri yang terluas. Selanjutnya, medium dan sperma disemprotkan ke dalam kavum uteri.

14. Tarik kembali kateter perlahan-lahan sambil memutarnya.

15. Pasien diminta berbaring terlentang selama 15 menit pasca inseminasi. Selanjutnya, diperbolehkan pulang dan melakukan aktivitas seperti biasa.

16. Hubungan seksual dianjurkan 24 jam pasca inseminasi.

17. Pada fase luteal, diberikan progesteron 3 x 100 mg pasca inseminasi. Jika perlu periksa kadar progesterone.

18. Setelah 14 hari dilakukan tes kehamilan. Dan jika hasil tes kehamilan (+), 2 minggu kemudian dilakukan ultrasonografi untuk melihat kantong gestasi,

(50)

3.10. Batasan Operasional

1. Inseminasi intrauteri

Definisi : Prosedur memasukkan sperma yang sudah dipreparasi ke dalam uterus saat terjadi ovulasi.

Alat ukur : Kateter inseminasi

Cara ukur : Menghitung jumlah inseminasi

Skala ukur : Skala nominal

2. Infertilitas primer

Definisi : Ketidakmampuan pasangan untuk mendapatkan konsepsi sekurangnya 1 tahun.

Alat Ukur : Anamnesis meliputi lamanya menikah dan mengusahakan untuk punya anak

Cara ukur : Menghitung lama mengusahakan punya anak

Skala ukur : Skala nominal

3. Infertilitas sekunder

Definisi : ketidakmampuan pasangan untuk mendapatkan konsepsi sekurangnya 1 tahun dimana sebelumnya pernah hamil kurang lebih satu kali.

(51)

Cara ukur : Menghitung lama mengusahakan punya anak

Skala ukur : Skala nominal

4. Kateter fleksibel

Definisi : Alat yang digunakan untuk memasukkan sperma ke dalam cavum uteri dengan ujungnya bersifat lunak, fleksibel, dengan dua lumen yang berguna untuk sistem co-axial. Kateter bagian dalam panjangnya 18 cm, dengan ujung membulat dan dilengkapi dengan sisi bilateral yang menyebar yang berguna untuk mencegah kontaminasi dan menghalangi sperma keluar saat dilakukannya inseminasi.

Alat Ukur : Kateter wallace

Cara ukur : Menghitung jumlah pemakaian kateter

Skala ukur : Skala nominal

5. Kateter kaku

Definisi : Alat yang digunakan untuk memasukkan sperma ke dalam cavum uteri bersifat semi kaku, dengan satu lumen. Panjangnya sekitar 11,4 cm, 3,5 French (fr) dan desain dengan ujungnya terbuka. Dapat dimodulasi mengikuti bentuk dari uterus.

Alat Ukur : Kateter tomcat

Cara ukur : Menghitung jumlah pemakaian kateter

(52)

6. Usia pasangan adalah usia dimana seorang pasangan masih mempunyai kemungkinan besar untuk memiliki keturunan.

Definisi : usia saat dilakukannya prosedur inseminasi

Alat Ukur : Kalender dalam tahun

Cara ukur : Anamnesis yang meliputi usia pasangan saat melakukan pernikahan pertama kali

Skala ukur : Usia dibawah 40 tahun (skala ratio)

7. Durasi infertilitas

Definisi : Lama pasangan infertil baik primer maupun sekunder tidak memiliki keturunan.

Alat Ukur : Kalender dalam tahun

Cara ukur : Menghitung lama tidak punya anak

Skala ukur : Skala ratio

8. Indikasi IIU karena faktor pria

Definisi : Ketidakmampuan pasangan mendapatkan keturunan dikarenakan kelainan baik anatomis maupun fisiologis pria.

Alat Ukur : Kuantitas dan kualitas sperma

Cara ukur : Analisa sperma

(53)

9. Indikasi IIU karena faktor unexplained

Definisi : ketidakmampuan pasangan mendapatkan keturunan dikarenakan penyebab yang tidak diketahui selain faktor pria, endometriosis, faktor tuba dan faktor uterus

Alat Ukur : analisa sperma, USG, pemeriksaan hormonal

Cara ukur : observasi

Skala ukur : skala nominal

10. Jumlah folikel

Definisi : Banyaknya folikel dengan diameter ≥17 mm

Alat Ukur : USG

Cara ukur : Diameter folikel dalam cm

Skala ukur : Skala nominal

11. Tebal endometrium.

Definisi : Ukuran terjauh dari satu titik endometrium ke titik endometrium lainnya

Alat Ukur : USG

Cara ukur : Jarak terjauh antara satu titik endometrium ke titik lainnya secara tegak lurus dalam sentimeter

(54)

12. Jumlah sperma motil yang diinseminasikan

Definisi : Banyaknya sperma yang dipreparasi yang akan dimasukkan ke dalam cavum uteri dengan kateter inseminasi.

Alat Ukur : Jumlah sperma

Cara ukur : Analisa sperma dalam 10

Skala ukur : Skala ratio

6

13. Kegagalan dalam memasukkan kateter

Definisi : Ketidakmampuan kateter kaku dan fleksibel untuk masuk sampai ke kavum uteri.

Alat Ukur : Kegagalan insersi kateter

Cara ukur : Kegagalan memasukkan kateter tanpa alat bantu sebanyak 3 kali percobaan

Skala ukur : Skala nominal

14. Darah di kateter

Definisi : Ditemukan darah di kateter baik fleksibel dan kaku saat prosedur inseminasi.

Alat Ukur : Observasi selama prosedur

(55)

Skala ukur : Skala nominal

15. Ketidaknyamanan

Definisi : Keluhan subjektif ibu yang dirasakan selama proses inseminasi maupun pasca inseminasi.

Alat Ukur : anamnesis keluhan saat dan pasca inseminasi

Cara ukur : anamnesis keluhan seperti kram perut atau nyeri perut

Skala ukur : skala nominal

16. Refluks sperma

Definisi : Banyaknya sperma yang keluar dari OUE setelah sperma disemprotkan di cavum uteri

Alat ukur : observasi

Cara ukur : melihat ada atau tidak sperma yg keluar dari OUE

Skala ukur : skala nominal

17. Kehamilan positif

Definisi : Pasangan wanita dinyatakan hamil dengan tes beta HCG kualitatif positif pada 2 minggu pasca inseminasi dan ditemukannya

gestasional sac dan denyut jantung janin di dalam kavum uteri dengan

menggunakan USG pasca tes beta HCG kualitatif.

(56)

Cara ukur : tes kehamilan positif (bergaris dua jelas) dan kantong gestasi dan denyut jantung janin dari ultrasonografi

Skala ukur : skala nominal

18. Kehamilan negatif

Definisi : Pasangan wanita dinyatakan tidak hamil dengan tes beta HCG kualitatif negatif pada 2 minggu pasca inseminasi.

Alat Ukur : tes kehamilan (sensitif)

Cara ukur : tes kehamilan negatif (bergaris satu)

Skala ukur : skala nominal

3.11. Analisa Data

(57)

3.12. Etika Penelitian

Setiap peserta penelitian yang memenuhi kriteria penerimaan akan diberikan penjelasan mengenai latar belakang, tujuan, manfaat, cara kerja, keuntungan dan kerugian dari penelitian ini. Dilakukan informed consent

(58)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 KARAKTERISTIK PASANGAN INFERTIL

Tabel 4.1 Karakteristik Wanita Yang Melakukan Inseminasi Intrauteri

Karakteristik Pasangan Infertil

Kateter Kaku n=30

Kateter Fleksibel n=30

Rerata Usia pasangan wanita ( tahun )

Berdasarkan tabel 4.1 diatas menunjukkan karakteristik pasangan wanita yang melakukan Inseminasi Intrauteri (IIU) mempunyai umur rata-rata yang relatif sama yaitu 32.53 ± 3.97 tahun pada kelompok kateter kaku dan 30.90 ± 4.52 tahun pada kelompok kateter fleksibel.

(59)

Berdasarkan durasi infertilitas, kedua kelompok dengan durasi infertilitas yang tidak berbeda jauh yaitu 4.12 ± 2.58 tahun pada kelompok kateter kaku dan 4.26 ± 3.44 tahun pada kelompok kateter fleksibel.

Tabel diatas juga menunjukkan bahwa jenis infertilitas pasangan yang melakukan IIU pada kedua kelompok umumnya infertilitas primer dimana masing-masing 24 orang (80%) pada kelompok kateter kaku dan 27 orang (90%) pada kelompok kateter fleksibel. Farimani dkk tahun 2007 mengemukakan bahwa baik infertilitas primer maupun sekunder bukan merupakan prediktor yang berhubungan dengan keberhasilan IIU.

Pada penelitian ini didapatkan penyebab infertilitas pada kedua kelompok adalah faktor unexplained dan faktor pria. Dimana pada kelompok kateter kaku penyebab infertilitas terbanyak adalah faktor pria yaitu 63,3 % sedangkan pada kateter fleksibel yang terbanyak adalah faktor unexplained

yaitu sekitar 63,3 %.

(60)

4.2 KARAKTERISTIK SIKLUS INSEMINASI

Tabel 4.2 Karakteristik Siklus Inseminasi Berdasarkan Jumlah Folikel, Ketebalan Endometrium Dan Motilitas Sperma.

Karakteristik Folikel dan

Jumlah sperma motil yang pernah diinseminasi

11.29 x 106 ± 8.11 12.04 x 106 ± 8.72

Berdasarkan karakteristik siklus inseminasi, kedua kelompok IIU sebagian besar mempunyai jumlah folikel yang berdiameter lebih dari 17 mm masing-masing 23 pasien (76.7%) pada kelompok kaku dan 22 pasien (73.3%) pada kelompok kateter fleksibel.

(61)

Sedangkan tebal endometrium pada saat akan diinseminasi pada kedua kelompok berturut-turut mempunyai rerata 8.47 ± 1.77 cm pada kelompok kateter kaku dan 8.63 ± 1.97 cm pada kelompok kateter fleksibel

Router dkk pada tahun 1996, mengemukakan bahwa ketebalan endometrium kurang dari 8 mm berhubungan dengan penurunan angka keberhasilan kehamilan pada inseminasi intrauteri. Hal yang sama dikemukakan oleh Teraporn dkk tahun 2003 yang mendapatkan cut off < 7,5 mm dari ketebalan endometrium merupakan prediktor yang baik untuk keberhasilan inseminasi intrauteri.

Jumlah sperma yang digunakan di kedua kelompok baik pada kelompok kateter kaku dan kateter fleksibel berturut-turut 11.29 x 10

8

6

± 8.11 sperma dan 12.04 x 106

Berdasarkan penelitian retrospektif dengan 893 siklus IIU yang dilakukan oleh Khalil dkk tahun 2001 didapatkan bahwa banyaknya sperma motil yang digunakan dalam IIU lebih dari 2 juta sperma

± 8.72 sperma.

(62)

4.3. KESULITAN DAN KETIDAKNYAMANAN PROSEDUR IIU Tabel 4.3 Faktor Penyulit Yang Dijumpai Pada Saat Pelaksanaan IIU

Faktor Penyulit

Tabel di atas menunjukkan bahwa tidak ada ditemukan faktor penyulit berupa kegagalan dalam memasukkan kateter pada kedua kelompok penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa kedua jenis keteter relatif mudah dalam melakukan insersi.

Teraporn dkk tahun 2003 dengan 239 siklus inseminasi intrauteri yang dilakukan didapatkan tidak ada perbedaan dalam kesulitan prosedur insersi kateter yang signifikan pada kelompok kateter kaku dan fleksibel (16.4% dan 17.1% berturut-turut, p=0.886).

Pada tabel ini dapat dilihat juga bahwa terdapat darah pada kateter saat dikeluarkan dari kavum uteri yang lebih banyak pada kelompok kateter kaku yaitu 18 (60%) daripada kelompok kateter fleksibel yaitu 17 (56.7%).

(63)

Darah pada kateter menunjukkan adanya kemungkinan terjadinya cedera endometrium ataupun endoserviks saat insersi kateter namun secara statistik dengan uji Chi-square didapatkan nilai p > 0,05 yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok dalam hal adanya darah pada kateter setelah prosedur.

Menurut Lavie dkk tahun 1997, keberhasilan IIU dapat dipengaruhi oleh adanya trauma endometrium yang ditandai dengan ada tidaknya darah pada kateter setelah dikeluarkan dari kavum uteri. Dimana mereka menemukan kerusakan pada lapisan endometrium sebanyak 12,5% pada kateter fleksibel dan 50 % pada kateter kaku, namun angka keberhasilan pada kedua kelompok tidak bermakna secara statistika. Sedangkan Fancsovits dkk tahun 2005 dari 251 siklus IIU menyimpulkan bahwa ditemukan darah pada kateter setelah dilakukannya prosedur IIU pada 68 siklus IIU pada kelompok kateter kaku dibandingkan dengan 66 siklus IIU pada kelompok kateter fleksibel.

Pada tabel ini juga menunjukkan adanya ketidaknyamanan berupa kram/nyeri perut yang dinilai secara subjektif saat atau setelah prosedur inseminasi dimana lebih banyak terjadi pada kelompok kateter kaku yaitu 13 kasus (43,3%), daripada kateter fleksibel yaitu 9 kasus (30%). Namun secara statistik dengan uji Chi-square didapatkan nilai p>0,05 yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok dalam hal ketidaknyamanan dalam prosedur pemasangan kateter.

34

(64)

dengan 34 pasien pada kelompok kaku. Segal dkk tahun 1998 melaporkan dari 34 siklus IIU yang dilakukan didapatkan adanya keluhan berupa perut kram pada 2 pasien pada kelompok kateter fleksibel dibandingkan dengan 8 pasien pada kelompok kateter kaku.

Terjadinya refluks saat prosedur inseminasi mungkin akan mempengaruhi keberhasilan dari IIU. Pada penelitian ini, terdapat refluks yang lebih banyak pada kelompok kateter kaku sebanyak 8 orang (26,7%) sedangkan pada kelompok fleksibel sebanyak 1 (3,3%). Secara statistik dengan uji Chi-square dengan continuity correction didapatkan nilai p<0,05 yang menunjukkan ada perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok dalam hal terjadinya refluks setelah prosedur IIU. Hal ini mungkin disebabkan karena kateter kaku mempunyai diameter yang lebih kecil dibandingkan dengan kateter fleksibel yang digunakan, dimana diameter yang lebih besar kateter fleksibel dapat mengakomodasi besar kanalis servikalis pasien yang sehingga mencegah refluks.

(65)

4.4 HASIL INSEMINASI INTRAUTERI Tabel 4.4 Hasil Inseminasi Intrauteri

Kehamilan

*nilai p didapat dengan uji pearson Chi-square ** nilai p didapat dengan uji Continuity correction

Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan angka keberhasilan inseminasi intrauteri pada kelompok kateter fleksibel lebih tinggi (26,7%) dibandingkan dengan kelompok kateter kaku (20%), namun dari uji statistik dengan

Chi-square didapatkan nilai p=0,542, yang menunjukkan tidak ada perbedaan

yang bermakna dalam hal tingkat keberhasilan kehamilan antara kedua kateter.

(66)

statistika dengan nilai p=0,61.25 Miller dkk, tahun 2005, secara prospektif dan penelitian acak dengan 100 pasien. Tidak ada perbedaan bermakna pada angka kehamilan rata-rata per siklus pada kelompok dengan ujung lunak dan ujung keras.26 Dan Fancsovits dkk tahun 2005 yang melakukan inseminasi pada 251 pasien dengan kateter fleksibel dan kaku mendapatkan hasil yang sama dengan lainnya, dimana kelompok kateter kaku terdapat 33 kehamilan dari 127 inseminasi sedangkan 34 kehamilan pada kelompok kateter fleksibel (10,4% berbanding 9,7%, berurutan).34

Hasil penelitian juga ditunjukkan pada tabel 4.4 bahwa angka kegagalan inseminasi intrauteri pada kasus dengan kateter yang mengandung darah lebih tinggi (85,7%) dibandingkan dengan kasus yang tidak mengandung darah (64%), namun dari uji statistik dengan Chi-square

didapatkan nilai p=0,050, yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna dalam hal tingkat keberhasilan kehamilan antara kateter yang menimbulkan perdarahan atau yang tidak.

Hal ini memberi kesan bahwa kedua jenis kateter (kaku dan flexibel) dapat digunakan dalam prosedur IIU dengan tingkat keberhasilan yang relatif sama.

(67)

langsung embrio dan/atau endometrium atau jika embrio keluar lewat serviks atau tuba falopi.

Sedangkan angka kegagalan inseminasi intrauteri pada kasus kateter dengan refluks sperma, sama pada kedua kelompok dimana dari nilai uji Continuity Correction didapatkan nilai p=1,00 yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna dalam tingkat keberhasilan kehamilan antara kateter yang menyebabkan refluks atau tidak.

35

Hal ini mungkin disebabkan oleh efek negatif dari kateter kaku maupun fleksibel yang digunakan pada IIU mungkin dapat mengeluarkan volume sperma sampai sekitar 0,5 ml, setidaknya 10 kali lebih tinggi dibandingkan dengan suspensi embrio (0,04 ml). Dengan dasar itu sangat menarik untuk dicatat bahwa ada penelitian yang mengemukakan bahwa IIU dengan volume sperma yang banyak (lebih dari 4 ml) lebih tinggi keberhasilannya daripada IIU klasik yang menggunakan volume 0,5 ml.

4.5 ANALISA UJI HIPOTESIS

36

(68)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Karakteristik pasangan infertil pada kedua kelompok penelitian berdasarkan usia, durasi infertil , indikasi inseminasi relatif sama.

2. Karakteristik siklus inseminasi pada kedua kelompok penelitian berdasarkan jumlah folikel yang berdiameter ≥ 17 mm, tebal endometrium dan banyaknya sperma motil yang digunakan selama inseminasi relatif sama.

3. Selama pelaksanaan inseminasi pada kedua kelompok penelitian, tidak dijumpai kegagalan memasukkan kateter, tidak ada perbedaan bermakna adanya darah pada kateter, tidak ada perbedaan bermakna pada ketidaknyamanan prosedur dan ada perbedaan bermakna terjadinya refluks.

4. Keberhasilan inseminasi berdasarkan jenis kateter kaku dan fleksibel yang digunakan didapatkan tidak ada perbedaan bermakna secara statistika, berdasarkan adanya darah di kateter didapatkan tidak adanya perbedaan bermakna secara statistika dan berdasarkan adanya refluks didapatkan tidak ada perbedaan bermakna secara statistika.

(69)

5.2 Saran

(70)

DAFTAR PUSTAKA

1. Stephen, E.H. and A. Chandra. Hse of infertility services in the United States. Family Planning Perspective, l32: 132-137:2000

2. Abou Setta AM, Al Inany HG, Mansour RT, Serour GI, Aboulghar MA. Soft versus firm embryo transfer catheters for assisted reproduction: a systematic review and meta-analysis.Human Reproduction 2005;20(11):3114–21.

3. Voorhis, V., A.F. Sparks and B.D. Allen. Cost effectiveness of infertility treatment. Fertile. Steril., 67: 830-860. ISBN: 1749-6632; 1997.

4. Abdelkader, A.M. and J. Yen. The potential use of intrauterine insemination as a basic option for infertility. Rev. Technol. Int. 11: 609-622; 2009.

5. Andersen, A.N., V. Goossens and A.P. Ferraritti,. Assisted reproductive technology in Europe hum. Report, 23: 756-771. 2008.

6. Pandian Z, Bhattacharya S, Vale L, Templeton A. In vitro fertilisation for unexplained subfertility. Cochrane Database of Systematic Reviews 2005, Issue 2.

7. Steures P, van der Steeg JW, Hompes PG, Habbema JD, et al. Intrauterine insemination with controlled ovarian hyperstimulation versus expectant management for couples with unexplained subfertility and an intermediate prognosis: a randomised clinical trial. Lancet:2006;368:216–221.

(71)

9. Karen L, Smith, R. Daniel.Does Catheter Type Effect Pregnancy Rate in Intrauterine Insemination Cycles?:Journal of Assisted Reproduction and Genetics, Vol. 19, No. 2, February 2002.

10. Kamil.N, Mohammed B.Efficacy of Intra Uterine Insemination in the Treatment of Infertility:American Medical Journal 2 (1): 47-50, 2011.

11. Cohen MR. Intrauterine insemination.Int J Fertil 1962;7:235–240.

12. Zegers-Hochschild F, Nygren KG, Adamson GD, et al.On behalf of The International Committee Monitoring Assisted Reproductive Technologies. The ICMART glossary on ART terminology.Hum Reprod 2006a;21:1968–1970. 13. Andersen AN, Gianaroli L, Felberbaum R, et al. Assisted reproductive

technology in Europe, 2001. Results generated from European registers by ESHRE. Hum Reprod2005;20:1158–1176.

14. Bensdorp AJ, Cohlen BJ, Heineman MJ,et al. Intra Uterine Insemination for male subfertility. Cochrane Database Syst Rev;2007.

15. Andersen AN, Gianaroli L, Felberbaum R, de Mouzon J, Nygren KG.Assisted reproductive technology in Europe, 2001. Results generatedfrom European registers by ESHRE. Hum Reprod2005;20:1158–1176.

16. ESHRE Capri Workshop Group. Intrauterine Insemination. Human Reproduction Update, Vol.15, No.3 pp. 265–277, 2009.

(72)

18. Aboubakr M.Insemination intrauterine:Middle East Fertility Society Journal;Vol. 9, No. 2, 2004.

19. Boomsma, C.M., M.J. Heineman and B.J. Cohlen. Semen preparation techniques for intrauterine insemination. Cochrane Database Syst. Rev. nm7: 1223-1235; 2007.

20. Van Voorhis BJ, Barnett MR, Sparks AE, et al. Effect of the total motile sperm count on the efficacy and cost effectiveness of intrauterine insemination andin vitro fertilization. Fertil Steril2001;75:661–668.

21. Duran HE, Morshedi M, Kruger T, Oehninger S. Intrauterine insemination: a systematic review on determinants of success. Human Reproduction Update 2002;8(4):373–84.

22. Van Weering HGI, Schats R, McDonnell J, et al. The impact of the embryo transfer catheter on the pregnancy rate in IVF. Hum Reprod 17,666–670; 2002.

23. McDonald JA and Norman RJ. A randomized controlled trial of a soft double lumen embryo transfer catheter versus a firm single lumen catheter: significant improvements in pregnancy rates. Hum Reprod: 2002;17,1502– 1506.

24. Lavie O, Margalioth EJ, Geva-Eldar T, et al. Ultrasonographic endometrial changes after intrauterine insemination: Technical aspects of intrauterine insemination catheters :The Cochrane Collaboration. parison of two catheters. Fertility and Sterility 1997;68:731–4.

(73)

26. Miller PB, Acres ML, Proctor JG, et al. Flexible versus rigid intrauterine insemination catheters: a prospective, randomised, controlled study. Fertil Steril 83,1544–1546; 2005.

27. Ragni G, Alagna F, Brigante C et al. GnRH antagonists and mild ovarian stimulation for intrauterine insemination: a randomized study comparing different gonado-trophin dosages. Hum Reprod 19,54–58. 2004.

28. Fancovits et al, Catheter type does not effect the outcome of intrauterine insemination treatment: prospective randomized study. Fertil Steril 83,699-704: 2005.

29. Cantineau AEP, Heineman MJ, Cohlen BJ. Single versus double intrauterine insemination (IUI) in stimulated cycles for subfertile couples. Cochrane Database Syst Rev 2003.

30. WHO.Examination and processing of human semen, WHO laboratory manual 5th

31. “Intrauterine Insemination.” In Vitro Fertilization IVF,Web.21 Mar 2011.

edition:164-165; 2010.

32. Reproductive Medicine and Infertility Associates, “Intrauterine Insemination Section”: 3-5; 2010.

insemination .html&gt.

33. Farimani M, Amiri I. Analysis of Prognostic Factors for Successful Outcome in Patients Undergoing Intrauterine Insemination. Acta Medica Iranica, Vol. 45, No. 2:2007.

(74)

35. Schoolcraft WB, Surrey ES and Gardner DK. Embryo transfer: techniques and variabels affecting success. Fertil. Steril 76,863–870:2001.

(75)
(76)

LAMPIRAN 2: Analisa Statistika

Usia (kateter Tomcat & Wallace)

Statistics

umur ibu tomcat

N Valid 30

Missing 0

Mean 32.53

Std. Deviation 3.972

Durasi Infertilitas (Tomcat& Wallace )

Statistics

durasi infertilitas tomcat

N Valid 30

Missing 0

Mean 4.12

Std. Deviation 2.586

Infertilitas(Tomcat& Wallace )

infertilitas tomcat

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Primer 24 80.0 80.0 80.0

Std. Deviation 4.521

Statistics

durasi infertilitas Wallace

N Valid 30

Missing 0

Mean 4.26

Gambar

Gambar 1. Siklus Inseminasi Intrauteri di Eropa
Gambar 2. Prosedur Inseminasi Intrauteri31
Tabel 4.1 Karakteristik Wanita Yang Melakukan Inseminasi Intrauteri
Tabel 4.3 Faktor Penyulit  Yang Dijumpai Pada Saat Pelaksanaan IIU
+3

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, feromon seks berpeluang untuk dikembangkan pada areal yang lebih luas, terutama pada sentra produksi bawang merah dan endemis serangan hama ulat

Therefore, the percentage of the color intensity average of the Red channel on beef image can be used as the feature to identify the fresh and defective beef. F UTURE

Tari Andun, dari Bengkulu Selatan ini merupakan sebuah tarian guna menyambut para tamu yang dihormati5.

'Just gone away.' 'Dead of shame,' said Satthralope.. The Doctor, slipping in beside her: 'If they were dead, the House would have replaced them.' 'You are dead,' she said,

a/a! 1 *ari per!obaan diatas, untuk reaksi kulit yang menggunakan air panas, rasa yang terpadat adalah di bagian punggung tangan dan lengan baah. Dntuk reaksi kulit

Maka dari itu peneliti ingin mengkaji lebih dalam pengaruh diberikannya pelatihan berpikir positif pada santri PPTQ Nurul Furqon yang berstatus mahasiswa dalam meningkatkan efikasi

Upaya Menghindar dari penyekatan dan lebih memilih penyatuan dua kutub itu bisa disebut sebagai langkah awal untuk membagun kembali konsep fikih moderat, fikih yang bukan hanya

Pada peristiwa di atas, pada saat pelarutan, terjadi kenaikan suhu, hal tersebut berarti suhu sistem lebih tinggi dari suhu lingkungan dan akan terjadi proses perpindahan kalor