• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan antara Persepsi Jenis Pola Asuh Orang Tua Terhadap Risiko Perilaku Bullying Siswa di SMA Triguna Utama Ciputat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hubungan antara Persepsi Jenis Pola Asuh Orang Tua Terhadap Risiko Perilaku Bullying Siswa di SMA Triguna Utama Ciputat"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)

Risiko Perilaku Bullying Siswa di SMA Triguna Utama Ciputat

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)

oleh :

Ari Nur Husaini

109104000010

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

ii

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 Keperawatan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas islam negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari hasil karya orang lain, maka saya bersedia menenrima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Juli 2013

(3)

iii

Skripsi dengan Judul :

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI JENIS POLA ASUH ORANG

TUA TERHADAP RISIKO PERILAKU BULLYING SISWA DI

SMA TRIGUNA UTAMA CIPUTAT

Telah disetujui dan diperiksa oleh pembimbing skripsi

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Disusun Oleh ;

Ari Nur Husaini NIM : 109104000010

Pembimbing I Pembimbing II

Ns. Eni Nur’aini Agustini, S.Kep, Msc Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB NIP: 198008022006042001 NIP : 197311061005012003

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(4)

iv

Skripsi dengan judul

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI JENIS POLA ASUH ORANG

TUA TERHADAP RISIKO PERILAKU BULLYING SISWA DI

SMA TRIGUNA UTAMA CIPUTAT

Telah disetuji dan dipertahankan dihadapan penguji oleh :

Ari Nur Husaini

109104000010

Pembimbing I Pembimbing II

Ns. Eni Nur’aini Agustini, S.Kep, MSc Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB NIP. 198008022006042001 NIP . 197311061005012003

Penguji I Penguji II

Yenita Agus, M.Kep, Sp.Mat, Ph.D Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB NIP. 197206082006042001 NIP . 197311061005012003

Penguji III

(5)

v

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Ciputat, Juli 2013

Mengetahui,

Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Ns. Waras Budi Utomo, S.Kep, MKM NIP. 19790520 200901 1012

Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

(6)

vi

Nama : Ari Nur Husaini

Tempat, Tgl lahir : Sumedang, 14 mei 1991

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Alamat : Dusun Kaum no. 25 RT 03 RW 04 Desa Jatisari, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Kode pos : 45362

Hp : 085216041866

Email : [email protected]

Riwayat Pendidikan :

1. TK CutNyak Dhien Tanjungsari (1996-1997)

2. SDN Tanjungsari 2 (1997-2003)

3. MtsN Ciwaringin Cirebon (2003-2006)

4. MAN Model Ciwaringin Cirebon (2006-2009)

(7)

vii

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Skripsi, Juni 2013

Ari Nur Husaini, NIM: 109104000010

Hubungan antara Persepsi Jenis Pola Asuh Orang Tua Terhadap Risiko Perilaku Bullying Siswa di SMA Triguna Utama Ciputat

Xii + 85 halaman + 8 tabel + 2 bagan + 8 lampiran

ABSTRAK

Salah satu kenakalan remaja yang sering terjadi adalah perilaku bullying.

Bullying adalah penindasan terhadap seseorang yang lebih kuat kepada yang lebih lemah, dan dilakukan berulang kali baik oleh individu atau kelompok. Bullying

memiliki dampak yang buruk, sehingga harus dikurangi kejadiannya. Salah satu yang menyebabkan bullying adalah pola asuh orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku

bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat.

Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan desain deskirptif korelatif dan teknik sampling stratified random sampling. Jumlah sampel yang digunakan adalah 71. Penelitian dilakukan pada Juni 2013. Pengumpulan data menggunakan data demografi, kuesioner persepsi jenis pola asuh orang tua dan risiko perilaku bullying. Hasil uji instrumen penelitian didapatkan hasil reliabilitas sebesar 0,913 untuk persepsi pola asuh dan 0,915 untuk risiko perilaku bullying.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden 43,7 % memiliki persepsi pola asuh demokratis dan memiliki risiko perilaku bullying rendah sebesar 77,8 %. Hasil uji statistik menggunakan uji Lambda dengan α=0,05 diperoleh hasil

bahwa ada hubungan yang signifikan antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat (p value=0,000) dengan nilai r= 0,583. Berdasarkan penelitian ini, sekolah bersama orang tua siswa diharapakan dapat lebih memperhatikan bullying, dan tidak menganggap bullying sebagai hal yang biasa terjadi di sekolah, dan dapat juga melakukan kerja sama dengan bidang keperawatan untuk pencegahan sampai penanggulangan bullying seperti, penyuluhan tentang problem solving, manajemen marah, atau penyuluhan bullying beserta dampak dan cara menanganinya.

Kata kunci: Persepsi jenis pola asuh, Perilaku bullying, remaja.

(8)

viii SCHOOL OF NURSING

ISLAMIC STATE UNIVERSITY (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Undergraduates Thesis, Juny 2013

Ari Nur Husaini, NIM: 109104000010

The Correlation between Student’s Perceptions of Parenting Types with Bullying Behavior among study in SMA Trigua Utama Ciputat

Xii + pages + 8 tables + 2 charts + 8 attachments

One of adolescent mischief that often happens is bullying behavior. Bullying is oppression against someone stronger to weaker, and done repeatedly either by individuals or groups. Bullying has a bad impact, so it must be reduced. One of the causes of bullying are parenting types. So the purpose of study is This study aimed to examine the relationship between perceptions of patterns in parenting on the risk bullying behavior of students in SMA Triguna Utama Ciputat.

The type of this study is quantitative with descriptive correlative design by use stratified random sampling technique among 71 student. The study was conducted in June 2013. Collecting data using demographic data, the questionnaire of perception in parenting patterns and the risk of bullying behavior. The questionnaire

of student’s perception of parenting types and the risk of bullying behavior

conducted in this study

The reliability test showed 0.913 on the student perception questionnaire and 0,915 on risk of bullying behavior questionnaire. The results showed that the majority of respondents (43.7%) have a democratic parenting types and 77,8% of the responden have low risk bullying behavior. Results of statistical tests using Lambda

test with α = 0.05 obtained results that there is the significant relationship between the perception of patterns of parenting on risk behavior in high school students bullying Main Triguna Chester (p value = 0.000) r = 0.583. Based on this study, both of parents and teacher are expected to pay more attention to bullying, and do not consider bullying as a common problem in schools. More over the conclusion of this study for nursing have show the need of bullying prevention such as health education about problem solving, anger management , counseling and the bullying management.

Keywords: adolescent, bullying behavior, parenting types.

(9)

ix

berkah dan rahmatnya peneliti dapat menyelesaikan penelitian ini. Sholawat dan

salam senantiasa terlimpahkan kepada nabi akhir jaman Sayyidina wa Maulana

Muhammad SAW, karena perantara beliaulah kita selaku umatnya saat ini dapat

mengetahui yang mana hak dan bathil. Berkat kuasa dan kehendak Allah SWT,

penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan judul : Hubungan Antara Persepsi

Jenis Pola Asuh Orang Tua Terhadap Risiko Perilaku Bullying Siswa di SMA

Triguna Utama Ciputat

Dalam menyelesaikan penelitian ini peneliti menemukan cukup banyak

hambatan dan kesulitan. Sehingga dalam penelitian ini peneliti mendapatkan bantuan

dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga penelitian

dapat terselesaikan.

Maka dari itu sudah sepatutnya peneliti mengucapkan terima kasih dan

penghargaan yang sedalam-dalamnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr (Hc). dr. M.K. Tajudin, Sp.And dan Drs. H. Achmad Gholib,

MA, selaku Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Waras Budi Utomo, S.Kep.,Ners.,MKM selaku Ketua Program Studi

Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas

(10)

x

waktu dan pemikiran demi terselesaikanya penelitian ini.

4. Ibu Ernawati S.Kep.,M.Kep, S.KMB sebagai dosen pembimbing 2 saya yang

tidak kenal lelah memberikan waktu luang dan masukan-masukan yang

berharga demi terselesaikanya penelitian ini.

5. Ibu Ita Yuanita, S,Kp, M.Kep sebagai dosen pembimbing akademik yang

selalu memberikan pengarahan dan motivasi untuk lebih baik dari sejak

semester 1.

6. Segenap bapak dan ibu dosen di Program studi ilmu keperawatan yang telah

mendidik dan memberikan ilmu yang berharga kepada saya.

7. Segenap staf dan karyawan fakultas dan jurusan yang banyak membantu

dalam bidang administrasi.

8. Ibu Dwi Rini Listiowati S.Pd selaku guru bp SMA Triguna Utama Ciputat

yang cukup banyak membantu peneliti di lapangan.

9. Seluruh teman – teman psik 2009 yang telah berjuang bersama-sama dalam

suka dan duka.

10.Ucapan Terima kasih dan bangga kepada ayahanda H.Isyam Basri dan Ibunda

tercinta Hj. Juju Julihati. Yang selalu memberikan doa dan dukungan baik

psikis maupun materil, serta didikan dan nasehatnya yang selalu peneliti ingat.

11.Kakak saya Hj.Ane handayani dan suami, Aziz Heikal dan Istri, Serta kedua

(11)

xi

LEMBAR PERNYATAAN ... i

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

RIWAYAT HIDUP ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

RIWAYAT HIDUP ... xvii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 7

C. Pertanyaan Penelitian ... 8

D. Tujuan Penelitian... 8

E. Manfaat Penelitian ... 9

F. Ruang Lingkup Penelitian ... 9

(12)

xii

4. Tugas Perkembangan Remaja ... 17

5. Kenakalan Remaja ... 18

B. Persepsi 1. Pengertian persepsi ... 19

2. Jenis-jenis perspsi ... 20

3. Syarat terjadinya persepsi ... 21

4. Proses terjadinya persepsi……… ... 21

C. Pola Asuh orang tua 1. Pengertian Pola Asuh orang tua ………. .. 22

2. Jenis Pola Asuh Orang tua………... .. 24

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pola Asuh Orang Tua………...29

D. Bullying 1. Definisi Perilaku Bullying ... 30

2. Bentuk-bentuk Bullying ... 31

3. Faktor-faktor penyebab terjadi Bullying ... 33

4. Peran-peran dalam Perilaku Bullying ... 37

5. Dampak Bullying ... 37

6. Penanggulangan Bullying ... 39

E. Kerangka Teori ... 41

(13)

xiii BAB IV METODELOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian ... 46

B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 46

1. Populasi ... 46

2. Sampel ... 46

a. Kriteria Inklusi ... 47

C. Waktu dan Tempat Penelitian ... 48

D. Instrumen Penelitian ... 48

1. Data Demografi ... 49

2. Kuisioner Pola Asuh Orang Tua ... 50

3 Kuisioner Risiko Perilaku Bullying ... 51

E. Uji Validitas dan Reabilitas Instrumen ... 52

F. Tahapan Penelitian ... 54

G. Pengolahan data... 55

1. Data Coding ... 55

2. Data Editing ... 55

3. Data Structure ... 55

4. Data Entry ... 56

5. Data Cleaning ... 56

H. Analisa Data ... 56

1. Analisa Univariat ... 56

(14)

xiv

A. Gambaran umum SMA Triguna Utama Ciputat ... 60

B. Analisa Univariat ... 60

1. Gambaran Demografi Responden ... 61

a. Jenis Kelamin ... 61

b. Kelas ... 61

2. Persepsi pola asuh orang tua ... 62

3. Gambaran Risiko Perilaku Bullying Siswa ... 63

4. Analisa Bivariat ... 63

BAB VI PEMBAHASAN A. Analisa Univariat ... 66

1. Gambaran persepsi jenis pola asuh orang tua siswa di SMA Triguna Utama Ciputat ………...66

2. Gambaran risiko perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat……….. 70

B. Analisa Bivariat………... 73

C. Ketrbatasa Peneliti……….. 77

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan………. 78

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Definisi Operasional……….. 45

Table 4.2 Distribusi Pernyataan kuisioner Pola Asuh Orang Tua………. 54

Table 4.3 Distribusi Pernyataan Kuisioner Risiko Perilaku Bullying……… 55

Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin……… 65

[image:15.612.114.552.39.441.2]

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelas ………. 66

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Persepsi Jenis Pola Asuh Orang Tua ……… 67

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Risiko Perilaku Bullying siswa ……… 68

(16)

xvi

[image:16.612.116.551.40.466.2]

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Teori………... 42

(17)

xvii

1. Lampiran 1 Lembar Persetujuan Responden

2. Lampiran 2 Data Diri Responden

3. Lampiran 3 Kuisioner Penelitian

4 . Lampiran 4 Hasil Uji Validitas

5. Lampran 5 Hasil Penelitian

6. Lampiran 6 Surat Ijin Uji Validitas

7. Lampiran 7 Surat Ijin Penelitian

(18)

xviii

Nama : Ari Nur Husaini

Tempat, Tgl lahir : Sumedang, 14 mei 1991

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Alamat : Dusun Kaum no. 25 RT 03 RW 04 Desa Jatisari, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Kode pos : 45362

Hp : 085216041866

Email : [email protected]

Riwayat Pendidikan :

1. TK Cut Nyak Dhien Tanjungsari (1996-1997)

2. SDN Tanjungsari 2 (1997-2003)

3. MtsN Ciwaringin Cirebon (2003-2006)

4. MAN Model Ciwaringin Cirebon (2006-2009)

(19)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk yang tumbuh dan berkembang, dan salah satu

tahap dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia yaitu masa remaja.

Masa remaja adalah masa dimana terjadi transisi dari masa anak-anak menuju

masa dewasa, yang mencangkup perubahan baik secara biologis, kognitif, dan

sosio-emosional (Santrock, 2007). Kata remaja yang dalam bahasa inggris

adolescence berasal dari kata latin adolescere yang berarti tumbuh atau

tumbuh menjadi dewasa (Hurlock, 2012). Sedangkan batasan usia untuk

remaja adalah 12 – 24 (World Health Organization, 2007 dalam Efendi dan

Mahfudhi, 2009).

Pada remaja terjadi perubahan biologis, hal ini berkaitan dengan anatomi

dan fisiologi, dimana dipengaruhi dari fungsi kelenjar hipofisis yang

mengelurakan hormon, seperti hormon genotrop yang mempercepat fungsi

kematangan sel telur dan sperma, serta mempengaruhi hormon

adrenokortikotropik yang berfungsi mempengaruhi kelenjar suprenalis,

testosteron, estrogen, yang mempengaruhi pertumbuhan anak sehingga terjadi

percepatan pertumbuhan (Monks dan Knoers, 2004). Perubahan fisik ini dapat

dilihat pada pertumbuhan tubuh (badan menjadi makin panjang dan tinggi),

mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan

(20)

Perkembangan kognitif atau biasa juga disebut perkembangan intelek

adalah suatu kemampuan untuk melakukan abstraksi, serta berpikir logis dan

cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru

(Ali, 2010). Menurut Santrock (2007), contoh dari perubahan kognitif adalah

remaja dapat mengingat sebuah puisi, mengerjakan soal matematika,

membayangkan bagaimana menjadi orang terkenal. Maka perkembangan

kognitif ini dapat dikatakan sebagai perubahan pemikiran dan intelegensi

individu.

Perkembangan selanjutnya adalah perkembangan sosio-emosial. Emosi

individu biasanya tampak jelas pada perubahan tingkah lakunya. Remaja

biasanya memiliki kondisi emosi yang berkobar-kobar, energi yang besar,

sedangkan pengendalian diri belum sempurna, sehingga sering mengalami

perasaan yang tidak aman, tidak tenang, dan khawatir kesepian (Ali, 2010).

Sehingga dapat dikatakan bahwa emosi remaja masih labil.

Perubahan emosi berkaitan dengan perubahan sosial. Ada dua perubahan

sosial yang terjadi, pertama remaja akan lebih dekat dengan teman sebayanya

dan memisahkan diri dari orang tua dengan maksud menemukan jati diri,

remaja membentuk kelompok dan mengekspresikan segala potensi yang

dimiliki sehingga hal ini membuat remaja sangat rentan terhadap pengaruh

teman sebaya dalam hal sikap, penampilan, dan perilaku. Perubahan sosial

yang kedua adalah remaja mulai menyukai lawan jenis (Monks dan Knoers,

2004). Pada masa ini remaja cenderung ingin mencoba hal – hal baru, baik hal positif maupun negatif, hal negatif yang dicoba salah satunya adalah

(21)

Menurut Santrock (2007), menjelaskan bahwa Kenakalan remaja

merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima

secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal. Sedangkan pendapat lain

menyebutkan kenakalan remaja adalah perbuatan yang dilakukan oleh anak

remaja yang bersifat melawan hukum, anti sosial, anti susila, dan menyalahi

norma-norma agama (Sudarsono, 2012).

Selama beberapa tahun terakhir masalah kenakalan remaja menjadi

masalah pokok bagi masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di

kota-kota besar, selain kejadianya terus meningkat, kualitas kenakalanya juga

cenderung meningkat, data kriminalitas dari MABES Polri menunjukan

bahwa selama tahun 2007, tercatat sekitar 3100 orang pelaku tindak pidana

adalah remaja berusia 19 tahun atau kurang, jumlah tersebut pada tahun 2008

dan 2009 masing-masing meningkat mejadi sekitar 3300 remaja dan 4200

remaja (Badan Pusat Statistik, 2010).

Dilihat dari barbagai kenakalan remaja di sekolah, salah satu yang sering

terjadi adalah perilaku bulying, perilaku bullying sendiri adalah tindakan

negatif yang dilakukan seseorang atau lebih, yang dilakukan berulang – ulang dan terjadi dari waktu ke waktu (Olweus, 1993 dalam Hazalden Foundation,

2007). Bullying memiliki arti yang berbeda-beda di setiap negara, tapi pada

umumnya kasus bullying sering terjadi antara senior kepada juniornya.

Sedangkan definisi kata kerja “to bully” dalam Oxford Advanced Learner’s

Dictionaryadalah tindakan yang menimbulkan rasa sakit atau menyakiti orang

(22)

Dalam kenyataan sehari-hari bullying dapat terjadi dalam bentuk

penyiksaan atau pelecehan secara fisik, verbal maupun psikologis. Contoh

bullying fisik adalah menampar, menimpuk, dan menginjak kaki. Contoh

bullying non fisik adalah memaki, dan menghina. Contoh bullying psikologis

adalah memandang sinis, dan mempermalukan (Yayasan Sejiwa, 2008).

Perilaku ini pada kalangan remaja di sekolah dapat dikatakan sebagai

fenomena gunung es, karena kasus-kasus hanya sedikit yang terangkat

kepermukaan dan itu juga apabila terdapat kasus yang besar yang dilaporkan,

namun pada kenyataanya perilaku ini sudah sangat melekat di dunia

pendidikan di Indonesia. Penyebab kasus bullying sedikit yang terangkat ke

permukaan adalah sekolah cenderung menutupi kasus bullying seperti

senioritas sebab jika diketahui publik, mereka khawatir sekolahnya akan

mendapat reputasi buruk (Astuti, 2008).

Bullying seringkali dianggap masalah yang sepele, padahal ini merupakan

masalah yang cukup serius bagi siswa di Indonesia. Sebuah survei yang

dilakukan oleh organisasi Plan Indonesia (2008) yang dilakukan di empat kota

besar yakni Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Bogor terhadap 1500 siswa

SMA dan 75 guru, hasilnya 67,9 persen menganggap terjadi kekerasan di

sekolah berupa kekerasan verbal, psikologis, dan fisik, pelaku kekerasan

umumnya teman, kakak kelas, adik kelas, guru, dan siswa yang menjadi

preman di sekolah (kompas.com). Data lain yang tercatat oleh Yayasan Sejiwa

(2008), hasil survei yang dilakukan pada workshop antibullying (2006) pada

sekitar 250 peserta, 94,9% peserta yang hadir menyatakan bahwa memang

(23)

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya bullying antara lain faktor

keluarga, teman sebaya, dan pengaruh media (Quiroz dkk, 2006). Sedangkan

menurut pendapat lain menyebutkan ada 7 faktor penyebab terjadinya bullying

yaitu perbedaan kelas, tradisi senioritas, senioritas, keluarga yang tidak rukun,

situasi sekolah yang tidak harmonis, karakter individu/kelompok, dan

persepsi/nilai yang salah atas perilaku korban (Astuti, 2008)

Terdapat faktor keluarga, keluarga merupakan sekolah pertama anak,

dimana anak mulai mempelajari semuanya dari mulai keluarga yang ada di

rumah dan pada akhirnya akan menjadi nilai dan perilaku yang dia anut ( hasil

imitasi). Maka dari itu pola asuh penting kaitanya sebagai hal yang

mempengaruhi perilaku anak, sehingga dapat dikatakan pola asuh orang tua di

rumah dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan perilaku bullying.

Selain itu, tipe orang tua di rumah yang suka memaki, membandingkan,

melakukan kekerasan fisik maka anakpun akan menganggap benar bahasa

kekerasan (Haryana, 2004 dalam Yayasan Sejiwa, 2008). Jadi jelas bullying

itu dapat mulai tertanam sejak anak masih berusia dini sehingga harus ada

upaya yang maksimal untuk mencegah “benih” tersebut tumbuh berkembang

dirumah, yang kemudian akan berlanjut ke sekolah. (Priyatna, 2010).

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Maghfiroh & Rahmawati (2009),

yang dilakukan pada 73 siswa/siswi di Bantul Yogyakarta, mendapatkan hasil

ada hubungan negatif antara iklim sekolah dengan kecenderungan perilaku

bullying. semakin negatif iklim suatu sekolah makin tinggi kecenderungan

perilaku bullying. Sebaliknya semakin positif iklim sekolah maka semakin

(24)

memberi sumbangan sebesar 21% terhadap kecenderungan perilaku bullying.

Atas dasar tersebut peneliti ini menyarankan untuk penelitian berikutnya

tentang kecenderungan perilaku bullying dilakukan dengan faktor-faktor

lainya seperti pola asuh orang tua, pengaruh teman sebaya dan sebagainya.

Peneltitian lainya yang dilakukan oleh Kismartani (2010) menunjukan

bahwa secara umum masyarakat mengidentifikasi pola asuh keluarga sebagai

faktor yang paling mempengaruhi perilaku bullying. Pola asuh keluarga disini

adalah bagaimana pola asuh orang tua terhadap anaknya di rumah.

Dampak bullying sendiri akan terjadi dalam jangka waktu lama dan

cenderung terbawa sampai dewasa. Bullying menyebabkan seorang anak yang

menjadi korban akan terhambat dalam aktualisasi diri. Bullying tidak memberi

rasa aman dan nyaman, sehingga akan membuat para korban takut dan

terintimidasi, rendah diri, serta tidak merasa berharga, sulit berkonsentrasi

dalam belajar, tidak bergerak untuk bersosialisasi dengan lingkungan, tidak

ingin sekolah, pribadi yang tidak percaya diri dan sulit berkomunikasi, akan

menyebabkan prestasi belajarnya merosot, mungkin pula para korban bullying

akan kehilangan rasa percaya diri kepada lingkungan yang banyak menyakiti

dirinya (Yayasan Sejiwa, 2008). Selain itu pula kegagalan dalam mengatasi

bullying akan menyebabkan tindakan agresi yang lebih jauh (Pearce dan Eliot

2002, dalam Astuti, 2008). Jadi penting untuk menangani bullying agar dapat

mencegah dampak buruk yang di timbulkanya.

Melihat pemaparan di atas peneliti merasa tertarik untuk meneliti

hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku

(25)

bagaimana anak mempersepsikan tentang pola asuh yang orang tua terapkan

padanya. SMA Triguna Utama di pilih karena jaraknya dekat dengan tempat

tinggal peneliti, sehingga diharapkan akan memudahkan dalam penelitianya

dan menghemat biaya. SMA ini tergolong sekolah yang cukup besar, dan

berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti lakukan dalam hal ini wawancara

terhadap guru BP dan 10 orang siswanya didapatkan bahwa terdapat kejadian

bullying di sekolahnya seperti bullying fisik, verbal, dan psikologis.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan :

1. Hasil survei yang dilakukan Yayasan Sejiwa terhadap sekitar 250 orang

peserta workshop antibullying 2006, menunjukan 94,9% peserta

menyatakan terjadi bullying di sekolah – sekolah di Indonesia. Dan dalam survei yang dilakukan oleh Organisasi kemanusian Plan Indonesia (2008)

di empat kota besar di Indonesia pada 1500 siswa dan 75 guru, menunjukan

bahwa 67,9% menganggap terjadi bullying di sekolah.

2. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya bullying adalah keluarga,

teman sebaya dan pengaruh media.( Quiroz dkk, 2006)

3. Penelitian yang dilakukan oleh Kusmartani (2010) menunjukan bahwa

faktor pola asuh keluarga adalah yang paling mempengaruhi perilaku

bullying.

4. Studi pendahuluan yang dilakukan dengan cara wawancara terhadap guru

BP dan 10 orang siswa SMA Triguna Utama Ciputat menyatakan bahwa di

sekolahnya terjadi perilaku bullying, meliputi bullying fisik, verbal, dan

(26)

Maka peneliti merumuskan masalah peneltian sebagai berikut, apakah ada

hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku

bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat?

C. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran siswa di SMA Triguna Utama Ciputat ?

2. Bagaimana persepsi jenis pola asuh orang tua siswa di SMA Triguna Utama

Ciputat ?

3. Bagaiman tingkat risiko perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama

Ciputat ?

4. Bagaimana hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap resiko

perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat ?

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara

persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku bullying siswa di

SMA Triguna Utama Ciputat.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi gambaran demografi siswa di SMA Triguna Utama Ciputat.

b. Mengidentifikasi persepsi jenis pola asuh orang tua siswa di SMA Triguna

Utama Ciputat.

c. Mengidentifikasi tingkat risiko Perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama

Ciputat.

d. Mengidentifikasi hubungan antara jenis pola asuh orang tua terhadap risiko

(27)

E. Manfaat Penelitian

1. Ilmu Keperawatan

Penelitian ini dapat menjadi referensi dalam penelitian yang akan datang serta

dapat menambah wawasan dalam bidang ilmu keperawatan jiwa, anak, maupun

keluarga. Serta diharapkan dapat menambah teori yang sudah ada mengenai

bagaimana persepsi pola asuh orang tua terhada risiko perilaku bullying.

2. SMA Triguna Utama

Dapat mencegah atau mengurangi sedini mungkin dampak buruk dari bullying

ketika sudah mengetahui data tentang bullying maupun bagaimana persepsi

pola asuh orang tua yang dapat mempengaruhi perilaku tersebut, sehingga

dapat memaksimalkan potensi siswa maupun siswi di SMA Triguna Utama

Ciputat. Bagi BP juga dapat mempunyai data bagaimana tingkat risiko perilaku

bullying di sekolah sehingga dapat meminimalisirnya.

3. Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam konteks

keilmuan dan metodologi penelitian yang baik dan benar, serta memberikan

pengalaman yang berharga sebagai peneliti pemula. Hasil dari penelitian ini

juga dapat digunakan untuk penelitian yang akan datang.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Jenis dari penelitian ini adalah kuantitatif, dengan menggunakan desain

deskriptif korelatif. Penelitian ini dilakukan di SMA Triguna Utama Ciputat

yang melibatkan kelas X, XI IPA, dan XI IPS. Penelitian ini dilakukan untuk

melihat apakah ada hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua

(28)

10

TINJAUAN PUSTAKA

A. Remaja

1. Pengertian Remaja

Masa remaja adalah salah satu tahap perkembangan manusia, kata remaja

(adolescence) berasal dari bahasa latin yaitu “adolescare” yang artinya

tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Remaja merupakan suatu masa peralihan

dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang dimulai dengan adanya

kematangan seksual yaitu antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun

atau menjelang dewasa muda (Soetjiningsih, 2004). Sedangkan menurut

Nototatmojdo (2007) menjelaskan sebagian besar masyarakat sesuai budayanya

mengkategorikan remaja pada usia awal 10-13 tahun dan berakhir pada usia

18-22 tahun. Menurut Wong, dkk (2009) remaja adalah bila seorang anak telah

mencapai umur 10-20 tahun.

Berikut beberapa definisi remaja lainya :

a. Menurut UU No.1 tahun 1979 tentang kesejehteraan anak, remaja adalah

yang belum mencapai usia 21 tahun dan belum menikah.

b. Menurut UU perburuhan tahun 1997, anak dianggap remaja apabila

mencapai usia 15-18 tahun.

c. Menurut UU perkawinan No.1 tahun 1979, seorang anak dianggap remaja

apabila sudah cukup matang, usia 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun

(29)

Jadi dari beberapa pengertian remaja di atas dapat disimpulkan bahwa

remaja adalah salah satu tahap perkembangan manusia, berupa masa

peralihan dari anak-anak menjadi dewasa dimulai pada usia 10 – 22 tahun dan

belum menikah.

2. Tahap Perkembangan Remaja

Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada tiga tahap

perkembangan remaja, yaitu :

a. Remaja awal (early adolescence)

Remaja awal ini masih terheran – heran akan perubahan yang terjadi pada dirinya dan dorongan–dorongan yang menyertai perubahan–perubahan

itu. Dan pada saat ini mereka mulai menyukai lawan jenis dan menjadi lebih

mudah terangsang. Mereka memiliki kepekaan yang berlebihan terhadap

lawan jenis.

b. Remaja madya (middle adolescence)

Remaja pada tahapan ini membutuhkan banyak teman-teman sehingga

mereka akan merasa senang apabila punya banyak teman dan diterima oleh

teman-temanya, selain itu remaja ini mempunyai kecenderungan narsistik,

yaitu menyukai diri sendiri dan orang-orang yang sama dengan dirinya. Pada

masa ini terjadi kebingungan seperti memilih yang mana yang peka atau

tidak peduli, optimis atau pesimis, idealis atau materialis, dan sebagainya,

remaja pria juga sudah harus membebaskan dari oedispus complex (perasaan

cinta pada ibu sendiri seperti pada masa anak-anak) dengan cara mempererat

(30)

c..Reamaja akhir ( late adolescence)

Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa yaitu ditandai

dengan pencapaian lima hal, yaitu :

1) Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek

2) Egonya untuk mencari kesempatan bersatu dengan orang lain dan

dalam pengalaman-pengalaman baru.

3) Terbentuknya identitas seksual yang tidak akan berubah lagi

4) Egosentrisme (memusatkan perhatian pada diri sendiri) menjadi

kesimbangan antara kepentingan sendiri dan orang lain

5) Tumbuhnya “dinding” yang menjadi pemisah diri pribadinya dan

masyarakat umum (Sarwono, 2012).

3. Pertumbuhan dan perkembangan pada remaja

Masa remaja mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cepat,

pertumbuhan dan perkembangan itu adalah biologis, kognitif, dan

sosio-emosional (Santrock, 2007).

a. Pertumbuhan biologis

Pertumbuhan adalah suatu proses perubahan fisiologis yang

bersifat progresif dan kontinu dan berlangsung dalam periode tertentu.

Pertumbuhan ini bersifat kuantitatif dan berkisar hanya pada aspek fisik

individu (Ali, 2010). Perubahan yang pesat di masa remaja juga biasa

disebut dengan masa puberitas. Puberitas adalah sebuah periode dimana

kematangan fisik begitu pesat, yang melibatkan perubahan hormonal dan

(31)

zat kimia yang kuat yang diciptkan oleh kelenjar endokrin dan dibawa

keseluruh tubuh melalui aliran darah (Santrock, 2007).

Pesatnya perubahan akan menyebabkan kejutan kepada remaja,

sebagai contoh pakaian yang dimilki oleh remaja sering kali tidak dapat

digunakan lagi, dan harus membeli lagi baju baru. Pada remaja putri ada

perasaan seolah-olah belum dapat menerima kenyataan bahwa tanpa

dibayangkan sebelumnya payudaranya membesar. Oleh sebab itu

seringkali gerak-gerik remaja menjadi canggung dan tidak bebas,

gangguan yang terjadi karena pesatnya pertumbuhan fisik seperti ini biasa

disebut dengan gangguan regulasi (Ali, 2010).

Pertumbuhan fisik meliputi dua hal, yakni internal dan eksternal.

Perubahan internal contohnya perubahan alat pencernaan makanan,

bertambah besarnya berat dan ukuran jantung dan paru-paru, dan

bertambah sempurnanya kelenjar endokrin atau kelamin dan seluruh

bagian tubuh. Sedangkan perubahan eksternal contohnya bertambahnya

tinggi badan, bertambah lingkar tubuh, ukuran dan panjang lingkar tubuh,

ukuran organ seks, munculnya tanda-tanda kelamin sekunder (Hurlock

E.B, 1991 dalam Ali, 2010).

Selain itu ada juga faktor- faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik :

a. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu,

(32)

Anak yang orang tuanya bertumbuh tinggi cenderung lebih lekas menjadi

tinggi dari pada anak dengan orang tuanya bertumbuh pendek, dalam hal

ini dapat dikatakan juga faktor genetik.

2) Kematangan

Faktor kematangan mempengaruhi pertumbuhan fisik, sebagai contoh

anak yang berumur tiga bulan walaupun diberikan makanan bergizi

supaya menunjang otot kakinya agar dapat berjalan, tidak mungkin

berhasil jika usianya sebelum lebih dari sepuluh bulan.

b. Faktor Eksternal

1) Kesehatan

Anak yang sering sakit-sakitan pertumbuhan fisiknya akan terhambat.

2) Makanan

Makanan yang bergizi akan membuat anak tumbuh dengan pesat

dibandingkan anak yang tidak mendapatkan makanan yang bergizi.

3) Stimulasi Lingkungan

Individu yang tubuhnya sering dilatih oleh lingkungannya untuk

meningkatkan percepatan pertumbuhannya, akan berbeda dengan yang

tidak mendapatkan latihan (Ali, 2010). Oleh karna adanya faktor-faktor

internal dan eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan individu, maka

akan menyebabkan pertumbuhan fisik bervariasi setiap orangnya.

b. Perubahan Kognitif

Kemampuan pemikiran remaja yang sedang berkembang, membuat

(33)

dan idealis, dan lebih cenderung memantau dunia sosial. Menurut Piaget

(2001 dalam Gunarsa 2012), remaja termotivasi untuk memahami

dunianya karena hal ini merupakan suatu bentuk adaptasi biologis. Remaja

secara aktif mengkontruksi dunia kognitifnya sendiri, mereka juga

melibatkan gagasan–gagasan baru karena informasi ini dapat meningkatkan pemahaman mereka (Ali, 2010).

Ketika mengkontruksikan dunianya yang akhirnya meningkatkan

pemahamannya, remaja menggunakan skema. Skema adalah sebuah

konsep atau kerangka kerja mental yang diperlukan untuk

mengorganisasikan dan menginterprestasikan informasi. Remaja

menggunakan dan mengadaptasikan skema kedalam dua proses, yaitu

asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah memasukan informasi baru

kedalam pengetahuan yang sudah ada, dalam asimilasi skema yang sudah

ada tidak mengalami perubahan. Akomodasi adalah menyesuaikan sebuah

skema yang sudah ada terhadap masuknya informasi baru (Santrock,

2007).

Tahap- tahap perkembangan kognitif

Menurut Piaget (dalam Santrock, 2007), individu berkembang

melalui empat tahap kognitif, yaitu sensorimotor, pra-oprasional motor,

operasi konkret, dan operasi formal. Setiap tahap yang tergantung pada

usia ini memiliki cara berfikir yang berbeda, sedangkan remaja sendiri

termasuk kedalam tahap operasional formal, yaitu remaja bernalar secara

(34)

c. Perubahan emosional

Definisi emosi sendiri menurut Chaplin (1989 dalam Ali, 2010)

adalah suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencangkup

perubahan- perubahan yang disadari, yang sifatnya mendalam dari

perubahan perilaku. Sedangkan Perubahan sosio-emosional adalah

perubahan relasi individu dengan orang lain, emosi, kepribadian dan

konteks sosial (Santrock, 2007).

Dalam hal ini emosi memilki peranan penting dalam tingkah laku

individu termasuk dalam masalah sosial ini saling berkaitan. Daniel

Goleman (1995 dalam Ali, 2010) mengemukakan sejumlah ciri utama

pikiran emosional sebagai bukti bahwa emosi memainkan peranan penting

dalam pola pikir maupun tingkah laku individu. Adapun ciri utama pikiran

emosional tersebut adalah respon yang cepat tetapi ceroboh,

mendahulukan perasaan kemudian pemikiran, memperlakukan realitas

sebagai realitas simbolik, masa lampau diposisikan sebagai masa sekarang,

realitas yang ditentukan oleh keadaan (Ali).

Remaja biasanya memiliki energi yang besar, emosi

berkobar-kobar sedangkan pengendalian diri belum sempurna. Selain itu

perkembangan emosi remaja juga di pengaruhi beberapa faktor, yaitu

perubahan jasmani, perubahan pola interaksi dengan orang tua, perubahan

interkasi dengan teman sebaya, perubahan pandangan luar, perubahan

(35)

tersebut perkembangan emosi remaja sangat dimungkin berbeda satu sama

lain.

d. Perubahan Sosial

Perkembangan sosial terjadi karena adanya hubungan sosial yang

berubah karena adanya dorongan rasa ingin tahu terhadap segala sesuatu

yang ada disekitarnya. Hubungan sosial ini berawal dari rumah yang

kemudian dilanjutkan disekolah dan dilanjutkan lagi ketempat yang lebih

luas yaitu pergaulan teman sebaya. Pergaulan adalah juga sesuatu untuk

memperkembangkan aspek sosial anak. Seorang anak membutuhkan anak

lain atau kelompok yang kira-kira sebaya. Melalui hubungan dengan

lingkungan sosialnya, anak sengaja atau tidak sengaja, langsung atau tidak

langsung terpengaruh kepribadiannya (Gunarsa, 2004).

Ada karakteristik yang unik dari perkembangan sosial remaja,

yaitu berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan untuk

bergaul, adanya upaya untuk memilih nilai-nilai sosial, meningkatnya

kesadaran akan lawan jenis, dan mulai tampak kecenderungan mereka

untuk memilih karier tertentu. Akan tetapi perkembangan sosial setiap

remaja tentu saja tidak akan sama karena dipengaruhi oleh keluarga,

sekolah dan masyarakat (Ali, 2010).

4. Tugas Perkembangan Remaja

Tugas perkembangan remaja yaitu memfokuskan pada bagaimana

(36)

dewasa. Menurut Havighurst (1961) tugas perkembangan remaja adalah

sebagai berikut:

a. Mencapai hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya baik pria

maupun wanita.

b. Mencapai peran sosial pria dan wanita.

c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif.

d. Mencapai dan mengharapkan perilaku sosial yang bertanggung jawab.

e. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang – orang dewasa

lainya.

f. Mempersiapkan karir ekonomi.

g. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga

h. Memperoleh peringkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk

berperilaku mengembangkan ideologi (Hurlock, 2012)

5. Kenakalan Remaja

a. Pengertian kenakalan Remaja :

Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah

juvenile delinquency, merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang

disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial yang berakibat mereka

mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang (Kartono,1997).

Menurut Santrock (2007), kenakalan remaja merupakan kumpulan dari

berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga

terjadi tindakan kriminal. Sedangkan menurut Sudarsono (2012), kenakalan

(37)

remaja yang bersifat melawan hukum, anti sosial, anti susila, dan menyalahi

norma – norma agama.

Jadi kenakalan remaja adalah segala sesuatu perilaku remaja yang

bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat yang sampai

pada tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja. Adapun kenakalan

remaja yang sering terjadi di sekolah adalah perilaku bullying.

b. Jenis – jenis kenakalan remaja

Jensen (1985) membagi kenakalan remaja menjadi 4 jenis, yaitu :

a) Kenakalan remaja yang menimbulkan korban fisik pada orang lain.

Seperti : perkelahian, pembunuhan, perampokan, dan lain-lain.

b) Kenakalan yang menibulkan korban materi : perusakan, pencurian,

pemerasan, dan lain-lain.

c) Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain.

Seperti pelacuran, penyalahgunaan obat, dan lain-lain.

d) Kenakalan yang melawan status, Seperti : mengingkari status sebagai

pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan

cara minggat dari rumah, dan lain-lain. (Sarwono, 2012)

B. Persepsi

Walgito (2001) menjelaskan persepsi adalah suatu proses pengoganisasian,

penginterpresatasian, terhadap rangsang yang diterima oleh individu, sehingga

merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terintegrasi

(38)

persepsi adalah daya mengenal barang kualitas atau hubungan dan perbedaan

antara hal ini melalui proses mengamati, mengetahui, atau mengartikan setelah

pancaindra mendapat rangsang (Sunaryo, 2002).

Marliyah (2004) menjelaskan persepsi adalah penafsiran unik terhadap

situasi dan bukan merupakan pencarian yang benar terhadap situasi. Sedangkan

menurut Seamon dan Kenrick (1994) persepsi adalah sesuatu yang melibatkan

proses organisasi dan interprestasi dari stimulus-stimulus untuk memberikan

makna-makna tertentu. Menurut Rakhmat (2000) penyimpulan informasi dan

penafsiran kesan dari pengalaman akan objek, peristiwa, dan

hubungan-hubungan yang diperoleh inilah yang akhirnya akan membentuk persepsi

(Marliyah, 2004).

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah

penafsiran individu terhadap stimulus-stimulus yang datang padanya melalui

panca indra terhadap situasi.

2. Jenis-jenis Persepsi

Ada dua macam persepsi yaitu :

a. External perception adalah persepsi yang terjadi karena adanya rangsang

yang datang dari luar individu.

b. Self-perception adalah persepsi yang terjadi karena adanya rangsang yang

berasal dari dalam diri individu, dalam hal ini yang menjadi objek adalah

(39)

3. Syarat Terjadinya Persepsi

Persepsi adalah suatu proses yang didahului pengindraan, yaitu dengan

diterimanya stimulus oleh reseptor, diteruskan ke otak atau pusat saraf yang di

organisasikan dan diinterprestasikan sebagai proses psikologis. Akhirnya individu

menyadari apa yang dilihat dan didengarkan. Berikut syarat terjadinya persepsi :

a. Adanya Objek : objek → stimulus → alat indra (reseptor).

Stimulus berasal dari luar individu (langsung mengenai alat indra/reseptor)

dan dari dalam diri individu (langsung mengenai saraf sensoris yang bekerja

sebagai reseptor).

b. Adanya perhatian sebagai langkah pertama untuk mengadakan persepsi.

c. Adanya alat indra sebagai reseptor penerima stimulus.

d. Saraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus ke otak (pusat

saraf/pusat kesadaran). Dari otak dibawa melalui saraf motoris sebagai alat

untuk mengadakan respons (Sunaryo, 2002).

4. Proses Terjadinya Persepsi

Persepsi melewati tiga proses, yaitu :

a. Proses Fisik (kealaman) : Objek → stimulus → reseptor atau alat indra.

b. proses fisiologis : stimulus → saraf sensoris → otak.

c. Proses Psikologis : Proses dalam otak sehingga individu menyadari stimulus

yang diterima.

Penelitian yang dilakukan oleh Rahman (2008) menunjukan bahwa

semakin positif remaja mempersepsikan pola asuh ayah dan ibunya, maka

(40)

keluarga dapat memberikan dasar pembentukan sikap, watak, tingkah laku, moral

dan pendidikan pada anak, yang semua itu mampu di persepsi remaja secara

positif, sehingga berdampak positif pula pada kualitas kepribadian remaja, dalam

hal ini pada perilaku disiplinya. Hal ini menunjukan bahwa persepsi dapat

mempengaruhi perilaku.

Hurlock (2005) menyatakan bahwa persepsi individu dapat memotivasi

perilakunya lebih lanjut. objek persepsi yang dinilai tidak menyenangkan maka

perilakunya negatif, sebaliknya individu yang mempersepsikan suatu objek secara

positif, maka akan mengkondisikan individu secara psikologis sebagai motivasi

untuk berperilaku positif.

C. Pola Asuh Orang Tua

1. Pengertian Pola Asuh Orang Tua

Keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dimana anak dapat

berinteraksi. Pengaruh keluarga dalam pembentukan dan perkembangan

kepribadian sangatlah besar artinya. Orang tua memiliki tanggung jawab

untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai

tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan

bermasyarakat.

Setiap anak sangat membutuhkan lingkungan keluarga, rasa aman yang

diperoleh dari ibu dan rasa terlindung dari ayah. Rasa aman dalam keluarga

merupakan salah satu syarat bagi kelancaran proses perkembangan anak,

kekhawatiran dan kecemasan yang terlihat pada orang dewasa dan remaja bila

(41)

dengan hilangnya rasa aman pada usia muda (Gunarsa, 2004). Dalam

mengasuh anaknya, orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada di

lingkungannya. Di samping itu, orang tua juga diwarnai oleh sikap-sikap

tertentu dalam memelihara, membimbing, dan mengarahkan putra-putrinya.

Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada anaknya yang

berbeda-beda, karena setiap masing-masing orang tua mempunyai pola

pengasuhan tertentu yang beda pula. Pola asuh orang tua merupakan interaksi

antara orang tua dengan anak. Selama proses pengasuhan orang tua itulah

yang memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak.

Menurut Santrock (2004), mendefinisikan pengasuhan orang tua adalah

aktivitas kompleks termasuk banyak perilaku spesifik yang dikerjakan secara

individu dan bersama-sama untuk mempengaruhi pembentukan karakter anak.

Sedangkan menurut Wahyuningsih dkk (2003), menjelaskan pola asuh sebagai

seluruh cara perlakuan orang tua yang diterapkan pada anak.

Dalam mengasuh anaknya, orang tua cenderung menggunakan pola asuh

tertentu. Penggunaan pola asuh tertentu ini memberikan sumbangan dalam

mewarnai perkembangan terhadap bentuk- bentuk perilaku sosial tertentu pada

anaknya. Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara anak dan orang tua

selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Pengasuhan ini berarti orang tua

mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk

mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam

(42)

tua yang di terapkan pada anaknya, untuk membentuk karakter anak dan

dalam mencapai kedewasaan anaknya.

2. Jenis Pola Asuh Orang Tua

Pola asuh terbentuk karena adanya dua hal yaitu demandignes dan

responsivnes. Demandignes standar yang berkaitan dengan kontrol perilaku

yang ditetapkan oleh orang tua kepada anaknya, sedangkan responsiveness

adalah respon orang tua kepada anaknya yang berkaitan dengan kehangatan

dan dukungan (Baumrind, 1991 dalam Santrock, 2007). Pendapat Baumrind

menjelaskan bahwa orang tua sebaiknya tidak bersikap menghukum maupun

bersikap menjauh namun sebaiknya orang tua mengembangkan aturan-aturan

dan hangat terhadap mereka. Dalam hal ini Baumrind (1971) dalam Fathi

(2011) menjelaskan 3 gaya pola asuh yaitu : authoritative, authoritarian, dan

permissive.

a. Authoritative (Demokratis)

Gaya pengasuhan orang tua yang bergaya otoratif. Mendorong remaja

untuk mandiri namun masih membatasi dan mengendalikan aksi-aksi mereka.

Memberikan komunikasi terbuka dan kehangatan dalam mengasuh. Ciri yang

kental pada pola pengasuhan ini adalah diskusi antara anak dan orang tua.

Kerja sama yang berjalan baik antara anak dan orang tua. Anak diakui

eksistensinya. Kebebasan berekspresi diberikan kepada anak dengan tetap

berada dibawah pengawasan orang tua. Pola asuh ini biasa juga disebut pola

(43)

Menurut Cole dan Hall (1970) dalam Rahman (2008), mengemukakan

bahwa suasana terbuka dan kondusif yang ada pada pola asuh demokratis

menyebabkan remaja menjadi lebih berkembang serta memiliki kemampuan

menghadapi konflik yang terjadi dengan orang lain. Hal tersebut dipertegas

oleh Shapiro (2001) yang menjelaskan bahwa ayah dan ibu dengan pola asuh

demokratis menyebabkan anak tidak tergantung dan tidak berperilaku

kekanak-kanakan, mendorong untuk berprestasi, kreatif dan disukai banyak

orang serta responsif (Rahman, 2008).

b. Authoritarian (Otoriter)

Pola asuh ototiter ini bersifat menghukum dan membatasi dimana orang

tua sangat memaksakan remaja mengikuti dan menghormati usaha-usaha yang

dilakukan oleh orang tuanya, serta komunikasi tertutup, sehingga tidak

memberikan kesempatan kepada anak untuk berkomunikasi secara verbal. Ciri

khas pola asuh ini diantaranya kekuasaan orang tua dominan jika tidak boleh

dikatakan mutlak, anak yang tidak mematuhi orang tua akan mendapatkan

hukuman yang keras, pendapat anak tidak didengarkan sehingga anak tidak

memiliki eksistensi dirumah, tingkah laku anak dikontrol degan sangat ketat.

Berdasarkan ciri-ciri tersebut diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa pola

asuh otoriter memiliki ciri pokok tidak demokratis dan menerapkan kontrol

yang kuat. Hal ini berbeda dengan pola asuh otorotatif (demokratis) yang

berciri demokrasi dan menerapkan kontrol. Berbeda pula dengan pola asuh

permisif yang berciri demokratis, tetapi tanpa memberikan kontrol. Dengan

(44)

asuh otoriter, maka tidak mengherankan pola asuh otoriter memiliki banyak

akibat negatif terhadap anak (Widyarini, 2009)

Penelitian yang dilkukan oleh Anggaraningtyas dkk (2010) menunjukan

hasil bahwa remaja yang mempersepsikan orang tuanya memberikan pola asuh

otoriter mempunyai hubungan yang signifikan dengan kecenderungan perilaku

agresi. Hal ini sejalan dengan pendapat Steinberg (1993) dalam Hasugian

(2012) menjelaskan bahwa remaja yang tumbuh dalam keluarga dengan pola

asuh Otoriter (Authoritarian) cenderung menjadi individu yang bergantung

pada orang lain, pasif, kurang mampu bersosialisasi, kurang percaya diri, dan

kurang berminat pada hal-hal yang menyangkut inteletualitas.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Asmaliah (2008) menunjukan hasil

semakin positif persepsi remaja awal terhadap pola asuh orang tua ototrier

maka semakin rendah motivasi berprestasinya, dan semakin negatif persepsi

remaja awal terhadap pola asuh. Artinya jika remaja awal ini semakin

mempersepsikan bahwa pola asuh yang diterapkan kepadanya adalah otoriter,

makan akan semakin rendah motivasi untuk berprestasi dari remaja tersebut.

Orang tua dengan pola asuh otoriter tidak menyadari bahwa dengan pola

yang lebih banyak menuntut terhadap anak ini telah mengikis kehangatan

hubungan dengan anak. Anak tidak menemukan suasana yang memungkinkan

untuk mengekspresikan pikiran atau perasaanya. Padahal kehangatan dalam

hubungan orang tua dan anak merupakan prasyarat bagi kesejahteraan

(45)

c. Permissive (permisif / Mengabaikan)

Gaya pengasuhan orang tua dimana orang tua memberikan kebebasan

penuh kepada anaknya. Cirinya orang tua bersifat longgar, tidak terlalu

memberikan bimbingan dan kontrol, perhatian pun terkesan kurang. Kendali

anak sepenuhnya terdapat pada anak itu sendri.

Pola asuh permisif juga memiliki dampak yang tidak baik juga bagi anak.

Menurut Surbakti (2009) Akibat penerapan pola asuh permisif adalah anak

akan bertindak sekehendak hati, tidak mampu mengendalikan diri, tingkat

kesadaran mereka rendah, menganut pola hidup bebas, nyaris tanpa aturan,

selalu memaksakan kehendak, tidak mampu membedakan baik dan buruk,

kemampuan berkompetensi yang rendah, tidak mampu menghargai prestasi

dan kerja keras, mudah putus asa, daya juang rendah, tidak produktif, dan

kemampuan mengambil keputusan rendah.

Patterson & Stouthamer (1984) dalam Santrock (2007) menjelaskan bahwa

kurangnya pengawasan yang memadai dari orang tua merupakan aspek

pengasuhan yang paling sering berkaitan dengan kenakalan remaja. Pendapat

ini didukung oleh Surbakti (2009) yaitu akibat penerapan pola asuh permisif

remaja akan merasa bebas melakukan apa yang saja sesuai keinginan mereka,

pola asuh permisif juga merupakan metode yang paling cepat menghancurkan

masa depan remaja. Tipe pola asuh permisif juga membawa dampak lebih

buruk dalam hal prestasi belajar dari pada pola asuh otoriter (Palupi dan

(46)

Setelah dijelaskan mengenai berbagai jenis pola asuh, maka dapat

disimpulkan bahwa pola asuh otoritatif (demokrasi) adalah yang paling efektif,

seperti pendapat yang diungkapkan oleh Steinberg & Silk (2002) dalam

Santrock (2007) pola pengasuhan otoritatif (demokratis) merupakan pola

pengasuhan yang paling efektif, karena ;

a. Orang tua otoritatif mencapai keseimbangan yang baik antara

pengendalian dan otonomi, memberikan peluang kepada anak-anak dan

remaja untuk mengembangkan kemandirian sambil memberika standar,

batasan dan bimbingan yang diperlukan oleh anak-anak (Rauter & Conger,

1995).

b. Orang tua otoritatif cenderung lebih banyak melibatkan anak-anaknya

dalam dialog verbal dan membiarkan mereka mengeksprsikan

pandangan-pandanganya (Kuczynski & Lollis, 2002). Jenis diskusi keluarga seperti ini

dapat membantu anak-anak memahami relasi sosial dan hal-hal yang

dibutuhkan untuk menjadi seorang yang kompeten.

c. Kehangatan dan keteribatan yang diberikan oleh orang tua yang otoritattif

membuat anak lebih bersedia menerima pendidikan orang tua (Sim, 2000)

Setiap orang tua tentunya memiliki gaya pengasuhan yang berbeda beda,

namun dalam kehidupan sehari-hari orang tua mungkin melakukan kombinasi

dari gaya pengasuhan, akan tetapi hanya satu gaya pengasuhan yang dominan

(47)

3. Faktor – faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua

Ada beberapa hal yang mempengaruhi jenis pola asuh yang digunakan orang

tua menurut Hurlock (2012), yaitu :

a. Pola asuh yang diterima orang tua waktu masih anak – anak.

Orang tua memiliki kecenderungan yang besar menerapkan pola asuh yang

mereka terima dari orang tua mereka pada anaknya.

b. Pendidikan orang tua

Orang tua yang mendapatkan pendidikan yang baik, cenderung

menerapkan pola asuh yang lebih demokratis ataupun permisif

dibandingkan dengan orang tua yang pendidikanya terbatas. Pendidikan

membantu orang tua untuk lebih memahami kebutuhan anak.

c. Kelas sosial

Perbedaan dari kelas sosial orang tua mempengaruhi pemilihan pola asuh.

Orang tua dari kelas sosial menengah cenderung lebih permisif

dibandingkan dari orang tua kelas sosial bawah.

d. Konsep tentang peran orang tua

Setiap orang tua memeiliki konsep tentang bagaimana seharusnya dia

berperan. Orang tua dengan konsep tradisional cenderung memilih pola

asuh yang ketat dibandingkan orang tua dengan konsep non-tradisional.

e. Kepribadian orang tua

Kepribadian memepengaruhi bagaimana mereka menginterprestasikan pola

(48)

konservatif cenderung akan memperlakukan anaknya dengan ketat dan

otoriter.

f. Kepribadian anak

Anak yang ekstrovert akan bersikap lebih terbuka terhadap

rangsangan-rangsangan yang datang padanya dibandingkan anak yang introvert.

g. Faktor nilai yang dianut orang tua

Seperti paham „equalitarian’ dimana kedudukan anak sejajar dengan orang

tua. Namun kebanyakan di Negara timur, orang tua masih lebih cenderung

manghargai kepatuhan anak.

h. Usia anak

Tingkah laku dan sikap orang tua terhadap anaknya di pengaruh oleh usia

anak. Orang tua lebih memberikan dukungan dan dapat menerima sikap

ketergantungan anak usia pra sekolah dari pada remaja.

D. Bullying

1. Definisi Perilaku Bullying

Banyak pakar bullying yang mendebatkan tentang definisi bullying.

Definisi yang sering digunakan adalah definisi Olweus (1993 dalam Hazalden

Foundation 2007), yang menjelaskan bullying sebagai suatu penindasan

tehadap seorang siswa yang dilakukan berulang kali dari waktu ke waktu yang

berdampak negatif dan dilakukan oleh satu siswa atau lebih .

Sedangkan definisi lain menyebutkan bahwa bullying adalah suatu

(49)

oleh seseorang atau kelompok. Pihak yang kuat disini tidak hanya kuat secara

fisik, akan tetapi bisa juga kuat secara mental, dan korban bullying tidak

mampu mempertahankan dirinya karena lemah secara fisik maupun secara

mental (Yayasan Sejiwa, 2008).

Definisi bullying menurut Ken Rigby (dalam Astuti, 2008) adalah sebuah

hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan kedalam aksi, menyebabkan

seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau

sekelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan

dilakukan dengan perasaan senang. Flynt dan Marton (2006), juga

menyebutkan perilaku bullying adalah perilaku agresi yang dilakukan secara

bebas dengan tujuan melukai orang lain secara penuh dan dilakukan secara

terus menerus.

Dari beberapa definisi di atas diperoleh kesimpulan bahwa bullying adalah

suatu bentuk agresi yang dilakukan oleh orang yang merasa berkuasa kepada

orang yang dianggap lemah untuk keuntungan atau kepuasan mereka sendiri

baik dilakukan oleh individu atau kelompok dengan tujuan untuk menyakiti

korbanya dan dilakukan dengan berulang-ulang.

2. Bentuk – bentuk Bullying

Astuti (2008) menjelaskan bentuk-bentuk bullying sebagai berikut :

a. Fisik adalah menganiaya secara fisik, seperti menggigit, mengunci,

menarik rambut, memukul, menendang, dan mengintimidasi korban di

(50)

mencakar, meludahi, mengancam, merusak barang-barang korban,

penggunaan senjata dan perbuatan kriminal.

b. Non-Fisik terbagi dalam bentuk verbal dan non-verbal.

1) Verbal: berkata-berkata yang menyakitkan korban, mengatai,

memeras, mengancam, menghasut, intimidasi, barkata jorok pada

korban, menyebarkan kejelekan korban.

2) Non-verbal, terbagi menjadi langsung dan tidak langsung :

a) Tidak langsung : seperti memanipulasi pertemanan, mengasingkan,

tidak mengikutsertakan, mencurangi.

b) Langsung : seperti gerakan kasar atau membahayakan, menatap

dengan sinis, menggeram, atau menakuti.

Menurut Yayasan Sejiwa (2008), bentuk-bentuk perilaku bullying adalah fisik,

verbal, dan mental/psikologis, contoh bullying mental / psikologis adalah

mempermalukan didepan umum, mendiamkan, mengucilkan, meneror lewat sms

atau email, memandang yang merendahkan, memelototi, dan mencibir.

Sedangkan Olweus (1993) memaparkan contoh tindakan negatif yang termasuk

dalam bullying antara lain;

a. Mengatakan hal yang tidak menyenangkan atau memanggil seseorang dengan

julukan yang buruk.

b. Mengabaikan atau mengucilkan seseorang dari suatu kelompok karena suatu

tujuan.

(51)

d. Mengatakan kebohongan atau rumor yang keliru mengenai seseorang atau

membuat siswa lain tidak menyukai seseorang dan hal-hal semacamnya.

3. Faktor-faktor penyebab terjadinya Bullying

Terdapat tujuh faktor yang menyebabkan terjadi bullying menurut Astuti

(2008) :

a. Perbedaan kelas

Seringkali perbedaan kelas menjadi penyebab terjadinya bullying,

sebagai contoh perbedaan kelas di sekolah, senior akan cenderung

melakukan tindakan bullying kepada juniornya karena merasa berkuasa.

Selain itu perbedaan kelas disni juga termasuk perbedaan gender, agama,

ekonomi, etnisitas atau rasisme. Sebagai contoh perbedaan kelas ekonomi,

seseorang yang berada pada ekonomi yang berbeda dengan tingkatan

ekonomi mayoritas kelompoknya cenderung menjadi korban bullying.

b. Tradisi senioritas

Tradisi yang diwariskan oleh seniornya dahulu seringkali dijadikan alasan

melakukan bullying, contohnya seperti tradisi kelas x tidak boleh melewati

kelas y, dan apabila dilanggar akan mendapatkan sanksi berupa teguran dan

lain sebaginya, dan tradisi ini berlangsung terus menerus.

d. Senioritas

Penyebab senioritas ini datang dari diri siswanya sendiri dengan

alasan untuk menunjukan diri atau mencari popularitas, ajang balas

dendam, atau mungkin menunjukan kekuasaan.

(52)

Masalah yang terjadi pada keluarga seperti perceraian orang tua,

kurangnya komunikasi, ketidak harmonisan orang tua, masalah sosial

ekonomi, dan lain-lain dapat menjadi penyebab perilaku bullying.

f. Iklim sekolah yang tidak harmonis

Situasi sekolah sebagai lembaga pendidikan juga dapat menjadi

penyebab perilaku bullying, sebagai contoh peraturan sekolah yang tidak

ditegakkan, minimnya pengawsan dari guru, dan tidak layaknya bimbingan

etika dari guru.

g. Karakter individu atau kelompok

Dendam, iri hati, adanya hasrat ingin menguasai, ingin mendapatkan

popularitas dapat menjadi salah satu penyebab perilaku bullying.

h. Persepsi yang salah atas perilaku korban

Korban sering merasa bahwa dirinya memang pantas diperlakukan

seperti itu (di-bully), sehingga tidak ada usaha untuk menghentikan

tindakan itu walaupun dilakukan berulang-ulang.

Sedangkan Quiroz dkk (2006) mengemukakan tiga faktor yang dapat

menyebabkan perilaku bullying, sebagai berikut :

a. Keluarga

Anak akan meniru perilaku yang dia lihat dikeluarganya, baik itu orang

tua maupun kakak kandungnya, sehingga menjadi nilai atau perilaku yang dia

anut, jika anak di besarkan di lingkungan keluarga yang mentoleransi

kekerasan atau perilaku bullying maka anak akan beranggapan bahwa perilaku

(53)

atau untuk mencapai apa yang dia inginkan. Menurut Haryana (dalam Yayasan

Sejiwa, 2008), karena faktor orang tua di rumah yang tipe suka memaki,

membandingkan atau melakukan kekerasan fisik, maka anak pun menganggap

benar bahasa kekerasan. Hal ini juga berhubungan dengan bagaimana pola

asuh orang tua di rumah.

b. Teman sebaya

Teman sebaya adalah salah satu penyumbang besar dalam perilaku

bullying, disebabkan oleh adanya teman sebaya yang meberikan pengaruh

negatif dengan cara menyebarkan ide baik itu secara aktif maupun secara pasif.

Selain itu remaja juga cenderung mengikuti apa yang teman sebayanya lakukan

(konformitas). Remaja berkeinginan untuk tidak lagi tergantung pada

keluarganya dan mulai mencari dukungan dan rasa aman dari kelompok

sebayanya.

c. Pengaruh media

Media membawa pengaruh kepada remaja karena remaja cenderung

ingin mencoba dan penasaran dengan apa yang dilihatnya, seperti di tv, sebagai

contoh perilaku bullying seperti di sinetron – sinetron di Indonesia yang banyak sekali mengajarkan bullying.

Sedangkan menurut Gentile & Bushman (2012) menjelaskan sedikitnya ada 6

faktor risiko yang menyebabkan seseorang menjadi pelaku bullying yaitu :

a. Kecenderungan dalam permusuhan

Dalam kehidupan sehari-hari terkadang permusuhan tidak dapat dihindari,

(54)

b. Kurangnya perhatian

Kurangnya perhatian dari orang tua akan menyebabkan si anak

mencari perhatian diluar rumahnya dengan cara menunjukan kekuatan dan

popularitasnya diluar rumah.

c. Gender sebagai laki-laki

Seringkali orang beranggapan bahwa gender sebagi laki-laki harus kuat

dan tidak dapat dikalahkan oleh laki-laki lain hal ini pada akhirnya akan

membeuat orang cenderung agresif secara fisik.

d. Riwayat sebagai korban kekerasan

Seorang yang pernah menjadi korban kekerasan khususnya dari orang tua

Gambar

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Persepsi Jenis Pola Asuh Orang Tua ……………… 67
Gambar 2.1 Kerangka Teori………………………………………………………... 42
Gambar 2.1 Kerangka Teori Penelitian
Gambar 3.1 Kerangka konsep
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah ada korelasi positif yang sangat signifikan antara persepsi remaja terhadap pola asuh ibu sebagai orang tua tunggal dengan

Hasil analisis data yang dilakukan menunjukkan adanya pengaruh persepsi pola asuh permisif orang tua terhadap perilaku membolos siswa SMK Pancasila 3 Baturetno Kabupaten Wonogiri

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan perilaku asertif siswa ditinjau dari persepsi terhadap pola asuh orang tua (otoritarian, menuruti, mengabaikan,

Penelitian Tentang Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Agresivitas Remaja.. Penyesuaian diri dan pola asuh orang tua yang memiliki anak

Hasil analisis regresi sederhana menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara persepsi terhadap pola asuh orang tua otoriter dengan agresivitas pada

Pada penelitian ini pola asuh orang tua yang baik dalam mendidik dan memberikan pola asuh yang baik terhadap anak atau remaja ditujukan pada item soal yang menunjukkan

Dari hasil pengisian kuesioner pola asuh orang tua di TK Insan Cemerlang Makassar diketahui bahwa pola asuh permisif sebanyak 2 orang dengan persentase 6,6% dan hasil uji korelasi pola

Pola asuh demokratis lebih banyak diterapkan oleh orang tua, menyusul pola asuh otoriter dan permisif.4 orang tua dengan pola asuh demokratis, 1 orang tua dengan pola asuh otoriter dan