Risiko Perilaku Bullying Siswa di SMA Triguna Utama Ciputat
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)
oleh :
Ari Nur Husaini
109104000010
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
ii
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 Keperawatan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas islam negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan jiplakan dari hasil karya orang lain, maka saya bersedia menenrima sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, Juli 2013
iii
Skripsi dengan Judul :
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI JENIS POLA ASUH ORANG
TUA TERHADAP RISIKO PERILAKU BULLYING SISWA DI
SMA TRIGUNA UTAMA CIPUTAT
Telah disetujui dan diperiksa oleh pembimbing skripsiProgram Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Disusun Oleh ;
Ari Nur Husaini NIM : 109104000010
Pembimbing I Pembimbing II
Ns. Eni Nur’aini Agustini, S.Kep, Msc Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB NIP: 198008022006042001 NIP : 197311061005012003
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
iv
Skripsi dengan judul
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI JENIS POLA ASUH ORANG
TUA TERHADAP RISIKO PERILAKU BULLYING SISWA DI
SMA TRIGUNA UTAMA CIPUTAT
Telah disetuji dan dipertahankan dihadapan penguji oleh :
Ari Nur Husaini
109104000010
Pembimbing I Pembimbing II
Ns. Eni Nur’aini Agustini, S.Kep, MSc Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB NIP. 198008022006042001 NIP . 197311061005012003
Penguji I Penguji II
Yenita Agus, M.Kep, Sp.Mat, Ph.D Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB NIP. 197206082006042001 NIP . 197311061005012003
Penguji III
v
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Ciputat, Juli 2013
Mengetahui,
Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Ns. Waras Budi Utomo, S.Kep, MKM NIP. 19790520 200901 1012
Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
vi
Nama : Ari Nur Husaini
Tempat, Tgl lahir : Sumedang, 14 mei 1991
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Dusun Kaum no. 25 RT 03 RW 04 Desa Jatisari, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Kode pos : 45362
Hp : 085216041866
Email : [email protected]
Riwayat Pendidikan :
1. TK CutNyak Dhien Tanjungsari (1996-1997)
2. SDN Tanjungsari 2 (1997-2003)
3. MtsN Ciwaringin Cirebon (2003-2006)
4. MAN Model Ciwaringin Cirebon (2006-2009)
vii
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Skripsi, Juni 2013
Ari Nur Husaini, NIM: 109104000010
Hubungan antara Persepsi Jenis Pola Asuh Orang Tua Terhadap Risiko Perilaku Bullying Siswa di SMA Triguna Utama Ciputat
Xii + 85 halaman + 8 tabel + 2 bagan + 8 lampiran
ABSTRAK
Salah satu kenakalan remaja yang sering terjadi adalah perilaku bullying.
Bullying adalah penindasan terhadap seseorang yang lebih kuat kepada yang lebih lemah, dan dilakukan berulang kali baik oleh individu atau kelompok. Bullying
memiliki dampak yang buruk, sehingga harus dikurangi kejadiannya. Salah satu yang menyebabkan bullying adalah pola asuh orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku
bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat.
Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan desain deskirptif korelatif dan teknik sampling stratified random sampling. Jumlah sampel yang digunakan adalah 71. Penelitian dilakukan pada Juni 2013. Pengumpulan data menggunakan data demografi, kuesioner persepsi jenis pola asuh orang tua dan risiko perilaku bullying. Hasil uji instrumen penelitian didapatkan hasil reliabilitas sebesar 0,913 untuk persepsi pola asuh dan 0,915 untuk risiko perilaku bullying.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden 43,7 % memiliki persepsi pola asuh demokratis dan memiliki risiko perilaku bullying rendah sebesar 77,8 %. Hasil uji statistik menggunakan uji Lambda dengan α=0,05 diperoleh hasil
bahwa ada hubungan yang signifikan antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat (p value=0,000) dengan nilai r= 0,583. Berdasarkan penelitian ini, sekolah bersama orang tua siswa diharapakan dapat lebih memperhatikan bullying, dan tidak menganggap bullying sebagai hal yang biasa terjadi di sekolah, dan dapat juga melakukan kerja sama dengan bidang keperawatan untuk pencegahan sampai penanggulangan bullying seperti, penyuluhan tentang problem solving, manajemen marah, atau penyuluhan bullying beserta dampak dan cara menanganinya.
Kata kunci: Persepsi jenis pola asuh, Perilaku bullying, remaja.
viii SCHOOL OF NURSING
ISLAMIC STATE UNIVERSITY (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Undergraduates Thesis, Juny 2013
Ari Nur Husaini, NIM: 109104000010
The Correlation between Student’s Perceptions of Parenting Types with Bullying Behavior among study in SMA Trigua Utama Ciputat
Xii + pages + 8 tables + 2 charts + 8 attachments
One of adolescent mischief that often happens is bullying behavior. Bullying is oppression against someone stronger to weaker, and done repeatedly either by individuals or groups. Bullying has a bad impact, so it must be reduced. One of the causes of bullying are parenting types. So the purpose of study is This study aimed to examine the relationship between perceptions of patterns in parenting on the risk bullying behavior of students in SMA Triguna Utama Ciputat.
The type of this study is quantitative with descriptive correlative design by use stratified random sampling technique among 71 student. The study was conducted in June 2013. Collecting data using demographic data, the questionnaire of perception in parenting patterns and the risk of bullying behavior. The questionnaire
of student’s perception of parenting types and the risk of bullying behavior
conducted in this study
The reliability test showed 0.913 on the student perception questionnaire and 0,915 on risk of bullying behavior questionnaire. The results showed that the majority of respondents (43.7%) have a democratic parenting types and 77,8% of the responden have low risk bullying behavior. Results of statistical tests using Lambda
test with α = 0.05 obtained results that there is the significant relationship between the perception of patterns of parenting on risk behavior in high school students bullying Main Triguna Chester (p value = 0.000) r = 0.583. Based on this study, both of parents and teacher are expected to pay more attention to bullying, and do not consider bullying as a common problem in schools. More over the conclusion of this study for nursing have show the need of bullying prevention such as health education about problem solving, anger management , counseling and the bullying management.
Keywords: adolescent, bullying behavior, parenting types.
ix
berkah dan rahmatnya peneliti dapat menyelesaikan penelitian ini. Sholawat dan
salam senantiasa terlimpahkan kepada nabi akhir jaman Sayyidina wa Maulana
Muhammad SAW, karena perantara beliaulah kita selaku umatnya saat ini dapat
mengetahui yang mana hak dan bathil. Berkat kuasa dan kehendak Allah SWT,
penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan judul : Hubungan Antara Persepsi
Jenis Pola Asuh Orang Tua Terhadap Risiko Perilaku Bullying Siswa di SMA
Triguna Utama Ciputat
Dalam menyelesaikan penelitian ini peneliti menemukan cukup banyak
hambatan dan kesulitan. Sehingga dalam penelitian ini peneliti mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga penelitian
dapat terselesaikan.
Maka dari itu sudah sepatutnya peneliti mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang sedalam-dalamnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr (Hc). dr. M.K. Tajudin, Sp.And dan Drs. H. Achmad Gholib,
MA, selaku Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Waras Budi Utomo, S.Kep.,Ners.,MKM selaku Ketua Program Studi
Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas
x
waktu dan pemikiran demi terselesaikanya penelitian ini.
4. Ibu Ernawati S.Kep.,M.Kep, S.KMB sebagai dosen pembimbing 2 saya yang
tidak kenal lelah memberikan waktu luang dan masukan-masukan yang
berharga demi terselesaikanya penelitian ini.
5. Ibu Ita Yuanita, S,Kp, M.Kep sebagai dosen pembimbing akademik yang
selalu memberikan pengarahan dan motivasi untuk lebih baik dari sejak
semester 1.
6. Segenap bapak dan ibu dosen di Program studi ilmu keperawatan yang telah
mendidik dan memberikan ilmu yang berharga kepada saya.
7. Segenap staf dan karyawan fakultas dan jurusan yang banyak membantu
dalam bidang administrasi.
8. Ibu Dwi Rini Listiowati S.Pd selaku guru bp SMA Triguna Utama Ciputat
yang cukup banyak membantu peneliti di lapangan.
9. Seluruh teman – teman psik 2009 yang telah berjuang bersama-sama dalam
suka dan duka.
10.Ucapan Terima kasih dan bangga kepada ayahanda H.Isyam Basri dan Ibunda
tercinta Hj. Juju Julihati. Yang selalu memberikan doa dan dukungan baik
psikis maupun materil, serta didikan dan nasehatnya yang selalu peneliti ingat.
11.Kakak saya Hj.Ane handayani dan suami, Aziz Heikal dan Istri, Serta kedua
xi
LEMBAR PERNYATAAN ... i
LEMBAR PERSETUJUAN ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
RIWAYAT HIDUP ... v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
RIWAYAT HIDUP ... xvii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 7
C. Pertanyaan Penelitian ... 8
D. Tujuan Penelitian... 8
E. Manfaat Penelitian ... 9
F. Ruang Lingkup Penelitian ... 9
xii
4. Tugas Perkembangan Remaja ... 17
5. Kenakalan Remaja ... 18
B. Persepsi 1. Pengertian persepsi ... 19
2. Jenis-jenis perspsi ... 20
3. Syarat terjadinya persepsi ... 21
4. Proses terjadinya persepsi……… ... 21
C. Pola Asuh orang tua 1. Pengertian Pola Asuh orang tua ………. .. 22
2. Jenis Pola Asuh Orang tua………... .. 24
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pola Asuh Orang Tua………...29
D. Bullying 1. Definisi Perilaku Bullying ... 30
2. Bentuk-bentuk Bullying ... 31
3. Faktor-faktor penyebab terjadi Bullying ... 33
4. Peran-peran dalam Perilaku Bullying ... 37
5. Dampak Bullying ... 37
6. Penanggulangan Bullying ... 39
E. Kerangka Teori ... 41
xiii BAB IV METODELOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian ... 46
B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 46
1. Populasi ... 46
2. Sampel ... 46
a. Kriteria Inklusi ... 47
C. Waktu dan Tempat Penelitian ... 48
D. Instrumen Penelitian ... 48
1. Data Demografi ... 49
2. Kuisioner Pola Asuh Orang Tua ... 50
3 Kuisioner Risiko Perilaku Bullying ... 51
E. Uji Validitas dan Reabilitas Instrumen ... 52
F. Tahapan Penelitian ... 54
G. Pengolahan data... 55
1. Data Coding ... 55
2. Data Editing ... 55
3. Data Structure ... 55
4. Data Entry ... 56
5. Data Cleaning ... 56
H. Analisa Data ... 56
1. Analisa Univariat ... 56
xiv
A. Gambaran umum SMA Triguna Utama Ciputat ... 60
B. Analisa Univariat ... 60
1. Gambaran Demografi Responden ... 61
a. Jenis Kelamin ... 61
b. Kelas ... 61
2. Persepsi pola asuh orang tua ... 62
3. Gambaran Risiko Perilaku Bullying Siswa ... 63
4. Analisa Bivariat ... 63
BAB VI PEMBAHASAN A. Analisa Univariat ... 66
1. Gambaran persepsi jenis pola asuh orang tua siswa di SMA Triguna Utama Ciputat ………...66
2. Gambaran risiko perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat……….. 70
B. Analisa Bivariat………... 73
C. Ketrbatasa Peneliti……….. 77
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan………. 78
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Definisi Operasional……….. 45
Table 4.2 Distribusi Pernyataan kuisioner Pola Asuh Orang Tua………. 54
Table 4.3 Distribusi Pernyataan Kuisioner Risiko Perilaku Bullying……… 55
Tabel 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin……… 65
[image:15.612.114.552.39.441.2]Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelas ………. 66
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Persepsi Jenis Pola Asuh Orang Tua ……… 67
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Risiko Perilaku Bullying siswa ……… 68
xvi
[image:16.612.116.551.40.466.2]DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Teori………... 42
xvii
1. Lampiran 1 Lembar Persetujuan Responden
2. Lampiran 2 Data Diri Responden
3. Lampiran 3 Kuisioner Penelitian
4 . Lampiran 4 Hasil Uji Validitas
5. Lampran 5 Hasil Penelitian
6. Lampiran 6 Surat Ijin Uji Validitas
7. Lampiran 7 Surat Ijin Penelitian
xviii
Nama : Ari Nur Husaini
Tempat, Tgl lahir : Sumedang, 14 mei 1991
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Dusun Kaum no. 25 RT 03 RW 04 Desa Jatisari, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Kode pos : 45362
Hp : 085216041866
Email : [email protected]
Riwayat Pendidikan :
1. TK Cut Nyak Dhien Tanjungsari (1996-1997)
2. SDN Tanjungsari 2 (1997-2003)
3. MtsN Ciwaringin Cirebon (2003-2006)
4. MAN Model Ciwaringin Cirebon (2006-2009)
1
PENDAHULUAN
A. Latar BelakangManusia adalah makhluk yang tumbuh dan berkembang, dan salah satu
tahap dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia yaitu masa remaja.
Masa remaja adalah masa dimana terjadi transisi dari masa anak-anak menuju
masa dewasa, yang mencangkup perubahan baik secara biologis, kognitif, dan
sosio-emosional (Santrock, 2007). Kata remaja yang dalam bahasa inggris
adolescence berasal dari kata latin adolescere yang berarti tumbuh atau
tumbuh menjadi dewasa (Hurlock, 2012). Sedangkan batasan usia untuk
remaja adalah 12 – 24 (World Health Organization, 2007 dalam Efendi dan
Mahfudhi, 2009).
Pada remaja terjadi perubahan biologis, hal ini berkaitan dengan anatomi
dan fisiologi, dimana dipengaruhi dari fungsi kelenjar hipofisis yang
mengelurakan hormon, seperti hormon genotrop yang mempercepat fungsi
kematangan sel telur dan sperma, serta mempengaruhi hormon
adrenokortikotropik yang berfungsi mempengaruhi kelenjar suprenalis,
testosteron, estrogen, yang mempengaruhi pertumbuhan anak sehingga terjadi
percepatan pertumbuhan (Monks dan Knoers, 2004). Perubahan fisik ini dapat
dilihat pada pertumbuhan tubuh (badan menjadi makin panjang dan tinggi),
mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan
Perkembangan kognitif atau biasa juga disebut perkembangan intelek
adalah suatu kemampuan untuk melakukan abstraksi, serta berpikir logis dan
cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru
(Ali, 2010). Menurut Santrock (2007), contoh dari perubahan kognitif adalah
remaja dapat mengingat sebuah puisi, mengerjakan soal matematika,
membayangkan bagaimana menjadi orang terkenal. Maka perkembangan
kognitif ini dapat dikatakan sebagai perubahan pemikiran dan intelegensi
individu.
Perkembangan selanjutnya adalah perkembangan sosio-emosial. Emosi
individu biasanya tampak jelas pada perubahan tingkah lakunya. Remaja
biasanya memiliki kondisi emosi yang berkobar-kobar, energi yang besar,
sedangkan pengendalian diri belum sempurna, sehingga sering mengalami
perasaan yang tidak aman, tidak tenang, dan khawatir kesepian (Ali, 2010).
Sehingga dapat dikatakan bahwa emosi remaja masih labil.
Perubahan emosi berkaitan dengan perubahan sosial. Ada dua perubahan
sosial yang terjadi, pertama remaja akan lebih dekat dengan teman sebayanya
dan memisahkan diri dari orang tua dengan maksud menemukan jati diri,
remaja membentuk kelompok dan mengekspresikan segala potensi yang
dimiliki sehingga hal ini membuat remaja sangat rentan terhadap pengaruh
teman sebaya dalam hal sikap, penampilan, dan perilaku. Perubahan sosial
yang kedua adalah remaja mulai menyukai lawan jenis (Monks dan Knoers,
2004). Pada masa ini remaja cenderung ingin mencoba hal – hal baru, baik hal positif maupun negatif, hal negatif yang dicoba salah satunya adalah
Menurut Santrock (2007), menjelaskan bahwa Kenakalan remaja
merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima
secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal. Sedangkan pendapat lain
menyebutkan kenakalan remaja adalah perbuatan yang dilakukan oleh anak
remaja yang bersifat melawan hukum, anti sosial, anti susila, dan menyalahi
norma-norma agama (Sudarsono, 2012).
Selama beberapa tahun terakhir masalah kenakalan remaja menjadi
masalah pokok bagi masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di
kota-kota besar, selain kejadianya terus meningkat, kualitas kenakalanya juga
cenderung meningkat, data kriminalitas dari MABES Polri menunjukan
bahwa selama tahun 2007, tercatat sekitar 3100 orang pelaku tindak pidana
adalah remaja berusia 19 tahun atau kurang, jumlah tersebut pada tahun 2008
dan 2009 masing-masing meningkat mejadi sekitar 3300 remaja dan 4200
remaja (Badan Pusat Statistik, 2010).
Dilihat dari barbagai kenakalan remaja di sekolah, salah satu yang sering
terjadi adalah perilaku bulying, perilaku bullying sendiri adalah tindakan
negatif yang dilakukan seseorang atau lebih, yang dilakukan berulang – ulang dan terjadi dari waktu ke waktu (Olweus, 1993 dalam Hazalden Foundation,
2007). Bullying memiliki arti yang berbeda-beda di setiap negara, tapi pada
umumnya kasus bullying sering terjadi antara senior kepada juniornya.
Sedangkan definisi kata kerja “to bully” dalam Oxford Advanced Learner’s
Dictionaryadalah tindakan yang menimbulkan rasa sakit atau menyakiti orang
Dalam kenyataan sehari-hari bullying dapat terjadi dalam bentuk
penyiksaan atau pelecehan secara fisik, verbal maupun psikologis. Contoh
bullying fisik adalah menampar, menimpuk, dan menginjak kaki. Contoh
bullying non fisik adalah memaki, dan menghina. Contoh bullying psikologis
adalah memandang sinis, dan mempermalukan (Yayasan Sejiwa, 2008).
Perilaku ini pada kalangan remaja di sekolah dapat dikatakan sebagai
fenomena gunung es, karena kasus-kasus hanya sedikit yang terangkat
kepermukaan dan itu juga apabila terdapat kasus yang besar yang dilaporkan,
namun pada kenyataanya perilaku ini sudah sangat melekat di dunia
pendidikan di Indonesia. Penyebab kasus bullying sedikit yang terangkat ke
permukaan adalah sekolah cenderung menutupi kasus bullying seperti
senioritas sebab jika diketahui publik, mereka khawatir sekolahnya akan
mendapat reputasi buruk (Astuti, 2008).
Bullying seringkali dianggap masalah yang sepele, padahal ini merupakan
masalah yang cukup serius bagi siswa di Indonesia. Sebuah survei yang
dilakukan oleh organisasi Plan Indonesia (2008) yang dilakukan di empat kota
besar yakni Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Bogor terhadap 1500 siswa
SMA dan 75 guru, hasilnya 67,9 persen menganggap terjadi kekerasan di
sekolah berupa kekerasan verbal, psikologis, dan fisik, pelaku kekerasan
umumnya teman, kakak kelas, adik kelas, guru, dan siswa yang menjadi
preman di sekolah (kompas.com). Data lain yang tercatat oleh Yayasan Sejiwa
(2008), hasil survei yang dilakukan pada workshop antibullying (2006) pada
sekitar 250 peserta, 94,9% peserta yang hadir menyatakan bahwa memang
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya bullying antara lain faktor
keluarga, teman sebaya, dan pengaruh media (Quiroz dkk, 2006). Sedangkan
menurut pendapat lain menyebutkan ada 7 faktor penyebab terjadinya bullying
yaitu perbedaan kelas, tradisi senioritas, senioritas, keluarga yang tidak rukun,
situasi sekolah yang tidak harmonis, karakter individu/kelompok, dan
persepsi/nilai yang salah atas perilaku korban (Astuti, 2008)
Terdapat faktor keluarga, keluarga merupakan sekolah pertama anak,
dimana anak mulai mempelajari semuanya dari mulai keluarga yang ada di
rumah dan pada akhirnya akan menjadi nilai dan perilaku yang dia anut ( hasil
imitasi). Maka dari itu pola asuh penting kaitanya sebagai hal yang
mempengaruhi perilaku anak, sehingga dapat dikatakan pola asuh orang tua di
rumah dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan perilaku bullying.
Selain itu, tipe orang tua di rumah yang suka memaki, membandingkan,
melakukan kekerasan fisik maka anakpun akan menganggap benar bahasa
kekerasan (Haryana, 2004 dalam Yayasan Sejiwa, 2008). Jadi jelas bullying
itu dapat mulai tertanam sejak anak masih berusia dini sehingga harus ada
upaya yang maksimal untuk mencegah “benih” tersebut tumbuh berkembang
dirumah, yang kemudian akan berlanjut ke sekolah. (Priyatna, 2010).
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Maghfiroh & Rahmawati (2009),
yang dilakukan pada 73 siswa/siswi di Bantul Yogyakarta, mendapatkan hasil
ada hubungan negatif antara iklim sekolah dengan kecenderungan perilaku
bullying. semakin negatif iklim suatu sekolah makin tinggi kecenderungan
perilaku bullying. Sebaliknya semakin positif iklim sekolah maka semakin
memberi sumbangan sebesar 21% terhadap kecenderungan perilaku bullying.
Atas dasar tersebut peneliti ini menyarankan untuk penelitian berikutnya
tentang kecenderungan perilaku bullying dilakukan dengan faktor-faktor
lainya seperti pola asuh orang tua, pengaruh teman sebaya dan sebagainya.
Peneltitian lainya yang dilakukan oleh Kismartani (2010) menunjukan
bahwa secara umum masyarakat mengidentifikasi pola asuh keluarga sebagai
faktor yang paling mempengaruhi perilaku bullying. Pola asuh keluarga disini
adalah bagaimana pola asuh orang tua terhadap anaknya di rumah.
Dampak bullying sendiri akan terjadi dalam jangka waktu lama dan
cenderung terbawa sampai dewasa. Bullying menyebabkan seorang anak yang
menjadi korban akan terhambat dalam aktualisasi diri. Bullying tidak memberi
rasa aman dan nyaman, sehingga akan membuat para korban takut dan
terintimidasi, rendah diri, serta tidak merasa berharga, sulit berkonsentrasi
dalam belajar, tidak bergerak untuk bersosialisasi dengan lingkungan, tidak
ingin sekolah, pribadi yang tidak percaya diri dan sulit berkomunikasi, akan
menyebabkan prestasi belajarnya merosot, mungkin pula para korban bullying
akan kehilangan rasa percaya diri kepada lingkungan yang banyak menyakiti
dirinya (Yayasan Sejiwa, 2008). Selain itu pula kegagalan dalam mengatasi
bullying akan menyebabkan tindakan agresi yang lebih jauh (Pearce dan Eliot
2002, dalam Astuti, 2008). Jadi penting untuk menangani bullying agar dapat
mencegah dampak buruk yang di timbulkanya.
Melihat pemaparan di atas peneliti merasa tertarik untuk meneliti
hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku
bagaimana anak mempersepsikan tentang pola asuh yang orang tua terapkan
padanya. SMA Triguna Utama di pilih karena jaraknya dekat dengan tempat
tinggal peneliti, sehingga diharapkan akan memudahkan dalam penelitianya
dan menghemat biaya. SMA ini tergolong sekolah yang cukup besar, dan
berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti lakukan dalam hal ini wawancara
terhadap guru BP dan 10 orang siswanya didapatkan bahwa terdapat kejadian
bullying di sekolahnya seperti bullying fisik, verbal, dan psikologis.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan :
1. Hasil survei yang dilakukan Yayasan Sejiwa terhadap sekitar 250 orang
peserta workshop antibullying 2006, menunjukan 94,9% peserta
menyatakan terjadi bullying di sekolah – sekolah di Indonesia. Dan dalam survei yang dilakukan oleh Organisasi kemanusian Plan Indonesia (2008)
di empat kota besar di Indonesia pada 1500 siswa dan 75 guru, menunjukan
bahwa 67,9% menganggap terjadi bullying di sekolah.
2. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya bullying adalah keluarga,
teman sebaya dan pengaruh media.( Quiroz dkk, 2006)
3. Penelitian yang dilakukan oleh Kusmartani (2010) menunjukan bahwa
faktor pola asuh keluarga adalah yang paling mempengaruhi perilaku
bullying.
4. Studi pendahuluan yang dilakukan dengan cara wawancara terhadap guru
BP dan 10 orang siswa SMA Triguna Utama Ciputat menyatakan bahwa di
sekolahnya terjadi perilaku bullying, meliputi bullying fisik, verbal, dan
Maka peneliti merumuskan masalah peneltian sebagai berikut, apakah ada
hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku
bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat?
C. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana gambaran siswa di SMA Triguna Utama Ciputat ?
2. Bagaimana persepsi jenis pola asuh orang tua siswa di SMA Triguna Utama
Ciputat ?
3. Bagaiman tingkat risiko perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama
Ciputat ?
4. Bagaimana hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap resiko
perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama Ciputat ?
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara
persepsi jenis pola asuh orang tua terhadap risiko perilaku bullying siswa di
SMA Triguna Utama Ciputat.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi gambaran demografi siswa di SMA Triguna Utama Ciputat.
b. Mengidentifikasi persepsi jenis pola asuh orang tua siswa di SMA Triguna
Utama Ciputat.
c. Mengidentifikasi tingkat risiko Perilaku bullying siswa di SMA Triguna Utama
Ciputat.
d. Mengidentifikasi hubungan antara jenis pola asuh orang tua terhadap risiko
E. Manfaat Penelitian
1. Ilmu Keperawatan
Penelitian ini dapat menjadi referensi dalam penelitian yang akan datang serta
dapat menambah wawasan dalam bidang ilmu keperawatan jiwa, anak, maupun
keluarga. Serta diharapkan dapat menambah teori yang sudah ada mengenai
bagaimana persepsi pola asuh orang tua terhada risiko perilaku bullying.
2. SMA Triguna Utama
Dapat mencegah atau mengurangi sedini mungkin dampak buruk dari bullying
ketika sudah mengetahui data tentang bullying maupun bagaimana persepsi
pola asuh orang tua yang dapat mempengaruhi perilaku tersebut, sehingga
dapat memaksimalkan potensi siswa maupun siswi di SMA Triguna Utama
Ciputat. Bagi BP juga dapat mempunyai data bagaimana tingkat risiko perilaku
bullying di sekolah sehingga dapat meminimalisirnya.
3. Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam konteks
keilmuan dan metodologi penelitian yang baik dan benar, serta memberikan
pengalaman yang berharga sebagai peneliti pemula. Hasil dari penelitian ini
juga dapat digunakan untuk penelitian yang akan datang.
F. Ruang Lingkup Penelitian
Jenis dari penelitian ini adalah kuantitatif, dengan menggunakan desain
deskriptif korelatif. Penelitian ini dilakukan di SMA Triguna Utama Ciputat
yang melibatkan kelas X, XI IPA, dan XI IPS. Penelitian ini dilakukan untuk
melihat apakah ada hubungan antara persepsi jenis pola asuh orang tua
10
TINJAUAN PUSTAKA
A. Remaja1. Pengertian Remaja
Masa remaja adalah salah satu tahap perkembangan manusia, kata remaja
(adolescence) berasal dari bahasa latin yaitu “adolescare” yang artinya
tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Remaja merupakan suatu masa peralihan
dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang dimulai dengan adanya
kematangan seksual yaitu antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun
atau menjelang dewasa muda (Soetjiningsih, 2004). Sedangkan menurut
Nototatmojdo (2007) menjelaskan sebagian besar masyarakat sesuai budayanya
mengkategorikan remaja pada usia awal 10-13 tahun dan berakhir pada usia
18-22 tahun. Menurut Wong, dkk (2009) remaja adalah bila seorang anak telah
mencapai umur 10-20 tahun.
Berikut beberapa definisi remaja lainya :
a. Menurut UU No.1 tahun 1979 tentang kesejehteraan anak, remaja adalah
yang belum mencapai usia 21 tahun dan belum menikah.
b. Menurut UU perburuhan tahun 1997, anak dianggap remaja apabila
mencapai usia 15-18 tahun.
c. Menurut UU perkawinan No.1 tahun 1979, seorang anak dianggap remaja
apabila sudah cukup matang, usia 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun
Jadi dari beberapa pengertian remaja di atas dapat disimpulkan bahwa
remaja adalah salah satu tahap perkembangan manusia, berupa masa
peralihan dari anak-anak menjadi dewasa dimulai pada usia 10 – 22 tahun dan
belum menikah.
2. Tahap Perkembangan Remaja
Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada tiga tahap
perkembangan remaja, yaitu :
a. Remaja awal (early adolescence)
Remaja awal ini masih terheran – heran akan perubahan yang terjadi pada dirinya dan dorongan–dorongan yang menyertai perubahan–perubahan
itu. Dan pada saat ini mereka mulai menyukai lawan jenis dan menjadi lebih
mudah terangsang. Mereka memiliki kepekaan yang berlebihan terhadap
lawan jenis.
b. Remaja madya (middle adolescence)
Remaja pada tahapan ini membutuhkan banyak teman-teman sehingga
mereka akan merasa senang apabila punya banyak teman dan diterima oleh
teman-temanya, selain itu remaja ini mempunyai kecenderungan narsistik,
yaitu menyukai diri sendiri dan orang-orang yang sama dengan dirinya. Pada
masa ini terjadi kebingungan seperti memilih yang mana yang peka atau
tidak peduli, optimis atau pesimis, idealis atau materialis, dan sebagainya,
remaja pria juga sudah harus membebaskan dari oedispus complex (perasaan
cinta pada ibu sendiri seperti pada masa anak-anak) dengan cara mempererat
c..Reamaja akhir ( late adolescence)
Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa yaitu ditandai
dengan pencapaian lima hal, yaitu :
1) Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek
2) Egonya untuk mencari kesempatan bersatu dengan orang lain dan
dalam pengalaman-pengalaman baru.
3) Terbentuknya identitas seksual yang tidak akan berubah lagi
4) Egosentrisme (memusatkan perhatian pada diri sendiri) menjadi
kesimbangan antara kepentingan sendiri dan orang lain
5) Tumbuhnya “dinding” yang menjadi pemisah diri pribadinya dan
masyarakat umum (Sarwono, 2012).
3. Pertumbuhan dan perkembangan pada remaja
Masa remaja mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cepat,
pertumbuhan dan perkembangan itu adalah biologis, kognitif, dan
sosio-emosional (Santrock, 2007).
a. Pertumbuhan biologis
Pertumbuhan adalah suatu proses perubahan fisiologis yang
bersifat progresif dan kontinu dan berlangsung dalam periode tertentu.
Pertumbuhan ini bersifat kuantitatif dan berkisar hanya pada aspek fisik
individu (Ali, 2010). Perubahan yang pesat di masa remaja juga biasa
disebut dengan masa puberitas. Puberitas adalah sebuah periode dimana
kematangan fisik begitu pesat, yang melibatkan perubahan hormonal dan
zat kimia yang kuat yang diciptkan oleh kelenjar endokrin dan dibawa
keseluruh tubuh melalui aliran darah (Santrock, 2007).
Pesatnya perubahan akan menyebabkan kejutan kepada remaja,
sebagai contoh pakaian yang dimilki oleh remaja sering kali tidak dapat
digunakan lagi, dan harus membeli lagi baju baru. Pada remaja putri ada
perasaan seolah-olah belum dapat menerima kenyataan bahwa tanpa
dibayangkan sebelumnya payudaranya membesar. Oleh sebab itu
seringkali gerak-gerik remaja menjadi canggung dan tidak bebas,
gangguan yang terjadi karena pesatnya pertumbuhan fisik seperti ini biasa
disebut dengan gangguan regulasi (Ali, 2010).
Pertumbuhan fisik meliputi dua hal, yakni internal dan eksternal.
Perubahan internal contohnya perubahan alat pencernaan makanan,
bertambah besarnya berat dan ukuran jantung dan paru-paru, dan
bertambah sempurnanya kelenjar endokrin atau kelamin dan seluruh
bagian tubuh. Sedangkan perubahan eksternal contohnya bertambahnya
tinggi badan, bertambah lingkar tubuh, ukuran dan panjang lingkar tubuh,
ukuran organ seks, munculnya tanda-tanda kelamin sekunder (Hurlock
E.B, 1991 dalam Ali, 2010).
Selain itu ada juga faktor- faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik :
a. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu,
Anak yang orang tuanya bertumbuh tinggi cenderung lebih lekas menjadi
tinggi dari pada anak dengan orang tuanya bertumbuh pendek, dalam hal
ini dapat dikatakan juga faktor genetik.
2) Kematangan
Faktor kematangan mempengaruhi pertumbuhan fisik, sebagai contoh
anak yang berumur tiga bulan walaupun diberikan makanan bergizi
supaya menunjang otot kakinya agar dapat berjalan, tidak mungkin
berhasil jika usianya sebelum lebih dari sepuluh bulan.
b. Faktor Eksternal
1) Kesehatan
Anak yang sering sakit-sakitan pertumbuhan fisiknya akan terhambat.
2) Makanan
Makanan yang bergizi akan membuat anak tumbuh dengan pesat
dibandingkan anak yang tidak mendapatkan makanan yang bergizi.
3) Stimulasi Lingkungan
Individu yang tubuhnya sering dilatih oleh lingkungannya untuk
meningkatkan percepatan pertumbuhannya, akan berbeda dengan yang
tidak mendapatkan latihan (Ali, 2010). Oleh karna adanya faktor-faktor
internal dan eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan individu, maka
akan menyebabkan pertumbuhan fisik bervariasi setiap orangnya.
b. Perubahan Kognitif
Kemampuan pemikiran remaja yang sedang berkembang, membuat
dan idealis, dan lebih cenderung memantau dunia sosial. Menurut Piaget
(2001 dalam Gunarsa 2012), remaja termotivasi untuk memahami
dunianya karena hal ini merupakan suatu bentuk adaptasi biologis. Remaja
secara aktif mengkontruksi dunia kognitifnya sendiri, mereka juga
melibatkan gagasan–gagasan baru karena informasi ini dapat meningkatkan pemahaman mereka (Ali, 2010).
Ketika mengkontruksikan dunianya yang akhirnya meningkatkan
pemahamannya, remaja menggunakan skema. Skema adalah sebuah
konsep atau kerangka kerja mental yang diperlukan untuk
mengorganisasikan dan menginterprestasikan informasi. Remaja
menggunakan dan mengadaptasikan skema kedalam dua proses, yaitu
asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah memasukan informasi baru
kedalam pengetahuan yang sudah ada, dalam asimilasi skema yang sudah
ada tidak mengalami perubahan. Akomodasi adalah menyesuaikan sebuah
skema yang sudah ada terhadap masuknya informasi baru (Santrock,
2007).
Tahap- tahap perkembangan kognitif
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2007), individu berkembang
melalui empat tahap kognitif, yaitu sensorimotor, pra-oprasional motor,
operasi konkret, dan operasi formal. Setiap tahap yang tergantung pada
usia ini memiliki cara berfikir yang berbeda, sedangkan remaja sendiri
termasuk kedalam tahap operasional formal, yaitu remaja bernalar secara
c. Perubahan emosional
Definisi emosi sendiri menurut Chaplin (1989 dalam Ali, 2010)
adalah suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencangkup
perubahan- perubahan yang disadari, yang sifatnya mendalam dari
perubahan perilaku. Sedangkan Perubahan sosio-emosional adalah
perubahan relasi individu dengan orang lain, emosi, kepribadian dan
konteks sosial (Santrock, 2007).
Dalam hal ini emosi memilki peranan penting dalam tingkah laku
individu termasuk dalam masalah sosial ini saling berkaitan. Daniel
Goleman (1995 dalam Ali, 2010) mengemukakan sejumlah ciri utama
pikiran emosional sebagai bukti bahwa emosi memainkan peranan penting
dalam pola pikir maupun tingkah laku individu. Adapun ciri utama pikiran
emosional tersebut adalah respon yang cepat tetapi ceroboh,
mendahulukan perasaan kemudian pemikiran, memperlakukan realitas
sebagai realitas simbolik, masa lampau diposisikan sebagai masa sekarang,
realitas yang ditentukan oleh keadaan (Ali).
Remaja biasanya memiliki energi yang besar, emosi
berkobar-kobar sedangkan pengendalian diri belum sempurna. Selain itu
perkembangan emosi remaja juga di pengaruhi beberapa faktor, yaitu
perubahan jasmani, perubahan pola interaksi dengan orang tua, perubahan
interkasi dengan teman sebaya, perubahan pandangan luar, perubahan
tersebut perkembangan emosi remaja sangat dimungkin berbeda satu sama
lain.
d. Perubahan Sosial
Perkembangan sosial terjadi karena adanya hubungan sosial yang
berubah karena adanya dorongan rasa ingin tahu terhadap segala sesuatu
yang ada disekitarnya. Hubungan sosial ini berawal dari rumah yang
kemudian dilanjutkan disekolah dan dilanjutkan lagi ketempat yang lebih
luas yaitu pergaulan teman sebaya. Pergaulan adalah juga sesuatu untuk
memperkembangkan aspek sosial anak. Seorang anak membutuhkan anak
lain atau kelompok yang kira-kira sebaya. Melalui hubungan dengan
lingkungan sosialnya, anak sengaja atau tidak sengaja, langsung atau tidak
langsung terpengaruh kepribadiannya (Gunarsa, 2004).
Ada karakteristik yang unik dari perkembangan sosial remaja,
yaitu berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan untuk
bergaul, adanya upaya untuk memilih nilai-nilai sosial, meningkatnya
kesadaran akan lawan jenis, dan mulai tampak kecenderungan mereka
untuk memilih karier tertentu. Akan tetapi perkembangan sosial setiap
remaja tentu saja tidak akan sama karena dipengaruhi oleh keluarga,
sekolah dan masyarakat (Ali, 2010).
4. Tugas Perkembangan Remaja
Tugas perkembangan remaja yaitu memfokuskan pada bagaimana
dewasa. Menurut Havighurst (1961) tugas perkembangan remaja adalah
sebagai berikut:
a. Mencapai hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya baik pria
maupun wanita.
b. Mencapai peran sosial pria dan wanita.
c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif.
d. Mencapai dan mengharapkan perilaku sosial yang bertanggung jawab.
e. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang – orang dewasa
lainya.
f. Mempersiapkan karir ekonomi.
g. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
h. Memperoleh peringkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk
berperilaku mengembangkan ideologi (Hurlock, 2012)
5. Kenakalan Remaja
a. Pengertian kenakalan Remaja :
Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah
juvenile delinquency, merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang
disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial yang berakibat mereka
mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang (Kartono,1997).
Menurut Santrock (2007), kenakalan remaja merupakan kumpulan dari
berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga
terjadi tindakan kriminal. Sedangkan menurut Sudarsono (2012), kenakalan
remaja yang bersifat melawan hukum, anti sosial, anti susila, dan menyalahi
norma – norma agama.
Jadi kenakalan remaja adalah segala sesuatu perilaku remaja yang
bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat yang sampai
pada tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja. Adapun kenakalan
remaja yang sering terjadi di sekolah adalah perilaku bullying.
b. Jenis – jenis kenakalan remaja
Jensen (1985) membagi kenakalan remaja menjadi 4 jenis, yaitu :
a) Kenakalan remaja yang menimbulkan korban fisik pada orang lain.
Seperti : perkelahian, pembunuhan, perampokan, dan lain-lain.
b) Kenakalan yang menibulkan korban materi : perusakan, pencurian,
pemerasan, dan lain-lain.
c) Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain.
Seperti pelacuran, penyalahgunaan obat, dan lain-lain.
d) Kenakalan yang melawan status, Seperti : mengingkari status sebagai
pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan
cara minggat dari rumah, dan lain-lain. (Sarwono, 2012)
B. Persepsi
Walgito (2001) menjelaskan persepsi adalah suatu proses pengoganisasian,
penginterpresatasian, terhadap rangsang yang diterima oleh individu, sehingga
merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terintegrasi
persepsi adalah daya mengenal barang kualitas atau hubungan dan perbedaan
antara hal ini melalui proses mengamati, mengetahui, atau mengartikan setelah
pancaindra mendapat rangsang (Sunaryo, 2002).
Marliyah (2004) menjelaskan persepsi adalah penafsiran unik terhadap
situasi dan bukan merupakan pencarian yang benar terhadap situasi. Sedangkan
menurut Seamon dan Kenrick (1994) persepsi adalah sesuatu yang melibatkan
proses organisasi dan interprestasi dari stimulus-stimulus untuk memberikan
makna-makna tertentu. Menurut Rakhmat (2000) penyimpulan informasi dan
penafsiran kesan dari pengalaman akan objek, peristiwa, dan
hubungan-hubungan yang diperoleh inilah yang akhirnya akan membentuk persepsi
(Marliyah, 2004).
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah
penafsiran individu terhadap stimulus-stimulus yang datang padanya melalui
panca indra terhadap situasi.
2. Jenis-jenis Persepsi
Ada dua macam persepsi yaitu :
a. External perception adalah persepsi yang terjadi karena adanya rangsang
yang datang dari luar individu.
b. Self-perception adalah persepsi yang terjadi karena adanya rangsang yang
berasal dari dalam diri individu, dalam hal ini yang menjadi objek adalah
3. Syarat Terjadinya Persepsi
Persepsi adalah suatu proses yang didahului pengindraan, yaitu dengan
diterimanya stimulus oleh reseptor, diteruskan ke otak atau pusat saraf yang di
organisasikan dan diinterprestasikan sebagai proses psikologis. Akhirnya individu
menyadari apa yang dilihat dan didengarkan. Berikut syarat terjadinya persepsi :
a. Adanya Objek : objek → stimulus → alat indra (reseptor).
Stimulus berasal dari luar individu (langsung mengenai alat indra/reseptor)
dan dari dalam diri individu (langsung mengenai saraf sensoris yang bekerja
sebagai reseptor).
b. Adanya perhatian sebagai langkah pertama untuk mengadakan persepsi.
c. Adanya alat indra sebagai reseptor penerima stimulus.
d. Saraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus ke otak (pusat
saraf/pusat kesadaran). Dari otak dibawa melalui saraf motoris sebagai alat
untuk mengadakan respons (Sunaryo, 2002).
4. Proses Terjadinya Persepsi
Persepsi melewati tiga proses, yaitu :
a. Proses Fisik (kealaman) : Objek → stimulus → reseptor atau alat indra.
b. proses fisiologis : stimulus → saraf sensoris → otak.
c. Proses Psikologis : Proses dalam otak sehingga individu menyadari stimulus
yang diterima.
Penelitian yang dilakukan oleh Rahman (2008) menunjukan bahwa
semakin positif remaja mempersepsikan pola asuh ayah dan ibunya, maka
keluarga dapat memberikan dasar pembentukan sikap, watak, tingkah laku, moral
dan pendidikan pada anak, yang semua itu mampu di persepsi remaja secara
positif, sehingga berdampak positif pula pada kualitas kepribadian remaja, dalam
hal ini pada perilaku disiplinya. Hal ini menunjukan bahwa persepsi dapat
mempengaruhi perilaku.
Hurlock (2005) menyatakan bahwa persepsi individu dapat memotivasi
perilakunya lebih lanjut. objek persepsi yang dinilai tidak menyenangkan maka
perilakunya negatif, sebaliknya individu yang mempersepsikan suatu objek secara
positif, maka akan mengkondisikan individu secara psikologis sebagai motivasi
untuk berperilaku positif.
C. Pola Asuh Orang Tua
1. Pengertian Pola Asuh Orang Tua
Keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dimana anak dapat
berinteraksi. Pengaruh keluarga dalam pembentukan dan perkembangan
kepribadian sangatlah besar artinya. Orang tua memiliki tanggung jawab
untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai
tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan
bermasyarakat.
Setiap anak sangat membutuhkan lingkungan keluarga, rasa aman yang
diperoleh dari ibu dan rasa terlindung dari ayah. Rasa aman dalam keluarga
merupakan salah satu syarat bagi kelancaran proses perkembangan anak,
kekhawatiran dan kecemasan yang terlihat pada orang dewasa dan remaja bila
dengan hilangnya rasa aman pada usia muda (Gunarsa, 2004). Dalam
mengasuh anaknya, orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada di
lingkungannya. Di samping itu, orang tua juga diwarnai oleh sikap-sikap
tertentu dalam memelihara, membimbing, dan mengarahkan putra-putrinya.
Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada anaknya yang
berbeda-beda, karena setiap masing-masing orang tua mempunyai pola
pengasuhan tertentu yang beda pula. Pola asuh orang tua merupakan interaksi
antara orang tua dengan anak. Selama proses pengasuhan orang tua itulah
yang memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak.
Menurut Santrock (2004), mendefinisikan pengasuhan orang tua adalah
aktivitas kompleks termasuk banyak perilaku spesifik yang dikerjakan secara
individu dan bersama-sama untuk mempengaruhi pembentukan karakter anak.
Sedangkan menurut Wahyuningsih dkk (2003), menjelaskan pola asuh sebagai
seluruh cara perlakuan orang tua yang diterapkan pada anak.
Dalam mengasuh anaknya, orang tua cenderung menggunakan pola asuh
tertentu. Penggunaan pola asuh tertentu ini memberikan sumbangan dalam
mewarnai perkembangan terhadap bentuk- bentuk perilaku sosial tertentu pada
anaknya. Pola asuh orang tua merupakan interaksi antara anak dan orang tua
selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Pengasuhan ini berarti orang tua
mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk
mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam
tua yang di terapkan pada anaknya, untuk membentuk karakter anak dan
dalam mencapai kedewasaan anaknya.
2. Jenis Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh terbentuk karena adanya dua hal yaitu demandignes dan
responsivnes. Demandignes standar yang berkaitan dengan kontrol perilaku
yang ditetapkan oleh orang tua kepada anaknya, sedangkan responsiveness
adalah respon orang tua kepada anaknya yang berkaitan dengan kehangatan
dan dukungan (Baumrind, 1991 dalam Santrock, 2007). Pendapat Baumrind
menjelaskan bahwa orang tua sebaiknya tidak bersikap menghukum maupun
bersikap menjauh namun sebaiknya orang tua mengembangkan aturan-aturan
dan hangat terhadap mereka. Dalam hal ini Baumrind (1971) dalam Fathi
(2011) menjelaskan 3 gaya pola asuh yaitu : authoritative, authoritarian, dan
permissive.
a. Authoritative (Demokratis)
Gaya pengasuhan orang tua yang bergaya otoratif. Mendorong remaja
untuk mandiri namun masih membatasi dan mengendalikan aksi-aksi mereka.
Memberikan komunikasi terbuka dan kehangatan dalam mengasuh. Ciri yang
kental pada pola pengasuhan ini adalah diskusi antara anak dan orang tua.
Kerja sama yang berjalan baik antara anak dan orang tua. Anak diakui
eksistensinya. Kebebasan berekspresi diberikan kepada anak dengan tetap
berada dibawah pengawasan orang tua. Pola asuh ini biasa juga disebut pola
Menurut Cole dan Hall (1970) dalam Rahman (2008), mengemukakan
bahwa suasana terbuka dan kondusif yang ada pada pola asuh demokratis
menyebabkan remaja menjadi lebih berkembang serta memiliki kemampuan
menghadapi konflik yang terjadi dengan orang lain. Hal tersebut dipertegas
oleh Shapiro (2001) yang menjelaskan bahwa ayah dan ibu dengan pola asuh
demokratis menyebabkan anak tidak tergantung dan tidak berperilaku
kekanak-kanakan, mendorong untuk berprestasi, kreatif dan disukai banyak
orang serta responsif (Rahman, 2008).
b. Authoritarian (Otoriter)
Pola asuh ototiter ini bersifat menghukum dan membatasi dimana orang
tua sangat memaksakan remaja mengikuti dan menghormati usaha-usaha yang
dilakukan oleh orang tuanya, serta komunikasi tertutup, sehingga tidak
memberikan kesempatan kepada anak untuk berkomunikasi secara verbal. Ciri
khas pola asuh ini diantaranya kekuasaan orang tua dominan jika tidak boleh
dikatakan mutlak, anak yang tidak mematuhi orang tua akan mendapatkan
hukuman yang keras, pendapat anak tidak didengarkan sehingga anak tidak
memiliki eksistensi dirumah, tingkah laku anak dikontrol degan sangat ketat.
Berdasarkan ciri-ciri tersebut diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa pola
asuh otoriter memiliki ciri pokok tidak demokratis dan menerapkan kontrol
yang kuat. Hal ini berbeda dengan pola asuh otorotatif (demokratis) yang
berciri demokrasi dan menerapkan kontrol. Berbeda pula dengan pola asuh
permisif yang berciri demokratis, tetapi tanpa memberikan kontrol. Dengan
asuh otoriter, maka tidak mengherankan pola asuh otoriter memiliki banyak
akibat negatif terhadap anak (Widyarini, 2009)
Penelitian yang dilkukan oleh Anggaraningtyas dkk (2010) menunjukan
hasil bahwa remaja yang mempersepsikan orang tuanya memberikan pola asuh
otoriter mempunyai hubungan yang signifikan dengan kecenderungan perilaku
agresi. Hal ini sejalan dengan pendapat Steinberg (1993) dalam Hasugian
(2012) menjelaskan bahwa remaja yang tumbuh dalam keluarga dengan pola
asuh Otoriter (Authoritarian) cenderung menjadi individu yang bergantung
pada orang lain, pasif, kurang mampu bersosialisasi, kurang percaya diri, dan
kurang berminat pada hal-hal yang menyangkut inteletualitas.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Asmaliah (2008) menunjukan hasil
semakin positif persepsi remaja awal terhadap pola asuh orang tua ototrier
maka semakin rendah motivasi berprestasinya, dan semakin negatif persepsi
remaja awal terhadap pola asuh. Artinya jika remaja awal ini semakin
mempersepsikan bahwa pola asuh yang diterapkan kepadanya adalah otoriter,
makan akan semakin rendah motivasi untuk berprestasi dari remaja tersebut.
Orang tua dengan pola asuh otoriter tidak menyadari bahwa dengan pola
yang lebih banyak menuntut terhadap anak ini telah mengikis kehangatan
hubungan dengan anak. Anak tidak menemukan suasana yang memungkinkan
untuk mengekspresikan pikiran atau perasaanya. Padahal kehangatan dalam
hubungan orang tua dan anak merupakan prasyarat bagi kesejahteraan
c. Permissive (permisif / Mengabaikan)
Gaya pengasuhan orang tua dimana orang tua memberikan kebebasan
penuh kepada anaknya. Cirinya orang tua bersifat longgar, tidak terlalu
memberikan bimbingan dan kontrol, perhatian pun terkesan kurang. Kendali
anak sepenuhnya terdapat pada anak itu sendri.
Pola asuh permisif juga memiliki dampak yang tidak baik juga bagi anak.
Menurut Surbakti (2009) Akibat penerapan pola asuh permisif adalah anak
akan bertindak sekehendak hati, tidak mampu mengendalikan diri, tingkat
kesadaran mereka rendah, menganut pola hidup bebas, nyaris tanpa aturan,
selalu memaksakan kehendak, tidak mampu membedakan baik dan buruk,
kemampuan berkompetensi yang rendah, tidak mampu menghargai prestasi
dan kerja keras, mudah putus asa, daya juang rendah, tidak produktif, dan
kemampuan mengambil keputusan rendah.
Patterson & Stouthamer (1984) dalam Santrock (2007) menjelaskan bahwa
kurangnya pengawasan yang memadai dari orang tua merupakan aspek
pengasuhan yang paling sering berkaitan dengan kenakalan remaja. Pendapat
ini didukung oleh Surbakti (2009) yaitu akibat penerapan pola asuh permisif
remaja akan merasa bebas melakukan apa yang saja sesuai keinginan mereka,
pola asuh permisif juga merupakan metode yang paling cepat menghancurkan
masa depan remaja. Tipe pola asuh permisif juga membawa dampak lebih
buruk dalam hal prestasi belajar dari pada pola asuh otoriter (Palupi dan
Setelah dijelaskan mengenai berbagai jenis pola asuh, maka dapat
disimpulkan bahwa pola asuh otoritatif (demokrasi) adalah yang paling efektif,
seperti pendapat yang diungkapkan oleh Steinberg & Silk (2002) dalam
Santrock (2007) pola pengasuhan otoritatif (demokratis) merupakan pola
pengasuhan yang paling efektif, karena ;
a. Orang tua otoritatif mencapai keseimbangan yang baik antara
pengendalian dan otonomi, memberikan peluang kepada anak-anak dan
remaja untuk mengembangkan kemandirian sambil memberika standar,
batasan dan bimbingan yang diperlukan oleh anak-anak (Rauter & Conger,
1995).
b. Orang tua otoritatif cenderung lebih banyak melibatkan anak-anaknya
dalam dialog verbal dan membiarkan mereka mengeksprsikan
pandangan-pandanganya (Kuczynski & Lollis, 2002). Jenis diskusi keluarga seperti ini
dapat membantu anak-anak memahami relasi sosial dan hal-hal yang
dibutuhkan untuk menjadi seorang yang kompeten.
c. Kehangatan dan keteribatan yang diberikan oleh orang tua yang otoritattif
membuat anak lebih bersedia menerima pendidikan orang tua (Sim, 2000)
Setiap orang tua tentunya memiliki gaya pengasuhan yang berbeda beda,
namun dalam kehidupan sehari-hari orang tua mungkin melakukan kombinasi
dari gaya pengasuhan, akan tetapi hanya satu gaya pengasuhan yang dominan
3. Faktor – faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua
Ada beberapa hal yang mempengaruhi jenis pola asuh yang digunakan orang
tua menurut Hurlock (2012), yaitu :
a. Pola asuh yang diterima orang tua waktu masih anak – anak.
Orang tua memiliki kecenderungan yang besar menerapkan pola asuh yang
mereka terima dari orang tua mereka pada anaknya.
b. Pendidikan orang tua
Orang tua yang mendapatkan pendidikan yang baik, cenderung
menerapkan pola asuh yang lebih demokratis ataupun permisif
dibandingkan dengan orang tua yang pendidikanya terbatas. Pendidikan
membantu orang tua untuk lebih memahami kebutuhan anak.
c. Kelas sosial
Perbedaan dari kelas sosial orang tua mempengaruhi pemilihan pola asuh.
Orang tua dari kelas sosial menengah cenderung lebih permisif
dibandingkan dari orang tua kelas sosial bawah.
d. Konsep tentang peran orang tua
Setiap orang tua memeiliki konsep tentang bagaimana seharusnya dia
berperan. Orang tua dengan konsep tradisional cenderung memilih pola
asuh yang ketat dibandingkan orang tua dengan konsep non-tradisional.
e. Kepribadian orang tua
Kepribadian memepengaruhi bagaimana mereka menginterprestasikan pola
konservatif cenderung akan memperlakukan anaknya dengan ketat dan
otoriter.
f. Kepribadian anak
Anak yang ekstrovert akan bersikap lebih terbuka terhadap
rangsangan-rangsangan yang datang padanya dibandingkan anak yang introvert.
g. Faktor nilai yang dianut orang tua
Seperti paham „equalitarian’ dimana kedudukan anak sejajar dengan orang
tua. Namun kebanyakan di Negara timur, orang tua masih lebih cenderung
manghargai kepatuhan anak.
h. Usia anak
Tingkah laku dan sikap orang tua terhadap anaknya di pengaruh oleh usia
anak. Orang tua lebih memberikan dukungan dan dapat menerima sikap
ketergantungan anak usia pra sekolah dari pada remaja.
D. Bullying
1. Definisi Perilaku Bullying
Banyak pakar bullying yang mendebatkan tentang definisi bullying.
Definisi yang sering digunakan adalah definisi Olweus (1993 dalam Hazalden
Foundation 2007), yang menjelaskan bullying sebagai suatu penindasan
tehadap seorang siswa yang dilakukan berulang kali dari waktu ke waktu yang
berdampak negatif dan dilakukan oleh satu siswa atau lebih .
Sedangkan definisi lain menyebutkan bahwa bullying adalah suatu
oleh seseorang atau kelompok. Pihak yang kuat disini tidak hanya kuat secara
fisik, akan tetapi bisa juga kuat secara mental, dan korban bullying tidak
mampu mempertahankan dirinya karena lemah secara fisik maupun secara
mental (Yayasan Sejiwa, 2008).
Definisi bullying menurut Ken Rigby (dalam Astuti, 2008) adalah sebuah
hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan kedalam aksi, menyebabkan
seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau
sekelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan
dilakukan dengan perasaan senang. Flynt dan Marton (2006), juga
menyebutkan perilaku bullying adalah perilaku agresi yang dilakukan secara
bebas dengan tujuan melukai orang lain secara penuh dan dilakukan secara
terus menerus.
Dari beberapa definisi di atas diperoleh kesimpulan bahwa bullying adalah
suatu bentuk agresi yang dilakukan oleh orang yang merasa berkuasa kepada
orang yang dianggap lemah untuk keuntungan atau kepuasan mereka sendiri
baik dilakukan oleh individu atau kelompok dengan tujuan untuk menyakiti
korbanya dan dilakukan dengan berulang-ulang.
2. Bentuk – bentuk Bullying
Astuti (2008) menjelaskan bentuk-bentuk bullying sebagai berikut :
a. Fisik adalah menganiaya secara fisik, seperti menggigit, mengunci,
menarik rambut, memukul, menendang, dan mengintimidasi korban di
mencakar, meludahi, mengancam, merusak barang-barang korban,
penggunaan senjata dan perbuatan kriminal.
b. Non-Fisik terbagi dalam bentuk verbal dan non-verbal.
1) Verbal: berkata-berkata yang menyakitkan korban, mengatai,
memeras, mengancam, menghasut, intimidasi, barkata jorok pada
korban, menyebarkan kejelekan korban.
2) Non-verbal, terbagi menjadi langsung dan tidak langsung :
a) Tidak langsung : seperti memanipulasi pertemanan, mengasingkan,
tidak mengikutsertakan, mencurangi.
b) Langsung : seperti gerakan kasar atau membahayakan, menatap
dengan sinis, menggeram, atau menakuti.
Menurut Yayasan Sejiwa (2008), bentuk-bentuk perilaku bullying adalah fisik,
verbal, dan mental/psikologis, contoh bullying mental / psikologis adalah
mempermalukan didepan umum, mendiamkan, mengucilkan, meneror lewat sms
atau email, memandang yang merendahkan, memelototi, dan mencibir.
Sedangkan Olweus (1993) memaparkan contoh tindakan negatif yang termasuk
dalam bullying antara lain;
a. Mengatakan hal yang tidak menyenangkan atau memanggil seseorang dengan
julukan yang buruk.
b. Mengabaikan atau mengucilkan seseorang dari suatu kelompok karena suatu
tujuan.
d. Mengatakan kebohongan atau rumor yang keliru mengenai seseorang atau
membuat siswa lain tidak menyukai seseorang dan hal-hal semacamnya.
3. Faktor-faktor penyebab terjadinya Bullying
Terdapat tujuh faktor yang menyebabkan terjadi bullying menurut Astuti
(2008) :
a. Perbedaan kelas
Seringkali perbedaan kelas menjadi penyebab terjadinya bullying,
sebagai contoh perbedaan kelas di sekolah, senior akan cenderung
melakukan tindakan bullying kepada juniornya karena merasa berkuasa.
Selain itu perbedaan kelas disni juga termasuk perbedaan gender, agama,
ekonomi, etnisitas atau rasisme. Sebagai contoh perbedaan kelas ekonomi,
seseorang yang berada pada ekonomi yang berbeda dengan tingkatan
ekonomi mayoritas kelompoknya cenderung menjadi korban bullying.
b. Tradisi senioritas
Tradisi yang diwariskan oleh seniornya dahulu seringkali dijadikan alasan
melakukan bullying, contohnya seperti tradisi kelas x tidak boleh melewati
kelas y, dan apabila dilanggar akan mendapatkan sanksi berupa teguran dan
lain sebaginya, dan tradisi ini berlangsung terus menerus.
d. Senioritas
Penyebab senioritas ini datang dari diri siswanya sendiri dengan
alasan untuk menunjukan diri atau mencari popularitas, ajang balas
dendam, atau mungkin menunjukan kekuasaan.
Masalah yang terjadi pada keluarga seperti perceraian orang tua,
kurangnya komunikasi, ketidak harmonisan orang tua, masalah sosial
ekonomi, dan lain-lain dapat menjadi penyebab perilaku bullying.
f. Iklim sekolah yang tidak harmonis
Situasi sekolah sebagai lembaga pendidikan juga dapat menjadi
penyebab perilaku bullying, sebagai contoh peraturan sekolah yang tidak
ditegakkan, minimnya pengawsan dari guru, dan tidak layaknya bimbingan
etika dari guru.
g. Karakter individu atau kelompok
Dendam, iri hati, adanya hasrat ingin menguasai, ingin mendapatkan
popularitas dapat menjadi salah satu penyebab perilaku bullying.
h. Persepsi yang salah atas perilaku korban
Korban sering merasa bahwa dirinya memang pantas diperlakukan
seperti itu (di-bully), sehingga tidak ada usaha untuk menghentikan
tindakan itu walaupun dilakukan berulang-ulang.
Sedangkan Quiroz dkk (2006) mengemukakan tiga faktor yang dapat
menyebabkan perilaku bullying, sebagai berikut :
a. Keluarga
Anak akan meniru perilaku yang dia lihat dikeluarganya, baik itu orang
tua maupun kakak kandungnya, sehingga menjadi nilai atau perilaku yang dia
anut, jika anak di besarkan di lingkungan keluarga yang mentoleransi
kekerasan atau perilaku bullying maka anak akan beranggapan bahwa perilaku
atau untuk mencapai apa yang dia inginkan. Menurut Haryana (dalam Yayasan
Sejiwa, 2008), karena faktor orang tua di rumah yang tipe suka memaki,
membandingkan atau melakukan kekerasan fisik, maka anak pun menganggap
benar bahasa kekerasan. Hal ini juga berhubungan dengan bagaimana pola
asuh orang tua di rumah.
b. Teman sebaya
Teman sebaya adalah salah satu penyumbang besar dalam perilaku
bullying, disebabkan oleh adanya teman sebaya yang meberikan pengaruh
negatif dengan cara menyebarkan ide baik itu secara aktif maupun secara pasif.
Selain itu remaja juga cenderung mengikuti apa yang teman sebayanya lakukan
(konformitas). Remaja berkeinginan untuk tidak lagi tergantung pada
keluarganya dan mulai mencari dukungan dan rasa aman dari kelompok
sebayanya.
c. Pengaruh media
Media membawa pengaruh kepada remaja karena remaja cenderung
ingin mencoba dan penasaran dengan apa yang dilihatnya, seperti di tv, sebagai
contoh perilaku bullying seperti di sinetron – sinetron di Indonesia yang banyak sekali mengajarkan bullying.
Sedangkan menurut Gentile & Bushman (2012) menjelaskan sedikitnya ada 6
faktor risiko yang menyebabkan seseorang menjadi pelaku bullying yaitu :
a. Kecenderungan dalam permusuhan
Dalam kehidupan sehari-hari terkadang permusuhan tidak dapat dihindari,
b. Kurangnya perhatian
Kurangnya perhatian dari orang tua akan menyebabkan si anak
mencari perhatian diluar rumahnya dengan cara menunjukan kekuatan dan
popularitasnya diluar rumah.
c. Gender sebagai laki-laki
Seringkali orang beranggapan bahwa gender sebagi laki-laki harus kuat
dan tidak dapat dikalahkan oleh laki-laki lain hal ini pada akhirnya akan
membeuat orang cenderung agresif secara fisik.
d. Riwayat sebagai korban kekerasan
Seorang yang pernah menjadi korban kekerasan khususnya dari orang tua