PENGARUH PRICE BOOK VALUE, EARNING PER SHARE, DEBT
EQUITY RATIO DAN NET PROFIT MARGIN TERHADAP
MARKET PERFORMANCE DILIHAT DARI SHARE PRICE DAN RETURN
(SHARPE’S MEASURE) SEKTOR PROPERTI
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Untuk Memenuhi Syarat-syarat untuk Meraih Gelar Sarjana
Ekonomi
Oleh Hilda Agustina NIM: 104081002431
Di Bawah Bimbingan
Pembimbing I Pembimbing II
Prof. Dr. Ahmad Rodoni Indo Yama N. SE, MAB
NIP. 150 317 955 NIP. 150 317 593
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1428 H/2008 M
PENGARUH PRICE BOOK VALUE, EARNING PER SHARE, DEBT
EQUITY RATIO DAN NET PROFIT MARGIN TERHADAP
MARKET PERFORMANCE DILIHAT DARI SHARE PRICE DAN RETURN
(SHARPE’S MEASURE) SEKTOR PROPERTI
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Untuk Memenuhi Syarat-syarat untuk Meraih Gelar Sarjana
Ekonomi
Oleh Hilda Agustina NIM: 104081002431
Di Bawah Bimbingan
Pembimbing I Pembimbing II
Prof. Dr. Ahmad Rodoni Indo Yama N. SE, MAB
NIP. 150 317 955 NIP. 150 317 593
Prof. Dr. Abdul Hamid Penguji Ahli
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1428 H/2008 M
Hari ini Selasa Tanggal 29 Bulan April Tahun Dua Ribu Delapan telah dilakukan
Ujian Komprehensif atas nama Hilda Agustina NIM: 104081002431 dengan judul
Skripsi “PENGARUH PRICE BOOK VALUE, EARNING PER SHARE,
DEBT EQUITY RATIO DAN NET PROFIT MARGIN TERHADAP
MARKET PERFORMANCE DILIHAT DARI SHARE PRICE DAN RETURN
(SHARPE’S MEASURE) SEKTOR PROPERTI”. Memperhatikan penampilan
mahasiswa tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat
diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 29 April 2008
Tim Penguji Ujian Komprehensif
Prof. Dr. Ahmad Rodoni Herni Ali HT, SE., MM
Ketua Sekretaris
Prof. Dr. Abdul Hamid, MS Penguji Ahli
Daftar Riwayat Hidup
5. Telepon : 0217813778/ 081932791903
Anggota Devisi Konsumsi PMII
Pusat.
IV. LATAR BELAKANG KELUARGA
1. Ayah : Drs. Solechudin Siradj, MM
2. Tempat & Tgl. Lahir : Cirebon, 03 Juli 1960
3. Alamat : Perum Guru Blok C-3, GOR
Ragunan, Ps. Minggu, Jakarta
Selatan.
4. Telepon : 0217813778/ 08568869517
5. Ibu : Noneng Yusmiati
6. Tempat & Tgl. Lahir : Sukabumi, 08 Maret 1963
7. Alamat : Perum Guru Blok C-3, GOR
Ragunan, Ps. Minggu, Jakarta
Selatan.
8. Telepon : 0217813778/ 02194538617
9. Anak Ke dari : Pertama dari Empat Bersaudara
Abstract
Hilda Agustina: The Influence of Price Book Value, Earning Per Share, Debt Equity Ratio and Net Profit Margin toward Market Performance refered to Share Price and Return (sharpe’s Measure).
The research is focused on analize the influence of Price Book Value (PBV), Earning Per Share (EPS), Debt Equity Ratio (DER) and Net Profit Margin (NPM) toward Market Performance refered to Share Price (the measurement of share price that is used in this research is the closing price) and Return (Sharepe’s Measure), by using a multipel regression statistic test from eviews 5 and SPSS.
The sample is property shares that are taken by using the judgement sampling method. The PBV, EPS, DER and NPM data is taken from monthly financial reports, February 2005 until Januari 2008, whereas the data that is used for the share price is the price of the shares that are taken monthly, February 2005 until January 2008.
The result of this research shows that PBV, EPS, DER and NPM influence simultantly the share price significantly; and olso not influence partially with PBV significantly, EPS significantly and NPM significantly; while the DER is not influence partially or not significantly. While the PBV, EPS, DER and NPM influence simultantly toward return (sharpe’s measure) significantly, because of the probability is smaller than 0,05,; and partially, PBV significantly, EPS: significantly, DER and NPM does not significantly influence partialtly toward return (sharpe’s measure).
Keyword: SBI, Share Price, Sharpe's, PBV, EPS, DER and NPM.
Abstrak
Hilda Agustina: Pengaruh Price Book Value, Earning Per Share, Debt Equity Ratio dan Net Profit Margin terhadap terhadap Market Performance dilihat dari Share Price dan Return (Sharpe’s Measure).
Penelitian difokuskan untuk menganalisis pengaruh Price Book Value (PBV), Earning Per Share (EPS), Debt Equity Ratio (DER) dan Net Profit Margin (NPM) terhadap Market Performance dilihat dari Share Price (ukuran Share Price yang digunakannya dalam penelitian ini adalah closing price). dan Return (Sharpe’s Measure), dengan menggunakan uji statistik regresi berganda dari eviews 5 dan SPSS.
Sampel yang digunakan adalah saham-saham yang termasuk ke dalam sektor properti yang dipilih dengan menggunakan metode judgement sampling. Data PBV, EPS, DER dan NPM diambil dari laporan keuangan per bulan dari Februari 2005 sampai Januari 2008, sedangkan data yang digunakan untuk share price, yaitu harga saham yang diambil secara bulanan dari Februari 2005 sampai Januari 2008.
Hasil penelitian menunjukkan PBV, EPS, DER dan NPM berpengaruh signifikan terhadap market performance dilihat dari share price dan return (Sharpe’s Measure); sedangkan secara parsial, EPS dan NPM berpengaruh signifikan terhadap market performance dilihat dari share price. PBV dan DER tidak berpengaruh signifikan terhadap market performance dilihat dari share price. PBV dan EPS berpengaruh market performance dilihat dari return (Sharpe’s Measure); sementara DER dan NPM tidak berpengaruh signifikan market performance dilihat dari return (Sharpe’s Measure).
Kata Kunci: SBI, Harga Saham, Sharpe's, PBV, EPS, DER dan NPM
Kata Pengantar
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Dengan nama
Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puja-puji bagi Allah, Tuhan
semesta alam. Puja-puji yang sebenar-benarnya karena Dia Maha Memenuhi
nikmat dan Maha Mencukupi tambahan nikmat-Nya. Wahai Tuhan kami, bagi-Mu
segala puja-puji selayak Keagungan Wajah-Mu dan Kebesaran Kekuasaan-Mu.
Maha Suci Engkau, kami tidak mampu memuja-memuji Engkau sebagaimana
Engkau memuja-memuji diri Engkau sendiri, maka bagimu segala puja-puji
hingga Engkau ridha. Bagi-Mu segala puja-puji bila Engkau ridha dan bagi-Mu
segala puja-puji setelah Engkau ridha.
Berkat rahmat, taufiq, ‘inayah, hidayah Allah SWT dan do’a kedua orang
tua saya, adik-adik saya disertai kasih sayang, saya dapat melanjutkan pendidikan
program Sarjana, dan kini saya tengah berupaya memenuhi persyaratan untuk
menyelesaikannya dengan menyusun karya ilmiah yang disebut skripsi sebagai
kewajiban akademis yang harus dipenuhi. Skripsi ini juga merupakan syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana dari program tersebut, yakni dalam hal ini adalah gelar
Sarjana Ekonomi pada UIN Syarif Hidayatullah dan akan dipertahankan di depan
siding para penguji yang berlangsung pada tanggal Agustus 2008 di Gedung
Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Sesuai program yang saya pilih, saya berketetapan hati bahwa skripsi yang
akan saya susun berkaitan dengan pengaruh rasio keuangan dan harga saham.
Untuk itu, skripsi ini saya beri judul : “Pengaruh Price Book Value, Earning Per Share, Debt Equity Ratio dan Net Profit Margin terhadap terhadap Market Performance dilihat dari Share Price dan Return (Sharpe’s Measure) “., dengan harapan skripsi ini dapat saya jadikan tolok ukur bahwa saya berminat di
konsentrasi Manajemen Keuangan.
Tentu saja saya tidak bisa mengerjakan segala hal tanpa bantuan pihak lain
dalam pembuatan skripsi ini. Oleh karena itu, suatu keharusan bagi saya dalam
kesempatan ini untuk menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya dan
ucapan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. Prof. Dr. Khomarudin Hidayat, MA; Direktur Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Abdul Hamid, MS., sebagai Pembantu Dekan Bidang Akademik.
3. Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM; Pembimbing I dan Ketua Jurusan Konsentrasi
Manajemen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Indo Yama N. SE, MAB; Pembimbing II khusus materi seputar Manajemen
Keuangan.
5. Dosen-dosen, staf dan karyawan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Miqdad Khaitama terima kasih atas semua bantuan moril dan spiritnya wat ku.
Udah setia menemani saat-saat sulit skripsi. Terima kasih sayangku.
7. untuk semua teman-teman, seperti Irma, Sukron, Nila Afaf, Ruri, Gita, ita,
Vera, Nana, Prita, Sulis, Tuti, Tia, abud, kosasih, ka arya, ka hanif, doni,
faridz, haetami,dll. Dan semua adek2 kelas ku dan anggota BEMJ dan PMII.
Akhirnya saya merasa tidak dapat membalas apa-apa kepada semua yang
telah saya uraikan kecuali do’a semoga amal kebaikan mereka diterima Allah
SWT, diampuni dosanya, dimuliakan diri beserta keluarganya dan memperoleh
balasan yang setimpal dari-Nya dengan harapan skripsi ini menjadi manfaat,
rahmat, berkah dan hikmah bagi diri saya, keluarga dan semua serta menjadi amal
saleh saya beserta keluarga sebagai bekal di dunia, alam barzakh dan di akhirat
kelak. Aamiin.
Jakarta, September 2008
Penyusun,
HILDA AGUSTINA
Daftar Riwayat Hidup
5. Telepon : 0217813778/ 081932791903
Anggota Devisi Konsumsi PMII
Pusat.
IV. LATAR BELAKANG KELUARGA
1. Ayah : Drs. Solechudin Siradj, MM
2. Tempat & Tgl. Lahir : Cirebon, 03 Juli 1960
3. Alamat : Perum Guru Blok C-3, GOR
Ragunan, Ps. Minggu, Jakarta
Selatan.
4. Telepon : 0217813778/ 08568869517
5. Ibu : Noneng Yusmiati
6. Tempat & Tgl. Lahir : Sukabumi, 08 Maret 1963
7. Alamat : Perum Guru Blok C-3, GOR
Ragunan, Ps. Minggu, Jakarta
Selatan.
8. Telepon : 0217813778/ 02194538617
9. Anak Ke dari : Pertama dari Empat Bersaudara
Abstract
Hilda Agustina: The Influence of Price Book Value, Earning Per Share, Debt Equity Ratio and Net Profit Margin toward Market Performance refered to Share Price and Return (sharpe’s Measure).
The research is focused on analize the influence of Price Book Value (PBV), Earning Per Share (EPS), Debt Equity Ratio (DER) and Net Profit Margin (NPM) toward Market Performance refered to Share Price (the measurement of share price that is used in this research is the closing price) and Return (Sharepe’s Measure), by using a multipel regression statistic test from eviews 5 and SPSS.
The sample is property shares that are taken by using the judgement sampling method. The PBV, EPS, DER and NPM data is taken from monthly financial reports, February 2005 until Januari 2008, whereas the data that is used for the share price is the price of the shares that are taken monthly, February 2005 until January 2008.
The result of this research shows that PBV, EPS, DER and NPM influence simultantly the share price significantly; and olso not influence partially with PBV significantly, EPS significantly and NPM significantly; while the DER is not influence partially or not significantly. While the PBV, EPS, DER and NPM influence simultantly toward return (sharpe’s measure) significantly, because of the probability is smaller than 0,05,; and partially, PBV significantly, EPS: significantly, DER and NPM does not significantly influence partialtly toward return (sharpe’s measure).
Keyword: SBI, Share Price, Sharpe's, PBV, EPS, DER and NPM.
Abstrak
Hilda Agustina: Pengaruh Price Book Value, Earning Per Share, Debt Equity Ratio dan Net Profit Margin terhadap terhadap Market Performance dilihat dari Share Price dan Return (Sharpe’s Measure).
Penelitian difokuskan untuk menganalisis pengaruh Price Book Value (PBV), Earning Per Share (EPS), Debt Equity Ratio (DER) dan Net Profit Margin (NPM) terhadap Market Performance dilihat dari Share Price (ukuran Share Price yang digunakannya dalam penelitian ini adalah closing price). dan Return (Sharpe’s Measure), dengan menggunakan uji statistik regresi berganda dari eviews 5 dan SPSS.
Sampel yang digunakan adalah saham-saham yang termasuk ke dalam sektor properti yang dipilih dengan menggunakan metode judgement sampling. Data PBV, EPS, DER dan NPM diambil dari laporan keuangan per bulan dari Februari 2005 sampai Januari 2008, sedangkan data yang digunakan untuk share price, yaitu harga saham yang diambil secara bulanan dari Februari 2005 sampai Januari 2008.
Hasil penelitian menunjukkan PBV, EPS, DER dan NPM berpengaruh signifikan terhadap market performance dilihat dari share price dan return (Sharpe’s Measure); sedangkan secara parsial, EPS dan NPM berpengaruh signifikan terhadap market performance dilihat dari share price. PBV dan DER tidak berpengaruh signifikan terhadap market performance dilihat dari share price. PBV dan EPS berpengaruh market performance dilihat dari return (Sharpe’s Measure); sementara DER dan NPM tidak berpengaruh signifikan market performance dilihat dari return (Sharpe’s Measure).
Kata Kunci: SBI, Harga Saham, Sharpe's, PBV, EPS, DER dan NPM
Kata Pengantar
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Dengan nama
Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puja-puji bagi Allah, Tuhan
semesta alam. Puja-puji yang sebenar-benarnya karena Dia Maha Memenuhi
nikmat dan Maha Mencukupi tambahan nikmat-Nya. Wahai Tuhan kami, bagi-Mu
segala puja-puji selayak Keagungan Wajah-Mu dan Kebesaran Kekuasaan-Mu.
Maha Suci Engkau, kami tidak mampu memuja-memuji Engkau sebagaimana
Engkau memuja-memuji diri Engkau sendiri, maka bagimu segala puja-puji
hingga Engkau ridha. Bagi-Mu segala puja-puji bila Engkau ridha dan bagi-Mu
segala puja-puji setelah Engkau ridha.
Berkat rahmat, taufiq, ‘inayah, hidayah Allah SWT dan do’a kedua orang
tua saya, adik-adik saya disertai kasih sayang, saya dapat melanjutkan pendidikan
program Sarjana, dan kini saya tengah berupaya memenuhi persyaratan untuk
menyelesaikannya dengan menyusun karya ilmiah yang disebut skripsi sebagai
kewajiban akademis yang harus dipenuhi. Skripsi ini juga merupakan syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana dari program tersebut, yakni dalam hal ini adalah gelar
Sarjana Ekonomi pada UIN Syarif Hidayatullah dan akan dipertahankan di depan
siding para penguji yang berlangsung pada tanggal Agustus 2008 di Gedung
Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Sesuai program yang saya pilih, saya berketetapan hati bahwa skripsi yang
akan saya susun berkaitan dengan pengaruh rasio keuangan dan harga saham.
Untuk itu, skripsi ini saya beri judul : “Pengaruh Price Book Value, Earning Per Share, Debt Equity Ratio dan Net Profit Margin terhadap terhadap Market Performance dilihat dari Share Price dan Return (Sharpe’s Measure) “., dengan harapan skripsi ini dapat saya jadikan tolok ukur bahwa saya berminat di
konsentrasi Manajemen Keuangan.
Tentu saja saya tidak bisa mengerjakan segala hal tanpa bantuan pihak lain
dalam pembuatan skripsi ini. Oleh karena itu, suatu keharusan bagi saya dalam
kesempatan ini untuk menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya dan
ucapan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. Prof. Dr. Khomarudin Hidayat, MA; Direktur Pascasarjana UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Abdul Hamid, MS., sebagai Pembantu Dekan Bidang Akademik.
3. Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM; Pembimbing I dan Ketua Jurusan Konsentrasi
Manajemen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Indo Yama N. SE, MAB; Pembimbing II khusus materi seputar Manajemen
Keuangan.
5. Dosen-dosen, staf dan karyawan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Miqdad Khaitama terima kasih atas semua bantuan moril dan spiritnya wat ku.
Udah setia menemani saat-saat sulit skripsi. Terima kasih sayangku.
7. untuk semua teman-teman, seperti Irma, Sukron, Nila Afaf, Ruri, Gita, ita,
Vera, Nana, Prita, Sulis, Tuti, Tia, abud, kosasih, ka arya, ka hanif, doni,
faridz, haetami,dll. Dan semua adek2 kelas ku dan anggota BEMJ dan PMII.
Akhirnya saya merasa tidak dapat membalas apa-apa kepada semua yang
telah saya uraikan kecuali do’a semoga amal kebaikan mereka diterima Allah
SWT, diampuni dosanya, dimuliakan diri beserta keluarganya dan memperoleh
balasan yang setimpal dari-Nya dengan harapan skripsi ini menjadi manfaat,
rahmat, berkah dan hikmah bagi diri saya, keluarga dan semua serta menjadi amal
saleh saya beserta keluarga sebagai bekal di dunia, alam barzakh dan di akhirat
kelak. Aamiin.
Jakarta, September 2008
Penyusun,
HILDA AGUSTINA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Market Performance (kinerja pasar) merupakan daya pikat (charm),
daya inspirasi (inspirational force) dan titik tumpuan harapan (point of
expectation support) bagi pertimbangan para investor untuk berinvestasi
pada suatu perusahaan. Secaraaplikatif, baik-buruknya market
performance ditentukan oleh simbiose mutualistis (mutual symbiosis)
antara variabel ratio, share price dan return (sharpe’s measure) yang
secara operasional bertumpu pada upaya memperbesar kwantitas dan
kwalitas investasi. Peningkatan investasi dari periode ke periode
menunjukkan bahwa suatu perusahaan memiliki akurasi yang dapat
diandalkan (be relied) dan dipercaya (be trusted) dalam memilih variabel-
variabel tersebut. Rasio menggambarkan kehandalan perusahaan
mengoperasionalkan setting berbagai macam akun (accounts) persahaman,
sehingga aktivitas pencapaian nominal return yang lebih besar selalu
terkontrol dan terkendali; share price menunjukkan bahwa perusahaan
memiliki kehandalan (reliability) memprediksi situasi dan kondisi pasar
serta kejelian membuat keputusan dalam menentukan harga saham
berdasarkan pada prediksi perspektif-antisipatif daya saing pasar dengan
mengutamakan keuntungan beserta proteksi-proteksinya bagi kedua belah
pihak, perusahaan dan investor, guna memenuhi harapan keduanya dalam
mendulang (menghasilkan) nominal return yang lebih besar dan daya
saing yang tinggi di dunia usaha; sedangkan return (sharpe’s measure)
mengindikasikan kemampuan perusahaan menentukan strategi dan taktik
dalam upaya pelepasan (release), penarikan (pulling) dan pengekangan
(restraint) saham, sehingga perolehan nominal return yang lebih besar
dan dicanangkan menjadi kenyataan dengan resiko seminimal mungkin.
Simbiose mutualistis demikian hendaknya disosialisasikan secara
transparan kepada para investor perusahaan, sehingga menjadikan para
investornya merasa nyaman, berbesar hati, terikat dan tetap menanamkan
investasinya di perusahaan tersebut, bahkan mereka secara tidak langsung
menjadi corong perusahaan (hearing trumpet) yang turut mempublikasikan
dirinya menjadi lebih terkenal dan memiliki accountabilitas yang lebih
dapat dipercaya baik oleh para investornya maupun oleh masyarakat
umum.
Daya pikat market performance dilihat dari ketertarikan para
investor, pada umumnya mereka dalam menentukan accountabilitas
market performance tersebut lebih terfokus pandangannya kepada sisi
ratio, share price dan return (sharpe’s measure) secara parsial dan
bahkan terfokus kepada dua sisi, share price dan return (sharpe’s
measure), dengan mengabaikan sisi rasio, padahal variabel-variabel
tersebut merupakan simbiose mutualistis dalam menentukan baik
buruknya market performance; dan kecil besarnya share price dan return
(sharpe’s measure) tidak lebih hanya merupakan jastifikasi (justification)
atau dasar kebenaran sebuah akibat dari baik-buruknya rasio; sedangkan
rasio adalah sebab dari akibat tersebut, yang semestinya para investor pada
tahap awal ketertarikannya kepada suatu perusahaan tertuju kepada sebab
dan bukan kepada akibat; untuk memberikan pemahaman kepada investor
tentang hal-ikhwal berinvestasi di satu sisi dan di sisi lain perusahaan
berkewajiban sekurang-kurangnya punya tanggung jawab moral untuk
memberikan servis internal perlu di budayakan, sehingga mereka dalam
mengambil keputusannya untuk berinvestasi tidak terjebak ke dalam
tindakan spekulatif yang boleh jadi bukannya menguntungkan, tetapi
malah merugikan, sebagaimana sering terjadinya suatu perusahaan
menjadi bangkrut; hal ini dapat dimaklumi karena para insvestor tidak
secara proaktif menjalankan kegiatan persahaman. Sebaliknya bila para
investor tidak terlalu berorientasi pada share price dan return (sharpe’s
measure), artinya bahwa bila mereka itu mau bersikap waspada, maka
tentu yang akan dilihatnya terlebih dahulu adalah justru faktor rasio.
Paling tidak ketiga sisi sudut pandang tadi, rasio, share price dan return
(sharpe’s measure) dilihatnya secara bersamaan (simbiose mutualistis).
Sehingga bila ternyata simbiose mutualistis dimaksud menguntungkan,
maka para investor merasa puas, sebaliknya bila terbukti simbiose
mutualistis merugikan, maka mereka para investor tidak terlalu kecewa
atau menjadi stress. Karena setidaknya mereka paham bahwa upaya telah
dilakukan secara lengkap dan optimal serta menyadari bahwa ada faktor
lain di luar perhitungan itu yang tidak terduga (unestimated) seperti faktor
nasib.
Fenomena kekurang waspadaan para investor sebagaimana
diuraikan di muka, merupakan momentum, peluang sekaligus jalan
terobosan bagi perusahaan untuk meyakinkan para investor bahwa
keberadaan rasio dan peranannya dalam berinvestasi merupakan strategi
kausalitas yang expedienc-nya (kelayakan/kemanfaatannya) sangat
expectant (diharapkan). Karena itu, dalam upaya memperkuat daya pikat
market performance, perusahaan seyogyanya menunjukkan kepada para
investor tentang simbiose mutualistis variabel sebab (rasio) dan variabel
akibat (share price dan return- sharpe’s measure), kondisi realitas rasio
(variabel sebab) dan pengaruhnya kepada variabel akibat (sharpe’s
measure) yang accountabilitasnya tidak disangsikan, baik oleh tim
pemeriksa (audit) maupun para investor bahkan oleh masyarakat luas,
dengan mengimplementasikan akurasi perhitungan market performance
secara jujur dan terbuka, yakni dengan melakukan sekurang-kurangnya
tiga hal sebagai berikut.
Pertama: melakukan efaluasi secara inten terhadap market
performance dengan menempuh salah satu dari tiga jenis pengukuran,
yaitu metode sharpe's measure yang dapat melihat accountabilitas market
performance dari sisi rasio, share price dan return-sharpe’s measure. (w.
Sharpe, journal of business, Januari 1966:119-138); akan tetapi tidak
melihat dari sisi sebabnya, yaitu rasio
(http://www.geocities.com/namora_id/files/Tesis-Namora-19040012.pdf.).
Kedua: Melakukan penelitian spesifik mengenai pengaruh rasio
terhadap market performance dilihat dari share price dan return (sharpe’s
measure) dan mengimplementasikannya dalam realitas karakteristik
keuangan.
Ketiga: Mempublikasikan serta mengimplementasikan hasil evaluasi
sebagaimana poin (pertama dan kedua) di atas dalam realitas aktifitas
pengelolaan persahaman.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi market performance
menjadi semakin bagus dan meningkat validitasnya, antara lain komponen
karakteristik keuangan (finance characteristic) yang terdiri dari lima
macam rasio, yaitu rasio likuiditas (liquidity ratio), rasio aktivitas
(activities ratio), rasio rentabilitas (profitability ratio), rasio solvabilitas
(solvency ratio) dan rasio pasar (market ratio). Seyogyanya lima macam
komponen (rasio) karakteristik keuangan tersebut seluruhnya dapat
diefektifkan secara optimal oleh perusahaan dalam upaya meningkatkan
kwalitas market performance-nya yang dikehendaki. Akan tetapi sering
terjadi paradoksi dalam realitas, perusahaan sudah mengefektifkan seluruh
komponen karakteristik keuangannya secara optimal, namun masih saja
market performance-nya tidak meningkat bahkan memburuk dan
validitasnya menurun. Hal ini secara tidak langsung merupakan sinyal
(warning) baginya untuk senantiasa melakukan cek-kontrol secara
kontinyu terhadap upayanya tersebut dengan tidak terlalu mengandalkan
pada apa yang disebut percaya diri (belief in oneself).
Dalam rangka mencermati kasus yang demikian (paradoksi
realitas) terdahulu dan mengingat keterbatasan yang ada pada diri penulis,
maka dicukupkan empat variabel dari lima komponen karakteristik
keuangan yang akan diteliti, yaitu dua buah variabel yang ada dalam faktor
market ratios (komponen dari karakteristik keuangan), yakni earning per
share (EPS) dan price book value (PBV), satu buah variabel yang ada
dalam faktor solvency ratios yakni debt equity ratio (DER) dan satu buah
variabel lagi yang ada dalam faktor profitability ratio yakni net profit
margin (NPM) akan diteliti lebih lanjut guna mengetahui efektifitas
pengaruh upaya peningkatan market performance suatu perusahaan (dalam
skripsi ini dimaksudkan adalah sektor properti) dapat diketahui, dengan
alasan: Pertama, bahwa kedua faktor tersebut (earning per share dan price
book value) merupakan cara penilaian yang paling sederhana dalam
pengukuran kinerja harga saham (Aswath Damodaran, 2001:276) dan
kedua, menurut data penelitian yang telah dilakukan menginformasikan
bahwa kebanyakan para peneliti menilai kinerja saham perusahaan selalu
menghubungkannya dengan share price dan return (sharpe’s measure)
dan sedikit sekali yang menghubungkannya dengan rasio-rasio keuangan
(Collins dkk, 1990).
Keempat variabel, earning per share, price book value, debt equity
ratio dan net profit margin tampak berpengaruh terhadap peningkatan
market performance. Earning Per Share bertujuan mengukur kinerja
saham suatu perusahaan dengan cara menggunakan komponen laba
(Aswath Damodaran, 2001:276); Price Book Value bertujuan mengukur
kinerja saham perusahaan dengan cara membagi harga pasar per lembar
saham dengan nilai buku per lembar saham pada suatu titik waktu
(http://pages.stein.nyu.edu); Debt Equity Ratio bertujuan mengukur kinerja
saham perusahaan dengan cara membandingkan antara total kewajiban
dengan total modal sendiri (Robbert Ang, 1997:35); sedangkan Net Profit
Margin bertujuan mengukur market performance dengan tingkat
keuntungan bersih terhadap penjualan bersihnya (Robbert Ang, 1997:31).
Karena itu upaya mengoptimalkan pengaruh ke empat variabel tersebut
sangat membantu perusahaan dalam menjalankan strategi dan upaya
meningkatkan market performance-nya. Akan tetapi agar tidak bertindak
spekulatif, salah langkah dan hanya mengandalkan rasa percaya diri
dalam upaya itu, pengaruh keempat variabel tadi yakni, earning per share,
price book value, debt equity ratio dan net profit margin terhadap
peningkatan market performance, sedapat mungkin diketahui dan difahami
terlebih dahulu oleh perusahaan dengan melakukan penelitian secara
proporsional dan profesional.
Dari hasil observasi yang penulis dapat lakukan, ternyata penelitian
tentang "Pengaruh earning per share, price book value, debt equity ratio
dan net profit margin terhadap market performance dilihat dari share
price dan return (sharpe’s measure)" tidak penulis jumpai. Oleh karena
itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian tema tersebut dalam rangka
memenuhi persyaratan penyelesaian studi dan memperoleh gelar SE dalam
bidang Keuangan dan Pasar Modal, Jurusan Manajemen, Fakultas
Ekonomi dan Ilmu Sosial, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta menulis
hasil penelitian tersebut dalam sebuah karya ilmiah yang disebut skripsi
dengan judul " Pengaruh Price Book Value, Earning Per Share, Debt
Equity Ratio dan Net Profit Margin terhadap Market Performance
dilihat dari Share Price dan Return-Sharpe’s Measure Sektor Properti ".
Variabel price book value, earning per share, debt equity ratio dan
net profit margin, dipilih untuk diketahui pengaruhnya terhadap market
performance dilihat dari share price dan return-sharpe’s measure, karena
dalam pemikiran hipotesis penulis keempat variabel tersebut merupakan
variabel yang paling efektif dalam menilai market performance dilihat dari
share price dan return-sharpe’s measure; untuk itu, sebagai perbandingan
antara keempat variabel yang dipilih dengan kwantitas variabel yang
berpengaruh lainnya terhadap market performance, perlu dilakukan
identifikasi dan pembatasan masalahnya sebagai berikut.
1. Identifikasi Masalah
Secara garis besar, variabel-variabel yang dapat mempengaruhi
share price dan return dapat dikelompokkan ke dalam lima rasio
keuangan yang masing-masing terdiri dari bagian-bagiannya
tersendiri, sebagaimana terurai berikut ini.
a. Market Ratios, terdiri dari variabel: dividen yield, dividen per
share, earing per share, dividen payout ratio, price earning ratio,
book value per share, price book value, DUPONT formula dan
modified dupont formula.
b. Solvency Ratio, terdiri dari variabel: debt ratio, debt equity ratio,
long-term debt equity ratio, long-term debt capitalization ratio,
times interest earned, cash flow interest coverage, cash flow net
income, dan cash return on sales.
c. Profitability Ratios, terdiri dari variabel: gross profit margin, net
profit margin, operating return on asset, return on asset, return
on equity dan operating ratio.
d. Liquidity Ratio, terdiri dari variabel: current ratio, quick ratio dan
net working capital.
e. Activities Ratios, terdiri dari variabel: total asset turnover, total
fixed asset turnover, account receivable turnover, inventory
turnover, average collection period, dan day's sales in inventory.
2. Pembatasan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas, tampak bahwa begitu banyak
variabel-variabel yang dapat dijadikan masalah guna diketahui
pengaruhnya terhadap share price dan return. Akan tetapi mengingat
keterbatasan kemampuan yang ada pada penulis, maka perlu dibatasi
masalahnya hanya pada empat variabel yang akan diteliti lebih lanjut,
yaitu masing-masing terambil dari identifikasi masalah poin a berupa
“price book value dan earning per share, poin b berupa debt equity
ratio dan dari poin c berupa net profit margin.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang terdahulu, maka dapat disusun
perumusan masalahnya adalah:
1. Bagaimana pengaruh price book value, earning per share, debt equity
ratio dan net profit margin terhadap market perfromance dilihat dari
share price.
2. Bagaimana pengaruh price book value, earning per share, debt equity
ratio dan net profit margin terhadap market perfromance dilihat dari
return.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
a. Menganalisis pengaruh price book value, earning per share, debt
equity ratio dan net profit margin terhadap market perfromance
dilihat dari share price sektor properti.
b. Menganalisis pengaruh price book value, earning per share, debt
equity ratio dan net profit margin terhadap market perfromance
dilihat dari return sektor properti.
2. Manfaat Penelitian
a. Menambah pengetahuan spesifik bagi penulis mengenai pengaruh
price book value, earning per share, debt equity ratio dan net profit
margin terhadap market perfromance dilihat dari share price (harga
saham) dan return sektor properti.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk membuat
strategi peningkatan share price (harga saham) dan return sektor
properti.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Investasi dan Jenisnya
Investasi dapat didefinisikan sebagai menggunakan uang untuk
memperoleh lebih banyak uang dengan resiko yang paling kecil ( R.j.
Shook, 2002:286). Jones (2004:3) mendefinisikan investasi sebagai
“commitment of funds to one or more assets that will be held over some
future period”. Menurut Relly, Investasi adalah komitment sejumlah uang
pada saat ini untuk suatu periode tertentu untuk memperoleh pembayaran
pada masa yang akan datang yang akan mengkompensasi investor untuk
(1) waktu dana tersebut dilaksanakan; (2) ketidakpastian pembayaran di
masa datang; (3) harapan tingkat inflasi.
Jadi investasi adalah dana yang ditanamkan investor pada suatu aset
untuk mendapatkan hasil yang lebih besar di masa yang akan datang.
Investasi bertujuan memberikan nilai tambah terhadap aset yang kita
miliki saat ini.
Jenis-jenis investasi, secara umum, kegiatan investasi dapat dilakukan
pada 2 jenis aset utama yang terdiri:
1. Investasi pada aset nyata (real asset investment)
Investasi pada aset yang berwujud (tangible asset) seperti tanah, emas,
mesin, rumah, pabrik, dll.
2. Investasi pada aset keuangan ( financial asset investment)
investasi pada aset-aset keuangan seperti saham, obligasi, dan
sertifikat deposito. Aset keuangan merupakan klaim keuangan
terhadap penerbit aset keuangan.
B. Resiko, Return dan Hubungannya
Resiko terjadi akibat adanya unsur ketidakpastian dalam semua
investasi saham. Berapa hasil yang akan diperoleh dari investasi tidak
diketahui dengan pasti, sehingga investor hanya dapat memperkirakan
besar keuntungan yang diharapkan dan kemungkinan hasil yang
sebenarnya akan menyimpang dari yang diharapkan. Jadi resiko dapat
diartikan sebagai kemungkinan return yang diperoleh menyimpang dari
return yang diharapkan. Perbedaan antara return yang diharapkan (return
yang diantisipasi investor di masa mendatang) dengan return yang benar-
benar diterima (return yang diperoleh investor) merupakan resiko yang
harus selalu dipertimbangkan dalam proses investasi. Beberapa sumber
resiko yang berkaitan dengan besar resiko investasi diantaranya (Charles
P. Jones, 2004:142) adalah:
1. Resiko suku bunga (interest Rate Risk)
Jika suku bunga naik, maka return investasi yang terkait dengan
suku bunga juga akan naik, misalnya deposito. Ini dapat menarik
minat investor saham untuk memindahkan dana ke deposito, sehingga
banyak yang akan menjual saham dan harga saham akan turun. Oleh
karena itu perubahan suku bunga mempengaruhi variabilitas return
suatu investasi.
2. Resiko pasar (Market Risk)
Perubahan pasar yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti resesi
ekonomi, kerusuhan, dan lain-lain menyebabkan perubahan indeks
pasar saham.
3. Resiko inflasi (Inflation Risk)
Inflasi akan mengurangi daya beli uang, sehingga tingkat
pengembalian setelah disesuaikan dengan inflasi dapat menurunkan
hasil investasi tersebut.
4. Resiko nilai tukar (Exchange Rate Risk)
Perubahan nilai investasi yang disebabkan oleh nilai tukar mata
uang asing menjadi resiko dalam investasi.
5. Resiko likuiditas (Liquidity Risk)
Semakin tidak likuid suatu sekuritas, semakin besar resiko yang
dihadapi perusahaan.
6. Resiko negara (Country Risk)
Resiko negara berkaitan dengan kondisi politik suatu negara.
Semua resiko yang dapat menyebabkan penyimpangan tingkat
pengembalian investasi dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis,
yaitu:
a. systematic risk
Systematic risk disebut juga resiko pasar, karena berkaitan
dengan perubahan yang terjadi di pasar secara keseluruhan. Resiko
ini terjadi karena kejadian diluar kegiatan perusahaan, seperti
inflasi, resesi, tingkat bunga pasar, dan lain-lain. Systematic risk
disebut juga undiversifiable risk karena resiko ini tidak dapat
dihilangkan atau diperkecil melalui pembentukan portofolio.
b. Unsystematic risk
Unsystematic risk merupakan resiko spesifik perusahaan,
karena tergantung dari kondisi mikro perusahaan. Contoh
unsystematic risk antara lain resiko industri, financial leverage risk,
operating leverage risk, dan lain-lain. Resiko ini dapat
diminimalkan bahkan dihilangkan dengan melakukan diversifikasi
investasi pada banyak sekuritas (portofolio), karena itu disebut juga
diversifiable risk. Sedangkan return dapat didefinisikan sebagai
tingkat keuntungan yang diperoleh atau diharapkan dari suatu
investasi selama satu periode waktu, yang akan diperoleh di masa
mendatang. Return merupakan kompensasi atas resiko yang harus
ditanggung oleh investor atas investasi yang dilakukannya.
Sumber-sumber return yang merupakan faktor motivasi bagi
investor dalam berinvestasi adalah dividen, yaitu pendapatan yang
diperoleh secara periodik dari suatu investasi saham dan capital
gain, yaitu perubahan harga sekuritas berupa kenaikkan harga
saham yang memberikan keuntungan bagi investor. Melalui
investasi, investor berkeinginan untuk memperoleh keuntungan
sebesar mungkin.
Akan tetapi harus dipahami adanya hubungan antara return dan
resiko yang terkandung dalam suatu investasi. Hubungan return
dan resiko searah dan linier, artinya semakin besar return yang
diharapkan, maka semakin besar pula resiko yang harus
ditanggung. Dengan kata lain investor yang berharap memperoleh
tingkat keuntungan yang tinggi, berarti bersedia menanggung
resiko yang tinggi pula. Oleh karena itu tidak relevan
mengharapkan keuntungan yang sebesar-besarnya melalui investasi
pada aset yang menawarkan return paling tinggi, karena harus juga
mempertimbangkan tingkat resiko yang harus ditanggung.
7. Resiko Keuangan (Financial Risk)
Resiko keuangan berkaitan dengan penggunaan hutang sebagai
pembiayaan perusahaan.
C. Estimasi Resiko dan Return
Menurut Radcliffe (1997:217-218) beberapa ukuran statistik yang dapat
digunakan untuk menggambarkan suatu resiko, di antaranya adalah :
1. Range
Range menunjukkan interval kemungkinan return tertinggi dengan
return terendah. Perhitungannya dilakukan dengan cara mengurangi
nilai real return tertinggi dengan yang terendah sehingga diperoleh
suatu angka interval. Kelemahan dalam menggunakan cara ini adalah
tidak dapat menggambarkan kemungkinan-kemungkinan yang
terdapat di antara kedua ekstrem nilai tersebut, serta tidak
menunjukkan perimbangan antara kemungkinan terjadinya return
tertinggi dengan return terendah. Dengan kelemahan ini, range tidak
dapat dipakai untuk membandingkan resiko antara dua portofolio,
karena portofolio yang memiliki range yang sama tidak berarti
memiliki resiko yang sama.
2. Mean absolute deviation
Mean absolute deviation menunjukkan kemungkinan perbedaan
antara return yang mungkin diterima dengan expected return-nya.
Meskipun cara ini cukup masuk akal untuk menunjukkan tingkat resiko
suatu portofolio, namun secara statistik cukup sulit digunakan. Selain
itu sangat sulit untuk mengetahui hubungan atau correlation di antara
return sekuritas.
3. Probability of negative return
Probability of negative return menunjukkan kemungkinan
persentase return yang berada di bawah nilai nol. Meskipun sangat
mudah dilakukan, namun perhitungan dengan cara ini tidak dapat
mengetahui secara menyeluruh aspek-aspek dari suatu resiko.
4. Semivariance
Semivariance adalah perhitungan statistik yang menghitung variasi
dari return yang berada di bawah expected return-nya. Kelemahannya
angka ini tidak mencakup ketidakpastian ketika return yang dihasilkan
lebih besar dari expected-nya. Di samping sulit, perhitungan ini tidak
dapat melihat correlation antara return masing-masing saham.
5. Standard deviation
Standard deviation mengukur volatilitas dari return, cara ini sering
digunakan untuk mengukur resiko. Secara statistik metode standar
deviasi memiliki beberapa kelebihan diantara pengukurannya dilakukan
dengan cara menyebarkan return (memperhitungkan nilai yang terjadi
di atas dan di bawah expected return). Di samping itu standar deviasi
juga dapat digunakan dengan menggunakan data aktual return masa
lalu (ex post standard deviation) atau dari estimasi potensial return-nya
(ex ante standard deviation). Dalam melakukan estimasi return, harus
dibedakan antara return realisasi yaitu return yang telah terjadi dan
return ekspetasi (expected return) yaitu return yang belum terjadi tetapi
yang diharapkan akan terjadi di masa mendatang. Return realisasi yang
dihitung berdasarkan data historis penting sebagai salah satu ukuran
kinerja suatu perusahaan. Return yang digunakan adalah return bulanan
yang dihitung dengan menggunakan rumus:
Rt = ( Pt – Pt-1 )
Pt -1
Di mana:
Rt = rate of return (return realisasi) saham pada bulan ke-t
Pt = harga saham pada bulan ke-t
Pt-1 = harga saham pada satu bulan sebelum bulan ke t – 1
D. Market Performance
Untuk melakukan penilaian terhadap kinerja suatu saham (market
performance), banyak yang dapat di amati. Bisa di lihat dari harga saham
dan dilihat dari return. Di dalam penelitian ini return di hitung dengan
menggunakan Salah satu contoh dari beberapa metode konvensional yang
sering digunakan untuk menghitung market performance adalah dengan
menggunakan sharpe’s measure.
Sharpe’s measure dikembangkan oleh William Sharpe dan sering juga
disebut dengan reward-to-variability ratio. Sharpe’s measure merupakan
ukuran kinerja yang berdasarkan resiko (risk-adjusted performance) dari
suatu investasi, yaitu dengan membagi rata-rata excess return sampel
terhadap standar deviasi return sampel. Sharpe’s measure dirumuskan
sebagai (w. Sharpe, journal of business, january 1966: 119-138):
S = ( E(r) -Rf )
p
Di mana :
E(r) = return rata-rata portofolio lama periode penelitian.
Rf = rata-rata risk free selama periode penelitian.
p = standar deviasi portofolio selama periode penelitian.
Sharpe’s measure membagi excess return dengan standar deviasi
dari portofolio selama periode pengukuran. Standar deviasi merupakan
resiko fluktuasi yang dihasilkan karena berubah-ubahnya return yang
dihasilkan dari sub periode berikutnya selama seluruh periode. Dalam teori
portofolio, standar deviasi merupakan resiko total sebagai penjumlahan
dari systematic risk atau market risk dan unsystematic risk.
E. Share Price (Harga Saham)
Saham adalah surat berharga sebagai bukti penyertaan atau pemilikan
individu maupun institusi dalam suatu perusahaan, sedangkan surat berharga
adalah sesuatu yang mempunyai nilai dan tentunya dapat diperjual belikan.
Nilai dari suatu saham berdasarkan fungsinya dapat dibagi menjadi tiga
jenis:
1. Par Value (Nilai Nominal)
Par value disebut juga stated value or face value, yang dalam
bahasa Indonesia-nya disebut nilai nominal atau nilai pari. Nilai
nominal suatu saham adalah nilai yang tercantum pada saham yang
bersangkutan yang berfungsi sebagai tujuan akuntansi. Nilai ini tidak
dipergunakan untuk mengukur sesuatu. Dalam modal suatu perseroan,
kita mengenal modal yang disetor penuh. Modal yang disetor penuh ini
sama dengan banyaknya saham yang dikeluarkan perseroan dikali
dengan nilai nominalnya. Jadi nilai nominal ini merupakan suatu nilai
yang berguna bagi pencatatan akuntansi, dimana nilai nominal inilah
sebagai model ekuitas perseroan di dalam neraca.
Setiap saham yang diterbitkan di negara Indonesia harus
mempunyai nilai nominal. Dan nilai nominal ini tercantum pada surat
sahamnya. Nilai nominal ini tidak mempunyai kegunaan lain selain
untuk keperluan pencatatan akuntansi.
2. Base Price (Harga Dasar)
Harga dasar suatu saham sangat erat kaitannya dengan harga pasar
suatu saham dipergunakan di dalam perhitungan indeks harga saham.
Harga dasar suatu saham baru merupakan harga perdananya. Harga
dasar ini akan berubah sesuai dengan aksi emiten yang dilakukan
seperti right issue, stock split, warrant dan lain-lain. Sehingga harga
dasar yang baru harus dihitung sesuai dengan perubahan harga teoritis
hasil perhitungan aksi emiten tersebut.
Istilah nilai dasar merupakan hasil perkalian antara harga dasar
dengan jumlah saham yang diterbitkan.
3. Market Price
Harga pasar merupakan harga yang paling mudah ditentukan karena
harga pasar merupakan harga suatu saham pada pasar yang sedang
berlangsung. Jika pasar bursa sudah tutup, maka harga pasar adalah
harga penutupannya (closing price). Jadi harga pasar inilah yang
menyatakan naik-turunya suatu saham. Jika harga pasar ini dikalikan
dengan jumlah saham yang diterbitkan maka akan di dapat nilai pasar
(market value).
Ketika membeli saham di pasar modal, banyak investor gagal untuk
membedakan antara saham bagus dan perusahaan bagus. Hersh Shefrin,
ahli behavioral finance, dalam penelitiannya menemukan bahwa
bahkan investor berpengalaman sekalipun nilai saham bagus dan jelek
berdasarkan bagus dan jeleknya perusahaan.
Saham bagus tidak sama dengan perusahaan bagus. Saham yang
bagus adalah saham berharga bagus atau saham yang menjanjikan
return yang besar di masa depan, sedangkan perusahaan bagus ukuran
sederhananya adalah perusahaan yang mempunyai rating yang bagus,
minimal tripel B sebagai batas rating layak investasi. Sementara itu
majalah Fortune mendefinisikan perusahaan bagus sebagai perusahaan
yang mempunyai sifat sebagai berikut: manajemen bermutu, produk
dan jasa yang di hasilkan berkualitas, inovasi tinggi, keuangan sehat,
tanggung jawab sosial tinggi, penggunaan harta perusahaan bijak dan
sumber daya yang kompeten, fortune menemukan bahwa yang memiliki
sifat-sifat diatas umumnya adalah perusahaan yang besar dengan rasio
nilai buku terhadap nilai pasar yang rendah.
F. Rasio Keuangan
Rasio-rasio keuangan dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori,
yaitu Rasio Likuiditas (liquidity ratio), Rasio Aktivitas (Activities ratio),
Rasio Rentabilitas (profitability ratio), Rasio Solvabilitas (Solvency ratio)
dan Rasio Pasar (market ratio) (Robbert Ang, 1997:23-24).
Dalam penelitian ini tidak semua kelompok rasio tersebut digunakan
untuk menganalisis. Adapun rasio dan karakteristik keuangan yang
digunakan adalah :
1. Rasio Solvabilitas (Solvency ratios)
Rasio Solvabilitas berfungsi untuk menunjukkan kemampuan
untuk memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Rasio ini disebut juga
Leverage Ratios. Karena merupakan rasio pengungkit yaitu
menggunakan uang pinjaman untuk memperoleh keuntungan.
(Robbert Ang, 1997:34)
Rasio ini terdiri dari salah satunya Debt-equity ratio (DER)
merupakan salah satu rasio dalam kelompok Rasio Solvabilitas. Dan
merupakan indikator dari proporsi hutang perusahaan terhadap
investasi pemegang saham. DER ini mencerminkan resiko keuangan
perusahaan yang ditempatkan pada pemegang saham sebagai hasil
dari financial leverage makin besar ( Reilly, 1989).
Dalam kaitannya dengan struktur modal dan biaya modal, DER
adalah alat ukur yang relevan digunakan investor, karena DER
merupakan perbandingan antara total kewajiban (hutang/debt) dengan
total modal sendiri.
Konsekwensinya bila terdapat perubahan dalam hutang dan modal
sendiri perusahaan, hal ini merupakan pengaruh utama untuk
meningkatkan atau menurunkan DER. Sebagai contoh dan
menawarkannya pada masyarakat maka modal sendiri akan meningkat
dan DER menurun.
Beberapa teori mengatakan variasi DER berhubungan dengan
berbagai faktor studi yang dilakukan oleh Scott dan Martin (1975)
mengatakan bahwa jenis dan sifat bisnis merupakan faktor yang
menyebabkan perubahan DER. Myers (1977) mengemukakan bahwa
rasio hutang jangka pendek mungkin berhubungan positif dengan
tingkat pertumbuhan perusahaan apabila perusahaan mengganti
pendanaan jangka panjang dengan pelunasan jangka pendek. Selain
itu Sjahrir (1989) mengemukakan bahwa naiknya suku bunga akan
mengubah struktur modal, biaya modal dan mempengaruhi kinerja
bagi perusahaan yang mempunyai tingkat DER yang tinggi.
2. Market Ratio
Rasio yang digunakan dalam menilai pasar, di antaranya adalah
Price-Book Value ratio (PBV) dan Earning Per Share.
a. Price-Book Value ratio (PBV)
Merupakan rasio yang diperoleh dengan membagi harga pasar
per lembar saham dengan nilai buku per lembar saham pada suatu
titik waktu. (http://pages.stein.nyu.edu) menggambarkan seberapa
besar pasar menghargai nilai buku (book value) saham suatu
perusahaan. Sehingga nilai rasio ini seharusnya paling tidak adalah
1,00. Semakin tinggi rasio ini berarti pasar semakin percaya atau
prospek perusahaan. Saham-saham yang harganya lebih rendah dari
pada nilai bukunya disebut under value, dan saham-saham yang
harganya lebih tinggi dari pada nilai bukunya di sebut over value.
Terdapat dua kemungkinan yang terjadi, pertama pasar
beranggapan bahwa nilai aset perusahaan overstated. Kedua
perusahaan memiliki laba yang buruk, bahkan negatif atas tingkat
pengembalian asset-nya.
Nilai PBV diperoleh dengan cara membagi harga per lembar
saham dengan book value of equity per lembar saham tersebut
(Bodie dkk, 2005:632).
Investor dapat menggunakan rasio PBV di dalam melakukan
analisis terhadap keputusan investasinya karena metode PBV
memiliki keuntungan, yaitu:
1. Book value relative stabil, ukuran intuitif dari nilai yang dapat
dibandingkan dengan harga pasar.
2. Pada penerapan standar akutansi yang konsisten antar
perusahaan rasio PBV dapat dibandingkan antar perusahaan-
perusahaan
3. Pada perusahaan yang menderita rugi, dimana tidak dapat
digunakan metode PER, metode PBV masih bisa digunakan
untuk melakukan evaluasi dalam kondisi perusahaan seperti
ini.
Kelemahan PBV:
1. Book value di pengaruhi oleh keputusan akutansi untuk depresi
dan variabel-variabel yang lain. Ketika standar akutansi sangat
bervariasi diantara perusahaan-perusahaan, kemungkinan tidak
dapat dilakukan perbandingan rasio PBV antar perusahaan.
2. Book value tidak memiliki banyak kegunaan pada perusahaan
jasa yang tidak memiliki aktiva tetap dalam jumlah yang
signifikan.
3. Book value of equity dapat negative jika suatu perusahaan
melaporkan rugi terus menerus, menyebabkan nilai rasio PBV
yang negatif.
b. Earning Per Share (EPS)
EPS merupakan rasio antara laba bersih (Net Income) terhadap
jumlah saham yang diterbitkan oleh perusahaan (Dahlan Siamat,
2001)
EPS = Laba Bersih
Jml Saham Beredar
Indikator laba bersih menunjukkan hasil akhir dari segala
upaya perusahaan menjalankan usahanya dalam periode tertentu.
Sedangkan indikator jumlah saham beredar menunjukkan
banyaknya lembar saham yang telah dimiliki pemodal yang harus
dipertanggung jawabkan oleh perusahaan kepada pemegang saham/
pemodal atas sejumlah dana yang telah diberikan untuk
pembiayaan operasional perusahaan.
Dengan membagi kedua indikator itu diperoleh nilai uang
sebagai keuntungan investasi yang diperoleh pemodal untuk setiap
unit (lembar) saham yang dimiliki. Berdasarkan hal tersebut,
berhasil tidaknya perusahaan memenuhi harapan pemodal dapat
dilihat pada nilai EPS yang dihasilkan perusahaan. Semakin besar
EPS ini, semakin besar pula keuntungan yang diperoleh pemegang
saham.
c. Rasio Profitabilitas/Rentabilitas (Profitabilitas Ratios)
Rasio ini menunjukkan keberhasilan perusahaan di dalam
menghasilkan keuntungan. Rasio ini antara lain terdiri dari Net
Profit Margin (NPM).
Net Profit Margin berfungsi untuk mengukur tingkat kembalian
keuntungan bersih terhadap penjualan bersihnya. Nilai NPM ini
juga berada diantara 0 (nol) dan 1 (satu). Nilai NPM semakin besar
mendekati satu, maka berarti semakin efesien biaya yang
dikeluarkan, yang berarti semakin besar tingkat kembalian
keuntungan bersih. (Robbert Ang, 1997:31).
G. Penelitian Terdahulu
Penelitian Terdahulu yang berhubungan dengan market performance,
price book value ratio, earning per share, debt equity ratio dan net profit
margin antara lain:
1. Namun Ou dan Penman (1989) juga Lev dan Thiagarajan (1993)
melakukan penelitian dengan menggunakan analisis dari laporan
keuangan perusahaan, menyimpulkan bahwa beberapa informasi dari
laporan keuangan mampu menjelaskan kinerja suatu saham
2. Usman (1990), harga saham sebagai indikator nilai perusahaan akan
dipengaruhi oleh beberapa variabel fundamental dan teknikal, dimana
variabel-variabel tersebut secara bersama-sama akan membentuk
kekuatan pasar yang berpengaruh terhadap transaksi saham.
Variabel fundamental dibagi menjadi dua yaitu variabel fundamental
yang bersifat internal yang memberi informasi tentang kinerja
perusahaan dan variabel-variabel yang bersifat eksternal yang meliputi
kondisi perekonomian secara umum.
Variabel teknikal meliputi variabel-variabel yang menyajikan
informasi yang akan memberikan gambaran kepada investor untuk
menentukan kapan pembelian saham dilakukan dan kapan saham
tersebut dijual atau ditukar dengan saham yang lain agar memperoleh
keuntungan yang maksimal. Variabel teknikal ini meliputi tentang
perkembangan kurs saham, keadaan pasar modal, volume transaksi,
perkembangan harga saham dari waktu ke waktu dan capital gain/loss.
3. Namora (Tesis), 2002 melakukan penelitian tentang perbandingan
karakteristik keuangan terhadap market performance sektor properti
dan sektor barang industri. Karakteristik keuangan yang diteliti adalah
PBV, EPS, DER dan NPM menyimpulkan bahwa secara simultan dan
parsial PBV, EPS, DER dan NPM tidak berpengruh terhadap market
performance. Dari hasil pengujian-pengujian statistik yang dilakukan
pada penelitian tahap kedua, diperoleh kesimpulan bahwa variabel
PER, PBV dan DER, baik secara bersama-sama atau parsial tidak
mampu menjelaskan market performance pada kedua sektor tersebut.
Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa dalam sektor aneka industri,
saham BRAM memiliki Sharpe’s measure tertinggi, sedangkan BIMA
yang terendah. Untuk sektor properti, saham LPKR memiliki Sharpe’s
measure tertinggi, sedangkan BKSL memiliki Sharpe’s measure yang
terendah.
4. Khajar, Ibnu (Disertasi) 2005 melakukan penelitian tentang analisis
pengaruh karakteristik keuangan terhadap kinerja berbasis pasar serta
perbandingan kinerja berbasis pasar pada industri menufaktur dan
multinasional terbuka di Indonesia. Penelitian ini mempelajari
pengaruh karakteristik keuangan (assets turnover, divident payout
ratio, income ratio, leverage, net income margin, operating efficiency,
price earning ratio, return on assets dan return on equity) terhadap
kinerja berbasis pasar (market-based performance), secara sendiri-
sendiri maupun secara bersama-sama. Selain itu, penelitian ini juga
mempelajari adanya perbedaan kinerja berbasis pasar antara industri
manufaktur multinational (MNCs) dengan industri manufaktur
domestik (DMCs) yang go-public di Indonesia. Pengukuran kinerja
perusahaan menggunakan pendekatan harga saham, sehingga disebut
dengan kinerja berbasis pasar (market-based performance).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model atas hipotesis 1 dan 3
diterima, sedangkan model atas hipotesis 2 ditolak. Hasil penelitian ini
berdasarkan atas hipotesis 1 mengkonfirmasikan bahwa karakteristik
keuangan (assets turnover, divident payout ratio, income ratio,
leverage, net income margin, operating efficiency, price earning ratio,
return on assets dan return on equity) secara bersama-sama
mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap kinerja berbasis
pasar. Akan tetapi setelah melalui uji parsial menunjukkan dari 9 rasio
keuangan yang merupakan cerminan karakteristik keuangan, terdapat
dua rasio keuangan yang tidak secara signifikan berpengaruh pada
kinerja berbasis pasar yaitu divident payout ratio dan income ratio, dua
rasio ini lebih banyak merupakan kebijakan manajemen. Semakin baik
karakteristik keuangan, maka semakin baik kinerja berbasis pasar. Dari
sembilan rasio keuangan net income margin merupakan variabel yang
mempunyai pengaruh dominan terhadap kinerja berbasis pasar, artinya
hipotesis 2 ditolak, karena divident payout ratio merupakan kebijakan
manajemen dan bukan cerminan kinerja. Hasil pengujian atas hipotesis
mengkonfirmasikan bahwa kinerja berbasis pasar industri manufaktur
multinational (MNCs) adalah lebih baik jika dibandingkan dengan
kinerja berbasis pasar industri manufaktur domestik (DMCs).
5. Tiene Susanti meneliti tentang hubungan rasio likuiditas, solvabilitas
dan rentabilitas dengan perubahan harga saham di pasar sekunder,
studi kasus pada PT Bank Niaga. Hasil penelitian menyatakan bahwa
kinerja perusahaan (berbentuk bank) yang diwakili LDR (Loan to
Deposit Ratio) dan CAR (Capital Adequacy Ratio) terdapat keeratan
yang signifikan dengan perubahan harga saham suatu bank yang telah
listed di pasar modal.
6. Johannes (2000) melakukan penelitian dengan menggunakan data 20
saham properti di BEJ, selama masa krisis moneter tahun 1997-1998.
Dari hasil penelitian tersebut didapatkan bahwa harga saham-saham
properti mengalami penurunan selama masa krisis.
7. Stattman (1980), Rosenberg, Rein dan Lanstein (1985) menyimpulkan
bahwa return rata-rata saham berkorelasi positif dengan book to
market ratio. Jika hal tersebut dikonversi ke dalam market to book
ratio atau PBV, maka PBV berkorelasi negatif dengan return saham.
8. Penelitian yang dilakukan Fama dan French (1992) menunjukkan hasil
yang mendukung penelitian-penelitian tersebut. Di antaranya, mereka
menemukan bahwa terdapat korelasi positif antara return dengan E/P
ratio (korelasi negatif dengan PER), dan korelasi positif yang kuat
antara return dengan Book to Market ratio (hubungan negatif dengan
PBV).
H. Kerangka Pemikiran 1. Share Price
Tahapan-tahapan dalam penelitian ini adalah Penentuan populasi.
Populasinya adalah semua perusahaan-perusahaan yang termasuk sektor