• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan galur mandul jantan dengan tiga sumber sitoplasma untuk perakitan padi hibrida

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengembangan galur mandul jantan dengan tiga sumber sitoplasma untuk perakitan padi hibrida"

Copied!
159
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN GALUR MANDUL JANTAN

DENGAN TIGA SUMBER SITOPLASMA

UNTUK PERAKITAN PADI HIBRIDA

INDRASTUTI APRI RUMANTI

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Pengembangan Galur Mandul Jantan dengan Tiga Sumber Sitoplasma untuk Perakitan Padi Hibrida adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Januari 2012

(4)
(5)

ABSTRACT

INDRASTUTI APRI RUMANTI. Development of Cytoplasmic Male Sterile Lines Derived from Three Cytoplasm Sources and Its Use on Hybrid Rice Breeding. Under direction of BAMBANG S. PURWOKO as chairman, HAJRIAL ASWIDINNOOR and ISWARI S. DEWI as members of the advisory committee.

Hybrid rice is an alternative technology to increase lowland rice productivity. In Indonesia, hybrid rice was developed through three line system that involved three parental lines i.e. cytoplasmic male sterile lines (CMS), maintainer (B) and Restorer (R). CMS as seed parent should have high pollen sterility, be stable, easy to restore, good in agro-morphology and flower behavior, high in combining ability and resistant to pest and diseases.

Intensive use of single source of male sterile cytoplasm (i.e. wild abortive or WA) in developing rice hybrids might lead to genetic vulnerability associated with susceptibility to pests and diseases.A series of experiments were conducted to identify new CMS from three cytoplasm sources (WA, Gambiaca and Kalinga) with high pollen sterility, stable and easy to restore. CMS efectivity on seed production and hybrid rice breeding were studied.

The results showed that among doubled haploid population,panicle weight had thelargest contribution to grain weight per hill, as shown by high and positive direct effect value (0.7739) and indirect effect value through number of filled grain per panicle (0.6556), therefore the characters could be usedfor selection of good maintainer lines. H36-3-Mb, H36-3-Mc, H36-4-M, H45-3-Da, B1-2-Pb and B2-2-Pb were suitable to be used as new maintainer candidates related to their high number of filled grain and yield. Doubled haploid of B1-1-Mb, Db and B2-1-M were resistant to Bacterial Leaf Blight (BLB) strain III. B4-1-Dc line was very resistant (score 0) to BLB strain IV and VIII.

Six CMS of wild abortive types, one CMS of Gambiaca and three Kalinga types were bred through successive backcrosses. The three types of CMS lines were semi dwarf and having better flowering characters than the check line. The good flowering behavior of the new CMS lines improved seed set up to 25.90% compared to 2.98% of seed set in IR58025A. The new CMS were more effective and easier in its seed production. Phenotype obstacles such as low panicle exertion and short panicle length were improved through GA3 spraying. It increased the yield of seed.

The three types of CMS had spesific combining ability to many restorers and yielded high yielding hybrid combination with good heterosis. The results indicated that the yield of hybrids were controlled by overdominant, dominant x dominantor epistasis gene activity. The best hybrid was derived from WA cytoplasm i.e. BI485A/IR53942 (10.21 t/ha), while the best hybrid derived from Gambiaca cytoplasm was BI625A/SMD11 (9.88 t/ha). BI665A/IR53942 was the best hybrid derived from Kalinga cytoplasm, yielded up to 9.15 t/ha.

It can be concluded that new CMS derived from WA, Gambiaca and Kalinga cytoplasm were more efective on seed production and hybrid rice development because of their good flower behaviour, resistance to BLB and good specific combiner with restorers.

(6)
(7)

RINGKASAN

INDRASTUTI APRI RUMANTI. Pengembangan Galur Mandul Jantan dengan Tiga Sumber Sitoplasma untuk Perakitan Padi Hibrida.Dibimbing oleh BAMBANG S. PURWOKO sebagai ketua, HAJRIAL ASWIDINNOOR dan ISWARI S. DEWI sebagai anggota komisi pembimbing.

Teknologi padi hibrida merupakan salah satu alternatif dalam usaha peningkatan produktivitas padi sawah.Perakitan padi hibrida di Indonesia menggunakan sistem tiga galur yang melibatkan tiga galur tetua yaitu galur mandul jantan (GMJ), galur pelestari (B) dan galur pemulih kesuburan (R).GMJ merupakan kunci utama dalam pengembangan padi hibrida sistem tiga galur, karena berfungsi sebagai seed parent. GMJ yang baik harus memiliki sterilitas polen sempurna, stabil, mudah dipulihkan fertilitasnya, memiliki karakter agromorfologi dan bunga baik, memiliki daya gabung baik dan tahan terhadap satu atau lebih hama penyakit tropis.

GMJ yang digunakan di Indonesia masih didominasi oleh GMJ dengan latar belakang sitoplasma wild abortive (WA). Penggunaan satu tipe GMJ dalam area luas dikhawatirkan dapat menimbulkan kerapuhan genetik, sehingga hibrida menjadi lebih rentan terhadap hama, penyakit maupun perubahan lingkungan yang ekstrim. Serangkaian penelitian dilakukan untuk memperoleh GMJ baru dengan tiga sitoplasma berbeda (WA, Gambiaca dan Kalinga) yang memiliki sterilitas polen sempurna, stabil dan mudah dipulihkan. Efektivitas GMJ dalam produksi benih dan perakitan padi hibrida menjadi target berikutnya dalam penelitian ini.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada populasi galur dihaploid calon pelestari, bobot malai mempunyai kontribusi terbesar terhadap hasil biji per rumpun, terlihat dari nilai pengaruh langsungnya yang positif dan besar (0,7399) dan pengaruh tidak langsungnya melalui jumlah gabah isi per malai yang juga tinggi dan positif (0,6556), sehingga dua karakter ini dapat digunakan sebagai karakter seleksi galur pelestari yang baik. Galur haploid ganda Mb, H36-3-Mc, H36-4-M, H45-3-Da, B1-2-Pb dan B2-2-Pb sesuai untuk digunakan sebagai calon galur pelestari karena mempunyai jumlah gabah isi per malai dan bobot hasil yang tinggi.Galur DH B1-1-Mb, B2-1-Db dan B2-1-M bereaksi tahan terhadap Hawar Daun Bakteri (HDB) strain III. Galur B4-1-Dc merupakan galur DH pelestari sangat tahan (skor 0) terhadap HDB strain IV dan VIII.

Transfer sifat mandul jantan dan silang balik berkelanjutan telah berhasil mengidentifikasi 10 GMJ baru dengan tiga latar belakang sitoplasma berbeda (WA, Gambiaca dan Kalinga). Sepuluh GMJ baru tersebut memiliki sterilitas polen yang sempurna dan stabil.GMJ tipe Gambiaca dan Kalinga lebih cepat mencapai 100% steril dibandingkan GMJ tipe WA.GMJ baru tersebut memiliki tinggi tanaman antara 66 – 107 cm, jumlah anakan kategori sedang dan umur genjah, serta didukung oleh persentase eksersi stigma yang baik. Satu GMJ tipe WA, Gambiaca dan Kalinga bereaksi tahan terhadap HDB strain III, berturut-turut yaitu BI703A, BI855A dan BI669A. Galur BI543A dan BI571A (WA) teridentifikasi tahan terhadap HDB strain VIII. BI665A (Kalinga) memberikan reaksi tahan terhadap dua strain sekaligus, yaitu IV dan VIII, yang merupakan strain paling virulen di Indonesia.

(8)

stigma (r = 0,44*), eksersi stigma (r = 0,54*) dan sudut membuka lemma dan palea galur mandul jantan (r = 0,42*). Seed set GMJ juga berkorelasi positif dengan panjang filamen (r = 0,47*) dan sudut pembukaan bunga galur pelestari (r = 0,57**).

Studi terhadap potensi produksi benih GMJ baru, menunjukkan bahwa GMJ baru tipe WA, Gambiaca dan Kalinga mampu menghasilkan bobot panen benih yang lebih tinggi dibandingkan IR58025A. Kelemahan GMJ baru berupa rendahnya persentase eksersi malai dan malai pendek dapat diatasi dengan penyemprotan 200 ppm GA3. Aplikasi GA3 meningkatkan hasil benih GMJ baru yaitu mencapai 1031,90 kg/ha (WA), 763,34 kg/ha (Kalinga) dan 457,45 kg/ha (Gambiaca).

Tiga tipe GMJ baru teridentifikasi memiliki daya gabung khusus dengan berbagai galur pemulih kesuburan, sehingga menghasilkan kombinasi hibrida dengan potensi hasil dan heterosis tinggi baik terhadap tetua terbaik, rata-rata tetua maupun varietas pembanding. Hal ini menunjukkan bahwa bobot hasil padi hibrida dikendalikan oleh aksi gen overdominan, dominan x dominan atau epistasis. Kombinasi hibrida turunan GMJ tipe WA terbaik adalah BI485A/IR53942 (10,21 t/ha), sedangkan hibrida turunan GMJ tipe Gambiaca terbaik adalah BI625A/SMD11 (9,88 t/ha). Hibrida turunan GMJ tipe Kalinga terbaik ditunjukkan oleh BI665A/IR53942 (9,15 t/ha)

Dari rangkaian penelitian ini dapat disimpulkan bahwa GMJ baru tipe WA, Gambiaca maupun Kalinga efektif digunakan dalam produksi benih dan perakitan padi hibrida karena memiliki biologi dan perilaku bunga baik, tahan terhadap HDB dan memiliki daya gabung baik terhadap galur pemulih kesuburan yang ada. Diperoleh kombinasi hibrida dengan hasil dan heterosis tinggi dari ketiga latar belakang genetik GMJ.

(9)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(10)
(11)

PENGEMBANGAN GALUR MANDUL JANTAN

DENGAN TIGA SUMBER SITOPLASMA

UNTUK PERAKITAN PADI HIBRIDA

INDRASTUTI APRI RUMANTI

Disertasi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Doktor pada

Program Studi Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(12)

Penguji pada Ujian Tertutup: Dr. Ir. Satoto, MS Dr. M Syukur, SP., M.Si.

(13)

Judul Disertasi

:

Pengembangan Galur Mandul Jantan dengan Tiga Sumber Sitoplasma untuk Perakitan Padi Hibrida

Nama

: Indrastuti Apri Rumanti

NIM

: A263074011

Disetujui

Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir.Bambang S. Purwoko, M.Sc.

Ketua

Dr. Ir.Hajrial Aswidinnoor, M.Sc.

Dr.Ir. Iswari S. Dewi

Anggota

Anggota

Mengetahui

Ketua Program Studi

Dekan Sekolah Pascasarjana

Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman

Dr. Ir.Trikoesoemaningtyas, M.Sc.

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc. Agr.

(14)
(15)

PRAKATA

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin.

Atas rahmat dan karunia Allah SWT,

disertasi ini berhasil diselesaikan dengan baik. Adanya dominasi

sitoplasma secara luas di Indonesia menyebabkan kualitas dan hasil padi

hibrida hampir sama antar varietas. Terlebih lagi, kekhawatiran terjadinya

kerapuhan genetik pada GMJ seperti yang terjadi pada jagung

Texas

,

maka penulis memilih tema

Pengembangan Galur Mandul Jantan

dengan Tiga Sumber Sitoplasma untuk Perakitan Padi Hibrida.

Terimakasih penulis sampaikan kepada Prof. Dr. Bambang S.

Purwoko MSc., Dr. Ir. Hajrial Aswidinnoor MSc. dan Dr. Ir. Iswari S. Dewi

selaku komisi pembimbing yang dengan ikhlas memberikan masukan,

arahan, bimbingan, dorongan dan motivasi dalam penulisan disertasi ini.

Penulis sampaikan penghargaan sebesar-besarnya kepada Dr. Satoto

dan Dr. M Syukur selaku penguji luar komisi dalam ujian tertutup, serta Dr.

Trikoesoemaningtyas dan Dr. Suwarno yang telah berkenan menjadi

penguji luar komisi dalam ujian terbuka.

Penulis juga menyampaikan terimakasih kepada Badan Litbang

Pertanian atas dukungan dana beasiswa dan dana penelitian melalui

kerjasama Badan Litbang Pertanian& IPB dalam program KKP3T 2007

2011 a.n. Prof. Bambang S. Purwoko dkk. Penulis juga menyampaikan

terimakasih kepada BB Biogen atas pemberian materi hasil kultur antera

dan fasilitas melalui Dr. Iswari S. Dewi sebagai bahan penelitian, serta

Pak Iman dan Mbak Yeni yang dengan ikhlas telah membantu penulis

selama bekerja di laboratorium dan Rumah Kaca. Penghargaan dan

terimakasih, penulis sampaikan kepada Kepala Balai Besar Penelitian

Padi (BB Padi) dan ketuatim penelitian padi hibrida BB Padi, Dr. Satoto,

atas pemberian materi penelitian, ijin, dukungan dan masukannya. Juga

teman-teman peneliti dan teknisi: Murdani, Yuni Widyastuti, Sudibyo,

Suwarto, Wasidi, Cecep, Sarmadi, Suardi, Firman, Dede, Nita, Bayu dan

Bowo untuk dukungan doa dan tenaganya. Teman-teman seperjuangan di

PBT 2007, 2008, 2009 dan 2010 untuk persahabatannya.Terimakasih

khusus penulis ucapkan untuk Indria Mulsanti dan keluarga, semoga

silaturahmi terus terjaga.

Kepada suami tercinta, Didik Ariyanto, Bapak Ibu Wahyuno, Ibu

Siswantinah dan ananda terkasih Zaki dan Kayla, juga kakak dan adik

tersayang, disampaikan terimakasih atas cinta, doa, dorongan dan kasih

sayang yang telah menguatkan penulis dalam melaksanakan semua

penelitian dan penulisan disertasi ini.

Tiada yang sempurna pada karya manusia, tetapi besar harapan

penulis, karya ini dapat bermanfaat dalam pengembangan padi,

khususnya padi hibrida di Indonesia.

(16)
(17)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Banyumas pada tanggal 27 April 1977 dari

Bapak Wahyuno dan Ibu Ambarwati, sebagai anak pertama dari dua

bersaudara.Penulis memiliki satu orang adik laki-laki bernama Prastoto

Indratmoko. Pada tahun 2000, penulis menikah dengan Didik Ariyanto,

S.Pi, M.Si dan dikaruniai dua putra putri, yang diberi nama Zaki Najmudin

Furqon Ariyanto dan Kayla Putri Ariyanto.

Penulis lulus dari Fakultas Pertanian, Universitas Jendral Soedirman,

Program Studi Pemuliaan Tanaman pada tahun 1999. Selanjutnya tahun

2000 penulis mulai bekerja di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi pada

Kelompok Peneliti Pemuliaan Padi dan sejak saat itu penulis intensif

melakukan penelitian bersama tim padi hibrida. Penulis turut aktif dalam

pelepasan varietas padi hibrida sejak tahun 2002 hingga 2011. Sejumlah

artikel ilmiah sebagai wujud penyebaran informasi juga telah penulis

publikasikan di jurnal maupun prosiding bersama tim peneliti padi hibrida

BB Padi.

(18)
(19)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang... 1

Tujuan Penelitian ... 4

Hipotesis ... 4

Diagram Alur Penelitian ... 5

TINJAUAN PUSTAKA ... 7

Asal dan Taksonomi Padi ... 7

Padi Hibrida ... 9

Sistem Mandul Jantan pada Padi ... 12

Uji Daya Gabung ... 14

EVALUASI GALUR-GALUR DIHAPLOID UNTUK DIGUNAKAN SEBAGAI CALON GALUR PELESTARI ……… 17

Abstrak ... 17

Abstract... 18

Pendahuluan ... 19

Bahan dan Metode ... 21

Hasil dan Pembahasan... 26

Kesimpulan ... 38

TRANSFER SIFAT MANDUL JANTAN DAN PEMBENTUKAN GALUR MANDUL JANTAN MELALUI SILANG BALIK ... 39

Abstrak ... 39

Abstract... 40

Pendahuluan ... 41

Bahan dan Metode ... 42

Hasil dan Pembahasan... 44

Kesimpulan ... 52

KARAKTER BUNGA YANG MENDUKUNG KEMAMPUAN MENYERBUK SILANG GALUR MANDUL JANTAN 53 Abstrak ... 53

(20)

Bahan dan Metode ... 56

Hasildan Pembahasan... 58

Kesimpulan ... 72

POTENSI PRODUKSI BENIH GALUR MANDUL JANTAN BARU TIPE WILD ABORTIVE, GAMBIACA DAN KALINGA ... 73

Abstrak ... 73

Abstract... 74

Pendahuluan ... 75

Bahan dan Metode ... 76

Hasil dan Pembahasan ... 80

Kesimpulan ... 85

EVALUASI DAYA GABUNG DAN HETEROSIS HIBRIDA TURUNAN GMJ TIPE WILD ABORTIVE, GAMBIACA DAN KALINGA MENGGUNAKAN ANALISIS LINI X TESTER ... 87

Abstrak ... 87

Abstract... 88

Pendahuluan ... 89

Bahan dan Metode ... 90

Hasil dan Pembahasan ... 92

Kesimpulan ... 114

PEMBAHASAN UMUM ... 117

KESIMPULAN DAN SARAN ... 127

Kesimpulan ... 127

Saran ... 128

(21)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Klasifikasi padi menurut Khush (2000) ... 8

2 Galur calon pelestari DH2 hasil kultur antera dari 6 kombinasi

persilangan B x B ………. 21

3 Skor warna daun berdasarkan SES (IRRI 2002) ……..………. 22

4 Skala sudut daun bendera berdasarkan SES (IRRI 2002) …... 22

5 Skala eksersi malai berdasarkan SES (IRRI 2002) ……… 22

6 Skor keberadaan bulu pada gabah ……….. 23

7 Kriteria penilaian ketahanan terhadap hawar daun bakteri

(HDB) ……….……… 24

8 Analisis ragam (anova) rancangan acak kelompok ……… 25

9 Karakter morfologi dan karakter bunga 19 calon galur

pelestari ……….………... 27

10 Nilai rata-rata dan parameter genetik dari delapan karakter

pada 19 galur dihaploid calon galur pelestari ……….. 28

11 Koefisien korelasi pearson antar 7 karakter pada galur-galur

dihaploid padi ... 30

12 Pengaruh langsung dan tidak langsung karakter vegetatif dan komponen hasil terhadap hasil biji per rumpun pada

galur-galur dihaploid padi ………….……… 31

13 Nilai rata-rata karakter agronomis dan komponen hasil 19

calon galur pelestari ……… 34

14 Hasil uji ketahanan galur dihaploid calon pelestari terhadap

hawar daun bakteri ……….. 35

15 Skor eksersi malai berdasarkan SES (IRRI 2002) ... 44

16 Skor eksersi stigma berdasarkan SES (IRRI 2002) ... 44

17 Sterilitas polen tanaman F1 hasil persilangan dari 5 GMJ

(22)

generasi F1 - F1BC5 ………. 47 19 Keragaan karakter agronomis, eksersi malai dan eksersi

stigma tiga tipe galur mandul jantan baru ……… 49

20 Ketahanan galur mandul jantan baru terhadap Hawar Daun

Bakteri ……….. 51

21 Eksersi malai, eksersi stigma, panjang dan lebar stigma, panjang stilus dan warna putik dari tiga tipe galur mandul

jantan baru ... 60

22 Panjang antera, filamen, skor anthesis dan warna antera

galur pelestari ……… 64

23 Umur berbunga, durasi dan sudut pembukaan bunga serta seed set yang terbentuk pada galur mandul jantan baru dan

pelestarinya ………. 68

24 Korelasi fenotipik sejumlah karakter dan perilaku bunga galur mandul jantan terhadap persentase terbentuknya biji (seed

set) ……… 69 25 Korelasi fenotipik sejumlah karakter dan perilaku bunga galur

pelestari terhadap persentase terbentuknya biji (seed set) ….. 70

26 Karakter agromorfologi dan umur berbunga 50% tiga galur mandul jantan baru dan pembanding (IR58025A) pada dua

konsentrasi GA3 selama produksi benih galur mandul jantan 80

27 Sterilitas polen, eksersi stigma, eksersi malai, persentase pengisian biji (seed set) dan produktivitas galur mandul jantan baru dan pembanding (IR58025A) pada dua konsentrasi GA3

selama produksi benih galur mandul jantan ……… 82

28 Daftar galur mandul jantan dan restorer yang digunakan

dalam pembentukan hibrida ... 90

29 Struktur tabel analisis ragam untuk analisis lini × tester ……… 92

30 Nilai kuadrat tengah hasil analisis varians daya gabung pada

beberapa karakter padi ……….. 93

31 Proporsi kontribusi lini, tester dan interaksinya terhadap

varians total ………. 95

32 Efek daya gabung umum tetua hibrida baru pada berbagai

karakter ………. 96

33 Efek daya gabung khusus karakter agromorfologi, komponen

(23)

Halaman

34 Nilai rata-rata karakter agromorfologi, komponen hasil dan hasil tetua jantan dan betina yang digunakan dalam perakitan

hibrida ……….

102

35 Heterobeltiosis karakter agromorfologi dan komponen hasil

75 hibrida baru …….……… 103

36 Heterosis mid parent karakter agromorfologi dan komponen

hasil 75 hibrida baru ………. 106

37 Heterobeltiosis, mid parent heterosis dan standar heterosis

karakter bobot hasil 75 hibrida baru ……….………….. 111

38 Karakter agronomi dan standar heterosis karakter hasil

(24)

Halaman 1 Diagram alur penelitian ... 5

2 Lintasan evolusi dua species padi budidaya (Khush 2000) ... 9

3 Skema sistem galur mandul jantan pada padi ... 13

4 Sidik lintas dan korelasi antar karakter pada galur-galur

dihaploid padi ………. 32

5 Penampilan DH calon galur pelestari yang sangat tahan (kiri) dan rentan (tengah) serta lesi yang diakibatkan HDB pada

tanaman rentan (kanan) ……… 35

6 Ukuran polen steril (kiri atas), polen fertil yang terwarnai oleh IKI 1% (kiri bawah) dan polen steril yang tidak terwarnai oleh

IKI 1% (kanan); pembesaran 40x pada mikroskup binokuler .. 48

7 Penampilan Galur Mandul Jantan Baru yang tahan terhadap hawar daun bakteri, isolat terisolir pada ujung bekas

pengguntingan (lingkaran) ……… 51

8 Eksersi malai galur pelestari (kiri) dan galur mandul jantan

(kanan) ……… 59

9 Eksersi stigma yang tinggi pada Galur Mandul Jantan Baru

(B) dibandingkan dengan eksersi stigma pada IR58025A (A) 63

10 Proses keluarnya polen dari antera saat antesis. (Sumber:

Matsui et al. 1999) ……….. 65

11 Kriteria ideal galur pelestari, meliputi filamen panjang, antera kuning dan besar, antera menggugurkan sebagian besar

polennya setelah berada di luar bunga ……… 67

12 Petak percobaan produksi benih 1 pasang GMJ ………... 77

13 Morfologi stigma GMJ selama reseptif polen ……….. 83

14 Durasi reseptif putik tiga galur mandul jantan baru dan pembanding (IR58025A) pada 0 ppm GA3 (A) dan 200 ppm

GA3 (B) selama produksi benih galur mandul jantan …………. 84

15 Bobot benih GMJ hasil produksi benih pada konsentrasi GA3

0 dan 200 ppm ……… 84

(25)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kebutuhan terhadap pangan khususnya beras, semakin meningkat

sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, sedangkan usaha diversifikasi

pangan berjalan lambat. Jumlah penduduk pada tahun 2010, 2015 dan 2020

diprediksikan akan mencapai 235 juta, 249 juta dan 263 juta jiwa. Oleh karena itu

laju produksi padi nasional harus terus ditingkatkan. Pada tahun 2009 produksi

padi nasional mencapai 64,4 juta ton gabah kering giling (GKG) atau meningkat

6,83% dibandingkan tahun 2008. Namun pada tahun 2010, peningkatan produksi

padi nasional lebih rendah, hanya mencapai 2,45% dibandingkan tahun 2009

(BPS 2010). Hal ini disebabkan banyaknya bencana kekeringan, banjir dan juga

tingkat serangan hama dan penyakit yang tinggi.

Teknologi padi hibrida yang memanfaatkan gejala heterosis merupakan

salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas padi di Indonesia. Padi hibrida

menghasilkan pertambahan produktivitas mendekati 15-20% lebih tinggi

dibanding varietas padi komersial terbaik. China telah sukses mengaplikasikan

teknologi padi hibrida. Area yang ditanami padi hibrida di China saat ini terhitung

lebih dari 50% dari total area padi. P

enggunaan padi hibrida di China mampu

meningkatkan produksi padi total dari 128 juta ton menjadi 189 juta ton,

walau terjadi penurunan luas lahan padi dari 36,5 juta ha pada 1975

menjadi 29,2 juta ha pada 2007. Peningkatan produktivitas pada periode

tersebut sangat besar yaitu dari 3,5 t/ha menjadi 6,35 t/ha (FAO 2008).

Budidaya padi hibrida juga mulai dilakukan pada skala luas di banyak negara

Asia, seperti India dan Vietnam (You et al. 2006).

Padi hibrida di Indonesia dikembangkan dengan sistem 3 galur, yang

melibatkan tiga galur tetua: galur mandul jantan sitoplasma (GMJ/CMS/A), galur

pelestari (Maintainer/B), dan galur pemulih kesuburan (Restorer/R). Padi hibrida

merupakan generasi F1 hasil persilangan antara galur mandul jantan sebagai

tetua betina dengan galur pemulih kesuburan sebagai tetua jantan, sehingga

sifat-sifat varietas padi hibrida ditentukan oleh sifat-sifat dari kedua tetuanya (You

et al. 2006). Untuk mendapatkan varietas padi hibrida yang baik dengan

sifat-sifat yang diinginkan seperti berdaya hasil tinggi dan tahan terhadap hama serta

(26)

terutama GMJ yang merupakan tetua betina (seed parent) dan menjadi kunci

dalam komersialisasi padi hibrida.

Galur mandul jantan (galur A/GMJ) dapat diperoleh secara spontan di

antara galur hasil pemuliaan yang berasal dari persilangan kerabat jauh

(interspesifik) atau melalui mutagenesis (Hanson & Bentolila 2004). Ada

beberapa tipe galur mandul jantan sitoplasma, antara lain Wild-Abortive (WA),

Gambiaca, Kalinga, Dissy, Indonesian-type dan lain-lain. Galur mandul jantan

tipe WA merupakan galur yang banyak digunakan dalam pengembangan

varietas padi hibrida. Jing et al. (2001) menyebutkan bahwa 90% padi hibrida

yang ditanam di Cina menggunakan GMJ tipe WA sebagai tetua betinanya. GMJ

tipe WA merupakan GMJ yang dikembangkan pada padi indica dengan

sitoplasma yang berasal dari populasi padi liar Oryza rufipogon Griff. (Eckardt

2006). Di Indonesia, GMJ tipe WA tersebut juga digunakan untuk merakit

beberapa F1 hibrida unggul (Suwarno et al. 2003). GMJ yang digunakan dalam

produksi benih padi hibrida tersebut berasal dari IRRI, seperti IR58025A,

IR62829A, IR68886A, IR68888A, dan IR68897A. Namun penggunaan satu tipe

sitoplasma yang sama untuk kepentingan komersial secara intensif,

dikhawatirkan akan menimbulkan kerapuhan genetik, seperti kasus Texas

cytoplasm pada jagung. Kerapuhan genetik disebabkan oleh sempitnya latar

belakang genetik, sehingga tanaman menjadi rentan terhadap penyakit, hama

maupun faktor-faktor iklim yang tidak menguntungkan (Pradhan & Jachuck

1999).

Karakter yang diinginkan dalam perakitan GMJ adalah laju persilangan

alami tinggi, sterilitas tepung sari 100% dan stabil, kemandulannya mudah

dipulihkan (easy restorability), mampu menyesuaikan dengan lingkungannya,

tahan terhadap hama dan penyakit utama, mempunyai daya gabung yang baik

dengan berbagai galur pemulih kesuburan, tanaman sedang (semidwarf), malai

keluar sempurna, stigma keluar lebih dari 70%, dan kualitas biji baik. Namun

pembentukan GMJ masih banyak mengalami kendala. Sangat sulit mendapatkan

GMJ dengan tingkat sterilitas 100% dan stabil di daerah tropika. GMJ hasil

introduksi dari IRRI (IR58025A, IR62829A dan IR68897A) mempunyai laju

persilangan alami (outcrossing rate/OCR) yang rendah serta rentan terhadap

hama dan penyakit utama di Indonesia (Suwarno et al. 2003). BB Padi telah

mengembangkan GMJ baru tipe wild abortive yang telah memiliki ketahanan

(27)

3

memiliki ketahanan terhadap hawar daun bakteri (HDB) dan wereng batang

coklat (WBC) (Satoto et al. 2008).

Peneliti di BB Padi melaporkan bahwa dari sekitar 1500 tanaman F1 (GMJ

x galur-galur elit) yang dievaluasi tingkat fertilitasnya di pertanaman testcross,

persentase tanaman dengan sterilitas 100% ternyata sangat kecil, yaitu hanya

sekitar 1%, 3% F1 mempunyai fertilitas tinggi, sedangkan 96% lainnya adalah

parsial fertil atau parsial steril (Rumanti et al. 2005). Hal ini menunjukkan bahwa

transfer sifat mandul jantan tidak mudah, karena sifat mandul jantan dikendalikan

oleh interaksi antara sitoplasma yang steril dengan gen-gen male sterile resesif

yang ada di dalam nukleus. Perakitan galur mandul jantan memerlukan galur

elite yang berpotensi untuk digunakan merakit GMJ. Galur tersebut adalah galur

pelestari (maintainer/galur B) yang efektif melestarikan sifat mandul jantan pada

GMJ dan sudah beradaptasi dengan lingkungan target. Menurut Virmani et al.

(1997), frekuensi ditemukannya galur pelestari diantara galur-galur elite indica

(galur indica mendominasi di Indonesia) sangat kecil, yaitu bervariasi antara

0-10%. Pembentukan dan perbaikan galur pelestari dapat dilakukan dengan

persilangan B x B yang keduanya mempunyai sifat baik, kemudian dilanjutkan

dengan seleksi terhadap rekombinan terbaik pada generasi F2 – F5. Untuk memperoleh mandul jantan baru dari pelestari perlu dilakukan silang balik

sebanyak minimal 5 generasi (Virmani et al. 1997). Teknik ini bila dilakukan

dengan program pemuliaan biasa, perlu waktu yang sangat lama untuk

mendapatkan calon galur pelestari dan galur mandul jantan. Oleh karena itu,

kultur antera telah diterapkan untuk pembentukan galur murni yang lebih cepat,

efektif dan akurat (Dewi & Purwoko 2011). Dewi et al. (2005) telah memperoleh

galur-galur dihaploid hasil kultur antera yang dapat diuji efektivitasnya dalam

melestarikan GMJ.

Berdasarkan berbagai permasalahan di atas, maka perlu dikaji lebih

lanjut mengenai pemanfaatan galur dihaploid calon pelestari hasil kultur antera

dalam perakitan galur mandul jantan dengan sitoplasma yang berbeda-beda

untuk mengantisipasi timbulnya kerapuhan genetik akibat komersialisasi padi

hibrida yang menggunakan hanya satu tipe sitoplasma (tipe WA). GMJ baru yang

dihasilkan perlu diuji efektivitasnya dalam produksi benih GMJ maupun perakitan

hibrida. Informasi nilai daya gabung, fenomena heterosis, dan heritabilitas hasil

dan komponen hasil serta beberapa karakter agronomis penting lainnya juga

(28)

mendukung perolehan nilai heterosis yang tinggi pada padi hibrida. Serangkaian

kegiatan penelitian tersebut disajikan pada Gambar 1.

Tujuan Penelitian Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh GMJ baru dengan tiga tipe

sitoplasma yang memiliki karakter bunga baik dan tahan terhadap penyakit

Hawar Daun Bakteri untuk pengembangan padi hibrida.

Tujuan Khusus

Penelitian ini bertujuan untuk :

(1) Mengevaluasi karakter agromorfologi, komponen hasil, hasil dan ketahanan

terhadap HDB pada galur dihaploid (DH2) calon galur pelestari

(2) Memperoleh Galur Mandul Jantan tipe WA, Gambiaca dan Kalinga beserta

pelestari pasangannya yang tahan terhadap hawar daun bakteri

(3) Mendapatkan GMJ baru yang memiliki morfologi dan perilaku bunga

mendukung kemampuan menyerbuk silang alami

(4) Memperoleh informasi potensi produksi benih galur mandul jantan tipe WA,

Kalinga dan Gambiaca

(5) Memperoleh informasi efektivitas tiga tipe galur mandul jantan sitoplasmik

baru untuk perakitan padi hibrida

(6) Mendapatkan hibrida baru dengan heterosis tinggi

Hipotesis

1. Galur mandul jantan baru dapat diperoleh dari populasi dihaploid turunan

kultur antera dari persilangan B x B dengan sumber sitoplasma yang berbeda

(WA, Kalinga atau Gambiaca)

2. Galur mandul jantan dengan karakter bunga tertentu, akan meningkatkan

potensi hasil pada produksi benih GMJ

3. Terdapat GMJ dengan sterilitas polen 100% dan stabil yang mempunyai daya

gabung umum dan khusus yang tinggi terhadap galur pemulih kesuburan,

sehingga mampu menghasilkan kombinasi hibrida berheterosis tinggi.

(29)

5

(30)
(31)

TINJAUAN PUSTAKA

Asal dan Taksonomi Padi

Padi (Oryza sativa L.), seperti halnya gandum, jagung dan barley termasuk

dalam famili Graminae (Poaceae) atau rumput-rumputan. Genus Oryza terdiri

atas 23 spesies, 21 diantaranya adalah padi liar (wild relatives) yang memiliki

genom diploid atau tetraploid, sedangkan 2 lainnya merupakan padi budidaya.

Studi variasi karakter morfologi terhadap 16 spesies padi, telah dilaporkan oleh

Morishima dan Oka (1960) yang menyatakan bahwa spesies Oryza dapat dibagi

ke dalam tiga grup utama, yaitu (1) Oryza sativa dan kerabat dekatnya, (2) Oryza

officinalis dan kerabatnya serta (3) spesies kerabat jauh lainnya.

Kush (2000) melakukan klasifikasi ulang terhadap spesies Oryza

berdasarkan jumlah kromosom, komposisi genom dan daerah penyebarannya

(Tabel 1). Spesies padi liar seperti O. nivara dan O. glaberrima dilaporkan

banyak mengandung gen-gen bermanfaat yang dapat ditransfer ke genom padi

budidaya (O. sativa). Introgresi gen-gen bermanfaat tersebut dapat dilakukan

melalui hibridisasi interspesifik (Brar et al. 1996). Menurut Kush (2000),

berdasarkan tingkat kemudahan transfer gen-gen dari spesies liar ke spesies

budidaya, spesies padi dapat diklasifikasikan ke dalam tiga gene pool. Gene pool

utama terdiri atas sejumlah spesies liar, yaitu O. rufipogon, O. nivara, O.

glumaepatula, O. meridionalis, O. breviligulata, O. longistaminata serta dua

spesies budidaya, yaitu O. sativa dan O. glaberrima. Kelompok ini memiliki

genom AA dan transfer gen antar spesies ini dapat dilakukan melalui persilangan

dan metode seleksi tertentu. Gene pool sekunder adalah spesies kelompok O.

officinalis komplek. Persilangan antara O. sativa dan spesies-spesies dalam

kelompok ini lebih sulit dilakukan dan harus menggunakan bantuan teknik

penyelamatan embrio (embryo rescue). Hal ini terjadi karena adanya

keterbatasan homologi antara genom AA (O. sativa) dengan genom BB, CC,

CCDD, EE dan FF (spesies padi liar), sehingga jumlah gen yang dapat ditransfer

terbatas. Gene pool tersier terdiri atas kelompok O. meyeriana, O. ridleyi dan O.

schlechteri. Persilangan antara O. sativa dengan kelompok ini sangat sulit

(32)
[image:32.595.74.479.92.779.2]
(33)

9

Oryza sativa terdiri atas banyak subspesies dan telah terdistribusi ke seluruh

dunia. Dikenal dua grup varietas padi yaitu indica dan japonica, kedua grup ini

memiliki banyak perbedaan karakter dibandingkan antar varietas tipikalnya,

tetapi variasinya saling overlap. Kedua grup ini telah dikarakterisasi berdasarkan

resistensinya, panjang bulu di apikulus dan reaksinya terhadap phenol. Morinaga

(1954) dalam Kush (2000) mengusulkan adanya grup ketiga yang terdiri atas

varietas bulu dan gundil dari Indonesia. Grup ini disebut javanica, dan

Galszmann (1987) dalam Kush (2000) menyatakan bahwa javanica berada di

antara grup japonica berdasarkan analisis isozym. Saat ini javanica dikenal

sebagai tropical japonica, sedangkan typical japonica disebut sebagai temperate

japonica (Gambar 2).

Gambar 2 Lintasan evolusi dua species padi budidaya (Kush 2000)

Padi Hibrida

Padi hibrida di Indonesia dikembangkan dengan sistem 3 galur, yang

melibatkan tiga galur tetua meliputi galur mandul jantan sitoplasmik, galur

pelestari dan galur pemulih kesuburan. Padi hibrida merupakan generasi F1 hasil

persilangan antara galur mandul jantan sebagai tetua betina dengan galur

pemulih kesuburan sebagai tetua jantan, sehingga sifat-sifat varietas padi hibrida

ditentukan oleh sifat-sifat dari kedua tetuanya. Tetua-tetua yang superior dapat

meningkatkan penampilan agronomis dan bobot hasil hibrida turunan berbagai

(34)

(You et al. 2006). Oleh karena itu, untuk mendapatkan varietas padi hibrida yang

baik dengan sifat-sifat yang diinginkan seperti daya hasil tinggi (ditunjukkan oleh

nilai heterosis yang tinggi), dan tahan terhadap hama dan penyakit utama, maka

penelitian padi hibrida diutamakan pada proses perbaikan galur-galur tetua padi

hibrida serta proses pembentukan kombinasi persilangan yang menghasilkan

produksi dan heterosis tinggi.

Padi hibrida dikembangkan dengan memanfaatkan adanya fenomena

heterosis yang menyebabkan produksi yang lebih tinggi dibanding galur murni.

Beberapa hipotesis telah diajukan untuk menjelaskan dasar genetis dari

heterosis. Hipotesis dominansi (Bruce 1910 diacu dalam You et al. 2006)

menjelaskan faktor dominan salah satu tetua menutupi gangguan mutasi resesif

tetua lain pada populasi F1 heterosigos. Sebaliknya hipotesis overdominan

(Shull 1908 diacu dalam You et al. 2006) percaya bahwa heterosigositas pada

lokus tunggal lebih superior dibanding yang homosigos. Kedua hipotesis tersebut

telah diverifikasi melalui penelitian biologi molekuler (Stuber et al. 1992; Xiao et

al. 1995). Hipotesis ketiga menduga bahwa heterosis mungkin akibat terjadinya

epistasi antara alel-alel pada lokus yang berbeda (Yu et al. 1997; Goodnight

1999). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa epistasis merupakan

penyebab utama heterosis secara genetik (Li et al. 2001; Luo et al. 2001).

Penelitian dan pengembangan padi hibrida pertama dilakukan oleh peneliti

China pada tahun 1964. Galur mandul jantan pertama dikembangkan pada tahun

1972 yang ditemukan pada tanaman mandul jantan steril pada populasi padi liar.

Padi hibrida komersial pertama dikenalkan pada tahun 1976. Padi hibrida

tersebut memberikan kenaikan hasil sebesar 20% dibandingkan varietas unggul

yang ada. Penelitian padi hibrida di daerah tropis dimulai di IRRI, Philipina, pada

tahun 1978 dengan mengintroduksi beberapa padi hibrida komersial dari China

seperti Shan You 6, Wei You 6 dan Shen You 2. Namun tidak satupun yang

menunjukkan kelebihan hasil terhadap varietas pembanding, seperti IR36 dan

IR42. Hal ini disebabkan terutama karena varietas-varietas hibrida China tidak

mampu beradaptasi terhadap kondisi tropis dan rentan terhadap hama dan

penyakit yang ada di daerah tropis. Untuk mengatasi hal tersebut, IRRI

melakukan penelitian lebih intensif sehingga berhasil memperoleh galur-galur

restorer tropis, dan hibrida hasil persilangan GMJ asal China dengan

restorer-restorer tersebut menunjukkan heterosis terhadap IR36 dan IR42. Namun

(35)

11

kerentanan GMJ China terhadap hama dan penyakit (Virmani & Kumar 2004).

Oleh karena itu IRRI menitikberatkan penelitian padi hibrida terutama pada

perakitan galur-galur tetua padi hibrida dan telah banyak menghasilkan

kombinasi hibrida unggul yang telah dilepas sebagai varietas di banyak negara,

termasuk Indonesia.

Suksesnya penelitian dan pengembangan padi hibrida di China dan IRRI,

mendorong Indonesia mulai mengintensifkan pemuliaan padi hibrida pada tahun

1998, dengan menguji bahan pemuliaan introduksi dan perakitan galur tetua

serta membentuk berbagai kombinasi hibrida sendiri (Badan Litbang 2007).

Indonesia, dalam hal ini Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) berhasil

melepas varietas hibrida pertama pada tahun 2002, yaitu Maro dan Rokan.

Kedua varietas tersebut merupakan hasil introduksi dari IRRI. Varietas pertama

yang menggunakan tetua jantan lokal Indonesia pertama dilepas pada tahun

2007, yaitu Hipa6 Jete. Sampai tahun 2010, di Indonesia telah dilepas 69

varietas hibrida dan 17 diantaranya dilepas oleh BB Padi, sedangkan varietas

lainnya dilepas oleh perusahaan swasta nasional maupun multinasional yang

ada di Indonesia seperti PT BISI, Kondo, Bangun Pusaka, KNB Mandiri, Makmur

Sejahtera, Bayer, DuPont, Primasid, Tri Usaha Sari Tani, Sang Hyang Seri,

Sumber Alam Sutra, Biogene Plantation, Metahelix dan Advanta Indonesia.

Semua varietas hibrida yang telah dilepas menunjukkan heterosis pada karakter

hasil terhadap IR64 dan Ciherang, tetapi sebagian besar varietas tersebut tidak

memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit padi di negara tropis.

Selain sistem tiga galur, terdapat dua sistem yang dapat digunakan dalam

pengembangan padi hibrida, yaitu sistem dua galur dan sistem satu galur.

Sistem satu galur adalah penggunaan sistem apomiktik (tanpa pembuahan),

namun sampai saat ini masih dalam skala penelitian. Sistem dua galur

melibatkan penggunaan galur mandul jantan TGMS/Temperature-sensitive Genic

Male Sterility dan galur fertil. Keuntungan sistem ini adalah (1) tidak memerlukan

galur pelestari dalam produksi benih TGMS, (2) semua galur fertil dengan

sifat-sifat yang baik dapat digunakan sebagai tetua jantan dalam produksi benih

hibrida, dan (3) potensi heterosisnya lebih besar dibanding sistem tiga galur

(Virmani et al. 2003).

Sistem dua galur sebenarnya cocok untuk digunakan di daerah tropis, tetapi

anomali iklim yang sering terjadi di daerah tropika seperti Indonesia menjadi

(36)

(Liu et al. 1998), dan di Indonesia sering sekali terjadi pergantian temperatur

yang sangat ekstrim, karena itu sistem tiga galur masih merupakan sistem yang

dapat diterapkan.

Sistem Mandul Jantan pada Padi

Mandul jantan sitoplasmik adalah kondisi dimana tanaman tidak mampu

memproduksi polen/tepung sari fungsional. Mandul jantan merupakan karakter

yang diwariskan secara maternal, dan biasanya terkait dengan adanya gangguan

pada open reading frame (ORF) di genom mitokondria (Hanson & Bentotila

2004). Pada banyak kasus, termasuk padi, kesuburan mandul jantan dapat

dipulihkan oleh gen-gen nukleus yang mengkode fertility restoration (gen Rf)

yang terdapat pada galur pemulih kesuburan (Restorer/galur R). Sistem mandul

jantan sitoplasmik terjadi karena adanya interaksi antara genom nukleus dan

mitokondria. Dalam hal ini, sterilitas akibat gen mitokondrial menyebabkan

disfungsi sitoplasmik, sedangkan gen-gen nukleus akan menekan disfungsi

sitoplasmik tersebut (Ekcard 2006).

Penggunaan galur mandul jantan merupakan prasyarat untuk eksploitasi

heterosis pada padi. Cytoplasmic-genetic male sterility (CgMS/CMS) telah

digunakan secara luas untuk mengembangkan padi hibrida. Pistil galur mandul

jantan tumbuh normal dan dapat memproduksi biji bila diserbuki oleh polen

normal. Jika faktor genetik yang menginduksi kemandulan tersebut tidak ada

dalam sitoplasma maka tanaman menjadi normal (male fertile).

Jika terdapat tanaman normal (male fertile) yang memiliki faktor

pengendali kemandulan pada sitoplasma dan gen inti yang memulihkan

kesuburan bersifat resesif, maka tanaman tersebut dapat mempertahankan sifat

mandul jantan. Tanaman atau galur tersebut disebut galur pelestari (maintainer

line) yaitu suatu galur yang mempunyai sitoplasma normal tetapi gen inti yang

berkaitan dengan pemulihan kesuburan resesif, galur ini berfungsi untuk

melestarikan keberadaan galur mandul jantan pasangannya. Adanya gen

restorer dominan di nukleus pada suatu galur mengakibatkan galur tersebut

mampu memulihkan kesuburan pada hibrida hasil persilangan antara galur

tersebut dan galur CMS. Galur ini disebut sebagai galur pemulih kesuburan atau

restorer.

Pada sistem tiga galur, galur mandul jantan selalu diperbanyak dengan

(37)

13

crossing) untuk produksi benih skala kecil, maupun melalui persilangan alami

pada plot terisolasi untuk produksi benih dalam skala besar. Galur mandul

jantan dan galur pelestari selalu sama secara morfologi, hanya galur mandul

jantan steril sedangkan galur pelestari fertil. Namun kadang-kadang, kedua galur

tersebut juga menunjukkan beberapa sifat morfologi dan agronomis yang

berbeda karena dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada di dalam sitoplasma

yang menginduksi mandul jantan (Virmani et al. 1997). Restorer yang

mempunyai gen pemulih kesuburan (Rf) dominan, ketika disilangkan dengan

GMJ akan menghasilkan F1 hibrida yang fertil. Perbanyakan benih galur pelestari

dan pemulih kesuburan dilakukan seperti perbanyakan padi biasa, karena kedua

galur ini fertil dan mempunyai bunga sempurna.

Gambar 3 Skema sistem galur mandul jantan pada padi

Galur mandul jantan diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria,

antara lain (1) berdasarkan perilaku genetik dari gen ms, GMJ dibedakan

menjadi dua tipe yaitu GMJ sporofitik dan gametofitik. Pada GMJ sporofitik,

sterilitas atau fertilitas polen ditentukan oleh genotipe dari sporofit sedangkan

genotipe gametofit (polen) tidak berpengaruh sama sekali. Beberapa GMJ yang

tergolong tipe ini antara lain wild-abortive (WA) dan Gambiaca (Gam). Pada

kedua GMJ tersebut, gugurnya polen terjadi pada fase awal perkembangan

mikrospora. Fertilitas GMJ gametofitik secara langsung ditentukan oleh genotipe

gametofit (polen) saja tanpa dipengaruhi oleh genotipe sporofit. Pengguguran

(38)

sitoplasma Boro-type termasuk dalam tipe ini; (2) berdasarkan pola

pelestarian-pemulih kesuburan dari GMJ, terdapat tiga tipe galur mandul jantan yaitu WA,

Honglian dan Boro type (BT); dan (3) berdasarkan morfologi polen, GMJ

digolongkan ke dalam tipe typical abortion, spherical abortion, dan stained

abortion. GMJ tipe typical abortion mempunyai bentuk polen tidak beraturan

dan pengguguran polen biasanya terjadi pada fase uninukleat, sedangkan tipe

spherical abortion mempunyai polen berbentuk agak lonjong dan polen gugur

kira-kira saat fase binukleat. Terakhir, bentuk polen tipe stained abortion juga

agak lonjong tetapi agak lebih kecil dibanding polen normal dan polen gugur saat

fase trinukleat (Yuan et al. 2003).

Galur mandul jantan yang berkembang di Indonesia hampir seluruhnya

mempunyai sumber sitoplasma yang sama, yaitu Wild Abortive (WA). Apabila

galur ini digunakan secara terus-menerus, ada kekhawatiran akan

mengakibatkan kerapuhan genetik padi hibrida terhadap hama dan penyakit padi

yang kemudian akan menyebabkan ledakan populasi hama dan penyakit, sama

seperti yang pernah terjadi pada jagung hibrida (kasus Texas CMS). IRRI telah

mengembangkan beberapa galur mandul jantan dengan sumber sitoplasma yang

berbeda antara lain Gambiaca, Dissi, ARC, Kalinga, Hong Lian, Indonesian

Paddy (IP) dan beberapa sumber sitoplasma dari padi liar seperti Oryza

rufipogon dan O. perennis. Namun di Indonesia sumber-sumber sitoplasma di

atas belum digunakan dalam pembentukan dan produksi padi hibrida, karena

belum teridentifikasi galur pemulih kesuburan yang cocok berkombinasi dengan

GMJ dengan sumber-sumber sitoplasma di atas.

Uji Daya Gabung

Keberhasilan setiap program pemuliaan tanaman tergantung pada

pemilihan genotipe tetua yang tepat untuk program persilangan, disesuaikan

dengan target pemuliaan. Studi daya gabung tetua-tetua yang digunakan dalam

program pemuliaan memberikan informasi yang dapat membantu pemulia

melakukan seleksi terhadap tetua yang lebih baik untuk digunakan dalam

program pemuliaan, sehingga program tersebut menjadi lebih efektif.

Daya gabung umum (DGU) dan daya gabung khusus (DGK) dapat menjadi

indikator penting dalam evaluasi nilai potensial masing-masing galur tetua dalam

kombinasi hibrida. Daya gabung merupakan ukuran kemampuan suatu galur

(39)

15

dengan penampilan superior. Nilai masing-masing galur terletak pada

kemampuannya untuk menghasilkan keturunan unggul bila dikombinasikan

dengan galur-galur lain (Allard 1960).

Daya gabung umum (general combining ability) adalah nilai rata-rata

galur-galur dalam seluruh kombinasi persilangan bila disilangkan dengan galur-galur-galur-galur

lain. Daya gabung umum (DGU) menggambarkan peranan dan interaksi yang

kuat antar efek genetik aditif pada populasi dasar, sedangkan efek daya gabung

khusus memberi ilustrasi mengenai variasi non-aditif (Falconer 1983). Nilai DGU

yang tinggi menunjukkan tetua atau galur yang bersangkutan mempunyai

kemampuan berkombinasi dengan baik, sedangkan nilai DGU yang rendah

menunjukkan bahwa tetua tersebut mempunyai kemampuan berkombinasi yang

lebih buruk dibanding tetua lain. Nilai DGU dapat positif atau negatif, tergantung

pada karakter yang diamati dan cara menilainya. Nilai daya gabung dapat

memberikan informasi mengenai kombinasi-kombinasi yang dapat menghasilkan

turunan yang berpotensi hasil tinggi, yang ditunjukkan oleh diperolehnya

heterosis dan nilai daya gabung yang besar.

Daya gabung khusus (specific combining abillity atau DGK) adalah

penampilan kombinasi pasangan persilangan tertentu. Nilai daya gabung khusus

baik apabila nilai pasangan persilangan tertentu lebih tinggi dibanding nilai

rata-rata keseluruhan persilangan yang terlibat (Poehlman & Sleper 1990).

Persilangan-persilangan yang memiliki nilai daya gabung khusus tinggi sangat

berpotensi untuk dieksploitasi efek heterosisnya dan dapat dikembangkan

sebagai varietas hibrida. Evaluasi persilangan antar galur inbred merupakan

langkah penting dalam pengembangan padi hibrida. Secara ideal, proses ini

sebaiknya dilakukan melalui evaluasi terhadap semua kemungkinan persilangan

yang terjadi, sehingga dapat diketahui kombinasi yang sangat sesuai untuk

disilangkan agar dapat menghasilkan suatu varietas yang baik.

Analisis daya gabung yang banyak digunakan adalah lini x tester dan diallel

(Singh & Chaudary 1979). Analisis dialel umum dilakukan menggunakan

populasi persilangan galur-galur murni, dan telah banyak diterapkan pada

banyak tanaman. Analisis daya gabung umum dan khusus yang melibatkan galur

mandul jantan pada padi lebih umum dilakukan menggunakan metode lini x

(40)
(41)

EVALUASI GALUR-GALUR DIHAPLOID UNTUK

DIGUNAKAN SEBAGAI CALON GALUR PELESTARI

Abstrak

Perakitan galur mandul jantan sangat penting perannya dalam pembentukan varietas padi hibrida berheterosis tinggi. Untuk memperoleh galur mandul jantan baru, perlu dilakukan seleksi calon galur pelestari dan silang balik berkelanjutan terhadap donor sitoplasmik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengevaluasi karakter agromorfologi, komponen hasil dan hasil serta karakter bunga galur-galur dihaploid calon galur pelestari hasil kultur antera dan (2) mengevaluasi ketahanan galur-galur dihaploid calon galur pelestari terhadap penyakit hawar daun bakteri. Sembilan belas galur dihaploid generasi kedua (DH2) diuji menggunakan rancangan acak lengkap yang diulang 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter bobot malai, jumlah gabah isi per malai dan hasil biji per rumpun mempunyai nilai KVG tertinggi. Nilai heritabilitas arti luas kategori tinggi ditunjukkan oleh karakter tinggi tanaman, umur berbunga, bobot malai, jumlah gabah isi per malai, bobot 1000 butir dan hasil biji per rumpun. Dari seluruh karakter yang diuji, bobot malai mempunyai kontribusi terbesar terhadap hasil biji per rumpun, terlihat dari nilai pengaruh langsungnya yang positif dan besar (0,7399) dan pengaruh tidak langsungnya melalui jumlah gabah isi per malai yang juga tinggi dan positif (0,6556). Jumlah anakan produktif juga memberikan korelasi yang positif dan tinggi secara langsung terhadap hasil biji per rumpun. Karakter jumlah anakan produktif, bobot malai dan gabah isi per malai dapat digunakan sebagai karakter seleksi galur pelestari yang baik. Semua galur dihaploid yang diuji kecuali B4-1-Da dan B4-1-Dc sesuai untuk digunakan sebagai calon galur pelestari berdasarkan bobot malai yang tinggi (≥ 2,99 g), jumlah gabah isi per malai (>125 butir/malai) dan bobot hasil yang tinggi (>19 g/rumpun). Pada percobaan inokulasi menggunakan inokulum hawar daun bakteri patotipe III, terdapat tiga galur DH pelestari bereaksi tahan (skor 1), diantaranya adalah B1-1-Mb, B2-1-Db dan B2-1-M. Galur B4-1-Dc merupakan galur DH pelestari yang bereaksi sangat tahan (skor 0) terhadap Xoo patotipe IV, dan dua galur DH pelestari menunjukkan reaksi yang sangat tahan terhadap Xoo patotipe VIII, yaitu H36-4-M dan B4-1-Dc (skor 0). Karakter sembilan belas galur DH pelestari bervariasi, sebagian besar memiliki morfologi yang mendukung perolehan hasil tinggi seperti warna daun yang hijau tua, eksersi malai sempurna dan posisi daun bendera yang tegak.

(42)

Abstract

Breeding of male sterile lines is important in hybrid rice development. It is done through selection of maintainer candidate lines and successive backcrosses to cytoplasmic donors. The aims of this research were to evaluate several agronomic characters, yield components and yield of doubled haploid maintainer candidate lines, and to study their resistance to three pathotypes of bacterial leaf blight pathogens (Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo)). Nineteen dihaploid lines (DH2) were tested using completely randomized design with 4 replications. The results showed that panicle weight, filled grain per panicle and grain weight per plant had the highest genotype coefficient of variance (GCV). High broad sense heritability value was shown by plant height, flowering time, panicle weight, 1000 grain weight and grain per plant. The direct correlation value of panicle weight to yield per plant was high and positive (0.7399). Indirect correlation through filled grain per panicle was also positive and high (0.6556). The number of panicle per plant also gave positive and high correlation directly to grain weight per plant. It was shown that panicle number per plant, panicle weight and filled grain per panicle had the highest contribution to yield per plant, therefore the characters could be used as selection criteria of good maintainer. All of dihaploid lines except B4-1-Da and B4-1-Dc can be used as maintainer candidate lines, based on their panicle weight (≥ 2.99 g), high filled grain per panicle (> 125 grain/panicle) and yield per plant (> 19 g/plant). There were three dihaploid lines resistant to Xoo pathotype III (score 1), i.e. B1-1-Mb, B2-1-Db and B2-1-M. B4-1-Dc were dihaploid lines highly resistant to BLB pathotype IV (score 0), and two lines were highly resistant to pathotype VIII, i.e. H36-4-M and B4-1-Dc (score 0). Morphology of nineteen maintainer candidate lines were varied and suitable for supporting high yield, such as dark green leaves, good panicle exertion and erect flag leaf.

(43)

19

Pendahuluan

Teknik kultur antera merupakan teknologi yang banyak digunakan untuk

percepatan perakitan galur murni yang homozigos. Tanaman-tanaman dihaploid

yang dihasilkan melalui kultur antera bersifat homozigos penuh dan breed true,

karena kedua kopi informasi genetik pada tanaman-tanaman tersebut identik.

Individu tanaman yang dihasilkan oleh mikrospora yang sama akan mempunyai

karakter agromorfologi yang sama pada generasi selanjutnya (Dewi & Purwoko

2001).

Tanaman homozigos atau galur murni dengan sifat-sifat yang unggul

sangat diperlukan dalam pemuliaan tanaman. Tanaman homozigos akan

memudahkan seleksi fenotipe terhadap karakter-karakter kuantitatif tanpa

disulitkan oleh hubungan dominan resesif seperti pada tanaman heterozigos.

Tercapainya galur murni pada keturunan pertama menyebabkan siklus

pemuliaan dapat lebih singkat karena dapat menghilangkan sebagian besar

kegiatan seleksi per generasi (6-8 generasi) yang umum pada pemuliaan

konvensional (Dewi et al. 1996).

Dewi & Purwoko (2011) menyatakan bahwa sangat mudah untuk

membedakan tanaman haploid dari dihaploid pada generasi awal (DH0), yaitu

melalui perbedaan dalam bentuk tanaman (stature), warna daun, bentuk daun,

perkembangan anakan dan akar, pembentukan biji, serta jumlah dan ukuran

stomata. Oleh karena itu, evaluasi terhadap karakter target pada tanaman

dihaploid hasil kultur antera dapat dilaksanakan dengan mudah menggunakan

metode seleksi konvensional. Kriteria agromorfologi dalam pemilihan galur

pelestari antara lain malai keluar sempurna dari seludang daun bendera, filamen

harus panjang sehingga antera menjulur keluar sempurna dari bunga, antera

harus besar dan gemuk dengan butir tepung sari/polen yang banyak, antera

harus menggugurkan butir tepungsarinya ketika antera sudah keluar dari bunga

(Virmani et al. 2003).

Keberhasilan kegiatan perbaikan karakter pada suatu populasi tergantung

pada besarnya hubungan antara nilai fenotipik dan genotipik. Nilai besaran

hubungan tersebut dapat dihitung secara kuantitatif dan disebut heritabilitas,

yang dapat diprediksi pada populasi tertentu untuk karakter tertentu (Chahal &

Gosal 2002). Estimasi heritabilitas sangat bermanfaat untuk mengetahui dan

(44)

menentukan ukuran populasi yang harus dipelihara saat melakukan seleksi dan

menentukan metode alternatif dalam seleksi (Roy 2000).

Kearsey & Pooni (1996) menyatakan bahwa heritabilitas dapat diprediksi

menggunakan perhitungan statistika terhadap komponen ragam. Secara umum,

heritabilitas merupakan proporsi dari ragam fenotipik total hasil kontribusi dari

efek gen. Terdapat dua tipe heritabilitas, yaitu heritabilitas arti luas dan

heritabilitas arti sempit. Heritabilitas arti luas merupakan rasio antara nilai variasi

genetik total terhadap variasi fenotipik total. Heritabilitas ini menjelaskan

mengenai efek-efek dominan dan epistasis. Heritabilitas arti sempit merupakan

proporsi dari variasi yang terjadi akibat gen-gen aditif dalam suatu populasi

spesifik. Heritabilitas ini memiliki peran yang lebih penting dalam suatu program

seleksi karena dapat mengukur nilai estimasi hasil pemuliaan dari suatu populasi

(breeding value) dan respon terhadap seleksi sangat tergantung pada varians

genetik aditif (Wray & Visscher 2008).Aksi gen memegang peranan penting

dalam menentukan nilai heritabilitas. Karakter-karakter yang ekspresinya

dipengaruhi oleh gen aditif akan memiliki nilai heritabilitas yang lebih tinggi

dibandingkan karakter yang dikontrol oleh gen non-aditif (Falconer 1988).

Hawar daun bakteri merupakan penyakit utama padi yang merusak klorofil

daun, sehingga fotosintesis terhambat dan tanaman tidak mampu menghasilkan

malai. Salah satu pengendalian yang ramah lingkungan adalah menggunakan

varietas tahan. Sebagian besar padi hibrida yang ada di Indonesia masih belum

memiliki ketahanan terhadap hawar daun bakteri. Oleh karena itu, skrining

terhadap galur-galur tetua perlu dilakukan untuk mengetahui ketahanannya

terhadap patogen Xoo.

Percobaan ini bertujuan untuk (1) mengevaluasi karakter agromorfologi,

komponen hasil dan hasil serta karakter bunga galur-galur dihaploid calon galur

pelestari hasil kultur antera dan (2) mengevaluasi ketahanan galur-galur

dihaploid calon galur pelestari terhadap penyakit hawar daun bakteri.

Bahan dan Metode

Tempat dan Waktu

Persiapan bahan tanaman berupa perbanyakan benih DH1 dimulai sejak

Desember 2006, sedangkan penelitian dilaksanakan mulai bulan April sampai

Agustus 2007 di rumah kaca Balai Besar Bioteknologi dan Sumber Daya

(45)

21

Bahan dan Metode

Bahan yang digunakan adalah benih 19 galur tanaman dihaploid generasi

dua (DH2) hasil kultur antera F1 turunan dari persilangan antara galur pelestari

(B) dengan Galur/Varietas Donor resisten Hawar Daun Bakteri (Tabel 2).

Evaluasi Karakter Agromorfologi Galur Dihaploid Calon Galur Pelestari Percobaan dilakukan mengikuti Rancangan Acak Kelompok yang diulang 4

kali. Perlakuan terdiri atas 19 galur dihaploid generasi kedua (DH2) calon

pelestari (Tabel 2). Satu satuan unit percobaan adalah 3 ember, masing-masing

berisi dua rumpun tanaman untuk setiap galur. Benih tanaman uji disemai dalam

bak berisi tanah sawah. Bibit berumur 21 hari ditanam dalam ember yang berisi

tanah sawah. Setiap ember diisi 12 kg campuran tanah sawah dan pupuk

[image:45.595.111.503.211.781.2]

kandang, dengan perbandingan 3:1.

Tabel 2 Galur calon pelestari DH2 hasil kultur antera dari 6 kombinasi persilangan B x B

No No Kode TC Keterangan

Lap.

1 B-1 H36-1-M Kultur antera F1 hasil persilangan 2 B-2 H36-2-Mb H36 : IR72080B-1/Memberamo 3 B-3 H36-3-Ma H39 : IR71562B-1/IR74

4 B-4 H36-3-Mb H45 : IR72080B-20/IR71031

5 B-5 H36-3-Mc

6 B-6 H36-4-M

7 B-8 H39-1-P

8 B-9 H45-3-Da

9 B-10 H45-4-Pc

10 B-11 B1-1-Mb Kultur antera F1 hasil persilangan 11 B-12 B1-2-Pa B1 : IR58025B-W1/Memberamo 12 B-13 B1-2-Pb B2 : IR58025B-W2/Barumun 13 B-14 B2-1-Db B4 : IR68897B-W2/Barumun

14 B-15 B2-1-Dc

15 B-16 B2-1-M

16 B-17 B2-2-Pb

17 B-18 B2-4-Pb

18 B-19 B4-1-Da

19 B-20 B4-1-Dc

Pemupukan diberikan dengan dosis 5 g Urea, 2 g SP36 dan 2 g KCl.

Setengah dosis Urea, seluruh dosis SP36 dan KCl diberikan sebagai pupuk

(46)

pada saat tanaman berumur 40 hari setelah tanam (HST). Pengendalian hama

dan penyakit dilakukan saat munculnya gejala serangan hama dan penyakit.

Pengamatan dilakukan terhadap karakter agromorfologi dan karakter

bunga calon galur pelestari, antara lain :

A. Karakter agromorfologi tanaman, meliputi:

1. Tinggi tanaman, diukur dari permukaan tanah sampai ujung malai terpanjang

(cm); diamati saat stadia masak susu atau menjelang panen.

2. Jumlah anakan, diamati saat stadia bunting.

3. Warna daun, diamati pada stadia vegetatif sampai heading; data berupa skor

(1-7) (Tabel 3).

Tabel 3 Skor warna daun berdasarkan SES (IRRI 2002)

Skor Warna

1 Hijau muda/terang 2 Hijau

3 Hijau tua/gelap

4 Hijau dengan ujung daun berwarna ungu 5 Hijau dengan strip ungu di pinggir daun 6 Bercak ungu (ungu bercampur dengan hijau) 7 Ungu

4. Sudut daun bendera, diukur di pangkal daun bendera (dekat collar); data

berupa skor (1-7) (Tabel 4).

Tabel 4 Skala sudut daun bendera berdasarkan SES (IRRI 2002)

Skor Kriteria 1 Tegak 3 Intermediet 5 Horisontal 7 Terkulai

5. Eksersi malai, diamati posisi kedudukan leher malai terhadap daun bendera;

data berupa skoring (1-9), diamati pada stadia masak susu atau menjelang

panen (Tabel 5).

Tabel 5 Skala eksersi malai berdasarkan SES (IRRI 2002)

Skala Kriteria

1 Keluar sempurna 3 Keluar (moderate)

5 Agak keluar (leher malai berada tepat pada pangkal daun bendera)

7 Keluar sebagian 9 Tertutup

(47)

23

B. Karakter komponen hasil dan hasil, meliputi:

1. Jumlah gabah per malai, dihitung total keberadaan gabah dalam satu malai,

baik hampa maupun bernas.

2. Jumlah gabah isi per malai, dihitung dari jumlah gabah yang bernas dalam

satu malai.

3. Jumlah gabah hampa per malai, dihitung jumlah gabah kosong hampa dalam

satu malai.

4. Bobot 1000 biji, diamati dengan menimbang 1000 butir gabah bernas yang

berkadar air 13 – 14% (gram).

5. Panjang malai, diamati dari pangkal malai sampai ujung malai (cm)

6. Bobot malai, diamati dengan menimbang malai utama (gram).

C. Karakter bunga, meliputi:

1. Warna putik, diamati saat bunga mekar yaitu sekitar jam 9 – 10 pagi (udara

cerah)

2. Warna antera, diamati saat bunga mekar yaitu sekitar jam 9 – 10 pagi (udara

cerah)

3. Warna ujung gabah, diamati saat menjelang panen;

4. Umur berbunga, diamati jumlah hari saat tanaman berbunga 50%

5. Keberadaan bulu pada ujung gabah, data berupa skoring (1-9) (Tabel 6).

Tabel 6 Skor keberadaan bulu pada gabah

Skor Kriteria 0 Tidak ada

1 Pendek dan kadang berbulu 5 Pendek dan banyak bulu 7 Panjang dan kadang berbulu 9 Panjang dan banyak bulu

D. Bobot produksi per rumpun, diamati dengan menimbang total gabah isi

(kadar air 14%) dalam satu rumpun (gram).

Evaluasi Ketahanan Galur-Galur Dihaploid Calon Galur Pelestari terhadap Hawar Daun Bakteri

Pengujian ketahanan terhadap hawar daun bakteri dilakukan pada saat

tanaman berumur 60 hari. Bibit berumur 20 hari setelah semai (HSS) ditanam di

sawah dan dipelihara dengan baik agar diperoleh tanaman yang sehat. Pada

umur 60 HST, tanaman diinokulasi dengan Xanthomonas oryzae pv. oryzae dari

(48)

menggunakan gunting yang telah dicelupkan ke dalam larutan bakteri patotipe

III, IV dan VIII. Setiap patotipe diujikan pada sembilan rumpun tanaman, yang

setiap rumpunnya digunting sebanyak lima helai daun, sehingga jumlah contoh

seluruhnya meliputi 45 helai daun. Pada pengujian ini digunakan empat belas

galur dihaploid calon pelestari. Keempat belas galur dihaploid tersebut telah

teridentifikasi mempunyai kemampuan melestarikan kemandulan galur mandul

jantan. Pembanding rentan digunakan IR64 dan sebagai pembanding tahan

digunakan Angke dan Conde. Pengamatan dilakukan dua minggu setelah

inokulasi, menggunakan skala sesuai kriteria pada Standard Evaluation System

[image:48.595.77.496.41.818.2]

for Rice (IRRI 2002) (Tabel 7).

Tabel 7 Kriteria penilaian ketahanan terhadap hawar daun bakteri (HDB).

Nilai Skala Gejala Serangan Tingkat ketahanan

0 Tidak ada gejala Sangat Tahan (ST)

1 keparahan 1-5% Tahan (T)

3 keparahan >5 – 12% Agak Tahan (AT)

5 keparahan >12 – 25% Agak Rentan (AR)

7 keparahan > 25-50% Rentan (SR)

9 keparahan > 50-100% Sangat Rentan

Berdasarkan skala keparahan penyakit tersebut kemudian dihitung indek

penyakit HDB dengan rumus sebagai berikut :

n(1)+n(2)+n(3)+n(4)+n(5)+ n(6)+n(7)+n(8)+n(9) Di = ---

ZN Keterangan:

Di = indeks penyakit HDB

n = jumlah tanaman terserang HDB dengan skala tertentu Z = total rumpun yang diamati

N = skala keparahan tertinggi

Analisis Data

Sebelum dilakukan analisis data, guna melengkapi data maka dilakukan

perhitungan sederhana terhadap data gabah isi menjadi satu karakter baru, yaitu

persentase gabah isi per malai (spikelet fertility) yang dihitung menggunakan

rumus sebagai berikut:

jumlah gabah isi per malai

(49)

25

Selanjutnya, semua data pengamatan dianalisis menggunakan bantuan

SAS 9.0 untuk menghitung:

1. Analisis ragam (anova) yang dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple

Range Test (DMRT)

Tabel 8 Analisis ragam (anova) rancangan acak kelompok

Sumber keragaman

Derajat bebas Kuadrat tengah Estimasi kuadrat tengah

Ulangan (r) r – 1 M1 σ2e + gσ2r

Genotipe (g) g – 1 M2 σ2e + rσ2eg

Galat (e) (r - 1)(g - 1) M3 σ2e

2. Parameter genetik dan nilai heritabilitas dalam arti luas untuk mengetahui

besarnya sumbangan pengaruh genetik terhadap fenotipe. Pendugaan

parameter genetik dan nilai heritabilitas dihitung berdasarkan analisis

ragam menurut metode yang dikemukakan oleh Singh & Chaudhary

(1979). Berdasarkan sumber keragaman pada Tabel 8, maka parameter

genetik dan nilai heritabilitas arti luas dihitung menggunakan rumus

sebagai berikut:

Gambar

Tabel 1 Klasifikasi Padi menurut Khush (2000)
Tabel 2 Galur calon pelestari DH2 hasil kultur antera dari 6 kombinasi persilangan
Tabel 7  Kriteria penilaian ketahanan terhadap hawar daun bakteri (HDB).
Tabel 9 Karakter morfologi dan karakter bunga 19 calon galur pelestari
+7

Referensi

Dokumen terkait

Keunggulan teknologi baru yang dimiliki padi hibrida memang menjanjikan, namun memiliki kendala bagi petani yaitu pada harga benih padi hibrida yang lebih mahal dari pada benih

Tulisan ini mengevaluasi pembentukan galur mandul jantan baru GMJ4A dan GMJ5A sampai menurunkan hibrida unggul pada uji observasi hasil dan uji ketahanan terhadap penyakit hawar

Menurut Satoto dan Suprihatno (2008), secara umum permasalahan dalam pengembangan padi varietas unggul hibrida di Indonesia antara lain: (1) produksi benih di tingkat

Secara umum masalah pengembangan padi hibrida di Indonesia saat ini antara lain adalah: (a) produksi benih rendah, baru sekitar 1 t/ha, dan sistem perbenihan belum berkembang, pada

Coating pada benih padi hibrida varietas Intani-2 tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada semua tolok ukur viabilitas dan vigor benih, sebaliknya benih padi hibrida

Galur mandul jantan yang pa- ling banyak digunakan di beberapa negara yang mengembangkan padi hibrida adalah galur mandul jantan sitoplasmik (cytoplasmic male-sterile line)

Secara umum masalah pengembangan padi hibrida di Indonesia saat ini antara lain adalah: (a) produksi benih rendah, baru sekitar 1 t/ha, dan sistem perbenihan belum berkembang, pada

Pembentukan Galur Mandul Jantan dan Pemulih Kesuburan Padi Tipe Baru Dari galur-galur harapan padi tipe baru yang telah terbentuk, melalui uji silang {test cross telah teridentifikasi