! "
# "
$ % & '(()
"
" #
% $
# %
#
7 # "
"
" %
" 7
%
1 "
=
+
$%
'(()
=
+
7
! " " " #
$ " # "
#
% #& " " "
" ' % $
! " " " # (
!
& E !"!# $ % &$ $ ' &' ( $) *&+ !#, % ') )-% & .-%- # & #&*/ # . & #&"!" " , ( &$ $ '
* E -'-" ( %( *
* E + ',-(.((--/! 0
E
" ! % 83 " 3 % !#
3
4 # ! % 83 " $ % 83
3 3
E
! ! #
! 0
" $ % 83 " 3 * % !
3 ! 7*
E
! # %
% %
# $ "
! % 83 % " 3
% !#% $ 4 # ! % 83% $
" $ % 83% 7 %
#
! ! 0 % !
# $% 2 " 2
!. 9 :
# 0 =
* % ! % %
" 0 " % ! " %
& ! 2 2 " 2 % "
0 3 2 " 2 % " $ 1
% %
"
% % 6 = % 7
# * * 3 %
! "
$ % & '(()
) (# #
& ', ; -),,%
= F = !
6 = -))' ' #
* 9-B : * 3 9-- :
! 3
-! B
-)?B ! 3 * %
2 " 2
9 : % -))- !
! " & 2 " 2
-))B
!' 2 -))? 2 "
'((. !.
! ! 0 $ !
!
! 9 ! 8 : 2 '((?7'(-(
! !. %
E -: = $ 9'((. > '((B: G
! ! ! " 2 " +
& 3# 6 &
& G % ': 6
! !
E -: ! ! +
& 6 9!
& : 2 " !!* (?B'7
',?' ! '((B% ': 0 &
! 1 2 ! " 2 "
!!* (-'B7-@)( '((D% .: 3 " 4
0
$
= 3 36 3$80 H 3 36 23 $36 H 3 36 03 63* H1 1
-- -- 0 $ IIIIIIIII
-- ' .
- . B
- D " , - B 6 0 ! , 1 @
' - @ ' - - @
' - '
--' - . $ -@
' - D " '(
' - B ''
' - , '.
' - @ & ! 2 'D
' ' =
'B
' . '@
' D " " .-1 .D
. - 3 $ .D
. - - 3 .D
. - ' $ 7 .D
. ' .B
. ' - .B
. ' ' "
! D@
. ' . 3 6
=
21 ,(
D - 0 % 0 $ ,(
D ' ,' D . 2 ,@ D D 2 " ,? D B ,) D , ; " @-D @ 8 ! @? D ? = ?'
D ) $ # ?B
D -( 0 )( D -- 3 )B
D -' 6 )@
21 -(' B - -('
B ' -('
B . ! --B
B D " ! --B
2 1 --? , - 6 " --?
, ' 2 --)
, . -'?
, D !
-.-, B " ! -.B
, , 81 3 4 -.?
, @ 3
-D'
, ? 3 6 -B,
=
- 8 -D
' "
'-. " .,
D & !
IIIIIIIIIIIIIIIIII .)
B " 2
IIIIIIIIIIIIII .)
, = $ I D(
@ "
D-? " IIIIIIIIIII
D-) " 6 " I D'
-( IIIIIIII D.
-- 0
6
B--' 0 9 : B'
-. 0 B.
-D 0 B.
-B 0 BD
-, BB
-@ $ # 9 : BB
-? ! ; IIIIIIIIIIIIIIIIII B@
-) + = 6 $ 9 / :
$ ! = II ,'
'( ! 6 76 $ 9 +: -))- > '((B ,D
'- 6 76
-))-7'((B ,B
'' 3 9* 8: # 9 / : 3 $
6 76 -))B7'((D ,,
'. 2 @'
=
'B ?)
', 0 ! % % 9= :
$ #
2
)-'@ 7 0
! 2 IIIIIIII -((
'? 0 2 I
-(-') = 3
$ IIIIIIIIIIIIIIIII -(@
.( IIIIIIII -()
.-
" ! --,
.' * !$8 -.)
.. * !$8 -D(
.D
$ J -DD
.B ! ; 3
2 -B@
., ! ; 3
$
-,-=
2 - 0 *
$ )
2 ' 0 *
6 + , : )
2 . 0 *
$ 6 ! - , -(
2 D 0 *
$ $ + "" IIIII -(
2 B 0 *
$ $ 2 ! . -(
2 , " $
% 2 ! -.
2 @ " 2 ! 9-)@.: -,
2 ? 0 ! IIII '.
2 ) 3 IIIIIIIIIII .(
2 -( = % $ .?
2 -- 6 $ % -))? II .?
2 -' 0 * II D'
2 -. 3 " 2 " II DD
2 -D 3 IIIIIIIIIIIIIII B)
2 -B +
,-2 -, 2 " + = 6 $ $ ! ,'
2 -@ 2 " 3 # 3 9 / : $ ,@
2 -? @(
2 -) 2 "9 : @.
2 '( 2 $ " "9 : @.
2 '- 2 " " @.
2 '' 2 "9 : @D
2 '. ! ! ! 9 ! 8 2 %'((.: @@
2 'D ! ! ! @@
2 'B 8 + " @)
2 ', $ " 9 :
?-=
2 '? ! %
?-2 ')
?-2 .( ! 3 " $ ?D
2 .- 3 0 % ?D
2 .' ?@
2 .. 6 IIII ?)
2 .D ! = )'
2 .B ! 6 0 %+ % ).
2 ., $ * 0 % 2 % ).
2 .@ ! % % )D
2 .? 0 ! 3 1 ! $ )D
2 .)
! ! )B
2 D( & 3 % 2 ),
2 D- & 7 % $ ),
2 D' 9 " : * % 2 I -(D
2 D. 9 " : % 2 II -(D
2 DD 9 " : % 2 II -(D
2 DB 9 " : II -(D
2 D, 9 " : II -(B
2 D@ 9 " : ! %$ II -(B
2 D? 9 " : % II -(B
2 D) 9 " : 2 % II -(B
2 B( II -(,
2 B- --D
2 B' 2 --)
2 B. 2 $ 2 -'(
2 BD F 8 2 ! 2 -'(
2 BB + ! $ !
0 % ! % 2
-'-2 B, 2 $ % %
! -''
2 B@ $ 4
=
2 B? ! $ -''
2 B) * 2 -'.
2 ,( 3 1 ! % -'.
2 ,- $ ! $ % + -'D
2 ,' 3 ! ; % $ -'D
2 ,. 6 $ ! ; % $ -'B
2 ,D 2 -',
2 ,B 0 2 3 " 6 $ %
! ; % $ -'@
2 ,, 2 - -'@
2 ,@ 2 " -'?
2 ,? 2 ! # -'?
2 ,) ! 0 $ % 2 III -')
2 @( # % I II -')
2 @- # % -.@
2 @' ! * !$8 0 -.)
2 @. 2 " =
* !$8 -D'
2 @D II -BD
2 @B 2 0 II -,.
0 - * !$8 0 #
0 ' ! $ 2 " ! - E B( (((
0 . ! 0 0 - E B( (((
0 D = 3
0 B 0
0 , 4 # 3
! $ "
Indonesia adalah negara bahari dan negara kepulauan terbesar di dunia dengan keanekaragaman hayati laut terbesar
(Polunin, 1983). Luas wilayah Indonesia sebesar 5,8 juta km2(70% dari luas total Indonesia) adalah berupa lautan, yang terdiri dari 3,1 juta km2 Perairan Nusantara dan 2,7 km2 Perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki 17.508 pulau dan dirangkai oleh garis pantai sepanjang 81.000 km yang merupakan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Kondisi inilah yang menyebabkan Indonesia memiliki potensi sumberdaya wilayah pesisir dan laut yang sangat besar. Ekosistem pesisir dan laut menyediakan sumberdaya alam yang produktif baik sebagai sumber pangan, tambang mineral dan energi, media komunikasi, maupun kawasan rekreasi atau pariwisata (Dahuri, 2003).
Wilayah pesisir adalah daerah pertemuan antara darat dan laut, dengan batas ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air yang masih mendapat pengaruh sifat-sifat laut seperti angin laut, pasang surut, perembesan air laut (intrusi) yang dicirikan oleh vegetasinya yang khas, sedangkan batas wilayah pesisir ke arah laut mencakup bagian atau batas
terluar daripada daerah paparan benua , dimana ciri-ciri
perairan ini masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun proses yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran (Departemen Dalam Negeri dan
(BCEOM), 1998)
Bakosurtanal (2000) menyatakan bahwa wilayah pesisir merupakan bentanglahan yang dimulai dari garis batas wilayah laut yang ditandai oleh terbentuknya zona pecah gelombang ! ke arah darat hingga pada suatu bentanglahan yang secara genetik pembentukannya masih dipengaruhi oleh aktivitas marin, seperti dataran aluvial pesisir .
Proses yang terjadi di laut dan di daratan yang terus-menerus berlangsung tentunya membentuk jenis pesisir tertentu
berbagai macam sumberdaya yang ada di wilayah pesisir tersebut. Dengan melakukan pengelompokan (zonasi) tipologi pesisir dari aspek fisik lahan (selanjutnya disebut dengan tipologi fisik pesisir) akan mempermudah dalam melakukan perencanaan dan pengelolaan pesisir secara tepat sesuai dengan kondisinya. Inilah yang menjadi kebaruan dari penelitian ini, artinya setiap penelitian di wilayah pesisir selalu didahului dengan mengenali dan menentukan ciri-ciri fisik pesisir dalam bentuk menentukan tipologi fisik pesisirnya sehingga akan dapat diketahui dengan cepat karakteristik lahannya, model pemanfaatan dan pengelolaannya yang paling tepat.
Perencanaan mempunyai fungsi yang cukup penting dalam mengarahkan bentuk pemanfaatan dan pengelolaan wilayah pesisir menuju pembangunan yang berkelanjutan. Prinsip yang melandasi rencana pengaturan tersebut antara lain kekhasan sumberdaya biofisik setempat. Kekhasan sumberdaya biofisik lahan setempat dapat didekati dengan melihat tipologi fisiknya yang dicirikan oleh relief, materi penyusun dan proses genetik yang membentuknya. Dengan melihat potensi lahan maka akan dapat ditentukan dengan tepat model pamanfaatannya sekaligus model pengelolaanya untuk menuju pada pembangunan yang berkelajutan.
Wilayah pesisir mengandung potensi ekonomi (pembangunan) yang sangat besar dan beranekaragam. Upaya untuk memanfaatkan sumberdaya alam tersebut untuk pembangunan bangsa telah membawa perkembangan pada berbagai kegiatan lapangan usaha dalam sektor pembangunan. Sektor-sektor tersebut meliputi sektor kegiatan perikanan, pertanian, pertambangan dan energi, pelabuhan/perhubungan laut, pariwisata bahari, dan sektor kegiatan jasa lainnya.
Salah satu komoditi pariwisata yang dapat membangkitkan kembali dunia pariwisata adalah wisata pesisir . Wisata pesisir termasuk pada kegiatan wisata bahari atau wisata kelautan. Adapun yang dimaksud dengan wisata pesisir adalah wisata yang obyek dan daya tariknya bersumber dari
potensi bentang laut maupun bentang darat pesisir
. Pembangunan wisata pesisir pada hakekatnya adalah upaya mengembangkan dan memanfaatkan obyek dan daya tarik wisata pesisir di seluruh pesisir dan lautan Indonesia, berupa kekayaan alam yang indah (pantai), keragaman flora dan fauna seperti terumbu karang dan berbagai jenis ikan hias yang diperkirakan sekitar 263 jenis (Dahuri 2003). Konsep wisata pesisir didasarkan pada pemandangan ", keunikan alam, karakteristik ekosistem, kekhasan seni budaya dan karakteristik masyarakat sebagai kekuatan dasar yang dimiliki oleh masing-masing daerah.
Menurut catatan dari# $ $ (WTTC) yang
menyebutkan khusus bagi wisata pesisir secara global pada tahun 1997 mampu menghasilkan devisa lebih dari US$ 425 billion. Hal ini menunjukkan bahwa jenis pariwisata ini merupakan kegiatan industri terbesar di dunia dan sangat potensial untuk dikembangkan, sehingga menjadi salah satu sektor yang diharapkan pemerintah dalam memperoleh devisa. Dari sisi efisiensi, sektor pariwisata ini merupakan sektor yang paling efisien dalam bidang kelautan yang ditunjukkan dengan nilai ICOR sebesar 3,10 (Kusumastanto, 2003). Dengan demikian adalah wajar jika pengembangan pariwisata pesisir ini menjadi prioritas.
Dalam perencanaan kegiatan pariwisata pesisir, harus ditentukan terlebih dahulu tipologi pesisirnya sebagai unit analisis, yang memberikan ciri pada karakter lanskap sebagai daya tarik wisata dan sumberdaya lainnya yang berada di wilayah pesisir tersebut. Karakter lanskap merupakan wujud dari keharmonisan atau kesatuan yang muncul diantara elemen-elemen alam pesisir tersebut.
dan lokal maupun keterpaduan perencanaan antar sektor pada tiap-tiap tingkat pemerintahan, seperti keterpaduan antar sektor pariwisata dan sektor perikanan di tingkat regional, dan lain-lainnya.
Dalam Agenda 21 Daerah Istimewa Yogyakarta (2004), disebutkan bahwa karakter Yogyakarta adalah pariwisata dan budaya, sehingga kawasan pesisir merupakan kawasan yang sangat potensial untuk dikembangkan. Kenyataan menunjukkan bahwa ada beberapa kawasan pesisir yang memang sudah dikembangkan sebagai kawasan wisata, pertanian, perikanan dan laboratorium alam bagi kepentingan ilmiah seperti di Pantai Parangtritis, Pantai Kukup, Pantai Baron, dan Pantai Glagah, namun masih sangat banyak kawasan pesisir di wilayah DIY yang sebetulnya sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata yang sampai saat ini belum dikembangkan sama sekali karena memang belum ada kebijakan, penilaian dan upaya-upaya yang maksimal untuk mengembangkannya.
Pemanfaatan yang demikian kompleks yaitu untuk pariwisata, perikanan, pertanian, permukiman, dan pemanfaatan lain di wilayah pesisir DIY berpotensi menimbulkan konflik kepentingan antar sektor dan mengurangi daya dukung ekosistem pada kehidupan manusia. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis spasial (keruangan) untuk dapat menganalisis model pengembangan dan pengelolaan berbagai macam sumberdaya wilayah pesisir.
Untuk keperluan analisis keruangan maka diperlukan penelitian tentang tipologi pesisir (data spasial) sebagai unit analisis dan inventarisasi parameter-parameter fisik lahan untuk evaluasi lahan untuk berbagai pemanfaatan. Berdasarkan pemikiran tersebut dipandang sangat penting untuk diteliti model pengembangan dan pengelolaan wilayah pesisir DIY yang mendasarkan pada tipologi pesisirnya dalam rangka pengelolaan wilayah pesisir berkelanjutan.
itu SIG kemudian digunakan untuk pemrosesan dan pengelolaan data dari hasil interpretasi foto udara dan data lainnya.
Keterpaduan/integrasi penginderaan jauh dengan SIG yaitu bahwa data penginderaan jauh mampu memberikan data spasial yang cukup lengkap terutama data fisik lahan yang akurat dan cepat sebagai data dalam SIG, sehingga sangat memudahkan dalam pengolahan dan analisis data. Kombinasi antar keduanya mampu mengatasi permasalahan perencanaan dalam ketersediaan dan kebutuhan akan informasi yang akurat dan lengkap, serta pengolahan data spasial sehingga mampu mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan sumberdaya yang ada.
Dari identifikasi permasalahan di atas maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian yaitu :
1. Bagaimanakah kondisi tipologi fisik pesisir Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ?
2. Bagaimanakah cara menyadap informasi data fisik lahan pesisir dari data penginderaan jauh dan pengolahan data spasial SIG untuk menentukan tipologi fisik pesisir daerah penelitian ?
3. Apakah tipologi fisik pesisir dapat digunakan sebagai unit analisis dalam menentukan potensi pemanfaatan wilayah pesisir ?
4. Bagaimanakah pola pengembangan dan pengelolaan wilayah pesisir mendasarkan pada tipologi fisik pesisirnya?
5. Bagaimanakah arahan kebijakan pengembangan dan pengelolaan wilayah pesisir berdasarkan tipologi fisik pesisirnya ?
! " #
1. Melakukan analisis tipologi pesisir berdasarkan parameter fisik lahan di wilayah pesisir daerah penelitian.
2. Melakukan analisis potensi pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir berdasarkan pada tipologi fisik pesisir
3. Menentukan pola pengembangan wilayah pesisir berdasarkan tipologi fisiknya.
$ %
1. Bagi perkembangan ilmu pengetahuan, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan yang baru tentang pentingnya penelitian tipologi fisik pesisir sebagai hal yang mendasar pada penelitian pengembangan dan pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan. Dengan mengetahui tipologi fisik pesisirnya, akan dapat diketahui ciri-ciri fisik dan karakteristik lahannya, sehingga akan dapat ditentukan dengan cepat model pengembangan dan pengelolaannya.
2. Bagi masyarakat, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang potensi pengembangan sumberdaya di wilayah pesisir Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk pola pengembangan dan pengelolaannya menuju pembangunan yang berkelanjutan.
3. Bagi pemerintah, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan tentang pola pengembangan dan pengelolaan pesisir di Daerah Istimewa Yogyakarta melalui pendekatan analisis tipologi fisik pesisirnya. 4. Bagi swasta, dapat ikut mengembangkan sumberdaya pesisir Daerah
Istimewa Yogyakarta dengan pola pembangunan yang berkelanjutan.
& ' ( )
Penelitian ini meliputi seluruh wilayah pesisir Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dimulai dari pesisir timur sampai pesisir paling barat wilayah DIY. Pertimbangan pemilihan wilayah pesisir DIY adalah terdapatnya tipologi fisik pesisir yang sangat beragam sehingga akan sangat membantu dalam melakukan analisis spasial (keruangan) berbagai pemanfaatan pada setiap tipologi pesisir menuju pada pola pengembangan dan pengelolaan pesisir yang berkelanjutan. Analisis tipologi pesisir dikaji dari aspek fisik sebagai unit analisis dalam melakukan penilaian lahan untuk berbagai pemanfaatan sumberdaya pesisir.
* ' +* " ,' " (
" #
Berkaitan dengan definisi wilayah pesisir, terdapat kesepakatan umum di dunia bahwa wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan (Dahuri ., 1996). Kay (1999) mengelompokkan pengertian wilayah pesisir dari dua sudut pandang yaitu dari sudut ilmiah keilmuan dan dari sudut kebijakan pengelolaan. Dari sudut pandang ilmiah keilmuan, Ketchum (1972 Kay 1999) mendefinisikan wilayah pesisir sebagai sabuk daratan yang berbatasan dengan lautan dimana proses dan penggunaan lahan di darat secara langsung dipengaruhi oleh proses lautan dan sebaliknya. Definisi wilayah pesisir dari sudut pandang kebijakan pengelolaan meliputi jarak tertentu dari garis pantai ke arah daratan dan jarak tertentu ke arah lautan. Definisi ini tergantung dari isu yang diangkat dan faktor geografis yang relevan dengan karakteristik bentang alam pantai (Hildebrand and Norrena, 1992 Kay,1999).
Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (1998) menyatakan bahwa wilayah pesisir dapat dikategorikan menjadi dua subsistem. Subsistem yang pertama adalah daratan pesisir , dan yang kedua adalah perairan pesisir " . Kedua subsistem ini berbeda, tetapi saling berinteraksi. Interaksi tersebut terjadi melalui media liaran massa air. Dibaginya wilayah pesisir ke dalam dua subsistem adalah untuk menekankan bahwa kedua subsistem diperlukan untuk memperoleh suatu ekosistem pesisir yang sempurna. Meskipun demikian, definisi ini masih belum menyatakan dengan jelas batas perairan pesisir " ke arah lautan dan batas daratan pesisir ke arah daratan.
maupun proses yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran
Dalam rapat koordinasi di Bakosurtanal (1990) yang membahas tentang pengertian wilayah pesisir disepakati bahwa wilayah pesisir adalah suatu jalur saling pengaruh antara darat dan laut yang memiliki ciri geosfer yang khusus, ke arah darat dibatasi oleh pengaruh sifat fisik laut dan social ekonomi bahari, sedangkan ke arah laut dibatasi oleh proses alami serta akibat kegiatan manusia terhadap lingkungan di darat.
Batas wilayah pesisir ke arah lautan dan ke arah daratan secara lebih tegas dikemukakan oleh Bakosurtanal (2000, yang dirumuskan dari konsep CERC, 1984; Pethic, 1984; dan Sunarto, 2000) yang menyatakan bahwa wilayah pesisir merupakan bentanglahan yang dimulai dari garis batas wilayah laut yang ditandai oleh terbentuknya zona pecah gelombang ! ke arah darat hingga pada suatu bentanglahan yang secara genetik pembentukannya masih dipengaruhi oleh aktivitas marin, seperti dataran aluvial pesisir
.
Lebih lanjut dikemukakan oleh Bakosurtanal (2000), pada wilayah pesisir yang landai dan berpasir, maka wilayah pesisir dimulai dari zona pecah gelombang ! sampai beting gisik tua yang biasanya telah berkembang sebagai lahan permukiman (lihat Gambar 1). Pada wilayah pesisir yang landai dengan material terumbu karang, maka wilayah pesisir
dimulai dari zona pecah gelombang ! , pantai yang
dijumpai rataan terumbu , hingga wilayah terumbu karang tidak dijumpai lagi (lihat Gambar 2)
Pada wilayah pesisir landai dengan material didominasi lumpur, maka
wilayah pesisir dimulai dari zone pecah gelombang
! sampai pada rataan pasang-surut yang dapat berupa rataan lumpur jika seluruh materi penyusun lumpur dan tidak ada vegetasi apapun, tetapi dapat berupa rawa payau jika di atas lumpur telah tumbuh vegetasi seperti bakau atau tumbuhan lainnya (lihat Gambar 3).
Pada wilayah pesisir dengan pantai clif maka wilayah pesisir
hanya meliputi pantai , yang dimulai dari zone pecah gelombang
! hingga tebing clif (lihat Gambar 4). Pada wilayah pesisir dengan
dan gisiknya , dimulai dari zone pecah gelombang !
hingga tebing (lihat Gambar 5)
Mendasarkan pada definisi wilayah pesisir yang dikemukakan oleh Bakosurtanal (2000) tersebut di atas maka batas wilayah pesisir yang merupakan perairan pesisir " selalu dimulai dari zona pecah
gelombang ! dan batas daratan pesisir tergantung
pada material dan proses yang dominan terjadi di wilayah pesisir.
Gambar 2. Lingkup Wilayah Kepesisiran % pada Daerah Rataan
Terumbu Karang & ' (Bakosurtanal, 2000)(
Gambar 1. Lingkup Wilayah Kepesisiran % pada Daerah Berpasir
Gambar 3. Lingkup Wilayah Kepesisiran % pada Daerah Berlumpur atau
Rataan Pasang Surut $ ' (Bakosurtanal, 2000)
Gambar 4. Lingkup Wilayah Kepesisiran
% pada Daerah Batugamping
dan Berbentuk Cliff (Bakosurtanal, 2000)
Gambar 5. Lingkup Wilayah Kepesisiran
% pada Daerah Batuan
Untuk mengidentifikasi karakteristik pesisir haruslah terlebih dahulu disamakan cara pandangnya atau pendekatan yang digunakan. Pesisir dipandang dari pendekatan geomorfologi dimungkinkan sekali berlainan dengan pesisir ketika dipandang dari pendekatan biologi, klimatologi, hidrologi ataupun daerah perencanaan. Dipandang dari pendekatan geomorfologi, pesisir dapat diidentifikasi dari bentuklahannya yang secara genetik berasal dari proses marin, fluviomarin, organik, atau aeliomarin. Dipandang dari pendekatan biologi, karanteristik pesisir dapat diketahui dari persebaran ke arah darat biota pantai, baik persebaran vegetasi maupun persebaran hewan pantai. Dipandang dari pendekatan klimatologi, karakteristik pesisir ditentukan berdasarkan pengaruh angin laut ! . Dipandang dari pendekatan hidrologi, karakteristik pesisir ditentukan dari seberapa jauh pengaruh pasang air laut yang masuk ke darat.
Berkaitan dengan penelitian ini maka karakteristik pesisir dilakukan dengan pendekatan geomorfologi dalam menentukan tipologi fisik pesisir dan batas wilayah pesisir ke arah laut ditentukan dari zona pecah gelombang dan batas ke arah darat ditentukan berdasarkan pada material dan proses yang terjadi di wilayah pesisir daerah penelitian.
"
-Menyangkut tentang klasifkasi/tipologi fisik pesisir, sejak tahun 1888, E.Suess ( Haslett 2000) mengusulkan klasifikasi berdasarkan struktur geologis (batu-batuan) dan orientasinya dianggap sebagai kecenderungan terhadap garis pantai, sedangkan Haslett (2000) mengklasifikasikan sistem pesisir berdasarkan pada 4 sistem yaitu :
1. Sistem Morfologis : Pendekatan ini melukiskan sistem tidak dalam hubungan dinamis antara komponen-komponennya, tetapi pada hubungan dari ekspresi morfologisnya. Contoh: Adanya suatu sudut miring dari tebing pantai, dapat berkaitan dengan jenis batu-batuannya, struktur batu-batu-batuannya, ketinggian tebing, dsb
3. Sistem Proses-Respons: kombinasi sistem morfologi dan sistem cascade. Proses ini sendiri didorong oleh energi dan materi dan ini mungkin cara yang paling berarti untuk menangani sistem pesisir. Contoh: mundurnya tebing pesisir melalui erosi oleh gelombang 4. Ekosistem: interaksi antara flora dan fauna dalam lingkungan fisik.
Contoh: rerumputan yang tumbuh pada gumuk pasir memperkokoh endapan pasir yang diterbangkan angin, yang membentuk gumuk pasir, selanjutnya gumuk ini merupakan habitat untuk komunitas biologis gumuk, dan kemudian berkembang biak untuk kelanjutan hidup
* /EUCC (1998) menentukan
tipologi pesisir mendasarkan pada hubungan antara
karakteristik geologi yang penting dan faktor oseanografi. Tipologi pesisir ini
selanjutnya digunakan untuk menentukan sistem pesisir di
Eropa $ + . Parameter utama dan kriteria yang
digunakan untuk menentukan tipologi pesisir ini adalah :
1. Material utama di zona litoral , + !
• Batuan keras yaitu batuan yang tahan terhadap erosi dan hampir tidak memasok material sedimen ke zona litoral, kecuali sedimen sungai, termasuk disini adalah batuan gamping
, dolomit, skis, granit, kuarsit, batuan kristalin dan batuan metamorf
• Batuan lunak yaitu batuan yang mempunyai resistensi lebih rendah terhadap erosi, termasuk disini adalah , gravel, dan lain-lain
• Sedimen terkini yaitu tanah lepas terdiri dari partikel kecil dengan resistensi rendah terhadap erosi. Umumnya memasok jumlah besar sedimen ke zona litoral; Termasuk dalam kategori ini
adalah sedimen aluvial dan diluvial .
2. Kemiringan lereng di wilayah pesisir ! .
• Pantai terjal yaitu pantai dengan karang yang terjal dan tinggi (mencapai lebih dari 100 m di atas muka laut dalam 5 km pertama dari titik air laut tinggi)
3. Rezim pasang surut ! . Parameter ini memberikan pengaruh pada formasi dan evolusi dari lanskap pesisir dan habitat tergantung pada dampak relatif dari pasang surut, , gelombang atau aliran sungai di zona litoral.
• Pesisir yang didominasi oleh pengaruh pasang surut : julat pasang surut diatas 2 m.
• Pesisir yang didominasi oleh gelombang " :
julat pasang surut kurang dari 2 m.
• Pesisir yang didominasi oleh aliran sungai.
Berkaitan dengan parameter rezim pasang surut ! ini, Trenhale (1997) mengklasifikasikan bentuk pesisir yang dipresentasikan dalam bentuk delta yang berbeda-beda tergantung pada dominasi pengaruh antara pasangsurut, gelombang, dan sungai, seperti disajikan dalam Gambar 6 berikut ini.
Mendasarkan pada Gambar 6 tersebut, selanjutnya Alongi (1998) mengelompokkan berbegai bentuk pesisir sesuai dengan dominasi proses yang bekerja antara pasang surut, gelombang dan sungai.
" ( + .
I + - - Delta sungai
II + - + Delta Sungai(+ )
III + + - Delta sungai pasut
IV - + - Estuari dtaran pesisir
V - + + Laguna pasut
VI - + - Teluk
VII - - + Laguna pesisir
Sumber : Alongi (1998)
Diluar ketiga parameter tersebut dipertimbangkan juga untuk dimasukkan faktor terumbu karang sebagai salah satu parameter dalam menentukan tipologi pesisir. Mendasarkan pada ketiga faktor tersebut, EUCC menentukan tipologi pesisir di Eropa dan contoh-contoh lokasi pesisirnya , seperti dalam Tabel 1.
" . " )
"
Pantai terjal berbatuan
keras
-pantai clif, -pantai berbatu dengan gua-gua
"
Pantai-pantai Samudera Atlantik bagian utara dan barat Eropa, pantai-pantai karst di laut Mediteran dan Laut Hitam
Dataran pantai berbatuan
keras Muara sungaidi pantai karst Pantai Baltik termasukSwedia dan Denmark bagian timur.
Pantai-pantai berbatuan lunak
Pantai clif berbutir pasir Pantai Portugal bagian selatan, Laut Baltic bagian selatan, sebagian Pantai
Pantai pasang surut di wilayah Samudera Atlantik dan Pantai di Samudera Artik bagian selatan
pantai bergumuk pasir. Pantai pasang surut diLaut Baltik.
Sumber : EUCC, 1998.
dikelompokkan berdasarkan pada tiga kategori utama yaitu bentuk morfologi yang dicirikan oleh kenampakan reliefnya, asal mula terbentuknya berupa materi penyusun utama, dan proses yang mengontrol . Mendasarkan pada tiga kategori itu, selanjutnya Pethic (1984) mengelompokkan pesisir menjadi 2 kategori, yaitu pesisir primer
dan pesisir sekunder . Morfologi dalam pesisir
primer lebih dikontrol oleh proses-proses darat atau terrestrial
seperti : erosi, deposisi, volkanik, dan diatropisme, sedangkan pesisir sekunder merupakan pesisir yang terutama dibentuk oleh aktivitas laut
seperti gelombang, pasang surut, dan arus laut atau aktifitas organisme
laut .seperti terumbu karang.
Pesisir primer dikelompokkan lagi menjadi 5 tipe pesisir yaitu pesisir akibat proses erosi darat , pesisir akibat proses deposisional
sub arial , pesisir akibat aktivitas volkanik
, pesisir akibat pergerakan diastropik atau proses struktural
, dan pesisir es / khusus untuk pesisir es hanya terdapat di Antartika (kutub selatan)0 sedangkan pesisir sekunder dikelompokkan ke dalam 3 tipe pesisir, yaitu pesisir akibat erosi gelombang
" , pesisir akibat proses pengendapan marin
, dan pesisir yang dibentuk oleh aktivitas organisme . Pengelompokan ini secara grafis dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Klasifikasi Genesa Pesisir menurut Shepard (1973).
Selanjutnya dalam mempelajari morfologi pesisir, Sutikno (1993) mengemukakan ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu (1) kenampakan hasil proses masa lampau yang terdapat pada pantai seperti teras marin dan gua pantai, dan (2) modifikasi sistem pantai oleh aktifitas manusia selama abad terakhir yang dapat berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap perkembangan pantai seperti pembuatan pemecah gelombang, groin, jetty, pengerukan dan penimbunan pantai, dan lain-lain. Atas dasar genetiknya, Sutikno (1993) membedakan pesisir menjadi 2 yaitu (1) pantai primer atau pantai muda, yaitu pesisir yang garis pantainya belum termodifikasi oleh laut tetapi tergantung pada pengaruh proses sebelumnya, dan (2) pantai sekunder, yaitu pesisir yang garis pantainya telah termodifikasi oleh gelombang dan arus.
!
* /EUCC (1998) menyatakan
bahwa bentanglahan pesisir dapat djelaskan dalam dua
kelompok besar untuk kepentingan pengelolaan dan perencanaan. Kelompok
pertama adalah clif dan pesisir berbatu dan kelompok
yang kedua adalah dataran pesisir . Kondisi pesisir seperti ini dijumpai di daerah penelitian sehingga akan sangat tepat apabila daerah penelitian dijadikan model untuk penelitian ini.
Sutikno (1993) menyatakan bahwa bentanglahan adalah kenampakan medan yang terbentuk oleh proses alam yang memiliki komposisi tertentu dan julat karakteristik fisikal dan visual tertentu dimanapun medan tersebut ditemukan. Pada bentanglahan pesisir tercakup perairan laut yang disebut dengan pantai atau tepi laut yaitu suatu daerah yang meluas dari titik terendah air laut pada saat surut hingga arah ke daratan sampai mencapai batas efektif dari gelombang. Garis pantai adalah garis pertemuan antara air laut dengan daratan, yang kedudukannya berubah-ubah sesuai dengan kedudukan pada saat pasang surut, pengaruh gelombang dan arus laut.
Pengertian bentanglahan menurut Puslittanah Bogor (1996) adalah panorama atas suatu hamparan daratan yang terdiri dari berbagai keadaan alam, baik alami maupun buatan manusia, sedangkan bentuklahan adalah bentukan alam di permukaan bumi khususnya di daratan yang terjadi karena proses pembentukan tertentu dan melalui serangkaian evolusi tertentu pula. Pengelompokan bentuklahan didasarkan pada proses geomorfik utama yaitu proses-proses yang menyebabkan terbentuknya suatu bentuklahan dan berdasarkan pada relief dan litologinya.
Verstappen (1977) mengelompokkan bentuklahan ke dalam 9 klas menggunakan dasar utama geomorfologi disertai dengan keadaan bentuk wilayah, stratigrafi, dan keadaan medan. Klas-klas tersebut adalah bentuklahan bentukan asal (1) Struktural, (2) Volkanik, (3) Denudasional, (4) Fluvial, (5) Marin, (6) Glasial, (7) Aeolin/angin, (8) Solusional/Karst, dan (9) Biologi/ Organisme. Selanjutnya Verstappen (1977) melakukan identifikasi bentuklahan dari foto udara secara visual melalui pendekatan bentuk atau relief,
(tekstur/ ) dan lokasi (situs ekologi) :
1. Bentuk atau relief. Bentuk atau relief ini berkaitan dengan pola dan posisi vertikal obyek. Kenampakan bentuk atau relief di foto udara dapat diamati dengan cukup jelas melalui kenampakan tiga dimensi secara stereoskopis. Apabila kenampakan tiga dimensi ini tidak dimungkinkan maka dapat digunakan indikator bayangan obyek untuk mengenali bentuk.
2. 1 ( 1 adalah tingkat keabuan pada citra hitam
putih atau rona/warna pada citra berwarna. 1 sangat penting dalam interpretasi relief.
3. Lokasi. Lokasi atau situs ekologi bentuklahan sangat menentukan dalam identifikasinya. Situs suatu bentukan dengan pola atau struktur tertentu memberikan petunjuk dalam identifikasinya.
Berkaitan dengan daerah penelitian yaitu wilayah pesisir DIY, hampir semua klas bentuklahan tersebut di jumpai di daerah penelitian, kecuali bentukan glasial. Dengan demikian maka sangatlah tepat lokasi penelitian ini dilakukan di wilayah pesisir DIY sehingga hasil pemodelan nantinya akan dapat memberikan hasil yang maksimal dan dapat diterapkan di wilayah pesisir lain di Indonesia. Pemodelan yang akan dilakukan menyangkut pola pemanfaatan untuk beberapa penggunaan yang utama seperti perikanan, pertanian, permukiman, pelabuhan, pariwisata dan penelitian dan juga pola pengelolaannya.
batuan, tanah, air, udara, tetumbuhan, hewan, laut tepi-pantai, energi, dan manusia yang secara keseluruhan membentuk satu kesatuan.
Arti lanskap sebagai pemandangan memberikan arti keadaan alam yang menunjukkan kenampakan indah dan suasana nyaman. Dari pengertian tersebut dapat diketahui, bahwa pemandangan mempunyai empat aspek yang terkandung di dalamnya, yaitu aspek kondisional (keadaan alam), aspek visual (kenampakan), aspek estetika (indah), dan aspek situasional (suasana nyaman), sehingga dapat diketahui bahwa lanskap tersusun atas komponen-komponen bentuklahan, iklim, batuan, tanah, air, flora, fauna, dan budaya yang kesemuanya saling berinteraksi dan interdependensi membentuk satu kesatuan yang kondisinya dapat dilihat, keindahannya dapat dinikmati, dan kenyamanannya dapat dirasakan oleh segenap manusia.
Kay and Alder (1999) mengemukakan pengertian lanskap dalam 3 arti yang berbeda, yaitu lanskap dalam arti pemandangan (
), lanskap dalam arti bentanglahan dengan kenampakan bio-fisik ( ), dan lanskap dalam arti hasil interpretasi dan pengalaman lapang dari seseorang.
Untuk kepentingan interpretasi ekosistem pesisir yang diperlukan untuk pengembangan dan pengelolaan wilayah pesisir, Rahayu (2000) mengemukakan perlunya dukungan dari para interpreter yang menguasai ilmu ekologi, arkeologi, etika, dan estetika. Hal ini disebabkan karena adanya peran ganda yang harus disangga oleh suatu kawasan pesisir, bahkan sampai menyangkut proses efek ganda . Selanjutnya hasil dari interpretasi tersebut akan menjadi sumber informasi yang utama yang dapat dikemas menjadi bagi pengembangan kawasan pesisir dan pengelolaannya.
Keindahan suatu lanskap dapat dinikmati dengan mengamati pemandangannya melalui indera penglihatan. Menurut Steinitz (1990) mengamati suatu lanskap dapat memberikan persepsi dan perasaan psikologis yang berbeda-beda serta menghadirkan nilai simbolik. Pada intinya dengan mengamati suatu lanskap maka akan terjadi hubungan antara manusia dengan lingkungannya dan dapat dijadikan dasar dalam menentukan keindahan suatu kawasan.
studi lingkungan dan studi lanskap secara keseluruhan. Fungsi visual dapat memberikan arti mengenai bagaimana suatu lanskap dapat memberikan reaksi bagi yang mengamatinya. Fungsi ini dipengaruhi oleh banyaknya variasi yang ada dalam suatu lanskap.
Daniel dan Boster (1976) menentukan nilai visual suatu lanskap menggunakan suatu metode yang disebut dengan +
(SBE). Dalam metode SBE ini digunakan prosedur standart berupa penetuan titik pengamatan dan pengambilan foto lanskap, seleksi foto, penilaian oleh responden dan perhitungan nilai SBE. Metode SBE ini diterapkan untuk menilai kualitas lanskap kehutanan untuk kepentingan pariwisata. Menurut Yu (1995) banyak penelitian visual yang menggunakan metode SBE ini dalam perhitungan nilai visualnya, hal ini disebabkan karena prosedur SBE dikenal efektif dan dapat dipercaya.
$ " % / 0
Pada Tabel 2 disajikan berbagai tipologi pemanfaatan wilayah pesisir dari berbagai pustaka yang dijumpai. Dari Tabel 2 tersebut nampak bahwa meskipun masing-masing pustaka memberikan tipologi pemanfaatan wilayah pesisir yang berbeda jumlahnya, namun jika dicermati masing-masing pemanfaatan nampak bahwa terdapat tipe pemanfaatan wilayah pesisir yang dominan yaitu untuk perikanan, pertanian, kehutanan, pelabuhan, permukiman dan infrastruktur, industri, penambangan, kawasan konservasi, penelitian dan pariwisata.
Farris and Wilmington (2002) menyatakan bahwa terdapat 5 prosedur untuk melakukan analisis kesesuaian lahan pesisir dan pembuatan peta kesesuaian lahannya. Prosedur tersebut adalah :
1. Identifikasi faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan, meliputi
kenampakan alam , pola penggunaan lahan saat ini
2 dan faktor lainnya yang relevan.
2. Menentukan faktor-faktor yang relatif penting 3. Menentukan kelas kesesuaian dari setiap faktor
4. Melakukan proses tumpang-susun setiap faktor
" . " % / 0
1. Perikanan 1.Pertanian 1. Pelabuhan 1. Penelitian
2. Sumber energi
2. Perkapalan 2. Rekreasi
3. Sumberdaya biologi
3. Suplai air 3. Infrastruktur 3. Jalur pipa laut 3. Pelabuhan
4. Pembuangan limbah
4. Rekreasi 4. Penambangan 4. Kabel 4. Perikanan
5. Strategi dan pertahanan
5. Pariwisata 5. Pelabuhan 5. Transportasi
udara
5. Perlindungan ekosistem laut
6. Rekreasi 6. Pembangunan
pelabuhan
6. Industri 6. Sumberdaya
biologi
6. erosi pantai dan pesisir 7. Kualitas
lingkungan laut
7. Sumber energi 7. Pariwisata 7. Hidrokarbon 7. pengelolaan buangan 8. Pembuangan
limbah
8. Perkotaan 8. Sumberdaya
alam terbarukan
8. Akuakultur
9. Industri 9. Kehutanan 9. Pertahanan 9. Sumber energi
10. Pertanian 10. Perkapalan (Shipping)
10. Rekreasi 10. Mamalia laut
11. Marikultur 11. Penahan
gelombang 12. Pembuangan
limbah 15.preservasi
dankonservasi
Sumber : Valega, 1996 Cicin Sain & Knecht 1998.
Penentuan tipologi pemanfaatan wilayah pesisir terutama tergantung pada kondisi fisik wilayah yang dicirikan oleh kondisi iklim, topografi wilayah, kondisi batuan, jenis tanah, kondisi hidrologi (ketersediaan air tawar baik dari sumber airtanah maupun air permukaan) dan kondisi oseanografi yang meliputi kedalaman laut, perilaku gelombang, arus, dan pasangsurut air laut. Faktor lain yang menentukan adalah ekosistem utama yang ada di wilayah pesisir yang meliputi hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang, terutama pada keindahan lanskapnya untuk pariwisata.
& 8
Pariwisata didefinisikan sebagai kegiatan manusia yang meliputi perilaku manusia, menggunakan sumberdaya alam dan terjadi interaksi antara manusia, ekonomi dan lingkungan (Bull, 1991 Holden, 2000). Pariwisata pesisir merupakan bagian dari wisata bahari. Wisata bahari merupakan jenis kegiatan pariwisata yang berlandaskan pada daya tarik kelautan dan terjadi di lokasi atau kawasan yang didominasi perairan dan kelautan. Daya tarik itu mencakup perjalanan dengan moda laut; kekayaan alam bahari serta peristiwa-peristiwa yang diselenggarakan di laut dan di pantai, seperti misalnya lomba memancing, selancar, menyelam, lomba layar, olah raga pantai, dayung, upacara adat yang dilakukan di laut. Selain itu, adat istiadat dan budaya masyarakat pesisir dan bahari.
Sunarto (2000) mengemukakan bahwa wisata pesisir termasuk pada kegiatan wisata bahari atau wisata kelautan. Adapun yang dimaksud dengan wisata pesisir adalah wisata yang obyek dan daya tariknya bersumber dari
potensi bentang laut maupun bentang darat pesisir
, sedangkan Wong (1991) mengemukakan bahwa pariwisata pesisir berhubungan dengan dua sistem yang komplek yaitu sistem pariwisata
dan sistem pesisir .
Sunarto (2000) mengemukakan bahwa terdapat faktor-faktor alam yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan dan pengembangan wisata pantai/pesisir yaitu angin, gelombang laut, arus laut, pasang surut, bentuk pantai, bentuk butir pasir, biota pantai, dan bahaya tsunami. Bertiupnya angin sepoi-sepoi di wilayah pantai membuat wisatawan merasa nyaman di pantai itu. Gelombang tipe melimpah memudahkan wisatawan untuk melakukan kegiatan berperahu, memancing ataupun menikmati keindahan bawah laut, dan sebaliknya gelombang tipe menunjam sangat potensial untuk kegiatan selancar.
sangat berpengaruh terhadap perkembangan pariwisata karena semakin bulat bentuknya , pasir pantai semakin nyaman untuk wisata pantai, dan perencanaan dan pengembangan wisata pantai harus memperhatikan adanya potensi bahaya tsunami karena wilayah Indonesia merupakan pertemuan tubrukan lempeng tektonik, sehingga di dasar laut Indonesia banyak dijumpai pusat gempa. Pantai-pantai yang potensial terlanda tsunami antara lain di pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Biak, dan Maluku.
: / 0
Dalam pengelolaan wilayah pesisir, terdapat lima strategi dalam pengelolaan wilayah pesisir (Shoreline management - Wikipedia, the free encyclopedia.htm, 2007) seperti yang tersaji dalam Gambar 8 .
Gambar 8. Lima Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir (Wikipedia, 2007)
* ;
2. atau , artinya upaya pengelolaan wilayah pesisir dengan cara mengatur kembali semua bangunan untuk menjauh dari garis pantai disebabkan oleh dinamika oseanografi yang membahayakan bangunan-bangunan tersebut. Hal ini berarti bahwa di wilayah pesisir telah terjadi perubahan proses dan dinamika oseanografi sehingga upaya pengelolaan wilayah pesisir dilakukan dengan cara menata ulang kembali semua kegiatan di wilayah darat pesisir.
3. 4 , artinya upaya pengelolaan wilayah pesisir dengan cara membuat bangunan (talut) sepanjang garis pantai untuk menahan gelombang laut. Hal ini berarti bahwa upaya pengelolaan wilayah pesisir perlu dimasukkan rekayasa teknologi berupa bangunan penahan gelombang, baik penahan gelombang alamiah (vegetasi) maupun penahan gelombang berupa bangunan fisik.
4. " - artinya upaya pengelolaan wilayah pesisir dengan
cara memindahkan bentangalam alami seperti gumuk pasir ke arah laut yang berfungsi untuk melindungi bangunan-bangunan yang ada di belakangnya.
5. 5 - artinya upaya pengelolaan wilayah pesisir
dengan cara membatasi pendirian bangunan pada lahan-lahan pesisir yang secara ekologis berfungsi menahan gelombang laut seperti lahan basah " antara lain mangrove, dan lain-lain.
< ) = ) ( % + % ( +
Penginderaan jauh merupakan ilmu dan seni untuk mengkaji tentang obyek atau fenomena alam melalui analisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat pengindera atau sensor tanpa kontak langsung dengan obyek atau fenomena yang dikaji. Sensor tersebut pada umumnya dipasang pada pesawat terbang, satelit maupun pesawat ulang-alik (Lillesand and Kiefer, 1990 dan Sutanto, 1986). Sebagai sumber data spasial, citra penginderaan jauh baik foto udara maupun citra lain sangat sering digunakan untuk penyadapan data ekosistem, termasuk ekosisitem pesisir dan lautan.
skala besar, material penyusun dapat diidentifikasi dari foto udara skala besar dan citra Landsat TM, sumber dan lokasi pengendapan dari proses sedimentasi di muara sungai dan di sepanjang pantai dapat dilakukan dengan kajian data dan , pendekatan multitemporal dan multispektral visible dan inframerah dapat digunakan untuk melacak perkembangan sedimentasi yang terjadi, kajian arus dan gelombang dapat dilakukan dengan identifikasi citra multispektral terutama pada citra di spektrum tampak, dan lain-lain.
Selain teknik penginderaan jauh, saat ini telah berkembang Sistem Informasi Geografis (SIG). Sistem Informasi Geografis merupakan alat yang dapat digunakan untuk pengumpulan, penyimpanan, mendapatkan kembali, transformasi, dan menampilkan suatu data dengan tujuan tertentu. Data tersebut dapat berupa data spasial maupun data atribut. Data spasial merupakan data yang mencerminkan aspek keruangan, sedangkan data atribut merupakan data yang menggambarkan suatu atribut tertentu (Aronoff, 1989).
Keterpaduan/integrasi penginderaan jauh dengan SIG yaitu bahwa data penginderaan jauh mampu memberikan data spasial yang cukup lengkap terutama data fisik lahan yang akurat dan cepat sebagai data dalam SIG, sehingga sangat memudahkan dalam pengolahan dan analisis data. Kombinasi antar keduanya mampu mengatasi permasalahan perencanaan dalam ketersediaan dan kebutuhan akan informasi yang akurat dan lengkap, serta pengolahan data spasial sehingga mampu mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan sumberdaya yang ada.
" 0 ) ) )
Yusuf (2007) dalam penelitiannya yang berjudul Aplikasi Foto Udara dan SIG untuk Pemilihan Letak + + Jalur Jalan Alternatif antara Panggang – Wonosari Kabupaten Gunungkidul, DIY , melakukan interpretasi foto udara pankromatik hitam putih skala 1 : 50.000 dan skala 1 : 25.000 sebagian Kabupaten Gunungkidul dan peta tanah untuk memperoleh informasi kemiringan lereng, relief, kerawanan terhadap longsor, tutupan vegetasi, drainase permukaan dan penggunaan lahan. Metode yang digunakan melalui
pengharkatan dan tumpang-susun terhadap semua parameter
informasi lahan yang digunakan sehingga diperoleh peta daerah terpilih untuk jalur jalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketelitian interpretasi foto udara pankromatik hitam putih skala 1 : 50.000 untuk semua karakteristik lahan mencapai lebih dari 80 % dan sebagian besar daerah penelitian merupakan lokasi potensial IV untuk pembuatan jalur jalan dengan karakteristik lahan berupa kemiringan lereng > 15%, relief berbukit, dan potensi longsor lahan besar.
Wuryani, Esti (2004) dalam penelitiannya yang berjudul Pemanfaatan Citra Digital Landsat 7 ETM+ untuk Penentuan Kedalaman Laut Dangkal di Perairan Teluk Banten, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, melakukan pengolahan dan analisis data Landsat 7 ETM+ secara digital menggunakan perangkat lunak ER Mapper untuk memperoleh informasi tentang kedalaman perairan. Proses rektifikasi menggunakan interpolasi tetangga terdekat sedangkan tipe rektifikasinya adalah polinomial. Metode klasifikasi yang digunakan adalah metode terselia. Metode uji ketelitian menggunakan metode confussion matrix yang dilakukan dengan menggunakan titik-titik sekutu antara peta hasil klasifikasi dengan peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI) sebagai peta referensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan citra Landsat 7 ETM+ untuk pemetaan kedalaman laut dangkal memiliki keterbatasan hanya mampu mendeteksi sampai kedalaman 10 meter.
% - & ! - dan + . Kondisi aktual mangrove sebagian dalam kondisi sedang (7 lokasi transek) dan rusak (1 lokasi transek) yang perlu direhabilitasi dan baik (3 lokasi transek) yang perlu dipertahankan.
! * "
Wilayah pesisir merupakan wilayah pertemuan antara darat dan laut. Berbagai macam proses yang terjadi di daratan dan di lautan akan bertemu di wilayah pesisir. Demikian juga material penyusun yang berasal dari daratan dan lautan akan bertemu dan berinteraksi di wilayah pesisir. Berbagai macam proses genetik dan material penyusun yang saling berinteraksi ini akan membentuk berbagai macam tipologi pesisir di lapangan.
Karakteristik seperti ini terjadi di wilayah pesisir Daerah Istimewa Yogyakarta. Proses fluvial dan marin yang mendominasi di wilayah pesisir bagian barat (meliputi Kabupaten Bantul dan Kulon Progo) membentuk tipologi pesisir dengan topografi yang datar dan bermaterial pasir dan lumpur, dan ini berbeda dengan tipologi pesisir di wilayah pesisir bagian timur (meliputi Kabupaten Gunungkidul) dengan dominasi proses solusional (karst) sehingga membentuk tipologi pesisir yang mempunyai topografi curam dan bermaterial padu (batu).
Tipologi pesisir di wilayah pesisir DIY akan membentuk suatu pengelompokan (zonasi) sesuai dengan proses genetik dan material penyusunnya yang membentuk relief atau kondisi topografi tertentu. Pengelompokan tipologi pesisir ini akan memberikan ciri atau karakteristik pada sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang ada di dalamnya, sehingga zonasi tipologi pesisir ini dapat digunakan sebagai unit analisis untuk perencanaan dan pengembangan wilayah pesisir DIY yang berkelanjutan. Perencanaan dan pengembangan wilayah pesisir untuk berbagai pemanfaatan seperti pariwisata, perikanan, pertanian, pelabuhan dan permukiman akan sangat membantu apabila didasarkan pada tipologi pesisirnya.
bentang budaya sesuai kenampakan sebenarnya pada saat pemotretan. Oleh karena itu obyek yang tergambar pada foto udara mempunyai wujud dan posisi yang mirip dengan kenampakan di lapangan. Obyek yang tergambar pada foto udara dapat dikenali berdasarkan karakteristik spektral dan karakteristik spasialnya. Karakteristik spektral obyek dicerminkan oleh rona/warna, sedangkan karakteristik spasialnya dicerminkan oleh bentuk, ukuran, tekstur, bayangan, pola, situs, dan asosiasi. Berdasarkan karakteristik spektral dan spasial tersebut, sebagian variabel potensi wilayah pesisir untuk berbagai kegiatan dapat diidentifikasi.
Untuk keindahan alam termasuk di dalamnya adalah potensi lanskap yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam kegiatan pariwisata pesisir. Lanskap merupakan bagian dari permukaan bumi dengan seluruh fenomena yang ada di dalamnya yang berasal dari gabungan atau kombinasi dari kenampakan bentuklahan. Lanskap juga lebih mengarah pada suatu kenampakan dari alam yang dapat dinikmati karena keindahan dan kenyamanannya. Pariwisata pesisir adalah jenis wisata yang obyek dan daya tariknya bersumber dari potensi bentang laut maupun bentang darat
pesisir (
Penentuan pola pengembangan dan pengelolaan wilayah pesisir DIY dimulai dari mempelajari faktor-faktor yang berpengaruh besar terhadap dinamika wilayah pesisir seperti gelombang, arus, angin, pasang surut, termasuk di dalamnya lanskap-lanskap yang berpotensi untuk pariwisata dalam satu unit analisis tipologi pesisir tertentu. Banyak sekali aspek yang dinilai dari suatu landskap untuk dapat ditentukan pola pengembangan dan pengelolaannya, sehingga diperlukan suatu metode analisis yang berbasis komputer yang dapat melakukan penilaian sekaligus pemodelan secara cepat dan akurat untuk menentukan prioritas pengembangan wilayah pesisir dan pola pengelolaannya.
deskripsi-deskripsi lokasi dengan karakteristik-karakteristik fenomena yang ditemukan di lokasi tersebut.
Dalam menentukan pola pengembangan dan pengelolaan wilayah pesisir berdasarkan tipologi fisik pesisir dengan menggunakan pengolah data spasial SIG dimasukkan faktor-faktor eksternal seperti tata ruang, prinsip-prinsip pengelolaan dan faktor rawan bencana seperti tsunami, banjir, erosi, dengan harapan bahwa pola pengembangan dan pengelolaan yang dihasilkan akan lebih komprehensif mencakup banyak parameter dan lebih siap untuk diaplikasikan di lapangan.
/ > ( ( ' >,+> * '"
" % ( . ) 0 9 "
???? ????
Pariwisata Perikanan Pertanian Pelabuhan
Kriteria Penilaian :
Lanskap Kualitas
lingkungan
Prinsip-prinsip Pengelolaan Tata Ruang
Rawan bencana : - banjir - gempa bumi - tsunami
. ) / 0 >
Pola Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir
Gambar 9. Diagram Alir Kerangka Teoritis
Permukiman
Kriteria Penilaian :
Kriteria Penilaian :
Kriteria Penilaian ; Kriteria
Penilaian :
Model Visual dan Spasial
$ %
Aeolian adalah bentuklahan yang terbentuk oleh proses pengendapan bahan halus (pasir, debu) yang terbawa angin (Puslittanah Bogor, 1996)
Arus laut adalah aliran air laut yang disebabkan oleh tiupan angin, pasang surut, perbedaan kepekaan air laut atau aliran air sungai yang bermuara di laut itu (Sunarto, 2003)
Arus balik adalah aliran balik terkonsentrasi melewati jalur sempit yang mengalir kuat ke arah laut dari zona empasan ! melintasi gelombang pecah hingga ada di laut lepas-pantai (Sunarto, 2003)
Bentanglahan adalah kenampakan medan yang terbentuk oleh
proses alam yang memiliki komposisi tertentu dan julat
karakteristik fisikal dan visual tertentu dimanapun medan tersebut ditemukan (Sutikno, 1993)
adalah bidang vertikal batuan yang terbentuk oleh hantaman gelombang laut tepi pantai (Setiyono, 1996)
Fluvial adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan proses geomorfik dimana air mengalir adalah faktor tenaga yang paling dominan (Setiyono, 1996)
Fluvio-marin adalah bentulahan yang terbentuk oleh gabungan dari proses fluvial dan marin. Keberadaan bentuklahan ini dapat terbentuk pada lingkungan laut (berupa delta) ataupun di muara sungai yang terpengaruh langsung oleh aktivitas laut (Puslittanah Bogor, 1996)
Gelombang laut adalah bentuk permukaan laut yang berupa punggung atau puncak gelombang dan palung atau lembang gelombang oleh gerak ayunan (oscillatory movement), akibat tiupan angin, erupsi gunungapi, gempa bumi, pelongsoran dasar laut, atau lalulintas kapal (Sunarto, 2003) Geluh adalah klas dalam tekstur batuan dimana terdapat percampuran
secara proporsional antara pasir, debu dan lempung (Setiyono, 1996). Gisik adalah mintakat pantai dengan timbunan sedimen lepas yang
tebal, yaitu terbatas pada bagian pantai-belakang tetapi sering meluas ke arah pantai-depan (Setiyono, 1996)
Karst adalah istilah yang digunakan untuk mendefinisikan bentuklahan yang didominasi oleh bahan batugamping masif - pada umumnya keadaan topografi daerah tidak teratur. Bentuklahan ini dicirikan oleh adanya proses pelarutan bahan batuan penyusun, yaitu dengan terjadinya antara lain : sungai di bawah tanah, gua-gua dengan
stalakmit-stalaktit, - - - dan " (Puslittanah Bogor,
1996).
Kawasan pesisir adalah bagian Wilayah Pesisir yang memiliki fungsi tertentu yang ditetapkan berdasarkan kriteria karakteristik fisik, biologi, sosial, dan ekonomi untuk dipertahankan keberadaannya (UU No. 27 tahun 2007) Kawasan Pemanfaatan adalah bagian dari Wilayah Pesisir yang ditetapkan
peruntukkannya bagi berbagai sektor kegiatan (UU No.27 tahun 2007). Pantai adalah mintakat antara tepi perairan laut pada pasang rendah
sampai ke batas efektif pengaruh gelombang ke arah daratan (Setiyono, 1996).
Pasang-surut adalah fluktuasi ritmik muka air laut yang diakibatkan oleh pengaruh gaya tarik benda-benda angkasa, terutama oleh Bulan dan Matahari, terhadap massa air laut di Bumi (Sunarto, 2003)
Patahan adalah bidang retakan pada batuan di kerak bumi yang menunjukkan adanya pergeseran atau pergerakan
Pengelolaan Wilayah Pesisir adalah suatu proses perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian Sumber Daya Pesisir antarsektor, antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah, antara ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (UU No. 27 Tahun 2007)
Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk mengkaji tentang obyek atau fenomena alam melalui analisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat pengindera atau sensor tanpa kontak langsung dengan obyek atau fenomena yang dikaji (Lillesand and Kiefer, 1990) Pesisir adalah mintakat yang meliputi pantai dan perluasannya ke
arah darat sampai batas pengaruh laut tidak ada (Setiyono, 1996).
Relief adalah rata-rata perbedaan ketinggian permukaan bumi, baik permukaan daratan maupun dasar laut (Setiyono, 1996)
+ (SBE) adalah metode penilaian secara visual suatu
lanskap untuk analisis suatu pemanfaatan
Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah system berbasiskan komputer yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi informasi-informasi geografis (Aronoff, 1989).
Swale (rawa pantai) adalah wilayah rendah di belakang tanggul pantai yang dipengaruhi pasang surut air laut (Puslittanah Bogor, 1996).
Tekstur tanah adalah perbandingan relatif berbagai golongan besar partikel tanah dalam suatu massa tanah, terutama perbandingan antara fraksi-fraksi pasir, debu, dan lempung (Jamulya dan Suratman, 1993)
Tipologi adalah penjabaran ilmiah dan pembagian menurut watak dan ciri (Dagun, 2006).
Tipologi fisik pesisir adalah pengelompokan atau pembagian pesisir menurut sifat fisiknya dalam tipe-tipe (jenis-jenis) dan penggambaran tipe itu.
Tsunami adalah istilah yang digunakan untuk menyebut gelombang dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh adanya gangguan atau perubahan elevasi dasar laut (Pratikto, 1997)
Tsunami adalah gelombang yang terjadi karena gempa bumi atau letusan gunungapi di laut. Gelombang yang terjadi bervariasi dari 0,5 m sampai 30 m dan periode dari beberapa menit sampai sekitar 1 jam (Triatmojo, 1999).
Unit analisis/unit pemetaan adalah satuan terkecil dalam pemetaan yang digunakan sebagai satuan analisis, misalnya sebagai satuan untuk pengambilan sampel lapangan
Volkan adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan bentuklahan yang terbentuk karena aktifitas volkan/gunung berapi. Bentuklahan ini dicirikan dengan adanya bentukan kerucut volkan, aliran lahar, lava atau dataran yang merupakan akumulasi bahan volkanik (Puslittanah Bogor, 1996). Wilayah Pesisir adalah daerah peralihan antara Ekosistem darat dan laut yang
dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut ( UU No. 27 tahun 2007) Zona Litoral adalah daerah pantai yang terletak diantara pasang tertinggi dan
", "
! )
!
1. 6 , + (GPS) & tipe navigasi, untuk
mengetahui posisi titik di permukaan bumi berbasis satelit 2. Kompas Geologi, untuk mengukur arah dan kemiringan 3. % , untuk mengukur kemiringan lereng
4. Yalon dan meteran, untuk mengukur jarak
5. Kamera Digital, untuk pengambilan gambar/foto lanskap pesisir 6. Stereoskop cermin, untuk interpretasi citra secara stereoskopis
7( + untuk test secara cepat ciri tanah di lapangan
8. Seperangkat alat komputer, lengkap dengan program aplikasi berbasis windows, yaitu :
a. % 8 " 69+ 8 :(;, untuk delineasi dan
pembuatan peta lanskap, dan konversi format data
b. % 8 " + % 8 ;(<, untuk analisis
dan pemodelan spasial data lanskap untuk pariwisata.
! ?.
1. Foto Udara Pankromatik Hitam Putih Skala 1 : 20.000 Tahun 2000 yang meliputi wilayah pesisir Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk menyadap data/informasi bentuklahan, penggunaan lahan dan aksesibilitas
2. Peta Bathimetri skala 1 : 25.000 lembar daerah penelitian yang diterbitkan oleh DISHIDROS TNI-AL, untuk mengetahui data kedalaman laut wilayah pesisir daerah penelitian
3. Peta Rupabumi skala 1 : 25.000 lembar daerah penelitian yang diterbitkan oleh BAKOSURTANAL, untuk mengetahui kondisi topografi/relief dan juga penggunaan lahan daerah penelitian
5. Peta Kerawanan Bencana dari Bappeda DIY, untuk mengetahui kerawanan bencana di wilayah pesisir.
6. Data Iklim meliputi suhu, curah hujan, kelembaban, dan kecepatan angin, yang diterbitkan oleh Stasiun Geofisika Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Yogyakarta.
7. Data pasang surut, gelombang, angin dan arus laut, yang diterbitkan oleh DISHIDROS TNI-AL.
8. Data obyek wisata dari Dinas Pariwisata Kabupaten di daerah penelitian.
! " /
Penelitian lapangan dilakukan pada bulan September 2006 – April 2007. Tahapan penelitian secara garis besar meliputi tahap pendahuluan untuk orientasi wilayah penelitian yang dilaksanakan pada bulan September 2006, kemudian tahap perolehan data (penelitian lapangan) yang dilaksanakan pada bulan Oktober – Desember 2006, tahap pengolahan dan analisis data, serta tahap penyajian hasil dan analisis hasil penelitian dilaksanakan pada bulan Januari – April 2007.
) . (
Penentuan titik sampel menggunakan metode purposive sampling, yaitu penentuan titik sampel mendasarkan pada tujuan penelitian. Tujuan penelitian ini adalah menentukan tipologi pesisir dari aspek fisik, maka penentuan titik sampel memperhatikan kondisi fisik wilayah pesisir. Kondisi fisik ini dicerminkan oleh bentuklahannya yang merupakan cerminan kondisi geologi, geomorfologi, lereng, tanah, hidrologi, dan penggunaan lahan, sehingga penentuan titik sampel mendasarkan pada sebaran bentuklahannya.
Secara terperinci dalam tahapan penelitian ini akan diuraikan metode penelitian yang mencakup :
! "
material penyusun utama, proses genesa, sedangkan sistem yang merujuk pada aliran energi mengacu pada penentuan tipologi pesisir yang
dilakukan oleh * /EUCC (1998) terutama
pada rezim pasang surut yaitu dominasi proses yang terjadi antara pasang surut, gelombang dan sungai, sehingga klasifikasi tipologi fisik pesisir dikelompokkan seperti dalam Tabel 3 di bawah ini.
Penentuan tipologi fisik pesisir dilakukan dengan menelusuri tiga komponen (unsur) pembentuknya yaitu materi penyusun utama, relief dan proses genesanya (termasuk disini adalah proses yang dominan). Dalam teknik identifikasi ini, terlebih dahulu diidentifikasi reliefnya (berelief tinggi atau rendah), kemudian diidentifikasi materi penyusun utamanya (material padu, material lepas/klastik, material lembek/lumpur, atau materinya organisme), setelah itu diidentifikasi proses genesa (struktural, vulkanik, solusional, marin, fluvio-marin
Tabel 3. Klasifikasi Tipologi Pesisir
" *
1. Pesisir erosi darat pesisir yang terbentuk terutama akibat
proses erosi di darat. Termasuk disini
adalah pantai-pantai pada topografi
karst.Berbatuan keras dan mempunyai bentuk pantai yang terjal.
2. Pesisir pengendapan darat Pesisir yang terbentuk akibat proses
pengendapan bahan-bahan sedimen
sungai. Termasuk disini adalah proses pembentukan delta sungai dan rataan
pasang-surut. Berbatuan lunak atau
lembek (lumpur), mempunyai bentuk pantai yang datar dan proses yang dominan adalah aliran sungai.
3. Pesisir gunungapi Pesisir yang terbentuk akibat proses
vulkanik di tengah laut. Termasuk disini adalah pantai aliran lava. Berbatuan keras (padu) dan mempunyai bentuk pantai yang terjal.
4. Pesisir structural pesisir yang terbentuk akibat proses
patahan, lipatan, Berbatuan keras (padu) dan mempunyai bentuk pantai yang terjal.
1. Pesisir erosi gelombang "
Pesisir dengan garis pantai yang
terbentuk akibat aktivitas gelombang, yang mungkin berpola lurus atau tidak
teratur, tergantung pada komposisi
2. Pesisir pengendapan laut pesisir yang dibentuk oleh deposisi/
pengendapan material sedimen laut.
Berbatuan lunak dan sedimen terkini , mempunyai bentuk pantai yang datar dan proses yang dominan umumnya adalah pasang-surut.
3. Pesisir organic Pesisir dengan garis pantai yang
terbentuk akibat aktivitas hewan atau tumbuhan, termasuk terumbu karang , atau tumbuh-tumbuhan seperti mangrove. Material penyusun lunak (pasir) dan mempunyai bentuk pantai yang datar. Sumber : Shepard (1973), EUCC (1998),Sunarto (2003) dan Rahardjo (2003),modifikasi
aeoliomarin, biomarin). Proses marin sendiri lebih diperinci pada aktivitas gelombang atau pasang surut yang lebih dominan pengaruhnya, yaitu dengan melihat julat pasang-surutnya (apabila julat pasang-surutnya lebih dari 2 m maka aktivitas pasang-surut yang lebih dominan, sedangkan apabila julat pasang-surutnya kurang dari 2 m maka aktivitas gelombang yang lebih dominan). Dengan mengetahui ketiga faktor tersebut akan memudahkan dalam menentukan tipe pesisir di daerah penelitian.
Teknik pengumpulan data
Gambar 10. Foto Udara Pankromatik Hitam Putih Daerah Parangtritis, Bantul tahun 2000 (Fakultas Geografi UGM, 2000)
Gambar 11. Peta Rupabumi lembar Brosot, Yogyakarta tahun 1998 (Bakosurtanal, 1998)
Data sekunder dari instansi terkait juga digunakan dalam penelitian ini. Data sekunder tersebut mencakup data-data yang membutuhkan waktu cukup lama untuk pengukurannya seperti data gelombang , pasang-surut, arus, kedalaman laut, dan data-data iklim yang meliputi curah hujan, arah dan kecepatan angin, dan lain-lain. Instansi yang dihubungi untuk memperoleh data tersebut adalah BMG stasiun Geofisika Yogyakarta, Dishidros TNI-AL, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DIY, dan dinas terkait lainnya.
Tabel 4. Matriks Jenis Data dan Sumber Data yang digunakan dalam Penelitian
8 Pasang surut √
9 Arus √
10 Curah hujan √
11 Suhu udara √
12 Kec.angin √ √
13 Hidrologi √
14 Flora fauna √ √
15 Aksesibilitas √ √ √
16 Rawan
bencana
√
Identifikasi bentuklahan
Bentuklahan diinterpretasi secara visual dari foto udara. Identifikasi bentuklahan dari foto udara mengacu pada bentuk atau relief,
(tekstur/ ) dan lokasi (situs ekologi). Hasil
identifikasi bentuklahan kemudian digunakan sebagai dasar untuk menentukan proses genesa (bentukan asal) dari setiap bentuklahan tersebut. Klasifikasi proses genesa yang digunakan dalam penentuan tipologi fisik pesisir adalah seperti dalam Tabel 5. Sistem klasifikasi bentuklahan yang digunakan dapat dilihat pada
Tabel 5. Klasifikasi Proses Genesa untuk Penentuan Tipologi Fisik Pesisir
+ *
1. Struktural Pesisir yang terbentuk akibat proses-proses tektonik,
seperti lipatan dan patahan
2 Vulkanik Pesisir yang terbentuk oleh aktivitas gunungapi
3. Solusional Pesisir yang terbentuk oleh proses pelarutan seperti
pantai-pantai karst.
4 Marin Pesisir yang terbentuk oleh aktivitas marin (laut) yaitu
gelombang dan pasang-surut
5 Fluviomarin Pesisir yang terbentuk oleh campuran aktivitas sungai
(fluvial) yang dominan dan marin (laut)
6 Aeoliomarin Pesisir yang terbentuk oleh campuran aktivitas angin
(aeolian) yang dominan dan marin (laut)
7 Biomarin Pesisir yang terbentuk oleh campuran aktivitas
Identifikasi penggunaan lahan
Identifikasi penggunaan lahan dari foto udara dilakukan berdasarkan jenis penutup lahan yang dikaitkan dengan bentuklahannya, yang dikenali dari unsur-unsur interpretasi seperti rona, bentuk, ukuran, pola, tekstur, bayangan, situs dan asosiasi. Identifikasi penggunaan lahan dibantu juga dengan menggunakan peta rupabumi dan pengecekan lapangan. Identifikasi penggunaan lahan saat ini melalui penelitian lapangan penting untuk diketahui sebagai dasar untuk mengetahui apakah pemanfaatan lahan yang ada sudah sesuai dengan kondisi fisik yang dicerminkan dari tipologi fisik pesisirnya. Sistem klasifikasi penggunaan lahan dapat dilihat pada !
Identifikasi materi penyusun utama
Identifikasi materi penyusun terutama dilakukan melalui interpretasi peta geologi, dibantu dengan hasil interpretasi bentuklahan melalui foto udara. Dalam identifikasi materi penyusun utama ini selalu dikaitkan dengan bentuklahan karena pada setiap bentuklahan yang berbeda akan dibentuk oleh materi penyusun yang berbeda pula. Lihat Tabel 6.
Tabel 6. Hubungan antara Bentuklahan dan Material Penyusun
( 0
• Dasar sungai, gosong sungai, padang lahar
• Teras sungai, kipas alluvial, lereng kaki
• Gumuk pasir, , pasir
pantai, beting pantai, , tanggul alam
• Dataran alluvial, dataran pantai, ledok fluvial, rawa belakang
• Campuran /kerikil (0,6 – 60
mm) – pasir (0,02 – 0,6 mm)
• Campuran -pasir-material
halus/lempung
• Pasir atau pasir dengan material halus/lempung
• Hampir seluruhnya material halus/lempung
Sumber : Rib (1975) Suharsono (1984)
Tabel 7. Klasifikasi Material Penyusun Utama untuk Tipologi Fisik Pesisir
0
1 Pesisir dengan material padu (keras)
2 Pesisir dengan material lempung/lumpur (liat) 3 Pesisir dengan material pasir (lepas)
4 Pesisir dengan material sisa-sisa organisme
Sumber : Sunarto, 2003
Penentuan kelompok material penyusun utama tersebut mendasarkan pada ukuran butir (lihat Tabel 8). Penentuan jenis material pasir dan lempung dapat dilakukan melalui analisis tekstur tanah untuk mengetahui sifat fisis tanah yang berkaitan dengan ukuran partikel pembentuk tanah yaitu pasir, lanau (debu), dan lempung (tanah liat).
Tabel 8. Klasifikasi Material Permukaan
=
Sumber : Wesley (1977) Pengukuran kemiringan lereng
Kemiringan lereng permukaan bumi adalah sudut yang dibentuk antara bidang datar (bidang semu) terhadap bidang miring permukaan bumi. Pengukuran kemiringan lereng dilakukan dengan menggunakan alat melalui pengukuran langsung di lapangan. Pengukuran dengan menggunakan alat akan diperoleh data kemiringan lereng dalam satuan derajat dan persen. % adalah alat pengukur sudut miring menggunakan suatu teropong yang diperlengkapi dengan alat bidik. Teropong dapat berputar dengan sumbu mendatar sebagai sumbu putar dan bersama-sama dengan teropong dapat berputar pada suatu rangka yang bagian bawahnya berbentuk busur lingkaran. Busur lingkaran ini diberi skala yang menyatakan sudut miring garis bidik teropong dalam derajat atau dalam persen.
teropong diarahkan ke titik yang sama tingginya dengan teropong pada tongkat yang ditancapkan di titik lain di lapangan. Dengan mengeraskan skrup keadaan teropong tetap, sedang pada skala dengan garis yang ada pada plat dipat dibaca besarnya sudut miring.
α
Gambar 12. Pengukuran Kemiringan Lereng dengan%
Klasifikasi relief yang digunakan dalam penyusunan tipologi fisik pesisir adalah seperti dalam Tabel 9.
Tabel 9. Klasifikasi Relief untuk Penyusunan Tipologi Fisik Pesisir
:
V
Sumber : van Zuidam, R.A. and van Zuidam-Cancelado. 1978
Cek lapangan
Hasil interpretasi foto udara tersebut selanjutnya diuji kebenarannya dengan mencocokkan pada kondisi lapangan sebenarnya berdasarkan sampel yang telah ditetapkan, disamping itu juga dilakukan beberapa pengukuran lapangan untuk memperoleh data-data yang tidak dapat disadap dari hasil interpretasi foto udara, seperti data tentang kondisi
' % *
1 Datar Sudut kemiringan lereng 0 - 2 %
2 Landai Sudut kemiringan lereng 3 – 14 %
3 Agak curam Sudut kemiringan lereng 15 – 24 %
4 Curam/terjal Sudut kemiringan lereng 25 – 40 %
5 Sangat curam Sudut kemiringan lereng > 40 %
tanah meliputi tekstur, pH, salinitas, bahan organic, dan lain-lain, dan juga kondisi air (hidrologi) meliputi suhu, salinitas, pH, dan lain-lain. Alat yang
digunakan adalah (tanah) dan (air). Data-data ini
penting untuk diketahui sebagai dasar dalam menentukan tipologi pemanfaatan wilayah pesisir.
Tipologi fisik pesisir
Untuk mempermudah dalam mengklasifikasikan tipologi pesisir yang mendasarkan pada relief/kemiringan lereng, materi penyusun utama dan proses genesanya, selanjutnya dibuat tabel analisis berupa matriks seperti yang tersaji pada Tabel 10.
Tabel 10. Matrik Penentuan Tipologi Fisik Pesisir
Tipe Pesisir
Sumber : Shepard (1973), EUCC (1998), Sunarto (2003), dan modifikasi
' % 0 + "
-penyusun padu Biogenik Pesisir Organik
Aeoliomarin
Gambar 13. Diagram Alir Identifikasi Geomorfologis Pesisir (Sunarto, 2003) dengan modifikasi Marin
Solusional
Pesisir Erosi Gelombang