BAB II
ISI
A. SIFAT DALIL AKUNTANSI
Dalam teori akuntansi kita sering dibingungkan oleh istilah-istilah yang agak mirip,
tetapi mempunyai arti yang berbeda seperti istilah : aksioma, postulat, konsep,
convention, generalization, praktik, prosedur, prinsip, standar, norma, dll. Kebingungan
seperti itu dapat dihindari dengan mempertimbangkan penyusunan struktur teori
akuntansi secara deduktif, proses interaktif di mana tujuan akuntansi menyediakan dasar
untuk postulat dan konsep teoritis dari mana teknik-teknik diturunkan. Kita memulai dengan definisi berikut ini:
1. Postulat akuntansi adalah pernyataan yang dapat membuktikan kebenarannya sendiri atau disebut juga aksioma yang sudah diterima kesesuaiannya dengan tujuan
laporan keuangan yang menggambarkan lingkungan ekonomi, politik, sosiologi dan
hokum di suatu tempat dimanaakuntansi itu beroperasi.
2. Konsep teoritis akuntansi adalah pernyataan yang tidak memerlukan pembuktian atau aksioma, juga berterima umum berdasarkan kesesuaiannya dengan tujuan
laporan keuangan, yang menggambarkan sifat entitas akuntansi yang beroperasi
dalam ekonomi bebas yang dikarakteristikkan oleh kepemilikan pribadi atas
kekayaan.
3. Prinsip akuntansi adalah aturan keputusan umum, yang diturunkan baik dari tujuan dan konsep teoritis akuntansi yang mengatur pengembangan teknik-teknik
akuntansi.
4. Teknik (standar) akuntansi adalah aturan spesifik yang diturunkan dari prinsip akun-akuntansi untuk memperlakukan transaksi atau peristiwa tertentu yang
dihadapi oleh entitas akuntansi. B. POSTULAT AKUNTANSI
1. Postulat Entitas (Entity)
Akuntansi mencatat hasil kegiatan operasi dari suatu entity (lembaga atau
menyusun laporan keuangan sesuai dengan kebutuhan pemakainya, maka setiap
perusahaan dianggap sebagai uni akuntansi yang terpisah dari pemiliknya.
Berdasarkan pengertian ini maka yang menjadi objek dan perhatian dar
akuntansi yang dimasukkan ke dalam laporan keuangan adalah kejadian yang
dialami oleh lembaga atau perusahaan dan bukan merupakan gabungan dengan
pribadi pemiliknya. Konsep ini disebut dengan firm oriented.
Dari sisi lain konsep entity ini dilihat dari kepentingan ekonomi dari beberapa
konsumen laporan keuangan suatu entity bukan dari kegiatan administrasi lembaga
tadi. Pengertian ini disebut dengan user oriented. Dalam konsep ini yang menjadi
perhatian dalam penyusunan laporan keuangan adalah para pemakainya. Informasi
apa yang diinginkan pemakai itulah yang dilaporkan dalam laporan keuangan .
Untuk mengetahui apa yang diinginkan para pemakai laporan, perlu diketahui : a. Kepentingan para pemakai laporan
b. Sifat-sifat dari para pemakai laporan
Contoh yang paling jelas di sini adalah Akuntansi Sosial, Akuntansi Lingkungan,
Akuntansi SDM, dll. Dalam bidang ini yang menjadi dasar bertolak adalah apa yang
diinginkan oleh para pemakai laporan keuangan dan bukan tentang apa maunya teori
akuntansi.
2. Postulat Kelangsungan Usaha (going concern)
Postulat kelangsungan usaha,atau postulat kontinuitas, menyatakan bahwa
entitas akuntansi akan terus beroperasi untuk melaksanakan projek, komitmen, dana
aktivitas yang sedang berjalan. Postulat mengasumsikan bahwa perusahaan tidak
diharapkan untuk dilikuidasi dalam masa mendatang yang dapat diketahui dari
sekarang atau bahwa entitas akan terus beroperasi untuk periode waktu yang tidak
tertentu.
Postulat ini memberikan pembenaran terhadap penilaian asset secara historical
cost dan book value bukan current value atau liquidation value. Dalam asumsi ini
seolah dinyatakan bahwa nilai atau harga yang terdapat dalam laporan keuangan
didasarkan pada asumsi bahwa perusahaan ini tidak akan dilikuidasi atau dijual
pada kenyatannya, nilai aset pada perusahaan yang sudah berhenti dan mennunggu
akan dibubarkan umumnya berbeda atau jauh lebih rendah dari perusahaan yang
masih terus beroperasi dan lancar. Postulat ini juga membenarkan metode alokasi
akuntansi seperti pembebanan penyusutan, penyisihan, konsep konservatisme
maupun amortisasi selama masa penggunaannya tau selama perusahaan berjalan. Postulat going concern ini juga dapat dipergunakan untuk mendorong agar
manajer bersikap forward looking, melihat jauh ke depan dan investor pun dengan
pemahaman ini diharapkan ia akan bersedia menanamkan modalnya dalam
perusahaan dalam jangka waktu yang lama atau terus menerus agar ia mendapatkan
value added dari kinerja perusahaan.
3. Postulat unit pengukur (Unit Of Measure)
Postulat ini, yang disebut juga monetery unit postulate menganggap bahwa
setiap transaksi harus diukur dengan suatu alat ukur atau alat tukar yang seragam.
Alat ukur yang dipakai dalam akuntansi adalah alat ukur moneter. Postulat ini
menimbulkan 2 keterbatasan yaitu :
a. Akuntansi terbatas pada pemberian informasi dalam satuan moneter tanpa
mencatat informasi non moneter lainnya yang relevan. Sehingga akuntansi
dianggap hanya menginformasikan sebatas : kuantitatif, formal, terstruktur,
dapat diaudit, angka-angka dan berorientasi pada masa lalu. Informasi non
akuntansi dianggap kualitatif, informal, penjelasan, tidak dapat diaudit dan
berorientasi pada masa depan. Namun para ahli pada saat ini teus berupaya
agar informasi yang diberikan oeh akuntansi keuangan dapat memasukkan
aspek kualitatif melalui berbagai instrumen laporan.
b. Unit moneter itu sendiri sifatnya berfluktuasi tergantung pada kemampuan
daya beli. Pada kenyataannya, daya beli itu tidak stabil karena termakan oleh
inflasi sehingga informasi keuangan yang disajikannya akan kehilangan
relevansi.
Meskipun postulat kelangsungan usaha menyatakan bahwa perusahaan akan
tetap ada untuk periode waktu yang tidak terbatas, pemakai meminta berbagai
informasi tentang posisi keuangan dan kinerja perusahaan untuk membuat keputusan
jangka pendek. Sebagai tanggapan terhadap kendala yang disebabkan lingkungan
pemakai, postulat periode akuntansi menyatakan bahwa laporan keuangan yang
menggambarkan perubahan dalam kesejahteraan perusahaan seharusnya
diungkapkan secara periodik.
Panjangnya periode waktu dapat bervariasi tetapi hokum pajak penghasilan yang
mensyaratkan penentuan income dengan dasar tahunan dan praktik bisnis
tradisional, menggunakan periode normal satu tahun. Meskipun kebanyakan
perusahaan menggunakan periode akuntansi yang terkait dengan tahun kalender,
beberapa perusahaan menggunakan tahun fiscal atau tahun bisnis alami". Bila siklus
bisnis tidak berhubungan dengan tahun kalender akan lebih bermanfaat untuk
mengakhiri periode akuntansi ketika aktivitas bisnis telah mencapai titik terendah.
Karena kebutuhan akan informasi yang tepat waktu, relevan dansering, kebanyakan
perusahaan juga menerbitkan laporan interim yang menyediakan informasi keuangan
triwulanan ataubulanan.
Studi empiris tentang reaksi pasar modal atas penerbitan laporan interim dan
dampaknya terhadap keputusan investasi pemakai mengindikasikan kegunaan
laporan interim. Untuk menjamin kredibilitas laporan interim, Accounting Principles
Board menerbitkan APB Opinion No.28, yang mensyaratkan laporan interim
seharusnya didasarkan pada prinsip akuntansi dan praktik yang sama dengan yang
digunakan dalam pembuatan laporan tahunan. C. KONSEP TEORITIS AKUNTANSI
1. Teori Proprietary/TeoriKepemilikan
Menurut teori proprietary, entitas sebagai “agen”, perwakilan atau susunan
pandang kelompok pemilik sebagai pusat kepentingan terefleksi dalam cara
memelihara catatan akuntansi dan membuat laporan keuangan. Tujuan utama teori
proprietary adalah untuk menentukan dan menganalisis kekayaan bersih pemilik,
dengan persamaan akuntansi:
Aset - Utang = EkuitasPemilik.
Persamaan ini dibaca : pemilik memiliki aset dan sekaligus memiliki kewajiban,
sehingga kekayaan bersihnya adalah kekayaan perusahaan dikurangi dengan
kewajiban perusahaan. Oleh karena itu, teori ini berorientasi pada neraca (balance
sheet oriented). Aset dinilai dan neraca disajikanuntk mengetahui dan mengukur
perubahan hak dan kekayaan pemilik, sedangkan penghasilan dan biaya dianggap
sebagai kenaikan atau penurunan harta kekayaan pemilik bukan dianggap berasal
dari investor atau pengambilan pemilik sehingga biaya dan dividen adalah
pengambilan modal.
Beberapa istilah akuntansi yang dipengaruhi oleh teori ini adalah seperti
penyajian divide per share, earning per share, equity method dalam pencatatan
perkiraan investasi pada perusahaan lain dan lain-lain.
2. Teori Entitas
Teori entitas memandang entitas sebagai sesuatu yang terpisah dan berbeda dari
pihak yang menyediakan modal pada entitas. Secara sederhana, unit bisnis, bukan
pemilik, merupakan pusat kepentingan akuntansi. Unit bisnis memiliki sumber daya
perusahaan dan bertanggung jawab terhadap pemilik maupun kreditor. Menurut teori
ini, persamaan akuntansinya adalah:
Aset = Ekuitas
Aset= Utang+ Ekuitas Pemegang saham
Aset adalah hak perusahaan, ekuitas menunjukkan sumber asset yang berasal
pemilim sebenarnya adalah pemilik perusahaan yang merupakan tempat di mana
perusahaan memiliki kewajiban. Baik kreditor dan pemegang saham adalah pemilik
ekuitas, meskipun mereka memiliki hak yang berbeda terkait dengan income,
control,risiko,danlikuidasi. Laba adalah milik perusahaan sebelum dibagikan
kepada pemilik.
Teori ini berorientasi pada laporan laba rugi (income statement oriented).
Pertanggungjawaban pada pemilik dilakukan dengan cara mengukur pestasi kegiatan
dan prestasi keuangan yang ditunjukkan perusahaan. Dengan demikian, income
merupakan kenaikan equity pemilik atau kenaikan kewajiban perusahaan kepada
pemilik. Setelah dikurangi hak kreditor kenaikan equity pemilik terjadi setelah
dividen dikeluarkan dan laba ditahan tetap dianggap sebagai hak milik perusahaan
sampai suatu saat dibagikan. Dalam teori ini pajak dan bunga pinjaman dianggap
sebagai bagian laba untuk pemerintah dan kreditor. Oleh karena itu, bukan biaya.
Beberapa pengaruh teori ini pada pencatatan dan penyajian akuntansi adalah :
a. Penggunaan LIFO dalam menilai persediaan pada masa inflasi. Metode
ini lebih baik dalam penentuan pendapatan dari pada FIFO di masa inflasi.
b. Penyajian laporan keuangan konsolidasi
c. Definisi tentang revenuedan expenses yang lazim sesuai dengan konsep
ini
3. Teori dana (Fund Theory)
Menurut teori yang dikemukakan W.Y Vatter (1995) ini yang menjadi perhatian
bukan pemilik dan bukan pula perusahaan, tetapi sekelompok aset yang ada dan
kewajiban yang harus ditunaikan disebut fund yang masing-masing pos memiliki
aturan dalam penggunaannya. Dengan demikian teori dana menganggap bahwa unit
pembatasan-pembatasan terhadap penggunaan aset atau dana tersebut. Persamaan
akuntansinya adalah:
Aset = PembatasanAset
Dalam persamaan ini unit akuntansi didefinisikan dalam istilah aset, dan
penggunaan aset ini adalah terbatas. Kewajiban merupakan suatu pembatasan
ekonomi secara hukum terhadap penggunaan aset. Teoi dana ini memusatkan
perhatian pada harta atau aset centered dalam arti kata yang menjadi pusat
perhatiannya adalah penggunaan aset yang dibatasi. Teori ini berorientasi pada
laporan sumber dan penggunaan dana. Laporan ini menggambarkan sumber dari
mana dana dan ke mana penggunaan dana perusahaan. Umumnya teori ini berlaku
untuk organisasi pemerintah atau non profit (nirlaba).
4. The enterprise Theory
Sejalan dengan kemajuan sosial dan meningkatnya pertanggungjawaban publik
oleh perusahaan, maka konsep teoritis akuntansi juga berubah. Dalam konsep teori
ini yang menjadi pusat perhatian adalah keseluruhan pihak atau kontestan yang
terlibat atau yang memiliki hubungan baik langsung maupun tidak langsung dengan
perusahaan. Misalnya, pemilik, manajemen, masyarakat, pemerintah, kreditor,
pegawai dan pihak yang berkepentingan lainnya. Dalam teori ini pihak-pihak ini
harus diperhatikan dalam penyajian informasi laporan keuangannya. Menurut teori
ini akuntansi jangna hanya mementingkan informasi bagi pemilik perusahaan, tetapi
juga pihak lainnya juga yang memberikan kontribusi langsung dan tidak langsung
kepada eksistensi dan keberhasilan suatu perusahaan atau lembaga.
Banyak pihak baik komite maupun perseorangan yang memberikan prinsip dasar
akuntansi tersebut. Antara yang satu dengan yang lain kadang memiliki kadang memiliki
perbedaan dan juga persamaan. Berikut ini akan kita berikan beberapa pendapat tersebut.
Standar Akuntansi Keuangan Indonesia memberikan dua asumsi dasar yaitu :
a. Dasar Acrual
artinya dalam menyusun laporan keuangan pengakuan tansaksi didasarkan pada
kejadian atau perisiwa bukan didasarkan pada transaks kas.
b. Kelangsungan Usaha
Laporan keuangan disusun berdasarkan asumsi bahwa entity yang dimaksud akan
melanjutkan usahanya, da;lam asumsi dasarnya tidak ada maksud untuk
melakukan likudasi.
Prinsip Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum
1. Prinsip Entitas Ekonomi | Economic Entity Principle
Prinsip Entitas Ekonomi atau yang sering juga disebut prinsip kesatuan
entitas adalah konsep kesatuan usaha dimana akuntansi menganggap bahwa
perusahaan adalah sebuah kesatuan ekonomi yang berdiri sendiri dan terpisah
dengan pribadi pemilik ataupun entitas ekonomi yang lain.
Akuntansi memisahkan dengan jelas kekayaan atau aset perusahaan tidak
boleh dicampur dengan kekayaan pribadi pemilik perusahaan.
Jadi seluruh pencatatan atas seluruh transaksi yang terjadi tidak diperbolehkan
bercampur antara pencatatan usaha dengan transaksi pemilik.
Hal ini juga berlaku untuk kewajiban, kewajiban atau hutang pribadi perusahaan
harus dipisahkan dengan jelas dari kewajiban perusahaan sehingga ada pemisahan
tanggung jawab terhadap keuangan yang jelas
Pada Prinsip Periode Akuntansi atau yang juga disebut prinsip kurun waktu,
penilaian dan pelaporan keuangan perusahaan dibatasi oleh periode waktu tertentu.
Hal ini bertujuan agar informasi keuangan bisa dihasilkan tidak harus menunggu
usaha yang tengah dijalankan tutup. Umumnya, perusahaan menjalankan usahanya
berdasarkan periode akuntansi semisal dimulai tanggal 1 Januari hingga tanggal 31
Desember
3. Prinsip Biaya Historis
Prinsip Biaya Historis mengharuskan setiap barang atau jasa yang diperoleh
dicatat berdasarkan semua biaya yang dikeluarkan dalam mendapatkannya.
Apabila terjadi proses tawar menawar, yang dinilai adalah harga jadi sesuai
kesepakatan.Berbagai cara bisa digunakan dalam menilai sebuah aset yang dibeli
meliputi nilai buku, nilai pasar, nilai ganti ataupun nilai tunai.
Dalam standar GAAP, Prinsip ini harus mempergunakan harga perolehan atau yang
juga disebut juga harga akuisisi didalam pencatatan perolehan aset (aktiva),
Hutang, Modal (equitas) dan biaya. Lebih lanjut harga perolehan adalah harga
pertukaran yang telah disepakatai oleh kedua belah pihak yang terlibat dalam
transaksi. Contohnya, apabila perusahaan membeli tanah yang harga pasaran
dilokasi tersebut sebesar 100 juta, dan perusahaan membelinya hanya dengan 80
juta, maka yang dicatat dan diakui adalah harga tanah yang 80 juta, harga
kesepakatan dengan penjualan.
4. Prinsip Satuan Moneter
Pada prinsip satuan moneter, pencatatan transaksi hanya yang dinyatakan
didalam bentuk mata uang tanpa melibatkan hal hal non-kualitatif.
Non kualitatif ini contohnya mutu, prestasi, kestrategisan usaha dan lain lainnya
yang tidak bisa dilaporkan atau tidak bisa dinilai dalam bentuk uang.
walaupun informasi ini bisa jadi sangat relevan dan sangat berpengaruh terhadap
pengambilan keputusan. Semua pencatatan hanya terbatas pada segala yang bisa
diukur dan dinilai dengan satuan uang.
5. Prinsip Kesinambungan Usaha | Going Concern
Prinsip ini menganggap bahwa sebuah entitas bisnis berjalan secara terus
menerus berkesinambungan tanpa ada pembubaran atau penghentian kecuali
terdapat peristiwa tertentu yang bisa menyanggahnya
6. Prinsip Pengungkapan Penuh | Full Disclosure Principle
Laporan keuangan harus menyajikan informasi informasi yang informatif
serta dimaklumkan sepenuhnya. Prinsip Pengungkapan Penuh merupakan prinsip
dimana akuntansi menyajikan informasi yang sangat lengkap dalam laporan
keuangan.
Namun, dikarenakan informasi informasi yang disajikan adalah berupa
ringkasan atas seluruh transaksi yang terjadi dalam satu periode dan juga terdapat
pada saldo saldo dari rekening tertentu, maka tidak mungkin seluruhnya bisa
tercover semua didalam laporan keuangan.
Maka untuk itu, Didalam laporan keuangan akan diberi keterangan tambahan
informasi yang dibutuhkan yang tidak ada didalam laporan keuangan. Informasi
tambahan ini bisa berupa catatan kaki atau lampiran. isinya biasanya seperti ini:
a. Pada laporan keuangan, ditulis dalam kurung "()" dibawah post yang
bersangkutan atau memakai rekening tertentu
b. Prinsip Akuntansi yang digunakan
c. Perubahan perubahan, semisal adanya perubahan didalam penerapan prinsip
akuntansi, taksiran, koreksi kesalahan, kesatuan usaha. Catatan ini sekaligus
menunjukkan bagaimana perlakuan terhadap perubahan yang terjadi tersebut
e. Kontrak kontrak pembelian atau kontrak penting lainnya,
f. Keterangan tambahan yang disusun untuk menunjukkan perhitungan yang
lebih rinci dan detail terhadap suatu jumlah tertentu yang dirasa penting dan
material
g. Informasi mengenai modal, seperti jumlah saham dan yang lainnya
7. Prinsip Pengakuan Pendapatan | Revenue Recognition Principle
Pendapatan adalah kenaikan harta yang diakibatkan oleh kegiatan usaha
seperti penjualan, penerimaan bagi hasil, persewaan dan yang lainnya.
Dasar yang digunakan dalam mengukur besar kecilnya pendapatan adalah jumlah
kas ataupun setara kas (ekuivalennya) yang diperoleh atas transaksi penjualan
dengan pihak yang lain. Pendapatan diakui ketika terjadi penjualan barang ataupun
jasa, dan ada kepastian tentang jumlah besar kecilnya yang bisa diukur secara
handal dengan harta yang diperoleh. Namun ketentuan ini tidak selalu bisa
diterapkan sehingga akhirnya muncul ketentuan ketentuan lain untuk bisa
mengakui pendapatan. Ketentuan lain ini contohnya adalah pengakuan pendapatan
ketika produksi telah selesai, selama barang diproduksi, serta ketika kas atau yang
setara kas telah diterima.
8. Prinsip Mempertemukan | Matching Principle
Prinsip Matching dalam akuntansi maksudnya adalah biaya yang
dipertemukan / di"matching"kan dengan pendapatan yang diterima, ini
dimaksudkan untuk menetukan besar kecilnya penghasilan bersih ditiap periode.
Contoh dan penjelasan lebih dalam Matching Principle pada
postingan:Pendapatan diterima Dimuka
Dalam prinsip ini sangat bergantung pada penentuan pendapatan, jika
pengakuan pendapatan ditunda contohnya, maka pembebanan biaya juga tidak bisa
dikeluarkan tidak berhubungan langsung dengan pendapatan yang diterima.
Contoh: Biaya administrasi yang tidak bisa dihubungakan dengan pendapatan
perusahaan, Namun kasus seperti ini masih bisa diatasi dengan cara membebankan
biaya yang dikeluarkan tersebut kedalam periode terjadinya pengeluaran, tidak
disandingkan dengan pendapatan. Biaya yang tidak bisa disandingkan dengan
pendapatan tersebut sering disebut dengan Period Cost karena tidak memiliki
keterkaitan yang langsung dan jelas dengan pendapatan yang diterima.
Contoh biaya yang sulit dihubungkan dengan pendapatan yang lain adalah
biaya yang telah dikeluarkan memiliki hubungan yang jelas dengan produksi tapi
manfaatnya tidak habis dalam satu periode, manfaatnya dirasakan hingga beberapa
periode.
Biaya seperti ini nanti pembebanannya akan ditunda.
Ditunda hingga kapan? Pembebannya akan dialokasikan (dibagi) kedalam periode
berikutnya dimana biaya tersebut dimanfaatkan.
Permasalahan yang timbul adalah bagaimana pengalokasian biaya setiap
periodenya?
Contoh tahun 2014 perusahaan melakukan pembelian gudang ataupun mesin.
Tentu gudang atau mesin yang dibeli tersebut juga akan dipakai ditahun tahun
berikutnya, tidak hanya dipakai pada tahun 2014 saja
Sebagai efek dari prinsip ini adalah dipergunakan Accrual Basis didalam
pembebanan biaya, yang akhirnya memunculkan jurnal penyesuaian pada setiap
akhir periode untuk mempertemukan pendapatan dan biaya.
9. Prinsip Konsistensi | Consistency Principle
Prinsip Konsistensi adalah prinsip dimana metode atau prinsip akuntansi
yang digunakan dalam pelaporan keuangan tetap digunakan secara konsisten, tidak
dihasilkan bisa dibandingkan dengan laporan keuangan pada periode periode
sebelumnya sehingga bisa memberikan manfaat lebih bagi penggunanya. Metode
dan prosedur yang ddigunakan harus diterapkan secara konsisten dari periode ke
periode, sehingga bisa dengan cepat diketahui apabila ada perbedaan yang terjadi
dengan metode yang sama. Eits, Prinsip ini tentu tidak melarang sebuah pergantian
metode akuntansi, Perusahaan boleh MENGGANTI metode yang dipakainya
namun perusahaan harus menjelaskan dalam laporan keuangan mengapa terdapat
pergantian metode, apakah alasan alasan pergantian metode tersebut bisa diterima
atau tidak.
10.Prinsip Materialitas
Penerapan akuntansi didasarkan pada teori untuk menyeragamkan seluruh
aturan, namun kenyataannya tidak semua penerapan akuntansi itu mentaati teori
teori yang ada, Maka dari itu tak jarang terjadi adanya pengungkapan informasi
yang sifatnya material ataupun immaterial. Prinsip Prinsip Akuntansi tersebut
diatas semestinya diterapkan dengan kesuaian dan ranah akuntansi yang