LATAR BELAKANG
Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental utama saat ini, yang mendapatkan perhatian serius. Berdasarkan data WHO tahun 1980, hampir 20%-30% dari pasien rumah sakit di negara berkembang mengalami gangguan mental emosional seperti depresi. Survei yang dilakukan Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa (PDSKJ) menyebutkan sekitar 94% masyarakat Indonesia mengalami depresi dari mulai tingkat ringan, tingkat sedang dan tingkat paling berat.
Depresi termasuk dalam gangguan mood, yang menggambarkan serangkaian perasaan atau keadaan emosi seseorang dalam kehidupannya. Orang yang mengalami depresi umumnya mengalami gangguan yang meliputi keadaan emosi, motivasi, fungsional, dan tingkah laku serta kognisi bercirikan ketidakberdayaan yang berlebihan (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1997; Nevid, Rathus, & Greene, 2005; Lubis, 2009). Depresi merupakan gangguan kejiwaan umum yang dapat terjadi pada anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Orang yang mengalami depresi akan memunculkan emosi-emosi yang negatif seperti rasa sedih, benci, iri, putus asa, kecemasan, ketakutan, dendam dan memiliki rasa bersalah yang dapat disertai dengan berbagai gejala fisik (Korff & Simon, 1996; National Academy on an Aging Society, 2000; Dooley, Prause, & Ham-rowbottom, 2000; Sharp & Lipsky, 2002; Eby & Eby, 2006; Arcache, & Tordjman, 2012).
Gangguan depresi pada umumnya dicetuskan oleh peristiwa hidup tertentu. Namun perlu di garis bawahi, bahwa setiap orang mempunyai perbedaan yang mendasar yang memungkinkan suatu peristiwa yang dihadapi secara berbeda, dapat memunculkan reaksi yang berbeda antara satu orang dengan yang lain. Depresi memiliki beberapa penyebab, dan salah satu yang terkuat adalah stres. Sementara stress dapat terjadi pada semua usia, ada data yang menunjukkan bahwa dewasa awal adalah masa kerentanan khusus untuk mengalami kegelisahan dan depresi, mungkin karena tuntutan atau mengalami kesulitan dalam fungsi sosial, pekerjaan dan kehidupan sehari-hari (Stice, Ragan & Randall, 2004; Bitsika, Sharpley, & Melhem, 2010; Callahan, Liu, Hetrick, Purcell, & Parker, 2012).
dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Hal tersebut terungkap dalam studi pendahuluan yang dilakukan kepada kedua subyek dalam penelitian. Beck Depression Inventory-II, digunakan untuk mendiagnosis subyek serta untuk mengetahui tingkatan depresi yang dialami subyek (Steer, Ball, & Ranieri, 1999; DeRubeis, Gelfand, Tang, & Simons, 1999; American Psychiatric Association, 2000; Sharp & Lipsky, 2002; Seligman, Steen, Parr, & Peterson, 2005; Izgar, 2009). Hasil dari identifikasi tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua subyek penelitian mengalami depresi tingkatan sedang yang menampakkan emosi-emosi negatif seperti memandang diri secara negatif, menginterpretasi pengalaman atau peristiwa yang dialaminya secara negatif, serta memandang masa depan negatif pula. Permasalahan yang dialaminya membuat kedua subyek merasa mood yang terdepresi, hilangnya minat kesenangan, turun berat badan, pola tidur yang terganggu dan kurang dapat memusatkan perhatian serta kurang dapat mengambil keputusan.
Faktor penyebab dari depresi yaitu faktor biologis, faktor genetika dan faktor psikososial. Temuan penelitian biologis mendukung hipotesis bahwa gangguan mood melibatkan patologis di sistem limbik, ganglia basalis dan hipotalamus. Gangguan neurologis di ganglia basalis dan sistem limbik ditemukannya gejala-gejala depresif, karena pada ganglia basalis dan sistem limbik memiliki peran utama dalam menghasilkan emosi. Disfungsi pada hipotalamus diperkirakan mengakibatkan perubahan pola tidur, perubahan selera makan dan perilaku seksual. Pada individu yang terdepresi akan nampak keadaan ketidakberdayaan dan adanya distorsi negatif. Menurut teori, kondisi ketidakberdayaan dan distorsi negatif akibat depresi akan dapat membaik apabila mendapatkan terapi yang menggunakan teknik perilaku dan kognitif serta adanya teknik yang membangun dorongan positif dalam diri individu (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1997). Oleh karena ini diperlukannya terapi yang dapat mengatasi tekanan yang dihadapi seseorang individu yang bermasalah atau depresi dengan menggunakan beberapa pendekatan yang dapat menurunkan gejala depresi sekaligus dapat menumbuhkan hal-hal yang positif dalam kehidupannya.
psikoterapi. Sedangkan tingkat depresi sedang sampai depresi berat mungkin memerlukan obat dan menggabungkan pendekatan psikoterapi. (Byrd, 1988; DeRubeis, Gelfand, Tang, & Simons, 1999; Berto, D’Ilario, Ruffo, Virgilio, & Rizzo, 2000; Schwenk & Terrell, 2005; Eby & Eby, 2006; Tackett, & Kendall, 2007; BC Partners, 2009; Rautiainen, 2010; Ponton, 2011; Sussman, Yaffe, McCusker, Parry, Sewitch, Bussel, & Ferrer, 2011; Mukhtar, & Oei, 2011; Schimmel, & Jacobs, 2011; Peteet, 2012). Pendekatan-pendekatan tersebut memberikan hasil yang cukup efektif akan tetapi terbatas pada beberapa aspek di diri individu dan kemungkinan adanya resiko terjadinya bias (Callahan, Liu, Hetrick, Purcell, & Parker, 2012).
Pada awal tahun 2005, berkembangnya terapi dalam bidang psikologi positif yang dapat mengatasi gangguan depresi selain CBT yaitu Positive Psychotherapy. Positive Psychotherapy pernah dilakukan melalui website berbayar dengan memberikan tugas-tugas latihan selama satu minggu secara acak kepada pengguna web yang mengalami depresi. Hasil dari terapi tersebut dapat menurunkan gejala depresi sekaligus dapat menumbuhkan hal-hal yang positif dalam kehidupan (Seligman, Rashid, & Parks, 2006). Sedangkan pada penelitian ini dilakukan dengan bertatap muka secara langsung dengan subyek penelitian.
Jika seorang individu yang mengalami depresi dapat mengubah pemikirannya ke arah positif maka kehidupan akan menuju arah yang positif. Apabila dapat merangkul sepenuhnya kekuatan karakter maka kekuatan itu akan mengubah cara pandang untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna. Dalam psikologi positif, menurut Seligman (Elkify, 2010) menjelaskan bahwa kebahagian mengacu pada emosi yang positif yang dirasakan setiap individu, Seligman juga menyatakan gambaran yang mendapatkan kebahagian yang autentik (sejati) yaitu individu yang telah dapat mengidentifikasi atau mengelola atau melatih kekuatan dasar yang dimilikinya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam pekerjaan, cinta, permainan dan pengasuhan.
positif, kekuatan karakter, dan kebermaknaan sehingga dapat meniadakan atau mencegah munculnya kembali gangguan tersebut di masa mendatang (Seligman, Steen, Parr, & Peterson 2005; Seligman, Rashid, & Parks, 2006).
Penanganan gangguan depresi menggunakan teknik terapi Positive Psychotherapy, dengan alasan bahwa Positive Psychotherapy bersandar bahwa depresi dapat diobati secara efektif tidak hanya dengan mengurangi gejala negatif dan menurunkan tingkatan depresi, tetapi juga dengan langsung dan terutama membangun emosi positif, kekuatan karakter, dan makna. Positive Psychotherapy kemungkinan akan dapat menetralkan gejala negatif dan dapat sebagai pondasi yang kuat untuk bekal masa depan mereka (Seligman, Steen, Park, & Peterson, 2005; Seligman, Rashid, & Parks, 2006; Snyder, & Lopez, 2007). Selain itu, gejala-gejala depresi sering melibatkan kurangnya emosi positif, kurangnya keterlibatan dan kurangnya merasa berarti, tetapi ini biasanya dilihat sebagai konsekuensi atau berkorelasi pada depresi.
Berbagai hasil penelitian tentang Positive Psychotherapy yang telah dipublikasikan menunjukan korelasi positif. Hal tersebut terungkap dalam hasil penelitian yang dilakukan Fredrickson & Branigan (2005), menunjukkan bahwa emosi positif dapat meniadakan pengaruh emosi negatif yang merusak dan dapat meningkatkan resiliensi diri individu. Seperti halnya penelitian yang dilakukan Seligman, dkk (2006) tentang penelitian eksperimen pada individu yang mengalami gangguan depresi mayor dengan mengelompokan individu menjadi tiga kelompok dengan terapi yang berbeda, yaitu Therapeutic as Usual (TAU), TAU plus antidepressant meditation (TAUMED), dan Positive Psychotherapy. Temuan mereka menunjukkan bahwa Positive Psychotherapylebih efektif menurunkan depresi daripada terapi TAUMED yang diukur dengan Zung Self Rating Scale (ZSRS) dan Outcome Questionare (OQ). Selain itu, mereka juga menunjukkan bahwa Group Positive Psychotherapylebih efektif daripada TAU dan TAUMED dalam pengukuran happiness danThe Positive Psychotherapy Inventory (PPTI) (Seligman, Rashid, & Parks, 2006).
POSITIVE PSYCHOTHERAPY
UNTUK MENURUNKAN
TINGKAT DEPRESI
Tesis Sarjana S-2
Program Studi Magister Profesi Psikologi
Disusun oleh :
SWESTY NILASARI
201010440211008
PROGRAM MAGISTER PROFESI PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya Nama : Swesty Nilasari NIM : 201010440211008
Program Studi : Magister Profesi Psikologi Dengan ini menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa: 1. Tesis dengan judul
“Positive Psychotherapy untuk Gangguan Depresi”.adalah hasil karya saya dan dalam naskah Tesis ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik di suatu Perguruan Tinggi dan tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, bagi sebagian ataupun keseluruhan, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.
2. Apabila ternyata di dalam naskah Tesis ini dapat dibuktikan terdapat unsur-unsur PLAGIASI, saya bersedia TESIS ini DIGUGURKAN dan GELAR AKADEMIK YANG TELAH SAYA PEROLEH DIBATALKAN, serta diproses sesuai dengan ketentuan hokum yang berlaku.
3. Tesis ini dapat dijadikan sumber pustaka yang merupakan HAK BEBAS ROYALTY NON EKSKLUSIF.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Malang, 27 Desember 2012 Yang menyatakan
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. atas segala rahmat, taufiq serta hidayah-Nya yang telah diberikan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan judul “Positive Psychotherapy untuk Gangguan Depresi”.
Shalawat serta salam tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW., yang telah membimbing ummatnya ke jalan yang diridloi Allah SWT yakni Agama Islam.
Penulis menyadari bahwa baik dalam perjalanan studi maupun dalam penyelesaian tugas akhir ini, penulis banyak memperoleh bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Dr. Muhajir Effendi, MAP selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Malang. 2. Dr.Latipun, M. Kes selaku Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah
Malang, sekaligus sebagai Ketua Program Studi Magister Psikologi
3. Dr. Diah Karmiyati, M.Si, Psi selaku dosen pembimbing I yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, masukan dan nasehat yang sangat berarti bagi penulis dalam penyusunan tugas akhir ini.
4. Hudaniah, M.si., Psi selaku dosen pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, masukan dan nasehat yang sangat berarti bagi penulis dalam penyusunan tugas akhir ini.
5. Seluruh staf pengajar Fakultas Psikologi UMM serta bagian Tata Usaha yang selalu sabar dan teliti melayani keperluan akademis penulis.
6. Subyek penelitian yang merelakan rahasia pribadinya untuk penulis demi pengembangan keilmuan, permintaan maaf dan terima kasih saya haturkan.
7. Kedua orang tua yang tak henti-hentinya mendoakan agar selalu mencapai keberhasilan dan kesuksesan. Selain itu juga memberikan dorongan moril sehingga kuliah dan tugas akhir ini bisa terselesaikan.
9. Saudara kandung dan semua keluarga besar terima kasih atas segala perhatian dan doanya.
10.Ay yang setia membantu dalam penyusunan tugas akhir, selalu memberi support yang amat besar dan terima kasih atas segala perhatian maupun pengertiannya. 11. Teman-teman seperjuangan, Ayu, Karin, Icha, Heni terimakasih atas dukungan dan
kebersamaan kita selama ini dan untuk semua teman-teman MAPRO ’10 semangat untuk kita semua.
12.Semua pihak, penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.
Dengan bekal dan kemampuan terbatas, penulis menyadari bahwa dalam penulisan tugas akhir ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan. Akhirnya, tiada kata selain harapan semoga tugas akhir ini bermanfaat sesuai dengan maksud dan tujuannya. Amiin Ya Robbal Alamiin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Malang, 17 Januari 2013 Penulis
DAFTAR TABEL
Tabel 1: Perubahan Kondisi pada Subyek SW ... 14 Tabel 2: Perubahan Kondisi pada Subyek IW ... 18
DAFTAR GAMBAR
Grafik 1: Penurunan tingkatan depresi subyek SW ... 12
Grafik 2: Skor Item BDI-II Subyek SW ... 13
Grafik 3: Penurunan tingkatan depresi subyek IW ... 16
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A : Tahap Pra intervensi
Lampiran A.1 : Identitas subyek ... 29
Lampiran A.2 : Lembar persetujuan subyek SW ... 30
Lampiran A.3 : Lembar persetujuan subyek IW ... 31
Lampiran A.4 : Hasil identifikasi permasalahan ... 32
Lampiran A.5 : Diagnosis DSM-IV subyek SW... 33
Lampiran A.6 : BDI-II subyek SW ... 34
Lampiran A.7 : Laporan hasil pemeriksaan BDI-II ... 38
Lampiran A.8 : Diagnosis DSM-IV subyek IW ... 39
Lampiran A.9 : BDI-II subyek IW ... 40
Lampiran A.10 : Laporan hasil pemeriksaan BDI-II ... 44
Lampiran B : Tahap Intervensi
Lampiran B.6 : Hasil intervensi persesi subyek SW ... 52
Lampiran B.7 : Sesi 1 subyek IW ... 53
Lampiran B.8 : Sesi 2 subyek IW ... 54
Lampiran B.9 : Sesi 3 subyek IW ... 55
Lampiran B.10 : Sesi 4 subyek IW ... 57
Lampiran B.11 : Sesi 5 subyek IW ... 58
Lampiran B.12 : Hasil intervensi persesi subyek IW ... 59
Lampiran B.13 : Hasil evaluasi persesi ... 60
Lampiran C : Tahap Pasca intervensi Lampiran C.1 : BDI-II subyek SW ... 63
Lampiran C.2 : Laporan hasil pemeriksaan BDI-II ... 67
Lampiran C.3 : BDI-II subyek IW ... 68
Lampiran C.4 : Laporan hasil pemeriksaan BDI-II ... 72
Lampiran C.6 : Laporan hasil pemeriksaan BDI-II ... 77
Lampiran C.7 : BDI-II subyek IW (follow up) ... 78
Lampiran C.8 : Laporan hasil pemeriksaan BDI-II ... 82
Lampiran C.9 : Hasil evaluasi keseluruhan ... 83
Lampiran C.10 : Hasil kerangka pemikiran ... 84
DAFTAR PUSTAKA
Aldiansyah, D. (2008). Tingkat Depresi pada pasien-pasien kanker serviks uteri di RSUPHAM dan RSUPM dengan menggunakan skala Beck Depression Inventory-II. Tesis Obstetri dan Ginekologi Kedokteran tidak dipublikasikan, Universitas Sumatera Utara.
American Psychiatric Association. (2000). Diagnostic and statistical manual of mental disorders text revision (4th ed). Washington, DC: American Psychiatric Association.
Arcache, C. W., & Tordjman. S. (2012). Relationships between depression and high intellectual potential. Depression Research and Treatment, 3, 1-8.
Arikunto, S. (2002). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Arnau, R. C., Meagher, M. W., Norris, M. P., & Bramsom, R. (2001). Psychometric evaluation of the Beck Depression Inventory-II with primary care medical patiens. Health Psychology, 20 (2), 112-119.
Bastaman, H.D. (2007). Logoterapi : psikologi untuk menemukan makna hidup dan meraih hidup bermakna. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Bitsika, V., Sharpley, C. F., & Melhem, T. C. (2010). Gender differences in factor scores of anxiety and depression among australian university students: implications for counselling interventions. Canadian Journal of Counselling, 44 (1), 51–64.
BC Partners Mental Health and Addictions Information. (2009). Cognitive-Behavioural Therapy. Visions BC’s Mental Health and Addictions Journal, 6 (1), 11-16.
Berto, P., D’Ilario, D., Ruffo, P., Virgilio. R. D., & Rizzo. F. (2000). Depression: cost-of-illness studies in the international literature, a review. The Journal of Mental Health Policy and Economics 3, 3–10.
Byrd, R. C. (1988). Positive therapeutic effects of intercessory prayer in a coronary care unit population. Southern Medical Journal, 81 (7), 826-829.
Callahan, P., Liu, P., Hetrick, S. E., Purcell, R., & Parker, A. G. (2012). Evidence map of prevention and treatment interventions for depression in young people. Depression Research and Treatment, 3, 1-11.
Dermer, M. L., & Hoch, T. A. (1999). Improving descriptions of single-subject experiments in research texts written for undergraduates. Psychological Record, 49(1), 49-66.
DeRubeis, R. J., Gelfand, L. A., Tang, T. Z., & Simons, A. D. (1999). Medications versus cognitive behavior therapy for severely depressed outpatients: mega-analysis of four randomized comparisons. American Journal Psychiatry, 156, 1007–1013.
Dooley, D., Prause, J., & Ham-rowbottom, K. A. (2000). Underemployment and depression: longitudinal relationships. Journal of Health and Social Behavior, 41 (4), 421-436.
Eby, G. A., & Eby, K. L. (2006). Rapid recovery from major depression using magnesium treatment. Medical Hypotheses, 4, 1-9.
Elkify. I. (2010). Terapi berpikir positif: biarkan mukjizat dalam diri anda melesat agar lebih sukses dan lebih bahagia. Jakarta: Ikrar Mandiri Abadi.
Frazier, P. A., Lee, R. M., & Steger, M. F. (2006). What can counseling psychology contribute to the study of optimal human functioning?. The Counseling Psychologist, 34 (2), 293-303.
Izgar, H. (2009). An Investigation of depression and loneliness among school principals. Kuram ve Uygulamada Egitim Bilimleri / Educational Sciences: Theory & Practice, 9 (1), 247-258.
Kaplan, H. I., Sadock, B. J., & Grebb, J. A. (1997). Sinopsis psikiatri: Ilmu pengetahuan perilaku psikiatri klinis. Edisi Ketujuh. Jakarta: Bina Rupa Aksara. Kazdin, A. E. (1995). Preparing & evaluating research reports. Psychological
Assessment, 7 (3), 228-237.
Korff, M. V., & Simon, G. M. D. (1996). The relationship between pain and depression. The British Journal of Psychiatry, 168 (30), 101-108.
Latipun. (2002). Psikologi eksperimen. Malang: UMM Press.
Lubis, N. L. (2009). Depresi tinjauan psikologis. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Mukhtar, F., & Oei, T. P. S. (2011). A Review on assessment and treatment for depression in malaysia. Depression Research and Treatment, 2, 1-8.
National Academy On An Aging Society. (2000). Depression a treatable disease. Washington, DC: American Psychiatric Press.
Neuman, S. B., & McCormick, S. (1995). Single subject experimental research: Application for literacy. New York, DE: International ReadingAssociation.
Peseschkian. N. (1997). Applications of positive psychotherapy for marriage and family therapy. Association for Baha’I Studies Notebook, 3, 1-2.
Peteet, J. R. (2012). Spiritually integrated treatment of depression: a conceptual framework. Depression Research and Treatment, 3, 1-6.
Ponton, R. F. (2011). Counseling and human suffering: an approach to healing. Counseling and human suffering: An approach tohealing. Retrieved from http://counselingoutfitters.com/ vistas/vistas11/Article_47.pdf.
Rautiainen, E. L., & Aaltonen, J. (2010). Depression: the differing narratives of couples in couple therapy.The Qualitative Report, 15 (1), 156-175.
Schimmel, C. J., & Jacobs, Ed. (2011). Ten Creative Counseling Techniques for Helping Clients Deal With Anger. Ten creative counseling techniques for helping clients deal with anger. Retrieved from http://counselingoutfitters.com/vistas/vistas11/Article_53.pdf.
Schwenk, T. L., & Terrel, L. B. (2005). Depression: Guidelines for clinical care. Washington, DC: University of Michigan Health System.
Seligman, M. E. P., Rashid, T., & Parks, A. C. (2006). Positive psychotherapy. Journal of American Psychologist, 61, 774-788.
Seligman, M. E. P., Steen, T. A., Park, N., & Peterson, C. (2005). Positive psychology progress. Journal of American Psychologist, 60 (5), 410-421.
Sharp, L. K., & Lipsky, M. S. (2002). Screening for depression across the lifespan: A
review of measures for use in primary care settings. American Family Physician,
66 (6), 1001-1008.
Snyder, C. R., & Lopez, S. J. (2007). Positive psychology: the scientific and practical explorations of human strengths. United States of America: Sage Publications.
Steer, R. A., Ball, R., & Ranieri, W. F. (1999). Dimensions of the Beck Depression Inventory-II in clinically depressed outpatiens. Journal of Clinical Psychology, 55, 117-128.
Stice, E., Ragan, J., & Randall, P. (2004). Prospective Relations Between Social Support and Depression: Differential Direction of Effects for Parent and Peer Support?. Journal of Abnormal Psychology, 113 (1), 155–159.
Sunanto, J., Takeuchi K., & Nakata, H. (2005). Pengantar penelitian dengan subyek tunggal. Jepang: University of Tsubaka.
Sussman, T., Yaffe, M., McCusker, J., Parry, D., Sewitch, M., Bussel, L. V., & Ferrer I. (2011). Improv ing the management of l ate-life depression in pr imar y care: barriers and facilitators. Depression Research and Treatment, 2, 1-7.