BATOBO KONSI PADA MASYARAKAT PETANI
(Studi Deskriptif Kegiatan Pertanian di Desa Padang Ranah, Sijunjung Sumatera Barat)
Disusun Oleh : Mai Yuliarti
090901017
DEPARTEMEN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRAK
Batobo konsi merupakan salah satu bentuk dari sistem ikatan kekerabatan yang sampai saat ini masih dibudayakan oleh masyarakat Sumatera Barat, khususnya di Kecamatan Sijunjung.Dengan sistem batobo konsi para petani tidak perlu mengeluarkan biaya untuk para pekerja tetapi cukup dengan menyediakan makanan dan minuman bagi para petani yang bekerja di lahan mereka. Sistem ini dapat berlangsung karena pada masyarakat pedesaan dalam hal ini Kecamatan Sijunjung masih memiliki sistem ikatan kekerabatan yang sangat kuat, baik dari segi hubungan sosial maupun dalam bentuk interaksi sosial antara sesama warga masyarakat. Maka untuk memudahkan masyarakat dalam pelaksanaan sistem batobo konsi, masyarakat Kecamatan Sijunjug biasanya membentuk suatu kelompok tani yang dapat dijadikan sebagai wadah bagi para petani untuk berkumpul. Kelompok ini juga menjadi tempat para petani saling berinteraksi untuk membentuk suatu pola ikatan sosial atau solidaritas sosial sehingga hal tersebut menjadi suatu modal sosial untuk bekerja sama menghadapi masalah-masalah dalam proses pengelolaan pertanian maupun masalah lainnya diluar aktifitas pertanian.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yang bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan lebih mendalam mengenai system batobo konsi yang ada pada masyarakat desa padang ranah sumatera barat. Adapun teknik pengambilan data dalam penelitian ini yaitu wawancara dan observasi yang kemudian data tersebut diinterprestasikan kedalam bentuk narasi. Informan dalam penelitian ini berjumlah tujuh orang.
Berdasarkan hasil penelitian, batobo konsi terbentuk dimulai sejak berkembangnya aktifitas bertani di desa ini, para petani merasa tidak sanggup mengerjakan lahan masing-masingsendiri sehingga merekamengadakan sistem tolong-menolong yang berawal dari gotong royong atau tolong-menolong antara sesama petani yang masih memiliki ikatan keluarga. Dengan tolong-menolong tersebut para petani menganggap dapat meringankan pekerjaan mereka dalam mengelola pertanian, karena para petani merasakan manfaat yang besar dari batobo konsi ini maka diadakan musyawarah untuk membentuk sistem batobo konsi yang lebih luas bukan hanya antara petani yang memiliki ikatan keluarga namun juga diadakan antara sesama petani di desa padang ranah, sijunjung sumatera barat.
KATA PENGANTAR
Dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sebab atas berkat dan rahmatNya penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Batobo Konsi Pada Masyarakat Petani “, di Desa Padang Ranah, Sijunjung Sumatera Barat.
Penulis Menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis dengan lapang dada menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembacanya.
Dengan selesainya penyusunan skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang telah membantu proses penyusunan skripsi ini. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku Dekan FISIP USU, dan sebagai Dosen penguji saya
2. Ibu Dra. Lina Sudarwati, M.Si, selaku Ketua Departemen Sosiologi FISIP USU
3. Bapak Drs. Hendri Sitorus, M.Si, selaku Dosen Wali saya
4. Bapak Drs. Sismujito, M.Si selaku Dosen Pembimbing saya, Saya mengucapkan terima kasih kepada beliau atas kesediaan beliau dalam memberikan pengarahan- pengarahan ataupun masukan bagi skripsi saya. 5. Bapak dan Ibu Dosen FISIP USU, Khususnya Dosen Departemen Sosiologi
atas ilmu yang selama ini telah diberikan kepada penulis.
7. Kepada kepala Desa Padang Ranah yakni Bapak Zulkifli, yang telah mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian di Desa Padang Ranah. 8. Para informan yang ada di Desa Padang Ranah yang telah bersedia
meluangkan waktunya untuk memberikan informasi mengenai Batobo Konsi yang ada di Desa Padang Ranah.
9. Kepada teman dekat penulis Masri Aprianda dan keluarga yang telah membantu dan memberi semangat kepada penulis.
10.Kepada teman penulis Riya Badriyah yang telah menemani penulis bolak balik kampus dan perpustakaan.
11.Buat teman-teman stambuk penulis di Departemen Sosiologi USU
12.Kepada senior di Departemen Sosiologi FISIP USU, kak Vanny Virgita yang telah memberikan pengarahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
13.Kepada teman-teman di coffee cangkir yang telah memotivasi penulis dalam skripsi ini.
14.Kepada semua pihak yang turut membantu yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Atas dukungan berbagai pihak tersebut, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Penulis berharap skripsi ini dapat berguna bagi berbagai pihak yang membutuhkan.
Medan, 6 Juni 2015
Penulis
Daftar Isi BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang ……….. 1
1.2Rumusan Masalah……….2
1.3Tujuan Penelitian………..3
1.4Manfaat Penelitian………6
1.4.1 Manfaat Teoritis………..6
1.4.2 Manfaat Praktis………6
1.5 1.6Defenisi Konsep………7
BAB II Kajian Pustaka 2.1 Masyarakat Desa Pertanian………..9
2.1.1 Pengelolaan Pertanian………...11
2.1.2 Sistem Ikatan Kekerabatan Masyarakat Petani……….13
2.1.3 Gotong Royong Pada Masyarakat Petani……….14
2.2 Lembaga Sosial Masyarakat Pedesaan………15
2.3 Solidaritas Sosial Masyarakat Petani………..16
BAB III Metode Penelitian………20
3.1 Jenis Penelitian………21
3.2 Lokasi Penelitian……….21
3.3 Unit Analisis dan Informan……….21
3.3.1 Unit Analisis………21
3.3.2 Informan………..21
3.5 Interpretasi Data……….23
3.6 Jadwal Kegiatan………..25
3.7 Keterbatasan Penelitian………..25
BAB IV Deskripsi dan Interpretasi Data Penelitian 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian………26
4.1.1 Gambaran Umum Sumatera Barat………..26
4.1.2 Gambaran Umum Kecamatan Sijunjung………29
4.1.3 Gambaran Umum Desa Padang Ranah………..35
4.2 Profil Informan………..39
4.3 Sistem Kekerabatan Pada Masyarakat Petani Desa Padang Ranah Kecamatan Sijunjung……….45
4.3.1 Pemerintah Kabupaten………45
4.3.2 Pemerintah Desa……….46
4.3.3 Koperasi Unit Desa ( KUD )………...49
4.3.4 Pembinaan Kesejahteraan Keluarga ( PKK )………..53
4.3.5 Perwiritan………53
4.3.6 Remaja Surau………..53
4.3.7 Batobo Konsi ………..53
4.4 Proses Pelaksaan Batobo Konsi dan Tahapan-Tahapannya………..56
4.5 Perbedaan Batobo Konsi Dengan Sistem Kerja Upah………..59
4.7 Solidaritas Sosial Masyarakat Petani Desa Padang Ranah, Kecamatan
Sijunjung………63
ABSTRAK
Batobo konsi merupakan salah satu bentuk dari sistem ikatan kekerabatan yang sampai saat ini masih dibudayakan oleh masyarakat Sumatera Barat, khususnya di Kecamatan Sijunjung.Dengan sistem batobo konsi para petani tidak perlu mengeluarkan biaya untuk para pekerja tetapi cukup dengan menyediakan makanan dan minuman bagi para petani yang bekerja di lahan mereka. Sistem ini dapat berlangsung karena pada masyarakat pedesaan dalam hal ini Kecamatan Sijunjung masih memiliki sistem ikatan kekerabatan yang sangat kuat, baik dari segi hubungan sosial maupun dalam bentuk interaksi sosial antara sesama warga masyarakat. Maka untuk memudahkan masyarakat dalam pelaksanaan sistem batobo konsi, masyarakat Kecamatan Sijunjug biasanya membentuk suatu kelompok tani yang dapat dijadikan sebagai wadah bagi para petani untuk berkumpul. Kelompok ini juga menjadi tempat para petani saling berinteraksi untuk membentuk suatu pola ikatan sosial atau solidaritas sosial sehingga hal tersebut menjadi suatu modal sosial untuk bekerja sama menghadapi masalah-masalah dalam proses pengelolaan pertanian maupun masalah lainnya diluar aktifitas pertanian.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yang bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan lebih mendalam mengenai system batobo konsi yang ada pada masyarakat desa padang ranah sumatera barat. Adapun teknik pengambilan data dalam penelitian ini yaitu wawancara dan observasi yang kemudian data tersebut diinterprestasikan kedalam bentuk narasi. Informan dalam penelitian ini berjumlah tujuh orang.
Berdasarkan hasil penelitian, batobo konsi terbentuk dimulai sejak berkembangnya aktifitas bertani di desa ini, para petani merasa tidak sanggup mengerjakan lahan masing-masingsendiri sehingga merekamengadakan sistem tolong-menolong yang berawal dari gotong royong atau tolong-menolong antara sesama petani yang masih memiliki ikatan keluarga. Dengan tolong-menolong tersebut para petani menganggap dapat meringankan pekerjaan mereka dalam mengelola pertanian, karena para petani merasakan manfaat yang besar dari batobo konsi ini maka diadakan musyawarah untuk membentuk sistem batobo konsi yang lebih luas bukan hanya antara petani yang memiliki ikatan keluarga namun juga diadakan antara sesama petani di desa padang ranah, sijunjung sumatera barat.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang memiliki potensi alam melimpah ruah yang mendukung statusnya sebagai negara agraris,dengan sebagian besar masyarakat bermukim dipedesaan dan bermatapencaharian disektor pertanian, maka sumberdaya fisik utama yang paling penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan tersebut adalah tanah atau lahan pertanian.
Menurut data BPS dalam Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Mei 2012, jumlah tenaga kerja di sektor pertanian mencapai 41,20 Juta jiwa atau sekitar 43,4% dari jumlah total penduduk Indonesia. Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 4,76% atau sebesar 1,9 juta dibandingkan Agustus 2011. Dengan demikian sebagian besar masyarakat Indonesia masih menggantungkan hidupnya dengan memanfaatkan hasil alam dan sebagai petani, hal ini juga terjadi karena didukung kondisi alam Indonesia yang memiliki lahan pertanian yang luas serta kondisi alam yang baik untuk aktivitas pertanian tersebut(Data BPS Mei, 2012).
Pekerjaan-pekerjaan yang di luar pertanian merupakan pekerjaan sambilan yang biasa mengisi waktu luang. Masyarakat pedesaan di Indonesia bersifat homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat istiadat, dan sebagainya. Selain itu, kehidupan masyarakat pedesaan di Indonesia identik dengan sistem ikatan kekerabatan, seperti gotong royong yang merupakan kerja sama atau kerja bakti untuk mencapai kepentingan-kepentingan mereka. Kerja bakti itu ada dua macam, yaitu kerja sama untuk pekerjaan-pekerjaan yang timbul dari inisiatif warga masyarakat itu sendiri, dan kerja sama untuk pekerjaan-pekerjaan yang timbulnya tik dari inisiatif warga masyarakat. Di dalam kehidupan masyarakat pedesaan di Indonesia juga terdapat beberapa gejala-gejala sosial yang sering di istilahkan dengan konflik (pertengkaran), kontraversi (pertentangan), kompetisi (persiapan), kegiatan pada masyarakat pedesaan, dan sistem nilai budaya di Indonesia.
menghubungkan provinsi Riau dan provinsi Jambi. Mengingat letaknya dipersimpangan jalur tersebut, Sijunjung merupakan jalur ekonomi dan jalur pariwisata. Secara administrative wilayah Kecamatan Sijunjung dengan luas 313.080Ha meliputi 8 kecamatan , 61 Nagari dan 1 desa dengan 263 Jorong ( sumber: Badan Pertahanan Nasional Kabupaten Sijunjung).
Aktivitas bertani merupakan kegiatan utama masyarakat yang dilakukan untuk menjunjang perekonomian keluarga. Mayoritas kehidupan warga Kecamatan Sijunjung sangat tergantung pada hasil-hasil pertanian, sehingga sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani, sedangkan sisanya beraktivitas di bidang perdagangan dan sebagai pegawai. Bahkan ada juga sebagian penduduk yang merupakan pegawai tetapi tetap meluangkan waktunya untuk bertani, karena memilki lahan pertanian sendiri. Adapun jenis pertanian yang dikelola oleh masyarakat Kecamatan Sijunjung antara lain adalah padi, cabai, tomat dan tanaman palawija lainnya. Dalam waktu setahun masyarakat Kecamatan Sijunjung dapat mengelola lahan sawahnya dengan dua jenis musim tanaman, yaitu pada separuh tahun pertama masyarakat akan menanam padi dan separuh tahun berikutnya akan menanam jenis tanaman sayur-sayuran, seperti padi, cabai, tomat dan tanaman palawija lainnya.
batobo konsi. Pada sistem batobo konsi, para petani akan saling tolong-menolong secara bergantian tanpa harus mengeluarkan biaya ongkos atau upah untuk membayar tenaga yang telah diberikan,jika hari ini ada petani yang mengerjakan lahannya maka petani yang lain akan ikut menolong dan begitu juga sebaliknya ia akan kembali menolongnya pada kesempatan yang lain secara bergantian. Sistem gotong royong ini telah dilakukan oleh para petani terdahulu dari generasi ke generasi atau secara turun-temurun. Faktor keterkaitan hubungan masyarakat pedesaan salah satunya yang cukup dominan adalah dibentuk oleh sistem pertanian itu sendiri. Terbukti, dalam kegiatan pertanian masyarakat pedesaan seringkali melakukan gotong royong. Kegiatan ini merupakan suatu bentuk saling tolong menolong, saling membantu dan saling melengkapi yang berlaku di daerah pedesaan.
Batobo konsi merupakan salah satu bentuk dari sistem ikatan kekerabatan yang sampai saat ini masih dibudayakan oleh masyarakat Sumatera Barat, khususnya di Kecamatan Sijunjung. Mengutip penelitian terdahulu dalam Suwondo (1983: 181) menegaskan bahwa pada perkembangannya sampai sekarang ini secara garis besarnya tidak terdapat perbedaan prinsip antara sistem nilai budaya yang sekarang dianut di Sumatera Barat.
ikatan kekerabatan yang sangat kuat, baik dari segi hubungan sosial maupun dalam bentuk interaksi sosial antara sesama warga masyarakat. Maka untuk memudahkan masyarakat dalam pelaksanaan sistem batobo konsi, masyarakat KecamatanSijunjug biasanya membentuk suatu kelompok tani yang dapat dijadikan sebagai wadah bagi para petani untuk berkumpul.Kelompok ini juga menjadi tempat para petani saling berinteraksi untuk membentuk suatu pola ikatan sosial atau solidaritas sosial sehingga hal tersebut menjadi suatu modal sosial untuk bekerja sama menghadapi masalah-masalah dalam proses pengelolaanpertanian maupun masalah-masalah lainnya diluar aktifitas pertanian.
Berdasarkan hal yang telah dikemukakan di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai sistem ikatan kekerabatanyang ada antara sesama petanidalam mengelolapertanian. Maka penelitian ini akan diberi judul “Batobo Konsipada masyarakat petani”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana pemanfaatansistem ikatan kekerabatan masyarakat petani dalam mengelola pertanian di Desa Padang Ranah, KecamatanSijunjung?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas maka yang menjadi tujuan yang diharapkan dan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis serta melihat gambaran yang jelas mengenaipemanfaatan sistem ikatan kekerabatan dalammengelola pertanian di Desa Padang Ranah, Kecamatan Sijunjung.
2. Untuk mengetahui aktivitas gotong royong yang juga disebut dengan batobo konsi yang dilakukan para petani Desa Padang, Kecamatan Sijunjung.
1.4 Manfaat penelitian
Adapun yang menjadi manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil yang akan diperoleh dalam penelitian ini secara teoritis diharapkan agar dapat meningkatkan pengetahuan peneliti tentang berlangsungnya interaksi sosial dalam para petani Desa Padang Ranah, Kecamatan Sijunjung yang dikaitkan dengan kerangka pemikiran solidaritas sosial.
1.4.2 Manfaat Praktis
1.5 Defenisi Konsep
1. Petani
Petani yang dimaksud dalam penelitian ini adalah orang yang menjadikan mata pencaharian pokoknya pada sektor pertanian.
2. Pengelolaan Pertanian
Pengelolaan pertanian dapat diartikan sebagai suatu rangkaian pekerjaan atau usaha pertanian yang bertujuan untuk menggali atau memanfaatkan sumber-sumber alam yang ada secara efektif untuk memenuhi kebutuhan. Sistem pengelolaan tersebut meliputi pengolahan lahan, pola tanam, pemupukan, pemberantasan hama serta proses panen hasil tanaman.
3. Batobo Konsi
4. Jaringan sosial
Jaringan sosial dalam penelitian ini adalah jaringan yang terbangun berdasarkan kepentingan dalam mempertahankan kelangsungan kegiatan bertani. 5. Solidaritas Sosial
BAB II
KAJIAN PUSTAKA 2.1 Masyarakat Desa Pertanian
Desa merupakan suatu daerah yang dijadikan tempat tinggal masyarakat yang sebagian besar penduduknya memiliki mata pencaharian bersumber dari alam. Di dalam Rahardjo (2004: 29) mengatakan bahwa suatu desa ditandai dengan keterikatan warganya terhadap suatu wilayah tertentu. Keterikatan terhadap wilayah ini di samping terutama untuk tempat tinggal, juga untuk semacam itu – yakni yang memiliki ikatan kebersamaan dan ikatan wilayah tertentu – pengertiannya tercakup dalam konsep komunitas (community).
Pada masyarakat desa masih minim mengetahui teknologi sehingga membuat mereka untuk bertani. Kondisi lingkungan yang masih asri dan subur merupakan faktor pendorong masyarakat desa tersebut mengelola lahan pertanian sebagai sumber kehidupan. Di dalam Henslin (2006: 98) menjelaskan bahwa adanya masyarakat pertanian didasarkan pada pemeliharaan tannaman dengan menggunakan peralatan tangan. Karena mereka tidak lagi harus meninggalkan suatu wilayah bilamana persediaan makanan habis, maka masyarakat ini mengembangkan pemukiman permanen.
teknologi dan semakin maju dalam berpikir. Menurut Koentjaraningrat (1977: 11) menjelaskan bahwa semenjak keberadaan manusia kira-kira dua juta tahun lalu, manusia baru mengenal cocok tanam sekitar 10.000 tahun yang lalu. Sebelum itu cara hidup manusia masih dalam taraf food gathering economics seperti berburu, menangkap ikan, dan meramu. Dengan jenis mata pencaharian semacam itu mereka lebih banyak mengembara, dalam kelompok yang kecil-kecil dan tidak permanen serta belum hidup dalam tatanan masyarakat yang teratur. Pada tingkat ini belum diperkirakan adanya peradaban atau kebudayaan bahkan dalam bentuk yang sederhana sekalipun (Rahardjo, 2004: 31).
memungkinkan mereka untuk saling berhubungan secara aktif dan teratur sehingga mengakibatkan terjadinya akumulasi pengetahuan dan tatanan perilaku bersama yang keseluruhannya berkemas dalam bentuk pola kebudayaan tertentu.
Diantara gambaran-gambaran yang bersifat diferensiatif pada kalangan masyarakat petani pada umumnya adalah perbedaan antara petani bersahaja, yang juga sering disebut petani tradisional (termasuk golongan peasant) dan petani modern.Secara garis besar golongan pertama adalah kaum petani yang masih tergantung dan dikuasai alam karena rendahnya tingkat pengetahuan dan teknologi mereka. Produksi mereka lebih ditujukan untuk sebuah usaha menghidupi keluarga, bukan untuk tujuan mengejar keuntungan (profic oriented). Sebaliknya, farmer atau agricultural entreprenuer adalah golongan petani yang usahanya ditujukan untuk mengejar keuntungan (profic oriented). Mereka menggunakan teknologi dan sistem pengelolaan modern dan menanam tanaman yang laku di pasaran. Mereka mengelola pertanian mereka dalam bentuk agrobisnis, agro industri atau bentuk modern lainya, sebagaimana umunya seseorang pengusaha yang profesional menjalankan usahanya.
2.1.1 Pengelolaan Pertanian
kerukunan yang tinggi, juga menyebabkan terciptanya semacam keharusan sosial bagi sesama petani untuk berbagi tanah garapan.
Pada sistem pengolahan pertanian meliputi golongan lahan, pola tanam, pemupukan, pembrantasan hama serta proses panen hasil tanaman.
1. Pengolahan Lahan Pertanian
Sebelum memulai kegiatan bertani, hal pertama yang dilakukan petani mengolah lahan, lahan yang digunakan petani untuk bertanam padi adalah lahan basa yang siap ditanam.
2. Pola Tanam
Selain lahan, pola tanam juga harus diperhatikan. Pola tanam padi harus sejajar berurutan agar memudahkan pada proses penyiangan serta proses panen padi tersebut.
3. Pemupukan
Proses pemupukan dilakukan pada tanaman yang berumur dua minggu. Pemupukan biasanya dilakukan dua sampai tiga kali tergantung keadaan tanaman.
4. Pemberantasan Hama
Hama pada tanaman akan merusak kualitas tanaman tersebut. Lahan pertanian yang terserang hama akan mengalami gagal panen dan petani akan merugi, pemberantasan hama dilakukan dengan cara penyemprotan pestisida kepada tanaman.
Kegiatan terakhir dalam proses pertanian adalah panen. Hasil pertanian yang baik akan menghasilkan panen yang memuaskan.
2.1.2 Sistem Ikatan Kekerabatan Masyarakat Petani
Menurut Ferdinand Toennies (J. Dwi Narwoko – Bagong Suyanto. 2007:32-34), masyarakat dapat dibedakan kedalam dua jenis kelompok yang disebutGemeinschaft dan Gesellschaft. Gemeinschaft merupakan bentuk kehidupan bersama, dimana antara anggotanya mempunyai hubungan batin murni yang nyata dan organis. Bentuk ini dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat desa, keluarga, kerabat, dan sebagainya. Gesellschaft merupakan bentuk kehidupan bersama dimana para anggotanya mempunyai hubungan yang bersifat pamrih dan dalam jangka pendek serta bersifat mekanis. Bentuk ini dapat ditemukan dalam hubungan perjanjian yang berdasarkan ikatan timbal balik.
tersendiri atau dapat dipisah-pisahkan, sehingga merupakan suatu kesatuan organisme oleh karenanya strukturnya merupakan struktur organis.
Selanjutnya Tonnies membedakan Gemeinschaft menjadi tiga jenis, yaitu: 1. Gemeinschaft by blood, yaitu Gemeinschaft yang mendasarkan diri pada
ikatan darah atau keturunan. Di dalam pertumbuhanya masyarakat yang semacam ini makin lama makin menipis.
2. Gemeinschaft of placo (locality), yaitu Gemeinschaft yang mendasarkan diri pada tempat tinngal yang saling berdekatan sehingga dimungkinkan untuk dapatnya saling tolong menolong.
3. Gemeinschaft of mind yaitu Gemeinschaft yang mendasarkan diri pada ideology atau pikiran yang sama (J. Dwi Narwoko – Bagong Suyanto. 2007:32-34).
2.1.3 Gotong Royong Pada Masyarakat Petani
Istilah gotong-royong mengacu pada kegiatan saling menolong atau saling membantu dalam masyarakat. Tradisi kerjasama tersebut tercermin dalam berbagai bidang kegiatan masyarakat (Nasution, 2009: 10). Dalam hal ini gotong royong dalam bidang pertanian mulai dari pembibitan sampai panen hasil pertanian tersebut, para petani bekerja sama berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong atas dasar kesadaran dalam anggota kelompok.
menjadi empat macam, terdiri atas (a) gotong royong dalam produksi pertanian, (b)gotong royong formal antar tetangga, (c) gotong royong dalam perayaan dan pesta, (d) gotong royong dalam bencana dan kematian (Nasution, 2009: 10). Seperti yang terdapat di Kecamatan Sijunjung, Desa Padang Ranah merupakan gotong royong dalam produksi hasil pertanian. Namun dengan adanya gotong royong pada produksi pertanian, timbul rasa solidaritas di antara para petani yang menciptakan rasa saling memiliki. Di dalam hal ini akan menciptakan gotong royong dalam berbagai kegiatan seperti yang disebutkan sebelumnya, yaitu gotong royong formal antar tetangga, gotong royong dalam perayaan pesta dan gotong royong dalam bencana kematian.
Sementara itu dalam hasil analisis pada literatur lain, Koentjaraningrat membagi gotong royong menjadi tiga macam, yaitu gotong royong dalam bidang pekerjaan pertanian, dalam tolong menolong, dan dalam bentuk kerja bakti (Nasution, 2009: 10).Dengan kata lain tiap gotong royong bertujuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan secara bersama-sama.
2.2 Lembaga Sosial Masyarakat Pedesaan
Menurut Koentjaraningrat, lembaga kemasyarakatan (pranata sosial) adalah suatu sistem norma khusus yang menata suatu rangkaian tindakan berpola mantap guna memenuhi suatu keperluan khusus dari manusia dalam kehidupan masyrakat (Ibrahim, 2003: 87).
Berdasarkan pengertian lembaga kemasyarakatan yang telah dikemukakan dapat dikemukakan tiga unsur lembaga kemasyarakatan, yaitu:
a) Adanya sistem norma.
b) Sistem norma itu mengatur tindakan berpola.
c) Tindakan berpola itu untuk memenuhi kehidupan manusia dalam kehidupan masyarakat (Ibrahim, 2003: 88).
(Baswori, 2005: 93). Berdasarkan kekuatan mengikat anggotanya, norma-norma sosial dibedakan menjadi:
a) Cara (usage)
b) Kebiasaan (folkways) c) Tata kelakuan (mores) d) Adat istiadat (custom)
Lembaga kemasyarakatan yang berfungsi untuk memenuhi keperluan kehidupan kekerabatan sering disebut dengan lembaga kekerabatan (kinship institution) (Ibrahim, 2003: 92).
adat istiadat. Proses pembentukan lembaga kemasyarakatan mencakup dua proses, yaitu:
a) Proses habitualisasi adalah proses menjadikan suatu perilaku manusia menjadi kebiasaan (kebiasaan orang perorang). Karena diulang-ulang, perilaku itu akhirnya memiliki pola tertentu sehingga mudah diketahui.
b) Proses tipifikasi adalah proses penerimaan atau pembenaran suatu kebiasaan oleh sejumlah orang tertentu. Apabila ada kebiasaan orang mendapat pengakuan dari sekelompok orang teretenu, maka terbentuklah tipe yaitu kebiasaan yang berlaku untuk sekelompok orang tertentu. Orang lain mengakui atau membenarkan kebiasaan tadi karena mereka menganggap kebiasaan itu sebagai sesuatu yang bernilai. Tipe inilah yang disebut dengan lembaga kemasyarakatan (Ibrahim, 2003: 96).
Proses pelembagaan sebenarnya bisa berlangsung lebih jauh lagi hingga suatu norma sosial menjadi internalized (mendarah daging), yaitu suatu taraf perkembangan di mana para anggota masyarakat dengan sendirinya ingin berperilaku sejalan dengan perilaku yang memang sebenarnya memenuhi kebutuhan masyarakat (Baswori, 2005: 95).
2.3 Solidaritas Sosial Masyarakat Petani
dianut serta diperkuat oleh pengalaman emosional (Johnson, 1981) (Nasution, 2009: 9).
Prinsip solidaritas sosial adalah saling tolong menolong, bekerjasama, saling membagi hasil panen, menyokong proyek desa secara keuangan dan tenaga kerja dan lainnya (Nasution, 2009: 9).
Solidaritas sosial dipengaruhi oleh interkasi sosial yang berlangsung karena ikatan kultural, yang pada dasarnya disebabkan munculnya sentimen komunitas (community sentiment), unsur-unsurnya menurut Redfield (dalam Laiya, 1983) meliputi:
a) Seperasaan, yaitu karena seseorang berusaha mengidentifikasi dirinya dengan sebanyak mungkin orang dalam kelompok tersebut, sehingga kesemuanya dapat menyebutkan dirinya sebagai kelompok kami (warga).
b) Sepenanggungan, yaitu setiap individu sadar akan peranannya dalam kelompok dan keadaan masyarakat sendiri sangat memungkinkan peranannya dalam kelompok yang dijalankan.
c) Saling butuh, yaitu individu yang tergantung dalam masyarakat setempat merasakan dirinya tergantung pada komunitasnya meliputi fisik maupun psikologinya (Nasution, 2009: 9-10).
eksternal. Sedangkan unsur kekuatan yang merubah adalah proses modernisasi yang telah mempengaruhi tradisi selama ini dianggap sebagai sumber hidupnya solidaritas sosial, terutama berkaitan dengan hubungan dengan solidaritas tradisional (Nasution, 2009: 10).
Pembedaan antara solidaritas mekanik dan organik merupakan salah satu sumbangan Durkheim (dalam Johnson, 1981) untuk menganalisis masyarakat dusun dengan masyarakat perkotaan. Dalam hal ini menggambarkan sesuatu mengenai elemen-elemen penting dari kedua tipe struktur sosial itu. Menurut solidaritas mekanik didasarkan pada suatu “kesadaran kolekif” bersama yang menunjukkan pada “totalitas keperrcayaan-kepercayaan dan sentimen-sentimen bersama yang rata-rata
ada pada warga masyarakat yang sama, dan solidaritas itu didasarkan pada suatu tingkat homogenitas yang tinggi dalam kepercayaan, sentimen, dan sebagainya (dalam Johnson, 1981) (Nasution, 2009: 12).
Hal ini merupakan suatu solidaritas yang tergantung pada individu-individu yang memiliki sifat-sifat sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif sama pula. Karena itu, individualitas tidak berkembang, individualitas itu terus menerus dilumpuhkan akibat tekanan untuk konformitas yang besar sekali (Nasution, 2009: 12).
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah metode yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan nilai-nilai, secara holistik dan dengan menggunakan pendekatan deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong,2006:1). Penelitian kualitatif digunakan untuk melihat secara utuh serta berusaha untuk menggambarkan fenomena yang terjadi.Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif maka peneliti akan lebih mudah mendapatkan informasi dan data yang jelas serta terperinci mengenai batobo konsipada masyarakat Desa Padang Ranah, Kecamatan Sijunjung,Sumatera Barat.
sekarang dan interaksi lingkungan suatu unit sosial individu, kelompok,lembaga atau masyarakat(Sumadi Suryabrata,2002:22).
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Padang Ranah, Kecamatan Sijunjung, Kecamatan Sijunjung, Sumatera Barat. Alasan peneliti memilih lokasi daerah ini adalah dikarenakan daerah ini memiliki lahan pertanian yang luas dan sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan dalam aktivitas mengelola pertaniannya, para petani desa Padang Ranahmasih menggunakansistem yang disebutdengan sistem batobo konsi.
3.3 Unit Analisis dan Informan 3.3.1 Unit Analisis
Unit analisis adalah satuan yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian. Adapun unit analisis dalam penelitian modal sosial masyarakat petani dalam mengelola pertanian yaitu para petani, tokoh desa, dan kepala desa.
3.3.2 Informan
Informan adalah orang-orang yang masuk dalam karakteristik unit analisis dan dipilih menjadi sumber data yang memberikan informasi yang dibutuhkan oleh peneliti (Arikunto, 2006). Adapun informan dalam penelitian ini adalah:
- Tokoh desa, untuk mendapatkan informasi mengenai sistem pertanian di Desa Padang Ranah tersebut.
- Kepala desa, untuk mendapatkan informasi mengenai struktur penduduk petani di Desa Padang Ranah.
2. Informan biasa yaitu informan yang memiliki kriteria sebagai berikut:
- petani yang memiliki mata pencaharian sebagai petani minimal selama lima tahun,
- petani yang berpartisipasidalam kegiatanbatobo konsi. 3.4 Teknik Pengumpulan Data
Data sebuah penelitian dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu data primer dan data sekunder.
a) Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari objek penelitian melalui observasi dan wawancara baik secara partisipatif maupun wawancara secara mendalam, oleh karena itu untuk mendapatkan data primer dalam penelitian ini akan dilakukan dengan cara penelitian lapangan, yaitu sebagai berikut:
Wawancara terhadap informan ditujukan untuk memperoleh data dan informasi secara lengkap tentang sistem kekerabatan masyarakat petani dalam mengelola pertanian.
2. Observasi merupakan metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan (Bungin 2007: 115). Pengamatan secara langsung kepada objek yang diteliti guna melihat aktivitas batobo konsi pada masyarakat petani Desa Padang Ranah, Kecamatan Sijunjung.
3. Dokumentasi, yaitu dilakukan dengan menggunakan kamera foto untuk mengabadikan hal-hal yang tidak terobservasi seperti aktifitas masyarakat petani ketika berada dilingkunganya dan sebagai penegas data yang diperoleh dilapangan.
b) Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian. Pengumpulan data sekunder dalam penelitian ini dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan dan pencatatan dokumen, yaitu dengan mengumpulkan data dan mengambil informasi dari buku-buku referensi, dokumen, majalah, jurnal dan bahan dari situs-situs internet yang dianggap relevan dengan masalah yang diteliti. 3.5 Interpretasi Data
Moleong (2002:190), pengolahan data ini dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu wawancara, pengamatan (observasi) yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen resmi, gambar foto, dan sebagainya.
Data tersebut telah dibaca, dipelajari dan ditelaah maka langkah selanjutnya adalah mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan cara abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang terperinci, merujuk ke inti dengan menelaah pernyataan-pernyataan yang diperlukan sehingga tetap berada dalam fokus penelitian.
3.6 Jadwal Kegiatan
No Kegiatan
Bulan ke
1 2 3 4 5 6 7 8 9
1. Pra proposal
2. ACC penelitian
3. Penyusunan proposal penelitian
4. Seminar proposal penelitian
5. Revisi proposal penelitian
6. Penelitian lapangan
7. Pengumpulan data dan analisa data
8. Bimbingan skripsi
9. Penulisan laporan akhir
10. Sidang meja hijau
3.7Keterbatasan Penelitian
BAB IV
DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
4.1.1 Gambaran Umum Sumatera Barat 1. Kondisi Fisik Daerah
a. Keadaan Geografis
Secara geografis provinsi sumatera barat terletak antara 0°54’ lintang
utara sampai 3°30’ lintang selatan serta 98°36’ sampai 101°53’ bujur timur.
Batas – batas wilayah sumatera barat, sebelah utara dan timur berbatasan
dengan selat malaka, sebelah selatan berbatasan dengan provinsi sumatera
utara, dan sebelah barat berbatasan dengan samudra hindia. Satu satunya
hubungan darat hanyalah dengan sumatera utara, sehingga memiliki
ketergantungan yang cukup tinggi dengan provinsi tersebut.
b. Iklim
Menurut Schmidt dan furgusson, tipe iklim sumatera barat terdiri dari
tipe A,B,C,dan D. suhu rata rata dipantai barat berkisar antara 210C – 380C,
pada daerah perbukitan berkisar antara 150C-330C, sedangkan pada daerah
daratan sebelah timur bukit barisan mempunyai suhu antara 190C-340C.
desember. Jumlah curah hujan paling rendah terjadi bulan juni dan juli.
Jumlah curah hujan tertinggi mencapai 4000 mm /tahun terutama dipantai
barat. Sedangkan curah hujan dibeberapa tempat dibagian timur relative lebih
rendah yakni diantara 1500-3000 mm/tahun.
c. Topografi
Keadaan topografi sumatera barat bervariasi dari topografi datar,
landai,curam dan mempunyai pantai sampai pergunungan. Pada umumnya
bagian tengah sumatera barat terbentang bukit barisan dengan topografi
relative curam, sedangkan bagian barat dan timur posisinya relative landai.
Topografi wilayah sumatera barat yang cukup curam ditemui dikabupaten
solok, agam dan tanah datar. Topografi yang landai ditemukan didaerah
50kota dan sawahlunto sijunjung, sedangkan topografi yang cukup datar dapat
ditemui didaerah pasaman barat, pesisir selatan dan padang pariaman.
d. Luas Wilayah
Luas wilayah provinsi sumatera barat sekitar 4.229.730 ha, setara
dengan 2,17 % dari wilayah Negara kesatuan republic Indonesia dengan luas
perairan diperkirakan 186.500 km2 dan panjang garis pantai 2.420,57 km.
Jumlah pulau ada 391 pulau, tidak semua pulau mempunyai nama.
Ada sekitar 179 pulau yang sudah mempunyai nama dan 212 pulau yang
belum mempunyai nama. Ada 25 sungai yang mengalir di provinsi ini, antara
lain sungai anai, batang agam, batang aria, dll.
1. Keadaan Sosial dan Ekonomi
a. Pemerintah
Provinsi sumatera barat terdiri atas 19 kabupaten/kota, 175 kecamatan.
Adapun jumlah desa yaitu sebanyak 1.858 desa/kelurahan.
b. Pendidikan
Berdasarkan hasil SP2010, persentase penduduk 5 tahun yang berpendidikan
minimal tamatan SMP/Sederajat sebesar 49,35 persen, dan AMH penduduk
berusia 15 tahun keatas sebesar 95,54 persen yang bearti dari setiap tahun
100 penduduk usia 15 tahun diatas ada 96 orang yang melek huruf. Penduduk
dikatakan melek huruf jika dapat membaca dan menulis hueuf latin dan huruf
lainnya.
c. Tenaga kerja
Jumlah penduduk yang merupakan angkatan kerja diprovinsi sumatera barat
sebesar 1.993.393 orang, dimana sejumlah 1.953.434 orang diantaranya
SP2010, tingkat partisipasi angkatan kerja ( TPAK ) diprovinsi sumatera
barat sebesar 60,54 persen, dimana TPAK laki-laki lebih tinggi dari pada
TPAK perempuan yaitu masing-masing sebesar 78,11 persen dan 3,89
persen.
(http://www.sijunjung.go.id/?mod=konten&menu=Kependudukan, diakses
tanggal 22 mei 2015 jam 10.16 wib )
4.1.2 Gambaran Umum Kecamatan Sijunjung
Kabupaten Sijunjung (sebelumnya disebut Kabupaten Sawahlunto Sijunjung) adalah salah satu kabupaten di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini adalah muaro Sijunjung. Sebelum tahun 2004, kabupaten Sijunjung merupakan kabupaten terluas ketiga di Sumatera Barat dengan nama Kabupaten Sawahlunto Sijunjung. Namun sejak dimekarkan (yang menghasilkan kabupaten Dharmasraya), kabupaten ini menjadi kabupaten tersempit kedua di Sumatera Barat.
Secara topografi, kabupaten Sijunjung merupakan rangkaian Bukit Barisan yang memanjang dari arah barat laut ke tenggara, sehingga kabupaten ini memiliki ketinggian yang sangat bervariasi, yaitu antara 120 meter sampai 930 meter di atas permukaan laut. Kecamatan di kabupaten ini umumnya memiliki topografi yang curam dengan kemiringan antara 15–40%, yaitu kecamatan Tanjung Gadang, kecamatan Sijunjung, kecamatan Sumpur Kudus, dan kecamatan Lubuk Tarok.
Seperti daerah lainnya di Sumatera Barat, kabupaten ini mempunyai iklim tropis dengan kisaran suhu minimun 21 °C dan maksimum 37 °C. Sedangkan tingkat curah hujan kabupaten Sijunjung mencapai rata-rata 13,61 mm per hari.
Selanjutnya batas-batas wilayah kabupaten Sijunjung adalah sebagai berikut:
- Sebelah utara : Kabupaten Tanah Datar - Sebelah selatan : Kabupaten Dharmasraya
- Sebelah barat : Kabupaten Solok dan Kota Sawah Lunto - Sebelah timur : Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau
(http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sijunjung, diakses tanggal 2 Mei 2015 pukul 12.31)
Sawahlunto. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, pada
bulan Oktober 1945 dibentuklah Kabupaten Tanah Datar dengan ibukotanya
Sawalunto, yang wilayahnya meliputi beberapa kewedanaan yaitu Batusangkar,
Padang Panjang, Solok, Sawahlunto dan Sawahlunto/Sijunjung. Dalam rangka
melanjutkan perjuangan kemerdekaan, Gubernur Militer Sumatera Barat membentuk
kabupaten baru, yakni Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung yang diresmikan pada
tanggal 28 Februari 1949. Sesuai dengan PP No. 25 Tahun 2008, pada 10 Maret
2008 Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung diubah namanya menjadi Kabupaten
Sijunjung.
Kabupaten Sijunjung terletak di Sebelah Selatan Propinsi Sumatera Barat, di
sebelah Barat Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan sebagian besar
penduduknya bersuku Minangkabau dengan falsafah adat, pola pikir, tatanan budaya
serta norma yang khas. Secara sosiokultural dan ekonomi, keunikan masyarakat
Sijunjung terletak pada keberadaan sistem matrilineal yang kuat dan ketaatan pada
nilai-nilai Islam. Sistem matrilineal dan ketaatan pada ajaran Islam yang berkembang
di sebagian besar masyarakat Minangkabau melahirkan praktik dan tradisi yang
sangat kuat, bersendikan adat dan syara’ (agama). Kedua sendi inilah yang turut
mengembangkan praktik pemerintahan berbasis Nagari, sebuah entitas yang tidak
hanya berbasis politik (berupa kesepakatan tokoh-tokoh adat, agama, dan intelektual)
ekonomi masyarakat). Aktivitas masyarakatnya selalu bersendikan atas tradisi, seperti
kebiasaan ”berdagang, bertani, berkebun dan merantau” yang bertahan hingga kini.
Selain kuatnya nilai adat, Kabupaten Sijunjung adalah sebuah Daerah
historikal yang mengikuti sejarah perjalanan Republik tercinta ini. Sejarah telah
mencatat sebuah kecamatan di Kabupaten Sijunjung dengan luas wilayah 57.540
hektar, dengan nama Sumpur Kudus pernah menjadi markas Pemerintah Darurat
Republik Indonesia (PDRI) Mei 1949. Selain itu Sumpur Kudus juga sering
disebut-sebut namanya karena Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafi’I
Ma’arif putra asli daerah ini. Disamping itu Kabupaten Sijunjung merupakan
wilayah kerja ROMUSHA pada zaman penjajahan Jepang. Peninggalan yang bisa
dilihat sampai sekarang adalah jembatan kereta api di tepi Batang Kuantan dan
lokomotif tua di Kenagarian Silokek.
Dengan posisi tidak lagi sebagai kabupaten terluas nomor tiga di Provinsi
Sumatera Barat, Kabupaten Sijunjung berada posisinya menjadi kabupaten nomor
dua terkecil. Pada tahun 2004 Kabupaten Sijunjung mengalami pemekaran, dengan
49 persen wilayahnya menjadi sebuah Kabupaten yang diberi nama Dharmasraya.
Namun begitu, tidak berati Sijunjung telah kehilangan semuanya, di balik segala
keterbatasannya, Kabupaten Sijunjung sebenarnya memiliki berbagai potensi yang
masih bisa dioptimalkan. Bukan hal yang tidak mungkin Sijunjung akan merubah
untuk menuju ke sana dibutuhkan tenaga ekstra serta kerja sama dengan berbagai
kalangan yang memiliki kepentingan dengan Sijunjung.
4.1.2.2 Sarana dan Prasarana Desa
Sarana dan prasarana desa adalah suatu pelengkap desa yang berfungsi sebagai fasilitas masyarakat dalam menjalankan aktifitas dan fungsinya didesa. Hubungan dengan penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja sarana dan prasarana yang terdapat didesa ini yang sering digunakan oleh masyarakat dan kelompok tani. Adapun sarana dan prasarana didesa ini dapat dilihat didalam table :
1 Panjang jalan aspal 20,600 meter
2 Jumlah jembatan beton 3 unit
3 Warung kelontong 9 unit
4 Angkutan desa 15 unit
5 Usaha kelompok simpan pinjam 7 unit
6 Kelompok batobo konsi 5 unit
7 Jumlah pos kamling 2 unit
8 Jumlah masjid 5 unit
4.1.3 Gambaran Umum Desa Padang Ranah
Saat memasuki desa padang ranah kita akan melewati sebuah patung besar perempuan mengenakan pakaian khas tradisional minangkabau ditengah pertigaan jalan. Disepanjang jalan kita akan menemuai rumah rumah adat khas minang , bagonjong disisi kiri dan kanan jalan desa. Dari kondisinya, bangunan-bangunan kayu itu bisa ditaksir berusia sudah cukup tua.
Desa padang ranah memiliki cirri khas dengan rumah gadangnya, rumah yang atapnya melengkung seperti tanduk kerbau. Rumah gadang adalah milik perempuan dan diwariskan secara turun temurun ke anak perempuannya. Dalam system matrilineal minangkabau, laki laki sama sekali tidak dapat mewariskan hartanya. Kalau ia meninggal harta itu akan kembali kepada orang tua perempuannya atau kepada adik dan kemenakan perempuannya.
4.2 Profil Informan 1. Zulkifli
Usia : 35 Tahun
Jenis kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Petani ( Kepala Desa )
Bapak Zulkifli lahir pada tahun 1980 didesa Padang Ranah, Sijunjung. Bapak Zulkifli sulung dari 4 bersaudara. Beliau bekerja sebagai petani padi, kedua orang tuanya juga seorang petani. Sebelumnya bapak zulkifli bekerja sebagai karyawan disebuah bengkel milik temannya, namun setelah 2 tahun bekerja bengkel tempatnya bekerja bangkrut dan terpaksa ditutup. Karena susah mendapatkan pekerjaan buat yang Cuma tamatan SMA akhirnya bapak zulkifli mengikuti jejak ayahnya menjadi petani. Ternyata menjadi petani juga tidak semudah yang dibayangkan. Banyak hal yang harus dipertimbangkan, salah satunyanya masalah biaya. Mengelolah sawah tentu tidak mungkin dilakukan sendiri, sementara kalau buat bayar upah orang akan terasa mahal. Akhirnya bapak zulkifli ikut dalam kelompok tani batobokonsi yang ada di desa padang ranah sijunjung.
menyediakan makan dan minum dalam proses bertani. Menurut penuturan bapak zulkifli, selain masalah biaya ada juga masalah hama, yang merusak tanaman. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pertanian. Bapak zulkifli dijadikan salah satu informan karena beliau mengetahui seluk beluk desa, beliau juga seorang kepala desa walaupun usianya masih relative muda.
2. Nasril / Palito Panai ( Niniak Mamak )
Usia : 65 tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Pekerjaan : Petani
Agama : Islam
Bapak Nasril lahir dan besar di Desa Padang Ranah , beliau cuma mengenyam pendidikan sampai sekolah dasar. Tapi karena ketekunan dan kecintaannya terhadap budaya minang khususnya adat istiadat yang ada di Desa Padang Ranah, beliau dinobatkan sebagai seorang niniak mamak. Artinya seorang yang disegani di wilayah Desa Padang Ranah. Bapak Nasril memiliki seorang istri dan 3 orang anak yang sudah besar besar dan ketiga anaknya sudah berkeluarga.
bapak Nasril juga fokos pada petani padi, karena padi merupakan bahan pokok yang harus selalu ada dirumah. Tapi mahalnya biaya buat bertani tentu menjadi masalah yang cukup berat buat bapak Nasril. Untuk itulah beliau dan beberapa rekan seangkatan dia berinisiatif membuat kegiatan yang dapat meringankan masyarakat. Maka terciptalah kegiatan batobo konsi, awal mula batobo konsi hanya memiliki 10 anggota, itu pun hanya keluarga keluarga dari bapak Nasril seperti anak beliau, keponakan beliau, urang sumando ( abang ipar ) beliau. Kegiatan ini tentu sangat menbantu masyarakat yang memang memilki biaya terbatas dalam bertani.
Tidak perlu menunggu waktu lama, hanya dalam hitungan minggu anggota kelompok tani batobo konsi terus bertambah, hingga sekarang berjumlah 67 orang. Mengingat umur bapak Nasril yang sudah kepala enam tentu kesehatannya sudah tidak memungkin dia untuk aktif lagi dalam bertani. Bapak Nasril hanya tergabung dalam anggota batobokonsi sebagai oaring yang dituakan, tempat para petani bertanya tentang cara bercocok tanam dan menjadi teladan bagi para petani.
2. Hendri
Usia : 45tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Pekerjaan : Petani
Bapak Hendri bukan penduduk asli Desa Padang Ranah, beliau lahir diDesa Silokek sekitar dua jam perjalanan dari Desa Padang Ranah. Dikampung aslinya Silokek bapak Hendri bekerja sebagai penambang pasir. Karena wilayah Silokek dialiri sungai yang memiliki banyak pasir. Pada usia 27 tahun bapak Hendri menikah dengan ibu Busni yang merupakan penduduk asli Desa Padang Ranah. Karena adat perkawinan didesa padang ranah suami ikut istri, secara otomatis pekerjaanpun berubah. Bisa saja bapak Hendri melanjutkan pekerjaannya yang lama tapi pasti akan memakan waktu dan biaya.
Satu tahun penikahan bapak Hendri tetap menekuni pekerjaannya yang lama sebagai penambang pasir, karena dikampung istrinya bapak Hendri harus belajar cara bertani, sementara dari kecil sampai menikah bapak Hendri sama sekali tidak paham cara bertani. Dua tahun menikah bapak Hendri mulai belajar bertani, beliau dibimbing ayah mertuanya dalam bertani. Tentu banyak kendala yang dihadapi, semua pekerjaan berantakan. Apalagi kalau belajar sama bapak mertua aka nada rasa canggung.
bapak Hendri juga masih kebingungan dengan kegiatan itu, namun setelah dijelaskan rekan rekannya dia jadi mengerti.
Bapak Hendri dibimbing oleh sesama anggota batobokonsi, diajarkan bagaimana cara menyemai benih, menanam, memupuk, menyiang, hingga proses panen. Banyak hal yang didapat dari batobokonsi, selain hemat biaya juga nambah ilmu.
3. Sudirman
Usia : 55 tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Petani
Bapak Sudirman hanya memperoleh pendidikan sampai Sekolah Dasar, itu pun tidak sampai tamat. Saat berusia 18 tahun, bapak Sudirman pergi merantau keMalaysia, karna tradisi masyarakat ditempat dia tinggal kalau sudah besar tidak lagi tinggal sama orang tua, sehingga kawan-kawannyapun banyak yang merantau ke Malaysia. Hanya 2 tahun bapak Sudirman betah dirantau orang, pada usia20 tahun bapak Sudirman kembali kekampung halamannya. Bapak Sudirman lebih memilih bekerja sebagai seorang petani, memanfaatkan lahan persawahan milik orang tuanya. Setelah 3 tahun bekerja sebagai petani, bapak Sudirman mencoba kerja jadi kuli bangunan yang gajinya lebih besar dari pada bertani. Dimana ada proyek pembuatan rumah pak Sudirman ikut serta. Hingga pada suatu hari bapak Sudirman bekerja di Desa Padang Ranah untuk proyek pembuatan rumah salah satu warga, disinilah awal perkenalan bapak Sudirman dengan istrinya sekarang. Tanpa menungggu waktu lama kurang dari 6 bulan bapak Sudirman sama ibuk Fifi menikah. Setahun setelah menikah, bapak Sudirman dikarunia anak laki-laki dan total semua anak bapak Sudirman yaitu 4 orang
merugi. Namun setelah 5 tahun menikah, semua warga desa juga sudah kenal, maka bapak Sudirman ikut kegian batobo konsi. Menurut bapak Sudirman kegiatan batobokonsi ini sangat membantu kegiatan bertaninya, dia tidak perlu keluar banyak biaya untuk pengelolaan sawahnya. Bapak Sudirman memilih ikut bergambung dalam kelompok tani ini ( batobo konsi ) karena kegiatannya tidak menyita waktu. Bapak Sudirmann masih bisa beraktifitas diluar kegiatan pertanian seperti kuli bangunan. Selain itu menurut bapak Sudirman kegiatan batobo konsi ini juga membawa perubahan positif dilingkungannya, karena setiap warga khususnya laki laki akan memiliki rasa setia kawan, tidak ada yang saling menjatuhkan, kalau ada kendala dalam mengelola lahan pertanian mereka akan mencari solusi bersama.
4. Hasan
Usia : 43 tahun
Jenis kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Petani
dikarunia 2 orang anak dari istri keduanya. Hal ini membuat keadaan semakin sulit, bapak Hasan harus menjadi kepala keluarga dan menjadi penanggung jawab adik adiknya, sehingga bapak Hasan tidak memikirkan untuk berumah tangga. Namun pada tahun 1991 bapak Hasan dijohkan oleh neneknya, sehingga pada tahun itu juga bapak Hasan menikah.
Bapak Hasan dikarunia 2 orang anak. Sehari hari bapak Hasan bekerja sebagai petani. Awalnya semua kegiatan dilakukan sendiri dan terkadang dibantu oleh istrinya dalam mengelolah lahan pertanian. Namun itu pun masih kurang, karna lahan pertanian yang cukup luas. Sehingga juga diperlukan tenaga orang untuk membantu pengerjaan lahan. Biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit, untuk satu orang pekerja dibayar dengan upah 60 ribu satu hari, dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Upah 60 ribu tersebut merupakan upah bersih yang diterima, sementara untuk makan dan minum di tanggung sama pemilik lahan. Jadi kalau ditotal biaya yang dikeluarkan 90 ribu untuk satu orang. Biasanya bapak Hasan memperkerjakan 5 orang untuk sekali proses penggarapan .
didapat selama bapak Hasan bergabung dalam kegiatan batobo konsi ini, ada saling tukar pikiran antar sesama anggota. Mulai dari pengelolaan lahan sampai panen dilakukan.
5. Syafaruddin
Usia : 59
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Petani
Lahan pertanian yang dimiliki bapak Syafaruddin ini merupakan warisan dari orang tuanya. Jenis tanaman yang ditanami adalah tanaman padi, namun terkadang setelah panen padi bapak Syafaruddin juga menanam sayuran seperti kacang panjang dan cabe. tahun pertama Bapak Syafaruddin menanam padi dan separuh tahun berikutnya menanam kacang panjang dan cabe. Menurut bapak Syafaruddin hal tersebut biasa dilakukan oleh petani di Desa padang ranah dalam setiap tahunnya.Berdasarkan penuturan Bapak Syafaruddin penghasilan dari hasil bercocok tanam dalam satu bulannya tergantung pada hasil panen dan tergantung pada nilai jual. Dalam aktifitas bertani hampir semua masyarakat di desa ini menggunakan sistem batobokonsi, mulai dari penanaman dan pemupukan sampai memanen hasil. Menurut Bapak Syafaruddin petani paling sering menggunakan sistem batobokonsi pada tanaman padi saja, sementara untuk berkebun masyarakat lebih memilih sendiri secara bertahap.
Adapun hambatan-hambatan yang pernah dialami Bapak Syafaruddin dalam bertani adalah kurangnya modal sehingga ia mengalami kesulitan untuk mengembangkan usahanya.
6. Syarul
Usia : 30
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Bapak Syarul sudah 30 tahun tinggal di Desa padang ranah, beliau adalah salah satu dari beberapa petani yang belum berumah tangga tapi bisa dikatakan cukup berhasil sebagai petani, hal ini bisa dilihat di usianya yang masih muda ia dapat membeli sepeda motor dan membayar biaya kuliah dari hasil panennya sendiri. Yang membuat Ia bertahan menjadi petani adalah pekerjaan sebagai petani dapat disesuaikan waktunya dengan waktu ia sekolah. Selain itu menurut pak Syarulbekerja sebagai petani tidak terikat dengan aturan dari orang lain dengan kata lain bekerja sebagai petani yang Ia jalani bisa menjadi atasan bagi dirinya sendiri.
Dari umur 18 tahun Ia sudah mulai bekerja sebagai petani, berawal dari membantu usaha orangtua yaitu bercocok tanam di kebun serta membantu memanen hasil tanamannya setiap pulang sekolah. Dari sanalah Ia mendapat uang saku sehingga menimbulkan ketertarikannya untuk memiliki usaha sendiri dalam bercocok tanam. Dari keseriusan Bapak Syarul dalam bertani membuat orang tuanya memberikan lahan kepadanya untuk dikelola sendiri.. Adapaun hambatan utama yang dialami pak Syarul adalah kurangnya modal saat akan menanam bibit serta keterbatasan lahan yang ia miliki sehingga hasil dari pertaniannya tidak terlalu besar.
Interpretasi data
Jika dilihat dari sejarahnya, batobokonsi terbentuk karena setiap individu tidak mampu mengerjakan lahan pertaniannya sendiri, setiap individu membutuhkan bantuan satu sama lain. Dari sinilah masyarakat setiap melakukan aktivitas pertanian selalu gotong royong yang istilah masyarakat desa padang ranah disebut batobokonsi.
“ saya ikut dalam anggota batobokonsi ini ya karena saya ngak kuat kalau kesawah sendiri, kalau bayar upah orang mahal, tapi kalau ikut batobokonsi ini cuma tukar tenaga, kalau hari ini saya kesawah bapak itu, besoknya bapak itu yang kesawah saya. Udah gitu kalau setiap kamis malam kami para anggota ngumpul semua disurau, nantik disana kami bahas tentang cara nanam padi yang bagus, cara pemupukan yang benar, sampai cara panen. Batobokonsi ini sangat hemat biayalah pokoknya, nantik kalau orang orang lagi kerja ditempat saya, saya cukup menyediakan makan siang sama minuman dingin, kadang kalau ada panganan saya kasih juga “ ( Sudirman )
Begitu juga yang dikemukakan bapak Hendri
“ kalau ikut batobo konsi ini ngak rugilah kita, malah untung. Sistem batobokonsi ini sebenarnya sudah lama, udah hampir 20 tahunanlah. Tapi saya baru ikut baru 5 tahun, enaklah pokoknya, awak ngak perlu keluar biaya banyak, paling Cuma ngasih makan aja udah. Kerjaan cepat siap, karna saya kalau ngambil orang bisa 10 orang, jadi dalam satu hari siap “
4.3 Sistem Kekerabatan Pada Masyarakat Petani Desa Padang Ranah, Kecamatan Sijunjung
4.3.1 Pemerintah Kabupaten
Mengutip dalam Raharjo (2004: 163) menjelaskan bahwa lembaga sosial memilki beberapa karakteristik yang terlekat padanya. Beberapa diantaranya adalah: tiap lembaga memiliki nilai-nilai pokok yang bersumber dari para anggotanya, dan pelbagai lembaga dalam suatu masyarakat memiliki keterkaitan satu sama lain (periksa Bruce J. Cohen, terjemahan Bina Aksara, 1983).
Menyangkut proses keberadaannya, lembaga bisa diciptakan dengan sengaja seperti yang terjadi pada sebuah organisasi, di samping juga ada yang tercipta secara tidak sengaja. Contoh dari jenis pertama misalnya lembaga hutang-piutang, lembaga pendidikan, dan lainnya. Untuk masyarakat desa yang masih bersahaja, keberadaan dan peran dari jenis lembaga yang kedua tersebut sangat penting. Proses pembentukannya yang lama dan topangan adat-istiadat yang menjadi akar keberadaanya mengakibatkan sangat kuat dan besarnya semacam ini umumnya sulit berubah (Raharjo, 2004: 163).
masyarakat, serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Desa (Raharjo, 2004: 178).
Pemerintah kecamatan sijunjung terdiri dari pemerintah desa dan badan permusyawaratan desa (BPD), antara pemerintah desa dengan BPD dapat melakukan kerjasama dan bermitra dengan baik untuk menciptakan roda pemerintahan kecamatan sijunjung yang baik dan dapat melayani masyarakat dengan baik.
4.3.2 Pemerintah Desa
Pemerintahan Desa Padang Ranah sendiri dipimpin oleh kepala desa dan didukung oleh sekretaris desa, kepala-kepala urusan dan juga didukung oleh para kepala dusun se-Desa Padang Ranah.
Jumlah personil pemerintahan desa adalah sebagai berikut :
Kepala Desa : 1 orang
Sekretaris Desa : 1 orang
Kepala Urusan : 5 orang
Kepala Jorong : 3 orang
Staf Pembantu : 2 orang
Badan Permusyawaratan Desa Padang Ranah adalah suatu lembaga yang lahir dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, ketua jorong, golongan fraksi dan lain lain. Dalam proses penetapan pengurus BPD dilakukan dengan musyawarah/mufakat. Adapun jumlah pengurus BPD Desa Padang Ranah ada 8 orang, terdiri dari :
Ketua : Zulfahendri
Wakil Ketua : Feriadi
Sekretaris : Mona Lisa
Anggota :1. Nurzali
2. Datuak Kotik endah
3. Bahrudin
4. Mahmud
5. Ahmad rasyid
4.3.3 Koperasi Unit Desa (KUD)
meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Dengan demikian Unit Desa mengemban fungsi-fungsi penyuluhan pertanian (modern), pengolahan dan peningkatan produksi pertanian, serta juga harus dapat menjamin perkembangan ekonomis wilayahnya (Raharjo, 2004: 184).
Berdasarkan hasil penelitian di Desa Padang Ranah KUD difungsikan sebagai sarana simpan pinjam bagi warga desa untuk meningkatkan kesejahteraan warga khususnya dibidang pertanian.
Hal inidiungkapkan oleh salah satu informan yaitu:
“Ya bisa membantu perekonomian di sini, terus kalo mau minjam pun gampang terus jadi lebih sering ketemu dengan orang lain yang juga anggota di sini, banayak untungnyalah kalo jadi anggota koperasi ini apa apa jadi ngampang, awak mau minjam duit pun gampang.”( Zulkifli )
Hal ini juga ditegaskan oleh:
Hal ini juga didukung oleh:
“Dulu sebelum ada koperasi payah, tau lah orang kampung ini, dapat duit Cuma sekali seminggu. Kalau lagi ngk ada duit buat beli bibit ya terpaksa ngutanglah dikoperasi, nantik kalau udah ada uang bayar, untung orang koperasinya ngerti pulak sama keadaan kami.”( Hasan )
Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa masyarakat Desa Padang Ranah memanfaatkan adanya Koperasi Unit Desa dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam mengolah sistem pertanian sehingga dapat mensejahterakan ekonomi keluarga. Selain itu juga, KUD berperan penting dalam menguatkan rasa solidaritas sosial di antara masyarakat petani Desa Padang Ranah.
4.3.4 Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK)
Mengutip dalam Raharjo (2004: 180) bahwa dalam kegiatannya untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga itu, PKK terkenal dengan 10 program pokoknya, yakni:
- Penghayatan dan pengamalan Pancasila - Gotong Royong
- Sandang - Pangan
- Perumahan dan tata laksana rumah tangga - Pendidikan dan keterampilan
- Kesehatan
- Mengembangkan kehidupan berkoperasi - Kelestarian lingkungan hidup
- Perencanaan sehat
Pada Desa Padang Ranah kegiatan PKK dilaksanakan oleh ibu-ibu rumah tangga yang mendukung perkembangan desa menjadi lebih maju dalam segala hal khususnya perkembangan pembangunan desa.
Seperti yang dikemukakan oleh:
kosongnya, nantik kami Tanami singkong sama sayuran, kalau yang magarin bapak bapak lah dek.”( Fifi)
Hal ini juga diungkapkan oleh
“Ibu jadi anggota pkk ini sejak gadis, udah mau jalan 10 tahun lah, dulu awalnya ngak jelas juga arahnya kemana, tapi lama kelamaan, ganti ketua, ganti pengurus, udah jadi jelas lah kegiatannya. Ada kegiatan mingguan, itu kami adakan hari minggu, karna hari minggu kan hari libur, karna anggota pkk ini kan dari semua kalangan, ada pegawai, ada pns juga, banyak lah manfaatnya dek, selain ibik ibuk bisa kompak dalam mengurus desa, banyak hasil juga yang didapat kalau sudah panen dikebun kami.”( Busni )
Hal ini juga ditegaskan oleh
“Oh, ibuk baru dua tahun ini bergabung, karna baru ditempatkan tugas dipuskesmas sini, jadi gabunglah sama ibik ibuk ini. Walaupun masih anggota baru, ibuk ibuk yang lain ngk pelit ilmu, nantik diajarkan ini kek mana cara nanamnya, dulu ibuk tinggal di bukittinggi, ada juga pkk Cuma ibuk ngk jadi anggota.”( Rini )
konsi maka ibu-ibu anggota pkk ikut berpartisipasi dalam melancarkan kegiatan kegiatan tersebut.
4.3.5Perwiritan
Perwiritan adalah acara pengajian ibu ibu yang dipimpin oleh seorang ustadz di lingkungan desa padang ranah. Biasanya diadakan setiap jum’at malam.
Acaranya dilakukan secara bergilir dari rumah kerumah. Jumlah anggota perwiritan didesa padang ranah berjumlah 30 orang, jumlah ini bisa bertambah bisa juga berkurang. Acaranya dimulai dengan shalat magrib berjama’ah, dilanjutkan dengan
pengajian dan ceramah. Acara diakhiri dengan makan malam yang telah disiapkan tuan rumah.
4.3.6 Remaja Surau
remaja surau didesa padang ranah diisi oleh laki laki remaja. Karena didesa ini anak yang sudah beranjak remaja akan dikirim oleh orang tuanya kesurau untuk mengaji dan shalat.
4.3.7Batobo Konsi
mereka dalam mengelola pertanian, karena para petani merasakan manfaat yang besar dari batobokonsi ini maka diadakan musyawarah untuk membentuk sistem batobokonsi yang lebih luas bukan hanya antara petani yang memiliki ikatan keluarga namun juga diadakan antara sesama petani di desa padang ranah, sijunjung sumatera barat.
Hal ini seperti yang dikatakan salah satu informan yang merupakan salah satu petani yang telah lama menetap di Desa padang ranah.
“batobokonsi terbentuk karena saya tidak sanggup kerja sendiri saya butuh bantuan petani lain, begitu juga sebaliknya petani lain juga butuh bantuan saya. waktu itu saya dan petani lain mupakat(musyawarah), bagaimana caranya supaya kerja lebih ringan dan kami sepakat menggunakan sistem batobokonsi. Sebelumnya sistem batobokonsi begini...mmm jika petani lain menolong pekerjaan saya di kebun atau di sawah, dalam satu hari saya harus menyediakam makan siang untuk para petani yang ikut batobokonsi tersebut. “( Syafaruddin )
Begitu juga berdasarkan penuturan Bapak bahwa :
keluarga sendiri. Saya dan adik saya maupun saudara yang lain sering saling membantu. Kami mulai terbiasa dengan cara kerja secara bersama-sama, lebih cepat siap lagi kerjanya, kerja sendiri lama. Kalo mau kerja secara bayar, kami tidak ada uang untuk bayar orang. Lama-lama batobokonsi berlaku bagi semua petani di desa ini karena batobokonsi ini sangat membantu selain itu juga mengakibatkan sesama petani menjadi lebih akrab dan dekat.”( Hendri )
Hal senada juga disampaikan salah satu informan yang telah lama bermata pencaharian sebagai petani :
“batobokonsi telah menjadi sistem kerja secara turun -temurun di desa ini, berawal dari kurangnya modal yang saya miliki untuk membayar ongkos petani lain yang bekerja di kebun saya. Sehingga kami sering batobokonsi sesama keluagra sendiri hingga akhirnya ada kesepakatan bersama menggunakan sistem batobokonsi dengan petani -petani lainnya. Pengaruh pertama akibat adanya batobokonsi bagi petani adalah kehidupan sosial sesama petani menjadi sangat tinggi dan erat, selain itu batobokonsi juga kegiatan yang membantu sesama yang merupakan bentuk kepedulian sesama petani.”( Nasril )
padang ranah berawal dari aktifitas yang sudah dilakaukan oleh petani-petani terdahulu. Para petani mengadakan musyawarah untuk mengadakan sistem batobokonsi disebabkan karena para petani tidak sanggup mengerjakan kebun atau sawah masing-masing, sedangkan aktifitas batobokonsi yang sebelumnya hanya dilakukan sebatas sesama keluarga dirasakan akan memberikan manfaat yang besar bagi aktifitas pertanian karena dilakukan secara gotong royong sehingga tidak mengeluarkan biaya yang cukup besar. Selain itu faktor kekurangan modal juga menjadi salah satu faktor pendorong terbentuknya kegiatan batobokonsitersebut, biasanya bagi para petani desa padang ranah akan membutuhkan modal yang cukup besar ketika mulai menanam bibit karena banyak dan kualitas bibit yang baik akan sangat berpengaruh pada hasil panen. Dalam perawatan tanaman juga membutuhkan modal yang besar untuk pembelian pupuk dan membayar ongkos orang yang akan mengerjakan lahan tersebut sehingga dengan adanya batobokonsi akan mengurangi biaya yang dikeluarkan petani untuk membayar ongkos orang kerja karena lahan dikerjakan dengan cara bergotong royong.
4.4 Proses PelaksanaanBatobokonsi dan Tahapan-Tahapannya
petani yang diundang untuk kegiatan batobokonsi disesuaikan dengan luasnya lahan yang akan dikerjakan. Sistem kerja batobokonsibiasanya kan berlangsung secara bergantian, jika satu hari petani mengadakan batobokonsi maka petani tersebut akan membalasnya satu hari juga ke petani yang lain yang ikut dalam kegiatan batobokonsitersebut. Tidak