28
BAB II
KOMPETENSI PROFESIONAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN PRESTASI BELAJAR SISWA
Masalah kompetensi profesional guru merupakan salah satu dari
kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan
apapun.1 Guru adalah jabatan profesional yang memerlukan berbagai
keahlian khusus. sebagai suatu profesi maka harus memenuhi kriteria
profesional.2
A. KompetensiProfesional Guru PAI
1. Pengertian Kompetensi ProfesionalGuru
Istilah kompetensi diartikan sebagai perpaduan antara
pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam
pola berpikir dan bertindak atau sebagai seperangkat tindakan cerdas dan
penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk
dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai
dengan pekerjaan tertentu.
Kompetensi menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia adalah
(kewenangan) kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan suatu
1
Omar Hamalik, Pendidikan Guru
BerdasarkanPendektanKompetensi,(Jakarta:BumiAksara, 2003),hlm.34.
2
hal.3Kompetensi menunjuk kepada kemampuan melaksanakan sesuatu
yang diperoleh melalui pembelajaran dan latihan.4 Kompetensi ini ada
beberapa rumusan atau pengertian yang perlu dicermati yaitu kompetensi
(competence), menurut Hall dan Jones sebagaimana dikutip oleh Masnur
Muslich, yaitu pernyataan yang menggambarkan penampilan suatu
kemampuan tertentu secara bulat yang merupakan perpaduan antara
pengetahuan dan kemampuan yang dapat diamati dan diukur.5
Sedangkan menurut Peter Salim, kompetensi juga berarti “quality
of condition of being legally quikified, eligible, or admissible, yakni
kualitas atau keadaan memenuhi syarat atau yang dapat diterima menurut
ketentuan hukum.”6Richards menyebutkan bahwa istilah kompetensi
mengacu pada perilaku yang dapat diamati, yang diperlukan untuk
menuntaskan kegiatan sehari-hari. Sedangkan Spencer dan Spencer dalam
Hamzah B. Uno mengatakan bahwa kompetensi merupakan karakteristik
yang menonjol bagi seseorang dan menjadi cara-cara berperilaku dan
berfikir dalam segala situasi, dan berlangsung dalam periode waktu yang
3
Tim Penyusun Kamus Depdikbud, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Reality Publisher, 2008), hlm. 379.
4
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 96.
5
Masnur Muslich, KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual: Panduan Bagi Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah,(Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 15.
6
lama.7Menurut Uzer Usman bahwa kompetensi guru merupakan suatu kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya
secara bertanggung jawab dan layak.8Kompetensi juga dapat diartikan
sebagai kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui
pendidikan dan latihan.9
Menurut Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen bahwa, kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan,
dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau
harusdimiliki, dihayati, dikuasaidandiaktualisasikanoleh guru
dalammelaksanakantugaskeprofesionalan.11
Sedangkan dalam PP No: 74 Tahun 2008 tentang Guru, pasal 3 ayat (7)
menyatakan bahwa:
Kompetensi profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan kemampuan guru dalam menguasai bidang ilmu
7
Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan, Problema, Solusi dan Reformasi Pendidikan di Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm. 63.
8
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002), hlm.14.
9
Piet A. Suhertian dan Ida Alaida Suhertian, Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Program Inversive Education, (Bandung : Rineka Cipta, 1992), hlm.4.
10
Lihat selengkapnya, Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
11
pengetahuan, tekonologi, dan/atau seni dan budaya yang diampunya, yang sekurang-kurangnya meliputi penguasaan:
a. materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan
standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan / atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu; dan
b. konsep dan metode disiplin keilmuan, tekonologi,atau seni yang
relevan, yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran/atau pelosok mata
pelajaran yang akan diampu.12
Profesionalharusdimulaidaridirisendirisebagaimanadisebutkan
dalam al-Qur’an berikut:
اَِِ ٌرِبَخ َهللا نِإ َهللا اوُق تاَو ٍدَغِل ْتَمدَق ام ٌسْفَ ن ْرُظنَتْلَو َهللا اوُق تا اوُنَمآ َنيِذلا اَه يَأ اَي
َنوُلَ ْ َ ت
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah danhendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr: 18).
Sedangkan pengertian guru sebagaimana dijelaskan dalam
Undang-undangRepublik Indonesia(RI)No.14tahun2005 tentang Guru danDosen,
Pasal1 ayat(1) , bahwa:
Guru adalah tenaga profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia sekolah pada
jalur pendidikan formal, pendidikan dasar
danpendidikanmenengah.
Guru sebagai pendidik harus bertanggung jawab menyampaikan
materi pelajaran kepada murid, tetapi juga harus mampu membentuk
12
kepribadian murid. Lebih–lebih guru pendidikan agama Islam.13Secara umum, fungsi atau peranan penting guru dalam proses belajar mengajar di
sekolah adalah sebagai direktur belajar. Artinya setiap guru diharapkan
untuk pandai-pandai mengarahkan kegiatan belajar siswa agar mencapai
keberhasilan belajar sebagaimana yang telah ditetapkan dalam sasaran
kegiatan proses belajar mengajar.14
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI no: 16 tahun
2007 pasal 1 ayat (1) disebutkan bahwa:
Setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional.
2. Guru Pendidikan Agama Islam
a. Makna Guru Pendidikan Agama Islam
Dalam UU No: 16 Tahun 2007 pasal I ayat (7) menyatakan:
Guru pendidikan agama adalahpendidik professional
dengantugasutamamendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih,
memberiteladandanmengevaluasipesertadidik.15
Sedangkandalampasal I ayat (8) disebutkan:
Pembina pendidikan agama adalahseseorang yang
memilikikompetensibidang agama yang ditugaskanoleh yang
13
Zuhairini Abd Ghafir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ,Malang: UMM Press, 2004, h. 18-19.
14
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Rosda Karya, 2000), hlm. 222.
15
berwenanguntukmendidikdanataumengajarpendidikan agama
padasekolah.16
Dalam pengertian yang sederhana guru adalah orang yang
memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan
masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat
tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga di
masjid, di surau/musala, di rumah dan sebagainya.17
Dalam konteks pendidikan Islam, pendidik sering disebut dengan
istilah murabbi, mu‟allim, mu‟addib. Ketiga tema tersebut mempunyai
tempat penggunaan sendiri. Di samping itu istilah pendidikan kadangkala
disebut melalui gelarnya, seperti istlah al-ustāż, dan asy-syaikh.18
DalamUundang-undangRepublik Indonesia no 20 Tahun 2003
tentangSistemPendidikanNasional Bab 1 Pasal 1 Ayat 6
dinyatakan“Bahwapendidikanadalahtenagakependidikan yang
berkualifikasisebagai guru, dosen, konselor, pamongbelajar, widyaiswara,
tutor, instruktur, fasilitator, dansebutan lain yang
sesuaidengankekhususanya,
sertaberpartisipasidalammenyelenggarakanpendidikan”. Selanjutnya,
pendidik secara khusus dinyatakan pada Bab XI pasal 39 dinyatakan dalam
butir (2) Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas
merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil
pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan
penelitian dan pengabdian pada masyarakat, terutama bagi pendidik pada
perguruan tinggi.
Undang-undang tersebut di atas, menegaskan kepada publik
tentang tiga hal, yaitu :
1) Pendidik haruslah profesional melaksanakan tugasnya,
2) Tugas pendidik pada satuan pendidikan dasar dan menengah adalah
mengajar, mendidik, membimbing, merlatih dan menilai peserta
didik.
3) Tugas pada satuan pendidikan tinggi, selain di atas, ditambahkan
lagi dengan melakukan pengabdian pada masyarakat.
4) Pendidik yang bertugas pada satuan pendidikan dasar dan
menengah dinamai guru, sedangkan yang di satuan pendidikan
tinggi dinamai dosen.19
Sedangkan definisi dari pendidikan agama Islam yaitu usaha yang
diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak yang sesuai dengan
ajaran Islam atau suatu upaya dengan ajaran Islam, memikir, memutuskan
19
dan berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, serta bertanggung jawab sesuai
dengan nilai-nilai Islam.20
Jadi yang di maksud Guru Pendidikan Agama Islam (PAI)
adalahtenaga pendidik yang mentrasformasikan ilmu dan pengetahuannya
kepada anak didik, dengan tujuan mereka menjadi pribadi-pribadi yang
memiliki prilaku yang baik atas dasar nilai-nilai ajaran Islam.
Guru pendidikan Agama Islam (GPAI) pada sekolah umum
merupakan figur atau tokoh utama disekolah yang diberi tugas, tanggung
jawab dan wewenang secara penuh untuk meningkatkan kualitas peserta
didik dalam bidang pendidikan agama Islam yang meliputi tujuh unsur
pokok, yaitu :keimanan ,ibadah, al-Qur’an, akhlak, syari’ah, mu’amalah
dan tarikh, sehingga mereka (peserta didik) meyakini,memahami,
menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari
baik berbagai pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.21
b. Syarat, Kualifikasi dan Kompetensi Guru PAI
Guru Pendidikan Agama Islam yang baik adalah guru agama dapat
memenuhi tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ia hendaklah
senantiasa bertakwa kepada Allah SWT, berilmu, serta sehat jasmani.22
20
Zuhairini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Aksara, 2009). Hlm.152.
21
Hadirja Paraba, Wawasan Tugas Tenaga Guru Dan Pembina Pendidikan Agama Islam,(Jakarta: Friska Agung Insani,2000), hlm.5-6.
22
Sedangkan Al Abrasyi mengemukakan pendapatnya tentang
syarat-syarat guru agama Islam adalah sebagai berikut :
a) Bersikap zuhud, yakni ikhlas menunaikan tugas karena allah dan
bukan semata- mata bersifat materialis;
b) Bersih jasmani dan rohani, berpakaian bersih dan rapi serta berahlak
mulia;
c) Bersifat pemaaf, sabar dan lapang dada;
d) Bersikap sebagai bapak anak didik, yakni menyenangi anak didik
seperti mencintai anak kandungnya sendiri;
e) Mengetahui tabiat dan tingkat berfikir anak didik;
f) Menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan kepada anak didik.23
Dari syarat–syarat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa guru
harus bekerja sesuai dengan ilmu mendidik dengan disertai ilmu
pengetahuan yang cukup luas dalam bidangnya serta dilandasi rasa
berbakti yang tinggi.
Setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan
kompetensi guru yang berlaku secara nasional. Adapun, standar kualifikasi
akademik dan kompetensi guru sebagaimana dimaksud pada Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007
tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru Pasal I ayat
(1)adalah:
23
1) Kualifikasi Akademik Guru Melalui Pendidikan Formal
Kualifikasi akademik guru pada satuan pendidikan jalur formal
mencakup kualifikasi akademik guru pendidikan Anak Usia Dini/
Taman Kanak-kanak/ Raudatul Atfal (PAUD/TK/RA), guru
sekolah dasar/ madrasah ibtidaiyah (SD/MI), guru sekolah
menengah pertama/ madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), guru
sekolah menengah atas/ madrasah aliyah (SMA/MA), guru sekolah
dasar luar biasa/sekolah menengah luar biasa/sekolah menengah
atas luar biasa (SDLB/SMPLB/SMALB), dan guru sekolah
menengah kejuruan/ madrasah aliyah kejuruan (SMK/ MAK),
sebagai berikut.
2) Kualifikasi Akademik Guru Melalui Uji Kelayakan dan Kesetaraan
Kualifikasi akademik yang dipersyaratkan untuk dapat diangkat
sebagai guru dalam bidang-bidang khusus yang sangat diperlukan tetapi
belum dikembangkan di perguruan tinggi dapat diperoleh melalui uji
kelayakan dan kesetaraan. Uji kelayakan dan kesetaraan bagi seseorang
yang memiliki keahlian tanpa ijazah dilakukan oleh perguruan tinggi yang
diberi wewenang untuk melaksanakannya.24
DalamUU No: 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal10
ayat(1) disebutkanbahwa:
24
Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi social, dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.25
DalamPeraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia
Nomor 16 Tahun 2007 disebutkanbahwa, standar kompetensi guru ini
dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi
pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi
tersebut terintegrasi dalam kinerja guru.
Standar kompetensi guru mencakup kompetensi inti guru yang
dikembangkan menjadi kompetensi guru PAUD/TK/RA, guru kelas
SD/MI, dan guru mata pelajaran pada SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan
SMK/MAK sebagai berikut.
Selanjutnyakompetensiprofesional guru PAI
dapatdilihatpadaPeraturanMenteriPendidikanNasional RI No.16 Tahun
diampu. Menganalisismateri, struktur, konsep,
Dari pemahaman mengenai standar kualifikasi akademik dan
Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang
Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru Pasal I ayat (1),
standar kualifikasi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah guru yang
memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat
(D-IV) atau sarjana (S1) program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang
diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi Pendidikan Agama
Islam (tarbiyah) yang terakreditasi.
Sedangkan di antara model untuk meningkatkan dan
mengembangkan profesionalitas guru PAI adalah “growth with charajter”
yaitu pengembangan profesionalitas yang berbasis karakter dengan
mendasarkan pada tiga pilar yaitu keunggulan (excellence), semangat kuat
untuk menjadi profesional (passion for profesionalisme), dan etka
(ethical). Dengan menggunakan model tersebut, profesionalitas dapat
dikembangkan dengan mendinamiskan tiga pilar tersebut secara kontinu
dan berkesinambungan.26
Strategi yang dapat dipakai dalam rangka untuk mengembangkan
profesionalisme guru PAI, pemerintah mengadakan pelatihan untuk guru.
Hal itu biasanya dilakukan berkelompok, misalnya KKG atau MGMP
guru.
1) KKG PAI ( KelompokKegiatan Guru PAI)
Jenjang keahlian guru yang digunakan sebagi standar dalam
kegiatan KKG adalah guru biasa, yaitu guru mata pelajaran dengan
26
berbagai latar pendidikan dan jenjang pendidikan yang sangat
beragam, mulai dari D1 sampai dengan S1.
2) MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran)
MGMP (musyawarah guru mata pelajaran) adalah forum
atau wadah kegiatan professional guru mata pelajaran sejenis di
sanggar. Pengertian musyawarah mencerminkan kegiatan dari,
oleh, dan untuk guru, sedangkan guru matelajaran yang dimaksud
di sini adalah guru di tingkat sekolah menengah.
Adapun tujuan MGMP anatra lain, adalah :
a) Menumbuhkan kegairahan guru untuk meningkatkan
kemampuan dan keterampilan dalam mempersiapkan,
melaksanakan, dan mengevaluasi program kegiatan belajar
mengajar (KBM);
b) Menyetarakan kemampuan dan kemahiran guru dalam
melaksanakan KBM sehingga dapat menunjang usaha
peningakatan, dan pemerataan mutu pendidikan;
c) Mendiskusikan permasalahan yang dihadapi oleh guru
dalam melaksanakan tugas sehari-hari dan mencari cara
penyeleseian yang sesuai dengan karakteristik mata
pelajaran, guru, kondisi sekolah dan lingkungan.27
c. Peran Guru dalam Pembelajaran
27
Semua orang yakin bahwa guru memiliki andil yang sangat besar
terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan
dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan
hidupnya secara optimal.28
Menurut Ramayulis,29 diantara tugas pendidik itu secara khusus
adalah sebagai “warasat al-Anbiya “ yang pada hakikatnya
mengmbangkan misi “rahmatan li al-„alamin” yakni mengembangkan
misi yang mengajak manusia untuk tunduk dan patuh terhadap
hukum-hukum Allah, guna memperoleh keselamatan dunia dan akhirat, kemudian
misi ini dikembangkan pada pembentukan kepribadian yang berjiwa
tauhid, kreatif, beramal shaleh dan bermoral tinggi.
Masih ada sementara orang yang berpandangan, bahwa peranan
guru hanya mendidik dan mengajar saja. Mereka itu tak mengerti bahwa
mengajar itu adalah mendidik juga. Dan mereka telah mengalami
kekeliruan besar dengan mengatakan bahwa tugas itu hanya
satu-satunyabagi setiap guru.30
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan
identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu,
28
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, hlm.35.
29
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Radar Jaya Ofset,2011),hlm.63.
30
guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup
tanggungjawab, wibawa, mandiri dan disiplin.31
Banyak peranan yang diperlukan dari guru sebagai pendidik, atau
siapa saja yang telah menerjunkan diri menjadi guru. Semua peranan yang
diharapkan dari guru seperti diuraikan di bawah ini.
1) Korektor
Sebagai korektor,guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik
dan mana nilai yang buruk. Kedua nilai yang berbeda ini harus
betul-betul dipahami dalam kehidupan di masyarakat. Kedua nilai ini
mungkin telah anak didik miliki dan mungkin pula telah
mempengaruhinya sebelum anak didik masuk sekolah. Latar belakang
kehidupan anak didik yang berbeda-beda sesuai dengan sosio-kultural
masyarakat di mana anak didik tinggal, akan mewarnai
kehidupannya.Semua nilai yang baik harus guru pertahankan dan
semua nilai yang buruk harus disingkirkan dari jiwa dan watak anak
didik, bila guru membiarkannya, berarti guru telah mengabaikan
peranannya sebagai seorang korektor yang menilai dan mengoreksi
semua sikap, dan tingkah laku perbuatan anak. Koreksi yang guru
harus lakukan terhadap sikap dan sifat anak didiktidak hanya di
sekolah , tetapi diluar sekolah pun harus dilakukan.
2) Inspirator
31
Sebagai inspirator, guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi
kemajuan belajar anak didik. Persoalan belajar adalah masalah utama
anak didik. Guru harus dapat memberikan petunjuk ilham
sebagaimana cara petunjuk belajar yang baik. Petunjuk itu tidak mesti
harus bertolak dari sejumlah teori-teori belajar, dari pengalaman pun
bisa dijadikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik. Yang
penting bukan teorinya, tapi bagaimana melepaskan masalah yang di
hadapi oleh anak didik.
3) Informator
Sebagai informator, guru harus dapat memberikan informasi
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan
pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang lebih diprogramkan dalam
kurikulum, informasi yang baik dan efektif diperlukan dari guru.
Kesalahan informasi adalah racun bagi anak didik. Untuk menjadi
informator yang baik dan efektif, penguasaan bahasalah sebagai
kuncinya, ditopang dengan penguasaan bahan yang akan diberikan
kepada anak didik. Informator yang baik adalah guru yang mengerti
apa kebutuhan anak didik dan mengabdi untuk anak didik.32Karena
benda yang digarap bukan benda mati sebagaimana yang digarap oleh
pemahat, maka guru berkewajiban mengembangkan potensi peserta
didik sedemikian rupa sehingga menjadi pribadi yang kreatif, Untuk itu
dia memberikan kesempatan kepada peserta didik mengajukan
32
pertanyaan, memberikan balikan, memberikan kritik dan sebagainya,
sehingga mereka merasa memperoleh kebebasan yang wajar.33
4) Organisator
Sebagai organisator, adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan dari
guru. Dalam bidang ini guru memiliki kegiatan pengelolaan kegiatan
akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik
dan sebagainya. Semuanya diorganisasikan, sehingga dapat mencapai
efektivitas dan efisiensi dalam belajar pada anak didik.
5) Motivator
Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar
bergairah dan aktif belajar. Dalam upaya memberikan motivasi, guru
dapat mengenalisis motif-motif yang melatarbelakangi anak didik
malas belajar dan menurut prestasinya di sekolah. Setiap saat guru
harus bertindak sebagai motivator, karena dalam interaksi edukatif
tidak mustahil ada di antara anak didik yang malas belajar dan
sebagainya. Motivasi dapat efektif bila dilakukan dengan
memperhatikan kebutuhan anak didik, penganeragaman cara belajar
memberikan penguatan dan sebagainya, juga dapat memberikan
motivasi pada anak didik untuk dapat lebih bergairah dalam belajar.
Peranan guru sebagai motivator sangat penting dalam interkasi
edukatif, karena meyangkut esensi pekerjaan mendidik yang
33
membutuhkan kemahiran sosial,menyangkut performance dalam
personalisasi dan sosialisasi diri.34
6) Inisiator
Dalam peranannya sebagai inisiator, guru harus dapat menjadi
pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses
interaksi edukatif yang ada sekarang harus diperbaiki sesuai
perkembanga ilmu pengetahuan dan teknlogi di bidang pendidikan.
Kompetensi guru harus diperbaiki, ketrampilan penggunaan melalui
pendidikan dan pengajaran harus diperbaharui sesuai kemajuan media
komunikasi dan informasi abad ini. Guru harus menjadikan dunia
penddikan, khususnya interaksi edukatif agar lebih baik dari dulu,
bukan mengikuti terus tanpa mencetuskan ide-ide inovasi bagi
kemajuan pendidikan dan pengajaran.
7) Fasilitator
Sebagai fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang
memungkinkan kemudahan kegiatan belajar anak didik.lingkungan
belajar yang tidak menyenangkan, susana ruang kelas yang pengap ,
meja dan kursi yang berantakan, fasilitas belajar yang kurang tersedia,
menyebabkan anak didik malas belajar. Oleh karena itu menjadi tugas
guru sebagaimana menyediakan fasilitas , sehingga akan tercipta
lingkungan belajar yang meneyenangkan anak didik.
8) Pembimbing
34
Peranan guru yang tidak kalah pentingnya dari semua peran yang telah
disebutkan di atas, adalah sebagai pembimbing, peranan itu harus lebih
di pentingkan,kehadiran guru di sekolah adalah untuk membimbing
anak didik menjadi manusia dewasa susila yang cakap, Tanpa
bimbingan anak diddik akan mengalami kesulitan dalam menghadapi
perkembangan dirinya. Kekurangmampuan anak didik menyebabkan
lebih banyak bergantung pada bantuan guru, tetapi semakin dewasa
ketergantungan anak didik semakin berkurang , jadi bagaimanapun
juga bimbingan dari guru sangat diperlukan pada saat anak didik belum
mampu berdiri sendiri (mandiri),35
Guru juga harus melihat keterlibatan peserta didik dalam
pembelajaran dan yang paling penting bahwa peserta didik
melaksanakan kegiatan belajar itu tidak hanya secara jasmaniah, tetapi
mereka harus terlibat secara psikologis. Dengan kata lain, peserta didik
harus dibimbing untuk medapatkan pengalaman dan mebentuk
kompetensi yang akan mengantar mereka mencapai tujuan, dalam
setiap peserta didik harus belajar , untuk itu mereka harus memiliki
pengalaman dan kompetensi yang dapat menimbulkan kegiatan
belajar.36
9) Demonstrator
Dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran dapat anak didik
pahami. Apalagi anak didik yang memiliki intelegensi yang sedang.
35
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, hlm..46.
36
Untuk bahan pelajaran yang sukar dipahami anak didik, guru harus
berusaha dengan membantunya, dengan cara memperagakan apa yang
diajarkan secara didaktis, sehingga apa yang guru inginkan sejalan
dengan pemahaman anak didik, tidak terjadi kesalahan pengertian
antara guru dan anak didik. Tujuan pengajaran pun dapat tercapai
dengan efektif dan efisien.
10)Pengelola kelas
Sebagai pengelola kelas, guru hendaknya dapat mengelola kelas
dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun semua anak didik
dan guru dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru. Kelas
yang dikelola dengan baik akan menunjang jalannya interaksi edukatif.
Sebaliknya, kelas yan tidak dikelola dengan baik akan menghambat
kegiatan pengajaran. Anak didik tidak mustahil akan merasa bosan
untuk tinggal lebih lama di kelas. Hal ini akan berakibat mengganggu
jalannya proses interaksi edukatif. Kelas yang terlalu padat dengan
anak didi, pertukaran udara kurang, penuh kegaduhan, lebih banyak
tidak menguntungkan bagi terlaksananya interaksi edukatif yang
optimal.
Hal ini tidak sejalan dengan tujuan umum dari pengelolaan
kelas, yaitu menyediakan dan menggunakanfasilitas kelas bagi
bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang
didik betah tinggal di kelas dengan motivasi yang tinggi untuk
senantiasa belajar di dalamnya.
11)Mediator
Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan
pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai
bentuk dan jenisnya, baik media nonmaterial maupun materiil. Media
berfungsi sebagai alat komunikasi guna mengefektifkan proses
interaksi edukatif. Ketrampilan menggunakan semua media itu
diharapkan dari guru yang disesuaikan dengan pencapaian tujuan
pengajaran. Sebagai mediatior, guru dapat diartikan sebagai penengah
dalam proses belajat anak didik.37
12)Supervisor
Sebagai supervisor, guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki
dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran. Teknik-teknik
supervisi harus guru kuasai lebih baik agar dapat melakukan perbaikan
terhadap situasi belajar mengajar menjadi lebih baik. Untuk itu
kelebihan yang dimiliki supervisor bukan hanya karena posisi atau
kedudukan yang ditempatinya, akan tetapi juga karena pengalamannya,
pendidikannya , kecakapannya, atau ketrampilan-ketrampilan yang
dimilikinya, atau karena memiliki sifat-sifat kepribadian yang
menonjol daripada orang-orang yang di supervisinya.
13)Evaluator
37
Sebagai evaluator, guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator yang
baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek
ekstrinstik dan intrinsik. Penilaian terhadap aspek-aspek intrinsik lebih
menyentuh pada aspek kepribadian anak didik, yakni aspek nilai
(values), berdasarkan hal ini guru harus bisa memberikan penilaian
dalam dimensi yang luas. Penilaian terhadap kepribadian anak didik
tentu lebih di uatamakan daripada penilaian terhadap jawaban anak
didik ketika diberikan tes.38
Selain menilai hasil belajar peserta didik, guru juga harus bisa
menilai diri sendiri, baik sebagai perencana, pelaksana, maupun
menilai program pembelajaran. Oleh karena itu dia harus memiliki
pengetahuan yang memadai tentang penilaian program sebagaimana
memahami penilaian hasil belajar.39
3. Konsep Profesional Guru Pendidikan Agama Islam
Guru yang profesional adalah guru yang memiliki seperangkat
kompetensi (pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku) yang harus dimiliki,
dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas
keprofesionalannya.40Jika kompetensi guru tersebut dikaitkan dengan
38
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, hlm.48
39
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, hlm.62.
40
Pendidikan Agama Islam yakni pendidikan yang sangat penting bagi
kehidupan manusia, terutama dalam mencapai ketentraman batin dan
kesehatan mental pada umumnya. Agama Islam merupakan bimbingan
hidup yang paling baik, pencegah perbuatan salah dan munkar yang
paling ampuh, pengendali moral yang tiada taranya. Maka
kompetensi guru agama Islam adalah kewenangan untuk menentukan
Pendidikan Agama Islam yang akan diajarkan pada jenjang tertentu di
sekolah tempat guru itu mengajar.41
Dalam Peraturan Menteri Agama RI No:16 Tahun 2010 tentang
pengelolaan pendidikan agama pada sekolah. Pada pasal 16 ayat (1)
disebutkan bahwa:
Guru pendidikan agama harus memiliki kompetensi pedagogik,
kepribadian, sosial, profesional dan kepemimpinan.42
DalamPeraturanMenteri Agama RI No:16tahun 2010
tentangpengelolaanpendidikan agama padasekolah. Padapasal 16 ayat (5)
disebutkanbahwa:
Kompetensiprofesionalsebagaimanadimaksudpadaayat (1)
meliputi:
a. penguasaanmateri, struktur,
konsepdanpolapikirkeilmuanmatapelajaranpendidikan agama
41
Zakiyah Daradjat, Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah (Jakarta: Ruhama,1995), hlm. 95.
42
b. penguasaanstandarkompetensidasarmatapelajaranpendidikan
agama
c. pengembanganmateripembelajaranmatapelajaranpendidikan
agama secarakreatif
d. pengembanganprofesionalitassecaraberkelanjutandenganmelak
ukantindakanlevlektif, dan
e. pemanfaatantekonologiinformasidankomunikasiuntukberkomun
ikasidanmengembangkandiri.43
Menurut Muhibbin Syah, guru profesional dituntut memiliki
keanekaragaman kecakapan (comppentencies) yang bersifat psikologis,
yang meliputi:
1) Kompetensi kognitif (kecakapan ranah cipta)
2) Kompetensi afektif (kecakapan ranah rasa)
3) Kompetensi psikomotor (kecakapan ranah karsa).44
Menurut E Mulyasa, ruang lingkup kompetensi profesional
adalah sebagai berikut:
1. Mengerti dan dapat menerapkan landasan kependidikan baik
filosofi, psikologis, sosiologis, dan sebagainya.
2. Mengerti dan dapat menerapkan teori belajar sesuai taraf
perkembangan peserta didik.
43
PeraturanMenteri Agama RI No:16 tahun 2010 pasal 16 ayat (5).
44
3. Mampu menangani dan mengembangkan bidang studi yang
menjadi tanggung jawabnya.
4. Mengerti dan dapat menerapkan metode pembelajaran yang
bervariasi.
5. Mampu mengembangkan dan menggunakan berbagai alat, media
dan sumber belajar yang relevan.
6. Mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program
pembelajaran.
7. Mampu melaksanakan evaluasi hasil belajar peserta didik.
8. Mampu menumbuhkan kepribadian peserta didik. 45
Menurut Depdikbud (1980), ada sepuluh kompetensi yang harus
dimiliki oleh seorang guru profesional, yakni:
a) Penguasaan bahan pelajaran beserta konsep-konsep dalam
keilmuannya.
b) Pengelolaan program belajar-mengajar.
c) Pengelolaan kelas.
d) Penggunaan media dan sumber pembelajaran.
e) Penguasaan landasan-landasan kependidikan.
f) Pengelolaan interaksi belajar-mengajar.
g) Penilaian prestasi siswa.
h) Pengenalan fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan.
45
i) Pengenalan dan penyelenggaraan administrasi sekolah.
j) Pemahaman prinsip-prinsip dan pemanfaatan hasil penelitian
pendidikan untuk kepentingan peningkatan mutu pengajaran.46
Dalam penampilan aktual dalam proses belajar mengajar, minimal
memiliki empat kemampuan yakni kemampuan:
1) Merencanakan proses belajar mengajar
2) Melaksanakan dan memimpin/mengelola proses belajar mengajar
3) Menilai kemajuan proses belajar mengajar
4) Menguasai bahan pelajaran.
Keempat kemampuan di atas merupakan kemampuan yang
sepenuhnya harus dikuasai oleh guru profesional. Untuk mempertegas dan
memperjelas keempat kemampuan tersebut berikut ini dibahas satu
persatu.
1. Merencanakan proses belajar mengajar
Kemampuan merencanakan program belajar mengajar bagi profesi
guru sama dengan kemampuan mendesain bangunan bagi seorang arsitek.
Makna atau arti perencanaan atau program belajar adalah suatu proyeksi
guru mengenai kegiatan yang harus dilakukan siswa selama pengajaran itu
berlangsung. Dalam kegiatan tersebut secara terperinci harus jelas kemana
siswa itu akan dibawa (tujuan), apa yang harus ia pelajari (isi, bahan
46
pelajaran), bagaimana cara ia mempelajarinya (metode dan teknik), dan
bagaimana kita mengetahui bahwwa sisa telah mencapainya (penilaian).47
2. Melaksanakan dan memimpin/mengelola proses belajar
mengajar
Dalam pelaksanaan pembelajaran guru, ada tiga tahap yang perlu
dimengerti, yakni tahap sebelum pengajaran, tahap pengajaran dan tahap
sesudah pengajaran
a) Tahap sebelum pengajaran
Dalam tahap ini guru harus menyusun program tahunan
pelaksanaan kurikulum, program semester, program satuan pelajaran dan
perencanaan program-program. Dalam melaksanakan program-program
terseut di atas, perlu dipertimbangkan aspek-aspek yang berkaitan dengan:
1) Bekal bawaan anak didik
2) Perumusan tujuan pembelajaran
3) Pemilihan metode
4) Pemilihan pengalaman-pengalaman belajar
5) Pemilihan bahan dan peralatan belajar
6) Mempertimbangkan jumlah dan karakteristik anak didik
7) Mempertimbangkan jumlah jam pelajaran tersedia
8) Mempertimbangkan pola pengelompokan
9) Mempertimbangkan prinsip-prinsip belajar.48
b) Tahap Pengajaran
47
Ali Mudlofir, Pendidik Profesional, hlm.77-78.
48
Dalam tahap ini berlangsung interaksi antara guru dengan anak
didik, anak didik dengan anak didik, anak didik dengan kelompok anak,
atau anak didik secara individual.
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan apa yang telah
direncanakan. Ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam
tahap ini, yaitu.
1) Pengelolaan dan pengendalian kelas
2) Penyampaian informasi
3) Penggunaan tingkah laku verbal dan nonverbal
4) Merangsang tanggapan baik, dari anak didik
5) Mempertimbangkan prinsip-prinsip belajar
6) Mengdiagnosis kesulitan belajar
7) Mempertimbangkan perbedaan individual
8) Mengevaluasi kegiatan interaksi.49
c) Tahap Sesudah Belajar
Tahap ini menunjukan kegiatan atau perbuatan setelah pertemuan
tatap muka dengan anak didik. Beberapa perbuatan guru yang tampak pada
tahapsesudah mengajar antara lain:
1) Menilai pekerjaan anak didik
2) Menilai pengajaran guru
3) Membuat perencanaan untuk pertemuan berikutnya.50
3. Menilai kemajuan proses belajar mengajar
Seorang pendidik profesional selalu menginginkan umpan balik
atas proses pembelajaran yang dilakukannya. Hal tersebut dilakukan
49
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, hlm.74-77.
50
karena salah satu indikator keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh
tingkat keberhasilan yang dicapai peserta didik. Dengan demikian,
hasil penilaian dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan proses
pembelajaran dan umpan balik bagi pendidik untuk meningkatkan
kualitas proses pembelajaran yang dilakukan.
Adanya komponen-komponen yang menunjukkan kualitas
mengevaluasi akan lebih memudahkan para guru untuk terus
meningkatkan kualitas menilainya. Dengan demikian, berarti bahwa setiap
guru memungkinkan untuk dapat memiliki kompetensi menilai secara baik
dan menjadi guru yang bermutu.51
Dalam keseluruhan proses pendidikan, secara garis besar
evaluasi berfungsi untuk:
1) Mengetahui kemajuan kemampuan belajar murid. Dalam
evaluasi formatif, hasil dari evaluasi selanjutnya digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa.
2) Mengetahui status akademis seseorang siswa dalam kelasnya.
3) Mengetahui penguasaan, kekuatan dalam kelemahan seseorang siswa
atas suatu unit pelajaran.
4) Menegtahui efisiensi metode mengajar yang digunakan guru.
5) Menunjang pelaksanaan B.K di sekolah.
6) Memberi laporan kepada siswa dan orang tua
7) Hasil evaluasi dapat digunakan untuk keperluan promosi siswa.
8) Hasil evaluasi dapat digunakan untuk keperluan pengurusan
(streaming)
9) Hasil evaluasi dapat digunakan untuk keperluan perencanaan
pendidikan, serta
10) Memberi informasi kepada masyarakat yang memerlukan, dan
11) Merupakan feedback bagi siswa, guru dan program pengajaran.
12) Sebagai alat motivasi belajar mengajar
51
13) Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah
yang bersangkutan.52
4. Menguasai Bahan Pelajaran
Penguasaan guru akan bahan pelajaran sangat berpengaruh terhadap
hasil belajar siswa. Banyak pendapat yang mengatakan baha proses belajar
sisa bergantung pada penguasaan pelajaran oleh guru dan ketrampilan
mengajarnya. Pendapat ini diperkuat oleh Hilda Taba, eorang pakar
pendidikan, yang mengatakan bahwa efektifitas pengajaran dipengaruhi
oleh:
a) Karakteristik guru dan siswa;
b) Bahan pelajaran; dan
c) Aspek lain yang berkenaan dengan situasi pelajaran.53
Dengandemikianseorang yang telahmemilih guru
sebagaiprofesinyaharusbenar-benar professional di bidangnya.Di
sampingjugaharusmemilikikecakapandankemampuandalammengelolainter
aksibelajarmengajar. Hal inidapatdipahamibahwaprofesionalitasseorang
guru dapatmenentukankeberhasilan proses belajarsiswa.
Seorang guru pendidikan agama Islam sebagai guru yang
profesional di bidangnya, artinyamenguasaibetulselukbelukpendidikan
agama Islam.Pendidikan agama Islam memilikikarakteristiktersendiri di
52
Slameto,EvaluasiPendidkan,(Jakarta:BumiAksara,2001),hlm.15-16.
53
banding matapelajaran yang lain, karenapendidikan agama Islam
mengajarkanisiajaranitusendiri.54
B. Prestasi Belajar Siswa
1. Pengertian Prestasi BelajarSiswa
Pengertian prestasi adalah hasil tertinggi/ terbaik yang diperoleh
dalam suatu kerja.55Apabila prestasi dikaitkan dengan proses
pembelajaran maka pengertian prestasi belajar adalah hasil dari
pengukuran serta penilaian usaha belajar.56
Menurut Tulus Tu’u, terkait dengan prestasi belajar siswa adalah
hasil belajar yang dicapai siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas
dan kegiatan pembelajaran di sekolah.57
Sedangkan pengertian belajar adalah proses yang di lakukan oleh
individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan,
sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi
dengan lingkunganya.58
Pemaknaan tersebut memberikan pengertian
bahwa prestasi belajar siswa adalah suatu hasil yang di peroleh siswa
54
Departemen Agama RI, PedomanPenulisanKaryaIlmiah Guru, (Jakarta: DirektoratJendralKelembagaan Agama Islam,2005),hlm.107.
55
Surawan Martinus, Kamus Kata Serapan, (Jakarta: PT Gramedia, 2008), hlm. 479.
56
Sutartinah Tirta Negoro, Anak Super Normal dan Program Pendidikannya, (Jakarta: Bumi Aksara,2001),hlm.43.
57 Tulus Tu’u,
Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa,
(Jakarta:Grasindo,2004),hlm.75.
58
dalam kaitanya dengan kegiatan belajar mengajar yang berbentuk
nilai-nilai.
Dari uraian di atas dapatlah diidentifikasi ciri-ciri kegiatan yang
disebut “belajar” sebagai berikut:
a. Belajar adalah aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri
individu yang belajar, baik yang aktual maupun potensial;
b. Perubahan itu pada dasarnya berupa didapatkanya kemampuan baru,
yang berlaku dalam waktu yang relatif lama;
c. Perubahan terjadi karena usaha.59
Hasil belajar selalu dinyatakan dalam bentuk perubahan tingkah
laku. Bagaimana bentuk tingkah laku yang diharapkan berubah itu
dinyatakan dalam perumusan tujuan instruksional. Hasil belajar atau
bentuk perubahan tingkah laku yang diharapkan meliputi tiga aspek,
yaitupertama aspek kognitif, meliputi perubahan-perubahan dalam segi
penguasaan pengetahuan dan perkembangan ketrampilan/kemampuan
yang diperlukan untuk menggunakan pengetahuan tersebut. Kedua aspek
afektif, meliputi perubahan-perubahan dari segi mental, perasaan dan
kesadaran, dan ketiga, aspek psikomotorik, meliputi
perubahan-perubahan dalam segi bentuk-bentuk tindakan motorik.60Ketiga aspek
tersebut satu sama lain tidak dapat dipisahkan dan merupakan satu
kesatuan.
59
Noehi Nasution, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Departemen Agama, 1998), hlm. 3
60
2. Tipe Belajar Siswa
Tujuan pembelajaran biasanya diarakan pada satu kawasan dari
taksonomi. Benyamin S Bloom mengosentrasikan pada domain kognitif,
sementara domain afektif dikembangkan oleh Kratwohl dan domain
psikomotor dikembangkan oleh Simpson.61
Dalam kaitannya dengan prestasi, secara umum terdapat tiga tipe
prestasi belajar, sebagai berikut:
a. Tipe belajar bidang kognitif
Tipe prestasi belajar bidang kognitif mencakup: (a) tipe prestasi
belajar pengetahuan hafalan (knowledge), (b) tipe prestasi belajar
pemahaman (comprehention), (c) tipe prestasi belajar penerapan
(aplikasi), (d) tipe prestasi belajar analisis, (e) tipe inprestasi belajar
sintesis, dan (f) tipe prestasi belajar evaluasi.62
b. Tipe belajar bidang afektif
Tingkatan bidang afektif sebagai tujuan dan tipe prestasi
belajar mencakup: Pertama,receiving atau attending, yakni kepeaan
dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang pada
siswa, baik dalam bentuk masalah situasi, gejala. Kedua,responding
atau jawaban, yakni reaksi yang diberikan seseorang terhadap
61
Hamzah B.Uno, dan Nurdin Mohamad, Belajar dengan Pendekatan Pailkem,(Jakarta: PT Bumi Aksara,2011),hlm.55-56.
62
stimulus yang dating dari luar. Ketiga, valuing (penilaian), yakni
berkenaan denngan penilaian dan kepercayaan terhadap gejala atau
stimulus. Keempat, organisasi, yakni pengembangan nilai ke dalam
suatusistem organisasi, termasuk menentukan hubungan suatu nilai
dengan nilai lain dan kemantapan, prioritas nilai yang telah
dimilikinya. Kelima, karakteristik dan internalisasi nilai, yakni
keterpaduan dari semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang,
yang mempengaruhi pola kepribadian dan perilakunya.63
c. Tipe prestasi belajar bidang psikomotor
Tipe prestasi belajar bidang psikomotor tampak dalam bentuk
ketrampilan (skill), dan kemampuan bertindak seseorang. Adapun
tingkatan keterampilan itu meliputi: (1) gerakan refleks (keterampilan
pada gerakan yang sering tidak disadari karena sudah merupakan
kebiasaan),(2) keterampilan pada gerakan-gerakan dasar, (3)
kemampuan perspektual termasuk di dalamnya membedakan visual,
membedakan auditif motorik dan lain-lain, (4) kemampuan di bidang
fisik seperti kekuatan, keharmonisan dan ketepatan, (5)
gerakan-gerakan yang berkaitan dengan skill, mulai dari keterampilan
sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks, dan (6)
kemampuan yang berkenaan dengan non-decursive komunikasi
seperti gerakan ekspresif dan interpetatif.64
63
M. Ngalim Puranto,Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis,hlm. 143-144
64
3. Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa
Faktor yang mempengarui prestasi belajar siswa dapat dibedakan
menjadi tiga macam, yakni:
a. Faktor internal siswa, yang meliputi dua aspek yaitu: (1) aspek
fisiologis (yang bersifat jasmaniah). Kondisi umum jasmani dan
tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat ketegangan organ-organ
tubuh dan sendi-sendinya dapat mempengaruhi semangat siswa
dalam mengikuti pelajaran; (2) aspek psikologis. Di antara
faktor-faktor ruhaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial
itu adalah: tingkat kecerdasan/ intelegensi siswa, sikap siswa, bakat
dan minat siswa, serta motivasi.
b. Faktor eksternal siswa, yang juga terdiri dari dua macam, yaitu: (1)
lingkungan sosial. Lingkungan sosial terebut antara lain seperti guru,
para staf administrasi dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi
semangat belajar siswa. lingkungan sosial siswa adalah masyarakat
dan tetangga juga teman-teman sepermainan disekitar perkampungan
siswa tersebut. Sedangkan lingungan sosial yang lebih banyak
mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua dan keluarga siswa;
(2) non sosial. Faktor-faktor yang termasuk lingkungan non sosial
ialah gedung sekolah dan letaknya , rumah tempat tinggal keluarga
siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu
c. Faktor pendekatan belajar. Bahwa segala cara atau strategi yang
digunakan siswa dalam menunjang keefektifan dan efiensi proses
mempelajari materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti
seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa
untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu.65
Dari situ dapat juga dipahami bahwa prestasi belajar yang dicapai
seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhi-nya
baik dari dalam diri seseorang (faktor internal), luar diri seseorang (faktor
eksternal) dan pendekatan belajar yang dilakukan. Hal tersebut semata-mata
dilakukan agar prestasi anak tercapai secara optimal.
4. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa
Kata meningkatkan dalam Kamus Bahasa Indonesia adalah
menaikkan derajad, taraf, dan sebagainya.66
Agar dapat meningkatkan prestasi belajarnya seorang siswa, maka
guru harus memanage faktor-faktor yang mempengaruhi belajarnya. Baik
itu faktor intern, misalnya motivasi belajar, dan lain sebagainya maupun
faktor ekstern, misalnya lingkungan kehidupan sehari-hari. Selain itu,
seorang siswa perlu dipperhatikan aspek psikologisnya yang salah satunya
adalah konsep diri.
65
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar,dengan Pendekatan Baru, hlm.144-145.
66
Jika siswa mampu untuk mengendalikan konsep dirinya dan
mengarahkan kepada hal-hal yang positif, maka siswa akan mudah dalam
belajar dan mendapatkan prestasi yang baik.
Di samping upaya dari pihak siswa, pihak pendidik juga harus
mempunyai upaya untuk meningkatkan prstasi belajar siswa dengan cara
melakukan pembelajaran seefektif mungkin. Dengan pembelajaran yang
efektif, maka siswa akan lebih mudah dalam menerima pelajaran dan
hasilnya akan tampak secara konkrit dalam prestasi belajar. Selain itu,
pendidik diharapkan mampu melakukan diagnosis yang fungsinya untuk
mengetahui kesulitan belajar yang dialami siswa. Apabila kesulitan
belajar siswa mampu diidentivifikasi, maka pendidik hendaklah
memberikan solusi terhadap masalah atau kesulitan tersebut, sehingga
siswa mampu belajar dengan mudah dan lancar, yang pada akhirnya
prestasi belajarnya meningkat.67
Untuk mengukur berhasil tidaknya strategi tersebut dapat dilihat
melalui berbagai indikator sebagai berikut:
(1) Secara akademik lulusan pendidikan tersebut dapat
melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi;
(2) Secara moral, lulusan pendidikan tersebut dapat menunjukkan
tanggung jawab dan kepeduliannya kepada masyarakat
sekitarnya;
67
(3) Secara individual, lulusan pendidikan tersebut semakain
meningkat ketakwaaannya;
(4) Secara sosial, lulusan pendidikan tersebut dapat berinteraksi
dan berasosialisasi dengan masyarakat sekitarnya; dan
(5) Secara kultural, ia mampu menginterpretasikan ajaran
agamanya sesuai dengan lingkungan sosialnya. Dengan kata
lain dimensi kognitif, intelektual, afektif-emosional dan
psikomotorik-praktis kultural dapat terbina secara seimbang.
Inilah ukuran-ukuran yang dapat dibangun untuk melihat
ketetapan strategi pendidikan yang diterapkan.68
68