• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus Proteinuria pada Sapi Perah di Kawasan Usaha Peternakan Cibungbulang, Bogor.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Kasus Proteinuria pada Sapi Perah di Kawasan Usaha Peternakan Cibungbulang, Bogor."

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI KASUS PROTEINURIA PADA SAPI PERAH DI

KAWASAN USAHA PETERNAKAN CIBUNGBULANG,

BOGOR

MAYAHSASTRIAH BINTI JUSMAN

DEPARTEMEN KLINIK, REPRODUKSI DAN PATOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Studi Kasus Proteinuria pada Sapi Perah di Kawasan Usaha Peternakan Cibungbulang, Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Agustus 2015

Mayahsastriah Binti Jusman

(4)

ABSTRAK

MAYAHSASTRIAH BINTI JUSMAN. Studi Kasus Proteinuria pada Sapi Perah di Kawasan Usaha Peternakan Cibungbulang, Bogor. Dibimbing oleh RP AGUS LELANA.

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari proteinuria pada sapi perah di Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Cibungbulang, Bogor, sebagai upaya penjaminan status kesehatan dalam memenuhi kebutuhan susu segar di Indonesia. Sebanyak 30 ekor sapi perah yang diperiksa menggunakan metode semi kuantitatif strip tes, tiga ekor sapi yang tidak bunting mengalami proteinuria disertai dengan peningkatan frekuensi pulsus. Sebanyak tiga ekor sapi perah proteinuria, satu diantaranya menderita pyuria, hematuria, dan glukosuria. Hasil analisis menggunakan tabel pendiagnosaan gangguan prerenal, renal, dan postrenal, sapi perah tersebut diduga berpotensi menderita glomerulonefritis, glomerulosclerosis, interstisial nefritis atau urolithiasis. Penelitian ini memberikan justifikasi efektifitas penggunaan semi kuantitatif urin strip tes.

Kata kunci: sapi perah, proteinuria, pyuria, hematuria, dan glukosuria

ABSTRACT

MAYAHSASTRIAH BINTI JUSMAN. Case Study of Proteinuria In Dairy Cattle Ranch Business Zone Cibungbulang In Bogor. Supervised by RP AGUS LELANA.

This research aims to study the proteinuria in dairy cows in Region Livestock enterprises (Kunak) Cibungbulang, Bogor, as a guarantee of health status to fulfill the needs of fresh milk in Indonesia. A total of 30 dairy cows were examined using semi-quantitative test strips, three cows that are not pregnant have proteinuria accompanied by increased frequency of pulsus. A total of three dairy cows proteinuria, one of whom suffered pyuria, hematuria, and glucosuria. Results were analyzed using a table of diagnosing disorders prerenal, renal, and Postrenal, dairy cows are thought to potentially suffer from glomerulonephritis, glomerulosclerosis, interstitial nephritis or urolithiasis. This study provides justification for the effective use of semi-quantitative urine test strips.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan pada

Fakultas Kedokteran Hewan

STUDI KASUS PROTEINURIA PADA SAPI PERAH DI

KAWASAN USAHA PETERNAKAN CIBUNGBULANG,

BOGOR

DEPARTEMEN KLINIK, REPRODUKSI DAN PATOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2015

(6)
(7)
(8)
(9)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat, karunia dan nikmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik. Judul penelitian yang dipilih adalah Studi Kasus Proteinuria pada Sapi Perah di Kawasan Usaha Peternakan Cibungbulang, Bogor. Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:

1. Pimpinan Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Dekan Drh Srihadi Agungpriyono MSc, Ph.D, PAVet (K), Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Drh Agus Setiyono, MS. Ph.D, APVet;

2. Pimpinan KPS Kunak Cibungbulang, Bogor;

3. Dosen pembimbing, Dr Drh R. P Agus Lelana Sp.MP, MSi; 4. Dosen pembimbing akademik Dr Nastiti Kusumorini (almh);

5. Kedua orang tua dan adik-adik saya, Jusman Bin Solon, Murni Binti Abbas, Mayah Sufiautami, Mohd. Fauzi, dan Maya Fusfalia;

6. Teman Kostan cantik, IPTP 46, Acromion, Ganglion dan Afimi Khamis atas segala kebersamaan.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat kekurangan, namun penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat.

Bogor, Agustus2015

Mayahsastriah Binti Jusman

(10)
(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 1

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2

TINJAUAN PUSTAKA 2

METODE 7

Bahan dan Alat 7

Prosedur Pemeriksaan Fisik 7

HASIL DAN PEMBAHASAN 8

SIMPULAN DAN SARAN 10

Simpulan 10

Saran 10

DAFTAR PUSTAKA 10

(12)

DAFTAR TABEL

1 Profil Proteinuria berdasarkan Status Kebuntingan pada sapi perah di KUNAK

Cibungbulang, Bogor 8

2 Profil frekuensi pulsus dan napas pada sapi perah Proteinuria di KUNAK

Cibungbulang, Bogor 9

3 Profil leukosit, darah, dan glukosa pada sapi perah proteinuria di KUNAK

Cibungbulang, Bogor 9

4 Analisis pendiagnosaan proteinuria yang disertai dengan pyuria,

hematuria,dan glukosuria 10

DAFTAR GAMBAR

(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia sebagai negara tropis telah mengembangkan peternakan sapi perah peranakan Friesian Holstein (FH) untuk memenuhi kebutuhan susu segar dalam negeri. Perkembangan populasi sapi perah tersebut pada awalnya meningkat, tetapi dewasa ini terjadi penurunan. Menurut Balai Pusat Statistik (BPS) (2014), perkembangan tersebut berawal dari 3000 ekor pada tahun 1970, lalu berkembang pada tahun 1985 sebesar 193 000 ekor, pada tahun 1991 sebesar 369 000 ekor, pada tahun 2000 sebesar 354 000 ekor, pada tahun 2012 sebesar 612 000 dan menjadi 483 000 ekor pada tahun 2014.

Selama ini kebutuhan konsumsi susu segar dalam negeri belum tercapai mengingat produktivitas sapi perah belum optimal. Hal ini disebabkan karena banyaknya kendala teknis, belum meratanya tingkat pengetahuan peternak, serta banyaknya gangguan penyakit sapi perah yang harus dihadapi. Oleh sebab itu, peternak atau petugas yang terkait dalam pemeliharaan dan pengelolaan sapi perah harus melengkapi diri dengan pengetahuan yang memadai. Selain itu, tanggung jawab mereka untuk menjaga sanitasi dan higiene dalam menjamin kelayakan kesehatan hewan maupun ketersediaan susu sapi segar bagi masyarakat perlu ditingkatkan.

Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengidentifikasi status kelayakan kesehatan hewan. Salah satu aspek yang bersifat praktis dapat dilakukan dengan memeriksa kandungan urin atau dikenal sebagai urinalisis. Urinalisis menggunakan semi kuantitatif strip tes dapat digunakan untuk mengetahui penyebab penyakit dan/atau penyimpangan kesehatan yang terdeteksi melalui urin. Melalui pendekatan ini patogenesis, diagnosis, dan prognosis dapat ditentukan dengan cepat.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kasus proteinuria pada sapi perah di Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Cibungbulang, Bogor. Aspek yang dapat diidentifikasi melalui urinalisis semi kuantitatif menggunakan strip tes ini adalah adanya seperti temuan terhadap leukosit, nitrit, urobilinogen, protein, pH, darah, berat jenis, keton, bilirubin, dan glukosa dalam urin. Tulisan dari kajian lebih mempelajari masalah proteinuria pada sapi perah.

Perumusan Masalah

(14)

2

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya proteinuria dan perubahan indeks kesehatan pada sapi perah di Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Cibungbulang, Bogor.

Manfaat Penelitian

1. Memperoleh informasi kondisi ternak dan memberikan saran dalam mengatasi permasalahan kesehatan pada sapi perah di peternakan rakyat Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Cibungbulang, Bogor.

2. Uji coba teknologi Kedokteran Hewan yang praktis berupa pemeriksaan urin strip tes untuk meningkatkan produktivitas peternakan sapi perah.

TINJAUAN PUSTAKA

Sapi Perah Friesien Holstein

Sapi Friesian Holstein (FH) merupakan sapi yang tergolong dalam bangsa sapi besar karena sapi betina dapat mencapai 650 kg, jantan 1000 kg dan yang baru lahir sekitar 43 kg (Ginting dan Sitepu 1989). Sapi FH ini berasal dari provinsi Belanda Utara dan provinsi FrieslandBarat. Beberapa bangsa sapi perah yang dikenal dengan nama Friesian Holstien dan Holstein di Amerika, sedangkan di Eropa sapi perah lebih banyak dikenal dengan nama Friesian. FH adalah jenis sapi perah yang paling banyak digunakan dalam industri susu. Hal ini dikarenakan sapi ini memiliki produksi susu yang paling tinggi dibandingkan dengan jenis sapi perah lainnya (Sudono et al. 2003).

Ciri-ciri sapi FH pada umumnya memiliki rambut berwarna hitam putih dengan batas–batas yang jelas dan kadang berwarna merah putih (Gambar 2) (Sudono et al. 2003), pada dahi umumnya terdapat warna putih berbentuk persegi, warna bulu pada bagian bawah kaki dan ekor berwarna putih, memiliki sifat jinak, tenang, mudah dikendalikan, tidak tahan panas, dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan (French 1996). Produksi susu FH akan meningkat sampai induk sapi mencapai umur 6-8 tahun, setelah itu produksi susu akan menurun. Umur 24 bulan dapat menghasilkan susu sebanyak 70-75% dari bobot badan, 3 tahun 80-85% dan 92-98% pada umur 4-5 tahun (French 1996; Sudono et al. 2003).

(15)

3

Gambar 1 Sapi Friesian Holstein

Urinalisis

Urinalisis adalah suatu pemeriksaan urin yang meliputi pemeriksaan makroskopis, mikroskopis, dan kimia urin. Pemeriksaan urin perlu dilakukan untuk diagnosa yang akan bermanfaat dalam pengobatan suatu penyakit (Blood dan Henderson 1979).

Pemeriksaan makroskopis urin meliputi warna, kejernihan, dan bau, sedangkan pemeriksaan mikroskopis terdiri dari sel-sel dalam urin (sel-sel epitel dan sel-sel silinder urin), bahan organi atau kristal, parasit, dan bakteri. Pada pemeriksaan kimiawi urin yang lazim dilakukan adalah pemeriksaan protein, glukosa, keton, bilirubin, urobilinogen, berat jenis, dan darah. Sampel urin dievaluasi untuk melihat adanya sel darah merah, protein, glukosa, leukosit yang dalam keadaan normal tidak ditemukan atau sedikit jumlahnya dalam urin (Corwin 2000).

Analisa urin sudah banyak mengalami kemajuan dari zaman ke zaman. Sejarah patologi klinik dimulai dari pemeriksaan dalam urin dan darah kemudian baru mempelajari hubungannya yang ada dalam tubuh. Perkembangan patologi klinik semakin memperbesar makna suatu analisa. Melalui analisa yang tepat dapat diketahui zat-zat yang normal dalam jumlah yang menyimpang atau adanya perubahan bentuk dari zat-zat yang terkandung di dalam urin (Rotoro 1992).

Semi Kuantitatif Strip Tes

(16)

4

Gambar 2 Gambar label semi kuantitatif strip tes.

Sumber:http://safecare.en.alibaba.com/product/1554917232220332839/Reagent strips_for_Urinalysis.html

Protein

Protein adalah molekul yang kompleks, berat molekul besar, dan terdiri atas asam amino yang mengalami polimerisasi (gabungan) menjadi suatu rantai polipeptida. Penggabungan asam amino ini dalam suatu protein pada suatu ikatan peptida. Nilai biologis protein menunjukkan proporsi relatif dari asam amino esensial di dalam protein apabila dibandingkan dengan kebutuhan hewan. Protein dengan kualitas tinggi akan mampu menyajikan seluruh kebutuhan akan asam amino yang dibutuhkan oleh seekor hewan (Frandson 1992).

Hampir semua zat yang dapat melewati membran glomerulus tidak dapat melewati membran plasma. Jika ada yang melewati membran plasma akan segera diserap kembali oleh tubulus. Pada hewan sehat dan normal hampir semua protein dapat diserap kembali. Penyerapan balik ini berlangsung pinositosis, yaitu protein dihidrolisis dulu menjadi asam amino dan kemudian masuk ke dalam tubulus, atau secara arthositosis dimana yang diserap kembali adalah protein utuh yang kemudian masuk ke dalam cairan tubulus. Mekanisme penyerapan kembali ini ada batasnya. Menurut Girindra (1988), proteinuria baru terlihat jika kadar plasma protein mencapai 10 mg/100 ml (albumin 6 mg/100 ml).

(17)

5 Proteinuria dalam urin merupakan suatu kondisi abnormal. Proteinuria disebabkan oleh berbagai hal seperti peradangan, trauma, neoplasia, parasit, perdarahan, keracunan ginjal, dan kongenital. Walaupun penyebab utama proteinuria ada di ginjal tetapi penyebab lain ada di luar ginjal, sering pula didapatkan yaitu uretritis, sistitis, ureteritis, vaginitis, prostatitis, metritis, piometra, seminal vesikulitis, balanitis, kalkulosis, dan kapillaria plika (Girindra 1988).

Proteinuria

Proteinuria adalah meningkatnya kadar protein di dalam urin. Kejadian ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya meningkatnya plasma protein dengan bobot molekul rendah yang melewati glomerulus, atau dapat juga disebabkan kerusakan glomerulus yang menyebabkan transpor protein yang berlebihan ke selaput sekunder dari glomerulus (Hurley dan Vaden 1995).

Gambaran klinis proteinuria tergantung pada penyebabnya. Pasien dengan glomerular proteinuria sering asimptomatik atau menunjukkan gejala seperti lesu dan penurunan berat badan, uremia, hipertensi, edema, ascites, dan thromboembolis. Penyebab terjadinya proteinuria adalah glomerulonefritis, glomeruloseklerosis, nefritis interstisial akut, cystitis, urethritis, dan urolithiasis (Rubenstein et al. 2003).

Glomerulonefritis

Glomerulonefritis adalah sebuah istilah yang diberikan untuk berbagai kondisi yang dapat mempengaruhi glomeruli ginjal. Glomerulonefritis terdiri dari dua kata, yaitu Glomerulo yang artinya glomeruli dan nefritis memiliki arti radang ginjal. Meskipun namanya memiliki arti nefritis, tapi pada kenyataannya tidak ada peradangan yang terjadi pada beberapa jenis glomerulonefritis. Dalam glomerulonefritis terjadi kerusakan glomeruli. Kerusakan ini mengganggu fungsi glomeruli itu sendiri dan dapat mempengaruhi fungsi ginjal secara keseluruhan (Rubenstein et al. 2003).

(18)

6

adanya tekanan darah tinggi (hipertensi), retensi cairan (edema), serta kelelahan akibat anemia atau gagal ginjal.

Glomeruloseklerosis

Glomeruloseklerosis fokal segmental adalah jaringan parut di unit penyaringan ginjal. Struktur ini disebut glomerulus. Glomerulus berfungsi sebagai penyaring yang membantu tubuh menyingkirkan zat berbahaya. Setiap ginjal memiliki ribuan glomeruli. Focal berarti bahwa beberapa glomeruli memiliki bekas luka sedangkan yang lainnya tetap normal dan segmental berarti bahwa hanya bagian dari glomerulus individu yang rusak. Glomeruloseklerosis fokal segmental menyebabkan kasus sindrom nefrotik. Penyebab glomerulosklerosis adalah obat-obatan, adanya infeksi, genetik, dan obesitas. Tanda dari penyakit ini adalah urin berbusa (dimana terjadi kelebihan protein dalam urin), nafsu makan memburuk, pembengkakan akibat edema pada bagian tubuh, dan berat badan menurun (Rubenstein et al. 2003).

Nefritis Interstisial Akut

Nefritis interstitial (tubulo-interstitial nephritis) adalah bentuk nefritis yang mempengaruhi interstitium ginjal sekitar tubulus. Penyakit ini dapat berupa akut, yang berarti terjadi tiba-tiba, atau kronis, yang berarti sedang berlangsung dan akhirnya berakhir dengan kegagalan ginjal. Penyebab umum nefritis interstitial adalah infeksi dan reaksi terhadap obat-obatan (seperti analgesik atau antibiotik seperti methicillin, meticillin) (Rubenstein et al. 2003).

Cystitis

Cystitis merupakan peradangan pada kantung kemih. Cystitis adalah keadaan klinis akibat adanya mikroorganisme yang berkembangbiak sehingga menyebabkan terjadinya inflamasi pada kantung kemih. Cystitisadalah inflamasi

kantung kemih yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya infeksi dari uretra. Cystitis dapat dibagi menjadi dua yaitu cystitis primer dan cystitis sekunder. Cystitis primer yaitu radang yang pada kantung kemih yang terjadi karena penyakit lain, seperti batu pada kantung kemih, divertikel, hipertropi prostat, dan striktura uretra. Cystitis sekunder adalah gejala yang timbul kemudian sebagai akibat dari penyakit primer misalnya uretritis dan prostatitis.Pada umumnya tanda dan gejala yang terjadi pada cystitis adalah peningkatan frekuensi miksi baik diurnal maupun nokturnal, disuria karena epitilium yang meradang tertekan, rasa nyeri pada daerah suprapubik atau perineal, rasa ingin buang air kecil, dan demam yang hematuria pada kasus yang parah (Rubenstein et al. 2003).

Urethritis

Urethritis adalah peradangan pada uretra atau saluran kencing. Penyebab urethritis adalah bakteri, virus dan juga beberapa penyakit menular seperti

(19)

7 Urolithiasis

Batu saluran kemih menurut tempatnya digolongkan menjadi batu ginjal, batu ureter, batu kandung kemih, dan batu uretra. Batu ginjal merupakan keadaan tidak normal di dalam ginjal, mengandung komponen kristal dan matriks organik. Lokasi batu ginjal dijumpai khas di kaliks atau pelvis renalis, ureter, kandung kemih atau uretra. Batu saluran kemih sebagian besar mengandung batu kalsium oksalat ataupun kalsium fosfat, sekitar 65-85% dari jumlah keseluruhan batu ginjal. Batu ginjal merupakan penyebab terbanyak kelainan saluran kemih (Rubenstein et al. 2003).

METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian lapangan dilaksanakan pada bulan Januari sampai Mei 2014 di Peternakan Rakyat Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Cibungbulang, Bogor. Pengolahan data dan penyusunan laporan dilaksanakan pada bulan Mei 2014 sampai bulan Juni 2015 di Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Bahan dan Alat

Penelitian ini menggunakan 30 ekor sapi perah yang diambil secara acak dari dua kandang milik peternak. Urinalisis menggunakan sampel urin segar dari sapi perah. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: gelas ukur, urin strip tes (Verify), dan kamera.

Prosedur Penelitian Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi pemeriksaan frekuensi napas dan pulsus. Frekuensi napas dihitung berdasarkan gerakan simetris flank dan tulang rusuk selama 1 menit. Frekuensi pulsus dilakukan dengan menempelkan tangan pada arteri coccygea, yang terletak 10 cm dari anus atau kira-kira di bagian tengah bawah ekor hewan.

Pemeriksaan Urin

(20)

8

dianalisis dengan parameter kelainan pada leukosit, nitrogen, urobilinogen, protein, pH, kadar darah, keton, bilirubin, dan glukosa.

Pendugaan Status Kebuntingan

Pendugaan reproduksi ternak dilakukan dengan metode wawancara dengan peternak untuk mendapatkan suatu informasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Proteinuria pada Sapi Perah Friesian Holstein Profil proteinuria berdasarkan status kebuntingan

Berdasarkan Tabel 1 diperoleh gambaran bahwa 30 ekor sapi perah yang menjadi objek studi kasus ini terdiri dari 22 ekor sapi tidak bunting, 6 ekor sapi dalam kondisi pasca melahirkan, dan 2 ekor sapi yang mengalami kebuntingan yaitu bunting 3 bulan dan 7 bulan. Berdasarkan tabel tersebut, 3 ekor sapi tidak bunting no 3, 18, dan 20 mengalami proteinuria dengan konsentrasi 0,15 g/L albumin. Berdasarkan tabel , dapat diketahui bahwa peluang terjadinya proteinuria adalah 10%.

Tabel 1 Profil Proteinuria berdasarkan Status Kebuntingan pada sapi perah di KUNAK Cibungbulang, Bogor

Keterangan: Positif proteinuria (+); Negatif Proteinuria (-)

Positif proteinuria (+) ditandai dengan perubahan warna pada urin strip tes dari hijau muda menjadi hijau tua dengan selang waktu 1-2 menit.

Menurut Fincher et. al. (1986) proteinuria merupakan kondisi patologis dimana dalam urin, namun tanpa harus disertai dengan gejala klinis. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan pemeriksaan frekuensi pulsus dan napas untuk mengetahui adanya gejala klinis.

(21)

9

Profil frekuensi pulsus dan napas sapi perah proteinuria

Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa ketiga sapi proteinuria mengalami peningkatan frekuensi pulsus, yaitu masing-masing 88, 92, dan 86 kali permenit. Menurut Utomo et al. (2009), kisaran normal denyut jantung atau pulsus pada sapi yaitu 46-84 kali permenit. Menurut Otto et al. (2006) peningkatan pulsus nadi erat kaitannya dengan peningkatan sirkulasi sebagai respon homeostasis untuk memenuhi kebutuhan oksigen dalam proses metabolisme. Penjelasan tersebut di atas memberi gambaran bahwa peningkatan metabolisme sapi proteinuria merupakan proses patologis.

Tabel 2 Profil frekuensi pulsus dan napas pada sapi perah Nomor sapi Keterangan: (*) Nilai berada di luar kisaran normal

Profil pyuria, hematuria, dan glukosuria

Berdasarkan Tabel 3, diperoleh gambaran bahwa dengan menggunakan semi kuantitatif strip tes dapat diketahui bahwa sapi proteinuria no 20 mengalami pyuria (70 leu/μl), hematuria (+), dan glukosuria (250 mg/dL). Oleh sebab itu, untuk mengarahkan diagnosis hasil urinalisis tersebut, disajikan pembahasan sebagai berikut.

Tabel 3 Profil leukosit, darah, dan glukosa pada sapi perah proteinuria

(22)

10

penyerapan tubular pada bagian renal. Berdasarkan teori tersebut, dapat disusun analisis pendiagnosaan yang dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Analisis pendiagnosaan proteinuria yang disertai dengan pyuria, hematuria, dan glukosuria

Hasil Urinalisis Klasifikasi

Proteinuria Prerenal Renal Postrenal

Pyuria - Renal Postrenal

Hematuria Prerenal Renal Postrenal

Glukosuria - Renal -

Berdasarkan Tabel 4, dapat direkapitulasikan bahwa sapi no 20 mengalami kelainan pada bagian renal. Menurut Rubenstein et al. (2003) gangguan dan kelainan pada renal paling menonjol adalah glomerulonefritis. Selain itu, adanya temuan pyuria dapat mengindikasikan adanya interstisial nefritis atau urolithiasis. Adapun temuan hematuria dan proteinuria, dapat diindikasikan sebagai penyakit glomerulosclerosis.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Sebanyak 30 ekor sapi yang diuji menggunakan urinalisis semi kuantitatif strip tes, yang mengalami proteinuria sebanyak 3 ekor dengan status tidak bunting dan diikuti dengan indikasi peningkatan frekuensi pulsus. Satu diantara sapi proteinura tersebut juga disertai pyuria, hematuria, dan glukosuria yang mengindikasikan terjadinya glomerulonefritis.

Saran

Hasil pemeriksaan indeks kesehatan dan tes semi kuantitatif urinalisis pada sapi perah FH dapat digunakan sebagai pemeriksaan tahap awal yang perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratoris yang sifatnya konfirmatif.

DAFTAR PUSTAKA

Blood DC, Henderson JA. 1979. Veterinary Medicine 2nd Edition. London. (UK): Bailliere, Tindall & Cassell.

(23)

11 Corwin EJ. 2000. Buku Saku Patofisiologi (Handbook of Phatophysiology).

Jakarta (ID): Penerbit Buku Kedokteran.

Fincher MG, Gibbons WJ, Karl M, Park SE. 1986. Disease of Cattle. American Veterinary Publication, Inc. Evanston, Illinos.

Frandson RD. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Ed-4. Penerjemah. Srigandono M dan Koen Praseno SU. Fakultas Peternakan Diponegoro. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press.

French MH. 1996. European Breeds of Cattle Food and Agriculture. Rome (RO): United Nations.

Ginting N, Sitepu P. 1989. Teknik Beternak Sapi Perah di Indonesia (ID): PT. Rekan Anda Setiawan, Jakarta.

Girindra A. 1988. Biokimia Patologi: Petunjuk Praktikum. Bogor (ID): PAU- Institut Pertanian Bogor.

Hurley K, Vaden SL. 1995. Proteinuria in Dogs and Cats - a Diagnostic Aproach. In: Bonagura JD, ed. Kirk's Current Veterinary Therapy XII. Saunders. Co. Philadelphia. 937–940

Otto M R, Clive C G, Kenneth W H, Peter D C. 2006. Veterinary Medicine. A textbook of the disease of cattle, horses, shhep, pigs, and goats. Ed-10.London (UK): Saunders Elsevier

Rotoro SR. 1992. Tinjauan Beberapa Manfaat Klinik Dari Analisa Urin Anjing Melalui Pemahaman Proses Pembentukan Urin Dan Penetapan Nilai Urin Sehat. [Skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Rubenstein D, David W, John B. 2003. Lectures Note on Clinical Medicine. 6thEd., Oxford (UK): Blackwell Scientific Publications.

Subronto. 1985. Ilmu Penyakit Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta Sudono ARF, Rosdiana dan Setiawan BS. 2003. Beternak Sapi Perah Secara

Intensif. Depok (ID): Agromedia Pustaka.

(24)

12

RIWAYAT HIDUP

Mayahsastriah Binti Jusman dilahirkan di Sabah, Malaysia pada tanggal 19 Oktober 1991 dari pasangan Jusman Bin Solon dan Murni Binti Abbas. Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara.

Penulis menyelesaikan pendidikan awal di TK Cina New Evegreen dan dilanjutkan ke Sekolah Dasar (SD) di Sekolah Rendah Kebangsaan Sepagaya selama 6 tahun. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Kebangsaan Sapagaya selama 3 tahun dari tahun 2004-2006 dan melanjutkan ke Sekolah Kebangsaan Agaseh selama 2 tahun sampai 2008. Pada tahun 2009, penulis diterima sebagai mahasiswa Fakultas Peternakan dan pada tahun 2011, penulis berpindah ke Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Gambar

Gambar 1  Sapi Friesian Holstein
Gambar 2  Gambar label semi kuantitatif strip tes.
Tabel 1   Profil Proteinuria berdasarkan Status Kebuntingan pada sapi perah di
Tabel 2  Profil frekuensi pulsus dan napas pada sapi perah

Referensi

Dokumen terkait

Judul Skripsi ini adalah Analisis Pendapatan dan Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi pada Usaha Peternakan Sapi Perah (Studi Kasus : Kawasan Usaha Petemakan

Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan keadaan atau kondisi peternakan di Peternakan Sapi Perah di KUNAK, karakteristik peternak, mendeskripsikan peubah

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Identifikasi Jenis Hijauan Makanan Ternak di Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Sapi Perah Kecamatan Cibungbulang

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Studi Kasus Ketonuria Berdasarkan Urinalisis Semikuantitatif Strip-test pada Sapi Perah di Peternakan KUNAK Bogor

Analisis pendapatan dan efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi pada usaha petemakan sapi perah (Studi kasus usaha petemakan sapi perah di Kecamatan

Penulis berharap agar hasil penelitian ini dapat menjadi rekomendasi untuk para peternak, pemerintah, dan semua stakeholder s pada peternakan sapi perah rakyat di Kawasan Usaha

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi dasar tentang jenis dan bioekologi lalat Sumba (Hippobosca sp.) pada sapi perah di kawasan usaha peternakan sapi

Hasil dari penelitian adalah 5 dari 30 ekor sapi perah di kawasan usaha peternakan Cibungbulang Bogor yang menunjukkan indeks kesehatan normal. 12 dari 30 ekor