PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA MELALUI PENDEKATAN
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
TESIS
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Magister Pendidikan
Program Studi Pendidikan Matematika
DISUSUN OLEH
:
BUKHORI NIM : 8136172012
PROGRAM PASCA SARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
i
ABSTRAK
BUKHORI. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Kemandirian Belajar Siswa Melalui Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL) di Sekolah Menengah Pertama. Tesis. Medan: Program Studi Pendidikan Matematika Pascasarjana Universitas Negeri Medan, 2017.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa yang diberi pendekatan CTL dengan siswa yang diberi pembelajaran biasa, (2) Peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa yang diberi pendekatan CTL lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diberi pembelajaran biasa, (3) Tidak terdapat interaksi antara pendekatan dengan kemampuan awal matematika terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa, (4) Terdapat perbedaan peningkatan kemandirian belajar siswa yang diberi pendekatan CTL dengan siswa yang diberi pembelajaran biasa, (5) Peningkatan kemandirian belajar siswa yang diberi pendekatan CTL lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diberi pembelajaran biasa, (6) Tidak terdapat interaksi antara pendekatan dengan kemampuan awal matematika terhadap peningkatan kemandirian belajar siswa . Hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa proses penyelesaian jawaban siswa yang diberi pendekatan CTL lebih bervariasi dibandingkan dengan siswa yang diberi pembelajaran biasa. Saran kepada guru adalah (1) Pembelajaran dengan pendekatan CTL dapat dijadikan salah satu alternatif bagi guru matematika dalam menyajikan materi pelajaran matematika, (2) Pembelajaran dengan pendekatan CTL hendaknya diterapkan pada materi yang nyata disekitar lingkungan belajar siswa, (3) Dalam setiap pembelajaran guru sebaiknya menciptakan suasana belajar yang memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan-gagasan matematika dalam bahasa dan cara mereka sendiri. Saran kepada peneliti lanjutan, hendaknya penelitian ini dapat dilengkapi dengan meneliti aspek lain secara terperinci yang belum terjangkau dalam penelitian ini.
ii
ABSTRACT
BUKHORI. Increasing Mathematics Problem Solving Ability and Self Efficacy for Junior High School Through Contextual Teaching and Learning Approach.
The research results showed that: (1) There are differences in students problem-solving abilites increase by the increase in CTL with students who are given the usual learning, (2) Improvement of problem solving ability of students by CTL approach higher than students who were given a the usual learning, (3 ) There is no interaction between the approaches with the prior knowledge of mathematics to increase students problem solving abilities, (4) There are differences in students improvement learning independent by CTL approach with students who were given the usual leraning , (5) Increasing the independence of student learning by CTL approach higher compared with students who were given the usual learning, (6) There is no interaction between the approaches to early mathematics ability to increase student self efficacy. Other research results indicate that students' answers to the settlement process by CTL approach is more varied than the students who were given regular learning. Recommanded to the teacher are (1) Learning with CTL approach can be used as an alternative for mathematics teachers in presenting the subject matter of mathematics, (2) learning with CTL approach should be applied to the real material around the learning environment of students, (3) In each lesson the teacher should create a learning environment that gives students the chance to express mathematical ideas in a language and in their own way. Suggestions for further research, this study should be supplemented by other aspects examined in detail are not reached in this study.
iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga tesis saya yang berjudul: " Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Dan Kemandirian Belajar Siswa Melalui Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL) Di Sekolah Menengah Pertama” dapat diselesaikan. Tesis ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar Magister Pendidikan pada Program Studi
Pendidikan Matematika di Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan.
Sejak mulai dari persiapan sampai selesainya penulisan tesis ini, penulis
mendapatkan semangat, dorongan, dan bantuan dari berbagai pihak. Pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tulus dan penghargaan
yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu penulis.
Semoga Allah SWT memberikan balasan atas kebaikan tersebut. Terima kasih
dan penghargaan khusunya penulis sampaikan kepada :
1) Ayahanda Hubban dan Ibunda Kamalia tercinta, istri tersayang Agustin
Trianingsih, A.Md dan ananda yang senantiasa membanggakan Sayyid
Muhammad Mumtaz dan Rifqi Muhammad Azzam yang selalu memberikan
doa, rasa kasih sayang, perhatian dan dukungan penuh dalam setiap langkah
dalam menyelesaikan perkuliahan dan menyelesaikan penulisan Tesis ini.
2) Bapak Prof. Dr. Sahat Saragih, M.Pd, selaku Pembimbing I dan Bapak Prof.
Dian Armanto, M.Pd,M.A,M.Sc,Ph.D selaku Pembimbing II yang telah
memberikan banyak ilmu, bimbingan, arahan, serta motivasi yang sangat
bermanfaat dan berharga bagi penulis dalam penyusunan tesis ini sampai
dengan selesai.
3) Bapak Prof. Dr. Edi Syahputra, M.Pd, Bapak Dr. Edy Surya, M.Si dan
Dr. Yulita Molliq Rangkuti, M.Sc selaku nara sumber yang telah banyak
memberikan saran dan kritik yang membangun dalam penyempurnaan dan
menjadi motivator dalam penyelesaian tesis ini.
4) Bapak Prof. Dr. Edi Syahputra, M.Pd dan Bapak Dr. Mulyono, M.Si selaku
iv
UNIMED serta Bapak Dapot Tua Manullang, M.Si selaku Staf Program Studi
Pendidikan Matematika.
5) Bapak Prof. Dr. Bornok Sinaga, M.Pd dan Bapak Prof. Dr. Sahyar, M.M, M.s
selaku Direktur dan Asisten Direktur I Program Pascasarjana UNIMED.
6) Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Pendidikan Matematika Program Pascasarjana
UNIMED yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan yang bermakna
kepada penulis selama menjalani pendidikan.
7) Kepada Bapak Abdul Jalil, S.PdI selaku kepala sekolah dan Ibu Ami Biraftika,
S.Pd, selaku guru mata pelajaran kelas VIII SMP As-Syafi’iyah Internasional
Medan serta seluruh dewan guru yang telah memberikan kesepatan dan izin
kepada penulis untuk melakukan penelitian.
8) Teristimewa rekan-rekan Dikmat B-4 dan juga sahabat seperjuangan angkatan
XXII Prodi Matematika yang telah memberikan dorongan, semangat serta
bantuan lainnya kepada penulis.
Semoga Allah SWT memberikan balasan yang baik atas bantuan dan
bimbingan yang diberikan.Dengan segala kekurangan dan keterbatasan penulis
berharap semoga tesis ini dapat memberi sumbangan dalam memperkaya
khasanah ilmu dalam bidang pendidikan dan menjadi masukan bagi penelitian
lebih lanjut.
Medan, Januari 2017
Penulis
v DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK……… ... i
ABSTRACT. ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL… ... viii
DAFTAR GAMBAR ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Identifikasi Masalah ... 15
1.3 Batasan Masalah ... 16
1.4 Rumusan Masalah ... 16
1.5 Tujuan Penelitian ... 17
1.6 Manfaat Penelitian ... 18
1.7 Definisi Operasional ... 19
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 21
2.1 Pengertian Masalah Matematika ... 21
2.2 Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis ... 23
2.3 Kemandirian Belajar ... 28
2.4 Pendekatan Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) ... 32
2.4.1 Asas-asas Pendekatan Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) ... 35
2.5 Pembelajaran Biasa (PB) ... 51
2.6 Perbedaan Pedagogi Pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) Dengan Pembelajaran Biasa ... 55
vi
2.8 Proses Jawaban Siswa Dalam Menyelesaikan Masalah
Matematika ... 59
2.9 Teori Belajar Yang Mendukung Pendekatan CTL ... 60
2.10 Hasil Penelitian Yang Relevan ... 66
2.11 Kerangka Konseptual ... 70
2.12 Hipotesis Dan Pertanyaan Penelitian ... 77
BAB III METODE PENELITIAN ... 80
3.6.2 Tes Kemampuan Pemecahan Masalah ... 86
3.6.3 Angket Kemandirian Belajar ... 88
3.7 Uji Coba Perangkat Pembelajaran Dan Instrumen Penelitian ... 90
3.7.1 Validasi Ahli Terhadap Perangkat Pembelajaran ... 90
3.7.2 Validasi Ahli Terhadap Instrumen Penelitian ... 91
3.7.3 Uji Coba Instrumen Penelitian ... 91
3.8 Teknik Analisis Data ... 96
3.9 Prosedur Penelitian ... 103
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 106
4.1 Hasil Penelitian ... 106
4.1.1 Hasil Uji Coba Perangkat Pembelajaran dan Instrumen... 107
4.1.2 Deskripsi Hasil Tes Kemampuan Awal Matematika ... 109
4.1.3 Hasil Penelitian Tentang Kemampuan Pemecahan Masalah ... 118
4.1.3.1 Deskripsi Hasil Pretest Kemampuan Pemecahan Masalah ... 118
4.1.3.2 Deskripsi hasil Post test Kemampuan Pemecahan Masalah ... 122
vii
Masalah Berdasarkan KAM dan Pembelajaran ... 126
4.2 Analisis Hipotesis Penelitian Rumusan Masalah no 1 dan 3 ... 132
4.3 Hasil Penelitian Kemandirian Belajar Siswa ... 135
4.3.1 Deskripsi Hasil Pretest Angket Kemandirian Belajar Siswa ... 136
4.3.2 Deskripsi Hasil Post test Angket Kemandirian Belajar Siswa ... 139
4.3.3 Analisis Hasil N-gain (rata-rata) Kemandirian Belajar Berdasarkan KAM dan Pendekatan Pembelajaran ... 143
4.4 Deskripsi Proses Penyelesaian Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa ... 151
4.5 Pembahasan Hasil Penelitian ... 165
4.5.1 Faktor Pembelajaran ... 165
4.5.2 Kemampuan Pemecahan masalah ... 169
4.5.3 Kemandirian belajar ... 171
4.5.4 Interaksi antara kemampuan awal matematika siswa dan pembelajaran terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa ... 175
4.5.5 Interaksi antara kemampuan awal matematika siswa dan pembelajaran terhadap peningkatan keman dirian belajar siswa ... 177
4.5.6 Proses penyelesaian jawaban siswa ... 179
4.6 Keterbatasan Penelitian ... 181
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 183
5.1 Simpulan ... 183
5.2 Saran ... 184
viii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1 Desain Penelitian ... 82
3.2 Tabel Weiner tentang Keterkaitan antara Variabel Bebas, Terikat dan Kontrol ... 83
3.3 Kriteria Pengelompokan Kemampuan siswa Berdasarkan KAM ... 86
3.4 Kisi-Kisi Kemampuan Pemecahan Masalah ... 87
3.5 Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Pemecahan masalah ... 88
3.6 Kisi-Kisi Angket Kemandirian belajar... 89
3.7 Skor Alternatif Jawaban Skala Kemandirian belajar ... 90
3.8 Interpretasi Koefisien Korelasi ... 92
3.9 Interpretasi Koefisien Korelasi Reliabilitas ... 93
3.10 Klasifikasi Daya Pembeda ... 95
3.11 Klasifikasi Tingkat Kesukaran ... 95
3.12 Klasifikasi Gain Ternormalisasi ... 98
3.13 Keterkaitan Antara Rumusan Masalah, Hipotesis, dan Jenis Uji Statistik yang Digunakan ... 100
3.14 Kriteria Proses Jawaban Siswa ... 102
4.1 Hasil Validasi Ahli terhadap Perangkat Pembelajaran ... 107
4.2 Hasil Uji Coba Tes Kemampuan Awal Matematika Siswa ... 108
4.3 Hasil Uji Coba Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa ... 108
4.4 Hasil Uji Coba Angket Kemandirian Belajar Siswa ... 109
4.5 Hasil Perhitungan Rerata dan Simpangan Baku Skor KAM ... 110
4.6 Deskripsi Data KAM Siswa Kedua Kelompok Untuk Setiap Kategori KAM ... 112
4.7 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Distribusi Data KAM Dengan Menggunakan SPSS 16 ... 114
ix
4.9 Hasil Perhitungan Uji Perbedaan Rerata KAM ... 116
4.10 Sebaran Sampel Penelitian ... 117
4.11 Hasil Pretest Kemampuan Pemecahan Masalah Kelas Eksperimen
dan Kelas Kontrol ... 118
4.12 Hasil Uji Normalitas Skor Pretest Tes Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematik menggunakan SPSS 16... 120
4.13 Hasil Uji Homogenitas Pretest Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematik ... 121
4.14 Data Hasil Postest Kemampuan Pemecahan Masalah ... 122
4.15 Hasil Uji Normalitas Skor Post test Tes Kemampuan Pemecahan
Masalah ... 124
4.16 Hasil Uji Homogenitas Post test Tes Kemampuan Pemecahan
Masalah ... 125
4.17 Deskripsi Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika
Berdasarkan pendekatan dan Kemampuan Awal Matematika
Siswa ... 126
4.18 Hasil Uji Normalitas Kelompok Data Gain Kemampuan
Pemecahan MasalahMatematika dengan menggunakan SPSS 16 ... 131
4.19 Hasil Uji Homogenitas Kelompok Data Gain Kemampuan
Pemecahan Masalah Matematika dengan menggunkan SPSS 16 ... 132
4.20 Hasil Uji Anova Dua Jalur Data Gain Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematika dengan menggunakan SPSS 16 ... 133
4.21 Hasil Pretest Kemandirian Belajar Siswa Kelas Eksperimen
dan Kelas Kontrol ... 136
4.22 Hasil Uji Normalitas Skor Pretest Angket Kemandirian Belajar ... 138
4.23 Hasil Uji Homogenitas Pretest Tes Kemandirian Belajar ... 139
4.24 Hasil Postest Kemandirian Belajar Siswa Kelas Eksperimen
dan Kelas Kontrol ... 139
4.25 Hasil Uji Normalitas Skor Post test Angket Kemandirian Belajar .... 141
4.26 Hasil Uji Homogenitas Post test Angket Kemandirian Belajar ... 142
4.27 Deskripsi Peningkatan Kemandirian Belajar Siswa Berdasarkan
x
4.28 Rangkuman Uji Normalitas Kelompok Data Gain Kemandirian
Belajar Siswa ... 147
4.29 Rangkuman Uji Homogenitas Kelompok Data Gain
Kemandirian Belajar Siswa ... 147
4.30 Rangkuman Uji Anova Dua Jalur Data Gain Kemandirian Belajar
Siswa ... 148
4.31 Rangkuman Hasil Pengujian Hipotesis Yang Berkenaan Dengan
Kemampuan Pemecahan Masalah Dan Kemandirian Belajar
Siswa ... 151
4.32 Skor Butir Soal Nomor 1 Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematika Siswa yang Diberi Pendekatan CTL dan
Pembelajaran Biasa ... 152
4.33 Skor Butir Soal Nomor 2 Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematika Siswa yang Diberi Pendekatan CTL dan Pembelajaran
Biasa ... 155
4.34 Skor Butir Soal Nomor 3 Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematika Siswa yang Diberi Pendekatan CTL Pembelajaran
Biasa ... 159
4.35 Skor Butir Soal Nomor 3 Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematika Siswa yang Diberi Pendekatan CTL Pembelajaran
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1.1 Model penyelesaian yang dibuat oleh siswa pada tes kemampuan
pemecahan masalah matematis…….. ... 6
1.2 Model penyelesaian yang dibuat oleh siswa pada tes kemampuan pemecahan masalah matematis ... 7
2.1 Alur Pemecahan Masalah Menggunakan Matematika ... 27
3.1 Tahap Alur Penelitian ... 105
4.1 Pola Jawaban siswa kelas eksperimen untuk butir soal nomor 1 ... 154
4.2 Pola Jawaban siswa Kelas kontrol untuk butir soal nomor 1 ... 154
4.3 Pola Jawaban siswa kelas eksperimen untuk butir soal nomor 2 ... 157
4.4 Pola Jawaban siswa Kelas kontrol untuk butir soal nomor 2 ... 158
4.5 Pola Jawaban siswa kelas eksperimen untuk butir soalnomor 3 ... 160
4.6 Pola Jawaban siswa Kelas kontrol untuk butir soal nomor 3 ... 161
4.7 Pola Jawaban siswa kelas eksperimen untuk butir soal nomor 4 ... 164
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Matematika merupakan mata pelajaran yang sangat penting diberikan
disekolah dari semenjak SD, SMP dan SMA bahkan hingga keperguruan tinggi.
Matematika diajarkan kesiswa dengan tujuan agar mereka mampu menjadikan
perhitungan lebih praktis dan sederhana. Didalam pendidikan, matematika
menjadi prasyarat untuk belajar bidang studi yang lain. Tujuan belajar matemtika
yang lebih penting adalah diharapkan siswa mampu menjadi manusia yang
berfikir logis, kritis, tekun bertanggung jawab dan mampu menyelesaikan
masalah. Russeffendi (1991) menyatakan kegunaan matematika :
1. Dengan belajar matematika kita mampu berhitung dan mampu melakukan perhitungan-perhitungan lainnya
2. Dengan belajar matematika kita memiliki persyaratan untuk belajar bidang studi lainnya
3. Dengan belajar matematika perhitungan menjadi lebih sederhana dan praktis
4. Dengan belajar matematika diharapkan kita mampu menjadi manusia yang berfikir logis, kritis, tekun, bertanggung jawab dan mampu menyelesaikan masalah.
Sejalan dengan pernyataan diatas, Niss (dalam Hadi: 2005) menyatakan
bahwa salah satu alasan utama diberikan matematika kepada siswa-siswa di
sekolah adalah untuk memberikan kepada individu pengetahuan yang dapat
membantu mereka mengatasi berbagai hal dalam kehidupan, seperti pendidikan
atau pekerjaan, kehidupan pribadi, kehidupan sosial, dan kehidupan sebagai warga
Negara.
Hal senada diungkapkan oleh Cokroft (dalam Abdurrahman, 2009)
2
Matematika perlu diajarkan kepada siswa karena (1) selalu digunakan dalam kehidupan; (2) semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai; (3) merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat dan jelas; (4) dapat digunakan dalam menyajikan informasi dalalm berbagai cara; (5) meningkatkan kemampuan berfikir logis, ketelitian dan kesadaran keruangan; (6) memberikan kepuasan terhadap usaha memcahkan masalah yang menantang.
Nurhadi (2003) mengatakan bahwa “matematika berfungsi
mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan
menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari
melalui materi pengukuran geometri, aljabar dan trigonometri”. Senada dengan itu
Soedjadi (2000) juga menyatakan bahwa “matematika sebagai wahana pendidikan
tidak hanya dapat digunakan untuk mencapai tujuan, misalkan mencerdaskan
siswa, tetapi dapat pula untuk membentuk kepribadian siswa serta
mengembangkan keterampilan tertentu”. Pendapat tersebut di atas sejalan dengan
tujuan pembelajaran matematika yang dirumuskan dalam KTSP 2006.
Tujuan pembelajaran matematika pada kurikulum KTSP menurut
Permendiknas No. 22 (2006) tentang standar isi yaitu:
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika 3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami
masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
3
Hal ini sejalan dengan apa yang menjadi tujuan umum pembelajaran
matematika yang dirumuskan National Council of Teachers of Mathematics
(NCTM) yaitu: (1) belajar untuk berkomunikasi (mathematical communication),
(2) belajar untuk bernalar (mathematical reasoning), (3) belajar untuk
memecahkan masalah (mathematical problem solving), (4) belajar untuk
mengaitkan ide (mathematical connections), dan (5) pembentukan sikap positif
terhadap matematika (positive attitudes toward mathematics) (Wardhani, 2002).
Berdasarkan tujuan-tujuan di atas terlihat bahwa pentingnya peranan
matematika dalam kehidupan. Karena pentingnya peranan matematika dalam
kehidupan manusia, pemerintah selalu berusaha agar mutu pendidikan matematika
semakin baik. Hal ini terlihat dari berbagai upaya pemerintah seperti
penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku-buku pelajaran, peningkatan
kompetensi guru dan berbagai usaha lainnya yang bertujuan untuk menghasilkan
sumber daya manusia yang cerdas dan berkualitas.
Namun demikian usaha yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan
mutu pendidikan matematika belum menampakkan hasil yang maksimal. Hal ini
dapat dilihat dari hasil laporan TIMSS (2011) menyebutkan bahwa “nilai rata-rata
matematika siswa Indonesia menempati urutan ke-38 dari 45 negara, dan lebih
separuh pelajar kelas II dan kelas III SLTP di Indonesia berada dibawah standar
rata-rata skor Internasional. Data ini semakin menyatakan bahwa mutu pendidikan
matematika dan hasil belajar matematika kita sangat rendah dibanding dengan
negara lain”.
Berdasarkan kondisi tersebut, untuk menghadapi berbagai masalah dan
4
manusia yang handal dan mampu berkompetensi secara global, maka dalam
pembelajaran matematika yang harus dimiliki dan ditumbuh kembangkan pada
siswa salah satunya adalah kemampuan pemecahan masalah matematis.
Hal ini sesuai menurut NCTM (2000) bahwa kemampuan pemecahan
masalah bukanlah sekedar tujuan dari belajar matematika tetapi juga merupakan
alat utama untuk melakukan atau bekerja matematik. Suryadi (2000) juga
menyatakan bahwa kemampuan pemecahan masalah merupakan kegiatan yang
sangat penting dalam pembelajaran matematika. Hal senada juga dikemukakan
oleh Sagala (2009) bahwa menerapkan pemecahan masalah dalam proses
pembelajaran penting, karena selain para siswa mencoba menjawab pertanyaan
atau memecahkan masalah, mereka juga termotivasi untuk bekerja keras.
Diperkuat oleh Hudoyo (dalam Setiawan, 2008) menyatakan bahwa pemecahan
masalah merupakan suatu hal yang sangat esensial di dalam pengajaran
matematika, sebab: (1) siswa menjadi terampil menyeleksi informasi yang
relevan, kemudian menganalisanya dan akhirnya meneliti hasilnya, (2) kepuasan
intelektual akan timbul dari dalam, (3) potensi intelektual siswa meningkat.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah
memegang peranan penting bagi perkembangan kognitif siswa dan perlu
ditingkatkan di dalam pembelajaran yang akan mempengaruhi hasil belajar
matematika siswa. Akan tetapi fakta dilapangan menunjukkan bahwa kemampuan
pemecahan masalah matematis siswa kurang mendapatkan perhatian dari para
guru untuk ditumbuh kembangkan. Hal ini dikarenakan guru lebih berusaha agar
siswa mampu menjawab soal dengan benar tanpa meminta alasan atas jawaban
5
ini didasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Wardani (dalam Purba,
2010) bahwa secara klasikal kemampuan pemecahan masalah matematika belum
mencapai taraf ketuntasan belajar. Setiawan (2008) juga mengungkapkan di dalam
pembelajaran siswa tidak dibiasakan untuk memecahkan
permasalahan-permasalahan matematik yang membutuhkan rencana, strategi dan
mengeksplorasi kemampuan menggeneralisasi dalam penyelesaian masalahnya.
Pentingnya kemampuan pemecahan masalah bertolak belakang dengan
kenyataan dilapangan. Proses pembelajaran yang dilaksanakan pada saat ini
belum memenuhi harapan para guru disekolah. Siswa mengalami kesulitan dalam
belajar matematika, khususnya dalam menyelesaiakan soal yang berhubungan
dengan kemampuan pemecahan masalah matematika sebagaimana diungkapkan
Sumarmo (2006) bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah
matematika pada umumnya belum memuaskan.
Hal ini diperkuat dari laporan TIMMS (dalam Nita, 2011) yang
menyebutkan bahwa kemampuan siswa indonesia dalam pemecahan masalah
hanya 25 % dibanding dengan negara-negara seperti Singapura, Hongkong,
Taiwan, dan Jepang yang sudah 75 % serta berdasarkan hasil dari peniltian MIPA
yang melaporkan peringkat matematika Indonesia yang pesertanya SMP kelas 2
adalah: tahun 1999 peringkat 34 dari 38 peserta; tahun 2003 peringkat 34 dari 45
peserta; tahun 2007 peringkat 36 dari 48 peserta.
Rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematika siswa juga
dikeluhkan oleh guru matematika di SMP As-Syafi’iyah Medan. Ami Biraftika
mengatakan bahwa berdasarkan pengalaman mengajar disekolah tersebut
6
masalah yaitu soal-soal yang tidak rutin. Rata-rata siswa tidak dapat
menyelesaikan soal dengan baik, siswa kesulitan untuk memahami masalah yang
,tidak mampu membuat rencana penyelesaian, tidak mampu membuat model
matematikanya dan tidak memeriksa kembali jawaban yang telah diselesaikan.
Kebanyakan dari siswa tersebut cenderung menghindari soal yang membutuhkan
kemampuan pemecahan masalah yang baik, siswa hanya menyukai soal yang
bersifat rutin dan prosedural.
Untuk meyakinkan pernyaatan Ami Biraftika , peneliti melakukan
observasi awal disekolah tersebut pada tangaal 12 Mei 2015 dengan memberikan
soal yang mengukur kemampuan pemecahan masalah yaitu:
“Dua tahun yang lalu umur Adi enam kali umur Budi. Sedangkan 18 tahun yang akan datang umur Adi dua kali umur Budi. Berapakah selisih umur mereka sekarang!”
Gambar dibawah ini adalah salah satu model penyelesaian yang dibuat
oleh siswa.
Gambar 1.1 Model penyelesaian yang dibuat oleh siswa pada tes kemampuan pemecahan masalah matematis.
Indikator pemecahan masalah: 1. Siswa belum dapat memahami
masalah
2. Siswa belum mampu merencanakan pemecahan masalah
7
Gambar 1.2 Model penyelesaian yang dibuat oleh siswa pada tes kemampuan pemecahan masalah matematis
Berdasarkan hasil jawaban siswa tersebut terlihat bahwa kemampuan
siswa dalam menyelesaikan masalah masih rendah yang meliputi kemampuan
memahami masalah, kemampuan merencanakan masalah, kemampuan
merencanakan, kemampuan melakukan perhitungan, dan kemampuan memeriksa
kembali. Dari 40 orang siswa hanya 6 siswa atau 15 % sudah mampu memahami
persoalan, 4 siswa atau 10 % mampu memahami masalah dan merumuskan
rencana penyelesaian, 2 siswa atau 5 % yang mampu menyelesaikan memahami,
merumuskan rencana penyelesaian dan melaksanakan rencana penyelesaian.
Sementara merumuskan rencana penyelesaian sampai pada memeriksa kembali
langkah-angkah yang sudah dibuat sama sekali tidak ada siswa yang bisa
melakukan hal tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa kemampuan pemecahan
masalah matematis siswa di SMP As-Syafi’iyah Medan masih rendah.
Selain kemampuan pemecahan masalah, kemampuan pada aspek lain yang
bersifat afektif dan tidak kalah pentingnya untuk ditumbuhkembangkan pada diri Indikator pemecahan masalah:
1. Siswa belum mampu merencanakan pemecahan masalah
8
siswa adalah kemandirian belajar siswa. Ditumbuh-kembangkannya kemandirian
pada siswa, membuat siswa dapat mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan
kemampuan yang dimilikinya secara optimal dan tidak menggantungkan diri kepada
orang lain. Siswa yang memiliki kemandirian belajar yang tinggi akan berusaha
menyelesaikan segala latihan atau tugas yang diberikan oleh guru dengan kemampuan
yang dimilikinya sendiri. Jika siswa mendapat kesulitan barulah siswa tersebut akan
bertanya atau mendiskusikan dengan teman, guru atau pihak lain yang sekiranya lebih
berkompeten dalam mengatasi kesulitan tersebut. Suparno (dalam Nuridawani,
2015) mengatakan bahwa “kemandirian penting dalam belajar karena dengan
adanya kemandirian belajar, keberhasilan dan prestasi belajar akan mudah
diperoleh”.
Namun faktanya masih banyak siswa yang memiliki kemandirian belajar
yang rendah. Hal ini ditunjukkan oleh hasil wawancara peneliti pada tanggal 15
Mei 2015 dengan guru matematika tersebut mengatakan bahwa masih banyak
siswa yang belum bisa belajar mandiri. Sebagai contoh, (1) siswa tidak melakukan
persiapan sebelum menghadapi pembelajaran disekolah, dan mempelajari materi
pembelajaran hanya apabila akan dilakukan tes, (2) ketika mengerjakan suatu
materi yang diterapkan pada persoalan nyata siswa cenderung sulit untuk
mengerjakan walaupun sebenarnya sama dengan persoalan yang ada, (3) dan
apabila diminta untuk maju kedepan mengerjakan suatu soal hanya menunggu
teman yang lain untuk mengerjakannnya didepan kelas.
Rendahnya kemampuan pemecahan masalah dan kemandirian belajar
siswa disebabkan banyak faktor, salah satunya adalah berkaitan dengan proses
pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar guru masih menggunakan
9
Dalam metode mengajar tradisional, seseorang guru dianggap sebagai sumber ilmu, guru mendonimasi kelas. Guru langsung mengajar matematika, membuktikan semua dalil-dalilnya dan memberikan contoh-contohnya. Sebaliknya murid harus duduk dengan rapi, mendengarkan dengan tenang dan berusaha meniru cara-cara guru membuktikan dalil dan cara mengerjakan soal-soal. Demikianlah suasana belajar dan belajar yang tertib dan tenang. Murid bersifat pasif dan guru bersifat aktif. Murid-murid yang dapat dengan persis mengerjakan soal-soal seperti yang dicontohkan gurunya adalah yang akan mendapatkan nilai yang paling baik. Murid-murid pada umumnya kurang diberikan kesempatan untuk berinisiatif, mencari jawaban sendiri, merumuskan dalil-dalil. Murid-murid pada umumnya diharapkan pada pertanyaan bagaimana menyelesaikan soal bukan kepada mengapa penyelesaiannya.
Pembelajaran matematika disekolah sejauh ini masih didominasi oleh
pembelajaran biasa dengan paradigma guru mengajar. Siswa lebih banyak
bergantung pada guru yang mengakibatkan pembelajaran berpusat pada guru
(teacher oriented) dimana guru berperan aktif sementara siswa menjadi pasif.
Materi pembelajaran matematika diberikan dalam bentuk jadi, cara itu terbukti
tidak berhasil membuat siswa memahami dengan baik apa yang mereka pelajari.
Pembelajaran yang seperti ini merupakan pembelajaran dimana guru mentransfer
ilmunya langsung kepada siswa dan pembelajaran yang lebih menekankan hasil
dari pada proses, sehingga memandang matematika sebagai kumpulan rumus,
bukan sebagai proses berfikir, siswa tidak mampu mandiri dan tidak tahu apa
yang harus dilakukannya saat pembelajaran berlangsung kecuali duduk
mendengarkan penjelasan dari guru.
Fenomena diatas terjadi juga di SMP As-Syafi’iyah Medan. Sebagaimana
observasi peneliti pada tanggal 15 Mei 2015 disekolah tersebut melihat proses
pembelajaran dimana guru asyik sendiri menjelaskan materi yang telah
dipersiapkan sementara siswa asyik sendiri menjadi penerima informasi yang baik
10
mengingat rumus-rumus dan menghapal cara pengerjaan soal yang dilakukan guru
tanpa makna dan pengertian dari siswa. Guru tersebut beranggapan bahwa
menyelesaaikan suatu soal atau permasalahan matematika cukup dengan
mengikuti atau mencontoh apa yang dikerjakan oleh guru . Hal ini menyebabkan
pembelajaran yang kurang bermakna sehingga mengakibatkan kemampuan
matematika siswa tidak tercapai.
Dari hasil observasi diatas terlihat bahwa proses pembelajaran yang
terjadi masih bersifat teacher centered (berpusat pada guru), sehingga siswa tidak
mengkonstruksi sendiri pengetahuannya. Guru kurang mampu menerapkan
strategi atau pendekatan pembelajaran. Hal inilah salah satu alasan yang membuat
siswa enggan belajar matematika. Siswa cenderung kesulitan mengerjakan secara
mandiri materi yang diberikan, serta kurangnya bertanya terhadap guru sehingga
dalam pemecahan masalah matematika siswa juga akan merasa kesulitan. Hal
inilah yang menyebabkan kemandirian belajardan pemecahan masalah
matematika siswa masih relatif rendah.
Menanggapi permasalahan yang timbul dalam pembelajaran matematika
di atas, terutama berkaitan dengan kemampuan pemecahan masalah dan
kemandirian belajar siswa yang akhirnya menyebabkan rendahnya hasil belajar
siswa dalam pembelajaran matematika, maka perlu bagi guru atau peneliti
memilih suatu pembelajaran yang dapat mengubah paradigma tersebut. Dimana
sutau proses pembelajaran matematika yang memberikan kesempatan pada siswa
untuk melihat dan mengalami sendiri kegunaan matematika dalam kehidupan
11
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan kemanidrian belajar siswa,
sehingga akan berdampak positif pada hasil belajar siswa.
Salah satu pendekatan yang berpeluang dapat meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah dan kemandirian belajar siswa adalah pembelajaran
Contextual Teaching and Learning (CTL), karena pembelajaran CTL memberikan
kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya dan melibatkan
siswa secara penuh dalam proses pembelajaran. Hal ini senada dengan Sanjaya
(2006) mengatakan bahwa:
CTL adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapatmenemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasikehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Dalam konsep CTL ada hal yang harus dipahami, yaitu (1) CTL
menekankan pada proses keterlibatan siswa, (2) CTL mendorong siswa
menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan
nyata, (3) CTL mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan. US.
Departemen of Education the National School to Work Office (dalam Trianto,
2008) mengemukakan bahwa:
Pengajaran dan pembelajaran kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan motivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara ataupun tenaga kerja.
Selanjutnya Nurhadi (2003) menyatakan bahwa:
12
keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit semi sedikit, dan dari proses mengkontruksi sendiri , sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.
Dari beberapa pernyataan diatas dapat diketahui bahwa pendekatan
kontekstual Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan pendekatan
yang mengaitkan materi dengan situasi dunia nyata siswa, sehingga mendorong,
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengn
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan konsep itulah , diharapkan hasil pembelajaran siswa lebih bermakna
dalam peningkatan kemampuan pemecahan masalah dalam mengaplikasikan
konsep pengetahuan yang telah dimilikinya.
Proses pembelajaran melibatkan siswa melalui kegiatan-kegiatan siswa
bekerja dan siswa mengalami, bukan semata-mata guru mentransfer pengetahuan
ke siswa. Proses pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil. Dalam kelas
kontekstual, tugas guru adalah membantu menciptakan suatu perubahan tingkah
laku siswa mencapai tujuannya., maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan
strategi proses pembelajaran daripada memberi informasi dalam proses
pembelajaran. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekeja sama
untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas ( siswa ). Sesuatu yang
baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru (Depdiknas,2006).
Pertimbangan dipilihnya Contextual Teaching and Learning (CTL) dari
beberapa penelitian terdahulu, seperti Setiawati (2013), Sari (2014), Nuridawani
(2015), secara keseluruhan hasil penelitian tersebut diperoleh kesimpulan bahwa
pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih baik dari pada
13
Selain faktor pembelajaran, ada faktor lain juga yang dapat mempengaruhi
terhadap kemampuan pemecahan masalah dan kemandirian belajar siswa yaitu
kemampuan awal matematika (KAM) siswa. Hal ini dikarenakan matematika
merupakan ilmu yang terstruktur dan terkait dalam pemaparan setiap konsepnya.
Suherman dkk (2001) mengungkapkan “Dalam matematika terdapat topik atau
konsep prasyarat sebagai dasar untuk memahami topik atau konsep selanjutnya.
Sehingga dapat dikatakan penguasaan materi sebelumnya merupakan jembatan
siswa dalam mempelajari materi matematika selanjutnya”. Sejalan dengan itu,
Hudojo (1988) mengemukakan bahwa : “Mempelajari konsep B yang mendasari
konsep A, siswa perlu memahami terlebih dahulu konsep A. Tanpa memahami
konsep A tidak mungkin siswa tersebut memahami konsep B”. Ini berarti bahwa
pengetahuan matematika yang dimiliki siswa sebelumnya menjadi dasar
pemahaman untuk mempelajari materi selanjutnya. Namun berdasarkan hasil
observasi terhadap materi yang telah dipelajari sebelumnya, ternyata masih
banyak siswa yang tergolong memiliki kemampuan awal matematika rendah. Hal
ini terlihat dari hasil ulangan harian di sekolah tersebut dari 40 orang siswa hanya
7 siswa atau 17,5 % siswa yang memperoleh nilai diatas KKM sisanya dibawah
KKM.
Siswa dengan KAM sedang atau rendah, akan sulit memahami materi
matematika. Sehingga penyajian pendekatan dan metode pembelajaran yang
sesuai dengan karakteristik siswa dapat memungkinkan meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah matematis. Sebaliknya siswa yang memiliki
kemampuan awal matematika (KAM) tinggi tidak memberi pengaruh yang besar
14
siswa dengan kemampuan awal matematis (KAM) tinggi telah memiliki “modal”
yang cukup untuk memahami matematika.
Bagi siswa yang memiliki kemampuan sedang atau rendah, apabila
pendekatan pembelajaran yang digunakan guru menarik, sesuai dengan tingkat
kognitif siswa sangat dimungkinkan pemahaman siswa akan lebih cepat, dan pada
akhirnya dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan kemandirian
belajar siswa dalam matematika. Sebaliknya bagi siswa yang memiliki
kemampuan tinggi pengaruh pendekatan pembelajaran terhadap kemampuan
pemecahan masalah dan kemandirian dalam matematika tidak terlalu besar. Hal
ini terjadi karena siswa yang memiliki kemampuan tinggi lebih cepat memahami
matematika, karena mereka sudah terbiasa dengan belajar yang disiplin,
bersemangat, dan menantang walaupun tanpa menggunakan berbagai pendekatan
pembelajaran yang menarik dan biasa. Oleh sebab itu, kebijakan untuk menerapkan
pendekatan pembelajaran dalam suatu proses pembelajaran di kelas perlu
mempertimbangkan perbedaan kemampuan matematika siswa.
Berkaitan terhadap pengaruh kemampuan awal matematika (KAM) dalam
proses pembelajaran, Widdiharto (2008), mengungkapkan:
15
Kemampuan awal matematika (KAM) siswa diperoleh dari hasil tes awal.
Tes awal diberikan kepada siswa untuk mengetahui kemampuan awal matematika
siswa sebelum siswa memasuki materi selanjutnya. Menurut Russeffendi (1991)
setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda-beda ada siswa yang pandai,
ada yang kurang pandai serta ada yang biasa-biasa saja, serta kemampuan yang
dimiliki siswa bukan semata-mata bawaan dari lahir tetapi juga dipengaruhi oleh
lingkungan. Oleh karena itu, pemilihan lingkungan belajar khususnya model
pembelajaran menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan.
Berdasarkan uraian di atas diduga pembelajaran dengan pendekatan
pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat dijadikan salah satu
cara untuk menigkatkan kemampuan pemecahan masalah dan kemandirian belajar
siswa. Untuk menguji dugaan tersebut maka diambil judul ”Peningkatan
Kemampuan Pemecahan Masalah dan Kemandirian Belajar Siswa Melalui
Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL) Di Sekolah Menengah
Pertama”
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, dapat diidentifikasi beberapa
permasalahan dalam pembelajaran matematika yaitu sebagai berikut:
1.Hasil belajar matematika siswa masih rendah.
2.Matematika dianggap sebagai pelajaran sulit dan tidak menarik.
3.Kemampuan awal matematika (KAM) yang dimiliki sebagian siswa untuk
mempelajari matematika tergolong masih rendah.
16
5. Kemandirian belajar siswa masih rendah.
6. Pembelajaran matematika kurang melibatkan siswa.
7. Pembelajaran yang dilakukan oleh guru masih bersifat teacher oriented.
8. Kurangnya pengetahuan guru dalam menerapkan pendekatan
pembelajaran yang bersifat inovatif.
1.3 Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah diatas, maka
perlu adanya pembatasan masalah agar lebih fokus dan mencapai tujuan yang
diharapkan, maka peneliti membatasi masalah sebagai berikut :
1. Peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan kemandirian belajar siswa
melalui pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL).
2. Interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan kemampuan awal
matematika (KAM) siswa terhadap kemampuan pemecahan masalah dan
kemandirian belajar siswa.
3. Proses jawaban yang dibuat siswa dalam menyelesaikan masalah pada
pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dan
pembelajaran biasa.
1.4 Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa yang diajarkan
melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih tinggi
17
2. Apakah peningkatan kemandirian belajar siswa yang diajar melalui
pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih tinggi
dibandingkan dengan siswa yang diajar melalui pembelajaran biasa ?
3. Apakah terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan
kemampuan awal matematika terhadap peningkatan kemampuan pemecahan
masalah ?
4. Apakah terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan
kemampuan awal matematika terhadap peningkatan kemandirian belajar ?
5. Bagaimanakah proses jawaban siswa dalam menyelesaikan soal-soal
kemampuan pemecahan masalah pada pendekatan Contextual Teaching and
Learning (CTL) dan pembelajaran biasa ?
1.5 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa yang
diajar melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih
tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajar melalui pembelajaran biasa.
2. Untuk mengetahui peningkatan kemandirian belajar siswa yang diajar melalui
pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih tinggi
dibandingkan dengan siswa yang diajar melalui pembelajaran biasa.
3. Untuk mengetahui interaksi antara pendekatan Contextual Teaching and
Learning (CTL) dengan kemampuan awal matematika siswa terhadap
18
4. Untuk mengetahui interaksi antara pendekatan pembelajaran matematika
dengan kemampuan awal matematika siswa terhadap kemandirian belajar.
5. Untuk mengetahui proses jawaban kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa yang diajar melalui kedua pendekatan pembelajaran tersebut.
1.6Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan akan memberikan informasi dalam memperbaiki
proses pembelajaran matematika dengan menerapkan pendekatan pembelajaran
Contextual Teaching Learning (CTL). Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat:
1. Untuk Peneliti
Memberi gambaran atau informasi tentang peningkatan kemampuan
pemecahan masalah dan kemandirian belajar siswa dengan pendekatan CTL
(Contextual Teaching and Learning).
2. Untuk Guru
Memberi alternatif pendekatan pembelajaran matematika untuk dapat
dikembangkan menjadi lebih baik sehingga dapat dijadikan salah satu upaya
untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
3. Untuk Siswa
Memberi pengalaman baru bagi siswa dan mendorong siswa untuk terlibat aktif
dalam pembelajaran matematika di kelas, sehingga selain dapat meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah matematis, dan kemadirian belajar juga
19
1.7 Defenisi Operasional
Untuk menghindari kesalahan penafsiran terhadap istilah-istilah yang
terdapat pada rumusan masalah dalam penelitian ini, perlu dikemukakan defenisi
operasional sebagai berikut :
1. Kemampuan pemecahan masalah matematika adalah kesanggupan siswa dalam
menyelesaikan masalah matematika dengan memperhatikan proses
menemukan jawaban berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah yaitu :
(1) memahami masalah (2) membuat rencana pemecahan (3) melakasanakan
rencana (4) memeriksa kembali hasil pemecahan masalah yang diperoleh.
2. Kemandirian belajar adalah kemampuan seseorang untuk mengolah secara
efektif pengalaman belajarnya sendiri dengan berbagai cara sehingga
mencapai hasil belajar yang optimal dengan indikator yaitu (1) menunjukkan
inisiatif dalam belajar matematika (2) mendiagnosis kebutuhan dalam belajar
matematika (3) mengatur dan mengontrol belajar (4) mengevaluasi proses dan
hasil belajar (5) memandang kesulitan sebagai tantangan (6) mencari dan
memanfaatkan sumber belajar yang relevan (7 ) yakin tentang dirinya sendiri.
3. Pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL ) adalah
suatu pendekatan pembelajaran dengan tujuh komponen utama yaitu :
Construktivisme, Inquiry , Questioning , Learning Community , Modeling,
Refleksi, dan Assessment Autentik yang menekankan kepada proses
keterlibatan siswa secara penuh dalam mempelajari materi yang diberikan dan
menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong
20
4. Pembelajaran biasa adalah pembelajaran dengan prosedur yang biasa
digunakan guru dalam mengajar dengan langkah-langkahnya yaitu guru
menyiapkan bahan pelajaran, menjelaskan materi pelajaran, siswa diberi
kesempatan bertanya, siswa mengerjakan soal latihan yang diberikan guru,
siswa dan guru membahas soal latihan, kemudian guru memberi soal-soal
pekerjaan rumah.
5. Kemampuan awal matematika adalah kecakapan matematika yang sudah
dimiliki siswa sebelum mempelajari materi selanjutnya yang diukur melalui
pemberian tes mengenai materi yang telah dipelajari oleh siswa. Hasil tes akan
membedakan siswa kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
6. Proses jawaban adalah langkah-langkah penyelesaian masalah yang dilakukan
siswa dalam menyelesaikan masalah matematika berdasarkan indikator
183
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1Kesimpulan
Berdasarkan rumusan masalah, hasil penelitian, dan pembahasan seperti
yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, diperoleh beberapa kesimpulan
sebagai berikut:
1) Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika
siswa yang diberi pendekatan CTL dengan siswa yang diberi pembelajaran
biasa. Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang
diberi pendekatan CTL lebih baik dibandingkan dengan siswa yang diberi
pembelajaran biasa.
2) Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan kemampuan
awal matematika terhadap peningkatan kemampuan pemecahan masalah
matematika siswa. Perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika
siswa disebabkan pendekatan pembelajaran yang digunakan bukan
kemampuan awal matematika siswa.
3) Terdapat perbedaan peningkatan minat belajar siswa yang diberi pendekatan
CTL dengan siswa yang diberi pembelajaran biasa. Peningkatan kemandirian
belajar siswa yang diberi pendekatan CTL lebih baik dibandingkan dengan
siswa yang diberi pembelajaran biasa.
4) Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan kemampuan
awal matematika terhadap peningkatan kemandirian belajar siswa. Perbedaan
184
pembelajaran yang diberikan bukan karena kemampuan awal matematika
siswa.
5) Ragam jawaban yang dibuat siswa dalam menyelesaikan soal-soal pemecahan
masalah matematika siswa yang diberi pendekatan CTL lebih bervariasi
daripada siswa yang diberi pembelajaran biasa.
5.2 Saran
Beberapa saran yang perlu mendapat perhatian dari semua pihak yang
berkepentingan terhadap penggunaan pendekatan CTL dalam proses pembelajaran
matematika. Saran-saran tersebut adalah sebagai berikut.
1) Kepada Guru
Peran guru sebagai fasilitator perlu didukung oleh sejumlah kemampuan
antara lain kemampuan memandu diskusi di kelas serta kemampuan dalam
menyimpulkan. Pendekatan CTL pada kemampuan pemecahan masalah
matematika dapat diterapkan pada semua kategori KAM. Oleh karena itu
hendaknya pendekatan ini terus dikembangkan di lapangan yang membuat siswa
terlatih dalam memecahkan masalah melalui proses memahami masalah,
membuat rencana penyelesaian, menyelesaikan masalah dan memeriksa kembali
hasil pemecahan masalah yang diperoleh.
2) Kepada Lembaga terkait
Pendekatan CTL perlu disosialisasikan oleh sekolah atau lembaga terkait
dengan harapan dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa, khususnya
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika dan kemandirian
belajar siswa yang tentunya akan berimplikasi pada meningkatnya prestasi siswa
185
3) Kepada Peneliti
Untuk penelitian lebih lanjut hendaknya penelitian dengan pendekatan
CTL dalam peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika dan
kemandirian belajar siswa secara maksimal untuk memperoleh hasil penelitian
186
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, M. 2009. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Abidin, M.2013. Pengertian Pendekatan Konvensional.http://www.masbied.com/ 2013/02/25/pengertian-pendekatan-konvensional/ (Diakses: Maret 2015)
Arihi, L. S. dan La Iru. 2012. Analisis Penerapan Pendekatan, Metode, Strategi, dan
Model-Model Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Presindo.
Arikunto, S. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rieneka Cipta.
. 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta, Jakarta.
Asmin. 2014. Pengukuran dan Penilain Hasil Belajar Dengan Analisis Klasik dan Modern. Medan : Larispa Indonesia.
Baroody, A.J.1993.Problem Solving, Reasoning, and Communicating, K-8 Helping
Children Think Mathematically. New York: Macmillan Publishing
Company.
Beller. 2002. Positive Character Development in School Sport Program. ERIC Digest www.ericdigest.org(Diakses tanggal 5 Juli 2015)
Chau Yu,K.2014. Enhancing Students’ Problem-Solving Skills Through Context-Based Learning. International Journal of Science and Mathematics Education.
Creswell, J.W. 2008. Educational Research. Planing, Conducting, and Evaluating Qualitative & Quantitative Approaches.London. Sage Publications.
Dahar, R.W. 2006. Teori-Teori Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta : Penerbit Erlangga
Darhim. 2004. Pengaruh Pembelajaran Matematika Kontekstual terhadap Hasil Belajar dan Sikap Siswa Sekolah Dasar Kelas Awal dalam Matematika.Disertasi pada PPs UPI. Tidak dipublikasikan.
Das, R. 2013. Math Anxiety: The Poor Problem Solving Factor in School Mathematics by Contextual . International Journal of Scientific and Research Publications, Volume 3, Issue 4, ISSN 2250-3153 .
Depdiknas. 2006. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah. Jakarta : BSNP.
187
Ekowati,dkk.2015. The Application of Contextual Approach in Learning Mathematics to Improve Students Motivation At SMPN 1 Kupang. International Education Studies; Vol. 8, No. 8; 2015 (http://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1070817.pdf) diakses tanggal 12 November 2016.
Ellianawati. 2010. Pemanfaatan Model Self Regulated Learning Sebagai Upaya
Peningkatan Kemampuan Belajar Mandiri Pada Mata Kuliah 0ptik. ISSN:
1693-1246. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Unnes: Semarang. (online). (http://www.google.co.id/url?q=http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/JPF I/article/download/1100/1011 (Diakses pada tanggal 5 Maret 2015)
Gafur, A .1989. Disain Instruksional. Surakarta: Tiga Serangkai
Hadi,S.2005. Pendidikan Matematika Realistikdan Implementasinya. Banjarmasin : Tulip
Haji.2005. Pengaruh Pendekatan Matematika Realistik Terhadap Hasil Belajar Matematika di Sekolah Dasar. Disertasi UPI Bandung.
Hake, R. R. (1999). Analyzing Change/Gain Scores. Woodland Hills: Dept. of Physics, Indiana University. [Online]. Tersedia: http://www.physics. indiana.du/~sdi/AnalyzingChange-Gain.pdf (Diakses 9 Februari 2015.
Hendriana.2014. The Application of Contextual Approach in Learning Mathematics to Improve Students Motivation At SMPN 1 Kupang. International Journal Education Studies; Vol. 8, No. 8;
Hudojo,H.1979. Pengembangan Kurikulum Matematika dan Pelaksanaannya di Depan Kelas. Jakarta: Depdikbud.
.1988. Mengajar Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbud LPTK.
.2005. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika.Malang: UM Press.
Immerman, BJ. 2000. Attaiting Self-Regulation: A Sosial Cognitive Perspective. In M. Boekaerts, P.R Pintrich & M. eidner (Eds), Handbook Of Self-Regulation (pp.13-35). San Diego, CA: Academic.
Jihad, A. 2006.Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik Siswa dengan Metode IMPROVE disertai Embedded test (Studi Eksperimen diMadrasah Aliyah Negeri 2 Bandung. Tesis. UPI Bandung. Tidak diterbitkan.
188
Kadir. 2009.Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik Siswa SMPmelalui Penerapan Pembelajaran Kontekstual Pesisir. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Jurusan Pendidikan Matematika, 5 Desember 2009. FMIPA UNY.
Kunandar.2014.Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013): Suatu Pendekatan Praktis Disertai dengan Contoh. Ed. Rev. Jakarta: Rajawali Pers.
Kurniasih, I & Sani, B. (2014). Implementasi Kurikulum 2013 Konsep & Penerapan. Surabaya: Kata Pena.
Liu X.2009. The Effect of Mathematics Self-Efficacy on Mathematics Achievement of High School Students. Northeastern Educational Research Association (NERA) Annual Conference.
Marhaeni, A.A.I.N. 2005. Assesment Portofolio Dalam Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Bali: Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja.
Nasution, S. (1982). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Edisi Pertama. Jakarta: Bina Aksara.
NCTM (http://www.nctm.org/standards/content.aspx?id=23273). Online. (Diakses April 2015).
Ngalimun. 2014. Strategi dan Model pembelajaran. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.
Nita,S. 2011. Pengaruh Pendekatan Matematika Realistik Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalahdan Komunikasi Matematis Siswa.Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan. Tidak Diterbitkan.
Nurhadi. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: UniversitasNegeri Malang.
Nuridawani.2015. Peningkatan Kemampuan Penalaran Matematis dan Kemandirian Belajar Siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Jurnal Didaktik Matematika. Vol.2, No. 2, September 2015. Program Pasca Sarjana Universitas Syiah Kuala.
Paulina, P. 2002. Belajar dan Pembelajaran 1. Jakarta : Pusat Penerbitan
Pembelajaran Matematika disampaikan pada Diklat
189
Polya, G. 1973. How to Solve It A New Aspect of Mathematical Method. Princeton University Press.
Purba, G. 2010.Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Yang
Berorientasikan Masalah Untuk Maningkatkan Kemampuan
Pemecahan Masalah Matemtika Siswa. Tesis. Medan: UNIMED Medan, tidak diterbitkan.
Rauf, S. 2004. Pembelajaran Kontekstual dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Pemahaman dan Koneksi Matematika Siswa SLTP Negeri 1 Toli-Toli. Tesis. PPs UPI: Tidak diterbitkan.
Riduwan, 2012. Dasar-dasar Statistika. Bandung: Alfabeta.
Rina,F & Sarbiran. (2001).Pengaruh Kemandirian dan Kemampuan Menyesuaikan Diri terhadap Prestasi Belajar Siswa Full Day School. Jurnal Penelitian dan Evaluasi No.4 Tahun Ke-3. Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.
Ruseffendi, E.T. 1988. Pengajaran Matematika Modern dan Masa Kini Untuk Guru dan SPG. Bandung : Tarsito.
.1991. Pengantar Kepada Guru Mengembangkan Kompetensinya Dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.
Surya, E, dkk. 2013. Improving of Junior High School in Mathematical Problem Solving Ability by CTL. IndoMS. J.M.E Vol. 4 No. 1 January 2013, pp. 113-126.
Sagala, S. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Sanjaya,W. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Bandung: Kencana.
Saragih, S. 2007. Mengembangkan Kemampuan Berfikir Logis dan Komunikasi Matematik Siswa Sekolah Menengah Pertama Melalui Pendekatan Matematika Realistik. Disertasi, Program Pasca sarjana Univesitas PendidikanIndonesia,Bandung,tersediahttp://digilib.upi.edu/digitalview.p hp?digital_id=1474 (Diakses 12 Februari 2016).
Sari, dkk. 2014. Implementasi Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Bernuansa Pendidikan Karakter untuk Meningkatkan Kemampuan
Pemecahan Masalah Matematis Siswa MTsN. Jurnal Didaktik
190
Setiawan, A. 2008. Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematik Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis. Bandung : UPI Bandung, tidak diterbitkan.
Setiawati, D.2013.Perbedaan Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Dan Komunikasi Matematik Siswa Antara Pendekatan Contextual Teaching AndLearning Dan Pembelajaran Konvensional Pada Siswa Kelas X Smk Negeri 1 Bireuen.Jurnal Pendidikan Matematika PARADIKMA, Vol.6 Nomor 1, hal 1-13. Medan : Unimed.
Shadiq, F. 2004. Pemecahan Masalah, Penalaran dan Komunikasi. Makalah disampaikan Pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SMA Jenjang Dasar di PPPG Matematika. Yogyakarta.
.2009. Perbedaan Self Regulated Learning Antara Siswa Underachievers dan siswa Overachieverspada kelas 3 SMP Negeri Yogyakarta. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan
Sholeh, M. 200. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Rineka Cipta.
Siahaan, FB. 2011. Pengaruh Strategi REACT dan Sikap Siswa Terhadap Matematika Dalam Peningkatan Kemampuan Koneksi dan Pemecahan Masalah Matematika Siswa SMA. Tesis tidak diterbitkan. Medan: Program Pascasarjana Unimed.
Sinaga, B. 2007. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Berdasarkan Masalah Berbasis Budaya Batak (PBM – B3). Disertasi tidak diterbitkan. Surabaya: Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya.
Soedjadi,R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta: Dikti Depdiknas.
Soedjana. W. 1986. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka.
Sudjana.1991. Metode Statistika. Bandung. Tarsito
.2009. Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar. Dasar-dasar ProsesBelajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya
Sugandi, A. 2013. Pendekatan Kontektual Sebagai Pendekatan Dalam Pembelajaran Matematik Yang Humanis Dalam Meningkatkan Kemandirian Belajar. ProsidingSeminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Yogyakarta, 9 November 2013 (Online)ttps://core.ac.uk/download/files/335/18454274.pdf diakses pada tanggal 13 Februari 2006).
191
. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif dan R & D. Bandung: Afabeta.
.2013.Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : Alfabeta.
Suharyadi & Purwanto. 2008. Statistika Untuk Ekonomi Dan Keuangan Modern Edisi
2 Buku 1. Jakarta: Salemba Empat.
Suherman,dkk.2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung :UPI
Sujarwo, I. (2000), Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Teknik Probing dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa MAN Malang. Tesis. Tidak di Publikasikan. PPS UPI Bandung. (diakses 5 Juni 2015)
Sumanto. 2014. Teori dan Aplikasi Metode Penelitian, Psikologi, Pendidikan Ekonomi Bisnis dan Sosial. Jakarta: Buku Seru.
Sumardyono. 2010. Pengertian Dasar Problem Solving. http:// problemsolving. p4tkmatematika.org/2010/02/pengertian-dasar-problem-solving/.
(Diakses 1 Juni 2015).
Sumarmo, U. 2006. Pembelajaran Ketrampilan Membaca Matematika Pada Siswa Sekolah Menengah. Bandung: FPMIPA UPI.
Suparno, P. 1997. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.
Suryadi,R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta: Dikti Depdiknas.
Tarigan, D. 2006. Pembelajaran Matematika Realistik. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
TIM MKPBM. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA UPI.
Trends in International Mathematics and Science Study. (2011). Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) Result [Online]. Tersedia: http://nces.ed.gov/timss/table11_1.asp(Diakses Pada Tanggal 2 Juli 2015)
Trianto.2008. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Surabaya: Kencana Prenada Media Group.
Umar, T & Sulo, L.2000.Pengantar Pendidikan.Jakarta: Rineka Cipta..
Walpole, E. 1995.Pengantar Statistik. Jakarta: PT. GramediaPustakaUtama.
192
Widdiharto, R. 2008. Diagnosis Kesulitan Belajar Matematika Belajar Matematika
SMP dan Alternatif Proses Remedinya. Yogyakarta: Pusat Pengembangan
dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika.
Yamin, M. 2012.Desain Baru Pembelajaran Konstruktivistik. Jakarta : Referensi.
. 2013. Strategi & Metode Dalam Model Pembelajaran. Jakarta : Referensi.
Zedan, R. 2014. Environment Learning as a Predictor of Mathematics Self-Efficacy and Math Achievement. Amerika : American International Journal of Social Science. (online). Vol. 3 No. 6.