Partisipasi Masyarakat Dalam Pengembangan Pariwisata Pantai Pasir Putih Parbaba(Studi pada Desa Huta Bolon, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir , Sumatera Utara)

103  36  Download (3)

Teks penuh

(1)

Daftar Pustaka

Azhari, Samlawi. 1997. Etika Lingungan Dalam Pembangunan Berkelanjutan. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Budiman,Arif. 1995. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta: P.T. Gramedia Pustaka Utama

Dirgantoro, Crown. 2001. Manajemen Strategis. Jakarta : PT. Gramedia Jatmiko.2003. Manajemen Strategi. Malang:UMM Press

Lunberg Donald, dkk. 1997. Ekonomi Pariwisata. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Mansour Fakih. 2002. Runtuhnya Teori Pemabangunan dan Globalisasi . Yogyakarta : Insist Press

Moleong, Lexy. , 2007. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung : PT Remaja Rosda Karya.

Ndraha, Taliziduhu. 1990. Pembangunan Masyarakat Mempersiapkan Masyarakat tinggal landas. Rineka Cipta

Pardede, Pontas. 2011. Manajemen Strategik & Kebijakan Perusahaan. Jakarta: Mitra Wacana Media

Sitorus, Henry, Togar, dkk. 2016. Membangun Pariwisata Yang Bermartabat dan Berkelanjutan di Kawasan danau Toba. Medan : Bina Media Perintis

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.

Suwardjoko P Warpani dan Indira P Warpani. 2007. Pariwisata dalam Tata Ruang Wilayah. Bandung :ITB

Suyanto, Bagong. (2005).Metode Penelitian Sosial: Bergabai Alternatif Pendekatan.

Jakarta : Prenada Media

(2)

Sumber Undang-Undang

Undang-Undang No.10 tahun 2009 tentang kepariwisataan

Peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2016 Tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan

Internet

(3)

BAB III

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

3.1 Gambaran Umum Kabupaten Samosir

Kabupaten Samosir merupakan Kabupaten yang dimekarkan dari Kabupaten Toba Samosir yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2003, tentang Pembentukan Kabupaten Samosir dan Kabupaten Serdang Bedagai di Provinsi Sumatera Utara, yang diresmikan tanggal 7 Januari 2004 oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia sekaligus ditetapkan menjadi Hari Jadi Kabupaten Samosir sesuai dengan Perda Kabupaten Samosir Nomor 28 Tahun 2005.

Secara geografis Kabupaten Samosir terletak di antara 2021’38’’- 2049’48’’ Lintang Utara dan 98024’00’’-99001’48’’ Bujur Timur dengan ketinggian antara 904 - 2.157 meter di atas pemukaan laut. Luas wilayahnya ± 2.069,05 km2, terdiri dari luas daratan ± 1.444,25 km2 (69,80 persen), yaitu seluruh Pulau Samosir yang dikelilingi oleh Danau Toba dan sebahagian wilayah daratan Pulau Sumatera, dan luas wilayah danau ±624,80 km2 (30,20 persen).

(4)

Adapun batas-batas Kabupaten Samosir adalah

a. Sebelah Utara : Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun

b. Sebelah Selatan :Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbang Hasundutan

c. Sebelah Barat : Kabupaten Dairi dan Kabupaten Pakpak Barat d. Sebelah Timur : Kabupaten Toba Samosir.

Secara administratif Kabupaten Samosir terdiri dari 9 Kecamatan. Luas wilayah per Kecamatan lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 3.1. berikut ini.

Tabel 3.1

Nama, Luas Wilayah Per-Kecamatan Jumlah Desa, Kelurahan Nama Kecamatan Jumlah

Kelurahan

(5)

Berdasarkan Tabel diatas dapat kita lihat bahwa Kabupaten Samosir terdiri dari 9 kecamatan. Kecamatan Pangururan merupakan Ibukota dari Kabupaten Samosir dengan jumlah desa yang paling banyak yaitu sebnayak 28. Namun Kecamatan yang paling luas adalah Kecamatan Simanindo dengan jumlah desa sebanyak 21.Sedangkan Kecamatan yang paling kecil yaitu Kecamatan Sitio-tio.

3.2 Gambaran Umum Desa Hutabolon 3.2.1 Letak Geografi

Luas wilayah Desa Hutabolon adalah sekitar 3.900.003 Km2 atau 3900,0,03 Ha dimana 60% berupa daratan yang bertopografi berbukit-bukit, dan 40% daratan dimanfaatkan sebagai lahan pertanian yang dimanfaatkan untuk persawahan irigasi, persawahan tadah hujan dan areal perkebunan rakyat.

Desa Hutabolon adalah salah satu Desa di Kecamatan Pangururan yang didirikan pada tahun 1986, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

a. Sebelah Utara : Desa Situngkir Kecamatan Pangururan b. Sebelah Timur : Desa Parbaba Dolok Kecamatan Pangururan c. Sebelah Selatan : Desa Siopat-sosor Kecamatan Pangururan d. Sebelah Barat : batas Danau toba

Tabel 3.2

Luas Wilayah Desa Hutabolon per Dusun No. Dusun Jumlah Huta Luas Wil.

(Km²) % Luas 1 I 12 2.600.002 70% 2 II 14 1.300.001 30% Jumlah 26 3.9000.003 100 %

(6)

Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa Dusun I lebih luas dari Dusun II, tetapi Dusun II lebih banyak Hutanya dibanding di Dusun I.

3.2.2 Sejarah Desa

(7)

Pemerintahan Desa, Hutabolon diakui sebagai sebuah desa dengan nama Desa Hutabolon yang berturut-turut dipimpin oleh Kepala Desa yakni :

Tabel 3.3

Nama Kepala Desa dan Lama Jabatan

NO Nama Masa Jabatan

1. Janapir Sihaloho 1953-1960 2. Menak Sihaloho 1961-1968 3. Wakkil Sihaloho 1969-1976 4. Urung Dolok Sihaloho 1977-1984 5. Batu Sihaloho 1985-1992 6. Wisker Sihaloho 1993-2001 7. Jabarani Sihaloho 2001-2007 8. Wisker Sihaloho 2007-2013 9. Belly Boy King Sihaloho 2014-2019

Sumber RPJMDes Hutabolon 2014

Berdasarkan dari sejarah desa yang di ketahui bahwa desa Hutabolon dipimpin oleh Marga Sihaloho. Pada tabel diatas tercantum bahwa Kepala Desa mulai dari tahun 1953-2019 nanti dipimpin oleh marga Sihaloho.

3.2.3 Keadaan Sosial

(8)

1. Agama

Penduduk Desa Hutabolon seluruhnya menganut agama nasrani yang terbagi kedalam Agama Protestan dengan dua aliran yakni HKBP dan Pentakosta, dan Agama Katolik. Tetapi di Desa Hutabolon belum ada tempat ibadah sebagian penduduk masih beribadah ke Desa Siopat-sosor,sebagian beribadah di Desa. Sepanjang sejarah tidak pernah terjadi gesekan antar agama di Desa ini.

Tabel 3.4

Data Penduduk Desa Hutabolon berdasarkan Agama No Agama Pria Wanita Jumlah

1 Protestan 244 220 464

2 Katolik 15 20 35

3 Kharismatik 5 4 9

Berdasarkan tabel diatas, dapat kita ketahui bahwa penduduk desa Hutabolon menganut 2 agama saja yaitu Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Penduduk desa Hutabolon lebih banyak menganut agama Krsiten Protestan dibanding Katolik.

2. Sosial Politik

(9)

tetap terakomodir dengan baik.

3. Keamanan dan Ketertiban Masyarakat

Situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Desa Hutabolon tetap terjaga dengan baik, hampir tidak ada peristiwa kriminal di desa ini selama beberapa tahun terkahir. Tetapi persoalan yang perlu mendapat perhatian dari Pemerintah baik Pemerintah Desa maupun jajaran pemerintah diatasnya adalah masalah sengketa lahan pertanian yang kerap terjadi dan tetap berpotensi menjadi masalah yang relatif besar di masa yang akan datang.

4. Sosial Ekonomi

(10)

keterbatasan lahan dan teknologi pertanian yang ramah lingkungan mutlak diperlukan.Selain bertani sebagai matapencaharian pokok, beberapa penduduk juga aktif berdagang sebagai usaha sampingan, serta ada segelintir yang berpropesi sebagai pegawai negeri sipil.

Tabel 3.5

Data Penduduk Desa Hutabolon berdasarkan Pekerjaan No Pekerjaan Pria Wanita Jumlah

1 Petani 63 67 130

2 Pedagang 8 5 13

3 PNS 5 5 10

4 Lainnya

Sumber RPJMDes Hutabolon tahun2014

Dari tabel, dapat disimpulkan bahwa penduduk mayoritas bekerja sebagai petani.

5. Sosial Budaya

(11)

6. Kesehatan

Desa Hutabolon memiliki 2 sarana kesehatan desa yakni Pustu di dusun II dan masing-masing dilayani oleh 1 orang bidan desa dan 1 orang Mentari. Dari sisi jumlah penduduk, sesungguhnya keberadaan 2 sarana kesehatan ini belum memadai untuk Desa Hutabolon, tetapi dari sisi sebaran wilayah sebagian wilayah di desa ini masih sulit mengakses sarana kesehatan ini karena jarak dari Dusun I masih membentang jauh kira-kira 2,5 km.

Tabel 3.6

Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Dusun Tahun 2011 Sarana Kesehatan Dusun

I

Sumber RPJMDes Hutabolon 2014

7. Pendidikan

(12)

Tabel 3.7

Sarana Prasarana Sekolah di desa Hutabolon Kec.Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2010/2011

S

Pendataan KPMD/Tim Perumus RPJM-Desa

Dari tabel bisa dikatakan bahwa fasilitas pendidikan yang ada yaitu PAUD, SD, dan SLTP. Jadi bisa dikatakan hampir seluruhnya warga Desa Hutabolon bersekolah di Sekolah Negri yang ada di wilayah Desa Hutabolon walaupun ada juga yang bersekolah di Desa Siopat-sosor (Desa tetangga) ataupun di Kecamatan Karena untuk sekolah menengah keatas belum ada fasilitas sekolahnya di Desa Hutabolon.

3.2.4 Keadaan Ekonomi

Keadaan ekonomi masyarakat Hutabolon sesungguhnya masih jauh dari sejahtera, sekalipun tidak ditemukan Rawan Pangan di Desa ini atau penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Pertanian merupakan sektor ekonomi utama yang menopang kehidupan hampir seluruh masyarakat Desa Hutabolon kecuali beberapa orang yang berprofesi sebagai PNS Guru di 1 Sekolah Dasar yang ada di Hutabolon. Pertanian yang digeluti hampir seluruhnya masih bersifat tradisional, sehingga sekalipun luas lahan terbatas, tidak seluruhnya bisa diusahai oleh masyarakat.

NO Sekolah Jumlah

Gedung/Sekolah Jumlah Guru Jumlah Siswa Apk / Apm

(13)

Masih terdapat lahan tidur yang cukup luas di Desa ini, persoalan utama tanah-tanah yang tidak diusahai ini adalah keterbatasan tehnologi dan pemilikan lahan belum jelas, karena sebagian besar dimiliki bersama satu rumpun keluarga atau bahkan satu keturunan, yang kerap menimbulkan persoalan untuk dikelola.

1. Pertanian

Pertanian di Desa Hutabolon secara umum dinyatakan sebagai lahan kering. Pertanian lahan kering terdapat di Dusun I dan Dusun II, Pertanian lahan kering lahan kering yang sudah diusahai selama berpuluh tahun.lahan kering mampu memproduksi sayur mayor,tomat,jagung dll dengan kualitas yang sederhana. Persoalan umum yang dihadapi akhir-akhir ini adalah kecenderungan ketergantungan terhadap pupuk kimia semakin besar.

Pertanian lahan kering terdapat di dua dusun, dan masih terdapat potensi yang sangat besar untuk mengembangkan pertanian lahan kering ini khusunya tanaman palawija dan holtikultura khususnya holtikultura buah dan sayur. Selain itu tanaman keras seperti kopi jenis robusta dan arabika juga tumbuh subur, ateng atau yang akrab disebut “kopi sigarar utang”. Tanaman perkebunan lainnya adalah Cengkeh dan Kakao. Dll

2. Peternakan

(14)

kebutuhan hidup. Dari sisi luas wilayah, topografi, iklim dan suhu udara, Desa Hutabolon menyimpan potensi untuk peternakan besar yakni di Dusun I,II, kedepan diharapkan daerah ini dapat dikembangkan menjadi sentra ternak di Kabupaten Samosir.

3. Perikanan

Desa Hutabolon juga menyimpan potensi perikanan, khususnya perikanan darat. Perikanan ini dalam bentuk kolam darat, embung dan rawa-rawa yang terdapat di Dusun I.

Berdasarkan keadaan ekonomi yang ada, masyrakat di desa Hutabolon, Pertanian menjadi sumber utama dalam menopang hidup.

3.2.5 Potensi Desa Hutabolon

Telah dilakukan pendataan potensi desa dari setiap dusun yang dilakukan oleh aparat pemerintah desa bersama fasilitator PNPM Mandiri Perdesaan dalam Proses Mengagas Masa Depan Desa (MMDD), sehingga secara garis besar disimpulkan beberapa potensi yang ada di Desa Hutabolon antara lain:

1. Potensi Sumber Daya Manusia yang cukup besar;

2. Potensi tanah laha kering yang cocok untuk dikembangkan tanaman pertanian dan perkebunan seperti holtikultura sayur dan buah, kopi dan aneka tanaman keras.

3. Potensi untuk pengembangan peternakan khususnya ternak kambing, kerbau dan sapi serta peternakan kecil seperti babi dan unggas.

(15)

Lebih spesifik potensi ini dapat diklasifikasikan kedalam beberapa urusan pembangunan adalah sebagai berikut:

Tabel 3.8 Potensi Urusan Wajib NO. Bidang Potensi

1. Pendidikan 1. Ada Gedung Sekolah Dasar (SD) 2. Adanya guru , SD

3. Adanya siswa dan calon siswa untuk SD dan SMP

2. Kesehatan 1. Adanya Poskesdes 2. Adanya Bidan Desa 3. Sarana dan

Prasana

1. Adanya Jalan Umum yang menghubungkan desa dengan jalan Kabupaten.

2. Adanya Jalan Desa penghubung antar Dusun

3. Adanya Jalan Lingkungan

4. Adanya Jaringan Listrik PLN 4. Sosial Budaya 1. Adanya kegiatan Karang Taruna

2. Adanya kegiatan ibu-ibu PKK

5. Pemerintahan 1. Struktur Aparat Pemerintah Desa lengkap

2. Struktur BPD Lengkap

3. Ketua BPD berpendidikan SMA

Sumber RPJMDes Hutabolon tahun 2014

(16)

Tabel 3.9

Potensi Urusan Pilihan

NO Bidang Potensi Lokasi

1. Pertanian 1. Adanya Lahan Kebun Kopi

2. Adanya Lahan Kebun Cengkeh

3. Adanya Lahan yang sangat cocok untuk Palawija dan Holtikultura

Semua Dusun

2. Pariwisata 1. Adanya Sumur Mata Air Dusun II

Berdasarkan tabel diatas potensi urusan pilihan yang dikembangkan oleh desa Hutabolon yaitu Pertanian dan Pariwisata. Dalam bidang Pariwisata, Pantai Pasir Putih Parbaba belum dimasukkan sebagai potensi urusan pilhan.

3.2.6 KONDISI PEMERINTAH DESA 3.2.6.1 Pembagian Wilayah Desa

(17)

kampung yang barangkali harus disertai kajian akademis sehingga tidak merusak kultur masyarakat lokal.

Tabel 3.10

Nama Kampung di Desa Hutabolon

DUSUN NAMA KAMPUNG

Dusun I Hutabolon 1. Lumban Tiga, Aeklan 2. Sosor Ganda

9. Lumban Sihaloho Toru

10.Lumban Sihaloho Uruk,Lumban Sipayung Dusun II Hutabolon 1. Lumban Sipakkar I,Lumban Sipakkar II

2. Lumban Parmonangan,Lumban Pasir II 3. Simanampang

4. Lumban Tonga-tonga,Kompleks SD,SMP 5. Lumban Simanihuruk

Sumber : Pendataan KPMD/Tim Perumus RPJM-Desa tahun 2011

Berdasarkan tabel diatas dapat kita ketahui bahwa Desa Hutabolon memiliki 2 Dusun, Dusun I terdiri dari 10 kampung dan Dusun II terdiri dari 11 kampung.

3.2.6.2 Struktur Organisasi Pemerintah Desa (SOPD)

(18)

GAMBAR 3.1 Perangkat Desa Hutabolon

KADES Belly Boyking Sihaloho

SEKDES Dolly Ferduwan Sihaloho

KAUR

PEMERINTAHAN Mulaster Sihaloho

KAUR

PEMASYARAKATAN Mangapul Sihaloho

KAUR

PEMBANGUNAN Allen Sihaloho

KADUS I Saut Maruba Malau

(19)

BAB IV

PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA

4.1 Pembangunan Pariwisata Samosir

(20)

Ada beberapa gambaran objek wisata di Kabupaten Samosir

1. Objek wisata Tirta

Objek wisata tirta mencakup Pantai Pasir Putih, Pantai Indah Situngkir, Pantai Batu Hoda, Pantai Sibolazi, Pantai Lagundi, Pantai Lumban Manik dan Pantai Bebas Sukkean. Pantai Pasir Parbaba merupakan objek wisata tirta unggulan bahwa kawasan ini sangat diminati wisatawan dan pada saat hari libur akan overloadwisatawan, trend retribusi yang selalu meningkat tiap tahunnya, dan berkembangnya ekonomi kerakyatan di kawasan tersebut. Objek wisata tirta lainnnya masih belum berkembang dan pada umumnya masih menawarkan daya tarik dan aktivitas wisata yang sama.

2. Objek Wisata Budaya

(21)

3. Objek wisata Alam

Objek wisata alam mencakup Menara Pandang Tele, Sampuran Efrata, Nasogop, Hot Spring dan Geopark termasuk juga kawasan wisata yang diminati pengunjung. Kondisi objek wisata masih membutuhkan penataan, perbaikan dan penambahan sarana dan prasrana, masih membutuhkan atraksi dan aktivitas yang dapat dilakukan oleh wistawan. Menara Pandang Tele dan Hot Sping merupakan objek wisata alam unggulan yang banyak diminati pengunjung, tren retribusi selalu meningkat.

Selain daya tarik di atas, masih banyak daya tarik wisata yang potensial yang belum dikembangkan yang perlu dilakukan perintisan, dan terdapat juga Taman Pintar Pariwisata, Kebun Raya Samosir dan Hutan Flora Anggrek ynag belum juga berkembang dan dikelola dengan baik oleh instansi terkait.

4. Desa Wisata

Jumlah desa wisata yang mendapat pembinaan ada sebanyak 20 pengelola desa wisata dan sebagian besar wisata yang masih belum berkembang dan belum dikelola dengan baik.

4.2 Pariwisata Pantai Pasir Putih Parbaba

(22)

tanpa takut tenggelam karena masih dangkal, sedangkan panjang pinggiran Pantai Parbaba ± 500 meter dengan hamparan pasir putihnya.

Pantai Pasir Putih ini diresmikan menjadi sebuah objek wisata pada tahun 2006 oleh Prof.Dr.Ir Johar Arifin Husin sebagai Deputi Pemberdayaan Olah Raga, pada tanggal, 18 Mei 2006. Pantai pasir putih parbaba sebelumnya adalah hanya sebuah pantai berpasir putih yang digunakan penduduk sebagai sarana mencuci pakaian, mengambil air minum, menangkap ikan bahkan sempat bercocok tanam bawang. Kini menjadi menjadi salah satu daerah tujuan wisata paling banyak di kunjungi di Pulau

Samosir setelah daerah tujuan wisata Tomok. Keunikan pantai ini banyak mengundang

perhatian dan decak kagum para wisatawan dari berbagai daerah ketika mengunjunginya.

Pantai ini merupakan salah satu destinasi unggulan Kabupaten Samosir dan penghasil Pendapatan Asli Daerah Terbesar Kedua dibidang Pariwisata. Pantai Pasir Putih Parbaba letak geografisnya sangat strategis. Kawasan ini dapat ditempuh sekitar 1 Jam dari Tomok dengan biaya Rp.15.000,00. Sedangkan biaya penyebrangan dari Ajibata-Tomok hanya Rp.8.000,00. Selama di perjalanan, panorama alam perairan Danau Toba dan perbukitan hijau akan memanjakan mata serta suasana khas Budaya Batak yang dapat dirasakan.

(23)

Gambar 4.1

(24)
(25)

Tabel 4.1

Jumlah Kunjungan Wisatawan Mancanegara

Sumber Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Samosir

Dari Tabel di atas dapat kita lihat bahwa Jumlah Kunjungan Wisatwan Mancanegara dari tahun 2010-2015 mengalami peningkatan di setiap tahunnya. Pada tahun 2010 jumlah Wisatwan Mancanegara 20.913, pada tahun 2015 sebanyak 34.248, mengalami peningkatan sekitar 13.335 kunjungan wisatwan mancanegara selama 5 tahun. Dari daftar kunjungan Wisatawan Mancanegara dapat disimpulkan bahwan objek wisata di Kabupaten Samosir sangat menarik karena wisatawan Mancanegara sudah berdatangan ke Indonesia khususnya di Kabupaten Samosir sehingga akan menghasilkan Devisa bagi Negara.

(26)

Tabel 4.2

Jumlah Kunjungan Wisatwan Nusantara

Sumber Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Samosir

Dari tabel diatas dapat kita ketahui bahwa dari tahun 2010-2014 mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 sebanyak 94.629 kunjungan Wisatwan Nusantara dan pada tahun 2014 sebanyak 150.023 kunjungan wisatawan Nusantara, dapat kita simpulkan menningkat sebanyak 55.394 kunjungan Wisatwan Nusantara. Tetapi dari Tahun 2014-2015 mengalami penurunan sebanyak 8.808 kunjungan Wisatwan Nusantara.

Bulan Wisatawan Nusantara

2010 2011 2012 2013 2014 2015

(27)

Dibawah ini terdapat tabel yang berisikan jumlah kunjungan Wisatawan Nusantara ke 10 Objek Wisata di Kabupaten Samosir. Salah satu objek wisatanya adalah Pantai Pasir Putih Parbaba.

Tabel 4.3

Jumlah Kunjungan Wisatawan Nusantra Tahun 2016

Sumber Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Samosir

Dari Tabel diatas dapat diketahui bahwa Wisatawan Nusantara berkunjung ke objek wisata pada tahun 2016 (tidak termasuk kunjungan pada bulan Desember 2016) sebanyak 58.570 orang. Dan dapat kita lihat bahwa wisatwan Nusantara yang berkunjung ke Pantai Pasir Putih sebanyak 6.675 orang. Dari 10 objek wisata diatas, Pantai Pasir Putih menduduki urutan ke 4 terbanyak berkunjung.

(28)

Sumber Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Samosir

Dari Tabel diatas dapat diketahui bahwa Wisatwan Mancanegara berkunjung ke objek wisata pada tahun 2016 (tidak termasuk kunjungan pada bulan Desember 2016) sebanyak 34.206 orang. Dan dapat kita lihat bahwa wisatwan Mancanegara yang berkunjung ke Pantai Pasir Putih sebanyak 4.240 orang. Dari 10 objek wisata diatas,

Pantai Pasir Putih menduduki urutan ke 4 terbanyak berkunjung. Dari daftar Kunjungan Wisatawan Nusantara dan Wisatawan Mancanegara dapat kita ketahui

bahwa lebih besar jumlah kunjungan Wisatawan Nusantara yang berkunjung ke Pantai Pasir Putih Parbaba.

Meningkatnya jumlah kunjungan Wisatawan Nusantara dan Wisatwan Mancanegara tentunya tidak lepas dari upaya yang dilakukan oleh Pemerintah khususnya Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Samosir dan partisipasi

Dibawah ini terdapat tabel yang berisikan jumlah kunjungan Wisatawan Mancanegara ke 10 Objek Wisata di Kabupaten Samosir. Salah satu objek wisatanya adalah Pantai Pasir Putih Parbaba.

Tabel 4.4

Jumlah Kunjungan Wisatawan Mancanegara 2016

(29)

masyarakat dalam pengembangan pariwisata di Kabupaten Samosir. Walaupun pembangunan yang terjadi di Kabupaten Samosir masih buruk seperti kondisi jalan lintas antar daerah, tidak tersedianya akomodasi dibeberapa daerah, kurang tersedianya angkutan umum, tidak tersedianya fasilitas umum pada daerah tertentu dan tidak baiknya pelayanan tidak baiknya pelayanan yang diberikan di beberapa akomodasi yang tersedia.

4.3 Keterlibatan Masyarakat dalam Pengembangan Pariwisata

Dalam pembangunan kepariwisataan partisipasi masyarakat adalah bagian terpenting dalam perkembangan destinasi wisata, sebab sebagai salah satu faktor penentu serta sekaligus indikator keberhasilan dan keberlanjutan pembangunan. Pengembangan kepariwisataan disuatu daerah memerlukan perencanaan pembangunan yang melibatkan masyarakat sebagai salah satu komponen terpenting dalam proses perencanaan.

(30)

Semuanya dari masyarakat dan tidak adanya investor asing dan keterlibatan masyarakat itu dengan adanya Pokdarwis yaitu kelompok sadar wisata yang terdiri dari masyarakat dan pengusaha setempat.

Hal tersebut juga senada dengan yang dikatakan Bapak Belly Boyking Sihaloho sebagai Kepala Desa Hutabolon. Bahwa pariwisata berbasis masyarakat adalah masyarakat terlibat dalam kegiatan kepariwisataan dan bahkan masyarakat sebagai pelaku utamanya atau mendapat manfaat langsung dari sektor pariwisata melalui bekerja dibidang pariwisata. Dari informan di dapat sebuah informasi bahwa masyarakat yang tidak bekerja dibidang pariwisata, seperti petani, tidak terlibat aktif dalam pengembangan Pantai Pasi Putih. Hal ini dikarenakan bahwa belum ada keterpaduan antara sektor pertanian untuk mendukung Pariwisata yang ada di Pantai Pasir Putih. Dapat diketahui bahwa bentuk keterlibatan masyarakat dalam kegiatan kebersihan yang dilakukan pada Jumat sehingga program dalam menjaga kebersihan Pantai Pasir Putih Parbaba adalah Jumat bersih. Di desa Hutabolon ini dikenal dengan sistem tandak jadi masyarakat membersihkan lokasi mereka saja.

(31)

Untuk mengetahui bentuk partisipasi masyarakat yang lain peneliti melakukan wawancara kepada Niko Napitpulu. Dapat diketahui bahwa bentuk parisipasi yang dilakuknnya adalah menjadi P3 (Petugas Penerangan Pariwisata) di Pantai Pasir Putih, Tugas seorang P3 adalah mengutip retribusi terhadap wisatwan yang berkunjung dengan tarif dewasa Rp.2000,00 dan anak-anak Rp.1000,00.

Bentuk partisipasi masyarakat yang lain dalam pengembagan pariwisata Pantai Pasir Putih Parbaba dikatakan oleh seorang informan Sonny Daniel Simarmata. Partisipasinya adalah menjaga kebersihan Pantai Pasir Putih Parbaba dan menjadi pegawai di UD. Sollo yang menyediakan penginapan dan permainan air, dari informan dapat diketahui informasi bahwa pemilik/pengusaha UD Sollo membina pegawainya dalam melayani tamu dan menjalankan alat-alat permainan Pantai.

Peneliti juga melakukan wawancara terhadap Isse Tampubolon, dapat diketahui bahwa partisipasinya menjadi seorang Fhotografer. Dapat diketahui informasi dengan mengabadikan atau memfoto momen wisatawan yang berkunjung dapat menjadi sebuah nilai lebih dan menjadi promosi tersendiri untuk mengembangkan Pantai Pasri Putih Parbaba.

(32)

berpartisipasi dalam melaksanakan kebersihan. Keterlibatan lainnya yaitu dalam penyediaan makanan dan minuman, penyediaan tikar dan tenda/payung pantai, tempat penginapan, penyediaan jasa permainan air seperti Banana Boat, Donat Boat, Ufo Boat, Bebek, Cano-cano, sepeda air. Dari keterangan informan keterlibatan masyarakat dalam hal usaha pemberian jasa Fotografi langsung cetak yang merupakan masih usaha baru.

4.4 Partisipasi Masyarakat Dalam Proses Pengambilan Kebijakan Pariwisata

Prinsip pariwisata berbasis masyarakat adalah partisipasi masyarakat lokal dalam perencanann pembangunan pariwisata dan pengambilan keputusan. Disini masyarakat dapat membemberikan saran dan inisiatif mereka terhadap pengembangan pariwisata. Saran dan inisiatif dapat disampaikan melaui pertemuan dan musyawarah, sehingga dalam partisipasi terdapat komunikasi yang dapat memeberikan informasi antara pemerintah dan masyrakat lokal. Komunikasi yang baik akan memberikan sebuah ide dan gagasan sehingga pembangunan akan tetap berjalan.

(33)

ini masyarakat bisa mengusulkan pendapatnya dalam pengembangan Pantai Pasir Putih Parbaba.

Penenliti juga melakukan wawancara kepada Bapak Belly Boyking Sihaloho, Kepala Desa Hutabolon terkait pengambilan kebijakan. Dapat diketahui informasi bahwa dalam pengambillan kebijakan, saran masyrakat diterima namun tidak selalu dilaksanakan. Pemerintah kerap sekali hanya bersifat penentraman saja yang dialkukan terhadap masyarakat..

Peneliti juga melakukan wawancara kepada Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Samosir, Bapak Ombang Siboro. Terkait pengambilaan kebijakan dapat diketahui informasi bahwa Kebijakan diambil melalui MusrembangDes dan akan disamapaikan kepada Dinas Pariwisata. Dalam pengambilan kebijakan Masyarakat dan Pemerintah kerjasamanya bersifat Kemitraan yaitu terdapat Timbal balik antara masyarakat dan pemerintah dan setiap kebijakan dinegoisasikan.

(34)

Dalam penelitian ini yang mengambil teori Pembangunan, dengan model pembangunan Alternatif yang didalamnya ada public sphere yaitu masyarakat dengan semangat kolektivitas yang didampingi oleh pemerintah, akademika dan civil society organization membentuk suatu tatanan etika dengan meletakkan sentralitas masyrakat sebagai subjek yang dinamis dan mengenali kebutuhannya sendiri.

Penelitian ini menemukan bahwa tingkat partispasi masyarakat pada tingkat penentraman (placation) yang merupakan saran masyarakat diterima tapi tidak selalu dilaksanakan yaitu dalam kategori Tokenisme yaitu sekdear justifikasi agar mengiyakan. Untuk mewujudkan kebijakan yang representatif maka partisipasi masyarakat secara aktif diperlukan. Partisipasi masyrakat dalam pembangunan perlu ditumbuhkan melalui berbagai forum yang memungkinkan masyarakat berpartisipasi langsung dalam proses pengambilan keputusan terhadap program pembangunan. Sehingga keputusan yang telah disepakati dapat dilaksanakan dan berdampak pada perbaikan kondisi daerah. Karena partisipasi masyarakat merupakan salah satu pilar pembangunan mulai dari perencanaan hingga evaluasi.

4.5 Persepsi Masyarakat terhadap Usaha Pariwisata

(35)

berskala kecil, menengah maupun besar dapat mengembangkan keterkaitan berbagai usaha pariwisata dengan berbagai sektor yang lain agar kegiatan ekonomi masyarakat dapat lebih meningkat lagi

Berdasarkan hasil wawancara dari masyarakat desa Hutabolon, mereka mengalami perubahan hidup setelah adanya kegiatan pariwisata. Adanya kegiatan pariwisata mendatangkan pekerjaan baru bagi masyarakat. Menurut Sonny Daniel Simarmata pegawai UD. Sollo dapat diketahui informasi bahwa dengan terlibatnya dalam sektor pariwisata memperoleh keuntungan yang terutama dengan meningkatkanya perekonomian dan pemuda-pemudi disini tidak pengangguran lagi. Informan mulai bekerja d UD. Sollo semenjak SMP berusia 12 dan sampai sekarang disaat menduduki SMA berusia 17 tahun. Dengan menjadi pegawai di UD.Sollo yang menyediakan tempat penginapan dan menyediakan permainan air tentu mendapat pengalaman kerja dan bisa berbahasa Inggris

(36)

Peneliti juga melakukan wawancara kepada Ibu Paskah Simbolon dan Ibu Monang, dapat diketahui bahwa melalui usaha pariwisata ini adanya timbal balik antara wisatwan dan masyrakat. Lewat usaha pariwsata ini juga Desa Hutabolon ini juga akan semakin maju karena pemerintah akan lebih peduli, keuntungan yang lebih besar adalah meningkatkan Devisa Negara.

(37)

4.6 Faktor Penghambat Partisipasi Masyarakat 1.5 Kurangnya dukungan pemerintah

Hambatan-hambatan intrinsik berkaitan dengan ciri pemerintahan. Pemerintah mencakup beberapa aturan dan peraturan dari suatu organisasi, pemerintahan yang cenderung kaku sehingga masyrakat merasa terintimidasi dan mengasingkan masyarakat sehingga tujuan pemerintah dan tujuan masyarakat tidak terlaksana dengan baik.

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dilokasi penelitian dengan informan,

diperoleh data bahwa terdapat suatu jawaban atau pandangan yang sama dari informan.

Seperti pernyataan yang dikemukakan oleh Bapak Tomy Sihaloho. Dapat diketahui informaisi bahwa dalam pengembangan Pantai Pasir Putih ini kurang diperhatian oleh pemerintah, semua yang dari pemerintah hanya buah bibir saja. Jika hanya musyawarah saja tetapi pelaksanaanya tidak ada, maka pengembangan Pantai Pasir Putih akan begini saja seterusnya. Seharusnya dalam pengembangan pariwisata dibutuhkan kerjasama antara Dinas Pariwsata dan Dinas Perhubungan dalam menetapkan suatu kebijakan.

Penulis juga melakukan wawancara kepada Ibu Melda, dan dapat diketahui bahwa Pemerintah memang melakukan musywarah antara Masyarakat dan Dinas Pariwisata. Namun terkait dengan kebijakan yang dilakukan, pemerintah gencarnya membuat kebijakan setelah Kabupaten Samosir ini masuk dalam bagian Otorita . Selama ini pemerintah kurang memeperhatikan Pantai Pasir Putih Parbaba, dalam pengembangan Pantai Pasir Putih ini peran masyarakat sendiri yang lebih besar dalam memajukannya.

(38)

yang seperti ini yang kurang peduli terhadap Pantai Pasir Putih ini, objek wisata ini akan bertahan hanya 10 tahun saja.

2. Kurangnya sinergitas Antara Pemerintah dan Masyrakat

Partisipasi masyarakat merupakan sebuah kekuatam dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, terdapat masalah bahwa pemerintah terlalu memaksakan program yang telah direncanakan tanpa melakukan konsultasi dengan masyarakat yang akan menjadi sasaran program. Atau masyarakat diberikat sebuah wadah untuk berpartisipasi dalam pembangunan, hanya masayarakat tidak menggunakan itu.

Penulis melakukan wawancara kepada Ibu Melda Turnip dan Niko Napitupulu, sehingga dapat diketahui bahwa. Masyarakat belum efektif dalam berperan serta dalam pengembangan Pantai Pasir Putih. Sebagian masyarakat kurang mendukung terhadap kebijkakan pemerintah. Dalam pembuatan jalan setapak, masyarakat ada yang tidak imgin melakukan pembangunannya bahkan sampai memanggil polisi. Namun dapat kita lihat dengan adanya jalan setapak ini Pantai Pasir Putih semakin bagus. Bukan hanya itu saja, pemerintah menetapkan batas meletakkan tenda, jika Dinas Pariwisata seminngu atau dua minggu tidak datang ke Pasir Putih ini masyarakat langsung dimajukannya tenda-tendanya.

(39)

Contohnya pemerataan pasir yang dilakukan pemerintah, namun terhenti dikarena masyrakatnya ada yang menolak.

Pembangunan pariwisata berbasis masyarakat, keterlibatan masyrakat sangat diprioritaskan dengan baik sebagai pelaku usaha kecil menengah di kawasan wisata. Tingkat kesadaran masyarakat masih harus ditingkatkan terutama terkait dengan sapta pesona. Pelaksananan kegiatan sapta pesona dan sadar wisata belum dilaksanakan secara kreatif. Pokdarwis yang sudah berdiri di bulan November 2016, hanya sebatas nama saja. Ketua Pokdarwis sendiri tinggal di Medan, sehngga akan sangat sulit memajukan Pantai Pasir Putih ini karena tidak secara terus menerus melihat perkembangan objek wisata ini.

3. Kondisi Masyrakat

Kondisi masyarakat yang ramah tamah sangat diperlukan dalam mendukung perkembangan daerah tujuan wisata. Aspek ini menjadi sangat penting karena pada umumnya wisatawan yang datang ingin merasakan suasana yang nyaman yang salah satunya didapatkan melalui interaksi yang menyenangkan antara masyarakat setempat dengan wisatawan itu sendiri.

(40)

sebelumnya adalah petani dan pedagang sehingga butuh waktu untuk berubah menjadi pemberi jasa. Bermacam-macam profesi dan latar belakang yang tidak berbasis usaha jasa dan sekarang beralih menjadi pemberi jasa. Kemudian rata-rata mereka usia tua , kemudian faktor bahasa dan perilaku hidup bersih dan higenis yang masiah kurang.

Dalam pengembangan pariwisata, kondisi masyrakat Batak Toba menjadi sebuah hambatan dan tantangan dalam pengembangan Pantai Pasir Putih Parbaba. Dari bapak Belly Boyking Sihaloho, Kepala Desa Hutabolon dapat diketahui bahwa masyarakat belum sadar bahwa pariwisata lebih menjanjikan. Kemampuan berbicara masyarakat juga belum, seperti yang kita ketahui bahwa temperamental masyarakat Batak Toba yang kasar, mereka yang senang dengan keterbukaan dan berbicara apa adanya. Kadang-kadang tidak peduli lawan bicarnya tersinggung atau tidak.

Pernyataan tersebut diakui oleh masyrakat di sekitar Pantai Pasir Putih Parbaba, bahwa melayani wisatwan masih kurang terutama dalam kemampuan berbicara yang susah untuk berbicara lembut, padahal keindahan pariwisata bukan hanya dilihat dari objek wistata itu sendiri tetapi juga interaksi antara masyarakat dan wisatwan.

4. Sarana dan Prasarana kurang memadai

(41)

kawasan wisata tersebut. Untuk itu pada pengembangan pariwisata perlu adanya perencanaan penyediaan infrastruktur yang memadai untuk kawasan wisata.

(42)

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan uaraian-uraian yang telah dikemukakan oleh penulis, dimulai dari bab I sampai dengan bab IV, banyak hal yang telah ditemukan oleh penulis baik masalah teoritis ataupun masalah teknis yang berkaitan dengan judul yang telah diteliti oleh penulis maupun kesimpulan dari hasil pengolahan data dan wawancara terhadap Kepala Desa Hutabolon, masyarakat, kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Samosir maka diperoleh kesimpulan yaitu :

Partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata Pantai Pasir Putih Parbaba di desa Hutabolon sudah ada. Keterlibatan masyarakat dalam hal usaha pengembangan pantai pasir Putih Parbaba yaitu masyarakat berpartisipasi dalam melaksanakan kebersihan. Keterlibatan lainnya yaitu dalam penyediaan makanan dan minuman, penyediaan tikar dan tenda/\payung pantai, tempat penginapan, penyediaan jasa permainan air seperti Banana Boat, Donat Boat, Ufo Boat, Bebek, Cano-cano, sepeda air dan juga usaha pemberian jasa Fotografi langsung cetak yang merupakan masih usaha baru.

(43)

sphere. Hanya belum terlaksana dengan sepenuhnya karena saran masyarakat diterima tadi tidak selalu dilaksanakan yang masuk dalam katekori Tokenism.

(44)

5.2. Saran

Adapun yang menjadi saran penulis dalam hal ini berdasarkan judul yang diteliti mengenai partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pariwisata Pantai Pasir Putih Parbaba yaitu :

1. Masyarakat menjaga kebersihan daerah Pantai Pasir Putih Parbaba.

2. Penertiban ternak agar tidak berkeliaran di daerah tujuan wisaata (Babi dan Kambing)

3. Masyarakat supaya tetap menjaga budaya 3S ( Senyum, Sapa dan Salam) agar wisatawan senang dan nyaman berada diPantai Pasir Putih Parbaba.

4. Penataan tenda/payung Pantai agar lebih ditata rapi

(45)

BAB II

METODE PENELITIAN

2.1 Bentuk Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dengan menggunakan metode deskriptif adalah penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian, secara sistematis dan akurat, mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu.

23

23 Lexy Moleong , Metode Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosda Karya, Bandung. 2007, hlm 4.

Menurut Kirk dan Miller, penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan terhadap manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang – orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.

(46)

2.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di desa Hutabolon, kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir.

2.3 Informan Penelitian

Penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari hasil penelitiannya. Oleh karena itu, pada penelitian kualitatif tidak dikenal adanya populasi dan sampel. Subjek penelitian yang telah tercermin dalam fokus penelitian tidak ditentukan secara sengaja. Subjek penelitian menjadi informan yang akan memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama proses penelitian. Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi latar belakang penelitian. Informan adalah orang yang benar-benar mengetahui permasalahan yang diteliti.

Menurut Hendrarso, informan penelitian ini meliputi tiga macam yaitu:24

1. Informan kunci (key informan), yaitu mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian. Adapun informan kunci penelitian ini adalah Kepala Desa Hutabolon. 2. Informan utama, yaitu mereka terlibat langsung dalam interaksi sosial yang

diteliti. Adapun informan kunci penelitian ini adalah masyarakat Desa Hutabolon.

(47)

3. Informan tambahan, yaitu mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang sedang diteliti. Adapun informan kunci penelitian ini adalah Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Samosir

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti menentukan informan dengan menggunakan teknik purposive yaitu: penentuan informan tidak didasarkan atas strata, pedoman atau wilayah tetapi didasarkan adanya tujuan tertentu yang tetap berhubungan dengan permasalahan penelitian.

2.4 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Teknik Pengumpulan Data Primer

Teknik pengumpulan data primer adalah pengumpulan data yang dilakukan secara langsung pada lokasi penelitian. Pengumpulan data primer dilakukan dengan instrumen sebagai berikut :

(48)

b.Observasi adalah kegiatan mengamati secara langsung objek penelitian dengan mencatat gejala- gejala yang ditemukan dilapangan untuk melengkapi data- data yang diperlukan sebagai acuan yang berkenaan dengan topik penelitian.

2. Teknik Pengumpulan Data Sekunder

Teknik pengumpulan data sekunder adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui studi bahan- bahan kepustakaan yang perlu untuk mendukung data primer. Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan instrumen sebagai berikut :

a. Studi Kepustakaan yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari buku- buku, karya ilmiah, pendapat para ahli yang memiliki relevansi dengan masalah yang diteliti.

b. Studi Dokumentasi yaitu pengumpulan data yang diperoleh dengan menggunakan catatan- catatan tertulis yang ada dilokasi penelitian serta sumber- sumber lain yang menyangkut masalah yang diteliti dengan instansi terkait.

2.5 Teknik Analisis Data

(49)

memilah – milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistesiskannya, menarik dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain25

Dalam melakukan analisis data, menurut Miles dan Huberman terdapat beberapa aktivitas dalam analisis data yaitu

.

26

1. Reduksi Data

:

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal – hal yang pokok, memfokuskan pada hal – hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.

2. Penyajian Data

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Melalui penyajian data tersebut maka data terorganisasikan, tersususun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami.

3. Penarikan Kesimpulan

Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Kesimpulan ini sebagai hipotesis, dan bila didukung oleh data maka akan dapat menja diteori.

25 Lexy Moleong, op. cit. hlm 248

(50)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang menjadi potensi dan peluang dalam pembangunan pariwisata sehingga menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung. Keunggulan kompetetif kepariwisataan Indonesia terletak pada kekayaan budaya Indonesia, keindahan alam di posisikan sebagai penguat dalam kepariwsataan. Kebudayaan Indonesia merupakan hasil karya masyarakat Indonesia, penghasil dan pemilik budaya Indonesia adalah masyarakat Indonesia, dan bagian terkecil penghasil budaya Indonesia adalah masyarakat di desa.

Nawa Cita sebagai program prioritas pembangunan Kabinet Kerja 2015-2019. Sektor Prioritas pembangununan 2017 ada 5 yaitu pangan, energi, maritim, pariwisata, dan Kawasan Industri dan KEK. Pada kabinet kerja, sektor kepariwisataan tumbuh menjadi sektor unggulan dengan pertumbuhan tercepat di dunia dan menjadi lokomotif untuk penerimaan devisa negara, pengembangan usaha, pembangunan infrastruktur serta penyerapan tenaga kerja. Sektor ini telah memberi kontribusi sebesar 9,5% pada PDB global.

(51)

akhir Pembangunan Kepariwisataan Indonesia adalah Meningkatnya Kesejahteraan Rakyat.

Undang-Undang No.10 tahun 2009 tentang kepariwisataan menyebutkan bahwa pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusasha, Pemerintah dan pemerintah Pusat. Pariwisata menjadi bisnis, dan bisnis yang murah dan dapat dimulai dari skala kecil dari diri sendiri sehingga kita bisa menciptakan bisnis dari diri sendiri. Masyarakat dari segala lapisan menjadi subjek dalam pembangunan pariwisata, masyarakat menjadi pelaku ataupun penggerak yang akan menciptakan pengalaman terbaik bagi wisatawan sehingga akan tercipta kenangan terhadap objek pariwisata tersebut. Dengan begitu wisatawan akan kembali lagi bahkan akan bercerita kepada yang lain sehingga akan mendatangkan wisatawan lain untuk berkunjung kembali.

Otonomi daerah memberikan kewenangan bagi daerah untuk melakukan perencanaan, pengembangan, dan pengelolaan pariwisata di daerah. Proses dan mekanisme pengambilan keputusan menjadi lebih sederhana dan cepat. Maka dalam rangka percepatan proses pembangunan daerah Kabupaten Samosir, Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya harus benar-benar menangkap pelimpahan tugas dan wewenang itu sebagai salah satu peluang yang menjadi andalan dalam memajukan masyarakat di daerah.

(52)

mengabaikan moral dan etika. Sehingga akan terjadi kerusakan alam ini dikarenakan masyarakat dijadikan objek.

Pembangunan pariwisata hendaknya mengetengahkan soft tourism, bukan hard tourism, dalam kerangka pariwisata yang berkelanjutan, berkeadilan dan menjunjung tinggi martabat manusia. Soft tourism merupakan pariwisata yang bertanggung jawab terhadap kelestarian alam semesta dan juga mementingkan kebutuhan lokal masyarakat setempat. Sedangkan hard toursim adalah aktivitas pariwisata yang tidak sensitif terhadap alam, berorientasi jangka pendek dan tidak memberdayakan masyarakat setempat. Sehingga pengembangan pariwsata melalui model soft tourism dapat dibangun dan ditumbuhkembangkan di lingkungan masyarakat dengan tidak merusak lingkungan hidupserta memastikan kehidupan sosial yang mengintegrasikan keadilan sosial, pengembangan ekonomi dna integritas lingkungan. Dalam pengembangan soft tourism dapat dilakukan melalui pembangunan pariwisata berbasis masyarakat

(Community Based Tourism)

(53)

Tabel 1.1

Objek Wisata di Kabupaten Samosir No Lokasi Obyek

1 Pangururan Terusan Tano

Ponggol Museum Tomok Wisata Sejarah

Tuk-Tuk Siasu Wisata Sejarah/Budaya Museum Huta

Bolon

(54)

Kawasan

Arboretum Aek Natonang

Wisata Alam

Gua Lontung Wisata Gua Sipokki Wisata Alam Tanjungan Wisata Alam Raut Bosi Wisata Alam Simanindo Parbaba Wisata Sejarah Gua Alam Sangkal Wisata Gua Pertunjukan

Sigale-Gale

Wisata Sejarah Perumahan Batak Wisata Budaya Batu Kursi Batu Marhosa Wisata Alam Gedung Kesenian

3. Sianjur Mula-Mula Gunung Pusuk Buhit Wisata Sejarah/Budaya Pemandian Aek Siraja Batak Wisata Budaya Perkampungan

Sigulatti

(55)

Air Terjun Hadabuan Nasogo

Wisata Air Aek Boras Wisata Budaya Batu Pargasipan Wisata Budaya Batu Parhusipan Wisata Budaya Batu Nanggar Wisata Alam/Budaya Batu Sawan Wisata Budaya Rumah Parsaktian

Guru Tatea Bulan

Wisata Budaya 4 Ronggur Nihuta Aek Liang Wisata Air

Gua Sidam-Dam Wisata Gua Batu Simalliting Wisata Alam Danau Sidihoni Wisata Rekreasi Batu Hitam Wisata Alam Jea Ni Tano Wisata Air/Alam Aek Sipale Onggang Wisata Air Kawasan Wisata

Tirta Pea Porogan

Wisata Air 5. Harian Boho Menara Pandang

Tele

Wisata Panorama Partuko Naginjang Wisata Alam Janji Martahan Wisata Alam Air Terjun Sampuran Efrata

Wisata Alam

Mata Air Dan Pohon Pokki

Wisata Alam Gua Parmonangan Wisata Gua Kampung Harimau

Situmeang

Wisata Sejarah Ulu Darat Wisata Alam Janji Matogu Wisata Alam Hutan Flora Anggrek

Wisata Alam Rumah Adat Wisata Budaya Hutan Limbong Wisata Alam Rumah Adat Sagala Wisata Budaya 6. Sitio-Tio Mata Air/Mual

Datu

Parngongo

Wisata Air/Budaya

(56)

Parngongo

Piso Somalim Wisata Sejarah Batu Rantai Wisata Alam Pemandian Air

Panas Simbolon

Wisata Air Martua Limang Wisata Sejarah 8. Nainggolan Pantai Pasir Putih Wisata Air,Rekreasi

Batu Guru Air,Rekreasi Rumah Parsaktian Wisata Alam Hotel Golat Wisata Sejarah Atraksi Budaya Dan

Agama

Wisata Budaya Pananggangan Wisata Sejarah Polhang Wisata Alam Boru

Simenak-Menak

Wisata Alam Sidabasa Wisata Sejarah 9. Onan Runggu Kawasan Wisata

Remaja Lagundi

Tambun Surlau Wisata Sejarah Mual Siraja

Sonang Di Pakpahan

Wisata Budaya

Catatan : Objek Wisata Yang Huruf Tebal Adalah Objek Wisata Unggulan

(57)

Banyak objek wisata di Kabupaten Samosir salah satunya Pantai Pasir Putih Parbaba yang memiliki kekayaan alam dan memiliki adat dan budaya batak toba yang unik sehingga menjadi potensi wisata yang luar biasa untuk di kembangkan. Pantai ini juga memiliki pemandangan yang indah dengan latar belakang pegunungan pusuk buhit dan bukit –bukit di Pulau Sumatera. Pantai Pasir Putih terletak di Desa Huta Bolon Parbaba Kecamatan Pangururan dengan jarak tempuh ± 10 Km dari pusat kota Pangururan. Pantai ini merupakan penghasil Pendapatan Asli Daerah Terbesar Kedua dibidang Pariwisata. Pantai ini sering dikunjungi baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Pantai ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pusat kegiatan olah raga antara lain : Volly pantai, Foatsal, Cano, Palo air, Jet ski, Water boom.

Pariwisata dapat merusak nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat setempat dan akan mencipatakan individualis, maka diperlukan penguatan moral dan budaya yang melindungi nilai dan budaya Batak sebagai kebudayaan masyarakat setempat. Maka disinilah Community Based Tourism di perkenalkan yakni dengan memberdayakan masyarakat setempat. Konsep Community Based Tourism merupakan konsep pariwisata oleh rakyat, dikelola oleh rakyat, untuk kemajuan rakyat dan dimanfaatkan oleh rakyat

(58)

begitu masyarakat merasa memiliki dan akan ikut memelihara potensi pariwisata yang ada didaerah Pantai Pasir Putih Parbaba. Sehingga berbagai permasalahan dalam pengembangan pariwisata dapat diatasi dan wisatawan yang berkunjung ke Danau Toba khususnya Pantai Pasir Putih Parbaba akan meningkat dari tahun sebelumnya.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui pengembagan melaui konsep Community Based Tourism sebagai upaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan yaitu menjadikan sektor Pariwisata dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Untuk itu, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Pariwisata Pantai Pasir Putih Parbaba (Studi Pada Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya kabupaen Samosir)”.

1.2 Rumusan Masalah

(59)

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Pariwisata Pantai Pasir Putih Parbaba

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang hendak dicapai adalah :

1. Secara subjektif, penelitian ini merupakan usaha untuk meningkatkan kemapuan berpikir melalui penulisan karya ilmiah berdasarkan kajian-kajian teori dan aplikasi yang diperoleh dari Ilmu Administrasi Negara.

2. Secara praktis, khususnya aparatur pemerintah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Samosir, penelitian ini bermanfaat sebagai bahan masukan/sumbangan pemikiran dalam mengelola sektor pariwisata berbasis masyarakat.

(60)

1.5 Kerangka Teori

1.5.1 Pembangunan

1.5.1.1 Indikator Keberhasilan Pembangunan

Pembangunan adalah upaya manusia untuk mengolah dan memanfaatkan sumber daya bagi pemenuhan dan peningkatan kesejahteraanya. Dalam kaitan ini, pmbangunan selalu diikuti oleh perubahan, baik ke arah yang diinginkan berupa tersedianya barang dan jasa maupun ke arah sebaliknya berupa penurunan penyeediaan sumber daya, terutama sumber daya alam untuk memungkinkan terjadinya pertumbuhan. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan yang diinginkan akan semakin besar pula jumlah pasokan sumber daya alam yang dialokasikan di sektor pembangunan. Dalam pengalokasian sumberdaya inilah terkait maslah perencanaan dilihat dari laju pemanfaatannya dan pengendalian ketersediaannya, sehingga tidak melemahkan fungsi lingkungan hidup sebagai penunjang kehidupan. Ini berartoi sumber daya harus dikelola secara efektif dan efisien. 1

Untuk mengukur keberhasilan pembangunan ada 5 indikator yang diperlukan yaitu

2

1. Kekayaan rata-rata

Pembangunan mulanya dipakai dalam arti pertumbuhan ekonomi. Sebuah masyarakat dinilai berhasil melaksanakn pembangunan, bila pertumbuhan masyarakat tersebut cukup tinggi. Dengan demikian, yang diukur adalah produktivitas masyarakat

1

Azhari, Samlawi, Etika Lingungan Dalam Pembangunan Berkelanjutan , Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 1997, hlm 21.

(61)

atau produktivitas negara tersebut setiap tahunnya. Dalam bahasa teknis ekonominya, produktivitas ini diukur oleh Produk nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product (GNP) dan Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP). PNB atau PDB merupakan mengukur hasil keselurah dari sleuruh negara, dimana sebuah negara (jumlah penduduk) yang berlainan, untuk bisa membandingkan dapat diukr dengan PNB/Kapita atau PDB/Kapita. Dengan begitu dapat dilihat berapa produksi rata-rata setiap orang dari negara yang bersangkutan. Dengan begitu dapat dibandingkan negara satu dengan negara lainnya.

2. Pemerataan

(62)

3. Kualitas Kehidupan

Salah satu cara lain untuk mengukur kesejahteraan penduduk sebuah negara adalah dengan menggunakan tolok ukur PQLI (Physuical Quality of Life Indeks). Tolok ukur PQLI yang diperkenalkan oleh Moris yang mengukur tiga indikator yakni

• Rata-rata harapan hidup sesudah umur satu tahun • Rata-rata jumlah kematian bayi

• Rata-rata prosentasi buta dan melek huruf

4. Kerusakan Lingkungan

Sebuah negara yang tinggi produktivitasnya, dan merata pendapatan penduduknya, bisa saja berada dalam sebuah proses untuk menjadi semakin miskin. Hal ini misalnya, karena pembangunan yang menghasilkan produktivitas yng tinggi itu tidak mempedulikan dampak terhadap lingkungannya. Oleh karena itu, seringkali terjadi bahwa pembangunan yang dianggap berhasil ternyata tidak memiliki daya kelestarian yang memadai. Akibatnya pembangunan ini tidak bisa berkelanjutan atau tidak

sustainable.

5. Keadilan sosial dan Kesinambungan

(63)

cenderung untuk menolak status quo yang ada. Mereka ingin memperbaiki diri dengan mengubah keadaan. Oleh karena itu bila konfigurasi kekuatan-kekuatan sosial memungkinkan akan terjadi gejolak politik yang bisa menghancurkan hasil pembangunan yang sudan dicapai. Begitu juga dengan kerusakan alam yang dapat mengganggu kesinambungan pembangunan, faktor keadilan sosial juga merupakan semacam kerusakan sosial yang bisa mengakibatkan dampak yang sama. Konsep pembangunan menjadi semakin kompleks, tidak hanya terbatas pada masalah pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meliputi maslah sosial dan lingkungan.

1.5.1.2 Teori Pembangunan 1.5.1.2.1Teori Modernisasi

Teori pembagian Kerja secara Internasinal yang di dasarkan pada terori Keuntungan Komparatif, yang dimiliki oleh setiap negara, mengakibatkan terjadinya spesialisasi produksi pada tiap-tiap negara sesuai dengan keuntungan komparatif yang mereka miliki. Oleh karena iitu secara umum, di dunia terdapat dua kelompok negara yaitu Negara yang memproduksi hasil pertanian dan negara yang memproduksi barang industri. Tapi yang terjadi negara Industri menjadi semakin kaya dan Negara pertanian tertinggal. Terhadap kenyataan ini, secara umum terdapat dua kelompok teori. Pertama, teori yang menjelaskan kemiskinan ini terutama disebabkkan oleh faktor-faktor intenal atau faktor yang terdapat didalam negara yang bersangkutan yang di kenla dengan Teori Modernisasi. Kedua, teori yang lebih banyak mempersoalkan faktor-faktor eksternal sebagai penyebab terjadinya kemiskinan.3

3

(64)

Teori-teori pilihan yang termasuk dalam teori Modernisasi agar dapat di lihat dengan jelas4

a. Harrod-Domar: Tabungan dan Investasi :

Teori Harrod-Domar merupakan salah satu teori yang terus dipakai dan terus dikemabangkan. Teori ini dicetuskan oleh Evsey Domar dan Roy Harrod, yang bekerja terpisah namun menghasilkan kesimpulan yang sama bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi. Jika tabungan dan investasi masyarakat rendah, maka pertumbuhan ekonomi masyarakat atau negara tersebut juga rendah. Hal ini bisa dijumpai pada negara maju dan berkembang, masyarakat di negara maju merupakan masyarakat yang memiliki investasi yang tinggi yang diwujudkan dalam saham, danareksa, indeks, dan bentuk investasi yang lain.

b. Max Weber: Etika Protestan

Teori Weber tertarik untuk membahas masalah manusia yang dibentuk oleh budaya di sekitarnya, khususnya agama. Weber tertarik untuk mengkaji pengaruh agama, pada saat itu adalah protestanisme yang mempengaruhi munculnya kapitalisme modern di Eropa. Teori yang menenekankan nilai-nilai budaya. Teori Weber tentang peran agama dalam pembentukan kapitalisme merupakan sumber dari aliran teori ini. Nilai- nilai masyarakat, antara lain dari yang melalui agama, mempunyai peran yang menentukan dalam mempengaruhi tingkah laku individu. Kalau nilai-nilai yang hidupp dalam masyrakat dapat diarahkan kepada sikap positif terhdap pertumbuhan ekonomi, proses pembangunan dalam masyarakat dapat terlaksana.

4

(65)

c. David McClelland : Dorongan Berprestasi atau n-Ach

Teori yang menekankan aspek-aspek psikoloi individu. Teori: need for Achievement (n-Ach). kebutuhan atau dorongan berprestasi, dimana mendorong proses pembangunan berarti membentuk manusia wiraswasta dengan n.ach yang tinggi. Cara pembentukanya melalui pendidikan individu ketika seseorang masih kanak-kanak di lingkungan keluarga. McClelland berpendapat bahwa pada dasarnya jika sebuah masyarakat menginginkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, maka yang perlu diubah adalah dorongan berprestasi individu yang ada dalam masyarakat. McClelland menyimpulkan bahwa n-ach merupakan semacam virus yang perlu ditularkan kepada orang-orang dimana masyarakatnya ingin mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

d. Walt .W. Rostow : Lima Tahap Pembangunan

Teori Pertumbuhan Tahapan Linear (linear-stages-of growth-models) proses pembangunan bergerak dalam sebuah garis lurusyakni masyarakat yang terbelakang ke masyarakat yang maju dengan tahap-tahap sebagai berikut:

1. Masyarakat Tradisional, Ilmu pengetahuan masih belum banyak dikuasai.

2. Prakondisi untuk Lepas Landas, masyarakat tradisional terus bergerak walaupun sangat lambat dan pada suatu titik akan mencapai posisi pra-kondisi untuk lepas landas

3. Lepas Landas, ditandai dengan tersingkirnya hambatan-hambatan yang menghalangi proses pertumbuhan ekonomi.

(66)

5. Jaman Konsumsi Masal yang Tinggi, Pada tahap ini pembangunan sudah berkesinambungan

e. Bert F. Hoselitz : Faktor-faktor Non-ekonomi

(67)

1.5.1.2.2 Teori Dependensi

Teori Dependensi lebih menitik beratkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara Dunia Ketiga. Teori Dependensi mewakili suara-suara negara pinggiran untuk menantang hegemoni ekonomi, politik, budya dan intelektual dari negara maju. Munculnya teori dependensi lebih merupakan kritik terhadap arus pemikiran utama persoalan pembangunan yang didominasi oleh teori modernisasi. Teori ini mencermati hubungan dan keterkaitan negara Dunia Ketiga dengan negara sentral di Barat sebagai hubungan yang tak berimbang dan karenanya hanya menghasilkan akibat yang akan merugikan Dunia Ketiga. Negara sentral di Barat selalu dan akan menindas negara Dunia Ketiga dengan selalu berusaha menjaga aliran surplus ekonomi dari negara pinggiran ke negara sentral.

Teori ini berpangkal pada filsafat materialisme yang dikembangkan Karl Marx. Salah satu kelompok teori yang tergolong teori struktiral ini adalah teori ketergantungan yang lahir dari 2 induk, yakni seorang ahli pemikiran liberal Raul Prebiesch dan seorang pemikir marxis yang merevisi pandangan marxis tentang cara produksi Asia yaitu, Paul Baran.

1. Raul Prebisch : industri substitusi import. Menurutnya negara-negara terbelakang harus melakukan industrialisasi yang dimulai dari industri substitusi impor.

(68)

kapitalisme seperti terkena penyakit kretinisme yang membuat orang tetap kerdil.

Ada 2 tokoh yang membahas dan menjabarkan pemikirannya sebagai kelanjutan dari tokoh-tokoh di atas, yakni:5

1. Andre Guner Frank : Pembangunan dan keterbelakangan. Keterbelakangan bukan suatu kondisi alamiah dari sebuah masyarakat. Bukan juga karena masyarkat itu kekurangan modal. Keterbelakangan merupakan sebuah proses ekonomi, politik dan sosial yang terjadi sebagai akibat globalisasi dari sistem kapitalisme. Keterbekangan di negara pinggiran (negara satelit) adalah akibat langsung dari terjadinya pembangunan di negara-negara pusat. Bagi Frank keterbelakangan hanya dapat diatasi dengan revolusi, yakni revolusi yang melahirkan sistem sosialis.

2. Theotonia De Santos : Membantah Frank. Bahwa negara pinggiran atau satelit pada dasarnya hanya merupakan bayangan dari negara-negara pusat atau metropolis. Bila negara pusat yang menjadi induknya berkembang, negara satelit bisa juga ikut berkembang. Bila negara induknya mengalami krisis, satelitnya pun kejangkitan krisis. Negara pinggiran atau satelit bisa berkembang, mewskipun perkembangan ini merupakan perkembangan yang tergantung, perkembangan ikutan.

5

(69)

Menurutnya ada 3 bentuk ketergantungan, yakni:

1. Ketergantungan Kolonial: hubungan antar penjajah dan penduduk setempat bersifat eksploitatif.

2. Ketergantungan Finansial-Industri: pengendalian dilakukan melalui kekuasaan ekonomi dalam bentuk kekuasaan financial-industri.

3. Ketergantungan Teknologis-Industrial: penguasaan terhadap surplus industri dilakukan melalui monopoli teknologi industri.

1.5.1.2.3 Teori Sistem Dunia

6

1. Negara pusat, mengambil keuntungan yang paling banyak, karena kelompok ini dapat memanipulasikan sistem dunia sampai batas-batas tertentu

Teori sistem dunia yang dikemukakan oleh Immanuel Wallerstein. Hal ini dikarenakan bahwa dalam suatu sistem sosial perlu dilihat bagian-bagian secara menyeluruh dan keberadaan negara-negara dalam dunia internasional tidak boleh dikaji secara tersendiri karena ia bukan satu sistem yang tertutup. Teori ini berkeyakinan bahwa tak ada negara yang dapat melepaskan diri dari ekonomi kapitalis yang mendunia. Wallerstein menyatakan sistem dunia modern adalah sistem ekonomi kapitalis.

Wallerstein, membagi tiga kelompok negara, yaitu :

2. Semi-periferi atau setengah pinggiran, mengambil keuntungan dari negara-negara pinggiran yang merupakan pihak yang paling dieksploitir

3. Negara periferi atau pinggiran.

6

(70)

Menurut Wallerstein negara-negara dapat “naik atau turun kelas,” misalanya dari negara pusat menjadi negara setengah pinggiran dan kemudian menjadi negara pinggiran, dan sebaliknya. Naik dan turun kelasnya negara ini ditentukan oleh dinamika sistem dunia. Pernah suatu saat Inggeris, Belanda, dan Perancis adalah negara pusat yang berperan dominan dalam sistem dunia, namun kemudian Amerika Serikat muncul menjadi negara terkuat (pusat) seiring hancurnya negara-negara Eropa dalam Perang Dunia II.

Wallerstein merumuskan tiga strategi bagi terjadinya proses kenaikan kelas, yaitu:

1. Kenaikan kelas terjadi dengan merebut kesempatan yang datang. Sebagai misal negara pinggiran tidak lagi dapat mengimpor barang-barang industri oleh karena mahal sedangkan komiditi primer mereka murah sekali, maka negara pinggiran mengambil tindakan yang berani untuk melakukan industrialisasi substitusi impor. Dengan ini ada kemungkinan negara dapat naik kelas dari negara pinggiran menjadi negara setengah pinggiran.

(71)

3. Kenaikan kelas terjadi karena negara menjalankan kebijakan untuk memandirikan negaranya. Sebagai misal saat ini dilakukan oleh Peru dan Chile yang dengan berani melepaskan dirinya dari eksploitasi negara-negara yang lebih maju dengan cara menasionalisasikan perusahaan-perusahaan asing. Namun demikian, semuanya ini tergantung pada kondisi sistem dunia yang ada, apakah pada saat negara tersebut mencoba memandirikan dirinya, peluang dari sistem dunia memang ada. Jika tidak, mungkin dapat saja gagal.

1.5.1.2.4 Teori Alternatif

Teori Pembangunan Alternatif memandang pembangunan sebagi perbaikan hakekat manusia. Pembangunan merupakan proses perubahan kearah yang lebih baik, visi masyarakat yang lebih baik dipengaruhi oleh tindakan politik dan kemauan manusia. Pendekatan normatif dalam pembangunan ini menekankan pada tujuan dan arti pembangunan. Pieterse menekankan bahwa pembangunan harus partispatif dan berpusat pada manusia. Dalam proses pembangunan harus terdapat konsensus yang meluas bahwa pembanguna akan lebih berhasil ketika masyarakat berpartisipasi. Pembangunan manusia merupakan tujuam dan ukuran pembangunan yang paling tepat. Dalam konsep Pembangunan Diri Manusia Pembangunan (People Self Development), Ansiur Rahman memandang pemabangunan sebagai kekuatan relatif yang dimana manusia merupakan kekuatan kreatif pembangunan sebagai alat dan tujuan bukan penerima pasif pembangunan pembangunan. Pembangunan yang berpusat pada manusia

(72)

anggota masyarakat meningkatkan kapasitas personal dan kelembagaan untuk peningkatan kualitas kehidupan manusia yang berkelanjutan dan adil selaras dengan aspirasi masyarakat sendiri. Perubahan-perubahan yang timbul dalam proses pembangunan akan mewujudkan transformasi menuju keadilan, keikut sertaan dan keberlanjutan. Dengan demikian Pembangunan pembangunan harus dimulai dari manusia dan kebutuhannya, bukan dimulai dari produksi. 7

Strategi utama dari pembangunan alternatif adalah participatory budgeting

(PB)/Orcamento Participativo (OP). Participatory Budgeting merupakan suatu proses pembicaraan formal di antara masyrakat mengenai program pembangunan yang akan dibentuk dan dilaksanakan serta proses pembiayaan dan pengawasan di mana hasil dan rembuk program tersebut akan diteruskan ke pemerintah. Selanjutnya pemerintah akan melakukan proses peganggaran dan menurunkan kembali ke masyrakat dari pihak terkait selaku eksekutornya. Model pembangunan tersebut akan menghadirkan public sphere, masyrakat dengan semangat kolekstivitas yang didampingi oleh pemerintah, akademika dan civil society organization membentuk suatu tatanan etika dengan meletakkkan sentralistas masyrakat sebagai subjek yang dinamis dan mengenali kebutuhannya sendiri. Tidak hanya memberikan masyarakat hak untuk berbicara, tetapi juga memberikan hak untuk di dengar, menentukan dan mengawasi jalannya program pembangunan serta partisipasi lainnya. Habernas menjelaskan tentang public sphere dengan berbagai dimensi yang berasosiasi dengan jaringan masyrakat sipil sebagai

warning system tidak hanya mendeteksi permasalahan melalui teknik dialogis (komunikasi). Partispasi masyrakat melalui jalur dialog merupakan sebuah sarana

7

(73)

untuk mewujudkan public sphere sebagai solusi persoalan dan masalah. Komunikasi public dalam public sphere mempunyai reproducing culture and keeping traditions alive, social integration or the coodination of the plans of different actors in social interaction, socialization or cultural interpretation of needs8

Berbagai Teori yang dimaksudkan dalam teori Alternatif ini meliputi berbagai paradigma yaitu :

.

9

1. Feminisme dan Perubahan Sosial

Femisme sebagai kumpulan pemikiram, pendirian, dan aksi berangkat dari kesaran, asumsi dan kepedulian terhadap ketidakadilan, ketidaksetaraan, penindasan atau diskriminasi terhadap kaum perempuan, serta merupakan gerakan yang berusaha untuk menghentikan segala bentuk ketidakadilan dan diskriminasi yang semula memang tidak secara khusus merupakan teori perubahan sosial. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya gerakan feminisme juga memproyeksikan suati visi masyarakat yang adil, demokratis dan sejahtera menurut perspektif feminisme.10

2. Paradigma teologi pembebasan (Liberation Theology).

Teologi adalah suatu ilmu yang memabahas hakikat dan hubungan antara Tuhan dan manusia maupun makhluk lainnya. Teologi umumnya sulit dipadukan dengan teori perubahan sosial dan teori kritik terhdap pembangunan yang sepenuhnya berpijak pada analisis rasional, sekunder dan dialeetika antara refleksi serta aksi kemudian partisipasi. Telogi pembebasan adalah suatu

8

Budi , Winarno, Etika Pembangunan , Center for Academic Public Service (CAPS), Jakarta 2013, hlm 264-267.

9

Mansour, Fakih, runtuhnya teori Pembangunan dan Globalisasi, Insist Prest, Yogyakarta 2011, hlm 144 10

(74)

refleksi teologi yang lahhir dari ungkapan dan pengalaman serta usaha bersama untuk menghapus situasi ketidakadilan dan untuk membangun masyarakat yang berbeda yang lebih bebas dan lebih manusiawi. 11

3. Postmodernisasi : Dekonstruksi Pembangunan

Michel Foucault , analissnya tentang discourse, power dan knowledge

merupakan sumbangan yang besar terhadap kritik pembangunan yang merupakam suatu diskursus yang menyiratkan dominasi pendisiplinan dan normalisasi Dunia Pertama terhadap Dunia Ketiga. Studi Foucault bertujuan memahami bagaimana proses disiplin, normalisasi, dan penggunaan kekuasaan yang telah di terapkan di berbagai pengalaaman, dimana praktik discursive

diterapkam.12

1.5.2 Pariwisata

1.5.2.1 Definisi Pariwisata

Kata pariwisata baru populer pada tahun 1958. Sebelum itu digunakan kata

turisme, serapan dari bahasa Belanda “tourisme”. Sejak 1958 resmilah kata pariwisata sebagai padanan tourisme (Bld) atau tourism(Ing). Perkembangan dan pengayaan makna selanjutnya adalah hadirnya istilah darmawisata, karyawisata, widyawisata, yang semuanya mengandung unsur wisata. Menurut KBIK Wisata berarti berpergian bersama-sama untuk bersenang-senang dan sebagainya; bertamasya; piknik; wisatawan adalah orang yang berdarmawisata; pelancong; turis. Yoeti mengartikan wisata adalah

11

Ibid hlm 177-178 12

Figur

Tabel 3.1 Nama, Luas Wilayah Per-Kecamatan Jumlah Desa, Kelurahan

Tabel 3.1

Nama, Luas Wilayah Per-Kecamatan Jumlah Desa, Kelurahan p.4
Tabel 3.2 Luas Wilayah Desa Hutabolon per Dusun

Tabel 3.2

Luas Wilayah Desa Hutabolon per Dusun p.5
Tabel 3.6       Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Dusun Tahun 2011

Tabel 3.6

Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Dusun Tahun 2011 p.11
Tabel 3.7

Tabel 3.7

p.12
Tabel 3.8 Potensi Urusan Wajib

Tabel 3.8

Potensi Urusan Wajib p.15
Tabel  3.10

Tabel 3.10

p.17
GAMBAR 3.1 Perangkat Desa Hutabolon

GAMBAR 3.1

Perangkat Desa Hutabolon p.18
Gambar 4.1 Pantai Pasir Putih Parbaba

Gambar 4.1

Pantai Pasir Putih Parbaba p.23
Tabel  4.1

Tabel 4.1

p.25
Bulan Tabel 4.2 Wisatawan Nusantara

Bulan Tabel

4.2 Wisatawan Nusantara p.26
Tabel 4.3

Tabel 4.3

p.27
Tabel 4.4

Tabel 4.4

p.28
Tabel 1.1 Objek  Wisata di Kabupaten Samosir

Tabel 1.1

Objek Wisata di Kabupaten Samosir p.53
Tingkatan PartisipasiTabel 1.2 22

Tingkatan PartisipasiTabel

1.2 22 p.86

Referensi

Memperbarui...