• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Active Learning pada Materi Perkalian Pecahan di SMP Citra Alam Ciganjur Jakarta Selatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pembelajaran Active Learning pada Materi Perkalian Pecahan di SMP Citra Alam Ciganjur Jakarta Selatan"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBELAJARAN

ACTIVE LEARNING

PADA MATERI

PERKALIAN PECAHAN DI SEKOLAH MENENGAH

PERTAMA CITRA ALAM CIGANJUR JAKARTA SELATAN

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Disusun Oleh :

MUHAMMAD WAHYU HIDAYAT

NIM : 1110017000061

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

iii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji kehadirat illahirabbi Allah SWT yang telah

memberikan segala karunia, nikmat iman, nikmat islam, dan nikmat kesehatan

yang berlimpah dari dunia sampai akhirat. Shalawat dan Salam senantiasa

dicurahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga, sahabat, dan

para pengikutnya sampai akhir zaman.

Selama penulisan skripsi ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa tidak

sedikit kesulitan dan hambatan yang dialami. Namun, berkat kerja keras, doa,

perjuangan, kesungguhan hati dan dorongan serta masukan-masukan yang positi

dari berbagai pihak untuk penyelesaian skripsi ini, semua dapat teratasi. Oleh

sebab itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Kadir, M.Pd., selaku dosen pembimbing I dan Ibu Dr. Gelar

Dwirahayu, M.Pd selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan

waktu, bimbingan, arahan, motivasi, dan semangat dalam membimbing

penulisan salama ini. Terlepas dari segala perbaikan dan kebaikan yang

diberikan. Semoga Bapak dan Ibu selalu berada dalam kemuliaanNya.

2. Bapak Dr. Kadir, M.Pd., Ketua Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas

Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Seluruh Dosen Jurusan Pendidikan Matematika UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta, teristimewa untuk Ibu Khairunnisa, M.Si selaku Dosen Pembimbing

Akademik yang telah memberikan ilmu pengetahuan serta bimbingan kepada

penulis selama mengikuti perkuliahan.

4. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. Bapak Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan.

6. Staf Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dan Staf Jurusan Pendidikan

Matematika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan

(3)

iv

7. Pimpinan dan staf Perpustakaan Umum dan Perpustakaan Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu penulisan

dalam menydiakan serta memberikan pinjaman literatur yang dibutuhkan.

8. Kepala SMP Citra Alam Ciganjur Jakarta Selatan, Ibu Ratu Ira Melyani,

S.Sos. M.Pd yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian.

9. Seluruh dewan guru SMP Citra Alam Ciganjur Jakarta Selatan, khusunya

Bapak Boby Charles, ST selaku guru mata pelajaran, Bapak Ichda Chaerudin,

S.PT selaku Waka Kurikulum, dan guru-guru SMP Citra Alam Ciganjur

Jakarta Selatan yang telah membantu dan memberikan motivasi penulis

dalam melaksanakan penelitian ini. Serta siswa dan siswi SMP Citra Alam

Ciganjur Jakarta Selatan, kususnya kelas VII A.

10.Keluarga tercinta Ayahanda H. Tauik Hidayat, Ibunda Nurhayati yang tek

henti-hentinya mendoakan, melimpahkan kasih sayang dan memberikan

dukungan kepada penulis. Kakak tercinta Sari Hidayah, Iza Rachmawati

Hidayah yang selalu mendoakan, mendorong penulis untuk tetap semangat

dalam mengejar dan meraih cita-cita.

11.Sahabat yang selalu memberikan motivasi kepada penulis, Hafidzh Nidzam,

Febri Indrawan, Rodial, Asep Ricky Orlando, Ahmad Naufal Subagio, M.

Siddik Maulana, Ahmad Ferdi Hasan, Anton, Sofyan Hadi, Sigit Purwanto,

Leman, Khasbany.

12.Teman-teman seperjuangan Jurusan Pendidikan Matematika Angkatan 2010,

khususnya kelas B, kelas selalu semangat dan kompak kawan-kawan serta

adik-adik Jurusan Pendidikan Matematika Angkatan 2011 dan 2012 atas

pengalaman, bantuan dan motivasinya.

Ucapan terima kasih juga ditunjukan kepada semua pihak yang namanya

tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Penulis hanya dapat memohon dan

berdoa mudah-mudahan bantuan, bimbingan, dukungan, semangat, masukan dan

doa yang telah diberikan menjadi pintu datangnya ridho dan kasih sayang Allah SWT di dunia dan akhirat. Aamiin yaa robbal’alamin.

Demikianlah, betapapun penulis telah berusaha dengan segenap

(4)

v

atas lembaran-lembaran skripsi ini masih saja dirasakan dan ditemui berbagai

macam kekurangan dan kelemahan. Kritik dan saran dari siapa saja yang

membaca skripsi ini akan penulis terima dengan hati terbuka.

Penulis berharap semoga skripsi ini akan membawa manfaat yang

sebesar-besarnya bagi penulis khususnya dan bagi pembaca sekalian umumnya.

Jakarta, November 2016

(5)

vi

DAFTAR ISI

ABSTRAK ...ii

ABSTRACT ...iii

KATA PENGANTAR ...iv

DAFTAR ISI ...vii

DAFTAR TABEL ...ix

DAFTAR GAMBAR ...x

DAFTAR LAMPIRAN ...xi

BAB I PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang ...1

B. Identifikasi Masalah ...6

C. Pembatasan Masalah ...6

D. Perumusan Masalah ...7

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...7

BAB II KAJIAN TEORI ...9

A. Kajian Teori ...9

1. Pembelajaran Active Learning ...9

a. Pengertian Pembelajaran Active Learning ...8

b. Pembelajaran Matematika Di Sekolah Alam ...14

c. Kurikulum Sekolah Alam ...16

d. Pengertian Pecahan ...17

e. Perkalian Bilangan Pecahan ...20

B. Hasil Penelitian yang Relevan ...21

C. Pertanyaan Penelitian ...23

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...24

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 24

B. Latar Penelitian ...24

1. Profil Sekolah ...24

(6)

vii

3. Profil Guru ...31

C. Metode Penelitian ...32

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ...33

1. Observasi ...33

2. Wawancara ...33

3. Dokumentasi ...34

E. Teknik Analisis Data ...36

F. Pemeriksaan Keabsahan Data ...37

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...40

A. Deskripsi Data ...40

1. Hasil Observasi Kegiatan Active Learning yang Dilakukan Guru ....40

a. Hasil Observasi Kegiatan Active Learning oleh Guru di Kelas ...40

b. Hasil Observasi Kegiatan Active Learning Siswa dalam KBM ...41

2. Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Matematika ...43

3. Hasil Belajar Matematika pada Materi Perkalian Pecahan ...44

B. Pembahasan ...45

1. Hasil Observasi Kegiatan Active Learning ...45

2. Hasil Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Matematika ...54

3. Hasil Belajar Matematika Siswa pada Materi Perkalian Pecahan ...55

C. Keterbatasan Penelitian ...56

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...57

A. Kesimpulan ...57

B. Saran ...58

(7)

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Perbedaan Kurikulum Sekolah Nasional dengan Sekolah Alam ...16

Tabel 4.1 Hasil Observasi Kegiatan Active Learning oleh Guru di Kelas ...40

Tabel 4.2 Hasil Observasi Kegiatan Siswa KBM ...42

Tabel 4.3 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Matematika ...43

(8)

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Gedung Sekolah SMP Citra Alam ...25

Gambar 3.2 Area Bermain dan Olah raga ...25

Gambar 3.3 Ruang Lab IPA ...26

Gambar 3.4 Masjid ...27

Gambar 3.5 Green House ...27

Gambar 3.6 Perpustakaan ...28

Gambar 3.7 Kantin Sehat ...29

Gambar 3.8 Ruang art ...29

Gambar 3.9 Ruang Serba Guna ...30

Gambar 3.10 Area Parkir ...30

Gambar 4.1 Siswa Membuat Pecahan dengan Karton...47

Gambar 4.2 Guru mengulang materi pecahan dengan Mapping ...48

Gambar 4.3 Alat Peraga Balok Pecahan...49

Gambar 4.4 Guru sedang Menjelaskan Materi Perkalian Pecahan ...50

Gambar 4.5 Suasana belajar di Sekolah Alam ...51

(9)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Hasil Observasi Kegiatan Active Learning oleh Guru di Kelas ...62

Lampiran 2 Hasil Observasi Kegiatan Active Learning Siswa dalam KBM ....73

Lampiran 3 Hasil Kegiatan Wawancara Guru Matematika ...80

Lampiran 4 Hasil Analisis Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Matematika ...85

Lampiran 5 Hasil Belajar Matematika pada Materi Perkalian Pecahan ...86

Lampiran 6 Data Siswa Sekolah Citra Alam Kelas VII A ...87

Lampiran 7 Data Guru SMP Citra Alam...88

Lampiran 8 Jadwal Pelajaran Kelas VII...89

Lampiran 9 Daftar Nilai UN Tahun Pelajaran 2014/2015...90

Lampiran 10 Data Siswa Sekolah Citra Alam Kelas VII ...91

Lampiran 11 Kurikulum Sekolah Alam Kelas VII...92

Lampiran 12 Surat Permohonan Izin Penelitian...107

Lampiran 13 Surat Permohonan Izin Observasi...108

Lampiran 14 Angket Siswa SMP Citra Alam ...109

Lampiran 15 Angket Guru Matematika Kelas VII SMP Citra Alam...118

Lampiran 16 Jawaban Tes Siswa Matematika Kelas VII SMP Citra Alam ...119

Lampiran 17 Lembar Instrumen Observasi Kegiatan Active Learning oleh Guru di Kelas ...121

Lampiran 18 Lembar Instrumen Observasi Kegiatan Active Learning dalam KBM ...123

Lampiran 19 Lembar Instrumen Wawancara Kegiatan Active Learning oleh Guru terhadap Pembelajaran Matematika...124

Lampiran 20 Lembar Instrumen Respon Siswa terhadap Pembelajaran Matematika ...125

Lampiran 21 Lembar Instrumen Tes Perkalian Pecahan...126

Lampiran 22 Uji Referensi...127

(10)

xi BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Matematika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang

memiliki peranan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

yaitu sebagai pembentuk pola pikir rasional dan pembentuk sikap logis, kritis,

cermat, dan disiplin. Hal ini menyebabkan matematika wajib diajarkan dari

pendidikan sekolah dasar, pendidikan menengah, sampai perguruan tinggi.

Kenyataan yang ada siswa masih menganggap matematika adalah pelajaran yang

sulit sehingga hasil belajar siswa masih banyak di bawah Kriteria Ketuntasan

Minimal (KKM). Kondisi seperti ini menuntut perhatian dari berbagai pihak

terutama guru hendaknya mampu menerapkan pembelajaran aktif selama proses

pembelajaran.

Pembelajaran menggambarkan seluruh potensi siswa untuk mempelajari

fakta dan gagasan yang dapat digunakan secara efektif. Interaksi antara pengajar

(guru) dengan pembelajar (siswa) akan menghasilkan suatu perubahan dalam diri

yang belajar untuk mengembangkan penguasaan akan suatu kecakapan tertentu,

penuntun dalam menjalani kehidupan, sekaligus untuk memperbaiki nasib dan

peradaban umat manusia yang bisa dilakukan sejak masih dalam kandungan.

Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya

bukan mengetahuinya, pembelajaran yang berorientasi pada target penguasaan

materi yang terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, tetapi

gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka

panjang. itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah saat ini.

Pada bidang pendidikan konsepsi sekolah merupakan salah satu unsur

penting keberlangsungan sistem pendidikan nasional. Kegagalan sistem

pendidikan di Indonesia merangsang tumbuhnya sekolah-sekolah alternatif yang

diyakini memiliki mutu pendidikan lebih baik dari sekolah biasa. Salah satu

(11)

2

Pendidikan di Indonesia merangsang tumbuhnya sekolah-sekolah alternatif

yang diyakini memiliki mutu pendidikan lebih baik dari sekolah biasa. Salah satu

sekolah alternatif yang sekarang diminati adalah sekolah berbasis alam. Sekolah

alam dalam pembelajarannya menekankan proses keterpaduan manusia bersama

alam yang ada pada lingkungan sekitar.

Sekolah alam didirikan pertama kali di Indonesia pada tahun 1997 yang

merupakan gagasan dari seorang mantan staf ahli Menteri Negara BUMN, yaitu

Lendo Novo. Ir. Lendo Novo adalah alumni tekhnik perminyakan Institut

Tekhnologi Bandung (ITB). Sejak tahun 1992, Lendo merancang konsep sekolah

alam agar murid-murid bisa belajar sambil bermain. Pada tahun 1997, barulah

beliau bisa mewujudkan konsepnya tersebut dan mendirikan Sekolah Alam, yaitu

di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Berdirinya sekolah alam ini terutama dilatar belakangi sebuah gagasan

bagaimana menciptakan sistem belajar mengajar yang menyenangkan yang bisa

menempa kecerdasan natural anak dengan kualitas menjadi nomor terdepan

sehingga mampu menarik minat anak didik untuk terus belajar.

Sistem pendidikan sekolah alam ini berbeda dari sekolah formal

umumnya. Sekolah alam hadir dengan konsep pendidikan fitrah. Sekolah bukan

lagi beban. Sekolah adalah realitas kehidupan yang mereka jalani dengan

penghayatan penuh. Sekolah adalah sumber kegembiraan, bukan sumber stres

yang biasanya membuat mereka kehilangan gairah.

Maka jelaslah bahwa sekolah alam yang menggunakan proses belajar

mengajar dengan sangat menyenangkan itu dapat menjadi alternatif sekaligus

inovasi pendidikan, yang diharapkan dapat memberi konstribusi dalam mengatasi

permasalahan dalam dunia pendidikan di Indonesia dewasa ini.

Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur

manusiawi, internal material fasilitas perlengkapan dan prosedur yang saling

mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Mulyasa pembelajaran

pada hakekatnya adalah interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya

sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam pembelajaran

(12)

3

datang dari diri individu, maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan

individu.

Alam semesta yang dimanfaatkan antara lain sebagai media pendidikan,

observasi dan riset. Sesuai dengan ajaran Islam manusia dipersilahkan untuk

memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan fital manusia dan akan

dipertanggungjawabkan perbuatan di atas bumi. Diantara cara terbaik yakni mengintegrasikan sains dengan al Qur’an, atau dikenal dengan istilah integrasi

ilmiah ilahiah. Dengan cara mengamati dan memahami langsung gejala alam

yang terjadi, sehingga bisa mendapatkan media belajar yang bermutu dan murah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-khafi ayat 109 :

Katakanlah: sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat

Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat

Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)".(QS. Al

Kahfi:109).

Proses pembelajaran Sekolah Alam menyandarkan pada 4 (empat) pilar

a. Pengembangan akhlak yang baik (akhlaqul Karimah)

b. Pengembangan logika dan daya cipta melalui percobaan (Expreriental

Learning)

c. Pengembangan kepemimpinan dengan metode Outbond Training

d. Pengembangan kemampuan berwirausaha (Entrepreneurship)

Berdasarkan hal tersebut, sangatlah penting untuk mengkonsep sebuah

pendidikan yang menyelenggarakan sistem belajar mengajar yang menghargai

setiap potensi yang ada. Dalam pembelajaran dapat diselaraskan dengan kondisi

psikologis siswa, sehingga otak mereka akan sangat mudah untuk bekerja sama

dalam proses pembelajaran dan proses belajar pun akan menjadi sangat optimal

dan efektif.

Siswa sekolah alam merupakan anak usia sekolah yang disesuaikan

dengan jenjangnya, sehingga tidak membeda-bedakan antara anak yang satu

dengan yang lainnya. Dalam praktiknya anak diberikan kebebasan dalam

keinginan kreatifnya sehingga akan menemukan sendiri bakat dan kemampuan

(13)

4

ketika belajar di alam terbuka juga akan sangat berpengaruh terhadap keefektifan

cara belajar mereka. Suasana dan kondisi lingkungan yang menyenangkan (Fun

Learning), akan sangat mendukung dalam proses pembelajaran ini.

Sesuatu yang menarik dari sekolah alam, tidak hanya siswa yang belajar

guru pun dituntut untuk terus belajar, bisa dari murid atau guru-guru lain bahkan

orang tua juga belajar dari guru dan anak-anak. Yang sangat penting dalam

pembelajaran adalah penanaman dasar bahwa semua makhluk berkewajiban untuk

belajar, belajar dalam konteks toleransi sosial. Bahkan yang lebih dalam proses

pelajaran, bukanlah hanya mengejar nilai, namun bagaimana memahami seberapa

jauh proses belajar dapat dinikmati dan diterapkan dengan baik. Dengan kata lain,

antara kurikulum, toleransi sosial, dan pemanfaatan kehidupan keseharian dapat

ditarik benang merah transformasi ilmu secara teknis, moral, kemanusiaan dan

lain–lain.

Di Sekolah Alam, anak-anak tidak hanya belajar secara teori. Mereka

belajar di mana saja dan pada siapa saja. Mereka belajar tidak hanya dari buku

tapi dari apa saja yang ada di sekelilingnya. Dan yang jelas mereka belajar tidak

untuk mengejar nilai, tapi untuk bisa memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan

sehari-hari. Dan di Sekolah Alam keseragaman bukan pada apa yang dikenakan,

tapi pada akhlaknya.

Menurut Silberman, active learning merupakan proses belajar padi peserta

didik yang lebih dari sekadar mendengarkan dan melihat guru menjelaskan

sesuatu atau menjelajahi sesuatu dalam benak peserta didik tetapi peserta didik

sendirilah yang menata apa yang mereka dengar dan lihat menjadi satu kesatuan

yang bermakna, dan membangun sendiri pengetahuannya perlu suatu kegiata yang

dapat menstimulus peserta didik untuk mengolah dan memahami suatu

pengetahuan. Sedangkan menurut Priyatmojo active learning adalah aktivitas

yang dikerjakan oleh peserta didik di dalam maupun di luar kelas, tidak hanya

secara sebatas pasif mendengarkan fasilitator. Active learning adalah proses

dimana peserta didik terlibat banyak di dalam penugasan seperti analisis, sintesis,

dan evaluasi. Active learning mengacu pada teknik dimana peserta didik

(14)

5

didik melakukan beberapa hal termasuk menemukan, mengolah, dan menerapkan

informasi. Pembelajaran aktif diturunkan dari dua asumsi dasar : 1. Pembelajaran

dilaksanakan secara alami melalui usaha secara aktif, dan 2. Peserta didik yang

beragam belajar dengan gaya belajar yang beragam pula.1

Hasil wawancara dengan salah satu guru matematika SMP Sekolah Citra

Alam, diketahui bahwa sebagian besar siswa yang mendasar kurang memahami

perkalian pecahan matematika. Akibatnya siswa tidak mampu mengerjakan soal

matematika khususnya yang berhubungan dengan konsep bilangan pecahan

karena siswa tidak menguasai dan memahami perkalian pecahan, mereka menjadi

cuek dan tidak mau terlibat aktif dalam pembelajaran di alam terbuka. Misalnya

kurangnya siswa mengajukan pertanyaan selama pembelajaran matematika.

Disisi lain orang tua menginginkan anaknya memiliki kemandirian dan

keinginan berpikir ilmiah dan bisa memanfaatkan ilmunya dengan baik tidak

terdapat pada sekolah umum. Terlebih dengan hasil Ujian Nasional juga

mengalami penurunan di tahun sebelumnya.

Pembelajaran active learning pada materi perkalian pecahan di sekolah

menengah pertama citra alam mengalami kesulitan bagi siswa dan sangat

mempengaruhi terhadap hasil belajar matematika. Maka dari itulah untuk

meningkatkan kemampuan hasil belajar matematika pada materi perkalian

pecahan yang baik, aspek–aspek tersebut perlu dikaji secara mendalam. Oleh

sebab itu untuk membangkitkan semangat dan kontribusi siswa dalam

pembelajaran matematika dipilih strategi pembelajaran active learning untuk

meningkatkan kemampuan perkalian pecahan matematika.2

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah maka penulis mengambil

judul penelitian “Pembelajaran Active Learning Pada Materi Perkalian Pecahan Di Sekolah Menengah Pertama Citra Alam Ciganjur Jakarta

Selatan” dan hasil penelitian ini mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi

1Furghon Zendy Halim., et al., “Model Pembelajaran

Cooperative dengan Pendekatan

Active Learningpada Materi Aljabar”, Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 1, April 2013, h.5.

2

(15)

6

positif terhadap kemajuan serta perkembangan dunia pendidikan saat ini dimana

penelitian ini akan dapat memberikan kita gambaran tentang bagaimana

proses/kegiatan pembelajaran matematika khususnya di sekolah alam Ciganjur

pada materi pecahan serta peneliti memilih Sekolah Alam dikarenakan keunikan

mempelajari matematika di Sekolah Alam bagaimana cara pengajaran dialam

terbuka. Dibelum diteliti sebelumnya khususnya pada materi perkalian pecahan.

Peneliti menggunakan active learning karena pada peneliti sebelumnya (Zulfah

Fikriah) juga menggunakan active learning juga untuk mengamati proses

pembelajaran di Sekolah Alam.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan Latar Belakang Masalah yang telah diuraikan di atas, maka

masalah dalam penulisan dapat diidentifikasikan sebagai berikut :

a. Dalam proses pembelajaran siswa mengalami kesulitan dalam memahami

perkalian pecahan.

b. Pada alam terbuka siswa kurang memahami bentuk perkalian pecahan.

c. Siswa kurang aktif dalam pembelajaran matematika.

d. Siswa kurang paham dengan perkalian pecahan yang diberikan oleh guru.

e. Siswa tidak suka untuk menghafal rumus matematika.

f. Dalam proses pembelajaran siswa kurang mengajukan pertanyaan selama

pembelajaran matematika.

Bahwa pembelajaran matematika di Sekolah Alam menggunakan active

learning, tujuannya untuk memudahkan siswa dalam memahami materi pecahan

yang diberikan guru sehingga dapat membantu siswa dalam pembelajaran

matematika.

C. PembatasanMasalah

Agar penelitian ini lebih terarah dan terhindar dari penyimpangan masalah

yang sedang diteliti, perlu adanya pembatasan masalah. Batasan masalah dalam

penelitian ini sebagai berikut: Penulis memaparkan masalah yang di dapat dari

(16)

9

bagaimanakah cara meningkatkan kemampuan perkalian pecahan matematika

menggunakan active learning di sekolah alam.

D. Perumusan Masalah

Agar siswa dapat berpikir kritis dan aktif dalam mempelajari pelajaran

matematika di sekolah alam maka pembelajaran aktif (active learning) merupakan

pilihan yang tepat untuk memahami kesulitan belajar pada materi perkalian

pecahan. Sehingga berdasarkan Pembatasan Masalah diatas maka penulis

pertanyaan penelitian sebagai berikut: Bagaimana pembelajaran active learning

pada materi perkalian pecahan di Sekolahalam ?

Secara umum pertanyaan penelitian ini adalah “Bagaimanakah

implementasi pembelajaran active learning dalam mata pelajaran matematika

materi perkalian pecahan di Sekolah Citra Alam Ciganjur Jakarta Selatan ?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian sebagai berikut :

1. Memaparkan antusias belajar aktif matematika siswa Sekolah Citra Alam

Ciganjur Jakarta Selatan.

2. Memaparkan dinamika aktivitas belajar aktif matematika siswa Sekolah

Citra Alam Ciganjur Jakarta Selatan dibandingkan dengan sekolah formal.

3. Memaparkan kebiasaan belajar aktif matematika siswa Sekolah Citra

Alam Ciganjur Jakarta Selatan yang membedakan dengan sekolah pada

umumnya.

4. Meningkatkan hasil belajar matematika di SMP Citra Alam Ciganjur

Jakarta Selatan pada Materi Perkalian Pecahan.

Adapun manfaat penelitian sebagai berikut :

1. Bagi siswa, hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan

kemampuan perkalian pecahan siswa dalam pelajaran matematika

(17)

9

2. Bagi guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan

kepada guru pada umumnya dan guru matematika pada khususnya tentang

pembelajaran aktif (active learning) pada materi perkalian pecahan

matematika siswa.

3. Bagi sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapatdijadikan sebagai bahan

pertimbangan dalam upaya penyelesaian masalah–masalah siswa yang

timbul akibat rendahnya kemampuan perkalian pecahan siswa dalam

pembelajaran matematika.

4. Bagi peneliti selanjutnya,hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan

(18)

9 BAB II KAJIAN TEORI

A. Kajian Teori

1. Pembelajaran Active Learning

a. Pengertian Pembelajaran Active Learning

Kata active diadopsi dari bahasa Inggris dengan kata sifat yang

aktif, gesit, giat, bersemangat dan learning berasal dari kata learn yang

berarti mempelajari.3 Dari dua kata tersebut, yaitu active dan learning

dapat diartikan dengan mempelajari sesuatu dengan active atau

bersemangat dalam hal belajar.

Pembelajaran aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang

lebih banyak melibatkan aktivitas peserta didik dalam mengakses berbagai

informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses

pembelajaran di kelas sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman

yang dapat meningkatkan pemahaman kompetensinya. Lebih dari itu,

pembelajaran aktif memungkinkan peserta didik mengembangkan

kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti menganalisis dan mensintesis,

serta melakukan penilaian terhadap berbagai peristiwa belajar, dan

menerapkannya dalam kehidupan sehari–hari. Pembelajaran aktif memiliki

persamaan dengan model pembelajaran self discovery learning, yakni

pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik untuk menemukan

kesimpulan sendiri sehingga dapat dijadikan sebagai nilai baru yang dapat

diimplementasikan dalam kehidupan sehari–hari.

Active Learning dikembangkan oleh Mel Silberman, seorang guru besar

kajian psikologi pendidikan di Temle Universitas yang berspesialisasi

dalam psikologi pengajaran. Tujuan dari metode ini adalah untuk

meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar. Active Learning ini

dikembangkan dari pernyataan Konfucius 2400 tahun menyatakan yaitu:

3

(19)

Apa yang saya dengar, saya lupa

Apa yang saya lihat, saya ingat

Apa yang saya kerjakan, saya pahami4

Pernyataan Konfucius mengemukakan bahwa dalam memahami

tidaklah cukup hanya mendengar dan melihat saja. Jika siswa dapat “melakukan sesuatu” dengan informasi yang diperoleh, siswa dapat memperoleh umpan balik mengenai seberapa bagus pemahamannya. Maka

siswa akan mendapat pengetahuan dan keterampilan. Untuk dapat

menyerap informasi yang diberikan, seseorang harus berkonsentrasi.

Kenyataannya, siswa sulit untuk berkonsentrasi dan siswa cenderung

bosan bila hanya melakukan aktifitas mendengar dalam waktu lama, untuk

itu siswa haruslah diberi kesempatan untuk “melakukan sesuatu”

disamping mencatat dan mendengar seperti mendiskusikan, mengajukan

pertanyaan, bekerja, dan bahkan mungkin mengajarkan rekan sesama

siswa. Jika siswa dapat “melakukan sesuatu” dengan informasi yang

diperoleh, siswa dapat memperoleh umpan balik mengenai seberapa bagus

pemahamannya.5

Pendapat ini diperkuat oleh penyataan John Holt yang mengatakan

bahwa pelajaran dapat di perkuat bila siswa diminta untuk melaukan hal

berikut ini:

a. Mengungkapan informasi dengan bahasa mereka sendiri.

b. Memberikan contoh-contoh.

c. Mengenalnya dengan berbagai alat peraga.

d. Melihat hubungan antara fakta atau gagasan dengan yang lain.

e. Menggunakan dalam berbagai cara.

f. Memperkirakan beberapa konsekuensinya.

4

Melvin L. Silberman, active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif, (Bandung: Penerbit Nuansa Cendikia, 2014), Cet XI, h. 23.

5

Febrianda Y. S., et al., “Metode Active Learning Tipe Starts With a Question Pada Pembelajaran

(20)

g. Mengungkapkan lawan atau kebalikannya.6

Keterlibatan mental dan fisik dalam pembelajaran dapat meningkatkan minat siswa. Silberman menyatakan “ketika belajar secara aktif, pelajar mencari sesuatu. Dia ingin menjawab pertanyaan,

memerlukan informasi untuk menyelesaikan masalah, atau menyelidiki cara untuk melakukan pekerjaan”. Dalam pembelajaran, siswa memiliki kemampuan belajar berbeda-beda. Belajar aktif juga mengakomodir

perbedaan kemampuan belajar siswa, karena pembelajaran metode

ceramah hanya akan menarik bagi siswa bermodalisasi auditori. Berdasarkan peneliti Grinder dalam Silberman menyatakan “Pada setiap grup dari 30 siswa, rata-rata 22 dapat belajar secara efektif selama

pengajar menyediakan visual, auditori, dan aktifitas kinesthetik”.7

Dalam model pembelajaran aktif, guru lebih memposisikan dirinya

sebagai fasilitator, yang bertugas memberikan kemudahan belajar (to

facilitate of learning) kepada peserta didik. Peserta didik terlibat secara

aktif dan banyak berperan dalam proses pembelajaran sedangkan guru

lebih banyak memberikan arahan dan bimbingan, serta mengatur sirkulasi

dan jalannya proses pembelajaran.8

Karakteristik belajar yang dituntut saat ini adalah model

pembelajaran yang dapat membelajarkan siswa secara aktif yang total

sesuai dengan potensi dan perkembangan siswa. Hal ini berarti bahwa guru

harus dapat mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran

berkadar aktivitas siswa yang tinggi. Untuk mencapai kea rah itu bukan

berarti guru cukup hanya dapat memilih dan melaksanakan strategi

pembelajaran yang diklasifikasikan sebagai strategi yang dapat

(21)

Melainkan, guru harus mampu mulai dari; 1) mendesain

pembelajaran yang berkarakteristik pada pengembangan belajar siswa

aktif; 2) memotivasi siswa dalam belajar; 3) mengelola kelas sehingga

menghasilkan aktivitas yang total; 4) memberikan latihan, praktek atau

tugas esensial di sekolah maupun di rumah yang tepat sehingga dapat

mendorong siswa aktif; 5) memilih dan menggunakan strategi belajar yang

memiliki karakteristik aktivitas siswa yang tinggi; 6) mampu memilih dan

menerapkan pemberdayaan media dan sumber belajar dalam mendukung

aktivitas siswa dalam belajar, dan; 7) mampu melakukan penilaian secara

komprehensif maupun spesifik sesuai kebutuhan sistem penilaian. Dengan

kemampuan tersebut, guru akan mengembangkan pembelajaran siswa aktif

(active learning) secara maksimal.9

Untuk dapat mencapai kompetensi lulusan tersebut di dalam

lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81 A

tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum dinyatakan bahwa strategi

pembelajaran harus diarahkan untuk memfasilitasi pencapaian kompetensi

yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum agar setiap individu

mampu menjadi pembelajar mandiri sepanjang hayat dan yang pada

gilirannya mereka menjadi komponen penting untuk mewujudkan

masyarakat belajar. Kualitas lain yang dikembangkan kurikulum dan harus

terealisasikan dalam proses pembelajaran antara lain kreativitas,

kemandirian, kerja sama, solidaritas, kepemimpinan, empati, toleransi, dan

kecakapan hidup peserta didik guna membentuk watak serta meningkatkan

peradaban dan martabat bangsa.

Salah satu bentuk pembelajaran yang berpusat pada peserta didik

adalah pembelajaran aktif (active learning) adalah proses belajar dimana

mahasiswa mendapat kesempatan untuk lebih banyak melakukan aktivitas

belajar, berupaya hubungan interaktif dengan materi pelajaran diberikan.

9

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._KURIKULUM_DAN_TEK._PENDIDIKAN/195711211985031-TOTO_RUHIMAT/active_learning.pdf

(22)

Menurut Meyer & Jones mengemukakan bahwa pembelajaran aktif terjadi

menulis, membaca, dan refleksi yang menggiring kearah pemaknaan

mengenai isi pelajaran, ide – ide, dan berbagai hal yang berkaitan dengan

satu topik yang sedang dipelajari. Dalam pembelajaran aktif, guru lebih

berperan sebagai fasilitator bukan pemberi ilmu.

Beberapa aktivitas pembelajaran khas yang terjadi di dalam

pembelajaran aktif di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Pengamatan terhadap beberapa model atau contoh yang memberikan

kesempatan pada siswa untuk melihat dan mengetahui.

2. Refleksi yang dilakukan dengan cara mengungkapkan pengalaman

kepada teman dan guru potensial mengundang dialog di dalam kelas

sehingga memungkinkan muncul pengalaman atau pengetahuan baru.

3. Pemecahan masalah yang disajikan memungkinkan siswa berada di

dalam kondisi higher – order thinking.

4. Diskusi melatih anak untuk menganalisis, menilai, membandingkan,

dan memecahkan masalah adalah metode belajar kooperatif dan

interaktif.

5. Self explanation adalah suatu proses menjelaskan mengenai

pemahaman anak, baik kepada temannya maupun guru

memungkinkan terjadinya pemahaman yang lebih kuat.

6. Vicarious learning yang diperoleh pada saat anak menyaksikan

perdebatan mengenai topik tertentu.10

Ini berarti bahwa dalam kegiatan pembelajaran di kelas sebagian

besar siswa memperoleh pengetahuan tentang apa yang dia katakan dan

lakukan. Dengan demikian, guru harus memahami perbedaan kecerdasan

setiap individu, sehingga dengan presisi karakteristik cara untuk mengajar

anak-anak mampu memfasilitasi berbagai jenis kecerdasan yang memiliki

10

(23)

implikasi untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa siswa dalam

matematika.11

Menurut Bonwell, pembelajaran aktif memiliki karakteristik –

karakteristik sebagai berikut:

1. Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyimpanan informasi

oleh pengajar melainkan pada pengembangan keterampilan pemikiran

analitis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.

2. Peserta didik tidak hanya mendengarkan materi pelajaran secara pasif

tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pelajaran.

3. Penekanan pada elaborasi nilai – nilai dan sikap – sikap berkenaan

dengan materi pelajaran.

4. Peserta didik lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisa

dan melakukan evaluasi.

5. Umpan – balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses

pembelajaran.12

b. Pembelajaran Matematika Di Sekolah Alam

Sekolah alam adalah sekolah yang menggunakan alam semesta

sebagai pembelajaran. Dalam sekolah alam rasa keingintahuan anak dapat

tersalurkan. Anak diberikan kebebasan untuk memuaskan keingintahuan

mereka tanpa dihalangi oleh ruang kelas, pakaian, peraturan sekolah yang “mematikan” daya kreativitas maupun guru yang terlalu mengatur sehingga mereka dapat menemukan sesuatu yang penting dan berarti

tentang mereka dan dunia yang mengelilinginya dalam kegiatan belajar

mereka.

Siswa tidak hanya belajar dari teori–teori belaka yang diberikan

oleh guru, mereka justru memperoleh pengetahuan dari apa yang mereka

11

Kadir., et al., “The Implementation Of Multiple Intelligences Based Learning To Improve Students’ Learning Activities, Response, And Learning Outcome In Mathematics”, Proceeding, Juli 2011, h. 2.

12

(24)

amati dan mereka perhatikan melalui proses belajar mereka. Kemampuan

dasar yang ingin ditumbuhkan pada anak-anak di sekolah alam adalah

kemampuan membangun jiwa, keinginan melakukan observasi, membuat

hipotesa, serta kemampuan berfikir ilmiah.

Belajar di alam terbuka secara naluriah akan menimbulkan suasana

senang, tanpa tekanan dan jauh dari kebosanan. Dengan demikian akan

tumbuh kesadaran pada anak-anak bahwa learning is fun, dan sekolah pun

menjadi identik dengan kegembiraan. Siswa belajar tidak hanya dengan

mendengar penjelasan guru, tetapi juga dengan melihat, menyentuh,

merasakan dan mengikuti keseluruhan proses dari setiap pembelajaran.

Di dalam sekolah alam anak juga di arahkan untuk memahami

potensi dasarnya sendiri. Setiap anak di hargai kelebihannya dan di

pahami kekurangannya. Mereka diarahkan untuk belajar secara aktif. Di

mana guru berperan sebagai fasilitator. Siswa belajar tidak untuk

mengejar nilai, tetapi untuk memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan

sehari-hari. Menjadikan anak memiliki logika berpikir yang baik,

mencermati alam lingkungannya menjadi media belajarnya dengan

metode action learning dan diskusi. Anak-anak tidak hanya belajar di

kelas, tetapi mereka belajar dari mana saja dan dari siapa saja. Mereka

tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga belajar dari alam sekelilingnya.

Konsep Teori Penerapan pada Sekolah Alam adalah:

a.Determinis resiprokal

Anak-anak melalui sekolah alam akan belajar melalui lingkungan ,

diajarkan untuk mengenal dan mencintai alam sehingga mereka

akan menghargai dan menjaga alam.

b. Tanpa reinforcement

Anak-anak belajar melalui observasi di dalam secara langsung,

yang membuat mereka mendapatkan kesenangan dalam belajar dan

tidak membutuhkan reinforcement dari luar untuk memacu mereka

untuk belajar.

(25)

lingkungan sekitar dan mengatur cara belajarnya sendiri.13

c. Kurikulum Sekolah Alam

Umumnya kurikulum di Indonesia disusun secara nasional, namun

begitu guru juga dapat diikutsertakan dalam penyusunan kurikulum atau

memberikan saran serta masukan-masukannya. Sehingga dengan

demikian, pengembangan kurikulum dapat disesuaikan dengan kebutuhan

oendidikan di daerah, sesuai lingkungan tempat berlangsungnya

pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Oleh

karena itu dalam proses pendidikan sekolah diperlukan adanya kurikulum

muatan local, sesuai dengan kekayaan masing-masing daerah, baik secara

sosial maupun alam.

Dalam penerapannya, kurikulum muatan lokal dilaksanakan

dengan strategi yang tepat, dengan pertimbangan faktor-faktor: tujuan,

materi, guru, siswa, metode, media, dan evaluasi. Dari semua faktor

tersebut, guru merupakan sosok yang paling bertanggung jawab dan

menentukan keberhasilan pembelajaran.

Tabel 2.1

Perbedaan Kurikulum Sekolah Nasional dengan Sekolah Alam

Standar Isi Tujuan dan Kompetensi Strategi dan Metodologi

Kurikulum

Tjipto Subadi., “Penelitian Kolaborasi Strategi Pembelajaran Matematika Sekolah Alam (Studi

Situs Sekolah Alam Ar Ridho Semarang)”, Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 1, Juli 2013, h. 7.

(26)

kurikulum nasional belajar yang efektif dan bermakna

Kurikulum yang berintegrasi antara kurikulum alam, karakter, dan dinas.

Pada intinya dalam menyikapi pemberlakuan kurikulum 2013 ini seorang

guru dituntut betul-betul meningkatkan kompetensi atau kemampuan yang

dapat menunjang dan mengantarkan peserta didik berhasil mencapai tujuan

pendidikan. Pertama, kompetensi pedagogik. Kedua, kompetensi

akademik. Ketiga, kompetensi sosial. Keempat, kompetensi

kepemimpinan.14

d. Pengertian Pecahan

Kata pecahan berasal dari bahasa Latin yaitu “fractio” yang berarti

memecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau bagian dari

14

(27)

keseluruhan. Sebuah pecahan mempunyai 2 bagian yaitu pembilang dan

penyebut yang menulisannya dipisahkan oleh garis lurus (–) dan bukan

garis miring (/). Contoh …. dan seterusnya, bukan 1/2, 2/3.

Pecahan merupakan suatu bilangan yang merupakan hasil bagi

antara bilangan bulat dan bilangan asli dimana bilangan yang dibagi

(pembilang) nilainya lebih besar dari bilangan pembaginya (penyebut).

Pecahan juga merupakan bagian dari bilangan rasional yang dapat ditulis

dalam bentuk dengan a dan b merupakan bilangan bulat dan b tidak sama

dengan nol. Pecahan terdiri dari pembilang dan penyebut. Pecahan dapat

dinyatakan dalam bentuk pecahan senilai sebagai:

Hakikat transaksi dalam bilangan pecahan adalah bagaimana cara

menyederhanakan pembilang dan penyebut. Penyederhanaan pembilang

dan penyebut akan memudahkan dalam operasi aritmatika sehingga tidak

menghasilkan angka yang terlalu besar tetapi mempunyai nilai yang sama.

Contohnya: Bila dibandingkan antara

dan maka lebih mudah dan

sederhana melihat angka .

terlihat sebagai “angka raksasa” yang

kelihatannya lebih kompleks dibandingkan padaha sebenarnya kedua

angka ini tetap memiliki nilai yang sama.

Pada opersi penjumlahan dan pengurangan pada pecahan selain

disederhanakan juga penyebutnya harus disamakan dengan bilangan yang

sama, sedangkan pada operasi perkalian caranya adalah pembilang dibali

pembilang, penyebut dikali penyebut.

Macam-macam Pecahan

Secara simbolik pecahan dapat dinyatakan sebagai salah satu bentuk dari:

(1) pecahan biasa, (2) Pecahan Decimal, (3) Persen, (4) Pecahan

Campuran.

(28)

Yang dimaksud pecahan biasa adalah pecahan murni atau sejati

yang terdiri dari atas pembilang dan penyebut, baik pembilang lebih kecil

dari penyebut maupun sebaliknya penyebut lebih kecil dari pembilang.

2. Pecahan desimal

Pecahan desimal adalah bilangan yang terdiri dari bilangan bulat

utuh dan bilangan pecahan biasa. Pecahan desimal ditulis dengan cara

mendatar. Bilangan ini menggunakan tanda titik atau koma sebagai

pemisah antara bilangan yang utuh dan tidak utuh. Bilangan decimal juga

merupakan bilangan yang menggunakan dasar atau basis 10, dalam arti

memeliki 10 digit yang berbeda yaitu memiliki nilai 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9,0.

Misalnya: 0,1 (dibaca nol koma satu), merupakan hasil pembagi

dari 1 : 10.

3. Persen

Pecahan persen adalah pecahan yang merupakan hasil pembagian

suatu bilangan dengan seratus (100). Persen artinya perseratus. Sehingga

nama pecahan biasa yang penyebutnya seratus diberi nama persen dengan

lambangnya %. Untuk mengubah pecahab biasa menjadi persen, dicari

lebih dahulu pecahan senilainya yang berpenyebut 100. Pecahan decimal

dibicarakan saat pembelajaran pecahan desimal yang berpenyebut 100.

Misalnya: 5 % artinya 4. Pecahan campuran

Yang dimaksud pecahan campuran adalah pecahan yang terdiri dari

campuran bilangan bulat dengan bilagan pecahan murni/sejati.

5. Pecahan senilai

Pecahan senilai adalah pecahan yang mempunyai nilai yang sama

dengan pecahan lain. Menyederhanakan suatu pecahan prinsipnya sama

dengan mencari pecahan yang senilai.

Misalkan: nilainya sama dengan

(29)

Perkalian adalah bentuk lain dari penjumlahan berulang dengan

bilangan yang sama. Perkalian juga adalah operasi matematika penskalaan

satu bilangan dengan bilangan lain. Operasi ini adalah salah satu dari

empat operasi dasar di dalam aritmatika dasar (yang lainnya adalah

penjumlahan, pengurangan, dan pembagian).

e. Perkalian Bilangan Pecahan

Kemampuan siswa di dalam menentukan hasil perkalian dari

materi bilangan pecahan yang akan dikalikan tergantung dari pemahaman

dan keaktifan siswa terhadap materi pecahan yang akan diajarkan oleh

guru dan cara guru mengajar. Kemampuan menghitung dan menentukan

hasil kali dari bilangan pecahan adalah bagaimana siswa mengeluarkan

ide-ide tentang pemahaman materi yang telah dipelajarinya.

Di dalam menentukan hasil kali dari materi pecahan terlebih

dahulu harus memperhatikan pecahan apa yang akan di kalikan, seperti:

1. Perkalian pecahan biasa dengan bilangan asli

Contoh:

2. Perkalian pecahan biasa Contoh:

3. Perkalian pecahan desimal dengan pecahan desimal

Contoh: 3,5 x 2,5 = 8,75

4. Perkalian persen dengan persen

Contoh: 5% x 6% = 30%

5. Perkalian persen dengan pecahan desimal

Contoh: 15% x 2,4 = 0,15 x 2,5 = 0,36

6. Perkalian pecahan campuran dengan bilangan asli

Contoh: 3 x 3 x

7. Perkalian pecahan biasa dengan pecahan campuran

Contoh:

8. Perkalian pecahan campuran dengan pecahan campuran

Contoh:

(30)

Setelah semua bilangan pecahan yang akan dikalikan sudah

dipahami dengan benar, lalu dilakukan operasi perkalian sampai

menemukan hasil yang benar.

Kemampuan siswa di dalam menentukan hasil perkalian pecahan

dapat dilihat dari lembar kerja siswa. Indikator kemampuan siswa di dalam

menentukan hasil perkalian pecahan di Sekolah Citra Alam SMP Ciganjur,

Jakarta Selatan adalah:

1. Kemampuan menganalisa konsep perkalian

2. Kemampuan memahami soal perkalian pecahan

3. Kemampuan menentukan hasil perkalian pecahan biasa, campuran,

desimal, dan persen.

Perkalian bilangan pecahan menyangkut perkalian (1) bilangan

bulat dengan bilangan pecahan (asli) dan campuran, (2) bilangan pecahan

dengan bilangan pecahan, dan (3) bilangan pecahan campuran dengan

bilangan pecahan campuran. Perkalian bilangan pecahan dapat mengikuti

model perkalian bilangan bulat.

Pertama bilangan bulatan dikalikan bilangan pecahan asli dan

campuran disajikan dalam penjumlahan berulang, misalkan 3 x ⁄ =

⁄ ⁄ ⁄ ⁄ ⁄ . Kedua bilangan pecahan asli dikalikan dengan bilangan pecah asli dijelaskan dengan melipat kertas.15

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Adapun peneliti beranggapan ada penelitian yang mirip namun tidak

serupa yang menjadi sebuah pembelajaran dalam penelitian ini, diantaranya yaitu:

a. “Model Pembelajaran Matematika Di Sekolah Alam Indonesia” oleh Zulfah

Fikriah tahun 2013, Universitas Islam Negeri Jakarta.

15

J.Tombokan Runtukahu, et al, Pembelajaran Matematika Dasar Bagi Anak Berkesulitan Belajar,

(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014) Cet I h. 137-138.

(31)

Dari penelitian tersebut dapat menyimpulkan bahwa penggunaan alat peraga

pada jenjang sekolah dasar mampu memberikan dampak positif terhadap hasil

belajar siswa maupun peningkatan pemahaman konsep matematika dalam

pembelajaran. Pembelajaran matematika di Sekolah Alam Indonesia memenuhi

karakteristik model pembelajaran tematik/terpadu, yaitu berpusat pada siswa,

memberikan pengalaman langsung, pemisahan mata pelajaran bersifat fleksibel,

menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, hasil pembelajaran sesuai

dengan minat dan kebutuhan siswa, dan menggunakan prinsip sambil bermain

serta menyenangkan. Pada prinsipnya, model pembelajaran tematik/terpadu yang

dilaksanakan di Sekolah Alam Indonesia menggunakan jenis jarring laba-laba

(webbing/spider web), namun dalam pengembangan pelaksanaannya juga

menggunakan jenis keterpaduan (intergrated) seperti pada pelaksanaan Belajar

diluar (outing), market day, dan EHB (Evaluasi hasil belajar).

b. “Sekolah Alam: Paradigma Baru Pendidikan Islam Humanis” oleh Rohinah

tahun 2014, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dari penelitian tersebut dapat menyimpulkan bahwa alam tidak lagi

menjadi sebuah fenomena yang menakutkan, penuh mistis dan gaib, sehingga

dunia anak didik dijauhkan dari alam. Melainkan pendidikan Islam justru akan

berubah jika mampu mendekatkan paradigma fungsionalis pada diri anak didik.

Alam justru mempunyai fungsi yang sangat luar biasa terhadap dunia

pembelajaran anak didik. Alam juga memberikan pengaruh yang luar biasa bagi

pengembangan sains dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, pembelajaran

agama berbasis sekolah alam sesungguhnya akan menghasilkan pengetahuan yang

luar biasa jika mampu menjadikan paradigma fungsionalis sebagai paradigma

pembelajaran yang mengarah kepada inovasi dan kreativitas belajar anak didik.

c. “Penelitian Kolaborasi Strategi Pembelajaran Matematika Sekolah Alam

(Studi Situs Sekolah Alam Ar Ridho Semarang)” oleh Tjipto Subadi, tahun

(32)

Dari penelitian tersebut dapat menyimpulkan bahwa strategi

pengorganisasian interaksi pembelajaran berlangsung interaksi antara guru

dengan siswa, peran guru sebagai organisator, motivator, konselor, moderator,

motor, pelopor, katalisator dan evaluator, terjadi hubungan interaksi timbal

balik-baik di dalam dan di luar kelas. kerjasama antar siswa terjadi saat ada siswa yang

mengalami kesulitan, teman yang lain berlaku sebagai guru membantu mangajari

teman yang mengalami kesulian sehingga terjadi diskusi dan semangat belajar.

Sedangkan peneliti ingin mengeksplorasi lebih dalam pembelajaran aktif

di Sekolah Citra Alam Ciganjur Jakarta Selatan pada pembelajaran matematika

khususnya materi perkalian pecahan. Berbeda dengan sebelumnya yang meneliti

pada jenjang dasar kelas IV (Empat) sedangkan peneliti ingin meneliti pada

jenjang menengah kelas VII (Tujuh). Walaupun pada latar yang sama yakni

sama-sama di Sekolah Alam akan tetapi peneliti ingin mengeksplorasi bagaimana siswa

untuk dapat aktif dalam pembelajaran matematika khusunya pada materi perkalian

pecahan. Pada peneliti sebelumnya membahas mengenai materi matematika

tentang satuan panjang dan peneliti ingin menggali lebih jauh mengenai materi

perkalian pecahan dimana siswa diupayakan harus aktif dalam mengikuti

pembelajaran tersebut. Jika peneliti sebelumnya membahas mengenai model

pembelajaran pada jenjang dasar dibidang matematika maka peneliti akan

membahas mengenai pembelajaran aktif (active learning) pada jenjang menengah

dibidang matematika juga.

C. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan kerangka teori, diajukan beberapa pertanyaan penelitian

sebagai berikut:

1. Bagaimana pembelajaran active learning yang dilakukan guru pada materi

perkalian pecahan di Sekolah Citra Alam ?

2. Bagaimana aktivitas siswa dalam kegiatan active learning pada

pembelajaran matematika di Sekolah Citra Alam ?

3. Bagaimana respon siswa terhadap pembelajaran active learning di Sekolah

Citra Alam ?

(33)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VII Sekolah Pemengah

Pertama di Sekolah Citra Alam Indonesia yang berlokasi di Jl. Anda 7X Ciganjur,

Jagakarsa Jakarta Selatan pada bulan Mei 2016. Sekolah Alam Indonesia

merupakan sekolah regular yang berbasis alam dan tetap berpedoman pada

kurikulum yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, Serta sekolah

yang telah meluluskan empat alumni untuk sekolah menengah pertama.

B.Latar Penelitian

I. Profil Sekolah

Penelitian ini berlatar dengan nama Sekolah Citra Alam Ciganjur Jakarta

Selatan dan berdiri Tahun 2000. Dengan nama Yayasan Citra Nurul Falah KHA.

beralamat Lengkap : Jl. Damai II No. 54 Ciganjur Jakarta Selatan 12630. Telp

7272164 Faks 7272164. Email : [email protected].

Sekolah Alam Indonesia (SAI) adalah sekolah alam pertama dan menjadi

pionir bagi sekolah berbasis alam dan komunitas di Indonesia. Sejak

kehadirannya, SAI telah menarik begitu banyak perhatian. SAI dalam lima tahun

terakhir mengalami perkembangan pesat termasuk eksperimen bagaimana

menjalankan sekolah berbasis komunitas. Sebagai sekolah alternatif (alternative

dibanding sekolah konvensional yang ada), SAI telah memberikan alternative bagi

para orangtua yang ingin mendapatkan penyegaran dan mempunyai pilihan yang

lain dalam metode dan cara mendidik anak-anak mereka.

Di sekolah tersebut memiliki ruang kelas berupa sanggar yang menjadi

tempat belajar siswa dan memiliki area bermain dan belajar yang luas. Siswa pun

tidak tertinggal dengan adanya ruang lab komputer. Bagi yang beragama Islam

juga tersedia Masjid untuk melakukan Ibadah Sholat. Dan tak lupa ruangan

(34)

Di sana juga memiliki Green House bagi siswa yang suka menanam

pohon. Untuk masalah jajan siswa juga tersedia kantin sehat agar siswa terjaga

dari pola makannya. Dan sarana olah raga jua menyediakan lapangan footsal dan

baset. Berikut fasilitias yang terdapat di Sekolah Menengah Pertama Citra Alam

diantaranya:

1. Gedung Sekolah

Gambar 3.1. Gedung Sekolah SMP Citra Alam

Terdapat ruang kelas VII dengan ukuran 10x15 meter. Ruangan tersebut

digunakan untuk belajar di dalam kelas da nada pula bisa belajar di luar kelas di

lorong kelas dengan ukuran 1,5x15 meter.

2. Area Bermain dan Olah Raga

(35)

Ada kalanya siswa belajar di lapangan untuk mata pelajaran seni (art)

menggambar dengan mengamati sekelilingnya dan untuk bermain bola sepak,

bola basket, dan bola kasti yang mempunyai ukuran 28x15 meter. Para siswa

sangat hobi berolahraga karena mereka berolahraga selain pada jam pelajaran

olahraga tetapi juga pada jam di luar jam perlajaran olahraga. Bahkan pada jam

istirahat juga para siswa terdapat yang melakukan berbagai macam jenis olahraga

seperti bermain bolak sepak, bola bakset dan lain-lain. Dengan ukuran 28x15

meter lapangan olahraga dapat dibangun.

3. Ruang lab IPA

Gambar 3.3. Ruang lab IPA

Di Sekolah Citra Alam memperhatikan betul tentang kemajuan sain dan

teknologi sehingga disediakannya ruang lab IPA dengan ukuran 10x15 meter.

(36)

4. Masjid

Gambar 3.4. Masjid

Mayoritas di Sekolah Citra Alam ini beragama Islam sehingga dibuatlah

sarana untuk melaksanakan ibadah shalat dengan didirikan sebuah masjid. Masjid

tersebut tidak hanya digunakan oleh Sekolah Citra Alam saja melainkan

masyarakat juga ikut berpartisipasi dengan mengadakan berbagai macam kegiatan. Kegiatan tersebut seperti Majelis Ta’lim ibu-ibu yang tinggal disekitar masjid dan jika hari Jumat para siswa dan juga dewan guru melaksanakan shalat

jumat di masjid tersebut. Tidak kala pentiingnya antusiasme masyarakat

melaksanakan shalat jumat juga di masjid tersebut. Ukuran masjid tersebut 20x20

meter.

5. Green House

(37)

Adalah sebuah rumah dengan ukuran 5x15 meter yang digunakan untuk

tempat bercocok tanam para siswa. Rumah tersebut terbuka karena tidak terdapat

pembatas untuk menutupinya sehingga siapa saja dapat pergi ke sana. Isinya

merupakan hasil harya para siswa Sekolah Citra Alam yang gemar bercocok

tanam sehingga mempunyai berbagai macam tanaman.

6. Perpustakaan

Gambar 3.6. Perpustakaan

Buku adalah gudang ilmu. Itulah motivasi para siswa untuk dapat

menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Hanya dengan ukuran 10x15

perpustakaan tersebut dibangun untuk mengeksplorkasi siswa yang pandai

(38)

7. Kantin Sehat

Gambar 3.7. Kantin Sehat

Pihak Sekolah Citra Alam sangat memperhatikan para siswanya untuk

mengkonsumsi makanan yang hendak ia makan. Kecerdasan sangat

memperngaruhi dengan apa yang para siswa konsumsi. Sehingga dengan ukuran

2x5 meter dibangunlah sebuah kantin sehat untuk para siswa dan guru yang

didatangi pada waktu istirahat.

8. Ruang seni (art)

Gambar 3.8. Ruang art

Terdapat hasil karya siswa Sekolah Citra Alam berupa lukisan-lukisan dan

(39)

pelajaran art dan musik. Pada pelajaran tersebut sekolah telah menyediakan

khusus guru tersebut sehingga fokus untuk siswa yang gemar menggambar dan

melukis serta bermain musik. Ukuran ruangannya 10x20 meter.

9. Ruang serba guna

Gambar 3.9. Ruang serba guna

Ruangan tersebut mempunyai ukuran 10x20 meter dibangunlah ruangan

serba guna. Ruangan ini terletak dilantai 2 di atas ruangan perpustakaan. Sehingga

para siswa jika ingin membaca buku di ruang terbuka dapat mengunjungi ruang

serba guna.

10. Area Parkir

(40)

Untuk area parker ukurannya cukup luas 25x35 meter. Dominasi di isi

dengan mobil pribadi untuk mengantar jemput siswa. diujung area parker terdapat

pos untuk berkumpul para supir.

II. Profil Siswa

Bagi siswa yang suka melukis sekolah menyediakan ruang art. Dan

memiliki area parker yang cukup luas dengan suansa alam yang terbuat dari

bambu. Jumlah siswa kelas VII (tujuh) di sekolah alam tersebut berjumlah 26

siswa terdiri dari 2 rombel yaitu VII A dan VII B. Satu kelas maksimal 20 siswa.

Begitu juga dengan kelas VIII terdiri dari 2 rombel yang berjumlah 38 siswa. Dan

kelas IX juga sama terdiri dari 2 rombel yang berjumlah 29 siswa sehingga total

seluruh SMP memiliki 93 siswa.

III.Profil Guru

Nama guru yang mengajar bernama Boby Charles. Ia berasal dari Provinsi

Sumatera Barat, tepatnya di kota Padang. Beliau mengajar matematika kelas VII

A dan B. Pendidikan terakhirnya memperoleh gelar sarjana (S1) dengan jurusan

Teknik Elektro pada tahun 2005. Sudah banyak pengalaman yang ia dapatkan

hingga 11 tahun lamanya untuk tetap mengabdi menjadi pahlawan tanpa tanda

jasa di sekolah sehingga, ia belum mengajar di tempat lain.

Sistem pendidikan yang unik dan menantang menjadikan ia sebagai alasan

menginginkan mengajar di sekolah ini. Dengan bermotivasi ingin mencari

pengetahuan tentang pendidikan yang tepat bagi siswa. Ide merupakan kendala

yang ia alami dalam pembuatan media pembelajaran. Dan kesulitan dalam

menyampaikan materi yakni rentan kemampuan anak yang tidak seragam.

Sehingga untuk menjadi siswa sika belajar matematika dengan cara menjadi

pribadi guru yang menyenangkan dan memulai dengan sesuatu yang mudah. Serta

dengan menggunakan beberapa variasi pendekatan menjadikan siswa aktif belajar

(41)

C. Metode Penelitian

Untuk mengeksplorasi pembelajaran aktif pada Sekolah Citra Alam yang

akan diteliti digunakan jenis metode penelitian kualitatif. Metode penelitian

kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat

postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah,

(sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument

kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan

snowbaal, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data

bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna

dari pada generalisasi.16

Berkaitan dengan tujuan penelitian di atas, peneliti menggunakan

pendekatan studi kasus sehingga penelaah terhadap fokus penelitian dapat

dilakukan secara intensif, mendalam, detail, dan komprehensif. Selain studi kasus

memberikan akses peluang yang lebih luas kepada peneliti untuk menelaah, studi

kasus juga dapat menyajikan data-data dan temuan yang berguna untuk

memperoleh keterangan-keterangan empiris yang detail secara akurat dari suatu

analisis penelitian.

Sejalan dengan hal tersebut, dalam pelaksanaan di lapangan peneliti

berusaha memahami fenomena yang terjadi dengan bersikap menyesuaikan diri

dengan keseharian kegiatan Sekolah Alam Indonesia tanpa menjaga jarak dengan

informan. Sehingga dalam pengambilan data, baik dari dokumen dan informan

melalui teknik wawancara dapat berjalan dengan baik dengan suasana yang

hangat dan bersahabat.Yang menjadi informan utama dalam penelitian ini adalah

guru mata pelajaran matematika dan siswa kelas VII Sekolah Alam Indonesia,

departemen litbang serta kepala Sekolah Alam Indonesia Ciganjur, Jakarta

Selatan. Kemudian data-data tersebut disajikan dengan kata-kata tertulis sebagai

16

Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitaif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung:

(42)

bentuk dari deskriptif yang menggambarkan siswa berpikir kritis dan penggunaan

pembelajaran aktif di Sekolah Alam Indonesia Ciganjur, Jakarta Selatan.

Adapun disain penelitian menggunakan studi kasus adalah dapat fokus

pada kasus-kasus dan menarik. Keunikan Sekolah Alam Indonesia khusunya

sekolah menengah pertama adalah merupakan sekolah menengah pertama dan

siswa belajar di alam terbuka dengan berbagai macam permainan (games) yang

menarik serta metode pembelajaran yang menyenangkan di alam terbuka tanpa

mengurangi standar kompetensi dan kompetensi dasar dari satuan pendidikan

nasional setempat dan merupakan sekolah yang menjadikan proses pembentukan

logika berpikir kritis dan ilmiah dengan cara yang membebaskan.

D.Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa prosedur pengumpulan data

sebagai berikut:

1. Observasi

Pengamatan (Observasi) adalah metode pengumpulan data dimana peneliti atau

kolaboratornya mencatat informasi sebagaimana ynag mereka saksikan selama

penelitian.17 Melakukan pengamatan secara menyeluruh pelaksanaan

pembelajaran aktif di Kelas VII sekolah menengah pertama Sekolah Alam

Indonesia Ciganjur, Jakarta Selatan.

Hal ini meliputi observasi mengenai aspek rencana pembelajaran, pelaksanaan

pembelajaran, suasana belajar, alat peraga dan keadaan siswa dalam proses

pembelajaran matematika.

2. Wawancara

Wawancara adalah bentuk komunikasi langsung antara peneliti dan responden.

Komunikasi berlangsung dalam bentuk Tanya-jawab dalam hubungan tatap muka,

17

(43)

sehingga gerak dan mimic responden merupakan pola media yang melengkapi

kata-kata secara verbal.18

Melakukan wawancara kepada pihak guru, dan siswa Sekolah Alam Indonesia

Ciganjur, Jakarta Selatan berhubungan dengan pelaksanaan pembelajaran.

Wawancara kepada pihak Kepala Sekolah dan departemen litbang bertujuan untuk

menggali lebih dalam mengenai landasan proses pembelajaran. Wawancara

terhadap guru dan siswa bertujuan untuk memperoleh pengetahuan faktual dan

akurat mengenai proses pembelajaran. Wawancara terhadap orang tua siswa

bertujuan untuk menemukan fakta-fakta yang dapat mendukung informasi

lainnya.

3. Dokumentasi

Dokumen adalah mencatat tertulis tentang berbagai kegiatan atau peristiwa pada

waktu lalu.19

Melakukan pengamatan dan pengumpulan data tertulis, gambar grafik, dan

rekaman dengan didukung media yang sesuai.

Berdasarkan prosedur di atas, instrument yang digunakan pada penelitian

pada alam terbuka siswa kelas VII sekolah menengah pertama Sekolah Alam

Indonesia Ciganjur, Jakarta Selatan adalah sebagai berikut:

1. Lembar Observasi

Pengamatan dilakukan dengan mengikuti langsung proses pembelajaran pada

alam terbuka siswa kelas VII sekolah menengah pertama Sekolah Alam Indonesia

Ciganjur, Jakarta Selatan. Dalam penelitian ini observasi dilakukan kepada guru

mata pelajaran matematika dan siswa kelas VII Sekolah Alam Indonesia Ciganjur,

Jakarta Selatan.

18

W. Gulo.Op.Cit h. 119

19

W. Gulo.Op.Cit h. 123

(44)

Indikator pedoman observasi siswa:

a. Pembelajaran matematika di luar kelas

b. Aktivitas belajar matematika di luar kelas

c. Alat Peraga

d. Apersepsi

Indikator pedoman observasi guru:

a. Materi perkalian pecahan

b. Pembelajaran matematika di luar kelas

c. Alat Peraga

2. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara digunakan sebagai landasan wawancara yang dilakukan

kepada para responden. Dalam hal ini pedoman wawancara menggunakan angket.

Indikator pedoman wawancara untuk siswa:

a. Pembelajaran di luar kelas

b. Aktif belajar di luar kelas

c. Materi perkalian pecahan

d. Media pembelajaran di sekolah alam

e. Kesulitan dalam mengerjakan soal

Indikator pedoman wawancara untuk guru:

a. Latar belakang/profil guru yang mengajar

b. Wawancara secara langsung di SMP Citra Alam

c. Wawancara secara tertulis di SMP Citra Alam

3. Dokumentasi

Teknik dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan data sebagai kelengkapan

data dan pendukung dari data tertulis yang dideskripsikan mengenai proses

pembelajaran matematika di Sekolah Alam Indonesia Ciganjur, Jakarta Selatan.

Adapun dokumen yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi:

(45)

b. Silabus mata pelajaran matematika

c. Data siswa kelas VII Sekolah Alam Indonesia

d. Data hasil belajar siswa dan daftar rekapitulasi UAN 2014/2015

e. Jadwal pelajaran

f. Rencana pembelajaran

g. Media pembelajaran

E.Teknik Analisis Data

Analisis yang dimaksud merupakan upaya mencari dan menata secara

sistematis catatan hasil observasi, wawancara, dokumentasi, dan kuesioner

untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang persoalan yang ada dan

menyajikan sebagai temuan bagi orang lain.

Proses pencarian informasi melalui observasi, wawancara,

dokumentasi, dan kuesioner pada penelitian ini dilakukan kepada siswa, guru

yang terkait, departemen litbang, dan kepala sekolah serta orang tua.

Proses analisis data dapat dikerjakan bersamaan dengan pengumpulan

data dan dilanjutkan setelah pengumuman data selesai. Oleh karena itu secara

teoritik analisis dan pengumpulan data dilaksanakan secara berulang-ulang,

guna memecahkan masalah dengan mencocokkan data yang diperoleh

kemudian disusun secara sistematis, interpretasi secara logis demi keabsahan

dan kredebilitas data yang diperoleh peneliti.

Proses pengumpulan dan penganalisaan data peneliti ini berpedoman

kepada langkah-langkah analisis data penelitian kualitatif, yaitu reduksi data,

penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Pertama, reduksi data meliputi proses pemilihan, pemfokusan,

penyederhanaan, pengabstraksian, dan pengkatagorian data untuk memudahkan

pengorganisasian data.

Kedua, penyajian data merupakan rakitan organisasi informasi

ataupemaparan data yang tersusun secara sistematis dengan memperlihatkan

Gambar

Tabel 2.1
Perbedaan Kurikulum Sekolah Nasional dengan Sekolah AlamTabel 2.1
Gambar 3.1. Gedung Sekolah SMP Citra Alam
Gambar 3.3. Ruang lab IPA
+7

Referensi

Dokumen terkait

Permasalahan yang diungkap dalam penelitian ini yaitu, Bagaimanakah kinerja guru, siswa dalam pembelajaran operasi perkalian pecahan dengan model cooperative learning tipe STAD di

Kegiatan mengenal konsep pecahan akan lebih berarti jika di dahului dengan soal cerita yang menggunakan obyek buah, misalnya apel, sawo, jeruk atau kue

Desain CD Pembelajaran Interaktif dengan Animasi Kartun pada Materi Pecahan Kelas V Sekolah Dasar; Haris Alfan Syukri, 050210101038; 2010: 52 halaman; Program Studi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan alat peraga Luasan, keaktifan dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran matematika pokok bahasan

penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ” EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN REMIDIAL DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA FRACTION WALL PADA MATERI PECAHAN DI KELAS

Peneliti membimbing siswa untuk menemukan konsep penjumlahan dan pengurangan pecahan yang berpenyebut tidak sama melalui kegiatan melipat kertas. Berbeda dengan

Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini menggunakan hasil dari penilaian ahli media, materi, pembelajaran, guru, dan peserta didik terhadap alat peraga PALIAN Papan

SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan model ADDIE terhadap media pembelajaran operasi hitung pecahan di kelas V