PEMBELAJARAN
ACTIVE LEARNING
PADA MATERI
PERKALIAN PECAHAN DI SEKOLAH MENENGAH
PERTAMA CITRA ALAM CIGANJUR JAKARTA SELATAN
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan
Disusun Oleh :
MUHAMMAD WAHYU HIDAYAT
NIM : 1110017000061
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
iii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji kehadirat illahirabbi Allah SWT yang telah
memberikan segala karunia, nikmat iman, nikmat islam, dan nikmat kesehatan
yang berlimpah dari dunia sampai akhirat. Shalawat dan Salam senantiasa
dicurahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga, sahabat, dan
para pengikutnya sampai akhir zaman.
Selama penulisan skripsi ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa tidak
sedikit kesulitan dan hambatan yang dialami. Namun, berkat kerja keras, doa,
perjuangan, kesungguhan hati dan dorongan serta masukan-masukan yang positi
dari berbagai pihak untuk penyelesaian skripsi ini, semua dapat teratasi. Oleh
sebab itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Kadir, M.Pd., selaku dosen pembimbing I dan Ibu Dr. Gelar
Dwirahayu, M.Pd selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan
waktu, bimbingan, arahan, motivasi, dan semangat dalam membimbing
penulisan salama ini. Terlepas dari segala perbaikan dan kebaikan yang
diberikan. Semoga Bapak dan Ibu selalu berada dalam kemuliaanNya.
2. Bapak Dr. Kadir, M.Pd., Ketua Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Seluruh Dosen Jurusan Pendidikan Matematika UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, teristimewa untuk Ibu Khairunnisa, M.Si selaku Dosen Pembimbing
Akademik yang telah memberikan ilmu pengetahuan serta bimbingan kepada
penulis selama mengikuti perkuliahan.
4. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Bapak Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan.
6. Staf Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dan Staf Jurusan Pendidikan
Matematika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan
iv
7. Pimpinan dan staf Perpustakaan Umum dan Perpustakaan Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu penulisan
dalam menydiakan serta memberikan pinjaman literatur yang dibutuhkan.
8. Kepala SMP Citra Alam Ciganjur Jakarta Selatan, Ibu Ratu Ira Melyani,
S.Sos. M.Pd yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian.
9. Seluruh dewan guru SMP Citra Alam Ciganjur Jakarta Selatan, khusunya
Bapak Boby Charles, ST selaku guru mata pelajaran, Bapak Ichda Chaerudin,
S.PT selaku Waka Kurikulum, dan guru-guru SMP Citra Alam Ciganjur
Jakarta Selatan yang telah membantu dan memberikan motivasi penulis
dalam melaksanakan penelitian ini. Serta siswa dan siswi SMP Citra Alam
Ciganjur Jakarta Selatan, kususnya kelas VII A.
10.Keluarga tercinta Ayahanda H. Tauik Hidayat, Ibunda Nurhayati yang tek
henti-hentinya mendoakan, melimpahkan kasih sayang dan memberikan
dukungan kepada penulis. Kakak tercinta Sari Hidayah, Iza Rachmawati
Hidayah yang selalu mendoakan, mendorong penulis untuk tetap semangat
dalam mengejar dan meraih cita-cita.
11.Sahabat yang selalu memberikan motivasi kepada penulis, Hafidzh Nidzam,
Febri Indrawan, Rodial, Asep Ricky Orlando, Ahmad Naufal Subagio, M.
Siddik Maulana, Ahmad Ferdi Hasan, Anton, Sofyan Hadi, Sigit Purwanto,
Leman, Khasbany.
12.Teman-teman seperjuangan Jurusan Pendidikan Matematika Angkatan 2010,
khususnya kelas B, kelas selalu semangat dan kompak kawan-kawan serta
adik-adik Jurusan Pendidikan Matematika Angkatan 2011 dan 2012 atas
pengalaman, bantuan dan motivasinya.
Ucapan terima kasih juga ditunjukan kepada semua pihak yang namanya
tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Penulis hanya dapat memohon dan
berdoa mudah-mudahan bantuan, bimbingan, dukungan, semangat, masukan dan
doa yang telah diberikan menjadi pintu datangnya ridho dan kasih sayang Allah SWT di dunia dan akhirat. Aamiin yaa robbal’alamin.
Demikianlah, betapapun penulis telah berusaha dengan segenap
v
atas lembaran-lembaran skripsi ini masih saja dirasakan dan ditemui berbagai
macam kekurangan dan kelemahan. Kritik dan saran dari siapa saja yang
membaca skripsi ini akan penulis terima dengan hati terbuka.
Penulis berharap semoga skripsi ini akan membawa manfaat yang
sebesar-besarnya bagi penulis khususnya dan bagi pembaca sekalian umumnya.
Jakarta, November 2016
vi
DAFTAR ISI
ABSTRAK ...ii
ABSTRACT ...iii
KATA PENGANTAR ...iv
DAFTAR ISI ...vii
DAFTAR TABEL ...ix
DAFTAR GAMBAR ...x
DAFTAR LAMPIRAN ...xi
BAB I PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang ...1
B. Identifikasi Masalah ...6
C. Pembatasan Masalah ...6
D. Perumusan Masalah ...7
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...7
BAB II KAJIAN TEORI ...9
A. Kajian Teori ...9
1. Pembelajaran Active Learning ...9
a. Pengertian Pembelajaran Active Learning ...8
b. Pembelajaran Matematika Di Sekolah Alam ...14
c. Kurikulum Sekolah Alam ...16
d. Pengertian Pecahan ...17
e. Perkalian Bilangan Pecahan ...20
B. Hasil Penelitian yang Relevan ...21
C. Pertanyaan Penelitian ...23
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...24
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 24
B. Latar Penelitian ...24
1. Profil Sekolah ...24
vii
3. Profil Guru ...31
C. Metode Penelitian ...32
D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ...33
1. Observasi ...33
2. Wawancara ...33
3. Dokumentasi ...34
E. Teknik Analisis Data ...36
F. Pemeriksaan Keabsahan Data ...37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...40
A. Deskripsi Data ...40
1. Hasil Observasi Kegiatan Active Learning yang Dilakukan Guru ....40
a. Hasil Observasi Kegiatan Active Learning oleh Guru di Kelas ...40
b. Hasil Observasi Kegiatan Active Learning Siswa dalam KBM ...41
2. Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Matematika ...43
3. Hasil Belajar Matematika pada Materi Perkalian Pecahan ...44
B. Pembahasan ...45
1. Hasil Observasi Kegiatan Active Learning ...45
2. Hasil Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Matematika ...54
3. Hasil Belajar Matematika Siswa pada Materi Perkalian Pecahan ...55
C. Keterbatasan Penelitian ...56
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...57
A. Kesimpulan ...57
B. Saran ...58
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Perbedaan Kurikulum Sekolah Nasional dengan Sekolah Alam ...16
Tabel 4.1 Hasil Observasi Kegiatan Active Learning oleh Guru di Kelas ...40
Tabel 4.2 Hasil Observasi Kegiatan Siswa KBM ...42
Tabel 4.3 Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Matematika ...43
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Gedung Sekolah SMP Citra Alam ...25
Gambar 3.2 Area Bermain dan Olah raga ...25
Gambar 3.3 Ruang Lab IPA ...26
Gambar 3.4 Masjid ...27
Gambar 3.5 Green House ...27
Gambar 3.6 Perpustakaan ...28
Gambar 3.7 Kantin Sehat ...29
Gambar 3.8 Ruang art ...29
Gambar 3.9 Ruang Serba Guna ...30
Gambar 3.10 Area Parkir ...30
Gambar 4.1 Siswa Membuat Pecahan dengan Karton...47
Gambar 4.2 Guru mengulang materi pecahan dengan Mapping ...48
Gambar 4.3 Alat Peraga Balok Pecahan...49
Gambar 4.4 Guru sedang Menjelaskan Materi Perkalian Pecahan ...50
Gambar 4.5 Suasana belajar di Sekolah Alam ...51
x
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Hasil Observasi Kegiatan Active Learning oleh Guru di Kelas ...62
Lampiran 2 Hasil Observasi Kegiatan Active Learning Siswa dalam KBM ....73
Lampiran 3 Hasil Kegiatan Wawancara Guru Matematika ...80
Lampiran 4 Hasil Analisis Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Matematika ...85
Lampiran 5 Hasil Belajar Matematika pada Materi Perkalian Pecahan ...86
Lampiran 6 Data Siswa Sekolah Citra Alam Kelas VII A ...87
Lampiran 7 Data Guru SMP Citra Alam...88
Lampiran 8 Jadwal Pelajaran Kelas VII...89
Lampiran 9 Daftar Nilai UN Tahun Pelajaran 2014/2015...90
Lampiran 10 Data Siswa Sekolah Citra Alam Kelas VII ...91
Lampiran 11 Kurikulum Sekolah Alam Kelas VII...92
Lampiran 12 Surat Permohonan Izin Penelitian...107
Lampiran 13 Surat Permohonan Izin Observasi...108
Lampiran 14 Angket Siswa SMP Citra Alam ...109
Lampiran 15 Angket Guru Matematika Kelas VII SMP Citra Alam...118
Lampiran 16 Jawaban Tes Siswa Matematika Kelas VII SMP Citra Alam ...119
Lampiran 17 Lembar Instrumen Observasi Kegiatan Active Learning oleh Guru di Kelas ...121
Lampiran 18 Lembar Instrumen Observasi Kegiatan Active Learning dalam KBM ...123
Lampiran 19 Lembar Instrumen Wawancara Kegiatan Active Learning oleh Guru terhadap Pembelajaran Matematika...124
Lampiran 20 Lembar Instrumen Respon Siswa terhadap Pembelajaran Matematika ...125
Lampiran 21 Lembar Instrumen Tes Perkalian Pecahan...126
Lampiran 22 Uji Referensi...127
xi BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Matematika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang
memiliki peranan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yaitu sebagai pembentuk pola pikir rasional dan pembentuk sikap logis, kritis,
cermat, dan disiplin. Hal ini menyebabkan matematika wajib diajarkan dari
pendidikan sekolah dasar, pendidikan menengah, sampai perguruan tinggi.
Kenyataan yang ada siswa masih menganggap matematika adalah pelajaran yang
sulit sehingga hasil belajar siswa masih banyak di bawah Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM). Kondisi seperti ini menuntut perhatian dari berbagai pihak
terutama guru hendaknya mampu menerapkan pembelajaran aktif selama proses
pembelajaran.
Pembelajaran menggambarkan seluruh potensi siswa untuk mempelajari
fakta dan gagasan yang dapat digunakan secara efektif. Interaksi antara pengajar
(guru) dengan pembelajar (siswa) akan menghasilkan suatu perubahan dalam diri
yang belajar untuk mengembangkan penguasaan akan suatu kecakapan tertentu,
penuntun dalam menjalani kehidupan, sekaligus untuk memperbaiki nasib dan
peradaban umat manusia yang bisa dilakukan sejak masih dalam kandungan.
Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya
bukan mengetahuinya, pembelajaran yang berorientasi pada target penguasaan
materi yang terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, tetapi
gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka
panjang. itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah saat ini.
Pada bidang pendidikan konsepsi sekolah merupakan salah satu unsur
penting keberlangsungan sistem pendidikan nasional. Kegagalan sistem
pendidikan di Indonesia merangsang tumbuhnya sekolah-sekolah alternatif yang
diyakini memiliki mutu pendidikan lebih baik dari sekolah biasa. Salah satu
2
Pendidikan di Indonesia merangsang tumbuhnya sekolah-sekolah alternatif
yang diyakini memiliki mutu pendidikan lebih baik dari sekolah biasa. Salah satu
sekolah alternatif yang sekarang diminati adalah sekolah berbasis alam. Sekolah
alam dalam pembelajarannya menekankan proses keterpaduan manusia bersama
alam yang ada pada lingkungan sekitar.
Sekolah alam didirikan pertama kali di Indonesia pada tahun 1997 yang
merupakan gagasan dari seorang mantan staf ahli Menteri Negara BUMN, yaitu
Lendo Novo. Ir. Lendo Novo adalah alumni tekhnik perminyakan Institut
Tekhnologi Bandung (ITB). Sejak tahun 1992, Lendo merancang konsep sekolah
alam agar murid-murid bisa belajar sambil bermain. Pada tahun 1997, barulah
beliau bisa mewujudkan konsepnya tersebut dan mendirikan Sekolah Alam, yaitu
di Ciganjur, Jakarta Selatan.
Berdirinya sekolah alam ini terutama dilatar belakangi sebuah gagasan
bagaimana menciptakan sistem belajar mengajar yang menyenangkan yang bisa
menempa kecerdasan natural anak dengan kualitas menjadi nomor terdepan
sehingga mampu menarik minat anak didik untuk terus belajar.
Sistem pendidikan sekolah alam ini berbeda dari sekolah formal
umumnya. Sekolah alam hadir dengan konsep pendidikan fitrah. Sekolah bukan
lagi beban. Sekolah adalah realitas kehidupan yang mereka jalani dengan
penghayatan penuh. Sekolah adalah sumber kegembiraan, bukan sumber stres
yang biasanya membuat mereka kehilangan gairah.
Maka jelaslah bahwa sekolah alam yang menggunakan proses belajar
mengajar dengan sangat menyenangkan itu dapat menjadi alternatif sekaligus
inovasi pendidikan, yang diharapkan dapat memberi konstribusi dalam mengatasi
permasalahan dalam dunia pendidikan di Indonesia dewasa ini.
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur
manusiawi, internal material fasilitas perlengkapan dan prosedur yang saling
mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Mulyasa pembelajaran
pada hakekatnya adalah interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya
sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam pembelajaran
3
datang dari diri individu, maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan
individu.
Alam semesta yang dimanfaatkan antara lain sebagai media pendidikan,
observasi dan riset. Sesuai dengan ajaran Islam manusia dipersilahkan untuk
memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan fital manusia dan akan
dipertanggungjawabkan perbuatan di atas bumi. Diantara cara terbaik yakni mengintegrasikan sains dengan al Qur’an, atau dikenal dengan istilah integrasi
ilmiah ilahiah. Dengan cara mengamati dan memahami langsung gejala alam
yang terjadi, sehingga bisa mendapatkan media belajar yang bermutu dan murah.
Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-khafi ayat 109 :
Katakanlah: sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat
Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat
Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)".(QS. Al
Kahfi:109).
Proses pembelajaran Sekolah Alam menyandarkan pada 4 (empat) pilar
a. Pengembangan akhlak yang baik (akhlaqul Karimah)
b. Pengembangan logika dan daya cipta melalui percobaan (Expreriental
Learning)
c. Pengembangan kepemimpinan dengan metode Outbond Training
d. Pengembangan kemampuan berwirausaha (Entrepreneurship)
Berdasarkan hal tersebut, sangatlah penting untuk mengkonsep sebuah
pendidikan yang menyelenggarakan sistem belajar mengajar yang menghargai
setiap potensi yang ada. Dalam pembelajaran dapat diselaraskan dengan kondisi
psikologis siswa, sehingga otak mereka akan sangat mudah untuk bekerja sama
dalam proses pembelajaran dan proses belajar pun akan menjadi sangat optimal
dan efektif.
Siswa sekolah alam merupakan anak usia sekolah yang disesuaikan
dengan jenjangnya, sehingga tidak membeda-bedakan antara anak yang satu
dengan yang lainnya. Dalam praktiknya anak diberikan kebebasan dalam
keinginan kreatifnya sehingga akan menemukan sendiri bakat dan kemampuan
4
ketika belajar di alam terbuka juga akan sangat berpengaruh terhadap keefektifan
cara belajar mereka. Suasana dan kondisi lingkungan yang menyenangkan (Fun
Learning), akan sangat mendukung dalam proses pembelajaran ini.
Sesuatu yang menarik dari sekolah alam, tidak hanya siswa yang belajar
guru pun dituntut untuk terus belajar, bisa dari murid atau guru-guru lain bahkan
orang tua juga belajar dari guru dan anak-anak. Yang sangat penting dalam
pembelajaran adalah penanaman dasar bahwa semua makhluk berkewajiban untuk
belajar, belajar dalam konteks toleransi sosial. Bahkan yang lebih dalam proses
pelajaran, bukanlah hanya mengejar nilai, namun bagaimana memahami seberapa
jauh proses belajar dapat dinikmati dan diterapkan dengan baik. Dengan kata lain,
antara kurikulum, toleransi sosial, dan pemanfaatan kehidupan keseharian dapat
ditarik benang merah transformasi ilmu secara teknis, moral, kemanusiaan dan
lain–lain.
Di Sekolah Alam, anak-anak tidak hanya belajar secara teori. Mereka
belajar di mana saja dan pada siapa saja. Mereka belajar tidak hanya dari buku
tapi dari apa saja yang ada di sekelilingnya. Dan yang jelas mereka belajar tidak
untuk mengejar nilai, tapi untuk bisa memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan
sehari-hari. Dan di Sekolah Alam keseragaman bukan pada apa yang dikenakan,
tapi pada akhlaknya.
Menurut Silberman, active learning merupakan proses belajar padi peserta
didik yang lebih dari sekadar mendengarkan dan melihat guru menjelaskan
sesuatu atau menjelajahi sesuatu dalam benak peserta didik tetapi peserta didik
sendirilah yang menata apa yang mereka dengar dan lihat menjadi satu kesatuan
yang bermakna, dan membangun sendiri pengetahuannya perlu suatu kegiata yang
dapat menstimulus peserta didik untuk mengolah dan memahami suatu
pengetahuan. Sedangkan menurut Priyatmojo active learning adalah aktivitas
yang dikerjakan oleh peserta didik di dalam maupun di luar kelas, tidak hanya
secara sebatas pasif mendengarkan fasilitator. Active learning adalah proses
dimana peserta didik terlibat banyak di dalam penugasan seperti analisis, sintesis,
dan evaluasi. Active learning mengacu pada teknik dimana peserta didik
5
didik melakukan beberapa hal termasuk menemukan, mengolah, dan menerapkan
informasi. Pembelajaran aktif diturunkan dari dua asumsi dasar : 1. Pembelajaran
dilaksanakan secara alami melalui usaha secara aktif, dan 2. Peserta didik yang
beragam belajar dengan gaya belajar yang beragam pula.1
Hasil wawancara dengan salah satu guru matematika SMP Sekolah Citra
Alam, diketahui bahwa sebagian besar siswa yang mendasar kurang memahami
perkalian pecahan matematika. Akibatnya siswa tidak mampu mengerjakan soal
matematika khususnya yang berhubungan dengan konsep bilangan pecahan
karena siswa tidak menguasai dan memahami perkalian pecahan, mereka menjadi
cuek dan tidak mau terlibat aktif dalam pembelajaran di alam terbuka. Misalnya
kurangnya siswa mengajukan pertanyaan selama pembelajaran matematika.
Disisi lain orang tua menginginkan anaknya memiliki kemandirian dan
keinginan berpikir ilmiah dan bisa memanfaatkan ilmunya dengan baik tidak
terdapat pada sekolah umum. Terlebih dengan hasil Ujian Nasional juga
mengalami penurunan di tahun sebelumnya.
Pembelajaran active learning pada materi perkalian pecahan di sekolah
menengah pertama citra alam mengalami kesulitan bagi siswa dan sangat
mempengaruhi terhadap hasil belajar matematika. Maka dari itulah untuk
meningkatkan kemampuan hasil belajar matematika pada materi perkalian
pecahan yang baik, aspek–aspek tersebut perlu dikaji secara mendalam. Oleh
sebab itu untuk membangkitkan semangat dan kontribusi siswa dalam
pembelajaran matematika dipilih strategi pembelajaran active learning untuk
meningkatkan kemampuan perkalian pecahan matematika.2
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah maka penulis mengambil
judul penelitian “Pembelajaran Active Learning Pada Materi Perkalian Pecahan Di Sekolah Menengah Pertama Citra Alam Ciganjur Jakarta
Selatan” dan hasil penelitian ini mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi
1Furghon Zendy Halim., et al., “Model Pembelajaran
Cooperative dengan Pendekatan
Active Learningpada Materi Aljabar”, Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 1, April 2013, h.5.
2
6
positif terhadap kemajuan serta perkembangan dunia pendidikan saat ini dimana
penelitian ini akan dapat memberikan kita gambaran tentang bagaimana
proses/kegiatan pembelajaran matematika khususnya di sekolah alam Ciganjur
pada materi pecahan serta peneliti memilih Sekolah Alam dikarenakan keunikan
mempelajari matematika di Sekolah Alam bagaimana cara pengajaran dialam
terbuka. Dibelum diteliti sebelumnya khususnya pada materi perkalian pecahan.
Peneliti menggunakan active learning karena pada peneliti sebelumnya (Zulfah
Fikriah) juga menggunakan active learning juga untuk mengamati proses
pembelajaran di Sekolah Alam.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan Latar Belakang Masalah yang telah diuraikan di atas, maka
masalah dalam penulisan dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
a. Dalam proses pembelajaran siswa mengalami kesulitan dalam memahami
perkalian pecahan.
b. Pada alam terbuka siswa kurang memahami bentuk perkalian pecahan.
c. Siswa kurang aktif dalam pembelajaran matematika.
d. Siswa kurang paham dengan perkalian pecahan yang diberikan oleh guru.
e. Siswa tidak suka untuk menghafal rumus matematika.
f. Dalam proses pembelajaran siswa kurang mengajukan pertanyaan selama
pembelajaran matematika.
Bahwa pembelajaran matematika di Sekolah Alam menggunakan active
learning, tujuannya untuk memudahkan siswa dalam memahami materi pecahan
yang diberikan guru sehingga dapat membantu siswa dalam pembelajaran
matematika.
C. PembatasanMasalah
Agar penelitian ini lebih terarah dan terhindar dari penyimpangan masalah
yang sedang diteliti, perlu adanya pembatasan masalah. Batasan masalah dalam
penelitian ini sebagai berikut: Penulis memaparkan masalah yang di dapat dari
9
bagaimanakah cara meningkatkan kemampuan perkalian pecahan matematika
menggunakan active learning di sekolah alam.
D. Perumusan Masalah
Agar siswa dapat berpikir kritis dan aktif dalam mempelajari pelajaran
matematika di sekolah alam maka pembelajaran aktif (active learning) merupakan
pilihan yang tepat untuk memahami kesulitan belajar pada materi perkalian
pecahan. Sehingga berdasarkan Pembatasan Masalah diatas maka penulis
pertanyaan penelitian sebagai berikut: Bagaimana pembelajaran active learning
pada materi perkalian pecahan di Sekolahalam ?
Secara umum pertanyaan penelitian ini adalah “Bagaimanakah
implementasi pembelajaran active learning dalam mata pelajaran matematika
materi perkalian pecahan di Sekolah Citra Alam Ciganjur Jakarta Selatan ?
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian sebagai berikut :
1. Memaparkan antusias belajar aktif matematika siswa Sekolah Citra Alam
Ciganjur Jakarta Selatan.
2. Memaparkan dinamika aktivitas belajar aktif matematika siswa Sekolah
Citra Alam Ciganjur Jakarta Selatan dibandingkan dengan sekolah formal.
3. Memaparkan kebiasaan belajar aktif matematika siswa Sekolah Citra
Alam Ciganjur Jakarta Selatan yang membedakan dengan sekolah pada
umumnya.
4. Meningkatkan hasil belajar matematika di SMP Citra Alam Ciganjur
Jakarta Selatan pada Materi Perkalian Pecahan.
Adapun manfaat penelitian sebagai berikut :
1. Bagi siswa, hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan
kemampuan perkalian pecahan siswa dalam pelajaran matematika
9
2. Bagi guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan
kepada guru pada umumnya dan guru matematika pada khususnya tentang
pembelajaran aktif (active learning) pada materi perkalian pecahan
matematika siswa.
3. Bagi sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapatdijadikan sebagai bahan
pertimbangan dalam upaya penyelesaian masalah–masalah siswa yang
timbul akibat rendahnya kemampuan perkalian pecahan siswa dalam
pembelajaran matematika.
4. Bagi peneliti selanjutnya,hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan
9 BAB II KAJIAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Pembelajaran Active Learning
a. Pengertian Pembelajaran Active Learning
Kata active diadopsi dari bahasa Inggris dengan kata sifat yang
aktif, gesit, giat, bersemangat dan learning berasal dari kata learn yang
berarti mempelajari.3 Dari dua kata tersebut, yaitu active dan learning
dapat diartikan dengan mempelajari sesuatu dengan active atau
bersemangat dalam hal belajar.
Pembelajaran aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang
lebih banyak melibatkan aktivitas peserta didik dalam mengakses berbagai
informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses
pembelajaran di kelas sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman
yang dapat meningkatkan pemahaman kompetensinya. Lebih dari itu,
pembelajaran aktif memungkinkan peserta didik mengembangkan
kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti menganalisis dan mensintesis,
serta melakukan penilaian terhadap berbagai peristiwa belajar, dan
menerapkannya dalam kehidupan sehari–hari. Pembelajaran aktif memiliki
persamaan dengan model pembelajaran self discovery learning, yakni
pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik untuk menemukan
kesimpulan sendiri sehingga dapat dijadikan sebagai nilai baru yang dapat
diimplementasikan dalam kehidupan sehari–hari.
Active Learning dikembangkan oleh Mel Silberman, seorang guru besar
kajian psikologi pendidikan di Temle Universitas yang berspesialisasi
dalam psikologi pengajaran. Tujuan dari metode ini adalah untuk
meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar. Active Learning ini
dikembangkan dari pernyataan Konfucius 2400 tahun menyatakan yaitu:
3
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya lihat, saya ingat
Apa yang saya kerjakan, saya pahami4
Pernyataan Konfucius mengemukakan bahwa dalam memahami
tidaklah cukup hanya mendengar dan melihat saja. Jika siswa dapat “melakukan sesuatu” dengan informasi yang diperoleh, siswa dapat memperoleh umpan balik mengenai seberapa bagus pemahamannya. Maka
siswa akan mendapat pengetahuan dan keterampilan. Untuk dapat
menyerap informasi yang diberikan, seseorang harus berkonsentrasi.
Kenyataannya, siswa sulit untuk berkonsentrasi dan siswa cenderung
bosan bila hanya melakukan aktifitas mendengar dalam waktu lama, untuk
itu siswa haruslah diberi kesempatan untuk “melakukan sesuatu”
disamping mencatat dan mendengar seperti mendiskusikan, mengajukan
pertanyaan, bekerja, dan bahkan mungkin mengajarkan rekan sesama
siswa. Jika siswa dapat “melakukan sesuatu” dengan informasi yang
diperoleh, siswa dapat memperoleh umpan balik mengenai seberapa bagus
pemahamannya.5
Pendapat ini diperkuat oleh penyataan John Holt yang mengatakan
bahwa pelajaran dapat di perkuat bila siswa diminta untuk melaukan hal
berikut ini:
a. Mengungkapan informasi dengan bahasa mereka sendiri.
b. Memberikan contoh-contoh.
c. Mengenalnya dengan berbagai alat peraga.
d. Melihat hubungan antara fakta atau gagasan dengan yang lain.
e. Menggunakan dalam berbagai cara.
f. Memperkirakan beberapa konsekuensinya.
4
Melvin L. Silberman, active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif, (Bandung: Penerbit Nuansa Cendikia, 2014), Cet XI, h. 23.
5
Febrianda Y. S., et al., “Metode Active Learning Tipe Starts With a Question Pada Pembelajaran
g. Mengungkapkan lawan atau kebalikannya.6
Keterlibatan mental dan fisik dalam pembelajaran dapat meningkatkan minat siswa. Silberman menyatakan “ketika belajar secara aktif, pelajar mencari sesuatu. Dia ingin menjawab pertanyaan,
memerlukan informasi untuk menyelesaikan masalah, atau menyelidiki cara untuk melakukan pekerjaan”. Dalam pembelajaran, siswa memiliki kemampuan belajar berbeda-beda. Belajar aktif juga mengakomodir
perbedaan kemampuan belajar siswa, karena pembelajaran metode
ceramah hanya akan menarik bagi siswa bermodalisasi auditori. Berdasarkan peneliti Grinder dalam Silberman menyatakan “Pada setiap grup dari 30 siswa, rata-rata 22 dapat belajar secara efektif selama
pengajar menyediakan visual, auditori, dan aktifitas kinesthetik”.7
Dalam model pembelajaran aktif, guru lebih memposisikan dirinya
sebagai fasilitator, yang bertugas memberikan kemudahan belajar (to
facilitate of learning) kepada peserta didik. Peserta didik terlibat secara
aktif dan banyak berperan dalam proses pembelajaran sedangkan guru
lebih banyak memberikan arahan dan bimbingan, serta mengatur sirkulasi
dan jalannya proses pembelajaran.8
Karakteristik belajar yang dituntut saat ini adalah model
pembelajaran yang dapat membelajarkan siswa secara aktif yang total
sesuai dengan potensi dan perkembangan siswa. Hal ini berarti bahwa guru
harus dapat mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran
berkadar aktivitas siswa yang tinggi. Untuk mencapai kea rah itu bukan
berarti guru cukup hanya dapat memilih dan melaksanakan strategi
pembelajaran yang diklasifikasikan sebagai strategi yang dapat
Melainkan, guru harus mampu mulai dari; 1) mendesain
pembelajaran yang berkarakteristik pada pengembangan belajar siswa
aktif; 2) memotivasi siswa dalam belajar; 3) mengelola kelas sehingga
menghasilkan aktivitas yang total; 4) memberikan latihan, praktek atau
tugas esensial di sekolah maupun di rumah yang tepat sehingga dapat
mendorong siswa aktif; 5) memilih dan menggunakan strategi belajar yang
memiliki karakteristik aktivitas siswa yang tinggi; 6) mampu memilih dan
menerapkan pemberdayaan media dan sumber belajar dalam mendukung
aktivitas siswa dalam belajar, dan; 7) mampu melakukan penilaian secara
komprehensif maupun spesifik sesuai kebutuhan sistem penilaian. Dengan
kemampuan tersebut, guru akan mengembangkan pembelajaran siswa aktif
(active learning) secara maksimal.9
Untuk dapat mencapai kompetensi lulusan tersebut di dalam
lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81 A
tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum dinyatakan bahwa strategi
pembelajaran harus diarahkan untuk memfasilitasi pencapaian kompetensi
yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum agar setiap individu
mampu menjadi pembelajar mandiri sepanjang hayat dan yang pada
gilirannya mereka menjadi komponen penting untuk mewujudkan
masyarakat belajar. Kualitas lain yang dikembangkan kurikulum dan harus
terealisasikan dalam proses pembelajaran antara lain kreativitas,
kemandirian, kerja sama, solidaritas, kepemimpinan, empati, toleransi, dan
kecakapan hidup peserta didik guna membentuk watak serta meningkatkan
peradaban dan martabat bangsa.
Salah satu bentuk pembelajaran yang berpusat pada peserta didik
adalah pembelajaran aktif (active learning) adalah proses belajar dimana
mahasiswa mendapat kesempatan untuk lebih banyak melakukan aktivitas
belajar, berupaya hubungan interaktif dengan materi pelajaran diberikan.
9
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._KURIKULUM_DAN_TEK._PENDIDIKAN/195711211985031-TOTO_RUHIMAT/active_learning.pdf
Menurut Meyer & Jones mengemukakan bahwa pembelajaran aktif terjadi
menulis, membaca, dan refleksi yang menggiring kearah pemaknaan
mengenai isi pelajaran, ide – ide, dan berbagai hal yang berkaitan dengan
satu topik yang sedang dipelajari. Dalam pembelajaran aktif, guru lebih
berperan sebagai fasilitator bukan pemberi ilmu.
Beberapa aktivitas pembelajaran khas yang terjadi di dalam
pembelajaran aktif di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Pengamatan terhadap beberapa model atau contoh yang memberikan
kesempatan pada siswa untuk melihat dan mengetahui.
2. Refleksi yang dilakukan dengan cara mengungkapkan pengalaman
kepada teman dan guru potensial mengundang dialog di dalam kelas
sehingga memungkinkan muncul pengalaman atau pengetahuan baru.
3. Pemecahan masalah yang disajikan memungkinkan siswa berada di
dalam kondisi higher – order thinking.
4. Diskusi melatih anak untuk menganalisis, menilai, membandingkan,
dan memecahkan masalah adalah metode belajar kooperatif dan
interaktif.
5. Self explanation adalah suatu proses menjelaskan mengenai
pemahaman anak, baik kepada temannya maupun guru
memungkinkan terjadinya pemahaman yang lebih kuat.
6. Vicarious learning yang diperoleh pada saat anak menyaksikan
perdebatan mengenai topik tertentu.10
Ini berarti bahwa dalam kegiatan pembelajaran di kelas sebagian
besar siswa memperoleh pengetahuan tentang apa yang dia katakan dan
lakukan. Dengan demikian, guru harus memahami perbedaan kecerdasan
setiap individu, sehingga dengan presisi karakteristik cara untuk mengajar
anak-anak mampu memfasilitasi berbagai jenis kecerdasan yang memiliki
10
implikasi untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa siswa dalam
matematika.11
Menurut Bonwell, pembelajaran aktif memiliki karakteristik –
karakteristik sebagai berikut:
1. Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyimpanan informasi
oleh pengajar melainkan pada pengembangan keterampilan pemikiran
analitis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.
2. Peserta didik tidak hanya mendengarkan materi pelajaran secara pasif
tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pelajaran.
3. Penekanan pada elaborasi nilai – nilai dan sikap – sikap berkenaan
dengan materi pelajaran.
4. Peserta didik lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisa
dan melakukan evaluasi.
5. Umpan – balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses
pembelajaran.12
b. Pembelajaran Matematika Di Sekolah Alam
Sekolah alam adalah sekolah yang menggunakan alam semesta
sebagai pembelajaran. Dalam sekolah alam rasa keingintahuan anak dapat
tersalurkan. Anak diberikan kebebasan untuk memuaskan keingintahuan
mereka tanpa dihalangi oleh ruang kelas, pakaian, peraturan sekolah yang “mematikan” daya kreativitas maupun guru yang terlalu mengatur sehingga mereka dapat menemukan sesuatu yang penting dan berarti
tentang mereka dan dunia yang mengelilinginya dalam kegiatan belajar
mereka.
Siswa tidak hanya belajar dari teori–teori belaka yang diberikan
oleh guru, mereka justru memperoleh pengetahuan dari apa yang mereka
11
Kadir., et al., “The Implementation Of Multiple Intelligences Based Learning To Improve Students’ Learning Activities, Response, And Learning Outcome In Mathematics”, Proceeding, Juli 2011, h. 2.
12
amati dan mereka perhatikan melalui proses belajar mereka. Kemampuan
dasar yang ingin ditumbuhkan pada anak-anak di sekolah alam adalah
kemampuan membangun jiwa, keinginan melakukan observasi, membuat
hipotesa, serta kemampuan berfikir ilmiah.
Belajar di alam terbuka secara naluriah akan menimbulkan suasana
senang, tanpa tekanan dan jauh dari kebosanan. Dengan demikian akan
tumbuh kesadaran pada anak-anak bahwa learning is fun, dan sekolah pun
menjadi identik dengan kegembiraan. Siswa belajar tidak hanya dengan
mendengar penjelasan guru, tetapi juga dengan melihat, menyentuh,
merasakan dan mengikuti keseluruhan proses dari setiap pembelajaran.
Di dalam sekolah alam anak juga di arahkan untuk memahami
potensi dasarnya sendiri. Setiap anak di hargai kelebihannya dan di
pahami kekurangannya. Mereka diarahkan untuk belajar secara aktif. Di
mana guru berperan sebagai fasilitator. Siswa belajar tidak untuk
mengejar nilai, tetapi untuk memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan
sehari-hari. Menjadikan anak memiliki logika berpikir yang baik,
mencermati alam lingkungannya menjadi media belajarnya dengan
metode action learning dan diskusi. Anak-anak tidak hanya belajar di
kelas, tetapi mereka belajar dari mana saja dan dari siapa saja. Mereka
tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga belajar dari alam sekelilingnya.
Konsep Teori Penerapan pada Sekolah Alam adalah:
a.Determinis resiprokal
Anak-anak melalui sekolah alam akan belajar melalui lingkungan ,
diajarkan untuk mengenal dan mencintai alam sehingga mereka
akan menghargai dan menjaga alam.
b. Tanpa reinforcement
Anak-anak belajar melalui observasi di dalam secara langsung,
yang membuat mereka mendapatkan kesenangan dalam belajar dan
tidak membutuhkan reinforcement dari luar untuk memacu mereka
untuk belajar.
lingkungan sekitar dan mengatur cara belajarnya sendiri.13
c. Kurikulum Sekolah Alam
Umumnya kurikulum di Indonesia disusun secara nasional, namun
begitu guru juga dapat diikutsertakan dalam penyusunan kurikulum atau
memberikan saran serta masukan-masukannya. Sehingga dengan
demikian, pengembangan kurikulum dapat disesuaikan dengan kebutuhan
oendidikan di daerah, sesuai lingkungan tempat berlangsungnya
pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Oleh
karena itu dalam proses pendidikan sekolah diperlukan adanya kurikulum
muatan local, sesuai dengan kekayaan masing-masing daerah, baik secara
sosial maupun alam.
Dalam penerapannya, kurikulum muatan lokal dilaksanakan
dengan strategi yang tepat, dengan pertimbangan faktor-faktor: tujuan,
materi, guru, siswa, metode, media, dan evaluasi. Dari semua faktor
tersebut, guru merupakan sosok yang paling bertanggung jawab dan
menentukan keberhasilan pembelajaran.
Tabel 2.1
Perbedaan Kurikulum Sekolah Nasional dengan Sekolah Alam
Standar Isi Tujuan dan Kompetensi Strategi dan Metodologi
Kurikulum
Tjipto Subadi., “Penelitian Kolaborasi Strategi Pembelajaran Matematika Sekolah Alam (Studi
Situs Sekolah Alam Ar Ridho Semarang)”, Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 1, Juli 2013, h. 7.
kurikulum nasional belajar yang efektif dan bermakna
Kurikulum yang berintegrasi antara kurikulum alam, karakter, dan dinas.
Pada intinya dalam menyikapi pemberlakuan kurikulum 2013 ini seorang
guru dituntut betul-betul meningkatkan kompetensi atau kemampuan yang
dapat menunjang dan mengantarkan peserta didik berhasil mencapai tujuan
pendidikan. Pertama, kompetensi pedagogik. Kedua, kompetensi
akademik. Ketiga, kompetensi sosial. Keempat, kompetensi
kepemimpinan.14
d. Pengertian Pecahan
Kata pecahan berasal dari bahasa Latin yaitu “fractio” yang berarti
memecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau bagian dari
14
keseluruhan. Sebuah pecahan mempunyai 2 bagian yaitu pembilang dan
penyebut yang menulisannya dipisahkan oleh garis lurus (–) dan bukan
garis miring (/). Contoh …. dan seterusnya, bukan 1/2, 2/3.
Pecahan merupakan suatu bilangan yang merupakan hasil bagi
antara bilangan bulat dan bilangan asli dimana bilangan yang dibagi
(pembilang) nilainya lebih besar dari bilangan pembaginya (penyebut).
Pecahan juga merupakan bagian dari bilangan rasional yang dapat ditulis
dalam bentuk dengan a dan b merupakan bilangan bulat dan b tidak sama
dengan nol. Pecahan terdiri dari pembilang dan penyebut. Pecahan dapat
dinyatakan dalam bentuk pecahan senilai sebagai:
Hakikat transaksi dalam bilangan pecahan adalah bagaimana cara
menyederhanakan pembilang dan penyebut. Penyederhanaan pembilang
dan penyebut akan memudahkan dalam operasi aritmatika sehingga tidak
menghasilkan angka yang terlalu besar tetapi mempunyai nilai yang sama.
Contohnya: Bila dibandingkan antara
dan maka lebih mudah dan
sederhana melihat angka .
terlihat sebagai “angka raksasa” yang
kelihatannya lebih kompleks dibandingkan padaha sebenarnya kedua
angka ini tetap memiliki nilai yang sama.
Pada opersi penjumlahan dan pengurangan pada pecahan selain
disederhanakan juga penyebutnya harus disamakan dengan bilangan yang
sama, sedangkan pada operasi perkalian caranya adalah pembilang dibali
pembilang, penyebut dikali penyebut.
Macam-macam Pecahan
Secara simbolik pecahan dapat dinyatakan sebagai salah satu bentuk dari:
(1) pecahan biasa, (2) Pecahan Decimal, (3) Persen, (4) Pecahan
Campuran.
Yang dimaksud pecahan biasa adalah pecahan murni atau sejati
yang terdiri dari atas pembilang dan penyebut, baik pembilang lebih kecil
dari penyebut maupun sebaliknya penyebut lebih kecil dari pembilang.
2. Pecahan desimal
Pecahan desimal adalah bilangan yang terdiri dari bilangan bulat
utuh dan bilangan pecahan biasa. Pecahan desimal ditulis dengan cara
mendatar. Bilangan ini menggunakan tanda titik atau koma sebagai
pemisah antara bilangan yang utuh dan tidak utuh. Bilangan decimal juga
merupakan bilangan yang menggunakan dasar atau basis 10, dalam arti
memeliki 10 digit yang berbeda yaitu memiliki nilai 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9,0.
Misalnya: 0,1 (dibaca nol koma satu), merupakan hasil pembagi
dari 1 : 10.
3. Persen
Pecahan persen adalah pecahan yang merupakan hasil pembagian
suatu bilangan dengan seratus (100). Persen artinya perseratus. Sehingga
nama pecahan biasa yang penyebutnya seratus diberi nama persen dengan
lambangnya %. Untuk mengubah pecahab biasa menjadi persen, dicari
lebih dahulu pecahan senilainya yang berpenyebut 100. Pecahan decimal
dibicarakan saat pembelajaran pecahan desimal yang berpenyebut 100.
Misalnya: 5 % artinya 4. Pecahan campuran
Yang dimaksud pecahan campuran adalah pecahan yang terdiri dari
campuran bilangan bulat dengan bilagan pecahan murni/sejati.
5. Pecahan senilai
Pecahan senilai adalah pecahan yang mempunyai nilai yang sama
dengan pecahan lain. Menyederhanakan suatu pecahan prinsipnya sama
dengan mencari pecahan yang senilai.
Misalkan: nilainya sama dengan
Perkalian adalah bentuk lain dari penjumlahan berulang dengan
bilangan yang sama. Perkalian juga adalah operasi matematika penskalaan
satu bilangan dengan bilangan lain. Operasi ini adalah salah satu dari
empat operasi dasar di dalam aritmatika dasar (yang lainnya adalah
penjumlahan, pengurangan, dan pembagian).
e. Perkalian Bilangan Pecahan
Kemampuan siswa di dalam menentukan hasil perkalian dari
materi bilangan pecahan yang akan dikalikan tergantung dari pemahaman
dan keaktifan siswa terhadap materi pecahan yang akan diajarkan oleh
guru dan cara guru mengajar. Kemampuan menghitung dan menentukan
hasil kali dari bilangan pecahan adalah bagaimana siswa mengeluarkan
ide-ide tentang pemahaman materi yang telah dipelajarinya.
Di dalam menentukan hasil kali dari materi pecahan terlebih
dahulu harus memperhatikan pecahan apa yang akan di kalikan, seperti:
1. Perkalian pecahan biasa dengan bilangan asli
Contoh:
2. Perkalian pecahan biasa Contoh:
3. Perkalian pecahan desimal dengan pecahan desimal
Contoh: 3,5 x 2,5 = 8,75
4. Perkalian persen dengan persen
Contoh: 5% x 6% = 30%
5. Perkalian persen dengan pecahan desimal
Contoh: 15% x 2,4 = 0,15 x 2,5 = 0,36
6. Perkalian pecahan campuran dengan bilangan asli
Contoh: 3 x 3 x
7. Perkalian pecahan biasa dengan pecahan campuran
Contoh:
8. Perkalian pecahan campuran dengan pecahan campuran
Contoh:
Setelah semua bilangan pecahan yang akan dikalikan sudah
dipahami dengan benar, lalu dilakukan operasi perkalian sampai
menemukan hasil yang benar.
Kemampuan siswa di dalam menentukan hasil perkalian pecahan
dapat dilihat dari lembar kerja siswa. Indikator kemampuan siswa di dalam
menentukan hasil perkalian pecahan di Sekolah Citra Alam SMP Ciganjur,
Jakarta Selatan adalah:
1. Kemampuan menganalisa konsep perkalian
2. Kemampuan memahami soal perkalian pecahan
3. Kemampuan menentukan hasil perkalian pecahan biasa, campuran,
desimal, dan persen.
Perkalian bilangan pecahan menyangkut perkalian (1) bilangan
bulat dengan bilangan pecahan (asli) dan campuran, (2) bilangan pecahan
dengan bilangan pecahan, dan (3) bilangan pecahan campuran dengan
bilangan pecahan campuran. Perkalian bilangan pecahan dapat mengikuti
model perkalian bilangan bulat.
Pertama bilangan bulatan dikalikan bilangan pecahan asli dan
campuran disajikan dalam penjumlahan berulang, misalkan 3 x ⁄ =
⁄ ⁄ ⁄ ⁄ ⁄ . Kedua bilangan pecahan asli dikalikan dengan bilangan pecah asli dijelaskan dengan melipat kertas.15
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Adapun peneliti beranggapan ada penelitian yang mirip namun tidak
serupa yang menjadi sebuah pembelajaran dalam penelitian ini, diantaranya yaitu:
a. “Model Pembelajaran Matematika Di Sekolah Alam Indonesia” oleh Zulfah
Fikriah tahun 2013, Universitas Islam Negeri Jakarta.
15
J.Tombokan Runtukahu, et al, Pembelajaran Matematika Dasar Bagi Anak Berkesulitan Belajar,
(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014) Cet I h. 137-138.
Dari penelitian tersebut dapat menyimpulkan bahwa penggunaan alat peraga
pada jenjang sekolah dasar mampu memberikan dampak positif terhadap hasil
belajar siswa maupun peningkatan pemahaman konsep matematika dalam
pembelajaran. Pembelajaran matematika di Sekolah Alam Indonesia memenuhi
karakteristik model pembelajaran tematik/terpadu, yaitu berpusat pada siswa,
memberikan pengalaman langsung, pemisahan mata pelajaran bersifat fleksibel,
menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, hasil pembelajaran sesuai
dengan minat dan kebutuhan siswa, dan menggunakan prinsip sambil bermain
serta menyenangkan. Pada prinsipnya, model pembelajaran tematik/terpadu yang
dilaksanakan di Sekolah Alam Indonesia menggunakan jenis jarring laba-laba
(webbing/spider web), namun dalam pengembangan pelaksanaannya juga
menggunakan jenis keterpaduan (intergrated) seperti pada pelaksanaan Belajar
diluar (outing), market day, dan EHB (Evaluasi hasil belajar).
b. “Sekolah Alam: Paradigma Baru Pendidikan Islam Humanis” oleh Rohinah
tahun 2014, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dari penelitian tersebut dapat menyimpulkan bahwa alam tidak lagi
menjadi sebuah fenomena yang menakutkan, penuh mistis dan gaib, sehingga
dunia anak didik dijauhkan dari alam. Melainkan pendidikan Islam justru akan
berubah jika mampu mendekatkan paradigma fungsionalis pada diri anak didik.
Alam justru mempunyai fungsi yang sangat luar biasa terhadap dunia
pembelajaran anak didik. Alam juga memberikan pengaruh yang luar biasa bagi
pengembangan sains dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, pembelajaran
agama berbasis sekolah alam sesungguhnya akan menghasilkan pengetahuan yang
luar biasa jika mampu menjadikan paradigma fungsionalis sebagai paradigma
pembelajaran yang mengarah kepada inovasi dan kreativitas belajar anak didik.
c. “Penelitian Kolaborasi Strategi Pembelajaran Matematika Sekolah Alam
(Studi Situs Sekolah Alam Ar Ridho Semarang)” oleh Tjipto Subadi, tahun
Dari penelitian tersebut dapat menyimpulkan bahwa strategi
pengorganisasian interaksi pembelajaran berlangsung interaksi antara guru
dengan siswa, peran guru sebagai organisator, motivator, konselor, moderator,
motor, pelopor, katalisator dan evaluator, terjadi hubungan interaksi timbal
balik-baik di dalam dan di luar kelas. kerjasama antar siswa terjadi saat ada siswa yang
mengalami kesulitan, teman yang lain berlaku sebagai guru membantu mangajari
teman yang mengalami kesulian sehingga terjadi diskusi dan semangat belajar.
Sedangkan peneliti ingin mengeksplorasi lebih dalam pembelajaran aktif
di Sekolah Citra Alam Ciganjur Jakarta Selatan pada pembelajaran matematika
khususnya materi perkalian pecahan. Berbeda dengan sebelumnya yang meneliti
pada jenjang dasar kelas IV (Empat) sedangkan peneliti ingin meneliti pada
jenjang menengah kelas VII (Tujuh). Walaupun pada latar yang sama yakni
sama-sama di Sekolah Alam akan tetapi peneliti ingin mengeksplorasi bagaimana siswa
untuk dapat aktif dalam pembelajaran matematika khusunya pada materi perkalian
pecahan. Pada peneliti sebelumnya membahas mengenai materi matematika
tentang satuan panjang dan peneliti ingin menggali lebih jauh mengenai materi
perkalian pecahan dimana siswa diupayakan harus aktif dalam mengikuti
pembelajaran tersebut. Jika peneliti sebelumnya membahas mengenai model
pembelajaran pada jenjang dasar dibidang matematika maka peneliti akan
membahas mengenai pembelajaran aktif (active learning) pada jenjang menengah
dibidang matematika juga.
C. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan kerangka teori, diajukan beberapa pertanyaan penelitian
sebagai berikut:
1. Bagaimana pembelajaran active learning yang dilakukan guru pada materi
perkalian pecahan di Sekolah Citra Alam ?
2. Bagaimana aktivitas siswa dalam kegiatan active learning pada
pembelajaran matematika di Sekolah Citra Alam ?
3. Bagaimana respon siswa terhadap pembelajaran active learning di Sekolah
Citra Alam ?
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VII Sekolah Pemengah
Pertama di Sekolah Citra Alam Indonesia yang berlokasi di Jl. Anda 7X Ciganjur,
Jagakarsa Jakarta Selatan pada bulan Mei 2016. Sekolah Alam Indonesia
merupakan sekolah regular yang berbasis alam dan tetap berpedoman pada
kurikulum yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, Serta sekolah
yang telah meluluskan empat alumni untuk sekolah menengah pertama.
B.Latar Penelitian
I. Profil Sekolah
Penelitian ini berlatar dengan nama Sekolah Citra Alam Ciganjur Jakarta
Selatan dan berdiri Tahun 2000. Dengan nama Yayasan Citra Nurul Falah KHA.
beralamat Lengkap : Jl. Damai II No. 54 Ciganjur Jakarta Selatan 12630. Telp
7272164 Faks 7272164. Email : [email protected].
Sekolah Alam Indonesia (SAI) adalah sekolah alam pertama dan menjadi
pionir bagi sekolah berbasis alam dan komunitas di Indonesia. Sejak
kehadirannya, SAI telah menarik begitu banyak perhatian. SAI dalam lima tahun
terakhir mengalami perkembangan pesat termasuk eksperimen bagaimana
menjalankan sekolah berbasis komunitas. Sebagai sekolah alternatif (alternative
dibanding sekolah konvensional yang ada), SAI telah memberikan alternative bagi
para orangtua yang ingin mendapatkan penyegaran dan mempunyai pilihan yang
lain dalam metode dan cara mendidik anak-anak mereka.
Di sekolah tersebut memiliki ruang kelas berupa sanggar yang menjadi
tempat belajar siswa dan memiliki area bermain dan belajar yang luas. Siswa pun
tidak tertinggal dengan adanya ruang lab komputer. Bagi yang beragama Islam
juga tersedia Masjid untuk melakukan Ibadah Sholat. Dan tak lupa ruangan
Di sana juga memiliki Green House bagi siswa yang suka menanam
pohon. Untuk masalah jajan siswa juga tersedia kantin sehat agar siswa terjaga
dari pola makannya. Dan sarana olah raga jua menyediakan lapangan footsal dan
baset. Berikut fasilitias yang terdapat di Sekolah Menengah Pertama Citra Alam
diantaranya:
1. Gedung Sekolah
Gambar 3.1. Gedung Sekolah SMP Citra Alam
Terdapat ruang kelas VII dengan ukuran 10x15 meter. Ruangan tersebut
digunakan untuk belajar di dalam kelas da nada pula bisa belajar di luar kelas di
lorong kelas dengan ukuran 1,5x15 meter.
2. Area Bermain dan Olah Raga
Ada kalanya siswa belajar di lapangan untuk mata pelajaran seni (art)
menggambar dengan mengamati sekelilingnya dan untuk bermain bola sepak,
bola basket, dan bola kasti yang mempunyai ukuran 28x15 meter. Para siswa
sangat hobi berolahraga karena mereka berolahraga selain pada jam pelajaran
olahraga tetapi juga pada jam di luar jam perlajaran olahraga. Bahkan pada jam
istirahat juga para siswa terdapat yang melakukan berbagai macam jenis olahraga
seperti bermain bolak sepak, bola bakset dan lain-lain. Dengan ukuran 28x15
meter lapangan olahraga dapat dibangun.
3. Ruang lab IPA
Gambar 3.3. Ruang lab IPA
Di Sekolah Citra Alam memperhatikan betul tentang kemajuan sain dan
teknologi sehingga disediakannya ruang lab IPA dengan ukuran 10x15 meter.
4. Masjid
Gambar 3.4. Masjid
Mayoritas di Sekolah Citra Alam ini beragama Islam sehingga dibuatlah
sarana untuk melaksanakan ibadah shalat dengan didirikan sebuah masjid. Masjid
tersebut tidak hanya digunakan oleh Sekolah Citra Alam saja melainkan
masyarakat juga ikut berpartisipasi dengan mengadakan berbagai macam kegiatan. Kegiatan tersebut seperti Majelis Ta’lim ibu-ibu yang tinggal disekitar masjid dan jika hari Jumat para siswa dan juga dewan guru melaksanakan shalat
jumat di masjid tersebut. Tidak kala pentiingnya antusiasme masyarakat
melaksanakan shalat jumat juga di masjid tersebut. Ukuran masjid tersebut 20x20
meter.
5. Green House
Adalah sebuah rumah dengan ukuran 5x15 meter yang digunakan untuk
tempat bercocok tanam para siswa. Rumah tersebut terbuka karena tidak terdapat
pembatas untuk menutupinya sehingga siapa saja dapat pergi ke sana. Isinya
merupakan hasil harya para siswa Sekolah Citra Alam yang gemar bercocok
tanam sehingga mempunyai berbagai macam tanaman.
6. Perpustakaan
Gambar 3.6. Perpustakaan
Buku adalah gudang ilmu. Itulah motivasi para siswa untuk dapat
menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Hanya dengan ukuran 10x15
perpustakaan tersebut dibangun untuk mengeksplorkasi siswa yang pandai
7. Kantin Sehat
Gambar 3.7. Kantin Sehat
Pihak Sekolah Citra Alam sangat memperhatikan para siswanya untuk
mengkonsumsi makanan yang hendak ia makan. Kecerdasan sangat
memperngaruhi dengan apa yang para siswa konsumsi. Sehingga dengan ukuran
2x5 meter dibangunlah sebuah kantin sehat untuk para siswa dan guru yang
didatangi pada waktu istirahat.
8. Ruang seni (art)
Gambar 3.8. Ruang art
Terdapat hasil karya siswa Sekolah Citra Alam berupa lukisan-lukisan dan
pelajaran art dan musik. Pada pelajaran tersebut sekolah telah menyediakan
khusus guru tersebut sehingga fokus untuk siswa yang gemar menggambar dan
melukis serta bermain musik. Ukuran ruangannya 10x20 meter.
9. Ruang serba guna
Gambar 3.9. Ruang serba guna
Ruangan tersebut mempunyai ukuran 10x20 meter dibangunlah ruangan
serba guna. Ruangan ini terletak dilantai 2 di atas ruangan perpustakaan. Sehingga
para siswa jika ingin membaca buku di ruang terbuka dapat mengunjungi ruang
serba guna.
10. Area Parkir
Untuk area parker ukurannya cukup luas 25x35 meter. Dominasi di isi
dengan mobil pribadi untuk mengantar jemput siswa. diujung area parker terdapat
pos untuk berkumpul para supir.
II. Profil Siswa
Bagi siswa yang suka melukis sekolah menyediakan ruang art. Dan
memiliki area parker yang cukup luas dengan suansa alam yang terbuat dari
bambu. Jumlah siswa kelas VII (tujuh) di sekolah alam tersebut berjumlah 26
siswa terdiri dari 2 rombel yaitu VII A dan VII B. Satu kelas maksimal 20 siswa.
Begitu juga dengan kelas VIII terdiri dari 2 rombel yang berjumlah 38 siswa. Dan
kelas IX juga sama terdiri dari 2 rombel yang berjumlah 29 siswa sehingga total
seluruh SMP memiliki 93 siswa.
III.Profil Guru
Nama guru yang mengajar bernama Boby Charles. Ia berasal dari Provinsi
Sumatera Barat, tepatnya di kota Padang. Beliau mengajar matematika kelas VII
A dan B. Pendidikan terakhirnya memperoleh gelar sarjana (S1) dengan jurusan
Teknik Elektro pada tahun 2005. Sudah banyak pengalaman yang ia dapatkan
hingga 11 tahun lamanya untuk tetap mengabdi menjadi pahlawan tanpa tanda
jasa di sekolah sehingga, ia belum mengajar di tempat lain.
Sistem pendidikan yang unik dan menantang menjadikan ia sebagai alasan
menginginkan mengajar di sekolah ini. Dengan bermotivasi ingin mencari
pengetahuan tentang pendidikan yang tepat bagi siswa. Ide merupakan kendala
yang ia alami dalam pembuatan media pembelajaran. Dan kesulitan dalam
menyampaikan materi yakni rentan kemampuan anak yang tidak seragam.
Sehingga untuk menjadi siswa sika belajar matematika dengan cara menjadi
pribadi guru yang menyenangkan dan memulai dengan sesuatu yang mudah. Serta
dengan menggunakan beberapa variasi pendekatan menjadikan siswa aktif belajar
C. Metode Penelitian
Untuk mengeksplorasi pembelajaran aktif pada Sekolah Citra Alam yang
akan diteliti digunakan jenis metode penelitian kualitatif. Metode penelitian
kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat
postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah,
(sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument
kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan
snowbaal, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data
bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna
dari pada generalisasi.16
Berkaitan dengan tujuan penelitian di atas, peneliti menggunakan
pendekatan studi kasus sehingga penelaah terhadap fokus penelitian dapat
dilakukan secara intensif, mendalam, detail, dan komprehensif. Selain studi kasus
memberikan akses peluang yang lebih luas kepada peneliti untuk menelaah, studi
kasus juga dapat menyajikan data-data dan temuan yang berguna untuk
memperoleh keterangan-keterangan empiris yang detail secara akurat dari suatu
analisis penelitian.
Sejalan dengan hal tersebut, dalam pelaksanaan di lapangan peneliti
berusaha memahami fenomena yang terjadi dengan bersikap menyesuaikan diri
dengan keseharian kegiatan Sekolah Alam Indonesia tanpa menjaga jarak dengan
informan. Sehingga dalam pengambilan data, baik dari dokumen dan informan
melalui teknik wawancara dapat berjalan dengan baik dengan suasana yang
hangat dan bersahabat.Yang menjadi informan utama dalam penelitian ini adalah
guru mata pelajaran matematika dan siswa kelas VII Sekolah Alam Indonesia,
departemen litbang serta kepala Sekolah Alam Indonesia Ciganjur, Jakarta
Selatan. Kemudian data-data tersebut disajikan dengan kata-kata tertulis sebagai
16
Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitaif, Kualitatif, dan R&D, (Bandung:
bentuk dari deskriptif yang menggambarkan siswa berpikir kritis dan penggunaan
pembelajaran aktif di Sekolah Alam Indonesia Ciganjur, Jakarta Selatan.
Adapun disain penelitian menggunakan studi kasus adalah dapat fokus
pada kasus-kasus dan menarik. Keunikan Sekolah Alam Indonesia khusunya
sekolah menengah pertama adalah merupakan sekolah menengah pertama dan
siswa belajar di alam terbuka dengan berbagai macam permainan (games) yang
menarik serta metode pembelajaran yang menyenangkan di alam terbuka tanpa
mengurangi standar kompetensi dan kompetensi dasar dari satuan pendidikan
nasional setempat dan merupakan sekolah yang menjadikan proses pembentukan
logika berpikir kritis dan ilmiah dengan cara yang membebaskan.
D.Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa prosedur pengumpulan data
sebagai berikut:
1. Observasi
Pengamatan (Observasi) adalah metode pengumpulan data dimana peneliti atau
kolaboratornya mencatat informasi sebagaimana ynag mereka saksikan selama
penelitian.17 Melakukan pengamatan secara menyeluruh pelaksanaan
pembelajaran aktif di Kelas VII sekolah menengah pertama Sekolah Alam
Indonesia Ciganjur, Jakarta Selatan.
Hal ini meliputi observasi mengenai aspek rencana pembelajaran, pelaksanaan
pembelajaran, suasana belajar, alat peraga dan keadaan siswa dalam proses
pembelajaran matematika.
2. Wawancara
Wawancara adalah bentuk komunikasi langsung antara peneliti dan responden.
Komunikasi berlangsung dalam bentuk Tanya-jawab dalam hubungan tatap muka,
17
sehingga gerak dan mimic responden merupakan pola media yang melengkapi
kata-kata secara verbal.18
Melakukan wawancara kepada pihak guru, dan siswa Sekolah Alam Indonesia
Ciganjur, Jakarta Selatan berhubungan dengan pelaksanaan pembelajaran.
Wawancara kepada pihak Kepala Sekolah dan departemen litbang bertujuan untuk
menggali lebih dalam mengenai landasan proses pembelajaran. Wawancara
terhadap guru dan siswa bertujuan untuk memperoleh pengetahuan faktual dan
akurat mengenai proses pembelajaran. Wawancara terhadap orang tua siswa
bertujuan untuk menemukan fakta-fakta yang dapat mendukung informasi
lainnya.
3. Dokumentasi
Dokumen adalah mencatat tertulis tentang berbagai kegiatan atau peristiwa pada
waktu lalu.19
Melakukan pengamatan dan pengumpulan data tertulis, gambar grafik, dan
rekaman dengan didukung media yang sesuai.
Berdasarkan prosedur di atas, instrument yang digunakan pada penelitian
pada alam terbuka siswa kelas VII sekolah menengah pertama Sekolah Alam
Indonesia Ciganjur, Jakarta Selatan adalah sebagai berikut:
1. Lembar Observasi
Pengamatan dilakukan dengan mengikuti langsung proses pembelajaran pada
alam terbuka siswa kelas VII sekolah menengah pertama Sekolah Alam Indonesia
Ciganjur, Jakarta Selatan. Dalam penelitian ini observasi dilakukan kepada guru
mata pelajaran matematika dan siswa kelas VII Sekolah Alam Indonesia Ciganjur,
Jakarta Selatan.
18
W. Gulo.Op.Cit h. 119
19
W. Gulo.Op.Cit h. 123
Indikator pedoman observasi siswa:
a. Pembelajaran matematika di luar kelas
b. Aktivitas belajar matematika di luar kelas
c. Alat Peraga
d. Apersepsi
Indikator pedoman observasi guru:
a. Materi perkalian pecahan
b. Pembelajaran matematika di luar kelas
c. Alat Peraga
2. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara digunakan sebagai landasan wawancara yang dilakukan
kepada para responden. Dalam hal ini pedoman wawancara menggunakan angket.
Indikator pedoman wawancara untuk siswa:
a. Pembelajaran di luar kelas
b. Aktif belajar di luar kelas
c. Materi perkalian pecahan
d. Media pembelajaran di sekolah alam
e. Kesulitan dalam mengerjakan soal
Indikator pedoman wawancara untuk guru:
a. Latar belakang/profil guru yang mengajar
b. Wawancara secara langsung di SMP Citra Alam
c. Wawancara secara tertulis di SMP Citra Alam
3. Dokumentasi
Teknik dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan data sebagai kelengkapan
data dan pendukung dari data tertulis yang dideskripsikan mengenai proses
pembelajaran matematika di Sekolah Alam Indonesia Ciganjur, Jakarta Selatan.
Adapun dokumen yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi:
b. Silabus mata pelajaran matematika
c. Data siswa kelas VII Sekolah Alam Indonesia
d. Data hasil belajar siswa dan daftar rekapitulasi UAN 2014/2015
e. Jadwal pelajaran
f. Rencana pembelajaran
g. Media pembelajaran
E.Teknik Analisis Data
Analisis yang dimaksud merupakan upaya mencari dan menata secara
sistematis catatan hasil observasi, wawancara, dokumentasi, dan kuesioner
untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang persoalan yang ada dan
menyajikan sebagai temuan bagi orang lain.
Proses pencarian informasi melalui observasi, wawancara,
dokumentasi, dan kuesioner pada penelitian ini dilakukan kepada siswa, guru
yang terkait, departemen litbang, dan kepala sekolah serta orang tua.
Proses analisis data dapat dikerjakan bersamaan dengan pengumpulan
data dan dilanjutkan setelah pengumuman data selesai. Oleh karena itu secara
teoritik analisis dan pengumpulan data dilaksanakan secara berulang-ulang,
guna memecahkan masalah dengan mencocokkan data yang diperoleh
kemudian disusun secara sistematis, interpretasi secara logis demi keabsahan
dan kredebilitas data yang diperoleh peneliti.
Proses pengumpulan dan penganalisaan data peneliti ini berpedoman
kepada langkah-langkah analisis data penelitian kualitatif, yaitu reduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Pertama, reduksi data meliputi proses pemilihan, pemfokusan,
penyederhanaan, pengabstraksian, dan pengkatagorian data untuk memudahkan
pengorganisasian data.
Kedua, penyajian data merupakan rakitan organisasi informasi
ataupemaparan data yang tersusun secara sistematis dengan memperlihatkan