EFEK MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRAINING MENGGUNAKAN MEDIA PHET TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA DAN KEMAMPUAN BERPIKIR LOGIS SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 40 MEDAN.

27 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SMP NEGERI 40 MEDAN

TESIS

Oleh :

FAJRUL WAHDI GINTING NIM. 8136175005

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Magister Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

FAJRUL WAHDI GINTING (NIM: 8136175005). Efek Model Pembelajaran Inquiry Training Menggunakan Media PhET Terhadap Keterampilan Proses Sains Siswa dan Kemampuan Berpikir Logis Siswa Kelas VIII SMP Negeri 40 Medan. Tesis. Medan: Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan, 2015.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) keterampilan proses sains dan kemampuan berpikir logis siswa yang menggunakan model pembelajaran inquiry training menggunakan media PhET (2) keterampilan proses sains dan kemampuan berpikir logis siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional; dan (3) perbedaan keterampilan proses sains dan kemampuan berpikir logis siswa yang menggunakan model pembelajaran Inquiry Training menggunakan media PhET dan model pembelajaran konvensional.

Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling sebanyak dua kelas yaitu kelas VIII-E dan kelas VIII-B, dimana kelas VIII-E diajarkan dengan model pembelajaran Inquiry Training menggunakan media PhET dan kelas VIII-B dengan pembelajaran konvensional. Instrumen yang digunakan terdiri dari tes keterampilan proses sains berupa tes essay dan tes kemampuan berpikir logis berupa tes pilihan berganda. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan uji t.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan proses sains fisika yang menggunakan model pembelajaran Inquiry Training menggunakan media PhET berbeda dan menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional, dan kemampuan berpikir logis siswa yang menggunakan model pembelajaran Inquiry Training menggunakan media PhET berbeda dan menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional, serta terdapat perbedaan antara kemampuan berpikir logis dan keterampilan proses sains siswa yang menggunakan model pembelajaran Inquiry Training menggunakan media PhET dan model pembelajaran konvensional.

(6)

iv

ABSTRACT

Fajrul Wahdi Ginting. The effect of Inquiry Training Model use the media PhET

Against Science Process Skills and Logical Thinking Skills Grade VIII Students SMP Negeri 40 Medan. Thesis. Medan: Postgraduate Program, State University of

Medan, 2015.

The Purpose of The study: (1) science process skills and logical thinking ability of students who use inquiry learning model training using PhET media (2) science process skills and logical thinking ability of students who use conventional learning model; and (3) the difference science process skills and logical thinking ability of students to use learning model Inquiry Training using PhET media and conventional learning models.

This research is a quasi experimental. Sample selection is done by cluster random sampling are two classes of classes E and class B, where the class VIII-E is taught by inquiry training model using media PhVIII-ET and VIII-B with conventional learning model. The instrument used consisted of tests science process skills such as essay tests and tests of the ability to think logically in the form of multiple-choice tests. The data were analyzed using t test.

The results showed that physics science process skills use Inquiry Training models using PhET media is different and showed better results compared with conventional learning model, and logical thinking skills students use Inquiry Training model using PhET media is different and show better results compared with conventional learning, and there is a difference between the ability to think logically and science process skills of students who use Inquiry Training model using PhET media and conventional learning models.

(7)

KATA PENGANTAR

Pertama sekali penulis mengucapkan puji dan Syukur Alhamdulillah ke

hadirat Allah Subhanawata’ala Tuhan yang Mahas Esa atas Rahmat, Hidayah dan

Inayah-Nya sehingga tesis yang berjudul Efek Penggunaan Model Pembelajaran Inquiry Training menggunakan media PhET Terhadap Keterampilan proses sains dan kemampuan berpikir logis siswa kelas VIII SMP Negeri 40 Medandapat diselesaikan dengan segala keterbatasannya. Selanjutnya salawat dan salam disampaikan ke hadirat Nabi Muhammad SAW, sebagai Rasul pilihan dengan harapan semoga kita mendapat syafaat-Nya di hari kemudian.

Sudah barang tentu, penulis tesis ini tidak akan terwujud disebabkan berbagai kelemahan yang penulis miliki, oleh sebab itu pada kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih atas andil dan bantuan dari berbagai pihak, terutama kepada Prof. Dr. Nurdin Bukit, M.Si sebagai pembimbing I, Ibu Dr. Betty M. Turnip, M.Pd sebagai Pembimbing II , Bapak Prof. Dr. Sahyar, M.S, M.M sebagai ketua Program Studi Pendidikan Fisika Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan (UNIMED), sekaligus sebagai narasumber dan penguji, Ibu Dr. Sondang R. Manurung, M.Pd dan Prof. Dr. Mara Bangun Harahap, MS sebagai narasumber dan penguji, Bapak Prof. Dr. H. Abdul Muin Sibuea, M.Pd sebagai Direktur Program Pascasarjana Unimed, Bapak Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Si sebagai Rektor Universitas Negeri Medan, Ibu Kepala SMP Negeri 40 Medan, Ibu Dra. Filmarenny dan Seluruh Civitas Akademika Program Studi Pendidikan Fisika Pascasarjana UNIMED yang telah banyak memberikan dorongan sehingga siapnya penelitian ini. Akhirnya terimakasih dan tesis ini saya persembahkan kepada kedua orangtua saya, Ayah saya Darwinta Ginting, dan Ibu saya Hartati Sitepu, dan seluruh teman teman di kelas Fisika Dik A Reguler 2013 dan minta maaf kepada mereka yang mungkin salama pendidikan hak-hak meraka sering terabaikan dan terlupakan.

Medan Juni 2015

Penulis,

FAJRUL WAHDI GINTING

(8)

vi

2.1.1 Model Pembelajaran Inquiry Training ... 11

2.1.2 Media Simulasi PhET ... 19

2.1.3 Kemampuan Berpikir Logis ... 22

2.1.4 Keterampilan Proses Sains ... 26

2.2 Teori Belajar yang Mendukung ... 31

2.3 Penelitian yang Relevan ... 34

2.4 Bahan Ajar ... 35

2.5 Kerangka Konseptual ... 40

(9)

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 47

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian ... 47

3.3 Variabel Penelitian ... 47

3.4 Jenis dan Desain Penelitian ... 48

3.5 Prosedur Penelitian... 49

3.6 Instrumen Penelitian... 50

3.7 Analisis Validitas Tes ... 52

3.8 Reliabilitas ... 55

3.9 Teknik Analisis Data ... 56

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Hasil Penelitian ... 62

4.2 Deskripsi Data Pretes ... 62

4.3 Pemberian Perlakuan Pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 67 4.4 Deskripsi Data Postes ... 71

4.5 Pembahasan Hasil Penelitian ... 78

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 87

5.2 Saran ... 87

(10)

ix

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1. Fase-fase Model Pembelajaran Inquiry Training ... 17

Tabel 3.1. Control Group Pretest-Postest Design ... 48

Tabel 3.2. Spesifikasi Tes Kemampuan Berpikir Logis ... 51

Tabel 3.3. Hasil Uji Validitas Tes ... 51

Tabel 4.1. Ringkasan Data Pretes ... 62

Tabel 4.2. Uji Normalitas Data Prestes ... 65

Tabel 4.3. Homogenitas Dua Varians Pretes ... 66

Tabel 4.4. Uji t Tes Awal (Pretes)... 67

Tabel 4.5. Ringkasan Data Postes ... 71

Tabel 4.6. Uji Normalitas Data Postes ... 73

Tabel 4.7. Homogenitas Dua Varians Postes ... 74

Tabel 4.8. Uji t Postes Keterampilan Proses Sains ... 75

(11)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 4.1. Hasil Pretes KPS Siswa Tiap Indikator ... 63

Gambar 4.2. Hasil Pretes KBL Siswa Tiap Indikator ... 64

Gambar 4.3. Hasil Observasi KPS Siswa Setiap Pertemuan ... 69

Gambar 4.4. Hasil Lembar Kerja Siswa Setiap Pertemuan ... 70

Gambar 4.5. Hasil Postes KPS Siswa Tiap Indikator ... 72

Gambar 4.6. Hasil Pretes KBL Siswa Tiap Indikator ... 72

Gambar 4.7. Hubungan KPS Dengan Model Pembelajaran ... 76

(12)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 91

Lampiran 2. Lembar Kerja Siswa ... 113

Lampiran 3. Kisi-kisi Keterampilan Proses Sains... 122

Lampiran 4. Kisi-kisi Tes Kemampuan Berpikir Logis ... 128

Lampiran 5. Perhitungan Validitas Intrumen Tes ... 132

Lampiran 6. Perhitungan Uji Reliabilitas... 135

Lampiran 7. Tabulasi Data Keterampilan Proses Sains ... 139

Lampiran 8. Tabulasi Data Kemampuan Berpikir Logis ... 143

Lampiran 9. Rekap Data Hasil Penelitian ... 147

Lampiran 10. Daftar Nama Siswa Sampel Penelitian ... 148

Lampiran 11. Deskripsi Data Hasil Penelitian ... 149

Lampiran 12. Uji Normalitas Data ... 161

Lampiran 13. Uji Homogenitas Data ... 162

Lampiran 14. Uji Hipotesis Data ... 164

Lampiran 15. Lembar Validasi Isntrumen Tes Keterampilan Proses Sains 167 Lampiran 16. Rubrik Penilaian Keterampilan Proses Sains ... 170

(13)

1 1.1.Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia dan tidak bisa

terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan marupakan suatu hal yang

mimiliki peran yang sangat penting dalam rangka meningkatkan serta

menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan tidak diperoleh

begitu saja dalam waktu yang singkat, namun memerlukan suatu proses

pembelajaran sehingga menimbulkan hasil yang sesuai dengan proses yang

dilalui, oleh karena itu pendidikan hendaknya dikelola dengan baik secara kualitas

dan juga kuantitas. Proses pembelajaran yang terencana dan berjalan dengan baik

akan memudahkan dan membantu siswa untuk mengembangkan potensi yang ada

pada diri siswa, sehingga tujuan dari pembelajaran dapat diraih. Salah satu bentuk

usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan melaksanakan

kegiatan proses belajar mengajar di sekolah, karena sekolah sebagai suatu

lembaga pendidikan formal secara sistematis merencanakan lingkungan

pendidikan untuk melakukan berbagai kegiatan pembelajaran.

Pendidikan IPA (Sains) adalah salah satu aspek pendidikan yang

digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam pendidikan

sains tersebut tidak hanya terdiri dari fakta, konsep, dan teori yang dapat

dihafalkan, tetapi juga terdiri atas kegiatan atau proses aktif menggunakan pikiran

dan sikap ilmiah dalam mempelajari gejala alam yang belum diterangkan. Dengan

demikian, tuntutan untuk terus menerus memutakhirkan pengetahuan sains

(14)

2

terdiri dari sekumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep,

prinsip dan hukum tentang gejala alam. Sains sebagai sebuah proses, karena

merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terstruktur dan sistematis yang

dilakukan untuk menemukan konsep, prinsip dan hokum tentang gejala alam

termasuk di dalamnya adalah kemampuan berpikir untuk menyusun dan

menemukan konsep-konsep baru. Sedangkan sains sebagai suatu sikap, karena

diharapkan mampu menimbulkan karakter bagi siswa sesuai dengan nilai siswa.

Bhaskara (2012: 24) mengungkapkan bahwa sains memiliki ciri-ciri tertentu,

beberapa ciri sains diantaranya memiliki objek kajian berupa benda-benda

konkret, mengembangkan pengalaman-pengalaman empiris, menggunakan

langkah-langkah sistematis, menggunakan cara berpikir logis, dan hukum-hukum

yang dihasilkan bersifat universal. Belajar sains merupakan suatu proses

psikologis berupa tindakan atau upaya seseorang untuk mengkonstruksi dan

memahami suatu gejala alam.

Fisika merupakan bagian dari sains dan dimuat sebagai salah satu materi

pelajaran pada kurikulum yang diterapkan di sekolah. Belajar fisika pada

dasarnya, merupakan suatu proses yang diarahkan pada suatu gejala alam yang

terjadi. Pelajaran fisika pada sekolah diajarkan untuk membekali siswa

pengetahuan, pemahaman, konsep dan kemampuan untuk mamasuki jenjang

pendidikan yang lebih tinggi serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan

teknologi. Paradigma baru dalam pembelajaran sains fisika adalah pembelajaran

dimana siswa tidak hanya dituntut untuk lebih banyak mempelajari

konsep-konsep dan prinsip-prinsip sains secara verbalistis, hafalan, pengenalan

(15)

namun hendaknya dalam pembelajaran sains, guru lebih banyak memberikan

pengalaman kepada siswa untuk lebih mengerti dan membimbing siswa agar

dapat menggunakan pengetahuannya tersebut dalam kehidupannya sehari-hari.

Oleh sebab itu, dalam pembelajaran fisika diperlukan kemampuan berfikir.

Dengan demikian, sebagai hasil belajar diharapkan siswa memiliki kemampuan

berfikir dan bertindak berdasarkan pengetahuan sains yang dimilikinya melalui

kerangka berfikir sains. Seperti yang disarankan oleh Bruner dalam Trianto (2009:

87) agar siswa-siswa hendaknya belajar melalui partisipasi secara aktif dengan

konsep-konsep dan prinsip-prinsip, agar mereka dianjurkan untuk memperoleh

pengalaman dan melakukan eksperimen-eksperimen yang mengizinkan mereka

untuk menemukan prinsip-prinsip itu sendiri.

Tetapi kenyataannya pembelajaran sains fisika yang diterapkan disekolah

pada umumnya siswa lebih sering mempelajari konsep-konsep dan prinsip-prinsip

sains hanya melalui penghafalan teori-teori dan rumus-rumus. Siswa kurang

mendapat kesempatan untuk aktif dalam proses pembelajaran dan menemukan

pengalamannya sendiri. Pembelajaran fisika seharusnya merupakan pembelajaran

yang menyenangkan, karena penerapannya berhubungan dengan kehidupan

sehari-hari. Akan tetapi apa yang diharapkan umumnya berbeda dengan

kenyataan. Hal ini dapat terjadi karena penggunaan model pembelajaran yang

kurang tepat oleh guru. Guru lebih banyak menanamkan konsep-konsep materi

pelajaran melalui transfer informasi dan pemberian contoh-contoh yang

cenderung dihafal siswa, sehingga tidak membentuk konsepsi yang benar.

Pembelajaran seperti ini tentu akan menciptakan suasana kelas yang monoton,

(16)

4

menentukan model pembelajaran yang tepat dan dapat meningkatkan hasil belajar

dan keterampilan proses siswa.

Peroses Pembelajaran Fisika pada saat ini secara umum belum berdampak

terhadap kemampuan pemahaman dan penguasaan konsep melainkan sebagian

besar hanya menekankan pada penghapalan konsep-konsep atau rumus dan tidak

memberikan kesempatan pada siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran

fisika sehingga tidak dapat menumbuhkan kemampuan berpikir dan sikap ilmiah

siswa. Beberapa penelitian pembelajaran berbasis konstruktivis telah dilakukan

untuk melihat efektivitasnya dalam mengkonstruksi pengetahuan oleh siswa

sendiri dalam menumbuhkan sikap ilmiah dan kemampuan berpikir logis. Hal ini

dilakukan sesuai pendapat Bruner (Dahar, 1991: 103), bahwa selama kegiatan

belajar berlangsung hendaknya siswa dibiarkan mencari atau menemukan sendiri

makna segala sesuatu yang dipelajari.

Berdasarkan hasil dari wawancara dengan seorang guru fisika di SMP

Negeri 40 Medan, diperoleh nilai rata-rata hasil ujian fisika semester genap tahun

ajaran 2013/2014 sekitar 60 dengan KKM yang ditetapkan sekolah sebesar 70.

Dari wawancara dengan guru yang bersangkutan juga didapatkan bahwa

kurangnya variasi model pembelajaran yang diterapkan. Model pembelajaran

yang selama ini paling sering diterapkan adalah model pembelajaran Direct

Instruction. Model pembelajaran yang selama ini digunakan tidak membuat siswa berpartisipasi secara aktif sehingga kurang memberikan kesempatan pada siswa

untuk ikut menghayati proses penemuan dan penyusunan suatu konsep sebagai

suatu keterampilan proses. Guru yang bersangkutan juga mengungkapkan belum

(17)

kegiatan praktikum bagi siswa sehingga hasil yang diharapkan dari pembelajran

fisika kurang maksimal. Oleh karena itu, diperlukan adanya penerapan suatu

model pembelajaran yang dapat memunculkan keterampilan proses sains siswa.

Model pembelajaran yang dapat mengarahkan terciptanya hal tersebut diantaranya

adalah model pembelajaran inquiry training. (Ginting, 2015)

Menurut Joyce (2011: 201), model pembelajaran Inquiry Training

dirancang untuk membawa siswa secara langsung ke dalam proses ilmiah melalui

latihan-latihan yang dapat memadatkan proses ilmiah tersebut ke dalam waktu

yang singkat. Tujuannya adalah membantu siswa mengembangkan disiplin dan

keterampilan intelektual yang diperlukan untuk mengajukan pertanyaan dan

menemukan jawabannya berdasarkan rasa keingintahuannya. Joyce (2011: 213)

mengungkapkan salah satu dampak instruksional dari penerapan model

pembelajaran inquiry training adalah keterampilan proses sains siswa.

Keterampilan proses dapat diartikan sebagai keterampilan-keterampilan

intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan

mendasar yang pada prinsipnya telah ada dalam diri siswa (Dimyati dan

Mudjiono, 209: 138). Pada pembelajaran fisika dapat dilakukan penerapan

metode praktikum untuk membentuk keterampilan proses pada siswa. Seperti

yang diuraikan oleh Sani (2012: 25), bahwa pelaksanaan praktikum juga

bermanfaat dalam pembentukan keterampilan proses yang dibutuhkan oleh siswa

untuk menyelesaikan permasalahan fisika kontekstual. Keterampilan proses dasar

yang mungkin dikembangkan dengan melakukan praktikum, antara lain: (1)

melakukan pengamatan (observasi). (2) inferensi. (3) mengajukan pertanyaan. (4)

(18)

6

(6) meramalkan (prediksi). (7) berkomunikasi. (8) membuat hipotesis. (9)

merencanakan percobaan atau penyelidikan. (10) menerapkan konsep atau prinsip.

(11) keterampilan menyimpulkan.

Joyce (2011: 213) juga mengungkapkan salah satu dampak pengiring dari

penerapan model pembelajaran inquiry training adalah kemampuan berpikir logis

pada siswa. Berfikir logis adalah suatu proses menalar tentang suatu objek dengan

cara menghubungkan serangkaian pendapat untuk sampai kepada sebuah

kesimpulan menurut aturan-aturan logika. Rohman (2014: 129) mengungkapkan

bahwa logika mensyaratkan adanya tiga hal sebagai komponen berfikir logis.

Ketiga hal tersebut meliputi; (1) Pengertian (concept). (2) Keputusan (decision).

(3) Penalaran (reasoning).

Penguasaan konsep Fisika oleh siswa akan lebih berhasil jika diterapkan

model pembelajaran yang sesuai yang dapat menuntut siswa menemukan,

mencari, dan memahami konsep Fisika yang dipelajarinya sehingga siswa dapat

membangun konsep berpikirnya sendiri yang kemudian dikembangkan atau

didiskusikan dengan guru atau sesama siswa lainnya. Implementasi model

pembelajaran Inquiry Training baik untuk peningkatan hasil belajar dan maupun

proses berpikir seperti yang telah diteliti sebelumnya oleh Damanik (2013: 94)

menyimpulkan bahwa model pembelajaran Inquiry Training efektif dalam

peningkatan hasil belajar siswa dibandingkan dengan model pembelajaran

konvensional. Dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Legimin (2010:

89) terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang memiliki

keampuan berikir logis rendah dan kemampuan berpikir logis tinggi. Sutama,

(19)

mendapat model pembelajaran inkuiri lebih baik dibandingkan dengan kelompok

siswa yang mendapat pembelajaran dengan model pembelajaran langsung, dan

juga terdapat perbedaan kinerja ilmiah antara siswa yang mengikuti model

pembelajaran inkuiri dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model

pembelajaran langsung. Purwanto. (2012: 95) mengungkapkan terdapat perbedaan

hasil belajar fisika siswa dengan menerapkan model inquiry training dan hasil

belajar siswa yang menerapkan model konvensional.

Disamping itu juga penggunaan media yang tepat dapat mendukung proses

pembelajaran. Media yang digunakan harus sesuai dengan konsep dan teori yang

ada. Salah satu media yang sesuai digunakan untuk mendukung proses

pembelajaran fisika adalah Physics Education Technology (PhET). PhET yaitu

media simulasi yang dikeluarkan oleh University of Colorado dan sudah teruji

kebenarannya. Simulasi PhET ini tersedia resmi PhET (http://phet.colorado.edu)

yang menampilkan suatu animasi fisika yang abstrak, seperti: atom, elektron,

foton, dan medan magnet. Dengan menggunakan media simulasi ini siswa

layaknya dapat melakukan kegiatan-kegiatn untuk mendapatkan data dan fakta

seperti pada laboratorim real, sehingga dengan data dan fakta tersebut peserta

didik dapat mengambil kesimpulan tentang konsep-konsep fisika.

Berdasarkan Uraian yang telah dikemukakan di atas, penulis tertarik untuk

melakukan sebuah penelitian berjudul Efek Model Pembelajaran Inquiry

Training Menggunakan Media PhET Terhadap Keterampilan Proses Dan

(20)

8

1.2.Identifikasi Masalah

Permasalahan yang dapat diidentifikasi dari latar belakang di atas adalah:

1. Proses pembelajaran fisika sebagian besar hanya menekankan pada aspek

menghapal prinsip, konsep dan rumus.

2. Keterampilan proses sains fisika belum diterapkan disekolah.

3. Aspek kemampuan berpikir logis belum diperhatikan dalam pembelajaran

fisika

4. Model pembelajaran yang digunakan kurang bervariasi.

5. Peran siswa masih kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran

6. Motivasi dan minat siswa terhadap pembelajaran fisika yang masih rendah.

1.3.Batasan Masalah

Mengingat adanya keterbatasan kemampuan dari peneliti waktu yang

tersedia, maka yang menjadi batasan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran Inquiry

Training menggunakan media PhET dan konvensional.

2. Hal yang akan diteliti mengenai kemampuan berpikir logis dan

keterampilan proses sains siswa.

3. Materi pelajaran yang diajarkan adalah bunyi.

1.4.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan batasan

masalah yang telah dikemukakan, maka rumusan masalahnya adalah sebagai

(21)

1. Apakah ada perbedaan keterampilan proses sains siswa SMP Negeri 40

Medan dengan penerapan model pembelajaran Inquiry Training

menggunakan media PhET dengan pembelajaran konvensional ?

2. Apakah ada perbedaan kemampuan berpikir logis siswa SMP Negeri 40

Medan dengan penerapan model pembelajaran Inquiry Training

menggunakan media PhET dengan pembelajaran konvensional?

1.5.Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada pengaruh model

pembelajaran Inquiry Training menggunakan media PhET terhadap

keterampilan proses sains dan kemampuan berpikir logis pada materi pokok

bunyi. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk :

1. Menganalisis perbedaan keterampilan proses sains siswa SMP Negeri 40

Medan dengan penerapan model pembelajaran Inquiry Training

menggunakan media PhET dengan pembelajaran konvensional.

2. Menganalisis perbedaan kemampuan berpikir logis siswa SMP Negeri 40

Medan dengan penerapan model pembelajaran Inquiry Training

menggunakan media PhET dengan pembelajaran konvensional.

1.6.Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Memberikan sumbangan pemikiran dalam bentuk model pembelajaran

(22)

10

2. Model pembelajaran Inquiry Training dapat menjadi pertimbangan bagi

guru-guru fisika dalam upaya perbaikan proses belajar mengajar.

3. Bagi siswa diharapkan dengan model pembelajaran Inquiry Training dapat

memperoleh pengalaman berinkuiri dalam pembelajaran.

1.7.Definisi Operasional

1. Model pembelajaran Inquiry Training adalah upaya pengembangan para

pembelajar yang mandiri, metodenya mensyaratkan partisipasi aktif siswa

dalam penelitian ilmiah. Model pembelajaran Inquiry Training

memanfaatkan eksplorasi kegairahan alami siswa, memberikan siswa

arahan-arahan khusus sehingga siswa dapat mengeksplorasi bidang-bidang

baru secara efektif. (Joyce, 2009: 202)

2. Berfikir logis adalah suatu proses menalar tentang suatu objek dengan cara

menghubungkan serangkaian pendapat untuk sampai kepada sebuah

kesimpulan menurut aturan-aturan logika. (Rohman, 2014 : 129)

3. Keterampilan proses sains adalah keterampilan-keterampilan intelektual,

sosial, dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar

yang pada prinsipnya telah ada dalam diri siswa. (Dimyati dan Mudjiono,

(23)

87

5.1. Kesimpulan

1. Terdapat Perbedaan hasil postes keterampilan proses sains siswa yang

diberi pembelajaran dengan model Inquiry training menggunakan media

PhET dengan siswa yang diberi pembelajaran konvensional. Kelas ekperimen memperoleh rata 75,76 dan kelas kontrol memperoleh

rata-rata 67,68. Model pembelajaran Inquiry training menggunakan media

PhET lebih baik dalam meningkatkan keterampilan proses sains siswa daripada pembelajaran konvensional.

2. Terdapat Perbedaan hasil postes kemampuan berpikir logis siswa yang

diberi pembelajaran dengan model Inquiry training menggunakan media

PhET dengan siswa yang diberi pembelajaran konvensional. Kelas ekperimen memperoleh rata-rata nilai 63,68 dan kelas kontrol memperoleh

rata-rata 58,53. Model pembelajaran Inquiry training menggunakan media

PhET lebih baik dalam meningkatkan kemampuan berpikir logis siswa daripada pembelajaran konvensional.

5.2. Saran

Setelah melakukan penelitian, pengolahan, serta interpretasi data, peneliti

menyarankan:

1. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti hal yang sejenis untuk

(24)

88

percobaan ataupun praktikum agar penggunaan waktu selama kegiatan

pembelajaran dapat lebih efektif dan efisien.

2. Peneliti selanjutnya diharapkan lebih kreatif dalam menarik perhatian dan

motivasi siswa seperti lebih memaksimalkan pemanfaatan media

pembelajaran saat kegiatan belajar rmengajar.

3. Peneliti selanjutnya disarankan untuk memperhatikan jumlah siswa dalam

setiap kelompok saat menerapkan model pembelajaran Inquiry Training.

Jumlah siswa yang disarankan peneliti adalah 4 sampai 5 orang setiap

kelompok agar siswa lebih efektif dalam berkeja di kelompoknya dan

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Abungu, Hesbon, Mark I.O. Okere and Samuel W. Wachanga, (2014), The effect of Science Proccess Skills Teaching Approach on Secondary School Students’ Achievement in Chemistry in Nyando District, Kenya. Journal of educational and Social Research. MCSER Publishing, Rome-Italy, Volume 4, Number. 6, 359-372.

Arikunto, S. 2009. Dasar-dasar evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Dahar, R. W. 1991. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Damanik, D. P. 2013. Analisis Kemampuan Berpikir Kritis dan Sikap Ilmiah Pada Pembelajaran Fisika Menggunakan Model Pembelajaran Inquiry Training dan Direct Instruction. Tesis Medan, Program Studi Pendidikan Fisika Pasca Sarjana Unimed.

Dimyati & Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Emzir, 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Ginting, Fajrul, W. 2015. Studi Pendahuluan Efek Model Pembelajaran Inquiry Training Menggunakan Media PhET Terhadap Keterampilan Proses Sains Dan Kemampuan Berpikir Logis SIswa SMP Negeri 40 Medan. Medan : Tidak dipublikasikan.

Hamalik, O. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Hayati, 2013. Efek Model Pembelajaran Inquiry Training berbasis Multimedia dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Gerak Parabola di SMA Negeri 1 Sunggal. Tesis Program Studi Pendidikan Fisika PascaSarjana UNIMED Medan.

Huda, N. 2012. Pasti Bisa Lolos Tes CPNS & Pegawai BUMN. Jakarta: Cmedia.

Ismail, Z., C., and Jusoh, I. 2001. Relationship Between Science Process Skills And Logical Thinking Abilities Of Malaysian Students, Journal of Science and Mathematics Education in s.e. Asia. Volume 25, Number 2. 67-77

(26)

90

Krisno, A. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam. Pusat Perbukuan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Kurniawan, W. & Endah, D. 2010. Pembelajaran fisika dengan metode inquiry Terbimbing untuk mengembangkan Keterampilan proses sains. JP2F, Volume 1 Nomor 2 September 2010, 149-154.

Legimin, 2010. Pengaruh Model Pembelajaran dan Kemampuan Berpikir Logis Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa SMA Negeri 1 Kuala. Tesis Program Studi Pendidikan Fisika PascaSarjana UNIMED Medan.

Mutisya, S., M., and Jackson K. 2014. Performance in Science Process Skills: The Influence of Subject Specialization, Asian Journal of Social Sciences & Humanities, Volume 3, Number 1, 179-188.

Ongowo, Richard and Francis Chisakwa Indoshi. 2013. Science Process Skills in the Kenya Certficate of Secondary Education Biology Practical Examination, Journal of scientific research, Volume 4. Number.11, 713-717.

Purwanto. Andik. 2012. Kemampuan berpikir Logis Siswa SMA Negeri 8 Kota Bengkulu Dengan Menerapkan Model Inquiry Terbimbing Dalam Pembelajran Fisika. Jurnal Exacta, Volume. 10, Nomor 2, 133-135.

Purwanto, N. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Rahayu, E. 2011. Pembelajaran Sains Dengan Pendekatan Keterampilan Proses Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Dan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, Volume 7, Nomor 2, 106-110.

Ranjabar, J. 2014. Dasar-dasar Logika. Bandung: Alfabeta.

Rao, B. & Kumari, U. N. 2008. Science Proccess Skills of School Students. New Delhi: Aurora Offset.

Rohman, A. 2014. Epistemologi dan Logika. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

Sanjaya, W. 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Media Persada.

Sani, R. A. 2012. Pengembangan Laboratorium Fisika. Medan: Unimed Press.

Santoso, S. 2008. Panduan Lengkap Menguasai Statistik dengan SPSS 17. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

(27)

Sudjana, 2005. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.

Sudjana, N. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Suryabrata, S. 2008. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Sutama, I., N., dan Putu I., B., 2014. Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap Ketrampilan Berpikir Kritis Dan Kinerja Ilmiah Pada Pelajaran Biologi Kelas XI IPA SMA Negeri 2 Amlapura, e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi IPA. Volume 4, Nomor 3, 1-14.

Trianto, 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovativ Progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Tanjung, Yulifda. 2014. Efek Model Pembelajaran Inquiry Training berbasis Just In Time Teaching dan Sikap Ilmiah Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Fisika Mahasiswa. Tesis Program Studi Pendidikan Fisika PascaSarjana UNIMED Medan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...