• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Metode Hidrolisis dalam Aktivitas Pembentukan Asam Lemak Rantai Pendek pada Pati Taktercerna Tipe 3

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perbandingan Metode Hidrolisis dalam Aktivitas Pembentukan Asam Lemak Rantai Pendek pada Pati Taktercerna Tipe 3"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

PERBAND

AKTIVITAS

PENDEK

FAKULTAS MATE

IN

DINGAN METODE HIDROLISIS DA

S PEMBENTUKAN ASAM LEMAK

EK PADA PATI TAKTERCERNA TIP

DESI AWALINA

DEPARTEMEN KIMIA

ATEMATIKA DAN ILMU PENGETAH

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012

DALAM

K RANTAI

TIPE 3

(2)

ABSTRAK

DESI AWALINA. Perbandingan Metode Hidrolisis dalam Aktivitas Pembentukan

Asam Lemak Rantai Pendek pada Pati Taktercerna Tipe 3. Dibimbing oleh

SUMINAR S ACHMADI.

Pati taktercerna ialah fraksi pati yang tidak terserap oleh sistem pencernaan

pada individu yang sehat, salah satunya ialah RS3, yang merupakan pati

retrogradasi dan memiliki kemiripan proses dengan daya cerna pati dalam tubuh

manusia. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kemampuan kelompok bakteri

Eubacterium rectale

dan

Clostridium butyricum

dalam memproduksi asam lemak

rantai pendek (SCFA:

short chain fatty acid

), yaitu asam asetat, propionat, dan

butirat dari RS3 yang dihidrolisis menggunakan asam klorida 2 N,

α

-amilase, dan

pululanase. Rendemen pati taktercerna yang didapat setelah proses hidrolisis

menggunakan HCl 2 N,

α

-amilase, dan pululanase berturut-turut adalah 6.6%,

2.3%, dan 48.1%, dengan derajat polimerisasi pati berturut-turut 15, 18, dan 25

residu, yang berarti telah memenuhi ketentuan sebagai RS3. Penelitian ini

menghasilkan nisbah butirat:propionat:asetat rerata sebesar 130:60:50, yang

mendekati metabolisme ideal SCFA. Jenis SCFA menggunakan media RCM

(

reinforced clostridial medium

) mirip dengan yang diproduksi menggunakan

media PYG (

pepton yeast glucose

) pada setiap perlakuan hidrolisis, walaupun

dengan ragam yang sangat berbeda.

Kata kunci: asam lemak rantai pendek, pati taktercerna, RS3, SCFA

ABSTRACT

DESI AWALINA. Comparison of Hydrolysis Methods and Their Effect on

Activity in Formation of Short Chain Fatty Acids of Resistant Starch Type 3.

Supervised by SUMINAR S ACHMADI.

Resistant starch is a fraction of starch not absorbed by the digestive system

in healthy individuals, one of which is RS3, a retrograded starch and has

similarities with digestibility process of starch in human body. This study aimed

to evaluate the ability of

Eubacterium rectale

and

Clostrydium butyricum

consortium in producing short chain fatty acids (SCFA), namely acetic, propionic,

and butyric acids from RS3 under 3 different hydrolysis methods. Yield of

resistant starch from hydrolysis using 2 N HCl ,

α

-amylase, and pullulanase were

6.6%, 2.3%, and 48.1%, respectively, with the degree of polymerization were 15,

18, and 25 residues, respectively, meaning that they meet the requirement as RS3.

This experiment resulted an average of butyrate:propionate:acetate which was

130:60:50, which was close to an ideal SCFA metabolism. Fatty acids produced

using RCM (

reinforced clostridial medium

) medium was similar to that of using

PYG (

pepton yeast glucose

) medium, although the levels were significantly

different among the hydrolysis methods used.

(3)

PERBANDINGAN METODE HIDROLISIS DALAM

AKTIVITAS PEMBENTUKAN ASAM LEMAK RANTAI

PENDEK PADA PATI TAKTERCERNA TIPE 3

DESI AWALINA

Skipsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Sains pada

Departemen Kimia

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(4)

Judul Skripsi

: Perbandingan Metode Hidrolisis dalam Aktivitas Pembentukan

Asam Lemak Rantai Pendek pada Pati Taktercerna Tipe 3

Nama

: Desi Awalina

NIM

: G44086035

Disetujui

Pembimbing,

Prof Dr Suminar S Achmadi

NIP 19480427 197412 2 001

Diketahui

Ketua Departemen Kimia,

Prof Dr Ir Tun Tedja Irawadi, MS

NIP 19501227 197603 2 002

(5)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala

karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam

penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Agustus 2010 ini ialah Perbandingan

Metode Hidrolisis dalam Aktivitas Pembentukan Asam Lemak Rantai Pendek

pada Pati Taktercerna Tipe 3.

Ucapan terima kasih kepada Ibu Prof Dr Suminar S Achmadi yang telah

membantu dan membimbing dalam penelitian ini. Terima kasih pula kepada Ibu

Prof Maggy T Suhartono, Ibu Ir Endang Yuli Purwani, MSi, dan Ibu Winda

Haliza beserta segenap karyawan Laboratorium Mikrobiologi dan Laboratorium

Kimia Balai Besar Penelitian Pascapanen, Bogor. Penelitian ini dapat

terselesaikan atas dorongan semangat dan bantuan dari sahabat-sahabatku Melly,

Kirty, Lia, Rania, dan Martha.

Bogor, Maret 2012

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bukittinggi pada tanggal 17 Desember 1983 dari ayah

Safri dan ibu Nurhayati. Penulis merupakan putri kedua dari tiga bersaudara.

Tahun 2002 penulis lulus dari SMUN 2 Bogor dan pada tahun yang sama

lulus seleksi masuk IPB pada program studi D3 Analisis Kimia, Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Tahun 2005 penulis lulus dari program

studi D3 Analisis Kimia, dan pada tahun yang sama penulis diterima bekerja

sebagai staf

Method and Development

di PT Eisai Indonesia.

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

PENDAHULUAN

Latar Belakang ... 1

Tujuan ... 1

METODE PENELITIAN

Alat dan Bahan ... 1

Lingkup Penelitian ... 2

Pencirian Pati Ubi Jalar ... 2

Retrogradasi Pati ... 2

Hidrolisis Pati dan Produksi RS3 ... 2

Pencirian dan Penentuan Derajat Polimerisasi RS3 ... 2

Fermentasi (

in vitro

) ... 4

Analisis Aktivitas SCFA ... 4

Analisis Statistika ... 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ciri Kimia dan Visual Pati Ubi Jalar ... 4

Pati Retrogradasi ... 5

Hidrolisat Pati dan Produk RS3 ... 5

Ciri Kimia dan Derajat Polimerisasi RS3 ... 6

Produk Fermentasi (

in vitro

) dan Aktivitasnya ... 7

SIMPULAN ... 9

DAFTAR PUSTAKA ... ... 10

(8)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Ciri kimia sampel ubi jalar varietas cangkuang dibandingkan

dengan 2 varietas lainnya ... 4

2 Rendemen RS3 hasil hidrolisis menggunakan HCl 2 N,

α

-amilase, dan pululanase ... 5

3 Derajat polimerisasi produk hidrolisis dengan menggunakan

HCl 2 N,

α

-amilase, dan pululanase ... 7

4 Profil SCFA hasil fermentasi

in vitro

RS3 dengan

masing-masing 3 kali ulangan dalam satuan mol/L ... 8

5 SCFA temuan beberapa peneliti lainnya ... 8

6 Analisis statistik SCFA dari

C. butyricum

pada perlakuan

hidrolisis yang berbeda ... 9

7 Analisis statistik SCFA dari

E. rectale

pada perlakuan hidrolisis

yang berbeda ... 9

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Lingkup penelitian ... 3

2 Mikroskop polarisasi pati ubi jalar varietas cangkuang dengan perbesaran

200

X

... 5

3 Skema hidrolisis pati menggunakan enzim ... 6

4 Kurva fraksionasi RS3 hasil hidrolisis untuk penentuan DP ... 7

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Komposisi medium RCM dan PYG ... 11

(9)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pentingnya kesehatan sistem pencernaan makin disadari seiring dengan perubahan pola konsumsi pangan dan gaya hidup yang penuh dengan tekanan (stres). Keadaan ini mendorong dilakukannya riset tentang kontribusi ingredien pangan dalam bentuk pati taktercerna tipe 3 (resistant starch type 3; selanjutnya disebut RS3) dalam mencegah kanker kolon (colorectal cancer; selanjutnya disebut CRC). RS didefinisikan sebagai fraksi pati yang tidak terserap oleh sistem pencernaan pada individu yang sehat (EURESTA 1993). Ada 4 kelompok RS, yaitu RS1, RS2, RS3, dan RS4 (Sajilata et al. 2006). RS1 adalah pati yang secara fisik terperangkap di dalam matriks sehingga tidak dapat diakses oleh enzim. RS2 adalah granul pati mentah yang didominasi oleh struktur kristalin sehingga sulit dihidrolisis oleh enzim. RS3 adalah pati retrogradasi dan RS4 adalah pati modifikasi secara kimiawi.

RS3 dipilih karena memiliki kemiripan proses dengan daya cerna pati dalam tubuh manusia. RS3 lolos dari sistem pencernaan yang sehat dan langsung memasuki usus besar selanjutnya difermentasi oleh mikroflora yang ada di dalamnya. Fermentasi dilakukan oleh konsorsium bakteri antara lain Eubacterium rectale dan Clostridium butyricum. Kelompok bakteri tersebut diketahui sangat menguntungkan; mereka memproduksi asam lemak rantai pendek (SCFA: short chain fatty acid), yaitu asam asetat, propionat, dan butirat (Bird et al. 2000, Ramsay et al. 2006). SCFA adalah sumber energi utama bagi sel-sel kolon yang mampu mengurangi risiko terjadinya CRC (Augenlicht et al. 2002). Dari uraian ini, sifat molekul RS mungkin saja memengaruhi produksi SCFA khususnya butirat oleh bakteri penghuni kolon. Jika SCFA meningkat, maka proliferasi sel CRC dapat dihambat. Oleh karena itu, peningkatan asupan RS dapat dijadikan dasar untuk pertumbuhan bakteri penghasil butirat. Kemampuan bakteri memfermentasi RS secara in vitro diharapkan dapat menggambarkan kemampuannya secara in vivo.

Berdasarkan percobaan Purwani dan Suhartono (2009), pati asal beras dan sagu memiliki potensi sebagai RS3 yang dapat memproduksi butirat secara enzimatis, dan secara in vitro dapat menghambat proliferasi sel CRC. Dengan asumsi tersebut, ubi jalar (Ipomoea batatas) yang juga merupakan

sumber karbohidarat akan berpotensi sebagai penghasil RS3 yang bersifat apoptosis terhadap sel CRC.

Modifikasi pati menjadi RS3 memerlukan tahap hidrolisis. Hidrolisis secara enzimatis memiliki perbedaan mendasar dengan hidrolisis secara asam. Hidrolisis secara asam memutus rantai pati secara acak, sedangkan hidrolisis secara enzimatis memutus rantai pati secara spesifik pada percabangan tertentu. Hidrolisis secara enzimatis lebih menguntungkan dibandingkan dengan hidrolisis asam karena prosesnya lebih spesifik, kondisi prosesnya dapat dikendalikan, biaya pemurnian lebih murah, dan kerusakan warna dapat diminimumkan.

Kuantitas butirat yang dihasilkan dari hidrolisis pati ubi jalar belum dikaji secara detail. Perbandingan hidrolisis dengan menggunakan α-amilase, pululanase, dan asam klorida 2 N dapat digunakan dalam produksi RS3 skala industri, dengan memperhatikan biaya dalam proses hidrolisisnya.

Informasi mengenai sifat fisiko-kimia ubi jalar juga masih sangat terbatas. Konsekuensi lebih lanjut adalah perlunya dilakukan uji sifat fungsional ubi jalar sebagai penghasil RS3 yang digunakan oleh bakteri untuk menghasilkan SCFA.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan:

a. menghasilkan RS3 berbasis pati ubi jalar dengan 3 perlakuan hidrolisis yang dapat dimanfaatkan dengan baik oleh bakteri penghuni kolon (in vitro) serta mengevaluasi ciri molekulnya;

b. membandingkan profil SCFA dan enzim pendegradasi pati yang dihasilkan oleh bakteri penghasil butirat yang ditumbuhkan pada medium berisi RS3; dan

c. mengidentifikasi RS3 yang dapat digunakan oleh bakteri untuk menghasilkan SCFA secara optimum.

METODE PENELITIAN

Alat dan Bahan

(10)

19091-136 (60 m × 0.250 mm). Helium digunakan sebagai gas pembawa dengan laju 1.8 mL/menit. Nisbah split 40:1. Suhu oven dijaga pada 90 °C selama 0.5 menit, kemudian dinaikkan menjadi 110 °C dengan laju 10 °C/menit, dinaikkan lagi menjadi 170 °C dengan laju 5 °C/menit dan akhirnya dinaikkan menjadi 210 °C dengan laju 20 °C/menit. Suhu injektor dan detektor adalah 275 °C. Bahan-bahan yang digunakan adalah ubi jalar dari Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang. Galur bakteri diperoleh dari koleksi kultur mikroorganisme Balai Besar Veteriner Bogor. Enzim yang digunakan adalah enzim α -amilase dan pululanase, enzim ini diperoleh dari NOVO melalui distributornya di Jakarta.

Lingkup Penelitian

Pati ubi jalar diperoleh melalui ekstraksi ubi jalar mentah menggunakan air bersih. Pencirian pati dilakukan terhadap 3 varietas pati berbeda, meliputi kadar air, abu, lemak, protein, serat kasar, dan amilosa.

RS3 dibuat dari pati retrogradasi yang diberi perlakuan panas dan dihidrolisis dengan enzim dan asam. RS3 kemudian ditetapkan ciri kimianya. Proses fermentasi diterapkan untuk mengevaluasi sifat fungsional RS3. Dua jenis bakteri penghasil butirat dilibatkan dalam fermentasi RS3, yaitu C. butyricum dan E. rectale; keduanya adalah bakteri penghasil butirat yang secara normal ditemukan di dalam kolon. Analisis aktivitas SCFA dilakukan untuk menentukan metode hidrolisis terbaik dalam produksi SCFA yang dilakukan. Skema penelitian dicantumkan dalam Gambar 1.

Pencirian Pati Ubi Jalar

Pencirian pati dilakukan terhadap 3 varietas pati berbeda, meliputi pencirian kadar air, abu, lemak, protein, serat kasar, amilosa, dan mikroskop polarisasi pati. Kadar air, abu, lemak, protein, serat kasar, dan amilosa dianalisis dengan metode standar AOAC (2000).

Retrogradasi Pati

Retrogradasi berupa proses pemanasan dan pendinginan pada pati. Sebanyak 50 g pati dilarutkan ke dalam 250 mL akuades kemudian dipanaskan hingga homogen dan mengental berbentuk gel. Gel dikemas dalam plastik tahan panas, udara di dalam plastik

dihilangkan dengan vakum, kemudian gel diautoklaf selama 30 menit pada suhu 121 °C. Gel didinginkan pada suhu ruang selama 1 jam, kemudian disimpan pada 4 °C selama 24 jam.

Hidrolisis Pati dan Produksi RS3

Hidrolisis untuk memotong polimer pati menggunakan enzim dan asam dilakukan pada produksi RS3. Setiap sampel hasil retrogradasi ditambah 1250 mL akuades dan dihaluskan dengan blender. Untuk hidrolisis asam, sampel dipanaskan pada suhu 90 °C sambil diaduk, lalu ditambahkan HCl 2 N hingga pH 1 pada suhu 90 °C dan diaduk selama 30 menit. Untuk hidrolisis enzimatik, enzim pululanase ditambahkan sebanyak 1.0 mL pada suhu 60 °C dan diaduk selama 3 jam, sedangkan enzim α-amilase ditambahkan sebanyak 0.1 mL pada suhu 45 °C dan diaduk selama 3 jam. Setiap sampel didinginkan pada suhu ruang selama 1 jam, kemudian disimpan pada 4 °C selama 24 jam. Sampel dicuci dan disaring, kemudian dibilas dengan 1000 mL akuades, dan disimpan kembali pada 4 °C selama 24 jam. Setelah dicuci dan disaring kembali, sampel dikeringkan menggunakan drum pengering.

Pencirian dan Penentuan Derajat Polimerisasi RS3

Kadar RS3 dianalisis menurut metode Goni et al. (1996). Analisis dilakukan secara triplo. Tahapan untuk analisis RS ialah sebagai berikut. Sampel (100 mg) ditambah dengan 10 mL KCl-HCl pH 1.5. Sebanyak 0.2 mL larutan pepsin (1 g pepsin/10 mL bufer KCl-HCl) ditambahkan ke dalamnya, dan diinkubasi 37 °C selama 1 jam dengan pengadukan konstan. Sampel ditambah dengan 9 mL bufer tris-maleat pH 6.9 (pH disesuaikan dengan HCl 2 M atau NaOH 0.5 M). Larutan enzim α-amilase (40 mg α -amilase/mL bufer tris-maleat) dan pululanase (40 mg pululanase/mL bufer tris-maleat) masing-masing ditambahkan ke dalamnya, diinkubasi pada 37 °C, 16 jam, dengan pengocokan konstan. Campuran disentrifus (3000 rpm, 15 menit), supernatan dibuang.

(11)

ditambahkan, diinkubasi selama 45 menit pada suhu 60 °C dengan pengadukan konstan. Campuran disentrifus (15 menit, 3000 rpm) dan supernatannya dikumpulkan di dalam labu takar. Residu dibilas dengan 10 mL akuades, bilasan disatukan dengan supernatan, kemudian ditera hingga volume 25‒1000 mL.

Bergantung pada kadar RS, sentrifus dapat diganti dengan filtrasi. Kadar glukosa total di dalam supernatan dihitung dengan metode fenol sulfat. Kadar RS dihitung sebagai total glukosa × 0.9.

Gambar 1 Lingkup penelitian. Metode hidrolisis terpilih

Hidrolisis pati

Retrogradasi: Proses pemanasan dan pendinginan

α-Amilase Pululanase HCl 2M

Pencirian dan penentuan derajat polimerisasi RS3 RS3

Pati: Ubi jalar

Pencirian pati

Fermentasi

Analisis aktivitas SCFA

(12)

Derajat polimerisasi (DP) pada setiap fraksi ditentukan dengan filtrasi gel pada kolom Sephadex G-25 (Lu et al. 1996). Total karbohidrat di setiap fraksi ditentukan dengan metode fenol-asam sulfat dan konsentrasinya dipantau pada panjang gelombang 490 nm (AOAC 2005). Nilai gula pereduksi ditentukan dengan metode dinitrosalisilat dan konsentrasinya dipantau pada panjang gelombang 540 nm (AOAC 2000). DP merupakan nisbah antara total karbohidrat dan nilai gula pereduksi.

Fermentasi (in vitro)

Dua galur bakteri yang digunakan untuk penelitian ialah C. butyricum dan E. rectale. Galur bakteri (dalam keadaan terliofilisasi) diaktifkan kemudian dipelihara di dalam medium sesuai dengan rekomendasi dari kolektornya. C. butyricum di dalam medium RCM (reinforced clostridial medium) dan E. rectale dalam medium PYG (pepton yeast glucose) yang dimodifikasi. Komposisi kedua jenis medium dicantumkan dalam Lampiran 1. Kultur disegarkan secara berkala. Kultur stok disiapkan untuk setiap galur.

Kultur stok diinokulasi ke dalam tabung yang berisi 20 mL medium RS3. Nilai pH medium diatur pada pH 7, sesuai dengan pH kolon. Tabung diinkubasi secara anaerob pada suhu 37 °C selama 48 jam. Setiap galur ditumbuhkan dalam medium basal yang mengandung 10 g RS3. Sel bakteri dipisahkan dengan cara sentrifugasi.

Analisis Aktivitas SCFA

SCFA diukur menggunakan GC dengan 3 kali ulangan. Standar yang digunakan dalam analisis adalah asetat, propionat, dan butirat. Kalibrasi standar dicantumkan dalam Lampiran 2.

Analisis Statistika

Analisis statistik yang diterapkan adalah ANOVA dua-arah yang dilanjutkan dengan uji pembeda Tukey. Perangkat lunak SPSS 15.0 digunakan untuk keperluan tersebut.

Korelasi antara aktivitas enzim dan produksi SCFA dengan perbandingan antara aktivitas enzim dan HCl yang digunakan juga dianalisis.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ciri Kimia dan Visual Pati Ubi Jalar

Sebelum digunakan sebagai bahan dasar pembuatan RS3, pati ubi jalar varietas cangkuang dianalisis ciri kimianya dan dibandingkan dengan 2 varietas pati ubi jalar lainnya. Berdasarkan pengamatan (Tabel 1), sampel yang digunakan telah memenuhi persyaratan dalam pembentukan RS3, yaitu kadar amilosa lebih besar dari 30.00% dengan kadar abu, lemak, protein, dan serat kasar yang sangat rendah. Banyak faktor yang memengaruhi terbentuknya RS3, termasuk pati yang tidak dapat diakses secara fisik. Struktur granular pati, dan derajat retrogradasi dapat membatasi kecernaan pati (Topping & Clifton 2001). Dua varietas lainnya, yaitu salosa dan ace tidak digunakan untuk analisis lebih lanjut karena kadar amilosa berada di bawah 30.00%. Retrogradasi pati akan menghasilkan polimer linear berantai pendek yang tidak larut dan bersifat resisten terhadap enzim pencernaan. Oleh karena itu, sumber pati beramilosa tinggi akan memiliki kadar RS yang tinggi pula.

Tabel 1 Ciri kimia sampel ubi jalar varietas cangkuang dibandingkan dengan 2 varietas lainnya

Komponen (%)

Varietas

Cangkuang Salosa Ace Air 19.10 10.53 10.30

Abu 0.90 0.55 0.21

Lemak 1.88 1.99 0.46

(13)

Gambar 2 Mikroskop polarisasi pati ubi jalar varietas cangkuang dengan perbesaran 200X.

Kisaran diameter pati varietas cangkuang yang dilihat dari mikroskop polarisasi dengan perbesaran 200X berada antara 8.0 µm dan 70.6 µm. Kisaran rerata dari 5 titik pengamatan varietas cangkuang sebesar 34.88 µ m. Kisaran diameter berpengaruh pada laju hidrolisis, yaitu laju hidrolisis akan semakin cepat bila ukuran granul pati semakin kecil. Secara visual, pati ubi jalar berwarna putih gading dan warna antar varietas tidak dapat dibedakan.

Pati Retrogradasi

Pati retrogradasi berbentuk gel bening dengan warna abu-abu. Proses pembuatan pati retrogradasi melalui 2 tahap, yakni (1) gelatinisasi yang menyebabkan struktur granul mengembang akibat penyerapan air yang berlebih selama pemanasan, (2) retrogradasi pati yang mengakibatkan rekristalisasi rantai

amilosa dan amilopektin. Proses gelatinisasi menyebabkan pati lebih mudah tercerna dibandingkan dalam bentuk mentahnya, tetapi gel pati tersebut tidak stabil dan membentuk kristal saat pendinginan. Peristiwa tersebut dinamakan retrogradasi. Menurut Wunderlich (1976), mekanisme retrogradasi melalui 3 tahapan, yakni nukleasi, pertumbuhan kristal, dan tahap penyempurnaan.

Hidrolisat Pati dan Produk RS3

Hidrolisat pati berupa cairan kuning kecokelatan, yakni gula sederhana yang kemudian dipisahkan dari fraksi pati yang tidak dapat terhidrolisis. Fraksi pati yang tidak dapat terhidrolisis ini yang kemudian disebut pati taktercerna (RS3). Rendemen (Tabel 2) paling tinggi didapat dari hidrolisis menggunakan enzim pululanase, yakni hampir 50%.

Tabel 2 Rendemen RS3 hasil hidrolisis menggunakan HCl 2 N, α-amilase, danpululanase

Bobot HCl 2 N α-Amilase Pululanase

Sebelum (g) 50.00 50.00 50.00

Sesudah (g) 3.31 1.14 24.05

(14)

Gambar 3 Skema hidrolisis pati menggunakan enzim (Mathewson 1998).

Enzim-enzim pencerna pati meliputi α- dan β amilase, glukoamilase, dan isoamilase atau pululanase (Mathewson 1998). Enzim α -amilase (EC 3.2.1.1) merupakan enzim penghidrolisis yang memotong ikatan glikosidik α-(1,4) secara acak dari bagian dalam molekul pati; enzim ini dikenal dengan endoamilase. Enzim β-amilase (EC 3.2.1.2) menghidrolisis ikatan β-(1,4) dari ujung nonpereduksi dan menghasilkan maltosa. Glukoamilase (EC 3.2.1.3) mengonversi maltosa dan fragmen besar pati (hasil hidrolisis α- dan β-amilase) menjadi glukosa. Isoamilase memotong ikatan α-(1,6). Skema hidrolisis pati menggunakan enzim terlihat pada Gambar 3.

Hidrolisis secara enzimatis memiliki perbedaan mendasar dengan hidrolisis secara asam. Hidrolisis secara enzimatis memutus rantai pati secara spesifik pada ikatan glikosidik tertentu, sedangkan hidrolisis secara asam memutus rantai pati secara acak. Pada hidrolisis dengan asam, parameter suhu dan konsentrasi asam saling berinteraksi. Semakin tinggi konsentrasi asam, semakin rendah suhu proses, dan sebaliknya. Suhu dan konsentrasi asam terbaik untuk proses likuifikasi pati ubi jalar jenis unggul adalah 95 °C dan pH 1 (Ega 2002).

Ciri Kimia dan Derajat Polimerisasi RS3

Kadar pati taktercerna yang didapat setelah proses hidrolisis berturut-turut menggunakan HCl 2 N, α-amilase, dan

pululanase adalah 15%, 20%, dan 12%. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi terjadinya perbedaan kadar pati taktercerna, di antaranya pemotongan rantai pada saat hidrolisis, kisaran diameter pati, dan faktor penghambat hidrolisis seperti adanya lipid dan protein. Adanya kompleks rantai dengan lipid dapat menghambat pembentukan RS (Mangala et al. 1999).

DP merupakan jumlah struktur berulang dalam rantai polimer. Polimer dengan DP besar (>104) disebut polimer tinggi, sedangkan polimer dengan DP rendah (<104) disebut oligomer. Derajat polimerisasi RS3 hasil hidrolisis dengan HCl 2 N, α-amilase, dan pululanase secara berturut-turut sebagai berikut: 15, 18, dan 25 residu. Setelah hidrolisis, rantai glukosa RS3 yang dibentuk lebih pendek dibandingkan dengan rantai glukosa pati. Salah satu syarat pembentukan RS adalah rantai glukosa pati dengan panjang rantai 30‒40 residu (Mangala et al. 1999). Hidrolisis rantai amilosa oleh enzim berlangsung secara terus-menerus hingga tersisa rantai glukosa 10‒20 unit. Pada rantai amilopektin, enzim α-(1,4) bekerja dengan cara menyisakan rantai glukosa 10-20 unit dan menyisakan fragmen percabangan yang mengandung ikatan glikosidik α-(1,4) (Mathewson 1998). Penentuan DP berdasarkan nisbah antara nilai total karbohidrat dan nilai gula pereduksi pada hasil hidrolisis setiap sampel. Derajat polimerisasi RS3 terlihat pada Tabel-3. Ujung pati mereduksi

α

- amilase

α

- amilase

pululanase

(15)

Tabel 3 Derajat polimerisasi produk hidrolisis dengan menggunakan HCl 2 N, α-amilase, dan pululanase

Gula pereduksi (mg/mL) Total karbohidrat (mg/mL) DP

HCl 2 N 4.00 58.05 14.5

α-Amilase 3.00 52.48 17.5

Pululanase 2.32 57.08 24.6

Kurva fraksionasi menggambarkan besarnya DP berbanding lurus dengan area kurva yang terbentuk (Gambar 4). Semua hasil hidrolisis pati yang membentuk RS3 pada penelitian ini memiliki DP < 104, sehingga dapat digolongkan ke dalam oligomer. Data ini sejalan dengan perhitungan DP melalui nisbah total karbohidrat:gula pereduksi pada Tabel 3, yaitu tidak lebih dari 25 residu.

Produk Fermentasi (in vitro) dan Aktivitasnya

Fermentasi in vitro RS3 menghasilkan asam lemak rantai pendek, yakni asetat, propionat, dan butirat. Profil SCFA yang dihasilkan dengan menggunakan 3 macam perlakuan hidrolisis dan 2 macam bakteri penghasil butirat tercantum dalam Tabel 4. Hasil fermentasi selain SCFA adalah gas CO2, H2, dan CH4 serta produk lain seperti asam laktat, etanol, dan suksinat yang dibentuk oleh

tipe bakteri yang berbeda. Secara khusus, SCFA terutama butirat adalah sumber energi utama bagi sel-sel kolon. Hampir 70‒90% SCFA dimetabolisme oleh sel kolon. Metabolisme ideal SCFA terjadi pada nisbah butirat:propionat:asetat sebesar 90:30:50. Sekitar 70% konsumsi oksigen sel kolon diperoleh dari oksidasi SCFA terutama butirat (Cook & Sellin 1998). Penelitian ini menghasilkan nisbah butirat:propionat:asetat rerata sebesar 130:60:50. Hasil tersebut mendekati metabolisme ideal SCFA.

Produksi SCFA menggunakan media RCM jumlahnya mirip dengan produksi SCFA menggunakan media PYG pada setiap perlakuan hidrolisis, walaupun terdapat ragam kadar yang sangat nyata akibat perbedaan perlakuan hidrolisis yang digunakan. SCFA yang diperoleh dalam penelitian ini cocok dengan SCFA yang telah ditemukan beberapa peneliti lainnya yang dicantumkan dalam Tabel-5.

(16)

Tabel 4 Profil SCFA hasil fermentasi in vitro RS3 dengan masing-masing 3 kali ulangan dalam satuan mol/L

Media Hidrolisis Statistika Asetat Propionat Butirat

RCM

HCl 2 N Rerata 0.04 0.06 0.13

SD 0.01 0.02 0.03

α-Amilase Rerata 0.07 0.05 0.12

SD 0.02 0.02 0.04

Pululanase Rerata 0.06 0.07 0.13

SD 0.01 0.01 0.02

PYG

HCl 2 N Rerata 0.04 0.09 0.12

SD 0.02 0.03 0.02

α-Amilase Rerata 0.07 0.06 0.14

SD 0.01 0.02 0.02

Pululanase Rerata 0.03 0.07 0.12

SD 0.02 0.02 0.03

Tabel 5 SCFA temuan beberapa peneliti lainnya

Penelitian fermentasi Kondisi Medium Fermentasi SCFA (mmol/L) Asetat Butirat Reid et al.

1996

39 oC, 48 jam, pH 6,

50% CO2, 50% N2

Nutrient broth (Unipath, UK) + 0.5% pati kentang retrogradasi

4.6 23.57

Nutrient broth (Unipath, UK) + 1.0% pati kentang retrogradasi

8.43 36.17

Nutrient broth (Unipath, UK) + 0.5% pati kentang retrogradasi + 0.5 mg/mL

pankreatin

14.72 49.72

Nutrient broth (Unipath, UK) + 1.0% pati kentang retrogradasi + 0.5 mg/mL

pankreatin

33.77 76.51

Vandak et al. 1995

37 oC, pH 6.5, agitasi 150 rev/min,

N2

(g/L) : KH2PO4, 2; (NH4)2SO4, 2; MgSO4·7H2O, 0.6; FeSO4·7H2O, 0.03;

MnSO4·7H2O, 0.01; dadih, 30

33.31 112.36

(g/L) : KH2PO4, 2; (NH4)2SO4, 2; MgSO4·7H2O, 0.6; FeSO4·7H2O, 0.03; MnSO4·7H2O, 0.01; dadih, 30; ekstrak

ragi, 5

79.9 211.1

(g/L) : KH2PO4, 2; (NH4)2SO4, 2; MgSO4·7H2O, 0.6; FeSO4·7H2O, 0.03; MnSO4·7H2O, 0.01; dadih, 30 + biotin 50

µg/L

76.6 210

Purwani & Suhartono

2009

37 oC, botol tertutup, 48

jam

(g/L): ekstrak ragi, 3; bubuk daging, 10; pepton, 10; larutan kanji, 1; natrium

klorida, 5; natrium asetat, 3; sistein hidroklorida, 0.5; RS3 pati sagu dengan perlakuan pululanase, 2; Medium pH 6.8.

61.77 6.15

(g/L): ekstrak ragi, 3; bubuk daging, 10; pepton 10; larutan kanji, 1; natrium klorida, 5; natrium asetat, 3; sistein hidroklorida, 0.5; RS3 pati beras dengan perlakuan pululanase, 2; Medium pH 6.8.

(17)

Produksi SCFA tidak dipengaruhi oleh kadar RS3 substratnya, tidak juga dipengaruhi oleh DP dan rendemen yang dihasilkan setelah proses hidrolisis dengan 3 perlakuan yang berbeda. Hasil tersebut dikuatkan dengan analisis statistika lanjut (Tabel 6 dan 7).

Perlakuan hidrolisis pada media RCM memberikan hasil di bawah 0.05 pada tingkat kepercayaan 95%. Hal tersebut menjelaskan bahwa perlakuan hidrolisis tidak mempengaruhi produksi SCFA pada media RCM. Kejadian yang sama juga dapat dilihat pada media PYG pada Tabel 7.

SIMPULAN

Ubi jalar varietas cangkuang mampu memproduksi RS3 dengan kemampuan pembentukan SCFA. Dibandingkan dengan HCl 2N dan α-amilase, pululanase merupakan katalis terbaik dalam pembentukan RS3. Penggunaan medium RCM dan PYG tidak menghasilkan SCFA yang berbeda nyata pada 3 macam perlakuan hidrolisis yang digunakan yaitu HCl 2N, α-amilase, dan pululanase. Tidak ada pengaruh kadar RS3 dan derajat polimerisasi dalam produksi SCFA.

Produksi SCFA menggunakan katalis pululanase dalam hidrolisis pembentukan RS3 disarankan karena menghasilkan rendemen 7 kali lebih banyak dibandingkan katalis HCl 2N dan 21 kali lebih banyak dibandingkan katalis α-amilase, untuk digunakan dalam produksi SCFA.

Tabel 6 Analisis statistik SCFA dari C. butyricum pada perlakuan hidrolisis yang berbeda

Perlakuan (i) Perlakuan (j) Perbedaan

rerata (i-j) Galat baku Sig Tingkat kepercayaan 95%

HCl 2 N α-Amilase -0.0056 0.00912 0.817 0.0177

Pululanase -0.0100 0.00912 0.528 0.0133

α-Amilase Pululanase -0.0044 0.00912 0.878 0.0188

HCl 2 N 0.0056 0.00912 0.817 0.0288

Pululanase α-Amilase 0.0044 0.00912 0.878 0.0277

HCl 2 N 0.0100 0.00912 0.528 0.0333

Tabel 7 Analisis statistik SCFA dari E. rectale pada perlakuan hidrolisis yang berbeda

Perlakuan (i) Perlakuan (j) Perbedaan

rerata (i-j) Galat baku Sig Tingkat kepercayaan 95%

HCl 2 N α-Amilase -0.0078 0.01058 0.746 0.0192

Pululanase 0.0111 0.01058 0.556 0.0381

α-Amilase Pululanase 0.0189 0.01058 0.203 0.0259

HCl 2 N 0.0078 0.01058 0.746 0.0348

Pululanase α-Amilase -0.0189 0.01058 0.203 0.0081

(18)

DAFTAR PUSTAKA

[AOAC] Association of Official Analytical Chemists. 2005. Official Methods of Analysis. Ed ke-18. Maryland: AOAC. Augenlicht et al. 2002. Short chain fatty acid

and colon cancer. Am Soc Nutr Sci Supl 3804-3808.

Bird A, Brown IL, Topping DL. 2000. Starches, resistant starches, the gut microflora and human health. Curr Issues Intest Microbiol 1:25-37.

Cook SI, Sellin JH. 1998. Review article: Short chain fatty acids in health and desease. Aliment Pharmacol Ther 12:499-507.

[EURESTA] European Flair Concerted Action on Resistant Starch. 1993. Wageningen: Wageningen University. Ega L. 2002. Kajian sifat fisik dan kimia serta

pola hidrolisis pati ubi jalar jenis unggul secara enzimatis dan asam [disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Goni I, Garcia-Diz L, Manas E, Saura-Calixto F. 1996. Analysis of resistant starch: A method for foods and food products. Food Chem 56:445-449.

Lu S, Ching-Yung C, Cheng-Yi L. 1996. Gel chromatography fractionation and thermal characterization of rice starch affected by hydrothermal treatment. Cereal Chem 73:5-11.

Mangala SL, Udayasankar K, Tharanathan RN. 1999. Resistant starch from processed cereals: The influence of amylopectin and

non-carbohydrate constituents in its formation. Food Chem 64:391-396. Mathewson RP. 1998. Common enzyme

reaction. Cereal Food World 47:798-807. Purwani EY, Suhartono MT. 2009. Study on

resistant starch type 3 derived from rice and sago as functional food ingredient with capability to prevent colorectal cancer (CRC) disease [laporan akhir]. Jakarta: Indonesian Danone Institute Foundation, (tidak dipublikasikan). Ramsay AG, Scott KP, Martin JC, Rincon

MT, Flint HJ. 2006. Cell-associated α -amylases of butyrate-producing Firmicute bacteria from the human colon. Microbiol 152:3281-3290.

Reid CA, Hillman K, Henderson C, Glass H. 1996. Fermentation of native and processed starches by the porcine fecal anaerobe CIostridium butyricum (NCIMB 7423). J Appl Bacteriol 80:191-198. Sajilata MG, Singhai RS, Kulkarni PR. 2006.

Resistant starch-a review. Comp Rev Food Sci Food Safety 5:1-17.

Topping DL, Clifton PM. 2001. Short-shain fatty acids and human colonic function: Roles of resistant starch and nonstarch polysaccharides. Physiol Rev 81:1031-1064.

Vandak D, Tomaska M. Zigova J, Sturdik E. 1995. Short note: Effect of growth supplement and whey pretreatment on butyric acid production by Clostridium butyricum. World J Microbiol Biotechnol 11:363.

(19)

Lampiran 1 Komposisi medium RCM dan PYG

Medium pertumbuhan

C. butyricum

yang digunakan adalah RCM

(

reinforced clostridial medium

), selanjutnya disebut sebagai medium basal.

Komposisi RCM

Komponen

Jumlah (g/liter)

Ekstrak ragi

3.0

Serbuk `Lab-Lemco’ (ekstrak kaldu sapi)

10.0

Pepton

10.0

Glukosa

5.0

Larutan kanji

1.0

Natrium klorida

5.0

Natrium asetat

3.0

Sistein hidroklorida

0.5

Seluruh bahan tersebut, kecuali sistein hidroklorida dicampur, kemudian pH

medium diatur menjadi 6.8 dan ditambahkan indikator potensial redoks resazurin

sebesar 0.1 mL/100 mL. Penambahan resazurin akan menyebabkan warna

medium menjadi merah muda saat dipanaskan. Campuran medium tersebut

dididihkan hingga indikator resazurin berubah warna dari merah muda menjadi

tidak berwarna, kemudian didinginkan dengan diembusi gas CO

2.

Setelah dingin,

sistein hidroklorida ditambahkan dan diaduk rata. Medium dimasukkan ke dalam

tabung reaksi bertutup, kemudian disterilisasi pada 121 °C selama 20 menit.

Media dapat disimpan pada suhu beku sebelum digunakan.

Medium pertumbuhan

E. rectale

yang digunakan adalah PYG (

pepton yeast

glucose

) yang dimodifikasi.

Komposisi medium PYG

Komponen

Jumlah

Unit

Tripticase pepton

5.00

g

Pepton

5.00

g

Ekstrak ragi

10.00

g

Ekstrak daging

5.00

g

Glukosa

5.00

g

K

2

HPO

4

2.00

g

Tween 80

1.00

mL

Resazurin

1.00

mg

Larutan garam (lihat bawah)

40.00

mL

Akua distilata

950.00

mL

Larutan haemin (lihat bawah)

10.00

mL

Larutan Vitamin K1 (lihat bawah)

0.20

mL

(20)

Larutan campuran mineral

Mineral

Jumlah

Unit

CaCl

2

·2 H

2

O

0.25

g

MgSO4·7 H2O

0.50

g

K2HPO4

1.00

g

KH

2

PO

4

1.00

g

NaHCO

3

10.00

g

NaCl

2.00

g

Akuades

1000.00

mL

Larutan Haemin:

Sebanyak 50 mg haemin dilarutkan dalam 1 mL NaOH 1 N, dijadikan 100

mL dengan akuades, dan disimpan dalam lemari pendingin.

Vitamin K1

Sebanyak 0.1 mL vitamin K1 dilarutkan dalam 20.00 mL etanol 95%, dan

disaring-steril. Setelah itu, disimpan di dalam botol cokelat.

(21)

Lampiran 2 Kalibrasi standar SCFA

Kurva standar

Std (µL/mL)

Asetat

Propionat

Butirat

10

2.62544

7.26075

9.53571

20

9.08551

13.71954

17.43600

30

17.41830

22.54874

26.73470

50

28.46358

40.34441

43.52949

Kurva standar asetat

Kurva standar propionat

y= 0.651x- 3.512

R² = 0.993

0 5 10 15 20 25 30 35

0 10 20 30 40 50 60

A

re

a

µL/mL

y= 0.839x- 2.105

R² = 0.996

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45

0 10 20 30 40 50 60

A

re

a

(22)

Kurva standar butirat

Analisis sampel

Media

Perlakuan

Hidrolisis

Ulangan

Konsentrasi (mol/L)

Asetat

Propionat

Butirat

RCM

α

-Amilase

1

0.09

0.04

0.15

2

0.06

0.05

0.08

3

0.07

0.07

0.12

pululanase

1

0.05

0.06

0.14

2

0.07

0.08

0.14

3

0.06

0.06

0.11

HCl 2 N

1

0.04

0.06

0.12

2

0.04

0.08

0.16

3

0.03

0.04

0.11

PYG

α

-Amilase

1

0.06

0.04

0.14

2

0.06

0.07

0.12

3

0.08

0.08

0.16

pululanase

1

0.05

0.06

0.09

2

0.02

0.05

0.15

3

0.01

0.09

0.12

HCl 2 N

1

0.02

0.05

0.11

2

0.04

0.11

0.11

3

0.05

0.10

0.15

y= 0.855x+ 0.781

R² = 0.999

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50

0 10 20 30 40 50 60

A

re

a

Gambar

Gambar 1  Lingkup penelitian.
Tabel 1  Ciri kimia sampel ubi jalar varietas cangkuang dibandingkan dengan 2 varietas lainnya
Tabel 2  Rendemen  RS3 hasil hidrolisis menggunakan HCl 2 N, α-amilase, dan pululanase
Gambar 3  Skema hidrolisis pati menggunakan enzim (Mathewson 1998).
+3

Referensi

Dokumen terkait

Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Juli 2003 ini ialah asam fitat dan ketersediaan mineral, dengan judul Rasio Molar Asam Fitat : Zn untuk

Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Juli 2003 ini ialah asam fitat dan ketersediaan mineral, dengan judul Rasio Molar Asam Fitat : Zn untuk

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hidrolisis asam basa isopulegil asetat (IPA) pada konversi sitronelal menjadi isopulegol.. Metode penelitian dilakukan dalam

Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan November 2014 ini ialah manajemen rantai pasokan, dengan judul Analisis Kesiapan Manajemen Rantai Pasok

Proses modifikasi secara fisik juga dilakukan pada pati garut alami untuk membandingkan daya cerna antara pati yang mengalami hidrolisis asam terlebih dahulu

Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Juli 2003 ini ialah asam fitat dan ketersediaan mineral, dengan judul Rasio Molar Asam Fitat : Zn untuk

Untuk dapat menghilangkan asam lemak trans secara total perlu dilakukan optimasi perbandingan urea dan asam lemak pada metode kompleksasi urea yang digunakan, sehingga

Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2007 ini ialah polimer, dengan judul Degradasi Poliblend Kopolimer Poli(asam laktat-co-asam glikolat)