ANALISIS DAYASAING INDUSTRI PULP DAN KERTAS
INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL
RIZKA ASTI WULANDARI
DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Dayasaing Industri Pulp dan Kertas Indonesia di Pasar Internasional adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
ABSTRAK
RIZKA ASTI WULANDARI. Analisis Dayasaing Industri Pulp dan Kertas Indonesia di Pasar Internasional. Dibimbing oleh BINTANG C.H. SIMANGUNSONG.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dayasaing produk pulp dan kertas Indonesia, khususnya chemical wood pulp, newsprint, printing-writing paper dan other paper-paperboard di pasar internasional, untuk periode 2002-2011. Indeks Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) dihitung untuk menentukan keunggulan komparatif dan kompetitif, berturut-turut. Teknik Constant Market Share (CMS) digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi dayasaing produk tersebut. Hasil penelitian menunjukkan semua produk memiliki keunggulan komparatif. Produk printing-writing paper dan chemical wood pulp memiliki keunggulan komparatif sangat kuat, newsprint memiliki keunggulan komparatif yang kuat sedangkan other paper-paperboard memiliki keunggulan komparatif moderat. Selain itu, indeks ISP menunjukkan semua produk memiliki keunggulan kompetitif. Produk newsprint dan printing and writing paper berada pada tahap pematangan ekspor, sedangkan chemical wood pulp dan other paper and paperboard pada tahapan perluasan ekspor. Berdasarkan analisis CMS, dalam urutan kepentingannya, pertumbuhan pasar dunia, dayasaing, dan komposisi produk adalah faktor-faktor yang berpengaruh.
Kata kunci: dayasaing, RCA, ISP, CMS
ABSTRACT
RIZKA ASTI WULANDARI. Competitiveness Analysis of Indonesian Pulp and Paper Industry in International Market. Supervised by BINTANG C.H. SIMANGUNSONG.
The objective of this research is to analyze competitiveness of Indonesia pulp and paper products, particularly chemical wood pulp, newsprint, printing-writing paper and other paper-paperboard in international market for the period 2002-2011. RCA and ISP Index were then calculated to determine comparative and competitive advantage, respectively. CMS technique was also used to identify factors that affect competitiveness those products. Result show all products have comparative advantage. Printing-writing paper and chemical wood pulp have extremely strong comparative advantage, newsprint has a strong comparative advantage, and other paper-paperboard has a moderate comparative advantage. In addition, ISP index indicated that all products have competitive advantage. Newsprint and printing-writing paper were in maturation stage whereas chemical wood pulp and other paper-paperboard in export expansion stage. Based on CMS analysis, in order of importance world market growth, competitiveness, and product composition were the influential factors.
RINGKASAN
RIZKA ASTI WULANDARI. E24090023. Analisis Dayasaing Industri Pulp dan Kertas Indonesia di Pasar Internasional. Dibimbing oleh Ir Bintang CH Simangunsong, MS, PhD
Industri pulp dan kertas merupakan salah satu industri yang memegang peranan penting bagi perekonomian Indonesia. Pada pasar dunia, industri pulp dan kertas Indonesia memperlihatkan perkembangan yang cukup baik dalam satu dekade terakhir, yaitu pada tahun 2002 menempati peringkat 12 sebagai eksportir kertas dan meningkat ke peringkat 9 pada tahun 2011. Sementara untuk produk pulp, Indonesia tetap bertahan di peringkat 6 sebagai eksportir pulp dunia pada periode tersebut (FAO 2013). Di lain pihak, dominasi dari negara-negara NORSCAN mulai berkurang dan bergeser ke Asia dan negara-negara Amerika Latin (Agro Kemeneperin 2009). Indonesia harus mampu memanfaatkan peluang tersebut dengan baik sebab persaingan global semakin keras dan persyaratan yang diterapkan juga semakin lama semakin ketat. Isu tentang perdagangan dan lingkungan bertema Green Economic yang terus diusung dan digalakkan oleh dunia Internasional. Indonesia perlu meningkatkan dayasaingnya agar produk tersebut dapat bertahan di pasar internasional.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dayasaing produk pulp dan kertas Indonesia, khususnya chemical wood pulp, newsprint, printing-writing paper dan other paper-paperboard di pasar internasional, untuk periode 2002-2011. Indeks Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) dihitung untuk menentukan keunggulan komparatif dan kompetitif, berturut-turut. Teknik Constant Market Share (CMS) digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi dayasaing produk tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan semua produk memiliki keunggulan komparatif. Produk printing-writing paper dan chemical wood pulp memiliki keunggulan komparatif sangat kuat, newsprint memiliki keunggulan komparatif yang kuat sedangkan other paper-paperboard memiliki keunggulan komparatif moderat. Selain itu, indeks ISP menunjukkan semua produk memiliki keunggulan kompetitif. Produk newsprint dan printing and writing paper berada pada tahap pematangan ekspor, sedangkan chemical wood pulp dan other paper and paperboard pada tahapan perluasan ekspor. Berdasarkan analisis CMS, dalam urutan kepentingannya, pertumbuhan pasar dunia, dayasaing, dan komposisi produk adalah faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan dayasaing.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan
pada
Departemen Hasil Hutan
ANALISIS DAYASAING INDUSTRI PULP DAN KERTAS
INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL
DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2013
Judul Skripsi : Analisis Dayasaing Industri Pulp dan Kertas Indonesia di Pasar Internasional
Nama : Rizka Asti Wulandari NIM : E24090023
Disetujui oleh
Ir Bintang C.H. Simangunsong, MS, PhD Pembimbing
Diketahui oleh
Prof Dr Ir I Wayan Darmawan, MSc Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala berkah dan karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Ir Bintang C.H. Simangunsong, MS, PhD selaku pembimbing yang selalu memberikan arahan dan motivasi. Di samping itu, penghargaan juga penulis sampaikan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang turut membiayai penyelesaian karya ilmiah ini. Ungkapan terima kasih yang mendalam penulis sampaikan kepada ayah, ibu, adik-adik, serta seluruh keluarga atas segala doa dan kasih sayangnya. Tak lupa ucapan terimakasih juga disampaikan kepada seluruh staff dan pengajar Departemen Hasil Hutan, teman-teman THH46 khususnya yang tergabung dalam Laboratorium Ekonomi Industri-Biokomposit, teman-teman Pondok Malea, teman-teman IFSA LC IPB, serta teman-teman QC KLI yang selalu memberikan dukungan dan semangat dalam penyelesaian karya ilmiah ini. Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih memiliki banyak kekurangan. Segala kritik dan saran akan penulis terima dengan senang hati dan bijaksana. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR GAMBAR viii
DAFTAR LAMPIRAN viii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 1
Manfaat Penelitian 2
TINJAUAN PUSTAKA 2
Pulp dan Kertas 2
Analisis Dayasaing 2
Revealed Comparative Advantage (RCA) 3
Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) 4
Constant Market Share (CMS) 5
Penelitian Terdahulu Mengenai Dayasaing 7
METODE PENELITIAN 8
Lokasi dan Waktu Penelitian 8
Jenis Data 8
Analisis Data 8
Analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) 9 Analisis Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) 9
Analisis Constant Market Share (CMS) 9
HASIL DAN PEMBAHASAN 10
Hasil 10
Analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) 10 Analisis Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) 10
Analisis Constant Market Share (CMS) 11
Pembahasan 13
Perkembangan dan pertumbuhan Ekspor Pulp dan Kertas Indonesia 13 Faktor Paling Berpengaruh terhadap Dayasaing 16 Strategi Peningkatan Dayasaing Pulp dan Kertas Indonesia 17
SIMPULAN DAN SARAN 18
Simpulan 18
Saran 18
DAFTAR PUSTAKA 19
LAMPIRAN 21
DAFTAR TABEL
1 Nilai Indeks RCA Produk Pulp dan Kertas Indonesia Periode
2002-2011 10
2 Nilai Indeks ISP Produk Pulp dan Kertas Indonesia Periode 2002-2011 11 3 Perbandingan Faktor Pertumbuhan Standar, Faktor Dayasaing, Faktor
Komposisi Komoditas terhadap Pertumbuhan Ekspor Indonesia Periode
2002-2011 11
DAFTAR GAMBAR
1 Kurva ISP berdasarkan Teori Siklus 5
2 Grafik Ekspor Pulp Kertas Indonesia dan Dunia 13
DAFTAR LAMPIRAN
1 Kode Produk dalam FAO dan Harmonized System 21
2 Tipe dan Sumber Data 21
3 Definisi FAO mengenai Produk Pulp 22
4 Definisi FAO mengenai Produk Kertas 23
5 Pertumbuhan Dunia dan Pertumbuhan Pasar Indonesia Setiap Periode
2002-2011 24
6 Faktor Pertumbuhan Standar, Dayasaing dan Komposisi Komoditas
Periode 2002-2011 24
7 Perhitungan RCA (Revealed Comparative Advantage) Produk Pulp dan
Kertas Periode 2002-2011 25
8 Perhitungan ISP (Indeks Spesialisasi Perdagangan) Produk Pulp dan
Kertas Periode 2002-2011 25
9 Perhitungan CMS (Constant Market Share) Produk Pulp dan Kertas
Periode 2002-2011 26
10 Perhitungan CMS (Constant Market Share) Produk Pulp dan Kertas
Periode 2002-2006 26
11 Perhitungan CMS (Constant Market Share) Produk Pulp dan Kertas
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Industri pulp dan kertas merupakan salah satu industri yang memegang peranan penting bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan data FAO (2013) total nilai ekspor Indonesia pada tahun 2011 untuk produk pulp sebesar 1,554 juta dolar sedangkan untuk produk kertas sebesar 3,544 juta dolar. Pada pasar dunia, industri pulp dan kertas Indonesia memperlihatkan perkembangan yang cukup baik dalam satu dekade terakhir yaitu pada tahun 2002 Indonesia menempati peringkat 12 sebagai eksportir kertas dan meningkat ke peringkat 9 pada tahun 2011. Sementara untuk produk pulp, Indonesia mempertahankan peringkat 6 sebagai eksportir pulp dunia dengan total ekspor pulp pada tahun 2002 sebesar 2.25 juta ton dan pada tahun 2011 sebesar 2.93 juta ton (FAO 2013).
Peningkatan volume ekspor pulp dan kertas tersebut menggambarkan kedua produk ini memberikan prospek yang cerah dan diharapkan dapat menjadi produk andalan perekonomian di masa yang akan datang. Hal tersebut semakin didukung dengan fakta yang terjadi yakni dominasi dari negara-negara NORSCAN mulai berkurang dan bergeser ke Asia dan negara-negara Amerika Latin. Negara-negara NORSCAN tersebut mulai merasakan kesulitan dalam pengembangan potensi bahan bakunya ditambah dengan biaya produksi yang relatif lebih mahal akibat kenaikan harga minyak dunia (Agro Kemeneperin 2009). Indonesia harus mampu memanfaatkan peluang tersebut dengan baik sebab persaingan global semakin keras dan persyaratan yang diterapkan juga semakin lama semakin ketat. Isu tentang perdagangan dan lingkungan bertema Green Economic terus diusung dan digalakan oleh dunia Internasional. Berdasarkan konferensi ITTO yang diadakan di Bali pada bulan Mei 1990, ditetapkan bahwa tahun 2000 merupakan awal diberlakukannya kebijakan ekolabel secara menyeluruh pada setiap produk kayu tropis (Suratomo 2000). Indonesia sebagai negara anggota konferensi juga turut memberlakukan kebijakan ekolabel tersebut. Hal tersebut diawali dengan dikeluarkannya UU No.2 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup dan UU No. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dan baku mutu lingkungan.
Kebijakan ekolabel ini akan berdampak pada akses pasar dan dayasaing internasional termasuk pada industi pulp dan kertas (Karina 2009). Istilah dayasaing mengacu kepada kemampuan suatu negara untuk memasarkan produk yang dihasilkan terhadap kemampuan negara lain. Dayasaing industri pulp dan kertas Indonesia tersebut dapat diketahui dengan suatu analisis. Penelitian ini akan mencoba menganalisis dan membahas dayasaing Industri Pulp dan Kertas Indonesia yang terjadi dalam 1 dekade pada periode 2002-2011 setelah diberlakukannya kebijakan ekolabel.
Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah
2
wood pulp, newsprint, printing-writing paper dan other paper-paperboard pada periode 2012-2011
2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan dayasaing produk chemical wood pulp, newsprint, printing-writing paper dan other paper-paperboard pada periode 2002-2011.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa informasi mengenai dayasaing produk pulp dan kertas Indonesia, khususnya chemical wood pulp, newsprint, printing-writing paper dan other paper-paperboard di pasar internasional, untuk periode 2002-2011.
TINJAUAN PUSTAKA
Pulp dan Kertas
Pulp merupakan bahan serat yang didapat dari hasil pengolahan bahan berselulosa dengan cara mekanis, kimia atau semikimia dengan bahan dasar kayu, kertas, papan serat, rayon serta turunan selulosa lainnya. Berdasarkan FAO (2013), pulp berbahan baku kayu (wood pulp) merupakan produk agregat yang terdiri dari mechanical wood pulp, semi-chemical wood pulp, chemical wood pulp dan dissolving wood pulp. Adapun definisi untuk masing-masing produk secara lengkap terdapat pada lampiran 3.
Kertas merupakan produk yang terbuat dari serat yang dinding terluarnya telah dihancurkan melalui proses mechanical pre treatment. Menurut klasifikasi FAO (2013), produk kertas dimasukkan kedalam kelompok paper-paperboard yang merupakan produk agregat meliputi newsprint, printing-writing paper dan other paper-paperboard yang definisinya secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 4.
Analisis Dayasaing
Dayasaing mengacu kepada kemampuan suatu negara untuk memasarkan produk yang dihasilkan terhadap kemampuan negara lain. Dayasaing juga dapat diartikan sebagai kemampuan suatu produk untuk memasuki pasar luar negeri dan dapat bertahan di dalam pasar tersebut serta kaitannya dengan minat konsumen. Menurut Porter (1990) dayasaing sering dikaitkan dengan produktivitas atau tingkat output yang dihasilkan pada setiap unit yang digunakan. Terdapat berbagai faktor yang dapat menentukkan dayasaing yaitu faktor produksi, faktor pemasaran, faktor keuangan, faktor SDM, dan lingkungan bisnis. Selain itu faktor-faktor penting lainnya seperti masalah lingkungan dan sosial juga menjadi salah satu faktor yang turut menentukkan karena adanya tuntutan pasar yang mengarah kepada produk hijau dan pengembangan masyarakat (Rosadi 2005).
3 atau dapat dikembangkan atau diciptakan (Tambunan 2001). Keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang dimiliki oleh suatu negara untuk dapat bersaing di pasar internasional (Rashid et al 2012) sedangkan keunggulan komparatif diartikan sebagai kemampuan suatu negara untuk memproduksi suatu barang atau jasa dengan biaya marginal dan opportunity cost yang lebih rendah dibandingkan dengan negara lain dengan kata lain dapat diartikan sebagai kemampuan suatu negara dalam memproduksi barang atau jasa secara efisien (Tambunan 2001).
Terdapat beberapa metode yang digunakan untuk mengetahui dan menghitung keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif tersebut. Untuk menghitung keunggulan komparatif dapat dilakukan dengan menggunakan metode RCA (Revealed Comparative Advantage) sedangkan keunggulan kompetitif dapat dihitung dengan menggunakan metode ISP (Indeks Spesialisasi Perdagangan). Selain keunggulan komparatif dan kompetitif, faktor yang berpengaruh terhadap dayasaing ekspor juga perlu diketahui. Metode yang digunakan untuk mengukur dinamika tingkat dayasaing dan faktor yang mempengaruhinya adalah metode CMS (Constant Market Share).
Revealed Comparative Advantage (RCA)
RCA merupakan metode yang dikembangkan Balassa (1989) untuk menghitung keunggulan komparatif. RCA merupakan indeks yang menyatakan keunggulan komparatif yang membandingkan antara pangsa ekspor suatu produk dalam ekspor total negara tersebut dengan pasar ekspor produk yang sama dalam total ekspor dunia. RCA digunakan dalam studi-studi empiris untuk mengukur perubahan keunggulan komparatif atau tingkat dayasaing dari suatu produk di suatu negara terhadap dunia dengan persamaan sebagai berikut.
⁄
Dimana :
RCA = Indeks Revealed Comparative Advantage Xij = Nilai ekspor produk pulp dan kertas Indonesia
Xjt = Nilai ekspor seluruh produk Indonesia
Xiw = Nilai ekspor produk pulp dan kertas dunia
Xwt = Nilai ekspor seluruh produk dunia
Nilai indeks RCA mengindikasikan tingkat keunggulan komparatif atau dayasaing suatu produk negara tertentu terhadap pasar dunia, dengan ketentuannya sebagai berikut
1. Jika nilai indeks RCA < 1 menunjukan bahwa negara tersebut mempunyai keunggulan komparatif untuk produk tersebut.
2. Jika nilai indeks RCA > 1 menunjukan bahwa negara tersebut tidak mempunyai keunggulan komparatif untuk produk tersebut.
4
1. Jika nilai indeks RCA > 2.5 menunjukan bahwa negara tersebut mempunyai keunggulan komparatif sangat kuat untuk produk tersebut.
2. Jika nilai indeks berada pada 1.25 < RCA < 2.5 menunjukan bahwa negara tersebut memiliki keunggulan komparatif kuat untuk produk tersebut.
3. Jika nilai indeks berada pada 0.8 < RCA < 1.25 menunjukan bahwa negara tersebut memiliki keunggulan komparatif yang moderat untuk produk tersebut. 4. Jika nilai indeks RCA < 0.8 menunjukan bahwa negara tersebut memiliki
keunggulan komparatif yang lemah untuk produk tersebut.
Revealid Comparative Advantage dapat menggambarkan baik tidaknya kinerja ekspor produk tersebut. Selain menggambarkan keunggulan komparatif, RCA yang tinggi akan menandakan bahwa negara tersebut memiliki spesialisasi di sektor tersebut (Oktaviani 2010). Nilai RCA yang positif dapat mengukur keunggulan komparatif yang ditentukan oleh produk, efisiensi produksi, karakteristik geografi dan kebijakan pemerintah (Lundmark 2010).
Metode ini memiliki keunggulan yaitu metode ini mempertimbangkan keuntungan intrinsik komoditas ekspor tertentu dan konsistensinya terhadap perubahan di dalam suatu produktivitas ekonomi dan mengurangi dampak pengaruh campur tangan pemerintah, sehingga keunggulan komparatif suatu produk dari waktu ke waktu dapat terlihat secara jelas. Namun metode ini mengesampingkan pentingnya permintaan domestik, ukuran dasar domestik, dan perkembangannya. Selain itu, metode ini juga tidak dapat menjelaskan pola perdagangan yang optimal, prediksi produk yang dapat berpotensi di masa depan dan penerapan kebijakan perdagangan yang sesuai
Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP)
Konsep dayasaing internasional pada awalnya lebih menekankan pada keunggulan komparatif yang fokus terhadap strategi harga namun menurunkan harga bukanlah satu-satunya cara, dibutuhkan strategi lain terkait kondisi pasar, produksi, konsumsi, dan struktur pasar yang tercermin dari keunggulan kompetitif (Munandar 2010). Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) merupakan indeks yang menyatakan keunggulan kompetitif suatu produk yang membandingkan selisih nilai ekspor dan nilai impor suatu negara dibadingkan dengan jumlah nilai ekspor dan nilai impor negara tersebut. ISP merupakan perbandingan antara selisih nilai bersih perdagangan dengan nilai total perdagangan dari suatu negara. Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) digunakan untuk menganalisis posisi atau tahapan perkembangan suatu produk. Dasar pemikiran dari indeks ini sama seperti teori siklis produk, yaitu suatu produk yang bertahan di pasar sampai beberapa tahun.
Menurut Tambunan (2001) analisis ISP ini dapat menggambarkan posisi Indonesia untuk produk pulp dan kertas,yaitu cenderung menjadi negara eksportir atau importir dan menempatkan industri pulp dan kertas pada suatu tahapan industrialisasi dan perkembangan pola perdagangan tertentu. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :
5
Gambar 1. Kurva ISP berdasarkan Teori Siklus Produk
Sumber : Kemenperin 2013
Dimana :
ISP = Indeks spesialisasi Perdagangan
Nx’ = Nilai ekspor produk pulp dan kertas Indonesia
Nm’= Nilai impor produk pulp dan kertas Indonesia
Nilai ISP yang dihasilkan berkisar antara -1 sampai +1 dengan ketentuannya sebagai berikut :
1. Jika Jika nilai indeks ISP berada pada -1 < ISP ≤ –0,5 menunjukkan produk tersebut berada pada tahap pengenalan.
2. Jika Jika nilai indeks ISP berada pada -0,5 < ISP ≤ 0 menunjukkan produk tersebut berada pada tahap subtitusi impor.
3. Jika Jika nilai indeks ISP berada pada 0 < ISP ≤ 0,8 menunjukkan produk tersebut berada pada tahap perluasan ekspor,
4. Jika Jika nilai indeks ISP berada pada0,8 < ISP ≤ 1 menunjukkan produk tersebut berada pada tahap pematangan.
5. Jika nilai ISP kembali menurun antara 1 sampai 0 menunjukkan produk tersebut berada pada tahap kembali mengimpor.
Tahap Pengenalan terjadi ketika suatu industri (forerunner) disuatu negara (negara A) mengekspor produk-produk baru dan industri pendatang (latercomer) yaitu negara B masih mengimpor produk-produk tersebut. Tahap subtitusi impor terjadi ketika industri di negara B sudah mulai mengekspor namun masih menunjukkan dayasaing yang sangat rendah, dikarenakan tingkat produksinya tidak cukup tinggi untuk mencapai skala ekonominya sehingga negara B lebih banyak mengimpor daripada mengekspor. Tahap perluasan ekspor menggambarkan negara B melakukan produksi dalam skala besar dan mulai meningkatkan ekspornya. Sedangkan tahap pematangan menunjukkan bahwa di pasar domestik, penawaran untuk produk tersebut lebih besar daripada permintaan dan produk yang bersangkutan sudah pada tahap standardisasi menyangkut teknologi. Pada tahap pematangan negara B sudah menjadi negara net exporter. Selain itu terdapat juga tahap kembali mengimpor jika industri di negara B kalah bersaing di pasar domestiknya dengan industri dari negara A, dan produksi dalam negeri lebih sedikit dari permintaan dalam negeri (Kemenperin 2013).
Constant Market Share (CMS)
6
ini, yaitu pertumbuhan standar atau perdagangan dunia, komposisi komoditas, distribusi pasar dan dayasaing.
Faktor pertumbuhan standar atau perdagangan dunia memberikan gambaran bahwa nilai ekspor suatu negara pada komoditas tertentu berubah akibat perubahan pangsa pasar di negara tujuan. Faktor dayasaing menggambarkan bahwa dayasaing suatu produk dapat mempengaruhi perubahan ekspor produk tersebut. Faktor komposisi mengindikasikan bahwa perubahan nilai ekspor suatu negara pada komoditas tertentu diakibatkan oleh perubahan relatif tingkat pertumbuhan total ekspor produk tertentu dari negara pengekspor terhadap tingkat pertumbuhan total ekspor dunia. Faktor komoditas menggambarkan bahwa peningkatan perbedaan antara ekspor suatu negara disebabkan oleh negara pengekspor telah mempertahankan pangsa pasarnya di setiap komoditas. Faktor distribusi pasar menggambarkan kemampuan negara yang bersangkutan untuk meningkatkan ekspor produk di pasar yang selalu berkembang atau pada pasar yang stagnant atau tetap. Faktor dayasaing mengindikasikan secara general bahwa suatu negara mampu untuk melawan pangsa pasar internasional (Leamer dan Stern 1970).
Faktor pertumbuhan standar serta faktor komposisi merupakan faktor yang menyebabkan peningkatan ekspor dari sisi permintaan sedangkan faktor dayasaing merupakan faktor dari sisi penawaran (Rahmaddi dan Ichihashi 2012). Adapun rumus perhitungannya adalah sebagai berikut :
{ } { }
= Ekspor produk pulp dan kertas Indonesia ke dunia pada periode 1 X
ij 2
= Ekspor produk pulp dan kertas Indonesia ke dunia pada periode 2
m = Persentase peningkatan ekspor seluruh produk dunia pada periode 1 ke 2 mi = Persentase peningkatan ekspor produk pulp dan kertas dunia pada
7
Penelitian Terdahulu Mengenai Dayasaing
Terdapat beberapa penelitian mengenai dayasaing yang telah dilakukan sebelumnya yaitu penelitian Dewi (2006) mengenai dayasaing ekspor produk hasil hutan kayu Indonesia pada periode 1993-2004, dengan menggunakan metode analisis CMS (Constant Market Share) untuk mengitung faktor yang berpengaruh terhadap ekspor produk tersebut. Hasil analisis tersebut menggambarkan dominasi pengaruh yang cukup besar dari faktor pertumbuhan standar yang tidak dapat menaikkan pertumbuhan ekspor hasil hutan kayu Indonesia karena adanya penurunan faktor dayasaing dan komposisi komoditas di setiap periode.
Penelitian Karina (2009) mengenai dayasaing produk indonesia yang sensitif terhadap lingkungan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, dengan salah satu produk yang diteliti adalah bubur kertas. Penelitian ini menggunakan metode RCA (Revealed Comparative Advantage), EPD (Export Product Dynamic) dan CMS. Hasil analisis menunjukkan bubur kertas memiliki keunggulan komparatif di pasar dunia pada periode 2000-2006 namun lebih rendah dibandingkan produk lain yang dianalisis sebab nilai RCA-nya paling rendah sedangkan analisis CMS memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekspor produk ini paling dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan impor dan faktor komposisi produk
Penelitian Ramadhan (2009) mengenai dayasaing industri furnitur rotan Indonesia dengan metode analisis RCA (Revealed Comparative Advantage), Porter’s Diamond, dan OLS (Ordinary Least Square. Analisis RCA menunjukkan bahwa produk furnitur rotan Indonesia menunjukkan dayasaing tinggi berupa keunggulan komparatif yang tinggi walaupun dayasaing tersebut masih berupa dayasaing semu sedangkan analisis Porter’s Diamond menunjukkan dayasaing yang rendah sebab tidak terjalin keterkaitan sempurna antara kondisi faktor-faktor yang berpengaruh dan kondisi permintaan. Berdaskan analisis OLS diketahui larangan ekspor rotan mentah pemerintah berpengaruh negatif terhadap nilai ekspor rotan.
8
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei - Agustus 2013, bertempat di Laboratorium Ekonomi Industri Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Jenis Data
Semua data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang terdiri dari data time series tahunan (2002-2011). Produk yang akan diteliti dalam penelitian ini terdiri dari empat produk yang tergolong kedalam produk pulp dan kertas yaitu chemical wood pulp, newsprint, printing-writing paper dan other paper-paperboard. Produk-produk tersebut memiliki kode FAO dan kode Harmonized System (HS) seperti yang tertera pada lampiran 1.
Data tersebut meliputi data volume, nilai ekspor dan impor Indonesia serta dunia yang diperoleh dari UN Comtrade (United Nations Commodity and Trade) diunduh melalui WITS (World Integrated Trade Solution) dan FAO (Food and Agricultural Organization), secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 2. Selain itu data-data pendukung lainnya juga diperoleh dari berbagai macam literatur dan jurnal.
Analisis Data
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Untuk menganalisis dayasaing, metode yang digunakan adalah Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP). RCA digunakan untuk menganalisis keunggulan komparatif sedangkan ISP digunakan untuk menganalisis keunggulan kompetitif sedangkan untuk mengukur dinamika tingkat dayasaing industri pulp dan kertas Indonesia dan faktor yang paling mempengaruhinya digunakan metode pangsa pasar konstan atau Constant Market Share Analysis (CMS). Pengolahan data dilakukan secara bertahap. Tahap pertama adalah pengelompokan data. Tahap kedua adalah pengolahan data dalam model analisis.
Analisis Revealed Comparative Advantage (RCA)
9
Analisis Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP)
Keunggulan kompetitif keempat produk pulp dan kertas tersebut akan dianalisis dengan menghitung Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) dengan persamaan (2). Berdasarkan nilai indeks tersebut, industri pulp dan kertas yang berada pada suatu tahapan industrialisasi dengan perkembangan pola perdagangan yang diterapkan dapat diketahui. Variabel yang diukur adalah nilai bersih perdagangan dan nilai total perdagangan produk pulp dan kertas Indonesia yang dibandingkan nilai selisihnya antara satu dengan yang lainnya. Menurut Kemenperin (2013), keungulan kompetitf dan pola perdagangan masing-masing produk dapat diketahui dengan mengaitkannya dengan kiteria teori siklus produk.
Analisis Constant Market Share (CMS)
Metode pangsa pasar konstan atau Constant Market Share Analysis (CMS) digunakan untuk mengukur dinamika tingkat dayasaing industri pulp dan kertas Indonesia dan faktor yang paling mempengaruhinya. Perhitungan untuk metode Constant Market Share (CMS) ini mengacu pada rumus Merkies & Van Der Meer (1988) yang dapat dilihat pada persamaan (3). Pendekatan Constant Market Share (CMS) didasarkan pada pemahaman bahwa laju pertumbuhan ekspor suatu negara bisa lebih kecil, sama, atau lebih tinggi daripada laju pertumbuhan standar rata-rata dunia. Variabel yang diukur yaitu faktor ekspansi dari sisi permintaan yang terbagi menjadi dua yaitu faktor pangsa makro berupa pertumbuhan standar dan pangsa mikro berupa faktor komposisi produk. Kemudian faktor persaingan atau faktor dayasaing (sisi penawaran).
10
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Analisis Revealed Comparative Advantage
Analisis RCA menunjukkan bahwa Indonesia memiliki dayasaing berupa keunggulan komparatif pada keempat produk pulp dan kertas dengan tingkatan yang berbeda. Produk chemical wood pulp dan printing-writing paper memiliki keunggulan komparatif yang sangat kuat dengan indeks RCA > 2.5 selama periode 2002-2011.
Tabel 1 Nilai Indeks RCA Produk Pulp dan Kertas Indonesia Periode 2002-2011
Sumber : FAO, UN Comtrade 2013 (diolah)
Produk newsprint mengalami perubahan keunggulan komparatif selama periode tersebut. Berdasarkan indeks RCA yang diperoleh, pada tahun 2008, 2010 dan 2011 produk ini memilki keunggulan komparatif moderat sedangkan untuk tahun lainnya produk ini memiliki keunggulan komparatif yang kuat. Perubahan keunggulan komparatif juga terjadi pada produk other paper-paperboard. Pada tahun 2003, 2004, 2006, dan 2007 produk tersebut memiliki keunggulan komparatif yang lemah sementara tahun lainnya memiliki keunggulan komparatif moderat. Berdasarkan rata-rata keseluruhan pada periode 2002-2011, produk newsprint memiliki keunggulan komparatif kuat dan produk other paper-paperboard memiliki keunggulan komparatif moderat.
Analisis Indeks Spesialisasi Perdagangan
Analisis ISP menunjukkan bahwa produk pulp dan kertas Indonesia memiliki keunggulan kompetitif dengan tahapan perdagangan yang berbeda satu dengan lainnya pada periode 2002-2011. Produk yang memiliki nilai ISP terkecil adalah other paper-paperboard dan mengalami perubahan tahapan perdagangan pada periode tersebut. Pada tahun 2004, 2006, 2007 dan 2008 produk ini berada dalam tahapan subtitusi impor sementara di tahun lainnya produk ini sudah mulai
11
Sumber : FAO 2013
memasuki tahapan perluasan ekspor. Berdasarkan rata-rata keseluruhan, produk ini memiliki keunggulan kompetitif dan berada pada tahapan perluasan ekspor. Begitu halnya dengan produk chemical wood pulp yang berada pada tahapan perluasan ekspor untuk periode tersebut sementara produk newsprint dan printing- writing paper sudah berada pada tahapan pematangan ekspor.
Tabel 2 Nilai Indeks ISP Produk Pulp dan Kertas Indonesia Periode 2002-2011
Tahun
Berdasarkan analisis CMS dapat dilihat bahwa faktor yang paling berpengaruh secara berturut-turut terhadap pertumbuhan ekspor Indonesia periode 2002-2011 adalah faktor pertumbuhan standar, dayasaing dan komposisi komoditas. Apabila dibandingkan antara periode sebelum dan sesudah terjadinya krisis keuangan global, faktor pertumbuhan standar dan dayasaing justru mengalami peningkatan dan membuat Indonesia tetap mampu bertahan dalam kondisi tersebut. Walaupun tetap terjadi penurunan pertumbuhan ekspor, pertumbuhan ekspor Indonesia masih bisa berada di atas pertumbuhan ekspor dunia. Dampak krisis keuangan global terlihat jelas berpengaruh pada faktor komposisi komposisi komoditas yang menyebabkan terjadinya penurunan pada periode setelah krisis.
12
Selain hasil analis CMS terhadap total produk pulp dan kertas tedapat pula hasil analisis CMS untuk tiap produk. Pada lampiran 6 dapat dilihat faktor pertumbuhan standar pada periode 2002-2006, 2006-2011, dan 2002-2012 bernilai positif untuk seluruh produk yaitu chemical wood pulp, newsprint, printing-writing paper dan other paper-paperboard dengan nilai faktor pertumbuhan standar tertinggi pada produk printing-writing paper sebesar 437.66, 778.03, dan 1541.29 juta dolar berturut-turut pada ketiga periode tersebut sedangkan yang memiliki faktor pertumbuhan standar paling kecil adalah produk newsprint.
Faktor dayasaing di periode 2002-2006 memperlihatkan adanya produk yang mengalami penurunan dayasaing yaitu other paper-paperboard karena memberikan nilai yang negatif sebesar -51.65 %. Sementara untuk produk lainnya mengalami kenaikan dayasaing berdasarkan nilai positif yang dihasilkan. Produk printing-writing paper memiliki dayasaing tertinggi diikuti dengan chemical wood pulp dan newsprint dengan masing-masing nilai 720.15 juta dolar, 25.54 juta dolar dan 2.06 juta dolar. Akibat krisis keuangan global yang terjadi pada periode 2006-2011, produk chemical wood pulp ikut mengalami penurunan dayasaing yang tajam sebesar -81.13 juta dolar, begitu pula dengan newsprint yang tetap mengalami penurunan dayasaing sebesar -40.13.
Faktor komposisi komoditas pada tahun 2002-2016 menggambarkan produk chemical wood pulp, printing-writing paper, dan other paper-paperboard bernilai positif dengan nilai masing-masing 29.12, 21.50, dan 4.48 juta dolar sedangkan untuk produk newsprint bernilai negatif yakni -27.35 juta dolar. Pada periode 2006-2011 dan periode total 2002-2011, produk printing-writing paper yang pada periode sebelumnya sebelumnya bernilai postif mengalami penurunan menjadi -355.28 juta dolar pada periode 2006-2011 dan -208.55 pada periode 2002-2011. Hal ini mungkin terjadi sebagai dampak dari krisis keuangan global. Produk newsprint juga masih memberikan nilai negatif pada 2 periode tersebut sedangkan 2 produk lainnya yakni chemical wood pulp tetap berada pada pasar yang pertumbuhannya paling cepat dengan nilai 313.46 juta dolar pada periode 2006-2011 dan 341.48 juta dolar pada periode total 2002-2006-2011. Kemudian diikuti oleh other paper-paperboard dengan nilai pertumbuhan pasar 42.96 dan 31.12 juta dolar pada periode 2002-2011 dan 2002-2011.
Pada lampiran 5 dapat dilihat bahwa terdapat 2 produk yang memiliki nilai pertumbuhan ekspor di atas pertumbuhan ekspor dunia pada periode 2002-2011. Produk tersebut adalah other paper-paperboard, dan printing-writing paper dengan masing-masing nilai 164.73 % dan 208.09 %. Produk chemical wood pulp masih berada dibawah pertumbuhan ekspor dunia dengan selisih yang tidak berbeda jauh yaitu sebesar 120.28 % terhadap 126.43 % pertumbuhan ekspor dunia sedangkan untuk produk newsprint Indonesia mengalami penurunan ekspor yang tajam sebesar -18.66 %.
13
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 20
1
Gambar 2. Grafik Perkembangan Ekspor Pulp Kertas Indonesia dan Dunia
Sumber : FAO 2013 (diolah)
peningkatan pertumbuhan ekspor yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekspor dunia dengan nilai masing-masing untuk produk tersebut adalah 114.67 % dan 36.80%. Pada produk chemical wood pulp, pertumbuhan ekspor Indonesia masih berada dibawah pertumbuhan ekspor dunia yaitu sebesar 48.25 % bahkan pada produk newsprint Indonesia mengalami penurunan tajam menjadi -35.56 % , tidak setajam pertumbuhan dunia yang hanya mengalami penurunan pertumbuhan sebesar -10.52 %.
Pembahasan
Perkembangan dan Pertumbuhan Ekspor Pulp Kertas Indonesia
Perkembangan ekspor Indonesia untuk produk pulp dan kertas pada periode 2002-2011 lebih fluktuatif jika dibandingkan dengan ekspor dunia walaupun grafiknya cenderung mengikuti perkembangan ekspor dunia terutama pada produk newsprint dan printing- writing paper. Produk chemical wood pulp mengalami penurunan tajam pada tahun 2004 akibat kegiatan ekspor produk tersebut terganjal isu lingkungan yang diajukan oleh World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia. Permintaan ekspor yang tinggi pada produk other paper-- paperboard dunia ternyata tidak berpengaruh terhadap peningkatan ekspor Indonesia.
Sementara untuk pertumbuhan ekspor, berdasarkan hasil yang didapat juga mengalami hal yang serupa yaitu terjadi peningkatan dan penurunan pertumbuhan ekspor. Penurunan pertumbuhan jelas terlihat pada periode 2006-2011 setelah terjadinya krisis keuangan global. Menurut Tambunan (2001) terdapat beberapa hal yang menyebabkan deviasi negatif pada pertumbuhan ekspor suatu negara yaitu pertumbuhan permintaan dunia yang memang lambat, masalah distribusi pasar dunia dari negara eksportir dan masalah dayasaing dalam harga atau kualitas. Perkembangan dan pertumbuhan ekspor yang terjadi tersebut tidak terlepas dari keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimiliki Indonesia.
Keunggulan komparatif menggambarkan efisiensi kerja industri pulp dan kertas Indonesia dalam kegiatan produksinya. Keunggulan yang dimiliki tersebut tidak terlepas dari biaya produksi pulp dan kertas Indonesia yang relatif lebih rendah, jika dibandingkan dengan negara-negara pesaingnya baik berupa biaya bahan baku maupun tenaga kerja. Sebagai contoh untuk produk kertas jenis
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 20
14
woodfree, biaya bahan baku yang harus dikeluarkan Cina dan Hongkong berdasarkan RISI (2011) adalah sebesar 720-260 US$/ton dan Hongkong 755-815 US$/ton sedangkan untuk jenis produk yang sama Indonesia mengeluarkan biaya bahan baku yang lebih rendah yaitu sebesar 597.77 US$/ton (Melanton 2012). Biaya bahan baku ini memegang sekitar 70% dari keseluruhan biaya produksi sehingga biaya yang lebih rendah tersebut cukup memberikan keuntungan bagi Indonesia. Hal yang serupa juga terjadi pada biaya tenaga kerja, berdasarkan data Department of Labor and Employment Philipphines (2013) pada tahun 2011 Indonesia merupakan negara yang memiliki biaya upah tenaga kerja yang lebih rendah jika dibandingkan dengaan negara lainnya yaitu sebesar 161.33 US$ berada jauh berada dibawah Jepang (2,560.72 US$), Korea Selatan (953.89 US$), Hongkong (866.22 US$), Taiwan (594.10 US$), Filipina (318 US$), Malayasia (297 US$), Thailand (283.54 US$), dan China (237.12 US$). Biaya produksi yang cenderung lebih rendah tersebut mampu mendorong Indonesia memproduksi produk tersebut dengan lebih efisien namun tetap mempertahankan kualitas yang ada.
Indonesia memang sudah memiliki keunggulan komparatif yang cukup baik pada beberapa produk, namun untuk produk other paper-paperboard masih berada dalam keadaan yang lemah dan terlihat dari perkembangan ekspornya yang rendah dalam kondisi perkembangan dan permintaan ekspor dunia yang tinggi. Keunggulan komparatif yang masih lemah tersebut disebabkan karena adanya tuduhan dumping oleh negara-negara tujuan seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan pada produk agregat other paper-paperboard. Negara-negara tersebut membebankan pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) dan Countervailing Duty (CVD) yang menyebabkan harga produk tersebut ikut meningkat dan memberikan tekanan untuk bersaing dengan negara pengekspor lainnya. Hal tersebut membuat Indonesia secara terpaksa harus mau menurunkan harganya agar tetap kompetitif. Selain itu berdasarkan data FAO (2013) selama periode 2002-2011 ini Indonesia lebih banyak melakukan kegiatan impor dibandingkan dengan mengekspor untuk produk other paper- paperboard tersebut.
15 Selain keunggulan komparatif, keunggulan kompetitif juga sangat berkaitan dengan perkembangan dan pertumbuhan ekspor tersebut. Jika dilihat dari tahun ke tahun, tepatnya pada tahun 2004-2008 tingkat produksi other paper-paperboard Indonesia tidak cukup tinggi dalam mencapai skala ekonominya sehingga lebih memilih untuk mengimpor produk ini daripada melakukan ekspor, namun pada tahun 2008 Indonesia kembali meningkatkan kinerjanya dalam peningkatan produksi maupun peningkatan ekspor. Peningkatan dan perluasan ekspor tersebut juga terjadi pada produk chemical wood pulp yang menggambarkan Indonesia yang melakukan produksi kedua produk tersebut dalam skala besar dan mulai meningkatkan prosesnya. Hal tersebut menandakan bahwa kedua produk ini memiliki potensi untuk terus dikembangkan kedepannya. Produk chemical wood pulp Indonesia diperkirakan akan terus meningkat permintaannya dikarenakan keterbatasan bahan baku kertas yang semakin lama semakin dirasakan produsen kertas dunia. Pada produk other paper-paperboard sebenarnya permintaan dunia sangat tinggi, hanya saja karena adanya tuduhan dumping yang memberikkan citra buruk, produk ini belum dapat unggul dalam persaingan global yang terjadi. Seiring dengan pemulihan citra negatif diharapkan produk ini akan terus meningkat permintaannya dan menjadi produk andalan di masa yang akan datang.
Produk newsprint dan printing-writing paper Indonesia memiliki keunggulan komparatif dan sudah berada pada tahapan pematangan dengan nilai indeks spesialisasi perdagangan untuk masing-masing produk sebesar 0.93 dan 0.89. Pada tahapan ini, Indonesia merupakan negara net eksportir dimana sudah berada pada tahapan standardisasi menyangkut teknologi yang digunakan. Hal tersebut terjadi karena peran media massa yang sangat besar yang menyebabkan konsumsi kertas untuk kebutuhan percetakan meningkat yaitu pada peristiwa ini terjadi peristiwa-peristiwa besar dunia seperti pemilihan presiden negara adidaya (Amerika Serikat), perang dunia yang melanda negara-negara timur tengah, aksi terorisme, bencana alam seperti tsunami yang melanda negara-negara di asia pasifik dan kejadian luar biasa lainnya yang membutuhkan publikasi secara besar-besaran.
Satu hal yang penting untuk diperhatikan adalah cara untuk bertahan pada tahapan terebut agar tidak beralih ketahapan selanjutnya yaitu tahap kembali mengimpor. Perkembangan teknologi yang sangat pesat yang bersifat paperless ditambah dengan tekanan kompetisi yang kuat dari media elektronik sebagai sarana informasi dan komunikasi seperti TV, radio dan internet akan berpengaruh terhadap permintaan produk ini. Kualitas kertas harus sangat diperhatikan dan terus ditingkatkan agar Indonesia tetap mampu bertahan dan tidak tersingkir oleh persaingan global produk tersebut.
16
peringkat 66 dunia pada periode 2002/2003 dan berhasil naik menjadi peringkat 46 dunia pada periode 2011/2012, hal tersebut menandakan adanya peningkatan dayasaing dalam kurun waktu tersebut. Selain itu terbukti bahwa nilai ini memiliki korelasi positif dengan PDB yang tercermin dari nilai yang dihasilkan yaitu 1.863.274 milyar rupiah di tahun 2002 dan meningkat menjadi 7,427,086 milyar rupiah pada tahun 2011.
Peningkatan peringkat Indonesia tersebut belum membuat Indonesia unggul jika dibandingkan dengan negara Asia lainnya sebab peringkat Indonesia masih berada jauh dibawah negara-negara Asia lainnya seperti Thailand di peringkat 36, China di peringkat 26, Korea di peringkat 24, Malaysia di peringkat 21 dan Singapura di peringkat kedua (WEF 2012). Salah satu penyebab yang menyebabkan dayasaing Indonesia rendah jika dibandingkan dengan negara lain adalah kepercayaan investor yang masih rendah walaupun berdasarkan Laporan Perekonomian Indonesia (2012), sebenarnya terjadi peningkatan investasi sebesar 8.8 % pada tahun 2011. Menurut Survey yang dilakukan oleh International Management Development (IMD) investasi yang rendah tersebut disebabkan resiko politik yang tinggi karena lemahnya corporate governance dimana sistem penegakan hukum masih lemah, banyak terjadi praktek korupsi dan perlindungan hak paten dan cipta lemah. Pada sisi tenagakerja, penangan ketenagakerjaan berlangsung kurang baik dan terjadinya hubungan perburuhan yang tidak harmonis (hostile) (Ragimun 2012).
Faktor Paling Berpengaruh Terhadap Dayasaing
Berdasarkan hasil yang didapat, selain berkaitan dengan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif, pertumbuhan ekspor keempat produk tersebut dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan standar, faktor dayasaing, dan faktor komposisi komoditas. Faktor yang memberikan pengaruh paling besar adalah faktor pertumbuhan standar yang menggambarkan bahwa nilai ekspor produk-produk tersebut masih dipengaruhi tinggi rendahnya permintaan dunia. Menurut Rahmaddi dan Ichihashi (2012) faktor pertumbuhan standar menyebabkan peningkatan dari sisi permintaan sehingga hal ini menunjukkan bahwa produk pulp dan kertas Indonesia tersebut memiliki permintaan yang tinggi di pasar Internasional. Krisis keuangan global yang terjadi juga tidak memberikkan dampak serius terlihat dari nilai permintaan dunia yang masih tinggi yang tercermin dari nilai faktor pertumbuhan standar yang didapat. Pada periode 2002-2011, permintaan dunia paling tinggi terdapat pada produk printing-writing paper diikuti oleh chemical wood pulp, newsprint dan other paper-paperboard.
17 paper sedangkan untuk produk lainnya mengalami penurunan dayasaing pada periode pengamatan tersebut.
Faktor komposisi komoditas yang positif menggambarkan suatu negara mampu menigkatkan ekspornya karena barang tersebut sudah terspesialisasi dengan baik dan berada pada pasar yang pertumbuhannya relatif lebih cepat (Tambunan 2001). Berdasarkan nilai positif yang didapat pada periode total 2002- 2011 dan 2002-2006, dapat dilihat bahwa produk pulp dan kertas Indonesia sebenarnya sudah terspesialisasi di pasar dunia dan berusaha mempertahankan pangsa pasarnya. Namun pada periode 2006-2011 faktor komposisi komoditas tersebut memberikan nilai negatif, hal ini dipengaruhi oleh krisis keuangan ekonomi global yang menyebabkan pertumbuhan di pasar dunia melemah, ekonomi negara importir komoditas tersebut mengalami resesi sehingga produk tersebut tidak terserap seluruhnya dan mengalami penurunan ekspor. Produk newsprint dan printing-writing paper berada pada pasar yang cenderung lambat pertumbuhannya menggambarkan perdagangan dunia mulai jenuh dengan kedua produk ini. Sementara kedua produk lainnya yakni chemical wood pulp dan other paper-paperboard berada pada pasar yang relatif cepat pertumbuhannya.
Strategi Peningkatan Dayasaing Pulp dan Kertas Indonesia
Dayasaing ekspor secara teoritis sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut grafik siklus hidup dayasaing nasional dalam Cho dan Moon (2003) Indonesia berada pada tahapan sedang berkembang. Pada tahapan ini terdapat dua faktor yang paling menonjol yaitu faktor fisik dan faktor manusia. Faktor fisik yang dimaksud adalah lingkungan bisnis. Lingkungan bisnis tersebut harus tetap dijaga kelancaran dan kekondusifannya dengan adanya dukungan dari faktor manusianya. Faktor manusia yang dimaksud adalah politisi dan birokrat yang sangat mempengaruhi siklus hidup Indonesia termasuk dalam industri dan perdagangan.
Dalam membangun dayasaing nasional yang kuat agar mampu bertahan dan unggul di pasar Internasional diperlukan dukungan dan komitmen politis yang kuat dalam pengembangan dayasaing tersebut seperti pengaturan stabilitas bahan baku, stabilitas tingkat kurs yang mendukung pertumbuhan ekspor, peningkatan perlindungan hukum, pengurangan resiko politik seperti terjadinya korupsi, peningkatan pendidikan dan kesejahteraan untuk Sumber Daya Manusia (SDM). Dengan adanya komitmen dari politisi dan birokrat diharapkan akan terjadi peningkatan dayasaing untuk Industri Pulp dan Kertas kedepannya
18
terpenting disamping stragtegi yang telah disebutkan di atas adalah perlu adanya perbaikan citra produk pulp dan kertas Indonesia dari tuduhan-tuduhan negatif yang menghambat peningkatan dayasaing dan pertumbuhan ekspor Indonesia
SIMPULAN DAN SARAN
SIMPULAN
1. Pada periode 2002-2011, Indonesia memiliki dayasaing berupa keunggulan komparatif untuk seluruh produk. Produk printing-writing paper dan chemical wood pulp memiliki keunggulan komparatif sangat kuat, newsprint memiliki keunggulan komparatif yang kuat sedangkan other paper-paperboard memiliki keunggulan komparatif moderat. Selain itu, indeks ISP menunjukkan semua produk memiliki keunggulan kompetitif. Produk newsprint dan printing and writing paper berada pada tahap pematangan ekspor, sedangkan chemical wood pulp dan other paper and paperboard pada tahapan perluasan ekspor.
2. Berdasarkan urutan kepentingannya pertumbuhan standar, dayasaing, dan komposisi produk adalah faktor-faktor yang berpengaruh terhadap dayasaing produk-produk tersebut.
SARAN
19
DAFTAR PUSTAKA
[Agro Kemeneperin] Direktorat Jenderal Industri Agro dan Kimia Kementerian Perindustrian. 2009. Roadmap Industri Kertas [internet]. [diacu 1 Juli 2013]. Tersedia dari agro.kemenperin.go.id/klaster/file/roadmap/KIKJABAR_1.pdf. Balassa B. 1989. Comparative Advantage Trade Policy and Economic
Development. London (EN) : HarvesterWheatsheaf.
[BI] Bank Indonesia. 2012. Laporan Perekonomian Indonesia 2011. Bank Sentral Indonesia [internet]. [diacu 22 Juni 2013]. Tersedia dariwww.bps.go.id/brs_file/eksim_01mar12.pdf.
Cho DS. dan Moon HC. 2003. Evolusi Teori Dayasaing. Jakarta (ID) : Salemba Empat.
Dewi MAS. 2006. Analisis Dayasaing Ekspor Produk Hasil Hutan Kayu Indonesia. [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Department of Labor and Employment Philipphines. 2013. Labor cost. [internet]. [diacu 1 Juli 2013]. Tersedia dari www.ble.dole.gov.ph
[FAO] Food and Agricultural Organization. 2013. Forest Product Definition [internet]. [diacu pada 22 Mei 2013]. Tersedia darihttp://faostat.fao.org/. [FAO] Food and Agricultural Organization. 2013. Forest Statistic [internet].
[diacu pada 22 Mei 2013]. Tersedia dari http://faostat.fao.org/.
Karina FT. 2009. Analisis Dayasaing Produk Indonesia yang Sensitif Terhadap Lingkungan dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya.Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
[Kemenperin] Kementerian Perindustrian. 2013.Indeks Spesialisasi Perdagangan.[internet]. [diacu 22 Juli 2013]. Tersedia dari http://www.kemendag.go.id/addon/depdag_isp/
Leamer E dan Stern RM. 1970. Quantitative International Economics. Boston (US) : Allyn & Bacon, Inc.
Lundmark R. 2009. European Trade in Forest Products and Fuels. J. Forest Policy
and Economics 16 (2010) 235–251.
Merkies AH. dan Van der Meer T. 1988. A Theoretical Foundation for Constant Market Share Analysis. J empec 13 65-80.
Melanton G. 2012. Brief Card dan Woodfree Studi Kasus di PT. Pindo Deli Pulp and Paper Karawang, Jawa Barat. [Skripsi] Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Muhammad HA. dan S. Habibah. 1993. The Constant Market Share Analysis: an Appication to NR Export of Major Producing Countries. J. Nat. Rubb.8(1): 68-81.
Munandar JM. 2010. Faktor Kritis untuk Pengembangan Dayasaing Produk Agroindustri di Indonesia: Pendekatan Aspek Pendukung Pemasaran dalam Kewirausahaan dan Dayasaing Agribisnis . Bogor (ID) : IPB Press.
Oktaviani R. 2010. Indonesian Trade Competitiveness and The Impact og Global Economic Change dalam Kewirausahaan dan Dayasaing Agribisnis. Bogor (ID) :IPB Press.
Oktaviani R dan Novianti T. 2010. Teori Perdagangan Internasional dan Aplikasinya di Indonesia. Bogor (ID) : IPB Press.
20
Ramadhan A. 2009. Analisis Dayasaing Industri Furniture Rotan Indonesia. [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Rashid AYAD., Ni Made SY., dan Antik S. Analisis Daya Saing Crude Palm Oil (CPO) Indonesia di Pasar Internasional. J. Sepa : Vol. 9 No.1 September 2012 : 125 – 133
Rahmaddi, Rudy dan Ichihashi M. 2012. “The Changing Pattern of Export
Structure and Competitiveness in Indonesia’s Manufacturing Sectors: an
Overview and Assessment”. 2nd International Conference on Economics,
Trade and Development IPEDR vol.36. Singapura (SG) : IACSIT Press Ragimun. 2012. Analsis Dayasaing Komoditas Kakao Indonesia. Jurnal
Pembangunan Manusia Vol.6 No.2 Tahun 2012
Rosadi AHY. 2005. Strategi Peningkatan Dayasaing Industri Pulp dan Kertas Indonesia. [Tesis]. Bogor (ID) : IPB Press.
RISI. 2012. Analysis and Forecasts of theAsian Pulp and Paper Markets. [internet]. [diacu 1 agustus 2013]. Tersedia dari www.risiinfo.com/Marketing/Commentaries/asian_p_and_p_monitor.pdf Suratomo FG. 2000. Prospek Dan Tantangan Pengembangan Industri Pulp Dan
Kertas Indonesia Dalam Era Ekolabeling Dan Otonomi Daerah. J. Manajemen Hutan Tropika Vol. 6 No. 2 : 71-75 (2000) Komunikasi (Communication) Trop. For. Manage. J. VI (I1) : 71-75 (2000)
Tambunan T. 2001. Industrialisasi Di Negara Sedang Berkembang; Kasus Indonesia. Jakarta (ID) : Ghalia Indonesia
[UN Comtrade] United Nations Commodity Trade. 2013. United Nations Commodity Trade Statistic Database [internet]. [diacu 15 Juni 2013]. Tersedia dariwww.uncomtrade.org
[WEF] World Economic Forum. 20012. The Global Competitiveness Report 2011-2012. [internet]. [diacu 25 Juni 2013]. Tersedia dariwww.weforum.org/issues/global-competition
21
Lampiran 1 Kode Produk dalam FAO dan Harmonized System
No. Produk Kode FAO Kode HS 1996
1 Chemical wood pulp 1656 4703, 4704
2 Newsprint 1671 4801
3 Printing -writing paper 1674 4802
4 Other paper -paperboard 1675 4803, 4804, 4805, 4808, 4809,
4810, 4811 Sumber : FAO, UN Comtrade 2013
Lampiran 2 Tipe dan Sumber Data
Sumber : FAO, UN Comtrade 2013
No. Tipe Data Sumber Data
1 Volume dan nilai ekspor produk pulp dan kertas
Indonesia (chemical wood pulp, newsprint, printing -writing paper, other paper - paperboard)
FAO Database
2 Volume dan nilai ekspor produk pulp dan kertas
dunia (chemical wood pulp, newsprint, printing -writing paper, other paper - paperboard)
FAO Database
3 Volume dan nilai impor produk pulp dan kertas
Indonesia (chemical wood pulp, newsprint, printing -writing paper, other paper - paperboard)
FAO Database
4 Volume dan nilai ekspor seluruh produk Indonesia UN Comtrade Database
Lampiran 3 Definisi FAO mengenai Produk Pulp
Produk Produk Agregat Definisi
Pulp
Mechanical wood pulp
- Pulp yang diperoleh dengan cara menggiling bahan baku kayu baik dari jenis konifer maupun non konifer untuk memisahkan serat dari komponen lainnya.
- Pulp jenis ini dapat melalui proses bleaching untuk tahapan lebih lanjut maupun tidak.
Semi- chemical wood pulp
- Pulp yang diperoleh dengan cara menggiling bahan baku kayu baik dari jenis konifer maupun non konifer dan penambahan bahan kimia untuk memudahkan proses pemisahan serat dari komponen lainnya
- Pulp jenis ini dapat melalui proses bleaching untuk tahapan lebih lanjut maupun tidak.
Chemical wood pulp
- Pulp yang diperoleh dengan cara menambahkan bahan kimia baik dengan proses sulfat, soda maupun
sulfit pada bahan baku kayu baik dari jenis konifer maupun non konifer untuk memperoleh serat yang terpisah dari komponen lainnya.
- Pulp jenis ini dapat melalui proses bleaching untuk tahapan lebih lanjut maupun tidak
- Pulp ini diklasifikasikan menjadi beberapa jenis yaitu unbleached sulphite pulp, bleached sulphite pulp, unbleached sulphate pulp, dan bleached sulphate pulp.
Dissolving wood pulp
- Pulp yang diperoleh melalui proses kimia dengan tingkat kelarutan yang tinggi untuk menghasilkan pulp dengan kualitas khusus dengan kandungan alfa-selulosa yang sangat tinggi (biasanya 90% atau lebih).
- Pulp jenis ini umumnya selalu melalui proses bleaching untuk tahapan selanjutnya. Sumber : FAO 2013
Lampiran 4 Definisi FAO mengenai Produk Kertas
Produk Produk Agregat Definisi
kertas
Newsprint
- Kertas tidak berlapis dengan pilihan ukuran yang terbatas, mengandung setidaknya 60% pulp mekanik dengan berat tidak lebih dari 40 g/m2 untuk tipe kertas yang umumnya dipakai.
- Kertas ini umunya digunakan untuk mencetak koran atau surat kabar.
Printing and writing paper
- Kertas yang terbuat dari berbagai campuran pulp dengan berbagai tahap penyelesaian akhir sesuai dengan tujuan pembuatannya.
- Kertas ini digunakan untuk keperluan percetakan dan bisnis seperti percetakan buku, majalah dan poster, keperluan tulis menulis, pembuatan sketsa dan gambar, stok dasar wallpaper, lapisan kotak, duplikasi, tablet atau blok, label, litograf, uang kertas, stok kartu tabulasi dan kertas untuk kitab suci
Other paper and paperboard
- Kertas karton yang digunakkan untuk keperluan kostruksi, rumah tangga, kertas saniter, kertas tipis untuk keperluan khusus, pembungkus atau kertas kemasan dan kertas karton lainnya yang tidak dirinci secara khusus
- Kertas ini diklasifikasikan menjadi beberapa jenis yakni household and sanitary paper, wraping and packing paper board, dan paper and paper board NES.
- Household and sanitary paper merupakan kertas yang digunakkan untuk keperluan rumah tangga dan sanitasi seperti serbet, tisu untuk wajah, dan tisu toilet.
- Wraping and packing paper board didefinisikan sebagai kertas yang berfungsi sebagai pembungkus seperti kertas perkamen untuk pembungkus sayuran, kemasan beku dan bahan berlembab serta berminyak. Selain itu kertas jenis tersebut digunnakan pula untuk media beralur untuk papan bergelombang, pembuatan kotak, dan pembuatan karung.
- Paper and paper board NES merupakan berbagai macam kertas karton yang manfaatnya tidak dirinci secara khusus seperti kertas untuk keperluan fotografi, tekstil, otomotif dan lain
Sumber : FAO 2013
2
Lampiran 5 Pertumbuhan Dunia dan Pertumbuhan Pasar Indonesia Periode 2002-2011
Lampiran 6 Faktor Pertumbuhan Standar, Dayasaing dan Komposisi Komoditas Periode 2002-2011
Lampiran 7 Perhitungan RCA (Revealed Comparative Advantage) Produk Pulp dan Kertas Periode 2002-2011
Lampiran 8 Perhitungan ISP (Indeks Spesialisasi Perdagangan) Produk Pulp dan Kertas Periode 2002-2011
25
Sumber : FAO 2013 (diolah)
Keterangan: RCA= Indeks Revealed Comparative Advantage: Xij = Nilai ekspor produk pulp dan kertas Indonesia (juta dolar) ; Xiw = Nilai ekspor produk pulp dan kertas dunia (juta dolar) ; Xjt = Nilai ekspor seluruh produk Indonesia (juta dolar) ; Xw= Nilai ekspor seluruh produk dunia (juta dolar)
Tahun Chemical Wood Pulp Newsprint Other Paper-Paperboard Printing-Writing Paper
Nx' Nm' ISP Nx' Nm' ISP Nx' Nm' ISP Nx' Nm' ISP
2002 705.53 197.29 0.56 126.24 0.54 0.99 203.80 158.68 0.12 941.92 79.72 0.84
2003 790.41 208.35 0.58 95.82 1.11 0.98 175.90 166.34 0.03 931.64 61.28 0.88
2004 588.96 255.70 0.39 120.17 10.76 0.84 181.83 243.06 -0.14 1348.11 101.65 0.86
2005 889.51 255.70 0.55 134.60 7.15 0.90 256.72 257.15 0.00 1701.72 103.09 0.89
2006 1088.02 290.00 0.58 159.60 13.65 0.84 251.33 262.11 -0.02 2121.23 94.16 0.91
2007 972.96 351.22 0.47 118.96 2.51 0.96 278.72 295.38 -0.03 2514.85 95.10 0.93
2008 1422.45 421.17 0.54 127.29 1.13 0.98 360.60 366.71 -0.01 2745.07 128.80 0.91
2009 843.81 354.33 0.41 108.12 2.11 0.96 356.46 280.85 0.12 2429.90 127.75 0.90
2010 1449.11 479.61 0.50 102.71 4.55 0.92 481.51 348.53 0.16 2986.30 167.39 0.89
2011 1554.18 466.08 0.54 102.68 5.97 0.89 539.52 450.45 0.09 2901.94 184.98 0.88
Rata-rata 1030.49 327.94 0.51 119.62 4.95 0.93 308.64 282.92 0.03 2062.27 114.39 0.89
Tahun Total Komoditi Chemical Wood Pulp Newsprint Other Paper-Paperboard Printing-Writing Paper
Xjt Xwt Xij Xiw RCA Xij Xiw RCA Xij Xiw RCA Xij Xiw RCA
2002 57158.75 6058189.63 705.53 13801.19 5.42 126.24 8462.54 1.58 203.80 26379.61 0.82 941.92 29954.16 3.33
2003 61058.19 7099640.64 790.41 15565.16 5.90 95.82 8800.31 1.27 175.90 31177.77 0.66 931.64 34276.52 3.16
2004 71582.47 8569681.33 588.96 17354.34 4.06 120.17 9519.64 1.51 181.83 34775.60 0.63 1348.11 40002.76 4.03
2005 85659.95 9695124.54 889.51 17953.79 5.61 134.60 10056.07 1.51 256.72 35961.03 0.81 1701.72 42160.39 4.57
2006 100798.62 11349398.18 1088.02 20783.48 5.89 159.60 10561.17 1.70 251.33 39216.91 0.72 2121.23 44555.87 5.36
2007 114100.87 12941770.14 972.96 24682.90 4.47 118.96 10266.28 1.31 278.72 44454.19 0.71 2514.85 48361.29 5.90
2008 137020.42 14987784.89 1422.45 27198.79 5.72 127.29 11215.00 1.24 360.60 48855.61 0.81 2745.07 51918.80 5.78
2009 116509.99 11609627.06 843.81 19925.10 4.22 108.12 8073.86 1.33 356.46 41676.33 0.85 2429.90 42578.25 5.69
2010 157779.10 14113591.35 1449.11 28768.31 4.51 102.71 8388.67 1.10 481.51 46914.18 0.92 2986.30 45497.66 5.87
2011 203496.62 16590223.40 1554.18 31238.01 4.06 102.68 9450.39 0.89 539.52 52500.55 0.84 2901.94 46668.96 5.07
Rata-rata 110516.50 11301503.12 1030.49 21727.11 4.99 119.62 9479.39 1.34 308.64 40191.18 0.78 2062.27 425974.66 48.77
Sumber : FAO 2013 (diolah)
Lampiran 9 Perhitungan CMS (Constant Market Share) Produk Pulp dan Kertas Periode 2002-2011
Lampiran 10 Perhitungan CMS (Constant Market Share) Produk Pulp dan Kertas Periode 2002-2006
26
Sumber : FAO 2013 (diolah)
Sumber : FAO 2013 (diolah)
Produk Export dunia Pertumbuhan Export Indonesia Pertumbuhan Expected Total Expected Competitiveness Composition Market Export
2002 2011 dunia 2002 2011 Indonesia Export Shift Export Effect Effect Growth Growth
Chemical
wood pulp 13801.19 31238.01 126.3% 705.53 1554.18 120.3% 1255.44 298.74 1596.92 -42.74 341.48 549.91 848.65
Newsprint 8462.54 9450.39 11.7% 126.24 102.68 -18.7% 224.62 -121.94 140.97 -38.29 -83.65 98.39 -23.55
Other paper -
Paperboard 26379.61 52500.55 99.0% 203.80 539.52 164.7% 362.65 176.87 405.60 133.92 42.96 158.85 335.72
Printing - Writing
Paper 29954.16 46668.96 55.8% 941.92 2901.94 208.1% 1676.08 1225.86 1467.53 1434.41 -208.55 734.15 1960.02
total 78597.50 139857.92 77.9% 1977.49 5098.32 157.8% 3518.79 1579.54 3611.02 1487.30 92.24 1541.29 3120.83
Produk Export dunia Pertumbuhan Export Indonesia Pertumbuhan Expected Total Expected Competitiveness Composition Market Export
2006 2011 dunia 2006 2011 Indonesia Export Shift Export Effect Effect Growth Growth
Chemical
wood pulp 20783.48 31238.01 50.3% 1088.02 1554.18 42.8% 1321.85 232.33 1635.31 -81.13 313.46 233.83 466.16
Newsprint 10561.17 9450.39 -10.5% 159.60 102.68 -35.7% 193.90 -91.22 142.81 -40.13 -51.09 34.30 -56.92
Other paper -
Paperboard 39216.91 52500.55 33.9% 251.33 539.52 114.7% 305.34 234.18 336.46 203.06 31.12 54.01 288.19
Printing -
Writing Paper 44555.87 46668.96 4.7% 2121.23 2901.94 36.8% 2577.12 324.82 2221.83 680.11 -355.28 455.89 780.71
Lampiran 11 Perhitungan CMS (Constant Market Share) Produk Pulp dan Kertas Periode 2006-2011
Sumber : FAO 2013 (diolah)
27
Produk Export dunia Pertumbuhan Export Indonesia Pertumbuhan Expected Total Expected Competitiveness Composition Market Export
2006 2011 dunia 2006 2011 Indonesia Export Shift Export Effect Effect Growth Growth
Chemical
wood pulp 20783.48 31238.01 50.3% 1088.02 1554.18 42.8% 1321.85 232.33 1635.31 -81.13 313.46 233.83 466.16
Newsprint 10561.17 9450.39 -10.5% 159.60 102.68 -35.7% 193.90 -91.22 142.81 -40.13 -51.09 34.30 -56.92
Other paper -
Paperboard 39216.91 52500.55 33.9% 251.33 539.52 114.7% 305.34 234.18 336.46 203.06 31.12 54.01 288.19
Printing -
Writing Paper 44555.87 46668.96 4.7% 2121.23 2901.94 36.8% 2577.12 324.82 2221.83 680.11 -355.28 455.89 780.71
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 1 Juli 1991 sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, pasangan Asmuni dan Sri Nurhayati. Pada tahun 2009 penulis lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Penulis diterima di Program Studi Teknologi Hasil Hutan, Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan.
Selama menuntut ilmu di IPB, penulis aktif di sejumlah organisasi kemahasiswaan seperti International Association of Students in Agricultural and Related Sciences LC IPB tahun kepengurusan 2009-2010, International Forestry Students’ Association LC IPB tahun kepengurusan 2010-1012, Himpunan Mahasiswa Hasil Hutan (Himasiltan) Kelompok Minat Biokomposit pada tahun 2010-2012. Penulis melakukan Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan (PPEH) di Sancang Timur-Papandayan tahun 2011, Praktek Pengelolaan Hutan (PPH) di Hutan Pendidikan Gn.Walat tahun 2012, Praktek Kerja Lapang di PT. Kayu Lapis Indonesia Kendal-Kaliwungu, Jawa Tengah. Penulis pernah terpilih menjadi semi finalis Indonesia Bayer Young Environmental Envoy tahun 2012 dan Mahasiswa Berprestasi Departemen Hasil Hutan Tahun 2012. Selain itu pernah mendapatkan beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional dan beasiswa penelitian dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan IPB, penulis menyelesaikan skripsi dengan judul Analisis Dayasaing Industri Pulp dan Kertas Indonesia di Pasar Internasional dibimbing oleh Ir Bintang C.H. Simangunsong, MS, PhD