• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perpajakan lanjutan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perpajakan lanjutan"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

PERPAJAKAN LANJUTAN

(2)
(3)
(4)

Dalam pasal 24 itu ditetapkan bahwa pajak sejenis dengan PPh yang

(5)
(6)

Saat penggabungan penghasilan dari luar negeri

Penghasilan dari usaha yang berasal dari luar negeri digabungkan dengan

penghasilan dari dalam negeri pada tahun olehnya penghasilan dari luar

negeri tersebut.

(7)

Saat penggabungan penghasilan dari luar negeri

(8)

Penghitungan Besarnya Batas Kredit Pajak Luar

Negeri

Pajak atas penghasilan yang terutang di luar negeri

adalah pajak atas penghasilan berkenaan dengan

usaha atau pekerjaan di luar negeri. Sedangkan

usaha atau pekerjaan di luar negeri. Sedangkan

yang dimaksud dengan pajak atas penghasilan

yang dibayar di luar negeri adalah pajak atas

(9)

Penghitungan Besarnya Batas Kredit Pajak Luar

Negeri

(10)

Jumlah pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri tidak otomatis dikreditkan

seluruhnya dengan PPh yang terutang di dalam negeri. Batasannya adalah sebagai berikut:

a) Jumlah kredit pajak luar negeri yang diperbolehkan adalah sebesar pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri, tetapi tidak boleh lebih besar dari (pilih hasil yang paling kecil dari perhitungan berikut):

besar dari (pilih hasil yang paling kecil dari perhitungan berikut):

i) Perbandingan penghasilan luar negeri dengan jumlah penghasilan dalam negeri dan luar negeri dikalikan dengan PPh Terutang atas jumlah

penghasilan dalam negeri dan luar negeri, atau

(11)

Jumlah pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri tidak otomatis dikreditkan seluruhnya dengan PPh yang terutang di dalam negeri.

Batasannya adalah sebagai berikut:

b) Persyaratan perhitungan besarnya kredit pajak luar negeri adalah: i) Kerugian yang diderita di luar negeri tidak boleh dikompensasikan

dengan penghasilan lainnya, sepanjang WP Dalam Negeri atau WP BUT di Indonesia mempunyai kewajiban untuk melaporkan Income Tax Return Luar Negeri (wajib SPT di luar negeri karena merupakan WP di luar negeri).

ii) Penghitungan kredit pajak penghasilan luar negeri yang berasal dari beberapa negara dilakukan untuk masing- masing negara.

iii) Kelebihan PPh Terutang / dibayar di luar negeri tidak dapat

(12)

Dalam menghitung batas jumlah pajak yang boleh dikredit

penentuan negara sumber penghasilan adalah:

Penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya adalah negara tempat Badan yang menerbitkan saham atau sekuritas tersebut bertempat kedudukan;

(13)

Dalam menghitung batas jumlah pajak yang boleh dikredit

penentuan negara sumber penghasilan adalah:

Penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak adalah negara Penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak adalah negara tempat harta tersebut terletak

Penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan adalah negara tempat pihak yang mem atau dibebani imbalan tersebut berada;

(14)

Kredit pajak LN maksimal sama dengan jumlah

pajak yang dibayar di LN tapi tidak boleh lebih

tinggi dari rumus :

tinggi dari rumus :

(15)

Persyaratan Administratif Pengkreditan Pajak Luar

Negeri

1. WP yang bersangk:utan menyampaikan permohonan ke Dirjen Pajak

(Kepala KPP) pada saar pelaporan SPT Tahunan melalui SPTTahunan

PPh (dalam formulir 1771-III atau formulir 177b-II SPT Tahunan PPh

sudah tercantum permohonan I termaksud) dengan melampirkan:

i) Laporan keuangan dari penghasilan yang berasal

i) Laporan keuangan dari penghasilan yang berasal

dari luar negen.

ii) Fotokopi SPT (Tax Return) yang dilaporkan di luar

negeri.

iii) Dokumen pembayaran pajak di luar negeri.

(16)

Persyaratan Administratif Pengkreditan Pajak Luar

Negeri

2. Jika penghasilan luar negeri berubah, maka

i) SPT Tahunan PPh WP Dalam Negeri/BUT

dibetulkan, dilampiri dokumen terkait

ii) Kekurangan bayar akibat pembetulan tersebut tidak

ii) Kekurangan bayar akibat pembetulan tersebut tidak

dikenai sanksi bunga.

(17)

PERHITUNGAN ANGSURAN

PERHITUNGAN ANGSURAN

(18)

ANGSURAN

ANGSURAN PPh

PPh PASAL 25

PASAL 25

PPh Terhutang

PPh Dipotong Pihak Lain

-PPh Yang Harus Dibayar Sendiri

Angsuran PPh Pasal 25 =

(19)

ANGSURAN

ANGSURAN PPh

PPh PASAL 25

PASAL 25

PPh Pasal 21

PPh Pasal 22

PPh Dipotong Pihak PPh Dipotong Pihak

Lain

PPh Pasal 23

(20)

KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN

KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN

ANGSURAN

ANGSURAN PPh

PPh PASAL 25

PASAL 25

KOMPENSASI KERUGIAN PENGHASILAN TIDAK TERATUR PENYAMPAIAN SPT TAHUNAN LEWAT WAKTU KONDISI KHUSUS WAKTU PERPANJANGAN WAKTU SPT TAHUNAN

(21)

KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN

KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN

ANGSURAN

ANGSURAN PPh

PPh PASAL 25

PASAL 25

PENGHASILAN TIDAK TERATUR KONDISI KHUSUS

Tidak Diikutkan Dalam Perhitungan Angsuran

PPh Pasal 25 TIDAK TERATUR

PPh Pasal 25

Penghasilan Tersebut Belum Tentu Terjadi di Masa Yang Akan Datang

???

Keuntungan penjualan harta

(22)

KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN

KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN

ANGSURAN

ANGSURAN PPh

PPh PASAL 25

PASAL 25

SPT Tahunan KONDISI KHUSUS

Mengikuti Angsuran Masa

SPT Tahunan Terlambat Lapor

Mengikuti Angsuran Masa Pajak Terakhir Sampai Penyampaian SPT Tahunan

Dilakukan Penghitungan Ulang atas Angsuran PPh

Pasal 25 PPh Pasal 25 Seharusnya >

Telah Disetor – Harus Disetor Kekurangan - Denda

PPh Pasal 25 Seharusnya < Telah Disetor – Dipindah

(23)

KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN

KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN

ANGSURAN

ANGSURAN PPh

PPh PASAL 25

PASAL 25

Terbit Ketetapan KONDISI KHUSUS Mengikuti Hasil Terbit Ketetapan Pajak Mengikuti Hasil Ketetapan Pajak

Berlaku Pada Masa Pajak Berikutnya Setelah Terbitnya Ketetapan Pajak

(24)

KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN

KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN

ANGSURAN

ANGSURAN PPh

PPh PASAL 25

PASAL 25

WP Orang Pribadi KONDISI KHUSUS

Keputusan Menteri Keuangan No. WP Orang Pribadi

Pengusaha Tertentu

Keuangan No.

84/KMK.03/2002 tanggal 03 Agustus 2002

Wajib Pajak yang melakukan kegiatan usahaperdagangan grosirdan atau eceran barang-barang konsumsi melalui tempat usaha/gerai/outlet yang tersebar di beberapa lokasikecualiRestoran

dan Perdagangan Kendaraan Bermotor

2% Jumlah Peredaran Bruto/Bulan atas Setiap

(25)

KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN

KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN

ANGSURAN

ANGSURAN PPh

PPh PASAL 25

PASAL 25

Mendaftarkan Diri Setiap Gerai

Melaporkan SPT Masa PPh

Kewajiban WP OP Pengusaha Tertentu

Melaporkan SPT Masa PPh Pasal 25

PENGHASILAN SELAIN DARI USAHA

HANYA BERASAL DARI USAHA TERSEBUT

Bersifat Tidak Final

Kompensasi Kerugian - Boleh

Bersifat Final

(26)

KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN

KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN

ANGSURAN

ANGSURAN PPh

PPh PASAL 25

PASAL 25

WP OP Pengusaha Tertentu

Harus Dilakukan Perhitungan Ulang PENGHASILAN SELAIN

DARI USAHA Perhitungan Ulang

DARI USAHA

Angsuran PPh Pasal 25

Perbandingan antaraPenghasilan Lain NetodenganTotal Penghasilan Neto Dikalikan

(27)

Contoh

Contoh Soal

Soal ::

1. Dr. Aldi Kurniawan adalah seorang dokter

ternama di Bandung dan menjalankan praktek dengan mendapatkan penghasilan bruto atas prakteknya dengan princian sebagai berikut :

Bulan Nilai Pendapatan Bruto (Rp)

(28)
(29)

JENIS PENGHASILAN

JENIS PENGHASILAN

PENGHASILAN KARYAWAN HASIL DARI USAHA BEBAS

1721-A1 / 1721-A2

PPh Pasal 25 PENGHASILAN

(Non Final)

PENGHASILAN LAINNYA HASIL INVESTASI

(30)

JENIS PENGHASILAN

JENIS PENGHASILAN

PENGHASILAN KARYAWAN HASIL DARI Bukti Pemotongan/Pemun gutan PPh Pasal 21

PENGHASILAN (Final) HASIL DARI USAHA BEBAS PENGHASILAN LAINNYA

(31)

PENGHASILAN DARI PEMBERI KERJA

PENGHASILAN DARI PEMBERI KERJA –

– 1721 A1 / 1721 A2

1721 A1 / 1721 A2

1721 A1

Pegawai Tetap

Penerima Pensiun/Tabungan Hari Tua/Jaminan Hari Tua KARYAWAN 1721 A2 PNS ABRI

Pejabat Negara

(32)

PENGHASILAN DARI PEMBERI KERJA

PENGHASILAN DARI PEMBERI KERJA –

– 1721 A1 / 1721 A2

1721 A1 / 1721 A2

1. Gaji/Pensiun atau THT/JHT 2. Tunjangan PPh

3. Tunjangan Lainnya, Uang Lembur , dsb 4. Honorarium dan Imbalan Lain Sejenis 5. Premi Asuransi Dibayar Pemberi Kerja 6. Penerimaan Dalam Bentuk Natura 7. Jumlah (01 s.d. 06)

8. Tantiem, Bonus, Gratifikasi, Jasprod, THR 9. Jumlah Penghasilan Bruto (07 + 08)

10. Biaya Jabatan/Biaya Pensiun atas No. 7 11. Biaya Jabatan/Biaya Pensiun atas No. 8 12. Iuran Pensiun atau Iuran THT/JHT

1721 A1

12. Iuran Pensiun atau Iuran THT/JHT 13. Jumlah Pengurangan (10 + 11 + 12) 14. Jumlah Penghasilan Neto (09 – 13) 15. Penghasilan Neto Masa Sebelumnya 16. Penghasilan Neto Setahun/Disetahunkan 17. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) 18. PKP Setahun/Disetahunkan (16 – 17)

19. PPh 21 Setahun/Disetahunkan (Tarif Psl. 17) 20. PPh 21 Telah Dipotong Masa Sebelumnya 21. PPh 21 Terhutang

22. PPh 21 Ditanggung Pemerintah

(33)

PENGHASILAN DARI PEMBERI KERJA

PENGHASILAN DARI PEMBERI KERJA –

– 1721 A1 / 1721 A2

1721 A1 / 1721 A2

1. Gaji Pokok/Pensiun 2. Tunjangan Isteri 3. Tunjangan Anak

4. Jumlah Gaji dan Tunjangan Keluarga (01 + 02 + 03) 5. Tunjangan Perbaikan Penghasilan

6. Tunjangan Struktural dan Fungsional 7. Tunjangan Beras

8. Tunjangan Khusus 9. Tunjangan Lain-Lain

1721 A2

9. Tunjangan Lain-Lain 10. Jumlah ( 04 s.d. 09)

11. Biaya Jabatan/Biaya Pensiun 12. Iuran Pensiun

13. Jumlah Pengurangan (11 + 12) 14. Jumlah Penghasilan Neto (10 - 13)

15. Penghasilan Neto Setahun/Disetahunkan 16. PTKP

17. Penghasilan Kena Pajak (15 – 16)

(34)

PENGHASILAN DARI PEMBERI KERJA

PENGHASILAN DARI PEMBERI KERJA –

– 1721 A1 / 1721 A2

1721 A1 / 1721 A2

Biaya Jabatan

5% dari Penghasilan Bruto Maksimal Rp. 1.296.000/tahun atau Rp.

108.000/bulan

Pengurang Khusus Karyawan

Biaya Pensiun

5% dari Penghasilan Bruto Maksimal Rp. 432.000/tahun atau Rp.

(35)

KONDISI KHUSUS DALAM PERHITUNGAN PPh PASAL 21

KONDISI KHUSUS DALAM PERHITUNGAN PPh PASAL 21

Beberapa Kondisi Pergantian

Kantor Cabang Lama

 Gaji dihitung

berdasarkan jumlah bulan pekerjaan.

 Biaya jabatan dihitung sebesar lama nya bulan pekerjaan.

 Penghasilan Neto disetahunkan.

 PTKP dihitung 1 tahun penuh.

 PPh Terhutang dihitung selama bulan pekerjaan.

Beberapa Kondisi Khusus bagi WP OP

status Karyawan Pergantian Cabang Pemberi Kerja Kantor Cabang Lama

selama bulan pekerjaan.

 Gaji dihitung

berdasarkan sisa jumlah bulan pekerjaan.

 Biaya jabatan dihitung sebesar sisa bulan pekerjaan.

 Penghasilan Neto = PN Cabang Baru + PN Cabang Lama.

 PTKP dihitung 1 tahun penuh.

 PPh Terhutang 1 tahun penuh

(36)

KONDISI KHUSUS DALAM PERHITUNGAN PPh PASAL 21

KONDISI KHUSUS DALAM PERHITUNGAN PPh PASAL 21

Beberapa Kondisi

Pemberi Kerja Lama

 Gaji dihitung

berdasarkan jumlah bulan pekerjaan.

 Biaya jabatan dihitung sebesar lama nya bulan pekerjaan.

 Penghasilan Neto selama bulan pekerjaan.

 PTKP dihitung 1 tahun penuh.

 PPh Terhutang khusus selama bulan pekerjaan.

Beberapa Kondisi Khusus bagi WP OP

status Karyawan

Pergantian Pemberi Kerja

Pemberi Kerja Baru

selama bulan pekerjaan.

 Gaji dihitung

berdasarkan jumlah bulan pekerjaan.

 Biaya jabatan dihitung sebesar bulan pekerjaan.

 Penghasilan Neto = PN Pemeberi Kerja Lama + PN Pemberi Kerja BAru.

 PTKP dihitung 1 tahun penuh.

 PPh Terhutang 1 tahun penuh

(37)

PENGGABUNGAN PENGHASILAN

PENGGABUNGAN PENGHASILAN

Penghasilan

atau

Kerugian

dari Seluruh Anggota Keluarga

(38)
(39)

Kompensasi Kerugian

Kompensasi Kerugian

Kompensasi

Khusus WP OP

Yang Dikompensasikan 5 Tahun sejak Kompensasi

Kerugian

Yang

Menggunakan Pembukuan

(40)

PERPAJAKAN LANJUTAN

(41)
(42)

PPN yang ditetapkan dengan UU no.18 tahun 2000 merupakan pajak yang

dikenakan terhadap pertambahan nilai (

Value Added

) yang timbul akibat

(43)

Pajak Pertambahan Nilai ditetapkan untuk mengganti peranan Pajak penjualan,

Pajak Pertambahan Nilai ditetapkan untuk mengganti peranan Pajak penjualan,

karena PPN tidak menimbulkan pengenaan pajak berganda. Hal ini dikarenakan

jumlah PPN yang disetor ke negara adalah selisih lebih antara PPN yang

(44)

Dengan mengenakan PPN atas nilai tambah (

added value

)

dari Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang

(45)
(46)

Secara sederhana, nilai tambah di bidang perdagangan

dapat juga diartikan sebagai selisih antara harga jual

(47)

Karakteristik dan Jiwa PPN

Merupakan pajak tidak langsung yang dipungut pada

setiap mata rantai jalur perusahaan

Bersifat netral dan diharapkan tidak menimbulkan

Bersifat netral dan diharapkan tidak menimbulkan

(48)

Karakteristik dan Jiwa PPN

Merupakan pajak konsumsi di dalam negeri

Merupakan pajak objektif

Mekanisme yang diharapkan sederhana dengan

Mekanisme yang diharapkan sederhana dengan

(49)

PAJAK ATAS KONSUMSI

(50)

John F.Due dan Ann F Friedlaender membedakan

pajak atas konsumsi menurut sudut pendekatannya

menjadi dua yaitu :

1. Pendekatan langsung, pajak atas pengeluaran

(

expenditure tax

) yaitu pajak yang berlaku bagi seluruh

(

expenditure tax

) yaitu pajak yang berlaku bagi seluruh

pengeluaran untuk konsumsi yang merupakan hasil

(51)

2.

Pendekatan tidak langsung atau pendekatan komoditi

yaitu pajak dikenakan atas penjualan komoditi yang

dipungut terhadap pengusaha yang melakukan

penjualan.

Pajak ini kemudian dialihkan kepada pembeli selaku

pemikul beban pajak.

Pajak Pertambahan Nilai termasuk ke dalam kelompok

ini.

(52)

Tarif PPN adalah tunggal atau seragam yaitu 10%.

Hal ini dimaksudkan untuk kesederhanaan dalam mekanisme

pemungutannya. Satu macam tarif untuk seluruh penyerahan

(53)

Atas barang mewah, disamping dikenakan PPN juga dikenakan

PPnBM. Hal ini merupakan upaya nyata untuk menegakkan keadilan

dalam pembebanan pajak dan sekaligus merupakan upaya untuk

dalam pembebanan pajak dan sekaligus merupakan upaya untuk

mengurangi pola konsumsi tinggi yang tidak produktif dalam

(54)
(55)

Tarif PPN dan PPNBM Export

Tarif 0%, atau dengan kata lain dibebaskan (PPN atas barang yang

diekspor dapat dikembalikan). Hal ini selaras dengan maksud dari UU

PPN dan PPnBM sebagai pajak atas konsumsi di dalam negeri.

(56)

Karakteristik dan Jiwa PPNBM

Merupakan pungutan tambahan disamping PPN

Merupakan pajak tidak langsung yang dipungut

sekali pada tingkat pabrikan/saat impor

Merupakan pajak objektif

Merupakan pajak objektif

(57)

Karakteristik PPN dan PPNBM

 PPN merupakan Pajak Tidak Langsung

Konsekuensi yuridis bahwa antara pemikul beban pajak dengan penanggung jawab atas pembayaran pajak berada pada pihak yang berbeda.

Pemikul beban pajak ini secara nyata berkedudukan sebagai pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak. Sedangkan penanggung jawab atas pembayaran pajak adalah Pengusaha Kena Pajakyang bertindak selaku penjual Barang Kena Pajak atau pengusaha Kena Pajak.

Sudut pandang ekonomi, beban pajak dialihkan kepada pihak lain, yaitu pihak Sudut pandang ekonomi, beban pajak dialihkan kepada pihak lain, yaitu pihak yang akan mengkonsumsi barang atau jasa yang menjadi obyek pajak.

(58)

Karakteristik PPN dan PPNBM

 PPN sebagai Pajak Obyektif

Pajak Obyektif adalah suatu jenis pajak yang saat timbulnya kewajiban pajak ditentukan oleh faktor obyektif, yaitu adanya keadaan atau peristiwa.

Timbulnya kewajiban untuk membayar PPN ditentukan oleh obyek pajak. Kondisi subyek pajak tidak menentukan. PPN tidak membedakan antara konsumen berupa orang atau badan, antara konsumen yang berpenghasilan tinggi dengan berpenghasilan rendah. Sepanjang mereka mengkonsumsi tinggi dengan berpenghasilan rendah. Sepanjang mereka mengkonsumsi barang atau jasa dari jenis yang sama, mereka diperlakukan sama.

Multi Stage Tax

(59)

Karakteristik PPN dan PPNBM

 PPN terutang dibayar ke kas negara dihitung menggunakan Indirect Substraction Method/ Credit Method / Invoice Method.

Pajak yang dipungut PKP tidak otomatis wajib dibayar ke kas Negara. PPN terutang yang wajib dibayar ke kas Negara merupakan hasil perhitungan mengurangkan PPN yang dibayar kepada PKP lain (Pajak Masukan) dengan PPN yang dipungut dari pembeli (Pajak Keluaran). Pola ini dinamakanIndirect Substraction Method.

Pajak yang dikurangkan dengan pajak untuk memperoleh jumlah pajak yang Pajak yang dikurangkan dengan pajak untuk memperoleh jumlah pajak yang akan dibayar ke kas Negara dinamakanTax Credit. Maka pola ini juga

dinamakanCredit Method.

 PPN adalah pajak atas konsumsi umum dalam negeri

(60)

Karakteristik PPN dan PPNBM

 PPN bersifat netral

Netralitas PPN dibentuk oleh faktor PPN dikenakan atas konsumsi barang dan jasa, serta faktor dalam pemungutannya PPN menganut prinsip tempat tujuan. Prinsip tempat tujuan PPN dipungut di tempat barang atau jasa dikonsumsi. Komoditi impor akan menanggung beban pajak yang sama dengan barang produksi dalam negeri. Karena barang impor dikonsumsi di dalam negeri. Kompetisi antara komoditi impor dengan produk domestik tidak dipengaruhi Kompetisi antara komoditi impor dengan produk domestik tidak dipengaruhi oleh PPN.

 Tidak menimbulkan dampak pengenaan pajak berganda

(61)
(62)
(63)
(64)
(65)
(66)

Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) adalah nilai/harga

rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli

yang terjadi secara wajar, apabila tidak terjadi

transaksi jual beli maka NJOP ditentukan

melalui perbandingan harga dengan objek lain

melalui perbandingan harga dengan objek lain

(67)
(68)

Surat Pemberitahuan Pajak terutang

(SPPT) adalah surat yang digunakan

DPJ untuk memberitahukan

besarnya pajak terutang kepada

besarnya pajak terutang kepada

wajib pajak. SPPT diterbitkan

(69)

1.

Letak

2.

Peruntukan

3.

Pemanfaatan

3.

Pemanfaatan

(70)

1.

Bahan yang digunakan

2.

Rekayasa

3.

Letak

3.

Letak

(71)
(72)

1. Digunakan semata-mata untuk melayani

kepentingan umum dan tidak mencari

keuntungan, antara lain:

Tempat ibadah

Tempat pelayanan kesehatan

Tempat pendidikan

Tempat pendidikan

Untuk social

(73)
(74)
(75)
(76)
(77)
(78)
(79)

Tarif pajak yang dikenakan terhadap

Tarif pajak yang dikenakan terhadap

(80)

Yang menjadi dasar dari pengenaan

pajak dalam PBB adalah Nilai Jual

Objek Pajak (NJOP), yang besarnya

ditentukan setiap 3 tahun dengan

keputusan mentri Keuangan, atau bias

keputusan mentri Keuangan, atau bias

(81)

NJOP adalah harga rata-rata yang diperoleh dari

transaksi jual beli, ditentukan melalui

(82)
(83)

Yaitu

menentukan nilai suatu objek

(property

)

dengan jalan membandingkan objek

dengan jalan membandingkan objek

yang dinilai dengan objek lain yang

(84)

Yaitu

Menentukan nilai suatu objek

(

property

) dengan jalan menghitung

(

property

) dengan jalan menghitung

seluruh biaya yang dikeluarkan untuk

(85)

yaitu

menentukan nilai suatu objek (

property

)

dengan jalan mengkapitalisasikan

pendapatan bersih dari objek tersebut

pendapatan bersih dari objek tersebut

dengan suatu tingkat kapitalisasi

tertentu

(86)
(87)

1.

Kelompok A (50 klas) dengan klas tertinggi Rp.

3.100.000 per m2 dan klas terendah Rp.

140,-per m2

2.

Kelompok B (50 klas) dengan klas tertinggi

sebesar Rp. 68.545.000,- per m2 dan klas

Kelompok B (50 klas) dengan klas tertinggi

sebesar Rp. 68.545.000,- per m2 dan klas

(88)
(89)

1. Kelompok A (20 klas) dengan klas

tertinggi sebesar Rp. 1.200.000,- per m2

dan klas terendah sebesar Rp. 50.000,- per

m2

2. Kelompok B (20 klas) dengan klas

(90)

Yang menjadi dasar perhitungan PBB adalah

Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) yaitu suatu

persentase tertentu dari NJOP. Berdasarkan

UU PBB, NJKP ditentukan serendah rendahnya

20% dan setinggi-tingginya 100% dari Nilai

(91)
(92)

Objek pajak perumahan yang wajib pajaknya

adalah orang pribadi dengan NJOP atas bumi

dan bangunanya sama dengan atau lebih besar

Rp. 1 Milyar.

Objek pajak Perkebunan yang luas lahannya

lebih besar atau sama dengan 25 Ha,

lebih besar atau sama dengan 25 Ha,

Objek Pajak Kehutanan, tetapi tidak termasuk

(93)
(94)

Untuk menghitung PBB terhutang ada 4 unsur yang

terlebih dahulu diketahui yaitu:

NJOP

: Nilai Jual Objek Pajak

NJOPTKP

: Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak

NJKP

: Nilai Jual Kena Pajak

Tarif Pajak

: 0.5 % X NJKP

Tarif Pajak

: 0.5 % X NJKP

PBB = Tarif Pajak x NJKP x (NJOP – NJOPTKP)

= 0.5% x 20% x (NJOP – NJOPTKP) atau

(95)

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah Pajak yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak ditambahn dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak karena PPh dalam

PPh yang boleh dikreditkan atas seluruh PPh terutang PT Alif adalah pajak yang langsung dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri, yakni

atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang dapat dikreditkan terhadap pajak penghasilan yang terutang atas seluruh penghasilan Wajib Pajak dalam negeri.

– Jumlah pajak yang terutang atau dibayar di luar negeri. – Penghasilan luar negeri : Seluruh penghasilan Kena. Pajak) X PPh atas seluruh Penghasilan yang dikenakan tarif

Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak

 Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak karena Pajak

Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang dapat dikreditkan terhadap pajak penghasilan yang terutang atas seluruh. Penghasilan @P dalam negeri&#34;

Pajak penghasilan yang dibayar atau terutang di Luar Negeri yang boleh dikreditkan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 24, dibagi 12 (dua belas) atau banyaknya bulan