PERPAJAKAN LANJUTAN
Dalam pasal 24 itu ditetapkan bahwa pajak sejenis dengan PPh yang
Saat penggabungan penghasilan dari luar negeri
Penghasilan dari usaha yang berasal dari luar negeri digabungkan dengan
penghasilan dari dalam negeri pada tahun olehnya penghasilan dari luar
negeri tersebut.
Saat penggabungan penghasilan dari luar negeri
Penghitungan Besarnya Batas Kredit Pajak Luar
Negeri
Pajak atas penghasilan yang terutang di luar negeri
adalah pajak atas penghasilan berkenaan dengan
usaha atau pekerjaan di luar negeri. Sedangkan
usaha atau pekerjaan di luar negeri. Sedangkan
yang dimaksud dengan pajak atas penghasilan
yang dibayar di luar negeri adalah pajak atas
Penghitungan Besarnya Batas Kredit Pajak Luar
Negeri
Jumlah pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri tidak otomatis dikreditkan
seluruhnya dengan PPh yang terutang di dalam negeri. Batasannya adalah sebagai berikut:
a) Jumlah kredit pajak luar negeri yang diperbolehkan adalah sebesar pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri, tetapi tidak boleh lebih besar dari (pilih hasil yang paling kecil dari perhitungan berikut):
besar dari (pilih hasil yang paling kecil dari perhitungan berikut):
i) Perbandingan penghasilan luar negeri dengan jumlah penghasilan dalam negeri dan luar negeri dikalikan dengan PPh Terutang atas jumlah
penghasilan dalam negeri dan luar negeri, atau
Jumlah pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri tidak otomatis dikreditkan seluruhnya dengan PPh yang terutang di dalam negeri.
Batasannya adalah sebagai berikut:
b) Persyaratan perhitungan besarnya kredit pajak luar negeri adalah: i) Kerugian yang diderita di luar negeri tidak boleh dikompensasikan
dengan penghasilan lainnya, sepanjang WP Dalam Negeri atau WP BUT di Indonesia mempunyai kewajiban untuk melaporkan Income Tax Return Luar Negeri (wajib SPT di luar negeri karena merupakan WP di luar negeri).
ii) Penghitungan kredit pajak penghasilan luar negeri yang berasal dari beberapa negara dilakukan untuk masing- masing negara.
iii) Kelebihan PPh Terutang / dibayar di luar negeri tidak dapat
Dalam menghitung batas jumlah pajak yang boleh dikredit
penentuan negara sumber penghasilan adalah:
Penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya adalah negara tempat Badan yang menerbitkan saham atau sekuritas tersebut bertempat kedudukan;
Dalam menghitung batas jumlah pajak yang boleh dikredit
penentuan negara sumber penghasilan adalah:
Penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak adalah negara Penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak adalah negara tempat harta tersebut terletak
Penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan adalah negara tempat pihak yang mem atau dibebani imbalan tersebut berada;
Kredit pajak LN maksimal sama dengan jumlah
pajak yang dibayar di LN tapi tidak boleh lebih
tinggi dari rumus :
tinggi dari rumus :
Persyaratan Administratif Pengkreditan Pajak Luar
Negeri
1. WP yang bersangk:utan menyampaikan permohonan ke Dirjen Pajak
(Kepala KPP) pada saar pelaporan SPT Tahunan melalui SPTTahunan
PPh (dalam formulir 1771-III atau formulir 177b-II SPT Tahunan PPh
sudah tercantum permohonan I termaksud) dengan melampirkan:
i) Laporan keuangan dari penghasilan yang berasal
i) Laporan keuangan dari penghasilan yang berasal
dari luar negen.
ii) Fotokopi SPT (Tax Return) yang dilaporkan di luar
negeri.
iii) Dokumen pembayaran pajak di luar negeri.
Persyaratan Administratif Pengkreditan Pajak Luar
Negeri
2. Jika penghasilan luar negeri berubah, maka
i) SPT Tahunan PPh WP Dalam Negeri/BUT
dibetulkan, dilampiri dokumen terkait
ii) Kekurangan bayar akibat pembetulan tersebut tidak
ii) Kekurangan bayar akibat pembetulan tersebut tidak
dikenai sanksi bunga.
PERHITUNGAN ANGSURAN
PERHITUNGAN ANGSURAN
ANGSURAN
ANGSURAN PPh
PPh PASAL 25
PASAL 25
PPh Terhutang
PPh Dipotong Pihak Lain
-PPh Yang Harus Dibayar Sendiri
Angsuran PPh Pasal 25 =
ANGSURAN
ANGSURAN PPh
PPh PASAL 25
PASAL 25
PPh Pasal 21
PPh Pasal 22
PPh Dipotong Pihak PPh Dipotong Pihak
Lain
PPh Pasal 23
KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN
KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN
ANGSURAN
ANGSURAN PPh
PPh PASAL 25
PASAL 25
KOMPENSASI KERUGIAN PENGHASILAN TIDAK TERATUR PENYAMPAIAN SPT TAHUNAN LEWAT WAKTU KONDISI KHUSUS WAKTU PERPANJANGAN WAKTU SPT TAHUNAN
KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN
KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN
ANGSURAN
ANGSURAN PPh
PPh PASAL 25
PASAL 25
PENGHASILAN TIDAK TERATUR KONDISI KHUSUS
Tidak Diikutkan Dalam Perhitungan Angsuran
PPh Pasal 25 TIDAK TERATUR
PPh Pasal 25
Penghasilan Tersebut Belum Tentu Terjadi di Masa Yang Akan Datang
???
Keuntungan penjualan harta
KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN
KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN
ANGSURAN
ANGSURAN PPh
PPh PASAL 25
PASAL 25
SPT Tahunan KONDISI KHUSUS
Mengikuti Angsuran Masa
SPT Tahunan Terlambat Lapor
Mengikuti Angsuran Masa Pajak Terakhir Sampai Penyampaian SPT Tahunan
Dilakukan Penghitungan Ulang atas Angsuran PPh
Pasal 25 PPh Pasal 25 Seharusnya >
Telah Disetor – Harus Disetor Kekurangan - Denda
PPh Pasal 25 Seharusnya < Telah Disetor – Dipindah
KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN
KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN
ANGSURAN
ANGSURAN PPh
PPh PASAL 25
PASAL 25
Terbit Ketetapan KONDISI KHUSUS Mengikuti Hasil Terbit Ketetapan Pajak Mengikuti Hasil Ketetapan Pajak
Berlaku Pada Masa Pajak Berikutnya Setelah Terbitnya Ketetapan Pajak
KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN
KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN
ANGSURAN
ANGSURAN PPh
PPh PASAL 25
PASAL 25
WP Orang Pribadi KONDISI KHUSUS
Keputusan Menteri Keuangan No. WP Orang Pribadi
Pengusaha Tertentu
Keuangan No.
84/KMK.03/2002 tanggal 03 Agustus 2002
Wajib Pajak yang melakukan kegiatan usahaperdagangan grosirdan atau eceran barang-barang konsumsi melalui tempat usaha/gerai/outlet yang tersebar di beberapa lokasikecualiRestoran
dan Perdagangan Kendaraan Bermotor
2% Jumlah Peredaran Bruto/Bulan atas Setiap
KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN
KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN
ANGSURAN
ANGSURAN PPh
PPh PASAL 25
PASAL 25
Mendaftarkan Diri Setiap Gerai
Melaporkan SPT Masa PPh
Kewajiban WP OP Pengusaha Tertentu
Melaporkan SPT Masa PPh Pasal 25
PENGHASILAN SELAIN DARI USAHA
HANYA BERASAL DARI USAHA TERSEBUT
Bersifat Tidak Final
Kompensasi Kerugian - Boleh
Bersifat Final
KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN
KONDISI KHUSUS PERHITUNGAN
ANGSURAN
ANGSURAN PPh
PPh PASAL 25
PASAL 25
WP OP Pengusaha Tertentu
Harus Dilakukan Perhitungan Ulang PENGHASILAN SELAIN
DARI USAHA Perhitungan Ulang
DARI USAHA
Angsuran PPh Pasal 25
Perbandingan antaraPenghasilan Lain NetodenganTotal Penghasilan Neto Dikalikan
Contoh
Contoh Soal
Soal ::
1. Dr. Aldi Kurniawan adalah seorang dokter
ternama di Bandung dan menjalankan praktek dengan mendapatkan penghasilan bruto atas prakteknya dengan princian sebagai berikut :
Bulan Nilai Pendapatan Bruto (Rp)
JENIS PENGHASILAN
JENIS PENGHASILAN
PENGHASILAN KARYAWAN HASIL DARI USAHA BEBAS1721-A1 / 1721-A2
PPh Pasal 25 PENGHASILAN
(Non Final)
PENGHASILAN LAINNYA HASIL INVESTASI
JENIS PENGHASILAN
JENIS PENGHASILAN
PENGHASILAN KARYAWAN HASIL DARI Bukti Pemotongan/Pemun gutan PPh Pasal 21PENGHASILAN (Final) HASIL DARI USAHA BEBAS PENGHASILAN LAINNYA
PENGHASILAN DARI PEMBERI KERJA
PENGHASILAN DARI PEMBERI KERJA –
– 1721 A1 / 1721 A2
1721 A1 / 1721 A2
1721 A1
Pegawai Tetap
Penerima Pensiun/Tabungan Hari Tua/Jaminan Hari Tua KARYAWAN 1721 A2 PNS ABRI
Pejabat Negara
PENGHASILAN DARI PEMBERI KERJA
PENGHASILAN DARI PEMBERI KERJA –
– 1721 A1 / 1721 A2
1721 A1 / 1721 A2
1. Gaji/Pensiun atau THT/JHT 2. Tunjangan PPh
3. Tunjangan Lainnya, Uang Lembur , dsb 4. Honorarium dan Imbalan Lain Sejenis 5. Premi Asuransi Dibayar Pemberi Kerja 6. Penerimaan Dalam Bentuk Natura 7. Jumlah (01 s.d. 06)
8. Tantiem, Bonus, Gratifikasi, Jasprod, THR 9. Jumlah Penghasilan Bruto (07 + 08)
10. Biaya Jabatan/Biaya Pensiun atas No. 7 11. Biaya Jabatan/Biaya Pensiun atas No. 8 12. Iuran Pensiun atau Iuran THT/JHT
1721 A1
12. Iuran Pensiun atau Iuran THT/JHT 13. Jumlah Pengurangan (10 + 11 + 12) 14. Jumlah Penghasilan Neto (09 – 13) 15. Penghasilan Neto Masa Sebelumnya 16. Penghasilan Neto Setahun/Disetahunkan 17. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) 18. PKP Setahun/Disetahunkan (16 – 17)
19. PPh 21 Setahun/Disetahunkan (Tarif Psl. 17) 20. PPh 21 Telah Dipotong Masa Sebelumnya 21. PPh 21 Terhutang
22. PPh 21 Ditanggung Pemerintah
PENGHASILAN DARI PEMBERI KERJA
PENGHASILAN DARI PEMBERI KERJA –
– 1721 A1 / 1721 A2
1721 A1 / 1721 A2
1. Gaji Pokok/Pensiun 2. Tunjangan Isteri 3. Tunjangan Anak
4. Jumlah Gaji dan Tunjangan Keluarga (01 + 02 + 03) 5. Tunjangan Perbaikan Penghasilan
6. Tunjangan Struktural dan Fungsional 7. Tunjangan Beras
8. Tunjangan Khusus 9. Tunjangan Lain-Lain
1721 A2
9. Tunjangan Lain-Lain 10. Jumlah ( 04 s.d. 09)
11. Biaya Jabatan/Biaya Pensiun 12. Iuran Pensiun
13. Jumlah Pengurangan (11 + 12) 14. Jumlah Penghasilan Neto (10 - 13)
15. Penghasilan Neto Setahun/Disetahunkan 16. PTKP
17. Penghasilan Kena Pajak (15 – 16)
PENGHASILAN DARI PEMBERI KERJA
PENGHASILAN DARI PEMBERI KERJA –
– 1721 A1 / 1721 A2
1721 A1 / 1721 A2
Biaya Jabatan
5% dari Penghasilan Bruto Maksimal Rp. 1.296.000/tahun atau Rp.
108.000/bulan
Pengurang Khusus Karyawan
Biaya Pensiun
5% dari Penghasilan Bruto Maksimal Rp. 432.000/tahun atau Rp.
KONDISI KHUSUS DALAM PERHITUNGAN PPh PASAL 21
KONDISI KHUSUS DALAM PERHITUNGAN PPh PASAL 21
Beberapa Kondisi Pergantian
Kantor Cabang Lama
Gaji dihitung
berdasarkan jumlah bulan pekerjaan.
Biaya jabatan dihitung sebesar lama nya bulan pekerjaan.
Penghasilan Neto disetahunkan.
PTKP dihitung 1 tahun penuh.
PPh Terhutang dihitung selama bulan pekerjaan.
Beberapa Kondisi Khusus bagi WP OP
status Karyawan Pergantian Cabang Pemberi Kerja Kantor Cabang Lama
selama bulan pekerjaan.
Gaji dihitung
berdasarkan sisa jumlah bulan pekerjaan.
Biaya jabatan dihitung sebesar sisa bulan pekerjaan.
Penghasilan Neto = PN Cabang Baru + PN Cabang Lama.
PTKP dihitung 1 tahun penuh.
PPh Terhutang 1 tahun penuh
KONDISI KHUSUS DALAM PERHITUNGAN PPh PASAL 21
KONDISI KHUSUS DALAM PERHITUNGAN PPh PASAL 21
Beberapa Kondisi
Pemberi Kerja Lama
Gaji dihitung
berdasarkan jumlah bulan pekerjaan.
Biaya jabatan dihitung sebesar lama nya bulan pekerjaan.
Penghasilan Neto selama bulan pekerjaan.
PTKP dihitung 1 tahun penuh.
PPh Terhutang khusus selama bulan pekerjaan.
Beberapa Kondisi Khusus bagi WP OP
status Karyawan
Pergantian Pemberi Kerja
Pemberi Kerja Baru
selama bulan pekerjaan.
Gaji dihitung
berdasarkan jumlah bulan pekerjaan.
Biaya jabatan dihitung sebesar bulan pekerjaan.
Penghasilan Neto = PN Pemeberi Kerja Lama + PN Pemberi Kerja BAru.
PTKP dihitung 1 tahun penuh.
PPh Terhutang 1 tahun penuh
PENGGABUNGAN PENGHASILAN
PENGGABUNGAN PENGHASILAN
Penghasilan
atau
Kerugian
dari Seluruh Anggota Keluarga
Kompensasi Kerugian
Kompensasi Kerugian
Kompensasi
Khusus WP OP
Yang Dikompensasikan 5 Tahun sejak Kompensasi
Kerugian
Yang
Menggunakan Pembukuan
PERPAJAKAN LANJUTAN
PPN yang ditetapkan dengan UU no.18 tahun 2000 merupakan pajak yang
dikenakan terhadap pertambahan nilai (
Value Added
) yang timbul akibat
Pajak Pertambahan Nilai ditetapkan untuk mengganti peranan Pajak penjualan,
Pajak Pertambahan Nilai ditetapkan untuk mengganti peranan Pajak penjualan,
karena PPN tidak menimbulkan pengenaan pajak berganda. Hal ini dikarenakan
jumlah PPN yang disetor ke negara adalah selisih lebih antara PPN yang
Dengan mengenakan PPN atas nilai tambah (
added value
)
dari Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang
Secara sederhana, nilai tambah di bidang perdagangan
dapat juga diartikan sebagai selisih antara harga jual
Karakteristik dan Jiwa PPN
Merupakan pajak tidak langsung yang dipungut pada
setiap mata rantai jalur perusahaan
Bersifat netral dan diharapkan tidak menimbulkan
Bersifat netral dan diharapkan tidak menimbulkan
Karakteristik dan Jiwa PPN
Merupakan pajak konsumsi di dalam negeri
Merupakan pajak objektif
Mekanisme yang diharapkan sederhana dengan
Mekanisme yang diharapkan sederhana dengan
PAJAK ATAS KONSUMSI
John F.Due dan Ann F Friedlaender membedakan
pajak atas konsumsi menurut sudut pendekatannya
menjadi dua yaitu :
1. Pendekatan langsung, pajak atas pengeluaran
(
expenditure tax
) yaitu pajak yang berlaku bagi seluruh
(
expenditure tax
) yaitu pajak yang berlaku bagi seluruh
pengeluaran untuk konsumsi yang merupakan hasil
2.
Pendekatan tidak langsung atau pendekatan komoditi
yaitu pajak dikenakan atas penjualan komoditi yang
dipungut terhadap pengusaha yang melakukan
penjualan.
Pajak ini kemudian dialihkan kepada pembeli selaku
pemikul beban pajak.
Pajak Pertambahan Nilai termasuk ke dalam kelompok
ini.
Tarif PPN adalah tunggal atau seragam yaitu 10%.
Hal ini dimaksudkan untuk kesederhanaan dalam mekanisme
pemungutannya. Satu macam tarif untuk seluruh penyerahan
Atas barang mewah, disamping dikenakan PPN juga dikenakan
PPnBM. Hal ini merupakan upaya nyata untuk menegakkan keadilan
dalam pembebanan pajak dan sekaligus merupakan upaya untuk
dalam pembebanan pajak dan sekaligus merupakan upaya untuk
mengurangi pola konsumsi tinggi yang tidak produktif dalam
Tarif PPN dan PPNBM Export
Tarif 0%, atau dengan kata lain dibebaskan (PPN atas barang yang
diekspor dapat dikembalikan). Hal ini selaras dengan maksud dari UU
PPN dan PPnBM sebagai pajak atas konsumsi di dalam negeri.
Karakteristik dan Jiwa PPNBM
Merupakan pungutan tambahan disamping PPN
Merupakan pajak tidak langsung yang dipungut
sekali pada tingkat pabrikan/saat impor
Merupakan pajak objektif
Merupakan pajak objektif
Karakteristik PPN dan PPNBM
PPN merupakan Pajak Tidak Langsung
Konsekuensi yuridis bahwa antara pemikul beban pajak dengan penanggung jawab atas pembayaran pajak berada pada pihak yang berbeda.
Pemikul beban pajak ini secara nyata berkedudukan sebagai pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak. Sedangkan penanggung jawab atas pembayaran pajak adalah Pengusaha Kena Pajakyang bertindak selaku penjual Barang Kena Pajak atau pengusaha Kena Pajak.
Sudut pandang ekonomi, beban pajak dialihkan kepada pihak lain, yaitu pihak Sudut pandang ekonomi, beban pajak dialihkan kepada pihak lain, yaitu pihak yang akan mengkonsumsi barang atau jasa yang menjadi obyek pajak.
Karakteristik PPN dan PPNBM
PPN sebagai Pajak Obyektif
Pajak Obyektif adalah suatu jenis pajak yang saat timbulnya kewajiban pajak ditentukan oleh faktor obyektif, yaitu adanya keadaan atau peristiwa.
Timbulnya kewajiban untuk membayar PPN ditentukan oleh obyek pajak. Kondisi subyek pajak tidak menentukan. PPN tidak membedakan antara konsumen berupa orang atau badan, antara konsumen yang berpenghasilan tinggi dengan berpenghasilan rendah. Sepanjang mereka mengkonsumsi tinggi dengan berpenghasilan rendah. Sepanjang mereka mengkonsumsi barang atau jasa dari jenis yang sama, mereka diperlakukan sama.
Multi Stage Tax
Karakteristik PPN dan PPNBM
PPN terutang dibayar ke kas negara dihitung menggunakan Indirect Substraction Method/ Credit Method / Invoice Method.
Pajak yang dipungut PKP tidak otomatis wajib dibayar ke kas Negara. PPN terutang yang wajib dibayar ke kas Negara merupakan hasil perhitungan mengurangkan PPN yang dibayar kepada PKP lain (Pajak Masukan) dengan PPN yang dipungut dari pembeli (Pajak Keluaran). Pola ini dinamakanIndirect Substraction Method.
Pajak yang dikurangkan dengan pajak untuk memperoleh jumlah pajak yang Pajak yang dikurangkan dengan pajak untuk memperoleh jumlah pajak yang akan dibayar ke kas Negara dinamakanTax Credit. Maka pola ini juga
dinamakanCredit Method.
PPN adalah pajak atas konsumsi umum dalam negeri
Karakteristik PPN dan PPNBM
PPN bersifat netral
Netralitas PPN dibentuk oleh faktor PPN dikenakan atas konsumsi barang dan jasa, serta faktor dalam pemungutannya PPN menganut prinsip tempat tujuan. Prinsip tempat tujuan PPN dipungut di tempat barang atau jasa dikonsumsi. Komoditi impor akan menanggung beban pajak yang sama dengan barang produksi dalam negeri. Karena barang impor dikonsumsi di dalam negeri. Kompetisi antara komoditi impor dengan produk domestik tidak dipengaruhi Kompetisi antara komoditi impor dengan produk domestik tidak dipengaruhi oleh PPN.
Tidak menimbulkan dampak pengenaan pajak berganda
Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) adalah nilai/harga
rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli
yang terjadi secara wajar, apabila tidak terjadi
transaksi jual beli maka NJOP ditentukan
melalui perbandingan harga dengan objek lain
melalui perbandingan harga dengan objek lain
Surat Pemberitahuan Pajak terutang
(SPPT) adalah surat yang digunakan
DPJ untuk memberitahukan
besarnya pajak terutang kepada
besarnya pajak terutang kepada
wajib pajak. SPPT diterbitkan
1.
Letak
2.
Peruntukan
3.
Pemanfaatan
3.
Pemanfaatan
1.
Bahan yang digunakan
2.
Rekayasa
3.
Letak
3.
Letak
1. Digunakan semata-mata untuk melayani
kepentingan umum dan tidak mencari
keuntungan, antara lain:
Tempat ibadah
Tempat pelayanan kesehatan
Tempat pendidikan
Tempat pendidikan
Untuk social
Tarif pajak yang dikenakan terhadap
Tarif pajak yang dikenakan terhadap
Yang menjadi dasar dari pengenaan
pajak dalam PBB adalah Nilai Jual
Objek Pajak (NJOP), yang besarnya
ditentukan setiap 3 tahun dengan
keputusan mentri Keuangan, atau bias
keputusan mentri Keuangan, atau bias
NJOP adalah harga rata-rata yang diperoleh dari
transaksi jual beli, ditentukan melalui
Yaitu
menentukan nilai suatu objek
(property
)
dengan jalan membandingkan objek
dengan jalan membandingkan objek
yang dinilai dengan objek lain yang
Yaitu
Menentukan nilai suatu objek
(
property
) dengan jalan menghitung
(
property
) dengan jalan menghitung
seluruh biaya yang dikeluarkan untuk
yaitu
menentukan nilai suatu objek (
property
)
dengan jalan mengkapitalisasikan
pendapatan bersih dari objek tersebut
pendapatan bersih dari objek tersebut
dengan suatu tingkat kapitalisasi
tertentu
1.
Kelompok A (50 klas) dengan klas tertinggi Rp.
3.100.000 per m2 dan klas terendah Rp.
140,-per m2
2.
Kelompok B (50 klas) dengan klas tertinggi
sebesar Rp. 68.545.000,- per m2 dan klas
Kelompok B (50 klas) dengan klas tertinggi
sebesar Rp. 68.545.000,- per m2 dan klas
1. Kelompok A (20 klas) dengan klas
tertinggi sebesar Rp. 1.200.000,- per m2
dan klas terendah sebesar Rp. 50.000,- per
m2
2. Kelompok B (20 klas) dengan klas
Yang menjadi dasar perhitungan PBB adalah
Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) yaitu suatu
persentase tertentu dari NJOP. Berdasarkan
UU PBB, NJKP ditentukan serendah rendahnya
20% dan setinggi-tingginya 100% dari Nilai
Objek pajak perumahan yang wajib pajaknya
adalah orang pribadi dengan NJOP atas bumi
dan bangunanya sama dengan atau lebih besar
Rp. 1 Milyar.
Objek pajak Perkebunan yang luas lahannya
lebih besar atau sama dengan 25 Ha,
lebih besar atau sama dengan 25 Ha,
Objek Pajak Kehutanan, tetapi tidak termasuk
Untuk menghitung PBB terhutang ada 4 unsur yang
terlebih dahulu diketahui yaitu:
NJOP
: Nilai Jual Objek Pajak
NJOPTKP
: Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak
NJKP
: Nilai Jual Kena Pajak
Tarif Pajak
: 0.5 % X NJKP
Tarif Pajak
: 0.5 % X NJKP
PBB = Tarif Pajak x NJKP x (NJOP – NJOPTKP)
= 0.5% x 20% x (NJOP – NJOPTKP) atau