I. PENDAHULUAN Latar Belakang
Kartel merupakan salah satu persoalan nyata bagi dunia industri bisnis di negeri ini. Laju pertumbuhan tinggi, yang tidak disertai dengan regulasi diduga merupakan penyebab dari tumbuh suburnya praktik kartel dalam beberapa dekade terakhir. Menyikapi fenomena tersebut pada tahun 1999 Pemerintah menyusun Undang-Undang No 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yang kemudian di ikuti dengan pembentukan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), yang berperan sebagai regulator.
Sejak pertama berdiri KPPU berhasil membongkar beberapa kasus kartel di Indonesia. Namun nyatanya tidak membuat efek jera bagi pelaku industri lain untuk melakukan praktik kartel bidang yang lain. Terbukti masih banyaknya kasus kartel yang membuat kerugian produsen pesaing sekaligus konsumen. Salah satu kasus terbaru adalah kasus kartel dalam perdagangan bibit ayam atau DOC , menurut Humas KPPU dapat merugikan peternak sekitar 224 Milyar dan bahkan katanya dapat merugikan negara hingga Triliunan.
Penelusuran dugaan kartel DOC ini, didasari atas kenaikan harga ayam yang melonjak hingga sempat menembus Rp 40 ribu per kilogram dan pada akhirnya merugikan konsumen. Kondisi ini diduga karena adanya kesepakatan pemusnahan/pemotongan/pengafkiran induk ayam pedaging (Parent Stock) dan pemotongan Hatchery Egg Final Stock oleh pelaku usaha pembibitan di Indonesia.
Melihat fakta ini diduga ada monopoli dalam sistem bisnis daging ayam tersebut, KPPU sebagai badan pengawas persaingan usaha menindaklanjuti temuan awal tersebut. Kasus dikembangkan menjadi data investigasi utuh dan kemudian diputuskan bahwa telah terjadi praktik monopoli oleh beberapa perusahaan atau kartel dalam sistem bisnis ini.
Ayam bibit (DOC)
dapat dibedakan menjadi beberapa peluang usaha, yaitu : (1) usaha pakan ayam (termasuk obat dan vitamin), (2) usaha bibit (ayam usia sehari), (3) usaha budidaya (pembesaran menjadi ayam siap konsumsi) dan (4) usaha makanan olahan.
Ayam yang beredar di masyarakat adalah ayam pedaging yang telah dijual pada pasar tradisional atau modern dan merupakan ayam siap dimasak yang biasa lebih dikenal dengan ayam karkas. Sebelum menjadi ayam karkas, terdapat proses bisnis yang cukup panjang. Ayam karkas merupakan salah satu hasil produk dalam bisnis ayam, hasil produk lainnya adalah Parent Stock (PS), Final Stock (FS) dan Live Bird. Parent Stock atau yang biasa disebut induk ayam merupakan hasil produk dari Grand Parent Stock (GPS). Final Stock adalah bibit ayam yang berumur satu hari yang harus dibesarkan sampai dengan bobot tertentu yang menjadi produk Live Bird. Berikut gambaran bisnis proses sehingga menghasilkan karkas ayam.
Anak ayam sebagai faktor kunci dalam industri ayam pedaging, selain faktor lainnya yaitu pakan, obat, dan vitamin. Day Old Chick Final Stock (DOC FS) yang diterima oleh peternak adalah tingkatan terakhir dari Final Stock (FS). Berdasarkan hasil penelitian, 1 ekor indukan GPS dapat menghasilkan 40 ekor indukan PS. Kemudian 1 ekor indukan PS dapat menghasilkan 130 ekor DOC FS, yang merupakan anak dari Induk ayam atau Parent Stock (PS). DOC FS merupakan hasil seleksi sehingga diperoleh hasil akhir (final) yang betul-betul produktif dan berkualitas.
Pelaku usaha pada industri ayam
Farm yang menghasilkan DOC FS), usaha pakan, vitamin dan obat, usaha bahan baku pakan unggas, usaha budi daya ayam pedaging komersial dan usaha budi daya ayam dengan kemitraan dengan ketentuan yang dibuat oleh Perusahaan Inti, dan pelaku usaha yang membuka pangkalan ayam ras hidup di pasar-pasar tradisional, serta mengusahakan pengolahan ayam siap saji/Food Processing). Pelaku usaha semi-integrasi adalah pelaku usaha yang hanya memiliki usaha lebih dari satu rangkaian produksi namun tidak menguasai usaha dari hulu sampai hilir. Sementara pelaku usaha yang tidak terintegrasi adalah pelaku usaha yang hanya memiliki satu proses produksi. Jika dilihat melalui bagan piramida berikut ini :
Perusahaan terintegrasi berada pada puncak piramid dengan jumlah pelaku usaha yang sedikit. Kemudian diikuti oleh pelaku usaha breeder. Breeder pada tahap kedua merupakan pelaku usaha yang bergerak pada usaha pembibitan dengan produk jualnya yaitu DOC FS, pelaku usaha pada level ini tidak memiliki GPS sehingga sangat tergantung pada pelaku usaha pembibitan yang memproduksi DOC PS. Pelaku usaha pada level breeder ini yang pada umumnya dapat dikategorikan sebagai pelaku usaha semi-integrasi karena pada faktanya beberapa perusahaan telah memiliki usaha budidaya dan usaha pakan ayam produksi sendiri. Pada level selanjutnya terdapat pelaku usaha peternak/pembudidaya. Level pelaku usaha peternak sampai pada pelaku usaha pada level terakhir merupakan pelaku usaha yang pada umumnya tidak terintegrasi, kecuali peternak yang memiliki hubungan kemitraan. Pelaku usaha peternak sangat membutuhkan pasokan baik DOC FC, pakan, vitamin dan obat dari pelaku usaha pada level atasnya.
mengungkapkan pelaku usaha bandar melakukan usaha pada rumah potong ayam. Live Bird yang dibeli dari pelaku usaha peternak kemudian dipotong sehingga menghasilkan karkas ayam. Level yang terakhir adalah pengecer sebagai pelaku usaha pada level akhir dimana produk yang mereka jual adalah karkas ayam yang akan dikonsumsi oleh konsumen akhir pada industri ayam pedaging.
Perusahaan pembibitan adalah perusahaan dengan hasil usaha bibit ayam pedaging. Perusahaan pembibitan disebut juga sebagai breeder. Breeder menjalankan usaha pembesaran ayam indukan (Parent Stock) sampai dengan menghasilkan bibit ayam dan menjualnya kepada peternak/pembudidaya. Perusahaan pembibitan terbagi menjadi 2 jenis. Pertama, perusahaan pembibitan yang memiliki GPS dan kedua, perusahaan pembibitan yang tidak memiliki GPS. Perusahaan pembibitan yang memiliki GPS akan sangat bergantung pada rekomendasi impor dari Pemerintah untuk pengadaan GPS. Sementara perusahaan pembibitan yang tidak memiliki GPS sangat tergantung pada perusahaan yang menjual DOC PS. Meskipun terdapat perbedaan diatas, baik perusahaan pembibitan yang memiliki GPS dan perusahaan pembibitan yang tidak memiliki GPS berada pada pasar yang sama. Produk yang mereka jual adalah produk yang sama, yaitu bibit ayam (DOC FS). Begitu pula dengan konsumen mereka, yaitu peternak/pembudidaya ayam pedaging komersil. Dengan demikian perusahaan pembibitan baik yang memiliki GPS dan yang tidak memiliki GPS merupakan pelaku usaha yang saling bersaing.
Asosiasi Pelaku Usaha
Pelaku usaha dalam industri ayam membentuk perkumpulan-perkumpulan antara sesama pelaku usaha dalam pasar bersangkutan yang sama. Perkumpulan tersebut pada akhirnya membentuk badan hukum tersendiri berdasarkan tujuan dan kepentingan tertentu. Saat ini terdapat lebih dari 20 asosiasi yang berkaitan dengan industri ayam. Salah satunya adalah Asosiasi Perusahaan Pembibitan. Pelaku usaha pembibitan sendiri tergabung dalam satu asosiasi khusus yang dinamakan GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas).
II. LANDASAN TEORI
Pendekatan atau prinsip-prinsip dalam etika bisnis meliputi :
Dalam situasi apapun, tindakan atau kebijakan yang benar adalah yang memberikan keuntungan paling besar atau biaya paling kecil (menekan biaya).
2. Hak, definisi secara umum adalah klaim atau kepemilikan individu. Hak merupakan sarana atau cara yang memungkinkan individu untuk memilih dengan bebas apapun kepentingan atau aktivitas mereka dan melindungi pilihan-pilihan mereka. Hak moral atau hak asasi manusia didasarkan pada prinsip-prinsip moral yang menegaskan bahwa semua manusia di inzinkan melakukan sesuatu atau berhak memiliki sesuatu sedangkan hak hukum berasal dari sistem hukum yang memungkinkan seseorang untuk bertindak dalam suatu cara tertentu.
3. Keadilan, bisa diartikan juga sebagai keseimbangan, kewajaran atau kesamaan. Keadilan dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu pertama, keadilan distributif, berkaitan dengan distribusi yang adil atas keuntungan dan beban (yang sama haruslah diperlakukan secara sama). Kedua, keadilan retributif yang mengacu pada pemberlakuan hukuman yang adil pada pihak-pihak yang melakukan kesalahan. Ketiga, keadilan kompensatif, berkaitan dengan cara yang adil dalam memberikan kompensasi pada seseorang atas kerugian yang mereka alami akibat perbuatan orang lain.
4. Caring atau perhatian merupakan pandangan yang menyatakan bahwa kita memiliki kewajiban untuk memberikan perhatian khusus kepada individu-individu tertentu yang menjalin hubungan baik khususnya hubungan ketergantungan. Etika perhatian diekpresikan dalam arti menjaga, merawat, mendorong perkembangan seseorang sehingga mampu membuat keputusan dan menjalani kehidupannya sendiri.
Kartel merupakan kerjasama dari produsen-produsen produk tertentu yang bertujuan untuk mengontrol produksi, penjualan, dan harga bahkan hingga melakukan monopoli terhadap komoditas atau industri tertentu. Kartel dilakukan oleh beberapa pelaku usaha dalam rangka memperoleh market power kemudian mengatur harga produk dengan cara membatasi ketersediaan barang di pasar. Pengaturan persediaan dilakukan dengan bersama-sama membatasi produksi dan atau membagi wilayah penjualan.
Peraturan di Indonesia berdasarkan UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, pada pasal 11, pelaku usaha dilarang membuat perjanjian, dengan pelaku usaha pesaingnya, yang bermaksud untuk mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan atau pemasaran suatu barang dan atau jasa, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. Yang berlamat di Jl. Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, didirikan di Indonesia dengan nama PT Charoen Pokphand Indonesia Animal Feedmill Co. Limited. Pokphand termasuk Perusahaan integrasi menguasai business process mulai dari hulu sampai hilir. Berdasarkan Anggaran Dasar kegiatan usaha Perseroan adalah:
a. Kegiatan usaha utama meliputi :
Industri makanan ternak, pembibitan dan budidaya ayam ras serta pengolahannya, industri pengolahan makanan, pengawetan daging ayam dan sapi, termasuk unit-unit cold storage.
Menjual makanan ternak, makanan, daging ayam dan sapi, bahan-bahan asal hewan di wilayah Republik Indonesia, maupun ke luar negeri dengan sejauh diizinkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
b. Kegiatan penunjang meliputi :
Mengimpor dan menjual bahan-bahan baku dan bahan-bahan farmasi.
Memproduksi dan menjual karung atau kemasan plastik, peralatan industri dari plastik, alat-alat peternakan dan alat-alat rumah tangga dari plastik sesuai dengan perizinan yang dimiliki dan tidak bertentangan dengan peraturan di bidang penanaman modal.
Melakukan perdagangan besar pada umumnya, termasuk ekspor impor, perdagangan interinsular atau antar pulau atau antar daerah.
Melakukan kegiatan pengangkutan barang-barang pada umumnya, baik pengangkutan darat, perairan, laut dan udara.
Menjalankan usaha pergudangan dan pusat distribusi.
Produk utama yang dihasilkan oleh perseroan dan entitas anaknya adalah pakan ternak, anak ayam usia sehari komersial dan daging ayam olahan.
Visi perusahaan ini adalah menyediakan pangan bagi dunia yang berkembang. Sementara mempunyai Misi memproduksi dan menjual pakan, anak ayam usia sehari dan makanan olahan yang memiliki kualitas tinggi dan berinovasi
melakukan demo dengan permasalahan Harga Jual Ayam hidup (Live Bird) dibawah harga pokok produksi (HPP) peternak sehingga peternak mengalami kerugian. Permasalahan tersebut kemudian diduga disebabkan karena adanya “over supply” ayam hidup ditingkat konsumen. Desakan untuk melakukan pengaturan supply pun menjadi alternative solusi. Namun, permasalahannya kemudian menjadi semakin tidak jelas karena tidak ada satu pun data (baik data supply dan/atau data demand) yang dapat dijadikan justifikasi bahwa memang telah terjadi over supply.
Kemudian pelaku usaha baik breeder maupun peternak melakukan pertemuan dan pembahasan yang menyepakati bahwa solusi atas permasalahan diatas akan ditempuh dengan cara pemusnahan/afkir indukan ayam produktif (afkir dini PS). Para Breeder kemudian melakukan kesepakatan pada tanggal 14 September 2015. Dari 12 (duabelas) pelaku usaha (breeder) salah satu pelaku usaha tersebut adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk yang menyetujui dan menandatangani kesepakatan untuk mengurangi produksi DOC FS dengan cara melakukan afkir PS sebanyak 6 juta ekor. Tujuan dari adanya kesepakatan tersebut adalah untuk mengatasi keterpurukan harga ayam pada waktu itu. Pengaturan dilakukan secara bersama-sama dengan cara melakukan afkir induk ayam sebanyak 6 juta ekor dilakukan 3 tahap, masing-masing tahap dilakukan 2 juta ekor.
Pada akhirnya Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memutus bersalah 12 (duabelas) perusahaan dalam praktik kartel ayam. "Terlapor kedua belas perusahaan dan termasuk PT Charoen Pokphand yang juga merupakan 2 (dua) pemain terbesar dalam kasus ini terbukti secara sah melanggar pasal 11 Undang-undang nomor 5 tahun 1999 tentang Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha," dalam sidang di kantor KPPU, Jakarta, Kamis 13 Oktober 2016. PT Charoen Pokphand dikenakan denda Rp 25 Milyar.
IV. ANALISA KASUS
monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum. Kolusi atau kolaborasi dari para pelaku usaha yang dikenal dengan kartel manfaatnya hanya ditujukan untuk kepentingan anggotanya saja (yang bersepakat kartel) sehingga tindakan-tindakan mereka ini dilakukan secara tidak sehat dan tidak jujur.
Berdasarkan prinsip etika bisnis, hal ini sudah melanggar prinsip utilitarian, hak keadilan dan caring. PT Charoen Pokphand bersama 11 (sebelas) pelaku usaha lainnya melalui kesepakatan afkir dini bermaksud mempengaruhi atau bahkan menetapkan harga dengan mengatur produksi dan pemasaran bibit ayam (DOC) dan hal ini mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat. Berdasarkan prinsip utilitarian yang dilanggar yaitu memungkinkan penggunaan sumber daya dalam suatu cara yang akan menciptakan kelangkaan atas DOC yang dibutuhkan peternak dan pada akhirnya biaya akan dibebankan kepada konsumen yaitu masyarakat secara umum. Dari sisi hak, yaitu melanggar hak peternak karena adanya kenaikan harga DOC bahkan kelangkaan atau kesulitan ketersediaan DOC, bahkan beberapa peternak mandiri tidak mendapat pasokan DOC. Jikapun ada pasokan DOC yang didapat oleh mereka, kualitasnya bukan DOC kualitas pertama, tetapi ke dua. Implikasinya adalah mereka butuh biaya untuk membesarkan DOC yang lebih mahal, karena DOC kualitas nomor dua membutuhkan pakan yang lebih banyak, membutuhkan vaksin yang lebih banyak, membutuhkan penanganan yang lebih intensif dibandingkan DOC kualitas nomor satu. Akibatnya biaya yang timbul lebih tinggi dibebankan kepada konsumen akhir yaitu masyarakat umum dengan menanggung beban harga daging ayam yang mahal. Prinsip keadilan juga dilanggar karena kesepakatan afkir antara pelaku usaha memungkinkan perusahaan monopoli untuk menetapkan harga, mengatur jumlah produksi dan pemasaran DOC yang berorientasi pada keuntungan maksimal perusahaan. Para pelaku usaha termasuk Pokphand juga tidak mempunyai perhatian atau caring terhadap peternak mandiri bahkan konsumen, karena harga daging ayam yang melambung tinggi. Mereka para pelaku usaha hanya berorientasi pada keuntungan maksimal yang harus mereka peroleh.
PS terdapat kenaikan harga DOC FS ditingkat breeder. Hal ini dibuktikan dengan adanya kenaikan harga rata-rata pada bulan November dan Desember 2015, dibanding dengan harga rata-rata periode sebelumnya. Menurut hasil penyelidikan di lapangan DOC mulanya sekitar Rp 3.000-Rp 4.000/DOC, tetapi setelah pengafkiran harga DOC naik sekitar Rp 5.000 atau bahkan di atas Rp 6.000/DOC. Dengan adanya kesepakatan afkir dini tahap I sebanyak 2 juta ekor telah menyebabkan terjadinya pengurangan produksi DOC FS sebesar 2.000.000 x 32 ekor = 64.000.000 ekor DOC FS (1 ekor PS menghasilkan 32 ekor FS dalam sisa waktu usia produktif). Kenaikan harga tersebut berdampak pada kerugian peternak, yang nilainya mencapai lebih kurang Rp 224 Milyar selama bulan November dan Desember 2015.
V. SARAN & KESIMPULAN
Jika Manajemen PT Charoen Pokphand merasa keberatan atas putusan bersalah dan harus membayar denda Rp 25 Milyar untuk meringankan hukuman tersebut sebaiknya perusahaan melakukan langkah-langkah kongkrit atas keberatannya. Yaitu, mengajukan surat keberatan kepada pengadilan dilengkapi dengan bukti-bukti kongkrit yaitu surat resmi mengenai instruksi dari Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan pada 15 Oktober 2015 mengenai pelaksanaan afkir dini Parent Stock (PS). Kemudian mengikuti proses hukum yang berlaku.
Pelaksanaan afkir Parent Stock (PS) produktif harus jelas tujuan dan manfaatnya jika hal tersebut merupakan kebijakan pemerintah maka penerapan prinsip Good Governance mutlak harus diterapkan. Dalam prinsip Good Governance terdapat asas keseimbangan dan asas kesamaan dalam mengambil keputusan, asas keadilan dan kewajaran dan asas penyelenggaraan kepentingan umum. Sebagai perusahaan breeder yang mendapatkan instruksi afkir dini PS sebaiknya paham betul segala dampak yang akan diterimanya.
DAFTAR PUSTAKA
Eduardo Simorangkir – 13 Oktober 2016, detikFinance - KPPU: Kartel Ayam Rugikan Peternak Rp 224 M
Fritzsche, D.J. 2005. Business Ethics: A Global and Managerial Perspective. Second edition. McGraw-Hill (F)
https://bisnis.tempo.co/read/news/2016/1/24/- KPPU telusuri dugaan kartel bibit ayam
https://bisnis.tempo.co/read/news/2016/10/13/- perusahaan-divonis-bersalah-melakukan-kartel-ayam
http://bisnis.liputan6.com/read/2626234/ KPPU-denda-11-perusahaan-Rp-1198-miliar-terkait-kartel-ayam
PRESS RELEASE PUTUSAN KPPU PERKARA NOMOR 02/KPPU-I/2016 – KPPU Hukum denda kartel ayam
Velasquez, M.G. 2002. Business Ethics: Concepts and Cases. Seventh edition. Prentice Hall (V)
https://www.youtube.com/watch?v=NS-tanQJ2nM – 5 Maret 2016 - Sepak Terjang Kartel Ayam – MetroTv Program Netizen News
https://www.youtube.com/watch?v=0tcjyatWLis – 16 Maret 2016 - Menyelisik Kartel Ayam – Metro TV Program Economic Challenges