SKRIPSI
Partisipasi Perempuan Pada Pemilu Legislatif 2009
( Studi Kasus Daerah Pemilihan Sumatera Utara I Medan ) D
I S U S U N OLEH
ALLES SANDRO TURNIP 040905062
DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMUS SOSIAL DAN ILNU POLITIK
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat kasih karunia dan
penyertaanNya penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “
Partisipasi Calon Legislatif Perempuan di Sumatera Utara pada Pemilu 2009“. setiap kesulitan yang terjadi dalam pembuatan skripsi ini , tidak luput dari
campur tangan Tuhan dalam penyertaanNya sehari-hari dalam Penelitian. Terima
kasih Tuhan untuk setiap hari yang Kau berikan untuk anak mu ini, hingga penulis
bisa selalu mengucap syukur atas setiap rancanganMu yang dahsyat dan luar
biasa.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada orang tua saya yang tercinta
dan selalu sabar menanti diriku ini untuk wisuda untuk bapak M Turnip Spd dan
Ibu R Sihotang. Terima kasih buat dukungan doa, materi, semangat, yang penulis
terima selama ini. Penulis bangga memiliki kalian yang telah membesarkan
penulis dengan penuh cinta, kasih sayang, didikan tentang disiplin. Walau kadang
tidak sesuai dengan yang penulis mau. Penulis juga berterima kasih kepada ketiga
adik ku yang aku sayangi Apri Turnip, Oktria Turnip dan Anggara Turnip. Kalian
menjadi sumber semangat untuk penulis agar dapat memberikan yang terbaik
untuk semuanya. Di kesempatan ini penulis juga tak lupa mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Bapak Badaruddin Harahap sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik, Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Zulkifli Lubis, MA sebagai ketua Departemen Antropologi Sosial
3. Bapak Lister Berutu MA, sebagai dosen pembimbing, yang telah
membimbing penulis dengan sabar dan memberikan masukan yang berguna
bagi penulis selama masa pengerjaan skripsi ini.
4. Bapak Drs. Irfan Simatupang Msi, sebagai ketua penguji pada saat penulis
melaksanakan ujian komprehensif. Terima kasih untuk semua saran yang
diberikan dalam penyempurnaan skripsi ini.
5. Ibu Dra. Sabariah Bangun , selaku dosen penguji pada saat penulis
melaksanakan ujian komprehensif. Terima kasih untuk semua saran yang
diberikan dalam penyempurnaan skripsi ini.
6. Abangda Nurman Ahmad,S.Sos,M.Soc selaku Penasehat Akademik yang
selalu memberikan motivasi dan nasehat untuk menyelesaikan skripsi penulis
selama masa perkuliahan..
7. Seluruh dosen di Departemen Antropologi yang telah memberikan ilmu yang
mereka miliki selama penulis mengikuti perkuliahan.
8. Terima kasih juga kepada Helen lucen Silalahi yang selama ini telah
memberikan motivasi buat penulis selama ini berkat kasih sayang dan
kesabarannya serta perhatiannya penulis dapat mengerjakan skripsi dengan
selesai.
9. Teman-teman seperjuangan antro'04 yaitu Hariman Silalahi, Joseph silalahi,
Kia Sagala, Arnov copo, Kardo hutauruk.. Teman-teman antro'04 yang telah
terlebih dahulu meraih gelar sarjana.dan kepada kerabat-kerabat lain yang
10.Teman – teman komunitas Warkop “ KILA “ yang selalu menemani penulis
pada saat penulis sedang bimbang sambil bermainkan jemari tangannya.
11.Buat bapauda dan nangudaku yang ada di Helvet terimakasih atas perhatian
DAFTAR ISI
Lembaran Pengesahan………i
Abstrak……… ii
Kata Pengantar………...iii
Daftar isi………..iv
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah……….………… 1
2. Perumusan Masalah……….………..10
3. Lokasi Penelitian……….…... 10
4. Tujuan dan Manfaat Penelitian………... 11
5. Tinjauan Pustaka……….. 11
6. Metode Penelitian ………. 20
6.1. Teknik Pengumpulan Data………. ... 21
6.1.1 Teknik Observasi ……….………… 21
6.1.2 teknik wawancara………. 22
7. teknik analisa data………. 23
BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH PEMILIHAN SUMATERA UTARA I 2.1.Lokasi dan Jumlah Pemilih……….……..…. 24
2.1.1.Kependudukan………..…..….. 26
2.2. Penyelenggara Pemilu………...……. 34
BAB III PROSES PEMILU LEGISLATIF 2009 DAN PARTISIPASI PEREMPUAN DI DAERAH PEMILIHAN SUMATERA UTARA I
3.1.Peserta Pemilu dan Pencalonan………31 3.1.1. Kendala Pada Tahap Penetapan Dan Pendaftaran Calon
Legislatif 2009……….. 44
3.1.2. Kendala Pada Tahap Pelaksanaan Kampanye……… 46
3.2.Partisipasi Perempuan……… 49
3.2.1 Menjadi Anggota Partai Politik……….. 52
3.2.2.Kader Perempuan Partai Politik………. 53
3.2.3. Pemberdayaan Perempuan Partai Golkar……… 59
BAB IV TANTANGAN DAN KENDALA YANG DIHADAPI PEREMPUAN 4.1. Motif Elit Politik Perempuan dalam Berpartisipasi Politik……… 61
4.2.Hambatan-Hambatan Perempuan Dalam Berpolitik……….. 63
4.2.1.Tantangan-Tantangan Diskursif/Ideologis………. 63
4.2.2.Hambatan Sosio-Ekonomi……… 63
4.2.4.Hambatan Pribadi dan Psikologis………... 66
4.3.Kerangka Kebijakan Untuk Meningkatkan Partisipasi Perempuan Di Ranah Publik………. 72
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
5.1Kesimpulan……… 80
5.2.Saran/Rekomendasi………. 82
ABSTRAK
BAB I PENDAHULUAN 1.Latar Belakang Masalah
Sejarah Tentang Perempuan Di Parlemen Indonesia (Dewan Perwakilan
Rakyat-Republik Indonesia/ TK-I dan TK-II) merupakan sebuah proses panjang,
tentang perjuangan perempuan di wilayah publik. Kongres Wanita Indonesia
pertama, pada tahun 1928, yang membangkitkan kesadaran dan meningkatkan
rasa nasionalisme di kalangan perempuan merupakan tonggak sejarah, karena
berperan dalam meningkatkan kesempatan bagi perempuan Indonesia untuk
berpartisipasi dalam pembangunan, termasuk dalam politik(Ani, 2000: 56)
Oleh karena itu, berbagai strategi harus dipelajari untuk mengatasi
hambatan tersebut, sehingga tujuan untuk meningkatkan representasi perempuan
di parlemen bisa diwujudkan. Studi kasus ini menyajikan bagaiman partisipasi
politik perempuan di Indonesia, dan mengkaji hambatan yang dapat menghalangi
wanita untuk menjadi anggota parlemen. Selain itu, ditawarkan berbagai strategi
yang bisa dipertimbangkan untuk mengatasi permasalahan keterwakilan ini.
Dalam negara yang menganut sistem nilai patriarkal, seperti Indonesia,
kesempatan perempuan untuk menjadi politisi relatif terbatasi karena persepsi
masyarakat mengenai pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, yang
cenderung bisa ke arah membatasi peran wanita hanya pada urusan rumah tangga.
Namun demikian. pada masa perjuangan kemerdekaan, kebutuhan akan
kehadiran banyak pejuang, baik laki-laki maupun perempuan, membuka
kesempatan luas bagi para perempuan untuk berkiprah di luar lingkup domestik
menghargai para pejuang perempuan yang ikut berperan di medan perang, dalam
pendidikan, dalam pengobatan, dan lain-lain. Kesempatan ini memberi
kemudahan pada perempuan untuk memperjuangkan isu-isu yang berhubungan
dengan kepentingan mereka atau yang terjadi di sekitar mereka, selain isu politik.
Dalam pemilihan umum pertama pada tahun 1955, 6,5 % dari anggota
parlemen adalah perempuan. Kemudian, representasi perempuan Indonesia di
parlemen mengalami pasang surut, dan mencapai angka tertinggi sebesar 13,0%
pada tahun 1987. Saat ini, jumlah perempuan mencapai 8,8% dari seluruh anggota
perwakilan terpilih. Kurangnya keterwakilan perempuan di parlemen disebabkan
oleh serangkaian hambatan yang membatasi kemajuan mereka.pada pemilihan
umum tahun 1955, pada masa Orde Lama, jumlah perempuan di DPR mencapai
17 orang, Pemilihan umum pertama di nilai sebagai demokratis, dengan
partisipasi perempuan dalam politik didasarkan pada kemampuan mereka sebagai
pemimpin dari unit-unit yang ada dalam organisasi-organisasi partai.(Romany S.
2007 : 160)
Berbeda dengan periode Orde Lama (era Soekarno), pada masa Orde Baru
(era Soeharto) dengan konsep partai mayoritas tunggal, representasi perempuan
dalam lembaga legislatif dan dalam institusi-institusi kenegaraan, ditetapkan oleh
para pemimpin partai di tingkat pusat, Akibatnya, sebagian perempuan yang
menempati posisi penting memiliki hubungan keluarga atau kekerabatan dengan
para pejabat dan pemegang kekuasaan di tingkat pusat. Hal ini di mungkinkan
karena dalam sistem pemilu, pemilih tidak memilih kandidat (orang), tetapi
simbol partai, untuk berbagai tingkatan pemerintahan, yaitu tingkat kabupaten,
dalam proses pencalonan/ pemilihan, dan mungkin tidak memiliki kemampuan
mengartikulasikan kepentingan konstituennya (Nauli, 1993:77)
Dalam pemilihan umum 1999, proses pemilihan mengalami perubahan
cukup berarti, dimana rekrutmen kandidat partai untuk lembaga legislatif,
termasuk perempuan, harus disetujui oleh daerah, para pengambil keputusan
partai di daerah (hal ini tidak berlaku bagi wakil dari angkatan bersenjata dan
polisi). Sebagian besar wakil perempuan yang terpilih berpartisipasi dalam proses
pemilu, antara lain dalam upaya pembelaan terhadap masyarakat, diskusi,
ceramah dan kegiatan partai lainnya yang berhubungan dengan kampanye pemilu
(Anugrah, 2008:17)
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola seleksi antara laki-laki dan
perempuan sebagai anggota legislatif. Faktor pertama berhubungan dengan
konteks budaya di Indonesia yang masih sangat kental asas patriarkalnya. Persepsi
yang sering dipegang adalah bahwa arena politik untuk laki-laki, dan bahwa
tidaklah pantas bagi wanita untuk menjadi anggota parlemen. Faktor kedua
berhubungan dengan proses seleksi dalam partai politik. Seleksi terhadap para
kandidat biasanya di lakukan oleh sekelompok kecil pejabat atau pimpinan partai,
yang hampir selalu laki-laki. Di beberapa negara, termasuk Indonesia, di mana
kesadaran mengenai kesetaraan gender dan keadilan masih rendah, pemimpin
laki-laki dari partai-partai politik mempunyai pengaruh yang tidak proporsional
terhadap politik partai, khususnya dalam hal gender. Perempuan tidak
memperoleh banyak dukungan dari partai-partai politik karena struktur
kepemimpinannya didominasi oleh kaum laki-laki. Ketiga, berhubungan dengan
pentingnya representasi perempuan dalam parlemen. Keempat, tidak adanya
jaringan antara organisasi massa, LSM dan partai-partai politik untuk
memperjuangkan representasi perempuan. Jaringan organisasi-organisasi wanita
di Indonesia baru mulai memainkan peranan penting sejak tahun 1999 (Matland,
2001)
Dalam kehidupan sosial bernegara, setiap warga negara pada dasarnya
tidak ada pembedaan atas hak dan kewajibannya, semuanya sama dihadapan
hukum dan pemerintahan. Termasuk dalam hal ini adalah hak berpolitik, hak
untuk memberikan pendapat dan hak untuk melakukan koreksi atas pemerintahan.
Semua hal tersebut tentunya dilaksanakan dengan cara-cara dan mekanisme yang
telah diatur oleh sistem pemerintahan. Pergantian kepemimpinan sebagai salah
satu keniscayaan dalam sistem demokrasi menuntut keterlibatan warga negara di
dalamnya. Adapun aturan main dalam sistem demokrasi nasional salah satunya
adalah pemilu. Kegiatan pemilu sendiri ditujukan sebagai sarana untuk memilih
wakil-wakil rakyat yang akan duduk di lembaga legislatif. Pemilu 2009 memiliki
banyak sisi yang unik untuk dikaji. Salah satunya adalah keterlibatan perempuan
dalam pemilu. Pemilu dan perempuan seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat
dipisahkan, karena membahas tentang pemilu kuranglah lengkap bila tanpa
menyertakan perempuan di dalamnya (Undang-undang Nomor 2 Tahun 2008)
Dalam sejarah perpolitikan di Indonesia dan negara berkembang pada
umumnya, peranan perempuan memang dipandang terlambat dalam keterlibatan
di dunia politik. Stigma-stigma bahwa perempuan dalam posisi domestik
dianggap sebagai salah satu hal yang mengakibatkan perempuan terlambat
yang memegang jabatan publik masih sangat sedikit. Fenomena tersebut bukan
hanya terjadi pada tingkat pusat tetapi juga berimbas pada tingkatan lokal atau
daerah. Terlebih lagi bahwa posisi kaum perempuan kurang di untungkan secara
politis karena jarang sekali terlibat dalam pengambilan keputusan, khususnya
yang berkenaan dengan permasalahan perempua n itu sendiri. Peran dan status
perempuan dewasa ini lebih di pengaruhi oleh masa lampau, kultur, ideologi, dan
praktek hidup sehari-hari. Inilah yang menjadi kunci mengapa partisipasi
perempuan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara mengalami kelemahan.
Kedudukan perempuan yang demikian, ternyata tidak dapat di
pertahankan, karena dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi,
pandangan yang meletakkan perempuan untuk terus-menerus tersubordinat dalam
bidang sosial, ekonomi da politik tidak dapat dipertahankan lagi.
Arief Budiman ( 1985 ) menyatakan bahwa pembagian pekerjaan antara
pria dan wanita merupakan sebuah lembaga kemasyarakatan tertua dan terkuat,
yang umurnya sudah ribuan tahun dan sampai sekarang masih bertahan dengan
gagahnya
Maka berdasarkan sejarah tradisi dan budaya Indonesia, kedudukan
perempuan sangat terbatas.Mulai dari diri perempuan itu sendiri yang telah di
tempah sedemikian rupa disekitar lingkungan yaitu didominasi sistem patriarki
yang menjadikannya sebagai perempuan dengan kepribadian menerima apa
adanya sampai faktor eksternal yang juga memainkan peran yang cukup
signifikan dalam membatasi peran perempuan di ruang publik dan di parlemen.
Merujuk peran perempuan di atas maka perempuan dikatakan sebagai the
laki-laki yang membawa implikasi luas dalam kehidupan sosial di masyarakat.
Situ Musda Mulia, 2005:5). Sejarah sistem politik di sebagian besar negara
menunjukkan adanya diskriminasi terhadap perempuan dalam proses politik mulai
di tingkat lokal sampai tingkat nasional. Adanya pembagian antara peran publik
dan domestik menjadikan perempuan terpotong aksesnya dalam partisipasi politik
dan terdiskriminasi dalam sistem politik.
Menyikapi hal diatas, selama ini ada anggapan di masyarakat bahwa
kuatnya culture patriakhi di indonesia menyebabkan kepemimpinan perempuan di
Indonesia terbatas. Banyak perempuan-perempuan yang belum berani mengambil
kesempatan-kesempatan yang tersedia baginya. Walaupun perempuan Indonesia
sudah diberi kesempatan secara bebas untuk menentukan pilihan kariernya
dimana perempuan sudah di pahami sebagai manusia lincah dan berperan aktif
sebagai mitra sejajar yang di ikut sertakan dalam mengambil keputusan disegala
bidang pembangunan, hal ini akan mendorong perempuan Indonesia untuk
berproses mengembangkan dirinya sebagai pribadi yang utuh .( Murniati. 2004 :
221 )
Sebuah masyarakat dapat dikatakan demokratis jika dalam kehidupannya
menghargai hak asasi manusia secara adil dan setara, mengakui dan memajukan
akan kebebasan. Dalam penghargaan terhadap hak yang adil dan setara tersebut
tercermin adanya penghargaan terhadap perbedaan-perbedaan yang ada,
khususnya terhadap kelompok-kelompok minoritas. Hal ini juga mencakup
adanya jaminan partisipasi politik bagi semua warga. Partisipasi dalam sistem
politik merupakan tugas yang kompleks dan menantang, khususnya bagi
salah satu kelompok yang dirugikan sebagai akibat dari peran-peran yang di
terjemahkan secara sosial dan budaya dan hubungan antara laki-laki dan
perempuan dalam hal produktif, reproduktif dan politik.
Meskipun kita ketahui bahwa komposisi perempuan lebih banyak
ketimbang laki-laki, namun itu bukan sebagai jaminan atas hak-hak mereka dalam
Publik karena Faktor budaya merupakan salah satu penghambat bagi perempuan
untuk tampil dalam forum publik. Kuatnya peran laki-laki dalam kehidupan
publik sangat menentukan setiap keputusan-keputusan yang diambil meskipun itu
menyangkut kehidupan perempuan.
Institusi struktural kekuasaan yang paling tinggi adalah negara, yang
secara langsung maupun tidak langsung terlibat dan berpengaruh terhadap
kehidupan perempuan. Negara sebagai sebuah wilayah dengan struktur ekonomi,
sosial, politik dan budaya, merupakan sebuah kompleksitas kekuasaan yang
dominan dan menjadi pusat otoritas di tingkat publik. Idealnya, negara dengan
kekuasaan tertinggi yang dimiliki mampu menjadi tempat perlindungan bagi
perempuan dalam memperoleh keadilan. Tetapi kenyataannya dalam banyak
kasus, negara justru semakin membuat posisi perempua n makin terjepit. Tetapi
kondisi tersebut tidak menjadikan isu perempuan menjadi sesuatu yang diangap
vital.
Di sinilah bangsa Indonesia diuji dalam pendistribusian kekuasaan antara
laki-laki dan perempuan dalam pengambilan keputusan public, yang merupakan
bagian terpenting dalam pencapaian kehidupan yang lebih demokratis, setara dan
berkeadilan gender. Sehingga, bukan hal yang berlebihan kalau saat ini kaum
keterwakilan politik perempuan juga harus di maknai sebagai tindakan yang
sangat strategis untuk mengurangi hambatan individu dalam berkiprah di kancah
politik sekaligus meminimalkan ketidakadilan gender yang ada dalam kehidupan
masyarakat.( Kompas 10 febuari.2009).
Padahal keterwakilan perempuan di bidang politik sangat diperlukan untuk
mempengaruhi proses demokrasi dengan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan
gender, walaupun tidak mudah bagi perempuan untuk masuk kewilayah politik.
Seperti yang sudah diatur dalam undang-undang pemilu pasal 20 UU No 2 tahun
2008:
“ kepengurusan Partai politik tingkat propinsi dan kabupaten/kota
sebagaiman dimaksud pasal 19 ayat (2) dan ayat (3) disusun dengan
memperhatikan keterwakilan perempuan paling rendah 30 % yang diatur dalam
AD dan ART partai politik masing-masing.“ (Anugrah, 2008)
Dengan adanya undang-undang tersebut tidak diperkenankan suatu partai
politik menyimpang dari system kuota 30 % dengan alasan apapun, oleh sebab itu
partai politik hendaknya mampu melakukan pendidikan politik, mencerdaskan,
dan memajukan kaum perempuan. Dengan begitu, suatu partai politik tidak
tersandung dan jatuh atau tidak mampu berkompetisi dengan Parpol lainnya.
Meskipun perempuan mempunyai peluang yang sama untuk menjadi
pemimpin, masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih kental dengan
budaya patriarkhi masih sulit untuk menerima pemimpin perempuan. Selain
karena alasan lemahnya kepemimpinan mereka, perempuan juga dinilai kurang
mempunyai kemampuan. Ini bisa dilihat tingkat keseriusan partai dalam
dalam pemilihan legislatife, tidak sedikit di antaranya artis perempuan, figure
terkenal, atau bahkan hanya karena perempuan itu salah satu kerabat terdekat
pengurus partai. Ironisnya, pada banyak kasus, nama-nama caleg perempuan
tersebut hanya untuk memenuhi persyaratan partai untuk menuju pemilu 2009.
( Yas mashfiyah, 2009 )
Agar suara dan kebutuhan perempuan tersalurkan dalam semua
perumusan kebijakan public, maka perlu memilih partai politik atau calon
legislatif yang memberikan kesempatan bagi perempuan dalam proses
pengambilan keputusan, mempunyai komitmen dan konsistensi dalam
menerapkan peraturan yang tidak diskriminatif terhadap perempuan, memiliki
program untuk menghilangkan peraturan dan perundang-undangan yang
merugikan perempuan sekaligus memiliki pandangan untuk menggantikan
peraturan-peraturan dengan peraturann yang lebih adil bagi perempuan.
Hal penting lain yang melandasi pentingnya keterwakilan perempuan
dalam lembaga politik khususnya legislative adalah fakta dimana separuh jumlah
penduduk perempuan Indonesia adlah perempuan. Mengabaikan perempuan
dalam pembuatan keputusan politik sama halnya dengan menyingkirkan
mayoritas penduduk Indonesia dalam proses politik. Perempuan memiliki
kebutuhan-kebutuhan khusus yang hanya dapat di pahami dengan baik oleh
perempuan yang memiliki persepektif gender.
Pemilu 2009 memberikan kesempatan yang luas kepada perempuan, ada
banyak peran yang dapat di lakukan dalam proses penting kenegaraan tersebut.
Bagaimanapun juga perempuan merupakan salah satu entitas yang memiliki
kenyataan inilah kemudian peneliti mengambil judul Partisipasi Perempuan
pada Pemilu Legislatif khususnya Dapem 1 Sumatera Utara ( Medan ) Pemilu Tahun 2009.
2. Perumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana bentuk Partisipasi calon legislatif Perempuan Khususnya
Daerah Pemilihan 1 Sumatera Utara ( Medan ) dalam Pemilu Tahun 2009?
2. Bagaimana strategi perempuan dalam menghadapi Budaya Patriarkhi
guna mengikuti Pencalonan Pemilu legislatif Khususnya Dapem 1
Sumatera Utara ( Medan ) ?
3.Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi di Daerah Pemilihan 1 Sumatera Utara ( Medan)
Alasan pemilihan Lokasi Penelitian adalah karena medan merupakan termasuk
kota Metropolitan, yang memiliki kemajemukan dalam masyarakat, baik dari
agama, ras, suku dan golongan. Perbedaan-perbedaan tersebut biasanya dapat
mempengaruhi partsipasi politik masyarakat khususnya kaum perempuan itu
sendiri. Selain itu juga penelitian ini dilakukan untuk mempermudah untuk
mengambil data yang lebih akurat, karena Kantor KPU sumut berada di kota
4. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan Penelitian
Atas dasar perumusan masalah, maka tujuan dalam penelitian ini adalah
untuk mendeskripsikan atau menggambarkan bagaimana perempuan dalam
menghadapi pemilihan umum 2009 dengan salah satunya ikut sebagai calon
legislatif perempuan, dan dapat mewakili suara atau aspirasi sebagian kaum
perempuan, yang selama ini mengalami pendiskriminasikan dalam bidang politik
oleh kaum laki-laki.
Manfaat Penelitian
Adapun Manfaat dari hasil penelitian ini sebagai pemahaman bagi semua
pihak bagaimana perempuan itu memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki
dalam menduduki sebuah jabatan di Parlementer atau bidang public lainnya dan
menghapuskan pendeskriminasiaan terhadap perempuan, yang dulunya
perempuan hanya bisa bekerja di bidang domestic(Rumah tangga) saja.
5.Tinjauan Pustaka
Paolo Freire ( Freire, 1972) mensimulasi pengaruh konstruksi budaya yang
perlu menjadi perhatian kita semua dan hal ini sejalan dengan permasalahan
mendasar tentang pemahaman gender. Gender adalah persepsi seseorang terhadap
perempuan dan laki-laki yang terbentuk sejak anak-anak, bukan atas dasar sex
atau jenis kelaminnya, tetapi terkonstruksi dan bercampur dengan nilai-nilai
lapisan masyarakat, kelompok dan golongan harus terus di galakkan. Perlu
disadari kesadaran gender (gender awareness) tidak dapat sekaligus di mengerti
dan di laksanakan oleh masyarakat. Penyadaran gender perlu waktu untuk
terjadinya perubahan pola pikir dan tingkah laku, sehingga di perlukan kesabaran
dan ketekunan untuk mengubah nilai dan kebiasaan masyarakat.
Peran serta posisi perempuan dalam bermasyarakat tergantung pada nilai
budaya yang mengaturnya, seringkali orang langsung dapat menyimpulkan bahwa
perempuan sebagai makhluk yang dinomor duakan, akibat adanya budaya
patriarkhi, padahal asumsi tersebut tidak terjadi pada semua kelompok masyarakat
misalnya ; Masyarakat minangkabau yang dikenal dengan prinsip Matrineal,
Prinsip matrineal memperhitungkan hubungan kekerabatan melalui garis
keturunan perempuan, sehingga semua kaum kerabat ibu termasuk dalam batas
kekerabatnya, sedangkan semua kaum kerabat ayah berada diluar batas itu
(Koendjaraningrat, 1998 : 123).
Gender diartikan sebagai konstruksi sosiokultural yang membedakan
karaketeristik maskulin dan feminim. Gender berbeda dengan seks dan jenis
kelamin laki-laki dan perempuan(Henrietta L, 1998). Walaupun jenis kelamin
laki-laki sering berkaitan erat dengan gender maskulin dan jenis kelamin
perempuan berhubungan dengan gender feminim, kaitan antara jenis kelamin
dengan gender bukanlah merupakan korelasi absolut. Hal ini disebabkan yang
dianggap maskulin dalam suatu kebudayaan dapat dianggap feminim dalam
budaya lain. Dengan kata lain, kategori feminim dan maskulin itu bergantung
pada konteks sosial budaya setempat. Gender membagi atribut dan pekerjaan
peran berdasarkan gender melahirkan suatu keadaan yang tidak seimbang saat
perempuan menjadi tersubordinasi oleh laki-laki.
Sedangkan yang dimaksud dengan Maskulin adalah sifat-sifat yang di
percaya dan dibentuk oleh budaya sebagai ciri-ciri yang ideal bagi pria.
Sedangkan Feminin nerupakan ciri-ciri atau sifat-sifat yang dipercaya dan di
bentuk oleh budaya sebagai ideal bagi wanita. Femininitas dan Maskulinitas ini
berkaitan dengan stereotip peran gender. Stereotip peran gender ini di hasilkan
dari pengkategorian antara perempuan dan laki-laki, yang merupakan suatu
representasi sosial yang ada dalam struktur kognisi kita.
Konflik peran gender beroperasi pada empat tingkatan yang saling
tumpang tindih dan kompleks, yakni kognisi, pengalaman-pengalaman afektif,
perilaku-perilaku dan pengalaman-pengalaman ketidaksadaran. Konflik peran
gender yang dialami pada tingkatan kognitif berasal dari cara-cara seseorang yang
berfikir terbatas (restrictive) tentang peran-peran maskulin dan feminin.
Sikap-sikap yang stereotip dan pandangan dunia tentang laki-laki dan perempuan hasil
dari keterbatasan kognitif. Konflik peran gender yang dialami pada tingkatan
afektif berasal dari gangguan emosional yang mendalam tentang peran-peran
maskulin dan feminin. Konflik peran gender yang dialami pada tingkatan perilaku
berasal dari pengalaman konflik yang nyata dengan maskulinitas dan femininitas
sebagai mana kita berperilaku, bereaksi dan berinteraksi dengan diri kita sendiri
dan orang lain. Konflik peran gender sebagai fenomena ketidaksadaran
merepresentasikan konflik
Adanya perbedaan jenis kelamin antara pria dan wanita dalam hal
berputar pada dua teori besar yaitu: teori nature dan teori nuture. Teori nature
beranggapan bahwa perbedaan tersebut adalah sesuatu yang alam atau disebabkan
oleh factor-faktor biologis, Teori nuture beranggapan bahwa perbedaan itu
tercipta melalui proses belajar dari lingkungan itu sendiri.(Arif budiman.1985: 2).
Dalam wacana perempuan dan analisi tentang isu-isu hubungan antara pria
dan perempuan dalam mengupayakan terwujudnya hasil-hasil pembangunan
nasional, telah lahir kebutuhan untuk menggunakan istilah yaitu gender. Secara
historis, konsep Gender pertama kali dibedah oleh sosiolog asal Inggiris yaitu Ann
Oaklyey yaitu ia membedakan antara gender dan seks. perbedaan seks berarti
perbedaan atas dasar ciri-ciri biologis yaitu yang menyangkut prokreasi
(menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui). Perbedaan gender adalah
perbedaan simbolis atau sosial yang berpangkal pada perbedaan seks tetapi tidak
selalu identik dengannya. Jadi kelihatan di sini gender lebih mengarahkepada
simbol-simbol sosial yang diberikan pada suatu masyarakat tertentu.(Daulay,
2007:3)
Fakh (1996) mengemukakan konsep gender yakni suatu sifat yang melekat
pada kaum laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun
kultural. Misalnya: Perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau
keibuan sedang laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa. Ciri dan sifat
itu sendiri merupakan sifat yang dapat dipertukarkan. Semua hal yang dapat
dipertukarkan antara sifat perempuan dan laki-laki yang bisa berubah dari waktu
ke waktu serta antara sifat perempuan dan laki-laki yang bixz berubah dari waktu
ke waktu serta berbeda dari tempat ke tempat lainnya, maupun berbeda dari satu
Kata gender berarti jenis kelamin, sedangkan gene mengandung arti
plasam pembawa sifat di dalam keturunan. Saptari & Holzner (Abdullah, 1997)
menjelaskan bahwa gender adalah keadaan individu yang lahir secara biologis
sebagai laki-laki dan perempuan, memperoleh ciri-ciri sosial sebagai laki-laki dan
perempuan melalui atribut-atribut maskulinitas dan femenintas yang sering
didukung oleh nilai-nilai atau sistem simbol masyarakat yang bersangkutan.
Jadi gender adalah perbedaan antara laki-laki dan permpuan (maskulin dan
feminin) yang di ciptakan oleh manusia, dapat ditukar dan diubah sesuai tempat,
waktu, dan lingkungan sosial. Maka menurut Kementrian UPW (1994), gender
adalah hubungan dalam bentuk pembagian kerja serta alokasi peranan, kedudukan
dan tanggung jawab serta kewajiban dan pola hubungan yang berubah dari waktu
ke waktu dan berbeda antar budaya. (Budiman, 1985:56)
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa peran gender adalah
sekumpulan pola-pola tingkah laku atau sikap-sikap yang di tuntut lingkungan dan
budaya tempat individu itu berada, untuk disampaikan secara berbeda oleh
laki-laki dan perempuan sesuai jenis kelaminnya.
Persoalannya yang dihadapi perempuan pada saat ini terkendala dengan
nilai social budaya yang tidak memberi akses dan kesempatan perempuan
menduduk i posisi sentral di lembaga-lembaga tertinggi, kendati dari aspek
kemampuan intelegensi dan kepemimpinan perempuan memiliki kualitas yang
memadai, namun sering tidak dipromosikan pada jabatan yang lebih tinggi, karena
dunia public sarat dengan pencerminan karakter yang tegas dan lugas,
independent, rasional, dan mampu mengambil keputusan yang terlekat pada
( Romany S 2007 :165 )
Perilaku politik pada umumnya di tentukan oleh faktor internal dari
individu sendiri seperti idealisme, tingkat kecerdasan, kehendak hati dan oleh
faktor eksternal (kondisi lingkungan) seperti kehidupan beragama, sosial, politik,
ekonomi dan sebagainya yang mengelilinginya. Sehingga perilaku politik sebagai
fungsi dari kondisi sosial dan ekonomi serta kepentingan, maka perilaku politik
sebagian diantaranya adalah produk dari perilaku sosial ekonomi dan kepentingan
suatu masyarakat atau golongan dalam masyarakat tersebut. Sedangkan menurut
Jack C. Plano dkk dalam Moh. Ridwan, perilaku politik adalah: “Pikiran dan
tindakan manusia yang berkaitan dengan proses memerintah. Yang termasuk
perilaku politik adalah tanggapan-tanggapan internal (pikiran, persepsi, sikap dan
keyakinan) dan juga tindakan-tindakan yang nampak (pemungutan suara, gerak
protes, kampanye dan demonstrasi).
Dalam negara berkembang masalah partisipasi Politik adalah masalah
yang cukup rumit. Partisipasi menjadi tolak ukur penerimaan atas sistem politik
yang dibangun oleh sebuah negara. Maju dan berkembangnya pembangunan
dalam suatu negara sangat tergantung dari keterlibatan warga negaranya tanpa
membedakan jenis kelamin, baik itu laki-laki maupun perempuan. Memahami
partisipasi politik tentu sangatlah luas. Mengingat partisipasi politik itu sendiri
merupakan salah satu aspek penting demokrasi. Asumsi yang mendasari
demokrasi (dan partisipasi) orang yang paling tahu tentang yang baik bagi dirinya
adalah orang itu Karena keputusan politik yang dibuat dan dilaksanakan oleh
pemerintah menyangkut dan mempengaruhi kehidupan warga masyarakat maka
Menurut Gabriel A. Almond, proses politik akan melahirkan
bentuk-bentuk partisipasi politik yang dilakukan oleh individu dan kelompok yang
kemudian akan disosialisasikan melalui transmisi kebudayaan, baik melalui
pendidikan keluarga, kelompok-kelompok pergaulan, di lingkungan pekerjaan,
interaksi melalui model media komunikasi massa, maupun interaksi politik secara
langsung. Sehingga Almond kemudian memilahkan kategori budaya politik
tersebut atas tiga pemilahan, yaitu budaya politik partisipan, budaya politik
subyek dan budaya politik parokialik.
Dalam pendekatan perilaku, terdapat interaksi antara manusia satu dengan
lainnya dan akan selalu terkait dengan pengetahuan, sikap dan nilai seseorang
yang kemudian memunculkan orientasi sehingga timbul perilaku itu. Orientasi
politik itulah yang kemudian membentuk tatanan dimana interaksi-interaksi yang
muncul tersebut akhirnya mempengaruhi perilaku politik yang dilakukan
seseorang.
Orientasi politik tersebut dapat dipengaruhi oleh orientasi individu dalam
memandang obyek-obyek politik. Almond dan Verba mengajukan klasifikasi
tipe-tipe orientasi politik, yaitu (Almond, 1990):
a. Orientasi Kognitif, yakni pengetahuan tentang dan kepercayaan pada
politik, peranan dan segala kewajibannya serta input dan outputnya.
b. Orientasi Afektif, yakni perasaan terhadap sistem politik, peranan,
keberadaan aktor dan penampilannya.
c. Orientasi Evaluatif, yaitu keputusan dan pendapat tentang obyek-obyek
politik yang secara tipikal melibatkan kombinasi standar nilai dan kriteria
Sementara dalam menjelaskan orientasi seseorang terhadap obyek-obyek
politik, pada bagian lain Almond mengklasifikasikan sebagai berikut:
1) Orientasi Positif, yaitu orientasi yang ditunjukkan dengan tingkat
pengetahuan dan frekuensi kesadaran yang tinggi, perasaan dan evaluasi
positif terhadap obyek politik
2) Orientasi Negatif, yaitu orientasi yang ditunjukkan dengan tingkat
pengetahuan dan frekuensi kesadaran yang rendah, evaluasi dan perasaan
negatif yang tinggi terhadap obyek politik.
3) Orientasi Netral, yaitu orientasi yang ditunjukkan oleh frekuensi
ketidakpedulian yang tinggi atau memiliki tingkat orientasi yang sangat
terbatas bahkan tidak memiliki orientasi sama sekali terhadap
obyek-obyek politik.
Orientasi politik sebenarnya merupakan suatu cara pandang dari suatu
golongan masyarakat dalam suatu struktur masyarakat. Timbulnya orientasi itu
dilatarbelakangi oleh nilai-nilai yang ada dalam masyarakat maupun dari luar
masyarakat yang kemudi an membentuk sikap dan menjadi pola mereka untuk
memandang suatu obyek politik secara detail (Apter, 1985)
Ketika perempuan menjadi politisi, ia tidak berhenti menjadi perempuan.
Keperempuanan ini yang harus berada di tempat pertama, karena ia mengandung
kekuatan intelektual dan potensi-potensi kreatif yang berbeda. Namun masih ada
keraguan dalam masyarakat tertentu apakah perempuan siap dan mampu
menjalankan fungsi dan peran dikancah politik karena kalangan tertentu
beranggapan bahwa dunia politik merupakan milik laki-laki. Sesungguhnya
sadli bahwa perempuan dan laki-laki mempunyai potensi kecerdasan yang sama.
Hal telah dibuktikan dalam sejumlah studi psikologi tentang taraf intelegensi
perempuan dan laki-laki. Dalam realitas sehari-hari perempuan Indonesia sejak
masih didunia pendidikan maupun dalam menerapkan keahliannya tidak kalah
dengan laki-laki bahkan kerap jauh lebih baik. ( Kompas, 18 november 2002 )
Di banyak negara, tradisi tetap berlaku untuk menekan, bahkan sering
mendikte, peranan utama perempuan sebagai ibu dan istri. Sistem nilai tradisional,
kuat dan patriarki menyokong peranan-peranan yang terpisahkan secara seksual,
dan apa yang disebut sebagai “nilai-nilai kultural tradisional” menghalang-halangi
kemajuan, perkembangan dan partisipasi perempuan dalam setiap proses politik.
Masyarakat di seluruh dunia didominasi oleh suatu ideologi tentang “kedudukan
perempuan”. Menurut persepsi ini, perempuan tidak harus memainkan peran “ibu
yang bekerja”, yang secara umum mendapat upah rendah dan apolitis.
Ani Sutjipto ( 2000 : 299 ) kehadiran perempuan di parlemen lebih terkait
dengan profesi dan karier suami, rekutmen dalam partai lebih karena keinginan
untuk mendukung profesi dan kedudukan suami mereka. Tidaklah heran kalau
mereka kurang memiliki kemandirian atau rasa percaya diri dan komitmen yang
kuat dalam menyuarakan aspirasi perempuan.
Kurangnya rasa percaya diri adalah salah satu sebab utama atas kurang
terwakilinya perempuan dalam lembaga-lembaga politik formal, termasuk
parlemen, pemerintahan, dan partai-partai politik. Dengan adanya kepercayaan
diri dan tekad yang bulat, perempuan dapat meraih derajat tertinggi dalam proses
politik. Untuk itulah mengapa perempuan harus percaya pada diri mereka sendiri
menjadi pemimpin mereka. Perempuan setara dan mempunyai potensi yang sama
seperti laki-laki tetapi hanya bagi mereka yang dapat memperjuangkan
hak-haknya. Perempuan adalah juru kampanye, organisatoris dan mobilisator
dukungan yang sangat baik, tetapi rasa khawatir kadang-kadang menghalangi
mereka untuk ikut berkompetisi dalam pemilihan dan berpartisipasi dalam
kehidupan politik.
6.Metode Penelitian
Menurut Hadari Nawawi (Nawawi, 1987: 63) metode penelitian deskriptif
dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan
menggambarkan atau melukiskan subjek atau objek penelitian seseorang, lembaga,
masyarakat dan lain-lain pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak
atau sebagaimana adanya. Penelitian deskriptif melakukan analisis dan menyajikan
data-data dan fakta-fakta secara sistematis sehingga dapat dipahami dan
disimpulkan.
Tujuan penelitian deskriptif analisis adalah untuk membuat gambaran secara
sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau
daerah tertentu. Di samping itu penelitian ini juga menggunakan teori-teori,
data-data dan konsep-konsep sebagai kerangka acuan untuk menjelaskan hasil penelitian,
menganalisis dan sekaligus menjawab persoalan yang diteliti. Oleh karena itu jenis
6.1. Teknik Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data dan informasi yang dibutuhkan maka penulis
melakukan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
a. Data primer yang didasarkan pada peninjauan langsung pada objek yang di
teliti untuk memperoleh data-data yang di butuhkan. Studi lapangan yang di
lakukan dengan datang langsung ke lokasi penelitian dengan wawancara
langsung terhadap informan dan melakukan observasi dengan menggunakan
pedoman wawancara.
b. Data sekunder yaitu dengan mencari sumber data dan informasi melalui
buku-buku, jurnal, internet dan lain-lain yang berkaitan dengan penelitian ini
Adapun teknik yang digunakan dalam pencarian data-data di lapangan
adalah:
6.1.1.Teknik Observasi
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik
terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Pengamatan dan pencatatan
yang dilakukan terhadap objek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa,
sehingga observer berada bersama objek yang diselidiki, disebut observasi
langsung.
Sedangkan observasi tidak langsung adalah pengamatan yang dilakukan
tidak pada saat berlangsungnya peristiwa yang akan diselidiki misalnya peristiwa
tersebut diamati melalui film, rangkaian slide atau rangkaian photo.
secara langsung terhadap lokasi terjadinya peristiwa yakni dengan mendatangi
kantor partai politik dan ke rumah atau ke kantor para calon tetap anggota
Legislatif 2009 yang terpilih atau yang tidak terpilih.
6.1.2 Teknik Wawancara
Metode wawancara merupakan sebuah metode yang sangat efektif dalam
penelitian kualitatif. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah
wawancara mendalam dengan menggunakan pedoman wawancara ( interview
Quide ) tujuannya sebagai pengarah agar tidak meluasnya data yang diperoleh.
Dengan adanya variasi-variasi pertanyaan yang disesuaikan dengan situasi dan
kondisi tersebut bertujuan untuk memperoleh keterangan rinci dan mendalam
mengenai pandangan informan dan memperoleh informasi mengenai suatu
peristiwa, situasi, dan keadaan tertentu.
Dalam pelaksanaan wawancara ini, peneliti menemui informan langsung
dan subyek penelitian sesuai dengan waktu dan lokasi yang telah disepakati untuk
memperoleh data yang sesuai dengan pokok permasalahan yang di ajukan.
Wawancara ditujukan pada calon legislative perempuan pemilu 2009 namun
hanya 3 orang yang dapat diwawancarai serta 1 orang pemenang yang terpilih
menjadi anggota legislatif DPRD Sumut, dan Pengurus Partai Politik yaitu PDI
Perjuangan, Golongan Karya, PKS, dan anggota KPU Sumut, Jumlah informan
yang disesuaikan dengan kebutuhan, artinya bila permasalahan telah terjawab
7. Teknik Analisa Data
Data yang telah di kumpulkan kemudian disusun, di analisa dan disajikan
untuk memperoleh gambaran sistematis tentang kondisi dan situasi yang ada.
Data-data tersebut diolah dan di eksplorasi secara mendalam yang selanjutnya
menghasilkan kesimpulan yang menjelaskan masalah di teliti.
BAB II
2.1.Lokasi dan Jumlah Pemilih
Secara umum penyelenggaraaan pemilu tahun 2009 di Kota Medan
tergolong sukses, aman, tertib, dan lancar, artinya pelaksanaan Pemilu telah sesuai
dengan perundangan-undangan yang berlaku. Reformasi yang bergulir sejak tahun
1998 sampai tahun 2004 telah memberikan dampak yang berarti terhadap
perubahan pola pikir dan sikap sebagian besar warga Kota Medan dalam
partisipasi politiknya. Sikap warga masyarakat dalam berpolitik ada yang apatis,
yaitu tidak berminat, sinis, bersikap curiga, alienasi yaitu merasa terasing dari
kehidupan politik dan pemerintahan masyarakat, dan ada yang anomi yaitu
perasaan kehilangan nilai dan arah hidup, sehingga tidak memiliki motivasi untuk
mengambil tindakan-tindakan yang berarti dalam hidup ini, seperti tidak ada niat
dalam pemilihan sehingga terkadang tidak peran aktif dalam pemilihan atau sama
sekali tidak tahu siapa yang akan dipilih.
Pemilu tahun 2009 bagi warga Kota Medan secara umum dianggap sama
saja dengan tahun-tahun sebelumnya, yang terpenting mereka datang ke TPS pada
saat pemungutan suara dilakukan. Akan tetapi, dalam pemilu tahun 2009 ada
perbedaan yang signifikan daripada pemilu sebelumnya yakni masyarakat
memilih secara langsung calon legislatif dengan suara terbanyak yang akan duduk
di lembaga legislatif.
Pemilu tahun 2009 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara
memberikan tahapan-tahapan ( Peraturan ) pemilihan umum yang terdiri dari 9
tahap sebagai berikut :
1. Pendaftaran Pemilih
3. Penetapan Jumlah Kursi dan Daerah Pemilihan
4. Pencalonan Anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.
5. Kampanye
6. Pemungutan Suara dan Penghitungan Suara.
7. Penetapan Hasil Pemilu.
8. Penetapan Perolehan Jumlah Kursi dan Calon Terpilih
9. Pengucapan Sumpah/Janji
(Sumber : KPU Kota Medan,)
Dalam pemilu tahun 2009 tidak luput dari dinamika yang terjadi. Hal ini
terlihat dari aktivitas-aktivitas politik dalam pemilu seperti kesertaan warga dalam
kampanye partai politik maupun pada saat pelaksanaan pemilu. Terjadinya
perbedaan-perbedaan pilihan politik juga merupakan suatu bentuk konsekuensi
logis dari sistem politik dan demokrasi yang semakin terbuka.
Sehingga dapat diketahui dari jumlah pemilih yang tidak menggunakan
hak pilihnya ( golput ) pada Pemilu legislative berkisar 53% dari jumlah Daftar
Pemilih Tetap ( DPT ) Kota medan berkisar 1.849.602 pemilih. Hal ini diketahui
dari masyarakat yang menggunakan hak pilihnya pada pemilu legislative 9 april
2009 dimedan berkisar 870.976 orang ( 47 %) saja yang ikut memilih.
Perbedaan-perbedaan pilihan tersebut menjadi sangat wajar sebab
masing-masing individu memiliki pemahaman dan kesadaran yang berbeda. Apalagi
tingkat intelektualitas, latar belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal turut
menjadi faktor pendorong atas perbedaan-perbedaan tersebut. Namun, secara
umum perbedaan-perbedaan itu tidaklah mengakibatkan pada suatu kondisi yang
demokrasi dengan menghargai perbedaan-perbedaan pilihan politik
masing-masing individu
Lain halnya dengan pemilu yang berada di daerah-daerah lain di Sumatera
Utara suasana pertikaian dan konflik menjadi suatu tontonan yang sebenarnya
tidak pantas terjadi. Konflik antar pendukung, pembakaran faslitas-faslitas
pemerintahan, dan demontstrasi massa yang anarkis adalah suatu bentuk
ketidakpuasan atas penyelenggaraan pemilu.Tetapi di Kota Medan meskipun ada
gejolak atau riak-riak kecil yang muncul tidaklah membuat hasil dari pelaksanaan
pemilu berubah atau masyarakat menjadi risau. Terbukti sampai dengan saat ini
hasil pemilihan umum 2009 diakui secara legitimate oleh semua pihak dan semua
pihak menerima dengan lapang dada.
2.1.1.Kependudukan
Garis-garis Besar Haluan Negara menyatakan bahwa jumlah penduduk
yang besar dan berkualitas akan menjadi modal dasar yang efektif bagi
pembangunan nasional. Namun dengan pertumbuhan yang pesat sulit untuk
meningkatkan mutu kehidupan dan kesejahteraan secara layak dan merata. Hal ini
berarti bahwa penduduk yang besar dengan kualitas yang tinggi tidak akan mudah
untuk dicapai.
Program kependudukan di kota Medan seperti halnya di daerah Indonesia lainnya
meliputi: pengendalian kelahiran, penurunan tingkat kematian bayi dan anak,
pengembangan potensi penduduk sebagai modal pembangunan yang terus
ditingkatkan.
Komponen kependudukan umumnya menggambarkan berbagai dinamika
sosial yang terjadi di masyarakat, baik secara sosial maupun kultural. Menurunnya
tingkat kelahiran (fertilitas) dan tingkat kematian (mortalitas), meningkatnya arus
perpindahan antar daerah (migrasi) dan proses urbanisasi, termasuk arus ulang
alik, akan mempengaruhi kebijakan kependudukan yang diterapkan.
Tabel. 2.1
Jumlah, Laju Pertumbuhan Dan Kepadatan Penduduk Di Kota Medan Tahun 2001 – 2007
INDIKATOR SATUAN
TAHUN
2006 2007 *)
[1] [2] [3] [4]
Jumlah Penduduk Jiwa 2.067.288 2.083.156
Laju Pertumbuhan Penduduk
Persen (%) 1,53 0,77
Luas Wilayah KM² 265, 10 265,10
Kepadatan Penduduk Jiwa 7.798 7.858
Sumber BPS Kota Medan
Keterangan : * Angka Sementara
Tabel 2.2
GOLONGAN
UMUR
LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH
JIWA
Sumber : BPS Kota Medan
Keterangan : Angka sementara penduduk pertengahan tahun 2007
Berdasarkan tabel - tabel diatas diketahui bahwa ada kecenderungan
peningkatan jumlah penduduk Kota Medan dari 2.067.288 jiwa pada tahun 2006
tahun 2006 dan 0,77% pada tahun 2007. Walaupun meningkat namun tidak terlalu
mencolok, bahkan laju pertumbuhan penduduk cenderung lebih rendah tahun
2007 dibandingkan tahun 2006. Faktor alami yang diperkirakan mempengaruhi
peningkatan laju pertambahan penduduk adalah seperti tingkat kelahiran,
kematian, dan arus urbanisasi. Upaya-upaya pengendalian kelahiran melalui
program Keluarga Berencana (KB) perlu terus dipertahankan untuk menekan
angka kelahiran.
Seiring bertambahnya jumlah penduduk maka pada tahun 2006 menjadi
7.858 jiwa/KM² pada tahun 2007. Tingkat kepadatan tersebut relatif tinggi,
sehingga termasuk salah satu permasalahan yang harus diantisipasi. Apalagi
dengan luas lahan yang relatif terbatas, sehingga berpeluang terjadi ketidak
seimbangan antara daya dukung dan daya tampung lingkungan yang ada.
Faktor lain yang juga secara berarti mempengaruhi peningkatan laju
pertumbuhan penduduk adalah meningkatnya arus urbanisasi dan commuters serta
kaum pencari kerja ke Kota Medan. Berdasarkan penelitian yang pernah
dilakukan, faktor utama yang menyebabkan komutasi ke Kota Medan adalah
adanya pandangan bahwa : (1) bekerja di kota lebih bergengsi (2) di kota lebih
gampang mencari pekerjaan, (3) Tidak ada lagi yang dapat diolah (dikerjakan) di
daerah asalnya, dan (4) upaya mencari nafkah yang lebih baik. Besarnya dorongan
untuk menjadi penglaju tentunya berpengaruh terhadap kehidupan sosial,
ekonomi, dan pelayanan umum yang harus disediakan secara keseluruhan.
Faktor lain yang secara umum mempengaruhi semakin menurunnya angka
pendidikan masyarakat Kota Medan. Pada umumnya peningkatan derajat
pendidikan masyarakat secara langsung meningkatkan rata-rata pendidikan
generasi muda, yang merupakan calon orang tua yang memasuki kehidupan
rumah tangga. Melalui tingkat pendidikan yang semakin memadai, apresiasi, dan
pandangan masyarakat terkait dengan upaya peningkatan kesejahteraan semakin
meningkat. Adanya anggapan mengenai jumlah anggota keluarga yang tidak besar
akan memudahkan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, karena
beban ekonomi yang harus dipikul menjadi lebih ringan, mendorong Pasangan
Usia Subur (PUS) cenderung mengikuti konsep Norma Keluarga Kecil Bahagia
dan Sejahtera (NKKBS). Bahkan sebagian PUS baru memilih untuk menunda
kelahiran dengan berbagai alasan ekonomi (bekerja) ataupun alasan sosial dan
psikologis lainnya.
a. Komposisi penduduk
Kota Medan berpengaruh terhadap kebijakan pembangunan kota, baik
sebagai subjek maupun objek pembangunan. Keterkaitan komposisi penduduk
dengan upaya-upaya pembangunan kota yang dilaksanakan, didasarkan kepada
kebutuhan pelayanan yang harus disediakan kepada masing-masing kelompok
usia penduduk, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan bahkan pelayanan
kesejahteraan sosial lainnya.
Proporsi anak-anak berusia di bawah lima tahun (balita) dalam kelompok
penduduk Kota Medan sekitar 9% dari jumlah penduduk. Relatif besarnya
prasarana dan sarana kesehatan usia balita, dan sarana pendidikan usia dini baik
secara kualitas maupun kuantitas.
Pada kelompok usia anak-anak dan remaja, kebijakan yang ditempuh
diarahkan pada peningkatan status gizi anak, pengendalian tingkat kenakalan anak
dan remaja, peningkatan kualitas pendidikan dan lain-lain. Upaya ini diharapkan
dapat terus dilakukan untutk mempersiapkan masa depan anak-anak dan remaja
sehingga mendukung terbentuknya sumber daya manusia yang semakin
berkualitas.
Berdasarkan gambar diatas diketahui bahwa komposisi penduduk terbesar
berada pada kelompok usia 15-64 tahun sebagai kelompok usia produktif atau
kelompok usia aktif secara ekonomis. Diluar kelompok usia produktif terdapat
usia produktif, yang biasa disebut dengan angka beban tanggungan (ABT). Untuk
Kota Medan angka beban tanggungan berkisar 45, atau sekitar setiap 45 orang
ditanggung oleh 100 orang produktif.
Jumlah penduduk Kota Medan yang sampai saat ini diperkirakan
berjumlah 2,083 juta lebih, dan diproyeksikan mencapai 2,167 juta penduduk pada
tahun 2010, ditambah beban arus penglaju juga menjadi beban pembangunan yang
harus ditangani secara terpadu dan komprehensif.Disamping itu, pengendalian
kuantitas, peningkatan kualitas dan pengarahan mobilitas penduduk yang sesuai
dengan pertumbuhanekonomi wilayah, sangat diperlukan pada masa datang.
Beberapa masalah kependudukan dapat diringkas sebagai berikut :
• Kecenderungan adanya penurunan flukturasi laju pertumbuhan penduduk.
• Kecenderungan peningkatan arus ulang alik ke Kota Medan yang
berimplikasi kepada pemenuhan fasilitas sosial yang dibutuhkan.
• Masalah kemiskinan, tenaga kerja dan permasalahan sosial lain yang
dipengaruhi oleh iklim perekonomian nasional dan global.
• Penyediaan pelayanan pendidikan, kesehatan dan pelayanan dasar lainnya
termasuk sarana dan prasarana permukiman.
2.2.Penyelenggara Pemilu
Pemilu legislative 2009 membuat para penyelenggara Pemilu harus selalu
bersikap adil, jujur dan Netral dalam menyikapi masalah yang terjadi pada
kedaerah-daerah tujuan pemilihan hingga sampai kertas suara yang berisi
nama-nama anggota calon legislative dan partai politik tersebut dipilih oleh measyarakat
sesuai dengan hati nuraninya tanpa ada kecurangan.
Proses pemilu pada tanggal 9 april 2009 membuat penyelenggara Pemilu
atau KPU Sumut menyediakan 21 PPK disetiap kecamatan, 151 PPS ( Pemantau
Pemunguan Suara ) dan 4593 Tempat Pemungutan Suara ( TPS ) yang didatangi
masyarakat untuk memilih salah satu calon legislative dan Partai politik yang
dianggap betul-betul bisa membangun Kota medan.
2.3.Sejarah Kota Medan
Pada zaman dahulu Kota Medan ini dikenal dengan nama Tanah Deli dan
keadaan tanahnya berawa-rawa kurang lebih seluas 4000 Ha. Beberapa sungai
melintasi Kota Medan ini dan semuanya bermuara ke Selat Malaka. Sungai-sungai
itu adalah Sei Deli, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Denai, Sei Putih, Sei Badra,
Sei Belawan dan Sei Sulang Saling/Sei Kera.
Pada mulanya yang membuka perkampungan Medan adalah Guru
Patimpus lokasinya terletak di Tanah Deli, maka sejak zaman penjajahan orang
selalu merangkaikan Medan dengan Deli (Medan–Deli). Setelah zaman
kemerdekaan lama kelamaan istilah Medan Deli secara berangsur-angsur lenyap
sehingga akhirnya kurang popular.
Dahulu orang menamakan Tanah Deli mulai dari Sungai Ular (Deli
Serdang) sampai ke Sungai Wampu di Langkat sedangkan Kesultanan Deli yang
berkuasa pada waktu itu wilayah kekuasaannya tidak mencakup daerah diantara
tanah liat, tanah pasir, tanah campuran, tanah hitam, tanah coklat dan tanah merah.
Hal ini merupakan penelitian dari Van Hissink tahun 1900 yang dilanjutkan oleh
penelitian Vriens tahun 1910 bahwa disamping jenis tanah seperti tadi ada lagi
ditemui jenis tanah liat yang spesifik. Tanah liat inilah pada waktu penjajahan
Belanda ditempat yang bernama Bakaran Batu (sekarang Medan Tenggara atau
Menteng) orang membakar batu bata yang berkwalitas tinggi dan salah satu pabrik
batu bata pada zaman itu adalah Deli Klei. Mengenai curah hujan di Tanah Deli
digolongkan dua macam yakni : Maksima Utama dan Maksima Tambahan.
Maksima Utama terjadi pada bulan-bulan Oktober s/d bulan Desember sedang
Maksima Tambahan antara bulan Januari s/d September. Secara rinci curah hujan
di Medan rata-rata 2000 pertahun dengan intensitas rata-rata 4,4 mm/jam.
Menurut Volker pada tahun 1860 Medan masih merupakan hutan rimba
dan disana sini terutama dimuara-muara sungai diselingi pemukiman-pemukiman
penduduk yang berasal dari Karo dan semenanjung Malaya. Pada tahun 1863
orang-orang Belanda mulai membuka kebun Tembakau di Deli yang sempat
menjadi primadona Tanah Deli. Sejak itu perekonomian terus berkembang
sehingga Medan menjadi Kota pusat pemerintahan dan perekonomian di Sumatera
Utara.
Sekitar tahun 1612 setelah dua dasa warsa berdiri Kampung Medan,
Sultan Iskandar Muda yang berkuasa di Aceh mengirim Panglimanya bernama
Gocah Pahlawan yang bergelar Laksamana Kuda Bintan untuk menjadi pemimpin
yang mewakili kerajaan Aceh di Tanah Deli. Gocah Pahlawan membuka negeri
memanfaatkan kebesaran imperium Aceh, Gocah Pahlawan berhasil memperluas
wilayah kekuasaannya, sehingga meliputi Kecamatan Percut Sei Tuan dan
Kecamatan Medan Deli sekarang. Dia juga mendirikan kampung-kampung
Gunung Klarus, Sampali, Kota Bangun, Pulau Brayan, Kota Jawa, Kota Rengas
Percut dan Sigara-gara.
Dengan tampilnya Gocah pahlawan mulailah berkembang Kerajaan Deli
dan tahun 1632 Gocah Pahlawan kawin dengan putri Datuk Sunggal. Setelah
terjadi perkawinan ini raja-raja di Kampung Medan menyerah pada Gocah
Pahlawan.Gocah Pahlawan wafat pada tahun 1653 dan digantikan oleh puteranya
Tuangku Panglima Perunggit, yang kemudian memproklamirkan kemerdekaan
Kesultanan Deli dari Kesultanan Aceh pada tahun 1669, dengan ibukotanya di
Labuhan, kira-kira 20 km dari Medan.
Jhon Anderson seorang Inggris melakukan kunjungan ke Kampung Medan
tahun 1823 dan mencatat dalam bukunya Mission to the East Coast of Sumatera
bahwa penduduk Kampung Medan pada waktu itu masih berjumlah 200 orang
tapi dia hanya melihat penduduk yang berdiam dipertemuan antara dua sungai
tersebut. Anderson menyebutkan dalam bukunya “Mission to the East Coast of
Sumatera“ (terbitan Edinburg 1826) bahwa sepanjang sungai Deli hingga ke
dinding tembok mesjid Kampung Medan di bangun dengan batu-batu granit
berbentuk bujur sangkar. Batu-batu ini diambil dari sebuah Candi Hindu Kuno di
Jawa.
Pesatnya perkembangan Kampung "Medan Putri", juga tidak terlepas dari
merupakan tembakau terbaik untuk pembungkus cerutu. Pada tahun 1863, Sultan
Deli memberikan kepada Nienhuys Van der Falk dan Elliot dari Firma Van
Keeuwen en Mainz & Co, tanah seluas 4.000 bahu (1 bahu = 0,74 ha) secara
erfpacht 20 tahun di Tanjung Sepassi, dekat Labuhan. Contoh tembakau deli.
Maret 1864, contoh hasil panen dikirim ke Rotterdam di Belanda, untuk diuji
kualitasnya. Ternyata daun tembakau tersebut sangat baik dan berkualitas tinggi
untuk pembungkus cerutu.
BAB III
PROSES PEMILU LEGISLATIF 2009 DAN PARTISIPASI PEREMPUAN DI DAERAH PEMILIHAN SUMATERA UTARA I
3.1.Peserta Pemilu dan Pencalonan
Jika pada pemilu-pemilu sebelumnya para pemilih tidak mengetahui calon
setiap pemilih dapat memilih dengan bebas partai sekaligus calon yang dianggap
sesuai bagi harapan mereka.
Berdasarkan UU Partai Politik No.2 Tahun 2008 bahwa salah satu
persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap partai politik yang terkait dengan
pencalonan anggota legislatif adalah setiap partai harus menyertakan calon
perempuan sebanyak 30% dari keseluruhan calon yang diajukan.
Kebijakan yang diatur dalam Undang-undang tersebut merupakan suatu
bentuk kemajuan dalam sistem politik dan demokrasi di Indonesia. Perempuan
kini diberikan kesempatan lebih untuk turut terlibat dalam pencalonan sebagai
anggota legislatif.
Gambaran data yang jelas mengenai keikutsertaan perempuan dalam
proses pencalonan sebagai anggota legislatif adalah sebagai berikut :
Tabel.3.1
Calon anggota Legislatif Perempuan
Berdasarkan partai politik Daerah Pemilihan Sumatera Utara I (Pemilu 2009 Kota Medan)
No Partai Politik Perempuan Persen Laki-Laki Persen Jumlah
1 HANURA 7 49% 8 51% 15
2 Partai Karya
Peduli Bangsa
1 30% 3 70% 4
3 Partai Pengusaha
Dan Pekerja
4 Partai Peduli
7 Partai Keadilan
Dan Persatuan Indonesia
3 23% 10 77% 13
8 Partai Keadilan
Sejahtera
10 55,6% 8 44,4% 18
9 Partai Amanat
Nasional
3 21,5% 11 78,5% 14
10 Partai Perjuangan
Indonesia Baru
4 28,6% 10 71,4% 14
11 Partai Kedaulatan 3 60% 2 40% 5
12 Partai Persatuan
Daerah
15 Partai Nasional
Indonesia Marhaenisme
1 30% 2 70% 3
16 Partai Demokrasi
Pembaruan
3 37,5% 5 62,5% 8
17 Partai Karya
Perjuangan
3 50% 3 50% 6
18 Partai Matahari
Bangsa
2 40% 3 60% 5
19 Partai Penegak
Demokrasi Indonesia
- 0% 3 100% 4
20 Partai Demokrasi
Kebangsaan
2 22% 7 78% 9
21 Partai Republika
Nusantara
2 25% 6 75% 8
22 Partai Pelopor 2 50% 2 50% 4
Karya
24 Partai Persatuan
Pembangunan
6 27% 12 73% 22
25 Partai Damai
Sejahtera
5 26% 14 74% 19
26 Partai Nasional
Benteng
28 Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan
4 23,5% 13 76,5% 17
29 Partai Bintang
Reformasi
33 Partai Indonesia
Sejahtera
42 Partai Persatuan
Nahdlatul Ummah Indonesia
0 0% 2 100% 2
43 Partai Sarikat
Indonesia
1 30% 2 70% 3
44 Partai Buruh 2 40% 3 60% 5
Sumber: Komisi Pemilihan Umum Sumatera Utara Tahun 2009
Dari tabel 3.1 dapat dilihat bahwa dari keseluruhan jumlah calon legislatif
perempuan sebanyak 38 orang. Artinya tingkat partisipasi perempuan secara kuota
mencalonkan perempuan di wilayah Sumut I yaitu Partai Penegak Demokrasi
Indonesia dan Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia
Berikut ini adalah tabel anggota legislatif perempuan hasil pemilu tahun
2009 Untuk Daerah Pemilihan Sumut I :
Tabel 3.2
Daftar Terpilih
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Pemilihan Umum Tahun 2009
Provinsi Sumatera Utara Daerah Pemilihan Sumatera Utara I
No Partai Politik No.Urut DCT (Daftar Calon Tetap)
Nama Calon Terpilih
Suara Sah Peringkat Suara Sah 1 Partai Keadilan
Sejahtera
1 Sigit Pramono Asri 49.059 1
2 Partai Keadilan Sejahtera
5 Taufik Hidayat 6.762 2
3 Partai Keadilan Sejahtera
3 Siti Aminah 6.300 3
4 Partai Keadilan Sejahtera
6 Partai Golongan Karya
1 Tonnies Sianturi, SP
6.931 1
8 Partai Demokrasi Indonesia
11 Partai Demokrat 6 Hj.Meilizar Latif, SE.,MM
15.258 2
12 Partai Demokrat 4 M.Yusuf Siregar 12.702 3
13 Partai Demorat 3 Nurhasanah, S.Sos 10.978 4
14 Partai Demokrat 2 Drs.Tunggul
Siagian
17 Partai Hati Nurani Rakyat
1 Musdalifah, BSC 3.148 1
18 Partai Peduli Rakyat Nasional
4 Ir.Washington
Pane, MSc
4.898 1
19 Partai Gerakan Indonesia Raya
1 Iman B Nasution,
SE
3.889 1
20 Partai Perjuangan Indonesia Baru
1 Sonny Firdaus, SH 10.592 1
21 Partai Persatuan Pembangunan
1 Drs.H.Rizal Sirait 6.875 1
Sumber: Komisi Pemilihan Umum Sumatera Utara Tahun 2009
Berikut ini adalah tabel anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Sumatera Utara Perempuan hasil pemilu tahun 2009
Tabel 3.3
Daftar Nama Keterwakilan Perempuan Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara Pemilihan Umum 2009
No Nama Partai Politik No.Urut DCT Daerah
Pemilihan
1 Siti Aminah Amd, SpdI Partai Keadilan Sejahtera
2 Hj.Meilizar Latif, SE.,MM Partai Demokrat 6 Sumut 1
3 Nurhasanah, S.Sos Partai Demokrat 3 Sumut 1
4 Hj.Syafrida Fitrie, SP, M.SP Partai Golongan Karya
1 Sumut 2
5 Mulyani, SH Partai Gerakan
Indonesia Raya
2 Sumut 2
6 Arlene Manurung Partai Damai Sejahtera
1 Sumut 2
7 Hj.Evi Diana Partai Golongan
Karya
2 Sumut 3
8 Helmiati Partai Golongan
Karya
4 Sumut 4
9 Hj.Ida Budiningsih, SH Partai Demokrat 3 Sumut 5
10 Nur Azizah Tambunan, SS Partai Keadilan Sejahtera
1 Sumut 5
11 Tiaisah Ritonga Partai Demokrat 2 Sumut 6
12 Hj.Rahmianna Delima Pulungan
Partai Peduli Rakyat Nasional
4 Sumut 6
13 Rooslynda Marpaung Partai Peduli Rakyat Nasional
1 Sumut 8
14 Megalia Agustina Partai Demokrat 3 Sumut 9
15 Rinawati Sianturi Partai Peduli Rakyat Nasional
1 Sumut 9
16 Ristiwati Partai Demokrat 3 Sumut 11
3.1.1. Kendala Pada Tahap Penetapan Dan Pendaftaran Calon Legislatif 2009
Tahapan pelakanaan pemilu legislatif 2009 seperti pendafataran dan
penetapan calon legislatif pada pemilu legislatif 2009 partai politik peserta
pilkada. Di dalam partai
Golkar proses ini dilakukan dengan mengadakan rapat mulai dari pengurus
keluarahan, kecamatan hinga pengurus daerah untuk menetapkan siapa yang bakal
dimajukan sebagai calon legislatif 2009. Pertimbangan untuk menjadi calon
legislatif 2009 adalah loytalitas dari kader partai terhadap partai Golkar. Dalam
hal ini Partai Golkar memperhatikan aspirasi dari masyarakat untuk menjadi calon
legislatif dalam pemilu 2009
Di PDI P proses rekruitmen calon kepala daerah dilakukan dengan cara
setiap anak cabang maupun ranting mengirimkan masing-masing calon
legislatifnya untuk kemudian dikirimkan ke pusat untuk diambil keputusan oleh
pusat, mana yang berhak maju sebagai calon legislatif dalam pemilu legislatif
dari PDIP. Tampak disini bahwa pengurus pusat di partai ini memiliki pengaruh
yang cukup besar dalam meloloskan bakal calon yang diajukan dari pengurus
daerah.
Meskipun dalam proses ini mengajukan calon kader perempuan, namun
tetap saja keputusan berada di tangan pengurus pusat. Disini lobi-lobi terhadap
pimpinan juga sangat menentukan proses seleksi ini akan tetapi tidak semua kader
perempuan mau melakukannya karena mereka menganggap bahwa mereka tidak
Selain itu masalah keterbatasan waktu yang dimiliki oleh kader perempuan
untuk dapat terlibat penuh dalam kegiatan partai juga merupakan kendala yang
sangat mereka rasakan dan sangat menghambat aktivitas mereka dalam partai,
sehingga menyebabkan mereka tidak dapat hadir dalam pertemuan-peretemuan
ataupun rapat partai yang umumnya dilakukan pada malam hari dan membuat
mereka tidak bias menghadiri rapat dan mempengaruhi keputusan rapat tersebut,
karena memang mereka kesulitan membagi waktu antara mengikuti kegiatan
partai atau tetap berada ditengah-tengah keluarganya.
Faktor lain yang mempengaruhi keterlibatan kader perempuan dalam
partai yakni karena rendahnya pengetahuan perempuan tentang hak-hak politiknya
dankurangnya wawasan dan pemahaman perempuan tentang politik sehingga
menyebabkan perempuan jauh tertinggal dari laki-laki. Selain itu untuk bisa maju
dalam suatu pemilihan kader perempuan harus dihadapkan pada masalah dana
yang menjadi modal awal bagi kita untuk bisa maju baik itu sebagai caleg maupun
sebagai calon kepala daerah. Apalagi dalam pemilu legislatif 2009 menggunakan
dana pribadi, bukan dari partai, maka
secara otomatis bagi calon yang hendak maju dalam pemilu legislatif 2009 harus
menyiapkan sejumlah dana yang cukup besar untuk mendanai kampanye dan
kegiatan lainnya dalam rangka penggalangan suara sebanyak-banyaknya dari
masyarakat.
Sedangkan kader perempuan pada umumnya adalah seorang istri atau ibu
rumah tangga yang tidak semuanya bekerja, dalam hal ini tentu saja kader
perempuan tersebut kesulitan untuk dapat mengumpulkan sejumlah dana yang