• Tidak ada hasil yang ditemukan

Partisipasi Calon Legislatif Perempuan di Sumatera Utara pada Pemilu 2009

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Partisipasi Calon Legislatif Perempuan di Sumatera Utara pada Pemilu 2009"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Partisipasi Perempuan Pada Pemilu Legislatif 2009

( Studi Kasus Daerah Pemilihan Sumatera Utara I Medan ) D

I S U S U N OLEH

ALLES SANDRO TURNIP 040905062

DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMUS SOSIAL DAN ILNU POLITIK

(2)

ABSTRAK

(3)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat kasih karunia dan

penyertaanNya penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “

Partisipasi Calon Legislatif Perempuan di Sumatera Utara pada Pemilu 2009“. setiap kesulitan yang terjadi dalam pembuatan skripsi ini , tidak luput dari

campur tangan Tuhan dalam penyertaanNya sehari-hari dalam Penelitian. Terima

kasih Tuhan untuk setiap hari yang Kau berikan untuk anak mu ini, hingga penulis

bisa selalu mengucap syukur atas setiap rancanganMu yang dahsyat dan luar

biasa.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada orang tua saya yang tercinta

dan selalu sabar menanti diriku ini untuk wisuda untuk bapak M Turnip Spd dan

Ibu R Sihotang. Terima kasih buat dukungan doa, materi, semangat, yang penulis

terima selama ini. Penulis bangga memiliki kalian yang telah membesarkan

penulis dengan penuh cinta, kasih sayang, didikan tentang disiplin. Walau kadang

tidak sesuai dengan yang penulis mau. Penulis juga berterima kasih kepada ketiga

adik ku yang aku sayangi Apri Turnip, Oktria Turnip dan Anggara Turnip. Kalian

menjadi sumber semangat untuk penulis agar dapat memberikan yang terbaik

untuk semuanya. Di kesempatan ini penulis juga tak lupa mengucapkan terima

kasih kepada :

1. Bapak Badaruddin Harahap sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik, Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Zulkifli Lubis, MA sebagai ketua Departemen Antropologi Sosial

(4)

3. Bapak Lister Berutu MA, sebagai dosen pembimbing, yang telah

membimbing penulis dengan sabar dan memberikan masukan yang berguna

bagi penulis selama masa pengerjaan skripsi ini.

4. Bapak Drs. Irfan Simatupang Msi, sebagai ketua penguji pada saat penulis

melaksanakan ujian komprehensif. Terima kasih untuk semua saran yang

diberikan dalam penyempurnaan skripsi ini.

5. Ibu Dra. Sabariah Bangun , selaku dosen penguji pada saat penulis

melaksanakan ujian komprehensif. Terima kasih untuk semua saran yang

diberikan dalam penyempurnaan skripsi ini.

6. Abangda Nurman Ahmad,S.Sos,M.Soc selaku Penasehat Akademik yang

selalu memberikan motivasi dan nasehat untuk menyelesaikan skripsi penulis

selama masa perkuliahan..

7. Seluruh dosen di Departemen Antropologi yang telah memberikan ilmu yang

mereka miliki selama penulis mengikuti perkuliahan.

8. Terima kasih juga kepada Helen lucen Silalahi yang selama ini telah

memberikan motivasi buat penulis selama ini berkat kasih sayang dan

kesabarannya serta perhatiannya penulis dapat mengerjakan skripsi dengan

selesai.

9. Teman-teman seperjuangan antro'04 yaitu Hariman Silalahi, Joseph silalahi,

Kia Sagala, Arnov copo, Kardo hutauruk.. Teman-teman antro'04 yang telah

terlebih dahulu meraih gelar sarjana.dan kepada kerabat-kerabat lain yang

(5)

10.Teman – teman komunitas Warkop “ KILA “ yang selalu menemani penulis

pada saat penulis sedang bimbang sambil bermainkan jemari tangannya.

11.Buat bapauda dan nangudaku yang ada di Helvet terimakasih atas perhatian

(6)

DAFTAR ISI

Lembaran Pengesahan………i

Abstrak……… ii

Kata Pengantar………...iii

Daftar isi………..iv

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah……….………… 1

2. Perumusan Masalah……….………..10

3. Lokasi Penelitian……….…... 10

4. Tujuan dan Manfaat Penelitian………... 11

5. Tinjauan Pustaka……….. 11

6. Metode Penelitian ………. 20

6.1. Teknik Pengumpulan Data………. ... 21

6.1.1 Teknik Observasi ……….………… 21

6.1.2 teknik wawancara………. 22

7. teknik analisa data………. 23

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH PEMILIHAN SUMATERA UTARA I 2.1.Lokasi dan Jumlah Pemilih……….……..…. 24

2.1.1.Kependudukan………..…..….. 26

2.2. Penyelenggara Pemilu………...……. 34

(7)

BAB III PROSES PEMILU LEGISLATIF 2009 DAN PARTISIPASI PEREMPUAN DI DAERAH PEMILIHAN SUMATERA UTARA I

3.1.Peserta Pemilu dan Pencalonan………31 3.1.1. Kendala Pada Tahap Penetapan Dan Pendaftaran Calon

Legislatif 2009……….. 44

3.1.2. Kendala Pada Tahap Pelaksanaan Kampanye……… 46

3.2.Partisipasi Perempuan……… 49

3.2.1 Menjadi Anggota Partai Politik……….. 52

3.2.2.Kader Perempuan Partai Politik………. 53

3.2.3. Pemberdayaan Perempuan Partai Golkar……… 59

BAB IV TANTANGAN DAN KENDALA YANG DIHADAPI PEREMPUAN 4.1. Motif Elit Politik Perempuan dalam Berpartisipasi Politik……… 61

4.2.Hambatan-Hambatan Perempuan Dalam Berpolitik……….. 63

4.2.1.Tantangan-Tantangan Diskursif/Ideologis………. 63

4.2.2.Hambatan Sosio-Ekonomi……… 63

(8)

4.2.4.Hambatan Pribadi dan Psikologis………... 66

4.3.Kerangka Kebijakan Untuk Meningkatkan Partisipasi Perempuan Di Ranah Publik………. 72

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

5.1Kesimpulan……… 80

5.2.Saran/Rekomendasi………. 82

(9)

ABSTRAK

(10)

BAB I PENDAHULUAN 1.Latar Belakang Masalah

Sejarah Tentang Perempuan Di Parlemen Indonesia (Dewan Perwakilan

Rakyat-Republik Indonesia/ TK-I dan TK-II) merupakan sebuah proses panjang,

tentang perjuangan perempuan di wilayah publik. Kongres Wanita Indonesia

pertama, pada tahun 1928, yang membangkitkan kesadaran dan meningkatkan

rasa nasionalisme di kalangan perempuan merupakan tonggak sejarah, karena

berperan dalam meningkatkan kesempatan bagi perempuan Indonesia untuk

berpartisipasi dalam pembangunan, termasuk dalam politik(Ani, 2000: 56)

Oleh karena itu, berbagai strategi harus dipelajari untuk mengatasi

hambatan tersebut, sehingga tujuan untuk meningkatkan representasi perempuan

di parlemen bisa diwujudkan. Studi kasus ini menyajikan bagaiman partisipasi

politik perempuan di Indonesia, dan mengkaji hambatan yang dapat menghalangi

wanita untuk menjadi anggota parlemen. Selain itu, ditawarkan berbagai strategi

yang bisa dipertimbangkan untuk mengatasi permasalahan keterwakilan ini.

Dalam negara yang menganut sistem nilai patriarkal, seperti Indonesia,

kesempatan perempuan untuk menjadi politisi relatif terbatasi karena persepsi

masyarakat mengenai pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, yang

cenderung bisa ke arah membatasi peran wanita hanya pada urusan rumah tangga.

Namun demikian. pada masa perjuangan kemerdekaan, kebutuhan akan

kehadiran banyak pejuang, baik laki-laki maupun perempuan, membuka

kesempatan luas bagi para perempuan untuk berkiprah di luar lingkup domestik

(11)

menghargai para pejuang perempuan yang ikut berperan di medan perang, dalam

pendidikan, dalam pengobatan, dan lain-lain. Kesempatan ini memberi

kemudahan pada perempuan untuk memperjuangkan isu-isu yang berhubungan

dengan kepentingan mereka atau yang terjadi di sekitar mereka, selain isu politik.

Dalam pemilihan umum pertama pada tahun 1955, 6,5 % dari anggota

parlemen adalah perempuan. Kemudian, representasi perempuan Indonesia di

parlemen mengalami pasang surut, dan mencapai angka tertinggi sebesar 13,0%

pada tahun 1987. Saat ini, jumlah perempuan mencapai 8,8% dari seluruh anggota

perwakilan terpilih. Kurangnya keterwakilan perempuan di parlemen disebabkan

oleh serangkaian hambatan yang membatasi kemajuan mereka.pada pemilihan

umum tahun 1955, pada masa Orde Lama, jumlah perempuan di DPR mencapai

17 orang, Pemilihan umum pertama di nilai sebagai demokratis, dengan

partisipasi perempuan dalam politik didasarkan pada kemampuan mereka sebagai

pemimpin dari unit-unit yang ada dalam organisasi-organisasi partai.(Romany S.

2007 : 160)

Berbeda dengan periode Orde Lama (era Soekarno), pada masa Orde Baru

(era Soeharto) dengan konsep partai mayoritas tunggal, representasi perempuan

dalam lembaga legislatif dan dalam institusi-institusi kenegaraan, ditetapkan oleh

para pemimpin partai di tingkat pusat, Akibatnya, sebagian perempuan yang

menempati posisi penting memiliki hubungan keluarga atau kekerabatan dengan

para pejabat dan pemegang kekuasaan di tingkat pusat. Hal ini di mungkinkan

karena dalam sistem pemilu, pemilih tidak memilih kandidat (orang), tetapi

simbol partai, untuk berbagai tingkatan pemerintahan, yaitu tingkat kabupaten,

(12)

dalam proses pencalonan/ pemilihan, dan mungkin tidak memiliki kemampuan

mengartikulasikan kepentingan konstituennya (Nauli, 1993:77)

Dalam pemilihan umum 1999, proses pemilihan mengalami perubahan

cukup berarti, dimana rekrutmen kandidat partai untuk lembaga legislatif,

termasuk perempuan, harus disetujui oleh daerah, para pengambil keputusan

partai di daerah (hal ini tidak berlaku bagi wakil dari angkatan bersenjata dan

polisi). Sebagian besar wakil perempuan yang terpilih berpartisipasi dalam proses

pemilu, antara lain dalam upaya pembelaan terhadap masyarakat, diskusi,

ceramah dan kegiatan partai lainnya yang berhubungan dengan kampanye pemilu

(Anugrah, 2008:17)

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola seleksi antara laki-laki dan

perempuan sebagai anggota legislatif. Faktor pertama berhubungan dengan

konteks budaya di Indonesia yang masih sangat kental asas patriarkalnya. Persepsi

yang sering dipegang adalah bahwa arena politik untuk laki-laki, dan bahwa

tidaklah pantas bagi wanita untuk menjadi anggota parlemen. Faktor kedua

berhubungan dengan proses seleksi dalam partai politik. Seleksi terhadap para

kandidat biasanya di lakukan oleh sekelompok kecil pejabat atau pimpinan partai,

yang hampir selalu laki-laki. Di beberapa negara, termasuk Indonesia, di mana

kesadaran mengenai kesetaraan gender dan keadilan masih rendah, pemimpin

laki-laki dari partai-partai politik mempunyai pengaruh yang tidak proporsional

terhadap politik partai, khususnya dalam hal gender. Perempuan tidak

memperoleh banyak dukungan dari partai-partai politik karena struktur

kepemimpinannya didominasi oleh kaum laki-laki. Ketiga, berhubungan dengan

(13)

pentingnya representasi perempuan dalam parlemen. Keempat, tidak adanya

jaringan antara organisasi massa, LSM dan partai-partai politik untuk

memperjuangkan representasi perempuan. Jaringan organisasi-organisasi wanita

di Indonesia baru mulai memainkan peranan penting sejak tahun 1999 (Matland,

2001)

Dalam kehidupan sosial bernegara, setiap warga negara pada dasarnya

tidak ada pembedaan atas hak dan kewajibannya, semuanya sama dihadapan

hukum dan pemerintahan. Termasuk dalam hal ini adalah hak berpolitik, hak

untuk memberikan pendapat dan hak untuk melakukan koreksi atas pemerintahan.

Semua hal tersebut tentunya dilaksanakan dengan cara-cara dan mekanisme yang

telah diatur oleh sistem pemerintahan. Pergantian kepemimpinan sebagai salah

satu keniscayaan dalam sistem demokrasi menuntut keterlibatan warga negara di

dalamnya. Adapun aturan main dalam sistem demokrasi nasional salah satunya

adalah pemilu. Kegiatan pemilu sendiri ditujukan sebagai sarana untuk memilih

wakil-wakil rakyat yang akan duduk di lembaga legislatif. Pemilu 2009 memiliki

banyak sisi yang unik untuk dikaji. Salah satunya adalah keterlibatan perempuan

dalam pemilu. Pemilu dan perempuan seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat

dipisahkan, karena membahas tentang pemilu kuranglah lengkap bila tanpa

menyertakan perempuan di dalamnya (Undang-undang Nomor 2 Tahun 2008)

Dalam sejarah perpolitikan di Indonesia dan negara berkembang pada

umumnya, peranan perempuan memang dipandang terlambat dalam keterlibatan

di dunia politik. Stigma-stigma bahwa perempuan dalam posisi domestik

dianggap sebagai salah satu hal yang mengakibatkan perempuan terlambat

(14)

yang memegang jabatan publik masih sangat sedikit. Fenomena tersebut bukan

hanya terjadi pada tingkat pusat tetapi juga berimbas pada tingkatan lokal atau

daerah. Terlebih lagi bahwa posisi kaum perempuan kurang di untungkan secara

politis karena jarang sekali terlibat dalam pengambilan keputusan, khususnya

yang berkenaan dengan permasalahan perempua n itu sendiri. Peran dan status

perempuan dewasa ini lebih di pengaruhi oleh masa lampau, kultur, ideologi, dan

praktek hidup sehari-hari. Inilah yang menjadi kunci mengapa partisipasi

perempuan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara mengalami kelemahan.

Kedudukan perempuan yang demikian, ternyata tidak dapat di

pertahankan, karena dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi,

pandangan yang meletakkan perempuan untuk terus-menerus tersubordinat dalam

bidang sosial, ekonomi da politik tidak dapat dipertahankan lagi.

Arief Budiman ( 1985 ) menyatakan bahwa pembagian pekerjaan antara

pria dan wanita merupakan sebuah lembaga kemasyarakatan tertua dan terkuat,

yang umurnya sudah ribuan tahun dan sampai sekarang masih bertahan dengan

gagahnya

Maka berdasarkan sejarah tradisi dan budaya Indonesia, kedudukan

perempuan sangat terbatas.Mulai dari diri perempuan itu sendiri yang telah di

tempah sedemikian rupa disekitar lingkungan yaitu didominasi sistem patriarki

yang menjadikannya sebagai perempuan dengan kepribadian menerima apa

adanya sampai faktor eksternal yang juga memainkan peran yang cukup

signifikan dalam membatasi peran perempuan di ruang publik dan di parlemen.

Merujuk peran perempuan di atas maka perempuan dikatakan sebagai the

(15)

laki-laki yang membawa implikasi luas dalam kehidupan sosial di masyarakat.

Situ Musda Mulia, 2005:5). Sejarah sistem politik di sebagian besar negara

menunjukkan adanya diskriminasi terhadap perempuan dalam proses politik mulai

di tingkat lokal sampai tingkat nasional. Adanya pembagian antara peran publik

dan domestik menjadikan perempuan terpotong aksesnya dalam partisipasi politik

dan terdiskriminasi dalam sistem politik.

Menyikapi hal diatas, selama ini ada anggapan di masyarakat bahwa

kuatnya culture patriakhi di indonesia menyebabkan kepemimpinan perempuan di

Indonesia terbatas. Banyak perempuan-perempuan yang belum berani mengambil

kesempatan-kesempatan yang tersedia baginya. Walaupun perempuan Indonesia

sudah diberi kesempatan secara bebas untuk menentukan pilihan kariernya

dimana perempuan sudah di pahami sebagai manusia lincah dan berperan aktif

sebagai mitra sejajar yang di ikut sertakan dalam mengambil keputusan disegala

bidang pembangunan, hal ini akan mendorong perempuan Indonesia untuk

berproses mengembangkan dirinya sebagai pribadi yang utuh .( Murniati. 2004 :

221 )

Sebuah masyarakat dapat dikatakan demokratis jika dalam kehidupannya

menghargai hak asasi manusia secara adil dan setara, mengakui dan memajukan

akan kebebasan. Dalam penghargaan terhadap hak yang adil dan setara tersebut

tercermin adanya penghargaan terhadap perbedaan-perbedaan yang ada,

khususnya terhadap kelompok-kelompok minoritas. Hal ini juga mencakup

adanya jaminan partisipasi politik bagi semua warga. Partisipasi dalam sistem

politik merupakan tugas yang kompleks dan menantang, khususnya bagi

(16)

salah satu kelompok yang dirugikan sebagai akibat dari peran-peran yang di

terjemahkan secara sosial dan budaya dan hubungan antara laki-laki dan

perempuan dalam hal produktif, reproduktif dan politik.

Meskipun kita ketahui bahwa komposisi perempuan lebih banyak

ketimbang laki-laki, namun itu bukan sebagai jaminan atas hak-hak mereka dalam

Publik karena Faktor budaya merupakan salah satu penghambat bagi perempuan

untuk tampil dalam forum publik. Kuatnya peran laki-laki dalam kehidupan

publik sangat menentukan setiap keputusan-keputusan yang diambil meskipun itu

menyangkut kehidupan perempuan.

Institusi struktural kekuasaan yang paling tinggi adalah negara, yang

secara langsung maupun tidak langsung terlibat dan berpengaruh terhadap

kehidupan perempuan. Negara sebagai sebuah wilayah dengan struktur ekonomi,

sosial, politik dan budaya, merupakan sebuah kompleksitas kekuasaan yang

dominan dan menjadi pusat otoritas di tingkat publik. Idealnya, negara dengan

kekuasaan tertinggi yang dimiliki mampu menjadi tempat perlindungan bagi

perempuan dalam memperoleh keadilan. Tetapi kenyataannya dalam banyak

kasus, negara justru semakin membuat posisi perempua n makin terjepit. Tetapi

kondisi tersebut tidak menjadikan isu perempuan menjadi sesuatu yang diangap

vital.

Di sinilah bangsa Indonesia diuji dalam pendistribusian kekuasaan antara

laki-laki dan perempuan dalam pengambilan keputusan public, yang merupakan

bagian terpenting dalam pencapaian kehidupan yang lebih demokratis, setara dan

berkeadilan gender. Sehingga, bukan hal yang berlebihan kalau saat ini kaum

(17)

keterwakilan politik perempuan juga harus di maknai sebagai tindakan yang

sangat strategis untuk mengurangi hambatan individu dalam berkiprah di kancah

politik sekaligus meminimalkan ketidakadilan gender yang ada dalam kehidupan

masyarakat.( Kompas 10 febuari.2009).

Padahal keterwakilan perempuan di bidang politik sangat diperlukan untuk

mempengaruhi proses demokrasi dengan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan

gender, walaupun tidak mudah bagi perempuan untuk masuk kewilayah politik.

Seperti yang sudah diatur dalam undang-undang pemilu pasal 20 UU No 2 tahun

2008:

“ kepengurusan Partai politik tingkat propinsi dan kabupaten/kota

sebagaiman dimaksud pasal 19 ayat (2) dan ayat (3) disusun dengan

memperhatikan keterwakilan perempuan paling rendah 30 % yang diatur dalam

AD dan ART partai politik masing-masing.“ (Anugrah, 2008)

Dengan adanya undang-undang tersebut tidak diperkenankan suatu partai

politik menyimpang dari system kuota 30 % dengan alasan apapun, oleh sebab itu

partai politik hendaknya mampu melakukan pendidikan politik, mencerdaskan,

dan memajukan kaum perempuan. Dengan begitu, suatu partai politik tidak

tersandung dan jatuh atau tidak mampu berkompetisi dengan Parpol lainnya.

Meskipun perempuan mempunyai peluang yang sama untuk menjadi

pemimpin, masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih kental dengan

budaya patriarkhi masih sulit untuk menerima pemimpin perempuan. Selain

karena alasan lemahnya kepemimpinan mereka, perempuan juga dinilai kurang

mempunyai kemampuan. Ini bisa dilihat tingkat keseriusan partai dalam

(18)

dalam pemilihan legislatife, tidak sedikit di antaranya artis perempuan, figure

terkenal, atau bahkan hanya karena perempuan itu salah satu kerabat terdekat

pengurus partai. Ironisnya, pada banyak kasus, nama-nama caleg perempuan

tersebut hanya untuk memenuhi persyaratan partai untuk menuju pemilu 2009.

( Yas mashfiyah, 2009 )

Agar suara dan kebutuhan perempuan tersalurkan dalam semua

perumusan kebijakan public, maka perlu memilih partai politik atau calon

legislatif yang memberikan kesempatan bagi perempuan dalam proses

pengambilan keputusan, mempunyai komitmen dan konsistensi dalam

menerapkan peraturan yang tidak diskriminatif terhadap perempuan, memiliki

program untuk menghilangkan peraturan dan perundang-undangan yang

merugikan perempuan sekaligus memiliki pandangan untuk menggantikan

peraturan-peraturan dengan peraturann yang lebih adil bagi perempuan.

Hal penting lain yang melandasi pentingnya keterwakilan perempuan

dalam lembaga politik khususnya legislative adalah fakta dimana separuh jumlah

penduduk perempuan Indonesia adlah perempuan. Mengabaikan perempuan

dalam pembuatan keputusan politik sama halnya dengan menyingkirkan

mayoritas penduduk Indonesia dalam proses politik. Perempuan memiliki

kebutuhan-kebutuhan khusus yang hanya dapat di pahami dengan baik oleh

perempuan yang memiliki persepektif gender.

Pemilu 2009 memberikan kesempatan yang luas kepada perempuan, ada

banyak peran yang dapat di lakukan dalam proses penting kenegaraan tersebut.

Bagaimanapun juga perempuan merupakan salah satu entitas yang memiliki

(19)

kenyataan inilah kemudian peneliti mengambil judul Partisipasi Perempuan

pada Pemilu Legislatif khususnya Dapem 1 Sumatera Utara ( Medan ) Pemilu Tahun 2009.

2. Perumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana bentuk Partisipasi calon legislatif Perempuan Khususnya

Daerah Pemilihan 1 Sumatera Utara ( Medan ) dalam Pemilu Tahun 2009?

2. Bagaimana strategi perempuan dalam menghadapi Budaya Patriarkhi

guna mengikuti Pencalonan Pemilu legislatif Khususnya Dapem 1

Sumatera Utara ( Medan ) ?

3.Lokasi Penelitian

Penelitian ini berlokasi di Daerah Pemilihan 1 Sumatera Utara ( Medan)

Alasan pemilihan Lokasi Penelitian adalah karena medan merupakan termasuk

kota Metropolitan, yang memiliki kemajemukan dalam masyarakat, baik dari

agama, ras, suku dan golongan. Perbedaan-perbedaan tersebut biasanya dapat

mempengaruhi partsipasi politik masyarakat khususnya kaum perempuan itu

sendiri. Selain itu juga penelitian ini dilakukan untuk mempermudah untuk

mengambil data yang lebih akurat, karena Kantor KPU sumut berada di kota

(20)

4. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan Penelitian

Atas dasar perumusan masalah, maka tujuan dalam penelitian ini adalah

untuk mendeskripsikan atau menggambarkan bagaimana perempuan dalam

menghadapi pemilihan umum 2009 dengan salah satunya ikut sebagai calon

legislatif perempuan, dan dapat mewakili suara atau aspirasi sebagian kaum

perempuan, yang selama ini mengalami pendiskriminasikan dalam bidang politik

oleh kaum laki-laki.

Manfaat Penelitian

Adapun Manfaat dari hasil penelitian ini sebagai pemahaman bagi semua

pihak bagaimana perempuan itu memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki

dalam menduduki sebuah jabatan di Parlementer atau bidang public lainnya dan

menghapuskan pendeskriminasiaan terhadap perempuan, yang dulunya

perempuan hanya bisa bekerja di bidang domestic(Rumah tangga) saja.

5.Tinjauan Pustaka

Paolo Freire ( Freire, 1972) mensimulasi pengaruh konstruksi budaya yang

perlu menjadi perhatian kita semua dan hal ini sejalan dengan permasalahan

mendasar tentang pemahaman gender. Gender adalah persepsi seseorang terhadap

perempuan dan laki-laki yang terbentuk sejak anak-anak, bukan atas dasar sex

atau jenis kelaminnya, tetapi terkonstruksi dan bercampur dengan nilai-nilai

(21)

lapisan masyarakat, kelompok dan golongan harus terus di galakkan. Perlu

disadari kesadaran gender (gender awareness) tidak dapat sekaligus di mengerti

dan di laksanakan oleh masyarakat. Penyadaran gender perlu waktu untuk

terjadinya perubahan pola pikir dan tingkah laku, sehingga di perlukan kesabaran

dan ketekunan untuk mengubah nilai dan kebiasaan masyarakat.

Peran serta posisi perempuan dalam bermasyarakat tergantung pada nilai

budaya yang mengaturnya, seringkali orang langsung dapat menyimpulkan bahwa

perempuan sebagai makhluk yang dinomor duakan, akibat adanya budaya

patriarkhi, padahal asumsi tersebut tidak terjadi pada semua kelompok masyarakat

misalnya ; Masyarakat minangkabau yang dikenal dengan prinsip Matrineal,

Prinsip matrineal memperhitungkan hubungan kekerabatan melalui garis

keturunan perempuan, sehingga semua kaum kerabat ibu termasuk dalam batas

kekerabatnya, sedangkan semua kaum kerabat ayah berada diluar batas itu

(Koendjaraningrat, 1998 : 123).

Gender diartikan sebagai konstruksi sosiokultural yang membedakan

karaketeristik maskulin dan feminim. Gender berbeda dengan seks dan jenis

kelamin laki-laki dan perempuan(Henrietta L, 1998). Walaupun jenis kelamin

laki-laki sering berkaitan erat dengan gender maskulin dan jenis kelamin

perempuan berhubungan dengan gender feminim, kaitan antara jenis kelamin

dengan gender bukanlah merupakan korelasi absolut. Hal ini disebabkan yang

dianggap maskulin dalam suatu kebudayaan dapat dianggap feminim dalam

budaya lain. Dengan kata lain, kategori feminim dan maskulin itu bergantung

pada konteks sosial budaya setempat. Gender membagi atribut dan pekerjaan

(22)

peran berdasarkan gender melahirkan suatu keadaan yang tidak seimbang saat

perempuan menjadi tersubordinasi oleh laki-laki.

Sedangkan yang dimaksud dengan Maskulin adalah sifat-sifat yang di

percaya dan dibentuk oleh budaya sebagai ciri-ciri yang ideal bagi pria.

Sedangkan Feminin nerupakan ciri-ciri atau sifat-sifat yang dipercaya dan di

bentuk oleh budaya sebagai ideal bagi wanita. Femininitas dan Maskulinitas ini

berkaitan dengan stereotip peran gender. Stereotip peran gender ini di hasilkan

dari pengkategorian antara perempuan dan laki-laki, yang merupakan suatu

representasi sosial yang ada dalam struktur kognisi kita.

Konflik peran gender beroperasi pada empat tingkatan yang saling

tumpang tindih dan kompleks, yakni kognisi, pengalaman-pengalaman afektif,

perilaku-perilaku dan pengalaman-pengalaman ketidaksadaran. Konflik peran

gender yang dialami pada tingkatan kognitif berasal dari cara-cara seseorang yang

berfikir terbatas (restrictive) tentang peran-peran maskulin dan feminin.

Sikap-sikap yang stereotip dan pandangan dunia tentang laki-laki dan perempuan hasil

dari keterbatasan kognitif. Konflik peran gender yang dialami pada tingkatan

afektif berasal dari gangguan emosional yang mendalam tentang peran-peran

maskulin dan feminin. Konflik peran gender yang dialami pada tingkatan perilaku

berasal dari pengalaman konflik yang nyata dengan maskulinitas dan femininitas

sebagai mana kita berperilaku, bereaksi dan berinteraksi dengan diri kita sendiri

dan orang lain. Konflik peran gender sebagai fenomena ketidaksadaran

merepresentasikan konflik

Adanya perbedaan jenis kelamin antara pria dan wanita dalam hal

(23)

berputar pada dua teori besar yaitu: teori nature dan teori nuture. Teori nature

beranggapan bahwa perbedaan tersebut adalah sesuatu yang alam atau disebabkan

oleh factor-faktor biologis, Teori nuture beranggapan bahwa perbedaan itu

tercipta melalui proses belajar dari lingkungan itu sendiri.(Arif budiman.1985: 2).

Dalam wacana perempuan dan analisi tentang isu-isu hubungan antara pria

dan perempuan dalam mengupayakan terwujudnya hasil-hasil pembangunan

nasional, telah lahir kebutuhan untuk menggunakan istilah yaitu gender. Secara

historis, konsep Gender pertama kali dibedah oleh sosiolog asal Inggiris yaitu Ann

Oaklyey yaitu ia membedakan antara gender dan seks. perbedaan seks berarti

perbedaan atas dasar ciri-ciri biologis yaitu yang menyangkut prokreasi

(menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui). Perbedaan gender adalah

perbedaan simbolis atau sosial yang berpangkal pada perbedaan seks tetapi tidak

selalu identik dengannya. Jadi kelihatan di sini gender lebih mengarahkepada

simbol-simbol sosial yang diberikan pada suatu masyarakat tertentu.(Daulay,

2007:3)

Fakh (1996) mengemukakan konsep gender yakni suatu sifat yang melekat

pada kaum laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun

kultural. Misalnya: Perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau

keibuan sedang laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa. Ciri dan sifat

itu sendiri merupakan sifat yang dapat dipertukarkan. Semua hal yang dapat

dipertukarkan antara sifat perempuan dan laki-laki yang bisa berubah dari waktu

ke waktu serta antara sifat perempuan dan laki-laki yang bixz berubah dari waktu

ke waktu serta berbeda dari tempat ke tempat lainnya, maupun berbeda dari satu

(24)

Kata gender berarti jenis kelamin, sedangkan gene mengandung arti

plasam pembawa sifat di dalam keturunan. Saptari & Holzner (Abdullah, 1997)

menjelaskan bahwa gender adalah keadaan individu yang lahir secara biologis

sebagai laki-laki dan perempuan, memperoleh ciri-ciri sosial sebagai laki-laki dan

perempuan melalui atribut-atribut maskulinitas dan femenintas yang sering

didukung oleh nilai-nilai atau sistem simbol masyarakat yang bersangkutan.

Jadi gender adalah perbedaan antara laki-laki dan permpuan (maskulin dan

feminin) yang di ciptakan oleh manusia, dapat ditukar dan diubah sesuai tempat,

waktu, dan lingkungan sosial. Maka menurut Kementrian UPW (1994), gender

adalah hubungan dalam bentuk pembagian kerja serta alokasi peranan, kedudukan

dan tanggung jawab serta kewajiban dan pola hubungan yang berubah dari waktu

ke waktu dan berbeda antar budaya. (Budiman, 1985:56)

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa peran gender adalah

sekumpulan pola-pola tingkah laku atau sikap-sikap yang di tuntut lingkungan dan

budaya tempat individu itu berada, untuk disampaikan secara berbeda oleh

laki-laki dan perempuan sesuai jenis kelaminnya.

Persoalannya yang dihadapi perempuan pada saat ini terkendala dengan

nilai social budaya yang tidak memberi akses dan kesempatan perempuan

menduduk i posisi sentral di lembaga-lembaga tertinggi, kendati dari aspek

kemampuan intelegensi dan kepemimpinan perempuan memiliki kualitas yang

memadai, namun sering tidak dipromosikan pada jabatan yang lebih tinggi, karena

dunia public sarat dengan pencerminan karakter yang tegas dan lugas,

independent, rasional, dan mampu mengambil keputusan yang terlekat pada

(25)

( Romany S 2007 :165 )

Perilaku politik pada umumnya di tentukan oleh faktor internal dari

individu sendiri seperti idealisme, tingkat kecerdasan, kehendak hati dan oleh

faktor eksternal (kondisi lingkungan) seperti kehidupan beragama, sosial, politik,

ekonomi dan sebagainya yang mengelilinginya. Sehingga perilaku politik sebagai

fungsi dari kondisi sosial dan ekonomi serta kepentingan, maka perilaku politik

sebagian diantaranya adalah produk dari perilaku sosial ekonomi dan kepentingan

suatu masyarakat atau golongan dalam masyarakat tersebut. Sedangkan menurut

Jack C. Plano dkk dalam Moh. Ridwan, perilaku politik adalah: “Pikiran dan

tindakan manusia yang berkaitan dengan proses memerintah. Yang termasuk

perilaku politik adalah tanggapan-tanggapan internal (pikiran, persepsi, sikap dan

keyakinan) dan juga tindakan-tindakan yang nampak (pemungutan suara, gerak

protes, kampanye dan demonstrasi).

Dalam negara berkembang masalah partisipasi Politik adalah masalah

yang cukup rumit. Partisipasi menjadi tolak ukur penerimaan atas sistem politik

yang dibangun oleh sebuah negara. Maju dan berkembangnya pembangunan

dalam suatu negara sangat tergantung dari keterlibatan warga negaranya tanpa

membedakan jenis kelamin, baik itu laki-laki maupun perempuan. Memahami

partisipasi politik tentu sangatlah luas. Mengingat partisipasi politik itu sendiri

merupakan salah satu aspek penting demokrasi. Asumsi yang mendasari

demokrasi (dan partisipasi) orang yang paling tahu tentang yang baik bagi dirinya

adalah orang itu Karena keputusan politik yang dibuat dan dilaksanakan oleh

pemerintah menyangkut dan mempengaruhi kehidupan warga masyarakat maka

(26)

Menurut Gabriel A. Almond, proses politik akan melahirkan

bentuk-bentuk partisipasi politik yang dilakukan oleh individu dan kelompok yang

kemudian akan disosialisasikan melalui transmisi kebudayaan, baik melalui

pendidikan keluarga, kelompok-kelompok pergaulan, di lingkungan pekerjaan,

interaksi melalui model media komunikasi massa, maupun interaksi politik secara

langsung. Sehingga Almond kemudian memilahkan kategori budaya politik

tersebut atas tiga pemilahan, yaitu budaya politik partisipan, budaya politik

subyek dan budaya politik parokialik.

Dalam pendekatan perilaku, terdapat interaksi antara manusia satu dengan

lainnya dan akan selalu terkait dengan pengetahuan, sikap dan nilai seseorang

yang kemudian memunculkan orientasi sehingga timbul perilaku itu. Orientasi

politik itulah yang kemudian membentuk tatanan dimana interaksi-interaksi yang

muncul tersebut akhirnya mempengaruhi perilaku politik yang dilakukan

seseorang.

Orientasi politik tersebut dapat dipengaruhi oleh orientasi individu dalam

memandang obyek-obyek politik. Almond dan Verba mengajukan klasifikasi

tipe-tipe orientasi politik, yaitu (Almond, 1990):

a. Orientasi Kognitif, yakni pengetahuan tentang dan kepercayaan pada

politik, peranan dan segala kewajibannya serta input dan outputnya.

b. Orientasi Afektif, yakni perasaan terhadap sistem politik, peranan,

keberadaan aktor dan penampilannya.

c. Orientasi Evaluatif, yaitu keputusan dan pendapat tentang obyek-obyek

politik yang secara tipikal melibatkan kombinasi standar nilai dan kriteria

(27)

Sementara dalam menjelaskan orientasi seseorang terhadap obyek-obyek

politik, pada bagian lain Almond mengklasifikasikan sebagai berikut:

1) Orientasi Positif, yaitu orientasi yang ditunjukkan dengan tingkat

pengetahuan dan frekuensi kesadaran yang tinggi, perasaan dan evaluasi

positif terhadap obyek politik

2) Orientasi Negatif, yaitu orientasi yang ditunjukkan dengan tingkat

pengetahuan dan frekuensi kesadaran yang rendah, evaluasi dan perasaan

negatif yang tinggi terhadap obyek politik.

3) Orientasi Netral, yaitu orientasi yang ditunjukkan oleh frekuensi

ketidakpedulian yang tinggi atau memiliki tingkat orientasi yang sangat

terbatas bahkan tidak memiliki orientasi sama sekali terhadap

obyek-obyek politik.

Orientasi politik sebenarnya merupakan suatu cara pandang dari suatu

golongan masyarakat dalam suatu struktur masyarakat. Timbulnya orientasi itu

dilatarbelakangi oleh nilai-nilai yang ada dalam masyarakat maupun dari luar

masyarakat yang kemudi an membentuk sikap dan menjadi pola mereka untuk

memandang suatu obyek politik secara detail (Apter, 1985)

Ketika perempuan menjadi politisi, ia tidak berhenti menjadi perempuan.

Keperempuanan ini yang harus berada di tempat pertama, karena ia mengandung

kekuatan intelektual dan potensi-potensi kreatif yang berbeda. Namun masih ada

keraguan dalam masyarakat tertentu apakah perempuan siap dan mampu

menjalankan fungsi dan peran dikancah politik karena kalangan tertentu

beranggapan bahwa dunia politik merupakan milik laki-laki. Sesungguhnya

(28)

sadli bahwa perempuan dan laki-laki mempunyai potensi kecerdasan yang sama.

Hal telah dibuktikan dalam sejumlah studi psikologi tentang taraf intelegensi

perempuan dan laki-laki. Dalam realitas sehari-hari perempuan Indonesia sejak

masih didunia pendidikan maupun dalam menerapkan keahliannya tidak kalah

dengan laki-laki bahkan kerap jauh lebih baik. ( Kompas, 18 november 2002 )

Di banyak negara, tradisi tetap berlaku untuk menekan, bahkan sering

mendikte, peranan utama perempuan sebagai ibu dan istri. Sistem nilai tradisional,

kuat dan patriarki menyokong peranan-peranan yang terpisahkan secara seksual,

dan apa yang disebut sebagai “nilai-nilai kultural tradisional” menghalang-halangi

kemajuan, perkembangan dan partisipasi perempuan dalam setiap proses politik.

Masyarakat di seluruh dunia didominasi oleh suatu ideologi tentang “kedudukan

perempuan”. Menurut persepsi ini, perempuan tidak harus memainkan peran “ibu

yang bekerja”, yang secara umum mendapat upah rendah dan apolitis.

Ani Sutjipto ( 2000 : 299 ) kehadiran perempuan di parlemen lebih terkait

dengan profesi dan karier suami, rekutmen dalam partai lebih karena keinginan

untuk mendukung profesi dan kedudukan suami mereka. Tidaklah heran kalau

mereka kurang memiliki kemandirian atau rasa percaya diri dan komitmen yang

kuat dalam menyuarakan aspirasi perempuan.

Kurangnya rasa percaya diri adalah salah satu sebab utama atas kurang

terwakilinya perempuan dalam lembaga-lembaga politik formal, termasuk

parlemen, pemerintahan, dan partai-partai politik. Dengan adanya kepercayaan

diri dan tekad yang bulat, perempuan dapat meraih derajat tertinggi dalam proses

politik. Untuk itulah mengapa perempuan harus percaya pada diri mereka sendiri

(29)

menjadi pemimpin mereka. Perempuan setara dan mempunyai potensi yang sama

seperti laki-laki tetapi hanya bagi mereka yang dapat memperjuangkan

hak-haknya. Perempuan adalah juru kampanye, organisatoris dan mobilisator

dukungan yang sangat baik, tetapi rasa khawatir kadang-kadang menghalangi

mereka untuk ikut berkompetisi dalam pemilihan dan berpartisipasi dalam

kehidupan politik.

6.Metode Penelitian

Menurut Hadari Nawawi (Nawawi, 1987: 63) metode penelitian deskriptif

dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan

menggambarkan atau melukiskan subjek atau objek penelitian seseorang, lembaga,

masyarakat dan lain-lain pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak

atau sebagaimana adanya. Penelitian deskriptif melakukan analisis dan menyajikan

data-data dan fakta-fakta secara sistematis sehingga dapat dipahami dan

disimpulkan.

Tujuan penelitian deskriptif analisis adalah untuk membuat gambaran secara

sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau

daerah tertentu. Di samping itu penelitian ini juga menggunakan teori-teori,

data-data dan konsep-konsep sebagai kerangka acuan untuk menjelaskan hasil penelitian,

menganalisis dan sekaligus menjawab persoalan yang diteliti. Oleh karena itu jenis

(30)

6.1. Teknik Pengumpulan Data

Dalam mengumpulkan data dan informasi yang dibutuhkan maka penulis

melakukan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

a. Data primer yang didasarkan pada peninjauan langsung pada objek yang di

teliti untuk memperoleh data-data yang di butuhkan. Studi lapangan yang di

lakukan dengan datang langsung ke lokasi penelitian dengan wawancara

langsung terhadap informan dan melakukan observasi dengan menggunakan

pedoman wawancara.

b. Data sekunder yaitu dengan mencari sumber data dan informasi melalui

buku-buku, jurnal, internet dan lain-lain yang berkaitan dengan penelitian ini

Adapun teknik yang digunakan dalam pencarian data-data di lapangan

adalah:

6.1.1.Teknik Observasi

Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik

terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Pengamatan dan pencatatan

yang dilakukan terhadap objek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa,

sehingga observer berada bersama objek yang diselidiki, disebut observasi

langsung.

Sedangkan observasi tidak langsung adalah pengamatan yang dilakukan

tidak pada saat berlangsungnya peristiwa yang akan diselidiki misalnya peristiwa

tersebut diamati melalui film, rangkaian slide atau rangkaian photo.

(31)

secara langsung terhadap lokasi terjadinya peristiwa yakni dengan mendatangi

kantor partai politik dan ke rumah atau ke kantor para calon tetap anggota

Legislatif 2009 yang terpilih atau yang tidak terpilih.

6.1.2 Teknik Wawancara

Metode wawancara merupakan sebuah metode yang sangat efektif dalam

penelitian kualitatif. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah

wawancara mendalam dengan menggunakan pedoman wawancara ( interview

Quide ) tujuannya sebagai pengarah agar tidak meluasnya data yang diperoleh.

Dengan adanya variasi-variasi pertanyaan yang disesuaikan dengan situasi dan

kondisi tersebut bertujuan untuk memperoleh keterangan rinci dan mendalam

mengenai pandangan informan dan memperoleh informasi mengenai suatu

peristiwa, situasi, dan keadaan tertentu.

Dalam pelaksanaan wawancara ini, peneliti menemui informan langsung

dan subyek penelitian sesuai dengan waktu dan lokasi yang telah disepakati untuk

memperoleh data yang sesuai dengan pokok permasalahan yang di ajukan.

Wawancara ditujukan pada calon legislative perempuan pemilu 2009 namun

hanya 3 orang yang dapat diwawancarai serta 1 orang pemenang yang terpilih

menjadi anggota legislatif DPRD Sumut, dan Pengurus Partai Politik yaitu PDI

Perjuangan, Golongan Karya, PKS, dan anggota KPU Sumut, Jumlah informan

yang disesuaikan dengan kebutuhan, artinya bila permasalahan telah terjawab

(32)

7. Teknik Analisa Data

Data yang telah di kumpulkan kemudian disusun, di analisa dan disajikan

untuk memperoleh gambaran sistematis tentang kondisi dan situasi yang ada.

Data-data tersebut diolah dan di eksplorasi secara mendalam yang selanjutnya

menghasilkan kesimpulan yang menjelaskan masalah di teliti.

BAB II

(33)

2.1.Lokasi dan Jumlah Pemilih

Secara umum penyelenggaraaan pemilu tahun 2009 di Kota Medan

tergolong sukses, aman, tertib, dan lancar, artinya pelaksanaan Pemilu telah sesuai

dengan perundangan-undangan yang berlaku. Reformasi yang bergulir sejak tahun

1998 sampai tahun 2004 telah memberikan dampak yang berarti terhadap

perubahan pola pikir dan sikap sebagian besar warga Kota Medan dalam

partisipasi politiknya. Sikap warga masyarakat dalam berpolitik ada yang apatis,

yaitu tidak berminat, sinis, bersikap curiga, alienasi yaitu merasa terasing dari

kehidupan politik dan pemerintahan masyarakat, dan ada yang anomi yaitu

perasaan kehilangan nilai dan arah hidup, sehingga tidak memiliki motivasi untuk

mengambil tindakan-tindakan yang berarti dalam hidup ini, seperti tidak ada niat

dalam pemilihan sehingga terkadang tidak peran aktif dalam pemilihan atau sama

sekali tidak tahu siapa yang akan dipilih.

Pemilu tahun 2009 bagi warga Kota Medan secara umum dianggap sama

saja dengan tahun-tahun sebelumnya, yang terpenting mereka datang ke TPS pada

saat pemungutan suara dilakukan. Akan tetapi, dalam pemilu tahun 2009 ada

perbedaan yang signifikan daripada pemilu sebelumnya yakni masyarakat

memilih secara langsung calon legislatif dengan suara terbanyak yang akan duduk

di lembaga legislatif.

Pemilu tahun 2009 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara

memberikan tahapan-tahapan ( Peraturan ) pemilihan umum yang terdiri dari 9

tahap sebagai berikut :

1. Pendaftaran Pemilih

(34)

3. Penetapan Jumlah Kursi dan Daerah Pemilihan

4. Pencalonan Anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.

5. Kampanye

6. Pemungutan Suara dan Penghitungan Suara.

7. Penetapan Hasil Pemilu.

8. Penetapan Perolehan Jumlah Kursi dan Calon Terpilih

9. Pengucapan Sumpah/Janji

(Sumber : KPU Kota Medan,)

Dalam pemilu tahun 2009 tidak luput dari dinamika yang terjadi. Hal ini

terlihat dari aktivitas-aktivitas politik dalam pemilu seperti kesertaan warga dalam

kampanye partai politik maupun pada saat pelaksanaan pemilu. Terjadinya

perbedaan-perbedaan pilihan politik juga merupakan suatu bentuk konsekuensi

logis dari sistem politik dan demokrasi yang semakin terbuka.

Sehingga dapat diketahui dari jumlah pemilih yang tidak menggunakan

hak pilihnya ( golput ) pada Pemilu legislative berkisar 53% dari jumlah Daftar

Pemilih Tetap ( DPT ) Kota medan berkisar 1.849.602 pemilih. Hal ini diketahui

dari masyarakat yang menggunakan hak pilihnya pada pemilu legislative 9 april

2009 dimedan berkisar 870.976 orang ( 47 %) saja yang ikut memilih.

Perbedaan-perbedaan pilihan tersebut menjadi sangat wajar sebab

masing-masing individu memiliki pemahaman dan kesadaran yang berbeda. Apalagi

tingkat intelektualitas, latar belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal turut

menjadi faktor pendorong atas perbedaan-perbedaan tersebut. Namun, secara

umum perbedaan-perbedaan itu tidaklah mengakibatkan pada suatu kondisi yang

(35)

demokrasi dengan menghargai perbedaan-perbedaan pilihan politik

masing-masing individu

Lain halnya dengan pemilu yang berada di daerah-daerah lain di Sumatera

Utara suasana pertikaian dan konflik menjadi suatu tontonan yang sebenarnya

tidak pantas terjadi. Konflik antar pendukung, pembakaran faslitas-faslitas

pemerintahan, dan demontstrasi massa yang anarkis adalah suatu bentuk

ketidakpuasan atas penyelenggaraan pemilu.Tetapi di Kota Medan meskipun ada

gejolak atau riak-riak kecil yang muncul tidaklah membuat hasil dari pelaksanaan

pemilu berubah atau masyarakat menjadi risau. Terbukti sampai dengan saat ini

hasil pemilihan umum 2009 diakui secara legitimate oleh semua pihak dan semua

pihak menerima dengan lapang dada.

2.1.1.Kependudukan

Garis-garis Besar Haluan Negara menyatakan bahwa jumlah penduduk

yang besar dan berkualitas akan menjadi modal dasar yang efektif bagi

pembangunan nasional. Namun dengan pertumbuhan yang pesat sulit untuk

meningkatkan mutu kehidupan dan kesejahteraan secara layak dan merata. Hal ini

berarti bahwa penduduk yang besar dengan kualitas yang tinggi tidak akan mudah

untuk dicapai.

Program kependudukan di kota Medan seperti halnya di daerah Indonesia lainnya

meliputi: pengendalian kelahiran, penurunan tingkat kematian bayi dan anak,

(36)

pengembangan potensi penduduk sebagai modal pembangunan yang terus

ditingkatkan.

Komponen kependudukan umumnya menggambarkan berbagai dinamika

sosial yang terjadi di masyarakat, baik secara sosial maupun kultural. Menurunnya

tingkat kelahiran (fertilitas) dan tingkat kematian (mortalitas), meningkatnya arus

perpindahan antar daerah (migrasi) dan proses urbanisasi, termasuk arus ulang

alik, akan mempengaruhi kebijakan kependudukan yang diterapkan.

Tabel. 2.1

Jumlah, Laju Pertumbuhan Dan Kepadatan Penduduk Di Kota Medan Tahun 2001 – 2007

(37)

INDIKATOR SATUAN

TAHUN

2006 2007 *)

[1] [2] [3] [4]

Jumlah Penduduk Jiwa 2.067.288 2.083.156

Laju Pertumbuhan Penduduk

Persen (%) 1,53 0,77

Luas Wilayah KM² 265, 10 265,10

Kepadatan Penduduk Jiwa 7.798 7.858

Sumber BPS Kota Medan

Keterangan : * Angka Sementara

Tabel 2.2

(38)

GOLONGAN

UMUR

LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH

JIWA

Sumber : BPS Kota Medan

Keterangan : Angka sementara penduduk pertengahan tahun 2007

Berdasarkan tabel - tabel diatas diketahui bahwa ada kecenderungan

peningkatan jumlah penduduk Kota Medan dari 2.067.288 jiwa pada tahun 2006

(39)

tahun 2006 dan 0,77% pada tahun 2007. Walaupun meningkat namun tidak terlalu

mencolok, bahkan laju pertumbuhan penduduk cenderung lebih rendah tahun

2007 dibandingkan tahun 2006. Faktor alami yang diperkirakan mempengaruhi

peningkatan laju pertambahan penduduk adalah seperti tingkat kelahiran,

kematian, dan arus urbanisasi. Upaya-upaya pengendalian kelahiran melalui

program Keluarga Berencana (KB) perlu terus dipertahankan untuk menekan

angka kelahiran.

Seiring bertambahnya jumlah penduduk maka pada tahun 2006 menjadi

7.858 jiwa/KM² pada tahun 2007. Tingkat kepadatan tersebut relatif tinggi,

sehingga termasuk salah satu permasalahan yang harus diantisipasi. Apalagi

dengan luas lahan yang relatif terbatas, sehingga berpeluang terjadi ketidak

seimbangan antara daya dukung dan daya tampung lingkungan yang ada.

Faktor lain yang juga secara berarti mempengaruhi peningkatan laju

pertumbuhan penduduk adalah meningkatnya arus urbanisasi dan commuters serta

kaum pencari kerja ke Kota Medan. Berdasarkan penelitian yang pernah

dilakukan, faktor utama yang menyebabkan komutasi ke Kota Medan adalah

adanya pandangan bahwa : (1) bekerja di kota lebih bergengsi (2) di kota lebih

gampang mencari pekerjaan, (3) Tidak ada lagi yang dapat diolah (dikerjakan) di

daerah asalnya, dan (4) upaya mencari nafkah yang lebih baik. Besarnya dorongan

untuk menjadi penglaju tentunya berpengaruh terhadap kehidupan sosial,

ekonomi, dan pelayanan umum yang harus disediakan secara keseluruhan.

Faktor lain yang secara umum mempengaruhi semakin menurunnya angka

(40)

pendidikan masyarakat Kota Medan. Pada umumnya peningkatan derajat

pendidikan masyarakat secara langsung meningkatkan rata-rata pendidikan

generasi muda, yang merupakan calon orang tua yang memasuki kehidupan

rumah tangga. Melalui tingkat pendidikan yang semakin memadai, apresiasi, dan

pandangan masyarakat terkait dengan upaya peningkatan kesejahteraan semakin

meningkat. Adanya anggapan mengenai jumlah anggota keluarga yang tidak besar

akan memudahkan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, karena

beban ekonomi yang harus dipikul menjadi lebih ringan, mendorong Pasangan

Usia Subur (PUS) cenderung mengikuti konsep Norma Keluarga Kecil Bahagia

dan Sejahtera (NKKBS). Bahkan sebagian PUS baru memilih untuk menunda

kelahiran dengan berbagai alasan ekonomi (bekerja) ataupun alasan sosial dan

psikologis lainnya.

a. Komposisi penduduk

Kota Medan berpengaruh terhadap kebijakan pembangunan kota, baik

sebagai subjek maupun objek pembangunan. Keterkaitan komposisi penduduk

dengan upaya-upaya pembangunan kota yang dilaksanakan, didasarkan kepada

kebutuhan pelayanan yang harus disediakan kepada masing-masing kelompok

usia penduduk, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan bahkan pelayanan

kesejahteraan sosial lainnya.

Proporsi anak-anak berusia di bawah lima tahun (balita) dalam kelompok

penduduk Kota Medan sekitar 9% dari jumlah penduduk. Relatif besarnya

(41)

prasarana dan sarana kesehatan usia balita, dan sarana pendidikan usia dini baik

secara kualitas maupun kuantitas.

Pada kelompok usia anak-anak dan remaja, kebijakan yang ditempuh

diarahkan pada peningkatan status gizi anak, pengendalian tingkat kenakalan anak

dan remaja, peningkatan kualitas pendidikan dan lain-lain. Upaya ini diharapkan

dapat terus dilakukan untutk mempersiapkan masa depan anak-anak dan remaja

sehingga mendukung terbentuknya sumber daya manusia yang semakin

berkualitas.

Berdasarkan gambar diatas diketahui bahwa komposisi penduduk terbesar

berada pada kelompok usia 15-64 tahun sebagai kelompok usia produktif atau

kelompok usia aktif secara ekonomis. Diluar kelompok usia produktif terdapat

(42)

usia produktif, yang biasa disebut dengan angka beban tanggungan (ABT). Untuk

Kota Medan angka beban tanggungan berkisar 45, atau sekitar setiap 45 orang

ditanggung oleh 100 orang produktif.

Jumlah penduduk Kota Medan yang sampai saat ini diperkirakan

berjumlah 2,083 juta lebih, dan diproyeksikan mencapai 2,167 juta penduduk pada

tahun 2010, ditambah beban arus penglaju juga menjadi beban pembangunan yang

harus ditangani secara terpadu dan komprehensif.Disamping itu, pengendalian

kuantitas, peningkatan kualitas dan pengarahan mobilitas penduduk yang sesuai

dengan pertumbuhanekonomi wilayah, sangat diperlukan pada masa datang.

Beberapa masalah kependudukan dapat diringkas sebagai berikut :

• Kecenderungan adanya penurunan flukturasi laju pertumbuhan penduduk.

• Kecenderungan peningkatan arus ulang alik ke Kota Medan yang

berimplikasi kepada pemenuhan fasilitas sosial yang dibutuhkan.

• Masalah kemiskinan, tenaga kerja dan permasalahan sosial lain yang

dipengaruhi oleh iklim perekonomian nasional dan global.

• Penyediaan pelayanan pendidikan, kesehatan dan pelayanan dasar lainnya

termasuk sarana dan prasarana permukiman.

2.2.Penyelenggara Pemilu

Pemilu legislative 2009 membuat para penyelenggara Pemilu harus selalu

bersikap adil, jujur dan Netral dalam menyikapi masalah yang terjadi pada

(43)

kedaerah-daerah tujuan pemilihan hingga sampai kertas suara yang berisi

nama-nama anggota calon legislative dan partai politik tersebut dipilih oleh measyarakat

sesuai dengan hati nuraninya tanpa ada kecurangan.

Proses pemilu pada tanggal 9 april 2009 membuat penyelenggara Pemilu

atau KPU Sumut menyediakan 21 PPK disetiap kecamatan, 151 PPS ( Pemantau

Pemunguan Suara ) dan 4593 Tempat Pemungutan Suara ( TPS ) yang didatangi

masyarakat untuk memilih salah satu calon legislative dan Partai politik yang

dianggap betul-betul bisa membangun Kota medan.

2.3.Sejarah Kota Medan

Pada zaman dahulu Kota Medan ini dikenal dengan nama Tanah Deli dan

keadaan tanahnya berawa-rawa kurang lebih seluas 4000 Ha. Beberapa sungai

melintasi Kota Medan ini dan semuanya bermuara ke Selat Malaka. Sungai-sungai

itu adalah Sei Deli, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Denai, Sei Putih, Sei Badra,

Sei Belawan dan Sei Sulang Saling/Sei Kera.

Pada mulanya yang membuka perkampungan Medan adalah Guru

Patimpus lokasinya terletak di Tanah Deli, maka sejak zaman penjajahan orang

selalu merangkaikan Medan dengan Deli (Medan–Deli). Setelah zaman

kemerdekaan lama kelamaan istilah Medan Deli secara berangsur-angsur lenyap

sehingga akhirnya kurang popular.

Dahulu orang menamakan Tanah Deli mulai dari Sungai Ular (Deli

Serdang) sampai ke Sungai Wampu di Langkat sedangkan Kesultanan Deli yang

berkuasa pada waktu itu wilayah kekuasaannya tidak mencakup daerah diantara

(44)

tanah liat, tanah pasir, tanah campuran, tanah hitam, tanah coklat dan tanah merah.

Hal ini merupakan penelitian dari Van Hissink tahun 1900 yang dilanjutkan oleh

penelitian Vriens tahun 1910 bahwa disamping jenis tanah seperti tadi ada lagi

ditemui jenis tanah liat yang spesifik. Tanah liat inilah pada waktu penjajahan

Belanda ditempat yang bernama Bakaran Batu (sekarang Medan Tenggara atau

Menteng) orang membakar batu bata yang berkwalitas tinggi dan salah satu pabrik

batu bata pada zaman itu adalah Deli Klei. Mengenai curah hujan di Tanah Deli

digolongkan dua macam yakni : Maksima Utama dan Maksima Tambahan.

Maksima Utama terjadi pada bulan-bulan Oktober s/d bulan Desember sedang

Maksima Tambahan antara bulan Januari s/d September. Secara rinci curah hujan

di Medan rata-rata 2000 pertahun dengan intensitas rata-rata 4,4 mm/jam.

Menurut Volker pada tahun 1860 Medan masih merupakan hutan rimba

dan disana sini terutama dimuara-muara sungai diselingi pemukiman-pemukiman

penduduk yang berasal dari Karo dan semenanjung Malaya. Pada tahun 1863

orang-orang Belanda mulai membuka kebun Tembakau di Deli yang sempat

menjadi primadona Tanah Deli. Sejak itu perekonomian terus berkembang

sehingga Medan menjadi Kota pusat pemerintahan dan perekonomian di Sumatera

Utara.

Sekitar tahun 1612 setelah dua dasa warsa berdiri Kampung Medan,

Sultan Iskandar Muda yang berkuasa di Aceh mengirim Panglimanya bernama

Gocah Pahlawan yang bergelar Laksamana Kuda Bintan untuk menjadi pemimpin

yang mewakili kerajaan Aceh di Tanah Deli. Gocah Pahlawan membuka negeri

(45)

memanfaatkan kebesaran imperium Aceh, Gocah Pahlawan berhasil memperluas

wilayah kekuasaannya, sehingga meliputi Kecamatan Percut Sei Tuan dan

Kecamatan Medan Deli sekarang. Dia juga mendirikan kampung-kampung

Gunung Klarus, Sampali, Kota Bangun, Pulau Brayan, Kota Jawa, Kota Rengas

Percut dan Sigara-gara.

Dengan tampilnya Gocah pahlawan mulailah berkembang Kerajaan Deli

dan tahun 1632 Gocah Pahlawan kawin dengan putri Datuk Sunggal. Setelah

terjadi perkawinan ini raja-raja di Kampung Medan menyerah pada Gocah

Pahlawan.Gocah Pahlawan wafat pada tahun 1653 dan digantikan oleh puteranya

Tuangku Panglima Perunggit, yang kemudian memproklamirkan kemerdekaan

Kesultanan Deli dari Kesultanan Aceh pada tahun 1669, dengan ibukotanya di

Labuhan, kira-kira 20 km dari Medan.

Jhon Anderson seorang Inggris melakukan kunjungan ke Kampung Medan

tahun 1823 dan mencatat dalam bukunya Mission to the East Coast of Sumatera

bahwa penduduk Kampung Medan pada waktu itu masih berjumlah 200 orang

tapi dia hanya melihat penduduk yang berdiam dipertemuan antara dua sungai

tersebut. Anderson menyebutkan dalam bukunya “Mission to the East Coast of

Sumatera“ (terbitan Edinburg 1826) bahwa sepanjang sungai Deli hingga ke

dinding tembok mesjid Kampung Medan di bangun dengan batu-batu granit

berbentuk bujur sangkar. Batu-batu ini diambil dari sebuah Candi Hindu Kuno di

Jawa.

Pesatnya perkembangan Kampung "Medan Putri", juga tidak terlepas dari

(46)

merupakan tembakau terbaik untuk pembungkus cerutu. Pada tahun 1863, Sultan

Deli memberikan kepada Nienhuys Van der Falk dan Elliot dari Firma Van

Keeuwen en Mainz & Co, tanah seluas 4.000 bahu (1 bahu = 0,74 ha) secara

erfpacht 20 tahun di Tanjung Sepassi, dekat Labuhan. Contoh tembakau deli.

Maret 1864, contoh hasil panen dikirim ke Rotterdam di Belanda, untuk diuji

kualitasnya. Ternyata daun tembakau tersebut sangat baik dan berkualitas tinggi

untuk pembungkus cerutu.

BAB III

PROSES PEMILU LEGISLATIF 2009 DAN PARTISIPASI PEREMPUAN DI DAERAH PEMILIHAN SUMATERA UTARA I

3.1.Peserta Pemilu dan Pencalonan

Jika pada pemilu-pemilu sebelumnya para pemilih tidak mengetahui calon

(47)

setiap pemilih dapat memilih dengan bebas partai sekaligus calon yang dianggap

sesuai bagi harapan mereka.

Berdasarkan UU Partai Politik No.2 Tahun 2008 bahwa salah satu

persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap partai politik yang terkait dengan

pencalonan anggota legislatif adalah setiap partai harus menyertakan calon

perempuan sebanyak 30% dari keseluruhan calon yang diajukan.

Kebijakan yang diatur dalam Undang-undang tersebut merupakan suatu

bentuk kemajuan dalam sistem politik dan demokrasi di Indonesia. Perempuan

kini diberikan kesempatan lebih untuk turut terlibat dalam pencalonan sebagai

anggota legislatif.

Gambaran data yang jelas mengenai keikutsertaan perempuan dalam

proses pencalonan sebagai anggota legislatif adalah sebagai berikut :

Tabel.3.1

Calon anggota Legislatif Perempuan

Berdasarkan partai politik Daerah Pemilihan Sumatera Utara I (Pemilu 2009 Kota Medan)

No Partai Politik Perempuan Persen Laki-Laki Persen Jumlah

1 HANURA 7 49% 8 51% 15

2 Partai Karya

Peduli Bangsa

1 30% 3 70% 4

3 Partai Pengusaha

Dan Pekerja

(48)

4 Partai Peduli

7 Partai Keadilan

Dan Persatuan Indonesia

3 23% 10 77% 13

8 Partai Keadilan

Sejahtera

10 55,6% 8 44,4% 18

9 Partai Amanat

Nasional

3 21,5% 11 78,5% 14

10 Partai Perjuangan

Indonesia Baru

4 28,6% 10 71,4% 14

11 Partai Kedaulatan 3 60% 2 40% 5

12 Partai Persatuan

Daerah

15 Partai Nasional

Indonesia Marhaenisme

1 30% 2 70% 3

16 Partai Demokrasi

Pembaruan

3 37,5% 5 62,5% 8

17 Partai Karya

Perjuangan

3 50% 3 50% 6

18 Partai Matahari

Bangsa

2 40% 3 60% 5

19 Partai Penegak

Demokrasi Indonesia

- 0% 3 100% 4

20 Partai Demokrasi

Kebangsaan

2 22% 7 78% 9

21 Partai Republika

Nusantara

2 25% 6 75% 8

22 Partai Pelopor 2 50% 2 50% 4

(49)

Karya

24 Partai Persatuan

Pembangunan

6 27% 12 73% 22

25 Partai Damai

Sejahtera

5 26% 14 74% 19

26 Partai Nasional

Benteng

28 Partai Demokrasi

Indonesia Perjuangan

4 23,5% 13 76,5% 17

29 Partai Bintang

Reformasi

33 Partai Indonesia

Sejahtera

42 Partai Persatuan

Nahdlatul Ummah Indonesia

0 0% 2 100% 2

43 Partai Sarikat

Indonesia

1 30% 2 70% 3

44 Partai Buruh 2 40% 3 60% 5

Sumber: Komisi Pemilihan Umum Sumatera Utara Tahun 2009

Dari tabel 3.1 dapat dilihat bahwa dari keseluruhan jumlah calon legislatif

perempuan sebanyak 38 orang. Artinya tingkat partisipasi perempuan secara kuota

(50)

mencalonkan perempuan di wilayah Sumut I yaitu Partai Penegak Demokrasi

Indonesia dan Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia

Berikut ini adalah tabel anggota legislatif perempuan hasil pemilu tahun

2009 Untuk Daerah Pemilihan Sumut I :

Tabel 3.2

Daftar Terpilih

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Pemilihan Umum Tahun 2009

Provinsi Sumatera Utara Daerah Pemilihan Sumatera Utara I

No Partai Politik No.Urut DCT (Daftar Calon Tetap)

Nama Calon Terpilih

Suara Sah Peringkat Suara Sah 1 Partai Keadilan

Sejahtera

1 Sigit Pramono Asri 49.059 1

2 Partai Keadilan Sejahtera

5 Taufik Hidayat 6.762 2

3 Partai Keadilan Sejahtera

3 Siti Aminah 6.300 3

4 Partai Keadilan Sejahtera

6 Partai Golongan Karya

1 Tonnies Sianturi, SP

6.931 1

8 Partai Demokrasi Indonesia

(51)

11 Partai Demokrat 6 Hj.Meilizar Latif, SE.,MM

15.258 2

12 Partai Demokrat 4 M.Yusuf Siregar 12.702 3

13 Partai Demorat 3 Nurhasanah, S.Sos 10.978 4

14 Partai Demokrat 2 Drs.Tunggul

Siagian

17 Partai Hati Nurani Rakyat

1 Musdalifah, BSC 3.148 1

18 Partai Peduli Rakyat Nasional

4 Ir.Washington

Pane, MSc

4.898 1

19 Partai Gerakan Indonesia Raya

1 Iman B Nasution,

SE

3.889 1

20 Partai Perjuangan Indonesia Baru

1 Sonny Firdaus, SH 10.592 1

21 Partai Persatuan Pembangunan

1 Drs.H.Rizal Sirait 6.875 1

Sumber: Komisi Pemilihan Umum Sumatera Utara Tahun 2009

Berikut ini adalah tabel anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

Sumatera Utara Perempuan hasil pemilu tahun 2009

Tabel 3.3

Daftar Nama Keterwakilan Perempuan Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara Pemilihan Umum 2009

No Nama Partai Politik No.Urut DCT Daerah

Pemilihan

1 Siti Aminah Amd, SpdI Partai Keadilan Sejahtera

(52)

2 Hj.Meilizar Latif, SE.,MM Partai Demokrat 6 Sumut 1

3 Nurhasanah, S.Sos Partai Demokrat 3 Sumut 1

4 Hj.Syafrida Fitrie, SP, M.SP Partai Golongan Karya

1 Sumut 2

5 Mulyani, SH Partai Gerakan

Indonesia Raya

2 Sumut 2

6 Arlene Manurung Partai Damai Sejahtera

1 Sumut 2

7 Hj.Evi Diana Partai Golongan

Karya

2 Sumut 3

8 Helmiati Partai Golongan

Karya

4 Sumut 4

9 Hj.Ida Budiningsih, SH Partai Demokrat 3 Sumut 5

10 Nur Azizah Tambunan, SS Partai Keadilan Sejahtera

1 Sumut 5

11 Tiaisah Ritonga Partai Demokrat 2 Sumut 6

12 Hj.Rahmianna Delima Pulungan

Partai Peduli Rakyat Nasional

4 Sumut 6

13 Rooslynda Marpaung Partai Peduli Rakyat Nasional

1 Sumut 8

14 Megalia Agustina Partai Demokrat 3 Sumut 9

15 Rinawati Sianturi Partai Peduli Rakyat Nasional

1 Sumut 9

16 Ristiwati Partai Demokrat 3 Sumut 11

(53)

3.1.1. Kendala Pada Tahap Penetapan Dan Pendaftaran Calon Legislatif 2009

Tahapan pelakanaan pemilu legislatif 2009 seperti pendafataran dan

penetapan calon legislatif pada pemilu legislatif 2009 partai politik peserta

pilkada. Di dalam partai

Golkar proses ini dilakukan dengan mengadakan rapat mulai dari pengurus

keluarahan, kecamatan hinga pengurus daerah untuk menetapkan siapa yang bakal

dimajukan sebagai calon legislatif 2009. Pertimbangan untuk menjadi calon

legislatif 2009 adalah loytalitas dari kader partai terhadap partai Golkar. Dalam

hal ini Partai Golkar memperhatikan aspirasi dari masyarakat untuk menjadi calon

legislatif dalam pemilu 2009

Di PDI P proses rekruitmen calon kepala daerah dilakukan dengan cara

setiap anak cabang maupun ranting mengirimkan masing-masing calon

legislatifnya untuk kemudian dikirimkan ke pusat untuk diambil keputusan oleh

pusat, mana yang berhak maju sebagai calon legislatif dalam pemilu legislatif

dari PDIP. Tampak disini bahwa pengurus pusat di partai ini memiliki pengaruh

yang cukup besar dalam meloloskan bakal calon yang diajukan dari pengurus

daerah.

Meskipun dalam proses ini mengajukan calon kader perempuan, namun

tetap saja keputusan berada di tangan pengurus pusat. Disini lobi-lobi terhadap

pimpinan juga sangat menentukan proses seleksi ini akan tetapi tidak semua kader

perempuan mau melakukannya karena mereka menganggap bahwa mereka tidak

(54)

Selain itu masalah keterbatasan waktu yang dimiliki oleh kader perempuan

untuk dapat terlibat penuh dalam kegiatan partai juga merupakan kendala yang

sangat mereka rasakan dan sangat menghambat aktivitas mereka dalam partai,

sehingga menyebabkan mereka tidak dapat hadir dalam pertemuan-peretemuan

ataupun rapat partai yang umumnya dilakukan pada malam hari dan membuat

mereka tidak bias menghadiri rapat dan mempengaruhi keputusan rapat tersebut,

karena memang mereka kesulitan membagi waktu antara mengikuti kegiatan

partai atau tetap berada ditengah-tengah keluarganya.

Faktor lain yang mempengaruhi keterlibatan kader perempuan dalam

partai yakni karena rendahnya pengetahuan perempuan tentang hak-hak politiknya

dankurangnya wawasan dan pemahaman perempuan tentang politik sehingga

menyebabkan perempuan jauh tertinggal dari laki-laki. Selain itu untuk bisa maju

dalam suatu pemilihan kader perempuan harus dihadapkan pada masalah dana

yang menjadi modal awal bagi kita untuk bisa maju baik itu sebagai caleg maupun

sebagai calon kepala daerah. Apalagi dalam pemilu legislatif 2009 menggunakan

dana pribadi, bukan dari partai, maka

secara otomatis bagi calon yang hendak maju dalam pemilu legislatif 2009 harus

menyiapkan sejumlah dana yang cukup besar untuk mendanai kampanye dan

kegiatan lainnya dalam rangka penggalangan suara sebanyak-banyaknya dari

masyarakat.

Sedangkan kader perempuan pada umumnya adalah seorang istri atau ibu

rumah tangga yang tidak semuanya bekerja, dalam hal ini tentu saja kader

perempuan tersebut kesulitan untuk dapat mengumpulkan sejumlah dana yang

Gambar

Tabel. 2.1
Tabel
Tabel 3.2 Daftar Terpilih
Tabel 3.3 Daftar Nama Keterwakilan Perempuan Anggota DPRD Provinsi Sumatera
+2

Referensi

Dokumen terkait

Bagaimana mekanisme kinerja yang dilakukan KPU Sumatera Utara dalam proses verifikasi calon anggota legislatif pada pemilu legislatif tahun 2014.. Langkah-langkah apa saja

Penelitian ini mencoba mendeskripsikan proses rekrutmen politik yang diterapkan oleh DPW Partai Nasdem Sumatera Utara dalam mekanisme penetapan calon anggota legislatif DPRD

Bedasarkan uraian yang telah dikemukakan dalam latar belakang maka yang menjadi rumusan masalah penelitian ini adalah Bagaimana proses penjaringan calon anggota

strategi yang diterapkan calon anggota legislatif unruk mendapatkan suara pemilih pemula. Adapun masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah bagaimana stategi calon anggota

Dalam penelitian ini, fakta dan informan hasil penelitian mengenai strategi komunikasi politik calon anggota legislatif DPRD Riau Edi Satria pada pemilu 2019 melakukan 3 tahap

Penelitian ini mencoba mendeskripsikan proses rekrutmen politik yang diterapkan oleh DPW Partai Nasdem Sumatera Utara dalam mekanisme penetapan calon anggota legislatif DPRD

Dalam penelitian ini, fakta dan informan hasil penelitian mengenai strategi komunikasi politik calon anggota legislatif DPRD Riau Edi Satria pada pemilu 2019 melakukan 3 tahap

Di dalam upaya memenuhi kuota 30% perempuan untuk calon anggota legislatif,terdapat kendala yang menyebabkan keterwakilan perempuan di kancah politik masih