Skripsi
Pengaruh good corporate governance terhadap implementasi
corporate social responsibility
( Studi pada PT. Jamsostek Kantor Wilayah I Sumatera Utara )
DISUSUN O
L E H
AGUSTINA MULIATI
060903027
DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI... i
DAFTAR TABEL... iii
DAFTAR LAMPIRAN... vi
KATA PENGANTAR... vii
ABSTRAKSI... x
BAB.I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah... 1
I.2. Perumusan Masalah... 6
I.3. Tujuan Penelitian... 7
I.4. Manfaat Penelitian... 7
I.5. Kerangka Teori... 8
I.6. Hubungan Good Corporate Governance terhadap Corporate Social Responsibility... 23
I.7. Hipotesis... 24
I.8. Defenisi Konsep... 24
I.9. Definisi Operasional... 25
I.10. Sistematika Penulisan... 29
BAB.II. METODOLOGI PENELITIAN II.1. Bentuk Penelitian... 30
II.2. Lokasi Penelitian... 30
II.3. Populasi dan Sampel... 30
II.4. Teknik Pengumpulan Data... 31
II.5. Teknik Penentuan Skor... 32
II.6. Teknik Analisa Data BAB.III. DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN III.1. Sejarah Berdirinya PT. Jamsostek... 36
III.2. Motto Perusahaan... 38
III.3. Filosofo Jamsostek... 38
BAB.IV. PENYAJIAN DATA
IV.1. Identitas Responden... 68 IV.2. Penyajian Data tentang pelaksanaan good corporate
governance pada PT. Jamsostek Kanwil I (Variabel X)... 72
IV.3. Penyajian data tentang implementassi corporate social responsibility pada PT. Jamsostek Kanwil I Sumut.
( Variabel Y)... 83 IV.4. Rekapitulasi Data ... 93 IV.5. Pengaruh good corporate governance terhadap
implementasi corporate social responsibility... 99 BAB.V.ANALISA DATA
V.1. Good Corporate Governance... 104 V.2. Implementasi Corporate Social Responsibility... 110 V.3. Pengaruh good corporate governance terhadap
implementasi corporate social responsibility... 115 BAB.VI.KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1 : Hierarki dalam pelaksanaan
Corporate Social Responsibility... 21
Bagan.1 : Pemangku Kepentingan ( Stakeholders)... 23
Tabel 2 : Identitas Responden Berdasarkan Jenis Kelamin... 72
Tabel 3 : Identitas Responden Berdasarkan Umur... 73
Tabel 4 : Identitas Responden berdasarkan pendidikan terakhir... 74
Tabel 5 : Identitas responden berdasarkan jenis pekerjaan... 75
Tabel 6 : Distribusi jawaban keterbukaan di dalam pemberian informasi program, kegiatan serta kinerja perusahaan kepada masyarakat... 76
Tabel 7 : Distribusi jawaban mengenai penggunaan teknologi informasi (IT) dan sistem manajemen informasi... 77
Tabel 8 : Distribusi jawaban keterbukaan dalam mengumumkan jabatan yang lowong kepada masyarakat oleh PT. Jamsostek... 78
Tabel 9 :Distribusi jawaban responden kemudahan serta keterbukaan informasi yang dapat di pertanggung jawabkan ke pada masyarakat... 79
Tabel 11 : Distribusi jawaban responden tentang PT. Jamsostek
merupakan perusahaan yang bersih dari praktik KKN... 81
Tabel 12 : Distribusi jawaban tentang PT. Jamsostek yang
menjunjung etika dalam bisnis... 82
Tabel 13 : Distribusi jawaban mengenai PT. Jamsostek yang
Menjaga Lingkungan Bisnis yang Sehat... 83
Tabel 14 : Distribusi jawaban mengenai kemandirian dan
profesionalisme Manajemen PT. Jamsostek………... 84
Tabel 15 : Distribusi jawaban mengenai kewajaran dan
keadilan dalam pemberian
informasi... 85
Tabel 16 : Distribusi jawaban responden mengenai adanya pemberian
bantuan dan pemberdayaan terhadap masyarakat oleh PT.
Jamsostek kepada Masyarakat... 86
Tabel 17 : Distribusi jawaban responden mengenai tingginya
Komitmen PT. Jamsostek dalam memperhatikan
pendidikan serta perbaikan sarana
dan prasana umum... 87
Tabel 18 : Distribusi jawaban responden adanya kontinuitas dalam
menjaga keharmonisan sosial
dengan lingkungannya... 88
Tabel 19 : Distribusi jawaban responden terhadap tidak adanya
Tabel 20 : Distribusi jawaban tentang pendapat masyarakat
mengenai goodwill PT. Jamsostek... 90
Tabel 21 :Distribusi jawaban responden mengenai PT. jamsostek merupakan perusahaan yang jujur dan professional ... 91
Tabel 22 : Distribusi jawaban responden mengenai Keterbukaan PT. Jamsostek dalam memberikan informasi mengena perusahaannya kepada masyarakat... 92
Tabel 23 : Distribusi jawaban responden tntang rasa tanggung jawab sosial lingkungan PT. Jamsostek... 93
Tabel 24 : Distribusi jawaban responden terhadap usaha menjaga lingkungan dalam operasional usahanya...94
Tabel 25 : Distribusi jawaban responden terhadap adanya komitmen dari PT. Jamsostek untuk menjaga dan memperbaiki lingkungan dan kerusakan alam... 95
Tabel 26 : Rekapitulasi frekuensi klasifikasi jawaban responden untuk variabel X... 97
Diagram 1 : Rekapitulasi jawaban responden X... 98
Tabel 27 : Rekapitulasi frekuensi klasifikasi jawaban responden untuk variabel Y... 99
Diagram 2 : Rekapitulasi jawaban responden Y... 100
Tabel 28 : Laporan Laba Rugi Konsolidasi... 103
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiaran 1 : Daftar Kuesioner
Lampiran 2 : Distribusi Nilai Kuesioner Variabel X
Lamiran 3 : Distribusi Nilai Kuesioner Variabel Y
Lampiran 4 : Tabel Nilai “t”
Lampieran 5 : Surat pengajuan judul skripsi
Lampiran 6 : Undangan seminar proposal usulan penelitian skripsi
Lampiran 7 : Berita Acara Seminar Proposal Usulan Penelitian Skripsi
Lampiran 8 : Daftar Hadir Peserta Seminar Proposal Usulan Penelitian Skripsi
Lampiran 9 : Surat permohonan izin pra penelitian dari FISIP USU
Lampiran 10 :Surat izin penelitian dari PT. Jamsostek (persero) Kanwil I Sumut
Lampiram 11 : Surat perrmohonan izin penelitian dari FISIP USU
Lampiran 12 :Surat Keterangan telah melaksanakan penelitian dari
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah,SWT yang telah
mengkaruniakan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga akhirnya penulis
dapat menyelesaikan penelitian serta penulisan skripsi yang diberi judul : “
Pengaruh good corporate governance terhadap implementasi corporate social
responsibility ( Studi pada PT.Jamsostek Kanwil I Sumut)”
Adapun ditulisnya skripsi yang merupakan karya tulis ilmiah ini adalah
guna melengkapi persyaratan memperoleh gelar Sarjana, namun tentunya juga
adalah guna mengembangkan kemempuan penulisan karya ilmiah penulis.
Tentunya penulis menyadari akan keterbatasan pengetahuan dan
pengalaman penulis dalam membuat karya ilmiah,maka tentunya skripsi ini masih
belum mencapai kesempurnaan. Namun akhirnya berkat dukungan serta bantuan
dari berbagai pihak maka akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan. Untuk itu
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof.Dr. M. Arif nasution,MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof.Dr.Marlon Sihombing,MA selaku Ketua Departemen Ilmu
Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
3. Ibu Dra.Beti Nasution,Msi selaku Sekertaris Departemen Ilmu
Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, yang juga
merupaka dosen pembimbing penulis yang senantiasa memberikan
4. Kak mega, dan kak dian yang telah membantu segala urusan administrasi penulis dari memulai penelitian hingga akhir penulisan.
5. Bapak Sanco Manulang,ST.MT selaku Humas PT. Jamsostek Kanwil I
SUMUT, dan Kak Fenina,SE.Ak.yang membantu penulis dalam
memperoleh data selama penelitian di PT.Jamsostek Kanwil I Sumut.
6. Untuk kedua orangtua penulis M. Perangin angin dan Nurhayati
orangtua terbaik di dunia, yang paling berjasa dalam kehidupan penulis,
yang terus mendukung penulis dengan segala daya upayanya tanpa
mengenal lelah.
7. Untuk iting , Siti Aminah Ginting, nenek terbaik di dunia yang merawat
penulis sejak kecil hingga saat ini, do’anya adalah karunia bagi penulis.
8. Untuk adik-adik penulis, Jaka Wiranta Perangin angin, raih gelar
Sarjana Hukum mu segera! Weni Deninta Perangin angin dan Igo
Rianta Perangin angin yang menghibur penulis saat merasa jenuh.
9. Untuk sahabat terbaikku Riska Utami, yang paling berjasa membantu
penulis saat penelitian, rela menempuh perjalanan jauh dan melelahkan
juga untuk mama dan papanya ami yang memperkenankan penulis untuk
selalu menginap dirumah mereka saat penelitian.
10.Untuk Rama Sri Dezani Macava’s sahabat yang membantu penulis
dalam segala hal, termasuk menghibur hati saat pilu, walaupun cenderung
11.Spesial untuk Macava’s agents Motivators terbaik bagi penulis :
12.Nia Laksita Rini sang ketua berperawakan kalem (diam-diam makan dalam) hahaha.. Rajin dan Rapih, serta mudah terpengaruh, gampang
sekali kalo mau dijadiin kader,(…).
13.Santi Darwinanti sang sekertaris yang kreatif, semangat, smart, tapi mooddian, sekaligus ekspresive sekali ( terkadang berbuat dulu baru mikir)
gampang stress. Dia sangat berjasa dalam mengelola dan membayar iuran
basecamp tanpa dia kami tidak punya basecamp.
14.Wira Agustin sang mentri agama, yang rajin dan bijak tapi kurang semangat sifatnya hampir mirip dengan penulis, sehingga sulit sekali, wira
agustin juga teman seperjuangan saat penelitian di jamsostek.
15.Nazlia Safira, sang dirjen yang penuh energik dan semangat, doping II sekaligus motivator bagi seluruh angggota macava’s, dari luar tampak
kalem padahal cerrrewweet…!! Tak heran dia menjadi “bundo” bagi ketua
kelompok magang kami. Zi…lanjutkan cita-citamu itu!
16.Aida Fitrina sang inspektorat jendral, berperawakan tenang dan semangat, baik hati dan bijak, dialah yang selalu mengawasi kelakuan anggota saat
melenceng, tak heran jupenya macava’s sering mendapatkan semprotan
hadits-hadits darinya.
17.Ira Ramadhani, sang penghibur hati, penulis sangat sayang padanya, tempat meluapkan emosi karena sifatnya yang easy going, cerdas dan
selalu membuat suasana ramai tanpanya hampa dunia.
yang berani merantau ke medan, semangat juang tinggi, kalo emosi
keliatan banget!!
19.Esry Marliza, penulis sayang padanya, Karena sifatnya yang semangat, rajin dan sedikit ngasal, pinter, baik, cerewet, kalau bicara suka nyablak,
dan aneh. Completely.
20.Untuk teman-teman beswan djarum 2008-2009, termakasih atas bantuannya terutama Hecan yang menjerumuskan penulis pada judul
skripsi ini.
21.Dan seluruh mahasiswa ilmu administrasi negara, saya memohon maaf karena gagal menjadi sekum imdian yang baik.
Akhir kata penulis berrharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita
semua,wabillahitaufiq wal hidayah wassalammualaikum Wr.Wb..
Medan April 2010
ABSTRAKSI
PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP IMPLEMENTASI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY ( Studi pada PT. Jamsostek Kantor Wilayah 1 Sumatera Utara)
Nama : Agustina Muliati NIM : 060903027
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen : Ilmu Administrasi Negara Pembimbing : Dra. Beti Nasution,Msi.
PT. Jamsostek (persero) adalah salah satu badan usaha milik negara yang bidang usahanya memberikan perlindungan kepada setiap pekerja di Indonesia. Dengan motto untuk melindungi pekerja PT Jamsostek sendiri memliki empat program yang mencakup Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) bagi seluruh tenaga kerja dan keluarganya. Sebagai salah satu perusahaan BUMN di Indonesia agar dapat terus mempertahankan keberaddaannya maka PT.Jamsostek harus melaksanakan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance, karena dengan begitu perusahaan akan berjalan dengan baik dan dengan begitu pula PT. Jamsostek dapat melaksanakan tuntutan-tuntutan dari komunitas, pemerintah dan masyarakat luas untuk melaksanakan tanggung jawab sosialnya atau corporate social responsibility.
Good corporate governance (variabel X) adalah suatu tata kelola perusahaan yang baik guna menghasilkan tujuan perusahaan.corporate social responsibility adalah suatu rasa tanggung jawab terhadap komunitas, masyarakat serta lingkungannya untuk memberdayakan mereka sehingga menghasilkan kesejahteraan bagi komunitas, karyawan serta masyarakat dan lingkungannya.
Penelitian ini menggunakan metode analisa kuantiutatif. Sedangkan teknik analisa yang digunakan adalah teknik korelasi antar variabel untuk membuktikan adanya pengaruh dari good corporate governance terhadap corporate social responsibility pada PT.Jamsostek Kantor Wilayah I Sumatera Utara.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dan dilanjutkan dengan menganalisa data yang diperoleh, maka hasilnya adalah bahwa terdapat hubungan 0,849, atau sangat kuat, berdasarkan uji hipotesis nilai positif sebesar9,08, hal ini berarti terrdapat pengaruh positif antara good corporate governance terhadap implementasi corporate social responsibility denagntingkat pengaruh sebesar 72,08 %. Sehingga hipotesis yang menyatakan ada pengaruh antara good corporate governance terhadap implementasi corporate social responsibilitu dapat diterima.
ABSTRAKSI
PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP IMPLEMENTASI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY ( Studi pada PT. Jamsostek Kantor Wilayah 1 Sumatera Utara)
Nama : Agustina Muliati NIM : 060903027
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen : Ilmu Administrasi Negara Pembimbing : Dra. Beti Nasution,Msi.
PT. Jamsostek (persero) adalah salah satu badan usaha milik negara yang bidang usahanya memberikan perlindungan kepada setiap pekerja di Indonesia. Dengan motto untuk melindungi pekerja PT Jamsostek sendiri memliki empat program yang mencakup Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) bagi seluruh tenaga kerja dan keluarganya. Sebagai salah satu perusahaan BUMN di Indonesia agar dapat terus mempertahankan keberaddaannya maka PT.Jamsostek harus melaksanakan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance, karena dengan begitu perusahaan akan berjalan dengan baik dan dengan begitu pula PT. Jamsostek dapat melaksanakan tuntutan-tuntutan dari komunitas, pemerintah dan masyarakat luas untuk melaksanakan tanggung jawab sosialnya atau corporate social responsibility.
Good corporate governance (variabel X) adalah suatu tata kelola perusahaan yang baik guna menghasilkan tujuan perusahaan.corporate social responsibility adalah suatu rasa tanggung jawab terhadap komunitas, masyarakat serta lingkungannya untuk memberdayakan mereka sehingga menghasilkan kesejahteraan bagi komunitas, karyawan serta masyarakat dan lingkungannya.
Penelitian ini menggunakan metode analisa kuantiutatif. Sedangkan teknik analisa yang digunakan adalah teknik korelasi antar variabel untuk membuktikan adanya pengaruh dari good corporate governance terhadap corporate social responsibility pada PT.Jamsostek Kantor Wilayah I Sumatera Utara.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dan dilanjutkan dengan menganalisa data yang diperoleh, maka hasilnya adalah bahwa terdapat hubungan 0,849, atau sangat kuat, berdasarkan uji hipotesis nilai positif sebesar9,08, hal ini berarti terrdapat pengaruh positif antara good corporate governance terhadap implementasi corporate social responsibility denagntingkat pengaruh sebesar 72,08 %. Sehingga hipotesis yang menyatakan ada pengaruh antara good corporate governance terhadap implementasi corporate social responsibilitu dapat diterima.
BAB.I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Masalah
Salah satu issue yang menjadi pusat perrhatian dunia internasional
termasuk di Indonesia belakangan ini adalah permasalahan lingkungan yang
semakin memburuk, yang digadang-gadang terjadi sebagai akibat dari tindakan
industri yang tidak memperhatikan efek lingkungan yang baik. Sebagai
implikasinya mulailah berkembang suatu pemikiran yang menilai perlunya suatu
etika bisnis untuk diterapkan. Hal ini dimaksudkan sebagai kompensasi kepada
masyarakat yang mengalami kerugian dari efek kegiatan industri dari suatu
korporasi. Yang kemudian kompensasi-kompensasi tersebut di tuangkan ke dalam
suatu konsep yakni tanggung jawab sosial atau corporates sosial responsibility.
Itu berarti di dalam setiap tindakan korporasi, perusahaan harus
memahami bahwasanya sebuah organisasi memiliki tanggung jawab dalam setiap
aspek operasionalnya dan tidak hanya memperhitungkan keuntungan semata.
Untuk itu perusahaan haruslah menyisihkan sebahagian dari keuntungannya untuk
kegiatan-kegiatan sosial dan memperhatikan lingkungan sekitar, serta
memberdayakannya sehingga nantinya juga akan berdampak baik bagi
keberlangsungan kegiatan perusahaan.
Pentingnya implementasi corporate social responsibility ini oleh
pemerintah direspon dengan mengeluarkan peraturan yakni UU.No.40 tahun 2007
Tentang Perseroan Terbatas, yang mewajibkan kepada setiap perseroan terbatas
Namun sampai saat ini menurut data yang dihimpun pada tahun 2008
dalam rahman (3:2009) ,dari total perusahaan perseroan terbatas di Indonesia
hanya ada 23 % saja yang mengimplementasikan corporate social responsibility
ini, sementara sisanya sebesar 87% belum menyadari akan pentingnya hal ini.
Sebagai salah satu perusahaan negara PT. Jamsostek (persero) ternyata
ikut di dalam mengimplementasikan kegiatan corporate social responsibility, PT.
Jamsostek sendiri merupakan suatu perusahaan negara yang dibentuk berdasarkan
UU. No.32 Tahun 1992 tentang pemebentukan Badan Usaha yang menangani
jaminanan sosial dan tenaga kerja di Indonesia. Jadi berdasarkan UU tentunya PT.
Jamsostek merupakan perusahaan negara yang bergerak di dalam pemberian jasa
terhadap perlindungan tenaga kerja di Indonesia. (http//www.jamsostek.go.id)
Hal ini perlu diapresiasi, karena PT. Jamsostek telah memiliki komitmen
untuk memperhatikan serta memberdayakan lingkungan sekitarnya, di mana
diketahui sebelumnya bahwa hanya sedikit saja perusahaan yang masih
menerapkan hal ini di Indonesia.
Adapun latar belakang PT. Jamsostek secara regional wilayah I Suamtera
Utara, dalam melaksanakan tanggung jawab sosial ini tentunya selain dari pada
tuntutan komunitas dan UU perseroan terbatas juga dikarenakan bentuk
kepedulian PT. Jamsostek terhadap pemberdayaan masyarakat dan seluruh
pemangku kepentingannya (stakeholders) serta lingkungannya yang turut
menyumbang di dalam keberhasilan perusahaan ini menjalankan tugasnya sebagai
BUMN yang tidak hanya memiliki fungsi menghasilkan profit saja namun juga
ketahui masih banyak masyarakat khususnya medan dan sekitarnya yang masih
memerlukan bantuan untuk keberlangsungan hidup maupun kegiatan mereka.
Oleh PT. Jamsostek komitmen ini di realisasikan dalam kegiatan corporate social
responsibility yang terlihat dalam dua bentuk yakni bina mitra dan bakti
lingkungan.
Manfaat yang diperoleh dari implementasi tanggung jawab sosial ini
adalah citra baik perusahaan yang nantinya akan berdampak baik pula terhadap
penyelenggaraan kegitan dan program PT. Jamsostek sendiri. Di mana menurut
effendi dalam situs kemitraan.or.id yang diakses januari 2010, menyebutkan ada
empat manfaat yang diperoleh bagi perusahaan dengan mengimplementasikan
CSR , Pertama, keberadaan perusahaan dapat tumbuh dan berkelanjutan dan
perusahaan mendapatkan citra (image) yang positif dari masyarakat luas. Kedua,
perusahaan lebih mudah memperoleh akses terhadap kapital (modal). Ketiga,
perusahaan dapat mempertahankan sumber daya manusia (human resources) yang
berkualitas. Dan yang terakhir perusahaan dapat meningkatkan pengambilan
keputusan pada hal-hal yang kritis (critical decision making) dan mempermudah
pengelolaan manajemen risiko (risk management).
Melalui program CSR dapat dibangun komunikasi yang efektif dan hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan masyarakat. Untuk itulah maka sebaiknya kegiatan CSR ini dapat terus berjalan secara berkesinambungan dan berkelanjutan.
Dan agar pelaksanakan CSR itu dapat berkesinambungan dan berkelanjutan maka seharusnya dilakukan tata kelola perusahaan yang baik atau dikenal dengan istilah
good corporate governance, karena dengan penerapan prinsip-prinsip tata kelola
keuntungan tersebut akan dapat menjadi dana pelaksanaan kegiatan corporate social
responsibility.
Good corporate governance baru dikenal di Indonesia sekitar sepuluh tahun
belakangan ini, di mana ada lima prinsip dasar dalam implementasi good corporate
governance ini yaitu, transparansi akuntabilitas, responsibilitas,independensi dan fairness
atau kewajaran. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia dan negara-negara Asia lainnya pada tahun 1998 penyebab secara umumnya disebut-sebut adalah karena kegagalan
penerapan good corporate governance di negara-negara tersebut termasuk
Indonesia. (Widjaja, 2004:1)
Karena tidak menerapakan tata kelola perusahaan yang baik maka
kemudian banyak perusahaan di Indonesia baik publik maupun swasta yang
menerapkan prilaku yang buruk termasuk tindakan KKN, hal ini berdampak
sistemik terhadap buruknya sistem perekonomian dan keuangan negara kita
sehingga saat terjadi guncangan ekonomi dari luar sediikit saja, sektor ekonomi
makro kita pun runtuh dan menyebabkan krisis keuangan yang berkepanjangan
hingga meluas keranah politik, serta budaya masyarakat Indonesia. Di mana krisis
ekonomi pada waktu itu memicu terjadinya momentum yang paling bersejarah di
negeri ini yakni, pergantian era kekuasaan otoriter orde baru ke peralihan era
reformasi yang berjalan secara revolusi. Bahkan ketika negara-negara seperti
Korea, Jepang, Malaysia dan Thailand sudah pulih kita masih berkutat dengan
krisis.(http//www.petra.ac.id/desember 2009)
Tidak hanya itu, sejalan dengan perkembangan industri dan bisnis saat ini,
persaingan yang terjadi di konteks dunia bukan lagi persaingan bisnis dalam
wilayah regional, melainkan persaingan global, dan bentuk persaingannya juga
dengan perusahaan sehingga untuk bisa bertahan di dunia korporasi harus mampu
bertahan di era globalisasi saat ini dan hal tersebut dapat terwujud dengan
menerapkan good corporate governance.
Maka dari itu, pemerintah mulai menyadari akan pentingnya penerapan
good corporate governance. Di mana ada tiga pilar yang menjadi perhatian
utama pemerintah untuk diterapkan good corporate governance di Indonesia pada
saat itu antara lain : Bursa Efek, Perbankan dan BUMN. Penerapan good
corporate governance di BUMN, direspon pemerintah melalui kementrian
BUMN, dengan mengeluarkan keputusan Mentri yakni
KEP-MEN-177/M-MBU/2002 , yang memuat peraturan palaksanaan Good Corporate Governance
pada BUMN di Indonesia, sebagai upaya untuk memperbaiki wajah BUMN
sekaligus memperbaiki sektor makro ekonomi , dan juga sebagai langkah
preventif atau pencegahan , agar tidak terjadi lagi krisis keuangan di Indonesia. (
Http//www.petra.ac.id/Desember 2009)
Dan sebagai salah satu perusahaan negara di Indonesia atau BUMN maka
PT. Jamsostek juga ikut di dalam menerapkan good corporate governance, yang
mana PT. Jamsostek Sendiri baru malaksanakan psinsip-prinsip good corporate
governance ini secara keseluruhan sejak tahun 2004. Namun dalam jangka
waktu enam tahun saja PT. Jamsostek dapat dikatakan telah berhasil
menerapkannya.
PT. Jamsostek sendiri telah mengklaim bahwa mereka telah berhasil
menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang (GCG) ini di dalam tubuh
penghargaan terhadap BUMN terbaik di Indonesia, maka dengan begitu tentunya
PT. Jamsostek juga telah mengimplementasikan CSR sebagai salah satu
kinerjanya.
Berangkat dari hal di atas untuk itulah penulis tertarik untuk melakukan
penelitian di PT. Jamsostek, dengan tujuan untuk melihat apakah ada hubungan
antara penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate
governance terhadap penerapan tanggung jawab sosial, dengan judul “pengaruh
good corporate governance terhadap implementasi corporate social
responsibility” studi pada kantor wilayah I Sumatera Utara.
I.2. Perumusan Masalah
Menurut Arikunto (1993 : 17), agar suatu penelitian dapat dilakukan
dengan baik ,maka peneliti atau penulis harus merumuskan masalahanya terlebih
dahulu, agar dapat jelas memulai dari mana penelitian tersebut, ke mana akan
pergi dan apa yang harus dilakukan si peneliti tersebut.
Dari latar belakang yang penulis paparkan di atas maka dengan ini,
perumusan masalah yang dapat ditarik adalah :
“ Adakah hubungan dan pengaruh antara good corporate governance ( tata
kelola perusahaan ) terhadap penerapan atau implementasi tanggung jawab sosial
perusahaan (Corporate social responsibility ) ? dengan mengambil studi pada PT.
I.3. Tujuan Penelitian
Dalam Setiap penelitian pasti memiliki tujuan, untuk apa penelitian
tersebut dilakukakan, dan adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana penerapan good corporate governance di
PT. Jamsostek.
2. Untuk mengetahui bagaimana penerapan tanggung jawab social atau
corporate social responsibility di PT. Jamsostek.
3. Untuk mengetahui adakah pengaruh good corporate governance dalam
implementasi corporate social responsibility di PT. Jamsostek.
I.4. Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini, maka penulis berharap penelitian ini dapat bermanfaat untuk berbagai pihak, adapun manfaat yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut :
1. Secara akademis dan subjektif penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kepustakaan penelitian yang ada di Indonesia pada umumnya dan di Universitas sumatera Utara khsusnya, serta turut berperan dalam mengembangkan kemampuan berfikir secara ilmiah yang dituangkan dalam bentuk karya tulis ilmiah berdasarkan kajian serta teori yang diterapkan dan diperoleh dari bidang studi Ilmu Administrasi Negara.
2. Secara teoritis, penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi penambahan serta penyempurnaan Ilmu Administrasi Negara serta Ilmu sosial lainnya. 3. Secara Praktis, penelitian ini diharapkan mampu menjadi masukan bagi
I.5. Kerangka Teori
Di dalam suatu karya ilmiah dan penelitian diperlukan adanya landasan
berfikir yang dituangkan di dalam landasan teori,
Menurut Sugiyono ( 2005:55) Kerangka teori merupakan model
konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang
telah didefenisikan sebagai masalah yang penting. Teori adalah konsep-konsep
generalisasi-generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan
teoritis untuk pelaksanaan penelitian. Adapun landasan teori yang penulis
gunakan dalam penelitin ini adalah :
I.5.1. Good Corporate Governance
I.5.1.1. Definisi Good corporate governance
Ada banyak definisi good corporate governance, namun secara secara
harfiah good corporate governance merupakan tata kelola perusahaan yang baik,
namun secara defenitif dapat dijabarkan oleh banyak para ahli dan juga
institus-institusi sebagai berikut:
Menurut :
KEP-117/M-MBU/2002, tentang penerapan praktik GCG pada BUMN :
Good corporate governanace adalah suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya. (Ketentuan Umum, KEPMEN -117/M-MBU/2002)
Hunger dan Whillen, dalam Tjager ( 2003 : 23) :
Forum for corporate governance in Indonesia ( FCGI) dalam Tjager ( 2003 : 25)
menyatakan good corporate governance adalah :
Seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan internal, dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengendalikan perusahaan.
Monks and Minow, dalam Widjaja ( 2004: 2) mendefinisikan good corporate
governance adalah :
merujuk pada hubungan antara ketiga kelompok yaitu share holder, board of director dan manajemen puncak, dalam menentukan arah dan kinerja korporasi.
Dr. Prasetyantoko, ( 2008 : 36 ), mengartikan good corporate governance segala
macam faktor yang mempengaruhi pengambilan keputussan dalam menjalankan
kegiatan perusahaan.
Investment Council Assiciation of Canada ( 2003 ) dalam Susilo dan Simarmata
( 2003:17 ), good corporate governance adalah Seperangkat prinsip, aturan dan
prosedur yang mengatur dan mengarahkan kegiatan perseroan.
Cadbury Committtee dalam Susilo dan Simarmata ( 2007 :16), mendefinisikan
good corporate governance adalah :
Dari berbagai definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa good
corporate governance merupakan suatu proses dan struktur serta peraturan yang
mengatur korporasi dengan stakeholdernya dalam mencapai tujuan bersama.
1.5.1.2. Prinsip-Prinsip Good Corporte Governance.
Menurut Tjager, dkk (2007:41-52) ada lima prinsip yang harus
dilaksanakan dalam penerapan good corporate governance yakni :
1. Transparancy ( Keterbukaan )
Transparansi yaitu keterbukaan dalam melakukan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materil dan relevan mengenai perusahaan. Keterbukaan dalam pengambilan keputusan berarti seluruh pihak yang terlibat dala pengambilan keputusan mengetahui dengan jelas pertimbangan dan alasan-alasan untuk pengambilan keputusan dan untuk apa keputusan akan diambil.
2. Akuntabilitas
Akuntabilitas yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggung jawaban organ perseroan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif. Dari arti kata accountability yang mempunyai makna answerability, liability dan responsibility maka, prinsip ini menunjukan adanya tuntutan untuk dapat menjawab segala pertanyaan atas pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dari jabatan tersebut, mengenai hasil dan pelaksanaannya.
3. Responsibilitas (pertanggungjawaban)
perundang- undangan sudah diperhatikan dan dipenuhi, misalnya ketentuan mengenai laporan keuangan dan perpajakan, ketentuan mengenai konsumen, perburuhan, persaingan usaha dan sebagainya.
4. Independency ( Kemandirian )
Kemandirian adalah suatu keadaan di mana perusahaan dikelola secara professional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/ tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang beraku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat. Prinsip ini menegaskan bahwa direksi dan komisaris dalam menjalankan tugasnya haruslah mendahulukan kepentingan dan usaha perseroan.
5. Fairness (Kewajaran)
Kewajaran, yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang beraku. Kewajaran baru akan dapat bila mendapat kejelasan dan keterbukaan.
1.5.1.3. Manfaat Good Corporate Governance.
Tentunya ada manfaat yang akan diperoleh dari melaksanakan good
corporate governance ini, ketiga manfaat itu menurut Aldrige ( 2008: 7 ) yaitu :
1. Terhindar dari praktek KKN dalam perusahaan, sehingga akan
mengahasilkan perusahaan yang bersih dan sehat.
2. Meningkatnya Kinerja Perusahaan.
1.5.1.4. Tahapan Penerapan Good Corporate Governance.
Di dalam penerapan Good Corporate Governance terdapat beberapa
tahapan agar dapat dilaksanakan dengan maksimal seperti yang dinyatakan Susilo
dan Simarmata ( 2007: 139 ), dalam bukunya good corporate governance pada
bank , yakni :
1. Persiapan penerapan GCG
Tujuannya adalah mempersiapkan pelaksanaan GCG yang sistematis
dan terstruktur, sehingga pelaksanaanya dapat berjalan dengan mulus,
efisien dan efektif.
2. Tahap GCG ( Good Corporate Governance )
Tujuannya memenuhi semua ketentuan penerapan GCG yang berlaku ,
aktivitas utamanya adalah penyusunan pedoman GCG sesuai dengan
tuntutan perundang-undangan.
3. Tahap GGC ( Good Governed Corporate )
Tujuannya adalah pelaksanaan prinsip-prinsip GCG pada semua proses
bisnis dengan didukung oleh tersedianya pedoman perusahaan dari
tigkat manajemen puncak hingga tingkat operasional.
4. Tahap GCC. ( Good Corporate Citizen )
Dalam tahap ini perusahaan sudah menjadikan prinsip-prinsip GCG
menjadi bagian dari budaya perusahaan. Salah satu cirinya adalah
I.5.1.5 Tujuan Good Corporate Governance
Dalam melaksanakan sesuatu hal pastinya ada tujuan yang ingin dicapai,
begitu juga dengan pelaksanaan good corporate governance ada beberapa macam
tujuan yang hendak di capainya tujuan-tujuan tersebut menurut Aldridge (2008: 5)
adalah :
1. Melindungi hak dan kepentingan pemegang Saham, non pemegang
saham dan para stakeholders. Didalammya ada keterbukaan, sehingga
hak dan kepentingan dapat diketahui dan dilaksanakan oleh setiap
unsur di dalam korporasi.Meningkatkan nilai perusahaan dan para
pemegang saham.
2. Memaksimalkan nilai perusahaan dengan cara menjalankan prinsip
transparansi, kemandirian, akuntabilitas , pertanggung jawaban dan
keadilan agar perusahaan dapat dikelola secara professional.
3. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja Dewan pengurus dan
Dewan direksi dan manajemen perusahaan.Terlaksananya kerja sesuai
dengan peraturan dan harapan yang ada serta tepat dari segi guna,
waktu dan biaya.
4. Meningkatkan mutu hubungan dewan direksi dengan manajemen
puncak perusahaan. Mendorong agar pengelola perusahaan dalam
membuat kebijakan dan menjalankan tindakan dilandasi nilai moral
yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan
yang berlaku serta kesadaran akan adanya tangggung jawab sosial
5. Meningkatkan Kontribusi perusahaan dalam perekonomian
nasional.Yakni dengan memperoleh laba yang baik, sehinngga dapat
memberikan keuntungan kepada Negara.
6. Menjadikan perusahaan sebagai warga korporasi negara yang baik.
Dengan menjadikannya sebagai perusahaan yang kuat , mampu
bersaing, dan mampu menerapkan kebiasaan bisnis yang sehat.
I.5.2 . Corporate Social Responsibility
I.5.2.1. Definisi Corporate Social Responsibility
Ada berbagai definisi dari corporate social responsibility seperti berikut:
Untung (2004:1) mendefinisikan corporate social responsibility adalah:
Komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelajutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan dan menitik beratkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomis, sosial, dan lingkungan.
World Business Council for Sustanibility Development (WBCSD) dalam Rudito
dan famiola (2007:209), mendefenisikan CSR sebagai:
Komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga karyawan tersebut, berikut komunitas-komunitas setempat dan komunitas secara keseluruhan dalam rangka peningkatan kualitas kehidupan.
Sankat, Clement 2002, dalam Rudito dan Famiola (2007: 207), menyatakan CSR :
Rudito dan famiola (2007:207) sendiri mendefinisikan CSR sebagai cara
perusahaan mengatur proses usaha untuk memproduksi dampak positif pada
komunitas.”
Trinidads & Tobacco Bureau of Standards, dalam Rahman ( 2009:5), memberi
definisi mengenai CSR yakni :
corporate social responsibility adalah komitmen usaha untuk bertindak secara etis, beroperasi secara legal, dan berkontribusi untuk peningkatan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas lokal, dan masyarkat yang lebih luas.
Dari berbagai defenisi yang dipaparkan ahli-ahli di atas maka penulis
dapat mengambil kesimpulan bahwasanya corporte social responsibility atau
tanggung jawab sosial perusahaan adalah :
Suatu upaya untuk mencapai keberhasilan perusahaan dengan bertindak
menurut etika dan memperthatikan norma hukum dengan cara meningkatkan
kesejahteraan para stakeholdernya dan masyarakat secara luas.
I.5.2.2. Tujuan Pelaksanaan Corporate Social Responsibility
Segala sesuatunya pasti memiliki tujuan, termasuk pelaksanaan Tanggung
Jawab Sosial dari perusahaan, adapun tujuannya menurut Untung (2008:7) adalah
untuk melakukan pemberdayaan masyarakat dengan maksud memandirikan
masyarakat, sebagai bentuk kepedulian dan rasa bertanggung jawab dari
perusahaan atas pelaksanaan kegiatannya usahanya.
I.5.2.3. Bentuk Kegiatan Corporate Social Responsibility
Menurut Mark Goyder, dalam Rahman ( 2009 : 11) bentuk dari kegiatan
CSR ada dua yakni :
dilakukan kepada luar korporasi, atau kepada lingkungan luar
korporasi misalnya antara masyarakat dan lingkunagn alam.
2. Mengarah ke tipe ideal yang berupa nilai dalam korporat yang
digunakan untuk menerapkan atau mewujudkan tindakan-tindakan
yang sesuai dengan keadaan sosial terhadap komunitas sekitarnya.
Jadi bentuk program CSR memiliki dua orientasi , yakni :
1. Internal, yakni CSR yang berbentuk tindakan atas program yang
diberikan terhadap komunitas.
2. Eksternal, yakni CSR yang mengarah pada tipe ideal yang berupa
nilai dalam korporat yang dipakai untuk menerapkan atau
mewujudkan tindakan-tindakan yang sesuai dengan keadaan sosial
terhadap komunitas sekitarnya.
I.5.2.4. Implementasi Corporate Social Responsibility
Implementasi berarti penerapan atau pelaksanaan, dan pelaksanaan
corporate social responsibility ini dapat dilihat dengan aktivitas yang
dilakukannya. Menurut Rahman dalam bukunya ( 2009 : 13) Ada lima pilar utama
dalam malakukan aktivitas tanggung jawab sosial yang sering dijadikan indikator
oleh Indonesian Business Link (IBL) yakni:
1. Building Human Capital ( Pengembangan SDM)
Berkaitan dengan internal perusahaan untuk menciptakan SDM yang
andal, di sisi lain, perusahaan juga dituntut melakukan pembudayaan
2. Stengtening Ekonomics ( Penguatan ekonomi ) Perusahaan harus
memberdayaan ekonomi masyarakat sekitarnya, agar terjadi
pemerataan kesejahteraan.
3. Assecing social cession ( menjaga keharmonisan sosial )
Upaya menjaga keharmonisan dengan masyarakat sekitar agar tidak
menimbulkan konflik.
4. Encoureging good governance.
Perusahaan dalam menjalankan bisnisnya mengacu kepada good
corporate governance.
5. Protecting the environment ( Perlindungan lingkungan)
Mengharuskan perusahaan untuk menjaga lingkungan sekitarnya.
I.5.2.5. Unsur Corporate Social Responsibility dalam praktek di lapangan Dalam pelaksanaannya di lapangan perlu diperhatikan beberapa unsur
yang terkandung di dalam CSR, menurut rahman ( 2009 :7 ) unsur-unsur tersebut
adalah :
1. Kontinuitas dan sustanibilitas (berkesinambungan dan berkelanjutan)
berdasar trend ataupun insidental, bukanlah CSR. CSR merupakan hal
yang bercirikan dalam perspektif jangka waktu yang panjang bukan
instan, trend ataupun booming. CSR merupakan suatu mekanisme
kegiatan yang terencana, sistematis dan dapat dievaluasi.
2. Community Empowerment (Pemberdayaan komunitas)
Membedakan CSR dengan kegiatan yang bersifat charity ataupun
filantropi semata. Tindakan-tindakan kedermawanan meskipun
indikasi dari suksesnya sebuah program CSR adalah adanya
kemandirian yang lebih pada komunitas, dibandingkan dengan
sebelum program CSR hadir.
3. Two Ways
Program CSR bersifat dua arah. korporat bukan lagi berperan sebagai
komunkaor semata, tetapi juga mampu mendengarkan aspirasi dari
komunitas, ini dapat dilakukan dengan need assessment, yaitu sebuah
survey untuk mengetahui kebutuhan, keinginan, dan kemauan dari
komunitas.
I.5.2.6. Perspektif yang Terkait dengan Corporate Social Responsibility
Menurut Samuel dan saarf dalam Rahman, ( 2009: 15 ) ada tiga perspektif
yang terkait dengan CSR yakni :
1. Kapital Reputasi
Memandang penting reputasi untuk memperoleh dan
mempertahankan pasar. CSR dipandang sebagai strategi bisnis yang
bertujuan untuk meminimalkan resiko dan memaksimalkan
keuntungan dengan menjaga kepercayaan stakeholders.
2. Ekososial
Memandang stabilitas dan keberlanjutan sosial dan lingkungan
sebagai strategi untuk menjaga keberlanjutan bisnis korporat.
3. Hak-hak pihak Lain.
Memandang konsumen, pekerja, komunitas yang terpengaruh
bisnisnya dan pemegang saham, memiliki hak untuk mengetahi
I.5.2.7. Landasan dalam Menjalankan Corporate Social Responsibility
Agar pelaksanaan CSR dapat bermanfaat secara luas, dan konsisten,
menurut Rahman ( 2009 :33) diperlukan adanya landasan untuk menjalankan CSR
itu, yakni sebagai berikut :
1. Profesionalisme dalam arti keterlibatan sosial, dilakukan secara serius
sebagaimana mengelola aktivitas bisnis. CSR dilaksanakan secara
konsisten dan berkesinambungan.
2. CSR dialaksanakan secara tulus.
Masyarakat sekarang yang lebih kritis dalam menganalisis tujuan suatu
aktivitas yang dilakukan korporat. Kecurigaan masyarakat dapat
menyebabkan korporat terjerat dalam perangkap sendiri sehingga justru
dapat membuat citra negative korporat.
3. Dalam melaksanakan CSR, dibutuhkan keterlibatan dan kepemimpinan
manajemen tingkat atas, dan penyesuaian manajemen yang digunakan.
Untuk menghindari kesimpang siuran tujuan aktivitas sosial, korporat
sebaiknya mendistribusikan informan mengenai komitmen sosial ini
melalui berbagai sarana kehumasan dan secara efektif
I.5.2.8. Hierarki dalam pelaksanaan Corporate Social Responsibility
Setiap korporat memiliki kebebasan dalam menjalankan aktivitas CSR nya
namun tentunya setiap korporat memiliki tahapan dimana ia berada dalam
pelaksanaan CSR itu, Untung ( 2008: 9 ) memaparkan tahapan-tahapan itu
seperti di bawah ini :
Tabel 1
PERINGKAT KETERANGAN
HIJAU
Perusahaan yang sudah menempatkan CSR pada strategi inti
dan jantung bisnisnya, di sini CSR tidak hanya dianggap
sebagai keharusan, tetapi kebutuhan (modal sosial)
BIRU
Perusahaan yang menilai praktik CSR akan membawa
dampak positif terhadap usahanya karena merupakan
investasi, bukan biaya.
MERAH
Perusahaan di Peringkat merah, mulai menerapkan CSR. CSR
masih dipandang sebagai komponen biaya yang mengurangi
keuntungan perusahaan
HITAM
Pada tahap ini, kegiatannya degeneratif, mengutamakan
kepentingan bisnis, tidak peduli aspek lingkungan dan sosial
I.5.3. Pemangku Kepentingan ( Stakeholders).
Menurut Tjager ( 2003:27) Ada beberapa aspek penting di dalam sebuah
korporasi yang menerapkan good corporate governance di dalamnya dan
merupakan sasaran bagi pelaksanaan corporate social responsibility untuk
diberdayakan yakni :
Stakeholders, adalah orang atau kelompok yang mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh aktivitas organisasi atau perusahaan, yang mempunyai
legitimasi, kemampuan( kekuasaan) dan kepentingan tertentu sesuai dengan
landasan yang dipakainya.
Stakeholders dapat dibagi dalam 2 kategori, yakni :
1. Internal, atau yang berada di dalam perusahaan seperti :
1) RUPS, adalah organ perseroan yang memegang kekuasaan
tertinggi dalam perseroan dan memegang segala wewenang yang
tidak diserahkan kepada direksi atau komisaris dalam batas yang
ditentukan undang-undang dan atau anggaran dasar, jadi pada
dasarnya kewenangan tetinggi perseroan adalah UUPT dan
anggaran dasar perseroan.
2) Dewan Komisaris, adalah organ perseroan yang bertugas untuk
melakukan pengawsan secara umum dan atau khusus terhadap
kebijaksanaan direksi dalam menjalankan perseron serta
memberikan nasihat kepada direksi.
3) Dewan Direksi, adalah organ yang dipercayakan oleh UU untuk
4) Manajer dan Karyawan. Organ pelaksana kebijakan yang telah
dirumuskan oleh direksi.
2. Sedangkan dari luar adalah seperti
1) Pemerintah, Merupakan pembuat kebijakan dari luar yakni
Undang-Undang dan regulasi yang harus dipatuhi.
2) Kreditor, seperti contohnya bank, merupakan penyokong kegiatan
perseroan dalam pemberian sokongan sebahagian dana.
3) pemasok, dan pelanggan, merupakan penerima dan pengguna
peroduk yang dihasilkan oleh pereroan, sehingga perseroan
mendapatkan pemasukan secara finansial.
Dan secara singkat agar lebih mudah dipahami maka Tjager,dkk
menyimbolkannya dalam bagan 1 di bawah ini.
Bagan 1
RUPS DEWAN
KOMISARIS
DEWAN DIREKSI
MANAJER MANAJER MANAJER MANAJER
PEMERINTAH
PEMASOK
KELOMPOK LAIN
KREDITOR
PELANGGAN
I.6 Hubungan Good Corporate Governance terhadap Corporate Social
Responsibility
Good Corporate Governance (GCG) bukan istilah baru dalam hukum
perusahaan. Prinsip GCG yang dianut OECD dan beberapa lembaga lain
menempatkan prinsip responsibility atau tanggung jawab sebagai pilar tegaknya
GCG.
Menurut Sita Supomo, Forum for Corporate Governance in Indonesia
(FCGI) yang dikutip dalam
Implementasi prinsip good corporate governance salah satunya diterapkan dalam
bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau yang biasa di kenal dengan
Corporate Social Responsibility (CSR).
Corporate social responsiblity dalam prinsip good coorporate government
(GCG) ibarat dua sisi mata uang. Keduanya sama penting dan tidak terpisahkan.
Salah satu dari empat prinsip GCG adalah prinsip responsibility (pertanggung
jawaban). Tiga prinsip GCG lainnya adalah fairness, transparency, dan
accountability.
Dari penjelasan tersebut, terutama ''menciptakan nilai tambah pada produk
dan jasa bagi stakeholders perusahaan,'' prinsip responsibility GCG menelurkan
gagasan corporate social responsibility (CSR) atau ''peran serta perusahaan dalam
I.7. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara dari masalah yang diteliti dan
memberikan alur untuk dapat membuktikan masalah yang diteliti. Pembuktian
hipotesis tersebut memerlukan teori yang didukung oleh data dan fakta yang jelas.
Maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
Hipotesis Kerja (Ha):
Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara good corporate
governance terhadap pelaksanaan corporate social responsibility.
Hipotasis Nol (Ho):
Tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara good corporate
governance terhadap pelaksanaan corporate social responsibility
I.8. Defenisi Konsep
Menurut singarimbun (2006: 33), konsep adalah abstrak mengenai suatu
fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karakteristik
kejadian, keadaan, kelompok atau individu tertentu yang menjadi pusat perhatian.
Tujuannya adalah untuk memudahkan pemahaman dan menghindari terjadinya
interpretasi ganda dari variable yang diteliti. Dan untuk memperoleh batasan yang
jelas dari masing-masing konsep yang akan diteliti, Penulis merumuskan definisi
konsep penelitian ini adalah sebagai berikut :
Good corporate governanace adalah suatu proses dan struktur yang
digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan
akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka
Corporate Social responsibility adalah komitmen perusahaan untuk
bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan
ekonomi kebersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan
keluarganya, komunitas lokal dan komunitas secara lebih luas.
Kedua konsep di atas akan dapat dilihat dalam prinsip-prinsip good
corporate governance dan implementasi corporate social responsibility yang akan
dibatasi di definisi operasional untuk mengukur masalah serta tujuan penulis.
I.9. Definisi Operasional
Defenisi Operasional, menurut Singarimbun (2006:46 ) adalah unsur-unsur
yang memberitahukan bagaimana mengukur variable sehingga dengan
pengukuran tersebut dapat diketahui indikator-indikator apa saja yang
dipergunakan untuk mendukung analisa dari variable-variabel tersebut.
Penelitian ini terdii dari dua variabel yakni :
1. Variabel Bebas ( X )
Varibel bebas adalah sejumlah gejala atau faktor yang mempengaruhi dan
menentukan munculnya gejala atau faktor lain, dalam hal ini yang menjadi
variabel bebas adalah good corporate governance dengan indikator:
Pelaksanaan prinsip-prinsip good corporate governance, yang terdiri atas :
1) Transparansi, merupakan pengungkapan yang akurat dan tepat pada
waktunya serta secara terbuka mengenai semua hal yang penting bagi
kinerja perusahaan, kepemilikan, serta para pemegang kepentingan.
Prinsip ini diwujudkan antara lain :
a. Keterbukaan di dalam pemberian informasi mengenai
b. Mengembangkan teknologi informasi (IT) dan sistem manajemen
informasi, sehingga semua kegiatannya dapat
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
c. Mengumumkan jabatan yang kosong kepada masyarakat.
2) Akuntabilitas, merupakan bentuk pertanggung jawaban manajemen
kepada perusahaan dan pemegang saham serta masyarakat. Prinsip ini
diwujudkan melalui :
a. Adanya keterbukaan mengenai kinerja perusahaan kepada
masyarakat, melalui laporan keuangan dan kinerja lainnya yang
dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat.
3) Responsibilitas, merupakan tanggung jawab korporasi sebagai anggota
masyarakat yang tunduk kepada hukum dan bertindak dengan
memperhatikan kebutuhan-kebutuhan masyarakat sekitarnya. Prinsip
ini diwujudkan melalui :
a. Menyadari akan adanya tanggung jawab sosial
b. Menghindari penyalahgunaan kekuasaan.
c. Menjunjung etika dalam bisnis.
d. Memelihara lingkungan bisnis yang sehat.
4) Independensi atau kemandirian merupakan suatu keadaan di mana
perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan
pengaruh atau tekanan dai pihak lain. Prinsip ini terwujud melalui
a. Adanya profesionalisme dari seluruh manajemen perusahaan yakni
5) Kewajaran( Fairness).perlakuan yang sama terhadap semua pemegang
saham. Prinsip ini diwujudkan antara lain :
a. Menyajikan informasi secara wajar, dan berkeadilan kepada
seluruh stakeholders.
2. Variabel ( Y)
Varibel terikat merupakan variabel yang muncul akibat dari variabel
bebas. Dalam hal ini yang menjadi variabel terikat adalah
pelaksanaan corporate social responsibility yang dapat
dilihat dari pilar aktivitasnya yaitu:
1) Building Human Capital ( Pengembangan SDM), Adanya
perbaikan internal perusahaan untuk menciptakan SDM yang
andal, di sisi lain, perusahaan juga dituntut melakukan
pemberdayaan masyarakat.
2) Strengtening Ekonomics ( Penguatan ekonomi ), Perusahaan harus
memberdayaan ekonomi masyarakat sekitarnya, agar terjadi
pemerataan kesejahteraan, tercermin dengan
a. Ada komitmen untuk memberdayakan masyarakat sekitar
misalnya dengan memperhatikan pendidikannya.serta
memperlancar kegiatan masyarakat.
3) Assecing social cession ( menjaga keharmonisan sosial ), Adanya
upaya menjaga keharmonisan dengan masyarakat sekitar agar tidak
menimbulkan konflik.
a. Menjaga keharmonisan dengan lingkungan dan masyarakat
b. Mencegah adanya konflik dengan masyarakat dan
stakeholder.
4) Encoureging good Governance. Perusahaan dalam menjalankan
bisnisnya mengacu kepada good corporate governance.
a. Adanya tata kelola perusahaan yang baik, di buktikan
dengan nama baik perusahaan dari masyarakat.
b. Bersih dari praktik KKN ( Korupsi Kolusi dan Nepotisme).
c. Terbuka dalam pemberian informasi.
d. Peduli dan menjalin hubungan baik dengan masyarakat dan
sekitarnya.
5) Protecting the environment (Perlindungan lingkungan)
Mengharuskan perusahaan untuk menjaga lingkungan sekitarnya.
a. Melaksanakan bisnis yang ramah lingkungan
I.10. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan disusun dalam rangka untuk memaparkan
keseluruhan hasil penelitian ini secara singkat, seperti berikut ini :
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini memuat latar belakang masalah, perumusan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori, hipotesa,
defenisi konsep, defenisi operasional, dan sistematika penulisan.
BAB.II. : METODE PENELITIAN
Bab ini memuat bentuk penelitian, lokasi penelitian, populasi dan
sampel, teknik pengumpulan data, dan teknik analisa data.
BAB.III. : DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Bab ini memuat gambaran umum tentang gambaran atau
karakteristik lokasi penelitian berupa sejarah singkat, visi dan
misi, kedudukan , tugas dan fungsi.
BAB.IV. : PENYAJIAN DATA
Bab ini memuat penyajian data yang diperoleh selama penelitian
dilapangan atau berupa dokumen-dokumen yang akan diteliti.
BAB.V. : ANALISA DATA
Bab ini memuat pembahasan dari data-data yang telah diperoleh
kemudian diinterpretasikan dengan menggunakan korelasi
hubungan antar variable.
BAB VI : PENUTUP
Bab ini memuat kesimpulan dan saran atas hasil penelitian yang
BAB.II.
METODOLOGI PENELITIAN
II.1. Bentuk Penelitian
Menurut Moleong ( 2006 :34) agar mencapai tujuan penelitian maka
dipergunakanlah satu metode. Maka dari itu, agar penulis dapat mencapai tujuan
penelitian ini maka metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode
penelitian asosiatif dengan menggunakan analisa data kuantitatif, di mana metode
asosiatif menurut Sugiyono ( 2005:11) adalah untuk mengetahui hubungan anatar
dua variabel atau lebih.
II.2. Lokasi Penelitian
Adapun Lokasi Penelitian ini dilakukan pada PT. JAMSOSTEK Kantor
Wilayah I. Sumatera Utara, yang berada di jalan Kapten Pattimura, No.334
Medan, Sumatera Utara.
II.3. Populasi dan Sampel II.3.1. Populasi
Menurut Sugyono ( 2005 : 90) populasi merupakan wilayah jeneralisasi
yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian di tarik suatu
kesimpulan.
Dalam penelitian ini populasi yang penulis gunakan adalah seluruh
masyarakat penerima bantuan bina lingkungan dari PT. Jamsostek pada tahun
2009 yang berada di Kanwil I SUMUT dengan area Kota Medan dan sekitarnya.
cabang namun karena keterbatasan dana dan waktu penulis membatasinya dengan
hanya mengambil area Medan Sekitarnya. Dan berrhubung Kantor wilayah hanya
menyalurkan bantuan bina lingkungan saja sedangkan kemitraan di salurkan oleh
cabang maka yang menjadi populasi penulis adalah masyarakat penerima bantuan
bina lingkungan saja.
Jadi total keseluruhan populasi adalah sejumlah 35 orang.
II.3.2. Sampel
Sampel adalah sebahagian dari populasi yang dipergunakan sebagai
sumber data. Dan dalam penelitian ini penulis mempergunakan teknik penarikan
sampel populasi dalam penelitian ini hanya sebanyak 35 orang saja maka penulis
menggunakan teknik seperti dikatakan Arikunto ( 2006:134), jika subjeknya
kurang dari 100 orang maka lebih baik diambil semua sebagai populasi teknik
yakni sebanyak 35 orang, dalam istilah lain juga dikenal dengan istilah sampel
sensus.
II.4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah
sebagai berikut :
1. Data Primer, merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan
secara langsung pada lokasi penelitian dengan cara :
1) Kuesioner, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan
dengan menyebar daftar pernyataan dengan pihak-pihak terkait.
2) Wawancara, yakni dengan melakukan Tanya jawab kepada
informan atau sampel yang dianggap mengetahui permasalahan
3) Pengamatan berperan serta ( Participant observation ), yakni
dengan melakukan pengamatan langsung pada objek yang akan
diteliti untuk mendapatkan gambarn yang tepat mengenai objek
penelitian.
2. Data Sekunder, merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan
melalui studi kepustakaan yang terdiri dari, :
1) Dokumentasi, yaitu eknik pengumpulan data dengan menggunakan
catatan-catatan atau dokumen yang ada di lokasi penelitian serta
sumber-sumber yang relevan dengan objek penelitian.
2) Studi Kepustakaan, yaitu teknik pengumpulan data dengan
menggunakan berbagai literatur seperti buku, majalah, jurnal,
laporan penelitian, dan lain sebagainya.
II.5. Teknik Penentuan Skor
Untuk membantu dalam menganalisa data, maka penelitian ini
menggunakan teknik penentuan skor. Adapun skor yang ditentukan untuk
setiap pertanyaan adalah :
Untuk jawaban a diberi skor 5
Untuk jawaban b diberi skor 4
Untuk jawaban c diberi skor 3
Untuk jawaban d diberi skor 2
Untuk jawaban e diberi skor 1
Untuk mengetahui kategori jawaban dari masing-masing variabel
apakah tergolong tinggi, sedang dan rendah maka terlebih dahulu ditentukan
Skor Tertinggi – Skor Terendah
Banyaknya Bilangan
Maka diperoleh :
5 – 1
5
= 0,80
Sehingga dapat diketahui kategori jawaban responden untuk
masing-masing variabel yaitu :
Kategori Nilai
Sangat tinggi 4,24-5,00
Tinggi 3,43-4,23
Sedang 2,62-3,42
Rendah 1,81-2,61
II.6. Teknik Analisa Data
Untuk mengetahui koefisien korelasi variabel x terhadap variabel y
digunakan rumus Product Momen (Sugiyono, 2005:212)
Keterangan :
r = koefisien korelasi
x = variabel bebas
y = variabel terikat
N = jumlah sampel
Dari hasil perhitungan tersebut akan memperlihatkan tiga kemungkinan
yaitu :
1. Koefisien korelasi yang diperoleh sama dengan nol (r = 0)
berarti hubungan kedua variabel yang diuji tidak ada.
2. Koefisien korelasi yang diperoleh positif (r = +) artinya
kenaikan nilai variabel yang lain dan kedua variabel memiliki
hubungan positif.
3. Koefisien korelasi yang diperoleh negatif (r = -) artinya kedua
variabel negatif dan menunjukkan meningkatnya variabel yang
satu diikuti menurunnya variabel yang lain.
Untuk mengetahui adanya hubungan yang tinggi, sedang atau
rendah antara kedua variabel berdasarkan nilai r (koefisien korelasi)
Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,00 – 1,999 Sangat rendah
0,20 – 0,399 Rendah
0,40 – 0,599 Sedang
0,60 – 0,799 Kuat
0,80 – 1,000 Sangat kuat
Dengan nilai r yang diperoleh maka dapat diketahui apakah nilai r
yang diperoleh berarti atau tidak dan bagaimana tingkat hubungannya melalui
tabel korelasi. Tabel korelasi menentukan batas-batas r yang signifikan,
artinya hipotesis kerja atau hipotesis alternatif dapat diterima.
a. Untuk menguji hipotesis, pengaruh antara kualitas pelayanan (x)
dan kepuasan nasabah (y), maka diadakan pengujian dengan rumus
“t” (Sugiyono, 2005:214) yaitu :
t
b. Untuk mengetahui kontribusi kualitas pelayanan terhadap kepuasan
nasabah, digunakan perhitungan determinasi. Perhitungan dilakukan
dengan rumus :
D = (r xy)2 x 100%
Keterangan :
D = Koefisien Determinan
BAB.II.
METODOLOGI PENELITIAN
II.1. Bentuk Penelitian
Menurut Moleong ( 2006 :34) agar mencapai tujuan penelitian maka
dipergunakanlah satu metode. Maka dari itu, agar penulis dapat mencapai tujuan
penelitian ini maka metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode
penelitian asosiatif dengan menggunakan analisa data kuantitatif, di mana metode
asosiatif menurut Sugiyono ( 2005:11) adalah untuk mengetahui hubungan anatar
dua variabel atau lebih.
II.2. Lokasi Penelitian
Adapun Lokasi Penelitian ini dilakukan pada PT. JAMSOSTEK Kantor
Wilayah I. Sumatera Utara, yang berada di jalan Kapten Pattimura, No.334
Medan, Sumatera Utara.
II.3. Populasi dan Sampel II.3.1. Populasi
Menurut Sugyono ( 2005 : 90) populasi merupakan wilayah jeneralisasi
yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian di tarik suatu
kesimpulan.
Dalam penelitian ini populasi yang penulis gunakan adalah seluruh
masyarakat penerima bantuan bina lingkungan dari PT. Jamsostek pada tahun
2009 yang berada di Kanwil I SUMUT dengan area Kota Medan dan sekitarnya.
cabang namun karena keterbatasan dana dan waktu penulis membatasinya dengan
hanya mengambil area Medan Sekitarnya. Dan berrhubung Kantor wilayah hanya
menyalurkan bantuan bina lingkungan saja sedangkan kemitraan di salurkan oleh
cabang maka yang menjadi populasi penulis adalah masyarakat penerima bantuan
bina lingkungan saja.
Jadi total keseluruhan populasi adalah sejumlah 35 orang.
II.3.2. Sampel
Sampel adalah sebahagian dari populasi yang dipergunakan sebagai
sumber data. Dan dalam penelitian ini penulis mempergunakan teknik penarikan
sampel populasi dalam penelitian ini hanya sebanyak 35 orang saja maka penulis
menggunakan teknik seperti dikatakan Arikunto ( 2006:134), jika subjeknya
kurang dari 100 orang maka lebih baik diambil semua sebagai populasi teknik
yakni sebanyak 35 orang, dalam istilah lain juga dikenal dengan istilah sampel
sensus.
II.4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah
sebagai berikut :
1. Data Primer, merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan
secara langsung pada lokasi penelitian dengan cara :
1) Kuesioner, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan
dengan menyebar daftar pernyataan dengan pihak-pihak terkait.
2) Wawancara, yakni dengan melakukan Tanya jawab kepada
informan atau sampel yang dianggap mengetahui permasalahan
3) Pengamatan berperan serta ( Participant observation ), yakni
dengan melakukan pengamatan langsung pada objek yang akan
diteliti untuk mendapatkan gambarn yang tepat mengenai objek
penelitian.
2. Data Sekunder, merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan
melalui studi kepustakaan yang terdiri dari, :
1) Dokumentasi, yaitu eknik pengumpulan data dengan menggunakan
catatan-catatan atau dokumen yang ada di lokasi penelitian serta
sumber-sumber yang relevan dengan objek penelitian.
2) Studi Kepustakaan, yaitu teknik pengumpulan data dengan
menggunakan berbagai literatur seperti buku, majalah, jurnal,
laporan penelitian, dan lain sebagainya.
II.5. Teknik Penentuan Skor
Untuk membantu dalam menganalisa data, maka penelitian ini
menggunakan teknik penentuan skor. Adapun skor yang ditentukan untuk
setiap pertanyaan adalah :
Untuk jawaban a diberi skor 5
Untuk jawaban b diberi skor 4
Untuk jawaban c diberi skor 3
Untuk jawaban d diberi skor 2
Untuk jawaban e diberi skor 1
Untuk mengetahui kategori jawaban dari masing-masing variabel
apakah tergolong tinggi, sedang dan rendah maka terlebih dahulu ditentukan
Skor Tertinggi – Skor Terendah
Banyaknya Bilangan
Maka diperoleh :
5 – 1
5
= 0,80
Sehingga dapat diketahui kategori jawaban responden untuk
masing-masing variabel yaitu :
Kategori Nilai
Sangat tinggi 4,24-5,00
Tinggi 3,43-4,23
Sedang 2,62-3,42
Rendah 1,81-2,61
II.6. Teknik Analisa Data
Untuk mengetahui koefisien korelasi variabel x terhadap variabel y
digunakan rumus Product Momen (Sugiyono, 2005:212)
Keterangan :
r = koefisien korelasi
x = variabel bebas
y = variabel terikat
N = jumlah sampel
Dari hasil perhitungan tersebut akan memperlihatkan tiga kemungkinan
yaitu :
1. Koefisien korelasi yang diperoleh sama dengan nol (r = 0)
berarti hubungan kedua variabel yang diuji tidak ada.
2. Koefisien korelasi yang diperoleh positif (r = +) artinya
kenaikan nilai variabel yang lain dan kedua variabel memiliki
hubungan positif.
3. Koefisien korelasi yang diperoleh negatif (r = -) artinya kedua
variabel negatif dan menunjukkan meningkatnya variabel yang
satu diikuti menurunnya variabel yang lain.
Untuk mengetahui adanya hubungan yang tinggi, sedang atau
rendah antara kedua variabel berdasarkan nilai r (koefisien korelasi)
Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,00 – 1,999 Sangat rendah
0,20 – 0,399 Rendah
0,40 – 0,599 Sedang
0,60 – 0,799 Kuat
0,80 – 1,000 Sangat kuat
Dengan nilai r yang diperoleh maka dapat diketahui apakah nilai r
yang diperoleh berarti atau tidak dan bagaimana tingkat hubungannya melalui
tabel korelasi. Tabel korelasi menentukan batas-batas r yang signifikan,
artinya hipotesis kerja atau hipotesis alternatif dapat diterima.
a. Untuk menguji hipotesis, pengaruh antara kualitas pelayanan (x)
dan kepuasan nasabah (y), maka diadakan pengujian dengan rumus
“t” (Sugiyono, 2005:214) yaitu :
t
b. Untuk mengetahui kontribusi kualitas pelayanan terhadap kepuasan
nasabah, digunakan perhitungan determinasi. Perhitungan dilakukan
dengan rumus :
D = (r xy)2 x 100%
Keterangan :
D = Koefisien Determinan