PROFIL KADAR GLUKOSA DARAH PADA PASIEN SKIN TAG
TESIS
Oleh
RIANA MIRANDA SINAGA NIM : 137041018
PROGRAM PENDIDIKAN MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PROFIL KADAR GLUKOSA DARAH PADA PASIEN SKIN TAG
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Kedokteran Klinik dalam Program Magister Kedokteran Klinik
Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Oleh
RIANA MIRANDA SINAGA NIM : 137041018
PROGRAM PENDIDIKAN MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
HALAMAN PERSETUJUAN
Judul Tesis : Profil Kadar Glukosa Darah Pada Pasien Skin Tag Nama : Riana Miranda Sinaga
Nomor Induk : 137041018
Program Studi : Magister Kedokeran Klinik
Konsentrasi : Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Menyetujui:
Pembimbing I Pembimbing II
(Dr. dr. Imam Budi Putra, MHA, SpKK) (Dr. dr. Nelva.K.Jusuf, SpKK(K))
NIP.19650725200501 1001 NIP.19760915199702 2001
Program Magister Kedokteran Klinik Dekan
Sekretaris Program Studi
(dr. Murniati Manik,MSc,SpKK,SpGK ) (Prof. dr. Gontar A. Siregar, SpPD-KGEH) NIP. 19530719198003 2 001 NIP.19540220198011 1 001
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Tesis ini adalah hasil karya penulis sendiri,
dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah penulis nyatakan dengan benar
Nama : Riana Miranda Sinaga
NIM : 137041018
Profil Kadar Glukosa Darah pada Pasien Skin Tag Riana Miranda Sinaga, Nelva Karmila Jusuf, Imam Budi Putra
Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
RSUP Haji Adam Malik Medan- Indonesia
ABSTRAK
Latar belakang : Skin tag (acrochordon) adalah tumor jinak jaringan konektif pada dermis yang paling sering dijumpai. Skin tag mempunyai hubungan dengan gangguan metabolisme glukosa terutama penyakit diabetes mellitus dan resistensi insulin. Peningkatan kadar glukosa darah puasa disertai poliuri, polidipsi, polifagi merupakan salah satu kriteria untuk menegakkan diagnosis penyakit diabetes mellitus. Peningkatan kadar glukosa darah diduga dapat terjadi pada pasien skin tag.
Tujuan: Untuk mengetahui profil kadar glukosa darah puasa pada pasien skin tag. Metode: Penelitian ini merupakan suatu studi deskriptif dengan rancangan potong lintang (cross sectional) yang melibatkan 32 pasien skin tag. Diagnosis skin tag ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis. Kemudian pada pasien dilakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan kadar glukosa darah puasa. Hasil pemeriksaan disajikan dalam bentuk data deskriptif.
Hasil : Pada penelitian ini didapati mayoritas pasien skin tag 27 orang (84,40%) mempunyai kadar glukosa darah puasa normal.
Profile Blood Glucose Levels in Patient with Skin Tag Riana Miranda Sinaga, Nelva Karmila Jusuf, Imam Budi Putra
Department of Dermato-Venereology Faculty of Medicine, University of Sumatera Utara Haji Adam Malik General Hospital Medan- Indonesia
ABSTRACT
Background: Skin tag (acrochordon) is benign tumor of connective tissue in the dermis of the most frequently encountered. Skin tag have a relationship with glucose metabolism disorders, especially diabetes mellitus and insulin resistance. Increased fasting blood glucose levels with polyury, polydipsy dan polyphagy one of the criteria for diagnosis of diabetes mellitus. Increased blood glucose levels may occur in patient skin tag.
Objective: To determine the profile of fasting blood glucose levels in patients with skin tag.
Methods: This study is a descriptive study with cross-sectional design involving 32 patients skin tag. Diagnosis of skin tag is made based on history, clinical examination. Then the patient's blood sample for examination of fasting blood glucose levels. Test results are presented in the form of descriptive data.
Results: In this study the majority of 27 patient skin tag (84.40%) had normal fasting blood glucose levels.
Conclusion: Patients skin tag generally have a normal fasting blood sugar levels. Keywords: skin tag, fasting blood glucose levels
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan seluruh rangkaian punyusunan tesis yang berjudul: “Profil Kadar Glukosa Darah pada Pasien Skin Tag” sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Kedokteran Klinik Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin.
Tidak ada satupun karya tulis dapat diselesaikan seorang diri tanpa bantuan dari orang lain. Dalam penyelesaian tesis ini, baik ketika penulis melakukan penelitian maupun saat penulis menyusun setiap kata demi kata dalam penyusunan proposal dan hasil penelitian, ada banyak pihak yang Allah SWT telah kirimkan untuk membantu, memberikan dorongan dan masukan kepada penulis. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, ijinkanlah penulis menyampaikan rasa terima kasih dan perhargaan yang setinggi – tingginya kepada Yang Terhormat :
1. Dr.dr.Imam Budi Putra,MHA,SpKK, selaku pembimbing utama tesis saya, yang telah bersedia meluangkan waktu, pikiran dan tenaga serta dengan penuh kesabaran selalu membimbing, memberikan nasehat, masukan, koreksi dan motivasi kepada saya selama proses penyusunan tesis ini.
2. Dr.dr.Nelva K Jusuf, SpKK(K), selaku pembimbing kedua tesis saya, yang bersedia meluangkan waktu, pikiran dan tenaga serta telah membimbing, memberikan nasehat, masukan, koreksi dan motivasi kepada saya selama proses penyusunan tesis ini.
3. Prof.Dr.dr.Irma D. Roesyanto-Mahadi, SpKK (K), sebagai Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan juga sebagai guru besar, yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik dibidang Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 4. dr.Chairiyah Tanjung,SpKK(K), sebagai Ketua Program Studi Departemen Ilmu
Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik dibidang Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
5. Prof.dr.Chairuddin P Lubis, DTM&H, SpA(K), sebagai Ketua Program Studi Magister Kedokteran Klinik yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti Program Magister Kedokteran Klinik di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
6. Bapak Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. DR. dr. Syahril Pasaribu, SpA(K), DTM&H, yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk dapat melaksanakan studi pada Universitas yang Bapak pimpin.
mengikuti Program Magister Kedokteran Klinik di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
8. dr. Remenda Siregar, SpKK, dr. Donna Partogi, SpKK dan dr.Mila Darmi, SpKK, sebagai anggota tim penguji, yang telah memberikan bimbingan dan koreksi untuk penyempurnaan tesis ini.
9. Para Guru Besar, Prof. dr. Mansur A. Nasution, SpKK (K), serta seluruh staf pengajar di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK USU, RSUP. H. Adam Malik Medan, RSU Dr. Pirngadi Medan, yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
10.Bapak Direktur RSUP. H. Adam Malik Medan, yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada saya selama menjalani Pendidikan Magister Kedokteran Klinik ini.
11.Dr.Suryadharma, M.Kes, selaku staf pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat USU selaku staf pengajar Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FK USU, yang telah banyak membantu saya dalam metodologi penelitian dan pengolahan statistik penelitian saya ini.
12.Seluruh staf/pegawai dan perawat di Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, baik di RSUP. H. Adam Malik Medan, atas bantuan, dukungan, dan kerjasama yang baik selama ini.
13.Ayahanda tercinta (Alm) Prof.dr.H.Usul Majadi Sinaga,SpB FINACS(K) Trauma, tidak ada kata yang mampu menggantikan rasa terima kasih saya atas semua pengorbanan, jerih payah dan kasih sayang papa untuk saya selama hidup papa, saat ini hanya doa yang dapat saya panjatkan semoga papa mendapat tempat sebaik-baiknya di sisi Allah SWT dan kepada Ibu tersayang dr.Hj.Hotnida Sitompul,SpPK, yang tidak pernah putus memberikan cinta kasih, doa dan dengan penuh kesabaran mengasuh, mendidik serta membesarkan saya, terima kasih yang tak terhingga saya ucapkan dan betapa bersyukurnya saya mempunyai kedua orang tua seperti Papa dan Mama. Semoga Allah SWT membalas segalanya.
14.Suami saya tercinta, Dody Irwansyah Siregar,SE,MM terima kasih yang setulus-tulusnya atas segala pengorbanan, kesabaran dan pengertiannya serta untuk selalu memberikan dukungan, doa, semangat, bantuan disetiap saat hingga saya dapat menyelesaikan pendidikan ini.
15.Yang tercinta anak-anak saya, Rifatsyah Doli Siregar dan Nazhifah Salsabila Siregar yang selalu sabar menunggu saya disaat saya tidak selalu bisa menemaninya dan senantiasa menjadi pendorong semangat saya untuk menyelesaikan pendidikan ini. 16.Saudara-saudara saya, Febi Sarini Marianni Sinaga STP, Rina Hasiani Sinaga
SH.MH, Sartika Maharani Sinaga, Ssi.Apt, dr. Rahmanita Sinaga,Mked(OG), terima kasih atas doa dan dukungan yang telah diberikan kepada saya selama ini.
17.Mertua saya H.Raja Gunung Doli Siregar, dan Hj.Ratnasari Daulay atas doa dan dukungan yang telah diberikan kepada saya.
Arwina Dalimunthe,Mked(KK),SpKK, dr.Trisna C. Nasution, Mked(DV),SpDV, dr. Wahyuni S, Mked(DV),SpDV, dr. Nova Zarina Lubis, Mked(DV),SpDV, dr. Cut Putri Hazlianda,Mked(DV),SpDV,yang telah menjadi teman berbagi cerita suka dan duka selama menyelesaikan tesis ini.
19.Semua teman-teman PPDS Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara terutama yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan, dukungan, dan kerjasama kepada saya selama menyelesaikan tesis ini, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Saya menyadari bahwa tesis ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan tesis ini. Kiranya tesis ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Akhir kata, dengan penuh kerendahan hati, izinkanlah saya untuk menyampaikan permohonan maaf yang setulus-tulusnya atas segala kesalahan, kekhilafan dan kekurangan yang telah saya lakukan selama proses penyusunan tesis dan selama saya menjalani pendidikan. Semoga segala bantuan, dorongan dan petunjuk yang telah diberikan kepada saya selama menjalani pendidikan, kiranya mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT.
Medan, Oktober 2014 Penulis
DAFTAR ISI
DAFTAR SINGKATAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN
2.1.5 Gambaran Histopatologi ... 8
2.1.6 Diagnosis Banding ... 9
2.1.7 Pengobatan ... 10
2.3 Kerangka Teori ... 14
2.4 Kerangka Konsep ... 15
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian ... 16
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 16
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 16
3.3.1 Populasi Target. ... 16
3.6 Cara Pengambilan Sampel Penelitian ... 18
3.9 Kerangka Operasional ... 22
3.10 Pengolahan dan analisis data ... 22
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Subyek Penelitian ... 23
4.1.1 Subyek penelitian berdasarkan umur ... 23
4.1.2 Subyek penelitian berdasarkan jenis kelamin ... 24
4.1.3 Subyek penelitian berdasarkan riwayat diabetes mellitus . ... 24
4.1.4 Subyek penelitian berdasarkan riwayat keluarga skin tag ... 25
4.1.5 Subyek penelitian berdasarkan lokasi lesi ... 26
4.2. Profil kadar glukosa darah puasa pada pasien skin tag ... 27
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 29
5.2 Saran ... 29
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Disitribusi subyek penelitian berdasarkan umur ... 23
Tabel 4.2. Distribusi subyek penelitian berdasarkan jenis kelamin ... 24
Tabel 4.3. Distribusi subyek penelitian berdasarkan riwayat diabetes mellitus ... 24
Tabel 4.4. Distribusi subyek penelitian berdasarkan riwayat keluarga pasien skin tag 25 Tabel 4.5. Distribusi subyek penelitian lokasi lesi ... 26
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Histopatologi skin tag ... 9
Gambar 2.2 Kerangka Teori ... 14
Gambar 2.3 Kerangka Konsep ... 15
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Naskah penjelasan kepada pasien/keluarga pasien Lampiran 2 Persetujuan ikut serta dalam penelitian
Lampiran 3 Status Penelitian
Lampiran 4 Persetujuan Komite Etik Lampiran 5 Data Penelitian
DAFTAR SINGKATAN
ADA = American Diabetes Association BB = Berat Badan
dkk = dan kawan-kawan
EGF = Epidermal Growth Factor HBA1c = Haemoglobin glikosilat c
HPV = Human Papilloma Virus
IGF-1 = Insulin Growth Factor-1
IGFBP-3 = Insulin –like Growth Factor Binding Protein-3
IMT = Indeks Massa Tubuh
KGD = Kadar Glukosa Darah
Kg = Kilogram
m2
RSUP HAM = Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik = Meter bujur sangkar
TB = Tinggi Badan
TGF = Transforming Growth Factor
Profil Kadar Glukosa Darah pada Pasien Skin Tag Riana Miranda Sinaga, Nelva Karmila Jusuf, Imam Budi Putra
Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
RSUP Haji Adam Malik Medan- Indonesia
ABSTRAK
Latar belakang : Skin tag (acrochordon) adalah tumor jinak jaringan konektif pada dermis yang paling sering dijumpai. Skin tag mempunyai hubungan dengan gangguan metabolisme glukosa terutama penyakit diabetes mellitus dan resistensi insulin. Peningkatan kadar glukosa darah puasa disertai poliuri, polidipsi, polifagi merupakan salah satu kriteria untuk menegakkan diagnosis penyakit diabetes mellitus. Peningkatan kadar glukosa darah diduga dapat terjadi pada pasien skin tag.
Tujuan: Untuk mengetahui profil kadar glukosa darah puasa pada pasien skin tag. Metode: Penelitian ini merupakan suatu studi deskriptif dengan rancangan potong lintang (cross sectional) yang melibatkan 32 pasien skin tag. Diagnosis skin tag ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis. Kemudian pada pasien dilakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan kadar glukosa darah puasa. Hasil pemeriksaan disajikan dalam bentuk data deskriptif.
Hasil : Pada penelitian ini didapati mayoritas pasien skin tag 27 orang (84,40%) mempunyai kadar glukosa darah puasa normal.
Profile Blood Glucose Levels in Patient with Skin Tag Riana Miranda Sinaga, Nelva Karmila Jusuf, Imam Budi Putra
Department of Dermato-Venereology Faculty of Medicine, University of Sumatera Utara Haji Adam Malik General Hospital Medan- Indonesia
ABSTRACT
Background: Skin tag (acrochordon) is benign tumor of connective tissue in the dermis of the most frequently encountered. Skin tag have a relationship with glucose metabolism disorders, especially diabetes mellitus and insulin resistance. Increased fasting blood glucose levels with polyury, polydipsy dan polyphagy one of the criteria for diagnosis of diabetes mellitus. Increased blood glucose levels may occur in patient skin tag.
Objective: To determine the profile of fasting blood glucose levels in patients with skin tag.
Methods: This study is a descriptive study with cross-sectional design involving 32 patients skin tag. Diagnosis of skin tag is made based on history, clinical examination. Then the patient's blood sample for examination of fasting blood glucose levels. Test results are presented in the form of descriptive data.
Results: In this study the majority of 27 patient skin tag (84.40%) had normal fasting blood glucose levels.
Conclusion: Patients skin tag generally have a normal fasting blood sugar levels. Keywords: skin tag, fasting blood glucose levels
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Skin tag (acrochordon) adalah tumor jinak jaringan konektif pada dermis yang paling sering dijumpai. Skin tag dapat tumbuh pada daerah lipatan kulit/daerah yang sering mengalami gesekan, terutama pada regio colli, palpebra, axilla, ingunal namun kadang-kadang dapat juga terjadi pada daerah thoraks.
Insiden skin tag pada populasi umumnya cukup tinggi yaitu dijumpai sekitar 46%.
1-6
2,3
Skin tag secara normal tidak mengganggu dan jarang mendapatkan perhatian kecuali jika mengalami iritasi dan mengganggu secara kosmetik.2,7,8
Skin tag biasanya sewarna kulit namun kadang-kadang berwarna coklat tua, mempunyai ukuran diameter sekitar 2 mm sampai dengan 10 mm, berbentuk
pedunkulasi, yaitu merupakan papul jinak yang menonjol dari permukaan kulit, dapat
terlihat sebagai suatu lesi yang tunggal ataupun banyak.
Di Rumah Sakit
Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan dari data rekam medis selama periode
Januari – Desember 2012 dari total 5342 pasien yang berobat ke poliklinik Ilmu
Kesehatan Kulit dan Kelamin, 123 pasien (2,3%) diantaranya didiagnosis dengan skin tag.
1,2,4,7
Skin tag sering dihubungkan dengan beberapa penyakit seperti diabetes mellitus, obesitas, dislipidemia ,aterosklerosis, human papilloma virus (HPV) dan sindroma polikistik ovarium. Juga ditemukan adanya variasi pada level estrogen dan hormon
(TGF) dan epidermal growth factor (EGF) yang dipertimbangkan sebagai salah satu pembentukan skin tag.
Menurut Akpinar dan Dervis (2012) dikatakan diabetes mellitus sangat
signifikan dijumpai pada pasien dengan skin tag daripada kelompok kontrol.
4,9
8
Margolis
dan Margolis (1976) melaporkan adanya hubungan antara skin tag dengan diabetes mellitus. Kahana dkk, (1987) juga menemukan 34,4% pasien skin tag menderita diabetes mellitus atau gangguan metabolisme glukosa.1 Demir dan Demir (2002)
melaporkan 81,7% pasien dengan skin tag ditemukan mengalami gangguan metabolisme glukosa.1,8
Peningkatan kadar glukosa darah puasa dalam serum merupakan salah satu
kriteria untuk mendiagnosis pasien diabetes mellitus.10 Keadaan hiperglikemi ini (kadar
glukosa darah meningkat) dapat terjadi akibat ketidakmampuan insulin untuk
menurunkan konsentrasi glukosa darah (resistensi insulin) sehingga dibutuhkan kadar
insulin yang lebih (hiperinsulinemia) untuk mencapai kadar glukosa darah yang
normal.11 Hasil penelitian Tosson dkk, (2013) menunjukkan bahwa kadar glukosa darah
puasa dan HbA1c (Haemoglobin glikosilat c) signifikan meningkat pada pasien skin tag dibandingkan kontrol.12 Menurut Rasi dkk, (2007) ada korelasi yang positif antara skin tag dengan kadar glukosa darah puasa.13 Menurut Tamega dkk, (2010) jumlah skin tag pada satu individu berhubungan dengan kadar glukosa darah puasa dan IMT (indeks
massa tubuh) namun hal ini masih dalam perdebatan.7 Oleh karena itu peneliti
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana profil kadar glukosa darah pada pasien skin tag? 1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan umum
Untuk mengetahui profil kadar glukosa darah pada pasien skin tag . 1.3.2 Tujuan khusus
Untuk mengetahui karakteristik pasien skin tag berdasarkan umur, jenis kelamin, lokasi dari skin tag, riwayat diabetes mellitus, riwayat keluarga menderita skin tag.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bidang Akademik/Ilmiah
Menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang profil kadar glukosa darah
pada pasien skin tag 1.4.2 Pelayanan Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat
tentang perlunya pemeriksaan kadar glukosa darah khususnya pada pasien
skin tag.
1.4.3 Bidang Pengembangan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi data pada penelitian-penelitian
selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Skin tag
Skin tag merupakan suatu tumor jinak jaringan konektif pada dermis yang merupakan tumor jinak yang paling sering dijumpai. Tumor yang mempunyai
warna yang sama dengan warna kulit, lunak, filiform, dan sering tumbuh di daerah intertriginosa yang berbentuk pedunkulasi 2,3,7,9,14
Skin tag ini sering dihubungkan dengan gangguan sindrom metabolik yang terlihat dengan adanya gejala kutaneus terhadap gangguan karbohidrat atau
metabolisme lipid, abnormalitas enzim hati dan hipertensi.15
2.1.1 Epidemiologi
Skin tag yang disebut juga dengan nama lain yaitu soft fibromas, fibroma molle, fibroepitelial polip atau acrochordon 2,9,16, merupakan tumor yang sering dijumpai, terutama pada usia yang lebih tua, wanita hamil, obesitas dan
diabetes.4,17
Lesi skin tag ini sering ditemukan pada populasi dewasa diatas umur 40 tahun dan peningkatan insiden dijumpai pada umur yang lebih tua, namun
dikatakan usia 50 merupakan turning point terjadinya pertumbuhan skin tag berhenti.2,4,9,18
2.1.2 Etiologi
Etiologi dari skin tag belum diketahui secara pasti. Lebih sering terjadi pada daerah garukan dan sering berhubungan dengan beberapa kondisi, termasuk
acromegali, chron disease, aging, transplantasi organ, polip kolon, kehamilan, infeksi HPV, peningkatan jumlah sel mast, dan juga peningkatan reseptor
androgen dan estrogen serta kadar leptin.
Skin tag juga diduga mempunyai hubungan dengan penyakit diabetes mellitus, obesitas, dislipidemia dan resistensi insulin.
20
Menurut penelitian Demir dan Demir (2001) menyimpulkan bahwa munculnya skin tag kemungkinan merupakan suatu manifestasi klinis yang penting yang mendasari ada terjadinya gangguan metabolisme karbohidrat, oleh
karena itu setiap pasien skin tag harus dievalusi kemungkinan menderita diabetes mellitus.
7,14,16,17,20,21
Skin tag juga diduga dapat terjadi akibat faktor genetik. Faktor genetik merupakan hal yang penting untuk diteliti. Pada suatu penelitian mengatakan
setidaknya setiap dua pasien skin tag merupakan karier skin tag.
1
2,4
Pada sindrom
birt-hogg-dube merupakan suatu genodermatosis yang merupakan penyakit
autosomal dominan, ditandai dengan munculnya tumor-tumor kulit meliputi
multipel fibrofolikuloma, trichosdiscomas dan achrocordon, yang diduga mutasi terhadap suatu gen supresor yang dapat menjadi penyebab terjadinya kelainan
genetik ini.
Adanya iritasi kulit yang sering dan lama diduga merupakan faktor pencetus,
terutama pada pasien obesitas. Ketidakseimbangan hormonal juga dapat
memudahkan untuk terjadinya skin tag, misalnya tingginya kadar estrogen dan
progesterone pada saat hamil, atau terganggunya kadar growth hormone pada penderita acromegali. Para ahli mendapatkan bahwa epidermal growth factor (EGF) dalam transforming growth factor (TGF) mempunyai peranan dalam hal pertumbuhan skin tag.5,17,19
2.1.3 Patogenesis
Ada beberapa pendapat mengenai patogenesis dari skin tag. Terdapatnya beberapa teori yang menyebutkan skin tag terjadi sebagai akibat tekanan yang persisten ataupun dari gesekan yang terus menerus pada daerah permukaan kulit,
terutama pada penderita obesitas, yang menyebabkan gangguan jaringan elastik
kulit.7,15
Mekanisme dasar yang dapat menjelaskan sekelompok kelainan metabolik
pada pasien skin tag adalah keadaan resistensi insulin. Resistensi insulin didefinisikan sebagai suatu keadaan respon yang terganggu terhadap dampak
fisiologis insulin, yang mencakup metabolisme glukosa, lemak dan protein serta
terhadap faal endotel pembuluh darah.9,22 Adanya korelasi positif antara insulin
dan jumlah dari skin tag dimana insulin merupakan hormon yang dapat meningkatkan pertumbuhan jaringan dan stimulasi pengambilan glukosa pada
jaringan, dan ketika terjadi resistensi insulin, akan mengakibatkan sel ini kurang
responsif terhadap hormon sehingga pankreas akan melakukan kompensasi
dengan memulai pembentukan insulin dalam jumlah yang banyak. Adanya suatu
hiperinsulinemia dan peningkatan IGF-1 secara langsung akan menginduksi epitel
dan pertumbuhan fibroblas melalui aktivasi reseptor yang selanjutnya dapat
mengakibatkan hiperplasia epidermal, perubahan endokrin yang dapat
mengakibatkan proliferasi dan pertumbuhan sel inilah mungkin dapat mendasari
pembentukan skin tag.
Pada otot skeletal resistensi insulin berakibat gangguan pengambilan
glukosa serta gangguan pembentukan glikogen. Resistensi insulin di hati
mengakibatkan kegagalan insulin untuk menekan produksi glukosa di hati,
sedangkan di jaringan lemak resistensi insulin akan menyebabkan meningkatnya
lipolisis. Ambilan glukosa di jaringan lemak menurun sebaliknya terjadi
peningkatan pelepasan gliserol dan asam lemak bebas. Hal ini ada kaitannya
dengan timbunan lemak abdomen pada obesitas. Timbunan lemak abdomen akan
memasuki aliran darah vena porta dalam jumlah besar membuat hati akan terpapar
dengan jumlah besar asam lemak bebas mengakibatkan di hati terjadi peningkatan
proses glukoneogenesis serta meningkatnya produksi very low density lipoproteins (VLDL). Peningkatan asam lemak bebas juga mengganggu insulin di hati dan lebih memperhebat hiperinsulinemia dan berpengaruh terhadap
mekanisme pensinyalan di otot skeletal serta menurunkan pengambilan glukosa
dan peningkatan asam lemak bebas di peredaran darah portal (menuju hati) akan
meningkatkan produksi trigliserida , apoprotein B 100 dan VLDL dari hati.
7
22
2.1.4 Gejala Klinis
Skin tag merupakan tumor jinak pada jaringan konektif dermis yang terlihat sebagai tumor yang lunak, pedunkulasi, berwarna seperti warna kulit ataupun
hiperpigmentasi yang terjadi pada daerah pergesekan.
Tumor ini biasanya bersifat asimptomatis, tidak menimbulkan rasa nyeri
jika tidak disertai adanya peradangan dan iritasi. Penderita dapat merasakan gatal
atau perasaan tidak nyaman bila skin tag ini terkena kalung perhiasan atau pakaian. Ada 3 tipe dari skin tag yang dijumpai
15,23,24
19, 25
1. Multiple, 1-2 mm merupakan papul yang berkerut dan terutama pada daerah coli dan axilla.
:
2. Lesi tunggal atau filiform yang multiple , pertumbuhan yang lunak yang terdapat di berbagai tempat, sampai dengan 5 mm.
3. Soliter, pedunkulasi atau pertumbuhan seperti “baglike” biasanya berdiameter sekitar 10 mm tetapi bisa lebih besar, lebih sering pada
tubuh bagian bawah.
Skin tag dapat terjadi dengan lesi tunggal atau banyak dan terutama terjadi pada daerah intertriginosa (axilla, colli, palpebra) juga sering ditemukan pada regio vertebralis, abdomen, lumbalis dan femoralis. 14,18,19,23,24
2.1.5 Gambaran Histopatologi
Pada gambaran histopatologi menunjukkan adanya gambaran papul yang
sedang dan kadang - kadang dijumpai papilomatosis. Pada tangkai jaringan konektif terdiri dari jaringan kolagen longgar dan sering mengandung kapiler
yang berdilatasi yang berisi eritrosit. Pada bentuk pedunkulasi yang lebih besar
secara umum menunjukkan epidermis yang rata yang mendasari serabut kolagen
longgar dan adanya sel yang matur pada bagian tengah. Pada beberapa keadaan
dijumpai adanya sel lemak, mengindikasikan adanya pembentukan lipofibroma,
tetapi diagnosis skin tag ditegakkan terutama secara klinis, pemeriksaan hisopatologi hanya digunakan sebagai konfirmasi.19,25,26
Gambar 2.1(histopatologi skin tag) : a. Skin tag yang berbatasan dengan kulit normal, b. Adanya hiperplasia epidermis dan inflamasi kronis pada dermis atas c. Skin tag dengan adanya hiperplasia epidermis. d. Skin tag dengan sejumlah sel mast.19
2.1.6 Diagnosis Banding
Beberapa diagnosis banding skin tag adalah neurofibromatosis, keratosis seboroika dan veruka.
Neurofibromatosis adalah suatu tumor yang disebabkan adanya kelainan
genetik pada sistem syaraf, mempunyai karakteristik dengan adanya pembentukan
tumor yang bersifat jinak, multipel yang tumbuh pada syaraf, merupakan suatu
tumor dengan kelainan autosomal dominan yang mempunyai 2 tipe, yaitu
neurofibromatosis tipe 1 dan tipe 2. Gambaran klinis dari neurofibromatosis yaitu
adanya bercak pigmentasi pada kulit ( cafe au lait spots).5,19
Keratosis seboroika merupakan suatu lesi hiperkeratotik pada epidermis
yang sering terlihat pada permukaan kulit, mempunyai banyak variasi bentuk
yang berwarna coklat sampai hitam. Lesi mempunyai permukaan yang kasar,
dengan diameter 2 mm - 3 cm dan dapat lebih besar, merupakan suatu makula
hiperpigmentasi sampai bentuk plak, sering dijumpai pada trunkus tetapi juga
pada region fascialis , ekstermitas dan scalp.
Veruka merupakan suatu proliferasi jaringan kulit dan mukosa yang
disebabkan oleh HPV, merupakan suatu lesi papul hiperkeratotik dengan
permukaan yang kasar dan irreguler yang mempunyai diamter 1 mm sampai 1 cm
dan dapat mengenai seluruh bagian tubuh tetapi lesi ini lebih sering mengenai
tangan dan kaki.
5,19
5,19
2.1.7 Pengobatan
Pengobatan untuk skin tag ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, tumor dengan ukuran lebih kecil dengan memakai curved blade scissors dan dengan ukuran yang lebih besar biasanya dilakukan eksisi dengan tindakan bedah
kulit yang sederhana. Untuk skin tag ukuran yang lebih kecil dapat mengaplikasikan ammonium chlorida sehingga dapat mengurangi perdarahan.19 Pengobatan seperti eksisi sederhana, elektrodesikasi dan krioterapi merupakan
Teknik dengan menggunakan gunting (curved blade scissors) dindikasikan untuk lesi pedunkulasi dan juga semua jenis pertumbuhan jaringan kulit
superfisial seperti skin tag, keratosis seboroik papular, nevus sertaveruka dengan diameter lesi yang kecil. Tindakan dengan menggunakan gunting ini dapat
dilakukan pada kelopak mata, leher, ketiak dan paha selain itu juga tergantung
pada ukuran dan morfologi bentuk dari lesi. Dengan menggunakan gunting ini,
pengangkatan lesi pada skin tag dengan jumlah yang banyak dapat dilakukan dengan cepat dengan efek ketidaknyamanan yang kecil, teknik dengan
menggunakan gunting ini dapat dilakukan tanpa anastesi, tetapi pada lesi yang
lebih besar dan dengan dasar yang lebar diperlukan anastesi lokal. Teknik dengan
menggunakan gunting ini merupakan salah satu cara mengangkat skin tag dengan cepat dan mudah.
Elektrodesikasi merupakan salah satu teknik bedah listrik yang bekerja
dengan cara memanaskan sel untuk menghilangkan air sehingga akan
mengakibatkan penghancuran jaringan. Tindakan ini dapat dilakukan dengan tepat
(yaitu melalui percikan kecil elektroda). Banyak ahli dermatologi yang
menggunakan cara ini untuk menghancurkan lesi yang kecil seperti skin tag, chery angioma, keratosis seboroika dan verucca vulgaris.
19
Krioterapi merupakan metode yang sering digunakan untuk
penatalaksanaan lesi kulit yang jinak. Cairan nitrogen ini merupakan alat semprot
yang mudah digunakan dan dengan teknik yang sama banyak digunakan untuk
penatalaksanaan lesi jinak, premaligna ataupun maligna. Dosis dari pemakaian
krioterapi ini tergantung dari besarnya lesi, jenis kulit dan kedalaman lesi.
19
Teknik eksisi ini adalah suatu cara untuk membuang jaringan yang
digunakan untuk lesi yang superfisial, teknik ini memerlukan anastesi lokal dan
jarang mengakibatkan perdarahan yang berlebihan. Teknik eksisi ini memerlukan
keahlian yang baik dan juga waktu tindakan yang lebih lama. Pada eksisi
sederhana biasanya tidak memerlukan anastesi yang banyak pada saat tindakan.19
2.2 Kadar Glukosa Darah
Berdasarkan kriteria WHO (World Health Organization) kadar glukosa darah yang normal adalah jika kadar glukosa darah puasa 70-110 mg/dl, glukosa
darah terganggu jika kadar glukosa darah puasa antara 110 -125 mg/dl, sedangkan
toleransi glukosa terganggu adalah kadar glukosa darah sesudah pembebanan
glukosa 75 gr yaitu antara 140-199 mg/dl.Sedangkan berdasarkan tabel konversi
sistem satuan SI konvensional dari pemeriksaan alat Thermo® kadar glukosa
darah puasa normal adalah 55 - 115 mg/dl. Kadar glukosa darah puasa rendah
adalah < 55 mg/dl. Kadar glukosa darah puasa tinggi (terganggu) adalah 115-125
mg/dl. Kadar glukosa darah puasa ≥ 126mg/dl (diabetes).
Peningkatan kadar glukosa darah merupakan salah satu kriteria untuk
mendiagnosis pasien diabetes mellitus.
11
10
Menurut American Diabetes Association (ADA) disebut diabetes mellitus jika kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl, atau
bila kadar glukosa darah 2 jam sesudah pembebanan glukosa 75 g didapati ≥ 200
mg/dl.18
Keadaan hiperglikemi (kadar glukosa darah meningkat) dapat terjadi
akibat ketidakmampuan insulin untuk menurunkan konsentrasi glukosa darah
(hiperinsulinemia) untuk mencapai kadar glukosa darah yang normal.3,11,27
Adanya suatu keadaan hiperinsulinemia ini akan mengakibatkan
peningkatan pembentukan IGF-1 dan penurunan IGFBP-3 yang bertanggung
jawab terhadap gen transkripsi anti proliferatif. Adanya hiperinsulinemia dan
peningkatan IGF-1 secara langsung akan menginduksi epitel dan pertumbuhan
fibroblas melalui aktivasi reseptor yang selanjutnya dapat mengakibatkan
hiperplasia epidermal, perubahan endokrin yang dapat mengakibatkan proliferasi
dan pertumbuhan sel, inilah mungkin dapat mendasari pembentukan skin tag.
2.3 . Kerangka Teori
Gambar 2.2 Kerangka Teori
Iritasi dan tekanan
2. 4. Kerangka Konsep
Gambar 2.3 Kerangka Konsep
Skin tag
BAB III
METODE PENELITIAN
3. 1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini adalah merupakan suatu studi deskriptif dengan rancangan
potong lintang (cross sectional) 3. 2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian direncanakan dilakukan mulai bulan Agustus 2014 sampai
jumlah sampel terpenuhi, bertempat di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP
Haji Adam Malik Medan dan pemeriksaan darah dilakukan di
laboratorium klinik Gatot Subroto Medan
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
3.3.1 Populasi target
Pasien yang menderita skin tag. 3.3.2 Populasi terjangkau
Pasien yang menderita skin tag yang berobat ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Haji Adam Malik Medan
3.3.3 Sampel
Populasi terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
3.4. Kriteria inklusi dan eksklusi
3.4.1 Kriteria inklusi
1. Pasien yang berumur 18 - 75 tahun
3.4.2 Kriteria eksklusi
1.Pasien dengan obesitas berdasarkan IMT ( Indeks Massa Tubuh)
2.Pasien wanita dengan kehamilan
3.Pasien yang sedang dalam pemakaian obat diabetes mellitus
± 2 minggu.
3.5 Besar Sampel
Untuk menghitung besar sampel maka digunakan rumus : 28
Rumus :
d : presisi atau tingkat ketetapan absolut yang dikehendaki, ditetapkan
20%
3. 6 Cara Pengambilan Sampel Penelitian
Sampel penelitian diambil dengan cara consecutive sampling 3 . 7 Cara Kerja
3. 7.1 Pencatatan Data Dasar
Pencatatan data dasar dilakukan oleh peneliti di Poliklinik Kulit
dan Kelamin RSUP Haji Adam Malik Medan.
1. Pencatatan data dasar meliputi identitas penderita, anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan dermatologis, IMT
(menggunakan alat timbangan untuk berat badan dan pengukur
tinggi badan).
2. Data yang diperoleh dimasukkan ke dalam suatu tabel
distribusi berdasarkan kadar glukosa darah puasa dalam pasien
skin tag.
3.7.2 Cara Pengambilan Sampel Darah :
3.7.2.1 Persiapan Penderita
Sebelum dilakukan pemeriksaan pasien puasa selama 8-12 jam,
kemudian pada hari berikutnya pasien datang ke laboratorium
dalam keadaan puasa untuk diambil darahnya.
3.7.2.2 Pengambilan Darah Vena :
a. Penderita dalam keadaan duduk atau berbaring.
b. Memasang ikatan pembendung pada lengan atas dan pasien
diminta mengepal agar vena terlihat jelas.
c. Tempat yang akan ditusuk dibersihkan dengan alkohol 70% dan
d. Kulit ditusuk dengan ujung jarum sampai ujung jarum masuk
lumen vena.
e. Ikatan pembendung dilepas atau diregangkan dan ditarik
perlahan-lahan sampai didapatkan darah yang dikehendaki.
f. Ikatan pembendung dilepas jika masih terpasang
g. Jarum dicabut dan bekas tusukan ditutup dengan kapas alkohol
lalu ditekan, ditutup dengan plester.
3.7.2.3 Pembuatan Serum
a. Sampel darah yang diperoleh dimasukkan kedalam tabung
centrifuge yang sudah diberi kode dan dibiarkan membeku 2-5 menit
b. Sampel darah yang sudah membeku diputar dengan menggunakan
centrifuge selama 10 menit dengan kecepatan 4000 rpm.
c. Serum diambil dan dimasukkan kedalam cup sampel yang sudah diberi kode pasien kemudian siap untuk diperiksa kadar glukosa
darah.
3.7.2.4 Pemeriksaan Kadar Glukosa Darah
Sampel serum yang diperoleh dimasukkan bersama dengan reagen
ke dalam alat Thermo®, dengan panjang gelombang 340-380 nm,
pemeriksaan dilakukan kemudian diperoleh hasil kadar glukosa
3.8 Defenisi operasional
3.8.1 .Umur
Umur pasien yang dihitung berdasarkan tanggal lahir,bulan dan tahun
sesuai yang tercatat pada rekam medis apabila lebih besar dari 6 bulan
dilakukan pembulatan ke atas dan apabila lebih kecil dari 6 bulan
dilakukan pembulatan ke bawah.
3.8.2 Skin tag
Skin tag ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis. Lesi berupa tumor yang menyerupai warna kulit, lunak, pedunkulasi, berwarna
seperti warna kulit ataupun hiperpigmentasi, tidak menimbulkan rasa
nyeri jika tidak disertai peradangan atau iritasi.
3.8.3 Kadar Glukosa Darah puasa
Adalah kadar glukosa yang terdapat dalam darah yang diperoleh dari
pemeriksaan darah serum subyek penelitian yang sebelum pemeriksaan
telah berpuasa selama 8-12 jam. Serum yang diperoleh dimasukkan
bersama dengan reagen ke dalam alat Thermo®, dengan panjang
gelombang 340-380 nm, dari hasil pemeriksaan diperoleh kadar
glukosa darah puasa. Hasil yang diperoleh dengan nilai rujukan, kadar
glukosa darah puasa rendah adalah < 55 mg/dl , kadar glukosa darah puasa
normal adalah 55 - 115 mg/dl, kadar glukosa darah puasa tinggi
(terganggu) adalah 115-125 mg/dl, kadar glukosa darah puasa ≥ 126mg/dl
3.8.4 Obesitas
Penilaian berdasarkan klasifikasi IMT yang menjadi standar penentuan
obesitas dengan perhitungan dari berat badan (kg) dibagi tinggi badan (m2)
atau IMT= BB/(TBxTB). Alat yang digunakan adalah timbangan berat
badan dengan merk Camry® dan pengukur tinggi badan dengan merk
Goldfish®. Pasien dinyatakan obesitas jika IMT ≥ 30, IMT 25-29,99
dinyatakan kelebihan berat badan, normal jika IMT 18,5-24,99 dan kurang
jika IMT < 18,5.3,4,29
3.8.5 Pasien wanita dengan kehamilan
Adalah keadaan hamil yang dketahui berdasarkan anamnesis dari subyek
penelitian
3.8.6 Pasien yang sedang dalam pemakaian obat diabetes mellitus
Adalah pasien yang sedang menggunakan obat-obat diabetes mellitus
dalam waktu ± 2 minggu (berdasarkan anamnesis) yang berfungsi untuk
menurunkan kadar gula darah.
3.8.7 Riwayat diabetes mellitus
Diketahui berdasarkan anamnesis dari subyek penelitian.
3.8.8 Riwayat keluarga skin tag
Diketahui berdasarkan anamnesis dari subyek penelitian mengenai
anggota keluarga (ayah, ibu, saudara kandung) yang juga menderita
3.9 Kerangka Operasional
Gambar 3.1. Kerangka Operasional
3.10 Pengolahan dan analisis data
Data-data yang terkumpul kemudian diolah menggunakan program
komputer dan selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi
karakteristik skin tag berdasarkan kadar glukosa darah dan dianalisa secara deskriptif.
Pasien yang datang ke Poliklinik Kulit dan
Kelamin
Anamnese, pemeriksaan klinis
skin tag
Pencatatan data
Disajikan dalam tabel distribusi
Pemeriksaan KGD Puasa Memenuhi kriteria
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Karakteristik Subyek Penelitian
Pada penelitian ini telah dilakukan pemeriksaan pada pasien skin tag yang berjumlah 32 orang.
4.1.1 Subyek penelitian berdasarkan umur
Tabel 4.1. Distribusi subyek penelitian berdasarkan kelompok umur
Umur (Tahun) n %
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar pasien skin tag dengan kelompok umur 29 - 39 tahun (34,4%) diikuti dengan kelompok umur 40 - 50 tahun (28,1%), kelompok umur 51 - 61 tahun (18,8%),dan kelompok
umur 62-72 tahun (15,6%) sedangkan persentase terkecil dijumpai pada kelompok
umur 18 - 28 tahun (3,1%). Hal ini menunjukkan bahwa pasien skin tag sering terjadi pada usia pertengahan dan usia tua. Skin tag (arcochordon) adalah tumor
jinak yang sering terjadi pada usia pertengahan dan usia tua.24,27
Berdasarkan data statistik tahun 2006 di Brazil lesi skin tag sering terjadi pada usia > 40 tahun yaitu sekitar 46% dan insidensinya meningkat pada usia tua
yaitu usia 70 tahun mencapai 59%.
7
Hal ini sesuai dengan penelitian Tamega
Menurut penelitian Thappa (1995) angka kejadian skin tag meningkat dengan bertambahnya usia.16 Penelitian Banik dan Lubach (1987) menunjukkan
angka kejadian skin tag meningkat dengan bertambahnya usia 40-49 tahun (55%), usia 50-59 tahun (59%), dan lebih dari 70 tahun (59%).2 Penelitian Omar (2011)
yang dilakukan di Kairo usia 40 tahun (60%) didapati menderita skin tag.17
4.1.2 Subyek penelitian berdasarkan jenis kelamin.
Tabel 4.2. Distribusi subyek penelitian berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin n %
Laki-laki 8 25
Perempuan 24 75
Total 32 100
Berdasarkan jenis kelamin maka skin tag lebih banyak dijumpai pada perempuan dari pada laki-laki (75%).
Menurut Waisman (1957) dijumpai bahwa skin tag 2 kali lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan laki-laki.2 Berdasarkan penelitian Tamega dkk,
(2010) pasien skin tag dominan dijumpai pada wanita.7
Berbeda dengan hasil penelitian El Safaoury (2011) yang dilakukan di
Rumah Sakit Universitas Kairo dikatakan tidak ada perbedaan yang signifikan
antara jenis kelamin wanita (53%) dengan pria (43%).
16
4.1.3 Subyek penelitianberdasarkan riwayat diabetes mellitus pasien skin tag Tabel 4.3. Distribusi subyek penelitian berdasarkan riwayat diabetes mellitus
Riwayat Diabetes Mellitus n %
Ada 4 12,5
Tidak ada 28 87,5
Tabel di atas menunjukkan bahwa penderita skin tag umumnya tidak ada riwayat menderita diabetes mellitus (87,5%).
Berdasarkan penelitian Erkek dkk, (2011), secara analisa statistik tidak ada
perbedaan yang signifikan antara pasien skin tag dengan riwayat diabetes mellitus
(20,7%) dibandingkan dengan kontrol (20,8%).22 Berdasarkan penelitian
El Safoury dan Ibrahim (2011) dikatakan bahwa prevalensi skin tag sering terjadi pada penderita diabetes mellitus (60,5%) dibandingkan pada pasien yang tidak
menderita diabetes mellitus(58%).1 Menurut penelitian Bhargava (1996) di India
ditemukan adanya peningkatan pasien skin tag pada penderita diabetes mellitus (26%) dengan Gangguan Toleransi Glukosa (48%).14 Menurut penelitian Shah
(2014) skin tag signifikan meningkat pada penderita diabetes mellitus (51%).30
4.1.4 Subyek penelitianberdasarkan riwayat keluarga pasien skin tag
Tabel 4.4. Distribusi subyek penelitian berdasarkan riwayat keluarga pasien skin tag
Sebagian besar pasien ada riwayat keluarga (ibu, bapak, ibu dan bapak,
ibu dan adik) yang menderita skin tag (56,2%). Menurut Banik dan Lubach (1987) dikatakan dijumpai 46% skin tag bawaan pada 750 orang tanpa diseleksi (25% laki-laki dan 21% perempuan).2 Berdasarkan penelitian Erkek dkk, (2011)
pasien skin tag.22 Pada penelitian El Safaoury (2011) di Kairo menemukan tidak ada perbedaan yang signifikan antara penderita skin tag yang mempunyai riwayat keluarga dengan yang tidak mempunyai riwayat keluarga yang menderita
skin tag.17
4.1.5 Subyek penelitianberdasarkan lokasi skin tag
Tabel 4.5. Distribusi subyek penelitian berdasarkan lokasi lesi
Lokasi n %
Regio Palpebra superior sinistra 3 9,4
Regio Palpebra inferior sinistra Regio Palpebra superior et inferior sinistra
Berdasarkan lokasi penyakit yaitu yang terbanyak pada regio colli (62,5%), diikuti dengan regio palpebra (superior,inferior) sinistra (28,2%), sedangkan terendah dijumpai pada regio axilla, lumbalis dan inguinalis masing-masing (3,8%).
Skin tag dapat tumbuh pada daerah lipatan kulit/daerah yang sering mengalami gesekan, terutama pada regio coli, palpebra, axilla dan ingunal namun kadang-kadang dapat juga terjadi pada daerah thoraks.
Hal ini sesuai dengan penelitian Galardi dan Rajab bahwa dikatakan
daerah yang paling sering terjadi skin tag adalah regio colli dan area fleksural lainnya.
1-7,31
29
Berdasarkan penelitian Tamega dkk,(2010) dari 98 pasien, lesi skin tag dijumpai 85,7% pada daerah coli, 62,2% pada daerah axilla dan 28,6% dijumpai
pada daerah lain. Sedangkan 53,1% , lesi skin tag dijumpai pada regio colli dan axilla.7 Penelitian Bhargava (1996) di India ditemukan lokasi lesi skin tag paling banyak dijumpai pada regio colli (90%), axilla (38%) dan palpebra (34%).14 Penelitian Shah (2014) di India juga menemukan lokasi lesi skin tag sering terjadi pada regio colli (42%), axilla (25%), vertebralis (12%), genital (9%) dan ekstremitas (3%).30
4.2. Profil kadar glukosa darah puasa pada pasien skin tag Tabel 4.2.1 Profil kadar glukosa darah puasa pada pasien skin tag
Kadar Glukosa Darah Puasa n %
Tabel di atas menunjukkan bahwa umumnya pasien skin tag mempunyai kadar glukosa darah puasa dalam batas normal yaitu 55 - 115 mg/dl (84,4%).
Menurut hasil penelitian Gorpelioglue, (2009) tidak dijumpai peningkatan
IMT, peningkatan kadar glukosa darah puasa dan peningkatan HBA1c pada
pasien skin tag.12
Berdasarkan penelitian Hegazy dkk,(2013) dijumpai 90% pasien skin tag yang ikut dalam penelitian ditemukan kadar glukosa darah dan HBA1c yang
normal.
9
Sedangkan berdasarkan penelitian Salem dkk, (2013) juga dikatakan
penelitian Tosson dkk, (2013) menunjukkan bahwa kadar glukosa darah puasa
dan HbA1C signifikan meningkat pada pasien skin tag dibandingkan kontrol.12
Menurut skin tag dengan kadar
glukosa darah puasa.13 Menurut Tamega dkk, (2010) jumlah skin tag pada satu individu berhubungan dengan kadar glukosa darah puasa dan IMT namun hal ini
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Profil pasien skin tag umumnya mempunyai kadar gula darah puasa normal (84,4%).
2. Karakteristik pasien skin tag adalah terbanyak pada kelompok pada umur 29 - 39 tahun (34,4%), umumnya dijumpai pada perempuan (75%) dan
tidak ada riwayat menderita diabetes mellitus (87,5%), sebagian besar ada
riwayat keluarga yang menderita skin tag (56,2%), lokasi lesi terbanyak dijumpai pada regio coli (62,5%).
5.2 Saran
1. Penelitian ini dapat dilanjutkan dengan meneliti faktor-faktor lain yang
kemungkinan dapat menimbulkan terjadinya skin tag.
2. Penelitian ini dapat dilanjutkan pada pasien diabetes mellitusyang menderita
DAFTAR PUSTAKA
1. Demir S, Demir Y. Acrochordon and impaired carbohydrate metabolism. Acta Diabetol .2002;39:57-9.
2. Banik R, Lubach D. Skin tag: localization and frequencies according to sex and age. Dermatologica.1987;174:180-3.
3. Sudy E, Urbina F, Maliqueo M, Sir T. Screening of glucose/insulin metabolic alterations in men with mutiple skin tag on the neck. JDDG 2008;6:852-5.
4. Bosseila M, Shaker O. The tissue expression of insulin-like growth factor (IGF-I) in acrochordons. J Egypt wom Dermatol Soc.2007;4:57–62.
5. Harting M, Hicks MJ, Levy ML. Dermal hypertrophies. Dalam: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ,editor. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. Edisi ke-7. New York: McGraw-Hill; 2008. h.550-6.
6. Hattem SV, Bootsma AH, Thio HB. Skin manifestations of diabetes. Cleveland Clinic Journal of Medicine.2008;75(11):772-87.
7. Tamega AA, Aranha AM, Guiotoku MM,Miot LD, Miot HA. Association between skin tags and insulin resistance. An Bras Dermatol 2010;85(1):25-31.
8. Akpinar F, Dervis E. Association between acrochordons and the components of metabolic syndrome. Eur J Dermatol .2012;22(1):106-10 9. Hegazy SK, El-Ashmawy NE. Leptin and c-reactive protein are implicated
in pathogenesis of skin tag. Journal of Diabetes Research & Clinical Metabolism.2013: 2-5.
10.Suheyla S. The frequency of superficial fungal infection in patients with diabetes mellitus and its relation to the level of HBA1c. Turkish J Endocrinol Metab 1998;2:21-3
11.Merentek E. Resistensi Insulin Pada Diabetes Mellitus Tipe 2. Cermin Dunia Kedokteran.2006; 150: 38-41
12.Tosson Z, Ibrahim SA, Kandil AH, Husam M. Relationship between skin tags, leptin hormone and metabolic disturbance. Egypt Dermatol Ol Journal.2013; 9(2):1-12
13.
for impaired carbohydrate metabolism: a case-control study. Int J dermatol 2007, 46(11):1155-9
14.Bhargara P, Mathur D. Acrochordon, diabetes and associations. Indian J Dermal Venereol Leprol. 1996;62:226–8
15.Gorpelioglu C, Erdal E, Ardicoglu Yetal. Serum leptin, atherogenic lipids and glucose levels in patients with skin tag. Indian J Dermatol 2009; 54(1) :20-2
16.El Safoury OS, Ibrahim M. A clinical evaluation of skin tag in relation to obesity, tipe 2 diabetes mellitus, age and sex. Indian J Dermatol 2011;56(4) : 393-7
18.Erdogan BS, Aktan S, Ergin S. Skin tags and atherosclerotic risk factors. J Dermatol 2005;32:371-5.
19.Schwartz RA. Acrochordon. Available at:
http://emedicine.medscape.com. Accessed Sept, 2014
20.Crook M A. Skin tag and atherogenic lipid profile. J clin path 2000; 53:873 – 4
21.Sari R, Akman A, Alpsoy E. The metabolic profile in patiens with skin tags. Clin Exp Med 2010;10:193-7
22.Erkek E, U Kasi, Y Bagci, H Sezikli. Leptin resistance and genetic predisposition as potential mechanism in the development of Skin tag. Hong Kong J Dermatol Venerol. 2011;19:108-14
23.Omar El Safoury, Fawzi M, Hay RMA, Hassan AS, Maadawi ZE , Rashed L. Increased tissue leptin hormone level and mast cell count in skin tag : a possible role of adipoimmun in the growth of benign skin growths. Indian J Dermatol Venerol Leprol .2010; 76(5): 538-42.
24.Zaher H, El Safoury OS, El Komy MM, Mahmoud SB, Abd El Hamid H. Study of mast cell count in Skin tag. Indian J Dermatol. 2007;52:184-7. 25.Heenan PJ. Tumors of fibrous tissue involving the skin. Dalam : Elder DE,
editor. Lever’s Histopathology of the Skin. Lippincott Williams & Wilkins. 2005. h. 980-1013.
26.Amal AA, Hessa Al Buanian Skin tag in relation with Human papilloma virus. The Gulf Journal of Dermatology.2005;12(2):31-3.
27.
between lesional mast cell count/tryptase expression and obesity and dyslipidemia. Indian Journal of Dermatol. 2013; 58 (3): 240.
28.Madiyono B, Moeslichan Mz S, Sastroasmoro S, Budiman I, Purwanto SH. Perkiraan Besar Sampel. Dalam : Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar – dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta. Sagung Seto. 2011.Ed.4. h.348-90.
29.Khullar K, Agarwal A, Plessis du SS. A Hormonal, Physical, and Proteomic View of Obesity-Induced Effects on Male Infertility and Possible Lifestyle Modifications. Asian Pasific Journal of Reproduction.2012:160-8
30.Shah R, Jindal A, Patel NM. Achrocordon as Cutaneus Sign of metabolic Syndrome: a Case- Control Study. Annals of Medical and Health sciences Research.2014;4(2):202-5
31.El Safoury OS, Fawzy MM Hay RM, Hassan AS, El Maadawi ZM and Rashed LA. The possible role of trauma in skin tag through release of mast cell mediator. Indian J Dermatol. 2011;56:641-6
32.
lipid profile levels between skin tags affected people and normal population in Tehran, Iran.
33.
Adv Biomed Res. 2014;3:109.
34. Quantitation of Mast Cells and Collagen Fibers In Skin Tags. Indian J Dermatol. 2009; 54(4):319–22.
LAMPIRAN 1.
NASKAH PENJELASAN KEPADA PASIEN Selamat pagi/siang.
Perkenalkan nama saya dr. Riana Miranda Sinaga, SpKK. Saat ini saya
sedang menjalani Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik di
Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara. Untuk memenuhi salah satu persyaratan menyelesaikan
pendidikan program magister yang sedang saya jalani, saya melakukan penelitian
dengan judul “ Profil Kadar Glukosa Darah pada Pasien Skin Tag”.
Skin tag adalah suatu tumor jinak dari jaringan kulit yang paling sering
dijumpai, yang mempunyai warna yang sama dengan warna kulit, lunak sering
tumbuh bertangkai dan sering dijumpai pada daerah lipatan kulit. Adapun tujuan
penelitian saya adalah untuk mengetahui karakteristik pasien skin tag yang biasanya banyak hal yang mempengaruhi, dengan tujuan umum adalah untuk
mengetahui profil kadar glukosa darah pada pasien skin tag, serta tujuan khusus adalah untuk mengetahui karakteristik penyakit skin tag berdasarkan umur, jenis kelamin, lokalisasi dari skin tag, riwayat diabetes mellitus, riwayat keluarga menderita skin tag. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah untuk membuka wawasan kita mengenai kadar glukosa darah yang dapat mempengaruhi timbulnya
skin tag. Jika Bapak/Ibu/Kakak/Adik/Saudara/i bersedia untuk ikut serta dalam penelitian ini, maka saya akan melakukan tanya jawab terhadap
Bapak/Ibu/Kakak/Adik/Saudara/i untuk mengetahui identitas pribadi secara lebih
lengkap, serta pengambilan darah dari pembuluh darah balik lengan bawah.
menggunakan jarum suntik 5 ml. Pengambilan darah ini akan menimbulkan
sedikit rasa sakit namun diharapkan tidak akan menimbulkan akibat yang
membahayakan jiwa. Jika Bapak/Ibu/Kakak/Adik/Saudara/i mengeluh adanya
lebam, bercak-bercak atau pembengkakan berwarna merah yang terasa gatal atau
nyeri, pusing (sakit kepala), demam, lemas (perasaan ingin pingsan), atau
perdarahan yang tidak berhenti pada lokasi pengambilan darah, maka
Bapak/Ibu/Kakak/Adik/Saudara/i dapat segera menghubungi saya melalui telepon
di 0811611181 atau di alamat : Komplek Taman Setia Budi Indah Blok G No.39 ,
atau pergi ke rumah sakit terdekat dengan terlebih dahulu menghubungi saya.
Darah yang telah diambil selanjutnya akan dibawa ke Laboratorium Klinik
Gatot Subroto Medan untuk dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah. Peserta
penelitian tidak akan dikutip biaya apapun dalam penelitian ini. Kerahasiaan
mengenai penyakit yang diderita peserta penelitian akan dijamin.
Keikutsertaan Bapak/Ibu/Kakak/Adik/Saudara/i dalam penelitian ini
adalah bersifat sukarela. Atas keikutsertaan Bapak/Ibu/Kakak/Adik/Saudara/i
dalam penelitian ini saya memberikan makanan sebagai ucapan terima kasih saya.
Bila tidak bersedia, Bapak/Ibu/Kakak/Adik/Saudara/i berhak untuk menolak
(menolak anaknya) diikutsertakan dalam penelitian ini dan jika bersedia serta
menyetujui pemeriksaan ini, mohon untuk menandatangani formulir persetujuan
ikut serta dalam penelitian. Jika Bapak/Ibu/Kakak/Adik/Saudara/i masih
memerlukan penjelasan lebih lanjut dapat menghubungi saya.
Terima kasih.
LAMPIRAN 2.
PERSETUJUAN IKUT SERTA DALAM PENELITIAN Setelah mendapat penjelasan, saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : ………
Jenis kelamin* : Laki-laki / perempuan
Umur : ………
Alamat : ………..…………,
selaku orang tua/keluarga dari* :
Nama : ………
Jenis kelamin* : Laki-laki / perempuan
Umur : ………
Alamat : ………
dengan ini menyatakan secara sukarela SETUJU untuk ikut serta dalam penelitian
dan mengikuti berbagai prosedur pemeriksaan seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya. Demikianlah surat pernyataan persetujuan ini dibuat dengan
sebenarnya dalam keadaan sadar tanpa adanya paksaan dari siapapun.
Medan, 2014
Dokter pemeriksa Yang menyetujui
(dr. Riana Miranda Sinaga, SpKK) ( )
LAMPIRAN 3.
Tempat tanggal lahir (hari, bulan, tahun) :
Jenis kelamin : Laki-laki Perempuan
Riwayat perjalanan penyakit :
Riwayat penyakit keluarga :
Riwayat penyakit terdahulu :
PEMERIKSAAN FISIK Status generalisata
Keadaan umum :
• Kesadaran :
• Tekanan darah :
• Frekuensi nadi :
• Suhu :
• Frekuensi pernafasan :
Keadaan Spesifik :
• Kepala :
• Leher :
• Toraks :
• Abdomen :
• Genitalia :
• Ekstremitas :
• Lokasi :
Status dermatologikus
IMT = BB kg /(TBxTB) m
PENGUKURAN INDEKS MASA TUBUH (IMT):
2
:
DIAGNOSIS BANDING :
DIAGNOSIS KERJA :
LAMPIRAN 5
No Nama Umur
(tahun) Jenis Kelamin
Lokasi dari skin tag Riwayat
22 A D 51 Perempuan Coli Ada Ibu 220 1.6 70 27.34375
23 DD 37 Perempuan Coli tidak ada Ibu 97 1.58 65 26.03749
24 NS 60 Perempuan Coli tidak ada tidak ada 83 1.6 67 26.17188
25 W 43 Perempuan Coli tidak ada Ibu 95 1.58 45 18.02596
26 N 37 Perempuan Coli tidak ada Bapak 75 1.58 53 21.23057
27 DP 45 Laki-laki Coli Ada Bapak 236 1.6 67 26.17188
28 DIS 40 Laki-laki Coli tidak ada tidak ada 72 1,68 70 24.80159
29 JB 60 Laki-laki Coli tidak ada tidak ada 81 1,65 58 21.30395
30 DC 43 Perempuan Coli tidak ada tidak ada 92 1,67 65 23.30668
31 Y 37 Perempuan Coli tidak ada tidak ada 77 1,58 65 26.03749
LAMPIRAN 6
Kelompok Umur
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid Ada 4 12,5 12,5 12,5
tidak ada 28 87,5 87,5 87,5
Total 26 100,0 100,0 100,0
Riwayat skin tag pada riwayat keluarga
Frequency Percent Valid Percent
Lokasi skin tag
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
LAMPIRAN 7
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Data Pribadi
1. Nama : dr. Riana Miranda Sinaga,SpKK
2. Tempat & Tanggal Lahir : Medan, 7 April 1981
3. Usia : 33 tahun
4. Jenis Kelamin : Perempuan
5. Status : Menikah
6. Pendidikan : Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan
Kulit & Kelamin
7. Agama : Islam
8. Kebangsaan : Indonesia
9. Alamat : Komplek Taman Setia Budi Indah Blok.G
No.39 , Medan
10. Telepon / HP : 0811611181
Pendidikan Formal
1. SD : SD Harapan 1 Medan
2. SMP : SMP Harapan 1 Medan
3. SMA : SMU Negeri 1 Medan
4. S1 : Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara