PRINSIP-PRINSIP PEMISAHAN BIOPRODUK (BE3204)
EVALUASI TRANSFER MASSA DAN SCALE-UP EKSTRAKSI FLUIDA SUPERKRITIS (EFS) MINYAK ZAITUN
Tuah Fredy Yap (11213006), Elisa Frederica Siburian (11213007), Veronica Grace (11213032), Jovi Ananta Pratama Bangun (11213037)
Program Studi Rekayasa Hayati, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati
Institut Teknologi Bandung, Jalan Raya Jatinangor KM 20,75 Jawa Barat 45363, Indonesia Abstract
The use of supercritical fluid extraction (SFE) is increasing in extractive industries
replacing conventional extraction process. The latest experiment were performed to
determine efficiency of Countercurrent SFE system using different random packings in terms
of the NTU and HTU value of olive oil pilot plant scale extraction. Fenske rings showed the
best results in terms of efficiency and performance of sterol and vitamin E separation for the
CC SFE of olive oil. Scale-up process of olive oil extraction can be achieved by using
equilibrium phase and mass transfer data obtained in experiment to solve mass balance in
overall extraction unit and finally scale-up criteria dan height of column in large scale can
be calculated.
Keywords : supercritical, extraction, olive oil, carbon dioxide, scale-up
Abstrak
Penggunaan ekstraksi fluida superkritis (EFS) mulai meningkat pada berbagai industri ekstraktif menggantikan proses ekstraksi konvensional. Percobaan terkini yang telah dilakukan dalam menentukan efisiensi sistem EFS Countercurrent menggunakan berbagai jenis unggun dalam bentuk nilai NTU dan HTU dilakukan pada skala pilot plant menggunakan minyak zaitun sebagai bahan bakunya. Penggunaan unggun tipe Fenske rings memiliki efisiensi dan performa terbaik dalam proses pemisahan sterol dan vitamin E pada sistem EFS CC. Proses scale-up ekstraksi minyak zaitun dapat dilakukan dengan menentukan data fasa kesetimbangan dan transfer massa yang didapat pada eksperimen kemudian digunakan untuk menyelesaikan neraca massa pada keseluruhan unit ekstraksi sehingga didapatkan kriteria scale-up dan tinggi kolom yang baik digunakan pada skala besar.
Pendahuluan
Dewasa ini produksi berbagai produk berbasis bahan alam dalam industri ekstraktif menjadi salah satu kegiatan yang meningkat seiring peningkatan kebutuhan pada berbagai sektor seperti obat-obatan, makanan, dan bahan-bahan kimia. Proses ekstraksi menjadi salah satu unit proses yang digunakan dalam menghasilkan produk dengan kualitas dan kuantitas yang tepat. Penggunaan pelarut dalam proses ekstraksi merupakan salah satu hal krusial yang perlu dipertimbangkan penggunaannya pada skala industri. Sekitar 70% biaya operasi dalam proses industri digunakan untuk penyediaan bahan baku, salah satunya untuk penyediaan pelarut. Permasalahan lain yang dapat timbul dalam penggunaan pelarut organik secara umum adalah adanya kemungkinan pelepasan uap beberapa contoh pelarut yang bersifat toksik dan membahayakan kesehatan manusia, seperti heksana, kloroform, benzena, dietil eter. Oleh sebab itu, penggunaan pelarut yang tepat perlu dipertimbangkan untuk menciptakan proses produksi yang efisien dan aman.
Penggunaan ekstraksi dengan cairan superkritis atau disebut supercritical fluid extraction (EFS) mulai meningkat pada berbagai industri ekstraktif yang menggantikan proses ekstraksi konvensional seperti ekstraksi cair-cair dan ekstraksi padat (Hedrick, dkk., 1992). Cairan superkritis mulai digunakan dalam industri ekstraksi, purifikasi, dan rekristalisasi akibat adanya berbagai kebijakan mengenai isu lingkungan yang timbul dari penggunaan pelarut konvensional (Nahar dan Sarker, 2005). Beberapa contoh senyawa yang dapat digunakan untuk membuat cairan superkritis adalah CO2, air, amonia sesuai dengan nilai temperatur dan
tekanan kritisnya (McHugh dan Krukonis, 2013).
Ekstraksi menggunakan cairan superkritis CO2 merupakan salah satu aplikasi proses
ekstraksi yang umum digunakan dalam mengisolasi minyak atsiri dari berbagai bahan alam (Reverchon, 1997). Penggunaan cairan superkritis CO2 sebagai pilihan pelarut memiliki
beberapa keuntungan seperti non-toksik, tidak mudah terbakar, murah, dapat dioperasikan pada suhu rendah, mudah dipisahkan dan selektivitasnya tinggi (Hurtado-Benavides, dkk., 2004). Aplikasi dari ekstraksi dengan cairan superkritis CO2 dapat dilakukan pada kolom
matematika yang dapat memprediksi perilaku sistem pada berbagai faktor yang mempengaruhi proses ekstraksi (Hurtado-Benavides, dkk., 2014). Oleh sebab itu, di dalam studi ini dilakukan proses optimasi untuk meningkatkan efisiensi proses ekstraksi menggunakan cairan superkritis CO2 pada bahan alam berupa minyak zaitun.
Minyak Zaitun (Olive Oil)
Tabel 1. Karakteristik minyak zaitun (Esquivel dkk., 1999)
Karakteristik Nilai
Densitas pada suhu 15,5 0C 0,9150-0,9180 g/mL
Viskositas pada suhu 20 0C 84 mPa.s (84 cP)
Kalor Jenis 2,0 J/g.0C
Konduktivitas Termal pada suhu 20 0C 0,17
Kapasitas Panas Volumetrik pada suhu 20 0C 1,65 x 106 J/m3 Konduktivitas Termal pada suhu 20 0C 10 x 10-8 m2/s
Titik didih 299 0C
Energi per satu sendok makan minyak zaitun 28 J
Ekstraksi Fluida Superkritis (EFS)
Esktraksi Fluida Superkritis (EFS) merupakan metode ekstraksi menggunakan fluida superkritis sebagai solven. Fluida superkritis merupakan fluida yang telah melewati titik kritis pada diagram fasa (Gambar 1).
Gambar 1. Tahap keadaan superkritis untuk komponen murni
tinggi dapat dimasukkan dari tengah atau atas kolom sementara solven dengan densitas lebih rendah dimasukkan dari bawah kolom. Proses kontinyu ini memiliki biaya yang lebih rendah daripada ekstraksi dari matriks padatan. Seperti pada kolom countercurrent pada umumnya, kontak antar fasa disediakan oleh material jejal atau unggun acak atau terstruktur. Ekstrak dan solven keluar dari bagian atas kolom sementara material yang lebih besar atau rafinat dikumpulkan dari bawah (Martinez dan Vance, 2008).
Eksperimen Ekstraksi menggunakan CO2 Superkritis Materi dan Metode
Bahan Baku dan Reagen
Pada eksperimen ini digunakan minyak zaitun spanyol yang diperoleh dari pasar lokal. Komposisi minyak zaitun dilihat dari komponen vitamin E dan sterol terdiri dari 0.019% (w/w) vitamin E dan 0.334% (w/w) sterol. Vitamin E standar yang terdiri dari 97% -tokoferol dan sterol standar yang terdiri dari 50% β-sitosterol diperoleh dari Sigma-Aldrich, Amerika Serikat. Untuk pengemasan digunakan manik-manik kaca dan unggun jenis Raschig-rings, Fenske rings, dan Dixon rings dengan diameter sebesar 3 mm untuk masing-masing material. Ruang-ruang kosong pada unggun ditentukan sebagai rasio antara volume hampa dan volume kolom, dimana nilai parameter ini untuk masing-masing material ialah 0.76 untuk Fenske ring, 0.83 untuk Dixon rings, 0.39 untuk manik-manik kaca, dan 0.46 untuk Raschig-rings.
Metode Ekstrasi Fluida Supercritical
Diagram skematik sistem EFS CC yang digunakan pada eksperimen ini ditampilkan pada gambar 2. Aliran cairan EFS CC dalam sistem pemroses skala kecil terdiri dari tiga komponen, yaitu kolom ekstraksi CC dimana sampel akan melewati 3 bagian pada kolom di bagian atas, tengah, dan bawah seperti yang tertera pada gambar 1. Komponen kedua yakni dua buah sel pemisah tempat berlangsungnya proses dekompresi, Masing-masing sel pemisah ini memiliki kapasitas sebesar 270 mL. Komponen ketiga merupakan jebakan kriogenik yang berada pada tekanan atmoEFSr. Selama proses ekstraksi berlangsung, CO2 dialirkan secara
kontinyu ke dalam kolom melalui sisi bagian bawah. Ketika temperatur dan tekanan oprasi berhasil dicapai, minyak dialirkan dengan laju alir tertentu selama proses ekstraksi berlangsung. Aliran minyak yang masuk akan melewati bagian tengah kolom berjejal yang terletak di sekitar aliran masuk CO2. Aliran ini akan membentuk CC diantara aliran minyak
Pada percobaan ini terdapat beberapa besaran tertentu dengan nilai yang telah ditentukan. Seperti halnya dengan rasio laju alir CO2 terhadap laju alir minyak yang diatur
sedemikian rupa hingga mencapai nilai pada rentang 23.14 dan 41.65 CO2 / kg minyak,
konstanta laju alir minyak zaitun sebesar 100 ml/h, perubahan laju alir pelarut (CO2) dengan
nilai diantara 2000 dan 3600 mL/h, densitas CO2 pada kondisi pemasokan sebesar 1,047
kg/L. Kondisi ekstraksi dan fraksionasi dijaga agar tetap konstan selama eksperimen berlangsung, dimana tekanan ekstraksi diatur sebesar 20 MPa, temperatur ekstraksi dipertahankan pada 313 K sementara temperatur pada separator 1 dan 2 diatur pada suhu 313 dan 273 berturut-turut. Untuk memastikan bahwa keadaan tunak telah tercapai, sistem akan mengalami stabilisasi tekanan, temperatur, dan laju alir CO2 selama 30 menit. Setelah
stabilisasi berakhir, kemudian dilangsungkan proses ekstraksi selama 60 menit.
Gambar 2. Skema sistem pemroses EFS CC dalan skala kecil yang digunakan pada percobaan
Analisis HPLC
ke dalam sistem HPLC dengan perulangan injeksi sebanyak 20 l. Untuk fasa gerak digunakan methanol 100% pada laju alir 4 mL/menit selama 30 menit. Identifikasi senyawa dilakukan dengan membandingkan waktu retensi dan spektrum sampel dengan komponen standardnya. Kurva kalibrasi dibuat melalui analisis perbedaan konsentrasi vitamin E dan sterol standar, dimana sumbu X menyatakan konsentrasi (% w/w) dan sumbu Y menyatakan area puncak. Deteksi kandungan vitamin E dan sterol pada sampel dilakukan menggunakan spektrum ultraviolet (UV) pada panjang gelombang 296 nm untuk vitamin E dan 205 nm untuk sterol.
Konsep Evaluasi Transfer Massa pada Ekstraksi
Pada eksperimen ini akan ditentukan Number of Transfer Units (NTU) dan Height of Transfer Unit (HTU) menggunakan empat jenis unggun pada kolom berjejal, yaitu Raschig ring, Dixon rings, Fenske rings, dan manik-manik gelas pada kolom ekstraksi dengan aliran counter-current. Raschig ring merupakan jenis unggun yang terbuat dari gelas bersilikat dengan bentuk silindris dan memiliki ukuran panjang dan diameter yang sama. Fenske ring merupakan jenis unggun pada kolom fraksionasi dengan bentuk seperti sekrup yang memiliki diameter eksternal sebesar 0-50 mm. Dixon ring merupakan unggun dengan bentuk menyerupai ayakan baja yang memanjang dan banyak digunakan untuk proses absorpsi dengan tipe aliran counter-current serta pada proses pemisahan kompleks dengan metode distilasi. NTU dan HTU secara berturut-turut merupakan parameter yang menyatakan efisiensi peralatan yang digunakan serta tingkat kesulitan proses separasi yang dilangsungkan. Substrat yang digunakan komponen vitamin E dan sterol dari minyak.
Gambar 3. Jenis unggun pada kolom berjejal
Evaluasi transfer massa dari ekstraksi fluida superkritis (EFS) dengan aliran Counter Current (CC) pada minyak zaitun dilakukan dengan menganalisis jumlah transfer massa (NTU) dan ketingggian transfer massa (HTU). Evaluasi transfer massa dilakukan pada jenis packing yang berbeda, yaitu Glass beads, Dixon rings, Raschig rings, dan Fenske rings. Nilai NTU dan HTU dihitung dari konsentrasi vitamin E dan sterol pada fasa gas keluaran CO2
pada bagian atas kolom (a) dan gas masukan pada bagian bawah kolom (b) (Gambar4). Nilai koefisien distribusi (Ki) untuk masing-masing komponen (vitamin E dan sterol) dan tinggi
kolom berjejal (packed column) (Z) dihitung berdasarkan persamaan:
̅̅̅̅̅̅̅ (1)
̅̅̅̅̅̅ ( ) ( )
(2)
Fenske Rings Dixon Rings
(3)
(4)
Berdasarkan persamaan (1) nilai NTU merepresentasikan variasi dari komposisi fasa gas (ya-yb) dibagi dengan logaritma rata-rata gaya kerja ( ̅̅̅̅̅̅ ). Pada persamaan ini ya dan yb
merepresentasikan komposisi gas pada bagian atas dan bawah kolom dalam basis fraksi berat. Pada persamaan (2) ya* dan yb* merupakan hubungan komposisi saat keadaam setimbang
dengan xa dan xb (komposisi fasa cair pada bagian atas dan bawah kolom) yang dapat
dihitung menggunakan koefisien distribusi Kiberdasarkan persamaan (3).
Gambar 4. Skema ekstraksi dengan cairan superkritis. xa, komposisi minyak zaitun (% w/w);
ya, komposisi aliran gas (% w/w); xb, komposisi raffinate (% w/w); yb, komposisi CO2.
HTU dapat didefinisikan sebagai ketinggian unggun (packing) yang dibutuhkan untuk mencapai variasi komposisi yang sama dengan dengan ̅̅̅̅̅̅ . Ketika ketinggian kolom (Z) dan nilai NTU diketahui untuk suatu sistem, maka nilai HTU secara langsung dapat dihitung menggunakan persamaan (4).
Pengaruh Jenis jejalan terhadap Efisiensi Ekstraksi EFS Minyak Zaitun
Koefisien distribusi Ki ditentukan dengan mempertimbangkan konsentrasi maksimum
bagian atas kolom (yi) dan komposisi dari komponen yang sama pada fasa cair (minyak
zaitun) yang memasuki kolom (xi). Oleh sebab itu, aliran gas yang meninggalkan kolom pada
bagian atas dapat dianggap berada pada kesetimbangan dengan minyak zaitun yang mengalir ke bawah pada kolom. Nilai koefisien distribusi yang dihitung pada basis fraksi berat diperoleh dengan menggunakan nilai maksimum dari zat terlarut di dalam ekstrak dan membaginya dengan konsentrasi senyawa-senyawa di dalam minyak zaitun, sehingga diperoleh nilai-nilai berikut:
Kvitamin E= 0.023
Ksterol= 0.0054
Diperoleh hasil untuk nilai NTU, HTU dan komposisi vitamin E pada bagian atas (xa,
ya) dan bawah (xb, yb) kolom, dengan basis fraksi berat, sebagai fungsi rasio pelarut (solvent)
terhadap umpan (feed) (S/F) (Tabel 2). Nilai yang ditampilkan adalah hasil untuk semua material unggun yang diuji pada studi ini. Untuk membandingkan transfer massa yang berbeda-beda pada zat terlarut yang berbeda, ditampilkan nilai NTU, HTU dan komposisi sterol sebagai fungsi rasio S/F pada berbagai material unggun uji yang berbeda pula (Tabel 3).
Tabel 2. Komposisi vitamin E (% w/w) pada bagian atas (xa, ya) dan bawah (xb, yb) kolom
Tabel 3. Komposisi sterol (% w/w) pada bagian atas (xa, ya) dan bawah (xb, yb) kolom
countercurrent sebagai fungsi rasio S/F, untuk semua material unggun yang digunakan (Benavides et al., 2004)
Seperti yang dapat diamati, bahkan ketika mempertimbangkan kondisi yang sama, nilai NTU dan HTU yang diperoleh terlihat berbeda bergantung pada zat terlarut yang ditinjau pada proses perhitungan (vitamin E atau sterol). Sebagai contoh, menggunakan tipe unggun Dixon rings pada rasio S/F sebesar 23.14 kg CO2/kg minyak, dengan meninjau
komposisi vitamin E, diperoleh nilai NTU sebesar 0.91 dan nilai HTU sebesar 1.97 m. Ketika nilai performa atau hasil percobaan dihitung dengan meninjau komponen sterol, maka diperoleh nilai NTU sebesar 4.34 dan nilai HTU sebesar 0.42 m. Oleh sebab itu, pada kasus khusus ini, kolom countercurrent dengan unggun tipe Dixon rings cenderung lebih mudah memisahkan sterol dari minyak. Penggunaan unggun tipe glass beads sebagai material packing menunjukkan perilaku yang berbeda yang mampu memisahkan vitamin E lebih baik dibandingkan dengan sterol. Dengan membandingkan nilai NTU dan HTU untuk kedua zat terlarut pada nilai rasio S/F yang sama (S/F = 23.14 kg CO2/kg minyak), maka diperoleh nilai
yang paling rendah, yaitu 2000 ml/h atau pada rasio S/F paling rendah (23.14 kg CO2/kg
minyak).
Gambar 5. Nilai HTU (m) pada berbagai material unggun (Fenske rings, Glass beads, Dixon rings, dan Raschig rings) pada laju alir CO2 sebesar 2000 ml/h (rasio S/F sebesar 23.14 kg
CO2/kg minyak zaitun).
Dengan mengamati data yang telah diperoleh (Tabel 2 dan 3 dan Gambar 5), kita dapat mengambil kesimpulan umum bahwa unggun tipe Fenske rings memberikan hasil yang paling baik untuk nilai efisiensi dan performa sistem countercurrent pada ekstraksi minyak zaitun dengan cairan superkritis. Nilai NTU yang diperoleh adalah 11.29 dan HTU sebesar 0.16 m untuk vitamin E, dan nilai NTU sebesar 4.27 dan HTU sebesar 0.42 untuk sterol. Jika kita hendak melakukan proses pemisahan yang lebih baik untuk sterol dari minyak zaitun, maka penggunaan unggun tipe Dixon rings dan Fenske rings memiliki nilai HTU yang sama sebesar 0.42 m (NTU = 4.3). Di sisi lain, untuk sampel tertentu dengan sistem EFS CC (Counter Current Supercritical Fluid Extraction), penggunaan unggun tipe Raschig rings menunjukkan hasil di luar batasan yang dapat diterima yakni nilai HTU yang sangat tinggi (berkisar antara 28 sampai 3.5 kali lebih besar dibandingkan dengan penggunaan unggun tipe Fenske rings pada kondisi percobaan yang sama).
Seperti yang telah diduga, efisiensi performa kolom menurun pada saat laju alir CO2
hingga 27.77 kg CO2/kg minyak, dengan nilai NTU yang lebih besar dan nilai HTU yang
lebih kecil. Grafik dari rata-rata nilai HTU (diperoleh dengan meninjau rasio S/F yang berbeda-beda, berkisar antara 27.77 hingga 41.65 kg CO2/kg minyak) terhadap material
unggun yang digunakan juga diperoleh (Gambar 6). Perbedaan utama yang paling penting dari penggunaan berbagai tipe unggun dapat diamati ketika komponen vitamin E ditinjau. Hasil ini diperoleh dengan menggunakan unggun sembarangan yang memiliki derajat kebasahan (wettability) yang berbeda-beda dan juga permukaan spesifik yang berbeda-beda. Dengan melakukan analisis data secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa secara umum penggunaan unggun tipe Fenske rings dapat menghasilkan nilai efisiensi terbaik untuk pemisahan vitamin E dan sterol dari minyak zaitun.
Gambar 6. Rata-rata nilai HTU (m) (pada berbagai rasio S/F) terhadap jenis material unggun yang digunakan (Fenske rings, Glass beads, Dixon rings, dan Raschig rings) dengan laju alir CO2 bervariasi dari 2400 hingga 3600 ml/h (rasio S/F bervariasi dari 27.77 hingga 41.65 kg
CO2/kg minyak zaitun).
Metode Scale-up Ekstraksi EFS Minyak Zaitun
konsentrasi produk dalam material awal (Verall & Warr, 1998). Studi kriteria scale-up EFS sangat penting untuk mencapai metodologi yang dapat memprediksi proses yang terjadi pada skala industri dari data penelitian di laboratorium. Studi kriteria ini terutama mengenai efek berbagai parameter terhadap proses EFS yang berguna dalam optimisasi dan evaluasi proses untuk mendesain dan optimisasi rancangan industri (Han et al., 2009 dalam Jokic et al., 2015).
Terdapat beberapa metode scale-up yang telah digunakan dalam proses EFS. Metode ini bergantung pada mekanisme yang mengontrol proses ekstraksi seperti kelarutan atau difusi. Metode yang biasa digunakan ialah mempertahankan geometri kolom yakni rasio tinggi kolom jejal terhadap diameternya tetap konstan untuk ekstraktor isotermal dan tidak ada reaksi (Jokic et al., 2015). Metode lainnya dijabarkan dalam proposal yang dibuat oleh Clavier dan Perrut (2004).Proposal 1 ialah mempertahankan rasio massa solven terhadap massa bahan mentah jika kelarutan menjadi mekanisme kinetik pembatas. Proposal 2 ialah mempertahankan rasio laju alir solven terhadap massa bahan mentah jika difusi yang mengontrol ekstraksi. Jika keduanya (kelarutan dan difusi) menjadi pembatas, maka kedua rasio tersebut harus dipertahankan yakni merupakan Proposal 3. Sedangkan Proposal 4 ialah mempertahankan kedua rasio tersebut beserta nilai Reynolds number (Re) dengan mengurangi ukuran partikel dan meningkatkan kecepatan solven.
Gambar 7. Kurva eksperimen dan model proposal scale-up 2 ( konstan) dan 4 ( dan Re konstan) dan kurva skala kecil dari proses EFS almond peach.
Untuk minyak zaitun sendiri, penelitian terkait scale-up telah dilakukan oleh Carmelo et al., 1996. Pada penelitian tersebut dilakukan scale-up unit EFS untuk deasidifikasi minyak zaitun. Langkah pertama yang dilakukan ialah mengukur termodinamika dan data transfer massa dari sistem multikomponen minyak zaitun/CO2. Kemudian fasa kesetimbangan
dimodulasi dengan mengkorelasi koefisien partisi (Ki = yi/xi) dari komponen yang ada dalam
campuran sebagai fungsi fraksi mol asam lemak bebas dalam fasa cairan. Studi transfer massa dilakukan dalam kolom berjejal countercurrent skala laboratorium. Pada penelitian tersebut digunakan unit ekstraksi yang memuat 10 kton minyak zaitun dengan komposisi asam lemak bebas sebesar 4%. Proses ekstraksi bertujuan untuk mengurangi konsentrasi asam lemak bebas sampai 0,7% berat.
rasio dari HETS (height of packing equivalent to a theoritical plate) atau tinggi jejalan ekuivalen dengan pelat teoritis untuk kedua kolom. Persamaannya ialah sebagai berikut :
(5) Hasil yang didapatkan pada perhitungan ialah HETS kolom jejal laboratorium berdasarkan data eksperimen ialah 0,29 m/tahap. Tinggi jejalan yang dihitung untuk kolom industrial adalah 2,7 m dan dengan menambahkan 30% untuk mengantisipasi end effects, maka total tinggi kolom ialah 3,5 m.
Sementara itu, optimisasi dari EFS countercurrent untuk komponen minor minyak zaitun telah dilakukan oleh Benavides et.al., 2014. Optimisasi dari variabel utama dalam EFS yakni tekanan, temperatur dan laju alir sampel dilakukan menggunakan metodologi respons permukaan. Kondisi optimum yang didapatkan dan dapat memaksimalkan semua respons secara keseluruhan yakni tekanan 234 bar, temperatur 35oC dan laju alir massa 82 mL/jam dengan laju alir solven CO2 2000 mL/jam (28,4 kg CO2/kg minyak zaitun). Model optimum
ini dikonfirmasi secara eksperimental dengan hasil recovery squalene sebesar 90% tanpa mengubah sifat nutrisi dan psikokimia dari minyak.
Kesimpulan
Percobaan terkini yang telah dilakukan dalam menentukan efisiensi sistem EFS CC menggunakan berbagai jenis unggun dalam bentuk nilai NTU dan HTU dilakukan pada skala pilot plant menggunakan minyak zaitun sebagai bahan bakunya. Data eksperimen yang telah diperoleh dalam percobaan ini menunjukkan hasil bahwa penggunaan unggun tipe Fenske rings dapat menciptakan efisiensi dan performa terbaik dalam proses pemisahan sterol dan vitamin E pada sistem EFS CC.
Referensi
Benavides A.M.H., Senorans, F.J., Ibanez, E., Reglero, G. (2004). Countercurrent packed column supercritical CO2 extraction of olive oil. Mass transfer evaluation. Journal of Supercritical Fluid. 28, 29-35.
Esquivel, M.M., Bernardo, M.G., King, M.B. (1999). Mathematical models for supercritical extraction of olive husk oil. Journal of Supercritical Fluids. 16 (1), 43-58.
Martinez, J.L dan Vance, S.W. (2008). Supercritical Extraction Plants : Equipment, Process, and Costs. Dalam J. L. Martinez (Editor), Supercritical Fluid Extraxtion of Nutraceuticals and Bioactive Compounds. New York : CRC Press.
Putun, A.A., Burcu, U.B., Apaydin, E., Putun, E. (2005). Bio-oil from olive oil industry wastes: Pyrolysis of olive residue under different conditions. Fuel Processing Technology. 87 (1), 25-32.
Contoh perhitungan NTUv dan HTU pada unggun tipe glass beads menggunakan komposisi
vitamin E (Tabel 1) dengan laju alir CO2 = 2400 mL/h dan rasio pelarut terhadap umpan
adalah 27,77 kg CO2/kg minyak zaitun.
̅̅̅̅̅̅
̅̅̅̅̅̅
̅̅̅̅̅̅
̅̅̅̅̅̅
̅̅̅̅̅̅