• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENUTUP PERANAN KETERANGAN AHLI PENYAKIT JIWA DALAM PERADILAN PIDANA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENUTUP PERANAN KETERANGAN AHLI PENYAKIT JIWA DALAM PERADILAN PIDANA."

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

50

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pada permasalahan dan hasil penelitian yang telah

diuraikan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Peranan ahli penyakit jiwa dalam peradilan pidana yaitu:

a. Keterangan ahli penyakit jiwa akan dapat ditentukan apakah terdakwa

yang dituduh melakukan perbuatan pidana tersebut dapat dijatuhi

hukuman.

b. Relevansi ilmu psikiatri kehakiman dalam proses perkara pidana dapat

dilihat dalam menentukan kemampuan bertanggung-jawab dari pelaku

perbuatan pidana yang dilakukan oleh pejabat penegak hukum melalui

surat keterangan dokter, melalui visum et repertum atau melalui

keterangan ahli jiwa dalam sidang pengadilan.

c. Visum et repertum dari ahli penyakit jiwa dapat dijadikan

pertimbangan hakim dalam memutus perkara dan Visum et repertum

bukan sebagai pedoman hakim dalam memutus perkara.

d. Keterangan ahli mempunyai kekuatan pembuktian yang sama dengan

bukti yang lain, namun hakim tidak harus terikat dengan keterangan

ahli.

2. Kendala keterangan ahli penyakit jiwa dalam peradilan pidana adalah,

manakala dibutuhkannya keterangan ahli penyakit jiwa di daerah

(2)

50

pedalaman yang sangat sulit untuk mendatangkan ahli penyakit jiwa

tersebut karena terbatasnya transportasi yang dibutuhkan serta biaya yang

diberikan oleh Pemerintah sangatlah tidak mencukupi, sehingga

diperlukannya anggaran khusus.

B. Saran

Sebagai bagian akhir dari penulisan hukum ini, penulis memberikan

saran sebagai berikut:

1. Diharapkan dibuat suatu aturan khusus yang mengatur tentang kesatuan

bentuk pembuatan surat keterangan dokter ahli jiwa, hal ini dimaksudkan

agar membantu memperlancar kerjasama antara penegak hukum dengan

ahli penyakit jiwa.

2. Surat keterangan dari ahli penyakit jiwa (Visum et repertum psikiatrik), di

dalam penulisannya diharapkan lebih banyak memakai bahasa yang dapat

dimengerti oleh semua pihak. Apabila terdapat istilah-istilah yang tidak

dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sebaiknya disertai dengan

(3)

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Abdul Mu’in Idris dan Imam Santoso, Ilmu Kedokteran Kehakiman, Gunung Agung, Jakarta, 1985.

Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sapta Arya Jaya, Jakarta, 1996.

Bambang Poernomo, Operasi Pemberantasan Kejahatan dan Kemanfaatan Dalam Kedokteran Jiwa, Bina Akasara, Jakarta, 1984.

Hartasaputra, Asas-asas Kriminologi, Alumni, Bandung, 1997.

Ibrahim Nuhriawangsa, Psikiatri Forensik, Laboratorium Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta, 1990.

Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Bina Aksara, Jakarta, 1981.

Saanin Tan Pariaman, Ilmu Kedokteran Jiwa Kehakiman (Forensik Psychiatry), Prasaran Pada Kongres IAPI, 20-23 Agustus 1975.

Soedikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 1988.

Soedjono Dirdjosisworo, Pengantar Tentang Psikologi Hukum, Alumni, Bandung, 1983.

Soejono Dirjosisworo, Alkoholisme Paparan Hukum dan Kriminologi, Remaja Karya, Bandung, 1984.

Soejono Soekanto, Beberapa Catatan Tentang Psikologi Hukum, Alumni, Bandung, 1989.

Soegandhi, Pedoman Perundang-undangan Perofesi Ilmu Kedokteran

Kehakiman, Bagian Ilmu Kedoteran Kehakiman Fakultas Kedokteran UGM, 1984.

(4)

Peraturan Perundang-Undangan:

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

Referensi

Dokumen terkait

Fungsi visum et repertum bagi jaksa penuntut umum dalam penuntutan perkara kealpaan yang menyebabkan matinya orang bahwa, visum et repertum merupakan

Berkaitan dengan Visum Et Repertum yang tidak sepenuhnya mencantumkan keterangan tanda kekerasan, maka penyidik dari kepolisian akan meminta keterangan/melakukan

Visum et Repertum dapat diartikan sebagai keterangan ahli maupun surat, mengingat dibuat oleh dokter dan sesuai dengan kesepakatan yang dibuat antara IKAHI dengan

Oleh karena visum et repertum adalah keterangan ahli mengenai pidana yang berkaitan dengan kesehatan jiwa manusia, maka penyidik pegawai negeri sipil tidak berwenang meminta visum

yang dilakukan oleh aparat penegak hukum sampai dibuatkannya  Visum et Repertum Psychiatricum

Visum et Repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia, dimana Visum et Repertum dapat menjelaskan semua hal

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa tujuan dari keterangan ahli adalah membuat terang suatu perkara, oleh karenanya keterangan ahli kedokteran forensik dalam

Sesuai dengan permasalahan yang akan dikemukakan, maka yang menjadi ruang lingkup dari skripsi ini adalah mengenai pelaksanaan peran keterangan ahli kedokteran jiwa dalam