• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Pemberian Sinbiotik terhadap Kinerja Produksi Udang Vaname Litopenaeus vannamei di Tambak Pinang Gading, Bakauheni, Lampung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Pemberian Sinbiotik terhadap Kinerja Produksi Udang Vaname Litopenaeus vannamei di Tambak Pinang Gading, Bakauheni, Lampung"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGARUH PEMBERIAN SINBIOTIK TERHADAP

KINERJA PRODUKSI UDANG VANAME

Litopenaeus vannamei

DI TAMBAK PINANG GADING, BAKAUHENI, LAMPUNG

RUDY ANGGA KESUMA

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Pengaruh Pemberian Sinbiotik terhadap Kinerja Produksi Udang Vaname Litopenaeus vannamei di Tambak Pinang Gading, Bakauheni, Lampung adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juni 2014

Rudy Angga Kesuma

(4)

iv

ABSTRAK

RUDY ANGGA KESUMA. Pengaruh Pemberian Sinbiotik terhadap Kinerja Produksi Udang Vaname Litopenaeus vannamei di Tambak Pinang Gading, Bakauheni, Lampung. Dibimbing oleh WIDANARNI dan SUKENDA.

Aplikasi sinbiotik pada skala laboratorium telah terbukti dapat meningkatkan sintasan, pertumbuhan dan respon imun terhadap serangan beberapa patogen. Peneletian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian sinbiotik terhadap kinerja produksi udang vaname yang dipelihara pada skala lapang di petak tambak. Probiotik dan prebiotik yang digunakan yaitu bakteri Vibrio alginolyticus SKT-b dan oligosakarida yang diekstraksi dari ubi jalar. Udang vaname yang telah berumur 25 hari pasca tebar dipelihara pada tambak 16 (2500 m2), tambak 17 (3100 m2) tambak 18 (4100 m2) dan tambak 19 (3600 m2) dengan kepadatan 72 ekor/m2. Penelitian ini terdiri dari dua perlakuan dengan dua kali ulangan yaitu perlakuan K (tanpa penambahan sinbiotik) dan P (penambahan probiotik 1% dan prebiotik 2%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian sinbiotik mampu meningkatkan sintasan, laju pertumbuhan harian, rasio konversi pakan dan respon imun udang vaname.

Kata kunci : Sinbiotik, udang vaname, kinerja produksi, tambak

ABSTRACT

RUDY ANGGA KESUMA. Effect of Synbiotic Administration on Production Performance of White Shrimp Litopenaeus vannamei in Shrimp Ponds of Pinang Gading, Bakauheni, Lampung. Supervised by WIDANARNI dan SUKENDA.

Synbiotic applications on a laboratory scale had been performed and was able to improve survival rate, growth and immune response against multiple pathogens. The purpose of this research was to test the effects of synbiotic administration on production performance of white shrimp reared in shrimp ponds on field scale. Vibrio alginolyticus SKT-b bacterium and oligosaccharides extracted from sweet potato were used as probiotic and prebiotic. White shrimp that has been reared for 25 days after stocking was reared in shrimp pond 16 (2500 m2), pond 17 (3100 m2), pond 18 (4100 m2) and pond 19 (3600 m2) in stocking density of 72 shrimps/m2. This research consisted of two treatments with two replications: K treatment (without synbiotic administration) and P treatment (administration of 1% probiotic and 2% prebiotic). The results showed that synbiotic administration was able to improve the survival rate, daily growth rate, feed conversion ratio and immune response of white shrimp.

(5)

PENGARUH PEMBERIAN SINBIOTIK TERHADAP

KINERJA PRODUKSI UDANG VANAME

Litopenaeus vannamei

DI TAMBAK PINANG GADING, BAKAUHENI, LAMPUNG

RUDY ANGGA KESUMA

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2014 Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan

pada

(6)
(7)

Judul Skripsi :Pengaruh Pemberian Sinbiotik terhadap Kinerja Produksi Udang Vaname Litopenaeus vannamei di Tambak Pinang Gading, Bakauheni, Lampung

Nama : Rudy Angga Kesuma

NIM : C14100002

Disetujui oleh

Dr Ir Widanarni, MSi Pembimbing I

Dr Ir Sukenda, MSc Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr Ir Sukenda, MSc Ketua Departemen

(8)

4

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pengaruh Pemberian Sinbiotik terhadap Kinerja Produksi Udang Vaname Litopenaeus vannamei di Tambak Pinang Gading, Bakauheni, Lampung.

Penulis menyadari tanpa adanya kerja sama antara dosen dan penulis serta beberapa kerabat yang telah memberikan berbagai masukan yang bermanfaat, penyelesaian skripsi ini akan sulit dilakukan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Ir. Widanarni, M.Si dan Dr. Ir. Sukenda, M.Sc selaku dosen pembimbing skripsi atas saran, bimbingan, nasihat serta dukungannya;

2. Yuni Puji Hastuti, S.Pi., M.Si dan Ir. Dadang Shafruddin, M.Si selaku dosen penguji tamu dan komisi pendidikan departemen atas saran bagi perbaikan skripsi;

3. Seluruh dosen Departemen Budidaya Perairan yang telah memberikan ilmu dan bantuan yang bermanfaat selama masa perkuliahan;

4. Bapak Ahmad Syaefudin, Bapak Riyono, Sutikno dan seluruh staf Tambak Pinang Gading, Bakauheni, Lampung atas bantuan yang telah diberikan selama penelititan;

5. Orang tua tercinta, Ayahanda (M. Zen), Ibunda (Nelly Anggia Murni) dan adinda (Rizky Roman Zelly dan Sabika Avira Salsabila) yang telah memberikan kasih sayang, dukungan, motivasi dan semangat kepada penulis;

6. Bapak Achmad Noerkhaerin Putra atas kerjasama dan bantuannya dalam penyediaan bahan selama penelitian;

7. Bapak Rahman, Bapak Ranta, Bapak Wasjan, Bapak Jajang, Mba Retno, Kang Abe, Kang Adna dan seluruh staf Departemen Budidaya Perairan atas bantuan, bimbingan dan informasi yang telah diberikan selama masa perkuliahan dan penelitian;

8. Kak Jeanni, Kak Arief, Kak Titi, Kak Deni, Kak Seto, Kak Doni, Kak Dewi, Kak Fierco yang telah memberikan bantuan dan informasi seputar penelitian; 9. Rekan-rekan LKI 47 (Dian, Evi, Novi, Alit, Dede, Amal, Netty, Wira, Akbar,

Indri, Adi, Ike, Een, Bebe, Sita) dan rekan-rekan BDP 47 atas bantuan, motivasi, kebersamaan dan kekeluargaan selama masa perkuliahan, serta semua pihak yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan saran demi kelancaran penyusunan skripsi ini.

Namun, meski telah berupaya semaksimal mungkin dalam penyusunannya, skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan baik dari segi teknik penulisan maupun tata bahasa. Sehingga saran dan masukan dari berbagai pihak sangat kami harapkan.

Demikian, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang memerlukannya.

Bogor, Juni 2014

(9)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL viii

DAFTAR GAMBAR viii

DAFTAR LAMPIRAN viii

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 2

METODE 2

Waktu dan Tempat Penelitian 2

Prosedur Penelitian 3

Penyiapan Sinbiotik 3

Pengujian Sinbiotik secara In Vivo 4

Parameter Pengamatan 5

Sintasan 5

Laju Pertumbuhan Harian 5

Rasio Konversi Pakan 5

Total Hemosit 6

Diferensial Hemosit 6

Kualitas Air 6

Hasil Panen 7

Analisis Usaha 7

Analisis Data 7

HASIL DAN PEMBAHASAN 8

Hasil 8

Pembahasan 13

KESIMPULAN DAN SARAN 17

Kesimpulan 17

Saran 17

DAFTAR PUSTAKA 18

LAMPIRAN 21

(10)

6

DAFTAR TABEL

1 Rancangan penelitian pemberian sinbiotik pada udang vaname 4 2 Satuan dan alat ukur kualitas air selama perlakuan sinbiotik 6 3 Nilai kualitas air media pemeliharaan udang vaname selama perlakuan

sinbotik 11

4 Analisis usaha pembesaran udang vaname setiap perlakuan pada akhir

pemeliharaan 13

DAFTAR GAMBAR

1 Sintasan udang vaname pada akhir pemeliharaan 8 2 Laju pertumbuhan harian udang vaname selama pemeliharaan 9 3 Rasio konversi pakan udang vaname selama pemeliharaan 9 4 Total hemosit udang vaname selama perlakuan sinbiotik 10 5 Persentase sel hialin dan granular udang vaname setelah perlakuan

sinbiotik 11

6 Size udang vaname pada akhir pemeliharaan 12 7 Biomassa panenudang vaname pada akhir pemeliharaan 12

DAFTAR LAMPIRAN

(11)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan udang introduksi yang saat ini banyak dibudidayakan di Indonesia. Udang ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan jenis udang lain seperti lebih tahan terhadap serangan penyakit dan biaya produksi relatif lebih rendah karena nilai konversi pakan yang rendah (Lebel et al. 2010). Keunggulan yang dimiliki udang vaname tersebut menyebabkan produksi dan permintaan akan udang ini semakin tinggi.

Sejalan dengan peningkatan produksi udang vaname, sistem budidaya intensif (intensifikasi) yang ditandai dengan padat tebar dan pemberian pakan yang tinggi telah banyak dilakukan. Namun, sistem budidaya intensif ini dapat menimbulkan resiko terjadinya penyakit sehingga dapat menurunkan produksi udang vaname. Penyakit yang menjadi masalah terbesar dalam budidaya udang vaname yaitu infeksi penyakit viral dan bakterial. Menurut Flegel (2012) penyakit viral seperti white spot syndrome (WSS) yang disebabkan oleh white spot syndrome virus (WSSV) dan infectious myonecrosis (IMN) yang disebabkan oleh infectious myonecrosis virus (IMNV) merupakan penyakit udang yang menjadi ancaman paling serius di kawasan Asia. Sanchez-Martinez et al. (2007) melaporkan bahwa penyakit WSS dapat menyebabkan tingkat mortalitas 90-100% pada budidaya udang vaname dalam waktu 3-10 hari setelah munculnya tanda klinis. Coecho et al. (2009) menyatakan bahwa serangan penyakit IMN dapat menimbulkan tingkat mortalitas di atas 60% pada budidaya udang vaname dan dapat menyerang udang vaname pada stadia post larva (PL), juvenil dan dewasa. Selain itu, serangan penyakit vibriosis atau udang berpendar oleh bakteri jenis Vibrio spp. saat ini telah banyak mempengaruhi budidaya udang dan menjadi penyebab utama kegagalan panen udang di berbagai negara (Castex 2008).

Berbagai cara telah dilakukan untuk mengatasi masalah penyakit ini, diantaranya dengan penggunaan antibiotik. Penggunaan antibiotik memiliki kelemahan yaitu dapat menimbulkan bakteri yang resisten terhadap antibiotik (Esiobu et al. 2002) dan memberikan dampak negatif bagi lingkungan. Selain itu menurut Reed et al. (2004), residu antibiotik dapat mengganggu kesehatan manusia apabila terkonsumsi. Salah satu metode pencegahan penyakit udang yang banyak diteliti dalam beberapa tahun terakhir yaitu aplikasi sinbiotik.

(12)

2

sehingga meningkatkan kesehatan inang (Cerezuela et al. 2011). Aplikasi prebiotik berfungsi sebagai nutrien yang dibutuhkan bakteri probiotik untuk mempertahankan hidupnya dalam saluran pencernaan. Prebiotik terutama terdiri dari oligosakarida yang memberikan keuntungkan berupa pertumbuhan bakteri dalam saluran pencernaan yang lebih tinggi. Menurut Teitelbaum dan Walker (2002), beberapa oligosakarida yang memiliki karakteristik prebiotik yaitu mannanoligosaccharides (MOS), trans-galactooligosaccharides (TOS), inulin, fructooligossacharides (FOS) dan laktulosa.

Penggunaan probiotik dan prebiotik dalam beberapa tahun terakhir telah dianggap sebagai strategi pengendalian biologis dalam praktik akuakultur untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan terhadap penyakit (Cerezuela et al. 2011). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa probiotik yang diberikan bersama prebiotik dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan respon imun lobster eropa (Daniels et al. 2010), Penaeus japonicus (Zhang et al. 2013) dan yellow croaker (Ai et al. 2011). Sinbiotik yang digunakan dalam penelitian ini adalah gabungan dari probiotik V. alginolyticus SKT-b dan prebiotik yang diekstraksi dari ubi jalar (Ipomoea batatas). Probiotik V. alginolyticus SKT-b telah terbukti memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri patogen Vibrio harveyi dalam uji in vitro dan in vivo (Widanarni et al. 2003). Selain itu Gullian et al. (2004) menyatakan bahwa V. alginolyticus mampu meningkatkan pertumbuhan dan respon imun pada udang vaname L. vannamei.

Aplikasi sinbiotik satu dosis (probiotik V. alginolyticus SKT-b sebesar 1% dan prebiotik dari ubi jalar sebesar 2%) pada skala laboratorium telah diuji efektif untuk mencegah infeksi V. harveyi (Arisa 2011), Infectious Myonecrosis Virus (Damayanti 2011) serta ko-infeksi V. harveyi dan Infectious Myonecrosis Virus (Nurhayati 2014) pada udang vaname. Pada skala lapang terbatas (hapa), aplikasi sinbiotik tersebut belum menunjukkan hasil yang konsisten dalam hal peningkatan kinerja produksi udang vaname, dimana pada penelitian Kadarusman (2012) diperoleh hasil terbaik yaitu aplikasi sinbiotik dua dosis. Sedangkan pada penelitian Praseto (2013), hasil terbaik yaitu aplikasi sinbiotik setengah dosis. Pada penelitian skala lapang ini digunakan aplikasi sinbiotik satu dosis seperti yang dilakukan pada skala laboratorium.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian sinbiotik terhadap kinerja produksi udang vaname pada skala lapang di petak tambak.

METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

(13)

Penyiapan prebiotik dilakukan di Laboratorium Teknologi Pengolahan Hasil Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten.

Prosedur Penelitian

Penyiapan Sinbiotik Penyiapan Probiotik

Penyiapan probiotik meliputi pembuatan media sea water complete (SWC) cair dan kultur bakteri V. algynolyticus SKT-b. Untuk pembuatan 1 liter media SWC cair dilakukan dengan mencampurkan 5 gram bactopeptone, 1 gram yeast ekstract, 3 ml gliserol, 750 ml air laut dan 250 ml akuades ke dalam erlenmeyer (Lampiran 1). Selanjutnya campuran bahan tersebut dipanaskan pada penangas air agar larut dan homogen. Kemudian media tersebut disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 121oC (1 atm) selama 15 menit. Setelah itu media didinginkan dan siap digunakan untuk kultur bakteri V. alginolyticus SKT-b.

Kultur bakteri V. alginolyticus SKT-b dilakukan melalui dua tahap (Lampiran 2) yaitu kultur bakteri pada media SWC cair yang bervolume 10 ml dan dilanjutkan dengan kultur bakteri pada media SWC cair dengan volume yang lebih besar (upscaling). Kultur bakteri dimulai dari isolat bakteri V. alginolyticus SKT-b yang berumur 24 jam diinokulasi sebanyak satu ose ke dalam media SWC cair volume 10 ml yang dilakukan secara aseptik. Kemudian hasil inokulasi tersebut diletakkan diatas shaker selama 18 jam pada suhu ruang. Setelah 18 jam, bakteri dipanen dan dilanjutkan dengan upscaling yang dilakukan dengan cara mengambil bakteri hasil kultur sebesar 1% dari total media SWC cair yang akan digunakan. Kemudian bakteri hasil upscaling tersebut kembali diletakkan diatas shaker pada suhu ruang selama 18 jam. Setelah itu bakteri dipanen dan dilakukan penghitungan TPC (Total Plate Count) untuk mengetahui kepadatan bakteri (Lampiran 3). Setelah dilakukan penghitungan TPC, kepadatan bakteri yang didapatkan yaitu 108 cfu/ml.

Penyiapan Prebiotik

(14)

4

Pengujian Sinbiotik secara In Vivo

Persiapan Wadah dan Media Pemeliharaan

Wadah yang digunakan pada penelitian ini yaitu petak tambak dengan konstruksi tanah yang berjumlah 4 tambak (tambak 16, tambak 17, tambak 18, tambak 19). Tambak 16 dan tambak 17 digunakan untuk perlakuan sinbiotik yang memiliki luas 2500 m2 dan 3100 m2. Sedangkan tambak 18 dan tambak 19 digunakan untuk perlakuan kontrol yang memiliki luas 4100 m2 dan 3600 m2 (Lampiran 5). Persiapan tambak mengikuti Standard Operational Procedures (SOPs) yang diterapkan oleh Tambak Pinang Gading, Bakauheni, Lampung. Setiap tambak dilengkapi dengan inlet, outlet, kincir air, jembatan anco dan anco.

Persiapan Hewan Uji

Hewan uji yang digunakan yaitu udang vaname yang telah berumur 25 hari pasca tebar. Udang vaname tersebut berasal dari hatchery PT. Suri Tani Pemuka, Anyer, Banten. Bobot rata-rata udang setiap tambak dihitung menggunakan timbangan digital. Udang vaname disetiap tambak diambil sebanyak 10 ekor/titik sampling menggunakan anco yang berukuran 80x80x10 cm. Setiap tambak diambil 4 titik sampling. Bobot rata-rata awal udang vaname setiap tambak yaitu tambak 16 (1,25±0,07 g/ekor), tambak 17 (1,23±0,22 g/ekor), tambak 18 (1,21±0,03 g/ekor) dan tambak 19 (1,29±0,04 g/ekor). Setiap tambak ditebar udang vaname dengan padat tebar yang sama yaitu 72 ekor/m2.

Persiapan Pakan Uji

Pakan utama yang digunakan pada penelitian ini adalah pelet udang komersil dengan kandungan protein sebesar 30-38%. Proses pembuatan pakan uji meliputi pencampuran antara pakan dengan sinbiotik (probiotik dan prebiotik) serta telur sebagai perekat (binder). Sebelum dicampur, pakan, probiotik, prebiotik dan telur ditentukan terlebih dahulu dosisnya sesuai kebutuhan. Dosis probiotik dan prebiotik yang digunakan masing-masing sebesar 1% dan 2% dari jumlah pakan yang akan diberikan (Nurhayati 2014). Sedangkan dosis telur yang digunakan sebesar 2% dari jumlah pakan yang diberikan (Wang 2007).Probiotik, prebiotik dan telur dicampur menjadi satu dalam wadah, lalu diaduk hingga rata menggunakan sendok. Setelah itu, campuran probiotik, prebiotik dan telur tersebut dimasukan ke dalam sprayer. Selanjutnya, campuran probiotik, prebiotik dan telur disemprotkan ke pakan hingga merata. Agar lebih cepat tersebar, dilakukan juga pengadukan dengan tangan. Setelah tercampur merata, pakan dikeringudarakan selama kurang lebih 10 menit dan siap diberikan ke hewan uji.

Pengujian Pakan Uji ke Udang Vaname

Penelitian ini terdiri dari dua perlakuan yaitu kontrol dan perlakuan sinbiotik. Setiap perlakuan terdiri dari dua ulangan. Rancangan penelitian disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Rancangan penelitian pemberian sinbiotik pada udang vaname

Perlakuan Keterangan

K Pemberian pakan komersil tanpa penambahan sinbiotik P Pemberian pakan komersil dengan penambahan sinbiotik

(15)

Perlakuan sinbiotik dilakukan selama 40 hari yaitu saat udang vaname berumur 25 hari hingga udang vaname berumur 64 hari. Manajemen pemberian pakan udang selama penelitian mengikuti SOPs Tambak Pinang Gading, Bakauheni, Lampung. Udang yang berumur 1-36 hari pemberian pakannya berdasarkan pakan buta (blind feeding). Sedangkan udang yang berumur diatas 36 hari pemberian pakannya berdasarkan feeding rate (FR) yaitu 5% menurun hingga 2% tergantung bobot udang. Penambahan dan pengurangan pakan setiap harinya dikontrol melalui anco (try method) sehingga jumlah pakan yang diberikan setiap harinya berbeda tergantung nafsu makan udang. Frekuensi pemberian pakan selama penelitian yaitu 4 kali sehari dengan waktu pemberian pakan sekitar pukul 06.00 WIB, 10.00 WIB, 14.00 WIB dan 18.00 WIB. Selama penelitian dilakukan sampling bobot rata-rata udang yang dilakukan setiap 7 hari sekali. Masing-masing tambak dilakukan dua titik sampling. Akhir pemeliharaan yaitu pada saat udang berumur 88 hari.

Parameter Pengamatan

Sintasan

Sintasan atau survival rate (SR) dihitung menggunakan rumus (Effendie 1997):

Nt = Jumlah udang di akhir pemeliharaan (ekor) No = Jumlah udang di awal pemeliharaan (ekor)

Laju Pertumbuhan Harian

Laju pertumbuhan harian (LPH) dihitung menggunakan rumus (Huisman 1987):

LPH = [√� ���� − ] × 100%

Keterangan :

SGR = Laju pertumbuhan harian (%)

Wt = Bobot rata-rata udang di akhir pemeliharaan (gram) Wo = Bobot rata-rata udang di awal pemeliharaan (gram) t = Periode pemeliharaan (hari)

Rasio Konversi Pakan

Rasio konversi pakan atau feed conversion ratio (FCR) dihitung menggunakan rumus (Zonneveld et al. 1991):

(16)

6

Keterangan :

FCR = Rasio konversi pakan F = Jumlah pakan (gram)

Bt = Biomassa udang di awal pemeliharaan (gram) Bo = Biomassa udang di akhir pemeliharaan (gram) Bm = Biomassa udang yang mati saat pemeliharaan (gram)

Total Hemosit

Total hemosit dihitung berdasarkan metode Blaxhall dan Daysley (1973). Pertama-tama darah udang (hemolim) yang terdapat di pangkal kaki renang pertama diambil sebanyak 0,1 ml per udang dengan menggunakan syringe 1 ml yang telah berisi 0,1 ml antikoagulan Na-sitrat 3,8%. Kemudian campuran tersebut dihomogenkan dengan tangan. Selanjutnya tetesan pertama pada syringe dibuang, sedangkan tetesan selanjutnya diteteskan pada haemocytometer. Total hemosit diamati di bawah mikroskop pada perbesaran 400 kali dan dihitung jumlah sel per ml.

Diferensial Hemosit

Diferensial hemosit dihitung berdasarkan metode Martin dan Graves (1985). Hemolim yang telah diambil dengan syringe diteteskan pada gelas objek dan dibuat ulasan, kemudian dikeringudarakan. Setelah itu preparat difiksasi dengan metanol 100% selama 10 menit kemudian dikeringudarakan kembali. Tahap selanjutnya yaitu preparat diwarnai dengan larutan giemsa selama 15 menit, kemudian dikeringudarakan kembali. Kemudian preparat dicuci dengan air mengalir dan dikeringkan. Ulasan hemolim diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 100 kali dan diidentifikasi jenis selnya (sel hialin dan sel granular). Jumlah hemosit dihitung hingga 100 sel dan ditentukan persentase tiap jenisnya. Presentase tiap jenis sel hemosit dihitung dengan rumus:

Persentase jenis sel hemosit =jumlah tiap jenis sel hemosittotal hemosit × %

Kualitas Air

Parameter kualitas air yang diukur pada penelitian ini yaitu suhu, pH, salinitas dan TAN. Parameter suhu, pH dan salinitas diukur setiap 7 hari sekali selama perlakuan, sedangkan parameter TAN diukur pada awal dan akhir perlakuan. Satuan dan alat pengukuran kualitas air disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Satuan dan alat ukur kualitas air selama perlakuan sinbiotik

Parameter Satuan Alat Ukur

Suhu oC Termometer

Salinitas ppt Refraktometer

pH - pH meter

(17)

Hasil Panen

Hasil panen dihitung pada akhir pemeliharaan yaitu pada saat udang vaname berumur 88 hari atau 24 hari pasca akhir perlakuan. Parameter hasil panen yang diamati yaitu biomassa panen, size (ukuran) panen dan analisis usaha.

Biomassa Panen

Biomassa panen merupakan total bobot populasi udang pada akhir pemeliharaan. Biomassa panen udang vaname dihitung menggunakan rumus (Effendi 2004) :

Biomassa panen = Wt × Nt

Keterangan :

Wt = Bobot rata-rata udang vaname pada akhir pemeliharaan (gram) Nt = Populasi udang pada akhir pemeliharaan (ekor)

Size Panen

Size panen merupakan ukuran yang menyatakan jumlah populasi yang terdapat dalam 1 kg biomassa udang saat panen. Size dihitung menggunakan rumus (Effendi 2004) :

Size = . Wt gram

Keterangan : Size = Ukuran

Wt = Bobot rata-rata udang di akhir pemeliharaan (gram)

Analisis Usaha

Analisis usaha merupakan penghitungan untuk mengetahui seberapa besar potensi keuntungan yang didapat dalam suatu usaha berdasarkan asumsi tertentu. Analisis usaha pada penelitian ini dihitung untuk masing-masing perlakuan. Analisis usaha berdasarkan keuntungan yang didapat dihitung menggunakan rumus (Kasmir 2009):

Keuntungan = Pendapatan − Pengeluaran

Analisis Data

(18)

8

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Sintasan

Sintasan merupakan salah satu parameter untuk menilai kinerja produksi udang vaname. Sintasan pada penelitian ini diamati pada akhir pemeliharaan yaitu saat udang vaname berumur 88 hari.Sintasan atau kelangsungan hidup merupakan persentase udang yang hidup pada akhir pemeliharaan terhadap jumlah udang saat ditebar. Nilai sintasan pada setiap perlakuan disajikan pada Gambar 1.

Keterangan:

K1 (kontrol ulangan 1), K2 (kontrol ulangan 2), P1 (sinbiotik ulangan 1), P2 (sinbiotik ulangan 2)

Gambar 1 Sintasan udang vaname pada akhir pemeliharaan

Berdasarkan Gambar 1 dapat diketahui bahwa sintasan udang vaname setelah pemeliharaan selama 88 hari berkisar antara 0-62,84%. Perlakuan sinbiotik 1 (tambak 16) memiliki nilai sintasan tertinggi (62,84%), diikuti oleh perlakuan kontrol 2 (tambak 19) dengan nilai 60,85%, perlakuan sinbiotik 2 (tambak 17) dengan nilai 49,62% dan perlakuan kontrol 1 (tambak 18) dengan nilai 0% (gagal panen).

Laju Pertumbuhan Harian

Kinerja produksi udang vaname juga dapat dilihat dari parameter laju pertumbuhan harian. Pada penelitian ini, laju pertumbuhan harian dihitung dengan membandingkan bobot rata-rata awal perlakuan sinbiotik dengan bobot rata-rata akhir pemeliharaan (Gambar 2). Setelah pemeliharaan selama 88 hari menunjukkan bahwa laju pertumbuhan harian udang vaname berkisar antara 0-4,07%. Secara umum laju pertumbuhan harian perlakuan sinbiotik lebih tinggi dibandingkan kontrol.Perlakuan sinbiotik 2 (tambak 17) memiliki nilai laju pertumbuhan harian tertinggi (4,07%), diikuti oleh perlakuan sinbiotik 1 (tambak 16) dengan nilai 3,83%, perlakuan kontrol 2 (tambak 19) dengan nilai 3,70% dan perlakuan kontrol 1 (tambak 18) dengan nilai 0% (gagal panen).

(19)

Keterangan:

K1 (kontrol ulangan 1), K2 (kontrol ulangan 2), P1 (sinbiotik ulangan 1), P2 (sinbiotik ulangan 2)

Gambar 2 Laju pertumbuhan harian udang vaname selama pemeliharaan

Rasio Konversi Pakan

Rasio konversi pakan juga digunakan untuk menilai kinerja produksi udang vaname selama pemeliharaan. Rasio konversi pakan dihitung pada akhir pemeliharaan saat udang vaname berumur 88 hari hari. Konversi pakan merupakan suatu ukuran yang menyatakan rasio jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg daging (Effendi 2004). Nilai rasio konversi pakan pada setiap perlakuan disajikan pada Gambar 3.

Keterangan:

K1 (kontrol ulangan 1), K2 (kontrol ulangan 2), P1 (sinbiotik ulangan 1), P2 (sinbiotik ulangan 2)

Gambar 3 Rasio konversi pakan udang vaname selama pemeliharaan

Berdasarkan Gambar 3 dapat diketahui bahwa rasio konversi pakan udang vaname setelah pemeliharaan selama 88 hari berkisar antara 2,11-2,41. Perlakuan sinbiotik 1 (tambak 16) memiliki nilai rasio konversi pakan terbaik (2,11), diikuti oleh perlakuan kontrol 2 (tambak 19) dan sinbiotik 2 (tambak 17) dengan nilai masing-masing 2,19 dan 2,41. Perlakuan kontrol 1 (tambak 18) rasio konversi pakan tidak dapat dihitung karena gagal panen.

(20)

10

Total Hemosit

Total hemosit merupakan salah satu parameter untuk mengetahui status kesehatan udang vaname. Penghitungan total hemosit dilakukan pada akhir perlakuan sinbiotik yaitu saat udang vaname berumur 64 hari. Nilai total hemosit pada setiap perlakuan disajikan pada Gambar 4.

Keterangan:

K1 (kontrol ulangan 1), K2 (kontrol ulangan 2), P1 (sinbiotik ulangan 1), P2 (sinbiotik ulangan 2)

Gambar 4 Total hemosit udang vaname selama perlakuan sinbiotik

Berdasarkan Gambar 4 dapat diketahui bahwa total hemosit udang vaname setelah perlakuan sinbiotik selama 40 hari berkisar antara 0-2,37x107 sel/ml. Secara umum perlakuan sinbiotik memiliki total hemosit yang lebih tinggi dibandingkan kontrol. Perlakuan sinbiotik 2 (tambak 17) memiliki total hemosit tertinggi (2,37x107 sel/ml), diikuti oleh perlakuan sinbiotik 1 (tambak 16) dengan nilai 2,31x107 sel/ml, perlakuan kontrol 2 dengan nilai 0,82x107 sel/ml dan perlakuan kontrol 1 (tambak 18) dengan nilai 0 sel/ml (gagal panen).

Diferensial Hemosit

Status kesehatan udang vaname juga dapat dilihat dari parameter diferensial hemosit. Penghitungan diferensial hemosit dilakukan pada akhir perlakuan sinbiotik yaitu saat udang vaname berumur 64 hari. Jenis sel hemosit yang diamati yaitu hialin dan granular (granular/semi granular) (Gambar 5). Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat diketahui bahwa sel hialin udang vaname setelah perlakuan sinbiotik selama 40 hari berkisar antara 0-56%, sedangkan sel granular berkisar antara 0-58,67%. Perlakuan sinbiotik 1 (tambak 16) memiliki persentase sel hialin tertinggi (56%), diikuti oleh perlakuan sinbiotik 2 (tambak 17) dengan nilai 48,67%, perlakuan kontrol 2 (tambak 19) dengan nilai 41,33% dan perlakuan kontrol 1 (tambak 18) dengan nilai 0% (gagal panen). Sedangkan sel granular udang vaname perlakuan kontrol 2 (tambak 19) memiliki persentase tertinggi (58,67%), diikuti oleh perlakuan sinbiotik 2 (tambak 17) dengan nilai 51,33%, perlakuan sinbiotik 1 (tambak 16) dengan nilai 44% dan dan perlakuan kontrol 1 (tambak 18) dengan nilai 0% (gagal panen).

(21)

Keterangan:

K1 (kontrol ulangan 1), K2 (kontrol ulangan 2), P1 (sinbiotik ulangan 1), P2 (sinbiotik ulangan 2)

Gambar 5 Persentase sel hialin dan granular udang vaname setelah perlakuan sinbiotik

Kualitas Air

Parameter kualitas air yang diamati pada penelitian ini yaitu suhu, pH, salinitas dan TAN. Nilai kisaran kualitas air pada semua perlakuan disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Nilai kualitas air media pemeliharaan udang vaname selama perlakuan sinbotik

Parameter Satuan Perlakuan K Perlakuan P SNI-01-7246-2006

Suhu oC 28-30 27-30 28,5-31,5

Salinitas Ppt 21-25 21-26 15-35

pH Unit 6,7 -7,6 6,6-7,2 7,5-8,5

TAN mg/L 0,062-0,121 0,034-0,204 <0,01

Berdasarkan Tabel 3, parameter kualitas air yang diukur masih berada dalam kisaran normal (SNI-01-7246-2006). Dengan demikian, perubahan kelangsungan hidup, laju pertumbuhan harian, rasio konversi pakan dan respon imun udang vaname pada perlakuan diasumsikan tidak dipengaruhi oleh kualitas air.

Panen dan Analisis Usaha Size (Ukuran Udang)

Size atau ukuran udang merupakan salah satu parameter yang menentukan harga jual udang. Size menyatakan jumlah udang yang terdapat dalam 1 kg udang. Semakin rendah size udang, maka harga jual akan semakin tinggi. Size diamati pada akhir pemeliharaan yaitu saat udang vaname berumur 88 hari. Berdasarkan hasil yang diperoleh (Gambar 6), size udang vaname berkisar antara 0-78,5. Perlakuan sinbiotik 2 (tambak 17) memiliki size terbaik (66), diikuti oleh perlakuan sinbiotik 1 (tambak 16) dengan size 75, perlakuan kontrol 2 dengan size 78,5 dan perlakuan kontrol 1 (tambak 18) dengan size 0 (gagal panen).

(22)

12

Keterangan:

K1 (kontrol ulangan 1), K2 (kontrol ulangan 2), P1 (sinbiotik ulangan 1), P2 (sinbiotik ulangan 2)

Gambar 6 Size udang vaname pada akhir pemeliharaan

Biomassa Panen

Biomassa panen dihitung pada akhir pemeliharaan yaitu pada saat udang vaname berumur 88 hari. Biomassa panen ditentukan oleh bobot rata-rata dan populasi udang saat panen. Biomassa panen dinyatakan dalam satuan kg/m2 karena luas petak tambak setiap perlakuan berbeda. Biomassa panen udang vaname pada setiap perlakuan disajikan pada Gambar 7.

Keterangan:

K1 (kontrol ulangan 1), K2 (kontrol ulangan 2), P1 (sinbiotik ulangan 1), P2 (sinbiotik ulangan 2)

Gambar 7 Biomassa panenudang vaname pada akhir pemeliharaan

(23)

Analisis Usaha

Analisis usaha digunakan untuk menghitung seberapa besar pengaruh perlakuan terhadap potensi keuntungan berdasarkan asumsi yang digunakan. Asumsi disusun berdasarkan fakta yang dikumpulkan selama penelitian berlangsung. Asumsi dapat berbeda dalam jangka waktu dan tempat yang berbeda. Asumsi yang digunakan dalam analisis perlakuan ini dapat dilihat lebih rinci pada Lampiran 6. Hasil analisis usaha masing-masing perlakuan pada akhir pemeliharaan disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4 Analisis usaha pembesaran udang vaname setiap perlakuan pada akhir pemeliharaan

Perlakuan K1 K2 P1 P2

Pengeluaran (Rp) 36.284.400 76.016.000 58.400.492 70.248.196 Penerimaan (Rp) 0 136.092.000 102.937.500 121.248.000 Keuntungan (Rp) -36.284.400 60.076.000 44.537.008 50.999.804

HPP (Rp) 0 36.865,69 38.295,40 41.715,08

Keuntungan /kg (Rp) 0 29.134,82 29.204,60 30.284,92 Keuntungan /m2 (Rp) -8.849,85 16.687,78 17.814,80 16.451,55 Keterangan:

K1 (kontrol ulangan 1), K2 (kontrol ulangan 2), P1 (sinbiotik ulangan 1), P2 (sinbiotik ulangan 2)

Berdasarkan Tabel 4, total pengeluaran (biaya produksi) udang vaname selama pemeliharaan berkisar antara Rp 36.284.400-Rp 76.016.000. Sedangkan total penerimaan berkisar antara Rp 0- Rp 136.092.000. Harga pokok produksi (HPP) udang vaname berkisar antara Rp 0-Rp 41.715,08. Keuntungan yang dihasilkan dari 1 kg udang vaname yaitu berkisar antra Rp 0-Rp 30.284,92. Sedangkan keuntungan yang dihasilkan per 1 m2 luas tambak yaitu berkisar antara Rp -8.849,85-Rp 17.814,80.

Pembahasan

(24)

14

sinbiotik. Wabah penyakit WSS pada tambak 18 (kontrol) telah memperlihatkan bahwa udang yang tidak diberi sinbiotik memiliki respon imun dan status kesehatan yang lebih rendah dibandingkan dengan udang yang diberi sinbiotik. Hal ini terlihat dari hasil sintasan rata-rata udang vaname pada tambak kontrol lebih rendah dibandingkan dengan udang vaname pada tambak perlakuan sinbiotik. Kombinasi antara probiotik V. alginolyticus SKT-b dengan prebiotik dari ubi jalar diduga dapat meningkatkan respon imun udang vaname pada tambak perlakuan sinbiotik. Menurut Gullian et al. (2004) bakteri V. alginolyticus mampu meningkatkan pertumbuhan dan respon imun pada udang vaname. Selain itu, menurut hasil penelitian Kadarusman (2012), pemberian sinbiotik dua dosis (probiotik V. alginolyticus SKT-b dan prebiotik dari ubi jalar) mampu meningkatkan nilai sintasan udang vaname di tambak meskipun telah terjadi outbreak penyakit IMN.

Menurut Effendie (1997), pertumbuhan merupakan pertambahan ukuran baik bobot maupun panjang dalam suatu periode atau waktu tertentu. Berdasarkan hasil yang diperoleh (Gambar 2), setelah pemeliharaan selama 88 hari laju pertumbuhan harian udang vaname berkisar antara 0-4,07%, dimana udang vaname pada perlakuan sinbiotik rata-rata memiliki laju pertumbuhan harian yang lebih tinggi dibandingkan kontrol. Udang vaname pada perlakuan sinbiotik 2 (tambak 17) memiliki nilai laju pertumbuhan harian tertinggi (4,07%) dibandingkan udang di tambak lain. Meningkatnya nilai laju pertumbuhan harian udang vaname selama pemeliharaan ini diduga akibat penambahan sinbiotik pada pakan yang dapat meningkatkan aktivitas mikroflora usus udang di saluran pencernaan dan dapat merangsang pertumbuhan udang vaname. Meningkatnya aktivitas mikroflora ini disebabkan oleh adanya prebiotik sebagai sumber nutrien bagi bakteri di usus. Bakteri ini akan mendegradasi atau memfermentasi senyawa prebiotik yang tidak tercerna oleh inang sehingga menstimulir bakteri untuk menghasilkan enzim exsogenous yang dapat membantu predigestion dan mempercepat pertumbuhan (Putra 2010). Menurut Manning dan Gibson (2004), prebiotik dapat memberikan keuntungan bagi inang yang secara selektif dapat merangsang pertumbuhan dan/atau mengaktifkan metabolisme bakteri di saluran gastrointestinal (GI). Hasil penelitian Daniels et al. (2013) menunjukkan bahwa penambahan sinbiotik (Bacillus spp. dan MOS) pada pakan artemia dapat meningkatkan laju pertumbuhan larva lobster eropa (Homarus gammarus). Menurut Merrifiled (2010), penambahan sinbiotik mampu meningkatkan mikroflora normal di dalam usus sehingga pakan dimanfaatkan dengan baik untuk pertumbuhan.

(25)

pakan lebih efisien.Rendahnya nilai rasio konversi pakan ini diduga akibat adanya aktivitas bakteri penghasil enzim amilase dan protease untuk mengurai makanan. Menurut hasil penelitian Widanarni et al. (2003), probiotik V. alginolyticus SKT-b merupakan bakteri yang mampu menghasilkan enzim amilase dan protease yang ditandai dengan pembentukan zona bening pada uji aktivitas amilolitik dan proteolitik. Menurut Atlas et al. (1984) dalam Widagdo (2011), mikroba amilolitik adalah mikroba yang mampu menghasilkan enzim amilase yang akan mendegradasi pati menjadi maltosa dan glukosa sebagai sumber karbon dan energi. Sedangkan mikroba proteolitik adalah mikroba yang mampu menghasilkan enzim protease yang akan merombak protein menjadi asam amino. Menurut Lemos et al. (2000), enzim protease merupakan salah satu enzim yang berperan penting dalam proses pencernaan, termasuk di dalamnya tripsin dan kemotripsin yang bertanggung jawab terhadap hampir 60% pada proses pencernaan udang. Hasil studi lainnya juga menunjukkan bahwa kombinasi antara probiotik dan prebiotik (Bacillus clausii dan FOS/MOS) dapat meningkatkan aktivitas enzim amilase dan protease pada ikan Japanese flounder (Paralichthys olivaceus) yang lebih tinggi dibandingkan kontrol (Ye et al. 2011).

(26)

16

Sel hemosit terdiri atas 3 jenis sel yaitu hialin, granular dan semi granular. Ketiga sel ini masing-masing memiliki karakteristik yaitu tidak memiliki granul, berisi sejumlah granul kecil dan berisi granul yang cukup besar (Soderhall dan Cerenius 1992). Pada penelitian ini, sel granular dan semi granular dikatategorikan dalam satu kelompok yaitu granular. Hal ini dilakukan karena teknis pengamatannya sulit dibedakan antara sel semi granular dan granular. Sehingga penghitungan persentase sel hemosit pada penelitian ini terdiri dari sel hialin dan granular. Berdasarkan hasil yang diperoleh (Gambar 5), sel hialin udang vaname berkisar antara 0-56% dan sel granular berkisar antara 0-58,67%, dimana udang vaname pada perlakuan sinbiotik memiliki sel hialin yang rata-rata lebih tinggi dibandingkan kontrol. Sedangkan udang vaname pada perlakuan sinbiotik memiliki sel granular yang rata-rata lebih rendah dibandingkan kontrol. Menurut Martinez (2007), sel hialin pada udang vaname memiliki peranan sangat penting dalam pertahanan selular udang yaitu reaksi fagositik. Fagositosis merupakan salah satu pertahanan seluler yang berperan sebagai garis pertahanan pertama terhadap patogen dengan cara menelan dan menghancurkan patogen yang menyerang (Soderhall dan Cerenius 1992). Dengan demikian, persentase sel hialin berkolerasi dengan aktivitas fagositosis. Berbeda dengan sel granular, menurut Martinez (2007), sel granular dan semi granular bertanggung jawab menyimpan dan memproduksi sistem phenoloxidase (PO) dan dapat diaktifkan dengan kehadiran minimum mikroba. Sistem PO ini berperan dalam mengenali dan merespon benda asing dan aktivasi dari sistem ini dapat memicu produksi melanin dan penyembuhan kerusakan kutikula (Martinez 2007).

Kualitas air secara umum menunjukkan kondisi air yang dikaitkan dengan kebutuhan organisme akuatik untuk menunjang kelangsungan hidup dan pertumbuhanya. Nilai kualitas air (Tabel 3) pada semua perlakuan masih berada dalam kisaran optimal untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang vaname (SNI-01-7246-2006) kecuali pada parameter suhu dan pH yang sedikit lebih rendah dari kisaran normal. Namun, menurut Wyban et al. (1995), udang vaname pada semua ukuran (kecil, sedang, besar) masih dapat hidup dan tumbuh pada suhu 23oC (sub-optimal). Parameter pH air yang optimal untuk budidaya udang menurut Hernandez et al. (2013) yaitu berkisar antara 6,5-9,5. Dengan demikian diasumsikan bahwa perubahan sintasan, laju pertumbuhan harian, rasio konversi pakan dan respon imun udang vaname bukan disebabkan oleh kualitas air.

(27)

berbeda-beda. Biomassa panen ditentukan oleh bobot rata-rata dan sintasan diakhir perlakuan. Semakin tinggi sintasan dan bobot rata-rata pada akhir pemeliharaan maka semakin tinggi biomassa panen (Effendi 2004).

Analisis usaha pada penelitian ini dihitung pada akhir pemeliharaan yaitu saat udang vaname berumur 88 hari. Nilai keuntungan didapatkan dengan cara mencari selisih antara total pengeluaran (biaya produksi) dengan penerimaan. Berdasarkan hasil yang diperoleh (Tabel 4), total pengeluaran (biaya produksi) udang vaname selama pemeliharaan berkisar antara Rp 36.284.400-Rp 76.016.000. Sedangkan total penerimaan berkisar antara Rp 0-Rp 136.092.000. Total pengeluaran ini merupakan biaya produksi (1 siklus produksi) yang dikeluarkan per tambak udang pada semua perlakuan. Sedangkan total penerimaan didasarkan pada biomassa dan size udang yang dihasilkan pada setiap tambak. Harga pokok produksi (HPP) udang vaname berkisar antara Rp 0-Rp 41.715,08. Harga pokok produksi merupakan perbandingan antara total biaya produksi dengan total produksi (kg).

Keuntungan yang dihasilkan dari 1 kg udang vaname yaitu berkisar antara Rp 0-Rp 30.284,92. Tambak 16 dan 17 (perlakuan sinbiotik) memiliki keuntungan lebih tinggi (Rp 29.204,60 dan Rp 30.284,92) dibandingkan tambak 18 dan 19 (kontrol) (Rp 0 dan Rp 29.134,82). Tambak 18 tidak memiliki keuntungan karena tidak mengalami panen sehingga tidak ada penerimaan yang didapatkan. Sedangkan keuntungan yang dihasilkan per 1 m2 luas tambak berkisar antara Rp -8.849,85-Rp 17.814,80. Tambak 16 (sinbiotik 1) memiliki keuntungan tertinggi (Rp 17.814,80/m2 sedangkan tambak 18 (kontrol 1) memiliki kerugian sebesar Rp 8.849,85/m2 karena tidak mendapatkan penerimaan dari hasil panen udang, namun mengeluarkan biaya produksi sebesar Rp 8.849,85/m2.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pemberian sinbiotik pada pemeliharaan udang vaname di tambak mampu meningkatkan kinerja produksi udang vaname yang meliputi peningkatan sintasan, laju pertumbuhan harian, rasio konversi pakan dan respon imun. Pemberian sinbiotik telah mampu meningkatkan sintasan udang vaname saat terjadi wabah penyakit diduga WSS dan IMN selama pemeliharaan dan menghasilkan size dan biomassa panen yang lebih baik.

Saran

(28)

18

DAFTAR PUSTAKA

Ai Q, Xu H, Mai KS, Xu W, Wang J, Zhang WB. 2011. Effect of dietary supplementatation of Bacillus subtilis and fructooligosaccharide on growth performance, survival, non-specific immune response and desease resistance of juvenile large yellow croaker, Larimichthys crocea. Aquaculture. 317: 155-161.

Apriyantono A, Fardiaz D, Puspitasari NL, Sedanarwati, Budiyanti. 1989. Petunjuk Laboratorium Pengujian Pangan. Bogor (ID): IPB Pr.

Arisa II. 2011. Pemberian probiotik, prebiotik dan sinbiotik untuk meningkatkan respon imun udang vaname Litopenaeus vannamei terhadap infeksi Vibrio harveyi [tesis]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Blaxhall D. 1973. Routine haemotological methods for use with fish blood. Fish Biology. 5: 557-581.

Cerezuela R, Meseguer J, Esteban MA. 2011. Current knowledge in synbiotic use for fish aquaculture: A Review. Aquatic Res Development. doi: 10.4172/S1008.

Castex M, Chim L, Pham D, Lemaire P, Wabete N, Nicolas JL, Schmidely P, Mariojouls C. 2008. Probiotic P. acidilactici application in shrimp Litopenaeus stylirostris culture subject to vibriosis in New Caledonia. Aquaculture. 275: 182–193

Coecho MGL, Silva ACG, Nova CMVV, Neto JMO, Lima ACN, Feijo RG, Apolinario DF, Maggioni R, Gesteria TCV. 2009. Susceptibility of the wild southern brown shrimp (Farfantepenaeus subtilis) to infectious hypodermal and hematopoietic necrosis (IHHN) and infectious myonecrosis (IMN). Aquaculture. 291:1-4.

Damayanti. 2011. Pemberian sinbiotik dengan dosis berbeda pada pakan udang vaname untuk pencegahan infeksi IMNV (Infection Myonecrosis Virus) [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Daniels CL, Merrifield DL, Boothoryd DP, Davies SJ, Factor JR, Arnold KE. 2010. Effect of dietary Bacillus spp. anf mannan oligosaccharides (MOS) on European lobster (Homarus gammarus) larvae growth performance, gut morphology and gut microbiota. Aquaculture. 304: 49-57

Daniels CL, Daniel LM, Einar R, Simon JD. 2013. Probiotic, prebiotic and synbiotic applications for the improvement of larval European lobster (Homarus gammarus) culture. Aquaculture. 416–417.

Effendi I. 2004. Pengantar Akuakultur. Depok (ID): Penebar Swadaya.

Effendie MI. 1997. Metode Biologi Perikanan. Bogor (ID). Yayasan Dewi Sri Bogor.

Esiobu N, Armenta L, Ike J. 2002. Antibiotic resistance in soil and water environments. Int. J. Environ. Health Res. 12: 133–144.

Flegel TW. 2012. Historic emergence, impact and current status of shrimp pathogens in Asia. Invertebrate Pathology. 110: 166–173

(29)

Hernandez JJC, Sanchez-Fernandez LP, Villa-Vargas LA, Carrasco-Ochoa JA, Martinez-Trinidad JF. 2013. Water quality assessment in shrimp culture using an analytical hierarchical process. Ecological Indicators. 29: 148-158

Huissman EA. 1987. Principles of fish production. Department of Fish Culture and Fisheries, Waganingen Agriculture University. Waganingen. Netherland. 170p.

Kadarusman H. 2012. Pemberian sinbiotik dengan dosis berbeda pada udang vaname di tambak [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Kasmir J. 2009. Studi Kelayakan Bisnis. Ed ke-2. Jakarta (ID): Prenada Media Group

Kusumaningrum DK, Wardiyanto, Tusihadi T. 2012. Insidensi infectious myonecrosis virus (IMNV) pada udang putih (Litopenaeus vannamei) di Teluk Lampung. Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan. 1: 65-70.

Lebel L, Mungkung R, Gheewala SH, Lebel P. 2010. Innovation cycles, niches and sustainability aquaculture industry in Thailand. Environmental Science and Policy. 13: 291-302.

Lemos D, Ezquerra JM, Garcia-Carreno FL. 2000. Protein digestion in penaeid shrimp: digestive proteinases, proteinase inhibitors and feed digestibility. Aquaculture. 186: 89-105.

Manning T, Gibson G. 2004. Prebiotics. Best Pract. Res. Clin. Gastroenterol. 18: 287–298.

Marlis A. 2008. Isolasi oligosakarida ubi jalar (Ipoema batatas L.) dan pengaruh pengolahan teerhadap potensi prebiotiknya [tesis]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Martin GG, Graves LB. 1985. Structure and classification of shrimp haemocytes. J Morfology. 185 : 339-348.

Martinez SF. 2007. The immune system of shrimp. Technical Bulletin. 1:16 Merrifiled DL, Dimitroglou A, Foey A, Davies SJ, Baker RTM, Bogwald J, Castex

M, Ringo E. 2010. The current status and future focus of probiotic and prebiotic applications for Salmonids. Aquaculture. 302: 1-18

Muchtadi D. 1989. Evaluasi Nilai Gizi Pangan. Depdikbud, Dirjen Dikti PAU IPB. Nayak SK. 2010. Probiotics and immunity: A fish perspective. Fish & Shellfish

Immunology. 29: 2-14

Noermala JI. 2013. Pemberian prebiotik, probiotik dan sinbiotik untuk pengendalian ko-infeksi bakteri Vibrio harveyi dan IMNV (Infectious Myonecrosis Virus) pada udang vaname Litopenaeus vannamei [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Nurhayati D. 2014. Kajian pemberian sinbiotik dengan dosis berbeda untuk pencegahan ko-infeksi infectious myonecrosis virus dan Vibrio harveyi pada udang vaname (Litopenaeus vannamei) [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Praseto R. 2013. Efektivitas pemberian sinbiotik teknis dengan dosis berbeda pada pemeliharaan udang vaname Litopenaeus vannamei di tambak [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

(30)

20

Reed LA, Siewicki TC, Shah JC. 2004. Pharmacokinetics of oxytetracycline in the white shrimp Litopenaeus setiferus. Aquaculture. 232:11-28.

Sahoo PK, Das A, Mohanty S, Mohanty BK, Pilai BR, Mohanty J. 2008. Dietary

β-1,3 glucan improve the immunity and disease resistance of freshwater prawn Macrobrachium rosenbergii challenged with Aeromonas hydrophyla. Aquaculture. 39: 1574-1578.

Sanchez-Martinez JG, Aguirre-Guzman G, Mejia-Ruiz H. 2007. White spot syndrome virus in cultured shrimp: a review. Aquaculture Research. 38: 1339-1354.

Septiani GR. 2011. Pemberian sinbiotik dengan frekuensi berbeda pada pakan udang vaname Litopenaeus vannamei untuk pencegahan IMNV (Infectious Myonecrosis Virus) [skripsi]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

[SNI] Standar Nasional Indonesia. 2006. Produksi Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di tambak dengan teknologi intensif. Jakarta (ID): Badan Standarilisasi Nasional.

Soderhall K, Cerenius L. 1992. Crustacean immunity. Fish Desease 3-23. New York (US): Pergamon Pr

Teitelbaum JE. Walker WA. 2002. Nutritional impact of pre- and probiotics as protective gastrointestinal organism. Annu. Rev. Nutr. 22: 107-138

Verschuere L, Rombaut G, Sorgeloos P, Verstraete W. 2000. Probiotic bacteria as biological control agents in aquaculture. Microbiol. Mol. Biol. Rev. 64: 655-671.

Wang BY. 2007. Effect of probiotics on growth performance and digestive enzyme activity of the shrimp Penaeus vannamei. Aquaculture. 269: 259-264.

Widagdo P. 2011. Aplikasi probiotik, prebiotik dan sinbiotik melalui pakan pada udang vaname Litopenaeus vannamei yang diinfeksi bakteri Vibrio harveyi [tesis]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Widanarni, Suwanto A, Sukenda, Lay BW. 2003. Potency of Vibrio isolates for biocontrol of vibriosis in tiger shrimp (Penaeus monodon) larvae. Biotropia. 20: 11-23.

Wyban J, Walsh WA, Godin DM. 1995. Temperature effects on growth, feeding rate and feed convertion of the Pacific white shrimp (Penaeus vannamei). Aquaculture. 138: 267-279

Ye JD, Wang K, Li FD, Sun YZ. 2011. Single or combined effects of fructo- and mannan oligosaccharide supplements and Bacillus clausii on the growth, feed utilization, body composition, digestive enzyme activity, innate immune response and lipid metabolism of the Japanese flounder Paralichthys olivaceus. Aquac Nutr. 17: 902-911.

Zhang Q, Tan B, Mai K, Zhang W, Ma H, Ai Q, Wang X, Liufu Z. 2013. Dietary administration of Bacillus (B. licheniformis and B. subtilis) and isomaltooligosaccharide influences the intestinal microflora, immunological parameters and resistance against Vibrio alginolyticus in shrimp, Penaeus japonicus (Decapoda: Penaeidae). Aquaculture Research. 42: 943-952 Zonneveld N, Huissman EA, Boon JH. 1991. Prinsip-prinsip budidaya ikan.

(31)
(32)

22

Lampiran 1 Prosedur pembuatan media sea water complete (SWC)

 Media SWC dalam 1 liter

Bactopeptone 5 gram

Yeast ekstract 1 gram

Gliserol 3 ml

Air laut 750 ml

Akuades 250 ml

Bacto agar(*) 17 gram

(*) Hanya digunakan dalam pembuatan SWC agar

Cara Pembuatan :

(33)

Lampiran 2 Prosedur dan waktu kultur probiotik Vibrio alginolyticus SKT-b

Isolat bakteri

Vibrio alginolyticus

SKT-b

SWC cair steril 10 mL

( A ) 1 ose

Shaker 18 jam suhu ruang

Setelah 18 jam bakteri di

panen 1 ml (1/100 dari

total volume B

SWC cair steril 100 mL

( B ) Shaker 18 jam

suhu ruang Setelah 18 jam bakteri

di panen dan siap diaplikasikan Pukul 20.00 WIB

Pukul 20.30 WIB

Pukul 14.30 WIB

Pukul 14.30 WIB Pukul

15.00 WIB Pukul

(34)

24

Lampiran 3 Metode penghitungan TPC (Total Plate Count)

Lampiran 4 Metode penghitungan total padatan terlarut (TPT)

Cawan porselin terlebih dahulu dimasukkan ke dalam oven selama satu jam pada suhu 100oC, kemudian cawan dimasukkan ke dalam desikator selama 20 menit dan cawan ditimbang (a gram). Sebanyak 1 ml oligosakarida yang telah diekstraksi dari ubi jalar dimasukkan dalam cawan porselin tersebut dan ditimbang (b gram). Cawan yang berisi oligosakarida tersebut dimasukan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 100oC, kemudian dimasukkan ke dalam desikator selama 20 menit. Setelah itu, cawan tersebut ditimbang (c gram). Total padatan terlarut dihitung dengan rumus:

TPT = −

× 1

Bakteri Vibrio

alginolyticus SKT-b hasil kultur 0,1 ml

0,1 ml 0,1 ml 0,1 ml 0,1 ml 0,1 ml 0,1 ml 0,1 ml

1:10 1:102 1:103 1:104 1:105 1:106 1:107 1:108

@0,9 ml PBS steril

0,05 ml

Bakteri disebar pada media

Media selektif TCBS agar Inkubasi 24 jam dan

dihitung jumlah koloni bakteri yang tumbuh

(30-300)

Rumus TPC :

(35)

Lampiran 5 Layout tambak pemeliharaan udang vaname selama penelitian

Keterangan :

Tambak 17 (Sinbiotik 2)

Tambak 18 (Kontrol 1)

Tambak 19 (Kontrol 2)

X

Tambak 16

(Sinbiotik 1) X

Tambak penelitian

Tambak non penelitian

Rumah jaga

Jalan inspeksi

Tanggul

Saluran limbah

(36)

26

Lampiran 6 Asumsi biaya produksi dan rincian analisis usaha

A. Produksi Prebiotik

 Harga etanol 70% = Rp 15.000/liter  Harga ubi jalar = Rp 10.000/kg

 Hasil ekstraksi 2 liter etanol dengan 4 kg ubi jalar dapat menghasilkan 1 liter oligosakarida

 Biaya total etanol dan ubi jalar masing-masing Rp 30.000 dan Rp. 40.000  Biaya produksi (peralatan mesin)= Rp 30.000

 Jadi, biaya total untuk memproduksi 1 liter oligosakarida = Rp 100.000  Kesimpulannya 1 ml Oligosakarida = Rp 100

B. Biaya Binder (Telur)

 1 kg telur = 16 butir = Rp 20.000 (Harga Juli-Agustus 2013, Lokasi Lampung)

 1 butir telur berisi 50 ml (kuning telur+putih telur)  1 butir telur = Rp 1.250

 Berarti 50 ml telur = Rp 1.250  Kesimpulannya 1 ml telur = Rp 25

C. Produksi Probiotik

 Rincian biaya SWC sebanyak 1 liter  Bacto pepton = 5 gram =Rp 7500

 Biaya persiapan wadah terdiri dari biaya pengapuran dan pengangkatan lumpur dasar tambak.

Jumlah kapur yang ditebar = 0,5 kg/m2  Harga kapur = Rp 1.000/kg

 Biaya tenaga kerja pengapuran harian= Rp 100.000/tambak  Biaya tenaga kerja pengangkatan lumpur =Rp 300.000/tambak

E. Biaya Listrik

 Sebagian besar biaya listrik yang dikeluarkan berasal dari penggunaan kincir 2 HP

 1 HP = 750 watt, jadi untuk kincir 2 HP = 1500 watt

 1 HP dalam 1 jam = 750 Wh (watt hour) = 0,75 kWh, jadi untuk kincir 2 HP = 1,5 kWh

 Penggunaan kincir per hari selama 24 jam, jadi listrik per hari = 36 kWh  Biaya 1 kWh = Rp 900

(37)

F. Rincian analisis usaha

(38)

28

LISTRIK

K1 kWH 5.616 900 5.054.400

K2 kWH 11.160 900 10.044.000

P1 kWH 10.692 900 9.622.800 P2 kWH 10.692 900 9.622.800

TENAGA KERJA BUDIDAYA

K1 orang/siklus 1 600.000 600.000 K2 orang/siklus 1 600.000 600.000 P1 orang/siklus 1 600.000 600.000 P2 orang/siklus 1 600.000 600.000

BIAYA PANEN

K1 orang/tambak 10 100.000 1.000.000 K2 orang/tambak 10 100.000 1.000.000 P1 orang/tambak 10 100.000 1.000.000 P2 orang/tambak 10 100.000 1.000.000

Total Biaya Produksi

K1 K2 P1 P2

Pakan (Rp) 18.360.000 54.192.000 38.688.000 48.744.000

Probiotik (Rp) 0 0 69.692 81.396

Prebiotik (Rp) 0 0 1.048.000 1.224.000

Telur (Rp) 0 0 262.000 306.000

Benur (Rp) 8.820.000 7.980.000 5.460.000 6.720.000 Persiapan wadah (Rp) 2.450.000 2.200.000 1.650.000 1.950.000 Listrik (Rp) 5.054.400 10.044.000 9.622.800 9.622.800 Tenaga Kerja Budidaya (Rp) 600.000 600.000 600.000 600.000 Biaya panen (Rp) 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 TOTAL 36.284.400 76.016.000 58.400.492 70.248.196

Total Penerimaan

Perlakuan K1 K2 P1 P2

Biomassa (kg) 0 2.062 1.525 1.684

Size 0 78,5 75 66

Harga Udang (Rp) 0 66.000 67.500 72.000

(39)

Total Keuntungan

Perlakuan K1 K2 P1 P2

Pengeluaran (Rp) 36.284.400 76.016.000 58.400.492 70.248.196 Penerimaan (Rp) 0 136.092.000 102.937.500 121.248.000 Keuntungan (Rp) -36.284.400 60.076.000 44.537.008 50.999.804

HPP (Rp) 0 36.865,69 38.295,40 41.715,08

Keuntungan /kg (Rp) 0 29.134,82 29.204,60 30.284,92 Keuntungan /m2 (Rp) -8.849,85 16.687,78 17.814,80 16.451,55

Keterangan :

 Jumlah pakan didasarkan dari data lapangan selama penelitian.

 Jumlah kWH listrik didasarkan pada penggunaan kincir 2 HP di lapangan selama penelitian

 Biaya persiapan wadah dan tenaga kerja didasarkan pada data fakta di lapangan

 Harga jual udang vaname dipengaruhi oleh size (Rp 500/kenaikan atau penurunan size)

(40)

30

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kayuagung pada tanggal 2 Agustus 1992 dari Bapak Muhammad Zen dan Ibu Nelly Anggia Murni. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Pendidikan formal yang ditempuh penulis yaitu di SDN 20 Kayuagung (1998-2004), SMPN 7 Kayuagung (2004-2007) dan SMAN 3 Unggulan Kayuagung (2007-2010). Pada tahun 2010 penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada program studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Selama masa perkuliahan, penulis aktif di berbagai kegiatan organisasi yaitu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Oryza Baseball Softball sebagai wakil ketua tahun 2011/2012 dan Himpunan Mahasiswa Akuakultur (HIMAKUA) sebagai staf divisi BOS (Budaya Olahraga dan Seni) tahun 2011/2012 serta ketua divisi BOS (Budaya Olahraga dan Seni) tahun 2012/2013. Penulis pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Dasar-Dasar Akuakultur tahun 2012/2013 dan tahun 2013/2014, Iktiologi tahun 2012/2013, Dasar-Dasar Mikrobiologi Akuatik tahun 2013/2014, Ikan Hias dan Akuaskap tahun 2013/2014 dan Manajemen Kesehatan Organisme Akuatik tahun 2013/2014. Penulis pernah melakukan magang di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung tahun 2011 dan Balai Pengembangan Benih Ikan Air Payau dan Laut (BPBIAPL) Pangandaran tahun 2013 serta praktik lapangan akuakultur di Tambak Pinang Gading, Bakauheni, Lampung tahun 2013 dengan judul “Pembesaran Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)di Tambak Pinang Gading, Bakauheni, Lampung”. Penulis juga pernah menjadi peserta dalam kompetisi Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian (PKM-P) pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional ke-26 di

Mataram-Nusa Tenggara Barat tahun 2013 dengan judul “Artificial Maturation: Meningkatkan Kecepatan Pematangan Gonad, Kualitas Telur Dan Produktivitas Ikan Betok (Anabas Testudineus Bloch.)”.

Tugas akhir dalam pendidikan tinggi di Institut Pertanian Bogor untuk mendapatkan gelar sarjana perikanan diselesaikan oleh penulis dengan menulis

Gambar

Tabel 2  Satuan dan alat ukur kualitas air selama perlakuan sinbiotik
Gambar 1  Sintasan udang vaname pada akhir pemeliharaan
Gambar 2  Laju pertumbuhan harian udang vaname selama pemeliharaan
Gambar 4  Total hemosit udang vaname selama perlakuan sinbiotik
+4

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan data produksi udang vaname didapatkan bahwa daya dukung lingkungan terhadap produksi udang vaname pada tambak biocrete dapat mencapai 11.735 kdha dengan

Hipotesis dalam penelitian ini adalah pemberian mikrokapsul sinbiotik dengan frekuensi tertentu pada udang vaname dapat meningkatkan pertumbuhan, kelangsungan hidup, rasio

“Hubungan Kualitas Air Pemeliharaan dengan Pertumbuhan dan Struktur Mikroanatomi (Hepatopankreas dan Intestinum) Udang Vaname ( Litopenaeus vannamei Boone) pada Tambak

Penelitian ini dilakukan untuk menguji efektivitas pemberian pakan sinbiotik dengan frekuensi berbeda terhadap sintasan, pertumbuhan, dan respons imun udang vaname

Hasil pengamatan terhadap pertambahan bobot memperlihatkan bahwa pertambahan bobot udang vaname selama 96 hari pemeliharaan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya

Pertumbuhan udang vaname selama penelitian memperlihatkan pertumbuhan yang semakin meningkat yaitu dari bobot awal 0,23gram/ekor meningkat 1,42 gram/ekor dan 3,59

Penelitian ini dilakukan untuk menguji efektivitas pemberian pakan sinbiotik dengan frekuensi berbeda terhadap sintasan, pertumbuhan, dan respons imun udang vaname

Laju Pertumbuhan Harian Berdasarkan hasil penelitian selama satu bulan, secara kalsium dari cangkang tiram memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap laju pertumbuhan harian udang